Kumpulan Cerita Silat

28/09/2009

Pendekar Baja (29)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 10:14 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)
Senyum Koay-lok-ong tampak lembut, lenyap perbawanya sebagai seorang gembong penguasa yang malang melintang, dengan suara lirih yang dibuat-buat ia berkata, “Bagaimana kalau kumasuk ke situ dengan perlahan, akan kulihat dia sekejap saja, boleh?!”

“Jika Ongya ingin masuk, siapa berani melarang,” ujar Eng-ji.

“Tapi Ongya kan tahu Nona mudah terkejut,” tukas Yan-ji. “Pada waktu Nona sedang tidur, siapa pun dilarang mengganggunya. Bukankah Ongya yang memberikan perintah demikian ini.”

“Wah, lantas…lantas bagaimana…” Koay-lok-ong merasa ragu. Ia berpaling dan berkata kepada Sim Long, “Tentunya aku tidak boleh melanggar perintah sendiri di depan kawanan budak ini, bukan?”

“Betul,” kata Sim Long tersenyum.

“Jika…jika begitu, apakah kita pergi saja?”

“Ya, pergi saja,” jawab Sim Long.

Tak terpikir olehnya Koay-lok-ong yang biasanya malang melintang itu sekarang tunduk kepada seorang nona, bila nona ini benar orang yang diduganya itu, maka caranya dia mengatasi Koay-lok-ong sungguh jauh di luar perkiraannya.

Baru saja Koay-lok-ong membalik tubuh, tiba-tiba dari dalam berkumandang suara lembut bertanya, “Apakah Ongya yang datang?”

Seketika Koay-lok-ong berseri-seri, tapi di mulut ia menjawab, “Tidurlah, boleh kau tidur saja!”

Eng-ji mencibir dan mendesis, “Jelas bikin orang terjaga bangun, tapi malah suruh orang tidur.”

Koay-lok-ong berlagak tidak mendengar, serunya pula, “Biarlah kudatang sebentar lagi.”

“Jika sudah datang, kenapa Ongya tidak masuk kemari,” kata suara lembut di dalam itu dengan tertawa.

“Jika masuk ke situ kan tambah mengganggu tidurmu?” ujar Koay-lok-ong.

“Jika Ongya datang kemari, biarpun hamba tidak tidur beberapa hari juga tidak menjadi soal,” ujar suara halus itu.

Suaranya begitu lembut, begitu hangat, begitu indah, bahkan nadanya membawa semacam rasa yang menggetar hati dan menimbulkan kasih sayang orang.

Mendengar suara itu, seketika mata Sim Long terbeliak.

Dengan tertawa Koay-lok-ong berkata, “Jika demikian, baiklah kumasuk ke situ, cuma…di sini masih ada seorang tamu yang juga ingin berkenalan denganmu, apakah kau suka menemuinya?”

“Jika Ongya membawanya ke sini, tentu dia seorang tokoh luar biasa, kalau hamba dapat bertemu dengan tokoh demikian tentu saja sangat bahagia,” jawab suara lembut itu.

Koay-lok-ong menarik lengan baju Sim Long dan mendesis, “Coba dengar, betapa manis mulutnya itu.”

“Memang hebat,” ujar Sim Long tersenyum.

Segera Eng-ji dan Yan-ji membukakan pintu dan berucap, “Silakan, Ongya!”

Di balik pintu ternyata merupakan dunia yang lain, dunia bunga.

Dalam ruangan di mana-mana hanya bunga belaka dan hampir tidak tertampak barang lain. Beribu tangkai bunga menciptakan sebuah surga yang memesona.

Di tengah lautan bunga yang berwarna-warni berbaring setengah bersandar seorang perempuan mahacantik berbaju putih seperti salju dengan rambut panjang terurai, alisnya lentik, matanya jeli, muka ayu tanpa berpupur. Kumpulan bunga sejagat ini ternyata tidak dapat membandingi kecantikannya.

Melihat dia, jantung Sim Long berdebar dengan keras.

Si dia ternyata benar orang yang diduga oleh Sim Long itu.

Dia bukan lain adalah Pek Fifi yang sudah lama tiada kabar beritanya.

Kerlingan mata Pek Fifi yang lembut itu berputar sekejap pada wajah Sim Long, hanya kerlingan sekejap itu saja sudah jauh melebihi beribu kata.

Kerlingan mata yang indah itu serupa ingin menumpahkan rasa menyesal, rasa girang, rasa minta maaf dan juga seperti rasa dongkol, tapi lebih mirip juga rasa cinta yang tak terhingga…

Namun di mulut nona itu berkata lembut, “Maaf, bila hamba tidak kuat berdiri menyambut kedatangan Ongya.”

“Berbaring saja…biar tetap berbaring saja,” kata Koay-lok-ong. Lalu ia menarik Sim Long ke depan dan berucap pula dengan tertawa, “Ini Sim-kongcu, dia sangat ingin menemuimu.”

Dalam sekejap itu timbul juga berbagai pikiran dalam benak Sim Long.

Apakah Koay-lok-ong memang tidak tahu Fifi kenal padanya? Apakah si dia sengaja berlagak tidak mengenalnya? Apakah aku juga mesti pura-pura tidak kenal dia?

Meski biasanya Sim Long dapat mengambil sesuatu keputusan dengan cepat dan tepat, tapi dalam sekejap ini ia menjadi bingung, sebab ia tahu di depan Koay-lok-ong tidak boleh berbuat salah satu langkah pun.

Didengarnya Pek Fifi lagi menghela napas dan berkata, “Sudah jelas Ongya mengetahui hamba kenal Sim-kongcu, mengapa engkau sengaja bicara demikian?”

Koay-lok-ong menepuk dahi sendiri dan berseru, “Ahh, kiranya Sim-kongcu yang pernah kau singgung itu ialah Sim-kongcu yang ini?!”

Fifi tertawa lembut, “Tempo hari selagi hamba terlunta-lunta di dunia Kangouw, kalau tidak berulang-ulang mendapat pertolongan Sim-kongcu ini, mungkin…mungkin hamba tidak dapat melayani Ongya seperti sekarang ini.”

“Wah, jika begitu, rasanya aku harus berterima kasih kepadanya,” ujar Koay-lok-ong tertawa.

“Ah, mana kuberani,” ucap Sim Long.

“Sungguh hamba sangat senang bahwa Sim-kongcu hari ini dapat berkunjung ke sini,” kata Fifi.

“Biarlah kuberi tahukan padamu, saat ini dia dan kita sudah merupakan orang sekeluarga sendiri,” tutur Koay-lok-ong.

“Hah, apa…apa betul?” seru Fifi, tampaknya sangat senang.

“Masa tidak betul?” kata Koay-lok-ong. “Biarpun aku berdusta kepada orang sejagat juga takkan berdusta kepadamu.”

“Wah, sungguh peristiwa menggembirakan, betapa pun hamba harus memberi selamat kepada kalian untuk minum secawan,” seru Fifi sambil meronta untuk turun dari tempat tidur lautan bunga itu.

Cepat Koay-lok-ong memburu maju untuk memegangnya, “Eh, jangan melelahkan diri, bila aku ingin minum arak tentu dapat kuminta dilayani orang lain.”

“Ongya jangan khawatir, saat ini hamba sudah sehat,” ujar Fifi. “Apalagi, pada saat kedua tokoh besar zaman ini bertemu, kalau hamba tidak dapat menyuguhkan arak sendiri kepada kalian, tentu aku akan menyesal selama hidup.”

Perlahan ia melepaskan pegangan Koay-lok-ong dan berjalan keluar dengan lemah gemulai.

Memandangi bayangan punggung si dia, Koay-lok-ong berucap dengan gegetun, “Dia baik dalam segala hal, hanya kesehatannya yang kurang.”

Lalu ia berpaling dan tanya Sim Long, “Bagaimana pendapatmu?”

Sim Long tersenyum, tapi sengaja menghela napas dan berkata, “Jika si dia sudah ada yang punya, apa yang dapat kukatakan lagi.”

“Wahai Sim Long, apakah engkau cemburu padaku?” tanya Koay-lok-ong sambil mengelus jenggotnya.

Sim Long tertawa, “Bukankah Ongya justru berharap agar orang she Sim cemburu padamu?”

“Hahaha,” Koay-lok-ong tertawa keras. “Kemampuan Sim Long sungguh sukar ditandingi seribu orang, ketajaman mulut Sim Long juga sukar dilawan, bilamana aku disuruh memilih satu di antara Sim Long dan Pek Fifi, maka aku lebih suka memilih Sim Long.”

“Terima kasih,” kata Sim Long sambil menjura.

Mendadak Koay-lok-ong berhenti tertawa, ditepuknya pundak Sim Long dan berkata, “Bagus, hari ini kita harus minum sampai mabuk.”

Dalam pada itu Pek Fifi tampak muncul lagi dengan gemulai serupa dewi kahyangan. Yan-ji dan Eng-ji mengikut di belakangnya, yang seorang membawa talam berisi santapan dan yang lain membawa poci arak dengan piala emas.

“Tiada sesuatu yang dapat kusuguhkan kepada Sim-kongcu, hanya arak yang hamba suling sendiri ini biasanya dipuji Ongya sebagai lumayan rasanya, mungkin dapat sekadar memenuhi selera Kongcu,” demikian Pek Fifi bertutur dengan tersenyum manis.

“Ongya adalah ahli penilai, bila Ongya bilang baik, apa pula yang perlu disangsikan lagi?” ujar Sim Long dengan tertawa.

Belum habis ucapannya, Yan-ji yang membawa poci arak mendadak menjerit kaget, entah kesandung apa, mendadak tubuhnya mendoyong ke arahnya. Cepat Sim Long menahannya, ketika tangan bersentuh tangan, dirasakan Yan-ji menyisipkan secarik kertas kepadanya.

Diam-diam Sim Long terima kertas itu, seperti tidak terjadi sesuatu ia berseru, “Hati-hati!”

Koay-lok-ong mengomel, “Budak kurang ajar! Kau jatuh tak menjadi soal, bila bikin kotor baju Sim-kongcu dan menumpahkan arak buatan Nona, itulah yang sayang…”

“Untung tidak tumpah,” tukas Fifi. Segera ia mengangkat poci arak dan menuangkan Koay-lok-ong secawan, seketika lenyap rasa dongkol Koay-lok-ong.

Setelah minum secawan, segera Sim Long merasakan arak itu memang sedap, tapi juga keras. Nyata arak campuran dari beberapa jenis yang berlainan kadarnya, begitu masuk perut, seketika isi perut seperti mau berontak, bila tidak biasa minum arak, mungkin dalam sekejap bisa menggeletak.

Diam-diam Sim Long waspada, habis menenggak secawan, seterusnya ia hanya berkecup sekadarnya saja.

Sebaliknya Koay-lok-ong menenggak sepuasnya, setiap cawan yang dipenuhi Fifi pasti dihabiskannya.

Meski dia seorang luar biasa juga mempunyai kelemahan manusia. Yaitu gemar arak dan perempuan.

Orang hidup memangnya ada berapa orang yang mampu terhindar dari godaan perempuan dan arak?

Maka akhirnya Koay-lok-ong pun mabuk. Meski belum lagi roboh, namun sinar matanya sudah buram, kaku.

Sim Long berlagak memegangi kepalanya dan berkata, “Cayhe tidak tahan minum lebih banyak lagi, ingin mohon diri saja.”

“Masa sudah mabuk?” tanya Koay-lok-ong.

“Dengan sendirinya Ongya tidak mabuk, Cayhe yang tidak tahan lagi,” kata Sim Long.

Koay-lok-ong bergelak tertawa, “Wahai Sim Long, tampaknya engkau selisih jauh denganku, baru saja minum secawan sudah tak tahan…Jangan, jangan pergi dulu, ayo minum lagi secawan, tidak…minum sepuluh cawan lagi!”

Habis itu kembali ia menuang dan menenggak pula.

Dia meski seorang tokoh besar, seorang gembong, tapi pada waktu mabuk keadaannya tidak berbeda dengan kuli di tepi jalan.

Tertampak sebentar dia bernyanyi, sebentar mengetuk meja dengan sumpit, lalu terbahak-bahak dan akhirnya mendekap di atas meja sambil bergumam, “O, Fifi, mengapa…mengapa kau suruh kutunggu melulu, aku…aku tidak mau menunggu lagi, malam ini juga…malam ini juga aku tidur di sini.”

Sim Long melirik Fifi sekejap, berada di sarang harimau, anak perempuan ini ternyata dapat mempertahankan kesuciannya dan belum lagi tercemar oleh Koay-lok-ong. Sungguh hati Sim Long entah bergirang atau kagum.

Fifi juga sedang menatapnya dengan sinar mata yang lembut penuh perasaan yang sukar diuraikan. Dia seperti hendak bilang, “Apakah kau tahu, semua itu kupertahankan bagimu.”

Keduanya hanya saling pandang sekejap saja dan seperti sudah paham isi hati masing-masing.

Lalu Fifi melirik Koay-lok-ong sekejap dengan tersenyum. Sim Long mengangguk dan berbangkit, katanya, “Kumohon diri saja sekarang, bila Ongya siuman nanti, katakan saja Sim Long mabuk.”

“Jangan, jangan pergi, minum lagi tiga cawan!” seru Koay-lok-ong dengan mata setengah terpejam sambil meraih baju Sim Long. Perlahan Sim Long melepaskan tangan orang dan melangkah keluar, didengarnya Koay-lok-ong masih bergumam sendiri, namun suaranya sudah tak jelas.

Yan-ji berdiri di depan pintu, ucapnya dengan tersenyum, “Biar Yan-ji membawa Kongcu keluar.”

Sim Long mengucap terima kasih.

Dengan langkah gemulai Yan-ji berjalan ke depan, ia menoleh dan tertawa, katanya, “Sim-kongcu sungguh baik hati dan sopan, pantas nona kami…” segera ia mendekap mulut dengan tertawa dan mendahului berlari keluar.

Setelah kembali di rumah depan tadi, kawanan gadis jelita itu sebagian sudah tidur, sebagian sedang bersolek, ada yang lagi menggosok betis, ada yang asyik memotong kuku dan ada juga yang mengecat kuku dengan getah bunga mawar.

Mereka terus menuju ke depan, di halaman sana suasana tenang, pepohonan menghijau permai di bawah sinar matahari yang gilang-gemilang, rasa seram semalam sudah sama sekali tanpa bekas.

Tokko Siang juga tidak kelihatan lagi, jika dia belum mati, tentu dia sangat berduka.

Tiba-tiba Sim Long berkata, “Kukira Nona tidak perlu mengantar lebih jauh lagi.”

Yan-ji tersenyum, segera ia membalik tubuh dan berlari kembali ke sana, tapi baru beberapa langkah mendadak ia berpaling dan berseru dengan suara tertahan, “Hei…” lalu ia menuding tangan Sim Long dan menuding pula tangan sendiri.

Sim Long tahu maksudnya, ia mengangguk.

Perlahan ia melangkah keluar dari taman yang sejuk itu, meski bersusah payah semalam suntuk, namun rasanya cukup berharga. Akhirnya dia mendapatkan kemenangan, yaitu memperoleh kepercayaan Koay-lok-ong.

Ia berjalan di bawah cahaya sang surya yang menyinari pertamanan itu, sekujur badan penuh gairah hidup, keletihan dalam pertempuran semalam sama sekali tidak terasakan lagi. Ia yakin apa pun yang akan terjadi mampu dihadapinya.

Meski di dalam hati masih dirasakan ada beberapa hal yang belum lagi dimengerti, tapi lantas dikeluarkannya secarik kertas yang disimpannya tadi, ia tahu segala apa tentu akan mendapatkan penjelasan dari situ…

*****

Begitu dia melangkah masuk, segera Ci-hiang merangkulnya dengan mesra.

Rambut Ci-hiang tampak kusut, pakaiannya tidak rapi, matanya juga penuh garis merah, seperti semalam suntuk tidak tidur. Begitu memeluk Sim Long, dengan suara agak gemetar ia berkeluh, “O, akhirnya engkau pulang juga. Syukur engkau tidak beralangan apa pun.”

Setelah menghela napas lega lalu ia berkata pula, “Ai, seharusnya kau memberi kabar sekadarnya, kau tahu betapa kukhawatir bagimu, semalam suntuk aku tidak dapat tidur.”

“Sekarang boleh kau tidur saja,” kata Sim Long.

Ci-hiang meliriknya penuh arti, “Dan kau?”

“Rasanya aku seperti dilahirkan tidak boleh tidur,” ujar Sim Long.

“Engkau tidak tidur, aku pun tidak tidur.”

“Memangnya engkau tidak pernah tidur sebelum kenal diriku?”

“Ai, dasar lelaki tidak punya perasaan!” omel Ci-hiang sambil menggigit kuduk Sim Long.

Sambil meraba kuduknya, Sim Long meringis kesakitan. Kecuali meringis, apa yang dapat diperbuatnya.

Sim Long menuang secangkir teh, selagi hendak diminum, mendadak ia membalik tubuh dan menarik pintu.

Benar juga, seperti pencuri saja kembali Jun-kiau berdiri di depan pintu, tentu saja ia kaget.

Rambutnya juga kelihatan kusut dan matanya merah, agaknya juga semalam suntuk kurang tidur.

“Ada apa?” tanya Sim Long dengan mendelik.

“O, ti…tidak apa-apa, hanya ingin kutanya apakah…apakah Kongcu baik-baik saja,” jawab Jun-kiau dengan gelagapan.

“Memangnya kau pun khawatir aku disembelih Koay-lok-ong?” tanya Sim Long.

“O, tidak, hanya…hanya hatiku tidak tenteram, maka…”

Mendadak Ci-hiang memburu maju ke depan Jun-kiau dan membentak, “Apabila lain kali kau berani lagi mengintip atau mencuri dengar, bisa kupotong hidungmu atau kucungkil matamu, bahkan akan kuberi tahukan kepada Li Ting-liong tentang hubunganmu dengan lelaki lain…”

Muka Jun-kiau tampak pucat, “Ya, ya, lain kali tidak berani lagi.”

Segera ia berlari pergi tanpa berpaling.

“Nanti dulu!” bentak Sim Long mendadak.

Tergetar tubuh Jun-kiau, “Kongcu ada…ada pesan apa lagi?”

“Lekas suruh mengantarkan sarapan pagi, buatkan santapan yang paling enak dan ditambah sebiji semangka hami yang paling manis. Aku tidak ingin yang lain, hanya ingin sarapan pagi sekenyangnya.”

Tidak lama kemudian hidangan yang diminta sudah tersedia di depan Sim Long. Memang hidangan pilihan, terutama semangka hami yang diminta, manisnya seperti madu.

Sim Long sarapan dengan tenang, di belakangnya terdengar suara napas Ci-hiang yang berat, nona itu akhirnya tertidur juga.

Habis sarapan, Sim Long merebahkan diri juga, ia memejamkan mata sambil mengingat kembali tulisan pada surat yang diterima dari Yan-ji itu, isinya berbunyi, “Berpisah sekian lama, sungguh hatiku rindu. Waktu tengah hari nanti, kunanti di pertamanan sunyi, mohon datang. Dari rumah menuju ke barat, kumenanti di bawah pohon rindang.”

*****

Sementara itu sudah dekat tengah hari.

Pada waktu tengah hari Koay-hoat-lim ini sangat sepi. Setelah bersukaria semalam suntuk, kebanyakan orang masih tidur dengan lelap.

Perlahan Sim Long melangkah ke jurusan barat, suasana sunyi senyap, suara kicau burung pun tak ada, hanya angin mendesir sepoi-sepoi.

Di kejauhan ada pohon rindang, sesosok bayangan putih berdiri di bawah pohon, ujung baju dan rambutnya berkibar tertiup angin. Sinar matanya sedang menatap ke arah datangnya Sim Long.

Melihat si nona, timbul semacam perasaan Sim Long yang sukar diuraikan, entah sedih, haru, atau girang.

Anak perempuan yang cantik dan lembut ini pun aneh dan misterius, melihat dia, mau tak mau Sim Long jadi teringat juga kepada Cu Jit-jit.

Jit-jit yang berwatak nakal, jahil, kepala batu, terkadang menyenangkan, namun juga menggemaskan.

Pek Fifi dan Cu Jit-jit adalah dua jenis anak perempuan yang tidak sama, keduanya merupakan dua kutub, dua model, yang satu panas serupa api, yang lain dingin seperti es.

Tapi apa pun juga keduanya sama menarik.

Tanpa terasa tersembul senyuman pada wajah Sim Long, tapi dalam hati dia juga gegetun mengapa kedua anak perempuan yang menyenangkan ini mengalami nasib malang demikian?

Dengan sendirinya Fifi juga sudah melihatnya, senyumnya serupa cahaya mentari yang cerah.

Perlahan ia menggapai dari jauh, lalu ia membalik dan menuju ke kerimbunan pepohonan sana.

Fifi duduk bersandar batu karang yang dikelilingi pepohonan. Sim Long mendekatinya dan berdiri di depannya tanpa bicara.

Fifi juga tidak bicara. Keduanya saling pandang, habis itu mereka lantas berdekapan.

Mendadak Sim Long menghela napas, katanya, “Yu-leng-kiongcu, baik-baik kau?”

Fifi mengangkat kepala dan tersenyum, “Kau panggil apa padaku? Masakah namaku sudah kau lupakan?”

Sim Long menatapnya dengan tajam, tiada terlihat rasa kejut atau maksud jahat pada wajah yang cantik ini, yang ada cuma kasih yang manis dan kerlingan mata yang memabukkan. Anak perempuan secantik ini mustahil adalah gembong iblis yang membunuh orang tanpa berkedip?

“Tentu saja tidak kulupakan namamu, Fifi,” ucap Sim Long kemudian.

“Jika begitu mengapa kau sebut aku Yu…Yu apa?”

“Memangnya Pek Fifi tidak sama dengan Yu-leng-kiongcu?”

Perlahan Fifi mendorong Sim Long dan mundur selangkah, ia pandang anak muda dengan terbelalak, seperti kurang senang dan rada menyesal.

“Siapakah Yu-leng-kiongcu?” tanyanya. “Mengapa kau singgung dia, apakah dia juga anak perempuan yang cantik.”

Sim Long memandang jauh ke sana, ucapnya kemudian, “Ya, dia juga anak perempuan yang sangat cantik, juga sangat pintar, ditambah lagi menguasai ilmu silat mahatinggi.”

Fifi menunduk, katanya dengan menyesal, “Sedemikian muluk kau puji dia, tentu dia jauh lebih hebat daripadaku.”

“Tapi dia juga anak perempuan yang sangat kejam, apa yang tidak diperbuat orang lain dapat dilakukan olehnya.”

“Pernah kau lihat dia?” tanya Fifi.

“Ya, kulihat dia, semalam juga kulihat dia, bahkan telah bergebrak dengan dia.”

“Bagaimana bentuk sebenarnya?”

“Dia selalu memakai cadar tipis sehingga wajah aslinya senantiasa tersembunyi, tapi akhirnya telah…telah kusingkap cadarnya,” sampai di sini ia menatap tajam wajah Fifi dan menyambung, “Ketika itu baru kuketahui bahwa dia ternyata samaranmu, engkaulah Yu-leng-kiongcu, maka aku tidak turun tangan lebih lanjut.”

Fifi menyurut mundur dua langkah, serunya, “Aku…kau bilang aku? Ah, kau salah lihat!”

“Tidak, aku tidak salah lihat,” kata Sim Long. “Sekalipun orang lain dapat menyaru sebagai dirimu, tapi kerlingan mata itu…siapa pun tidak mampu menirukan kerlingan matamu itu.”

Sekujur badan Fifi tampak gemetar, “Dan engkau lantas yakin aku inilah Yu-leng-kiongcu yang jahat itu?”

“Aku tak bisa berkata lain,” ujar Sim Long.

“Tapi bila aku Yu-leng-kiongcu, mana bisa terlunta-lunta di daerah Kanglam dan diperbudak orang. Jika aku mahir ilmu silat, mengapa senantiasa dianiaya orang?” mata Fifi menjadi merah, air mata hampir menitik.

“Itulah yang membuatku tidak habis mengerti,” ujar Sim Long menyesal.

“Masa…masa engkau tidak percaya sedikit pun kepadaku?” akhirnya air mata Fifi bercucuran.

“Aku percaya padamu, namun aku pun harus percaya kepada mataku,” kata Sim Long.

“Apa yang kau lihat sendiri terkadang juga tidak pasti benar,” ujar Fifi. “Aku seorang anak piatu, sejak kecil tidak tahu siapa ayah-bundaku, di dunia ini tidak ada seorang pun berbaik hati benar-benar padaku, hanya…hanya kau…”

Mendadak ia menubruk lagi ke dalam rangkulan Sim Long, katanya pula dengan menangis, “Dan sekarang engkau pun tidak percaya lagi padaku. O, apakah artinya hidup ini bagiku?”

Sim Long diam saja.

Sejenak kemudian, mendadak Fifi menengadah dan memandang Sim Long dengan wajah yang berair mata. “Kau lihat aku ini mirip anak perempuan yang kejam itu?”

Memandangi wajah yang minta dikasihani itu, Sim Long menghela napas dan menggeleng, jawabnya, “Tidak mirip.”

“Jika demikian, hendaknya jangan kau curigai diriku,” kata Fifi.

“Tapi kalau Yu-leng-kiongcu itu dibilang bukan dirimu, mengapa di dunia ini ada dua anak perempuan yang sedemikian mirip satu sama lain?”

“Apakah tidak…tidak mungkin ada seorang saudara kembarku, hanya nasibnya lebih baik daripadaku, bila selama hidupku selalu dianiaya orang, sebaliknya dia yang selalu menganiaya orang lain.”

“Saudara kembar?” Sim Long jadi melenggong.

“Urusan ini kedengarannya sedemikian kebetulan, tapi di dunia ini memang banyak kejadian secara kebetulan, maka apa yang kukatakan ini bukan mustahil juga bisa terjadi bukan? Apalagi semalam engkau cuma memandangnya sekilas saja, apakah engkau dapat memastikan bahwa apa yang kau lihat mutlak tidak keliru?”

“Ini…” Sim Long jadi ragu.

“Jika engkau tidak dapat memastikannya, hendaknya jangan kau bicara seperti ini. Kau tahu, kebahagiaan selama hidupku berada pada tanganmu, apakah engkau sampai hati menghancurkan hidupku?”

Sim Long termenung sejenak, perlahan ia membelai rambut si nona, ucapnya, “Ya, aku salah…aku keliru, hendaknya engkau jangan marah padaku.”

Fifi menghela napas dan mendekap di dada Sim Long, ucapnya lembut, “Segala milikku adalah kepunyaanmu, biarpun kau bunuh aku juga takkan kumarah padamu.”

Sekalipun Sim Long adalah manusia baja, mau tak mau akan lunak juga.

Kelembutan, selamanya tak dapat dilawan oleh kaum pahlawan.

Keduanya saling berdekapan hingga lama, akhirnya Sim Long bertanya, “Selama ini apa yang kau alami? Dapatkah kau ceritakan padaku?”

“Waktu di hotel tempo hari, sesudah engkau dan Miau-ji pergi, Nona Cu lantas marah-marah,” demikian tutur Fifi. “Kutahu…aku yang membikin susah dia, hatiku merasa tidak tenteram.”

“Dia…dia tidak sengaja marah,” ujar Sim Long dengan menyengir. .

“Kutahu, perangai Nona Cu terkadang memang agak kasar, tapi hatinya sebenarnya baik, dia juga pintar, suka terus terang, cantik pula, sungguh aku tidak…tidak dapat dibandingkan seujung jarinya.”

Sim Long tersenyum, “Segala apa engkau selalu berpikir demi orang lain, dalam hal ini saja engkau lebih unggul daripada dia.”

Fifi tersenyum cerah, “Apa betul?”

Tapi senyuman cerah itu segera lenyap, kembali keningnya bekernyit, katanya, “Waktu itu sungguh aku ingin kabur saja supaya tidak membuat marah Nona Cu, siapa tahu pada saat itu juga keparat she Kim itu…”

“Kim Put-hoan?” tanya Sim Long.

“Betul, Kim Put-hoan mendadak menerobos masuk, mulutku dibungkamnya, aku diculik dan dibawa ke…ke tempat Ong-kongcu itu.”

“Ya, kutahu kejadian itu,” kata Sim Long.

“Sungguh aku ketakutan setengah mati,” tutur Fifi pula. “Kutahu Ong-kongcu itu seorang…seorang tidak baik, untung dia seperti lagi menghadapi kesibukan sehingga aku tidak diganggu.”

Untuk bicara sebanyak ini tampaknya dia telah memeras tenaga, sampai di sini, mukanya yang putih pun berubah merah, dengan menunduk ia menyambung lagi, “Kemudian mereka mengirim diriku ke tempat seorang Ong-hujin. Alangkah cantiknya Nyonya Ong itu, biarpun sama-sama orang perempuan, tergiur juga hatiku melihat kecantikannya.”

“Apa yang dilakukannya terhadapmu?” tanya Sim Long.

“Dia teramat baik kepadaku,” tutur Fifi. “Dia serupa dewi kahyangan, dia seperti mempunyai semacam kekuatan gaib yang dapat mengubah kedukaan seorang menjadi kegembiraan.”

“Maka, engkau sangat penurut padanya,” kata Sim Long. “Apa lagi yang dia suruh kau kerjakan?”

“Dia minta aku menyelundup ke tempat Koay-lok-ong ini untuk mencari informasi baginya, mestinya aku tidak berani, tapi kemudian kuterima tugas ini setelah kuketahui Koay-lok-ong juga musuhmu.”

“Terima kasih,” ucap Sim Long lembut.

Fifi tersenyum manis, “Asalkan dapat mendengar ucapanmu ini, betapa pun aku harus menderita tetap kurela.”

“Engkau banyak menderita?”

Fifi menunduk sedih, “Demi mendapatkan kepercayaan Koay-lok-ong, lebih dulu Ong-hujin telah…telah mengurungku di suatu kamar dengan siluman yang paling menjijikkan itu.”

“Maksudmu si duta bencong? Tentu engkau ketakutan.”

Muka Fifi menjadi merah pula, katanya, “Aku lebih suka dikurung bersama binatang buas atau ular daripada bersama dia. Tapi…tapi demi Ong-hujin, dan juga demi engkau, terpaksa kutabahkan hati.”

“Tak tersangka engkau anak perempuan pemberani,” puji Sim Long.

“Kemudian Ong-hujin memberitahukan sesuatu rahasia padaku, kiranya siluman itu bukan lelaki melainkan perempuan. Tapi meski sudah tahu dia seorang perempuan, bila melihat kedua matanya, tidak urung sekujur badanku lantas gemetar. Bilamana jarinya menyentuh tubuhku, sungguh aku ingin segera mati saja.”

“Apakah Ong-hujin sengaja melepaskan dia kabur bersamamu?”

“Ya, Ong-hujin tahu jika dia kabur, tentu aku akan dibawa lari juga,” tutur Fifi. “Ai, sepanjang jalan itu, sungguh aku lebih suka mati saja…Tapi apa pun juga, sekarang dia sudah mati.”

“Apakah begitu datang di sini dia lantas mati?”

“Ya, begitu datang ia lantas mati.”

“Cara bagaimana matinya?”

“Aku yang membunuhnya.”

“Kau?” melengak juga Sim Long.

“Ya, aku…Kau heran?” perlahan Fifi membetulkan rambutnya, lalu menyambung, “Ong-hujin memberi sebuah cincin padaku, di atas cincin terdapat ujung jarum yang sangat halus yang diberi racun mahajahat, asalkan kutepuk perlahan pundaknya, dalam sekejap dia akan mati keracunan. Sejauh itu dia pandang diriku sebagai barang dalam sakunya, dengan sendirinya sama sekali dia tidak berprasangka terhadapku.”

“O, kiranya demikian,” Sim Long mengangguk.

“Aku pun dapat membunuh orang, engkau tidak menyesali diriku, bukan?”

“Siapa pun bila menjadi dirimu tentu ingin membunuh dia,” ujar Sim Long. “Cuma ada sesuatu yang semula aku tidak paham dan baru sekarang kutahu duduknya perkara.”

“Urusan apa?” tanya Fifi.

“Aku tidak mengerti mengapa rombongan Can Ing-siong itu begitu masuk Jin-gi-ceng lantas semuanya mati secara serentak, baru sekarang kutahu semua itu disebabkan racun cincin pemberian Ong-hujin.”

Fifi berkedip-kedip, katanya, “Tapi jarum beracun pada cincin itu hanya dapat digunakan satu kali saja, serupa halnya ekor tawon berbisa, sekali mengantup lantas tak berbisa lagi. Pula, orang-orang itu mati seluruhnya tanpa sisa seorang pun, lantas siapa yang turun tangan membunuhnya?”

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum, “Tahulah aku.”

“O, memang apa rahasianya?”

“Pada waktu Ong-hujin membebaskan mereka pasti disertai suatu syarat.”

“Syarat apa?” tanya Fifi.

“Yaitu di antara mereka tiap-tiap orang diharuskan membunuh salah seorang di antaranya.”

Fifi menggeleng, “Aku tetap tidak paham.”

“Begini, umpamanya Ong-hujin bicara tersendiri-sendiri dengan mereka dan setiap orang diberinya sebuah cincin berbisa, tentu saja di antara mereka satu sama lain tidak tahu-menahu. Sebab itulah, setiba di Jin-gi-ceng, segera terjadi bunuh-membunuh dan akhirnya semuanya mati, adapun pembunuhnya justru mereka sendiri.”

“Wah, alangkah jahat tipu muslihatnya dan betapa kejinya pula,” ujar Fifi sambil menggeleng.

“Cara Ong-hujin itu memang keji, tapi bila Can Ing-siong dan lain-lain benar-benar kesatria sejati, tentu muslihat Ong-hujin takkan berlaku.”

“Betul juga, itu namanya bikin mampus dirinya sendiri…”

Belum habis ucapan Fifi, mendadak seorang mendengus, “Kalian juga akan membikin mampus dirinya sendiri!”

Di tengah suara dengusan itu, sebilah pedang mengilat menebas dari balik pepohonan yang lebat sana.

Fifi menjerit kaget dan merangkul Sim Long.

Sim Long menyurut mundur dua tindak sambil membentak, “Siapa?!”

Maka muncul seorang pemuda cakap berbaju ringkas dengan pedang terhunus lagi memandangi mereka dengan tertawa dingin, sebuah cermin perunggu mengilat menghiasi baju dadanya dan terdapat angka “35”.

Jelas anggota pasukan Angin Puyuh anak buah Koay-lok-ong.

Sim Long tetap tenang dan tersenyum, katanya, “Bahwa engkau dapat datang kemari di luar tahuku, tampaknya kungfumu pasti jauh lebih tinggi daripada kawanmu, sungguh harus dipuji.”

“Hm, dalam keadaan lupa daratan karena si cantik dalam pelukan, biarpun langit ambruk pun takkan kau dengar,” ejek anggota Angin Puyuh itu.

“Ya, mungkin betul kritikmu ini,” kata Sim Long dengan tertawa.

“Ongya meladenimu dengan baik dan menganggap dirimu sebagai orang tepercaya seharusnya kau balas kebaikan Ongya dengan setia, siapa tahu selir kesayangan Ongya malah kau pikat, apakah kau tahu akan dosamu?”

“Kalau tahu dosa lantas bagaimana?”

“Hendaknya segera ikut padaku menemui Ongya, bisa jadi Ongya akan memberi hukuman lebih ringan dan memberi kematian bagimu dengan cepat.”

“Wah, untuk itu aku harus berterima kasih padamu, cuma…” Sim Long berkedip, “Apakah kau kira Sim Long seorang penakut?”

“Habis, berani kau melawan?” damprat jago Angin Puyuh itu.

“Sungguh aku merasa sayang bagimu.” kata Sim Long. “Jika engkau seorang pintar, seharusnya sejak tadi mengeluyur pergi. Tapi sekarang, biarpun kau ingin lari pun tidak keburu lagi.”

“Hm, kau kira aku datang sendirian?”

“Apa bukan begitu?”

“Justru di sekeliling sini sudah tersebar tujuh belas kawanku, kecuali dalam sekejap dapat kau bunuh kami seluruhnya, kalau tidak, jangan harap engkau dapat lolos dengan hidup.”

Sim Long hanya tertawa saja, sebaliknya, muka Fifi menjadi pucat, mendadak ia mengadang di depan Sim Long dan berteriak, “Semua ini bukan urusannya, aku yang mengajaknya kemari.”

“Nona Pek sungguh…”

“Jika kau mau bunuh, silakan bunuh saja diriku,” sela Fifi dengan suara gemetar.

Jago Angin Puyuh itu tersenyum sinis, “Wah, terhadap gadis cantik seperti Nona Pek ini, mana aku sampai hati…”

“Habis apa kehendakmu?” jerit Fifi.

“Nona sendiri menghendaki bagaimana?”

“Asalkan kau lepaskan dia, aku…aku akan menuruti segala kehendakmu.”

“Apa betul?” jago Angin Puyuh itu tertawa.

“Betul,” jawab Fifi tegas dengan air mata berlinang.

“Bagaimana dengan pendapat Sim-kongcu?” tanya si jago Angin Puyuh.

“Baik, kalian boleh pergi saja,” kata Sim Long dengan tersenyum.

Jawaban ini membuat Fifi dan jago Angin Puyuh itu sama melengak.

“Kau…kau…” gemetar Fifi dan tidak sanggup meneruskan ucapannya.

“Jika benar kau rela berkorban bagiku, jika kutolak kan berarti mengecewakan maksud baikmu?” ujar Sim Long dengan tertawa. “Dan sebaiknya kalian pergi saja ke suatu tempat yang…”

“Kau bukan manusia…” teriak Fifi dengan parau.

“Kan kau sendiri yang rela begitu, kenapa kau maki diriku?” kata Sim Long dengan tertawa. “Bilamana sesuatu permainan sudah mencapai puncaknya, jika tidak kuberikan bumbu pemanis, tentu permainanmu akan terasa cemplang, bukan?”

Fifi tampak melongo bingung.

Si jago Angin Puyuh juga melenggong, mendadak ia bergelak tertawa, “Hahaha, hebat, Sim Long memang hebat!”

“Terima kasih,” jawab Sim Long.

“Cara bagaimana dapat kau kenali diriku?” tanya si jago Angin Puyuh itu dengan tertawa.

“Bilamana setiap jago Angin Puyuh menguasai ginkang setinggi dirimu, kan Koay-lok-ong boleh tidur nyenyak tanpa khawatir apa pun, apalagi, umpama di antara jago Angin Puyuh ada yang berkepandaian setinggi ini tentu juga takkan bermata keranjang seperti kau.”

Sim Long bergelak tertawa, lalu menyambung, “Orang yang memiliki ginkang dan sinar mata jelalatan seperti kau ini kecuali Ong Ling-hoa, di dunia ini mungkin tidak ada orang kedua lagi.”

Pek Fifi seperti terkejut, dipandangnya Sim Long, lalu memandang pula si jago Angin Puyuh, sikapnya tampak serbasalah.

Jago Angin Puyuh itu lantas memberi hormat, “Tadi aku cuma bergurau saja, harap Nona Pek jangan marah.”

“Kau…kau benar Ong Ling-hoa?” tanya Fifi.

“Sayang kedok yang kubuat ini telah banyak membuang tenaga dan pikiranku, kalau tidak tentu akan kubuka supaya Nona dapat melihat wajah asliku,” kata si jago Angin Puyuh yang memang samaran Ong Ling-hoa.

Mendadak air mata Pek Fifi bercucuran, dipandangnya Sim Long, katanya dengan menangis, “Mengapa…mengapa engkau tega mempermainkan aku?”

Jika Cu Jit-jit, tentu Sim Long terus dijotosnya. Tapi Pek Fifi hanya mengomel saja dan menyesali diri sendiri, “Tapi ini pun tidak dapat menyalahkanmu, semua ini…semua ini salahku, tidak…tidak seharusnya ku…”

Kalau benar Sim Long dihantamnya akan melonggarkan perasaannya malah, tapi sekarang Fifi bicara secara demikian, hati Sim Long menjadi menyesal, kasihan dan sayang pula, tanpa terasa ia pegang bahunya dan berucap, “Tadi kusangka engkau juga dapat mengenali dia, maka…”

“Mana dapat kukenali dia,” ujar Fifi dengan rawan. “Meski pernah kulihat si jago Angin Puyuh nomor 35, tapi…tapi samarannya sungguh teramat mirip, baik suara maupun sikapnya.”

“Terima kasih atas pujian Nona, tapi aku tetap dikenali Sim-heng,” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa. Mendadak ia seperti ingat sesuatu, ia terus menampar muka sendiri sambil mengomel, “Wah, pantas mampus, sungguh pantas mampus!”

Fifi tercengang melihat kelakuan Ong Ling-hoa itu, tanyanya, “Pantas mampus apa?”

“Mana boleh kupanggil dengan sebutan Sim-heng,” kata Ling-hoa.

“Memangnya panggil apa kalau tidak menyebutnya begitu?” tanya Fifi sambil melirik Sim Long.

Dengan sendirinya Sim Long merasa serbakikuk.

Sebaliknya Ong Ling-hoa anggap tidak tahu, katanya pula dengan tertawa, “Mungkin Nona tidak tahu bahwa sekarang sedikitnya harus kupanggil dia sebagai paman.”

“Paman?” Fifi menegas dengan heran.

“Ya, paman, sebab…sebab Sim-kongcu, sudah ada janji pernikahan dengan ibuku.”

Fifi merasa seperti dicambuk satu kali, ia menyurut mundur dengan sorot mata penuh rasa heran dan kecewa serta menyesal, “Ap…apa betul?” tanyanya dengan menggigit bibir.

“Apakah kau kaget?” jawab Sim Long dengan menyengir.

Tubuh Fifi gemetar, air mata bercucuran pula. Sampai sekian lamanya ia tidak sanggup bersuara. Mendadak ia menjerit dengan parau, “Meng…mengapa tidak kau katakan…mengapa…Apakah sengaja kau tipu diriku?”

Segera ia membalik tubuh dan berlari pergi dengan terhuyung-huyung.

Sim Long menyaksikan kepergiannya tanpa bicara, juga tidak merintanginya. Bahkan segera ia pulih tenang kembali seperti tidak terjadi sesuatu.

Ong Ling-hoa memandang Sim Long tanpa bicara. Sorot matanya menampilkan secercah senyuman licik dan keji.

Akhirnya Sim Long berpaling dan menghadapi Ong Ling-hoa, keduanya saling tatap sampai sekian lamanya. Bilamana salah seorang tidak dapat menahan emosinya, tentu segera akan terjadi pertarungan maut.

Akan tetapi keduanya sama tidak turun tangan, akhirnya Sim Long malahan tersenyum dan bertanya, “Mengapa kau lakukan hal ini.”

“Tentunya kau tahu inilah kehendak ibuku,” kata Ling-hoa.

“O, dia…”

“Bagaimana beliau tidak khawatir membiarkan anak perempuan secantik itu berdekatan denganmu.”

“Saat ini kau bicara denganku dalam kedudukan sebagai apa?” tanya Sim Long.

“Sebagai saudara, antara kawan dan lawan.”

“Masa sekarang kembali kau bersaudara denganku?”

“Di depan orang lain engkau adalah orang lebih tua daripadaku, hanya bila kita berada berduaan, aku adalah saudaramu, sahabatmu, terkadang bisa jadi lawanmu.”

Sim Long menatapnya sekejap dengan tajam, lalu tertawa, “Tak tersangka cara bicaramu terkadang juga blakblakan begini.”

“Umpama ingin kubohongi dirimu, apa dapat?”

“Tapi jangan kau lupa, urusan ini justru merupakan kunci dari segala persoalan lain. Kau tahu, bilamana seorang perempuan merasa sakit hati, segala apa dapat diperbuatnya.”

“Betul, hal ini diketahui setiap lelaki di dunia ini, masa dapat kulupakan.”

“Jika begitu, apakah engkau tidak khawatir Pek Fifi akan melaporkan rahasia ini kepada Koay-lok-ong karena sakit hati?”

Ling-hoa tersenyum, “Tidak, dia takkan melapor.”

“Kau yakin?”

“Tentu saja kuyakin.”

Gemerdep sinar mata Sim Long, ia seperti mau tanya lagi, tapi mendadak ia ganti pokok pembicaraannya, ucapnya dengan tersenyum cerah, “Apa pun juga kedatanganmu ini memang di luar dugaanku.”

“Siasat ibuku tentu saja sukar diduga orang,” kata Ling-hoa.

“Engkau tidak khawatir akan dikenali dia?”

“Asalkan tidak berhadapan dengan dia, kenapa kutakut akan ketahuan?” ujar Ling-hoa. “Kutahu banyak tanda tanya dalam hatimu, sukar juga bagiku untuk menjelaskan satu per satu. Tapi setelah kubawamu menemui seorang mungkin engkau akan paham berbagai persoalan ini.”

“O, siapa?”

“Sesudah bertemu tentu kau tahu sendiri.”

“Kapan akan menemuinya?”

“Sekarang juga.”

Sim Long tidak tanya lagi.

Pada saat itu juga mendadak diri kejauhan ada seorang berseru, “Aha, Sim-kongcu sungguh seorang yang bisa menikmati kesenangan sehingga dapat menemukan suatu tempat rimbun untuk berteduh akan hawa yang panas ini.”

Sim Long berkerut kening, dilihatnya muncul seorang berbaju satin dengan dada terbuka, tangan membawa cambuk, sambil memukul semak rumput sedang menuju ke sini.

Pendatang ini rada di luar dugaannya, orang ini ialah Siau-pa-ong, putra hartawan yang pekerjaannya hanya berfoya-foya belaka itu.

“Apakah hendak kau bawaku menemui orang ini?” tanya Sim Long kepada Ong Ling-hoa.

“Mana bisa dia?” jawab Ling-hoa.

Dalam pada itu Siau-pa-ong sudah mendekat, serunya pula dengan tertawa, “Aha, sungguh suatu tempat yang nyaman, entah cara bagaimana Sim-heng menemukannya.”

“Ya hal ini memang aneh,” ujar Sim Long dengan tersenyum.

“Aneh?” Siau-pa-ong berkedip-kedip bingung.

“Bahwa sebelum melihat jelas diriku dari jauh engkau sudah dapat menyebut namaku, bukankah kejadian yang aneh?”

“O, ini…haha, memang menarik juga, Sim-heng kan orang yang suka pada keindahan, maka ketika dari jauh kulihat di sini ada orang, segera kuduga orangnya pasti Sim-heng adanya.”

“Wah, saudara ini memang seorang yang simpatik,” ucap Sim Long dengan tertawa, seperti tidak sengaja ia hendak menepuk pundak Siau-pa-ong.

Tapi seperti juga tidak sengaja Ong Ling-hoa lantas menahan tangan Sim Long sambil menggeleng kepala perlahan.

Hanya dalam sekejap itu saja Siau-pa-ong sebenarnya sudah berada di tepi pintu neraka, namun sedikit pun ia tidak tahu, dia masih cengar-cengir seperti orang bodoh, tapi kalau dibilang bodoh, tampaknya juga tidak mirip.

Tiba-tiba Sim Long merasakan saat ini setiap orang di Koay-hoat-lim tidaklah sederhana sebagaimana diduganya, tapi setiap orang mempunyai rahasia di balik layar.

Sambil memutar cambuknya Siau-pa-ong memandang kian-kemari, mendadak ia berkata pula kepada Sim Long, “Apakah Sim-heng tahu untuk apa kucari dirimu?”

Sim Long hanya tertawa tanpa menjawab.

“Kucari Sim-heng hanya ingin minta Sim-heng suka memberi penilaian terhadap seorang.”

“Oo?!” Sim Long bersuara heran.

“Bila perempuan yang pernah kubawa tempo hari itu mungkin ditertawakan oleh Sim-heng, maka sekarang kudatangkan lagi seorang nona sangat cantik, maka ingin kuminta Sim-heng suka memberi komentar seperlunya.”

“Sesungguhnya aku sama sekali tidak paham orang perempuan, kalau tidak masakah sampai saat ini aku masih sorangan wae? Betul tidak, saudara Angin Puyuh?”

“Betul, tepat!” seru Ong Ling-hoa.

“Saat ini nona cantik itu berada di sekitar sini, sekarang juga akan kubawa kemari…” tanpa menunggu jawaban segera ia berlari pergi.

Setelah bayangan orang menghilang baru Sim Long berkata dengan tersenyum, “Baru sekarang kutahu bahwa Siau-pa-ong ini ternyata juga anak buahmu.”

“Dari mana kau tahu?” tanya Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Jika tidak kau beri tahukan padanya, dari mana dia tahu aku berada di sini, dan bila dia bukan anak buahmu, untuk apa kau cegah kuturun tangan padanya?”

Ong Ling-hoa hanya tersenyum tanpa menanggapi.

“Padahal tidak ada maksudku hendak mencelakai dia, tindakanku itu tidak lebih hanya untuk menguji Ong-kongcu kita saja,” kata Sim Long pula.

Ong Ling-hoa tertawa, sebelum ia bicara, tiba-tiba Siau-pa-ong muncul kembali sambil berseru, “Ini dia sudah datang!”

Tertampaklah dua perempuan kekar kuat menggotong sebuah tandu kecil dengan tabir tertutup. Setelah tandu ditaruh, segera kedua perempuan ini tinggal pergi keluar hutan.

Di balik tabir samar-samar kelihatan bayangan orang yang ramping.

Waktu tabir disingkap Siau-pa-ong, seketika mata Sim Long terbeliak.

Ternyata yang duduk di dalam tandu tak-lain-tak-bukan ialah Cu Jit-jit.

Betapa pun Sim Long tidak menyangka akan bertemu dengan Cu Jit-jit di sini. Jit-jit adalah sandera yang digunakan Ong-hujin untuk memeras Sim Long, mana Ong-hujin mau mengirimkan dia ke sini?

Seketika Sim Long berdiri melongo.

Dilihatnya rambut Jit-jit tersanggul rapi, bajunya mentereng, duduk tenang dengan sikap anggun, meski matanya memandang Sim Long, namun air mukanya sangat tenang. Sama sekali berbeda daripada Cu Jit-jit yang nakal, garang dan suka emosi, Cu Jit-jit yang dulu itu.

Akan tetapi nona ini jelas-jelas memang Cu Jit-jit adanya, baik alisnya, matanya, hidungnya, bibirnya, sedikit pun tidak palsu, biarpun dibakar menjadi abu juga Sim Long tetap kenal Cu Jit-jit, cara bagaimana menyamar dan memalsukan Jit-jit pasti tidak dapat mengelabui Sim Long.

Setelah tercengang sekian lama, akhirnya Sim Long tersenyum dan menegur, “Sekian lama tidak berjumpa, engkau baik-baik bukan?”

Meski cuma tegur sapa yang singkat, namun cukup mendalam artinya, ia yakin Jit-jit pasti dapat memahaminya.

Namun air muka Jit-jit tetap tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ia menjawab dengan hambar, “Lumayan, terima kasih atas perhatian Sim-kongcu.”

Jawaban yang kaku dingin itu serupa cambuk pula yang menyakitkan hati Sim Long. Baru sekarang ia merasakan bila seorang merasa kehilangan sesuatu, betapa pun pasti akan dirasakan kekesalan dan kesedihan.

Siau-pa-ong memandangnya dengan tertawa. Sorot mata Ong Ling-hoa juga menampilkan senyuman yang senang.

Mendadak Sim Long berpaling, “Mengapa dia…dia…”

“Soalnya ibuku mendadak merasakan daripada menggunakan sandera untuk memeras Sim-kongcu, akan lebih baik bila segala sesuatu timbul dari sukarela Sim-kongcu sendiri, untuk pengertian ibuku terhadap Sim-kongcu seharusnya Sim-kongcu berterima kasih kepada beliau.”

“Tapi…tapi kedatangannya ini…”

“Ibu merasa tidak perlu menggunakan Nona Cu untuk memeras Sim-kongcu, kedatangannya ini hanya sekadar melakukan upacara penghormatan ulang.”

“Upacara penghormatan ulang bagaimana?” tergetar hati Sim Long.

“Soalnya ibu sudah mengikatkan perjodohan Nona Cu dengan diriku,” tutur Ling-hoa perlahan.

Tanpa terasa Sim Long menyurut mundur lagi setindak, ditatapnya Cu Jit-jit dan berseru, “Jadi kau…kau…”

“Masa engkau tidak ikut gembira?” kata Jit-jit dengan tersenyum hambar.

“Aku…aku…” Sim Long terkesima. Sungguh tidak ringan pukulan ini, namun dia tidak roboh. Ia berdiri termangu sejenak, mendadak tertawa cerah pula dan memberi hormat, “Selamat, selamat!”

“Terima kasih!” kata Jit-jit, mendadak tabir diturunkan kembali sehingga tidak terlihat pula senyumnya melainkan cuma terlihat bayangan tubuhnya yang ramping.

Apabila sekarang masih tersisa sesuatu di hati Sim Long, maka yang ada itu hanya kenangan pahit belaka serta kekosongan yang sukar terisi kembali.

Namun begitu dia tetap berdiri tegak, tetap tersenyum.

Melihat ketenangan orang, mau tak mau timbul juga rasa kagum Siau-pa-ong.

“Kutahu pasti masih ada sesuatu yang hendak ditanyakan oleh Sim-kongcu,” kata Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Betul, memang hendak kutanya bila Cu Jit-jit sudah datang, lantas di mana Him Miau-ji?” ujar Sim Long.

“Tentang Si Kucing, mungkin dia juga akan melakukan sesuatu yang tak tersangka oleh Sim-kongcu,” tutur Ling-hoa perlahan.

Serentak Sim Long mencengkeram pergelangan tangannya dan menegas, “Di mana dia?”

Kulit daging muka Ong Ling-hoa tampak berkerut-kerut, namun tidak sampai meringis kesakitan. Ia menarik napas dalam-dalam, lalu menjawab, “Sekarang dia berada…”

Pada saat itulah tiba-tiba dari berbagai penjuru ada orang berteriak, “Sim Long…Sim-kongcu, lekas keluar, Ongya mencarimu!”

Suara teriakan itu sambung-menyambung berulang-ulang, ada yang dari jauh, ada yang sudah dekat.

“Di sini bukan tempat baik lagi untuk bicara, lekas kau pergi saja, bila perlu akan kuadakan kontak denganmu,” desis Ong Ling-hoa.

Sim Long menatapnya dengan tajam, perlahan cengkeramannya dikendurkan, mendadak ia membalik tubuh, tanpa menoleh ia melangkah pergi dengan cepat.

*****

Koay-lok-ong duduk setengah berbaring di tempat tidurnya dan asyik minum air sari buah, Sim Long berdiri di depannya.

“Setiap pahlawan selalu tak terhindar dari kegemaran minum arak, serupa halnya si cantik yang suka murung. Akan tetapi manusia hidup tentu mempunyai sesuatu hobi. Wahai Sim Long, apa hobimu dan apa yang paling menarik bagimu saat ini?”

Sim Long termenung tanpa menjawab, sejenak kemudian ia berkata, “Si kerdil bertubuh seringan daun, entah dia sudah berhasil menyelidiki sarang Yu-leng-kiongcu atau tidak?”

“Ah, urusan ini teramat tidak menarik, tidak perlu disinggung lagi,” ujar Koay-lok-ong dengan kening bekernyit.

“Oo, jangan-jangan dia tidak pernah pulang kembali.”

“Betul, tidak pernah pulang,” mendadak Koay-lok-ong menggebrak tempat tidurnya, “Dan bila dia belum lagi pulang sekarang, tentu selamanya takkan pulang lagi.”

Diam-diam Sim Long menghela napas, pikirnya, “Lihai amat Yu-leng-kiongcu ini. Tapi pada suatu hari pasti juga akan kuketahui siapa sebenarnya dirimu? Dan hari demikian ini tampaknya sudah tidak jauh lagi.”

Mendadak dilihatnya Koay-lok-ong tertawa cerah pula dan berkata, “Ah, urusan yang tidak menarik lebih baik jangan disinggung, biarlah kukatakan sesuatu hal lain yang menarik saja.”

“Mohon petunjuk Ongya,” kata Sim Long.

“Justru hari inilah ternyata ada seorang datang dari jauh sengaja untuk menggabungkan diri denganku.”

“Oo, siapa dia?” tanya Sim Long.

“Dengan sendirinya orang ini pun seorang enghiong (pahlawan),” tutur Koay-lok-ong. “Selain takaran minum arak orang ini sanggup menandingimu, ilmu silatnya mungkin juga tidak di bawahmu. Tokko Siang telah bergebrak beberapa jurus dengan dia dan kecundang.”

Tentu saja Sim Long tertarik, “Hah, di mana orang ini sekarang?”

“Dia juga tokoh pilihan, sebab itulah sengaja kupertemukan kalian, sungguh bahagia dan menyenangkan segenap enghiong sejagat dapat berkumpul di sini,” segera Koay-lok-ong melompat bangun dan berseru pula, “Saat ini dia asyik minum bersama orang, kebetulan dapat kau susul untuk minum tiga ratus cawan dengan dia.”

Tangan Sim Long segera ditariknya dan diajak menuju ke ruangan tamu.

Dari jauh sudah terdengar suara seruan gembira dari balik tabir sana, suara orang setengah sinting.

Yan-ji kelihatan sedang menyingkap tabir dan mengintip ke dalam, ketika mendengar suara langkah orang, ia menoleh, cepat ia kabur ketika diketahui yang datang ialah Koay-lok-ong dan Sim Long.

Terdengar suara tertawa cekikak-cekikik orang perempuan di dalam, seorang lagi berkata dengan suara merdu, “Hong-ji telah menyuguhmu sepuluh cawan, Peng-ji juga menyuguhmu sepuluh cawan, sekarang harus kusuguh kau dua puluh cawan, lekas kau minum.”

“Betul,” sambung suara seorang perempuan lagi dengan tertawa genit, “bila tidak kau minum, bisa jadi nanti lidahmu akan digigit putus oleh Cu-ji.”

“Hahaha!” terdengar seorang lelaki bergelak tertawa. “Hanya sekian puluh cawan arak apalah artinya bagiku. Ayo, tuangkan semua menjadi semangkuk, akan kutenggak habis sekaligus dan boleh kalian tambah lagi semangkuk nanti.”

Tampaknya tidak sedikit arak yang sudah ditenggaknya sehingga nada ucapannya sudah rada kaku. Tapi bagi pendengaran Sim Long, suara orang dirasakan sudah sangat dikenalnya. Cepat ia memburu maju dan menyingkap tabir.

Tertampak di tengah ruangan cawan berserakan, lima-enam gadis jelita dengan rambut kusut dan baju setengah terbuka, muka merah dan mata buram, semua ini menandakan mereka sudah sama mabuk.

Seorang lelaki kekar berduduk di tengah kawanan gadis jelita ini dengan dada baju terbuka dan tangan memegang mangkuk sedang diminum dengan lahapnya.

Dari tepi mangkuk kelihatan kedua alisnya yang tebal. Siapa lagi dia kalau bukan Him Miau-ji alis Si Kucing.

Ternyata Him Miau-ji juga datang kemari, sungguh Sim Long tidak tahu harus bergirang atau terkejut.

Apa pun juga Him Miau-ji masih sanggup menenggak arak sebanyaknya, hal ini menandakan dia masih gagah perkasa dan pantas dibuat girang.

Saat itu Miau-ji sudah menghabiskan isi mangkuknya, ia menarik napas dan bergelak tertawa, serunya, “Nah kosong! Siapa lagi yang akan menyuguhku?!”

“Aku!” seru Sim Long mendadak dengan tersenyum.

Miau-ji berpaling, seketika ia tercengang melihat Sim Long berdiri di ambang pintu.

Serentak ia berteriak dan membuang mangkuk emas yang dipegangnya, ia memburu maju sambil berteriak, “Aha, Sim Long, engkau belum lagi mati!”

Di tengah teriakan gembira keduanya lantas saling rangkul. Terendus bau arak dan bau keringat Him Miau-ji yang khas, namun bagi Sim Long rasanya terlebih menyenangkan daripada bau harum pupur anak perempuan.

Selagi keduanya berangkulan, tampaknya Koay-lok-ong juga merasa bersyukur dan menepuk pundak mereka, katanya, “Sahabat yang baru bertemu setelah berpisah sekian lama tentu sangat banyak yang ingin dibicarakan, bolehlah kalian mengobrol sepuasnya dan takkan kuganggu.”

Dalam sekejap itu tiba-tiba Sim Long merasa gembong iblis ini juga mempunyai sifat kemanusiaan dan tidak sekejam sebagaimana dibayangkan orang.

Kedua orang saling rangkul dan berjalan keluar halaman, di luar sunyi tiada orang lain. Mendadak hujan turun dengan lebat, namun keduanya tidak menghiraukannya. Di daerah yang tandus ini bisa turun hujan sederas ini, sungguh menambah gembira orang.

Sembari berjalan Miau-ji menenggak arak pula dari buli-bulinya, langkahnya sudah sempoyongan, sisa arak dalam buli-buli juga tidak banyak lagi.

“Miau-ji, jangan kau bikin mabuk dirimu sendiri, banyak urusan yang ingin kubicarakan padamu, kesempatan untuk bicara seperti ini bagi kita rasanya tidak banyak lagi selanjutnya,” desis Sim Long.

Daun pohon gemeresak terpukul air hujan, suara guntur pun bergemuruh, suara bicara mereka sukar terdengar dari jarak tiga-empat kaki, apalagi di halaman yang luas ini tidak kelihatan bayangan orang lain. Jika mau bicara urusan penting, saat ini memang paling tepat dan tempat ini paling bagus.

“Ada urusan apa, katakan saja, Sim Long,” ucap Miau-ji.

“Tapi sekarang engkau tidak boleh mabuk, selanjutnya juga tidak boleh mabuk, mulut orang mabuk sukar dijaga, kukhawatir kau bocorkan rahasia dalam keadaan mabuk.”

“Memangnya Him Miau-ji adalah orang yang suka membocorkan rahasia?”

“Tentu saja tidak,” kata Sim Long dengan tertawa. “Bahwa sekali ini dia mau melepaskan dirimu dan Jit-jit, hal ini sungguh di luar dugaanku. Dari sini terlihat bahwa caranya mengatur tipu muslihatnya memang sukar diduga dan tak dapat dibandingi orang lain.”

“Dia yang kau maksudkan…”

“Dengan sendirinya Ong…”

“Tentu saja dia sangat hebat bila engkau saja tidak dapat meraba setiap tindakannya.”

“Apakah benar dia telah mengikatkan perjodohan Jit-jit dan Ong Ling-hoa?”

“Ai, perempuan, dasar perempuan…Setiap perempuan memang tidak dapat dipercaya.”

“Masa Jit-jit sukarela?”

“Setan yang tahu hati perempuan,” jawab Miau-ji dengan gemas.

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian dengan gegetun, “Hal ini pun tidak dapat menyalahkan Jit-jit. Dia mengetahui aku mengikat perkawinan dengan…dengan Ong-hujin itu, dengan sendirinya ia menjadi nekat. Ai, kan sudah kau kenal juga sifatnya.”

“Tapi seharusnya ia pun tahu tindakanmu ini ada maksud tujuan tertentu,” kata Miau-ji.

“Padahal siapakah di dunia ini yang benar-benar dapat memahami pikiranku?” ujar Sim Long sambil tersenyum getir. “Terkadang aku sendiri pun tidak memahami diriku, orang yang semakin kusukai, semakin dingin sikapku kepadanya. Memangnya apa sebabnya?”

“Sebab engkau sedang menghindar, engkau tidak berani menerima cinta kasih apa pun, sebab pada pundakmu sudah memikul beban yang amat berat, sebab engkau merasa dirimu setiap saat dapat mati.”

“Memang benar ucapanmu,” ujar Sim Long dengan murung.

“Jika kau rasakan menderita, mengapa tidak kau lepaskan beban itu?”

“Terkadang aku memang ingin melepaskannya,” ujar Sim Long. “Manusia di dunia ini sedemikian banyak, mengapa aku yang meski memikul beban ini. Walaupun jahat Koay-lok-ong, tapi tidak jelek dia terhadapku, mengapa harus kuincar nyawanya? Apa yang kuperoleh bila kubunuh dia? Siapa yang akan memahami diriku dan menaruh simpati padaku?…”

Di bawah hujan lebat, didampingi sahabat paling karib ini, tanpa terasa Sim Long mencetuskan unek-uneknya, diungkapkan isi hatinya yang selama ini tidak pernah dibicarakannya dengan siapa pun.

Miau-ji tidak memandangnya melainkan cuma mendengarkan.

Selang sejenak Sim Long berkata pula, “Dengan sendirinya, di dalam hal ini ada juga sebabnya.”

“Justru lantaran sebab ini, maka engkau rela menderita daripada melepaskan beban itu.”

“Betul.”

“Lantas apa sebab musabab itu?”

“Sebab antara diriku dan Koay-lok-ong tidak mungkin hidup bersama, kalau tidak aku mati harus dia yang mampus. Maka biarpun kutahu Ong-hujin dan Ong Ling-hoa juga iblisnya manusia, sekalipun kutahu dengan segala daya upaya mereka berusaha memperalat diriku, tapi demi menumpas Koay-lok-ong, aku tidak menghiraukan akibatnya dan mau bekerja sama dengan mereka.”

“Jangan-jangan antara dirimu dan Koay-lok-ong ada persengketaan pribadi?” tanya Miau-ji.

Tampak gemerdep sinar mata Sim Long, jawabnya, “Ya.”

“Lantaran Pek Fifi?”

“Kau kira lantaran dia?”

“Habis lantaran apa?” tanya Miau-ji pula.

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian, “Ini menyangkut rahasia pribadiku, sekarang tidak dapat kukatakan.”

“Kapan baru dapat kau katakan?”

“Nanti kalau Koay-lok-ong mati.”

“Dia takkan mati lebih dulu daripadamu.”

Baru habis bicara demikian, mendadak ia menutuk beberapa hiat-to kelumpuhan Sim Long, lalu dengan sekali sikut ia bikin Sim Long terjungkal.

Sekalipun dibunuh pun Sim Long tidak percaya Him Miau-ji bisa mendadak menyergapnya, bahkan sampai ia sudah terguling ia tetap tidak percaya.

“Hei, Miau-ji, jangan…jangan bergurau!” serunya meski tubuh tidak dapat berkutik.

Him Miau-ji berdiri tegak di bawah hujan dan menengadah dengan terbahak-bahak. Nyata mabuknya sudah hilang, suara tertawanya juga berubah mendadak.

Air muka Sim Long berubah, “Hah, engkau bukan Miau-ji!”

“Apakah tidak terlambat baru sekarang kau tahu?” kata “Si Kucing” dengan tertawa latah.

“Jangan…jangan-jangan engkau ini Liong Su-hay?” seru Sim Long.

“Hahaha, memang betul, betapa pun engkau tetap pintar juga.”

“Ya, seharusnya sudah kupikirkan akan dirimu,” ujar Sim Long dengan tersenyum pedih. “Sejak mula memang sudah kurasakan engkau banyak persamaannya dengan Miau-ji, jika di dunia ini ada orang yang dapat menyamar Him Miau-ji secara sangat mirip, maka orang itu ialah kau.”

“Mengapa tidak kau pikirkan sejak tadi?” kata Liong Su-hay.

“Sebab kusalah menilai dirimu. Sungguh tidak kusangka Liong Su-hay yang kelihatan gagah perkasa dan berjiwa kesatria itu ternyata juga antek orang.”

Liong Su-hay tidak marah, sebaliknya tertawa, katanya, “Dan sekali ini dapatlah engkau mendapat pelajaran, betapa pintar seorang toh dapat juga tertipu. Cuma sayang, pelajaran ini takkan bermanfaat lagi bagimu.”

“Ya, memang, setiap orang tentu juga dapat tertipu,” ucap Sim Long dengan pedih.

“Tapi untuk menjebakmu, betapa pun kami telah banyak membuang tenaga dan pikiran.”

Sim Long menghela napas, katanya, “Dengan sendirinya Him Miau-ji tentu juga sudah datang ke sini, kalau tidak, sekalipun Koay-lok-ong mempunyai ahli rias yang paling pandai juga tidak mampu menyamar dirimu sehingga serupa dia.”

“Engkau memang orang pintar,” kata Liong Su-hay dengan tertawa. “Pada waktu Koay-lok-ong merias diriku, saat itu juga Him Miau-ji menggeletak di sisiku, jadi bentukku ini serupa dicetak dari dia seluruhnya.”

“Dan ada lagi…”

“Suaranya, begitu bukan?” tukas Su-hay. “Caraku menirukan suara orang lain memang lumayan, tapi aku tetap khawatir diketahui olehmu, sebab itulah aku berlagak mabuk, padahal paling banyak aku cuma minum tiga cawan saja, yang mabuk benar-benar adalah kawanan budak itu.”

“Wah, ternyata akal bagus, siapa pun bila melihat orang yang minum bersamamu sudah sama mabuk, dengan sendirinya takkan terpikir arak yang kau minum adalah arak palsu.”

“Apalagi ditambah gemuruh suara hujan, sungguh sangat kebetulan bagiku, terlebih lagi entah mengapa semangatmu hari ini tampak kurang baik, seperti agak linglung, bila tidak dapat kutipu dirimu kan terlalu.”

Sim Long tampak sedih, selang sejenak, ia coba tanya, “Dan Him Miau-ji…”

“Dalam hal ini memang ada sesuatu memang benar terjadi, yaitu kedatangan Him Miau-ji yang akan bekerja bagi Koay-lok-ong,” tutur Liong Su-hay dengan tertawa.

“O, apakah barangkali Koay-lok-ong menaruh curiga padanya, maka…”

“Curiga padanya sih tidak, yang dicurigainya justru ialah dirimu.”

“Aku?” Sim Long melengak.

“Ya, pagi tadi waktu bangun tidak ditemukannya Pek Fifi, engkau juga tidak kelihatan, maka timbul curiganya. Kebetulan waktu itu datang Him Miau-ji, maka dengan menggunakan Him Miau-ji dia ingin menguji dirimu.”

Liong Su-hay terbahak-bahak dan menambahkan, “Dan sekali uji seketika juga kelihatan belangmu.”

“Lantas bagaimana kehendakmu sekarang?”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: