Kumpulan Cerita Silat

27/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 12

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 2:07 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, Lovecan, dan Sumahan)

Bab III. Tangan Beracun.

12. Pertempuran tiga partai.

Ternyata sewaktu Pek Huan-ji dan Ciu Leng-liong berangkat untuk menolong Thian Toa-ciok dan Liu Ing-peng tadi, hasil undian sudah telah ditetapkan, hasilnya adalah: Partai pertama, Tangan besi melawan Wan Beng-tin. Partai kedua, Ngo Kong-tiong melawan Lau Hiat-kong. Partai ketiga, Ciu Pek-ih melawan Cing Sau-song.

Dengan keluarnya hasil undian ini, Si Ceng-tang pun sudah bisa membuat analisa, kecuali partai si Tangan besi melawan Wan Beng-tin yang agak punya peluang untuk menang, dua partai lainnya sukar diramalkan, apalagi partai Ciu Pek-ih harus menghadapi Cing Sau-song.

Untuk adilnya maka ditentukan masing-masing mengambil undian lagi, untuk menentukan siapa yang berhak memutuskan pertarungan akan dilakukan dengan sistim bagaimana, adu tenaga dalam, adu pukulan atau adu senjata.

Hasilnya, partai pertama ditentukan oleh Wan Beng-tin, partai kedua ditentukan Ngo Kong-tiong dan partai ketiga oleh Ciu Pek-ih.

Setelah semuanya ditentukan, kedua belah pihak pun tidak banyak bicara lagi, si Tangan besi segera menjura kepada Wan Beng-tin sambil berseru, “Boleh tahu Sianseng menginginkan pertarungan ini dilakukan dengan beradu kepandaian apa?”

Dia tahu jagoan yang berjuluk si Cukat cerdas ini merupakan seorang jago yang berjiwa ksatria, bicara sejujurnya, dia tidak tega melukai orang ini.

Wan Beng-tin segera menghela napas panjang setelah mendengar pertanyaan itu, sahutnya, “Saudara Tangan besi, terus terang Cayhe sadar bukan tandinganmu, namun demi membela nama benteng kami, terpaksa Cayhe pamerkan kebodohanku.”

“Kau tak perlu merendah, aku bisa lolos dari tangan Sianseng pun sudah merupakan suatu keberuntungan.”

“Saudara Tangan besi tak usah merendah, begini saja, dalam dua puluh jurus bila saudara Thi mampu merebut golokku, anggap saja kau yang memenangkan partai ini.”

Diam-diam Tangan besi berpikir, “Kelihatannya dia sadar bukan tandinganku, maka diajukan tawaran untuk merampas senjatanya saja…”

Maka sahutnya kemudian, “Baiklah, mari kita saling menjajal kemampuan, akan kucoba untuk merampas senjata Sianseng.”

Pertama karena si Tangan besi ingin mengabulkan keinginan lawan, dan kedua karena yang menentukan cara pertarungan adalah Wan Beng-tin, maka tanpa pikir panjang dia sanggupi tawaran itu.

Siapa tahu Wan Beng-tin segera berseru kegirangan, “Terima kasih atas kemurahan saudara Thi, jadi partai pertarungan ini bisa kau menangkan bila berhasil merampas senjataku dalam dua puluh gebrakan.”

Tangan besi tertegun, ia segera sadar kalau sudah masuk perangkap, tapi lantaran tawaran itu sudah disanggupi, tentu saja dia tak bisa memungkiri lagi. Pikirnya, “Kepandaian silat yang dimiliki Wan Beng-tin tidak terlampau hebat, bukan pekerjaan yang sulit untuk merampas senjatanya dalam dua puluh jurus, rasanya belum bisa dibilang aku tertipu.”

Sementara dia termenung, Wan Beng-tin telah melintangkan goloknya di depan dada sambil berseru, “Silakan!”

Si Ceng-tang sadar bahwa si Tangan besi sudah terperangkap oleh kelicikan Wan Beng-tin, namun mereka hanya bisa mengumpat dalam hati, sebab bila Tangan besi gagal merampas senjata lawan dalam dua puluh jurus maka partai pertama dianggap kalah, semakin sulit bagi pihak mereka untuk menangkan partai kedua maupun ketiga.

Sementara itu Tangan besi tidak banyak bicara lagi, tiba-tiba ia menerobos maju ke depan langsung mengancam pergelangan tangan lawan.

Wan Beng-tin terperanjat, pikirnya, “Aaah, cepat benar gerak serangan orang ini.” Segera dia menarik tangannya sambil mundur tiga langkah dengan sempoyongan.

“Jurus pertama!” Cing Sau-song segera berteriak.

Baru saja Wan Beng-tin mundur langkah ketiga, si Tangan besi telah merangsek maju, sekali lagi dia mencengkeram pergelangan tangan lawan.

Segera Wan Beng-tin mundur lagi ke belakang untuk menghindarkan diri, kali ini dia malah mundur sejauh tujuh delapan langkah.

“Jurus kedua!” kembali Cing Sau-song berteriak.

Ketika si Tangan besi melancarkan serangan hingga jurus ketujuh, Wan Beng-tin sudah tak punya tempat lagi untuk mundur, tiba-tiba ia tekuk sikunya dan langsung disodokkan ke dada lawan.

Tangan besi memutar telapak tangannya menampar ke depan, dia ancam dada lawan terlebih dulu dengan harapan serangan tersebut memaksa Wan Beng-tin membatalkan serangannya karena harus menyelamatkan diri.

Siapa tahu Wan Beng-tin sama sekali tidak menggubris ancaman itu, dia tetap menerjang dada lawan dengan sikunya.

Segera terlintas ingatan dalam benak Tangan Besi, pikirnya, “Aaah benar, aku telah berjanji hanya akan merampas senjatanya dan tidak melukainya, jika dia sampai terluka, bukankah sama artinya aku telah melanggar janji? Tak heran kalau dia sama sekali tidak mempedulikan ancamanku.”

Dengan perasaan terkesiap, segera dia tarik kembali pukulannya dan segera menangkis sodokan siku lawan.

“Jurus kedelapan, jurus kesembilan!” teriak Cing Sau-song lantang.

Biarpun serangan yang barusan dilancarkan si Tangan besi sebenarnya cuma setengah jurus, kemudian sewaktu menangkis juga hanya memakai setengah jurus, namun pihak lawan tetap menganggapnya sebagai dua jurus, dengan begitu sama artinya dia telah menyia-nyiakan dua jurus dengan percuma.

Oleh karena Tangan besi harus menarik kembali serangannya untuk menangkis, Wan Beng-tin segera memanfaatkan peluang itu untuk melancarkan serangan balasan, golok besarnya diputar kencang.

Jangan dilihat perawakan tubuhnya kurus kecil, senjata itu diputarnya sedemikian rupa hingga menimbulkan suara menderu, secara beruntun dia melancarkan tiga bacokan maut mengancam tubuh bagian atas, tengah dan bawah lawan.

“Bagus!” sorak-sorai bergema gegap gempita, serangan golok itu memang manis dan amat mempesona.

Siapa tahu belum selesai orang memuji, cahaya golok mendadak hilang lenyap, ternyata kelima jari tangan si Tangan besi telah menjepit golok itu kuat-kuat.

“Jurus kesepuluh!” kembali Cing Sau-song berteriak. Tiba-tiba Wan Beng-tin melontarkan sebuah pukulan dengan telapak tangan kirinya, langsung mengancam dada lawan.

Tangan besi angkat lengan kanannya siap memotong lengan kiri Wan Beng-tin, tiba-tiba hatinya kembali tergerak, dia tahu bila babatan ini mengenai lengan kiri lawan, dapat dipastikan lengan lawan akan lumpuh total, tindakan ini sama artinya dia telah ingkar janji.

Berpikir begitu, terpaksa dia menarik kembali tangannya sambil berkelit ke samping, ia biarkan pukulan musuh lewat dari sisi badannya, namun cengkeramannya pada golok lawan sedikitpun tidak mengendor.

“Jurus kesebelas, kedua belas!” kembali Cing Sau-song berseru.

Begitu berhasil mencengkeram gagang golok lawan, Tangan besi tetap mempertahankannya, baru saja dia hendak membetot sekuatnya, mendadak Wan Beng-tin berikut senjatanya menumbuk tubuh Tangan besi.

Tangan besi benar-benar terjebak dalam kondisi serba salah, dia tak bisa melukai lawan, sebaliknya juga tak bisa bertarung kelewat lama, menghadapi terjangan Wan Beng-tin ini, dia semakin kikuk.

Bila terjangan itu dihindari, besar kemungkinan Wan Beng-tin akan terluka oleh golok sendiri, berarti dia ingkar janji.

Menghadapi kondisi seperti ini, akhirnya si Tangan besi menghela napas panjang, sadar kalau keadaan tidak menguntungkan, segera dia lepas tangan sambil melompat mundur.

“Jurus ketiga belas!”

Begitu mundur ke belakang tiba-tiba Tangan besi merangsek lagi dengan kecepatan bagaikan anak panah terlepas dari busur, dia mendekati tubuh lawan kemudian mencengkeram lagi golok yang ada dalam genggaman lawan.

Wan Beng-tin tidak menyangka musuh akan merangsek lagi setelah mundur ke belakang, bahkan menerjang dengan kecepatan begitu tinggi, belum lagi senjatanya digerakkan, tahu-tahu tangan lawan sudah mencengkeramnya kembali.

Dalam gugupnya, segera dia memutar goloknya dengan sepenuh tenaga.

Waktu itu, Tangan besi masih mencengkeram golok itu, dengan gerak perputaran itu maka besar kemungkinan tangan kanannya bakal terpapas kutung.

Siapa tahu walaupun Wan Beng-tin sudah memutar senjatanya dengan sekuat tenaga, ternyata senjata itu sama sekali tidak bergeming, cengkeraman si Tangan besi bagaikan tanggam besi yang menjepit gagang golok itu kuat-kuat, jangankan berputar, bergeser pun tidak.

“Lepas tangan!” hardik Tangan besi nyaring.

“Criiiiing!” sekuat tenaga ia membetot golok itu ke belakang, tak ampun golok besar itu segera terlepas dari genggaman lawan.

Sementara itu Cing Sau-song telah menghitung hingga jurus kelimabelas.

Baru saja Tangan besi berhasil merampas golok lawan, mendadak terasa desingan angin tajam mengancam wajahnya, semula dia mengira Wan Beng-tin tidak pegang janji dan menyerangnya lagi dengan senjata lain.

Sambil menarik napas panjang, ia berjumpalitan beberapa kali dan mundur sejauh tujuh depa, tapi ia segera tertegun, ternyata golok yang berhasil direbutnya itu hanya sebuah golok besar yang kosong dan tanpa gagang senjata, sementara dalam genggaman lawan terlihat sebilah golok tipis yang lebih kecil bentuknya, ternyata golok tipis itu semula disembunyikan di dalam golok besar yang bertindak sebagai sarung golok.

Tangan besi terkejut bercampur gusar, sementara Cing Sau-song sudah menghitung sampai jurus yang keenam belas, bila dalam empat jurus berikutnya dia masih gagal merampas senjata di tangan Wan Beng-tin, berarti dia kalah.

Menyembunyikan golok di balik golok oleh Wan Beng-tin ini sama sekali di luar dugaan Tangan Besi, padahal syarat kemenangan dalam partai pertarungan ini adalah merebut senjata di tangannya dalam dua puluh jurus, dan sekarang Wan Beng-tin masih menggenggam sebilah golok tipis, meski menggunar kan akal licik namun belum bisa dibilang sudah kalah.

Tangan besi sadar, Wan Beng-tin memang orang licik dan banyak akal muslihatnya, bisa jadi di balik golok tipisnya ini masih tersembunyi senjata lain, jalan satu-satunya untuk menangkan partai ini hanyalah berusaha memaksa lawan melepaskan genggamannya dalam empat jurus selanjutnya.

Rombongan Si Ceng-tang hanya bisa berseru tertahan setelah menyaksikan semua peristiwa itu, mereka merasa sayang karena satu jurus terbuang lagi dengan percuma.

Gagal dengan bacokannya, Wan Beng-tin mundur ke belakang, dia tahu tinggal empat jurus lagi akan meraih kemenangan, sementara dia pun tidak kuatir lawan akan ingkar janji dengan melukai dirinya, pikirnya, “Sehebat-hebatnya ilmu silatmu, asal kusembunyikan golok ini di belakang badan dan berusaha tidak membiarkan tercengkeram olehmu, masakah dalam empat jurus kau bisa membuatku menyerah? Apalagi jika kulindungi senjata ini dengan tubuhku, mana berani kau melukai aku? Sekali aku terluka berarti kau kalah…tampaknya partai ini akan dimenangkan Lian-in-ce dengan mudah.”

Berpikir sampai di situ, Wan Beng-tin segera membulatkan pikiran dengan melintangkan goloknya di belakang punggung.

Mendadak terdengar Tangan besi membentak keras, bentakan itu sedemikian nyaring hingga menggetarkan perasaan setiap orang.

Wan Beng-tin amat terkejut, saking kagetnya sampai berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar, sementara para bandit Lian-in-ce banyak di antaranya yang mundur dua tiga langkah, bahkan tak sedikit yang jatuh terduduk saking kagetnya.

Di tengah suara bentakan Tangan besi yang begitu nyaring, lamat-lamat terdengar Cing Sau-song berseru, “Jurus ketujuh belas!”

Ternyata ketua Lian-in-ce ini telah memasukkan auman singa itu sebagai satu jurus serangan.

Begitu auman singanya membuat Wan Beng-tin tertegun dan untuk sesaat seakan kehilangan kesadarannya, secepat kilat Tangan besi menyelinap ke belakang tubuhnya lalu dengan satu gerakan cepat dia mencengkeram pergelangan tangan kanan Wan Beng-tin.

Menyusup bagai naga sakti, mencengkeram bagai jepitan baja, hampir semua gerakan itu dilakukan dalam waktu bersamaan, karena itu seliciknya Cing Sau-song, dia hanya bisa menganggap serangan ini sebagai satu jurus serangan, jurus kedelapan belas.

Begitu Tangan besi berhasil mencengkeram pergelangan tangan Wan Beng-tin, segera ia kerahkan tenaga dalam untuk menggetar lepas golok yang berada dalam genggaman lawan.

Terdengar Wan Beng-tin berseru tertahan, kelima jari tangannya tergetar hingga merentang lebar, tapi sayang golok tipis itu sama sekali tidak jatuh ke tanah.

Tangan besi segera mengamati tangan musuh lebih seksama, kontan amarahnya meledak, ternyata pada gagang golok itu terdapat lima buah gelang besi, dan kelima gelang besi itu tercengkeram jadi satu di kelima jari tangan Wan Beng-tin, kecuali memapas kutung kelima jari tangan itu, rasanya sulit untuk memisahkan golok tipis dari tangannya.

Padahal bila hal ini dilakukan, maka Tangan Besi-lah yang harus menelan kekalahan.

Dalam pada itu. semua orang sudah dapat melihat jelas gelang besi yang menyatu dengan jari tangan Wan Beng-tin, helaan napas panjang segera bergema memecah keheningan.

Si Tangan besi sadar, kini peluangnya tinggal dua jurus serangan, padahal waktu itu Wan Beng-tin sudah sadar dari kagetnya, tanpa mempedulikan urat nadinya dicengkeram lawan, kepalan kirinya langsung dihantamkan ke atas batok kepala lawan.

Dalam keadaan seperti ini, asalkan Tangan besi mengerahkan sedikit tenaga saja, dia pasti sudah melukai Wan Beng-tin dan membendung serangan itu, sayang dia tak bisa melukai lawannya, terpaksa sambil membuang tubuhnya ke belakang, dia hindari jotosan itu.

“Tinggal satu jurus!” Cing Sau-song berteriak lantang. Biasanya jurus serangan yang dihitung dalam satu pertempuran hanyalah jurus yang digunakan untuk menyerang, sedang jurus pertahanan tak terhitung, tapi Cing Sau-song tetap menganggapnya sebagai satu jurus, semua orang tahu dia sedang main curang, namun tak seorang pun yang menegurnya.

Pada saat itulah mendadak Tangan besi melepaskan lengan kiri lawan, Wan Beng-tin segera memutar tangannya dan membacok lengan lawan dengan goloknya.

Kali ini Tangan besi tidak menghindar, lima jari tangannya segera disentilkan bersama ke depan.

“Kraaak!” bacokan golok itu langsung menghajar lengan kiri si Tangan Besi.

“Kraak, kraak, kraak, criiing!” terdengar berapa kali bunyi gemerutuk yang keras membelah angkasa, tahu-tahu golok milik Wan Beng-tin sudah terlepas dari genggaman dan jatuh ke tanah, tapi sebelum menyentuh tanah sudah disambar oleh Tangan besi.

Paras muka Wan Beng-tin nampak merah bercampur pucat, untuk beberapa saat lamanya dia tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Tak ada darah yang mengalir keluar dari lengan kiri si Tangan besi, meskipun pakaiannya terbabat hingga robek sebagian besar, namun kulit badan jagoan itu sama sekali tidak cedera.

Sambil menghela napas panjang kata Cing Sau-song, “Jurus kedua puluh! Kagum! Kagum!”

Rupanya tindakan si Tangan besi melepaskan cengkeraman urat nadi lawan adalah bertujuan untuk memancing dia mengayun goloknya melancarkan babatan, saat itu jari tangannya pasti akan menggenggam gagang senjata kuat-kuat, maka sewaktu Tangan besi menyentilkan kelima jari tangannya, kelima gelang besi di jari tangan Wan Beng-tin seketika tergetar hingga patah beberapa bagian.

Maka ketika Wan Beng-tin mengayunkan golok sepenuh tenaga, lantaran gelang genggamannya patah dan hancur, dengan sendirinya genggaman pada senjata pun jadi tidak kencang, begitu terkena tenaga sentilan, tak ampun lagi golok itu terlepas dari genggaman dan jatuh ke tanah.

Di jurus yang kedua puluh, akhirnya Tangan besi berhasil merampas golok yang berada dalam genggaman Wan Beng-tin tanpa mencederai tubuhnya.

Tempik sorak segera bergema memecah keheningan, Si Ceng-tang bersorak karena kemenangan ini.

“Maaf, maaf” seru Tangan besi sembari menjura.

Dengan wajah pucat-pasi. Wan Beng-tin menghela napas panjang, ujarnya, “Saudara Thi memang luar biasa, sudah beribu kali aku Wan Beng-tin menghadapi berbagai pertempuran, tapi baru kali ini aku mengaku kalah dengan setulusnya.”

Tentu saja dia harus mengaku kalah dengan setulusnya, sebab bukan saja dia telah menjebak lawan untuk merampas senjatanya dalam dua puluh jurus, bahkan dia pun berhasil memaksa lawannya untuk berjanji tak akan mencederai dirinya dan dia pun telah mengeluarkan senjata rahasianya di balik golok besar andalannya.

Kenyataan, dua puluh jurus kemudian senjata dalam genggamannya benar-benar telah terlepas, menghadapi kenyataan seperti ini, sudah barang tentu Wan Beng-tin tak sanggup berkata lagi.

Sementara itu Ngo Kong-tiong telah tampil ke depan sambil tertawa nyaring, serunya, “Sekarang tiba giliranku untuk menjajal kehebatan ilmu silat Lian-in-ce, silakan!”

Dengan wajah berat dan serius, Lau Hiat-kong tampil ke tengah arena, begitu tiba ia segera merentangkan sepasang kakinya dan berdiri tegak bagaikan sebuah bukit karang, hawa pembunuhan terasa terpancar keluar dari wajahnya.

“Ngo-cecu, silakan!” ujarnya hambar seraya memberi hormat.

Ngo Kong-tiong memperhatikan lawannya sekejap, lalu serunya lagi sambil tertawa tergelak, “Hahaha…kau adalah seorang Cecu, sedang aku pun seorang Cecu, pertarungan ini benar-benar menarik.”

Sebelum kehadiran Cing Sau-song, Lau Hiat-kong adalah Toa-cecu benteng Lian-in-ce, waktu itu pamor Lian-in-ce memang sedikit di bawah pamor Lam-ce, namun ada kesan mereka saling mengejar dalam usahanya meraih pamor yang lebih tinggi.

Kemudian, meski pamor Lian-in-ce jauh melebihi pamor Lam-ce semenjak bergabungnya Cing Sau-song, namun kehebatan bekas Cecu itu tetap disegani banyak orang.

Ngo Kong-tiong sendiri meski usianya sudah lanjut, namun wataknya tetap keras dan gemar bergerak, dia paling senang bila dapat berjumpa dengan musuh tangguh, tak heran kalau tangannya jadi gatal begitu bersua dengan Lau Hiat-kong.

“Ngo-cecu, silakan memberi petunjuk,” ujar Lau Hiat-kong dingin.

“Hahaha…kau punya julukan auman macan, tukikan elang, pedang ular berbisa, hal ini membuktikan tenaga dalammu sempurna, ilmu Ginkangmu tinggi dan ilmu pedangmu sangat cepat. Bagaimana kalau dalam pertarungan kali ini kita beradu tenaga dalam, ilmu meringankan tubuh dan ilmu pedang?”

Tentu saja Lau Hiat-kong menyambut tawaran itu dengan senang hati, sebab dia pun tahu Ngo Kong-tiong punya julukan Sam-coat-it-seng-lui (tiga kehebatan satu suara guntur) kehebatan yang pertama adalah tenaga dalam, kehebatan kedua adalah ilmu meringankan tubuh dan kehebatan yang ketiga adalah ilmu pedang. Persis seperti tiga macam kepandaian andalannya.

Maka dalam hati dia pun berpikir, “Ngo Kong-tiong sudah tua, tak mungkin dia mampu bertarung lama, sementara aku masih muda dan kuat, tenagaku bisa bertahan lama, kemampuanku naik turun juga lebih tangguh tanpa kuatir napas tersengal, bila kugunakan ilmu pedang ular untuk memaksanya bertarung cepat, bisa jadi kemenangan akan berada di pihakku.” Berpikir sampai di situ, dia pun segera mengangguk. “Baik!” sahutnya.

“Hahaha…kalau begitu lihat serangan!” diiringi gelak tertawa yang nyaring, dia melancarkan sebuah pukulan.

Ngo Kong-tiong sudah terkenal di dunia persilatan sebagai si pedang cepat, bahkan muridnya pun mendapat julukan si pedang kilat, hal ini membuktikan bahwa kecepatan serangan pedangnya luar biasa.

Tapi dalam melancarkan pukulannya saat ini, dia justru melakukannya dengan sangat lamban, di balik kelambanan terselip tenaga pukulan yang berat dan serius, lamat-lamat malah membawa deru angin dan guntur yang mengerikan, berbeda sekali dengan julukannya sebagai si pedang cepat.

Lau Hiat-kong tidak berusaha menghindar, sambil mendengus dingin dia balas melancarkan sebuah pukulan. Serangan ini nampak dilancarkan secara sembarangan namun mengandung deru angin tajam dan auman harimau yang menggidikkan hati.

“Plaaak!” ketika dua telapak tangan saling beradu, tubuh Ngo Kong-tiong mundur sejauh tiga langkah, sementara paras muka Lau Hiat-kong berubah hebat, tubuhnya nampak bergoncang keras.

Tanpa membuang waktu, sekali lagi Ngo Kong-tiong melancarkan sebuah pukulan yang segera disambut Lau Hiat-kong dengan sebuah pukulan pula.

“Blaaam!” percikan bunga salju berhamburan ke udara setinggi tujuh depa lalu berjatuhan, kali ini paras muka Ngo Kong-tiong berubah sangat hebat, tubuhnya gontai dan napasnya agak tersengal, sementara Lau Hiat-kong mundur tujuh langkah dengan sempoyongan.

Begitu langkahnya berhenti, Lau Hiat-kong menyerbu lagi ke depan sambil melancarkan sebuah pukulan, kekuatan serangannya kali ini sepuluh kali lipat lebih hebat daripada serangan pertama tadi.

Ngo Kong-tiong balas membentak, dengan suara bagai guntur membelah bumi dia sambut datangnya serangan itu dengan sebuah pukulan pula.

“Blaammm!” ketika benturan terjadi, menggelegarlah suara bentrokan yang sangat memekakkan telinga, tubuh Lau Hiat-kong maupun Ngo Kong-tiong berdiri saling menempel tanpa bergerak, kedua belah pihak sama-sama mengerahkan tenaga dalam saling beradu.

Betapa terkejutnya Ngo Kong-tiong begitu telapak tangan mereka saling menempel, dia tak mengira kekuatan tenaga dalam lawan begitu sempurna bahkan menggencetnya tanpa henti.

Sebaliknya Lau Hiat-kong sendiri pun tidak kalah kagetnya, mula-mula dia mengira tenaga dalam lawan tak akan begitu hebat mengingat usianya sudah lanjut, siapa tahu tenaga yang datang menggencetnya seakan mengalir tiada putus.

Dalam waktu singkat kedua belah pihak tak mampu berkutik, mereka harus mengerahkan terus tenaga dalamnya untuk saling bertahan.

Pertarungan adu tenaga dalam semacam ini memang sangat menakutkan, dalam posisi begini, kecuali kedua belah pihak sama-sama menarik kembali tenaganya, kalau tidak, maka pertarungan hanya bisa dihentikan bila salah satu di antara mereka sudah jadi korban.

Asap putih sudah mulai mengepul dari batok kepala kedua orang itu, timbunan salju dalam radius sepuluh depa di sekeliling mereka mulai mencair, sedang tubuh kedua orang itupun terperosok masuk ke tanah makin dalam.

Dalam situasi yang amat kritis inilah kebetulan Thian Toa-ciok muncul di tempat itu, melihat kedua orang itu sedang bertarung sengit, tanpa bertanya dia membentak keras dan menerjang ke tengah arena dengan jurus kentangnya.

Sementara semua orang terperanjat, tiba-tiba terdengar seorang membentak nyaring, “Kau pun coba dulu jurus kentang kecilku!”

Menyusul bentakan itu, seorang lelaki berwajah hitam berkopiah hitam melompat masuk ke arena sambil menyodokkan sepasang tinjunya ke lutut lawan.

Siapa tahu Thian Toa-ciok berputar setengah lingkaran di udara lalu membuang diri ke tanah.

Ternyata orang yang tampil ke tengah arena itu tak lain adalah Cecu keempat Lian-in-ce, Mok Kiu-peng.

“Blammm!” ketika empat telapak tangan saling beradu, terjadi suara benturan yang memekakkan telinga, Thian Toa-ciok yang masih melambung di udara segera terpental sejauh tiga kaki lebih, sebaliknya Mok Kiu-peng terhajar badannya hingga terbenam di balik timbunan salju.

Walau begitu, ketika Thian Toa-ciok melayang turun, kepalanya sempat pusing tujuh keliling hingga tubuhnya ikut roboh terjungkal ke tanah.

Tapi justru dengan terjadinya peristiwa ini, Ngo Kong-tiong dan Lau Hiat-kong ikut terbebas juga dari ancaman bahaya maut.
Sebagai orang yang jujur dan adil, Ngo Kong-tiong tak ingin ada orang melancarkan serangan bokongan untuk membantunya, maka ketika menyadari akan datangnya serangan bokongan itu, segera dia buyarkan tenaga dalamnya sambil melompat mundur.

Dengan dibuyarkannya tenaga dalam Ngo Kong-tiong, segera Lau Hiat-kong ikut menarik kembali tenaga dalamnya, meski kedua belah pihak harus mundur sejauh tujuh langkah, namun mereka sama-sama tidak terluka.

Dalam hati kecil Lau Hiat-kong mengerti, bila Ngo Kong-tiong tidak menarik kembali tenaga dalamnya tepat waktu, dapat dipastikan dia akan menderita luka yang cukup parah, hal ini membuat dia merasa amat berterima kasih.

Sementara itu Pek Huan-ji sudah melompat keluar dari arena, melihat itu, sambil tertawa dingin Padri iblis seribu serigala
Koan Tiong-it berseru, “Mau tiga lawan satu?”

“Koan-taysu kelewat serius,” sahut Pek Huan-ji sambil tertawa dan menjura, “Sebenarnya kami tidak bermaksud main keroyok, hanya saja lantaran Thian-ya baru tiba dan tidak tahu Ji-cecu dan Ngo-loenghiong sudah berjanji akan bertarung satu lawan satu, maka ia turun tangan secara gegabah, untuk itu mohon maaf yang sebesar-besarnya.”

Cing Sau-song tidak enak untuk mengumbar amarah, dia cukup tahu kalau Ngo Kong-tiong telah berbaik hati, maka sahutnya sambil tertawa, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa, yang tidak tahu memang tidak salah.”

Di pihak lain, Mok Kiu-peng juga telah melompat keluar dari dalam tanah, ditatapnya Thian Toa-ciok sekejap dengan mata mendelik, kemudian gumamnya, “Hebat benar tenaga dalammu!”

“Kau pun memiliki kekuatan yang luar biasa, seorang lelaki sejati!” balas Thian Toa-ciok sambil melotot pula.

Pek Huan-ji segera memberi tanda kepada keempat prajurit yang menyertainya, keempat orang itupun muncul sambil membopong Jubah merah rambut hijau Kau Cing-hong dan Tombak ular emas Beng Yu-wi.

“Tadi rupanya telah terjadi kesalahpahaman antara kedua orang Cecu ini dengan pihak kami,” kata Pek Huan-ji kemudian. “Akibatnya mereka telah membunuh enam orang anggota kami, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, terpaksa kami harus membekuknya, untuk itu mohon Cing-cecu sudi memaafkan.”

Cing Sau-song mengerti, tujuan omongan Pek Huan-ji adalah untuk menyindir perbuatan Kau Cing-hong dan Beng Yu-wi yang sudah membokong orang bahkan membunuh, sehingga kalau sampai terjadi keadaan seperti ini, dia tak bisa disalahkan, untuk sesaat dia pun terbungkam.

Sementara itu Wan Beng-tin telah memerintahkan orang untuk memayang kedua orang rekannya sambil pura-pura mengumpat, “Kalian berdua bisanya hanya membuat keributan, nona Pek adalah tamu kehormatan kita, kenapa kalian malah bertindak kurangajar!”

Si Ceng-tang tahu Wan Beng-tin sedang bersandiwara, namun dia tak ingin membikin malu lawannya sehingga lantaran malu malah jadi murka dan membuat masalah semakin berantakan, segera katanya, “Mereka tidak perlu disalahkan, mungkin tindakan kami yang kelewat gegabah sehingga terjadi kesalahpahaman ini.”

Menggunakan kesempatan ini Wan Beng-tin kembali memaki Beng Yu-wi dan Kau Cing-hong, kemudian baru menyudahi urusan.

Keadaan kedua orang jago itu ibarat orang bisu makan empedu, biarpun pahit harus ditelan juga, padahal mereka tahu kalau perintah penyerangan ini dari Toa-cecu sendiri, sudah barang tentu mereka tak mungkin membantah di depan orang banyak, apalagi misinya membekuk lawan mengalami kegagalan total.

Dalam pada itu pertarungan antara Lau Hiat-kong melawan Ngo Kong-tiong sudah memasuki pertarungan babak kedua, tampak Lau Hiat-kong merogoh sakunya mengeluarkan sebiji mata uang tembaga, kemudian ujarnya dingin, “Siapa yang berhasil menangkap mata uang ini duluan, dialah yang memiliki ilmu meringankan tubuh paling hebat!” Selesai bicara dia lempar mata uang itu setinggi tiga kaki lebih, persis di antara mereka berdua.

Lau Hiat-kong segera melejit ke udara mengejar mata uang itu, bersamaan Ngo Kong-tiong ikut melejit pula ke udara, bagaikan dua ekor naga sakti kedua orang itu melesat ke atas.

Dengan menggunakan ibu jari dan telunjuknya, Ngo Kong-tiong menyambar mata uang itu. Kuatir benda itu jatuh ke tangan lawan, segera Lau Hiat-kong menyentil mata uang itu beberapa kaki lebih tinggi dengan sentilan jari tengahnya.

Melihat mata uang itu tersentil hingga mencelat lebih tinggi, Ngo Kong-tiong membentak gusar, sambil menarik napas pan jang tubuhnya kembali melejit satu kaki lebih tinggi.

Lau Hiat-kong tak mau kalah, dia ikut menghimpun tenaga dalam dan balas menyambar mata uang itu.

Waktu itu, tangan Ngo Kong-tiong sudah hampir menyambar mata uang itu, melihat Lau Hiat-kong ikut menyambar, cepat serangannya dari mencakar diubah jadi membacok, langsung menghajar kelima jari tangan musuh.

Lau Hiat-kong cukup mengerti akan kehebatan lawan an daikata bacokan itu bersarang telak, bisa jadi kelima jari tangannya akan patah semua, terpaksa dia urungkan niatnya lalu menarik kembali cengkeramannya.

Gagal dengan babatan mautnya, kembali Ngo Kong-tiong mengubah pukulan jadi cengkeraman, perubahan jurusnya dilakukan amat cepat sehingga nyaris tidak tampak perubahan itu.

Tatkala jari tangan Ngo Kong-tiong segera akan menyentuh mata uang itu, tubuh Lau Hiat-kong yang sedang merosot ke bawah segera melepaskan sebuah tendangan ke tangan lawan.

Ngo Kong-tiong terkesiap, sadar akan datangnya ancaman yang bisa menghancurkan tangannya itu, segera dia tarik kembali tangannya sembari berkelit.

Mata uang yang terlempar mencapai titik puncaknya, seketika kehabisan tenaga lontaran dan mulai meluncur ke bawah.

Waktu itu tubuh Lau Hiat-kong sudah merosot ke bawah, melihat mata uang itu jatuh lewat sisinya, segera dia ayun tangannya untuk menyambar.

Melihat itu, Ngo Kong-tiong segera mengerahkan ilmu bobot seribunya untuk mempercepat gerak luncur tubuhnya, sebuah tendangan langsung ditujukan ke nadi penting di tubuh lawan.

Melihat datangnya tendangan maut itu, kembali Lau Hiat-kong menarik kembali tangannya sambil berusaha menghindar.

Daya luncur tubuh Ngo Kong-tiong semakin cepat, ketika nyaris menginjak kaki lawan, segera Lau Hiat-kong menggunakan ilmu harimau bumi untuk menggelinding ke samping.

Sebenarnya, Ngo Kong-tiong siap merebut mata uang itu ketika tubuhnya sudah mencapai permukaan tanah, baru saja dia bersiap menyambar mata uang itu, lagi-lagi Lau Hiat-kong melancarkan sebuah tendangan kilat yang membuat mata uang itu terlempar lagi sejauh beberapa kaki.

Ngo Kong-tiong segera menghimpun tenaga dalamnya sambil melesat miring ke samping. Lau Hiat-kong tak mau kalah, dia ikut melesat pula dari sisinya.

Kedua orang itu satu dari atas dan yang lain dari bawah meluncur berjajar ke depan, walau hanya sekejap, namun kedua belah pihak telah saling menyerang sebanyak beberapa gebrakan.

Tatkala tenaga luncur mata uang itu sudah melewati puncaknya, Lau Hiat-kong dan Ngo Kong-tiong turun tangan bersama, tangan kiri Ngo Kong-tiong mencakar ke depan, ketika hampir menyentuh mata uang itu mendadak tangan kanan Lau Hiat-kong secepat sambaran kilat mencengkeram urat nadinya.

Begitu lawan menarik kembali tangannya, sambil tertawa dingin Lau Hiat-kong menggerakkan tangan kirinya menyambar mata uang itu.

Ketika tangannya hampir menyentuh uang logam itu, tiba-tiba Ngo Kong-tiong membalik lagi tangan kanannya sambil mengancam urat nadi lawan. Sementara mereka berdua masih saling menyerang, uang logam itu jatuh ke tanah.

Helaan napas panjang bergema memecah keheningan, Ngo Kong-tiong saling pandang sekejap dengan Lau Hiat-kong kemudian masing-masing menarik kembali serangannya.

“Ilmu meringankan tubuh yang hebat!” puji Lau Hiat-kong dengan dingin.

“Ginkangmu juga termasuk hebat!” balas Ngo Kong-tiong sambil tertawa. “Mari kita selesaikan pertandingan babak ketiga ini!” Biar usianya sudah lanjut namun dua partai pertarungan yang baru saja berlalu seakan sama sekali tidak membuat tenaga dalamnya jadi lemah.

Melihat itu Lau Hiat-kong berpikir, “Sehebat apapun tenaga dalam yang dimilikinya, usiaku jauh lebih muda dan tenaga ku lebih kuat, bagaimanapun juga aku mesti mencari kescm patan untuk memenangkan pertarungan babak ini.”

Waktu itu Ngo Kong-tiong sendiri pun punya pemikiran yang sama, hanya saja dia anggap meski lawan hebat tenaga dalamnya serta ilmu meringankan tubuh, namun sangat berbeda dalam ilmu pedang, selain kematangan dibutuhkan juga pengalaman yang luas dalam menghadapi lawan, dan Ngo Kong-tiong menganggap pengalamannya jauh melebihi lawan.

Dia segera cabut keluar pedangnya yang tebal, bunyi dengungan tajam segera menggema di angkasa.

Lau Hiat-kong mendengus dingin, dia cabut juga pedangnya, terlihat cahaya bianglala emas bergetar di udara, senjata yang lentur itu segera menggeliat bagaikan seekor ular berbisa.

“Bagus, pedang ular berbisa yang hebat!” puji Ngo Kong-tiong tanpa sadar.

“Rasakan juga kehebatan ilmu pedang ular berbisa!” dengus Lau Hiat-kong dingin, pedangnya segera menusuk ke tubuh lawan.

Ngo Kong-tiong membalik tangan sambil merentangkan senjata.

“Traang!” bunga api menyebar, ujung pedang Lau Hiat-kong tahu-tahu sudah menusuk di tubuh pedang Ngo Kong-tiong yang tebal.

Sembari membendung serangan pedang lawan, Ngo Kong-tiong melancarkan tiga serangan balasan, jangan dilihat pedang miliknya tebal lagi berat, ternyata ketebalan senjata sama sekali tidak mempengaruhi kecepatan, tapi sayang semua tusukan itu berhasil dipunahkan oleh Lau Hiat-kong secara mudah.

Begitu berhasil mementahkan serangan lawan, Lau Hiat-kong segera melepaskan lima tusukan balasan, semua serangan dilancarkan dengan jurus yang aneh dan berbahaya, ibarat pagutan seekor ular berbisa, meliuk-liuk tapi sangat mematikan.

Secara beruntun Ngo Kong-tiong menangkis kelima buah tusukan itu, kemudian balas menyerang sebanyak tujuh kali.

Pedang ular berbisa Lau Hiat-kong menggeliat berulang kali sambil menyambar sana-sini, beruntun dia melancarkan tujuh congkelan yang membuat semua serangan musuh terpunahkan, secepat kilat ia lancarkan sepuluh serangan balasan.

Makin bertarung gerakan tubuh kedua orang ini semakin cepat, jurus serangan yang dipakai pun semakin hebat dan mengerikan, hingga pada akhirnya hanya desingan angin tajam yang terdengar memenuhi arena.

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan tercekat si Tangan besi mulai berpikir, “Celaka, kalau keadaan seperti ini dibiarkan berlangsung terus, lama kelamaan Ngo Kong-tiong bisa tak tahan, usianya sudah lanjut, daya tahan Lau Hiat-kong semestinya jauh lebih tangguh.”

Di pihak lain, Cing Sau-song sendiri pun merasakan terkesiap, dia sadar bahwa pengalaman tempur yang dimiliki Ngo Kong-tiong jauh melebihi Lau Hiat-kong, bila bertarung dalam jangka panjang, maka asal Lau Hiat-kong sedikit kurang berhati-hati, besar kemungkinan dia akan menderita kekalahan total.

Mendadak kedua orang itu menghentikan gerakan tubuhnya secara tiba-tiba. Ketika semua orang berpaling, tampak Lau Hiat-kong dan Ngo Kong-tiong berdiri saling berhadapan dengan napas tersengal, wajah mereka pucat pias bagai mayat.

Waktu itu, ujung pedang milik Ngo Kong-tiong sudah berada setengah inci di depan dada Lau Hiat-kong, sementara pedang ular berbisa milik Lau Hiat-kong berada setengah inci di atas Bi-sim-hiat di kening Ngo Kong-tiong.

Ternyata sewaktu kedua orang itu bertempur hingga mencapai puncaknya, Ngo Kong-tiong mulai merasa kehabisan napas, terpaksa dia berlagak seakan kehabisan tenaga dan tubuhnya roboh terjengkang.

Lau Hiat-kong menyangka lawannya keok, dia segera merangsek maju, siapa tahu pada saat itulah ujung pedang Ngo Kong-tiong sudah menusuk ke arah dadanya.

Sayang, dia sudah tua hingga tenaganya banyak terkuras, sehebatnya taktik yang ia pergunakan, gerak serangannya tetap lamban, Lau Hiat-kong memanfaatkan kesempatan itu untuk menusuk Bi-sim-hiat lawan.

Cing Sau-song tertegun sesaat, kemudian segera teriaknya, “Hanya saling menutul, hanya saling menutul…!” dia kuatir kedua orang itu terbakar emosi hingga melanjutkan tusukannya

“Betul, anggap saja partai ini seri,” sambung Si Ceng-lang cepat.

Karena partai pertama telah dimenangkan si Tangan besi meski partai kedua seri, asal partai ketiga tidak kalah maka pihaknya akan menangkan pertandingan ini, oleh sebab itu segera dia ikut berseru.

Pelan-pelan Ngo Kong-tiong dan Lau Hiat-kong menarik kembali pedangnya sembari mengatur pernapasan.

“Ilmu pedang yang hebat!” puji Ngo Kong-tiong kemudian.

“Kau pun hebat juga!” balas Lau Hiat-kong.

Kedua orang itu saling berpandangan sekejap, rasa kagum timbul dalam hati masing-masing.

Dalam pada itu, Pak-shia Shiacu Ciu Pek-ih dan Naga sakti Cing Sau-song sudah tampil ke tengah arena, pertarungan yang menentukan menang kalah segera akan dimulai.

Di pihak lain, waktu itu Liu Ing-peng telah bertarung sengit melawan si Tongkat raja bengis Yu Thian-Iiong, setelah berhasil membunuh Sepasang golok pencabut nyawa Be-ciangkwe, seorang prajuritnya juga ikut tewas terbunuh, sisanya yang tinggal dua orang masih terlibat dalam pertarungan sengit melawan lima belas orang bandit.

Biarpun Liu Eng-peng seorang diri harus berhadapan dengan belasan orang, namun dengan mengandalkan golok kilatnya serta gerakan tubuhnya yang enteng, untuk sesaat belasan orang itu tak mampu berbuat banyak, malah tak lama kemudian ia berhasil menghajar dua orang lawannya.

Ia sadar bila pertarungan semacam ini dibiarkan berlangsung terus, meski setengah jam kemudian pun belum tentu ia berhasil menghabisi sisa sembilan orang bandit yang masih bertahan, padahal kedua orang sisa prajuritnya tak mungkin bisa bertahan
lama.

Bila kedua orang prajurit itu ikut roboh, maka belasan orang bandit itu pasti akan ikut mengerubutnya, dalam keadaan semacam itu biar dia punya tiga kepala enam lengan pada akhirnya pasti akan ditawan musuh.

Di saat yang amat kritis itulah, mendadak ia mendengar bentakan gusar seorang, disusul munculnya sesosok bayangan manusia.

Tiga orang bandit yang sedang mengepung kedua orang prajurit itu hanya merasakan pandangan matanya kabur, tahu-tahu seorang berwajah keren seakan memiliki tiga buah tangan telah menyambar ke arah mereka.

Rasa tertegunnya belum lenyap, tahu-tahu ketiga orang itu sudah terlempar keluar arena.

Sebagai jagoan berpengalaman, tentu saja ketiga orang itu mandah menyerah, mereka berjumpalitan di udara, lalu melayang turun lagi, siapa sangka tenaga lemparan itu sangat aneh, bukan saja ketiga orang itu gagal melayang turun, bahkan tubuh mereka terjengkang dengan kepala di bawah, tak ampun batok kepala mereka menumbuk di batu cadas hingga hancur, tentu saja nyawa mereka pun ikut berangkat ke langit barat.

“Ciu-huciangkun!” teriak Liu Ing-peng kegirangan. Ternyata jagoan yang baru muncul memang tak lain adalah Ciu Leng-liong!

Panglima perang ini tersohor sebagai si Monyet sakti bertangan tiga, sewaktu bertarung melawan musuh, dia seolah memiliki tiga lengan yang bisa melancarkan serangan, bukan saja jurus serangannya aneh bagai Kwan Im bertangan seribu, pada hakikatnya musuh tak sempat melihat jelas apa yang terjadi.

Kembali Ciu Leng-liong menyelinap maju ke depan, lagi-lagi dia menghadang tiga orang bandit.

Salah seorang bandit yang sempat melihat kehebatan musuhnya menghabisi nyawa ketiga orang rekannya dengan sekali gebrakan jadi keder dan pecah nyali, tergopoh-gopoh dia berkelit ke samping, sementara kedua orang rekannya maju membacok dengan nekad, “Wees, weesss!” dua kali desingan tajam bergema, tahu-tahu tubuh kedua orang itu sudah terlempar sejauh beberapa kaki dan tewas dengan tulang badan hancur.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: