Kumpulan Cerita Silat

23/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 08

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 2:00 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, Lovecan, dan Sumahan)

Bab III. Tangan Beracun.

8. Buronan Naga Penjara Darah.

Penjara besar Besi Berdarah di kota Ciang-ciu.

Penjara besar Besi Berdarah di kota Ciang-ciu merupakan salah satu di antara tiga penjara besar yang ada saat itu. Hampir semua narapidana yang dipenjarakan di sana adalah para penjahat kelas kakap yang sudah melakukan banyak dosa dan kejahatan.

Biasanya menjelang menjalani eksekusi hukuman mati, para narapidana akan dijebloskan ke dalam penjara ini, agar mereka tak mampu melarikan diri atau ditolong teman-temannya, sebab penjara besar Besi Berdarah mempunyai penjagaan yang ketat dan bangunan yang kokoh.

Hari ini hujan salju turun dengan derasnya di kota Ciang-ciu, seluruh permukaan tanah telah dilapisi bunga salju nan putih.

Di pintu gerbang penjara besar Besi Berdarah tampak ada tujuh delapan orang pengawal berdiri tegap bagaikan patung tembaga, kecuali itu suasana di sekelilingnya terasa hening dan sepi, hanya suara angin utara yang menderu-deru.

Ada dua orang perwira yang bertugas di penjara besar itu, tiap bulan secara bergilir mereka bertugas menjaga keamanan dan keselamatan para narapidana, bila ada buronan yang berhasil melarikan diri, maka mereka berkewajiban mengejar hingga
berhasil ditangkap kembali.

Oleh sebab itulah para perwira penjara mendapat perlakuan istimewa, selain cukup pangan, uang mereka pun cukup banyak, apalagi tiap saat mereka harus melakukan perjalanan jauh.

Di penjara besar Besi Berdarah terdapat dua belas orang perwira jaga, karena tanggung jawabnya besar dan berat, tak heran ilmu silat mereka rata-rata lihai, punya nama besar dan pergaulan luas. Hanya orang yang luas pergaulannya yang bisa menelusuri jejak seorang narapidana yang kabur.

Bulan ini dua orang perwira jaga yang mendapat giliran menjaga penjara besar Besi Berdarah adalah dua orang jago persilatan yang amat termashur, sang komandan adalah Sin-ciong (si tombak sakti) Si Ceng-tong, sementara wakil komandannya adalah Sam-jiu-sin-wan (monyet sakti bertangan tiga) Ciu Leng-liong.

Kepandaian silat kedua orang ini benar-benar sangat tangguh, bila turun tangan bersama, jarang ada jagoan persilatan
yang mampu bertahan sebanyak tiga puluh gebrakan. Apalagi mereka berasal dari kalangan Liok-lim yang dikenal sebagai penjahat budiman, pengalaman dan pengetahuannya amat luas, baik golongan hek-to maupun pek-to rata-rata memberi muka kepada mereka.

Kecuali dua orang perwira jaga itu, di dalam penjara besar Besi Berdarah terdapat pula empat orang sipir jaga, sarna seperti para perwiranya, mereka pun menjaga penjara secara bergilir. Tentu saja para sipir juga terdiri dari kawanan jago persilatan yang berilmu tinggi.

Ada empat orang sipir penjara yang mendapat giliran jaga bulan ini, mereka adalah Thi-tan (si peluru besi) Seng It-piau,
Tiang-to (si golok panjang) Sim In-san, Hun-kim-jiu (si tangan pemisah emas) Thian Toa-ciok serta Hui-yan (si walet terbang) Liu lng-peng.

Peluru besi Seng It-piau adalah keturunan dari benteng keluarga Seng di Tiangkang, dia juga orang yang berusia paling tua
di antara para sipir lainnya, sepasang senjata peluru besinya boleh dibilang cukup membetot sukma dan merontokkan nyali
orang.

Sebenarnya keluarga Seng dari Tiangkang ini ahli dalam permainan golok, hanya putra sulungnya seorang yang tak pernah belajar golok, semenjak kecil dia sudah berlatih ilmu peluru terbang, kesempurnaannya boleh dibilang luar biasa. Sejak bekerja menjadi opas, sudah banyak sampah masyarakat yang merasakan kehebatan ilmu silatnya, tak heran kalau para begundal akan pecah nyali begitu mendengar nama julukannya.

Si golok panjang Sim In-san cerdas otaknya dan amat cekatan, dia licik, lincah dan gesit, pandai memainkan sebilah ’golok panjang’ dengan panjang tujuh depa satu inci, ilmu golok Lok-be-cian (babatan kuda roboh) yang dikuasainya sangat hebat, para penjahat biasanya langsung menyerah bila bertemu dengan golok panjangnya itu.

Si Tangan pemisah emas Thian Toa-ciok memakai sepasang tangan kosongnya sebagai senjata, biar tangan kosong namun lebih keras dari baja dan lebih tajam dari sayatan golok, pernah naik ke Kiu-long-san untuk membekuk sepuluh serigala sembilan harimau yang hidup di atas bukit dengan tangan kosong, nama besarnya tersohor di empat samudra, biar agak gegabah dan tidak sabaran namun setia kawan dan menjunjung tinggi kebenaran.

Si walet terbang Liu Ing-peng mahir dalam ilmu meringankan tubuh, semua penjahat terbang yang bertemu dengannya, ibarat nyamuk bertemu burung walet, biar punya seribu sayap tambahan pun jangan harap bisa lolos dengan gampang, dia pintar dan cekatan, dari antara empat orang opas, dia terhitung paling muda.

Kehebatan ilmu silat keempat orang ini bila dibandingkan dengan kehebatan si monyet sakti bertangan tiga Ciu Leng-Iiong
maupun si tombak sakti Si Ceng-tang, boleh dibilang selisih tidak banyak.

Karena itu, dengan kehadiran beberapa orang ini di penjara besar Besi Berdarah, ibarat sebuah tabung yang terbuat dari baja, jangan kan manusia, seekor nyamuk pun jangan harap bisa lolos darl situ dengan selamat.

Pada saat itulah…

Tiba-tiba ada sesuatu benda menerobos masuk ke dalam penjara besar Besi Berdarah, benda itu bukan lalat, bukan nyamuk tapi seorang manusia.

Seorang narapidana.

Dia bukan narapidana sembarangan, boleh dibilang dia merupakan narapidana nomor wahid dalam penJara besar Besi Berdarah.

Waktu itu, delapan orang penjaga sedang menganggur, agak terkantuk-kantuk mereka menjaga di depan pintu gerbang penjara besar Besi Berdarah, tiba-tiba terdengar suara derap kaki yang amat gencar berkumandang datang.

Ketika mereka mendongakkan kepala, tampak ada sembilan orang sedang bergerak mendekat, orang pertama memakai mantel berwarna hitam dengan liritan merah, berusia tiga puluh tahun, alis tipis mata sipit, tampang seorang pintar yang banyak
aka\, sebilah golok panjang lagi tipis terpanggul di punggungnya dia tak lain adalah Sim In-san.

Segera kedelapan orang penjaga itu memberi hormat, salah seorang di antaranya segera menyapa dengan penuh sopan, “Ko-
mandan Sim, apakah kau…kau hendak masuk…?”

“Kalau tidak masuk, memangnya aku harus mengendon di sini sambil merasakan terpaan angin salju?” jawab Sim In-san sambil tertawa dingin.

“Baik, baik, baik…” segera penjaga itu menyahut, dengan cepat dia mengambil anak kunci dan membuka pintu gerbang penjara.

Sim In-san segera berpaling ke arah delapan orang yang berada di belakangnya sambil berseru, “Ayo ikut aku masuk!”

Baru berjalan selangkah, tiba-tiba tanyanya lagi kepada penjaga itu, “Saat ini ada berapa orang perwira yang jaga pcn-
jara?”

Penjaga itu tertawa, sahutnya, “Kedua orang perwira tidak ada di tempat, tapi opas Thian, Sin dan Liu bertiga ada di pos me
reka dan menjaga penjara.”

Sim In-san termenung sejenak, mendadak tanyanya lagi, “Kau tahu, opas Seng ada di mana?”

“Agaknya berada di kamar penjara nomor tiga,” sahut peojaga itu sembari garuk-garuk kepala.

Sim In-san tidak bicara lagi, sambil manggut-manggut dia mengajak kedelapan orang itu masuk ke dalam penjara.

Sewaktu delapan orang itu berjalan melalui sisi penjaga gerbang itu, tanpa sadar penjaga itu melirik sekejap ke arah
orang-orang itu, tapi…hampir saja dia menjerit saking kagetnya.

Ternyata kedelapan orang itu hampir semuanya cacad, ada yang buta mata kirinya, buta mata kanannya, ada yang kehilangan tangan kiri, ada yang hilang kaki kiri, ada yang buntung tangan kanannya, ada pula yang memakai kaki palsu di kaki kanannya, malah ada yang punya bekas bacokan golok di wajahnya hingga nyaris membelah separuh wajahnya, orang kedelapan cacad karena tak punya telinga.

Yang lebih menyeramkan lagi, meski kedelapan orang itu bcrdandan sebagai opas, namun rambut mereka awut-awutan, bukan hanya amis, bau badannya minta ampun, matanya juling giginya bertaring, gaya mereka ada yang mirip setan iblis, ada pula yang macam mayat hidup.

Yang lebih aneh lagi, mimik kedelapan orang itu kaku tanpa perasaan, menanti hingga kedelapan orang itu masuk semua
kc dalam penjara, penjaga itu baru berseru tertahan, “Aduuh, maknya…”

Pcnjaga yang lain ikut mengeluarkan lidahnya sambil berbisik, “Entah dari mana kedelapan opas itu? Jangan-jangan mereka akan menyeret seorang gembong persilatan lagi untuk dipenggal kepalanya?”

“…Aaah, aku rasa tak usah dipenggal kepalanya pun mereka juga bakal mampus sendiri,” sambung rekannya setelah ragu sejenak.

“Kenapa?” tampaknya rekan yang lain tidak mengerti.

“Kalau narapidananya sudah keburu mampus karena kaget dan ketakutan, buat apa mesti dipenggal lagi kepalanya?”

Gelak tertawa pun segera meledak memecah keheningan, makin bicara pokok pembicaraan serna kin meluas hingga akhirnya suasana riuh r@dah oleh suara percakapan dan tertawa mereka.

Gelak tertawa itu baru terhenti ketika secara tiba-tiba berkumandang suara jeritan ngeri yang memilukan hati dari dalam
ruang penjara.

Bagi mereka, jeritan itu boleh dibilang sangat dikenal, karena suara yang sesngguhya tegas, kasar dan penuh wibawa
kini telah berubah jadi erang’ kesakitan yang amat memilukan hati.

Jeritan ngeri itu berasal dari opas Seng.

Sementara kedelapan orang penjaga pintu itu saling berpandangan dengan perasaan bingung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, tiba-tiba pintu penjara telah dibuka orang, hanya saja untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diingin
kan, biasanya pada pintu yang terakhir akan dikunci dengan sebuah gembok baja, gembok itu hanya bisa dibuka oleh orang
yang menjaga di luar pintu, maka bila orang di luar tidak membukakan gembok itu, jangan harap orang yang berada di dalam
bisa keluar.

Seorang penjaga pintu segera membuka sebuah lubang kecil dekat pintu, lalu tegurnya, “Tanda perintah!”

Dari balik lubang kecil itu segera muncul sebuah lencana kecil berwarna kuning kehijauan, bila seseorang membawa lencana itu, dia akan diijinkan keluar dari pintu gerbang dan biasanya lencana itu hanya dikeluarkan oleh perwira yang bcrtugas
bulan itu.

Petugas yang lain segera berseru pula, “Kata sandi!”

Orang yang ada di balik pintu segera menjawab, “Siang panjang malam pendek, bukan di musim salju.”

Kembali petugas itu berseru, “Di rumah mengandalkan teman.”

“Di luar rumah adalah musuh!” orang di balik pintu menyambung, kemudian dengan nada tak sabar hardiknya, “Cepat
buka pintu, aku adalah opas Sim!”

Segera penjaga pintu itu merogoh anak kunci dari sakunya dan segera membuka pintu gerbang.

Dari balik pintu penjara muncullah dua belas orang, sebagai pimpinan adalah Sim In-san, namun gerak-geriknya sedikit
gugup dan tidak tenang.

Orang yang berada di samping Sim In-san sarna sekali tak nampak gugup atau panik, rambutnya panjang terurai di bahu,
usianya sekitar lima puluh tahun, alisnya runcing ke atas namun so rat matanya bukan saja memancarkan hawa sesat yang meng
gidikkan, bahkan pancaran sinar matanya membuat orang takut memandangnya.

Dua orang yang berada di belakang Sim In-san berusia empat puluh tahun, amat gesit dan cekatan, sinar matanya tajam
bercahaya. Yang di sebelah kiri agak gemuk sedang yang di sebelah kanan agak ceking dan tinggi.

Mereka bertiga mempunyai satu kesamaan yakni di atas jidat tertera sebuah cap tanda pengenal berwarna hijau gelap, itulah cap pengenal bagi para narapidana yang telah dijatuhi hukuman mati.

Mereka tiada hentinya menggosok pergelangan tangan sendiri, bahkan pada pergelangan kakinya jelas terlihat ada bekas
yang dalam, bekas yang tertinggal karena sudah banyak tahun dirantai dengan borgol dan rantai besar, dan kini setelah terbe
bas dari beban, mereka masih belum terbiasa dengan keadaan.

Di belakang keempat orang itu adalah delapan manusia cacad, mimik mereka masih tetap kaku tanpa perasaan, mereka berjalan tanpa bergoncang sedikitpun.

Diam-diam bcberapa orang penjaga pintu itu menarik napas panjang, sekalipun perasaan takut mencekam hati mereka, namun melihat ada narapidana yang berjalan tanpa borgol, mau tak mau mereka bertanya juga.

Maka salah seorang di antara penjaga itu segera menegur, “Opas Seng…Kalian…”

Belum habis ia berkata, sorot mata Slm In-san setajam sambaran petir telah ditujukan ke wajahnya, bahkan dua orang yang
berada di belakang Sim In-san, seorang dengan smar mata setajam pedang dan seorang lain dengan sinar mata setajam golok
memandang bersama ke arahnya, membuat matanya langsung sakit dan tubuh terasa menggigil.

Kontan penjaga itu tidak melanjutkan kata-katanya, agak tergagap katanya kemudian, “Kalian…heheh…Kalian…Salju
begitu deras, masa kahan…akan…akan keluar juga…”

Sim In-san mendengus dingin, setelah mengerling sekejap, bersama kesebelas orang lainnya dengan cepat berlalu dari situ
dan lenyap di balik salju yang tebal.

Melihat kedua belas orang itu pergi dengan begitu cepat, para penjaga saling bertukar pandang tanpa sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Mendadak terdengar salah seorang berseru tertahan, serunya sambil menuding lapisan salju di depan penjara, “Coba kalian lihat!”

Ternyata di sepanjang permukaan salju bekas dilewati rombongan orang itu, tertinggal dua baris bekas kaki yang sangat
rapi, semua bekas kaki itu tipis dan rata, hal ini membuktikan tenaga dalam yang amat sempurna.

Yang lebih mengerikan lagi, di samping Sim In-san ternyata tidak tampak bekas telapak kaki, sementara dua orang yang berada di belakang Sim In-san hanya meninggalkan sedlkit sekali bekas, tapi lantaran salju masih turun dengan derasnya, bekas kaki itu segera lenyap dari pandangan.

Bukankah ilmu itu adalah ilmu Ta-soat-bu-heng (menginjak salju tanpa bekas) yang maha sakti itu? Konon hanya Pengejar nyawa, satu di antara empat opas yang amat termashur itu yang menguasai ilmu sakti ini.

Mungkinkah ilmu silat yang dimiliki orang itu jauh melebihi kepandaian silat yang dimikili Sim In-san, komandan mereka yang selama ini disanjung dan dikagumi?

Kembali kedelapan orang penjaga itu saling berpandangan, untuk sesaat tak seorang pun dapat bicara.

Pada saat itulah mendadak dari balik pintu penjara kembali muncul seseorang, dia mengenakan baju berwarna hijau muda,
sekali berkelebat bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik salju.

“Haah, opas Liu!” delapan orang penjaga itu menjerit kaget.

Kembali terdengar geraman keras bergema dari balik penjara, kembali seorang lelaki kekar berbaju emas menerobos keluar dengan langkah lebar, bunga salju yang menodai sekujur badannya kini sudah mencair, asap tipis nampak mengepul keluar dari seluruh badannya.

Terdengar orang itu membentak keras, “Kalian melihat Sim In-san, si anak jadah itu lari ke arah mana?”

“Haah, opas Thian!” jerit salah satu pengawal itu.

“Mereka lari kemana?” si Tangan pemisah emas Thian Toa-ciok menghardik nyaring.

Suara bentakan begitu nyaring membuat beberapa orang penjaga itu merasa jantung berdebar dan kepala pening, sebab
Thian Toa-ciok sedang berdiri tepat di muka lubang pengintip hingga suara teriakannya menggema dari dalam penjara ke arah
luar.

Mereka semua tahu bahwa opas Thian memaang berangasan, kasar dan cepat naik darah. Selama ini belum pernah menyaksikan dia begitu marah, saking kagetnya beberapa orang itu malah berdiri termangu.

Sesaat kemudian salah satu penjaga itu baru menjawab, “Opas Sim dan rekan-rekannya pergi ke arah sana.” Belum selesai dia berbicara, terasa angin berwarna keemasan berkelebat lewat, penjaga itu tak sanggup melanjutkan kembali kata-katanya, ketika berpaling, terlihat olehnya lelaki tinggi kekar berbaju emas itu sudah berada puluhan kaki dari tempat semula.

Sepanjang jalanan yang dilampaui olehnya, tampak laplsan salju yang terinjak retak lalu hancur berantakan, itulah llmu te-
naga dalam Lok-te-hun-kim jatuh ke tanah memisah emas) yang maha dahsyat…

Belum reda rasa kaget dan ragu kedelapan penjaga pintu itu, kembali terdengar suaka riuh rendah berkumandang dari balik penjara, menyusul kemudian muncul tiga empat puluhan orang pengawal bersenjata lengkap yang menggembol kunci borgol.

Kepada kedelapan orang penjaga itu tegurnya, “Mereka kabur ke arah mana?”

“Sebenarnya apa yang telah terjadi?” tanya seorang penjaga pintu.

“Sialan!” umpat pengawal bergolok itu gusar, “Bukankah kalian berjaga di sini? Masa tidak melihat apa-apa?”

“Melihat sih sudah, tapi kami tak paham apa yang sebenarnya telah terjadi?”

“Kami sendiri pun kurang begitu jelas,” sahut seorang pengawal bersenjata cakar besi dengan perasaan mendongkol, “Kami hanya tahu opas Seng sudah tewas, sementara Thian-kiam-coat-to (golok sakti pedang langit), Leng-lam-siang-ok (sepasang manusia bengis dari Leng-lam) dua bersaudara Si serta Coat-miat-ong (si Raja pemusnah) Coh Siang-giok telah melarikan diri dari penjara, konon dibebaskan oleh opas Sim, bahkan mereka telah membunuh belasan orang saudara kita.”

“Apa?” teriak delapan orang penjaga itu terbelalak saking kagetnya.

“Si golok sakti pedang langit, dua bersaudara dari Leng-lam sudah kabur dari penjara?”

“Si Raja pemusnah Coh Siang-giok kabur dari penjara?”

Walaupun para penjaga penjara itu kurang tahu asal-usul si Raja pemusnah Coh Siang-giok, namun bagaimana pun juga mereka adalah para jago dunia persilatan, sedikit banyak pernah juga mendengar nama besar dua bersaudara Si yang dijuluki golok sakti pedang langit, dua manusia bengis dari Leng-lam itu.

Si bersaudara dari Leng-lam ini yang satu bernama Si Ceng-jong, yang lain bernama Si Ceng-hong, konon masih ada seorang saudara lagi yang merupakan putra sulung keluarga itu, cuma kabarnya mereka terpisah dalam dunia persilatan.

Dua bersaudara dari keluarga Si ini, yang tua disebut Thian-kiam (si pedang langit), sementara yang muda disebut Coat-to (si golok sakti), nama busuk mereka sudah termashur di Seantero jagad, bahkan bocah berusia tiga tahun pun tahu nama besar mereka, khususnya di wilayah seputar Leng-lam, hampir semua orang mengenalnya sebagai momok yang menakutkan, mereka sering menasehati putra-putrinya agar setelah dewasa nanti jangan meniru perbuatan Si Toa-ok (si bengis tua) keluarga Si dan Si Siau-ok (si bengis muda) dari keluarga Si…

Setiap bocah kecil bisa menjawab dengan jelas bahwa yang dimaksud Si Toa-ok dan Si Siau-ok tak lain adalah Si Ceng-jong serta Si Ceng-hong.

Sudah terlalu banyak perbuatan keji yang mereka lakukan, mereka merupakan iblis yang bisa membunuh tanpa berkedip, tak ada perbuatan busuk yang tidak dilakukan, bahkan orang tua mereka sendiri pun akhirnya tewas di tangan mereka berdua.

Ketika dua manusia bengis itu malang melintang di wilayah Leng-lam, sudah berulang kali pihak kerajaan mengutus petugas untuk melacak dan menangkapnya, bahkan kawanan jago persilatan pun dengan senang hati membantu pihak kerajaan untuk melakukan pengejaran, namun selama delapan sembilan tahun terakhir, petugas negara yang tewas di tangan mereka berdua sudah mencapai empat puluhan orang, sedang jago silat yang tewas pun sudah mencapai tujuh delapan puluh orang, namun kedua manusia bengis itu masih tetap hidup bebas merdeka.

Hingga tiga bulan berselang, anak murid Cukat-sianseng yang disebut orang sebagai ’orang paling cerdas di kolong langit’ yaitu Empat opas, si Darah dingin dan si Pengejar nyawa kebetulan bertemu sepasang manusia bengis itu di jalan raya Ciang-ciu, mereka berdua berhasil mengalahkan manusia bengis itu dan menjebloskannya ke dalam penjara besar Besi Berdarah, menurut rencana, tiga hari lagi akan dijatuhi hukuman mati, siapa tahu hari ini mereka telah ditolong orang kabur dari penjara.

Seandainya kedua orang ini sampai muncul lagi dalam dunia persilatan, apa yang bakal terjadi? Adakah rasa aman?

Yang lebih menakutkan lagi adalah dalam peristiwa ini ternyata melibatkan juga si golok panjang Sim In-san.

Kedelapan orang penjaga pintu penjara itu tak berani ayal, mereka segera memberi petunjuk, rombongan opas itupun segera berangkat melakukan pengejaran.

Angin berhembus kencang, salju masih turun dengan derasnya.

Sepeninggal rombongan opas itu, delapan orang penjaga pintu segera meningkatkan kewaspadaan dengan mengunci rapat pintu gerbang penjara dan memperketat penjagaan.

Penjara besar Besi Berdarah di kota Ciang-ciu’kembali pulih dalam ketenangan dan keheningan.

Dalam ruang tengah sebuah gedung yang megah, tampak seorang lelaki setengah umur berbaju putih sedang berjalan mondar-mandir gelisah, perawakan tubuh orang itu tinggi besar, jenggot panjangnya berwarna hitam, sebuah cincin kemala melingkar di jari tengah tangan kanannya, mimik mukanya hijau membesi, keren dan penuh wibawa.

Peluh sebesar kacang nampak membasahi jidatnya, jelas ia sangat gelisah dan tidak tenang, seakan sedang menanti kehadiran seseorang.

Tiba-tiba tampak bayangan manusia berkelebat lewat, seorang lelaki berjubah biru muncul di tengah ruangan, lelaki berbaju putih itu segera maju menyongsong sembari menegur, “Kau sudah tahu tentang peristiwa yang terjadi di penjara besar Besi Berdarah?”

Manusia berbaju biru menjawab sambil menyeka keringat, napasnya agak tersengal, jelas dia baru saja menempuh perjalanan jauh.

“Ya, aku sudah tahu, sebetulnya aku sedang dalam perjalanan menuju kota Kim-sah, begitu mendapat laporan, aku segera balik kemari, karena takut terlambat maka aku tinggalkan kuda tungganganku untuk segera berangkat kemari.”

Jelas orang itu kuatir lari kudanya terlambat maka dia pulang dengan berlari.

“Saudara,” kembali orang berjubah putih itu berkata dengan suara dalam, “Di wilayah kekuasaanku telah terjadi peristiwa sebesar ini, tampaknya kopiah kebesaran kita berdua bakal tidak bertahan lama lagi.”

“Ciangkun (panglima), ijinkan Siaute memimpin para jago untuk melakukan pelacakan ke daratan Tionggoan, biar sampai ke ujung langit pun akan kutangkap mereka semua.”

Orang berbaju putih itu menghela napas panjang. “Aaai, kini peristiwa besar telah terjadi, tampaknya kita berdua memang tak bisa berpeluk tangan, masih mending kalau cuma dua manusia bengis dari Leng-lam yang berhasil kabur dari penjara, ternyata si Raja pemusnah pun ikut kabur, tidak mudah bagi kita untuk melacaknya, apalagi aku dengar peristiwa ini melibatkan juga Thian-jan-pat-hui (delapan manusia cacad dari langit).”

“Tapi…bila kita gagal menangkap kembali Coh Siang-giok, mungkin kita berdua tak akan mampu mempertahankan batok kepala kita” ujar orang berbaju biru itu sedikit panik.

Kembali orang berbaju putih mendongakkan kepala sambil menghela napas panjang, katanya, “Dunia begitu luas, sementara Coh Siang-giok juga bukan manusia sembarangan, kemana kita harus melacak dan membekuknya kembali? Aaai, aku rasa hanya ada satu jalan yang bisa kita tempuh sekarang.”

“Apa usulmu?” berbinar sepasang mata lelaki berbaju biru itu.

“Kita cari Cukat-sianseng, dia adalah manusia paling cerdas di kolong langit, dia sahabat karib Kaisar, dewa dari para sastrawan dan sahabat para Hiapto, asal beliau bersedia membantu, paling tidak memberi petunjuk kepada kita berdua, mungkin usaha kita untuk menangkap kembali Coh Siang-giok masih ada sedikit harapan.”

“Betul!” seru lelaki berbaju biru itu tersentak kaget, “Kita minta bantuan Cukat-sianseng! Aaai, kenapa tidak teringat sedari tadi?”

“Kita tak bisa menunda terlalu lama lagi, ayo sekarang juga kita berangkat!”

“Pelayan, siapkan dua ekor kuda! Ciu Hok, cepat pergi ke pesanggrahan Siang-bi-khek, bawa kemari enam belas lembar lukisan kuno dari Mongol itu, cepat!”

Di jalan raya kota Ciang-ciu kembali muncul dua tiga puluh ekor kuda yang dilarikan kencang, semua penunggang kuda itu mengenakan mantel tebal, hampir semuanya berdandan perwira opas.

Seluruh penduduk kota Ciang-ciu segera tahu, di kota pasti sudah terjadi peristiwa besar, sebab dua orang yangi paling depan, yang memakai baju putih adalah panglima wilayah, pangkatnya sangat tinggi, orang persilatan menyebutnya si tombak sakti Si Ceng-tang Si-ciangkun (panglima Si).

Sedang lelaki berbaju biru yang berada di sampingnya adalah Toa-ciangkun, penjaga kota Ciang-ciu yang disebut orang sebagai Sam-jiu-sin-wan (si monyet sakti bertangan tiga) Ciu Leng-liong, Ciu-ciangkun.

Dua orang yang menempel ketat di belakangnya, yang lelaki kekar berbaju emas adalah si Tangan pemisah emas Thian Toa-ciok, sedang yang masih muda, tampan dan memakai baju ringkas berwarna hijau adalah si Walet terbang Liu Ing-peng, ahli ilmu meringankan tubuh.

Kalau sampai beberapa orang tokoh penting itu berlarian kencang di jalan raya kota Ciang-ciu, apalagi di tengah hujan salju yang begitu deras, jelas perisiwa yang telah terjadi bukan perisiwa sembarangan.

Dalam sebuah bangunan pesanggrahan yang berwarna putih dan nampak bersih, di atas sebuah meja terbuat dari batu kemala putih, di bawah cahaya lilin yang redup, berjajar enam belas gulung lukisan kuno.

Di ujung meja itu berdiri seorang kakek dengan senyum kulum, dia sedang menikmati lukisan itu sembari mengelus jenggotnya, begitu terbuai orang itu menikmati lukisan yang terpampang di hadapannya hingga lupa diri.

Kakek itu mengenakan jubah panjang berwarna putih dengan garis hitam di sisi pinggangnya, dia tak lain adalah Cukat-aianseng, manusia paling cerdas di kolong langit!

Sepanjang hidupnya, Cukat-sianseng paling suka main khim, catur, membuat syair, membaca buku dan menikmati lukisan, hampir semua orang persilatan tahu akan hal ini, tak heran kalau sekarang ada enam belas gulung lukisan kuno terpapar di hadapannya.

Cukat-sianseng masih tersenyum, di sisinya berdiri seorang pemuda berusia tiga puluh tahun, dia pun sedang tersenyum.

Pemuda itu tak lain adalah si Tangan besi, salah satu anggota empat opas yang termashur, empat opas adalah jago-jago pilihan hasil didikan langsung Cukat-sianseng.

Dari keempat orang itu, usia si Darah dingin paling muda, disusul si Tanpa perasaan, Si tangan besi berusia agak tuaan dibanding si Darah dingin, tapi orang yang paling tua usianya adalah si Pengejar nyawa.

Selama tiga puluh tahun lamanya mendidik opas-opas kenamaan itu, Cukat-sianseng hanya melatih enam orang saja, keenam orang itu pernah menggetarkan sungai telaga, hanya sayang dua di antaranya tewas di usia muda.

Dari sisa yang empat orang, Put-cing si Tanpa perasaan mahir dalam akal muslihat serta senjata rahasia, si Darah dingin sabar dan teguh imannya, dia ditandai ilmu pedang yang ganas dan cepat, si Tangan besi memiliki sepasang tinju yang tiada tandingan ditambah tenaga dalam yang sempurna, sementara si Pengejar nyawa hebat dalam ilmu meringankan tubuh serta tendangan berantainya yang tiada duanya.

Di dalam kisah cerita kali ini, jagoan yang akan kita tampilkan adalah si Tangan besi, kisah pengalamannya menghadapi jago-jago tangguh dari dunia persilatan.

“Ini lukisan kenamaan” terdengar Cukat-sianseng memuji sambil tersenyum.

“Betul!” sambung si Tangan besi sambil tertawa, “Gaya lukisan itu kuat tapi luwes, jelas tak mungkin dilukis orang zaman sekarang. Lukisan itu jelas lukisan kuno.”

“Dan orangnya juga orang tersohor,” Si Ceng-tang menimpali sambil tertawa.

“Oya?”

“Kalau bukan orang tersohor, mana mungkin bisa menikmati lukisan kuno?”

“Bila Sianseng suka,” sambung Ciu Leng-liong pula, “Ku hadiahkan lukisan itu untuk Sianseng.”

Cukat-sianseng termenung sejenak, tiba-tiba ujarnya sambil tertawa, “Silakan minum teh!”

Si Tombak sakti Si Ceng-tang dan si monyet sakti bertangan tiga Ciu Leng-liong sudah sering terjun ke medan pertempuran, berbagai macam pertempuran berdarah pernah mereka alami, namun belum pernah merasa sekikuk saat ini, Ciu Leng-liong tidak mengira niatnya menghadiahkan lukisan antik, hanya ditanggapi hambar oleh Cukat-sianseng.

Sementara dia masih termangu, si Tangan besi telah berkata pula sambil tertawa, “Ciangkun berdua, silakan minum teh”

Segera dua orang itu mengangkat cawannya dan meneguk satu tegukan sebagai sopan santun, siapa tahu begitu air teh masuk mulut, terasa harum semerbak menyegarkan badan, tak tahan mereka teguk habis isi cawannya, kemudian saling bertukar pandang sekejap.

Sambil tersenyum Si Ceng-tang berkata lagi, “Ternyata Sian-seng adalah seorang ahli dalam masalah teh, sepanjang hidup aku orang she Si minum teh, belum pernah mencicipi air teh seharum ini.”

Cukat-sianseng tertawa hambar. “Daun teh yang kugunakan adalah daun teh Siang-hui dari Tio-ciu, anglo yang kugunakan untuk masak air teh ini adalah anglo Ang-ni-siau-hwe-Io dari Swan-ciu, sementara air yang dipakai untuk memasak teh adalah air Ang-san-sin-bok dari Tong-ciu yang merupakan mata air nomor satu di kolong langit, itulah sebabnya air teh ini selain harum dan enak, juga amat tinggi nilai seninya.”

“Aaah, rupanya begitu.”

“Silakan duduk,” kembali Cukat-sianseng berkata, setelah duduk ujarnya lebih jauh sambil tersenyum, “Bila dilihat kedatangan Ciangkun berdua yang menerobos hujan salju, bahkan bertandang sambil membawa lukisan antik, bisa kuduga tentu ada masalah serius yang ingin kalian sampaikan, padahal kalian tak perlu repot-repot membawa sesuatu, demi negara, Lohu bersedia membantu.”

Si tombak sakti Si Ceng-tang saling bertukar pandang sekejap dengan si Monyet sakti tiga tangan Ciu Leng-liong, merah jengah wajah mereka, kedua orang itu tidak menyangka Cukat-sianseng dapat menebak maksud kedatangannya.

Dengan rasa menyesal si Tombak sakti Si Ceng-tang menjawab, “Ketajaman mata Sianseng memang mengagumkan, ya benar, kedatangan kami memang ada urusan penting mohon bantuan Sianseng.”

“Tak perlu sungkan, kalau dilihat dari kehadiran Ciangkun berdua, urusan itu pasti amat serius.”

Si Ceng-tang menghela napas panjang, “Ya, si Golok maut pedang langit, Dua Bersaudara Keluarga Si telah kabur dari penjara.”

“Apakah orang yang Ciangkun maksud adalah dua manusia bengis dari Leng-lam, Si Ceng-jiong dan Si Ceng-hong?” tanya si Tangan besi agak terkesiap.

“Benar.”

“Ehmm!” Cukat-sianseng manggut-manggut sambil mengelus jenggotnya, “Dua Bersaudara Keluarga Si memang sudah banyak melakukan kejahatan, ketika ditangkap si Darah dingin dan Pengejar nyawa tempo hari pun, mereka butuh banyak waktu dan tenaga, aaai…! Baru saja semua orang bersyukur karena mereka berhasil dibekuk, tak disangka mereka berhasil kabur.”

Si Ceng-tang menghela napas sedih, “Semua ini gara-gara kekhilafan Cayhe berdua sehingga kerja keras Sianseng dan anak murid Sianseng jadi sia-sia, hai…Cayhe tidak tahu harus mulai bicara darimana…persoalannya, selain kedua manusia bengis itu, orang yang berhasil kabur dari penjara kali ini masih ada seorang gembong iblis lagi yaitu Coh Siang-giok.”

Sebetulnya Cukat-sianseng sedang termenung sambil memutar otak, tapi begitu mendengar nama “Coh Siang-giok” disinggung, ia segera mengangkat wajahnya, sorot mata setajam sembilu mencorong dari balik matanya, begitu tajamnya hingga Si Ceng-tang maupun Ciu Leng-liong terkesiap.

“Yang kau maksud si Raja pemusnah Coh Siang-giok?” tegas Cukat-sianseng.

“Benar!”

“Aaai Cukat-sianseng menghela napas panjang, “Kalau sampai gembong iblis inipun kabur dari penjara, dunia persilatan tak bakal aman lagi!”

“Aku pun pernah mendengar tentang hal ini,” kata Ciu Leng-liong pula, “konon Coh Siang-giok dengan ilmu pukulan Leng-pok-han-kong, Ci-yan-liat-hwe-kang (ilmu pukulan cahaya dingin inti es, bara api sumber magma) pernah menjagoi dunia persilatan, bahkan dia cerdas dan banyak akal, banyak kejahatan telah dia lakukan, tapi…tapi…”

Dia kesulitan untuk melanjutkan kata-katanya, maka sambil berhenti bicara, diawasinya wajah Cukat-sianseng lekat-lekat.

Cukat-sianseng kembali tertawa, “Perkataan Ciu-ciangkun memang benar, Coh Siang-giok tak lebih hanya seorang manusia durjana dalam dunia persilatan, tidak seharusnya ditakuti. Masalahnya dia adalah buronan kerajaan, pernah tiga kali berusaha membunuh Sri Baginda, bahkan punya ambisi merajai seluruh kolong langit, malah konon dia pernah menghubungi para jago Liok-lim dari tujuh puluh dua cabang atas, ditambah para Tocu dari dua puluh enam cabang air di selat Sam-shia sungai Tiangkang untuk melakukan pemberontakan dan berencana menyerbu ibukota…Jangan dilihat usianya sudah lanjut, namun wajahnya tetap mulus bagai pualam, berada dalam keadaan sejelek dan seburuk apapun, dia selalu tampil necis, anggun dan penuh wibawa, bahkan punya bakat jadi seorang pemimpin, itulah sebabnya Baginda telah menurunkan titah untuk mengundangnya bergabung, maksudnya agar bisa memanfaatkan bakat dan kepandaiannya, tapi kini dia sudah kabur, aku yakin dia tak akan berpangku tangan, dia pasti akan berusaha mengacau dan membuat kekalutan di masyarakat…aaai, jika sampai dia menghimpun kekuatan lagi.”

Si Ceng-tang ikut menghela napas panjang. “Benar, ketika si Raja pemusnah Coh Siang-giok melakukan pemberontakan, beruntung Cukat-sianseng berhasil membujuk dua puluh tujuh cabang air agar meninggalkan pasukan pemberontak dengan mendukung para jago persilatan melakukan penumpasan. Ketika gagal dengan usaha pemberontakannya, Coh Siang-giok tiga kali berupaya membunuh Baginda Raja, pertama kali berhasil digagalkan para pengawal istana sehingga dia terpaksa kabur dari kepungan ribuan orang pasukan, kedua kalinya dia berhasil mendekati Baginda, tapi untung berhasil dicegah para jago tangguh yang melindungi Baginda Raja, ketika mencoba untuk ketiga kalinya, beruntung Cukat-sianseng berada dalam istana terlarang sehingga akhirnya Coh Siang-giok malah berhasil ditangkap.”

“Waah, kalau begitu…” berubah hebat paras muka Ciu Leng-liong, “Bila Baginda mengetahui kejadian ini…Bukankah bukankah dosa kami teramat besar…Bukankah…Bukankah batok kepala kami bakal…Bakal pindah tempat?”

“Peristiwa ini sangat serius,” ujar Cukat-sianseng dengan wajah bersungguh-sungguh, “Sudah pasti Lohu tak akan mem biarkan manusia macam Coh Siang-giok hidup bebas di dunia Ciangkun berdua, coba ceritakan secara ringkas apa yang telah terjadi, biar kususun rencana untuk melacak dan membekuk kembali buronan kelas kakap itu.”

“Terima kasih Sianseng atas bantuanmu,” seru Si Ceng-tang kegirangan.

“Tak perlu sungkan.”

“Ceritanya begini, bulan ini tanggung jawab keselamatan penjara besar Besi Berdarah di kota Ciang-ciu jatuh ke pundak Cayhe bersama saudara Ciu, selain itu masih ada lagi empat perwira penanggung jawab yang lain, mereka adalah si Peluru besi Seng It-piau, si Golok panjang Sim In-san, si Walet terbang Liu Ing-peng serta si Tangan pemisah emas Thian Toa-ciok.”

Cukat-sianseng manggut-manggut, ujarnya, “Penjara Besi Berdarah memang penjara yang kokoh dan penting, demi keamanan dan keselamatan para narapidana, penjara itu memang sepantasnya dijaga Ciangkun berdua ditambah para Ciangkun lainnya.”

“Betul,” Si Ceng-tang menghela napas, “seharusnya kekuatan kami cukup tangguh dan kokoh. Tapi fajar tadi, di tengah hujan salju yang deras, Sim In-san telah muncul dengan membawa delapan begundalnya yang menyamar sebagai perwira jaga, selain membunuh Seng It-piau yang sedang bertugas di penjara nomor dua, mereka pun sempat melukai banyak sipir penjara, kemudian setelah merampas kunci sel, mereka menyelamatkan Coh Siang-giok serta Dua Bersaudara Keluarga Si.”

“Apakah biasanya Sim In-san berada di bawah perintah Ciangkun?” tanya Cukat-sianseng setelah termenung sejenak.

“Benar!” Si Ceng-tang mengangguk, “Dia memang terhitung orang paling menonjol dalam deretan anak buahku, semula bekerja untuk Coh-ciangkun, tapi kemudian dialih tugaskan ke Ciang-ciu dan ditaruh di bawah perintahku.”

“Bagaimana dengan sepak terjangnya pada hari-hari biasa?”

“Ilmu goloknya cepat, dahsyat dan telengas, orangnya cekatan dan pandai menyesuaikan diri, tapi lebih cenderung licik dan banyak akal, dia pernah tiga kali membuat jasa besar, namun selama jadi anak buahku, dia pernah dua kali melakukan pelanggaran kecil, namun aku tidak menjatuhkan hukuman kepadanya, pertama karena dia memang tidak melakukan pelanggaran besar, kedua karena aku memang butuh anak buah macam dia.”

Si Tombak sakti Si Ceng-tang sebagai seorang panglima besar ternyata sangat memahami seluk-beluk dan sepak-terjang anak buahnya, bahkan bisa hapal di luar kepala, ini menunjukkan dia memang punya kemampuan lebih.

Walaupun dia tahu dengan jelas kelicikan serta kelicinan Sim In-san, namun terpaksa tetap memakainya, dalam hal ini Cukat-sianseng dapat memahaminya, karena sebagai seorang pimpinan, dia memang sangat membutuhkan anak buah semacam ini.

“Dia melakukan pelanggaran apa?” tanya Cukat-sianseng kemudian.

“Pertama kali dia mencuri gaji pegawai dan ketahuan, maka kuganjar dia dengan enam kali cambukan ditambah kerja paksa selama tiga hari. Kedua kalinya dia berniat memperkosa perempuan baik-baik dan kembali ketahuan, aku langsung menempelengnya dua kali ditambah gebukan tongkat sebanyak dua belas kali.”

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Cukat-sianseng menukas, “Ketika dia melakukan pelanggaran kedua kalinya, apakah Ciangkun sendiri yang memergoki ulahnya itu?”

Si Ceng-tang segera berpaling ke arah Ciu Leng-liong, segera Ciu Leng-liong menjelaskan, “Waktu itu Cayhe yang mengajak mereka pergi ke Si-ciu, saudara Si tidak ikut dalam rombongan, setelah kembali, baru Cayhe laporkan kejadian ini kepada saudara Si, waktu itu orang yang kebetulan memergoki perbuatan busuknya adalah si Peluru besi Seng It-piau.”

“Ooh?”

“Itulah sebabnya Cayhe berpendapat ulah Sim In-san membebaskan narapidana kali ini, bukan hanya lantaran dia punya hubungan yang akrab dengan para narapidana itu, kemungkinan besar ada juga unsur balas dendam pribadi, buktinya hanya Seng It-piau seorang yang dibunuhnya,” Si Ceng-tang menambahkan.

“Kau bilang hanya Seng It-piau seorang yang dibunuh?” mendadak Cukat-sianseng mengangkat wajahnya.

“Sewaktu mereka bersembilan menyerbu masuk ke dalam penjara, mereka melewati penjara nomor satu dan langsung masuk ke penjara nomor dua, kebetulan waktu itu opas Thian berada di situ, karena tidak menyangka, jalan darahnya ditotok Sim In-san, kemudian mereka menyerbu ke penjara ketiga, membebaskan Coh Siang-giok dan membantai Seng It-piau.”

“Itu berarti untuk menuju penjara besar Besi Berdarah harus melalui penjara nomor satu dulu, kemudian baru tiba di penjara nomor dua, melewati penjara nomor dua baru bisa tiba di penjara nomor tiga, penjara nomor empat.”

“Benar!”

“Lalu bagaimana dengan opas Thian yang ditotok jalan darahnya?” kembali Cukat-sianseng bertanya.

“Dia hanya ditotok jalan darah lemas dan gagunya, karena itu dia hanya bisa menyaksikan Sim In-san membebaskan narapidana dan kabur dari penjara.”

“Kalau begitu Dua Bersaudara Keluarga Si dikurung dalam penjara nomor dua dan dijaga opas Seng?” kata Cukat-sianseng, setelah berhenti sejenak, kembali tanyanya, “Bagaimana watak dan sepak terjang Seng It-piau di hari biasa?”

“Seng It-piau adalah seorang lelaki sejati, sepasang peluru besinya nyaris tak pernah meleset, dia bernyali, ilmu silatnya hebat, aku sangat mengaguminya,” kata Ciu Leng-liong cepat.

“Betul, Seng It-piau memang seorang Hohan sejati,” Si Ceng-tang menambahkan, “Aku pun amat mengaguminya, satu-satunya hal yang paling jelek darinya adalah kelewat gegabah dan kasar, dari beberapa orang anak buahku, dia hanya akrab dengan Thian Toa-ciok, sementara dengan yang lain boleh dibilang pernah geger atau salah paham, jadi mustahil ada hubungan akrab dengan orang lain. Sungguh tak disangka gara-gara kecerobohannya, dia harus tewas di tangan Sim In-san, aaai.”

“Thian Toa-ciok ada di mana sekarang?”

“Sejak terjadinya peristiwa besar itu, setiap orang yang tersangkut dalam kejadian itu telah kuajak kemari, apakah Sian-seng ingin bertemu dengannya?”

“Ya, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadanya,” sahut Cukat-sianseng dengan nada berat.

“Baik, segera perintahkan opas Thian masuk.”

Selang sejenak, seorang lelaki kekar berbaju emas masuk dengan langkah lebar, mula-mula dia memberi hormat pada Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong, kemudian baru menjura kepada Cukat-sianseng.

“Ooh, ternyata memang seorang Hohan,” puji Cukat-sianseng sambil tersenyum, “Thian-yongsu, silakan duduk.”

“Terima kasih,” dia segera menarik sebuah bangku dan duduk.

Dengan senyum di kulum Cukat-sianseng bertanya, “Ketika terjadi peristiwa itu, apa benar kau sedang berada di penjara nomor dua?”

“Benar!”

“Bisa kau ceritakan secara ringkas kejadian hari itu?”

“Baik. Fajar itu ketika aku baru mendusin di penjara nomor dua, dan karena tak ada pekerjaan, aku bersiap-siap berlatih silat, tiba-tiba telur busuk itu berjalan masuk dengan diiringi delapan telur busuk lainnya, maknya…aku tidak menyangka telur busuk itu ternyata manusia macam itu, ketika aku bertanya kepadanya apa punya arak, tiba-tiba dia menotok jalan darah lemasku di saat aku tak bersiap.”

“Yang kau sebut si telur busuk apakah Sim In-san?” tukas Cukat-sianseng.

Tampaknya semakin dibayangkan, Thian Toa-ciok semakin mendongkol, teriaknya keras, “Kalau dia bukan telur busuk, siapa lagi yang telur busuk? Dia memang cucu kura-kura busuk!”

Tiba-tiba Si Ceng-tang menghardik, “Lo-thian, begitukah caramu bicara dengan Cukat-cianpwe…?” lalu sambil menjura ke arah Cukat-sianseng, tambahnya, “Toa-ciok hanya seorang tukang pukul kasar, tak tahu aturan dan tata krama, mohon Sian-seng sudi memaafkan.”

“Tidak masalah,” sahut Cukat-sianseng sambil tertawa, “Lohu memang suka dengan lelaki berdarah panas macam dia, lanjutkan!”

Sesudah menghembuskan napas panjang Thian Toa-ciok melanjutkan, “Karena jalan darah lemasku tertotok, aku tak mampu bergerak, sewaktu beberapa orang saudaraku mendekat, delapan manusia cacad itu segera turun tangan dengan telengas, dalam sekejap mereka telah menghabisi nyawa mereka. Kemudian telur busuk itu mengambil anak kunci dari sakuku dan membebaskan dua bersaudara Si. Aku mulai tidak tahan dan mencaci-maki dirinya habis-habisan, ternyata delapan manusia cacad itu ingin menghabisi nyawaku. Hmmm, rupanya telur busuk itu masih punya sedikit perasaan, dia segera mencegah ulah mereka. Lalu dia bersama dua bersaudara Si menerjang masuk ke penjara nomor tiga, waktu itu hampir meledak dadaku saking mendongkolnya.”

“Tunggu sebentar, tunggu sebentar,” kembali Cukat-sianseng menukas, “Jadi Sim In-san mencegah mereka membunuhmu?”

“Benar, meski aku benci bangsat busuk itu, namun aku tidak akan melupakan budi kebaikannya.”

“Di hari biasa, apakah hubunganmu dengan Sim In-san cukup baik?” kembali Cukat-sianseng bertanya.

“Kita semua bekerja dalam penjara yang sama, mangkuk nasi tak berbeda, sebenarnya hubungan kami sangat baik,” kata Thian Toa-ciok gusar, “Siapa suruh telur busuk itu agak kelewatan, tiga bulan berselang tiba-tiba dia mengajak aku berkelahi, semenjak kejadian itu kami pun tidak saling menyapa.”

“Ooh, jadi kalian pernah berkelahi?”

“Benar,” sahut Ciu Leng-liong, “Waktu itu Sim In-san sedang menganiaya seorang sipir penjara, menendang mangkuk nasinya hingga tumpah, waktu itu Lo-thian serta Seng It-piau hadir di sana, mereka pun memaksa Sim In-san untuk menjilat nasi yang ditumpahkan itu, tentu saja Sim In-san menolak, maka pertarungan dua lawan satu pun terjadi, kemudian Siau-liu datang melapor kepadaku, maka aku pun menyusul ke penjara untuk melerai pertarungan itu.”

“Kenapa aku tak tahu ada kejadian semacam ini dalam penjara?” seru Si Ceng-tang tiba-tiba sambil mendelik ke arah Ciu Leng-liong, “Kenapa kejadian ini tidak kau laporkan kepadaku?”

“Oooh untuk sesaat Ciu Leng-liong tak sanggup menjawab.

Untung, Cukat-sianseng telah berseru kembali, “Bagaimana selanjutnya?”

“Selang berapa saat kemudian, aku pun melihat telur busuk itu muncul lagi dengan membawa serta bangsat she Coh itu, mereka langsung kabur dari penjara. Lebih kurang setengah pe-minuman teh kemudian Siau-liu muncul membebaskan aku dari pengaruh totokan dan masuk ke penjara nomor tiga, sedang aku sendiri setelah sedikit melancarkan peredaran darah, segera menyusulnya.”

“Selama jalan darahmu tertotok, apakah kau sempat mendengar sesuatu suara aneh dan mencurigakan?” kembali Cukat-sianseng bertanya.

“Ada!” Thian Toa-ciok mengangguk, “Awalnya terdengar ada suara orang terjatuh, kemudian suara para sipir mencabut golok, menyusul kemudian suara jerit kesakitan, dan paling akhir terdengar lagi sekali jerit kesakitan, rasanya jerit kesakitan Lo-seng.”

“Kapan terjadinya jeritan terakhir itu?” desak Cukat-sianseng lebih jauh.

Thian Toa-ciok berpikir sejenak, kemudian sahutnya sambil menggeleng, “Kurang begitu jelas, karena waktu itu aku sedang mencaci-maki, tidak terdengar terlalu jelas.”

“Siau-liu yang kau maksud apakah si Walet terbang yang sangat mahir ilmu meringankan tubuh?”

Sebelum Thian Toa-ciok menjawab, Si Ceng-tang sudah menyahut duluan, “Benar, memang dia orangnya, dari beberapa orang itu, usianya yang paling muda, tapi pergaulannya yang paling luas, apakah Cukat-sianseng ingin bersua dengannya?”

“Untuk memperjelas duduknya perkara, Lohu memang harus bersua dengan dia.”

Liu Ing-peng mempunyai perawakan badan yang langsing dan enteng, meskipun sangat muda namun wajahnya menunjukkan keteguhan hati, ulet dan pemberani, dia memakai baju berwarna hijau dan berdiri beberapa depa di hadapan Cukat-sianseng.

Dengan sepasang mata yang sipit, Cukat-sianseng mengamati sekejap dirinya dari atas hingga bawah, lalu sapanya sambil tertawa, “Jadi kaulah si burung walet terbang? Hahaha…bagus, bagus sekali.”

Liu Ing-peng segera menjura kepada Cukat-sianseng dan si Tangan besi sambil berkata, “Salam hormat pada Cukat-sianseng dan saudara Tangan besi.”

Setelah pemuda itu mengambil tempat duduk, Ciu Leng-liong segera berseru, “Opas Liu, coba kau ceritakan lagi semua peristiwa yang terjadi dalam penjara besar hari itu.”

“Baik, waktu terjadi peristiwa itu, aku berada di penjara nomor satu, tapi lantaran perutku kurang sehat maka ketika kejadian aku berada dalam kakus, ketika keluar, kulihat ada tujuh delapan orang saudara yang tertotok jalan darahnya, kulihat narapidana di dalam penjara juga telah terlepas, aku lantas menduga sudah terjadi kekalutan di penjara satu dan tiga, maka aku pun menyusul ke sana untuk memberi bantuan, aku lihat Thian-jiko sudah tergeletak di tanah, maka aku pun membantunya membebaskan diri dari totokan, begitu bebas, dia langsung berteriak sambil menerjang keluar. Aku kuatir di penjara nomor tiga terjadi apa-apa, maka aku pun menyusul ke situ, kujumpai Seng-toako sudah terkapar, maka aku pun segera ikut menyusul keluar untuk mengejar musuh. Hingga detik itu aku belum tahu kalau orang yang melakukan pembunuhan adalah Sim-samko, bahkan tidak tahu narapidana yang terlepas adalah Coh Siang-giok!”

“Jadi ketika kau tiba di penjara nomor tiga, opas Seng sudah tewas?”

Liu Ing-peng termenung sambil berpikir sejenak, lalu sahutnya, “Waktu itu dia sudah terkapar, seluruh lantai dipenuhi darah, aku pikir sulit baginya untuk tetap hidup dalam keadaan begitu.”

“Apa yang menyebabkan kematiannya?” mendadak si Tangan besi menyela.

“Waktu itu aku terburu-buru ingin mengejar musuh, sehingga tak sempat memeriksa dengan jelas.”

“Seng It-piau tertotok jalan darahnya, lalu baru ditusuk dadanya dengan sebilah golok,” Ciu Leng-liong mene-rangkan.

“Kalau begitu Sim In-san memang benar-benar punya dendam yang sangat mendalam terhadap opas Seng, buktinya sehabis menotok jalan darahnya, dia baru puas setelah mencabut nyawanya,” ujar si Tangan besi setelah termenung sejenak.

Si Ceng-tang berpaling ke arah Cukat-sianseng, lalu ujarnya pula, “Konon delapan orang pembantu yang diajak Sim Insan menyerbu penjara adalah Thian-jan-pat-hui (si delapan manusia cacad), delapan orang itu sudah terbiasa melakukan kejahatan, mereka kejam dan telengas, susah dihadapi, apalagi masih ada sepasang manusia bengis dari Leng-lam! Terus terang saja Cayhe katakan, kedatangan kami kali ini adalah mohon petunjuk dari Sianseng.”

Cukat-sianseng menengadah sambil termenung, lama sekali baru berkata, “Petunjuk sih tidak berani, tapi bila delapan manusia cacad juga terlibat dalam peristiwa ini, bisa jadi urusan ada sangkut-pautnya dengan kawanan pemberontak dari Ci-lian-hong”

“Tepat sekali dugaan Sianseng,” puji Si Ceng-tang sambil bertepuk tangan, “Menurut laporan yang masuk, ditemukan ada rombongan dua belas orang sedang bergerak menuju ke Ho-lam, tepatnya menuju ke Ci-lian-hong.”

“Waah, kalau begitu bisa runyam keadaannya, bila mereka bersama Coh Siang-giok dan Sim In-san bekerja sama dengan kawanan penjahat dari Ci Lian-hong kemudian menuju ke kota Si-ciu, Say-keng dan Yang-ciu, dari situ mereka pun berkomplot dengan para berandal setempat, maka bisa dibayangkan kekacauan pasti akan semakin parah.”

Si Ceng-tang saling bertukar pandang dengan Ciu Leng-liong, diam-diam mereka terkesiap. Bila terlepasnya Coh Siang-giok kali ini hendak menghimpun kekuatan untuk melakukan pemberontakan, maka mereka berdua pasti akan dijatuhi hukuman berat lantaran menjadi penyebab terlepaskan pemimpin pemberontakan itu, bukan saja batok kepala bakal berpindah rumah, mungkin seluruh keluarga besar mereka pun tak akan luput dari hukuman.

Dalam gugup dan paniknya, segera Si Ceng-tang menjura kepada Cukat-sianseng sambil serunya, “Sianseng, mohon memberi petunjuk jalan kehidupan bagi kami.”

“Dari sekian banyak orang yang kau kirim, apakah pernah terjadi pertarungan dengan mereka?” tanya Cukat-sianseng kemudian.

“Kepandaian silat yang dimiliki Coh Siang-giok sangat hebat, gerakan tubuh mereka pun amat cepat, dari sekian banyak orang yang melakukan pengejaran, kalau bukan gagal menyusul mereka, kebanyakan memang sudah mati terbantai di tangan mereka.”

Cukat-sianseng berbangkit, dengan kening berkerut dan menggendong tangan, dia berjalan mondar-mandir di dalam ruangan, sesaat kemudian baru ia berkata, “Si-ciangkun, Ciu-huciangkun, sekarang keadaan bertambah gawat, seandainya Coh Siang-giok sudah meninggalkan Ciang-ciu untuk melakukan kontak dengan para pemberontak di berbagai daerah, maka pasukan yang digerakkan Ciang-kun berdua belum tentu dapat membendung kekuatan mereka. Satu-satunya jalan yang bisa dilakukan adalah selama dia masih ada di kota Ciang-ciu dan belum sempat menghimpun kekuatan yang lain…Lebih baik lagi jika mereka belum sempat berhubungan dengan benteng Lian-in-ci bukit Ci-lian-hong, berusahalah untuk membekuk mereka dan membasmi sampai akar-akarnya. Sekarang kalian berdua harus membentuk satu pasukan pilihan untuk bergerak lebih dulu, masalah ini tak boleh tertunda lagi, harap segera kalian laksanakan…oya, lukisan itu sudah kunikmati, jadi silakan dibawa pulang.”

Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong masih berusaha untuk meninggalkan lukisan itu, namun melihat sikap Cukat-sianseng yang tegas, mereka tak berani banyak bicara lagi.

Terpaksa ujarnya, “Terima kasih atas petunjuk Sianseng.” Kemudian setelah tertawa rikuh, lanjutnya, “Sianseng, aku dan saudara Ciu memang sudah terbiasa hidup di medan pertempuran, tentu saja kami pun tak takut menghadapi siapa pun, tapi Coh Siang-giok ditambah dua manusia bengis dari Leng-lam dan delapan manusia cacad merupakan jago-jago yang sulit dihadapi, Sedang dari empat orang opas kami sudah ada dua yang lenyap, kini yang tersisa tinggal opas Thian dan opas Liu, oleh karena itu kami mohon Sianseng mau meringankan bahu untuk memberikan bantuan.”

Cukat-sianseng menghela napas panjang, sahutnya, “Sebetulnya aku pun ingin membantumu untuk membekuk kawanan pemberontak itu, tapi dengan lolosnya Coh Siang-giok, aku rasa lebih tepat bila aku segera berangkat ke ibukota untuk melindungi keselamatan Baginda; Jadi seandainya kalian gagal membekuk Coh Siang-giok, aku sudah berada di sisi Baginda Raja dan melindungi keselamatan jiwanya. Aku tahu, memang tidak mudah untuk membekuk Coh Siang-giok…Tangan besi, coba kau ikut Ciangkun berdua, siapa tahu tenagamu bisa banyak membantu.”

Ketika mendengar Cukat-sianseng menolak mendampingi mereka mengejar si Raja pemusnah, sebetulnya Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong merasa amat sedih, tapi setelah mendengar Cukat-sianseng hendak berangkat ke ibukota untuk melindungi Baginda, mereka segera sadar bahwa tindakan itu jauh lebih tepat.

Mereka tahu, dengan terlepasnya Coh Siang-giok dari penjara, bisa jadi dia akan berusaha melakukan percobaan pembunuhan lagi terhadap Baginda Raja, seandainya hal ini sampai terjadi, bukankah dosa mereka akan lebih parah lagi? Bukankah sembilan keturunannya bakal terancam dimusnahkan?

Maka dengan perasaan girang Si Ceng-tang segera menyahut, “Di hadapan Baginda nanti, mohon Sianseng sudi mengucapkan beberapa kata yang meringankan kesalahan kami.”

Lalu sambil menjura ke arah si Tangan besi, terusnya, “Saudara Tangan besi, kami mohon bantuan anda.”

Biarpun si Tangan besi masih sangat muda, wajahnya tidak luar biasa, namun justru mendatangkan kehangatan dan kecerahan bagi yang melihatnya, jauh berbeda dengan nama besarnya yang bisa menggetarkan hati para jagoan golongan Hek-to.

Terdengar pemuda itu menjawab, “Menangkap buronan merupakan tugas kami, jadi semestinya tak perlu mohon bantuan.”

Lalu sambil berpaling ke arah Cukat-sianseng, tambahnya, “Sianseng tak usah kuatir, aku pasti akan berhasil membekuk Coh Siang-giok.”

Cukat-sianseng menghela napas panjang. “Aku sangat percaya dengan kemampuanmu, cuma ilmu silat Coh Siang-giok sangat hebat, dia pintar dan banyak akal, jadi dalam tindak-tandukmu mesti lebih berhati-hati dan waspada.”

“Baik.”

Dengan kening berkerut, kembali Cukat-sianseng berkata, “Bicara sesungguhnya, si Raja pemusnah ini meski kejam dan telengas, dia sebetulnya termasuk seorang jago persilatan yang sangat langka, sejak dijebloskan ke dalam penjara, sudah berulang kali tanpa mempedulikan resiko, dia berusaha melarikan diri dari penjara…Aaah, benar, kebetulan Pak-shia Shiacu (pemilik benteng utara) Ciu Pek-ih bersama istrinya, Sian-cu Lihiap (si Dewi sakti) Pek Huan-ji serta Lam-ce Cecu (pemilik benteng selatan) Ngo Kong-tiong berada di sekitar sini, biar ku buatkan sepucuk surat untuk meminta bantuan mereka, apakah Ciangkun berdua setuju?”

“Aaah, itu sangat kebetulan,” sahut Si Ceng-tang berdua kegirangan.

Dalam dunia persilatan terdapat tiga kekuatan besar yakni Hong-in-piaukiok, Tiang-siau-pang serta Si-kiam-san-ceng. Karena ketua Tiang-siau-pang Chan Pek-sui tewas setelah bertarung sengit melawan pemilik Si-kiam-san-ceng, maka kekuatan yang tersisa di dunia persilatan tinggal Hong-in piaukiok saja.

Ketua Hong-in-piaukiok, Kiu-toa-kwan-to (sembilan golok kwan-to) Liong Pang-siau adalah sahabat karib Cukat-sianseng.
Sementara jagoan yang tergabung dalam kelompok Hong-in-piaukiok pun sangat banyak, di antaranya yang paling diandalkan adalah empat keluarga besar dunia persilatan.

Keempat keluarga besar dunia persilatan terdiri dari Tang-po (benteng timur), Lam-ce (benteng selatan), Se-tin (kota barat) dan Pak-shia (benteng utara). Mereka berempat merupakan tokoh persilatan yang memiliki ilmu silat sangat tinggi.

Di antara semua jago itu, Lam-ce Cecu Ngo Kong-tiong berusia paling tua, setelah dia serahkan semua tugas dan tanggung jawab benteng Lam-ce kepada keponakannya, In Seng-hong. Dia sendiri berkelana ke seantero jagad untuk berpesiar sambil mencari sahabat.

Sementara Pak-shia Shiacu masih muda, baru berusia dua puluh tahun, bersama calon istrinya si Dewi sakti Pek Huan-ji mempunyai nama yang amat tersohor dalam dunia persilatan, belakangan secara kebetulan mereka berkunjung ke kota Ciang-ciu, kebetulan menjumpai peristiwa pembunuhan ini.

Berhubung Cecu tua benteng selatan Ngo Kong-tiong, ketua Pak-shia yang baru Ciu Pek-ih dan Dewi sakti Pek Huan-ji berilmu tinggi, dan lagi mereka amat mengagumi kehebatan Cukat-sianseng, maka setelah diundang Cukat-sianseng, tentu saja mereka segan untuk menampik.

Tak terlukiskan rasa gembira Si Ceng-tang dan Ciu Leng-liong ketika melihat ada begitu banyak jagoan berilmu tinggi yang menjadi pembantunya, tentu saja mereka pun sangat berterima kasih atas bantuan Cukat-sianseng.

“Jika begitu, kita tak usah menunda terlalu lama,” ujar Cukat-sianseng kemudian, “sementara Ciangkun berdua mempersiapkan pasukan, aku akan mengirim utusan untuk mengundang Ngo-cecu dan Ciu-shiacu, menurut perkiraanku setelah menerima kabar, mereka pasti segera berangkat ke gedung panglima. Tangan besi, sekarang juga kau berangkat bersama Si-ciangkun dan Ciu-ciangkun.”

Si Tangan besi manggut-manggut, katanya, “Silakan Ciangkun berdua mempersiapkan anak buah, Cayhe ingin menggunakan kesempatan ini untuk berkunjung dulu ke penjara besar Besi Berdarah sambil melakukan penyelidikan lagi atas terjadinya peristiwa ini.”

“Baik, merepotkan saudara saja!” sahut Si Ceng-tang kegirangan.

Berbeda dengan Ciu Leng-liong, melihat si Tangan besi masih begitu muda dan tidak mempunyai sesuatu yang menonjol, dia mengira bisanya pemuda itu tercantum sebagai salah satu dari empat opas kenamaan tak lain karena membonceng nama besar Cukat-sianseng. Maka ketika mendengar pemuda itu hendak melakukan pelacakan lagi, dia merasa sangat tidak berkenan, tegurnya, “Mau diselidiki apa lagi? Toh sepasang manusia bengis dari Leng-lam serta Coh Siang-giok telah kabur dari penjara, tapi jika saudara Tangan besi mau melakukan penyelidikan lagi, ya…silakan saja.”

Maksud perkataan itu jelas sekali. Mau diperiksa lagi atau tidak, toh tak bakalan mendatangkan banyak manfaat.

Cukat-sianseng bukan orang bodoh, tentu saja dia paham apa yang dimaksud orang, maka ujarnya sambil tertawa, “Muridku ini mempunyai cara berpandangan dan berpikir yang berbeda dengan kebanyakan orang, harap kalian percaya kepadaku, aku justru ingin sekali mendengar pandangan serta pendapatnya.”

Mendengar Cukat-sianseng begitu menyanjung kehebatan si Tangan besi, tanpa terasa paras muka semua orang agak berubah.

Si Tangan besi berdiri di depan penjara besar Besi Berdarah, angin dan salju masih turun sangat deras, empat penjuru yang nampak hanya lapisan salju yang serba putih.

Lama sekali si Tangan besi mengawasi penjara besar itu, banyak masalah menyelinap dalam benaknya. Bukan baru pertama kali ini dia berkunjung kemari, banyak narapidana penghuni penjara itu adalah hasil karyanya. Banyak di antara mereka yang sejak masuk ke sana, selama hidup tak pernah muncul lagi dalam keadaan hidup, terbayang semuanya itu, tanpa terasa dia menghela napas panjang.

Karena dalam penjara besar Besi Berdarah baru saja terjadi peristiwa besar, penjagaan di sana dilakukan dengan sangat ketat, untung saja para penjaga di situ hampir semuanya kenal dengan si Tangan besi, semua tahu kalau dia adalah pentolan para opas, raja dari para hamba negeri, tentu saja tak seorang pun berani mencegah atau menghalanginya.

Tiba-tiba si Tangan besi menghampiri seorang penjaga, kemudian tegurnya, “Lo-liu, sewaktu Sim In-san membawa kabur para tahanan, apakah kau hadir waktu itu?”

Sudah berapa kali Lo-liu berhubungan dengan si Tangan besi, dia cukup tahu kehebatan silatnya, maka segera jawabnya, “Thi-loya, sewaktu kejadian aku memang sedang mendapat giliran jaga, tentu saja aku tahu sangat jelas.”

“Jika begitu coba kau ceritakan sekali lagi peristiwa hari itu.”

Secara singkat Lo-liu segera menceritakan bagaimana hari itu dia menyaksikan Sim In-san dengan membawa delapan manusia aneh memasuki penjara, lalu keluar bersama dua manusia bengis dari Leng-lam serta Coh Siang-giok, kemudian ia bercerita juga betapa cepatnya ilmu meringankan tubuh opas Liu dan betapa kerennya opas Thian sewaktu melakukan pengejaran.

“…Ilmu silat opas Liu betul-betul keren, begitu cepatnya tahu-tahu sudah lewat di samping telingaku, ketika aku berpaling, wouw, dia sudah berada jauh di sana…tapi kungfu opas Thian lebih keren lagi, cctt, cctt, cctt…setiap kali dia melangkah, aaah! Lapisan salju segera hancur berantakan.”

Untuk membuat si Tangan besi yakin dengan ceritanya, dia menerangkan sambil melakukan gerakan tangan, kembali tambahnya, “Waktu itu kami semua sempat berpikir, coba kalau opas Thian tidak pergi menengok bininya dulu…belum tentu dia kalah cepat dari opas Liu.”

Tampaknya kesan orang ini terhadap Thian Toa-ciok jauh lebih baik ketimbang kesannya terhadap Liu Ing-peng.

Berbinar sepasang mata si Tangan besi setelah mendengar cerita itu, desaknya, “Jadi opas Thian pergi menengok bininya dulu? Darimana kau tahu?”

Timbul rasa curiga di hati kecilnya, sebab Thian Toa-ciok belum pernah menyinggung persoalan ini kepadanya.

Lo-liu segera tertawa lebar, “Tentu saja aku tahu, karena bini opas Thian adalah adik perempuanku…hehehe…dulu sikap opas Thian terhadapku sih biasa-biasa saja, namun sejak adikku bekerja di penjara dan ia tertarik kepadanya, bahkan berkata mau meminang adikku, meski bilang mau dipinang tapi sudah lewat dua tahun belum juga dipinang, namun dia tetap menganggapku sebagai iparnya, sikapnya terhadapku tentu saja sangat berbeda.

Si Tangan besi tahu, orang ini pasti sering mendapat kebaikan dari Thian Toa-ciok hingga kesannya terhadap orang itu jadi baik sekali.

Tiba-tiba terdengar Lo-liu berseru, “Adikku, adikku, cepat kemari, cepat berjumpa dengan Thi-tayjin.”

Dari balik penjara muncul seorang wanita membawa bakul berisi nasi, begitu melihat perempuan itu, hampir saja si Tangan besi tertawa tergelak.

Mula-mula dia menaruh curiga, jangan-jangan bini opas Thian adalah orang yang sengaja diselundupkan ke dalam penjara untuk membantu dari dalam dan menghalangi Thian Toa-ciok melakukan pengejaran, tapi dia segera tahu kalau dugaan itu keliru besar.

Adik perempuan Lo-liu adalah seorang wanita yang kasar kulitnya, besar suaranya dan besar pula sepasang matanya, mungkin lantaran serba besar, Thian Toa-ciok jadi tertarik dengan perempuan ini…

Tapi sepasang matanya memang sebesar gundu, pinggangnya besar bagai gentong air, dari gerak-geriknya yang lamban, jelas perempuan itu bukan orang yang mengerti ilmu silat.

Sementara dia masih termenung, perempuan itu sudah berjalan mendekat sambil menyapa dengan suara besar dan parau, “Selamat pagi Thi-tayjin, aduh…mengerikan sekali, beberapa hari yang lalu ada narapidana yang melarikan diri, aaai, gara-gara kejadian ini, Toa-ciok harus berangkat perang lagi bersama Ciangkun!”

Mendengar panggilan yang begitu mesra terhadap Thian Toa-ciok, kembali si Tangan besi merasa geli. Mendadak ia seperti teringat sesuatu, tanyanya kepada Lo-liu, “Tadi kau bilang, baru saja mendengar jerit kesakitan dari opas, tahu-tahu opas Sin telah muncul bersama para narapidana?”

“Benar.”

“Selisih waktunya kau ingat dengan jelas? Tidak salah? Coba dipikir lagi.”

“Aku rasa tidak salah,” jawab Lo-liu setelah berpikir sejenak, “Kalau tidak percaya, coba tanya mereka.”

Para penjaga lain membenarkan perkataan itu, kembali Lo-liu berkata sambil menghela napas panjang, “Padahal hubungan opas Sim dengan opas Seng masih terhitung cukup baik, cuma watak opas Seng memang kasar, berangasan dan gampang naik darah, cekcok atau memukul memang sulit terelakkan. Bukankah dahulu opas Seng pun pernah bertarung mati-matian melawan opas Liu? Opas Sim juga pernah bertarung melawan opas Thian, mereka bertempur dari dalam penjara hingga ke tanah lapang sana, tapi di saat yang paling kritis biasanya kedua belah pihak sama-sama menarik diri, tapi aneh…kenapa kali ini…kenapa kali ini opas Sim bertindak di luar batas?”

“Ooh, jadi mereka sering berkelahi?” seru si Tangan besi.

Kembali Lo-liu menghela napas panjang. “Watak serta tabiat beberapa orang opas itu memang kurang baik, malah terkadang aku pun mendapat persen bogem mentah hingga mesti berbaring hampir setengah bulanan, kebanyakan opas Seng lah yang memberi hadiah bogem mentah itu, untung sekarang…”

Sebenarnya dia ingin berkata “untung sekarang opas Seng sudah mampus”, tapi setelah sadar kalau perkataan semacam ini tidak pantas untuk diutarakan, dia pun segera berhenti bicara.

Tentu saja si Tangan besi mengetahui hal ini, namun beberapa pernyataan dari Liu tua justru menambah pusing, beberapa tanda tanya besar terasa sulit terurai dalam waktu singkat, walau begitu, paling tidak ia sudah berhasil membuktikan sesuatu, pengakuan dari Thian Toa-ciok maupun Liu Ing-peng paling tidak bukan pengakuan yang jujur seratus persen, masih banyak masalah yang masih mereka sembunyikan.

Maka dia pun tidak banyak bicara lagi, setelah minta Lo-liu untuk membuka pintu gerbang penjara besar Besi Berdarah, seorang diri dia masuk ke dalam bangunan itu untuk melakukan pemeriksaan.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: