Kumpulan Cerita Silat

03/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 53

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:22 am

Bab 53. Ajalnya Bwee Tiauw Hong
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Khu Cie Kee adalah yang terpandai dari Cit Cu, Oey Yok Su memandang ia terlalu enteng, maka dadanya itu kena terkibas hingga ia merasakan sakit. Dengan sebat ia menutup diri, lalu dengan tangan kirinya menyambar tangan baju si penyerang, tangan kanannya mencari biji mata lawan itu.

Khu Cie Kee meronta sekuatnya, ujung bajunya itu robek.

Itu waktu Ma Giok maju bersama Ong Cie It, akan tetapi Oey Yok Su sudah berlompat ke belakang Cek Tay Thong, ketika kakinya dilayangkan, Kong Leng Cu roboh jungkir balik!

Di dalam kamar rahasia, Kwee Ceng menyerahkan lubang intaian kepada Oey Yong, maka giranglah nona ini menyaksikan ayahnya menunjuki kepandaiannya itu, coba ia tidak ingat kawannya mesti menanti lagi satu dua jam untuk nsembuh betul, tentulah ia sudah menepuk tangan bersorak-sorai.

Adalah Auwyang Hong yang berdiri di pintu sambil tertawa berkakakan, dengan mulutnya dibuka lebar-lebar: “Yang Ong Tiong Yang terima adalah ini segerombolan kantung nasi!”

Cie Kee penasaran sekali. Semenjak belajar silat, belum pernah ia dikalahkan begini rupa.

“Berdiri rapi di tempat masing-masing!” ia berteriak pula.

Akan tetapi Oey Yok Su tidak sudi memberikan kesempatan. Ia bergeraak ke timur dan barat, ia menyerang kalang-kabutan hingga semua lawannya itu menjadi kelabakan, barisannya tidak dapat diatur pula. Bahkan pedangnya Ma Giok dan Tam Cie Toan telah dipatahkan Tong Shia dan dilemparkan ke lantai.

Khu Cie Kee bersama Ong Cie It lantas merangsak dengan pedang di tangan masing-masing. Itulah jurus yang istimewa dari ilmu pedang Coan Cin Pay.

Oey Yok Su tidak berani memandang enteng lagi, ia berkelahi dengan hati-hati.

Ma Giok cerdik, diam-diam ia menggunai ketika akan lompat ke dudukan thian-kie dan terus saja ia memegang pimpinan. Tam Cie Toan dan Lauw Cie Hian lantas menyusul mengambil kedudukan mereka. Perbuatan mereka ini lantas diikuti oleh yang lain-lainnya.

Sebentar saja, barisan Thian Kong Pak Tauw lantas teratur rapi. Dengan begitu, jalannya pertempuran juga berubah menjadi lain. Thian Koan bersama giok-heng lantas menhadapi lawan di depan, thian-kie dan kay-yang yang terus menyerang dari samping, sedang yauw-kong dan thian-soan di belakang turut merangsak. Cie Kee maju di bantu Cie Peng.

Oey Yok Su meseti melayani musuh di empat penjurunya.

“Saudara Hong!” katanya tertawa. “Ong Tiong Yang toh dapat meninggalkan ini macam ilmu kepandaian!”

Tong Shia bicara sambil tertawa, meski begitu, ia merasakan lawan menjadi beda, tenaga mereka itu menjadi besar sekali. Maka sekarang ia bersilat dengan Lok Eng Ciang-huat, ia berputaran di dalam Thian Kong Pak Tauw itu, hingga tubuhnya seperti melayang-layang dan tangannya beterbangan…

Oey Yong mengenali ilmu silat ayahnya itu.

“Ketika ayah mengajari ilmu silat ini, aku menyangka hanya ilmu kosong dan satu berisi atau tujuh berisi dan satu kosong,” katanya di dalam hati, “Tidak tahunya setelah dipakai bertempur benar-benar, semua lima kosong dan tujuh berisi itu dapat diubah pergi pulang.”

Pertempuran ini besa sekali dengan perlawanan Tiauw Hong tadi. Si nona menonton sambil menahan napas. Bahkan Auwyang Hong yang lihay pun turut ketarik sampai ia menjadi kagum sekali.

Selagi orang bertaruh seru itu, tiba-tiba terdengar satu suara jeritan, “Aduh!” disusul mana tubuh jatuh terguling. Nyata korban itu ialah In Cie Peng. Dia tidak sanggup melayani Oey Yok Su berputaran, matanya kabur, kepalanya pusing, dunia dirasakan bagai berputar, di depan matanya entah ada berapa banyak musuhnya itu, diakhirnya, setelah penglihatannya gelao, tidak ampun lagi ia roboh sendirinya!

Coan Cin Cit Cu memusatkan pikiran mereka. Mereka tahu, asal ada satu saja yang hatinya goncang, mereka tidak bakal ketolongan lagi, atau Coan Cin Pay bakal runtuh dan musnah.

Oey Yok Su pun gelisah. Ia sudah kepalang, ia bersangsi untuk bertempur terus atau berhenti. Perlawanan hebat dari Khu Cie Kee beramai itu membuat kedua pihak sama unggulnya.

Sementara itu ayam-ayam sudah berkokok dan sinar matahari mulai mengintai di arah timur.

Dengan lewatnya sang waktu itu, selesai sudah batas tempo istirahatnya Kwee Ceng. Ia telah sembuh dan memperoleh kembali kesehatannya seperti sediakala. Di luar kamarnya orang bertempur umpama kata langit terbalik dan bumi ambruk tetapi ia sendirinya tetap tenang, ia duduk diam. Baru sesaat kemudian, ia mengintai ke luar kamar rahasianya, atau ia menjadi terkejut.

Oey Yok Su bertindak dengan perlahan, kakinya mengikuti garis patkwa, atau segi delapan, setiap gerakan tangannya berlahan juga. Ketika Oey Yong menggantikan Kwee Ceng mengintai, ia tahu betul ayahnya lagi menggunakan ilmu silatnya yang tak sembarang dipakai.

Segera juga bakal datang saat yang memutuskan.

Coan Cin Cit Cu berkelahi dengan seantero tenaganya. Mereka pun menginsyafi bahaya yang tengah mengancam mereka. Berkali-kali mereka mengasih dengara suara satu sama lain, untuk mengasih isyarat, guna menambah semangat masing-masing. Di batok kepala mereka mulai terlihat hawa panas mengkedus, sedang jubah mereka telah basah kuyup. Hilanglah ketenangan mereka sebagaimana tadi mereka melayani Bwee Taiuw Hong.

Auwyang Hong terus menonton sambil ia memperhatikan barisannya imam-imam dari Coan Cin Kauw itu. Ia mengharap-harap Oey Yok Su nanti mengurus semua tenaganya hingga ia mendapat luka di dalam. Dengan begitu, kapan kembali di adakan rapat besar di Hoan San, rapat yang kedua, untuknya akan kurang satu lawan yang tangguh. Akan tetapi Tong Shia benar-benar lihay, meski Khu Cie Kee semua bekerja sekerasnya, mereka itu masih tidak dapat merampas kemenangan.

Menyaksikan pertempuran yang sangat memakan tempo itu, Auwyang Hong menjadi tidak sabar. Dasarnya ia berbisa, setelah berpikir sekian lama, ia mendapat satu akal licik.

Pertempuran itu berjalan semakin perlahan, tapi itu tandanya bahwa bahaya semakin dekat.

Oey Yok Su bekerja terus, nyata sekali terlihat ia menyerang dengan kedua tangannya kepada Sun Put Jie dan Tam Cie Toan. Kedua imam itu mengangkat tangan mereka untuk menangkis. Mereka segera dibantu Lauw Cie Ian dan Ma Giok.

Justru itu, mendadak See Tok bersiul panjang dan terus berseru: “Saudara Yok, aku bantu kau!” menyusul suaranya itu ia berjongkok, segera dengan kedua tangannya ia menolak ke arah Tam Cie Toan!

Tiang Ci Cu tengah memusatkan perhatiannya terhdapa Oey Yok Su, ia telah mengerah tenaganya untuk menangkis serangan Tong Shia, ketika mendadak ia merasakan benturan keras di belakangnya, jangan kata untuk menangkis, berkelit saja sudah tidak keburu, maka itu dengan menerbitkan suara, ia roboh tengkurap.

Oey Yok Su menjadi gusar sekali.

“Siapa menghendaki bantuanmu!” ia menegur See Tok.

Ketika itu Khu Cie Kee dan Ong Cie It menyerang dengan berbareng. Tong Shia mengibas untuk menangkis atau tangannya yang kanan bentrok sama perlawanannya Ma Giok dan Cek Tay Thong, yang pun menyerang kepadanya.

Auwyang ong tertawa.

“Kalau begitu, biarlah aku bantui mereka!” seruanya. Sambil berkata begitu, dengan kedua tangannya benar-benar ia menyerang si Sesat dari Timur itu. Kalau tadi ia menyerang Tam Cie Toan dengan menggunai tenaga tiga bagian, sekarang ia menggerahkan tenaganya dengan sepenuhnya. Itu pun saat Oey Yok Su tengah menghadapi empat lawannya. Ia mengharap hajaran ini, satu kali saja, akan menamatkan riwayatnya pemilik dari pulau Tho Hoa To itu. Akal yang ia bertelurkan dari batok kepalanya ialah lebih dulu menjatuhkan salah satu Coan Cn Cit Cu, baru ia membokong Oey Yok Su. Ia sudah memikir matang, setelah Thian Kong Pak Tauw Tin pecah, dengan Oey Yok Su sudah mati, walaupun imam-imam dari Coan Cin Kauw itu murka, ia tidak usah takuti mereka.

Oey Yok Su kaget sekali. Ia tidak menyangka Auwyang Hong dapat berlaku demikian. Ia menghadapi kesulitan. Tidak bisa ia meninggalkan empat musuhnya di depannya itu, umpama kata ia memutar tubuhnya, untuk melayani Auwyang Hong, ia bisa celaka. Maka itu tidak ada jalan lain, ia mencoba menutup diri seraya mengerahkan tenaga di punggungnya, guna terpaksa menerima serangan Kap-mo-kang, ilmu silat Kodok, dari si Bisa dari Barat yang licin itu.

Auwyang Hong girang sekali melihat Tong Shia mau mempertahankan diri dari serangannya yang dahsyat itu. Itu pun artinya akal busuknya berhasil. Tapi justru ia lagi bergirang itu, mendadak ia melihat berkelebatnya satu bayangan hitam, yang mencelat dari samping, bayangan mana berlompat ke belakangnya Oey Yok Su, untuk mewakilkan Tong Shia menyambuti serangannya itu!

Segera setelah serangan Auwyang Hong itu ada yang tangkis, dua-dua Oey Yok Su dan keempat imam lawannya menghentikan pertempuran mereka sambil lompat minggir, untuk memisahkan diri. Kapan mereka telah melihat tegas, nyata orang yang berkorban untuk Tong Shia ialah Bwee Tiauw Hong!

Oey Yok Su menoleh kepada See Tok, ia tertawa dingin.

“Benar-benar si Bisa Bangkotan ternama tak mengecewakan,” katanya mengejek.

Auwyang Hong sendiri berulang-ulang menyatakan, “Sayang, sayang!” di dalam hatinya. Ia menyesal bukan main yang serangannya itu gagal, sebab lain orang yang menjadi korban. Dasar licik, ia mengerti bahaya. Ia tidak mau melayani Oey Yok Su. Ia mengerti baik sekali, kalai Oey Yok Su bergabung dengan semua imam itu, itu berarti ia menghadapi bencana jiwa. Maka juga ia tertawa nyaring dan panjang, sembari tertawa itu ia memutar tubuh untuk berlompat keluar, buat terus menangkat langkah seribu!

Ma Giok lantas menghampirkan Tam Cie Toan, ia membungkuk untuk mengangkatnya. Segera juga ia menjadi kaget. Tubuh adik seperguruannya itu lemas sekali dan kepalanya pun teklok. Auwyang Hong telah menghajar orang hingga tulang-tulang iga serta punggungnya patah. Kakak ini lantas mengucurkan air mata, sebab ia merasa pasti, adik seperguruannya itu tidak bakal dapat ditolong lagi.

Khu Cie Kee yang bertabiat keras berlompat keluar dengan membawa pedangnya, ia mau menyusul See Tok, untuk menyerang si bisa yang jahat itu, tetapi dari tempat yang jauh ia cuma mendengar suara orang: “Oey Lao Shia, telah aku membantu kau memecahkan barisan istimewa warisannya Ong Tiong Yang, aku pun sudah mewakilkan kau menghukum mati murid Tho Hoa To yang murtad, maka itu, sisanya enam imam campur aduk, kau sendiri pun dapat melayaninya. Sampai ketemu pula!”

Oey Yok Su mengeluarkan suara di hidung. Ia tahu, kata-kata terakhir dari See Tok ini ada untuk membakar hatinya dan kawanan Coan Cin Kauw itu, supaya mereka murka dan menumpleki kemurkaannya terhadapnya. Tapi ia pun besar kepala, tidak sudi ia memberi keterangan kepada Ma Giok semua. Ia hanya menghampirkan mayatnya Bwee Tiauw Hong, ia mengangkatnya dengan perlahan-lahan. Murid itu telah memuntahlan darah hidup, kelihatannya ia tidak bisa hidup lebih lama lagi.

Khu Cie Kee mengubar sampai beberapa puluh tembok, Auwyang Hong entah telah kabur kemana. Ketika itu, Ma Giok berulang-ulang memanggil ia pulang, maka ia kembali dengan tindakan lebar. Ia masih gusar sekali, kedua matanya terbuka besar dan bersinar merah. Segera ia menuding Oey Yok Su.

“Coan Cin Kauw kami denganmu ada bermusuhan apa?!” ia menegur dengan bengis. “Oh, iblis tersesat yang jahat sekali! Mulanya kau membinasakan Ciu Susiok kami, sekarang kau mencelakai Tam Sutee kami ini. Apakah artinya perbuatanmu, hai manusia sesat?”

Ditegur begitu, Oey Yok Su melengak.

“Kau maksudkan Ciu Pek Thong?” akhirnya ia menanya. “Kau bilang aku membinasakan dia?”

“Apakah kau masih mau menyangkal?” Cie Kee mendesak.

Oey Yok Su tahu di sini ada salah mengerti, tetapi ia membungkam, ia cuma tertawa dingin. Sebenarnya bersama-sama Ciu Pek Thong dan Auwyang Hong, ia lagi mengadu lari, sesudah beberapa ratus lie dilalui, mereka masih seri. Niat mereka semula adalah mengagu terus sampai ada keputusan siapa yang menang, tetapi mendadak, Ciu Pek Thong menghentikannya setengah jalan. Inilah disebabkan Loo Boan Tong tiba-tiba ingat Ang Cit Kong, ynag ditinggalkan seorang diri di dalam istana kaisar. Berbahaya kalau Pengemis dari Utara itu sampai kena dipergoki penghuni istana. Bukankah ia telah habis ilmu silatnya? Maka itu ia kata kepada kedua lawannya: “Loo Boan Tong ada mempunyai urusan, kita berhenti saja, kita jangan mengadu lari lebih jauh!” Kata-kata ini ialah kepastian, Oey Yok Su dan Auwyang Hong tidak dapat memaksakan, untuk itu, ia dibiarkan lari. Oey Yok Su berniat menanyakan Ciu Pek Thong tentang putrinya, karena kepergian si orang tua berandalan dan jenaka itu, ia menjadi batal menanyakan.

Ketika itu sia-sia belaka Tam Cie Toan menyusul mereka itu bertiga, ia tidak dapat melihat sekalipun bayangan orang, sebaliknya Oey Yok Su semua mengetahui dan melihat ia jelas sekali, maka itu seberlalunya Loo Boan Tong, Oey Yok Su dan Auwyang Hong lantas kembali ke Gu-kee-cun. Kebetulan sekali, sesampainya mereka di rumah penginapan, mereka dapat menyaksikan Coan Cin Cit Cu lagi menempur Bwee Tiauw Hong. Biar bagaimana, Tong Shia tidak bisa membiarkan muridnya bercelaka, maka itu, diakhirnya ia yang turun tangan sendiri. Di luar segela dugaan, kesudahannya ada demikian hebat.

Selagi Khu Cie Kee kalap itu, Sun Put Jie menangiskan Tam Cie Toan. Yang lain-lain pun gusar sekali, hingga mereka semua mau mengadu jiwa.

Tiba-tiba Tam Cie Toan membuka matanya dan berkata: “Aku mau pergi…”

Khu Cie Kee semua lantas menghampirkan, mereka mengerubungi saudara seperguruan itu.

Tam Cie Toan bersenandung lemah, lalu ia menarik napasnya yang penghabisan, matanya meram.

Keenam Cu bertunduk, untuk memujikan arwahnya saudara itu. Habis itu Ma Giok memondong tubuh suteenya, buat dibawa pergi. Khu Cie Kee semua mengikuti tanpa bersuara, tanpa berpaling lagi ke belakang, mereka keluar dari rumah penginapan itu dan pergi.

Oey Yok Su heran sekali, ia tidak tahu permusuhan apa di antara ia dan Coan Cin Kauw, tetapi ketika ia melihat Bwee Tiauw Hong bernapas empas-empis, ia menjadi berduka. Biar bagaimana Tiauw Hong adalah muridnya, mereka telah hidup bersama buat beberapa puluh tahun. Murid itu pun telah berkorban untuknya. Pada dasarnya, ialah seorang yang jujur, maka itu, dalam kedukaannya itu, ia menangis menggerung-gerung.

Bwee Tiauw Hong dapat mendengar tangis gurunya itu, ia mengerti, lantas ia tersenyum. Ia tidak mengatakan apa, hanya dengan mengerahkan tenaga terakhir, dengan tangan kanannya ia mematahkan lengannya yang kiri, setelah mana dengan tangan kanan itu ia menghajar batu itu hancur dan lengannya pun patah pula.

Menyaksikan perbuatan muridnya itu, Oey Yok Su tercengang.

“Suhu,” berkata sang murid, “Ketika di Kwei-in-chung suhu menitahkan muridmu melakukan tiga macam perbuatan, dua yang lain muridmu tak keburu melakukannya…..”

Oey Yok Su lantas ingat akan tiga macam titahnya itu, ialah pertama mencari pulang kitab Kiu Im Cin-keng yang telah hilang, kedua mencari Liok Leng Hong serta dua muridnya yang lainnya, dan yang ketiga, yaitu yang terkahir, muridnya ini dimestikan membayar pulang ilmu silat yang didapat dari Kiu Im Cin-keng itu. Sekarang dengan mematahkan kedua tangannya itu, Bwee Tiauw Hong menepati perintah gurunya, sebab dengan tangannya patah maka musnahlah juga kepandaiannya Kiu Im Pek-kut Jiauw seri Cwie-sim-ciang.

Lantas sang guru tertawa terbahak.

“Bagus, bagus!” katanya. “Dua yang lain itu sudah tidak ada artinya lagi! Sekarang mari aku terima pula kau menjadi murid dari Tho Hoa To!”

Tiauw Hong menginsyafi ia telah tersesat, maka itu mendengar gurunya memberi ampun dan suka menerima ia kembali, ia girang bukan main, dengan memaksakan diri ia merayap bangun, untuk memberi hormat kepada guru itu sambil paykui beberapa kali, ketika ia mengangguk untuk ketiga kalinya, tubuhnya rebah tak bangun pula.

OeyY ong dari kamar rahasia telah menyaksikan itu semua, ia disandingkan pelbagai perasaan. Hebat apa yang ia telah saksikan itu, semuanya mengagetkan dan mengharukan. Dilain pihak, ia mengharap-harap ayahnya itu nanti berdiam sedikit lama pula, supaya ia bersama Kwee Ceng dapat keluar untuk menemuinya. Kwee Ceng itu tinggal menanti berkumpulnya hawa di pusarnya.

Oey Yok Su sudah lantas mengangkat tubuhnya Bwee Tiauw Hong, untuk dipondong.

Hampir di itu waktu, di luar rumah terdengar suara meringkiknya kuda. Oey Yong mengenali, itulah kuda merah yang kecil kepunyaan Kwee Ceng. Menyusuli suaranya Sa Kouw, yang berkata: “Inilah dusun Gu-kee-cun! Mana aku tahu di sini ada orang she Kwee atau tidak………?”

Lalu terdengar suaranya seorang yang lain: “Di sini toh cuma ada beberapa buah rumah! Mustahil kau tidak kenal semuanya penduduk sini?”

Agaknya orang itu tidak sabaran, karena ia lantas saja menolak pintu dan bertindak masuk.

Oey Yok Su menempatkan diri di belakang pintu, ketika ia melihat orang yang masuk itu, air mukanya berubah. Orang adalah Kanglam Liok Koay yang telah ia cari dengan susah payah.

Kanglam Liok Koay sudah pergi ke Tho Hoa To, lantas mereka berputar-putar, tidak juga mereka berhasil mencari rumahnya pemilik pulau Bunga Tho itu, baru kemudian mereka bertemu sama satu bujang yang gagu dari siapa mereka ketahui majikannya pulau itu tengah bepergian. Kemudian lagi Kanglam Liok Koay melihat kuda merah dari Kwee Ceng terlepas merdeka di dalam rimba, mereka lalu membawanya sampai di dusun Gu-kee-cun ini, dimana mereka bertemu sama Sa Kouw, si nona tolol.

Kwa Tin Ok sangat jeli kupingnya, begitu masuk di pintu, ia mendapat dengar suara orang bernapas di belakang pintu itu, maka segera ia memutar tubuhnya, dituruti oleh lima saudaranya. Dengan lantas mereka melihat Oey Yok Su menhadang di ambang pintu seraya tangannya memodong Bwee Tiauw Hong. Oey Yok Su rupanya mau mencegah keenam orang luar biasa dari Kanglam itu melarikan diri…..

“Oey Tocu baik?” Cu Cong lantas menanya. “Sudah lama kita tidak bertemu! Kami berenam telah memenuhi janji untuk bertemu di Tho Hoa To, sayang tocu tidak ada di rumah, tetapi hari ini kebetulan bertemu di sini, kami merasa sangat beruntung!”

Habis berkata begitu, si Mahasiswa Tangan Lihay lantas menjura dalam.

Oey Yok Su berniat membunuh Liok Koay, sekarang ia menampak pula muka pucat pasi dari Tiauw Hong, ia berpikir: “Liok Koay ini musuh besar dari Tiauw Hong, siapa nyana sekarang Tiauw Hong mendahului mereka mati, meski begitu, sekarang aku mesti membuatnya ia membinasakan musuhnya dengan tangannya sendiri, supaya ia mati dengan meram…..”

Maka itu tangan kanan tetap memondong tubuh muridnya, dengan tangan kiri ia mengangkat tangan yang patah dari muridnya itu, tangan yang hanya tersambung dengan kulit daging, sembari berbuat begitu ia melompat ke sampingnya Han Po Kie, untuk dengan cepat sekali, dengan tangannya Tiauw Hong itu, menghajar bahu kanan si Malaikat Raja Kuda.

Han Po Kie kaget bukan main, sampai dia tidak sempat berkelit atau menangkis. Hebat ia kena dihajar, benar lengannya tidak sampai patah tetapi sesaat itu dia tidak dapat menggeraki tangannya itu.

Liok Koay kaget dan gusar karena sikapnya Oey Yok Su ini, yang menyerang tanpa bicara lagi, maka itu mereka pun lantas balik menyerang. Han Po Kie turut maju setelah ia merasa tangannya lebih ringan. Mereka berseru-seru sambil mereka menghunus senjatanya masing-masing. Mereka mengurung dengan rapi.

Oey Yok Su mengangkat tinggi tubuhnya Bwee Tiauw Hong, ia seperti tidak menghiraukan pelbagai alat senjata yang aneh dari enam jago dari Kanglam itu.

Han Siauw Eng adalah orang pertama yang diserang pemilik Tho Hoa To itu. Ia kaget ketika ia melihat mukanya Bwee Tiauw Hong, yang matanya mendelik, rambutnya riap-riapan, mulutnya penuh darah. Itulah roman mayat yang sangat menyeramkan. Tangan Tiauw Hong pun diangkat tinggi-tinggi, mengancam batok kepalanya. Tanpa merasa ia menjadi lemas kaki dan tangannya.

Lam Hie Jin dan Coan Kim Hoat menyaksikan saudara angkat mereka terancam, dengan berbareng mereka menyerang tangannya Tiauw Hong itu. Mereka menggunai pikulan serta bandulan besi dacin mereka.

Oey Yok Su sebat luar biasa, dengan cepat ia menarik pulang tangan kanan Tiauw Hong itu, untuk dengan tangan kirinya menghajar terus Siauw Eng.

Ahli pedang Gadis Wat itu tengah tidak berdaya, maka pinggangnya menjadi sasaran, ia kesakitan hingga tubuhnya melengkung jongkok.

Han Po Kie maju dari samping, untuk menyerang dengan cambuknya, Kim-liong-pian, atau cambuk Naga Emas. Oey Yok Su mengangkat kaki kirinya, ia bergerak sebat, tetapi toh kaki itu toh kena kelibat. Hanya Han Po Kie, meski ia mengeluarkan seluruh tenaganya, tidak sanggup ia menarik kuda-kudanya Tong Shia. Dilain pihak, tangan berkuku dari Bwee Tiauw Hong telah menyambar ke mukanya. Ia kaget sekali, ia melepaskan libatan cambuknya, ia berkelit sambil berlenggak terus menjatuhkan diri bergulingan. Meski begitu, ia merasakan mukanya panas dan sakit, ketika ia meraba ke mukanya itu, tangannya penuh darah. Sebab lima kukunya Tiauw Hong berhasil menyambar mukanya. Syukur untuknya, Tiauw Hong sudah menjadi mayat dan jambakannya itu bukannya jambakan Kiu Im Pek-kut Jiauw.

Setelah beberapa jurus, Liok Koay lantas jatuh di bawah angin. Coba tidak Oey Yok Su menghendaki membinasakan musuh dengan tangannya Tiauw Hong sendiri, mungkin mereka sudah bercelaka. Sekarang mereka hanya terancam bahaya.

Kwee Ceng di dalam kamar rahasia menjadi bergelisah. Ia mendengar nyata suara napas menggorong dari keenam gurunya itu, tanda dari keaadan berbahaya dari mereka. Ia menjadi cemas hati sebab ia sendiri tidak bisa lekas-lekas keluar, untuk mencegah bencana. Ia masih memerlukan waktu untuk memperkuat hawa di pusarnya itu. Tapi dapatkah ia main ayal-ayalan? Budi guru-gurunya itu sama dengan budi orang tuanya! Maka diakhirnya, ia menahan napas, ia meluncurkan sebelah tangannya untuk menghajar daun pintu, hingga pintu itu gempur.

Oey Yonng kaget bukan main.

“Engko Ceng, jangan!” ia mencegah. Ia tahu kawan itu mesti beristirahat.

Kwee Ceng pun merasakan akibat serangannya itu, ialah hawa naik ke atas, ke jantungnya, maka lekas-lekas ia memeramkan mata menarik pulang hawanya itu kembali ke pusar.

Tetapi sekarang pintu rahasia telah tergempur pecah dan terbuka.

Oey Yok Su dan Kanglam Liok Koay kaget sekali, apa pula mereka lantas melihat muda-mudi itu. Dengan sendirinya mereka pada lompat mundur menghentikan pertempuran mereka.

Oey Yok Su heran dan girang, hingga ia mengucak-ucak matanya.

“Anak Yong, benarkah kau?” ia menanya. ia hampir tak mempercayai matanya sendiri. Ia merasa bagaikan lagi bermimpi.

Oey Yong dengan sebelah tangannya memegang tangan Kwee Ceng, mengangguk sambil tersenyum. Ia tidak membuka mulutnya untuk menjawab ayahnya itu.

Mengawasi sikap anak gadisnya itu, Oey Yok Su lantas mengerti. Untuknya, diketemuinya anak itu ada seperti juga si anak sudah mati tetapi hidup pula. Itulah putri satu-satunya dan juga yang ia sayangi seperti jiwanya sendiri. Ia lantas meletaki tubuh Tiauw Hong di atas bangku, ia terus menghampirkan Kwee Ceng, di sisi siapa ia duduk bersila, tangannya diulur untuk mencekal tangan anak muda itu.

Kwee Ceng merasakan hawa di dalam tubuhnya panas bergolak, sangat sukar ia melawan itu. Beberapa kali ia hendak berkoakan atau berlompatan. Tapi, begitu lekas tangannya di tempelkan Oey Yok Su itu, lantas hawa panasnya berkurang, dapat ia berlaku tenang. Dengan lain tangannya, Oey Yok Su pun menguruti sekejur tubuhnya pemuda itu.

Boleh di bilang hanya sekejap kemudian, lantas Kwee Ceng dapat menenangi diri betul-betul. Itu artinya bukan saja ia telah terhindar dari bahaya, bahkan ia sudah sembuh betul, otot dan tulang-tulangnya menjadi bertambah kuat. Maka itu, ia lantas bangun, untuk paykui kepada pemilik dari Tho Hoa To itu, akan kemudian ia pun menghampirkan keenam gurunya, untuk memberi hormatnya kepada muridnya.

Selagi pemuda itu berbicara sama semua gurunya, menuturkan segala hal semenjak mereka berpisah, Oey Yok Su pun asyik pasang omong dengan putrinya, tangan siapa ia tuntun. Mereka gembira sekali, saban-saban mereka tertawa gila.

Mengetahui tentang nona Oey, Liok Koay heran dan ketarik hati. Mereka pun ketarik denagn suara halus dari nona itu. Maka itu, diam-diam mereka bertindak mendekati, akan mendengari lebih jauh suara si nona, yang terus berbicara dengan ayahnya. Sebab banyak yang anak ini tuturkan.

Tiba pada saatnya pertempuran Oey Yok Su dengan Liok Koay, nona itu berkata sambil tertawa: “Sudahlah, tak usah aku bercerita terus!”

Segera setelah itu Oey Yok Su berkata: “Aku hendak membinasakan empat orang, ialah Auwyang Hong, Leng Tie Siangjin, Kiu Cian Jin dan Yo Kang, maka anak yang baik, mari kau turut aku menyaksikan keramaian itu!”

Tapi ia melirik kepada Liok Koay, agaknya ia jengah, tetapi dasar angkuh, ia terus tidak sudi mengaku salah, cuma seperti untuk menghibur diri, ia kata: “Anggaplah sang peruntungan masih tidak terlalu buruk hingga aku tidak sampai mencelakai orang baik-baik!”

“Ayah,” kata Oey Yong tertawa, “Baiklah kau minta maaf kepada beberapa suhu ini…”

“Hm,” jawab ayah itu, yang lalu menyimpanginya. “Aku hendak mencari See Tok, eh, anak Ceng, kau turut atau tidak?”

Belum lagi Kwee Ceng menyahuti, Oey Yong sudah memegat. Kata anak ini, “Ayah, baiklah kau pergi dulu ke istana untuk memapak suhu!”

Kwee Ceng tidak sempat menjawab Oey Yok Su, ia terus bercerita terus sampai Oey Yok Su memberi perkenan untuk ia menikah dengan Oey Yong serta Ang Cit Kong mengambil ia sebagai murid. Mengenai ini, ia minta keputusan guru-gurunya itu.

Kwa Tin Ok menjadi sangat girang.

“Kau sungguh beruntung!” katanya. “Dengan kau mendapati Kiu Cie Sin Kay sebagai guru dan Tocu dari Tho Hoa To sebagai mertua, kami girang bukan kepalang! Masa dapat kami tidak memberikan perkenan kami? Cumalah halnya Kha Khan dari Mongolia?”

Tin Ok hendak menyebutkan urusan putrinya Jenghiz Khan, bahwa halnya murid ini adalah calon Kim-too Huma, tetapi ia tidak dapat lantas membuka mulutnya. Mendadak sekali, pintu, yang tadi tertutup pula, sekarang ada yang pentang dan Sa Kouw muncul di antara mereka, tangannya memegang monyet-monyetan dari kertas. Ia menghampirkan Oey Yong dan menanya sambil tertawa: “Adik, apakah semangkamu telah habis dimakan? Seorang tua telah menyuruhnya aku menyerahkan kunyuk-kunyukan ini kepadamu, katanya dibuat main…”

Oey Yong menyangka orang lagi kumat ketololannya, ia menyambuti kena kerta itu acuh tak acuh.

Sa Kouw berkata pula: “Orang tua itu, yang rambutnya ubanan, memesan juga supaya kamu jangan gusar, katanya pasti ia bakal menolongi kau mencari gurumu.”

Mendengar itu, Oey Yong menduga kepada Ciu Pek Thong, maka ia lantas meneliti kertas itu. Benarlah di situ ada tulisan alamatnya, maka ia lantas membukanya, hingga ia dapat membaca: “Si pengemis tua tak dapat ditemukan, karenanya Loo Boan Tong menjadi tidak gembira.”

Si nona menjadi heran dan kaget.

“Ah, kenapa suhu lenyap?” serunya.

Oey Yok Su berdiam, lalu ia kata: “Loo Boan Tong edan-edanan tetapi ia lihay sekali, maka asal Ang Cit Kong tidak mati, pasti ia dapat menolonginya. Hanya sekarang ini Kay Pang lagi menghadapi satu urusan besar…”

“Bagaimana, ayah?” Oey Yong menanya terkejut.

“Tongkatnya si pengemis tua yang telah diberikan padamu sudah dibawa pergi oleh Yo Kang si binatang cilik itu! Binatang itu tidak lihay ilmu silatnya tetapi lihay otaknya, kalau tidak bagaimana dapat orang sebangsa Auwyang Kongcu terbinasa di tangannya? Dia telah mendapati tongkat keramat kaum pengemis itu, pastilah dia bakal menerbitkan gelombang kekacauan, yang dapat membahayakan Kay Pang. Mari kita lekas mencari dia, untuk merampas pulang tongkat itu, kalau tidak, pasti celakalah murid-murid dan cucu-cucu muridnya si pengemis bangkotan itu!”

Mendengar itu Liok Koay menganggukkan kepala.

“Sayang suhu sudah pergi beberapa hari, mungkin di sukar dicandak,” kata Kwee Ceng.

“Di sini ada kuda merahmu, kau boleh coba menyusul,” kata Po Kie.

Kwee Ceng lantas ingat kuda merahnya itu, ia menjadi girang sekali, lantas ia lari keluar seraya bersiul.

Kuda itu mendengar suara majikannya, dia berjingkrak lari menghampirkan, dia mengelus-elus majikannya itu seraya meringkik perlahan tak hentinya.

Menampak demikian Oey Yok Su berkata: “Anak Yong, pergilah kau bersama Kwee Ceng untuk merampas pulang tongkat itu. Kuda kecil itu keras larinya, mungkin kamu dapat menyandak.”

Selagi berkata begitu, Oey Yok Su melihat Sa Kouw di samping mereka, nona itu tertawa dengan ketololannya. Ia melihat wajah dan gerak-gerik orang, ia ingat itulah mirip dengan sifat muridnya, Kiok Leng Hong.

“Apakah kau she Kiok?” ia tanya nona itu.

Sa Kouw menggeleng kepala secara lucu.

“Aku tidak tahu,” sahutnya.

“Ayah, mari kau lihat!” berkata Oey Yong, mengajak ayahnya, yang ia tuntun ke dalam kamar rahasia.

Begitu melihat pengaturan ruangan itu, Oey Yok Su ketarik hatinya. Itulah pengaturan seperti caranya sendiri. Maka ia mau menduga, mesti itu diatur oleh Kiok Leng Hong, muridnya itu.

“Ayah, coba lihat benda di dalam peti besi itu,” Oey Yong berkata pula.

Oey Yok Su tidak lantas membuka peti hanya tubuhnya mencelat tinggi sambil tangannya diulur ke pojok tembok barat daya, menyambar ke arah wuwungan, ke temboknya, ketika ia menarik, tembok itu lantas terbuka merupakan sebuah lubang. Dengan tangan kanannya memegang kertas, ia lantas menggelantungkan diri, lalu dengan tangan kirinya, ia meragoh ke dalam lubang itu. Dari situ ia menarik keluar segulungan kertas. Belum lagi ia lompat turun, tangan kanannya sudah menekan tembok, maka dengan itu, ia berlompat terus keluar kamar.

Oey Yong dengan sebat lompat mengikuti ayahnya itu. Ia melihat gulungan kertas yang penuh debu setelah dibeber, kertas itu memuat tulisan yang huruf-hurufnya tidak karuan macam, bunyinya:

“Surat ini dihanturkan kepada guruku yang berbudi di pulau Tho Hoa To. Dari istana kaisar muridmu telah berhasil mendapatkan sejumlah tulisan dan gambar lainnya, yang semua hendak dihanturkan kepada suhu, maka tidak beruntung sekali, selama di dalam istana aku telah dikepung sekawanan siwi. Aku telah meninggalkan seorang anak perempuan…….”

Sampai habis di situ, habis sudah surat itu, yang terlihat tinggal titik-titik yang terang adalah titik-titik darah.

Melihat surat itu, Oey Yong menjadi terharu hatinya. Ia mengingat nasib celaka murid-murid ayahnya itu, yang semuanya lihay tetapi mereka telah diusir ayahnya itu gara-gara Bwee Tiauw Hong berdua. Sekarang beginilah nasib Kiok Leng Hong, salah satu murid yang tetap setia itu.

Oey Yok Su mengerti, Leng Hong ini tentulah ingin kembali ke Tho Hoa To, maka setelah diusir dia berdaya mencari rupa-rupa barang yang menjadi kesukaan gurunya, ia membesarkan hati pergi mencuri ke istana, maka apa celaka, ia menemui saat naas, disaat berhasilnya, ia kepergrok dan dikepung pahlawan-pahlawan istana. Melihat nasibnya Liok Seng Hong, ia sudah menyesal, maka sekarang ia menjadi lebih menyesal lagi.

Sa Kouw tidak tahu apa-apa, ia berdiri di samping sambil terus tertawa haha-hhihi.

“Apakah ilmu silatmu diajari ayahmu?” Oey Yok Su menegur si nona, suaranya bengis.

Sa Kouw menggeleng kepala lantas dia lari keluar pintu besar, daun pintu itu ia tutup rapat, setelah ia mengintai ke dalam, terus ia bersilat. Dia mengintai pula, lalu kembali ia bersilat lagi.

“Ayah,” berkata Oey Yong, “Dia belajar silat dengan mencuri pelajaran Kiok Suko.”

Ayah itu mengangguk.

“Ya,” katanya, “Aku pun tidak percaya, setelah di usir, Leng Hong bernyali besar berani mewariskan ilmu kepandaiannya kepada lain orang… Eh, anak Yong, coba kau serang dia dibagian bawah, kau gaet dia roboh!”

Kata-kata yang belakangan ini dikeluarkan secara mendadak.

Oey Yong heran, tidak tahu ia maksud ayahnya, tetapi ia menghampirkan Sa Kouw, sembari tertawa haha-hihi, ia kata kepada nona tolol itu, “Sa Kouw, mari aku berlatih bersama-sama denganmu. Kau berhati-hatilah!” Ia lantas menggerak dengan tangan kiri, disusul sama tendangan kaki kiri dan kanan degan sebat sekali.

Sa Kouw melengak, sebelum ia sempat berdaya, kempelonnya yang kanan telah kena ditendang. Ia lantas lompat mundur. Tetapi di sini ia telah ditunggu, begitu ia digaet, lantas ia jatuh terguling. Ia lompat bangun dengan segera.

“Kau menggunai akal!” serunya. “Adik kecil, mari kita mulai lagi!”

“Hus!” membentak Oey Yok Su. “Apa adik kecil! Kau mestinya memanggil kouw-kouw!”

“Kouw-kouw!” Sa Kouw lantas memanggil, tanpa ia mengetahui apa bedanya “adik kecil” dengan “kouw-kouw” atau bibi.

Baru sekarang Oey Yong mengerti bahwa ayahnya hendak mencoba bagian bawah dari si tolol itu sebab Kiok Leng Hong hilang kedua kakinya, kalau Leng Hong bersilat seorang diri, kuda-kudanya tidak nampak, kalau ia mengajari dengan mulut, mestinya nona itu sempurna bagian atas, tengah dan bawahnya.

Dengan terus menyebut “kouw-kouw” itu sama dengan artinya Oey Yok Su menerima si nona sebagai muridnya.

“Kenapa kau tolol?” ia tanya pula.

“Aku ialah Sa Kouw,” sahut si nona tertawa. “Tolol” ialah “Sa”

“Mana ibumu?” tanya Oey Yok Su, alisnya mengkerut.

Nona itu meringis, “Ia sudah pulang…” sahutnya.

Masih Oey Yok Su menanya beberapa kali, jawaban si nona tidak karuan, maka ia menghela napas panjang. Ia tidak tahu orang tolol semenjak dilahirkan atau karena suatu penderitaan yang mengagetkan. Kecuali Leng Hong hidup pula, tidak nanti ada lai orang yang mengetahui sebab-musabab itu.

Dengan mendelong, tocu dari Tho Hoa To ini mengawasi mayatnya Tiauw Hong.

“Anak Yong,” katanya selang sesaat, “Mari kita lihat barang-barang Kiok Sukomu itu.”

Oey Yong menurut, maka ayah dan anak itu masuk pula ke dalam kamar rahasia.

Mengawasi tulang-belulang Kiok Leng Hong, Oey Yok Su berdiri mendelong, kemudian air matanya mengucur turun.

“Anak Yong,” katanya. “Diantara semua muridku, Leng Hong yang paling pandai, maka kalau bukan kakinya buntung, seratus siwi pun tidak nanti sanggup menawan dia!”

“Itulah wajar!” sahut putri itu. “Ayah, apakah kau mau menerima Sa Kouw sebagai muridmu?”

“Ya,” ayahnya itu menyahut. “Aku akan ajarkan dia ilmu silat, bersyair dan -menabuh khim, juga ilmu Kie-bun Ngo-heng. Apa yang dulu sukomu niat pelajarkan, tetapi belum kesampian, semua akan aku ajarkan kepada anaknya ini!”

Oey Yong mengulur lidahnya.

“Hebat penderitaan ayah,” pikirnya.

Oey Yok Su membuka peti besi, ia memeriksa isinya. Melihat semua itu, ia menjadi semakin berduka. Ketika ia membeber sebuah gambar, ia menhela napas.

“Gambar bunga dan burung Kaisar Hwie Cong ini indah dilukisannya,” katanya, “Maka sayang sekali, negara yang indah pun ia hanturkan kepada bangsa Kim….”

Selagi ia menggulung pula gambar itu, mendadak Oey Yok Su berseru, “Ih!”

“Ada apa ayah?” tanya Oey Yong.

“Kau lihat!” sahut ayah itu, tangannya menunjuk kepada sebuah gambar san-sui, lukisan pemandangan alam, gunung dan air.

Oey Yong mengawasi, ia melihat gambarnya sebuah gunung tinggi dengan puncak lancip menjulang ke langit, masuk ke dalam mega, di bawah mana ada jurang yang berair, di sini lembah pula ada sekumpulan pohon cemara, yang penuh salju, yang semuanya doyong ke Selatan, seperti bekas diserang angin Utara yang hebat, di puncaknya, di sebelah Barat, sebaliknya ada sebuah pohon cemara yang berdiri tegak, di bawah pohon itu, dengan tinta merah, ada dilukisan seorang jenderal perang lagi bersilat dengan pedang. Mukanya jenderal itu tak nampak jelas, tetapi dandannnya membuat siapa yang melihat, mesti menaruh hormat. Seluruh gambar memakai tinta hitam, kecuali manusianya ini, yang merah merong, hingga kelihatan mencolok mata. Gambar itu pun tidak ada tanda-tanda pelukisnya, cuma ada syairnya seperti berikut:

“Setelah bertahun-tahun maka baju perang penuh debu dan tanah,
Maka itu sengaja aku mencari bau harum di paseban Cui Bie,
Gunung yang indah, sungai yang permai, belum dipandang cukup.
Tindakan kuda mendesak hingga malam terang bulan pergi pulang.”

Oey Yong memperhatikannya, lalu ia ingat. Beberapa hari yang lalu, di paseban Cui Bie Teng di puncak Hui Lang Hong, ia pernah melihat syair itu yang ada tulisannya Jenderal Han See Tiong yang kesohor.

“Ayah,” katanya, “Inilah tulisan Tiong Bu Han Kie Ong, sedang syairnya ialah buah kalamnya Gak Bu Bok.”

“Benar,” berkata ayahnya itu, “Gak Bu Bok menulis syairnya ini melukiskan gunung Cui Bie San di Kota Tie-ciu, hanya gunung yang dilukisan begini berbahaya keadaannya bukan gunung Cui Bie San itu sendiri. Latar belakang lukisan ini bagus tetapi pelukisnya bukannya seorang pelukis jempolan.”

Oey Yong ingat itu hari di Hui Lay Hong, Kwee Ceng sangat ketarik sama syairnya yang ditulis Han See Tiong itu, yang ia ukir di batu dengan jeriji tangannya, dan si pemuda seperti tidak hendak meninggalkannya. Maka itu ia kata kepada ayahnya: “Adaa baikkah gambar ini diberikan kepada menantumu!”

Oey Yok Su tertawa dan berkata: “Memang anak perempuan berpihak ke luar, maka itu, apa aku hendak bilang lagi?” Ia pun memilih serenceng mutiara seraya berkata pula: “Mutiara yang dulu hari si Bisa bangkotan seragkan kepadamu, aku telah ambil dari Tho Hoa To dan membayar pulang kepadanya, maka itu sekarang kau ambillah ini.”

Oey Yong tahu ayah itu sangat membenci Auwyang Hong, ia mengangguk, ia menyambuti mutiara itu seraya terus mengalungi di lehernya. Ia sedang berbuat begitu tempo kupingnya mendengar suara burung rajawali putih berbunyi keras beberapa kali di udara, suaranya nyaring dan kesusu. Ia sebenarnya sangat menyukai burung rajawali itu tetapi mengingat burung telah diambil oleh putri Gochin Baki, ia menjadi tidak senang, meski begitu, ia toh lari keluar, masih ingin ia membuat main burung itu. Tiba di luar, ia melihat Kwee Ceng berada di bawah sebuah pohon liu yang besar, seekor rajawali memacuk bajunya di pundak dan menarik-narik, yang satunya lagi berputaran memutari seraya ia berbunyi tak hentinya. Sa Kouw kegirangan, ia berlari-lari memutarai Kwee Ceng, ia bertepuk-tepuk tangan sambil tertawa dan bersorak.

“Yong-jie, mereka mendapat susah!” kata Kwee Ceng melihat si nona muncul. “Mari kita pergi menolongi!”

“Siapa mereka?” Oey Yong menanya.

“Kedua saudara angkatku, yang pria dan wanita!”

Nona itu memonyongkan mulutnya.

“Aku tidak mau pergi!” katanya.

Kwee Ceng melengak, ia tidak mengerti tapi lekas ia berkata pula: “Ah, Yong-jie, jangan seperti bocah! Mari kita lekas pergi!” Habis berkata, ia menarik kudanya, ia lompat naik ke punggungnya.

“Habis, kau menghendaki aku atau tidak?” Oey Yong tanya.

Pemuda itu menjadi bingung.

“Kenapa aku tidak menghendaki kau?” ia balik menanya. Dengan tangan kiri ia menahan kudanya, tangan kanannya diansurkan untuk menyambuti si nona.

Oey Yong tertawa, lalu ia berpaling ke arah ayahnya, sambil berkata nyaring: “Ayah, kita hendak pergi menolongi orang! Kau bersama keenam suhu baik turut juga!” Ia terus menjejak tanah dengan kedua kakinya, dengan begitu tubuhnya mencelat tinggi, tangan kirinya diluncurkan, akan menyambuti tangan kanan Kwee Ceng, untuk ditarik, maka itu, tubuhnya lantas melayang naik ke atas kuda hingga ia duduk di sebelah depan!

Kwee Ceng memberi hormat dari atas kuda kepada gurunya, setelah mana, ia melarikan kudanya itu, yang lantas lari kabaur. Kedua burung rajawali pun terus terbang, sambil berbunyi mereka terbang cepat di sebelah depan, untuk menunjuki jalan.

Kuda mereka itu girang sekali bisa bertemu pula sama majikannya, dia lari keras dengan gembira, kalau burung bukannya burung rajawali, mungkin keduanya ketinggalan di belakang. Kedua burung itu terbang ke sebuah rimba lebat di sebalah depan, terus turun. Kuda itu sangat mengerti, tanpa titah majikannya, ia lari terus ke arah rimba itu.

Setibanya Kwee Ceng di luar rimba, dari dalam situ ia mendengar suara nyaring bagaikan cecer pecah, katanya: “Saudara Cian Jin, telah lama aku mendengar Tangan Besimu yang lihay, aku sangat mengangguminya, maka itu sekarang baiklah aku menggunai dulu kepandaianku yang tidak berarti ini mengambil nyawa yang satu ini, setelah itu aku minta kau menggunai tanganmu yang lihay itu terhadap yang lainnya. Setujukah kau, saudara?”

Menyusuli itu maka terdengarlah suara gemuruh diikuti jeritan yang h menyayatkan hati. Sebuah pohon kelihatan bergerak bagian atasnya, lalu jatuh roboh.

Kwee Ceng kaget, ia lompat turun dari kudanya, ia lari ke dalam rimba.

Oey Yong lompat turun, ia menepuk-nepuk kepala si kuda merah seraya berkata: “Pergi lekas menyambuti ayahku!” Kemudian ia menunjuk ke jalan dari mana mereka datang.

Kuda merah itu mengerti, dia berbalik dan lari pergi.

“Semoga ayah lekas datang…” kata nona Oey ini dalam hatinya, “Kalau tidak, kita bisa susah di tangannya si Bisa bangkotan!” Lalu ia lari ke dalam rimba tetapi dengan cara sembunyi.

Begitu ia melihat ke depan, Oey Yong menjadi kaget sekali, hingga ia tercengang.

Di sana Tuli, Gochin Baki, Jebe dan Borchu berempat sedang tertawan, masing-masing ditambat di atas sebuah pohon kayu. Di bawah pohon, Auwyang Hong berdiri bersama-sama Kiu Cian Jin. Di sebuah pohon lain, ialah pohon yang sudah roboh, ada tertambat seorang lain, yang seragamnya mewah, sebab ialah si punggawa perang Song yang mengantarkan keempat orang Mongolia itu pulang ke negerinya. Hanya perwira itu sudah mati, sebab pohonnya telah dihajar roboh oleh See Tok. Di situ tidak ada pasukan serdadu mereka, rupanya tentara itu telah diusir ini dua jago tua.

Kiu Cian Jin tidak berani mengadu tenaga tangan dengan Auwyang Hong, tapi pun ia tidak mau omong terus terang, sebab ia hendak memegang derajatnya, selagi ia hendak menggunai alasan, guna menutup diri, tiba-tiba ia melihat munculny Kwee Ceng. Ia lantas jadi terperanjat bahna girang. Ia segera mendapat pikiran.

“Kenapa aku tidak mau pinjam tangannya See Tok akan menyingkirkan bocah ini?” demikian pikirnya.

Auwyang Hong pun heran. Nyata Kwee Ceng tidak mati terkena pukulan ilmu Kodoknya.

Itu waktu putri Gochin Baki berseru: “Engko Ceng, lekas tolongi aku!”

Melihat suasana itu, Oey Yong sudah lantas mengasah otaknya.

“Sang tempo mesti diperlambat, sampai ayah datang!” demikian ia peroleh akal.

Kwee Ceng sendiri telah menjadi gusar, hingga ia jadi tak kenal takut.

“Bangsat tua, apa kamu bikin di sini?!” ia mendamprat. “Kembali kamu mencelakai orang, ya?!”

Auwyang Hong hendak menguji kepandaian Kiu Cian Jin, meski diperlakukan kurang ajar, ia bahkan bersenyum. Tidak demikian dengan si orang she Kiu itu.

“Ha, binatang cilik yang baik!” dia membentak. “Di sini ada Auwyang Sianseng, mengapa kau tidak berlutut memberi hormat? Apakah kau sudah bosan hidup?!”

Kwee Ceng sangat membenci orang ini, yang di rumah penginapan sudah ngaco belo, memfitnah dan mengadu gurunya dengan Oey Yok Su, dengan di sini kembali dia mencelakai orang, maka itu tanpa membilang suatu apa, ia menghampirkan, terus ia menyerang dadanya.

Pemuda ini menyerang dengan Hang Liong Sip-pat Ciang, yang sekarang talh maju jauh sekali. Ia menggunakan tenaga menyerang enam bagian dan tenaga menarik empat bagian, dari itu, habis menyerang, tinjunya cepat ditarik pulang. Kiu Cian Jin berkelit, tetapi ia kena ditarik anginnya tinju itu, tubuhnya mundur hanya diluar keinginannya, dia ditarik ke depan, terus jatuh terjerunuk!

“Hm!” Kwee Ceng mengejek seraya tangannya yang kiri dilayangkan, guna menyambut muka muka orang, hendak ia menhajar hingga gigi rontok dan lidah terkancing putus, supaya jago tua ini tidak dapat mengacau lagi menerbitkan gelombang yang tidak-tidak.

“Tahan!” berseru Oey Yong tiba-tiba seraya ia lompat keluar dari tempat persembunyiannya.

Kwee Ceng heran, hingga ia batal menggaplok, tetapi karena ia sebat, ia ubah gerakan tangannya itu, segera ia menyambar ke arah leher, untuk mencekuk, setelah mana, ia mengangkat tubuh orang.

“Yong-jie, bagaimana?” ia menanya seraya ia berpaling.

Oey Yong khawatir Kwee Ceng mencelakai orang tua itu, kalau itu sampai terjadi, pasti Auwyang Hong turun tangan. Inilah ia mau cegah, untuk ia menjalankan akalnya.

“Lekas lepaskan!” ia berkata. “Orang tua ini mempunyai semacam kepandaian yang lihay pada kulit mukanya, kalau pipinya dihajar, tenaganya berbalik bekerja, kau pasti terluka di dalam!”

“Ah, mustahil?” kata Kwee Ceng yang tidak percaya.

“Aku tidak tahu, asal ia mementang mulut dan meniup, seekor kerbau pun dapat terkelupas kulitnya!” kata pula si nona. “Masih kau tidak lekas mengundurkan dirimu!”

Pemuda ini masih tetap tidak percaya, akan tetapi ia menduga kekasihnya itu ada maksudnya, maka ia menurut, ia melepaskan cekukannya.

“Syukur nona ini mengetahui bahaya,” Kiu Cian Jin berkata. “Kita berdua tidak bermusuhan, maka selagi Thian murah hati, masa aku ambil sikap yang tua menindih yang muda dan sembarang melukakan kau?”

Oey Yong tertawa.

“Itu benar!” ia bilang. “Kepandaian kau yang lihay, loosiansseng, aku sangat mengagumi, karena itu, hari ini aku mau minta pengajaran dari kau, untuk beberapa jurus saja, tetapi aku harap janganlah kau melukakan aku…”

Habis berkata si nona lantas memasang kuda-kudanya, tangan kirinya dikibaskan ke atas, tangan kanannya ditarik ke dalam, terus di bawa ke mulutnya, untuk mengasih dengar siulannya beberapa kali. Ia tertawa pula dan berkata: “Sambutlah ini! Inilah jurusku yang dinamakan silat Meniup Terompet Keong!”

“Ah, nona kecil, sungguh besar nyalimu!” berkata Kiu Cian Jin. “Auwyang Sianseng kesohor namanya di seluruh negara, mana dapat ia membiarkan kau tertawa mengejek dia..?”

Oey Yong tidak meladeni kata-kata itu, tangan kanannya melayang ke kuping orang, hingga terdengarlah suara mengelepok yang nyaring. Ia lantas tertawa dan berkata: “Dan ini namanya Pukulan Berbalik ke arah Kulit Tebal!”

Berbareng dengan itu, dari luar rimba terdengar suara orang tertawa yang disusul dengan pujian, “Bagus! Sekalian saja kau menggaplok lagi satu kali!”

Mendengar suara itu, Oey Yong girang bukan kepalang. Ia mengenali suara ayahnya. Dengan begitu, hatinya menjadi mantap. Sembari menyahuti, tangannya melayangp pulang. Kembali tangann yang kanan.

Kiu Cian Jin buru-buru menunduki kepala untuk berkelit. Tapi gaplokan itu gaplokan gertakan belaka, sedang yang benar adalah susulan tangan kiri. Ia melihat itu, lekas-lekas ia berkelit pula. Atas ini, tangannya si nona melayang pergi pulang, hingga ia menjadi repot berkelit tak hentinya. Di akhirnya, kuping kanannya tergaplok pula!

Kiu Cian Jin kaget. Ia mengerti, kalau terus-terusan begitu hebat untuknya. Maka ia lantas membalas menyerang. Dengan dua kepalannya, ia memaksa si nona mundur, setelah mana, ia lompat ke samping.

“Tahan!” ia berseru.

“Apa?” Oey Yong tertawa. “Apakah sudah cukup?”

Kiu Cian Jin mengasih lihat roman sungguh-sungguh.

“Nona, kau telah dapat luka di dalam!” ia berkata. “Lekas kau pulang untuk bersemadhi di kamar rahasia lamanya tujuh kali tujuh menjadi empatpuluh sembilan hari! Jangan kena angin atau jiwamu yang muda tidak bakal ketolongan!”

Melihat roman orang sungguh-sungguh untuk sejenak Oey Yong tercengang, tetapi lekas juga ia tertawa pula. Ia tertawa terkekeh, kepalanya memain.

Ketika itu Oey Yok Su yang tadi cuma terdengar suarnya saja, telah tiba bersama-sama Kanglam Liok Koay. Mereka heran melihat Tuli beramai menjadi orang tawanan.

Auwyang Hong sendiri lagi keheran-heranan. Ia heran untuk Kiu Cian Jin. Ia tahu betul, orang she Kiu ini lihay sekali, dulu hari pernah dengan tangannya yang seperti besi itu ia menghajar mati dan luka pada jago-jago dari Heng San Pay, sampai partai itu roboh dan tak dapat bangun lagi, maka itu kenapa sekarang ia kena digaplok Kwee Ceng, kena dicekuk pula, dan melayani Oey Yong nampak tak berdaya? Ia menjadi mau menduga-duga, apakah benar orang mempunyai kepandaian di kulit muka? Itulah kepandaian yang ia belum pernah dengar, itu mirip khayal……

Selagi si Bisa dari Barat itu beragu-ragu, matanya menjurus kepada Oey Yok Su, hingga ia melihat di pundak pemilik pulau Tho Hoa To itu tergantung sebuah kantung sulam buatan Su-coan, yang sulamannya sutera putih adalah seekor unta. Ia mengenali baik sekali, itulah kantung keponakannya. Ia menjadi kaget. Habis membinasakan Tam Cie Toan dan Bwee Tiauw Hong, ia pergi, tapi sekarang ia kembali, niatnya untuk menampak keponakannya itu.

“Mungkinkah Oey Yok Su telah membunuh keponakanku itu untuk membalas sakit hati muridnya?” Ia berpikir. Maka ia lantas menanya dengan suaranya menggetar: “Bagaimana dengan keponakanku?”

Oey Yok Su menjawab dingin: “Bagaimana dengan Bwee Tiauw Hong muridku itu, demikian juga dengan keponakanmu!”

Auwyang Hong merasakan tubuhnya beku separuh. Auwyang Kongcu itu namanya saja keponakannya akan tetapi nyatanya ialah anaknya sendiri sebab dia didapatkan dari perhubungan gelap diantara dia dan istri kakaknya. Jadi paman dan ipar telah main gila dan terlahirlah “Keponakan” yang dimanjakan itu. Ia sangat kejam, jahat sebagai bisa, tetapi terhadap anaknya itu, ia sangat menyayangi, menyayangi melebihkan jiwanya sendiri. Ia tidak menyangka keponakannya itu bakal terbinasa, sebab dengan kedua kakinya rusak, ia percaya Oey Yok Su dan Coan Cin Cit Cu, yang ada orang-orang kenamaan, tidak nanti menurunkan tangan mengambil nyawa sang keponakan, siapa tahu, kesudahannya, keponakan itu toh menerima nasibnya.

Oey Yok Su berdiri dengan waspada terhadap See Tok. Ia mengerti kalau si Bisa dari Barat kalap, ia mesti bekerja banyak untuk membela diri.

“Siapa yang membunuh keponakanku itu?” akhirnya Auwyang Hong menanya, suaranya serak. “Muridmu atau muridnya Coan Cin Cit Cu?”

See Tok masih tidak percaya pemilik Tho Hoa To nanti membinasakan orang yang kakinya telah buntung dua-duanya. Itulah perbuatan memalukan.

Dengan tetap dingin, Oey Yok Su menjawab pula: “Dia pernah mempelajari ilmu silat Coan Cin Pay serta juga pernah mempelajari sedikit silat dari Tho Hoa To. Pergilah kau cari dia!”

Pemilik Tho Hoa To itu menyebutnya Yo Kang akan tetapi Auwyang Hong menduga Kwee Ceng. Bukan main panasnya hatinya, tetapi di dalam keadaan seperti itu, ia masih dapat menguasai dri.

“Nah, apa perlunya kau membawa-bawa kantungnya keponakanku itu?” ia tanya.

“Peta Tho Hoa To berada pada dia, aku mesti mengambilnya pulang,” menyahut Oey Yok Su. “Tidak dapat aku menanti sampai dia masuk ke dalam tanah….”

“Kata-kata yang bagu!” ujar Auwyang Hong. Ia terus menahan sabar. Ia tahu baik sekali, kalau ia menempur Tong Shia, mereka mesti berkelahi sampai satu – atau duaribu jurus tanpa ada ketentuan siapa menang siapa kalah, bahkan ada kemungkinan ia tak berada di atas angin. Ia ingat Kui Im Cin-keng telah didapatkan, dari itu, soal membalas sakit hatinya bolehkah ditaruh di belakang. Tapi di sini ada Kiu Cian Jin.

“Dia ada di sini, dia dapat membantu aku,” pikirnya. “Kalau dia dapat mengalahkan Kanglam Liok Koay beserta Kwee Ceng dan Oey Yong, lantas dia dapat membantui aku! Tidakkah dengan begini aku bisa mengambil jiwanya Oey Yok Su?”

Karena berpikir begini, harapannya lantas timbul. Lantas ia menoleh kepada si orang she Kiu.

“Saudara Cian Jin, pergi kau membinasakan delapan orang ini, aku sendiri melayani Oey Lao Shia!” katanya.

Kiu Cian Jin mengibaskan kipasnya yang besar, ia tertawa.

“Begitu pun bagus!” sahutnya. “Setelah membinasakan mereka berdelapan, nanti aku membantui kau!”

“Benar begitu!” menjawab Auwyang Hong, yang lantas menghadapi Oey Yok Su, terus ia berjongkok perlahan-lahan.

Oey Yok Su sudah lantas bersedia. Ia memasang kuda-kudanya yang disebut “put teng put pat”, ia mengambil apa yang dinamakan kedudukan “tong hong it bok”. Ia memasang mata jeli.

Oey Yong sementara itu berkata kepada Kiu Cian Jin.

“Baiklah kau bunuh aku dulu!” bilangnya tertawa.

Orang tua itu menggeleng-geleng kepala.

“Ah, sebenarnya aku tidak tega…” katanya. “Aduh, aduh, celaka!” ia terus menjerit. “Sungguh tidak kebetulan…!” ia lantas memegangi perutnya, tubuhnya membungkuk.

“Kau kenapa?” Oey Yong tanya.

Kiu Cian Jin meringis.

“Kau tunggu sebentar, aku hendak membuang air…”

“Cis!” si nona meludah.

“Aduh!” Kiu Cian Jin berkoak pula, lalu ia memegangi pinggiran celananya, terus ia lari ke pinggiran. Melihat romannya, dia benar-benar perutnya sakit dan kebelet ingin membuang air besar.

Oey Yong mengawasi tanpa berani mengejar. Ia sangsi orang benar-benar sakit perut atau lagi menggunai akal bulus.

Tiba di pinggiran, Kiu Cian Jin berjongkok.

“Nah, ini kertas untukmu!” berkata Cu Cong, yang lari kepada orang she Kiu itu, pundak siapa ia tepuk, sedang tangannya menyerahkan kertas yang ia keluarkan dari kantungnya.

Terima kasih!” mengucap Cian Jin. Ia lantas pergi ke gompolan rumput di mana ia berjongkok.

“Pergi jauhan sedikit!” kata Oey Yong yang memungut sepotong batu kecil, dengan apa ia menimpuk orang tua itu.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: