Kumpulan Cerita Silat

25/09/2009

Pendekar Baja (26)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 10:07 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

“Tapi hidup kita kan juga tidak jelek,” ujar si lelaki dengan tertawa.

“Justru tidak jelek, maka aku merasa khawatir,” ujar si perempuan. “Coba kau pikir, untuk apa bocah she Sim itu datang kemari? Jauh-jauh dia datang ke sini apakah cuma untuk pesiar saja?”

Lelaki itu menguap lagi dan berkata, “Masa tidak boleh datang main-main saja?”

“Ai, engkau ini sungguh tuan muda yang linglung,” omel si perempuan.

“Jika aku tidak linglung masakan bisa kecantol padamu?” kata si lelaki dengan tertawa.

“Huh, kalau engkau tidak linglung, mana bisa harta kekayaan keluargamu sebanyak itu kau ludeskan begitu?” kata si perempuan. “Masa engkau belum lagi tahu bahwa kedatangan bocah she Sim ini adalah atas suruhan Ong-hujin agar mengambil alih pengelolaan Koay-hoat-lim ini? Sebab itulah ketika kita tanya dia untuk keperluan apa dia datang kemari, bukankah dia menjawab dengan tidak jelas dan pakai alasan yang sukar dimengerti.”

Agaknya si lelaki jadi melengak, lalu berkata pula, “Ah, kukira tidak segawat itu…”

“Memangnya sudah kau lupakan kehidupan kita yang menderita selama beberapa tahun itu, mungkin kau lupa, tapi aku tidak, aku pun tidak ingin mengulangi hidup susah lagi,” kata si perempuan dengan gemas. “Jika dia datang untuk membikin periuk nasi kita pecah berantakan, betapa pun harus kita kerjai dia.”

“Ah, tidak, mana bisa jadi begitu, tampaknya orang she Sim itu bukanlah manusia demikian,” ujar si lelaki.

“Huh, jika kau pintar menilai orang, tentu dahulu engkau tidak tertipu,” kata si perempuan. “Pokoknya kalau tidak kau cari akal untuk menghadapi dia, terpaksa aku harus berdaya.”

Kembali si lelaki menguap sehingga ingus dan air mata sama merembes keluar, cepat ia mengeluarkan pipa tembakaunya untuk udut, lalu berkata, “Baiklah, sayang! Jika kau mau cari akal untuk menghadapi dia, silakan cari saja. Apa pun yang akan kau lakukan aku tentu setuju, asal saja jangan kau bikin kupakai topi hijau (lelaki yang bininya menyeleweng disebut memakai topi hijau).”

“Ai, dasar!” omel si perempuan sambil mencolek dahi si lelaki.

Setelah udut, agaknya semangat si lelaki lantas pulih kembali, mendadak ia merangkul pinggang si perempuan dan diciumnya, lalu direbahkan di tanah terus hendak melaksanakan tugas.

Perempuan itu meronta dan berteriak, “Oo, tidak, jang…jangan di sini.”

Di mulut bilang jangan tapi belum disuruh sudah lantas ambil posisi.

Pada saat itulah mendadak terdengar suara ngikik tawa orang.

Cepat perempuan itu mendorong si lelaki dan berkata, “Beng-cu dan Jun-sui datang, lekas bangun!”

Dengan terengah lelaki itu berkata, “Memangnya kenapa jika kedua genduk itu datang kemari? Mereka kan sudah pernah melihat juga adegan begini. Ayolah…lekas…”

Tapi dengan gesit seperti ular, perempuan itu memberosot keluar dari rangkulan si lelaki.

Rupanya Jun-sui dan Beng-cu juga sudah melihat mereka, keduanya tidak kejar-mengejar lagi.

Sambil membetulkan gelung rambutnya si perempuan tadi lantas muncul dari dalam hutan, bentaknya, “Budak gila, suruh kalian mengambil air, kalian keluyuran ke mana saja, baru pulang sekarang?”

“Bibi Jun-kiau, soalnya Enci Beng-cu mengusik saja sepanjang jalan,” segera Jun-sui mengadu.

“Wah, setan cilik, malah aku yang dituduh mengusiknya,” seru Beng-cu. “Dia sendiri sepanjang jalan terus omong yang tidak-tidak, katanya…”

“Katanya apa?” tiba-tiba tuan muda Li-siauya muncul dari dalam hutan dengan muka masam.

“O, tidak…” cepat Beng-cu menunduk sambil melelet lidah.

“Lekas menyeduh teh,” kata Li-siauya pula.

Jun-sui mengedipi Beng-cu, “Kutahu sebab apa Li-siauya marah, soalnya kita telah mengacaukan…”

Belum lanjut ucapannya ia terus berlari pergi sambil tertawa ngikik.

Setelah melintasi hutan dan menyeberangi sebuah jembatan kecil, tertampak tiga buah rumah dengan dinding papan hijau dan kerai bambu yang menutupi jendela, di balik kerai lamat-lamat sudah ada cahaya lampu.

Pintu tertutup, tiada sesuatu suara di dalam.

Setiba di sini langkah Jun-sui dan Beng-cu lantas dibikin perlahan.

Sambil menggigit bibir Jun-sui mendesis sambil menatap daun pintu, “Coba lihat, santap malam saja tidak makan lantas menutup pintu, apa saja yang mereka lakukan di dalam?”

“Ya, sungguh berengsek,” omel Beng-cu dengan muka merah.

“Jangan kau maki dia, jika engkau yang menemani Sim-kongcu, mungkin pintu akan kau tutup terlebih dini,” ujar Jun-sui dengan tertawa. “Dan kalau aku, bisa jadi tiga-hari-tiga-malam tanpa membuka pintu juga tidak menjadi soal.”

“Setan cilik, masakah nasi pun tidak kau makan?” omel Beng-cu sambil terkikik.

“Makan nasi? Apa artinya makan nasi?” jawab Jun-sui sembari mendekati pintu dengan langkah perlahan.

“He, setan cilik, kau…kau mau apa? Ingin mengintip?”

“Ssst,” Jun-sui memberi tanda jangan bersuara. “Jangan keras-keras, coba kau pun melihatnya.”

Muka Beng-cu tambah merah, “Tidak, aku tidak mau!”

Di mulut dia bilang tidak mau, tapi kakinya lantas melangkah ke dekat jendela.

Sekonyong-konyong pintu terbuka.

Seorang pemuda tampan berbaju ringan dan berkasut tipis muncul sambil menyapa, “Ah, kukira kucing, rupanya kedua Nona.”

Seketika Jun-sui dan Beng-cu melongo, tubuh kaku, mata juga kaku, mereka berdiri seperti patung dan memandang lurus padanya.

“Tentu kalian lelah menimba air, apakah perlu kubantu,” tanya pula si kongcu muda dengan tertawa.

“O, ti…tidak perlu, banyak terima kasih Sim-kongcu.” jawab Beng-cu dengan tergagap.

“Bila makan malam sudah siap, harap Nona suka memberi tahu,” kata Sim-kongcu itu.

Beng-cu mengiakan, mendadak ia membalik tubuh terus lari secepat terbang.

Dengan sendirinya Jun-sui ikut lari, sesudah sekian jauhnya baru Jun-sui bertanya, “Kenapa kau lari?”

“Aku tidak…tidak tahan,” jawab Beng-cu. “Ia pandang diriku begitu rupa, bila terpandang sekejap lagi, tentu aku akan semaput.”

“Mendingan engkau masih dapat bicara dengan dia, aku justru tidak sanggup bersuara sama sekali,” ujar Jun-sui. “Kau baru akan semaput, aku…aku boleh dikatakan sejak tadi sudah semaput.”

Sim-kongcu yang disebut mereka itu dengan sendirinya ialah Sim Long.

Dengan tersenyum Sim Long memandangi kepergian kedua genduk kenes itu. Ia merapatkan pintu lagi, maka di dalam rumah hanya tinggal dia dan Ci-hiang yang berbaring di tempat tidur sana.

Ci-hiang sudah bersolek dengan lebih cantik. Dandanannya sangat serasi, bajunya lunak dan enak dipakai, sikapnya yang kemalasan serupa seorang siocia, seorang putri atau nyonya muda keluarga hartawan, siapa pun pasti tidak menyangka dia hanya seorang genduk, sampai dia sendiri seolah-olah juga melupakan hal ini.

Saat itu, jari kakinya yang dicat warna merah dari getah bunga mawar itu sedang menggoda seekor kucing kecil berbulu putih tebal, kucing Persi yang meringkuk di ujung tempat tidur.

Mata Ci-hiang juga serupa mata si kucing lagi menatap Sim Long, tiba-tiba ia berkata dengan menghela napas, “Ai, apakah kau tahu aku hampir gila lantaran dirimu.”

“Oo, sebab apa?” jawab Sim Long.

“Sebab…sebab engkau sungguh seorang lelaki yang mahaaneh.”

“Aku sendiri merasa diriku sangat normal, di mana letak keanehanku?”

“Jika engkau tidak aneh, di dunia ini tentu tidak ada orang aneh lagi.”

“Di mana keanehanku? Hidungku tumbuh kurang benar? Atau mataku juling? Atau alisku tumbuh di bawah mata? Atau…”

“Hidungmu tidak aneh, matamu juga tidak aneh, cuma hatimu…”

“Di mana letak keanehan hatiku?”

“Jika hati manusia semuanya terjadi dari daging, hanya hatimu terbuat dari baja.”

“Dari mana datangnya baja? Ah, barangkali ada bandul timbangan yang kutelan?”

“Jika hatimu bukan terbuat dari baja, mengapa pada waktu berangkat sama sekali engkau tidak memberi tegur-sapa kepada Nona Cu, sungguh aku berduka baginya.”

“Jika toh harus berpisah untuk apa menyapanya? Biarlah tegur-sapa ini kusimpan saja sampai pulang nanti, bukankah akan lebih baik?”

Ci-hiang berkedip-kedip, katanya dengan tertawa, “Baiklah, anggap cukup baik alasanmu. Tapi…tapi sepanjang jalan ini engkau selalu berduduk saja di dalam kereta, melongok sekejap keluar saja tidak. Jika hatimu bukan terbuat dari baja, masa kau tahan?”

“Jika kulongok keluar jendela, bila kebetulan melihat orang yang ada sangkut pautnya denganku, mungkin aku takkan jadi datang ke sini, maka terpaksa aku tidak melongok keluar.”

“Baik, anggap kau benar, tapi…tapi sepanjang jalan aku tidur di sampingmu, dan engkau sama sekali tidak tergerak, apa lagi hatimu kalau bukan terbuat dari baja? Atau mungkin terbuat dari batu?”

“Jika aku tidak bergerak, engkau saja yang bergerak kan sama saja,” ujar Sim Long dengan tertawa.

Maka Ci-hiang menjadi merah, “Apa gunanya aku bergerak, sialan…Engkau serupa orang mampus saja, bahkan…bahkan tidak bisa membandingi kucing ini.”

Waktu jari kakinya menyungkit perlahan, benar juga kucing itu bersuara “meong” terus melompat ke dalam pangkuannya.

“Nah, coba lihat, mengapa engkau tidak meniru kucing ini?” kata Ci-hiang.

“Wah, mana boleh kutiru dia? Kucing ini kan betina?” ujar Sim Long dengan tertawa.

Serentak Ci-hiang melompat bangun dan menatap Sim Long dengan mendongkol.

Sampai sekian lama ia melotot, akhirnya ia menghela napas panjang dan menggerutu, “Wahai Sim Long, orang macam apakah dirimu ini, sungguh aku tidak mengerti.”

“Sampai aku sendiri pun tidak mengerti, tentu saja engkau terlebih tidak mengerti,” ujar Sim Long dengan tertawa.

“Ai, orang seperti dirimu ini, sungguh aku tidak tahu mengapa Hujin dapat memercayaimu.”

“Yang tidak dipercayai dia seharusnya dirimu,” kata Sim Long.

“Huh, jangan kau bicara demikian, memangnya engkau benar menyukai dia? Hm, aku tidak percaya. Engkau lagi berdusta padanya. Pada suatu hari tentu akan kubongkar kepalsuanmu.”

“Jika dia yang menipuku, apakah kau mau membongkar kepalsuannya?”

“Dia menipumu dalam hal apa?”

“Coba jelaskan. Duta Koay-lok-ong yang banci itu kan sudah jelas kabur dengan menggondol Pek Fifi, mengapa dia tetap bilang si banci masih dipenjarakan olehnya? Memangnya dia sengaja menghendaki si banci membongkar rahasiaku di depan Koay-lok-ong, bukankah maksud tujuannya hanya ingin supaya aku bertempur mati-matian dengan Koay-lok-ong?”

Air muka Ci-hiang ternyata tidak berubah, tuturnya dengan tenang, “Caramu berpikir ternyata sangat lucu, namun engkau telah salah duga.”

“Di mana letak salah dugaku?” tanya Sim Long.

“Bukanlah engkau orang yang pintar?”

“Orang pintar terkadang juga bisa keblinger.”

“Kau tahu meski benar si banci itu sudah kabur, tapi Hujin tidak berdusta padamu, ia bilang si banci pasti takkan bertemu dengan Koay-lok-ong untuk selamanya, hal ini memang benar.”

“Jika dia berhasil kabur, masakah tidak dapat bertemu dengan Koay-lok-ong?”

“Orang yang kabur kan juga bisa mati?”

“O, maksudmu si banci sudah keracunan dan sebelum bertemu dengan Koay-lok-ong dia akan mati lebih dulu serupa orang-orang yang baru tiba di Jin-gi-ceng dan segera mati itu?”

“Jadi engkau sudah paham sekarang?”

“Aku tetap tidak paham,” ujar Sim Long. “Mengapa ia membiarkan Pek Fifi ikut dibawanya ke tempat Koay-lok-ong, memangnya dia sengaja menggunakan ‘Bi-jin-keh’ (Akal Wanita Cantik) untuk meruntuhkan Koay-lok-ong?”

“Bisa jadi begitu,” ujar Ci-hiang.

Kembali Sim Long menghela napas, “Cuma kasihan pada Pek Fifi, dia sebenarnya seorang anak perempuan suci bersih.”

Mendadak mata Ci-hiang terbelalak. “Kau suka padanya?”

“Tidak boleh kusuka padanya?”

“Boleh…boleh…” mendadak Ci-hiang tertawa nyaring hingga terpingkal-pingkal.

Sim Long tersenyum, katanya, “Kutahu kalian tidak percaya kepada siapa pun, sampai Coh Bin-kim dan Li Ting-liong suami-istri yang bekerja bagimu juga tetap kalian kelabui, mereka sama sekali tidak tahu untuk apa kudatang kemari, bahkan mereka sendiri tidak tahu untuk apa mereka datang ke sini.”

“Jika mereka tahu, siapa yang berani menjamin mereka takkan membocorkan rahasia Koay-hoat-lim kepada Koay-lok-ong?” kata Ci-hiang. “Lebih-lebih si Jun-kiau itu…Hm, perempuan semacam itu, siapa yang percaya padanya pasti celaka.”

“Dirimu bagaimana?” tanya Sim Long.

“Boleh coba kau terka,” jawab Ci-hiang dengan tersenyum manis.

“Kurasa…” belum lanjut ucapan Sim Long, mendadak ia melompat ke pintu sambil menarik daun pintu.

Benar juga, Jun-kiau yang setengah baya itu ternyata berdiri di luar pintu…

*****

Rupanya makan malam sudah siap.

Santapan malam yang padat, araknya juga pilihan.

Coh Bin-kim memang ahli pencampur arak. Pada waktu mencampur arak, sikapnya secermat tabib sakti yang sedang memegang nadi pasiennya, seluruh perhatiannya tercurah ke dalam cawan arak.

Dandanannya sangat sederhana, rambutnya juga tidak teratur. Bila ia berdiri di samping Li Ting-liong, tentu orang akan mengira dia adalah pesuruh Tuan Muda Li kita.

Namun wajahnya tetap dingin, wajah yang tidak ada senyuman itu kelihatan angkuh, jika melulu melihat wajahnya, orang tentu mengira Li Ting-liong adalah budaknya.

Sim Long memandangnya tertawa, katanya, “Sebelum bertemu, sungguh tak kusangka Anda adalah orang semacam ini. Aku pun mempunyai seorang teman tukang minum, dia sama sekali berbeda daripada Anda.”

“Aku bukan tukang minum,” kata Coh Bin-kim dengan ketus.

“Oo?!” melengak juga Sim Long.

Li Ting-liong lantas menukas, “Meski Coh-heng ini ahli mencampur arak, tapi selain mencicipi pada waktu mencampur, biasanya sama sekali dia tidak suka minum.”

“Jika Coh-heng tidak suka minum arak, mengapa suka mencampur arak?” tanya Sim Long dengan geli.

“Minum arak dan mencampur arak adalah dua hal tersendiri,” jawab Coh Bin-kim dingin. “Minum arak hanya main-main saja, mencampur arak adalah seni. Bila dapat mencampur beberapa macam arak jelek menjadi minuman enak, itulah pekerjaan yang menyenangkan. Hal ini sama halnya seorang pelukis mengatur warna lukisannya. Bilakah Anda pernah melihat seorang pelukis makan lukisan buah karya sendiri?”

Sim Long tercengang juga oleh komentar orang, ia berkeplok tertawa dan berkata, “Haha, ucapan bagus, perumpamaan yang tepat!”

“Dia memang seorang ajaib,” tukas Jun-kiau mendadak sambil tertawa nyekikik.

Pada waktu minum arak Li Ting-liong tampak sangat bersemangat, ia angkat cawan ke kanan dan ke kiri tanpa berhenti, sama sekali tidak dilihatnya bahwa kaki Jun-kiau telah menyelonong ke atas kaki orang “ajaib” ini.

Namun Sim Long dapat melihatnya.

Selain minumnya cepat, cara menuang Li Ting-liong juga tidak kurang cepatnya, dengan sendirinya ia terlebih tidak tahu bahwa sebelah tangan Jun-kiau telah menggerayangi tangan Sim Long di bawah meja.

Hal ini telah dilihat oleh Ci-hiang, mendadak ia mendengus, “Hm, sungguh sayang.”

“Sayang apa?” Jun-kiau berlagak ingin tahu.

“Sayang seorang hanya dilahirkan dengan dua tangan dan dua kaki, sungguh terlalu sedikit,” kata Ci-hiang, “Umpama dirimu, Nona Jun-kiau. Jika…jika engkau dilahirkan dengan empat tangan dan empat kaki, wah, alangkah senangnya.”

Betapa tebalnya kulit muka Jun-kiau tidak urung merah juga.

Ci-hiang mendengus pula, “Nona Jun-kiau, mengapa mukamu menjadi merah? Ah, jangan-jangan mabuk?…Ya, pasti sudah waktunya kita angkat kaki!”

Segera ia menarik Sim Long dan diajak keluar.

Sim Long menggeleng kepala dengan tertawa sesudah di luar, “Meng…mengapa…”

“Jangan lupa, saat ini aku menyamar sebagai binimu,” kata Ci-hiang. “Apakah bini tua atau bini muda aku harus bertindak demikian, kalau tidak kan tidak cocok lagi?”

“Untung aku tidak menikahimu benar-benar,” ujar Sim Long sambil menyengir.

Dan begitu Sim Long dan Ci-hiang angkat kaki seketika Jun-sui lantas mengomel, “Huh, rase garang, tentu dia tidak sabar menunggu lagi!”

Wajah Jun-kiau yang merah berubah menjadi masam, dampratnya, “Siapa suruh kau banyak mulut? Ayo lekas membawa Li-siauya pulang ke kamar.”

Jun-sui memicingkan sebelah mata dan berucap, “Malam ini Siauya tentu takkan mendusin lagi, bibi jangan khawatir.”

Lalu ia tarik Beng-cu, keduanya pergi dengan memapah Li Ting-liong.

“Setan…setan alas!” omel Jun-kiau. Makiannya ternyata bernada genit dan menggiurkan, rupanya makiannya itu selain ditujukan kepada Jun-sui juga dialamatkan kepada Coh Bin-kim.

Sembari memaki ia pun menjatuhkan diri dalam pangkuan orang she Coh itu.

Tapi Coh Bin-kim hanya memandangnya dengan dingin serupa orang yang tidak dikenalnya.

“Apa yang kau pandang? Memangnya tidak pernah kau lihat?” tanya Jun-kiau dengan senyum memikat.

“Memang belum pernah kulihat,” kata Coh Bin-kim.

“Ai, dasar lelaki tidak punya perasaan,” omel Jun-kiau. “Memangnya bagian mana di tubuhku yang tidak pernah kau lihat sampai ratusan kali?”

“Huh, baru sekarang kukenalmu dengan jelas,” jengek Coh Bin-kim.

“Eh, ada apa ini?” ujar Jun-kiau. “Barangkali hari ini kau makan obat sehingga caramu bicara selalu berbau kecut?”

“Coba jawab, apakah setiap lelaki tentu kau taruh minat padanya?” tanya Coh Bin-kim.

Jun-kiau tertawa, “Ah, kiranya engkau bukan minum obat melainkan minum cuka. Ai, dasar tolol, masakah tidak dapat kau rasakan bila mana aku ada main dengan bocah itu, kan juga demi kepentinganmu.”

“Hm, demi kepentinganku?!”

“Coba pikir, kita bertiga hidup aman tenteram di sini, sekarang bocah she Sim itu datang, jika kita lantas dienyahkan, kan…kan bisa berabe.”

“Huh, bila engkau sudah menaksir dia, tentu saja banyak alasanmu.”

“Jangan khawatir,” ujar Jun-kiau dengan tertawa. “Bocah she Sim itu sudah tergoda oleh budak gasang Ci-hiang itu, andaikan aku mau juga sukar turun tangan…”

“Maka engkau sangat kecewa bukan?” jengek Coh Bin-kim.

“Untung masih ada akal lain meski akal ini gagal.”

“Memangnya dapat kau perkosa dia?”

“Bukan perkosa, tapi dapat kubunuh dia.”

“Bunuh dia? kau berani?” tertarik juga Coh Bin-kim. “Tapi bila diketahui Ong-hujin…”

“Dengan sendirinya aku tidak perlu turun tangan sendiri,” ujar Jun-kiau dengan tertawa.

“Habis siapa yang hendak kau suruh membunuhnya?”

“Masa kau lupa siapa yang akan datang ke sini besok?”

“O, maksudmu…Koay-lok-ong?”

“Betul, selain Koay-lok-ong, siapa pula yang dapat membunuh orang dengan sesukanya. Jika bocah she Sim itu dibunuh Koay-lok-ong, siapa pula yang berani membelanya?”

“Mana bisa Koay-lok-ong membunuh dia?”

“Dengan sendirinya aku mempunyai akal, jangan khawatir,” kata Jun-kiau lembut. “Sekarang engkau tidak perlu memikirkan urusan lain, tapi peluklah aku seeratnya…ya, begitu…lebih erat lagi…”

Sementara itu Ci-hiang telah menyeret Sim Long kembali ke tempat tinggalnya, setiba di depan pintu baru dilepaskan. Tapi sehabis dia membuka pintu dan menoleh, Sim Long sudah menghilang lagi.

Tentu saja Ci-hiang mendongkol, terpaksa ia menunggu dengan geregetan.

Ketika cahaya bulan mulai memancar dengan gemilangnya, mendadak Sim Long melompat masuk menerobos jendela.

Dengan gemas Ci-hiang menggerutu, “Baru sekarang kutahu betapa pahitnya seorang istri menunggu kepulangan suami di rumah.”

“Menjadi suami juga tidak enak, meleng sedikit tentu akan pakai topi hijau, maka lebih baik tidak kawin, bahkan lebih baik jangan mendekati orang perempuan,” kata Sim Long.

“Kenapa, memangnya perempuan sama dengan ular berbisa?”

“Meski bukan ular berbisa, tapi kebanyakan juga makhluk aneh.”

“Makhluk aneh? Di mana letak keanehan orang perempuan?” tanya Ci-hiang.

“Seorang perempuan biasanya mungkin kelihatan lemah lembut, tapi bilamana dianggap kepentingannya dilanggar orang lain, seketika dia bisa berubah menjadi lebih keji daripada ular.”

“Eh, barangkali engkau habis ketemu setan, maka begitu pulang lantas bicara kata-kata setan begitu?”

“Meski tidak ketemu setan, tapi telah kudengar pembicaraan setan yang menarik,” tutur Sim Long dengan tersenyum.

Serentak Ci-hiang melompat bangun dengan muka merah, tanyanya, “Ah, kiranya kau pergi mengintip dan mencuri dengar begituan!”

“Ai, dasar perempuan, mengapa perempuan selalu menaruh minat besar terhadap urusan begituan?” keluh Sim Long. “Cuma sayang, yang kudengar bukanlah apa yang kau sangka…”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung, “Yang kudengar adalah ada rencana orang hendak membunuhku.”

“Jun-kiau maksudmu? Apakah dia sudah gila?” seru Ci-hiang.

“Sebenarnya hal ini juga tidak dapat menyalahkan dia,” ujar Sim Long. “Maksud kedatangan kita tidak jelas, pantas juga mereka berprasangka.”

“Baik, akan kulihat dengan cara bagaimana dia akan membunuhmu.”

“Dengan sendirinya dia takkan turun tangan sendiri. Besok juga Koay-lok-ong akan datang kemari,” tutur Sim Long.

“Wah, lantas bagaimana baiknya? Kusadari memang tidak seharusnya kuberi tahukan namamu padanya, segala urusan bisa runyam.”

Serentak Ci-hiang melompat turun dari tempat tidur, memakai baju terus hendak pergi.

“Kau mau pergi ke mana?” tanya Sim Long.

“Ke mana? Dengan sendirinya hendak kusembelih dia lebih dulu.”

“Nah, betul tidak perkataanku tadi. Asalkan tahu kepentingannya dilanggar orang, seketika perempuan bisa berubah menjadi sangat keji dan berbisa. Jun-kiau begitu, kau pun sama.”

“Tidak kau bunuh dia, memangnya harus menunggu dia merusak urusan kita?”

“Dia takkan merusak urusan apa pun.”

“Sebab apa?”

“Dia punya akal, aku kan juga ada akal,” kata Sim Long. “Aku lagi bingung cara bagaimana supaya dapat mendekati Koay-lok-ong, sekarang jadi kebetulan, dapat kuperalat akalnya…”

Sampai di sini mendadak ia berhenti terus menjatuhkan diri ke tempat tidur, selimut ditarik dan hendak tidur.

“Ayolah katakan, sambung terus!” pinta Ci-hiang.

“Tidak boleh kukatakan sekarang, rahasia alam tidak boleh kubeberkan.”

Waktu Ci-hiang bertanya pula, Sim Long ternyata sudah tidur, meski didorong dan digoyang tetap tidak mau mendusin, serupa batu belaka.

Akhirnya Ci-hiang letih sendiri, sambil mengomel terpaksa ia harus tidur juga. Tapi ketika mendusin, Sim Long sudah menghilang.

Pagi itu hawa sejuk, dedaunan masih basah oleh air embun, suara burung berkicau merdu.

Sim Long bersedekap dan berjalan-jalan di tengah hutan, tampaknya sangat iseng dan juga gembira. Sekalipun dalam hatinya menanggung beribu persoalan yang sukar tertampak dari luar.

Mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang cepat menerobos hutan.

Sim Long tersenyum dan bergumam, “Pagi amat datangnya.”

Sekali melejit, ia melompat ke atas dahan pohon yang cukup tinggi, ketika ia memandang ke bawah, tertampaklah muncul dua ekor kuda yang dilarikan secepat terbang.

Kedua penunggangnya memakai mantel hijau bersulam bunga emas dan berkibar tertiup angin. Tangkai pedang tampak menongol di atas pundak, pita merah hiasan tangkai pedang juga beterbangan tertiup angin, dipandang dari atas sungguh sebuah lukisan yang indah.

Kedua orang ini selain mahir menunggang kuda, tampaknya juga sudah hafal jalannya, mereka menyusuri hutan ini dan langsung menuju ke tempat tinggal Li Ting-liong.

Jun-kiau sudah pulang di rumah, dia berada di loteng dan sedang melambaikan sehelai selendang sutra terhadap kedua pendatang.

Dari jauh terlihat oleh Sim Long kedua penunggang kuda itu turun di depan rumah dan disambut Jun-kiau dengan akrabnya, ketiganya bicara dan tertawa, entah apa yang dipercakapkan mereka, mendadak sikap kedua penunggang kuda itu berubah.

Seorang di antaranya seperti berteriak dengan beringas, “Apa betul?”

Jun-kiau tampak mengangguk. Serentak kedua penunggang kuda lantas membalik, arah yang dituju adalah tempat tinggal Sim Long dan kebetulan Sim Long memang sedang menunggunya di tengah jalan.

Saat ini ia yakin benar kedua penunggang kuda ini pasti anak buah Koay-lok-ong, anggota ke-36 penunggang kuda Angin Ribut. Mereka masih muda dan tangkas, dari langkah mereka yang gesit, jelas kungfu mereka tidak lemah. Tapi Sim Long tidak tahu sesungguhnya Jun-kiau berkata apa kepada mereka.

Dilihatnya kedua orang itu makin mendekat. Ketika kedua orang sampai di bawah pohon barulah Sim Long berseru mendadak dengan tertawa, “Haha, apakah kalian mencari orang?”

Kedua orang itu terkejut dan serentak berhenti sambil meraba pedang, mereka mendongak, gerak-gerik kedua orang sama, bahkan suara bentakan kedua orang dicetuskan berbareng.

“Siapa?” demikian bentak mereka, dan baru bersuara segera mereka melihat Sim Long yang menongkrong di dahan pohon itu.

Dahan pohon bergoyang-goyang tertiup angin, tubuh Sim Long juga ikut terbuai kian-kemari seperti setiap saat dapat jatuh ke bawah.

Dengan sendirinya anak buah Koay-lok-ong dapat membedakan kualitas lawan mereka, tapi tidak menjadi gugup.

Diam-diam Sim Long memuji, “Nyata di bawah panglima yang lihai tidak ada prajurit yang lemah.”

Dilihatnya usia kedua orang itu baru likuran, semuanya berhidung tinggi, bermata besar, dandanan kedua orang juga serupa, mantel hijau bersulam emas, berbaju satin ringkas, bagian dada baju masing-masing sama terhias sebuah cermin pelindung hulu hati, hanya huruf yang terukir pada cermin masing-masing tidak sama, orang sebelah kiri pakai huruf “tujuh” dan yang kanan tertulis “delapan.” Rupanya inilah nomor pengenal barisan ke-36 jago Angin Ribut.

“Jago Angin Ribut, sungguh gagah perkasa!” ucap Sim Long dengan tertawa.

“Siapa kau?” bentak jago nomor tujuh tersebut.

“Jika kalian hendak mencari orang, tentu diriku ini yang hendak kalian cari,” jawab Sim Long.

Kedua orang saling pandang sekejap, tangan yang meraba pedang sudah siap memegang tangkai pedang.

“Engkau inikah orang yang hendak mencari ongya kami?” bentak si jago kedelapan.

Diam-diam Sim Long merasa geli, semula tidak diketahuinya apa yang dikatakan Jun-kiau kepada mereka, kiranya perempuan itu mengadu bahwa dirinya hendak mencari perkara kepada Koay-lok-ong. Meski cara mengadu domba ini sangat sederhana, tapi juga paling efektif untuk membunuh orang dengan meminjam tangan orang lain.

Sim Long tertawa, jawabnya kemudian, “Jika kubilang bukan, tentu kalian takkan percaya, bila kujawab ya, kalian juga belum tentu mau percaya. Maka ya atau bukan boleh terserah kepada keputusan kalian sendiri.”

Kembali kedua orang itu saling mengedip mata dan berucap berbareng, “Bagus, bagus sekali!”

Lalu mereka terus membalik tubuh dan melangkah pergi.

Hal ini berbalik di luar dugaan Sim Long malah. Selagi ia tercengang, sekonyong-konyong terdengar suara “crit-crit” dua kali. Dua batang panah kecil menyambar dari balik mantel kedua orang itu langsung mengarah tenggorokan Sim Long.

Sambaran kedua anak panah ini cukup kuat, tapi sekali tangan Sim Long meraih kedua panah itu sudah terpegang olehnya. Ia tersenyum dan berkata, “Haha, terima kasih atas hadiah kalian ini.”

Ketika tangannya bergerak lagi, kontan kedua anak panah itu menyambar balik ke sana, menyambar terlebih cepat dan lebih keras.

Cepat kedua penunggang kuda itu menggeser mundur, “creng”, pedang lantas dilolos.

Tapi kedua anak panah itu seperti sudah tahu tempat pedang mereka, baru terlolos, “tring-tring”, ujung pedang mereka tepat terkena panah, pedang tergetar dan menerbitkan suara mendenging.

Di tengah suara mendenging itu sinar pedang lantas berkelebat juga, pedang yang satu menebas dahan dan pedang lain menebas kaki.

“Haha, 13 jurus Angin Ribut memang boleh juga,” seru Sim Long tertawa.

Baru habis ucapannya, dahan pohon pun putus, namun kakinya tidak putus, dengan enteng dan anteng ia sudah duduk lagi di dahan pohon yang lain dan tersenyum terhadap kedua lawan.

Kedua jago Angin Ribut itu tidak mampu tertawa lagi, muka keduanya berubah kelam, mereka sadar kungfu orang jauh di atas mereka.

Akan tetapi ke-36 jago Angin Ribut anak buah Koay-lok-ong biasanya cuma kenal maju dan tidak boleh mundur, apalagi ke-13 jurus Angin Ribut andalan mereka itu baru dikeluarkan satu jurus saja.

Baru saja kaki mereka menyentuh tanah, serentak mereka melompat lagi ke atas, sinar pedang bertaburan, secepat kilat mereka menebas dari kanan dan kiri, mengarah dada dan punggung Sim Long.

Mendadak tubuh Sim Long anjlok ke bawah, tepat menerobos di tengah sambaran sinar pedang, malahan kedua tangan Sim Long tidak menganggur, berbareng ia tolak bawah kaki kedua orang itu.

Ketika Sim Long hinggap di tanah, kedua jago Angin Ribut itu berbalik ditolak ke atas dahan pohon, terdengar suara gemeresak, sebagian ranting pohon sama patah diterjang mereka.

Meski agak kelabakan, kedua orang itu tidak menjadi bingung, sinar pedang lantas menusuk ke bawah dengan lebih cepat, keji dan jitu.

Tapi Sim Long lantas melayang lagi ke atas di tengah sambaran pedang, ketika kedua orang tadi berada di bawah, Sim Long sendiri sudah berduduk kembali di atas dahan pohon, katanya dengan tersenyum, “Lain kali bila melompat ke atas lagi hendaknya hati-hati atas mantel kalian, kan sayang bila terobek.”

Kedua jago Angin ribut itu meraung murka, sekali lagi ia menerjang ke atas.

Dan begitulah seterusnya sampai tujuh atau delapan kali naik-turun, ujung baju Sim Long tidak tersentuh, sebaliknya mantel kedua jago Angin Ribut telah robek tak keruan karena kecantol oleh ranting pohon.

Tentu saja kedua orang itu mandi keringat, mata merah beringas, ikat kepala juga penuh ranting kecil, bahkan sepatu mereka sempat dicopot oleh Sim Long.

Tapi dengan nekat kedua orang itu masih ingin mengadu jiwa.

Sim Long mengangguk dan memuji, “Ehm, boleh juga kalian!”

Sekali ini dia tidak menunggu orang menerjang ke atas, tapi terus melompat turun.

Kedua orang itu berbalik terkejut, namun pedang mereka tetap berputar dengan teratur dan menyerang tanpa kendur sedikit pun.

Serangan sekarang baru benar-benar kungfu andalan mereka, betapa cepat gerak serangan mereka sehingga sukar diketahui ke arah mana pedang mereka menusuk.

Namun Sim Long tidak perlu mengetahui arah serangan mereka. Mendadak kedua telapak tangan mencakup, tahu-tahu pedang mereka terjepit, “krek-krek”, pedang mereka sama patah.

Waktu tangan Sim Long membalik, kedua potong pedang patah yang dipegangnya terus menyambar ke sana, “cret-cret”, dengan tepat ujung pedang patah itu menancap di ikat kepala kedua jago Angin Ribut.

Betapa nekat kedua orang itu, sekarang mereka pun tidak berani melawan lagi, mereka memandang Sim Long dengan melongo sambil memegang pedang kutung. Sungguh mereka tidak habis mengerti dari mana pemuda yang berusia sebaya mereka memiliki kungfu sakti begini?

Sim Long juga memandang mereka dengan tersenyum, “Bagaimana, mau berkelahi lagi?”

“Tidak,” jawab kedua orang itu berbareng setelah saling pandang sekejap.

“Jika tidak, boleh pulang saja,” kata Sim Long.

“Baik, kami pulang,” ucap kedua orang itu, mendadak mereka memutar balik ujung pedang patah terus menikam dada sendiri.

Agaknya Sim Long sudah menduga akan tindakan mereka ini, serentak ia pun turun tangan, “trang”, kedua pedang patah orang itu tergetar jatuh ke tanah.

“Ken…kenapa kau…” seru kedua orang itu dengan suara parau.

“Tidak menang biar mati, anak buah Koay-lok-ong sungguh keras hati,” kata Sim Long.

“Pedang ada orang ada, pedang patah orang gugur, inilah peraturan perguruan kami,” teriak salah seorang jago Angin Ribut itu dengan beringas.

Sim Long tersenyum, “Tapi apa alangannya kalian pulang dan lapor kepada ongya kalian bahwa orang yang mengalahkan kalian ini bernama Sim Long, kuyakin ongya kalian pasti takkan marah kepada kalian.”

“Sim Long?!” kedua orang itu mengulang nama itu sambil saling pandang sekejap. Habis itu mendadak ia membalik tubuh terus berlari pergi.

*****

Cahaya sang surya memancar ke dalam kamar, menyinari tubuh Ci-hiang yang masak dan padat itu, tubuh yang penuh gairah.

Hampir telanjang bulat tubuhnya, ia memeluk selimut erat-erat dan meringkuk di tempat tidur dengan penuh harap.

Waktu Sim Long masuk ke kamar, ia pandang tubuh orang yang mulus dengan sinar matanya yang kehausan itu, tapi bagi pandangan Sim Long tubuh yang menggiurkan ini serupa sepotong kayu saja, ia cuma tersenyum dan menyapa, “He, engkau belum bangun?”

Dengan pandangan mesra Ci-hiang berkata, “Aku sedang menunggu dirimu, masa engkau tidak tahu, bilamana kau tolak undangan demikian, pasti engkau seorang mati.”

“Selama ini masa belum lagi kau kenal orang mati seperti diriku?” jawab Sim Long.

Serentak Ci-hiang melompat bangun, selimut dilemparkan dan diinjak-injak, teriaknya, “Orang mampus, orang mampus!”

Sim Long lantas berduduk dan memandangnya dengan tersenyum, “Jangan kau benci padaku, tapi lebih baik berdandanlah yang betul. Segera Koay-lok-ong akan datang, kabarnya dia tidak pernah menolak undangan setiap wanita cantik.”

“Benar dia akan datang?” seru Ci-hiang.

“Ya, kedatangannya mungkin terlebih cepat daripada perkiraan.”

“Dari mana kau tahu?”

“Sudah kulihat dua orang jago Angin Ribut anak buahnya.”

“Dan tentu si genit Jun-kiau itu sudah mengembuskan kebusukanmu kepada mereka dan anak buah Koay-lok-ong itu mana dapat melepaskanmu.”

“Ya, mereka memang tidak tinggal diam, cuma sayang, akulah yang telah mengenyahkan mereka dan suruh mereka melapor kepada Koay-lok-ong…”

“Hah, mana boleh begitu,” seru Ci-hiang. “Jika Koay-lok-ong mengetahui engkau inilah Sim Long, mana dia bisa mengampunimu, mungkin begitu dia datang segera engkau akan dibunuhnya.”

“Mengapa dia membunuhku?”

“Tolol,” omel Ci-hiang. “Betapa tenar namamu, begitu banyak mata-telinga Koay-lok-ong yang tersebar di daerah Tionggoan, masakah dia tidak memperoleh laporan tentang dirimu?”

“Jika dia tahu siapa diriku, dia yang terkenal pencinta orang pandai pasti akan berusaha merangkul diriku, bila aku menolak baru ada kemungkinan dia akan membikin susah padaku.”

“Tapi dia pasti takkan berusaha membeli dirimu,” ujar Ci-hiang.

“Sebab apa?”

“Sebab ia pasti tahu engkau tidak dapat dibeli.”

“Mengapa tidak, masakah aku orang begitu baik? Tokoh Kangouw zaman ini mana ada yang terlebih banyak dimaki orang daripada diriku? Umpama dirimu, mungkin kau pun tak dapat memastikan aku ini orang baik atau orang busuk.”

Ci-hiang jadi melenggong, “Ah, kau…ini…”

“Nah, jika kau pun tidak dapat memastikan aku ini baik atau busuk, apalagi Koay-lok-ong? Untuk itu dia pasti akan menguji diriku, dan sekali menguji tentu jadi.”

“Tapi…tapi caramu ini sangat berbahaya, kukhawatir…”

“Tidak perlu kau khawatir bagiku, aku takkan mati,” ujar Sim Long tertawa.

Ci-hiang mengentak kaki, “Apa, kukhawatir bagimu? Persetan! Biarpun kau mati dicencang orang pun aku tidak peduli.”

Sim Long tertawa, “Wah, dapat dibenci perempuan cantik begini, menyenangkan juga rasanya. Cuma sayang kebanyakan lelaki di dunia ini jarang yang dapat menikmati kesenangan begini…”

Mendadak ia berlari ke sana dan menarik pintu. Ternyata Jun-kiau kembali berdiri di luar lagi.

“Hahaha!” Sim Long tertawa. “Apakah kau datang mengundang kami makan siang? Apakah tidak terlalu dini makan siang sekarang?”

Jun-kiau berdiri kaku di tempatnya dengan muka merah, dengan tergegap ia menjawab, “O, ti…tidak, kudatang melihat…”

“Melihat apakah aku mati atau belum, begitu bukan?”

“Ah, Sim-kongcu jangan…jangan bergurau,” sahut Jun-kiau dengan likat. “Tentu…tentu semalam Sim-kongcu dan Nona Hiang tidur dengan nyenyak.”

Ci-hiang mengejek, “Tentu saja kami tidur dengan nyenyak, mungkin Nona Jun-kiau yang tidak dapat tidur. Coba, kelopak matamu sampai hitam seluruhnya. Wah, terlalu letih terkadang juga membuat orang tidak dapat tidur nyenyak.”

Biasanya Jun-kiau tidak mau manda disindir orang, tapi sekarang terpaksa ia bungkam.

“Eh, tamu tentu sudah hampir tiba, kukira Nona Jun-kiau perlu pulang untuk mengatur seperlunya,” kata Sim Long.

“Ya, aku permisi pulang,” kata Jun-kiau, lalu ia melangkah pergi dengan pinggang meliuk-liuk.

“Eh, tolong suruh Nona Jun-sui kemari, ingin kuminta dia mengiringiku berjalan-jalan,” seru Sim Long.

Jun-kiau mengiakan dari jauh…

Jantung Jun-sui berdetak keras. Bahwa Sim-kongcu minta dia mengiringinya berjalan-jalan, apakah ini bukan dalam mimpi?

Cuma sayang, si genit Ci-hiang selalu ikut di samping Sim-kongcu. Mengapa dia tidak sakit perut mendadak? Begitulah Jun-sui merasa geregetan.

Suasana tenang, pemandangan indah, angin meniup semilir, sinar sang surya gilang-gemilang, burung berkicau merdu.

Hati Jun-sui serasa dibuai dalam mimpi, jika Sim Long bertanya baru dia menjawab, sungguh ia ingin melupakan masih ada orang ketiga yang berada di tengah mereka.

Sekonyong-konyong suara roda kereta bergemertak di luar hutan sana. Sederet kereta kuda melintas ke kaki gunung sana.

Kereta kuda itu bercat hitam gilap, keretanya sendiri tidak ada hiasan apa-apa, tapi sekali pandang siapa pun tahu penumpang kereta itu pasti bukan sembarang orang.

Kuda penarik kereta tinggi besar, gagah perkasa larinya cepat, langkahnya enteng, jelas kuda bibit unggul dari padang rumput.

Sais kereta berbaju sutra biru safir dan duduk tenang di tempat kasir sambil memegang tali kendali dengan santai.

Di belakang dan depan kereta masih ada delapan ekor kuda bagus lagi, kedelapan penunggangnya lelaki kekar berbaju biru, semuanya gagah perkasa, dan jelas tidak lemah kungfunya.

“Hebat benar orang ini!” terkejut juga Sim Long memandang kereta besar ini.

“Jangan-jangan Koay-lok-ong sudah datang.” seru Ci-hiang.

“Koay-lok-ong?” jengek Jun-sui. “Hm, bila Koay-lok-ong datang, suasana serupa gempa bumi dan langit seperti mau ambruk, mana bisa aman seperti ini. Agaknya Nona Hiang terlalu memandang rendah Koay-lok-ong.”

“Habis siapa kalau bukan Koay-lok-ong,” tanya Ci-hiang.

“Biar kukatakan juga tidak kau kenal,” jawab Jun-sui.

“Kenapa tidak coba kau katakan,” ujar Sim Long dengan tertawa.

Jun-sui lantas tertawa manis, tuturnya, “Orang ini bernama The Lan-ciu.”

Diam-diam Ci-hiang mendongkol, ia tanya tidak digubris, ditanya Sim Long lantas dijawabnya, sungguh ia ingin menampar muka Jun-sui.

“The Lan-ciu? Orang macam apakah dia? Hebat benar perbawanya?” ujar Sim Long.

“Konon keluarga The adalah keluarga hartawan turun-temurun di daerah sini, hampir semua kebun buah-buahan di Lanciu sini adalah milik keluarga The, kata orang kekayaannya sanggup menandingi milik negara,” tutur Jun-sui.

Ketika kereta tadi lewat belum lama, debu mengepul lagi di jalan raya sana.

Rombongan kereta ini tampaknya jauh lebih kereng daripada kereta The Lan-ciu tadi. Dua kereta besar dengan 16 ekor kuda penarik, kereta berwarna emas dan memantulkan cahaya menyilaukan mata.

Kereta ini berlapiskan emas, bahkan pelana kuda, roda kereta dan bagian lain, sampai tangkai cambuk yang dipegang kusir juga bersepuh emas.

Cambuk menggelegar, lelaki yang berbaju satin bersulam benang emas tampak gagah dengan membusungkan dada sambil membentak-bentak sepanjang jalan.

Sim Long tertawa, ucapnya, “Tampaknya bagian yang dapat disepuh emas seluruhnya disepuhnya emas, hanya sayang muka mereka tidak disepuh sekalian, kalau tidak kan serupa patung di dalam kelenteng.”

Jun-sui tertawa, katanya, “Emas di rumahnya memang terlalu banyak.”

“Orang macam apa pula dia?” tanya Sim Long.

“Konon orang ini asalnya cuma seorang belantik sapi, entah bagaimana terjadinya, akhirnya ia menemukan beberapa tambang emas sehingga rumahnya penuh tertimbun emas, sejak itu namanya yang berbau kuli lantas berganti menjadi Ciu Thian-hu atau Ciu yang diberi rezeki oleh langit.”

“Haha, ternyata seorang kaya baru mendadak,” ujar Sim Long tertawa.

“Pantas dari jauh dapat kucium bau emas,” gumam Ci-hiang.

Setelah rombongan kedua ini lalu, Sim Long berkata pula, “Wah, tampaknya masih ada rombongan lain lagi.”

“Ya, siang ini sedikitnya ada enam atau tujuh rombongan akan datang ke sini,” tutur Jun-sui.

“Oo, masih ada siapa lagi?”

“Dengan sendirinya orang terkemuka, kalau tidak berpangkat tentu orang kaya, misalnya…”

Belum lanjut cerita Jun-sui, tiba-tiba dari jauh berkumandang lagi suara kaki kuda berlari.

Cepat sekali datangnya kuda ini, baru terdengar detak kaki kuda, penunggangnya segera muncul, seluruhnya ada tujuh orang, semuanya memakai ikat kepala hijau, pakaiannya sangat sederhana.

“Masa ini pun terhitung anggota keluarga orang kaya atau berpangkat?” Ci-hiang menggerundel.

Sim Long tidak menghiraukan ucapannya, perhatiannya tertarik pada salah seorang penunggang kuda itu.

Baju orang ini tiada bedanya daripada keenam orang lainnya, tapi sikapnya sangat berbeda. Perbawanya yang lain daripada lain itu biarpun berdiri di tengah beribu orang yang berseragam sama tetap akan dapat dibedakan orang dengan sekali pandang saja.

“Lelaki yang hebat, sikapnya ini sangat mirip Si Kucing,” kata Sim Long.

“Kucing? Dia bukan kucing, tapi naga,” ucap Jun-sui dengan tertawa.

“Naga?” Sim Long menegas.

“Ya, dia she Liong (naga), namanya Su-hay,” tutur Jun-sui. “Tapi tidak ada orang berani menyebut namanya, siapa pun bila berhadapan dengan dia sama menyebutnya Liong-lotoa.”

“O, apa kedudukan orang ini?” tanya Sim Long.

“Perairan Huang-ho bagian hulu hanya dapat ditempuh dengan rakit, sedangkan seluruh rakit di perairan sana semuanya di bawah pengawasan Liong-lotoa, tanpa izin Liong-lotoa siapa pun jangan harap akan dapat lalu di sana.”

“Arus Huang-ho sangat keras, sahabat yang hidup mengemudikan rakit di hulu sungai sana boleh dikatakan semuanya orang yang bergurau dengan nyawa sendiri, jadi setiap orang pasti menguasai sejurus-dua, untuk mengurus orang-orang ini sungguh tidak gampang,” demikian kata Sim Long.

“Dia berbaju seragam serupa anak buahnya, jelas dia bukan tokoh sembarangan,” ujar Ci-hiang. “Tidak perlu bicara tentang ilmu silatnya, melulu hal pakaian saja sudah cukup membuat orang tertarik kepada kebijaksanaannya. Jika dia sendiri makan daging dan orang lain cuma menggerogoti tulangnya, orang semacam ini mana bisa menjadi lotoa (si tertua, kepala, pemimpin atau bos).”

“Ada sementara orang pembawaannya memang pantas menjadi lotoa, Liong-lotoa adalah satu di antara orang demikian ini,” kata Sim Long. “Selain dia, Him Miau-ji juga terhitung satu tokoh istimewa begitu.”

“Him Miau-ji,” ujar Ci-hiang dengan tertawa. “Tapi…apakah dia ingat padamu? Sekarang, bukan mustahil dia sudah ada main dengan nonamu she Cu itu.”

Mendadak Sim Long menarik muka, jengeknya, “Hm, kau kira setiap perempuan di dunia ini sama tidak punya muka serupa dirimu?”

Tanpa terasa Ci-hiang menyurut mundur dua langkah, tak pernah terpikir olehnya wajah Sim Long yang selalu tersenyum itu bisa juga berubah masam dan menakutkan seperti ini.

Jun-sui dapat melihat jelas, hampir saja ia berkeplok gembira.

Untunglah pada saat itu juga dari kejauhan datang pula beberapa puluh orang mengiringi sebuah tandu besar berbungkus kain laken hijau.

Terdiri dari macam-macam orang rombongan ini, ada lelaki ada perempuan, baju mereka juga berwarna-warni, ada merah ada hijau, tapi usianya tidak ada yang di atas 25 tahun, kebanyakan adalah pemuda berumur 17-18 tahun.

Rombongan muda-mudi ini saling berpegangan pundak sambil tertawa haha-hihi sepanjang jalan, ada yang sibuk makan jajanan sehingga kulit buah dan kertas bungkus beterbangan terlempar begitu saja.

Dari dalam tandu besar itu pun terus-menerus ada kulit buah dan kertas bungkus dilemparkan keluar, di dalam tandu juga ada suara senda gurau orang, ada suara lelaki dan juga suara perempuan. Di dalam sebuah tandu rupanya berjubel lima atau enam penumpang.

Begitu melihat rombongan ini, segera Jun-sui berkerut kening, katanya, “Wah, kenapa kawanan kakek moyang cilik ini juga datang?”

“Orang-orang macam apakah mereka ini?” tanya Sim Long dengan tertawa.

Jun-sui menghela napas, tuturnya, “Mereka semuanya putra-putri keluarga hartawan, sepanjang hari mereka selalu membikin onar di kota Lanciu, perkara besar sih jarang terjadi, tapi urusan kecil sering membikin pusing orang. Mereka boleh dikatakan satu gerombolan pencoleng kecil.”

“Tapi tandu besar ini tampaknya milik orang ternama atau berpangkat, jangan-jangan penumpangnya adalah pembesar negeri? Tapi mengapa bisa bergaul dengan kawanan pengacau cilik ini.”

“Penumpang tandu itu justru tergolong mestikanya mestika,” kata Jun-sui. “Pada waktu ayahnya masih hidup, setiap hari dia selalu bergaul dengan kawanan pencoleng cilik ini, makan, minum, main (judi), madon (main perempuan), pokoknya hampir segala macam M telah dilakukannya. Ketika ayahnya mati, dia menerima warisan yang tak terhitung jumlahnya, bahkan mendapatkan warisan gelar tituler sebagai bi-hui-su (inspektur), keruan dia lantas malang melintang.”

“O, kiranya seorang anak pembikin bangkrut,” kata Sim Long tertawa.

“Tapi penduduk kota Lanciu telah ikut dibikin susah oleh anak berandal ini, sampai nona cilik atau perempuan muda tidak ada yang berani berjalan sendirian di tempat umum. Siapa pun bila mendengar nama Siau-pa-ong (Si Raja Berandal Cilik) Si Bing tentu kepala pusing.”

“Wah, jika demikian, tampaknya semua keluarga hartawan dan pembesar di sekitar sini hari ini telah hadir seluruhnya,” kata Sim Long. “Mengapa bisa kebetulan begini? Jangan-jangan memang sudah ada janji?”

“Orang-orang ini memang diundang oleh Koay-lok-ong,” tutur Jun-sui.

“Oo?!” Sim Long melengak. “Memangnya ada sangkut paut apa antara orang-orang ini dengan Koay-lok-ong?”

“Sangkut paut kentut,” Jun-sui mencibir. “Koay-lok-ong mengundang mereka tidak lebih hanya untuk berjudi saja. Setiap kali Koay-lok-ong datang kemari tentu mengadakan perjudian besar-besaran.”

“Haha, betul, memang sudah lama kudengar hobi Koay-lok-ong ini, kecuali undangannya ini siapa pula yang mampu berjudi besar dengan dia?” seru Sim Long dengan tertawa.

“Tapi cara berjudi Koay-lok-ong sangat bersih, sebab itulah orang lain pun mau berjudi dengan dia,” kata Jun-sui. “Eh, barangkali Sim-kongcu juga berminat ikut serta?”

Gemerdep sinar mata Sim Long, “Ya, tampaknya aku pun akan ikut.”

*****

Setelah makan siang, Sim Long lantas menunggu di rumahnya.

Tidak berapa lama, terdengarlah suara ribut di luar, suara orang bicara, bergurau, suara ringkik kuda dan gemertak roda kereta serta suara gedubrakan peti dilemparkan.

Begitulah macam-macam suara itu terus berlangsung sampai sekian lama, kedengarannya serupa ada suatu pasukan besar akan berkemah di sini.

Air muka Ci-hiang tampak berubah, akhirnya ia berseru, “Koay-lok-ong datang.”

“Betul, datangnya orang ini ternyata benar menimbulkan kekacauan luar biasa,” ujar Sim Long.

“Kita…kita bagaimana?”

“Tunggu dan lihat saja, masakah kau khawatir dia takkan mencari diriku?”

Dia lantas duduk mengantuk di kursinya.

Sebaliknya Ci-hiang terus mondar-mandir di dalam ruangan, kelabakan serupa semut di dalam wajan panas. Mungkin sudah sekian ratus kali ia mondar-mandir dan Koay-lok-ong tetap tidak ada kabar beritanya.

Ia tidak tahan, ia mengentak kaki di depan Sim Long dan berseru, “Hei, jangan kau duduk saja seperti orang mampus!”

“Aku ini kan simpan tenaga untuk menghadapi Koay-lok-ong nanti,” jawab Sim Long tertawa. “Tapi jangan salah sangka, aku tidak akan berkelahi dengan dia melainkan bertarung di atas meja. Emas perak pemberian Ong-hujin agaknya dapat kugunakan sekarang…”

“Tapi engkau…”

“Makanya aku harus simpan tenaga sekarang,” kata Sim Long pula. “Kau tahu, berjudi jauh lebih membuang tenaga daripada berkelahi. Perjudian besar tiada ubahnya pertarungan maut di medan laga. Pertarungan di atas meja juga memeras tenaga dan pikiran dengan aneka macam perubahan yang sukar diraba, sungguh jauh lebih merangsang dan berbahaya daripada di medan perang.”

“Jangan-jangan engkau sengaja akan mengalah sebagai jalan untuk bekerja baginya?”

“Mana boleh kukalah,” ujar Sim Long. “Jika kukalah, tentu aku takkan berharga lagi dalam pandangannya. Jika aku kalah berarti aku tidak punya otak, apakah aku terpandang olehnya? Dan jika aku dipandang hina olehnya, cara bagaimana dia mau membeli diriku, dan bila aku tidak berharga baginya, mungkin jiwaku yang akan dicabut olehnya…”

Ia tersenyum, lalu menyambung, “Maka dari itu di atas meja judi juga harus kuberi pukulan keras padanya, kalau tidak tentu segala rencana akan gagal total dan jiwaku pun mungkin sukar dipertahankan.”

Ci-hiang terbelalak, “Kau yakin dapat mengalahkan dia di atas meja?”

“Tidak,” jawab Sim Long tak acuh.

“Tanpa keyakinan kau pun berani berjudi dengan dia?” seru Ci-hiang kaget. “Dan sampai sekarang engkau masih tetap tenang seperti ini tanpa tegang sedikit pun, tidak gelisah setitik pun.”

“Dari mana kau tahu aku tidak tegang dan tidak gelisah?”

“Masa…masa tidak dapat kulihat?”

“Haha, jika perasaanku dapat kau lihat, mana boleh lagi aku berjudi dengan orang semacam Koay-lok-ong. Di atas meja judi, setiap detik dapat berubah, jika tidak tahan, mungkin bini pun akan dibawa orang.”

“Haha, tak tersangka engkau selain setan perempuan dan setan arak, ternyata juga setan judi,” ucap Ci-hiang dengan tertawa.

Pada saat itulah tiba-tiba seorang bersuara di luar, “Apakah Sim Long, Sim-kongcu tinggal di sini?”

Bergetar tubuh Ci-hiang, desisnya, “Ssst, itu dia?”

Dengan tersenyum Sim Long lantas membuka pintu, tertampaklah seorang pemuda cakap berdiri di depan pintu dengan membawa sehelai kartu merah besar, setelah memberi hormat lantas menyapa, “Apakah Anda ini Sim-kongcu?”

“Betul, saudara ini utusan Koay-lok-ong?” jawab Sim Long tersenyum.

Gemerdep sinar mata pemuda itu, dengan cepat ia mengamati Sim Long sekejap dan menjawab, “Betul, hamba anggota Angin Ribut ke-18 anak buah Koay-lok-ong, atas perintah Ongya untuk menyampaikan surat kepada Kongcu, harap Kongcu sudi menerimanya.”

Sembari bicara, ia maju selangkah, kartu merah yang dipegang terangkat ke atas sebatas mata, lalu didorong ke depan dengan cepat.

Gerakan ini seperti tanda penghormatan, padahal mengandung daya pukulan yang sangat kuat. Bilamana Sim Long tidak dapat melayaninya, kontan pasti akan dibikin malu.

Tapi Sim Long anggap seperti tidak terjadi apa-apa, kedua kepalan terangkap di depan dada sebagai tanda hormat, katanya dengan tersenyum, “Terima kasih!”

Berbareng dengan ucapan terima kasih itu, perlahan ia tarik kartu merah itu, tahu-tahu kartu itu sudah berpindah ke tangan Sim Long.

Dengan air muka rada berubah pemuda itu menyurut mundur lagi, lalu memberi hormat dan berucap pula, “Sim-kongcu memang luar biasa.”

“Terima kasih atas pujianmu,” kata Sim Long dengan tertawa.

Ia coba membentang kartu undangan itu, di situ tertulis: “Waktu Cu (antara pukul 2-3) tengah malam nanti, tersedia perjamuan sederhana, mohon kedatangan Anda untuk mengobrol iseng, selesai bersantap tersedia pula berbagai hiburan. Harap memberi jawaban.”

Kartu ini tanpa menyebut si alamat, juga tidak ada nama si pengirim.

Setelah membaca, Sim Long berkata, “Harap sampaikan kepada Ongya bahwa Sim Long pasti akan hadir tepat pada waktunya.”

Pemuda itu memandang Sim Long lagi sekejap dengan rasa kagum, kemudian memberi hormat sambil mengiakan, lalu melangkah pergi.

“Aneh juga, mengapa perjamuan diadakan lewat tengah malam buta, memangnya supaya tetamunya lelah dan mengantuk, lalu akan disembelihnya di atas meja?” ucap Ci-hiang dengan kening bekernyit.

“Makanya sekarang aku harus simpan tenaga, sebaiknya jangan kau ganggu diriku,” kata Sim Long tertawa.

Waktu Sim Long bangun tidur, masih ada waktu cukup baginya untuk mandi dulu dan ganti pakaian yang paling ringan dan bersih.

Kemudian ia gunakan sepotong handuk bersih, dibungkusnya ginbio bernilai nominal besar pemberian Ong-hujin itu dengan rajin, lalu dimasukkan ke dalam baju.

Setelah merasa semuanya serbafit, kemudian ia menuang secangkir teh kental dan duduk menikmati air teh untuk menantikan pertarungan sengit yang bakal berlangsung nanti.

Ci-hiang juga sudah selesai berdandan, dia memakai baju sutra yang indah, seluruh tubuh terembus bau harum semerbak.

Namun dia kelihatan tidak tenang, sebentar berduduk, segera berdiri lagi, rupanya ia khawatir Sim Long akan kalah, bila kalah, lantas bagaimana?

Karena itulah ia coba bertanya, “Sim Long, sesungguhnya ada berapa bagian keyakinanmu akan menang?”

Sim Long memejamkan mata dan tersenyum, katanya, “Sebelum kulihat cara bertaruh Koay-lok-ong tidak dapat kukatakan bagaimana hasilnya nanti.”

“Sedikitnya ada setengahnya pasti menang bukan?” tanya Ci-hiang pula.

“Kukira ada,” jawab Sim Long.

“Syukurlah…” Ci-hiang menghela napas lega.

“Tapi modal yang kubawa cuma ada delapan belas ribu tahil, tidak perlu diragukan lagi modal Koay-lok-ong pasti jauh lebih tebal daripadaku. Bilamana modal lebih kuat biasanya sudah menang satu langkah lebih dulu.”

“Wah, tahu begitu mestinya kita juga bawa modal sebanyaknya,” ujar Ci-hiang gegetun.

“Namun tidak apalah, asalkan Koay-lok-ong tidak dapat menerka berapa banyak modalku, tentu dia tidak berani bergebrak sepenuh tenaga, apalagi…” Sim Long tersenyum, lalu menyambung, “Dapat juga kusikat dulu dari orang lain, habis itu baru kutempur mati-matian dengan Koay-lok-ong. The Lan-ciu dan Liong Su-hay mungkin sangat pandai berjudi, sebaliknya kulihat Ciu Thian-hu dan Siau-pa-ong pasti makanan empuk.”

“Makanan empuk?” Ci-hiang menegas dengan tertawa. “Yang penting janganlah engkau sendiri menjadi makanan empuk bagi orang lain.”

Waktu mereka memandang ke luar jendela, terlihatlah dari jauh ada dua tanglung atau lampu berkerudung sedang menuju kemari. Sim Long berbangkit dan berucap, “Ayo berangkat, kita sudah dipapak!”

*****

Ciu-jui-han atau vila zamrud, inilah vila musim panas bagi Koay-lok-ong. Dengan sendirinya vila ini terhitung tempat yang paling mewah dan paling megah di lingkungan Koay-hoat-lim.

Di luar rumah cahaya lampu terang benderang, namun suasana sangat sepi tiada tampak seorang pun, hanya di tempat yang gelap terkadang ada bayangan orang berkelebat.

Di dalam vila indah ini sudah disiapkan meja perjamuan, hidangan yang tersedia terdiri dari lohi (ikan loh) dari Sungai Siong, kepiting besar dari Danau Yangting, udang galah dari Tinghay, bulus dari Kanglam…

Semua makanan ini mestinya tidak mungkin muncul bersama di daerah tandus ini, tapi sekarang tersedia semua di atas meja, sungguh seperti dalam dongeng saja.

Ternyata sesuai dengan dugaan Sim Long, hidangan yang tersedia tidak pakai daging, semuanya makanan laut, seafood, kalau mau pakai istilah zaman sekarang.

Yang di luar dugaan Sim Long adalah pajangan rumah ini ternyata sangat sederhana, tapi cukup serasi, sedikit pun tidak ada tanda mewah yang berlebihan.

Di atas meja juga tidak tersedia piala emas atau poci kemala segala, yang ada cuma alat terbuat dari keramik, dengan sendirinya keramik yang indah, malahan hampir seluruhnya barang antik.

Sim Long jadi teringat kepada Cu Jit-jit yang pernah menyaru sebagai Koay-lok-ong, diam-diam ia merasa geli, pikirnya, “Beginilah baru gaya asli Koay-lok-ong, cara Jit-jit itu kan lebih mirip orang kaya mendadak.”

Meja perjamuan sudah dikitari delapan atau sembilan orang. Sekali pandang saja Sim Long lantas mengenali Liong-lotoa, Liong Su-hay. Meski dia tetap pakai baju kain kasar, namun di tengah orang banyak dia tetap kelihatan seperti bangau di tengah kawanan ayam, sangat mencolok.

Di samping Liong Su-hay berduduk seorang setengah baya dengan jenggot pendek, tubuhnya rada gemuk, jelas seorang yang biasa hidup senang. Ia pun memakai baju tipis biasa tanpa sesuatu hiasan yang mencolok, hanya di depannya tertaruh sebuah pot tembakau dengan pipanya yang berwarna hijau, jelas benda ini tidak boleh dipandang sepele.

Tanpa pikir Sim Long lantas tahu orang ini pasti The Lan-ciu. Putra keluarga hartawan terkenal tentu saja mempunyai perbawa yang tersendiri.

Orang yang duduk di samping The Lan-ciu tampak berbeda lagi.

Di atas tubuhnya bergelantungan macam-macam hiasan, setiap benda itu sukar diukur nilainya, namun begitu dia tetap kelihatan seperti orang miskin. Tapi lagaknya angkuh seperti dunia ini dia punya.

Tanpa pikir Sim Long juga lantas tahu orang ini pastilah Ciu Thian-hu yang kaya mendadak itu.

Di samping Ciu Thian-hu berduduk seorang perempuan dengan macam-macam perhiasan pula.

Dia duduk menggelendot di samping Ciu Thian-hu, tapi matanya sebentar lirik sini sebentar lirik sana, walaupun tidak jelek mukanya, namun kelakuannya yang jalang dan rendah itu membuat orang muak.

Di sebelah lagi adalah Siau-pa-ong Si Bing, Si Raja Berandal Cilik.

Benar juga dia baru berumur 18-19 tahun, namun matanya tampak celung, mata yang tidak kecil itu tidak bercahaya, serupa orang yang selalu mengantuk sepanjang tahun. Pakaiannya tidak terlalu mencolok serupa Ciu Thian-hu.

Di sampingnya juga berduduk seorang perempuan muda, tapi caranya berpakaian jauh lebih mengejutkan daripada perempuan di samping Ciu Thian-hu itu.

Boleh dikatakan dia tidak memakai baju melainkan memakai sebuah kutang saja, sehingga kedua lengannya sebatas bahu kelihatan putih bersih, dadanya juga kelihatan menonjol tinggi, gelang emas pada tangannya berbunyi gemerencing.

Kelihatannya perempuan muda ini baru berumur 15-16, tapi caranya bersolek sungguh luar biasa, bahkan mulut menggigit pipa tembakau dan asap mengepul dari hidungnya.

Sim Long tidak berani memandang lagi “nona pencoleng” itu, tapi nona itu lantas menepuk kursi di sebelahnya dan berseru dengan tertawa, “Eh, anak muda, duduklah di sini!”

Sim Long tersenyum, jawabnya, “Terima kasih, namun…”

“Namun apa?” nona itu mendelik, “kursi ini tidak membara dan takkan membakar pantatmu, kenapa takut?”

Terpaksa Sim Long berduduk di situ.

Nona itu lantas memandang Ci-hiang dan tertawa, “Haha, boleh juga pandanganmu. Meski anak muda semacam ini kelihatan malu-malu kucing tapi biasanya tidak jelek permainannya. Jangan kau kira usiaku masih kecil, pengalamanku pasti tidak lebih sedikit daripadamu.”

Sungguh gemas Ci-hiang, rasanya ingin memberi dua kali gamparan kepada nona cilik bejat itu.

Malahan nona cilik itu lantas menepuk pundak Sim Long dan berkata lagi, “Namaku He Wan-wan, kawan-kawan sama menyebutku Li-pa-ong (Raja Berandal Perempuan), yang duduk di sebelahku inilah kekasihku Si Siau-pa-ong. Engkau sendiri bernama siapa?”

“Sim Long,” jawab Sim Long dengan tertawa.

“Sim Long?” ulang He Wan-wan. “Ehm, boleh juga tampaknya kau ini.”

Sejak Sim Long masuk tadi, pandangan Liong-lotoa yang tajam lantas terpusat ke arahnya, tiba-tiba ia menyapa sambil angkat cawan terhadap Sim Long, “Apakah Sim-kongcu datang dari daerah Tionggoan?”

“Betul,” sahut Sim Long sambil angkat cawan juga, “Cayhe juga sudah lama mendengar nama kebesaran Liong-toako, setelah bertemu sekarang nyata memang tidak bernama kosong.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: