Kumpulan Cerita Silat

08/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 58

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 11:15 am


Bab 58. Nona manis menjadi raja pengemis
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Tujuh pengemis maju paling dulu, dari depan dan belakang, dari kedua samping. Kwee Ceng membiarkan mereka maju, dengan kuda-kuda tidak begeming, ia menyambut mereka dengan kedua tangannya. Di belakang mereka itu, ada lagi beberapa lagi pengemis yang merapatkan diri. Mereka pun disambut serupa, dengan tangkisan atau sikut, kalau perlu barulah dengan dupakan. Maka saling susul mereka itu berteriak kesakitan, saling susul juga mereka roboh terguling. Dengan cara ini Kwee Ceng pun mengundurkan yang lainnya lagi. Kemudian ia memikir untuk menerkam Yo Kang, atau ia melihat dua pengemis berlompat ke arah Oey Yong. Jarak diantara mereka cukup jauh, sulit untuk berlompat menolongi nona itu. Tidak ada jalan lain, ia lantas menarik copot kedua sepatunya, dengan itu ia menimpuk ke arah kedua penyerang itu.

Dua pengemis itu adalah orang-orang yang kukuh, mereka hendak membunug si nona, ke satu untuk membikin si nona tidak keburu lolos, kedua untuk membalaskan sakit hati ketua mereka. Nyata ilmu silat mereka sudah cukup sempurna, mereka mendengar ada angin menyambar di belakang mereka, hanya ketika yang satu segeran menoleh untuk melihat dan menangkis, tahu-tahu sepatu sudah menghajar dadanya sedang yang lain kena terhajar punggungnya. Sebenarnya sepatu itu barang lembek tetapi ditimpuki Kwee Ceng, tenaganya besar luar biasa. Sambil menjerit, mereka itu roboh terjengkang dan tengkurap, dan untuk sementara mereka tak dapat merayap bangun.

Pheng Tiangloo berada dekat dua pengemis itu, ia kaget menyaksikan lihaynya Kwee Ceng itu.

Kwee Ceng sendiri, habis menimpuk, lantas mementang sayapnya, mengahalang beberapa pengemis yang merangsak pula, terus ia berlompat menghampirkan Oey Yong, untuk membuka belunggu si noa.

Selama itu, kawanan pengemis menyerbu pula. Mereka tidak menjadi takut melihat sejumlah kawannya kena dirobohkan dengan gampang.

Sekarang Kwee Ceng tidak melayani seperti tadi. Dengan lantas menjatuhkan diri, untuk duduk mendeprok di tanah, lalu sambil berduduk, ia meniru gerak-geriknya Khu Cie Kee dan Ong Cie It beramai ketika Coan Cin Cit Cu menggeraki tangan kanannya, sebab tangan kirinya dipakai membuka ikatannya Oey Yong, sedang tubuh si nona ia pangku di atas kedua pahanya. Ia dapat berbuat demikian karena sekarang ia menggunai tipu ajarannya Ciu Pek Thong. Ialah ilmu memecah pemusatan perhatian, kedua tangan bisa dipakai berkelahi satu sama lain.

Rombongan pengepung pengemis itu jadi semakin banyak. Tetapi Kwee Ceng membela diri dengan tangan kanannya, tetap tangan kirinya membuka belungguan si nona. Ketika kemudian ia berhasil membuka semua ikatan, ia lantas mengeluarkan biji sumbatan dari mulut nona itu, sambil berbuat demikian, ia tanya, “Yong-jie, apakah kau terluka?”

“Tidak, cuma aku merasa sekujur tubuhku kesemutan,” menyahut si nona, yang terus merebahkan diri.

“Bagus!” berkata si anak muda. “Kau boleh beristirahat, kau lihat bagaimana aku melampiaskan kemendongkolan kita!”

Oey Yong menurut, ia beristirahat. Kuat sekali kepercayaannya kepada Kwee Ceng. Ia cuma memesan sambil tertawa, “Kau hajarlah mereka, asal mereka jangan sampai terluka parah!”

“Aku mengerti,” menyahut si anak muda. “Kau lihat!”

Dengan tangan kirinya, Kwee Ceng mengusap-usap rambut yang bagus dari si nona, dengan tangan kanannya ia mengibas. Kontan tiga orang pengemis kena dibikin terlempar, habis mana menyusul empat pengemis lainnya, semuanya ialah yang merangsak rapat.

Pertempuran kacau itu menyebabkan terdengar satu suara nyaring, “Saudara-saudara, lekas mundur! Biarlah saudara dari generasi delapan yang melayani dua bangsat cilik ini!”

Suara itu ialah suaranya Kan Tiangloo. Suara itu ditaati, maka lekas juga semua pengemis itu mengundurkan diri, hingga tinggal delapan pengemis, yang masing-masing punggungnya menggendol delapan buah kantung goni. Karena ada dari generasi ke delapan, kedudukan mereka ini cuma ada di sebawahan keempat tiangloo. Di antara mereka itu ada si kurus dan si gemuk yang menyambut Yo Kang. Sebenarnya jumlah mereka semua sembilan orang akan tetapi dengan Lee Seng membunuh diri, mereka tinggal delapan.

Kwee Ceng tahu ia bakal melayani delapan musuh tangguh, sebenarnya ia hendak bangun berdiri tetapi Oey Yong berbisik kepadanya, “Kau duduk saja! Layani mereka dengan sabar!”

Kwee Ceng suka menurut, akan tetapi ia segera berpikir, “Baiklah aku lantas merobohkan beberapa di antaranya supaya hati mereka kecil!” Maka sambil mata mengawasi delapan pengemis itu, tangannya memegang tambang yang dipakai mengikat si nona, Ia memperhatikan si gemuk dan si kurus itu, segera ia menyerang mereka dengan tambangnya itu. Ia menggunai satu jurus dari Kim Liong Pian-hoat, atau ilmu silat cambuk Naga Emas, pengajarannya Ma Ong Sin Han Po Kie. Tambang itu lemas tetapi di tangannya pemuda ini lantas menjadi kaku.

Melihat datangnya serangan, kedua pengemis itu berlompat untuk berkelit, setelah itu mereka maju merapatkan diri. Enam saudara mereka tapinya terpegat oleh ujung tambang, hingga mereka tak dapat lantas maju karena tertahan.

“Jangan menyerang!” Kan Tiangloo mencegah, tetapi sia-sia saja cegahannya ini, si kurus dan si gemuk yang penasaran, sudah maju terus. Mereka ingin sekali bisa merobohkan si bocah. Maka mereka disambut Kwee Ceng. Sia-sia mereka menangkis, pundak mereka kena dihajar bergantian. Saking kerasnya hajaran itu, tubuh mereka terpental mundur, hanya ada perbedaannya, ialah si gemuk terpendal lebih dekat, si kurus terlebih jauh. Bagusnya untuk mereka, tubuh mereka kena membentur orang-orangnya Khiu Cian Jin.

Mulanya ketua dari Tiat Ciang Pang tidak memperdulikan orang terpentaöl, hanya setelah terjadi benturan, baru ia kaget, lagi-lagi Kwee Ceng menggunai tipu silatnya “Kek san ta gu” itu. Ia kaget karena ia menginsyafi hebatnya hajaran semacam itu.

Untuk menolongi orangnya, Khiu Cian in lantas berlompat, tetapi ia terlambat, kedua pengemis itu sudah berlompat bangun tanpa mereka terluka. Adalah dua orang Tiat Ciang Pang, yang dibentur mereka yang menjadi korban, malah mereka ini pada putus ototnya dan patah tulangnya, hingga mereka mesti rebah terus di tanah. Ketika si ketua kaget, ia terkejut pula karena kupingnya mendengar angin menyambar. Segera ia menoleh, maka segera ia melihat terlemparnya tubuh dua pengemis lain! Itulah hebat! Lagi-lagi orangnya yang bakal menjadi korban. Tidak ayal lagi, ia lompat maju. Pengemis yang satu ia sampok, membikin ia terlempar ke tempat kosong, dan pengemis yang kedua, ia hajar punggungnya. Syukur untuk pengemis yang kedua ini, tenaga Khiu Cian Jin berimbang sama tenaga Kwee Ceng, dai tiadk terluka, dia jatuh dengan perlahan, lantas ia lari pula ke arah si anak muda.

Empat tiangloo dan Oey Yong heran. Keempat pengemis ini tidak mengerti kenapa bocah itu demikian lihay dapat bertahan terhadap ketua Tiat Ciang Pang yang sangat lihay itu. Oey Yong heran, ia berpikir, “Penipu besar ini biasa saja kepandaiannya, mengapa ia dapat menandingi engko Ceng? Inilah aneh!”

Sampai di situ, Khiu Cian Jin mengipas tangannya, memberi tanda untuk orang-orangnya jangan bergerak. Ia menginsyafinya, kekuatannya berimbang sama kekuatan si anak muda, jadi percuma orang-orangnya menerjang. Ia tahu mereka itu bergusar karena robohnya dua saudaranya. Ia berdiri diam saja menontong.

Empat pengemis generasi ke delapan itu heran untuk ketangguhan si anak muda, tetapi mereka melawan terus. Mereka dibantu oleh saudaranya, yang tadi dihajar punggungnya oleh Khiun Cian Jin. Berlima mereka mengepung, tapi hasilnya tak ada. Coba Kwee Ceng tidak berlaku murah, siang-siang tentulah mereka sudah mendapat hajaran. Kemudian Kwee Ceng merobohkan lagi dua orang lawan. Baru sekarang tiga yang lainnya jeri dan mau mundur, tetapi mereka terlambat. Dengan menggunai tambangnya, Kwee Ceng menyambar dan melilit kakinya dua pengemis, terus ia menariknya orang ke sisinya, terus ia meringkus mereka.

Oey Yong gembira sekali menyaksikan kemenangan dari engko Cengnya itu. Ia lantas ingat kepada Pheng Tiangloo, si pengemis yang wajahnya berseri-seri, yang menangkap dia berdua dengan Kwee Ceng dengan caranya yang aneh itu. Ia sekarang ingat akan halnya ayahnya pernah bicara tentang Liam-sim-hoat, semacam ilmu sihir dengan apa orang dapat dengan tiba-tiba dibikin tidur dan dipermainkan tanpa berdaya. Maka ia lantas tanya Kwee Ceng apa di dalam Kiu Im Cin-keng ada disebut tentang itu macam ilmu gaib. Ia percaya betul Pheng Tiangloo telah menggunai ilmu itu.

“Tidak,” Kwee Ceng menyahut.

Mendapat jawaban ini, si nona menyesal. Tapi segera ia memberi peringatan, “Hati-hati dengan pengemis jahat yang gemar berseri-seri itu, jangan mengadu sinar mata dengannya!”

Kwee Ceng mengangguk. “Aku justru hendak memberi hajaran kepadanya,” katanya perlahan. Karena sekarang pertempuran sudah berhenti, ia memegang punggung si nona, untuk dikasih bangun, ia sendiri berbareng berbangkit. Lalu dengan mengawasi Yo Kang, ia bertindak kepada si anak muda.

Yo Kang sendiri telah berdebaran hatinya semenjak tadi. Ia jeri untuk lihaynya si anak muda, maka ia mengharap-harapkan kemenangan pihkanya sendiri, ialah pihak pengemis. Maka kesudahannya itu membuatnya takut, lebih-lebih ia melihat anak muda itu mendatangi ke arahnya dengan matanya tajam.

“Su-wie Tiangloo!” ia lantas berteriak. “Kita di sini ada mempunyai banyak orang gagah, apakah dapat bangsat kecil ini dibiarkan banyak bertingkah?!” Ia berteriak tetapi ia mundur ke belakangnya Kan Tiangloo.

“Tabahkan hati, Pangcu,” kata Kan Tioangloo dengan perlahan. “Biarnya bangsat kecil itu gagah, dia tidak nanti sanggup melawan kita yang berjumlah besar. Mari kita lawan dia dengan bergantian!” Dan lantas dia berteriak, “Murid-murid kantong delapan aturlah Barisan Tembok!”

Titah itu ditaati, dengan lantas muncul seorang pengemis dengan kantung delapan. Majunya dia ini diturut oleh belasan pengemis lain, yang mengatur diri dengan rapi, ialah mereka yang bergandengan tangan, jumlah semua enam atau tujuhbelas orang. Mereka lantas maju untuk menerjang Kwee Ceng, majunya sambil berseru nyaring.

Oey Yong berseru heran, ia berkelit ke kiri, sedang Kwee Ceng ke kanan. Segera di arah kiri dan kanan itu, atau timur dan barat, muncul masing-masing satu barisan seperti yang pertama itu, yang menyerang dengan hebat.

Menampak cara penyerangan yang aneh dan teratur itu, Kwee Ceng tidak berkelit lagi, ia mencoba mengajukan kedua tangannya, guna menahan mereka. Segera ternyata, barisan itu berat sekali, mereka itu dapat ditolak mundur. Sebaliknya, selagi mereka ditolak, dua barisan yang lain lantas maju pula. Karena terlambat sedikit, si anak muda kena dibikin terhuyung. Terpaksa ia berlompat tinggi, melewati kepala mereka itu. Baru ia menaruh kaki di tanah atau telah datang pula pasukan yang keempat. Lagi-lagi ia berlompat pergi. Lagi-lagi ia diserang barisan yang serupa. Maka, ke mana ia menyingkir, di sana ia dipegat dan diserbu apa yang dinamakan Barisan Tembok itu.

Juga Oey Yong mengalami serbuan yang serupa. Ia lebih gesit daripada Kwee Ceng tetapi ia kewalahan. Akhirnya ia lompat kepada si anak muda, untuk mempersatukan diri. Karena ini, bersama-sama mereka kena didesak mundur. Mereka mundur terus hingga di pojok batu gunung.

“Engko Ceng, mundur ke jurang!” Oey Yong berkata.

Kwee Ceng belum bisa menerka maksud si nona tetapi ia menurut, ia mundur ke arah jurang seperti si nona. Ketika mereka akan sampai di tepian, lagi lima atau enam kaki, mendadak pihak penyerang menghentikan desakannya. Ia lantas berpaling ke belakang. Baru sekarang ia mengerti. Ia kata dalam hatinya, “Di sini ada jurang, kalau mereka mendesak tanpa sanggup mempertahankan kakinya, tentu mereka bakal terjerunuk ke dalam jurang!”

Pemuda ini lantas memandang ke Oey Yong, hendak ia memuji ke cerdikan orang, atau ia tak jadi memuji. Roma bergembira dari si nona lekas berubah menjadi guram. Ia menoleh lagi ke arah musuh. Sekarang ia mendapatkan musuh maju dengan perlahan-lahan, musuh itu berlapis-lapis. Inilah benar-benar berbahaya. Berdua mereka bisa dipaksa jatuh sendiri ke dalam jurang, sedang untuk berlompat di atasan kepala dari selapis dairi seratus orang, itulah tak dapat.

Selama di gurun pasir, Kwee Ceng pernah mengikuti Ma Giok berlari-lari di tepian jurang, maka itu, ia lantas memperhatikan jurang itu. Ia mendapat kenyataan keadaan jurang kalah daripada jurang di gurun pasir itu. Maka ia lantas mendapat pikiran.

“Yong-jie!” ia berkata. “Lekas kau naik ke punggungku. Mari kita pergi!”

“Tidak dapat!” kata si nona menghela napas. “Mereka bisa menyerang kita dengan batu…!”

Kwee Ceng pikir itulah benar juga. Ia menjadi bingung. Tapi justru itu, ia ingat suatu bagian dari Kiu Im Cin-keng.

“Yong-jie,” ia berkata. “Aku ingat di dalam Kiu Im Cin-keng, ada ilmu yang disebut Ilmu memindah Arwah, mungkin itu sama dengan ilmu Liam-sim-hoat yang kau tanyakan tadi. Baik, mari kita mencoba-coba…”

Tetapi si nona masih berduka.

“Mereka semua ada murid yang dicintai suhu, apa gunanya untuk membinasakan mereka apa pula di dalam jumlah yang banyak?”

Tetapi Kwee Ceng tidak memperdulikan lagi si nona. Mendadak ia memeluk tubuh orang sambil ia berbisik, “Lekas lari!” Menyusul itu, ia mencium pipi si nona yang nempel sama hidungnya itu selagi ia berbisik, lalu dengan mengerahkan tenaganya, ia melemparkan nona itu ke atas panggung Hian Wan Tay!”

Oey Yong telah membikin tubuhnya enteng, maka tubuhnya itu melayang ke arah punggung. Ia mengerti maksudnya Kwee Ceng itu, yang mau melawan sendiri kepada semua lawannya, agar ia menyingkir terlebih dahulu. Ketika ia sampai di panggung, dengan enteng ia menaruh kakinya. Sesaat itu, ia menjadi tidak karuan rasanya. Tapi ia segera melihat Yo Kang di satu pojok panggung itu, dengan tangan memegang Lek-tiok-thung, orang she Yo itu lagi memegang pimpinan pada barisan pengemis itu. Ia lantas mendapat pikiran. Terus ia menjejak lantai, akan berlompat kepada anak muda itu, tangannya diulur untuk menyambar tongkat suci kaum Kay Pang itu.

Yo Kang terkejut melihat tahu-tahu si nona berada di atas panggung itu, ketika tubuh orang hampir sampai, ia hendak menghajarnya dengan tongkatnya, atau tangan kanan si nona, dengan dua jari terbuka, meluncur ke arah kedua matanya. Juga kaki kiri si nona dipakai menjejak tongkatnya itu.

Dalam kagetnya, saking takutnya, Yo Kang melepaskan tongkatnya dan ia sendiri lompat turun dari panggung. Meski begitu, ia masih kalah sebat oleh si nona, matanya toh kebentur juga jari si nona itu, hingga ia merasakan sangat sakit, kedua matanya menjadi gelap.

Oey Yong telah mengeluarkan jurus “Dari mulut anjing galak merampas tongkat”. Itulah salah satu jurus terlihai dari ilmu tongkat “Ta Kauw Pang-hoat” Jangan kata baru orang dengan ilmu silat seperti Yo Kang itu, biar yang terlebih pandai, sukar untuk dia meloloskan diri.

Oey Yong segera mengangkat tinggi tongkat sucinya itu, ia berseru:” Saudara-saudara Kay Pang, lekas kamu menghentikan pertempuran! Ketahuilah oleh kamu, Ang Pangcu masih belum meninggal dunia! Semua-semua adalah bisanya ini manusia jahat!”

Suara itu terang terdengar, semua pengemis menjadi heran. Dengan serempak, mereka menghentikan aksi mereka. Semua orang lantas mengawasi ke arah panggung, hati mereka ragu-ragu. Benarkah kabar girang itu – artinya pangcu mereka yang she Ang itu belum menutup mata?

“Saudara-saudara, mari!” Oey Yong memanggil. “Mari dengar aku bicara dari hal Ang Pangcu!”

Yo Kang mendengar suara nona itu, tetapi ia tidak dapat membuka matanya. Maka dari bawah panggung, ia berteriak, “Akulah pangcu! Saudara-saudara dengar perintahku! Lebih dulu dorong itu bangsat laki-laki katuh ke dalam jurang, baru bekuk ini bangsat perempuan yang ngaco-belo!”

Titahnya Yo Kang ini besar pengaruhnya. Walaupun di daam ragu-ragu, bangsa pengemis itu tetap taat kepada ketuanya. Maka itu mereka maju sambil berseru-seru.

“Saudara-saudara, dengarlah!” Oey Yong berteriak pula. “Tongkat Kay Pang ada di tanganku, akulah pangcu dari Kay Pang kamu!”

Semua pengemis itu melengak, tindakan kaki mereka berhenti sendirinya. Memang belum pernah mereka mengalami peristiwa tongkat suci mereka kena dirampas orang.

Oey Yong berkata pula, “Kay Pang kita telah malang melintang di kolong langit ini tetapi hari ini kita telah diperhina, dibuat permainan oleh orang luar, bahkan dua saudara Lee Seng dan Ie Tiauw Hin dipaksa membuang jiwanya dengan cuma-cuma! Dan Lou Tiangloo pun telah terluka parah! Kenapakah itu? Apakah sebabnya itu?”

Kata-kata itu berpengaruh juga, maka ada separuh dari orang Kay Pang itu suka mengawasi si nona untuk mendengar pembicaraan terlebih jauh.

“Sebabnya ialah karena itu manusia licin she Yo telah bersekongkol sama pihak Tiat Ciang Pang!” berkata pula Oey Yong nyaring. “Orang she Yo itu telah menyiarkan cerita burung bahwa Ang Apngcu telah meninggal dunia! Tahukah saudara-saudara siapakah orang she Yo ini?”

“Siapakah dia? Siapakah dia?” banyak suara bertanya. “Lekas bilang, lekas!”

Tapi ada juga yang berseru. “Jangan dengar ocehannya bangsat perempuan ini, dia lagi mengacau pikiran kita!”

Maka itu, suara mereka itu menjadi berisik.

Oey Yong tidak menghiraukannya. Ia berkata pula, “Dia bukan orang she Yo, dia sebenarnya she Wanyen! Dialah putra dari Pangeran Chao Wang dari negara Kim! Dia tengah beraksi untuk merumpas Kerajaan Song kita!”

Kawanan pengemis itu melengak tetapi mereka tidak berani lantas mempercayai.

Oey Yong berpikir cepat. Ia pun mengerti, sukar untuk lantas merebut kepercayaan orang banyak itu. Maka ia membutuhkan bukti. Ia lantas merogoh ke dalam sakunya. Ia merasa syukur yang barang-barangnya tidak terampas semua. Di situ masih ada tangan besi yang Cu Cong curi dari tubuhnya Khiu Cian Jin. Dia lantas mengangkatnya tinggi-tinggi. Ia lantas berkata nyaring, “Lihatlah kamu, barang ini barang apa! Baru saja aku merampas ini dari tangannya si orang she Yo itu! Lihatlah, semua saudara!”

Semua orang merangsak maju. Mereka terpisah cukup jauh dari panggung. Mereka ingin melihat tegas, barang apa itu. Lantas juga di antaranya ada yang berseru, “Itulah tangan besi! Kenapa barang itu ada padanya?”

“Nah, inilah dianya!” berseru Oey Yong. “Dialah mata-mata dari Tiat Ciang Pang! Tentu saja dia membawa-bawa barang pertandaan dari partainya!”

Yo Kang kaget dan takut sekali. Segera ia mengayunkan sebelah tangannya, maka dua biji pusutnya menyambar ke arah si nona. Ia tidak bisa melihat tetapi ia bisa menduga orang berada di mana dengan mendengar suaranya saja. ia pun terpisah paling dekat dengan nona itu.

Oe Yong mendapat lihat menyambarnya senjata rahasia, yang mengeluarkan sinar berkeredepan, ia membiarkan saja. Adalah diantara pengemis ada yang berteriak-teriak, “Senjata rahasia! Awas!” Ada pula yang menjerit, “Celaka!”

Dua batang senjata rahasia itu mengenai tubuh Oey Yong, terdengar suaranya yang nyaring, lekas keduanya jatuh ke panggung, si nona tidak kurang suatu apa.

“Eh, orang she Yo!” Oey Yong menegur. “Jikalau kau bukannya orang jahat, kenapa kau membokong aku dengan senjata rahasiamu!”

Orang Kay Pang itu menjadi heran, mereka jadi sangat bersangsi. Rata-rata mereka bertanya, siapa nona itu, dan apa benar perkataannya. Ada juga yang menanya, apa pangcu mereka – Ang Pangcu – belum mati. Maka itu, banyak mata lantas ditujukan kepada keempat tiangloo mereka. Agaknya mereka ingin minta keempat tertua itu mengeluarkan pikirannya.

Karena kejadian ini, Barisan Tembok dari kaum Kay Pang itu pecah sendirinya, dengan begitu ketika Kwee Ceng pergi ke pinggiran panggung, tidak ada orang yang mengambil peduli.

Ketika itu Lou Yoe Kiak sudah mendusin, maka keempat tiangloo lantas berbicara.

“Sekarang ini belum bisa didapat kepastian,” berkata Yoe Kiak. “Maka itu baiklah kedua pihak itu ditanya jelas-jelas. Yang paling penting ialah mencari tahu dulu benar atau tidak Ang Pangcu telah meninggal dunia…”

“Tetapi kita sudah mengangkat pangcu baru, mana dapat kita mengubahnya dengan sembarangan?” kata Kan Tiangloo bertiga. “Aturan kita turun-temurun, titah pangcu tidak dapat dibantah!”

Maka itu, keempat tiangloo itu pun menjadi terpecah dua.

Kemudian ketiga tiangloo golongan Pakaian Bersih saling mengasih isyarat, terus mereka mendekati Yo Kang, terus Kan Tiangloo berseru, “Kami cuma mempercayai perkataannya Yo Pangcu! Entah darimana datangnya ini dukun perempuan, dia mengacau pikiran orang! Jangan dengarkan dia! Saudara-saudara bekuk dia! Bawa dia turun untuk dihajar!”

Tapi Kwee Ceng di bawah panggung berseru dengan bengis, “Siapa berani turun tangan?!”

Melihat orang bersikap garang, tidak ada pengemis yang berani naik ke panggung.

Sementara itu Khiu Cian Jin bersama orang-orangnya semua berdiri diam di samping, jauh dari mereka itu. Ia senang menyaksikan peristiwa itu. Bukankah orang seperti lagi saling membunuh?

Oey Yong berkata pula, “Sekarang ini Ang Pangcu masih hidup, ia berada dengan tidak kurang suatu apa di dalam istana di Lim-an! Pangcu kelewat gemar dahar barang santapan raja, ia tidak dapat membagi tempo untuk datang ke mari, maka itu ia mewakilkan aku. Kalau nanti Ang Pangcu sudah cukup dahar, ia pasti akan datang menemui saudara-saudara!”

Keempat tiangloo serta kedelapan pengemis kantung delapan itu tahu kegemarannya pangcu mereka akan bersantap, keterangannya Oey Yong ini dapat juga menarik kepercayaan mereka itu, maka pikiran mereka guncang pula.

Kembali Oey Yong berkata, “Orang she Yo ini sudah bersekongkol sama Tiat Ciang Pang, dia sengaja hendak mencelakai aku. Dia telah mencuri tongkatnya Pangcu untuk mengakali orang. Kenapa kamu tidak dapat membedakan apa yang benar dan apa yang salah dan kamu main percaya saja? Keempat tiangloo dari partai kita adalah orang-orang yang banyak penglihatannya dan luas pengetahuannya, mengapa kamu tidak dapat melihat ini suatu akal yang kecil sekali?”

Mendengar itu, semua mata lantas diarahkan kepada keempat tiangloo. Banyak mata yang bersinar ragu-ragu.

Yo Kang telah buntu jalan, dia norek.

“Kau bilang Ang Pangcu masih hidup, habis kenapa dia menugaskan kau menajadi pangcu?” ia menanya. “Dia menghendaki kau menjadi pangcu, kau mempunyai bukti apa?”

Oey Yong membalingkan tongkatnya.

“Inilah tongkat Tah-kauw-pang dari Pangcu! Mustahilkah ini bukannya bukti?” berkata ia.

Yo Kang tertawa lebar.

“Haha! Toh itu tongkat suciku, yang barusan kau merampasnya dari tanganku?” katanya. “Siapakah tidak menyaksikan itu barusan?”

“Jikalau Ang Pangcu menghendaki kau menjadi pangcu, mengapa dia tidak mengajari ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat?” Oey Yong tanya. “Kalau benar dia mengajarinya, kenapa kau membiarkannya aku merampasnya?”

Mendengar orang menyebut ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, yaitu ilmu silat tongkat peranti mengemplang anjing. Yo Kang menyangka Oey Yong memandang hina tongkat itu, maka ia hendak membalikinya. Ia berteriak, “Inilah tongkat suci dari Pangcu kami, kenapa kau menyebut-nyebut tongkat peranti mengemplang anjing? Ha, kau mengaco belo, ya! Sungguh berani kau menghinakan tongkat suci dari partai kami!”

Yo Kang bangga sekali. Ia menganggap dengan begitu ia telah menghormati tongkatnya itu. Ia mau percaya, tentulah orang-orang Kay Pang senang dengannya. Ia sama sekali tidak menyangka, bahwa selama di sepanjang jalan, si pengemis gemuk dan kurus sebenarnya tidak berani menyebut Ta Kuaw Pang kepada tongkat suci itu, hingga dengan begitu, ia sendiri jadi tidak tahu nama tongkat itu. Mendengar perkataannya itu, semua pengemis saling mengawasi, wajah mereka muram, suatu tanda mereka tidak senang hati.

Yo Kang telah dapat melihat sikap orang itu, ia mengerti bahwa ia tentu telah omong kurang tepat, hanya ia tak tahu di mana letak kesalahannya. Tidak pernah ia menyangka, tongkat suci yang dipandang keramat Kay Pang itu, namanya sebenarnya ialah Tah Kauw Pang alias tongkat peranti pengemplang anjing!

Oey Yong tersenyum.

“Ha, buat apa banyak-banyak omong tentang tongkat suci ini!” katanya. “Jikalau kau menghendakinya, kau ambillah!”

Dan ia mengulurkan tangannya, menyodorkan tongkat itu.

Yo Kang menjadi girang sekali, meski begitu, ia tidak berani lantas naik ke panggung, ia jeri untuk Kwee Ceng.

“Pangcu, kita nanti menjagai kau,” Pheng Tiangloo berbisik. “Lebih dulu ambillah tongkat itu, baru kita bicara pula.”

Habis berkata begitu, tiangloo ini mendahului berlompat naik.

Melihat demikian, Yo Kang yang sekarang telah dapat melihat pula, turut naik dengan diiringi Kan Tiangloo dan Nio Tiangloo.

Yo Kang dengan bersangsi, dia curiga orang nanti menggunai akal, ia tidak langsung menyambuti, lebih dulu ia bersiaga dengan tangan kiri, baru tangan kanannya diulur.

Oey Yong melepaskan cekalannya. Ia tertawa.

“Apakah kau telah memegangnya erat-erat?” ia menanya.

“Kenana?” tanya Yo Kang gusar, sedang tangannya memegang keras tengah tongkat.

Oey Yong tidak menjawab, hanya dengan tangan kirinya bergerak, kaki kanannya terbang, menyusul mana, tangan kanannya dilonjorkan, Dengan gerakannya itu pas berbareng cepat, tongkat suci kembali pindah ke tangannya tanpa Yo Kang mampu berdaya untuk melindunginya.

Kedua tiangloo she Pheng dan Nio kaget bukan main, mereka heran sekali. Cuma sekejap, tongkat telah berpindah tangan pula. Kan Tiangloo juga tidak kurang herannya. Bukankah mereka bertiga melindungi pangcu mereka yang muda itu?

Yo Kang bersangsi.

Kang Tiangloo menggeraki cambuknya sebat sekali, cuma sedetik, tongkat itu kena disambar, dililit dan ditarik, lalu dipegang tangannya. Menyaksikan itu, semua orang Kay Pang bersorak dengan pujian mereka. Kemudian tongkat dapat diserahkan kepada Yo Kang.

“Ketika Ang Pangcu menyerahkan tongkat ini kepadamu, mustahil ia tidak mengajari kau untuk kau memegangnya dengan erat?” tanya Oey Yong tertawa pada si anak muda. “Bukankah ia telah mengajarinya supaya kamu dapat melindunginya hingga tidak gampang-gampang kena orang rampas?”

Tepat selagi ia tertawa, kedua kaki si nona menjejaki lantai, lalu tubuhnya melesat di antara Kan Tiangloo dan Nio Tiangloo, terus tiba di depannya Yo Kang. Kan Tiangloo menyambar dengan tangan kirinya, guna menangkap si nona, tetapi tangkapannya gagal. Sebab nona itu tepat menggunai jurus “Burung waket terbang berpasangan” ajaran Ang Cit Kong, tubuhnya lincah dan licin. Bukan main heran dan kagetnya tiangloo itu, yang mengenal baik kepandaiannya sendiri. Hatinya tercekat. Justru itu mereka mendengar sambaran angin, hingga terpaksa mereka itu melompat mudur.

“Ini jurus yang dinamakan Tongkat mengemplang anjing sepasang,” berkata si nona, yang tubuhnya melesat sedang barusan, dengan gerakan tongkatnya, ia sengaja membikin kedua tiangloo itu membuka jalan untuknya. Maka ia telah sampai di pojok timur dari panggung itu, tongkat Tah-kauw-pang tercekal di tangannya, cahayanya menyorot hijau di antara sinar rembulan.

Demikian sebat si nona, tak ada orang yang melihat gerakannya itu.

Kwee Ceng lantas berseru, “Lihatlah! Kepada siapa Ang Pangcu telah menyerahkan tongkat Tah-kauw-pang? Apakah masih belum cukup terang?”

Orang-orang Kay Pang menjadi kagum, heran dan bercuriga. Mereka telah menyaksikan jelas bagaimana caranya si nona merampas pulang tongkat itu dari tangan Yo Kang, sedang anak muda mereka itu – si pangcu baru – pun pandai ilmu silat dan dia juga dilindungi ketiga tiangloo. Lantas mereka ramai membicarkan itu.

Lou Yoe Kiak lantas berkata, “Saudara-saudara, apa yang diperlihatkan nona ini benar-benar ada ilmu silatnya Ang Pangcu!”

Kan Tiangloo saling mengawasi dengan Pheng Tiangloo dan Nio Tiangloo, lalu ia berkata, “Dialah muridnya Ang Pangcu, sudah tentu dia mendapat warisan pelajaran ilmu silatnya! Apakah yang aneh!”

“Semenjak jaman dahulu, Tah Kauw Pang-hoat tidak diwariskan kecuali kepada orang yang menjadi pangcu,” berkata Lou Yoe Kiak. “Mustahilkah Kan Tiangloo tidak ketahui aturan itu?”

Kan Tiangloo tertawa dingin.

“Nona ini mengerti beberapa jurus ilmu silat tangan kosong merampas senjata, belum tentu itulah Tah Kauw Pang-hoat!” ia berkata.

Yoe Kiak menjadi bersangsi, tetapi ia berkata kepada Oey Yong, “Nona, silahkan kau menjalankan ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat. Kalau benar kau mewariskan ilmu silat itu, pasti pengemis di seluruh negeri bakal takluk kepadamu.”

“Tetapi,” berkata Kan Tiangloo yang licik, “Ilmu silat itu kita cuma baru mendengar namanya saja, belum pernah ada yang melihatnya, maka itu siapa berani memastikan itu tulen atau palsu?”

“Habis itu kau menghendaki apa?” Lou Tiangloo tanya.

Kan Tiangloo menepuk kedua tangannya satu dengan lain, ia kata dengan nyaring, “Jikalau nona ini dengan ilmu silat tongkat itu dapat mengalahkan sepasang tanganku yang kosong ini, maka aku si orang she Kan barulah takluk benar-benar dan akan menjunjungnya sebagai pangcu kita! Umpama kata aku mengandung dua hati, biarlah laksana panah menancap di tubuhku dan ribuan golok menghukum picis mayatku!”

“Hm!” Yoe Kiak berkata, “Berapa tinggikah usianya si nona ini? Meskipun dia pandai dengan ilmu silat tongkatnya, maka sanggup dia melayani kau yang sudah belajar silat beberapa puluh tahun lamanya?”

Selagi dua tiangloo ini berebut bicara, Nio Tiangloo si tabiat keras sudah habis sabarnya, dengan mendadak dia berlompat kepada Oey Yong sambil membacok dengan goloknya. Sembari menyerang, dia kata, “Tulen atau tidaknya ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat itu akan terbukti setelah diuji! Maka lihatlah golok!”

Penyerangan itu hebat. Itulah penyerangan berantai tiga kali, sedang dilakukannya dengan cara seperti membokong.

Oey Yong dapat melihat serangan itu, dengan cepat ia menyoren tongkat di pinggangnya, dengan sebat ia berkelit, dan ia berkelit terus tiga kali, hingga ia bebas dari serangannya. Ia pun berkelit tanpa memindahkan kaki, cuma main mengegos tubuh.

“Apakah untuk melayani kau tepat aku menggunai ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat?” ia kata sambil tertawa. Kata-kata ini disusuli gerakan tangannya kiri dan kanan – tangan kiri menyerang, tangan kanan mencoba merampas golok!

Nio Tiangloo berkenamaan, ia menjadi gusar sekali, yang satu bocah cilik berani memandang dia sebelah mata, maka itu habis menyingkirkan goloknya itu, ia lantas menyerang pula. Tentu sekali, ia berlaku bengis.

Sekarang Kan Tiangloo tidak lagi memandang enteng kepada si nona itu, ia mau percaya, mengenai si nona, mesti ada apa-apa yang masih tersembunyi, dari itu, karena khawatir kawannya berlaku semberono, ia meneriaki, “Nio Tiangloo, jangan kau berlaku telengas!”

Tapi Oey Yong sebaliknya memandang enteng, “Jangan sungkan-sungkan!” katanya tertawa. Sembari berkata dan tertawa itu, ia melayani si tiangloo. Karena orang bersenjata golok dan menyerang bengis, ia melawan dengan lebih banyak berkelit, setiap ada ketikanya, ia membalas, meninju atau menendang, atau ia menyikut atau memengal. Dalam tempo yang pendek, ia mengasih lihat belasan macam jurus yang luar biada.

Semua pengemis menjadi seperti kabur matanya. Mereka heran dan kagum, apapula delapan pengemis kantung delapan itu.

“Ah, itulah Lian Hoa Kun!” yang satu berseru.

“Eh, itu toh pukulan gembolan kuningan?” kata si gemuk, yang turut menjadi kagum. Hanya belum ia menutup rapat mulutnya, Oey Yong sudah menukar lagi ilmu silatnya, hingga seorang pengemis lain berseru, “Ah, itulah ilmu silat Kun-thiang-kang dari Ang Pangcu!”

Ang Cit Kong itu adalah seoarang yang wajar, ia tidak suka menerima murid, kalau ada anggota yang berjasa, ia cuma mengajari satu atau dua jurus sebagai persen. Lee Seng bukannya seorang lemah, ia cuma diajarkan satu jurus dari satu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, ialah jurus “Naga sakti menggoyang ekor”. Sudah begitu ada lagi satu tabiat aneh dari pangcu itu, ialah satu jurus yang diajarkan kepada satu orang, ia tidak suka mewariskan lagi kepada yang lain, maka juga, pelajaran yang didapat anggota-anggota Kay Pang, semua berlainan. Cuma Oey Yong yang menjadi murid yang istimewa, sebab ia pandai masaj, dia dapat memincuk pangcu itu dengan pelbagai masakannya yang lezat, setiap kali ia masak, setiap kali ia memperoleh satu pelajaran. Maka juga selama di Kiang Bio-tin, dia memperoleh puluhan macam jurus. Sekarang, di depan Kay Pang, ia sengaja pertontonkan ilmu silatnya itu, membikin orang kagum, heran dan tunduk. Maka setiap anggota Kay Pang, yang pernah memperoleh warisan dari Ang Cit Kong lantas memuji kalau ia melihat si nona menjalankan jurusnya itu. Maka itu, ramailah suara pujian, yang keluar saling susul.

Nio Tiangloo melihat itu semua, ia juga menjadi heran dan kagum, matanya pun seperti kabur, oleh karena itu, ia tidak mau berlaku sembrono lagi, tidak mau ia menyerang, ia selalu membela diri dengan menutup dirinya rapat-rapat.

Lagi beberapa jurus telah dilewatkan atau mendadak si nona berhenti bersilat, dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, ia tertawa menanya, “Apa kau suka menyerah kalah?”

Nio Tiangloo belum mengeluarkan seantero kepandaiannya, mana sudi ia menyerah kalah, bahkan kerena panas hatinya, ia lantas menyerang. Bacokannya ini hebat sekali.

Kan Tiangloo dan Lou Yoe Kiak kaget. “Tahan!” mereka berseru.

Pula banyak pengemis lainnya yang berteriak saking kagetnya.

Selagi orang kaget dan berkhawatir itu, Oey Yong sendiri tidak menghiraukan datangnya bacokan yang diarahkan ke pundaknya yang kiri.

Nio Tiangloo sendiri pun menyesal, tetapi ia tidak dapat menarik pulang bacokannya itu, maka tepat sekarang si nona kena dibacok, sebab ia nampak tidak berkelit atau menangkis.

Baru Nio Tiangloo menyesal atau mendadak tangannya dirasai lenyap tenaganya, goloknya itu terlepas dari cekalan, jatuh dengan mengasih dengar suara nyaring di lantai panggung. Ia tentu tidak tahu yang nona lawannya itu mengenakan pakaian dalam joan-wie-kah, jangan kata golok biasa, golonk mustika pun tak nanti memakan. Berbareng dengan menyesalnya itu, sikutnya telah ditotok si nona menggunakai ilmu totok warisan ayahnya ialah “Lan-hoa-hoet-hiat-ciu”, ilmu menotok jalan darah Bungan Anggrek.

Dengan lantas Oey Yong mengulurkan kakinya, untuk menginjak goloknya si pengemis tertua itu, kepalanya dimiringkan, sembari tertawa, ia menanya, “Bagaimana?”

Nio Tiangloo tercengang, lalu tanpa membilang apa-apa, ia lompat mundur.

Adalah itu waktu Khiu Cian Jin dari tempatnya menonton mengasih dengar suaranya yang nyata sekali, “Orang memakai mustika dari Tho Hoa To, atau tidak membacok kepalanya, mana bisa kau melukai dia?”

Kan Tiangloo tunduk, ia berpikir.

“Bagaimana, kau percaya aku tidak?” tanya Oey Yong tertawa.

Lou Yoe Kiak mengedipi mata kepada si nona, untuk dia menyudahi saja. Ia tahu, dalam ilmu silat, nona ini kalah jauh dari Nio Tiangloo, maka kemenangannya itu mesti karena suatu tipu daya. Atau sedikitnya, akan sama tangguhnya. Dilain pihak, Kan Tiangloo jauh lebih lihay daripada Nio Tiangloo itu. Maka ia bergelisah melihat si nona tidak menggubris isyaratnya itu. Hanya celaka untuknya, untuk turun tangan, ia tidak sanggup, tangannya, yang diremas Kiu Cian Jin, masih terasa sakit sekali, bahkan semakkin sakit, hingga ia mengeluarkan keringat dingin di sekujur badannya, hingga tak bisa ia membuka mulutnya.

Akhir-akhirnya Kan Tiangloo mengangkat kepalanya.

“Nona marilah aku belajar kenal denganmu!” ia berkata.

Kwee Ceng melihat tegas tiangloo itu, ia percaya Oey Yong tak sanggup melawannya, maka itu, ia hendak menggantikan nona itu. Maka ia lantas menjumput tambang kulit yang dipakai meringkus dirinya, dengan satu gerakan tangan, ia membikin ujung tambang menyambar tongkatnya Kan Tiangloo yang tadi oleh Kiu Cian Jin dibikin nancap di batu gunung, sambil membentak, ia menarik dengan kaget. Maka tongkat itu tercabut, terlempar ke arah si tiangloo. Disaat itu ia berlompat ke depan Kan Tiangloo, ia menyambar dengan sambarannya “Menunggang enam naga”, suatu jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, setelah itu, dengan tangan kiri memegang kepala tongkat dan tangan kanan mencekal bututnya, yaitu ujungnya, ia membikin gerakan memutar. Maka itu dilain saat, tongkat yang telah melilit melengkung ia lantas menjadi pulih keadaannya, lempang seperti biasa. Segera setelah itu, ia menyerukan, “Sambutlah!” dan tongkat itu ia lemparkan kepada pemiliknya.

Kan Tiangloo terkejut. Ia tahu, kalau ia menyambut, tangannya bisa terluka. Maka dengan lantas ia berkelit, sambil berbuat begitu, ia berseru kepada orang-orangnya dibawah panggung, menitahkan mereka itu lekas menyingkir. Kalau tidak, mereka atau beberapa di antaranya bisa terhajar tongkat itu.

Akan tetapi tongkat itu tidak sampai mendatangkan bencana. Oey Yong dengan sebat sekali, dengan cara pandai, telah mengulurkan Lek-tiok-thung di tangannya itu, menyambar bagian tengah dari tongkatnya Kan Tiangloo, lalu dengan gerakan menarik sambil memutar, ia membuatnya tongkat tertahan dan kena tertekan hingga turun di lantai.

Gerakannya nona Oey ini adalah jurus “Menindih punggung anjing”, dari ilmu silat Tah Kauw Pang-hoat, tepat bekerjanya, setelah mana si nona sambil tertawa berkata kepada tiangloo itu yang barusan menantang padanya, “Silahkan kau menggunai tongkat baju, aku hendak menggunai tongkat bambu ini! Marilah berdua kita main-main beberapa jurus…”

Kan Tiangloo sangat bersangsi. Sekarang ia mengambil sikap, kalau kalah, baiklah ia menyerah. Ia lantas membungkuk, untuk memungut tongkat bajanya itu – kepala tongkat diturunkan ke bawah, buntut tongkat naik ke atas, lalu sambil memberi hormat dengan membungkuk, ia berkata, “Aku mohon belas kasihan nona.”

Dengan cara menghormatnya itu, ialah kepala tongkat diturunkan, tiangloo ini mengambil sikap menurut aturan Kaum Rimba Persilatan, kehormatan di antara yang muda dengan yang tua, tanda dari tidak berani menganggap diri seimbang derajat. Itulah untuk mohon petunjuk.

Oey Yong meluncurkan tongkatnya, dengan gerakan “Anjing dongak ke langit”, ia menyontek ujung tongkat ujung tongkat si pengemis tertua, hingga tongkat itu naik ke atas, sambil berbuat begitu, ia mengatakan sambil tertawa, “Tak usah memakai banyak adat peradatan! Aku khawatir yang kepandaianku tidak dapat melawan kepandai kau..”

Tongkat baja dari Kan Tiangloo adalah tongkatnya yang berat yang ia telah pakai untuk beberapa puluh tahun lamanya, sekarang tongkat itu, dengan satu sontekan perlahan, kena dibikin terangkat naik oleh si nona, bahkan ujungnya terangkat sampai hampir mengenakan jidatnya, ia menjadi terkejut. Syukur ia lekas menggunai tenaganya, untuk menahan, ia kembali membawa sikapnya si muda terhadap seatasannya. Ia menyerang dengan jurus “Raja Cin menghajar batu”, suatu jurus dari Hong Mo Thung-hoat, ilmu silat Hantu Edan dari Lou Tie Cim, salah seorang anggota gagah dari pahlawan-pahlawan Liang San.

Menampak gerakan si tiangloo, Oey Yong tidak berani berlaku alpa. Ia tahu, meskipun memakai baju lapis, serangan tongkat itu bisa melukai ia di dalam tubuh. Maka dengan lincah ia berkelit. Ia bukannya mundur, hanya berkelit sambil merangsak. Ia terus menggunai jurus-jurus dari Tah Kauw Pang-hoat.

Demikian keduanya bertempur. Beratnya tongkat baja tigapuluh kati lebih tetapi menghadapi tongkat bambu yang enteng itu, tongkat itu tidak dapat berbuat banyak.

Mulanya Kan Tiangloo masih mengandung rasa khawatir nanti kena merusak tongkat suci itu, serangannya hebat tetapi diperbataskan, ialah kalau rasanya ia bakal menghajar Lek-tiok-thung, segera ia membatalkannya, ia selalu mencegah bentrokan, akan tetapi sesudah beberapa jurus itu, ia mengubah caranya berkelahi, ia bahkan jadi bersungguh-sungguh. Ia mendapat kenyataan, tongkat si nona lihay sekali, tikamannya juga dapat merupakan totokan kepada jalan darah. Dengan lantas untuk membela diri, ia menjadi repot.

Kwee Ceng menjadi sangat kagum. “Benar lihay ilmu silatnya suhu,” ia berkata di dalam hatinya, memuji Ang Cit Kong.

Tengah bertempur itu, mendadak Oey Yong membuat satu perubahan. Ialah tongkatnya bukan ia cekal gagangnya, hanya bagian tengahnya, dan bukannya ia menyerang, ia terus putar itu dengan asyik, hingga tongkatnya nampaknya bulat. Tentu sekali itulah bukan cara bertarung, itulah bagaikan orang tengah main-main.

Mulanya Kan Tiangloo heran hingga ia tercengang, habis itu ia menyerang si nona, untuk mencegah kurungan. Ia mengarah pundaknya si nona.

Oey Yong melihat datangnya serangan, ia bukannya menangkis, ia hanya menjaga. Tapi ia tidak membuat kedua tongkat bentrok, ia cuma mendekatkan, lalau bagaikan memancing, ia menarik.

Kan Tiangloo terkejut. Ia menyerang tetapi ia merasa tongkatnya seperti tertarik dengan keras. Jadi terang si nona telah meminjam tenaga lawan. Dalam kagetnya, ia lantas menarik. Kembali ia terkejut. Tongkatnya itu seperti nempel sama tongkat lawan, tertarik atau menarik. Ia kaget sebab ia tahu, di dalam halnya tenaga dalam, ia mesti menang daripada si nona, tetapi sekarang ialah yang kena dipengaruhkan. Tujuh atau delapan kali sudah ia menarik, sia-sia belaka, tongkatnya itu tidak bisa dia membebaskannya.

Tah Kauw pang-hoat ada delapan pokoknya, dan sekarang Oey Yong lagi menggunai pokok “melibat” maka juga tongkatnya itu seperti ada talinya yang mengikat tongkatnya si tiangloo.

Kan Tiangloo penasaran, ia mengerahkan tenaganya dan memainkan Tay-lek Kim-kong Thung-hoat, yaitu ilmu tongkat Arhat Tangguh, dengan begitu hebat ia membuatnya ujung tongkatnya bergerak keempat penjuru. Tetapi aneh tongkat si nona, kemana ujung tongkat baja menuju, ke sana tongkat bambu mengikuti. Nampaknya seperti si tiangloo yang berkuasa, sebenarnya dia seperti lagi dikendalikan. Atau diumpamakan kuda binal, kuda itu lagi diumbar oleh penunggangnya yang lihay.

Akhir-akhirnya Pheng Tiangloo yang menonton dengan kekaguman dan keheranan, tertawa dan berkata, “Pangcu kau telah lelah, kau istirahatlah!”

Suara itu perlahan dan halus, sedap didengar telinga. Oey Yong benar-benar lantas merasa tubuhnya lebih. Ia pun memikir, setelah bertempur sekian lama, sudah waktunya ia beristirahat. Begitu ia merasa, begitu ia menjadi letih dan lesu, matanya pun menjadi mata orang kantuk.

Tapi sekarang pandangannya Kan Tiangloo sudah berubah, mau ia percaya si nona adalah pangcunya yang tulen, hendak ia melindungi si nona, maka mengetahui Pheng Tiangloo lagi menggunai Liam-sin-hoat, ilmu sihirnya itu, ia lantas membentak, “Eh, Pheng Tiangloo, kau hendak berbuat apa kepada pangcu?!”

Pheng Tiangloo tidak memperdulikannya, ia tertawa perlahan dan berkata pula, “Pangcu hendak beristirahat, ia telah sangat letih, kau jangan ganggu padanya…”

Oey Yong mengerti ia terancam bahaya akan tetapi ia merasakan tubuhnya lemas dan matanya mau meram saja, ia merasa bahwa ia mesti beristirahat. Hanya disaat ia separuh was-was dan separuh sadar itu, mendadak ia ingat perkatannya Kwee Ceng tadi. Bagaikan tersadar, ia lantas tanya kawannya itu, “Engko Ceng, bukankah kau membilang tadinya bahwa di dalam kitab ada disebut hal ilmu memindahkan arwah?”

Kwee Ceng mengerti pertanyaan itu. Ia memang telah bercuriga terhadap Pheng Tiangloo, kecurigaannya bertambah menyaksikan Oey Yong berubah sikap, pertempurannya berhenti sendirinya secara demikian aneh dan romannya si nona pun sangat lesu. Ia sudah memikir untuk menghajar tiangloo itu kalau ia main gila, maka mendengar pertanyaan itu, ia segera mendekati Oey Yong dan membisiki padanya bunyinya ilmu memindah arwah itu.

Dua-dua ilmunya si tiangloo dan yang termuat di dalam Kiu Im Cin-keng ada serupa intinya, itulah ilmu sihir belaka, maka ilmu itu harus dilawan dengan kekuatan hati, diri sendiri harus dapat dikendalikan. Maka Kwee Ceng telah membisiki si nona untuk menguatkan hati, atas mana, Oey Yong yang masih sadar, lantas menuruti nasehat si pemuda. Ia lantas meramkan matanya, pemikirannya dipusatkan. Ia mengempos semangatnya, ia membikin bathinnya kuat. Selang tidak lama, lantas lenyap rasa lesu dan kantuknya. Ketika ia membuka matanya, ia sadar seperti biasa.

Pheng Tiangloo girang sekali. Ia percaya si nona meram karena terkena pengaruh ilmunya. Ia udah lantas memikirkan daya lainnya, untuk membikin nona itu membuka matanya, ia terus diawasi sambil tersenyum! Ia tahu mesti ada terjadi keanehan, ia lekas-lekas balas bersenyum. Ia hendak menggunai ilmunya untuk memperngaruhi si nona itu. Tapi sekarang ia gagal, dari tersenyum, tanpa merasa ia tertawa sendirinya.

Oey Yong melihat perubahan kepada tiangloo itu, ia mengerti yang ilmu dari Kiu Im Cin-keng telah bekerja dan memenangi si tiangloo, maka itu ia bukan cuma tersenyum, ia lantas tertawa lebar.

Pheng Tiangloo kaget. Ia masih ingat akan dirinya, ia coba mengendalikan diri. Tapi ia sudah kena dibikin kaget, tidak dapat ia menguasai dirinya. Bahkan dari berdiri diam, ia lantas berjingkrak, terus ia tertawa terbahak-bahak sambil ia memegangi perutnya! Ia tertawa haha-hihi, ia berteriak, makin lama suaranya makin keras.

Semua pengemis menjadi heran, semua dibikin bingung karenanya.

“Eh, Pheng Tiangloo, kau bikin apa?” Kan Tiangloo menegur. “Kenapa kau begini kurang ajar terhadap pangcu?”

Pheng Tiangloo tidak memperdulikan teguran itu, ia terus tertawa terpingkal-pingkal. Ia menunjuk kepada hidungnya. Kan Tiangloo mengira ada apa-apa yang aneh pada hidungnya itu, ia mengusap. Tapi ini membuatnya rekannya itu tertawa lebih hebat. Akhirnya Pheng Tiangloo lompat turun ke bawah panggung di mana ia terus tertawa sambil bergulingan!

Baru sekarang semua pengemis menjadi bercuriga. Dua muridnya Pheng Tiangloo lantas lari kepada gurunya itu, untuk mengasih bangun, akan tetapi mereka ditolak, guru itu tertawa tak hentinya. Karena ini mukanya lantas menjadi merah tua.

Kalau orang biasa terkena ilmunya Oey Yong itu, paling juga dia merasa lelah dan ingin tidur, tidak demikian dengan Pheng Tiangloo, yang sendirinya tukang sihir. Karena ia melawan, kesudahannya, ialah akibatnya menjadi hebat. Ia menyerang, sekarang dia kena dibalas diserang, serangan itu dahsyat untuknya.

Kan Tiangloo menjadi tak enak hati. Ia khawatir Pheng Tiangloo mati karenanya. Maka ia lantas menjura pada Oey Yong dan berkata, “Pangcu, Pheng Tiangloo berlaku kurang ajar, dia harus dihukum berat, tetapi aku mohon dengan kemurahan hati pangcu, sukalah ia diberi ampun.”

Lou Yoe Kiak juga io Tiangloo, lantas turut maju, sambil menjura, mereka pun memohonkan keampunan bagi tiangloo yang telah manjadi seperti gila itu. Hanya sekali mereka ia minta-minta ampun, di sana terdengar suara aneh dari Pheng Tiangloo sendiri…

Oey Yong tidak menjawab ketiga tiangloo itu, ia hanya berpaling kepada Kwee Ceng.

“Engkong Ceng, cukupkah sudah?” ia menanya.

“Cukup!” menjawab si anak muda. “Kasihlah dia ampun!”

Oey Yong lantas menghadapi ketiga tiangloo itu.

“Samwie, kamu menghendaki aku memberi ampun padanya, boleh,” dia berkata. “Aku hanya minta kamu tidak dapat meludah kepada tubuhku!”

Kan Tiangloo melihat jiwanya Pheng Tiangloo terancam, ia menjawab dengan cepat, “Aturan kami ditetapkan oleh pangcu, maka itu pangcu juga yang dapat menetapkan atau menghapuskannya. Teecu semua menurut perintah saja.”

Senang Oey Yong mendengar jawaban itu. Ia tertawa.

“Sekarang pergilah kau menotok dia pada jalan darahnya thongkok-hiat dan siang-kiok-hiat!” ia memberi petunjuk.

Kan Tiangloo lompat turun dari panggung, ia menghampirkan Pheng Tiangloo untuk menotok kedua jalan darah yang ditunjuk. Dengan lantas tiangloo itu berhenti tertawa, hanya kedua matanya mencelik hingga terlihat putih semua, sedang jalan darahnya menjadi sulit.

Oey Yong tertawa.

“Sekarang benar-benar aku mau beristirahat!” katanya. “Eh, mana si orang she Yo itu?” ia tanya. Ia heran melihatnya Yo Kang tidak ada di antara mereka.

“Dia sudah pergi,” menyahut si Kwee Ceng.

Si nona berjingkrak.

“Kenapa dikasih dia pergi?” katanya. “Dia pergi kemana?”

“Dia pergi mengikuti si tua bangka she Khiu itu,” sahut Kwee Ceng seraya tangannya menunjuk.

Oey Yong memandang ke telaga di mana perahu layar tengah berlayar pergi. Tentu saja tidak dapat ia menyusul Yo Kang atau Khiu Cian Jin, maka dia cuma bisa mendongkol dan menyesal sendiri. Ia mengerti itulah biasanya Kwee Ceng, yang sangat jujur. Rupanya ini engko Ceng masih ingat persahabatan dari dua turunan, dia jadi suka memberi ampun pada pemuda she Yo yang jahat itu.

Yo Kang itu cerdik, begitu melihat pertempuran antara Oey Yong dan Kan Tiangloo, ia mengerti, jikalau ia tidak lantas mengangkat kaki, dia bakal menghadapi bahaya, dari itu, diluar tahu orang – selagi orang menonton pertempuran – ia nelusup kepada rombongannya Khiu Cian Jin dan minta pertolongan orang she Khiu itu.

Kapan Khiu Cian Jin mengetahui orang adalah putranya Wanyen Lieh, ia menepuk dada memberikan kepastiannya untuk menolongi, kemudian sesudah melihat suasana – bahwa pastilah Oey Yong yang bakal jadi ketua Kay Pang dan si nona bersama Kwee Ceng adalah musuh-musuh tangguh, diam-diam dia mengajak orangnya pangeran itu berlalu dari gunung Kun San itu.

Kemudian Oey Yong menghadapi semua orang Kay Pang, sambil mengangkat Lek-tiok-thung, ia berkata, “Sekarang ini, selama Ang Pangcu masih belum kembali, akulah yang buat sementara waktu mengurus partai kita. Kan Tiangloo bersama Nio Tiangloo, silahkan kau berangkat untuk menyambut pangcu. Kamu membawa murid-murid kantung delapan dan menyambutnya di timur sana. Loun Tiangloo sendiri berdiam di sini untuk beristirahat.”

Suaranya ini wakil pangcu disambut dengan riuh oleh orang-orang Kay Pang itu.

Kemudian Oey Yong menanya, “Pheng Tiangloo ini tidak lurus hatinya, coba kamu bilang, dia harus dihukum bagaimana?”

Kan Tiangloo menjura, ia berkata, “Dosa saudara Pheng ini besar sekali, dia harus dihukum berat, akan tetapi mengingat dulu hari ia telah membantu npangcu mendirikan jasa besar untuk partai kita, teecu mohon dia diberi ampun dari hukuman mati.”

Oey Yong tertawa. Ia berkata, “Aku memang telah menduga, kau bakal memintakan ampun untuknya. Baiklah! Mengingat dia telah tertawa cukup banyak sekarang dia dipecat kedudukannya sebagai tiangloo, biar dia menjadi murid kantung delapan!”

Ketiga Tiangloo she Kan, Nio dan Lou itu menghanturkan terima kasih, Pheng Tiangloo sendiri juga mengucapkan terima kasihnya.

Oey Yong berkata pula, “Sebenarnya sukar mencari ketika kita untuk berkumpul di sini, kamu semua tentunya ingin berbicara banyak, maka itu pergilah kamu bicara asal terlebih dahulu kamu mengubur baik-baik dua saudara Lee Seng dan Ie Tiauw Hin. Aku melihat Lou Tiangloo adalah orang yang paling baik, selanjutnya semua urusan aku serahkan padanya dan kamu mesti mendengar segala perintahnya. Aku sendiri, sekarang juga aku mau berangkat. Nanti di Lim-an kita bertemu pula!”

Begitu ia berkata, begitu Oey Yong mencekal tangannya Kwee Ceng, untuk ditarik, buat dituntun berlalu turun gunung.

Melihat demikian, semua orang Kay Pang mengiringinya sampai di kaki gunung, sampai nona itu berdua dibawa perahu dan lenyap di antara kabut malam, baru mereka kembali ke puncak gunung, di mana dengan dipimpin Lou Tiangloo, mereka membicarakan segala urusan mereka.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: