Kumpulan Cerita Silat

01/10/2009

Memanah Burung Rajawali – 50

Filed under: Memanah Burung Rajawali — Tags: — ceritasilat @ 10:16 am

Bab 50. Menikah!
Oleh Jin Yong

(Terima kasih kepada Chu)

“Kau hendak menitahkan apa padaku, saudara Liok, silahkan kau mengatakannya,” kata Cie Peng. “Di mana yang aku bisa, pasti aku akan memberikan bantuanku padamu.”

Atas ini, Liok Koan Eng membungkam.

Yauw Kee tertawa.

“In Suheng, kau lupa,” katanya mengingati. “Saudara Liok tak dapat membuka mulutnya!”

Cie Peng sadar, ia pun tertawa.

“Benar!” ujarnya. “Bukankah saudara Liok hendak memohon aku berdiam terus disini untuk menanti sampai pulangnya sahabat Kwee Ceng itu?”

Koan Eng menggeleng kepala.

“Apakah kau menghendaki aku lekas pergi ke segala tempat untuk mencari Kanglam Liok Koay dan sahabat she Kwee itu?” Cie Peng tanya pula.

Kembali Koan Eng menggeleng kepala.

“Ah, aku mengerti sekarang!” kata Cie Peng, “Kau menghendaki aku menyampaikan kabar pada sahabat-sahabat di Kanglam, mereka terkenal, mereka pasti ada punya sahabat-sahabat kekal, yang nantinya akan mengisikinya mereka terlebih jauh. Benarkah begitu?”

Lagi-lagi Koan Eng menggeleng kepalanya.

Cie Peng mengutarakan pula beberapa dugaan akan tetapi Koan Eng tidak membenarkan, Yauw Kee turur dua kali menanya, ia pun dijawab dengan gelengan kepala. Maka itu, Oey Yong yang curi dengar turut menjadi bingung juga.

Sekian lama mereka bertiga berdiam saja.

“Thia Sumoy,” akhirnya In Cie Peng berkata, “Perlahan saja kau bicara sama saudara Liok ini, aku tidak dapat main teka-teki terus-terusan, hendak aku keluar sebentar. Lagi satu jam, aku akan kembali.”

Habis berkata, benar-benar Cie Peng bertindak keluar. Maka itu di dalam ruangan, kecuali Hauw Thong Hay, tinggal Liok Koan Eng berdua dengan Thia Yauw Kee. Si nona bertunduk, ia berpikir. Ia tetap mendapati Koan Eng berdiam saja, diam-diam ia melirik, justru itu, Koan Eng pun memandang padanya, maka sinar mata mereka jadi saling bentrok. Ia jengah sendirinya, dengan muka merah, ia lekas-lekas melengos, terus ia tunduk, kedua tangannya membuat main runce gagang pedangnya.

Setelah itu Koan Eng berbangkit dengan perlahan, untuk menghampirkan perapian. Di muka dapur itu ada gambarnya malaikat dapur, kepada malaikat itu ia berkata: “Touw Ongya, hambamu mempunyai satu urusan, yang sulit untukku memberitahukannya kepada lain orang, maka itu baiklah hambamu menjelaskannya pada ongya saja, dan hambamu mengharap semoga ongya suka memayunginya.”

Mendengar itu girang hatinya Yauw Kee.

“Orang yang pintar!” ia memuji di dalam hatinya. Ia lantas mengangkat kepalanya untuk mendengar terlebih jauh.

“Hambamu she Liok bernama Koan Eng,” berkata pula si anak muda. “Hambamu ialah anak dari Chungcu Liok Seng Hong dari dusun Kwie-in-chung di tepi telaga Thay Ouw. Ayahku itu telah mengangkat Tocu Oey Yok Su dari Tho Hoa To sebagai gurunya. Beberapa hari yang lalu guru ayahku itu, ialah kakek guruku datang ke Kwie-in-chung, ia mengatakan ia hendak membinasakan semua keluarga Kanglam Liok Koay, maka itu ia menitahkan ayahku dan supee Bwee Tiauw Hong turut mencari Kanglam Liok Koay. Bwee supee bermusuhan dengan Kanglam Liok Koay, inilah hal yang sangat menggirangkan hatinya. Tidak demikian dengan ayahku, yang mengagumi kemuliaan Kanglam Liok Koay. Ayahku menganggap tidaklah pantas membinasakan orang-orang gagah seperti mereka itu. Karena itu, ayahku menjadi berduka. Ayah berniat menitahkan aku mengisiki Kanglam Liok Koay, untuk Liok Koay menyingkir, tetapi ayah tidak berani berbuat demikian sebab itu berarti mendurhaka kepada kakek guru. Maka juga pada suatu malam ayah menghadapi gambar yang dilukis Sukouw Oey Yong, yang menjadi putrinya kakek guru, untuk mengutarakan kesulitannya itu. Hambamu ini telah mendapat dengar pengutaraan ayahku itu, karenanya hamba segera berangkat mencari Kanglam Liok Koay, guna menyampaikan berita dari ancaman bahaya itu….”

Mendengar itu, Yauw Kee dan Oey Yong kata dalam hatinya: “Dia cerdik juga, dengan kata-katanya ini dia ingin lain orang dapat mendengarnya. Dengan caranya ini, dia menjadi tidak berdurhaka kepada partainya.”

Lalu terdengar suara Koan Eng lebih lanjut: “Karena hambamu tidak dapat mencari Kanglam Liok Koay, hambamu lantas berangkat kemari. Hambamu ingat kepada muridnya mereka ialah Kwee Susiok. Siapa tahu, Kwee Susiok pun tak ketahuan dimana adanya, Kwee Susiok itu ialah menantu dari kakek guruku…”

Yauw Kee menaruh hati kepada Kwee Ceng. Ia menaruh hati sendirinya. Maka ia terkesiap juga mendengar bahwa Kwee Ceng menantunya Oey Yok Su. Cuma sebentar perasaannya itu, lantas ia dapat melegakan hati. Bukankah sekarang perhatiannya telah ditumpleki kepada Liok Koan Eng, pemuda di hadapannya ini, yang lebih tampan daripada pemuda she Kwee itu?

Koan Eng masih bicara seorang diri: “Asal hambamu dapat mencari Kwee Susiok, maka ia dapat bersama Oey Sukouw meminta kakek guru membatalkan niatannya itu. Kakek guru boleh keras hatinya tetapi tidak nanti ia dapat menolak permintaan anak mantunya. Hanya, dari suaranya ayahku, mungkin Kwee Susiok dan Oey Sukouw telah menampak suatu bencana… Di dalam hal ini, tidak dapat hambamu menanyakan keterangan ayah.”

Mendengar kata-kata ini, Oey Yong tanya dalam hatinya: “Mustahilkah ayah sudah ketahui engko Ceng telah terluka parah? Tidak, tidak nanti ia ketahui itu. Mungkinkah ayah ketahui yang kita terlunta-lunta di pulau kosong…?”

“In Suheng ialah seorang yang sungguh-sungguh hati dan nona Thia cerdas dan lemah-lembut,” terdengar suaranya Koan Eng, terlebih lanjut. Mendengar pujian ini Yauw Kee girang berbareng mukanya merah. “Meski demikian, mereka tidak dapat menebak apa yang aku pikir. Sulit adalah Kanglam Liok Koay. Mereka adalah orang-orang gagah yang kenamaan, benar mereka bukan tandingan kakek guru, akan tetapi untuk meminta mereka menyingkir jauh-jauh, itulah rasanya tidak mungkin. Menyingkir bagi mereka berarti merusak nama baik mereka, itu tandanya mereka jeri. Pastilah mereka tidak akan melakukan itu. Bahkan hambamu percaya, kalau mereka mendengar kabar yang mereka lagi dicari, mungkin mereka justru akan berbalik menncari kakek guru!”

Diam-diam Oey Yong memuji Koan Eng, yang tidak kecewa menjadi kepala perampok di Thay Ouw, sebab nyata ia berpandangan jauh.

“Maka sekarang aku memikir lain,” Koan Eng masih berkata-kata terus. “Coan Cin Cit Cu gagah dan mulia hatinya, nama mereka kesohor, ilmu silat mereka mahir, jikalau In Suheng dan nona Thia yang memohon bantuan guru mereka, suka mengajukan diri sebagai juru pendamai, mungkin kakek guruku sudi mendengar suara mereka. Tidak mungkin ada permusuhan hebat di antara kakek guru dan Kanglam Liok Koay, dan biarpun Kanglam Liok Koay umpama kata benar bersalah terhadapnya, jikalau ada orang kenamaan yang mendamaikan, hambamu percaya perdamaian bakal didapatkan. Touw Ongya, inilah kesulitan hambamu. Sia-sia belaka hambamu mempunya pikiran ini tetapi tidak dapat ia mengutarakannya kepada lain orang. Dari itu hambamu mohon sudi apakah ongya dapat mengaturnya…”

Yauw Kee tahu pembicaraan orang akan berakhir, maka tidak nanti sampai Koan Eng berhenti bocara, ia sudah memutar tubuhnya bertindak keluar untuk mencari Cie Peng, guna menyampaikannya,hanya baru ia tiba di ambang pintu, kembali ia mendengar lagi suaranya pemuda she Liok ini. Kata dia ini: “Touw Ongya, jikalau Coan Cin Cit Cu suka membantu mendamaikan, sungguh ini suatu perbuatan sangat besar dan bagus, hanya hambamu berharap dengan sangat, kapan nanti Coan Cin Cit Cu bicara sama kakek guru, biarlah mereka tidak menyentuh hingga kakek guru merasa tersinggung. Kalau tidak, satu ombak belum sirap, lain gelombang datang menyusul, itulah artinya celaka. Ongya, sampai disinilah kata-kata hambamu, tidak ada lagi…”

Mendengar itu Yauw Kee tertawa. Di dalam hatinya ia kata: “Kau sudah bicara habis, sekarang akulah yang akan bekerja untukmu!” Ia berjalan keluar untuk mencari In Cie Peng, tetapi telah ia memutari sekitar rumah makan, tidak ia melihat bayangan si kakak seperguruan itu. Terpaksa ia berjalan kembali. Atau tiba-tiba ia mendengar suaranya Cie Peng, perlahan sekali: “Thia Sumoy…”

“Oh, kau di sini!” kata si nona girang.

Cie Peng memberi tanda dengan tangannya agar si nona yang berisik. I apun segera menunjuk ke arah Barat, sambil berkata pula, tetap dengan perlahan sekali. “Di sana ada orang, tindakannya sebagai setan. Dia membawa senjata di tubuhnya…”

“Mungkinkah dia orang yang tengah lewat di sini?” kata Yauw Kee, menghampirkan kakak seperguruannya itu. Ia mengatakan demikian karena perhatiannya terpengaruh kata-kata Koan Eng.

In Cie Peng sebaliknya bersikap sungguh-sungguh. Katanya pula: “Di sana ada beberapa orang, lincah tubuh mereka, mestinya mereka lihay.”

Orang-orang yang ia lihat itu adalah rombongannya Pheng Lian Houw. Mereka itu menanti Thong Hay, yang lama tak kembali, mereka menjadi menduga kawan itu mendapat kecelakaan, tetapi walaupun demikian, karena mereka sangat mementingkan diri sendiri, mereka tidak berani pergi untuk mencari dan menolongi. Mereka jeri terhadap itu orang yang menyamar hantu di istana, yang sangat lihay…..”

In Cie Peng menanti sekian lama, setelah tidak dapat melihat bayangan orang, iabertindak menghampirkan ke tempat mereka itu tadi. Nyata mereka sudah tidak nampak lagi.

Sampai di situ, Yauw Kee menuturkan ocehannya Koan Eng tadi kepada malaikat dapur.

“Begitu rupanya yang ia pikir, mana dapat orang menerkanya,” berkata Cie Peng. “Sekarang begini, sumoy. Pergi kau bicara sama Sun Susiok, aku sendiri akan minta bantuan guruku. Asal Coan Cin Cit Cu suka membantu, di kolong langit ini tak ada urusan yang tak dapat diselesaikan.”

“Hanya kita harus waspada agar urusan tidak berubah menjadi keonaran,” kata nona Thia itu, yang menyampaikan kata-kata terakhir dari Koan Eng tadi.

“Hm!” kata Cie Peng. “Oey Yok Su itu makhluk macam apa, mustahil dia dapat melebihkan Coan Cin Cit Cu?” Ia tertawa dingin.

Yauw Kee ingin minta orang jangan takabur, tetapi melihat wajah orang muram, ia membatalkan niatnya itu.

Bersama-sama mereka lantas kembali ke rumah makan.

“Aku hendak meminta diri,” kata Koan Eng kepada dua orang itu. “Lain hari, kalau kamu lewat di Thay Ouw, harap kamu berdua sudi mampir di Kwie-in-chung untuk singgah buat beberapa hari.”

Yauw Kee tercengang. Berat rasanya untuk segera berpisah dengan pemuda itu.

In Cie Peng sendiri memutar tubuh menghadapi malaikat dapur, untuk berkata: “Touw Ongya, Coan Cin Cit Cu paling gemar mendamaikan segala persengketaan. Urusan tak adil bagaimana juga dalam kalangan kangouw, asal murid-murid Coan Cin mengetahuinya, pasti mereka tak nanti berpeluk tangan saja tak mengurusnya!”

Koan Eng mengerti kata-kata itu ditujukan kepadanya, maka ia pun berkata: “Touw Ongya, semoga ongya dapat membereskan urusan ini dengan baik, dan hambamu sangat bersyukur kepada sekalian budiman untuk kebaikannya sudi mengeluarkan tenaganya.”

In Cie Peng pun berkata pula. “Touw Ongya, silahkan legakan hati. Coan Cin Cit Cu tersohor di kolong langit ini, asal mereka suka turun tangan, tidak ada urusan yang tidak dapat diselesaikan.”

Koan Eng melengak. Di dalam hatinya ia kata: “Kalau Coan Cin Cit Cu memaksakan perdamainan, mana kakek guruku puas?” Maka lekas-lekas ia berkata pula: “Touw Ongya, ongya mengetahui sendiri kakek guru biasa bawa maunya sendirinya, dia tidak suka memperdulikan orang lain, kalau lain orang sudi bersahabat dengannya, dia suka mendengarnya, tetapi bila orang bicara dari hal kepantasan, itulah yang ia paling sebal.”

Cie Peng lantas mengasih dengar pula suaranya: “Haha, Touw Ongya! Coan Cin Cit Cu mana pernah jerih terhadap lain orang? Urusan ini memang tidak ada sangkutannya sama pihak kami, guruku pun cuma menyuruh aku mengasih kabar saja kepada orang lain, tetapi kalau orang berani main gila terhadap Coan Cin Cit Cu, hm, biar dia Oey Yok Su atak Hek Yok Su, nanti Coan Cin Kauw memperlihatkan dia apa yang bagus!”

Kata-kata Oey Yok Su dan Hek Yok Su itu berarti ejekan, karena disini “Oey” itu bukan diartikan she, hanya “oey – kuning” dan “hek – hitam”

Mendengar itu, Liok Koan Eng menjadi tidak senang. Maka ia pun lantas berkata: “Touw Ongya, apa yang barusan hambamu telah mengatakannya, harap dipandang saja sebagai kata-kata ngelindur. Umpama kata ada orang tak melihat mata kepada kami, pasti kami tak sudi menerimanya!”

Mereka itu masing-masing bicara kepada malaikat dapur, diluar dugaan, kata-kata mereka menjadikan bentrokan satu pada lain. Yauw Kee menjadi serba salah, mau ia datang sama tengah tetapi mereka itu sama-sama muda dan darahnya panas.

Begitulah In Cie Peng telah berkata pula: “Touw Ongya, ilmu silat Coan Cin Pay adalah ilimu silat sejati di kolong langit ini, ilmunya orang lain kaum yang sesat, biar bagaimana luar biasa juga, tidak nanti dapat dibandingkannya!”

“Touw Ongya,” berkata Koan Eng, “Hambamu juga telah lama mendengar tentang ilmu silat Coan Cin Pay itu, bahwa banyak orangnya yang lihay, akan tetapi di antaranya tak mustahil tak ada si tukang ngobrol belaka!”

Bukan main gusarnya Cie Peng, tangannya segera menyampok. Maka gempurlah sebelah kepalanya patung malaikat dapur itu. Dia berseru: “Binatang yang baik, kau berani mendamprat orang?!”

Koan Eng pun menyampok membikin gempur sebelah yang lain dari kepala malaikat dapur itu, sambil ia berseru: “Mana aku berani mendamprat kau? Aku hanya mencaci manusia tak tahu diri, yang tak melihat orang!”

In Cie Peng telah menyaksikan kepandaian orang, ia berada di sebelah atas, ia menjadi tidak takut, maka ia tertawa dingin dan berkata: “Baiklah, mari kita main-main, untuk melihat siapa sebenarnya yang tidak memandang orang!”

Koan Eng menginsyafi bahwa ia kalah kosen tetapi ia tidak senang yang pihaknya dpandang enteng, ia menjadi tengah menunggang harimau hingga tak dapat turun, maka dengan tangan kanan menghunus golok, dengan tangan kirinya ia memberi hormat. Ia berkata: “Baiklah, siauwtee suka sekali menerima jurus-jurus yang lihay dari Coan Cin Pay!”

Yauw Kee bertambah bingung. Beberapa kali ia hendak mencegah, saban-saban ia batal sendirinya, hingga cuma air matanya yang berlinang-linang. Ia tidak mempunyai keberanian untuk maju di tengah antara mereka itu.

Cie Peng sudah lantas mengebut hudtimnya, ia bertindak maju. Mereka berdua sudah lantas bertempur.

Koan Eng tidak mengharapi kemenangan, ia lebih mengutamakan pembelaan diri. Ia mainkan sungguh-sungguh ilmu golok warisan Kouw Bok Taysu, ilmu golok Lo Han Too-hoat.

In Cie Peng memandnag enteng kepada lawannya, ia lancang maju, maka kagetlah ia ketika hampir saja lengan kirinya kena terbacok. Karena ini barulah ia berkaku waspada, kemudian barulah ia menang di angin.

Oey Yong dari tempat sembunyinya mendengar dan menyaksikan itu semua. Ia terus menonton. Ia mendongkol juga kepada In Cie Peng, yang berani mengatai ayahnya yang dikatakan berilmu sesat.

“Kalau bukan engko Ceng lagi sakit, akan aku kasih rasa padanya!” katanya dalam hati. Tiba-tiba saja, ia menjerit, “Ah, celaka!”

Koan Eng membacok begitu hebat hingga ia kehilangan sasarannya. Golok itu terpancing hudtim Cie Peng, setelah mana orang she In ini menbalas menotok, dengan jitu, hingga golok lawan terlepas dan jatuh, setelah mana dia mengebut terus ke muka orang seraya berkata jumawa: “Ingat baik-baik, inilah jurus lihay dari Coan Cin Pay!”

Diantara bulu hudtim itu ada tercampur kawat halus, kalau muka Koan Eng kena terkebut, pasti wajahnya yang tampan bakal penuh baret dan berlumuran darah.

Koan Eng melihat bahaya, ia berkelit sambil tunduk.

Cie tak mau sudah, ia menyusul dengan kebutannya itu.

“In Suko!” Yauw Kee berseru. Kali ini si nona berlompat maju seraya menangkis dengan piasunya.

Ketika ini dipakai oleh Koan Eng untuk memungut goloknya.

“Bagus!” berseru Cie Peng, tertawa dingin. “Kau telah membantu orang luar, Thia Sumoy! Nah, kamu berdua, majulah bersama!”

“Apa katamu!” menegur Yauw Kee murka.

Cie Peng tidak menyahuti, ia hanya menyerang beruntun tiga kali, membuatnya si nona repot menangkis.

Koan Eng mendongkol, ia maju pula. Dengan begitu Cie Peng benar-benar dikerubuti berdua. Tapi Yauw Kee tidak mau bertempur dengan kakak seperguruannya itu, ia lantas lompat mundur.

“Mari maju!” Cie Peng menantang adik seperguruannya itu. “Dia sendiri tidak dapat melawan aku. Dengan kau maju, tak usahlah sebentar kau membantui padanya!”

Oey Yong merasa lucu menyaksikan tiga orang itu, dari kawan, menjadi lawan, malah mereak jadi bertempur. Ia memikir, bagaimana urusan mereka itu dapat diselesaikan. Justru itu ia mendengar satu suara di pintu dari terbukanya daun pintu, setelah mana terlihatlah masuknya rombongan Pheng Lian Houw yang mengiringi Wanyen Lieh dan Yo Kang.

Mereka ini menanti sekian lama tanpa mendengar sesuatu, See Thong Thian jadi berkhawatir untuk saudara seperguruannya, dengan membesarkan nyali, ia masuk untuk membuat penyeledikan, diwaktu mengintai, ia melihat Cie Peng tengah bertempur sama Koan Eng. Seorang diri ia tidak berani lancang masuk, maka ia kembali untuk mengajak kawan-kawannya. Demikian mereka masuk dengan tiba-tiba.

In Cie Peng dan Koan Eng melihat datangnya banyak orang itu dengan sendirinya, mereka berhenti berkelahi, dengan lantas keduanya berlompat mundur. Belum sempat mereka menjauhkan diri, sebat luar biasa, See tHong Thian menubruk mereka, akan menyambar masing-masing tangan mereka itu, Sedang Pheng Lian Houw dengan cepat pergi menolongi Hauw Thony Hay dengan melepaskan belunggunya dan membebaskna totokannya.

Thong Hay susah bernapas, maka itu, tanpa menanti mengeluarkan sumbatannya itu, sambil mencoba berseru, ia menyerang Yauw Kee, tangannya menyerbu ke muka si nona.

Nona Thia melihat serangan, ia dapat berkelit mendak.

Thong Hay mendongkol bukan main, mukanya merah. Kembali ia maju, kali ini dengan dua kepalan berbareng.

“Tahan!” Pheng Lian Houw berseru. “Mari kita menanya dulu!”

Thong Hay tidak dapat mendengar cegahan itu, karena kedua kupingnya pun disumpal.

Koan Eng dicekal keras oleh Thong Thian, separuh tubuhnya sampai tak bisa digeraki, akan tetapi menampak Thong Hay menyerang Yauw Kee seperti kesetanan, entah darimana datangnya, ia berontak hingga terlepas, terus ia lompat kepada si orang she Hauw. Akan tetapi Lian Houw awas dan sebat, kakinya melayang, karena mana, pemuda itu roboh terbanting, hingga batang lehernya kena dicekuk.

“Kau siapa?!” Lian Houw membentak. “Kemana perginya itu manusia yang menyaru jadi hantu?!”

Baru Lian ouw menutup mulutnya, atau mana daun pintu terdengar bersuara, terbuka dengan perlahan. Semua orang menoleh dengan lantas, akan tetapi mereka tak melihat orang masuk. Tanpa merasa, hati mereka ciut sendirinya. Hanya sejenak, di ambang pintu tertampak seorang wnaita muda dengan rambut kusut awut-awutan, mulanya kepalanya yang nongol.

Nio Cu Ong bersama Leng Tie Siangjin lompat mencelat.

“Celaka, iblis wanita!” mereka berseru, kaget.

Tapi Pheng Lian Houw bermata jeli, ia melihatnya orang bukan setan.

“Masuk!” ia memanggil.

Sa Kouw, demikian wanita itu, bertindak masuk sambil tertawa haha-hihi.

“Oh, begini banyak orang!” katanya seraya mengulur lidahnya.

Nio Cu Ong yang menjeritkan iblis, menjadi gusar sekali.

“Kau siapa?!” ia membentak sambil lompat maju, tangannya menyambar lengan orang. Ia menganggap orang adalah gadis desa yang tolol. Tapi ia ketemu batunya!

Sa Kouw tidak sudi tangannya dicekuk, ia kelit seraya berbalik membalas menyerang, maka “plok!” tanganna Cu Ong kena dihajar keraas, hingga ia merasakan sakit. Tentu sekali, dia jadi gusar sekali.

“Ha, kau berlagak tolol!” ia berseru. Dia maju denagn dua tinjunya berbareng.

“Hahahaha!” mendadak si tolol tertawa seraya menuding kepala orang yang gundul licin.

Semua orang heran mendengar tertawa itu, Cu Ong tidak menjadi terkecuali, tapi mereka melengak tidak lama, atau si orang she Nio sudah mengirim satu tinjunya – tinju yang kanan.

Sa Kouw menangkis, ia berhasil, akan tetapi tubuhnya terhuyung. Mengertilah ia yang ia bukan tandingannya lawan itu, maka tak ayal lagi, ia memutar tubuhnya untuk lari pergi.

Cu Ong berlaku sebat, dengan satu loncatan ia sudah menghadang di depan si tolol itu, sikutnya dikerjakan, maka hidung si nona menjadi sasaran, hingga ia kesakitan, dan matanya kabur. Lantas ia berteriak-teriak: “Adik yang makan semangka, lekas kau kelluar menolongi aku! Ada orang memukul aku!”

Oey Yong terkejut.

“Jikalau anak tolol ini tidak dibinasakan, dia bakal menjadi bahaya untuk kami,” pikirnya. Tapi belum lagi ia mengambil keputusan atau tindakan, mendadak ia mendengar satu suara “Hm!” perlahan, yang ia kenali dengan baik sekali.

“Ah, ayah datang!” katanya dalam hatinya, sedang hatinya berdebaran. Ia segera mengintai pula.

Benar-benar oey Yok Su muncul di situ dengan jubahnya yang panjang dan hujai warnanya, mukanya ditutup dengan topeng kulit manusia. Dia berdiri di ambang pintu!

Tidak ada orang yang mengetahui kapan tibanya ini orang baru, tidak ada yang melihat datangnya, tidak ada yang mendengarnya, hingga mungkin ia baru tiba, mungkin juga ia masuk lebih dulu ke dalam situ. Dia berdiri tak bergerak. Benar mukanya tidak bercaling atau bengis, tetapi kulitnya bukan kulit orang hidup, hanya kulit mayat, maka siapa yang memandangnya, lekas-lekas ia melengos, tidak berani ia mengawasi terus.

“Nona, kau siapa?” Oey Yok Su kemudian menanya. Ia heran melihat gerak-gerik si nona, ia tahu orang bersilat dengan ilmu silatnya sendiri. “Siapa gurumu? Mana gurumu?”

Sa Kouw menggeleng kepala. Ketika ia mengawasi mukanya Oey Yok Su, ia menjublak. Tapi cuma sebentar, lantas ia tertawa berkakakan dan menepuk-nepuk tangan.

Oey Yok Su mengerutkan keningnya, ia berpikir sejenak, lantas ia mengambil putusan nona ini pasti ada cucu muridnya, hanya entah dari muridnya yang mana. Ia memang paling sayang sama muridnya, tidak sudi ia orang menghinakan muridnya itu. Buktinya Bwee Tiauw Hong, muridnya yang murtad tetapi tempo murid itu dikalahkan oleh Kwee Ceng masih ia hendak melindungi. Apa pula Sa Kouw nona yang tolol dan polos ini.

“Eh, anak!” tegurnya. “Orang telah serang kau, mengapa kau tidak membalas menghajarnya?”

Ketika baru-baru ini Oey Yok Su pergi naik ke perahu mencari putrinya, ia tidak mengenakan topeng, tetapi kali ini lain, orang tidak segera mengenalinya, kali ini setelah ia membuka mulutnya, lantaslah Wanyen Lieh bertiga Yo Kang dan Pheng Lian Houw lantas menjadi ciut nyalinya. Bahkan ia menduga-duga, jangan-jangan adalah Oey Yok Su yang menyamar jadi hantu di dalam istana. Maka ia lantas memikir untuk tidak bertempur, hanya mencari ketika untuk mengulur langkah seribu. Untuk ia, jiwanya paling penting, nama wangi dan malu adalah urusan lain…

“Aku tidak dapat menghajar dia,” Sa Kouw menjawab.

“Siapa bilang kau tidak dapat menghajar dia?!” bentak Oey Yok Su. “Kau hajar cecongornya seperti tadi ia memukul hidungmu! Dia memukul kau satu kali, kau membalas dia tiga kali lipat ganda!”

Sa Kouw tertawa.

“Bagus!” katanya. Dan ia menghampirkan Nio Cu Ong, tanpa memikir pula ia bukan tandingan jago itu. Ia kata, “Kau memukul hidungku satu kali, akan aku hajar hiudngmu tiga kali!”

Dan ia mengangkat kepalannya, meninju hidung orang!

Nio Cu Ong tidak sudi mandah dihajar, ia angkat tangannya, untuk menangkis, atau tiba-tiba ia merasakan jalan darah kiok-tie-hiat di lengannya menjadi mati sendirinya, hingga ia tak sanggup sekalipun untuk melonjorkan lengannya itu. Maka itu, “Buk!” kenalah hidungnya dihajar si nona tolol itu, hingga ia kaget bahna sakitnya.

“Yang kedua!” berseru sa kouw tanpa mengasih hati.

Nio Cu Ong memasang kuda-kudanya, tangan kirinya digeraki. Ia hendak menggunai tipu silat Kim-na-hoat, Menangkap untuk membikin lengan orang terlepas dari sambungannya. Tidak sudi ia terus-terusan kena dihajar. Hanya, belum lagi tangannya itu bentrok tangan si nona, ia merasakan jalan darahnya pek-jie-hoat lemas sendirinya, hingga habislah tenagany, Dilain pihak, “Buk!” kembali hidungnya kena dihajar untuk kedua kalinya, bahkan kali ini hajarannya jauh lebih hebat, sampai tubuhnya melengak ke belakang.

Selagi Nio Cu Ong kaget dan kesakitan dan heran, semua hadirin lainnya tak kurang herannya, kecuali Pheng Lian Houw seorang ahli senjata rahasia. Ia mendengarnya, setiap kali Nio Cu Ong menggeraki tangan, untuk menangkis atau membalas, saban-saban ada suara halus berkesiar, maka itu ia menduga, tentulah Oey Yok Su sudah menggunakan semcama senjata rahasia, mungkin sebangsa jarum, ia hanya tak dapat melihatnya, tak tahu kapannya senjata rahasia itu dipakai menyerang. Tentu sekali ia tidak tahu Oey Yok Su sudah melepaskan jarum rahasia dari dalam tangan bajunya, jarum mana dapat menembusi tangan baju itu, untuk meleset kepada sasarannya. Siapa dapat berkelit dari serangan semcam itu?”

“Yang ketiga!” terdengar suara pula Sa Kouw, nyaring.

Nio Cu Ong terkejut. Oleh karena tangannya tidak sudi mendengar kata, sedang ia tidak ingin merasakan pula bogem netah, lekas-lekas ia bertindak mundur, untuk menghindarkan diri. Tapi, baru ia mengangkat kakinya itu, kaki kana atau betisnya, bagian jalan darah pek-hay-hiat, mati sendirinya. Ia kget tak terkira. Itu artinya ia tak dapat berkelit. Ia menjadi sangat menyesal, maka tiba-tiba saja matanya menjadi merah, air matanya mengembang, untuk meluncur keluar. Kalau sampai ia menangis, habis sudah nama besarnya, maka ia hendak menyusutnya. Celaka untuknya, tidak dapat ia menangangkat tangannya. Dari itu, akhirnya bercucuranlah air matanya itu!

Sa Kouw tolol akan tetapi hatinya pemurah dan lemah, kapan ia melihat orang menangis, batal ia meninju, bahkan ia berkata nyaring. “Sudah, jangan kau menangis! Tidak, aku tidak akan menghajar pula padamu…”

Hiburan ini tapinya begitu hebat daripada tinjuan yang ketiga itu. Nio Cu Ong menjadi terasa terlebih terhina pula. Begitu hebat mendongkolnya, mendadak ia muntahkan darah hidup! Tapi ia segera mengangkat kepalanya, memandang Oey Yok Su.

“Tuan siapakah kau?” ia menanya. “Secara gelap kau melukai orang, apakah itu perbuatan satu enghiong, seorang gagah?”

Oey Yok Su tertawa dingin.

“Tepatkah orang semacam kau menanyakan namaku?” katanya dengan dingin mengejek, lalu dengan suara nyaring, ia memerintah: “Semua kamu menggelinding pergi dari sini!”

Semua orang itu menjadi kaget berbareng lega hati. Mereka telah menyaksikan segala apa, walaupun mereka gagah, hati mereka toh ciut, jeri mereka terhadap orang lihay tak dikenal ini. Untuk menyerang, mereka tak berani, untuk mengangkat kaki mereka malu, dari itu mereka diam saja, sampai tiba-tiba datang seruan orang.

Pheng Lian Houw si licik adalah yang bergerak paling dulu, hendak ia berlalu. Baru dua tindak ia berjalan, atau mendadak orang menghadang di depan pintu! Terpaksa ia menghentikan langkahnya, berdiri menjublak si situ.

“Setan alas!” berseru Oey Yok Su. “Telah aku melepaskan kamu, untuk kamu pergi, kenapa kamu berdiam saja? Apakah kamu ingin aku membunuh mampus pada kamu semua?!”

Pheng Lian ouw ketakutan, ia mengerti bahaya.

“Locianpwee ini menitahkan kita pergi, marilah kita keluar!” ia mengajak kawan-kawannya. Tidak berani ia ngeloyor sendirian.

See Thong Thian panas hatinya. Ia menyingkirkan sumbatan kepada mulutnya.

“Minggir untukku!” ia berseru mendongkol. Ia pun maju ke depan Oey Yok Su, matanya bersinar merah saking gusarnya.

Oey Yok Su tidak mengambil mumat suara orang yang bengis itu. Bahkan dengan tawar ia berkata: “Tidak dapat kau meminta aku membuka jalan! Siapa yang menyayangi jiwanya, lekas ia molos dari selangkanganku!”

Thong Thian semua saling mengawasi, muka mereka merah saking mendongkol. Saking gusar, mereka menjadi nekat. Mereka pun berpikir, “Walaupun kau sangat lihay, dapatkah kau melawan kami?”

Maka itu Hauw Thong Hay sudah lantas berseru sambil berlompat maju, menubruk itu perintang jalan yang jumawa.

“Hm!” terdengar suaranya Oey Yok Su, yang tahu-tahu tangannya sudah mencekuk si orang she Hauw itu, tubuh siapa diangkat tinggi-tinggi, terus dengan mendadak, tangannya menyambar lengan kiri Thong Thay, untuk ditarik, menyusul mana, orang galak ini menjerit keras, sebab sebelah tangannya itu kena dipatahkan. Habis itu, tubuh korban ini lantas dilemparkan, dia sendirinya terus dongak memandang langit, sikapnya acuh tak acuh……..

Thong Hay roboh setengah mati, sakitnya bukan main. Tangannya yang patah itu mengucurkan darah tak hentinya.

Semua orang kaget, hati mereka ciut.

Kemudian Oey Yok Su menggeraki kepalanya, dengan matanya perlahan-lahan ia menyapu muka semua orang.

See Thong Thian dan Pheng Lian Houw semua, semua sebangsa iblis, merasakan tubuh mereka menggigil sendirinya. Bukan main kerennya sinar mata orang ini! Bulu roma mereka pada bangun ssendiri.

“Kamu mao molos atau tidak?” tanya Oey Yok Su bengis karena orang pada tetap diam saja.

Tidak ada seorang juga yang berani banyak mulut, tidak ada yang ebrani menerjang atau membangkang, bahkan Pheng Lian Houw, dengan kepala tunduk, sudah lantas molos mendahului yang lain-lain!

See Thong Thian melepaskan In Cie Peng dan Liok Koan Eng, dengan menolong adik seperguruannya, ia molos menyusul Pheng Lian Houw, diturut oleh Wanyen Lieh bersama Yo Kang. Yang paling belakang molos adalah Nio Cu Ong bersama Leng Tie Siangjin. Sekeluarnya dari pintu rumah makan, mereka melekaskan tindakan mereka, bahkan tidak berani mereka menoleh ke belakang.

Oey Yok Su tertawa sambil melengak.

“Koan Eng dan kau nona, diam kamu!” ia berkata.

Koan segera mengenali kakek gurunya itu, akan tetapi akan orang mengenakan topeng dan menduga kakek guru ini sengaja tidak hendak memperlihatkan diri, ia tidak berani memanggil, ia cuma bertekuk lutut mengasih hormat dengan mengangguk empat kali.

Menyaksikan orang demikian lihay, In Cie Peng mennduga orang ini bukan sembarang orang, ia lantas memberikan hormatnya seraya memperkenalkan diri sambil menyebut nama gurunya, Tiang Cun Cu dari Coan Cin Kauw.

“Semua orang telah mengangkat kaki!” berkata Oey Yok Su nyaring. “Aku pun tidak menahan kau, perlu apa kau masih berdiam di sini? Apakah kau sudah bosan hidup?”

Cie Peng melengak. Inilah perlakuan yang ia tidak menyangkanya.

“Teecu ialah muridnya Coan Cin Kauw, bukannya orang jahat,” ia memberi keterangan.

“Habis kalau Coan Cin Kauw, bagaimana?!” tanya Oey Yok Su sambil tangannya diulur ke meja di mana ada sepotong kayu, yang mana ia ayunkan ke arah Cie Peng.

Nampaknya enteng potongan kayu itu dan melayang. In Cie Peng mengangkat kebutannya untuk menangkis. Akan tetapi, ketika keduanya bentrok, muridnya Khu Cie Kee ini terkejut. Ia merasakan serangan yang keras luar biasa, kebutannya itu kena tertolak sampai ujungnya mengenai mulutnya hingga ia merasakan sakit sekali dan mulutnya itu seperti tambah entah barang apa. Ketika ia telah memuntahkannya, nyatalah ada beberapa buah giginya yang copot serentak. Ia menjadi kaget dan bungkam. Sungguh hebat!

“Akulah Oey Yok Su atah Hek Yok Su!” kata Tong Shia dingin. “Kamu kaum Coan Cin Kauw, kamu hendak memandang bagaimana kepadaku?”

Mendengar itu, In Cie Peng kaget bukan main, hatinya berdebaran.

Yauw Kee semenjak tadi diam saja menyaksikan tingkah pola orang, turut terkejut, hatinya kebat-kebit.

Koan Eng turut berkhawatir, di dalam hatinya ia kata, “Tentulah kakek guruku ini dengar pembicaraanku dengan ini tosu muda. Kalau dia pun mendengar kata-kataku kepada malaikat dapur barusan, entah dia bakal menghukum bagaimana kepadaku…”

In Cie Peng memegang pipinya.

“Kaulah pemimpin suatu partai persilatan, mengapa perbuatanmu begini cupat?” kemudian Cie Peng menegur si Sesat dari Timur itu. “Kanglam Liok Koay adalah orang-orang gagah yang berhati mulia, mengapa kau mendesak mereka demikian rupa? Mengapakah? Jikalau bukan guruku yang memberikan kabar, bukankah mereka semua bakal bercelaka di tanganmu?”

Oey Yok Su menjadi gusar.

“Pantas tak ketemu aku cari mereka di mana-mana, kiranya ada orang bangsa campuran yang emngadu biru di antara kita!” katanya nyaring.

Cie Peng menjadi berani, ia berjingkrak.

“Jikalau kau hendak membunuh aku, bunuhlah!” ia menantang. “Aku tidak takut!”

Oey Yok Su tertawa dingin.

“Bukankah kau telah mencaci aku dibelakangku?” katanya.

Imam muda itu menjadi nekat.

“Di depanmu pun aku berani mencaci kau!” katanya sengit. “Kaulah si setan alas, si siluman!”

Koan Eng berkecil hati mendengar keberanian Cie Peng itu. Semenjak ia menjadi jago, Oey Yok Su ditakuti semua orang, dari kalangan Hitam dan Putih, tidak pernah ada orang yang berani berlaku kurang ajar terhadapnya, maka Cie Peng ini adalah orang yang pertama.

“Hebat! Ini imam cilik bakal tak ketolongan jiwanya…” ia mengeluh.

Tetapi anehnya, bukannya marah, Oey Yok Su justru tertawa. Nyata si Sesat dari Timur ini menghargai dan menyayangi hati besar bocah ini. Ia ingat pada masa mudanya, yang juga tidak kenal takut.

“Jikalau kau berani, kau makilah pula padaku!” katanya bengis sambil ia bertindak menghampirkan.

“Aku tidak takut, hendak aku memaki pula padamu!” jawab Cie Peng. “Kau iblis, kau siluman!”

“Hai, binatang bernyali besar, kau berani menghina kakek guruku!” membentak Koan Eng, yang lantas membacok. Tapi ia bukan hendak mencelakai, sebaliknya, untuk melindungi. Karena ia mengerti baik sekali, kalau kakek gurunya yang turun tangan, celakalah imam muda ini. Ia pikir, bacokannya sendiri, ke arah alis, tidak meminta jiwa orang. Ia harap perbuatannya ini nanti merendahkan kegusarannya kakek guru itu.

Cie Peng berkelit yang berlompat mundur dua tindak. Ia mendelik, kembali ia pentang mulutnya lebar-lebar.

“Imam kamu yang muda ini hari ini dia tak menghendaki hidup lebih lama pula!” katanya nyaring dan sengit, “Hendak aku mencaci kau!”

Koan Eng hendak membacok orang roboh, untuk menolongi jiwanya, maka tanpa membilang suatu apa, ia menyerang pula.

“Traang!” demikian satu suara nyaring. Sebab yauw Kee menalangi Cie Peng menangkis. Nona ini pun segera berkata nyaring: “Aku pun orang Coan Cin Kauw! Jikalau kau hendak membunuhnya, nah bunuhlah kami berdua saudara seperguruan!”

Perbuatan nona Thia ini membuatnya Cie Peng terkejut dan kagum.

“Bagus, Thia Sumoy!” serunya.

Berdua mereka berdiri berendang, mata mereka memandang tajam kepada Oey Yok Su.

Sikap mereka ini membuatnya Koan Eng menghentikan sepak terjangnya.

Oey Yok Su mengawasi sepasang muda-mudi ini, ia tertawa terbahak.

“Bagus, kamu bersemangat!” katanya memuji. “Memang aku Oey Lao Shia, aku ada dari bangsa sesat, maka tepatlah kau memaki aku! Gurumu masih terhitung orang di bawahan tingkat derajatku, dari itu, mana bisa aku melayani kamu bangsa sebawahanku? Nah, kau pergilah!”

Sambil berkata begitu, Oey Yok Su mengulurkan sebelah tangannya menjambak dada si imam muda, terus tangannya itu dikibaskan.

Cie Peng kena terjambak tanpa ia berdaya dan tahu-tahu tubuhnya sudaha melayang, terlempar ke luar. Ia kaget bukan main. Ia percaya bahwa ia bakal jatuh terbanting keras. Kesudahannya ada diluar dugaannya. Ia jatuh dengan berdiri dengan kedua kakinya, ia seperti juga dipegangi Oey Yok Su dan diksaih turun dengan perlahan-lahan!

Muridnya Tiang Cun Cu ini berdiri menjublak.

“Sungguh berbahaya..” katanya dalam hatinya. Sekarang ini biar nyalinya lebih besar pula, tidak nanti ia berani mencaci pula si Sesat dari Timur itu, kepandaian siapa benar-benar luar biasa. Kemudian dengan pegangi pipinya yang bengkak-bengkak, ia memutar tubuhnya untuk ngeloyor pergi…

Yauw Kee memasuki pedangnya ke dalam sarungnya, ia pun membalik tubuhnya untuk berlalu.

“Perlahan dulu!” mencegah Oey Yok Su seraya ia mengangkat tangannya ke mukanya, untuk menyingkirkan topengnya. “Bukankah kau suka menikah dengannya untuk menjadi istrinya? Benarkah?” Ia menanya seraya menunjuk ke Koan Eng.

Kaget nona Thia. Inilah ia tak sangka. Dengan sendirinya mukanya menjadi pucat dan kemudian berubah menjadi bersemu merah dadu…

“Imam cilik yang menjadi kakak seperguruanmu itu, memang tetap caciannya padaku,” berkata pula Oey Yok Su. “Bukankah ia mengatakan aku iblis dan siluman? Memang tocu dari Tho Hoa To, Tong Shia Oey Yok Su, siapakah orang kangouw yang tidak mengetahuinya? Seumurnya aku Oey Lao Shia, yang aku paling jemukan ialah segala hal wales asih dan pribadi, segala peradatan dan aturan, dan yang paling aku bencikan yakni segala nabi atau rasul, segala kehormatan atau kesucian diri! Semua itu adalah daya belaka untuk memperdayakan suami-istri tolol, dan manusia di kolong langit ini, turun menurun telah dibelesaki ke dalam situ tanpa mereka sadari! Tidakkah itu sangat menyedihakn, sangat harus dikasihani dan lucu juga? Oey Yok Su tidak percaya semua itu! Orang mengatakan Oey Yok Su sesat! Hm! Sebenarnya hatiku ada terlebih baik daripada segala nabi yang dipuja di dalam kuil!”

Yauw Kee berdiam, tapi hatinya berdenyutan. Hebat kata-katanya Oey Yok Su ini. Ia tidak tahu, apa yang si sesat ini hendak perbuat atas dirinya….

“Kau omonglah terus terang kepadaku,” berkata pula Oey Yok Su, “Benar bukan kau hendak menikah sama cucu muridku ini? aku paling sukai bocah yang bersemangat dan polos dan jujur! kau lihat imam cilik tadi, ia mencaci aku dibelakangku. Coba di depanku dia takut mencaci lebih jauh, coba dia justru bertekuk lutut memohon ampun, kau lihat, aku bunuh padanya atau tidak! Hm! Di saat yang sangat berbahaya kau membantu imam cilik itu, kau bersemangat, maka itu tepatlah kau dipasangi sama cucu muridkun ini! Nah, kau jawablah!”

Yauw Kee girang bukan kepalang. Memang sangat ingin ia menikah sama Koan Eng. Akan tetapi cara bagaimana ia dapat membuka mulut dalam urusan yang mesti direcoki orang tua mereka? Kepada ayah ibunya sendiri ia malu untuk menjelaskannya, apa pula kepada orang asing ini, yang ia baru pertama kali menemuinya? Pula di situ Koan Eng ada beserta! Maka ia tetap berdiri diam, wajahnya tetap merah dadu…

Oey Yok Su mengawasi Liok Koan Eng. Juga pemuda itu, cucu muridnya, berdiam sambil tunduk. Tiba-tiba ia ingat pada putrinya. Maka ia menghela napas.

“Jikalau dihendaki kamu berdua, suka aku merecoki jodoh kamu,” katanya perlahan. “Memang di dalam hal perjodohan, orang tua juga tiak dapat memaksanya….”

Si Sesat dari Timur ini ingat kejadian kepada putrinya. Coba ia meluluskan anak darahnya itu menikah dengan Kwee Ceng, tidak nanti anak itu mati mengenaskan di dasar laut. Karena ini, ia menjadi uring-uringan.

“Koan Eng!” katanya tiba-tiba nyaring. “Kau jawablah terus terang, sebenarnya kau menghendaki atau tidak dia ini menjadi istrimu?!”

Pemuda she Liok itu kaget hingga ia mencelat.

“Cauwsuya,” sahutnya cepat, gugup, “Aku hanya khawatir aku tidak setimpal dengan ini…”

“Tepat, cocok!” berseru Oey Yok Su. “Kaulah cuci muridku, sekalipun putri raja, tentu dia tepat, dia setimpal denganmu!”

“Ya, cucu muridmu suka,” Koan Eng menjawab dengan cepat. Ia mengerti kalau ia tidak omong polos dan terus terang, ia bisa celaka di tangan kakek guru yang tabiatnya aneh ini.

Kalau tadi ia beroman beringis, sekarang Oey Yok Su tersenyum.

“Bagus!” serunya. “Sekarang kau, nona?” ia terus tanya nona Thia.

Bukan main girangnya yauw Kee, manis ia mendengar suaranya Koan Eng. Akan tetapi ia masih menunduki kepala.

“Tentang hal ini haruslah ayahku yang memutuskannya…” sahutnya sesaat kemudian.

“Ha, apakah itu segala titah orang tua, segala perkataan comblang?” kata Oey Yok Su keras. “Segala itu ialah angin busuknya anjing! Sekarang ini akulah yang hendak mengambil keputusan! Jikalau ayahmu tidak mupakat, suruh dia berurusan denganku!”

Yauw Kee berdiam.

“Kalau begitu, terang kau tidak suka!” berkata Oey Yok Su. “Kau ada merdeka! Kita harus omong terus terang, aku Oey Lao Shia, aku larang orang menyesal kemudian!”

Yauw Kee tersenyum.

“Ayahku cuma pandai berhitung dan menulis, dia tidak mengerti ilmu silat,” katanya, menjelaskan.

Oey Yok Su heran, melengak.

“Biarlah mengadu menghitung dan menulis pun boleh!” katanya kemudian. “Lekas kau bilang, kau suka atau tidak menikah dengan cucu muridku ini?”

Nona Thia melirik Koan Eng, roman siapa gelisah. Di dalam hatinya ia kata: “Ayahku paling sayang padaku, asal kau minta orang datang melamar aku, dia tentu akan menerimanya. Kenapa kau begini bergelisah?”

Oey Yok Su mengawasi cucu muridnya.

“Koan Eng, mari turut aku mencari Kanglam Liok Koay!” katanya nyaring. “Lain kali kalau kau dan nona ini bicara pula, sepatah kata saja, akan aku kuntungi lidah kamu!”

Koan Eng kaget bukan main. Ia tahu benar, perkataannya si kakek guru tentu bakal diwujudkan. Maka lekas-lekas ia menghampirkan Yauw Kee, kepada siapa ia menjura seraya berkata: “Nona Thia, aku Liok Koan Eng, kepandaian ilmu silatku rendah sekali, aku pun tidak terpelajar, sebenarnya tidak setimpal aku denganmu, akan tetapi hari ini kita telah bertemu, itu tandanya kita berjodoh…”

“Jangan terlalu merendah, kongcu,” sahut Yauw Kee perlahan, “Aku…aku bukannya….”

Koan Eng lekas memotong. Ia jadi ingat tadi si nona bicara dari hal mengangguk kepala untuk menggantikan jawaban.

“Nona,” demikian katanya. “Jikalau kau mencela aku si orang she Liok, kau goyanglah kepalamu…”

Di mulut Koan Eng mengatakan demikian, hatinya sebenarnya goncang keras. Ia menatap si nona, ia khawatir nona itu benar-benar menggeleng kepala…

Sekian lama, Yauw Kee berdiam saja. Di atas dari kepalanya, di bawah sampai kakinya, dia tidak bergerak sedikit juga.

Bukan main girangnya Koan Eng.

“Nona!” ia berseru, “Kalau kau setuju, kau menerima baik, sukalah kau mengangguk!”

Tapi, nona Thia itu tetap tidak bergerak.

menampak itu, Koan Eng bergelisah bukan main.

Oey Yok Sun sendiri menjadi tidak sabaran.

“Menggeleng kepala tidak, mengangguk pun tidak, habis bagaimana?!” katanya.

Yauw Kee tunduk, ia bersenyum ketika ia berkata, “Tidak menggeleng kepala itu berarti mengangguk…”

Mau tidak mau, Oey Yok Su tertawa berkakakan.

“Hebat Ong Tiong Yang, dia menerima ini macam cucu murid! Sungguh lucu!” serunya. “Bagus, bagus! Sekarang juga aku akan menikahkan kamu!”

Koan Eng dan Yauw Kee terkejut. Keduanya lantas mengawasi orang tua ini, mulut mereka bungkam.

“Mana itu nona tolol?” kemudian Oey Yok Su menanya. “Hendak aku tanya dia, siapakah gurunya.”

Ketiganya menoleh ke sekitarnya, Sa Kouw tidak ada di antara mereka. Entah kapannya si tolol menghilang selagi orang berbicara.

“Sudah, tidak usah repot mencari dia,” kata Oey Yok Su kemudian, “Koan Eng, sekarang hayolah kau dan nona Thia sama-sama menghormati langit dan bumi, untuk menglangsungkan pernikahan kamu.”

“Cauwsuya,” berkata Koan Eng. “Kau menyayang cucu muridmu ini, untuk itu walaupun tubuhku hancur lebur, sukar aku membalas budimu, akan tetapi dengan aku menikah di sini, nampaknya ini terlalu tergesa-gesa…”

“Hus!” membentak Tong Shia. “Kamu murid Tho Hoa To, apakah kau juga hendak mengukuhi segala aturan umum? Mari, mari, berdirilah berendeng dan memberi hormatlah ke luar kepada langit!”

Berpengaruh sekali suaranya pemilik dari pulau Tho Hoa To ini. Sampai di situ, Yauw Kee dan Koan Eng bertindak satu pada lain, untuk berdiri berendeng, untuk terus menjalankan kehormatan.

“Sekarang menghadap ke dalam, menghormati bumi!” Oey Yok Su berkata pula, “Nah, kau menghormatilah couwsu kamu! Bagus, bagus, sungguh aku girang! Sekarang suami istri saling memberi hormat!”

Demikian KoanEng dan Yuaw Kee seperti main sandiwara di bawah pimpinan Tong Shia, selama mana Oey Yong bersama Kwee Ceng terus mengikuti dari kamar rahasia. Mereka heran dan lucu atas sepak terjangnya orang tua ini.

“Bagus!” terdengar pula suaranya Oey Yok Su. “Sekarang hendak aku menghadiahkan serupa barang kepada kamu suami-istri muda. Kamu lihat!”

Seketika itu juga, di dalam ruangan ini terdengar suara angin menderu-deru, seumpama kata, tembok bergoyang-goyang…

Oey Yong tidak mengintai tetapi ia tahu, ayahnya tengah menjalankan ilmu silat yang dinamakan Kong-piauw-kun atau Angin Ngamuk.

Sekira semakanan the, angin berhenti menderu.

“Kamu lihat, sekarang kamu turuti, untuk berlatih,” berkata Oey Yok Su. “Mungkin kamu tidak dapat menangkap seluruh sarinya ilmu silat ini akan tetapi setelah menyakinkannya, meskipun cuma kulitnya saja, bila kemudian kamu bertemu pula orang sebangsa si orang she Hauw tadi, tak usah kau takut lagi. Koan Eng, pergi kau cari sepasang lilin, malam ini kamu boleh merayakan pernikahan kamu!”

Koan Eng melengak.

“Cauwsu,” katanya tertahan.

“Apa? Habis menghormati langit-bumi, apakah bukannya merayakan pernikahan di antara lilin di dalam kamar?” tanya kakek guru ini. “Kamu berdua ada orang-orang yang menyakinkan ilmu silat, mustahilkah untuk kamu masih dibutuhkan segala kamar yang dirias indah dan gubuk reot tak cukup?”

Koan Eng terdesak. Tetapi diam-diam ia bergirang. Ia lantas pergi untuk membeli lilin sekalian membeli juga arak putih dan seekor ayam, bersama-sama Yauw Kee ia pergi ke dapur untuk mematangi itu, setelah mana mereka melayani sang kakek guru bersantap.

Sejak itu Oey Yok Su tidak banyak omong lagi, bahkan ia melihat ke langit, otaknya memikirkan anak daranya.

Oey Yong bersusah hati, beberapa kali hendak ia memanggil ayahnya itu, saban-saban ia membatalkannya. Ia khawatir ia nanti mengganggu lukanya Kwee Ceng. Pernah ia mengulur tangan ke pintu, lekas ia menariknya pulang.

Yuaw Kee dan Koan Eng beberapa kali melirik Tong Shia, lalu mereka saling mengawasi. Mereka juga membungkam, tidak ada yang berani membuka mulut.

Auwyang Kongcu rebah di atas rumput, ia merasa sangat lapar, tetapi ia menguati hatinya, untuk tak bersuara, tak bergerak. Maka itu ketika itu, di dalam tiga kamar, keenam orang itu sama-sama rapat mulutnya. Demikian cuca gelap.

Dengan mulai gelapnya sang jagat, hati Yauw Kee berdebaran.

“Ah, kenapa si tolol itu masih belum kembali?” berkata Oey Yok Su. “Kawanan jahanam itu tentulah tak berani mengganggu dia.” Ia menoleh pada Koan Eng. Ia menanya. “Malam ini malam pengantin, mengapa kau tidak memasang lilin?”

“Ya,” menyahut Koan Eng cepat dan ia menyalakan api menyulut lilin. Maka itu di antar terangnya api ia dapat melihat wajahnya nona Thia dengan rambutnya yang bagus dan pipinya yang putih. Di luar rumah terdengar suara angin perlahan, dari memainnya daun-daun bambu.

Oey Yok Su menngangkat sebuah bangku, ia lintai itu di depan pintu, lants di situ ia rebahkan dirinya. Tidak lama, dari hidungnya mulai terdengar suara menggeros perlahan, suatu tanda ia sudah tidur pulas.

Yuaw Kee dan Koan Eng masih duduk tak bergeming.

Sang tempo berjalan terus sampai sepasang lilin padam, habis manjadi cair beku dan sumbunya menjadi abu, hingga ruangan menadi gelap petang. Setelah ini mereka berbicara, seperti berbisik-bisik hingga Oey Yong yang memasang kuping, tidak dapat menangkap pembicaraan mereka itu.

Nona Oey berhenti memasang kuping tatkala merasakan tubuh Kwee Ceng bergerak secara tiba-tiba, napasnya seperti memburu. Ia mengerti, itulah saat genting dari latihan mereka. Maka ia memusatkan perhatiannya, ia mengempos tenaga dalamnya, untuk menunjang kawan itu. Ia menanti sampai si anak muda tenang pula, baru ia mengintai keluar.

Sekarang ini mulai tertampak sinar rembulan, yang molos masuk dari jendela butut. Dengan begitu kelihatan juga Koan Eng dan nona Thia duduk berbareng. Mereka duduk diatas sebuah bangku.

“Tahukah kau hari ini hari apa?” kemudian terdengar si nona Thia, suaranya perlahan.

“Inilah hari baik dari kita berdua,” menyahut Koan Eng.

“Itulah tak usah disebutkan lagi,” kata si nona. “Hari ini bulan tujuh tanggal dua – hari ini ialah hari lahir aku.”

Koan girang.

“Oh, sungguh kebetulan!” katanya. “Tidak ada hari sebaik hari ini!”

Yauw Kee mengulur tangannya menutup mulut orang.

“Sst, perlahan,” ia memberi ingat. “Kau lupa daratan, eh?”

Hampir Oey Yong tertawa mendengar pembicaraan mereka itu. Justru itu ia pun bagaikan sadar.

“Hari ini tanggal dua, dan engko Ceng baru sembuh tanggal tujuh,” demikian ia ingat. “Rapat partai Pengemis di kota Gakyang bakal dilakukan tanggal limabelas. Dalam tempo delapan hari, mana dapat kita sampai di sana?”

Nona ini tengah berpikir ketika kupingnya mendengar siulan panjang di luar rumah makan, disusul tertawa nyaring yang seperti menggetarkan genteng rumah makan itu. Ia mengenali suaranya Ciu Pek Thong.

“Hai, tua bangka berbisa bangkotan!” terdengar pula suaranya si orang tua berandalan itu. “Dari Lim-an kau mengubar ke Kee-hin, dari Kee-hin kau mengejar balik ke Lim-an, sudah satu hari satu malam kau mengejarnya, sampai diakhirnya, kau masih tak dapat menyandak Loo Boan Tong! Sekarang ini sudah ada keputusannya tentang kepandaian kita berdua, apalagi hendak kau bilang?”

Oey Yong terkejut.

“Dari Lim-an ke Kee-hin toh perjalanan limaratus lie lebih?” pikirnya. “Ah, bagaimana cepat larinya mereka berdua?”

Itu waktu terdengar suaranya Auwyang Hong: “Meski juga kau lari ke ujung langit, akan aku kejar kau sampai di sana!”

Ciu Pek Thong tertawa terbahak.

“Kalau begitu, biarlah kita jangan gegares jangan tidur!” dia berkata nyaring.

“Biar kita terus kejar-kejaran untuk mendapat tahu, siapa yang larinya paling kencang, siapa yang paling ulet. Kau berani atau tidak?!”

“Baik!” menyambut Auwyang Hong. “Mari kita lihat siapa yang akan lebih dulu mampus kecapaian!”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: