Kumpulan Cerita Silat

30/09/2009

Pendekar Baja (31)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 10:16 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

“Masakah kau lupa siapa yang akan kau tolong?” tanya Tokko Siang dengan gusar.

“Peduli siapa yang akan kutolong, yang lebih penting kan jiwaku sendiri?”

“Kau…”

Belum lagi Tokko Siang sempat memaki, mendadak Sim Long mendesis, “Sssst, diam!”

Tokko Siang terkejut dan bungkam seketika.

Tahu-tahu di kedalaman gua yang gelap sana muncul setitik cahaya api.

Cahaya api yang hijau berkelip, serupa api setan. Di balik cahaya api yang lemah itu seperti ada bayangan orang.

Tokko Siang, Ong Ling-hoa, dan Sim Long sama menahan napas dan bersembunyi dalam kegelapan. Siapa tahu cahaya api itu lantas berhenti di kejauhan. Mereka tidak bergerak, cahaya api itu pun diam.

“Siapa?” bentak Tokko Siang.

Tidak ada jawaban dalam kegelapan, tapi cahaya api lantas melayang-layang dan semakin menjauh.

“Kejar!” kata Sim Long dengan suara tertahan.

“Kejar?…Mana boleh, masa engkau tidak takut kepada tipu muslihat mereka?” ujar Ong Ling-hoa.

“Cahaya api ini pasti dibuat oleh Yu-leng-kui-li untuk menyongsong kedatanganku,” kata Sim Long. “Jika dia ingin menemuiku, sebelum berjumpa kukira takkan terjadi sesuatu.”

Habis bicara ia terus mendahului melompat ke depan.

“Jika engkau tidak mau ikut, boleh tunggu saja di sini,” kata Tokko Siang kepada Ong Ling-hoa.

“Urusan sudah kadung begini, tidak mau pergi juga tidak bisa lagi,” ujar Ling-hoa.

Kegelapan yang tak berujung menekan perasaan orang hingga tidak dapat bernapas.

Dalam kegelapan hanya ada setitik cahaya api hijau yang melayang-layang dan tidak tertampak apa pun. Angin meniup dingin seram membuat orang mengirik.

Pada hakikatnya Sim Long bertiga tidak dapat membedakan arah, terpaksa mereka mengikuti cahaya api itu secara membuta. Semakin menuju ke dalam gua semakin kencang angin yang meniup.

Memakai baju yang basah kuyup dan berjalan di bawah tiupan angin sedingin ini sungguh rasanya tidak enak. Tapi Sim Long bertiga sudah tidak merasakan dingin lagi. Entah apa perasaan mereka sekarang, mungkin takut, tapi rasa takut yang sukar dijelaskan, sebab mereka pun tidak tahu sesungguhnya apa yang ditakuti mereka.

Karena tegangnya, suara napas Tokko Siang yang semakin berat pun terdengar. Masakah manusia yang kaku dingin luar-dalam ini juga bisa takut? Tanpa terasa Sim Long menghela napas gegetun.

Kegelapan mestinya dapat menutupi macam-macam kelemahan manusia, tapi dalam keadaan tertentu dapat pula menonjolkan titik kelemahan manusia yang biasanya sukar terlihat di tempat terang.

Diam-diam Sim Long berpikir, “Meski orang pintar tahu cara bagaimana memperalat cahaya terang, hanya orang yang terpintar saja tahu cara bagaimana menggunakan kegelapan.”

Dan Yu-leng-kiongcu itu tidak perlu disangsikan lagi adalah seorang mahapintar dan cerdik.

Sim Long tidak mendengar suara Ong Ling-hoa, biarpun Ong Ling-hoa tidak merasa takut, sedikitnya dia tegang sehingga bernapas megap-megap.

Diam-diam Sim Long membatin pula, “Tidak perlu diragukan juga Ong Ling-hoa seorang mahapintar dan cerdik, tentu ia pun tahu cara bagaimana memperalat kegelapan. Dalam hal ini tidak boleh kulupakan…”

Sampai di sini, mendadak dalam kegelapan tersiar bau harum.

Sim Long cukup waspada, serentak ia menahan napas.

Menyusul dengan bau harum yang menusuk hidung itu, segera bergema suara tertawa nyaring serupa bunyi keleningan. Lalu seorang berkata, “Eh, jangan kalian menahan napas, bau harum ini tidak beracun, bahkan sangat bernilai, kan terlalu sayang bila tidak membaui?”

Mendadak Ong Ling-hoa juga berseru dengan tertawa, “Betul, mungkin inilah bau harum pupur buatan Ong-hong-cay dari Pakkia yang termasyhur itu, sungguh tak terduga nona yang tinggal jauh di sini juga mempunyai pupur pujaan kaum wanita ini, sungguh luar biasa.”

“Ahh, yang bicara tentunya Ong Ling-hoa, Ong-kongcu bukan?” sahut suara itu.

“Entah dari mana nona tahu akan diriku?” ujar Ling-hoa.

“Sudah lama kudengar Ong-kongcu adalah kesayangan kaum nona dan pujaan kaum wanita, memangnya siapa lagi kecuali Ong-kongcu yang sedemikian paham mengenai seluk-beluk pupur segala?”

“Terima kasih,” kata Ling-hoa. “Dan nona sendiri apakah Yu-leng-kiongcu adanya?”

“Betul,” jawab suara itu.

“Sering kudengar bahwa Kiongcu adalah putri tercantik di dunia ini, juga jantannya kaum wanita, tapi hari ini mengapa Kiongcu sedemikian pelit,” kata Ling-hoa.

“Pelit?” suara itu menegas.

“Kalau tidak pelit, mengapa Kiongcu tidak sudi memberikan setitik cahaya terang agar kami sempat melihat kecantikan Kiongcu,” ujar Ling-hoa dengan tertawa.

“Kecantikan dalam bayangan akan jauh lebih menyenangkan daripada melihat kenyataannya, bisa jadi setelah Kongcu melihat diriku akan merasa kecewa, bukankah seorang perempuan cerdik tidak nanti menimbulkan kecewa kaum lelaki, terutama bagi lelaki serupa Ong-kongcu?…” ia berhenti sejenak, lalu tanya Sim Long, “Betul tidak, Sim-kongcu?”

“Mana kupaham jalan pikiran anak perempuan?” sahut Sim Long.

Suara itu tertawa ngikik, katanya, “Setiap lelaki di dunia ini sama menganggap dirinya paling paham isi hati anak perempuan, hanya lelaki yang paling cerdik mau mengaku tidak paham jalan pikiran anak perempuan. Sim-kongcu memang tidak sama dengan lelaki lain, pantas sedemikian banyak anak perempuan yang tergila-gila padamu.”

Saking tidak tahan mendadak Tokko Siang membentak, “Jika kalian ingin mengobrol iseng, hendaknya berganti suatu tempat…”

“Masa tidak boleh bicara di sini?” tanya suara itu.

“Kukira di sini hanya cocok untuk membunuh orang,” kata Tokko Siang.

“Jika begitu ingin kutanya padamu, apakah kau tahu tempat ini sebenarnya tempat apa?”

“Tentu…tentunya bukan kamar tidurmu, bukan?” jengek Tokko Siang.

Siapa tahu suara itu lantas menjawab dengan lembut, “Siapa bilang tempat ini bukan kamar tidurku, masa tak dapat kau lihat?”

Hampir saja Sim Long tertawa geli, sungguh ia tidak menyangka Tokko Siang juga tahu humor.

Rupanya melengak juga Tokko Siang oleh jawaban orang, katanya pula dengan gelagapan, “Apakah…apakah tempat ini…”

“Dapatkah kau lihat apa yang terdapat di depanmu?” tanya suara tadi.

“Tentu saja tidak…tidak dapat kulihat,” jawab Tokko Siang.

“Nah, biar kukatakan padamu,” tutur suara itu. “Di depanmu sekarang tergantung sebuah lukisan indah.”

“Lukisan? Lukisan apa? Omong Kosong!”

“Itulah lukisan karya Go To-cu yang termasyhur, yang terlukis adalah Koan-im Hudco yang berbaju seputih salju.”

“Haha, Yu-leng-kiongcu juga memuja Koan-im, sungguh luar biasa,” seru Sim Long dengan tertawa.

“Dan di sebelah kiri lukisan adalah tempat tidurku,” sambung suara itu pula. “Di atas tempat tidur memakai kelambu warna jambon bersulam bunga indah buah tangan Toh Jit-nio dari Pakkia.”

“Wah, dapatkah kulihatnya?” kata Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Mengapa Ong-kongcu berubah menjadi orang awam, umpama tidak melihat buah tangan Toh Jit-nio kan juga dapat dibayangkan keindahannya, betul tidak, Sim-kongcu?”

“Aku cuma ingin berselimut dan tidur dengan nyenyak di atas tempat tidur, apakah di situ terdapat sulaman indah Toh Jit-nio atau tidak bagiku tidak menjadi soal,” jawab Sim Long.

Suara itu tertawa, katanya, “Dan di samping tempat tidurku adalah lemari pakaian, di situ ada berpuluh potong bajuku, kebanyakan putih, hanya seperangkat saja yang berwarna merah muda.”

“Pada waktu Kiongcu mengenakan baju warna merah muda tentu sangat cantik,” ujar Ling-hoa. “Dan entah tempat rias Kiongcu terletak di mana?”

“Terletak di sebelah kanan lukisan,” tutur suara itu. “Di situ ada sebuah cermin tembaga kecil, juga buatan Ong-hong-cay yang terkenal itu. Tentu ada pula minyak rambut dan sisir buatannya.”

“Wah, barang pilihan Kiongcu sungguh sangat bagus,” ucap Ling-hoa.

“Di kamar anak gadis yang indah ini mestinya ada juga kecapi,” sambung Sim Long tiba-tiba.

“Ai, Sim-kongcu memang seorang seniman,” kata suara itu. “Di samping meja rias justru ada sebuah kecapi.”

Bicara sampai di sini, benar juga segera bergema suara kecapi yang merdu.

Sim Long tertawa, katanya, “Wah, sungguh kami sangat beruntung dapat berkunjung ke kamar tidur Kiongcu yang luar biasa ini. Tapi entah kesalahan apa yang telah kami lakukan sehingga dihukum berdiri oleh Kiongcu.”

“Engkau memang telah melanggar kesalahan besar,” ujar suara itu. “Engkau telah mencuri lihat wajahku, sungguh ingin kuhukum kau berdiri selama hidup.”

Suaranya meski sangat lembut dan memesona, tapi terasa seperti sengaja dibuat-buat.

Tapi lagak dibuat-buat ini serupa juga anak gadis yang manja di depan sang kekasih. Agaknya dia sengaja menggunakan cara ini untuk menutupi suara aslinya.

Biarpun Sim Long berusaha membedakannya tetap tidak dapat menentukan apakah suara itu suara Pek Fifi atau bukan.

“Wajah Kiongcu mengapa tidak suka dilihat oleh orang lain?” katanya kemudian dengan tersenyum.

“Sebab aku sudah bersumpah di depan Yu-leng-cosu (Kakek Arwah Halus) bahwa setiap orang yang melihat wajahku, tidak peduli siapa dia hanya ada dua pilihan baginya.”

“Oo, kedua pilihan apa?” tanya Sim Long.

“Mati!” kata suara itu.

“Wah, jika begitu kuharap dapat memilih jalan kedua,” ujar Sim Long.

Perlahan suara itu berkata pula, “Sampai sekarang belum pernah ada orang menempuh jalan kedua, sebab jalan kedua ini tidak dapat dilalui oleh sembarang orang…Orang yang dapat menempuh jalan kedua ini tidak ada seberapa orang di dunia.”

“Memangnya ada berapa orang?”

“Jika mau bicara secara betul, hanya ada satu orang.”

“Satu orang? Apakah…apakah tidak terlalu sedikit?”

Suara itu bertambah lembut, “Bagimu seorang pun tidak sedikit lagi.”

“Sebab apa?” tanya Sim Long.

“Sebab satu-satunya orang yang dapat menempuh jalan kedua ini kebetulan ialah dirimu sendiri.”

“Aha, sungguh bahagia aku ini,” seru Sim Long. “Apabila Kiongcu sudi memberitahukan jalan macam apa jalan kedua itu, tentu Cayhe akan sangat gembira.”

“Jalan kedua itu adalah menikah menjadi suami-istri denganku.” kata suara itu perlahan.

“Wah, tidak adil, tidak adil!” teriak Ong Ling-hoa. “Mengapa kebanyakan gadis ingin menjadi suami-istri dengan Sim Long, mengapa tidak mencari diriku saja? Jika Kiongcu penujui pasi akan jauh lebih gembira daripada Sim Long.”

Suara itu tertawa, “Sim Long juga akan menerima.”

“Dari mana Kiongcu tahu aku pasti akan menerima,” tanya Sim Long.

Suara itu tidak menjawab, sebaliknya bertanya, “Him Miau-ji sahabatmu bukan?”

“Betul,” jawab Sim Long.

“Cu Jit-jit juga sahabatmu, bukan?”

“Ya.”

“Jika begitu seharusnya kau tahu sebab apa kau terima kehendakku.”

Mendadak Tokko Siang menghardik, “Apakah mereka…mereka jatuh dalam cengkeramanmu?”

“Menyesal, memang begitulah.”

“Huh, memaksa orang lain kawin denganmu secara licik begitu, apakah bukan perbuatan yang tidak tahu malu?”

Suara itu tertawa, “Jika ada seorang anak perempuan memaksamu kawin dengan dia secara begini, tentu engkau kegirangan setengah mati. Eh, betul tidak, Sim-kongcu?”

Dengan murka Tokko Siang hendak menerjang maju, tapi keburu ditahan Sim Long.

“Lepaskan!” teriak Tokko Siang. “Kenapa kau…”

“Umpama hendak kau labrak dia kan harus tahu jelas dulu dia berada di mana?” kata Sim Long.

“Di mana dia bicara, tentu juga dia berada di sana,” teriak Tokko Siang.

“Memangnya kau lihat dia?”

“Tidak perlu kulihat dia.”

“Dan dapatkah kau lihat diriku?”

“Tidak…tapi matamu…”

“Ya, sedikitnya dapat kau lihat mataku, tapi engkau justru tidak dapat melihat matanya, mengapa bisa begitu?…Tentu hal ini disebabkan dia memejamkan mata, bisa juga dia bersembunyi di belakang sesuatu, mungkin di belakang tempat riasnya, bila kau terjang ke sana, bukan mustahil akan menabrak meja riasnya hingga berantakan, kan sayang?”

Sembari bicara dengan jarinya Sim Long terus menulis beberapa huruf di telapak tangan Tokko Siang.

Dalam pada itu suara tadi bergema pula, “Engkau tidak menerima lamaranku, itulah yang harus disayangkan. Seorang anak perempuan secara aktif melamar seorang lelaki, hal ini sudah cukup membuatnya kikuk, jika lamarannya ditolak, tidak perlu heran bila segala apa pun dapat diperbuatnya.”

“Tapi dari mana kutahu Him Miau-ji betul-betul berada di sini?” ujar Sim Long.

“Ini kan gampang…” belum lenyap suaranya, tiba-tiba dari kejauhan ada suara orang meraung murka.

“Keparat, kau anjing betina, bila kau pegang lagi bapakmu segera ku…”

Mendadak terputus suaranya, namun Sim Long sudah dapat mengenali suara itu memang suara Him Miau-ji.

Ong Ling-hoa tertawa, “Wah, tampaknya Si Kucing itu tidak tersiksa sebaliknya malah mendapat pelayanan istimewa. Cuma sayang biasanya dia memang tidak mengerti kemesraan, jika aku yang menjadi dia, biarpun bagian mana yang diraba tetap akan ku…”

“Eh, apakah Sim-kongcu juga ingin mendengar suara Cu Jit-jit?” tiba-tiba suara tadi bertanya.

“Tidak perlu lagi,” jawab Sim Long.

“Dan kau terima permintaanku?”

“Jika Kiongcu benar orang yang kulihat malam itu, kenapa aku tidak mau memperistrikan gadis secantik itu…Tapi dari mana kutahu engkau betul adalah dia?”

“Huh, bicara kian-kemari maksudmu tetap ingin minta kumunculkan diri, bukan?”

“Sekalipun Kiongcu tidak unjuk diri, sedikitnya kan boleh kulihat bagaimana matamu?” ia menghela napas, lalu menyambung, “Ai, mata itu sungguh bening menarik, sekali kulihat tak dapat kulupakan selamanya.”

Suara itu juga menghela napas perlahan, katanya, “Begitu mengharukan cara bicaramu, aku menjadi tidak sampai hati menolak kehendakmu.”

Benar juga, dalam kegelapan segera muncul sepasang mata. Tidak perlu diragukan lagi jelas itulah mata yang jeli, mata yang indah.

Tapi pada detik munculnya mata itu, mendadak Sim Long dan Tokko Siang menghilang.

Kiranya yang ditulis Sim Long pada telapak tangan Tokko Siang tadi berbunyi, “Begitu melihat matanya, segera kita pejamkan mata dan menubruk maju!”

Sudah tentu dia menulis dengan kalimat yang singkat, syukur dapat dipahami Tokko Siang.

Dan dalam sekejap itulah Sim Long dan Tokko Siang telah menerjang ke depan.

Sim Long juga orang cerdik, dengan sendirinya ia tahu menggunakan kegelapan ini. Dengan memejamkan mata dalam kegelapan dan menubruk maju, tindakan mereka menjadi tak bersuara dan tidak terlihat.

Bahkan mata orang tidak sempat berkedip, pada hakikatnya Sim Long tidak memberi kesempatan bagi lawan untuk menangkis, melawan dan menghindar.

Empat tangan serentak memukul dengan cara yang berbeda, nyata mereka tidak mau memberi kesempatan bagi arwah halus yang cantik ini lolos lagi dari tangan mereka. Dan rasanya sukar bagi siapa pun untuk lolos dari serangan mereka.

Benar juga, si dia tidak dapat menghindar, empat tangan kuat sekaligus mengenai tubuhnya.

Terdengar suara keluhan, lalu roboh dengan lunglai, tapi mata yang indah itu tetap terbentang.

Dia tidak menjerit, bahkan sinar matanya tidak memperlihatkan rasa kejut atau kesakitan, sebaliknya menampilkan semacam rasa gembira karena telah impas.

Sim Long membuka matanya, ia terkejut dan berseru, “Hei, sesungguhnya siapa kau?”

Mendadak dirasakan mata yang indah ini telah dikenalnya dengan baik, jelas bukan mata yang dilihatnya di balik kerudung yang disingkapnya kemarin malam itu.

Di tengah kegelapan malam tidak ada yang bersuara, mata yang indah itu seakan-akan lagi berkata, “Sim Long, masa engkau tidak kenal lagi padaku?”

Cepat Sim Long memayang tubuhnya, tapi dirasakan tubuh itu telanjang bulat, halus licin dan dingin, nyata sebelum Sim Long menghantamnya dia sudah tertutuk dulu hiat-to kelumpuhannya. Sim Long lagi menyadari telah berbuat salah besar.

Cepat ia membuka hiat-to si dia yang tertutuk dan mendesis, “Kuatkan dirimu, engkau takkan mati.”

Mata yang indah itu mengembeng air mata, rintihnya perlahan, “Tidak perlu lagi engkau menghiburku, kutahu aku akan mati, bagiku mati tidak menakutkan…sedikit pun tidak menakutkan…”

“Sesungguhnya siapa dia?” tanya Tokko Siang mendadak.

Ong Ling-hoa yang berdiri di sebelah sana mendengus, “Hm, kalian telah salah membunuh, yang terbunuh oleh kalian ternyata Ci-hiang.”

“Ci-hiang?” Tokko Siang menegas. “Apakah dia…”

Dengan menyesal Sim Long lantas berkata, “Ci-hiang, maaf, aku salah…”

“Jangan bicara demikian,” kata Ci-hiang dengan lemah. “Dapat mati di tanganmu adalah sesuatu yang menyenangkan bagiku…”

Matanya yang indah itu seperti menampilkan secercah senyuman pedih. Lalu matanya terpejam untuk selamanya, ia telah mengakhiri hidupnya yang sengsara dengan tersenyum.

Dalam kegelapan terasa mencekam, sampai setitik api setan tadi pun lenyap.

Sim Long memegangi tangan Ci-hiang yang lambat laun mulai dingin, sampai sekian lama tak dilepaskannya.

Mendadak suara Yu-leng-kiongcu itu bergema pula, “Sim Long, sekarang tentu kau tahu bahwa tidak mungkin dapat kau sentuh diriku. Kecuali terjadi perkawinan antara kita, kalau tidak, sebuah jariku pun tak dapat kau sentuh.”

“Mengapa kau lakukan seperti ini? Kenapa kau celakai dia?” tanya Sim Long. Suaranya seperti tenang saja, tapi di tengah ketenangan mengandung rasa duka dan gusar yang tak terhingga.

Suara tertawa Yu-leng-kiongcu menusuk perasaan orang setajam jarum, katanya, “Cara begini tindakanku hanya untuk memberitahukan padamu bahwa engkau bukan malaikat, engkau juga dapat berbuat salah, engkau tidak banyak lebih pintar daripada orang lain.”

Sim Long menghela napas panjang, katanya rawan, “Ya, aku memang berbuat salah tapi kuharap engkau juga perlu berpikir, apakah engkau tidak berbuat salah juga?”

Cukup lama suasana dalam kegelapan itu tidak terdengar sesuatu suara.

Maka Sim Long berkata lagi, “Betul, ada sementara urusan engkau memang berbuat dengan sangat berhasil, bukan saja aku tertipu olehmu, juga orang lain sama tertipu, tapi apakah engkau dapat menipu terus-menerus?”

Dalam kegelapan tetap tidak ada suara orang.

“Engkau ingin menipu setiap orang di dunia ini, sebab itulah engkau tidak mempunyai sanak famili, tidak punya kawan, sebab engkau tidak memercayai siapa pun, engkau terpaksa hidup sendirian untuk selamanya dan tersiksa selama hidup.”

Mendadak Yu-leng-kiongcu bergelak tertawa, katanya, “Siapa bilang aku tersiksa? Sedikitnya saat ini engkau terlebih tersiksa daripadaku.”

“Apakah engkau merasa senang bila melihat orang lain tersiksa?” tanya Sim Long.

“Betul, terlebih bila melihat engkau menderita,” kata Yu-leng-kiongcu.

“Jika engkau sedemikian benci padaku, kenapa engkau ingin kawin denganku?”

Yu-leng-kiongcu termenung sejenak, katanya kemudian, “Sebab aku tidak dapat melihat engkau mendapatkan kebahagiaan, maka aku pun tidak dapat membiarkan kau…”

“Tidak membiarkan kukawin dengan orang lain, begitu?” tukas Sim Long.

“Pokoknya, biarpun aku harus menderita selama hidup, engkau juga harus tersiksa selama hidup.”

Mendadak Yu-leng-kiongcu seperti dirangsang emosi sehingga suaranya rada gemetar.

Sim Long menghela napas panjang, katanya perlahan, “Bagus, sekarang, akhirnya dapat kupastikan siapa dirimu.”

“Oo, sia…siapa aku?”

“Jika benar engkau tidak kenal diriku, mengapa pula engkau benci padaku? Ai, semula kusangka engkau seorang yang bajik, siapa tahu dugaanku salah besar.”

Kembali tiada suara dalam kegelapan.

“Apakah aku salah omong?” tanya Sim Long.

“Biarpun benar bicaramu, memangnya lantas bagaimana?” ujar Yu-leng-kiongcu. Mendadak suaranya berubah, tidak lembut lagi, juga tidak emosi, berubah menjadi hambar dan dingin, seperti suara seorang lain.

“Kuharap engkau suka berpikir lagi…”

“Aku tidak perlu pikir lagi,” sela Yu-leng-kiongcu.

“Tapi aku…”

“Kau pun tidak perlu berpikir.”

“Sebab apa?”

“Sebab antara kita tiada pilihan lain lagi.”

“Masakah engkau sendiri pun tiada pilihan lain?”

“Ya, karena tiada pilihan lain, terpaksa kubiarkan kau mati.”

Sim Long termenung sejenak, lalu berkata, “Masakah engkau sedemikian yakin dapat membuatku mati?”

Yu-leng-kiongcu mengiakan.

“Engkau akan senang bila kumati?”

“Juga belum tentu.”

“Jika tidak tentu senang, mengapa engkau…”

“Kan sangat sederhana dalil ini, bilamana tidak dapat terpaksa harus membuatmu mati.”

“Bagus sekali, boleh kau coba…” ucap Sim Long dengan tenang.

Akhirnya Tokko Siang tidak tahan, ia meraung gusar, “Sim Long, tadinya kusangka engkau seorang pintar, siapa tahu engkau ternyata orang gila.”

“Gila?” Sim Long melenggong.

“Dalam keadaan demikian, untuk apa engkau mengobrol dengan dia? Memangnya tempat ini cocok untuk bicara iseng? Apakah sekarang waktunya mengobrol?” teriak Tokko Siang.

“Urusan antara dia dan aku selamanya takkan kau ketahui,” ujar Sim Long dengan menyengir.

“Sesungguhnya siapa dia?…Sebenarnya orang macam apa dia?” kembali Tokko Siang meraung.

“Hal ini tak dapat kau bayangkan, dia…dia bukan lain ialah Pek Fifi.”

Hampir saja Tokko Siang berjingkrak, teriaknya, “Hah, tampaknya engkau benar sudah gila, Pek…Pek Fifi katamu? Masakah Pek Fifi sama dengan Yu-leng-kiongcu? Anak perempuan yang lemah lembut itu adalah Yu-leng-kiongcu?”

“Sebenarnya aku pun tidak percaya, tapi kenyataan sekarang membuatku mau tak mau harus percaya,” kata Sim Long.

Tokko Siang termenung sejenak, katanya kemudian, “Masa engkau benar…benar Pek Fifi?”

Suara Yu-leng-kiongcu terdengar dalam kegelapan, “Sekarang tidak menjadi soal lagi siapa aku ini, bagi seorang yang sudah hampir mati, siapakah diriku kan tiada bedanya?”

“Kentut, kau…” teriak Tokko Siang dengan murka.

“Sebaiknya jangan sembarangan bertindak, kalau tidak kematianmu bisa tambah cepat,” jengek Yu-leng-kiongcu. “Hm, memangnya kau sangka tempat ini betul tempat tidurku?”

“Habis tempat apa ini?” tanya Tokko Siang.

“Supaya kutahu, di sini adalah neraka dunia,” jawab Yu-leng-kiongcu.

Mendadak Tokko Siang tertawa dingin, suaranya tidak terlalu keras, tapi jelas suara yang dibikin-bikin, dia berkata, “Sejak berkecimpung di dunia Kangouw pada waktu berumur 14 tahun, sampai kini sudah berlangsung 40 tahun lamanya. Selama 40 tahun ini mestinya aku sudah mati beberapa kali, jangankan cuma neraka dunia, biarpun neraka di akhirat juga berani kuhadapi, maka engkau salah besar jika kau kira aku dapat kau takut-takuti?”

Yu-leng-kiongcu tersenyum hambar, katanya, “Kuharap engkau takkan ketakutan, aku pun tidak bermaksud menakutimu, tapi ingin kukatakan padamu, neraka dunia sesungguhnya jauh lebih indah daripada neraka di akhirat.”

“Lebih indah?” Tokko Siang menegas dengan tertawa.

“Betul, jauh lebih indah, makanya sangat sayang engkau tidak dapat melihatnya,” kata Yu-leng-kiongcu.

“Hehe, sayang…”

“Ya, sayang di neraka tidak ada cahaya lampu, mata telanjang manusia setiba di sini akan berubah serupa orang buta, demi untuk menambal kerugian kalian, biarlah kulukiskan keadaan ini kepada kalian.”

Sementara itu bau harum yang memabukkan tadi sudah berubah menjadi semacam bau busuk mayat dan bau anyir darah yang membuat orang bisa tumpah.

Suara lembut Yu-leng-kiongcu tadi juga berubah menjadi melengking tajam, singkat melayang-layang serupa bukan suara manusia lagi.

Dua macam suara yang sama sekali berbeda ini ternyata keluar dari mulut seorang yang sama, hal ini sungguh sukar untuk dipercaya. Bahkan suaranya tidak jelas datang dari arah mana lagi.

Terdengar Yu-leng-kiongcu berkata lagi, “Apabila kalian dapat melihat, tentu kalian akan merasakan bahwa tempat di mana kalian berdiri sekarang boleh dikatakan tempat yang paling indah di dunia. Permukaan bumi yang halus licin itu tampaknya serupa kemala, lukisan yang indah itu bahkan boleh dikatakan karya seni yang tidak ada bandingannya.”

Ia tertawa, lalu menambahkan, “Tapi apakah kalian tahu tanah di tempat ini terbuat dari apa?”

“Namanya tanah, masakah terbuat dari sesuatu? Huh, persetan!” jengek Tokko Siang.

Suara tertawa Yu-leng-kiongcu berubah serupa tangisan kera di malam dingin, suara tangis kera yang serupa tangis setan itu membuat siapa pun mengirik.

Terdengar lagi suara Yu-leng-kiongcu, “Supaya kalian tahu, tempat ini terbuat dari tulang manusia yang dirangkai menjadi satu. Tulang manusia sekerat demi sekerat, ada tulang lelaki dan ada tulang perempuan. Ada tulang orang tua, juga ada tulang anak kecil, ada tulang tengkorak, ada tulang iga dan sebagainya…”

Ia tertawa terkekeh, “Bisa jadi kalian sekarang berdiri di atas tulang tengkorak, mungkin itulah tulang tengkorak seorang gadis jelita…”

Kaki Tokko Siang tanpa terasa mengejang.

Mendadak Yu-leng-kiongcu berkata pula, “Dan apakah kalian?…Itulah sebuah lukisan bersulam, yang tersulam adalah gunung yang hijau, awan yang putih, dan air yang hijau.”

“Hm, apakah ini pun buah tangan Si Jarum Sakti Toh Jit-nio?” jengek Tokko Siang.

“Betul,” kata Yu-leng-kiongcu dengan tertawa. “Ini memang buah tangan Toh Jit-nio, boleh dikatakan karyanya yang paling indah, tapi apakah kau tahu disulamnya dengan apa?”

Kembali suara tertawanya berubah lagi, tertawa menyeringai, katanya pula, “Semua ini disulamnya dengan tulang sebagai jarum dan sebagai benang, disulam di atas kulit manusia, kulit manusia yang utuh sehingga licin serupa sutra, mestinya kulit seorang gadis lembut dan jelita, sejelita Cu Jit-jit. Aku yang membeset kulitnya, sebab dia tidak menurut kepada perkataanku.”

“Haha, apakah sengaja hendak kau takuti diriku? Huh, memangnya kau sangka aku tidak pernah membeset kulit dan membetot urat orang?” teriak Tokko Siang dengan terbahak-bahak.

“Tentu saja pernah kau lakukan,” sahut Yu-leng-kiongcu. “Tapi apakah kau tahu dengan cara bagaimana supaya dapat menguliti secara utuh kulit seorang?”

“Banyak sekali caranya, apakah kau ingin mencobanya?” jawab Tokko Siang.

“Meski banyak caranya tapi bila ingin membuat kulit ini utuh tanpa cacat setitik pun, hal ini pun semacam seni dan mungkin engkau tidak paham,” ujar Yu-leng-kiongcu dengan tertawa.

“Memang aku hanya paham menguliti dan tidak tahu seni segala,” jengek Tokko Siang.

“Dan apakah perlu kuceritakan?”

“Huh, persetan kau mau cerita atau tidak?”

“Ini, dengarkan,” tutur Yu-leng-kiongcu. “Lebih dulu kutanam sebagian besar tubuhnya di tanah, habis itu akan kusayat satu celah di atas kepalanya, lalu kutuangkan air raksa ke dalamnya. Dengan demikian tubuhnya akan mulai menjumbul ke atas. Lantaran tubuhnya terimpit oleh tanah, dengan sendirinya badannya mengelupas dan tersembul keluar telanjang tanpa kulit lagi…”

“Tutup mulut!” bentak Tokko Siang dengan suara agak gemetar.

“Haha, engkau tidak mau mendengarkan? Kau takut?” tanya Yu-leng-kiongcu dengan tertawa.

“Kau…kau setan iblis, kau bukan manusia,” teriak Tokko Siang.

Yu-leng-kiongcu tertawa nyaring, “Kan sudah kukatakan aku bukan manusia, kulupa memberitahukan pula padamu, langkah terakhir dari karya seni ini adalah menuangkan sebaskom air mendidih ke atas tubuh telanjang tanpa kulit itu.”

Tokko Siang meraung murka serupa air mendidih mendadak tertuang di atas tubuhnya, “Biar kuadu jiwa denganmu…”

“Berhenti, jangan bergerak,” bentak Yu-leng-kiongcu mendadak. “Memangnya kau tahu apa yang terletak di depanmu?”

Bentakan ini serupa pisau belati yang mengancam di depan dadanya, seketika Tokko Siang lantas menghentikan langkahnya.

Dengan suara lembut Yu-leng-kiongcu berkata pula, “Nah, supaya kau tahu, di depanmu justru ada sebuah kolam, tapi bukan kolam teratai sebagaimana pernah kau lihat dengan daun dan bunga teratai yang mengapung di permukaan kolam serta direnangi oleh angsa putih dan sebagainya, kolam ini jauh lebih menarik daripada kolam yang pernah kau lihat…”

Ia tertawa terkekeh, lalu menyambung, “Inilah kolam darah, di dalam kolam tidak ada air tapi darah melulu, tidak ada daun dan bunga teratai, tidak ada angsa segala, yang terapung di kolam ini hanya hati manusia, jantung dan paru-paru manusia, mungkin juga ada biji mata yang baru dicungkil dan hidung atau lidah yang baru dipotong.”

Ia merandek sejenak, lalu melanjutkan, “Maka bila sampai kau jatuh ke dalam kolam, tentu rasanya sukar dibayangkan. Nah, apakah engkau tetap hendak melangkah lagi ke depan?”

Suaranya berubah tidak menentu sehingga sukar dibedakan apakah keterangannya benar atau cuma gertakan belaka. Tokko Siang menjadi ragu sehingga tidak berani sembarangan bergerak.

Mendadak Sim Long yang sejak tadi diam saja bergelak tertawa.

“Apa yang kau tertawakan, Sim Long?” jengek Yu-leng-kiongcu.

“Engkau sungguh seorang pintar, aku merasa kagum padamu,” kata Sim Long.

“Oo?!” melenggong juga Yu-leng-kiongcu.

“Kutahu di dunia persilatan ada sementara orang yang suka berlagak setan dan menyamar seperti malaikat, untuk menakuti orang dia tidak segan menggunakan berbagai akal licik dan membikin suatu tempat sedemikian seram, bahkan memberinya nama yang mengerikan seperti neraka dunia segala.”

“Hihi, apa lagi?” tanya Yu-leng-kiongcu dengan tertawa.

“Tapi engkau berbeda dengan mereka,” kata Sim Long. “Engkau jauh lebih pintar daripada mereka. Cukup dengan beberapa patah katamu saja sudah jauh lebih menakutkan daripada tempat yang dibangun dengan memakan biaya dan tenaga yang sukar dinilai.”

“Memangnya kau kira apa yang kukatakan tidak benar?” tanya Yu-leng-kiongcu dengan terkekeh.

“Benar atau tidak bukan soal bagiku,” kata Sim Long. “Tentunya kau tahu, orang semacam kami ini tidak mungkin ditakuti. Jika kau inginkan kematian kami masih diperlukan keahlian lain.”

Yu-leng-kiongcu menghela napas, “Aku hanya dapat menakuti orang dan tidak ada keahlian lain.”

Belum lenyap suaranya, mendadak dari berbagai penjuru bergema suara mendenging tajam menyambar ke arah berdiri Sim Long dan Tokko Siang.

Dari suaranya dapat diketahui bukan sebangsa anak panah melainkan jenis senjata rahasia yang sangat lembut dan keji, biarpun dalam keadaan biasa pun sukar dihindari, apalagi dalam kegelapan yang tidak diketahui tempat macam apa sehingga tidak berani sembarangan bergerak.

Suara mendesing itu terus berlangsung hingga sekian lamanya dan Sim Long serta Tokko Siang juga tidak terdengar melakukan sesuatu gerakan. Jangan-jangan mereka sudah binasa?

Sampai lama baru terdengar suara Yu-leng-kiongcu memanggil, “Sim Long…Sim Long!…”

Dalam kegelapan tidak ada suara jawaban.

Sekian lama lagi baru terdengar suara seorang perempuan lain berucap, “Akhirnya bencana ini dapat ditumpas juga.”

“Mungkin…tidak,” kata Yu-leng-kiongcu.

“Mereka pasti tidak dapat menghindar, apalagi, sama sekali tidak terdengar sesuatu suara mereka.”

“Betul, tidak ada suara gerakan apa pun, tapi juga tidak ada suara teriakan.”

“Orang semacam mereka biarpun mati juga takkan berteriak.”

Dapat juga Yu-leng-kiongcu menghela napas, rasanya seperti timbul dari lubuk hatinya yang dalam.

“Apa boleh menyalakan lampu sekarang?” tanya suara orang perempuan tadi.

“Tunggu sebentar lagi…”

Dalam kegelapan tidak terdengar suara apa pun, juga tidak terdengar suara napas Sim Long dan Tokko Siang, padahal bila manusia tidak bernapas kan berarti sudah mati.

“Sim Long, apakah benar engkau mati?…” ucap Yu-leng-kiongcu perlahan. “Ini pun bukan salahku, tapi salahmu sendiri. Tapi meski engkau mati juga jauh lebih enak daripada yang masih hidup.”

Mendadak berkumandang suara Ong Ling-hoa dari kejauhan, “Tapi aku justru ingin hidup saja.”

“Engkau masih hidup sebab aku belum menghendaki kematianmu,” kata Yu-leng-kiongcu.

“Tentu kutahu,” ujar Ong Ling-hoa tertawa, “kalau tidak masakah ibuku mengirim dirimu pulang ke sini dan menyerahkan orang bencong itu kepadamu.”

“Ibumu memang orang pintar,” kata Yu-leng-kiongcu.

“Dan mulutku juga cukup rapat,” ujar Ling-hoa. “Urusan yang menyangkut Kiongcu tidak pernah kukatakan satu kata pun. Meski sampai sekarang baru kutahu nona ialah Yu-leng-kiongcu, tapi soal nona seorang yang luar biasa sebenarnya sudah lama kuketahui, juga sudah lama kutahu nona adalah…”

“Tutup mulut,” jengek Yu-leng-kiongcu. “Jika mulutmu tidak rapat, memangnya saat ini dapat kau hidup?”

Ong Ling-hoa mengiakan.

“Setelah kubunuh Sim Long, entah bagaimana reaksi ibumu nanti?” tanya Yu-leng-kiongcu.

“Bahwa nona dapat turun tangan membinasakan Sim Long, tentu saja ibuku sangat kagum padamu.”

“Hm, kecuali diriku sendiri, siapa pun dapat kubunuh,” jengek Yu-leng.

“Sudah lama ibuku mengetahui bakat nona yang luar biasa, kecuali nona, siapa pula yang mau menerima penderitaan semacam itu dan siapa pula yang mampu berpura-pura sedemikian rupa?”

Yu-leng-kiongcu mendengus.

“Makanya ibu ingin bekerja sama denganmu setulus hati,” kata Ling-hoa pula. “Pertama ingin menumpas Koay-lok-ong itu. Kedua, ingin membagi dunia bersama nona.”

“Kupergi ke Tionggoan sebagian besar juga karena ingin mencari ibumu,” tutur Yu-leng-kiongcu. “Sejak kecil sudah timbul keinginanku untuk melihat orang cantik macam apakah ibumu sehingga dapat membuat ‘dia’ meninggalkan ibuku.”

“Urusan masa lampau, untuk apa nona mengungkitnya lagi,” ujar Ling-hoa. “Yang jelas, ibumu dan ibuku sama-sama orang yang ditinggalkan oleh ‘dia’, dan antara kita sebenarnya…”

“Tutup mulut!” bentak Yu-leng-kiongcu.

“Ya, sekarang…”

“Jika tidak kubunuh dirimu, apa pula yang akan kau katakan?”

“Apakah sekarang nona sudi memberikan setitik cahaya terang agar aku dapat maju ke sana, biar kulihat bagaimana bentuk Sim Long sesudah mati.”

Yu-leng-kiongcu terdiam hingga lama, akhirnya berkata perlahan, “Nyalakan lampu!”

Seperti keajaiban dalam mimpi saja, setelah lampu menyala, suasana yang mencekam dan kegelapan yang seram seketika lenyap.

Tempat ini bukan kamar anak perawan, juga bukan neraka dunia segala. Di sini tidak ada meja rias, lukisan indah dan tulang tengkorak serta kolam darah segala. Tempat ini tidak lain cuma sebuah gua karang yang gelap dengan batu padas yang keras.

Sedangkan Sim Long dan Tokko Siang, mereka pun tidak mati, mereka tetap berdiri di situ dengan segar bugar.

Sim Long tampak berdiri tidak bergerak dengan wajah tetap mengulum senyum yang khas itu, bahkan senyumnya terasa menggemaskan hati.

Dia berdiri dengan mengadu punggung dengan Tokko Siang, baju mereka sudah ditanggalkan dan dibentangkan dengan kedua tangan sehingga berwujud serupa layar menggembung dan mereka justru bersembunyi di balik layar.

Baju yang basah kuyup dan dikembangkan dengan tenaga dalam mereka, tentu saja senjata rahasia yang lembut itu tidak dapat menembusnya.

Seketika pucat pasi wajah Ong Ling-hoa yang berdiri di kejauhan sana. Bayangan serupa badan halus di tempat kelam sana juga timbul kegemparan.

“Hahahaha!” Sim Long terbahak. “Betapa pun pintarnya seorang sekali tempo pasti juga akan salah hitung. Bualan nona tadi hampir saja membuat sukmaku terbang ke awang-awang saking takutnya, tentu tujuan nona kemudian akan membinasakan kami, tak kau duga ketika engkau mengoceh tadi kami lantas membuat benteng pertahanan ini sehingga…”

“Sim Long, engkau sungguh setan dan bukan manusia,” teriak Yu-leng-kiongcu dengan geram.

“Tapi aku hanya ingin menjadi manusia dan tidak mau menjadi setan,” Sim Long lantas berpaling ke arah Ong Ling-hoa, katanya, “Untuk ini kukira Ong-heng mempunyai pikiran serupa diriku.”

Ong Ling-hoa hanya berdehem saja tanpa menanggapi.

“Wahai Ong Ling-hoa,” kata Sim Long pula, “apa pun juga seharusnya tidak boleh membeberkan rahasia kalian sendiri sebelum tahu pasti apakah aku sudah mati atau belum.”

“Ah, semua itu kan juga bukan rahasia lagi,” ujar Ong Ling-hoa.

“Betul, sebelum ini memang sudah kuketahui Ong-hujin pasti mempunyai maksud tujuan tertentu dengan melepaskan Pek Fifi, juga sudah kuketahui cara Pek-Fifi membunuh si bencong itu bukanlah tanpa sengaja, semua ini memang bukan rahasia lagi. Tapi baru sekarang dapat kutahu dengan pasti bahwa antara Ong-heng dengan nona Pek adalah saudara seayah lain ibu, inilah yang merupakan rahasia besar bagiku.”

“Apa katamu?” sedapatnya Ong Ling-hoa berlagak bodoh.

“Demi mendapatkan kitab pusaka Yu-leng-pit-kip itu, Koay-lok-ong telah berhasil menipu ibu Pek Fifi, tapi demi Ong-hujin, dia meninggalkan ibu Fifi. Kemudian, supaya rahasia pertarungan Wi-san tidak terbongkar, dia meninggalkan pula Ong-hujin, dengan dua kali meninggalkan dua orang perempuan akibatnya juga meninggalkan seorang putra dan seorang putri, yaitu dirimu dan Pek-Fifi.”

“Bagus, apa pula yang kau ketahui?” jengek Ong Ling-hoa.

“Dapat kuketahui pula bahwa putra-putri Koay-lok-ong ini sama sekali tidak memandangnya sebagai ayah, sebaliknya membencinya sampai merasuk tulang, kalau bisa bahkan ingin membunuhnya.”

“Hm, jika kau jadi diriku bagaimana tindakanmu?” jengek Ong Ling-hoa.

“Inilah urusan kalian, orang lain tidak boleh ikut campur, tapi betapa keji perbuatan kalian boleh dikatakan cocok dengan ayah kalian. Terutama Pek Fifi, sungguh kukagum atas kesabaranmu dan dapat menyamar serapi ini.”

“Apakah cuma ini saja yang hendak kau katakan?” jengek Yu-leng-kiongcu sambil melayang keluar dari tempat sembunyinya.

Ong Ling-hoa juga mulai melangkah maju setindak demi setindak.

Sim Long berkata pula, “Sebelumnya sudah kuselidiki asal-usul Ong-hujin dan Ong Ling-hoa, maka engkau lantas menyusup ke Tionggoan dan sengaja menjual diri sebagai budak, tujuanmu agar dapat dibeli oleh Ong Ling-hoa yang mata keranjang itu dan engkau dapat mencari kesempatan untuk melampiaskan dendam ibumu.”

“Ya, setelah kutahu betapa keji mereka ibu dan anak, kusadar bukan tandingannya bila kulawan dengan kekerasan, terpaksa harus kukerjai mereka dengan akal,” ujar Fifi dengan tenang.

“Dan tak kau duga tipu muslihatmu telah dikacau oleh Cu Jit-jit yang bermaksud baik itu, sehingga berbalik membikin susah padamu.”

“Tapi aku tidak dendam padanya, aku cuma kasihan karena kebodohannya,” jengek Fifi. “Namun segala sesuatu sudah kuperhitungkan juga, hanya ketika jatuh ke tangan orang banci itulah yang tidak pernah kuperhitungkan.”

“Namun waktu itu engkau berbalik mendapat untung karena bisa berdekatan dengan Ong Ling-hoa,” ujar Sim Long. “Siapa tahu Cu Jit-jit yang berhati baik itu kembali membawa pergi dirimu, terpaksa engkau berlagak bodoh sebisanya dan ikut pergi bersama dia.”

“Memang betul, coba teruskan,” ujar Fifi.

“Maka sejak di gua rahasia di puncak gunung itu sengaja kau lepaskan Ong Ling-hoa, lalu berlagak bodoh seperti tidak tahu apa-apa, sampai aku pun tertipu. Sungguh lucu juga, aku berbalik menghiburmu agar jangan susah dan jangan cemas.”

Mendadak Ong Ling-hoa terbahak-bahak, katanya, “Hahaha, aku pun terkejut ketika dia melepaskan diriku waktu itu, sungguh mimpi pun tak terpikir olehku Pek Fifi yang kelihatan lemah dan harus dikasihani ternyata seorang licin begini.”

“Hm, kebanyakan orang lelaki memang mudah tertipu,” ejek Fifi. “Sungguh kasihan anak perempuan semacam Cu Jit-jit itu, segala apa dia tidak paham, tapi dia justru sok berlagak jempolan, berlagak serbatahu, makanya juga sering tertipu oleh orang lelaki.”

“Kasihan Cu Jit-jit,” kata Sim Long dengan menyesal. “Waktu di hotel tempo hari aku malah menyalahkan dia tidak menjaga dirimu, siapa tahu engkau sendiri yang sengaja diculik oleh Kim Put-hoan.”

“Ya, kalau tidak, tentu aku kan dapat berteriak minta tolong,” ujar Fifi.

“Dan yang lebih harus dikasihani ialah Kim Bu-bong yang keras kepala itu,” kata Sim Long sambil menggeleng kepala. “Dia…dia justru tercedera karena membela dirimu, tentu diam-diam engkau menertawai dia sebagai orang tolol, begitu bukan?”

Dalam sekejap ini, mendadak senyumnya yang khas itu lenyap dan matanya yang selalu memancarkan cahaya lembut itu berubah menjadi mencorong terang setajam sembilu.

Tanpa terasa Fifi menunduk, ucapnya sedih, “Ya, hal itu pun tidak…tidak kuduga.”

Sim Long juga menghela napas, katanya pula, “Maka akhirnya dapatlah engkau mendekati Ong-hujin dan Ong Ling-hoa, tapi waktu itu juga dapat kau rasakan daripada membunuh mereka akan lebih baik lagi kalau memperalat mereka.”

“Ya, sebab waktu itu dapat kuketahui nasibnya sebenarnya juga serupa dengan ibuku, sesungguhnya dia juga seorang perempuan yang ditinggalkan kekasih.”

“Apa pun juga engkau telah dapat mendekati Koay-lok-ong dengan memperalat tipu daya mereka, sedangkan Koay-lok-ong yang mata keranjang itu ternyata mau menuruti kehendakmu dan tidak pernah memaksakan sesuatu padamu,” Sim Long tersenyum getir, lalu menyambung, “Dalam hal ini mungkin Koay-lok-ong sendiri pun merasa heran, tak disadarinya bahwa kebaikannya padamu hanya lantaran nalurinya sebagai seorang ayah kandungmu, betapa pun dia seorang gembong iblis dan tidak mengetahui engkau adalah putrinya, tapi dia toh bukan binatang dan naluri kemanusiaannya tetap ada.”

“Ya, betul,” mendadak Fifi pun menghela napas panjang.

“Tapi apakah engkau juga mempunyai naluri terhadap seorang ayah?” tanya Sim Long.

Mendadak Fifi mendongak dan berteriak, “Tidak, sedikit pun tidak. Aku bukan hewan, juga bukan manusia, sudah lama aku bukan manusia lagi. Sejak kusaksikan kematian ibuku yang menderita itu, sejak itu pula aku bersumpah tidak mau menjadi manusia lagi.”

Sim Long terdiam sejenak, lalu berkata, “Tapi tak tersangka olehmu bahwa aku pun datang kemari.”

“Dapat kuduga, sebelumnya sudah kuketahui engkau akan datang kemari.”

“Maka sebelumnya juga sudah kau pikirkan tipu daya untuk membohongiku.”

Fifi juga terdiam hingga lama, ditatapnya Sim Long dengan sorot matanya yang tajam menembus cadar yang dipakainya, katanya kemudian, “Kau kira segala kata-kataku kubohongimu?”

“Memangnya bu…bukan begitu?”

Pek-Fifi tersenyum pedih, “Bukankah engkau sangat memahami hati orang perempuan? Mengapa tak dapat memahami hatiku?”

“Memang kusangka engkau menaruh perhatian kepadaku, tapi…tapi sampai tadi…”

“Kan sudah kukatakan bila seorang perempuan mencintai seorang lelaki dan gagal mendapatkannya, maka baginya terpaksa memusnahkan dia. Apalagi bila engkau mati memang akan jauh lebih enak daripada orang hidup.”

“Ya, betapa pun tadi engkau juga telah menghela napas bagiku, tapi…” mendadak Sim Long perkeras suaranya, “tapi selanjutnya jangan kau bilang aku memahami perasaan orang perempuan. Baru sekarang kutahu, bilamana engkau hendak membikin gila seorang lelaki, jalan paling baik adalah membikin dia merasa sangat memahami pikiran orang perempuan.”

Mendadak Ling-hoa juga berkata dengan menyesal, “Aha, ucapanmu ini mungkin adalah kata-kata yang paling tepat yang kudengar seharian ini. Bilamana ada orang sok tahu pikiran orang perempuan, maka dia pasti akan konyol sendiri.”

“Hm, bagus! Kalian sama-sama orang lelaki, sekarang kalian berdiri satu garis lagi, bukan? Tapi apakah kau tahu dengan cara bagaimana akan kuhadapi kalian?”

“Sungguh aku ingin tahu,” jawab Sim Long.

“Cara menghadapi orang lelaki yang digunakan orang perempuan sering kali adalah cara yang sangat bodoh, tapi cara yang sangat bodoh terkadang juga paling efektif.”

“Cara yang paling bodoh…”

“Cara yang pernah digunakan tapi gagal, jika digunakan lagi cara ini kan terhitung cara yang paling bodoh?…” di tengah suaranya bayangan Pek Fifi kembali melayang ke sana lagi.

Air muka Sim Long berubah seketika.

“Pek Fifi!” bentak Ong Ling-hoa. “Jangan kau…”

Tapi pada saat itu juga cahaya lampu mendadak padam pula, keadaan menjadi gelap gulita lagi.

“Sudah kulihat jelas jalan mundur, ayo lekas mundur!” seru Sim Long dengan suara tertahan.

Selagi dia bergerak, tiba-tiba dari kegelapan berkumandang suara Pek Fifi, “Kalian tidak dapat mundur lagi!”

Segera terdengar suara gemuruh yang bergetar disertai berhamburnya batu pasir, biarpun cepat gerak mundur Sim Long, tidak urung tubuh sakit pedas juga.

“Celaka, budak ini ternyata sudah siapkan langkah ini dan memotong jalan mundur kita,” kata Tokko Siang sambil mengentak kaki.

“Pek Fifi, masa cara begini kau perlakukan diriku?” bentak Ong Ling-hoa.

“Oo, kenapa tidak boleh?” jawab Fifi.

“Bukankah sudah kau nyatakan tadi…”

“Meski tadi kubilang takkan membunuhmu, tapi sekarang pikiranku telah berubah, engkau tentu tahu, hati orang perempuan paling gampang berubah…”

“Jika aku kau bunuh, cara bagaimana engkau akan bertanggung jawab terhadap Hujin?” tanya Ling-hoa.

“Dari mana dia tahu siapa yang membunuhmu? Dia kan tidak menugaskan kau menjadi pengawalku. Jika kau mati, mana dapat aku yang disalahkan. Hah, cara bicaramu seperti anak kecil saja.”

“Tapi…tapi jangan kau lupa, aku dan engkau adalah…”

Belum lanjut ucapan Ling-hoa, mendadak sebuah tangan telah menariknya ke sana, lalu terdengar suara Sim Long membisiknya, “Tempelkan tubuhmu di dinding dan jangan bersuara, belum lagi kuingin kau mati di sini.”

“Budak hina dina ini…” maki Ling-hoa dengan geregetan. Dengan sendirinya ia bukan orang bodoh, ia pun tahu bila bersuara tentu akan dijadikan sasaran maut oleh musuh.

Karena itu segera ia tutup mulut.

Terdengar suara Pek Fifi berkumandang dari kejauhan, “Sim Long, jangan kau sesalkan diriku, mestinya aku takkan membunuhmu, namun apa nyana dikatakan lagi, engkau sudah tahu terlalu banyak. Bilamana seorang tahu terlalu banyak pasti juga takkan hidup lama.”

Ia tertawa nyaring, lalu menyambung, “Mengenai Tokko Siang, dia tidak lebih hanya teman kuburmu saja.”

Suaranya lantas berhenti, habis itu tidak terdengar sesuatu suara pula.

Sim Long, Tokko Siang, dan Ong Ling-hoa bertiga berdiri dengan punggung menempel gua yang dingin, sampai bernapas pun tak berani terlalu keras.

Meski mulut ketiga orang tidak berbicara, tapi dalam hati sama membatin, “Pek Fifi mungkin adalah perempuan paling menakutkan di dunia ini.”

Dengan sendirinya ada anak perempuan lain lagi yang jauh lebih keji daripada dia, tapi siapa pula yang lebih lembut dan ramah daripada dia? Dia boleh dikatakan adalah racun buatan bunga dan madu.

Begitulah Sim Long terus merambat dalam kegelapan menyusur dinding gua, dapat dicapainya arah keluar yang telah diincar tadi. Tapi tempat keluar ini sekarang ternyata sudah disumbat oleh sepotong batu besar. Nyata segala sesuatu telah diatur dengan sangat rapi oleh Pek Fifi.

Sim Long menghela napas dan merambat mundur kembali, sekonyong-konyong sepasang tangan terjulur tiba dan merabai tangannya, lalu menulis satu huruf “Sim” di tengah telapak tangannya.

Sim Long mengetuk perlahan punggung tangan orang sebagai jawaban.

Lalu tangan itu menulis pula huruf “tok”.

Kembali Sim Long mengetuk punggung orang dan menulis huruf, “Ada apa?”

Dengan perlahan tangan itu menulis pula, “Kau kira cara bagaimana dia akan memperlakukan kita?”

Ia menulis dengan sangat perlahan, dan sangat jelas tulisannya.

Sim Long menghela napas dan balas menulis, “Tidak tahu, terpaksa harus tunggu dan lihat dulu.”

Sejenak tangan itu berhenti, lalu menulis lagi, “Harus menunggu…”

Belum lanjut tulisannya, sekonyong-konyong tangan Sim Long dicengkeramnya dan tangan lain lantas menebas tenggorokan Sim Long.

Perubahan ini sungguh teramat cepat dan terlalu mendadak, siapa pun tidak menyangka Tokko Siang akan menyergap Sim Long. Dalam kegelapan Sim Long sama sekali tidak siap, jika Sim Long terbunuh begitu saja kan penasaran.

Tapi Sim Long tetap Sim Long, justru pada detik terakhir, tangan yang tercengkeram sempat memberosot lepas, berbareng telapak tangan membalik terus balas memotong pergelangan tangan lawan.

Tangan yang lain seakan-akan juga sudah siap dalam kegelapan, begitu lawan bergerak, secepat kilat ia mendahului menutuk beberapa hiat-to kelumpuhan orang.

Rupanya orang itu yakin sergapannya pasti akan berhasil, betapa pun tak terpikir olehnya Sim Long sudah siap siaga, ia ingin orang lain tertangkap, tak tahunya ia sendiri yang terjebak malah. Seketika setengah badannya kaku.

Sim Long menyeretnya lebih dekat, lalu membisiki telinganya, “Ong Ling-hoa, memang sudah kuketahui akan dirimu, jangan coba main gila padaku.”

Bergetar tubuh orang itu seperti ingin tanya dari mana Sim Long tahu.

Agaknya Sim Long dapat meraba perasaan orang, jengeknya, “Jarimu panjang lentik, telapak tanganmu halus, Tokko Siang tidak memiliki tangan semacam ini.”

Dalam kegelapan Ong Ling-hoa mengeluh dan mengomel, Sim Long sungguh bukan manusia melainkan setan, segala apa pun sukar mengelabuinya.

“Kau kira setelah membunuhku engkau akan diampuni Pek Fifi?” kata Sim Long.

Meski Ong Ling-hoa tidak ingin mengangguk tapi juga tidak boleh tidak mengangguk.

“Kau orang tolol yang kejam, biarpun kau bunuhku juga dia takkan melepaskanmu. Padahal dalam keadaan demikian bila kita bertiga mau bahu-membahu mungkin masih dapat kabur. Sebaliknya jika kau main gila lagi tentu akan mati konyol semuanya.”

Pada saat itulah mendadak terdengar suara “plak-pluk” dua kali, menyusul lantas bergema suara gemuruh yang sangat keras. Di tengah suara gemuruh baru Tokko Siang berani bicara, katanya, “Tampaknya dia telah menyumbat lagi jalan keluar yang lain.”

“Hah, tipu ini namanya menangkap kura-kura di dalam tempurung,” ujar Sim Long tertawa.

Suara gemuruh tadi mulai lenyap, terpaksa mereka tutup mulut lagi.

Tiba-tiba dalam kegelapan seperti ada suara keresak-keresek. Seketika Tokko Siang mengirik. Perlahan ia menulis dengan jarinya di pundak Sim Long: “Di depan ada orang, jangan-jangan mereka akan mulai turun tangan!”

Sim Long cepat menjawab dengan menulis: “Kutahu, biar kubekuk dia lebih dulu.”

Segera ia menggeser ke sana dengan licin tanpa menimbulkan suara. Tapi pada saat itu juga sesosok tubuh juga sedang menubruk, tapi secara naluri keduanya sama terkejut. Kontan sebelah tangan Sim Long menghantam.

Namun pihak lawan juga tokoh kelas tinggi, berbareng dia juga menghantam dengan kuat dan tidak kalah cepatnya.

Terkejut juga Sim Long bahwa di sini ternyata ada jago selihai ini. Sekaligus ia pun melancarkan serangan beberapa kali, akan tetapi betapa dia menyerang juga tidak dapat mengenai lawan, sungguh lawan tangguh yang jarang ditemui Sim Long, entah siapakah orang ini?

Tokko Siang dan Ong Ling-hoa tidak meragukan kehebatan kungfu Sim Long, keduanya sama tahu tidak perlu memberi bantuan. Apalagi bertempur dalam kegelapan juga sukar untuk memberi bantuan, bila banyak orang bisa jadi akan kacau dan keliru serang malah.

Terdengar angin pukulan kedua orang menderu-deru dan sangat mengejutkan. Padahal mereka tahu ilmu silat Sim Long tidak mengutamakan kekerasan, jika demikian angin pukulan ini jelas timbul dari daya pukulan lawan. Menurut perkiraan Tokko Siang dan Ong Ling-hoa, ilmu silat orang pasti tidak di bawah mereka.

Padahal di dunia Kangouw zaman ini, sangat terbatas orang yang mampu bergebrak sama kuatnya dengan Sim Long.

Tiba-tiba Sim Long melancarkan suatu pukulan untuk mematahkan serangan lawan, habis itu mendadak ia meloncat ke atas sambil membentak, “Apakah Miau-ji di situ?”

Pihak lawan lagi terkejut ketika mendadak melihat Sim Long melompat ke atas, dia lagi bimbang cara bagaimana akan mematahkan serangan berikutnya, tapi ia pun terkejut demi mendengar teriakan Sim Long itu, cepat ia menjawab, “Hei, apakah Sim Long?!”

Sim Long menghela napas, katanya lirih sambil melayang turun, “Untung mendadak terpikir olehku di dunia ini selain Him Miau-ji jarang yang memiliki tenaga pukulan sekuat ini. Wah, bisa ditertawai orang bila antara kita saling labrak mati-matian.”

Dia sudah memperhitungkan saat ini Pek Fifi tidak berani bertindak sesuatu, maka dia berani bicara dengan suara keras. Rupanya maksud tujuan Pek Fifi memang ingin membuat mereka saling labrak.

“Wah sialan, seharusnya sejak tadi kupikirkan kecuali Sim Long siapa pula yang mampu mendesak hingga aku kelabakan sedemikian rupa?” ujar Miau-ji dengan gegetun.

Bahwa yang muncul ini ialah Him Miau-ji, hal ini membuat Ong Ling-hoa dan Tokko Siang sama melengak.

Terdengar Miau-ji berkata pula, “Mengapa kau pun datang ke tempat setan ini?”

“Bukan saja aku datang, Tokko-heng dan Ong-kongcu juga berada di sini,” kata Sim Long.

“Hah, tentu akan ramai sekali,” ujar Miau-ji.

Meski kedua orang tetap tidak dapat melihat jelas pihak lain, tapi dari suara yang terdengar sudah menimbulkan rasa persahabatan yang hangat.

Sim Long menarik tangan Miau-ji dan diajak mundur ke tepi dinding, katanya dengan tertawa, “Engkau tetap tidak berubah, tampaknya siksa derita apa pun takkan membuatmu berubah, siksaan apa pun tidak kau hiraukan.”

“Engkau sendiri adalah lelaki baja, aku sendiri kucing baja,” ucap Miau-ji dengan terbahak.

“Ssst, mengapa kau bicara sekeras ini,” desis Tokko Siang dengan khawatir.

“Sementara ini tidak menjadi soal,” ujar Sim Long. “Jika Pek Fifi telah mengantarnya ke sini, kuyakin dia pasti telah mengatur akal keji dan takkan menyerang lagi dengan senjata rahasia. Kalau tidak, kan di sana dia dapat membunuh Miau-ji dengan leluasa?”

“Ya, betul,” kata Tokko Siang setelah berpikir. “Memang banyak cara permainannya, untuk apa dia menggunakan senjata rahasia lagi. Apalagi dia juga tahu, hanya senjata rahasia saja masakah dapat melukai kita.”

Dia sengaja bicara dengan suara keras supaya didengar oleh Pek Fifi, sama halnya sengaja berkata kepada Fifi bahwa senjata rahasia tidak ada gunanya lagi dan jangan dipakai pula.

Padahal jika benar dia tidak takut dihujani senjata rahasia kenapa bicara demikian.

Syukur Fifi tidak mendengar ucapannya, kalau mendengar mustahil tak dapat meraba perasaannya dan tentu akan menghujaninya senjata rahasia.

Lantas di manakah Pek Fifi? Apakah sudah pergi? Memangnya pergi ke mana? Apa artinya dia meninggalkan orang-orang ini di sini?

Akhirnya Ong Ling-hoa tidak tahan, segera ia tanya, “Mengapa engkau dapat datang ke sini?”

“Mestinya aku pun tidak tahu mengapa dia mengantarku ke sini, bahkan membuka hiat-to serta membuka kerudung yang membungkus kepalaku,” tutur Si Kucing. “Kupikir dia pasti tidak bermaksud baik, maka aku tidak berani sembarangan bergerak, selagi kucari akal, tak terduga pada saat itulah Sim Long lantas muncul.”

Mendadak ia mendengus, “Ong Ling-hoa, keteranganku ini bukan menjawab pertanyaanmu, tapi kukatakan kepada Sim Long.”

“Aku tidak urus kau bicara kepada siapa, yang jelas kan sudah kudengar juga,” jawab Ling-hoa.

Mereka tidak tahu bahwa kecuali mereka berempat ada juga orang kelima yang ikut mendengarkan, orang kelima ini sudah sejak tadi bersembunyi dalam kegelapan dengan menahan napas.

Maka Sim Long berkata pula dengan menyesal, “Maksud tujuan perbuatan Pek Fifi itu dengan sendirinya ingin kita saling membunuh dalam kegelapan, selain ini dia pasti juga ada tujuan lain.”

Tengah bicara, orang kelima dalam kegelapan itu sudah merayap ke arahnya, dalam keadaan dan saat demikian tentu saja tidak terpikir dan diperhatikan oleh siapa pun.

Dengan gemas Miau-ji lagi berkata, “Yu-leng-kiongcu sungguh seorang perempuan yang kejam dan mahir menggunakan obat bius, aku sampai terbius roboh juga. Hah, dia dan Ong Ling-hoa boleh dikatakan satu pasangan yang setimpal.”

“Apakah kau lihat wajah aslinya?” tanya Sim Long.

“Sesudah roboh terbius, kepalaku ditutup dengan kerudung kain hitam, mulutku juga tersumbat, aku cuma mendengar orang menyebutnya Yu-leng-kiongcu,” tutur Miau-ji. “Apabila sampai dapat kulihat dia, saat itulah merupakan saat ajalnya.”

“Apakah kau tahu siapa dia?” tanya Sim Long pula.

“Aku justru ingin tahu siapa dia.”

Sim Long menghela napas, tuturnya, “Tentu tidak pernah kau bayangkan bahwa Yu-leng-kiongcu itu ialah Pek Fifi.”

Sekali ini Miau-ji dibikin berjingkat, serunya, “Apa katamu? Yu-leng-kiongcu sama dengan Pek Fifi? Apa betul?”

“Semula aku pun tidak percaya, tapi…”

“Tapi Pek Fifi yang kelihatan lemah lembut, seekor semut saja tidak tega menginjaknya, mengapa dia bisa bertindak sekejam ini?” tukas Miau-ji.

“Hati orang perempuan umumnya memang sukar diraba, Pek Fifi justru orang perempuan yang paling sukar dimengerti, betapa jauh jalan pikirannya sungguh belum pernah kutemukan bandingannya.”

Pada saat itulah mendadak suara seorang perempuan tertawa ngekek dan berkata, “Terima kasih atas pujianmu, Sim Long, biarlah kuberi kematian secara cepat kepadamu.”

Suara tertawanya sungguh membuat orang merinding. Di tengah suara tertawa seram itu segera Sim Long merasakan sambaran angin pukulan mengarah thian-cong-hiat di belakang pundaknya.

Cepat ia membalik dan mengayun tangannya, menangkis sekaligus balas memukul.

Tapi gerak serangan Yu-leng-kiongcu alias Pek Fifi ini memang cepat luar biasa, kembali ia melancarkan serangan berantai dan selalu mengincar hiat-to maut di tubuh Sim Long.

“Berikan dia kepadaku, Sim Long!” seru Miau-ji.

Namun Sim Long diam saja dan tetap melayani serangan orang.

“Jika dia bukan orang perempuan, sungguh ingin kubantu padamu,” kata Miau-ji pula.

“Sim Long tidak perlu bantuanmu,” kata Tokko Siang.

“He, ternyata kau pun tahu Sim Long, bagus sekali,” seru Miau-ji dengan tertawa.

“Biarpun hatinya keji, ilmu silatnya masih selisih jauh dibandingkan Sim Long,” ujar Tokko Siang.

“Memang betul,” seru Miau-ji tertawa.

Tiba-tiba terdengar suara “plak” sekali, menyusul Yu-leng-kiongcu menjerit kaget.

“Apakah berhasil?” tanya Tokko Siang dengan senang.

Terdengar Sim Long mendengus.

Tapi segera terdengar Yu-leng-kiongcu tertawa terkekeh dan berkata, “Sim Long, berani kau bunuh diriku?”

“Aku tidak berani,” jawab Sim Long perlahan.

Mendadak Yu-leng-kiongcu berteriak, “Jika engkau tidak berani membunuhku berarti engkau ini pengecut, manusia hina!”

Sim Long lantas menghela napas panjang, katanya, “Sudah jelas aku tidak dapat ditipu, mengapa selalu ada orang ingin menipuku?”

Tokko Siang dan Him Miau-ji sama melengak, “Menipumu? Masakah dia bukan Yu-leng-kiongcu?”

“Dengan sendirinya bukan,” sela Ong Ling-hoa mendadak.

“Habis sia…siapa dia?” tanya Miau-ji.

“Dia…”

Belum lanjut ucapan Ong Ling-hoa, mendadak suara tadi berkumandang lagi, “Siapa bilang aku bukan Yu-leng-kiongcu? Siapa bilang…Sim Long, jika tidak kau bunuh diriku tentu engkau akan menyesal selama hidup, pasti akan kubikin engkau menyesal selama hidup.”

Sim Long menghela napas, katanya, “Cu Jit-jit, mengapa selalu kau minta kubunuh dirimu?”

Dalam kegelapan terdengar orang menjerit dengan gemetar, “Apa…apa katamu?”

Dengan pedih Sim Long berkata, “Memangnya kau kira aku tidak tahu? Padahal seharusnya kau pikirkan sebelumnya, jika benar Yu-leng-kiongcu hendak menyergap diriku, mana bisa dia bersuara lebih dulu.”

“Ah, betul, seharusnya kupikirkan juga hal ini,” ucap Tokko Siang.

2 Comments »

  1. Pendekar Baja Jilid 32 Tapi Ong Ling-hoa lantas mendengus, Apalagi Yu-leng-kiongcu juga bukan orang tolol, tidak mungkin dia turun tangan sendiri menyergap Sim Long. Tutup mulutmu! teriak Jit-jit parau. Ong Ling-hoa menyengir dan benar juga tidak bicara lagi. Jit-jit menangis dan berteriak, O, Sim Long, mengapa tidak kau bunuh saja diriku? Mana boleh kubunuh dirimu, Jit-jit, jangan-jangan engkau memang tidak tahu apa-apa. Kutahu … namun sekarang sudah terlambat, mana … mana dapat kuhidup lagi, apa artinya pula hidup ini bagiku? ratap Jit-jit. Kuharap dapat mati saja di tanganmu. O, Sim Long, kumohon dengan sangat, bunuhlah aku, biarlah kumati dengan senang. Tokko Siang melenggong, gumamnya, Sungguh aneh, ada sementara orang berniat membunuh Sim Long, tapi ada juga anak perempuan yang sengaja ingin mati di tangan Sim Long, sungguh peristiwa mahaaneh. Kau tidak paham, kalian sama tidak paham, teriak Jit-jit. Aku juga tidak paham, mengapa …. Belum lanjut ucap Sim Long segera Jit-jit memotong, Masa benar engkau tidak paham? Sim Long merangkulnya dengan mesra, ucapnya lembut, Jit-jit …. ia hanya menyebut namanya dengan halus dan tidak dapat bicara lain, namun melulu panggilan itu pun sudah cukup. Segala kesalahpahaman yang lampau kini pun sudah menjadi peristiwa lalu. Suara tangis Jit-jit mulai mereda. Tokko Siang merasa gua yang gelap ini mulai hangat, meski tidak terlihat sesuatu, tapi siapa yang tidak dapat merasakan kemesraan kedua muda-mudi itu. Mendadak Ong Ling-hoa mendengus, Hm, alangkah mesranya! Apakah engkau penasaran? tanya Miau-ji. Jangan kau lupa, paling tidak sampai saat ini aku adalah bakal suami Cu Jit-jit, tentu dapat kau bayangkan sendiri betapa perasaan seorang menyaksikan bakal istri sendiri sedang bermesraan dengan orang lain. Terdengar Sim Long bersuara, seperti tercengang dan melepaskan rangkulannya. Miau-ji juga melenggong dan tidak bicara lagi. Wahai Sim Long, apabila kalian ingin main cinta, sepantasnya kalian menghindariku dan harus menunggu untuk sementara …. Menunggu? Menunggu apa? tanya Miau-ji. Memangnya kalian mengira aku tidak mungkin mendapatkan istri? Apa aku harus menikahi dia? Memangnya orang perempuan di dunia ini tinggal Cu Jit-jit seorang saja? Hah, apa maksudmu? tanya Miau-ji. Jika dia tidak suka padaku, apa artinya kukawini dia? Huh, kan lebih baik kukawin dengan sepotong kayu saja, sedikitnya aku tidak perlu memberi makan kepadanya, kan hemat. Eh, apakah kau bicara dengan sesungguh hati? tanya Miau-ji pula. Orang yang suka omong kosong terkadang juga dapat bicara benar, ujar Ling-hoa. Pendek kata, wahai Sim Long dan Cu Jit-jit, apa pun yang ingin kalian lakukan boleh silakan berbuat sesuka kalian, soal perkawinanku dengan Cu Jit-jit boleh dianggap sebagai embusan kentut saja, sesudah berbau dan habis perkara. Terdengar Jit-jit bersuara gembira tertahan. Bagus, Ong Ling-hoa, sejak kukenal dirimu sampai sekarang, baru sekarang kau bicara secara manusiawi. Sayang tidak ada arak di sini, kalau tidak, ingin kusuguhmu tiga cawan …. Kegelapan kembali sunyi. Sampai lama dan lama sekali, mendadak Tokko Siang berkata, Mengapa sejauh ini dia tidak bertindak sesuatu, apakah sebabnya? Dia bicara tanpa menunjuk siapa yang ditanya, tapi dengan sendirinya Sim Long yang dimaksudkannya. Mulut Sim Long seperti baru saja dipindahkan dari dekapan sesuatu benda, ia menarik napas dulu, lalu berkata, Dengan sendirinya dia sedang mengatur tipu daya. Kau pikir tipu keji apa yang akan dilaksanakannya? tanya Tokko Siang. Aha, dapat kuterka, seru Miau-ji mendadak. Kau dapat terka apa? Api … dia akan menggunakan api! Ya, betul juga, dia telah menyumbat jalan keluar di sini, tujuannya memang hendak menyerang kita dengan api. Cuma, di sini batu melulu, mungkin juga sukar menyalakan api. Batu memang tidak dapat menyala, tapi apakah dia tidak dapat melemparkan benda yang mudah terbakar api ke dalam sini? Ai, betul juga, jika dia benar menyerang dengan api, tampaknya kita seluruhnya akan terpanggang hidup-hidup, seru Tokko Siang. Tapi jangan kau khawatir, jika benar dia mau menyerang dengan api tentu takkan menunggu sampai sekarang, tidak nanti dia memberi kesempatan kepada Sim Long untuk main cinta di sini, ujar Ong Ling-hoa. Bagaimana menurut pendapatmu, Sim Long? seru Miau-ji. Apakah dia akan menyerang dengan api? Tidak, jawab Sim Long singkat. Jika begitu, apakah dengan air? Hm, di gua pegunungan ini dari mana ada air sebanyak itu? jengek Ling-hoa. Orang lain tidak bisa, tentu dia punya akal, betul tidak, Sim Long? tanya Miau-ji. Tidak, dia juga takkan menggunakan air, jawab Sim Long. Sebab apa? Miau-ji menegas. Sebab menyerang dengan api atau air adalah cara yang jamak, terlalu umum, ujar Sim Long. Umum? Jamak? Miau-ji menegas dengan heran. Sekalipun dia seorang momok, tapi dia adalah bidadarinya setan iblis, meski dia busuk, tapi kebusukan yang istimewa, kata Sim Long dengan gegetun. Pokoknya cara yang biasa pasti takkan dipakainya. Yang akan digunakan untuk menghadapi kita pasti satu cara yang aneh, yang sukar ditebak oleh siapa. Dia akan mematikan kita, tapi juga ingin membuat kita mati dengan takluk lahir batin. Engkau ternyata sangat memahami dia, mendadak Jit-jit menyela. Urusan sudah sejauh ini, tidak boleh tidak kupahami dia, kata Sim Long dengan menyengir. Masa dia benar-benar sehebat itu? Dia memang perempuan luar biasa, hal ini tidak dapat disangkal oleh siapa pun. Sayang dia tidak di sini, kalau dia mendengar ucapanmu ini tentu akan sangat senang …. sampai di sini mendadak ia menggigit muka Sim Long. ***** Meski Jit-jit berlagak gusar, padahal hatinya sangat gembira, kalau ada orang yang paling gembira sekarang, maka orang itu ialah Cu Jit-jit. Baginya keadaan yang berbahaya, apakah akan mati atau hidup, semuanya tidak menjadi soal lagi, asalkan didampingi Sim Long, apa artinya mati? Kecuali dia, perasaan semua orang sama tertekan. Mendadak Miau-ji berteriak, Peduli dia akan memakai cara apa, kuharap lekas dia muncul, makin cepat makin baik, kalau cuma menunggu begini, sungguh aku bisa gila. Sabar, sudah hampir, dia takkan membuatmu menunggu terlalu lama, kata Ong Ling-hoa dengan dingin. Baru lenyap suaranya, benar juga, segera terdengar gema langkah orang datang. Meski ringan langkah orang, tapi di tengah kesunyian terdengar dengan jelas. Tokko Siang mengepal tinjunya erat-erat, ucapnya dengan parau, Sia … siapa ini yang datang? Tak mungkin dapat kau terka, ujar Ling-hoa. Kau pun tidak? tanya Miau-ji. Ya, aku pun tidak tahu, jawab Ling-hoa menyesal. Suara langkah orang itu sudah berhenti, tepat berhenti di luar gua. Habis itu batu yang menyumbat mulut gua tergeser dua potong, cahaya lampu lantas menyorot masuk dan menyinari wajah Tokko Siang yang pucat. Tanpa terasa Tokko Siang menyurut mundur sambil menutupi matanya, bentuknya, Siapa itu? Aku, jawab seorang dengan suara berat, dingin dan berwibawa. Menyusul di luar celah batu yang terbuka itu muncul sepasang mata yang bersinar, mata siwer (warna hijau-biru) yang lain daripada orang biasa. Tokko Siang bergemetar, Hah, Koay … Koay-lok-ong! Bagus, masih ingat juga kau padaku, jengek orang itu. Tanpa terasa Tokko Siang menyurut mundur pula serupa dicambuk orang, ia tidak sanggup bicara lagi, tapi kerongkongannya mengeluarkan suara parau. Tak kau sangka tentunya bahwa aku dapat menemukan kalian di sini, kata Koay-lok-ong. Dari … dari mana kau tahu? Dari mana kutahu? …. Haha, kan berlebihan pertanyaan ini? seru Koay-lok-ong dengan terbahak. Kan sudah kau ketahui bahwa tiada sesuatu pun yang dapat mengelabuiku, apalagi cuma tempat kurungan kalian ini? Bluk , Tokko Siang duduk lemas di tanah. Cahaya api bergeser dan menyinari wajah Him Miau-ji. Muka Miau-ji juga pucat, ia pun menyurut mundur. Hah, bagus, kau pun tidak mati, sungguh harus kuakui sebagai kejadian yang luar biasa bahwa Tokko Siang yang suka membunuh ternyata tidak membinasakanmu, seru Koay-lok-ong dengan tertawa. Hal ini lantaran dia tetap manusia dan berperasaan, sebaliknya kau … kau …. Miau-ji tidak sanggup meneruskan makiannya karena tatapan sinar mata yang aneh itu. Cahaya lampu bergeser lagi dan sekarang menyinari wajah Ong Ling-hoa. Dia berdiri mepet dinding, butiran keringat dingin memenuhi wajahnya yang juga pucat dengan warna serupa dinding batu. Namun sinar matanya tetap berjelalatan kian kemari dengan licik, masih terus mencari kalau-kalau menemukan jalan untuk menyelamatkan diri. Bagus, tentu kau ini Ong Ling-hoa yang termasyhur itu, kecuali Ong Ling-hoa kukira tak ada orang yang mempunyai sinar mata keji begini, kata Koay-lok-ong dengan tertawa. Terima kasih, tertawa juga Ong Ling-hoa. Sudah sering kudengar cerita orang bahwa kecerdikan Ong Linghoa jarang ada di zaman ini, setelah berjumpa sekarang, tampaknya engkau memang berbentuk orang pintar. Terima kasih atas pujianmu. Cuma sayang, yang kau lakukan ternyata sangat bodoh! jengek Koay-lok-ong. Oo?! Ling-hoa melengak. Barang siapa yang bermusuhan denganku, jelas dia kalau bukan orang gila pasti juga orang sinting, teriak Koay-lok-ong dengan bengis. Orang pintar semacam dirimu mestinya tahu tidak berguna bermusuhan denganku. Ong Ling-hoa menghela napas, Sebenarnya, aku pun tidak terlalu suka memusuhimu, asalkan kau bebaskan aku …. Hm, rasanya sudah terlalu kasip baru sekarang kau bilang demikian, jengek Koay-lok-ong. Cahaya lampu bergeser pula, akhirnya menyinari Sim Long dan Cu Jit-jit. Jit-jit tidak memperlihatkan rasa takut, pandangan tetap tertuju kepada Sim Long dengan terkesima, penuh kasih sayang. Perlahan ia meraba muka Sim Long, ucapnya dengan lembut, Akhirakhir ini tampaknya engkau tambah kurus. Haha, sungguh hebat! seru Koay-lok-ong dengan bergelak tertawa. Sungguh cinta yang luhur sehingga benar-benar membuat orang melupakan segalanya. Wahai Sim Long, engkau sungguh seorang yang beruntung. Sim Long tersenyum hambar, katanya, Meski cinta sedemikian luhur, cuma sayang kebanyakan orang justru tidak menghargainya, banyak orang yang memupuknya, tapi akhirnya ditinggalkan juga. Koay-lok-ong seperti melengak, tanyanya kemudian, Apa artinya ucapanmu ini? Apa artinya ucapanku kan seharusnya cukup jelas bagimu, jawab Sim Long. Koay-lok-ong termenung sejenak, mendadak ia bergelak tertawa dan berkata pula, Apa pun juga kalian ternyata masih hidup di sini, hal ini sungguh kejadian yang menggembirakan dan harus diberi selamat. Menggembirakan dan selamat? kata Sim Long. Ya, kalian tentu takkan tahu, bilamana kalian mati, entah betapa aku akan berduka, ucap Koay-lok-ong. Kentut busuk! teriak Miau-ji. Haha, soalnya bila aku tidak dapat membunuh kalian dengan tanganku sendiri, hal ini tentu akan kusesalkan selama hidup, sekarang kalian ternyata masih menunggu di sini, dengan sendirinya aku sangat gembira, seru Koay-lok-ong. Miau-ji meraung murka, Dan mengapa engkau belum lagi turun tangan. Membunuh orang juga semacam seni, ujar Koay-lok-ong, Kalian adalah orang tidak biasa, bila kubunuh kalian begini saja, kan terasa kurang menarik. Sesungguhnya apa kehendakmu? tanya Tokko Siang. Apakah kalian ingin tahu? Mendadak Ong Ling-hoa tertawa, Jika benar kau bunuh diriku, engkau pasti akan menyesal. Selamanya aku tidak pernah menyesal, ucap Koay-lok-ong. Apa betul? tertawa Ong Ling-hoa bertambah misterius. Jika begitu, boleh kau coba, silakan bunuh saja. Sim Long, kata Koay-lok-ong, apakah kau pun …. Aku sih tidak khawatir, kutahu untuk sementara ini engkau takkan membunuhku, ujar Sim Long tak acuh. Haha, Koay-lok-ong tertawa. Betapa pun Sim Long memang lebih cerdik. Saat ini kalian sudah merupakan kura-kura di dalam tempurungku, cepat atau lambat kalian pasti akan mati, kenapa aku terburu-buru membunuh kalian? Ia merandek sejenak, lalu menyambung, Bagi kalian sebenarnya masih ada dua jalan. Dua jalan apa? tanya Miau-ji. Pertama, dengan sendirinya mati, setiap saat dapat kubinasakan kalian, kuyakin kalian takkan meragukan kemampuanku akan hal ini. Miau-ji dan Ong Ling-hoa saling pandang tanpa bicara. Mereka tahu Koay-lok-ong memang memiliki kemampuan itu dan tidak dapat disangkal. Selang sejenak, Ong Ling-hoa bertanya, Dan apa jalan yang kedua? Jalan kedua adalah cukup kalian berjanji sesuatu padaku dan segera kubebaskan kalian keluar. Bahkan dalam satu jam pasti takkan kukejar. Dalam satu jam? Betul? Miau-ji menegas. Tentu saja betul, jawab Koay-lok-ong. Di dalam satu jam tentu kalian dapat kabur dengan jauh. Pula, asalkan dalam waktu tigahari-tiga-malam kalian tidak tersusul lagi olehku, seterusnya takkan kuganggu lagi seujung jari kalian. Semua orang saling pandang dengan girang. Biarpun mereka rata-rata orang yang tidak takut mati, tapi demi diberi kesempatan untuk hidup, tentu saja kesempatan baik ini tidak disia-siakan dan tidak diabaikan. Apalagi betapa pun lihainya Koaylok-ong, bilamana mereka diberi peluang untuk lari dulu selama satu jam, tentu sukar lagi menyusul mereka. Hanya Sim Long saja yang menghela napas, ucapnya, Tapi bila kami memilih jalan yang kedua ini, tentu masih ada syarat sampingan, bukan? Haha, tetap Sim Long saja yang tahu akan isi hatiku, ujar Koaylok-ong dengan tertawa. Syarat sampingan apa? sela Ong Ling-hoa cepat. Kuminta kepala satu orang, ucap Koay-lok-ong, mendadak ia berhenti tertawa. Kepala siapa? tanya Ling-hoa. Dengan suara bengis Koay-lok-ong menjawab, Selama hidupku, yang paling kubenci adalah orang yang mengkhianatiku, asal dia kepergok lagi olehku, tidak nanti kuberi kesempatan hidup lagi baginya. Belum habis ucapannya, Tokko Siang yang baru berdiri segera jatuh terduduk lagi dengan lemas. Sebaliknya Ong Ling-hoa merasa lega, katanya, Jadi yang hendak kau bunuh ialah Tokko Siang …. Betul, asal kalian penggal kepalanya, segera kulepaskan kalian pergi. Dengan sorot mata kejam Ong Ling-hoa memandang ke arah Tokko Siang. Mendadak Him Miau-ji berteriak, Aku utang budi kepada Tokko Siang, barang siapa berani mengganggu seujung jarinya, dia harus melangkahi dulu mayatku. Masa tidak kau pikirkan dengan cermat, jika kalian tidak terima permintaanku ini, maka kalian harus mati seluruhnya. Bila terima, jiwa kalian berempat yang selamat. Masakah jual-beli yang menguntungkan ini tidak kau terima, sungguh bodoh. Ken … kenapa kau paksa kami melakukan hal yang tak berbudi ini? teriak Miau-ji dengan gemas. Aku cuma ingin orang lain tahu bagaimana nasib orang yang berani mengkhianatiku, jengek Koay-lok-ong. Ong Ling-hoa menghela napas, Caramu memberi peringatan kepala orang lain memang sangat bagus, hal ini tidak dapat disalahkan. Bahkan aku setuju. Tidak bisa, aku lebih suka mati bersama dia dan takkan membiarkan kalian membunuhnya, teriak Miau-ji. Sungguh tolol kau, untung kukira Sim Long takkan bodoh seperti kau, ujar Ling-hoa dengan gegetun. Mendadak Jit-jit berseru, Sim Long juga seperti dia, takkan membiarkan kau …. Sim Long yang kutanya dan bukan pendapatmu, jengek Ling-hoa. Ia tahu, asalkan Sim Long setuju, apa gunanya yang lain anti? Tanpa terasa pandangan semua orang sama tertuju kepada Sim Long. Dengan tersenyum Sim Long berucap, Ong Ling-hoa, kuharap engkau mengerti satu hal. Kusiap mendengarkan, kata Ling-hoa. Perlu kau ketahui, aku bukan orang takut mati serupa dirimu! kata Sim Long. Air muka Ong Ling-hoa berubah seketika, sebaliknya air mata Tokko Siang bercucuran. Si Kucing lantas berkeplok tertawa, katanya, Haha, betapa pun Sim Long tetap Sim Long, nyata si Kucing tidak salah menilainya. Jit-jit lantas menjatuhkan diri ke dalam pangkuan Sim Long pula, katanya, Aku terlebih tidak salah lihat, sungguh aku … aku sangat gembira. Hm, bagus, kalian memang gagah berani, jengek Koay-lok-ong. Tapi justru ingin kulihat mampu bertahan sampai kapan keberanian kalian ini. Mendadak ia bertepuk tangan. Di bawah cahaya api serentak beberapa titik emas melayang masuk dengan membawa semacam suara mendengung tajam aneh membuat orang merinding. Celaka, Kim-jan-tok-hong (ulat emas dan tawon berbisa), pekik Sim Long. Hm, mendingan kau kenal kualitas barang, ujar Koay-lok-ong dengan tertawa. Ini memang Kim-jan-tok-hong yang paling jahat di dunia ini, asal kena disengat sekali olehnya, maka akan tersiksa selama tujuh-hari-tujuh-malam, habis itu sekujur badan akan membusuk dan akhirnya mati. Tanpa terasa Miau-ji menggigil, dilihatnya sesudah beberapa bintik emas itu melayang masuk, lalu terbang kian kemari dengan cahaya yang menyilaukan. Ong Ling-hoa membentak perlahan, lengan bajunya mengebas, seketika dua titik emas itu tergulung oleh lengan bajunya. Tokko Siang juga melompat dan menginjak mati seekor makhluk berbisa itu. Si Kucing tidak memegang senjata, juga tidak berlengan baju panjang, apalagi dia telanjang kaki, jadi sia-sia ia mempunyai kepandaian tinggi, namun tidak berani ikut turun tangan, terpaksa ia menghindar kian kemari, butiran keringat pun menghias dahinya. Berulang Sim Long juga menyelentik dengan jarinya, crit-crit beberapa kali, beberapa ekor ulat tawon berbisa itu lantas rontok juga ke lantai. Hm, ilmu tenaga jari sakti yang hebat, jengek Koay-lok-ong. Apa baru sekarang kau kenal kelihaian kawanku ini? ejek Miau-ji tertawa. Hm, apakah tidak terlalu pagi engkau bergembira sekarang? Beberapa ekor ulat tawon ini tidak lebih hanya contoh saja yang kuperlihatkan, seru Koay-lok-ong dengan tertawa. Padahal di sarangnya masih ada beribu ekor lagi, bilamana kulepaskan seluruhnya, apakah masih kau dapat tertawa? Benar juga si Kucing seketika cep klakep alias bungkam. Ong Ling-hoa meraung, Apa lagi yang kau tunggu, masa engkau masih sok gagah? Lebih baik kau sendiri yang memenggal kepalanya, supaya orang lain tidak ikut mampus bersama dia. Tidak, tidak bisa, teriak Miau-ji tegas. Apa pun juga dia tidak boleh diganggu. Apakah kau pun sebodoh dia, Sim Long? tanya Ling-hoa. Terkadang aku malahan lebih bodoh daripada si Kucing, ujar Sim Long. Aku juga rela ikut mati bersama Tokko Siang, tukas Jit-jit. Wah, sialan, tampaknya aku berkumpul dengan segerombolan orang gila, keluh Ling-hoa. Mendadak Tokko Siang berseru, Meski Koay-lok-ong mahajahat dan keji, tapi apa yang sudah diucapkannya tidak pernah dijilat kembali. Jika dia sudah menyatakan akan mengejar setelah kita lari dulu dalam satu jam, maka dia pasti akan menunggu sejam dan membiarkan kita lari. Tapi itu adalah soal lain, seru Miau-ji. Air muka Tokko Siang tampak kaku, ucapnya perlahan, Kalian berdua sedemikian baik terhadapku, sungguh tak pernah kubayangkan sebelum ini. Selama hidupku baru sekarang mendapatkan dua sahabat sejati seperti kalian, sungguh tak tersangka orang semacam diriku juga bisa memperoleh sahabat murni semacam ini. Sungguh hebat, sungguh puas aku. Habis berkata mendadak ia membenturkan kepalanya ke dinding. Miau-ji menjerit kaget, cepat ia memburu maju, namun sudah terlambat. Darah sudah muncrat dan membasahi muka dan dadanya. Tokko Siang telah roboh dengan wajah memar, tapi masih juga bergumam, Orang hidup dapat mengikat seorang sahabat sejati, mati pun tidak perlu menyesal, apalagi kuperoleh dua sahabat sejati. Ai, engkau sungguh bodoh, mengapa …. seru Miau-ji dengan menangis. Tokko Siang tersenyum pedih, ucapnya, Jika kalian dapat menjadi orang bodoh, mengapa aku tidak …. Tapi jangan kalian lupa, kumati bagi kalian, maka kalian harus hidup bagiku, hidup dengan baik …. Makin lemah suaranya dan akhirnya meraung keras sekali, lalu tidak bersuara lagi. Wajah Jit-jit basah dengan air mata, Di tengah orang jahat kiranya juga ada yang berhati baik …. Di dunia ini ternyata banyak juga orang berhati baik. Ong Ling-hoa juga berpaling ke sana dan tidak tega memandangnya, teriaknya, Baiklah Koay-lok-ong, kau mau apa lagi? Koay-lok-ong tertawa, Yang menurut padaku hidup, yang melawanku akan mati, di antara ini tiada pilihan lain, kukira kalian sudah cukup jelas bagaimana nasib kalian nanti. Keempat duta bawahanmu ada yang mati dan ada yang meninggalkanmu, tangan kanan kirimu sudah patah, bila anak buahmu yang lain juga mengkhianat, maka nasibmu mungkin akan lebih mengenaskan daripada ini. Dengan bakatku yang tiada bandingannya biarpun kupergi-datang sendirian juga tiada yang mampu merintangiku, apa lagi …. Haha, sekarang kutambah lagi seorang pembantu baru, kan jauh lebih hebat berpuluh kali dibandingkan kawanan orang tolol itu? Tergerak hati Sim Long, namun dengan tak acuh ia tanya, O, pembantu baru siapa yang kau maksudkan? Koay-lok-ong tertawa latah, Hahahaha! Selamanya kalian takkan mampu menerka siapa dia, berkat tipu akalnya yang bagus barulah dapat kutemukan kalian, asalkan dia membantuku, apa pula yang kukhawatirkan? Semua orang sama terperanjat, jika ada orang yang sedemikian dipuji oleh Koay-lok-ong maka kepintarannya pasti tidak perlu disangsikan lagi dan mungkin sekali tidak di bawah Sim Long. Tapi siapakah di dunia ini yang sedemikian hebat? Ong Ling-hoa tertawa perlahan, katanya, Apa pun kau harus memegang janji, bebaskan dulu kami. Silakan keluar saja, kan tidak kurintangi kalian, ujar Koay-lok-ong dengan tertawa. Tapi kau … kau hendak …. Batu penghalang di sini sudah longgar, kalian tentu dapat mencari liang keluar dan takkan kurintangi kalian melainkan akan menunggu di luar sini. Sembari bicara, lambat laun makin menjauh suaranya. Nanti dulu, Koay-lok-ong …. teriak Ling-hoa. Akan tetapi tidak ada jawaban. Keadaan kembali sunyi, untung cahaya lampu di luar masih menyala. Ong Ling-hoa menerjang maju, digaruknya batu penyumbat dengan tangan, setelah ditarik dan didorong, akhirnya ia menghela napas lega, katanya, Dia memang tidak bohong, batu ini memang sudah longgar. Dengan mendelik Miau-ji menghardiknya, Apa benar kau pandang mati-hidup sedemikian penting? Sungguh aku tidak ingin mati, kalau orang lain mau tentu juga aku tidak perlu mencegahnya, jawab Ling-hoa tak acuh. Meski batu penyumbat itu sudah longgar, tapi tumpukan batu cukup banyak dan rapat, disertai tanah pelengket pula, mereka harus bekerja keras cukup lama, akhirnya baru dapat menggali sebuah lubang yang tiba cukup untuk diterobos tubuh seorang. Dengan hati-hati mereka lantas merangkak keluar, terlihat sebuah lentera tertaruh di lekukan dinding. Kedatangan mereka serupa orang buta yang terpancing oleh api setan, sesungguhnya bagaimana bentuk tempat ini sama sekali tidak diketahui mereka. Baru sekarang mereka dapat melihat lubang gua yang berliku-liku ini, sedikitnya ada tiga buah jalan yang tampaknya menuju ke luar, tapi sukar diraba akhirnya entah menembus ke mana. Wah, celaka, kita tertipu olehnya, seru Ling-hoa. Ya, memang konyol, Sim Long juga berkeluh. Meski kita dibebaskan olehnya, tapi lubang gua ini ada beberapa jalan tembus yang menyesatkan, betapa pun kita tetap tak dapat keluar, akhirnya kita akan mati terkurung juga di sini. Lebih tepat dikatakan mati kelaparan di sini, sambung Sim Long. Miau-ji keluar dengan memanggul mayat Tokko Siang, ia pun berseru, Ya, sampai sekarang sedikitnya sudah seharian kita tidak makan-minum, jika kelaparan satu dua hari lagi, tentu semuanya akan mampus. Justru inilah akal keji Koay-lok-ong, ucap Sim Long dengan gegetun. Dia sengaja membuat kita kelaparan setengah mati, dalam keadaan lemas, andaikan dapat keluar, mustahil kita mampu lari lagi? Betul, dalam keadaan begitu, jangankan kita cuma disuruh lari lebih dulu satu jam, biarpun lari lebih dulu sehari juga tidak berguna, ucap Ling-hoa dengan gemas. Ai, orang ini sungguh licik lagi licin. Sambil bersandar pada bahu Sim Long, Jit-jit berkata, Wah, mendingan kalian tidak membicarakannya, sekali bicara aku jadi merasa lapar benar-benar. Aha, ada akal, mendadak Sim Long berseru. Akal apa? tanya Miau-ji. Coba ambilkan lentera itu, kata Sim Long. Lalu ia berjongkok memeriksa dengan teliti. Tanah padas demikian tentu saja sukar meninggalkan bekas kaki, untung tanah di luar agak lunak, betapa pun masih terdapat sedikit jejak yang tertinggal. Namun orang yang datang tadi tidak sedikit, bekas kaki ternyata sangat ruwet dan sukar dikenali. Sim Long bergumam, Asalkan dapat menemukan jalan hidup di antara ketiga jalan ini tentu segala urusan akan beres. Dengan sendirinya ia tidak berani gegabah, orang lain juga tidak berani mengganggu dia, sampai Cu Jit-jit juga menyingkir agak jauh, hanya pandangannya tetap mengikuti setiap gerak-gerik pemuda itu. Sekonyong-konyong lentera padam. Keadaan gelap gulita lagi, kegelapan yang membuat putus asa. Ong Ling-hoa mengguncangkan lentera itu, lalu membantingnya di tanah sambil menggerutu, Sialan, minyak habis! Sungguh bangsat yang keji, omel Miau-ji. Rupanya setiap langkah sudah diperhitungkannya dengan baik. Dia sengaja meninggalkan sebuah lentera di sini untuk memperlihatkan kebaikan hatinya, tapi sudah diperhitungkan dengan tepat begitu kita keluar ke sini segera lentera ini akan padam. Sim Long menyengir, Dia berbuat demikian kan serupa kucing menangkap tikus. Tikus tidak segera dimakan, tapi dipermainkan lebih dulu. Sudah diperhitungkannya bahwa kita serupa tikus di bawah cengkeramannya dan tidak mungkin bisa lolos. Masa … masa engkau juga tidak berdaya? tanya Ling-hoa. Memangnya kita ini tikus? sahut Sim Long dengan tersenyum hambar. Tentu saja bukan, jadi engkau punya akal? seru Ling-hoa girang. Syukur sudah dapat kutemukan bekas kakiku sendiri waktu datang tadi, tutur Sim Long, Bekas kaki menunjukkan mengarah ke jalan sebelah kiri, jika dari sana dapat masuk ke sini, dengan sendirinya dari sini dapat keluar ke sana. Aha, betul, ayo lekas kita keluar, seru Ling-hoa. Kita merambat dinding dengan tangan kiri dan tangan kanan bergandengan tangan satu sama lain, sekali-kali jangan sampai terpencar, biar kubuka jalan di depan dan Jit-jit di belakangku, kata Sim Long. Dan Miau-ji di belakangku, tukas Jit-jit. Tentu saja aku pengiring di belakang, ujar Ling-hoa. Miau-ji, harus hati-hati terhadap manusia demikian yang mengikut di belakangmu …. Jangan khawatir, kata si Kucing. Dia orang pintar, sebelum lolos dengan hidup tidak nanti dia berani menyergap orang lain. Tapi urusan begini tidak dapat diukur secara umum, akan lebih baik engkau tetap berhati-hati, ujar Jit-jit. Ai, perempuan … dasar hati perempuan …. ucap Ong Ling-hoa dengan menyesal. Memangnya bagaimana hati perempuan? Paling sedikit hati perempuan kan lebih baik daripada hatimu, jengek Jit-jit. Eh, jangan lupa, jika tidak ada aku, kau dan Sim Long …. Belum lanjut ucapan Ling-hoa, mendadak Jit-jit tertawa dan berkata, Kan sudah kukatakan di antara orang jahat juga ada yang berhati baik. Hatimu terkadang juga tidak busuk, bilamana engkau dapat sering-sering berbuat demikian, tentu juga semua orang akan suka padamu. Oo …. Ling-hoa lantas bungkam. Hendaknya kau tahu, menjadi orang baik jauh lebih menyenangkan daripada menjadi orang busuk, kata Jit-jit pula. Begitulah keempat orang terus merambat ke depan dalam kegelapan, masing-masing sama menanggung pikiran sendiri sehingga tidak ada yang bicara lagi. Entah sudah berapa lama mereka berjalan, dalam perasaan mereka rasanya seperti sudah lewat sekian hari, namun tiada terlihat apa pun di depan. Akhirnya Miau-ji tidak tahan, tanyanya, Apakah engkau tidak kesasar? Dia pasti takkan keliru, seru Jit-jit. Hm, kepercayaan orang lain terhadap Sim Long tentu tidak sepenuh kepercayaanmu kepadanya, jengek Ling-hoa. Jika tidak percaya padanya, kenapa engkau tidak pergi sendiri saja? jawab Jit-jit ketus. Maka Ong Ling-hoa tidak dapat omong lagi. Dengan sendirinya dia tidak mau ribut mulut dengan anak perempuan, apalagi anak perempuan serupa Cu Jit-jit. Setelah berjalan sebentar lagi, akhirnya Ong Ling-hoa bersuara pula, Eh, Sim Long, pada waktu kita masuk kemari rasanya tidak makan waktu sekian lama. Sim Long berpikir sejenak, katanya, Waktu datang kan ada orang memberi petunjuk jalan, dengan sendirinya kita berjalan dengan cepat. Terpaksa Ong Ling-hoa tutup mulut pula. Kembali mereka merambat ke depan. Meski tidak terlihat sesuatu tapi dapat dirasakan lorong gua itu makin lama makin sempit dan tambah sumpek. Jit-jit yang bertubuh lemah hampir saja tidak mampu bernapas. Sim Long keliru jalan tidak? jengek Ling-hoa pula. Dia … dia tidak …. Belum selesai ucapan Jit-jit, mendadak Sim Long memotong, Keliru! Jiwa kita terletak di tanganmu, hendaknya jangan dibuat mainmain, ujar Ong Ling-hoa. Bagaimana kalau Ong-heng yang mencari jalan? kata Sim Long. Cepat Ong Ling-hoa menjawab dengan menyengir, Ah, maaf jika ucapanku agak kasar. Padahal kalau Sim-heng saja tidak sanggup membawa kita keluar, siapa pula di dunia ini yang sanggup? Maka mereka lantas merambat kian kemari tanpa berhasil, kaki mereka bertambah lemas. Rasa lapar masih dapat ditahan, rasa haus yang membuat mereka kelabakan setengah mati. Menurut perkiraan, sedikitnya sudah sehari suntuk mereka berputarputar di situ tanpa berhenti, biarpun tubuh gemblengan baja juga tidak tahan. Yang paling payah adalah Cu Jit-jit, napasnya terengah-engah dan hampir tidak sanggup berdiri lagi. Bagaimana kalau istirahat sebentar? ujar Miau-ji. Dalam keadaan begini, siapa pun tidak boleh berhenti, harus sekaligus meneruskan perjalanan, sekali berhenti mungkin tidak sanggup berbangkit lagi, ujar Sim Long. Aku tidak lelah, ayo, terus jalan, kata Jit-jit. Jika kita hanya merambat secara ngawur begini, sampai kapan baru akan berakhir? Betapa pun kita harus mencari jalan lain, ujar Linghoa. Miau-ji mendengus, Hm, dalam keadaan begini, jalan lain apa yang dapat kau pikirkan? Di sana tadi kulihat jelas kita datang dari jalan sebelah kiri dan pasti tidak keliru, entah mengapa menjadi salah jalan, di manakah letak kekeliruannya? kata Sim Long dengan menyesal. Thian yang tahu apa kekeliruan ini, tukas Ling-hoa. Apa pun juga kita jangan putus asa, terlebih tidak boleh berhenti, seru Sim-Long. Asalkan kita tetap menuju ke depan, lambat atau cepat pasti akan kita temukan jalan keluarnya. Betul, kita pasti akan berhasil keluar, sambung Miau-ji. Maka dengan mengertak gigi semua orang merambat ke depan lagi. Entah berapa lama lagi, trang , mendadak kaki kesandung sesuatu benda. He, apa itu? tanya Sim Long dan berhenti seketika. Ling-hoa coba meraba benda itu di tanah dan menjemputnya, katanya tiba-tiba dengan lemas, Wah, runyam! Apa yang kau temukan? Kenapa kau bilang runyam? tanya Miau-ji cepat. Inilah lentera tembaga yang kubanting ke tanah tadi, tutur Linghoa dengan sedih. Ah, apakah … apakah mungkin kita telah putar kembali ke tempat tadi? kata Miau-ji. Memang betul, tampaknya tempat inilah kuburan kita. Siapa bilang runyam, justru kita pasti akan selamat, seru Sim Long mendadak. Se … selamat? Ling-hoa menegas. Ya, asal kita berada kembali di sini berarti akan tertolong, kata Sim Long. Apa katamu, sungguh aku tidak paham? tanya Ling-hoa. Jalan yang kita tempuh tadi tidak keliru, hanya arahnya yang salah. Aku tambah tidak paham keteranganmu ini? Tadi kita merambat dinding dengan tangan kiri, bila di sebelah ada jalan segera kita membelok, makin jauh makin tersesat, akhirnya kita putar balik lagi ke sini, padahal jalan hidup yang sebenarnya adalah sebelah kanan. Aha, betul, memang benar selamat, seru Ling-hoa girang. Baru sekarang kau percaya Sim Long memang tidak keliru, bukan? ejek Jit-jit. Kan sudah kukatakan, di dunia ini jika ada orang mampu membawa kita keluar dari sini, maka orang itu ialah Sim Long, kata Ling-hoa. Sekarang kita merambat dinding dengan tangan kiri, setelah belasan langkah ke depan baru berganti merambat dinding dengan tangan kanan, namun tangan kiri masing-masing tetap bergandengan dan jangan sampai terpencar. Meski keadaan semua orang sekarang sudah lemas lunglai, lapar dan haus, tapi sinar hidup sudah muncul, semangat mereka terbangkit, jalan mereka pun seakan-akan bertambah cepat. Sekali ini mereka hanya berjalan sebentar saja dan segera kelihatan cahaya remang langit di luar, makin ke depan makin terang. Jit-jit memegang tangan Sim Long dengan erat sambil bersorak gembira, Akhirnya kita dapat bebas. Ssst, kita belum lagi lari keluar, ini baru saja permulaan, desis Sim Long. Baru permulaan? Miau-ji menegas. Jangan kau lupa, Koay-lok-ong masih menunggu di luar gua, pelarian kita baru akan dimulai, kesulitan yang sesungguhnya masih banyak menunggu. ***** Koay-lok-ong memang benar menunggu di luar gua. Cahaya sang surya gilang-gemilang, cuaca cerah. Di luar gua dibangun sebuah barak bambu, Koay-lok-ong duduk di kursi malas berkasur empuk diembus angin semilir sejuk. Di depannya tentu saja tersedia santapan lezat dan arak, di sampingnya menunggu kawanan gadis cantik, di mana ia berada tidak pernah berkurang hal-hal demikian itu. Kecuali itu ada lagi 30-an pemuda gagah perkasa dengan pakaian ringkas dan berpedang siap tempur mengelilingi Koay-lok-ong. Dia dapat melihat Sim Long, keadaan Sim Long ternyata tidak sekonyol sebagaimana dibayangkannya. Tubuh Sim Long tetap tegak, mata masih bersinar, terlebih senyumnya yang khas itu menghiasi ujung mulutnya. Air muka Koay-lok-ong rada berubah, tapi segera ia bergelak tertawa, Haha, bagus, akhirnya kalian datang juga. Masa kami harus membikin kecewa Anda? ujar Sim Long dengan tersenyum. Memang sudah kuduga Sim Long pasti takkan membikin kecewa padaku, ucap Koay-lok-ong dengan tertawa. Apabila kalian tidak dapat keluar, itulah yang membuatku kecewa. Masa di dunia tidak ada jalan keluar bagi orang? ujar Sim Long tertawa sembari melangkah ke depan. Jit-jit dan Miau-ji mengikut rapat di belakangnya, terpaksa Ong Linghoa juga membusungkan dada dan melangkah maju. Walaupun mereka melangkah dengan tegap, dalam hati diam-diam mengeluh, terutama bau sedap santapan dan bau arak yang merangsang itu membuat perut mereka bertambah keroncongan. Malahan Koay-lok-ong lantas mengangkat cawan arak dan berkata dengan tertawa, Sebenarnya ingin kusuguh kalian minum satu-dua cawan dulu, namun sayang, rupanya kalian terburu-buru menempuh perjalanan, terpaksa tidak ingin kuganggu waktu kalian yang berharga. Sungguh tidak kepalang geregetan Him Miau-ji, mendingan bila tidak mengendus bau sedap arak, sekali tercium, rasa laparnya semakin sukar ditahan. Lekas kita tinggalkan tempat ini, aku tidak ingin melihat bentuk setan iblis itu, desis Jit-jit di tepi telinga Sim Long. Eh, jika kalian terburu-buru mau berangkat, terpaksa tidak dapat kuantar, seru Koay-lok-ong pula dengan tertawa. Hanya di sini kuucapkan selamat jalan kepada kalian, semoga kalian dapat lari terlebih cepat. Habis berkata ia lantas menenggak dan terbahak-bahak. Him Miau-ji juga tertawa, Kau minum sendirian, tentu sangat kesepian, biarlah mendiang sahabatmu mendampingimu, coba lihat, dia sedang memandang padamu. Dengan langkah lebar ia mendekati Koay-lok-ong. Meski tulang kepala Tokko Siang sudah remuk tapi matanya masih melotot penuh rasa sedih dan benci. Kawanan gadis jelita di samping Koay-lok-ong sama menjerit ngeri. Air muka Koay-lok-ong juga rada berubah dan tidak dapat tertawa lagi. Wahai Tokko-heng, pada siang hari kau temani dia minum arak, bila malam tiba, engkau pun jangan lupa mendampingi dia, agar dia tidak kesepian, demikian Miau-ji berolok-olok pula. Brak , mendadak Koay-lok-ong membanting cawan arak di atas meja sambil membentak, Tutup mulut! Mata Miau-ji yang serupa mata kucing itu menatap Koay-lok-ong dengan tajam, katanya perlahan, Bila malam tiba, arwah yang ingin bicara denganmu tentu tidak sedikit, jika sekarang bertambah lagi Tokko Siang, kan tidak menjadi soal, kenapa kau takut? Lekas enyah, jika tidak …. hardik Koay-lok-ong dengan bengis. Belum lanjut ucapannya Miau-ji sudah lewat dengan tertawa, Hahaha, bila hidup banyak berbuat dosa, tengah malam pun takut pintu digedor setan! Koay-lok-ong meremas tangannya sehingga cawan emas tadi teremas pipih. Ong Ling-hoa ikut lewat ke sana, mendadak ia berpaling dan berucap, Satu jam, bukan? Ya, satu jam, tidak lebih, juga tidak kurang, lekas enyah! bentak Koay-lok-ong. Ai, marah pada orang lain, aku yang kena getahnya, ujar Ling-hoa dengan tertawa, ia menjura terus melangkah ke depan. Melihat kelakuan Ong Ling-hoa dan Him Miau-ji itu, dengan suara tertahan Sim Long berkata kepada Jit-jit, Meski watak kedua orang ini berbeda, yang satu jujur dan yang lain licik, tapi menghadapi detik gawat seperti ini terlihatlah mereka memang orang luar biasa. Orang yang dapat berada bersamamu tentu saja bukan orang biasa, ujar Jit-jit. Sim Long memapahnya ke depan, ketika berada di depan Koay-lokong, dengan tersenyum ia menegur, Setelah berpisah sekarang, entah kapan baru akan berjumpa pula. Jangan khawatir, selekasnya pasti akan berjumpa lagi, ucap Koaylok-ong sambil menyeringai. Meski Anda sangat marah, namun tetap menepati janji dan akan menunggu satu jam, tampaknya Koay-lok-ong tetap Koay-lok-ong, mau tak mau aku harus menyatakan kagum padamu, ucap Sim Long dengan gegetun. Koay-lok-ong terdiam sejenak, mendadak ia tergelak dan berseru, Bagus, Sim Long, tampaknya di kolong langit ini cuma engkau saja yang memahami isi hatiku, kesatria di dunia ini, kecuali Sim Long seorang tiada yang terpandang olehku. Ia merandek dan menatap Sim Long lekat-lekat, lalu menambahkan, Cuma, tidak jelek juga kulayanimu, mengapa engkau justru ingin memusuhiku? Sim Long tersenyum hambar, Bisa jadi aku memang dilahirkan untuk memusuhimu. Kembali Koay-lok-ong terdiam, teriaknya kemudian, Bagus! Jika tidak ada orang semacam dirimu yang menjadi lawanku, rasanya hidupku juga takkan menarik. Ia ganti cawan arak dan minum lagi. Dengan serius Sim Long berucap, Apa pun juga tetap kuhormati Anda sebagai kesatrianya kesatria, kelak bila kau jatuh dalam cengkeramanku, pasti takkan kubikin susah dirimu melainkan akan kubereskan dengan sewajarnya. Haha, sudah kepepet begini, kecuali Sim Long, di dunia ini siapa pula yang punya keberanian seperti ini? seru Koay-lok-ong dengan tergelak. Wahai Sim Long, melulu satu hal ini saja engkau tidak malu untuk disebut kesatrianya kesatria. Segera ia memberi tanda kepada seorang gadis jelita di sampingnya agar menuangkan secawan arak bagi Sim Long, lalu katanya pula, Marilah kita habiskan secawan, tampaknya hubungan baik kita sudah seluruhnya tertuang di dalam secawan arak ini. Inilah minuman kita yang terakhir, bila bertemu lagi mungkin tiada sesuatu yang dapat dibicarakan lagi. Baik, silakan, jawab Sim Long sambil mengangkat cawan arak. Kedua orang sama menenggak habis arak masing-masing. Para pengawal berseragam hitam dan kawanan gadis jelita itu sama menahan napas mengikuti adegan yang khidmat itu, suasana terasa mengharukan dan juga mengagumkan. Inilah minuman antara kesatria. Jit-jit juga merasa terharu, darah bergolak dan mata terasa basah. Baiklah, sekarang boleh kau pergi! seru Koay-lok-ong kemudian sambil membuang cawannya. Sim Long memberi hormat, lalu melangkah ke depan tanpa menoleh lagi. Jit-jit menyusulnya, katanya dengan rawan, Sungguh aku tidak mengerti mengapa dia sedemikian baik padamu, tapi mengapa juga ingin membunuhmu? Sim Long menjawab dengan pedih, Dia tidak ada pilihan lain, aku pun tidak punya pilihan lain, ini kejadian yang sukar dihindarkan, dari dulu kala kebanyakan kesatria memang dilahirkan untuk berlawanan. Apakah dia juga terhitung kesatria? tanya Jit-jit. Meski dia keji dan jahat, tapi tidak perlu diragukan dia juga seorang kesatria, siapa pun tak dapat menyangkal hal ini, ucap Sim Long. ***** Lambat laun, bayangan Koay-lok-ong sudah tidak tertampak lagi. Setelah meninggalkan jarak pandang Koay-lok-ong, keadaan mereka yang lemas sukar dipertahankan lagi. Pinggang Ong Ling-hoa, Cu Jitjit dan juga Him Miau-ji tidak dapat menegak pula, kaki pun seperti diganduli benda beribu kati beratnya. O, haus sekali, keluh Jit-jit. Ai, Sim Long, carikan sedikit air minum. Miau-ji tertawa. Mendingan Sim Long, dia telah minum satu cawan arak. Kau iri? tanya Jit-jit. Kenapa aku iri? jawab Miau-ji dengan tertawa. Aku justru senang …. Kawanku adalah kesatria besar, sampai musuh pun sedemikian menghormati dia, masa aku malah iri padanya? Engkau sungguh orang baik, Miau-ji, puji Jit-jit. Jika kupunya seorang adik perempuan, tentu kusuruh dia menjadi istrimu. Dan karena engkau tidak punya adik perempuan, tampaknya aku terpaksa harus menunggu anak perempuan yang kau lahirkan dengan Sim Long nanti, ujar si Kucing dengan tertawa. Muka Jit-jit menjadi merah, omelnya, Dasar mulut kucing yang tidak bergading! Hm, kalian masih dapat berkelakar sepanjang jalan, sungguh aku sangat kagum, jengek Ling-hoa mendadak. Kau tahu apa, justru sekaranglah kita perlu berkelakar, kata Miauji. Bila kalian tidak mau cepat lari, mungkin segera kalian akan berkelakar di bawah senjata Koay-lok-ong, jengek Ling-hoa pula. Maaf, tidak dapat kutunggu kalian lagi, terpaksa kupergi dulu selangkah. Mendadak Sim Long berkata, Saat ini kita sudah serupa pelita yang hampir kehabisan minyak, jika berlari cepat, berapa jauh kita mampu bertahan? Bukan mustahil segera bisa roboh, semakin cepat berlari makin tidak kuat. Walaupun betul, tapi kita hanya ada waktu satu jam saja, kata Ling-hoa. Asalkan kita manfaatkan waktunya dengan tepat, biarpun cuma satu jam juga cukup longgar, ujar Sim Long. Jika begitu, sekarang …. Yang paling penting sekarang, sela Sim Long, pertama, kita harus menemukan sungai kecil itu, kita minum sekenyangnya, manusia adalah besi, air adalah baja. Asalkan perut penuh air, rasa lapar pun tertahankan. ***** Di tempat tadi Koay-lok-ong sedang termenung dengan memegang cawan arak. Seorang pemuda berseragam hitam ringkas berlari datang dan memberi sembah, lapornya dengan napas terengah, Lapor Ongya, hamba sudah melihat rombongan Sim Long. Lekas teruskan, bentak Koay-lok-ong tak sabar. Hamba bersama ke-29 saudara lain mematuhi perintah Ongya dan mencari tempat sembunyi yang rapi, ada yang memanjat ke atas pohon, ada yang sembunyi di balik semak …. Untuk apa bicara bertele-tele, memangnya hal-hal begitu perlu kau laporkan, damprat Koay-lok-ong. Pemuda baju hitam menunduk takut, cepat ia menyambung laporannya, Ketika hamba melihat mereka, keadaan mereka tampak payah, berjalan saja kelihatan berat, tapi … tapi Sim Long itu masih penuh semangat, sedikit pun tidak ada tanda-tanda loyo. Keparat Sim Long ini memang bukan manusia, omel Koay-lok-ong dengan gemas, lalu bertanya, Dan bagaimana dengan Him Miauji? Kucing itu meski kelihatan lelah, tapi terkadang masih bergurau dengan gadis she Cu ini. Hamba tidak tahu apa yang dibicarakan mereka, hanya tertawa mereka kelihatan sangat gembira. Masa mereka tidak berusaha lari? tanya Koay-lok-ong dengan kening bekernyit. Mereka berjalan dengan lambat, tampaknya tidak gelisah sedikit pun. Sungguh hebat, ucap Koay-lok-ong. Wahai Sim Long, sungguh engkau tidak malu disebut sebagai musuh nomor satu diriku. Seorang gadis di sebelahnya coba bertanya, Hanya berjalan perlahan kenapa dipandang sebagai lihai? Koay-lok-ong bertutur dengan gegetun, Dengan tenaga mereka waktu itu, jika mereka berlari sekuatnya, mungkin tidak sampai satu jam pasti akan roboh seluruhnya. Dan dalam keadaan seperti mereka itu, kecuali Sim Long siapa pun pasti akan lari secepatnya. Gadis itu berpikir sejenak, lalu berucap, Ya, sungguh menakutkan mempunyai lawan seperti Sim Long itu. Kurang ajar! Apakah kau lupa siapa lawannya? omel Koay-lok-ong. Dengan takut si gadis mengiakan, Ya, ya, betapa pun lihainya masakah dapat menandingi Ongya. Dan sekarang mereka menuju ke mana? tanya Koay-lok-ong setelah terdiam sejenak. Tampaknya seperti menuju ke sungai, lapor pemuda baju hitam tadi. Wahai Sim Long, setiba kalian di tepi sungai baru kalian tahu kelihaianku, Koay-lok-ong dengan terbahak. ***** Gemercik aliran air sudah terdengar. Jit-jit melonjak girang, Aha, sudah sampai, untung di sini ada sebuah sungai kecil. Ssst, desis Ong Ling-hoa. Awas jika Koay-lok-ong memasang perangkap di tepi sungai, bisa jadi kedatangan kita akan serupa laron menubruk api. Jangan khawatir, ujar Sim Long. Dalam satu jam ini Koay-lok-ong pasti menaati janji dan takkan turun tangan terhadap kita. Meski dia bukan seorang lelaki sejati, namun satu hal ini dapat kupercayai dia. Apa dasarnya? tanya Miau-ji. Sebab kulayani dia sebagai kesatria, tentu dia takkan merosotkan derajat sendiri sebagai seorang kesatria, ujar Sim Long dengan tertawa. Apalagi sekarang dia ingin memperlihatkan kehebatannya supaya kita mati dengan takluk lahir-batin. Mendadak Jit-jit merasa khawatir, Wah mungkinkah dia menaruh racun dalam air? Untuk ini kalian tidak perlu khawatir, air yang mengalir tidak mungkin dapat ditaruhi racun, ujar Ling-hoa. Ya, kupercaya, kata Miau-ji. Urusan yang menyangkut racunmeracun tentu saja Ong Ling-hoa jauh lebih paham daripada siapa pun. Jit-jit berkata dengan menyesal, Tapi kurasa dia pasti takkan membiarkan kita minum air begitu saja. Kalian lebih kuat daripadaku, namun orang perempuan biasanya lebih perasa. Namun sekali ini semoga daya perasaanmu tidak manjur, ujar Miau-ji. Beberapa orang segera berlari ke sana, keadaan di tepi sungai sunyi senyap, sedikit pun tidak ada tanda mencurigakan. Miau-ji bersorak gembira, segera ia bertiarap dan meraup air untuk diminum. Sekonyong-konyong di hulu sungai sana ada orang tertawa geli dan berseru, Hei, babi cilik, lihatlah ada orang minum air bekas mandimu! Miau-ji terkejut dan berpaling ke sana, dilihatnya ada tiga anak dara berdandan sebagai gadis gembala sedang berkeplok tertawa, beberapa puluh ekor babi gemuk juga sedang mandi di dalam air sungai. Selain itu ada lagi beberapa ekor kerbau, kambing, ayam, itik, dan anjing, ada yang asyik minum air, ada yang mandi, bahkan ada yang sedang berak di dalam sungai. Keruan si Kucing mendongkol dan marah, ia urung minum sehingga air yang sudah diciduknya membasahi bajunya, kontan ia mencaci maki, Bedebah! Para gadis gembala masih berkeplok tertawa dan bernyanyi malah, Hahaha, Koay-lok-ong, pandai berakal. Sim Long cilik juga terperangkap. Air ada di depan mata, tapi tidak dapat diminum, si Kucing juga kelabakan …. Nah, apa kataku, betul tidak?! ucap Jit-jit dengan gegetun. Saking geregetan si Kucing melonjak-lonjak, dampratnya, Bangsat, binatang! Ai, akal busuk tidak bermoral begini, hanya dia juga yang mampu berbuat, ujar Jit-jit sambil menyengir. Ong Ling-hoa tampak berdiri termenung, mendadak ia berjongkok, air sungai diciduknya dengan tangan terus diminum, bahkan cukup banyak minumnya. Tentu saja Jit-jit melongo, Hei, kau berani minum air ini? Di dalam air tercampur kotoran babi, masakah tidak kau lihat? Ong Ling-hoa berdiri kembali dari berucap dengan tak acuh, Seorang lelaki sejati harus bisa mulur dan mampu mengkeret, hanya minum air begini terhitung apa? Bilamana kalian sudah tidak mampu bergerak, ingin minum air kencing saja tidak bisa. Jangan kau minum air kotor ini, Sim Long, pinta Jit-jit sambil menarik tangan Sim Long. Saat ini meski aku tidak sampai minum air ini, tapi … tapi kalian …. Mati pun aku tidak minum air pecomberan ini, teriak Jit-jit. Aku pun tidak sanggup, tukas si Kucing. Sim Long berpikir sejenak, katanya kemudian, Sekarang kita berjalan menyusur ke hulu sungai dan tidak perlu menyembunyikan jejak kita lagi, semakin jelas kita dilihat mereka semakin sukar bagi mereka untuk meraba apa maksud tujuan kita. Tapi jangan lupa, waktu sudah tinggal sedikit, kata Ling-hoa. ***** Koay-lok-ong sendiri asyik minum arak secawan demi secawan. Tiba-tiba seorang pemuda berseragam hitam datang lagi melapor, Ongya, rombongan mereka sudah sampai di tepi sungai. Sayang tidak dapat kulihat mereka, kuyakin air muka mereka pasti sangat lucu, ucap Koay-lok-ong dengan tertawa. Kucing hitam itu memang berjingkrak-jingkrak seperti kebakaran jenggot, gadis she Cu itu pun seperti mau menangis, bahkan Sim Long juga kelihatan bingung, lapor si seragam hitam. Koay-lok-ong berkeplok gembira, Haha, akal bagus yang kuatur masakah dapat diterka mereka …. Hm, terpaksa mereka harus memandang air di depan mata, ingin minum, tapi tidak dapat, betapa perasaan mereka tentu bisa dibayangkan. Lucunya bocah bermuka putih itu justru sampai hati minum air kotor itu, bahkan …. Maksudmu Ong Ling-hoa minum air itu? teriak Koay-lok-ong. Si pemuda seragam hitam berjingkat kaget, jawabnya tergegap, Ya, dia … banyak juga dia minum. Sialan, Ong Ling-hoa ini, seru Koay-lok-ong sambil menggeleng. Tak tersangka dia tega minum air kotor begitu, tampaknya orang ini memang lain daripada yang lain dan tidak boleh diremehkan. Air kencing saja diminum, masakah orang begitu perlu dikhawatirkan, tiba-tiba seorang gadis di sampingnya bertanya. Kau tahu apa? omel Koay-lok-ong. Pada waktu kepepet harus berani bertindak, kalau perlu bersabar, orang beginilah baru terhitung tokoh yang lihai. Kekurangan Sim Long adalah kulit mukanya kurang tebal, hatinya kurang kejam, makanya tidak dapat mencapai sukses besar. Bicara tentang ini, jelas dia tidak dapat membandingi Ong Ling-hoa. Ia mendongak dan tertawa, lalu menyambung, Bila mana aku jadi dia pun akan minum air kotor itu. Kawanan gadis itu sama menunduk dan tidak berani bicara lagi. Tampak seorang pemuda berseragam hitam yang lain berlari datang lagi dan memberi sembah, Lapor Ongya, mereka melanjutkan perjalanan lagi! Sekali ini cara bagaimana mereka melanjutkan perjalanan? tanya Koay-lok-ong. Menyusur ke hulu sungai dan tetap berjalan dengan perlahan, tutur si seragam hitam. Hah, mereka tidak main sembunyi lagi? seru Koay-lok-ong sambil memandang sebuah alat pengukur waktu dengan pasir. Padahal waktu mereka sudah hampir habis dan mereka belum lagi menyelamatkan diri? Wahai Sim Long, sesungguhnya akal setan apa yang telah kau atur? ***** Rombongan Sim Long masih terus menuju ke hulu. Ternyata setiap jarak tertentu, di dalam sungai pasti terdapat kawanan hewan sebangsa babi, kuda atau kerbau yang sedang berendam di dalam sungai sehingga air sungai menjadi kotor dan tidak dapat minum. Namun Sim Long tetap berjalan dengan adem ayem, serupa orang yang lagi pesiar menikmati pemandangan alam, dari kepala sampai kaki tidak terlihat dia gelisah sedikit pun. Jit-jit setengah bersandar di bahunya, bibirnya yang mungil dan cantik itu kini kering dan pecah, matanya yang bersinar lincah dahulu sekarang juga penuh garis merah. Tapi pada bibir yang kering itu justru masih tersembul secercah senyuman riang, pada mata yang merah itu tetap gemerdep cahaya bahagia. Memang, asalkan Sim Long berada di sampingnya, tiada lain lagi yang diharapkannya. Akhirnya Miau-ji tidak tahan, dengan suara perlahan ia tanya, Sim Long, sebenarnya apa tujuanmu? Sim Long tersenyum, tiba-tiba dikeluarkannya sepotong barang dan digenggamnya erat, kelihatan cahaya mengilat dari celah jarinya, tapi tidak jelas barang apa yang dipegangnya. Ini apa …. si Kucing coba bertanya lagi. Kau pikir apa ini? jawab Sim Long dengan tersenyum. Tidak dapat kuterka, kata si Kucing. Hm, dalam keadaan begini, Sim-heng ternyata masih iseng main teka-teki segala, sungguh sukar dimengerti, serupa anak kecil saja, demikian jengek Ong Ling-hoa. Sim Long tidak menghiraukannya, katanya pula dengan tersenyum, Apakah pernah kau lihat kugunakan Am-gi (senjata rahasia)? Tidak pernah, jawab Miau-ji. Makanya kalian tentu mengira aku tidak mahir menggunakan Amgi, bukan? Seketika Miau-ji tidak tahu apa maksud ucapan orang, ia hanya mengangguk dan mengiakan. Sim Long tertawa, Kau salah taksir. Kau tahu, sejak ingusan aku sudah belajar ilmu silat, segala macam kungfu keras dan lunak telah kupelajari, segala macam senjata juga telah kupahami, maka janggal jika aku tidak mahir menggunakan Am-gi. Diam-diam si Kucing heran mengapa hari ini Sim Long membual dan menyombongkan diri, hal ini selamanya tidak pernah terjadi. Dilihatnya Sim Long lagi tertawa bangga, maka ia pun ikut menyengir. Ya, selama ini Sim Long tidak mau menggunakan Am-gi, sebab tindak tanduknya selalu blakblakan, tidak sudi menyerang orang dengan senjata gelap, kata Jit-jit. Ucapanmu memang juga beralasan, tapi tidak terlalu betul, ujar Sim Long. Sebabnya aku tidak suka menggunakan Am-gi adalah karena senjata rahasiaku ini terlalu keji. Oo?! …. Miau-ji melongo. Sekilas Sim Long sengaja membuka tangannya sehingga kelihatan cahaya mengilat, katanya, Inilah Am-gi yang biasanya tidak sembarangan kugunakan. Sesungguhnya senjata rahasia apa ini? tanya Miau-ji. Senjata rahasia ini bernama Sau-hun-sin-ciam (jarum sakti sambar nyawa), barang siapa asalkan tersentuh setitik saja, dalam waktu setengah jam sekujur badan akan membusuk dan mati tak terkubur, di dunia tidak ada obat penawarnya. Hm, senjata rahasia semacam ini mungkin tidak cuma dipunyai olehmu saja, jengek Ling-hoa. Sim Long tertawa, katanya, Tapi senjata rahasia ini masih ada segi lihai yang lain. Oo, apa? tanya Ling-hoa. Bila kuceritakan mungkin orang lain takkan percaya, ucap Sim Long. Am-gi ini boleh dikatakan mendekati seperti barang berjiwa, padanya terdapat daya gaib yang dapat mencari sasaran untuk menyambar nyawanya, jika sekarang kubuka tanganku …. Ia berhenti sejenak sambil memandang pucuk pohon dan melirik ke arah semak-semak di balik batu sana, lalu menyambung, Dan sekali jarum sambar nyawa ini kuhamburkan, betapa pun pihak lawan bersembunyi di tempat yang paling rahasia juga tidak dapat menghindarinya. Miau-ji tertarik, Apakah betul di dunia ada Am-gi sehebat ini? Kapan pernah kudusta padamu? ucap Sim Long dengan tertawa. Lalu ia memandang lagi ke pucuk pohon dan balik batu, teriaknya pula, Jika kalian tidak percaya, segera dapat kuperlihatkan kepadamu. Belum lenyap suaranya, serentak dari pucuk pohon dan balik semaksemak sana, bahkan di belakang batu karang di kejauhan beramai ada belasan sosok bayangan hitam melayang pergi secepat terbang. Maka tergelaklah Sim Long, Coba, belum lagi senjata rahasiaku terhambur, musuh sudah lari ketakutan lebih dulu. Haha, memang betul, seru Miau-ji dengan tertawa. Anehnya Amgi selihai ini ternyata tidak pernah kudengar sebelum ini, entah boleh tidak kulihat bagaimana bentuk Am-gi kebanggaanmu ini? Ya, aku juga ingin tahu, tukas Ong Ling-hoa. Sim Long tampak ragu sejenak, katanya, Padahal, benda ini pun tidak menarik. Boleh kau perlihatkan saja kepada mereka, ujar Jit-jit. Kukira yang paling ingin tahu mungkin dirimu sendiri, betul tidak? Sim Long berseloroh. Muka Jit-jit menjadi merah. Baiklah, kata Sim Long kemudian, kukira tidak berhalangan kuperlihatkan kepada kalian …. Perlahan ia lantas membuka tangannya. Mana ada senjata rahasia apa segala, yang tergenggam olehnya tidak lain cuma sepotong uang perak saja. Miau-ji melengak, Hei, apa … apa ini? Ini bukan Sau-hun-sin-ciam segala, tapi Hek-jin-ciam (jarum penakut orang), jawab Sim Long dengan tersenyum. Hahaha! Miau-ji terbahak. Tahulah aku sekarang …. Jit-jit juga berkeplok tertawa, katanya, Memang seharusnya kuduga sebelumnya, di dunia mana ada Am-gi ampuh sebagaimana dikatakannya itu, mestinya sudah kupikirkan keterangannya melulu untuk menggertak saja. Miau-ji tertawa, katanya, Tapi jarum penggertak orang ini memang jauh lebih lihai daripada senjata rahasia macam apa pun, tanpa digunakan orang sudah dibuat ketakutan lebih dulu dan lari terbiritbirit. Selain Sim Long, siapa pula yang sanggup menggunakan Am-gi semacam ini? ujar Jit-jit dengan tertawa. Jika aku yang menggunakannya tentu sedikit pun tidak menakutkan. Meski bagus akalnya, tapi kita tetap menghadapi jalan buntu, apa gunanya meski kawanan pengintai itu dapat digertak lari? kata Ling-hoa. Seketika Him Miau-ji tidak dapat tertawa lagi. ***** Dalam pada itu kening Koay-lok-ong lagi bekernyit, tampaknya mulai tidak tenteram perasaannya. Baru saja ia angkat cawan arak segera kawanan lelaki berseragam hitam berlari datang serupa sekawanan kelinci yang lari ketakutan dikejar anjing hutan. Seketika air muka Koay-lok-ong berubah, dampratnya, Keparat! Siapa yang suruh kalian lari pulang? Kawanan lelaki itu sama berlutut dan melapor dengan suara gugup, Lapor Ongya, Sim … Sim Long itu …. Memangnya Sim Long kenapa? Belum kuturun tangan, masa dia turun tangan lebih dulu kepada kalian? Dia belum lagi menyerang, tapi … tapi senjata rahasianya …. salah seorang melapor dengan gelagapan. Masa Sim Long juga menggunakan senjata rahasia? Macam apa senjata rahasianya? tanya Koay-lok-ong heran. Hamba tidak tahu, jawab orang itu. Kenapa tidak tahu? hardik Koay-lok-ong. Sebab … sebab senjata rahasianya belum lagi digunakan, tutur orang itu dengan takut. Jilid 33 Tidak kepalang gusar Koay-lok-ong atas ketidakbecusan anak buahnya, dampratnya, Dia belum lagi menggunakan senjata rahasianya dan kalian sudah lari lebih dulu. Sungguh berengsek! Kalian masih ada muka menemuiku lagi? Lelaki itu menyembah dengan takut, Bila … bila senjata rahasianya sampai digunakan, mungkin hamba tidak mampu menghadap Ongya lagi dengan hidup! Kentut busuk, omong kosong! bentak Koay-lok-ong. Senjata rahasianya bernama Sau-hun-sin-ciam. Karena kesaktian senjata itu, biarpun hamba bersembunyi di mana pun sukar menghindarinya. Sau-hun-sin-ciam? Dari mana kau tahu? Dia sendiri yang bilang dan hamba mendengarnya sendiri. Dia yang bilang sendiri dan kalian percaya begitu saja? Rasanya mau tak mau hamba harus percaya …. Sebab apa? Masa tidak tahu Sim Long sengaja menggertak kalian. Di dunia ini mana ada senjata semacam itu? Lelaki itu menyembah dengan takut, Jika orang lain yang bilang begitu tentu hamba takkan percaya, tapi Sim … Sim Long yang bilang …. Dan kalian lantas percaya dan ketakutan. Hamba … hamba memang rada … rada takut …. Merah padam muka Koay-lok-ong saking gusarnya, dengusnya, Hm, bagus, Sim Long, hanya beberapa patah kata saja dapat kau gertak lari anak buahku yang kupasang di sana. Tapi kau pun jangan harap dapat lolos. Ia memandang alat ukur waktu di atas meja, lalu berucap pula, Hm, boleh coba kau langkahi dulu perangkap terakhir yang kupasang di luar taman hiburan ini, 180 busur keras sedang menantikan kedatanganmu. ***** Waktu itu rombongan Sim Long sedang menyusuri hutan. Segera kita dapat lolos keluar hutan ini, mari lekas, kata Jit-jit sambil menarik tangan Sim Long. Ong Ling-hoa menyengir, katanya, Setelah keluar dari hutan ini juga belum tentu dapat kabur, tapi toh lebih baik daripada berdiam di dalam hutan. Menurut perhitungan waktu, rasanya kita memang bisa lari keluar hutan ini. Tidak, kita tidak boleh keluar dari sini, kata Sim Long tiba-tiba. Tidak keluar dari sini? Memangnya malah tinggal di sini? tanya Ong Ling-hoa dengan kening bekernyit. Ya, terpaksa kita bersembunyi di sini. Sebab apa? tanya Ling-hoa. Masa engkau tidak dapat menyelami dalil ini? Jika hal ini juga ada dalilnya, maka di dunia ini kurasa akan terlalu banyak dalil, jengek Ling-hoa. Melepas harimau sangat gampang, menangkap harimau terlalu sulit, kata Sim Long, Apabila Koay-lok-ong tidak memperhitungkan dengan baik kita pasti sukar lolos dari sini, mana mau dia membiarkan kita pergi begitu saja? Huh, kukira ini cuma omong kosong belaka, sedikitnya sudah berpuluh kali kau katakan hal ini, jengek Ling-hoa. Sim Long tidak menghiraukannya, katanya pula, Bahwa orang ini dapat mencapai sukses sebesar ini, tentu setiap tindak tanduknya sangat cermat, biarpun dia tahu tenaga kita tidak tahan tetap juga takkan membiarkan kita lolos keluar dari sini. Jika dia sudah memandang kita sebagai satu-satunya musuh tangguh, tentu tindak tanduknya takkan gegabah …. bicara sampai di sini nada Ong Ling-hoa tidak mengandung ejekan lagi, serunya mendadak, Ya, betul, tentu dia takkan membiarkan kita keluar dari hutan ini, dia pasti sudah mengatur perangkap lain. Benar, di luar hutan tentu sudah terpasang perangkap maut, kata Sim Long. Jika kita tidak dapat keluar dari hutan ini akan lain urusannya, tapi begitu kita muncul keluar, mungkin …. Wah, lantas bagaimana baiknya? sela Jit-jit. Apakah kita manda terkurung begitu saja di sini? Jiwa kita sekarang memang berbahaya, paling baik kita mencari tempat sembunyi yang aman di sini, sesudah malam tiba baru kita berdaya melarikan diri, ujar Sim Long. Tapi di hutan seperti ini, mana ada tempat sembunyi yang aman? ujar Ling-hoa. Him Miau-ji lantas menyambung juga, Saat ini di tengah hutan mungkin penuh jebakan, setiap tempat mungkin ada perangkap, ke mana dapat kita temukan tempat sembunyi yang baik? Sim Long tertawa, Dengan sendirinya sudah kuperhitungkan ada tempat yang aman di tengah hutan ini, sebab itulah sengaja kugertak lari para pengintai tadi, supaya mereka tidak tahu ke arah mana kita pergi. Meski kawanan pengintai tadi sudah lari kau gertak … bukan mustahil di depan sana masih ada pos penjagaan gelap, ujar Linghoa. Kita justru tidak maju ke depan lagi melainkan mundur kembali ke arah semula, kata Sim Long. Jalan yang kita lalui tadi kini tentu sudah bersih dari pos pengintai, sebab Koay-lok-ong tentu tidak menyangka kita dapat mundur kembali ke sana. Tapi … tapi kita harus mundur ke mana? tanya Jit-jit. Ya, di manakah tempat sembunyi yang aman di tengah hutan ini? si Kucing juga ragu. Pokoknya kalian ikut mundur saja bersamaku, nanti kalian akan tahu sendiri, kata Sim Long dengan tertawa. Ong Ling-hoa menghela napas, Semoga perhitunganmu tidak meleset, sebab sisa waktu kita sekarang tidak ada setengah jam lagi. ***** Dengan tekun Koay-lok-ong sedang mencelupkan sumpit pada cawan arak, lalu mencorat-coret di atas meja. Yang dilukis adalah peta taman hiburan ini, terdengar dia bergumam, Sim Long berada di sini …. Dari pos pengintai ke-12 sampai pos ke-30, semua penjaganya telah digertak lari. Selanjutnya rombongannya pasti akan menuju ke depan lagi …. Mendadak ia melemparkan sumpitnya dan berhitung, 31, 32, 33, apakah ketiga pos pengintai ini masih ada. Ada! salah seorang lelaki menjawab dengan hormat. Mengapa sampai sekarang belum ada kabar beritanya? omel Koaylok-ong. Hamba juga tidak tahu, jawab orang itu. Pos pengintai di situ diatur oleh siapa? bentak Koay-lok-ong. Seorang pemuda berdandan ringkas melangkah ke depan, katanya sambil menghormat, Tecu yang mengaturnya. Pemuda ini kelihatan gagah perkasa, cermin pengaman di depan dadanya ada angka tiga, jelas dia jago ketiga dari pasukan gerak cepat Angin Puyuh. Dan sekarang di luar sana masih ada berapa pos pengintai? Kecuali pos ke-5 sampai ke-12 sudah ditarik kembali, lalu sampai pos pengintai ke-30 sudah kabur digertak musuh, saat ini masih ada 14 tempat pengintai lagi. Kau atur di mana? tanya Koay-lok-ong. Semuanya tersebar di luar hutan, lapor jago ketiga itu. Bilamana rombongan Sim Long hendak keluar dari hutan, ke mana pun mereka pergi pasti akan melalui ke-14 pos penjagaan itu. Kau yakin? bentak Koay-lok-ong. Tecu sudah meneliti dan mengukur dengan cermat setiap pelosok taman ini, rasanya takkan keliru. Jika begitu, mengapa sampai saat ini belum lagi ada laporan susulan? tanya Koay-lok-ong. Padahal sisa waktu yang kuberikan tidak banyak lagi, tidak mungkin mereka berdiam di tempat semula tanpa bergerak, asal mereka maju lagi ke depan, seharusnya sudah datang laporan. Mungkin … mungkin mereka tidak sanggup berjalan lagi, ujar jago ketiga pasukan Angin Puyuh itu. Omong kosong! bentak Koay-lok-ong. Biarpun merangkak juga mereka akan berusaha kabur. Jangan-jangan Sim Long telah berhasil membobol pos penjagaan kita. Mana mungkin. teriak Koay-lok-ong. Sebelum tiba waktunya, mana dia berani turun tangan lebih dulu. Sebab bila dia turun tangan tentu aku pun tidak terikat oleh janji waktu yang kuberikan itu, betapa besar nyalinya tentu juga tidak berani sembarangan turun tangan. Dengan menunduk jago ketiga itu mengiakan. Kenapa tidak lekas pergi mencari kabar?! bentak Koay-lok-ong. Cepat orang itu mengiakan pula terus berlari pergi. Koay-lok-ong memandang alat pengukur waktu dengan pasir yang tertaruh di depannya itu, katanya dengan gemas, Wahai Sim Long, ingin kulihat dapat kau lari ke mana? Betapa pun aku tidak percaya engkau dapat lolos dari jaringanku kecuali mendadak engkau bisa terbang. Tidak lama kemudian, si jago

    Comment by Vicky — 08/03/2010 @ 6:31 am

  2. Aduh gak enak banget, kok ngegantung sih…om cersil tlg terusin lanjutannya donk sampai tamat…trims.

    Comment by ivan gindink — 30/04/2010 @ 12:41 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: