Kumpulan Cerita Silat

22/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 07

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 2:02 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, Lovecan, dan Sumahan)

Bab II. Tangan Berdarah

7. Membunuh Sahabat.

Para jagoan tahu, beberapa orang itu pasti sudah terpengaruh irama iblis sehingga tunduk pada perintah Yan Bu-yu.

Tak terlukiskan rasa gusar Ji Bun-lui melihat kekejaman perempuan itu. Tanpa peduli gengsi lagi dia segera mengayun kapaknya dan ikut mengembut wanita iblis itu dengan serangan brutal. Yang diharapkan sekarang hanya secepatnya membunuh sang Selir Berdarah.

Dua bersaudara Sim yang eksentrik dan aneh juga sadar, bila Yan Bu-yu sampai mendapat kesempatan untuk menggunakan irama iblisnya, bisa jadi mereka berdua akan mati mengenaskan. Maka mereka segera maju menyongsong datangnya serangan dari sepuluh orang itu dan bertarung mati-matian.

Waktu itu keempat padri dari Siau-lim hanya bisa duduk mengatur pernapasan, karena mereka telah kehilangan banyak tenaga. In Seng-hong sadar keadaan sangat gawat, bersama Jay In-hui mereka ikut menyerang Yan Bu-yu habis-habisan. Hanya sayang Jay In-hui seakan masih menaruh simpati terhadap si Selir berdarah, hingga selalu enggan melancarkan serangan mematikan.

Karena harus menghadapi kerubutan lima orang jagoan sekaligus, sesaat kemudian seluruh badan Yan Bu-yu sudah basah keringat. Dia mulai menunjukkan wajah duka yang mendalam.

Di pihak lain, dua bersaudara Sim dengan mengandalkan ilmu saktinya, bertarung melawan dua orang jagoan dari Siang-pak serta seorang lelaki berbaju emas.

Ji Bun-lui yang berangasan dan kasar akhirnya tak mampu menahan diri lagi, dia lancarkan sebuah bacokan kilat mengancam punggung Yan Bu-yu.

Tampaknya perempuan iblis itu akan segera tewas oleh bacokan maut itu…mendadak terlihat cahaya emas berkelebat lewat. Ternyata Coa Giok-tan tak tega menyaksikan perempuan itu tewas mengenaskan, maka dia tangkis bacokan kapak itu dengan senjatanya.

Menggunakan kesempatan itu, Yan Bu-yu melancarkan tubrukan nekad! Tampak bayangan putih berkelebat, dia langsung menggigit tengkuk si Pengejar Nyawa.

Segera opas sakti itu mundur ke belakang, mendadak kakinya menginjak tempat kosong, tubuhnya terjerumus ke bawah! Untung si Pengejar Nyawa memang seorang jago yang hebat. Cepat dia menghimpun tenaga sambil bersalto berulang kali di udara. Meski berhasil mendarat selamat di tengah lorong, tak urung peluh dingin membasahi tubuhnya.

Untuk sesaat si Pengejar Nyawa terpisah dari rombongan. Yan Bu-yu segera memanfaatkan peluang ini dengan melepaskan tujuh delapan belas jurus serangan berantai. Semua ancaman ditujukan ke jalan darah penting di tubuh In Seng-hong.

Dicecar semacam ini, In Seng-hong dipaksa mundur hampir tujuh delapan langkah. Jay In-hui sendiri sesungguhnya memang tak berniat bertarung melawan perempuan iblis itu, sejak awal dia sudah berniat membebaskannya. Maka begitu melihat Yan Bu-yu menyerang secara nekad, dia pun ikut mengundurkan diri dari arena.

Sebenarnya inilah kesempatan yang terbaik bagi si Selir Berdarah Yan Bu-yu meloloskan diri dari kepungan, ketika itu serat emas Coa Giok-tan sedang digunakan untuk menahan bacokan kapak Ji Bun-lui. Sayang si Selir Berdarah memang berwatak brutal. Bukannya mundur, dia malah tertawa seram dan secara beruntun melepaskan tiga batang jarum sakti pencabut nyawa.

Tiga batang jarum sakti pencabut nyawa itu semuanya diarahkan ke tubuh Coa Giok-tan. Padahal waktu itu senjata serat emasnya sedang menahan bacokan kapak. Dia tak sempat lagi menarik kembali senjatanya. Segera tangan kirinya disentil ke depan untuk merontokkan sebatang jarum, kemudian dia miringkan kepala menghindari jarum kedua. Namun jarum ketiga langsung menghajar lengan kirinya.

Coa Giok-tan segera merasakan lengannya kaku. Sadar kalau jarum itu beracun, segera dia tarik kembali senjatanya dan menggulung ke arah tubuh perempuan iblis itu.

Melihat Coa Giok-tan termakan jarum beracunnya, Yan Bu-yu kegirangan setengah mati. Serunya sambil tertawa terkekeh, “Mampus kau! Jarum sakti pencabut nyawa hanya bisa dipunahkan olehku dan Toasuheng. Lebih baik tunggulah kematianmu di sini!”

Dengan cepat dia melompati kolam pelumat tulang kemudian melayang turun di lorong yang lain.

Dalam pada itu Ji Bun-lui telah menarik kapak terbangnya. Melihat Yan Bu-yu berhasil melukai Coa Giok-tan, ia jadi amat gusar. Bentaknya, “Siluman perempuan, lihat kapakku!”

“Wees!” kembali kapaknya meluncur ke udara dan membacok ke atas kepala Yan Bu-yu.

Waktu itu baru saja si Selir Berdarah melayang turun di lorong lain. Dia jadi kaget ketika melihat datangnya ancaman itu. Bingung bagaimana cara menghindar, dengan cepat dia sambar tubuh seorang lelaki berbaju emas yang kebetulan berada di sisinya dan digunakan untuk menangkis.

“Bluuuk!” diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, kapak terbang Ji Bun-lui menghajar telak dada lelaki itu.

Dalam pada itu dua bersaudara Sim baru saja berhasil memenangkan pertarungannya. Dengan kemampuan yang mereka miliki, dalam waktu singkat dua jagoan dari Siang-pak dan seorang lelaki berbaju emas telah berhasil mereka habisi. Melihat si Selir Berdarah berada dekat mereka, dua bersaudara Sim segera memutar telapak tangan dan langsung dihajarkan ke tubuh perempuan itu.

Yan Bu-yu tertawa dingin, dia buang jenazah lelaki berbaju emas itu dan menangkis datangnya dua pukulan itu. Siapa tahu serat emas Coa Giok-tan telah menyambar tiba! Karena perempuan itu sedang terpecah perhatiannya untuk menghadapi kapak terbang Ji Bun-lui dan serangan dua bersaudara Sim, dia tak menyangka datangnya serangan serat emas itu. Sepasang kakinya segera terlilit dan terbelenggu kuat-kuat.

Tak terkirakan rasa kaget Yan Bu-yu. Dia paksakan tubuhnya terpantek di lantai, Coa Giok-tan kuatir musuh terlepas, ia segera menarik senjatanya makin kencang. Saat itulah si Pengejar Nyawa melompati kolam pelumat tulang. Begitu tiba di hadapan perempuan iblis itu, secara beruntun dia lancarkan delapan tendangan berantai.

Dari kedelapan tendangan berantai itu, ada beberapa tendangan yang menyerang dada Yan Bu-yu, ada yang menyerang iga kiri-kanannya, bahkan ada pula yang menyerang punggungnya. Hampir semua ancaman datang pada situasi yang tak terbayangkan dan dari sudut yang tak terkirakan.

Waktu itu Yan Bu-yu tak bisa mundur, kekuatannya juga sudah habis. Tatkala berhasil memunahkan kedelapan buah tendangan berantai itu, tubuhnya sudah gontai hendak roboh. Pada saat itulah tiba-tiba muncul dua senjata yang mengancam tubuhnya, senjata peluru geledek dan yang lain adalah guidi berantai.

Waktu itu posisi Yan Bu-yu sudah sangat parah, tubuhnya gontai karena delapan tendangan berantai si Pengejar Nyawa. Dengan sendirinya dia pun tak sanggup menghindari datangnya serangan dua macam senjata itu.

“Duuuk, duuuk!” dua kali benturan keras, Yan Bu-yu memuntahkan darah segar.

Melihat serangannya berhasil melukai lawan, lelaki bersenjata peluru geledek dan gurdi berantai sangat girang. Baru saja mereka akan menyerang lebih jauh, mendadak terdengar si Pengejar Nyawa berseru, “Tangkap dia hidup-hidup, kita butuh obat penawar untuk menolong saudara Coa!”

Sesudah dua kali menderita luka parah, ditambah lagi kakinya terjerat serat emas lawan, Yan Bu-yu sadar tiada harapan lagi baginya untuk meloloskan diri. Dia jadi nekad, tiba-tiba sambil menjejakkan kaki ke tanah, ia menceburkan diri ke dalam kolam sembari berseru, “Jangan harap kalian semua bisa hidup! Toasuheng pasti akan membalaskan dendam sakit hatiku”

Dalam waktu singkat tubuhnya sudah tenggelam ke dasar kolam dan tidak bersuara lagi.

Coa Giok-tan terperanjat, lekas dia betot senjatanya dan menarik paksa tubuh Yan Bu-yu ke atas. Terlihat sekujur badannya sudah mulai mengelupas dan membusuk, kulit dan daging tubuhnya mulai meleleh, keadaannya sangat mengerikan dan menggidikkan hati.

Bukan cuma itu, senjata serat emasnya yang tercelup air kolam pun berubah warna. Jelas air kolam memang betul-betul beracun.

Selama hidup belum pernah Jay In-hui menyaksikan pemandangan seseram ini. Dia tak tega, sambil menjerit tertahan wajahnya ditutup dengan kedua belah tangan.

Dengan tewasnya Yan Bu-yu, suasana di sekitar tempat itu pun dicekam dalam keheningan. Dua bersaudara Sim juga telah selesai membantai sisa jago dari Siang-pak serta lelaki berbaju emas Kini mereka semua beristirahat sambil meningkatkan kewaspadaan.

Selang beberapa saat kemudian, si Pengejar Nyawa baru berdehem pelan sambil berkata, “Aku dengar jarum sakti pembetot sukma sangat jahat dan berbahaya. Korban yang terhajar senjata ini akan keracunan hebat, racun menyusup ke dalam tubuh mengikuti aliran darah. Satu jam kemudian racun akan mulai bekerja, dan menyebabkan kematian. Saudara Coa, bagaimana rasanya sekarang?”

Coa Giok-tan tertawa getir. “Kini aku merasa sekujur tubuhku seperti digigit ribuan ekor binatang, sakitnya bukan kepalang. Hai, sungguh tak nyana gara-gara menaruh belas kasihan kepada iblis perempuan itu, akhirnya aku sendiri yang tertimpa bencana! Aaai, memang salahku sendiri!”

“Kini nasi sudah jadi bubur, percuma disesali,” tukas si Pengejar Nyawa cepat. “Yang harus kita lakukan sekarang adalah menemukan Toasuhengnya secepat mungkin, kemudian mencari obat penawar untuk mengobati luka saudara Coa.”

“Benar, kita tak perlu buang waktu lagi. Ayo berangkat sekarang juga,” ajak In Seng-hong.

“Sebelum bergerak, kita perlu tingkatkan kewaspadaan karena jago yang ada di Perkampungan Hantu tampaknya seorang lebih hebat dari yang lain. Burung rajawali yang kita bunuh tadi adalah Su-site, itu pun sudah amat sulit dihadapi. Sim-cap-sa-nio adalah Sam-sumoay, sedang si Selir berdarah adalah Jisuci. Dari sini bisa disimpulkan kalau Toasuhengnya pasti berkepandaian hebat!”

“Ya, kita segera berangkat!” seru Ji Bun-lui pula. “Aku memang ingin bertanya kepada Toasuhengnya, di mana ia simpan kitab pusaka Pekikan Naga!”

“Hmmm, biar sudah tahu pun belum tentu kau mampu mengambilnya,” ejek Sim Ciu sambil tertawa dingin.

“Memangnya kau anggap sudah cukup mampu mendapatkan kitab pusaka Pekikan Naga?” sambung Sim Sat.

Ji Bun-lui sangat berang, teriaknya, “Kalau aku tak mampu, memangnya kalian dua manusia cacad punya kemampuan itu?”

Dua bersaudara Sim naik pitam. Selain benci disebut orang sebagai ‘banci’, mereka pun benci bila dibilang ‘cacad’.

Baru saja mereka akan melancarkan serangan, si Pengejar Nyawa segera menukas sambil berseru, “Jangan ribut, ayo kita segera berangkat!”

Maka berangkatlah ketiga belas orang itu menelusuri lorong hingga ke ujung. Di situ terbentang sebuah ruangan yang amat lebar, tapi suasana dalam ruangan gelap gulita. Hanya ada tujuh buah lentera bintang tujuh yang menyinari setiap sudut.

Di belakang lampu tujuh bintang, lamat-lamat tampak ada seorang duduk bersila di situ. Dia duduk tak bergerak di tengah ruangan, persis seperti patung dewa di depan altar.

Semua orang meningkatkan kewaspadaan dan masuk ke dalam ruangan dengan langkah lamban. Namun orang itu masih tetap duduk tak bergerak.

Makin lama rombongan itu semakin mendekat, namun orang yang duduk bersila itu belum juga bergerak. Ketika cahaya kuning menyoroti wajahnya, tampak wajah orang itu pucat-pasi, sama sekali tak membawa warna darah.

Potongan wajah orang itu sangat lembut, mirip seorang sastrawan atau seorang wan-gwe. Alis matanya melengkung dengan mata sipit, wajahnya lembut, dandanannya bersih, di janggutnya memelihara jenggot panjang.

Ketika melihat wajah orang itu, Coa Giok-tan nampak terperanjat. Mula-mula dia mengira pandangannya kabur lantaran racun di tubuhnya mulai bereaksi. Tapi setelah dipandang lebih seksama, ia baru berteriak kaget, “Buuu…bukankah kau…kau adalah saudara Yu-beng?”

“Betul!” jawab orang itu sambil tertawa. “Aku memang Sik Yu-beng. Sudah empat tahun aku menunggu kedatanganmu.”

“Jadi kau pemilik Perkampungan Hantu, Sik Yu-beng?” seru Ji Bun-lui tercengang.

“Sik-cengcu” sapa In Seng-hong, “Apa yang telah terjadi dalam perkampunganmu belakangan ini? Apa yang sedang kau lakukan di sini?”

“Aku? Aku selalu berada di sini,” jawab Sik Yu-beng sambil tertawa.

“Kitab pusaka Pekikan Naga ada di mana?’ tanya Sim Ciu dingin.

“Lebih baik katakan terus terang!” sambung Sim Sat.

“Kitab pusaka Pekikan Naga? Oooh, kalian dengar dari Yu-bun Siu? Padahal akulah yang menyuruh Selir Berdarah membuat gila orang itu, kemudian sengaja menyuruh dia menguarkan isu bohong itu. Hahaha…padahal di sini tak ada kitab pusaka yang bernama Pekikan Naga.”

Berubah hebat paras muka dua bersaudara Sim.

Sebelum mereka berang, si Pengejar Nyawa telah bertanya, “Sik-cengcu, kenapa kau sengaja menyiarkan berita bohong tentang kitab pusaka Pekikan Naga? Sebenarnya apa tujuanmu?”

Sim Yu-beng memperhatikan Pengejar nyawa sekejap, kemudian baru menjawab sambil tertawa, “Tentu saja agar orang-orang yang ingin mendapatkan kitab pusaka Pekikan Naga berdatangan kemari!”

“Hmmm, kalau cuma berita bohong, percuma kami membuang banyak waktu di sini. Selamat tinggal!” seru dua bersaudara Sim sambil membalikkan badan dan siap meninggalkan tempat itu

Tiba-tiba terlihat bayangan putih berkelebat lewat, entah sedari kapan tahu-tahu Sik Yu-beng sudah menghadang di depan mereka dan mengawasi kedua orang itu sambil tertawa licik.

Bergidik perasaan hati dua bersaudara Sim, dengan gusar Sim Ciu menegur, “Sik-cengcu, mau apa kamu?”

“Kami dua bersaudara panggaet nyawa tidak takut menghadapimu!” sambung Sim Sat.

“Bagus, bagus sekali!” kata Sik Yu-beng sambil tertawa. “Jangan dianggap tempat ini bisa didatangi secara mudah dan ditinggal pergi semau hati. Sudah bersusah-payah menipu kalian hingga datang kemari, memangnya aku bakal melepaskanmu begitu saja?”

Si Pengejar Nyawa yang mengikuti jalannya peristiwa itu dari sisi arena segera sadar, kepandaian silat dari Sik Yu-beng memang sudah sempurna. Maka ia pura-pura tak mengerti dan bertanya lagi, “Sik-cengcu, kami benar-benar tak habis mengerti. Kenapa kau melakukan semua ini?”

“Tidak habis mengerti?” Sik Yu-beng tertawa keras. “Padahal gampang sekali jawabannya. Si burung rajawali gemar menyantap daging manusia, Sim-cap-sa-nio harus mengisap darah manusia, karena jika tidak mengisap darah dalam tiga belas hari, kepandaian bunglonnya akan mundur. Si selir cantik pun butuh mengisap darah untuk menjaga kecantikan wajahnya. Sedang aku? Aku sedang berlatih semacam ilmu tenaga dalam, aku harus mengisap tenaga dalam orang lain untuk memperkuat ilmuku. Dan kini aku sudah mengisap tenaga dalam dari ratusan orang jago silat. Kalau dihitung-hitung semestinya sudah hampir jadi tokoh nomor wahid di kolong langit. Itulah sebabnya kami butuh jago-jago silat macam kalian. Tentu saja harus pandai mengarang cerita bohong agar kalian mau tertipu dan berbondong-bondong datang kemari.”

Betapa geram para jago itu setelah mendengar penjelasan ini. Sambil mengertak gigi menahan emosi, si Pengejar Nyawa berseru lantang, “Rupanya kaulah dalang semua kasus pembunuhan yang terjadi selama ini. Aku harus menangkapmu untuk mempertanggung-jawabkan perbuatanmu ini!”

Sik Yu-beng mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak, “Hahahaha…mempertanggung-jawabkan kasus pembunuhan? Untuk melawan aku saja kalian tak mampu, apalagi mau membekukku? Oh ya…terima kasih banyak kalian telah mewakiliku membunuh si rajawali, Sim-cap-sa-nio serta si Selir Berdarah. Jadi aku tak perlu repot-repot turun tangan sendiri.”

“Apa? Jadi kau pun berniat membunuh mereka semua?” agak berubah paras muka si Pengejar Nyawa.

“Tentu saja!” Sik Yu-beng tertawa hambar. “Ketika kepandaian silatku sudah menjadi nomor wahid di kolong langit, tentu saja aku tak bisa berkelana dengan membawa iblis-iblis wanita itu. Maka aku berniat membunuh mereka, kemudian tampil di dunia persilatan dengan sebutan pendekar besar. Orang akan beranggapan Sik Yu-beng yang membantai para gembong iblis, membalaskan dendam kematian seluruh penghuni Perkampungan Hantu. Coba bayangkan, betapa kerennya aku dengan predikat seorang ‘Tayhiap’? Hahaha…maka dari itu, aku harus membunuh kalian semua, agar rahasiaku tidak diketahui masyarakat luas.”

Sebetulnya In Seng-hong sangat kagum dengan nama besar pemilik Perkampungan Hantu Sik Yu-beng. Tapi setelah mendengar sendiri bagaimana dia membeberkan semua rencana busuknya, hawa amarahnya sontak memuncak. Dengan penuh kegusaran dia berteriak, “Sik-cengcu, perbuatanmu amat keji, busuk, rendah dan tak tahu malu. Kau tak pantas disebut seorang Tayhiap!”

Sik Yu-beng sama sekali tidak gusar. Dipandangnya In Seng-hong sekejap, lalu dengan nada agak tercengang serunya, “Oh ya? Bila seorang persilatan tidak tegas, buas dan telengas, mana mungkin ia dapat melakukan pekerjaan besar? Padahal sebagian besar Tayhiap yang ada di dunia persilatan berbuat begini. Tahukah kau? Lalu dengan cara apa kau berkelana di dunia persilatan?”

In Seng-hong seketika bungkam, tak mampu berkata lagi. Coa Giok-tan tidak menyangka sahabatnya sebejad itu. Paras mukanya turut berubah hebat. Sambil menunding ke arah Sik Yu-beng, teriaknya, “Kau…kau…selama empat tahun aku selalu rindu kepadamu, selalu memikirkan keselamatanmu. Bahkan aku tak segan meninggalkan toko suteraku hanya untuk menyelidiki kasus kematianmu! Sungguh tak kusangka, ternyata semua perbuatan bejad yang terjadi selama ini adalah hasil karyamu seorang!”

“Aku sendiri pun sudah empat tahun menanti kedatanganmu,” balas Sim Yu-beng sambil tersenyum. “Tenaga dalammu amat sempurna. Bila kuisap kekuatanmu, maka besar sekali manfaatnya bagiku. Wahai sobat karibku, sebagai seorang sobat sejati, sudah sepantasnya kau berikan semua kekuatanmu untukku. Biar kuisap tenaga dalammu sehingga kemampuanku bertambah sempurna!”

“Sik Yu-beng, kau memang bukan manusia!” maki Coa Giok-tan gusar. Dia tak mengira sahabatnya itu hanya bermaksud membohonginya, agar ia bisa mengisap tenaga dalam miliknya. “Dengan susah payah aku datang kemari untuk, membalaskan dendammu, siapa tahu kau justru begitu keji…dua puluh lima orang anggota Perkampungan Hantu tewas secara mengenaskan, apakah kau juga yang telah membantainya, saudara dan anak buahmu itu…”

Sambil mengelus jenggot, Sik Yu-beng manggut-manggut. “Tepat sekali! Memang akulah yang telah membunuh mereka. Aku bahkan membunuh seorang tamuku, merusak wajahnya dan kujadikan pengganti mayatku agar semua orang mengira aku sudah mati. Di kemudian hari, bila kepandaianku sudah menjadi jago nomor wahid di kolong langit, orang-orang itu malah akan sangat merepotkan diriku. Kenapa tidak kubunuh saja mereka semua? Pertama, bisa kumanfaatkan kekuatan mereka. Kedua, kejadian ini akan menarik perhatian orang banyak sehingga merangsang mereka untuk berdatangan kemari.”

“Tadi kau bilang aku lupa budi? Membalas air susu dengan air tuba? Siapa bilang aku membunuh mereka? Yang kulakukan tak lebih hanya mengisap habis tenaga dalamnya, padahal yang mengisap darah mereka dan makan dagingnya bukan aku, melainkan perbuatan Yan Bu-yu, Sim-cap-sa-nio serta si burung rajawali…Bukankah tadi kalian telah membunuh mereka semua? Dan bukankah aku pun sudah turun tangan membantu kalian?”

Dengan penuh rasa benci dan muak Ji Bun-lui meludah ke tanah, umpatnya penuh amarah, “Kalau memang tujuanmu hendak mengisap tenaga dalam kami, kenapa kau harus menyaru jadi setan untuk menakut-nakuti orang?”

“Bodoh amat kau ini! Rasa ingin tahu orang persilatan amat besar. Semakin rahasia tempat itu, semakin misterius tempat itu, semakin besar rasa ingin tahu orang untuk melakukan penyelidikan. Semakin banyak jago lihai yang berdatangan, semakin gembira hatiku karena mereka akan menjadi santapan lezatku. Seperti juga kalian, bukankah kalian datang karena dorongan rasa ingin tahu?”

“Jadi kau adalah…adalah Toasuheng yang mereka maksud…?” tanya Jay In-hui tiba-tiba.

“Hahaha…tentu saja. Kecuali aku, ada siapa lagi dalam perkampungan ini?”

Waktu itu Coa Giok-tan yang keracunan hebat sedang merasa kesakitan luar biasa. Begitu tahu orang yang dimaksud ‘Toasuheng’ ternyata tak lain adalah manusia berhati iblis ini, sadarlah dia bahwa kemungkinan untuk mendapatkan obat penawar tak bisa diharapkan lagi. Maka dengan penuh amarah serunya, “Sik Yu-beng, kau anggap ilmu silatmu sangat hebat? Hmm, padahal tempo hari pun kepandaian kita hanya seimbang”

“Giok-tan Sute,” tukas Sik Yu-beng cepat, “Kenapa kau tak tahu diri? Aku telah memancing kehadiran rombongan demi rombongan jago tangguh dunia persilatan, tenaga dalam mereka sudah kuisap satu per satu. Saat ini, untuk menahan tiga jurus seranganku pun belum tentu kau mampu…hehehe…Rupanya rekanmu yang ini adalah satu di antara empat opas yang menggetarkan sungai telaga, si Pengejar Nyawa…Orang yang menggembol kapak itu pastilah Ji Bun-lui dari Kwang-tong…Oooh, masih ada lagi para padri tangguh dari Siau-lim-pay! Tenaga dalam mereka pasti hebat sekali…Apalagi ditambah kau, Giok-tan Sute…Hahaha…Bagus, bagus sekali…ccttt, ccttt…Setelah mengisap tenaga dalam kalian semua, mungkin di kolong langit benar-benar sudah tak ada yang mampu menandingi aku lagi…Jika aku Sik Yu-beng terjun kembali ke dalam dunia persilatan, gelar Thian-he-te-it pasti akan jatuh ke tanganku…Hahaha…Saat itu siapa akan mengira kalau kesempurnaan tenaga dalamku tak lain adalah hasil sumbangan kalian semua…Hahaha…hebat, hebat, hebat sekali!”

“Hmmm, kau anggap kepandaian silatmu sudah sangat hebat?” teriak In Seng-hong marah. “Kau yakin bisa mengalahkan Kiu-toa-kwan-to (sembilan golok kwan-to) Liong Pang-siau, Liong-loenghiong?”

“Saat ini mungkin belum mampu. Tapi setelah kuisap tenaga dalam kalian semua hari ini, belum tentu kemampuanku bisa dikalahkan Liong Pang-siau atau Suto Cap-ji bahkan Can Pek-sui sekalipun! Apalagi masih banyak jagoan tangguh yang akan berdatangan kemari!”

“Kau benar-benar bibit bencana yang paling berbahaya di dunia! Manusia macam kau tak boleh dibiarkan hidup!” maki In Seng-hong sambil melolos pedang mestikanya.

“Sik Yu-beng” tiba-tiba lelaki bersenjata peluru geledek berseru, “Aku ingin tanya kepadamu, benarkah kau yang telah membunuh guru kami?”

“Siapa gurumu?”

“Si tangan pengejar nyawa Kok Ci-keng.”

Sik Yu-beng berpikir sejenak, kemudian sahutnya sambil tertawa, “Ooh, Kok Ci-keng? Betul, akulah yang telah mengisap tenaga dalamnya pada tiga tahun berselang, ehmmm….Hebat juga tenaga dalam yang dia miliki. Mau apa kau?”

Dengan perasaan amat pedih lelaki bersenjata gurdi besi itu berkata, “Guruku berkunjung ke perkampungan bersama Ang Su Sianseng, padahal Ang Su Sianseng khusus kemari karena dia sangat menguatirkan keselamatan jiwamu, kenapa kau pun membunuh guru kami?”

Sik Yu-beng tertawa seram, katanya sambil menggeleng kepala, “Barang siapa berani memasuki perkampungan ini, dia harus mati, kenapa aku mesti membuat pengecualian? Tenaga dalam milik Ang Su Sianseng juga telah kuisap sampai habis, jadi bukan tenaga dalam milik gurumu saja, kau jangan kelewat memandang hebat orang itu, padahal aku tak pernah menganggapnya sebagai teman!”

“Aaah…..berarti dialah pembunuh Suhu……..Dialah pembunuh Suhu…….” gumam lelaki bersenjata peluru geledek itu.

“Aku akan membalas dendam bagi kematian guruku!” teriak lelaki bersenjata gurdi pula dengan suara keras, sambil mengayun senjata dia menerjang ke muka.

Tiba-tiba si Pengejar nyawa menghalangi niatnya, sambil memandang Sik Yu-beng, katanya dingin, “Kenapa kau beritahu semua masalah itu kepada kami?”

“Karena kalian tak bakal hidup terlalu lama lagi.”

“Jadi kau hendak membunuh kami?”

“Sudah pasti!”

“Jadi kau mengira dengan kemampuanmu seorang sudah cukup untuk menghabisi kami semua?” sela In Seng-hong pula sambil tertawa dingin.

“Tentu saja,” jawab Sik Yu-beng seperti orang tercengang, “Memangnya aku bakal memberi kesempatan kepada kalian untuk hidup? Untuk menyiarkan berita ini keluar?”

Setelah berhenti sejenak, tambahnya, “Mungkin kalian semua belum tahu, aku punya kebiasaan sebelum membunuh korbanku, aku senang menjelaskan semua masalah secara jelas dan gamblang, aaah, aku rasa saudara Giok-tan pasti masih ingat dengan kebiasaanku ini bukan?”

“Ingat kentutmu!” umpat Coa Giok-tan sambil menahan rasa sakit yang semakin parah, “Aku Coa Giok-tan hanya menyesal kenapa punya mata tak berbiji sehingga kenal dengan binatang macam kau!”

Sik Yu-beng melirik ke arah Coa Giok-tan dan mengamatinya beberapa saat, lalu ejeknya sambil tertawa, “Ooh…rupanya kau terluka? Jangan keburu mati dulu, sumbangkan dulu tenaga dalammu padaku.”

“Aku lebih rela mati daripada membiarkan kau mengisap tenaga dalamku!” umpat Coa Giok-tan semakin gusar.

“Sayang kau tak bisa menentukan pilihanmu sendiri.”

“Sik Yu-beng!” teriak lelaki bersenjata peluru geledek dengan gusar, “Kau jangan anggap dunia sudah menjadi milikmu hari ini kalau bukan kau yang mampus, biar akulah yang mati.”

Sik Yu-beng mendongakkan kepala memandang orang itu sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa, “Kalau begitu biar kau saja yang mati duluan!”

Mendadak dia melejit ke udara, dengan gerakan tubuh yang enteng tapi cepat, tahu-tahu dia sudah berada di hadapan lelaki itu.

Sejak awal si Pengejar nyawa maupun Ji Bun-lui sudah bersiap menghadapi segala perubahan, begitu melihat Sik Yu-beng bergerak, serentak mereka berdua melancarkan serangan.

Ji Bun-lui mengayunkan kapaknya membacok batok kepala musuh, sementara si Pengejar nyawa melancarkan serangkaian tendangan berantai.

Sayang gerak tubuh Sik Yu-beng benar-benar cepat luar biasa, hanya sedikit menggerakkan tubuh, tahu-tahu dia sudah melewati semua orang dan tiba di hadapan lelaki bersenjata peluru geledek itu, otomatis bacokan kapak Ji Bun-lui mengenai sasaran kosong, begitu juga dengan tendangan berantai si Pengejar nyawa.

Sadar serangannya mengenai tempat kosong, Pengejar nyawa tahu gelagat tidak menguntungkan, segera dia meminjam kekuatan tendangan itu untuk berjumpalitan dan sekali lagi berusaha menghadang jalan pergi lawan.

Betapa terkejutnya lelaki bersenjata peluru geledek ketika mengetahui Sik Yu-beng sudah muncul di depan mata, setelah tertegun sejenak, lekas dia ayunkan senjatanya berusaha menghajar tubuh lawan.

Sik Yu-beng mendengus dingin, dia cengkeram tangan lelaki itu dengan kuat lalu tersenyum kepadanya, Lelaki bersenjata gurdi sadar keadaan gawat.

“Weess!” senjatanya langsung disodokkan ke punggung pemilik Perkampungan Hantu itu.

Tanpa berpaling Sik Yu-beng menangkap senjata gurdi itu, kemudian sambil didorong mundur serunya, “Kau tak perlu terburu napsu, belum sampai giliranmu!”

Sungguh dahsyat tenaga dorongan itu, tubuh lelaki bersenjata gurdi segera terlempar sejauh beberapa kaki hingga kepala membentur dinding ruangan, untuk beberapa saat dia tak mampu merangkak bangun.

Sementara itu si Pengejar nyawa sudah tiba di belakang Sik Yu-beng, ia melihat dengan jelas bagaimana paras muka lelaki bersenjata peluru geledek, dari merah berubah jadi putih memucat, bahkan rontaannya kian lama kian bertambah lemah, ia sadar keadaan sangat gawat, rupanya Sik Yu-beng sedang mengisap tenaga dalam lelaki itu.

Maka sambil membentak nyaring, sekali lagi dia lancarkan sebuah tendangan ke punggung musuh.

Sasaran yang dituju tendangan itu adalah punggung Sik Yu-beng, tapi dia sadar musuh pasti dapat menangkis, maka di tengah jalan, sasaran tendangan itu diubah, kini dia menendang Tiau-huan-hiat di betis musuh.

Tapi begitu hampir mengenai sasarannya, kembali arah tendangan diubah, kini dia mengancam kepala lawan.

Dalam waktu relatif singkat, dia telah tiga kali mengubah sasarannya, sehebat apapun ilmu silat yang dimiliki Sik Yu-beng, dia harus melepaskan tangan untuk menghadapi serangan lawan.

Siapa tahu Sik Yu-beng sama sekali tidak berpaling, tangan kirinya masih tetap mencengkeram tangan lelaki bersenjata peluru geledek, sementara tangan kanan diayun ke belakang, menangkis tendangan si Pengejar nyawa yang sedang mengancam tengkuknya, menggunakan kesempatan itu dia membalik telapak tangannya sambil melepaskan satu pukulan, dorongan tenaga dalam yang amat kuat kontan membuat tubuh pengejar nyawa terpental hingga empat lima depa.

Waktu itu dua bersaudara Sim sadar bahwa Sik Yu-beng tidak mudah dihadapi, setelah tahu kabar tentang kitab pusaka Pekikan Naga hanya kabar bohong, tanpa mempedulikan keselamatan rekan lainnya, mereka manfaatkan peluang itu untuk kabur dari perkampungan.

Siapa sangka belum tiba di muka pintu, punggung Sik Yu-beng seperti punya mata saja, ternyata ia dapat mengikuti semua tindak-tanduknya dengan sangat jelas, mendadak jengeknya, “Kalian anggap bisa kabur dari sini?”

Sambil menghardik, dia sentil jari telunjuk dan ibu jari tangan kanannya ke belakang, senjata peluru geledek segera mencelat ke angkasa dan meluncur ke belakang dengan kecepatan tinggi.

Senjata peluru geledek itu sendiri bobotnya tujuh delapan belas kati, begitu disentil Sik Yu-beng, daya luncurnya jadi luar biasa. Dalam keadaan begitu, sulit bagi dua bersaudara Sim menghindarkan diri, terpaksa mereka melepaskan pukulan.

“Blaamm!” diiringi benturan nyaring, senjata peluru geledek mencelat ke samping dan menancap di dinding ruangan, sementara dua bersaudara Sim juga tergetar hingga terpaksa mundur balik ke tengah ruangan.

Melihat itu, si Pengejar nyawa segera berseru dengan keras, “Bila kalian ingin tetap hidup, mari kita bekerja sama, kita lawan bersama gembong iblis ini!”

Mendadak Sik Yu-beng melepas tangan kirinya, dengan tangan kanan dia memayang tubuh lelaki bersenjata peluru geledek yang lemas itu, kemudian berpaling, katanya dengan tertawa, “Tepat sekali perkataan itu, kalian mesti mengadu jiwa!” kemudian sambil memperlihatkan tubuh lelaki yang lemas itu, lanjutnya, “sayang tenaga dalam yang dia miliki sangat terbatas.”

Mendadak dia lemparkan tubuh lelaki itu ke arah dua bersaudara Sim, cepat kedua orang itu mengegos ke samping.

“Blaaammm!” tubuh lelaki bersenjata peluru geledek segera menumbuk dinding ruangan hingga hancur berkeping, darah segar berhamburan kemana-mana, tewaslah lelaki itu dalam keadaan mengenaskan.

Menyaksikan darah yang berhamburan, tiba-tiba Sik Yu-beng menghela napas panjang, katanya, “Sayang si Selir darah tidak berada di sini, sayang benar dengan darah itu.”

Jay In-hui memperhatikan sekejap sepasang tangan Sik Yu-beng yang merah padam bagaikan darah, kemudian jeritnya kaget, “Kau melatih ilmu iblis tangan berdarah?”

“Konon orang yang berlatih ilmu iblis tangan berdarah biasanya mati dalam keadaan yang mengerikan,” kata In Seng-hong kelihatan tercengang juga.

Sik Yu-beng tertawa dingin, katanya, “Biarpun aku batal mati dalam keadaan mengenaskan, namun saat itu aku sudah menjadi seorang pendekar kenamaan di kolong langit, semua orang hormat, tunduk dan takluk kepadaku, biar tersiksa sedikit apa salahnya?”

“Hormat kepadamu? Hormat tahi makmu!” umpat Ji Bun-lui sambil menyerang dengan kapak terbangnya.

In Seng-hong dan Jay In-hui segera mengimbangi serangan ini dengan melepaskan dua tusukan pedang dari kiri dan kanan, semuanya ditujukan ke dada Sik Yu-beng.

Pemilik Perkampungan Hantu itu tertawa panjang, tiba-tiba dia maju selangkah, tangan berdarahnya yang semula mencengkeram pergelangan tangan lelaki bersenjata gurdi, tiba-tiba ditarik lepas lalu mencengkeram kapak terbang yang disambitkan ke arahnya, sambil menarik napas dia bendung datangnya tusukan pedang In Seng-hong dan Jay In-hui.

Segera sepasang muda-mudi itu melompat mundur dari posisi semula, tampak pedang mereka sudah gumpil sebagian kena sampukan lawan.

Pengejar nyawa membentak nyaring, melihat lelaki bersenjata gurdi sudah dicelakai lawan, ia menyerbu ke muka dan melepaskan sebuah tendangan kilat mengancam tubuh lawan.

Ji Bun-lui tidak ambil diam, dia ikut membentak nyaring, bagai harimau kelaparan dia tubruk Sik Yu-beng dengan garangnya.

Melihat datangnya serangan yang begitu garang dan buas, Sik Yu-leng tak berani bertindak gegabah, lekas dia ayun tangannya, kali ini kapak terbang yang berhasil direbutnya itu diarahkan ke tubuh Ji Bun-lui, kemudian tangan kanan mendorong ke muka, sebuah pukulan sangat kuat dilontarkan ke badan Pengejar nyawa.

Dalam keadaan begini, seandainya Ji Bun-lui nekad menerjang maju maka dia akan memapaki datangnya kapak terbang itu, sungguh hebat jagoan dari Kwang-tong ini, dalam keadaan kepepet ia sambar gagang kapak dan digenggamnya erat-erat.

Walau berhasil menangkap kembali senjatanya, namun tenaga dorong pada senjata itu sungguh dahsyat, badannya terseret mundur sampai empat lima depa, nyaris tubuhnya jatuh telentang.

Si Pengejar nyawa yang tubuhnya masih berada di udara segera diterjang pukulan dahsyat musuh, opas ini tahu musuh sangat hebat, ia tak berani menyambut dengan keras lawan keras, maka sampai menarik napas, tubuhnya bagai selembar daun pohon mengikuti hembusan angin pukulan itu, melayang beberapa kaki jauhnya dari posisi semula kemudian baru melayang turun ke tanah.

Dalam pada itu paras muka lelaki bersenjata gurdi semakin putih memucat, sementara telapak tangan Sik Yu-beng justru semakin merah menyala.

Dua bersaudara Sim saling bertukar pandang sekejap, mendadak mereka melejit ke udara dan melarikan diri lewat dinding ruangan yang jebol.

Sik Yu-beng mendengus dingin, dengan senjata gurdi hasil rampasannya dia timpuk kedua orang itu.

Senjata itu mendesir di udara sambil membelah diri jadi dua, kemudian secara terpisah mengancam tubuh dua bersaudara Sim.

Melihat serangan itu datangnya sangat cepat dan tidak sempat lagi menghindarkan diri, terpaksa Sim Ciu dan Sim Sat menyambut datangnya ancaman dengan kekerasan, tapi begitu terjadi benturan, mereka berdua mencelat sejauh beberapa kaki, pergelangan tangan terasa kaku dan kesemutan.

Tenaga dalam Sik Yu-beng memang luar biasa hebatnya, bukan saja dia berhasil mematahkan senjata gurdi lawan jadi dua, bahkan berhasil memaksa kedua orang itu mundur kembali, malah sekaligus nyaris mencabut nyawanya, kehebatan ini memang sangat mengejutkan.

Pengejar nyawa tahu keadaan tidak menguntungkan, dia sadar, sedikit kurang berhati-hati maka semua bakal mampus di tangan Sik Yu-beng.

Setelah usahanya melarikan diri gagal untuk kedua kalinya, bahkan mereka harus menderita luka dalam yang cukup parah, dua bersaudara Sim kontan naik pitam, sambil menjerit keras mereka lepaskan sebuah pukulan.

Menghadapi datangnya ancaman itu, Sik Yu-beng tersenyum, dia lepaskan juga sebuah pukulan ke depan, siapa sangka tenaga pukulannya seolah lenyap di telan bumi. Melihat itu pemilik Perkampungan Hantu segera berseru, “Ooh, rupanya ilmu sakti lengan buntung juga luar biasa hebatnya!”

Sebuah pukulan sekali lagi dilancarkan.

Terjadi benturan keras antara tenaga pukulan dua bersaudara Sim dengan tenaga pukulan Sik Yu-beng, tapi kali ini giliran dua bersaudara berlengan buntung itu yang kaget, ternyata sewaktu terjadi benturan tadi, bukan saja tidak menimbulkan suara benturan nyaring bahkan sama sekali tak bersuara, malah telapak tangan mereka saling menempel jadi satu dan susah dilepas.

Selang tak lama, mereka rasakan tenaga dalam seakan terisap keluar dan mengalir dengan cepatnya ke tubuh lawan, saat itulah mereka baru merasa gugup, sadar bahwa ilmu hiat-jiu-hua-kang musuh sudah mencapai tingkat sempurna.

Sementara itu keempat padri dari Siau-lim-pay telah membentak nyaring, dengan ilmu pukulan naga, harimau, macan kumbang dan macan tutul, mereka melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke tubuh lawan.

Sik Yu-beng tertawa nyaring, serunya, “Bagus, bagus sekali…Nah, terima tubuh orang ini.”

Tiba-tiba dia dorong tubuh lelaki bersenjata gurdi untuk menumbuk datangnya keempat pukulan itu, dalam keadaan sudah lemas karena kehabisan tenaga, mana mungkin lelaki itu bisa menghindarkan diri, begitu terhajar empat pukulan keempat padri itu, tewaslah dia seketika.

Coa Giok-tan tidak tinggal diam, sambil menahan rasa sakit yang luar biasa, dia serang Ci-ti-hiat di tubuh lawan dengan senjata serat emasnya.

Merasakan datangnya sergapan ini, lekas Sik Yu-beng menyentil kedua jari tangannya, dengan sentilan keras dia singkirkan senjata serat emas itu ke arah lain.

Pengejar nyawa membentak nyaring, sepasang kakinya kembali melancarkan serangkaian tendangan berantai.

“Aaah, sayang aku tidak memiliki tangan ketiga,” keluh Sik Yu-beng sambil menghela napas panjang.

Dia tarik kembali tangannya yang digunakan untuk mengisap tenaga dalam dua bersaudara Sim, lalu balas melancarkan sebuah pukulan, kembali tubuh si Pengejar nyawa mencelat sejauh beberapa kaki.

Biasanya, bila Sik Yu-beng berhasil menangkap bagian tubuh seorang, maka sulit bagi korbannya untuk meloloskan diri dalam keadaan hidup, masih untung ketika Sik Yu-beng sedang mengisap tenaga dua bersaudara Sim, ia terpaksa harus menarik kembali tangannya karena harus menghadapi si Pengejar nyawa.

Menggunakan kesempatan itulah Sim Ciu dan Sim Sat melompat mundur dari arena, ketika merasa hawa murninya bergolak keras dan tersisa setengah, perasaan mereka tercekat.

Sementara itu Sik Yu-beng telah berseru sambil tertawa getir, “Tampaknya ilmu silatmu paling bagus, dan hanya kau seorang yang selalu membikin kepalaku pusing”

Pengejar nyawa tak sempat menjawab, benturan pukulan lawan membuat hawa murni dalam tubuhnya bergolak keras, segera dia mengeluarkan buli-buli arak dari pinggangnya dan meneguk setengah isinya.

“Ya, bagus, minum arak dulu untuk membesarkan nyali,” ejek Sik Yu-beng tertawa, mendadak ia berpaling ke arah empat padri Siau-lim-si, tambahnya, “Sekarang tiba giliran kalian!”

Secepat sambaran petir dia menerjang ke hadapan keempat padri itu.

“Hati-hati!” teriak Pengejar nyawa memperingatkan.

Dengan mengembangkan ilmu pukulan masing-masing, keempat padri itu menyambut datangnya serangan Sik Yu-beng dengan serangkaian pukulan berantai.

Tapi pemilik Perkampungan Hantu ini sungguh hebat, dengan sebuah kebasan kuat dia memaksa mundur padri naga, lalu dengan satu gerakan kilat dia mencengkeram tangan padri macan kumbang dan memukul mundur padri macan tutul.

Begitu tangannya dicengkeram, padri macan kumbang segera merasa hawa murninya bergolak keras, sekujur badan kesemutan dan tak sanggup meronta.

Bersamaan waktu Sik Yu-beng menyerang keempat padri itu, Ji Bun-lui, Pengejar nyawa, In Seng-hong, Jay In-hui serta dua bersaudara Sim tidak tinggal diam, mereka bersama-sama melepaskan pula pukulan dahsyat.

Kali ini Sik Yu-beng tidak melepaskan mangsanya, dengan sebelah tangan masih mencengkeram padri macan kumbang, tangan lain dia pakai menyambut datangnya pukulan keenam musuhnya.

“Blaaam……!” diiringi suara benturan keras, keenam orang jago itu dipaksa mundur sejauh tujuh delapan langkah, sementara dia sendiri hanya nampak bergoncang sedikit.

Semenjak masuk ke dalam Perkampungan Hantu, hampir semua musuh yang dihadapi para jago memiliki ilmu silat yang lihai, namun dari semuanya belum seorang pun seperti Sik Yu-beng, yang menghadapi lawan dengan mengandalkan ilmu silat murni, bukan saja selalu berhasil memukul mundur serangan lawan, setiap kali dia pun masih sempat menangkap korbannya untuk diisap tenaga dalamnya, dari sini dapat dibayangkan betapa hebatnya kemampuan orang ini.

Si Pengejar nyawa sadar, kemampuan mereka masih bukan tandingan lawan, maka pikirnya, “Apapun yang bakal terjadi, harus ada satu di antara kami yang bisa lolos dari perkampungan ini dan menguarkan semua kebobrokan Sik Yu-beng ke dunia persilatan.”

Berpikir begitu maka teriaknya keras, “Siapa pun yang bisa keluar dari sini, berusahalah untuk keluar, kita tak usah mati bersama di tempat ini, biar aku menjaga barisan belakang!”

Waktu itu paras muka padri macan kumbang telah berubah pucat-pias dan sama sekali tak bertenaga lagi. Sambil tertawa keras, kembali Sik Yu-beng melancarkan pukulan untuk menghadang dua bersaudara Sim yang sedang berusaha kabur untuk ketiga kalinya.

Coa Giok-tan amat sedih, terutama setelah melihat keadaan padri macan kumbang yang lemas tak bertenaga, dia ingin sekali membantu rekannya, tapi racun dalam tubuhnya membuat dia sangat menderita, hal ini membuat hatinya teramat pedih, sadar semua gara-gara kejahatan Sik Yu-beng yang di luar batas, dia pun membentak nyaring, dengan menghimpun tenaga senjata serat emasnya sekali lagi melancarkan tusukan.

Sik Yu-beng memang sangat hebat, seakan punggungnya bermata, dia ayunkan tangannya ke belakang dan tahu-tahu sudah mencengkeram serat emas itu, sementara tangan lain melepaskan si padri macan kumbang sambil ujarnya dengan tertawa, “Kau sudah tak berguna, pergi sana!”

Dengan menggunakan serat emas Coa Giok-tan yang berhasil dicengkeramnya, dia tusuk dada padri itu, Coa Giok-tan kaget dan segera membetot balik senjatanya, sayang tenaganya tidak mampu menandingi kekuatan lawan, diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, padri macan kumbang tewas seketika.

Padri naga, harimau serta macan tutul teramat gusar, serentak mereka melancarkan pukulan dahsyat ke tubuh lawan, Sik Yu-beng segera mengebaskan ujung bajunya untuk memunahkan datangnya pukulan, lalu secepat kilat dia mengancam padri harimau.

Tampaknya sebentar lagi padri harimau akan terjatuh ke tangannya…Di saat kritis itulah dua kilatan cahaya pedang berkelebat lewat dan mengancam tubuh Sik Yu-beng dengan kecepatan luar biasa.

Dalam keadaan begini, terpaksa Sik Yu-beng menarik kembali tangannya dan mengurungkan niat mencengkeram padri harimau, kendatipun cukup cepat dia menarik tangan, tak urung bajunya robek juga tersambar tebasan pedang itu, ternyata orang yang melancarkan serangan adalah In Seng-hong dan Jay In-hui.

“Sebuah tusukan yang amat cepat!” puji Sik Yu-beng sambil tertawa dingin.

Berhasil dengan serangannya yang pertama, In Seng-hong dan Jay In-hui menyiapkan serangan berikutnya, Sik Yu-beng segera melepaskan pukulan, membuat sepasang muda-mudi ini kembali mencelat ke belakang.

Dengan kemampuan yang sempurna dari Sik Yu-beng saat ini, memang sulit bagi siapa pun untuk mendekatinya, tentu saja kecuali dapat memusnahkan dulu sepasang tangannya, tapi siapa pula yang sanggup memusnahkan sepasang tangan berdarah miliknya?

Sekali lagi si Pengejar nyawa menenggak sisa arak dalam buli-bulinya hingga habis, Sik Yu-beng tidak tahu Pengejar nyawa, salah seorang di antara empat opas yang sangat termashur ini makin minum arak semakin besar nyalinya, semakin ganas serangannya dan semakin hebat ilmu silatnya.

Dalam pada itu Sik Yu-beng sedang merasa telapak tangannya sakit karena menggenggam senjata serat emas milik Coa Giok-tan, seakan telapak tangannya hangus terbakar, dia jadi naik pitam, serunya, “Sialan kau, racun apa yang kau bubuhkan di senjatamu itu?”

Justru karena Sik Yu-beng tahu Coa Giok-tan adalah seorang pendekar sejati yang enggan membubuhkan racun di senjatanya, maka dia berani menangkap senjata serat emasnya tadi, tentu saja dia tak menyangka kalau senjata itu sempat terbenam di kolam pelumat tulang sewaktu membelenggu sepasang kaki si Selir Berdarah tadi.

Tak heran racun jahat itu menyusup masuk ke dalam kulit Sik Yu-beng dan menghanguskan tangan kirinya.

Gusar sekali Sik Yu-beng setelah mengalami kejadian ini, karena tangan kirinya sakit, terpaksa dia gunakan tangan kanannya untuk mencengkeram dada Coa Giok-tan, serunya penuh amarah, “Sebenarnya aku ingin mengisap tenaga dalammu pada urutan terakhir, tapi sekarang kau antar sendiri kematianmu, jangan salahkan kalau aku bertindak keji!”

Sebetulnya Coa Giok-tan ingin berkelit, sayang sekujur tubuhnya gatal dan sakit, mana mungkin dia bisa menghindarkan diri?

Telapak tangan Sik Yu-beng langsung menempel di dadanya, menyusul kemudian ia merasakan bagaimana hawa murni miliknya mengalir keluar dengan derasnya dari dalam tubuh.

Ji Bun-lui membentak gusar, dia memburu ke depan sambil melancarkan serangan.

Menghadapi ancaman itu terpaksa Sik Yu-beng menangkis dengan menggunakan tangan kirinya yang terluka, Ji Bun-lui membentak nyaring, tampaknya dia ingin beradu pukulan dengan lawannya.

Si Pengejar nyawa, In Seng-hong dan Jay In-hui kuatir Ji Bun-lui dipecundangi, segera mereka lepaskan pukulan untuk mendesak mundur gembong iblis itu, sementara dua bersaudara Sim yang melihat semua jago telah turun tangan, mereka pun serentak melepaskan sebuah pukulan dahsyat.

“Blaaam!” diiringi benturan dahsyat, keenam jago tangguh itu terdorong mundur sejauh tujuh delapan langkah, sementara Sik Yu-beng sendiri, kali ini badannya nampak gontai dan ikut mundur tiga langkah.

Rupanya tangan kirinya yang terluka oleh air kolam pelumat tulang membuat kekuatannya berkurang banyak, untuk sesaat kekuatan itu tak mungkin bisa pulih kembali.

Walau begitu tangan kanannya sama sekali tak mau mengendor, ia tetap mencengkeram dada Coa Giok-tan sambil mengisap tenaga dalamnya sekuat tenaga.

Pada saat itulah, mendadak terjadi satu perubahan drastis, tiba-tiba Sik Yu-beng melepas cengkeramannya pada dada Coa Giok-tan, lalu dengan wajah berubah hebat serunya gemetar, “Ada…ada racun apa di dalam tenaga dalammu?”

Mula-mula para jago agak tertegun mendengar pertanyaan itu, tapi dengan cepat mereka sadar, rupanya sejak terkena racun jarum sakti pembetot sukma, darah yang ada dalam tubuh Coa Giok-tan serta tenaga dalamnya sudah ikut keracunan.

Kini Sik Yu-beng mengisap tenaga dalam miliknya, sama juga dia pun ikut mengisap racun jarum pembetot sukma dari tubuh korbannya.

Menanti Sik Yu-beng sadar akan keadaan tidak beres, namun sudah terlambat, seluruh badannya terasa amat sakit bagai digigit beribu ekor ular.

Mengetahui racun itu berasal dari Jarum pembetot sukma, segera dia lepaskan cengkeramannya pada Coa Giok-tan dan merogoh keluar obat pemunah dari sakunya.

Dari penuturan Yan Bu-yu menjelang ajalnya, para jago tahu kalau Toasuhengnya memiliki obat pemunah, Toasuheng yang dimaksud tentunya Sik Yu-beng, tentu saja mereka tidak memberi peluang padanya untuk mengambil obat pemunah itu.

Setelah tenaga dalamnya terisap sebagian besar oleh Sik Yu-beng, Coa Giok-tan malah merasa kondisi badannya jauh lebih segar, melihat pihak lawan melepas cengkeramannya, segera dia mendesak maju, kemudian sepasang telapak tangannya langsung dihantamkan ke dada lawan.

Waktu itu seluruh perhatian Sik Yu-beng sedang tertuju pada obat pemunah yang sedang dirogoh keluar, tangan kirinya juga terluka, dia tak menyangka Coa Giok-tan bakal melancarkan serangan dalam kondisi seperti ini, dia ingin menangkis tapi sudah terlambat.

“Duuuk, duuuk…!” dua kali benturan keras terjadi, semua pukulan itu bersarang telak di dadanya.

Sik Yu-beng bukan jagoan kemarin sore, hanya lantaran kurang waspada maka ia terhajar pukulan itu, namun tenaga dalam Coa Giok-tan sudah terkuras tujuh puluh persen, sehingga dua pukulan dahsyat itu hanya mampu memaksa Sik Yu-beng mundur tiga langkah.

Tak terkirakan rasa gusar Sik Yu-beng, sambil membentak dia lepaskan pukulan dengan tangan kirinya, langsung menghantam dada Coa Giok-tan.

Sungguh kasihan jagoan marga Coa ini, diiringi jerit kesakitan yang memilukan hati, dia muntah darah segar dan tewas seketika.

Dengan bergerak mundur ke belakang, Sik Yu-beng menerjang ke arah posisi yang dijaga tiga padri dari Siau-lim-pay.

Sejak tadi padri naga, padri harimau dan padri macan tutul sudah menaruh dendam terhadap gembong iblis itu, melihat dia bergeser ke arah mereka, serentak tiga pukulan dahsyat dilontarkan ke punggungnya.

Waktu itu Sik Yu-beng sedang sibuk menghajar Coa Giok-tan dengan tangan kirinya, dia tak menyangka kalau ketiga orang padri itu bakal melancarkan pukulan ke tubuhnya, ketika sadar akan bencana, keadaan sudah terlambat.

“Duuuk, duuuk, duuuk!” tiga pukulan berantai bersarang telak di badannya.

Sik Yu-beng segera merasakan hawa darahnya bergolak keras, racun jarum pembetot sukma yang sudah menyusup ke badannya kembali menjalar kemana-mana, dalam keadaan begini tak sempat lagi dia mengeluarkan obat pemunah, sambil membentak gusar dia membalik badan dan melepaskan serangkaian pukulan berantai.

Padri naga dan padri harimau menyambut pukulan lawan dengan keras lawan keras, badannya segera bergetar keras dan mundur satu kaki lebih dengan sempoyongan, sementara padri macan tutul sama sekali tak tahan menerima pukulan musuh, ia mencelat ke belakang dengan muntah darah, kemudian tewas seketika.

Dalam kondisi seperti ini, Sik Yu-beng sudah tak berminat lagi untuk mengisap tenaga dalam lawan, yang dipikirkan sekarang hanyalah bagaimana secepatnya mendapatkan obat pemunah, kemudian membunuh musuhnya satu per satu.

Sebaliknya si Pengejar nyawa sendiri pun sadar, inilah kesempatan terbaik bagi mereka untuk melenyapkan gembong iblis ini.

Oleh sebab itu, begitu mereka berenam berhasil mendesak maju, tiba-tiba mereka memencarkan diri keempat penjuru, si Pengejar nyawa menghadang persis di hadapan Sik Yu-beng, In Seng-hong dan Jay In-hui menghadang dari sayap kanan sedangkan dua bersaudara Sim menghadang dari sayap kiri.

Biarpun mereka berenam belum berpengalaman menyerang secara bersama-sama, namun dengan pengalaman dan kecerdasan mereka, tidak sulit bagi jago-jago itu untuk menjalin kerja sama yang hebat.

Sik Yu-beng tahu, Pengejar nyawa adalah otak dari rombongan jago itu, sadar kondisi badannya berbahaya, dia ambil keputusan hendak menyelesaikan pertarungan ini secepatnya, maka sepasang tangannya langsung diayunkan bersama menghajar si opas kenamaan itu.

Baru saja Sik Yu-beng mengayunkan tangannya, tiba-tiba ia sudah merasakan datangnya bokongan dua angin pukulan dari sisi kiri dan dua tusukan angin pedang dari sisi kanan.

Dua desingan angin pedang yang datang dari sebelah kanan, langsung menusuk telapak tangan serta urat nadi tangannya, jalan darah penting, seandainya tertembus maka tenaga pukulannya seketika akan jebol.

Sik Yu-beng bukan bocah ingusan yang belum punya pengalaman, tangan darahnya sudah dilatih sekuat baja, sambil mementang kelima jari tangannya, dia berbalik mencengkeraman kedua bilah pedang itu, karena tindakannya ini maka tangan kanannya tak bisa lagi digunakan untuk menyerang si Pengejar nyawa.

Bila Sik Yu-beng mengangkat lengannya saat itu, dua gulung tenaga pukulan yang datang dari sisi kiri pasti akan segera menghajar iga kirinya, terpaksa dia menarik kembali tangannya sambil menyongsong datangnya ancaman dengan keras lawan keras, dia menduga pihak lawan terpaksa pasti akan menarik kembali ancamannya, tapi karena itu pula dia tak bisa menggunakan tangan kirinya untuk mengancam si Pengejar nyawa.

Pada saat itulah tiba-tiba si Pengejar nyawa mengangkat kakinya, Sik Yu-beng mengira lawannya akan melancarkan tendangan berantai, segera dia mengegos ke samping.

Siapa tahu kali ini si pengejar nyawa tidak melancarkan tendangan, mendadak dia pentang mulut dan menyemburkan arak yang baru diminumnya ke udara, beribu-ribu titik hujan arak, bagaikan hujan senjata rahasia langsung menyembur ke wajah Sik Yu-beng.

Tempo hari sewaktu melawan Bu-tek Kongcu, Pengejar nyawa pernah juga menggunakan jurus ini untuk mengalahkan musuh, dan kini karena situasi kritis, dia mengulang kembali taktik itu.

Ketika itu sepasang lengan Sik Yu-beng telah dipakai untuk menghadapi In Seng-hong, Jay In-hui serta dua bersaudara Sim, untuk berkelit sudah tak sempat, baru saja dia hendak melompat mundur, tiba-tiba segulung desiran angin tajam lagi-lagi menyambar tiba dari arah belakang, ternyata Ji Bun-lui telah menyerang dengan kapaknya.

Dalam keadaan begini, Sik Yu-beng tahu bila dia memaksakan diri untuk mundur berarti memapakkan badannya pada bacokan kapak itu, terpaksa dia kerahkan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk menerima hujan arak si Pengejar nyawa dengan keras lawan keras.

“Buuk, buuk, buuuk, bukkk!” semburan hujan arak menyembur telak di wajah Sik Yu-beng.

Ketika berada di rumah makan tadi, si Pengejar nyawa pernah menggunakan ilmu simpanannya itu untuk melubangi baju yang dikenakan Ji Bun-lui, dan kini dia menyembur wajah Sik Yu-beng dengan sepenuh tenaga, tak heran kalau timbul beribu buah bintik merah di seluruh wajah gembong iblis itu, meski tidak sampai berdarah namun rasa sakitnya luar biasa.

Belum lagi dia melakukan sesuatu reaksi, lagi-lagi si Pengejar nyawa mencecarnya dengan serangkaian tendangan berantai, kali ini dia tidak menyerang bagian lain tapi khusus menghajar tulang lutut musuh.

Padahal saat itu Sik Yu-beng masih memejamkan mata untuk menghindarkan bagian matanya dari terjangan semburan arak, tidak terlihat apa yang dilakukan lawan, tahu-tahu…”Kraak, kraaak!” tulang lututnya terhajar telak.

Tulang lutut adalah bagian tulang yang lemah, tak heran kalau tulang itu patah seketika, sakitnya bukang kepalang hingga merasuk ke tulang sumsum.

Di saat Sik Yu-beng sedang kesakitan, beberapa peristiwa kembali terjadi bersamaan waktunya.

Sik Yu-beng sadar, keadaan seperti ini harus segera di atasi dengan memakai sepasang tangan, maka tangan kanannya langsung melakukan cakaran dengan sepenuh tenaga, tapi saat itulah bacokan kapak Ji Bun-lui telah membacok telak punggungnya.

Waktu itu tulang kaki Sik Yu-beng sudah patah keduanya hingga badannya roboh terjungkal, tapi tangan kanannya yang telah melepaskan cengkeramannya pada pedang In Seng-hong dan Jay In-hui langsung diayunkan ke belakang…

“Blaaam!” pukulan yang amat kuat langsung menghantam perut Ji Bun-lui.

Dalam gugup dan kalutnya, Sik Yu-beng juga tak sempat tahu musuh mana yang berada di sebelah kanannya, dia hanya mengayunkan tangannya buat menyambut datangnya ancaman.

Siapa sangka musuh yang berada di posisi itu tak lain adalah dua bersaudara Sim, serangan yang mereka gunakan adalah ilmu pukulan lengan kutung andalan mereka, maka ketika tenaga pukulan Sik Yu-beng meluncur tiba, kekuatan itu segera memental balik setelah membentur tenaga pukulan dua bersaudara Sim.

Posisi Sik Yu-beng waktu itu betul-betul mengenaskan, karena racun yang menyusup ke dalam tubuhnya sudah tersebar, hawa darah dalam badannya bergejolak keras, matanya tak bisa dibuka, sepasang kakinya patah ditambah punggungnya kena bacokan, maka dia tak tahu lagi keadaan sekelilingnya.

Ketika merasakan datangnya desingan angin tajam yang menumbuk ke arahnya, telapak tangan kirinya langsung dibalik untuk menyongsong datangnya ancaman dengan keras lawan keras, dia sangka pukulan itu pasti akan berhasil menyingkirkan datangnya ancaman.

“Blaaam!” benturan dahsyat segera bergema di udara, kerugian yang diderita Sik Yu-beng kali ini sangat besar, lantaran tangan kirinya sudah terluka bakar, daya kemampuan serangannya sudah jauh berkurang, benturan yang terjadi saat ini sama halnya dengan membendung tenaga pantulan milik sendiri, meski dapat dipunahkan, namun dia lupa kalau di belakang tenaga pantulan itu masih ada dua tenaga pukulan Sim Ciu dan Sim Sat yang maha dahsyat.

“Blaaam, blaaaam!” dua pukulan hebat itu langsung menghantam lengan kirinya, membuat tulang lengan Sik Yu-beng tergetar keras dan patah jadi beberapa bagian.

Setelah secara beruntun Sik Yu-beng mengalami patah lengan dan sepasang kakinya, dia merasakan kesakitan yang luar biasa, menggunakan kesempatan itulah In Seng-hong menusukkan pedangnya yang sudah dilepas dari cengkeraman itu ke lengan kanan musuh.

Sekali lagi Sik Yu-beng menjerit kesakitan, suara jeritannya tinggi melengking dan amat memilukan hati, hanya dalam waktu yang amat singkat dia telah terluka di beberapa bagian tubuhnya, bahkan lengan dan kakinya mengalami patah tulang, segera dia membuka mata untuk memeriksa keadaan.

Siapa tahu pada saat itulah si Pengejar nyawa kembali menyemburkan araknya ke wajah gembong iblis ini.

Kalau orang lain yang menyemburkan arak, maka sekali semburan saja araknya sudah habis, berbeda dengan si Pengejar nyawa yang gemar minum, sejak muda ia sudah melatih diri bagaimana menenggak habis satu buli-buli arak kemudian menyembunyikan sebagian arak itu dalam tenggorokannya, setelah menyembur satu kali, dia masih dapat menyembur untuk kedua kalinya.

Waktu itu Sik Yu-beng sudah kalut pikirannya lantaran kesakitan yang luar biasa, dia tidak menduga sampai di situ, baru saja matanya dibuka, semburan arak telah menerpa wajahnya, tak ampun sepasang matanya dibuat buta, bahkan wajahnya dipenuhi burik berwarna merah yang amis baunya.

Dengan susah payah Sik Yu-beng membangun Perkampungan Hantu, tujuannya tak lain untuk menguasai dunia persilatan, mengisap tenaga dalam orang dan menjadikan diri pemimpin tertinggi umat persilatan. Tapi sekarang sepasang matanya buta, wajahnya dipenuhi luka bakar, mana mungkin ia bertemu orang dengan penampilan semacam ini?

Gusar bercampur panik, Sik Yu-beng kembali meraung keras, suaranya menggelegar hingga menggetarkan seluruh ruangan, tanpa mempedulikan keselamatan diri lagi dia menerjang ke belakang dengan hebatnya.

Oleh karena tangan dan kaki Sik Yu-beng sudah menderita luka parah, maka dia himpun segenap kekuatan yang dimilikinya untuk menumbuk dengan menggunakan punggungnya, padahal orang yang berada di belakangnya adalah Ji Bun-lui.

Setelah menyambut pukulan Sik Yu-beng tadi, Ji Bun-lui merasakan pergolakan yang dahsyat dalam rongga dadanya, pergolakan itu begitu kuat nyaris membuatnya tumpah darah, semisal tenaga dalamnya tidak sempurna, mungkin dia sudah tewas sejak tadi.

Dan kini, sewaktu melihat Sik Yu-beng datang menerjang, dia sadar, sulit baginya untuk menghindarkan diri, yang bisa diharapkan sekarang hanyalah datangnya bantuan dari orang lain.

Padahal orang yang berada di sampingnya ketika itu adalah dua bersaudara Sim, sewaktu dia menoleh ke arah mereka dengan harapan bisa memberi pertolongan, siapa tahu dua bersaudara Sim malah menjengek dingin, tampaknya mereka tidak berminat untuk memberi pertolongannya.

Dua bersaudara Sim paling benci kalau dimaki sebagai orang cacad, mereka telah mendendam sejak Ji Bun-lui mengejek mereka berdua sebagai ‘banci’, sebagai orang ‘cacad’, rasa benci itu sudah merasuk tulang sehingga mereka selalu berharap bisa membunuh jagoan dari Kwang-tong itu, sudah barang tentu mustahil mereka mau menyelamatkan jiwanya sekarang.

Melihat Sik Yu-beng semakin dekat dan dia tak punya peluang lagi untuk berkelit, Ji Bun-lui segera membulatkan tekad, meniru apa yang telah dilakukan si Pengejar nyawa tadi, dia pun menyemburkan gumpalan darah segarnya ke wajah dua bersaudara Sim.

Mimpi pun dua bersaudara Sim tidak menyangka kalau Ji Bun-lui bakal menyemburkan darah kental itu ke wajah mereka, mau menghindar sudah terlambat, wajah mereka kontan tersembur dengan telak.

Meskipun tenaga dalam yang dimiliki Ji Bun-lui masih setingkat di bawah si Pengejar nyawa, namun hasil semburannya itu benar-benar hebat.

Sim Ciu dan Sim Sat tidak mengira akan terjadinya peristiwa ini, baru saja mata mereka kesakitan hingga tak mampu dibuka, Ji Bun-lui sudah menerjang tiba dan menghantam punggung kedua orang itu kuat-kuat.

Terhajar oleh pukulan ini, kini posisi Sim Ciu dan Sim Sat jadi berubah, merekalah yang kini harus berhadapan dengan Sik Yu-beng.

Sadar kalau gelagat tidak menguntungkan, dua bersaudara Sim terpaksa mengurungkan niatnya untuk menghajar Ji Bun-lui, dengan mengerahkan segenap kekuatan yang dimiliki, mereka sambut datangnya terjangan Sik Yu-beng.

Biarpun ilmu sakti lengan kutung dua bersaudara Sim sangat hebat, sayang Sik Yu-beng bukan menyerang dengan tangan, tapi menumbuk dengan punggungnya, hal ini membuat mereka berdua tak lagi bisa meminjam kekuatan lawan, terpaksa disambutnya terjangan itu dengan keras lawan keras.

Meskipun sepasang mata Sik Yu-beng sudah buta, dan dia tak tahu Ji Bun-lui yang semula berada di belakangnya kini telah berganti dengan pukulan dua bersaudara Sim, namun ia tetap menumbuk sekuat tenaga ke belakang.

“Blumm, blummm!” dua benturan keras menggelegar di udara, serangan dahsyat Sim Ciu dan Sim Sat telah menghajar telak punggung Sik Yu-beng.

Kekuatan tumbukan Sik Yu-beng ternyata tidak berhenti karena pukulan itu, malah sebaliknya sepasang lengan dua bersaudara Sim yang tergetar keras menjadi patah.

“Blaaam!” terjangan punggung itu menghantam tubuh Sim Sat dan Sim Ciu, dua bersaudara itu menjerit kesakitan, tubuhnya mencelat ke belakang.

Karena tubuh mereka berdua terlempar ke belakang, seketika punggung mereka menghantam pula sepasang tangan Ji Bun-lui yang sedang melakukan dorongan.

Suara tulang yang hancur bergema lagi di udara, ketiga orang jagoan itu seketika terjungkal ke tanah dan tewas seketika.

Sik Yu-beng sendiri yang secara beruntun termakan empat buah pukulan memuntahkan darah segar, walau begitu, dia telah berhasil membunuh tiga orang lawannya sekaligus, bisa dibayangkan betapa hebatnya tenaga dalam yang dia miliki.

Tapi tumbukan yang kuat itu berakibat fatal juga bagi dirinya, kapak yang semula menancap di punggungnya, karena termakan tumbukan itu membuat senjata itu menusuk lebih dalam lagi di tubuhnya.

Sik Yu-beng menjerit kesakitan, tiba-tiba dua gulung tenaga pukulan kembali menindih kepalanya, yang menyerang kali ini adalah padri naga serta padri harimau dari Siau-lim-si.

Dua padri dari Siau-lim ini sangat dendam dengan musuhnya ini, terutama setelah melihat kedua saudara seperguruannya tewas di tangan gembong iblis itu, rasa setia kawan yang kental membuat mereka sakit hati dan ingin membunuh lawan secepatnya, oleh sebab itu serangan yang mereka lancarkan kali ini bukan tertuju ke tubuh lawan tapi langsung membabat ubun-ubun Sik Yu-beng.

Biarpun sudah terluka parah, ketajaman pendengaran Sik Yu-beng masih terhitung hebat, ia tahu ada dua gulung kekuatan pukulan yang menghantam kepalanya, sayang anggota tangannya sudah terluka sehingga mustahil untuk melayani serangan lawan, dia pun tahu tak bisa menghindar lagi.

Maka dia himpun segenap tenaga dalam yang masih tersisa dan melejit ke udara bagaikan sebuah peluru, langsung menumbuk kepala dua padri dari Siau-lim itu.

Menggunakan badan sendiri sebagai senjata rahasia, sistim penyerangan yang belum pernah ada sebelumnya.

“Plaaak, plaaak!” pukulan yang dilancarkan padri naga persis menghantam wajah Sik Yu-beng, sementara pukulan yang dilancarkan padri harimau menghajar lambungnya.

Akan tetapi serangan Sik Yu-beng pun luar biasa dahsyatnya, dua orang padri itu tak sanggup menahan serudukan lawan, kembali terdengar suara tulang patah, tulang lengan kedua orang padri itu patah.

Kepala Sik Yu-beng langsung menumbuk kepala Padri naga, batok kepala padri itu kontan hancur berantakan dan tewas seketika, sementara sepasang lutut Sik Yu-beng menerjang pula wajah padri harimau.

Darah segar berhamburan kemana-mana, dengan wajah hancur tubuh padri harimau mencelat ke belakang dan ikut tewas seketika.

“Blaaaam!” kembali tubuh Sik Yu-beng terjatuh ke tanah, secara beruntun dia muntah darah sebanyak tiga kali.

Pertempuran darah yang sangat membetot sukma ini hanya berlangsung dalam waktu amat singkat, tapi Sik Yu-beng telah berhasil membunuh dua jagoan penuntut balas, empat padri Siau-lim-pay, Coa Giok-tan, Sim Ciu, Sim Sat serta Ji Bun-lui.

Semisal Sik Yu-beng belum terluka parah tangan dan kakinya, dan dia pun tidak terluka semakin parah karena menumbuk musuh dengan badannya, bisa jadi si Pengejar nyawa, In Seng-hong dan Jay In-hui pun akan kehilangan nyawa.

Kini di dalam ruang gedung yang luas tertinggal si Pengejar nyawa, In Seng-hong, Jay In-hui serta Sik Yu-beng yang sedang duduk mengatur pernapasan di lantai.

Jay In-hui merasa hatinya bergidik, selama hidup belum pernah ia saksikan pertarungan berdarah sekejam dan sesadis ini, saking kagetnya dia sampai memejamkan mata dan tidak berani melihat lagi.

Jangan kan Jay In-hui yang seorang gadis lembut, In Seng-hong pun ikut merasakan jantungnya berdebar keras, malah si Pengejar nyawa yang telah banyak mengalami pertarungan berdarah pun ikut bergidik.

Kini suasana telah pulih kembali dalam keheningan, darah berceceran dimana-mana, menodai seluruh lantai ruangan…

Sekujur tubuh Sik Yu-beng juga berlumuran darah, juga sepasang tangannya, sulit untuk membedakan panca inderanya karena hampir seluruh badannya sudah ditutupi lapisan darah kental.

Selang berapa saat kemudian Sik Yu-beng baru berusaha bicara, suaranya parau dan terputus-putus. “Pengejar nyawa…juga pasangan…pasangan muda-mudi…aku tahu kalian masih ada di situ…Pengejar nyawa kalau bukan arakmu…ditambah dua…dua kali tendanganmu…jangan harap kalian…kalian mampu membunuhku…racun…racun jarum sakti…pembetot sukma…Aii!”

Akhirnya dia telan napas terakhir kalinya dan tidak bergerak lagi.

Melihat kematian Sik Yu-beng, si Pengejar nyawa menghembuskan napas panjang, gumamnya, “Sik Yu-beng, wahai Sik Yu-beng, kau tak usah menyalahkan orang lain, si Selir berdarah begitu baik kepadamu, tapi kau hanya berpeluk tangan membiarkan dia mati konyol, tak aneh bila akhirnya kau pun tewas oleh jarum sakti pembetot sukma miliknya.”

In Seng-hong ikut berkata, “Sik-cengcu wahai Sik-cengcu, inilah akibat perbuatan bejadmu selama ini, Coa-sianseng adalah sahabat karibmu, dia begitu baik padamu, begitu memperhatikan keselamatanmu, tapi kau tetap mengisap habis tenaga dalamnya, itulah sebabnya kau terluka oleh racun yang terkandung dalam tenaga dalamnya…memang inilah pembalasan yang paling setimpal untukmu.”

Ternyata apa yang selama ini tersiar di dunia persilatan memang benar, siapa yang mempelajari ilmu iblis tangan berdarah, dia akan tewas dalam keadaan yang sangat mengerikan.

Sik Yu-beng mengira, walaupun pada akhirnya dia akan tewas dalam keadaan yang sangat mengerikan, paling tidak dia dapat menikmati dulu posisi tertinggi di dunia persilatan.

Siapa tahu nama besar belum diperoleh, kedudukan belum didapat, dia sudah harus mati secara mengenaskan.

In Seng-hong sadar, dalam pertempuran hari ini, seandainya si Pengejar nyawa tidak menyemburkan araknya hingga membutakan sepasang mata Sik Yu-beng, tak nanti pedangnya berhasil menusuk lengan kanan iblis itu, dua bersaudara Sim juga tak akan mampu mematahkan lengan kiri lawannya.

Seandainya si pengejar nyawa tidak berhasil menendang sepasang kaki Sik Yu-beng hingga patah, lalu membutakan matanya, bacokan kapak Ji Bun-lui belum tentu bisa membacok punggungnya, dan mungkin mayat yang tergeletak di lantai sekarang bukan mayat Sik Yu-beng, melainkan mayat mereka.

Apapun yang telah terjadi, kasus pembunuhan dalam Perkampungan Hantu sudah berhasil terbongkar, ‘setan’ yang selama ini diberitakan bercokol dalam perkampungan itu kini sudah ‘mampus’.

Pengejar nyawa tidak banyak bicara lagi, dia tuang semua minyak yang ada dalam lentera kemudian menyulut dengan api, tak lama kemudian kobaran api yang hebat meluluh-lantakan perkampungan itu hingga rata dengan tanah.

Salju masih turun dengan derasnya, bunga salju kelihatan semakin putih, seakan dengan warna putih yang melambangkan kesucian, dia ingin menghapus semua dosa dan kejahatan yang telah terjadi di dunia ini.

Di atas permukaan salju hanya tertinggal sedikit bekas kaki, tiga sosok bayangan manusia tampak berjalan menjauhi perkampungan yang telah rata dengan tanah itu.

Tanpa berpaling lagi si Pengejar nyawa, In Seng-hong dan Jay In-hui berjalan menjauh, mereka tak pernah berpaling lagi, tak lama kemudian bayangan tubuh mereka pun ikut lenyap tertelan hujan salju yang tebal.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: