Kumpulan Cerita Silat

02/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 52

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:20 am

Bab 52. Barisan Bintang
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

Liam Cu mengawasi pemuda itu dengan tingkahnya yang tidak wajar, ia mengerti yang orang tidak dapat melupakan kedudukan mulia atau penghidupan yang mewah, ia menjadi berduka.

Ketika itu punggawa perang yang mengepalai pasukan pengiring pihak Song itu masuk ke dalam rumah penginapan, dengan hormat sekali ia menghadap Tuli, dengan siapa ia berbicara. Tuli pun mengatakan sesuatu. Habis itu ia memutar tubuhnya, untuk dengan membentak memberikan titahnya, “Pergi kamu menanyakan setiap rumah di kampung ini, apa di rumah mereka ada Kwee Ceng Kwee Koanjin! Jikalau tidak ada, kamu pergi mencari ke lain tempat!”

Titah itu diterima oleh pasukannya, setelah menyahuti, tentaranya itu bubar.

Tidak lama setelah itu terdengarlah suara ayam ribut beterbangan atau anjing berlarian serta juga jeritan-jeritan dari laki-laki serta tangisan dari orang-orang perempuan. Teranglah sudah kawanan serdadu itu telah menggunai ketikanya yang baik untuk melakukan perampasan.

Mendengar suara berisik itu, Yo Kang mendapat pikiran.

“Kenapa aku tidak mau menggunai ketika ini untuk bersahabat dengan pangeran-pangeran Mongolia ini?” demikian pikirnya. “Dalam tempo beberapa hari pastilah dapat aku membinasakan mereka itu. Kalau Kha Khan dari Mongolia mengetahui itu, pasti ia menyangka itulah perbuatannya pihak Song, dengan begitu dengan sendirinya perserikatan mereka bakal bubar. Dan itulah apsti menguntungkan pihak Kim..”

Dengan cepat Yo Kang mengambil keputusan.

“Adikku, kau tunggu sebentar,” ia berkata kepada Liam Cu. Terus ia pergi menghampirkan si punggawa Song, ketika ia membentak, tangannya digeraki, dengan tangan kirinya ia membikin punggawa itu terguling jatuh celentang, hingga untuk sesaat dia tidak dapat merayap bangun.

Tuli dan Gochin Baki menyaksikan itu, mereka heran.

Yo Kang melihat keheranan orang itu, ia lantas bertindak ke ruang tengah. Di sini ia keluarkan tombak buntungnya, ia angkat itu tinggi melewati kepalanya untuk terus diletaki di atas meja. Lalu, setelah menekuk kedua lututnya, mendadak ia menangis menggerung-gerung. Ia segera mengeluh, “Oh, saudara Kwee Ceng, kau mati secara menyedihkan sekali…Pasti aku membalas dendam untukmu! Oh, saudara Kwee Ceng..”

Tuli dan saudaranya beramai tidak mengerti bahasa Tionghoa, tetapi mereka mendengar nama Kwee Ceng disebut-sebut, mereka menjadi heran, maka itu selagi punggawa merayap bangun, mereka menitahkan punggawa ini memberikan keterangan.

Dengan suara terputus-putus Yo Kang kata, “Aku ialah saudara angkatnya Kwee Ceng. Saudara Kwee Ceng telah orang bunuh mati dengan ditikam dengan ujung tombak, aku hendak pergi mencari musuhnya guna membalaskan sakit hatinya itu.”

Kapan Tuli dan saudaranya dikasih mengerti, mereka berdiri menjublak. Jebe dan Borchu sebaliknya, mereka menangis sambil menumbuki dada. Mereka ini ingat benar persahabatannya dengan Kwee Ceng itu.

Yo Kang mengarang cerita terlebih jauh dengan menuturkan halnya ia menghajar mundur bangsa Kim di Poo-eng. Cerita ini dpercayai Tuli beramai, bahkan mereka menanyakan penjelasan dan kebinasaannya Kwee Ceng itu. Yo Kang pandai sekali mengatur ceritanya, seperti juga itulah peristiwa benar.

Kwee Ceng di dalam kamar rahasia mendengar ocehan itu, ia pun terbengong. Sebaliknya Gochin Baki, si putri Mongolia, mendadak ia menghunus golok di pinggangnya, untuk membunuh diri. Hanya ketika golok itu hampir mengenai lehernya, tiba-tiba ia memikir sesuatu, goloknya itu terus ia bacoki kepada meja sambil ia bersumpah, “Jikalau aku tidak membalaskan sakit hatinya anda Kwee Ceng, aku sumpah tidak sudi menjadi manusia!”

Yo Kang senang sekali. Nyata akalnya sudah termakan. Ia terus tunduk, ia menangis pula. Karena ia tunduk, tiba-tiba matanya melihat tongkatnya Oey Yong, yang dirampas Auwyang Kongcu. Itulah tongkat yang bersinar hijau bagus. Ia ketarik hatinya, maka ia jumput tongkat itu.

Oey Yong melihat tongkatnya diambil pemuda itu, ia mengeluh. Tentu sekali ia tidak bisa keluar untuk merampasnya.

Tidak lama tentara datang dengan barang hidangan, Gochin Baki semua tak ada nafsunya untuk menangsal perut mereka. Bahkan mereka lantas minta Yo Kang mengantarkan mereka untuk mencari pembunuhnya Kwee Ceng.

“Marilah!” jawab Yo Kang. Ia membawa tongkat Oey Yong serta terus bertindak ke pintu, diikuti rombongan orang Mongolia itu.

“Siapakah yang Yo kang bakal cari?” Kwee Ceng berbisik pada Oey Yong.

Si nona menggeleng kepala.

“Aku tidak tahu,” sahutnya. “Bukankah dia sendiri yang membacok padamu? Dia sangat licik, di dalam halnya kelicikan, aku kalah.”

Justru itu di luar rumah terdengar suara orang bersenandung dengan nada tinggi, katanya, “Malang-melintang dengan mereka, tanpa ikatan, jikalau hati tidak kemaruk akan kemulian, diri sendiri taklah terhina.! Eh, nona Bok, kenapa kau ada di sini?”

Itulah suaranya Tiang Cun Cu Khu Cie Kee. Dia menanya Bok Liam Cu selagi si nona baru muncul di ambang pintu. Belum lagi si nona menyahuti, Yo Kang pun bertindak keluar. Kaget ia melihat gurunya itu, hatinya berdenyutan. Tentu sekali ia tidak dapat ketika untuk menyingkirkan diri, maka dengan terpaksa dia menghampirkan guru itu, di depan siapa dia memberi hormat sambil berlutut dan mengangguk.

Khu Cie Kee tidak sendirian, di sampingnya ada Tan Yang Cu Ma Giok, Giok Yang Cu Ong Cie It, Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie serta In Cie Peng, muridnya. Kedatangan Khu Cie Kee kali ini pun untuk urusan muridnya ini.

Ketika itu hari In Cie Peng kena dihajar Oey Yok Su hingga giginya copot, ia mengadu kepada gurunya. Kebetulan Khu Cie Kee berada di Lim-an. Dia kaget dan gusar, maka mau lantas ia mencari Oey Yok Su. Ma Giok sabar, ia mencegah.

“Oey Lao Shia itu dulu harinya sama kesohornya dengan almarhum guru kita,” kata Cie Kee. “Di antara kita bertujuh, cuma Ong Sutee yang pernah bertemu dengannya selama rapat di gunung Hoa San. Siauwtee mengagumi dia, memang siauwtee ingin bertemu dengannya, maka inilah ketikanya yang baik. Siauwtee tidak memikir untuk menempur dia, kenapa suheng mencegah?”

Ma Giok tertawa dan berkata, “Aku dengar Oey Lao Shia itu aneh tabiatnya, sedang kau, berangasan, maka jikalau kamu bertemu muka, kebanyakan bisa terbit onar. Bahwa ia telah memberi ampun pada Cie Peng, itu tandanya ia menaruh muka.”

Cie Kee tidak dapat dibujuk, dia mau juga pergi, maka itu Ma Giok lantas mengundang saudara-saudaranya untuk pergi ke Gu-kee-cun. Mereka sudah berkumpul tetapi Ma Giok mengusulkan untuk mereka berlima yang pergi terlebih dulu. Tam Cie Toan, Lauw Cie Hian dan Cek Tay Thong menantikan di luar kampung itu, bersiap membantu kalau ada perlunya. Diluar sangkaan mereka, bukan mereka bertemu Oey Yok Su, mereka melihat Bok Liam Cu. Khu Cie Kee mengenali nona itu, maka itu selagi bersandung, ia menegur lebih dulu.

Melihat muridnya itu, Khu Cie Kee mengasih dengar suara di hidung, “Hm!” Dia tidak memperdulikan.

“Suhu,” Cie Peng berkata, “Tocu dari Tho Hoa To menghina teecu justru di dalam ini rumah penginapan.”

Cie Peng sebenarnya menyebut Oey Yok Su dengan nama Oey Lao Shia, yang berarti si Oey tua yang tersesat atau si Sesat bangkotan, tetapi ia ditegur oleh Ma Giok, maka ia mengubah sebutannya.

Khu Cie Kee segera menghadapi rumah penginapan itu, dengan nyaring ia berkata, “Murid-murid Coan Cin Kay ialah Ma Giok beramai, datang menghadap kepada Oey Tocu dari Tho Hoa To!”

“Di dalam tidak ada orang,” Yo Kang memberitahukan.

“Sayang, sayang,” kata Cie Kee yang membanting-banting kaki. Tapi ia lantas tanya muridnya, “Kau di sini, apa kau bikin?”

Hati Yo Kang sudah goncang karena melihat guru dan sekalian paman gurunya itu, maka atas pertanyaan itu, ia tidak lantas dapat memberikan jawabannya.

Sementara itu Gochin Baki mengawasi Ma Giok, lalu ia lari menghampirkan, terus ia berseru, “Oh, kaulah itu imam yang membantu aku menangkapi rajawali putih. Lihatlah, sekarang itu sepasang rajawali telah menjadi besar sekali!”

Putri Mongolia ini menunjuk pada burungnya sambil bersiul, atas mana kedua ekor burungnya itu lantas turun, menclok di kedua belah pundaknya.

Ma Giok tersenyum, ia mengangguk.

“Apakah dia pun datang ke Selatan ini untuk pesiar?” ia menanya.

Putri ini tahu siapa yang dimaksudkan dengan “dia” itu, lantas saja ia menangis.

“Anda Kwee Ceng telah dibikin celaka orang hingga mati!” katanya sengit. “Totiang, tolong kau balaskan sakit hatinya!”

Ma Giok terkejut hingga ia mencelat. Dengan bahasa Tionghoa ia lalu memberi keterangan kepada saudara-saudaranya perkataan putri itu.

Khu Cie Kee dan Ong Cie It pun heran, dengan berbareng mereka lantas menanyakan apa sebenarnya telah terjadi.

Putrinya Jenghiz Khan segera menunjuk kepada Yo Kang.

“Dialah yang membawa berita, katanya ia melihatnya sendiri,” bilangnya. “Coba kau tanyakan dia sendiri!”

Melihat si nona kenal paman gurunya yang tertua, Yo Kang berkhawatir, maka itu ia lantas kata kepada Tuli dan si nona itu, “Kamu tunggu dulu di sebelah depan sana, aku hendak bicara sama beberapa imam ini. Sebentar aku susul kamu.”

Perkataan ini disalin oleh si punggawa. Mendengar itu Tuli mengangguk, lantas ia ajak adik dan kawannya pergi ke depan, ke utara kampung itu.

“Siapa yang membunuh Kwee Ceng?!” Cie Kee menanya, bengis. “Lekas bicara!”

Dalam takutnya Yo Kang berpikir, “Kwee Ceng itu aku sendiri yang membunuhnya sendiri, sekarang aku mesti menimpakan kesalahan kepada siapa.? Baiklah aku menyebut seorang lihay, supaya suhu mencari dia, supaya dia mengantarkan jiwanya sendiri, dengan begitu untuk selamanya aku bebas dari mara bahaya.” Maka dengan lagu suara sangat membenci, ia menjawab, “Dialah tocu dari Tho Hoa To!”

Menyusuli jawabannya Yo Kang ini, dari kejauhan terdengar tertawa lebar yang samar-samar, disusul sama suara nyaring seperti bentroknya cecer rombeng, lalu disusul lagi sama suara yang perlahan sekali, tetapi meskipun perlahan, terdengarnya toh tegas. Suara itu seperti berputaran di luar kampung lantas pergi jauh…

Akan tetapi Khu Cie Kee kaget berbareng girang.

“Itulah tertawanya Ciu Susiok,” katanya.

“Ketiga Suheng pergi menyusul!” kata Sun Put Jie.

“Rupanya suara cecer pecah dan suara memanggil tadi seperti lagi menyusul susiok,” kata Ong Cie It.

Ma Giok nampaknya berduka.

“Kelihatannya dua orang itu berkepandaian tidak ada di bawahan Ciu Susiok,” katanya.

“Entah mereka itu orang pandai darimana? Ciu Susiok bersendirian melawan dua musuh, aku khawatir.” Ia lantas menggoyang-goyangi kepalanya.

Khu Cie Kee dan tiga saudaranya mendengari pula, sekarang suara itu lenyap, rupanya orang telah pergi jauh beberapa lie hingga sulit disusul lagi.

“Ada Tam Suko bertiga, kita tidak usah mengkhawatirkan susiok,” kata Sun Put Jie kemudian.

“Aku khawatir mereka tidak dapat menyandak,” bilang Cie Kee. “Coba Ciu Susiok mendapat tahu kita berada di sini dan dia datang ke mari.”

Oey Yong dapat mendengar semua pembicaraan mereka itu, ia tertawa sendirinya.

“Ayahku bersama si bisa bangkotan dan tua bangka berandalan tengah mengadu kepandaian lari!” katanya di dalam hatinya. “Mereka itu bukannya lagi berkelahui. Umpama kata mereka benar lagi berkelahi, kamu beberapa imam hendak membantu, mana kamu dapat melawan ayahku serta si bisa bangkotan itu?”

Ma Giok yang sabar lalu mengibas tangannya, maka semua orang lantas masuk ke dalam rumah penginapan untuk pada berduduk.

“Eh, mari aku tanya kau!” kata Cie Kee pada muridnya. “Aku mau tahu, sekarang ini kau dipanggil Wanyen Kang atau Yo Kang?”

Yo Kang takut sekali. Mata gurunya itu sangat tajam memandang padanya. Kalau ia salah menjawab, jiwanya terancam bahaya. Maka lekas-lekas ia menjawab, “Jikalau bukannya suhu serta Ma Supee dan Ong Susiok yang memberi petunjuk, sampai sekarang tentu juga teecu masih dalam kegelapan, masih teecu tetap mengaku musuh sebagai ayahku. Sekarang ini tentu sekali teecu she Yo. Baru saja tadi malam berdua bersama adik Bok ini teecu mengubur jenazah ayah bundaku.”

Senang Khu Cie Kee mendengar jawaban itu, ia mengangguk-angguk, air mukanya pun berubah tak bermuram lagi seperti tadi. Sebagai imam jujur, ia mempercayai orang.

Juga Ong Cie It tidak lagi mendongkol melihat sekarang Yo Kang ada bersama Liam Cu, yang tadinya dia gusar karena keponakan murid itu menyangkal perjodohannya dengan nona Bok.

Kebetulan Khu Cie Kee melihat ke lantai tatkala sinar matanya bentrok sama tombak buntung. Ia kenali itu sebagai senjatanya Kwee Siauw Thian. Ia lantas memungutnya, untuk diusap-usap. Nyata ia berduka.

“Pada sembilanbelas tahun yang lampau,” katanya perlahan, “Di sini aku telah berkenalan dengan ayahmu serta pamanmu she Kwee, sekarang sesudah belasan tahun lewat, aku melihat ini peninggalan tombaknya, sedang sahabatku itu telah pulang ke alam baka…”

Kwee Ceng mendengar perkataan itu, ia berduka bukan main. Katanya dalam hatinya, “Khu Totiang menyebutnya ialah sahabatnya ayahku, tetapi aku sendiri tidak pernah melihat wajah ayahku itu..”

Kemudian Khu Cie Kee tanya muridnya bagaimana caranya Oey Yok Su membunuh Kwee Ceng.

Sudah terlanjur, Yo Kang lantas mengarang cerita.

Ketiga imam itu menghela napas, mereka berduka sekali. Mereka pun mengenal baik itu pemuda she Kwee.

Selama itu hatinya Yo Kang tidak tenang. Ia pun telah berjanji kepada Tuli dan Gochin Baki.

“Apakah kamu berdua sudah menikah?” kemudian Ong Cie It tanya keponakan murid itu, yang ia awasi.

“Belum,” sahut Yo Kang. Kali ini ia tidak berani berdusta.

“Lebih baik kalian lekas menikah!” Ong Cie It bilang. “Khu Suko, baiklah hari ini kau merecoki jodoh mereka, supaya mereka lantas menikah.”

Oey Yong dan Kwee Ceng saling mengawasi, dalam hatinya, mereka kata, “Benarkah malam ini kembali kita akan menonton sepasang pengantin?”

Yo Kang sementara itu telah berkata dengan cepat, “Terserah kepada suhu!”

Tapi Bok Liam Cu berkata, “Mesti dipenuhkan dulu satu permintaanku, yang menjadi syaratku, kalau tidak biarnya mati, aku tidak sudi menikah!”

Nona ini telah lama mengikuti ayahnya merantau maka itu ia beda daripada Yauw Kee.

Khu Cie Kee tersenyum.

“Baiklah!” bilangnya. “Apakah itu, nona, kau bilanglah!”

“Ayah angkatku telah dibikin mati oleh Wanyen Lieh, musuh negaraku,” menyahut nona Bok, “Maka itu dia mesti membalaskan dulu sakit hati ayahku itu!”

“Bagus!” berseru Cie Kee bertepuk tangan. “Nona, pikiranmu cocok sama pikirannya si imam tua! Nah, anak Kang, bagaimana dengan kau? Kau setujukah?”

Syarat itu hebat sekali, tentu saja Yo Kang menjadi ragu-ragu. Selagi ia berpikir, bagaimana ia harus menjawab, di luar penginapan terdengar suara orang bernyanyi, suaranya serak, dan nyanyiannya ialah lagu “Lian Hoa Lok”, nyanyiannya bangsa pengemis. Nyanyian itu lantas disusul sama satu suara halus dan tajam, katanya, “Tuan-tuan besar sukalah berlaku murah hati, mengamal untuk satu bun saja.!”

Mendengar suara itu, Bok Liam Cu lantas berpaling, ia mengenali suara itu.

Di ambang pintu terlihat dua orang pengemis, yang satu bertubuh jangkung dan gemuk, yang lainnya kate dan kurus, dan si jangkung gemuk itu umpama kata sebesar empak kali tubuhnya si kate kurus itu. Maka itu sangat luar biasa perbedaaan di antara mereka berdua. Sang tempo telah berselang banyak tahun tetapi nona Bok masih ingat peristiwa ketika usianya tigab elas tahun dulu, ketika lukanya dibalut oleh pengemis itu, sedang Ang Cit Kong, yang menyukai si nona, telah mengajari dia ilmu silat selama tiga hri. Liam Cu hendak menghampirkan kedua pengemis itu tetapi ia bersangsi tempo ia melihat kedua pengemis itu lantas mengawasi tongkat di tangannya Yo Kang, lalu setelah mereka saling melirik, terus mereka menghampirkan pemuda itu. Dengan menyilangkan kedua tangan mereka, mereka memberi hormat.

Ma Giok semua mengawasi kedua pengemis itu, dengan hanya melihat tindakan orang dan gerakan tubuhnya, mereka mendapat tahu dua orang ini mesti lihay ilmu silatnya. Mereka juga melihat di punggung orang ada tergendol delapan buah kantung goni, yang mana adalah tanda tingkatan tinggi dari kaum Kay Pang. Hanya mereka tidak mengerti kenapa keduanya demikian menghormat terhadap Yo kang.

Si pengemis kurus lantas berkata, “Saudara yang baik, beruntung sekali yang di dalam kota Lim-an ini kau telah menemukan tongkat pangcu kami. Sebenarnya kami telah mencarinya berputaran! Saudara, entahlah dimana tahu kemanakah perginya pangcu kami meminta amal?”

Yo Kang heran diperlakukan demikian. Ia memegangi tongkat tetapi ia tidak tahu hal ikhwalnya tongkat itu. Tentu sekali tidak tahu ia bagaimana harus menjawabnya.

Adalah aturan kaum Kay Pang, melihat tongkat adalah sama seperti mereka menghadap pangcu mereka sendiri, dari itu terhadap Yo Kang mereka berlaku sangat menghormat, tetapi sekarang Yo Kang seperti tidak memperdulikan mereka, agaknya mereka bergelisah, lekas-lekas mereka menunjuki sikap lebih hormat pula.

Si pengemis gumuk turut berkata, katanya, “Pertemuan di Gak-ciu sudah mendesak harinya, untuk itu Kan Tianglo dari timur sudha bergerak ke barat.”

Yo Kang menjadi semakin tidak mengerti. Tadi ia mengasih dengar, “Hm!” sekarang ia mengasih dengar pula suaranya itu.

Pengemis kurus pun berkata pula, “Oleh karena teecu mencari tongkatnya pangcu, tempo kami telah tersia-siakan beberapa hari, maka sekarang setelah kita bertemu, seharusnya kita lantas berangkat! Maka itu baiklah sekarang teecu beramai menemani padamu!”

Biar bagaimana Yo Kang dapat menggunakan otaknya. Memang ia ingin lekas-lekas menyingkir dari depan guru dan paman-paman gurunya itu. Maka ia lantas berlutut kepada mereka, katanya, “Teecu ada mempunyai urusan penting, tidak dapat teecu menemani kepada suhu beramai, dari itu, harap teecu dimaafkan!”

Khu Cie Kee beramai percaya muridnya ini ada mempunyai urusan penting dengan Kay Pang, mereka pun tahu, Ang Cit Kong kenal baik dengan Ong Tiong Yang, almarhum guru mereka, karena itu mereka tidak berani menahan Yo Kang. Malah sebaliknya, mereka berlaku hormat kepada kedua pengemis itu, yang sikapnya demikian halus.

Bok Liam Cu pun suka turut. Bukankah ia ada kenal dengan dua pengemis itu? Maka ia juga memberi hormat pada Khu Cie Kee berempat, untuk pamitan.

Begitulah, berempat mereka berangkat.

Khu Cie Kee berempat bermalam di rumah penginapan itu untuk menantikan Tam Cie Toan bertiga. Baru besoknya tengah malam, mereka mendengar suara siulan panjang di luar kampung itu. Sun Put Jie lantas berkata, “Cek Suheng pulang!”

Ketika itu Khu Cie Kee berempat lagi bersemadhi tatkala mereka mendengar isyarat dari Kong Leng Cu Cek Tay Thong, atas mana Ma Giok lantas memberikan jawabannya perlahan tetapi terang. Cuma sebentar saja, lantas satu bayangan berkelebat dan Cek Tay Thong bertindak masuk.

Oey Yong belum pernah melihat imam itu, ia lantas mengintai.

Malam itu malam tanggal lima bulan tujuh, rembulan masih kecil, akan tetapi si situ si nona dapat melihat dengan tegas. Maka ia tampak seorang yang bertubuh gemuk dan tinggi besar, romannya seperti seorang pembesar negeri, tangan baju dari jubahnya ada separuh, cuma sampai sebatas sikut. adi pakaian dia ini berbeda sekali dengan jubahnya Ma Giok beramai.

Cek Tay Thong ini, semasa belum menjadi imam, adalah seorang hartawan di Lenghay, Shoatang, dia pun terpelajar tinggi, baru kemudian dia mengangkat Ong Tiong Yang menjadi guru. Ketika ia menerima muridnya ini, Ong Tiong Yang meloloskan jubah yang ia pakai, kedua ujung bajunya ia kutungi, jubahnya itu dikasihkan muridnya pakai. Ia pun kata, “Tidak ada bahaya, tidak ada tangan baju, maka kamulah yang harus merampungkan sendiri.”

Huruf “tangan baju” ada sama suaranya dengan huruf “menerimakan”. Dengan itu mau diartikan, meskipun guru ini tidak memberikan banyak pengajaran kepada satu muridnya, dengan peryakinan sendiri, si murid akan memperolah kemajuan. Cek Toy Thong mengingat baik-baik perkataan gurunya itu, maka selanjutnya ia tetap mengenakan jubah tangan buntung itu.

“Bagaimana dengan Cui Susiok?” tanya Khu Cie Kee yang tidak sabaran. “Sebenarnya ia lagi bergurau atau benar-benar bertempur?”

Cek Toy Thong menggeleng kepala.

“Kepandaianku masih rendah sekali, setelah menyusul tujuh atau delapan lie, aku lantas kehilangan Cui Susiok itu,” ia menyahut. “Tam Suko bersama Lauw Suko berada di sebelah depanku.”

“Kau letih, Cek Sutee, kau beristirahatlah,” katany.

Cek Tay Thong lantas duduk bersila, untuk menjalankan pernapasannya.

“Diwaktu tadi aku berjalan pulang,” kemudian ia berkata pula, “Di Ciu Ong Bio aku melihat enam orang, melihat roman mereka, mereka mestinya Kanglam Liok Koay yang Khu Suheng cari. Lantas aku menghampirkan mereka, nyata penglihatanku tidak keliru.”

“Bagus!” kata Cie Kee girang. “Sekarang di mana adanya mereka itu?”

“Sebenarnya mereka itu baru kembali dari Tho Hoa To,” Tay Thong memberi keterangan pula.

Cie Kee terkejut.

“Sungguh mereka bernyali besar berani pergi ke Tho Hoa To!” katanya. “Pantas kita tidak dapat mencari mereka.”

“Menurut keterangannya Thay-hiap Kwa Tin Ok, ketua dari Liok Koay, mereka telah membuat perjanjian dengan Oey Yok Su untuk pergi ke Tho Hoa To, hanya setibanya mereka di pulau itu, Oey Yok Su tidak ada. Mendengar kita berada di sini, mereka itu membilang bahwa dalam satu dua hari ini mereka hendak datang berkunjung.”

Kwee Ceng mendengar pembicaraan itu, mengetagui semua gurunya tidak kurang suatu apa, ia girang sekali. Sementara itu, setelah lewat lima hari lima malam, kesehatannya pun sudah pulih separuhnya.

Di hari keenam lohor kira jam tiga atau empat, dari luar kampung sebelah timur terdengar suara siulan, atas itu Khu Cie Kee berkata, “Lauw Sutee kembali bersama seorang yang lihay, entah siapakah dia.”

Berlima mereka lantas berbangkit, untuk pergi keluar untuk menyambuti. In Cie Peng jalan di belakang. Lantas mereka melihat Cie Hian bersama seorang tua yang rambut kumisnya sudah putih semua, bajunya pendek, sepatunya sepatu goni, sebelah tangannya memegang sebuah kipas besar, sembari berjalan ia berbicara sambil tertawa-tawa. Ketika dia sampai di muka penginapan, kepada lima anggota Coan Cin Pay yang menyambutnya, dia cuma mengangguk sedikit, agaknya dia tidak melihat mata kepada mereka itu. Tapi Lauw Cie Hian segera mengajarnya kenal, “Inilah Tiat-ciang Cui-siang-piauw Kiu Locianpwee yang namanya kesohor di seluruh negera. Hari ini kami bertemu dengannya, sungguh beruntung!”

Mendengar namanya imam she Lauw itu, Oey Yong tersenyum, dengan sikutnya ia membentur tubuh Kwee Ceng, siapa lantas tersenyum juga. Berdua mereka berpikir, “Marilah kita menyaksikan ini tua bangka penipu besar mempermainkan ini orang-orang Coan Cin Kauw!”

Lalu terdengarlah suaranya Ma Giok berlima, yang bicara sama orang she Kiu ini dengan sikap menghormat, sedang Kiu Cian Jin lantas mengasih dengar ocehannya.

Kemudian Khu Cie Kee menanya apa “locianpwee” itu bertemu sama Ciu Pek Thong, paman gurunya itu.

“Loo Boan Tong?” menegaskan orang she Kiu itu. “Dia telah dibinasakan oleh Oey Yok Su!”

Semua orang Coan Cin Kauw itu menjadi kaget sekali.

“Ah, tidak bisa jadi!” kata Cie Hian selang sesaat. “Baru saja boanpwee melihat Cui Susiok, karena larinya sangat keras, boanpwee tidak dapat menyandak padanya.”

Kiu Cian Jin tertawa, ia tidak membilang suatu apa. Ia rupanya lagi berpikir bagaimana harus menelurkan kedustaannya.

“Lauw Sutee,” tanya Cie Kee, “Apakah kau melihat tegas romannya itu dua orang yang mengejar Ciu Susiok?”

“Yang satu mengenakan jubah putih, yang lainnya jubah hijau panjang. Mereka itu sangat kencang larinya. Samar-samar aku melihat wajahnya yang berjubah hijau itu luar biasa sekali, mirip dengan mayat”.

Kiu Cian Jin telah melihat Oey Yok Su di Kwie-in-chung, segera berkata. “Benar! pembunuhnya Ciu Pek Thong si baju hijau itu ialah Oey Yok Su! Lain orang mana bisa? Aku hendak mencegah sayang terlambat.!”

Namanya Tiat-ciang Sui-siang-piauw Kiu Cian Jin sangat kesohor, enam imam Cona Cin Kauw ini tidak menyangka bahwa orang tengah membohong, mendengar hal dibunuhnya Ciu Pek Thong, paman guru mereka itu, mereka sangat berduka berbareng gusar.

“Tam Suko dapat lari lebih keras daripada aku, mungkin dia mendapat kesempatan melihat bagaimana caranya susiok dibunuh,” kata Cie Hian.

“Aku khawatir Tam Suko pun nampak bahaya.” kata Sun Put Jie yang berkhawatir. Ia berhenti tiba-tiba dan mukanya pucat.

Khu Cie Kee lantas menghunus pedangnya.

“Mari kita menyusul!” serunya. “Kita mesti menolongi dan membalaskan sakit hati!”

“Jangan!” berteriak Kiu Cian Jin, yang khawatir mereka ini dapat mencari Ciu Pek Thong. “Oey Yok Su ketahui kamu berada di sini, segera juga dia bakal datang ke mari. Oey Lao Shia itu ada sangat jahat, aku si orang tua tidak dapat membiarkan dia! Aku juga tidak membutuhkan bantuannya lain orang, maka biarlah kamu berdiam saja di sini menantikan kabar baik dari aku!”

Khu Cie Kee semua sangat percaya dan menghormati orang tua ini, mereka tidak membantah. Pula, kalau mereka mengejar, mereka khawatir nanti mengambil jalan salah hingga jadi tidak dapat bertemu sama Oey Yok Su, dari situ, suka mereka menanti saja. Maka mereka berjalan keluar mengantarkan kepergiannya orang tua itu, mereka sikapnya sangat menghormat.

Setelah keluar dari ambang pintu, Kiu Cian Jin memutar tubuhnya seraya mengibaskan tangan serta mulutnya berkata, “Tidak usah kau mengantar sampai jauh! Meskipun Oey Lao Shia lihay sekali, ako toh mempunyai jalan untuk mengalahkan dia! Kamu lihat!”

Ia tidak lantas berjalan terus hanya menghunus sebatang pedang dari pinggangnya, dengan itu ia menikam perutnya, hingga mereka menjadi kaget. Tiga dim dari pedang itu telah tertancap separuhnya! Akan tetapi si orang tua tertawa dan kata, “Di kolong langit ini, senjata tajam apa juga tidak dapat melukakan aku, maka janganlah tuan-tuan kaget dan takut! Jikalau aku menyusul tetapi tidak bertemu dan sebaliknya Oey Lao Shia itu datang ke mari, jangan tuan-tuan melayani dia bertempur, khawatir nanti kamu terluka, kamu tunggu saja kembaliku!”

“Sakit hati paman guru, yang menjadi keponakan muridnya, tak dapat kami tidak membalasnya!” berkata Khu Cie Kee.

Mendengar itu, Kiu Cian Jin menghela napas.

“Kalau begitu, terserah!” katanya, berduka. “Ini dia takdir! Jikalau kamu hendak membalas sakit hati, satu hal kamu mesti ingat!”

“Tolong locianpwee memberikan petunjuk,” Ma Giok minta.

Kiu Cian Jin lantas mengasih lihat roman sungguh-sungguh.

“Begitu kamu melihat Oey Lao Shia, kamu metsi lantas mengepung dengan sungguh-sungguh!” katanya. “Jangan kau bicara kendari sepatah kata juga! Kalau tidak, sukarlah sakit hati kamu terbalaskan! Ingat baik-baik!”

Habis berkata, ia memutar tubuhnya, untuk terus berlalu, pedangnya masih nancap terus diperutnya itu..

Khu Cie Kee semua saling mengawasi dengan berdiri menjublak. Mereka ada orang-orang dengan pengetahuan dan pemandangan yang luas tetapi belum pernah mereka menyaksikan orang menublas perut demikian rupa, dapat bicara, tertawa dan berjalan dengan tenang! maka itu maulah mereka menduga bahwa kepandaian orang tua itu sangat luar biasa. Sama sekali mereka tidak pernah menyangka bahwa mereka telah dijual Kiu Cian Jin. Pedang itu bertekuk tiga, kalau tekukan yang pertama membentur sesuatu, yang dua lagi segera ngelepot masuk, jadi ujung pedang cuma mengenai ikat pinggang dan nancap, hanya nampaknya betul seperti terpendam di dalam perut. Dia telah menerima undangan Wanyen Lieh, dia bertugas mulutnya menyebar racun kata-kata untuk membuatnya orang-orang gagah di jamannya itu bentrok satu dengan lain, agar bangsa Kim (kin atau Chin) mendapat ketika menyerbu ke Selatan, guna menumpas alaha Song.

Seperginya orang tua itu, Khu Cie Kee berenam tak tenang hatinya, sampai mereka tidak bernafsu dahar dan minum. Mereka terus menanti. Ketika tiba sang tengah malam dari tanggal tujuh, mendadak mereka mendengar sama-samar suara orang di arah utara, seperti dua orang saling susul, atau sebentar kemudian, tibalah dua orang itu di depan rumah penginapan.

Enam orang Coan Cin Kauw ini duduk bersemadhi di atas tumpukan rumput, dengan itu jalan mereka memelihar diri smabil berlaku sabar sebisanya, cuma In Cie Peng, yang latihannya masih lebih rendah, sudah tidur pulas. Mendengar suara itu, mereka lantas berlompat bangun.

“Musuh mengejar Tam Sutee,” berkata Ma Giok. “Berhati-hatilah semua!”

Untuk Kwee Ceng, malam itu pun malam terakhir, guna memenuhkan waktu istirahat tujuh hari tujuh malam. Tindakan mereka itu besar faedahnya. Bukan saja Kwee Ceng sendiri sembuh lukanya di dalam, juga rapat lukanya di luar, pula tenaga dalam mereka mendapat kemajuan besar. Tempo beberapa jam lagi adalah tempo yang terpenting. Tapi Oey Yong berduka dan berkhawatir kapan ia mendengar perkataannya Ma Giok itu.

“Kalau yang datang benar ayah, inilah hebat,” pikirnya. “Coan Cin Cit Cu tentu bakal lantas menyerang dan mengerebuti..Aku tak dapat keluar, untuk mencegah guna mengasih penjelasan. Bagaimana? Aku khawatir sangat mereka ini bakal bercelaka di tangan ayah. Kematian mereka itu tidak ada sangkutnya dengan aku sendiri, tidak demikian dengan engko Ceng. Engko Ceng ada sangkutannya dengan mereka itu. Pasti engko Ceng akan bertindak..Tidakkah itu bakal meludaskan usaha kita berhari-hari dan bemalam-malam ini, sedang ini adalah detik-detik terakhir? Aku khawatir, tidak cuma ilmu silatnya juga jiwanya akan terancam bahaya.” Maka ia lantas berbisik di kuping lawannya itu, “Engko Ceng, kamu mesti berjanji padaku, tidak peduli bakal terjadi apa juga yang besar dan penting, kau tidak boleh keluar dari sini!”

Kwee Ceng mengangguk dengan lantas.

Segera juga siulan terdengar di luar pintu penginapan.

“Tam Sutee, lekas mengatur barisan Thian Kong Pak Tauw!” Khu Cie Kee berseru.

Mendengar nama barisan itu, Kwee Ceng jadi sangat ketarik hatinya. Di dalam kitab Kiu Im Cin-keng ada disebut-sebut nama bintang-bintang itu, sebagai pokok untuk pernyakinan kemahiran, penjelasan lainnya tidak ada, maka itu, ia ingin ketahui kepandaiannya Coan Cin Cit Cu. Segera ia mengintai.

Justru pemuda ini mengintai, justru pintu tergabrukan terbuka dan seorang imam melompat masuk, hanya disaat jubahnya berkibar dan kaki kirinya baru melewati ambang pintu, mendadak ia terhuyung dan mundur pula keluar. Inilah sebab musuhnya telah tiba dan sudah menyerang padanya.

Khu Cie Kee bersama Ong Cie It berlompat ke pintu, dimana mereka berdiri berendeng, kedua tangan mereka diajukan ke depan, maka tenaga mereka bentrok sama tenaga dari luar. Sebagai kesudahan dari itu, kedua imam ini mundur dua tindak, lawannya mundur dua tindak juga. Ketika ini digunai Tam Cie Toan untuk berlompat masuk.

Di bawah sinar rembulan terlihat tegas orang di luar itu awut-awutan rambutnya, mukanya ada dua goresan darahnya, pedang di tangan kanannya tinggal sepotong, entah bekas dikutungi dengan senjata apa.

Setiba di dalam, tanpa mengucap sepatah kata, Tam Cie Toan lantas duduk bersila, untuk bersemadhi, sikapnya itu diturut oleh keenam saudaranya. Di luar pintu lantas terdengar suara yang keras dan seram, “Imam tua she Tam, jikalau bukan nyonya besarmu memandang kepada Ma Giok yang menjadi kakak seperguruanmu, pasti siang-siang aku telah mengantarkan jiwamu! Perlu apa kau memancing nyonya besarmu datang ke mari? Siapa itu barusan yang membantu padamu? Kau terangkanlah kepada Mayat Besi dari Hek Hong Siang Sat!”

Di tengah malam buta itu, suaranya Bwee Tiuw Hong ini membuatnya tubuh orang menggigil sendirinya. Setelah itu, kembali sunyi senyap. Apa yang dapat terdengar melainkan suara kutu. Hanya sebentar kemudian, terdengar suara seperti mereteknya tulang-tulang dan otot-otot. Kwee Ceng tahu itulah tanda Bwee Tiauw Hong, yang rupanya hendak menyerbu ke dalam. Habis itu terdengar, “Sekali tertinggal sampai pula beberapa puluh tahun.”

Itulah senandungnya Ma Giok, suaranya halus dan sabar.

Lalu Tam Cie Toan menyambungi, “Dengan rambut kusut jalan sepanjang hari bagaikan edan.” Suara itu besar dan kasar, hingga Kwee Ceng mengawasi anggota Coan Cin Cit Cu yang kedua ini, muka siapa berdaging dan berotot, alisnya gompiok, matanya besar, tubuhnya besar dan kekar. Sebelum menyucikan diri, ialah asal tukang besi di Shoatang, tabiatnya jujur dan polos, dari itu, gelarannya ialah Tiang Cin Cu.

Orang yang ketiga bertubuh kate dan kurus, mukanya seperti kera. Dialah Tiang Seng Cu Lauw Cie Hian, yang turut bersenandung. “Di bawah pesaben haytong menanam bibit.” Dia bertubuh kecil tetapi suaranya nyaring sekali.

Tiang Cun Cu Khu Cie Kee pun menyambuti, “Di dalam perahu di antara daun teratai ada dewa Thay It Sian.” Ia lantas disambungi Giok Yang Cu Ong Cie It “Tak ada beda maka boleh keluar dari batok kosong.”

Kong Leng Cu Cek Tay Thong turut bersenandung juga, “Ada orang yang dapat sadar sebelum dilahirkan.” Ia dituruti oleh Ceng Ceng Sanjin Sun Put Jie, katanya, “Pergi keluar sambil tertawa dan merdeka bebas.”

Sebagai penutup bersenandunglah Tan Yang Cu Ma Giok, “Mega di telaga See Ouw, rembulan di langit!”

Bwee Tiauw Hong terkejut mendengar suara mereka itu, suara yang menandakan tenaga dalam yang mahir. Maka berpikirlah dia, “Mustahilkah Coan Cin Cit Cu berkumpul di sini semua? Ah, tidak bisa jadi! Kecuali Ma Giok, suara mereka itu lain..”

Selama di jurang di padang pasir Mongolia, Bwee Tiauw Hong pernah mendengar suara Ma Giok serta Kanglam Liok Koay yang menyamar sebagai Coan Cin Cit Cu, dengan kupingnya ynag jeli sekali, ia bisa ingat dan membedakan suara orang. Ia tidak mempunyai mata, maka itu ia mengandal pada kupingnya. Sekarang ia mendengar suara yang lain sekali kecuali suara Tan Yang Cu Ma Giok. Sampai sekarang ia masih belum tahu bahwa dulu hari ia telah diperdayakan Ma Giok.

“Ma Totiang!” ia lantas menanya. “Semenjak kita berpisah, bukankah kau baik-baik saja?”

Ia masih ingat imam itu, yang dulu hari itu berlaku baik terhadapnya, dari itu, mengenai perbuatannya Tam Cie Toan, ia masih memandang ketua Coan Cin Cit Cu itu. Sebenarnya, ketika Cie Tong gagal menyusuk Ciu Pek Thong, di tengah jalan ia melihat salah satu Hek Hong Sang Sat ini, yang lagi berlatih. Ia tahu Tiauw Hong sangat jahat, ia memikir untuk menyingkirkan si jahat ini dari dalam dunia. Ia berhati mulia, tak tega ia menyaksikan Tiuw Hong berlatih dengan sasaran orang hidup. Maka ia lantas menyerang. Diluar dugaannya, ia dikalahkan. Tiauw Hong mengenali orang ada iman dari Coan Cin Kauw, ia ingat Ma Giok, maka ia cuma melukainya, tidak mau ia merampas jiwanya, meski begitu, ia mengejar terus sampai di rumah penginapan itu.

“Terimas kasih, terima kasih!” menyahut Ma Giok. “Tho Hoa To dengan Coan Cin Kauw tidak mendendam tidak bermusuh, apakah benar gurumu bakal segera datang kemari?”

Bwee Tiauw Hong melengak.

“Untuk apa kamu menanyakan guruku?” ia menanya.

Tapi Khu Cie Kee bertabiat keras. Ia membentak, “Perempuan siluman! Lkeas kau suruh gurumu datang ke mari, supaya dia belajar kenal dengan kepandaiannya Coan Cin Cit Cu!”

“Kau siapa?!” tanya Tiauw Hong gusar.

“Khu Cie Kee! pernahkah kau mendengar namaku?”

Tiauw Hong mengasih dengar suaranya yang aneh, tubuhnya mencelat. Ia menyerang ke arah darimana suara jawaban itu datang, tangan kirinya menutup diri, tangan kanannya menjambak, mencengkeram ke kepala!

Kwee Ceng mengetahu lihaynya Bwee Tiauw Hong, bahwa serangannya itu sangat hebat, biar Cie Kee lihay, tak dapat ia melawan keras dengan keras. Akan tetapi dia melihat si imam tetap duduk bersila, tidak mau menangkis, tidak mau berkelit, ia menjadi kaget. “Celaka!” katanya dalam hatinya. “Kenapa Khu Totiang bernyali begini besar?”

Bwee Tiauw Hong mengarah batok kepalanya Khu Cie Kee, selagi ia menjambak itu, mendadak datang serangan angin dari kiri dan kanannya. Itulah serangan berbareng dari Lauw Cie Hian berdua Ong Cit It. Ia mau melanjutkan serangannya itu, maka tangan kirinya dikibaskan, guna menangkis. Di luar dugaannya, hebat serangan angin itu, tidak dapat ia menghalaunya, maka terpaksa ia berlompat mumdur sambil jumpalitan. Cie Hian dan Cie It, dengan tenaga dalam im dan yang, telah menggabungkan diri. Ia menjadi kaget dan heran. Ia menyangsikan itulah serangan orang Coan Cin Kauw. Maka ia lantas berseru dengan pertanyaannya, “Apakah Ang Cit Kong dan Toan Hongya ada di sini?”

“Kitalah Coan Cin Cit Cu!” berkata Khu Cie Kee tertawa. “Di sini mana ada Ang Cit Kong dan Toan Hongya?”

Tiauw Hong bertambah heran.

“Si imam tua she Tam bukan tandinganku, kenapa di antara saudara-saudaranya ada yang begini lihay?” pikirnya. “Apa mungkin kepandaian mereka berlainan tanpa memperdulikan tingkatan mereka tua atau muda?”

Kwee Ceng pun heran seperti Tiauw Hong melihat Khu Cie Kee terbebaskan oleh Lauw Cie ian dan Ong Cie It itu. Hebat Tiauw Hong kena dibikin terpental mundur. Ia menduga kedua imam itu berimbang sama si Mayat Besi. Memang cuma Ang Cit Kong, Ciu Pek Thong, Oey Yok Su dan Auwyang Hong yang mempunyai tenaga demikian besar. Kalau Caon Cin Cit Cu, inilah aneh.

Tiauw Hong beradat keras, kepalanya besar. Kecuali gurunya, ia tidak takut siapa juga. Makin ia terhajar, makin ia penasaran. Demikian kali ini. Setelah berdiam sebentar, tangannya meraba ke pinggangnya. Ia mengsaih keluar cambuk lemasnya, Tok-liong Gin-pian, cambuk perak si Naga Beracun.

“Ma Totiong, maafkan, hari ini terpaksa berlaku kurang ajar!” katanya.

“Kata-kata yang baik!” Ma Giok menjawab.

“Aku hendak menggunia senjata, maka itu, kamu hunuslah senjata kamu!” kata si buta.

“Kami bertujuh, kau sendirian,” berkata Ong Cie It. “Kau pun tidak bisa melihat apa-apa! Maka itu, biar bagaimana kami tidak dapat menggunakan senjata. Kami akan tetap duduk bersila, kau majulah!”

Tiauw Hong bersuara dingin.

“Jadi kamu hendak melayani cambuk perakku dengan duduk diam saja?” tanyanya.

“Ah, perempuan siluman!” Cie Kee membentak. “Malam ini malam ajalmu tiba, buat apa kau masih banyak omong lagi?”

“Hm!” Tiauw Hong berseru di hidungnya, sedang tangannya lantas diayun, hingga cambuknya terus meluncur ke arah Sun Put Jie. Cambuk panjang yang banyak gaetannya itu bergerak perlahan bagaikan seekor ular besar berlegot.

Oey Yong memasang kuping mendengarkan kedua pihak mengadu mulut, ia tahu cambuknya Tiauw Hong lihay sekali, maka heran Coan Cin Cit Cu mau melayani tanpa senjata dan tanpa bergerak juga dari tempatnya bercokol masing-masing. Ia menjadi ingin melihat. Ia menarik Kwee Ceng, agar kawan itu menyingkir. Buat ia menggantikan mengintai. Begitu ia menyaksikan caranya tujuh imam itu berduduk, ia menjadi heran.

“Itulah keletakan bintang-bintang Pak Tauw,” pikirnya. “Ah, tidak salah, barusan Khu Totiang menyebutkan tentang Thian kong Pak Tauw. Inilah rupanya barisan itu.”

Oey Yok Su mengerti ilmu alam, ketika Oey Yong masih kecil, suka ia membawanya berangin waktu malam, maka sambil mengasih anak itu duduk di pangkuannya, sering ia menunjuk ke langit dan membritahukan kepada si anak tentang bintang-bintang. Oey Yong ingat benar petunjuk ayahnya itu, maka sekarang, dengan sekali lihat, ia ketahui Coan Cin Cit Cu ini telah menempatkan diri sebagai tujuh bintang Pak Tauw itu, bintang-bintang Utara.

Di antara tjuh imam itu, Ma Giok yang mengambil kedudukan thian-kie, Tam Cie Toan thian-soan, Lauw Cie Hian thian-khie, dan Khu Cie Kee thian-koan, sedang Ong Cie It giok-heng, Cek Thay Thong kay-yang, dan Sun Put Jie yauw-kong. Kedudukan thian-koan paling penting, dia yang menghubungi yang tiga dengan yang tiga lagi, dari itu kedudukan ini ditempati Khu Cie Kee yang ilmu kepandaiannya paling lihay. Yang kedua yang penting ilaha giok-heng, maka itu diambil Ong Cie It.

Oey Yong sangat cerdas, selagi Kwee ceng mengwasi sekian lama tapi tak mengerti suatu apa, ia hanya menampak sekelebatan, lantas ia mengerti. Tujuh imam itu menggabungkan diri dengan tangan kiri mereka menyambung sama tangan kanan. Sambungan tangan itu mirip dengan tangan dia dan Kwee Ceng, guna membantu pemuda ini mengobati diri.

Cambuknya Tiauw Hong bergerak perlahan ke arah kepala Sun Put Jie. Kelihatannya saja perlahan, ancamnannya sebenarnya hebat. Imam wanita itu tetap tidak bergerak. Selagi mengawasi, Oey Yong melihat jubah orang, di situ ia mendapatkan sulaman sebuah tengkorak. Ia heran, hingga ia berpikir, “Coan Cin Kauw ada dari kalangan murni, kenapa jubahnya sama dengan jubah Tiauw Hong dari kalangan sesat?” Ia pasti tidak tahu, tempo Ong Tiong Yang menerima muridnya ini, dia telah menghadiahkan gambar tengkorak dan murid ini, yang ingat budi gurunya, lantas menyulamkan itu pada jubahnya.

Disaat cambuk hampir mengenai sasarannya, ialah bagian gigi dari tengkorak di jubah Sun Put Jie itu, tiba-tiba cambuk itu berbalik sendirinya, berbalik dengan kaget bagaikan kepala ular kena dibacok, bagaikan anak panah melesat, menyambar kepada pemiliknya!

Tiauw Hong kaget, tidak sempat ia menggerakkan tangannya, sebab tangannya itu bergetar, terpaksa ia kelit kepalanya, hingga ujung cambuk lewat di atas rambutnya. “Sungguh berbahaya..” ia kata dalam hatinya. Sesudah itu baru ia dapat menguasai pula cambuknya itu. Ia lalu menyerang ke arah Ma Giok dan Khu Cie Kee.

Dua-dua imam itu duduk diam adalah Tam Cie Toan dan Ong Cie It yang menyerang dan membuatnya cambuk mental.

Oey Yong memasang mata, ia dapat melihatnya. Kalau satu imam menangkis, ia menggunai sebelah tangannya dan tangan yang lain diletaki di pundak seorang saudaranya. Ia lantas mengerti. Cara mereka itu sama dengan caranya sendiri mengobati Kwee Ceng. Itu artinya, tujuh orang menggabung tenaganya melawan Bwee Tiauw Hong satu orang.

Apa yang dinamakan barisan bintang Thian Kong Pak Tauw ini adalah semacam ilmu kepandaian paling mahir dari kaum Coan Cin Kauw. Itulah karya ciptaannya Ong Tiong Yang, sesudah imam itu memutar otaknya melatih diri dengan bersusah payah dan mengambil tempo lama. Untuk melayani lawan, tak usah orang diserang sendiri yang menangkis atau berkelit, hanya kawan di sampingnya yang membalas menyerang, kalau kawan ini menyerang, tenaganya jadi berlipat ganda kuatnya, sebab ia dibantu oleh yang lain-lainnya.

Tiauw Hong mencoba kagi beberapa kali, habis itu, berbareng heran, ia menjadi berkhawatir. Lama-lama ia merasa, kalau ia menyerang, bukan lagi cambuknya dibikin terpental seperti semula hanya seperti ditarik, meski ia masih dapat menggunai itu, kalangan bergeraknya cambuk seperti diperciut. Sia-sia ia mencoba untuk menariknya, guna mengulurnya. Ia merasa dirinya terancam tetapi ia masih penasaran. Tak mau ia membiarkan cambuknya dirampas oleh musuh-musuh yang melawannya sambil duduk bercokol saja. Tapi karena ia penasaran an bersangsi, ia melenyapkan saatnya yang baik. Coba ia melepaskan cekalannya dan lompat mundur, tentu ia selamat..

Kalau barisan bintang-bintang utara itu bergerak, kecuali oleh pemegang pusat thian-koan, gerakannya tidak dapat dihentikan. Bahkan ketujuh imam itu bergeraknya semakin cepat.

Bwee Tiauw Hong menggertak gigi. Ia tahu, kalau ia terus melawan, ia bakal celaka. Maka itu, dengan berat, ia terpaksa melepaskan juga cambuknya. Tetapi sekarang sudah kasep. Lauw Cie Hian sudah lantas menarik dengan kares. Dengan menerbitkan suara, cambuk menghajar dinding tembok, hingga rumah penginapa itu bergetar, genting-gentingnya pada berbunyi, debu meluruk jatuh. Menyusul itu tubuhnya Tiauw Hong terbetot satu tindak ke depan.

Tindakan cuma satu tetapi itulah tindakan yang memutuskan. Kalau tadi ia melepaskan cambuknya dan lompat, lalu lompat pula mundur, ia bisa memutar tubuhnya untuk lari ke luar. Mungkin ia bakal disusul tetapi tidak nanti ia tercandak. Di dalam saat berbahaya ini, ia masih mencoba membela diri. Ia menjambak ke kiri dan kanan. Ia segera kebentrok tangannya Sun Put Jie dan Ong Cie It. Menyusul itu, Ma Giok dan Cek Tay Thong pun menyerang dari belakang. Ia majukan kaki kirinya setengah tindak, sambil berseru nyaring, ia menerbangkan kaki kanannya. Dengan begitu dengan saling susul ia menendang lengannya kedua imam yang belakangan itu, di jalan darah gwa-kwan dan hwee-cong.
“Bagus!” Khu Cie Kee dan Lauw Cie Hian memuji. Dengan saling susul, mereka ini menolong dua saudaranya dari bahaya itu.

Kaki kanan Tiauw Hong belum lagi menginjak tanah, kaki kirinya sudah bergerak pula. Dengan begitu ia menyingkir dari serangannya Cie Kee dan Cie It. Ketika kaki kanan itu diturunkan, ia maju lagi satu tindak. Dengan begini berarti ia telah masuk semakin dalam ke dalam barisannya ketujuh imam. Itu artinya, kecuali ia dapat merobohkan salah satu musuh, ia tidak mempunyai jalan lagi untuk nerobos keluar dari dalam barisan itu.

Oey Yong heran dan terkejut. Di antara sinar rembulan ia menyaksikan Tiauw Hong dengan rambut panjang ynag awut-awutan itu, berlompatan pergi datang dan tangan dan kakinya menjambak dan menendang tak hentinya. Hebat setiap jambakan dan tendangannya itu mengasih dengar suara angin. Tidak peduli segala gerakannya itu, yang hebat, maka Coan Cin Cit Cu tetap bercokol tak bergeming, cuma tangan mereka yang ekerja, saling sambut dengan rapi, tetap mereka mengurung si Mayat Besi.

Bwee Tiauw Hong telah berkelahi dengan menggunai dua macam ilmu silatnya, yaitu pelbagai jambakan Kiu Im Pek-kut Jiauw dan hajaran Cwie-sim-ciang yang dahsyat, ia terus mencoba untuk menerjang keluar tetapi selalu ia gagal, saban-saban ia tertolak mundur. Saking gusarnya, ia sampai berkoak-koak secara aneh.

Sekarang ini, kalau Coan Cin Cit Cu menghendaki nyawa orang, cukup mereka melakukan satu penyerangan, akan tetapi mereka atau salah satu diantaranya, tidak mau menurunkan tangan yang terakhir.

Mulanya Oey Yong heran, atau sebentar kemudian ia sabar.

“Ah, aku mengerti sekarang!” katanya dalam hatinya. “Terang mereka ini meminjam Bwee Suci untuk melatih barisan bintang mereka ini! Memang sukar dicari orang yang sekosen suci, yang dapat dipakai menguji barisannya ini. Rupanya mereka hendak membikin lawannya letih hingga mati sendirinya baru mereka mau berhenti….”

Dugaan nona Oey ini cocok separuhnya. Memang benar Ma Giok beramai memakai Tiauw Hong sebagai kawan berlatih, tetapi untuk membinasakan, itulah mereka tak pikir. Tidak gampang mereka melakukan pembunuhan.

Sampai di situ, Oey Yong tidak mau menonton lebih lama pula. Ia tidak berkesan baik terhadap Bwee Tiauw Hong, si suci, kakak seperguruan, toh ia tak tega mengawasi lebih jauh. Maka itu, ia berikan tempat mengintainya kepada Kwee Ceng. Maka sekarang ia cuma mendengar, angin serangan sebentar keras sebentar kendor, tandanya pertempuran masih berlanjut terus.

Kwee Ceng menonton tetapi ia tetap tidak mengerti akan cara berkelahinya ke tujuh imam itu.

“Mereka menggunai kedudukan bintang Pak Tauw,” Oey Yong membisiki. “Apakah belum pernah melihatnya?”

Baru sekarang pemuda ini mendusin. Ia ingat bunyinya kitab kedua dari Kiu Im Cin-keng. Sekarang ia mengerti sendirinya. Karena itu ia menjadi tertarik hingga tanpa merasa ia berlompat bangun.

Oey Yong kaget, segera ia menahan.

Kwee Ceng pun sadar, lekas-lekas ia berdiam. Tapi ia masih mengintai pula. Sekarang ia mengerti betul kegunannya barisan Thian Kong Pak Tuaw itu. Ketika di Tho Hoa To menyaksikan Ang Cit Kong menempur Auwyang Hong ia memperoleh kemajuan besar, kali ini ia mendapatkan kemajuan serupa, dengan begitu, pengetahuannya menjadi bertambah.

Lama-lama maka letihlah Bwee Tiauw Hong, ia hampir tak dapat bertahan pula. Dilain pihak, juga tenaganya Coan Cin Cit Cu agaknya berkurang, mereka mulai kendor. Justru itu di pintu terdengar suara orang.

“Saudara Yok, kau maju lebih dulu atau kau suka mengalah untuk aku mencoba-coba?” demikian suara itu.

Kwee Ceng terkejut. Ia mengenali baik suaranya Auwyang Hong. Entah kapan datangnya See Tok, si Bisa dari Barat itu.

Juga Coan Cin Cit Cu kaget semuanya, dengan serentak mereka melirik ke arah pintu. Di samping pintu itu berdiri berendeng dua orang, yang satu bajunya hijau yang lainnya putih. Mereka mengetahui akan adanya musuh-musuh yang tangguh, dengan berbareng mereka berseru, dan dengan berbareng mereka menghentikan pertempuran untuk berbangkit berdiri.

“Bagus betul” berkata Oey Yok Su, “Tujuh rupa bulu campur aduk ini mengepung satu muridku! Saudara Hong, jikalau aku memberi pengajaran kepada mereka, bisakah kau membilangnya aku menghina kepada yang muda?”

Auwyang Hong tertawa, ia menyahuti, “Mereka yang terlebih dulu tidak menghormati kau! Jikalau kau masih tidak mengasih lihat sedikit dari ilmu kepandaianmu, pasti ini kawanan anak muda tidak mengetahui lihaynya pemilik dari Tho Hoa To!”

Ong Cie It pernah melihat Tong Shia dan See Tok di Hoa San, heran ia mendapatkan orang muncul berbareng dengan tiba-tiba, hendak ia maju untuk memberi hormat, atau Oey Yok Su sudah maju dengan sebelah tangan terayun. Ia hendak menangkis tapi sudah tidak keburu, maka dengan satu suara “Plok!” pipinya kena digaplok, tubuhnya lantas terhuyung, hampir ia menubruk lantai.

Khu Cie Kee kaget sekali. “Lekas kembali ke tempat masing-masing!” ia berseru.

Akan tetapi belum sempat saudara-saudaranya itu menaati seruannya atau plak-plok tak hentinya, dengan bergantian mukanya Tam Cie Toan, Lauw Cie Hian, Cek Tay Thong dan Sun Put Jie telah tergaplok seperti muka Ong Cie It. Setelah itu bayangan pun berkelebat ke mukanya Tiang Cun Cu sendiri, demikian rupa, hingga tak tahu ia bagaimana harus menangkisnya, maka tidak ayal lagi, ia mengibas tangannya, mengarah dadanya Oey Yok Su!

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: