Kumpulan Cerita Silat

29/09/2009

Pendekar Baja (30)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 10:15 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

“Berulang Koay-lok-ong memberi pesan, asalkan berhasil menyingkap kepalsuanmu, segera supaya membinasakan dirimu. Orang semacam dirimu adalah sangat berbahaya dibiarkan hidup, apalagi dia juga tidak ingin melihatmu lagi.”

Sim Long menghela napas panjang, ucapnya dengan tersenyum pedih, “Bagus, tak tersangka aku Sim Long hari ini dapat mati di sini.”

“Hahaha, tak tersangka Sim Long yang namanya termasyhur hari ini dapat mati di bawah tanganku,” seru Liong Su-hay dengan tertawa, segera ia melompat maju dan menghantam.

“Nanti dulu!” bentak Sim Long mendadak.

“Tidak ada gunanya biarpun kau ingin mengulur waktu, saat ini tidak mungkin ada orang akan menolongmu,” kata Liong Su-hay dengan menyeringai.

“Aku cuma ingin tanya sesuatu padamu.”

“Tanya apa?”

“Aku hanya ingin tahu di mana Miau-ji saat ini?”

“Haha, bagus, kalian memang benar sahabat sehidup semati, sampai saat terakhir belum lagi kau lupakan dia. Jangan khawatir, dalam perjalananmu ke akhirat pasti takkan kesepian, Him Miau-ji akan mendampingimu, bisa jadi saat ini dia sudah berangkat lebih dulu.”

“Maksudmu, dia…dia sudah terbunuh?”

“Betul.”

“Siapa yang membunuhnya?”

“Memangnya hendak kau balasan sakit hatinya? Baiklah, biar kukatakan padamu, lantaran dia melawan mati-matian, maka Tokko Siang telah membunuhnya.”

“Tapi…tapi sebelum Koay-lok-ong tahu jelas seluk-beluk diriku, mana bisa jiwa Miau-ji dihabisi?”

“Him Miau-ji hanya gagah berani tanpa tipu akal, mati-hidupnya pada hakikatnya tidak diperhatikan oleh Koay-lok-ong.”

Sim Long termenung sejenak, perlahan ia memejamkan mata, katanya, “Bagus, sekarang bolehlah kau bunuh diriku.”

Liong Su-hay mengangkat tangannya dan menebas ke lehernya. Tampaknya tidak ada orang yang dapat menyelamatkan Sim Long .

*****

Hujan turun dengan lebat.

Ci-hiang mendekap di depan jendela, memandangi butiran air sambil menanti Sim Long.

Ia pun tahu betapa lama menunggu hanya sia-sia belaka. Terkadang ia merasa geli sendiri sudah jelas sesuatu yang percuma, ia justru sengaja berbuat.

Lelaki pertama yang mengisi hatinya ialah Ong Ling-hoa.

Terhadap Ong Ling-hoa mestinya ia menaruh sesuatu harapan, tapi sejak bertemu dengan Sim Long, khayalnya terhadap Ong Ling-hoa lantas beralih kepada diri Sim Long.

Sudah banyak lelaki yang dilihatnya, tapi cuma Sim Long saja yang menolak bujuk rayunya, ia merasa Sim Long memang berbeda dengan lelaki lain di dunia ini.

Tadinya ia anggap kebanyakan lelaki di dunia ini dapat dipanggil datang dan disuruh pergi begitu saja, tak tersangka olehnya di dunia ini masih ada jenis lelaki seperti Sim Long ini.

Begitulah dia termenung dan melamun dengan tertawa.

Sekonyong-konyong dua tangan mendekap matanya dari belakang, terasa napas yang hangat berbisik di tepi telinganya dengan tertawa, “Ayo tebak, siapa?”

Jantung Ci-hiang berdebar, ucapnya dengan suara gemetar, “Sim…Sim Long?”

Mulut itu menggigit perlahan daun telinganya dan menjilat perlahan ujung telinganya sambil mengomel, “Setan cilik!”

“Hah, Kongcu…kiranya engkau!” seru Ci-hiang.

Meski Ong Ling-hoa sudah berganti rupa, tapi kata-kata dan tingkah lakunya yang bersifat bangor ini segera dapat dikenali Ci-hiang.

“Haha, setan cilik, dapat juga kau terka,” kata Ong Ling-hoa dengan tertawa.

Segera ia memutar tubuh Ci-hiang dan merangkul tubuh yang hangat dan kenyal itu sehingga dua tubuh seperti dempet menjadi satu. Diciumnya Ci-hiang seperti orang kehausan, serupa kucing mendapatkan ikan, hampir saja Ci-hiang tak bisa bernapas, tapi ia tidak menolak, juga tidak menghindar.

Kemudian Ling-hoa melepaskannya, katanya dengan tertawa, “Kutahu kau lagi memikirkan aku, inilah ganti rugiku kepadamu.”

Tubuh Ci-hiang sudah lemas lunglai, sambil menggigit bibir ia menjawab, “Setan ingin ganti rugimu.”

“Benar kau tidak ingin?” desis Ong Ling-hoa sambil memicingkan mata.

“Tidak, tidak ingin,” omel Ci-hiang dengan mengentak kaki.

“Oo, jangan-jangan selama dua hari ini Sim Long sudah membikin kenyang padamu.”

Muka Ci-hiang bisa merah juga, “Cis, orang justru tidak seperti kau.”

“Kutahu dia memang seorang sopan,” ujar Ling-hoa dengan tertawa, segera ia angkat Ci-hiang dan dibawa ke tempat tidur.

Jelas Ci-hiang jemu padanya, tapi entah mengapa, sukar menolaknya. Mulut Ong Ling-hoa justru mengusap kian-kemari di sekeliling leher Ci-hiang.

Napas Ci-hiang makin memburu, ucapnya dengan gemetar, “Ingin…ingin kutanya padamu, cara bagaimana dapat kau datang kemari, apakah…apakah kau lihat Sim Long.”

“Sekarang bukan waktunya bicara, tahu?” kata Ling-hoa dengan tangan menggerayang. “Kutahu, kau pun ingin, kau pun butuh, betul tidak?”

Hanya sebentar saja sekujur badan Ci-hiang lantas lunglai, terdengar suara keluhannya, akhirnya ia runtuh seluruhnya dan telentang di tempat tidur.

Namun yang terpikir dalam hatinya justru cuma Sim Long saja.

Ciri orang perempuan yang paling aneh adalah selagi dia berada dalam pelukan seorang lelaki, hatinya justru dapat memikirkan seorang lelaki yang lain.

Ci-hiang menerima segalanya dari Ong Ling-hoa, ia pun mengadakan reaksi dan bekerja sama dengan baik, tapi yang dikeluhkannya justru, “O, Sim Long, bila engkau akan kembali?”

Ong Ling-hoa juga terengah, katanya, “Persetan dengan Sim Long, saat ini dia tidak mungkin pulang, kuharap dia mati saja.”

*****

Di luar hujan lebat sekali.

Di sana hantaman Liong Su-hay sedang dilancarkan.

Pada saat itulah mendadak seorang membentak, “Berhenti!”

Liong Su-hay terkejut dan berpaling, dilihatnya sesosok bayangan tinggi kurus melayang keluar dari balik pepohonan di bawah hujan lebat.

“Aha, kiranya Tokko-heng,” seru Liong Su-hay dengan tertawa cerah. “Apakah kucing itu sudah dibereskan?”

“Hmk,” Tokko Siang hanya mendengus saja.

“Lantas untuk apa Sim Long ditunda?”

“Tak boleh kau bunuh dia?” jengek Tokko Siang.

“Sebab apa?”

“Aku sendirilah yang akan turun tangan.”

Liong Su-hay merasa lega, katanya dengan tertawa, “Baik, jika begitu, silakan.”

Segera ia menyurut mundur dan menunggu orang bertindak. Ia percaya kekejian Tokko Siang pasti tidak di bawah dirinya. Ia yakin sebelum mati Sim Long tentu akan banyak mengalami siksaan. Ia tahu biasanya Tokko Siang suka menyaksikan penderitaan orang lain bagi kesenangannya sendiri…

*****

Kesenangan yang memuncak lambat laun telah tenang kembali.

Dengan napas rada terengah Ci-hiang menggeletak dengan lemas. Dalam keadaan demikian sebenarnya ia masih memerlukan kehangatan, kehangatan rabaan dan kehangatan bisikan kata.

Namun Ong Ling-hoa justru telah berbangkit, berdiri sendiri serupa orang tidak kenal lagi, segala apa yang baru terjadi seolah-olah sudah terlupa seluruhnya.

Ci-hiang berbaring di tempat tidur dan memandangnya memakai baju dan bersepatu dan…membetulkan rambutnya. Orang inilah yang baru saja mengisi segenap jiwanya, tapi sekarang memandangnya sekejap saja tidak sudi.

Hati Ci-hiang mendadak penuh diliputi rasa malu, duka, terhina, dan gusar. Mendadak ia sangat benci terhadap pemuda ini.

Sementara itu Ong Ling-hoa sudah selesai berdandan, akhirnya ia menoleh juga dan memandang sekejap, ujung mulutnya menampilkan secercah senyuman keji, senyum bangga dan kepuasan. Senyum sebagai seorang pemenang.

Dengan mata terpicing ia berkata, “Bagaimana, engkau tidak dapat bergerak lagi? Aku ini lelaki yang lain daripada yang lain bukan? Kalau tidak ada lelaki perkasa sebagai diriku mana dapat memuaskan perempuan jalang semacam dirimu ini?”

Mata Ci-hiang melotot dengan hampa, dia ingin menutup mukanya dengan bantal, tapi saking gemasnya tangan terasa gemetar sehingga tidak kuat untuk memegang bantal.

Memandang tangan orang yang gemetar itu, Ong Ling-hoa berkata dengan tertawa, “Bagaimana, apakah kau ingin lagi? Wah, sekarang tidak bisa, mungkin…mungkin malam nanti. Jangan khawatir, takkan kubikin sia-sia penantianmu.”

“Sekarang kau mau ke mana?” tanya Ci-hiang dengan mengertak gigi.

“Sekarang aku lagi ditunggu seorang…” mendadak Ong Ling-hoa tertawa gembira. “Betapa pun takkan kau duga siapakah orang yang kumaksudkan itu.”

“Memangnya siapa?” tanya Ci-hiang tak tahan.

“Cu Jit-jit,” jawab Ling-hoa.

Mata Ci-hiang terbelalak lebar dan menegas, “Cu Jit-jit? Masa dia juga datang ke sini?”

“Dengan sendirinya dia datang ke sini. Supaya kau tahu, dia akan kawin denganku.”

“Hahh,” gemetar tubuh Ci-hiang. “Dia…dia akan kawin denganmu?”

“Ya, tapi jangan kau khawatir,” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa. “Saat ini belum dapat kugunakan dia, maka aku masih memerlukanmu. Ai, caramu yang istimewa itu terkadang membuatku ketagihan.”

Ia tersenyum sambil berjongkok, diraihnya dada Ci-hiang, lalu berkata pula dengan mata setengah terpicing, “Terkadang aku pun heran dari mana kau dapat belajar kungfumu yang istimewa di tempat tidur ini, sungguh si tolol Sim Long itu sama sekali tidak tahu kenikmatan surga dunia ini, dia justru…”

“Surga…surga dunia…” mendadak Ci-hiang melompat bangun dan hendak mencekik leher Ong Ling-hoa sambil berteriak histeris, “Kau…kau setan iblis…”

Tapi sekali tampar Ong Ling-hoa membikin Ci-hiang mencelat. Ia meraba leher yang lecet tercakar oleh kuku Ci-hiang sambil mendamprat, “Sudah gila kau!”

“Blang”, Ci-hiang jatuh di tempat tidur, ia memukuli tempat tidur dan menjerit, “Kubenci…benci padamu…”

“Sialan, memangnya kau khawatir aku takkan mencarimu lagi?”

“Bila kau datang lagi segera kuadu jiwa denganmu, seujung jari pun tidak boleh kau sentuh lagi diriku,” teriak Ci-hiang parau.

“Hehe, bilamana kuperlu tetap kudatang lagi,” ujar Ling-hoa sambil menyeringai. Kembali ia remas dada Ci-hiang dan berkata, “Haha, perempuan jalang, masakah kau larang kusentuh dirimu?…Hehe, bila tidak kucari kau, memangnya kau tahan berapa lama?…”

Sembari bergelak tertawa ia lantas melangkah pergi.

Ci-hiang mendekap di tempat tidur dan menangis tergerung-gerung. Ia menjerit, “Aku perempuan jalang…apa benar aku jalang? Sim Long…O, Sim Long, apakah kau pun anggap aku ini jalang? Mengapa…mengapa engkau tidak datang menjengukku?…”

*****

Saat itu Tokko Siang lagi melototi Sim Long dengan sinar mata sedingin es. Sorot mata yang hampa.

Liong Su-hay tidak pernah melihat sorot mata orang yang tak berperasaan semacam ini. Pikirnya, “Sungguh aneh sorot mata orang ini, mungkin tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sedang dipikirnya.”

Waktu ia pandang Sim Long, air muka orang ternyata tidak berubah. Mau tak mau ia berpikir lagi, “Seorang menghadapi ajalnya ternyata masih dapat bersikap setenang ini, kecuali Sim Long mungkin tiada orang kedua lagi di dunia ini.”

Ia merasa Tokko Siang dan Sim Long sesungguhnya adalah manusia aneh. Dan sekarang seorang manusia aneh segera akan membunuh manusia aneh yang lain. Ia yakin apa yang akan terjadi pasti sangat menarik.

Cuma tak terpikir olehnya pada waktu pukulan Tokko Siang mengenai tubuh Sim Long nanti, apakah sorot matanya yang dingin itu akan berubah atau tidak?

Juga sukar dibayangkan, ketika tubuh Sim Long terkena pukulan Tokko Siang, apakah air mukanya juga akan tetap tenang seperti sekarang?

Sungguh ia ingin segera mengetahui kejadian sekejap itu.

*****

Setelah melangkah keluar, Ong Ling-hoa berjalan di bawah hujan, sayup-sayup didengarnya suara tangis Ci-hiang, hatinya penuh rasa kepuasan yang kejam.

Dia suka mendengar orang menangis, dia suka melihat orang menderita.

Entah sebab apa, sejak kecil dia suka melihat orang menderita, jika melihat orang lain senang bahagia, ia sendiri lantas merasa tersiksa.

Tapi ia sama sekali menyangkal dia dengki, dengan sendirinya ia lebih tidak mau mengakui dirinya merasa rendah harga diri, sebab itulah merasa dendam dan iri terhadap orang lain.

Satu-satunya orang di dunia ini yang ditakuti olehnya adalah ibunya.

Ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa dia sangat menghormat dan sayang kepada ibunya, mati pun dia tidak mengaku bahwa dalam lubuk hatinya sebenarnya merasa dendam kepada ibunya.

Jika orang lain mempunyai keluarga, punya ayah dan saudara, mengapa dia tidak punya.

Bila ibu orang lain sedemikian ramah dan kasih, mengapa ibunya tidak?

Berbagai persoalan itu sejak kecil sudah terpikir olehnya, tapi ketika ia berumur tujuh tahun, setiap kali terpikir persoalan ini, segera dibuangnya jauh-jauh. Maka asalkan menghadapi orang perempuan dia lantas ingin membalas dendam.

Ia suka orang lain tersiksa, terhina, kehilangan bahagia, kehilangan harga diri sehingga mendapat aib, ia suka keluarga orang tercerai-berai dan hancur.

Sekarang ia berjalan di bawah hujan, hatinya teringat kepada Cu Jit-jit, ia sedang mencari akal cara bagaimana supaya dapat membikin nona itu merana selama hidup.

Dengan sendirinya ia pun teringat kepada Sim Long, melihat sikap Cu Jit-jit terhadap Sim Long, segera dimakluminya di dalam hati anak dara itu hanya terdapat Sim Long saja. Biarpun Jit-jit kawin dengan dia tetap takkan melupakan Sim Long.

Ia mengepal tinjunya erat-erat, ia mengertak gigi, hampir gila ia tersiksa oleh rasa benci dan dengki ini.

Tiba-tiba dilihatnya di tengah hutan sana seperti ada bayangan orang berkelebat, cepat ia melayang ke sana, maka terlihatlah olehnya Tokko Siang, “Him Miau-ji” dan Sim Long.

Dilihatnya Tokko Siang sedang angkat tangan hendak membunuh Sim Long, sebaliknya “Him Miau-ji” hanya menonton saja di samping, bahkan sorot matanya menampilkan rasa senang.

Semula ia merasa heran, tapi kejap lain segera terpikir olehnya “Him Miau-ji” ini pasti samaran orang lain, ia tahu Koay-lok-ong juga seorang ahli rias yang tidak banyak jumlahnya di dunia ini.

Tanpa terasa ia bergembira. Akhirnya Sim Long tertipu juga. Dalam sekejap itu hatinya sungguh senang tak terhingga, tapi sekarang Sim Long sudah menjadi sekutunya, dengan sendirinya ia harus menolongnya.

Ia coba menaksir keadaan tempat dan siap melancarkan serangan mendadak, sekali serang harus berhasil.

Ia tahu di tengah taman ini hanya dirinya satu-satunya orang yang bisa menolong Sim Long, kecuali dirinya, seumpama ada orang lain yang kebetulan memergoki kejadian ini juga tidak berguna.

Diam-diam ia menggeleng kepala dan membatin, “Sim Long ini memang orang mujur.”

Dilihatnya tangan Tokko Siang sudah terangkat, seketika timbul pula pikiran Ong Ling-hoa, “Untuk apa kutolong dia, kenapa tidak kubiarkan dia mati saja, memangnya apa sangkut pautnya denganku bila dia mati?”

Jika Sim Long mati, meski lahirnya Cu Jit-jit tidak apa-apa, di dalam batin pasti akan berduka sekali, bukankah hal ini sangat menyenangkan.

Dan bila Sim Long mati, meski rencana Ong-hujin akan mengalami sesuatu gangguan, tapi itu kan urusan orang lain dan tiada sangkut pautnya dengan dirinya.

Maka ia lantas menyelinap ke balik sebatang pohon dan menantikan detik turun tangan Tokko Siang. Itulah detik yang paling menyenangkan selama hidupnya.

Sekarang tiada seorang pun dapat menyelamatkan Sim Long.

Tapi dilihatnya Tokko Siang lantas menunduk memeriksa keadaan Sim Long, sebaliknya Sim Long juga memandangnya dengan tenang.

Terdengar Tokko Siang bertanya, “Sim Long, coba apa yang dapat kau katakan lagi.”

“Aku tidak bisa berkata apa-apa, cuma…dapat mati di tanganmu rasanya boleh juga,” ujar Sim Long tak acuh.

“Oo?!” Tokko Siang melenggong.

“Sebab engkau adalah satu-satunya orang jahat tulen yang pernah kulihat, engkau tidak pernah menutupi kejahatan dan kekejamanmu, hal ini jauh lebih baik daripada orang-orang yang munafik itu.”

Tokko Siang menjengek, “Bagus, mengingat kata-katamu ini, biarlah kuberi kelonggaran padamu.”

Mendadak ia menghantam. Dalam sekejap itu sorot mata Tokko Siang tetap sedingin es. Sebaliknya dalam sekejap itu air muka Sim Long tiba-tiba terjadi perubahan yang aneh. Habis itu dia tidak bersuara lagi. Diam-diam Ong Ling-hoa merasa lega, ia tahu sasaran pukulan Tokko Siang tidak nanti bisa selamat, akhirnya lenyap juga seteru yang paling diseganinya ini.

Liong Su-hay juga lantas berkeplok tertawa, serunya, “Haha, bagus! Sungguh pukulan yang menyenangkan!”

Dengan hambar Tokko Siang menyurut mundur lalu mendengus, “Apakah tidak kau periksa dulu dia benar-benar mati atau tidak?”

“Di bawah pukulan Tokko-heng masakah ada orang hidup lagi?” ujar Liong Su-hay dengan tertawa.

Meski demikian dia berucap, tidak urung ia mendekati Sim Long dan coba menunduk untuk melihatnya, ingin diketahuinya bagaimana air muka Sim Long setelah mati.

Tapi ia sendiri takkan tahu untuk selamanya. Sebab pada saat itu juga tubuh Sim Long mendadak melejit bangun, telapak tangannya terus menyodok dada Liong Su-hay yang sama sekali tidak sempat mengelak dan kontan roboh terkapar.

Dalam sekejap itu air muka Liong Su-hay menampilkan rasa kaget dan tidak percaya yang sukar untuk dilukiskan.

Ong Ling-hoa juga hampir saja menjerit kaget.

Jelas-jelas Sim Long sudah mati, mengapa bisa hidup kembali?

Tokko Siang berdiri di sana tanpa bergerak, sorot matanya tetap sedingin es.

Tertampak Sim Long menjura kepadanya, katanya dengan tersenyum, “Atas pertolonganmu, sungguh Cayhe sendiri tidak menduga. Budi kebaikanmu ini takkan kulupakan selama hidup.”

“Kutolong dirimu bukan karena ingin mendapat terima kasihmu,” ucap Tokko Siang dengan dingin.

Baru sekarang Ong Ling-hoa tahu pukulan Tokko Siang tadi bukan untuk menghabisi nyawanya melainkan untuk melepas hiat-to Sim Long yang tertutuk. Sungguh ia tidak habis mengerti mengapa Tokko Siang bisa menolong Sim Long? Apakah Tokko Siang ini juga samaran orang lain?

Tapi hal itu tidak mungkin terjadi. Bentuk Tokko Siang yang khas dengan sorot matanya yang dingin tidak mungkin dapat dipalsukan siapa pun.

Dengan sendirinya dalam hati Sim Long juga timbul pikiran serupa. Ia pandang Tokko Siang dengan melenggong, “Sesungguhnya apa tujuanmu menolong diriku?”

“Apakah menolong orang diharuskan mempunyai maksud tujuan?” jengek Tokko Siang.

“O, barangkali pertanyaanku kurang tepat, maksudku, sebab apakah Anda merasa perlu menolong orang she Sim?”

“Apakah tidak boleh kutolong dirimu?”

“Kutahu Anda rada kurang puas terhadap tindakan Koay-lok-ong berhubung dengan urusanku, bila kumati, bukankah hubungan Anda dengan Koay-lok-ong akan pulih seperti sediakala?”

Gemerdep sinar mata Tokko Siang, dalam sekejap ini sorot matanya terjadi juga perubahan yang ruwet, tapi lantas ditutupinya dengan bergelak tertawa sambil menengadah.

“Haha, sudah kutolong dirimu, masih harus juga ditanyai apa maksudku,” seru Tokko Siang. “Nah, biar kukatakan terus terang, Koay-lok-ong mengabaikan pembantu sendiri dan lebih menghargai orang lain yang lebih kuat, hal ini sangat mengecewakanku. Meski selama ini aku sangat setia padanya, bukan mustahil pada suatu hari aku akan dibuang begitu saja. Semalam aku hampir mati baginya, tapi sama sekali tidak memperoleh sesuatu pujian dari dia.”

“Apakah…apakah ada maksud Anda untuk mengambil dan menggantikan dia?” tanya Sim Long dengan sinar mata gemerdep.

“Mengambilnya dan menggantikan dia…” Tokko Siang bergumam sambil menengadah. Mendadak ia membentak, “Sama sekali tidak ada maksudku ini, aku cuma ingin membuat Koay-lok-ong tahu, jika dia menyia-nyiakan orang, orang juga akan meninggalkan dia. Tanpa bantuanku, usahanya pasti akan berantakan.”

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian, “Berhasil-tidaknya sesuatu usaha terletak juga pada tepat-tidaknya memakai tenaga pembantu. Meski Koay-lok-ong sangat menghargai orang pandai, tapi caranya memilih orang kurang bijaksana. Hari ini dia menyia-nyiakan dirimu, hal ini sungguh tindakan fatal baginya.”

“Memangnya engkau merasa sayang baginya?” tanya Tokko Siang.

Sim Long menghela napas, “Menyaksikan usaha seorang gembong iblis hampir runtuh, betapa pun timbul juga rasa haruku. Namun Anda jangan khawatir, apa pun juga Koay-lok-ong dan aku tidak mungkin hidup bersama.”

Dengan suara bengis Tokko Siang menjawab, “Justru kutahu antara kalian tidak mungkin hidup berdampingan, makanya kutolong dirimu. Jika di dunia ada orang dapat mengambil dan menggantikan posisi Koay-lok-ong, maka orang itu ialah dirimu.”

Mendadak ia cengkeram tangan Sim Long dan berucap sekata demi sekata, “Asalkan ada niatmu, Tokko Siang berjanji akan membantumu sepenuh tenaga.”

Dengan khidmat Sim Long berkata, “Atas bantuan Anda, sungguh kurasakan sangat beruntung, cuma…”

“Cuma apa?” tanya Tokko Siang.

Sim Long memandang ke arah mayat Liong Su-hay, katanya perlahan, “Dengan matinya orang ini, mustahil Koay-lok-ong takkan curiga dan dapatkah dia melepaskan diriku?”

Tokko Siang memandang mayat itu sekejap, katanya, “Apakah dia benar mati?”

“Sudah mati,” Sim Long mengangguk, ia tidak perlu memeriksa mayat itu, sebab ia cukup yakin akan tenaga pukulan sendiri. “Karena keadaan mendesak, terpaksa kubinasakan dia.”

Tersembul senyuman pada ujung mulut Tokko Siang yang jarang terlihat, katanya, “Dia boleh dikatakan sudah mati, tapi juga dapat dikatakan masih hidup.”

Sim Long tercengang, “Sungguh aku tidak mengerti maksudmu?”

“Dia mati karena menyamar sebagai Him Miau-ji, yang benar mati ialah Tokko Siang dan bukan Liong Su-hay,” kata Tokko Siang.

Sim Long belum lagi paham, ia hanya memandang orang tanpa bersuara.

Maka Tokko Siang menyambung lagi, “Liong Su-hay mati karena menyamar sebagai Him Miau-ji, masakah Miau-ji tidak dapat hidup dengan menyaru sebagai Liong Su-hay?”

Cara bicaranya memang bergaya khas, sesuatu ucapan yang sederhana, bila terucap olehnya akan berubah menjadi ruwet dan sukar dipahami.

Tapi Sim Long toh paham juga, serunya, “Aha, bagus!”

Tokko Siang berkata pula, “Jika Liong Su-hay menyamar sebagai Him Miau-ji dapat mengelabuimu, masakah Liong Su-hay samaran Him Miau-ji tak dapat mengelabui Koay-lok-ong?”

“Betul, baik dalam bentuk fisik maupun gerak-gerik Him Miau-ji memang sangat mirip dengan Liong Su-hay, cuma…ai, karakter kedua orang ini sangat berbeda.”

Gemerdep sinar mata Tokko Siang, ia pandang Sim Long sekian lama, lalu berkata pula, “Tapi mengapa tidak kau tanya padaku apakah Him Miau-ji sudah kubunuh?”

Sim Long tersenyum, katanya, “Jika kau tolong diriku, mengapa engkau membunuh Miau-ji? Dengan sendirinya tidak perlu kutanyakan hal ini, yang ingin kutanyakan adalah saat ini Him Miau-ji berada di mana?”

“Pertanyaan ini mestinya juga tidak perlu,” kata Tokko Siang.

“Betul, jika engkau sudah datang kemari tanpa khawatir, dengan sendirinya Miau-ji berada di suatu tempat yang sangat rahasia.”

“Tapi selain itu justru ada lagi suatu persoalan besar.”

“Persoalan besar…” Sim Long termenung mendadak air mukanya berubah dan berseru, “Ya, persoalannya memang rada gawat.”

Sewaktu Tokko Siang menyebut “persoalan besar” tadi, sikapnya kelihatan sangat tenang. Setelah Sim Long menyatakan tahu juga persoalan yang dimaksud, ia menjadi heran, tanyanya, “Masa kau tahu persoalan yang kumaksudkan?”

“Ya, menyamar dan berganti rupa,” kata Sim Long.

Cepat Tokko Siang menukas, “Masa engkau sama sekali tidak paham ilmu merias?”

Sim Long menyengir, “Sesungguhnya aku ini bukan orang serbatahu sebagaimana disangka orang.”

“Jika engkau tidak paham ilmu merias, cara bagaimana dapat kau bongkar penyamaran Suto dahulu?”

“Itu…itu ada orang lain lagi,” kata Sim Long.

“Di mana orang itu sekarang?”

“Berada tidak jauh dari sini.”

“Jika tidak jauh, mengapa engkau tidak…”

Dengan gegetun Sim Long memotong, “Meski orang ini berada di sekitar sini, namun, apa mau dikatakan lagi, dia tidak mau ikut campur.”

“Belum kau tanya dia, dari mana kau tahu dia tidak mau ikut campur?” kata Tokko Siang dengan mendongkol.

Gemerdep sinar mata Sim Long, “Jika dia mau ikut campur, saat ini sepantasnya dia sudah muncul.”

*****

Ong Ling-hoa merasa bersembunyi di luar tahu orang, selagi dia mendengarkan dengan senang, ia terkejut demi mendengar kata-kata Sim Long yang terakhir itu. Sim Long sungguh seorang tokoh luar biasa.

Dilihatnya sinar mata Tokko Siang lantas memancarkan cahaya tajam dan menembus ke kejauhan, seperti ingin mencari apa yang terdapat di sekeliling.

Diam-diam Ong Ling-hoa terkesiap, tapi dengan tersenyum simpul ia lantas melangkah keluar.

Dengan sorot mata setajam sembilu Tokko Siang menatapnya, serunya dengan bengis, “Apakah orang ini yang kau maksudkan?”

“Betul, akhirnya dia muncul juga,” ujar Sim Long.

“Melihat bentuk orang ini, jangan-jangan dia Jian-bin-kongcu (Si Putra Seribu Muka) Ong Ling-hoa?”

“Terima kasih, itulah diriku sendiri, entah cara bagaimana Tokko-siansing dapat mengenali diriku?” jawab Ong Ling-hoa sambil menjura. “Dan entah julukan Jian-bin-kongcu itu atas hadiah siapa?”

Tokko Siang menjengek, “Kecuali Ong Ling-hoa, siapa pula yang dapat bersikap setenang ini setelah mencuri dengar pembicaraan orang lain? Kecuali Ong Ling-hoa, siapa pula yang pantas disebut sebagai Jian-bin-kongcu?”

“Terima kasih atas pujianmu,” ujar Ling-hoa sambil menjura pula.

Ia berlagak tidak tahu nada ejekan Tokko Siang, sebaliknya ia anggap ejekan orang sebagai pujian, selamanya dia tidak pernah membuat kikuk dirinya sendiri. Dia memang memiliki kepandaian khas ini.

“Bila Ong-kongcu sudah mau muncul, tentunya engkau sudah menyanggupi akan merias bagi Him Miau-ji,” kata Sim Long dengan tertawa.

“Apa sukarnya untuk meriasnya,” ujar Ling-hoa, “Cuma…apakah Tokko-siansing memercayaiku?”

“Percaya atau tidak serupa saja, urusan ini hanya dapat kau lakukan, juga mau tak mau harus kau lakukan,” jengek Tokko Siang.

“Wah, jika begitu, jadi tiada pilihan lain lagi bagiku?” kata Ling-hoa dengan tertawa.

“Ya, memang begitu,” kata Tokko Siang.

“Baik,” Ling-hoa bergelak tertawa, “dapat mempermainkan buah kepala Him Miau-ji sungguh suatu pekerjaan yang menarik. Kesempatan baik ini tentu tidak kulewatkan begitu saja.”

“Apakah alat rias sudah kau bawa?” tanya Tokko Siang.

“Yang penting apakah buah kepala Him Miau-ji sudah siap atau belum?” jawab Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Baik, jika begitu, mari berangkat!”

“Tapi ingin kupinjam pakai sesuatu barang,” kata Ling-hoa tiba-tiba.

“Barang apa?” tanya Tokko Siang.

“Buah kepala…kecuali Him Miau-ji, masih diperlukan kepala seorang lain.”

“Kepala siapa?” dengan sinar mata gemerdep Tokko Siang berteriak.

Ong Ling-hoa memandang mayat Liong Su-hay yang menggeletak di samping, katanya tenang, “Kepala orang yang hendak kupinjam sudah tidak dapat dibantah lagi oleh pemiliknya.”

Untuk memotong buah kepala seorang bukan pekerjaan mudah, biarpun pemilik kepala itu sudah tidak dapat melawan toh masih diperlukan juga sebilah golok yang tajam dan juga sepasang tangan yang terampil.

Dan tangan Ong Ling-hoa sungguh jauh lebih terampil daripada tangan seorang jagal. Maka kepala Liong Su-hay lantas terpenggal dan dibungkus, ditambahi lagi dengan sedikit bubuk merah, mayat tanpa kepala itu lantas berubah menjadi cairan darah berwarna kuning.

Hujan masih turun tiada hentinya.

Hujan serupa kabut tebal, banyak menutupi rahasia manusia.

Meski sekujur badan Sim Long, Ong Ling-hoa dan Tokko Siang telah basah kuyup, tapi mereka tidak benci kepada hujan lebat ini, sebaliknya sangat berterima kasih.

Berturut-turut mereka berjalan di tengah hujan, dengan sendirinya Tokko Siang berjalan di depan sebagai penunjuk jalan.

Akhirnya Sim Long tak tahan dan bertanya, “Kau yakin tempat persembunyian Miau-ji takkan diketahui orang?”

“Biarpun tempat yang kecil juga banyak bagian yang terahasia dan sukar ditemukan orang, apalagi hutan seluas ini,” jengek Tokko Siang.

Sim Long tertawa cerah, “Betul, sudah lama kutinggal di taman ini, juga sering kupesiar mengelilinginya, tapi jalan yang kau tunjukkan sekarang ternyata belum pernah kukenal.”

“Meski sepuluh tahun lagi kau tinggal di sini juga belum tentu mampu menemukan tempat ini,” ujar Tokko Siang.

“Apa betul?” mendadak Ling-hoa menegas.

Tokko Siang hanya mendengus saja.

Tiba-tiba Ong Ling-hoa berkata, “Semoga tempat yang kau maksudkan itu bukanlah gua di belakang rumah berhala itu.”

Mendadak Tokko Siang membalik tubuh dan menjambret leher bajunya sambil membentak, “Jadi kau tahu tempat itu?”

Ling-hoa menghela napas, “Ya, secara kebetulan saja kuketahui tempat itu.”

Berubah juga air muka Sim Long, ia menegas, “Sudah pernah kau datangi?”

Ong Ling-hoa menyengir, “Sungguh sangat kebetulan tempat itu pun tempat persembunyian Cu Jit-jit. Saat ini Jit-jit mungkin sudah berada di sana, untungnya gua itu rada berliku-liku sehingga mereka berdua belum pasti dapat berjumpa.”

Mendadak Tokko Siang lepaskan pegangannya dan menyurut mundur.

Sim Long merasa lega, katanya, “Sekalipun Him Miau-ji kepergok oleh Cu Jit-jit juga tidak menjadi soal.”

Pada saat itulah segera Tokko Siang berlari dengan cepat.

Sim Long menyusul kencang di belakangnya, katanya dengan menyesal, “Bila ingin menyembunyikan sesuatu, sebaiknya jangan kau simpan pada tempat yang paling rahasia.”

“Sebab apa?” tanya Ling-hoa.

“Tempat yang paling rahasia sering kali akan berubah menjadi tidak rahasia lagi.”

Setelah berpikir sejenak, akhirnya Ong Ling-hoa mengangguk dan berkata, “Ya, betul. Setiap orang tentu ingin mencari suatu tempat yang paling rahasia untuk menyembunyikan rahasianya sendiri, dan setiap orang selalu menganggap hanya dirinya sendiri yang tahu tempat itu, tak diketahuinya tempat paling rahasia yang hendak dicari orang justru tempat itu pula.”

“Semoga saat ini belum terlalu banyak orang yang mengetahui tempat itu,” gumam Sim Long.

*****

Ci-hiang sudah tenang kembali dari pergolakan emosinya, dengan hampa ia pandang ke arah pintu.

Ong Ling-hoa sudah pergi, hujan seperti dituang di luar, apakah hal ini lantaran Thian Yang Mahakuasa mengetahui dosa manusia terlalu banyak, maka ingin mencucinya dengan air hujan yang lebat ini?

Jika begitu, jadi dosa pada tubuh manusia juga dapat tercuci bersih.

Mendadak Ci-hiang melompat bangun, baju dipakainya, lalu menerjang keluar di bawah hujan deras. Sebentar saja tubuhnya sudah basah kuyup.

Tapi ia justru berharap hujan bisa bertambah lebat…Ia merasa sekujur badan teramat kotor, belum pernah sekotor ini. Ia terus berjalan dengan linglung dan tidak mau berpikir lagi.

Namun begitu dia masih juga benci dan dendam, benci dan dendam kepada lelaki…Semua lelaki adalah babi.

Mendadak terdengar seorang bergelak tertawa, “Haha, memandang bunga di bawah hujan dengan pandangan yang mabuk, bunga segar di bawah hujan ialah si dia…Haha, ialah si dia!”

Waktu Ci-hiang berpaling, tertampaklah sepasang mata orang. Itulah mata yang letih, tidak bersemangat, mata yang penuh garis merah.

Namun mata yang kuyu ini sekarang tampak melotot besar, serupa mata seekor anjing kelaparan yang lagi melototi sepotong daging, melototi Ci-hiang dengan rakus dan tanpa berkedip.

Itulah dia Li Ting-liong, lelaki busuk, lelaki kotor, anjingnya babi dan babinya anjing.

Ci-hiang mengertak gigi, tanpa melihat ia pun tahu betapa bentuk tubuh sendiri.

Seorang perempuan cantik, masak dan telanjang, melulu semampir sepotong baju tipis dan berjalan di bawah hujan lebat, baju tipis yang basah kuyup mencetak garis tubuhnya yang aduhai…

Jelas itulah lukisan yang senantiasa diimpi-impikan oleh kaum lelaki.

Li Ting-liong dalam keadaan mabuk, makanya dia berkeliaran di bawah hujan. Tapi mabuknya tidak membuatnya buta, saat ini matanya justru melotot serupa mata ikan mas yang hampir melompat keluar dari kelopak matanya.

Ci-hiang tidak bergerak lagi dan membiarkan tubuhnya dipandang orang. Tubuhnya sudah cukup kotor, bertambah kotor lagi juga tidak menjadi soal. Apalagi Li Ting-liong hanya memandang dengan mata, hal ini takkan membuatnya kotor. Namun dia ini seekor babi, seekor anjing.

Mendadak kerongkongan Li Ting-liong terasa gatal, ia terbatuk-batuk.

Ci-hiang memandangnya dan berkata, “Kau masuk angin barangkali.”

Suaranya datar, tidak hambar, juga tidak marah, bahkan tidak merasa malu, sukar bagi orang untuk mengetahui arti yang terkandung dalam pertanyaannya.

Mendadak batuk Li Ting-liong berhenti, ia ingin tertawa, tapi gejolak nafsu telah membuat otot daging wajahnya menjadi kaku.

“Kau pulang saja,” kata Ci-hiang.

Mendadak Li Ting-liong berteriak, “Aku tidak masuk angin, sama sekali tidak. Aku sehat dan kuat…”

“Kau mabuk!” kata Ci-hiang pula.

“Tidak, aku tidak mabuk, aku tidak pernah mabuk,” kata Ting-liong. “Aneh, mengapa setiap orang suka menyangka aku mabuk. Biniku menganggap aku mabuk, Co Bin-kim mengira aku mabuk, sekarang kau pun bilang aku mabuk.”

“Binimu…Co Bin-kim…” Ci-hiang berkedip-kedip.

“Betul, biniku, dia seorang sundal, sundal tulen, dia mengira aku mabuk, menyangka aku tidak tahu, dia lantas menemani tidur dengan lelaki lain.”

Mestinya ia tidak perlu tertawa, tapi dia lantas bergelak tertawa seperti orang gila, serunya, “Tidur, haha, apakah kau tahu apa artinya tidur?”

“Kutahu,” jawab Ci-hiang, mukanya tidak merah, juga tidak marah, ia hanya menjawab secara singkat seakan-akan pertanyaan yang lumrah.

Mendadak Li Ting-liong meludah ke tanah, makinya, “Maknya dirodok, sundal itu tidur bersama orang, tapi aku, aku justru keluyuran di bawah hujan seperti seekor anjing liar, ingin mencari anjing betina saja sulit.”

Lalu ia pandang Ci-hiang dengan sinar mata rakus, biji lehernya naik-turun, mendadak ia menubruk maju dan jatuh di tanah penuh pecomberan, kedua kaki Ci-hiang dirangkulnya erat-erat.

Itulah kaki yang panjang dan halus, tapi padat, meski basah oleh air hujan, tapi tetap hangat. Kerongkongan Li Ting-liong serasa tersumbat, ratapnya serak, “Mohon…kumohon…”

Ci-hiang menunduk, memandangnya tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan, katanya perlahan, “Kau mau apa? Ingin kutemanimu tidur?”

“Ku…kumohon…”

“Memangnya kau kira aku pun serupa binimu, seorang sundal?” tanya Ci-hiang.

“O, tidak, tidak,” teriak Li Ting-liong. “Engkau jauh lebih hebat daripada sundal itu, kaki…kakimu, dan…dan jiwamu…kakimu adalah jiwamu.”

Ci-hiang mengempit erat kakinya, tapi tidak melangkah pergi.

“Jika aku tidak mau?” katanya kemudian, tetap sangat tenang.

“Kau mau, engkau pasti mau, kutahu,” ucap Li Ting-liong. “Jelas…jelas sengaja kau pancing diriku, mungkin…mungkin lakimu saat ini juga sedang tidur dengan perempuan lain, maka…maka kau keluar untuk mencari teman tidur.”

Mendadak sinar mata Ci-hiang mencorong terang, katanya, “Baik, kuterima permintaanmu.”

Seketika tubuh Li Ting-liong bergemetar, “Jika…jika begitu, sekarang…sekarang…”

“Coba berdiri dulu,” kata Ci-hiang.

“Kenapa berdiri? Kan tidak layak berdiri?” ujar Ting-liong.

Dengan geregetan Ci-hiang berkata, “Tidak boleh di sini, harus mencari suatu tempat rahasia, supaya tidak diketahui orang lain.”

“Tempat rahasia?…” gumam Li Ting-liong. Mendadak ia melompat bangun dan berteriak dengan tertawa, “Aha, betul, aku ada sebuah tempat rahasia, pasti takkan diketahui orang lain. Apa pun yang kau lakukan di sana pasti takkan ketahuan.”

“Apa pun…” baru saja Ci-hiang bergumam, tahu-tahu ia sudah diseret oleh Li Ting-liong dan dibawa lari ke depan.

Ia tidak tahu dibawa lari ke mana dan sudah berlari berapa jauh. Akhirnya ia lihat sebuah rumah berhala kecil, di belakang rumah berhala ini seperti ada sebuah gua karang. Tapi sebelum masuk ke gua karang itu Li Ting-liong sudah lantas merangkulnya dan merebahkan dia di tanah.

Di bawah siraman air hujan tubuh yang bugil itu putih mulus seperti salju. Suara gemeresak air hujan bercampur dengan suara desah napas Li Ting-liong, dia kelihatan buas serupa seekor anjing musim kawin.

Diam-diam tangan Ci-hiang meraba sepotong batu, ia pejamkan mata dan mengangkat batu, sekuat tenaga ia hantam kepala Li Ting-liong.

Seketika Li Ting-liong tidak bergerak lagi, tidak bergerak untuk selamanya, tapi batu Ci-hiang masih terus mengepruk kepalanya. Darah muncrat mengotori tubuhnya, tapi lantas tercuci bersih oleh air hujan.

Tiada hentinya Ci-hiang bergumam, “Berbuat apa pun takkan ketahuan, begitu bukan katamu? Dan bila kubunuhmu kan juga takkan diketahui orang, betul tidak? Kau…lelaki busuk, babi…babi yang pantas mampus…”

“Betul, semua lelaki adalah babi, bagus sekali kau bunuh dia,” tiba-tiba seorang berucap di samping. Suaranya begitu merdu, tapi juga terasa dingin.

Seketika Ci-hiang berhenti dan menoleh.

Terlihat sesosok bayangan putih ramping berdiri tenang di depan gua karang, tabir hujan seolah-olah bergantung di depannya, dan dia serupa dewi kahyangan yang baru turun dari langit.

Perlahan Ci-hiang menurunkan batu yang dipegangnya, tercetus dari mulutnya, “Cu Jit-jit…”

“Kau kenal diriku?…” ucap Jit-jit dengan kaku. “Bagus sekali kau bunuh dia.”

Dengan gemetar Ci-hiang berdiri dan bermaksud menutupi tubuhnya, tapi bajunya basah lagi dan sudah hancur. Biasanya ia tidak takut menghadapi lelaki mana pun dengan tubuh telanjang bulat, tapi entah mengapa, di depan orang perempuan ia merasa malu.

“Masuk sini, di dalam lebih gelap,” ucap Jit-jit dingin.

Tanpa terasa Ci-hiang melangkah masuk ke situ, masuk ke gua karang di balik tabir air hujan itu. Gua karang ini dengan sendirinya tidak kering, tapi sedikitnya jauh lebih hangat daripada di bawah hujan.

Tubuh Ci-hiang menggigil.

Jit-jit memandangnya dengan tenang, mendadak ia menanggalkan sepotong baju sendiri dan disampirkan pada tubuh Ci-hiang.

Serupa anak kecil memakai baju baru, Ci-hiang memegang erat baju ini, dengan kepala tertunduk ia berkata, “Terima kasih.”

“Tidak perlu terima kasih, kau pun anak perempuan yang harus dikasihani,” ujar Jit-jit.

“Kau kenal padaku?” tanya Ci-hiang sambil menunduk.

“Kenal,” ucap Jit-jit hambar.

Mendadak Ci-hiang mengangkat kepala dan bertanya, “Engkau tidak benci padaku?”

“Benci padamu? Kenapa kubenci padamu?”

“Sim Long…Sim-kongcu…”

Mendadak Jit-jit berteriak, “Diam, dilarang kau sebut lagi nama ini.”

Ci-hiang menyurut mundur dua langkah, dengan terbelalak ia pandang Jit-jit, katanya, “Dilarang menyebut nama ini? Sebab apa?”

Air muka Jit-jit tampak dingin kembali, jengeknya, “Selanjutnya di depanku jangan lagi kau sebut-sebut nama lelaki lain, sebab…sebab aku adalah bakal istri Ong Ling-hoa, Ong-kongcu.”

Dia bicara dengan tenang, tapi bagi pendengaran Ci-hiang rasanya seperti dicambuk satu kali, kembali ia menyurut mundur, ucapnya dengan suara gemetar, “Apakah…apakah betul…Benarkah demikian?”

“Mengapa tidak benar?” ujar Jit-jit.

“Tapi aku tetap tidak percaya,” kata Ci-hiang dengan suara gemetar. “Masa engkau dapat menjadi istrinya? Mengapa engkau mau diperistri oleh lelaki yang rendah, lelaki yang paling kotor dan tidak tahu malu seperti dia, akan lebih baik kau kawin dengan babi daripada menjadi istrinya.”

Jit-jit ternyata tidak marah, ia hanya menjengek, “Hm, memangnya kenapa aku tidak boleh kawin dengan dia?”

Ci-hiang menarik napas panjang, “Apakah kau tahu dia…”

“Tidak perlu kau bicara hal-hal busuk mengenai dia,” jengek Jit-jit. “Dia orang macam apa, tentu saja kutahu lebih jelas daripadamu. Tapi aku tidak peduli, biarpun dia baru saja tidur denganmu juga aku tidak peduli.”

Sungguh tak terduga oleh Ci-hiang bahwa dari mulut Cu Jit-jit dapat tercetus juga kata “tidur” itu, ia merasa nona yang murni ini kini pun sudah berubah sama sekali.

“Apakah kau heran, terkejut?” jengek Jit-jit pula.

“Meski kuheran dan terkejut, tapi aku pun tahu engkau tidak peduli, sebab pada hakikatnya engkau memang tidak suka padanya. Bilamana kau suka kepada seorang lelaki, tentu engkau akan cemburu. Sebenarnya engkau tidak suka padanya, tapi engkau sengaja hendak menikah dengan dia, soalnya kau dendam pada Sim Long, sebab yang kau sukai sebenarnya Sim Long, cintamu padanya tak terbatas, saking cintanya hingga timbul iri dan benci.”

“Bila kau sebut lagi namanya segera kubunuhmu,” ancam Jit-jit.

“Boleh kau bunuh saja diriku, tidak menjadi soal,” jawab Ci-hiang. “Biar kukatakan padamu, seharusnya jangan kau benci padanya, selamanya takkan kau temukan lelaki lain yang begitu baik padamu serupa Sim Long berbuat padamu. Jika di dunia ini ada seorang lelaki begitu baik padaku, sekalipun aku diharuskan segera mati juga aku…aku sukarela.”

“Dia baik padaku? Haha, ya, memang baik sekali…” seru Jit-jit dengan air mata berlinang.

“Betapa dia berbuat bagimu mungkin takkan kau ketahui selamanya. Apakah kau tahu sebab apa dia mau mengikat perjodohan dengan Ong-hujin itu?”

“Aku…”

“Memangnya kau kira dia tidak tahan bujuk rayu Ong-hujin? Haha, salah besar dugaanmu. Meski benar ada sementara lelaki yang suka kepada bentuk Ong-hujin itu, tapi Sim Long bukan lelaki demikian, jika di dunia ini ada lelaki yang tahan uji oleh godaan, maka orang itu ialah Sim Long.”

“Jika…jika begitu, mengapa…mengapa dia…” serak suara Jit-jit.

“Apa pun yang diperbuatnya semuanya demi dirimu, kau tahu, jika dia tidak terima ikatan perkawinan itu, bagaimana akibatnya yang akan menimpa dirimu? Mungkin hal ini takkan kau ketahui selamanya.”

“Dia…dia…” gemetar Jit-jit.

“Demi membela dirimu, dia rela mengorbankan segalanya dan tidak sayang berbuat apa pun, tapi engkau justru tidak dapat memahami dia, engkau berbalik meninggalkan dia, meski hatinya merana, namun sekata pun tidak mau dikatakannya kepada orang lain, sebab dia lebih suka menderita sendiri daripada membikin susah dirimu.”

Mendadak Jit-jit membalik tubuh dan mendelik, tanyanya, “Untuk apa kau bela dia? Apa barangkali kalian…”

“Hm, ucapanmu ini tidak menyinggung kehormatanku, tapi telah menghina dia, meski aku pernah menggoda dia, kupikat dia dengan segala daya upaya, lelaki lain pasti tidak tahan oleh bujuk rayuku, tapi Sim Long, dia…dia justru memandang sebelah mata padaku, sebab dalam hatinya hanya terdapat dirimu.”

Ia menghela napas, lalu menyambung, “Sebab itulah kukagum padanya, terhadap lelaki demikian, perempuan mana pun pasti akan kagum. Biarpun diriku ini hina dina, aku seorang perempuan jalang, tapi apa pun juga aku tetap manusia, aku tidak dapat bicara melawan hati nuraniku sendiri.”

Air mata Jit-jit seperti sudah kering, kembali air mukanya berubah tanpa sesuatu perasaan.

Dengan hampa ia pandang Ci-hiang, gumamnya, “Tampaknya, setiap orang sama mengerti akan Sim Long, hanya aku saja…”

“Engkau tidak memahami dia adalah karena engkau mencintainya dengan mendalam, hal ini tidak dapat menyalahkanmu, cinta memang dapat membuat buta setiap anak perempuan.”

Dengan bimbang Jit-jit berduduk, memandang air hujan di luar gua dengan termenung, sampai lama ia tidak bicara, hanya air mata kembali menitik lagi.

“Tapi sekarang pun belum terlambat,” ucap Ci-hiang. “Segala urusan masih dapat ditolong. Aku seorang perempuan malang, selama hidup ini sudah ditakdirkan takkan mendapatkan bahagia, tapi engkau masih keburu, engkau jauh lebih beruntung daripadaku…”

Sedapatnya ia menahan air matanya supaya tidak menetes, walaupun begitu akhirnya meledak juga tangisnya.

Dan begitulah kedua nona itu berhadapan dan menangis.

Entah sudah berapa lama, tiba-tiba suara seorang mendengus, “Hm, perempuan yang cuma pandai mencucurkan air mata adalah orang tolol, hanya gentong nasi (tukang gegares maksudnya) belaka.”

Suaranya meski dingin, tapi sangat merdu.

Padahal di dalam gua karang mestinya tidak ada orang lain, tapi jelas suara ini berkumandang dari dalam gua.

Serentak Ci-hiang dan Cu Jit-jit menoleh, maka tertampaklah sesosok bayangan putih serupa badan halus saja berdiri di kedalaman gua yang gelap itu, wajahnya tidak jelas kelihatan, yang tertampak hanya kedua matanya yang mencorong terang.

Mata ini membawa semacam daya pikat yang aneh, seperti dapat menembus perasaan orang lain, seperti dapat membuat orang lain melakukan apa pun baginya.

Sekarang mata ini sedang menatap mereka tanpa berkedip, ucapnya pula dengan sekata demi sekata, “Mengapa orang perempuan selalu dihina orang, sebab perempuan hanya bisa menangis, hanya pintar mencucurkan air mata, namun air mata tetap tidak dapat menyelesaikan sesuatu persoalan.”

Ci-hiang merasa ngeri dipandang oleh sinar mata yang aneh itu, ia meringkuk takut sebaliknya Cu Jit-jit lantas membusungkan dada dan berteriak, “Memangnya engkau sendiri tidak pernah mencucurkan air mata?”

“Tidak pernah,” jawab bayangan putih itu.

“Masa engkau tidak pernah menderita?” tanya Jit-jit pula.

“Hm, penderitaan yang kualami selamanya tak bisa kalian bayangkan, tapi aku tetap tidak pernah mencucurkan air mata…Tiada sesuatu urusan yang dapat membuatku mengalirkan air mata.”

“Memangnya engkau bukan…bukan orang perempuan?” tanya Jit-jit.

“Aku bukan orang perempuan…hakikatnya aku memang bukan manusia,” kata bayangan putih itu dengan hampa.

Tanpa terasa Jit-jit menggigil, katanya, “Habis…sesungguhnya engkau ini apa?”

Sekata demi sekata si bayangan putih menjawab, “Aku cuma badan halus saja…orang lain sama menyebutku Yu-leng-kiongcu.”

*****

Rumah berhala kecil itu, kuil malaikat bunga, keadaan kuil itu sudah bobrok, meski terletak juga di suatu sudut Koay-hoat-lim, namun sangat tidak serasi dengan taman hiburan yang baru dibangun ini.

Nyata kuil ini tinggalan seorang pencinta bunga yang tidak diketahui siapa namanya dan bukan dibangun oleh pemilik taman hiburan ini. Majikan taman hiburan yang baru hampir sama sekali tidak berminat terhadap rumah berhala segala, tidak pernah sembahyang dan bersujud, mungkin dia cuma percaya kepada dirinya sendiri, bisa juga memang tidak percaya kepada apa pun.

Sim Long melayang masuk ke kuil itu, dikebaskannya air hujan yang membasahi tubuhnya, menyusul Tokko Siang dan Ong Ling-hoa juga melompat masuk. Mereka tidak langsung menerobos ke dalam gua, hal ini menandakan mereka cukup waspada.

“Gua itu terletak di belakang kuil ini,” kata Tokko Siang.

“Entah Jit-jit sudah bertemu dengan Him Miau-ji atau belum,” ujar Ong Ling-hoa.

“Gua itu sangat dalam, sedangkan Him Miau-ji bersembunyi di bagian yang paling dalam,” tutur Tokko Siang.

Ling-hoa tertawa, “Ya, anak perempuan tentu takkan berani menuju ke kedalaman gua yang gelap. Meski Jit-jit berbeda daripada anak perempuan lain, tapi dia tetap anak perempuan juga.”

“Omong kosong,” jengek Tokko Siang.

“Betul, ini memang omong kosong, tapi mengapa Anda hanya mendengarkan saja di sini dan tidak lekas masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan yang sebenarnya?”

Air muka Tokko Siang berubah, selagi ia hendak melangkah ke dalam, mendadak Sim Long berkata, “Nanti dulu!”

“Jangan-jangan kau pun ingin omong kosong?” jengek Tokko Siang.

“Coba kalian periksa dulu patung malaikat bunga ini,” kata Sim Long.

Dengan sendirinya altar pemujaan juga sudah bobrok, dalam keadaan suram cuaca hujan, altar yang bobrok ini terasa seram, jika tidak didekati pada hakikatnya sukar melihat jelas patung malaikat yang dipuja.

Patung malaikat itu berbentuk serupa seorang perempuan udik, tangan kiri memegang setangkai bunga di depan dada, tangan kanan sedang meraba kelopak bunga, namun pandangannya justru tertuju jauh ke depan.

“Ehm, malaikat ini memang menarik, orang yang memahat patung ini seperti mempunyai maksud tujuan tertentu, tapi rasanya kita sukar menerka maksudnya,” ujar Ong Ling-hoa setelah termenung. “Bahwa patung yang dipuja ini ternyata seorang perempuan kampung, ini pun sangat aneh. Padahal menurut cerita yang pernah kudengar, malaikat bunga ini seharusnya…”

“Saat itu bukan waktunya untuk berlagak sebagai seorang ahli sejarah,” jengek Tokko Siang. “Tidak peduli malaikat bunga ini lelaki atau perempuan, tua atau muda, semuanya tidak ada sangkut pautnya dengan kita.”

“Justru malaikat bunga ini ada sangkut pautnya dengan kita,” ujar Sim Long perlahan.

“Sangkut paut apa?” tanya Tokko Siang.

“Apakah sudah kau lihat jelas wajahnya?”

“Aha, betul,” seru Ong Ling-hoa. “Wajahnya memang…”

Tergerak juga hati Tokko Siang setelah memandangi wajah patung, katanya, “Ya, wajah patung ini seperti mirip seorang.”

Ketiga orang saling pandang sekejap.

“Mirip dia,” ucap Ling-hoa akhirnya.

“Betul, sangat mirip,” ujar Tokko Siang.

Kiranya kecantikan wajah malaikat itu dengan sikapnya yang lembut dan mata-alisnya yang sayu memang sangat persis dengan Pek Fifi.

Sampai sekian lama Ong Ling-hoa memandangnya dengan termenung, tiba-tiba ia berkata pula, “Tidak, tidak betul.”

“Tidak betul apa?” tanya Tokko Siang.

“Rumah berhala ini sedikitnya sudah sepuluh tahun umurnya, jika begitu, pada waktu patung ini dibuat, saat itu Pek Fifi kan masih anak kecil, lantas mengapa…”

Belum lanjut ucapan Ong Ling-hoa segera Tokko Siang berkeplok dan menukas, “Betul, pemahat patung ini kan bukan ahli nujum, dari mana dia tahu bagaimana bentuk Pek Fifi setelah dewasa? Meski patung ini sangat mirip dengan dia, tampaknya cuma kebetulan saja.”

“Sama sekali bukan kebetulan,” kata Sim Long. “Tapi patung itu juga bukan dipahat menurut bentuk wajah Pek Fifi.”

Tokko Siang merasa heran. “Jika patung ini tidak dipahat menurut wajah Pek Fifi, dengan sendirinya kemiripan ini hanya secara kebetulan saja, tapi kau bilang bukan kebetulan. Memangnya mengapa bisa terjadi begini?”

“Patung ini adalah ibu Pek Fifi,” ucap Sim Long sekata demi sekata.

“Ibunya?” melengak juga Ong Ling-hoa.

Tokko Siang juga berteriak, “Pek Fifi belum lagi sebulan datang ke sini, mengapa patung ibunya bisa berada di sini, dan…mengapa ibunya bisa berubah menjadi patung malaikat bunga di sini?”

“Di dalam urusan ini ada sesuatu rahasia besar,” ujar Sim Long.

“Rahasia besar? Rahasia apa?” tanya Tokko Siang.

“Saat ini tidak dapat kukatakan, sebab aku pun tidak begitu jelas,” sahut Sim Long.

“Bisa jadi ibu Pek Fifi memang orang daerah ini, mungkin juga Pek Fifi dilahirkan di sini, sesudah dewasa baru pergi ke Tionggoan,” sambung Ling-hoa.

“Ya, mungkin begitu,” Sim Long mengangguk.

“Tapi bila ibu Fifi cuma seorang perempuan udik biasa, mengapa orang menjadikan dia malaikat bunga? Jika ibu Fifi bukan perempuan udik biasa, mengapa anak perempuannya sampai terlunta-lunta di negeri orang?” kata Ling-hoa lagi.

“Bisa jadi terluntanya Pek Fifi bukan kejadian sungguhan,” ujar Sim Long.

“Bukan sungguhan?” Ling-hoa terbelalak heran.

“Ya, bisa jadi ibu Fifi sendiri semula memang seorang perempuan udik, tapi kemudian secara kebetulan mendapatkan penemuan ajaib dan berubah menjadi seorang kosen, seorang sakti dunia persilatan.”

Tambah terbelalak mata Ong Ling-hoa. “Orang kosen dunia persilatan?”

“Setahuku, belasan tahun yang lalu di dunia persilatan tidak terdapat orang kosen semacam ini,” ujar Tokko Siang.

“Ada sementara orang kosen dunia persilatan selamanya tak dapat kau lihat wajah aslinya,” kata Sim Long.

“Tapi namanya…” Tokko Siang melenggong.

“Ada sementara orang kosen dunia Kangouw juga namanya sukar kau kenal,” tukas Sim Long.

“Habis sesungguhnya siapa dia? Kau tahu?” tanya Ling-hoa tak tahan.

“Mungkin kutahu,” kata Sim Long.

“Mengapa tidak kau katakan saja jika tahu?” teriak Tokko Siang mendongkol.

“Mungkin ada sangkut pautnya dengan kawanan setan Yu-leng,” tutur Sim Long.

Seketika air muka Tokko Siang berubah, serunya, “Apa katamu? Ada sangkut pautnya dengan kawanan setan Yu-leng?”

“Wah, jika rumah berhala ini ada sangkut pautnya dengan kawanan setan itu, maka gua karang di belakang bukankah…Ah, betul, gua itu memang sangat misterius, memang sangat bagus untuk tempat tinggal kawanan setan itu,” kata Ong Ling-hoa.

“Jika begitu, lantas Him Miau-ji…” belum lanjut ucapan Tokko Siang, mendadak ia menerjang keluar.

Ong Ling-hoa memandang Sim Long sekejap, meski wajah Sim Long tetap mengulum senyum, namun senyuman yang sangat terpaksa malahan sorot matanya kelihatan menanggung rasa khawatir, katanya dengan suara berat, “Jika tidak salah dugaanku, mungkin segala urusan sudah terjadi perubahan luar biasa dan kesulitan kita pun akan bertambah banyak…”

*****

Sementara itu mayat Li Ting-liong masih kehujanan, tubuhnya setengah telanjang, kepalanya sudah pecah, cuma samar-samar masih dapat dikenali mukanya.

“Bukankah dia orang she Li itu…” kata Tokko Siang.

“Betul, dia Li Ting-liong,” kata Sim Long.

“Mengapa dia mati di…di sini?”

Segera Ong Ling-hoa ikut bicara, “Cu Jit-jit tidak berada di sini, keadaan orang she Li ini sedemikian rupa, jangan-jangan tanpa sengaja ia pergoki Jit-jit, lalu hendak berbuat tidak senonoh padanya, maka Jit-jit lantas membunuhnya.”

“Pasti bukan perbuatan Jit-jit,” ujar Sim Long.

“Apa dasarnya?” tanya Ling-hoa.

“Cara turun tangan Jit-jit pasti tidak sekeji ini.”

“Yu-leng-kui-li…jangan-jangan setan itu yang turun tangan keji ini?” seru Tokko Siang.

“Juga bukan perbuatan Yu-leng-kui-li,” kata Sim Long setelah termenung sejenak.

“Dari mana kau tahu pula?” tanya Tokko Siang dengan kening bekernyit.

“Tindak tanduk Yu-leng-kui-li biasanya sangat rahasia, jika Yu-leng-kui-li yang membunuhnya pasti mayat ini takkan ditinggalkan di sini.”

“Ya, betul,” Tokko Siang menarik napas panjang, betapa pun dia harus mengakui kecerdasan Sim Long yang lebih tinggi setingkat daripada orang biasa.

Ong Ling-hoa ikut bertanya, “Habis kalau bukan perbuatan Cu Jit-jit dan juga bukan Yu-leng-kui-li, lantas siapa?”

“Jelas di sini pernah didatangi lagi orang lain,” ujar Sim Long.

“Orang lain?” Ling-hoa menegas.

“Meski tidak kuketahui siapa dia, tapi dapat kupastikan dia seorang perempuan.”

“Perempuan?…” Tokko Siang termenung. “Padahal tidak banyak orang perempuan di Koay-hoat-lim sini, perempuan yang dapat membunuh orang terlebih tidak banyak.”

“Memang tidak perlu banyak, seorang saja sudah cukup,” ujar Ling-hoa dengan tertawa.

Dengan mendongkol Tokko Siang melototinya sekejap, tanpa bicara ia lantas melompat ke dalam gua.

Belasan langkah masuk ke dalam gua keadaan lantas gelap gulita, biarpun orang berjalan dari depan juga sukar dikenali wajahnya. Dengan sorot mata yang tajam Tokko Siang dan Ong Ling-hoa lantas berusaha mencari sepanjang jalan.

“Apakah Cu Jit-jit memang menunggumu di sini?” tanya Tokko Siang.

“Kuyakin dia takkan pergi ke tempat lain,” ujar Ling-hoa.

“Mengapa tidak kelihatan batang hidungnya?”

Ling-hoa mengangkat pundak, lalu balas bertanya, “Dan Him Miau-ji juga menunggumu di sini?”

Tokko Siang mengiakan.

“Lantas di mana orangnya sekarang?”

Begitulah kedua orang saling mengejek, padahal di dalam hati sama-sama gelisah. Orang yang seharusnya menunggu mereka di sini, entah mengapa sekarang tidak kelihatan.

Mendadak Tokko Siang menarik tangan Ong Ling-hoa dan berseru, “Lihat itu…Apakah mereka berdua telah mengalami nasib malang?”

“Aku sendiri tidak gelisah biarpun kehilangan calon bini, kenapa engkau berbalik kelabakan?” ujar Ling-hoa dengan hambar. “Haha, Tokko-heng tampaknya seorang yang acuh tak acuh, tak tersangka sebenarnya seorang yang berdarah panas. Tapi hendaknya Tokko-heng tahu, jika aku tidak gelisah, soalnya telah kuperhitungkan mereka pasti takkan mati.”

“Sebab apa?” tanya Tokko Siang.

“Tidak ada alasan bagi Yu-leng-kui-li untuk membunuh mereka.”

“Huh, untuk membunuh orang terkadang tidak diperlukan alasan,” jengek Tokko Siang.

“Tapi Yu-leng-kui-li justru beralasan untuk tidak membunuh mereka.”

“Oo…” Tokko Siang melenggong.

“Sebab jika mereka dibiarkan hidup akan jauh lebih berguna daripada membunuh mereka,” kata Ling-hoa pula.

Tokko Siang berpaling dan memandang Sim Long. Sorot mata Sim Long tampak gemerdep dalam kegelapan.

“Bagaimana, masuk di akal tidak ucapan orang ini?” tanya Tokko Siang.

“Kupikir pasti begitulah,” jawab Sim Long.

“Maka kita pun tidak perlu lagi mencari mereka,” sambung Ling-hoa. “Yang penting, asalkan kita dapat menemukan sarang kawanan Yu-leng-kui-li, dengan sendirinya pula dapat kita menemukan mereka.”

“Tapi berada di mana gua setan mereka? Sama sekali tiada sesuatu petunjuk di sini,” ujar Tokko Siang.

“Kupikir sarang setan mereka pasti juga berada di dalam gua ini,” ujar Ling-hoa.

“Dari mana kau tahu? Memangnya pernah kau datangi tempatnya?” teriak Tokko Siang penasaran.

Mendadak Sim Long menukas, “Ucapan Ong-heng memang beralasan, sarang setan mereka pasti berada di dalam gua ini, sebab di mulut gua hanya kelihatan bekas kaki orang masuk dan tiada bekas kaki orang keluar.”

Tokko Siang termenung sejenak, gumamnya kemudian, “Kiranya kalian sudah memeriksanya tadi.”

Mestinya ia merasa banyak kelebihan dibandingkan orang lain, tapi di depan Sim Long dan Ong Ling-hoa, tiba-tiba ia merasa dirinya berubah menjadi orang bodoh, bahkan buta.

“Soalnya sekarang, betapa besar dan dalamnya gua ini…” sambil bicara pandangan Ong Ling-hoa tertuju ke arah Tokko Siang.

Perlahan Tokko Siang berkata, “Bagian kedalaman gua ini gelap gulita, jari sendiri saja tidak kelihatan, bahkan lembap dan seram penuh galagasi, sampai saat ini belum pernah kudengar ada orang pernah masuk ke situ.”

“Betul, bilamana sarang setan mereka berada dalam gua, kuyakin pasti ada jalan keluar rahasia lain,” sambung Ling-hoa. “Bahkan pasti banyak perangkap, jika kita masuk begini saja mungkin juga sukar untuk keluar lagi dengan hidup.”

“Lantas bagaimana kalau kita tidak menerjang ke dalam?” tanya Tokko Siang.

“Kita harus mengadakan persiapan yang rapi, obor, tali, ransum…semua itu tidak boleh kurang.”

“Persiapan? Hm, setelah semuanya kau siapkan sudah tidak keburu lagi,” jengek Tokko Siang.

“Betul,” kata Sim Long. “Sekarang waktunya sudah sangat mendesak, urusan dengan Koay-lok-ong tidak dapat ditunda lagi, kalau tidak, berbagai rencana kita pasti akan gagal total, cuma…di dalam gua ini pasti banyak perangkap rahasia dan berliku-liku jalannya, bilamana kita tersesat, bukan mustahil bisa mati terkurung di dalam.”

“Jika demikian, apakah kita tidak perlu urus mereka lagi?” jengek Tokko Siang.

Dengan tenang Ong Ling-hoa berkata, “Berbuat apa pun bagiku tidak menjadi soal, tapi jika aku disuruh mengantar kematian, maaf, tidak usah saja.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: