Kumpulan Cerita Silat

26/09/2009

Pendekar Baja (27)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 10:12 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

“Haha, terima kasih,” Liong-lotoa bergelak tertawa. Mendadak ia berhenti tertawa dan menatap Sim Long, katanya pula, “Kudengar di daerah Tionggoan akhir-akhir ini muncul seorang Sim-kongcu sekaligus mengalahkan Sam-jiu-long Lai Jiu-hong dan menjatuhkan Thian-hoat Taysu dari Ngo-tay-san, hanya dalam sebulan saja namanya sudah mengguncangkan seluruh negeri, apakah Sim-kongcu itu ialah Anda sendiri?”

“Ah, itu cuma pujian teman saja padaku,” sahut Sim Long dengan tertawa.

Seketika para hadirin sama gempar oleh keterangan Liong-lotoa itu, bahkan Si Raja Berandal Cilik juga melenggong dan Ciu Thian-hu pun melongo.

Dalam pada itu sebagai tuan rumah Koay-hoat-lim, Li Ting-liong, dan Jun-kiau lantas mengajak angkat cawan dengan para tamu.

Dengan tertawa Jun-kiau berkata, “Yang duduk di sini seluruhnya adalah orang ternama, cuma sayang kesehatan Ongya agak terganggu sehingga tidak dapat keluar mengiring tamu, terpaksa silakan hadirin makan minum sekadarnya, lalu menemui beliau.”

Beramai-ramai mereka lantas angkat cawan dan menenggak arak, lalu bersantap.

Tiba-tiba Ciu Thian-hu bertanya setelah menenggak arak, “Apakah Sim-laute ini juga suka bertaruh?”

“Kukira sangat sedikit orang lelaki yang tidak berjudi,” jawab Sim Long dengan tersenyum.

“Wah, jika begitu sebentar lagi aku ingin belajar kenal,” tukas The Lan-ciu.

“Tentu akan kuiringi kalian,” kata Sim Long.

Segera Siau-pa-ong Si Bing menukas, “Sudah lama ingin kudatang ke sini, entah permainan apa saja yang terdapat di sini?”

“Ongya paling suka main pay-kiu,” jawab Jun-kiau. “Beliau merasa permainan pay-kiu paling merangsang.”

“Bagiku pay-kiu tidak lebih menarik daripada main dadu, tapi boleh juga.” ujar Si Bing.

“Ah, kukira saudara cilik ini lebih suka main lempar mata uang,” kata Liong-lotoa dengan tertawa.

“Itu kan permainan anak kecil,” sahut si berandal cilik.

Pada saat itulah muncul seorang pemuda berbaju satin, yaitu jago Angin Ribut yang mengirim undangan kepada Sim Long itu, ia memberi hormat dan berseru, “Bilamana hadirin sudah dahar, silakan ikut hamba, Ongya sudah menunggu.”

Segera Sim Long berbangkit, bahwa sebentar lagi akan berhadapan dengan tokoh yang paling misterius zaman ini, yaitu Koay-lok-ong, seketika darah terasa bergolak.

Ruangan dalam tidak luas, tapi juga sangat indah.

Keadaan ruangan gelap sekali, hanya di tengah tergantung sebuah lampu minyak kristal yang besar, cahaya lampu terkerudung oleh kertas putih bersih sehingga sinarnya tidak terpancar ke tempat lain.

Karena sekelilingnya gelap maka cahaya lampu jadi terlebih terang, seluruhnya menyorot ke atas meja bundar yang berlapis laken hijau.

Sekitar laken hijau diberi tepian warna emas, sekeliling meja adalah beberapa kursi besar longgar, di belakang kursi dikitari pagar tembaga yang tergosok mengilat.

Di atas meja sudah tertaruh seperangkat kartu pay-kiu yang terbuat dari gading serta sepasang dadu gading berukir indah. Kecuali itu masih ada sepasang tangan.

Tangan ini pun sangat indah, mulus, serupa ukiran gading, jari yang panjang lurus tertaruh di atas laken hijau, kukunya terawat rapi, jari tengah memakai tiga bentuk cincin aneh dan memancarkan cahaya menakjubkan.

Jelas inilah tangan Koay-lok-ong. Akan tetapi tubuh dan mukanya tersembunyi di balik kegelapan.

Meski Sim Long berusaha melihatnya dengan cermat di bawah cahaya lampu sorot itu juga cuma tertampak wajahnya yang samar-samar dan bola matanya yang bersinar tajam.

Cukup juga dapat melihat bola mata yang bisa membuat jantung orang yang memandangnya berdetak.

The Lan-ciu maju lebih dulu, ia menjura dan berucap, “Selamat, Ongya!”

Suara lembut, tenang dan perlahan, tapi mengandung semacam daya tarik menjawab, “Selamat, silakan duduk!”

“Terima kasih,” kata The Lan-ciu pula sambil melangkah ke dalam pagar dan duduk di kursi sebelah Koay-lok-ong.

“Selamat, Ongya,” giliran Liong Su-hay yang memberi hormat dan dia juga disilakan duduk di sebelah Koay-lok-ong yang lain.

Kemudian giliran Ciu Thian-hu dan dia duduk di samping The Lan-ciu.

Siau-pa-ong tidak berani gegabah, ia pun memberi hormat.

“Apakah engkau ini putra Si-ciangkun?” tanya Koay-lok-ong.

“Betul…” jawab Si Bing.

“Dan aku adalah bakal menantu Si-ciangkun,” sambung He Wan-wan mendadak. “Apakah Ongya…”

Tapi mendadak Koay-lok-ong mendengus, “Yang tidak berjudi berdiri di luar pagar.”

“Eh, jangan Ongya mengira aku ini orang perempuan, kalau berjudi masakah kukalah berani dibandingkan orang lelaki…”

“Perempuan tidak boleh judi,” kata suara itu.

“Mengapa, masa perempuan…”

Belum lanjut ucapan He Wan-wan, mendadak dari belakang bayangan Koay-lok-ong terjulur sebuah tangan dan menolak ke arah He Wan-wan, kontan ia jatuh terjungkal.

Keruan He Wan-wan ketakutan setengah mati, cepat ia merangkak bangun dan berdiri di luar pagar dan tidak berani bertingkah lagi.

Diam-diam Sim Long terkejut, pikirnya, “Hebat benar tenaga dalam orang ini, jangan-jangan dia inilah salah satu duta Koay-lok-ong?”

Segera ia pun memberi hormat dan mengucapkan selamat bertemu.

Dapat dirasakan sinar mata orang yang tajam itu sedang menatapnya, lalu suara orang berkata, “Anda inikah Sim-kongcu?”

Sim Long membenarkan.

Orang itu memandangnya lagi sejenak, lalu berkata, “Baik silakan duduk.”

Sim Long lantas berduduk tepat di depan Koay-lok-ong. Tanpa disuruh lagi Ci-hiang berdiri juga di luar pagar.

Sekonyong-konyong tangan di belakang Koay-lok-ong bertepuk perlahan, dua pemuda berbaju satin lantas membawa datang sebuah kotak berukuran dua kaki persegi.

Ketika kotak itu dibuka di atas, meja mendadak melompat keluar satu orang.

Sungguh aneh bin ajaib, dari dalam kotak sekecil itu dapat melompat keluar seorang manusia hidup.

Kiranya seorang manusia kerdil, manusia mini. Tinggi tubuh orang ini kurang dari dua kaki. Berbeda daripada orang kerdil umumnya yang tidak rata pertumbuhannya, orang kerdil ini tumbuh dengan sama rata ukuran anggota badannya sehingga sekilas pandang serupa manusia normal biasa, hanya ukurannya memang mini.

Hanya kepalanya saja yang agak lebih besar sedikit, ditambah sepasang mata yang lincah dan mulut yang tipis sehingga tampaknya cukup menyenangkan.

Manusia mini ini memakai topi putih dengan baju dan sepatu putih pula, malahan tangan juga memakai kaus putih, semuanya serbaputih bersih.

Sampai Sim Long juga kaget ketika seorang melompat keluar dari kotak kecil itu.

Segera manusia mini ini berjongkok di atas meja dan menyembah kepada para tamu. Kemudian ia melompat bangun, ucapnya sambil berkedip-kedip lucu, “Main perempuan mencari yang cantik, berjudi harus main jujur…Hamba Siau-ling-ci (Si Cerdik Pandai Cilik) khusus akan meladeni dan mencuci kartu bagi hadirin…”

Nyata ucapannya jelas dan bicaranya pintar meski ukurannya mini.

Diam-diam Sim Long membatin, “Agaknya Koay-lok-ong khawatir orang lain menyangka dia main curang, maka sengaja menyuruh seorang kerdil untuk menjadi tukang bagi kartu.”

Siau-ling-ci atau Si Cerdik Pandai Kecil lantas mendorong kartu pay-kiu ke depan para hadirin sambil bicara, “Tuan-tuan, kartu ini berkualitas tinggi dan berharga mahal, mulus tanpa sesuatu kode rahasia, silakan hadirin memeriksanya sendiri.”

“Cukup, tidak perlu periksa lagi,” kata semua orang.

“Setiap kali setelah hamba mencuci kartu, setiap orang masih diperbolehkan menyuruhku mencuci sekali lagi. Bilamana di antara hadirin mengetahui sesuatu permainanku pada waktu mencuci kartu, silakan segera bertindak, boleh langsung potong tangan hamba.”

Dengan tertawa Liong Su-hay menanggapi, “Ah, selamanya Ongya bertaruh dengan adil dan bersih, hal ini diketahui siapa pun.”

“Jika begitu, silakan hadirin mulai pasang,” kata pula Siau-ling-ci dengan tertawa. “Uang kontan, emas perak, ginbio dari kedelapan ci-ceng (serupa bank zaman sekarang) besar, semuanya berlaku di atas meja. Benda mestika, batu permata juga boleh langsung dihargai di sini. Sebaliknya pinjam utang takkan diladeni.”

“Dengan sendirinya kami tahu peraturan ini,” kata Liong Su-hay.

“Nah, hamba yang cuci kartu, hadirin lempar dadu, kecuali Ongya yang menjadi bandar, hadirin boleh lempar dadu secara bergiliran,” kata Siau-ling-ci pula.

Diam-diam Sim Long juga mengakui cara bertaruh ini memang jujur dan tidak memberi peluang untuk main curang, tampaknya cara berjudi Koay-lok-ong memang bersih.

Segera si manusia mini itu sibuk mencuci kartu dengan gesit.

The Lan-ciu yang mendahului mengeluarkan sehelai ginbio dan perlahan ditaruh di atas meja.

Sedangkan si berandal merogoh segenggam biji emas dan ditaruh seluruhnya ke depan.

Mendadak terdengar Koay-lok-ong mendengus, “Ambil kembali dan enyah!”

Siau-pa-ong melengak, “He, ken…kenapa, masakah emasku tidak laku?”

Sama sekali Koay-lok-ong tidak menggubrisnya, tapi orang di belakangnya lantas mendengus, “Emasnya sih laku, cuma tanganmu terlalu jorok.”

Suaranya lambat, kaku, sepat, seperti orang yang jarang bicara sepanjang tahun sehingga lidah pun berubah kelu. Maklum, cara menggerakkan tangan orang ini biasanya memang jauh lebih cepat daripada dia menggunakan mulutnya.

Siau-pa-ong jadi melengak, katanya dengan tertawa, “Tangan jorok? Apa sangkut pautnya tangan jorok? Kedatangan kita ini adalah untuk berjudi dan bukan untuk berlomba tangan siapa paling bersih dan indah.”

Belum habis ucapannya, sekonyong-konyong sebuah tangan mencengkeram baju lehernya dari belakang.

Keruan ia terkejut dan bermaksud melawan, tapi entah mengapa, sekujur badan terasa lemas lunglai tak bertenaga, kontan ia diangkat orang serupa elang mencengkeram anak ayam.

“Enyah!” demikian dengus suara yang dingin sepat tadi.

Berbareng dengan kata “enyah” itu, tubuh Siau-pa-ong terus melayang ke luar dan “bluk”, ia terbanting di luar pintu dan sukar merangkak bangun lagi.

Cara bagaimana orang itu sampai di belakang Siau-pa-ong dan cara bagaimana dia turun tangan, bukan cuma Siau-pa-ong saja tidak tahu, bahkan orang sebanyak ini pun tidak ada yang tahu.

Si berandal perempuan tadi pun menjerit dan berlari keluar. Habis itu keadaan lantas sepi. Suara napas setiap orang sama terdengar.

Akhirnya Koay-lok-ong tersenyum katanya, “Janganlah hadirin terganggu oleh bocah yang menjemukan ini, marilah kita lanjutkan.”

Siau-ling-ci lantas membawa dua biji dadu ke depan The Lan-ciu, tubuhnya yang berukuran mini itu melangkah kian-kemari di atas meja besar itu serupa sebuah boneka yang lincah.

Ia berlutut di depan The Lan-ciu sambil mengangkat dadu, serunya, “Silakan The-siansing membuka dasar!”

“Terima kasih,” kata The Lan-ciu dengan tersenyum.

Kegunaan kedua biji dadu dalam permainan pay-kiu adalah untuk menentukan nomor urutan pembagian kartu. Meski kecil kedua biji dadu itu, tapi dapat menentukan nasib untung-malang orang-orang yang ikut bertaruh ini, dapat membuat mereka gembira dan menderita, bahkan dapat menentukan mati-hidup mereka.

Dan kedua biji dadu itu lantas meluncur dari tangan The Lan-ciu yang putih itu, perjudian besar sepanjang malam pun dimulai.

Dadu berputar di dalam sebuah mangkuk porselen, berpasang mata sama memandangnya dengan tegang tanpa berkedip. Akhirnya dadu berhenti dan menunjukkan tujuh titik total.

Segera si manusia mini berteriak menyatakan tempat yang berhadapan dengan bandar. Maka dua potong kartu (kartu pay-kiu terbuat dari kayu atau gading dengan angka serupa kartu domino) yang indah lantas didorong oleh setangkai tongkat kecil ke depan Sim Long.

Perlahan Sim Long mengintip kartunya, kartu pertama angka delapan campur, kartu ini tidak baik, tapi juga tidak jelek. Ketika kartu kedua dibuka ternyata dua titik alias balok satu (istilah domino), kartu ini disebut “te” dalam permainan pay-kiu dan terhitung kartu nomor dua setelah “thian”, yaitu balok enam.

Kartu delapan campur berpasangan dengan kartu “te” disebut “te-kong”, terhitung kartu bagus. Sim Long tersenyum puas. Dilihatnya kawan bertaruh yang lain, yaitu The Lan-ciu, Liong Su-hay, dan Ciu Thian-hu sama menggerutu, rupanya mereka mendapatkan kartu jelek.

Terdengarlah Siau-ling-ci berteriak menyerukan angka kartu bandar yang terdiri dari tujuh dan delapan, kartu jelek, namun masih lebih tinggi daripada kartu kedua pemasang kanan-kiri.

Maka perak, ginbio dan emas lantas disapu oleh bandar. Hanya Sim Long saja yang mendapat seribu tahil perak. Taruhan pertamanya memang tidak besar.

Dan begitulah seterusnya, agaknya angin Sim Long cukup baik, berturut-turut dia menang lagi, pasangnya juga terus ditumpuk atau dilipatkan. Lima kali pasangan jumlah taruhannya sudah berjumlah 16 ribu tahil.

Ci-hiang yang berdiri di belakangnya sama terbelalak.

Sedangkan Ciu Thian-hu tampak tidak tenang, matanya mulai merah, ia pandang Sim Long dengan iri. Tampaknya sudah lebih selaksa tahil kekalahannya. Liong Su-hay dan The Lan-ciu juga kalah, namun mereka tetap tenang saja walaupun tangan pun mulai berkeringat.

Mata yang tajam di balik kegelapan itu tetap dingin, namun juga berulang melotot ke arah Sim Long.

Dadu dilempar dan kartu dibagi lagi.

Sekali ini pihak bandar cukup beruntung dan mendapat kartu sepasang “Jin”, yaitu dua kartu balok empat. Kartu thian dan te sudah keluar semua, jelas sepasang kartu Jin ini paling tinggi.

Para petaruh sama putus asa dan menghela napas perlahan. The Lan-ciu mengusap keringat. Ia kalah lagi, yang lain juga kalah, tinggal Sim Long saja yang masih mengintip kartu.

Mendadak Sim Long tertawa, kartu dibuka ternyata mendapat pasangan empat-dua dan dua-satu. Kedua kartu ini dalam permainan pay-kiu disebut “ci-cun”, artinya yang mahaagung, dari arti istilah ini sudah cukup melambangkan keagungannya yang tak terkalahkan oleh kartu lain.

Seketika penonton sama gempar. Kembali cuma Sim Long saja yang menang.

The Lan-ciu dan lain-lain sama bermuka merah dan mandi keringat.

Rupanya mereka menjadi iri terhadap kartu Sim Long, untuk selanjutnya mereka ikut bertaruh bagi kartu Sim Long dan mengosongkan bagian kartu sendiri.

Siapa tahu hal ini pun tidak menjamin akan kemenangan mereka, sebaliknya kartu Sim Long menjadi buruk setelah mereka ikut taruhan pada kartunya.

Dengan begitu Ciu Thian-hu dan lain-lain tambah banyak kalahnya, sebaliknya kemenangan Sim Long masih utuh.

Keruan yang kalah tambah menggerutu. Dan biasanya, pejudi yang kalah selalu ngotot terus dengan harapan bisa kembali modal.

Maka setelah berputar lagi beberapa kali, kekalahan Ciu Thian-hu sudah mendekati 50 ribu tahil, Liong Su-hay juga kalah 20-an ribu tahil. Hanya The Lan-ciu berbalik ada kemenangan sedikit karena kartunya mulai membaik.

Tapi ketika Ciu Thian-hu dan Liong Su-hay memegang kartu sendiri lagi, segera Sim Long bertaruh pula dan kembali mendapat kartu bagus dan menang. Hanya sebentar saja kemenangannya telah bertambah sehingga seluruhnya menang ratusan ribu tahil.

Bagi pandangan kaum pejudi, hanya pemenang saja menjadi kebanggaan dan pujaan mereka, sekarang Sim Long dipandang mereka tiada ubahnya superman.

Tampaknya Ciu Thian-hu yang lagi sial, hampir setiap kali taruhannya pasti dimakan bandar, ia mulai lemas, mukanya merah padam.

Tiba-tiba The Lan-ciu berkata, “Malam ini engkau kurang mujur, akan lebih baik jika istirahat dulu.”

“Tidak, harus kuteruskan, kupasang lagi tiga laksa tahil,” seru Ciu Thian-hu penasaran sambil merogoh saku. Setelah tiga laksa tahil ginbio dikeluarkan, agaknya sudah kosong isi sakunya.

Mendadak Liong Su-hay berbangkit dan tertawa, “Haha, akulah yang harus berhenti, bila diteruskan, mungkin seluruhnya bisa ludes dan akhir bulan para saudaraku terpaksa harus makan angin.”

Sembari membetulkan bajunya ia lantas melangkah pergi, dia memang seorang pejudi yang berani menang juga berani kalah.

Karena Ciu Thian-hu ikut bertaruh atas kartunya, sekali ini Sim Long cuma pasang seribu tahil saja. Waktu kartu dibuka, lagi-lagi semua pasangan disapu oleh bandar.

Butiran keringat memenuhi dahi Ciu Thian-hu, ia termangu-mangu sejenak, mendadak ia mengeluarkan semua barang berharga yang dibawanya, seluruhnya ditaruh di atas meja. Katanya parau, “Uangku sudah ludes, barang ini dinilai berapa?”

Siau-ling-ci memeriksa barang-barang itu, lalu berkata, “Lima laksa lima ribu tahil.”

“Baik, seluruhnya kutaruh lagi di sini…” dengan penasaran Ciu Thian-hu bertaruh pula atas kartu Sim Long. “Sungguh aku tidak percaya, jika dia bertaruh sendiri mendapatkan kartu besar, bila aku ikut bertaruh tentu kalah. Maaf, sekali ini kuharap dapat memegang kartu.”

“Silakan,” jawab Sim Long dengan tersenyum. Sekali ini ia malah tidak bertaruh sama sekali.

Dengan tangannya yang rada gemetar Ciu Thian-hu memegang kartu, diintipnya dengan perlahan dengan mata setengah terpicing. Tapi mendadak ia berteriak, orangnya terus jatuh merosot ke lantai. Kartunya jatuh di atas meja dan terbuka, ternyata sepuluh campur, jeblok, kartu yang paling jelek.

Sinar mata tajam dalam kegelapan itu tampak gemerdep, desisnya, “Bawa dia keluar!”

Li Ting-liong yang menunggu di luar pagar mengiakan dan Ciu Thian-hu segera diusung pergi.

Tiba-tiba The Lan-ciu berkata, “Rasanya aku pun lebih baik berhenti saja, biarlah pertarungan besar berlangsung antara Ongya dan Sim-kongcu, apabila tidak keberatan, boleh juga kulemparkan dadu bagi kalian sekadar ikut meramaikan pertarungan besar yang sesungguhnya ini.”

Sim Long tetap duduk saja dengan tersenyum, ia tahu ucapan The Lan-ciu memang tidak salah, pertarungan besar yang sebenarnya memang baru akan mulai antara dia dan Koay-lok-ong. Sasaran Koay-lok-ong malam ini jelas adalah dia, begitu pula yang ditujunya juga Koay-lok-ong.

Meski dia telah mendapatkan kemenangan belasan laksa tahil perak dan menambah modalnya, ini berarti pula menambah ketabahannya menghadapi lawan, tapi lawannya memang teramat kuat, sampai saat ini belum lagi ditemukan sesuatu lubang kelemahannya.

Dalam pada itu 32 potong kartu gading yang mengilat telah ditumpuk rajin lagi di atas meja.

Tiba-tiba Koay-lok-ong berkata, “Hanya dua orang saja yang bertaruh, rasanya tidak perlu lagi aku menjadi bandar, betul tidak?”

“Ongya memang sangat adil,” ujar Sim Long dengan tersenyum.

Hendaknya maklum, bila kartu pemasang dan bandar sama besarnya, biasanya dianggap bandar yang menang. Jika demikian halnya berarti Sim Long dirugikan karena sekarang tiada petaruh yang lain.

“Menjadi bandar secara bergiliran juga kurang enak, maka ingin kuusulkan suatu cara pertarungan yang adil dan menarik, bahkan merangsang,” kata Koay-lok-ong pula.

“Bagaimana caranya?” tanya Sim Long dengan tertawa.

“Begini,” tutur Koay-lok-ong. “Setelah kita sama-sama melihat kartu masing-masing, pihak yang mendapat bagian kartu lebih dulu boleh menambah pertaruhannya, bila lawan tidak ikut menambah taruhannya dalam jumlah yang sama berarti dia menyerah. Jika tambahan taruhan itu diterima barulah berhak untuk mengadu kartu. Tapi kalau lawan merasa kartunya lebih bagus, kecuali ikut jumlah taruhan tambahan itu, dia masih boleh ‘kik’ lagi lebih banyak dan begitu seterusnya sampai kedua pihak tidak tambah lagi baru dilakukan mengadu kartu atau sampai salah satu pihak tidak berani ikut lagi dan menyerah.”

Rupanya cara bertaruh yang diajukan Koay-lok-ong ini adalah pertaruhan sistem main poker zaman sekarang.

Sim Long berkeplok senang, “Haha, bagus sungguh permainan yang bagus! Pertaruhan cara begini, kecuali nasib mujur, masih diperlukan kecerdasan dan keberanian, bahkan tidak boleh ketinggalan ketenangan dan ketabahan…”

“Betul, kunci pada cara pertaruhan ini terletak pada pribadi dirimu, harus berusaha agar lawan tidak dapat menerka kartumu dari sikapmu. Sebaliknya engkau juga harus berusaha menebak besar-kecil kartu yang dipegang lawan.”

“Haha, sungguh pertaruhan yang menarik…” seru Sim Long dengan tertawa.

Para penonton juga sama melongo, sungguh perjudian yang belum pernah mereka dengar, apalagi melihat.

The Lan-ciu berucap dengan gegetun, “Ai, cara pertaruhan ini sungguh lain daripada yang lain, bisa saja Ongya menciptakan sistem pertaruhan yang menarik ini.”

Koay-lok-ong tertawa bangga, katanya, “Medan judi serupa medan perang. Di medan judi kedua pihak juga harus mengadu kepintaran, mengadu otak, menggunakan segala tipu akal, dengan begitu barulah menarik.”

“Ongya jelas adalah jago kelas tinggi, Sim-kongcu tampaknya juga tidak lemah, wah, pertarungan di antara kalian pasti sangat seru, sungguh sukar mencari tontonan menarik ini,” ujar The Lan-ciu.

“Nah, bilamana Sim-kongcu tidak mempunyai pendapat lain, bagaimana kalau sekarang juga kita mulai?” tanya Koay-lok-ong. “Dan supaya tidak membuang waktu, kita tentukan taruhan minimum adalah lima ribu tahil, setiap kali taruhan yang ditambahkan juga harus perkalian dari lima ribu, umpamanya boleh sepuluh, lima belas, dua puluh ribu dan seterusnya.”

“Baik,” tanpa pikir Sim Long menerima tantangan orang dengan tersenyum.

Maka dadu lantas dilempar dan kartu dibagi.

Para penonton sama terbelalak menyaksikan perjudian besar dengan cara yang aneh antara dua seteru yang sama kuat ini.

Mencorong juga sinar mata Sim Long menghadapi lawan yang hebat ini, namun dia tetap tenang, senyumnya tambah memesona. Perlahan ia memegang kartu.

Ternyata tujuh campur, tidak bagus, tapi juga tidak jelek, lumayanlah begitu.

Ia tumpuk kartunya, lalu berduduk dengan kepala agak mendoyong ke belakang untuk menyembunyikan wajahnya di balik bayang kegelapan sambil menatap Koay-lok-ong. Dengan cara yang sama Koay-lok-ong juga sedang memandangnya. Dua pasang mata sama memancarkan sinar tajam, namun tidak memperlihatkan sesuatu perubahan perasaan.

Dilihatnya tangan Koay-lok-ong yang putih mulus itu mendorong seonggok perak ke depan sambil berucap, “Tambah lagi selaksa tahil.”

Orang berani menambah selaksa, jangan-jangan memegang kartu besar atau cuma main gertak saja?

Sim Long ragu sejenak, akhirnya ia keluarkan dua helai ginbio bernilai dua laksa lima ribu tahil, katanya, “Selaksa kuikut dan tambah lagi lima belas ribu tahil.”

“Baik, dan kutambah lagi tiga laksa,” jawab Koay-lok-ong.

Tanpa pikir orang menambah sejumlah besar itu, jelas bukan main gertak, kartunya pasti tidak kecil.

Perlahan Sim Long hampir membuang kartunya sebagai tanda menyerah. Tapi pada saat terakhir mendadak pendiriannya berubah. Ia berbalik menaruh sehelai ginbio dan berkata, “Baik, aku ikut tiga laksa.”

Hanya ikut tanpa menambah lagi berarti sampai di sini kedua pihak harus mengadu kartu.

Koay-lok-ong hanya memandang Sim Long tanpa melihat kartunya, katanya hambar, “Engkau menang.”

“Tapi kartuku cuma tujuh campur,” kata Sim Long.

Perlahan Koay-lok-ong membuka kartunya, cuma satu, memang kalah.

Para penonton sama bersuara gegetun, berani menambah taruhan sebesar itu, ternyata cuma memegang kartu sekecil itu, sungguh sukar dibayangkan.

Babak pertama telah dimenangkan Sim Long dengan gemilang. Mungkin inilah kunci kemenangan selanjutnya, Ci-hiang ikut tersenyum senang.

Dan begitulah permainan terus berlanjut, beberapa babak permulaan selalu dimenangkan oleh Sim Long sehingga modalnya telah bertambah hingga hampir setengah juta tahil.

Tapi setelah berputar lagi, beberapa kali taruhan berikutnya angin berganti arah, Koay-lok-ong yang menang, modal Sim Long menyusut dan akhirnya tersisa belasan laksa tahil saja.

Diam-diam Ci-hiang menahan napas dan mengeluh, jika sisa modal ini pun hanyut berarti tamatlah segalanya. Dilihatnya Sim Long masih tetap tenang saja.

Cahaya lampu yang semula mencorong terang kini pun terasa berubah agak guram.

Para penonton juga ikut tegang karena pertaruhan semakin besar.

“Tambah tiga laksa,” ucap Koay-lok-ong setelah membaca kartunya.

Sim Long ragu sejenak sambil menghitung ginbio yang dipegangnya, katanya kemudian, “Dan kutambah lagi tiga laksa.”

“Baik, tambah pula tiga laksa,” jawab Koay-lok-ong.

Sekaligus pertaruhan dari lima ribu tahil telah berubah menjadi 95 ribu, para penonton sama tercengang, jantung Ci-hiang juga berdetak. Ia tahu sisa modal Sim Long saat ini paling banyak tinggal enam atau tujuh laksa saja, bila ini pun kalah berarti selesailah perjudian ini.

Siapa duga, Sim Long lantas menaruh sisa modalnya dan berkata, “Baik, tiga laksa kuikut dan kutambah lagi 35 ribu.”

Hampir saja Ci-hiang menjerit, tapi setelah dipikir lagi, hampir juga ia tertawa, sebab ia yakin Sim Long pasti memegang kartu besar, bisa jadi ci-cun yang tak terkalahkan, kalau tidak masakah dia berani mempertaruhkan seluruh modalnya.

Begitulah ia tersenyum senang. Padahal kalau dia tahu kartu yang dipegang Sim Long cuma dua titik, mungkin dia akan kelengar seketika.

Sekali ini Koay-lok-ong berpikir, ia tatap Sim Long dengan tajam, seperti ingin menyelami pikiran lawan sesungguhnya lagi main gertak atau main “colong” belaka.

Sim Long tidak bergerak dan membiarkan orang memandangnya, mendadak Koay-lok-ong berkata dengan tertawa, “Haha, mana aku dapat kau gertak, belum pernah ada orang berani main curi padaku. Kuyakin kartumu tidak lebih cuma empat atau lima saja.”

“Masa?” ujar Sim Long tertawa.

“Ya, pasti, sudah kuhitung,” kata Koay-lok-ong.

“Jika begitu mengapa engkau tidak tambah lagi? Jangan-jangan kartumu sendiri cuma satu atau dua?”

Koay-lok-ong mendengus, mendadak ia tepuk tangan, dari belakangnya segera ada orang menyodorkan sebuah peti kecil.

Sambil mendorong peti itu Koay-lok-ong berkata, “Kutambah lagi 90 laksa tahil.”

Hal ini membikin gempar para penonton lagi, entah sejak kapan Liong Su-hay dan Ciu Thian-hu juga sudah datang lagi tertarik oleh pertaruhan luar biasa ini. Mata Liong Su-hay terbelalak seperti gundu, hidung Ciu Thian-hu berkembang-kempis.

Namun Sim Long tetap tenang saja, ia tersenyum sambil meraba kartunya.

“Bagaimana, berani masuk tidak?” tanya Koay-lok-ong.

“Tadi kulupa tanya dulu, bilamana modal sudah habis, apakah dianggap kalah?” kata Sim Long.

“Masakah modalmu habis?” tanya Koay-lok-ong.

“Ongya tentu maklum, siapa pun tidak mungkin dapat kian-kemari membawa 90 laksa tahil perak,” ujar Sim Long.

Serupa mata elang Koay-lok-ong menatap Sim Long, “Jika tidak ada modal lagi, boleh juga pakai barang gadai.”

“Sekalipun Ciu-heng itu juga tidak membawa barang berharga 90 laksa tahil untuk digadaikan, apalagi diriku yang memang…memang tidak membawa sesuatu benda berharga.”

“Orang lain jelas tidak punya benda bernilai sebesar itu, tapi Sim-kongcu ada,” ujar Koay-lok-ong dengan tersenyum licik.

“Aku punya?…” Sim Long melengak. Mendadak ia bergelak tertawa, “Haha, jangan-jangan Ongya menghendaki kugadaikan jiwaku itu.”

“Jika jiwamu cuma digadaikan 90 laksa tahil perak, apakah engkau tidak terlalu menilai rendah diri sendiri?”

“Habis apa yang kupunyai?” Sim Long berhenti tertawa.

“Jarimu!” kata Koay-lok-ong.

“Jariku?” Sim Long menegas dengan kening bekernyit.

“Betul, setiap jarimu dapat kuhargai 45 laksa tahil.”

“Hahaha,” Sim Long tertawa, “baru sekarang kutahu jariku sedemikian berharga.”

“Nah, jika pertaruhan kau menangkan, uang di atas meja boleh kau sapu, tapi jika Anda kalah, cukup kupotong dua jarimu saja…” Koay-lok-ong tertawa dingin, lalu menyambung, “Jarimu seluruhnya ada sepuluh, kalau cuma dipotong dua kan belum apa-apa.”

Tanya-jawab mereka itu membuat air muka para penonton sebentar berubah merah dan sebentar lagi berubah pucat, semuanya sama berkeringat dingin.

Kalau saja tidak berpegangan pagar, mungkin sejak tadi Ci-hiang sudah jatuh semaput. Betapa kejamnya pertaruhan ini, masakah harus menggunakan darah daging untuk bertaruh dengan emas perak yang dingin itu.

Namun Sim Long tetap tersenyum, ia pandang Koay-lok-ong, jawabnya, “Bila jariku dipotong Ongya berarti selama hidupku tak dapat lagi menggunakan pedang. Jika Ongya memotong jari tengah dan jari telunjukku, selama hidupku pun takkan mampu tiam-hiat (menutuk hiat-to)…Ya, dua jari memang tidak sedikit kegunaannya.”

“Jika engkau tidak berani juga tidak menjadi soal,” ujar Koay-lok-ong.

Sim Long menatapnya sebentar lagi, mendadak ia berseru, “Baik, jadi!”

Ucapan ini membuat semua orang hampir tidak bisa bernapas lagi.

Tubuh Koay-lok-ong agaknya juga bergetar sedikit, serunya, “Maksudmu kau ikut 90 laksa tahil ini!”

“Ya, masuk!” jawab Sim Long tersenyum.

“Apa kartumu?” bentak Koay-lok-ong.

“Kartuku tidak bagus, tapi juga tidak terlalu jelek,” ujar Sim Long tertawa sambil membuka kartu.

Dua, ternyata cuma dua titik.

Baru sekarang para penonton mengembuskan napasnya yang ditahan, walaupun semua orang tidak berani sembarang bersuara di sini, tidak urung terjadi juga kegemparan.

Tubuh Ci-hiang juga lemas dan jatuh terkulai di lantai.

Tamat, tamatlah segalanya! Sungguh gila Sim Long, kartu sekecil itu berani bertaruh sebesar itu, benar-benar gila!

Di tengah kegemparan itu. Koay-lok-ong justru duduk serupa patung di balik bayangan kegelapan tanpa bergerak, sorot matanya yang tajam itu mendadak berubah kosong hampa.

Ia pandang kartu Sim Long dengan hampa dan berucap sekata demi sekata, “Cuma dua…bagus sekali, cuma dua…”

Suaranya juga terasa hampa, entah girang, entah murka.

Sim Long tersenyum, “Betul, memang cuma dua.”

Mendadak Koay-lok-ong membentak bengis, “Mengapa kau berani menyerempet bahaya?”

“Sebab sudah kuperhitungkan kartu Ongya pasti tidak melebihi dua,” jawab Sim Long dengan tertawa.

“Hm, cara bagaimana dapat kau hitung? Coba jelaskan, kuingin tahu,” jengek Koay-lok-ong.

“Pertama, sudah dapat kuraba cara permainan Ongya.”

“Bagaimana permainanku?”

“Bila Ongya memegang kartu besar, engkau tidak menyerang dengan terburu-buru melainkan menanti dengan tenang, menunggu lawan masuk perangkap sendiri, dengan taruhan pancingan. Sebaliknya jika kartu Ongya kurang bagus, Ongya pasti menambah taruhan secara besar-besaran untuk menggertak lari lawan.”

“Hm, apa lagi?” jengek Koay-lok-ong.

“Dengan begitu aku lantas memasang jeratan juga,” tutur Sim Long.

“Jeratan?” Koay-lok-ong menegas.

“Ya, aku sengaja menghitung modalku agar Ongya mengetahui modal judiku tersisa tidak banyak lagi, ingin kupancing supaya Ongya main ‘curi’. Sebab Ongya pasti berpendapat orang yang modal judinya tidak banyak pasti akan bertaruh dengan hati-hati, kartu yang tidak meyakinkan pasti tidak berani bertaruh, sekalipun tahu Ongya cuma main gertak juga belum tentu berani masuk…”

Sim Long tertawa, lalu menyambung, “Apalagi setelah kartu besar jelas sudah keluar sedang kartu yang kupegang pasti tidak besar, inilah kesempatan bagi Ongya untuk main gertak atau curi, dan ternyata kesempatan ini memang tidak disia-siakan Ongya.”

“Hm, jadi kesempatan ini sengaja kau bikin?” jengek Koay-lok-ong.

“Betul, dan ternyata Ongya tidak tahan oleh pancinganku ini,” jawab Sim Long dengan tertawa. “Ketika Ongya benar-benar menambah taruhan sebesar itu, aku tambah yakin Ongya cuma ingin menggertak lari diriku saja.”

“Masakah kau yakin aku pasti akan main gertak begitu? Apakah tidak mungkin kuganti cara bermain?”

“Dengan sendirinya juga mungkin terjadi begitu. Cuma, kebiasaan berjudi seorang kebanyakan sudah berakar dan sukar berubah lagi, semakin tegang keadaan yang dihadapi semakin nyata kebiasaannya itu akan menonjol.”

“Hahaha, tapi mungkin juga sengaja kupasang tabir begitu untuk mengelabui pandanganmu atas cara permainanku, padahal justru engkau sendiri yang tertipu…” di tengah gelak tertawanya Koay-lok-ong lantas berbangkit dan melangkah pergi sambil menambahkan, “Bagus…bagus, boleh kau lihat sendiri berapa kartuku.”

Sampai sekarang semua orang belum lagi tahu sesungguhnya besar atau kecil kartu yang dipegang Koay-lok-ong, dengan sendirinya setiap orang ingin melihatnya. Akan tetapi meski Koay-lok-ong sudah pergi, tetap tiada seorang pun berani membuka kartu yang ditinggalkannya di atas meja.

Sim Long tersenyum, “Ongya sudah pergi, sesuai pesannya, biarlah kubuka kartunya.”

Baru saja tangannya bergerak, mendadak sebuah tangan terjulur dari tempat gelap dan menahan kedua potong kartu pay-kiu itu. Ia cuma menekan perlahan dan kedua kartu lantas ambles rata dengan permukaan meja.

Tangan ini tangan yang membikin He Wan-wan mencelat tadi, juga tangan yang melempar keluar Siau-pa-ong Si Bing.

Baru sekarang semua orang dapat melihat jelas tangan ini kurus kering, tiada terlihat guratan otot, tangan yang mirip sepotong kayu kering.

Terdengar suara yang dingin dan sepat itu berkata, “Kartu ini tidak perlu kau lihat lagi.”

“Sebab apa?” tanya Sim Long tersenyum.

“Sudah kuperiksa, kartu ini lebih besar daripada kartumu, tiga titik,” jengek suara itu.

“O apa betul?”

“Masa kau berani tidak percaya padaku?”

Ucapan ini membikin air muka semua orang sama berubah, sebab kalau Sim Long menjawab “tidak”, jelas segera orang ini akan turun tangan.

Meski nama Sim Long akhir-akhir ini sangat cemerlang, tapi usianya masih sedemikian muda, semua orang menyangsikan apakah dia sanggup melayani jago nomor satu dari Kwan-gwa ini.

Apalagi jika benar keduanya bergebrak, rencana Sim Long juga akan berantakan. Tapi kalau tanpa melihat kartu lawan dan Sim Long disuruh mengaku kalah, hal ini pun tak dapat diterima oleh siapa pun.

Seketika semua orang merasa cemas bagi Sim Long, mereka tahu bilamana Sim Long ingin menggeser tangan orang dari atas kartu, jelas mahasulit.

Tak terduga Sim Long cuma tersenyum, katanya, “Tadi sudah kusaksikan kungfu Anda, memang hebat dan tidak malu sebagai jago utama di bawah Ongya. Tapi apakah dapat kau lihat ada sesuatu yang tidak beres pada benda ini?”

Sembari bicara tangan Sim Long terjulur ke sana dan memegang sesuatu.

Secara di bawah sadar tangan kurus kering itu menerima barang yang dimaksud Sim Long dan diperiksa, ternyata cuma dua biji dadu.

Orang itu melengak, katanya dengan gusar, “Apa yang kau katakan tidak beres pada dadu ini?”

“Dadu ini memang baik, tapi kartu ini apakah juga baik?” kata Sim Long dengan tertawa, berbareng tangannya lantas menekan permukaan meja, kontan kedua kartu yang ambles rata dengan meja itu melompat ke atas.

Bahwa sekali tekan kedua potong kartu gading itu dapat ambles ke dalam meja jelas sangat mengejutkan, tapi sekali tekan meja segera membuat kartu yang ambles itu melompat ke atas inilah kungfu terlebih mengejutkan.

Semua orang sama bersorak memuji, segera pula Sim Long hendak menangkap kedua biji kartu itu. Siapa tahu mendadak terdengar suara “cret-cret” dua kali, kedua potong kartu tertimpuk hancur, remukan kartu muncrat mengenai pundak Li Ting-liong dan membuatnya meringis kesakitan.

Lalu dua biji benda jatuh di atas meja, ternyata kedua biji dadu yang terpegang oleh tangan yang kurus kering tadi.

Kartu gading sudah remuk, tapi kedua biji dadu masih utuh, nyata kungfu timpukan orang ini sangat lihai.

Terdengar suara dingin sepat tadi mendengus, “Tiga lebih besar dari dua, jelas engkau yang kalah.”

Sim Long tetap tersenyum saja, jawabnya, “Apa betul tiga titik kartu Ongya?”

Dua tangan yang kurus kering terus mencakup sisa 30 biji kartu pay-kiu, beberapa kali tangannya meremas, seketika 30 potong kartu tergilas menjadi bubuk.

Dengan demikian sukar untuk mengecek berapakah angka kedua kartu Koay-lok-ong tadi, sebab semua kartu pay-kiu kini sudah remuk.

“Sekali kubilang tiga pasti tiga,” demikian suara dingin tadi berkata pula.

“Wah, tampaknya mau tak mau aku harus percaya kepada ucapanmu,” gumam Sim Long.

“Makanya engkau tiada jalan lain kecuali mengaku kalah saja,” jengek orang itu.

“Namun Anda telah melupakan sesuatu,” kata Sim Long dengan tertawa.

“Sesuatu apa?” orang itu melengak.

“Ini,” seru Sim Long sambil menjulurkan tangan ke bawah meja, “plok”, tahu-tahu dari tengah meja melejit ke atas sesuatu benda. Kiranya papan meja telah diketuknya hingga berlubang, potongan kayu meja itu bukan lain adalah tempat ambles kedua biji kartu pay-kiu.

Secepat kilat Sim Long tangkap kedua potong kayu kecil serupa kartu itu dan diperlihatkan di bawah cahaya lampu, jelas ada sepuluh titik bundar pada kedua potong kayu itu.

Yang sepotong tercetak “4-2” dan yang lain tercetak balok dua, total menjadi sepuluh angka jeblok.

Meski tangan kurus kering tadi telah menghancurkan seluruh kartu pay-kiu, disangkanya bukti sudah hilang, tapi dia lupa kartu yang ditekan ambles ke meja itu telah mencetak bukti lain. Bukti yang dibuatnya sendiri.

Seketika semua orang sama melongo dan terbelalak, entah kaget, heran, atau memuji.

Sim Long tersenyum, katanya, “Dua lebih besar daripada sepuluh jeblok, jelas Ongya yang kalah.”

Orang di balik bayang kegelapan itu tidak bergerak, hanya matanya yang liar serupa mata serigala melototi Sim Long dengan beringas.

Namun Sim Long hanya memandangnya dengan tersenyum.

Entah berlangsung beberapa lama sehingga semua orang sampai menahan napas.

Mendadak orang itu menghela napas perlahan, jengeknya, “Baik, kau menang!”

*****

Hasil perjudian ini dimenangkan oleh Sim Long berjumlah sejuta tahil, di bawah pandangan iri dan kagum orang banyak harta sebesar itu diusung pergi.

Sementara itu fajar sudah menyingsing.

Sim Long berduduk lagi di kursinya yang longgar dan lunak itu dengan santainya, ujung mulutnya mengulum senyum, kemalas-malasan, seperti tiada sesuatu yang patut dibuat bangga.

Ci-hiang meringkuk lagi di tempat tidur dan memandang Sim Long dengan termangu-mangu, mendadak ia berkata dengan tertawa, “Caramu itu sungguh berbahaya, aku ketakutan setengah mati.”

“Cuma sayang tidak benar-benar mati,” ujar Sim Long.

Ci-hiang menggigit bibir dengan mendongkol, akhirnya ia berkata lagi, “Apa pun juga engkau sudah menang, sekarang engkau sudah terhitung jutawan. Ai, satu juta tahil perak, berapa orang di dunia ini yang memiliki kekayaan sebesar ini?”

Sim Long tidak menghiraukannya.

“Apakah kau tahu dengan satu juta tahil perak itu pekerjaan apa yang dapat kau lakukan?”

“Melakukan apa?” Sim Long berlagak dungu.

“Melakukan macam-macam,” ucap Ci-hiang sambil memejamkan mata. “Misalnya rumah yang kau bangun dengan satu juta tahil itu cukup untuk dihuni separuh penduduk kota Lan-ciu, ransum yang kau beli dengan sejuta tahil perak cukup untuk makan seluruh penduduk Provinsi Kamsiok ini selama dua tahun…”

Ia menghela napas, lalu menyambung, “Dengan sejuta tahil perak dapat kau bikin seribu orang hamba yang paling setia untuk mengkhianati tuannya, dapat kau bikin seribu perawan kehilangan kesuciannya.”

Mendadak Sim Long menukas dengan tertawa, “Tapi sejuta tahil perak juga dapat hilang begitu saja tanpa berbuat apa pun.”

“Mana bisa, tidak mungkin,” seru Ci-hiang. “Biarpun kau lemparkan sejuta tahil perak itu ke sungai, paling sedikit ada separuh penduduk Kota Lanciu akan terjun ke sungai untuk mencarinya.”

“Kenapa tidak…”

“Sudahlah, kita tidak perlu berdebat,” ujar Ci-hiang. “Aku cuma ingin tanya padamu, setelah kemenangan babak pertama ini, lalu bagaimana selanjutnya? Apakah engkau cuma berduduk saja di sini agar Koay-lok-ong mencarimu?”

“Tentu saja aku pun dapat mencarinya,” jawab Sim Long.

“Mencarinya?” Ci-hiang menegas.

Sim Long tidak menjawab, mendadak ia berteriak, “Silakan masuk saja, nona Jun-kiau!”

Sekali ini Jun-kiau lantas mendorong pintu dan masuk sendiri.

Dengan wajah berseri ia memberi hormat dan berkata, “Selagi aku hendak mengetuk pintu, tak terduga Sim-kongcu sudah tahu akan kedatanganku.”

“Hm, kau memang tidak biasa ketuk pintu segala, ketuk dan tidak kan sama saja,” jengek Ci-hiang.

Tapi Jun-kiau tidak menghiraukannya, ia berkata pula kepada Sim Long, “Kedatanganku hanya ingin tahu apakah Sim-kongcu ada sesuatu keperluan.”

“Ya, memang ingin kucari dirimu,” kata Sim Long dengan tertawa.

Air muka Jun-kiau berubah, “Sim-kongcu men…mencari diriku?”

“Maksudku hendak minta kau pergi ke Lanciu untuk membelikan satu partai mutiara paling bagus bagiku.”

Hati Jun-kiau merasa lega, ucapnya dengan tersenyum cerah, “Itu kan pekerjaan gampang, entah Sim-kongcu mau beli berapa?”

“Beli sejuta tahil perak,” kata Sim Long. “Kuminta mutiara yang paling besar dan paling putih, harus sebesar gundu.”

“Wah, mutiara semacam itu mungkin…mungkin sangat sulit dicari…”

“Asalkan ada uang masakah tidak ada barang?”

“Tapi…tapi harganya…”

“Berapa pun harganya tidak menjadi soal, mahal sedikit tidak apa asal saja barang baik, yang penting harus dibeli hari ini, jangan lewat tengah malam nanti.”

“Sejuta tahil kau belikan mutiara seluruhnya, apakah…apakah engkau sudah gila? Untuk apa mutiara sebanyak itu?” tanya Ci-hiang.

“Dengan sendirinya ada gunanya,” jawab Sim Long.

Jun-kiau berkedip-kedip, mendadak ia tertawa, “Ah, kutahu, jangan-jangan akan Sim-kongcu sumbangkan kepada orang?”

“Hah, apakah hendak kau sumbangkan kepada Koay-lok-ong?” tukas Ci-hiang.

“Kenapa mesti disumbangkan kepada Koay-lok-ong, memangnya tidak boleh kuhadiahkan kepada kalian?” jawab Sim Long dengan tertawa.

Jun-kiau dan Ci-hiang saling pandang dengan melongo.

“Ayolah lekas pergi membelikan mutiara,” kata Sim Long.

Jun-kiau mengiakan.

“Ada lagi, tolong siapkan beberapa kartu undangan, orang sudah menjamu kita, betapa pun kita harus balas menjamu orang,” Sim Long menambahkan.

“Baiklah, segera akan kusiapkan santapan bagi Kongcu,” ujar Jun-kiau.

“Tidak perlu santapan, apalagi arak,” kata Sim Long.

Jun-kiau jadi melengak, “Perjamuan tanpa santapan, lantas apa…apa yang akan Kongcu hidangkan?”

“Dengan sendirinya ada hidanganku yang akan kusuguhkan kepada mereka,” kata Sim Long dengan tersenyum misterius.

*****

Perjamuan sudah tiba waktunya, tamu undangan juga sudah hadir. Di depan setiap orang hanya terdapat secawan arak. Hanya inilah suguhan Sim Long kepada tetamunya.

Cawan arak terbuat dari emas, ukurannya juga cukup besar, araknya juga kelihatan arak bagus. Tapi menjamu tamu hanya disediakan secawan arak untuk setiap tamu, rasanya agak keterlaluan pelitnya.

The Lan-ciu, Liong Su-hay, Ciu Thian-hu, bahkan Siau-pa-ong Si Bing juga hadir, semuanya memandangi cawan arak di depan masing-masing dengan termenung.

Hanya Koay-lok-ong yang belum muncul, sungguh besar lagaknya.

Sekali ini tidak ada tamu yang membawa cewek, mungkin sudah kapok oleh pengalaman semalam.

The Lan-ciu memandangi cawan arak di depannya dengan tersenyum, tidak heran, juga tidak ada tanda kurang senang, agaknya dia sudah menduga di dalam cawan arak ini pasti mengandung sesuatu permainan Sim Long.

Liong Su-hay tampak tersenyum, senyuman heran dan sangsi.

Sedangkan Ciu Thian-hu sebentar berkerut kening, lain saat berkerut hidung sambil lihat sini dan pandang sana, dia bukan lagi menunggu kedatangan Koay-lok-ong melainkan berharap munculnya hidangan lezat.

Siau-pa-ong Si Bing hanya sibuk bermain memupuk pagoda kecik emas, sudah sekian lama pagoda kecik tetap tidak jadi ditumpuknya.

“Apakah Ongya itu akan hadir?” tiba-tiba Si Bing bersuara.

“Tidak tentu,” jawab Sim Long tersenyum.

“Berapa lama lagi kita harus menunggu,” tanya Si Bing pula.

“Juga tidak pasti,” sahut Sim Long.

“Wah, mungkin hidangan yang tersedia akan dingin bila dia belum lagi muncul,” gerutu Ciu Thian-hu.

“Takkan dingin,” sela Ci-hiang mendadak dengan tertawa.

“Ooh!” Ciu Thian-hu bersuara heran.

“Sebab memang tidak disediakan hidangan,” sambung Ci-hiang.

Ciu Thian-hu melongo, mendadak ia terbahak, katanya sambil menuding Sim Long, “Hahaah, tak tersangka engkau pintar menghemat.”

“Biasanya aku memang suka menghemat,” ujar Sim Long tersenyum.

“Dia kan tidak punya tambang emas, dengan sendirinya perlu hemat,” tukas Ci-hiang pula.

Mendadak ia berhenti tertawa dan memandang ke arah pintu dengan terbelalak.

Entah sejak kapan di depan pintu sudah berdiri seorang.

Pintu cukup tinggi, tapi orang ini ternyata lebih tinggi satu kepala daripada pintu sehingga cuma kelihatan tubuhnya, sedang kepalanya teraling oleh kosen pintu.

Ci-hiang cuma dapat melihat perawakannya yang kurus kering serupa galah bambu tanpa kelihatan kepalanya, tapi cukup melihat tubuhnya saja sudah membuat orang merasa seram.

Dia memakai baju kulit hitam mulus membungkus erat tubuhnya yang jangkung itu sehingga serupa kulit ular, dia memang serupa seekor ular berbisa, setiap bagian tubuhnya seolah-olah tersembunyi bahaya yang sukar diraba, dia tidak bergerak, tapi setiap saat seperti siap mencaplok mangsanya.

Tangannya yang kurus kering serupa kepala ular itu terjulur hampir melampaui dengkul, orang lain hanya dapat mencapainya dalam jarak tiga kaki, tapi dia sanggup menyerang orang dari jarak lima kaki.

“Gi-su (Duta Hawa) sudah berkunjung, mengapa tidak masuk kemari untuk minum secawan?” segera Sim Long menyapa sembari menjura.

Suara yang dingin dan sepat itu menjawab di luar pintu, “Namaku Tokko Siang.”

“Ah, kiranya Saudara Tokko,” kata Sim Long dengan tertawa.

“Orang she Tokko tidak pernah bersaudara,” ucap orang itu ketus.

“O, ya, silakan Tokko-siansing masuk kemari,” tetap Sim Long menanggapi dengan tertawa.

“Memang ingin kuminum secawan arakmu,” kata orang itu alias Tokko Siang.

“Bilakah kiranya Ongya akan hadir?” tanya Sim Long.

“Mestinya dia akan kemari, tapi malam ini justru ada seorang sahabat ingin mencari dia,” tutur Tokko Siang. “Terpaksa dia menunggu di sana untuk mengorek hati orang itu, kalau tidak orang itu pasti akan kecewa.”

Perbuatan mengorek hati manusia dan bunuh-membunuh diucapkannya dengan santai, tapi bagi pendengaran orang lain seketika bisa merinding.

“Jika Ongya tidak sempat hadir, sama saja Tokko-siansing mewakili beliau,” kata Sim Long.

Kembali Tokko Siang mendengus, mendadak dari lengan bajunya menyambar keluar seutas benang emas, meski kepalanya seperti teraling kosen pintu, namun tangannya seakan-akan bermata. Benang emas itu berkelebat, tahu-tahu sebuah cawan arak sudah terbelit, sekali tarik cawan sudah terpegang olehnya.

“Ehm, arak enak?” kata Tokko Siang sehabis menenggak arak. Kembali tangannya bergerak, cawan emas terbang kembali dan jatuh di tempat semula tanpa selisih setitik pun.

Padahal berat cawan atau piala emas berikut araknya sedikitnya ada dua kati, namun dengan seutas benang lemas ia sanggup mengangkatnya dari jauh, sungguh ketepatan menggunakan tenaga dan kekuatan pergelangan tangannya sangat mengejutkan. Apalagi piala emas dapat ditaruh kembali ke tempat semula, kepandaian ini sungguh sukar untuk dibayangkan.

Semua orang sama menahan napas setelah menyaksikan pamer kungfu orang ini, ketika mereka memandang lagi keluar pintu, Tokko Siang sudah menghilang.

“Lihai amat!” ucap Liong Su-hay.

“Kepandaian orang ini mungkin terhitung nomor satu di Kwan-gwa,” kata Sim Long dengan tertawa.

“Haha, sekali ini Sim-heng telah salah nilai,” mendadak The Lan-ciu menanggapi ucapan Sim Long itu.

“Oo?! Salah nilai?”

“Ya, sebab biarpun di Kwan-gwa dia belum lagi terhitung jago nomor satu,” kata The Lan-ciu.

“Kutahu juga di padang rumput dan gurun pasir sana banyak tokoh terpendam, tapi biasanya jago terpendam itu mengutamakan lwekang, jarang ada yang lihai gerak tangannya seperti orang tadi.”

“Pernahkah Sim-heng mendengar sebutan Kui-jiau-coa-hun (Cakar Setan Mencengkeram Sukma)?” tanya The Lan-ciu.

“Kui-jiau-coa-hun? Jangan-jangan nama lain daripada Pek-kut-yu-leng-ciang (Ilmu Pukulan Setan Tulang Putih) yang paling keji dan misterius yang dulu pernah menggemparkan dunia persilatan itu?”

“Betul, Sim-heng memang berpengetahuan luas,” The Lan-ciu mengangguk.

“Tapi kawanan setan perguruan Yu-leng-bun konon sudah tertumpas habis oleh Sim Thian-kun, Sim-tayhiap bersama ketujuh aliran besar ilmu pedang pada 30 tahun yang lalu di Im-san? Sejak itu kabarnya Yu-leng-bun tidak ada ahli waris lagi, mengapa sekarang bisa muncul di Kwan-gwa?”

“Agaknya Sim-heng tidak tahu meski kawanan setan Yu-leng-bun itu sudah mati semua tapi kitab pusaka ilmu sihir Yu-leng-bun entah mengapa telah tersiar ke Kwan-gwa sana,” tutur The Lan-ciu.

“Ah, tak tersangka setelah pertempuran Im-san bisa tertinggal lagi ekor seperti ini, bilamana Sim-tayhiap dan para ketua ketujuh aliran besar mengetahuinya, mungkin mereka takkan tenteram di alam baka,” ujar Sim Long dengan gegetun, sikapnya mendadak berubah prihatin, hal ini jarang terjadi.

Karena semua orang sama tertarik oleh cerita Yu-leng-bun yang misterius itu sehingga tidak ada yang mengetahui perubahan sikap Sim Long itu.

“Konon pada 30 tahun yang lalu kalangan persilatan di Kwan-gwa pernah geger lantaran memperebutkan kitab pusaka Yu-leng-pit-boh, anehnya peristiwa ini tidak banyak diketahui orang Kangouw,” tutur The Lan-ciu.

“Bisa jadi hal ini disebabkan orang yang ikut dalam perebutan kitab pusaka itu tidak banyak, bahkan semuanya tutup mulut dan jaga rahasia, hanya diam-diam di antara mereka terjadi pertarungan sengit, tapi berita ini tidak disiarkan keluar.”

“Ya, bilamana berita ini tersiar, entah berapa banyak orang persilatan daerah Tionggoan akan memburu ke sana untuk ikut dalam kemelut perebutan kitab pusaka itu. Kecuali itu juga masih ada sebab lain, yaitu orang yang ikut berebut kitab pada waktu itu namanya tidak terkenal, karena itulah gerak-gerik mereka tidak menarik perhatian orang lain.”

“Betul, tapi siapa pun juga, sekalipun namanya semula tidak menonjol dan kedudukannya rendah, kalau sudah memperoleh Yu-leng-pit-boh, tentu nilainya akan berubah sama sekali,” ujar Sim Long. “Dan entah siapa akhirnya yang mendapatkan kitab pusaka itu?”

“Konon beberapa keluarga yang ikut dalam perebutan kitab itu akhirnya sama gugur seluruhnya, hanya tertinggal seorang budak tukang cuci saja, dan dengan sendirinya Yu-leng-pit-boh itu lantas jatuh di tangan budak cilik ini. Cuma, kabarnya budak ini kemudian juga tidak berhasil meyakinkan kungfu rahasia Yu-leng-bun ini.”

“O, sebab apa?” tanya Sim Long.

“Duduk perkara yang sebenarnya tidak diketahui siapa pun,” tutur The Lan-ciu. “Cuma menurut cerita yang pernah kudengar, rahasia ini akhirnya diketahui juga oleh seorang tokoh dunia persilatan.”

“Dan kitab pusaka itu dirampas olehnya?” tanya Sim Long pula.

“Tidak,” tutur The Lan-ciu. “Jika dia mau membunuh budak itu, tentu saja terlalu mudah baginya. Susahnya si budak sendiri juga mengetahui padanya terdapat sejilid kitab pusaka yang diincar orang, hal ini akan mendatangkan malapetaka bagi dirinya sendiri, sebab itulah kitab itu telah disembunyikannya di suatu tempat rahasia. Dalam keadaan demikian, biarpun tokoh itu membunuhnya juga tetap tidak mendapatkan kitab pusaka yang diharapkan.”

“Tentu dia tidak rela mengakhiri urusan dengan begitu saja?”

“Ya, memang. Orang ini ternyata sangat licin dan licik, culas dan keji. Dia memakai cara halus, budak itu ditipunya sehingga kehilangan kehormatannya. Ia yakin seorang anak perempuan jika sudah mau menyerahkan tubuhnya kepada seorang, maka segala apa pun akan diserahkannya. Tak tersangka olehnya si budak ternyata jauh lebih cerdik daripada perkiraannya, betapa pun ia tidak mau memperlihatkan kitab itu. Setelah menunggu lagi sekian lamanya, orang itu tidak sabar lagi, lambat laun tertampaklah wajah aslinya. Tapi si budak menjadi lebih waspada dan tetap tidak mau menyerahkan kitab yang diminta.”

“Pintar juga budak itu,” ujar Sim Long.

The Lan-ciu tertawa, “Budak itu pun menyadari wajahnya tidak cantik, jika ada tokoh persilatan penujui dia, dengan sendirinya bukan terpikat pada wajahnya melainkan mengincar kitab pusaka yang dikuasainya itu, jika dia menyerahkan kitab, sekalipun dirinya tidak diganggu, tentu juga akan ditinggal pergi. Dan bila kitab tidak diserahkannya, sedikitnya masih dapat hidup bersama untuk sekian lamanya.”

“Tampaknya budak itu jadi menyukainya,” kata Sim Long.

“Bukan saja menyukainya, bahkan tergila-gila,” tutur The Lan-ciu. “Tapi semakin si budak tergila-gila padanya, orang itu tambah jemu, gagal dengan cara halus, akhirnya dia menggunakan cara kasar, bahkan cara keji untuk memaksa si budak menyerahkan kitabnya.”

Ia menghela napas lalu menyambung, “Konon cara yang digunakannya sungguh luar biasa kejamnya, genduk itu tersiksa sehingga tidak berbentuk manusia lagi, mata buta, kaki dan tangan pun cacat, tapi dia tetap tutup mulut, mati pun tidak mau mengaku di mana dia menyembunyikan kitabnya.”

“Blang”, mendadak Liong Su-hay menggebrak meja dan berteriak, “Jahanam, siapa bocah itu, ingin kutemui dia.”

“Siapa dia tidak ada yang tahu, yang jelas sampai akhirnya dia tetap tidak mendapatkan kitab pusaka idamannya dan tetap pulang dengan tangan hampa.”

“Masa dia mau melepaskan genduk itu begitu saja?” tanya Sim Long.

“Konon genduk itu juga bukan orang biasa, meski sudah cacat, pada suatu kesempatan dia dapat melarikan diri. Pada waktu itu juga tokoh persilatan itu kebetulan ada urusan penting harus segera pulang ke Tionggoan. Ketika urusannya sudah selesai dan kembali lagi ke Kwan-gwa, budak itu entah bersembunyi di mana dan sukar ditemukan lagi. Terpaksa ia pulang lagi dengan putus harapan.”

“Ai, budak itu…”

“Budak itu tentu juga tidak mampu menguasai kungfu dalam kitab pusaka, namun dia telah duduk perut, akhirnya ia melahirkan anak,” The Lan-ciu menghela napas, lalu menyambung, “Dan agaknya anak inilah ahli waris kungfu Yu-leng-bun sekarang.”

“Wah, anak yang dilahirkan cara demikian tentu saja sangat benci kepada sesamanya,” ucap Sim Long. “Jika dia berhasil lagi menguasai kungfu yang keji, tentu…tentu runyam.”

“Memang,” kata The Lan-ciu. “Konon setelah anak itu dewasa dan berhasil meyakinkan kungfu sakti ia pun menerima sejumlah murid, Yu-leng-kun-kui (Kawanan Setan Alam Halus) dahulu sudah mati, Yu-leng-kun-kui yang sekarang telah lahir lagi.”

“Orang macam apakah anak ini?” tanya Sim Long.

“Belum pernah ada orang Kangouw yang melihat bentuknya,” tutur Lan-ciu. “Di dunia Kangouw ada macam-macam berita, katanya dia seorang gadis yang sangat cantik laksana bidadari, tapi tindak tanduknya kejam dan keji serupa setan iblis.”

“Seorang perempuan kalau sudah kejam, biasanya bisa berpuluh kali lebih kejam daripada orang lelaki,” ujar Sim Long.

“Huh, semua itu kan lantaran kebanyakan lelaki adalah orang berengsek,” Ci-hiang mencibir.

“Nama kawanan setan Yu-leng baru beberapa tahun terakhir terdengar di dunia persilatan Kwan-gwa, tapi entah berapa banyak korban yang telah jatuh di tangan kawan setan itu. Konon gadis ini suka makan hati manusia, setiap orang yang dibunuhnya akan dikorek hatinya untuk dimakan, yang dibunuhnya dengan sendirinya seluruhnya orang lelaki, jadi hati orang lelaki yang dimakannya.”

“Ibunya ditipu oleh lelaki, dapat dibayangkan betapa dia membenci orang lelaki,” kata Sim Long.

“Eh, bagaimana rasanya hatimu, Sim Long?” tanya Ci-hiang mendadak.

“Kukira pahit,” jawab Sim Long tertawa.

Ci-hiang berkedip-kedip. “Biarpun pahit juga ingin kucicipi. Kukira orang perempuan yang ingin mencicipi rasa hatimu tidak cuma aku seorang saja.”

“Aha, kiranya Sim-kongcu juga lelaki yang disiriki perempuan,” The Lan-ciu berseloroh. Mendadak ia menahan suaranya dan berkata pula, “Selain itu tadi, ada lagi satu hal aneh.”

“Aneh apa?” tanya Sim Long.

“Entah mengapa, kawanan setan itu selalu memusuhi Koay-lok-ong, setiap anak buah Koay-lok-ong yang terpencil sendirian tentu akan disembelih kawanan setan itu dan dimakan hatinya.”

“Oo?!” Sim Long melengak.

“Dari ucapan Tokko Siang tadi, katanya hari ini Koay-lok-ong lagi menunggu kedatangan seorang yang akan dikorek hatinya, mungkin…mungkin orang yang dimaksudkan ialah…”

“Gembong setan perempuan Yu-leng-kun-kui itu, maksudmu?” tukas Ci-hiang.

“Ya, tapi mudah-mudahan bukan dia,” ujar The Lan-ciu.

Semua orang sama terkesiap. Selang sejenak mendadak Ciu Thian-hu berbangkit dan berkata, “Wah, bila mendengar cerita yang menakutkan perutku lantas lapar, perlu kumakan dulu.”

“Arak ini tidak kau tenggak?” kata Sim Long dengan tersenyum.

“Engkau kan ingin menghemat, biarlah arak ini boleh kau hemat sekalian,” ujar Ciu Thian-hu sambil bergelak tertawa.

“Hm, jika arak ini tidak kau minum, selama hidupmu selanjutnya pasti sukar lagi minum arak semacam ini,” jengek Ci-hiang.

“Haha, sekalipun arak ini air emas juga dapat kuminum setiap hari,” seru Ciu Thian-hu.

“Air emas? Hm, arak ini sedikitnya lebih mahal seribu kali daripada air emas,” jengek Ci-hiang.

Ciu Thian-hu melengak, tapi segera ia tertawa pula, “Ah, membual kan tidak perlu modal. Memangnya harga arak ini sampai seribu tahil perak?”

“Hm, mestinya tidak ingin kukatakan, tapi sekarang justru ingin kujelaskan supaya kau tahu,” ejek Ci-hiang. “Arak yang disuguhkan ini berharga 125 ribu tahil perak dan tidak kurang.”

“Hah, 125 ribu tahil? Haha, masa ada arak semahal ini, kau sangka orang she Ciu ini orang udik yang dapat kau bohongi?”

“Jika sejuta tahil perak dibelikan mutiara seluruhnya dan digiling menjadi bubuk, lalu semua bubuk dicairkan menjadi delapan cawan arak, coba hitung sendiri, secawan arak lantas berharga berapa?”

Ciu Thian-hu melongo, jawabnya dengan tergegap, “Ya, betul, 125 ribu tahil perak…”

Ia melototi arak di depannya dengan rasa kagum dan hormat, sampai lama ia memandang, akhirnya cawan arak diangkatnya dan ditenggaknya.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara suitan nyaring panjang, entah suara apa, jelas bukan suara manusia.

Kedengaran suara suitan itu sangat jauh, tapi hanya sekejap lantas mendekat, betapa cepat datangnya sungguh sukar dibayangkan.

Hal ini pasti tidak dilakukan manusia, manusia pasti tidak mempunyai kecepatan sehebat ini.

Lantas suara apakah sesungguhnya?

Itulah tangisan setan!

Suara itu membuat orang merinding, kaki dan tangan sama dingin, kontan pucat muka Ciu Thian-hu.

Suara itu terus berjangkit, sekali berubah, menjadi dua kali, berubah lagi menjadi empat kali dan seterusnya hingga dalam sekejap suara melengking itu bergema dari empat penjuru, sebentar timbul di kanan, mendadak terdengar lagi di kiri, sekonyong-konyong di depan, tahu-tahu di belakang.

Ciu Thian-hu bergemetar, hampir saja ia sembunyi di kolong meja. The Lan-ciu dan Liong Su-hay juga berubah pucat.

“Yu-leng-hui…” ucap Ci-hiang dengan rada gemetar.

Mendadak Sim Long berdiri dan melangkah keluar.

“He, jangan…” seru Ci-hiang khawatir.

Sim Long tetap melangkah tanpa menoleh, ucapnya dengan tertawa, “Jika hatiku bakal dimakan orang, biarlah dimakan oleh setan perempuan ini saja.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: