Kumpulan Cerita Silat

26/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 11

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 2:06 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, Lovecan, dan Sumahan)

Bab III. Tangan Beracun.

11. Dua jagoan gagah.

Menyaksikan senjatanya berhasil direbut lawan, Mok Kiu-peng sama sekali tidak gugup, dia segera membuang senjatanya sambil melolos pedang.

Si Tangan besi mendengus dingin, dia gunakan ujung tombak yang tajam dengan jurus Han-ya-tiam-tiam (burung gagak mengangguk) menyodok jalan darah Tiong-ki, Sau-jiong dan Seng-hiat di tubuh lawan.

Waktu itu tubuh Mok Kiu-peng masih berada di udara, begitu jalan darahnya tertotok, tubuhnya segera merosot jatuh ke bawah dengan lemas.

Secepat kilat si Tangan besi menyambar tubuhnya, lalu sambil merendahkan badan ia menghindarkan diri dari tiga tebasan golok lawan.

Waktu itu kedua belah pasukan sudah saling berhadapan, sedang Mok Kiu-peng sendiri pun hanya maju sepuluh kaki di depan kawanan anak buahnya, namun ketika para bandit itu sudah tiba di hadapan lawan, si Tangan besi pun telah berhasil membekuk Mok Kiu-peng, malah sekaligus menotok Tiong-leng-hiat dan Ki-hay-hiatnya.

Mok Kiu-peng mati kutu, tanpa perlawanan badannya diseret ke dalam pasukan Si Ceng-tang, tempik sorak pun bergema gegap-gempita.

Dengan suara lantang Tangan besi segera berseru, “Teman-teman dari Lian-in-ce, dengarkan baik-baik, bila kalian berani menyerbu maju, aku akan membantai Si-cecu kalian terlebih dulu!”

Mendengar ancaman itu, serentak pasukan bandit menghentikan serbuannya, suasana jadi amat hening.

Si Tangan besi segera mencabut keluar pedang yang di-gembol Mok Kiu-peng, setelah dipalangkan di lehernya, kembali dia menghardik, “Mok-cecu, kau masih ingin hidup?”

“Tentu saja!” jawab Mok Kiu-peng cepat.

“Kalau begitu suruh mereka segera mundur, asal mereka tidak menyerang, aku pun tak akan mengganggu seujung rambutmu.”

“Tidak mau!”

“Kenapa tidak mau?”

Mok Kiu-peng tertawa dingin. “Jangan harap nyawaku bisa ditukar dengan mundurnya pasukan Lian-in-ce, Hmm! Mau bunuh silakan bunuh, mau bantai silakan bantai, aku tak bakal mengernyitkan dahi!”

Kemudian dengan suara lantang kembali serunya, “Saudaraku, dengarkan baik-baik, bila aku tewas di tangan mereka, kalian semua harus membalaskan dendam bagi kematianku!”

Begitu selesai bicara, dia segera menggesekkan lehernya sendiri di batang pedang itu.

Dengan perasaan terkejut, si Tangan besi menarik balik pedangnya, seketika segaris luka panjang berdarah segera muncul di leher orang itu.

“Lelaki sejati!” tanpa sadar Si Ceng-tang berteriak memuji.

“Punya nyali!” sambung Ngo Kong-tiong pula.

Sedang Si Ciang-ji bergumam seorang diri, “Tak aneh, dia lebih hitam dariku, ternyata wataknya memang lebih keras pula daripada aku!”

Terdengar Mok Kiu-peng kembali berteriak, “Hei, kenapa kalian belum menyerang juga, takut aku mampus?”

Namun kawanan bandit itu tak satu pun yang berani menyerang, mereka hanya duduk di kuda tunggangan dengan termangu, tampaknya sikap baik Mok Kiu-peng di hari biasa membuat kawanan bandit itu merasa sayang untuk mengorban jiwanya.

Sementara Mok Kiu-peng masih mencak-mencak gusar, mendadak ia merasa badannya mengendor, ternyata jalan darahnya telah dibebaskan orang, dan orang itu tak lain adalah si Tangan besi sendiri.

Terdengar si Tangan besi berkata sambil menjura, “Saudara Mok, keberhasilanku tadi hanya lantaran aku telah membokongmu, harap kau sudi memaafkan.”

Mok Kiu-peng tertegun, dia tak percaya apa yang terjadi merupakan sebuah kenyataan, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Kembali, si Tangan besi berkata sambil tertawa, “Mok-ciangkun silakan kembali, mari kita bertarung sekali lagi.”

Dengan wajah membesi Mok Kiu-peng berjalan meninggalkan arena, melihat si Tangan besi benar-benar tidak mencegah, dia tahu pihak lawan betul-betul membebaskan dirinya, mendadak ia tidak berjalan pergi lagi, malah serunya dengan lantang, “Saudara sekalian, dalam pertarungan kali ini, kita telah berjumpa dengan pasukan yang bijaksana, aku tak mau bertarung lagi, jika kalian mau bertempur, kalian sendiri saja yang bertempur.”

Tindakan yang dilakukan ini jauh di luar dugaan si Tangan besi, suasana pun jadi heboh, semua orang mulai berbisik-bisik dan saling berpandangan dengan perasaan bimbang, untuk sesaat kawanan bandit itu tidak tahu apa yang mesti diperbuat.

Sebenarnya, mereka sangat berterima kasih kepada si Tangan besi karena mau membebaskan pemimpin mereka, selain itu di hati kecil mereka pun sudah timbul rasa takut bercampur jeri setelah melihat kehebatan musuhnya membekuk Mok Kiu-peng, yang mereka ketahui selama ini tanpa tandingan, mereka sadar kalau kungfu musuhnya sangat hebat.

Tapi mereka pun tak berani berpeluk tangan, karena takut ditegur dan diberi sangsi oleh Toacecu, itulah sebabnya mereka jadi bingung.

Dalam pada itu si Tangan besi telah menjura seraya berkata, “Saudara Mok, terima kasih banyak kau menolak bertarung lagi. Mengenai luka dalam yang diderita saudara kelimamu itu, bila tidak keberatan, Siaute sanggup mengobatinya.”

Mendengar ucapan ini, semua orang bersorak gembira, Mok Kiu-peng sendiri pun amat girang, serunya tanpa sadar, “Benarkah? Bagus sekali…”

Baru saja si Tangan besi akan menjawab, tiba-tiba dari arah utara terdengar seorang berseru dengan nada dingin, “Site (adik keempat), kau menolak bertarung, bahkan mempengaruhi semangat juang para prajurit, sadarkah akan kesalahanmu itu?”

Mok Kiu-peng tampak terperanjat, segera jawabnya, “Siaute tahu akan kesalahan.”

“Tahukah kau apa hukumannya?” kembali suara itu bergema.

Mok Kiu-peng tertawa pedih, sambil mengangkat pedang yang dikembalikan si Tangan besi itu sahutnya, “Sam-suheng, Siaute akan bunuh diri untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanku.”

Tangan besi tahu orang yang barusan bicara tak lain adalah Say Cukat Wan Beng-tin, maka dia pun tidak ikut campur, karena dia yakin tak mungkin Wan Beng-tin akan memaksa saudaranya untuk bunuh diri.

Benar juga ketika melihat Mok Kiu-peng melintangkan pedangnya di leher sendiri, kembali suara dingin itu berseru, “Bila kau sanggup membunuh kawanan manusia itu, dosamu akan tertebus.”

Mok Kiu-peng tertawa sedih. “Pertama aku Mok Kiu-peng tak ingin membunuh sahabat, kedua aku Mok Kiu-peng sadar kalau bukan tandinganmu, harap Wan-suheng bersedia mengabulkan permintaanku ini!”

Selesai berkata, ia gorok leher sendiri untuk bunuh diri.

Tangan besi merasa terharu sekali ketika mendengar orang itu telah menganggapnya sebagai sahabat, bahkan tidak segan untuk bunuh diri ketimbang harus bermusuhan dengannya, perasaan antipatinya terhadap Lian-in-ce kontan musnah tak berbekas.

Ketika Mok Kiu-peng siap menggorok leher sendiri itulah, kembali terdengar suara dengusan dingin, menyusul meluncur sebilah pisau terbang langsung menghajar pedang itu.

Dengan wajah berubah lekas Mok Kiu-peng berseru, “Wan-suheng, kau…”

“Hmm, bukan saja kau mundur sebelum bertempur, bahkan membuat semangat tempur prajurit merosot, kau pun menganggap musuh sebagai sahabat, sadarkah kau bahwa semua peraturan benteng telah kau langgar?”

Tangan besi gusar sekali, meskipun sudah diduga Wan Beng-tin tak akan membiarkan rekannya bunuh diri, namun dia tak mengira kalau tuduhan berlapis telah dijatuhkan kepada Mok Kiu-peng, seakan dia telah memojokkan rekannya itu agar menjalani hukuman mati setelah peristiwa ini.

Ia segera mendongakkan kepala, tampak seorang lelaki setengah umur berbaju putih, berjenggot panjang, berwajah putih bagai kemala dan dingin sikapnya, berjalan keluar dari balik hutan, dia tak lain adalah si Cukat cerdik Wan Beng-tin.

Terdengar Mok Kiu-peng berseru sambil setengah berlutut menghadap ke arah barat-daya, “Tecu siap menerima hukuman mati!”

“Masih ada yang menolak bertempur?” sekali lagi Wan Beng-tin berseru.

Tentu saja keempat ratusan anggota bandit itu tak berani mengatakan “tidak”, serentak mereka berseru, “Membunuh musuh adalah kewajiban setiap anggota!”

“Bagus!” kembali Wan Beng-tin berseru setelah melirik sekejap ke arah Si Tangan besi. “Sekarang tunjukkan kepada semua orang bahwa kami anggota Lian-in-ce tidak terdapat manusia yang mau menjual teman hanya untuk mencari kehormatan sendiri.”
Mendadak ia sambitkan kedua bilah pisau terbang langsung diarahkan ke sepasang mata Mok Kiu-peng.

Tangan besi sama sekali tidak menyangka kalau orang itu bakal turun tangan sekeji itu terhadap saudara angkat sendiri, sambil membentak gusar dia melejit ke muka.

Sementara itu sepasang pisau terbang Wan Beng-tin telah meluncur ke arah mata Mok Kiu-peng dengan kecepatan tinggi, mata pisau tampak berwarna hijau kebiru-biruan, jelas mengandung racun yang sangat jahat.

Rupanya sesuai dengan peraturan Lian-in-ce, terhadap orang yang berani melanggar peraturan, maka sepasang matanya akan dibutakan lebih dulu, kemudian membiarkan sang korban mati tersiksa karena keracunan, sebuah hukuman yang amat kejam dan sadis.

Mok Kiu-peng sama sekali tidak berusaha untuk menghindar, sambil memejamkan mata ia siap menerima kematian.

Mendadak “Buuuk, buuuk, buuuk, buuuk” ternyata si Tangan besi telah melayang turun di hadapannya sambil menangkap pisau terbang itu dengan kedua belah tangannya, lantaran sangat gusar, maka begitu pisau terbang itu tertangkap, segera dihancurkan hingga remuk berkeping-keping.

Bersamaan ketika Tangan besi menangkap sambitan pisau terbang itu, tampak sesosok bayangan putih melesat secara tiba-tiba, langsung mengancam tubuh Wan Beng-tin.

Tujuh delapan orang bandit berniat menghadang, tapi bayangan putih itu sudah melejit kembali ke udara, terbang melewati atas kepala kawanan manusia itu dan langsung menyerang ke arah tujuh delapan orang pengawal yang berada di hadapan Wan Beng-tin.

Tujuh delapan batang tombak panjang langsung menusuk ke arah bayangan putih itu secara serentak.

Ternyata bayangan putih itu adalah Pek Huan-ji, saat tubuhnya melayang, sepasang tangannya bergerak cepat, dalam waktu sekejap dia sudah dapat menangkap semua tombak panjang itu, tetapi karena halangan itu ia pun terpaksa melayang turun.

Wan Beng-tin tak merasa kuatir, jika gempuran Pek Huan-ji gagal melukainya, maka anak buahnya akan segera mengepung dan mencincang tubuhnya hingga hancur.

Baru saja Wan Beng-tin hendak memberi perintah untuk melancarkan serangan, tiba-tiba terlihat sesosok bayangan putih kembali berkelebat lewat di depannya.

Dengan terkesiap Wan Beng-tin melompat mundur, segera ia melolos senjatanya, namun serangan pedang orang itu cepat bagai sambaran kilat, tahu-tahu ujung pedangnya sudah menempel di atas lehernya.

Saat itulah bayangan orang itu melayang turun, dia tak lain adalah Pak-shia Shiacu Ciu Pek-ih.

Wan Beng-tin segera sadar, ternyata serangan Pek Huan-ji tadi hanya bertujuan mengalihkan perhatiannya, padahal serangan sebenarnya justru datang dari Ciu Pek-ih.

Ketika ia sadar akan siasat itu, tahu-tahu tubuhnya telah terjatuh ke tangan musuh, tak terlukiskan rasa gusarnya, dia tak menyangka kecerdasan otaknya gagal mengantisipati kejadian itu.

Karena terancam pedang lawan, maka dengan wajah hijau membesi lantaran mendongkol, dia cuma bisa mengawasi Ciu Pek-ih tanpa berkata.

Sementara itu kawanan bandit yang mengepung sudah mencabut senjata dan siap melakukan penyerbuan, dengan suara kasar Ciu Pek-ih segera menghardik, “Bila kalian berani maju selangkah saja, akan kubantai Sam-cecu kalian ini!”

Serentak para bandit menghentikan langkahnya.

“Bangsat tak bernyali,” mendadak Wan Beng-tin mengumpat, “Kenapa kalian tak berani maju? Takut aku mampus? Hmm, apa artinya sebuah kematian? Kalau kalian tak berani maju, jangan salahkan kalau akan dijatuhi hukuman berat.”

Sebenarnya Ciu Pek-ih hendak menegurnya, mengapa tidak mengampuni saudara angkat sendiri, siapa sangka orang ini benar-benar berhati keras, tanpa mengucapkan sepatah kata pun dia mendongakkan kepala dan sengaja menyongsongkan lehernya ke ujung senjata lawan.

Tentu saja Ciu Pek-ih tak ingin tawanannya mati sia-sia, segera dia tarik pedangnya.

Walaupun gagal mati, tak urung luka dalam membekas di leher Wan Beng-tin, cucuran darah segera membasahi tubuhnya, namun dia seperti tidak jeri, malah sekali lagi badannya ditubrukkan ke arah senjata lawan.

Sekali lagi Ciu Pek-ih menarik kembali pedangnya, dan hal ini berlangsung sampai beberapa kali, setiap Wan Beng-tin nekad menubrukkan badannya ke ujung pedang, setiap kali juga Ciu Pek-ih harus menarik senjatanya. Meski begitu, ujung pedang itu tak pernah jauh dari lehernya sehingga Wan Beng-tin selain gagal untuk mati, dia pun gagal untuk meloloskan diri.

“Jangan menghina Samkoku” mendadak terdengar Mok Kiu-peng membentak gusar. “Siapa berani menganiayanya berarti memusuhi aku!”

Wan Beng-tin tertawa lantang. “Losu, tak usah gusar,” ia berseru, “Tampaknya hari ini kita bakal mati bersama.”

Diam-diam Ciu Pek-ih mengakui kejantanan lawannya, timbul rasa hormat dalam hati kecilnya, ia kembali menegur, “Kalau dilihat dari sikapmu, semestinya kau terhitung seorang Enghiong Hohan, kenapa kau justru bertindak keji terhadap saudara sendiri?”

Wan Beng-tin melotot sekejap ke arahnya, lalu tertawa keras. “Hahaha…bila setiap anggota Lian-in-ce berhati lemah, hanya gara-gara punya hubungan erat lantas mengabaikan peraturan dan hukuman, apa jadinya Lian-in-ce? Bagaimana mungkin kami bisa berdiri sebagai sebuah organisasi? Betul Mok-sute adalah sahabat karibku, tapi sebagai komandan pasukan dia berhati lemah, menyerah kepada musuh dan menolak berperang, apakah dosa kesalahan ini harus kuampuni? Apakah lantaran dia saudaraku maka dia bebas dari hukuman? Justru sebagai komandan, dosa itu mesti ditebus dengan hukuman ganda. Kau pun tak usah berusaha membujukku, seorang lelaki sejati tak akan berkerut kening dengan keputusan sendiri, mau bunuh, mau bantai, lakukan saja segera!”

Ciu Pek-ih maupun si Tangan besi manggut-manggut sesudah mendengar perkataan itu, tanpa terasa timbul rasa kagum dan hormat mereka terhadap orang itu.

Terdengar Mok Kiu-peng berseru pula, “Benar, perkataan Sam-suheng memang tepat, Siaute telah melanggar peraturan benteng, dosaku memang pantas dijatuhi hukuman mati.”

Baru saja Wan Beng-tin memejamkan mata siap menanti kematian, tiba-tiba Ciu Pek-ih menarik kembali pedangnya, bahkan sambil menjura berkata, “Wan-sianseng, maafkan Cayhe bila sudah bertindak kasar kepada kalian berdua.”

Semula Wan Beng-tin mengira ucapannya pasti akan memancing kemarahan Ciu Pek-ih sehingga pedangnya langsung dihujamkan ke tubuh sendiri, dia tidak menyangka kalau musuh malah bersikap begitu hormat kepadanya bahkan mohon maaf.

Maka sambil membuka kembali matanya, dia berseru, “Kau tak usah pura-pura baik hati, biarpun kau ampuni aku, bukan berarti aku tak akan memusuhi kalian!”

Sembari menyarungkan keYnbali senjatanya, Ciu Pek-ih menyahut, “Silakan Wan-sianseng turun tangan, aku membebaskan anda karena kau seorang lelaki sejati, apalagi kalau bukan kubokong secara tiba-tiba, belum tentu aku berhasil membekuk Sianseng.”

Wan Beng-tin jadi melengak, untuk sesaat dia tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Mendadak terdengar seorang berseru dengan suara nyaring, “Beng-tin, biasanya kau pintar dan luwes, kenapa hari ini jadi kaku dan keras kepala hingga menggelikan para tetamu saja, peraturan yang berlaku dalam Lian-in-ce kita adalah peraturan hidup, mengapa kau menggunakannya sebagai sesuatu yang mati?”

Ketika si Tangan besi berpaling, terlihat para bandit yang ada di sisi utara telah menyingkir ke samping membuka sebuah jalan, seorang pemuda dengan senyum di kulum pelan-pelan berjalan mendekat, di sampingnya mengikut seorang berbaju hitam yang bermimik kaku tanpa perasaan.

“Aaah, Toa-cecu telah datang…Ji-cecu telah datang”

Tindak-tanduk pemuda itu amat sederhana, tidak sombong, tidak angkuh, sebaliknya malah memberi kesan ramah dan suka bergaul, sembari berjalan mendekat ia langsung menjura ke arah si Tangan besi sambil menyapa, “Cayhe adalah Cing Sau-song, maaf kalau kami tidak menyambut dengan baik, terima kasih juga atas kebaikan kalian yang tidak membunuh Samte dan Site”

Semua orang melengak, mereka tidak menyangka ketua utama Lian-in-ce ternyata adalah seorang pemuda yang begitu sederhana, baju warna hijau yang dikenakan meski agak mencolok warnanya, namun penuh dengan tambalan di sana sini, bukan saja tampangnya mirip seorang pelajar rudin, bahkan thauwbaknya jauh lebih keren daripada dirinya, siapa sangka justru orang yang amat sederhana ini tak lain adalah si Naga sakti Cing Sau-song.

Si Ceng-tang segera berdehem, lalu ujarnya lembut, “Cing-cecu, sebetulnya kami hanya kebetulan melewati jalanan ini, sepantasnya kami menghaturkan kartu nama untuk berkunjung, sayang sebelum hal ini kami lakukan sudah keburu bentrok dulu dengan anggota anda.”

“Aaah, sepantasnya kamilah yang minta maaf,” tukas Cing Sau-song sambil tertawa. “Kalau tak salah tentu anda adalah Si-ciangkun dari kota Ciang-ciu bukan? Terus terang, kami mengira pasukan yang datang adalah para pembesar korup yang sudah sering menindas rakyat kecil, biasanya kami orang-orang Lian-in-ce paling benci kepada kawanan laknat seperti itu. Tadi setelah melihat kebesaran hati kalian yang mau memahami perasaan Sam-te dan Si-te kami, Cayhe yakin kalian bukan manusia sembarangan, bila tidak keberatan, bagaimana kalau kita berkenalan?”

Maksud perkataan itu sudah jelas sekali, seandainya mereka adalah pembesar anjing, maka sejak tadi perintah pembantaian sudah diturunkan.

Zaman itu rakyat kecil memang hidup tertindas dan menderita, banyak pembesar korup bertindak sewenang-wenang dengan memeras rakyat, hanya wilayah Ciang-ciu dan sekitarnya yang berada dalam kekuasaan Si Ceng-tang, tak pernah mengalami kejadian seperti ini, bukan saja ia tak pernah menindas rakyat bahkan sudah terkenal sebagai pembesar bersih.

Tak heran kalau Cing Sau-song menunjukkan sikap yang amat bersahabat.

“Aaah, apa maunya orang ini?” pikirnya kemudian, “Tampaknya dia punya cita-cita untuk menegakkan keadilan dan kebenaran, jangan-jangan dia mau berontak?”

Makin dipikir, panglima perang dari kota Ciang-ciu ini semakin terkesiap.

Di pihak lain, manusia berbaju hitam itu sudah berjalan menghampiri Koan Tiong-it, dia periksa sebentar hancuran bok-hi yang berceceran di tanah, kemudian mengangkat wajahnya dan melotot sekejap ke arah Tangan besi, sinar tajam memancar keluar dari balik matanya.

Namun hanya sekejap, ia sudah mengalihkan kembali sinar matanya, membangunkan Kwan Tiong-it dan menyalurkan tenaga dalamnya untuk melindungi keselamatan jiwanya.

Mok Kiu-peng sangat menguatirkan keselamatan saudaranya, tanpa sadar ia berseru, “Jiko, apakah Ngo-te masih hidup?”

Lau Hiat-kong tidak menjawab, dia tetap membungkam.

“Jite,” Cing Sau-song segera berkata, “kuserahkan keselamatan jiwa Ngo-te kepadamu.”

“Jangan kuatir Toako, Ngo-te tetap punya harapan hidup,” jawab Lau Hiat-kong cepat.

Tak selang lama, paras Koan Tiong-it yang pucat mulai berubah semu merah, diam-diam para jago bersyukur, sebab bila Koan Tiong-it sampai tewas, dendam kesumat ini pasti akan dibalas pihak Lian-in-ce.

Pelan-pelan Cing Sau-song berpaling kembali ke arah Tangan besi, ujarnya sambil tertawa, “Di antara kita sudah terjadi kesalah-pahaman yang nyaris berakibat fatal, semuanya ini merupakan kesalahan kami. Bila tidak keberatan, bagaimana kalau minum beberapa cawan arak dulu dalam benteng kami?”

Si Ceng-tang keberatan, katanya, “Terus terang, kami sedang dalam perjalanan mengejar buronan kerajaan yang kabur dari penjara, bagaimana jika undangan Cing-cecu baru kami penuhi setelah selesai bertugas dan menyerahkan kembali buronan itu ke pihak kerajaan?”

“Kau sedang memburu buronan kerajaan?” seru Cing Sau-song dengan wajah berubah.

“Benar!” jawab Si Ceng-tang sambil diam-diam meningkatkan kewaspadaannya.

“Yang kau maksud adalah Raja pemusnah Coat-miat-ong?” Ceng Sau-song menatap wajah lawannya dengan pandangan setajam sembilu.

“Benar!” sadar hal ini mustahil dirahasiakan lagi, Si Ceng-tang menjawab secara terus terang.

“Jangan!” kembali Cing Sau-song berseru nyaring.

Seketika itu juga suasana berubah sangat tegang, masing-masing pihak bersiap menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Si Ceng-tang tertawa getir, ujarnya, “Cing-cecu, kau adalah orang yang tahu urusan, semestinya tahu juga kalau kami adalah petugas yang makan nasi dari negara.”

“Justru kehadiran kami di sini adalah untuk menghadang setiap orang yang hendak melakukan pengejaran terhadap Cukong,” ujar Cing Sau-song sambil menggeleng kepala berulang kali.

Begitu mendengar Cing Sau-song menyebut Coh Siang giok sebagai “Cukong”, si Tangan besi segera tahu hubungan mereka pasti sangat akrab, maka sambil menjura ujarnya, “Saudara Cing, ilmu silatmu tinggi, kepintaranmu luar biasa, mengapa tidak menyumbangkan kemampuanmu untuk berbakti kepada negara? Kenapa kau mesti menyia-nyiakan masa mudamu?”

Maksud perkataan itu jelas, dengan kepintaran dan kepandaian silafmu, buat apa kau membela seorang pemberontak?

Cing Sau-song segera tertawa. “Kalau aku tidak salah duga, anda tentulah saudara Tangan besi dari 4 opas bukan? Benar, ucapanmu memang tepat, cuma mari kita perhatikan masalah pokoknya, sebuah pemerintahan semestinya bertugas mengayomi dan mensejahterakan rakyatnya, pemerintah tidak seharusnya melakukan tindakan pemerasan, penindasan dan penyiksaan terhadap rakyat sendiri. Dan aku berjuang demi rakyat, aku ingin menumbangkan pemerintah untuk mengangkat kaisar baru, kaisar yang mau memperhatikan kesejahteraan rakyatnya, apakah tindakanku ini salah? Apakah perjuanganku bukan demi negara dan rakyat?”

Tangan besi terkesiap, harus diakui pemerintahan waktu itu memang sangat korup, bukan saja menindas rakyat, kaisarnya pun lalim dan tak becus, kesengsaraan dan penderitaan melanda hampir seluruh negeri.

Si Ceng-tang saling pandang dengan mulut bungkam, sampai lama kemudian panglima Si baru berkata sambil tertawa getir, “Aku tak lebih hanya seorang pembesar militer, aku tak mampu mencampuri urusan pemerintahan. Cing-cecu, bagaimana kalau kau bermurah hati dengan membiarkan pasukan kami lewat? Selesai bertugas, kami pasti akan datang minta maaf.”

Cing Sau-song balas tertawa getir. “Aku tahu Si-ciangkun memang jujur dan seorang ksatria sejati, tak mungkin orang macam kau akan mengkhianati kerajaan. Tapi setiap partai ada peraturan, setiap perkumpulan ada tata cara, aku sangat menghormati Coat-miat-ong, berarti sudah menjadi kewajibanku untuk menghadang pasukan yang mengejarnya, apalagi tujuan serta cita-cita Coh-cukong sangat mirip dengan tujuan kami, cukup menyinggung soal ini, mustahil bagi kami untuk berpeluk tangan.”

“Bila saudara Cing punya cita-cita luhur, kenapa sampai sekarang masih mengendon terus dalam benteng?” tiba-tiba si Tangan besi menyela.

“Karena saatnya belum tiba, kami hanya menunggu waktu sambil menghimpun tenaga, apalagi aku pun mendapat perintah dari pasukan keadilan untuk menunggu kehadiran seorang Toa-ko kami, Toako yang amat tersohor dan amat bijak.”

“Pendekar besar mana yang kau maksud?” tanya si Tangan besi dengan terkejut.

Ternyata Cing Sau-song tidak berusaha merahasiakan identitas orang itu, jawabnya dengan nada penuh hormat, “Dia adalah Sin-ciu Tayhiap (Pendekar besar dari tionggoan) Siau Ciu-sui!”

“Ehmm, Siau Ciu-sui memang seorang pendekar sejati, tapi…masakah Siau-tayhiap sudah memberikan pernyataannya untuk bergabung dengan pasukan pemberontak?”

“Tentu saja, pasukan keadilan adalah pasukan yang menegakkan kebenaran, siapa pun bersedia untuk bergabung, bahkan hampir seluruh anggota persilatan telah menyatakan kesediaannya untuk bergabung.”

“Bagaimana kalau dia menolak untuk bergabung?”

“Kami akan menawarkan berulang kali, meminta kerelaan hatinya.”

“Jika dia tetap menampik?”

Dengan wajah serius Cing Sau-song melakukan gerakan memotong dengan telapak tangannya, “Kalau dia enggan menyumbangkan tenaga demi kebenaran, terpaksa kami akan membunuhnya.”

Tercekat hati semua orang setelah mendengar perkataan itu.

“Saudara Cing,” tiba-tiba si Tangan besi berkata lagi, “Kami terhitung orang luar, bahkan merupakan hamba negara yang mendapat sesuap nasi dari kerajaan, mengapa saudara Cing malah memberitahukan rahasia ini kepada kami?”

Cing Sau-song segera tertawa tergelak. “Aku yakin kalian adalah jago berjiwa besar dan bersemangat ksatria, apalagi bagiku tak ada persoalan yang tak boleh diutarakan kepada orang.”

“Bila sekembalinya ke kota Ciang-ciu kami siarkan rencanamu itu, bukankah hal ini sangat tidak menguntungkan bagi Lian-in-ce?”

Kembali Cing Sau-song tertawa tergelak. “Hahaha…saudara Thi memang pandai bergurau,” serunya pula, “Sekarang dunia amat kacau, setiap saat pemberontakan bisa terjadi dimana-mana, ada atau tidak adanya Lian-in-ce sama sekali tak akan mempengaruhi keadaan, mana mungkin kalian menjual kami hanya untuk mengejar tanda jasa?”

Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Apalagi jika berita ini sampai tersiar luas, para Enghiong Hohan di seluruh kolong langit tak nanti akan mengampuni kalian!”

Ucapan itu seketika membuat semua orang tercekat.

Ucapan Cing Sau-song itu membawa kekerasan di balik kelembutan.

Kenyataan dunia memang sangat kacau, orang tak akan banyak bicara bila mereka sebagai pembesar negara tetapi berjiwa bersih, namun bila sampai mengkhianati kebenaran hanya demi nama dan pahala, bukan saja dia akan dicari oleh orang yang dikhianati, orang lain pun tak akan berpeluk tangan.

Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong meski menjabat sebagai panglima perang, mereka sendiri pun berasal dari dunia persilatan, tentu saja peraturan semacam ini sangat dipahaminya. Belum lagi jika ada pembesar laknat yang menggunakan kesempatan itu hendak menjatuhkan mereka, asal laporan palsu diajukan ke Kaisar, bisa jadi seluruh keluarga besar mereka akan mati dipancung.

Tanpa terasa peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh tubuh.

Setelah tertawa getir ujar Si Ceng-tang, “Cayhe hanya seorang prajurit penjaga perbatasan, urusan kerajaan belum pantas bagiku untuk mencampurinya, jadi Cin-cecu tak perlu kuatir. Tapi Coh Siang-giok kabur dari penjara, menjadi tugas dan tanggung-jawabku untuk menangkap dan menyerahkan kembali ke negara, kalau tidak, mungkin seluruh keluarga besarku akan tertimpa bencana dan terseret oleh dosaku, karenanya tolong Cin-cecu mau membuka jalan untukku hari ini, di kemudian hari Cayhe pasti akan berkunjung untuk menyampaikan rasa terima kasihku.”

Cin Sau-song termenung sejenak, kemudian katanya, “Ya, Cayhe cukup mengerti tentang kesulitan yang Ciangkun hadapi, tapi aku sendiri pun punya kesulitan, Coh-cukong adalah junjunganku, sudah menjadi kewajibanku untuk membantu dan menolongnya, jadi bila kalian hendak melewati tempat ini untuk menangkapnya, terpaksa pihak Lian-in-ce tidak bisa berpeluk tangan!”

Semua orang segera merasakan suasana hati yang berat, sebab bagaimanapun juga beberapa orang Cecu Lian-in-ce memang sulit dihadapi, apalagi mereka masih didukung tujuh ratusan orang pasukan.

“Begini saja,” ujar Cin Sau-song kemudian, “karena kita semua adalah sahabat, tentu saja tak bisa mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak. Lebih baik masing-masing pihak mengutus tiga orang sebagai wakil untuk bertarung dengan cara diundi, pihak yang dapat menangkan dua partai akan keluar sebagai pemenang. Bila pihak kami yang kalah, akan kami antar kalian melewati bukit ini, sebaliknya jika kalian yang kalah, harap segera kembali ke kota Ciang-ciu. Entah bagaimana pendapat anda semua?”

Si Tangan besi memang paling kuatir bila pihak Lian-in-ce mencari kemenangan dengan mengandalkan jumlah banyak, bila harus bertarung masai, dapat dipasatikan pihaknya akan banyak jatuh korban.

Maka ketika mendengar Cing Sau-song mengusulkan pertarungan tiga partai dengan satu lawan satu, dia jadi terharu bercampur terima kasih, ia tahu orang itu berniat baik dengan memberi peluang kepada mereka.

Si Ceng-tang segera berseru, “Terima kasih atas kebaikan Cing-cecu, tapi bagaimana cara bertanding?”

“Tidak ada syarat tertentu,” sahut Cing Sau-song sambil tertawa, “kita cuma ingin menjajal kungfu masing-masing, tentu saja pertarungan hanya sebatas saling menutul. Aku percaya para Enghiong Hohan mengerti dengan apa yang kumaksud. Nah, Ciangkun, silakan pilih tiga orang wakil, lalu kita mulai mengundinya.”

Selesai bicara ia segera menarik tangan Wan Beng-tin, Mok Kiu-peng dan Lau Hiat-kong ditambah Koan Tiong-it untuk menyingkir ke samping dan berbincang dengan suara lirih.

Di pihak sini, Si Ceng-tang berkata kepada rekan lainnya, “Dalam pertarungan tiga partai nanti, biar aku ambil satu partai, apakah ada teman lain yang mau mendampingi Lohu dalam pertarungan dua partai lainnya?”

“Jangan!” cegah si Tangan besi.

“Apa maksud perkataan Thi-heng? Apakah kau anggap kungfuku tidak sepandan untuk terjun ke arena pertarungan?” tanya Si Ceng-tang keheranan.

“Ooh bukan, bukan begitu maksudku, Si-ciangkun adalah pemegang komando dalam aksi kali ini, bila kau sampai mengalami sesuatu, siapa yang akan memimpin pasukan ini? Lebih baik simpan tenaga untuk hal lain yang lebih penting. Biar Cayhe yang mewakili Ciangkun.”

“Tepat sekali ucapan saudara Thi,” Ciu Pek-ih membenarkan, “Sebagai pemegang komando, Si-ciangkun memang tak boleh ikut bertempur, aku pun bersedia mewakilimu dalam pertarungan ini.”

“Hahaha…Jangan tinggalkan aku si orang tua,” sambung Ngo Kong-tiong pula sambil tertawa tergelak. “Asal tidak menganggap aku sudah tua, rasanya aku pun bersedia ikut terjun dalam pertempuran ini.”

Si Ceng-tang sadar, dari sekian jago yang hadir saat ini, ilmu silat si Tangan besi, Ciu Pek-ih dan Ngo Kong-tiong merupakan tiga orang jagoan paling hebat ilmu silatnya, melihat ketiga orang itu bersedia turun tangan, tentu saja dia kegirangan setengah mati.

Segera serunya sambil menjura, “Aku tak akan melupakan budi kebaikan anda semua.”

Segera si Tangan besi dan Ciu Pek-ih membimbingnya bangun, kemudian si Tangan besi berkata, “Masih ada satu hal lagi yang perlu diperhatikan.”

“Soal apa?” tanya Si Ceng-tang.

“Kalau dugaanku tidak meleset, di dalam pertarungan nanti pihak mereka pasti akan mengutus Cing-kongcu dan Lau-jicecu, kepandaian silat kedua orang ini amat tangguh, aku bersedia menghadapi salah satu di antaranya. Cuma ingat, dari sepuluh orang Cecu Lian-in-ce, kini hanya muncul lima orang sementara keempat Cecu lainnya tak nampak batang hidungnya, itu berarti mereka pasti sudah dikirim untuk menghadang opas Thian serta opas Liu, bila perhitunganku tidak meleset, posisi mereka saat ini pasti sangat gawat. Maka sewaktu pertarungan dimulai nanti, tolong Si-ciangkun segera mengutus orang untuk membantu mereka. Aku berharap perhatian semua orang ketika itu sedang tertuju ke arena pertarungan hingga kesempatan untuk keluar dari sini menjadi lebih besar.”

“Benar,” Ciu Pek-ih mengangguk, “Jika terlalu banyak mengirim orang, kemungkinan ketahuan jadi semakin besar. Cing Sau-song pasti tak akan menduga kalau kita akan mengirim bala bantuan, apalagi beberapa li seputar tempat ini tak ada jejak pasukan kerajaan, bisa jadi penjagaan mereka tidak ketat. Aku pikir lebih baik dikirim dua tiga orang saja untuk memberi bantuan. Huan-ji, ilmu meringankan tubuhmu cukup bagus, bagaimana kalau kau saja yang berangkat?”

Semenjak Pek Huan-ji mendemonstrasikan kehebatan ilmu pedang serta ilmu meringankan tubuhnya, Si Ceng-tang sudah tahu kalau gadis ini hebat kungfunya, dengan perasaan girang segera serunya, “Jika Pek-lihiap bersedia, hal ini tentu lebih bagus lagi!”

“Ciangkun, harap turunkan perintah kepadaku untuk menolong opas Liu,” tiba-tiba Ciu Leng-liong berbisik.

Si Ceng-tang tahu kungfu Ciu Leng-liong sangat tangguh dan selama ini merupakan tulang punggungnya, ia segera menyetujui, “Baik, kalau begitu kau boleh ikut!”

Malaikat hitam Si Ciang-ji dan Golok bumi Goan Kun-thian segera menawarkan diri, tapi si Tangan besi segera menukas, “Aku rasa kurang baik jika kelewat banyak yang pergi. Lagi pula jumlah bandit di sini amat banyak, lebih baik anda berdua membantu Ngo-cecu menjaga barisan.”

Sebetulnya Si Ciang-ji dan Goan Kun-thian merasa tak senang karena tidak terpilih, namun mendengar si Tangan besi minta mereka berdua untuk menjaga barisan, apalagi jumlah bandit di situ pun amat banyak, ditambah lagi mereka menguatirkan keselamatan Ngo Kong-tiong, akhirnya tawaran itu diterimanya.

Di pihak lain, Cing Sau-song sedang berkata kepada Lau Hiat-kong, Wan Beng-tin, Mok Kiu-peng serta Koan Tiong-it, “Bila kita mengalahkan mereka dengan mengandalkan jumlah banyak, orang-orang itu pasti tidak puas dan melakukan pembalasan, tapi jika kita berhasil merobohkan mereka satu lawan satu, dapat dipastikan mereka tak bakal berani balik ke ibukota, sebagai orang yang pegang janji dan menjunjung tinggi kesetiakawanan, mereka pasti tak akan membekuk Coh-cukong lagi, siapa tahu karena hal ini Lian-in-ce akan ketambahan beberapa orang jago tangguh.”

“Hebat sekali siasat Toako ini.” puji Wan Beng-tin, “Dengan kemampuan yang dimiliki Toako dan Jiko, besar kemungkinan kita bisa menangkan dua partai pertarungan.”

“Semoga saja begitu. Dalam pertarungan tiga partai nanti, kau boleh ikut tampil. Meskipun kepandaian silatmu masih belum mampu menandingi si Tangan besi, Ciu Pek-ih, Ngo Kong-tiong dan Si Ceng-tang, namun kecerdasan otakmu dan kehebatan taktik perangmu bisa jadi bisa mencuri menang satu partai. Asal kita dapat menangkan seluruh partai ini, mereka pasti akan takluk dengan tulus.”

“Baik, walaupun kungfuku cetek, semoga saja kesadaran otakku bisa menyumbangkan satu angka.”

Tidak lama kemudian si Tangan besi, Ciu Pek-ih dan Ngo Kong-tiong bertiga sudah tampil ke depan arena dengan langkah lamban, sementara Cing Sau-song, Lau Hiat-kong dan Wan Beng-tin segera menyambut kedatangan mereka.

Ketegangan mulai mencekam, perhatian kawanan bandit itu mulai dialihkan ke tengah arena pertarungan, walaupun mereka semua tahu ketua Lian-in-ce ini tangguh ilmu silatnya, mereka jarang melihat dengan mata kepala sendiri kehebatan ilmu silatnya.
Tak heran kalau semua orang mengawasi gerak-geriknya dengan seksama, sebab mereka anggap kesempatan semacam ini merupakan sebuah kesempatan yang sangat langka.

Memanfaatkan peluang baik ini, Pek Huan-ji segera berbisik, “Kongcu, kau mesti berhati-hati, aku pergi dulu!”

“Tak usah kuatir, aku bisa menjaga diri, kau sendiri pun harus berhati-hati,” sahut Ciu Pek-ih.

Pek Huan-ji tidak membuang waktu lagi, dengan sekali kelebatan dia sudah menyelinap pergi dari arena tanpa diketahui siapa pun.

Ciu Leng-liong segera berpamitan pula dengan Si Ceng-tang, kemudian mengikut di belakang Pek Huan-ji, berangkat untuk menolong Liu Ing-peng dan Thian Toa-ciok.

Menanti kedua orang itu lenyap dari pandangan, Tangan besi baru berkata sambil tertawa, “Saudara Cing, bagaimana sistim pertarungan kita? Masakah mesti pilih sendiri lawannya?”

“Benar,” Cing Sau-song tertawa, “akan kubuatkan kertas undian dengan tulisan Cing, Lau dan Wan, kalian bisa mengambil undian itu dari dalam kotak.”

“Aaah, kalian adalah tuan rumah sedang kami cuma tamu, semestinya huruf yang dicantumkan adalah Thi, Ngo dan Ciu.”

“Hahaha…tidak boleh, tidak boleh, tuan rumah harus menghormati tamunya, yang benar kalian bertiga yang pantas memilih dulu.”

Melihat Cing Sau-song bersikeras dengan pendapatnya, Tangan besi pun tidak menampik lagi, maka dia pun mempersilakan lawan untuk menuliskan namanya serta memasukkan kertas undian ke dalam kotak.

Dalam pada itu, Ciu Leng-liong dan Pek Huan-ji dengan leluasa berhasil meninggalkan rombongan dan tiba di suatu tempat yang amat sepi, saat itulah Ciu Leng-liong baru berkata, “Aku akan pergi menolong opas Liu.”

“Baiklah, kalau begitu aku pergi menolong opas Thian, mari kita berpisah di sini saja,” sahut Pek Huan-ji.

“Nona Pek harus berhati-hati”

Sepeninggal Ciu Leng-liong, Pek Huan-ji juga meneruskan perjalanannya ke arah barat-laut dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya, bagaikan seekor burung walet yang terbang di angkasa, tak lama kemudian ia sudah menempuh perjalanan sejauh tujuh delapan li dan tiba di sebuah dusun.

Dari kejauhan sudah terdengar suara bentakan dan pertarungan yang amat sengit.

Pek Huan-ji segera menyelinap maju dan mendekati sumber suara itu dengan sangat hati-hati.

Waktu itu dia menyaksikan dari enam orang prajurit tinggal empat orang yang sedang bertarung sengit, musuh yang mereka hadapi berjumlah melebihi empat puluh lima orang, sementara Thian Toa-ciok dengan mengandalkan sepasang telapak tangannya sedang bertempur seru melawan Jubah merah rambut hijau Kau Cing-hong dan Tombak ular emas Beng Yu-wi.

Waktu itu keadaan Thian Toa-ciok sudah amat kritis, bukan saja darah telah membasahi iga kirinya, dari lambung pun darah mengucur, jelas dia sudah menderita luka yang cukup parah, namun sambil menggigit bibir dia tetap memberikan perlawanan yang hebat.

Pek Huan-ji tahu dia tak boleh ayal lagi, maka dengan sebuah serangan kilat ia menerjang maju dan “Sreet, sreet, sreeet!” beruntun ia merobohkan tiga orang bandit.

Betapa gembiranya para prajurit itu ketika melihat kemunculan Pek Huan-ji, semangat tempur mereka segera bangkit kembali, pertarungan pun kembali berlangsung amat seru.

Empat orang bandit mengayunkan goloknya membabat pinggang Pek Huan-ji, dengan cekatan gadis itu berkelit ke samping lalu dengan pedangnya dia tangkis bacokan golok seorang bandit yang lain.

Dengan rasa kaget bandit itu mencoba menarik kembali senjatanya, sayang walaupun sudah dibetot dengan sekuat tenaga, dia gagal melepaskan diri.

Ilmu pedang Soh-li-kiam-hoat dari Soat-san memang termashur karena penggabungan tenaga Im dan Yang yang luar biasa, selama ini jarang ada jagoan dalam dunia persilatan yang bisa memunahkannya, apalagi kemampuan seorang bandit?

Menggunakan kesempatan itu Pek Huan-ji mendorong senjatanya ke belakang, ketika orang itu mundur dengan sempoyongan, dengan gerakan kilat gadis itu segera menotok jalan darahnya.

Tiga orang rekannya segera menerjang maju sambil mengayunkan goloknya, Pek Huan-ji mendengus dingin, dia dorong tubuh lelaki yang tertotok itu ke depan dan dijadikan tameng.

Kuatir melukai teman sendiri, segera ketiga orang itu menarik kembali bacokannya.

Pek Huan-ji segera memanfaatkan peluang itu dengan mendesak maju lebih dekat, dengan gagang pedang dia sodok jalan darah orang pertama, tangan kiri menotok jalan darah orang kedua dan sebuah tendangan menotok jalan darah orang ketiga. Dalam sekejap keempat orang itu sudah roboh terkulai di tanah.

Begitu terjun ke arena pertarungan, Pek Huan-ji berhasil membereskan tujuh bandit, ketika datang lagi empat musuh yang menyerang, gadis itu segera menggunakan jurus Khim-bing-su-siang (khim bergema empat pekikan) dari ilmu Soh-li-kiam-hoat dengan melepaskan empat buah tusukan.

Dua orang musuh yang berada paling depan segera terluka, sisanya jadi jeri dan segera mundur ke belakang, namun Pek Huan-ji kembali mengebas ujung bajunya menotok jalan darah satu di antaranya, sisanya yang seorang tak berani lagi bertarung melawan gadis itu, segera dia balik ke barisan dan menyerang lagi keempat prajurit.

Dengan robohnya tujuh orang bandit berarti tinggal tiga puluh lima orang musuh yang menyerang keempat orang prajurit itu, namun karena kekuatannya berkurang, mereka pun tak bisa berbuat banyak terhadap para prajurit yang bertahan dengan gagah berani.

Pek Huan-ji segera berkelebat kembali bagai seekor burung walet, kali ini dia menghampiri Thian Toa-ciok dan melancarkan serangan ke arah Beng Yu-wi dan Kau Cing-hong.

“Sreet, sreet, sreet” dalam sekejap mata gadis itu melepaskan empat puluh sembilan buah tusukan, hampir seluruh serangan itu ditujukan ke tubuh si Tombak ular emas Beng Yu-wi.

Mimpi pun Beng Yu-wi tidak menyangka kalau ilmu pedang seorang gadis muda ternyata begitu hebat, dengan mengandalkan tangan kosong beberapa kali dia mencoba untuk merebut pedang musuh, namun setiap kali juga usaha itu gagal karena tangannya terpental balik oleh tekanan tenaga Imkang yang kuat.

Ketika empat puluh sembilan tusukan selesai dilancarkan, Beng Yu-wi sudah dipaksa mundur sejauh puluhan kaki dari posisi semula, saking malunya, paras orang itu berubah merah jengah.

Ilmu silat yang dimiliki Pek Huan-ji pada dasarnya masih setingkat lebih tinggi ketimbang kepandaian Thian Toa-ciok, padahal kungfu Thian Toa-ciok masih setingkat lebih tinggi ketimbang Beng Yu-wi, oleh sebab itu dalam sekejap gadis itu sudah di atas angin.

“Rasakan kau!” teriak Thian Toa-ciok setengah mengejek. Kemudian sambil melototi Kau Cing-hong dan tertawa tergelak serunya pula, “Bocah monyet, tadi dua lawan satu, pertarungan itu tidak masuk hitungan, sekarang akan kusuruh kau merasakan kehebatan tenaga pukulan kakekmu!”

Kau Cing-hong sudah pernah merasakan pukulan Thian Toa-ciok hingga badannya terjepit ke dalam tanah, masih untung dia ditolong oleh Beng Yu-wi hingga akhirnya lolos dari bahaya maut, kini ketika dia harus berhadapan lagi dengan musuh tangguhnya dengan satu lawan satu, tak urung bergidik juga perasaannya.

Dengan satu gerakan cepat Thian Toa-ciok menghampirinya, lalu dengan jurus Lok-te-hun-kim (jatuh ke tanah memisah emas), jurus serangan yang paling diandalkan Thian Toa-ciok, dia hajar tubuh lawannya.

Tergopoh-gopoh Kau Cing-hong melompat mundur sambil bergeser ke samping, maksudnya hendak menghindari ancaman itu, siapa tahu Thian Toa-ciok merangsek semakin ke depan, tiba-tiba bentaknya, “Bocah lelaki menyembah Buddha!”

Waktu itu Kau Cing-hong sudah kelabakan setengah mati, nyalinya semakin pecah setelah mendengar teriakan “bocah lelaki menyembah Buddha”, tanpa sadar dia angkat senjata borgolnya ke atas berusaha menyongsong datangnya ancaman itu dengan keras lawan keras.

Padahal pantangan yang paling besar bagi jagoan yang sedang bertarung adalah pecah nyali, sekali nyali seseorang jadi ciut, seketika tenaga dalamnya merosot separoh, padahal tenaga dalam Kau Cing-hong terhitung cukup tangguh, namun lantaran dia ketakutan, kekuatannya berkurang banyak.

Begitu serangan musuh disambut dengan kekerasan, ibarat sebuah tonggak kayu yang dihantam dengan martil, tubuh Kau Cing-hong segera terbenam ke tanah hingga batas lutut.

Thian Toa-ciok tidak menyia nyiakan peluang baik itu, sambil membentak nyaring, kembali dia hantam tubuh lawan dengan jurus Ngo-lui-hong-teng (lima guntur menggelegar di puncak).

“Blaaam!” benturan nyaring membuat tubuh Kau Cing-hong terbenam semakin dalam, sebenarnya dia ingin berteriak minta ampun, siapa tahu Thian Toa-ciok kembali menghardik keras, “Ji-lui-koan-oh (Bagai guntur membelah telinga)!”

Kau Cing-hong ketakutan setengah mati, dia tak mengira jurus serangan itu jauh lebih dahsyat ketimbang serangan sebelumnya, begitu dibendung dengan kekerasan, badannya terbenam hingga batas dada, keadaannya saat ini tak jauh berbeda dengan batang kayu yang terpatok dalam tanah, sama sekali tak mampu berkutik lagi.

Thian Toa-ciok tertawa terbahak-bahak, serunya, “Haha…keadaanmu saat ini tak beda dengan posisi tadi, nah, sekarang rasakan lagi jurus pukulan Lui-heng-tiam-san (guntur menggelegar kilat menyambar) andalanku!”

Dalam posisi seperti saat ini, tak ada pilihan lain bagi Kau Cing-hong selain menyambut datangnya serangan itu dengan kekerasan, “Blaaam!” senjata borgolnya kontan mencelat beberapa kaki jauhnya dan hancur berantakan seperti barang rongsok.

Thian Toa-ciok gembira setengah mati, sambil menghimpun kekuatan, dia melancarkan serangan lebih jauh sembari membentak, “Sekarang saksikanlah caraku menanam kentang!”

Tak terlukiskan rasa takut Kau Cing-hong, jiwanya serasa sudah melayang meninggalkan raganya, terpaksa dia sambut pukulan itu dengan kedua tangannya.

“Blaaam!” sekujur badan Kau Cing-hong benar-benar sudah tertancap ke dalam tanah, kini tinggal jari tangannya saja yang masih bisa bergerak.

“Bagus, bagus sekali” teriak Thian Toa-ciok kegirangan. “Rasanya aku mesti menciptakan sebuah jurus baru lagi khusus untukmu, aaah…betul, bagaimana kalau kuciptakan sebuah jurus ’Sistim baru menanam kentang’?”

Tiba-tiba seorang bandit menyelinap maju dan langsung membacok punggungnya dengan golok.

Thian Toa-ciok mendengus dingin, dengan jurus Pa-ong-la-kiong (raja bengis mementang busur) dia cengkeram orang itu dan kemudian menghajarnya hingga pingsan.

Kembali tiga orang bandit maju membacok, lagi-lagi Thian Toa-ciok menggunakan jurus kiri menahan kanan memutar untuk menghantam dua orang di sisinya, kontan kedua orang bandit itu muntah darah, sisanya segera melarikan diri.

Kini jumlah bandit yang mengepung tempat itu tinggal dua puluh enam orang, semangat tempur keempat prajurit itu makin berkobar, kini bukan mereka yang keteter sebaliknya kawanan bandit itu yang panik dan ketakutan setengah mati.

Di sisi lain, si Tombak ular emas Beng Yu-wi juga telah dibikin keteter dan kalang kabut oleh serangan maut Pek Huan-ji, begitu musuh kalut, gadis itu segera menerobos maju makin dekat sambil menotok jalan darahnya.

Tak ampun lagi robohlah si Ular emas itu dalam keadaan tak berkutik.

Thian Toa-ciok masih mendendam karena Beng Yu-wi membokongnya tadi, sebetulnya dia ingin menghajarnya hingga mampus, tapi niat itu segera dicegah Pek Huan-ji, serunya, “Jangan, jangan kau lakukan itu, Lian-in-ce sama sekali tidak berniat jelek terhadap kita, meski jumlah mereka banyak, namun kita perlu memberi sedikit muka kepada orang-orang itu.”

“Baiklah,” kata Thian Toa-ciok sambil mengangguk. “Akan kuseret kedua bocah busuk ini dan kuserahkan pada Ciangkun.”

Thian Toa-ciok segera menghampiri Kau Cing-hong yang tubuhnya terhimpit tanah, dengan sekuat tenaga ia betot tubuh orang hingga keluar dari tanah, namun karena sudah cukup lama terpantek, tampaknya jagoan berjubah merah berambut hijau ini sudah tak sadarkan diri.

“Hahaha…rupanya kau semaput” seru Thian Toa-ciok sambil tertawa.

Dalam pada itu Pek Huan-ji telah menempelkan pedangnya di tengkuk Beng Yu-wi sambil berseru lantang, “Seluruh anggota Lian-in-ce, dengarkan baik baik. Kedua orang Cecu kalian sudah jatuh ke tangan kami, apakah kalian ingin bertarung terus? Cepat pulang ke markas daripada menghantar kematian di sini.”

Semenjak kedua orang pemimpinnya tertawan, sebetulnya dua puluhan orang bandit itu sudah ketakutan setengah mati, tentu saja mereka tak mau menyia-nyiakan kesempatan baik itu, dalam waktu singkat tak seorang pun yang tertinggal di sana.

Empat orang prajurit itu segera menghembuskan napas lega, berhasil lolos dari lubang jarum membuat peluh dingin tanpa terasa jatuh bercucuran.

Tak lama kemudian berangkatlah Pek Huan-ji, Thian Toa-ciok dan keempat orang prajurit yang membopong Kau Cing-hong dan Beng Yu-wi menuju ke arena dimana Si Ceng-tang berada.

Ketika mereka tiba di tempat tujuan, tampak kawanan manusia sedang mengelilingi sebuah arena, arena itu luasnya dua kaki lebih, dua orang jagoan sedang bertarung dengan amat sengitnya.

Salah satu di antara kedua orang itu sangat dikenal Thian Toa-ciok karena dia tak lain adalah Ngo Kong-tiong, sedangkan lawannya adalah seorang lelaki berbaju hitam berwajah hitam, dia tak kenal siapakah orang itu.

Melihat ada musuh sedang bertarung melawan teman sendiri, tanpa berpikir panjang lagi Thian Toa-ciok membentak keras, “Rasakan kehebatan jurus sistim baru menanam kentang.”

Bayangan emas berkelebat, menggunakan jurus serangan ciptaan barunya dia hajar tubuh manusia berbaju hitam itu.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: