Kumpulan Cerita Silat

27/09/2009

Pendekar Baja (28)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 10:13 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

Ternyata seluruh taman yang luas ini sudah penuh bintik-bintik api setan.

Api setan yang berwarna hijau pucat berkelip di tengah kegelapan taman yang sunyi sehingga membuat keadaan terasa sangat seram.

Setiba di luar, sekonyong-konyong setitik api setan menyambar tiba dengan membawa suara mendenging. Sekali lengan baju Sim Long mengebut, api setan ini tergulung ke dalam lengan baju, kiranya cuma sepotong tembaga tipis yang dibikin serupa sempritan dan disambitkan orang dengan kuat sehingga menerbitkan suara mendenging seperti suara suitan.

Adapun api setan itu cuma api fosfor saja.

Sim Long tersenyum dan membuang sempritan itu, ucapnya dengan tertawa, “Hah, kepandaian kawanan setan juga cuma begini saja.”

Tanpa berhenti ia terus menuju ke vila zamrud. Vila itu juga gelap gulita, hanya di serambi ada sebuah meja pendek, di situ ada sebuah pelita. Seorang berbaju kuning dengan baju dada terbuka menongkrong di situ asyik minum arak.

Menghadapi api setan yang memenuhi udara, orang ini tampak tetap santai saja seakan-akan beribu titik api setan yang misterius ini serupa bunga api yang mengiringi dia minum arak.

Dipandang dari jauh, lamat-lamat Sim Long melihat orang berjidat lebar, bermuka putih, berjenggot panjang terawat.

Sim Long menarik napas, akhirnya wajah asli Koay-lok-ong dapat dilihatnya juga, tokoh misterius yang selama belasan tahun paling disegani di dunia persilatan.

Koay-lok-ong asyik makan minum, ketika ia menaruh cawan araknya mendadak ia berpaling ke arah tempat sembunyi Sim Long, serunya dengan tertawa lantang, “Jika Anda sudah datang, kenapa tidak muncul kemari untuk minum bersamaku?”

Diam-diam Sim Long terkejut oleh ketajaman mata-telinga orang, cepat ia menjawab dengan tersenyum, “Cayhe Sim Long.”

“O, kiranya engkaulah Sim-kongcu,” kata Koay-lok-ong.

Dengan langkah lebar Sim Long mendekati orang, sapanya sambil memberi hormat, “Api setan memenuhi udara, Ongya asyik bersantap sendiri, sungguh sangat menyenangkan tampaknya.”

“Api setan memenuhi udara dan Sim-kongcu masih juga pesiar keluar, tentu tidak kecil juga hasrat Sim-kongcu,” ujar Koay-lok-ong tertawa.

“Karena Ongya tidak dapat diundang, terpaksa kudatang kemari untuk belajar kenal,” sahut Sim Long.

“Bagus, aku memang lagi kesepian minum sendirian, kini Sim-kongcu datang menemani, sungguh bagus sekali. Silakan!”

Sambil mengucapkan terima kasih, kini Sim Long dapat melihat lebih jelas wajah Koay-lok-ong.

Dilihatnya alisnya tebal, matanya panjang lebar dan gemerdep ditambah dengan hidungnya yang besar sehingga melambangkan perbawanya yang besar dan kecerdasan serta gairah hidupnya yang sukar ditandingi orang biasa.

Sim Long tidak dapat melihat mulutnya, karena mulut tertutup oleh kumis jenggotnya yang lebat, namun kumis jenggot terawat dengan rapi.

Koay-lok-ong juga sedang mengawasi Sim Long. Banyak pemuda cakap anak buahnya, tapi kalau dibandingkan Sim Long hampir tidak ada artinya.

Di samping meja pendek ada kasur berlapis kain sutra, mungkin tersedia untuk Yu-leng-kui-li (Setan Perempuan Alam Halus), di atas meja juga masih ada cawan kosong.

Tapi Sim Long lantas duduk saja di situ, lalu menuang arak sendiri, katanya, “Sudah lama kudengar Ongya seorang ahli minum, marilah kusuguh dulu Ongya secawan.”

Keduanya lantas angkat cawan dan menenggaknya hingga habis. “Ehm, arak sedap!” ucap Sim Long.

“Betapa bagusnya arak ini masakah dapat membandingi arak bubuk mutiaramu yang berharga sejuta tahil itu,” ujar Koay-lok-ong dengan tertawa terbahak.

Suara gelak tertawanya keras mengguncang atap, daun pohon pun sama rontok di luar. Namun tiada setetes arak dalam cawan Sim Long yang tercecer.

“Mengapa Ongya bergelak tertawa segembira ini?” tanya Sim Long.

“Hahahaha!” Koay-lok-ong tertawa latah pula. “Setiap orang Kangouw sekarang sama tahu Sim Long adalah musuhku yang terbesar, tapi kau Sim Long saat ini berani duduk berhadapan denganku, bahkan menyanjung puji diriku, coba apakah tidak lucu dan menggelikan? Haha!…”

Sim Long tenang saja, mendadak ia pun tertawa keras.

Karena suara tertawa kedua orang berjangkit sekaligus, “prak”, tahu-tahu cawan arak di atas meja sama retak tergetar.

Seketika Koay-lok-ong berhenti tertawa dan bertanya, “Dan mengapa Sim-kongcu mendadak ikut tertawa?”

Dengan lantang Sim Long menjawab, “Bahwa setiap orang Kangouw sama tahu mata-telinga Koay-lok-ong tersebar di segenap pelosok dunia ini, siapa duga seluk-beluk seorang Sim Long ternyata tidak dapat diketahui oleh Koay-lok-ong, coba, kan lucu dan menggelikan? Hahaha!”

“Huh, kau salah besar bila mengira aku tidak tahu seluk-belukmu,” kata Koay-lok-ong dengan bengis.

“Memangnya apa yang diketahui Ongya mengenai diriku?” tanya Sim Long.

“Critt”, mendadak sebuah panah kecil dengan membawa kerlipan api setan menyambar tiba memecah angkasa gelap.

Sim Long tidak gugup, ia pegang sumpit dan menjepit perlahan, tampaknya dia bergerak dengan santai, tahu-tahu anak panah yang menyambar tiba itu tepat terjepit oleh sumpitnya.

Tanpa memandang anak panah itu dibuangnya, lalu berkata lagi dengan tertawa, “Coba, apakah Ongya tahu kungfuku berasal dari aliran atau perguruan mana atau ajaran, siapa?”

“Hmk,” jengek Koay-lok-ong.

“Hmk artinya tahu atau tidak tahu?” Sim Long sengaja bertanya.

“Tidak tahu,” jawab Koay-lok-ong sambil menenggak arak untuk menutup rasa kikuknya.

Sim Long juga angkat cawan, katanya pula, “Dan apakah Ongya tahu aku mempunyai saudara, punya sanak kadang, ada kawan atau lawan?

“Tidak tahu,” teriak Koay-lok-ong gemas.

“Nah, jika begitu apakah Ongya tahu persis nama asliku memang Sim Long?”

“Ini…ini pun tidak tahu,” melengak juga Koay-lok-ong.

“Haha, mendingan jika Ongya tidak tahu hal lain, bila namaku saja Ongya tidak tahu secara pasti, lantas berdasarkan apa Ongya bilang tahu seluk-beluk diriku?”

“Ini…” kening Koay-lok-ong bekernyit.

Sim Long tidak memberi kesempatan bicara baginya, langsung ia menyambung lagi dengan tertawa, “Dan bila Ongya tidak tahu seluk-belukku, dari mana Ongya mendapat tahu aku adalah musuh besarmu?”

“Setiap orang Kangouw sama tahu hal ini,” teriak Koay-lok-ong gemas.

“Desas-desus orang Kangouw masa dapat dipercaya?” tanya Sim Long.

“Perkataan sepuluh orang mungkin palsu, pembicaraan seribu orang pasti benar, kenapa aku tidak percaya?” ujar Koay-lok-ong.

Sim Long tertawa, “Jika demikian, sebenarnya apa yang dikatakan orang Kangouw mengenai diriku? Sesungguhnya apa yang didengar Ongya? Bolehkah kudengarkan penjelasan Ongya?”

Koay-lok-ong tersenyum, mendadak ia bertepuk tangan dua kali.

Begitu tangan bertepuk, serentak Tokko Siang melompat keluar.

Dengan ketajaman daya dengar dan pandang Sim Long ternyata tidak mengetahui orang ini sejak tadi sudah berada di sekitar situ.

“Haha, orang bilang Tokko-heng dan Ongya bagaikan bayangan yang tidak pernah berpisah, tampaknya memang tidak salah kabar ini,” ujar Sim Long dengan tertawa.

Tokko Siang hanya mendengus saja, lalu menyodorkan seberkas gulungan warna kuning ke atas meja.

Sambil tertawa Koay-lok-ong berkata, “Memangnya kau kira kami tidak tahu bahwa secara diam-diam kau pun mengintai gerak-gerikku, segala tata kehidupan pribadiku pun kau selidiki dengan jelas. Namun sebaliknya setiap gerak-gerikmu dapat terhindar dari mata-telingaku?”

Sembari bicara ia lantas melolos tiga helai dari berkas itu dari dilemparkan ke depan Sim Long, katanya, “Nah, boleh kau baca sendiri.”

Ternyata isi ketiga helai kertas itu mencatat lengkap segenap tingkah laku Him Miau-ji, Cu Jit-jit, dan Sim Long sejak pertemuan mereka di Jin-gi-ceng, kemudian keduanya mengikat persahabatan dengan Si Kucing, semua itu tercatat dengan jelas.

Dengan sendirinya Ong Ling-hoa juga disinggung, malahan urusan persaingan antara Sim Long dan Ong Ling-hoa juga diselidiki secara terperinci.

Habis baca, meski lahirnya tetap tenang saja, tapi dalam hati Sim Long sangat terkejut. Maklumlah, sebagian kejadian sebenarnya cuma diketahui antara mereka bertiga saja dan tidak mungkin diketahui orang lain lagi, terutama apa-apa yang dibicarakan mereka bertiga, entah cara bagaimana juga dapat diketahui Koay-lok-ong.

Jika begitu, apakah mungkin satu di antara mereka bertiga adalah agen rahasia Koay-lok-ong?

Lantas siapa? Him Miau-ji? Jelas tidak mungkin.

Si Kucing pasti bukan manusia begitu, apalagi dia sama sekali tidak ada kesempatan mengadakan kontak rahasia dengan Koay-lok-ong, setiap gerak-geriknya pada hakikatnya tidak pernah bebas dari mata-telinga Sim-Long.

Apakah Cu Jit-jit? Juga tidak mungkin. Jit-jit juga pasti bukan orang semacam ini, dia berasal diri keluarga kaya, sama sekali tidak ada hubungan apa pun dengan Koay-lok-ong. Apalagi dia pernah jatuh dalam cengkeraman antek Koay-lok-ong yang banci itu dan mengalami berbagai siksaan lahir batin.

Mati pun Sim Long tidak percaya jika orang bilang kedua orang itu agen rahasia musuh.

Tapi kecuali kedua orang itu tinggal Sim Long sendiri. Apakah mungkin Sim Long sendiri yang menjadi mata-mata musuh?

Sungguh Sim Long tidak habis mengerti, diam-diam ia cuma menyengir saja, perlahan ia taruh kembali ketiga helai kertas itu, kertas yang tipis itu mendadak dirasakannya sedemikian berat.

“Apakah ada yang omong kosong apa yang tertulis di situ?” tanya Koay-lok-ong sambil menatapnya dengan tajam.

Sim Long termenung sejenak, jawabnya kemudian, “Tulen atau palsu, benar atau omong kosong, memangnya Ongya sendiri tidak dapat memastikannya?”

“Jika begitu, apa yang dapat kau katakan lagi?” ujar Koay-lok-ong.

“Apa yang tertulis di situ cuma ada sesuatu yang tidak benar,” kata Sim Long tiba-tiba.

“Oo, satu hal apa?” tanya Koay-lok-ong.

“Apa yang ditulisnya tentang pribadi Sim Long terasa terlampau baik.”

“Untuk itu mengapa engkau mesti rendah hati?” ujar Koay-lok-ong dengan tertawa.

“Di situ Sim Long ditulis sebagai seorang yang luhur budi, seorang kesatria yang murah hati dan suka menolong sesamanya, padahal yang benar Sim Long adalah seorang rendah yang suka mementingkan diri sendiri.”

“Terkutuklah manusia yang tidak membela diri sendiri, sekalipun seorang pendekar atau pahlawan terkadang juga berhitung bagi kepentingan sendiri, dari dulu kala hingga sekarang siapa yang tidak memikirkan diri sendiri selain orang gila atau orang linglung.”

“Memang betul,” kata Sim Long. “Betapa besarnya seorang juga tak terlepas dari urusan nama dan kedudukan serta keuntungan, biarpun sang nabi dahulu juga berkeliling ke berbagai negara, tujuannya kan juga ingin mencari seorang junjungan yang dapat diandalkan untuk menggunakan tenaga dan pikirannya.”

“Haha, uraian yang bagus, harus kusuguh satu cawan,” kata Koay-lok-ong dengan tertawa.

Dalam pada itu api setan di udara semakin banyak, suara suitan juga semakin nyaring, nyata bahaya yang belum dapat diramalkan sudah sangat mendesak, namun kedua orang masih tetap makan minum seperti tidak terjadi apa pun.

“Menjemukan!” gerutu Tokko Siang mendadak. Mendadak ia meraup segenggam kacang dari atas meja terus ditebarkan ke luar. Terdengarlah suara mendesing ramai memecah udara. Seketika api setan berjatuhan bagai hujan.

Akan tetapi api setan memang terlalu banyak, hanya sekejap saja udara sudah penuh lagi oleh bintik api setan.

Sim Long memegang cawan arak, katanya dengan tersenyum, “Api setan ini memang agak mengganggu, biarlah kubantu Tokko-heng.”

Ia minum arak seceguk, mendadak arak disemburkan, seketika arak berubah seperti kabut membanjir ke depan, seketika beribu bintik api setan terhapus.

“Khikang (kekuatan hawa) yang hebat!” puji Tokko Siang.

Koay-lok-ong pun berkata, “Kungfu Anda sungguh harus kuakui sebagai jago nomor satu yang pernah kutemui selama dua tahun terakhir ini. Sekarang kita berhadapan, mengapa engkau tidak turun tangan saja padaku?”

“Mengapa aku perlu turun tangan?” Sim Long tertawa.

“Turun tangan lebih dulu akan menang, masakah kau lupa?”

“Sebenarnya kita ini kawan atau lawan, masakah Ongya tidak tahu?”

“Kawan atau lawan memang bergantung pada pikiran sekejap…”

Belum habis ucapan Koay-lok-ong, mendadak di kejauhan ada suara orang bersorak, “Koay-lok-ong, nyawa takkan panjang, sebelum fajar jiwa melayang!”

Lalu terdengar gelak tertawa seram serupa lolong serigala dan seperti tangis setan.

Koay-lok-ong juga tertawa sambil mengelus jenggotnya, serunya lantang, “Koay-lok-ong, usianya paling panjang, jiwa kawanan setan yang pasti melayang!”

Baru lenyap suaranya, berpuluh sosok bayangan orang muncul di tengah bintik api setan yang memenuhi udara itu.

Bayangan orang dengan hiasan bintik api hijau, bayangan setan bergoyang, seram kelihatannya seperti kawanan setan yang baru muncul dari neraka.

Tiba-tiba suara berdendang berkumandang pula, “Pintu neraka sudah terbuka, api hijau dari alam halus, membakar Koay-lok-ong sampai mati!”

Berbareng itu berpuluh orang sama mengangkat tangan dan menebarkan beribu titik api setan dan membanjir tiba.

Koay-lok-ong tetap duduk tenang, serunya, “Di mana Tokko Siang?”

Serentak Tokko Siang beraksi, kedua tangan terpentang, lengan baju mengebas.

“Hanya api setan begini, apa artinya?” ujar Sim Long sambil menenggak arak sepoci penuh, habis itu lantas disemburkan kembali sebagai hujan untuk menyirapkan api setan.

“Haha, rupanya kawanan setan alam halus tidak suka minum arak,” seru Koay-lok-ong dengan tertawa.

Belum habis ucapannya api setan kembali membanjir lagi, berpuluh bayangan orang sama menyerbu tiba. Dua orang paling depan bersuara tertawa ngekek, muka mereka pun dilumuri fosfor sehingga bersinar gemerdep dan sukar dibedakan wajah aslinya. Rambut mereka panjang terurai dan bertebaran tertiup angin, dipandang dalam kegelapan sungguh lebih menakutkan daripada setan sungguhan.

Seorang di antaranya bersenjata garpu pandak, seorang lagi berpedang hijau, panjangnya juga cuma satu kaki saja.

Kawanan setan Yu-leng ini ternyata berani menggunakan senjata pendek, tentu saja mempunyai kungfu yang lain daripada yang lain. Serentak mereka menubruk maju lagi.

“Silakan Ongya duduk saja…” kata Sim Long, sekali tangannya bergerak, setan Yu-leng yang bersenjata garpu kontan menjerit dan mencelat.

Namun setan yang berpedang hijau sudah menerjang tiba, cepat sumpit Sim Long bekerja, pedang si setan terjepit. Meski setan Yu-leng itu membetot sekuatnya tetap tak terlepas.

“Kepiting ini sangat lezat, barangkali kau ingin mencicipinya?” ujar Sim-Long dengan tertawa, tangan lain segera mencomot seekor kepiting. Capit kepiting dicapitkan pada hidung setan hidup itu, terdengarlah jeritan kaget dan kesakitan, sambil mendekap mukanya si setan lari terbirit-birit.

Sumpit Sim Long masih menjepit pedang hijau rampasan, katanya, “Barang setan takkan kuambil, kukembalikan saja kepadamu!”

Sekali sumpit menggeser, pedang hijau menyambar ke depan secepat anak panah terlepas dari busurnya. Kebetulan seorang setan Yu-leng lain sedang menubruk maju, ia kaget ketika cahaya hijau menyambar tiba, cepat ia mengegos, tidak urung pedang pandak itu menancap di bahunya. Segera ia pun kabur.

Hanya sekejap saja sambil bicara dan bergurau Sim Long telah melukai tiga penyatron. Meski kawanan setan masih berkeliaran di luar sambil mengeluarkan suara seram, namun tidak ada lagi yang berani menyerbu.

“Hah, bagus, bagus sekali!” seru Koay-lok-ong sambil menatap Sim Long.

“Terima kasih atas pujian Ongya,” kata Sim Long.

“Mestinya aku adalah musuhmu, sekarang kau bantu diriku, biasanya kau caci maki diriku, sekarang engkau sedemikian hormat padaku,” mendadak Koay-lok-ong menarik muka dan membentak, “Sebenarnya apa maksud tujuan tindakanmu ini?”

“Masa Ongya tidak tahu?” jawab Sim Long.

Belum lanjut ucapannya, mendadak lima sosok bayangan menerjang tiba pula. Golok, pedang, garpu, godam, cambuk, lima jenis senjata sekaligus menghantam Sim Long, jurus serangannya aneh, gerakannya cepat, caranya keji.

Tokko Siang berdiri di belakang Sim Long, ia sengaja tinggal diam saja.

Mendadak lengan baju Sim Long mengebas, kontan golok musuh terlibat, waktu ia tarik, orang itu menumbuk kawannya yang berpedang sehingga keduanya jatuh terguling.

Yang bersenjata garpu segera menusuk mata Sim Long, tapi entah cara bagaimana, “trang”, tahu-tahu ujung garpu menusuk cawan arak, malahan mulutnya juga dijejal sepotong ikan, badan pun tak berkuasa, kepala tertekan di atas piring kuah ikan oleh sumpit Sim Long.

“Apakah Ongya mau mencicipi ikan hidup ini?” kata Sim Long dengan tertawa.

Melihat kejadian itu, yang bersenjata godam melengak, tapi segera ia meraung, dengan nekat godam menghantam kepala Sim Long.

Siapa tahu mendadak Sim Long menarik diri ke belakang sehingga godam menghantam cambuk yang saat itu menyambar tiba, kontan cambuk dan godam terlepas dari pegangan, tahu-tahu iga kedua orang itu merasa kesemutan dan jatuh terkulai.

Hanya dalam sekejap, dengan gerakan sepele, kembali Sim Long merobohkan lima orang lagi.

“Hm, sedemikian besar kau jual tenaga, apakah sengaja kau perlihatkan kepadaku?” jengek Koay-lok-ong malah.

Dalam pada itu yang berpedang telah merangkak bangun, kembali ia menusuk lagi dengan pedangnya.

“Betul, sengaja kuperlihatkan kepada Ongya,” demikian sembari bicara Sim Long sempat mengelak, sekali tarik, kepala orang berpedang itu juga kena ditolak ke dalam piring yang berisi Ang-sio-hi.

Seketika lengking kawanan setan di luar bertambah riuh, tapi tidak ada yang berani menerjang maju lagi. Kungfu Sim Long yang lihai sungguh tidak pernah mereka lihat.

Dengan tersenyum Sim Long berkata pula, “Binatang mencari tempat berteduh yang baik, manusia ingin mendapatkan majikan ternama, sudah lama aku berkelana, untuk melakukan pekerjaan besar tidak mungkin terlaksana oleh tenagaku sendiri. Bagaimana maksudku, tentu cukup gamblang bagi Ongya.”

“Memangnya maksudmu hendak mengabdi padaku?” gemerdep sinar mata Koay-lok-ong.

“Ya, begitulah,” kata Sim Long. Pegangannya lantas dikendurkan, dua orang yang kepalanya tertekan di atas meja lantas terlepas dan cepat melarikan diri.

Koay-lok-ong tidak menghiraukan orang lain, perhatiannya terpusat atas diri Sim Long katanya kemudian, “Tapi dahulu kau…”

“Orang berkelana, setiap petualang, apa yang dikerjakan bergantung pada cocok dan tidak satu sama lain. Meski dahulu pernah kubekerja bagi kepentingan Jin-gi-ceng, tapi sekarang sudah lain daripada yang dulu. Kini Jin-gi-ceng sudah tua, bukan lagi tempat tinggal bagi orang yang bercita-cita besar. Jika ditinjau apa yang ada sekarang, kecuali Jin-gi-ceng, siapa pula yang sesuai untuk menerima orang semacam orang she Sim?”

“Barangkali cuma diriku?” ucap Koay-lok-ong dengan tertawa keras.

“Itulah, jika Ongya sudah tahu apakah diriku takkan kau terima?”

Mendadak berhenti tertawa Koay-lok-ong, bentaknya, “Sim Long, apakah benar begitu maksudmu?”

“Jika bukan begitu maksudku, untuk apa kudatang kemari?” jawab Sim Long.

Koay-lok-ong menatapnya lekat-lekat, sampai sekian lama, lambat laun di antara sorot mata kedua orang sama menampilkan senyuman.

Mendadak Tokko Siang berseru, “Jangan, Ongya, hati orang ini sukar diraba, sekali-kali tidak boleh menerimanya.”

“Enyah,” bentak Koay-lok-ong tanpa menoleh.

Air muka Tokko Siang berubah hebat, kata “enyah” ini sungguh tidak pernah diterimanya, tubuhnya sampai gemetar, diam-diam ia mengundurkan diri dengan pedih.

Koay-lok-ong tidak menghiraukannya, katanya pula sekata demi sekata, “Wahai Sim Long, jika betul engkau bermaksud demikian sungguh terhitung mujur bagimu, juga beruntung bagiku. Dengan mendapat pembantu sebagai dirimu, aku akan serupa harimau bertumbuh sayap.”

“Terima kasih,” ucap Sim Long.

“Tapi ingat, jika maksudmu ini palsu, mungkin…”

Belum lanjut ucapannya, dari kejauhan kembali berkumandang suitan aneh. Habis itu suara berisik lengking setan tadi lantas berlarian ke sana, api setan yang memenuhi udara juga lantas lenyap mendadak.

Jagat raya ini seketika kembali sunyi senyap, suasana seram tadi dalam sekejap saja sudah berubah pada asalnya, yaitu taman hiburan yang indah, cahaya bulan menyinari bumi raya pula.

Angin meniup semilir, bayangan pohon bergoyang perlahan, kalau tidak ada dua orang berbaju hijau yang masih menggeletak di situ karena tertutuk oleh Sim Long tadi, sungguh orang akan mengira apa yang terjadi tadi hanya di alam mimpi.

“Kedatangan kawanan setan itu sangat cepat, perginya juga tidak lambat,” ujar Sim Long dengan tertawa.

“Yang datang tadi hanya sekawanan setan cilik Yu-leng-bun saja untuk menguji kekuatan di sini, peranan yang terlebih lihai kukira baru sekarang akan muncul,” kata Koay-lok-ong.

“Konon Yu-leng-kui-li itu memang sangat lihai,” ujar Sim Long.

“Betapa lihainya, jika kita berdua berada di sini, apa yang mampu diperbuatnya?” ujar Koay-lok-ong dengan tertawa lantang.

Dapat dianggap sebagai tokoh setingkat Koay-lok-ong, biarpun Sim Long juga merasa senang.

“Konon di dunia persilatan Tionggoan ada seorang Ong Ling-hoa juga tokoh yang tidak boleh diremehkan,” tiba-tiba Koay-lok-ong berkata pula.

“Ya betapa keji cara orang ini dan betapa licik dan licin akalnya, sungguh harus diakui jarang ada bandingannya, terlebih jejaknya yang misterius dan sukar dilacak, kemahirannya menyamar, membuat orang sukar berjaga.”

“Bagaimana dia kalau dibandingkan dirimu?”

“Memang sukar dibicaranya, bila terjadi pertarungan antara kami, entah siapa yang akan kecundang.”

“Sungguh luar biasa di dunia Kangouw masih ada tokoh muda seperti dia, sesungguhnya bagaimana asal-usulnya dan dari perguruan mana dia?”

“Ini…” mendadak Sim Long balas bertanya malah, “Apakah Ongya tahu ada tiga orang yang paling misterius asal-usulnya di zaman ini?”

“Tidak tahu,” jawab Koay-lok-ong.

“Seorang jelas ialah orang she Sim seorang lagi ialah Ong-Ling-hoa.”

“Dan siapa orang ketiga?”

“Tentu saja Ongya sendiri.”

“Haha, dan entah orang macam apakah Yu-leng-kui-li itu? Kukira usianya juga tidak terlalu lanjut, sungguh ingin kulihat dia mempunyai kemampuan apa sehingga sanggup mengendalikan kawanan setan.”

“Agaknya Ongya tidak perlu menunggu lagi, dia sudah datang,” ucap Sim Long.

Mendadak ada cahaya lampu di halaman yang gelap sana. Enam belas gadis jelita dengan rambut tersanggul tinggi berbaju sutra putih membawa lampion istana muncul dari taman sana.

Langkah mereka ringan, gayanya menarik sehingga serupa bidadari yang turun dari kahyangan.

Dua orang lagi adalah lelaki kekar bercelana satin biru dan memakai kopiah berhias mutiara, tapi setengah badan atas telanjang bulat sehingga kelihatan dadanya yang bidang, kedua lelaki ini mengangkat sebuah tandu kecil dan berjalan di tengah rombongan kawanan gadis jelita.

“Yang menumpang tandu tentulah Yu-leng-kui-li, besar juga lagaknya,” ujar Sim Long tertawa.

“Nyalinya juga tidak kecil,” sambung Koay-lok-ong.

Sesudah dekat, kawanan gadis jelita itu memberi hormat, lalu berdiri sejajar di samping.

Ketika tandu berhenti, di belakang tandu ternyata masih mengikut lagi seorang gadis cilik berdandan sebagai putri keraton, dengan langkah cepat ia menyusul ke depan dan membukakan tabir tandu, lalu menyembah dan berucap, “Silakan Kiongcu (Tuan Putri) turun!”

Segera suara orang perempuan berkumandang dari dalam tandu, “Apakah Koay-lok-ong berada di sini?”

Semula Sim Long menduga suara pimpinan kawanan setan itu pasti seram dan mengerikan, siapa tahu suaranya sedemikian merdu dan menggetar sukma.

Namun dia tetap diam saja dan mengikuti apa yang akan terjadi. Koay-lok-ong juga tetap menunggu.

Terdengar gadis cilik tadi menjawab, “Koay-lok-ong memang berada di sini.”

“Mengapa dia tidak menyambut kedatanganku?” kata orang di dalam tandu.

Si gadis cilik mengerling sekejap ke dalam rumah, lalu menjawab dengan tertawa, “Mungkin dia sudah mabuk.”

“Orang mabuk sukar untuk diajak bicara, marilah kita pergi saja, bila dia siuman baru kita datang lagi.”

Baru saja gadis cilik itu mengiakan, Koay-lok-ong tidak tahan lagi, serunya mendadak, “Kalau sudah datang, kenapa terburu-buru pergi lagi?”

“Engkau tidak mabuk?” tanya orang di dalam tandu.

“Takaran minumku seribu gantang tanpa mabuk,” kata Koay-lok-ong.

“Jika tidak mabuk, mengapa tidak menyambut kedatanganku?”

“Haha, anak perempuan semacam dirimu minta kusambut, apakah tidak keterlaluan?” ujar Koay-lok-ong dengan tertawa.

“Betapa pun aku adalah pemimpin suatu perguruan tersendiri, jika kau sambut kedatanganku kan lumrah dan tidak menurunkan derajatmu?” jengek orang di dalam tandu.

“Ya, padahal banyak orang yang ingin menyambut kiongcu kami tanpa diminta dan belum tentu kiongcu kami mau,” tukas si dayang cilik.

Koay-lok-ong tertawa, “Engkau adalah kiongcu dan aku adalah ongya, masakah ongya diharuskan menyambut kiongcu?”

“Tapi ongya semacam dirimu kan palsu?” ujar si dayang cilik.

Koay-lok-ong tidak marah, sebaliknya tertawa dan menjawab, “Dan memangnya kiongcu kalian itu tuan putri tulen?”

Mendadak terdengar suara tertawa nyaring bagai bunyi keleningan, katanya, “Tadinya kusangka Koay-lok-ong pasti seorang culas, dingin dan kaku, siapa tahu juga penuh humor dan menarik. Jika ongya dan kiongcu sama-sama palsu, dengan sendirinya kiongcu harus menyembah kepada ongya.”

Makin didengarkan Sim Long merasa suara ini seperti sudah dikenalnya dengan baik, cuma seketika tak ingat siapa dia, ia yakin tidak keliru dugaannya ini.

Dalam pada itu Yu-leng-kiongcu telah melangkah turun dari tandunya, benar juga seorang gadis mahajelita, sama sekali tidak berbau setan, bahkan memang serupa bidadari.

Meski bajunya sutra tipis berlapis-lapis, namun samar-samar kelihatan garis tubuhnya yang ramping, gayanya yang memesona, wajahnya juga memakai sari, tapi tidak perlu melihat wajahnya yang sebenarnya dapat membayangkannya pasti mahacantik.

Dengan langkah gemulai dia berjalan sambil berpegangan pada pundak si dayang cilik.

Mata Koay-lok-ong seakan-akan memercikkan lelatu api, seketika ia tidak mampu bersuara. Sim Long juga memandang dengan terkesima.

Setelah menaiki undak-undakan dan langsung menuju ke depan meja, tanpa disuruh ia angkat cawan arak dan berucap dengan suara lembut, “Maaf jika kedatanganku ini mengganggu keasyikan Ongya, kurela terima hukuman.”

“Betul, memang harus dihukum,” ujar Koay-lok-ong.

“Hanya mohon hukuman jangan terlalu berat,” ujar Yu-leng-kiongcu dengan sikap yang mohon dikasihani.

“Haha, mana tega kuberi hukuman berat padamu…” seru Koay-lok-ong dengan tertawa. “Eh, cara bagaimana memberi hukuman menurut pendapatmu?”

Pertanyaan ditujukan kepada Sim Long.

Maka Sim Long menjawab, “Menghukum dia menuangkan tiga cawan arak bagi Ongya.”

“Hahahaha! Si cantik menuangkan arak bagiku, sebelum minum aku sudah mabuk,” seru Koay-lok-ong sambil bergelak.

Segera Yu-leng-kiongcu mengangkat poci arak dan menuangkan secawan, ucapnya lembut, “Asalkan Ongya tidak mencela tanganku kotor, silakan minum secawan ini.”

Di bawah cahaya lampu tampak tangannya yang putih bersih sebagai salju, jika ada mata orang dapat bicara maka kedua tangannya ini seakan-akan juga dapat bicara.

Koay-lok-ong terbelalak, “Haha, jika tanganmu dibilang kotor, di dunia ini mana ada tangan yang bersih.”

Baru saja ia terima cawan arak itu sebuah tangan terjulur dari belakangnya dan menitikkan setetes air obat. Namun arak tidak menimbulkan reaksi, nyata arak tidak beracun.

Yu-leng-kiongcu tertawa, “Anak buah Ongya sungguh sangat cermat, cuma sayang…”

“Sayang mengukur pikiran orang baik dengan tujuan jahat sendiri, begitu bukan maksudmu?” tanya Koay-lok-ong. “Baik, anggap aku bersalah, biarlah aku pun dihukum balas menyuguhmu secawan.”

Langsung ia menuang penuh cawannya dan disodorkan kepada Yu-leng-kiongcu.

Yu-leng-kiongcu menerima cawan arak itu, dengan tertawa merdu ia berkata, “Tapi badanku biasanya lemah dan tidak sanggup minum arak, kuharap secawan ini pun Ongya mewakili diriku menghabiskannya.”

“Hahaha, mewakili si cantik minum, kenapa aku tidak mau, tapi sedikitnya kan harus kau minum seceguk dulu,” ujar Koay-lok-ong.

Sang putri tampak menunduk malu, perlahan ia menyingkap sari penutup muka dan dikecupnya perlahan arak dalam cawan, lalu disodorkan lagi kepada Koay-lok-ong, katanya, “Apakah Ongya tidak…tidak menolak sisa arak yang kuminum ini?”

Koay-lok-ong tampak berseri dan lupa akan bidadari yang berada di depannya ini adalah pemimpin Yu-leng-bun yang merontokkan nyali setiap orang Kangouw ini, dengan gelak tertawa ia berkata, “Minum arak dengan layanan si cantik, biarpun mati juga rela!”

Segera ia angkat cawan dan hendak diminum.

Mendadak sebuah tangan terjulur tiba dan menahan cawan araknya. Kiranya tangan Sim Long.

“Arak ini tidak boleh diminum,” seru Sim Long.

“O, barangkali engkau juga ingin minum?” tanya Koay-lok-ong dengan berkedip-kedip. “Baiklah, secawan ini kuberikan padamu.”

Sim Long terima cawan arak itu, katanya dengan tersenyum, “Cuma rasanya aku pun tidak sanggup minum.”

Mendadak ia tuang arak ke lantai, butiran arak muncrat dan berubah menjadi uap.

“Hah, arak…arak ini beracun!” seru Yu-leng-kiongcu.

“Masa Kiongcu tidak tahu arak ini beracun?” ujar Sim Long.

“Kan Ongya sendiri yang menuang arak ini, dari mana kutahu?” jawab Yu-leng-kiongcu dengan suara lembut.

“Justru Ongya yang menuang araknya, maka biarpun Kiongcu menaruh racun juga takkan disangka oleh siapa pun,” ujar Sim Long.

“Kau bilang aku…aku menaruh racun? Ah, jang…jangan kau…”

“Ketika menyingkap sari, saat itu juga Kiongcu sudah mulai main,” tutur Sim Long. “Jika orang lain menaruh racun dengan tangan Kiongcu justru menaruh racun dengan bibir. Sungguh sangat mengagumkan cara yang luar biasa ini.”

“Wah, kukira justru matamu yang beracun,” ujar Yu-leng-kiongcu dengan gegetun.

“Jadi benar kau taruh racun dalam arak?” teriak Koay-lok-ong mendadak. “Besar amat nyali, apakah engkau tidak tahu sekali bergerak saja dapat kubinasakanmu?”

“Kuyakin Ongya takkan tega membunuhku,” ujar Yu-leng-kiongcu sambil tertawa menggiurkan.

“Haha, memang betul, Ongya seorang yang bijaksana, mana mungkin marah kepada Kiongcu mahacantik…”

Belum lanjut ucapan Sim Long, mendadak Yu-leng-kiongcu memotong, “Tuan ini…”

“Sim Long,” ucap anak muda itu.

“Huh, sayang orang sebagai Kongcu rela menjadi antek orang,” jengek Yu-leng-kiongcu.

“Jika si cantik sudi menjadi setan, kenapa aku tidak boleh menjadi antek orang?” jawab Sim Long.

Yu-leng-kiongcu menatapnya tajam dari balik kain sari, selang sejenak, mendadak tubuhnya berguncang dan sempoyongan seperti mau roboh.

Cepat si dayang cilik memburu maju untuk memapahnya, serunya khawatir, “Wah, celaka, penyakit hati kiongcu kami kumat.”

“Penyakit hati?” kening Koay-lok-ong bekernyit.

“Ya, bila melihat orang jahat, penyakit Kiongcu ini lantas kumat,” ujar si dayang cilik.

“Wah, jika begitu, aku dan Sim-kongcu adalah orang jahat,” Koay-lok-ong menggeleng kepala.

Si dayang cilik melototi Sim Long sambil mencibir, “Bukan dia, tapi kau inilah, kau bikin susah kiongcu kami, harus kau ganti rugi.”

“Bagaimana dapat kuberi ganti rugi, betapa pun pintar juga tidak mampu kusembuhkan penyakit hati si cantik,” ujar Sim Long.

“Jika tidak dapat kau sembuhkan penyakit Kiongcu, aku Ko-jin akan mengadu jiwa denganmu,” teriak si dayang cilik.

“Aha, namamu Ko-jin (kasihan), tapi tiada kelihatan sesuatu yang perlu dikasihani,” ujar Koay-lok-ong dengan tertawa.

Muka si dayang cilik alias Ko-jin menjadi merah, “Hm, rupanya Ongya juga orang jahat. Bisa jadi penyakit kiongcu kami akibat marah padamu.”

“Jangan khawatir, penyakit kiongcumu akan kusembuhkan,” kata Koay-lok-ong.

“Tapi penyakitku mungkin sukar disembuhkan,” tiba-tiba Yu-leng-kiongcu mendesis sambil memegang hulu hatinya, tampaknya sangat menderita.

“Omong kosong, mana ada penyakit yang tidak bisa disembuhkan,” ujar Koay-lok-ong.

“Meski penyakitku mudah disembuhkan, obatnya yang sukar dicari,” kata Yu-leng-kiongcu.

“Jika ada obatnya pasti dapat dicari,” ujar Koay-lok-ong tegas.

“Memangnya Ongya sungguh-sungguh mau mencarikan obat bagiku?” tanya Yu-leng-kiongcu dengan sendu.

“Bila dapat kucarikan obat bagimu, lantas balas jasa apa yang akan kau berikan padaku?” tanya Koay-lok-ong.

“Apa pun kehendak Ongya pasti akan kuturuti,” jawab Yu-leng-kiongcu dengan menunduk.

“Baik, coba katakan di mana obat yang kau perlukan,” seru Koay-lok-ong dengan gembira.

“Obat itu berada…berada pada Ongya sendiri.” kata Yu-leng-kiongcu tiba-tiba.

“Oo?!” Koay-lok-ong melengak.

“Meski obatnya berada pada Ongya, mungkin Ongya keberatan untuk memberikannya,” tukas Ko-jin.

“Budak kurang ajar, masakah kau pandang diriku sebagai orang pelit?” omel Koay-lok-ong.

“Ongya benar-benar tidak keberatan?” tanya Ko-jin.

“Sesungguhnya obat apa? Coba katakan!”

Ko-jin berkedip-kedip, jawabnya kemudian, “Penyakit hati harus diobati dengan hati, apakah Ongya tahu pepatah ini?”

“Obat hati?” gumam Koay-lok-ong.

“Ya, asalkan Ongya memberikan hatimu untuk obat kiongcu kami, penyakit kiongcu pasti akan segera sembuh,” sahut Ko-jin dengan tertawa.

Seketika berubah air muka Koay-lok-ong, mendadak ia menengadah dan tertawa, “Hahaha, budak jahil, kiranya kau minta hatiku.”

“Seorang raja tidak bicara kelakar, sekali Ongya sudah berjanji harus ditepati,” kata Ko-jin.

Mendadak Koay-lok-ong membuka dada bajunya dan berseru, “Baiklah, hatiku berada di sini, silakan ambil saja!”

Ko-jin memberi hormat, katanya dengan tertawa, “Wah, Ongya benar-benar seorang welas asih, bila sembuh penyakit kiongcu kami, pasti takkan melupakan budi kebaikan Ongya.”

Mendadak ia mencabut sebilah belati terus mendekati Koay-lok-ong.

“Nanti dulu!” bentak Koay-lok-ong dengan suara menggelegar.

Tubuh Ko-jin tergetar dan menyurut mundur dua tindak, “Masa…masa Ongya mau ing…ingkar janji?”

“Hatiku hanya diberikan kepada si mahacantik, jika menghendaki hatiku harus diambil sendiri oleh kiongcumu,” kata Koay-lok-ong.

“Baiklah, jika begitu aku menurut saja,” ucap Yu-leng-kiongcu.

“Haha, silakan ambil!” seru Koay-lok-ong.

Belum lenyap suaranya, mendadak sinar pisau sudah menyambar tiba. Dan Koay-lok-ong ternyata benar tidak bergerak atau mengelak.

Tapi pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara bentakan keras, bayangan Yu-leng-kiongcu melayang mundur beberapa tombak, di depannya sudah berdiri seorang berbaju hitam bertubuh tinggi kurus, dia inilah Tokko Siang.

“Ai, Koay-lok-ong benar-benar menjilat kembali ucapannya sendiri,” ejek Ko-jin.

Koay-lok-ong tersenyum, katanya, “Meski aku sudah berjanji, tapi orang lain yang keberatan, apa boleh buat?”

“Masa Ongya takut dan tunduk padanya?” tanya Yu-leng-kiongcu tertawa.

“Maklumlah, bila aku mati berarti pecah periuk nasinya, soalnya menyangkut untung ruginya, kan tidak dapat menyalahkan dia,” ujar Koay-lok-ong.

“Aku pun ada penyakit yang harus disembuhkan dengan makan hatimu,” mendadak Tokko Siang berkata kepada Yu-leng-kiongcu.

“Apa betul?” Yu-leng-kiongcu menegas.

“Jika kau betul, aku juga betul,” jawab Tokko Siang.

“Huh, kau kira aku pun pelit serupa Ongya kalian?” kata Yu-leng dengan tertawa. “Ini, jika kau mau, boleh ambil!”

Habis bicara, mendadak ia tarik kain sari dan merobek dada baju sendiri sehingga kelihatan dadanya yang putih bersih, montok dan kenyal memesona.

Seketika Koay-lok-ong dan Sim Long jadi melongo.

Tokko Siang menjadi bingung menghadapi dada telanjang demikian, napas pun terasa sesak.

“Ayolah maju, ambil saja, kau takut apa?” seru Yu-leng-kiongcu pula.

Biji leher Tokko Siang tampak naik-turun dan tidak sanggup bersuara.

Yu-leng-kiongcu lantas mendekatinya malah, dada bajunya ditariknya lebih terbuka, ucapnya lembut, “Eh, coba kau pegang, hatiku lagi berdetak, dadaku juga hangat…semua ini kuberikan padamu, kenapa tidak kau ambil?”

“Kau…kau…” mendadak Tokko Siang berteriak murka, perawakannya yang tinggi tegak itu tiba-tiba berguncang.

Segera Yu-leng-kiongcu tertawa nyaring lagi dan berkata, “Wah, tampaknya sekarang hati siapa pun tidak ada gunanya bagimu.”

Ketika tangan Tokko Siang menghantam, Yu-leng-kiongcu diam saja, namun sewaktu telapak tangannya menyentuh dada Yu-leng-kiongcu, kontan tubuhnya lantas roboh terjengkang.

Koay-lok-ong tetap bersabar, ia malah tertawa, “Haha, mati di bawah bunga, jadi setan pun gembira.”

“Memang, dapat melihat dada kiongcu kami, mati pun tidak penasaran,” tukas Ko-jin dengan tertawa. Ia melirik Koay-lok-ong dan Sim Long sekejap, sambungnya, “Kalian juga telah melihat dada yang paling indah di dunia ini, kalian juga boleh mati.”

Yu-leng-kiongcu lantas mendekati Koay-lok-ong pula, ucapnya, “Sekarang tidak ada lagi yang merintangi kehendak Ongya, apakah hati Ongya boleh dihadiahkan padaku?”

“Haha, wajahmu saja tidak diperlihatkan kepadaku, tapi berkeras minta hatiku, kan terlalu tidak adil?” ujar Koay-lok-ong.

“Tubuhku sudah Ongya lihat, apakah belum cukup?” ujar Yu-leng-kiongcu dengan tertawa. “Memangnya tubuhku ini tidak berharga untuk menukar hati Ongya?”

Mendadak Sim Long menyela, “Tubuhmu saja tidak sayang diperlihatkan kepada orang, sebaliknya wajahmu tersembunyi, kan aneh? Jangan-jangan mukamu terlampau buruk dan tidak boleh dilihat orang?”

Yu-leng-kiongcu tertawa ngikik, “Jika kau ingin melihat mukaku, boleh kau lihat sendiri saja.”

“Cuma jangan semaput setelah kau lihat,” sambung Ko-jin.

“Haha, meski bau harum bajumu dapat membunuh Tokko Siang, harum di balik sari belum tentu mampu membunuhku…” di tengah gelak tawa Sim-Long tahu-tahu sudah berada di depan Yu-leng-kiongcu.

Gerak cepat Sim Long ini sangat mengejutkan, cepat Yu-leng-kiongcu melompat mundur.

“Lho, katanya boleh kulihat, kenapa sekarang lari?” tanya Sim Long.

Dan entah cara bagaimana, tahu-tahu ia melayang maju lagi ke depan Yu-leng-kiongcu dengan gaya yang santai.

“Hati-hati, jangan sampai membikin lecet kulit badannya yang halus,” seru Koay-lok-ong dengan tertawa gembira.

“Coba, alangkah sayangnya Ongya terhadap si cantik, sampai saat ini dia masih memikirkanmu,” ujar Sim Long.

Sembari tertawa, kedua tangannya lantas bergerak cepat, dalam sekejap saja ia telah melancarkan belasan kali pukulan, namun Yu-leng-kiongcu juga tidak kurang gesitnya, setiap serangan Sim Long dapat dihindarinya dengan mulus.

Walaupun begitu, serangan Sim Long itu baru ujian pertama saja untuk menjajaki kelihaian musuh, entah masih berapa banyak serangan ikutan yang belum dilancarkannya. Namun untuk sementara belum kelihatan Sim Long akan dapat menundukkan lawan.

Tiba-tiba Ko-jin berseru, “He, lelaki baik tidak bakalan berkelahi dengan orang perempuan, orang lelaki yang mau berkelahi dengan orang perempuan pasti tidak tahu harga diri.”

Ketika dilihatnya Sim Long tidak menghiraukannya dan tetap melancarkan serangan, kembali ia mengentak kaki dan berteriak, “Orang she Sim, wah, engkau memang tidak tahu malu, masa…lihatlah Ongya, dia hendak meraba dada kiongcu.”

“Jika aku menjadi dia juga ingin kuraba dada yang kenyal itu,” ujar Koay-lok-ong dengan tertawa.

Ko-jin terbelalak, “Ai, masa…masa Ongya tidak…tidak cemburu?”

Koay-lok-ong tertawa, katanya, “Jika ingin kau ganggu konsentrasi Sim Long jelas kau salah hitung. Biarpun di sekeliling sini ada 200 orang membunyikan genderang juga takkan dihiraukannya.”

“Huh, berlagak tuli dan pura-pura bisu, terhitung kepandaian apa?” jengek Ko-jin.

“Berlagak bisu dan tuli justru adalah senjata paling baik untuk melayani orang perempuan,” ujar Koay-lok-ong.

“Dasar lelaki, tidak ada seorang pun baik,” omel Ko-jin sambil mengentak kaki.

Dengan menggerutu, diam-diam dari dalam lengan bajunya melayang keluar tujuh jalur benang perak dan menyambar ke punggung Sim Long tanpa bersuara.

Sebenarnya Ko-jin juga menyadari senjata rahasianya takkan mampu melukai Sim Long, tujuannya cuma ingin mengacau perhatian Sim Long saja untuk memperlambat daya serangannya.

Untuk menghindari “Yu-hun-si” atau Benang Arwah Gentayangan yang beracun keji dan tak bersuara ini sedikitnya perhatian Sim Long akan terpencar, dengan begitu Yu-leng-kiongcu ada kesempatan untuk mengatasi lawan.

Benarlah, ketika Sim-Long terpaksa menarik sebelah tangannya untuk mengebas ke belakang, kesempatan itu segera digunakan Yu-leng-kiongcu untuk mendesak maju, sebelah tangannya yang putih halus sudah mencengkeram sampai di depan Sim Long.

Cakar setan mencengkeram hati, itulah jurus maut andalannya. Tangan yang putih halus itu kini telah berubah serupa kaitan yang tajam.

Dalam keadaan demikian bila Sim Long ingin menghindarkan cengkeraman ini berarti akan terserang oleh benang maut dari belakang.

“Hihi, entah bagaimana rasanya hati lelaki ini, aku jadi ingin mencicipi juga,” seru Ko-jin sambil berkeplok tertawa.

Siapa tahu pada saat berbahaya itulah sekonyong-konyong Sim Long menggeser sedikit ke samping, tanpa menghiraukan benang maut yang menyambar dari belakang, tangan berbalik meraih ke depan untuk mengepit tangan halus Yu-leng-kiongcu, berbareng itu ia terus berputar ke belakang sang kiongcu.

Dengan cara demikian, sambil menghindari benang maut itu, sekaligus Sim Long menggunakan tubuh Yu-leng-kiongcu sebagai tameng, keruan Ko-jin terkejut, untuk membatalkan serangan benang maut itu sudah tidak keburu lagi. Untunglah sebelah tangan Yu-leng-kiongcu masih bebas, ia sempat mengebas dengan lengan bajunya sehingga benang itu tergulung lenyap.

Pada detik lain, kempitan Sim Long diperkeras, seketika tubuh Yu-leng-kiongcu terasa kaku kesemutan, lalu tidak sanggup bergerak lagi, padahal jari tangannya mestinya bermaksud ditutukkan ke iga Sim Long.

Baru sekarang Yu-leng-kiongcu merasakan gawatnya keadaan, teriaknya, “Bangsat…akan kau apakan diriku? Lepaskan!”

Ko-jin juga lantas berteriak, “Wah, celaka! Tolong! Orang she Sim itu hendak memerkosa kiongcu kami!”

Sim Long tertawa, “Jika begitu, sedikitnya harus kucium pipimu dulu!”

Dengan lengan kanan mengepit Yu-leng-kiongcu, tangan lain segera menyingkap kain penutup mukanya.

“Ber…berani kau lihat mukaku, segera kumatikan kau!” seru Yu-leng-kiongcu dengan agak gemetar.

“Haha, Sim Long, mungkin dia akan membunuhmu dengan menggigit,” Koay-lok-ong berolok sambil tertawa.

Ia pun memerhatikan setiap gerak tangan Sim Long dan berharap lekas menyingkap kain sari orang, sebab ia pun sangat ingin tahu betapa wajah di balik sari itu, apakah benar cantik atau buruk?

Mengapa Yu-leng-kiongcu hanya memperlihatkan tubuhnya kepada orang dan berbalik menyembunyikan mukanya? Jangan-jangan terdapat sesuatu rahasia pada mukanya.

Dalam pada itu perlahan Sim Long mulai menyingkap kain penutup muka orang.

Tapi baru saja tersingkap sedikit, seketika air muka Sim Long berubah, serupa orang yang mendadak dicambuk satu kali, hati bergetar sehingga kempitannya juga kendur.

Kesempatan itu segera digunakan Yu-leng-kiongcu untuk memberosot keluar dan melompat mundur dua-tiga tombak jauhnya, mendadak terjadi letusan disertai berhamburnya kabut merah jambon di depan, secara ajaib tubuh Yu-leng-kiongcu lantas terbenam hilang di tengah kabut tebal.

Kejadian ini sungguh di luar dugaan, sampai Koay-lok-ong juga melenggong.

Terdengar suara Yu-leng-kiongcu berseru di tengah kabut, “Sim Long, sudah kau lihat wajahku, biji matamu sudah menjadi milikku, cepat atau lambat pasti akan kuambil…pasti akan kuambil…”

Suaranya makin menjauh, kabut tebal pun mulai buyar dan secara ajaib Yu-leng-kiongcu pun menghilang.

Dengan sendirinya Ko-jin belum sempat kabur. Bola matanya berputar mendadak ia tertawa ngikik dan mulai menari dengan gaya menggiurkan. Kain sari yang menutupi tubuhnya perlahan mulai terbuka mengikuti gaya tarinya sehingga kelihatanlah bahunya yang putih bagai salju.

Ke-16 gadis jelita yang memegang lampion semula berdiri seperti patung di tempatnya, sekarang mendadak mereka pun bergerak, lampion ditaruh, pinggang mulai bergoyang.

Mereka menari dan menyanyi, tidak ada yang tahu lagu apa yang dinyanyikan mereka, nadanya lebih menyerupai orang berdesah dan berkeluh kesah, akan tetapi suara keluhan ini terlebih menggiurkan daripada lagu merdu apa pun.

Suara nyanyian yang menggetar kalbu, gaya tarinya juga membetot sukma.

Kain sari yang dikenakan kawanan gadis jelita itu mulai terbuka selapis demi selapis, di bawah cahaya lampion yang terletak di lantai samar-samar kelihatan paha mereka yang panjang.

Gerak tari mereka mulai berubah, kini bukan lagi gerak tari melainkan semacam gerak erotis yang gila…

Semua perubahan ini datangnya sangat cepat, hanya dalam sekejap saja medan tempur yang seram tadi telah berubah menjadi surga yang memabukkan.

Asalkan lelaki yang berdarah daging, bila mendengar suara keluh dan desah demikian, kalau tidak terguncang perasaannya tentu orang ini tidak normal, tentu ada penyakit.

Dan sekarang Sim Long seperti punya penyakit. Terhadap apa yang terpampang di depan mata seolah-olah dipandang tapi tak terlihat.

Ia cuma berdiri tegak di tempatnya dan bergumam seperti orang mengigau, “Mengapa bisa dia…mengapa dia…”

Agaknya Koay-lok-ong juga sangat ingin tahu apa yang diucapkan Sim Long, tapi suara Sim Long tenggelam di tengah suara keluh para gadis yang menghanyutkan itu.

Suara keluh mereka semakin menggelisahkan, gaya tari mereka pun semakin gila, dahi kawanan gadis itu sama berhias butiran keringat, muka pun merah seperti bara.

Koay-lok-ong tampak terbelalak, entah terkesima oleh adegan di depan mata atau lagi termenung, memangnya apa yang dipikirkannya, tentu saja tidak ada yang tahu.

Sekonyong-konyong tubuh kawanan gadis itu mengejang, anggota tubuh mereka menggeliat-geliat, lalu gemetar dan roboh di tanah, kulit badan mereka yang halus bergelimang di atas tanah pasir yang kasar seakan-akan ingin merobek tubuh sendiri.

Kemudian, mendadak tidak ada yang bergerak lagi, mereka berbaring telentang, dada mereka tampak naik-turun, napas terengah, semuanya tampak lemas, seperti tidak sanggup bergerak pula.

Tapi air muka mereka menampilkan semacam perasaan kepuasan yang tuntas, seolah-olah sekarang ini dunia kiamat juga tidak dipedulikan mereka.

Sejenak kemudian, perlahan Ko-jin merangkak bangun, dengan siku menahan tubuh ia pandang Koay-lok-ong lalu bertanya dengan napas masih setengah tersengal, “Ongya, apakah engkau juga…juga sudah puas?”

“Budak setan!” omel Koay-lok-ong dengan tertawa. “Lekas pergi saja kalian!”

“Oo, Ongya tidak…tidak menghendaki kami?” Ko-jin tampak melengak.

“Hahaha, meski kalian merasa gaya kalian sangat memikat, tapi bagi pandanganku kalian tidak lebih cuma serombongan setan cilik yang masih berbau kencur…”

“Ah, ka…kau…” seru Ko-jin sambil melompat bangun.

“Sudahlah, sia-sia belaka permainan kalian ini,” kata Koay-lok-ong dengan tertawa. “Lekas pakai baju kalian dan pulang saja. Bila datang lagi lain kali hendaknya jangan lupa membawa kain popok.”

Muka Ko-jin menjadi merah, cepat ia meraih kain sari untuk menutupi tubuh sendiri, teriaknya dengan gemas, “Kau…bangsat tua, engkau bukan…bukan manusia…”

Serentak ia membalik tubuh dan berlari pergi. Kawanan gadis lain juga ikut berlari pergi dengan muka merah.

Koay-lok-ong terbahak-bahak, tiba-tiba ia bertepuk tangan perlahan.

Sesosok bayangan kecil segera menerobos keluar dan memberi sembah hormat, “Ongya ada perintah apa?”

Perawakan orang ini kecil serupa anak kecil, nyata si manusia mini tukang bagi kartu semalam itu.

Sim Long juga tidak menyangka manusia kerdil ini memiliki ginkang setinggi ini.

Terdengar Koay-lok-ong lagi berkata, “Kuntit di belakang mereka, selidiki tempat berkumpul mereka dan cepat memberi laporan lagi!”

Manusia kerdil itu mengiakan sambil menghormat. Mendadak tubuhnya melejit serupa seekor kutu, hanya sekali berkelebat lantas menghilang.

Sim Long menghela napas, diam-diam ia mengakui anak buah Koay-lok-ong memang tidak ada jago rendahan.

Segera ia mendekati Koay-lok-ong, katanya sambil memberi hormat, “Maaf Ongya bila aku tidak mampu menawan seorang perempuan lemah saja.”

“Bahwa setan perempuan itu dapat membuat lunak hati Sim-kongcu, tentu kecantikannya sukar dilukiskan, sayang aku tidak sempat melihatnya,” kata Koay-lok-ong dengan menyesal. “Malahan aku harus bersyukur engkau telah menyelamatkan diriku, sungguh entah cara bagaimana harus kubalas kebaikanmu.”

“Tapi kalau aku tidak ikut turun tangan, saat ini perempuan itu tentu sudah menjadi tawanan Ongya,” kata Sim Long.

“Tidak, kalau tidak dicegah olehmu, tentu sudah kuminum araknya dan saat ini mungkin akulah yang menjadi tawanannya.”

Sim Long tersenyum, “Masa Ongya benar-benar tidak tahu di dalam arak beracun?”

“Bila kutahu, untuk apa kuminum,” kata Koay-lok-ong.

“Ongya sudah angkat cawan, tapi sama sekali tidak tertempel di bibir, apa yang dilakukan Ongya itu apakah bukan sengaja hendak menguji pandanganku?”

“Haha, sungguh Sim Long yang hebat, hanya kau yang dapat menyelami isi hatiku,” seru Koay-lok-ong dengan tergelak.

Saat itu Tokko Siang yang selalu mendampinginya masih menggeletak di lantai dan tidak diketahui mati-hidupnya, namun sama sekali Koay-lok-ong tidak memandangnya barang sekejap pun.

Ia menarik tangan Sim Long, katanya, “Pertempuran sudah selesai, sepantasnya kuadakan sekadar pesta untuk menghargai jasamu, marilah boleh kau lihat kawanan si cantik dalam istanaku.”

“Selir kesayangan Ongya tentu saja semuanya si cantik pilihan, tapi yang paling ingin kutemui sekarang justru adalah seorang lelaki yang bermuka paling buruk.”

“Kim Bu-bong maksudmu?” tanya Koay-lok-ong.

“Kiranya Ongya sudah tahu.”

“Kusangka engkau sudah melupakan dia.”

“Sahabat baik mana dapat kulupakan.”

“Haha, sungguh luar biasa bahwa engkau dan Kim Bu-bong dapat terikat menjadi sahabat, bahkan kau berani mengakui Kim Bu-bong sebagai sahabatmu di depanku, ini lebih membuktikan kesetiaanmu kepada kawan.”

“Ongya juga menghargai diriku, mana berani kudusta,” kata Sim Long.

Koay-lok-ong mengangguk, “Bagus, bagus! Apakah sekarang juga hendak kau temui dia?”

“Memang sudah cukup lama kutunggu saat seperti ini.”

“Baik, segera kupanggil keluar dia.”

Kembali Koay-lok-ong bertepuk tangan, segera ada orang membawakan sebuah peti kayu cendana kecil, pembawa peti ini tinggi semampai, seorang pemuda gagah, tapi jelas bukan Kim Bu-bong.

Terkesiap hati Sim Long, tanpa terasa agak berubah juga air mukanya.

Dengan hormat pemuda itu mempersembahkan peti itu. Sambil menepuk peti Koay-lok-ong lantas berkata kepada Sim Long, “Kau ingin melihat dia, nah, boleh kau buka peti ini.”

Sim Long sudah berpengalaman, selama hidup sudah sering menghadapi bahaya apa pun, tapi belum pernah takut seperti sekarang ini. Dalam sekejap ini kaki dan tangannya terasa dingin seluruhnya.

Jangan-jangan Kim Bu-bong telah mengalami nasib malang? Mungkinkah isi peti adalah kepala Kim Bu-bong?

Sungguh Sim Long tidak berani memikirkannya.

Peti itu berukuran panjang empat kaki dan lebarnya tidak lebih dari dua kaki, bagian tutupnya diberi gelang bersepuh emas, peti terukir sangat indah.

Waktu tangan Sim Long menyentuh tutup peti yang licin, tanpa terasa agak gemetar. Padahal dia sanggup angkat benda seberat seribu kati, sekarang peti sekecil ini rasanya sulit untuk dibukanya.

Koay-lok-ong memandangnya dengan dingin, mendadak terembus napas panjang.

Akhirnya peti terbuka juga, Koay-lok-ong yang membukanya.

Tapi peti itu tampak kosong, mana ada kepala manusia segala? Yang ada tidak lebih sepucuk surat saja.

Sim Long menghela napas lega. Ia ambil surat itu dan dibaca, surat itu tertulis:

Kaki dan tangan hamba sudah cacat, meski masih ada maksud mengabdi bagi Ongya, namun sudah tidak bertenaga lagi untuk bersetia. Ongya menganggap hamba sebagai orang kepercayaan, sungguh sayang hamba tidak dapat membalas kebaikan ini dengan jiwa hamba. Sejak kini hamba mohon diri untuk menjelajahi dunia dan entah akan menetap di mana nanti. Namun budi yang kuterima dan dendam yang kusimpan tetap takkan kulupakan, kelak bilamana ada kesempatan dan mendapatkan tenaga untuk membalas budi dan menuntut dendam, tentu hamba akan kembali mengabdi di bawah Ongya.

Habis membaca surat itu, Sim Long jadi melongo.

“Keempat duta bawahanku kini sebagian sudah mati, sebagian lagi sudah angkat kaki, sudah habis semua, namun begitu aku tidak perlu menyesal dan tetap gembira, apakah kau tahu apa sebabnya?” tanya Koay-lok-ong dengan tergelak.

“Tidak tahu,” jawab Sim Long.

“Sebab aku sudah mempunyai dirimu, dengan tenagamu seorang lebih dari cukup untuk menambal kehilangan tenaga keempat duta itu,” ujar Koay-lok-ong.

Di tengah gelak tertawanya ia gandeng tangan Sim Long dan diajak masuk ke ruangan belakang.

Betapa indah tempat tinggal Koay-lok-ong sungguh sukar dilukiskan dengan kata-kata apa pun.

Di dalam ruangan ada belasan gadis mahajelita, ada yang berdiri, ada yang duduk setengah berbaring, ada yang asyik bersolek, yang berduduk kelihatan kedua kakinya yang putih mulus.

Kawanan gadis jelita itu kaget juga ketika melihat Koay-lok-ong datang membawa seorang pemuda. Mereka sama memandang Sim Long dengan terbelalak seperti pada wajah anak muda itu berbunga.

Ada lelaki lain masuk ruangan rahasia ini, hal ini tidak pernah terjadi sebelum ini.

Siapakah sesungguhnya pemuda ini? Mengapa Ongya sedemikian menghargai dia, bukan saja membawanya masuk ke ruangan terlarang bagi kaum lelaki itu, bahkan menggandeng tangannya dengan akrab.

Mereka pun terkesima oleh senyuman Sim Long yang khas itu, senyuman yang memikat, menyenangkan, tapi juga menggemaskan.

“Hahaha, kukira hanya kaum lelaki saja yang melotot melihat perempuan cantik, kiranya cara orang perempuan melihat pemuda cakap juga sama linglung seperti ini,” seru Koay-lok-ong dengan tertawa.

Kawanan gadis jelita itu menjadi jengah dan sama menunduk, ada yang tertawa nyekikik, ada yang melirik lagi ke arah Sim Long.

Koay-lok-ong menepuk pundak Sim Long dengan tertawa, katanya, “Bagaimana pendapatmu mengenai mereka?”

“Semuanya secantik bidadari,” jawab Sim Long. “Pantas Ongya tidak tergiur sama sekali oleh kawanan gadis genit tadi.”

“Kau suka yang mana, segera kuberikan padamu,” kata Koay-lok-ong.

“Hamba tidak berani,” Sim Long.

Koay-lok-ong terbelalak, “Setiap gadis jelita di sini berani kukatakan jarang ada bandingannya, biarpun selir simpanan raja negeri Tionggoan juga tidak lebih daripada ini. Masa tiada seorang pun kau sukai?”

“Cantiknya memang sangat cantik, cuma sayang cantik karena bersolek,” ujar Sim Long.

“Wahai Sim Long, tinggi amat penilaianmu,” ujar Koay-lok-ong. “Memangnya kau sangka kecantikan setan perempuan itu benar tidak ada bandingannya di dunia ini?” tanyanya kemudian.

Sim Long hanya tertawa saja tanpa menjawab.

“Baik, biar kuperlihatkan orang cantik benar-benar di bumi ini,” ucap Koay-lok-ong akhirnya. “Setelah kau lihat dia, jika tetap kau katakan Yu-leng-kui-li itu lebih cantik, anggaplah aku yang kalah.”

Segera ia tarik tangan Sim Long lagi dan menambahkan, “Cuma setelah kau lihat dia, jangan sekali-kali kau jatuh hati padanya. Segala apa dapat kuberikan padamu, hanya dia saja…”

Mendadak ia menengadah dan tergelak keras, jelas dia sangat gembira dan juga bangga.

Sim Long bergumam, “Semoga dia tidak membuat kukecewa…”

Di balik ucapannya seperti mengandung makna yang dalam, cuma sayang tidak dirasakan oleh Koay-lok-ong.”

*****

Di dalam ruangan rahasia itu ternyata masih ada kamar rahasia lagi.

Sim Long ikut Koay-lok-ong menyusur berlapis-lapis tabir, sayup-sayup terdengar celoteh kawanan gadis jelita tadi yang mengomel, mencibir, dan memaki atas sikap angkuh Sim Long.

“Wahai Sim Long, seharusnya jangan kau singgung perasaan mereka, dengan demikian betapa anak perempuan tadi akan kecewa dan berduka,” ujar Koay-lok-ong.

“Hamba memang seorang lelaki kasar, mana dapat membandingi Ongya yang pandai membujuk rayu…” Sim Long tersenyum.

“Ssst,” mendadak Koay-lok-ong mendesis, “jangan keras-keras, langkahmu juga perlahan sedikit, tubuhnya lemah, tidak tahan terkejut.”

Diam-diam Sim Long merasa geli, tak tersangka Koay-lok-ong sedemikian sayang kepada si cantik yang dimaksud. Tiba-tiba terpikir olehnya, “Tapi apakah dia memang benar orang yang kubayangkan itu?”

Tertampak di ujung sana ada sebuah pintu mungil.

Sudah macam-macam pintu yang pernah dilihat Sim Long, baik pintu terbuat dari kayu atau dari logam, tapi daun pintu ini lain daripada yang lain.

Daun pintu ini terbingkai dari bunga segar, beribu kuntum bunga yang berwarna-warni secara artistik dikarang menjadi satu, sungguh seni merangkai bunga yang bernilai tinggi.

Dua orang genduk cilik tampak berdiri bersenda di depan pintu, ketika melihat Koay-lok-ong muncul, serentak mereka menyembah dan menyapa, “Pagi benar hari ini Ongya datang kemari!”

Mata kedua genduk itu pun tiada hentinya mengerling Sim Long, meski usianya masih kecil, namun lirikan mata mereka bisa membuat orang semaput.

“Hari ini bukan kedatanganku terlalu pagi, tapi kedatanganku kemarin yang terlalu malam,” ujar Koay-lok-ong dengan tertawa.

“Memang,” kata si genduk yang sebelah kiri dengan kenes, “setiap malam Ongya pasti datang menjenguk nona, hanya semalam…Ai, nona telah menunggu hingga cemas dan Ongya tetap tidak muncul.”

“Apakah betul dia cemas menunggu kedatanganku?” tanya Koay-lok-ong.

“Masa hamba berdusta, kalau Ongya tidak percaya kepada Eng-ji, silakan tanya kepada Yan-ji,” jawab genduk itu sambil melirik kawannya sekejap.

“Betul,” segera kawannya, Yan-ji, menukas, “jelas nona menunggu dengan gelisah, saking tak sabar sampai bunga melati yang menjadi kesayangannya itu diremas-remas.”

“Dan saat ini apakah nona sudah tidur?” desis Koay-lok-ong.

“Baru saja minum setengah mangkuk kuah jinsom, mungkin lagi tidur,” jawab Eng-ji.

“Oo…” tertampil rasa kecewa Koay-lok-ong, tapi tampaknya juga tidak berani membangunkan si cantik.

“Saat ini sebaiknya Ongya menunggu sebentar di depan sambil minum teh, sebentar bila nona sudah mendusin segera Eng-ji dan Yan-ji akan memanggil Ongya ke sini.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: