Kumpulan Cerita Silat

22/09/2009

Pendekar Baja (23)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 10:00 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

“Menghadapi orang semacam Ong Ling-hoa harus dilakukan gerak cepat secara di luar dugaan,” kata Sim Long.

“Aha, cocok dengan seleraku,” desis Miau-ji.

Selagi bicara, orang yang membawa kuda ke belakang itu sudah muncul kembali, perlahan ia menolak pintu sehingga kelihatan cahaya lampu di dalam, lalu dia hendak menyelinap ke dalam.

Pada saat itulah secepat kilat Sim Long dan Miau-ji menerjang ke sana.

Begitu melayang tiba kontan Sim Long menutuk giok-cim-hiat di belakang tengkuk orang itu. Sebelum orang itu sempat bersuara, tahu-tahu lantas roboh.

Miau-ji terus mendepak pintu hingga terpentang, segera pula ia menghantam orang yang membuka pintu.

Dengan terkejut orang itu hendak menangkis, “krek-krek”, tahu-tahu kedua tangannya dipukul patah oleh Si Kucing, kontan orang itu menjerit dan terjungkal. Cepat Miau-ji meraih sehingga dagu orang mengsol dan tidak dapat bersuara lagi.

Di dalam rumah terkecuali orang yang membuka pintu itu masih ada lagi lima lelaki kekar lain, mereka lagi asyik minum arak. Karena kejadian mendadak ini, mereka terkejut dan sama melompat bangun.

Kelima orang itu serentak pun bergerak, yang satu meraih kursi, orang kedua melolos golok, orang ketiga menjungkirkan meja, orang keempat berlari ke pojok sana untuk mengambil tombak, orang kelima memburu maju dan menghantam.

Tapi sekali Miau-ji mencengkeram, kontan kepalan orang itu kena ditangkapnya, tangan yang lain terus menahan belakang kepala orang, kepalan orang ini dijejalkan ke mulutnya sendiri.

Tanpa bisa bersuara segera tubuh orang ini terangkat oleh Si Kucing. Waktu itu meja lagi diangkat seorang lagi, belum lagi terjungkir sudah dilihatnya sesosok tubuh melayang tiba, dua kepala saling bentur, “prak”, keduanya lantas ambruk bersama dengan kepala remuk.

Orang yang melolos golok itu belum lagi sempat mengangkat senjatanya, tahu-tahu iga terasa kesemutan, tenggorokan juga terasa kaku, mata lantas gelap, ia pun roboh terjungkal. Sama sekali ia belum sempat melihat siapa lawannya, apakah lelaki atau perempuan, mati pun menjadi setan penasaran.

Di sebelah lain Sim Long juga sudah bertindak, sekaligus ia tutuk hiat-to orang yang melolos golok, kaki terus menendang orang yang meraih kursi sehingga orang itu ditendang mencelat.

Orang yang mengambil tombak di pojok sana segera menusuk dengan tombaknya tanpa berpaling. Tapi belum lagi bergerak tahu-tahu tombak sudah hilang, di belakang juga tidak ada serangan.

Dengan sendirinya ia menoleh untuk melihat keadaan, segera tertampak sepasang mata kucing lagi menatapnya dengan tersenyum simpul.

Dalam kagetnya kedua kepalannya lantas menghantam, “blang-bluk”, beberapa kali pukulannya tepat mengenai orang.

Tapi orang yang kena pukul itu tetap tertawa saja, sebaliknya kedua tangan pemukulnya terasa kesakitan seperti mau patah. Ia menjadi nekat, sebelah kaki lantas menendang.

Tapi baru saja kakinya menendang, segera matanya terasa gelap, seperti mendadak tercekik oleh tanggam baja, apakah tendangannya mengenai sasarannya atau tidak takkan diketahuinya lagi untuk selamanya.

Hanya dalam sekejap saja ketujuh orang di luar dan dalam rumah telah dibereskan semua.

“Haha, sungguh menyenangkan,” seru Miau-ji dengan tertawa.

Sim Long lantas menyelinap masuk dengan cepat, Miau-ji juga menerjang ke dalam dan dilihatnya orang-orang di dalam rumah sudah tidak ada yang hidup lagi. Sementara itu Sim Long sudah menerjang ke dapur.

“Sisakan satu untukku, Sim Long,” seru Miau-ji.

Selagi ia hendak menyusul ke dapur, dilihatnya Sim Long telah melompat keluar kembali.

“Tidak ada orang lagi di dapur,” kata Sim Long.

“Dan di mana Ong Ling-hoa?” seru Miau-ji.

“Di sini pasti ada ruang rahasia tempat sembunyi Ong Ling-hoa, lekas kita cari,” kata Sim Long.

“Betul, jangan sampai keparat itu kabur lagi,” seru Miau-ji.

Dilihatnya Sim Long lagi mengitari rumah ini, lalu memeriksa lagi ke rumah yang lain.

Miau-ji ikut berkeliling dan ternyata tidak menemukan seorang pun. “Wah, bagaimana, jangan-jangan dia tidak berada di sini.”

Sim Long termenung sejenak, mendadak ia menerjang lagi ke dapur tadi disusul oleh Miau-ji. Sim Long berhenti di depan tungku dan memandangnya dengan tersenyum, “Ini dia, di sini.”

Miau-ji berseru girang, “Ya, pasti di sini.”

Kiranya tungku itu model tungku yang umum digunakan kaum petani di daerah utara, di atas tungku ada dua buah wajan besi besar, wajan yang satu kelihatan penuh hangus, wajan yang lain dalam keadaan bersih.

Sim Long pegang wajan yang bersih itu dan diputar, habis itu lantas diangkat dan benarlah di bawah wajan terdapat sebuah jalan bawah tanah.

“Hah, sungguh tempat sembunyi yang sangat hebat,” seru Miau-ji kejut dan girang.

Teringat kepada iblis Ong Ling-hoa itu berada di lorong bawah tanah ini, seketika darah Him Miau-ji bergolak, tapi juga agak kebat-kebit.

Dalam pada itu Sim Long sudah lantas melompat ke dalam lorong itu.

Tanpa pikir Miau-ji ikut melompat ke situ dan masuk ke sebuah kamar rahasia dengan perabotan yang indah. Terdapat sebuah ranjang besar dengan selimut bantal bersulam serupa kamar tidur anak gadis.

Tapi di manakah Ong Ling-hoa, sama sekali tidak tertampak bayangannya.

Kelambu tempat tidur kelihatan tercantol dengan baik, selimut juga terlipat rapi, jelas tempat tidur ini sudah sekian lama tidak pernah dipakai.

Miau-ji dan Sim Long berdiri di depan tempat tidur dengan saling pandang, keduanya sama merasa kecewa dan kesal.

Sim Long menggeleng dengan menyesal, “Salah, aku salah duga. Tak tersangka sarang Ong Ling-hoa sekecil ini tidak cuma tersedia sebuah tempat sembunyi saja.”

“Salah sangka satu kali juga tidak menjadi soal, cepat atau lambat toh bocah she Ong itu takkan terlepas dari cengkeramanmu,” ujar Miau-ji.

“Tapi bila hari ini sampai dia lolos lagi, selanjutnya mungkin…” Sim Long menggeleng dan tidak meneruskan.

Miau-ji tidak tahu cara bagaimana harus menghibur orang, ia sendiri juga merasa kecewa, ia coba memeriksa kamar rahasia ini, pajangan kamar ini memang mewah, tempat tidurnya juga berbau harum.

“Keparat Ong Ling-hoa itu sungguh setan iblis, di mana pun sarangnya tidak lupa tersedia tempat tidur…” ucap Miau-ji dengan gemas, mendadak ia berteriak, “Biar kuhancurkan dulu tempat tidurnya untuk melampiaskan rasa dongkolku.”

Segera ia melompat maju dan menarik kelambu. Siapa tahu, baru saja kelambu terpegang, mendadak terdengar suara “keriang-keriut” berkumandang dari bawah tempat tidur. Seketika dia berhenti bergerak dan mendengarkan dengan cermat.

Sim Long juga bergirang dan pasang telinga. Terdengar suara itu semakin dekat dan makin keras.

“Hah, jangan-jangan itu dia,” desis Miau-ji.

“Ya, mungkin betul…” sahut Sim Long dengan suara tertahan.

Terdengar pula suara “krek” lagi, ranjang seperti mulai bergerak.

Sim Long memandang sekeliling kamar ini dan dapat dipastikannya kamar ini tidak mengalami sesuatu perubahan, segera ia menarik Miau-ji dan bersembunyi di belakang kelambu yang terbuat dari kain satin tebal dan rapat.

Selagi Miau-ji hendak bersuara pula, mendadak ranjang besar itu menjeplak dan dua orang menerobos ke luar.

Terdengar seorang berkata, “Hendaknya kendurkan peganganmu supaya aku dapat bernapas lebih longgar.”

Tangan Miau-ji terasa gemetar, itulah suara Cu Jit-jit.

Seorang lagi lantas menanggapi dengan tertawa, “Memondong nona cantik semacam dirimu rasanya sangat berat untuk melepaskanmu.”

Suara tertawa jalang itu membikin telinga Miau-ji menjadi merah dan dada hampir meledak saking gusarnya. Nyata itulah suara Ong Ling-hoa, keparat ini benar-benar telah muncul.

Terdengar Ong Ling-hoa menghela napas panjang, katanya dengan tertawa, “Sungguh kurang ajar, keparat itu justru muncul pada saat yang paling genting, sehingga menggagalkan urusan kita.”

Jit-jit juga menghela napas dan menjawab, “Hm, kusangka cuma Sim Long saja yang kau takuti, rupanya kau pun takut kepada Hoan Hun-yang sehingga larimu secepat ini, masa engkau tidak merasa malu padaku?”

Miau-ji saling pandang sekejap dengan Sim Long, diam-diam ia membatin dengan menyesal, “Bila tahu tempat yang dituju Hoan Hun-yang itu akan menemukan Ong Ling-hoa di sana, tentu kami ikut pergi bersama dia ke sana.”

Dalam pada itu Ong Ling-hoa lagi berkata pula dengan tertawa, “Memangnya kau kira aku takut kepada Hoan Hun-yang? Hm, aku cuma khawatir di belakang Hoan Hun-yang akan menyusul datang Sim Long dan si kucing rakus itu.”

“O, kiranya engkau toh takut kepada mereka, mau juga engkau mengaku terus terang.”

“Juga bukan lantaran kutakut kepada mereka,” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa. “Di sana kan ada orang yang siap melayani mereka, kita sendiri mencari suatu tempat tenang untuk…”

“Auhh, tanganmu…” mendadak Jit-jit berteriak.

“Tanganku kan sangat pintar, selalu mengarah ke tempat yang menyenangkan,” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Jang…jangan, singkirkan tanganmu,” terdengar Jit-jit berkeluh.

“Eh, kenapa kau rewel, bukanlah sudah kau sanggupi akan kawin denganku?”

“Tapi…tapi, hendaknya kau buka dulu hiat-toku,” mendadak Jit-jit bersuara genit. “Begini kan tidak…tidak baik, masakah kau takut aku akan lari?”

“Aku memang khawatir,” sahut Ling-hoa.

“Kan sudah kuterima keinginanmu, masa perlu kulari?”

“Sekarang engkau belum terhitung orangku, sebentar lagi kalau…kalau sudah beres barulah akan kuturuti segala permintaanmu.”

“Tapi…tapi engkau…Oo, jangan…” Jit-jit berkeluh pula dengan terengah.

Tangan Sim Long menjadi gemetar mendengar percakapan mereka.

Si Kucing juga tidak tahan, mendadak ia meraung, ia tarik kelambu sekuatnya sehingga robek. Ong Ling-hoa berteriak kaget sambil melompat bangun.

Ternyata dia cuma memakai baju dalam saja, air muka tampak pucat, setelah melompat turun dari tempat tidur segera ia meraih sebuah kursi terus dilemparkan ke arah Him Miau-ji.

Mata Miau-ji merah membara, sama sekali ia tidak berkelit dan menghindar. Tepat kursi menimpa tubuhnya dan tergetar hancur, sebaliknya ia tetap menubruk ke arah Ong Ling-hoa sambil berteriak murka, “Ong Ling-hoa, serahkan nyawamu!”

Secepat kilat Ong Ling-hoa menyerang, sekaligus ia menghantam empat kali. Terdengar suara “plak-plok” berulang, empat kali pukulan itu sama mengenai tubuh Him Miau-ji, sebaliknya Miau-ji juga berhasil mencengkeram dada Ong Ling-hoa.

Jika pada waktu biasa sedikitnya Miau-ji akan terluka parah andaikan tidak binasa terkena pukulan-pukulan Ong Ling-hoa itu, tapi sekarang luka Ong Ling-hoa sendiri belum lagi sembuh, tenaganya banyak berkurang sehingga Miau-ji sanggup menahan pukulannya.

“Him-heng, kau…” seru Ong Ling-hoa dengan muka pucat.

“Memangnya kau ingin hidup lagi?” jengek Miau-ji dengan murka, berbareng ia hantam kepala orang.

Bilamana pukulan ini tepat mengenai sasarannya, mustahil kepala Ong Ling-hoa takkan hancur lebur. Untung baginya mendadak sebuah tangan menangkis baginya sehingga pukulan Miau-ji itu terpatahkan.

“Mengapa engkau merintangi pukulanku, Sim Long?” teriak Miau-ji gusar.

“Biarkan dia hidup sementara ini, masih banyak urusan yang harus kutanyai dia,” kata Sim Long. “Saat ini dia sudah berada dalam cengkeraman kita, memangnya kau takut dia kabur lagi?”

Dengan gemas Miau-ji berkata, “Sungguh ingin kucincang dia saat ini juga.”

Dia lantas melepaskan Ong Ling-hoa dan melengos. Dilihatnya rambut Cu Jit-jit kusut dan tangan memegang selimut yang membungkus tubuhnya dengan rapat, nona itu sedang memandangnya dengan terkesima.

“Kau…kau…” Miau-ji menjadi gelagapan. Mendadak ia berpaling pula dan tidak memandang si nona lagi, ia mengepal tinjunya dengan erat.

Sim Long telah menutuk beberapa hiat-to Ong Ling-hoa, lalu pandangannya juga beralih kepada Cu Jit-jit dengan senyum tak senyum, akhirnya ia menyapa, “Engkau baik?”

“Aku…aku…” bibir Jit-jit bergerak, tapi sukar untuk bicara.

Sekian lama Sim Long termenung, katanya kemudian dengan menyesal, “Sungguh aku tidak mengerti mengapa engkau…”

Mendadak Jit-jit menangis tergerung-gerung, ucapan Sim Long itu serasa pisau menghunjam hulu hatinya, ratapnya, “O, Sim Long, engkau pasti paham, engkau harus mengerti.”

“Benar aku harus mengerti?” gumam Sim Long.

Mendadak Si Kucing berteriak tanpa menoleh, “Tadi engkau tidak menangis, sekarang apa yang kau tangisi?”

“Aku…aku…” Jit-jit tidak mampu bicara lagi.

Dengan suara rada gemetar Si Kucing berkata pula, “Apakah engkau menangis karena kedatangan kami?…Baiklah kami pergi saja…supaya kalian…”

“Keji amat kau bicara demikian, Miau-ji!” teriak Jit-jit parau, “Masa engkau tidak tahu, aku…aku terpaksa, jika aku tidak bicara begitu padanya, apa yang akan terjadi atas diriku?…aku cuma berusaha mengulur waktu saja.”

Akhirnya Si Kucing menghela napas dan menunduk.

“Sebenarnya engkau ada jalan lain,” ucap Sim Long perlahan.

“Betul, aku memang mempunyai jalan lain,” seru Jit-jit. “Tapi aku belum mau mati, aku ingin menuntut balas, aku…aku ingin melihatmu sekali lagi.”

“Aku?…” Sim Long bergumam.

“Engkau tidak percaya?…tidak percaya?” Jit-jit menegas.

“Kupercaya.”

“Dan dapatkah engkau memaafkan daku?”

“Ya, kumaafkan.”

Tapi Jit-jit lantas menangis sedih lagi, ratapnya, “Kutahu hatimu tidak senang melihat tindakanku tadi, tapi untuk itu engkau boleh mencaci maki diriku, boleh kau hajar diriku, aku cuma memohon janganlah engkau bersikap dingin padaku.”

“Aku bersikap dingin?”

“Aku…aku…” remuk redam hati Jit-jit dan tidak sanggup bicara lagi.

Perlahan Sim Long mendekati si nona dan membuka hiat-tonya, katanya, “Pakailah bajumu.”

Mendadak Jit-jit menubruk maju dan merangkulnya erat-erat, meski tubuhnya cuma memakai baju dalam juga tak dipikirkan lagi. Ia merangkul dengan menangis sedih.

Namun Sim Long tidak terpengaruh, ia berdiri diam dan berucap, “Lepaskan tanganmu.”

“O, Sim Long, kejam amat engkau, apakah engkau tidak dapat memaafkanku?”

“Kan sudah kukatakan kumaafkanmu.”

“Meski di mulut kau bilang demikian, tapi dalam hatimu tidak. O, Tuhan, seharusnya lebih baik kumati saja tadi. Namun aku…aku ingin mati saja di tanganmu.”

“Kenapa kau ingin mati, bukankah selama ini aku memang bersikap demikian padamu, kau pun sudah cukup mengetahui.”

“Aku tidak…tidak tahu, kuyakin engkau suka…suka padaku, betul tidak Sim Long, katakan?!”

“Lepaskan!” kata Sim Long.

Mendadak Jit-jit mengusap mata dan berteriak dengan menggereget, “Baik Sim Long, aku memang tidak setimpal bagimu, aku tidak ingin apa-apa lagi, aku cuma mohon kau bunuh saja diriku.”

“Pakai bajumu,” kembali Sim Long berkata.

Mendadak Jit-jit melompat ke dekat dinding sana dan melolos sebilah pedang serta dilemparkan kepada Sim Long. Terpaksa anak muda itu menangkap senjata itu.

“Sim Long…” jerit Jit-jit sambil membentang kedua tangan dan membusungkan dada terus menubruk ke ujung pedang yang dipegang Sim Long.

Tapi hanya sekali menggetar tangannya, seketika pedang yang dipegangnya patah sebatas tangkai.

“Trang”, pedang jatuh ke lantai, Jit-jit juga terkulai dengan tangis yang memilukan.

Sim Long terdiam sejenak, katanya kemudian kepada Miau-ji, “Mungkin Hoan Hun-yang lagi menghadapi bahaya, kupergi ke sana membantunya, kau jaga mereka di sini, segera kukembali lagi kemari.”

Segera ia membalik tempat tidur dan melompat masuk ke dalam lorong itu.

“Tunggu, Sim Long…” seru Miau-ji, namun Sim Long sudah menghilang.

Cahaya lampu yang menempel di dinding gemerdep menyinar wajah Him Miau-ji, ternyata air matanya telah bercucuran. Ia pikir hati Sim Long sungguh sedingin es, meski dia tahu juga sebab apa orang berhati setega itu, tapi ia tetap tidak setuju.

Ia cuma memandang Jit-jit dengan rasa sedih tanpa bicara.

Mendadak Ong Ling-hoa menghela napas dan berkata, “Wahai Sim Long, meski engkau adalah musuhku yang paling besar, tapi aku tetap kagum padamu. Bahwa engkau tega bersikap demikian terhadap gadis yang mencintaimu, sungguh aku mengaku bukan tandinganmu.”

“Tutup mulut!” bentak Miau-ji mendadak.

“Wahai kucing yang rakus, baru sekarang kutahu engkau juga menyukai Cu Jit-jit,” kata Ling-hoa pula. “Kalau tidak tentu tadi engkau tidak perlu emosi begitu dan marah-marah padaku, cuma sayang…”

“Berani kau bicara lagi, segera kubunuh dirimu!” bentak Miau-ji.

“Baik, aku tidak bicara lagi, memang tidak pantas kukorek isi hati orang lain.”

Meski dia bilang tidak mau bicara lagi, toh dia tetap omong pula. Orang ini benar-benar gembong iblis yang luar biasa, kecuali dia mana ada orang lain yang bersikap setenang seperti ini dalam keadaan demikian.

Mendadak Jit-jit berdiri dan tidak menangis lagi, perlahan ia mendekati tempat tidur dan memakai bajunya. Wajahnya mendadak berubah dingin tanpa perasaan, seperti di situ tidak ada orang lain lagi.

Miau-ji menunduk, tidak berani memandangnya, juga tidak tega untuk memandangnya.

Tapi Jit-jit lantas mendekati Si Kucing dan menjura padanya.

“Ken…kenapa kau…” tersendat juga suara Miau-ji.

“Engkau sangat baik padaku,” ucap Jit-jit dengan kaku, “sebaliknya aku…aku…Ai, saat ini sungguh aku berharap cuma kenal engkau seorang saja dan tidak kenal orang lain, namun sayang…di dunia ini memang banyak kejadian yang tidak bisa memenuhi harapan orang. Kutahu hatimu, aku benci padaku sendiri, mengapa aku tidak…”

Mendadak Miau-ji bergelak tertawa, ia pegang pundak Jit-jit dan berseru, “Tidak perlu kau bicara lagi. Apa pun juga aku tetap sahabatmu, hidup Him Miau-ji bisa mempunyai seorang sahabat perempuan sebagai dirimu, sungguh tidak sia-sia hidupku ini.”

“Engkau sungguh lelaki sejati, sungguh aku tidak tahu ada berapa orang lelaki di dunia ini serupa dirimu, alangkah baiknya bilamana aku mem…mempunyai seorang kakak seperti dirimu ini,” kata Jit-jit dengan hampa.

“Kenapa tidak sekarang juga kau angkat aku sebagai kakak?” ucap Miau-ji dengan tertawa.

“Benar kau mau menerima diriku sebagai adik?”

“Tentu saja.”

“O, Toako, sungguh aku sangat…sangat bahagia…” dengan suara terharu Jit-jit lantas memberi hormat.

Air mata Miau-ji hampir menetes lagi, tapi di mulut ia berkata dengan tertawa, “Adik yang baik…”

“Jangan lupa, Toako, selamanya aku adalah adikmu yang baik,” tukas Jit-jit. “Selanjutnya bila…bila adikmu ini berbuat sesuatu kesalahan, dapatkah Toako memberi maaf?”

“Tentu saja,” ujar Miau-ji.

“Terima kasih, Toako…” kata Jit-jit sambil melangkah maju secepat kilat dan di luar dugaan ia terus menutuk beberapa hiat-to kelumpuhan tubuh Him Miau-ji.

Mimpi pun Miau-ji tidak menyangka mendadak Jit-jit bisa menyerangnya secara mendadak, bahkan sudah roboh pun dia tetap tidak percaya.

Ong Ling-hoa juga tercengang sehingga melongo tanpa bersuara.

“Apa…apa maksudmu ini?” tanya Miau-ji dengan mendongkol.

“Aku ini kan adikmu, Toako…”

“Masakah seorang adik memperlakukan kakaknya secara demikian?” damprat Miau-ji.

“Jangan marah, Toako,” kata Jit-jit pula.

“Jangan marah??” teriak Miau-ji. “Hampir gila aku saking gusarnya!”

“Tapi…tapi Toako tadi kan sudah berjanji akan memaafkan bilamana adik berbuat kesalahan,” kata Jit-jit dengan menunduk manja.

Miau-ji menjadi serbarunyam, “Tapi…tapi mengapa…”

“Dengan sendirinya ada alasannya adik berbuat demikian,” kata Jit-jit.

“Ada alasan kentut, coba jelaskan!”

“Aku berbuat demikian karena ingin kubawa pergi Ong Ling-hoa.”

Kejut dan gusar Miau-ji, “Hah, hendak kau bawa pergi dia? Kau…hendak kau tolong dia malah?”

“Bukan maksudku hendak menolong dia, aku cuma mau membawa pergi dia.”

“Membawa pergi dia bukan berarti hendak kau tolong dia?”

“Tidak, sebab…sebab…” mendadak Jit-jit tertawa dan menyambung, “Pokoknya ada alasanku, cuma tidak dapat kujelaskan sekarang.”

“Alasan apa? Alasan gila?” teriak Miau-ji.

“Aku tidak gila, kuyakin perbuatanku pasti tidak keliru, maka kulakukan.”

“Masih kau bilang tidak keliru, apa yang kau lakukan ini pasti akan membuat engkau menyesal selama hidup.”

“Tidak, aku takkan pernah menyesal.”

“Ai, rupanya aku telah salah menilai dirimu, sungguh aku…aku berdosa terhadap Sim Long.”

“Pada suatu hari nanti Toako pasti akan tahu perbuatanku ini tidak keliru.”

Mendengar percakapan mereka itu, tentu saja Ong Ling-hoa sangat senang, segera ia menimbrung, “Apa pun juga aku tidak salah menilai Nona Cu kita, rupanya engkau memang sangat baik padaku.”

Belum habis ucapannya, mendadak Jit-jit melompat maju dan menamparnya beberapa kali dengan keras.

Seketika muka Ong Ling-hoa berubah menjadi merah bengep, “He, ken…kenapa kau?…” dia jadi melongo juga.

“Dengarkan, Ong Ling-hoa, jangan keburu-senang dulu!” teriak Jit-jit dengan geregetan. “Jika kau jatuh dalam cengkeraman Sim Long, bagimu memang cuma ada kematian. Tapi bila jatuh di tanganku, akan kubikin engkau mati tidak hidup pun sukar.”

“Omong kosong!” seru Miau-ji. “Memangnya dia belum pernah terjatuh ke dalam tanganmu dan bukankah dia telah lolos? Kukira sekali ini kau pun…”

“Sekali ini pasti tidak sama,” potong Jit-jit.

“Hm, tidak sama kentut,” jengek Miau-ji.

“Toako, kutahu…”

“Jangan kau sebut toako lagi padaku, aku tidak suka dengar,” Si Kucing meraung.

Jit-jit tertawa pedih, “Toako, kutahu engkau marah atas tindakanku ini, tapi aku terpaksa harus berbuat demikian…” dengan menggereget ia terus menyeret Ong Ling-hoa keluar.

Terpaksa Him Miau-ji menyaksikan kepergian orang tanpa bisa berkutik dengan hati mendongkol.

Mendadak Jit-jit menaruh Ong Ling-hoa di luar dan masuk kembali, ia berjongkok di samping Miau-ji dan perlahan meraba mukanya dengan tangannya yang halus itu.

“Singkirkan tanganmu?” Miau-ji meraung pula.

Namun Jit-jit seperti tidak mendengar, ucapnya dengan perlahan, “Toako Him Miau-ji, maaf, bilamana hidupku ini pernah berbuat sesuatu kesalahan kepada seorang, maka orang itu ialah engkau. Selama hidupku takkan kulupakan dirimu…”

Sampai di sini, tanpa terasa air matanya bercucuran lagi dan menetes di muka Him Miau-ji. Jit-jit berdiri dan berlari pergi sambil menyeret Ong Ling-hoa.

Air mata Jit-jit membasahi muka Miau-ji, ia pandang Jit-jit yang berlari pergi itu dengan perasaan remuk redam, tanpa terasa ia berteriak, “Jit-jit, kembali…”

Tapi nona itu tak berpaling lagi. Sungguh Miau-ji tidak paham, tidak habis mengerti. Mengapa Jit-jit berbuat demikian?

Dia dongkol, gemas dan kesal, “O, perempuan, dasar perempuan…” ia bergumam, baru sekarang dirasakan perempuan memang sangat sukar dimengerti. Apalagi Cu Jit-jit, jika ada orang menyangka dapat memahami pribadi Cu Jit-jit, orang itu kalau bukan orang gila pasti juga orang tolol.

“Aku memang tolol…” Miau-ji bergumam pula. “Bila Sim Long kembali dan melihat keadaanku ini, entah bagaimana komentarnya atas diriku? Kan malu aku?”

Tapi dia sama sekali tidak dapat bergerak, apa dayanya?

Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar suara langkah orang. Suara ini bukan berkumandang dari lorong bawah tanah, tapi dari luar rumah, jelas yang datang ini bukanlah Sim Long.

“Siapa?” bentak Miau-ji.

Belum lenyap suaranya, seperti orang gila tiga lelaki kekar telah menerjang masuk. Kiranya ketiga orang yang membawa poci tembaga yang hendak menolong orang yang keracunan tadi.

Melihat mayat kawan-kawannya bergelimpangan di situ, mata ketiga orang itu menjadi marah. Apalagi terlihat lagi Him Miau-ji, serentak mereka menubruk maju.

Berubah juga air muka Miau-ji, tapi mendadak ia bergelak tertawa malah.

Salah seorang itu memaki, “Keparat piaraan biang anjing, apakah engkau yang membunuh kawan kami?”

“Betul, tepat, sangat kebetulan kedatangan kalian,” seru Miau-ji dengan tertawa.

“Kebetulan untuk membinasakanmu,” teriak orang itu.

“Baik, terima kasih!” kata Miau-ji.

Melihat sikap Si Kucing yang tidak gentar itu, ketiga orang berbalik tercengang dan mengira ada sesuatu perangkap, tanpa terasa mereka menyurut mundur dua langkah.

“Bagaimana, mengapa kalian tidak turun tangan?” tanya Miau-ji.

“Keparat piaraan biang anjing, benar kau minta mampus?” teriak seorang di antaranya.

“Hahaha, terus terang kuberi tahukan, kawanan binatang, tuanmu memang lagi ingin mati di tangan kalian bertiga binatang ini, tapi lebih baik juga daripada tidak mati.”

“Keparat ini mungkin gila,” kata seorang lagi.

“Ya, tampaknya memang gila,” ujar orang ketiga.

Dengan gusar Miau-ji lantas membentak, “Binatang, kenapa tidak lekas turun tangan, bilamana Sim Long pulang tentu kalian tidak mampu berbuat lagi.”

Mendengar nama Sim Long disebut, ketiga orang itu sama kaget dan tanpa terasa menoleh ke belakang. Untung tidak tampak bayangan Sim Long.

Orang pertama tadi akhirnya membentak, “Baik, jika keparat piaraan biang anjing ini ingin mampus, biar tuan besar penuhi permintaanmu.”

“Haha, bagus, ayolah lekas!” seru Miau-ji dengan tertawa. “Segala apa pun pernah kurasakan, hanya belum tahu bagaimana rasanya mati.”

“Sret”, orang itu terus melolos golok dan membacok.

Di mana sinar golok berkelebat mendadak terdengar suara jeritan, menyusul lantas terdengar pula dua kali jeritan tertahan, ketiga orang itu tahu-tahu roboh semua, sebaliknya Him Miau-ji masih menggeletak di tempatnya tanpa cedera sedikit pun.

Rupanya Sim Long telah kembali, di sampingnya berdiri Hoan Hun-yang dengan tubuh berlepotan darah.

Miau-ji menghela napas dan memejamkan mata, dirasakan sebuah tangan menepuk hiat-to pada tubuhnya, maka terpaksa dia berbangkit, Sim Long lagi memandangnya dengan tenang.

“Him-heng, kenapa…” segera Hoan Hun-yang mendahului bertanya dengan heran.

“Minum seceguk arak dulu,” sela Sim Long.

Tanpa bicara Miau-ji angkat buli-buli dan menenggak dua-tiga ceguk.

“Mengapa bisa…”

Belum lanjut ucapan Hoan Hun-yang, kembali Sim Long memotong lagi, “Ternyata kedatangan kita tidak sampai terlambat.”

Mendadak Miau-ji berteriak, “Sim Long, mengapa tidak kau tanyai diriku, mengapa tidak kau tanya ke mana perginya Cu Jit-jit dan Ong Ling-hoa. Mengapa tidak kau tanya sebab apa aku jadi begini?”

“Asalkan engkau selamat, terjadi apa pun tidak menjadi soal,” ujar Sim Long dengan tersenyum.

“Tapi aku…”

“Engkau sudah berusaha sepenuh tenaga dan sekarang pantas beristirahat dulu,” potong Sim Long pula. “Ai, semua ini salahku, tanpa persetujuanmu segera kutinggal pergi begitu saja. Untuk ini harus kuminta maaf padamu.”

Miau-ji jadi melenggong, ucapnya dengan menyesal, “O, seyogianya aku yang mesti minta maaf padamu, tapi engkau malah minta maaf dulu kepadaku. Padahal Cu Jit-jit dan Ong Ling-hoa telah hilang, urusan penting ini sama sekali tidak kau singgung, sebaliknya kau tanya dulu keselamatanku. Ai, mendapatkan sahabat seperti dirimu, apa pula yang dapat kukatakan…Nyawa Him Miau-ji ini selanjutnya kuserahkan padamu.”

“Mengapa Ong Ling-hoa bisa kabur,” tanya Hoan Hun-yang.

“Tentu gara-gara Cu Jit-jit lagi,” ujar Sim Long.

“Masakah dia menolong lari Ong Ling-hoa?” tanya Hun-yang ragu.

“Tentunya begitu, betul tidak Him-heng?” kata Sim Long.

Muka Miau-ji menjadi merah, segera diuraikannya apa yang terjadi tadi.

Hoan Hun-yang menggeleng-geleng kepala setelah mengetahui tingkah polah adik iparnya itu.

“Setelah Jit-jit membawa pergi Ong Ling-hoa, entah keonaran apa pula yang akan dilakukannya,” gumam Sim Long sambil termenung.

Tiba-tiba ia mendekati ketiga lelaki yang menggeletak tak bisa berkutik itu, perlahan ia mendepak salah seorang di antaranya.

Orang itu menggelinding dua kali terus melompat bangun dan bermaksud kabur, tapi mana dia bisa lari, sekali gampar Miau-ji membuatnya melompat balik.

“Berani bergerak lagi segera kubinasakanmu,” ancam Si Kucing.

Lelaki itu meraba-raba mukanya yang bengep, katanya, “Kau…kau mau apa?”

“Jawab setiap pertanyaanku dengan baik dan akan kuampuni jiwamu, juga kedua temanmu,” ucap Sim Long.

Lelaki itu tampak ragu, jawabnya kemudian, “Akan kujawab sebenarnya, tapi…tapi harus kulakukan sesuatu lebih dulu.”

“Lakukan apa?…”

Belum lanjut bentakan Miau-ji, mendadak lelaki itu melompat ke samping dan menjemput goloknya yang terjatuh tadi.

Miau-ji mengira orang akan mengadu jiwa, segera ia bermaksud menubruk maju, tak terduga orang itu lantas mengangkat golok dan membunuh kedua kawannya sendiri yang menggeletak tak bergerak itu.

Hal ini membuat Miau-ji terkejut, bentaknya, “Kenapa kau…”

“Jika mereka tidak mati, mana aku berani bicara terus terang,” kata lelaki itu.

“Hm, keji amat hatimu,” ucap Miau-ji. “Engkau memang tidak main sebagai anak buah Ong Ling-hoa.”

“Baiklah, sekarang boleh kalian tanya,” kata orang itu.

“Bagaimana dengan orang-orang yang keracunan tadi?” tanya Sim Long.

“Dengan sendirinya sudah siuman semua dan mungkin saat ini sudah pergi dengan penuh rasa terima kasih kepada kami.”

“Adakah di antaranya seorang Kim Put-hoan?”

“Kim Put-hoan?…Rasanya tidak kulihat.”

Sim Long saling pandang dengan Miau-ji.

“Tak tersangka keparat ini kembali lolos lagi,” ucap Miau-ji dengan menyesal.

“Dan ada juga seorang nona bernama Pek Fifi, kau lihat dia?” tanya Sim Long pula.

“Apakah si cantik molek yang kelihatan lemah tak tahan angin itu?” lelaki itu menegas.

Betul, dia terkurung di mana?”

“Semula dia dikurung di sini, ada seorang lagi yang terkurung bersama dia, kabarnya seorang utusan Koay-lok-ong segala…”

“Bagaimana bentuk utusan Koay-lok-ong itu?” tanya Sim Long.

“Dia berdandan seperti seorang nenek, terkadang bicara dengan suara lelaki, diam-diam kami heran dan bertaruh mengenai jenis kelaminnya,” ujar orang itu.

“Sesungguhnya dia lelaki atau perempuan?” tanya Miau-ji.

Mendadak orang itu meludah dan menjengek, “Huh, yang bertaruh dia lelaki jelas kalah…”

“O, jadi dia seorang perempuan?”

“Yang menyangka dia perempuan juga salah.”

“Hah, lantas apa jenis kelaminnya?” Miau-ji jadi tercengang.

“Dia bukan lelaki, juga bukan perempuan, tapi bencong, banci…” tutur orang itu. “Huh, rasanya muak bila menyebut siluman semacam ini.”

Sim Long menggeleng kepala, “Koay-lok-ong juga makhluk aneh, kecuali dia, siapa lagi yang dapat memperalat manusia banci begitu untuk mencarikan gadis cantik baginya.”

Diam-diam semua orang mendongkol dan geli juga.

“Jika mereka berdua dikurung di sini, mengapa sekarang tidak tertampak lagi?” tanya Sim Long kemudian.

“Keduanya sudah kabur,” jawab orang itu.

“Kabur?” Sim Long dan Miau-ji menegas berbareng.

“Ya, siluman bencong itulah yang membawa kabur Nona Pek.”

Miau-ji cengkeram leher baju orang dan membentak, “Kentut busuk!…Melulu kepandaiannya masakah mampu kabur dari cengkeraman Ong Ling-hoa? Hm, setan yang mau percaya?”

“Lepaskan, dengarkan dulu, sudah tentu ada sebab musababnya,” ucap orang itu dengan meringis.

“Sebab apa? Lekas katakan?”

“Soalnya Kongcu kami sengaja melepaskan mereka lari.”

“Sengaja melepaskan dia? Sebab apa?”

“Rahasia urusan ini mana dapat diketahui kaum hamba seperti kami ini?”

“Apa betul keteranganmu?…” Miau-ji membentak.

Sim Long lantas berkata, “Kukira tidak salah. Dengan sendirinya di balik urusan ini ada intrik tertentu, bisa jadi Ong Ling-hoa sengaja hendak mengambil hati Koay-lok-ong atau mungkin juga dia ingin menyelidiki gerak-gerik Koay-lok-ong…Apa yang dirancang Ong Ling-hoa memang sukar diduga. Yang jelas, ai, nasib Pek Fifi mungkin bisa tambah runyam.”

“Dan apa yang dapat kita lakukan sekarang?” tanya Miau-ji.

“Sekarang aku cuma ingin mandi air panas dan istirahat dengan tenang,” kata Sim Long.

“Jika mau istirahat, datanglah ke tempatku saja,” ujar Hoan Hun-yang.

“Baik, segera kita berangkat,” seru Sim Long.

“Dan aku?” tanya lelaki tadi.

Tanpa pikir Sim Long memberi tanda, “Kau pergi saja…Lepaskan dia, Him-heng, sekali berjanji harus kita tepati. Biarkan dia pergi saja!”

—–

Hoan Hun-yang memang benar saudagar besar di daerah Tionggoan, melulu di Kota Cin-sia saja dia mempunyai tiga buah perusahaan besar.

“Di antara ketiga tempatku yang paling besar adalah Hun-ki-ci-ceng (usaha bank), tapi yang paling santai adalah Ging-yang-ciu-lau (restoran),” tutur Hoan Hun-yang dengan tertawa.

“Yang kuinginkan adalah yang terdekat,” ujar Sim Long.

“Yang terdekat adalah Hun-ki-po-ceng (toko kain), tapi di sana…”

“Adakah tempat tidur di sana?” sela Sim Long.

“Dengan sendirinya ada.”

“Adakah arak di sana?” Miau-ji juga bertanya.

“Tentu saja ada,” jawab Hun-yang.

“Haha, itulah paling bagus!” seru Sim Long dan Miau-ji berbareng.

Setelah mereka membelok simpang jalan sana, segera tertampak papan merek “Hun-ki-po-ceng” yang berhuruf emas itu. Tapi sesudah dekat, ternyata pintu toko tertutup rapat.

Dengan kening bekernyit Hun-yang menggerundel, “Kurang ajar! Tambah lama tambah malas kerjanya.”

Segera ia menggedor pintu, meski bergemuruh bunyi gedoran pintu, namun di dalam tetap sunyi senyap.

“Apakah kawanan budak ini sudah mampus semua?” omel Hoan Hun-yang dengan gusar.

Mendadak ia mendepak dengan keras sehingga pintu itu retak, namun daun pintu ini benar-benar sangat kuat, biarpun depakan Hun yang sangat keras tetap tidak membuat pintu terpentang. Cuma dari celah pintu yang retak dapatlah Hoan Hun-yang melihat keadaan di dalam.

Miau-ji juga ikut mengintip ke dalam, tiada seorang pun terlihat, bahkan blok kain yang biasanya memenuhi rak juga kosong melompong.

“Haha, jangankan arak, toko kain ini ternyata tiada sepotong kain pun,” kata Miau-ji dengan tertawa. “Wah, barangkali Hoan-heng biasanya suka ‘beli kosong jual kosong’ (main spekulasi), pantas engkau cepat kaya raya.”

Air muka Hoan Hun-yang tampak berubah, jawabnya dengan tersenyum, “Kukira ada…ada sesuatu yang tidak beres.”

Tiba-tiba dari rumah sebelah seorang melongok keluar, lalu mendekati Hoan Hun-yang bertiga dan bertanya, “Siapakah yang kalian cari?”

“Cari? Dia sendiri inilah juragan toko kain ini, masakah engkau tidak kenal dia?” ujar dengan tertawa.

“O, kiranya Hoan-toaya,” kata orang itu dengan tertawa. “Usaha Hoan-toaya terlalu luas, lima tahun pun belum tentu berkunjung satu kali ke sini, tentu saja Cayhe tidak kenal. Maaf, Cayhe ini Thio Tiau-kui, tetangga Hoan-toaya…”

Dengan tidak sabar Hoan Hun-yang lantas memotong, “Apakah Thio-lopan (Juragan Thio) tahu apa yang terjadi atas toko kami?”

“Cayhe memang lagi heran,” ujar Thio Tiau-kui. “Tengah malam kemarin mendadak datang beberapa kereta besar dan mengangkut seluruh isi toko kalian ini, mungkin pembantu Hoan-toaya cepat pergi lagi mencari persediaan barang baru, maka…”

Tanpa menunggu selesai penuturan orang, segera Hun-yang menarik kedua kawannya meneruskan perjalanan, tambah erat kening Hun-yang terkerut.

Dengan tertawa Miau-ji lantas berkata, “Wah, tampaknya usaha Hoan-toako sangat ramai sehingga isi toko diborong orang sekaligus, sepantasnya engkau bersukaria.”

“Kalau jual-beli biasa, mustahil dilakukan di tengah malam buta?” ujar Hun-yang dengan curiga. “Kukira di dalam urusan ini pasti ada yang tidak beres.”

Sim Long juga mengernyitkan kening, gumamnya, “Kemarin malam…tengah malam…”

Setelah melintasi dua jalan simpang lagi, tertampaklah papan merek Hun-ki-ci-ceng yang besar.

Dengan langkah lebar Hoan Hun-yang mendahului menuju ke sana, dilihatnya bank yang sehari-hari sangat ramai itu sekarang pintunya juga tertutup rapat, di dalam pun sunyi sepi.

Padahal di antara usaha perbankan di wilayah Soasay, hanya ginbio atau cek yang dibuka oleh Hun-ki-ci-ceng saja yang berlaku secara umum dibawa ke wilayah mana pun dapat diuangkan secara kontan di bank mana pun, bonafiditasnya tidak perlu disangsikan lagi.

Tapi sekarang bank yang paling tepercaya ini telah tutup pintu, seperti tidak dapat membayar lagi, bukan saja menandakan keadaannya yang gawat, bahkan hal yang belum pernah terjadi.

Sampai di sini wajah Him Miau-ji yang selalu tertawa itu menjadi prihatin juga, tentu saja Hoan Hun-yang paling gelisah, ia memburu ke depan pintu dan berteriak, “Siu-sing, buka pintu!”

Setelah diulang lagi beberapa kali panggilan, akhirnya pintu terbuka juga. Yang membukakan pintu adalah seorang lelaki setengah umur dengan pakaian sederhana tapi berdandan cukup rapi. Melihat Hoan Hun-yang, seketika orang ini memperlihatkan rasa girang dan terkejut.

Kiranya orang ini adalah pembantu kepercayaan Hoan Hun-yang, namanya Hoan Siu-sing, masih terhitung sanak keluarga Han.

Belum lagi pintu terbuka lebar segera Hoan Hun-yang menerjang ke dalam dengan gusar, bentaknya, “Siu-sing, kenapa kau jadi linglung juga? Mana boleh pintu perusahaan kau tutup? Mati pun tidak boleh tutup pintu. Wah, merek Hun-ki-ci-ceng bisa tamat di tanganmu.”

Hoan Siu-sing berdiri diam dengan sikap hormat, ucapnya kemudian, “Kutahu, cuma…”

“Sekalipun ada kemacetan lalu lintas keuangan, tapi berdasarkan nama baik perusahaan kita juga dapat minta bantuan kawan, apalagi kutahu di dalam kas sedikitnya ada sisa kontan beberapa laksa tahil emas, cek yang kita buka tahun ini juga tidak lebih daripada jumlah sekian.”

“Ya, memang betul, tapi…” Hoan Siu-sing menutur dengan serbasusah. “Ai, justru tidak cuma sisa kas kita sekaligus ditarik orang, bahkan setiap tempat di kota ini yang dapat kita mintai bantuan juga sudah kulaksanakan.”

“Hah, masakah dalam perusahaan kita ada pemegang rekening giro sebesar ini?” ucap Han Hun-yang dengan heran.

“Kecuali ada orang sengaja hendak membikin bangkrut kita sehingga semua cek yang telah kita buka dikumpulkan seluruhnya, lalu diuangkan sekaligus, tapi rasanya aku tidak ingat siapakah yang sengaja hendak membangkrutkan kita,” kata Hoan Siu-sing.

“Jika begitu lantas apa yang terjadi?” tanya Hun-yang.

“Yang menarik seluruh uang kontan kita ialah Nona Jit,” tutur Siu-sing dengan menyengir.

Hun-yang melengak sambil menyurut mundur, “bluk”, ia jatuh terduduk di kursi sambil bergumam, “Hah, dia…kembali dia!”

“Coba, apakah dapat kutolak kehendak Nona Jit?” kata Siu-sing. “Tidak cuma sisa kas telah ditarik seluruhnya, bahkan persediaan toko cita juga diangkut pergi olehnya. Ingin kutanya dia, tapi dia lantas mendelik dan mau pukul.”

Hoan Hun-yang mengentak kaki, Sim Long dan Him Miau-ji juga melenggong.

“Apakah Nona itu datang sendiri?” tanya Sim Long.

“Jika dia tidak datang sendiri, masakah bisa terjadi begini?…”

“Dia datang seorang diri?” tanya Miau-ji.

Melihat tampang Him Miau-ji, meski enggan menjawab, tapi juga tidak berani tidak menjawab, maka Siu-sing hanya mengangguk acuh tak acuh saja sambil berucap, “Ya, sendirian.”

“Dia dapat mengangkut barang sebanyak itu sendirian?” ujar Si Kucing.

“Dia punya uang, masakah tidak dapat menyewa kereta?” ucap Siu-sing dengan ketus.

“Ai, dasar budak yang suka bikin ribut,” omel Hun-yang dengan mendongkol. “Dengan uang sebanyak itu, ditambah lagi seorang Ong Ling-hoa, entah keonaran apa yang akan diperbuatnya nanti.”

“Mengambil uang sebanyak itu masih dapat dimengerti, tapi untuk apakah dia angkut seluruh persediaan cita toko kita? Mau bikin baju baru kan tidak perlu sebanyak itu?” ujar Siu-sing dengan bersungut.

“Biarpun tingkah laku Ong Ling-hoa sukar diduga, tingkah polah Nona Jit ini terlebih sukar dijajaki, sungguh aku Him Miau-ji kagum lahir batin,” ucap Si Kucing dengan tersenyum getir.

“He, jadi engkau inilah Him Miau-ji?” seru Siu-sing mendadak.

“Betul, aku inilah Si Kucing, ada…ada apa?”

Siu-sing menghela napas lega, ucapnya dengan tertawa, “Tidak apa-apa, soalnya Nona Jit menitipkan sepucuk surat padaku agar disampaikan kepada seorang Him Miau-ji. Him-tayhiap, tak kusangka yang dimaksudkan ialah Anda.”

“Tentu saja tidak kau duga, aku memang tidak bertampang tayhiap segala,” gurau Miau-ji.

Siu-sing tidak berani banyak bicara lagi, cepat ia mengeluarkan sepucuk surat, katanya, “Berulang Nona Jit memberi pesan agar surat ini harus diserahkan langsung kepada Him-tayhiap dan cuma boleh dibaca oleh Anda seorang, kalau kulanggar pesannya, aku…aku akan ditindak olehnya.”

“Masakah kau takut padanya?” tanya Si Kucing.

Muka Siu-sing menjadi merah, “Aku…aku…”

“Kau pun tidak perlu kikuk,” ujar Si Kucing dengan tertawa. “Ketahuilah, bukan cuma engkau saja takut padanya, aku pun jeri padanya, setiap orang yang berada di sini sama segan padanya.”

Lalu ia menerima surat itu dan dibacanya, seketika air mukanya berubah dan tidak dapat bersuara lagi.

“Apa yang tertulis dalam suratnya?” tanya Hun-yang.

Miau-ji garuk-garuk kepala sambil memandang Sim Long, katanya, “Wah, ini…”

“Barangkali isi surat itu mencaci maki diriku, maka tidak enak kau perlihatkan padaku?” tanya Sim Long dengan tertawa.

“Me…memang dia menggerutu padamu, tapi juga menyampaikan berita yang amat mengejutkan,” tutur Miau-ji.

Kiranya surat itu tertulis:

Toako,
Dari pengakuan Ong Ling-hoa dapat kuketahui bahwa Koay-lok-ong sudah masuk ke daerah Tionggoan, jejaknya sekarang berada di sekitar Thay-hing-san, untuk ini hendaknya Toako waspada.
Sim Long manusia tak berbudi, licik dan munafik, jangan Toako bergaul dengan dia, kalau tidak, pada suatu hari engkau pasti akan menyesal. Berita ini juga jangan diberitahukan kepadanya, biarkan saja dia terjebak dan rasakan akibatnya, hatiku senang.
Hormat adikmu, Jit-jit

Sehabis membaca surat itu, Hun-yang menggeleng kepala, “Bila aku tidak kenal tulisan tangannya, bisa kusangka surat ini ditulis oleh seorang lelaki bangor. Ai, kalimat surat ini mana pantas ditulis seorang gadis.”

“Tapi kalimatnya kan cukup lancar, serupa caranya bicara,” ujar Miau-ji.

Mendadak teringat olehnya macam-macam perbuatan jahil anak dara itu, segera ia menambahkan, “Caranya bicara memang tidak mirip seorang anak gadis, tapi lebih menyerupai bandit.”

Air muka Sim Long tampak prihatin, katanya, “Cara bagaimanapun dia menulis surat itu, yang penting beritanya memang sangat mengejutkan. Bahwa Koay-lok-ong telah ke pedalaman sini, mau tak mau kita harus waspada.”

“Dia sudah masuk ke pedalaman kan kebetulan bagi kita, bukankah kita memang juga mau mencari dia?” ujar Miau-ji. “Sekarang dia datang sendiri, kan hemat tenaga bagi kita?”

“Tapi urusan tidak semudah itu,” ujar Sim Long.

“Tidak mudah bagaimana? Kita kan sudah tahu jejaknya?…”

“Biarpun kita tahu jejaknya, namun di mana beradanya Ong Ling-hoa belum lagi jelas, maksud tujuan Jit-jit juga sukar diraba…”

“Urusan Ong Ling-hoa dapat dikesampingkan untuk sementara,” seru Miau-ji.

“Biarpun dapat dikesampingkan dulu, tapi melulu tenaga kita bertiga apakah mampu mengalahkan dia? Apalagi setiap anak buahnya juga tergolong jago kelas tinggi dan tidak boleh diremehkan.”

Hoan Hun-yang lantas menyambung, “Betul, sudah lama kudengar anak buah Koay-lok-ong rata-rata tergolong jago kelas satu, selain keempat duta andalannya, ada lagi 36 jago pengawal yang semuanya tergolong jago pilihan.”

“Huh, rupanya kalian takut padanya,” seru Miau-ji. “Haha, sebelum dia datang, setiap orang bilang mau mencari dia, sesudah dia datang benar, semua orang berbalik ketakutan dan kalau bisa ingin lari secepatnya.”

“Siapa bilang mau lari?” tanya Sim Long dengan tersenyum.

“Jika tidak lari, ayolah kita berangkat ke Thay-hing-san,” ajak Si Kucing.

Sim Long berpikir sejenak, katanya kemudian, “Perjalanan ke Thay-hing-san sudah pasti akan kita lakukan, tapi engkau harus menyanggupi suatu permintaanku.”

“Bilakah pernah kutolak permintaanmu?” jawab Miau-ji dengan girang.

“Baik, setiba di Thay-hing-san, bilamana sudah menemukan rombongan Koay-lok-ong, tapi sebelum mendapat persetujuanku, engkau dilarang sembarangan bertindak atau turun tangan.”

“Baik, kuterima,” seru Miau-ji sambil berkeplok.

Hoan Hun-yang juga berkata, “Aku pun…”

“Sebaiknya Hoan-heng jangan ikut pergi,” ujar Sim Long.

Hun-yang tersenyum, “Biarpun aku bukan seorang pemberani, tapi juga bukan penakut…”

“Mana berani kupandang Hoan-heng sebagai penakut,” ujar Sim Long, “Soalnya kedatangan Koay-lok-ong sekali ini jelas tidak boleh dipandang enteng. Kepergianku bersama Him-heng ini hanya bertujuan menyelidik saja dan pasti tidak sembarangan bertindak. Bilamana Hoan-heng tinggal di sini untuk mengatur segala keperluan garis belakang, tentu Siaute tidak perlu khawatir akan terjadi sesuatu. Apalagi Jit-jit dan jejak Ong Ling-hoa juga tidak diketahui, jika Hoan-heng tinggal di sini serta menyelidiki hal mereka, tentu segala sesuatu tidak perlu kukhawatirkan lagi.”

“Jika demikian, terpaksa kuturut saja kehendakmu,” sahut Hun-yang setelah berpikir sejenak.

Miau-ji menggosok kepal dengan bersemangat, serunya dengan tertawa, “Wahai Koay-lok-ong, akhirnya Him Miau-ji dapat juga berjumpa denganmu, ingin kulihat betapa bentukmu, apakah engkau punya tiga kepala dan enam tangan, memangnya betapa lihai kungfumu.”

Thay-hing-san adalah pegunungan yang sejak dahulu kala terkenal menjadi sarang kaum penyamun, banyak kisah keperkasaan tokoh Kangouw yang terjadi di pegunungan ini. Di antaranya terkenal Ke-36 Golok Kilat dari Thay-hing-san, konon betapa cepatnya golok kilat mereka dapat menebas lalat terbang.

Kisah kepahlawanan jago Thay-hing-san memang sangat menarik dan seakan-akan tak pernah habis dibuat cerita orang. Setiap puncak gunung, setiap batu karang dan setiap pohon yang aneh di sini seakan-akan mengandung sesuatu kisah yang menarik.

Sudah dua hari Sim Long dan Miau-ji menyusuri lereng gunung. Pada siang hari ini, mereka berhenti di tepi sebuah sumber air yang jernih, mereka makan ransum kering yang dibawanya dan minum air sumber yang segar.

Meski di udara ada sinar matahari, namun angin pegunungan tetap meniup dingin. Tapi dada baju Miau-ji tetap terbuka, dia berdiri menyongsong desir angin dan tiba-tiba berkata, “Lihatlah di sana ada sebuah tebing yang mencuat seakan-akan tergantung di udara.”

“Itulah tempat Thay-hing-sam-gan (Tiga Belibis Gunung Thay-hing) membunuh diri,” kata Sim Long.

“Membunuh diri adalah perbuatan orang perempuan, seorang lelaki sejati biarpun menghadapi kesukaran apa pun tidak pantas mengorbankan nyawanya begitu saja. Thay-hing-sam-gan ternyata lebih suka meniru tindakan orang perempuan, kukira mereka pasti bukan kesatria sejati.”

“Jika orang lain main bunuh diri tentu bukan perbuatan seorang kesatria, tapi sebabnya Thay-hing-sam-gan membunuh diri sungguh peristiwa yang amat mengharukan.”

“Oo?!” heran juga Miau-ji.

“Thay-hing-sam-gan itu adalah tiga orang bersaudara angkat, tapi ketiganya berkelana ke mana-mana dan jarang berkumpul,” tutur Sim Long. “Suatu hari Soat Gan membawa beberapa guci arak, sekaligus ia mengajak Gin Gan dan Thi Gan ke sini. Tebing karang yang mencuat aneh itu dahulu adalah tempat berkumpul mereka.

“Gin Gan dan Thi Gan tahu sang toako mendadak mengajak mereka ke tempat berkumpul ini tentu ada sebab musababnya, maka mereka coba minta keterangan, namun Soat Gan tidak lantas bicara, ia cuma membuka guci arak dan mengajak minum kedua saudara angkatnya sepuas-puasnya selama tiga hari tiga malam.

“Sampai tengah malam hari ketiga, mendadak Soat Gan berlutut menyembah kepada kedua saudara angkatnya itu…”

“Aneh, mengapa dia berbuat begitu?” ujar Miau-ji.

“Kiranya pada waktu mudanya Soat Gan pernah salah membunuh satu orang, justru orang sangat berbudi dan sangat baik padanya, hal ini membuatnya menyesal selama hidup, maka dengan susah payah tanpa kenal lelah ia berusaha memupuk dan membesarkan keturunan orang yang dibunuhnya itu…”

“Betapa pun Soat Gan itu terhitung punya liang-sim (hati nurani yang baik) juga,” ujar Miau-ji.

“Tujuannya adalah menebus dosa, sebab itulah meski dia membesarkannya dengan segenap jerih payah, anak itu tidak diberitahukan hal ihwalnya. Siapa tahu setelah dewasa, anak muda itu lantas hendak menuntut balas padanya dan ingin mencabut nyawanya.”

“Sakit hati kematian ayah sedalam lautan, pemuda itu juga tidak dapat disalahkan,” ujar Miau-ji dengan gegetun. “Cuma, bila Soat Gan sudah menyadari kesalahannya dan telah menebus dosanya dengan membesarkan anak muda itu, sepantasnya pemuda itu dapat mengampuni dia.”

“Walaupun begitu, Soat Gan tahu dendam kesumat begitu sulit diselesaikan hanya dengan beberapa patah kata penjelasan saja. Apalagi dia juga bukan manusia yang suka memaksakan kehendaknya hanya lantaran dia pernah membesarkan anak muda itu.”

“Lantas bagaimana tindakannya?” tanya Miau-ji.

“Dia berjanji dengan anak muda itu untuk bertemu di tebing karang yang mencuat ini.”

“Apakah dia khawatir urusan sukar diselesaikan, maka kedua saudara angkatnya diundang sekalian ke sini dan minta bantuan mereka? Huh, tindakan kesatria macam apakah itu?”

“Kau salah,” kata Sim Long. “Dia berlutut kepada kedua adik angkatnya memang minta bantuan, tapi bantuan yang diminta adalah supaya kedua saudaranya itu jangan ikut turun tangan mengerubuti anak muda itu, dia minta bilamana persoalan ini sudah selesai mereka harus mempermaklumkan kepada dunia bahwa urusan ini telah diselesaikan dengan adil, kematiannya juga wajar karena tidak mampu menandingi anak muda itu. Jadi bukan saja dia hendak membikin nama anak muda itu termasyhur, juga menghendaki orang lain tidak menuntut balas baginya.”

“O, kiranya begitu, dan kedua saudaranya menyanggupinya?” tanya Si Kucing.

“Kedua saudaranya juga lelaki yang berjiwa kesatria, meski kurang sependapat, tetap mereka menerima baik permintaannya. Dan pada waktu fajar menyingsing, anak muda itu pun muncul. Tanpa bicara keduanya lantas berhadapan, Soat Gan sudah bertekad untuk mati, meski dia membalas juga serangan orang, tapi hanya sekadar melayani saja. Tidak lebih dari 30 jurus, dia lantas terkena serangan mematikan anak muda itu.”

“Dan bagaimana dengan kedua saudara angkatnya?”

“Sesuai janji mereka, kedua saudaranya cuma menonton saja tanpa membantu dan menyaksikan Soat Gan mati di bawah tangan anak muda itu. Karena mengira sakit hatinya telah terimpas pemuda itu tertawa puas. Selagi dia hendak tinggal pergi, mendadak Thi Gan yang berwatak keras itu berteriak memanggilnya dan membeberkan rahasia itu kepadanya.”

“Lantas ba…bagaimana dengan anak muda itu?” tanya Miau-ji.

“Dengan sendirinya pemuda itu melongo. Malahan lantas terlihat Gin Gan dan Thi Gan mendadak melolos golok dan membunuh diri sekaligus, mereka benar-benar telah memenuhi sumpah setia sehidup semati tiga serangkai. Pemuda itu berdiri terkesima di depan ketiga jenazah selama tiga hari tiga malam, tanpa bicara dan tidak bergerak. Waktu itu sedang musim dingin, salju menimbuni sekujur badannya dan membeku, lambat laun matanya, hidungnya dan juga mulutnya ikut beku, namun dia tetap tidak bergerak, ai…akhirnya pemuda itu pun mati beku.”

Si Kucing jadi terkesima juga mendengarkan cerita yang mengesankan itu, mendadak ia meraung dan berteriak, “Arwah kepahlawanan mereka pasti tetap hidup abadi dan masih berada di atas tebing sana, aku ingin melihatnya ke atas.”

Sim Long ingin mencegahnya, tapi tidak keburu, Miau-ji sudah lantas meloncat ke atas tebing yang mencuat itu.

Di atas tebing cuma salju melulu, berdiri di tengah remang kabut Miau-ji merasa seperti juga anak muda dahulu itu, ia berdiri termangu tanpa bergerak.

Sim Long sudah menyusul tiba, katanya dengan tersenyum, “Kenapa kau jadi emosi, apa barangkali kisah Thay-hing-sam-gan telah menyentuh perasaanmu?”

“Ai, apakah kau tahu aku pun mempunyai seorang adik angkat?” tanya Miau-ji mendadak.

“Oo…”

“Orang lain sedemikian baik terhadap saudara angkatnya, apa pun yang diperbuat Soat Gan toh kedua saudara angkatnya tetap dapat memaklumi kesukarannya, sebaliknya aku…aku…”

“Memangnya engkau merasa bersalah kepada adik angkatmu?” tanya Sim Long.

Dengan menghela napas Miau-ji menjawab, “Adik angkatku itu berbuat sedikit kesalahan padaku dan aku lantas membencinya. Padahal dia juga mempunyai kesulitan, selayaknya aku memaafkan perbuatannya…”

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian dengan tersenyum, “Adik angkatmu itu seorang perempuan, bukan?”

“Dari…dari mana kau tahu?” Miau-ji melengak.

“Meski tidak kau katakan juga dapat kuterka,” ucap Sim Long. “Cu Jit-jit telah menyebutmu sebagai toako, kalau tidak tentu tidak segampang itu engkau ditutuk olehnya.”

“Kutahu apa pun tak dapat mengelabuimu, seharusnya kuberi tahukan waktu itu juga, tapi aku…” Si Kucing menunduk dengan menyesal.

“Tidak apa, siapa pun pasti mempunyai sesuatu rahasia yang tidak ingin diketahui orang lain, biarpun suami-istri dan antarsaudara juga begitu.”

Miau-ji memandang Sim Long lekat-lekat, “Memangnya engkau juga mempunyai rahasia yang tidak boleh diketahui orang lain?”

“Tentu saja ada,” sahut Sim Long. “Malahan rahasiaku terlebih banyak daripada siapa pun.”

“Ya, sampai saat ini pun belum kukenal asal usulmu, tapi kupercaya apa yang kau rahasiakan pasti bukan kejahatan, engkau…engkau selalu membuat orang menaruh kepercayaan penuh.”

“Terima kasih,” kata Sim Long.

“Tapi tertawamu yang khas selalu membuat orang tidak mengerti,” ujar Si Kucing. “Meski tertawamu terkadang tampak cerah, tapi kurasakan di balik tertawamu seperti mengandung kepedihan, mengapa tidak kau katakan kepedihanmu…”

Sim Long tersenyum dan berpaling tanpa bicara.

Miau-ji juga terdiam. Hawa di atas tebing terasa semakin dingin.

Mendadak Sim Long berseru, “Hei, lihat, apa itu?”

Waktu Miau-ji memandang ke sana secermatnya, tertampak kabut dingin telah terobek sebuah garis oleh cahaya matahari, terlihat di kejauhan sana ada tanah datar.

Di dataran bawah sana juga tertimbun salju, terlihat berbagai bekas jejak di atas salju, ada bekas roda kereta dan kaki kuda, tampaknya ada juga bekas barang lain yang aneh.

“Mari kita memeriksanya ke bawah sana,” ajak Sim Long. Langsung ia melompat ke bawah dengan baju berkibar hingga serupa dewa melayang turun dari langit.

“Ginkang hebat, aku pun ingin mencoba,” seru Miau-ji, segera ia pun melompat ke bawah. Tapi segera dirasakan di bagian bawah seperti ada daya tarik yang kuat sehingga sukar baginya untuk ganti gerakan.

“Bluk”, akhirnya dia jatuh terbanting atas tanah bersalju.

“Bagaimana?” tanya Sim Long memburu ke samping Si Kucing.

“Untung tubuhku ini gemblengan baja, kalau tidak tentu sudah retak,” kata Miau-ji dengan tertawa. “Cuma…aneh juga, rasanya pantatku seperti kena tertusuk sesuatu.”

Ia meronta bangun, waktu ia raba pinggul sendiri, ternyata benar tertancap sepotong benda tajam, waktu dicabut, kiranya sepotong tulang kaki ayam.

“Sialan, ternyata di sini ada tulang ayam,” gerutu Miau-ji.

“Bukan cuma tulang ayam saja, mungkin masih ada benda lain,” desis Sim Long.

Keduanya lantas memeriksa keadaan sekitar tanah datar yang teruruk salju ini. Ternyata benar terdapat bekas kaki kuda dan roda kereta yang simpang-siur, juga ada gundukan abu bekas api unggun serta pecahan beling keramik.

Miau-ji memungut sepotong beling keramik dan diperiksanya sejenak, katanya kemudian, “Ini beling pecahan cangkir arak.”

“Melihat kualitas beling keramik ini jelas cawan arak yang berkualitas tinggi, sekalipun keluarga hartawan atau bangsawan juga tidak sembarangan mau menggunakan cawan antik begini untuk meladeni tamu,” ujar Sim Long.

“Tapi orang ini telah menggunakan cawan sebagus ini untuk minum arak di pegunungan sunyi sini, bahkan terbanting pecah,” tukas Miau-ji.

Kedua orang saling pandang sekejap, lalu memeriksa lebih lanjut.

“Eh, lihat ini,” seru Sim Long mendadak sambil memungut sesuatu dari atas tanah.

Dapat dilihat oleh Him Miau-ji benda yang dipungut Sim Long itu adalah sebuah anting-anting mutiara, biji mutiara itu sangat besar, hampir sebesar biji buah kelengkeng, bercahaya dan dibingkai dengan sangat indah.

“Melulu harga anting-anting ini saja sukar dinilai…”

“Dan orang ini sama sekali tidak menghiraukannya kehilangan anting-anting sebagus ini,” sambung Miau-ji.

Segera mereka memeriksa lebih lanjut ke depan, ditemukan mereka di atas tanah ada belasan lubang sebesar mangkuk, setiap baris ada enam lubang dengan kedalaman beberapa kaki, jarak barisan lubang itu lebih dari setombak.

“Apa pula ini?” gumam Miau-ji dengan kening bekernyit.

“Tampaknya ini lubang bekas patok perkemahan mereka,” ujar Sim Long setelah berpikir.

“Lubang sedalam ini, jelas bukan patok kemah orang biasa, jika patoknya sebesar ini, bukankah kemahnya sangat mengejutkan besarnya?”

“Ya, sekalipun kemah bangsawan Mongol juga tidak lebih daripada ini,” kata Sim Long.

“Masa perkemahan orang ini untuk menginap semalam saja memerlukan pekerjaan sebesar ini,” ujar Miau-ji.

Kedua orang saling pandang tanpa bicara, keduanya sama berdiri, namun dalam hati masing-masing timbul pendapat yang sama.

Koay-lok-ong!

Perkemahan sebesar dan semewah ini, siapa lagi kecuali Koay-lok-ong?

“Cu Jit-jit ternyata tidak dusta, Koay-lok-ong benar telah datang,” gumam Si Kucing.

“Melihat gelagatnya, perjalanannya tidak cuma diiringi ke-36 jago pengawalnya, juga membawa bini dan selir, dia datang secara besar-besaran begini, jangan-jangan dia tidak ingin pulang lagi ke sana.”

“Hm, biarpun dia ingin pulang juga tidak bisa lagi,” ucap Miau-ji dengan menggereget.

Sim Long memandang segumpal awan di langit dan termangu sejenak, katanya kemudian, “Dan entah Kim Bu-bong ikut datang tidak?”

Koay-lok-ong benar-benar mahasakti, entah dengan cara bagaimana dan entah jalan rahasia mana yang diambil, meski Him Miau-ji dan Sim Long telah melacaki bekas roda kereta sampai keluar tanah datar itu, tahu-tahu semua jejak itu menghilang secara ajaib tanpa bekas lagi.

“Keparat ini sungguh seekor rase tua,” gerutu Miau-ji dengan gemas. “Bahwa dia sudah begitu besar kekuatannya, ternyata khawatir juga dikuntit orang, bahkan berada di tempat setan begini juga khawatir orang menguntitnya.”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: