Kumpulan Cerita Silat

04/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 54

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:22 am

Bab 54. Segitiga…
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Batu itu melayang bagaikan terbang tetapi Kiu Cian Jin menyambutinya.

“Nona takut bau busuk?” katanya tertawa. “Baiklah, aku akan menyingkir sedikit lebih jauh. Kau orang delapan mesti menunggu, aku larang kamu pada melarikan diri…..!”

Dengan masih memegangi celananya, Cian Jin pergi sampai belasan tombak, di situ ia baru jongkok, hingga ia tak terlihat lagi.

“Jie suhu, jangan-jangan bangsat tua itu mau melarikan diri!” berkata Oey Yong.

Cu Cong tertawa.

“Mungkin dia mau lari tetapi dia tidak bisa,” sahutnya guru yang nomor dua itu. “Kau ambillah dua rupa barang ini untuk kau buat main….”

Oey Yong melihat sebatang pedang dan sebuah sarung tangan dari besi di tangan gurunya itu, maka tahulah dia tadinya selagi menepuk pundak Kiu Cian Jin, gurunya itu sudah memindahkan barang orang. Ia periksa pedang itu, lantas ia tertawa geli. Selama di dalam kamar rahasia tadi ia melihat Kiu Cian Jin mempermainkan Coan Cin Cut Cu dengan menikam perutnya dengan pedang itu, tidak tahunya itulah pedang rahasia, yang dapat dibikin melesat atau ngelepot tiga kali. Maka ia lantas menghampirkan Auwyang Hong.

“Auwyang Sianseng, aku tidak mau hidup lagi!” katanya sambil tertawa, tangan kanannya terus diayunkan ke perutnya, yang ia tumblas dengan pedangnya Kiu Cian Jin itu, hingga pedang itu melesak masuk.

Auwyang Hong dan Oey Yok Su yang bersiap untuk bertempur menjadi kaget, tetapi Oey Yong sudah lantas mencabut pedangnya itu, yang menjadi pendek, sembari memperlihatkan itu kepada ayahnya, ia menuturkan rahasianya pedang tukang sulap itu.

Auwyang Hong menjadi melengak dan berpikir: “Apa mungkin tua bangka itu main gila seumurnya sedang sebenarnya dia tidak mempunyai guna?”

Oey Yok Su terus mengawasi si Bisa dari Barat itu, ketika ia melihat tubuh orang mulai tak jongkok lagi, ia dapat menerka hati orang. Ia lantas menyambuti sarung tangan besi dari anaknya, untuk meneliti itu. Ia melihat ukiran huruf “Ki” di telapakan tangan, di sebelah belakangnya ada ukiran seekor ular kecil serta seekor kelabang kecil, yang berguling menjadi satu. Ia ingat itulah lengpay atau tertanda dari Tiat-ciang Sui-siang-piauw Kiu Cian Jin. Pada duapuluh tahun yang lalu, lengpay itu sangat berpengaruh di dalam dunia kangouw, siapa yang membawa-bawa itu, dia dapat lewat dengan merdeka di selatang dan si utara sungai Tiang Kang atau di hulu dan hilir sungai Hong Hoo, bahkan golongan Hitam dan Putih sangat jeri terhadapnya. Maka itu heran, mungkinkah pemiliknya lengpay itu ada ini orang yang besar mulutnya saja?

Sembari berpikir, Oey Yok Su kembalikan sarung tangan itu kepada putrinya.

Auwyang Hong juga berpikir keras, ia turut merasa heran.

Oey Yong tertawa. “Ayah, sarung tangan ini bagus untuk dibuat main, aku menyukainya, hanya ini alat peranti menipu orang aku tidak membutuhkannya! Nah ini, kau sambutlah!” Ia mengayaun tangannya, hendak menimpukkan pedang-pedangan itu. Atau mendadak, ia membatalkannya. Jaraknya dengan Kiu Cian Jin jauh juga, ia khawatir tidak dapat ia menimpuk sampai di sana. Maka pedang itu ia serahkan kepada ayahnya seraya membilangnya sambil tertawa: “Ayah, kau saja yang menimpukkannya!”

Oey Yok Su memang tengah bersangsi, ia menjadi ingin mencobai Kiu Cian Jin, maka ia menyambutinya pedang itu, yang ia taruh di telapakan tangannya yang kiri, ujungnya yang lancip di arahkan ke luar, lalu dengan jari tangan dari tangan kanan, ia menyentil. Sekejap saja pedang itu meleset bagaikan terbang!

“Bagus!” berseru Oey Yong dan Kwee Ceng sambil bertepuk tangan.

“Tiat Cie Sin-kang yang hebat!” Auwyang Hong memuji di dalam hatinya. Ia kaget sendirinya untuk lihaynya Tong Shia si Sesat dari Timur ini.

Semua mata diarahkan kepada pedang itu serta Kiu Cian Jin. Di situ ia tampak jongkok tak bergeming walaupun bebokongnya mau dijadikan sasaran pedangnya itu. Maka cepat sekali, pedang telah mengenai dan nancap.

Serang Oey Yok Su sangat hebat, jangan kata itu pedang besi, walaupun pedang kayu, kalau sasarannya keba terhajar, korbannya mesti bercelaka.

Kwee Ceng lantas berlompat lari ke arah Kiu Cian Jin. Ketika ia sampai di tempat orang berjongkok itu, mendadak ia berseru: “Celaka betul!” Tangannya pun lantas mengangkat sepotong baju, untuk diulap-ulapkan. Ia berseru pula: “Orangnya sudah kabur!”

Kiu Cian Jin telah meloloskan bajunya, yang ia sangkutkan dengan rapi hingga ia tampak seperti terus berjongkok membuang air besar, dengan nyeludup di pepohonan lebat, ia sendiri diam-diam mengangkat kaki, menyingkir dari tempat berbahaya itu. Dengan kecerdikannya ini ia terlah berhasil menjual Tong Shia dan See tok yang berpenglamanan dan lihay itu, hingga dua orang itu melengak dan saling mengawasi, lalu keduanya tertawa lebar.

Auwyang Hong kenal baik Tong Shia, yang tak sejujur Ang Cit Kong, yang sukar untuk dibokong, sekarang melihat orang tengah tertawa, ia menganggap inilah ketikanya untuk turun tangan. Dengan mendadak ia berhenti tertawa, terus ia menjura dalam sekali.

Oey Yok Su terus tertawa hanya sambil tertawa itu, tangan kirinya dilonjorkan, tangan kanannya ditekuk, sebagai juga ia membalas hormat.

Sesaat itu tubuh mereka bergoyang sebentar, setelah mana, Auwyang Hong mundur tiga tindak. Ia telah membokong dengan tidak berhasil. Lantas ia kata: “Baiklah, kita berdua nanti bertemu pula di belakang hari!” Sembari berkata begitu, ia mengibaskan tangan bajunya, ia memutar tubuhnya, untuk berlalu.

Air mukanya Oey Yok Su berubah. Dengan lekas ia mengulur tangan kirinya ke depan anak gadisnya.

Kwee Ceng pun telah melihat, selagi memutar tubuh, Auwyang Hong menyerang secara rahasia, menyerang Oey Yong dengan “Pek-hong-ciang”, yaitu ilmu silat tangan kosong yang memerlukan anginnya saja. Ia hanya kalah jeli dengan Oey Yok Su. Tapi ia berseru, dengan kedua tangannya ia lantas menyerang See Tok, untuk memaksa orang membatalkan serangannya itu.

Auwyang Hong melihat ia ditangkis Oey Yok Su, yang melindungi putrinya, ia lantas menarik pulang serangannya itu, hanya bukan untuk dibatalkan, tetapi untuk diteruskan, dipakai menyerang Kwee Ceng, selagi si anak muda menyerang padanya, hingga serangan mereka bakal bentrok, keras sama keras. Kwee Ceng tahu diri, ia tidak mau melayani, maka itu dengan sebat ia membuang diri, bergulingan, untuk terus berlompat berdiri. Ia kaget hingga mukanya pucat sekali.

“Ha, anak yang baik!” berseru Auwyang Hong. “Baru beberapa hari kau tidak terlihat, kepandaianmu telah maju pesat sekali!”

Memang adalah di luar dugaan, si anak muda lolos dari bokongannya itu.

Melihat orang telah turun tangan, Kanglam Liok Koay segera memernahkan diri di belakangnya Auwyang Hong, untuk memegat.

Auwyang Hong maju terus, ia mendekati Coan Kim Hoat dan Han Siauw Eng. Mereka ini tidak berani turun tangan, maka itu, merdeka See Tok berjalan melewati mereka, keluar dari dalam rimba.

Oey Yok Su pun berdiam saja. Sebenarnya kalau ia mau turun tangan, dengan dibantu Liok Koay, See Tok bisa dapat celaka, tetapi ia berkepala besar, tidak mau ia mengepung si Bisa dari Barat itu, ia khawatir nanti orang tertawakan. Ia memikir, lain kali saja, kalau ada ketikanya, mereka bertempur satu sama satu. Ia tertawa dingin mengawasi punggung orang.

Ketika itu Kwee Ceng telah lepaskan Gochin Baki berempat dari tambatan mereka.

Putrinya Jenghiz Khan ini girang sekali melihat si anak muda tidak mati, maka itu dengan sengit ia menamprat Yo Kang yang dikatakan sudah menjual cerita untuk mendustakan orang.

Tuli menambahkan dengan berkata: “Orang she Yo itu membilang ia mempunyai urusan mesti lekas pergi ke Gak-ciu, kami menyangka dia orang baik-baik, maka kecewa sekali kami memberikan dia tiga ekor kuda pilihan…”

“Anda,” Kwee Ceng tanya, “Bagaimana caranya maka kamu jadi bertemu sama itu dua siluman tua?”

Putri Mongolia itu, dalam kegembiraannya, mendahului memberikan keterangan.

Mereka ini sangat berduka mendengar dari Yo Kang bahwa Kwee Ceng telah meninggal dunia, dilain pihak, senang hati mereka mendengar Yo Kang berniat mencari balas. Mereka menaruh kepercayaan besar, senang mereka bergaul dengan orang she Yo itu. Itu malam mereka menginap bersama di sebuah dusun. Yo Kang beberapa kali mencoba membokong Tuli, saban-saban ia gagal disebabkan penjagaan yang keras dari kedua pengemis kurus dan gemuk terhadapnya, kalau tidak si gemuk, tentulah si kurus yang meronda smabil memegang tongkat keramatnya. Kecewa ia karena kegagalannya, dari itu, terpaksa besoknya pagi ia minta saja tiga ekor kuda, dengan itu bersama kedua pengemis itu ia berangkat ke barat.

Tuli berempat menuju ke utara, sedang kedua burung rajawali terbang ke selatan, sampai lama, keduanya tidak kembali. Ia tahu pada itu mesti ada sebabnya. Karena mereka tidak membikin perjalanan cepat, mereka menantikan di rumah penginapan, sampai dua hari. Baru di hari ketiga, kedua ekor burung rajawali itu kembali, keduanya menclok di pundak Gochin Baki seraya berbunyi tak mau berhenti.

“Mari kita ikuti mereka,” berkata Tuli, yang merasa heran.

Mereka kembali ke selatan dengan kedua rajawali itu menjadi petunjuk jalan, hanya apa lacur, di rimba itu mereka bertemu Auwyang Hong dan Kiu Cian Jin. Tuli, Jebe dan Borchu gagah tetapi menghadapi Auwyang Hong, mereka tidak berdaya, dari itu bersama si opsir pengiringnya, dengan gampang mereka kena ditawan dan dibelenggu. Malang si opsir, dia menjadi korban paling dulu.

Kiu Cian In mendapat tugas dari negara Kim untuk mengacau orang-orang kosen di Kanglam. Supaya mereka bentrk satu dengan lain, untuk menggampangi usaha bangsa Kim itu menyerang ke Selatan. Bersama Auwyang Hong ia berada di rimba itu, kapan ia melihat Tuli berlima, ia lantas menganjurkan Auwyang Hong turun tangan. Syukur kedua burung rajawali telah bisa mencari bantuan dan rombangannya Kwee Ceng ini datang tepat.

Gochin Baki sangat gembira, sembari menutur ia pegangi tangan Kwee Ceng, ia tertawa tak hentinya.

Oey Yong mengawasi tingkah lakunya putri itu, ia merasa tak puas. Ia jadi lebih tak senang karena si putri bicara dalam bahasa Mongolia, yang ia tidak mengerti. Ia menjadi tidak sabaran.

Oey Yok Su melihat roman anak gadisnya itu, ia heran.

“Yong-jie, siapakah ini perempuan asing?” ia tanya.

“Dialah istrinya engko Ceng yang masih belum dinikah!” sahut sang gadis.

Ayah itu heran hingga ia hampir tidak mempercayai kupingnya sendiri.

“Apa?!” ia menanya, mengulangi.

“Ayah, kau pergi tanya dia sendiri,” sahut si anak perlahan. ia malu untuk menjelaskannya.

Cu Cong mendapat dengar pembicaraan di antara ayah dan anak itu, ia mengerti keadaan berbahaya untuk Kwee Ceng, karena ia tahu baik hal ikhwal putrinya Jenghiz Khan itu dengan muridnya, ia lantas campur bicara, ia menuturkan duduknya hal itu. Tentu saja ia menyebutkan, jodoh itu didesaki oleh Khan tersebut.

Oey Yok Su memangnya tidak penuju Kwee Ceng, kalau toh ia menjodohkan juga putrinya, itulah saking terpaksa. Sekarang ia mendengar ini soal yang baru untuknya, ia menjadi tidak puas. Ialah kepala suatu partai, ia sangat menyayangi putrinya itu bagaikan mutiara mustika, dari itu mana dapat putrinya ini menjadi istri kedua, artinya menjadi gundik?

“Yong-jie!” ia lantas kata kepada putrinya, suaranya keras.

“Ayahmu hendak melakukan sesuatu, kau tidak boleh mencegah!”

Anak itu kaget.

“Apakah itu, ayah?” ia tanya.

“Anak busuk itu, perempuan hina itu, dua-duanya mesti dibunuh!” sahut sang ayah.

Oey Yong kaget, ia lompat menubruk tangan ayahnya itu.

“Tetapi, ayah, engko Ceng bilang dia sungguh mencintai aku!” katanya.

Oey Yok Su tidak meronta, tetapi ia membentak kepada Kwee Ceng. “Eh, bocah, kau bunuhlah perempuan asing itu, untuk membuktikan hatimu sendiri!”

Kwee Ceng berdiri menjublak. Belum pernah ia menghadapi soal sesulit ini. Ia memang kurang cerdas, dari itu, ia ayal mengambil keputusannya.

“”Lebih dulu kau sudah bertunangan, kenapa kau melamar juga putriku?!” tanya Oey Yok Su bengis. “Apakah artinya perbuatanmu ini?!”

Kanglam Liok Koay memasang mata waspada. Sikapnya Tong Shia luar biasa sekali. Sembarang waktu si Sesat dari Timur ini dapat menurunkan tangan dahsyat, muka orang merah padam. Hati mereka goncang sebab pemilik Tho Hoa To ini sangat lihay.

Kwee Ceng tidak pernah mendusta, maka ia menyahuti: “Pengharapanku ialah dalam seumur hidup aku bisa berkumpul bersama Yong-jie saja, lainnya hal tidak ada di hatiku.”

“Baik kalau begitu,” kata Oey Yok Su, yang hawa amarahnya sedikit mereda. “Sekarang begini saja. Tidak apa kau tidak suka membinasakan perempuan itu, tetapi kau, semenjak hari ini, aku larang kau bertemu pula dengannya!”

Kwee Ceng berdiam, pikirannya bekerja.

“Bukankah kau pasti akan bertemu pula dengannya?” Oey Yong bertanya.

“Di dalam hatiku, dialah mirip adik kandungku,” sahut Kwee Ceng. “Kalau aku tidak bertemu dengannya, aku suka mengingat padanya.”

Mendengar itu Oey Yong tertawa.

“Kau suka melihat siapa, kau boleh melihatnya!” katanya. “Tentang itu aku tidak memperdulikannya!”

“Baik, begini saja!” berkata Oey Yok Su. “Saudaranya-saudaranya perempuan asing itu ada di sini, aku ada di sini, dan keenam gurumu berada di sini juga, maka hayolah kau membilangnya jelas-jelas bahwa yang kau bakal nikahi adalah putriku ini, bukan perempuan asing itu!”

Dengan bicara begitu, Oey Yok Su sudah menentang hatinya sendiri, untuk keberuntungan gadisnya, ia suka mengalah.

Kwee Ceng berpikir sambil tunduk, maka ia lantas melihat golok Kim-too hadiah dari Jenghiz Khan serta pisau belati pengasihnya Khi Cie Kee. Ia menjadi bingung sekali. Ia berpikir: “Menurut pesan ayahku, dengan Yo Kang aku mesti menjadi saudara sehidup semati, akan tetapi Yo Kang itu bersifat lain, kelihatannya persaudaraanku dengannya tidak dapat dilundungi lagi. Pula menurut pesan paman Yo, aku harus menikah sama adik Liam Cu. Bagaimana sekarang? Seharusnya pesan orang tua mesti dijalankan. Dengan begitu, perangkapan jodohku dengan putri Gochin Baki pun ada atas kehendak Jenghiz Khan, seorang tua! Bolehkah karena kata-kata orang tua itu lantas aku mesti berpisah dengan Yong-jie?”

Setelah memikir paling belakang itu, pemuda ini lantas mengambil keputusan. Ia mengangkat kepalanya.

Sementara itu Tuli telah menanyakan Cu Cong tentang pembicaraan di antara Kwee Ceng dengan Oey Yok Su itu, setelah mengetahui duduknya hal dan menampak kesangsian si anak muda, ia menjadi tidak puas. Ia gusar mengetahui orang tidak mencintai adiknya. Maka dari kantung panahnya, ia menarik keluar sebatang anak panah bulu burung tiauw, sambil memegang itu di tangannya, ia kata dengan nyaring: “Anda Kwee Ceng, seorang laki-laki yang mau malang melintang di dalam dunia, dia mesti berbuat hanya dengan satu kata-katanya yang apsti! Oleh karena kau tidak mencintai adikku, mana bisa putri yang gagah dari Jenghiz Khan memohon-mohon meminta kepadamu? Oleh karena itu, mulai hari ini, putus sudha persaudaraan di antara kita! Di masa mudamu, kau pernah menolongi aku, kau juga telah menolongi ayahku, budi itu, kami ingat baik-baik, dari itu, ibumu yang sekarang berada di Utara, akan aku mengirim orang untuk mengantarkannya, tidak nanti aku membikin dia kurang suatu apa! Kata-katanya seorang kesatria ada mirip gunung kekarnya, karenanya kau boleh bertetap hati!”

Habis berkata begitu, ia patahkan anak panah itu dan melemparkannya di depan kudanya.

Hati Kwee Ceng tergerak. Ia lantas ingat masa mudanya di gurun pasir, bagaimana kekalnya pergaulannya sama Tuli. Ia jadi berpikir: “Memang, perkataannya seorang kesatria mirip sebuah gunung. Jodohnya adik Gochin Baki telah aku menerima dengan mulutku sendiri, bagaimana sekarang aku boleh tidak memegang kepercayaanku? Tanpa kepercayaan, dapatkah aku menjadi manusia? Biarlah Oey Tocu membunuh aku, biarlah Yong-jie membenci aku seumur hidup, aku tidak dapat berbuat lain!” maka itu ia mengangkat kepalanya dan berkata dengan tegas: “Oey Tocu, keenam guruku, anda Tuli, kedua guruku Jebe dan Borchu, aku Kwee Ceng, aku bukannya seorang yang tidak mempunyai kepercayaan, maka itu, mesti aku menikah sama adik Gochin!”

Kwee Ceng bicara dalam bahasa Tionghoa, lalu ia salin itu ke dalam bahasa Mongolia, hingga kedua belah pihak mengerti. Kata-kata ini membikin mereka itu menjadi heran sekali. Itulah diluar dugaan. Tuli dan Gochin Baki heran berbareng girang. Kanglam Liok Koay memuji muridnya sebagai laki-laki sejati! Adalah Oey Yok Su, yang tertawa dingin.

Oey Yong sangat kaget dan berduka, hingga ia terbengong sekian lama. Ia maju beberapa tindak, untuk memandangi si putri Mongolia, tubuh siapa kekar, alisnya lancip, matanya besar dan bagus, air mukanya gagah dan agung. Tanpa merasa, ia menghela napas. Ia berkata kepada Kwee Ceng, “Engko Ceng, aku mengerti kau. Dia dan kau benarlah orang dari satu kalangan, kamu berdua ialah sepasang rajawali putih dari gurun pasir, kau sebaliknya, aku hanya seekor burung walet di bawah cabang yangliu di Kanglam….”

Kwee Ceng maju satu tindak, ia mencekal tangan si nona. Ia kata: “Yong-jie, aku tidak tahu perkataan kau tepat atau benar, tetapi di dalam hatiku cuma ada kau satu orang! Kau mengerti aku, maka kalau aku dicincang selaksa golok, tubuhku dibakar menjadi abu, dalam hatiku tetap ada cuma kau sendiri!”

Air mata si nona mengembang.

“Habis kenapa kau hendak menikahi dia?” ia tanya.

“Aku seorang tolol, segala apa aku tidak mengerti,” sahut si pemuda. “Aku cuma tahu, apa yang telah dijanjikan tidak dapat dibuat menyesal. Aku tidak suka omong dusta, tidak peduli bagaimana, dalam hatiku cuma ada kau seorang!”

Oey Yong bingung. Ia girang tetapi juga bersusah hati.

“Engko Ceng, aku sudah tahu,” katanya, tertawa tawar. “Kalau dari atas pulau Beng Hoo To kita tidak kembali, bukankah itu terlebih bagus?”

“Inilah gampang!” memotong Oey Yok Su sambil alisnya berdiri, sebelah tangannya diayunkan ke arah putri Gochin Baki.

Oey Yong telah melihat roman ayahnya, maka juga ia mendahulukan lompat untuk menyambar tangannya putri dari Mongolia itu, ditarik turun dari kudanya.

Oey Yok Su khawatir mencelekai gadisnya, gerakannya terlambat, sesudah putri itu ditarik turun, baru tangannya menghajar pelana kuda. Mulanya tak apa-apa, hanya sleang sesaat kemudian, kuda itu tunduk kepalanya, lemas empat kakinya, lalu mendeprok sendirinya, jiwanya melayang.

Kuda itu kuda Mongolia pilihan, besar dan kuat, tetapi dengan sekali hajar, dia mampus, kejadian itu membuatnya Tuli semua kaget bukan main. Kalau Gochin Baki kena terhajar, tidakkah tubuhnya ringsek?

Oey Yok Su melengak. Ia tidak menyangka gadisnya mau menolongi nona Mongolia itu. Tapinya ia cerdik, sejenak kemudian, ia mengerti sebabnya itu. Kalau putri itu terbinasa, tentu Kwee Ceng bakal murka, kalau Kwee Ceng murka, mana bisa dia akur lagi dengan gadisnya? Ia lantas berpikir keras. Sama sekali ia tidak takut bocah itu. Kapan ia memandang kepada gadisnya, yang romannya lesu dan berduka sangat, hatinya menjadi dingin. Paras si nona itu waktu sungguh mirip sama paras istrinya, ialah ibunya Oey Yong, selagi si istri mau menghembuskan napasnya yang terakhir. Oey Yong dan ibunya sangat mirip satu dengan lain dan Oey Yok Su sangat mencintai istrinya itu, meninggalnya siapa membuatnya seperti gila. Sudah lewat limabelas tahun tetapi wajah istrinya itu masih masih saban-saban terbayang di depan matanya. Sekarang ia melihat roman gadisnya itu, maka tahulah ia bagaimana sangat anak itu mencintai Kwee Ceng. Akhirnya ia mengela napas, lalu bersenandung.

Oey Yong pun berdiri diam, air matanya turun mengucur…..

Han Po Kie menarik tangannya Cu Cong.

“Dia kata apakah?” ia berbisik.

“Ia mengulangi tulisannya seorang she Kee di jaman Ahala Gan,” Cu Cong jawab. “Itu artinya, manusia di dalam dunia beserta segala bendanya adalah seperti penderitaan yang dibakar di dalam sebuah perapian besar.”

“Dia demikian lihay, apalagi penderitaannya?” Po Kie tanya pula.

Cu Cong tersenyum, ia tidak menjawab.

“Yong-jie, mari kita pulang…” akhirnya terdengar suaranya Oey Yok Su halus. “Untuk selanjutnya, untuk selamanya jangan kita melihat pula bocah ini…”

“Tidak, ayah,” sahut si anak menggeleng kepala. “Aku mesti pergi ke Gak-ciu. Suhu menitahkan aku untuk menjadi pangcu, ketua dari Kay Pang.”

Ayah itu tersenyum.

“Apakah enaknya menjadi ketua Partai Pengemis?” ia menanya.

“Aku telah memberikan janjiku pada suhu, ayah!”

Ayah itu berpikir.

“Baiklah,” katanya kemudian, “Kau coba-cobalah untuk beberapa hari. Umpama kata kau menganggap terlalu jorok, kau wariskan saja kepada orang lain. Bagaimana di belakang hari, kau masih mau menemui bocah ini atau tidak?”

Oey Yong melirik kepada Kwee Ceng, siapa terus mengawasi kepadanya, sinar matanya sangat lesu, romannya sangat berduka. Ia berpaling kepada ayahnya, ia menyahuti: “Ayah, dia mau menikah sama lain orang maka aku pun akan menikah dengan lain orang juga. Di dalam hati dia cuma ada aku satu orang, maka di dalam hatiku cuma ada dia seorang juga…”

“Ha!” berkata orang tua itu. “Anak perempuan dari Tho Hoa To tidak dapat dihina orang, itulah bagus. Habis bagaimana kalau orang orang dengan siapa kau menikah nanti melarang kau menemui dia?”

“Hm, siapa yang berani melarang aku!” kata nona itu keren. “Aku toh anakmu!”

“Ah, budak tolol!” berkata ayah itu. “Lewat beberapa tahun lagi aku bakal meninggalkan dunia ini…”

“Tetapi ayah,” kata si nona yang pun berduka, “Begini rupa dia memperlakukan aku, apakah kau mengira aku bakal dapat hidup lama pula?”

Kanglam Liok Koay dijuluki manusia-manusia aneh tetapi mendengari pembicaraan ayah dengan anak itu, mereka menjublak. Di jaman Song itu, masih keras orang menghormati adat-istiadat, ada sopan santun. Oey Yok Su bukannya Seng Tong dan Bu Ong, bukannya Ciu Kong atau Khong Cu, tetapi ialah seorang yang aneh, maka julukannya pun Tong Shia, si Sesat dari Timur. Apa yang ia lakukan biasanya sebaliknya daripada yang umum, sedang Oey Yong itu, semenjak kecilnya, ia sudah dididik ayahnya yang aneh ini, yang terpelajar tinggi dan luas pengetahuannya, maka ia mengerti, suami istri tinggal suami istri tetapi cinta itulah lain.

Kwee Ceng pun mendengari pembicaraan itu dengan hatinya terluka. Ia sangat berduka. Ia mau menghiburi Oey Yong tetapi apa ia hendak bilang? Maka ia pun berdiam saja.

Oey Yok Su memandang putrinya, lalu ia mengawasi Kwee Ceng, kemudian lagi ia dongak memandang langit dan mengasih dengar suaranya yang lama dan keras, yang seumpama kata menggetarkan rimba, suaranya itu berkumandang di lembah-lembah. Burung-burung kucica kaget hingga pada beterbangan mengitari pepohonan.

“Burung kucica, burung kucica!” berkata Oey Yong. “Malam ini Gu Long bakal bertemu sama Cit Lie, kenapa kau tidak lekas-lekas membuat jembatanmu?”

Tapi Oey Yok Su sengit, ia menjumpat seraup pasir, ia menimpuk, maka itu belasan burung jatuh dan mati, setelah mana dia membalik tubuh, untuk berjalan pergi tanpa menoleh lagi….

Tuli tidak mengerti pembicaraan orang, karena tahu Kwee Ceng tidak akan menyalahi janji, ia girang sekali. Ia pegang golok Kim-too dari ayahnya, dia cium itu di mulutnya, lalu ia membawanya kepda Kwee Ceng, untuk diserahkan.

“Anda,” katanya, “Aku harap usahamu yang besar lekas selesai, supaya kau bisa pulang ke Utara di mana kita nanti dapat bertemu pula!”

“Burung kita ini kau boleh bawa,” berkata Gochin Baki. “Aku harap kau lekas pulang!”

Kwee Ceng mengangguk. Dari sakunya ia mengeluarkan sepotong tombak pendek, sambil menunjuki itu, ia kata pada putri Mongolia itu: “Kau bilangi ibuku, pasti aku akan pakai senjata ayahku ini untuk membinasakan musuh kami!”

Jebe dan Borchu pun turut mengambil selamat berpisah.

Oey Yong mengawasi empat orang Mongolia itu berlalu, Kwee Ceng masih berdiri saja. Ia melihat kedukaan orang.

“Engko Ceng, kau pergilah, aku tidak sesalkan kau,” katanya.

“Yong-jie,” menyahut si anak muda itu, yang bicara dari lain hal, “Tongkat Kay Pang dibawa Yo Kang, dan ayahmu membilang, mengenai Kay Pang mungkin terjadi sesuatu, maka itu malam ini mari kita mencari suhu, besok aku nanti terus pergi bersama kau.”

Si nona menggeleng kepala.

“Pergi kau sendiri mencari suhu,” katanya. Ia mengasih keluar pisau belata Kwee Ceng, yang ia selipkan di pinggangnya, ia letaki itu di tanah. Ia juga menurunkan dan membuka pauwhok yang digendol di punggungnya, darimana ia mengeluarkan segulung gambar. Ia kata: “Inilah pemberian ayah untukmu.” Masih ia mengeluarkan lakonnya yang beraneka warna, yang mana ia pisahkan separuh. Ia kata pula: “Inilah barang yang kita kumpulkan di pulau, aku bagi separuh untukmu…” Ia mengawasi bungkusannya itu, di situ cuma ada baju pemberian Kwee Ceng serta sejumlah uang serta beberapa potong pakaiannya untuk salin tiap hari, maka ia tertawa dan berkata pula: “Aku tidak mempunyai barang lainnya lagi untuk diberikan padamu.” Lalu dengan perlahan ia membungkus rapi, ia menggendol itu, habis mana ia memutar tubuhnya, untuk berjalan pergi.

Kwee Ceng tercengang, dengan menuntun kuda merah, ia menyusul.

“Baik kau menunggang kuda,” katanya.

Oey Yong menoleh, ia tertawa, tetapi ia jalan terus.

Kwee Ceng masih menyusul beberapa tindak, lantas ia berhenti. Ia masih bengong mengawasi orang pergi hingga nampak seperti bayangan.

“Anak Ceng, bagaimana sekarang?” Han Siauw Eng menegur.

Anak muda itu masih menjublak.

“Aku hendak pergi ke istana mencari suhu,” sahutnya.

“Itu benar,” berkata Kwa Tin Ok. “Oey Lao Shia pernah mengacau di rumah kita, mungkin orang di rumah bingung, maka sekarang kita mau pulang. Kalau kau berhasil mencari gurumu itu, kau undang dia datang ke rumah kami untuk sekalian beristirahat.”

Kwee Ceng menurut, maka itu, ia mengambil selamat berpisah dari keenam gurunya ini. Kemudian ia sendiri, setelah menyimpan pisau belati dan lakonnya, terus menuju ke Lim-an.

Malam itu Kwee Ceng memasuki istana, mencari gurunya, hasilnya sia-sia belaka. Ang Cit Kong tidak ada, Ciu Pek Thong entah ke mana. Di malam kedua ia mencari pula, hasilnya sama.

“Tidak ada jalan lain, lebih baik aku pergi menyusul Yong-jie,” pikir anak muda ini kemudian. “Baik aku membantu dulu padanya mengurus Kay Pang, kemudian bersama-sama kita kembali mencari terus pada suhu.”

Itu hari tanggal sembilan bulan tujuh, tinggal enam hari untuk pembukaan rapat Kay Pang di Gak-ciu. Kwee Ceng tidak takut ketinggalan. Ia menunggang kudanya yang jempol. Dalam satu hari saja ia sudah tiba di batas jalan barat dari Kanglam.

Sementara itu suasana sudah berubah. Separuh dari Tiongkok sudah diduduki bangsa Kim. Batas di timur adalah Hoay-sui, dan di barat kota San-kwan. Untuk kerajaan Lam Sang – Song Selatan – tinggal apa yang disebutkan limabelas “jalan” ialah dua propinsi Ciatkang dan Kangsouw, Liang Hoay (yaitu daerah di antara kedua sungai Hong Hoo dan Yang Cu Kang di Anhui dan Kangsouw), dua jalan timur dan barat dari Kanglam, dua jalan di selatan dan utara dari Kheng-ouw, empat jalan di Su-coan Barat, Hokkien, Kwietang dan Kwiesay. Maka itu, negara menjadi lemah sekali.

Kwee Ceng berjalan dengan saban-saban melepaskan dua ekor burung rajawalinya, guna membantu mencari Oey Yong. Ia sendiri mencari dengan sia-sia. Ketika pada suatu hari ia tiba di kecamatan Bu-leng, di kota Liong-hin, dekat dengan kota Gak-ciu, ia berjalan dengan perlahan. Diwaktu sore, ia menghadapi sebuah rimba lebat, yang kelihatan menyeramkan. Di belakang rimba itu ada satu bukit yang panjang. Tentu sukar untuk melintasi rimba itu dan gunung sesudah cuaca gelap, maka ia mau mencari pondokan. Di samping rimba itu ia melihat pagar bambu.

“Ada pagar tentu ada rumah,” pikirnya girang. Ia bertindak. Ia melihat sebaris pohon. Di situ ia lantas melihat sebuah rumah dengan tiga undak. Ia mendekati rumah itu. Belum ia datang dekat, kupingnya sudah mendengar tangisan seorang wanita. Ia menjadi heran.

“Orang lagi berduka, tidak dapat aku mengganggu,” pikirnya. Ia hendak mengundurkan diri.

Orang di dalam rumah tapinya sudah mendengar suara kuda. Dengan kaget bukan daun pintu di pentang. Di situ muncul seorang tua dengan rambut ubanan, yang tubuhnya sudah melengkung, tangannya memegang cagak besi yang panjang. Dia berdiri di depan pintu sambil berseru: “Pembesar anjing! Ular tidak ada, cucu perempuanku juga tidak ada. Yang ada hanya selembar jiwa tuaku ini!”

Kwee Ceng heran. Ia tahu orang salah mengerti.

“Tuan, aku hanya seorang pelancongan!” katanya lantas sambil ia memberi hormat. “Aku kena bikin lewat tempat mondok, maka niatku datang ke mari untuk menumpang bermalam. Satu malam saja. Kalau kau lagi ada urusan, tidak apa, aku nanti pergi ke lain rumah.”

Orang tua itu lantas mengawasi, habis itu lekas-lekas ia meletaki cagaknya, untuk membalas hormat.

“Maafkan aku, tuan, aku lagi ngaco,” katanya. “Jikalau kau tidak jijik, silahkan masuk dan minum the.”

Kwee Ceng mengucap terima kasih. Lantas ia memberikan sejumlah uang, untuk dicarikan rumput guna makan kudanya, setelah itu baru ia masuk ke dalam. Nyata rumah itu bersih sekali. Ia menjadi heran. Ia baru duduk atau kupingnya mendengar suara berisik dari kuda. Ia menduga ada tiga penunggang kuda datang ke situ. Ia pun lantas mendengar suara bengis: “Orang tua she Cin, kau menyerahkan ular atau cucu perempuanmu?!”

Lalu terdengar suara seorang lain: “Kami dapat mengasih ampun kepada kamu, tetapi looya kami tidak dapat memberi ampun kepada kami! Maka itu lekas kau keluar!”

Suara itu disusul sama sambaran cambuk kepada atap rumah, hingga atap itu, yang terbuat dari rumput rusak.

Si orang tua tidak menyahuti suara dari luar itu, ia hanya masuk ke dalam kamar, untuk berkata: “Anak Kim, pergi kau lari ke belakang, ke dalam rimba. Malam ini kau sembunyi terus. Besok pagi-pagi, kau boleh pulang sendiri ke Kwietang…..”

Segera terdengar tangisan wanita tadi.

“Engkong, mari kita mati bersama….” kata orang perempuan itu.

“Lekas lari, lekas!” berkata si orang tua, membantung kaki. “Nanti terlambat!”

Dari dalam kamar lantas keluar seorang nona dengan baju hijau, ia menubruk si orang tua, siapa sebaliknya menolak tubuh orang, untuk disuruh lari ke belakang.

Berbareng dengan itu, pintu terdengar tertembrak hingga terbuka, tiga orang terus nerobos masuk. Orang yang maju paling depan lantas menjambak pundaknya si orang tua she Cin itu, sedang tangannya yang lain menyambar si wanita muda, untuk dipeluki.

Nona itu ketakutan hingga ia membungkam. Kwee Ceng mengawasi tiga orang itu. Dari dandannya, yang di depan itu seorang polisi, yang dua lagi serdadu. Si orang polisi, yang memeluki si nona, berkata sambil tertawa. “Empeh Cin, kami datang atas titahnya tuan camat kami, maka jangan kau sesalkan kami! Malam ini kau mengantarkan duapuluh ekor ular, ini nona akan kita kembalikan, kalau kau menunggu sampai besok, nanti sudah tidak keburu!” Ia terus tertawa lebar, sambil bertindak pergi, ia bawa si nona bersama.

Orang tua she Cin itu menjerit keras, dengan membawa cagaknya, ia memburu, terus ia menikam.

Si orang polisi berkelit, sambil berkelit ia mencabut golok di pinggangnya dengan apa ia mengetok cagak itu. Si empeh tidak dapat mempertahankan diri, cagaknya terlepas dan jatuh di tanah. Menyusul itu, orang polisi itu menendang, hingga ia roboh seketika.

“Eh, tua bangka, jangan kau banyak tingkah!” dia membentak. “Awas, jangan kau nanti sesalkan golokku tidak ada matanya!”

Empeh itu seperti kalap, lupa pada dirinya, ia menubruk kaki kanan orang itu, terus ia menggigit.

Opas itu kesakitan dan berontak-berontak, dalam sengitnya ia hajar kepala si empeh dengan belakang goloknya, maka pecahlah jidat orang dan darahnya menyiram ke mukanya. Tapi empeh itu sudah nekat, ia tidak menghiraukan luka dan sakitnya, ia menggigit terus, tidak mau ia melepaskannya.

Dua serdadu itu maju menolongi si opas, yang satu menendang, yang lainnya menarik, sedang si opas menghajar lagi beberapa kali dengan gagang goloknya.

Sampai di situ, Kwee Ceng tidak dapat menonton lebih lama. Tadi ia baru gusar saja. Seperti biasanya, ia pun bergerak ayal. Tapi sekarang, ia lompat maju. Lebih dulu ia jambak punggungnya kedua serdadu itu, ia melemparkan mereka. Si opas lagi membacok ketika Kwee Ceng menahan belakang goloknya, untuk ditolak keras hingga golok itu berbalik dan tepat membacok jidatnya. Dengan tangan kanannya, Kwee Ceng menyambar tubuh si nona sambil kakinya menendang, dari itu, tidak ampun lagi, tubuh opas itu kena terlempar. Tapi empeh Cin menggigit dan memeluki erat sekali, tubuhnya turut terlempar bersama.

Menampak begitu, Kwee Ceng kaget sekali. Ia khawatir, karena jatuh terbanting, empeh itu nanti mati karenanya. Lupa melepaskan tubuh si nona, ia lompat menyusul seraya tangannya menyambar leher si opas, sedang kepada si empeh ia berseru: “Empeh, ampunkanlah dia!”

Benar-benar si empeh kalap, ia seperti tidak mendengar suara orang, sampai si nona muda berteriak memanggil dia, “Engkong! Engkong!” baru ia melepaskan gigitannya, dengan mulut berkelepotan darah, ia mengangkat kepalanya. Itu waktu Kwee Ceng telah melemparkan pula tubuh si opas, yang jatuh terbanting hingga terus ia tidak mau bangun lagi, karena ia khawatir nanti dihajar lebih jauh.

Kedua opas itu nyalinya kecil, mereka tidak berani melawan, setelah melihat si anak muda tidak menyerang lebih jauh, mereka menghampirkan si opas kawannya itu, untuk dikasih bangun, buat lantas diajak pergi dengan kaki si opas dingkluk-dingkluk. Saking takut, mereka tidak berani menaiki kuda mereka.

Sampai di situ, baru Kwee Ceng melepaskan tubuh si nona, lekas-lekas ia mengasih bangun si orang tua.

Nona itu mengawasi tuan penolongnya, nampaknya ia sangat bersyukur, tetapi karena malu, ia tidak dapat membuka mulutnya. Maka ia cuma mengeluarkan sapu tangannya, dengan apa ia menyusuti darah di muka kakeknya itu.

Tidak enteng luka si empeh, akan tetapi melihat si nona tidak dibawa pergi si opas dan serdadu, ia menjadi bersemangat, dengan cepat ia berlutut di depan Kwee Ceng, guna memberi hormat sambil menghanturkan terima kasihnya berulang-ulang.

Si nona turut berlutut juga.

“Sudah, lootiang,” kata Kwee Ceng seraya mengasih bangun. “Tidak dapat aku menerima hormatmu ini.”

Orang tua itu lantas mengundang tetamunya masuk pula, dan si nona segera menyuguhkan the.

“Injin, silahkan minum,” katanya perlahan. Ia lantas memanggil “injin” – tuan penolong.

“Terima kasih,” sahut Kwee Ceng sambil berbangkit.

Empeh Cin lantas menanyakan she dan nama tetamunya dan Kwee Ceng memperkenalkan dirinya.

“Sebenarnya, empeh, urusan apakah ini?” Kwee Ceng tanya.

Empeh itu suka mengasihkan ceritanya. Ia asal propinsi Kwietang, karena gangguan seorang hartawan di kampung halamannya, ia mengajak keluarganya pindah ke propinsi Kang-see ini. Di sini ia melihat tanah kosong, ia lantas membuat rumah dan berusaha di situ. Bersama ia turut kedua anak lelakinya. Di rimba ini ada banyak ularnya, apa celaka, dua anak itu serta seorang nyonya mantunya, bergantian mati dipagut ular, hingga seterusnya ia tinggal berduaan saja bersama cucu perempuannya itu, yang diberi nama Lam Kim. Si empeh bersakit hati, ia pulang ke Kwietang, untuk mempelajari ilmu menangkap ular, sesudah mana ia kembali. Ia membalas sakit hati dengan membinasakan setiap binatang berbisa itu. Dasar malang nasibnya dan ia pun lemah, tanah yang ia telah buka dirampas seorang hartawan galak di dalam kota. Saking terpaksa, ia lantas hidup sebagai penangkap ular. Di dalam usahanya ini, syukur ia tidak mendapat saingan. Untuk sembilan tahun, mereka berdua hidup tentram, sampai datang Kiauw Lay, camat yang baru. Kebetulan ia doyan ular, untuk itu ia berani keluar uang untuk membeli. Empeh Cin tidak kuat membayar pajak, ia diwajibkan setiap bulan menyerahkan duapuluh ekor ular berbisa. Dengan terpaksa empeh Cin menunaikan tugasnya itu, untuk mana ia dibantu oleh cucunya. Tapi tahun ini, di musim semi, entah kenapa, ular menjadi berkurang. Susah sekali mencarinya. Sampailah itu waktu, di bulan ke enam, mereka tidak bisa mendapatkan ular. Sudah begitu, lantas datang gangguan lain. Kiauw Thayya mendapat tahu Lam Kim cantik, ia minta nona itu. Beberapa kali ia mengirim comblang, si empeh senantiasa menampik. Lalu datanglah hari ini, Kiauw Thayya menggunakan kekerasan, ia mengirim opasnya dan dua serdadu untuk minta ular atau orang. Sebab empeh tidak bisa menyerahkan ular, maka cucunya dipaksa dibawa pergi. Kebetulan sekali, di situ ada Kwee Ceng.

Mendengar cerita itu, Kwee Ceng menghela napas.

Habis bersantap malam, empeh mempersilahkan tetamunya tidur. Lam Kim yang mengantarkan ke kamar sambil ia membawa pelita, katanya dengan perlahan: “Di sini hutan, segala apa kotor, harap injin maklum…”

“Nona panggil saja aku engko Kwee,” Kwee Ceng memberitahu.

“Mana aku berani, injin,” kata si nona. Tiba-tiba ia terkejut. Dil luar terdengar suara nyaring dan luar biasa dari seekor burung hutan. Hampir ia membikin pelitanya terlepas.

“Nona, burung apakah itu?” tanya Kwee Ceng. Ia heran, sudah suara burung itu aneh, ia pun meraskan tubuhnya gatal tidak karuan dan dadanya penuh seperti mau tumpah-tumpah.

“Itulah burung keramat tukang makan ular,” sahut si nona perlahan.

“Burung pemakan ular?” si anak muda menegaskan.

“Benar. Semua ular di rimba sini habis dimakan dia, maka itu engkong jadi sengsara…”

“Kenapa tidak didayakan menyingkirkan burung itu…?”

“Perlahan injin…” kata si nona, romannya ketakutan. Ia lantas menutup jendela. “Burung itu sakti, kalau ia dengar suara injin, bisa celaka…!”

“Apa? Burung itu bisa mendengar suara kita?”

Lam Kim hendak memberikan jawabannya, ketika terdengar suara si empeh di luar kamar: “Diwaktu malam tak leluasa untuk bicara banyak, besok siang saja nanti aku yang menjelaskan.”

Kwee Ceng heran tetapi ia menurut, sedang si empeh lantas saja ajak cucunya pergi ke kamar mereka.

Melihat roman ketakutan dari tuan dan nona rumah itu, Kwee Ceng bertambah heran hingga ia tidak dapat tidur nyenyak. Ia pun memikirkan Oey Yong, yang entah ada dimana adanya. Ia gulak-galik sampai tengah malam ketika ia mendapat dengar pula suara si burung pemakan ular, yang berbunyi tiga kali.

“Aku tidak dapat tidur, baik aku lihat burung itu,” pikirnya. Ia turun dari pembaringan, ia membuka jendela untuk lompat ke luar. Di saat ia mau menuju ke arah darimana suara burung itu terdengar, ia mendengar teguran perlahan di belekangnya: “Injin, aku turun kau…” Ia lantas menoleh. Maka ia nampak Lam Kim berdiri di bawah sinar rembulan, rambutanya riap-riapan mirip dengan rambutnya Bwee Tiauw Hong. Nona ini berkulit putih, romannya cantik. Kedua tangannya memegang entah barang apa yang hitam. Dengan perlahan ia menghampirkan si anak muda, untuk berkata pula: “Injin mau melihat burung keramat itu?”

“Ah, jangan kau memanggil injin padaku,” Kwee Ceng mencegah.

Nona itu likat.

“Engko!” ia memanggil.

Kwee Ceng mengasih lihat panahnya.

“Aku hendak memanah mampus burung itu, supaya ia jangan lagi mengganggu engkongmu,” katanya.

“Perlahan!” si nona kata. Ia pun mengangkat tangannya. “Pakai ini di kepala, untuk berjaga-jaga.” Suara si nona itu bergetar.

Kwee Ceng melihat sebuah kuali besi, ia menjadi heran.

Lam Kim memegang kuali besi di tangan kirinya, ia berkata pula: “Burung itu dapat datang dan pergi bagaikan angin, ia biasa mematuk mata orang, hebat sekali. Kupingnya juga tajam, begitu mendengar suara orang, dia bisa lantas datang. Engko, kau mesti hati-hati.”

Kwee Ceng tidak takut. Bukankah ia pernah menghadapi burung rajawali raksasa itu. Lantas ia jalan di depan.

Belum mereka sampai di tepi rimba, burung ular itu berbunyi lagi, tiga kali. Justru itu di situ terdengar suara berisik.

Lam Kim terkejut. “Ah, aneh! Kenapa di sini ada begini banyak ular?” katanya.

Kwee Ceng memasang kuping. Ia lantas mendengar suara beberapa orang yang bersuit dan menggebah-gebah. Ia kenali itulah suaranya budak-budak pengiring ular dari Pek To San. Ia menjadi lebih heran sebab agaknya mereka itu dalam kekhawatiran, sebagai juga kawanan ularnya tidak menurut perintah. Ia lantas berpikir.

“Mari!” ia mengajak Lam Kim, untuk lari masuk ke dalam rimba. Di sini ia celingukan, mencari tempat yang lebat. Tanpa membilang apa ia sambar pinggang si nona, buat dibawa lompat naik ke sebuah pohon, dimana mereka memernahkan diri di satu cabang besar.

Baru mereka duduk rapi, burung tadi telah berbunyi pula tiga kali: Sekarang jarak mereka lebih dekat, suara burung itu tajam terdengar, seperti menusuk telinga.

Tidak lama, sampailah rombongan ular itu, yang berjumlah ribuan. Kwee Ceng kenal binatang itu, ia tidak kaget, tidak demikian dengan Lam Kim, yang ketakutan hingga hatinya guncang, dengan erat ia pegangi ujung baju si pemuda.

Begitu masuk ke dalam rimba, kawanan ular itu berlari-lari ke delapan penjuru. Mereka seperti terkena hawa panas, hingga mereka tidak dapat diam, tubuh mereka berlompatan. Di bawah sinar rembulan, nyata terlihat lagak mereka itu.

Tujuh atau delapan budak pengiring ular itu, dengan pakaiannya yang putih, lari ke dalam rimba. Mereka menggunai galah mereka, bentaka mereka berisik, tapi kawanan ular itu tidak mau mendengar perintah untuk berbaris rapi seperti biasa.

Kwee Ceng membenci Auwyang Hong, melihat ular itu kacau, ia senang.

“Sayang Yong-jie tidak ada di sini, hingga ia tidak dapat menyaksikan ini,” pikirnya.

Lam Kim heran ketika ia melirik mendapatkan Kwee Ceng gembira. Diam-diam ia memuji hati besar anak muda ini. Tiba-tiba ia kaget sekali. Itulah sebab ia mendengar si burung keramat bersuara nyaring luar biasa, atas mana semua ular pada berhenti bergerak, semua mendekam dengan tidak berkutit.

Budak-budak mengayun berulang-ulang galah mereka, mulut mereka membentak tak hentinya, tetapi semua ularnya diam mendekam. Sesudah kewalahan, mereka ini lantas mengambil sikap. Seorang lantas berdiri tegak, kepala mereka diangkat. Yang lainnya berdiri diam dengan galah mereka dipasang berdiri. Yang satu lantas berkata dengan nyaring: “Kami ada orang-orangnya Auwyang Sianseng dari Pek To San, kami tengah berlewat di sini, tetapi kami tidak mengenal gunung Tay San, kami tidak datang membuat perkunjungan. Maka itu, dengan memandang Auwyang Siangseng, harap kami diberi maaf.”

Kwee Ceng mengawasi, ia merasa lucu.

Suara orang itu tidak ada yang layani. Berselang sekian lama, ia mengucapkan pula kata-katanya itu. Sekarang suaranya lebih keras, tandanya ia tidak senang, dia agaknya menggertak. Ia pun memandang ke sekitarnya, ke tanah di dekatnya. Dia berpura-pura tidak melihat, dia memutar tubuh akan membelakangi pohon, yang ada pohon hoay, dia pun membungkuk seperti orang lagi menjura. Adalah ketika itu, mendadak ia membalik pula tubuhnya, sambil bangun ia mengayunkan kedua tangannya ke arah pohon. Maka empat buah gin-so, torak perak, menyambar kepada Kwee Ceng berdua. Dia telah membokong!

Kalau lain orang yang diserang secara menggelap itu, celakalah dia. Tidak demikian dengan Kwee Ceng. Ia melihat gerakan orang, yang ia terus awasi. Ia melihat berkelebatnya barang berkilau. Lekas-lekas ia turunkan kuali besinya, untuk dipakai menyambuti, maka dengan suara “trang!” empat kali, keempat torak itu masuk ke dalam kuali.

Kaget dan heran orang itu karena bebokongannya gagal.

“Di atas pohon itu orang gagah darimana? Silahkan memberikan she dan namamu!” ia minta. Suaranya tak seangker tadi.

Kwee Ceng tidak menyahuti, hanya ia menipuk balik torak itu.

Orang itu menjadi kaget. Galah di tangannya itu kena terhajar toraknya itu, tangannya sakit dan gemetaran, galahnya pun terpatah lima. Dia mengerti, orang berlaku murah, kalau tubuhnya yang dihajar, pasti dia tidak akan selamat. Dia menjadi bingung sekali. Kalau ia menyerah dan minta ampun, dia menurunkan derajat Auwyang Hong, dia pun bakal tidak diberi ampun. Kalau ular itu tidak dibawa pergi, dia juga bakal disiksa majikannya yang bengis itu.

Selagi orang ini masih bingung terus, tiba-tiba di situ tercium bau harum, dada rasanya menjadi lapang, lantas semua ular menggeraki kepalanya, dongak ke langit.

Orang itu menyangka Kwee Ceng, yang ia tidak kenal itu, pandai menggendalikan ularnya, lantas ia meniup suitannya, untuk menitahkan ularnya pergi. Tapi ular itu tetap diam. Hanya bau hatum menjadi semakin keras. Terang bau itu datangnya dari atas. Maka dia dongak. Tiba-tiba terlihat menyambar turunnya cahaya teras sebagai segumpal api, luar biasa cepatnya, turun di sisinya. Dengan tiba-tiba, ia menjadi kaget. Dia mendapat kenyataan, gumpalan api itu hanyalah seekor burung yang tubuhnya merah marong. tubuhnya itu lebih besar dari gagak, bacotnya panjang kira setengah kaki. Berdiri di tanah, burung aneh itu lantas melihat ke sekelilingnya, nampaknya keren. Bau harum itu datang dari tubuhnya.

Kwee Ceng menjadi merasa suka melihat burung itu, yang tak ada bulunya yang kecampuran, kedua matanya tajam, sinarnya merah juga.

“Kalau Yong-jie melihat burung ini, tentu dia suka sekali,” pikirnya. Maka ia lantas ingin menangkap hidup burung itu.

Mulanya semua ular kaget dan takut, sekarang semua berbalik menjadi jinak, tidak ada yang bergeming. Ketika burung itu berbunyi satu kali, empat ekor ular yang besar nyelosor menghampirkan, di depan burung itu, mereka menggulingkan diri, perutnya menghadap keatas. Kapan burung itu mematuk, maka pecahlah perut mereka. Dengan empat patukan saja, isi perut mereka masuk ke dalam perut burung itu.

Semua pengiring ular itu menjadi heran sekali, kaget dan gusar. Yang menjadi kepala tadi mengayun tangannya, sebuah torak melayang ke burung itu.

Kwee Ceng kaget, ia khawatir burung itu celaka karenanya. Dengan sabet sekali ia mematahkan secabang pohon kecil, yang terus ia timpuki ke depan burung itu guna melindunginya.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: