Kumpulan Cerita Silat

09/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 59

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:16 am


Bab 59. Pesan Gak Bu Bok
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Hari sudah terang ketika Oey Yong dan Kwee Ceng kembali ke Gak Yang Lauw. Di sana mereka mendapatkan kuda mereka, sepasang burung rajawali dan burung hiat-niauw menantikan mereka. Semua binatang itu nampak girang bertemu dengan majikan mereka.

Oey Yong memandang jauh ke timur, ia menyaksikan sang Batara Surya seperti meloncat keluar dari gelombang telaga Tong Teng Ouw. Sinar fajar itu sangat indah dan menawan hati.

“Pemandangan begini indah, jangan kita mengasih lewat,” kata si nona kemudian, tertawa, “Engko Ceng, mari kita naik ke atas!”

Kwee Ceng menurut. Tapi kapan mereka tiba di atas dan ingat kejadian kemarinnya, pengalaman itu membuatnya mereka bergidik sendiri. Kejadian itu sangat berbahaya. Hanya keindahan alam membuat mereka dengan cepat melupai kejadian kemarin.

Belum lama lagi mereka minum arak, mendadak Kwee Ceng melihat air muka si nona berubah, agaknya ia bergusar.

“Engko Ceng, kau jahat!” katanya tiba-tiba.

Kwee Ceng kaget, “Kenapa?” tanyannya heran.

“Kau tahu sendiri!”

Kwee Ceng berpikir tetapi ia tidak ingat apa-apa.

“Yong-jie yang baik, kau jelaskanlah,” pintanya.

“Baik,” menyahut si nona. “Sekarang aku tanya kau! Tadi malam kita didesak ke jurang, jiwa kita terancam bahaya. Kenapa kau melemparkan aku? Apakah kau kira kalau kau mati aku bisa hidup? Apakah kamu masih belum tahu hatiku?”

Habis itu si nona menangis, air matanya jatuh ke dalam araknya.

Kwee Ceng terharu mendapatkan orang demikian mencinta padanya. Ia mengulur tangannya, akan mencekal erat-erat tangan kanan nona itu. Tidak dapat ia mengucapakan sesuatu.

Oey Yong menghela napas perlahan, melegakan hatinya. Ia sebenarnya hendak membuka mulutnya ketika ia mendengar tindakan kaki di tangga, lalu terlihat nongolnya satu kepala orang. Keduanya terkejut. Itulah Tiat Ciang Siu-siang-piauw Khiu Cian Jin.

Kwee Ceng segera melompat bangun, akan menghalangi di depan si nona. Ia khawatir orang tua itu nanti menyerang.

Tapi Khiu Cian Jin bukannya menyerang, ia hanya bersenyum, tangannya diangkat, untuk menggapai, setelah mana dia memutar tubuhnya, untuk lantas turun pula. Kelihatan nyata orang jenaka tetapi dalam keadaan ketakutan….

“Dia takut pada kita, inilah aneh!” berkata Oey Yong. “Nanti aku lihat.”

Tanpa menanti jawabannya, si nona lantas lari turun.

Kwee Ceng lekas membayar uang arak, lekas-lekas ia menyusul. Tapi setibanya di bawah, ia tidak mendapatkan Khiu Cian Jin atau Oey Yong. Ia menjadi kaget dan berkhawatir. Tentu sekali ia takut nona itu celaka di tangannya si Tangan Besi. Maka ia lantas memanggil-manggil, “Yong-jie! Yong-jie! Kau di mana?”

Oey Yong mendengar panggilannya Kwee Ceng itu tetapi ia tidak menyahutinya. Ia lagi menguntit Khiu Cian Jin, kalau ia bersuara, orang akan mengetahui dirinya lagi dibayangi. Ia menguntit terus.

Ketika mereka berjalan di pinggir sebuah rumah besar, Oey Yong sembunyi di alingan tembok di pojok utara. Ia hendak menguntit terus setelah si orang tua jalan sedikit jauh. Akan tetapi Khiu Cian Jin seorang cerdik, begitu ia mendengar suara Kwee Ceng, ia menduga si nona lagi mengikutinya. Maka setelah menikung di ujung tembok, ia juga menyembunyikan dirinya.

Dengan begitu, dua-dua mereka sama-sama bersembunyi. Dengan begitu, sama-sama mereka berdiam. Yang satu menantikan yang lain, yang lain menunggui yang satu. Selang sekian lama, karena dua-duanya tetap bersembunyi, mereka ingin melihat. Keduanya menongolkan kepala mereka. Apa mau, waktunya tepat, bareng sekali. Maka mata mereka bentrok sinarnya satu dengan lain. Nyatanya mereka bersembunyi dekat satu dengan lain: satu di pojok sana, satu di pojok lain – jarak di antara mereka tidak ada setengah kaki! Tentu sekali, kedua-duanya menjadi sama kagetnya.

Setelah menyaksikan peristiwa di Kun San, Oey Yong jeri terhadap orang tua itu, yang sekian lama ia mengiranya seorang penipu besar, yang cuma namanya kesohor tapi gunanya tidak, tidak tahunya, dia sangat lihay. Khiu Cian Jin sebaliknya jeri terhadap si nona, karena sudah beberapa kali dia bercelaka di tangan si nona itu. Maka, setelah sama-sama berseru kaget, sama-sama juga mereka menyingkir masing-masing!

Oey Yong tidak puas. Segera ia kembali, untuk menguntit pula. Ia pikir jalan memutari rumah besar itu. Karena ia khawatir Khiu Cian Jin sudah pergi jauh, ia bertindak cepat. Ia ingat tiba lebih dahulu di ujung tembok timur, untuk dapat menguntit terus.

Juga Khiu Cian Jin berpikir seperti si nona, ia pun jalan memutar seperti nona itu. Tidak heran kalau lekas juga mereka jadi bersamplokan pula! Sekarang mereka bertemu di tembok menghadap ke selatan.

Oey Yong sudah lantas berpikir, “Jikalau aku memutar tubuh dan pergi dari sini, bisa-bisa nanti ia membokong punggungku! Dia sangat lihay, mana bisa aku mengelit diri?” Maka itu, ia lantas tersenyum. Ia berkata, “Khiu Locianpwee, dunia ini benar-benar sempit! Kembali kita bertemu di sini…!” Sambil berkata begitu, si nona pun berpikir, “Baiklah aku mengulur tempo! Aku mesti memantikan engko Ceng, itu waktu aku tak usah takut lagi…”

Khiu Cian Jin juga sama berpikir seperti si nona. Dia tertawa dan berkata, “Itu hari kita berpisah di Liam-an, siapa sangka sekarang kita bertemu pula di sini. Apakah kau banyak baik, nona?”

Oey Yong heran tak kepalang.

“Bangsat tua, kau ngaco belo!” katanya di dalam hatinya. “Terang-terang tadi malam kita bertemu di Kun San, sekarang kau menyebut-nyebut tentang pertempuan di Lim-an itu! Baik, biarlah kau ngoceh tidak karuan! Aku ada membuat ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, kenapa aku tidak mau menghajar dia sebelum dia sadar?” Maka ia lantas berteriak nyaring, “Engko Ceng, kau hajar punggungnya!”

Khiu Cian Jin kaget. Ia mengira Kwee Ceng muncul di belakangnya. Ia lantas menoleh.

Oey Yong sangat sebat, berbareng sama teriakannya itu, tangannya mengeluarkan tongkatnya, dengan apa ia terus menyapu ke bawah!

Juga Khiu Cian Jin sangat licin. Ia menoleh dengan cepat, ia tidak melihat Kwee Ceng, lantas ia insyaf bahwa ia diperdayakan. Ia pun mendengar bersiurnya angin, maka ia lantas berlompat. Maka bebaslah ia dari sapuan itu. Akan tetapi Oey Yong tidak sudi mengasih hati. Gagal sapuannya, ia mengulanginya. Dan ia mengulanginya terus, berulang-ulang, untuk membikin orang tak dapat bernapas.

Bukan main takutnya Khiu Cian Jin. Dengan terpaksa, ia berlompatan. Tidak ada ketikanya untuk melesat jauh, guna terus melarikan diri. Setelah tujuh atau delapan kali lompat-lompatan terus, betis kirinya kena juga oleh ujung tongkat, tidak tempo lagi, dia menjerit mengaduh dan tubuhnya terbanting.

“Tahan! Aku hendak bicara!” ia berkata, tangannya diangkat.

Oey Yong menghentikan serangannya, ia mengawasi sambil tertawa geli, tetapi begitu lekas orang bangun sambil berlompat, tidak menanti kaki orang itu mengenai tanah, ia menyapu pula. Di dalam keadaan seperti itu, Khiu Cian Jin tidak dapat berkelit lagi, maka lagi sekali ia terguling memegang tanah. Ia bandel sekali, setiap kali jatuh, ia bangun sambil berlompat, maka itu si nona pun, saban orang berlompat dia membarengi menyapu. Dengan demikian, enam kali orang she Khiu itu jatuh bangun.

Habis itu, Cian Jin terus mendekam di tanah. Ia tahu percuma ia berlompat bangun. Ia pun tidak berani berkutik.

“Kau berpura-pura mampus?” kata Oey Yong tertawa.

Khiu Cian Jin menyahuti sambil ia berlompat bangun, hanya kali ini ia berlompat seraya menarik tali celananya, hingga tali itu putus, sambil berbuat begitu, ia berteriak-teriak, “Kau mau pergi atau tidak? Hendak aku melepaskan tanganku!”

Nona Oey melengak. Ia tidak menyangka bahwa seorang ketua partai mau main gila seperti itu. Tentu sekali ia takut orang membuktikan ancamannya, itu artinya Khiu Cian Jin meloloskan pakaiannya, maka terpaksa sambil berludah ia memutar tubuhnya untuk bertindak pergi. Ia lantas mendengar suara orang tertawa kegirangan, disusul sama suara tindakan kaki. Ketika ia mencoba menengok, ia melihat Khiu Cian Jin masih memegangi celananya itu, bahkan sekarang ia lari hendak mengejar.

Nona ini mendongkol berbareng merasa lucu, tetapi ia terpaksa lekas-lekas lari.

Khiu Cian Jin belum lari jauh ketika ia memikir sudahlag cukup ia mengusir nona itu, maka hendak ia berhenti mengejar, tetapi justru itu, Kwee Ceng muncul dari ujung rumah, ia lantas maju menghalang, kedua tangannya digeraki, tangan kirinya menjaga dada, tangan kanannya diajukan.

“Celaka!” berseru Khiu Cian Jin. Ia lantas berhenti mengejar.

“Hajar dia, engko Ceng!” Oey Yong kata. “Jangan ladeni ocehannya!”

Kwee Ceng sudah lantas bersiap. Ia tahu Khiu Cian Jin sebagai pendusta, tapi di Kun San ia telah melihat ketangguhan orang, dia tidak mau memandang enteng.

“Eh, anak-anak, kau dengar kata-katanya kakekmu!” berkata Khiu Cian Jin sambil ia tetap memegangi celananya. “Selama beberapa hari ini kakekmu termaha gegares, dia menjadi mulas perutnya. Sekarang pun kakekmu mau buang air besar…”

“Engko Ceng, hajar dia!” berkata Oey Yong yang sendirinya tak berani maju bahkan ia mundur.

“Aku tahu hatimu, anak-anak,” berkata pula Khiu Cian Jin. “Jikalau kamu tidak diberi ketika akan menyaksikan kepandaiaan kakekmu, kamu tentu tidak puas, kamu tidak suka menyerah, maka sayang sekali sekarang justru perut kakekmu lagi sakit, semua yang ada di dalam perutnya mau melonjor keluar. Baiklah anak-anak yang manis, aku beri tempo padamu. Lagi tujuh hari maka kakekmu akan menantikan kamu di kaki gunung Tiat Ciang San! Beranikah kamu pergi ke sana?”

Oey Yong telah menyiapkan seraup jarumnya, hendak menyerang apabila saatnya telah tiba, akan tetapi ia mendengar orang menyebut nana gunung Tiat Ciang Pang, mendadak ia ingat huruf-huruf dalam gambar peninggalannya Kiok Leng Hong, yang bunyinya “Tiat Ciang San-hee” atau “di bawah gunung Tiat Ciang San” – gunung Tangan Besi. Maka ia lantas menyahuti, “Baiklah, biarnya tempat itu mirip kedung naga atau gua harimau, tentu kamu nanti pergikan! Di mana adanya Tiat Ciang San itu?”

“Dari sini kau pergi ke barat,” berkata Khiu Cian in menyahuti, tangannya menunjuk, kamu nanti melintasi Siang-tek, Sin-cu dan sungai Goan Kang. Kamu ikutilah sungai itu mudik. Nanti kamu tiba di Louw-kee dan Sin-kee. Di antara itu ada sebuah gunung tinggi yang berupa seperti lima jari menunjuk ke langit, nah itulah dia gunung Tiat Ciang San. Gunung itu sangat berbahaya, kakekmu sendiri sangat lihay, maka itu kedua bocah, umpama kata kamu takut, baiklah sekarang saja kamu mohon ampun dari kakekmu, lantas bolehlah tak usah kamu pergi ke sana!”

Oey Yong mendengar keterangan “seperti lima jari menunjuk ke langit”, ia jadi bertambah girang.

“Baiklah!” ia memberikan jawabannya, “Sekarang aku memberi kepastian, di dalam tempo tujuh hari kami nanti pergi mengunjungi gunungmu itu!”

Khiu Cian Jin mengangguk-angguk, atau mendadak ia berteriak pula, “Celaka!” berulangkali dan tanpa membilang apa-apa lagi, ia lari keras ke barat!

Kwee Ceng tidak mengubar, bersama Oey Yong ia mengawasi sampai orang telah pergi jauh. Kemudian ia kata pada si nona, “Yong-jie, ada satu hal yang bagiku benar-benar tidak jelas. Cobalah kau yang menerangkannya.”

“Apakah itu?” Oey Yong.

“Ini cianpwee she Khiu sangat lihay, kenapa dia gemar sekali memperdayakan orang?” Kwee Ceng mengutarakan keheranannya. “Kau lihat sendiri, ada kalanya dia berpura-pura berkepandaian sangat rendah. Di Kwie-in-chung dia telah meninju dadaku, coba dia mengeluarkan tangannya seperti tadi malam, mana bisa jiwaku bisa hidup sampai sekarang ini? Apakah dia berlagak gila saja? Atau apakah dia ada mengundang maksud yang lain?”

Oey Yong berpikir, ia menggigit jari tangannya.

“Dalam hal ini, aku juga sangat tidak mengerti,” sahutnya sesaat kemudian. “Tadi aku serang dia berulang kali, dia selalu roboh tak berdaya sama sekali, dia tidak mampu membalas menyerang, bahkan dia lantas main gila. Apa mungkin dia juga memperdayakan orang diwaktu dia menekuk melengkung tongkat baja?”

Kwee Ceng menggeleng kepala.

“Dia telah meremas tangannya Lou Toangloo,” dia menambahkan. “Ketika ia menyambuti seranganku dengan tipu silat Kek San Tah Gu, itulah ilmu sejati. Ilmu itu tak dapat dipalsukan….”

Oey Yong lantas membungkuk, dengan tusuk kondenya, ia menggurat-gurat tanah, lalu selang sesaat, ia menghela napas.

“Benar-benar kau tidak dapat menerka tua bangka itu lagi memberi pertunjukan apa,” katanya. “Biarlah, mari kita pergi ke Tiat Ciang San, setibanya di sana pasti kita akan mendapatkan pemecahannya.”

“Buat apa kita pergi ke Tiat Ciang San?” tanya Kwee Ceng, bersangsi. “Benar urusan kita telah selesai tetapi kita harus mencari suhu. Tua bangka itu pandai main gila, perlu apa kita menangkapnya benar-benar?”

“Engko Ceng, mari kau tanya kau,” kata si nona. “Bukankah gambar yang ayahku berikan padamu telah basah dan huruf-huruf apakah yang telah kau lihat di dalam situ?”

“Surat itu telah rusak sampai artinya tak dapat ditangkap,” kata Kwee Ceng sambil menggoyangi kepalanya.

“Habis, apakah kau tidak memikirkannya?” tanya pula Oey Yong tertawa.

Kwee Ceng benar-benar tidak dapat memikir atau menduga.

“Ah, Yong-jie yang baik,” katanya. “Kau tentu telah dapat memikir sesuatu, maka lekaslah kau jelaskan itu padaku!”

Oey Yong lantas menggurat pula di tanah. Ia menulis huruf-huruf di gambar, yang ia telah ingat dengan baik. Ia berkata, “Di garis pertama itu, yang kurang mestinya satu huruf Bu. Kalau keempat huruf itu lengkap, itu mestinya ’Surat wasiat Bu Bok.’ Sekarang garis yang kedua. Sekian lama aku tidak dapat pikir itu, sampai tadi si tua bangka menyebutnya. Menurut dugaanku, huruf itu mestinya ’san’ atau ’hong’, ialah gunung atau puncak…”

Kwee Ceng lantas membaca, “Jadinya, surat wasiat Bu Bok di gunung Tiat Ciang San.” Ia lantas bertepuk tangan, terus ia berseru, “Bagus! Sekarang mari kita lekas pergi ke sana! Tiat Ciang Pang bersekongkol sama bangsa Kim, mungkin sekali surat wasiat Gak Hui itu mereka serahkan pada Wanyen Lieh! Hanya tinggal yang dua garis lagi…”

Oey Yong tertawa.

“Kau sendiri tidak mau menggunai otakmu, kau paling bisa mendesak orang,” ia kata. “Aku rasa, garis yang ketiga itu harus dicari dari kata-katanya si tua bangka bahwa gunung itu mirip lima jeriji tangan. Bukankah itu berbunyi ’dibawah puncak jari tengah’?”

Kembali Kwee Ceng menepuk tangan.

“Yong-jie, kau sungguh cerdik, kau cerdik!” ia memuji pula. “Sekarang tinggal garis keempat, yang keempat…”

Oey Yong berdiam, ia berpikir.

“Ini, inilah sukar…” sahutnya. “…yang kedua apakah itu?” Ia memiringkan kepalanya, hingga rambutnya turun memain. “Sudahlah, nanti saja kita pikirkan pula. Sekarang kita pergi dulu.”

Sampai di situ, mereka tidak berayal lagi. Maka mereka lantas cari kuda dan burung mereka, terus mereka mulai dengan perjalanan ke arah barat itu, menurut petunjuk Tiat Ciang Sui-siang-piauw Khiu Cian Jin yang aneh itu, yang sebentar temberang dan jenaka, kemudian kosen benar-benar, lalu main memutuskan tali pinggang….

Mula-mula mereka melewatkan Siang-tek, lalu melintasi Tho-goan, sampai di Goan Kang, atau Goan-leng, mereka jalan ke hulu, dari sini mereka benar tiba di Louw-kee. Di sini mereka tanya-tanya orang di mana adanya gunung Tiat Ciang San. Mereka mendapat jawaban yang berupa gelengan kepala. Mereka menjadi heran, hampir mereka putus asa. Maka terpaksa mereka pergi mencari rumah penginapan.

Malam itu Oey Yong pasang omong dengan pelayan yang bicara banyak, tetapi tidak pernah menyebutkan Tiat Ciang San. Maka kemudian si nona kata, “Semua tempat yang kau sebutkan itu ada tempat-tempat yang umum, dasar Louw-kee tempat kecil, di sini tidak ada gunung dan airnya yang bagus!”

Dengan “gunung dan air”, si nona maksudkan pemandangan alam yang indah.

Kata-kata itu yang mengandung hinaan, membikin pelayan itu tak puas.

“Meskipun Louw-kee tempat keci,” katanya, “Tetapi pemandangan alam di gunung Kauw Jiauw San mana ada yang dapat menandanginya?”

Oey Yong ketarik sama nama gunung itu, yang artinya gunung Kuku Kera.

“Di mana letaknya Kauw Jiauw San itu?” ia tanya.

“Maaf,” berkata pelayan itu yang tidak menjawab, hanya ia mengundurkan diri.

Oey Yong memburu, di ambang pintu, ia menjambak punggung orang, untuk menarik dia itu kembali ke dalam kamar. Ia terus merogoh keluar sepotong perak dan meletaki itu di atas meja.

“Kau omong biar jelas, uang ini untukmu,” ia kata.

Ketarik hatinya pelayan ini, ia meraba-raba uang perak itu.

“Perak begini besar?” katanya.

“Ya,” sahut Oey Yong bersenyum dan mengangguk.

“Baiklah, aku nanti menjelaskannya,” pelayan itu lantas berkata, perlahan, “Cuma aku minta jangan jiewi pergi ke sana. Di atas gunung itu ada berdiam sekawanan hantu yang jahat, mereka juga memelihara banyak ular berbisa. Siapa mendekati gunung itu lima lie, jangan harap jiwanya selamat!”

Oey Yong dan Kwee Ceng saling memandang, mereka saling mengangguk.

“Kauw Jiauw San itu terdiri dari lima puncak, yang semuanya menjulang ke langit mirip tangan kera, bukankah?” kemudian si nona tanya.

Pelayan itu girang. “Ah, kiranya nona sudah tahu!” katanya. “Jadi itulah bukan aku yang menjelaskannya. Lima puncak itu memang luar biasa sekali.”

“Kenapa begitu?” tanya Kwee Ceng.

“Lima puncak itu berdiri rapat seperti lima jari tangan,” menerangkan si pelayan. “Puncak yang di tengah ialah puncak yang paling tinggi. Puncak-puncak yang lainnya, di kedua sisinya lebih rendah. Yang aneh ialah setiap puncak itu ada garisnya, mirip sama tiga tekukan jari tangan.”

Mendengar itu, Oey Yong berjingkrak-jingkrak sambil berseru, “Yang kedua! Yang kedua!”

“Benar! Benar!” Kwee Ceng pun berseru kegirangan.

“Engko Ceng mari kita pergi!” berkata Oey Yong.

“Tempat itu terpisah dari sini tak ada enampuluh lie, dengan menunggang kuda merah, sebentar saja kita bisa sampai di sana,” berkata Kwee Ceng. “Aku pikir, baiklah besok saja kita pergi berkunjung ke sana.”

Si nona tertawa.

“Siapa yang mau membuat kunjungan?” katanya. “Kita mencuri buku!”

“Ah!” seru Kwee Ceng, yang baru sadar. “Kenapa aku tolol sekali, aku tidak dapat memikir sampai ke situ…!”ä

Dua orang ini tidak mau membikin orang penginapan yang mengetahui perbuatan mereka, mereka keluar dengan diam-diam dengan melompati jendela. Dengan hati-hati juga mereka menuntun kuda mereka. Lalu, dengan menuruti petunjuk pelayan, mereka berangkat menuju ke arah tenggara. Jalanan ada jalanan pengunungan dan rumputnya tinggi-tinggi, jalanan sukar, tetapi kuda kecil itu dapat melalui itu. Di dalam tempo satu jam, sampailah mereka di kaki gunung.

Terlihat jelas lima puncak gunung, yang mirip dengan lima jari tangan berdiri tegak, terutama puncak yang di tengah-tengah itu.

“Puncak ini sama benar dengan puncak di dalam gambar,” berkata Kwee Ceng setelah ia mengawasi sekian lama. “Lihat di puncak itu, bukankah itu pohon cemara?”

Oey Yong tertawa ketika ia menyahuti, “Ya, hanya di sana kurang seorang jenderal yang lagi bersilat dengan pedang!”

Lantas mereka meninggalkan kuda mereka dan burung rajawali di kaki gunung itu, mereka jalan memutar ke belakang gunung. Di sini, di mana tidak tertampak ada orang lain, mereka mulai mendaki dengan berjalan cepat bagaikan lari. Beberapa lie telah dilewatkan, jalanan menikung, lalu menuju ke barat. Mereka maju terus. Di sini jalan selanjutnya berliku-liku sampai di depan mereka, mereka tampak pohon cemara melulu.

Mereka berhenti sebentar, mereka bersangsi, hingga mereka saling bertanya baik mereka mendaki terus atau melihat-lihat dulu. Selagi mereka berbicara, si burung merah molos dari tangan baju Oey Yong, terus ia terbang ke dalam rimba.

Si nona sangat menyayangi burungnya itu, sambil menggapai kepada Kwee Ceng, ia lari ke arah rimba itu, untuk menyusul burungnya. Hanya ia menjadi bingung ketika lekas sekali ia kehilangan hiat-niauw yang terbangnya sangat cepat. Terpaksa ia maju terus dengan Kwee Ceng mengikuti.

Sekira satu lie jauhnya, mereka tiba di satu tempat di depan mana ada cahaya api. Keduanya saling memberi isyarat, setelah mana mereka maju dengan perlahan-lahan, enteng tindakannya. Baru beberapa tindak, mendadak dari samping jalanan, di mana ada pohon-pohon besar, dua orang berlompat keluar, untuk menghadang di muka mereka. Dua orang itu sama-sama mengenakan pakaian hitam dan memegang senjata tajam. Hanya mereka itu tidak membuka suara.

Oey Yong lantas berpikir. Ia tahu, kalau mereka bertempur, sulit untuk melakukan pencurian “buku”, ialah surat wasiatnya Gak Hui itu. Ia cerdik sekali. Maka segera ia mengeluarkan tiat-siang, ialah tangan besi dari Khiu Cian in. Ia mengangkat tinggi-tinggi, terus ia bertindak tanpa membuka suara seperti dua orang itu.

Kapan kedua orang berpakaian hitam itu menampak tangan besi tersebut, mereka terkejut, dengan lekas mereka memberi hormat, lalu mereka menyingkir ke pinggiran untuk memberi jalan.

Oey Yong berlaku sebat luar biasa. Tepat orang mundur, tepat ia menyerang. Dengan tongkatnya, dengan dua gerakan saling susul, ia menotok kedua orang itu, hingga keduanya roboh tak berdaya lagi, hingga gampang saja mereka didupak mencelat ke dalam gompolan rumput. Habis itu, dengan cepat tetapi berhati-hati, mereka maju pula, menghampirkan api yang tadi terlihat samar-samar.

Nyatalah itu ada sebuah rumah batu dengan lima ruang dan api munculnya dari dua ruang timur dan barat. Mereka menghamprkan ruang barat itu. Segara hidung mereka menangkap bau amis. Tapi mereka tidak menghiraukannya, mereka lantas mengintai di jendela.

Di dalam kamar itu ada sebuah perapian besar, yang apinya menyala marong. Di atas situ ada sebuah kuali. Dua kacung menanti di samping perapian itu, yang satunya lagi menolak pompa anginnya, yang lainnya tengah melemparkan seekor ular yang ia jumput dari dalam karung, di lemparkan ke dalam kuali itu, di depan kuali ada seorang lain, seorang tua yang duduk numprah dengan mata dimeramkan, dengan menggunai tenaga besar, ia menghisap menyedot uap yang mengepul dari kuali itu, uap mana teranglah berhawa panas. Orang tua itu mengenakan baju kuning pendek. Dan dia bukan orang lain daripa Khiu Cian Jin.

Selagi ia menyedot hawa masakan ular itu, kepala Khiu Cian Jin mengeluarkan hawa panas yang nampak bagaikan uap juga, sedang kedua tangannya yang diangkat tinggi, sepuluh jerijinya pun terlihat mengeluarkan uap serupa. Habis itu, mendadak ia bangun berdiri, kedua tangannya itu dimasuki ke dalam kuali. Di waktu begitu, maka si bocah tukang kipas lantas mengompa angin dengan luar biasa kuat hingga ia memandikan keringat pada dirinya.

Khiu Cian Jin membiarkan tangannya berada di dalam godokan ular itu, sampai rasa panasnya sudah tak tertahankan, baru ia menarik kedua tangannya itu. Setelah menarik, ia menyampok sebuah kantung kain yang tergantung di dalam ruangan itu, sampokannya itu menerbitkan suara nyaring, tetapi kantungnya sendiri tidak bergoyang.

Kwee Ceng heran. Ia tahu betul isinya kantung itu mestinya pasir dan isi itu tak ada satu batok. Yang mengherankan ialah kantung itu tersampok tanpa bergoyang itu. Itulah menandakan lihaynya ilmu silat orang tua itu.

Oey Yong sebaliknya daripada engko Cengnya itu. Ia tetap menganggap si orang tak lain lagi bersandiwara, untuk mengelabui orang. Coba ia tidak lagi memikir untuk mencuri surat wasiat, pastilah ia hendak menjengeki orang tua itu.

Latihannya Khiu Cian Jin diulangi dan diulangi lagi. Habis menyampok kantung, ia masuki pula tangannya ke dalam kuali panas itu, habis itu, ia mengangkat lagi tangannya itu dan menyampok kembali kantung pasir. Demikian seterusnya.

Setelah mengintai sekian lama, Oey Yong dan Kwee Ceng pergi ke kamar tidur. Di sini mereka menyaksikan pula hal yang mengejutkan mereka. Sebab disini mereka menemukan dua orang yang mereka kenal baik, ialah Yo Kang bersama Bok Liam Cu. Sepasang muda mudi itu lagi bicara dengan asyik, atau lebih benar, Yo Kang alias Wanyen Kang lagi membujuki si nona untuk mereka menikah siang-siang. Manis sekali bicaranya putra dari almarhum Yo Tiat Sim itu. Sebaliknya nona Bok bersikeras meminta si pemuda lebih dulu membalaskan sakit hatinya terhadap Wanyen Lieh, supaya pangeran bangsa Kim itu dibunuh mati, untuk melampiaskan dendeman ayah dan ibunya. Katanya dengan begitu baru ia puas dan hatinya akan menjadi lega dan senang.

“Ah, adik yang baik, mengapa kau tidak dapat melihat kenyataan?” kata Yo Kang manis.

“Kenapa begitu?” Liam Cu tanya heran.

“Memang! Wanyen Lieh itu terjaga kuat sekali, aku seorang diri, mana dapat aku membunuh dia begitu gampang, seperti kau menginginkannya?” menjawab Yo Kang. “Lagianya kalau aku bersendirian saja, mana bisa aku gampang bekerja? Tidak demikian setelah kau menjadi istriku. Nanti aku ajak kau menghadap dia lalu dengan mendadak kita bekerja berbareng, menyerang padanya selagi dia tidak bersiaga. Tidakkah dengan begitu maksud kita dapat tercapai?”

Alasan itu kuat, Bok Liam Cu lantas tunduk. Di antara sinar lampu, kelihatan nyata kedua belah pipinya yang merah, menandakan kecantikannya.

Yo Kang melihat hati orang tertarik, ia lantas mencekal tangan orang yang kiri, yang ia uasp-usap.

Menampak demikian macam, Oey Yong kehilangan kesabarannya. Ia menganggap Liam Cu terancam bahaya. Dengan sekonyong-konyong ia berseru, “Enci Bok, jangan kau percaya obrolannya si jahanaman!”

Yo Kang kaget sekali, segera ia meniup api hingga padam, setelah mana, dengan kedua tangannya, ia memeluk Liam Cu, kemudian, seperti disengaja seperti bukan, ia menutupi kedua kupingnya nona itu.

Di luar nkamar, di saat Oey Yong hendak membuka suara pula, ia segera mendengar bentakan yang bengis, “Siapa yang berani lancang mendaki Tiat Cang San?!” Itulah suaranya seorang tua.

Oey Yong segera berpaling, demikian juga Kwee Ceng. Di situ ada sinar rembulan, maka tertampak nyata si penegur adalah Khiu Cian Jin. Sebaliknya orang she Khiu ini pun terperanjat akan mengenali sepasang muda-mudi itu.

“Khiu Looyacu!” berkata Oey Yong sambil tertawa. Ia berlaku tabah dan manis. “Aku datang ke mari untuk memberi selamat! Bukankah aku tidak menyalahi janji kita akan bertemu dalam tempo tujuh hari?”

“Janji bertemu tujuh hari?” berseru Khiu Cian Jin. “Ngaco belo!”

“Ah, ah!” Oey Yong tertawa pula. “Kenapakah baru sekejapan mata saja, kau sudah lantas lupa? Eh, ya, apakah perutmu yang mulas sudah sembuh ke akar-akarnya?”

Nampaknya orang tua itu sudah tidak dapat menguasai dirinya lagi, dalam murkanya, ia berseru panjang, lalu kedua tangannya melayang ke pundak kiri dan kanan si nona.

Oey Yong yang tertawa haha-hihi, ia tidak memperdulikan ancaman itu, ia tidak mau menangkis atau berkelit. Ia sengaja hendak membikin tangan orang itu terkena duri baju lapis mustikanya. Akan tetapi ia segera mendengar suara kaget dari Kwee Ceng, “Yong-jie, minggir!” Menyusul itu, ia mendengar sambaran angin. Ia tahu tentulah pemuda itu hendak menyerang, untuk menyambuti tangan orang. Tapi ia terlambat. Disaat ia memikir untuk berkelit, hidungnya telah tercium bau amis, menyusul mana kedua pundaknya terasa terbentur tenaga keras, maka tanpa merasa, tubuhnya terhuyung ke belakang dan belum lagi tubuhnya jatuh ke tanah, ia telah tak dasarkan diri.

Akan tetapi Khiu Cian Jin telah terluka pada kedua tangannya itu, yang terus mengucurkan darah, hanya ketika serangan Kwee Ceng sampai, ia masih sempat mengelit tangannya itu, yang terus diputar balik, untuk dipakai membalas menyerang. Maka bentroklah tangan mereka, hingga keduanya sama-sama mundur tiga tindak. Itulah menunjuki ketangguhan mereka berimbang.

Kwee Ceng mengkhawatirkan Oey Yong, tidak mau ia melayani lebih jauh. Ia berlompat kepada kekasihnya itu, sambil membungkuk, ia menyambar tubuh orang buat diangkat dan terus dibawa lari. Hanya hampir berbareng dengan itu, ia merasakan angin menyambar punggungnya. Ia tahu itulah penyerangan dari lawan. Dengan terpaksa, ia menangkis sambil menyerang. Ia memeluk Oey Yong dengan tangan kiri, tanpa memutar tubuh, ia menyerang ke belakang dengan tangan kanannya. Itulah jurus” Sin liong pa bwee”, atau “Naga sakti menggoyang ekor”. Itu pula tipu silat dari Hang Liong Sip-pat Ciang – Delapanbelas Tangan menakluki Naga – tipu silat yang diperantikan menolong diri dari ancaman bahaya. Dalam keadaan kesusu itu, ia menggunai tenaga berlipat ganda.

Kapan Khiu Cian Jin merasakan tangannya bentrok pula sama si anak muda, tubuhnya terhuyung di luar kehendaknya, berbareng dengan mana rasa sakit di tangannya itu nelusup hingga ke ulu hatinya. Sekarang baru ia ingat bahwa di duri bajunya Oey Yong ada racunnya, maka lekas-lekas ia mengangkat kedua tangannya, melihat di bawah terangnya sinar bulan. Ia tahu tangannya sendiri mengandung racun, ia menduga racun musuh juga kihay, kalau ia terluka, mungkin lukanya habet. Karena itu, ia menjadi khawatir.

Kwee Ceng menggunai ketikanya selagi Khiu Cian Jin memeriksa lukanya itu, ia memondong terus Oey Yong untuk dibawa kabur, tetapi ia bukannya lari turun gunung hanya sebaliknya mendaki puncak. Ia baru lari beberapa puluh tindak atau ia mendengar teriaka-teriakan riuh di belakangnya, ketika ia menoleh, ia melihat ia lagi dikejar oleh banyak sekali orang yang berpakaian hitam yang pada membawa obor yang diangkat tinggi-tinggi. Karena tidak ada jalan lain, ia terpaksa lari naik terus. Sembari lari ia masih mengambil kesempatan memegang hidung si nona. Untuk kagetnya, ia merasakan orang tidak bernapas.

“Yong-jie, Yong-jie!” ia memanggil, hatinya cemas. Tapi ia tidak memperoleh jawaban, hingga ia menjadi bertambah khawatir, hingga ia menjadi bingung, mendengar teriakan-teriakan riuh di belakangnya, ayal sedikit, pengejar-pengejarnya itu telah mendatangi dekat. Di antara mereka itu ada Khiu Cian Jin. Hanya jumlah mereka ini tinggal belasan. Tetapi itu menandakan kawanan pengejar itu lihay semua. Sebab siapa tidak pandai ilmu enteng tubuh dan larinya tak keras, dia ketinggaln jauh di belakang.

“Jikalau aku seorang diri, tak sukar untuk aku nerobos turun dari sini,” kata Kwee Ceng di dalam hatinya. “Sekarang aku lagi membawa-bawa Yong-jie yang lagi terluka parah ini…”

Di dalam keadaan mogok seperti itu, tidak ada pilihan lagi untuk pemuda ini. Dengan terpaksa ia lari naik terus. Ia sekarang tidak lagi memilih jalanan, ia hanya lari dan berlompat lempang langsung ke atas, ia berpegangan, melapai dengan sebelah tangan. Untung untuknya, selama di gurun pasir, ia telah melatih diri dalam hal mendaki gunung. Karena ia pun naik lempang, maka tidak lama, dapat ia meninggalkan pula kawanan pengejarnya itu.

Kembali Kwee Ceng memeriksa Oey Yong. Ia meraba si nona. Sekarang ia merasakan hawa sedikit hangat. Ini membuat hatinya sedikit lega. Hanya tempo dipanggil beberapa kali, nona itu tetap tidak memberikan penyahutan, tetap ia tak mendusin.

Kemudian Kwee Ceng dongak, memandang ke atas. Maka ia melihat, puncak sudah dekat. Ia lantas menggunai pikirannya. Ia percaya sekarang ini ia sudah di kurung di sekitar puncak itu, jadi perlu sekali ia suatu tempat untuk menempatkan diri, untuk beristirahat. Terutama perlu sekali Oey Yong dibikin sadar. Ia lantas melihat ke kiri kanannya. Di sebelah kiri, sejarak duapuluh tembok lebih, ia melihat samar-samar seperti gua. Tanpa sangsi lagi, ia lari naik ke atas. Ia benar-benar mendapati sebuah gua. Tanpa jeri sedikit juga, ia berlari masuk ke dalam situ. Segera ia meletaki tubuh si nona, dengan lantas ia menekan jalan darah leng-tay-hiat di punggung si nona, guna membantu jalan pernapasannya.

Di sekitar puncak itu terdengar riuh suara orang-orang Tiat Ciang pang, yang rupanya mencari terus. Kwee Ceng tidak menghiraukan mereka itu, ia tetap menolong Oey Yong. Itulah usaha paling utama untuknya.

Selang lamanya sepeminuman teh, mendadak Oey Yong mengasih dengar seruan perlahan. Ia sadar. Bahkan segera ia berkata, “Aduh…dadaku sakit…” Suaranya itu perlahan sekali.

Tapi Kwee Ceng girang luar biasa.

“Yong-jie, jangan takut,” ia berkata, menghibur. “Aku ada bersama kau. Kau beristirahatlah dulu.” Ia terus bertindak ke mulut gua, di situ ia berdiri tegak, kedua tangannya disilangkan di depan dadanya, bersiap untuk mengadu jiwa.

Setelah berada di mulut gua itu, hingga ia dapat melihat luas ke sekitarnya, hati pemuda ini gentar juga. Di pinggang gunung ia seperti menyaksikan tembok obor. Teranglah orang-orangnya Khiu Cian Jin sudah kumpul semua. Sejarak satu lie dari dia, ia melihat orang-orang yang nampak rada tedas, di paling depan berdiri satu orang yang bukan lain daripada Khiu Cian Jin. Orang banyak itu bergusar dan mencaci tidak hentinya, tetapi tubuh mereka tidak bergerak, mereka bagaikan dipantek paku, tidak ada seorang jua diantaranya yang bertindak maju sekalipun satu tindak.

Untuk sementara, Kwee Ceng mengawasi mereka itu. Ia tidak dapat menerka maksud mereka. Oleh karena tidak ada ancaman bahaya langsung, ia kembali ke dalam untuk melihat Oey Yong. Disaat ia membungkuk, mendadak ia mendengar suara apa-apa di belakangnya. Ia membungkuk dengan membaliki belakang kepada bagian dalam dari gua itu. Ia memutar tubuh dengan segera, kedua tangannya siap sedia, kedua matanya dipentang lebar. Tapi melihat tempat gelap, ia tidak nampak suatu apa. Entah berapa dalamnya gua itu.

“Siapa?!” anak muda ini menegur. “Lekas keluar!”

Dari dalam gua itu terdengar suara terbalik, ialah kumandangnya sendiri. Karena ia berdiam, ia memasang mata dan kuping, tetap waspada.

Sebentar kemudian, dari dalam situ terdengar suara batuk-batuk perlahan, lalu itu disusul sama tertawa yang nyaring, yang membuatnya orang mau tidak mau bangun bulu romanya. Itulah suaranya Khiu Cian Jin.

Dengan sebat Kwee Ceng menyalakan api hwee-cip. Maka segeralah terlihat dari pedalaman gua itu bertindak mendatangnya satu orang yang tangannya memegang kipas daun, kumis jenggotnya telah putih semua, karena dialah Tiat Ciang Sui-siang-paiuw Khiu Cian Jin. Maka kagetnya pemuda itu tak terkira-kira. Bukankah orang itu barusan ada di sebelah bawah, lagi mencaci kalang kabutan bersama orang-orangnya? Kenapa adalam sekejap saja dia sudah berada di atas, di dalam gua ini?

Khiu Cian Jin lantas tertawa.

“Haha-haha bocah-bocah!” katanya. “Kamu benar-benar tidak takut mampus! Benar-benar kamu datang mencari kakekmu! Bagus, sangat bagus!” Habis itu, mendadak dari tersenyum berseri-seri, ia memperlihatkan roman bengis. Ia pun membentak, “Inilah daerah terlarang dari Tiat Ciang Pang! Siapa masuk ke mari, dia mesti mati, dia tak dapat hidup pula! Oh, bocah-bocah, benar-benar kamu sudah bosan hidup!”

Kwee Cengb erpikir keras untuk dapat menangkap maksud orang yang sebenarnya, atau Oey Yong telah mendahului padanya. Si nona membaliki kepada orang tua itu, “Jikalau tempat ini tempat terlarang, kenapa kau masuk ke mari?”

Khiu Cian Jin menyeringai. Terang ia likat. Hanya sebentar, lantas ia berkata, “Siapa mempunyai ketika senggang akan adu bicara dengan kamu, bocah-bocah!” Lantas dia bertindak cepat, untuk nerobos keluar.

Kwee Ceng melihat sikap orang, ia khawatir Khiu Cian Jin nanti membokong Oey Yong. Maka ia pikir, baiklah ia turun tangan terlebih dulu atau nanti orang mendahului mereka. Maka ia berlompat maju, kedua tangannya dikasih turun dengan berbareng ke pundak jago tua itu. Ia menduga orang bakal membalik tubuh, untuk menangkis, maka ia sudah bersedia akan meneruskan dengan sikutnya ke arah dada. Itulah ilmu silat ajarannya Biauw Ciu Sie-seng Cu Cong si Mahasiswa Tangan Lihay, Manusia Aneh kedua dari Kanglam. Serangan ke pundak hanya ancaman, yang benar ialah sikut ke dada.

Benarlah dugaan Kwee Ceng, Khiu Cian Jin menangkis. Hanya ia merasa heran. Tangkisannya orang tua ini lunak, tak sehebat tadi waktu mereka bentrok tangan. Tapi ia berpikir cepat. Dengan lantas ia mengubah serangannya, ialah ia membatalkan sikutnya, ia berbalik menyambar kedua tangan orang, yang ia terus cekuk!

Khiu Cian Jin kaget, dia bentrok, tetapi sia-sia saja, dia tidak dapat meloloskan tangannya itu. Maka teranglah sudah, ilmu silatnya masih sangat rendah!

Sekarang Kwee Ceng tidak bersangsi pula. Ia lantas membuat main kedua tangannya. Mulanya ia menolak, lalu ia menarik. Tepat tubuh orang maju ke depannya, ia menyambuti dada orang dengan totokan di jalan darah im-touw-hiat. Maka sedetik itu juga, lemaslah tubuhnya Khiu Cian Jin, lantas saja dia roboh di tanah, tak dapat dia berkutik lagi, cuma dari mulutnya segera terdengar suaranya yang lunak, “Ah, tuan cilikku, disaat sebaga ini, mengapa kau justru bergurau denganku..?”

Justru itu suara di luar terdengar semakin nyata. Teranglah bahwa orang-orang Tiat Ciang Pang sudah mendatangi semakin dekat. Rupanya mereka itu dapat mendaki sedikit demi sedikit.

“Sekarang ini kau baik-baiklah mengantarkan kami turun gunung!” berkata Kwee Ceng kepada orang tawanannya itu. Ia berbicara perlahan tetapi bernada mengancam.

Khiu Cian Jin mengerutkan alis dan menggeleng kepala.

“Jiwaku sendiri terancam bahaya, mana dapat aku mengantarkan kau turun gunung?” katanya.

“Kau menyuruh semua murid dan cucu muridmu itu membuka jalan,” berkata Kwee Ceng, tetap sabar, “Nanti sesampainya di kaki gunung, aku akan membeaskan kau dari totokanku ini.”

Orang tua itu mengerutkan alisnya pula.

“Oh, tuan kecilku,” katanya, suaranya tetap suara tak berdaya, “Kenapa kau masih terus mendesak aku? Pergi ke mulut gua, kau melihat keluar, nanti kau mengerti sendiri…”

Kwee Ceng memang heran. Ia lantas bertindak ke mulut gua. Begitu ia melihat ke bawah, ia berdiri menjublak. Di sana ia melihat Khiu Cian Jin, dengan mengibas-ibas kipas daunnya, masih saja mencaci dan mendamprat seraya membanting-banting kaki, sebab rupanya ia sangat mendongkol yang dia tidak dapat segera naik ke puncak, ke gua itu. Ia segera menoleh ke belakang. Di belakang itu ia melihat Khiu Cian Jin tetap lagi rebah tak berkutik!

“Kau…kau…” katanya, heran sangat. “Kenapa kamu ada dua…?”

“Ah, engko tolol, apakah kau masih tidak mengerti?” berkata Oey Yong perlahan. “Memang benar ada dua Khiu Cian Jin! Khiu Cian Jin yang satu lihay ilmu silatnya, Khiu Cian Jin yang lain si tukang mengepul! Mereka itu terlahir sama rupa sama macamnya!”

Baru sekarang si pemuda mendusin. Tapi ia masih menanya Khiu Cian Jin di hadapannya itu, “Benarkah?”

“Si nona benar,” katanya. “Katalah dua saudara kembar dan aku si kakak.”

“Habis siapa Khiu Cian Jin yang sebenarnya?”

“Nama tak sama, apakah artinya itu?” kata Khiu Cian Jin, si tukang mengepul ini. “Aku dipanggil Khui Cian Jin, dia juga dipanggil Khiu Cian Jin…Kami dua saudara akur sama lain, kami berdua semenjak masih kecil telah memakai satu nama…”

“Lekas bilang, siapa yang sebenarnya Khiu Cian Jin?!” Kwee Ceng masih mendesak. Ia agak mulai habis sabar.

“Buat apa ditegaskan pula?” berkata Oey Yong. “Tentulah ini yang palsu!”

“Hm!” Kwee Ceng mengasih dengar suara bengis. “Eh, tua bangka, siapa namamu yang sebenarnya?!”

Khiu Cian Jin terdesak, ia rupanya takut juga. Maka ia menyahuti, “Aku samar-samar ingat ayahku almarhum pernah memberikan nama lain padaku yaitu Cian Lie. Karena nama itu aku dengarnya tak sedap, aku tidak pakai…”

“Jadilah kau Khiu Cian Lie!” bentak Kwee Ceng.

Beda dari sikapnya tadi, sekarang Khiu Cian Lie tidak lagi menunjukkan roman likat atau takut, dengan lantang ia berkata, “Orang suka sebut apa, ia menyebut apa, apakah kau berhak mencampurinya?”

Kwee Ceng tidak menggubris sikap orang ini. Ia menanya, “Kenapa mereka itu mencaci kalang-kabutan? Kenapa mereka tidak naik terus ke mari?”

“Tanpa titahku, siapa berani naik ke mari?” menjawab Khiu Cian Lie, jumawa.

Kwee Ceng ragu-ragu.

“Engko Ceng,” berkata Oey Yong. “Jikalau tidak dikasih rasa yang enak, ini bangsat tua yang sangat licin tidak nanti mau mengudal isi perutnya! Kau coba totok jalan darahnya thian-kiu-hiat!”

Kwee Ceng menurut, ia dekati orang tua dan menotok.

Jalan darah thian-kiu-hiat itu letaknya di bawah tenggorakan, di atasan satu dim dari jalan darah soan-kie-hiat, itulah cabang im-wie dari delapan jalan nadi. Begitu lekas ia ditotok, begitu lekas juga Khiu Cian Lie menjadi tidak karuan rasanya, ia merasakan sakit seperti digigit ribuan semut dan gatalnya bukan main. Maka juga ia menjerit mengaduh-aduh dan mengatakannya, “Apakah ini bukan siksaan hidup! Bukankah ini perbuatan sangat melanggar perikemanusiaan…?”

“Lekas menjawab aku!” kata Kwee Ceng. “Akan aku membebaskan padamu!”

Kalah juga orang tua bandel ini.

“Baiklah,” katanya kemudian sambil menahan siksaan, “Kakekmu tidak sanggup melayani kamu kedua bocah…Nah, kamu dengarlah…!”

Beginilah keterangannya si tukang mengepul.

Khiu Cian Lie dan Khiu Cian Jin benar bersaudara kembar, dan semenjak masih kecil, sfat dan roman mereka tak ada bedanya. Pada waktu Khiu Cian Jin berumur tigabelas tahun, secara kebetulan dia dapat menolongi pangcu atau ketua dari Tiat Ciang Pang. Pangcu itu mau membalas budi, maka ia mewariskan kepandaiannya kepada penolongnya itu. Cian Jin luar biasa, dalam umur duapuluh empat tahun, ia telah pandai segala apa bahkan melebihkan gurunya. Ketika pangcu itu tutup mata, dia mewariskan Tiat Ciang Pang kepada murid yang berbareng menjadi tuan penolongnya ini. Khiu Cian Jin gagah dan pintar, di bawah pimpinannya, partainya itu memperoleh kemajuan, kemudian namanya, terutama gelarannya – Tiat Ciang Sui-siang-piauw, si Tangan Besi Mengambang di Air – menjadi sangat kesohor sesudah ia menindas rombongan dari Heng San Pay. Khiu Cian Jin memahamkan Go Tok Sin Ciang Sin-kang, yaitu ilmu tangan besi yang beracun, tetapi dia tidak turut dalam pertemuan besar yang pertama di Hoa San, karena itu waktu ia belum menyakinkannya sempurna ilmunya, ia jeri terhadap Ong Tiong Yang, maka ia mengambil putusan untuk melatih terus, guna nanti turut dalam pertemuan yang kedua kali. Ia sangat ingin menjadi “Boe Kong Thian Hee Tee It”, ialah jago nomor satu di kolong langit ini.

Sementara itu, setelah usianya meningkat, sifat Khiu Cian Lie menjadi semakin lihay dalam ilmu mengepul, dia sangat doyan ngebrahol dan mendusta, gemar sekali ia menipu orang, dan karena roman mereka sama, dia pun dapat membawa aksi jago dengan baik, sedang kalau mogok dia menggunai kelicinannya seperti dua kali dia menggunai akal mencoba menjual Oey Yong beramai. Peranannya ini membuat Oey Yong dan Kwee Ceng menampak kesulitan, sampai di Kun San pemuda she Kwee ini mendapat perlawanan hebat, sedang Oey Yong baru saja merasai tangan lihay dari Khiu Cian Jin yang tulen.

Puncak tengah dari gunung Tiat Ciang San ini dinamakan Tiong Cie Hong, artinya puncak Jari Tengah. Inilah tempat menyimpan tulang belulang dari semua ketua Tiat Ciang Pang. Kalau satu pangcu merasa umurnya bakal sampai, maka ia naik seorang diri ke atas puncak, untuk menanti penghembusan napasnya yang terakhir. Pula ada satu aturan yang sangat keras dan mesti ditaati dalam Tiat Ciang Pang itu. Ialah, siapa juga dilarang mendaki dan memasuki puncak Tiong Cie Hong bagian tekukan yang kedua atau tee-jie-ciat, dan siapa melanggar itu, dia tidak dapat turun lagi dengan masih hidup. Umpama kata terjadi pangcu mati dilain tempat, mayatnya mesti dibawa oleh salah satu muridnya naik ke puncak itu, habis itu murid ini mesti membunuh diri di atas puncak. Kebinasaan ini oleh si murid yang bersangkutan dipandang suatu kehormatan paling besar.

Kwee Ceng telah heran kalau pihak Tiat Ciang Pang menjadi sangat gusar hingga mereka mencaci kalang kabutan.

Kenapa Khiu Cian Lie berani mendaki puncak itu? Ini pun ada sebabnya. Dan sebab itu begini, “Di dalam rumah atau gua batu itu, ada tersimpan banyak barang berharga, atau mustika. Sebab setiap satu pangcu yang mau mati, dia tentu naik dengan membawa satu atau lebih barang berharga, umpama golok atau pedang mustika, atau barang kuno atau barang permata mulia. Setelah pelbagai pangcu, maka dianggap di situ telah di situ telah banyak disimpan benda berharga itu. Khiu Cian Lie bersusah hati karena selama beberapa bulan belakangan ini ia gagal dengan aksi membualnya, ia tahu itu semua disebabkan ia tidak punya guna. Maka ia memikir, kalau ia mempunyai senjata mustika, pedang atau golok, tentulah ia bisa perbaiki kehormatannya yang telah ternoda itu. Hatinya jadi semakin terdesak kapan ia ingat segera juga ia bakal menghadapi Kwee Ceng dan Oey Yong, maka disaat terdesak itu, dengan mati-matian dan dengan diam-diam ia naik ke puncak, untuk mencuri salah satu senjata. Apa lacur, ia justru kepergrok Kwee Ceng dan Oey Yong sekali dan ia dirobohkan tanpa berdaya.

Mendengar keterangan itu, Kwee Ceng berpikir, “Tempat ini tempat keramat, pasti musuh tidak bakal akan naik ke atas. Tetapi juga tidak ada bakal jalannya untuk turun, cara bagaimana aku bisa lolos dari sini?”

Selagi ia berpikir keras itu, Kwee Ceng mendengar suara kawannya, “Engko Ceng, coba kau masuk ke dalam dan melihatnya.”

“Tapi marilah aku periksa dulu lukamu,” berkata si pemuda. Ia lantas mencari cabang kering, untuk membikin obor, sesudah mana ia buka baju si nona, guna melihat lukanya. Di kedua pundak yang putih dan halus ada tapak dari lima jari tangan, tapak yang hitam. Luka itu bukannya enteng, maka syukur, si nona terlindung baju lapisnya itu.

Kwee Ceng menjadi bingung. Bagaimana ia dapat mengobati luka ini? Ia ingat luka gurunya disebabkan hajaran Kam Mo Kang dari Auwyang Hong. Luka gurunya itu dan luka Oey Yong ini sama hebatnya. Gurunya tertolong karena ketangguhan tubuhnya dan Oey Yong karena baju lapisnya.

Tengah si anak muda ini menjublak, Khiu Cian Lie menperdengarkan suaranya pula, “Eh, bocah, omonganmu barusan apa omongan angin busuk belaka? Kenapa kau tidak lekas-lekas membebaskan kakekmu dari totokanmu?”

Kwee Ceng tidak dengar itu. Ia masih berdiam saja.

Adalah Oey Yong yang mendengarnya.

“Eh, engko tolol, kenapa kau nampaknya gelisah?” berkata si nona tertawa. “Kau bebaskanlah tua bangka itu!”

Baru sekarang Kwee Ceng mendusin. Ia menotok orang tua itu di jalan darah thian-kut-hiat, dengan begitu, lenyaplah rasa gatalnya Khiu Cian Lie, tetapi karena jalan darah im-touw-hiat masih tertutup, ia tetap rebah di tanah.

Kwee Ceng meninggalkan orang tua ini. Ia pergi mencari cabang cenara yang panjang dua kaki, yang ia nyalakan sebagai obor, sembari memegangi itu, ia kata kepada Oey Yong, “Yong-jie, aku mau masuk ke dalam untuk melihat-lihat. Kau takut atau tidak?”

Oey Yong tengah merasakan panas dingin bergantian, hebat penderitaannya ini, tetapi karena khawatir Kwee Ceng nanti berduka untuknya, ia menahan diri.

“Di sini ada si tua bangka menemai aku, aku takut apa?” katanya, tertawa. “Kau pergilah!”

Dengan lantas Kwee Ceng bertindak pergi. Ia berlaku hati-hati. Sesudah jalan melewati dua tikungan, ia tiba di depan mulut gua yang besar. Jadi di dalam gua itu ada sebuah guanya lagi. Bahkan gua ini lebih luas lima lipat daripada yang di luar. Kalau yang di luar tadi ada bekas-bekasnya di gali, gua ini wajar.

Di dalam situ ada terdapat duapuluh lebih rangka tulang-belulang, dengan pelbagai sikapnya juga, ada yang duduk, ada yang rebah atau tidur. Di sisi setiap rangka itu ada terletak senjata seperti golok, senjata rahasia, perabaot bersantap, juga rupa-rupa barang permata. Kwee Ceng mengawasi itu semua. Jadi benar keterangannya Khiu Cian Lie tadi. Ia kata dalam hatinya, “Beberapa puluh pangcu ini, dulu harinya semua gagah perkasa, tapi sekarang semua tinggal tulang-belulangnya, semua tinggal di sini dalam kesunyian…”

Pemuda ini bukan seorang loba, melihat semua senjata dan permata itu, tidak pernah timbul keserakahannya, ia tidak menghiraukan itu, ia hanya memikirkan Oey Yong. Sesudah melihat-lihat sekian lama, ia memikir untuk keluar lagi. Atau mendadak ia melihat rangka yang terakhir, di tangan siapa masih tercekal sebuah kotak besi yang nampaknya ada suratnya. Ia lantas menghampirkan, ia menyuluhi dengan obornya.

“Rahasia memukul pecah bangsa Kim,” demikian ia membaca surat itu, yang diukir di tutup kotak atau peti besi kecil itu. Maka tercekatlah hatinya. Segera ia ingat. “Bukankah ini surat wasiatnya Gak Bu Bok?” Maka ia mengulurkan tangannya, mengambil kotak itu. Begitu menyentuh, dengan bersuara, tangan itu menyambar.

Kwee Ceng kaget sekali, syukur ia keburu lompat mundur.

Gagal menyambar, tangan itu jatuh ke tanah, berkumpul menjadi satu.

Dengan membawa kotak itu, Kwee Ceng lari keluar. Ia segera nancap obornya di tanah, ia lantas memondong Oey Yong, untuk dikasih bangun, setelah mana, di depan si nona ia membuka tutupnya kotak.

“Aku menemui ini,” ia memberitahukan.

Isi peti besi itu ada dua jilid buku tulisan tangan, satu tebal, yang lain tipis.

Kwee Ceng mengambil lebih dulu yang tebal. Nyata isinya itu ada salinan Han See Tiong atas pelbagai laporan atau usulnya Gak Hui yang dihanturkan kepada rajanya, ada syair dan lainnya buah kalam jenderal gagah perkasa dan setia itu, bunyinya pun penuh dengan penguraian kesetiaan dan semangat kegagahan. Maka ia menjadi sangat kagum, hingga ia menghela napas. Yang paling menawan hati ialah Gak Hui tidak pernah melupai rakyat.

Oey Yong pun kagum sekali.

“Nah, coba periksa buku yang satunya,” kemudian Oey Yong minta.

Kwee Ceng menurut, ketika ia melihatnya, lantas ia menjadi sangat girang.

“Ini dia ilmu perang yang ditulis sendiri oleh Gak Bu Bok!” katanya berseru. “Dan inilah buku yang Wanyen Lieh si bangsat senantiasa ingat sekalipun di dalam mimpinya! Sungguh Thian murah, kitab ini tidak sampai jatuh di dalam tangannya jahanam itu…”

Ketika anak muda ini membuka halaman yang pertama, ia lantas membaca delapanbelas huruf besar, yang artinya, “Mengutamakan pemilihan – Rajin berlatih – Adil dalam persenan dan hukuman – Jelas dengan perintah – Keras dengan tata tertib – Bersama-sama senang dan susah” Jadi inilah pokok untuk memilih punggawa atau serdadu, untuk mendidik dan mengatur tentara.

Selagi Kwee Ceng hendak membalik lainnya, tiba-tiba ia mendengar berhentinya cacian orang-orang Tiat Ciang Pang, yang tadinya terdengar sekarang hanyalah suara angin.

Berdua Oey Yong dan si anak muda memasang kuping. Mereka heran bukan main.

Tidak antara lama barulah terdengar suara lainnya. Itulah suara seperti sa-sus atau sar-ser, perlahan tetapi berisik ramai. Ketika Khiu Cian Lie mendengar itu, ia lantas mengeluh berulang-ulang, dengan suara sedih, ia berkata, “Bocah-bocah, hari ini jiwa kakekmu dihabiskan di tangan kamu…”

Kwee Ceng tidak meladeni orang tua itu, ia lompat keluar, tiba di mulut gua, setelah melihat ke bawah, ia menjadi kaget sekali. Mulanya ia tercengang. Baru sekarang ia mengerti bunyi suara yang luar biasa itu. Di antara sinar rembulan terlihat ribuan atau puluahn ribu ular berbisa lagi merayap naik ke atas puncak, semua sambil mengangkat kepala dan mengulur, mengulat-uletkan lidahnya!

“Mereka tidak berani memasuki tempat keramat ini, sekarang mereka menyerang dengan ular,” kata Kwee Ceng dalam hatinya. Tidak ayal lagi, ia lari ke dalam untuk memodong Oey Yong.

Khiu Cian Lie melihat perbuatan si anak muda, lantas ia mementang bacotnya mencaci.

Kwee Ceng tidak mau melayani tukang membual itu, hanya ketika ia lewat di sampingnya, ia mendupak pinggang orang dua kali. Dengan itu ia membebaskan totokan di jalan darah im-touw-hiat. Habis itu, dengan membawa kotak besinya, ia merayap naik ke atas puncak sekali.

Gua itu berada di tekukan yang kedua, untuk tiba di puncak tertinggi, jaraknya masih lagi beberapa puluh tombak. Kwee Ceng tidak menghiraukan itu, ia membesarkan hatinya, ia mengerahkan tenaganya, ia mengeluarkan kepandaiannya marayap naik. Ketika akhirnya ia tiba di atas, tempo ia melongok ke bawah, ia mendapatkan rombongan ular itu telah masuk ke dalam gua. Ia tidak memikirkan lagi Khiu Cian Lie, yang ia percaya, sebagai orang Tiat Ciang Pang, tentu tahu ilmu untuk mengusir atau membinasakan ular.

Begitu lekas ia sudah merebahkan Oey Yong, Kwee Ceng lantas berpikir keras. Ia memikirkan dengan cara bagaimana ia dapat menolong nona itu dari makhluk marayap yang jahat itu. Ia sendiri tidak takut. Ia sudah makan darah ular dan ular takut kepadanya.

“Kau nyalakan api dulu,” berkata Oey Yong, yang dapat menerka kesulitannya si anak muda. “Bikinlah api itu mengurung mengelilingi kita.”

“Ah, benar tolol!” berseru Kwee Ceng. “Kenapa aku tidak dapat memikirkan itu?”

Ia lantas mengumpulkan cabang kering, ia menumpuk itu mengelilingi Oey Yong dan dirinya. Ia bekerja cepat. Lantas ia menyulut api di kedua tempat, di sama tengah, agar api itu memakan masing-masing kedua jurusan. Selama itu tidak terdengar apa-apa. Maka tak terkira kagetnya waktu tahu-tahu sejumlah ular, yang menjadi seperti pelopor sudah muncul di depan mereka. Dalam kagetnya ia mengeluh, tetapi ia tidak menjadi menjublak karenanya. Dengan sebat ia sambar Oey Yong untuk dipanggul.

Oey Yong terkejut melihat ular muncul begitu banyak, tetapi yang hebat untuknya ialah baunya yang amis sekali, hingga ia lantas merasa mual, hampir ia muntah-muntah. Dengan lantas ia menutup rapat kedua matanya. Itu waktu, ia merasakan sakit di dadanya. Inilah sebab Kwee Ceng berlompatan ke sana ke mari sambil mulutnya tak hentinya berseru menggebah ular itu. Lama-lama, ia menjadi pusing, ia seperti luka akan diri sendiri. Ia baru sadar ketika hidungnya dapat mencium bau harum. Maka ia lekas membuka pula matanya. Segera ia melihat berkelebatnya satu sinar merah. Untuknya girangnya, ia mengenali hiat-niauw, burung apinya, yang terbang datang dari arah timur.

Tadi burung itu terbang karena ia lantas mencium bau ular, maka ia pergi untuk memuasi nafsu daharnya, sekarang ia melihat cahaya api, dia terbang dengan niatan mandi, maka tepat sekali datangnya itu selagi majikannya terancam bahaya.

Mendapatkan datangnya burung itu, semua ular lantas berdiam, tidak ada yang berani berkutik, maka beberapa diantaranya lantas dipatuk dan dimakan. Habis itu, burung itu terus mandi api, akan kesudahannya terbang menclok di pundak si nona.

Dua-dua Oey Yong dan Kwee Ceng menjadi girang sekali.

“Sekarang kita tidak takuti ular!” berkata si anak muda gembira. “Sekarang kita mesti mencari jalan untuk lolos dari puncak ini, bagaimana?”

Oey Yong terus berpikir. Nyata ia lantas mendapat jalan.

“Hiat-niauw bisa naik ke mari, kalau dia dapat kenapa rajawali kita tidak?” demikian katanya. “Gak Bu Bok bernama Hui, aliasnya yaitu Peng Kie, maka kalau sekarang kita memakai Tiauw Kie, mustahil tidak dapat. Bukankah itu bagus?”

Kwee Ceng tidak mengerti.

“Apa itu Tiauw Kie?” ia menanya.

Nama Hui dari Gak Bu Bok berarti “terbang”, dan aliasnya itu, Peng Kie, berarti “garuda angkat”. Oey Yong menyebutnya “Tiauw Kie” itu berarti “rajawali angkat”. Si anak muda memikirkan itu, di dalam waktu pendek, ia tidak menangkap maksudnya si nona.

Oey Yong tengah merasakan sakit tetapi ia menahan itu, ia menyahuti, “Kita suruh rajawali kita membawa kita terbang pergi dari sini…!”

Kwee Ceng berjingkrak.

“Benar!” ia berseru. “Itu pun bagus! Nanti aku panggil si rajawali!”

Tidak ayal lagi pemuda ini duduk bersila, untuk bersemadhi, guna mengumpulkan tenaga dalamnya, kemudian baru ia mengasih dengar siulannya yang keras dan panjang, yang mengalun jauh. Inilah ilmu semadhi yang dulu hari ma Giok mengajarkan kepadanya. Setelah memahamkan Kiu Im Cin-keng, ia memperoleh kemajuan yang luar biasa. Jarak di antara puncak dan kaki gunung ada beberapa lie, tetapi begitu siulan mendengung, burung mereka dapat mendengarnya, kedua burung itu lantas terbang mencari mereka. Maka di lain saat, berkumpullah mereka, burung dan manusia – kedua burung itu berdiri di depan si muda-mudi.

Kwee Ceng membantu Oey Yong membuka baju lapisnya, terus ia membantu si nona mendekam di punggungnya rajawali yang betina. Karena khawatir nona itu memegang kurang keras, ia pun mengikatnya. Sesudah beres, baru ia mendekam di punggung rajawali yang jantan. Akhirnya, ia mengasih dengar siulannya.

Kedua burung itu mengerti orang, keduanya lantas membuka sayapnya masing-masing untuk terbang.

Mulanya hatinya pemuda dan pemudi itu kebat-kebit, tapi tak lama, mereka menjadi tabah. Mereka dapat mendekam dengan tenang di punggung burungnya itu. Bahkan si nona yang tetap bersifat kekanak-kanakan, lupa pada sakitnya. Ia ingin mempertontonkan diri di depan Khiu Cian Lie si tua bangka, maka ia mengutik leher burungnya, menyuruh si burung terbang ke arah gua.

Burung itu mengerti, benar-benar ia terbang ke muka gua. Di sana terlihat si tukang membual lagi rebot menggebah ular. Dia pun lantas melihat burung membawa orang terbang dan mengenali si nona. Ia kaget, ia heran, ia menjadi sangat kagum. Ia lantas memanggil, “Nona yang baik, kau bawalah juga aku pergi! Kalau adikku melihat aku, maka aku si tua bangka tidak bakal dapat hidup lebih lama pula…!”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: