Kumpulan Cerita Silat

24/09/2009

Pendekar Baja (25)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 10:05 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

Apa yang dipakainya, bagaimana dandanannya, siapa pula yang mengikut di belakangnya dan bagaimana bentuk orang-orang ini, sama sekali Cu Jit-jit tidak memerhatikannya, begitu pula Him Miau-ji.

Maklum, pandangan mereka hanya tertarik oleh perempuan cantik ini saja, pada tubuhnya seolah-olah terpancar cahaya yang menyilaukan dan mengaburkan pandangan orang.

Dewi kahyangan yang bercahaya gemilang ini ternyata ibu Ong Ling-hoa, Ong-hujin atau Nyonya Ong.

Terlihat Sim Long sedikit membetulkan tempat duduknya, lalu memberi salam dan menyapa, “Ong-hujin…”

“Sim-kongcu…” Ong-hujin balas menegur dengan tersenyum.

Kedua orang saling menyapa serupa sahabat yang sudah lama berpisah dan sekarang baru bertemu lagi. Tapi juga serupa kenalan baru sehingga kedua pihak sama sungkan-sungkan. Keduanya lantas duduk berhadapan.

Akhirnya Jit-jit menarik napas lega, sebab dilihatnya jarak berduduk mereka cukup jauh.

Gadis tadi mengangkat poci dan menuangkan arak pula bagi Sim Long dengan sopan.

Dengan tersenyum manis Ong-hujin lantas berkata pula, “Cara Ling-hoa mengundang Sim-kongcu ke sini agak kasar, untuk itu kuminta Sim-kongcu suka memaafkannya.”

“Ah, aku pun tahu kedatanganku ini pasti akan berjumpa pula dengan wajah bidadari, betapa pun Ong-kongcu pasti tidak berani menggangguku, masakah perlu kuberi maaf segala?”

Ong-hujin tertawa merdu, “Tapi cara kerja Ling-hoa sering ceroboh, masakah Sim-kongcu yakin Ling-hoa takkan membunuhmu.”

“Kuyakin tenagaku masih cukup berguna, bilamana Hujin ingin bekerja besar, mana bisa membunuh orang yang masih berguna?” ujar Sim Long.

Maka kedua orang lantas tertawa, jika tertawa Ong-hujin sangat menggiurkan hati setiap lelaki, tertawa Sim Long juga dapat memabukkan setiap anak perempuan.

Melihat tertawa mereka ini, diam-diam Si Kucing membatin, “Kedua orang ini sungguh setanding benar, siapa pun tidak bisa dikalahkan.”

Sebaliknya diam-diam Jit-jit lagi geregetan, pikirnya, “Apa maksud rase tua ini? Mengapa dia tertawa sedemikian terhadap Sim Long, apakah dia juga penujui Sim Long?”

Akhirnya Sim Long berhenti tertawa dan menatap Ong-hujin dengan tajam. “Jika di antara kita sudah ada saling pengertian, sebenarnya ada keperluan apa tentu sekarang dapat Hujin katakan terus terang.”

“Ya, memang ada suatu urusan ingin kumohon bantuan Kongcu,” kata Ong-hujin.

“Apakah Hujin minta kuhadapi seorang?”

“Ah, rupanya Kongcu sudah dapat menyelami pikiranku,” ujar Ong-hujin dengan tertawa. “Memang betul, ingin kuminta bantuan Kongcu untuk menghadapi satu orang, yaitu…”

“Koay-lok-ong?” tukas Sim Long dengan tersenyum.

“Siapa lagi selain dia,” ujar Ong-hujin. “Memangnya siapa lagi yang perlu Sim-kongcu turun tangan kecuali dia.”

“Tapi…tapi putra Anda pun seorang tokoh ajaib yang sukar dibandingi, apalagi masih ada Hujin yang mengatur segala sesuatu, apa yang dapat kulakukan pasti juga dapat dilaksanakan oleh putra Anda,” jawab Sim Long.

“Tidak, biarpun Ling-hoa juga pintar, tapi tidak dapat membandingi sebuah jari Sim-kongcu. Apalagi urusan ini, sama sekali dia tidak sanggup, tidak mungkin bisa.”

“Memangnya urusan apa?” tanya Sim Long.

“Kehebatan Koay-lok-ong tentu sudah diketahui oleh Kongcu.”

“Ya, tahu sekadarnya.”

“Kemampuan orang ini selain selicin rase, juga sekeji serigala dan setangkas singa, menghadap orang semacam ini tidak boleh dilawan dengan akal, juga tidak boleh ditandingi dengan kekerasan.”

“Jika demikian, lantas cara bagaimana harus kuhadapi dia?” tanya Sim Long.

“Betapa pun setiap manusia tentu mempunyai kelemahan,” ujar Ong-hujin dengan tertawa. “Baik atau buruk Koay-lok-ong juga manusia dan tidak terkecuali, maka kalau kita ingin mengatasi dia, terpaksa harus bertindak mencecar titik kelemahannya.”

“Apa kelemahannya,” tanya Sim Long.

“Sebenarnya juga bukan kelemahan jika kita bilang dia sayang kepada orang berbakat, atau dengan perkataan lain, katakanlah dia suka disanjung puji, suka dijilat orang. Setiap orang cerdik pandai bila ingin bekerja baginya pasti takkan ditolaknya.”

“Haha, pantas, rupanya Koay-lok-ong suka kepada manusia penjilat pantat, makanya begitu banyak pengikutnya,” kata Sim Long dengan tertawa.

“Ya, memang banyak anak buahnya, tapi tidak ada tokoh yang menonjol…serupa Sim-kongcu.”

“Wah, jangan-jangan Hujin bermaksud menyuruhku menjadi agen rahasia di tempat Koay-lok-ong?”

“Betul, cara demikian mungkin agak bikin susah pada Kongcu, tapi jika kita ingin mencapai maksud tujuan kan harus menggunakan segala cara?”

“Ah, kiranya Hujin hendak menyuruhku menjadi agen rahasia di tempat Koay-lok-ong, tapi pekerjaan ini bukankah jauh lebih tepat dilakukan oleh putra Anda sendiri?”

“Pekerjaan ini sekali-kali tidak dapat dilakukan Ling-hoa.”

“Oo?!” heran juga Sim Long.

“Pekerjaan ini mestinya tidak sukar dilakukan Ling-hoa, meski kecerdasannya tidak dapat membandingi Kongcu, tapi cukup lumayanlah. Cuma dia mempunyai suatu kelemahan besar.”

“Kelemahan apa?” tanya Sim Long.

“Sebab Koay-lok-ong kenal dia.”

Ucapan ini membikin Sim Long agak melengak. “Kenal dia? Cara bagaimana bisa mengenalnya?”

“Maukah engkau tidak tanya soal ini?”

Sim Long termenung sejenak, “Tapi kepandaian menyamar Ong-kongcu kan mahatinggi dan tidak ada bandingannya di kolong langit ini…”

“Kepandaian menyamar Ling-hoa memang lumayan, tapi coba jawab, bila sesudah menyamar lalu kalian tinggal bersama setiap hari, apakah Kongcu takkan mengetahui penyamarannya?”

“Ya, betul, jika begitu tentu Koay-lok-ong dapat mengetahui penyamarannya.”

“Makanya kupikir sukarlah mencari pengganti Ling-hoa untuk melakukan tugas ini kecuali Sim-kongcu sendiri.”

“Tapi ada juga anak buah Koay-lok-ong yang mengenal diriku.”

“Siapa?” tanya Ong-hujin.

“Kim Bu-bong…”

“Dia kan sahabat karibmu, masa akan membongkar rahasiamu?”

“Wah, rupanya Hujin mengetahui segalanya, tapi…”

“Tapi masih ada anak buahnya yang tidak bersahabat denganmu, begitu bukan?”

“Betul, misalnya Han Ling Si Duta Arak dan Suto Si Duta Kecantikan.”

Ong-hujin tertawa, katanya, “Tapi kedua orang ini selamanya takkan melihat Koay-lok-ong lagi.”

“O, jadi mereka pun serupa diriku, telah terjatuh dalam cengkeraman Hujin?”

“Betul, bedanya Kongcu adalah tamuku terhormat, sebaliknya mereka adalah tawanan dalam penjara.”

Sim Long terdiam sejenak, tiba-tiba ia berkata pula dengan tertawa, “Tapi masih ada sesuatu yang tidak kupahami.”

“Urusan apa?”

“Hujin kan tahu Koay-lok-ong juga musuhku, andaikan tidak diminta Hujin juga akan kuhadapi dia. Lantas mengapa Hujin bersusah payah menghendaki kutunduk kepada perintahmu untuk menghadapi dia?”

“Soalnya cara kalian menghadapi Koay-lok-ong tidak sama dengan caraku.”

“Oo?!” Sim Long jadi ingin tahu.

“Jika tidak kuundang Sim-kongcu ke sini dan mengadakan persekutuan denganmu, bila ada kesempatan tentu Koay-lok-ong akan kau binasakan, betul tidak?”

“Dengan sendirinya, masakah Hujin…”

“Aku justru tidak menghendaki kematiannya,” senyum yang semula menghiasi muka nyonya cantik itu mendadak lenyap, lirikan matanya yang menggiurkan seketika juga berubah mendelik. Ia memandang kejauhan sana dan berucap pula sekata demi sekata, “Aku justru menghendaki dia hidup, supaya dia dapat menyaksikan segala usahanya gagal total satu per satu, kuingin dia hidup dan merasakan pukulan batin satu demi satu.”

“Brak”, mendadak dia menggebrak meja dan menyambung pula dengan suara bengis, “Aku menghendaki dia hidup tidak mati pun tidak, jika dia mati kan terlalu enak baginya.”

Itulah dendam, dendam kesumat yang menakutkan.

Sim Long memandangnya dengan melenggong. Ia tidak mengerti mengapa Ong-hujin ini mempunyai permusuhan sedemikian mendalam dengan Koay-lok-ong? Sesungguhnya permusuhan apakah itu?

Entah selang berapa lama, akhirnya Ong-hujin tertawa manis lagi, tertawa cerah serupa bunga mekar di musim semi dan membikin suasana berubah hangat lagi.

“Nah, sekarang tentunya Sim-kongcu mengerti segalanya?” katanya kemudian.

“Tentu saja mengerti, hanya orang tolol yang tidak mengerti,” sahut Sim Long dengan tertawa.

“Dan bila ada agenku serupa Sim-kongcu di samping Koay-lok-ong, setiap gerak-gerik Koay-lok-ong tentu takkan terlepas dari pengawasanku…”

“Ya, dengan demikian apa pun yang akan dilakukannya dapat Hujin sambut dia dengan sekali kemplang, biarpun dia mempunyai kepandaian setinggi langit juga pasti akan gagal.”

“Ya, begitulah,” ucap Ong-hujin dengan tertawa. “Makanya untuk itulah Sim-kongcu mau membantuku, bukan?”

“Memangnya boleh kutolak?”

“Mungkin tidak boleh.”

“Ya, jika tidak boleh, terpaksa kuterima,” jawab Sim Long dengan tertawa.

Ong-hujin lantas mengangkat cawan arak, “Terima kasih, marilah kusuguh Kongcu secawan dulu, semoga usaha kita mencapai sukses.”

Keduanya lantas menenggak arak, lalu saling pandang dengan tertawa. Sebaliknya hampir meledak perut Him Miau-ji saking mendongkolnya.

Diam-diam ia menggerutu, “Berengsek benar Sim Long ini, masakah terima begitu saja, memangnya takut dicaplok olehnya?”

Dengan sendirinya Jit-jit terlebih gemas daripada Him Miau-ji, pikirnya, “Pantas Ong Ling-hoa bermuka tebal, ternyata ibunya terlebih tidak tahu malu.”

Meski Ong-hujin bilang mau menyuguh secawan kepada Sim Long, praktiknya dia telah minum tiga cawan, mukanya menjadi merah dan tambah memesona.

Setelah dipandang dan dipandang lagi, tiba-tiba Miau-ji tidak mendongkol pula. Terpikir olehnya, “Apa yang dilakukan Sim Long ini jangan-jangan cuma tipu akal belaka. Bilamana nanti Ong-hujin mengirim dia ke Kwan-gwa, kan sama seperti telah membebaskan dia dan selanjutnya dia dapat berbuat sesukanya.”

Berpikir demikian, hampir saja ia tertawa. Ia merasa Ong-hujin ini sesungguhnya tidak begitu pintar sebagaimana disangkanya, sebaliknya sangat bodoh.

Terdengar Ong-hujin bicara pula, “Sebenarnya aku tidak kuat minum arak, tapi hari ini harus kuminum sepuasnya dengan Kongcu sebagai tanda selamat jalan.”

“Selamat jalan?” Sim Long menegas.

“Ya, tiga hari kemudian Kongcu kan harus berangkat ke Kwan-gwa untuk melaksanakan tugas berat, sebab itulah di dalam tiga hari ini harus kuladenimu dengan baik.”

Lirikan matanya sungguh lebih memabukkan daripada arak, meski Sim Long juga memandangnya, namun seperti tidak paham arti yang terkandung dalam lirikan orang.

Ia cuma berkata dengan tersenyum, “Dan apakah aku akan berangkat begitu saja?”

“Dengan sendirinya tidak, sudah kurancang cara bagaimana akan memperkuat perjalanan Kongcu.”

“Tapi sama sekali aku tidak tahu jejak Koay-lok-ong…”

“Jangan khawatir,” sela Ong-hujin dengan tertawa. “Dengan sendirinya akan kuatur supaya engkau dapat bertemu dengan Koay-lok-ong. Dengan tokoh muda semacam Kongcu, wajahmu juga asing bagi dunia Kangouw, bila Koay-lok-ong melihat dirimu pasti akan dipandang sebagai benda mestika, dan jangan harap lagi Kongcu akan dapat meninggalkan dia.”

“Lalu?” Sim Long berkedip-kedip.

“Lalu jadilah Kongcu sebagai orang kepercayaan Koay-lok-ong.”

“Ah, juga belum tentu. Jika dia tidak mau memercayaiku, lantas bagaimana?”

“Orang semacam Kongcu masakah tidak tahu cara bagaimana mendapatkan kepercayaannya? Ibaratnya segenggam jarum ditaruh di dalam kantong, mustahil jarum itu tidak akan merobek kantong?”

“Aha, kiranya Hujin menghendaki kulamar langsung kepada Koay-lok-ong. Tapi ada lagi satu hal, masakah Hujin mau melepaskan kepergianku begini saja tanpa menggunakan sesuatu cara untuk menjaga kemungkinan pembelotanku setiba di tempat tujuan?”

“Boleh coba kau terka cara apa yang akan kupakai?” ujar Ong-hujin dengan tertawa.

“Dengan racun umpamanya, ada semacam racun yang bekerja secara lambat atau sampai batas waktunya baru mulai bekerja. Bisa jadi racun semacam ini sekarang sudah berada di dalam perutku.”

“Kongcu adalah tokoh pujaan Bu-lim zaman ini, jika kuperlakukan Kongcu dengan cara rendah begini bukan saja berarti memandang rendah diri Kongcu, bahkan juga merendahkan martabatku sendiri.”

“Atau dengan cara lain, mungkin Hujin diam-diam telah menugaskan orang lain untuk mengawasi gerak-gerikku di sana…”

Mendadak Ong-hujin tertawa nyaring dan memotong ucapan Sim Long, “Ai, betapa bagusnya akal ini, siapa pula di dunia ini, yang mampu mengawasi tindak tanduk Sim-kongcu kita? Betapa pun bodohku masakah dapat kugunakan cara bodoh begini?”

“Atau mungkin Hujin akan minta aku bersumpah berat…”

“Hahaha,” kembali Ong-hujin memotong dengan tertawa, “kalau di dunia ini ada hal yang tidak boleh dipercaya, maka hal itu adalah sumpah lelaki terhadap orang perempuan. Bila ada anak perempuan bodoh yang mau percaya kepada sumpah lelaki, maka selama hidup anak perempuan itu pasti akan merana.”

“Wah, tampaknya Hujin sendiri sudah berpengalaman?” ujar Sim Long dengan tertawa.

“Memangnya kau lihat sekarang aku sedang merana?” sahut Ong-hujin dengan melirik genit.

“Ya, orang yang sering membikin orang lain merana, dia sendiri tentu takkan merana,” kata Sim Long.

Keduanya lantas saling pandang dan tertawa pula.

Mendengar suara tertawa mereka, perut Miau-ji menjadi sakit saking dongkolnya, pikirnya, “Berengsek Sim Long ini, dalam keadaan begini masih bisa berkelakar dengan dia. Wahai Sim Long, katanya engkau orang pintar, mengapa engkau pun tidak tahu dengan cara bagaimana orang akan mengendalikan dirimu.”

Perut Jit-jit sih tidak sakit, tapi hatinya yang sakit, pikirnya, “Sering membikin orang merana, dia sendiri takkan merana…Bagus, Sim Long, kiranya beginilah pribadimu, baru sekarang kukenal siapa kau!”

Padahal sesungguhnya orang macam apa Sim Long itu belum lagi diketahuinya.

Terdengarlah Ong-hujin berkata pula dengan mengikik tawa, “Kecuali cara-cara bodoh begitu apakah Kongcu mengira aku tidak mempunyai akal lain?”

“Hujin mempunyai beribu macam akal, sungguh tidak dapat kuterka,” sahut Sim Long.

“Kecuali dengan cara paksa dan mengawasi tindak tanduk Kongcu, memangnya tidak dapat kubikin Kongcu melakukan tugas ini secara sukarela. Dengan begitu aku pun tidak perlu main paksa dan repot mengawasi gerak-gerikmu lagi?”

“Tapi Hujin pun jangan lupa, tidaklah mudah untuk membuatku takluk lahir batin,” kata Sim Long dengan tertawa.

Ong-hujin tertawa menggiurkan, dengan tangannya yang putih halus ia membelai rambutnya yang indah, gayanya memesona membuat orang akan menerka berapa usianya, membuat orang melupakan akan umurnya.

“Dengan sendirinya kutahu hal ini tidak mudah, tapi sesuatu yang semakin sulit diperoleh kan semakin berharga, terlebih bagi seorang perempuan.”

“Ya, betul.”

“Dan biasanya barang berharga juga harus ditukar dengan barang berharga,” kata lagi Ong-hujin. “Bahwasanya di dunia Kangouw sekarang ada tiga macam barang yang paling berharga dan sukar diperoleh, apakah kau tahu?”

“Wah, rasanya belum pernah kudengar…” ucap Sim Long, “Barangkali…kitab pusaka simpanan Siau-lim-si termasuk satu di antaranya.”

“Biarpun Siau-lim-pay terkenal perguruan terbesar di dunia persilatan, tapi selama ini belum pernah terjadi tokoh Siau-lim-pay diakui sebagai jago nomor satu di dunia, dari sini terbukti bahwa berbagai cerita mengenai ilmu silat Siau-lim-si hanya dongeng belaka, apakah di biara itu benar tersimpan kitab pusaka atau tidak sukarlah diketahui dengan pasti.”

“Wah, jika kitab pusaka Siau-lim-si saja tidak terhitung benda berharga, apalagi kitab pusaka perguruan lain?” ujar Sim Long tertawa.

“Kitab pusaka pelajaran ilmu silat adalah benda mati, coba jawab, ada berapa orang di dunia yang memperoleh kungfu sejati dari kitab-kitab ini? Hanya kecerdasan, keuletan, pengalaman, ditambah lagi giat berlatih, semua itulah unsur penting untuk menguasai semacam kungfu yang ampuh. Soalnya orang awam kurang pengertian dan sering terkecoh oleh berbagai cerita tentang berbagai kitab pusaka segala. Terlebih kitab silat kaum hwesio yang katanya tidak ada tandingannya, semua itu cuma omong kosong belaka.”

“Wah, Hujin berani bicara apa yang tidak berani dibicarakan orang lain, sungguh pikiranku jadi terbuka. Bilamana kaum kesatria sama paham akan dalil ini, tentu takkan terjadi korban sia-sia dalam pertemuan di Wi-san dahulu dan dunia persilatan sekarang juga takkan hampa begini. Nyata jalan pikiran Hujin memang lain daripada yang lain.”

“Selama hidupku tidak suka disanjung puji orang, tapi ucapan Kongcu ini sungguh membikin hatiku sangat gembira. Sekarang coba kau terka lagi barang berharga lain.”

Sim Long berpikir sejenak, katanya kemudian, “Aha, betul Hun-bong-siancu terkenal memegang sepotong Hun-bong-leng (tanda perintah), barang siapa melihat Hun-bong-leng semuanya akan tunduk kepada perintahnya. Tentunya benda ini termasuk salah satu paling berharga.”

“Ah, rupanya Kongcu sengaja menyanjung diriku lagi,” ujar Ong-hujin dengan tertawa. “Umpama betul aku ini Hun-bong-siancu masa lampau, rasanya juga takkan gembira setelah mendengar ucapanmu ini. Hun-bong-leng itu paling-paling juga cuma barang untuk menakut-nakuti orang saja, terhitung benda pusaka apa?”

“Wah, lantas apa lagi?…Ah, barangkali pedang inti baja milik Thi-kiam-siansing, pedang itu tentunya benda mestika?”

“Pedang juga benda mati, biarpun senjata paling tajam di dunia, bila berada di tangan orang awam, tetap akan menjadi besi karatan yang tak berguna,” ia tuding si gadis cantik yang melayani Sim Long tadi dan menambahkan, “Boleh coba kau tanya Ci-hiang, pedang pusaka yang dipegangnya itu apakah mampu mengalahkanmu?”

“Betul juga,” ujar Sim Long.

“Tapi ketiga benda mestika yang kumaksudkan itu biarpun jatuh di tangan orang awam tetap berguna juga, sebab itulah baru dapat dianggap sebagai benda mestika benar-benar.”

“Benda mestika yang Hujin maksudkan jangan-jangan benda hidup?” tanya Sim Long tiba-tiba.

Bola mata Ong-hujin mengerling, sahutnya dengan tertawa, “Yang satu barang mati, yang dua benda hidup.”

“Wah, rasanya kuperlu minum arak lagi untuk mencari ilham,” kata Sim Long tertawa.

Cepat si gadis bernama Ci-hiang tadi menuangkan arak lagi dan Ong-hujin pun menyilakan orang minum dengan tertawa manis.

Sehabis minum secawan, segera Sim Long berkeplok dan berseru, “Aha, betul. Keluarga Ko turun menurun mewariskan harta kekayaan beribu juta tahil perak dan emas, kekayaannya melebihi kas negara, apakah ini termasuk satu di antara yang Hujin maksudkan?”

“Akhirnya tertebak juga satu di antaranya oleh Kongcu,” jawab Ong-hujin dengan tertawa. “Kekayaan keluarga Ko memang sukar dihitung dan menjadi idam-idaman setiap orang Kangouw. Lalu kedua benda hidup lainnya?”

“Benda hidup…hidup…Ah, jangan-jangan kuda mestika Tiang-pek-san-ong dan anjing ajaib milik Opas Sakti Ku Lam?”

“Bukan, semuanya bukan.”

“Atau harimau dari Pek-siu-san-ceng, atau elang sakti milik keluarga Tik…”

“Bukan, seluruhnya bukan.”

“Wah, segala macam binatang ajaib dan hewan aneh telah kusebut dan tetap bukan yang dimaksudkan Hujin, aku jadi tidak tahu lagi apa yang harus kukatakan.”

“Memangnya di dunia ini cuma binatang atau hewan saja terhitung makhluk hidup?”

“Memangnya ada…ada lagi?”

“Manusia, masakah manusia bukan makhluk hidup?” ujar Ong-hujin sambil mengikik.

Sim Long melengak, segera ia pun tertawa, “Ah, betul, memang manusia juga makhluk hidup.”

“Nah, sekarang tentunya dapat kau tebak.”

“Tidak, malahan aku tambah bingung, di dunia ini tidak sedikit orang kosen dan manusia ajaib…”

“Baiklah, biar kukatakan padamu, kecuali harta kekayaan keluarga Ko, benda mestika yang kedua itu adalah tangan mendiang Sim Thian-kun.”

“Hah, tangan…tangan Sim Thian-kun?”

“Betul, tangan Sim Thian-kun mahasakti, dalam sekejap ia sanggup menghabiskan berlaksa tahil emas, tapi pada saat lain ia pun mampu mengumpulkan jumlah yang lebih banyak…Tangan Sim Thian-kun dapat menentukan mati-hidup seorang, dapat meruntuhkan rumah dan menggugurkan gunung, dapat menghancurkan segala tapi juga mampu membuat macam-macam hal yang sukar dibayangkan, asalkan tangan Sim Thian-kun bergerak, segala urusan di dunia Kangouw bisa segera berubah.”

Sampai terkesima Sim Long mendengarkan, gumamnya, “Tangan Sim Thian-kun…sungguh tangan yang hebat.”

Ia angkat cawan dan menenggak arak.

“Dan yang ketiga itu jauh lebih berharga,” kata Ong-hujin, ia pun angkat cawan dan menenggak habis isinya sambil melirik Sim Long dengan kerlingan yang menggiurkan, tanyanya dengan tersenyum genit, “Masakah sekarang belum lagi dapat kau terka?”

Sim Long juga menatapnya, tiba-tiba ia tertawa dan berkata, “Ah, jangan-jangan ialah Hujin sendiri.”

Ong-hujin tertawa nyaring, “Kembali tepat tebakanmu.”

Lirikan Ci-hiang sudah cukup menggiurkan dan memikat, bisa membikin sukma orang melayang ke awang-awang, tapi kalau dibandingkan kerlingan Ong-hujin, mata Ci-hiang akan lebih mirip mata ikan mati yang buram. Kerlingan mata Ci-hiang sudah cukup membuat Jit-jit ingin geregetan saja tidak bisa.

Meski Jit-jit juga orang perempuan, tapi demi melihat kerlingan mata orang, entah mengapa, perasaan sendiri juga terombang-ambing dan hampir tidak sanggup berdiri.

Dengan kerlingan mata begitulah Ong-hujin memandang Sim Long, katanya pula, “Kongcu tahu, berapa banyak lelaki di dunia Kangouw ini telah mati hanya karena ingin bermesraan denganku. Tapi biarpun mati mereka pun mati secara sukarela.”

Dia bicara dengan sangat lambat, sangat memikat, dengan senyum yang memabukkan, katanya pula, “Sebabnya adalah karena aku bukan wanita biasa, betapa tinggi kungfuku dalam hal ilmu silat boleh dikatakan sudah mencapai puncaknya, tapi kungfuku dalam hal lain bahkan sepuluh kali lebih hebat daripada ilmu silatku.”

Sim Long tampak melenggong.

Maka Ong-hujin menyambung pula, “Asal aku mau, dapat kubikin setiap lelaki tergila-gila dan dapat kubuat dia menikmati kesenangan yang tak terpikir olehnya biarpun dalam mimpi.”

Muka Ci-hiang tampak merah dan menunduk sambil tertawa cekikikan.

“Kau tertawa apa?” tanya Ong-hujin. “Ini pun semacam seni, kesenian yang paling tinggi. Asalnya aku hidup sebatang kara, tapi lantaran inilah dapat kuyakinkan kungfuku yang sempurna dan tercapai seperti apa yang sekarang ini. Siapa pun, asalkan sudah menyentuh tubuhku, selama hidupnya pasti takkan terlupakan.”

Sim Long menarik napas panjang, seperti mau bicara, tapi urung. Tampaknya dia tidak sanggup bicara lagi.

“Entah sudah berapa banyak orang lelaki, berapa banyak tokoh ternama yang ingin naik surga lagi bersamaku, mereka tak sayang mempersembahkan segalanya kepadaku, rela berlutut dan merangkak di depanku dan memohon, tapi sekarang…” Ong-hujin tersenyum dan meneruskan, “Sekarang akan kugunakan tubuhku yang paling berharga ini untuk menukar hatiku. Kupikir ini adalah bisnis yang paling adil.”

Sim Long terkesima dan tidak dapat bergerak lagi. Sudah banyak perempuan jalang dan janda gasang yang pernah dilihatnya, tapi tiada seorang pun serupa Ong-hujin ini.

Meski pada mulutnya bicara hal-hal yang cabul, tapi sikapnya masih tetap suci bersih, meski yang dikemukakannya adalah bisnis yang paling janggal, namun caranya bicara serupa orang yang lagi berunding jual-beli biasa.

Dia adalah perawan sucinya perempuan jalang, juga perempuan jalangnya perawan suci.

“He, kenapa engkau diam saja, apakah engkau tidak percaya?” tanya Ong-hujin.

Habis bicara demikian, mendadak tangannya mulai bekerja, sepotong demi sepotong ia menanggalkan bajunya. Meski sedang menanggalkan pakaian, gayanya tetap indah dan cantik.

Di dunia ini memang tidak banyak orang perempuan yang mampu mempertahankan gayanya yang tetap indah pada waktu menanggalkan pakaian, jarang pula yang tahu bahwa gaya pada waktu membuka pakaianlah paling menarik hati lelaki.

Maka tubuh Ong-hujin pun seluruhnya terpampang di depan mata Sim Long, terpampang dalam keadaan telanjang bulat.

Pundaknya yang halus licin, buah dadanya yang padat dan menegak, pinggangnya yang ramping, kakinya yang panjang dengan garis yang serasi, terutama betisnya yang indah…

Semua itu pada hakikatnya bukan lagi tubuh manusia, itulah perpaduan antara bidadari dan perempuan jalang.

Meski tubuhnya dalam keadaan bugil, namun sikapnya tiada ubahnya dalam keadaan berpakaian mentereng. Di dunia ini memang jarang ada perempuan yang tetap dapat mempertahankan gayanya yang indah dalam keadaan bugil.

“Aku…aku…kau…” Sim Long jadi gelagapan.

Ong-hujin tersenyum manis, “Bukan cuma kuserahkan tubuhku kepadamu, bahkan kuserahkan untuk selamanya, dan aku pun minta kau serahkan hatimu kepadaku untuk selamanya. Kujamin selanjutnya engkau pasti akan menikmati segala macam kebahagiaan yang tidak mungkin bisa dinikmati oleh setiap lelaki di dunia ini.”

Ia merandek sejenak, lalu menyambung pula sekata demi sekata, “Kujadi istrimu!”

Sampai di sini semua orang yang mengintip di ruang sebelah sama melenggong. Diam-diam Him Miau-ji menjerit di dalam hati, “Jangan, tidak, tidak boleh jadi!”

Tubuh Cu Jit-jit juga bergetar keras dan hampir jatuh kelengar.

Bahwa mama Ong Ling-hoa ingin menjadi istri Sim Long, sungguh mimpi pun tak pernah terpikir oleh siapa pun. Bukan cuma Him Miau-ji dan Cu Jit-jit, air muka Ong Ling-hoa juga sama berubah.

“Bagaimana Sim-kongcu, kau setuju?” terdengar Ong-hujin lagi bertanya pula.

Semua orang sama terbelalak dan ingin tahu bagaimana jawaban Sim Long.

Anak muda itu sedang menatap Ong-hujin, kembali ujung mulutnya menampilkan senyuman yang khas, senyuman yang juga mengandung ejekan, tanyanya, “Benar kau ingin menjadi istriku?”

“Dengan sendirinya benar, kau…”

“Baik!” tukas Sim Long.

Jawaban “baik” ini serupa bunyi guntur di siang bolong yang membikin Him Miau-ji, Cu Jit-jit dan Ong Ling-hoa sama melongo.

Tampaknya Ong-hujin juga tercengang oleh jawaban orang, ia menegas, “Engkau benar-benar mau?”

“Sudah tentu benar,” jawab Sim Long. “Urusan kawin yang mahapenting mana boleh dibuat mainan?”

Ong-hujin lantas menatap lekat-lekat kepada Sim Long, tersembul pula senyumnya yang menggiurkan, “Aku ingin tanya sesuatu lagi padamu.”

“Sekarang engkau boleh berbuat apa pun padaku, apalagi cuma tanya sesuatu,” kata Sim Long dengan tertawa.

“Meski kutahu engkau akan setuju, tapi tidak kusangka engkau akan menjawab secepat itu, sebenarnya apa…apa sebabnya? Dapatkah kau katakan padaku?”

Sim Long mengangkat sumpit, dicapitnya sepotong udang dan berkata, “Karena aku ingin Ong Ling-hoa menjadi anakku, maka kuterima tawaranmu. Apalagi…” ia pandang Ong-hujin dengan tertawa, sebaliknya sumpit yang mencapit udang mendadak menjentik ke sana. Kontan sepotong udang masak saus manis itu melayang ke lubang kecil tempat Ong Ling-hoa mengintip terus menerobos lubang itu.

Ong Ling-hoa memang lagi melenggong, juga tidak mengira akan tindakan Sim Long ini, meski dia sempat menarik kepala, tidak urung mukanya tertimpuk oleh udang saus yang menerobos tiba itu.

“Ong Ling-hoa,” terdengar Sim Long berseru di ruang sebelah, “tentu sudah cukup kau tonton apa yang terjadi ini, sekarang aku sudah menjadi ayahmu, masakah engkau masih sembunyi di situ?”

“Ai, memang sudah kuduga pasti tidak dapat mengelabuimu,” ujar Ong-hujin dengan tertawa.

“Pada hakikatnya engkau memang sengaja membuatku tahu mereka sedang mengintip, karena itu caraku bicara dengan sendirinya menjadi lebih prihatin, apa yang kusanggupi padamu juga takkan berubah.”

“Mungkin engkau tidak tahu, justru sengaja kubikin kau bicara seperti ini di depan nona Cu itu, dengan begitu seterusnya ia pun akan putus cintanya padamu,” dengan tersenyum Ong-hujin memakai lagi bajunya, lalu menambahkan, “Cuma keenakan mata Si Kucing itu.”

“Jika engkau mau membalik tubuh ke sana, tentu dia akan tambah senang,” ujar Sim Long tertawa.

“Ah, toh sudah kupandang dia sebagai anakku, apa alangannya dia melihat punggung ibunya, apalagi aku cuma berduduk di sini.”

“Dan sekarang bolehkah mereka disuruh keluar?” tanya Sim Long.”

“Apa yang kau minta, siapa yang berani menolak?” ujar Ong-hujin dengan suara lembut. Ketika kakinya menginjak perlahan di samping kursinya, seketika dinding belakang terbuka bagian tengah dan menyurut ke kanan-kiri tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Maka dapatlah Sim Long melihat Him Miau-ji dan Cu Jit-jit. Wajah Miau-ji yang penuh rasa gusar dan wajah Cu Jit-jit yang penuh air mata.

Dengan sendirinya ada lagi Ong Ling-hoa. Dia lagi sibuk membersihkan mukanya dengan sapu tangan.

Dengan langkah limbung Jit-jit mendekati Sim Long, meski mulutnya tidak dapat bicara, tapi sorot matanya yang menunjukkan rasa duka dan benci itu jauh melebihi perkataan apa pun.

Him Miau-ji juga melangkah maju dengan langkah sempoyongan, dia menyeringai, kalau bisa Sim Long hendak dicaploknya.

Perlahan tangan Ong-hujin bergerak sambil berkata, “Silakan duduk kalian!”

Seketika pinggang Jit-jit dan Miau-ji seperti kesemutan, tanpa kuasa terus berduduk dan tidak sanggup berbangkit lagi, hanya tetap melototi Sim Long.

“Bagaimana kalau saudara Ling-hoa juga disilakan duduk?” kata Sim Long dengan tertawa.

“Wah, masa…masa masih kau panggil dia saudara?” ujar Ong-hujin.

“Harus kupanggil apa padanya?”

Bola mata Ong-hujin berputar, katanya kemudian sambil tertawa, “Anak Hoa, coba kemarilah memberi hormat kepada paman.”

Sim Long bergumam dengan tertawa, “Paman…Haha, sementara menjadi paman juga boleh…”

Muka Ong Ling-hoa tampak masam, kalau ada lubang sungguh dia ingin menerobos masuk ke situ. Jika Miau-ji tidak mendongkol, bisa jadi dia sudah bergelak tertawa.

Melihat sikap Ong Ling-hoa yang kikuk itu, Sim Long sengaja berkata dengan tertawa, “Saat ini Hiantit (keponakan) pasti menyesal mengapa dulu tidak membunuhku saja, bukan?”

“Aku…aku…” muka Ong Ling-hoa tampak merah padam.

“Ah, untuk apa kau pikirkan perbuatan anak kecil, ampuni dia saja,” kata Ong-hujin dengan tertawa.

Mendadak Ong Ling-hoa juga tertawa dan berkata, “Paman Sim, apakah engkau sengaja hendak membikin marah padaku agar menyabot perkawinan kalian ini?…Haha, engkau salah, paman Sim, bahwa sekarang kupanggil paman padamu sesungguhnya timbul dari sukarelaku, umpama kelak kupanggil ayah padamu juga tetap riang gembira…Bahwasanya ibu dapat bersuamikan tokoh muda berbakat semacam paman Sim, sungguh aku pun ikut bahagia.”

“Hihi, anak baik, sungguh anak baik,” kata Ong-hujin dengan tertawa senang.

“Memang anak baik,” Sim Long juga tertawa. Diam-diam ia membatin ada ibu dan anak demikian, pantaslah kalau dunia Kangouw teraduk hingga kacau-balau.

Ketika Ong-hujin memberi isyarat, segera ada orang menggusur pergi Cu Jit-jit dan Him Miau-ji sehingga di dalam kamar cuma tertinggal Sim Long. Ong-hujin dan Ong Ling-hoa bertiga.

Sim Long cuma diam saja menyaksikan kedua orang itu digusur pergi, sama sekali ia tidak memperlihatkan sesuatu reaksi.

Dengan tertawa merdu Ong-hujin menuangkan arak bagi Sim Long, lalu berkata pula, “Sekarang mereka sudah pergi semua. Apakah kau tahu sebab apa kuenyahkan mereka?”

“Mungkin engkau ingin berunding urusan penting denganku?” jawab Sim Long dengan tertawa.

Ong-hujin mengerling genit, “Apakah kau tahu urusan apa yang paling penting sekarang?”

“Tidak tahu,” Sim Long menggeleng.

“Ah, jangan berlagak bodoh.”

Sim Long berkedip-kedip, ucapnya kemudian, “Masa…masa urusanmu dengan diriku…”

“Eh, memang Siautit juga ingin lekas memanggilmu sebagai ayah, makin cepat makin baik,” sela Ong Ling-hoa sebelum ibunya bicara.

Dia dapat bicara demikian, bahkan air muka tidak berubah sedikit pun, entah betapa tebal kulit mukanya.

Tapi Sim Long juga menyambutnya dengan tertawa, “Betul juga, makin cepat makin baik. Menurut pikiranmu, dimulai kapan?”

“Daripada pilih hari lebih baik mumpung saja, bagaimana kalau malam ini?” jawab Ling-hoa.

“Malam ini?…Wah, masa begitu cepat?” kata Sim Long dengan tertawa.

“Jika malam ini terlalu cepat, boleh besok saja,” kata Ling-hoa.

“Aku dan ibumu sendiri tidak tergesa, mengapa engkau jadi terburu-buru malah?” ujar Sim Long.

Semula Ong-hujin menunduk kikuk dan berlagak tidak mendengar, sekarang ia tidak tahan dan ikut bicara dengan lembut, “Tapi tiga hari kemudian engkau harus berangkat, biarpun tidak tergesa-gesa juga urusan kita ini perlu diselesaikan di dalam tiga hari ini.”

“Kukira di dalam tiga hari ini juga tidak bisa,” kata Sim Long.

Air muka Ong-hujin rada berubah, tapi tetap bicara dengan tertawa, “Habis mesti menunggu sampai kapan?”

“Menunggu sampai suamimu mati,” jawab Sim Long sekata demi sekata dengan tersenyum.

Sekali ini air muka Ong-hujin baru berubah benar-benar, “Suamiku?” ia menegas.

“Ya suamimu…” ucap Sim Long dengan tertawa. “Meski aku belum pernah menjadi ‘gundik’ tapi dapat kubayangkan rasanya pasti tidak enak, maka aku pun tidak ingin dijadikan ‘gundik lelaki’ orang.”

Mendadak Ong-hujin tertawa malah, tertawa terkial-kial sehingga mirip tangkai bunga kehujanan.

Tertawa terkadang adalah cara yang paling baik untuk menutupi perasaan yang tidak tenteram.

“Gundik lelaki? Ai, bisa juga engkau menciptakan istilah,” katanya dengan terkikik. “Sebenarnya, kalau seorang lelaki boleh punya dua istri, seorang perempuan kan juga boleh punya dua suami, itu baru adil. Cuma sayang…dari mana datangnya suamiku?”

“Masakah engkau tidak mempunyai suami?”

“Tidak punya.”

Sim Long melirik Ong Ling-hoa sekejap, lalu berucap pula, “Lantas dia…”

“Sekalipun punya suami juga sudah lama mati, sudah terlalu lama sehingga kulupakan dia.”

Ia tersenyum genit, lalu menyambung, “Ai, orang pintar seperti dirimu seharusnya tahu bahwa janda bukan saja jauh lebih lembut daripada gadis, juga jauh lebih pandai meladeni, jauh lebih berpengalaman, jauh lebih menyenangkan. Sebab itulah lelaki yang cerdik lebih suka memperistrikan janda daripada perawan, masakah engkau tidak suka?”

“Tentu saja aku suka, cuma sayang…engkau belum lagi janda.”

“Maksudmu suamiku belum mati?…Ai, tak tersangka terhadap urusan suamiku engkau terlebih jelas daripada diriku. Memangnya pernah kau lihat dia?”

“Meski belum pernah kulihat ‘locianpwe’ ini, tapi kutahu dia.”

“O, memangnya siapa dia? Coba katakan!”

“Dia dahulu bernama Ca Giok-koan, namanya sekarang Koay-lok-ong!”

Ucapan Sim Long membuat Ong-hujin dan Ong Ling-hoa merasa seperti kepala dikemplang sekali, untuk sekian lamanya suasana di dalam ruangan sunyi senyap.

Kemudian Ong-hujin tertawa nyaring lagi, katanya, “Jadi kau bilang Ca Giok-koan adalah suamiku? Ai, sungguh sangat menggelikan. Coba katakan lagi, dari mana timbulnya kesimpulanmu ini?”

Perlahan Sim Long berkata, “Seorang kalau ingin pura-pura mati dengan sendirinya dia perlu mencari seorang pengganti. Untuk itu harus dirusak wajahnya sehingga tidak dikenal orang lagi.”

“Ya, jika aku ingin pura-pura mati tentu juga memakai cara ini,” kata Ong-hujin.

“Yang dilakukan Ca Giok-koan juga cara ini. Dia juga menggunakan seorang pengganti, bukan cuma wajah orang itu dirusaknya sama sekali, bahkan tubuh orang itu pun dirusak.”

“Tapi…tapi apa sangkut pautnya denganku?” tanya Ong-hujin.

“Mestinya memang tidak ada sangkut pautnya, namun pada waktu dia merusak penggantinya itu yang digunakannya adalah Thian-hun-ngo-bian. Padahal sampai saat ini kebanyakan orang Kangouw menganggap Ca Giok-koan sudah lama mati, bahkan juga mati oleh Thian-hun-ngo-bian. Nah, masakah semua ini tidak ada sangkut pautnya denganmu?”

“Sangkut paut apa?” tanya Ong-hujin sambil berkedip-kedip.

“Thian-hun-ngo-bian adalah senjata rahasia khas andalan Hun-bong-siancu, dan kau, tak-lain-tak-bukan ialah Hun-bong-siancu yang namanya termasyhur di seluruh jagat itu,” sama sekali Sim Long tidak memberi kesempatan bagi Ong-hujin untuk menyangkal, segera ia menyambung pula, “Dan di kolong langit ini, kecuali dirimu tiada orang lain yang paham cara menggunakan Thian-hun-ngo-bian dan cara membuatnya, malahan melihatnya juga tidak pernah.”

“Oo…” Ong-hujin bersuara heran.

“Sebab orang yang pernah melihat Thian-hun-ngo-bian, kecuali dirimu dan Ca Giok-koan, yang lain sudah mati seluruhnya.”

“Apakah kau ingin melihat senjata rahasia khas itu?” tanya Ong-hujin. “Jika ingin, segera dapat kuperlihatkan padamu.”

Dia lantas mengakui dirinya sebagai pemilik Thian-hun-ngo-bian, yaitu Hun-bong-siancu. Ia maklum, di depan Sim Long tiada gunanya menyangkal.

Maka tertawalah Sim Long, jawabnya, “Mana kusanggup terima.”

“Baik, anggap ucapanmu memang benar, aku ini pemilik Thian-hun-ngo-bian, aku ini Hun-bong-siancu, tapi Hun-bong-siancu bukanlah istri Ca Giok-koan, hal ini juga sama diketahui oleh orang Kangouw.”

“Dengan sendirinya ini pun suatu rahasia,” kata Sim Long. “Jika Ca Giok-koan telah mendapatkan nama pujian sebagai ‘Ban-keh-seng-hud’ (Buddha Hidup Khalayak Ramai), dengan sendirinya ia tak mau mengaku telah memperistrikan Hun-bong-siancu, yang terkenal sebagai iblis perempuan nomor satu di dunia Kangouw. Sebagai seorang anak perempuan, sudah jelas engkau telah menikah dengan dia, tapi masih harus main sembunyi-sembunyi dan tidak dapat tampil di muka umum, hal ini dengan sendirinya membuat penasaran padamu, juga sesuatu yang tidak bisa ditahan oleh setiap anak perempuan.”

“Wah, pantas kebanyakan anak perempuan suka padamu, rupanya engkau memang sangat pintar menyelami perasaan anak perempuan…” kata Ong-hujin dengan tertawa. “Tapi jika benar aku tidak suka diperlakukan begitu, masa aku mau menikah dengan dia?”

“Meski tidak mau juga tak berdaya,” kata Sim Long. “Sebab waktu itu engkau benar-benar menurut dan tunduk kepada segala kemauan Ca Giok-koan.”

“Apakah kau lihat aku ini seorang penurut?”

“Betapa kerasnya hati seorang anak perempuan pada suatu ketika juga akan menurut kepada seorang lelaki. Biarpun dia memandang sebelah mata terhadap lelaki lain, tapi dia akan tunduk lahir batin kepada seorang itu.”

“Hah, tampaknya kau anggap setiap anak perempuan di dunia serupa Cu Jit-jit saja.”

“Kau tahu, bila ingin Ca Giok-koan mengakui dirimu sebagai istrinya secara resmi, untuk itu harus membuat dia menjadi jago nomor satu di dunia. Tatkala mana tiada seorang pun berani membangkang lagi kepada perintahnya dan segala urusan pun tidak menjadi soal.”

“Kemudian?”

“Kalian suami-istri lantas mengatur rencana rahasia, lebih dulu segenap tokoh persilatan dipancing ke Wi-san dan dijaring sekaligus, habis itu Ca Giok-koan berusaha menipu dan mendapatkan segenap kitab pusaka kungfu perguruan tokoh-tokoh itu.”

“Hal, bagus sekali jalan pikiranmu,” ujar Ong-hujin.

“Tapi untuk menguasai berbagai kungfu khas itu jelas sukar tercapai dalam waktu singkat, maka terpaksa Ca Giok-koan pura-pura mati lalu kalian berdua mencari suatu tempat rahasia untuk berlatih selama sepuluh tahun, semua inti ilmu silat dari berbagai perguruan itu terhimpun menjadi satu pada diri kalian, dengan begitu siapa pula di dunia ini yang mampu menandingi kalian?”

“Jika begitu, mengapa sekarang ingin kubunuh dia?” tanya Ong-hujin.

Sim Long menghela napas, tuturnya pula, “Soalnya Ca Giok-koan itu sungguh manusia berhati binatang. Dia tidak ingin ada orang lain membagi hasil dengan dia, maka sesudah kejadian di Wi-san, engkau juga akan dibunuhnya, sebab pada waktu itu kungfumu sendiri sudah di atasnya, jika giat berlatih sepuluh tahun lagi, yang akan menjadi jago nomor satu di dunia bukan dia melainkan kau.”

“Oo?!” Ong-hujin bersuara tak acuh.

“Untunglah pada waktu itu ilmu silatnya bukan tandinganmu, maka meski engkau tesergap hingga terluka parah tetap tak dapat membinasakanmu. Selama belasan tahun ini nama Hun-bong-siancu telah lenyap dari dunia Kangouw juga lantaran inilah sebabnya.”

Senyuman Ong-hujin tidak tertampak lagi pada wajahnya, ia diam sejenak, lalu bertanya, “Kemudian?”

“Karena gagal membunuhmu, terpaksa dia kabur dan bersembunyi selama belasan tahun lamanya, selama ini dengan sendirinya engkau sangat benci padanya, benci siang dan malam…Sebab itulah setelah ‘Koay-lok-ong’ muncul, orang pertama yang berpikir kemungkinan Koay-lok-ong ialah Ca Giok-koan dengan sendirinya juga dirimu. Dendam kesumat yang terpendam selama ini jika dia cuma kau bunuh begitu saja tentu tak terlampiaskan rasa bencimu, sebab itulah hendak kau siksa dia secara perlahan, supaya dia mati menderita dengan perlahan.”

Ong-hujin tidak bicara, namun kedua tangannya yang terletak di atas lutut kelihatan bergemetar. Mulutnya tidak bicara, tapi tangannya sudah bicara.

Sim Long menyambung pula sambil memandang jari tangan orang yang gemetar itu, “Namun Koay-lok-ong sekarang, tidak dapat dibandingkan lagi Ca Giok-koan dahulu, untuk membunuhnya saja tidak gampang, apalagi hendak kau bikin dia mati perlahan, maka sejak munculnya Koay-lok-ong diam-diam engkau lantas mengatur segala apa yang perlu, tidak cuma tenaga manusia, engkau juga memerlukan biaya yang besar, karena itulah makam kuno itu…”

“Sudah cukup, tidak perlu omong lagi,” bentak Ong-hujin mendadak.

“Masih ada satu hal…” pandangan Sim Long beralih ke arah Ong Ling-hoa dan sambungnya pula, “Urusan ini semula aku pun tidak berani memastikannya, baru ketika engkau tidak mau mengirimkan dia dengan alasan Koay-lok-ong kenal dia, aku jadi sangsi. Padahal sudah belasan tahun Koay-lok-ong mengasingkan diri, masa dia kenal anak muda yang baru berumur likuran, kecuali anak muda ini ialah anaknya.”

Ong Ling-hoa melotot, matanya merah membara.

Sim Long tersenyum, “Kecuali ayah semacam Koay-lok-ong, siapa pula yang dapat melahirkan anak seperti ini. Ayahnya gembong iblis, anak juga selisih tidak jauh, antara ayah dan anak…”

“Siapa anaknya?” mendadak Ong Ling-hoa berteriak.

“Engkau tidak suka mengaku ayah padanya?”

“Aku tidak punya ayah semacam itu,” jengek Ong Ling-hoa.

“Haha, bagus, bagus sekali,” Sim Long bergelak tertawa. “Ayah tidak mengakui anaknya, anak juga tidak mau mengakui ayahnya, hanya ayah yang berhati kejam baru mempunyai anak yang berhati dingin begini.”

Ong-hujin menatapnya hingga lama, mendadak ia tertawa nyaring, “Bagus, rupanya semuanya telah kau ketahui. Urusan ini mestinya juga akan kuberi tahukan padamu.”

“Oo?…” Sim Long tertawa.

“Engkau tidak percaya?” Ong-hujin menegas.

“Masa aku tidak percaya?”

“Bagus, jika begitu, jadi kau mau pergi bukan?”

“Tentu saja mau, jika tidak kubantu menumpas dia, mana bisa kukawinimu, ke mana lagi akan kucari perempuan semacam dirimu ini?”

Ong-hujin menatapnya tajam, entah senang entah gusar, akhirnya ia menghela napas dan berucap hampa, “Ai, bicara kian-kemari, tampaknya maksudmu baru akan menikah denganku setelah urusan sudah selesai, begitu bukan?”

“Tampaknya harus begitu,” kata Sim Long.

“Jika demikian, cara bagaimana pula dapat kupercayaimu?”

“Engkau jangan lupa, aku pun seorang lelaki…Di dunia ini mana ada lelaki yang tidak tergiur olehmu? Jika aku sudah terpikat, engkau tidak perlu khawatir lagi.”

Ong-hujin menatapnya lagi, sorot matanya terkadang sayu, terkadang tajam menusuk seakan-akan menembus hati Sim Long.

Akhirnya dia tertawa manis dan berucap, “Baik, akan kutunggu kepulanganmu.”

“Aku pasti akan pulang secepatnya, kau kira aku tidak…tidak gelisah?” ujar Sim Long dengan tertawa.

“Kupercaya engkau akan pulang selekasnya, di sini bukan cuma aku saja yang menunggumu, juga ada sahabatmu, pada hari kepulanganmu nanti kami pasti akan mengadakan pesta bagimu.”

Bola mata Sim Long berputar. “Apakah sahabatku…juga harus menunggu di sini?

“Ya, engkau jangan khawatir, pasti akan kuladeni mereka dengan baik,” kata Ong-hujin.

“Dan jika engkau tidak pulang, mereka terpaksa ikut mati,” jengek Ong Ling-hoa.

“Haha, bagus!” seru Sim Long mendadak. “Coba katakan, di mana Koay-lok-ong berada, cara bagaimana dapat kutemui dia?”

“Untuk apa terburu-buru, nanti, tiga hari lagi,” kata Ong-hujin.

“Jika sudah ada keputusan begini, kenapa mesti menunggu lagi tiga hari?”

“Masa kau mau pergi begini saja?”

“Kan lebih cepat pergi juga lebih cepat pulang?” ujar Sim Long tersenyum.

Ong-hujin berpikir sejenak, katanya kemudian dengan tertawa, “Baik, besok engkau boleh berangkat. Nah, Ling-hoa, lekas kau siapkan perbekalan seperlunya bagi paman Sim.”

“Jangan khawatir, cukup satu jam bagiku sudah dapat kusiapkan perbekalan paman Sim yang lebih mentereng daripada pangeran,” kata Ling-hoa dengan tertawa, serentak ia berbangkit dan tinggal pergi.

“Perbekalan yang tidak kalah daripada pangeran?” gumam Sim Long.

“Yang akan kau temui ialah Koay-lok-ong, dengan sendirinya engkau tidak boleh kelihatan rudin, terhadap orang miskin biasanya dia tidak sudi menggubris.”

“Tapi dalam perjalanan jauh ke luar perbatasan yang penuh gurun pasir, perbekalan yang terlalu banyak apakah tidak akan menjadi beban malah?”

“Mungkin engkau tidak perlu ke luar perbatasan,” kata Ong-hujin.

“Oo…memangnya dia tidak berada di luar perbatasan sana?”

Ong-hujin termenung sejenak, “Apakah kau tahu di luar Kota Lanciu ada sebuah Hin-liong-san?”

“Ya, pernah kudengar.”

“Pegunungan di sekitar Lanciu umumnya tandus, tidak ada tetumbuhan apa pun serupa sebuah bakpao belaka. Hanya Hin-liong-san ini saja rimbun dengan pepohonan dan dikelilingi sungai, boleh dikatakan sebuah gunung ternama di daerah barat-laut sana.”

“Apa sangkut pautnya antara Hin-liong-san dengan Koay-lok-ong?”

“Apakah kau tahu di puncak Hin-liong-san ada sumber air yang bernama Sam-goan-coan?”

“Mana aku bisa tahu?”

“Baik, akan kuberi tahukan padamu supaya kau tambah pengalaman. Air sumber Sam-goan-coan ini merembes keluar dari celah-celah batu padas, yang satu kanan yang lain kiri.”

“Jika cuma dua lubang sumber air, kan seharusnya bernama ji-goan (dua unsur), mengapa disebut sam-goan (tiga unsur)?” tanya Sim Long.

“Ai, ceritaku kan belum habis, dengarkan dulu,” omel Ong-hujin dengan lirikan genit. “Mula-mula kedua sumber air ini mengalir masuk ke sebuah kotak air, kotak ini ada tiga lubang kecil, air sumber mengalir keluar dari kotak batu ini ke dalam sebuah kolam kecil berbentuk setengah bulan, kemudian mengalir lagi dari ujung sepotong batu yang berbentuk serupa naga ke dalam kotak batu yang lain, dari lubang kotak batu ini akhirnya air mancur ke dalam kolam lagi…”

“Ah, ruwet benar,” gerutu Sim Long.

“Meski ruwet, tapi setelah mengalami beberapa kali saringan, akhirnya air kolam menjadi jernih sebagai kaca, bahkan harum dan manis, boleh dikatakan merupakan sumber air nomor satu di daerah barat laut sana.”

“Ada sangkut paut apa pula antara sumber air dengan Koay-lok-ong?”

“Tentu ada sangkut pautnya, kalau tidak untuk apa kuceritakan,” kata Ong-hujin. “Orang Kangouw cuma tahu dia gemar minum arak dan tidak tahu dia mempunyai kegemaran lain.”

“Gemar minum teh?” tukas Sim Long.

“Betul,” jawab Ong-hujin. “Dahulu waktu dia masih tinggal bersamaku, setiap tahun dia pasti pergi ke Kim-san untuk mengambil air sumber yang terkenal di sana guna menyeduh teh. Malam hari dia minum arak, pagi hari dia minum teh. Sering kali dia tinggal sampai setengah bulan lebih di sana, selama tinggal di sana dia tidak mau pusing terhadap urusan apa pun.”

“Dengan sendirinya sekarang dia tidak mampu minum teh lagi ke Kim-san.”

“Ya, makanya dia terpaksa mencari jalan lain walaupun tidak sebaik Kim-san,” tutur Ong-hujin. “Telah kudapatkan berita yang meyakinkan bahwa setiap tahun antara musim semi dan panas dia pasti masuk ke dalam kwan (gerbang tembok besar yang zaman dulu dianggap sebagai perbatasan) dan mengunjungi Hin-liong-san, di sana dia mengambil air sumber untuk menyeduh teh, sebab ada peralihan antara musim panas dan semi itulah air sumber terlebih manis, pula air sumber tidak boleh terlalu jauh meninggalkan gunung, kalau tidak, rasa airnya akan berubah kadarnya.”

“Hah, tak tersangka dia seorang yang suka kenikmatan juga,” ujar Sim Long.

Ong-hujin seperti tidak mendengar ucapannya itu, sambungnya pula, “Setelah kudapatkan berita itu segera kucari dua orang kepercayaan dan kukirim ke Hin-liong-san. Apakah dapat kau terka siapa kedua orangku itu?”

“Tidak dapat kuterka siapa mereka, tapi dapat kupastikan satu di antaranya pasti ahli menyeduh teh dan yang lain mungkin ahli mengilang arak.”

“Engkau sungguh pintar, sekali diberi tahu lantas tahu semuanya,” kata Ong-hujin dengan tertawa, lalu sambungnya, “Satu di antara kedua orang itu bernama Li Teng-liong, asalnya dia keturunan keluarga hartawan, tapi sekarang sudah jatuh miskin.”

“Ya, pada umumnya anak keluarga hartawan sama ahli minum teh,” ujar Sim Long.

“Tapi dia cuma ahli merasakan kualitas sesuatu jenis teh dan tidak mahir menyeduh teh.”

“O, lantas…”

“Tapi dia mempunyai seorang istri muda kesayangan,” sambung Ong-hujin, “namanya Jun-kiau, perempuan inilah ahli menyeduh teh. Kau tahu, untuk menyeduh selain diperlukan air sumber yang bagus, lamanya teh dimasak juga memegang peranan. Bahkan teko, kayu, segala peralatannya pun perlu dipelajari.”

“Wah, tampaknya Hujin sendiri juga ahli dalam hal ini,” kata Sim Long dengan tertawa.

“Nanti kalau engkau pulang, tentu kubawa ke Kim-san untuk menikmati kehidupan surga di sana, tatkala mana baru kau tahu apakah aku mahir menyeduh teh atau tidak.”

“Tapi aku tidak pergi ke sana, sebab engkau sudah pernah menemani orang lain di sana.”

“Ai, jadi engkau juga suka minum cuka?”

“Sebelum minum teh boleh juga minum cuka dulu,” Sim Long tertawa.

Karena di dalam ruangan sudah tidak ada orang lain, entah sejak kapan Ong-hujin telah berada dalam pangkuan Sim Long, anak muda itu seperti sudah rada mabuk…

Jika tadi Ong-hujin serupa paduan antara perawan suci dan perempuan jalang, maka sekarang sebagian yang perawan suci itu entah sudah hilang ke mana. Dengan jari-jemarinya yang halus lentik ia membelai perlahan rambut di pelipis Sim Long, tuturnya pula dengan lembut, “Seorang lagi bernama Coh Bin-kim, dia mahir mengilang arak, juga mahir mencampur arak. Dia sanggup mencampur berbagai jenis arak menjadi semacam arak yang sangat sedap.”

“Wah, agaknya orang ini pun seorang penikmat!” ujar Sim Long tertawa.

“Dengan honorarium besar kusewa kedua orang ini dan kutugaskan mereka ke lereng pegunungan Hin-liong-san dan membuka sebuah taman hiburan Koay-hoat-lim di sana, di dalam Koay-hoat-lim ini selain ada macam-macam objek wisata yang menarik juga tersedia arak paling terkenal, selain itu dengan sendirinya ada pula puluhan gadis cantik dari daerah Kanglam yang mempertunjukkan nyanyi dan tari untuk menghibur tetamu. Dengan sendirinya, bilamana perlu mereka pun sanggup melakukan tugas tambahan yang lain.”

“Haha, bagus melulu taman hiburan Koay-hoat-lim ini saja sudah cukup memancing kedatangan Koay-lok-ong, apalagi araknya dan gadisnya, tentu saja terlebih cocok dengan seleranya,” seru Sim Long dengan tertawa.

“Ya, maka pada musim rontok tahun yang lalu ia sudah pernah masuk ke dalam kwan satu kali dan tinggal selama setengah bulan di Koay-hoat-lim, tampaknya merasa berat untuk tinggal pergi lagi.”

“Wah, jika aku pun pergi ke sana, bisa jadi aku juga akan lengket di sana,” ujar Sim Long.

“Engkau takkan lengket di sana, sebab di sana tidak terdapat diriku,” kata Ong-hujin dengan senyuman memikat.

Lalu untuk sejenak di dalam rumah tidak terdengar sesuatu suara apa pun.

Kemudian Ong-hujin berkata lagi dengan perlahan, “Sepuluh hari lagi dapatlah kau lihat dia.”

“Sepuluh hari?” Sim Long menegas. “Wah, selama sepuluh hari pasti akan terasa panjang sekali bagiku.”

“Dan engkau mesti ingat, sebutan Koay-hi-ong (Raja Gembira), Koay-lok-ong (Raja Girang), Koay-hoat-ong (Raja Senang) dan sebagainya adalah nama pemberian orang kepadanya, pada waktu engkau berjumpa dengan dia jangan sekali-kali kau sebut dia dengan julukan demikian,” pesan Ong-hujin.

“Lantas harus kusebut apa kepadanya? Apakah kusebut dia ‘locianpwe’…Aduh…”

Mendadak Sim Long menjerit, jeritan serupa orang digelitik, setiap orang yang berpengalaman tentu tahu apa yang terjadi…

—–

Sepanjang jalan seratusan li dari kota Lanciu menuju ke Hin-liong-san, sejauh mata memandang hanya tanah tandus belaka, meski lagi musim semi juga tidak kelihatan pemandangan indah sedikit pun.

Tapi ketika dekat dengan kaki Gunung Hin-liong itu, mendadak pemandangan alam berubah sama sekali, di mana-mana kelihatan pepohonan menghijau permai, segenap keindahan musim semi seolah-olah terkumpul seluruhnya di sini.

Di sebelah barat Hin-liong-san ada lagi sebuah gunung dengan nama Ji-in-san, di tengah kedua gunung itu ada sebuah sungai, secara alamiah terbentuk menjadi sungai yang memisahkan kedua gunung, untuk pelintasan sungai terdapat sebuah jembatan gantung dengan nama In-liong-kio atau Jembatan Naga di Tengah Awan.

Dan Koay-hoat-lim atau hutan gembira, yang dijadikan taman hiburan itu terletak di lereng kedua gunung itu. Sebuah kebun luas dengan pemandangan alam yang permai. Sungai kecil tersebut menebus tengah taman diapit pepohonan yangliu di tepi kanan kiri.

Kecuali pepohonan yang rimbun hampir tidak terlihat sesuatu lagi di taman luas ini, tapi bilamana berjalan menyusuri pepohonan yangliu di tepi sungai, dapatlah terlihat ada jembatan gantung serta beberapa ujung rumah yang menongol di balik pepohonan sana.

Waktu itu menjelang senja. Dua gadis cilik dengan berseri-seri sambil bernyanyi kecil lagi turun dari jalan setapak dari lereng sana. Tangan mereka membawa cerek keramik kecil berbentuk antik, cerek itu berisi air sumber yang baru diambilnya dari mata air sana.

Mereka memakai baju merah, wajah mereka yang berseri juga bersemu merah, sorot mata mereka bersinar, tampaknya sangat bergairah oleh karena ada sesuatu urusan yang istimewa. Kerlingan mata gadis yang sebelah kiri serupa Jun-sui (air musim semi), dan mata gadis sebelah kanan serupa Beng-cu (mutiara).

Si Jun-sui mendadak berhenti bernyanyi, lalu menggigit bibir dan tersenyum seperti lagi memandang cahaya senja yang indah di kejauhan, tapi sebenarnya apa pun tidak terlihat olehnya.

Beng-cu meliriknya sekejap, katanya dengan tertawa, “Setan cilik, kutahu apa yang sedang kau pikirkan.”

“Oo, memangnya engkau ini cacing pita di dalam perutku?” sahut Jun-sui.

Mendadak Beng-cu mengilik-ngilik pinggang Jun-sui sehingga Jun-sui tertawa geli sampai menungging, serunya dengan napas terengah, “Ampun Cici yang baik.”

“Boleh juga kuampuni, tapi harus kau bicara terus terang, kau memikirkan dia, bukan?”

“Dia…dia siapa?” sahut Jun-sui sambil berkedip-kedip.

“Setan cilik, berani berlagak tidak tahu?…” tangan Beng-cu lantas menggelitik lagi sehingga Jun-sui kembali menggeliat-geliat pula.

“Ampun, Cici, aku tidak berani lagi…” teriak Jun-sui. “Kutahu si dia yang dimaksudkan Enci Beng-cu adalah…adalah Kongcu yang baru datang pagi tadi itu.”

“Nah, coba katakan lagi, kau pikirkan dia bukan?” tanya Beng-cu pula.

“Ya…ya, tang…tanganmu…” keluh Jun-sui.

“Karena sudah mengaku, baiklah kuampunimu,” kata Beng-cu sambil menarik tangannya.

Jun-sui masih terengah, mukanya merah serupa cahaya senja. Ia menaruh teko di tanah dan berduduk di tepi jalan dengan tubuh lemas.

Sambil meliriknya Beng-cu berkata pula, “Setan cilik, melihat tingkah lakumu ini, tentu hatimu tergelitik dan lagi berahi bukan?”

“Gara-garamu,” omel Jun-sui dengan menggigit bibir. “Tanganmu…”

“Tanganku kenapa, jika tangannya kan…” mendadak muka Beng-cu sendiri menjadi merah juga.

“Kongcu itu…Ai, anak perempuan mana yang tidak kepincuk padanya, asal pernah melihat dia sekejap, anak perempuan mana yang dapat melupakan dia…” Jun-sui bicara seperti mengeluh, tapi mata terbelalak seperti lagi mimpi.

Lalu ucapnya pula seperti lagi mengigau, “Terlebih senyumnya itu…Ai, Enci Beng-cu, apakah kau perhatikan senyumnya, aku menjadi tidak…tidak bernafsu makan.”

“Tapi…tapi aku tidak memerhatikan senyumnya,” kata Beng-cu.

“Ah, dusta…” ujar Jun-sui. “Pada waktu kau tuangkan teh baginya, dia memandangimu dengan tersenyum, hampir saja cangkir teh terlepas dari tanganmu, memangnya kau kira aku tidak tahu?”

Muka Beng-cu tambah merah, “Setan kau…”

“Ah, kenapa mesti malu? Lelaki semacam dia, jangankan kita, sampai bibi Jun-kiau kita yang sudah berpengalaman juga terpikat melihat dia.”

Akhirnya Beng-cu tertawa juga, “Ya, tampaknya dia ingin…ingin mencaploknya bulat-bulat, kulihat Li-toasiok (Paman Li) kita menahan gusar dengan muka masam.”

“Sebelum kulihat dia,” demikian Jun-sui bergumam, “sungguh aku tidak percaya di dunia ini ada lelaki menyenangkan begini. Senyumnya, matanya, sikapnya yang kemalas-malasan seakan-akan segala urusan tidak menjadi soal baginya…semua itu, asooi!”

Beng-cu menghela napas, “Cuma sayang orang sudah ada yang punya.”

“O, maksudmu nona yang bernama Hiang apa itu?” tanya Jun-sui.

“Ya, namanya Ci-hiang,” kata Beng-cu.

“Huh,” Jun-sui mencibir, “mana dia setimpal baginya. Coba kau lihat mulutnya itu, sepanjang hari terus moncong melulu seperti dia paling cantik sendiri. Padahal, melihatnya saja aku mual.”

“Tapi dia memang…memang ayu…”

“Ayu apa, paling banyak juga cuma siluman rase…” mendadak ia berdiri dengan pinggang meliuk. “Padahal dalam hal apa kita lebih asor daripada dia? Terutama…terutama pahamu, kutanggung sekali pandang saja dia pasti akan semaput.”

“Setan alas, kapan pernah kau lihat pahaku?” omel Beng-cu dengan muka merah.

“Pernah, waktu kau mandi,” tutur Jun-sui dengan terkikik, “diam-diam aku mengintip dari luar, kulihat engkau sedang…sedang…Wah, bentukmu itu sungguh sangat menarik.”

Beng-cu mengomel sambil menubruk maju, cepat Jun-sui angkat teko tadi dan lari. Maka terjadilah kejar-mengejar dengan cepat, namun air dalam teko tidak tercecer setetes pun.

—–

Pada saat itu juga di bawah pepohonan yang rimbun di kaki bukit sana juga ada seorang perempuan dan seorang lelaki sedang kasak-kusuk, suara bicara mereka sangat lirih, seperti khawatir didengar orang lain.

Lelaki itu berusia 40-an, namun dandanannya serupa anak muda berumur likuran, pakai baju panjang warna biru safir dengan ikat kepala warna yang sama, malahan ikat kepala biru dihiasi sepotong batu zamrud, pakai ikat pinggang tali sutra hijau dan pada ikat pinggang tergantung sebuah pot tembakau dengan pipanya, perawakannya jangkung dengan raut muka yang lonjong, matanya setengah tertutup dan berulang-ulang menguap serupa orang yang selalu mengantuk.

Yang perempuan juga sudah setengah baya namun tetap kelihatan cantik menarik, mata alisnya selalu memperlihatkan kerlingan yang memabukkan lelaki.

Di bawah cahaya senja dia kelihatan sangat cantik, kecantikannya inilah senjata yang selalu dipupuknya untuk melayani lelaki. Matanya yang jalang kelihatan sedang melirik kian-kemari, ingin tahu apakah di sekitarnya ada orang mengintip atau tidak.

Lelaki itu masih terus menguap, katanya kemalas-malasan, “Orang lagi kantuk dan ingin tidur sebentar, sengaja kau seret ke sini, kita kan suami-istri resmi, memangnya perlu semokel dan main di sini?”

Meski muka si perempuan tidak merah, tapi sengaja bersikap malu-malu genit, omelnya, “Cis, siang dan malam yang kau pikirkan selalu urusan begituan melulu.”

“Eh, apa jeleknya urusan ini?” ujar si lelaki sambil memicingkan mata dengan tertawa. “Bukankah kau pun selalu minta, semalam juga…”

“Sudahlah, Tuanku, orang lain kelabakan setengah mati, kau sengaja bergurau malah?” gerutu si perempuan.

“Apa yang membuatmu kelabakan?” tanya si lelaki.

“Hendaknya kau ingat, sekarang engkau bukan lagi tuan muda yang dapat berbuat sesukamu, tapi apa yang kita makan, minum dan pakai, semuanya berkah orang lain.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: