Kumpulan Cerita Silat

25/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 10

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 2:05 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, Lovecan, dan Sumahan)

Bab III. Tangan Beracun.

10. Bertarung melawan Barisan Serigala.

Dengan menyaru sebagai rombongan piaukiok, rombongan laki perempuan itu menembus hutan dan tibalah di sebuah pa-dang luas yang dilapisi salju tebal.

Waktu itu Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong menyamar jadi dua orang saudagar kaya, namun mereka tetap waspada, pasang telinga baik-baik.

Saat itulah Ciu Leng-liong berkata kepada Si Ceng-tang, “Ciangkun, setelah lewat tujuh delapan li lagi, kita akan tiba di Hau-wi-s-i, tempat itu sudah dekat sekali dengan wilayah kekuasaan Lian-in-ce, bila sampai saatnya kita belum berhasil menemukan jejak Coh Siang-giok, rasanya kita harus menyerang dari tiga arah langsung menyerbu ke markas besar Lian-in-ce”

“Baik,” sahut Si Ceng-tang sambil mengangguk, “kalau begitu kita semua berkumpul di Hau-wi-si!”

Mendadak terendus bau yang sangat amis berhembus lewat, padahal tanah lapang bersalju tak nampak sesuatu, namun sebagai orang yang pengalaman. Si Ceng-tang segera meningkatkan kewaspadaan, dengan terkesiap ia memandang sekejap sekeliling tempat itu.

Belum sempat dia mengajukan pertanyaan, Lo-cecu dari Lam-ce, Ngo Kong-tiong telah berseru sambil mengerutkan dahi, “Bau amis apa ini?”

Sementara semua orang masih berbisik membicarakan persoalan ini, mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang ramai, bergerak mendekat, bersamaan dengan mendekatnya suara itu, bau amis yang terendus terasa makin tebal dan memuakkan.

Ciu Pek-ih yang selama ini hanya membungkam, tiba-tiba melejit ke udara, dua tiga lompatan kemudian ia sudah naik ke puncak sebatang pohon yang berada puluhan kaki jauhnya dari posisi semula.

Begitu berada di puncak dahan, ia segera memeriksa sekejap sekeliling tempat itu, namun paras mukanya segera berubah hebat.

Semua orang tidak tahu apa yang terjadi, tapi diam-diam mereka mengagumi pemuda itu, tidak disangka dengan usia yang masih begitu muda ternyata ilmu meringankan tubuhnya telah mencapai tingkatan yang luar biasa.

Terlihat pemuda itu sudah melayang turun dari dahan pohon dan dengan beberapa kali lompatan saja sudah bergabung kembali dengan rombongan, segera ia berseru pada Si Ceng-tang, “Si-ciangkun, harap bentuk pasukan dalam barisan lingkaran, masing-masing menyiapkan senjata dan tak perlu gugup!”

Si Ceng-tang adalah seorang panglima perang yang sudah kenyang pengalaman menghadapi pertempuran, dia pun amat menghargai jago tangguh, melihat sikap serius yang ditunjukkan Ciu Pek-ih, ia segera sadar kalau urusan pasti amat serius.

Karena itu tanpa bertanya lagi segera serunya lantang, “Atur barisan dalam bentuk lingkaran, siapkan senjata dan jangan gugup atau panik, siapa melanggar segera bunuh!”

Begitu perintah diturunkan, kedua puluhan orang prajurit itu segera melolos golok dan berdiri saling berdampingan membentuk barisan melingkar, mereka mengelilingi Si Ceng-tang, Ciu Leng-liong, Ngo Kong-tiong, Ciu Pek-ih, Pek Huan-ji dan si Tangan besi di tengah arena.

Baru saja barisan terbentuk, tiba-tiba dari empat penjuru telah muncul cahaya bintang berapi yang memancarkan sinar kehijauan, bau amis semakin merebak, dalam waktu singkat rombongan bermata hijau berapi itu sudah mengelilingi arena.

“Serigala!” jerit Te-sang-to (golok bumi bergulingan) Goan Kun-thian, salah seorang anak buah Ngo Kong-tiong dengan terkesiap.

“Ya, rombongan serigala!” sambung Hek-sat-sin (si malaikat hitam) Si Ciang-ji tak kalah kagetnya.

Kawanan jago persilatan itu bernyali besar, jangankan melihat serigala, membunuh binatang itupun sudah sering mereka lakukan, tapi kemunculan rombongan serigala kali ini jauh berbeda karena jumlahnya mencapai enam tujuh ratusan ekor lebih.

Bukan saja sorot matanya menyeramkan, tampaknya kawanan serigala itu sudah cukup lama tidak bersantap hingga kelihatan sangat kelaparan, taring dengan air liur yang menetes keluar membuat keadaan bertambah mengerikan.

Diam-diam kawanan jago itu mulai bergidik, bulu kuduk berdiri, meski merasa seram namun tak seorang pun yang berusaha kabur dari situ.

Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong terhitung panglima perang yang banyak pengalaman dalam pertempuran, namun selama hidup belum pernah menghadapi ancaman semacam ini, apalagi harus menghadapi beratus ekor serigala sekaligus, untuk sesaat mereka tertegun dan tak tahu apa yang mesti diperbuat.

Tidak lama kemudian dari balik kegelapan malam lamat-lamat terdengar suara ketukan bokhi yang menyayat hati bergema di udara. Menyusul suara ketukan itu, ratusan ekor serigala pelan-pelan bergerak maju, sambil menunjukkan taringnya yang tajam kawanan binatang itu mulai siap menerkam mangsanya…

Si Tangan besi segera menghampiri Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong, kemudian serunya, “Ciangkun, bagaimana kalau sementara waktu aku yang memberi perintah?”

“Baik,” sahut Si Ceng-tang sambil bergeser, “Kau saja yang memberi perintah!”

“Pasukan pemanah, siapkan anak panah!” si Tangan besi segera memberi perintah.

Dalam dua puluhan prajurit yang menyertai rombongan terdapat sepuluh orang pemanah mahir, namun dari sepuluh pemanah ada dua orang ikut rombongan Liu Ing-peng dan dua orang bersama Thian Toa-ciok, berarti dalam rombongan ini tinggal enam orang pemanah saja.

Kembali si Tangan besi berseru, “Siapkan seluruh anak panah yang tersedia!”

Setelah keenam orang pemanah itu. mempersiapkan anak panahnya, kembali si Tangan besi memberi perintah, “Arahkan panah ke sisi barat! Si-ciangkun, Ciu-ciangkun, kalian berdua mempertahankan posisi timur, Ngo-cecu, saudara Goan, saudara Si, kalian bertiga menjaga posisi selatan, Ciu-shiacu dan Pek-lihiap, kalian berdua menjaga posisi utara.”

Begitu mendengar perintah ini, semua orang segera sadar apa yang terjadi, rupanya kawanan serigala itu terlalu banyak, sebaik apapun ilmu silat seseorang, mustahil bisa menghadapi kerubutan begitu banyak serigala, karenanya memang paling tepat bila kawanan binatang itu dihadapi dengan panah, asal ada banyak yang terluka, otomatis keberingasan binatang-binatang itu akan berkurang.

Saat itulah suara ketokan bokhi semakin kencang, kawanan serigala mulai pentang cakar dan menyerbu ke dalam barisan.

“Lepaskan panah!” si Tangan besi segera membentak nyaring.

Enam orang pemanah serentak melepaskan anak panahnya, serentetan pekik kesakitan segera bergema di udara. Para pemanah itu merupakan pemanah unggul, di bawah hujan anak panah yang begitu rapat, mana mungkin kawanan binatang itu bisa meloloskan diri?

Hanya dalam waktu singkat belasan ekor serigala telah mati terpanah, darah berceceran membasahi permukaan salju.

Barisan serigala dari arah barat kontan kacau-balau, tapi suara ketukan bokhi masih berbunyi tiada hentinya, hal ini membuat kawanan serigala itu kembali menyerbu secara nekad.

Tak lama kemudian ada empat lima ekor serigala berhasil menembus hujan panah dan langsung hendak menggigit keenam orang pemanah itu.

“Tak usah gugup!” seru si Tangan besi cepat, tangan kirinya segera diayunkan memberi tanda, keempat belas prajurit yang telah siap dengan senjatanya serentak turun tangan bersama dan menjagal serigala itu.

Melihat ada orang yang melindungi keselamatan jiwanya, keenam orang pemanah semakin lega lalu membidikkan anak panahnya pula, kembali tiga puluhan serigala mati terpanah.

Sekali lagi terjadi kekalutan dalam gerombolan serigala itu, bahkan ada gejala kawanan binatang buas itu akan mundur dari arena pertempuran.

Saat itulah suara kentongan bokhi kembali berbunyi, bahkan suaranya makin keras dan nyaring, begitu mendengar suara titiran itu, kawanan serigala segera maju menyerang lagi tanpa menggubris keselamatan sendiri, ganasnya bukan kepalang.

Dalam situasi seperti ini, jumlah serigala yang berhasil lolos dari serangan anak panah berlipat ganda jumlahnya, untung keempat belas prajurit itu cukup terlatih, biar terancam namun tak sampai panik, datang satu mereka bantai satu, biarpun agak kerepotan namun untuk sesaat belum ada korban yang jatuh di pihaknya.

Dari gerombolan serigala yang berada di sisi timur, ada tiga empat ekor di antaranya mulai mendekati rombongan, namun Si Ceng-tang maupun Ciu Leng-liong sama sekali tak bergerak, kedua orang jago itu hanya mengawasi dengan dingin.

Serigala adalah binatang licik, mereka sengaja maju mendekat karena ingin memeriksa apakah lawannya masih hidup atau sudah mati, tapi kemudian karena dilihatnya kedua orang itu tak bergerak, mereka pun segera maju mendekat sambil menggigit.

Si Ceng-tang serta Ciu Leng-liong bukan jagoan kemarin sore, melihat datangnya terkaman itu, Si Ceng-tang segera memberi tanda, dengan cekatan Ciu Leng-liong mencabut goloknya dan langsung diayunkan ke depan.

Di antara kilatan cahaya tajam, tahu-tahu golok itu sudah disarungkan kembali, sementara tiga kepala serigala sudah mencelat ke udara, sementara badannya masih bergerak mundur.

Titiran kentongan bokhi kembali berkumandang, empat ekor serigala ganas menerjang dengan garangnya, tiga ekor menyerang Ciu Leng-liong sementara yang lain menggigit leher Si Ceng-tang.

Baru saja Ciu Leng-liong akan bergerak, Si Ceng-tang segera mengulapkan tangan, maka Ciu Leng-liong pun membatalkan gerakan tubuhnya.

Ketika kawanan serigala itu hampir menggigit badannya, mendadak Si Ceng-tang menggerakkan tangannya sambil meninju ke depan sekerasnya.

“Blaamm!” jotosan itu langsung bersarang di perut serigala salju hingga isi perutnya hancur berantakan, belum sempat menjerit, badannya sudah menerjang tiga ekor serigala yang sedang menubruk ke arah Ciu Leng-liong, “Blaaam!” serigala itu langsung tertumbuk secara telak.

Tumbukan itu benar-benar hebat, begitu menghantam tubuh serigala pertama, tubuh serigala itu mencelat menghantam tubuh serigala kedua, sementara serigala kedua yang tertumbuk segera mencelat menghajar tubuh serigala ketiga, dalam waktu yang bersamaan ketiga ekor serigala yang mengancam Ciu Leng-liong sudah mencelat semua ke belakang.

Sungguh dahsyat tenaga pukulan ini, bukan hanya serigala pertama yang mati seketika, ternyata serigala lain yang tertumbuk pun ikut mampus tanpa sempat bersuara lagi.

Hanya dalam satu kali gebrakan Ciu Leng-liong dan Si Ceng-tang berhasil membantai tujuh ekor serigala, melihat iu serigala yang lain tak berani maju untuk sementara waktu, kendatipun suara bokhi semakin gencar.

Serigala yang menyerang dari sisi selatan juga sudah mulai maju melancarkan serangan, menghadapi ancaman hewan liar ini, tak urung kawanan jago di bawah pimpinan Ngo Kong-tiong bergidik juga.

Si Malaikat hitam Si Ciang-ji berseru setelah menarik napas panjang, “Aku paling jangkung di antara semua orang, dagingku paling banyak, mereka pasti akan menyerang aku duluan.”

Sementara si Golok bumi Goan Kun-thian ikut berseru pula dengan badan gemetar, “Badanku paling pendek, mereka pasti akan langsung menggigit tenggorokanku!”

Ngo Kong-tiong tak malu menjadi Lo-cecu benteng Lam-ce, sambil melintangkan pedangnya di depan dada ia tertawa tergelak, katanya cepat, “Bagus, bagus sekali, akulah Lo-cecu dari Lam-ce, wahai kaum serigala, bila kalian berani menyerang dari sisi selatan, akan kusuruh kalian rasakan kehebatanku!”

Menyaksikan kegagahan pemimpin mereka, tanpa terasa Si Cong-ji dan Goan Kun-thian saling bertukar pandang sekejap, akhirnya dengan perasaan malu mereka bangkitkan semangat dan segera berdiri di sisi kiri dan kanan pemimpinnya.

Saat itulah kawanan serigala yang ada di sisi selatan mulai melancarkan serangan, ada puluhan ekor hewan liar itu yang mulai menyerbu masuk arena pertarungan.

Goan Kun-thian tidak tinggal diam, goloknya digetarkan sambil berguling di tanah, cahaya golok berkilauan dan ada tiga ekor serigala yang segera kehilangan kakinya hingga bergulingan kesakitan di tanah.

Goan Kun-thian memang tak malu disebut Golok bumi, sapuan goloknya yang khusus bermain bawah ini memang terbukti sangat ampuh.

Si Ciang-ji tak mau kalah, sembari menghardik dia melancarkan pula sebuah serangan dahsyat, tangan kirinya menghajar batok kepala seekor serigala sementara tangan kanannya menjotos seekor yang lain, begitu berhasil dengan pukulannya, tahu-tahu sepasang tangan itu kembali menggencet ke tengah menghajar lagi seekor hewan buas lainnya.

“Praaak!” tiga ekor serigala terhajar telak hingga hancur lebur batok kepalanya.

Ngo Kong-tiong tertawa, nyaring, pedangnya digetarkan dan langsung menyerbu masuk ke dalam gerombolan serigala itu, dimana pedangnya berkelebat, bangkai serigala bergelimpangan, sebuah jalan berdarah segera terbentuk oleh serbuannya itu.

Dalam pada itu titiran ketukan bokhi semakin gencar, kawanan serigala yang berulang kali menjumpai hantaman maut itu masih saja menyerbu tiada habisnya, seakan-akan kawanan hewan itu sudah tidak mempedulikan lagi keselamatan jiwanya.

Baru setengah kaki Ngo Kong-tiong menyerbu ke depan, jalan mundurnya segera terpotong oleh serbuan kawanan serigala lainnya, Si Ciang-ji’dan Goan Kun-thian jadi kaget, mereka semakin panik setelah gagal menemukan bayangan tubuh pemimpinnya.

Sementara mereka sudah nekad akan menyerbu ke depan untuk menyelamatkan majikannya, tiba-tiba tampak bangkai serigala beterbangan di udara, tahu-tahu Ngo Kong-tiong sudah muncul kembali sambil berseru, “Hebat benar kawanan serigala itu, biar sudah kubantai hampir empat lima puluh ekor, ternyata serbuanku gagal menjebol kepungan ini. Makanya aku terpaksa balik lagi kemari”

Kehebatan yang ditunjukkan pemimpin mereka ini semakin membuat malu Si Ciang-ji dan Goan Kun-thian, namun rasa hormat mereka pun tanpa terasa makin meningkat.

Pada bagian utara keadaan tidak jauh berbeda, Pak-shia Shiacu Ciu Pek-ih serta Pek Huan-ji sudah terlibat juga dalam pertarungan yang amat seru melawan serbuan kawanan serigala itu.

Tiba-tiba terlihat ada belasan ekor serigala menembus kepungan dan langsung menerjang ke arah Pek Huan-ji, melihat itu Ciu Pek-ih segera melejit ke udara dan bergerak mendekat sambil berseru, “Hati-hati!”

Sambil melambung di udara ia getarkan pedangnya, di antara berkelebatnya cahaya putih yang menyilaukan mata, belasan ekor serigala itu segera terbabat kutung jadi dua dan mati seketika.

Kembali ada tiga ekor serigala menerjang masuk dan hendak menggigit kaki Pek Huan-ji.

Gadis itu mendengus dingin, tidak nampak bagaimana dia menggerakkan senjatanya, hanya tampak ujung bajunya bergetar pelan, tahu-tahu ketiga serigala itu sudah mampus tertembus pedangnya.

Dalam waktu singkat ada tiga belas ekor serigala yang mati terbantai, untuk sesaat kawanan serigala lainnya tak berani maju, malah ada di antara kawanan hewan itu yang mulai berebut melahap bangkai rekannya yang berlepotan darah…

Selama hidup belum pernah Pek Huan-ji menyaksikan adegan seperti ini, tak kuasa wajahnya berubah pucat pias, badannya gemetar dan nyaris roboh saking lemasnya.

Sementara itu suara ketukan bokhi semakin gencar, serbuan kawanan serigala itupun makin lama semakin banyak, bahkan serangan demi serangan dilakukan semakin ganas. Dua puluh delapan orang jagoan ini paling tidak sudah membantai ratusan ekor serigala, namun masih ada delapan ratusan ekor lainnya yang sama sekali tak ada tanda akan mundur, malah sebaliknya jumlahnya makin meningkat.

Dalam pada itu hujan anak panah dari kawanan pemanah mahir itu sudah mulai mereda karena kehabisan anak panah, melihat serangan panah mereda, kawanan serigala mulai menyerbu lagi dengan garangnya.

Si Tangan besi tahu, bila membiarkan kawanan serigala itu menyerbu masuk, maka barisan pertahanan mereka akan kalut, bila sampai begitu, korban di pihaknya akan bertambah banyak, karenanya dia kembali berseru, “Hadapi dengan senjata rahasia!”

Kedua puluh orang prajurit itu nampaknya sangat kagum dan takluk kepada si Tangan besi, begitu mendapat perintah segera mereka menyiapkan amgi.

Kalau dibilang memanah maka hanya enam orang yang bisa melakukan perintah itu, tapi kalau dibilang memakai am-gi maka hampir semuanya bisa melakukan.

Begitulah ketika dua puluhan orang mengayunkan tangannya bersama, dua tiga puluh ekor serigala segera roboh menemui ajalnya.

Tapi si Tangan besi juga sadar, amgi yang dibawa tentu tak banyak jumlahnya dan sebentar lagi bila amgi habis digunakan, maka pertarungan berdarah tak bisa dihindari lagi.

Ngo Kong-tiong sudah berhasil membantai empat lima puluhan ekor serigala dan lolos dari kepungan, biar orang ini usianya sudah tua, namun semangat tempurnya sama sekali tak berkurang, sambil tertawa nyaring dia menyerbu maju terus dengan gagahnya.

Gelak tertawa yang amat keras itu seketika menenggelamkan suara bokhi yang bertalu-talu, begitu suara bokhi sirap, serbuan kawanan serigala mulai kacau-balau, bahkan ada beberapa ekor yang kabur dari barisan.

Menyaksikan kejadian ini, terlintas ingatan dalam benak si Tangan besi, dia tahu serbuan kawanan serigala itu diperintah dari suara bokhi itu.

Tanpa terasa dia pun teringat Cecu kelima Lian-in-ce konon sangat mahir mengendalikan serigala, orang menyebutnya Jian-long-mo-ceng (Padri iblis seribu serigala) Kwan Tiong-it.

Berpikir sampai di situ, dengan suara lantang si Tangan besi segera berseru, “Rekan semua, rupanya Kwan Tiong-it yang mengendalikan serbuan kawanan serigala itu dari kejauhan, asal kita tenggelamkan suara bokhi dengan teriakan nyaring, serbuan kawanan serigala akan buyar dengan sendirinya.”

Mendengar penjelasan itu, para jago segera sadar apa yang telah terjadi.

Terdengar si Tangan besi mulai berpekik nyaring, suaranya panjang bersahutan, bukan saja amat memekakkan telinga, suara bokhi pun segera tenggelam di balik pekikan nyaring itu.

“Ucapan saudara Thi sangat tepat,” seru Ciu Pek-ih kemudian, “mari kita berteriak.”

Biarpun ucapan itu lamban namun kalimatnya bersambungan disertai nada suara yang nyaring dan kuat, suara bokhi makin tenggelam, serbuan kawanan serigala pun mulai tampak kalut.

Kawanan jago itu hampir semuanya jago kenamaan dunia persilatan, tentu saja mereka memahami maksud ucapan si Tangan besi, namun mereka juga tahu, bicara menggunakan tenaga dalam merupakan tindakan pemborosan hawa murni yang luar biasa, bila mereka tidak bergiliran bicara hingga kehabisan tenaga, maka dalam pertarungan berikutnya, jiwa mereka bakal terancam.

“Benar!” kembali si Tangan besi berseru, “mohon bantuan Toako sekalian.”

Dalam waktu singkat para jago mulai berbicara dengan mengerahkan tenaga dalam, suara gemuruh yang keras memekakkan telinga, seketika membuat suara bokhi hilang tak berbekas.

Begitu suara bokhi tenggelam dan lenyap, serangan kawanan serigala itu makin kacau, mulai ada puluhan ekor hewan liar itu yang berbalik badan melarikan diri.

Terdengar si Tangan besi berseru pula, “Ngo-loenghiong, kau sungguh hebat, malam ini Boanpwe benar-benar kagum dengan kehebatan It-seng-lui (suara guntur menggelegar) dari Ngo-cecu.”

Ngo Kong-tiong disebut orang Sam-coat-it-seng-lui (suara guntur tiga kehebatan) karena dia terkenal hebat lantaran kecepatan ilmu pedangnya, hebat karena ilmu meringankan tubuhnya dan hebat karena kesempurnaan tenaga dalamnya.

Tetapi setelah mendengar perkataan si Tangan besi, diam-diam ia ikut merasa terperanjat, pikirnya, “Untuk mengu-capkan beberapa patah kata saja aku mesti berulang kali mengatur pernapasan, tapi si Tangan besi bicara tiga kali secara beruntun, malah suaranya yang terakhir jauh lebih nyaring dan lantang, masakah tenaga dalam bocah ini benar-benar sudah mencapai puncak kesempurnaan?”

Saat itulah tiba-tiba terdengar seorang berbicara dengan suara nyaring bagai suara genta, “Apakah yang datang adalah jagoan dari Lian-in-ce? Kenapa tidak berani tampil ke muka dan hanya menyuruh kawanan hewan untuk menyambut, beraninya kau memandang hina aku orang she Si?”

Ternyata yang berbicara adalah Cap-ji-hui-huan (dua belas gelang terbang) Si Ceng-tang, jangan dilihat dia hanya seorang panglima perang kerajaan, ternyata tenaga dalamnya tidak di bawah kemampuan siapa pun. Hal ini membuat para jago mengaguminya.

“Kelihatannya orang yang menabuh bokhi adalah Cecu nomor lima dari Lian-in-ce” kembali si Tangan besi berkata. “Hei, jagoan yang bersembunyi di balik kegelapan, apakah kau benar Jian-long-mo-ceng Koan-taysu?”

“Kelihatannya Koan-taysu cuma pintar menabuh bokhi, mungkin dia memang tak mampu meninggalkan kuilnya?” ejek Ciu Pek-ih nyaring.

Orang di balik kegelapan belum juga menampakkan diri, sementara pertarungan antara manusia melawan kawanan serigala masih berlangsung seru, hanya kali ini serangan kawanan binatang buas itu sudah kacau-balau karena tak mendapat komando, dengan sendirinya bangkai serigala semakin membukit.

Melihat musuhnya belum juga memberi tanggapan, kembali si Tangan besi berseru nyaring, “Koan-taysu, bokhi itu alat suci untuk bersembahyang, kenapa kau gunakan sebagai alat pembunuh?”

“Betul,” sahut Ngo Kong-tiong pula, “sudah lama kau mencukur gundul rambutmu, tapi kenapa tidak berganti nama? Jangan-jangan kau masih tak kuasa menahan godaan dan ingin jadi orang preman lagi?”

“Koan-taysu” seru si Tangan besi lagi, “apa benar dalam hatimu sudah tak ada Buddha?”

“Koan Tiong-it, lebih baik kau menyerah saja,” sambung Si Ceng-tang, “asal kau mau kembali ke jalan yang benar, aku pasti akan memohonkan pengampunan bagimu di hadapan Kaisar.”

Berbicara dengan menggunakan tenaga dalam merupakan satu tindakan pemborosan hawa murni yang luar biasa, tapi semua orang memang sengaja memancing agar Koan Tiong-it mau buka suara. Sebab begitu dia buka mulut, maka tenaga dalamnya akan buyar dan titiran bokhinya akan hancur berantakan.

Tampaknya Koan Tiong-it menyadari akan hal ini, karena itu dia tetap bungkam, bahkan titiran kentongannya semakin keras, gencar dan nyaring.

Waktu itu kawanan serigala yang melancarkan serangan sudah buyar separoh bagian, sebetulnya sisanya pun telah berniat mengundurkan diri, tentu saja si Tangan besi tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini.

Maka dengan suara nyaring kembali dia berseru, “Siancay, Siancay, bokhi sesungguhnya merupakan peralatan Buddha untuk bersembahyang, tak disangka setelah berada di tangan Koan-ngo-cecu malah dipakai sebagai senjata iblis…kau memang sangat keterlaluan!”

Diam-diam semua orang terperanjat, sebab perkataan si Tangan besi kali ini ternyata jauh lebih nyaring daripada semula, bukan saja tenaga dalamnya tidak berkurang, malah bertambah hebat.

Waktu itu delapan puluh persen kawanan serigala telah melarikan diri, sambil menghimpun hawa murninya, Ngo Kong-tiong ikut berseru, “Koan Tiong-it, akan kulihat kau bisa bertahan berapa lama lagi!”

Biarpun perkataannya singkat namun nadanya menggelegar bagai bunyi guntur.

“Koan Tiong-it” seru si Tangan besi lagi, “kau masih punya kesempatan terakhir, jika tidak menyerah, jangan salahkan kalau kami bertindak keji.”

Bentakan itu nyaring bagai halilintar membelah bumi, menyusul hardikan itu, terdengar suara bergema dari sisi barat, di bawah sebatang pohon tampak duduk bersila seorang padri.

waktu itu dia masih memukul bokhinya bertalu-talu, namun darah segar tampak keluar tiada hentinya dari mulutnya.

Koan Tiong-it bukannya enggan menyerah, tapi dia tak mungkin berbuat begitu, sebab dia kuatir begitu pukulan bokhi dihentikan malah dia akan mati oleh getaran suara lawan.

“Bedebah ini benar-benar keras kepala,” umpat Ciu Pek-ih kemudian, “rasanya dia memang pantas dibantai.”

“Jangan dibunuh,” cegah si Tangan besi. “Tujuan kedatangan kita hanya ingin membekuk buronan kelas kakap kerajaan, bukan datang untuk menghadapi orang-orang Lian-in-ce!”

Mendadak Ngo Kong-tiong tertawa nyaring tiga kali secara beruntun, setiap kali gelak tertawa itu bergema, tubuh Koan Tiong-it kelihatan gemetar keras, ketika suara tertawa yang ketiga kalinya bergema, Koan tiong-it sudah tak sanggup menahan diri lagi, badannya tampak lemas lunglai seperti orang kehabisan tenaga.

Waktu itu Ngo Kong-tiong sendiri pun sudah kehabisan tenaga dan tak sanggup tertawa lagi, sebetulnya hawa darah dalam dadanya sudah bergolak semenjak tadi, hanya rasa tak mau kalahnya saja yang memaksa dia untuk tertawa nyaring.

“Ngo-loenghiong,” seru si Tangan besi cepat, “kau tak usah gusar, biar Boanpwe yang membereskan cecunguk macam dia.”

Di antara sekian banyak jago, boleh dibilang si Tangan besi yang bicara paling banyak, namun dia seperti tak nampak kehabisan tenaga, malah sebaliknya makin bicara suaranya semakin lantang.

Dalam pada itu suara kentongan bokhi sudah makin melemah, kawanan serigala yang tinggal belasan ekor itupun serentak membubarkan diri dan kabur.

“Saudara Thi, hebat benar tenaga dalammu,” seru Ciu Pek-ih, “Siaute benar-benar tak…takluk”

Ucapannya yang terakhir diutarakan amat lemah, jelas dia pun sudah kehabisan tenaga dalam.

Melihat beberapa ekor serigala yang tersisa berusaha kabur dari arena pertarungan, si Tangan besi segera menyambar dua gumpal bunga salju lalu ditimpukkan ke depan sambil menghardik, “Roboh semua!”

Lolongan kesakitan bergema silih berganti, berpuluh ekor serigala terakhir segera roboh mampus dalam keadaan mengenaskan.

Kembali si Tangan besi membentak nyaring.

“Blukk!” tiba-tiba bokhi yang berada dalam genggaman Koan Tiong-it hancur berantakan, menyusul badannya roboh terjengkang ke atas permukaan salju.

“Ten…tenaga dalam ya…yang hebat!” bisiknya lirih, darah segar muntah tiada hentinya, jelas orang itu sudah menderita luka dalam yang amat parah.

Tak selang berapa lama kemudian, suasana kembali hening, pertarungan berdarah kini telah berakhir, diam-diam semua orang menyeka keringat dingin yang membasahi tubuh mereka.

Ngo Kong-tiong sangat kagum dengan kehebatan si Tangan besi, baru saja dia hendak mengucapkan kata pujian, mendadak tampak si Tangan besi dengan wajah sangat serius menempelkan telinganya ke permukaan salju dan mendengarkan beberapa saat.

Tak lama kemudian terdengarlah suara derap kaki kuda yang amat ramai bergema, dari suara gemuruh yang keras, dapat diduga paling tidak tiga empat ratusan ekor kuda sedang bergerak menghampiri mereka.

Berubah hebat paras muka Ciu Leng-liong, serunya tertahan, “Tidak heran mereka menggunakan gerombolan serigala untuk memancing kita menyerang dengan senjata rahasia, kini kita kehabisan amgi.”

“Tak punya amgi toh kita masih punya senjata tajam,” tukas si Malaikat hitam Si Ciang-ji cepat.

“Benar, kalau senjata tajam juga lenyap, kita toh masih punya kepalan,” sambung si Golok bumi Goan Kun-thian.

Dua orang jagoan yang menjadi anak buah Ngo Kong-tiong ini memang angkuh, meski tadi mereka sempat ketakutan karena harus berhadapan dengan serbuan gerombolan serigala, tapi menghadapi manusia, mereka sama sekali tak takut.

Maka ketika didengarnya Ciu Leng-liong mengucapkan perkataan ini, mereka anggap panglima perang itu telah pecah nyali karena ketakutan.

Tentu saja Ciu Leng-liong pun dapat menangkap maksud perkataan itu, sambil tertawa dingin balasnya, “Bagus sekali ucapan kalian berdua, sayang aku orang she Ciu belum pernah takut menghadapi manusia, bahkan ketika diserang gerombolan serigala pun aku tak pernah ketakutan sampai kencing dalam celana.”

Jelas kata-kata ini mengandung sindiran tajam.

Tak terlukiskan rasa gusar Si Ciang-ji dan Goan Kun-thian mendengar sindiran itu, baru saja mereka mengepal tinju siap melancarkan serangan, Ngo Kong-tiong dengan gusar telah menghardik, “Ciang-ji, Kun-thian, kalian sudah lupa dengan peraturan perguruan? Bukankah sudah aku pesan wanti-wanti, jangan membuat onar selama berada di luar benteng Lam-ce?”

“Leng-liong!” Si Ceng-tang juga segera menegur, “Dalam situasi seperti ini, kita butuh kerja sama yang erat, kenapa kau malah cari gara-gara? Itukah contohmu untuk anak buah?”

Si Ciaong-ji maupun Goan Kun-thian memang sangat menaruh hormat dan takluk terhadap Ngo Kong-tiong, mereka segera menundukkan kepala dan tak berani bertindak gegabah lagi.

Begitu juga dengan Ciu Leng-liong, setelah ditegur Si Ceng-tang, dia pun tak berani banyak bicara.

Saat itulah si Tangan besi kembali berkata, “Tampaknya musuh yang muncul berjumlah sekitar empat ratusan, bisa jadi anak buah Tin-jian-hong (Angin di depan barisan) Mok Kiu-peng, Cecu nomor empat benteng Lian-in-ce.”

“Bila dia memimpin sendiri pasukan itu, akan semakin sulit bagi kita untuk menghadapinya,” ujar Ciu Pek-ih dengan kening berkerut. “Sebab bila dia muncul, Cecu ketiga dari Lian-in-ce, Say-cukat (si Cukat cerdik) Wan Beng-tin tentu datang bersamanya.”

“Benar,” Ngo Kong-tiong membenarkan. “Antara Mok Kiu-peng dengan Wan Beng-tin memang ibarat kendil dengan tutupnya, mereka tak pernah berpisah satu dengan yang lain, kini dari tujuh ratus orang anggota Lian-in-ce ada empat ratus orang sudah muncul di sini, besar kemungkinan pasukan ini dipimpin langsung oleh Mok Kiu-peng serta Wan Beng-in.”

Dalam benteng Lian-in-ce sebenarnya hanya terdapat delapan orang Cecu, boleh dibilang ilmu silat kedelapan orang ini sangat tangguh dan tiada tandingan.

Tapi kemudian muncul seorang yang bernama Cing Sau-song, konon dengan membelenggu tangan kanan sendiri dan mengandalkan tangan kiri, dia berhasil mengalahkan kedelapan orang Cecu itu secara beruntun hingga membuat kedelapan jago itu tunduk, sejak itu dia diangkat sebagai Cong-cecu mereka.

Ilmu silat yang dimiliki orang ini beraneka ragam, tak seorang pun dapat menebak asal-usul perguruan maupun asal-usul kehidupannya, karena itu orang menyebutnya Kiu-sian-sin-liong (Naga sakti sembilan wujud).

Semenjak Naga sakti sembilan wujud Cing Sau-song memegang tampuk pimpinan benteng Lian-in-ce, secara beruntun benteng ini berhasil melakukan beberapa kali peristiwa besar hingga menggemparkan sungai telaga.

Konon Cing Sau-song sangat cerdas, selain menguasai ilmu silat, dia pun pandai memainkan khim, main catur, membuat syair, membaca, melukis maupun taktik perang, setiap kali habis bertempur, dia selalu berhasil menciptakan sebuah jurus serangan baru, sayang ambisinya kelewat besar, jiwanya sempit dan pikirannya pendek.

Cecu nomor dua, Hau-siau-ing-hui-leng-coa-kiam (pedang ular berbisa, tukikan elang, auman harimau) Lau Hiat-kong juga terhitung seorang jagoan tangguh dunia persilatan, tapi dia termasuk seorang Hohan sejati.

Dulu sebelum kehadiran Cing Sau-song, Lau Hiat-kong adalah ketua utama benteng Lian-in-ce, tetapi sejak ditaklukkan, dia pun menjabat sebagai Cecu nomor dua.

Adapun julukannya sebagai pedang ular berbisa, tukikan elang, auman harimau bukan julukan yang ia berikan untuk diri sendiri, melainkan julukan yang diberikan orang untuk mengejek dirinya.

Lau Hiat-kong memiliki tenaga dalam sempurna, bentakannya sanggup membetot sukma, karena itu dia dikatakan memiliki auman harimau, ilmu meringankan tubuhnya hebat seakan dapat terbang tanpa sayap, maka orang menyebutnya seperti tukikan elang, sementara ilmu pedangnya cepat lagi tele-ngas persis seperti pagutan ular berbisa, maka ia dinamai pedang ular berbisa.

Ilmu silat yang dimiliki Cing Sau-song serta Lau Hiat-kong jauh di atas kepandaian ketujuh orang Cecu lainnya, namun Sam cecu si Cukat cerdas Wan Beng-tin, walaupun tidak hebat kungfunya, namun dia sangat cerdik, menguasai taktik perang dan amat teliti dalam tindak-tanduk, dialah kunsu benteng Lian-in-ce.

Kungfu yang dikuasai Cecu nomor empat, si Angin depan barisan Mok Kiu-peng juga tidak terhitung hebat, tapi dia garang, gagah dan pantang mundur dalam setiap peperangan, ia merupakan panglima perang andalan benteng Lian-in-ce.

Sementara itu dari segala penjuru telah bermunculan sekitar empat ratusan ekor kuda dengan empat ratusan jago berpakaian ringkas, kawanan jago itu nampak garang sekali, dengan tangan sebelah menggenggam golok, tangan lain memegang obor, mereka adalah begal gunung.

Sewaktu mereka bergerak sambil menyerang, serangan dilancarkan bagaikan gelombang air bah, benar-benar menggidikkan hati.

Melihat kemunculan sepasukan begal gunung itu, Si Ceng-tang segera berseru, “Cayhe Si Ceng-tang dari Ciang-ciu, sama sekali tak ada urusan dengan benteng kalian, mohon sudilah kiranya kalian minggir untuk memberi jalan!”

“Anjing sialan!” umpat seorang lelaki tinggi besar berambut dan berwajah hitam yang memakai pakaian perang berwarna hitam pula serta membawa tombak panjang, “Kau sudah melukai saudara kelima kami, sekarang masih banyak bacot, ayo serang!”

Begitu perintah diturunkan, serentak para begal itu menyerbu dengan garangnya.

Si Tangan besi tahu, orang itu pastilah si Angin depan barisan Mok Kiu-peng.

Malaikat hitam Si Ciang-ji tertawa, ejeknya, “Hahaha…selama ini aku mengira diriku paling hitam, ternyata di kolong langit ini masih terdapat orang yang jauh lebih hitam daripadaku! Aku jadi ingin tahu, kekuatan siapa yang paling tangguh. Nih sambut dulu pukulanku!”

Dia memutar badan mencabut sebatang pohon berikut akarnya, lalu dilontarkan ke arah Mok Kiu-peng.

“Bagus!” sahut Mok Kiu-peng sambil menangkis dengan tombak panjangnya, batang pohon itu seketika mencelat balik dan menerjang ke tubuh Si Cong-ji.

Ketika Si Cong-ji memeluk kembali pohon itu, badannya seketika tergetar mundur tiga langkah dengan sempoyongan.

Sambil tertawa tergelak si Golok bumi Goan Kun-thian segera berseru, “Karena kau tak berhasil, biar aku yang unjuk kebolehan!”

Sambil berseru ia menerjang, senjatanya berubah jadi selapis cahaya tajam, lalu sambil berguling di tanah, ia babat keempat kaki kuda hitam yang ditunggangi Mok Kiu-peng.

Melihat datangnya sapuan itu, Mok Kiu-peng membentak gusar, ia sentak tali kendali kudanya hingga embuat binatang tunggangan itu melompat ke udara, dengan cepat kuda itu melompat lewat di atas kepala Goan Kun-thian dan lolos dari babatan maut itu.

Tiga orang bandit yang kebetulan berdiri di belakangnya segera mengayunkan golok membacok.

Gagal dengan serangan pertamanya, Goan Kun-thian berguling lagi di tanah sambil membabat ke belakang, selapis cahaya golok berkelebat, kaki kuda tunggangan itu segera terpapas kutung membuat ketiga orang penunggangnya roboh terjungkal.

Di tengah kekalutan, tiba-tiba tampak sesosok bayangan melejit ke udara bagai seekor burung rajawali, begitu tiba di atas kepala Mok Kiu-peng, serangan langsung dilontarkan.

Agak tertegun Mok Kiu-peng menyaksikan kecepatan gerak orang itu, tanpa pikir panjang, tombaknya langsung ditusukkan ke tubuh sang penyerang.

Ternyata orang itu adalah si Tangan besi, dia sadar betapa gawatnya situasi, maka diambil keputusan untuk membekuk pentolannya lebih dulu, asal komandannya sudah tertawan, keempat ratus orang anak buahnya akan lebih mudah diatasi.

Tusukan tombak Mok Kiu-peng meluncur tanpa menimbulkan sedikit suara pun, si Tangan besi terkesiap, dia tahu kemampuan musuh cukup tangguh, jika harus berkelit dulu maka beberapa gebrakan kemudian baru ia punya kesempatan untuk membekuknya.
Berpikir begitu, lantas dia tangkap tusukan tombak itu dengan kedua belah tangannya.

Betapa kagetnya Mok Kiu-peng melihat tusukannya bukan saja berhasil dihindari musuh, bahkan pihak lawan sanggup menangkap tombaknya serta menekuknya hingga melengkung, dia tak menyangka di kolong langit terdapat manusia dengan kekuatan sehebat itu.

Sementara belum hilang rasa kagetnya, si Tangan besi sudah merangsek maju, mendadak tubuhnya mendak ke bawah, Mok Kiu-peng kontan merasakan datangnya tenaga dahsyat yang menghimpit tubuhnya, tak ampun badannya mencelat ke udara.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: