Kumpulan Cerita Silat

23/09/2009

Pendekar Baja (24)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 10:04 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

“Gerak-gerik gembong iblis seperti dia dengan sendirinya penuh misterius, biarpun dia tidak takut dikuntit orang tetap dia akan berbuat demikian.”

“Sebab apa?” tanya Miau-ji heran.

“Ke mana pun orang semacam ini dan apa pun yang dilakukannya selalu dia mengatur macam-macam tabir rahasia agar orang lain sukar meraba keadaannya yang sebenarnya.”

“Ya, gembong iblis ini memang kebanyakan telur busuk, besar rasa curiganya, bahkan terhadap orang kepercayaan sendiri juga selalu waswas. Tapi tanah salju di sini tidak ada tanda sengaja disapu rata, juga tidak ada bekas lain yang menunjukkan rombongan mereka mundur kembali ke arah lain…”

“Manusianya dapat mundur begitu saja, kereta dan kuda sebanyak itu jelas tidak gampang berbuat demikian.”

“Habis sebab apa bekas roda kereta dan kaki kuda bisa lenyap mendadak?”

“Keadaan ini pernah kualami satu kali,” tutur Sim Long. “Yaitu di luar sebuah makam kuno, caranya ialah mereka menyuruh mundur kembali ke tempat semula dengan menginjak bekas kaki masing-masing.”

“Dan yang kedua kalinya di atas gunung tempo hari, bukan?”

“Betul, waktu itu mendadak ia masuk di lorong bawah tanah.”

“Ya, makanya kukatakan aneh,” kata Miau-ji. “Padahal kereta dan kuda tidak mungkin bisa berjalan mundur, di sini juga tidak ada lorong di bawah tanah, memangnya mereka dapat terbang ke langit?”

Sim Long lagi memandang tanah bersalju, terlihat cahaya matahari yang menyinari tanah salju itu serupa sebuah cermin yang memantulkan cahaya refleksi.

“Di sini tidak ada lagi sesuatu yang aneh, memangnya dapat kau lihat apa lagi?” tanya Miau-ji.

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian, “Justru dapat kulihat sesuatu.”

“Apa yang dapat kau lihat?” tanya Miau-ji dengan heran.

“Kau bilang di tempat ini tiada sesuatu yang aneh, memang betul juga, tanah salju ini memang tidak ada keanehan, tapi justru di sinilah letak keanehannya.”

“Ai, jangan kau main teka-teki, sesungguhnya apa yang kau lihat?”

“Masakah tidak dapat kau lihat sesuatu yang istimewa pada tanah bersalju ini?”

Tapi Miau-ji memandangnya dari sudut mana pun tetap tidak terlihat sesuatu keistimewaan. Tanah salju ini halus bersih tiada setitik tanda apa pun. Terpaksa ia berkata sambil menggeleng, “Bilamana terdapat sesuatu ciri di tanah bersalju ini, mungkin mataku yang lamur.”

“Kau lihat tanah salju ini halus bersih bukan?” tanya Sim Long.

“Ya, teramat bersih,” jawab Si Kucing.

“Jika hujan salju sudah berlangsung dua-tiga hari yang lalu, mengapa timbunan salju di sini bisa begini halus dan bersih seperti dilukis saja.”

“Ehm…ya…memang janggal.”

“Maka seharusnya kau paham.”

“Tapi aku tetap tidak paham,” Si Kucing menyengir.

“Tanah bersalju ini buatan manusia,” kata Sim Long dengan tersenyum.

“Buatan manusia? Bagaimana caranya?”

“Mereka mengusung salju dari tempat lain untuk menimbuni tempat ini, kan sederhana caranya?”

“Ha, dia mau bekerja susah payah begitu?”

“Yang bekerja susah payah kan bukan dia sendiri?”

Sementara itu hari sudah dekat magrib, Sim Long dan Him Miau-ji mengejar terus sehingga beberapa lereng bukit dilintasi pula.

Mata Him Miau-ji terbelalak bulat seperti mata kucing benar-benar, ia terus mencari, namun tetap tiada menemukan sesuatu petunjuk apa pun.

Akhirnya malam pun tiba, bintang bertaburan di langit.

“Ai, hari kembali gelap lagi dan sehari telah berlalu pula,” ucap Si Kucing dengan menyesal.

“Apa jeleknya hari gelap?” ujar Sim Long.

“Siang hari tidak kita temukan sesuatu, dalam keadaan gelap kan tambah…”

“Kukira hari gelap malahan ada harapan,” sela Sim Long dengan tertawa.

Miau-ji melenggong, “Ah, jangan kau pandang diriku ini seperti kucing benar-benar yang dapat melihat sesuatu terlebih jelas dalam keadaan gelap.”

“Maksudku, biarpun Koay-lok-ong banyak tipu akalnya, kalau hari sudah gelap, dia kan juga mesti menyalakan lampu?”

“Aha, betul,” seru Si Kucing sambil berkeplok tertawa. “Memang betul lebih gampang menemukan dia setelah hari gelap. Asal dia menyalakan lampu, betapa jauhnya pasti dapat kita lihat. Tidaklah mudah baginya untuk menyembunyikan cahaya lampu di tengah kegelapan pegunungan ini.”

Kedua orang lantas menuju ke depan lagi dengan bersemangat.

Suasana sunyi senyap sehingga napas sendiri pun terdengar. Kemudian Miau-ji bergumam lagi, “Kenapa belum terlihat apa pun, jangan-jangan kita salah arah.”

Sim Long tidak menanggapi dan masih terus melangkah ke depan. Tidak jauh, mendadak ia tertawa gembira, serunya, “Lihat, apa itu?”

Sinar lampu! Dalam kegelapan jauh di sana ada setitik cahaya lampu.

Tanpa bicara lagi Miau-ji terus berlari ke sana. Terpaksa Sim Long menyusulnya dengan sama cepatnya.

Dalam kegelapan sukar membedakan jauh atau dekatnya cahaya lampu. Namun cuma sebentar saja Miau-ji sudah berada di depan cahaya lampu tadi. Ternyata di atas sepotong batu karang besar terletak sebuah lentera.

Api lentera gemerdep seperti api setan, di atas batu masih ada sisa salju, tapi entah telah dibersihkan oleh siapa. Tiada tampak bayangan seorang pun.

Dengan hati berdebar Miau-ji maju lebih dekat. Terlihat lentera itu bersinar keemasan. Ternyata lentera itu sendiri terbuat dari emas.

“Buset, sampai lampu juga terbuat dari emas,” kata Si Kucing. “Entah apa pula maksudnya meninggalkan lentera di sini?”

Dengan wajah prihatin Sim Long berucap, “Lentera ini jelas ditinggalkan bagi kita.”

“Bagi kita?” Miau-ji menegas. “Perangkapnya, maksudmu?”

“Jika dia menggunakan perangkap sekecil ini untuk menjebak kita, maka dia bukan Koay-lok-ong lagi.”

“Aku tidak paham perkataanmu.”

“Gembong iblis semacam dia tidak nanti sembarangan menilai rendah kemampuan lawan.”

“Aha, betul, terlebih lawan seperti Sim Long, meski dia tidak pernah melihat Sim Long tentu juga pernah mendengar namanya. Tapi…” mendadak Si Kucing berkerut kening, “dari mana dia tahu Sim Long yang ingin mencarinya?”

“Melihat gelagatnya, bukan mustahil di lereng gunung ini sudah penuh tersebar pos pengintainya, mungkin…”

“Apa pun juga harus kuperiksa lebih lanjut,” sela Si Kucing tak sabar, segera ia melompat lagi ke depan.

Ternyata di bawah lentera emas tertindih sehelai kertas dan tertulis: “Apakah kau ingin mencari diriku, Sim Long? Jika demikian, terus saja mengikuti jalan ini!”

Di samping beberapa huruf yang singkat ini terlukis pula peta yang cukup jelas ke arah mana dan cara bagaimana mencapai tempat tujuan, di mana dia bercokol.

“Setan, dia malah khawatir kita tidak menemukan dia, maka sengaja memberi peta tempat tinggalnya,” gerutu Miau-ji. “Cuma, apakah peta ini dapat dipercaya.”

“Ya, bisa jadi dia sengaja memberi peta ini supaya kita terjebak,” kata Sim Long. “Jika kita menuruti petunjuk peta ini, bisa jadi takkan menemukan dia selamanya, sebaliknya makin jauh meninggalkan dia.”

“Tapi dia kan tidak jeri terhadap kita, untuk apa dia berbuat demikian?”

“Makanya peta ini mungkin juga tulen,” kata Sim Long. “Di sinilah letak kelihaian orang ini, dia sengaja membikin kita serbasusah dan ragu untuk bertindak. Melulu hal ini saja dia sudah lebih unggul selangkah.”

“Wah, sungguh membikin pusing kepala,” seru Miau-ji. “Kukira urusan ini sangat sederhana, siapa tahu membikin orang serbasalah, makin dipikir makin ruwet dan makin buntu. Tahu begini mestinya tidak perlu hiraukan peta ini.”

“Banyak urusan di dunia ini memang begini adanya,” tutur Sim Long berfalsafah. “Makin dipikirkan dan ditimbang, makin banyak kekhawatiran yang timbul, maka urusan pun tak terlaksana. Jika sesuatu dilakukan tanpa pikir, bukan mustahil malah akan terpecahkan dan terlaksana dengan baik. Banyak urusan penting di dunia ini sering kali terlaksana karena tidak banyak pertimbangan ini dan itu, jika mesti dipikirkan untung-ruginya justru takkan terlaksana.”

Ucapan Sim Long yang sederhana ini mengandung filsafat yang tinggi, mau tak mau Miau-ji manggut-manggut, “Ya, benar, tepat? Lantas bagaimana?”

“Kita anggap saja tidak pernah memikirkan apa pun,” kata Sim-Long.

“Ya, betul, tanpa peduli apa pun kita teruskan menurut petunjuk peta,” seru Miau-ji. “Sebelum ini sudah kubelajar darimu harus menggunakan otak bila hendak mengerjakan sesuatu, tapi sekarang dapat kubelajar pula darimu bilamana menghadapi sesuatu yang serbamenyusahkan, maka tidak perlu lagi banyak pikir.”

Dalil ini kedengaran seperti bertentangan namun sebenarnya merupakan suatu kesatuan.

Begitulah mereka terus mengusut menurut petunjuk peta.

Tidak lama, dari bayang-bayang gunung yang gelap sana kembali muncul sinar lampu.

Sekali ini cahaya lampu kelihatan sangat terang, jelas tidak cuma sebuah lentera saja. Tertampak sebuah kemah besar berdiri megah di bawah cahaya lampu sana.

“Berdasarkan petunjuk peta, tempat ini agaknya bukan tempat kediaman Koay-lok-ong, tapi kemahnya justru berada di sini, mengapa bisa begini?” ucap Miau-ji dengan heran.

“Bilamana setiap tindakan seorang selalu sukar dimengerti, hal ini menandakan betapa lihainya orang ini,” kata Sim Long.

Mendadak terlihat setitik sinar lampu bergerak datang dari sebelah sana.

“Ada orang datang,” desis Miau-ji.

“Kebetulan, kita jadi benar tidak perlu memeras otak lagi,” ujar Sim Long dengan tertawa.

Dalam pada itu sinar lampu itu sudah dekat, orang itu mengangkat sebuah obor dan berhenti beberapa meter di depan mereka. Seorang lelaki tegap berbaju satin.

“Yang datang ini apakah anak buah Koay-lok-ong?” segera Miau-ji membentak.

“Ya,” jawab orang itu.

“Apakah kau tahu siapa kami?” tanya Miau-ji pula.

“Ya,” jawab lelaki itu.

“Jika demikian, kau diutus Koay-lok-ong untuk menyambut kami,” sela Sim Long dengan tertawa.

Kembali orang itu mengiakan, lalu membalik tubuh dan melangkah kembali ke sana.

Meski langkahnya tidak cepat, tapi juga tidak lambat, tampaknya kungfunya lumayan.

Sejenak kemudian mereka sudah berada di depan kemah megah itu.

Jalan masuk kemah tergantung tabir yang terangkai dari mutiara kristal, zamrud dan berbagai mutu manikam yang tidak diketahui namanya. Karena cahaya lampu yang terang sehingga batu permata ini memantulkan cahaya yang menyilaukan.

Namun orang di balik tabir batu permata ini dengan macam-macam dongeng yang menyangkut dirinya itu seakan-akan jauh lebih menarik, lebih indah dan lebih cemerlang daripada tabir gemilang ini.

Sampai di sini Miau-ji merasakan sekujur badannya menegang. Diam-diam ia memaki dirinya sendiri mengapa berubah menjadi penakut. Berpikir demikian, tanpa menunggu lelaki itu menyingkapkan tabir, juga tidak menunggu diperintah Sim Long, serentak ia menerobos ke dalam kemah dan berteriak, “Koay-lok-ong, ini dia Him Miau-ji datang menemuimu!”

Menggelegar suaranya, akan tetapi sia-sia belaka. Sebab di dalam kemah ternyata kosong melompong, bayangan setan saja tidak ada, apalagi manusia.

Cahaya lampu di dalam kemah terlebih terang, menyinari singgasana berlapiskan kulit harimau dan berbantal sulaman benang emas, meja kristal dan hiasan macam-macam batu permata berwarna-warni, lantai berlapis permadani Persia…

Di atas meja penuh tersedia macam-macam buah-buahan yang aneh, di dalam piala emas penuh terisi arak, barang siapa datang ke tempat begini pasti akan terpesona, terutama orang yang doyan makan minum seperti Him Miau-ji, tentu akan merasa senang dan puas.

Tapi di manakah orangnya? Ke mana perginya penghuni kemah ini?

Mendadak Him Miau-ji membalik tubuh dan menjambret leher baju lelaki tadi sambil membentak, “Apakah Koay-lok-ong tidak berada di sini?”

“Ya,” jawab lelaki itu.

“Mengapa tiada seorang pun menemui kami?” bentak Miau-ji pula.

Kembali orang itu menjawab, “Ya.”

“Ya, ya memangnya cuma ya saja yang dapat kau katakan?” Miau-ji meraung gusar.

“Ya,” lagi-lagi orang itu menjawab.

“Sekali lagi kau bilang ya segera kupatahkan lehermu!” bentak Miau-ji.

Tapi kembali orang itu bilang, “Ya!”

Keruan dada Miau-ji hampir meledak, orang diangkatnya terus dilemparkan keluar, “Enyah, babi!”

Orang itu terbanting keras di luar sana menerobos tabir batu permata tadi, sudah begitu dia masih juga berkata, “Ya!”

Dengan tersenyum Sim Long menyela, “Biarpun kau bunuh dia tetap dia akan bilang ya.”

“Sebenarnya apa maksud tujuan Koay-lok-ong memancing kita ke sini?” kata Si Kucing.

“Melihat gelagatnya, tempat ini pasti tempat Koay-lok-ong menerima tamu,” ujar Sim Long.

“Tempat menerima tamu? Memangnya dia pandang kita sebagai tamu?”

“Dia menghendaki kita mengaso semalam dulu di sini, sesudah cukup tenaga baru menemui dia…”

“Hah, masa begitu baik hati dia?” teriak Miau-ji.

“Tentu saja bukan lantaran dia baik hati melainkan lagi pamer kekuatan kepada kita untuk menunjukkan bahwa dia meremehkan kita, betapa tangkas kita juga tidak membuatnya gentar.”

“Berengsek, nanti boleh rasakan kepalanku…” ucap Miau-ji dengan gemas. Mendadak ia tertawa pula sambil memandang atas meja, “Haha, kenapa tidak sikat saja makanan di sini. Dengan kedudukannya kuyakin dia takkan berbuat rendah dengan menaruh racun di dalam makanan.”

Banyak juga santapan di atas meja, tapi sebentar saja telah disikat habis oleh mereka berdua. Miau-ji mengusap mulut yang berlepotan minyak, sehabis kenyang menenggak arak, dia terus berbaring dan tidur.

Sim Long juga makan minum dengan kenyang, tapi sukar baginya untuk pulas di tempat dan saat begini. Dia cuma duduk termenung memandangi Si Kucing yang tidur nyenyak serupa anak kecil itu.

Entah sudah berselang berapa lama lagi, mendadak di luar tabir mutiara ada orang memanggil, “Sim-kongcu!”

Baru saja suara panggilan terdengar, tahu-tahu Sim Long sudah berada di luar.

Lelaki berbaju satin itu tidak menyangka Sim Long akan muncul secepat itu, ia sampai kaget dan menyurut mundur.

“Untuk apa kau panggil diriku?” tegur Sim Long.

Muka orang itu tampak pucat, bibir rada gemetar, jawabnya dengan menunduk, “Ongya (Tuanku) mengundang Sim-kongcu untuk bertemu sendirian.”

“Oo, selain ya rupanya engkau juga dapat bicara lain,” ujar Sim Long dengan tertawa.

“Ap…apakah Sim-kongcu mau berangkat sekarang dan janganlah mengejutkan Him-siauya itu…”

“Jika kupergi bersama dia dan Ongya kalian tidak mau menemui kami kan sia-sia belaka?” ujar Sim Long.

“Baiklah, mari Sim-kongcu ikut hamba,” kata orang itu sambil membalik tubuh.

Sim Long seperti percaya penuh terhadap apa yang telah diatur Koay-lok-ong, ia pun percaya Si Kucing yang tertidur itu pasti tidak menjadi soal, tanpa pikir ia terus ikut pergi.

Tidak lama kemudian, tertampak dua lelaki membawa sebuah tandu telah menanti di depan, orang tadi berhenti dan berpaling, katanya dengan tersenyum, “Silakan Sim-kongcu menumpang tandu saja.”

Sim Long tidak tanya juga tidak ragu, segera ia naik ke atas tandu, kedua lelaki itu lantas menggotong tandu dan dibawa lari secepat terbang. Tidak lama lagi tiba-tiba terdengar suara musik yang merdu di depan sana.

Sim Long tetap duduk tenang saja di dalam tandu. Terdengar suara musik itu semakin dekat dan mendadak tandu berhenti.

Lalu suara seorang perempuan muda berseru di luar, “Apakah Sim-kongcu sudah datang?”

Orang tadi mengiakan.

“Baiklah, biarkan kami yang membawa tandu ke dalam, pekerjaan kalian sudah selesai,” kata si perempuan muda.

Menyusul tandu diusung pula, sejenak kemudian terasa hawa menjadi hangat, tercium pula bau harum menembus tabir tandu.

Sim Long tetap duduk tenang saja di dalam seperti kalau tidak disilakan keluar dari tandu dia akan tetap tinggal di situ selamanya.

Suara musik berbunyi terus-menerus, lalu ada pula orang menyanyi merdu. Akhirnya Sim Long disilakan keluar dari tandu.

Dilihatnya dirinya sudah berada lagi di dalam sebuah kemah besar yang sangat mewah, segala sesuatu yang terdapat di sini jarang terlihat oleh orang biasa.

Namun Sim Long tidak memerhatikan benda-benda berharga itu, sebab begitu keluar dari tandu ia lantas silau oleh berpuluh gadis cantik luar biasa sehingga tidak sempat memerhatikan urusan lain.

Tertampak dua-tiga puluh gadis cantik berbaju sutra tipis sehingga kelihatan garis tubuh mereka yang menggiurkan di bawah cahaya lampu yang agak guram, rambut mereka panjang terurai dengan kaki putih telanjang.

Sebagian gadis cantik itu sedang main macam-macam alat musik, ada yang duduk termenung di samping kasur berlapis kulit harimau, ada yang asyik menyanyi, ada pula yang menari mengikuti irama musik.

Selain itu ada lima-enam gadis cantik mengelilingi sebuah meja pendek dan lagi menuang arak pada piala emas, di balik meja pendek itu berduduk seorang gadis lagi dengan dada setengah telanjang dan sangat memikat, di atas pangkuannya saat itu berbaring satu orang yang cuma kelihatan kepalanya saja, dapat dilihat oleh Sim Long kepala orang itu memakai kopiah berbentuk mahkota, namun mukanya tidak terlihat jelas.

Sim Long berdiri diam saja dengan tersenyum.

Setiap gadis cantik di situ seakan-akan terpesona oleh gaya Sim Long yang gagah itu, semuanya memandang padanya dengan terkesima.

Pada saat itulah orang yang berbaring di pangkuan si cantik itu mendadak bersenandung, “Mabuk tidur di pangkuan si cantik, bila siuman pegang pedang tanpa tandingan. Sungguh gembira, sungguh bahagia!”

“Memang menggembirakan dan sungguh bahagia!” timbrung Sim Long.

“Hah, apakah Sim Long yang bicara itu?” tanya orang itu dengan tertawa.

“Betul,” jawab Sim Long.

“Kau tahu siapa aku?” tanya pula orang itu.

“Tentu saja,” kata Sim Long.

Tertampak sebelah tangan orang itu terangkat, segera seorang gadis molek di samping meja pendek itu menyodorkan sebuah piala emas.

Tangan ini ternyata sama putih dan halusnya seperti gadis cantik yang lain, pada jari tengahnya memakai tiga buah cincin permata yang berbentuk aneh.

Sambil memegang piala orang itu berseru dengan tertawa, “Jika kita sudah saling kenal, apa halangannya minum satu cangkir bersama?”

“Baik,” seru Sim Long.

Baru saja ia berucap, serentak seorang gadis dengan langkah gemulai telah mendekatinya dan menyodorkan sebuah piala emas, ucapnya dengan suara merdu dan lirikan genit, “Silakan, Sim-kongcu!”

Sim Long tersenyum dan menerima cangkir emas itu, sekali tenggak habislah seluruh isi piala itu.

“Hahaha, bagus, Sim Long yang hebat!” seru orang itu dengan tertawa. “Masa engkau tidak takut di dalam arak ada racun?”

“Disuguh minum oleh seorang kesatria, didampingi oleh perempuan cantik, biarpun arak beracun juga akan kuminum,” jawab Sim Long dengan tertawa.

“Haha, bagus! Kabarnya Sim Long senantiasa berlaku cermat, siapa tahu juga begini gagah, pantas setiap selir dan pelayanku di sini sama terkesima melihatmu.”

Di tengah gelak tertawanya orang itu mendadak bangun berduduk, di bawah cahaya lampu yang agak guram, tertampak alis orang ini tebal dan panjang, sinar matanya tajam mengilat, di dahinya ada bekas luka sehingga menambah keangkerannya.

Dengan tangannya yang putih halus seperti tangan orang perempuan itu sedang mengelus jenggotnya yang terpelihara sambil melototi Sim Long dengan sinar matanya yang tajam.

Orang ini ternyata bermata siwer, biji matanya berwarna hijau.

Hah, siapa lagi dia kalau bukan Koay-lok-ong.

Mendadak Koay-lok-ong berhenti tertawa dan berucap, “Kau salah Sim Long!”

“Salah?” Sim Long menegas.

“Di dalam arak itu beracun!” ucap Koay-lok-ong dengan dingin.

Sim Long seperti terkejut, “Hah, apa betul?”

“Bukan cuma beracun saja, bahkan racun yang paling jahat. Di dunia ini kecuali padaku sendiri sukar lagi mencari obat penawarnya. Dalam waktu satu jam engkau pasti akan mati keracunan.”

“Wah, tak tersangka kau perlakukan diriku dengan cara pengecut,” ucap Sim Long dengan menyesal.

Koay-lok-ong tertawa latah, “Dengan berbagai daya upaya engkau mencari diriku, dengan sendirinya tujuanmu hendak membunuhku, kenapa aku tidak boleh turun tangan membinasakan dirimu lebih dulu bila ada kesempatan?”

“Caramu membunuhku ini apakah takkan ditertawai kesatria sejagat?”

“Orang lain siapa yang tahu apa yang terjadi di dalam kemah surga ini? Kecuali aku sendiri, mana ada lelaki lain yang boleh masuk. Jika bukan lantaran engkau pasti akan mati di sini, mana mungkin ada kesempatan bagimu untuk melihat surga di dalam kemah ini.”

“O, pantas tidak terlihat seorang pun anak buahmu di antara keempat duta dan ke-36 jago pedang.”

“Ya, memang begitulah.”

“Jika demikian, mumpung masih ada waktu rasanya aku harus menikmati surga dunia di sini sepuas-puasnya,” kata Sim Long. Mendadak ia menarik salah seorang penari cantik terus dipeluknya dengan tertawa, “Mati di bawah bunga peoni, jadi setan pun tidak penasaran.”

Perbuatan Sim Long ini tidak cuma membikin gadis cantik lain sama melengak, sampai Koay-lok-ong sendiri juga melongo, matanya yang siwer itu tampak melotot, jelas merasa dongkol dan gusar, bahkan rada cemburu.

Muka si penari cantik menjadi pucat karena dipeluk Sim Long, ia meronta dan berseru, “Ai…ai…”

“O, kiranya namamu Ai-ai?” kata Sim Long dengan tertawa.

“Ti…ti…” penari itu tidak sanggup meneruskan lagi.

“O, namamu Ti-ti?” kata Sim Long pula.

Koay-lok-ong tidak dapat menahan rasa gusarnya, segera ia mendamprat, “Sim Long, kematianmu sudah di depan mata, masakah engkau tidak cemas?”

“Jika segera akan mati, untuk apa cemas?” jawab Sim Long dengan tertawa.

“Ken…kenapa engkau tidak mengadu jiwa denganku?”

“Betapa pun aku akan mati keracunan, biarpun kubunuhmu juga tidak ada gunanya.”

Sambil bicara Sim Long terus mencium gadis cantik dalam pelukannya dan mendengus, “Ai-ai, Ti-ti, betul tidak?”

Sinar mata Koay-lok-ong tampak gemerdep dan entah apa yang dipikirnya.

Sim Long semakin riang gembira, si penari juga tertawa geli oleh kasak-kusuk Sim Long, entah apa yang dibisikkan kepadanya.

Mendadak Koay-lok-ong menggebrak meja dan membentak, “Dengarkan, Sim Long!”

“Wah, ada apa lagi?” tanya Sim Long.

Koay-lok-ong mengeluarkan sebuah kotak kecil dan berseru, “Lihat, inilah obat penawar racun yang kau minum tadi.”

“Oo?!” Sim Long bersuara tak acuh, tanpa memandangnya.

“Apakah engkau tidak mengharapkan obat penawar ini?”

“Tentu saja mau, namun…jika tidak kau berikan padaku, kan percuma.”

“Jika kau mau, ada satu cara dapat kau tempuh,” kata Koay-lok-ong.

“Cara bagaimana?” tanya Sim Long.

“Kau tahu, aku mempunyai kesukaan bertaruh. Nah, boleh kita bertaruh, bila kau menang obat penawar ini akan kuberikan padamu.”

“Ehm, usul bagus, entah bagaimana caranya bertaruh?”

“Dengan nyawaku untuk bertaruhan dengan nyawamu!”

“Kan nyawaku sudah berada dalam genggamanmu, untuk apa engkau bertaruh nyawa denganku?”

“Ini hanya soal hobi saja,” seru Koay-lok-ong dengan tertawa. “Bila bertaruh dengan harta benda, segala apa aku sudah punya, tentu kurang menarik. Hanya taruhan nyawa saja yang cukup merangsang.”

“Baiklah, jika begitu kuterima tantanganmu,” jawab Sim Long.

Seketika Koay-lok-ong bersemangat, ia bertepuk tangan dan minta disediakan pedang.

“Sret”, ketika Koay-lok-ong melolos pedang, tertampaklah cahaya hijau kemilauan, jelas pedang pusaka yang jarang ada bandingannya. Pedang ini diberikannya kepada Sim Long.

Lalu Koay-lok-ong berucap dengan bengis, “Nah, aku akan tetap duduk di sini, dengan pedang itu boleh kau serang aku tiga kali, aku takkan balas menyerang. Jika di dalam tiga jurus dapat kau tusuk mati diriku, obat penawar ini akan menjadi milikmu, segala apa yang terdapat di sini juga dapat kau kuasai.”

“Jika tidak dapat kutusuk dirimu?” tanya Sim Long.

“Ya, dirimu yang harus mati!” jengek Koay-lok-ong.

“Baik, cara bertaruh demikian memang menarik,” seru Sim Long sambil tertawa.

Koay-lok-ong lantas memberi tanda dan membentak, “Menyingkir semua!”

Para gadis cantik sudah ketakutan sehingga muka pucat, perintah menyingkir ini diterima dengan rasa lega seperti mendapat pengampunan besar, serentak mereka angkat kaki.

Perlahan Sim Long meraba pedang dan bergumam, “Wahai pedangku sayang, janganlah engkau mengecewakan harapanku!”

Selangkah demi selangkah ia lantas mendekat.

Koay-lok-ong tetap duduk diam saja tanpa bergerak. Matanya yang berwarna hijau itu menatap Sim Long dengan mendelik. Tanpa bicara Sim Long memutar pedang terus menusuk ke depan.

Dilihatnya Koay-lok-ong benar-benar tidak mengelak, sebaliknya malah menyongsong tusukan itu dengan dadanya. Apakah dia gila dan sengaja ingin mati di tangan Sim Long?

Sekali pedang Sim Long menusuk, sukar lagi ditahan. Rasanya dada Koay-lok-ong sudah tersentuh ujung pedang…

—–

Ketika Si Kucing terjaga bangun, ia menjadi bingung karena kehilangan Sim Long.

Cepat ia melompat bangun sambil mengucek-ucek mata yang sepat, teriaknya, “Sim Long…Sim Long…”

Tidak terdengar suara jawaban. Cepat ia menerjang keluar sehingga tabir mutiara tersaruk rontok.

Di luar malam tampak kelam, hanya sinar remang bulan sabit menghiasi cakrawala.

Bayangan Sim Long tidak kelihatan lagi.

Mabuk Miau-ji jadi hilang, ia mengentak kaki dan menggerutu, “Ai, kenapa Sim Long jadi pikun begini, mau pergi kan aku harus diberi tahu, memangnya aku disangka sudah mati mabuk?”

Tapi lantas terpikir olehnya, “Ah, tidak betul, cara bekerja Sim Long tidak nanti sembrono begini. Jangan-jangan dia terpancing pergi oleh Koay-lok-ong dan sekarang mungkin…”

Teringat kemungkinan Sim Long akan dicelakai musuh, ia menjadi gelisah, segera ia memburu ke sana, tapi baru beberapa langkah ia lantas berhenti dan bergumam, “Ah, ini pun tidak betul. Jika Sim Long mengalami sesuatu, mengapa aku tidak diapa-apakan Koay-lok-ong? Apalagi orang seperti Sim Long masakah begitu gampang dikerjai lawan?”

Karena bingung, ia putar balik ke kemah besar itu.

Dilihatnya sisa hidangan yang mereka makan masih tetap terletak di situ, sumpit yang pernah digunakan Sim Long juga tetap di tempat semula, tapi Sim Long…ke manakah dia?

Si Kucing berputar di dalam kemah kelabakan seperti semut di dalam wajan yang panas, tiba-tiba ditemukannya sepucuk surat tertaruh di samping bantal yang tadi dibuatnya tidur. Bilamana dia tidak terburu-buru lari keluar tentu surat ini sudah dilihatnya tadi.

Miau-ji merasa lega, ia sangka surat ini tentu ditinggalkan oleh Sim Long untuk dia.

Di atas sampul memang tertulis namanya sebagai si penerima. Cepat ia sobek sampulnya dan membaca suratnya. Tapi baru membaca satu-dua kalimat, air mukanya lantas berubah.

Ternyata surat ini bukan tinggalan Sim Long. Penulis surat ini ialah Cu Jit-jit.

Sungguh aneh bin ajaib, mengapa Cu Jit-jit bisa datang ke sini?

Kalimat pertama pada surat itu tertulis: “Toako, ketika surat ini kau baca, tentu aku sudah mati.”

Melulu satu kalimat ini saja sudah cukup membuat gugup Si Kucing, dan yang lebih mengejutkan justru isi surat selanjutnya, di situ tertulis:

Toako, mungkin tidak kau sangka aku akan mati di tangan Sim Long. Tapi jangan kau salahkan Sim Long, semua adalah akibat perbuatanku sendiri. Hidupku ini sudah tidak ada artinya lagi, mati di tangan Sim Long adalah cita-citaku. Konyolnya Sim Long justru tidak mau membunuhku. Sejak kecil hingga besar tidak ada sesuatu yang tidak bisa kuperoleh kecuali Sim Long saja. Kubenci padanya, sudah menjadi tekadku, apa pun juga aku harus mati di tangannya. Dia tidak membunuhku, dengan segala tipu daya akan kubikin dia membunuhku…”

Sampai di sini Si Kucing lantas mengentak kaki, “Ai, dasar budak bodoh, budak gila, bukannya minta dicintai Sim Long, sebaliknya ingin dibunuh.”

Ia membaca lagi:

“Dan sekarang rencanaku akan berhasil, Sim Long pasti akan membunuhku. Dari tempat Samcihu kuambil sejumlah besar harta benda, kuangkut persediaan kain dari tokonya, kubikin pakaian yang indah untuk orang banyak dan kuberi upah besar kepada mereka.
Toako pasti tak dapat menerka untuk apakah berbuat demikian. Tujuanku tidak lain adalah ingin menyamar sebagai Koay-lok-ong, menyaru sebagai musuh terbesar Sim Long.
Dengan bantuan Ong Ling-hoa yang sekarang kutawan, dengan sangat mudah bagiku untuk menyamar sebagai siapa pun. Orang ini meski sangat busuk, tapi kepandaiannya merias muka sungguh luar biasa. Apalagi Sim Long juga belum pernah melihat wajah asli Koay-lok-ong, dia cuma tahu sekadarnya bentuk wajah Koay-lok-ong dari cerita orang Jin-gi-ceng, maka kuminta Ong Ling-hoa merias diriku menjadi Koay-lok-ong sebagaimana diketahui Sim Long itu. Lalu kutinggalkan surat bagimu dan memberitahukan jejak Koay-lok-ong, kuyakin kalian pasti akan menyusul kemari.
Sekarang ternyata benar kalian telah menyusul tiba. Kini Sim Long telah berhadapan muka denganku sebagai musuh, dia pasti akan membunuhku, rencanaku sudah akan terlaksana seluruhnya, mati pun aku tidak menyesal.
Sebabnya kuberi tahukan urusan ini kepadamu adalah karena engkau adalah Toako yang baik, di alam baka pun aku akan berterima kasih kepadamu. Semoga kelak engkau akan mendapatkan istri yang cantik, sepuluh kali lebih cantik daripada bini Sim Long, dengan begitu terlampias juga rasa dendamku kepadanya.
Selamat tinggal, Toako, aku selalu ingat kepadamu.

Hormat adikmu, Cu Jit-jit

Surat ini ditulis meliputi beberapa lembar kertas, makin lama makin tak teratur tulisannya, dua lembar terakhir malahan kelihatan ada bekas air mata.

Dapat dibayangkan betapa remuk redam perasaan Cu Jit-jit waktu menulis surat ini.

Dengan mengembeng air mata Miau-ji memegang surat itu dengan termangu-mangu, dia tidak pernah mencucurkan air mata, tapi sekarang rasanya air mata hampir menetes.

Dia bergumam sendiri, “Urusan yang membingungkan ini kiranya adalah permainan budak setan itu. Wahai Cu Jit-jit, mestinya engkau anak perempuan pintar, mengapa sekarang jadi sebodoh ini dan menjadi nekat?”

Ia tidak tahu bilamana orang pintar berbuat bodoh, biasanya bisa jauh lebih dungu daripada orang yang paling bodoh.

Tiba-tiba teringat olehnya Cu Jit-jit segera akan terbunuh oleh Sim Long, segera ia berlari pergi seperti kesetanan sambil berteriak, “Sim Long, tidak boleh…tidak boleh kau bunuh dia…”

Ia yakin Sim Long pasti akan turun tangan tanpa sangsi, sebab sudah lama Sim Long memang ingin menumpas Koay-lok-ong, bila ada kesempatan mana dia mau memberi ampun. Dan dari mana pula dia tahu “Koay-lok-ong” ini adalah samaran Cu Jit-jit.

Makin dipikir makin gelisah Si Kucing. Dia berharap dirinya keburu mencegah Sim Long. Tapi Sim Long dan Cu Jit-jit berada di mana?

Begitulah dia terus berlari di lereng gunung sambil berteriak seperti orang gila.

—–

Dengan sendirinya Si Kucing tidak keburu mencegah, pedang Sim Long sudah ditusukkan, tiada seorang pun yang mencegahnya.

Siapa tahu tusukan Sim Long secepat kilat dan tak tertahankan ini pada detik terakhir mendadak ujung pedang bergetar dan melenting ke atas.

Sudah jelas dada “Koay-lok-ong” sudah terasa tersentuh ujung pedang yang dingin tapi tahu-tahu dadanya menyongsong tempat kosong, Sim Long telah melompat mundur, pedang masih kelihatan bergetar.

“Koay-lok-ong” ini terperanjat, ucapnya dengan suara gemetar, “Engkau masih…masih boleh menusuk lagi dua kali…”

Tapi Sim Long lantas menjawab dengan tersenyum, “Tidak, sudah selesai, sandiwara ini sudah tamat!”

“Apa katamu? Sandiwara apa maksudmu?” kata “Koay-lok-ong” alias Si Raja Riang Gembira dengan bingung.

“Memangnya sandiwaramu ini akan kau sambung lagi? Kau kira aku tidak tahu engkau ini Jit-jit?” ucap Sim Long dengan tertawa.

Kontan tubuh Cu Jit-jit bergetar, ia berdiri termangu sejenak, mendadak mendekap di atas meja dan menangis tergerung, ratapnya sambil memukul meja, “O, mengapa nasibku begini jelek, ingin mati saja tidak dapat…”

Sim Long memandangnya dengan tenang, sesudah tangis si nona dirasa cukup barulah ia mendekatinya dan membelai rambutnya, ucapnya dengan lembut, “Ai, anak bodoh, untuk apa kau cari mati?”

“Mengapa aku tidak cari mati saja, apa artinya hidup bagiku?” seru Jit-jit parau. “Sim Long, jika engkau mempunyai perasaan, hendaknya…hendaknya bunuh saja diriku.”

“Jika aku punya perasaan, mana kutega membunuhmu?” ucap Sim Long perlahan.

Tubuh Jit-jit tergetar, serentak ia melompat bangun dan memandang Sim Long dengan kelopak mata yang masih diliputi air mata, terasa kegirangan, tapi juga tidak percaya, serunya, “Jadi…jadi engkau…”

Sim Long juga sedang menatapnya dengan sinar mata yang lembut, ucapnya dengan penuh kasih sayang, “Memangnya hati Sim Long terbuat dari batu?”

Jit-jit menjerit tertahan terus menubruk ke dalam pelukan Sim Long.

Kasih sayang yang diperoleh setelah masa derita dan ujian menjadi lebih berharga dan beruntung.

Keduanya saling berdekapan hingga lama tanpa bicara.

Sekonyong-konyong seorang berlari datang sambil berteriak, “Sim Long, jangan…jangan kau turun tangan, dia…dia Jit-jit…”

Itulah Him Miau-ji, dengan cemas dan berteriak parau dia menerjang tiba.

Jit-jit tidak bergerak, di dunia ini tidak ada sesuatu urusan atau siapa pun yang dapat membuatnya berpisah dari rangkulan Sim Long.

Sim Long juga tidak bergerak, ia tidak sampai hati melepaskan si nona.

Sesudah dekat, Miau-ji jadi melenggong dan tidak sanggup bersuara lagi.

“Toako!…” Jit-jit menegur.

“Jit…Jit-jit…Engkau tidak…tidak mati.”

“Tentu saja tidak,” sahut si nona dengan tertawa.

Miau-ji menyurut mundur dua langkah sambil menatap mereka, mendadak ia bergelak tertawa. Begitu gembira tertawanya, seperti orang sinting.

Jit-jit sampai kikuk sendiri, ia menunduk dan bertanya, “Kau tertawa apa, Toako?”

“Hahaaah!” Miau-ji tergelak pula. “Seorang kakek berjenggot berdekapan dengan seorang pemuda cakap, sungguh lucu!”

Muka Jit-jit menjadi merah, betapa pun berat rasanya mau tak mau ia harus melepaskan diri dari pelukan Sim Long. Dengan tertawa ia menarik rambut palsu, jenggot palsu dan sebagainya, juga kedok kulit muka yang tipis itu ditariknya sehingga pulih kembali wajahnya yang asli, wajah yang molek.

“Jika begitu engkau tidak kelihatan berubah sedikit pun, cuma…cuma matamu itu, mengapa bisa berubah menjadi siwer?” tanya Miau-ji heran.

“Ini permainan sulap, lihat!” seru Jit-jit sambil menoleh ke arah lain, waktu ia berpaling kembali, sinar matanya sudah kembali bening, tangannya memegang dua keping benda kecil tipis berwarna kehijauan.

“Hah, barang apakah ini?” tanya Miau-ji dengan terbelalak.

“Ini namanya kaca lensa,” tutur Jit-jit dengan tertawa. “Benda ini memang sukar dicari, dibeli dari saudagar Persia. Benda ini sangat aneh, tembus pandang dan sangat mahal. Konon dibelinya dengan beberapa ribu tahil perak.”

“Tentu barang permainan Ong Ling-hoa lagi,” kata Miau-ji.

“Siapa lagi selain dia?” ujar Jit-jit.

“Kepandaian merias keparat ini sungguh luar biasa, jika tidak tahu sebelumnya pasti tak dapat kukenali dirimu,” ujar Miau-ji.

“Tapi Sim Long kita justru dapat mengenali samaranku,” kata Jit-jit dengan tertawa.

“Haha, Sim Long kita…Pantas engkau kegirangan,” Si Kucing berseloroh. Lalu ia berkata kepada Sim Long, “Engkau memang hebat, sekali lagi aku takluk kepadamu. Cuma cara bagaimana dapat kau kenali dia, sungguh aku tidak mengerti.”

“Pertama kali aku menaruh curiga pada waktu menemukan kemahnya itu,” tutur Sim Long. “Kupikir, gembong iblis seperti Koay-lok-ong betapa hebat caranya menggembleng anak buahnya, pada waktu berangkat mustahil bisa meninggalkan sisa barang begitu banyak.”

“Sebenarnya barang-barang itu sengaja kutinggalkan supaya dilihat kalian, siapa tahu berbalik menjadi petunjuk yang menimbulkan curigamu,” kata Jit-jit.

“Dan untuk kedua kalinya kucuriga ketika melihat surat yang ditinggalkannya itu.”

“Dalam hal apa surat itu mencurigakanmu?” tanya Miau-ji.

“Kulihat tulisan dalam surat itu sangat kasar, kalimatnya juga kurang teratur, padahal anak buah Koay-lok-ong banyak yang terpelajar, masa menulis surat saja tidak becus.”

“Ah, betul juga, mengapa tidak kau katakan waktu itu?” tanya Miau-ji.

“Waktu itu aku pun belum yakin akan curigaku, setelah kulihat lelaki berbaju satin itu barulah dapat kupastikan dia bukan anak buah Koay-lok-ong.”

“Apakah gerak-gerik atau tutur katanya memperlihatkan sesuatu yang mencurigakanmu?” tanya Jit-jit.

“Tidak ada, hanya pakaiannya yang menimbulkan tanda tanya.”

“Pakaiannya?” Jit-jit jadi heran.

“Pakaiannya terlalu baru…” tutur Sim Long dengan tertawa. “Bahwa Koay-lok-ong datang dari jauh di luar perbatasan barat sana, mana bisa anak buahnya berbaju sebaru itu, sampai sepatunya juga masih baru gres.”

“Ai, hal ini malah tidak pernah kupikirkan,” seru Jit-jit dengan tertawa.

“Sebab itulah diam-diam kusingkap ujung bajunya dan kebetulan kulihat ada cap toko kain Yun-yan-po-ceng, dengan demikian kan segalanya menjadi jelas?”

“Jadi…jadi waktu itu juga sudah kau ketahui siapa diriku?” tanya Jit-jit dengan terbelalak.

“Ya, kalau tidak masakah aku berani makan minum sepuasnya bersama Miau-ji?”

“Engkau memang setan siluman!” omel Jit-jit dengan muka merah.

“Terus terang kepandaian merias Ong Ling-hoa memang mahatinggi dan sukar diketahui, caramu bicara juga sangat mirip lelaki…”

“Untuk itu aku telah berlatih dengan tekun,” tukas Jit-jit.

“Cuma karena sudah kuketahui sebelumnya maka betapa hebat samaranmu tetap dapat kulihat cirinya, misalnya…” Sim Long tertawa lalu menyambung, “Umpamanya pada waktu aku sengaja memeluk si penari, kulihat engkau keki setengah mati…”

Jit-jit terus memukul dada Sim Long dan berseru, “Ayo, bicara lagi…”

“Haha, budak ini tidak mampu menipumu tapi akulah yang tertipu dan kelabakan,” tutur Miau-ji. “Kau tahu betapa cemasku waktu kubaca surat tinggalannya, sungguh kuingin terbang ke sini kalau bisa…”

Jit-jit tertawa geli membayangkan betapa gelisah Si Kucing waktu itu. Ia menuang tiga piala arak dan berkata, “Sembari bicara perlu juga mencuci kerongkongan.”

“Betul, mari habiskan secawan,” seru Miau-ji.

Sekali tenggak ketiga orang sama menghabiskan isi piala, segera Miau-ji berteriak minta tambah secawan lagi.

“Hari ini kita memang harus bergembira,” kata Sim Long. “Cuma Ong Ling-hoa…”

“Jangan khawatir, keparat itu takkan kabur lagi,” ujar Jit-jit.

Mendengar nama Ong Ling-hoa, seketika kening Miau-ji bekernyit, tanyanya, “Di mana keparat itu sekarang?”

Berputar bola mata Jit-jit, jawabnya dengan tertawa, “Coba kau terka kutaruh dia di mana?”

“Aku tidak sanggup menerkanya,” kata Miau-ji.

“Dia berada di dalam kemah ini,” tutur Jit-jit.

“Hah, di sini?” seru Si Kucing, tapi ketika mereka mengawasi sekeliling kemah, mana ada bayangan Ong Ling-hoa.

“Di mana dia, apakah dia bisa menghilang?” ujar Miau-ji.

Jit-jit tertawa, katanya, “Kau lihat apa yang kududuki ini?”

“Sebuah peti…” gumam Miau-ji. “Hah, apakah kau kurung dia di situ?”

Jit-jit tertawa senang, “Makanya kubilang dia takkan lolos lagi. Betul tidak?”

Segera ia mengetuk peti itu dengan piala berkata, “Ong Ling-hoa, kau dengar suaraku tidak?”

Miau-ji juga mengetuk peti dan berteriak, “Haha, sekali ini engkau baru tahu rasa seorang perempuan berduduk di atas kepalamu!”

Jika Jit-jit dan Miau-ji tertawa gembira, mendadak Sim Long berkata, “Wah, celaka!”

“Ada apa?” melengak juga Jit-jit.

“Peti ini kosong,” kata Sim Long.

“Mana bisa kosong, aku sendiri yang memasukkan Ong Ling-hoa ke sini,” kata Jit-jit.

“Peti yang berisi takkan bersuara nyaring demikian,” kata Sim Long.

Cepat Jit-jit berbangkit dan membuka tutup peti. Dan…ternyata benar peti itu kosong melompong.

“Hah, meng…mengapa Ong Ling-hoa bisa hilang?” seru Jit-jit.

“Setelah kau tutup dia di sini apakah pernah kau tinggalkan dia?” tanya Sim Long.

“Kupergi ke tempat sana sebentar, tapi di sini tetap dijaga orang.”

“Orang siapa?” tanya Sim Long.

“Yaitu orang-orang yang kubayar untuk menyamar sebagai anak buah Koay-lok-ong.”

“Jika mereka mau bekerja bagimu dengan menerima upah kenapa mereka tidak menerima upah dari Ong Ling-hoa untuk membebaskannya.”

“Tapi…tapi Ong Ling-hoa tidak…”

“Meski Ong Ling-hoa tidak membawa uang, tapi mulutnya pintar bicara, bukan mustahil kawanan gadis itu telah dibujuk…”

“Setan alas, akan kuperiksa mereka,” seru Jit-jit dengan gemas, segera ia hendak menerjang keluar, tapi baru beberapa langkah mendadak ia roboh terkulai dan tidak sanggup bangun lagi.

Cepat Sim Long dan Miau-ji memburu maju untuk membangunkan si nona, di bawah cahaya lampu kelihatan mukanya pucat lesu.

“He, kenapa?” tanya Miau-ji khawatir.

“Aku…aku merasa lemas, mendadak mata pun enggan…” makin lemah suaranya dan kepala lantas tergolek dan tidak sadar lagi.

Cepat Sim Long berseru, “Kita harus lekas pergi dari sini.”

“Se…sebenarnya ada apa ini?” tanya Miau-ji kejut dan heran.

“Di dalam arak pasti telah ditaruh racun oleh Ong Ling-hoa. Cuma, agar rencana Cu Jit-jit dibunuh olehku dapat terlaksana, maka obat bius yang digunakannya bekerja sangat lambat. Biasanya obat bius yang bekerja lambat justru makin sukar ditawarkan.”

“Sungguh bangsat!” gerutu Miau-ji dengan gemas. “Lantas bagaimana sekarang?”

“Mumpung racun belum bekerja atas diri kita, lekas kita tinggalkan tempat ini,” kata Sim Long. “Ai, tak kusangka cara bekerja Jit-jit seceroboh ini, kalau tidak tentu aku tidak minum arak tadi.”

Sembari bicara ia terus mengangkat Jit-jit dan dibawa lari keluar.

Di luar tidak ada seorang pun, kawanan lelaki dan perempuan tadi entah sama kabur ke mana lagi.

Segera mereka berlari lebih cepat, tapi entah mengapa, betapa mereka ingin lari tetap tidak segesit biasanya.

“Sungguh obat bius yang hebat, tenagaku serasa hilang sama sekali,” seru Miau-ji. “Untung Ong Ling-hoa tidak menyergap kita di sini, kalau tidak, semuanya tentu akan tamat.”

“Sebelum racun bekerja atas diri kita, mana dia berani turun tangan terhadap kita,” jengek Sim Long.

Miau-ji mengangguk, mereka berlari lagi sekian jauhnya, langkah mereka terasa semakin berat, kaki seperti diganduli batu.

Sebenarnya Sim Long terlebih kuat daripada Miau-ji, tapi begitu masuk kemah tadi dia lantas minum secangkir bersama Cu Jit-jit, maka racun dalam tubuh mereka sekarang mulai bekerja pada saat yang sama.

Jika bukan lantaran Sim Long yakin benar Koay-lok-ong itu adalah samaran Cu Jit-jit, tentu dia takkan minum arak beracun itu. Orang pintar terkadang memang juga bisa keblinger.

Mau tak mau Sim Long menghela napas, katanya, “Jika sekarang muncul Ong Ling-hoa, pasti tamatlah, riwayat kita.”

“Untung dia salah hitung, kalau tidak…”

Belum lanjut ucapan Si Kucing, mendadak terdengar seorang bergelak tertawa di kejauhan, “Haha, baru sekarang kalian datang!”

Nyata itulah suara Ong Ling-hoa.

Suaranya terdengar berkumandang dari tempat ketinggian, ramah dan halus, serupa tuan rumah yang baik hati lagi menyambut kedatangan sahabat yang sudah lama berpisah. Tapi bagi pendengaran Him Miau-ji dan Sim Long tidak ubahnya seperti bunyi guntur waktu siang bolong.

Serentak mereka memandang ke atas. Tertampak di atas sepotong batu karang raksasa di depan sana menongkrong sesosok bayangan orang, di bawah remang cahaya bintang samar-samar memang dapat dikenali, siapa lagi dia kalau bukan Ong Ling-hoa.

“Sudah lama kutunggu kedatangan kalian, silakan naik kemari, di sini tersedia hidangan dan minuman, marilah kita makan minum dulu bersama!” demikian Ong Ling-hoa berseru pula.

Dengan gusar Him Miau-ji membentak, “Bangsat, akan ku…”

“Jika kau inginkan kepalaku, silakan juga naik kemari, pasti kuserahkan dengan hormat,” sela Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Segera kunaik ke situ, memangnya kutakut padamu?” teriak Miau-ji murka.

Segera ia bermaksud meloncat ke atas, tapi mendadak kaki terasa sempoyongan dan hampir saja jatuh terjungkal.

“Hahaha, apakah Anda mabuk, kenapa berdiri saja kurang mantap?” kata Ong Ling-hoa dengan terbahak.

Miau-ji hendak menubruk ke depan, tapi Sim Long lantas menariknya mundur dan berlari kembali ke arah semula.

“Eh, baru saja datang kenapa lantas pergi lagi?” terdengar Ong Ling-hoa tertawa mengejek. “Maaf aku tidak mengantar lebih jauh.”

“Bangsat terkutuk, pada suatu hari pasti akan…” Si Kucing mencaci maki, tapi langkahnya menjadi berat sehingga Sim Long hampir ikut jatuh tersaruk.

“Eh, hendaknya kalian berjalan perlahan, jangan sampai jatuh terbanting,” seru Ong Ling-hoa. “Cuma, menurut perhitunganku sekarang, rasanya kalian takkan berlari lebih jauh daripada tujuh langkah lagi.”

Dengan mengertak gigi sekuatnya Sim Long melangkah lebih cepat, tapi sia-sia, baru beberapa langkah lagi akhirnya Si Kucing ambruk. Mau tak mau Sim Long lantas berhenti juga.

“Eh, mengapa Anda tidak lari lagi?” ejek Ong Ling-hoa.

Sim Long lantas membalik tubuh, katanya dengan tersenyum, “Ong Ling-hoa, sekali ini anggaplah engkau yang menang.”

“Ah, terima kasih…” kata Ling-hoa dengan tertawa. “Dalam keadaan begini Anda masih sanggup tertawa, sungguh seorang lawanku yang paling hebat yang pernah kuhadapi. Cuma sayang, Anda tidak ada kesempatan untuk bergebrak lagi denganku, pada hari ini tahun depan aku berjanji akan berziarah ke kuburanmu.”

“Engkau takkan berani membunuhku,” ujar Sim Long dengan tersenyum.

“Aku tidak berani?…Mengapa?” melengak juga Ong Ling-hoa.

“Tidak ada alasan, yang jelas engkau tidak berani…” kata Sim Long, tahu-tahu ia pun roboh terkulai.

Segera Ong Ling-hoa berdiri dan tertawa latah, “Hahaha, Sim Long, akhirnya kau jatuh juga ke dalam tanganku. Selanjutnya siapakah di dunia ini yang mampu menghadapi aku, Ong Ling-hoa?!”

Perlahan suara tertawa Ong Ling-hoa mereda, lalu ia melompat turun dan memeriksa keadaan Sim Long, kemudian berkata pula, “Wahai Sim Long, dari mana kau tahu aku takkan membunuhmu?”

—–

Hari sudah mulai terang, namun kabut masih meliputi lembah pegunungan sunyi.

Waktu Jit-jit siuman, dirasakan tubuh masih lemas tak bertenaga. Sungguh obat bius yang sangat lihai.

Lamat-lamat dilihatnya sebuah lentera, cahayanya menyilaukan, baru saja ia membuka mata lantas dipejamkan lagi. Timbul rasa waswasnya, dengan gemetar tangannya meraba bagian bawah…

Untung pakaiannya masih teratur rapi, apa yang paling ditakutinya ternyata tidak terjadi, sesuatu yang paling berharga baginya ternyata belum lagi direnggut orang.

Ong Ling-hoa yang jahat, menggemaskan dan licik itu betapa pun juga mempunyai keangkuhan dan tidak mau menganiaya orang yang tidak sadar.

Padahal setiap serigala pelahap anak perempuan memang begitu, mereka tahu walaupun dapat menaklukkan tubuh seorang perempuan dalam keadaan tak sadar, namun jelas kurang menarik.

Begitulah Cu Jit-jit dapat merasa lega, tapi segera teringat olehnya akan nasib Sim Long dan Him Miau-ji, cepat ia melompat bangun dan berseru, “Sim Long…”

Ia tidak melihat Sim Long, tapi melihat Him Miau-ji.

Mereka ternyata berada di dalam sebuah ruangan yang tidak berjendela juga tidak berpintu.

Miau-ji serupa seekor kucing meringkuk di pojok sana, tidak bergerak dan belum lagi siuman.

Jit-jit merangkak ke sana dan menggoyang-goyang pundak Miau-ji.

Mulut Miau-ji bergerak-gerak seperti orang makan sesuatu sambil bergumam, “Enak…enak…”

“Enak apa, orang mampus! Ayolah lekas bangun…” seru Jit-jit dengan geli dan juga mendongkol, lalu ditepuknya muka Miau-ji.

Seketika Miau-ji terjaga bangun, tapi begitu dia berduduk, segera ia pegang kepalanya yang kesakitan seperti mau pecah, ucapnya, “Tempat apakah ini? Mengapa kita berada di sini.”

“Aku jatuh pingsan lebih dulu, mana kutahu?” ujar Jit-jit dengan mendongkol.

“Dan di manakah Sim Long?”

“Justru hendak kutanya padamu, engkau malah tanya padaku.”

“Waktu kuroboh, kuingat Sim Long masih berdiri tegak, tapi…tapi Ong Ling-hoa…” makin lirih suaranya, sampai akhirnya hampir tak terdengar lagi.

“Jadi kalian telah melihat Ong Ling-hoa?” tanya Jit-jit khawatir.

“Ya, tapi waktu itu aku…aku hampir tidak sanggup berjalan lagi.”

“Dan bagaimana dengan Sim Long, masakah dia juga…” Jit-jit tidak berani bertanya lebih lanjut.

Miau-ji menghela napas panjang dan berucap, “Dia juga tidak dapat berbuat apa-apa lagi.”

Seketika Jit-jit merasa seperti dikemplang dengan keras, ia termangu-mangu sejenak, gumamnya dengan suara gemetar, “O, jadi…jadi kita benar telah jatuh dalam cengkeraman Ong Ling-hoa.”

“Tampaknya memang demikian,” kata Miau-ji.

“Tapi Sim Long tidak…tidak berada di sini, mungkin dia sempat lolos,” kata Jit-jit.

“Bisa jadi, apa yang tidak dapat diperbuat orang lain, Sim Long selalu mempunyai caranya sendiri untuk menyelamatkan diri.”

“Dan dia pasti akan berdaya menolong kita,” tukas Jit-jit.

“Tentu saja, segera dia akan datang menolong kita. Ong Ling-hoa tidak gentar terhadap orang lain, tapi melihat Sim Long, dia akan ketakutan seperti tikus melihat kucing, haha…”

Meski di mulut dia tertawa, namun suara tertawanya tidak berbau gembira.

Mendadak menubruk dan menjambret leher baju Si Kucing dan berteriak parau, “Kau dusta, kau…kau tahu Sim Long juga tak bisa lolos.”

“Dia tentu bisa lolos, kalau tidak, kenapa dia tidak berada di sini?”

“Mungkin karena dia…” mendadak Jit-jit menangis sedih. “Mungkin dia sudah dibunuh oleh Ong Ling-hoa.”

“Tidak…tidak bisa,” kata Miau-ji.

“Ong Ling-hoa membencinya sampai merasuk tulang, kalau dia tertawan, mana Ong Ling-hoa mau melepaskan dia,” ratap Jit-jit sambil mengguncang-guncangkan tubuh Miau-ji.

Miau-ji menatapnya lekat-lekat tanpa bicara lagi.

“Akulah yang membikin celaka dia, aku yang salah…” ratap Jit-jit pula, entah berapa puluh kali ia mengulangi ucapannya itu.

Tiba-tiba ia berdiri perlahan, di bawah remang cahaya lampu kelihatan mukanya pucat seperti orang entah dari mana tahu-tahu sebilah belati telah dipegangnya, lalu dia tertawa terkekeh dan berseru, “Aku yang bikin susah dia…aku yang bikin celaka dia…”

Habis itu mendadak ia tusuk bahu sendiri.

Keruan Miau-ji terkejut, teriaknya, “Hei, Jit-jit, berhenti!”

Namun si nona seperti tidak mendengar, sambil terkekeh ia cabut belati sehingga darah melumuri bajunya tanpa dirasakan sakit lagi, dia masih terus bergumam, “Aku yang bikin susah dia…”

Habis itu kembali ia menikam bahu sendiri lagi.

Kaget sekali Miau-ji, ingin mencegah, tapi badan masih lemas lunglai, terpaksa ia cuma menyaksikan nona itu berulang-ulang menusuk bahu sendiri.

“Jit-jit, berhenti…jangan!” ia cuma dapat berteriak khawatir saja.

Sekonyong-konyong dinding di belakang mereka merekah dan muncul sebuah pintu, sesosok bayangan orang menyelinap tiba, secepat kilat tangan Jit-jit dipegangnya.

Tertampak orang ini berdandan rapi dengan baju satin panjang berwarna jambon dan gemerdep di bawah sinar lampu.

“Ong Ling-hoa!” seru Miau-ji dengan air muka berubah pucat.

“Trang”, belati Jit-jit jatuh ke lantai dan berdiri termangu, membiarkan tangannya dipegang Ong Ling-hoa, tidak meronta dan tidak melawan.

Ong Ling-hoa memandangi Him Miau-ji dengan tertawa, tanyanya, “Apakah Anda dapat tidur dengan baik?”

“Kau bangsat, lepaskan dia, jangan sentuh dia,” teriak Miau-ji parau.

“Baik, takkan kusentuh dia, aku cuma mau memondong dia,” kata Ong Ling-hoa dengan tertawa, segera ia angkat Cu Jit-jit malah.

Tentu saja Miau-ji tak berdaya, ia cuma memandangnya dengan mata melotot.

“Jangan kau pandang diriku cara demikian, seharusnya tidak boleh kau benci padaku,” ujar Ling-hoa dengan tertawa. Ia colek muka Jit-jit, lalu menyambung lagi, “Kau pun mestinya tidak benci padaku…Yang harus kalian benci seharusnya Sim Long. Kalian sedemikian cemas bagi keselamatannya, tapi apakah kalian tahu dia sama sekali tidak cemas bagi kalian.”

“Dia tidak mati?” tanya Miau-ji.

“Tentu saja tidak,” jawab Ling-hoa tertawa.

“Di…di mana dia?”

“Meski dia tidak mati, tapi bila melihat keadaannya sekarang bisa jadi akan mati keki.”

“Kentut busuk,” damprat Miau-ji dengan gusar. “Jangan kau…”

“Kutahu kalian pasti takkan percaya,” ujar Ling-hoa. “Untuk itu, terpaksa kubawa kalian melihat dia…”

Mendadak ia menepuk tangan dua kali sambil memanggil, “Kemari, angkat Him-tayhiap kita ini!”

Dua gadis cantik muncul dengan tersenyum manis, mereka lantas mengangkat Him Miau-ji, seorang berkata dengan tertawa, “Wah, berat amat!”

Gadis yang lain menanggapi, “Begitulah baru seorang lelaki!”

Ong Ling-hoa tertawa, “Jika kau suka padanya, boleh kau cium dia…Cuma, awas, jangan kau gigit putus hidungnya.”

Begitulah Si Kucing lantas diusung pergi oleh dua anak perempuan sambil digoda, ya diraba, ya dicium sehingga mukanya berlepotan gincu.

Tentu saja dia gugup dan dongkol, tapi tak berdaya. Demi bisa melihat Sim Long, terpaksa ia menahan perasaannya.

Jit-jit lantas dipapah juga oleh Ong Ling-hoa, namun anak muda ini cukup prihatin dan tidak berbuat sesuatu yang kurang sopan.

Setelah melalui sebuah lorong panjang lalu masuk sebuah ruangan kecil, di sini tidak ada meja, tidak ada bangku, juga tidak ada tempat tidur, tidak ada apa pun, hanya ada empat buah boneka kayu tergantung di dinding.

“Pindahkan boneka kayu itu, segera kalian akan melihat empat lubang kecil, melalui lubang kecil itu nanti dapatlah kalian melihat Sim Long, hahaha…Sim Long!”

Tertawa Ong Ling-hoa tidak keras, tapi dirasakan Miau-ji sangat menusuk telinga.

“Nah, kalian boleh melihatnya dengan bebas dan Sim Long pasti takkan mengetahui akan perbuatan kalian, sebab di balik keempat lubang kecil ini terlukis badan manusia dan lubang kecil ini adalah biji mata manusia yang terlukis itu…” demikian Ong Ling-hoa bertutur dengan tertawa. “Haha, tentu kalian tidak tahu betapa indah manusia yang terlukis itu, sungguh sangat menarik dan mengesankan, cuma sayang kalian tidak dapat melihatnya.”

“Hm, sekalipun lukisan porno juga tidak mengherankanku,” jengek Miau-ji.

“Haha, Him-heng memang orang cerdik, sekali terka lantas dapat menerka bahwa lukisan di atas dinding adalah gambaran porno. Tapi apa yang dilakukan Sim Long di tengah ruangan yang penuh lukisan porno itu? Dapatkah Him-heng menerkanya?”

Tubuh Jit-jit menjadi gemetar, mendadak ia menerjang ke sana, tapi segera dipegang oleh Ong Ling-hoa.

“Bukankah kau bilang aku boleh melihatnya dengan bebas?” teriak Jit-jit dengan suara gemetar.

“Tentu saja boleh kau lihat dengan bebas, cuma jangan tergesa-gesa,” kata Ling-hoa dengan tertawa.

“Memangnya menunggu apa lagi?” tanya Miau-ji.

“Saat ini Sim-heng lagi menikmati segala kesenangan di situ, bisa jadi kalian akan mengganggu ketenangannya, demi keamanannya terpaksa kubikin susah kalian untuk sementara,” sembari bicara Ong Ling-hoa terus menutuk hiat-to bisu Jit-jit dan Miau-ji.

Saking gemas sampai biji mata Him Miau-ji melotot seperti mata ikan mas, namun Ong Ling-hoa tidak menghiraukannya, ia geser salah sebuah boneka kayu, benar juga lantas tertampak sebuah lubang kecil di atas dinding.

“Nah, kalian yang ingin melihatnya, jika mati gemas jangan menyalahkan aku,” kata Ling-hoa dengan tertawa, lalu ia menyingkir dan berkata, “Sekarang boleh silakan!”

Serentak Miau-ji dan Jit-jit memburu maju dan mengintip melalui lubang kecil itu.

Benar juga Sim Long dapat dilihat mereka.

Meski di ruangan sini tidak ada sesuatu alat perabot apa pun, tapi di ruangan sebelah ternyata tersedia perabotan yang lengkap, semuanya teratur rapi dan serbaserasi. Dan Sim Long sekarang justru berduduk di tempat yang paling menyenangkan.

Dia memakai jubah sutra halus dan berduduk bersandar di atas kursi sebangsa sofa dengan kasuran yang empuk. Tangannya memegang piala emas, seorang gadis jelita dengan baju tipis asyik menuangkan arak dengan tersenyum manis.

Arak yang berwarna merah. Tapi bagi pandangan Miau-ji sekarang arak itu serupa darah.

Miau-ji saling pandang sekejap dengan Jit-jit, keduanya sama tidak dapat bicara, mereka menahan perasaan dengan geregetan. Jika mereka dapat bicara, tentu mereka akan sama mencaci maki Sim Long, orang lain khawatir setengah mati baginya, tahu-tahu dia asyik menikmati kesenangan orang hidup di sini.

Sim Long tampaknya memang benar lagi menikmati kesenangan orang hidup, setiap kali gadis cantik itu menuangkan arak segera ditenggaknya habis. Begitu si gadis mengambilkan buah segar lantas dimakannya.

Sungguh tidak kepalang gemas Jit-jit, gerutunya di dalam hati, “Wahai Sim Long, kiranya kau pun lelaki mata keranjang dan pemabuk, tahu begini kan lebih baik kubiarkan kau mati saja.”

Miau-ji juga mendongkol melihat Sim Long yang lupa daratan itu.

Karena keduanya sama keki, mereka sampai lupa tanya kepada Ong Ling-hoa sebab apa Sim Long tidak dibunuhnya, sebaliknya malah memberi segala kesenangan hidup baginya? Kan aneh bin ajaib?

Banyak sekali Sim Long menenggak arak, sampai tangan si gadis cantik terasa pegal menuangkan arak, tapi cara minum Sim Long terlebih cepat pula.

“Sungguh hebat takaran minummu,” akhirnya si gadis cantik berkata. “Entah cara bagaimana engkau melatih kepandaian ini.”

“Soalnya sering kali ada orang ingin mencekoki aku sampai mabuk, maka takaranku minum lantas terlatih sekuat ini,” tutur Sim Long dengan tertawa.

“Namun tampaknya tidak terlalu mudah jika ingin mencekoki kau sampai mabuk,” kata gadis dengan lirikan yang menggiurkan.

“Apakah lebih gampang mencekokimu sampai mabuk?” tanya Sim Long.

Nona itu melirik genit pula, katanya, “Ada sementara anak perempuan meski mabuk akan tetap seperti tidak pernah mabuk, siapa pun jangan harap akan dapat menggodanya. Sebaliknya ada perempuan lain biarpun tidak minum arak akan serupa orang mabuk saja.”

“Hah, tampaknya anak perempuan memang jauh lebih memahami urusan sesama anak perempuan,” ujar Sim Long dengan tertawa. “Dan…engkau ini tergolong jenis anak perempuan yang mana?”

Gadis itu memandang Sim Long dengan mesra, ucapnya perlahan, “Hal ini…harus kulihat dulu siapa lelaki pihak lawan. Terkadang tidak mabuk pun aku bisa jadi mabuk, sering juga tanpa minum arak aku pun mabuk, seperti halnya se…sekarang…”

Makin mendengar makin tak keruan perasaan Jit-jit, hampir gila dia saking kekinya. Kalau bisa dia ingin menyerbu ke ruangan sana dan mencukil biji mata gadis itu.

Apalagi waktu dilihatnya tubuh si gadis yang gempal itu terus menggelendot di pangkuan Sim Long, yang lebih menggemaskan ialah Sim Long, gadis itu lantas dirangkulnya sekalian dengan eratnya.

Sungguh Jit-jit ingin membunuh diri saja, tak disangkanya Sim Long ternyata sedemikian berengseknya. Ia memejamkan mata dan tidak sudi melihatnya.

Untunglah pada saat itu juga muncul seorang bintang penolong, dari suara gemerencing dan suara tertawa merdu Jit-jit yakin orang datang ini pasti seorang perempuan mahacantik, terutama bau harumnya yang khas juga dapat dicium oleh Jit-jit.

Kemunculan perempuan baru ini membuat si gadis tadi cepat melompat bangun dari pangkuan Sim Long, wajahnya yang berseri seketika juga lenyap.

1 Comment »

  1. For me either only one worked that sundae

    Comment by Marissa Fanelle — 20/11/2015 @ 7:10 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: