Kumpulan Cerita Silat

28/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 13

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 2:08 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, Lovecan, dan Sumahan)

Bab III. Tangan Beracun.

13. Pertempuran sebelas pedang.

Kembali Ciu Leng-liong merangsek maju untuk menghadang tiga orang bandit lain, dua orang di antara bandit itu segera melompat mundur untuk berkelit, salah seorang di antaranya tak keburu kabur, segera ditangkap dan diangkat tinggi-tinggi, belum sempat ia berontak, tubuhnya sudah dilemparkan ke arah seorang rekannya.

Dalam keadaan kaget, bandit itu langsung menghujamkan goloknya ke depan.

“Bruuuk!” ujung golok langsung tembus di tubuh bandit yang terlempar tadi, merasa dirinya ditusuk rekan sendiri, bandit itu meraung kalap, sesaat menjelang ajalnya dia melancarkan sebuah bacokan pula, akibatnya kedua orang itu mati mengenaskan.

Ciu Leng-liong kembali unjuk kebolehan, dalam sekejap dia telah membunuh tujuh orang penyamun, keangkeran serta keganasannya memaksa kawanan bandit yang mengepung di sekelilingnya kabur menghindarkan diri.

Ciu Leng-liong mendengus dingin, tangannya berkelebat berusaha menyambar tubuh kawanan bandit yang kabur, ketika sambarannya gagal, segera dia lepaskan tiga tusukan maut.

Di antara tiga garis cahaya pedang yang menyilaukan mata, tiga orang bandit menjerit kesakitan dan roboh terkapar.

Kembali, Ciu Leng-liong mendengus, dengan langkah lebar dia serbu kawanan bandit yang sedang mengepung Liu Ing-peng.

Kemunculan Ciu Leng-liong yang tiba-tiba, bahkan dalam sekejap berhasil membantai sepuluh orang bandit, membuat sisa lima orang yang masih hidup ketakutan setengah mati, karena semangat tempurnya buyar, dalam waktu singkat mereka dibikin keteter oleh serangan dua prajurit yang justru bangkit semangatnya setelah melihat kehadiran sang panglima.

Tiba di tepi arena pertarungan, kembali Ciu Leng-liong melancarkan tiga buah serangan kilat, di antara kilauan cahaya tajam kembali dua orang bandit menjerit ngeri dan roboh bermandikan darah, ia memutar badannya bagai gangsing, lagi-lagi tiga buah serangan berantai dilancarkan.

“Traaang, traaang, traaang!”

Kali ini, ketiga buah serangannya berhasil ditangkis orang, ketika berpaling, Ciu Leng-liong segera mengenali orang itu adalah si Tongkat raja bengis Yu Thian-liong.

Waktu itu Yu Thian-liong sedang marah karena posisi di atas angin yang berhasil diraihnya dengan susah payah dihancurkan oleh serangan Ciu Leng-liong, tanpa banyak bicara dia langsung mengayunkan tongkatnya dan dihantamkan ke tubuh lawan.

“Sreet, sreeet, sreeet” Ciu Leng-liong melepaskan serangkaian tusukan yang memaksa Yu Thian-liong mundur ke belakang, kemudian serunya, “Opas Liu, kawanan kurcaci itu kuserahkan kepadamu.”

Lalu sambil berpaling ke arah Yu Thian-liong, ujarnya pula, “Dalam namamu ada kata naga, namaku juga memakai kata naga, mari kita buktikan naga mana yang akan menang.”

Sementara itu Liu Ing-peng yang merasa daya tekanannya berkurang banyak, segera memanfaatkan peluang itu untuk melancarkan serangkaian babatan, kembali tiga orang bandit roboh binasa.

Sisanya yang tiga orang lagi tak berani bertarung lebih lama, mereka segera putar badan dan kabur terbirit-birit, sayang kecepatan lari mereka tak sanggup menandingi kecepatan Liu Ing-peng, akhirnya orang-orang itu terjungkal semua dalam keadaan tak bernyawa.

Kembali Liu Ing-peng mengayunkan goloknya bergabung dengan dua orang prajurit itu, tak selang lama seluruh bandit sudah habis terbantai, kini tinggal Yu Thian-liong seorang yang harus bersusah-payah bertarung sengit melawan si Monyet sakti bertangan tiga Ciu Leng-liong.

Di tengah pertempuran, mendadak Ciu Leng-liong membentak keras, “Lihat serangan!”

Yu Thian-liong mengira musuh melepaskan senjata rahasia, segera dia berkelit ke samping, siapa tahu bukan amgi yang dilepas, pedang Ciu Leng-liong tahu-tahu sudah merangsek ke depan sambil melancarkan beberapa jurus serangan mematikan.

“Lihat serangan!” kembali Ciu Leng-liong membentak.

Sekali lagi Yu Thian-liong berkelit ke samping, lagi-lagi tak ada senjata rahasia yang menyambar tiba, pertarungan pun kembali berlangsung cepat.

“Lihat serangan!” kembali Ciu Leng-liong membentak sambil mengangkat tangannya ke atas.

Yu Thian-liong menyangka musuhnya hanya menggertak saja, dia enggan tertipu, siapa tahu kali ini benar-benar muncul tujuh delapan belas macam senjata rahasia yang langsung menyergap ke arahnya.

Yu Thian-liong tak menyangka kali ini pihak lawan benar-benar melepaskan senjata rahasia, dia pun tidak mengira kalau ada orang bisa melepaskan belasan macam senjata rahasia dalam waktu yang bersamaan, tergopoh-gopoh dia putar toyanya untuk menangkis, sebelas dua belas macam senjata rahasia segera tersapu rontok, tapi masih ada lima enam macam am-gi yang tetap menghujam di kaki, lengan, paha, bahu dan lututnya.

Yu Thian-liong menjerit kesakitan, saking sakitnya dia sampai tak mampu menggenggam toyanya lagi, badannya segera roboh terguling di tanah.

Liu Ing-peng segera mengayunkan goloknya siap membunuh orang itu, tapi Ciu Leng-liong segera menangkis dengan pedangnya, sekalian ia totok empat buah jalan darah di tubuh si Toya raja bengis Yu Thian-liong, membuat orang itu tak mampu berkutik lagi.

Setelah beristirahat sejenak untuk mengatur pernafasan, Ciu Leng-liong, Liu Ing-peng dan kedua orang prajurit itu berangkat untuk bergabung dengan pasukan induk.

Ketika itu, pertarungan antara Cing Sau-song melawan Ciu Pek-ih sedang berlangsung amat sengit, deru angin tajam serasa menyelimuti seluruh angkasa.

Ternyata, pertarungan antara Cing Sau-song melawan Ciu Pek-ih sudah mulai berlangsung, ilmu yang mereka adu adalah ilmu pedang.

Ciu Pek-ih dengan ilmu pedangnya menyerang lawan habis-habisan, bagai sambaran petir menggelegar tiada hentinya di sekeliling tubuh musuh.

Cing Sau-song tak berani bertindak gegabah, pedang hijau pupusnya diputar bagaikan seekor naga hijau yang beterbangan di angkasa, sambarannya di antara kilatan cahaya putih membiaskan satu pemandangan yang indah di udara.

Setelah bertarung lima puluh gebrakan, jurus serangan Cing Sau-song makin aneh dan banyak perubahan, sudut serangan yang diarah pun sukar diduga sebelumnya, semuanya dilakukan dengan ringan dan lincah.

Jurus serangan Ciu Pek-ih pun cepat, seringkali Cing Sau-song gagal menemukan titik kelemahan lawan, semakin diteter semakin sulit baginya untuk mendekati lawan, sehingga tak satu pun serangan yang dilancarkannya berhasil mendekati tubuh lawan.

Tujuh puluh gebrakan kemudian, tiba-tiba Cing Sau-song berseru sambil tertawa terbahak-bahak, “Ternyata ilmu pedang sambaran petir luar biasa hebatnya, sekarang cobalah It-cu-kiam-hoat (ilmu pedang satu huruf) ini!”

Cing Sau-song adalah seorang jago berbakat alam, setiap kali bertemu jurus serangan yang ampuh, dia selalu dapat menciptakan sebuah jurus tandingan untuk menjebol gerak serangan lawan.

Biasanya, setiap kali dia menerima satu jurus serangan lawan, maka jurus berikutnya dia sudah berhasil menciptakan jurus tandingan.

Namun dalam pertarungan kali ini, berhubung jurus serangan yang dimiliki Ciu Pek-ih terlalu cepat dan hebat, Cing Sau-song butuh tujuh puluh gebrakan baru berhasil menciptakan ilmu pedang satu huruf untuk menandinginya.

Kunci utama yang diandalkan Ciu Pek-ih dalam ilmu pedang sambaran petirnya adalah kecepatan, dengan kecepatan penuh, sudut serangan paling jitu dan jarak paling dekat dia lukai musuhnya.

Sebaliknya, inti ilmu pedang satu huruf adalah kelurusan, seperti tulisan ’Satu’ sendiri, gerak serangannya lempang, datar dan menyatu, keterbukaan justru menjadi kontra dari kecepatan petir.

Ketika Ciu Pek-ih melepaskan sebuah tusukan dengan kecepatan luar biasa, Cing Sau-song segera melintangkan pedangnya untuk menangkis, dengan jurus It-wi-tok-kang (sebuah sampan menyeberangi sungai) dia giring senjata lawan ke arah lain.

Merasa senjatanya digiring ke samping untuk dibuang, Ciu Pek-ih segera miringkan senjata sambil menusuk kembali dengan jurus Kim-coa-yu-cau (ular emas meluncur pergi), di antara kilatan cahaya pedang satu tusukan demi satu tusukan dilontarkan secara beruntun.

Cing Sau-song menjengek dingin, menggunakan jurus It-ci-tionggoan (menuding daratan tionggoan) dia tusuk tubuh pedang lawan sesaat sebelum pedang Ciu Pek-ih sempat diputar, “Triiing!” diiringi dentingan nyaring, tubuh senjata melenceng ke samping dan gagallah Ciu Pek-ih melanjutkan gerak serangannya.

Begitu berhasil dengan serangan pertama, Cing Sau-song tidak menyia-nyiakan kesempatan lagi, secara beruntun dia lancarkan tiga serangan dengan jurus It-coat-ji-hiong (menentukan jantan dan betina), It-nian-ci-jak (salah dalam keputusan sesaat) dan It-tok-ci-hoat (satu sentuhan mengobarkan semuanya), tiga rangkaian serangan yang memaksa Ciu Pek-ih harus mundur sejauh tiga langkah.

Untuk sesaat Ciu Pek-ih agak tertegun, segera dia membalik senjatanya menggunakan jurus Seng-kong-tiam-tiam (cahaya bin-tang berbintik), serentetan titik cahaya bintang yang menyilaukan mata langsung membungkus batok kepala musuh.

Cing Sau-song membentak keras, tiba-tiba dia melambung ke udara diiringi sekilas cahaya yang menembus berbintik cahaya bintang, inilah jurus It-hui-jiong-thian (terbang melambung menembus angkasa), kemudian secepat kilat dia menusuk ke bawah dengan jurus It-tiam-leng-si (tutulan sakti membangkitkan sukma) mengancam batok kepala musuh.

Dengan perasaan terkejut Ciu Pek-ih merendahkan kepalanya, sekalipun berhasil lolos dari babatan lawan, tak urung kain pengikat kepalanya tersambar hingga lepas.

Tanpa menggubris ikat kepalanya, Ciu Pek-ih mundur sambil melancarkan sebuah tusukan, dia ancam sepasang kaki Cing Sau-song dengan jurus To-sit-kim-liong (memanah balik naga emas).

Cing Sau-song sangat terkejut, dia tidak mengira serangan balasan Ciu Pek-ih dilancarkan secepat itu, segera dia gunakan jurus It-bai-ji-san (satu tepukan memisah jadi dua) dengan menutulkan ujung pedangnya di tubuh senjata Ciu Pek-ih, lalu menggunakan kesempatan itu badannya melejit ke udara untuk menghindarkan diri.

Sementara para penonton berseru tertahan karena kaget, Cing Sau-song yang berada di udara telah melancarkan sebuah tusukan lagi dengan jurus It-lok-jian-cang (sekali jatuh ribuan kaki).

Menggunakan tenaga dorongan ke belakang itu dia menggeser selangkah ke samping, meloloskan diri dari tusukan itu.

“Bagus!” bentak Cing Sau-song, dengan jurus It-say-jian-li (sekali bergeser ribuan li) dia lepaskan tusukan lagi ke depan.

Waktu itu ujung pedang Ciu Pek-ih menghadap ke belakang, dalam keadaan begini tak sempat baginya untuk berbalik sambil melepaskan serangan, untung saja dia adalah jago pedang kenamaan, pedangnya digetarkan hingga ujung pedang mendengung, dengan jurus Tiang-liong-ji-hay (naga panjang menyusup ke laut) dia tusuk perut Cing Sau-song.

Biarpun jurus serangan ini dilancarkan belakangan, namun tiba lebih dulu pada sasaran, sebuah jurus pertolongan yang amat jitu. Agak berubah paras muka Cing Sau-song, meski kaget namun tak sampai membuatnya panik, dia putar pedangnya dan dengan jurus It-kian-ji-ku (pertemuan pertama serasa sahabat lama), “Tring!” dia tahan serangan itu dengan menangkis pada gagang pedang lawan.

Dalam keadaan begini, bila Ciu Pek-ih tetap melanjutkan serangannya, niscaya jari tangannya akan tersayat oleh ujung pedang lawan, terpaksa ia kendorkan tangan sambil membuyarkan ancaman.

Tujuan Cing Sau-song menggunakan jurus It-kian-ji-ku ini memang bertujuan memaksa Ciu Pek-ih melepaskan senjatanya.

Pak-shia Shiacu Ciu Pek-ih bukan jagoan kemarin sore, begitu pedangnya terlepas dari genggaman, sepasang tangannya segera diayun menggulung ke angkasa, ia siap menghajar musuh dengan ilmu Kiu-ku-ceng-jit-sin-kang.

Siapa tahu Cing Sau-song sama sekali tidak menanggapi, sambil tertawa ia menarik kembali pedangnya.

Dengan perasaan tertegun, Ciu Pek-ih berpikir, “Jangan-jangan dia anggap aku telah kalah lantaran pedangku terlepas dari genggaman? Tapi toh tak pernah ada perjanjian semacam ini sebelum bertarung tadi? Biarpun aku kalah dalam hal ilmu pedang, bukan berarti kalah dalam tenaga dalam.”

Berpikir begitu dia pun berseru, “Maaf!” dengan jurus Jit-cau-tong-sin (sang surya terbit di ufuk timur) sepasang telapak tangannya melancarkan serangan kilat.

Di saat Ciu Pek-ih masih tertegun, Cing Sau-song tersenyum, tanpa mengucapkan sepatah kata pun ia lancarkan sebuah tusukan lagi ke depan, ternyata jurus serangan yang digunakan adalah It-siau-tiam-shia (senyuman yang memabukkan kota) dari aliran sesat.

Sebelum melancarkan serangan, biasanya orang akan selalu tertawa lebih dulu untuk mengecoh lawan, di saat musuh tidak waspada dan tak menduga itulah sebuah tusukan maut langsung dilontarkan.

Ketika melepaskan tusukan itu, ternyata Cing Sau-song sama sekali tidak menggubris atau menghindarkan diri dari ancaman sepasang tangan Ciu Pek-ih.

Sebenarnya, ilmu pedang sambaran petir Ciu Pek-ih memang sangat hebat, keunggulannya terletak pada kemampuannya mendahului serangan musuh, tapi sayang sekarang ia sudah tak bersenjata, biarpun jurus serangannya ampuh, telapak tangannya tidak mampu mendahului kecepatan pedang musuh.

Ketika telapak tangannya masih berada satu inci dari tubuh Cing Sau-song, ujung pedang lawan sudah menempel di tenggorokannya.

Padahal, waktu itu Cing Sau-song juga amat terkesiap, sebenarnya dia ingin memanfaatkan kesempatan di saat Ciu Pek-ih sedang tertegun untuk merebut posisi lebih menguntungkan, dalam perhitungannya, dia sanggup mengancam lawan dengan ujung pedangnya sebelum sepasang telapak lawan mengancam dirinya, siapa tahu gerak serangan Ciu Pek-ih sedemikian cepat meski telapak tangannya masih berada satu inci dari tubuhnya, tenaga pukulan telah menyusup lebih dulu ke dalam badannya.

Masih untung dia cepat bereaksi, coba kalau serangannya sedikit terlambat, dapat dipastikan yang menderita kekalahan dalam pertarungan ini adalah dirinya bukan Ciu Pek-ih.

Pelan-pelan Cing Sau-song menarik kembali pedangnya dan berkata, “Beruntung, sungguh beruntung!”

Ciu Pek-ih turut menarik kembali serangannya samlnl menghela napas panjang, katanya, “Kecepatan serangan Cing sianseng benar-benar luar biasa, selama hidup belum pernah kusaksikan kehebatan semacam ini”

Hasil dari tiga babak pertarungan adalah:
Babak pertama, si Tangan besi berhasil mengungguli Wan Beng-tin.
Babak kedua, Ngo Kong-tiong melawan Lau Hiat-kong dengan hasil seri.
Babak ketiga, Cing Sau-song berhasil mengungguli Ciu Pek-ih.

Karena dalam tiga babak pertarungan masih belum berhasil menetapkan siapa pemenangnya, tiba-tiba si Tangan besi berbisik lirih kepada Si Ceng-tang, “Ciangkun, bagaimana kalau Cayhe turun sekali lagi untuk membuat keok Cing Sau-song?”

Si Ceng-tang sendiri pun sadar, lantaran tiga babak pertarungan berlangsung seri, berarti harus diselenggarakan satu babak pertarungan lagi dan pada partai terakhir ini pihak lawan pasti mengutus jagoan yang paling hebat ilmu silatnya, tentunya adalah si Naga sakti.

Bicara soal ilmu silat, dia sadar bukan tandingan lawan, bila pihaknya tak ada wakil yang sepadan, dapat dipastikan pihak mereka akan menelan kekalahan getir.

Mendengar tawaran itu, dengan penuh kegirangan sahut Si Ceng-tang, “Jika begitu kuserahkan pertarungan itu kepadamu.”

Dengan cepat si Tangan besi melompat maju ke tengah arena, serunya lantang, “Dalam tiga babak pertarungan tadi hasilnya sekali seri, sekali menang dan sekali kalah, silakan kalian utus seorang wakil lagi untuk menentukan menang kalah melawanku.”

“Hahaha” Cing Sau-song tertawa tergelak, sambil maju dengan langkah lebar sahutnya, “Kelihatannya aku memang harus bertarung melawan saudara Thi.”

“Setelah menyaksikan kehebatan ilmu pedang Sianseng, aku merasa kagum sekali,” kata si Tangan besi sambil menjura, lalu dia membungkukkan badan memungut pedang milik Ciu Pek-ih dan katanya lagi, “Boleh aku pinjam pedangmu?”

“Silakan!”

Kembali Tangan besi berkata kepada Cing Sau-song, “Cayhe ingin menggunakan pedang untuk minta petunjuk ilmu pedang Sianseng, oleh karena ilmu pedang yang Sianseng gunakan adalah It-ci-kiam-hoat yang tidak butuh terlalu banyak jurus serangan, maka aku ingin membatasi diri dengan sepuluh gebrakan saja, bila dalam sepuluh jurus aku tak berhasil menangkan Sianseng, anggap saja akulah yang kalah.”

Semua orang terkesiap mendengar perkataan itu, ketika menyanggupi mengalahkan Wan Beng-tin dalam dua puluh gebrakan saja dia nyaris kalah, tak disangka sekarang dia malah sesumbar akan mengalahkan Cing Sau-song dalam sepuluh gebrakan.

Si Ceng-tang tahu bahwa si Tangan besi dari empat opas termashur karena kepandaian tangan kosongnya, soal ilmu pedang jelas dia bukan tandingan si Darah dingin, tapi sekarang ia justru menantang seorang jago pedang untuk bertanding pedang, bahkan membatasi diri dalam sepuluh gebrakan, hal ini jelas sangat memandang rendah kemampuan lawan.

Terdengar si Tangan besi berkata lebih lanjut, “Oleh karena ilmu pedang yang Sianseng gunakan adalah It-ci-kiam-hoat, ilmu pedang satu huruf, maka sepuluh jurus yang akan kugunakan juga mesti diberi batasan, jurus pertama harus mengandung kata ’satu’ seperti misalnya jurus It-tham-hong-sui (satu telaga satu air bah) dari Ji-gi-bun, jurus kedua harus ada angka ’dua’ seperti jurus Ji-tok-ciau-hong (bertarung dalam pertemuan kedua) dari perguruan Hui-eng-bun, jurus ketiga pun tentu harus mengandung kata ’tiga’ seperti jurus Hong-hong-sam-tiam-tau (burung hong tiga kali mengangguk) dari perkumpulan Sin-pian-pang. Jadi tegasnya bila ilmu yang digunakan saudara Cing bukan ilmu pedang satu huruf maka kau akan dianggap kalah, sebaliknya bila Cayhe tidak menggunakan jurus dengan angka yang berurutan maka anggap saja aku yang kalah, entah bagaimana menurut pendapat Cing-sianseng?”

Sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah Cing Sau-song dipandang enteng orang lain seperti saat ini, tanpa terasa pikirnya, “Kurangajar, kalau tidak kuberi pelajaran yang setimpal hari ini, dianggapnya aku Cing Sau-song gampang dipermainkan.”

Tapi sebagai orang pintar, dia enggan masuk perangkap orang, maka bukannya marah dia malah menjawab sambil tertawa, “Saudara Thi, kau ingin merobohkan aku dalam sepuluh jurus dan bila gagal berarti akan kalah? Apakah keputusanmu itu tidak terlalu menguntungkan pihakku?”

“Cing-sianseng, aku tak berani memandang rendah dirimu, padahal aku tak yakin bisa menangkan Sianseng, daripada malu karena tak bisa mengalahkan dirimu, maka sengaja aku mencari sebuah alasan untuk menutup rasa maluku” sahut si Tangan besi sambil tertawa.

Maksud perkataan itu sangat jelas. Meski tahu tak bisa menangkan Cing Sau-song, namun untuk bertahan sebanyak sepuluh gebrakan masih bukan masalah, walaupun harus mengaku kalah, kekalahan itu tidak terlalu memalukan.

Ngo Kong-tiong, Sin Ceng-tang dan para jago lainnya merasa sangat tidak puas, mereka tak senang karena si Tangan besi mengakui kelemahan sendiri sebelum pertarungan dimulai.

Pek Huan-ji berkerut kening, baru saja ia ingin bertanya, Ciu Pek-ih sudah mengulap tangannya sambil menukas, “Aku percaya saudara Thi tentu mempunyai maksud lain.”

Sementara itu Wan Beng-tin memutar biji matanya, sebagai orang yang sangat berhati-hati ia segera menegur, “Saudara Thi, kau bilang akan menangkan Toako dalam sepuluh jurus?”

“Betul!”

“Kalau gagal menangkan pertarungan ini?”

“Anggap saja aku kalah.”

“Bagaimana kalau kalah?”

“Cayhe beserta seluruh jago segera mundur dan pulang ke kota Ciang-ciu.”

“Bila Si-ciangkun menolak?”

“Aku memang bersumpah tak akan mengalah,” pikir Si Ceng-tang di hati kecilnya.

Si Tangan besi melirik panglima perang itu sekejap, lalu sahutnya, “Jika mereka tidak pergi, aku pergi duluan.”

Wan Beng-tin segera berpikir, “Asal Tangan besi pergi meninggalkan rombongan, seakan Si Ceng-tang kehilangan lengan kanannya, mereka tak bakal bisa berbuat banyak.”

Kembali dia bertanya, “Jadi Toako hanya boleh menggunakan ilmu pedang satu huruf?”

“Benar.”

“Tidak ada batasan untuk menggunakan jurus apapun?”

“Benar!”

“Dan jurus yang kau pergunakan harus sesuai dengan angka pada jurus ke berapa pertarungan berlangsung? Bahkan jurus itu harus jurus serangan yang sudah diketahui umum?”

“Benar!”

“Jika kau tidak menggunakan jurus yang benar atau salah angka?” desak Wan Beng-tin lebih jauh.

“Anggap saja aku yang kalah.”

Wan Beng-tin memandang Cing Sau-song sekejap, Ketua Lian-in-ce itu segera mengangguk seraya berseru, “Perkataan seorang Kuncu…”

“Ibarat lari kuda yang tak bisa dibatalkan,” sambung Tangan besi.

Pelan-pelan, Cing Sau-song tampil ke tengah arena, katanya lagi sambil tertawa, “Saudara Thi, tampaknya aku banyak diuntungkan dalam pertarungan ini.”

“Silakan Sianseng menyerang duluan,” ucap Tangan besi.

Mendengar itu, Cing Sau-song segera berpikir, “Dari angka satu sampai sepuluh sudah pasti terdiri dari jurus serangan karena jurus pertahanan tak bisa dihitung sebagai satu jurus, tapi si Tangan besi kan tak bisa bertahan melulu tanpa menyerang, sebab bila begitu terus, akhirnya bakal kalah di tanganku…”

Berpikir begitu, segera ujarnya sambil tertawa, “Lantaran saudara Thi hanya memiliki sepuluh jurus, tentu saja harus disayangkan. Baiklah, kalau begitu biar aku melancarkan serangan duluan.”

Pedangnya segera dicabut keluar, diiringi kilatan cahaya panjang yang membelah bumi, dia tusuk kening si Tangan besi dengan jurus It-kiam-kong-han (pedang sakti cahaya berkilat).

Tangan besi mundur satu langkah, setelah membiarkan serangan itu lewat, dia lintangkan pedangnya sambil membacok ke muka.
Menyaksikan gerak serangan itu, Cing Sau-song terkesiap karena jurus serangan yang digunakan lawan ternyata bukan jurus pedang melainkan sebuah jurus golok yang disebut It-to-toan-tau (sekali bacok memenggal kepala), serangan itu langsung membabat kepala lawan.

Cing Sau-song memutar pedangnya sambil membabat kiri dan kanan, jurus yang digunakan adalah It-sim-bu-ji (satu hati tidak mendua), dengan satu babatan dua gerakan dia paksa Tangan besi menarik kembali senjatanya, disusul kemudian ia mendesak lawan dengan jurus It-gi-ku-heng (satu niat jalan sendirian).

Sebenarnya jurus It-sim-bu-ji adalah jurus serangan Thiam-sim-pay, sedang jurus It-gi-ku-heng merupakan jurus serangan dari Thian-san-pay, Cing Sau-song sangat menguasai kedua jurus itu bahkan bisa digunakan bersambungan tanpa memperlihatkan titik kelemahan, tak tahan semua jago bersorak memuji.

Tangan besi tidak mundur atau berkelit, dia isap perutnya hingga cekung ke dalam, begitu lolos dari babatan pedang lawan, ia kembali getarkan senjatanya dan menyerang sisi kiri kanan lawan dengan jurus Ji-put-siang-bang (dua pihak tak saling lupa).

Jurus Ji-put-siang-bang ini merupakan ilmu silat aliran Thi-pan-bun, bila sampai kena maka bukan saja kendang telinga akan rusak, korban kalau tidak mampus pun paling tidak akan gila, yang lebih hebat lagi, dia bukannya menghindar dari serangan Cing Sau-song, justru dengan serangan balasan dia punahkan ancaman yang datang.

Sekali lagi tempik sorak bergema gegap gempita.

Paras muka Cing Sau-song sama sekali tidak berubah.

“Sreeet, sreeet!” dua bacokan kilat menyilang di depan tubuh lawan, memaksa Tangan Besi menarik kembali ancamannya, inilah jurus It-sik-ji-niau (satu batu dua burung).

Tangan besi mendengus dingin, sambil membalik tangan, lagi-lagi dia menyerang dengan jurus Sam-jin-tong-hang (tiga orang jalan bersama).

Cing Sau-song keteter sehingga harus mundur tiga langkah, baru saja dia akan melancarkan serangan balasan, tiba-tiba terlintas satu ingatan dalam benaknya, pikirnya, “Kenapa aku tidak berlagak kalah saja sambil mundur? Asal si Tangan besi berhasil kupancing menyerang sebanyak sepuluh jurus, bukankah kemenangan akan berada di pihakku? Buat apa aku mesti bersusah-payah melawan? Sedikit salah perhitungan saja bukankah aku yang bakal keok?”

Maka sewaktu melihat serangan itu menghimpitnya, dia segera mundur berulang kali berlagak gelagapan.

Benar juga, si Tangan besi segera merangsek maju lebih ke depan, jurus keempat Su-bin-pat-hong (empat arah delapan penjuru) segera dilancarkan, tampak beribu cahaya pedang yang menyilaukan menusuk ketua Lian-in-ce itu dari sisi kiri dan kanan.
Tampak selapis cahaya pedang menembus jaring pedang lawan dan menjebol keluar dari kepungan, inilah jurus It-soat jian-li dari Soat-san-pay.

Tangan besi tidak memberi kesempatan kepada lawannya, jurus kelima Ngo-tok-bwe-kay (lima kali bunga bwe mekar), jurus keenam Lak-teng-kay-san (Lak Teng membuka bukit) dilancarkan berbarengan.

Begitu jurus Ngo-tok-bwe-kay dilancarkan, tampaklah lima bingkai cahaya pedang yang menyerupai lima putih bunga bwe membias di angkasa, membuat pandangan mata lawan jadi silau dan kelabakan setengah mati.

Cing Sau-song sama sekali tidak bergeming, dengan jurus It-kiam-juan-sim (sekali tusuk menembus hati) dia patahkan jurus serangan itu.

Namun begitu jurus keenam Lak-teng-kay-san dikeluarkan, ibarat kapak raksasa membelah angkasa, Cing Sau-song tidak sanggup membendung datangnya babatan itu, beruntun dia harus mundur tujuh langkah sebelum berhasil lolos dari sergapan itu.

Tangan besi tidak sungkan lagi, jurus ketujuh Jit-si-gin-ho (tujuh bintang sungai perak) dilontarkan, selapis bianglala putih membungkus seluruh angkasa dan menggulung sekujur tubuh lawan.

Cing Sau-song bukan jagoan kemarin sore, dia sadar bianglala putih yang membungkus sekeliling tubuhnya adalah hawa pedang yang maha dahsyat, sadar bila dia tak mampu membendung ancaman itu, segera dengan jurus It-kian-tiong-cing (cinta pada pandangan pertama) disusul jurus It-cian-siang-tiau (sebuah panah sepasang rajawali) dan jurus It-hoat-jian-kau (nyaris bagai di ujung tanduk) dia berusaha melindungi dirinya.

Dengan jurus serangan yang pertama tadi ia berusaha membuka jalan masuk ke balik lapisan pedang lawan, kemudian dengan jurus kedua dia belah lapisan hawa pedang lawan jadi dua bagian, baru pada jurus yang ketiga dia benar-benar berhasil mematahkan jurus Jit-sin-gin-ho itu.

“Bagus!” hardik Tangan besi lantang.

Jurus kedelapan Pat-hong-hong-yu (hujan angin di delapan penjuru) segera dilontarkan, jurus serangan ini berbeda jauh bila dibandingkan jurus keempat Su-bin-pat-hong (empat arah delapan penjuru), dengan jurus Su-bin-pat-hong tadi dia melancarkan empat tusukan pedang ke arah depan, belakang, kiri dan kanan, maka dengan jurus Pat-hong-hong-yu kali ini selain tusukan dia sertakan juga sapuan, totokan, congkelan dan babatan, sepuluh kali lipat lebih mengerikan ketimbang jurus serangan sebelumnya.

Cing Sau-song mundur selangkah sambil mengeluarkan jurus It-pay-tu-te (kalah total hancur lebur), sebuah jurus serangan dari aliran sesat, meski tak sedap terdengarnya namun sangat canggih untuk meloloskan diri dari ancaman musuh sambil melancarkan bokongan.

Mula-mula serangan Tangan besi yang mengancam dari arah belakang ditangkis, lalu tanpa menangkis ancaman yang datang dari kiri kanan, secara beruntun dia mundur sepuluh langkah.

Diam-diam Cing Sau-song kegirangan, dia tahu Tangan besi terlalu bernapsu mencari kemenangan cepat sehingga dalam waktu singkat dia telah menggunakan delapan dari sepuluh jurus yang dijanjikan, asal dia bisa bertahan dua gebrakan lagi, maka…

Mendadak ia merasa punggungnya membentur sesuatu benda dan tak bisa mundur lagi, hatinya tercekat, belum sempat berbuat sesuatu, si Tangan besi sudah mendesak lagi dan menyerang dengan jurus Kiu-cu-lian-huan (sembilan peluru berantai).

Ternyata Cing Sau-song sudah dipaksa mundur tiga langkah ketika harus menghindari jurus ketiga Sam-jin-tong-hang, kemudian mundur lagi tujuh langkah ketika menghindari serangan keenam Lak-teng-kay-san, dan terakhir mundur lagi sepuluh langkah untuk menghindari jurus kedelapan Pat-hong-hong-yu, meski para jago sudah menyingkir memberi tempat, pada akhirnya dia telah mundur hingga di depan sebatang pohon kering.

Sementara dia masih tertegun, jurus kesembilan Kiu-cu-lian-huan si Tangan besi telah tiba di depan mata.

Meskipun Kiu-cu-lian-huan hanya terdiri dari satu tusukan pedang, namun memiliki sembilan macam perubahan, ketika serangan pertama terbendung akan muncul perubahan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya, setiap perubahan ada yang kosong ada pula yang serangan nyata, membuat orang yang menghadapinya jadi kebingungan sendiri.

Cing Sau-song sadar akan kehebatan ancaman itu, karena tak ada jalan mundur lagi, terpaksa dia harus menghadapi semua ancaman dengan keras lawan keras.

Dalam waktu singkat dia melancarkan pula sembilan jurus serangan untuk mematahkan datangnya ancaman itu, It-be-tong-sian (kuda lari paling depan), It-ciam-kian-hiat (satu tusukan keluar darah), It-khi-ho-seng (satu sentakan mencapai sukses), It-bing-keng-jin (satu teriakan mengejutkan orang), It-lau-yong-gi (satu usaha langgeng abadi), It-gi-ku-heng (satu niat jalan sendiri), It-kiam-juan-sim (satu tusukan menembus hati), It-lok-jian-cong (sekali jatuh ribuan kaki) dan It-ci-tiong-goan (satu tudingan daratan Tionggoan), setiap jurus serangan yang digunakan untuk menghadapi setiap perubahan Kiu-cu-lian-huan.

“Trring, triing, triing, triiing.”

Dalam waktu singkat, ke sembilan perubahan jurus serangan itu sudah terpatahkan semua.

Begitu selesai mematahkan serangan lawan dan sadar dirinya sudah tak punya jalan untuk mundur, Cing Sau-song tak ingin mati langkah, tanpa menunggu Tangan besi melancarkan serangan, ia segera melancarkan tusukan lebih dulu dengan jurus It-hu-tong-kwan (satu lelaki menghadapi berbagai masalah).

Serangan ini boleh dibilang sangat hebat, Tangan besi segera menggetarkan pedangnya dan jurus terakhir Sip-bin-bay-hok (jebakan di sepuluh penjuru) segera dilancarkan.

Jurus Sip-bin-bay-hok Tangan besi ini justru merupakan jurus tandingan It-hu-tong-kwan Cing Sau-song, sebagai seorang jagoan tangguh, paling pantang bila terjebak dalam perangkap dari sepuluh penjuru, sebab sehebat-hebatnya seorang memang sulit untuk lolos dari kepungan maut.

Cing Sau-song tentu saja mengerti akan hal ini, begitu melihat datangnya ancaman dari mana-mana, ia segera menggunakan jurus It-hui-jiong-thian (terbang cepat menembus angkasa) untuk lolos dari kepungan.

Sebenarnya gerakan It-hui-jiong-thian ini dapat digunakan untuk lolos dari jaring pedang Sip-bin-bay-hok, seandainya Cing Sau-song berhasil melarikan diri, maka si Tangan besi akan menderita kekalahan total.

Namun secara mendadak, Cing Sau-song melihat jurus Sip-bin-bay-hok yang dipergunakan si Tangan besi ternyata sasarannya sedikit lebih rendah dari sesungguhnya, dia lebih suka tidak menusuk kepala lawan tapi lebih menitik beratkan pada dada musuh.

Dengan demikian, seandainya dia melambung ke udara dengan jurus It-hui-jiong-thian, maka sebelum tubuhnya berhasil lolos, bisa jadi sepasang kakinya sudah keburu terpapas kutung duluan.

Meski menghadapi bahaya, Cing Sau-song tidak panik, ketika jurus pertama It-hu-tang-tau tidak berhasil, dia segera mengubahnya jadi jurus kedua It-hui-jiong-thian, ketika jurus inipun gagal ia segera merubahnya jadi gerakan ketiga It-seng-put-pian (apa yang sudah jadi tak akan berubah).

Sebetulnya bila jurus It-seng-put-pian ini dilancarkan sejak awal, jurus ini dapat menghasilkan pertahanan yang kuat sekali bagaikan sebuah benteng baja dan tentu saja tak usah menguatirkan kehebatan jurus Sip-bin-bay-hok lawan, tapi berhubung gerakan ini dipakai untuk keadaan darurat, terpaksa dia ubah ancamannya dengan menusuk pergelangan tangan si Tangan besi sekaligus menangkis datangnya ancaman musuh.

Dengan melakukan gerakan ini, selain bisa melindungi diri dari ancaman si Tangan besi, andaikata lawan bertekad mengadu jiwa pun Cing Sau-song yakin masih bisa menangkis serangan lawan dengan mengorbankan pergelangan tangan sendiri.

“Ploook, ploook!”

Tangan besi sama sekali tidak mengubah arah serangannya dan tangannya benar-benar tertusuk telak oleh sepasang pedang Cing Sau-song hingga senjatanya terjatuh ke tanah.

Belum hilang rasa girang Cing Sau-song, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat, ternyata ujung pedangnya sama sekali tidak menusuk pergelangan tangan lawan sebaliknya menusuk sebuah benda yang keras berduri atau sebangsa lempengan baja.

Segera, ketua Lian-in-ce ini menggetarkan senjatanya sambil melakukan tangkisan, waktu itu jurus Sip-bin-bay-hok Tangan besi sudah tiba di depan mata, seandainya waktu itu Tangan besi masih berpedang, maka Cing Sau-song akan mengikuti gerakan itu dengan mengubah jurus serangannya jadi It-seng-put-pian dan serangan musuh pasti akan terbendung semua.

Tapi keadaannya saat ini sama sekali berbeda, lantaran musuh tak berpedang, maka ketika ujung senjata Cing Sau-song menggesek di atas lengan si Tangan besi, senjatanya itu malah mental balik ke belakang.

Ternyata si Tangan besi telah menggunakan tangannya sebagai pengganti pedang untuk menghabiskan jurus serangan Sip-bin-bay-hok!

Cing Sau-song sangat kaget, dalam gugup dan paniknya ia segera mengeluarkan jurus Thian-lo-te-wang (jala langit jaring bumi), tanpa menarik kembali telapak tangannya, dia gunakan sepasang siku untuk membendung sepasang telapak tangan lawan.

Jurus serangan Tangan besi ini merupakan jurus kesepuluh atau jurus terakhir, akhirnya Sip-bin-bay-hok pun mengenai sasaran kosong.

Untuk sesaat lamanya, kedua orang itu hanya saling berhadapan tanpa bergerak.

Dalam pada itu Liu Ing-peng, Thian Toa-ciok dan lain-lain merasa amat sedih, karena Cing Sau-song tidak roboh, ini berarti Tangan besi telah mengalami kekalahan.

Sebaliknya Koan Tiong-it, Mok Kiu-peng, Kau Cing-hong dan Beng Yu-wi girang setengah mati karena ketua mereka berhasil membendung jurus Sip-bin-bay-hok lawan.

Lama sekali Cing Sau-song dan Tangan besi saling berpegangan sambil bertukar pandang, kemudian mereka mengendorkan tangan masing-masing.

“Sepuluh jurus sudah lewat,” kata Tangan besi.

“Ya, dan kau telah memenangkan pertarungan ini,” sambung Cing Sau-song. Tiba-tiba dia membalikkan badan seraya berseru keras, “Kembali ke markas!”

Kawanan jago Lian-in-ce saling berpandangan dengan perasaan tercengang, namun tak seorang pun berani bersuara, tak sampai setengah peminuman teh kemudian seluruh kawanan jago itu sudah lenyap tak berbekas.

Mok Kiu-peng adalah komandan pasukan, tapi sebelum meninggalkan tempat itu ia sempat menjura ke arah Thian Toa-ciok dari kejauhan, tampaknya orang ini menaruh kesan yang baik terhadap opas Thian.

Lau Hiat-kong sendiri pun sempat bertukar pandang dengan Ngo Kong-tiong, pertarungan tiga babak tadi telah menumbuhkan rasa kagum di hati masing-masing.

Cing Sau-song sendiri sempat menjura ke arah Tangan besi sambil memuji, “Anda benar-benar mengagumkan!”

“Ah, yang berhasil Cayhe menangkan bukan ilmu silat, sungguh memalukan,” sahut Tangan besi merendah.

“Saudara Thi tidak perlu merendah, mau adu akal atau otot, yang jelas aku sudah kalah, sampai jumpa di lain kesempatan,” seru Cing Sau-song sambil tertawa.

Kemudian seluruh anggota Lian-in-ce berlalu dari arena pertarungan, sebuah pertempuran yang sebenarnya akan mengubah tempat itu jadi ladang pembantaian akhirnya berlangsung damai.

Thian Toa-ciok benar-benar tak habis mengerti, setelah termangu beberapa saat, tanyanya pada Liu Ing-peng, “Liu kecil, kenapa mereka malah pergi setelah berhasil menangkan pertarungan ini?”

“Aku sendiri pun kurang jelas,” jawab Liu Ing-peng termangu, “mungkin saja Thi-tayhiap yang telah menangkan pertarungan ini.”

Melihat para jago dibuat kebingungan atas kejadian itu, Ciu Leng-liong segera menyela sambil tertawa, “Pada saat terakhir, untuk menghadapi jurus Sip-bin-bay-hok saudara Thi, Cing Sau-song telah menggunakan jurus serangan Thian-lo-te-wang, satu jurus serangan di luar ilmu pedang satu huruf sehingga dialah yang kalah.”

“Oooh, rupanya begitu” sekarang Liu Ing-peng dan Thian Toa-ciok baru paham apa yang sebenarnya telah terjadi.

Dalam pada itu, Si Ceng-tang telah berkata lagi, “Saudara Thi, boleh aku menanyakan satu hal?”

“Katakan!”

“Aku hanya heran, padahal semua tahu kalau Cing Sau-song sangat hebat dan berilmu tinggi, belum tentu ada jagoan yang sanggup menghadapinya, tapi saudara Thi berani menantangnya untuk mengalahkan dia dalam sepuluh jurus, dan aku lihat begitu cepat saudara Thi menyanggupi tantangan ini, bila dipikir kembali sekarang, rasanya…rasanya aku jadi bingung sendiri.”

Tangan besi segera tersenyum. “Tajam amat pandangan mata Si-ciangkun, kemenangan ini sebenarnya berhasil kuraih secara beruntung, padahal bicara soal ilmu silat, aku hanya mampu soal tenaga dalam dan sepasang tangan besi, sementara kepandaian lain boleh dibilang amat cetek. Jika harus bertarung dalam jangka panjang, dapat dipastikan aku akan keok. Sayangnya dia telah melanggar satu penyakit kecil, sok pamer, sok hebat dan gemar cari keuntungan dari kelemahan orang lain.”

“Saudara Thi,” sela Ngo Kong-tiong, “Bila kau pun bukan tandingan Cing Sau-song, apalagi jago lainnya yang hadir di sini termasuk Lohu, saudara Ciu, saudara Si, saudara Ciu dan lainnya, apa maksudmu mengatakan kalau hanya mencari keuntungan dari kelemahan orang?”

“Mencari keuntungan dari kelemahan orang termasuk kejahatan manusia yang sukar dihindari, apalagi aku memang sengaja memancing dia masuk perangkap, jadi sebenarnya perkataanku bukan bermaksud menyindir Cing Sau-song. Bicara terus terang, aku menaruh kagum terhadap orang ini, dia tenang, mantap, pintar dan cekatan, kecepatan reaksinya jauh di atas kemampuanku, andai kami harus bertarung dalam jangka waktu panjang, niscaya kekalahan berada di pihakku, itulah sebabnya aku mesti mengalahkan dia dengan akal, aku sengaja membatasi sepuluh jurus pertarungan dengan syarat dia hanya boleh menghadapiku dengan ilmu pedang satu huruf.”

“Saudara Thi, kepandaian silat yang dimiliki Cing Sau-song memang sangat hebat,” timbrung Ciu Pek-ih pula. “Aku pernah bertarung melawannya dan ternyata aku yang punya nama lantaran ilmu pedang, akhirnya dikalahkan dia dengan pedang pula, kehebatannya sungguh mengagumkan. Meski kau membatasi dia hanya boleh menggunakan ilmu pedang satu huruf, toh kau sendiri pun hanya membatasi diri dengan sepuluh gebrakan, jadi menurut pendapatku, kau tidak mendapat keuntungan darinya.”

Sambil tertawa si Tangan besi menggeleng, “Padahal kalau mau bicara sejujurnya, dia lebih terikat ketimbang aku, biar aku memakai jurus dengan angka yang berurutan, namun pilihanku lebih luas, sementara dia hanya dibatasi satu huruf saja, jadi posisinya yang lebih dirugikan, Seperti misal jurus ketujuh, aku punya banyak pilihan, bisa saja aku memakai jurus Jit-seng-poan-gwe (tujuh bintang mendampingi rembulan) dan bukannya jurus Jit-si-gin-ho, kemudian jurus kedelapan selain Pat-hong-hoUg-yu, aku bisa memakai jurus Pat-bin-wi-hong (bergaya di delapan penjuru) atau Pat-sian-ko-hay (delapan dewa menyeberangi lautan) atau bahkan Pat-hong-ya-cian (pertarungan malam di delapan penjuru), sebaliknya ilmu pedang satu hurufnya? Pilihannya terbatas sekali, dia harus selalu memakai jurus yang diawali dengan huruf ’It’ (satu), jadi akulah yang sangat diuntungkan dalam pertempuran ini, kerugian yang harus dia pikul mungkin lima kali lipat lebih berat.”

“Hahaha…mendapat keuntungan sih benar, tapi belum sampai lima kali lipat,” seru Thian Toa-ciok sambil tertawa tergelak.

Tangan besi ikut tertawa. “Kerugiannya yang pertama, dia tak bisa menggunakan kelebihan ilmu pedangnya untuk menghadapiku, kerugian kedua, karena dia berpendapat asal bisa bertahan sepuluh jurus maka kemenangan berada di pihaknya, maka dia hanya bertahan sementara kesempatan menyerang berada di pihakku, kerugian ketiga karena aku yang pegang peranan dalam penyerangan, maka aku punya kesempatan untuk mendesaknya hingga mundur ke depan pohon hingga menutup jalan mundurnya, kerugian yang keempat aku membatasi dia hanya boleh menggunakan ilmu pedang satu huruf, padahal sebelum bertarung dengannya, aku sudah mengamati terus semua jurus serangannya yang digunakan untuk menghadapi Ciu-shiacu tadi, khususnya jurus It-hui-jiong-thian itu. Karena sudah kuduga dia bakal menggunakan jurus ini, maka ketika menggunakan jurus Sip-bin-bay-hok tadi, sengaja aku merendahkan gerak seranganku, coba kalau tidak, mungkin dia sudah lolos dari kepungan. Lalu kerugian yang terakhir, ketika menggunakan jurus Thian-lo-te-wang untuk membobol jurus Sip-bin-bay-hok tadi, sebenarnya dia tidak kalah, tapi lantaran sudah ada batasan sejak awal, maka dia jadi kalah.”

“Ooh…rupanya begitu…” kini semua jago baru mengerti apa yang sebetulnya telah terjadi.

Kembali Tangan besi berkata lebih jauh, “Aku berani mengajaknya bertaruh sepuluh jurus karena dalam sepuluh jurus itu aku sudah banyak diuntungkan, bila sudah begitu masih belum mampu mengunggulinya, maka bertarung lebih jauh pun akhirnya kekalahan tetap berada di pihakku, itulah sebabnya aku mengajak dia menyelesaikan pertempuran ini secepatnya. Kenyataan Cing Sau-song tetap mampu menghadapiku hingga ju rus terakhir, walau dia kalah secara mengenaskan, tapi nyatanya dia tetap pegang janji dan segera menarik pasukannya tanpa menggerutu, kebesaran jiwanya betul-betul amat mengagumkan hatiku…”

“Saudara Thi,” mendadak Ciu Pek-ih menyela lagi, “meski kau sudah mendapat lima keuntungan darinya, tapi sewaktu Cing Sau-song menusukmu dua kali dengan jurus It-seng-put-pian tadi, kau berhasil menangkisnya dengan memakai tangan besimu, aku rasa keberhasilanmu bukan lantaran mendapat keuntungan? Aku percaya kau telah mengandalkan kepandaian aslimu.”

Mendengar hal itu, tanpa terasa perhatian semua orang ikut dialihkan ke tangan si Tangan besi, namun sepasang tangan itu kelihatan tak jauh berbeda dengan tangan biasa, kecuali lebih berotot, lebih kekar dan kuat.

“Tak heran saudara Thi dipanggil orang si Tangan besi,” puji Si Ceng-tang kemudian sambil tertawa. “Aku bilang dia lebih cocok disebut si Tangan sakti”

“Aduh celaka” tiba-tiba Ciu Leng-liong menjerit tertahan.

“Apa yang tak beres?”

“Kita telah melukai Cecu kesembilan dari Lian-in-ce, si To-ya raja bengis Yu Thian-liong bahkan telah menawannya, aku lupa menyerahkan kembali orang itu kepada mereka.”

“Ya, aku malah sempat membunuh Cecu kedelapan mereka, Sepasang golok pengejar nyawa Be-ciangkwe.”

“Waah…bisa berabe urusannya,” gumam Si Ceng-tang sambil menghentakkan kakinya dengan gelisah.

“Ya, betapa besarnya jiwa Toa-cecu mereka, bisa jadi orang-orang itu akan membalaskan dendam bagi kematian saudaranya,” sambung Ngo Kong-tiong.

Setelah berunding beberapa saat, akhirnya mereka putuskan untuk mengobati dulu luka yang diderita Yu Thian-liong, kemudian setelah membebaskan totokannya, dia dibiarkan pergi meninggalkan tempat itu.

Lantaran identitasnya sudah ketahuan, semua orang pun tidak melanjutkan penyaruannya.

Ketika merka mulai menghitung sisa kekuatan yang ada, diketahui rombongan Liu Ing-peng yang terdiri dari sepuluh orang, kini sudah mati delapan orang, sedang rombongan sepuluh orang yang dipimpin Thian Toa-ciok kehilangan enam orang prajurit.

Setelah tiba di sebuah kota kecil dan mencari kabar, diketahui rombongan Coh Siang-giok baru dua jam berselang melewati tempat itu.

Menjelang senja, karena sudah seharian bertempur hingga badan mulai terasa lelah, rombongan besar itu menuju ke sebuah losmen untuk mencari kamar, pada saat itulah tampak ada dua orang lelaki dengan membopong sebuah bungkusan besar ransum berkelebat lewat memasuki losmen itu.

Dengan ketajaman mata Si Ceng-tang, sekilas pandang saja mereka telah mengenali kedua orang itu, lelaki berlengan tunggal dan lelaki berkaki tunggal, wajah mereka buruk dan menyeramkan, siapa lagi kalau bukan anggota Thian-jan-pat-hui?

Segera Si Ceng-tang mengutus empat orang prajurit untuk memata-matai kedua orang itu, sementara mereka mencari sebuah losmen kecil untuk beristirahat.

Setelah mendapat tempat pemondokan, orang-orang itu baru merundingkan operasi yang akan dilakukan malam harinya.

Menurut pendapat mereka, Coh Siang-giok dan rombongan pasti tak akan melakukan perjalanan di tengah malam buta, saat itu rombongan pasti sedang beristirahat untuk mengembalikan tenaga.

Maka setelah mereka beristirahat sejenak di kamar, bersantap malam dan membersihkan badan, dengan semangat tinggi kawanan jago itu berkumpul lagi di sebuah kamar kecil untuk merundingkan rencana lebih jauh.

Saat itulah keempat prajurit yang diutus memata-matai telah pulang memberikan laporannya.

Ternyata dugaan mereka benar, rombongan itu berjumlah dua belas orang dan opas Sim yang mereka kenal pun berada dalam rombongan itu, tapi mereka tidak melakukan sesuatu gerakan, delapan manusia cacad juga kelihatan tinggal dalam kamar, si Raja pemusnah Coh Siang-giok menempati sebuah kamar seorang diri, sementara dua manusia bengis dari Leng-lam dan Sim In-san menempati kamar paling belakang.

Selesai mendengar laporan, kawanan jago itupun mulai berunding, ujar Ciu Pek-ih, “Sepanjang perjalanan hingga tiba di sini, Coh Siang-giok dan rombongan tentu sudah meningkatkan kewaspadaan untuk berjaga-jaga atas segala kemungkinan, betul jumlah kita lebih banyak ketimbang mereka, namun bila tidak menggunakan siasat sulit rasanya untuk membekuk mereka semua.”

“Konon delapan manusia cacad adalah kawanan jago cacad badan yang memiliki ilmu silat sangat aneh,” kata Ngo Kong-tiong pula, “Selain telengas, kepandaian mereka menggunakan racun juga sangat hebat, aku dengar kedelapan orang itu merupakan sekawanan jago yang paling memusingkan kepala dari perkumpulan Thian-jan-pang, lebih baik kita hati-hati sewaktu menghadapi mereka.”

“Menurut pendapatku, justru orang yang paling sukar dihadapi adalah Sepasang manusia jahat dari Leng-lam, Si Ceng-jong dan Si Ceng-hong. Ketika berusaha menangkap kedua orang ini, dua orang saudara seperguruanku telah kehilangan nyawa, kalau bukan di saat terakhir adik keempatku menjebol pedang langitnya dengan ilmu pedang andalannya, dan adik ketiga tidak menjebol ilmu golok mereka dengan ilmu tendangannya, mungkin tak gampang untuk membekuk kedua orang ini

“Dua iblis jahat ini memang bedebah!” umpat Si Ceng-tang tiba-tiba sambil menggebrak meja.

Semua orang tidak mengerti apa sebabnya panglima perang ini marah, setelah tertegun sejenak mendadak si Tangan besi berkata, “Si-ciangkun, boleh aku mengajukan satu pertanyaan?”

Biarpun belum reda amarahnya, Si Ceng-tang tak berani kurang hormat terhadap si Tangan besi, segera sahutnya, “Soal apa? Katakan saja saudara Thi, asal tahu pasti akan kujawab.”

“Bila nanti menyinggung soal rahasia pribadi Ciangkun, aku mohon Ciangkun sudi memaafkan,” kata Tangan besi lagi sambil tertawa.

“Katakan saja saudara Thi.”

“Dua puluh tahun berselang, di keluarga Si terdapat tiga bersaudara yang disebut orang Leng-lam-sam-hiap (tiga pendekar dari Leng-lam), cara kerja mereka lurus, jujur, menegakkan kebenaran dan keadilan. Tapi lama kelamaan Toako dari ketiga orang itu mulai tidak puas dengan sepak terjang saudara kedua dan ketiganya, karena bukan saja ilmu silat mereka berdua semakin bergeser ke aliran sesat, tindak-tanduk dan sepak-terjang mereka pun makin bengis, buas dan telengas, ketika mereka berdua ditegur orang tuanya, ternyata mereka malah membunuh orang tua sendiri. Gurunya pun dicekoki obat pemabuk kemudian dibunuh mereka berdua.”

“Dalam gusarnya Toako mereka pun bentrok dengan kedua orang saudaranya, tapi pertarungan satu lawan dua berakhir tragis, bahkan nyaris sang Toako tewas di tangan dua orang saudaranya.”

“Setelah peristiwa itu, sang Toako pun pergi ke kota Ciang-ciu dan sejak itu tak pernah muncul lagi dalam dunia persilatan, mungkin dia kecewa dan putus asa. Toakonya ini konon bernama. Si Ceng-tong, kepandaian yang diandalkan adalah Tombak sakti.”

Ketika berbicara sampai di sini, si Tangan besi berhenti sejenak sambil mengawasi wajah Si Ceng-tang, kemudian terusnya, “Sebagai seorang opas, aku tahu persis dan hapal sekali dengan asal-usul setiap buronan maupun narapidana.”

“Jadi kau sudah tahu semuanya…jadi kau sudah tahu semuanya…” gumam Si Ceng-tang sambil duduk termangu.

“Bukannya sudah tahu, aku hanya menduga saja menurut analisaku, bila salah mohon Ciangkun sudi memaafkan.”

Lama sekali Si Ceng-tang duduk termangu, akhirnya setelah berhasil menenangkan hati dia berkata, “Dugaanmu memang benar, akulah Si Ceng-tang!”

Kembali semua orang terperanjat, siapa pun tak menyangka kalau perburuan yang dilakukan Si Ceng-tang kali ini tak lain adalah untuk menangkap kedua adik kandungnya sendiri, untuk sesaat semua orang jadi bingung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Terdengar Si Ceng-tang bergumam lagi, “Justru karena mereka berdua adalah adik kandungku, semakin tak mungkin bagiku untuk berpeluk tangan membiarkan mereka berbuat semau sendiri, oleh sebab itu aku mohon kalian semua sudi memberi muka kepadaku ketika berupaya menangkap buronan itu, syukur bisa ditawan hidup-hidup, kalau tak bisa, lebih baik bunuh saja daripada membuat malu nama keluarga saja.”

“Itulah tujuanku mengungkit masalah ini,” ujar Tangan besi dengan muka serius. “Sebab dalam pertarungan nanti, ujung senjata tak bermata.”

“Jangan sekali-kali pilih kasih sewaktu mengemban tugas negara,” tukas Si Ceng-tang dengan wajah serius. “Kalau aku sebagai pejabat pemerintah pilih kasih, siapa lagi yang mau tunduk kepadaku? Aku mengerti, bukankah saudara Thi ingin mencari tahu aliran ilmu silat yang dimiliki kedua adikku itu.”

Bersemu merah paras muka Tangan besi karena jengah, segera katanya, “Mencari tahu sih tidak berani, hanya saja…”

Si Ceng-tong tertawa tergelak. “Dua puluh tahun berselang, tombakku gagal membendung serangan mereka berdua hingga kedua orang tuaku jadi korban keganasan mereka, tapi dua puluh tahun kemudian aku telah berhasil menciptakan kepandaian khusus untuk menjebol ilmu pedang langit dan golok ganas mereka, biar aku saja yang menghadapi mereka berdua…tolong Cuwi bersedia memberi muka kepadaku untuk menyelesaikan masalah pribadi ini”

“Ciangkun jangan berkata begitu,” sela Ngo Kong-tiong terharu, “Sudah menjadi kewajiban setiap warga negara untuk menyumbangkan tenaga dan pikiran demi keamanan negara, apalagi kami adalah anggota dunia persilatan yang selalu berusaha untuk menjunjung tinggi kebenaran.”

“Benar,” sambung Ciu Pek-ih, “Kami semua sangat mengagumi Ciangkun, mesti korbankan nyawa, kami siap untuk berjuang, Ciangkun tak usah kuatir.”

Pek Huan-ji ikut berkata, “Aku rasa tujuan saudara Thi adalah untuk memilah mana yang benar dan mana yang salah, tak mungkin dia salah mengartikan niat Ciangkun.”

Si Ceng-tang segera berbangkit, digenggamnya tangan si Tangan besi erat-erat, katanya, “Saudara Thi, maaf bila telah menaruh salah paham kepadamu, rupanya selama ini aku telah menilai kebesaran jiwamu dari pandanganku yang sempit”

Tangan besi balas menggenggam tangannya, rasa terharu bercampur kagum membuatnya tak mampu berkata untuk beberapa saat lamanya.

Ngo Kong-tiong segera tertawa tergelak, “Hahaha…kalau memang begitu, mari kita lanjutkan perundingan bagaimana cara membekuk Coh Siang-giok.”

“Benar,” kata Ciu Pek-ih setelah berpikir sejenak, “Kepandaian silat yang dimiliki si Raja pemusnah sangat hebat, ambisinya besar, pergaulannya luas, kecerdasan otaknya tiada duanya, bisa jadi Cing Sau-song sengaja memberi kesempatan kepada kita untuk melanjutkan perburuan, karena dia anggap kemampuan yang kita miliki sekarang masih bukan tandingan rombongan itu.”

“Sampai di mana kehebatan ilmu silat yang dimiliki Coh Siang-giok?” tak tahan Thian Toa-ciok bertanya.

“Aku sendiri pun kurang tahu,” Ciu Pek-ih menghela napas panjang, “tapi aku dengar Bu-tek Kongcu yang di masa lalu pernah membikin pusing banyak orang, telah dibikin keok olehnya hanya dalam pertarungan dua ratus jurus, padahal jika aku yang mesti berduel melawan Bu-tek Kongcu, mungkin belum sampai tiga gebrakan sudah keok.”

Ciu Pek-ih memang pernah bertarung melawan Bu-tek Kongcu, termasuk juga Pek Huan-ji. Pertempuran waktu itu boleh dibilang paling sengit dan tak akan pernah terlupakan, kawanan jago yang ikut dalam pertarungan waktu itu hampir semuanya mati mengenaskan, bahkan mereka berdua pun nyaris jadi korban.

Dalam kejadian itu, si Pengejar nyawa dari empat opas pun mesti berjuang mati-matian sebelum akhirnya berhasil membunuh Bu-tek Kongcu.

Padahal kepandaian silat yang dimiliki Coat-miat-ong (si Raja pemusnah) masih jauh di atas kemampuan Bu-tek Kongcu.

Setiap orang tahu kalau Raja pemusnah memiliki kepandaian yang menakutkan, tapi anehnya, kenapa Ciu Pek-ih masih bersedia menampilkan diri untuk turut serta dalam perburuan terhadap Coh Siang-giok, sebenarnya ada apa di balik kesemuanya itu?
Apa mungkin karena naluri kependekarannya?

Berbeda dengan Tangan besi, dia adalah seorang opas, menangkap kembali buronan yang kabur merupakan salah satu tugas hariannya, jadi keterlibatan orang ini masih bisa diterima dengan akal sehat.

Terdengar Tangan besi berkata lagi, “Si-ciangkun dan Ciu-ciangkun adalah panglima perang di garis depan, opas Thian dan opas Liu adalah jago unggulan dalam ketentaraan, Ngo-losianseng adalah pemimpin sekumpulan benteng, sementara Ciu-heng dan Pek-lihiap adalah pimpinan Pak-shia, jadi kalau bicara soal memburu buronan, semestinya akulah yang paling sesuai.”

“Kami siap mendengar petunjuk saudara Thi,” kata Si Ceng-tang kemudian Sambil tertawa.

“Menurut pendapatku, daripada menyerang secara fisik lebih baik menyerang secara emosi, sebelum menguasai musuh kita, mesti menguasai dulu setiap peluang dan kemungkinan.”

—-

Kejadian apa lagi yang akan dialami Thi-jui (si Tangan besi) dalam usahanya menangkap buronan kelas kakap itu?

Tugas apa pula yang dibebankan ke pundak Put-cing (si Tanpa perasaan)?

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

3 Comments »

  1. Aduh kok ceritanya ngak ditamatin ya …..kapan ya bisa dilanjutkan sampai tamat ? Tolong kasih kabar ya ….trims.

    Comment by Nicole — 29/07/2010 @ 10:50 am

  2. Salam, saya ngak mengerti bagaimana cara bekerjanya ini Kumpulan Cerita Silat…ada yang bisa bantu untuk kasih penerangan ngak BTW saya lagi cari cerita SIN TIAUW HIAP LU , tolong donk kasih adv. bisa dapat dimana ? Trims ya …

    Comment by nicole — 18/08/2010 @ 9:06 am

  3. lanjutannya mana? Ceritanya keren nih. Beda dgn versi komik. Kyknya timeline komik, adalah stlh novel.
    Dimana ya cari novel 4 opas di surabaya?

    Comment by louis — 26/10/2010 @ 4:21 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: