Kumpulan Cerita Silat

24/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 09

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 2:04 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, Lovecan, dan Sumahan)

Bab III. Tangan Beracun.

9. Memisah emas menyembah Buddha.

Dari kota Ciang-ciu menuju ke Ci-lian-hong, orang harus menempuh perjalanan sejauh “empat lima ratus li, suatu jarak yang tak selesai ditempuh dalam tiga hari perjalanan, bukan saja harus membawa uang,, ransum, kantung air dan kuda, bahkan harus dilengkapi juga tenda, lampu penerangan, jas hujan dan lain sebagainya.

Di halaman depan istana Si-ciangkun, saat ini berkumpul empat puluhan jago gagah perkasa, mereka semua berkumpul di depan Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong.

Dari keempat puluhan orang jago tangguh itu, ada sebagian merupakan bekas anak buah Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong ketika bertugas di medan laga dulu, ada pula kawanan jago hasil gemblengan kedua orang panglima ini, boleh dibilang mereka merupakan pasukan inti yang bisa diandalkan.

Karena perjalanan kali ini adalah untuk membekuk kembali Coh Siang-giok yang melarikan diri, kawanan jago itu tentu saja tidak mengenakan dandanan tentara, mereka menyamar sebagai pelajar, tukang kayu, tukang pikul, pengemis bahkan nelayan.

Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong membagi pasukannya menjadi tiga kelompok besar, dua puluhan orang menyamar jadi piausu pengawal barang, berkumpul menjadi satu membentuk regu pasukan inti, kemudian Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong menyamar jadi saudagar, Ngo Kong-tiong menyamar jadi piau-thau, sementara Ciu Pek-cu dan Pek Huan-ji menyamar jadi seorang Kongcu dan seorang Siocia.

Pasukan pembantu terdiri dari tiga orang pengemis, dua orang tukang jual obat, seorang tukang ramal nasib dan empat orang pemikul tandu, semuanya berjumlah sepuluh orang, dalam tandu yang digotong berduduk Thian Toa-ciok, dia adalah kepala regu itu dan sepanjang jalan selalu menjaga jarak sejauh tujuh li dengan rombongan utama.

Rombongan yang lain terdiri dari dua orang pelajar, dua orang penebang kayu, seorang tukang pikul, seorang nelayan, dua orang Tosu, seorang tabib keliling, seorang kakek dusun yang menggotong seorang pasien, orang yang menyamar jadi pasien adalah Liu Ing-peng. Mereka berjalan tujuh li di depan pasukan utama.

Dalam pada itu Cecu dari benteng selatan Ngo Kong-tiong, Shiacu muda dari benteng utara Ciu Pek-cu beserta Pek Huan-ji telah saling bertemu dengan si Tangan besi, ternyata orang yang disebut Sam-coat-it-seng-lui (Tiga kehebatan satu suara guntur) Ngo Kong-tiong adalah seorang kakek berwajah merah, bertubuh tegap, bermata jeli dan telah berusia tujuh puluh tahun, begitu keren dan gagahnya kakek ini, sekali pandang saja semua orang tahu dia jagoan berilmu tinggi.

Dalam perjalanan kali ini, Ngo Kong-tiong hanya mengajak dua orang anggota Lam-ce sebagai pengiring, kedua orang itu terhitung punya sedikit nama dalam dunia persilatan.

Yang seorang berjuluk Hek-sat-sin (si malaikat hitam) Si Ciang-ji, sedang yang lain bernama Te-siang-to (golok tanah berguling) Goan Kun-thian.

Yang satu berperawakan tinggi besar dengan senjata Siang-bun-kun sepanjang satu kaki dua depa, kekuatan badannya sangat menakutkan, sedang yang lain bertubuh pendek, kecil, kekar, bermata tikus, berkepala monyet dengan senjata andalan sepasang Liu-yap-to, dia jago menyerang tubuh bagian bawah.

Sementara kepala benteng Pak-shia, Ciu Pek-cu adalah seorang jagoan yang masih sangat muda, biar muda namun wajahnya keren dengan sinar mata tajam menggidikkan hati, dia ganteng namun tidak congkak, jelas sudah banyak pengalaman dalam dunia persilatan.

Si Dewi Pek Huan-ji mengenakan baju ketat berwarna putih, rambutnya hitam disanggul dengan sebuah tusuk konde mutiara sebagai penghiasnya, dia mempunyai wajah yang cantik jelita, berkulit putih dan tubuh yang ramping.

Ngo Kong-tiong dan rombongan sempat terkesiap ketika berjumpa pertama kali dengan si Tangan besi. Mereka tidak menyangka pemuda yang tampan dan gagah ini mempunyai gerak-gerik yang begitu berwibawa, mereka pun tidak menyangka jagoan yang punya julukan si Tangan besi yang amat disegani banyak jagoan itu ternyata hanya seorang anak muda yang sopan.

Setelah semua orang saling bertemu dan bicara beberapa patah kata, maka rombongan pun dibagi tiga regu dan segera berangkat untuk mengejar musuh.

Dengan menempuh perjalanan tanpa berhenti selama hampir empat hari lamanya, mereka telah menempuh perjalanan hampir tiga empat ratus li jauhnya, menurut laporan mata-mata, konon sehari sebelumnya rombongan Coh Siang-giok baru saja melalui tempat itu.

Semua orang tahu bahwa mereka sudah semakin mendekati Ci-lian-hong, bahkan sebentar lagi bakal menyusul rombongan Coh Siang-giok, maka mereka tak berani bertindak gegabah lagi, dengan penuh kewaspadaan mereka lanjutkan pengejaran.

Hari itu mereka berada di seputar desa Hau-wi-si, selisih jarak dengan benteng Lian-in-ce di bukit Ci-lian-hong sudah tak sampai tujuh puluh li. Si Walet terbang Liu Ing-peng beserta sepuluh orang prajurit yang tiba duluan di situ segera menghentikan perjalanan, mereka memang mendapat perintah untuk menanti rombongan yang lain di suatu tempat lima puluh li dari benteng Lian-in-ce.

Ha u-wi-si adalah sebuah dusun dengan penduduk dua ratusan orang, di tempat seperti ini tidak banyak makanan yang dijual, Liu Ing-peng segera memerintahkan semua orang untuk berhati-hati, untuk menghindari dinginnya udara di musim salju yang membeku itu, mereka memasuki sebuah rumah makan kecil untuk beristirahat.

Biarpun di tempat itu terdapat juga banyak kereta dan pedati, namun kebanyakan hanya orang kaya yang mampu menunggang kereta semacam ini, sementara kebanyakan orang harus menempuh perjalanan dengan berjalan kaki.

Karenanya kemunculan rombongan Liu Ing-peng tidak terlalu menyolok mata, sekalipun dalam rombongan mereka terdapat seorang yang sedang sakit, seorang petani tua dan seorang tukang obat.

Liu Ing-peng perintahkan semua orang untuk memesan arak dan menghangatkan badan, tapi dia pun berpesan agar meningkatkan kewaspadaan dan tak ceroboh memakan daharan yang dipesan.

Karena itu ketika tiga orang pelayan telah menghidangkan arak, Liu Ing-peng segera memberi kode kepada semua orang untuk memeriksa arak hidangan itu dengan jarum perak, ketika tahu dalam arak tak ada racun, mereka baru sedikit lega.

Kawanan tentara itu termasuk orang yang gemar minum arak, begitu mendapat izin untuk minum, tentu saja mereka amat girang, seorang tentara yang menyamar jadi tukang kayu segera menyambar cawan araknya dan meneguk hingga ludes, ia merasa arak itu harum sekali, maka dia minta rekannya yang menyamar jadi seorang nelayan untuk mengendus bau harum itu.

Liu Ing-peng adalah seorang komandan regu yang kenyang pengalaman, melihat tingkah laku anak buahnya itu, mendadak dia seperti merasakan sesuatu yang tak beres, tapi sayang tidak ditemukan dimana letak ketidak beresan itu.

Karena curiga, dia pun segera meningkatkan kewaspadaan, biar tidak melakukan sesuatu tindakan, namun dia pasang telinga baik-baik dan bersiaga.

Tampak si pemilik warung kembali berjalan mendekati rombongan sambil membawa sebuah guci arak, seorang tentara yang menyaru sebagai tukang pikul segera menyambut guci arak itu.

Terdengar si pemilik warung berkata, “Toaya, silakan minum arak wangi ini, isi guci adalah arak Tiok-yap-cing yang sudah disimpan lama, dijamin Toaya pasti puas.”

Tentara itu kegirangan, ia segera membuka segel guci arak. Tiba-tiba Liu Ing-peng merasa hatinya tergerak, dia seperti telah menemukan sesuatu yang tak beres, baru saja dia hendak mencegah, tentara itu sudah telanjur membuka segel guci…

“Sreeet, sreeet, sreeet” desingan angin tajam tiba-tiba melesat membelah udara, disusul tentara yang menyaru jadi tukang pikul itu menjerit kesakitan dan roboh terjungkal ke tanah, tubuhnya sudah ditembusi paling tidak dua puluhan batang anak panah laras pendek.

Ternyata guci arak itu sesungguhnya merupakan sebuah peti jebakan berisi anak panah, ketika segel guci dibuka, pegas kuat yang terpasang segera tergerak hingga memuntahkan anak panah yang telah disembunyikan di dalamnya.

Sayang tentara yang menyaru sebagai tukang pikul itu tidak menduga sejauh itu, dalam keadaan begini, mana mungkin ia dapat meloloskan diri?

Dua orang Tosu yang duduk sebangku dengan tukang pikul itu dengan sigap melompat ke belakang untuk menghindarkan diri, untung jaraknya cukup jauh dan reaksi mereka cukup cepat, dalam waktu singkat mereka sudah merontokkan tujuh delapan batang anak panah yang mengancam, seorang Tosu turun tangan sedikit terlambat hingga bahunya terhajar sebatang panah.

Suasana dalam warung makan seketika kacau-balau, semua orang melolos senjata, sementara pihak lawan pun memperlihatkan identitas aslinya.

Tiga orang pelayan sudah melepaskan jubah hingga nampak pakaian ringkas yang menempel di badannya, dengan golok di tangan mereka serentak menyerang sambil melontarkan bacokan mematikan.

Seorang tentara yang menyamar jadi nelayan seketika terbabat kepalanya hingga putus, sementara tentara lain yang menyaru jadi seorang pelajar menangkis datangnya bacokan dengan lengannya, “Creeet!” lengan kirinya seketika terbabat kutung.

Si tentara yang menyamar jadi tukang obat jauh lebih sigap, dengan cekatan dia menghindar dari bacokan maut itu kemudian melolos pedang balas menyerang pelayan itu.

Pasukan yang menyamar jadi tukang kayu sudah melolos kapak pula dan siap melancarkan serangan balasan, tiba-tiba ia merasa kepalanya pusing dan mata berkunang-kunang, tubuhnya mundur beberapa langkah dengan sempoyongan.

Sementara si nelayan juga telah melolos goloknya, namun dia ikut roboh terjungkal dalam keadaan mabuk berat.

Si pemilik warung yang selama ini hanya berdiri termangu, tiba-tiba mencabut dua pisau pendek, lalu dengan kecepatan luar biasa menusuk si tukang kayu dan si nelayan hingga tewas seketika.

Liu Ing-peng tidak menyangka dalam arak bukan diisi dengan racun melainkan diisi obat pemabuk, karena tidak menduga, dalam waktu singkat dia harus kehilangan empat nyawa dan seorang yang lain terluka parah.

Kini dia sadar, musuh yang sedang dihadapi bukan manusia sembarangan yang bisa dihadapi secara enteng.

Dalam pada itu si pemilik warung telah menyerang si pelajar dengan serangan gencar dan mematikan, tampaknya dia bermaksud menghabisi juga nyawa si pelajar yang sudah kehilangan sebuah lengan itu.

Liu Ing-peng tak bisa tinggal diam lagi, segera dia menghadang pemilik warung itu, lalu…”Sreet!” dia lolos golok lemasnya dari pinggang dan secara beruntun melepaskan delapan belas serangan berantai.

Pemilik warung terkesiap, beruntun dia mundur delapan belas langkah, setelah bersusah payah baru berhasil menghalau datangnya delapan belas buah bacokan golok itu, sadar telah bertemu musuh tangguh, pemilik warung itu tak berani ayal lagi, dia segera mengembangkan serangkaian serangan gencar, dalam sekejap ia lancarkan tiga puluh enam bacokan balasan.

Menghadapi desakan musuh yang begitu gencar, terpaksa Liu Ing-peng harus mematahkan setiap jurus serangan yang tiba, sehabis memunahkan ketiga puluh enam jurus serangan lawan, segera teriaknya lantang, “Apa hubunganmu dengan benteng Lian-in-ce?”

Jurus serangannya segera berubah, goloknya membabat dengan membawa desingan angin tajam, dia kerahkan tenaga dalam serangannya..

Dengan cekatan pemilik warung menangkis dengan sepasang goloknya, begitu berhasil membendung ancaman, ia menyeringai seram dan ujarnya sambil tertawa, “Tajam amat pandangan matamu, betul, akulah Pat-cecu (ketua benteng kedelapan) dari Lian-in-ce!”

“Traaang!” benturan senjata tak terelakkan, diiringi dentingan nyaring si pemilik warung mundur agak sempoyongan, pergelangan tangannya terasa kesemutan dan sakit, nyaris goloknya terlepas dari genggaman.

Liu Ing-peng sendiri pun merasakan pergelangan tangannya kesemutan, sambil berseru tertahan teriaknya, “Kau adalah Siang-to-siu-hun (Sepasang golok pencabut nyawa) Be-ciang-kwe?”

“Betul!” sahut pemilik warung itu sambil tertawa dingin, kembali dia mengayun goloknya melancarkan serangan gencar.

Ternyata Lian-in-ce adalah kelompok perampok paling ganas dan menakutkan di wilayah Ciang-ciu, anggotanya mencapai empat lima ratusan orang dan mempunyai sembilan orang Cecu (kepala benteng).

Cecu nomor delapan adalah Siang-to-siu-hun, dia dari marga Be, dulunya memang bekerja sebagai ciangkwe, itulah sebabnya orang persilatan menyebutnya ’Be-ciangkwe’, sedang siapa nama sebenarnya, tak seorang pun yang tahu.

Sementara itu pertempuran telah berkobar sengit, lima orang prajurit yang belum terluka bertarung seru melawan tiga orang ’pelayan’ itu. Tampaknya ketiga orang ’pelayan’ itu merupakan para thaubak Lian-in-ce, ilmu silatnya cukup tangguh.

Ketika pertarungan telah berlangsung setengah peminum-an teh, si pelajar yang buntung lengannya ikut terjun ke dalam arena pertempuran dengan menghadiahkan sebuah tusukan golok langsung ke punggung seorang thaubak, kontan saja orang itu tewas seketika.

Rekannya menjadi sangat murka ketika melihat rekannya tewas terbunuh, dia balas melontarkan sebuah tusukan ke dada kiri pelajar itu.

Lantaran lengan kirinya sudah kutung, kurang leluasa bagi pelajar itu untuk berkelit, terpaksa dia tangkis tusukan itu dengan keras lawan keras, kemudian dia balik senjatanya dan dihujamkan ke lambung thaubak itu, tak ampun kedua orang itu sama-sama tewas dengan dada tertusuk.

Kini tinggal seorang thaubak yang masih bertahan, dia nampak mulai gugup dan tidak konsentrasi, seorang prajurit segera memanfaatkan peluang itu dengan menyapu kakinya hingga thaubak itu jatuh terjerembab, serentak empat orang prajurit menghadiahkan tusukan mematikan ke atas badannya.

Di pihak lain sepasang golok pengejar nyawa Be-ciangkwe telah bertarung sengit hampir tujuh delapan puluh gebrakan melawan si Walet terbang Liu Ing-peng, ia mulai merasa betapa ringan dan lincahnya gerakan tubuh lawan, betapa garang dan gencarnya ia menyerang dengan sepasang goloknya, jangan kan melukai musuh, menyentuh ujung bajunya pun tak mampu, kenyataan ini membuat hatinya terkesiap.

Pada saat itulah terdengar suara derap lari yang riuh bergema dari luar, Liu Ing-peng tahu bala bantuan Be-ciangkwe telah tiba, segera Liu Ing-peng berseru, “Perketat penjagaan di depan pintu, cepat! Pukul mundur semua serangan musuh!”

Kelima orang prajurit itu memang termasuk jago hebat yang banyak pengalaman, meski menghadapi ancaman bahaya, mereka tak jadi gugup dan panik, setelah membelenggu thaubak terakhir, mereka segera bersembunyi di balik jendela untuk menanti datangnya ancaman.

“Braakk!” pintu gerbang didobrak orang, tiga orang penyamun langsung menyerbu masuk ke dalam ruangan.

Sungguh hebat ilmu silat prajurit yang menjaga di tepi pintu, ia segera menyergap secara cepat dan langsung membantai mati ketiga orang penyerbu.

Menyusul kemudian muncul lagi empat orang penyamun, lagi-lagi dua orang prajurit yang bersembunyi di belakang pintu berhasil menghabisi musuhnya.

Melihat serangan yang dilancarkan melalui pintu gerbang gagal total, kawanan penyamun itu mulai mengincar dari balik jendela, kebetulan dalam warung itu terdapat tiga buah jendela besar. Baru saja kawanan penyamun itu melompat masuk, para prajurit yang berjongkok di bawah jendela serentak turun tangan dan membantai semua penyerbu itu tanpa sisa, lagi-lagi lima orang tewas secara mengenaskan.

Dalam keadaan begini, kawanan penyamun yang lain tak berani berkutik lagi, mereka hanya berteriak-teriak dari luar warung, paling tidak jumlah mereka ada tiga puluhan orang.

Be-ciangkwe mulai gugup ketika melihat bala-bantuannya gagal menyerbu masuk ke dalam rumah makan, pikirnya, “Celaka, kalau mereka tak berhasil masuk, bukankah aku jadi hewan dalam perangkap?”

Ketika Liu Ing-peng kembali melancarkan sergapan, dengan gugup Be-ciangkwe menangkis dengan senjatanya, karena panik, senjata pendek di tangan kanannya terpental hingga menancap di atas tiang penglari, segera dia membalik badan siap melarikan diri.

Liu Ing-peng mendengus dingin, dia cengkeram tangan kiri lawan dengan ilmu Eng-jiau-kang, kemudian golok lemas di tangan kanannya membabat…

Darah segar segera menyembur keluar dari tubuh Be-ciang-kwe, walau terluka parah ia sempat berteriak keras, “Kau…kau jangan segera senang…bila Kiu-te datang, jangan…jangan harap kalian bisa lolos…”

Akhirnya dia roboh terjerembab dan tewas seketika.

Diam-diam Liu Ing-peng terkesiap, dia tahu, ketiga empat puluh orang penyamun itu tak mampu menyerbu ke dalam warung karena mereka tak mengerti taktik tentara dan lagi para thaubak mereka sudah keburu terbunuh, namun jika Kiu-cecu mereka, Pa-ong-kun (si Toya raja bengis) Yu Thian-liong sudah datang dan memimpin sendiri penyerbuan, jelas dia dan kelima orang prajuritnya tak akan mampu membendung serbuan mereka.

Liu Ing-peng mulai bingung, dia tak tahu apa yang harus dilakukan sekarang?

Sementara dia masih bingung, kembali terdengar suara hiruk-pikuk bergema dari luar ruangan, sewaktu diintip dari balik celah pintu, diam-diam Liu Ing-peng mengeluh, ternyata kembali muncul belasan orang penyamun yang dipimpin seorang jagoan bersenjata toya tembaga sepanjang satu kaki dua depa, bila ditinjau dari dandanannya, jelas orang itu adalah Yu Thian-liong.

Liu Ing-peng semakin gelisah, kalau dia mati bukan masalah, bila urusan negara terbengkelai, itu baru masalah besar, apalagi jika musuh menggunakan mereka sebagai umpan, bukankah pasukan yang dipimpin panglima Si Ceng-tang bakal musnah?
Sadar akan datangnya ancaman, dengan perasaan terkesiap Liu Ing-peng berseru lantang, “Kita serbu keluar, berusaha kabur dari sini dan laporkan peristiwa ini kepada panglima!”

Kelima prajurit itu serentak menjerit sambil menyerbu keluar pintu.

Yu Thian-liong yang baru tiba di sana sama sekali tak menduga akan datangnya serangan itu, sementara dia masih termangu, kawanan centeng di belakangnya serentak maju menyerang dan mengepung rapat kelima orang prajurit itu.

Liu Ing-peng memutar goloknya secepat angin, dalam waktu singkat dia telah menghabisi nyawa empat lima orang lawan, sebaliknya Yu Thian-liong juga berhasil membantai seorang prajurit, ia segera membalikkan badan dan mulai bertarung sengit melawan si Walet terbang.

Jika Liu Ing-peng mengandalkan ilmu goloknya yang ringan dan lincah, ilmu toya Yu Thian-liong justru keras dan berat, untuk sesaat mereka bertarung seimbang, tapi tak berlangsung lama, karena segera muncul tujuh delapan orang penyamun yang setiap saat melancarkan serangan bokongan, tak lama kemudian posisi Liu Ing-peng terdesak di bawah angin.

Keadaan keempat orang prajurit yang bertarung seru melawan tiga puluhan orang penyamun pun keadaannya mulai keteter dan sangat berbahaya, ketika mereka berhasil membantai beberapa orang lawan, akhirnya seorang prajurit gugur pula ditusuk lawan.

Liu Ing-peng sadar, bila pertarungan dilanjutkan akan kalah total, segera ia memberi perintah dan bersama tiga orang prajurit tersisa mundur ke dalam warung dan mati-matian bertahan di situ.

Liu Ing-peng berjaga di barisan paling belakang dan beruntun berhasil membantai tiga orang penyamun, untuk sesaat penyamun lain tak berani maju sembarangan.

Yu Thian-liong memang hebat tenaga dalamnya tapi sayang cetek dalam ilmu meringankan tubuh, menanti ia menyusul tiba di depan warung, Liu Ing-peng beserta ketiga anak buahnya sudah mundur ke dalam warung.

Tentu saja Yu Thian-liong tak mau membiarkan musuhnya kabur, serentak mereka menggempur dengan sekuat tenaga.

Liu Ing-peng sadar, keadaan makin gawat dan bila tidak dihadapi dengan sepenuh tenaga, besar kemungkinan mereka akan kehilangan nyawa, maka sambil membangkitkan kembali semangatnya, dia berjaga di depan pintu gerbang dengan penuh kegarangan.

Ketika Yu Thian-liong mencoba menyerbu masuk, beberapa kali mengalami kegagalan, dia mulai mengalihkan perhatiannya ke tiga buah jendela lainnya, ia perintahkan anak buahnya menggempur secara ketat.

Tiga orang prajurit yang bersembunyi di balik jendela tentu saja tidak tinggal diam, memanfaatkan kesempitan daun jendela, musuh hanya bisa menyusup masuk satu per satu, setiap kali lawan menongolkan kepala, mereka segera menghajar secara telengas.

Beberapa saat kemudian ada tujuh delapan orang penyamun yang tewas sia-sia di depan jendela.

Perkiraan Liu Ing-peng, asal dia dapat bertahan maka pasukan induk segera akan tiba untuk memberi pertolongan, dengan sendirinya kawanan penyamun akan membubarkan diri.

Tapi tunggu punya tunggu ternyata pasukan induk belum muncul juga di tempat itu, Liu Ing-peng mulai berpikir, jangan-jangan pasukan lain menjumpai hadangan pula dengan musuh yang lebih tangguh? Sebab kalau dilihat hanya Cecu kedelapan dan Cecu kesembilan yang menyerang pasukannya, bisa jadi pasukan yang lain menghadang pasukan induk.

Membayangkan sampai di situ, peluh dingin bercucuran membasahi seluruh badan Liu Ing-peng, hatinya tercekat, ia semakin sadar betapa gawatnya situasi saat itu, sebab pertahanannya tak mungkin bisa berlangsung lama.

Belum habis pikiran itu melintas, mendadak terdengar suara gemuruh yang amat keras bergema memecah keheningan, tahu-tahu warung makan itu sudah ambruk separuh.

Rupanya si Toya raja bengis Yu Thian-liong sudah habis kesabarannya, ketika gempurannya berulang kali menemui kegagahan, ia menjadi jengkel bercampur mendongkol, toya bajanya langsung dihantamkan ke tiang utama warung.

Begitu bangunan warung ambruk, kawanan penyamun segera menyerang masuk dengan ganasnya.

Liu Ing-peng sadar hanya mengadu jiwa yang bisa dilakukannya saat itu, dengan garang seorang diri segera menghadang jalan pergi Yu Thian-liong dan dua belas orang anak buahnya, lalu terlibat dalam pertarungan amat sengit.

Di pihak lain, ketiga orang prajuritnya terkurung juga oleh kepungan enam belasan orang musuh, terpaksa mereka harus melawan dengan sekuat tenaga.

Sementara Liu Ing-peng dan rombongannya masih terlibat pertarungan sengit, rombongan yang dipimpin Thian Toa-ciok juga tidak menganggur. Sebagai pasukan belakang, dia memimpin sepuluh orang pasukan yang menyamar sebagai tiga orang pengemis, dua orang tukang obat, seorang tukang ramal dan empat penggotong tandu dimana Thian Toa-ciok sendiri duduk di dalam tandu.
Si Ceng-tang bermaksud setibanya di wilayah lima puluh li ,dari benteng Lian-in-ce, semua orang harus berkumpul kembali, maka Thian Toa-ciok mempercepat lari kudanya untuk menyusul pasukan induk.

Ketika itu baru saja melewati sebuah hutan lebat, Thian Toa-ciok melihat bekas telapak kaki baru yang sangat kacau di atas permukaan salju, sambil tertawa tergelak Thian Toa-ciok pun berseru, “Hahaha…coba kalian lihat bekas kaki itu, kelihatannya pasukan Si-ciangkun baru saja lewat, mereka segera akan tersusul.”

Salah satu anggota pasukan Thian Toa-ciok, seorang prajurit yang menyamar sebagai tukang ramal bernama Jit-sang-sam-kan (Matahari naik sampai tiga tiang bambu) Ceng Ki-cong, dulu dia adalah seorang penyamun, tapi setelah ditawan Si Ceng-tang dan bertobat, dia banyak berbakti untuk negara.

Berhubung pengalamannya selama jadi penyamun amat luas, lagi pula dia termasuk orang pintar, maka selama ini selalu dijadikan pengawal pribadi.

Kali ini dia memang sengaja diatur berada dalam pasukan Thian Toa-ciok, karena Thian Toa-ciok sudah tersohor sebagai orang yang gegabah dan berangasan, sedangkan Ceng Ki-cong banyak akal, maka Si Ceng-tang mengutusnya untuk mendampingi Thian Toa-ciok dengan beberapa tujuan.

Pertama, kepandaian andalan Ceng Ki-cong adalah ilmu meringankan tubuh, konon dia sanggup melompati tiga buah galah yang disambung jadi satu.

Kedua, senjata yang digunakan adalah senjata bambu, maka sekarang dia menyamar menjadi tukang ramal.

Ketiga, Ceng Ki-cong suka tidur dan sering malas bangun, sehingga orang menyebutnya matahari naik sampai tiga tiang.

Keempat, Ceng Ki-cong, walau hanya seorang penyamun yang tidak terlalu tersohor, namun ilmu silatnya tangguh dan setiap saat bisa menanggulangi kesulitan yang dilakukan karena kecerobohan Thian Toa-ciok.

Itulah sebabnya dia diutus untuk mendampingi pasukan ini, bila terjadi sesuatu hal maka masalah lebih mudah diatasi.

Setelah melihat sekejap bekas kaki di atas permukaan salju, dengan kening berkerut Ceng Ki-cong berkata, “Opas Thian, pasukan yang dipimpim Si-ciangkun terdiri dari dua puluh orang, meski ditambah Thi-tayjin, Ngo-cecu, Ciu-shiacu dan Pek-lihiap, jumlahnya paling dua puluhan, kenapa bisa muncul begitu banyak bekas kaki? Apalagi bekas kaki itu terbagi dalam dua jenis, yang satu tipis dan segera hilang ketika terhembus angin, yang kedua masih nampak baru saja dilalui, masakah di belakang pasukan induk masih ada pasukan lain?”

Thian Toa-ciok berangasan dan kurang sabaran, dia paling benci kalau disuruh putar otak, mendengar penjelasan ini dengan tak sabar katanya, “Aaah…kamu memang banyak mulut, memangnya kita mesti takut pada penyamun gunung?”

“Penyamun gunung tak perlu ditakuti, yang dikuatirkan justru seorang prajurit yang bernama Kiu-wi-hu (Rase berekor sembilan) Pok Lu-ci segera menukas sambil tertawa, “Ceng tua, kau tak usah curiga, meski ada beberapa penyamun yang menghadang, masakah mereka belum dibikin mampus oleh Si-ciangkun?”

“Justru yang ditakuti Si-ciangkun gagal menghadapi mereka” kata Ceng Ki-cong dengan kening berkerut.

“Kalau takut, pulang saja ke dalam pelukan makmu!” umpat Thian Toa-ciok gusar, ia segera mempercepat lari kudanya dan memasuki hutan lebih dulu, sambil melarikan kudanya kembali ia berseru, “Lebih bagus lagi kalau penyamun itu datang mencari kita, jadi kita tak perlu repot!”

“Tapi apa salahnya berhati-hati” seru Ceng Ki-cong dengan muka masam, “Kawanan penyamun dari Lian-in-ce bukan penyamun biasa.”

Belum selesai dia berkata, mendadak…”Sreet, sreeet, sreet” hujan anak panah meluncur datang dari arah depan.

Thian Toa-ciok yang berada paling depan sama sekali tidak menduga akan datangnya serangan itu, lagi pula dia pun sama sekali tidak siap, kelihatannya anak panah itu segera akan mengubah tubuhnya jadi seekor landak…

Di saat kritis itulah Ceng Ki-cong segera mengayunkan tongkat bambunya ke depan, dalam waktu singkat dia sudah merontokkan tujuh delapan belas batang anak panah.

Thian Toa-ciok amat gusar, sambil meraung keras dia kerahkan Hun-kim-sin-kang untuk melindungi tubuh, kemudian mementalkan sisa anak panah yang masih mengarah ke tubuhnya.

Serangan ini hampir sebagian besar ditujukan ke badan Thian Toa-ciok dan sebagian kecil ditujukan ke arah sepuluh orang prajurit, menghadapi ancaman yang tak terduga ini, serentak para jago melolos senjata untuk melindungi diri.

Jerit kesakitan bergema di udara, seorang prajurit yang menyamar jadi tukang tandu terlambat menghindar, tubuhnya segera terjerembab ke tanah dan tewas.

Thian Toa-ciok tahu musuh ada di tempat gelap dan menjadikan mereka sasaran tembak, bila tidak di atasi secepatnya, tak lama mereka semua pasti akan berubah jadi rombongan landak.

Maka sambil membentak keras dia melindungi tubuhnya dengan kedua belah tangan, kemudian menyerbu ke arah asal hujan anak panah itu.

Thian Toa-ciok termashur sebagai si Tangan sakti pemisah emas, kepandaian silatnya memang hebat, selapis cahaya emas yang menyilaukan mata segera memancar keluar dari telapak tangannya, dengan perlindungan kekuatan itu, selurtlh anak panah yang ditujukan ke arahnya segera berguguran di tanah.

Begitu menyerbu ke dalam hutan, ia disambut serangkaian bacokan golok yang hebat. Thian Toa-ciok mendengus dingin, serangan demi serangan dilontarkan secara keji, diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, empat lima orang penyamun tewas seketika terhajar pukulan pemisah emas itu.

Setelah Thian Toa-ciok berhasil menghadang sumber datangnya hujan panah itu, kesembilan orang prajuritnya serentak menyebarkan diri sambil menghampiri para pemanah yang bersembunyi, beberapa orang pemanah berhasil ditemukan dan langsung dibantai secara sadis.

Pada saat itulah tiba-tiba mendesing angin tajam dari atas pohon, disusul munculnya beberapa orang lelaki kekar yang melompat turun dari balik pepohonan sambil melepaskan bacokan maut.

Seorang prajurit yang menyamar sebagai tukang tandu tidak menduga datangnya bokongan itu, kepalanya langsung terpenggal dan tewaslah dia, sedang seorang prajurit yang menyamar menjadi pengemis kena terbacok tubuhnya hingga darah bercucuran.

Thian Toa-ciok meski kasar dan berangasan, dia terhitung orang yang amat setia kawan, apalagi sudah banyak pengalamannya dalam menghadapi berbagai pertempuran, menghadapi situasi yang begini gawat, segera dia gunakan ilmu tangan sakti pemisah emasnya untuk membunuh empat lima orang musuh, kemudian bentaknya nyaring, “Kalian cepat mundur ke sampingku, mari kita bertarung bahu-membahu!”

Ia sadar jumlah musuh yang mengepung mereka mencapai lima enam puluhan orang, sementara kekuatan sendiri hanya belasan orang, pertarungan yang tercerai-berai jelas sangat merugikan posisinya, karena itu dia minta anak buahnya agar bergabung menjadi satu.

Tiba-tiba bergema suara gelak tertawa yang amat nyaring, kemudian tampak seorang lelaki berjubah merah, berambut hijau, bertubuh tegap dan berwajah penuh cambang putih dengan membawa dua buah borgol besi yang sangat besar melompat turun dari atas pohon, senjata borgol itu sangat besar dan berat, beratnya mencapai dua tiga puluhan kati, namun anehnya biarpun sedang membawa benda seberat enam puluhan kati, orang itu seperti tidak merasa terbeban.

Begitu sampai di tanah, kembali orang itu berseru, “Sekarang sudah tiba gilirannya untuk merasakan kehebatan Kau-loyacu dari Lian-in-ce!”

Thian Toa-ciok terkesiap, ia sadar kepandaian silat kesembilan orang ketua benteng Lian-in-ce sangat hebat, orang yang baru muncul adalah ketua keenam yang disebut ’Thi-ga’ (borgol besi), juga dijuluki Ang-bau-lik-hoat (jubah merah rambut hijau), dia bernama Kau Cing-hong, ilmu silat andalannya adalah ilmu silat aliran keras, senjata borgolnya sangat menggetarkan sungai telaga, sebab hampir setiap senjata yang terbentur pasti mencelat lepas atau patah.

Sementara dia masih termenung, Kau Cing-hong sudah menghantamkan sepasang borgol besinya ke tubuh seorang prajurit yang menyamar jadi pengemis, kontan batok kepalanya hancur.

Menyaksikan hal ini, Thian Toa-ciok sangat gusar, ia membentak nyaring sambil menghajar mundur dua orang penyamun, lalu sambil menghadang jalan pergi Kau Cing-hong, bentaknya nyaring, “Lihat serangan!”

Telapak tangannya dibentangkan, lalu dengan ilmu pukulan sakti pemisah emas dia melepaskan babatan maut ke depan. Begitu mendengar desingan angin tajam yang mengham-’ piri tubuhnya. Kau Cing-hong sadar musuh bukan jago sembarangan, ia mendengus dingin, sambil memutar badan, borgol kirinya diayunkan ke depan menyongsong datangnya pukulan lawan.

“Blaaam!” ketika tangan Thian Toa-ciok saling bentur dengan senjata borgol Kau Cing-hong, kedua orang itu terkesiap dibuatnya, Thian Toa-ciok merasa pergelangan tangannya kaku kesemutan, ternyata ilmu tangan sakti pemisah emas yang telah dilatihnya puluhan tahun hingga mencapai tingkatan tak mempan dibacok senjata tajam, ternyata kali ini gagal merontokkan senjata borgol lawan.

Sebaliknya Kau Cing-hong kaget lantaran senjata borgolnya belum pernah gagal menghancurkan senjata lawan, tapi tangan musuh yang dihajarnya kali ini bukan saja tak berhasil dihancurkan, sebaliknya pergelangan tangan sendiri dibuat kesemutan bahkan sepasang kakinya sempat dipaksa terbenam beberapa senti ke dalam tanah, hal ini membuktikan kekuatan musuh paling tidak mencapai empat lima ratusan kati.

Dengan rasa kaget bercampur kagum Kau Cing-hong mengamati lawannya, tapi begitu melihat sinar keemasan yang lamat-lamat memancar dari balik lengannya, sambil mendengus dingin ia segera berseru, “Hmmm, ternyata tangan sakti pemisah emas memang bukan nama kosong belaka!”

“Kau pun cukup hebat!” sahut Thian Toa-ciok ketus.

Dasar keras kepala, setelah gagal dengan serangan pertamanya, Thian Toa-ciok segera merangkap telapak tangan di depan dada, lalu dengan jurus Tong-cu-pay-hud (bocah lelaki menyembah Buddha) ia menyerang lagi dari atas.

Kau Cing-hong sendiri terhitung seorang lelaki dengan watak kerbau, manusia macam dia tentu saja paling segan menghindari serangan musuh, melihat datangnya ancaman, cepat dia dorong sepasang borgol besinya ke depan, menyongsong datangnya ancaman.

“Blaaam!” sekali lagi terjadi benturan nyaring.

Sepasang tangan Thian Toa-ciok yang ditangkis Kau Cing-hong segera bergetar keras, badannya yang tinggi besar ikut ber-goncang hingga mundur tiga depa, sementara sepasang kaki Kau Cing-hong kembali tenggelam ke dalam tanah sedalam dua tiga inci.

Thian Toa-ciok mendengus dingin, kembali sepasang tangannya membacok dengan jurus anak lelaki menyembah Buddha, pikirnya, “Hmm, aku tidak percaya tak mampu menghajar remuk borgol rongsokmu itu!”

Setelah melihat serangan musuh, Kau Cing-hong juga berpikir, “Aku tak percaya tak mampu mematahkan sepasang tanganmu.”
“Blaaam!” sekali lagi terdengar suara benturan yang amat keras menggelegar di angkasa.

Untuk kesekian kalinya tubuh Thian Toa-ciok mencelat setinggi tujuh depa, sementara tubuh Kau Cing-hong melesak ke tanah sedalam setengah depa hingga mencapai lutut.

Tiga serangannya yang gagal merontokkan senjata lawan membuat rasa ingin menang Thian Toa-ciok makin tebal, sambil membentak nyaring sekali lagi dia melancarkan serangan dengan jurus yang sama, bocah lelaki menyembah Buddha.

Kau Cing-hong tak berani gegabah, apalagi setelah melihat serangan demi serangan yang dilancarkan lawan semakin menghebat, segera dia angkat senjata borgolnya untuk menangkis.

“Blaammm!” benturan keras yang memekikkan telinga sekali lagi bergema di udara, kali ini tubuh Thian Toa-ciok mencelat setinggi satu kaki, sebaliknya kaki Kau Cing-hong semakin melesak masuk ke dalam tanah.

Tak terlukiskan rasa kaget Kau Cing-hong melihat kenyataan ini, sebetulnya dia sudah jeri menerima serangan musuh, berhubung serangan tangan sakti pemisah emas musuh sudah tiba di depan mata, terpaksa dia harus menerimanya dengan keras lawan keras.

Baru saja Kau Cing-hong hendak melompat keluar dari dalam tanah, kembali pukulan Thian Toa-ciok dengan jurus bocah lelaki menyembah Buddha menindih tubuhnya.

Tak terlukiskan rasa kaget bercampur jeri yang dialami Kau Cing-hong waktu itu, dengan menghimpun tenaga dalam hingga dua belas bagian dia songsong datangnya ancaman itu, teriaknya, “I (ey, kenapa kalian diam saja? Cepat bantu aku!”

Bagai baru mendusin dari mimpi, serentak para penyamun melancarkan serangan, tapi kembali gempuran mereka dihadang ketu-juh prajurit.

“Blaaam!” untuk kesekian kalinya benturan keras menggelegar di udara, kali ini bukan saja tubuh Kau Cing-hong semakin melesak ke dalam tanah, bahkan sepasang bekas telapak tangan muncul di atas senjata borgolnya. Bisa dibayangkan apa jadinya bila pukulan itu bersarang di tubuhnya?

Kini Kau Cing-hong sadar betapa gawatnya situasi yang ia hadapi, bila pertarungan semacam ini dibiarkan berlangsung terus, meski senjata borgolnya tak sampai dihancurkan lawan, paling tidak tubuhnya bisa terpendam hidup-hidup dalam tanah, bila ingin lolos, satu-satunya jalan hanya mengharapkan bala-bantuan anak buahnya.

Baru saja pikiran ini melintas, Thian Toa-ciok dengan jurus yang sama juga kembali menindih tiba, pecah nyali Kau Cing-hong, segera dia angkat senjata borgolnya menyambut serangan itu dengan terpaksa.

Selama puluhan tahun malang melintang di dunia persilatan, si Borgol baja Kau Cing-hong selalu menganggap kekuatan lengannya luar biasa dan tiada tandingan, baru kali ini dia benar-benar ketemu batunya, bahkan sempat membuat dia pecah nyali dan ketakutan setengah mati.

Kembali empat lima gebrakan berlangsung cepat, kondisi Kau Cing-hong semakin mengenaskan, kelincahan permainan lengannya semakin menurun, bila pertarungan dilangsungkan lebih lanjut, tampaknya dialah yang bakal tewas.

Pada saat itulah mendadak terdengar jerit kesakitan bergema di angkasa, seorang prajurit yang menyaru jadi pengemis tewas terbunuh, sisanya yang enam orang makin keteter menghadapi kerubutan begitu banyak musuh, keadaan mereka sangat berbahaya.

Thian Toa-ciok orang kasar dan berangasan, namun terhadap anak buah dia amat sayang, apalagi terjebaknya mereka kali ini adalah gara-gara kecerobohannya, melihat anak buahnya terancam bahaya, segera dia berjumpalitan di udara, tak sempat lagi mendesak Kau Cing-hong, dia langsung menerjang kawanan penyamun itu sambil merentangkan lengannya melancarkan serangan dengan jurus Cho-yu-hun-kim (kiri kanan membagi emas) andalannya.

Dua orang penyamun yang kebetulan berada di sisinya kontan terhajar telak oleh serangan itu, bukan saja senjatanya patah, batok kepala mereka langsung hancur berantakan, tidak berhenti sampai di situ, sisa kekuatannya yang menumbuk di tubuh dua orang lainnya membuat tulang dada mereka remuk dan ikut tewas seketika.

Thian Toa-ciok membentak nyaring, kembali sepasang kakinya melancarkan serangkaian tendangan, “Duuk, duuuk!” dua orang penyamun terhajar hingga tewas, menggunakan kesempatan itu dia menjejakkan kembali kakinya di atas kepala dua orang penyamun lain dan melayang balik ke hadapan Kau Cing-hong.

Hanya dalam satu gebrakan, Thian Toa-ciok berhasil membantai enam orang, empat puluh delapan orang penyamun lainnya jadi pecah nyali dan kalut, kesempatan bagus ini segera dimanfaatkan enam orang prajurit itu, mereka menyerang makin gencar dan semakin bersemangat.

Di pihak lain. Kau Cing-hong sedang menghembuskan napas lega setelah melihat musuhnya mengalihkan sasaran serangannya, dia girang karena ada waktu untuk melepaskan diri dari jepitan tanah.

Baru setengah jalan ia menarik diri dari himpitan tanah, mendadak ia saksikan Thian Toa-ciok meluncur balik bagai seekor rajawali, hatinya jadi gugup, terpaksa dia gunakan lagi senjata borgolnya untuk membendung serangan lawan.

Siapa tahu Thian Toa-ciok sudah sebal melihat tampang musuhnya yang berjubah merah berambut hijau itu, dia ingin secepatnya menyelesaikan pertarungan ini, maka serangannya kali ini dia gunakan jurus serangan yang paling mematikan dalam ilmu tangan sakti pemisah emas miliknya yakni jurus Ngo-lui-hong-teng (lima guntur menggelegar di puncak).

Kau Cing-hong tidak menyangka musuh akan menyerang dengan jurus mematikan, meski dengan susah payah ia berhasil membendung datangnya serangan, namun benturan yang terjadi membuat badannya semakin terperosok ke dalam tanah sehingga sepasang lengannya tidak leluasa lagi untuk digerakkan.

“Mati aku kali ini!” keluh Kau Cing-hong dalam hati.

Di saat kritis itulah mendadak dari balik hutan terdengar seorang berseru sambil mendengus dingin, “Lak-ko, jangan kuatir, aku datang!”

“Sreet!” cahaya emas menembus udara langsung menusuk ke dada Thian Toa-ciok.

Bokongan ini datangnya selain cepat juga tak terduga, apalagi saat Thian Toa-ciok melancarkan jurus lima guntur menggelegar di puncak dadanya terbuka lebar tanpa perlindungan, hal ini membuat jiwa jagoan ini terancam.

Dalam gugupnya tak sempat lagi Thian Toa-ciok mengubah jurus, segera dia membentak nyaring, jurus serangan lima guntur menggelegar di puncak yang semula tertuju ke Kau Cing-hong segera diubah menghantam datangnya cahaya emas itu.

Ternyata orang yang melancarkan serangan bokongan itu tak lain adalah Cecu ketujuh Lian-in-ce, Kim-coa-ciong (si Tombak ular emas) Beng Yu-wi. Dia disebut orang si tombak ular emas karena sangat menguasai ilmu tombak, bahkan jurus serangannya cepat dan ganas bagai pagutan ular berbisa.

Rupanya Toa-cecu benteng Lian-in-ce sadar akan kehadiran pasukan prajurit kerajaan, maka memerintahkan Pat-cecu, si sepasang golok pencabut nyawa Be-ciangkwe untuk menghadapi pasukan yang dipimpin Liu Ing-peng, Lak-cecu si jubah merah rambut hijau Kau Cing-hong menghadapi pasukan yang dipimpin Thian Toa-ciok, sementara Jit-cecu, si Tombak ular emas Beng Yu-wi dan Kiu-cecu, si Tongkat raja bengis Yu Thian-liong membantu kedua orang rekannya.

Si Tombak ular emas Beng Yu-wi memang licik, dia sengaja mengincar jalan darah kematian Thian Toa-ciok kemudian melancarkan bokongan di saat lawan tidak menyangka.

Tusukan maut itu langsung mengancam jalan darah penting di hulu hati lawan, seandainya bersarang telak, bisa dipastikan pihak lawan segera akan roboh dalam keadaan mengenaskan.

Ketika tusukan itu tampaknya akan membuahkan hasil, tiba-tiba terdengar bentakan keras memekikkan telinga, pandangan matanya tahu-tahu jadi kabur dan sepasang tangannya terasa kesemutan, tak ampun tusukan itu melenceng tiga inci dari sasaran semula.

“Sreet!” ujung tombak langsung menusuk ke iga kiri Thian Toa-ciok.

Rupanya Thian Toa-ciok telah menggunakan ilmu auman singanya untuk memecahkan perhatian Beng Yu-wi, kemudian dengan mengandalkan ilmu Thi-poh-san yang telah dilatihnya puluhan tahun, dia sambut tusukan musuh dengan iga kirinya, ujung tombak musuh hanya mampu menusuk sedalam empat mili dan tak sanggup dilanjutkan lagi.

Melihat ujung tombaknya yang tajam dan runcing itu gagal menembus tubuh lawan, dengan tergopoh-gopoh Beng Yu-wi menarik kembali senjatanya, namun Thian Toa-ciok tidak memberi kesempatan, dengan jurus lima guntur menggelegar di puncak kembali dia menghantam batang tombak lawan kuat-kuat.

“Criiiing!” batang tombak seketika patah.

Jika ujung tombak Beng Yu-wi itu tidak tajam, mustahil dapat melukai kulit badan Thian Toa-ciok, kini dengan baju berlepotan darah, si Tangan sakti pemisah emas itu membentak nyaring, serangan yang dilancarkan teramat ganas, dia memang paling benci kalau dibokong orang secara licik.

Tak terlukiskan rasa kaget dan ngeri Beng Yu-wi saat itu, dia mulai gugup bercampur panik, lima gebrakan kemudian posisinya berada di bawah angin, ancaman bahaya maut mengincar tubuhnya setiap saat.

Namun ketika dilihatnya darah telah menodai baju Thian Toa-ciok, dia merasa sedikit lega, tahu musuhnya sudah terluka, dengan gerakan tubuh yang lincah, gesit dan lemas bagai seekor ular, dia berkelit dan menghindari setiap serangan dahsyat yang mengarah tubuhnya.

Apapun kemampuan Beng Yu-wi, paling tidak ia termasuk ketua nomor tujuh benteng Lian-in-ce, tentu saja tak gampang bagi Thian Toa-ciok untuk merobohkannya dalam waktu singkat.

Sepuluh gebrakan kemudian, posisi Beng Yu-wi semakin terperosok di bawah angin, mendadak terdengar seorang membentak keras, “Lojit, aku datang membantu!”

Ternyata Kau Cing-hong sudah berhasil lolos dari jebakan tanah, sambil mengayunkan senjata borgolnya, ia ikut terjun ke dalam arena pertempuran.

Dengan datangnya bantuan Kau Cing-hong, maka pertarungan pun berjalan tak seimbang, karena kemampuan yang dimiliki Thian Toa-ciok sebetulnya hanya sedikit di atas kemampuan kedua orang musuhnya, jika satu lawan satu, jelas Thian Toa-ciok akan menang.

Tapi kini keadaan Thian Toa-ciok satu tingkat di bawah kemampuan gabungan mereka berdua, bukan saja dia mesti waspada terhadap kekuatan lengan Kau Cing-hong yang luar biasa, setiap saat dia pun harus menghadapi kelicikan dan kelincahan Beng Yu-wi, tak heran sesaat kemudian posisinya berbalik di bawah angin.

Masih untung tombak ular emas andalan Beng Yu-wi sudah dihancurkan Thian Toa-ciok lebih dulu, sehingga dia menyerang dengan tangan kosong, padahal dia sudah jeri terhadap lawannya maka serangannya sedikit lebih lemah.

Sebaliknya Kau Cing-hong sudah berulang kali merasakan kehebatan lawan, dia pun tak berani mendekatinya, karena itu meski serangan gabungan mereka berhasil mendesak Thian Toa-ciok, namun untuk sesaat mereka pun tak bisa melukai lawan.

Di pihak lain, enam orang prajurit itupun tak mampu banyak berkutik, sebab dengan satu lawan delapan orang, posisi mereka amat berbahaya.

Dengan demikian dua rombongan pasukan yang dipersiapkan Si Ceng-tang hampir semuanya terperangkap dalam jebakan lawan. Bedanya, Liu Ing-peng berhasil membunuh Pat-cecu si Sepasang golok pencabut nyawa Be-ciangkwe, namun pasukannya hampir musnah karena hanya tersisa tiga orang, sedang pasukan Thian Toa-ciok dengan jumlah pasukan yang lebih banyak yaitu enam orang, belum berhasil membunuh Lak-cecu si Borgol baja Kau Cing-hong.

Kondisi kedua pasukan ini sesungguhnya amat berbahaya, keadaan mereka sekarang ibarat hewan ganas yang masuk perangkap, yang bisa mereka lakukan saat ini hanya melawan dengan sepenuh tenaga.

Satu-satunya harapan kini adalah tibanya pasukan induk yang akan membantu mereka terbebas dari bahaya.

Sayang harapan mereka sia-sia belaka, bila pasukan pembantu saja sudah dihadang musuh, mana mungkin pasukan induk dibiarkan bergerak bebas?

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: