Kumpulan Cerita Silat

21/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 06

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 1:59 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, Lovecan, dan Sumahan)

Bab II. Tangan Berdarah

6. Menjebol Barisan.

Menyaksikan kejadian ini, si Pengejar Nyawa tertawa getir. Dia segera melakukan pemeriksaan lebih teliti. Ternyata sekujur badan Kongci Si pucat pias, sama sekali tak ada tanda darah. Dua bekas gigitan tertera jelas di tengkuknya, cairan darah dalam tubuhnya juga telah diisap seseorang hingga habis. Jelas dia sudah tewas jauh sebelum termakan tendangan maut itu.

Pengejar Nyawa tertawa dingin, katanya, “Rupanya setan penghuni Perkampungan Hantu menguntit kita dengan menggunakan burung rajawali itu. Karena dia terbang di angkasa dalam cuaca gelap begini, sudah pasti jejaknya sukar diketahui kita semua. Lantaran kejadiannya mirip sekali dengan peristiwa di masa lalu, ketika aku melawan Bu-tek Kongcu, maka aku lantas menduga kalau pihak lawan tentu menggunakan burung rajawali untuk mengintai dari udara, kemudian mencari kesempatan untuk membunuh kita. Itulah sebabnya tadi aku meminjam kapak milik Ji Bun-lui untuk memeriksa bayangan tubuhnya dari pantulan sinar di mata kapak. Tapi aku percaya burung rajawali ini bukan bertugas membunuh orang. Yang melakukan pembantaian pasti orang lain. Kalau tidak, dengan kemampuan burung ini rasanya mustahil bisa membunuh Pa Thian-sik. Untuk membunuh Kongci Si berempat pun belum tentu bisa, paling tidak mereka dapat berteriak minta pertolongan sebelumnya. Maka menurut dugaanku, tugas dari rajawali ini adalah mengangkut mayat-mayat yang telah terbunuh menuju ke tempat yang tidak pernah diduga oleh kita semua, agar kekuatan kita tercerai-berai, agar kita ketakutan terlebih dulu sehingga akhirnya tak berani melanjutkan perjalanan menuju ke Perkampungan Hantu. Jelas sudah semuanya ini adalah hasil karya manusia. Mana mungkin ada setan memiliki kemampuan seperti ini?”

Kemudian sambil menunding bangkai burung rajawali itu, lanjutnya lagi, “Sekalipun memang benar ada setan macam burung itu, kita toh bisa memaksa mereka untuk mati sekali lagi.”

Dengan nada sangat hati-hati, lelaki bersenjata pecut lembek itu bertanya, “Kalau memang begitu, mengapa sewaktu tersesat. Si Tong berempat tidak sempat berteriak minta tolong?”

“Dan mengapa kita selalu mendengar suara tangisan dan nyanyian wanita yang tak nampak wujudnya?” ujar lelaki bersenjata Boan-koan-pit dengan tubuh gemetar, lalu sambungnya, “Kenapa suara itu bisa gentayangan seperti setan iblis?”

“Ya benar,” sambung lelaki bersenjata rantai terbang dengan nada tak habis mengerti, “Kenapa Pa-sianseng mati dalam keadaan tak jelas? Kenapa setiap korbannya selalu mempunyai bekas gigitan di tengkuknya? Masa…masa musuh kita benar-benar adalah setan pengisap darah?”

“Aku sendiri pun kurang mengerti, dan tak bisa menjelaskan,” sahut si Pengejar Nyawa sambil tertawa. “Bila ingin mengetahui duduk perkara yang sebenarnya, hanya satu jalan yang bisa kita tempuh, yaitu mengunjungi Perkampungan Hantu!”

Mendadak dari balik badai salju, entah dari arah mana, terdengar seorang berteriak dengan suara memilukan, “Su-site…Sute keempat…Kalian…Kalian telah membunuh Su-siteku.”

“Akulah yang telah membunuh Su-sitemu,” bentak Ji Bun-lui gusar. “Kalau memang bernyali, ayo cepat menggelinding keluar, sekalian akan kubunuh dirimu!”

Baru selesai ia berteriak, tiba-tiba dari belakang pohon kering sana meluncur keluar segumpal makhluk besar. Diiringi deru angin tajam, makhluk itu langsung menumbuk ke dada Ji Bun-lui.

Di saat pihak lawan melempar keluar benda besar itu, Ji Bun-lui pun dapat melihat dengan jelas arah tempat persembunyian lawan. Kapak terbangnya segera dilontarkan ke muka, menerjang ke sana, sementara sepasang tangannya berusaha mencengkeram benda yang dilemparkan ke arahnya.

Di kala Ji Bun-lui mencengkeram benda itu, dari balik pohon kembali meluncur keluar dua benda, langsung menerjang iga kiri dan kanan jagoan Kwang-tong ini.

Sementara itu Ji Bun-lui telah berhasil menangkap benda besar yang pertama. Ternyata benda itu adalah mayat seseorang. Sekujur tubuhnya berwarna putih pucat tanpa warna darah, dua bekas gigitan membekas di tengkuknya. Dia tak lain adalah si Keleningan Pencabut Sukma Hoa Pian!

Namun lantaran tenaga lemparan itu sangat kuat, biar tenaga dalam yang dimiliki Ji Bun-lui sangat hebat, tak urung tubuhnya mundur tiga langkah dengan sempoyongan. Pada saat itulah senjata rahasia bercahaya putih itu sudah mendekati iga kiri dan kanan Ji Bun-lui.

Saat itu si jago Kwang-tong ini sedang menerima tubuh Hoa Pian, sementara kapak terbangnya telah dilontar keluar dan badannya sedang mundur ke belakang dengan sempoyongan. Mustahil baginya untuk menghadapi datangnya sergapan senjata rahasia itu. Tampaknya dia segera akan terhajar amgi itu.

“Duuuk, duuuk!” tahu-tahu kedua benda itu sudah ditangkap oleh dua tangan yang berbeda dari kiri dan kanan.

Ternyata pada detik yang amat kritis itulah Coa Giok-tan dan In Seng-hong sudah turun tangan mencengkeram senjata rahasia itu. Mereka merasa tangannya amat dingin, lekas benda itu dibuang ke tanah.

“Praaang!” diiringi sudah nyaring, kedua benda itu hancur berantakan. Ternyata senjata rahasia ini tak lain adalah kepingan salju yang runcing. Cahaya semu hijau tampak berkilauan dari hancuran kepingan salju itu.

Jay In-hui yang cerdas segera memahami akan sesuatu. Teriaknya tanpa sadar, “Aaah, rupanya Pa-sianseng mati lantaran ini!”

Begitu mendengar teriakan itu, semua orang ikut sadar.

Ternyata Pa Thian-sik memang tewas lantaran terhajar kepingan salju yang runcing. Ketika kepingan salju itu menembus badannya, karena bertemu darah yang panas, kontan kepingan salju itu segera mencair. Tak heran ketika si Pengejar Nyawa dan yang lainnya tiba di tempat kejadian, mereka gagal menemukan bekas senjata rahasia. Meski masih tersisa sedikit yang berhamburan di tanah, namun karena bercampur dengan lapisan salju, maka orang tidak terlalu menaruh perhatian. Kalau ada yang melihat, paling mereka mengira salju itu hancur karena tertumbuk tubuh Pa Thian-sik yang sedang meronta.

Apalagi ujung tajam dari kepingan salju itu sudah dibubuhi racun ganas. Tak heran jika sebelum ajal kesadaran Pa Thian-sik jadi kabur, dan dia mulai mengigau serta berteriak macam orang gila.

Ji Bun-lui merasa amat terharu dan berterima kasih karena In Seng-hong dan Coa Giok-tan telah menyelamatkan jiwanya. Selain itu, dia pun tercengang karena kapak terbang yang dilontarkan ternyata tidak terbang balik lagi ke tangannya.

Di saat itu si Pengejar Nyawa sudah menyusul ke belakang pepohonan. Tampak bunga salju berguguran dengan hebatnya di sekitar situ. Jelas suatu pertempuran sengit sedang berlangsung di tempat itu.

Ji Bun-lui, In Seng-hong, Jay In-hui dan Coa Giok-tan berempat serentak menyusul ke belakang pohon.

“Blaaam!” pada saat itulah tampak seorang wanita kurus kering mirip setan kelaparan dengan rambut awut-awutan tampak terbang keluar dari balik pepohonan. Ia berusaha berdiri tegak, namun tak urung badannya sempoyongan seakan hendak roboh.

Dengan sorot mata buas, ganas dan menakutkan, dia awasi semua jago yang hadir di situ. Mendadak tubuhnya gemetar keras, darah segar menyembur keluar dari mulutnya. Sementara itu kapak terbang milik Ji Bun-lui terlihat menancap di kakinya. Darah segar bercucuran dari luka itu.

Menyusul kemudian terlihat si Pengejar Nyawa muncul dari balik pepohonan sembari membersihkan bunga salju dari tubuhnya. Wajah, rambut dan alis matanya dipenuhi bunga salju berwarna putih yang lembut. Agaknya pertarungan singkat yang baru terjadi benar-benar berlangsung amat seru.

Sambil mengawasi perempuan kurus kering macam setan kelaparan itu, pelan-pelan dia berkata, “Sim-cap-sa-nio, habis sudah riwayatmu kali ini!”

Ketika semua orang mendengar perempuan ceking itu tak lain adalah ‘Sim-cap-sa-nio’, perasaan terkejut segera menyelimuti hati mereka.

Perempuan yang bernama Sim-cap-sa-nio ini memang cukup termashur dalam dunia persilatan. Kehebatan ilmu silatnya jauh di atas dua bersaudara Sim. Tapi kepandaian andalannya yang paling menghebohkan adalah kemampuannya yang seperti bunglon. Bila menempel di atas pohon, maka wujudnya akan mirip sekali dengan selembar daun. Bila duduk di tanah, maka wujudnya mirip sebuah batu cadas. Apalagi jika muncul di malam hari yang gelap, memang jejaknya sulit sekali dilacak.

Selain itu, Sim-cap-sa-nio ahli dalam membidikkan senjata rahasia beracun. Dia gemar membantai orang. Konon bila dalam satu hari ia tidak membunuh seorang korban, maka seluruh badannya akan terasa gatal. Bila dalam tiga belas hari tidak membunuh, maka ilmu bunglonnya akan mengalami kemunduran yang drastis!

Sim-cap-sa-nio banyak melakukan kejahatan, kegemarannya membunuh. Dia tersohor sebagai iblis wanita dari dunia persilatan. Karena selalu dikejar-kejar empat opas, akhirnya dia kabur ke wilayah Siang-say untuk bersembunyi. Konon di situ ia berjumpa dengan iblis wanita lain yang jauh lebih ganas, yaitu Hiat-siang-hui (si Selir Darah) Yan Bu-yu. Sejak itu pamornya makin merosot, hingga akhirnya tak pernah muncul lagi berkelana dalam dunia persilatan.

Sungguh tak disangka, dalam peristiwa pembunuhan berdarah ini, kembali Sim-cap-sa-nio memunculkan diri.

“Toako, kau berhasil menghajarnya?” tanya In Seng-hong.

“Dia sudah termakan sebuah tendanganku. Aku rasa lukanya cukup parah,” jawab si Pengejar Nyawa dengan suara dalam. “Coba kalau saudara Ji tidak menghadiahkan sebuah bacokan kapak hingga memecah perhatiannya, belum tentu aku sanggup mengunggulinya.”

Ji Bun-lui menghela napas panjang. “Hai, padahal kalau bukan lantaran kau sedang menyerang siluman wanita itu habis-habisan, mana mungkin bacokan kapakku mengenai sasaran? Kalau bukan saudara Coa dan In-lote turun tangan menolong, mungkin saat ini nyawaku sudah melayang!”

Si Pengejar Nyawa kembali berpaling ke arah perempuan ceking itu, lalu ia menghardiknya, “Sim-cap-sa-nio, mengapa kau bersembunyi di sini dan menyaru menjadi setan sambil membunuh orang? Sebenarnya apa maksudmu?”

“Kau tak usah ikut campur,” sahut Sim-cap-sa-nio sambil tertawa seram. Ditatapnya wajah si Pengejar Nyawa dengan pandangan penuh kegusaran. Sorot matanya berapi-api.

“Aku tahu, ilmu Jui-hun-mo-ing (irama iblis pembetot sukma) bukan kepandaian andalanmu. Darimana kau mempelajarinya? Si Selir Berdarah saat ini berada dimana?”

“Kau tidak usah banyak tanya,” tukas Sim-cap-sa-nio sambil tertawa seram. “Sampai mati pun aku tak bakal menjawab!”

Tiba-tiba tubuhnya bergerak cepat, berusaha mengundurkan diri dari tempat itu.

Empat padri Siau-lim-pay segera mengebaskan tangannya. Mereka yang kebetulan berjaga di belakang Sim-cap-sa-nio segera membentak keras sambil melontarkan pukulan dahsyat.

Mendadak bayangan tubuh Sim-cap-sa-nio lenyap dari pandangan. Yang tampak hanya sebuah gulungan bola salju yang menggelinding pergi. Di antara bola salju itu lamat-lamat terlihat ada noda darah.

Keempat padri dari Siau-lim-pay sangat terkejut. Mereka tak mengira musuh dapat menghilang secepat itu. Lekas mereka mengegos ke samping sambil menarik kembali pukulannya.

“Hati-hati! Bola salju itu adalah wujud penyamarannya!” terdengar si Pengejar Nyawa memperingatkan.

Benar saja, tiba-tiba bola salju itu melejit ke udara dan tampak Sim-cap-sa-nio sedang bersiap kabur dari situ.

“Wees!” terdengar desingan angin bergulir ke muka, tahu-tahu Coa Giok-tan dengan senjata serat emasnya sudah menusuk jalan darah Hian-ki, Thian-ki dan Thian-ci di tubuh perempuan iblis itu.

Serangan yang dilancarkan Coa Giok-tan sangat cepat, namun Sim-cap-sa-nio memang tidak bernama kosong. Tubuhnya berjumpalitan tiga kali di udara, meloloskan diri dari tiga tusukan itu, kemudian melayang melewati atas kepala tujuh jagoan penuntut balas, tampaknya dia segera akan lolos dari kepungan.

Tiba-tiba tampak cahaya warna-warni berkelebat lewat. Dengan sepasang pedangnya Jay In-hui telah menghadang jalan pergi Sim-cap-sa-nio!

Dalam waktu singkat mereka berdua sudah bertarung hampir tujuh gebrakan. Begitu cepatnya pertarungan itu berlangsung, yang nampak di tengah udara hanya bayangan nenek berambut awut-awutan yang seram bagai iblis dengan seorang nona berbaju warna-warni yang cantik bagai bidadari.

Semua jurus serangan yang mereka gunakan adalah jurus maut yang sangat mematikan.

Karena harus berhadapan dengan Jay In-hui, maka si Pengejar Nyawa segera dapat menyusul tiba.

Tampaknya Sim-cap-sa-nio enggan bertemu jagoan dari empat opas ini. Takut menderita kerugian lagi, segera dia berusaha melarikan diri.

Si Pengejar Nyawa membentak keras, sebuah tendangan kilat dilontarkan mengarah tubuh lawan.

Cepat Sim-cap-sa-nio melejit ke udara dan bersalto beberapa kali, kemudian melayang turun di belakang tubuh lawan.

Pengejar Nyawa mendengus dingin. Kakinya yang lain kembali melancarkan tendangan ke arah belakang. Dengan begitu, badannya yang berada di udara jadi terbentang lebar karena satu kakinya menendang ke muka sementara kaki yang lain menendang ke belakang.

Sim-cap-sa-nio terkesiap. Lekas dia tarik perutnya ke belakang, menghindarkan diri dari tendangan maut itu. Kembali si Pengejar Nyawa membentak nyaring, badannya berputar bagai gangsingan. Kali ini sepasang kakinya melancarkan tendangan berantai, bagaikan kitiran roda kereta dia gulung seluruh tubuh perempuan ceking itu.

Sepanjang hidup, belum pernah Sim-cap-sa-nio menyaksikan ilmu tendangan sehebat ini. Pusingan tendangan berantai itu bukan cuma cepat, tapi juga amat ganas! Untuk sesaat dia jadi bingung, tak tahu harus bagaimana menghadapinya.

Mendadak ia melengking, tangannya diayunkan berulang kali. Tujuh delapan belas macam senjata rahasia serentak dilontarkan ke tubuh lawan.

Dalam sekali serangan, Sim-cap-sa-nio dapat melepaskan tujuh delapan belas macam senjata, sungguh luar biasa, apalagi ketujuh delapan belas macam senjata rahasia yang berbeda itu hampir semuanya beracun. Ada yang cepat ada pula yang lamban, tapi begitu sampai di hadapan musuh, semuanya menyerang dengan kecepatan tinggi.

Buru-buru si Pengejar Nyawa memutar badan sambil melancarkan serangkaian tendangan berantai. Dia sapu rontok seluruh senjata rahasia yang ditujukan ke badannya.

Begitu pengejaran si Pengejar Nyawa terhambat oleh ancaman senjata rahasia, Sim-cap-sa-nio segera memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri. Dia berkelit dari pukulan yang dilancarkan dua bersaudara Sim, dan sekali lagi bersiap melejit ke udara.

Pada saat itulah mendadak hulu hatinya terasa sakit sekali. Ternyata tendangan yang bersarang telak di dadanya tadi membuat ia terluka cukup parah. Ditambah harus menghadapi hadangan berulang kali dengan menggunakan segenap kekuatan yang tersisa, nadinya jadi tergetar keras sehingga membuat rasa sakit di hulu hatinya bagaikan disayat sayat.

Dua Tosu dari Bu-tong-pay segera berpekik nyaring. Melihat musuhnya kesakitan, mereka segera memanfaatkan peluang itu dengan melancarkan dua tusukan berantai.

Baru saja ujung pedang mereka berdua hampir bersarang di tubuh Sim-cap-sa-nio, mendadak bayangan tubuh perempuan itu hilang tak berbekas. Yang tertinggal hanya sebatang dahan kayu pohon. Dalam tertegunnya, buru-buru mereka menarik kembali serangannya.

Siapa tahu belum lagi pedangnya ditarik balik, dahan pohon itu telah bergerak lagi dan beralih wujud sebagai Sim-cap-sa-nio. Sadar bahaya mengancam, segera mereka melompat mundur.

Sayang keadaan terlambat! Sepuluh jari tangan Sim-cap-sa-nio yang tajam bagai kaitan telah mencengkeram dada Cing Leng-cu kuat-kuat.

Cing Leng-cu menjerit kesakitan. Dia buang pedangnya lalu berbalik memeluk tubuh Sim-cap-sa-nio kuat-kuat, sementara Cing Siong-cu terkesiap ketika melihat kakak seperguruannya tertimpa bencana. Sebuah tusukan kilat langsung dilontarkan dan menembus punggung perempuan kurus itu.

Sim-cap-sa-nio menjerit ngeri. Dia meronta sekuat tenaga melepaskan diri dari pelukan Cing Leng-cu, kemudian sambil membalik badan, dia gigit tengkuk Cing Siong-cu kuat-kuat.

Sebagai jagoan dari perguruan lurus, belum pernah Cing Siong-cu melihat cara bertarung senekad itu. Dalam gugupnya dia tak sempat menghindarkan diri, tengkuknya seketika tergigit telak.

Waktu itu para jago lainnya berada cukup jauh dari mereka, sehingga tak sempat memberi pertolongan. Tubuh Cing Siong-cu segera roboh ke tanah.

Sigap Sim-cap-sa-nio mencengkeram pedang yang menembus punggungnya, jengeknya sambil tertawa seram, “Hehehe…kalian jangan bangga dulu…Jisuci dan Toasuhengku segera…segera akan mencari kalian untuk balas dendam…”

Selesai bicara dia cabut pedang itu dari punggungnya. Darah segar segera menyembur keluar dengan sangat deras. Sim-cap-sa-nio mundur sempoyongan, akhirnya roboh terkapar di atas salju, tewas seketika.

Melihat musuh tangguhnya sudah tewas, diam-diam semua menghembuskan napas lega. Sebagai kawanan jago termashur dalam dunia persilatan, belum pernah mereka saksikan cara bertarung sebrutal ini. Bukan saja Sim-cap-sa-nio bertarung dengan nekad, bahkan dia berhasil kabur dari kepungan dan membantai dua orang Tosu dari Bu-tong-pay sebelum akhirnya dia sendiri pun ikut tewas. Paling tidak kehebatan perempuan itu mampu membuat bergidik perasaan semua orang.

Si Pengejar Nyawa menghela napas, gumamnya, “Aku rasa korban yang berjatuhan akan semakin banyak sepanjang perjalanan menuju Perkampungan Hantu.”

“Saudara Pengejar Nyawa, kenapa kau bicara begitu?” tanya Ji Bun-lui tercengang. Dikiranya jagoan itu sudah patah arang.

Kembali si Pengejar Nyawa menghela napas, ujarnya serius, “Sebenarnya ilmu silat yang paling diandalkan Sim-cap-sa-nio adalah ilmu bunglon serta ilmu menyebar senjata rahasia beracun. Tapi kenyataan sekarang dia telah mempelajari ilmu pengisap darah serta irama iblis pembetot sukma yang jelas merupakan ilmu andalan si Selir Berdarah. Padahal iblis wanita yang bernama Selir Berdarah itu lebih sukar dihadapi daripada Sim-iap-sa-nio. Justru karena sangat hebat itulah Sim-cap-sa-nio sampai tunduk di bawah perintah iblis wanita ini. Menjelang ajalnya tadi Sim-cap-sa-nio sempat menyinggung soal Toasuheng dan Jisucinya. Bisa jadi Jisucinya adalah si Selir Berdarah. Entah siapa pula Toasuhengnya itu? Tapi yang jelas, orang itu pasti semakin sulit dihadapi!”

“Perkataan saudara Pengejar Nyawa sangat masuk akal,” Coa Giok-tan manggut-manggut. “Baik ilmu Jui-hun-mo-ing (irama iblis pembetot sukma) maupun Hip-hiat-kang (ilmu pengisap darah), semuanya adalah ilmu andalan si Selir Berdarah. Sekarang Sim-cap-sa-nio terbukti dapat menggunakan kedua macam ilmu itu, berarti dia mendapat petunjuk dari Yan Bu-yu…

“Saudara Coa,” sela In Seng-hong tiba-tiba, “siapa Hiat-hiang-hui Yan Bu-yu itu? Ilmu macam apa pula ilmu pengisap darah serta irama iblis pembetot sukma itu?”

“Aku hanya tahu Yan Bu-yu adalah seorang gembong iblis yang sangat jahat sekali. Selain masih muda, wajahnya cantik jelita bak bidadari dari kahyangan. Dia tetap awet muda dan tetap cantik jelita karena mengandalkan ilmu pengisap darah, dia selalu mengisap habis darah korbannya. Sementara Irama iblis pembetot sukma adalah sejenis ilmu tenaga dalam yang sangat aneh. Besar-kecilnya suara dapat dikendalikan sesuai kehendak. Contohnya seperti suara Sim-cap-sa-nio tadi, dia bisa membuat lawannya tak tahu dimana ia menyembunyikan diri. Konon jika seorang telah melatih ilmu irama iblis pembetot sukma ini hingga mencapai puncak kesempurnaan, maka dia bisa membuat seorang jadi gila hingga mati. Dia bahkan bisa menguasai sukmamu hingga kau bersedia melakukan tugas dan perintah apapun yang diberikannya tanpa disadari. Soal lain aku kurang tahu, mungkin saudara Pengejar Nyawa bisa memberi tambahan?”

“Ya, aku bersama tiga orang saudaraku yang lain pernah menjelajah seluruh wilayah untuk menangkap gembong iblis wanita itu. Tapi lantaran kungfunya memang luar biasa, sungguh memalukan…hingga hari ini kami berempat masih gagal meringkusnya. Yan Bu-yu memang cantik bagai bidadari, tapi keji bagai kalajengking. Ia pernah merayu anak murid partai-partai besar untuk membantunya melakukan perbuatan bejad. Untuk mewujudkan ilmu Hua-hiat-mo-kang (ilmu iblis pengubah darah) miliknya, dia tak segan mencuri hawa kelelakian ‘Goan-yang-ceng-khi’ dua puluh sembilan orang jejaka hanya dalam semalam saja. Konon si Selir Berdarah ini sangat menguasai ilmu sebangsa Khi-bun-ngo-heng, sering mengurung musuhnya dalam ilmu barisan. Inilah salah satu alasan mengapa kami berempat gagal membekuknya. Suatu kali kami pernah terkurung di dalam ilmu barisannya yang sangat hebat itu. Karena kami gagal menjebol barisannya, akhirnya dia berhasil kabur dengan leluasa.”

“Sekarang aku baru sadar, waktu itu Pa Thian-sik bilang di belakang punggungnya ada suara sehingga dia memutar badan karena dikiranya ada musuh di belakang. Akhirnya punggungnya yang terbuka dihajar kepingan salju beracun. Rupanya dia telah menipu lawannya dengan ilmu Irama iblis pembetot sukma. Begitu juga dengan lenyapnya Phang Ku-kian berempat, jelas itupun hasil tipuan irama iblis pembetot sukma. Kemudian Sim-cap-sa-nio membunuh Si Tong, mengisap darah Hoa Pian dan memboyong pergi mayat mereka dengan burung rajawali, rupanya kesemuanya ini merupakan tipu muslihatnya untuk menakut-nakuti kita. Mungkin dia ingin kita ketakutan hingga batal mendatangi Perkampungan Hantu…Hm! Padahal sekarang semakin terbukti bahwa penghuni Perkampungan Hantu ternyata manusia-manusia busuk yang amat jahat. Kita terlebih harus mendatangi tempat itu dan membasminya.”

Ji Bun-lui tertawa keras, serunya kemudian, “Tentu saja aku tak akan ketinggalan dalam tugas menegakkan keadilan. Tapi yang ingin kudapatkan adalah kitab pusaka Pekikan Naga.

Belum selesai dia bicara, mendadak dari kejauhan sana terlihat ada seorang berbaju putih berlarian mendekat. Pakaian orang itu compang-camping, rambutnya kusut tidak terawat. Sambil menari-nari seperti orang gila, ia tertawa tergelak sambil berteriak, “…Setan…setan…kitab pusaka Pekikan Naga…suara nyanyian…Perkampungan Hantu…hehehehe.”

Gerak tubuh orang itu sangat cepat. Dalam waktu singkat ia telah tiba di hadapan para jago itu.

Setelah mengamati orang itu sesaat, mendadak terdengar Coa Giok-tan berseru, “Hah, dia…Yu-bun Siu?”

Pengejar Nyawa menghela napas panjang. “Hai, rasanya memang benar dia,” katanya. “Sejak hilangnya Ang-sianseng dan rombongan tiga tahun berselang, hanya Yu-bun Siu seorang yang berhasil meloloskan diri. Tapi dia jadi gila, sepanjang hari kerjanya hanya berkeliaran di seputar Perkampungan Hantu sambil menyebarkan isu kalau di dalam perkampungan itu terdapat kitab pusaka Pekikan Naga.”

Sementara itu Yu-bun Siu sudah tiba di hadapan para jago itu. Mendadak ia melotot ke arah Jay In-hui, kemudian dengan wajah berubah hebat ia menjerit kaget, “Yan Bu-yu…Dewi…Iblis wanita…Tidak! Aku tak mau…Lebih baik bunuhlah aku.”

Mendengar ucapan melantur itu, berubah hebat paras muka Jay In-hui.

Buru-buru In Seng-hong menghadang di depan gadis itu sambil diam-diam melakukan persiapan, katanya, “Yu-bun Sianseng, dia adalah adik misanku, bukan iblis wanita Yan Bu-yu!”

Yu-bun Siu kelihatan agak tertegun. Dipandangnya wajah Jay In-hui dengan termangu, kemudian gumamnya, “Adik misan? Adik misanmu? Adik misanku? Adik misan…hahaha….Yan Bu-yu…”

Dalam pada itu, para jago penuntut balas telah berjalan mendekat. Lelaki yang bersenjata gurdi besi itu segera menegur, “Yu-bun Sianseng, konon guru kami masuk ke dalam Perkampungan Hantu bersama Sianseng, tapi kemudian lenyap tak berbekas. Apa sebenarnya yang telah terjadi dengan guru kami?”

“Guru kami? Apa itu guru kami…Guru…? Guru siapa?” Yu-bun Siu yang ditanya semakin tertegun.

“Guru kami adalah si Tangan Pengejar Nyawa Kok Cir J keng,” jelas lelaki bersenjata rantai, “Beliau masuk ke Perkampungan Hantu bersama engkau.”

Tiba-tiba Yu-bun Siu tertawa keras, tertawa melengking seperti jeritan setan. Teriaknya, “Kok Ci-keng? Tangan…Tangan pengejar nyawa…hahaha…Perkampungan Hantu…Mampus semua…Sudah mampus semua…Yu-bun Siu juga telah mampus…<epaskan aku."

Tubuhnya segera menyelinap lewat di atas kepala kawanan jago penuntut balas itu, kemudian kabur ke balik pepohonan.

Langkah yang dilakukan Yu-bun Siu ini sama sekali di luar dugaan siapa pun.

Sementara tujuh jago penuntut balas masih melenggong, Sim Ciu dari dua bersaudara Sim mendengus dingin. Dia menghadang jalan pergi orang dan tegurnya dengan ketus, "Tunggu dulu! Apa benar di dalam Perkampungan Hantu terdapat kitab pusaka Pekikan Naga?"

Sim Sat tidak ketinggalan, dia menghadang pula di depan Yu-bun Siu sambil berseru, "Jangan bergerak! Katakan dulu apa kau telah melihat kitab pusaka Pekikan Naga? Kitab itu disimpan di mana?"

Yu-bun Siu tidak langsung menjawab, seakan tidak paham dengan pertanyaan itu. Dia hanya berdiri melongo, seperti orang bodoh. "…Kitab pusaka Pekikan Naga…kitab pusaka Pekikan Naga?…Aku tidak pernah mendengar?…Kitab…Pusaka…Pekikan…Naga…"

Mendadak mencorong sinar tajam dari balik matanya. Kepada dua bersaudara Sim, ia membentak dengan penuh kegusaran, "Setan! Setan telah datang! Irama iblis telah datang! Cepat lari…cepat lari dari sini…!"

Biarpun dihadang jalan perginya oleh dua bersaudara Sim, namun Yu-bun Siu seolah sama sekali tidak melihatnya. Dia melancarkan sebuah pukulan ke depan.

Dua bersaudara Sim tertawa dingin, tangan tunggal mereka segera diputar dan siap menyambut datangnya serangan itu.

In Seng-hong sudah pernah menyaksikan kehebatan ilmu pukulan Toan-pit-khi-kang (ilmu sakti lengan kutung) dari dua bersaudara Sim. Dia juga tahu kalau tenaga dalam dua bersaudara itu cukup tangguh. Ketika menyerang Ji Bun-lui tadi, andaikata tenaga dalam yang dimiliki jagoan Kwang-tong itu tidak sempurna, mungkin luka yang dideritanya waktu itu akan cukup parah.

Dan sekarang dia saksikan dua bersaudara Sim itu kembali menggunakan pukulan yang sama untuk menghadapi seorang yang tak waras otaknya. Timbul perasaan kuatir di hati kecilnya. Tanpa sadar teriaknya, "Yu-bun Siu Sianseng, hati hati…! Ilmu pukulan lengan kutung!"

Ketika mendengar teriakan itu, Yu-bun Siu malah berpaling sambil melemparkan sebuah senyuman ke arah In Seng-hong. Saat itulah pukulan saling membentur, tenaga pukulan yang dilancarkan Yu-bun Siu seakan lenyap ditelan samudra luas. Ternyata pukulan itu berhasil diisap oleh dua bersaudara Sim.

Pada saat yang bersamaan, pukulan lengan yang lain telah menumbuk tiba, maka benturan tiga kekuatan yang sangat kuat menimbulkan pusaran angin berpusing yang amat dahsyat.

Dalam perkiraan banyak orang, kali ini Yu-bun Siu bakal tertimpa kemalangan.

"Blaaaam!" tiba-tiba Yu-bun Siu memutar tangannya, melepaskan satu pukulan lagi. Menggunakan peluang tersebut, badannya berjumpalitan mundur. Dalam waktu singkat tubuhnya sudah berada tujuh delapan kaki jauhnya dari posisi semula.

Tampak Yu-bun Siu mundur lagi beberapa langkah dengan sempoyongan, kemudian dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh It-sia-jian-li, dalam sekejap mata ia sudah berada di tempat jauh.

Dua bersaudara Sim berdiri tertegun. Mereka tak menyangka Yu-bun Siu yang tak waras otaknya ternyata bisa meminjam tenaga pukulan mereka berdua untuk melarikan diri.

Dalam gusarnya, kedua bersaudara Sim mendelik sekejap ke arah In Seng-hong.

Belum sempat melakukan pengejaran, terdengar Ji Bun-siu membentak penuh amarah, "Kalian benar-benar tak tahu malu! Dua orang waras menggebuki seorang gila. Kalau memang ingin mendapatkan kitab pusaka Pekikan Naga, ayo bergabung dengan Toayamu dan bersama-sama memasuki Perkampungan Hantu! Buat apa kalian paksa orang itu bicara?"

Sekali lagi dua bersaudara Sim mendelik gusar ke arah Ji Bun-lui. Tapi berhubung mereka sudah pernah mencicipi kehebatan lawan dan sadar kemampuan orang itu luar biasa, mereka berdua tak lagi berani bertindak gegabah.

Mendadak si Pengejar Nyawa menegur dengan ketus, "Bila kalian berdua berulah terus, terpaksa kami akan tinggalkan kalian di sini!"

Agaknya dua bersaudara Sim merasa amat segan terhadap si Pengejar Nyawa. Terpaksa mereka menahan diri dan tidak bicara lagi.

Setelah suasana tenang kembali, si Pengejar Nyawa baru menarik napas panjang dan berkata lagi, "Tampaknya perjalanan kita menuju Perkampungan Hantu teramat berbahaya. Bila ada di antara rekan-rekan yang enggan ikut, dipersilakan tetap tinggal di sini. Aku harap kalian berpikir dulu yang matang sebelum mengambil keputusan."

Lelaki bersenjata peluru geledek yang tampaknya bernyali paling besar segera berseru, "Kami tujuh jagoan penuntut balas bukan manusia lemah yang takut mati! Kami ikut serta!"

Liong-thaysu, satu di antara empat padri Siau-lim-pay berkata pula, "Lolap sekalian jauh-jauh dari Siong-san datang kemari, tujuannya adalah untuk menyelidki kasus hilangnya anggota kami tiga tahun berselang. Sebelum mendapat hasil, masakah Lolap akan mengundurkan diri?"

Dua bersaudara Sim ikut mendengus dingin. Kata Sim Ciu, "Kami dua bersaudara sudah hadir di sini"

"Tentu saja kami tak akan pulang sebelum tujuan tercapai!" sambung Sim Sat.

In Seng-hong melirik Jay In-hui sekejap, nona itu segera membalas dengan senyuman mesra. Melihat itu dia pun berkata, "Cayhe berdua akan turut serta dalam kunjungan ke Perkampungan Hantu. Kami ingin mencari pengalaman!"

"Dan aku pun akan turut meramaikan rombongan ini!" kata Coa Giok-tan pula sambil tertawa hambar.

Ji Bun-lui tertawa tergelak, serunya, "Aku bukan seorang Kuncu, tapi paling suka mencari gara-gara dengan para Siaujin dan manusia bangsa kurcaci. Tentu saja aku tak mau ketinggalan!"

Sambil berkata begitu, dia acungkan kapaknya ke arah dua bersaudara Sim.

Kontan saja kedua orang itu jadi gusar. Tapi karena harus menahan diri, paras muka mereka berubah hijau membesi.

Melihat tak ada yang mau tetap tinggal di situ, si Pengejar Nyawa menghela napas panjang. Katanya kemudian, "Baiklah, mari kita berangkat. Tapi ingat, jangan tergesa-gesa dan tak perlu jalan cepat. Lebih baik kita jalan bersama, sebisa mungkin jangan berpisah dari rombongan. Terlebih lagi, jangan menyerang secara gegabah!" Habis berkata demikian, dia berjalan meninggalkan tempat itu.

Tak lama kemudian kedelapanbelas orang jagoan itu sudah melewati jalan air Siau-lian-huan-wu yang permukaan airnya telah membeku. Dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuh, bergeraklah mereka menyeberangi kanal itu.

Setelah lewat hutan di depan Perkampungan Hantu, akhirnya perkampungan yang menghebohkan itu berada di hadapan mereka.

Bangunan gedung yang tinggi dan besar itu tampak mencekam dalam keheningan. Selain lapisan salju yang menutupi wuwungan rumah, atap, belandar dan lorong, lamat-lamat terasa pula hawa membunuh yang luar biasa muncul dari balik gedung.

Si Pengejar Nyawa menarik napas dalam-dalam, bisiknya kemudian, "Mari kita masuk!"

"Tunggu sebentar!" tiba-tiba Jay In-hui berseru. "Coba kalian lihat."

Semua orang berpaling. Tampak di atas dinding pekarangan yang putih karena dilapisi salju, sebuah panah besi yang telah berkarat menancap di ujung tembok. Kalau ditinjau dari karat yang ada di atas benda itu, semestinya sudah cukup lama anak panah itu berada di sana. Tapi anehnya anak panah itu sekarang berlumuran darah segar, bahkan masih menetes ke atas permukaan salju.

Di atas permukaan salju yang ada tetesan darahnya itu, terteralah beberapa huruf besar yang sangat menggiriskan hati.

Tulisan itu berbunyi: "Sekali masuk Perkampungan Hantu, selama hidup jangan harap balik ke rumah."

Membaca tulisan ini, Ji Bun-lui tertawa terbahak-bahak, katanya, "Hahaha…aku Ji Bun-lui memang tak berminat untuk balik lagi ke-Kwang-tong!"

Sebuah pukulan langsung dilontarkan ke depan, bunga salju pun beterbangan. Tulisan itupun ikut lenyap.

Terdengar lelaki yang bersenjata gurdi besi itu berseru sambil menuding ke arah anak panah karatan itu. "Bukankah anak panah itu milik Pau Hau?"

"Ya. Benar, benar tujuh jago penuntut balas yang lain segera mengiakan.

Pengejar Nyawa ikut berkata, "Konon Soat-say-sam-ok lenyap pada tiga tahun berselang. Tampaknya anak panah itu adalah panah penembus bukit milik Pao Hau."

"Kita tak usah peduli anak panah itu lagi," tukas Ji Bun-lui sambil tertawa nyaring. "Toaya ingin masuk sekarang!" Sambil berkata, dia bacok pintu gerbang itu dan melangkah masuk.

Waktu itu langit masih gelap. Begitu pintu gerbang terbelah, terlihatlah perkampungan bobrok itu membentang sangat luas. Halaman dengan bangunan tinggi entah berakhir sampai di mana.

Di hadapan mereka sekarang adalah sebuah lorong yang panjang sekali, tapi lorong itu sudah dilapisi salju.

Dengan sangat hati-hati, kedelapan belas orang jagoan itu menelusuri lorong dan masuk ke dalam perkampungan. Tapi kecuali kegelapan dan deru angin utara yang kencang, mereka tidak melihat apapun dan tidak mendengar apapun!

Dalam keadaan begini, terpaksa semua orang harus menghimpun tenaga dalam sambil bersiaga.

Sepanjang perjalanan In Seng-hong merasa kakinya seperti menginjak sesuatu hingga berbunyi aneh. Terkadang dia seperti merasa menendang sesuatu benda, kadang seperti menginjak hancur suatu benda. Dalam heran dan curiganya, buru-buru ia pasang api untuk memeriksa.

Apa yang kemudian terlihat membuat Jay In-hui menjerit saking kagetnya. Ternyata permukaan lantai dipenuhi dengan tulang-belulang manusia. Tampaknya orang-orang itu sudah mati cukup lama, badannya sudah membusuk dan keadaannya sangat menyeramkan. Bila ditinjau dari senjata yang berserakan d imana-mana, tampaknya mayat-mayat yang membusuk itu adalah mayat para jago dunia persilatan.

Mendadak dari antara bebatuan di atas gunung-gunungan, si Pengejar Nyawa melihat ada sebuah tongkat baja yang menancap di situ. Toya itu paling tidak beratnya mencapai puluhan kati. Bila dilihat benda itu bisa menancap di sana, dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga sang pemilik.

Di samping toya baja itu, membujur setumpuk tulang-belulang manusia. Pada bagian tengkorak kepalanya masih terlihat sisa rambutnya yang berwarna perak keabu-abuan.

Melihat semua itu, si Pengejar Nyawa menghela napas. Ia berkata, "Ternyata Ang Su Sianseng memang tewas di tempat ini!"

Waktu itu mereka sudah tiba di depan undak-undakan menuju ke halaman perkampungan. Dengan sangat hati-hati kawanan jago itu melanjutkan perjalanannya.

Di tepi lorong sepanjang ruangan, mereka jumpai semakin banyak tulang-belulang manusia yang berserakan di lantai. Di dekat empat belandar besar, mereka pun menjumpai empat kerat tulang-belulang manusia dengan dandanan pakaian padri bersandar di situ.

Melihat tulang-belulang itu, keempat padri Siau-lim-si segera merangkap tangan sambil menghela napas panjang, "Murid sekalian, beristirahatlah dengan tenang. Guru pasti akan membalaskan dendam kalian!"

Ketika tujuh jagoan penuntut balas melihat jenazah Ang Su Sianseng dan para padri Tat-mo dari Siau-lim-si telah ditemukan, mereka pun berharap jenazah guru mereka dapat segera ditemukan. Tak kuasa menahan diri mereka berteriak bersama, "Suhu…Suhu…Tecu telah datang!"

Teriakan itu diulang beberapa kali, namun tak ada jawaban dari balik perkampungan. Kobaran darah dalam dada tujuh jagoan penuntut balas makin berkobar, mereka memburu masuk lebih dalam.

Di hadapan mereka sekarang terbentang tujuh delapan puluh buah lorong panjang. Semua lorong saling bersambungan, setiap sudut tikungan tergantung sebuah lentera kuning yang berkedip bagai api setan.

Melihat ketujuh jagoan penuntut balas telah masuk duluan dengan penuh bernafsu, si Pengejar Nyawa beramai segera membuntuti, mereka kuatir ketujuh orang itu tertimpa musibah.

Cahaya lentera itu sungguh mengerikan hati. Ketika menyoroti wajah mereka, persis seperti menyinari wajah orang mati.

Setelah menelusuri beberapa lorong lagi, akhirnya di ujung sebuah ruangan ketujuh jagoan penuntut balas menemukan sesosok mayat yang mengenakan baju hitam membujur di sudut tembok.

Lelaki bersenjata tombak emas itu segera membuang lampu lentera ke lantai dan berteriak sedih, "Ahhh…bukankah jenazah itu adalah jenazah Suhu…"

Tujuh jagoan penuntut balas segera maju mengelilinginya. Setelah diteliti, akhirnya mereka mengenali tulang-belulang itu sebagai jenazah Kok Ci-keng. Tak terlukiskan rasa sedih dan gusar orang-orang itu. Sambil melolos senjata, mereka mulai berteriak dan bersumpah akan membalas dendam.

Rombongan Si Pengejar Nyawa segera memburu tiba. Siapa tahu, walaupun sudah satu kentongan lamanya mereka berlarian dalam kegelapan, namun lorong ketemu lorong, belandar ketemu belandar, bangunan yang ada di depan mata seakan berlapis-lapis tiada habisnya.

Si Pengejar Nyawa tahu, gelagat tidak menguntungkan. Benar juga, setelah berjalan beberapa saat kemudian, mereka jumpai lagi lentera yang dibuang lelaki bersenjata tombak emas itu. Kini mereka baru sadar bahwa mereka hanya berputar-putar di tempat yang sama.

Diam-diam semua orang terkesiap. Langkah mereka semakin berhati-hati. Setengah kentongan kemudian, akhirnya mereka berhasil menemukan jenazah tiga jago Bu-tong-pay. Dengan demikian, semakin terbukti bahwa rombongan Ang Su Sianseng yang lenyap pada tiga tahun berselang, ternyata sudah tewas di dalam perkampungan ini!

Perjalanan kembali dilanjutkan. Tapi sayangnya, walaupun sudah berputar kian kemari, pada akhirnya mereka tetap kembali ke posisi semula.

Dua kentongan sudah lewat. Semua orang mulai kelelahan, tapi mereka belum juga berhasil keluar dari lorong panjang itu.

Melihat kejadian ini, si Pengejar Nyawa segera berkata dengan nada berat, "Setelah kuamati, dapat kusimpulkan bahwa lorong panjang ini tampaknya dibangun berdasarkan barisan Jit-ji-kiu-hui (tujuh tikungan sembilan balikan). Sayang aku sendiri kurang paham ilmu barisan ini. Tanpa mengetahui kunci rahasianya, percuma kita berputar terus karena kita akan kehabisan tenaga dan hasilnya tetap balik ke posisi semula."

Setelah berlarian sekian lama, jidat Ji Bun-lui mulai dibasahi keringat. Gagal menemukan jalan keluar membuat dia sangat mendongkol, teriaknya, "Maknya! Tak usah berlagak seperti setan! Kalau punya keberanian, ayo keluar dan bertarung tiga ratus gebrakan melawanku!"

Dia mengulangi perkataan itu sampai beberapa kali, suaranya menggaung sampai kemana-mana. Namun, kecuali suara pantulan sendiri, sama sekali tak terdengar jawaban.

Waktu itu si Pengejar Nyawa sedang memperhatikan air yang berceceran di lantai. Di bawah pantulan cahaya kuning, mendadak ia melihat adanya biasan sinar hijau kehitam-hitaman. Segera ia berteriak, "Hati-hati! Besar kemungkinan air itu beracun!"

Dia robek ujung bajunya, lalu dicelupkan ke dalam air itu. Benar saja, pakaian itu segera berubah jadi kehitam-hitaman. Maka sambil tertawa getir ia berkata, "Tampaknya dia sengaja menyebar racun di dalam air, agar kita semua mati terkurung di lorong panjang ini. Yan Bu-yu benar-benar sangat lihai!"

"Aku tidak percaya kalau tak bisa melewati bangunan bobrok ini," teriak lelaki bersenjata rantai itu penuh amarah. Kematian gurunya membuat dia bertambah sewot hingga nyaris tak mampu mengekang diri. "Ayo kita segera berangkat!" Sambil berkata, ia menerjang maju ke muka.

"Jangan gegabah!" teriak si Pengejar Nyawa memperingatkan.

Tapi lelaki itu sudah menerjang hingga ke sudut tikungan lorong sana, diikuti dua rekan lainnya. Mendadak cahaya api di tikungan padam, disusul kemudian muncul segulung asap hitam berbau sangit. Jeritan ngeri yang memilukan hati pun berkumandang memecah keheningan. Jeritan ngeri lelaki bersenjata rantai!

Dua rekannya yang bersenjata Boan-koan-pit dan tombak berantai nampak tertegun dan segera menghentikan langkah.

Si Pengejar Nyawa, In Seng-hong, Jay In-hui, Ji Bun-lui dan Coa Giok-tan dengan cepat melampaui atas kepala mereka, memburu ke tikungan lorong.

Tampak lelaki bersenjata rantai sudah tergeletak dengan mata membalik. Seluruh otot badannya mengejang keras, dua buah lubang kecil membekas di tenggorokannya, luka yang merenggut jiwanya.

Dalam pada itu kenam jagoan penuntut balas, empat padri dari Siau-lim dan dua bersaudara Sim telah menyusul tiba. Melihat rekannya kembali jadi korban pembunuhan gelap, rekan-rekan yang lain jadi sangat marah.

Si Pengejar Nyawa segera menghardik, "Saudara berenam, bila kalian tak dapat mengendalikan diri, maka kalian bakal terbantai habis di dalam Perkampungan Hantu ini!"

Ji Bun-lui tertawa dingin, ujarnya pula, "Bila kalian memang sudah bosan hidup, silakan saja maju terus. Mau kulihat siapa yang bakal membalaskan dendam guru kalian!"

Enam jagoan penuntut balas saling bertukar pandang sekejap. Perkataan Ji Bun-lui sangat mengenai perasaan hati mereka. Meski secara pribadi mereka tidak takut mati, tapi bila mereka keburu mati, siapa yang bakal membalaskan dendam sakit hati mereka?

Coa Giok-tan tidak malu disebut jago kenamaan dunia persilatan. Setelah melihat sekejap situasi di tempat itu, dia segera berusaha mengendalikan diri lalu bertanya kepada si Pengejar Nyawa, "Menurut pendapatmu, apakah kita tunggu saja sementara waktu hingga fajar menyingsing?"

"Ai, aku sendiri juga tidak tahu," si Pengejar Nyawa menghela napas panjang, "Tapi aku rasa, biar menunggu sampai esok pagi juga belum tentu kita dapat menjebol ilmu barisan ini. Bila barisan ini takut sinar, mereka tak perlu memasang begitu banyak lentera di sini. Jika harus menunggu sampai esok pagi, mungkin kita akan kehilangan banyak kesempatan. Selain itu, entah berapa banyak lagi korban yang akan mati sia-sia. Dapat atau tidak kita menjebol barisan yang sulit dijebol ini, yang penting adalah berusaha. Menunggu sambil berpeluk tangan jelas bukan jalan keluar yang tepat. Hanya saja aku belum menemukan jalan terbaik. Atau mungkin ada di antara kalian yang punya jalan lebih baik?"

"Ya, bila saudara Pengejar Nyawa pun kehabisan akal, apalagi aku si orang kasar?" sela Ji Bun-lui.

"Bila kau kehabisan akal, terpaksa kita duduk sambil menunggu kematian!" ujar Sim Ciu.

"Ya, kalau kau punya kepandaian, carilah siluman perempuan itu. Tak usah omong besar," sambung Sim Sat sambil mendengus.

"Kalau aku pun tak sanggup, memangnya kalian dua manusia banci sanggup?"

Mendengar ejekan itu, sontak saja dua bersaudara Sim naik pitam.

Melihat keributan itu, si Pengejar Nyawa segera menghardik, "Sekarang keadaan sedang gawat, jangan hanya masalah sepele malah saling gontok. Kalau ingin ribut, menyingkirlah jauh-jauh, agar tidak menyusahkan yang lain!"

Ternyata dua bersaudara Sim paling benci kalau dikatai orang sebagai banci. Namun mereka berdua pun agak segan pada wibawa si Pengejar Nyawa. Maka setelah mendelik sekejap ke arah Ji Bun-lui dengan penuh amarah, Sim Ciu berseru, "Ingat baik-baik, hutang ini."

"Pasti akan kami perhitungkan!" sambung Sim Sat.

"Bagus, lain kali aku pun akan mencari kalian untuk bikin perhitungan," kata Ji Bun-lui pula menirukan logat mereka.

"Cianpwe Pengejar Nyawa," tiba-tiba Jay In-hui berbisik, "Aku punya akal. Cuma kurang tahu bisa digunakan atau tidak?"

"Coba katakan."

"Kalau toh kita tak mampu menjebol barisan di lorong ini, kenapa tidak kita musnahkan saja? Toh barisan ini hanya terbuat dari kayu, batu dan papan lapuk. Tidak susah untuk menghancurkannya."

"Hah, benar! Benar! In-lote, binimu memang luar biasa!" puji si Pengejar Nyawa berulang-kali.

Jay In-hui memang sudah cerdas sejak kecil. Sebagai seorang perempuan, hatinya welas-asih dan tak terlalu senang membunuh. Maka dalam soal ilmu silat dia kalah dari In Seng-hong.

Walau begitu, dia amat senang memutar otak dan selalu berusaha mencari akal untuk menghadapi setiap musuh tangguhnya. Maka ketika mereka kesulitan menjebol ilmu barisan di lorong itu, terlintas dalam benaknya, mengapa tidak sekalian menghancurkan barisan itu ketimbang peras otak mencari cara pemecahannya?

Kembali si Pengejar Nyawa berkata sambil tertawa, "Nona cilik, akalmu memang amat jitu! Daripada buang tenaga memikirkan cara pemecahan barisan itu, memang lebih gampang memusnahkannya. Aaai, percuma aku hidup puluhan tahun lebih lama. Kalau dilihat tonggak-tonggak kayu itu rasanya sudah lapuk dimakan usia. Dengan kekuatan kita, paling dalam satu kentongan sudah dapat menyingkirkan setengah bagian di antaranya. Cuma rekan-rekan harus waspada, pertama karena ilmu barisan yang terpasang adalah ilmu barisan Jit-ji-kiu-hui-tin. Bila dibilang kunci kehebatan ilmu barisan berada pada lampu-lampu minyak itu, maka pertama-tama kita harus memadamkan dulu semua lentera yang ada, agar Yan Bu-yu tak sanggup melihat keberadaan kita. Kedua, bila semua tonggak kayu, penghalang dan atap bangunan telah kita hancurkan, maka akan terbukalah sebuah jalan tembus. Cuma kalian mesti waspada, jangan sekali-kali menginjak di atas papan kayu di bawah kaki kita. Lapisan air di atas kolam ini tak bakal membeku meski di musim salju. Bila kalian sampai tercebur, besar kemungkinan akan mengalami nasib celaka!"

Semua orang kegirangan. Mereka segera turun tangan membongkar semua penghalang yang ada.

Menggunakan kesempatan itu In Seng-hong melirik sekejap ke arah Jay In-hui sambil memuji, "Hui-ji, kau memang luar biasa!"

Merah padam wajah Jay In-hui lantaran jengah. Tapi sikap gadis itu justru membuat In Seng-hong semakin kesemsem.

Tiba-tiba terdengar jeritan ngeri kembali berkumandang. In Seng-hong segera mengendus bau kebakaran tak sedap. Rupanya lelaki bersenjata rantai itu secara tak sengaja telah menumbangkan sebuah lampu lentera ketika berusaha memadamkannya. Minyak berwarna hitam yang menodai tangan dan pakaiannya segera membuat seluruh badannya ikut menghitam.

Melihat itu In Seng-hong berteriak, "Hati-hati, ada racun!"

Ketika lima jagoan penuntut balas hendak memayang lelaki berantai itu, si Pengejar Nyawa segera menghalangi jalan perginya. Dengan wajah serius dia berseru, "Tubuhnya terkena racun jahat. Bagaimanapun juga jangan sampai tersentuh!"

Waktu itu paras muka lelaki bersenjata rantai sudah berubah jadi hitam keabu-abuan, sepasang biji matanya melotot hampir keluar. Kepada kelima orang rekannya dia berteriak, "Jangan sentuh aku…Aku…Aku tak tahan lagi! Ba…Balaskan dendam kematianku!"

Mendadak dia cabut senjatanya lalu ditusukkan ke lambung sendiri! Tewaslah jagoan itu.

Dari tujuh jagoan penuntut balas, kini tinggal lima orang yang masih hidup. Rasa gusar, sedih, dendam bercampur-aduk dalam perasaan mereka.

Si Pengejar Nyawa menghela napas panjang, ujarnya, "Ketika rekan kita tewas karena mengendus bau sangit tadi, seharusnya aku sudah mencurigai hal ini! Aaai, kenapa aku tidak menduga kalau asap itu mengandung racun?"

"Kalau memang beracun, biar kudorong masuk ke dalam air!" seru Ji Bun-lui.

"Betul, mari kubantu," sambung Coa Giok-tan.

Ji Bun-lui mengayunkan sepasang tangannya berulang kali. Dimana angin pukulannya menyambar lewat, cahaya lentera segera padam, sementara piring berisi minyak langsung mencelat ke udara dan tercebur ke dalam kolam. Tak setetes minyak pun yang tercecer di lantai.

Coa Giok-tan tidak tinggal diam. Senjata serat emasnya diayunkan pula berulang kali menusuk api lentera hingga padam. Setelah itu dia pun menyampuk piring berisi minyak hingga mencelat keluar dan tercebur ke dalam kolam.

Tak lama kemudian, seluruh lentera yang ada sudah padam dan tercebur ke dalam kolam. Anehnya, begitu cahaya lentera itu padam, ternyata keadaan lorong panjang itupun berubah. Tidak sepanjang dan sedalam tadi lagi.

Dengan hilangnya rintangan dari lampu minyak, dengan cepat para jago mulai membongkar benda-benda yang ada di sepanjang lorong. Dengan kemampuan beberapa orang ini, tentu saja bukan pekerjaan susah untuk menyingkirkan segala macam rintangan. Dimana angin pukulan menyambar lewat atau senjata tajam menyapu datang, semua tonggak, penghalang dan kayu berguguran roboh ke tanah.

Tiba-tiba kembali terdengar jerit kesakitan bergema. Ternyata lelaki bersenjata tali karena kurang hati-hati, menginjak papan hingga kakinya tercebur ke dalam kolam.

Seketika itu juga badannya jadi kaku dan kesemutan. Baru meronta beberapa kali seluruh badannya sudah tenggelam ke dasar kolam, yang tersisa hanya buih air.

Tak lama kemudian jenazahnya mengapung di permukaan air, namun empat anggota badannya sudah membusuk. Yang masih tersisa hanya bagian kepalanya, sebuah wajah yang penuh dicekam perasaan ngeri.

Beberapa saat kemudian si Pengejar Nyawa berkata, "Mari kita lanjutkan pembongkaran. Cuma kalian mesti hati-hati, jangan sampai mati sia-sia karena tak ada yang bakal membalaskan dendam!"

Setengah kentongan kemudian semua barang yang menghadang di sepanjang lorong sudah dibongkar dan disingkirkan. Kini jalan masuk maupun keluar sudah terlihat jelas. Maka sambil tertawa dingin si Pengejar Nyawa berseru, "Yan Bu-yu, kau gagal mengurung kami!"

Tiba-tiba dari bilik sebelah timur terdengar seseorang tertawa merdu, kemudian tampak seorang wanita cantik bagaikan bidadari dari kahyangan pelan-pelan berjalan mendekat. Gadis itu baru berusia dua puluhan tahun, senyumnya manis bagai bunga yang mekar, gerak-geriknya genit merangsang. Rambutnya yang panjang dibiarkan terurai di punggung. Dia mengenakan baju berwarna putih salju.

Semula keempat jagoan penuntut balas merasa gusar, sedih bercampur dendam. Mereka ingin sekali mengumbar amarah. Tapi setelah mengetahui yang muncul hanya seorang nona muda yang cantik, lemah dan berwajah pucat, mereka jadi melengak dan berdiri melongo.

Jay In-hui juga merasa amat simpatik. Tanpa sadar ia memanggilnya sambil tertawa, "Cici."

Perempuan berwajah pucat itu tertawa manis, katanya lembut, "Nona, kemarilah kau, ayo…kemari"

Tanpa sadar Jay In-hui melangkah maju. Ia merasa perempuan itu semakin dipandang semakin menarik hati. Walau dalam hati tak ingin bergerak, namun kakinya seakan bergeser sendiri.

Tampaknya perhatian semua orang waktu itu sudah terisap oleh senyuman dan kecantikan perempuan itu. Tak seorang pun berusaha menghalangi si nona maju mendekat.

Ketika Jay In-hui berjalan maju lagi beberapa langkah, tiba-tiba perempuan itu menggeser rambut panjangnya dengan lembut, lalu berbisik, "Ayohlah, mendekat…Mendekat."

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring menggelegar, secepat sambaran kilat In Seng-hong menyelinap ke hadapan Jay In-hui.

"Criiing!" cahaya putih berkelebat, tahu-tahu dia sudah merontokkan sebatang jarum dengan pedangnya.

Bentakan dan serangan yang dilakukan sangat mendadak, seketika menyadarkan semua orang dari pengaruh sihir itu. Untung In Seng-hong mencongkel serangan jarum itu tepat pada waktunya. Jangan dilihat jarum itu sangat kecil, ternyata In Seng-hong merasakan pergelangan tangannya kesemutan! Kenyataan ini tentu saja membuat dia semakin terkesiap.

Jay In-hui yang baru sadar dari pengaruh sihir nampak ketakutan setengah mati. Wajahnya pucat pasi, dia tidak menyangka perempuan yang nampak tersenyum ramah dan selalu bersikap lemah-lembut ini ternyata tega melancarkan serangan mematikan. Coba jika In Seng-hong tidak segera sadar, mungkin saat ini jiwanya sudah melayang.

Ilmu Si-hun-toa-hoat (ilmu hipnotis) yang dikuasai Yan Bu-yu memang luar biasa hebatnya. Asal pikiran orang mulai terpecah dan memperhatikan dirinya, maka dengan ilmu itu Yan Bu-yu akan mengendalikan seluruh pikiran dan perasaan korbannya. Jangan lagi mereka yang berilmu cetek, bahkan orang dengan tenaga sesempurna si Pengejar Nyawa dan Ji Bun-lui pun, karena kurang hati-hati, untuk sesaat mereka kena pengaruh hipnotis si Selir Berdarah ini.

Tenaga dalam ln Seng-hong memang tidak sehebat si Pengejar Nyawa. Semestinya dia pun sulit terlepas dari pengaruh sihir itu. Namun berhubung konsentrasinya waktu itu justru tertuju ke diri Jay In-hui, maka walaupun dia pun terpikat oleh kecantikan Yan Bu-yu, namun pikirannya tidak seratus persen terpengaruh. Itulah sebabnya di saat yang paling kritis, ia masih sempat menyelamatkan jiwa Jay In-hui.

Dengan penuh amarah, para jago mulai melototi Yan Bu-yu. Tapi perempuan siluman itu masih tetap tertawa genit sembari berkata, "Nona cilik itu telah merusak Jit-ji-kiu-hui-tinku. Jadi aku pun ingin mencicipi apakah darahnya manis? Atau kecut? Atau getir atau asin…?"

"Siluman perempuan!" umpat Ji Bun-lui gusar, "kau masih punya ilmu simpanan apa lagi? Ayo cepat keluarkan semua!"

"Ilmu simpanan apa lagi?" Yan Bu-yu tertawa ringan, "Jit-ji-kiu-hui-tin telah kalian jebol, kolam Huan-kut-ti (kolam penghancur tulang) gagal melumat tulangmu, minyak neraka gagal menggoreng kulit kalian, jarum sakti pencabut nyawa berhasil kalian patahkan, ilmu pembetot sukma juga tak berhasil mempengaruhi kalian. Aku masih punya simpanan apa lagi? Ya, rasanya terpaksa harus membiarkan kalian membunuhku."

Walaupun apa yang disinggung merupakan ilmu pembunuh yang paling menakutkan dan menyeramkan, namun ia justru mengucapkannya dengan nada begitu sendu, seolah dialah orang yang patut dikasihani.

Yan Bu-yu sesungguhnya adalah seorang gadis yang berbakat alam, cerdik dan memiliki ilmu silat sakti. Namun sejak diperkosa oleh pangeran Se-ih, kemudian dicampakkan begitu saja, dia selalu berusaha agar pangeran itu mau mencintai dirinya. Malah dia pun menjuluki diri sebagai seorang 'selir'. Tapi usahanya itu berakhir dengan kegagalan.

Yan Bu-yu tidak putus asa. Berulang kali dia memohon kepada Pangeran Se-ih agar tidak mencampakkan dirinya begitu saja. Tapi dasar berhati kejam dan telengas, bukan saja sang pangeran menolak cintanya, bahkan merusak wajahnya dan membuang tubuhnya ke dalam jurang.

Untung dia tidak tewas karena peristiwa itu. Untuk membalas dendam, dia pun melatih ilmu Si-hun-toa-hoat dan Sin-hun-mo-ing, kemudian berlatih pula ilmu pengisap darah untuk memulihkan kecantikan wajah dan kemudian berlatih pula ilmu jarum pencabut nyawa.

Ketika ia berhasil menguasai seluruh kepandaian itu, pelacakan pun dilakukan. Akhirnya dia berhasil menemukan jejak sang pangeran. Dengan ilmu Si-hun-toa-hoat, dia hipnotis para pengawal hingga tunduk di bawah perintahnya, lalu dengan ilmu irama iblis dia kalahkan pangeran Se-ih. Dan dengan menggunakan jarum pencabut nyawa, dia butakan sepasang mata sang pangeran lalu mengisap darahnya hingga kering.

Sejak itulah dia terkenal sebagai Selir Berdarah. Namun wataknya ikut berubah, banyak muda-mudi dan perempuan hamil yang diisap darahnya demi terwujudnya ilmu iblis Hua-hiat-mo-kang. Kecantikan wajahnya pun makin menggiurkan.

Banyak tokoh silat dan jago lihai yang murka setelah mengetahui sepak terjangnya. Mereka berusaha memburu dan membunuhnya, tapi sayang hampir semuanya mati sia-sia. Apalagi setelah dia berhasil melatih ilmu barisan yang bisa mengurung banyak orang, kehebatannya semakin tiada tandingannya.

"Omitohud," terdengar empat padri Siau-lim-si berkata sehabis mendengar perkataan yang mengenaskan itu, "Kedatangan Lolap bukan bermaksud akan mencelakai Li-sicu. Bila Li-sicu mau melepaskan golok pembunuh dan kembali ke jalan Buddha, Lolap jamin keselamatan Li-sicu hingga tiba di kuil kami."

"Toa-hwesio, kalian tak boleh membebaskan dia!" teriak lelaki bersenjata peluru geledek dengan cepat. "Guru kami dan saudara-saudara kami telah tewas di tangannya. Kau tak boleh mengampuni jiwanya!"

Yan Bu-yu segera tertawa cekikikan, ujarnya kepada keempat Hwesio itu, "Coba kalian lihat, kamu berempat bersedia membebaskan aku, tapi mereka tak mau."

"Omitohud!"

"Kalian jangan memuji Buddha melulu, tidak enak didengar. Lebih baik aku saja yang bernyanyi untuk kalian."

"Jangan beri kesempatan kepadanya untuk bernyanyi" tiba-tiba Pengejar Nyawa membentak nyaring.

Sayang, sebelum dia menyelesaikan perkataannya, Yan Bu-yu sudah memutar tangannya yang halus sambil menyanyi merdu, "Awan ingin pakaian, bunga ingin wajah, angin berhembus sepoi menyiarkan bau harum."

Si Pengejar Nyawa ingin menghardik, namun dadanya segera terasa bergolak keras. Lekas dia tutup mulut sambil menghimpun tenaga dalam melindungi denyut nadi. Dia tak berani lengah karena sedikit saja kurang hati-hati, pikirannya pasti akan dikendalikan lawan.

Pengejar Nyawa tahu, Yan Bu-yu telah menggunakan irama iblis pembetot sukma untuk menguasai pikiran dan perasaan orang.

Tampak paras muka Ji Bun-lui sudah mulai berubah. Kalau tadinya keras dan kasar, maka sekarang mulai melemah. Coa Giok-tan kelihatan agak terharu, sementara dua bersaudara Sim nampak seperti orang bingung. Yang paling parah adalah empat jagoan penuntut balas, mereka seakan sudah mulai mabuk kepayang.

Yan Bu-yu semakin menggila. Kini bukan saja menyanyi, dia pun mulai menari. Tariannya indah, lemah gemulai bagaikan putri keraton yang sedang menari di singgasana.

"Bila tidak bersua di puncak bukit, kapan bisa bertemu di tengah kolam"

Semua jago makin terpikat, makin terpengaruh. Mereka seakan sudah mabuk, kesadarannya mulai berkurang.

Pengejar Nyawa amat gelisah. Ia sadar, bila gadis itu tak dicegah maka semua jago akan celaka. Maka sambil menghimpun tenaga dalamnya melindungi detak jantung, selangkah demi selangkah dia paksakan diri maju menghampiri Yan Bu-yu. Hanya satu keinginannya saat ini, yaitu segera menghentikan tarian dan nyanyiannya.

Baru berjalan beberapa langkah, tiba-tiba Pengejar Nyawa merasa hatinya tergiur, perasaan cinta mendadak menyelimuti hatinya. Ia sadar keadaan tidak menguntungkan, segera hawa murni dihimpun kembali dan ia berusaha memadamkan napsu birahi yang muncul secara tiba-tiba itu.

Kalau manusia macam si Pengejar Nyawa saja sulit mengendalikan diri, bisa dibayangkan keadaan orang lain. Tapi yang paling parah keadaannya adalah empat jagoan penuntut balas.

Terdengar Yan Bu-yu bernyanyi lebih jauh, "Setangkai bunga merah, layu sebelum berkembang, hutan di tengah bukit, kabur dan gelap diguyur hujan…."

Ketika perempuan iblis itu bernyanyi sampai di situ, empat jagoan penuntut balas sudah tak kuasa mengendalikan diri lagi. Mereka mulai ikut mencak-mencak dan menari seperti orang gila…

"Byuuurrr…!" lelaki bersenjata Boan-koan-pit tak dapat menahan diri lagi, dia mencak-mencak sambil melompat ke tengah kolam. Akhirnya…dalam sekejap di dalam kolam pelumat tulang kembali bertambah dengan sesosok mayat yang telah membusuk.

Situasi bertambah kritis, tampaknya sejenak lagi semua jago akan terpengaruh oleh irama iblis itu.

Mendadak terdengar seorang bersenandung nyaring, suaranya keras dan lantang seakan Pekikan Naga yang membelah angkasa… "…Bertanya ke istana, siapa penghuninya, kasihan si walet terbang kehilangan sarangnya…"

Ternyata orang yang bersenandung nyaring itu tak lain adalah In Seng-hong!

Sebenarnya, jika ilmu irama iblis pembetot sukma dapat menguasai si Pengejar Nyawa, tentu dapat pula menguasai In Seng-hong dan Jay In-hui. Tapi berhubung jago yang hadir di arena saat itu lebih banyak lelakinya, maka Yan Bu-yu menggunakan irama rangsangan untuk menggiring pikiran mereka memasuki alam seks, kemudian menuntun mereka satu per satu agar menceburkan diri ke dalam kolam pelumat tulang.

Karena irama itu hanya khusus ditujukan untuk kaum pria, dengan sendirinya pengaruh bagi Jay In-hui hanya sebatas menumbuhkan perasaan cinta yang lebih mendalam. Apalagi gadis itu masih perawan dan belum pernah dijamah lelaki, dengan sendirinya irama iblis itu tak bisa membangkitkan birahinya.

Sebagai seorang pria, otomatis In Seng-hong terpengaruh juga oleh irama iblis itu. Namun karena cinta kasihnya terhadap Jay In-hui adalah cinta sejati, maka yang muncul pada sikapnya hanyalah sebatas pandangan menerawang.

Jay In-hui segera menyadari kalau gelagat tidak beres. Maka dengan sekuat tenaga ia pencet jalan darah In Seng-hong yang membuat pemuda itu sadar seketika. Melihat para jago mulai dipengaruhi irama iblis sementara si Pengejar Nyawa sudah bermandikan keringat, lekas dia kerahkan hawa murninya dan bersenandung nyaring.

Betapa terperanjatnya Yan Bu-yu ketika melihat irama iblisnya dijebol oleh seorang anak muda yang sama sekali tak dikenal sebelumnya.

Begitu pengaruh irama iblis buyar, si Pengejar Nyawa langsung menerjang ke depan diikuti Ji Bun-lui dan Coa Giok-tan.

Yan Bu-yu semakin terkesiap. Saking kagetnya, paras mukanya berubah jadi pucat. Segera dia merubah nada nyanyiannya, kali ini dia membawakan sebuah lagu sedih dan menyayat hati…

Waktu itu si Pengejar Nyawa beramai sudah berada di hadapan iblis wanita itu, tapi belum sempat mereka melancarkan serangan, nyanyian yang memilukan hati telah berkumandang. Pikiran mereka kontan tergoncang, dalam kagetnya mereka tak sempat lagi menyerang iblis wanita itu. Segera mereka menghimpun tenaga dalam untuk melindungi diri.

Meskipun In Seng-hong masih bersenandung dengan suara lantang, tapi karena lagu yang dinyanyikan Yan Bu-yu dalam irama iblisnya bukan lagu gubahan penyair terkenal, maka walaupun suara pemuda itu amat nyaring, tenaga dalamnya belum terlalu sempurna. Lambat-laun suaranya semakin melemah dan mulai terpengaruh oleh suara nyanyian lawan.

Perlu diketahui, meskipun In Seng-hong berjiwa lurus dan belum pernah menjamah tubuh Jay In-hui, namun bagaimana pun juga dia tetap seorang pemuda yang berdarah panas. Lama-lama imannya goyah juga, perlahan-lahan dia mulai terpengaruh oleh irama iblis itu dan sukar mengendalikan diri.

Para jago mulai merasa ada segulung hawa panas berkeliaran di seputar Tan-tian, hawa panas itu mulai menyembur kian-kemari secara liar. Merasakan hal itu, semua jago jadi terperanjat.

Mereka sadar, bila hawa sesat itu semakin berkeliaran secara liar dan tak terkendali, maka mereka semua akan mengalami Cau-hwe-jip-mo (jalan api menuju neraka). Sekali hawa murni buyar, selama hidup jangan harap bisa terhimpun kembali.

Lekas mereka pusatkan segenap perhatian untuk menyalurkan hawa murni dan melawan irama iblis itu.

Kembali beberapa saat lewat dengan cepatnya, peluh telah membasahi wajah semua orang. Bukan cuma jidat yang basah, pakaian mereka pun basah kuyup.

Nampak musuh mulai kepayahan, Yan Bu-yu semakin menggila. Dia mulai melepas sebagian pakaiannya dan mulai menari cabul. Wajahnya yang semula putih, kini berubah makin memucat. Tampaknya pertempuran ini sudah mencapai puncaknya, masing-masing pihak berusaha merobohkan lawan secepat mungkin.

Lelaki bersenjata tombak emas dari tiga jagoan penuntut balas mulai tak mampu mengendalikan diri. Napasnya mulai ngos-ngosan seperti kerbau, akhirnya tak kuasa lagi, ia jatuh tercebur ke dalam kolam. Sesosok mayat membusuk kembali menjadi penghuni tetap kolam itu.

"Omitohud!" pujian kepada sang Buddha mendadak mendengung di angkasa. Pujian pertama membawa kekuatan bagaikan Pekikan Naga, disusul pekikan kedua yang membawa auman harimau. Begitu irama iblis itu sedikit jebol, pujian kepada sang Buddha yang ketiga dan keempat bergema susul-menyusul.

Rupanya empat padri sakti dari Siau-lim-si telah menyelamatkan situasi yang amat kritis itu. Sebagai padri yang pantang berpikiran cabul, tentu saja mereka lebih gampang menguasai diri ketimbang jago lainnya.

Pengejar Nyawa, Ji Bun-lui dan Coa Giok-tan kembali tersadar dari pengaruh irama iblis. Serentak mereka mendesak ke muka dan siap melancarkan serangan.

Tiba-tiba terlihat paras muka Yan Bu-yu berubah jadi hijau membesi, sekujur badan gemetar keras. Dia tidak nampak seluwes dan segenit tadi lagi. Sementara irama iblisnya kembali berubah, kini dia membawakan suara nyanyian seperti jeritan setan iblis dari neraka! Bagai rintihan dan jeritan ngeri roh-roh gentayangan yang muncul dari alam baka.

Empat padri Siau-lim-pay kembali mengerahkan auman singanya untuk melawan pengaruh irama iblis itu. Namun sesaat kemudian perlawanan mereka semakin melemah dan tiba-tiba darah segar menyembur dari mulut keempat orang padri itu. Keadaan kembali gawat.

Si Pengejar Nyawa sadar, bila keadaan dibiarkan begitu terus maka mereka akan kalah total. Maka sambil memaksakan diri, selangkah demi selangkah dia berusaha mendekati Yan Bu-yu. Maksudnya agar perempuan iblis itu pecah perhatiannya.

Yan Bu-yu bukan orang bodoh, tentu saja dia tahu tujuan lawan. Irama iblisnya semakin diperhebat.

Para jago merasa jantung mereka berdebar makin keras, terasa ada beribu-ribu setan iblis seakan sedang mencengkeram hulu hati, membuat bulu kuduk berdiri, peluh bercucuran bagai hujan gerimis.

Dua jagoan penuntut balas yang tersisa mulai gontai. Mereka seakan melihat guru mereka, Kok Ci-keng, berdiri di hadapannya dengan tubuh berlumuran darah, wajahnya menyeramkan. Bahkan sambil berjalan di tengah lorong, gurunya berseru agar mereka membalaskan dendam sakit hatinya dengan membunuh si Pengejar Nyawa!

Hancur sudah pertahanan batin kedua jagoan itu. Mereka segera menganggap si Pengejar Nyawa benar-benar adalah musuh besarnya. Sambil mempersiapkan senjata peluru geledek dan gurdi panjangnya, mereka menyerang si Pengejar Nyawa habis-habisan.

Irama iblis pembetot sukma Yan Bu-yu merupakan sejenis ilmu yang boros tenaga dalam. Bila serangan yang berkepanjangan tidak segera disudahi, maka dia akan menderita luka parah.

Ketika irama iblisnya dua kali terbendung hingga jebol, keadaan Yan Bu-yu sudah makin parah. Dalam keadaan begini dia hanya berharap bisa segera melenyapkan musuh secepat mungkin.

Waktu itu sebenarnya si Pengejar Nyawa sudah bersiap melancarkan serangan ke arah Yan Bu-yu. Tapi dengan datangnya serangan dua jagoan penuntut balas, konsentrasi si Pengejar Nyawa jadi terbelah.

Di satu pihak si Pengejar Nyawa harus mengerahkan hawa murni untuk melindungi diri dari pengaruh irama iblis, di pihak lain harus membendung serangan menggila dua jagoan penuntut balas. Padahal dia pun merasa tak tega untuk membunuh kedua orang rekannya. Tak heran kalau dia segera keteter hebat, terjerumus di bawah angin dan posisinya sangat berbahaya.

Ji Bun-lui dan Coa Giok-tan berdua, meski punya keinginan untuk memberi bantuan, namun mereka sendiri pun tak mampu berkutik karena dengan susah payah mereka harus melawan pengaruh irama iblis.

Begitu pula keadaan In Seng-hong dan Jay In-hui, dua bersaudara Sim maupun empat padri dari Siau-lim-si.

Di saat yang amat kritis itulah, mendadak terdengar seorang tertawa keras, suaranya tinggi melengking, tertawanya seperti orang gila tapi segera menjebol pengaruh irama iblis! Menyusul tampak seorang berbaju putih compang-camping menerjang masuk ke dalam ruangan. Begitu bertemu Yan Bu-yu, ia segera membentak nyaring, "Kembalikan nyawa Suhengku!"

Begitu berada di sisi Selir Berdarah, sebuah pukulan langsung dilancarkan.

Ternyata orang ini tak lain adalah Yu-bun Siu!

Tiga tahun berselang, ketika Yu-bun Siu bersama Ang Su Sianseng dan Kok Ci-keng memasuki Perkampungan Hantu, dia sudah terbetot sukmanya oleh irama iblis itu hingga kehilangan kesadaran otaknya.

Meskipun kemudian ia berhasil lolos dari Perkampungan Hantu, namun perasaan takut selalu mencekam hatinya. Dia tak pernah berani memasuki perkampungan itu lagi. Maka, dia pun luntang-lantung di dalam dunia persilatan sambil bicara melantur.

Tadi dia telah bertemu dengan rombongan si Pengejar Nyawa, bahkan sempat beradu pukulan dengan dua bersaudara Sim. Kemudian dia pun melihat jenazah si Tamu Berjubah Hitam Pa Thian-sik yang tewas secara mengenaskan.

Padahal Pa thian-sik adalah saudara seperguruan Yu-bun Siu. Hubungan batin mereka selama ini sangat akrab melebihi hubungan persaudaraan. Terbukti kedatangan Pa Thian-sik ke Perkampungan Hantu pun khusus untuk melacak siapa yang telah membuat saudaranya itu jadi gila.

Sayang sebelum niatnya membalas dendam tercapai, dia sudah tewas di tangan Sim-cap-sa-nio.

Tatkala Yu-bun Siu menemukan jenazah Pa Thian-sik tadi, tiba-tiba kenangan lamanya pelan-pelan muncul kembali. Dia pun menganggap kakak seperguruannya tewas di tangan Yan Bu-yu.

Karena itu dia menerobos masuk lagi ke Perkampungan Hantu dan kebetulan bertemu dengan Yan Bu-yu.

Dalam keadaan masih dipengaruhi irama iblis, dalam benak Yu-bun Siu hanya tahu dia harus membunuh Yan Bu-yu untuk membalaskan sakit hati kakak seperguruannya. Dengan sendirinya dia jadi tidak terpengaruh sama sekali oleh irama iblis yang masih disenandungkan waktu itu.

Begitu irama iblis jebol, Ji Bun-lui dan Coa Giok-tan segera melejit ke udara dan mundur ke belakang sambil bersiap, sementara dua jagoan penuntut balas merasa badan jadi lemas tak bertenaga. Otomatis serangan mereka pun langsung terhenti.

Sebaliknya empat padri Siau-lim-pay segera mengatur pernapasan untuk memulihkan kembali kekuatan, sedang dua bersaudara Sim seakan baru mendusin dari mimpi buruk. Diam-diam mereka menyeka keringat dingin.

Ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Yu-bun Siu memang sangat hebat. Oleh karena waktu itu Yan Bu-yu sedang berkonsentrasi mengerahkan irama iblisnya, ia jadi kaget ketika melihat pihak musuh tahu-tahu sudah muncul di depan mata. Untuk berkelit jelas sudah terlambat!

Ketika melihat Yu-bun Siu sedang berusaha menghantam jalan darah Thian-leng-kay di ubun-ubunnya, Yan Bu-yu tak sempat lagi mengurusi irama iblisnya. Dia segera melejit ke samping sambil menggigit tengkuk musuhnya kuat-kuat.

"Kraaak, kraaak…" suara gemerutuk keras bergema dari tengkuk Yu-bun Siu. Setelah meronta berapa kali, karena saluran pernapasannya putus, matilah jagoan itu dengan mata mendelik.

Pengejar Nyawa segera melihat peluang baik untuk lolos dari pengaruh irama iblis. Serangan Yu-bun Siu telah membuat iblis wanita itu pecah konsentrasinya. Buru-buru dia berseru, "Cepat kita serang Yan Bu-yu! Jangan beri kesempatan kepadanya untuk menggunakan irama iblisnya lagi!"

Sementara pembicaraan masih berlangsung, dia telah melepaskan tiga puluh enam buah tendangan berantai. Hampir semua jurus serangannya ganas dan hebat! Hal ini memaksa Yan Bu-yu harus mundur tiga puluh enam langkah secara beruntun.

Belum lagi dia sempat mengeluarkan irama iblisnya, seutas tali serat berwarna emas telah menusuk Jin-tiong-hiat di bawah hidungnya. Lekas perempuan iblis itu menundukkan kepala menghindar.

Coa Giok-tan tidak tinggal diam. Ia ikut menerjang ke muka sambil melancarkan serangan maut.

Karena harus menghadapi serangan dari dua arah, Yan Bu-yu tak punya kesempatan lagi mengeluarkan ilmu irama iblis pembetot sukmanya.

Padahal ilmu yang paling diandalkan Yan Bu-yu adalah ilmu barisan ditambah ilmu pembetot sukma dan irama iblis, sementara ilmu pengisap darah hanya berguna untuk pertarungan jarak dekat.

Dengan posisi pertarungan jarak jauh seperti saat ini, Yan Bu-yu mulai keteter hebat. Dia hanya bisa bertahan sekuat tenaga.

Beberapa gebrakan kemudian, mendadak perempuan iblis itu berusaha menggigit tengkuk Coa Giok-tan. Menghadapi ancaman ini, buru-buru jagoan she Coa ini melompat mundur. Saat itulah Yan Bu-yu berpekik nyaring, suaranya amat keras hingga bergema sampai dimana-mana.

Bersamaan dengan bergemanya suara pekikan itu, tiba-tiba dari dua sisi lorong bermunculan sepuluh orang jago. Ternyata mereka adalah enam orang gagah dari Siang-pak serta empat manusia berbaju emas. Saat itu rambut mereka awut-awutan, sinar mata mereka memancarkan kebuasan. Dengan senjata terhunus mereka menyerang si Pengejar Nyawa dengan membabi buta.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: