Kumpulan Cerita Silat

05/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 55

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:24 am

Bab 55. Pertarungan sang kodok
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Cepat melayangnya cabang itu tibanya di depan burung itu lebih dulu dari tibanya torak, maka torak dan cabang beradu, bersama-sama jatuuh ke tanah. Burung itu cerdas sekali. Dia heran, lantas dia berpaling ke arah darimana datangnya cabang pohon dan torak itu. Dia lantas mengetahuinya ada orang yang membokong dia dan ada yang menolonginya, terus ia mengangguk ke arah Kwee Ceng dan Lam Kim, habis mana, dengan sinar merahnya bergerak, dia terbang ke arah penyerangnya.

Penggiring ular itu kaget tetapi dia menyerang pula. Dia menggunai empat buah ginso, yang menyambar saling susul.

Kwee Ceng kaget, untuk menolongi sudah tidak keburu, maka ia mengeluh, “Sayang…!”

Sementara itu sang burung merah tukang makan ular itu menyambar terus. Dia melihat menyambarnya dua buah torak perak, dia menyampok ke bawah dengan sayapnya, maka jatuhlah torak itu. Sambil menyampok, dia berkelit, lalu dengan lain sayapnya dia menyampok pula, maka lagi dua torak lolos, terpental naik ke udara!

“Bagus!” Kwee Ceng berseru saking gembira. Burung itu bergerak sebagai seorang ahli silat.

Belum berhenti suaranya Kwee Ceng ini, atau si budak pengiring ular itu sudah menjerit keras, kedua tangannya dipakai menutupi mukanya, dia lari ke depan dimana dia membentur sebuah pohon besar, maka sambil menjerit, dia berjongkok di situ. Nyatalah kedua biji matanya telah dipatuk burung itu.

Tujuh budak lainnya menjadi kaget, semua lantas menyerang dengan senjata rahasia mereka. Di terangnya rembulan itu, torak-torak perak terbang berkeredepan.

Burung itu benar-benar lihay. Dia beterbangan, untuk mengelit diri atau menyampok, ia mundur dan maju, lalu dua orang lagi berkoak, sebab mereka pun kena dipatuk biji matanya.

Ketika itu mendadak ada menyambar satu sinar biru terang, menyambar ke burung pemakan ular itu. Kwee Ceng mengenali api belerang. Serangan ini lebih hebat dari ginso. Tapi burung itu berbunyi nyaring, dia terbang memapaki api itu, yang berupa anak panah, terus dia mencengkeram dengan kukunya. Dia tidak menghiraukan belerang menyala. Setelah meletaki anak panah itu di tanah, burung itu mencari rumput, ditaruh di atas api itu hingga rumput terbakar!

“Sayang! Sayang!” Kwee Ceng berseru berulang-ulang.

“Sayang apa, engko?” Lam Kim menanya heran.

“Inilah permainan bagus, sayang Yong-jie tidak melihatnya!” sahut si anak muda.

“Yong-jie?” tanya Lam Kim. “Siapakah dia?”

“Ya, Yong-jie…”

Lam Kim mau menanya pula ketika kupingnya mendengar suara helaan napas, seperti suara wanita, di belakangnya. Ia lantas menoleh, tetapi dia tidak melihat siapa juga. Tanpa merasa, bulu romannya bangun berdiri. Ia menduga kepada setan, maka ia memegang keras lengan Kwee Ceng, tubuhnya disenderkan rapat-rapat. Ia pun menanya, “Engko, siapakah yang menghela napas itu?”

Perhatian Kwee Ceng dipusatkan kepada burung merah, ia tidak mendengar suara helaan napas itu, ia tidak dapat mendengar juga perkataan si nona yang sangat perlahan, bahkan ia seperti tidak merasakan tubuh yang halus dari si nona Cin menyambar di dadanya.

Burung itu bergulingan di api yang dia nyalakan itu, ketika api mulai berkurang, ia mengambil pula daun dan cabang kering, hingga api menjadi kobar lagi. Ia membuat main bulunya di dalam api itu, ia tidak terbakar, tidak kepanasan. Ia malah mematuki bulunya menyisili, seperti biasanya burung mandi.

Selagi Kwee Ceng mengawasi dengan heran, bau harum terasa makin keras. Kapan kawanan ular mendapat cium bau itu, mereka seperti tidak dapat menguasai diri, semua lantas bergerak, berlompatan, lalu saling menggigit, hingga suaranya menjadi berisik. Ada ular yang kesakitan digigit telah menggigit ekornya sendiri!

Maka kacaulah ribuan ular itu.

Lam Kim merasa kepalanya pusing dan matanya kabur, hampir dia jatuh dari atas pohon, maka lekas-lekas ia memegangi erat-erat tubuh Kwee Ceng, yang ia peluki.

Sisa budak-budak itutu kaget dan ketakutan, lantas mereka lari keluar dari rimba. Si burung menganggap mereka itu sebagai musuh, dia terbang mengubar. Mereka itu ketakutan, mereka menutup muka dengan tangan, tapi tangannya itu dipatok, ketika mereka melepaskan tutupan kepada muka mereka saking sakitnya, lantas mata mereka dipatok. Tidak lama, maka mereka semua menjadi si orang-orang buta. Habis itu, burung itu terbang kembali ke rimba, ke api, tetapi api sudah padam. Dia lantas mengibas-ngipas dengan kedua belah sayapnya, untuk menyalakan api itu pula.

Tentu saja abunya menjadi beterbangan.

Kwee Ceng menepuk pundak Lam Kim.

“Kau diam di sini, kau pegangi pohon,” katanya perlahan seraya menyingkirkan tangan yang merangkulnya. Habis itu ia lompat turun, bertindak dengan perlahan ke arah si burung aneh itu.

Sang burung melihat ada orang datang. Dia seperti mengenali penolongnya tadi, dia diam mengawasi. Burung itu mengangkat kepalanya, dia tidak menghampirkan.

Selagi turun dari pohon, Kwee Ceng memperhatikan semua ular, dari itu ia bertindak dengan perlahan, tetapi sekarang ia mendapat kenyataan, semua ular itu, yang sudah berkelahi sendiri, seperti membuka jalan untuknya. Rupanya binatang berbisa itu takut kepadanya, yang pernah minum darah ular. Dengan berani, ia maju terus, tindakannya lebar. Setelah datang dekat kepada burung aneh itu, ia mengulur tangannya.

Burung itu lihay, dia gesit sekali. Sambaran Kwee Ceng cepat tetapi dia dapat berkelit, setelah itu, tidak menanti sampai disambar pula, ia membalas menyerang, hendak mematuk matanya si anak muda.

“Engko Kwee, hati-hati!” Lam Kim berseru, memberi ingat.

Kwee Ceng menungkrap dengan kuali besinya.

Burung itu benar lihay, dia berkelit, dia lolos.

“Bagus!” berseru Kwee Ceng, seraya ia melompat, kualinya menungkrap pula.

Sang burung terbang ke atas, terpisahnya kira satu kaki. Dia melihat tangan kiri Kwee Ceng menyusul, di atasan kepalanya, dia kaget, terus dia terbang ke bawah lewat selangkangan si anak muda. Habis itu dia terbang naik kembali, dia hendak mematuk mata.

Kwee Ceng gembira, hingga timbul sifat kekanak-kanakannya.

“Di tanganku ada senjata, kalau aku tidak dapat menangkap kau, aku bukan satu laki-laki,” katanya. “Baiklah, mari kita bertempur dengan tangan kosong!”

Maka ia melemparkan kualinya, lantas dia menyambar. Dia takut melukai, maka ia memakai tenaga cuma satu bagian.

Burung itu kena dipapaki, dia tidak keburu kelit, karena kebentur, dia roboh.

Kwee Ceng mengulur lebih jauh tangannya, untuk mencekuk, atau burung itu telah terbang pula. Dia rupanya tahu lawannya lihay, bukan seperti pengiring-pengiring ular itu tadi, maka dia mau terbang pergi.

Kwee Ceng menyambar, tangannya diputar. Dia menggunai jurus dari Hang Liong Sip-pat Ciang, jurus “Enam naga berputaran”. Burung itu kena terpegat di sana-sini, lalu kebentur jatuh hingga ia jumpalitan. Justru itu Kwee Ceng mencekuk padanya.

“Nona, dia telah kena aku tangkap!” Kwee Ceng serukan Lam Kim.

Nona itu girang sekali, ia lekas mengeluarkan obatnya pemunah racun, yang ia masuk ke dalam mulutnya, setelah itu, ia turun dari pohon, lari menghampirkan si anak muda. Sebutir obatnya ia mau serahkan kepada si anak muda.

Burung itu pingsan, dengan begitu, lenyaplah pengaruhnya, maka itu waktu, semua ular yang ketakutan, lantas lari serabutan menyingkir dari rimba itu.

Kwee Ceng merasai burung itu tidak bergerak, ia khawatir mati, ia memegang dengan perlahan. Ia memegang dengan kedua tangannya. Ia membawanya ke tempat di mana ada tembusan sinar rembulan.

Ketika Lam Kim telah datang dekat, ia mengangsurkan obatnya.

“Engko Kwee, obat ini bisa melawan racun ular,” katanya.

Kwee Ceng tahu ia tidak membutuhkan itu, akan tetapi untuk tidak menyampik kebaikan hati si nona, ia menyambutinya. Karena menyambuti, tangannya yang memegang burung tinggal sebelah. Justru itu, burung itu berotntak dan terbang lolos!

“Ah, sayang, sayang!” anak muda ini membanting-bantingkan kaki.

“Burung itu cerdik, mungkin dia tidak berani datang pula,” berkata si nona.

“Maka itu aku mengatakan sayang,” kata si anak muda.

“Kenapa engko?”

“Aku berniat menangkap dia untuk diberikan kepada Yong-jie….”

Lagi-lagi nama Yong-jie disebut. Lam Kim heran. Suara memanggil itu pun halus sekali.

“Apakah Yong-jie itu anakmu?” ia menanya. Ia mengartikan Yong-jie seperti anak yang bernama Yong.

Ditanya begitu, pemuda itu melengak.

“Bukan!” sahutnya dengan cepat. “Dialah satu anak perempuan, yang dibanding denga kau, usianya lebih muda satu dua tahun.”

“Ah, dia tentu cantik sekali, bukankah?”

“Tentu saja! Dia bukannya cuma cantik, juga pintar dan baik hatinya…..”

Selama beberapa bulan Kwee Ceng selalu mengingat-ingat Oey Yong cantik dan pintar, hanya karena pendidikan ayahnya, ia termanjakan, tabiatnya rada keras, dia biasa membawa sukanya sendiri, cuma dimata Kwee Ceng, dia tidak ada celaannya. Terhadap Kwee Ceng, Yong-jie suka mengalah.

Lam Kim duduk bersama Kwee Ceng di atas sebongkol pohon yang roboh melintang di tanah, ia mendengar si pemuda memuji si nona, tanpa merasa, ia merasakan sesautu yang berbeda daripada biasanya.

Lekas juga si pemuda sadar.

“Kau lihat!” katanya tertawa. “Tengah malam buta kita memasang omong di sini! Mari kita pulang. Kalau sebentar kakekmu bangun dan ia tidak melihat kau, ia tentunya berkhawatir.”

“Tidak,” menyahut si nona. “Aku suka sekali mendengar ceritamu.” Ia berhenti sebentar, lalu ia menanya. “Nona Oey itu pergi ke mana? Kenapa kau tidak ikuti dia?”

Pertanyaan itu mengenakan telak kepada Kwee Ceng. Ia tidak dapat lantas menjawab. Bukankah ia bakal menikah dengan Gochin Baki? Bukankah sulit untuknya nanti bertemu pula sama Oey Yong? Mengingat semua itu itu, ia menjadi berduka. Mendadak saja ia menangis.

Lam Kim terkejut. Ia menyangka ia telah salah omong. Ia menjadi menyesal dan berduka. Ia malah menjadi bingung bagaimana harus menghiburi anak muda ini. Dengan sendirinya tangannya merogoh ke dalam sakunya, mengasih keluar sehelai saputangan. Ia sodorkan itu kepada si anak muda.

Kwee Ceng menyambutinya, ia menyusuti matanya. Ia tidak ingin menangis, tetapi ia tidak sanggup menahan kesedihannya. Maka ia menangis pula.

Tiba-tiba di belakang mereka terdengar satu suara tertawa geli.

“Yong-jie!” berseru Kwee Ceng, sambil ia melompat bangun, akan tetapi ketika ia menoleh ia tidak melihat siapa juga, tidak ada bayangan orang meski juga cuma separuhnya………..

“Ah, engko Kwee!” berkata Lam Kim. “Kau senantiasa memikirkan nona Oey. Mari kita pulang!”

“Mari!” sahut si anak muda.

Bersama-sama mereka keluar dari hutan itu. Baru mereka jalan beberapa puluh tombak, di depan mereka, mereka melihat tujuh atau depalan orang dengan pakaian putih berbaris, tangan kirinya bertongkat sebatang galah panjang. Mereka jalan setindak demi setindak.

Merekalah budak-budaknya Auwyang Hong, yang matanya buta di patok burung merah itu.

Mengawasi mereka itu, Kwee Ceng merasa kasihan. Maka ia menghela napas. Tapi ia tidak mau mendekati atau menegur mereka itu, bersama nona Cin ia terus menuju ke rumah si nona, untuk terus tidur.

Besok pagi, ketika Kwee Ceng mendusin, ia mendengar empeh Cin lagi sesalkan Lam Kim, yang katanya tidak seharusnya mengajak tetamunya pergi menangkap burung aneh itu sebab berbahaya.

“Memangnya aku yang mengajak?” si nona kata tertawa. “Dia sendiri yang gemar bermain!”

“Kau gila! Dia toh penolong kita, dia bukannya bocah lagi! Cara bagaimana kau bilang dia gemar bermain sendiri?”

“Kalau yaya tidak percaya, masa bodoh!” kata cucu itu tertawa.

“Masih kau tidak mau kalah! Kalau tuan penolong kita kena dilukai burung keramat itu, habis bagaimana?”

“Dia kosen sekali, mana dapat dia dilukakan?” si cuca masih melawan.

Kakek itu menghela napas.

“Sudah, sudah….” ia mengalah. “Mari kita berbenah……. Tidak dapat tidak, kita mesti berlalu dari sini….”

“Bagaimana engkong?” tanya si nona heran.

“Kita pulang ke Kwietang. Bangsat polisi itu kena dihajar, mana dia puas? Mana dapat kita tinggal lebih lama di sini? Kalau sebentar tuan penolong kita pergi, jikalau kita berlambat, bahaya tentu bakal menimpa kita….”

Cucu itu bengong.

“Habis engkong, bagaimana dengan ini rumah, meja dan kursi kita?” ia menanya.

“Anak tolol!” mengelak orang tua itu. “Jiwa kita sendiri masih belum ketentuan, apa perduli segala rumah dan meja kursi? Anak, dasar nasib kita yang buruk, maka janganlah kau bersusah hati…..”

Kwee Ceng telah mendengari semua pembicaraan itu, maka ia lantas mengambil putusan, menolong orang tidak boleh kepalang tanggung. Ia turun dari pembaringannya untuk terus menemui itu kakek dan cucu.

“Lootiang, kau jangan berkhawatir,” katanya menghibur. “Nanti aku pergi ke kantor camat untuk membereskan urusanmu ini.”

“Oh, injin, jangan kau pergi ke kantor camat!” cegahnya lekas. “Kantor itu adalah laksana gua harimau atau serigala!”

“Aku tidak takut!” berkata Kwee Ceng.

Empeh Cin masih hendak mencegah tetapi Kwee Ceng sudah lantas pergi keluar, untuk menuntun kudanya, maka dilain saat ia sudah kabur dengan kuda merahnya. Dalam tempo sedaharan nasi, ia sudah sampai di dalam kota. Tengah ia memikir untuk menanya dimana letaknya kantor camat, mendadak ia menampak api berkobar di depannya dan banyak orang berlari-lari berteriak-teriak: “Kantor camat kebakaran! Oh, Thian, ada matanya!”

“Begini kebetulan?” kata Kwee Ceng di dalam hatinya. “Masa begini tepat kantor camat kebakaran?”

Ia lantas mengasih kudanya lari di depan kantor, belum ia datang dekat, ia sudah diserang hawa panas dari api itu hingga ia mesti mundur pula. Herannya tak ada orang yang mau menolongi memadamkan api. Orang banyak berdiri jauh-jauh, roman mereka bukan kaget atau takut, sebaliknya semua bermuka terang, tandanya riang hati mereka.

Kwee Ceng lompat turun dari kudanya. Ia sekarang melihat di tanah ada rebah belasan orang polisi, ada yang sudah terbakar, ada yang masih hidup tetapi romannya tidak karuan dimakan api, ada yang dapat membuka matanya, tetapi mata itu tidak berkutik. Ia heran, ia menghampirkan, terus ia mengangkat seorang opas. Baru sekarang ia ketahui orang adalah korban totokan. Ia lantas menotok pinggang dia itu.

“Mana camat?” ia tanya.

“Dia di dalam kantor, tuan,” sahut opas itu, tangannya menunjuk. “Kebanyakan dia sudah mati tertambus….”

“Kenapa terbit kebakaran?” tanya pula Kwee Ceng. “Siapa yang merobohkan kau?”

“Maaf tua, aku tidak jelas,” sahut pula si opas. “Tadi pagi-pagi sebelum aku bangun tidur, aku dengar koan-thayya membikin banyak berisik, rupanya ia mencaci orang dan berkelahi, lalu api berkorbar. Aku hendak lari, tiba-tiba aku merasakan tubuhku kaku dan lemas, tahu-tahu aku sudah roboh….”

“Koan-thayya kamu bertempur sama orang, apakah dia pandai silat?”

Kwee Ceng heran. Ia tidak menyangka seorang camat pandai silat dan menngerti juga Tok-see-ciang, tangan Pasir Beracun. Lantas ia ingat camat ini gemar dengan ular.

“Ah, tentulah ia pakai ular itu untuk melatih diri,” terkanya. Ia lantas menanyakan itu kepada opas.

“Aku tidak tahu, tuan”

“Rupanya, ada orang kangouw yang mencari camat itu,” akhirnya Kwee Ceng pikir. “Ini ada baiknya, aku jadi tak usah capai hati…”

Oleh karena pikirannya sudah lega, Kwee Ceng tidak menggubris lagi si opas atau camat, ia berniat pulang ke rumah empeh Cin, untuk menyampaikan kabar gembira, tetapi waktu ia berpaling kepada kudanya, ia terkejut. Kudanya itu tak ada. Ia bersiul, memanggil. Kuda itu tidak muncul. Ketika ia mengulangi beberapa kali, tetap kuda merah itu tak nampak. Ia menjadi heran sedang ia tahu betul kuda itu cerdik dan sangat mengerti dan mengenali tuannya. Lantas ia pergi mencari, ia seperti memutari seluruh kota, tetapi ia tidak berhasil mencari kudanya.

“Benar heran!” pikirnya, bingung dan masgul. Akhirnya ia berjalan balik ke rumah empeh Cin, hatinya berpikir: “Nanti aku bawa burung wajawali untuk mencari, mustahil tidak ketemu…”

Ia berjalan pulang sambil berlari-lari.

Empeh Cin dan cucunya heran mendengar gedung camat kebakaran, mereka girang mendapat tahu camat sendiri mati tertambus. Mereka bersyukur bukan main.

Habis memberi keterangan, Kwee Ceng bersiul, memanggil burungnya. Tapi aneh, burung itu juga tak nampak dan tak muncul. Ia heran bukan main dan ia jadi semakin bingung. Saking berduka, ia tak nafsu dahar minum. Malam itu ia diam terus di rumah empeh Cin. Ia mengambil keputusan, besok ia mau pergi mencari kuda dan burung itu…….

Ketika itu musim panas, hawa udara sangat mengendus. Empeh Cin menggotong bale-bale serta dua buah kursi ke luar rumah, ditaruh di bawah para-para pohon kacang. Ia pun masak air dan menyeduh the. Di bawah pohon ia mengajak Kwee Ceng dan cucunya berangin. Ia melewatkan waktu dengan bercerita tentang sifatnya pelbagai ular berbisa.

Hati Kwee Ceng terhibur juga. Cerita si empeh menarik hati.

Mereka berangin sampai tengah malam, sampai mereka merasa tubuh mereka adem. Empeh itu beberapa kali mengajaki tetamu dan cucunya masuk tidur, sang cucu menolak.

“Dasar bocah!” kata sang engkong tertawa. “Anak ini hidup sendirian, setaip hari ia menemani aku si tua bangka, di sini sulit mendapat tetamu, maka sekarang dia jadi gembira luar biasa….”

“Kalau besok engko Kwee pergi, kita kembali tinggal berdua…” kata Lam Kim. Ia nampak masgul, suaranya pun tak gembira.

Kwee Ceng berdiam.

“Engko Kwee, pergilah tidur,” kata si nona kemudian. “Aku sendiri, aku masih hendak memandangi sang bintang….”

“Anak tolol! Apakah bagusnya bintang !” kata sang kakek.

“Tetapi aku suka memandanginya.” kata si cucu.

Orang tua itu memandang ke langit, dimana ada mega hitam.

“Lihat, langit bakal lekas berubah, bintang pun bakal lenyap…” katanya.

Ketika itu mendadak Kwee Ceng mendengar suara kuda berlari mendatangi.

“Kuda merahku!” ia berseru. Segera ia menoleh dan mengawasi. Jauh di sana, seekor kuda merah lagi mendatangi. Lekas juga ternyata, dialah si bulu merah kudanya sendiri, seperti ia telah membilangnya. Di atas kuda itu ada penunggangnya, yang bajunya berkibaran, bahkan dialah Oey Yong.

“Yong-jie! Aku di sini!” Kwee Ceng berseru kegirangan.

Mendengar disebutkannya Yong-jie, hati Lam Kim terkesiap.

Lekas sekali kuda merah itu telah tiba kepada tiga orang itu. Bersama Oey Yong ada kedua burung rajawali yang putih.

“Ah, sungguh aku tolol!” Kwee Ceng sesalkan dirinya sendiri. “Memang kecuali Oey Yong, siapakah yang dapat menguasai kuda dan burungku ini?”

Oey Yong lompat turun dari kudanya sedang Kwee Ceng maju memburu padanya. Ia girang bukan kepalang.

“Aku berlatih tetapi keliru, kedua tanganku tak dapat digerak,” berkata si nona.

“Ah!” Kwee Ceng berseru. “Mari lekas salurkan napasmu!”

Keduanya lantas lompat naik ke bale-bale, untuk duduk bersila. Kwee Ceng meletaki kedua tangannya di punggung si nona, guna menyalurkan hawanya ke tubuh si nona itu.

Justru itu langit benar-benar berubah. Perlahan-lahan terdengar suara guntur, yang diikuti bergeraknya sang awan, hingga langit menjadi gelap.

Kira setengah jam kemudian, pernapasannya Oey Yong mulai lurus, hawa dari perutnya naik ke dadanya. Karena itu, tubuhnya seperti terdorong ke kiri dan ke kanan.

Selama itu Lam Kim mengawasi nona Oey, yang duduk sambil menutup mata dan merapati mulutnya, hanya mulutnya itu nampak tersenyum. Dia berkulit putih bersih, pada itu nampak cahaya dadu, maka terlihat tegaslah kecantikannya. Di lehernya ada tergantung kalung mutiara, yang bersinar menambah menterengnya kecantikannya itu.

“Dia mirip dewi, tak heran engko Kwee jatuh hati kepadanya,” Lam kIm berpikir. “Hanya, entahlah apa yang mereka lagi lakukan sekarang….”

Dia tengah berpikir begitu ketika mendadak matanya seperti gelap. Karena segumpal mega hitam lewat menutupi sang putri malam. Dan menyusul itu, seluruh langit mulai menjadi gelap juga.

“Kwee Toako,” ia berkata kepada Kwee Ceng. “Baiklah, kau masuk ke dalam bersama ini nona, lekas akan turun hujan.”

Boleh dibilang ia baru menutup mulutnya, ketika ia merasai muka dan lehernya dingin, karena sang air hujan sudah lantas mulai turun beberapa tetes!

Hujan di musim panas benar luar biasa. Begitu dibilang, hujan lantas turun. Dan Lam Kim lantas juga berkoak. Sebab dengan lantas hujan turun dalam jumlah besar, seperti dituang-tuang!

Kwee Ceng dan Oey Yong lagi menyalurkan napas mereka, tidak menghiraukan hujan itu.

Nona Cin menjadi heran sekali, hingga ia mau menduga orang kena pengaruh sesat. Ia menghampirkan si anak muda, yang pundaknya ia tolak. Ia tidak menggunai tenaga besar, ketika ia menolak, ia tertolak mundur satu tindak. Ia menjadi terlebih heran. Ia maju pula, ia menolak dengan terlebih keras. Ia menanya: “Engko Kwee, kau kenapa?” Atau mendadak, untuk kagetnya, ia terolak mundur hingga ia terguling di tanah, jatuh duduk di air hujan!

Empeh Cin sudah masuk tidur, ia mendengar suara hujan diselengi guntur, maka ia memanggil Lam Kim. Beberapa kali ia memanggil tanpa ada penyahutan, ia lantas pergi ke luar, tepat ia menyaksikan cucunya itu lagi merayap bangun dari lumpur, rambutnya kusut, basah dengan air hujan, romannya bingung. Tengah ia kaget, ia mendengar suara nyaring cucunya itu: “Engkong, tuan penolong kita kena pengaruh jahat, lekas tolongi dia!”

Empeh itu pun kaget. Ia pun sangat bersyukur kepada anak muda itu. Maka tanpa pikir lagi, ia hampirkan Kwee Ceng, yang ia pegang tangannya, untuk ditarik masuk. Atau ia menjadi kaget. Tubuh si anak muda tidak bergeming. Ketika ia menarik dengan kuat, ia sendirinya yang terpental jatuh, maka ketika ia sudah merayap bnagun, ia berdiri bengong seperti cucunya itu.

Lam Kim lekas sadar, ia lari masuk untuk mengambil payung, ia memegang itu untuk dipakai memayungi Kwee Ceng berdua. Ia juga berkata: “Engkong, lekas menyulut kertas kuning, kau asapi hidung mereka!”

Empeh Cin lari masuk, tindakannya limbung. Apa mau, ia kena membentur pelita hingga terbalik.

Lam Kim sendiri lantas nyata perubahan hatinya. Biarnya ia mengagumi Oey Yong, hatinya ada pada Kwee Ceng, maka payungnya itu mulai bergeser, menutupi si anak muda sendiri, hingga si nona itu lantas ketimpa hujan pula.

Tidak lama empeh Cin muncul dengan kertas kuningnya, yang ia telah sulut. Dengan dijagai ujung bajunya, kertas itu ia bawa kepada Kwee Ceng, yang hidungnya lantas ia asapi.

Hebat kesudahannya ini untuk si anak muda, yang lagi menyalurkan napasnya itu. Ia lantas merasa napasnya sesak. Ia menjadi kaget sekali, dengan lantas ia menahan napasnya itu. Tapi ia cuma bisa menahan sebentar, atau asapnya si empeh masuk pula. Beberapa kali ia terbatuk-batuk. Celaka untuknya, di dalam keadaan seperti itu, ia tidak dapat membuka mulutnya.

Empeh Cin tetap bingung. Melihat asap tidak menolong, ia menekan jintiong, ialah hidungnya si anak muda. Siapa pingsan karena teriknya panas matahari, kalau ia ditotok di jintiong itu, ia dapat sadar. Tidak demikian dengan Kwee Ceng. Ia bahkan jadi semakin seperti disiksa. Sudah ia tidak dapat membuka mulutnya, ia juga tidak dapat menolak mundur si empeh yang mau menjadi penolong tetapi sebaliknya menjadi seperti mencelakainya.

Sang hujan turun terus, guntur pun masih berbunyi. Satu kali kilat menyambar, guntur berbunyi keras. Nyata satu pohon kena ditimpa hingga menyala dan terbakar.

Lam Kim kaget dan ketakutan, tetapi ia tidak berkisar dari tempatnya berdiri, masih ia memayungi tuan penolongnya. Hanya matanya menjadi tidak karuan, sebab ia melihat kilat, melihat api, dan melihat air hujan juga. Kapan ia memandang Kwee Ceng, ia mendapati pemuda itu duduk tenang seperti biasa, begitu juga dengan si nona Oey, bahkan nona ini nampak tersenyum manis, romannya sangat cantik.

Empeh Cin berdiri tercengang, ketika ia memandangi cucunya, ia mendapati muka cucunya itu sangat pucat.

Dalam keadaan seperti itu, mendadak kilat berkelebat, cahayanya terang sekali. lalu sauara geledek, menyusul demikian hebat, sampai saking kagetnya, dua-dua empeh Cin dan Lam Kim roboh karenanya.

Guntur berbunyi di samping Kwee Ceng, tidak heran kalau itu kakek dan cucunya roboh dengan pingsan. Hanya sehabisnya guntur, segera Kwee Ceng merasakan pernapasannya berjalan dengan baik seperti biasa. Maka sekarang ia dapat bergerak. Juga Oey Yong dapat bergerak seperti dia.

Lagi-lagi guntur menggelegar dekat si nona, maka Kwee Ceng lantas mendekam di tubuh si nona, untuk melindungi.

Berselang sekian lama barulah guntur berkurang dan hujan pun mulai berhenti. Dan setelah lewat pula sekian waktu, maka langit menjadi bersih, si putri malam muncul pula dengan segala kepermaiannya.

Oey Yong merasakan tubuhnya sehat sekali. Dengan perlahan ia mengangkat tubuhnya.

“Engko Ceng,” katanya berbisik. “Benar-benarkah kau mencintai aku?”

Kwee Ceng merangkul, girangnya bukan buatan, sampai ia tidak bisa membuka mulutnya.

“Lihat itu,” kata Oey Yong kemudian, tangannya menunjuk ke pohon yang tadi ditimpa geledek dan terbakar.

Di sana, di antara api, si burung darah, hiat-niauw, lagi bergulingan dan berlompatan, rupanya gembira sekali ia memain api.

“Mari kita tangkap padanya,” kata si nona berbisik.

Kwee Ceng mengangguk, ia lantas berbangkit. Ketika itu ia melihat empeh Cin, yang sadar sendirinya lagi menolongi cucunya, untuk dikasih duduk di kursi.

Oey Yong sendiri bertindak menghampirkan hiat-niauw.

Burung itu telah mempunyai pengalaman, ia tidak berani berkelahi, ia lantas terbang pergi, sia-sia si nona berlompat menubruk padanya. Karena ini Oey Yong bersiul, memanggil burung rajawalinya.

“Tangkap burung itu tetapi jangan lukai dia!” ia memerintah.

Kedua burung rajawali itu mengerti, keduanya lantas menyambar hiat-niauw. Mereka bertindak dengan memegat jalan terbang orang.

Hiat-niuaw kecil sekali, seluruhnya ia cuma sebesar kepala rajawali, tetapi ia sangat gesit, maka itu ia dapat molos, lantas ia terbang cepat dan jauh, ketika sudah beberapa lie, ia mendapatkan ia masih disusul, lantas ia terbang balik, untuk mencoba melawan. Hebat perlawanannya itu. Kalau ia kena dicengkeram atau dipacuk, pastilah ia celaka, tetapi karena gesitnya, ia selalu bisa membebaskan diri. Bahkan dialah yang beberapa kali berhasil mematuk bulu lawan hingga rontok. Coba si rajawali bukan berdua, mungkin mereka kalah.

Selagi bertempur terlebih jauh, rajawali yang jantang kena dipatuk lehernya, ia merasakan sakit, saking sengit, ia menyampok dengan sayapnya. Hiat-niauw berkelit, tapi justru ia kena disampok sayap burung betina, sampai ia roboh. Tapi ketika ia ditubruk ia sempat berkelit pula, terus ia terbang cepat dan jauh, dari itu, tempo kedua rajawali terus menyusul terus, mereka pergi jauh ke belakang gunung.

Kwee Ceng berpaling kepada Oey Yong, untuk berkata dengan perlahan: “Yong-jie, kau maju pesat sekali. Guntur berbunyi di sampingmu, kau tidak tahu.”

“Kau pun sama!” kata si nona tertawa.

Kwee Ceng lantas ingat perbuatannya empeh Cin tadi.

“Sungguh berbahaya,” katanya dalam hatinya. “Kalau aktu tidak dapat bertahan, aku mesti menyia-nyiakan tempo lagi tujuh hari dan tujuh malam untuk memulihkan diri.

Lantas ia ajar kenal Oey Yong dengan tuan rumah, itu kakek dan cucu.

“Yong-jie, kau melepas api di kantor camat, bukankah?” kamudian Kwee Ceng tanya si nona.

“Kalau bukan aku, siapa lagi?” si nona membaliki, tertawa.

Empeh Cin dan cucunya terkejut. Tidak mereka sangka, nona ini demikian besar nyalinya dan pandai juga.

Kemudian Oey Yong melirik Lam Kim, ia bersenyum.

“Engko Ceng,” katanya, “Kau selalu memuji aku, apa kau tidak takut enci ini nanti menertawainya?”

“Oh!” katanya Kwee Ceng. “Kau telah bersembunyi di dalam rimba?”

Kembali Oey Yong tertawa.

“Jikalau kau tidak membilang kau hendak menangkap burung itu untukku, aku lebih suka tanganku bercacad, tidak nanti aku kembali padamu!” katanya. “Kemudian kau menangis! Apakah kau tidak malu?”

Kwee Ceng tunduk, ia menyahut perlahan: “Aku merasa aku memperlakukan kau tidak bagus, dan aku khawatir sekali untuk selamanya nanti tidak dapat melihat padamu pula….”

Oey Yong mengulur tangannya, untuk membereskan rambut orang.

“Sebenarnya aku berpikir untuk tidak menemui pula padamu tetapi aku tidak dapat,” ia berkata. “Tapi sudahlah, sekarang kita jangan pikirkan hal-hal di belakang hari, untuk kita, dapat satu hari selebih banyak kita berkumpul, itu artinya kita dapat tambah satu hari kegirangan!”

Lam Kim berdiri bengong melihat dan mendengar orang berbicara demikian asyik.

Berempat mereka bagaikan baru sadar ketika kuping mereka mendengar suara burung rajawali di tengah udara, kapan mereka mengangkat kepala, terlihat hiat-niauw masih dikepung-kepung kedua rajawali itu, terbangnya sangat pesat.

Menampak demikian, Oey Yong lantas mendapat akal. Ia bersiul satu kali. Atas itu rajawali yang betina terbang turun, untuk menclok di pundaknya. Maka tinggallah yang jantan, yang mengejar terus-terusan. Ia menunggu sudah lewat lama juga, ia memanggil burung jantannya seraya melepaskan yang betina guna menggantikan mengejar hiat-niauw itu. Siasat ini digunakan terus-menerus, maka akhirnya lelah juga burung api itu, yang tak dapat mengaso sama sekali. Setelah terbangnya menjadi perlahan dan kegesitannya pun berkurang, satu kali ia kena disampok sayap rajawali, lantas ia tidak dapat terbang lebih jauh, maka ia kena disambar, dibawa kepada Oey Yong.

Nona Oey menyambuti burung api itu, ia memegangnya, hatinya sangat girang.

Hiat-niauw sangat letih, dia mengawasi si nona, sinar matanya seperti minta dikasihani.

“Baik-baik kau turut aku, aku tidak bunuh padamu,” berkata Oey Yong sambil tertawa.

Empeh Cin sangat girang sekali melihat burung itu kena ditangkap.

“Bagus!” serunya. “Nona telah berhasil menangkap burung ini, maka aku dan cucuku bakal dapat makan pula! Nanti aku membuatnya kurungan buat menempati dia.”

Lam Kim tahu burung itu suka makan nyali ular, ia mengambil arak nyali ular mengasih burung itu minum, setelah habis setengah peles, hiat-niauw itu lantas pulih kesegarannya. Ia benar-benar menjadi jinak sekali.

“Aku hendak memelihara dia hingga dia mendengar kata!” kata Oey Yong. “Aku mau mengajari dia bagaimana harus mematuk mata orang!”

Tapi sementara itu, orang letih dan kantuk, maka mereka lantas pergi mengasokan diri. Lam Kim mengalah mengasihkan pembaringannya untuk Oey Yong, siapa sebaliknya minta empeh Cin lekas membikini ia kurungan untuk burungnya itu.

Besoknya pagi, ketika matahari merah menyorotkan sinarnya masuk ke jendela, Oey Yong mendusin untuk lantas menjadi kaget. Di meja, kurungannya rusak, tetapi burungnya berdiri diam di meja, ia tidak lari meski orang menghampirkan padanya.

Kaget dan girang, Oey Yong menggapai.

“Mari!” ia memanggil.

Hiat-niauw terbang, menclok di telapakan tangan si nona.

“Dia takluk padaku, dia takluk padaku!” kata Oey Yong kegirangan. Ketika ia melihat kurungan, kurungan itu rusak dan patah. Ia pikir, tentulah itu burung mau membilang: “Aku merdeka, kalau aku tidak mau pergi, tidak apa, tetapi kalau aku mau, apa artinya kurungan macam begini?”

Sedangkan si nona bergirang, kupingnya lantas mendengar keluhan Kwee Ceng di lain kamar. Ia heran, ia lari menghampirkan.

“Engko Ceng, kenapa?” ia menanya.

Kwee Ceng menyeringai, tangannya memegangi gambar pemberian dari Oey Yok Su. Nyata karena kehujanan, gambar itu terkena air.

“Ah, benar sayang!” si nona mengeluh. Ia menyambuti gambar itu, yang telah pecah. Ia merasa, tidak ada jalan untuk dapat memperbaiki itu. Ketika ia hendak meletakinya di meja, mendadak ia melihat di pinggiran syairnya Han See Tiong ada tambahan beberapa baris huruf halus. Ia lantas mendekati, untuk melihat terlebih tegas. Surat itu berlapis, kalau tidak karena basah, tidak nanti dapat terlihat. Sekarang pun sangat sukar untuk membacanya. Oey Yong mementang matanya, ia mencoba membaca:

“…..Surat wasiat….Bok…Tiat Ciang…tengah…puncak……..”

Huruf-huruf lainnya lagi tak dapat dibaca.

Kwee Ceng juga turut membaca, lantas berkata: “Inilah diartikan surat Wasiat Gak Bu Bok….”

“Tidak salah,” berkata Oey Yong. “Wanyen Lieh si jahanam menyangka surat wasiat ini berada di dalam peti batu di dalam istana, tetapi meskipun petinya telah didapatkan, surat wasiatnya tidak ada. Sekarang kita mendapatkan gambar ini. Bunyinya kata-kata ini mungkinlah rahasia surat rahasia itu. Tiat Ciang, tengah, puncak…” Ia lantas memikir keras. “Tiat Ciang” itu ialah “Tangan Besi”. Kemudian ia menanya Kwee Ceng: “Engko Ceng, apakah keenam gurumu pernah menyebut tentang Tiat Ciang Pang?”

“Tiat Ciang Pang?” kata Kwee Ceng berpikir. “Tidak. Aku hanya ketahui si tua bangka she Kiu, si penipu besar itu, dipanggil Tiat Ciang Sui-siang-piauw.”

“Tidak, tidak bisa jadi tua bangka celaka itu ada hubungannya dengan ini!” berkata Oey Yong, memandang enteng. “Hanya ada juga kemaren ketika aku membakar kantor camat, di sana aku mendengar si camat she Kiauw berbicara sama siapa, tahu menyebut-nyebut entah bagaimana dengan ’Tiat Ciang Pang kami’. Ia menyebut pula perlu lekas dicari banyak ular untuk dipersembahkan kepa Toa Hiocu. Ketika kemudian aku bertempur dengannya, ternyata ilmu silatnya tidak rendah, dia mengerti juga Tiat-ciang, yaitu Tangan Pasir Besi.”

“Anggota dari suatu perkumpulan kaum kangouw menjadi camat, inilah benar aneh!” kata Kwee Ceng. Tiat Ciang Pang itu ialah Partai Tangan Besi.

Lantas keduanya memikir kata-kata di gambar itu, masih mereka tidak dapat menangkap maksudnya, maka Oey Yong lantas membenahkan gambar rusak itu, disimpan di dalam sakunya.

“Biarlah perlahan-lahan kita memikirkannya pula.” katanya.

Sampai di sini, sepasang muda-mudi ini lantas pamitan dari empeh Cin dan cucunya, dengan menaiki kuda merah mereka, mereka berangkat pergi. Tuan rumah dan cucunya merasa berat tetapi mereka tidak dapat menahan.

Pada suatu hari tibalah Kwee Ceng dan Oey Yong di dalam wilayah kota Gakciu. Oey Yong mengingat-ingat hari. Itulah hari Cit-gwee Capsie – tanggal empatbelas bulan tujuh – jadi besok ialah hari rapatnya Kay Pang, Partai Pengemis.

“Kita tidak mempunyai urusan sekarang, kita pesiar perlahan-lahan saja,” katanya Kwee Ceng.

“Baiklah,” si nona menyahuti.

Mereka lompat turun dari kuda mereka, dengan berpegangan tangan mereka bertindak, dengan perlahan-lahan. Mata mereka memandang jauh ke depan di mana tampak hanya air dan sawah-sawah di mana pohon padi sudah tumbuh tinggi dan telah berbuah, maka diduga tahun ini, panen bakal memberi hasil baik.

Kata Oey Yong: “Dahulu ayah pernah membilangi aku, kalau Ouw Kong matang, seluruh negara cukup, maka itu kelihatannya tahun ini rakyat bakal bebas dari bahaya kelaparan.”

Ouw Kong ialah empar propinsi Ouwlam dan Ouwpak serta Kwietang dan Kwiesay, sedang dengan “matang” diartikan “masak” atau musim panen.

Kemudian si nona menunjuk ke sebuah pohon besar di mana seekor tonggeret lagi berbunyi, ia kata pula: “Binatang itu berbunyi tak hentinya, entah apa yang dia katakan. Suaranya itu membuat aku ingat satu orang…”

“Siapakah dia?” Kwee Ceng tanya.

“Dialah Kiu Looyacu yang pandai meniup kulit kerbau…” sahut si nona tertawa.

“Oh!” seru Kwee Ceng. Ia juga tertawa.

Ketika itu matahari sedang teriknya, petani semua lagi bermandikan peluh tapi mereka bekerja terus mengompa air. Demikian di bawah sebuah pohon yangliu, seorang nyonya lagi bekerja bersama satu bocah berumur tujuh atau delapan tahun, berat gerakan kaki mereka. Pakaian mereka telah basah kuyup, sedang muka si bocah merah seluruhnya. Oey Yong menghentikan tindakannya, ia mengawasi mereka itu, ia merasa kasihan.

Si bocah melihat ada orang yang mengawasi mereka, ia menoleh. I akgum menyaksikan keelokan si nona. “Ibu,” katanya, “Lihat, enci itu lagi mengawasi kita!” Dari suaranya, ternyata ia bergembira meski dia bekerja capai.

Si nyonya menoleh, ia tersenyum dan mengangguk kepada pasangan muda-mudi itu.

Oey Yong merogoh ke dalam sakunya, berniat mengambil sedikit uang utuk mengasih persen kepada bocah itu untuk ia membelikan kembang gula tatkala kupingnya mendengar suara samar-samar dari guruh di kejauhan, lantas saja ia menjadi girang. Ia kata kepada itu ibu dan anaknya: “Sudah, tak usah kamu mengompa air lagi, hujan bakal turun!”

Si nyonya memasang kupingnya, mendadak romannya menjadi pucat, suatu tanda dia takut.

Si bocah lompat turun dari pompa airnya sambil berkata: “Ibu, raja kodok mau datang makan kodok hijau lagi!”

Si nyonya mengangguk.

Oey Yong tidak mengerti, ia mau minta keterangan, atau segera ia mendengar riuhnya gembereng yang dipalu breng-breng keras sekali, yang memalunya ialah seorang laki-laki yang mengenakan tudung rumput yang lebar serta tubuhnya tidak memakai baju. Dia menabuh sambil berlari-lari ke barat.

Belum lama lantas datanglah sambutan gembreng riuh dari segala penjuru, menyusul mana semua orang, pria dan wanita, yang lagi mengompa air, pada lari meninggalkan pompa mereka, semua lari ke arah barat itu.

Oey Yong mendapat si bocah dan ibunya turut lari juga.

“Engko Ceng, mari kita lihat, keramaian apa itu!” katanya saking tertarik hatinya.

Kwee Ceng menurut, maka mereka lari menyusul orang banyak itu. Ketika mereka sudah melewati sebuah tikungan gunung, mereka lantas melihat sawah-sawah yang luas yang penuh air, sedang semua orang tani itu berkumpul di sebuah tanjakan tinggi semacam bukit, dengan roman tegang, mata mereka memandang ke depan. Di situ memalu seratus lebib gembreng kuningan, hingga suaranya berisik menulikan telinga. Dengan begitu tak terdengar lagi suara orang bicara.

Di samping bukit kecil itu ada tumbuh sebuah pohon yang besar dan tinggi, Kwee Ceng menarik tangan Oey Yong, diajak ke sana, untuk mereka terus melompat naik ke atasnya, dengan begitu mereka berdua jadi dapat memandang jelas ke arah mana semua mata ditujukan. Di sana terlihat langit biru seperti luatan, di sana tidak apa-apa yang mencurigakan mereka. Tapi mereka tetap mengawasi. Tidak lama kemudian, kuping mereka dapat menangkap samar-samar suatu suara yang keras, yang tidak dapat dilawan berisiknya gembreng.

Mulanya Oey Yong menyangka kepada guruh, hanya sebentar kemudian, ia melihat benda-benda kuning yang membikin ia menjadi heran sekali. Semua benda itu mendatangi dengan berlompatan.

“Hai, begitu banyak kodok!” akhirnya si nona berseru.

Memang di sana terlihat ribuan atau laksaan kodok, yang lagi mendatangi itu, dan suara berisik tadi mirip guruh ialah suara kerak-keroknya mereka!

Begitu melihat sang kodok, berhentilah semua petani memalu gembreng mereka. Sekarang terlihat tegas air muka mereka yang lesu dan masgul.

Kapan kawanan kodok itu tiba di tepi sawah di depan bukit kecil itu, semua lekas berhenti, berbaris dengan rapi. Di belakang mereka terlihat beberapa ratus kodok yang besar-besar, yang mengerumuni seekor kodok yang badannya besar istimewa – lebih besar enam atau tujuh lipat dari kodok yang umum.

Itulah dia yang rupanya si bocah sebut sebagai raja kodok. Dia lantas mengasih dengar suara berkerok satu kali, lantas dia disambut rakyatnya hingga riuh pulalah suara mereka yang mirip guruh itu. Ketika raja kodok itu berbunyi pula, maka siraplah suara semua rakyatnya.

“Nah, ini pun membikin aku ingat satu orang!” berkata Oey Yong.

Kali ini Kwee Ceng tidak menanya siapa, ia hanya tertawa dan berkata dengan cepat: “Auwyang Hong!”

“Jempol!” berseru Oey Yong sambil menunjuki jempolnya. Ia menganggap pemuda itu cerdas dapat menerka dengan jitu.

Kawanan kodok itu menaati titah rajanya. Setelah tiga kali berbunyi, mereka berdiam pula, hingga suasana di situ menjadi sangat sepi. Hanya sekarang lantas terdengar gantinya, ialah suara perlahan tetapi terang dari seekor kodok hijau yang kecil, yang berlompat keluar dari belakangnya sebuah batu besar di arah timur.

Kapan orang-orang tani ini melihat kodok hijau itu, dengan serentak gembreng mereka dipalu pula, sambil memalu, mereka berseru-seru keras sekali. Mereka bersorai-sorai, tanda dari kegirangan. Terang mereka membantu menggembirakan atau menganjurkan kodok kecil itu.

Kwee Ceng dan Oey Yong heran. Tak tahu mereka apa akan dilakukan si kodok hijau yang kecil itu. Selagi mereka mengawasi dengan perhatian, kuping mereka mendengar tindakan kaki yang berisik, ketika mereka berpaling, terlihat dari empat penjuru datang pula beberapa ratus petani. Mata si nona sangat jeli, ia mendapatkan di dalam rombongan itu ada sejumlah orang yang pakaiannya berneda. Ia lantas menarik tangan baju Kwee Ceng seraya mulutnya dimonyongi ke arah orang-orang itu, yang jumlahnya empat atau limapuluh orang. Mereka itu mengenakan baju hitam dan tangan mereka memegangi korang bambu yang besar. Terang sekali mereka pun menyembunyikan alat senjata. Dilihat dari romannya, yang bengis, mestinya mereka bukan sembarang petani. Di tepi bukit, mereka itu berkumpul menjadi satu, terpisah beberapa puluh tombak dari petani lainnya.

Kodok hijau yang kecil itu berlompatan hingga terpisah lagi tiga kaki dari tepian sawah, di situ ia berhenti, lalu berbunyi beberapa kali.

Dari dalam rombongan kodok yang berjumlah besar sekali itu muncul seekor kodok kuning yang besar, ia meloncati galangan, sampai di depan si kodok hijau. Di situ ia mementang mulutnya dan bersuara, suaranya keras bagaikan suara kerbau. Si kodk kecil tak takut, ia juga membuka suaranya, maka terjadilah mereka saling sahut, makin lama makin cepat. Dari situ, kelihatan si kodok kecil bernapas lurus dan rapi. Si kodok besar agaknya kesusu, rupanya ia ingin lekas-lekas menang.

Sesaat berselang, suara kodok besar itu menjadi serak, dan perutnya yang putih pun kembung makin besar, setelah itu, suaranya berubah menjadi dalam, sedang kedua matanya seperti mencelos keluar, perutnya itu menjadi bundar bagaikan bola. Mendadak saja, perut kembung itu meledak, nyaring suaranya, lalu ia rebah binasa.

Petani semua bersorak riuh. Beda ada rombongan orang baju hitam itu, kelihatannya mereka gusar. Maka sekarang terlihat tegas, petani berpihak pada kodok hijau, mereka ini kepada kodok yang banyak itu.

Kodk hijau itu menang, dia bersuara tiga kali, lantas dia memutar tubuhnya, rupanya dia mau pergi, atau mendadak terlihat enam kodok besar berlompat maju, untuk mengejar.

“Tidak tahu malu!” membentak pihak orang petani banyak. “Tidak punya guna! Apa ini? Malu! Baik mati saja!”

Enam kodok besar itu berpecha menjadi dua, sikapnya mengurung. Si kodok kecil berlompat, untuk menyingkir. Dia lantas dikejar. Kira tiga tombak, maka di sebelah belakang enam kodok itu terdengar suaranya kodok lainnya. Lantas mereka berhenti mengejar, berniat kembali, tetapi mereka terlambat. Mereka segera dipegat kira-kira tigapuluh kodok hijau yang besar yang muncul dari gili-gili.

Kali ini kedua pihak tidak lagi mengadu suara, hanya mereka lantas saling terjang, saling menggigit. Karena kalah jumlah, enam kodok besar itu lantas saja mati. Banyak kawannya, tetapi tidak ada yang maju menolongi.

Oey Yong menjadi heran, ia berpaling kelilingan. Ketika matanya terarahkan ke pinggir sawah di mana ada sebuah kali kecil, maka di situ ia melihat segala apa hijau, sebab di situ pun ada berkumpul ribuan atau laksaan kodok hijau, hanya mereka ini semua tidak bergerak. Mungkin ini yang menyebabkan kodok besar itu tidak berani sembarangan melintasi tapal batas.

Si raja kodok berbunyi kerok dua kali, maka seratus di pihaknya lantas maju melintasi batas. Mereka lantas disambut sebarisan kodok hijau yang muncul dari tempatnya mendekam. Maka bertempurlah mereka. Belum lama, kodok besar itu lari ke arah selatan. Kodok hijau mengubar setombak lebih, lantas berhenti. Melihat demikian, kodok besar berbalik akan menyerang pula.

Benar saja, di selatan itu, di mana ada batu besar, terlihat munculnya barisan tersembunyi kodok besar itu dan mereka lantas maju, membantui kawannya. Karena ini, dari tepi kali pun datang bantuan kodok hijau.

Kedua pihak lantas bertempur dengan berisik.

Dalam tempo dekat, puluhan ekor kodok roboh sebagai bangkai. Kerugian terdapat dikedua pihak. Mereka yang terluka merayap ke pinggiran, lalu ada yang kawannya yang menolongi mengajak kembali ke dalam barisannya.

Kelihatan si raja kodok tidak puas melihat belum ada keputusan, ia berbunyi lagi dua kali. Kali ini lantas ada satu pasukan besar yang menyebrang, buat membantui. Sekarang kodok hijau, yang tak sempat mundur, terancam terkurung. Mereka mengatur barisan bundar, ekor ke dalam, mulut keluar. Dengan begitu, mereka tidak takut nanti diserang dari belakang. Kodok besar berjumlah besar tetapi mereka tidak dapat menyerbu semua.

Sejumlah petani berteriak-teriak mengajuri kodok hijau mengirim bala bantuan, anjuran itu tak ada hasilnya. Nampaknya kodok hijau bersikap tenang.

Dari barisan kodok besar itu ada beberapa yang berlompat, hendak maju, tetapi saban kali ada satu yang menerjang, segera dia dipapaki diterjang satu kodok hijau, hingga keduanya sama-sama jatuh. Dengan begitu, kodok besar tidak dapat menerjang ke dalam barisan lawan.

“Celaka!” mendadak Oey Yong berseru. Ia melihat di empat penjuru kurungan kodok besar itu, sejumlah kodok besar itu mendekam, kawannya naik ke atasnya dan mendekam pula, hingga mereka merupakan gundukan tinggi tiga kaki, kemudian di paling atas, sejumlah kodok berlompat ke arah kodok hijau. Hebat serangan itu. Kodok hijau jadi terbokong, banyak yang mati.

“Sayang…” kata Oey Yong.

“Lihat!” terdengar suara Kwee Ceng yang tangannya terus menunjuk.

Di arah timur laut sejumlah kodok besar hijau bergerak, menuju ke belakang kodok besar, untuk menyerang dari belakang.

Raja kodok mendapat tahu bokongan musuh, dia mengirim barisannya, untuk memegat. tapi kodok hijau itu tidak menghiraukan, di sebelah yang bertempur, yang lain maju terus ke belakang pasukan musuh. Kodok besar jadi kacau tetapi mereka tetap berkelahi.

Raja kodok melihat barisannya tak dapat maju, ia berbunyi nyaring sekali, lantas ia sendiri maju, untuk memegang pimpinan penyerbuan. Ia mengepalai barisannya sendiri, yang semua besar-besar dan romannya bengis. Kodok besar ini bisa dengan sekali menggigit, menggigit mampus musuhnya. Sebentar saja seekor kodok besar itu bisa mematikan belasan musuhnya. Karena ini, kodok hijau terpaksa berkelahi sambil mundur.

Kawanan kodok besar itu maju merangsak.

Raja kodok berlompat, sekali lompat jauhnya setengah tombak, tapi segara ia dikepung kodok hijau. Tapi hanya sejenak, dia lantas dibantui barisannya.

Karena bergesernya tempat bertempur, orang pun menggeser, untuk melihatnya lebih tegas. Oey Yong dan Kwee Ceng lompat turun, mereka nelusup di antara orang-orang tani itu.

Kelihatan semua orang tani berduka, mereka pada menghela napas.

Oey Yong heran, ia ingin mengetahui duduknya hal, maka ia tanya seorang tua, kenapa kedua macam kodok itu saling bertempur.

Sebelum menjawab, orang itu mengawasi dulu hingga ia mengenali orang adalah asing untuk desanya itu.

“Katak itu ada yang piara,” ia menerangkan, “Dan dipelihara istimewa untuk menangkap kodok hijau.”

Oey Yong heran. “Ah!” suaranya tertahan.

“Kami orang tani, kami mengharapkan bantuannya kodok-kodok hijau itu untuk merawat tanaman padi kami,” orang itu berkata pula, “Sekarang nampaknya kodok hijau bakal kalah, maka di tempat sekitar sini, luasnya beberapa puluh lie, panen kami tahun ini bakal gagal…..”

“Kalau begitu, nanti aku bantu kamu,” kata Oey Yong. “Nanti aku hajar semua kodok itu.”

Ia merogoh ke sakunya, meraup jarumnya.

“Jangan, nona,” berkata si orang tua perlahan, tanganya menarik ujung baju orang. “Telah aku bilang, katak itu ada yang pelihara.” Ia menunjuk kepada rombongan orang pakaian hitam yang bengis-bengis itu. “Merekalah si pemelihara katak itu. Kalau kau ganggu katak mereka, buntutnya bakal hebat sekali. Nona cantik bagaikan bunga, maka menurut aku, baiklah nona jangan berdiam lama-lama di sini, baik kau lekas pergi!”

Oey Yong tersenyum.

“Jumlah kita banyak, takut apa?” Kwee Ceng pun berkata.

Orang tua itu menghela napas.

“Karena urusan kodok itu, tahun lalu kita pernah bertempur sampai banyak yang terluka,” katanya. “Perkara telah jatuh ke tangan pembesar negeri. Kesudahannya camat memutuskan, untuk selanjutnya biarlah katak bertempur sama katak, di antara binatang, kita dilarang campur tahu, siapa berani melanggar putusan itu, dia bakal di hukum berat.”

“Ah, pembesar anjing!” mendamprat Kwee Ceng. “Bukankah itu terang-terang membantu kawanan manusia jahat itu?”

“Memang. Tapi camat dan mereka adalah sekawan. Camat cuma tahu menangkap kodok hijau untuk dipakai memelihara ular, dia tidak menggubris rakyat mati atau hidup!”

Mendengar itu keterangan hal menangkap kodok untuk memelihara ular, Kwee Ceng dan Oey Yong heran betul. Ketika mereka mau menanya lagi, justru kaum petani itu lagi berseru-seru girang.

Nyata pertarungan katak itu membawa perubahan.

Kawanan katak besar mengumpul diri di empang besar, mereka terdesak. Sejumlah kodok hijau terjun ke air, mereka berenang ke belakang musuh, membantu menyerang dari samping dan belakang. Katak hijau itu pandai sekali berenang. Sedang katak besar itu tidak pandai memain di permukaan air. Mereka berdesakan, tak dapat mereka bergerak dengan merdeka, banyak yang kecebur ke empang. Di dalam air, mereka tidak bisa bertempur dengan hebat seperti di darat. Maka mereka jatuh di bawah angin, banyak yang mati, bangkainya mengambang dengan perut putihnya di atas.

Barisan kodok besar itu menjadi kalut. Rajanya, bersama barisan pengawalnya, menerjang kalang kabutan tanpa ada hasilnya.

Maka orang-orang tani itu pada bersorak, ada yang berseru: “Panen kita tahun ini ketolongan!”

Kwee Ceng dan Oey Yong mengawasi semua sambil memperhatikan rombongan orang baju hitam itu. Muka mereka menyatakan kegusaran mereka. Tiba-tiba di antara mereka ada yang berseru, lalu belasan di antaranya membuka tutupnya korang mereka.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: