Kumpulan Cerita Silat

06/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 56

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:25 am

Bab 56. Kejadian di lauwteng Gak Yang Lauw
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Begitu lekas korang-korang dibuka tutupnya, maka keluarlah ratusan ekor ular berbisa kecil dan besar, semua merayap ke medan pertempuran katak itu, maka di dalam tempo yang pendek, mereka telah dapat menelan banyak kodok hijau. Kodok hijau itu memanglah makanan mereka. Lantas kodok itu pada lari atau merengkat saking takutnya.

Kawanan petani menjadi kaget dan gusar, mereka mengasih dengar suara berisik.

Seorang, yang tubuhnya tinggi besar di antara orang-orang berpakaian hitam itu, maju ke depan orang-orang tani, dia mengasih dengar suara bentakannya: “Camat telah memaklumkan, katak berkelahi di antara bangsannya adalah adat kebiasaannya, maka itu, selagi mereka tidak membikin hubungannya sama kita manusia, perlu apa kamu membikin banyak berisik?!”

Orang-orang tani itu berteriak-teriak: “Kodok besar itu serta ular berbisa ini adalah kamu yang pelihara! Kodok hijau mana bisa melawan ular! Tidak tahu malu! Kami melarat tahun ketemu tahun, panen kami bakal gagal, daripada kami mati kelaparan, mari semua mengadu jiwa!”

Orang tinggi besar itu mengangkat tangan kanannya, maka di situ terlihat goloknya yang berkeredepan. Dia lantas diturut kawan-kawannya, yang semua pada mengeluarkan senjatanya masing-masing. Dengan berbaris rapi, mereka maju mendekati.

“Kamu mau apa?” tanya si orang tinggi besar pada kaum tani itu. “Apakah kamu tidak mau dengar perintah camat? Apakah kamu mau berontak?!”

Orang banyak itu pada mencaci, ada juga yang menimpuk dengan lumpur dan batu.

Orang tinggi besar itu mengibasi tangannya, lantas di antara mereka muncul dua orang yang dandan sebagai hamba polisi, yang satu memegang golok, yang lainnya membawa rantai borgolan. Mereka ini lantas memaklumkan, siapa yang cari gara-gara dan berkelahi, dia akan dihukum sebagai pemberontak!

Orang-orang tani itu berdiam, mereka saling mengawasi. Beberapa diantaranya kata: “Mereka inilah masing-masing kepala polisi berkuda dan berjalan kaki.”

Oleh karena pihak sana dapat bantuan pembesar negeri, maka celakalah kawanan kodok hijau itu, oleh katak besar dan ular mereka digiring masuk ke dalam korang.

“Yong-jie, apakah kita turun tangan sekarang?” Kwee Ceng berbisik.

“Coba tunggu sebentar lagi,” menyahut sang nona.

Ketika itu tujuh atau delapan bocah maju sambil berteriak-teriak, mereka menggunai batu menimpuki rombangan ular itu, hingga ada beberapa ular yang lantas mati.

Orang-orang berpakaian hitam itu menjadi murka, beberapa diantaranya maju untuk menyerang nocah-bocah itu. Satu bocah kena dirobohkan, yang lainnya lari kabur.

Bocah yang roboh itu kena dicekuk.

“Bagus, ya, kau berani membikin mati ular yang kita rawat susah payah!” katanya bengis. “Kau mesti dikasih rasa!”

Seorang tani wanita lantas lari menghampirkan.

“Tolong tuan, tolong,” ia memohon, “Tolong lepaskan anakku ini…”

Kwee Ceng dan Oey Yong mengenali, itulah ibu dan anak yang mereka ajak bicara.

Sambil dengan tangannya yang satu memegangi terus si bocah, dengan tangan yang lain laki-laki itu menyambar lehernya si nyonya, terus ia melemparnya balik hingga tubuh si nyonya itu terpelanting ke dalam rombongannya, di mana dia menimpa dua orang hingga mereka roboh bersama. Lantas laki-laki bengis itu mengibasi tangannya, atas mana kawan-kawannya maju dengan senjata siap sedia.

Kawanan orang tani itu mundur. Mereka kebanyakan ada orang tua dan wanita. Mereka lebii takut lagi ketika orang mengayun goloknya untuk membacok, lekas-lekas mereka mundur pula. Nyata itulah ancaman belaka.

Adalah si bocah yang tertangkap yang malang. Dia digaplok, bajunya disobek, setiap kali digaplok, setiap kali disobek, hingga itu terulang belasan kali, hingga dia menjadi bengkak matang biru mukanya dan tubuhnya pun telanjang. Ibunya menangis menjerit-jerit. Lupa segala apa, nyonya itu merangsak maju untuk menolongi anaknya. Segera dia dipegangi dua orangn laki-laki.

Laki-laki kejam tadi mengsaih dengar siulan nyaring, atas itu beberapa ratus ular berbisa itu mengangkat kepalanya dan mengulur lidahnya, semua mengawasi tubuh telanjang bulat dari si bocah. Maka kagetlah semua orang tani, pucat muka mereka. Si bocah juga ketakutan bukan main, matanya mendelong mengawasi ibunya. “Ibu…!” kemudian ia menjerit.

“Bangsat cilik, kalau kau bisa, kau larilah!” kata si laki-laki bengis. Ia menampar, maka robohlah si bocah. Bocah itu lari kepada ibunya. Tapi di sini dia dipapaki sabetan golok beberapa orang, maka ia lari balik ke tempat kosong.

Si laki-laki bengis, yang rupanya menjadi kepala, bersiul pula, maka sekarang semua ular tadi, yang sudah sipa, lantas lari mengubar bocah itu.

Bukan main kaget dan takutnya si bocah ketika ia menoleh karena mendengar suara sa-sus riuh dari kawanan ular itu, yang semua mementang mulutnya, mengsaih lihat ancaman lidahnya yang bergerak-gerak, dalam takutnya ia lari sekeras-kerasnya. Tapi kawanan ular dapat lari lebih keras, ia lantas hampir kena disusul.

“Anakku!” menjerit si nyonya, yang lantas pingsan dan roboh.

Kawanan tani itu menjadi kaget dan gusar, mereka mau maju menyerang ular, tetapi mereka dihalang-halangi kawanan orang yang berpakaian hitam itu, yang membolang-balingkan goloknya dihadapan mereka.

Menampak kejadian itu, Oey Yong sudah lantas bersiap dengan seraup jarumnya, hendak ia segera menyerang.

Sekonyang-konyang bocah itu tersandung, tubuhnya terjatuh, maka itu ia lantas kena dicandak.

Oey Yong kaget hingga ia berseru, tubuhnya berlompat. Tepat ia hendak mengayun tangannya atau dari antara rombongan orang tani terlihat dua orang melompat maju menghalang di depan si bocah, tangan mereka diayunkan, menerbangkan empat bungkusan bubuk warna kuning, yang terus menggaris di tanah, sedang hidung orang lantas membaui bau belerang. Segera setelah itu, semua ular pada mundur sendirinya.

Kapan Oey Yong mengangkat kepalanya, ia mengenali dua orang itu, ialah Lee Seng dan Ie Tiauw Hin dari Kay Pang, Partai Pengemis, yang pernah ditemui di Poo-eng.

Melihat merintangnya dua orang itu, laki-laki baju hitam itu lantas berkata: “Kami dari Tiat Ciang Pang dengan pihak Kay Pang adalah seumpama air kali tidak bertemu air sumur, oleh karena itu kenapa tuan-tuan sekarang memaksa maju sendiri membelai lain orang?”

Lee Seng memberi hormat.

“Bocah ini belum tahu apa-apa, maka itu aku si pengemis tua memohon muka, sudilah dia diberi ampun,” sahutnya.

Si hitam itu melihat Lee Seng menggondol delapan kantung goni, ia tahu orang ada dari angkatan tinggi, tetapi ia tertawa dingin dan lantas menanya: “Jikalau kau tidak memberi ampun, habis tuan mau bikin apa?”

Ie Tiauw Hin masih muda, ia tidak sabaran. Dia berseru: “Kamu berbuat jahat dan kejam, kami telah mempergokinya, mana pula kami tidak campur tahu?!”

Si hitam tertawa menghina pula. Dia kata: “Aku mendengar kabar kamu kaum Kay Pang, besok kamu bakal mengadakan rapat besar di Gak Yang Lauw, di mana akan hadir semua pemimpin dari partaimu dari pelbagai penjuru, apakah kau pengemis cilik mau menghina orang dengan mengandali jumlahmu yang banyak? Hm! Aku khawatir tidak gampang-gampang kamu dapat berbuat demikian! Kamu katanya kaum yang pandai menangkap ular, coba aku lihat, apa kamu pandai menangkap ular kami ini?”

Ie Tiauw Hin panas hatinya. Ia lantas berlompat maju, kedua tangannya menyambar masing-masing seekor ular. Ia memegang ekor ular, segera digentak kaget. Tulang ular bersambung bagaikan rantai, karena dihentak kaget, tulang-tulang itu jadi seperti terlepas, maka itu, meski tidak segera mati, kedua ular itu lantas tidak mampu menggeraki tubuh mereka. Itulah ilmu kepandaian menangkap ular dari bangsa pengemis.

Si hitam menjadi murka luar biasa, lantas ia bersiul keras, maka itu ribuan ularnya lantas melesat maju, untuk menerjang.

Ie Tiauw Hin boleh pandai menangkap ular tetapi menghadapi ular demikian banyak, ia kewalahan, maka itu, ia lompat ke garisan bubuk belerangnya.

Lee Seng lantas berteriak, menanya she dan nama besar si hitam. Dia ini sendiri tidak menyahutinya, dia cuma tertawa dingin. Setelah ia melihat ularnya tidak berani maju, lagi sekali ia bersiul.

Kali ini terjadilah pemandangan yang luar biasa.

Seekor ular menggigit ekor kawannya, kawan digigit pula ekornya oleh kawannya yang lain, demikian seterusnya, hingga mereka merupakan beberapa puluh potong rantai yang panjang, habis itu, ketika si hitam berteriak, mereka berlompat ke arah kedua pengemis itu, yang mereka terus kurung, hingga si bocah terkurung bersama.

“Pengemis busuk, tangkaplah ular itu!” kata si hitam menantang. “Kenapa kau diam saja?!”

Semua ular itu dongak mengawasi, siap untuk menerjang.

Muka Lee Seng dan Tiauw Hin pucat. Mereka rupanya menginsyafi ancaman bahaya.

Si hitam lantas berkata dengan jumawa, “Kami kaum Tiat Ciang Pang tidak suka mencelakai orang tanpa sebab, maka itu asal kamu berjanji untuk selama-lamanya tidak akan menangkap ular kami pula, asal kamu memberikan buktinya – hm! Kami tentu suka memberi ampun!”

Lee Seng tahu bukti apa yang diminta Tiat Ciang Pang. Ialah mereka harus merusak tangan mereka sendiri. Tentu sekali, mereka tidak suka menyerah, tidak peduli keadaan ada sangat berbahaya. Mereka berdiri tegak dan gagah.

Si hitam mementang kedua tangannya. Ia kata: “Asal aku merangkap kedua tanganku ini maka di tubuh kamu masing-masing bakal tambah beberapa ratus gigi yang beracun! Apa kamu masih tidak mau bertekuk lutut untuk memohon ampun?”

“Susiok, jangan kita mendatangkan malu!” kata Tiauw Hin.

Lee Seng tertawa. “Untuk apa mengatakan itu pula?” sahutnya. Ia lantas perkeras suaranya, berbicara kepada orang Tiat Ciang Pang itu: “Terima kasih banyak saudara hendak mengantar kami pulang ke Langit Barat, hanya aku masih belum mengetahui nama saudara yang besar!”

“Benarlah kamu, sampai mati kamu tidak mau memeramkan mata!” kata si hitam itu. “Aku murid ketiga dari Kiu Tiat Ciang, yang orang menyebutnya Hian-pwee-bong Kiauw Thay si Ular Naga Abu-abu!”

Belum berhenti suara jumawa si hitam ini, lantas terdengar suara tertawa halus nyaring disusuli ini kata-kata terang halus: “Aha! Aku mengira siapa, tak tahunya segala murid dan cucu muridnya si tua bangka she Kiu!”

Suara itu segera disusul oleh orangnya, maka semua orang melihat seorang nona cantik manis yang rambutnya dijepit dengan gelang emas. Dialah Oey Yong kita. Maka heranlah Kiauw Thay.

Oey Yong tidak menanti orang sadar dari herannya, ia kata pula: “Tiat Ciang Sui-siang-piauw she Kiu yang tua itu memanggil aku kouw-nay-nay, maka itu kenapa kau tidak segera memanggil aku couw kouw-nay-nay?” Dia minta dirinya dipanggil bibi dan bibi tua.

“Hai, bocah kau ngaco belo!” membentak si hitam. Di dalam hatinya, tapinya ia heran sekali kenapa bocah ini mengetahui nama besar gurunya.

Oey Yong tertawa dan berkata pula: “Anak-anak menerbitkan onar di luaran, inilah aku kouw-nay-nay kamu paling tidak senang melihatnya! Bukankah kamu pun ada kawannya itu anak yang memangku pangkat camat di Bu-leng? Beberapa hari yang lalu, sambil lewat di mana, kouw-nay-nay telah membereskan dia! Nah, apa katamu?”

Camat she Kiauw di Bu-leng itu memang ada saudaranya Kiauw Thay ini, dia menerima kabar halnya kantor camat dibakar dan camatnya mati baru tadi pagi, maka itu ia lantas melirik si nona dengan hati sangat panas. Dia berduka berbareng gusar tetapi dia bersangsi apa nona ini benar membunuh saudaranya itu yang ia tahu gagah. Ia lantas memberi tanda, maka ratusan ularnya mengurung si nona.

“Siapakah yang membinasakan camat Bu-leng?” Kiauw Thay membentak, “Lekas bilang!”

Oey Yong tertawa manis.

“Dengan sebenarnya akulah yang membinasakan dia!” dia menyahuti, berani. “Dia melawan aku dengan menggunai Tok see-ciang, tangan beracunnya itu! Siapakah tidak mengenalnya jurusnya, seperti jurus ’Jarum tawan’ dan ’Mengangkat obor membakar langit’” Ketika aku menotok jalan darahnya, jalan darah kiok-tie-hiat, pecahlah kepandaiannya itu, maka setelah aku menotok pula kedua jalan darahnya, kie-bun dan kin-ceng, aku menyuruh dia duduk di kursinya, duduk tak bergeming lagi, mirip lagaknya diwaktu hari-hari biasa dia dengan bengis memeriksa rakyat negeri. Kemudian ketika aku membakar gedung camat dan kantornya sampai ludas menjadi abu, entah kena, dia tetap tidak keluar lagi dari kantornya itu!”

Kiauw Thay tetap heran. Kenapa orang begitu berani bicara seperti lagi mendongeng saja, demikian tenang, lancar dan rapi? Meski dia masih bersangsi, dia toh memikir untuk membekuknya, guna mendengar keterangan orang terlebih jauh. Maka ia lantas berseru: “Loo Sam, Loo Su, bekuklah budak ini!”

Dua orang lantas maju, dengan goloknya mereka menyingkirkan ular-ular yang mengurung itu, setelah datang dekat dengan empat tangan, mereka menjambret pundaknya si nona.

Oey Yong tertawa melihat lagak orang, “Loo Sam, Loo Su, kau rebahlah!” ia kata. Sebat luar biasa, ia mendak, lalu tubuhnya melesat ke belakang orang. Belum dua orang itu tahu apa-apa, punggung mereka sudah dicekal, lalu dtitolak keras satu sama lain, maka di antara suara beradu keras, kepala mereka bentrok hingga tubuh mereka terhuyung, lalu roboh di tanah!

Orang-orang tani itu sebenarnya lagi ketakutan akan tetapi menyaksikan robohnya dua jago itu, mereka heran dan kagum hingga mereka tertawa.

Kiauw Thay murka bukan main, ia lantas mengangkat tangan kanannya dan memasuki dua jerijinya ke dalam mulutnya. Ia hendak bersuit, guna mengasih perintah kepada ularnya untuk menyerbu. Atau dia didahuli dengan suara kuk-kuk-kuk tiga kali, lalu di tangannya Oey Yong terlihat seekor burung merah, sebab burung apinya itu ia telah masuki ke dalam tangan bajunya.

Dengan mengasih dengar suaranya, burung api itu pun lantas mengasih keluar bau harumnya, yang segera seperti memenuhi ladang itu, kapan semua ular dapat mencium bau itu, semuanya menjadi bergerak dengan kacau, akan akhirnya pada rebah diam saja, sejumlah di antaranya lantas terlentang, mengasihkan perutnya untuknya untuk di patuk!

Hiat-niauw pun tidak sungkan-sungkan, dia berlompat maju, dia mematuk setiap perut, hingga sebentar saja dia sudah makan nyalinya tujuh ekor ular. Dia sudah kenyang tetapi dia masih mematuki perut ular lainnya!

Kiauw Thay kaget dan gusar, habislah sabarnya. Ia mengeluarkan tiga batang kong-piauw, dua batang ia timpuki kepada burung api itu dan satunya kepada si nona!

Oey Yong memakai baju lapisnya, ia tidak memperdulikan datangnya senjata rahasia itu ke tubuhnya, sedang hiat-niauw, melihat datangnya serangan itu, berlompat untuk menyampok hingga kedua kong-paiuw jatuh di tanah, kemudian ia terbang gesit menyampok jatuh piauw yang mengarah si nona.

Bukan main girangnya Oey Yong mendapatkan burungnya itu mengerti dan dapat membela majikan. Ia lantas menuding si hitam itu serta kawan-kawannya, ia berkata: “Mereka itu orang-orang jahat, patuklah biji mata mereka!”

Burung api itu terbang meleset, tubuhnya yang merah berkelebat mirip api, atau segera satu orang menjerit kesakitan, lantas diturut oleh beberapa orang yang lain. Sebab seperti tanpa merasa lagi, mata mereka telah kena dipatuk burung itu!

Saking takutnya, semua orang itu lari serabutan, sedang yang matanya terpatuk pada menjatuhkan diri, untuk merayap atau bergulingan, guna melarikan diri. Hingga dilain saat, habislah mereka, tinggal kodok dan ular mereka, maka kedua binatang itu lantas diserbu ramai-ramai oleh kawanan orang tani itu. Ketika kemudian mereka hendak menghanturkan terima kasih kepada Oey Yong dan Kwee Ceng, muda-mudi itu dengan tidak banyak omong telah pergi jauh.

Juga Lee Seng dan Ie Tiauw Hin hendak menemui sepasang anak muda itu tetapi mereka telah ditinggal kabur kuda merah yang larinya pesat.

Oey Yong girang bukan main atas kesudahannya perbuatannya itu, maka itu malam, selagi singgah, ia menyalakan api, ia membiarkan hiat-niauw mandi dengan gembira.

Besoknya pagi, tibalah mereka di Gakciu. Mereka berjalan kaki, kuda mereka dituntun. Langsung mereka menuju ke lauwteng Gak Yang Lauw. Mereka memandangi keindahan telaga Tong Teng Ouw di tepi mana lauwteng itu dibnagun. Luas tenaga itu, jernih airnya. Di sekitarnya adalah rentetan gunung, keindahan dan keangkeran telaga itu beda lagi dengan keindahan dan keangkeran telaga See Ouw. Masakan Ouwlam kurang cocok bagi lidah mereka, sudah rasanya pedas, juga mangkoknya lebih besar dan sumpitnya lebih panjan.. Di empat penjuru tembok mereka melihat banyak tulisan orang-orang pandai, yang pernah naik di lauwteng ini untuk bersantap atau minum. Di antaranya ada syairnya Hoan Tiong Am tentang kedukaan dan kegirangan, yang datangnya duluan dan belakangan.

Mereka lantas membicarakan Hoan Tiong Am itu, yang pintar dan gagah, yang pernah menjagoi di See Hee, tetapi semasa kecilnya dia miskin, ayahnya mati muda, hingga ibunya menikah lagi pula, hidupnya sengsara, maka setelah hidup berpangkat dan berbahagia, dia tetap memperhatikan nasib rakyat jelata. Itu pula sebabnya mengapa ia menulis syairnya itu lebih dulu menderita, lalu bergembira.

“Demikian juga dengan bangsa orang gagah!” kata Kwee Ceng kemudian seraya menenggak araknya.

“Dia memang orang baik,” kata Oey Yong tertawa. “Cumalah di dalam dunia ini, kedukaan lebih banyak, daripada kegembiraan. Aku tidak mau hidup seperti dia!”

Kwee Ceng tersenyum, dia diam saja.

“Engko Ceng, aku tidak pedulikan kedukaan atau kesenangan itu!” kata si nona kemudian. “Hanya kalau kau tidak gembira, hatiku pun tidak senang…” Kata-kata ini dikeluarkan perlahan, alisnya pun mengkerut.

Kwee Ceng ingat nona itu tentulah mengingat hubungan di antara mereka, maka dia pun masgul, dia tidak dapat menghibur, dia tunduk dan berdiam saja.

Tiba-tiba si nona mengangkat kepalanya dan tertawa.

“Sudahlah, engko Ceng!” katanya. “Eh, ya, tahukah kau syair Hoan Tiong Am yang berjudul ’Mencukil lampu perak’?”

“Aku tidak tahu. Cobalah kau membacakannya untuk aku dengar?”

Oey Yong membacakan bagian bawah syair itu: “Orang hidup tidak seratus tahun, maka jangan tolol, kalau tua, lantas layu. Hanya di bagian usia pertengahan, itu sedikit tahun, harus dapat menahan hati. Kedudukan tinggi, banyak uang dan rambut putih, bagaimana itu dapat dihalaunya?”

“Kalau begitu,” kata Kwee Ceng nyaring, “Itulah nasehatnya supaya orang jangan menyia-nyiakan waktu, jangan cuma mengejar nama besar, kenaikan pangkat dan harta!”

Oey Yong pun berkata pula, perlahan: “Arak masuk ke dalam usus berduka, berubah menjadi air mata kenangan….”

“Apakah itu pun syair Hoan Tiong Am?” tanya Kwee Ceng, mengawasi si nona.

“Ya. Orang besar dan orang gagah bukannya tidak mempunyai perasaan,” kata si nona, yang terus tertawa. Ia menanya: “Engko Ceng, bagaimana kau lihat caranya aku menghadapi murid-murid jahat dari Tiat Ciang Pang itu? Tidakkah itu memuaskan?”

“Memang!” jawab Kwee Ceng bertepuk tangan.

Demikian mereka bersantap, minum dan bicara dengan asyik dan merdeka, seperti di situ tidak ada lainnya orang lagi. Kemudian Oey Yong menyapu kelilingnya. Ia melihat di arah timur ada tiga orang tua dengan dandanan sebagai pengemis, bajunya banyak tambalannya tetapi berseih. Tentulah mereka orang penting dari Kay Pang, yang hendak menghadari rapat besar kaumnya. Yang lainnya ialah orang dagang atau orang biasa saja.

“Sebenarnya Tiat Ciang Pang itu kumpulan apa?” kemudian kata si nona perlahan. “Kenapa mereka itu sama dengan See Tok paman dan keponakan, mereka memelihara ular?”

“Entahlah,” sahut Kwee Ceng. “Kalau mereka semua sama dengan Kiu Cian Jin si tua bangka, mereka tentu tidak bisa membangun apa-apa yang besar…”

Kata-kata itu belum habis dikeluarkan ketika si atasan kepala mereka terdengar suara orang tertawa terbahak sambil berkata dengan suara angker: “Sungguh mulut besar! Sampai pun ’Tiat Ciang Sui-siang-piauw, si orang she Kiu tua’, tidak dilihat mata!”

Oey Yong terkejut, ia lompat mundur beberapa tindak, baru dia dongak.

Di atas penglari ada duduk nagkring seorang pengemis tua yang kulitnya hitam legam, bajunya sangat butut, tetapi dia mengaawasi dengan tertawa haha-hihi.

Kwee Ceng telah menduga kepada orang Tiat Ciang Pang, setelah melihat ia berhadapan sama pengemis, hatinya menjadi sedikit lega, apapula orang nampaknya tidak mengandung maksud jahat. Ia lantas memberi hormat seraya berkata: “Locianpwee, silahkan turun untuk minum barang tiga gelas arak? Sudikah?”

“Baik!” menyahut pengemis itu, yang lantas menjatuhkan diri, hingga ia mendeprok di papan lauwteng yang debunya mengepul. Setelah menepuk-nepuk kempolannya ia merayap bangun.

Kwee Ceng dan Oey Yong heran bukan main. Orang bisa ada di atas mereka tanpa bersuara, mereka menduga orang berkepandaian tinggi, tetapi orang jatuh terbanting begitu rupa, agaknya sangat berat tubuh orang, itulah bukan tandanya orang lihay.

“Silahkan minum!” Oey Yong mengundang. Ia menyuruhnya pelayan menambahkan cangkir arak, mangkok dan sumpit. Ia pun mengisikan cangkir.

“Pengemis tua tak tepat duduk di kursi,” kata pengemis itu, yang lantas duduk mendeprok di lantai, sedang dari kantungnya ia mengeluarkan sebuah mangkok jonges serta sepasang sumpit bambu. Ia pun kata: “Sisa arak dan sayur yang kamu telah makan, kasihlah itu padaku!”

“Itulah perbuatan tak hormat dari kami, locianpwee,” berkata Kwee Ceng. “Apa yang locianpwee hendak dahar, bilang saja, suruh pelayan menambahkan!”

“Pengemis ada macamnya si pengemis,” kata orang tua itu, “Kalau pengemis cuma nama tapi tak tepat sama artinya, cuma berpura-pura saja, buat apa dia menjadi pengemis? Jikalau kamu sudi mengamal, nah, kasihlah, jikalau tidak, aku bisa pergi mengemis ke lain tempat…”

Dua-dua muda-mudi itu heran tetapi Oey Yong melirik kawannya, lalu ia berkata sambil tertawa: “Locianpwee benar!” Maka ia lantas sisihkan sisa sayur mereka, ia menuangnya ke mangkok butut itu.

Si pengemis merogoh ke dalam sakunya, untuk mengeluarkan nasi dingin, yang mana ia campur sama sisa sayur, terus ia dahar, nampaknya ia bernafsu sekali.

Oey Yong yang cerdik diam-diam menghitung kantung di punggug orang, semuanya susun tiga, setiap susunnya terdiri dari tiga buah, maka itu ada sembilan kantung. Ketika ia berpaling kepada ketiga pengemis lain, mereka pun mempunyai masing-masing sembilan kantung. Yang beda ialah mereka itu bertiga di depannya tersajikan banyak macam sayur pilihan. Mereka itu agaknya tidak memperdulikan pengemis yang satu ini, mereka tidak sudi berpaling atau melirik, cuma pada paras mereka tampak samar-samar roman tak puas.

Tengah si pengemis bersantap dengan bernafsu, di tangga lauwteng terdengar tindakan kaki. Kwee Ceng lantas berpaling. Maka terlihat olehnya naiknya dua pengemis, ialah pengemis kurus dan gemuk yang di Gu-kee-cun, Lim-an menemani Yo Kang. Bahkan di belakang mereka terlihat Yo Kang sendiri. Hanya dia itu, begitu dia melihat si orang she Kwee, dia melongo, lekas dia turun pula. Entah dia berbicara apa sama si pengemis gemuk, maka di gemuk itu ikut dia turun. Si pengemis kurus maju terus, ia menghampirkan pengemis yang tiga itu yang makannya royal, dia bicara berbisik-bisik. Atas itu, ketiga pengemis itu berbangkit, mereka membayar uang makan, lantas mereka berlalu bersama si kurus itu.

Si pengemis yang dahar sambil duduk mendeprok dan makan sisa, terus tidak menghiraukan sepak terjang beberapa rekannya itu.

Oey Yong berjalan ke jendela, untuk melongok ke bawah. Ia melihat belasan pengemis mengikuti Yo Kang ke barat. Jalan belum jauh, pemuda she Yo itu menoleh ke belakang. Maka tepat sinar matanya bentrok sama sinar matanya Oey Yong. Dia agaknya terkejut, segera ia mempercepat tindakannya, selanjutnya dia tidak berpaling lagi.

Pengemis tua itu lantas dahar habis. Ia menjilati mangkoknya san sumpitnya disusuti kepada bajunya, semua itu lantas dimasuki ke dalam kantungnya. Diam-diam Oey Yong mengawasi. Ia melihat sinar kedukaan pada kulit muka orang yang berkeriputan. Aneh adalah tangannya, yang jauh lebih besar daripada tangan kebanyakan orang lain, sedang belakang tangannya penuh dengan otot-otot besar, suatu tanda dari penghidupan besart.

“Cianpwee, silahkan duduk!” berkata Kwee Ceng seraya memberi hormat. “Dengan berduduk, leluasalah kita berbicara.”

Pengemis itu tertawa.

“Aku tidak biasa duduk di bangku!” katanya. “Kamu berdua ada murid-muridnya Ang Pangcu, meskipun usia kamu lebih muda, kita adalah sama derajatnya, cuma aku lebih tua beberapa puluh tahun, kau panggilah aku toako. Aku she Lou, namaku Yoe Kiak.”

Oey Yong tertawa.

“Toako, namamu menarik hati!” katanya. Yoe Kiak itu berarti “ada kaki”

Pengemis itu berkata: “Orang biasa membilang, orang miskin hidup tanpa tongkat dia diperhina anjing, tetapi aku tidak mempunyai pentung, aku mempunyai sepasang kakiku yang bau ini, kalau anjing berani menghina aku, akan aku mendupak dia pada kepalanya, supaya dia terkuwing-kuwing dan kabur sambil menggoyang-goyang ekornya.”

Oey Yong bertepuk tangan. “Bagus, bagus!” serunya, “Kalau anjing mengetahui namamu, tentulah siang-siang dia sudah lari jauh-jauh!”

“Tadi pagi aku telah bertemu sama saudara Lee Seng,” berkata Yoe Kiak, yang lantas bicara secara sungguh-sungguh, “Dari dia aku mendapat ketahui perbuatan kamu di Poo-eng dan Gakciu. Maka benarlah orang bilang, kalau ada semangat, bukan cuma karena usia tinggi, siapa tanpa semangat, percuma usianya lanjut!”

Kwee Ceng berbangkit untuk merendahkan diri untuk mengucapkan terima kasih atas pujian itu.

“Barusan kamu bicara tentang Tiat Ciang Pang,” berkata Lou Yoe Kiak, “Agaknya mengenai mereka itu, kamu belum mengetahui jelas.”

“Benar. Justru itu, aku mohon petunjuk,” sahut Oey Yong.

“Tiat Ciang Pang itu, untuk Ouwlam dan Ouwpak dan Sucoan, pengaruhnya sangat besar,” menerangkan si pengemis tua, “Anggota-anggotanya suka membunuh orang dan merampok, tak ada kejahatan yang tak dilakukan mereka. Mulanya mereka cuma bersekongkol sama pembesar negeri setempat, kemudian mereka jadi semakin berani, kecuali bersekongkol mereka pun menempel pembesar berpangkat tinggi dan main sogok hingga ada diantaranya yang memangku pangkat. Yang paling menyebalkan ialah mereka bersekongkol sama negeri Kim, mereka melakukan perbuatan hina sebagai pengkhianat. Maka tepatlah hajaran kamu kepada mereka itu.”

“Kabarnya kepala Tiat Ciang Pang ialah Kiu Cian Jin,” berkata Oey Yong. “Tua bangka itu paling pandai memperdayakan orang. Kenapa dia jadi demikian berpengaruh?”

“Kiu Cian Jin itu sangat lihay, nona,” berkata Yoe Kiak, “Aku harap kau tidak memandang enteng kepadanya.”

Oey Yong tertawa. “Apakah kau pernah bertemu dengannya?” dia menanya

“Bertemu, itulah belum. Aku mendapat kabar dia tinggal bersembunyi di atas gunung, di mana dia meyakinkan tangan beracun yang dinamakan Ngo-tok Sin-ciang. Sudah sepuluh tahun lamanya dia tidak turun gunung….”

“Kau terpedayakan!” kata Oey Yong tertawa. “Aku telah bertemu dengannya beberapa kali, bahkan kita pernah bertempur juga. Kau bilang ia meyakinkan Ngo-tok Sin-ciang? Ha ha ha…!” Dan dia tertawa geli mengingat ngacirnya Kiu Cian Jin, sambil tertawa ia mengawasi Kwee Ceng.

“Apakah yang disandiwarakan itu Kiu Cian Jin itu,” kata pula Yoe Kiak, tetap sungguh-sungguh, “Aku tidak tahu, tetapi benar sekali selama beberapa tahun kemarinkan Tiat Ciang pang maju sangat pesat, dia tidak dapat dipandang enteng.”

“Lou Toako benar,” kata Kwee Ceng. Yang khawatir pengemis itu menjadi tidak senang, “Memang Yong-jie gemar bergurau…”

“Ah, kapannya aku bergurau?” berkata si nona tertawa, “Aduh, aduh! Perutku sakit…!” dan dia beraksi mirip dengan tingkah lakunya Kiu Cian Jin baru-baru ini, ketika ia berpura-pura sakit perut untuk lari membuang air besar tetapi akhirnya kabur dengan tipu tonggeret meloloskan kulit.

Mau tidak mau, Kwee Ceng tertawa menyaksikan nona itu menekan-nekan perutnya.

Melihat kawannya tertawa, Oey Yong berhenti tertawa. Ia pun mengubah sikap.

“Loa Toako,” tanyanya, “Apakah kau kenal ketiga tuan tadi yang bersantap di meja itu?”

Ditanya begitu, Yoe Kiak menghela napas.

“Kamu bukan orang luar, hendak aku bicara dengan sebenar-benarnya,” sahutnya kemudian. “Pernahkah kamu mendengar keterangan Ang Pangcu bahwa partai kita terbagi dalam dua cabang, ialah cabang Pakaian Bersih dan Pakaian Dekil?”

“Belum, belum pernah kita mendengar keterangan itu,” sahut kedua muda-mudi itu.

“Suatu partai terpecah dalam dua cabang, itulah sebenarnya tidak bagus,” kata pula Yoe Kiak. “Mengenai itu, Pangcu tidak puas, akan tetapi dia telah berdaya sekuatnya untuk mempersatukan, dia tidak berhasil juga. Kay Pang dibawah Ang Pangcu mempunyai empat tiangloo.”

“Ya, tentang itu pernah aku mendengarnya. Suhu pernah bercerita.”

Meski masih muda, karena Ang Cit Kong masih hidup, Oey Yong tidak segera menjelaskan bahwa ia telah ditugaskan Pak Kay untuk menjadi pangcu.

Lou Yoe Kiak mengangguk perlahan.

“Akulah tiangloo yang kedua,” dia berkata. “Tiga orang tadi juga berkedudukan sebagai tiangloo.”

“Aku mengerti,” kata Oey Yong lekas, “Kau dari cabang Pakaian Dekil, mereka dari Pakaian Bersih.”

“Eh, mengapa kau ketahui itu?”

“Lihat saja pakaianmu, Lou Toako! Pakaianmu kotor tetapi pakaian mereka bersih sekali. Lou Toako, hendak aku omong terus terang, bajunya cabang Pakaian Dekil itu hitam dan bau, pasti tidak menyenangkan, maka kalau kau mencuci bersih pakaianmu, bukankah kedua cabang lantas menjadi satu?”

“Kaulah anaknya orang hartawan, pasti kau jemu terhadap pengemis,” kata Yoe Kiak sambil ia berjingkrak bangun berdiri.

Kwee Ceng hendak menghanturkan maaf tetapi orang lantas ngeloyor pergi, kelihatannya ia mendongkol sekali.

Oey Yong mengulur lidahnya.

“Engko Ceng, jangan kau menegur aku,” katanya.

Kwee Ceng tertawa.

“Sebenarnya aku berkhawatir,” kata Oey Yong.

“Kenapa?” pemuda itu tanya.

“Aku berkhawatir Lou Yoe Kiak nanti mendupak padamu.”

“Tidak karu-karuan dia mendupak aku, kenapa?”

Si nona memainkan mulutnya, ia tertawa, ia tidak menjawab.

Kwee Ceng menjadi berpikir. Ia benar tidak mengerti.

Oey Yong menghela napas.

“Ah, engko tolol,” katanya. “Kenapa kau tidak hendak memikirkan namanya itu?”

Sekarang Kwee Ceng sadar.

“Bagus ya!” katanya. “Dengan memutar kau memaki aku bagaikan anjing!” Ia lantas berbangkit, tangannya diulur, untuk mengitik, atas mana, Oey Yong tertawa dan berkelit.

Tengah muda-mudi ini bergurau, di tangga lauwteng terdengar pula suara tindakan kaki. Segera terlihat munculnya ketiga tiangloo yang tadi pergi mengikuti Yo Kang. Mereka menghampirkan untuk terus memberi hormat. Tiangloo yang ditengah, yang mukanya putih dan tubuhnya gemuk, yang kumisnya gompiok, sudah lantas tertawa sebelum ia berbicara. Coba ia tidak berpakaian banyak tambalannya, tentulah orang menyangka dia itu seorang hartawan. Dengan manis ia berkata: “Jiewi, si pengemis tua she Lou tadi telah dengan diam-diam menurunkan tangan jahat. Kami tidak senang melihat kelakuannya itu maka datang untuk memberikan pertolongan kami.”

Kwee Ceng dan Oey Yong terkejut.

“Bagaimana itu?” mereka tanya.

“Bukankah dia tidak sudi dahar bersama jiewi tadi?”

“Ya! Apakah dia telah meracuni kami?”

Pengemis itu menghela napas.

“Inilah gara-garanya partai kami lagi malang,” ia berkata, romannya berduka. “Di luar keinginan kami, di antara kami boleh ada banyak orang buruk semacam dia. Dia itu lihay, asal tangannya menyentil, racun yang disimpan di kuku tangannya bisa tanpa diketahui lagi masuk nyampur ke dalam barang makanan atau arak. Jiewi telah terkena racun itu dan hebat, tidak lewat sampai setengah jam, maka jiewi sukar ditolongi lagi…….”

Oey Yong terkejut tetapi ia bersangsi. “Kami tidak bermusuh dengannya, kenapa dia boleh menurunkan tangan jahat?” tanyannya.

“Jiewi telah keracunan berbahaya sekali, baik jiewi lekas makan obat ini, baru jiewi bisa dapat ditolong!” kata si pengemis tanpa menyahuti dulu pertanyaan orang. Ia lantas mengeluarkan satu bungkusan obat bubuk warna kuning, obat itu ia masuki ke dalam dua cangkir arak, “Lekas minum, jiewi!” katanya pula.

Oey Yong melihat tadi Yo Kang, ia curiga, maka itu, mana mau ia minum arak itu. Maka ia berkata: “Tadi tuan Yo itu kenal kami, tolong samwie ajak dia datang menemui kami.”

“Memang jiewi harus bertemu dengannya,” berkata si pengemis. “Tetapi racun jahanam itu berbahaya sekali, baik jiewi minum dulu obat ini. Kalau ayal-ayalan, nanti susah buat diobatinya.”

“Samwie baik sekali, terima kasih,” berkata Oey Yong. “Nah, marilah duduk untuk kita minum bersama! Sebenarnya kami kagum sekali kepada Kay Pang sebab kami ingat tahun dulu itu pangcu dari genarai yang kesebelas, di Pak Kouw San dia seorang diri telah melayani banyak lawan yang gagah dengan sepasang tongkatnya, dengan sepasang tangannya, dia telah membinasakan lima jago dari Lok-yang! Sungguh gagah!”

Tiga pengemis itu nampak heran sebab mendadak mendengar orang bicara perihal partainya, maka mereka lantas saling melirik. Heran mereka, kenapa nona begini muda ketahui peristiwa dulu hari itu.

“Ang Pangcu itu lihay sekali ilmu silatnya yang bernama Hang Liong Sip-pat Ciang,” berkata pula Oey Yong. “Kepandaiannya itu tak ada bandingannya di kolong langit ini, maka entahlah samwie telah dapat memperlajari beberapa jurus dari ilmu silat itu?”

Mendengar ini, tiga pengemis itu lantas menduga tentulah orang curiga dan tak sudi minum arak campur obat itu. Maka yang beroman mirip hartawan itu berkata sambil tertawa: “Kalau nona bercuriga, tentu sekali kami tidak berani memaksa, tetapi marilah nona melihat suatu bukti nanti nona percaya. Sekarang jiewi lihat dimataku ada apa yang luar biasa?”

Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi, mereka mendapatkan mata orang bercahaya tajam sekali. Oey Yong melihat tidak ada apa-apa yang aneh, maka ia memikirnya itulah tak lebih tak kurang sepasang mata babi………

Tetapi si pengemis itu sudah berkata pula: “Jiewi awasi mataku, jangan sekali jiewi memecah perhatianmu. Lihatlah, sekarang jiewi mulai merasa kulit matamu berat dan kepala pusing, seluruh tubuh jiewi tidak ada tenaganya. Nah, itulah alamat terkena racun. Lekas jiewi menutup mata dan tidur!”

Kata-kata itu menarik dan berpengaruh. Kwee Ceng dan Oey Yong benar-benar lantas merasa matanya ingin dirapatkan dan lesu, benar-benar seluruh tenaganya habis.

“Tempat ini menghadap telaga besar,” berkata pula si pengemis. “Hawanya pun adem sekali, maka itu jiewi silahkan kamu berangin dan tidur di sini! Tidur, tiudrlah!”

Makin lama kata-kata itu terdengar makin perlahan, kata-kata itu sangat manis dan menarik hati, maka tanpa merasa sepasang muda-mudi itu menguap, lalu tidur pulas dengan mendekam di meja. Beberapa lama sang tempo telah lewat, inilah mereka tak tahu, hanya mereka merasa ada hawa sejuk yang menyampok muka mereka, samar-samar pun kuping mereka mendengar suara gelombang. Mereka lantas membuka mata mereka. Maka tampaklah di antara mega munculnya sang rembulan, yang baru mulai naik di gunung timur. Mereka terkejut. Tadi toh mereka tengah bersantap dan minum arak di Gak Yang Lauw, kenapa sekarang sudah malam? Mereka mau berbangkit, atau mereka merasakan kaki dan tangan mereka telah diringkus. Mereka mau berseru, ataupun mereka merasakan mulut mereka telah disumpal biji bebuahan, hingga mereka merasakan mulut mereka sakit.

Sebagai seorang cerdik Oey Yong lantas mengerti bahwa ia telah kena dipermainkan di pengemis gemuk itu, hanya ia belum bisa menerka, orang menggunai ilmu apa membuat dia dan Kwee Ceng menjadi mengantuk dan lemas dan akhirnya tidur lupa daratan. Ia mengerti, maka ia tidak mau banyak berpikir. Ia segera melihat ke sekitarnya. Ia nampak Kwee Ceng di sisinya, kelihatannya kawan itu lagi mau meronta, maka hatinya lega sebagian.

Kwee Ceng pun mendusin karena ia merasakan sampokan hawa dingin. Ia kaget untuk belungguan yang kuat sekali, hingga ia tidak mampu berontak untuk memutuskannya. Kiranya itulah tambang yang dipakai mengikatnya ialah tali kulit kerbau campur kawat. Ketika ia hendak mencoba buat berontak lagi, tiba-tiba ia merasa dingin di pipinya, dua kali pipinya disampok pedang. Ketika ia mengawasi, ia dapatkan empat pengemis muda menjagai dia dengan senjata di tangan.

Oey Yong lantas berpikir terus. Satu hal yang membuatnya kaget. Ia mendapat kenyataan mereka berada di atas sebuah puncak, di sekitarnya telaga dengan airnya yang jernih. Di antara sinar rembulan, ai sekarang melihat tegas ke sekitarnya itu. Ia menjadi heran sekali kenapa ia tidak merasa orang telah mengangkutnya ke atas puncak itu, ialah puncak dari gunung Kun San di tengah telaga Tong Teng itu.

Di depan ia terlihat sebuah panggung tinggi belasan tombak. Di sekitarnya itu duduk beberapa ratus pengemis. Semua duduk dengan diam. Itulah sebabnya kepana mereka mulanya tak nampak, tak ketahuan. Segera setelah ia ingat, hatinya girang. Pikirnya: “Benarlah! Hari ini Cit gwee Capgouw, hari Rapat Besar Kaum Kay Pang! Biarlah aku bersabar, sebentar aku memperdengarkan titah suhu, mustahil mereka tidak akan menaati….”

Lewat sekian lama, segala apa masih diam saja. Nona ini mulai habis sabarnya. Karena tak dapat bergerak, ia merasakan kaki tangannya baal. Sang waktu pun berjalan terus. Kemudian sinar rembulan menjojoh pinggiran panggung di mana ada tiga huruf besar: “Hian Wan Tay”, artinya panggung “Kaisar Hian Wan”. Maka ingatlah Oey Yong akan cerita dongeng, katanya dulu hari Oey Tee, ialah Kaisar Hian Wan itu, telah membuat perapian kaki tiga di sini, setelah perapian itu rampung, dia menunggang naga naik ke langit. Jadi inilah panggung yang berhikayat itu.

Lagi sekian lama, di waktu sinar rembulan telah memenuhi seluruh panggung, maka terdengarlah suara yang tiga-tiga kali, suara itu sebentar cepat dan sebentar perlahan, sebentar tinggi, sebentar rendah, ada iramanya. Kemudian ternyata semua pengemis memegang tongkat kecil, dengan itu mereka mengetuk batu hingga berlagu.

Oey Yong menghitung, setelah terdengar sampai delapanpuluh satu kali, suara itu berhenti serentak. Lalu kelihatan berbangkitnya empat pengemis yang usianya tinggi, ialah keempat tiangloo, Lou Yoe Kiak serta tiga tiangloo lainnya yang Oey Yong mengenalinya dengan baik. Mereka itu berdiri di empat penjuru panggung. Semua pengemis pada berbangkit, dengan membawa tongkat ke depan dadanya, mereka memberi hormat sambil menjura.

Si tiangloo putih dan terokmok setelah menanti semua pengemis berduduk pula, lantas berkata dengan nyaring: “Saudara-saudara, Thian telah melimpahkan bahaya untuk Kay Pang kita, ialah Ang Pangcu kami telah berpulang ke langit di Lim-an!”

Mendengar warta itu, semua pengemis berdiam, hanya seorang yang kemudian berteriak keras, terus ia roboh ke tanah, setelah mana semua pengemis pada menumbuki dadanya, semua menangis sedih, ada yang menggerung-gerung, ada yang mambanting-banting kaki. Tangisan mereka itu berkumandang jauh.

Kwee Ceng kaget sekali. “Aku tidak dapat mencari suhu, kiranya ia telah menutup mata…” pikirnya. Ia pun menangis, hanya tidak dapat bersuara sebab mulutnya tersumbat.

Oey Yong bercuriga. Ia pikir: “Kami tidak dapat mencari suhu, musathil mereka bisa! Mungkin kawanan manusia jahat ini lagi mengelabui orang banyak…”

Tengah orang sangat bersedih itu, Lou Yoe Kiak bertanya: “Pheng Tiangloo, ketika Pangcu berpulang ke dunia baka, adakah tiangloo melihatnya sendiri?”

Si tiangloo putih dan gemuk itu menyahuti: “Lou Tiangloo, jikalau Pangcu masih hidup, siapa yang berani makan nyali macam tutul dan hati harimau untuk menjumpai padanya? Orang yang melihat sendiri Pangcu meninggal dunia berada di sini. Yo Siangkong, silahkan kau memberi keterangan kepada orang banyak!”

Seorang lantas muncul di antara orang banyak. Dialah Yo Kang. Dengan memegang tongkat bambu, ia naik ke panggung. Semua pengemis berdiam, untuk memasang kuping.

Yo Kang berbatuk satu kali, baru ia mulai bicara. Ia kata: “Kejadian ialah baru satu bulan yang lalu. Kejadiannya di kota Lim-an. pangcu telah berkelahi dan orang kesalahan memukul ia hingga ia mati.”

Mendengar itu, suara orang banyak menjadi riuh.

“Siapakah musuh itu?!” tanya mereka. Nyata mereka murka. “Lekas bilang, lekas! Pangcu demikian lihay, mungkinkah dia jatuh? Pastilah Pangcu telah dikepung ramai-ramai maka ia roboh!”

Kwee Ceng mendongkol mendengar keterangan Yo Kang itu. “Pada satu bulan yang lalu, suhu ada bersama aku! Ha, kiranya dia lagi main lagi!”

Yo Kang mengangkat kedua tangannya, ia menunggu sampai suara orang reda, baru ia berkata pula: “Orang yang mencelakai hingga Pangcu mati ialah Tong Shia Oey Yok Su, pemilik dari Pulau Tho Hoa To, bersama tujuh imam bangsat dari Coan Cin Pay!”

Oey Yok Su sudah lama tidak meninggalkan pulaunya, antara kaum pengemis ini, dalam sepuluh, sembilan tidak ada yang mengenal dia, hanya Coan Cin Cit Cu sangat kesohor maka mereka mengenalnya. Mereka mau percaya ketua mereka kalah karena dikeroyok, maka itu mereka mencaci dan mengutuk, ada yang mau lantas pergi untuk menuntut balas. Tentu sekali mereka tidak tahu bahwa mereka lagi dipermainkan Yo Kang, yang mau mengadu mereka dengan Tong Shia dan Coan Cin Cit Cu. Tentang Kanlamg Liok Koay, ia tidak takut. Yo Kang bertindak begini karena Ang Cit Kong terluka parah hajaran Kuntauw Kodok dari Auwyang Hong sedang Kwee Ceng, ia menyangka telah mati tertikam olehnya di dalam istana, siapa tahu kemarin ia menemui Kwee Ceng dan Oey Yong di Gak Yang Lauw, karena itu sudah kepalang, ia minta Pheng Tiangloo membekuk kedua orang itu dengan tipu, dengan liap-sim-hoat, yang mirip dengan ilmu sihir. Ia mengharap Tong Shia, Coan Cin Kauw dan Kay Pang nanti ludas bersama kerana bentroknya mereka bertiga…

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: