Kumpulan Cerita Silat

21/09/2009

Pendekar Baja (22)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 10:02 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

Dalam keadaan begini, satu-satunya orang yang dapat memerintahkan Sing Hian melepaskan si Kucing memang cuma Cu Jit-jit saja.

Sing Hian lantas lepas tangan, meski sudah memukul sekian kali, rasa gusarnya belum lagi reda, dengan suara bengis ia berkata, “Kucing busuk, jangan kau harap akan kusudahi urusan ini…” lalu ia berpaling kepada Cu Jit-jit dari bertanya, “Cara bagaimana akan menyelesaikan keparat ini?”

“Lepaskan dia saja,” ujar Cu Jit-jit dengan menghela napas.

Sing Hian jadi melengak, “Ap…apa? Lepaskan dia?”

Semua orang juga merasa agak di luar dugaan, segera ada orang membentak, “Tidak, tidak boleh bebaskan dia!”

“Sekali kubilang lepaskan dia, maka harus lepaskan dia,” kata Jit-jit.

“Sebab apa?” tanya Sing Hian.

“Sebab…sebab…” Jit-jit berpaling, terlihat sorot mata Sim Long yang tajam dan wajah Him Miau-ji yang murung serta sikap gusar orang banyak ingin bertindak terhadap si Kucing.

Mendadak ia mengentak kaki dan berteriak, “Ini, boleh kalian lihat ini!”

Lalu ia menanggalkan topi, membuka ikat rambut, mencopot baju luar, semua itu dibuang ke lantai. Di tengah rasa tercengang orang banyak, tertampaklah rambut Jit-jit yang panjang terurai dengan pakaiannya yang singsat sehingga terlihat garis tubuhnya yang bernas.

Meski mukanya belum lagi berubah, tapi sekarang kecuali orang buta, siapa pun pasti dapat melihat dia adalah seorang perempuan.

Kembali terjadi kegemparan, ada orang berteriak, “Hah, perempuan! Kiranya lelaki ini juga samaran seorang perempuan!”

Lebih-lebih Sing Hian, ia jadi melongo dan terbelalak, ucapnya dengan gelagapan, “He, ken…kenapa engkau seorang perempuan?”

“Mengapa aku bukan perempuan?” jawab Jit-jit.

Sing Hian memandang “Ong Ling-hoa betina” itu, “Habis dia…”

“Aku perempuan, dengan sendirinya dia lelaki,” tukas Jit-jit.

Semua orang tertawa, ada yang berteriak, “Haha, engkau perempuan kan tidak lantas membuktikan dia harus lelaki?”

“Aku justru bilang dia lelaki,” teriak Jit-jit.

“Jelas-jelas dia perempuan, apa gunanya biarpun seratus kali kau bilang dia lelaki?” kata orang banyak.

Jit-jit menggigit bibir, cemas dan gugup. “Jelas dia…dia…”

“Jika dia jelas ialah Ong Ling-hoa, mengapa bisa berubah menjadi perempuan?” mendadak Sim Long ikut bicara dengan menyesal. “Bila dia telah ditukar orang, kan seharusnya diketahui olehmu. Masakah engkau sama sekali tidak tahu?”

“Aku…aku justru tidak tahu…” Jit-jit mengentak kaki pula. Mendadak ia cengkeram perempuan “Ong Ling-hoa” itu dan membentak, “Katakan, mengapa kau bisa berubah menjadi perempuan?”

“Aku memang orang perempuan,” jawab perempuan itu.

“Apakah ada orang menukar dia dengan dirimu?” tanya Jit-jit pula.

“Engkau selalu mendampingi diriku, mana bisa aku ditukar orang?”

“Masih belum mau mengaku terus terang?” bentak Jit-jit sambil memuntir tangan perempuan itu. “Ayo mengaku, cara bagaimana Ong Ling-hoa ditukar dengan dirimu? Tidak lekas mengaku segera kupatahkan tanganmu.”

Perempuan itu menjerit kesakitan seperti babi hendak disembelih.

Sembilan di antara sepuluh orang perempuan pasti takut sakit. Saking tak tahan, akhirnya perempuan itu berkata dengan menangis, “Baik…baik, akan kukatakan…Semalam…”

Belum lanjut ucapannya, terdengar suara desing angin dari kerumunan orang banyak, tahu-tahu lima buah jarum berbisa bersarang di pinggang perempuan itu.

Dia cuma sempat menjerit, lalu mata mendelik dan binasa. Sungguh keji sekali senjata rahasia ini.

Kejut dan gusar Jit-jit, bentaknya, “Siapa itu? Siapa yang turun tangan sekeji ini?”

Him Miau-ji juga sudah bergerak, segera ia menerjang ke sana.

Tapi untuk mencari si pembunuh yang tidak kelihatan di tengah orang banyak tentu saja sangat sulit, pada hakikatnya tidak ada yang tahu dari arah mana jarum itu dihamburkan.

Seketika suasana menjadi kacau.

Jit-jit berjingkrak gusar, hanya Ko Siau-diong saja yang tetap tertawa, sedikit pun tidak menghiraukan apa yang terjadi, sebaliknya ia malah berucap dengan tertawa, “Nona juga tidak perlu cemas, toh akhirnya urusan ini pasti akan menjadi terang, umpama sekarang Nona mati kelabakan juga tidak ada gunanya.”

“Ucapan saudara ini memang betul…”

Belum lanjut perkataan Sim Long, Jit-jit lantas berteriak, “Kentut busuk, biarpun aku mati kelabakan juga tidak ada sangkut pautnya dengan kalian.”

“Tapi ada sangkut pautnya denganku,” tiba-tiba seorang menukas dengan tertawa.

Waktu Jit-jit menoleh ke sana, dilihatnya yang bicara itu ialah si pemilik restoran. Semula ia melengak, tapi segera menubruk ke dalam pelukan orang sambil berteriak dan menangis, “O, Cihu (kakak ipar, suami kakak), mereka sama menghina diriku…”

Kiranya pemilik restoran ini ialah Samcihu (kakak ipar ketiga) Cu Jit-jit, tokoh dunia persilatan daerah Tionggoan yang kaya raya dan terkenal sebagai Liok-sian-to-cu (Si Mahahartawan di Daratan) Hoan Hun-yang.

Perusahaannya tersebar di segenap pelosok daerah utara dan selatan sungai besar, kepada Hoan Hun-yang, Cu Jit-jit telah menitipkan harta warisan ayahnya dan dapat diambil depositonya itu dengan tanda pengenal anting-anting yang telah diceritakan di depan itu.

Begitulah Jit-jit menangis manja di dalam rangkulan sang cihu, inilah sanak keluarga terdekat yang pernah dijumpainya selama sekian bulan ini, sungguh dia ingin menumpahkan segenap unek-uneknya kepada kakak iparnya itu.

“Ya, ya, kutahu, mereka menghinamu, akan kubela dirimu,” kata Hoan Hun-yang suara lembut.

“Sim Long, dia…dia…” Jit-jit tidak sanggup melanjutkan.

“Ya, Sim Long adalah telur mahabusuk, jangan kita hiraukan dia,” tukas Hoan Hun-yang sembari diam-diam mengedipi Sim Long, lalu menuding Jit-jit dan menuding diri sendiri pula, maksudnya hendak menyatakan agar nona ini boleh diserahkan saja padaku.

Dengan tersenyum Sim Long mengangguk, ucapnya, “Urusan di sini akan kuselesaikan.”

Hoan Hun-yang lantas merangkul pundak Jit-jit dan diajak pergi, katanya, “Orang-orang ini memang suka menghina orang, buat apa kita tinggal lagi di sini, ayolah kita pergi saja.”

Begitulah seperti membujuk anak kecil, dapatlah Hoan Hun-yang membawa pergi Cu Jit-jit.

Di tengah kekacauan orang lain tidak ada yang memerhatikan mereka. Tapi ada seorang anggota Kay-pang lantas menyusulnya dan bertanya, “Pang kami menyediakan kereta di sini, apakah Hoan-tayhiap perlu pakai?”

“Ah, kau kenal padaku…Baiklah, terpaksa bikin repot padamu,” jawab Hoan Hun-yang dengan tertawa.

Anggota Kay-pang itu lantas bersuit, hanya sebentar saja dua anggota Kay-pang yang lain telah datang dengan membawa sebuah kereta dan seekor kuda.

Dengan tertawa Hoan Hun-yang lantas berkata, “Jit-jit, boleh kau naik kereta, aku sendiri menunggang kuda saja agar sepanjang jalan dapat menjaga dirimu dengan lebih jelas.”

Padahal maksudnya cuma untuk menghindari menumpang bersama dalam satu kereta saja. Maklumlah, antara suami kakak dan ipar perempuan cantik memang perlu menghindari prasangka.

—–

Dengan sendirinya si Kucing tidak dapat menemukan si pembunuh tadi. Dengan lesu dia kembali ke barak bambu sambil mencaci maki, “Keparat, pengecut yang cuma berani berbuat dengan main sembunyi, bila kepergok olehku baru…hmk…”

“Jangan khawatir, pada suatu hari pasti akan kepergok olehmu,” kata Sim Long dengan tertawa.

“Tapi sama sekali aku tidak tahu siapa dia?” ujar si Kucing.

“Masa tidak tahu?”

“Eh, jangan-jangan engkau sudah tahu?”

“Kecuali antek Ong Ling-hoa yang sengaja membunuh orang untuk menutup mulutnya, siapa lagi?”

“Hah, masakah di tengah orang banyak ini juga terdapat antek Ong Ling-hoa?”

“Kan sudah kukatakan jangan meremehkan Ong Ling-hoa, bukan mustahil di mana-mana sekarang sudah diselusupi oleh begundalnya,” ujar Sim Long dengan gegetun.

Si Kucing bicara dengan geregetan, “Pada suatu hari pasti akan kubekuk kawanan tikus itu satu per satu, dan orang pertama yang akan kusikat sekarang ialah Kim Put-hoan.”

Segera ia seret Kim Put-hoan ke depan, katanya dengan kagum, “Dalam sekejap tadi ternyata Sim-heng telah menutuk lima tempat hiat-tonya.”

“Keparat ini sangat licik dan licin, bukan mustahil dia akan kabur lagi bila kita tidak bertindak lebih hati-hati,” ujar Sim Long.

“Entah cara bagaimana kalian akan membereskan keparat ini?” mendadak Ci Kong-tay ikut bicara.

“Jahanam ini sungguh mahabusuk,” kata Miau-ji, “bukan cuma kami saja yang benci padanya, juga tokoh seperti Kiau-tayhiap…He, ke mana perginya Kiau Ngo dan Hoa Si-koh?”

“Karena gegabah sehingga mengalami kekalahan, dengan perangainya yang keras itu tentu saja dia malu untuk tinggal di sini, maka pada waktu kacau tadi diam-diam ia sudah pergi,” tutur Sim Long.

Tiba-tiba Ci Kong-tay berkata pula, “Sim-tayhiap, Co-tianglo kami menjadi korban kejahatan orang she Kim ini, segenap anggota Kay-pang kami sama berharap akan menuntut balas, apakah sekiranya Sim-tayhiap tidak keberatan menyerahkan keparat ini kepada kami untuk diadili menurut peraturan pang kami?”

“Ya, seharusnya demikian, cuma…”

“Apakah ada keberatan Sim-tayhiap?”

“Keberatan sih tidak ada, aku cuma ingin tanya dia dulu beberapa hal.”

“Jika begitu, supaya Sim-tayhiap dapat bertindak leluasa, biarkan kami menyingkir lebih dulu,” ujar Ci Kong-tay.

“Tidak perlu…” kata Sim Long, mendadak ia menepuk hiat-to Kim Put-hoan dan segera bertanya, “Telah kau bawa ke mana nona she Pek itu?”

Dengan suara keras Kim Put-hoan menjawab, “Sim Long, ketahuilah, meski Kim Put-hoan ini bukan manusia baik-baik, tapi juga bukan lelaki mata keranjang sehingga mengincar seorang anak dara…”

“Jika begitu, kenapa kau…”

“Yang minta menculik Nona Pek ialah Ong Ling-hoa, ke mana Ong Ling-hoa membawa nona itu aku pun tidak tahu. Yang jelas keparat Ong Ling-hoa itu pasti tidak bermaksud baik terhadapnya.”

“Hm, jika Ong Ling-hoa berada di sini, berani engkau memaki dia?” jengek si Kucing.

“Kenapa aku tidak berani, aku justru ingin menyembelih dia, cuma sayang dia keburu ditolong oleh Cu Jit-jit.”

“Apa katamu? Jit-jit menolong dia?” si Kucing menegas.

“Wahai Sim Long, kalau dibicarakan seharusnya engkau berterima kasih padaku,” lalu Kim Put-hoan bercerita cara bagaimana Ong Ling-hoa terluka dan dia bermaksud membunuhnya, tapi kebetulan Cu Jit-jit muncul.

Dengan sendirinya sama sekali dia tidak menceritakan keserakahannya, tapi melukiskan dirinya sendiri sebagai orang yang berbudi dan tentu juga Cu Jit-jit dicaci makinya habis-habisan.

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian, “Jika demikian, jadi benar Ong Ling-hoa telah jatuh dalam cengkeraman Cu Jit-jit…Tapi mengapa mendadak dia berubah lagi menjadi seorang perempuan, sungguh aku tidak mengerti.”

“Ya, Cu Jit-jit selalu menjaganya tanpa meninggalkan dia barang sejengkal pun, sampai tidur pun mereka berdiam di dalam satu kamar,” tutur si Kucing. Tapi mendadak ia berteriak, “Ah, betul!”

“Ada apa?” tanya Sim Long.

“Semalam Cu Jit-jit mengantarku ke jalan raya, hanya Ong Ling-hoa saja yang ditinggalkan di sini,” tutur Miau-ji. “Tapi waktu itu juga kulihat sendiri Jit-jit menutuk beberapa tempat hiat-to kelumpuhannya, kecuali ada orang lain yang menolong dia…”

“Padahal tidak ada orang lain yang tahu Ong Ling-hoa berada dalam cengkeraman Jit-jit,” ujar Sim Long.

“Kecuali Kim Put-hoan,” kata Miau-ji.

Cepat Kim Put-hoan menyanggah, “Kalau bisa saat ini juga ingin kubeset kulit keparat she Ong itu, mana bisa kubantu dia.”

“Siapa yang mau percaya kepada ocehanmu, harus kutanya Cu Jit-jit…Ah, kiranya Nona Cu juga sudah pergi. Eh, Sim Long, mengapa kau biarkan dia pergi?”

“Telah kuserahkan kepada cihunya,” sahut Sim Long.

“Jika terjadi apa-apa lagi, lantas bagaimana?” ujar Miau-ji.

“Pribadi Hoan Hun-yang masakah kau ragukan?” kata Sim Long dengan tersenyum. “Tindak tanduk orang ini paling cermat dan hati-hati, boleh dikatakan setitik air saja takkan bocor.”

“Haha, betul,” seru Miau-ji dengan tertawa. “Hari itu meski aku sangat mendongkol padanya, tapi sebelum meraba jelas mengenai diriku, dia tidak mau bergebrak denganku. Orang macam begini pantas bisa kaya raya dan menjadi pengusaha besar.”

“Dan bila Cu Jit-jit kuserahkan padanya dengan sendirinya tidak perlu khawatir lagi,” kata Sim Long. .

“Orang semacam dia cara berjalannya pasti juga tidak cepat, jika kita susul dia mungkin masih keburu,” kata Miau-ji.

Belum lagi Sim Long menanggapi, mendadak di tengah orang banyak ada seorang memberi tahu, “Mereka sudah berangkat dengan menumpang kereta, sukar disusul lagi.”

Miau-ji tertawa, “Hoan Hun-yang itu memang selalu menjaga gengsi sebagai orang kaya, biarpun datang bersama kita, kereta selalu tersedia menunggunya.”

Sim Long menggeleng, “Tidak, bukan keretanya, dia bersamaku langsung menuju ke sini…Mungkin pihak Kay-pang yang menyiapkan kereta baginya.”

Mendadak Ci Kong-tay menyela, “Menurut peraturan pang kami turun-temurun, selamanya kami tidak menyediakan kereta atau kuda bagi siapa pun.”

Sim Long termenung sejenak, mendadak serunya, “Wah, celaka!”

Jarang Miau-ji melihat perubahan sikap Sim Long seperti ini, ia pun terkejut dan cepat bertanya, “Ada apa?”

“Di balik kejadian ini tentu ada sesuatu yang tidak beres,” kata Sim Long. “Bisa jadi Ong Ling-hoa lagi…”

“Kembali Ong Ling-hoa?” Miau-ji mengentak kaki.

“Apa pun juga harus lekas kita susul mereka,” seru Sim Long.

Segera Miau-ji mendorong Kim Put-hoan ke depan Ci Kong-tay katanya, “Kuserahkan keparat ini kepadamu, harus kau jaga dengan hati-hati agar jangan sampai kabur…”

Belum habis ucapannya segera ia berlari pergi bersama Sim Long.

—–

Saat itu Cu Jit-jit duduk di dalam kereta dengan pikiran kusut, ia tidak habis mengerti mengapa Ong Ling-hoa bisa berubah menjadi seorang perempuan, diam-diam ia pun gemas kepada Sim Long…

Dengan menunggang kuda Hoan Hun-yang mengiring di samping kereta, tubuhnya yang tegak dan gayanya yang menarik menambah kegagahannya.

“Samci sungguh besar rezekinya,” demikian Jit-jit membatin, “sebaliknya aku ini memang gadis yang bernasib buruk, juga nona yang linglung. Jelas Ong Ling-hoa sudah kubekuk, akhirnya dia kabur lagi.”

Didengarnya Hoan Hun-yang lagi berkata dengan tertawa, “Sekali ini harus kau jenguk samcimu. Waktu dia dengar kau tinggalkan rumah, sedikitnya tiga hari dia tidak makan memikirkan dirimu.”

“Dia kan sudah tambah gemuk, kalau cuma puasa tiga hari saja kan tidak menjadi soal, sebaliknya bisa bikin badannya agak langsing,” ucap Jit-jit dengan tertawa.

“Betul juga, tapi jangan sampai ucapanmu ini didengar olehnya,” kata Hoan Hun-yang dengan tertawa. “Saat ini dia paling pantang mendengar kata ‘gemuk’, bila ada orang bilang dia gemuk, mungkin orang itu bisa dilabraknya.”

Tiba-tiba ia menghela napas dan berkata pula, “Ai, sayang Pat-te (adik kedelapan)…”

“Kau pun tahu Pat-te?” tanya Jit-jit.

“Sim Long yang memberitahukan padaku,” tutur Hoan Hun-yang. “Ai, anak sepintar itu justru…Ai, semoga dia tidak mengalami nasib buruk dan masih hidup sehat walafiat.”

Menyinggung adiknya si anak merah, seketika Jit-jit merasa sedih, air mata lantas bercucuran…Anak yang menyenangkan itu sesungguhnya berada di mana?

“Apakah ayah sudah mengetahui urusan ini??” tanyanya dengan sedih.

“Masakah ada yang mau memberitahukan kepada beliau dan membuatnya berduka?” ujar Hoan Hun-yang.

“Ya, betul, memang jangan sampai beliau mengetahuinya,” kata Jit-jit dengan menunduk. “Pada suatu hari, aku bersumpah pada suatu hari tentu akan kutemukan Lopat (si kedelapan) kembali.”

Hoan Hun-yang termenung sejenak, mendadak ia tertawa, “Aha, ingin kuberi tahukan kabar baik padamu, akhir-akhir ini nama Goko (kakak kelima) jadi semakin menanjak, belum lama berselang ia berjudi dengan orang di Tay-tong-hu, sekali menang berjumlah 50 laksa tahil perak, semua orang di Tay-tong-hu menjadi geger, katanya kekayaan Tay-tong-hu telah digondol seluruhnya oleh Cu-gokongcu. Lucunya Li-lotoa yang konyol dari Thay-hing-san itu justru berani mengincar Goko di tengah jalan, tapi hasilnya dia berbalik dihajar habis-habisan, bahkan kedua daun telinganya dipotong oleh Goko, malahan dua ribu tahil emas simpanan Li-lotoa di Thay-hing-san ikut dirampas oleh Goko. Dan beberapa hari yang lalu ketika samcimu berulang tahun, dia telah memberi kado sepasang patung kim-siu-sing (patung orang tua tanda panjang umur), tentu saja Samci kegirangan. Waktu kedua patung emas itu ditimbang, ternyata persis dua ribu tahil.”

“Ah, aku sendiri sampai melupakan hari ulang tahun Samci,” kata Jit-jit dengan menyesal.

Dengan bersemangat Hoan Hun-yang bercerita pula, “Lalu toakomu…”

Mendadak Jit-jit mendekap kuping dan berseru, “Sudahlah, jangan kau bicara tentang dia lagi, dia selalu mujur, kalian semua bernasib baik, hanya aku…hanya aku saja yang selalu sial.”

“Kau salah,” kata Hoan Hun-yang dengan tertawa, “nama Cu-jitsiocia kita akhir-akhir ini cukup terkenal di dunia Kangouw. Sebelum kulihat dirimu sudah banyak kudengar mengenai dirimu.”

“Makanya lantas kau cari Sim Long untuk minta keterangan, begitu?”

“Aku cuma…”

“Hm, urusanku tidak ada sangkut pautnya dengan dia, selanjutnya jangan kau tanya dia mengenai diriku. Dia…dia…pada hakikatnya aku tidak kenal dia.”

Hoan Hun-yang mengangkat pundak, “Baik, jika begitu…”

Belum lanjut perkataannya, sekonyong-konyong kuda tunggangannya berjingkrak seperti kesetanan.

Keruan Hoan Hun-yang kaget, cepat ia pererat impitan kedua kakinya. Tapi kuda itu lantas membedal seperti kesurupan setan sambil berjingkrak dan meringkik, biarpun kepandaian menunggang kuda Hoan Hun-yang sangat tinggi juga sukar mengatasinya.

Jit-jit juga terkejut, serunya, “He, Cihu…Cihu…”

Siapa tahu, baru saja dia berteriak, mendadak kereta ini juga dilarikan secepat terbang ke depan.

Kejut dan gusar Jit-jit, bentaknya, “Hei, kusir…kau…”

Kusir yang berdandan pengemis itu melongok dari lubang jendela kecil di depan, tanyanya dengan tertawa, “Ada apa, Nona?”

“Apakah kau buta? Tunggu dulu, cihuku…”

Mendadak kusir itu berkata, “Cihumu salah makan obat, kuda ini pun sama, orang gila dan kuda gila berada bersama, untuk apa menunggu dia?”

Keruan Jit-jit terkejut, “Apa katamu?”

Si kusir tertawa, “Haha, masa tidak kau kenal diriku lagi?”

“Sia…siapa kau?” tanya Jit-jit.

“Silakan kau lihat sendiri siapa aku,” seru si kusir dengan tertawa. Begitu dia mengusap wajahnya, sehelai kedok tipis tertanggal, siapa lagi dia kalau bukan Ong Ling-hoa. Kembali Ong Ling-hoa.

Jit-jit kaget dan takut, teriaknya, “Hah, setan alas, kembali kau setan iblis ini!”

“Apakah kau kaget, nona Cu?” tanya Ong Ling-hoa dengan cengar-cengir.

Waktu Jit-jit melongok ke luar, bayangan Hoan Hun-yang dan kudanya sudah tak tertampak lagi. Ia ingin membuka pintu kereta, tapi meski ditarik-tarik tetap tak mau terbuka.

Ong Ling-hoa terbahak-bahak, “Haha, Nona Cu, hendaknya tenang sedikit, kereta ini dibuat secara khusus, tidak nanti dapat kau lari.”

“Setan jahat, biar kuadu jiwa denganmu!” teriak Jit-jit nekat, segera ia menghantam jendela kecil itu.

Tapi Ong Ling-hoa lantas menarik kepalanya sehingga pukulan Jit-jit mengenai tempat kosong.

Dan karena tangannya terjulur keluar jendela, segera Ong Ling-hoa mencengkeram pergelangan tangannya.

Segera kedua kaki Jit-jit mendepak, namun kereta ini memang buatan khusus, dinding kereta berlapis baja sehingga kaki Jit-jit kesakitan sendiri.

Di luar Ong Ling-hoa lantas cengar-cengir dan berkata, “Nona manis, jangan bergerak, lukaku belum lagi sembuh, jangan menarik terlalu keras.”

“Kenapa kau tidak mati saja, paling baik kalau mati!” teriak Jit-jit.

“Eh, masakah tidak kau dengar pemeo yang mengatakan orang baik panjang umur, manusia jahat hidup seribu tahun. Orang busuk seperti diriku mana bisa mati begitu saja?”

Sekuatnya Jit-jit meronta, namun urat nadi pergelangan tangan terpencet, lambat laun tubuh menjadi lemas.

Dirasakan Ong Ling-hoa terus menciumi tangannya malah sembari berkata dengan tertawa, “Ehmm, alangkah putih tanganmu sungguh halus dan harum…”

Tidak kepalang gusar Jit-jit, “Bangsat…kau…” mendadak kepalanya ditumbukkan ke dinding kereta, seketika ia jatuh pingsan…

Sementara itu Sim Long dan Him Miau-ji sedang mengejar secepat terbang.

Mendadak mereka mendengar suara ringkik kuda yang seram di dalam hutan gelap sana.

Kedua orang saling pandang sekejap, serentak mereka membelok ke sana. Sesudah dekat, tertampak Hoan Hun-yang berdiri di sana dengan napas terengah, di sampingnya rebah seekor kuda mati.

“Apakah yang terjadi, Hoan-heng?” tanya Sim Long cepat.

“Wah, celaka!” sahut Hun-yang.

“Celaka bagaimana, lekas ceritakan,” seru Miau-ji tak sabar.

“Apakah kalian melihat Jit-jit?” tanya Hoan Hun-yang malah.

“Aneh, bukankah dia bersamamu?” seru Miau-ji khawatir.

Hoan Hun-yang tidak bicara lagi, segera ia berlari ke arah tadi.

Miau-ji saling pandang sekejap dengan Sim Long, mereka tahu telah terjadi sesuatu yang tidak enak lagi. Cepat mereka menyusul ke sana, Miau-ji terus bertanya, “Sesungguhnya apa yang terjadi, di mana Nona Jit-jit?”

Hun-yang tetap tidak bicara melainkan berlari terlebih cepat. Terpaksa Sim Long berdua mengintil dengan sama cepatnya.

Ketiga orang sama berwajah kelam, lari mereka sama cepatnya, namun di tengah malam dengan cahaya remang bintang di langit, sepanjang jalan tidak ditemukan sesosok bayangan pun.

Tiba di suatu tempat, sekonyong-konyong terlihat sebuah kereta terbalik di tepi jalan tanpa kuda penarik kereta.

Cepat Hun-yang memburu ke sana dan membuka pintu kereta. Dengan sendirinya tiada sesuatu yang ditemukannya.

“Apakah kereta ini yang ditumpangi Nona Cu?” tanya Miau-ji.

Hun-yang hanya mengentak kaki dan menghela napas, “Ai, aku berdosa kepada ayahnya dan kepada samcinya, juga…juga bersalah kepada kalian.”

“Kiranya benar terjadi sesuatu?” Miau-ji menjadi kelabakan.

“He, lihat apa ini?” seru Sim Long mendadak.

Ternyata di jok belakang kereta secarik kertas ditindih dengan batu. Si Kucing menjemput kertas itu dan dibaca bersama, itulah tulisan Ong Ling-hoa yang mengolok-olok Sim Long dan menyatakan si nona cantik telah digondol olehnya.

“Kurang ajar! Kembali Ong Ling-hoa!” teriak Miau-ji dengan gemas.

Hoan Hun-yang juga geregetan, ucapnya, “Bangsat, sungguh hebat, sampai aku pun tertipu.”

“Ayo kita kejar!” ajak Miau-ji.

Tapi Sim Long lantas berkata, “Dia membuang kereta dan pergi dengan naik kuda, tujuannya supaya jejaknya sukar ditemukan. Padahal orang ini banyak tipu akalnya, sarangnya terdapat di mana-mana, ke mana kita dapat menemukan dia?”

“Jika begitu, apakah kita harus tinggal diam saja?” kata Miau-ji dengan mendongkol.

“Coba tunggu sebentar, biar kupikirkan, mungkin ada jalan yang baik,” kata Sim Long, dirabanya dinding kereta itu, sampai lama belum lagi bicara…

—–

Waktu Jit-jit siuman kembali, dirasakan kepala kedinginan. Ia coba merabanya, kiranya kepalanya dikompres dengan sekantong air dingin. Cepat ia lemparkan kantong itu dan melompat bangun.

Tapi baru saja setengah badan terangkat, terpaksa ia harus rebah kembali.

Kiranya dirasakan dirinya tidur di dalam selimut dengan telanjang bulat, sekujur badan tiada sehelai benang pun. Sebaliknya tertampak Ong Ling-hoa berdiri di samping sana dan sedang memandangnya dengan kedua matanya yang jalang itu.

Terpaksa Jit-jit menyusup lagi ke dalam selimut dan mencaci maki, “Setan alas, anjing buduk…Mana bajuku?”

Ong Ling-hoa terbahak-bahak, “Hahahaha! Ada orang bilang padaku, cara terbaik menghadapi perempuan adalah melepaskan bajunya hingga telanjang bulat. Hahaha, ternyata cara ini memang sangat bagus.”

Dengan muka merah Jit-jit memaki, “Bangsat, pada suatu hari pasti akan…”

“Pasti akan kau beset kulitku begitu bukan?” tukas Ling-hoa dengan tertawa. “Haha, ucapan begini sudah terlalu banyak kudengar darimu. Sungguh aku pun ingin merasakan bagaimana rasanya kulit dibeset olehmu, cuma sayang hari yang kau janjikan itu tidak pernah kunjung tiba.”

“Kau…kau…” saking gemas Jit-jit terus menangis tergerung-gerung sambil membalik tubuh dan mendekap di atas bantal terus memukuli dipan.

Apa daya, kecuali menangis apa yang dapat diperbuatnya lagi?

Dengan cengar-cengir Ong Ling-hoa malah berseloroh, “Eh, jangan terlalu tinggi mengangkat tanganmu, itu dia kelihatan!”

Jit-jit benar-benar tidak berani lagi mengangkat tangannya, khawatir dadanya terbuka, cepat ia tarik selimut terlebih rapat.

“Ai, anak kasihan, untuk apa berbuat begitu?” ujar Ling-hoa.

“Jika kau kasihan padaku hendaknya lekas kau bunuh diriku,” teriak Jit-jit parau.

“Mana aku tega membunuhmu,” kata Ling-hoa, “sedemikian baik kuperlakukan dirimu…”

“O, Tuhan, kau baik padaku?” jerit Jit-jit.

“Masa kurang baik?” ujar Ling-hoa dengan tertawa. “Coba kau ingat kembali, sejak kukenal dirimu sampai sekarang, dalam hal apa aku kurang baik padamu? Engkau selalu ingin memukul, bahkan membunuhku, sebaliknya aku cuma ingin merabamu dengan perlahan…”

Sembari bicara ia terus mendekat ke sana.

Serentak Jit-jit bangun dan membungkus tubuhnya erat-erat dengan selimut serta meringkuk ke pojok tempat tidur, dilihatnya sorot mata Ong Ling-hoa yang jalang itu, ia menjadi ketakutan sehingga lupa menangis lagi.

“Apa…apa yang kau hendaki?” serunya parau.

“Apa yang kuhendaki? Haha, sudah tahu pura-pura tanya,” sahut Ling-hoa dengan cengar-cengir.

“Berhenti!” teriak Jit-jit.

“Satu-satunya jalan bagimu untuk membuatku berhenti hanya jika kau bangun dan merangkul diriku, kecuali jalan ini mungkin tidak ada cara lain yang dapat membuatku berhenti,” kata Ling-hoa dengan tertawa.

—–

Dalam pada itu Sim Long sedang menyelidiki keadaan kereta yang terbalik itu, setelah meraba-raba dinding kereta, mendadak ia berseru, “Aha, ada jalannya.”

“Apa akalmu?” tanya Miau-ji cepat.

“Jika ingin kita temukan jejak Ong Ling-hoa kukira cuma ada satu cara,” kata Sim Long.

“Cara bagaimana?” tanya Miau-ji.

“Yakni tunggu di sini,” jawab Sim Long.

Miau-ji jadi melengak, “Tunggu di sini? Masakah dia akan jatuh dari langit. Memangnya Ong Ling-hoa begitu goblok dan mau antarkan diri sendiri kepada kita?”

Sim Long tersenyum, “Coba kau raba kereta ini.”

Tanpa terasa Miau-ji dan Hun-yang terus meraba-raba dinding kereta.

“Adakah sesuatu keanehan yang dapat kau raba?” tanya Sim Long.

Hun-yang termenung sejenak, katanya kemudian, “Dinding kereta ini terasa sedemikian keras dan berat, agaknya berlapis baja.”

“Betul, kereta ini memang buatan khusus,” kata Sim Long.

“Kalau buatan khusus lantas bagaimana?” tanya Miau-ji.

“Untuk membuat sebuah kereta khusus begini tentu bukan pekerjaan gampang, tidak nanti Ong Ling-hoa membuangnya begini saja.”

“O, maksudmu dia pasti akan balik lagi ke sini untuk membawa pulang kereta ini?” tanya Miau-ji.

“Ya, begitulah,” kata Sim Long.

Miau-ji menggeleng. “Sekalipun kereta ini dibuat dengan emas juga belum pasti Ong Ling-hoa mau menyerempet bahaya demi sebuah kereta saja. Sekali ini kukira dugaanmu bisa meleset.”

“Justru dia tidak merasa balik ke sini akan menyerempet bahaya maka dia pasti akan balik ke sini…”

“Betul,” seru Hun-yang tiba-tiba, “menurut perhitungannya, tentu dia mengira kita terus pergi mencarinya ke tempat lain setelah membaca tulisan yang ditinggalkannya ini, dia pasti tidak menyangka kita akan menunggunya di sini.”

Miau-ji lantas berkeplok juga, “Aha, memang betul! Cuma kukira dia takkan datang lagi sendiri.”

“Tidak perlu dia sendiri, asalkan ada suruhannya yang datang untuk membawa pulang keretanya ini, tentu kita dapat menemukan jejaknya. Cara ini kan jauh lebih baik daripada kita mencarinya secara ngawur?” ujar Sim Long.

—–

Dalam pada itu Ong Ling-hoa sudah berada di depan tempat tidur.

“Keparat, jika…jika kau berani naik ke sini, segera kubunuh diri dengan menggigit lidah sendiri,” ancam Jit-jit dengan gemetar.

“Engkau lebih suka mati daripada…”

“Ya, aku lebih suka mati daripada terjamah oleh jarimu.”

“Masa begitu kau benci padaku?”

“Aku benci padamu, muak padamu.”

“Jika benar kau benci padaku, untuk itu harus kau jadi istriku.”

“Kentut busuk, masakah benci padamu justru harus menjadi istrimu, omong kosong!”

“Hahahaha!” Ling-hoa tertawa. “Rupanya kau belum paham. Bagimu, satu-satunya jalan untuk mengatasi diriku tiada lain hanya menjadi istriku. Setelah kau jadi istriku, selama hidup dapat kau siksa diriku, dapat kau minta kuberi uang sebanyak-banyaknya supaya dapat kau gunakan sesukamu, dapat kau perbudak diriku, salah sedikit saja dapat kau marah padaku, macam-macam jalan untuk melampiaskan bencimu padaku. Coba, betul tidak, kecuali menjadi istriku, memangnya ada cara lain supaya dapat kau siksa diriku?”

Sungguh logika ajaib, sampai Cu Jit-jit juga melenggong, gemas dan dongkol serta serbasalah pula.

“Nah, tampaknya kau setuju bukan? Mari…” segera sebelah kaki Ong Ling-hoa melangkah ke atas dipan.

“Turun!” bentak Jit-jit. “Jangan kau paksa diriku untuk mengadu jiwa denganmu, jangan lupa, lukamu sendiri belum sembuh…”

“Bisa mati di bawah bunga peoni, menjadi setan juga puas…” kata Ling-hoa dengan tertawa.

Jit-jit menyurut lagi ke belakang. Meski diketahuinya luka Ong Ling-hoa belum sembuh, tapi entah mengapa, ia menjadi takut bila melihat anak muda itu dan tidak berani main kekerasan padanya.

Pandangan Ong Ling-hoa yang jalang itu seperti memancarkan semacam daya pikat yang membuat hati setiap anak perempuan merasa takut dan menyerah.

Tangan Ong Ling-hoa sudah mulai meraih selimut.

Pada saat inilah mendadak Cu Jit-jit bergelak tertawa malah.

Dalam keadaan demikian dia bisa tertawa, hal ini membuat Ong Ling-hoa jadi terkejut, tanpa terasa ia berhenti menarik selimut.

Tertawa Cu Jit-jit sangat manis, juga agak misterius.

Tanpa terasa Ong Ling-hoa bertanya, “Apa yang kau tertawakan?”

“Kutertawai dirimu ini sungguh seorang tolol,” kata Jit-jit.

“Aku ini orang tolol?” Ong Ling-hoa menegas. “Haha, selama hidupku entah berapa banyak dimaki orang, segala kata kotor dan keji pernah orang memaki padaku, tapi belum pernah ada orang memaki diriku sebagai orang tolol.”

“Tapi engkau memang benar seorang tolol,” kata Jit-jit pula.

“Di mana ketololanku? Coba jelaskan.”

“Hihi, percuma engkau mengaku sebagai pemuda romantis, nyatanya sama sekali tidak dapat memahami perasaan anak perempuan.”

“Oo?!” Ong Ling-hoa jadi melengak.

“Masa tidak kau ketahui yang paling dibenci anak perempuan adalah diperlakukan kasar oleh orang lelaki. Yang tidak disukainya adalah lelaki yang tidak tahu kehendak anak perempuan. Jika engkau bukan orang tolol, mengapa engkau sengaja bertindak hal-hal yang dibenci oleh anak perempuan seperti ini?”

“Oo…ai…” Ong Ling-hoa merasa serbabingung.

“Jika kau perlakukan diriku dengan halus dan lembut, bukan mustahil sudah…sudah lama aku…” Jit-jit tersenyum dan menunduk malu-malu.

Suaranya lembut, senyumnya manis dengan malu-malu membawa semacam daya pikat yang sukar dilawan.

Nyata, dalam keadaan kepepet dapat juga Jit-jit mengeluarkan senjata orang perempuan yang paling lihai, yaitu merayu.

Ong Ling-hoa termenung sejenak, mendadak ia menampar muka sendiri satu kali sambil berseru, “Ya, betul dan salah!”

“Betul dan salah apa?” tanya Jit-jit dengan tertawa.

“Memang betul perkataanmu, akulah yang salah,” ujar Ling-hoa dengan menyesal.

“Jika begitu hendaknya kau duduk baik-baik di situ dan menemani aku mengobrol,” kata Jit-jit dengan tersenyum manis.

“Baik, mengobrol apa?” tanya Ling-hoa.

Jit-jit mengerling genit, “Begini, cara bagaimana dapat kau lolos dari cengkeramanku, coba ceritakan, sampai saat ini aku tidak habis mengerti hal ini.”

“Jika tidak kuceritakan, selamanya jangan harap kau mengerti,” ujar Ling-hoa dengan tertawa.

“Makanya kutanya. Eh, apakah anak buahmu yang membantu membebaskan dirimu?”

“Aku kan tertutuk sehingga tak bisa berkutik, juga dalam keadaan terluka, jika tidak dibantu orang cara bagaimana dapat kukabur?”

“Tapi wajahmu sudah terias, aku pun tersamar, cara bagaimana mereka mengenali dirimu. Kan tidak ada seorang pun yang tahu bahwa engkau tertangkap olehku?”

Ong Ling-hoa tertawa, “Kau tahu, meski wajahku tersamar, tapi selalu kuberi setitik tanda khusus pada wajahku. Dengan sendirinya hal ini sudah kuberi tahukan kepada anak buahku, kalau tidak, dari mana mereka dapat mengenali aku inilah bos mereka dalam keadaan menyamar?”

Diam-diam Jit-jit geregetan, tapi di mulut ia berucap dengan tertawa, “Ah, engkau sungguh pintar dan cerdik, sama sekali tidak kupikirkan hal itu.”

“Mungkin waktu itu kau kira orang lain tidak dapat mengenali diriku, padahal begitu kita berada di jalan raya, segera anak buahku tahu siapa diriku. Di jalan raya itu sedikitnya ada belasan anak buahku.”

Tambah gemas Jit-jit, tapi tertawanya justru tambah genit, “Jika mereka sudah mengenalimu, mengapa mereka tidak langsung turun tangan menolongmu?”

“Waktu itu keselamatanku masih berada dalam cengkeramanmu, dengan sendirinya mereka tidak berani sembarangan bertindak. Tapi sejak itu diam-diam lantas ada orang mengawasi gerak-gerikmu dan menunggu kesempatan untuk berusaha membebaskan diriku.”

“Tak tersangka anak buahmu juga cukup lihai.”

“Di bawah panglima yang kuat dengan sendirinya tidak ada prajurit yang lemah.”

“Kesabaran mereka sungguh hebat sehingga sanggup menunggu begitu lama.”

“Mereka hanya menunggu ketika kau antar si Kucing keluar segera mereka masuk ke sana. Agar tidak menarik perhatian dan demi lancarnya pekerjaan, yang datang menolong diriku itu terdiri dari orang perempuan seluruhnya, maka aku lantas memilih satu di antaranya untuk menjadi tumbalku, setelah dapat bergerak, segera kudandani dia sehingga serupa diriku.”

“Untuk itu kan diperlukan waktu yang cukup?”

“Ya, mereka juga khawatir kepergok olehmu, maka sebelumnya sudah mengadakan persiapan di luar, mereka sengaja merintangimu, sengaja mengulur waktu…”

“Aah, ingat aku. Kedua lelaki yang berlagak salah mengenal diriku pasti anak buahmu, mereka pura-pura salah mengenali orang karena ingin mengulur waktu agar aku tidak cepat masuk ke kamar. Kemudian di serambi aku pun bertemu dengan beberapa orang perempuan yang mengangkut orang mati, tentu mereka itulah yang masuk ke kamar untuk menolongmu. Sungguh kurang ajar, seorang di antaranya malahan membuang ingusnya di bajuku.”

“Dan mayat di bawah kain putih itu ialah diriku,” sambung Ling-hoa dengan tertawa.

Jit-jit menghela napas, “Ai, cara kerja kalian sungguh sangat rapi.”

“Terima kasih,” sahut Ling-hoa.

“Tapi aku tetap tidak mengerti, setelah kau bebas, mengapa kalian tidak turun tangan kepadaku? Mengapa sengaja meninggalkan seorang tumbal di sana, tidakkah hal ini terlalu berlebihan?”

“Waktu itu untuk apa kuturun tangan padamu? Kan tidak mendatangkan manfaat bagiku?”

“Tapi perbuatan kalian sekarang ini ada manfaat apa?”

“Jika kami mengganggu dirimu waktu itu, tentu berarti menghentikan rencanamu mengerjai Sim Long, hal ini boleh dikatakan ada rugi dan tiada untungnya bagiku. Sebab itulah cara yang paling baik adalah mengelabui dirimu.”

“Sungguh lihai kau,” kata Jit-jit.

“Dan anak perempuan yang beruntung ialah menjadi istri seorang lelaki lihai, dengan demikian selama hidupnya dia pasti takkan dihina dan dianiaya orang,” ucap Ling-hoa dengan tertawa.

Jit-jit berkedip-kedip, “Ehm, betul juga ucapanmu. Cuma…cuma masih ada sesuatu aku merasa tidak paham.”

“Sesuatu apa? Coba katakan.”

“Setelah menyamar, tanda apa yang kau tinggalkan pada wajahmu.”

Ong Ling-hoa berpikir sejenak, lalu berkata dengan tertawa, “Coba kau lihat apakah ada sesuatu ciri khas pada wajahku?”

“Tampaknya ti…tidak ada,” kata Jit-jit.

“Coba periksa lebih teliti,” Ling-hoa mendekatkan mukanya.

“Hidungmu mancung, matamu besar…mulutmu…Ah, betul, dapat kulihat di sini. Apakah maksudmu tahi lalat di ujung mulutmu ini?”

“Betul, betapa aku merias mukaku pasti terdapat tahi lalat ini,” kata Ling-hoa.

“Tapi banyak orang di dunia ini mempunyai tahi lalat semacam ini, cara bagaimana anak buahmu akan mengenali dirimu?”

“Dengan sendirinya karena mereka sudah lama terlatih, mereka ingat jelas letak dan besar tahi lalat ini, jika kutambahi lagi dengan isyarat mata, kan terlalu goblok bilamana tetap tidak mengenali diriku.”

Jit-jit menatap tajam tahi lalat orang, katanya kemudian, “Sungguh tak tersangka engkau mau memberitahukan rahasia ini kepadaku.”

“Memangnya kau gembira? Kukira jangan keburu gembira dulu, seharusnya engkau merasa susah.”

“Merasa susah? Sebab apa?” Jit-jit terbelalak.

“Bilamana ada kesempatan kabur bagimu, apakah mungkin kuberi tahukan rahasia ini kepadamu?”

“Jika engkau sedemikian lembut padaku, sekalipun kau suruh kupergi juga aku tidak mau, apa lagi kabur?”

Sedapatnya Jit-jit tertawa manis, namun toh tetap kelihatan tertawa yang dibuat-buat.

“Apakah benar ucapanmu?” dengan tertawa Ling-hoa menegas.

“Tentu saja benar. Aku…aku sudah kecewa terhadap Sim Long, hatiku sudah luka, padahal di dunia ini selain Sim Long saja, lelaki mana lagi yang dapat membandingi dirimu.”

“Jika demikian, mari, biar kucium dulu,” sembari tertawa Ong Ling-hoa lantas menubruk ke atas.

Seketika air muka Jit-jit berubah lagi, tapi sedapatnya ia berlagak tenang dan berseru, “Eh, coba, kenapa engkau jadi terburu-buru begini, kan asyik lagi mengobrol…”

Ong Ling-hoa menengadah dan tergelak, “Haha, Nona manis, jangan main sandiwara lagi, kan tolol bilamana tidak dapat kuraba isi hatimu…”

“Aku…aku sungguh…”

“Jika kau sungguh hati, saat ini juga ingin kubuktikan,” sambil bicara ia terus menubruk maju dan merangkul Cu Jit-jit dengan terkekeh-kekeh. “Sudah kupahami sekarang, terhadap anak perempuan seperti dirimu hanya cara inilah yang paling tepat…”

—–

Dalam pada itu Sim Long, Him Miau-ji, dan Hoan Hun-yang bertiga sedang bersembunyi di tempat gelap di sekitar kereta yang terbalik itu.

Malam sudah larut, meski hujan sudah berhenti, hawa terasa semakin dingin.

Berulang Miau-ji mengangkat buli-buli dan menenggak araknya, Hoan Hun-yang juga merasa tidak sabar lagi sambil memandangi cuaca malam yang kelam. Hanya Sim Long saja yang tetap tenang.

Akhirnya Miau-ji tidak tahan dan berkata, “Menurut dugaanku, mereka belum tentu datang kemari.”

“Datang, pasti datang,” kata Sim Long.

“Sungguh aku sangat kagum kepada pendirianmu yang teguh, bilamana engkau sudah memastikan sesuatu, rasanya tidak ada urusan lain yang dapat menggoyahkan keyakinanmu…Tapi bilamana aku menjadi Ong Ling-hoa, tentu aku takkan kembali ke sini untuk mengambil kereta ini…”

Belum habis ucapannya, mendadak terdengar suara orang berkumandang dari jauh.

“Aha, itu dia datang,” seru Miau-ji.

Waktu Sim Long dan Hoan Hun-yang pasang kuping, diketahuilah pendatang pasti tidak cuma dua-tiga orang saja, malahan terselip juga derap kaki kuda. Di tengah malam sunyi suara mereka kedengaran cukup menusuk telinga.

Miau-ji mulai menggosok kepalan dengan penuh semangat, ucapnya dengan tertawa, “Sim Long memang tidak malu sebagai Sim Long, setiap perhitungannya tidak pernah meleset.”

Namun wajah Sim Long kelihatan prihatin, gumamnya, “Cepat amat kedatangan mereka, sungguh tidak nyana…”

“Jelas sebelumnya telah kau perhitungkan kedatangan mereka, mengapa kau bilang tidak nyana?”

“Aku cuma heran mereka datang secepat ini,” kata Sim Long.

“Memangnya kenapa?” tanya Miau-ji.

“Rapat besar Kay-pang belum bubar, di sini adalah jalan yang harus dilalui oleh para pengikut rapat itu, jika mereka harus datang ke sini tentu dilakukan setelah rapat bubar…Umpama datang lebih dini juga tidak perlu ribut begitu seperti tidak takut diketahui orang.”

Miau-ji melenggong, tapi segera berkata dengan tertawa, “Ah, tentu kawanan anjing itu merasa mempunyai majikan yang kuat, dengan sendirinya mereka tidak takut terhadap orang lain. Betul tidak, Hoan-heng?”

“Kukira…”

Belum sempat Hoan Hun-yang menanggapi, rombongan orang itu sudah mendekat, mereka terdiri dari dua orang dan dua ekor kuda. Beramai-ramai lantas menegakkan kereta yang roboh itu, kuda dipasang pada sabuk penarik, lalu memeriksa keadaan kereta.

Seorang di antaranya berkata dengan tertawa, “Bos memang tidak malu sebagai bos, beliau benar-benar sangat hebat. Setiap perhitungan beliau selalu terbukti seperti dilihatnya sendiri saja.”

“Memang, setiap perhitungan bos kita melebihi siasat perang panglima mana pun, selalu tepat dan jitu,” sahut kawannya. “Malahan beliau tidak perlu pusing dan banyak bekerja, cukup tinggal di rumah dan bermain dengan anak dara itu dan segala sesuatu telah berlangsung dengan beres tanpa meleset sedikit pun.”

Begitulah kelima orang itu bekerja dengan riang gembira, lalu kereta itu dihalau pergi, sama sekali tidak memerhatikan keadaan di sekitar situ.

“Lekas kita kejar mereka,” segera Miau-ji hendak bergerak.

Tapi Sim Long lantas menariknya dan mendesis, “Tidak, kita tidak mengejar mereka.”

Miau-ji menjadi heran, “Kita menunggu dengan susah payah, memangnya untuk apa? Setelah mereka muncul, kenapa kita tidak jadi menguntitnya? Se…sebenarnya apa kehendakmu?”

“Urusan menguntit dan menyelidiki musuh boleh serahkan saja kepada Hoan-heng,” kata Sim Long.

“Dan engkau dan aku?” tanya Miau-ji dengan terbelalak.

“Kita harus mendatangi tempat rapat Kay-pang lebih dulu, bilamana tidak salah dugaanku, di sana mungkin telah terjadi sesuatu yang mengejutkan,” tutur Sim Long.

“Masa…masa betul begitu?…”

“Hendaknya Hoan-heng menguntit kereta tadi, setiba di tempat janganlah sembarang bertindak, sebaiknya putar balik ke sini, nanti kita berkumpul lagi untuk berunding lebih lanjut,” kata Sim Long dengan suara tertahan.

“Kutahu, Sim-heng tidak perlu khawatir,” jawab Hun-yang.

—–

Di tengah malam musim dingin, bau harum arak tersiar terlebih jauh daripada bau harum apa pun. Sebelum tiba di tempat rapat Kay-pang, hidung Sim Long dan Miau-ji sudah mengendus bau arak yang menusuk hidung.

Tanpa terasa Miau-ji meraba buli-buli araknya, ucapnya, “Kawanan jembel ini biasanya kelihatan hidup miskin dan serbahemat, tapi pada waktu menjamu tamu ternyata cukup royal.”

“Mencium bau arak, kau jadi mengiler bukan?” kata Sim Long dengan tertawa. “Tapi menurut pendapatku, arak dalam pesta sana sebaiknya kita jangan ikut minum.”

“Tidak ikut minum, memangnya kenapa?” tanya si Kucing.

Sim Long menghela napas dan tidak bicara lagi tapi dia berlari terlebih cepat. Hanya sebentar saja tertampaklah barak bambu yang sederhana itu dengan cahaya obor yang terang, bayangan orang tampak berjubel di dalam barak, agaknya sama berduduk dengan tenang.

“Lihat itu, mana ada sesuatu, bukankah semuanya asyik duduk minum arak?” ujar Miau-ji dengan tertawa.

“Apa betul?” kata Sim Long.

“Jika terjadi apa-apa kan seharusnya mereka…” belum lanjut ucapan si Kucing, ia jadi melenggong sendiri, sebab dari jauh kini dilihatnya keadaan agak tidak beres.

Meski orang-orang itu tampak duduk tenang di dalam barak, tapi suasana terlalu sunyi dan menimbulkan rasa seram. Beratus orang duduk di situ tanpa mengeluarkan suara, orang yang tidak minum arak saja tidak mungkin berdiam begitu, apalagi orang yang telah menenggak arak.

Kesunyian yang aneh ini telah memberi alamat yang tidak enak.

Miau-ji tidak tahan, dengan cepat ia melompat ke sana dan menerjang ke dalam barak, apa yang terlihat membuatnya terkesima.

Ribuan orang yang berada di barak yang mengelilingi tanah lapang di tengah ini tampaknya benar telah berubah menjadi orang mati. Ada yang menggeletak dengan mulut berbuih, ada yang mendekap di meja dan tidak sadar, hidangan di atas meja belum banyak yang termakan, tapi cawan dan botol arak tampak berserakan.

Orang-orang ini apakah mabuk seluruhnya?

Setelah tercengang sejenak, Miau-ji lantas mengangkat tubuh seorang dan memeriksa napasnya, air muka si Kucing berubah, serunya, “Hah, keracunan!”

“Ternyata cocok dengan dugaanku, ada racun dalam arak,” kata Sim Long.

“Setiap orang yang hadir di sini adalah kawakan Kangouw, mereka juga terperangkap?” ujar Miau-ji dengan gegetun.

“Dalam keadaan gembira ria tadi, siapa yang tidak ingin minum dua-tiga cawan untuk menambah semarak pesta ini, siapa lagi yang curiga dan perlu memeriksa arak di dalam botol?” ujar Sim Long.

Di bawah cahaya obor yang bergoyang tertiup angin itu terlihat wajah orang-orang yang sudah tak bernyawa ini sama pucat pasi dengan kulit muka berkerut, keadaannya sangat menyedihkan dan juga mengerikan.

“He, lihat, baju orang-orang ini sama terbuka,” mendadak Miau-ji berteriak.

Tanpa bicara Sim Long mendekati beberapa orang itu dan meraba badan mereka, saku mereka ternyata sudah kosong tanpa isi serupa habis dirampok orang habis-habisan.

“Sudah membunuh orang, merampas juga harta bendanya, keji amat!” gerutu Miau-ji dengan gemas.

“Makan orang tanpa menumpahkan tulangnya, inilah kebiasaan perbuatan Ong Ling-hoa,” kata Sim Long.

“Kau kira orang-orang ini dapat…dapat diselamatkan tidak?” tanya si Kucing.

“Jika ada obat penawar yang jitu, dengan sendirinya mereka dapat tertolong, tapi apa mau dikatakan lagi, kita sama sekali tidak tahu racun apa yang diminum mereka.”

Kedua orang menjadi serbasusah berdiri di tengah ribuan orang yang keracunan dengan wajah yang mengerikan ini.

Sekonyong-konyong mereka merasakan di tengah orang-orang yang mendelik menanti ajal ini masih ada sepasang mata yang terpentang lebar seperti lagi menatap mereka.

Serentak kedua orang sama memburu ke sana. Itulah mata yang melotot penuh rasa dendam, biji matanya seperti mau melompat keluar dari kelopak matanya.

“He, Ci Kong-tay!” seru Miau-ji.

Ternyata Ci Kong-tay tidak keracunan melainkan hiat-to tertutuk sehingga tubuh tidak bisa berkutik, mukanya yang burik tampak berkilau.

Mulutnya tidak berbau arak, jelas setetes arak pun tidak diminumnya. Jika demikian apa yang terjadi di sini pasti telah disaksikan seluruhnya.

“Rupanya tidak minum arak juga ada faedahnya,” ucap Miau-ji dengan gegetun. “Sesungguhnya apa yang terjadi di sini, tanya dia tentu segalanya akan menjadi jelas.”

Dalam pada itu Sim Long telah membuka hiat-to Ci Kong-tay yang tertutuk. Cepat Ci Kong-tay merangkak bangun dan melemaskan otot tulang tangan dan kakinya.

“Bagaimana…”

“Cayhe baik-baik saja, terima kasih atas perhatian kalian…” begitulah Ci Kong-tay telah menyambut ucapan Sim Long, berbareng itu mendadak berpuluh bintik tajam menyambar dari tangannya ke arah Sim Long, menyusul ia pun menubruk maju seperti orang kalap.

Ci Kong-tay berjuluk “mata uang berhamburan memenuhi bumi”, selain menggambarkan mukanya yang burikan juga melukiskan kemahirannya menghamburkan senjata rahasia serupa hujan memenuhi bumi.

Sekarang berpuluh biji mata uang dihamburkan dengan cepat dan jitu serta di luar dugaan pula, bila orang lain mustahil mampu menghindar.

Namun Sim Long tetap Sim Long.

Di tengah jerit kaget Miau-ji, serentak Sim Long meloncat ke atas, betapa cepat sambaran senjata rahasia musuh tetap tidak secepat gerak tubuhnya. Hujan kim-ci-piau (senjata rahasia mata uang) itu tiada satu pun menyentuh tubuhnya.

Secepat kilat Him Miau-ji juga menyelinap ke belakang Ci Kong-tay, sekaligus ia pegang kedua tangan tokoh Kay-pang itu dan ditelikung ke belakang.

Seketika Ci Kong-tay tak bisa berkutik lagi, tapi ia lantas mencaci maki, “Keparat she Sim, kuanggap dirimu ini seorang kesatria sejati, siapa tahu sebenarnya engkau ini manusia berhati binatang…”

“Kau sendiri binatang,” bentak Miau-ji dengan gusar. “Sim Long telah menolong jiwamu, sebaliknya kau balas air susu dengan tuba dan bermaksud menyergapnya secara keji, apakah perbuatanmu ini tidak lebih rendah daripada binatang?”

Ci Kong-tay meraung, “Sim Long bintang kau pun binatang! Boleh kalian bunuh saja diriku, aku memang tidak ingin hidup lagi, masa aku takut kalian membunuhku untuk membungkam mulut saksi hidup.”

“Orang ini sudah gila barangkali, sembarang mengaco-belo,” teriak Miau-ji dengan gusar.

Dengan tenang Sim Long bertanya, “Ci Kong-tay, coba katakan kenapa engkau menuduh kami hendak membunuhmu untuk membungkam mulut saksi hidup?”

“Kay-pang kami memandang dirimu sebagai kawan, siapa tahu kau taruh racun di dalam arak sehingga beribu kawan yang hadir di sini kau celakai, malahan secara keji kalian merampok harta benda mereka,” teriak Ci Kong-tay dengan suara parau.

Muka Miau-ji merah padam saking gusarnya, “Kentut busuk! Siapa bilang kami menaruh racun, siapa bilang kami merampok?…”

“Kau dan Sim Long yang turun tangan secara terang-terangan, memangnya hendak kau kelabui mataku?” bentak Ci Kong-tay.

Saking gemas sebelah tangan Miau-ji lantas menggampar. Tapi Sim Long keburu mencegahnya.

Dengan tetap sabar Sim Long berkata pula, “Kenapa tidak kau pikirkan, jika benar kami yang turun tangan keji, untuk apa kami kembali lagi ke sini?”

“Hm, kutahu kalian kembali ke sini hanya ingin tahu apakah orang-orang ini sudah mati seluruhnya atau belum,” jengek Ci Kong-tay. “Kalau tidak, bila perbuatanmu yang rendah ini sampai tersiar, apakah selanjutnya kalian dapat tancap kaki lagi di dunia Kangouw?”

Sim Long saling pandang sekejap dengan Him Miau-ji, keduanya sama-sama merasa ngeri akan kekejian tipu muslihat Ong Ling-hoa.

Jelas ia sendiri yang berbuat jahat, tapi sengaja menyuruh orang menyamar sebagai Sim Long dan Him Miau-ji agar orang salah sangka terhadap Sim Long berdua.

Dalam keadaan demikian, biarpun Sim Long dan si Kucing punya seratus buah mulut juga sukar membela diri, apalagi kini ada saksi hidup yang melihat perbuatan mereka itu. Untuk menghilangkan salah sangka itu jalan paling baik bagi Sim Long adalah membunuh Ci Kong-tay. Tapi bila Ci Kong-tay dibunuh, rasanya tiada untung dan malah ada ruginya.

Apalagi mereka juga tidak mungkin bertindak sekeji ini.

Begitulah kedua, orang saling pandang dengan bingung.

Dengan suara serak Ci Kong-tay lantas berteriak pula, “Nah, apa yang kalian tunggu lagi, lekas bunuhlah diriku.”

“Kau mahadungu, aku memang ingin membinasakanmu dan habis perkara,” ucap Miau-ji dengan gemas.

“Jika begitu, mengapa tidak lekas turun tangan,” tantang Ci Kong-tay sambil menyeringai.

“Aku…aku…” Miau-ji menjadi gelagapan saking dongkolnya, mendadak ia mengentak kaki dan memaki, “Dasar bangsat Ong Ling-hoa itu.”

Sim Long juga cuma menggeleng kepala saja dan tidak tahu apa yang mesti diperbuatnya.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar derap kaki kuda yang ramai, tiga penunggang kuda datang dengan cepat, hanya sekejap saja sudah sampai di depan barak, serentak melompat turun tiga lelaki berbaju hitam, semuanya membawa poci tembaga ukuran besar.

“Siapa itu?” bentak Miau-ji.

Ketiga lelaki itu memandang Sim Long sekejap, lalu memandang Miau-ji pula, tanpa memperlihatkan sesuatu perasaan mereka berkata, “Kongcu kami mengetahui di sini ada orang keracunan, kami disuruh datang memberi pertolongan.”

“Kongcu kalian? Apakah Ong Ling-hoa?” seru Miau-ji.

“Betul,” jawab salah seorang dengan tak acuh.

“Bangsat, masih juga berani datang kemari!” teriak Miau-ji dan segera hendak melabrak ketiga orang itu.

Tapi lagi-lagi Sim Long menahannya dan berkata, “Nanti dulu!”

Melihat orang yang menggeletak keracunan sedemikian banyaknya, bila dia main kekerasan, lalu siapa yang akan menolong mereka? Terpaksa Miau-ji mengertak gigi dan menahan diri.

Dengan sorot mata tajam Sim Long lantas tanya ketiga orang itu, “Dari mana Kongcu kalian mengetahui di sini ada orang keracunan?”

“Kongcu kami memang sudah mengkhawatirkan ada manusia berhati binatang diam-diam main gila dan turun tangan keji di sini, maka sebelumnya kami sudah disuruh mengawasi keadaan tempat ini,” jawab salah seorang itu.

“Kentut busuk! Kau…kau…” Miau-ji meraung murka.

“Menolong orang harus cepat, kalian sengaja merintangi dan mengulur waktu, jangan-jangan kalian ingin menyaksikan kematian kesatria sebanyak ini?” kata orang pertama tadi.

Ci Kong-tay juga lantas berteriak, “O, Sim Long dan Him Miau-ji, kumohon sukalah kalian mengampuni orang-orang ini. Mereka sama berkeluarga dan punya anak istri, apakah kalian tidak kasihan…”

Miau-ji sangat gelisah, ia tahu bilamana orang-orang ini ditolong dan siuman, tentu mereka akan membenci Sim Long dan dirinya, urusan tentu juga sukar dijelaskan lagi. Ia tahu Ong Ling-hoa sengaja hendak menista mereka dengan memperalat mulut orang-orang ini untuk menyebarkan nama busuk mereka.

Sebaliknya ia juga tidak dapat merintangi ketiga orang ini menolong ribuan orang yang keracunan ini. Sungguh tindakan Ong Ling-hoa ini jauh lebih lihai daripada membunuh semua orang ini.

Didengarnya Sim Long lagi berkata, “Baiklah, boleh lekas kalian menolong mereka.”

“Dan kita?…” teriak Miau-ji dengan parau.

“Kita terpaksa harus angkat kaki,” ucap Sim Long.

“Angkat kaki?” Miau-ji menegas.

Sim Long tersenyum pedih, katanya, “Jika saat ini kita tidak angkat kaki, sebentar bila orang banyak siuman, tentu akan timbul kesulitan. Tatkala mana mungkin sukar lagi bagi kita untuk angkat kaki.”

Ketiga lelaki kekar itu tampak senang, segera mereka mencekoki air di dalam poci kepada orang-orang yang keracunan itu satu per satu.

Pada saat itu juga diam-diam Sim Long dan Miau-ji lantas mengeluyur pergi. Terdengar suara caci maki Ci Kong-tay masih bergema di belakang mereka.

Dengan sedih Miau-ji berkata, “Kita pergi begini saja, bukankah seterusnya kita harus menanggung tuduhan jahat ini dan sukar dicuci bersih lagi. Aku…aku lebih suka mati daripada…”

“Mati tidak menjadi soal bagi kita, tapi dapatkah kau biarkan orang-orang itu pun mati tanpa tertolong?” ujar Sim Long.

Gemertuk gigi Miau-ji saking gemasnya. “Bangsat Ong Ling-hoa, dia tahu Kay-pang tidak dapat lagi diperalat olehnya, maka digunakannya lagi akal keji ini. Dia telah merampas segala milik mereka, tapi sengaja menyelamatkan jiwa mereka, tujuannya supaya mereka menuntut balas pada kita berdua. Nyata siapa saja dan setiap kesempatan yang dapat diperalat olehnya selalu tak disia-siakannya.”

“Kalau bicara tentang kekejaman, orang ini sungguh diakui tidak ada bandingannya di dunia,” ujar Sim Long dengan tertawa. “Tampaknya biarpun Koay-lok-ong juga belum pasti dapat melebihi dia.”

Miau-ji kurang senang. “Ai, keadaan sudah runyam begini, ternyata engkau masih bisa tertawa.”

“Jangan khawatir, biarpun kita sudah kalah selangkah, tapi ada juga urusan lain dia kalah selangkah daripada kita. Dan langkah ini justru langkah kematiannya.”

“Langkah apa?” tanya Miau-ji bingung.

“Apa pun juga seharusnya dia tidak boleh memperlihatkan ekornya.”

“Ekor apa?”

“Kereta itu adalah ekornya. Dengan memegangi ekornya tentu dapat kita temukan dia, bila kita dapat menemukan dia, tentu dapat kita merenggut nyawanya. Biarpun dia menang seribu kali daripada kita juga sukar menambal kekalahannya yang satu kali ini.”

“Wah, jika begitu ayolah lekas kita menyusul Hoan Hun-yang untuk memegang ekornya itu,” seru Miau-ji.

“Ekor itu tidak perlu lagi kita pegang,” ujar Sim Long dengan tersenyum.

“Kenapa?” Miau-ji merasa bingung lagi.

“Sebab Ong Ling-hoa masih mempunyai ekor lain di sini.”

“Di sini? Di mana?” tanya Miau-ji.

“Mari ikut padaku.”

Segera Sim Long mendahului mengitar ke belakang barak, mendekati tempat tambatan kuda.

“Apakah maksudmu hendak menunggu kembalinya ketiga orang itu dan diam-diam kita mengintilnya?” tanya Miau-ji dengan suara tertahan.

“Ketiga orang itu pasti akan tinggal lama di sini, jika kita menunggu mereka kan lebih cepat bila kita mencari Hoan Hun-yang saja. Apalagi ketiga orang ini tentu juga curiga kemungkinan akan penguntitan kita.”

“Jika begitu, lantas…lantas di mana ekor yang kau maksudkan?”

“Di sini, lihat saja,” ucap Sim Long sambil mengayun sebelah tangannya. Terdengar suara mendesing, dua biji batu kecil telah disambitkan.

Batu pertama tepat mengenai tali kendali salah seekor kuda, batu kedua mengenai pantat kuda dengan jitu.

Kuda itu kaget dan meringkik kesakitan, lalu membedal ke sana.

Ketiga lelaki di dalam barak mencaci maki, disangkanya kudanya yang nakal. Mereka tidak menduga kuda itu telah dikerjai Sim Long, maka cuma mencaci maki dan sibuk menolong orang, tiada seorang pun yang mengejar kuda.

“Kuda inilah ekor Ong Ling-hoa, ayo kita kejar?” desis Sim Long.

Miau-ji masih juga heran, sedangkan Sim Long lantas melayang ke arah kuda secepat terbang. Terpaksa Miau-ji ikut lari ke sana. Sesudah berada di belakang kuda lepas tadi barulah ia menyadari duduknya perkara, “Ah, betul, sifat kuda hafal jalan. Kuda lepas ini pasti akan lari pulang ke kandangnya, asalkan kita mengikuti kuda ini, akhirnya akan sampai juga di sarang Ong Ling-hoa.”

Sim Long tersenyum, “Menguntit kuda kan lebih mudah daripada menguntit manusia.”

“Sim Long, engkau sungguh hebat!” kembali Miau-ji berseru memuji.

Meski lari kuda itu cukup cepat, namun gerak tubuh Sim Long berdua tidak kalah cepatnya.

Dada baju Him Miau-ji masih juga terbuka menyongsong angin dingin yang menyayat, tapi dadanya serupa gemblengan baja tanpa merasakan sesuatu. Dia justru bersemangat mengingat sebentar lagi si bangsat Ong Ling-hoa akan dibekuknya.

Tidak lama kemudian, terlihat sebidang hutan di depan sana. Di samping hutan ada beberapa rumah gubuk dan setitik cahaya api. Itulah rumah petani penunggu hutan lai itu. Tapi kuda ini ternyata langsung menuju ke hutan sana.

“Masakah di sini tempatnya?” Miau-ji berkerut kening.

“Pasti tidak keliru,” kata Sim Long.

Setiba di depan rumah gubuk, benar juga kuda itu lantas berhenti sambil meringkik perlahan.

Segera dari dalam gubuk menyelinap keluar dua sosok bayangan orang, gerak-geriknya cukup gesit, jelas bukan kaum petani biasa.

Agaknya kedua orang itu merasa heran melihat kuda kembali sendirian tanpa penunggangnya. Kedua orang kasak-kusuk berunding sebentar, seorang lantas masuk lagi ke dalam gubuk, yang lain menuntun kuda ke belakang rumah.

“Ya, memang betul di sini tempatnya,” ucap Miau-ji.

“Tunggu setelah orang yang menuntun kuda itu muncul kembali, segera kita menerjang ke dalam,” kata Sim Long.

“Menerjang ke dalam? Tidak perlu kita selidiki dulu?”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: