Kumpulan Cerita Silat

20/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 05

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 1:55 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, dan Lovecan)

Bab II. Tangan Berdarah

5. Bun-lui dari Kwang-tong.

Tiga tahun kemudian, di suatu tengah malam musim dingin yang sedang dilanda badai salju yang luar biasa.

Tiga puluh li di luar Perkampungan Hantu terletak sebuah wilayah yang bernama Dermaga Hong-Iim. Wilayah itu berada di suatu daerah perairan yang dinamakan Siau-lian-huan-wu.

Seluruh penduduk yang semula tinggal di radius tiga empat puluh li di sekitar situ, kini sudah berbondong-bondong pindah rumah. Sejak Perkampungan Hantu diisukan muncul setan iblis yang ganas dan suka membunuh, nama perkampungan itu benar-benar telah diubah dan dikenal orang sebagai Perkampungan Alam Baka.

Bukan saja penduduknya pindah, orang yang kebetulan lewat di sekitar tempat itupun lebih suka berjalan memutar ketimbang berjalan melewati sisi Perkampungan Alam Baka.

Tentu saja ada di antara mereka adalah kawanan jago yang jaga gengsi. Mereka enggan memilih jalan berputar. Walau begitu, ketika melewati sisi Perkampungan Alam Baka, tak satu pun di antara mereka yang berani menengok, apalagi mampir di sana. Seakan mereka kuatir ketimpa bencana.

Untuk keluar dari wilayah Siang-kiang dengan melalui Perkampungan Hantu, orang harus melewati sebuah daerah yang bernama Siau-lian-huan-wu. Jalan air yang bernama Siau-lian-huan-wu ini memiliki tiga belas buah jalur air yang rumit dan gampang membuat orang tersesat, terutama bagi mereka yang tidak menguasai jalan air.

Di dalam wilayah Siau-lian-huan-wu ini terdapat sebuah dermaga yang dinamakan Hong-lim-tok, Dermaga Hutan Waru.

Sejak di dalam Perkampungan Hantu sering terjadi peristiwa aneh yang mengerikan, tamu yang menyeberang melalui dermaga ini semakin jarang. Banyak tukang perahu menghentikan usahanya. Tak heran kalau semakin susah mencari perahu yang mau menyeberang melalui jalanan itu, padahal tanpa menyeberangi sungai itu, tak mungkin perjalanan bisa dilanjutkan.

Jika musim dingin tiba, di mana air sungai membeku jadi es, perjalanan malah semakin gampang, karena tanpa menggunakan perahu pun orang bisa menyeberangi sungai itu. Dan kebetulan saat ini adalah permulaan musim salju. Air sungai mulai membeku, sayang lapisan es masih terlalu tipis hingga orang tetap sulit untuk menyeberanginya.

Di tepi Hong-lim-tok terdapat sebuah rumah makan kecil. Sebuah bendera kecil berkibar terhembus angin utara yang kencang.

Di tengah bunga salju yang berguguran, tampak seorang kakek berambut putih sedang menggapai para tetamunya.

Banyak tamu yang kebetulan lewat Perkampungan Hantu akan berhenti di rumah makan itu untuk minum arak membesarkan nyali, atau beristirahat melepas penat sambil mengumpulkan tenaga agar bisa melewati perkampungan setan itu secepatnya.
Karena itu rumah makan kecil itu disebut losmen Hutan Waru.

Hari ini angin berhembus sangat kencang, salju turun amat deras. Memandang badai salju yang sedang menerpa di luar ruangan, kakek penjual arak itu nampak termenung sambil bergu-mam, “Kelihatannya, asal Thian menurunkan salju selama beberapa hari lagi, lapisan salju di dermaga akan semakin tebal dan orang pun mulai dapat menyeberang dengan leluasa.”

Sementara dia masih melamun, mendadak terdengar A-hok, pelayannya, berteriak keras, “Lotia, Lotia! Ada tamu datang, ada tamu datang!”

Lotia tertegun sambil berpikir, seawal ini sudah ada tamu yang datang? Ketika melongok keluar pintu, tampaklah sepasang manusia di tengah badai salju yang kencang. Mereka tidak menunggang kuda, dan hanya memakai baju yang sangat tipis. Biarpun begitu, gerak tubuh mereka amat ringan dan cepat, seakan sama sekali tak menggunakan banyak tenaga. Tak lama kemudian, kedua orang itu sudah tiba di depan pintu.

Untuk sesaat Lotia berdiri tertegun dengan mulut melongo. Belum pernah ia jumpai ada sepasang muda-mudi yang belum genap berusia dua puluhan tahun, dengan memakai baju yang begitu tipis, berani mendatangi tempat yang begini terpencil dan berbahaya. Padahal di sekitar wilayah itu banyak berkeliaran serigala lapar.

Tampak pemuda itu berperawakan tinggi agak kurus, matanya tajam dan wajah tampan. Sementara si nona memakai baju warna-warni dengan rambut dibiarkan terurai ke belakang. Se-uah pita bunga terikat di pinggangnya, mengikat dua bilah pedang kecil mungil. Wajahnya cantik jelita bak bidadari yang turun dari kahyangan.

Melihat kakek penjual arak itu tertegun, si nona segera me-nyapa sambil tertawa, “Lotia, baik-baikkah engkau?”

Senyuman itu semakin membuat wajah si nona tambah cantik. Bukan saja si kakek semakin melongo, para pelayan pun sampai terkesima dibuatnya.

“Lotia, ada hidangan apa di sini? Segera siapkan satu mangkuk,” terdengar pemuda itu berseru sambil tertawa.

Bagai baru mendusin dari mimpi, lekas Lotia mempersila-kan tamunya duduk. Lalu ia bertanya dengan penuh rasa kuatir, “Apakah Khek-koan berdua akan melewati dermaga Hong-lim?”

“Benar!” sahut pemuda itu sambil tertawa.

“Khek-koan berdua, bukan aku banyak bicara, cuma perlu Lohu beritahu, sudah banyak orang yang tewas di dalam Perkampungan Alam Baka

“Kami sudah tahu, tak usah kuatir.”

Walaupun Lotia dapat melihat bahwa sepasang muda-mudi ini seperti berasal dari keluarga kenamaan, bahkan menyoreng pedang di punggungnya, tak urung dia tetap merasa kuatir.

Kembali ia bertanya, “Kalian berdua tidak takut setan?”

“Aaah, mana mungkin ada setan?” si nona balik bertanya sambil tertawa merdu.

“Nona, pakaian yang kalian kenakan amat tipis. Masa tidak takut kedinginan?”

“Kedinginan?” gadis itu tertawa. “Kami tidak merasa dingin!”

Kakek itu sadar, kedua orang tamunya pasti manusia luar biasa. Maka tanpa banyak bicara ia segera menyuguhkan sayur dan arak.

Sementara muda-mudi itu masih bersantap, entah sedari kapan tahu-tahu di muka pintu rumah makan telah bertambah lagi dengan dua orang.

Sepasang muda-mudi itu tidak berpaling, mendongakkan kepala pun tidak. Mereka melanjutkan santapannya sembari bercakap-cakap.

Si kakek pemilik rumah makan beserta kedua orang pelayannya amat terperanjat. Kakek itu malah mengira matanya berkunang-kunang hingga salah melihat. Dia merasa tidak melihat dengan jelas bagaimana kedua orang itu muncul, sebab tahu-tahu sudah melangkah masuk ke dalam ruangan.

Segera dia menyambut kedatangan mereka sambil tertawa, sapanya, “Tuan berdua, silakan duduk, silakan duduk. Maafkan Lohu yang sudah tua dengan mata jadi rabun, hingga tidak melihat kehadiran tuan berdua.”

Dua orang tamu yang baru datang mempunyai wajah serta perawakan badan yang persis sama satu dengan lainnya. Perbedaan yang mencolok di antara mereka berdua hanya terletak pada lengannya. Yang seorang kutung lengan kanannya, sedang yang seorang lagi kutung lengan kirinya.

Dua orang lelaki itu sama sekali tidak menanggapi sapaan si kakek. Setelah mencari tempat duduk, mereka pun segera me-mesan teh.

Tak lama kemudian, lelaki yang di sebelah kanan berkata dengan suara dingin, “Ketika bunga salju masih beterbangan, kami sudah masuk kemari.”

Kakek itu berpaling. Benar juga, ia melihat bunga salju sedang beterbangan di luar pintu ruangan. Hanya saja dia tak paham apa maksud perkataan orang itu.

Mendadak kain tirai kembali disingkap orang, disusul kemudian tujuh orang lelaki kekar berjalan masuk ke dalam ruangan rumah makan.

Lekas kakek itu berseru, “A-pun, A-hok, terima tamu!”

Tujuh orang lelaki kekar yang baru datang itu rata-rata memiliki alis mata yang tebal dengan sepasang mata yang besar.

Mereka masuk dengan langkah lebar, gerak-geriknya mantap tapi tenang. Perawakan tubuh pun hampir sama.

Yang aneh justru terletak pada persenjataan yang tergan-tung di pinggang ketujuh orang itu. Semua senjata berbeda satu dengan lainnya.

Senjata yang digunakan orang pertama adalah Liu-seng-jui (palu bintang kejora), orang kedua menggunakan tombak Lian-cu-jiang, orang ketiga bersenjatakan tombak emas sepanjang satu kaki dua depa, orang keempat memakai senjata tali lemas, orang kelima menggunakan senjata peluru geledek Lui-kong-hong, orang kenam menggunakan sepasang senjata boan-koan-pit, sedang orang ketujuh menggunakan sebuah senjata martil besi yang sangat panjang.

Yang lebih aneh lagi, ketujuh orang lelaki kekar itu hampir semuanya bertelanjang dada. Biarpun di musim salju yang dingin membeku, ternyata mereka tidak nampak kedinginan. Di atas dada mereka yang telanjang tergurat dua huruf yang terbuat dari sayatan pisau. Tulisan itu berbunyi: “Menuntut balas.”

Mereka bertujuh pun tak banyak bicara. Masing-masing mengambil tempat duduk dan sama sekali tak bergerak lagi.

Sesaat kemudian, kembali kain tirai dibuka orang. Kali ini yang muncul adalah empat orang padri tua berbaju abu-abu, mereka masuk sambil merangkap tangan di depan dada. Setelah mencari tempat duduk, kawanan padri itupun membungkam.

Baru saja Lotia, A-pun dan A-hok hendak melayani keperluan orang-orang itu, mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang sangat ramai. Bersamaan dengan berhentinya kuda-kuda itu, tampak dua orang Tosu tua yang menyoreng pedang di punggungnya berjalan masuk ke dalam ruangan. Ketika melihat kehadiran keempat orang padri itu, mereka segera menjura dalam-dalam.
Menyusul kemudian muncul lagi seorang lelaki berpakaian sutera yang anggun gerak-geriknya. Dia minta sepoci arak dan mulai menenggak tanpa bicara.

Menyusul kehadiran orang itu, dari kejauhan kembali terdengar suara langkah kaki manusia yang sangat berat. Orang itu mendekat selangkah demi selangkah, tidak terlalu cepat, tidak juga lambat. Namun suara langkahnya yang berat sama sekali tidak menjadi lemah. Ketika tiba di depan pintu, ia segera menyingkap tirai dan masuk ke dalam.

Ia duduk persis berhadapan muka dengan lelaki berjubah sutera itu. Setelah duduk, dia pun minum arak tanpa bicara.

Bila ditinjau dari suara langkah kakinya yang berat dan sama sekali tidak berubah sejak dari jauh hingga berada di depan mata, bisa diketahui bahwa tenaga dalam yang dimiliki orang ini sangat luar biasa.

Tanpa terasa sepasang muda-mudi itu mendongakkan kepala sambil melirik sekejap ke arah manusia berjubah hitam yang baru muncul itu, kemudian melirik pula ke arah lelaki berbaju sutera itu. Kebetulan kedua orang itu pun sedang berpaling ke arah mereka. Empat pasang sorot mata segera saling beradu satu sama lainnya. Tetapi hanya sebentar, kemudian masing-masing melengos sambil menenggak kembali isi cawan.

Selama hidup belum pernah kakek pemilik rumah makan itu menjumpai peristiwa seaneh ini. Belum pernah ia mendapat kunjungan begitu banyak tamu yang aneh-aneh di tengah malam badai salju yang begini dingin.

Belum sempat dia berbuat sesuatu, lagi-lagi muncul empat orang Tauwto yang menyelinap masuk dengan kecepatan tinggi. Hampir saja menumbuk sebuah meja besar, entah dengan cara apa mereka berkelit, tahu-tahu keempat orang padri yang memelihara rambut itu sudah duduk tenang di belakang meja itu.

Setelah itu, rumah makan ini secara beruntun kedatangan lagi empat orang lelaki kekar berbaju emas dan enam orang jago dunia persilatan.

Dalam waktu singkat seluruh tempat duduk rumah makan itu sudah terisi penuh! Bisa dibayangkan betapa sibuknya para pelayan melayani tamu-tamunya.

Entah lewat lama, tiba-tiba dari luar pintu rumah makan muncul kembali dua orang lelaki yang menyingkap kain tirai, disusul kemudian seorang pemuda berdandan perlente berjalan masuk dengan langkah yang angkuh.

Begitu masuk ke dalam ruangan, pemuda itu segera menutupi hidung sendiri sambil berseru keras, “Bau benar rumah makan ini!”

“Kongcu, lebih baik ditahan sejenak,” sahut lelaki yang lain sambil tertawa. “Ada baiknya kita beristirahat sebentar di sini. Setelah salju menebal nanti, baru kita lanjutkan perjalanan.”

“Betul Kongcu,” sambung lelaki yang lain sambil tertawa pula, “Sebagai seorang pelajar paling hebat di Pakkhia, tempat mana lagi yang tak pernah kau kunjungi? Rumah makan kecil ini sudah terhitung sangat hokki karena bisa mendapat kunjungan kehormatan dari Kongcu.”

Kongcu itu menggosok botol kecil yang terbuat dari por-selen ke lubang hidungnya, lalu dengan acuh tak acuh dia ber-jalan masuk ke dalam.

Di belakang si pemuda ternyata mengikut delapan belas orang, ada tua ada muda. Wajah mereka kalau tidak bengis, tentu buas atau licik. Beda sekali dengan wajah sang Kongcu, selain halus juga mirip wajah perempuan. Hanya sayang lagaknya banyak sehingga agak menyebalkan.

Setelah kedua puluh orang itu masuk ke dalam ruangan, melihat semua bangku dan meja sudah dipenuhi tamu, seorang lelaki kekar yang bersenjatakan gada berkepala harimau segera tampil ke depan seraya berseru, “Toa-kongcu dari benteng Pek-te-shia, Siang Bu-thian, Siang-kongcu telah datang. Kenapa kalian masih belum juga menyingkir? Ingin mampus semua?”

Suara lelaki itu nyaring, keras agak serak. Tapi walau sudah diulang berapa kali, ternyata tak seorang pun dari kawanan tamu itu yang berpaling.

Dengan berang lelaki kekar itu melotot. Tapi setelah dilihatnya seluruh tamu yang hadir di situ adalah kawanan jago yang berwajah angker, dengan ketakutan segera ia tutup mulut dan tak berani bersuara lagi.

Terdengar si nona berbaju warna-warni itu berkata kepada rekannya sambil tertawa, “Orang yang berdandan macam seorang Kongcu itu adalah putra orang paling kaya di Pek-te-shia. Ia bernama Siang Bu-thian. Ayahnya telah mengundang beberapa orang pengawal untuk mengajar ilmu silat kepadanya. Cuma sayang, orang semacam ini tak punya bakat untuk belajar kungfu. Biar sudah berlatih tekun juga kepandaiannya sangat terbatas. Justru perbuatan bejadnya yang kian menjadi-jadi.”

Mendengar keterangan ini, pemuda tampan itu hanya mengangguk berulang-kali.

Diam-diam pemilik rumah makan beserta pelayannya bermandikan peluh dingin, sebab gadis itu berbicara cukup keras sehingga Siang Bu-thian dapat mendengar semua perkataan-nya dengan jelas.

Betul juga, dengan wajah gusar Kongcu jumawa itu berpaling. Tapi sorot matanya segera berbinar begitu mengetahui yang berbicara adalah seorang gadis cantik. Amarahnya padam sek-tika, dengan wajah cengar-cengir ia berseru, “Bagus nona cantik. Kau bilang kungfuku jelek? Mari, mari, mari, ikut aku pulang untuk latihan kungfu. Nanti kau bakal tahu kalau ‘kungfu’ku benar-benar bikin orang keranjingan, hehehe…bagaimana….”

Mendengar ucapan yang begitu kurangajar, pemuda tampan di samping nona cantik itu segera menengok sekejap ke arah Siang Bu-thian. Sorot mata yang begitu tajam kontan membuat Siang Bu-thian terperanjat ketakutan.

Segera kelima orang lelaki kekar yang berdiri di sisi Siang Bu-thian berbisik lirih, “Siang-kongcu, bagaimana kalau kami tangkap nona itu untuk dibawa pulang, sekalian bunuh mampus yang satu lagi?”

“Bagus, bagus! Jika begitu cepat lakukan. Kalau berhasil pasti akan kuberi hadiah besar,” seru Siang Bu-thian sambil tertawa girang.

Mendengar ada hadiah besar, otomatis kelima orang lelaki itu kegirangan. Serentak mereka berebut maju ke depan, kuatir kehilangan kesempatan memperoleh hadiah itu.

Dalam waktu singkat, kelima orang lelaki itu sudah tiba di belakang sepasang muda-mudi itu. Seorang di antaranya yang mempunyai tumor besar di jidat segera menghardik, “Nona cantik, mau tidak bermain cinta dengan Kongcu kami?”

Nona berbaju warna-warni itu sama sekali tidak menanggapi ucapan itu. Dia masih memandang wajah pemuda di hadapannya dengan mesra, seakan dia belum merasakan kehadiran kelima orang itu di belakang tubuhnya. Bahkan dengan santai ia masih berkata, “Mereka itu adalah teman-teman keluyuran Siang Bu-thian. Kerjanya tiap hari cuma bersenang-senang sembari berbuat onar. Sayang semuanya termasuk gentong nasi yang gemar membantu kejahatan. Kalau bukan menculik dan memperkosa, tentu merampok. Seperti misalnya kelima orang lelaki itu. Mereka disebut Kiang-cho-ngo-ciau (lima naga dari sisi kiri sungai besar). Di masa mudanya dulu, kerja mereka pun cuma merampok nelayan dan membunuh orang semaunya sendiri.”

Tak terlukiskan amarah lelaki bertumor itu sehabis mende-ngar ucapan itu. Dengan hawa amarah yang berkobar dia cabut goloknya, langsung dibacokkan ke batok kepala pemuda itu sambil berseru, “Baiklah! Biar kujagal batok kepalamu terlebih dulu untuk kupersembahkan kepada Kongcu!”

Pemuda tampan itu masih memandang wajah si nona berbaju warna-warni tanpa berkedip, seakan biar langit ambruk pun dia enggan mengalihkan sinar matanya dari wajah nona itu. Terhadap datangnya bacokan golok pun seolah dia tidak merasakannya.

Pada saat itulah mendadak manusia berjubah hitam yang duduk di sudut sebelah timur melompat bangun. Tidak tampak gerakan apa yang dia lakukan, tahu-tahu badannya sudah berada di hadapan lelaki bertumor itu.

Lelaki bertumor hanya merasakan pandangan matanya kabur, tahu-tahu sepasang tangan dan kakinya seakan terisap oleh suatu kekuatan maha dahsyat, membuat ia sama sekali tak mampu bergerak. Bacokan goloknya otomatis tak dapat dilanjutkan.

Begitu berdiri saling berhadapan dengan lelaki bertumor itu, manusia berjubah hitam langsung mencengkeram badannya kemudian diseret keluar dari rumah makan itu.

Padahal ruangan rumah makan saat itu sudah penuh sekali. Anehnya, manusia berjubah hitam dapat menyelinap keluar bagaikan segulung asap. Bukan saja tidak menyinggung tubuh orang lain, ujung baju pun tidak kena tersampuk.

Kain tirai rumah makan hanya kelihatan bergoyang pelan, kemudian dari tanah bersalju di luar rumah makan berkuman-ang suara jeritan ngeri yang memilukan hati. Belum sempat orang tahu apa yang terjadi, manusia berbaju hitam itu sudah menyelinap balik ke dalam rumah makan dan duduk kembali di posisinya semula, berhadapan dengan manusia berbaju sutera itu.

Santai sekali dia mengangkat cawan araknya dengan sepa-sang tangan yang belepotan darah, lalu menenggak habis isinya. Lagak serta sikapnya begitu santai seakan tak pernah terjadi se-suatu peristiwa apapun.

Sewaktu datang untuk pertama kalinya tadi, suara langkah kaki orang berjubah hitam ini berat dan mantap, membuktikan kalau tenaga dalamnya amat sempurna. Gerakan tubuhnya yang ringan dan cepat saat ini justru membuktikan kalau ilmu meringankan tubuhnya luar biasa hebatnya.

Tampak gadis berbaju warna-warni itu kembali berkata kepada sang pemuda sambil tertawa, “…Tuan berjubah hitam itu datang dari Ouw-tong, tenaga dalamnya sudah mencapai puncak kesempurnaan. Konon sewaktu berusia dua belas tahun, dengan getaran tenaga dalamnya ia pernah menghajar mampus Kim-jiau-say-mo, si Iblis singa bercakar emas, Cin Wi dari Ho-pak. Sementara jurus yang baru digunakannya adalah gerakan Cun-poh-put-i-to, setengah inci tak mampu bergeser, dari ilmu isap Sip-boan-toa-hoat. Tentu saja si naga tua itu tak akan mam-pu menghadapinya!…tuan ini punya juluk-an Hek-bau-khek, si Tamu Berjubah Hitam. Dia dari marga Pa bernama Thian-sik.”

Baru bicara sampai di situ, manusia berjubah hitam itu sudah berpaling dan melirik gadis itu sekejap dengan sinar mata heran bercampur kaget. Dia tak mengira dari tindakan yang barusan dilakukannya itu segera dapat diketahui asal-usulnya oleh gadis itu.

Melihat manusia berjubah hitam itu memandang ke arahnya, gadis itu balas memandang sambil menghadiahkan sebuah senyum manis.

Saat itulah keempat naga dari Kiang-cho-ngo-ciau seakan baru mendusin dari mimpi. Ketika tahu saudara tua mereka telah terbunuh, serentak mereka membentak gusar, melolos senjata dan serentak membacok tubuh si Tamu Berjubah Hitam Pa Thian-sik.

Manusia berjubah hitam itu hanya mendengus dingin. Ia tidak berkelit, juga tidak berusaha menghindarkan diri.

Tiba-tiba pemuda itu berkata kepada si nona sambil tersenyum, “Barusan Pa-sianseng turun tangan menolong aku. Semuanya gara-gara urusan kita. Sekarang ada empat orang yang mengusik tubuhnya. Aku rasa sudah saatnya bagi kita untuk turun tangan.”

Baru saja kata ‘tangan’ meluncur keluar, tiba-tiba ia bangkit berdiri namun tetap berada di posisinya semula. Hanya dalam genggamannya sudah bertambah dengan sebilah pedang tipis yang panjang.

“Sreet!” cahaya pedang berkelebat lewat, tahu-tahu senjata itu sudah disarungkan kembali.

Keempat orang lelaki kekar itu hanya merasakan cahaya pedang berkilauan lewat kemudian sirap kembali. Belum tahu apa yang mesti dilakukan, tahu-tahu telapak tangan mereka te-asa sakit. Ternyata sudah ditusuk oleh ujung pedang lawan yang membuat golok mereka terlepas dari genggaman.

Ternyata bersamaan dengan desiran suara tajam tadi, empat buah tusukan tajam telah dilancarkan ujung senjata lawan. Selama hidup belum pernah keempat naga dari utara sungai besar ini melihat ilmu pedang secepat itu. Sampai telapak tangan mereka berdarah dan senjata terlepas dari genggaman, baru merasa kesakitan. Tak kuasa lagi, jeritan keras bergema di seluruh ruangan.

Dengan sikap hambar, pemuda itu duduk kembali.

Di pihak lain, Tamu Berjubah Hitam Pa Thian-sik melirik ke arah pemuda itu sekejap dengan sorot mata terperanjat bercampur heran. Kepada lelaki berbaju sutera di hadapannya ia segera berseru memuji, “Ilmu pedang yang hebat!”

Saat itulah sebuah perubahan aneh kembali terjadi. Keempat naga dari sisi kiri sungai besar yang sedang bergulingan di atas tanah sambil menjerit kesakitan itu tahu-tahu seperti terisap oleh sebuah tenaga yang maha dahsyat. Tubuh mereka terdorong mundur hingga akhirnya membentur pintu gerbang rumah makan.

Siapa yang telah melancarkan tenaga isapan yang maha dahsyat itu sehingga membuat keempat orang itu terbetot mundur? Dengan perasaan terkesima semua orang mendongakkan kepalanya sembari berpaling.

Entah sedari kapan, di dalam rumah makan itu telah ber-diri seorang kakek berambut perak berusia enam puluhan tahun.

Mukanya merah membara, perawakan tubuhnya setinggi tujuh depa dan sangat kekar berotot. Jubah yang dikenakannya berwarna merah membara bagaikan jilatan api. Sebilah kapak terselip di pinggangnya. Permukaan kapak berwarna hitam dan memancarkan sinar tajam, paling tidak bobotnya lima enam puluh kati.

Kakek berjubah merah itu menarik napas sambil memutar sepasang tangannya. Dua gulung aliran hawa murni yang sangat kuat segera memancar keluar dari balik telapak tangannya, membuat tubuh keempat naga itu langsung terisap ke arahnya.

Tatkala tubuh si naga ketiga dan keempat nyaris menumbuk kedua belah telapak tangannya, mendadak kakek berjubah merah itu merentangkan kedua tangannya kedua sisi yang berbeda, kemudian dari dua meja yang berbeda dia mengambil dua batang sumpit.

Pada saat itulah tubuh si naga ketiga dan keempat menum-buk tiba. “Sret, sreet,” dua kali desingan tajam bergema, sumpit-sumpit itu langsung menghajar punggung kedua orang itu hingga tembus.

Ketika naga kedua dan kelima menubruk tiba, kakek berjubah merah segera menyentil ibu jari dan jari telunjuk tangan kiri kanannya.

Lagi-lagi “Sret, sreet,” dua kali desingan tajam mem-belah udara. Sumpit-sumpit yang semula menembus punggung naga ketiga dan keempat tahu-tahu menembus keluar melalui dada bagian depan, lalu diiringi semburan darah segar kembali menancap di dada belakang si naga kedua dan kelima!

Empat kali jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang di udara, tahu-tahu keempat orang lelaki kekar itu sudah roboh terkapar di tanah dalam keadaan tak bernyawa.

Demonstrasi yang dilakukan kakek berjubah merah itu segera membikin semua orang heboh. Dengan terkejut sorot matasemua orang dialihkan ke wajahnya.

Kemampuan orang itu mengisap tubuh empat orang sekaligus dengan kedua belah tangannya sudah cukup menggetarkan hati. Apalagi setelah menyaksikan kemampuannya membunuh lawan dengan sepasang sumpit. Bukan cuma setiap ruas, setiap bagian dilakukan sangat cepat dan tepat. Cara kerjanya juga benar-benar telengas. Biarpun sudah membantai empat orang dalam sekejap mata, mimik mukanya sama sekali tak berubah.

Yang lebih aneh lagi, gerak-gerik kakek berjubah merah itu kelihatan begitu bebal dan berat. Namun tak ada yang tahu se-dari kapan dia tiba di dalam rumah makan itu. Bahkan Siang Bu-thian sekalian yang kebetulan duduk paling dekat pun tidak merasakan.

Terdengar kakek berjubah merah itu berseru lantang sambil menyapu pandang sekejap ke seluruh ruangan, “Lohu adalah Ji Bun-lui dari Kwang-tong!”

Begitu nama itu diucapkan, dari seluruh yang hadir ada sembilan puluh persen yang berubah hebat paras mukanya, ter-masuk juga si Tamu Berjubah Hitam dan lelaki berbaju sutera itu. Malah kedua orang Tojin itu agak bergetar tubuhnya, keempat padri tua dari Siau-lim juga mementang matanya lebar-lebar.

Yang sama sekali tidak berubah wajahnya hanya pemuda tampan itu beserta si kakek pemilik rumah makan dan pelayannya.

Nona berbaju warna-warni itu mengamati wajah Ji Bun-lui beberapa saat, lalu baru bisiknya kepada pemuda tampan itu, “Orang ini bernama Ji Bun-lui, disebut juga It-hu-ceng-kwang-tong (kapak menggetarkan Kwang-tong). Tindak-tanduknya di antara lurus dan sesat, wataknya keras, berangasan dan eksentrik. Namun, ia belum pernah melakukan perbuatan yang melanggar norma susila. Tapi kalau dibilang soal merampok, membakar dan membunuh, sudah terlalu banyak yang dia lakukan. Konon ilmu silatnya sangat tinggi, tenaga dalamnya sempurna dan permainan kapaknya sudah mencapai tingkat yang luar biasa. Kongcu, apabila pedangmu bertemu kapaknya, kau mesti berhati-hati. Orang ini suka bekerja sendirian, dia paling benci berjalan bersama orang lain.”

Biarpun si nona berbisik dengan lirih, nampaknya Ji Bun-lui dapat mendengar semua perkataannya dengan jelas. Mendadak ia berpaling sifat buasnya berkurang setengah. Sambil terta-wa ujarnya kepada nona itu, “Nona cilik, tak kusangka kau pun mengetahui nama besar Toayamu.”

Ternyata, It-hu-ceng-kwang-tong Ji Bun-lui tahun ini berusia enam puluh tahun. Tapi semangatnya masih berkobar-kobar, sepak terjangnya selalu malang-melintang seorang diri. Selama hidup entah berapa banyak sudah menyakiti orang persilatan. Tapi berhubung ilmu silat sangat tinggi, belum ada orang yang bisa mengalahkan dirinya.

Terdengar, Ji Bun-lui berkata lagi dengan suara nyaring bagai geledek, “Orang budiman tidak melakukan perbuatan gelap. Bila kedatangan anda sekalian disebabkan urusan Perkampungan Alam Baka, maka aku perlu memberitahu kedatanganku hanya khusus untuk mendapatkan kitab pusaka Liong-leng-pit-kip (Pekikan Naga). Bila ada di antara kalian yang punya tujuan yang sama denganku, dipersilakan. untuk mempertimbangkan dulu kemampuan yang dimiliki. Bila merasa bukan tandinganku, lebih baik cepat menggelinding pergi daripada aku mesti repot-repot turun tangan!”

Saking keras dan nyaringnya perkataan itu, seluruh ruangan bergetar keras, atap bergoncang, debu berguguran.

Dalam pada itu, di antara para begundal yang membuntut di belakang Siang Bu-thian, sudah ada empat lima orang yang pernah merasakan kehebatan Ji Bun-lui, diam-diam mengeluyur pergi. Mereka tak berani mencari gara-gara lagi.

Siang Bu-thian sendiri sebetulnya sudah keder dan pecah nyali setelah melihat kehebatan orang yang berhasil membantai lima naga secara begitu mudah. Tapi kemudian pikirnya, “Aku punya uang punya kekuasaan. Tidak susah mengundang jagoan agar mau berpihak kepadaku. Kenapa aku mesti takut.” Maka sambil tertawa licik serunya, “Kepandaian silatmu memang hebat, hebat sekali. Tapi Siauyamu…”

Mendadak Ji Bun-lui mendelik.

Dengan ketakutan Siang Bu-thian mundur tiga langkah.

Belum lagi berdiri tegak, kakek berjubah merah sudah mengumpat lagi, “Kau si anjing busuk! Toaya tidak mengajak bicara anjing busuk macam kau!”

Dan…”Duuuk!” sebuah pukulan dilontarkan ke depan.

Padahal pukulan itu sangat biasa, lurus dan pelan. Tapi entah kenapa biarpun Siang Bu-thian sudah berusaha berkelit, nyatanya gagal untuk menghindarkan diri. “Duk!” jotosan itu langsung bersarang telak di bacotnya hingga dua baris giginya patah dan mencelat keluar. Malah ada tiga empat biji berikut darah tertelan ke dalam perut.

Kontan saja ia berkoar-koar gusar sambil berteriak, “Hajar! Hajar! Hajar! Pokoknya hajar sampai mampus!”

Waktu itu jagoan yang berada di sisi Siang Bu-thian tinggal empat orang pengawal pribadinya. Walaupun jeri terhadap ke-hebatan Ji Bun-lui, namun demi mempertahankan mangkuk nasi sendiri, mereka tak berani membangkang perintah majikannya. Pikirnya, “Biarpun tua bangka itu hebat, masa sepasang kepalannya bisa menandingi empat pasang tangan kami? Kenapa tidak dikeroyok saja?”

Mereka berempat pun sepakat untuk menyerang bersama. Diiringi bentakan keras, mereka menyerang orang itu dari empat penjuru.

Baru saja keempat orang itu mendekat dan belum sempat melancarkan serangan, sambil tertawa tergelak Ji Bun-lui berseru kepada lelaki yang berada di sebelah timur, “Akan kuhajar ubun-ubunmu!”

Baru saja lelaki itu tertegun, kepalan Ji Bun-lui sudah menghajar telak ubun-ubunnya. Tak ampun lagi, tewaslah seketika orang itu.

Kembali Ji Bun-lui memutar badan ke arah selatan, serunya lagi, “Kuhajar Jit-tiong-hiatmu!”

Lelaki itu baru saja menyiapkan kepalan untuk menyerang. Mendengar bawah hidungnya mau diserang, lekas ia tarik tangannya berusaha menangkis.

Tapi…”Duk!” jalan darah Jit-tiong-hiat di bawah hidungnya sudah terhajar telak. Darah segar segera menyembur keluar dengan derasnya, tentu saja selembar nyawanya ikut melaporkan diri ke langit barat.

Kini Ji Bun-lui sudah menoleh ke arah lelaki ketiga. Orang itu ketakutan setengah mati, apalagi setelah melihat dua rekan-nya dibunuh secara gampang. Belum sempat berbuat sesuatu, Ji Bun-lui kembali menghardik, “Kuhajar dadamu!”

Cepat lelaki itu membendung dadanya sambil menyilang-kan tangan. Tapi sodokan tinju Ji Bun-lui tetap dilontarkan ma-suk.

“Kraaak, kraaak …” pertahanan tangan lelaki itu seketika jebol terhantam serangan musuh. Bukan cuma pertahanannya terbuka, bahkan tulang tangannya ikut patah termakan getaran pukulan lawan.

“Blaam!” dadanya seketika terhajar telak. Sambil menyemburkan darah segar ia roboh terjengkang dan tewas seketika.

Melihat semua rekannya tewas, lelaki keempat semakin ketakutan. Ia merasa tangan dan kakinya jadi lemas seketika. Tanpa malu lagi dia putar badan dan melarikan diri terbirit-birit.

“Kuhajar lambungmu!” kembali Ji Bun-lui menghardik.

“Ampun Hohan teriak lelaki itu ketakutan.

Tapi…”Blukkk!” sodokan tinju itu sudah bersarang di lambungnya. Begitu keras pukulan itu, membuat badannya segera terlempar keluar dari rumah makan, mencelat keluar dalam keadaan tak bernyawa lagi.

Secara beruntun Ji Bun-lui telah menghajar musuhnya mu-lai dari atas kepala sampai ke perut. Dalam waktu singkat empat nyawa melayang, namun mimik mukanya sama sekali tak berubah.

Dengan begini Siang Bu-thian sudah tak punya pengawai lagi. Karena semua jagonya sudah melarikan diri, kini tinggal dia seorang berdiri terkesima sambil menutupi bibir sendiri yang berdarah.

Tiba-tiba pemuda tampan itu berbangkit, katanya kepada nona berbaju warna-warni itu, “Hawa napsu membunuh orang ini kelewat besar. Biar kucegah perbuatannya lebih jauh.”

Lekas gadis itu menarik ujung bajunya dan minta ia duduk kembali, katanya dengan lembut, “Kongcu tidak usah terburu napsu. Keempat orang itu memang sepantasnya mati. Mereka sudah terlalu banyak membantu Siang Bu-thian melakukan perbuatan bejad. Entah berapa banyak gadis dan wanita baik-baik yang ternoda di tangan mereka. Jadi tak salah bila hari ini mereka harus mampus di tangan Ji-toaya.”

“Oh…?”

Pendengaran Ji Bun-lui amat tajam. Mendengar pemuda itu ingin beradu kepandaian dengan dirinya, ia jadi kagum dengan keberanian orang. Segera di tengoknya sepasang muda-mudi itu sekali lagi, mendadak seperti teringat akan sesuatu, segera ujar-nya sambil tertawa, “Kukira siapa yang begitu bernyali, rupanya Siau-cecu dari benteng Lam-ce, yang disebut empat keluarga be-sar dunia persilatan In Seng-hong. Kalau begitu, nona ini tentulah Jay-in-hui (si awan pelangi terbang) Lihiap.”

“Tidak berani, tidak berani,” segera pemuda itu menjura.

Begitu bangkit, terlihatlah perawakan tubuhnya yang tinggi semampai, potongan tubuh yang atletis dan gagah. Diam-diam semua orang bersorak kagum akan kegagahan orang ini.

Rupanya dalam dunia persilatan terdapat ‘Thian-he-sam-toa’, tiga paling besar di kolong langit. Ketiga besar itu adalah Thian-he-te-it-pang, perkumpulan nomor wahid di kolong langit Tiang-siau-pang (perkumpulan tertawa panjang), Thian-he-te-it-ceng, perkampungan nomor wahid di kolong langit Si-kiam-ceng (perkampungan mencoba pedang), serta Thian-he-te-it-kiok, perusahaan ekspedisi nomor wahid di kolong langit Hong-im-piaukiok (perusahaan ekspedisi angin dan awan).

Selama ini Tiang-siau-pang selalu berseberangan dengan Si-kiam-ceng, hingga akhirnya sama-sama kehabisan jago dan tumbang dengan sendirinya. Kini yang tersisa hanya Hong-im-piaukiok.

Hong-im-piaukiok sebagai piauwkiok terbesar di kolong langit, memiliki banyak jago andalan. Tapi kekuatan yang paling utama justru datang dari Bu-lim-su-toa-ke, Empat keluarga besar dunia persilatan yang terdiri dari Tang-po (benteng timur), Lam-ce (benteng selatan), Se-tin (kota barat) dan Pak-shia (kota utara).

In Seng-hong, meski baru berusia dua puluh satu tahun, namun dia tak lain adalah Cecu yang baru diangkat dari Lam-ce.

Biar masih muda, In Seng-hong mempunyai julukan Ki-tiam (si Sambaran kilat) yang melukiskan betapa cepatnya gerakan tubuh, gerakan pedang serta jurus serangan yang dimiliki.

Sejak kecil ia sudah tekun belajar bun (sastra) maupun bu (ilmu silat) tanpa mau memikirkan persoalan lain. Yang dia tekuni selama ini hanya satu kata, ‘kecepatan’.

Dengan bakatnya yang bagus, ditambah kemauan yang besar untuk berlatih tekun, tak heran kalau ilmu silatnya mem-peroleh kemajuan yang luar biasa.

Ketika Locecu benteng Lam-ce mati terbunuh secara tiba-tiba, usia In Seng-hong baru mencapai dua puluh tahun. Biarpun dia diangkat menjadi pengganti Cecu dalam usia yang sangat muda, namun dengan kepandaian serta kecerdasan otaknya, kemampuan yang dia tunjukkan sama sekali tidak di bawah kehe-batan Tang-po Pocu, Se-tin Tincu serta Pak-shia Shiacu.

Lantaran hanya memusatkan seluruh perhatiannya untuk berlatih silat, otomatis sebelum menerima jabatan sebagai ketua benteng, pengetahuannya tentang dunia persilatan boleh dibilang amat cetek.

Namun hal inipun ada untung-ruginya. Yang menguntungkan, dia jadi lebih tekun berlatih silat hingga kemajuan yang dicapai pun luar biasa, tapi jeleknya, dia sama sekali tak punya pengalaman. Pengetahuan tentang dunia persilatan nol besar.

Untung sekali Cecu dari Lam-ce sebelumnya meninggalkan seorang putri tunggal. Putrinya itu disebut orang sebagai Jay-in-siancu, sang bidadari pelangi. Ilmu silatnya diperoleh dari warisan ayahnya. Meski tidak sehebat kungfu In Seng-hong, namun tentang masalah dunia persilatan, ia memiliki pengetahuan yang luas.

Hal ini dikarenakan semasa hidup ayahnya, banyak berhubungan dengan jago-jago lihai di dalam benteng, sedang gadis inipun suka membaca banyak buku hingga pengetahuannya amat luas. Hampir semua partai, aliran dan perguruan diketahui olehnya bagai melihat jari tangan sendiri.

In Seng-hong sendiri adalah anak angkat Cecu sebelumnya yang bernama Ngo Kang-tiong. Dia dibesarkan bersama Ngo Jay-in. Boleh dibilang mereka berdua tak pernah berpisah. Apalagi setelah pemuda itu diangkat sebagai pengganti ketua benteng, Ngo Jay-in selalu mendampinginya kemana pun pemuda itu pergi.

Ngo Jay-in seorang gadis yang saleh. Dari ayahnya dia mempelajari dua macam kepandaian, ilmu pedang dan ilmu meringankan tubuh. Tapi lantaran dia seorang gadis yang baik budi, selama ini tak pernah mau membunuh orang. Karena itu dia selalu memperdalam ilmu meringankan tubuhnya hingga mencapai puncak kesempurnaan. Itulah sebabnya orang persilatan menjulukinya sebagai Bidadari Pelangi.

Begitu tahu sepasang muda-mudi itu adalah In Seng-hong dan Ngo Jay-in, decak kagum segera bergema di ruangan.

Tiba-tiba terdengar Ji Bun-lui membentak gusar, “Anak jadah, kenapa belum juga pergi? Kau sudah gatal dan ingin dibantai oleh Toayamu?”

Siang Bu-thian ketakutan setengah mati hingga wajahnya pucat bagai mayat. Apalagi setelah dihardik dengan suara bagai geledek, sekujur badannya gemetar keras, sahutnya tergagap, “Baik…baik dengan sempoyongan dia kabur dari rumah makan itu.

Sepeninggalan Siang Bu-thian, Ji Bun-lui masih berdiri tegak di depan pintu sambil berkata lagi dengan lantang, “Liatwi Eng-hiong, dengarkan baik-baik. Kedatanganku Ji Bun-lui kali ini ke Perkampungan Alam Baka, tujuannya tak lain adalah untuk mendapatkan kitab pusaka Pekikan Naga. Oleh sebab itu bila ada di antara kalian yang datang dengan tujuan sama, lebih baik kita segera berduel untuk menentukan siapa yang lebih berhak untuk maju terus. Atau kalau tidak, bergabunglah denganku setelah unjuk sedikit kebolehan. Bila menolak kedua cara ini, lebih baik segera menggelinding pergi dari sini!”

Dia mengulangi perkataan yang sama sampai tiga kali, begitu keras dan nyaring suaranya membuat jantung semua orang terasa berdebar keras dan sakit gendang telinganya.

Enam jagoan dunia persilatan yang duduk satu meja segera menunjukkan reaksi. Salah seorang di antaranya adalah seorang lelaki kekar yang segera membanting cawan araknya hingga hancur. Kemudian ia membentak sembari menggebrak meja, “Setan tua sialan! Kedatangan kami pun untuk mendapatkan kitab pusaka Pekikan Naga. Kalau kami tak mau mengalah, mau apa kau?”

Serentak kawanan jago itu melompat bangun sambil melolos senjata.

Ji Bun-lui tertawa tergelak, “Hahaha…tidak mau apa-apa! Cuma ingin tunjukkan sedikit kebolehan untuk kalian!”

Tiba-tiba dia mencabut senjata kapaknya, lalu dilemparkan ke udara. Semula orang mengira dia akan menyerang dari jarak dekat, siapa tahu setelah melemparkan kapaknya, dia tetap berdiri di tempat tanpa melakukan apa-apa.

Sementara keenam orang jago persilatan itu masih berdiri termangu, tahu-tahu…

“Wes!” kapak itu melayang dari arah belakang langsung menyambar tubuh mereka dengan kecepatan tinggi.

Orang-orang itu berusaha berkelit, tapi sayang sudah terlambat. Tampak cahaya kapak berkilauan lewat, tahu-tahu keenam orang jago itu merasakan kepala mereka sangat dingin.

Ketika diraba, segera ditemukan bahwa topi yang mereka kenakan kini sudah terpapas separuh, tali pengikatnya sudah putus, topinya hilang sementara rambut pun ikut terpangkas setengahnya.

Terlebih lelaki yang menggebrak meja itu, wajahnya tak berbeda seperti wajah mayat. Bukan saja rambutnya sudah terpapas gundul, malah kulitnya ikut tersayat sebagian tanpa mengucurkan darah. Coba kalau ayunan kapak itu setengah inci lebih ke bawah, mungkin jiwanya sudah melayang sejak tadi. Tak heran kalau dia hanya berdiri mematung dengan wajah keabu-abuan.

Jelek-jelek keenam orang jagoan itu termasuk kawakan Kangouw yang sudah kenyang berkelana dalam dunia persilatan.

Biar kasar dan tak pakai aturan namun masih tahu untuk mengakui kekalahan. Dengan wajah memucat mereka saling berpandangan sekejap, kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun berlalu dari situ.

Kapak sakti yang menggetarkan Kwang-tong ini tertawa keras. Tiba-tiba ia berpaling, kali ini dia pelototi empat orang lelaki kekar berbaju emas. Dipandang dengan cara begitu, k-empat lelaki itu jadi gugup, lekas mereka menundukkan kepala sambil pura-pura minum arak.

Sambil tertawa tergelak Ji Bun-lui berseru, “Hei, kenapa berlagak bisu tuli? Kalau ingin disebut Hohan, coba sambut dulu sebuah pukulan dari Toayamu!”

Dengan langkah lebar dia berjalan menghampiri, sebuah pukulan dilontarkan dengan gerakan yang sangat lamban.

Sejak tadi keempat manusia berbaju emas itu sudah pecah nyali. Keadaan mereka ibarat kawanan burung yang baru ditimpuk batu. Baru melihat Ji Bun-lui berjalan mendekat, mereka sudah berlompatan bangun seperti kucing diinjak ekornya.

Siapa tahu pukulan Ji Bun-lui yang semula nampak sangat lamban itu tahu-tahu berubah jadi cepat sekali.

“Blaaam!” dia hantam permukaan meja keras-keras.

Keempat orang lelaki itu tidak menyangka kalau Ji Bun-lui bakal menghantam permukaan meja di hadapan mereka. Sementara mereka berempat masih tertegun, tahu-tahu empat buah cawan berisi arak yang berada di hadapan mereka sudah mencelat ke udara dan menyiramkan isinya ke wajah mereka.

Dengan gugup bercampur kaget keempat orang itu kabur ke belakang sambil berusaha menghindar. Sayang wajah dan tubuh mereka sudah terguyur arak. Bukan saja basah kuyup, bahkan kulit muka mereka terasa panas dan sakitnya bukan kepalang.

Biar isi cawan sudah tumpah ke wajah orang-orang itu, ternyata cawan maupun poci arak yang berada di meja sama sekali tidak pecah. Jangan kan pecah, retak pun tidak. Cukup ditinjau dari kemampuannya ini, bisa ditunjukkan bahwa tenaga dalamnya sudah amat sempurna dan terkendali sekehendak hati.

Empat manusia berbaju emas itu saling pandang sekejap dengan wajah dan tubuh basah kuyup. Mereka sadar, kalau Ji Bun-lui menghancurkan cawan-cawan itu dengan tenaga dalamnya, kemudian disemburkan ke wajah mereka, sejak tadi nyawa mereka berempat sudah melayang.

Maka setelah menghela napas panjang, salah satu dari ke-empat lelaki berbaju emas itu maju ke hadapan Ji Bun-lui, ujar-nya sambil menjura, “Selama gunung masih menghijau, air tetap mengalir, kami tetap akan mengingat terus ulah Ji-ya yang telah menghalangi kami orang-orang partai baju emas. Bila bertemu lagi di kemudian hari, kami tetap akan membuat perhitungan denganmu.”

Selesai berkata, tanpa, berpaling lagi dia berlalu dari rumah makan itu.

Melihat kepergian orang-orang itu, Bidadari Pelangi segera berbisik kepada In Seng-hong, “Keenam orang jago persilatan tadi adalah jago-jago yang tergabung dalam Siang-pak-lak-hau, enam orang gagah dari Siang-pak. Meski kasar dan agak liar, namun jarang mencelakai kaum lemah. Mereka termasuk orang yang mau membantu kaum lemah, menindas yang kuat. Tapi belum cukup untuk disebut ‘manusia gagah’. Sedang keempat orang berbaju emas itu cukup tersohor namanya di sekitar Siang-kiang. Mereka adalah empat Tocu dari perkumpulan baju emas. Kecuali sering merampok, selama hidup mereka jarang melakukan perbuatan yang kelewat jahat. Tampaknya Ji-toaya sangat bijaksana dalam menjatuhkan hukumannya, tidak seperti apa yang disiarkan selama ini. Katanya dia adalah iblis yang membunuh orang tanpa berkedip.”

Biarpun perkataan itu diucapkan setengah berbisik, namun dengan kesempurnaan tenaga dalam Ji Bun-lui, semua perkataannya dapat didengar amat jelas. Lagi-lagi dia tertawa ke arah Jay-in-hui, ujarnya, “Nona cilik, tampaknya Toaya mulai tertarik dengan kalian pasangan sejoli. Jangan kuatir, aku selalu melakukan apa yang telah kujanjikan. Kalau tidak, akan kutaruh dimana namaku Ji Bun-lui? Kamu harus menerima sebuah pukulanku. Cuma ingat, jika tak kuat lebih baik tak usah diterima dengan keras melawan keras.”

Sejak Jay In-hui memuji kehebatan Ji Bun-lui, orang tua ini sangat gembira dan menaruh rasa simpatik terhadap mereka berdua. Tapi sebagai orang yang kolot dan selalu beranggapan apa yang telah diucapkan harus dilaksanakan, maka dia tetap nekad akan menjajal pukulan muda-mudi itu. Hanya terdorong niat baiknya, maka ia membujuk muda-mudi itu agar menghindar bila tak mampu.

Ucapan Ji Bun-lui segera membuat pipi Jay In-hui bersemu merah lantaran jengah. Sudah lama, nona itu menaruh rasa cinta kepada In Seng-hong. Begitu juga pemuda itu mencintai si nona, tapi hingga kini mereka berdua belum pernah bicara soal pernikahan. Maka sebutan pasangan ‘sejoli’ dari kakek itu kontan membuat mereka gembira bercampur jengah. Tapi mendengar bujukan orang agar tidak menerima pukulan dengan keras lawan keras, mereka anggap kakek itu mengejek kemampuan me-eka yang cetek. Biar tak punya rasa permusuhan, tak urung muncul juga niat untuk menjajal kepandaian lawan.

Dengan suara lantang In Seng-hong segera berseru, “Saudara Ji, silakan mulai menyerang.”

Ji Bun-lui tertawa terbahak-bahak. Mendadak ia cabut sen-jata kapaknya, tampak cahaya hitam berkelebat bagai sambaran petir. Cuma sasarannya bukan In Seng-hong, melainkan meja yang berada di sisinya.

Tenaga dalam dari Ji Bun-lui memang sangat menggiriskan hati. Kuat dan keras bagai gulungan ombak samudra, lembut dan lunak bagai gulungan angin topan. Tatkala kapak itu membelah meja, orang mengira kayu akan beterbangan karena hancur.

Siapa tahu meja itu tetap utuh seperti sedia kala, hanya saja isi meja seperti sumpit, mangkuk, piring, cawan dan lainnya segera beterbangan bagaikan ada dua tiga puluh jenis, senjata rahasia serentak menyergap ke tubuh In Seng-hong dan Jay In-hui.

Menghadapi datangnya ancaman itu, In Seng-hong mau-pun Jay In-hui sama sekali tak berkedip. Dengan cekatan, pemuda itu memutar lengannya, lalu menangkap semua cawan, piring, sumpit dan mangkuk satu per satu dan diletakkan kembali di atas meja, sementara Jay In-hui menyambar sebuah poci arak, memenuhi empat cawan arak yang masih berputar di udara, lalu satu per satu diletakkan di atas meja persis sesaat setelah In Seng-hong meletakkan kembali peralatan makan yang lain.

Sambil tersenyum, Jay In-hui mengebaskan ujung bajunya. Keempat cawan arak yang sudah dipenuhi arak itu segera meluncur ke depan, menerjang ke tubuh Ji Bun-lui.

“Jiya,” serunya sambil tertawa merdu, “Kami ingin meng-undang kau minum secawan…Ah, tidak cukup secawan. Kami akan mengundangmu untuk minum empat cawan arak!”

Cawan arak pertama menyambar dengan kecepatan bagai sambaran kilat, langsung mengancam wajah Ji Bun-lui. Biarpun menyambar sangat cepat, ternyata isi cawan sama sekali tidak tumpah.

Ji Bun-lui tertawa terbahak-bahak, serunya, “Baiklah, kuterima suguhanmu ini!”

Tanpa berkelit, dia pentang mulutnya dan menggigit ujung cawan, lalu sambil menengadah dia tenggak habis isinya, sementara senjata kapak didorong ke depan. Tiga cawan arak yang lain segera berhenti tenang di atas permukaan senjatanya itu.

Ketika selesai menenggak habis seluruh isi cawan arak itu, Ji Bun-lui baru berkata sambil tertawa tergelak, “Hahaha…masih muda sudah memiliki kungfu hebat! Luar biasa, luar biasa! Kelihatannya, biarpun aku enggan didampingi kalian berdua, rasanya juga tak mampu untuk mencegah kalian tetap ikut pergi'”

Selesai berkata, kembali dia tertawa tergelak seraya membalik badan dan berlalu dari situ.

Padahal diam-diam ia sangat terkejut. Dia tak menyangka kalau kepandaian silat kedua orang itu luar biasa hebatnya.

Sejak menghajar musuh-musuhnya tadi, baru In Seng-hong seorang yang mampu mengimbangi kehebatan ilmu kapaknya. Semisal harus bertarung satu lawan satu, mungkin menang kalah susah ditentukan. Tapi jika In Seng-hong dibantu Jay In-hui, jelas dia bakal menderita kekalahan.

Sambil menenteng kapaknya, Ji Bun-lui berjalan menuju ke hadapan keempat orang Hwesio Siau-lim-si. Empat orang padri itu segera merangkap tangan di depan dada, salah seorang di antaranya, seorang padri tua dengan sorot mata tajam, segera bangkit seraya berkata, “Jisicu, Lolap sekalian datang kemari karena ingin mencari tahu jejak keempat murid kami yang hilang di Perkampungan Hantu sejak tiga tahun berselang. Jadi Lolap bukan datang untuk mencari kitab pusaka Pekikan Naga. Harap lisicu tak usah kuatir.”

Para padri Siau-lim-pay ini bukannya jeri terhadap Ji Bun-lui. Sebagai orang yang beribadah, mereka segan mencari kemenangan karena hal yang sepele. Oleh sebab itu sebelum terjadi kerisuhan, mereka mengutarakan dulu tujuan kedatangannya.

Ji Bun-lui segera manggut-manggut, katanya, “Ya, benar. Tiga tahun berselang memang ada empat Hwesio muda dari Siau-lim-pay yang lenyap di dalam Perkampungan Hantu. Aku percaya sebagai padri, kalian tak bakal berbohong. Asal bukan lantaran kitab pusaka Pekikan Naga, aku pun tak ada urusan dengan kalian.”

Selesai berkata dia ganti menghampiri kedua orang Tosu.

Sebetulnya kedua orang Tosu tua itu ingin sekali menjajal kepandaian orang. Tapi melihat para padri Siau-lim-pay berusaha menghindari pertarungan, maka mereka pun segera bertukar pandang sekejap. Lalu salah seorang di antaranya berkata, “Jisicu, Pinto berdua juga datang kemari lantaran Bu-tong-sam-cu yang lenyap di dalam Perkampungan Hantu tiga tahun ber-selang. Pinto berdua tak ada sangkut-pautnya dengan kitab pusaka Pekikan Naga.”

Ji Bun-lui memperhatikan sekejap kedua orang Tosu itu, kemudian katanya, “Bu-tong-pay sebagai partai kaum lurus tak nanti punya murid yang suka berbohong. Kalau toh tak ada hubungannya dengan kitab pusaka Pekikan Naga, tentu saja Toaya akan melewati jalanan Yang-kwan-to sendiri. Kalian hidung kerbau melewati jembatan Tok-bok-kiau kalian.”

Mendengar ejekan yang tak sopan itu, salah seorang di antara Tosu tua itu bangkit dan bersiap mengumbar amarah. Tapi dengan cepat rekannya menahan sambil memberi kode. Terpaksa Tosu itupun mengurungkan niatnya, sebab mereka tahu Ji Bun-lui yang sepak terjangnya mirip orang gila ini sesung-guhnya memiliki ilmu silat yang luar biasa.

Sementara itu, Jay In-hui telah berbisik kepada In Seng-hong dengan suara lirih, “Keempat orang Hwesio tua itu adalah para pemilik ruang Tat-mo-wan yang amat termashur. Konon Liong, Hau, Piau dan Pa, empat padri sakti Siau-lim-si telah lenyap dalam Perkampungan Hantu. Keempat padri tua itu tak lain adalah guru mereka. Ilmu silat mereka luar biasa. Sedang kedua orang Totiang dari Bu-tong-pay itu adalah para Suheng Bu-tong-sam-cu yang ikut lenyap dalam Perkampungan Hantu. Yang seorang bernama Cing Siong-cu, orangnya keras, berangasan dan telengas, sedang yang seorang lagi bernama Cing Leng-cu, orangnya tenang dan pandai membawa diri.”

Dalam pada itu Ji Bun-lui sudah berjalan menuju ke ha-dapan tujuh orang lelaki yang bagian dadanya bertato tulisan “balas dendam.”

Melihat kemunculan jago tangguh ini, diam-diam ketujuh lelaki itu menggenggam senjata masing-masing.

Tiba di hadapan mereka, Ji Bun-lui segera berkata, “Apa-kah kalian sudah mendengar perkataan Toayamu?”

Walaupun di hati kecilnya ketujuh orang lelaki itu agak jeri terhadap kehebatan ilmu silat Ji Bun-lui, namun mereka bertujuh termasuk orang yang enggan mengaku kalah di hadapan orang lain. Biar tahu bukan tandingan lawan, mereka enggan menyerah begitu saja.

Melihat orang-orang itu cuma membungkam, Ji Bun-lui segera menegur lagi dengan suara dingin, “Apakah kedatangan kalian dikarenakan kitab pusaka Pekikan Naga?”

Baru saja akan turun tangan, mendadak terdengar Jay In-hui berseru, “Tunggu sebentar!”

“Ada apa?”

Kepada kawanan jago itu, si nona bertanya, “Apakah Toako sekalian datang dari Soat-say?”

Tujuh orang lelaki kekar itu saling bertukar pandang, belum sempat menjawab, terdengar Jay In-hui kembali bertanya sambil tertawa, “Apakah guru kalian adalah Sip-coat-tui-hun-jiu si Tangan Pengejar Sukma Kok Ci-keng, Kok-cianpwe?”

“Benar, darimana nona tahu?” sahut ketujuh lelaki itu hampir serentak, sikap hormat si nona terhadap guru mereka me-nimbulkan perasaan simpatik orang-orang itu terhadapnya.

Kembali Jay In-hui tertawa.

“Dari senjata yang kalian gembol, aku sudah dapat men-duga siapa kalian semua. Senjata milik kalian sangat istimewa. Meski berbeda senjata, namun gerakan tubuhnya serupa. Jelas berasal dari perguruan yang sama, padahal hanya guru kalian yang menguasai berpuluh macam senjata sekaligus di dunia saat ini. Bila ditinjau dari tato di dada kalian yang bertuliskan ‘balas dendam’, bukankah kedatangan kalian untuk membalaskan den-dam kematian Kok-cianpwe? Ji-toaya, aku rasa mereka bukan datang untuk mencari kitab pusaka Pekikan Naga.”

“Benar,” seorang lelaki yang menggunakan senjata gurdi berantai menjawab sambil tertawa, “Kedatangan kami memang untuk membalaskan sakit hati guru kami.”

Tiba-tiba ketujuh orang lelaki itu bersama-sama merentangkan dada mereka dan memperlihatkan tato di depan dada seraya berkata, “Kami bersepuluh dididik dan dibesarkan Suhu sedari kecil. Tak disangka Lojit, Lopat dan Lokiu melakukan perbuatan laknat sehingga merusak nama baik perguruan. Gara-gara itu pula Suhu terpaksa harus berangkat ke Perkampungan Hantu untuk melakukan penyelidikan yang berakhir dengan lenyapnya jejak guru. Bisa jadi beliau telah dicelakai ketiga binatang itu. Kalau guru kami saja celaka, dengan kepandaian silat yang kami miliki, apa pula yang bisa diperbuat? Tak mampu membalas dendam bagi guru kami membuat kami malu hidup sebagai manusia. Maka sejak tiga tahun berselang kami sayatkan tulisan ‘balas dendam’ di dada kami dengan maksud agar kami selalu teringat dendam ini. Tapi hari ini…” Bicara sampai di sini, tiba-tiba ia berhenti dan menghela napas panjang.

“Murid yang selalu teringat untuk membalaskan dendam sakit hati guru adalah murid teladan yang patut dihormati!” ujar Jay In-hui sedih. “Konon gara-gara ingin balas dendam, kalian telah berlatih tekun hampir tiga tahun lamanya dan sekarang kemampuan kalian sudah jauh di atas kemampuan Kok-locianpwe. Kejadian semacam ini patut digirangkan.”

“Benar, sangat mengagumkan, sangat mengagumkan!” sambung In Seng-hong. “Ji-toaya, silakan lancarkan serangan, bi-ar cayhe yang mewakili mereka bertujuh untuk menerima pukulanmu itu.”

Lelaki yang bersenjatakan peluru geledek segera tampil ke muka seraya berteriak keras, “Biarpun sebagai murid si Tangan Pengejar Sukma, kepandaian kami belum becus dan bukan tandingan orang, bukan berarti kami adalah pengecut yang takut mampus. Kami siap menerima pengajaran dari Ji-sianseng!”

Siapa sangka, Ji Bun-lui bukannya maju menyerang, dia malah berkata dengan menghela napas panjang, “Kenapa aku mesti turun tangan terhadap lelaki sejati macam kalian? Biar berlutut sambil memohon pun, belum tentu aku mau turun ta-gan. Betapa senang hatiku bila muridku juga memiliki semangat macam kalian. Baiklah, karena kalian tak punya minat dengan kitab pusaka Pekikan Naga, buat apa aku mesti menyerang kalian?”

Selesai bicara, ia segera berjalan pergi dari situ.

Melihat kakek itu tidak merecoki mereka, diam-diam ke-ujuh jagoan itu bersyukur dalam hati, sedang Jay In-hui pun berpendapat bahwa Ji Bun-lui bukan orang yang tidak bisa membedakan mana yang benar mana salah.

Saat ini, selain In Seng-hong dan Jay In-hui yang sudah bertarung melawan Ji Bun-lui, empat padri Siau-lim dan dua Tosu Bu-tong yang tidak usah bertarung karena tak berniat dengan kitab pusaka Pekikan Naga, kemudian tujuh jago pencari balas dendam yang dianggap sebagai ksatria sejati, dalam rumah makan itu tinggal si Tamu Berjubah Hitam, lelaki berbaju sutera, empat orang Tauwto serta dua lelaki berlengan buntung yang belum menunjukkan sikap.

Ketika melihat Ji Bun-lui berjalan mendekat, keempat orang Tauwto itu segera merasa keder, meski dalam penampilan berusaha tetap bersikap tenang. Sementara, paras muka si Tamu Berjubah Hitam sudah berubah hijau membesi, si lelaki berbaju sutera bersikap acuh sambil menenggak minuman, sedangkan manusia berlengan buntung itu menunjukkan sikap yang dingin. Hawa membunuh telah menyelimuti wajahnya.

Ji Bun-lui tertawa terbahak-bahak, dengan langkah lebar dia berjalan menghampiri keempat orang Tauwto itu.

Dengan wajah serius dan sikap siaga, keempat Tauwto itu segera bangkit berdiri. Jelas mereka sudah meningkatkan selu-uh kewaspadaannya.

Terdengar Jay In-hui berbisik kepada In Seng-hong dengan suara lirih, “Keempat orang Tauwto ini sebetulnya berasal dari Juan-tiong. Ilmu silat mereka tinggi dan tersohor sebagai empat perampok ulung. Yang pertama bernama Sam-ciat-kun (si Tong-kat Tiga Ruas) Si Tong, orang kedua bernama Pong-pian-jan (si Sekop kelancaran) Kongci Si, orang ketiga bernama Toh-hun-leng (Kelentingan pencabut nyawa) Hoa Pian dan orang keempat bernama Heng-jian-li (si Pejalan ribuan li) Phang Ku-kian. Suatu kali mereka pernah merampok sebuah kuda mestika di Juantiong, sehingga menggegerkan empat opas yang tersohor itu. Karena dikejar terus hingga terdesak, akhirnya mereka menyamar menjadi empat orang Tauwto dan menyelinap ke wilayah Siang-kiang untuk menghindar dari penangkapan.”

Tak terlukiskan rasa kaget keempat orang Tauwto itu se-telah mendengar penjelasan si nona. Dengan perasaan terkesiap mereka berpikir, “Darimana dia tahu sepak terjang kami? Kalau seorang nona pun tak dapat dikelabui, mana mungkin penyamaran kami bisa mengelabui empat opas yang tersohor itu?”

Mimpi pun mereka tidak menyangka kalau gadis itu bisa menebak asal-usulnya karena melihat dari senjata yang mereka gunakan. Wajah boleh diubah, dandanan bisa disamarkan. Tapi kalau sudah terbiasa menggunakan senjata andalan, mau menyamar sebagai apapun, senjata yang digunakan tetap sama saja.

Terdengar Ji Bun-lui tertawa tergelak sambil berseru, “Hahaha…bagus, bagus sekali. Rupanya kalian adalah burung-burung yang lepas dari jaring para opas. Lihat kapak!”

Sambil menghardik keras, sebuah bacokan langsung dilontarkan.

Ketika Si Tong, Kongci Si dan kawan-kawan menyaksikan sabetan kapak itu tidak langsung mengarah ke tubuh mereka, diduganya Ji Bun-lui kembali akan-menggunakan taktik lama dengan menggetarkan mangkuk sumpit di meja untuk ditimpukkan ke arah mereka.

“Sret!” desingan tajam menderu di udara, di antara kilauan cahaya kapak tiba-tiba permukaan meja ambles ke bawah.

Perubahan ini terjadi sangat mendadak dan sama sekali di luar dugaan siapa pun. Ternyata dalam sambaran kapak tadi secara beruntun Ji Bun-lui telah menebaskan kapaknya sebanyak empat kali dengan empat perubahan yang berbeda. Namun lantaran kelewat cepat, suara yang ditimbulkan juga seakan hanya satu kali.

Padahal pada saat itulah mata kapak telah memotong kutung keempat kaki meja itu. Dengan amblasnya permukaan meja, seketika semua piring, cawan dan teko arak pun berhamburan keempat penjuru dan mengotori tubuh mereka semua.

Si Tong berempat bukan jagoan yang berilmu cetek. Sadar gelagat tidak menguntungkan, mereka segera mendengus dingin, senjata dalam genggaman langsung diputar dan masing-masing menahan satu sudut meja sehingga permukaan meja yang nyaris tumbang itu segera tertahan di udara.

Ji Bun-lui tertawa nyaring, kembali kapaknya dilontarkan secepat sambaran halilintar.

Di saat Si Tong berempat berhasil menahan permukaan meja dengan senjata masing-masing, ayunan kapak Ji Bun-lui kembali menyambar tiba.

Si Tong, Hoa Pian, Kongci Si serta Phang Ku-kian terkesiap. Baru saja mereka hendak mengayunkan senjata untuk menang-kis, mendadak terdengar…

“Blum!” permukaan meja tahu-tahu sudah terbelah jadi dua, terbelah persis di tengah dan roboh ke lantai. Bersamaan itu pula cahaya hitam lenyap dari pandangan.

Ternyata ayunan kapak Ji Bun-lui barusan adalah untuk membelah permukaan meja. Dengan terpapas kutungnya meja itu, otomatis guyuran arak dan sayur sekali lagi menyiram tubuh keempat orang itu.

Ketepatan Ji Bun-lui memanfaatkan kesempatan, ketepatannya menggunakan tenaga serta kecepatan gerak serangan kapaknya benar-benar menggidikkan hati. Untuk sesaat, Si Tong berempat hanya bisa berdiri dengan wajah keabu-abuan. Untuk sesaat mereka tidak tahu apa yang mesti diperbuat.

Terdengar Ji Bun-lui tertawa terbahak-bahak sambil berse-ru, “Hahaha…bagus, bagus sekali! Kalian berempat ternyata sanggup menahan sejurus seranganku. Biarpun tujuan ked-tangan kalian demi kitab pusaka Pekikan Naga, aku tetap akan mengizinkan kalian turut serta.”

Rupanya keberhasilan keempat orang itu menahan permukaan meja hingga tak jatuh pada serangan pertama telah mengagumkan hati kakek ini. Meski kemudian ia berhasil membelah meja itu jadi dua, namun serangan yang dipakai adalah jurus serangan yang kedua.

Sebagai seorang yang pegang janji, tentu saja dia tak ingin menjilat ludah sendiri. Maka dengan langkah lebar dia mende-kati dua jagoan berlengan kutung itu.

Dengan wajah amat serius, kedua orang jagoan berlengan kutung itu melompat bangun. Lelaki yang di sebelah kiri segera berseru, “Kou-hun (si Penggaet sukma) Sim Ciu!”

Lelaki yang di sebelah kanan segera menyambung, “Poh-hun (si Pembetot nyawa) Sim Sat!”

“Kami datang untuk mendapatkan kitab pusaka Pekikan Naga,” sambung yang kiri.

“Orang she Ji, kau boleh mulai menyerang,” lelaki yang di sebelah kanan menambahkan.

Kedua orang itu berbicara saling sambung-menyambung, satu kerja sama yang amat rapi dan serasi sehingga membuat semua yang hadir melengak dibuatnya.

Rupanya Kou-hun-poh-hun dua bersaudara sudah cacad badan semenjak lahir. Karena selalu dipandang remeh orang lain, mereka bertekad berlatih silat dengan tekun dan gigih sehingga akhirnya berhasil meyakinkan ilmu silat yang hebat.

“Bagus, bagus sekali!” seru Ji Bun-lui sambil tertawa keras, sebuah pukulan langsung dilontarkan.

Dia tahu kedua orang bersaudara ini tidak gampang dihadapi, maka dalam melontarkan serangannya dia telah menggunakan tenaganya hingga mencapai enam bagian.

Kou-hun Sim Ciu dan Poh-hun Sim Sat tertawa dingin, secara beruntun mereka melancarkan sebuah pukulan!

Ketika ketiga gulung tenaga pukulan itu saling bentur di udara, seharusnya terjadi suara benturan yang keras. Tapi kenyataannya sama sekali tak ada suara.

Ji Bun-lui merasa tenaga pukulannya bagai kerbau lumpur yang kecebur di laut, hilang lenyap tak berbekas. Kenyataan ini membuatnya terkejut. Sejak terjun ke dunia persilatan, belum pernah ia jumpai peristiwa semacam ini.

Pada saat yang bersamaan Sim Ciu dan Sim Sat mengayunkan kutungan lengan mereka bersama-sama, segulung tenaga pukulan yang sangat dahsyat langsung menggulung ke tubuh Ji Bun-lui.

Sebagai seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, Ji Bun-lui segera sadar apa yang terjadi. Rupanya kedua orang besaudara itu telah menggunakan sejenis ilmu pukulan yang istimewa untuk menggiring tenaga pukulan yang dilontarkan itu ke samping, kemudian melalui lengan mereka yang disertai tenaga pukulan, kedua orang itu membalikkan ke arah tuannya.

Dengan begitu berarti ada tiga gulung tenaga pukulan yang sangat kuat langsung menerjang tubuh Ji Bun-lui.

Menghadapi ancaman seperti ini Ji Bun-lui membentak keras, wajahnya memerah bagai pantat babi, cambangnya berdiri bagaikan duri. Dengan mengerahkan dua belas bagian tenaga dalamnya, ia songsong datangnya serangan itu dengan keras lawan keras.

“Blaaam!” diiringi benturan keras yang menggetar sukma, tubuh Ji Bun-lui bergetar keras.

Pasir dan debu berguguran dari atas atap rumah, sementara dua bersaudara Sim terdesak mundur tiga langkah dengan sempoyongan. Walaupun telah berusaha, menahan diri, tak urung mereka mundur lagi sejauh tiga langkah dengan wajah pucat keabu-abuan.

“Hui-ji,” terdengar In Seng-hong berbisik, “Aneh benar jurus serangan yang digunakan dua bersaudara ini. Dari aliran mana ilmu silat mereka?”

“Jurus serangan itu bukan berasal dari aliran mana pun, tapi hasil ciptaan mereka sendiri,” “sahut Jay In-hui sambil tertawa. “Dengan sebuah tangan memancing tenaga pukulan lawan, lalu menggunakan lengan mereka yang sebelah, berikut tenaga pukulan sendiri balik dilontarkan ke tubuh lawan. Jarang ada yang mampu menghadapi serangan itu. Mereka sebut ilmu itu sebaeai Toan-Dit-khi-kane (ilmu aneh lengan kutung).”

Biarpun Ji Bun-lui berhasil memukul mundur dua bersaudara Sim, namun yang digunakan adalah pukulan kedua. Bukan cuma begitu, bahkan pihak lawan masih sanggup melancarkan serangan balasan yang mesti dia hadapi dengan menggunakan segenap kekuatan yang dimiliki. Kenyataan ini kontan saja membuatnya amat kagum, serunya tanpa terasa, “Kungfu hebat, kungfu hebat!”

Kali ini dia berbalik menuju ke hadapan si Tamu Berjubah Hitam serta orang berbaju sutera itu.

Tamu Berjubah Hitam tak bisa menahan diri lagi. Tubuhnya yang semula membelakangi Ji Bun-lui tiba-tiba berjumpalitan berdiri dan tahu-tahu sudah berhadapan dengan lawan.

Padahal jarak antara meja kursi itu cukup dekat. Tapi entah dengan cara apa dia menggeser meja kursi itu, dalam waktu singkat dia sudah berjumpalitan dan berganti arah, malah berdiri sambil meneguk arak.

Tampaknya pertempuran sengit segera akan berkobar.

Di saat yang amat kritis itulah, tiba-tiba Jay In-hui berseru lantang, “Pa-locianpwe!”

Tamu berjubah hitam itu nampak terkejut, tegurnya sambil berpaling, “Kau kenal aku?”

“Barusan Locianpwe telah mendemonstrasikan kehebatan Sip-ban-kang (ilmu isapan) dan Say-jian-li (melesat ribuan li). Masa aku tidak mengenalnya? Di dunia persilatan saat ini, ada siapa lagi yang mampu menggunakan ilmu mengisap sesempurna kepandaian Pa-locianpwe?”

Setelah Jay In-hui berkata begitu, semua orang baru paham apa yang telah terjadi.

Rupanya ilmu mengisap merupakan satu ilmu silat tingkat atas yang amat susah dilatih. Di dalam dunia persilatan, hanya Pa Thian-sik seorang yang dapat menggunakan ilmu itu dengan sempurna.

Adik seperguruannya yang disebut orang si Senyuman Pengejar Nyawa Yu-bun-siu tak pernah belajar ilmu menghisap, sebab sebagai seorang Haksu, dia takut ilmu ini akan mengganggu citranya. Maka selama ini yang ditekuni hanya ilmu meringankan tubuh Melesat Ribuan Li.

Kembali Jay In-hui berkata sambil tertawa, “Ji-toaya, aku rasa kedatangan Pa-cianpwe pasti lantaran lenyapnya Yu-bun Siu Locianpwe di perkampungan ini.”

Pujian dari gadis itu meski mengurangi sifat bengis Pa Thian-sik, namun dia enggan menerima jilatan pantat itu. Kembali hardiknya, “Benar, sejak masuk ke Perkampungan Alam Baka, Yu-bun Sute menjadi gila. Lohu memang sengaja datang kemari untuk membasmi kawanan setan iblis yang bercokol di situ.”

Ji Bun-lui tahu kepandaian silat yang dimiliki Pa Thian-sik sangat tangguh. Bila ingin mengunggulinya, paling tidak dia mesti bertarung dengan mengeluarkan segenap kekuatan yang dimilikinya.

Padahal bagi Pa Thian-sik, bukan satu pekerjaan yang terlalu susah untuk menerima sebuah pukulannya.

Pada mulanya, Ji Bun-lui menyangka dengan mengusir terlebih dulu kawanan jago yang sama-sama berniat mencari kitab pusaka Pekikan Naga, maka dia akan mengurangi banyak masalah nantinya. Siapa tahu bukan saja dia harus menghadapi In Seng-hong, Jay In-hui, dua bersaudara Sim dan Pa Thian-sik, bahkan kemampuan Si tong, Kongci Si, Hoa Pian serta Phang Ku-kian pun sangat tangguh. Masih ditambah empat padri Siau-lim-si dan dua Tosu Bu-tong. Maka bila dia nekad ingin beradu tenaga dengan mereka, besar kemungkinan justru dia sendiri yang bakal rugi.

Maka sambil tertawa tergelak ujarnya, “Baiklah Pa Thian-sik, jika kedatanganmu lantaran urusan si sastrawan gila, rasa-nya Toaya juga tak perlu banyak urusan denganmu!”

Maka dia pun berjalan menghampiri lelaki berbaju sutera itu. Diam-diam dia salurkan tenaga dalamnya sampai sepuluh bagian untuk bersiap melancarkan serangan mendadak.

Belum lagi dia mengucapkan sesuatu, lelaki berbaju sutera itu sudah berdiri, menjura dalam-dalam seraya berkata, “Saudara Ji, Cayhe bernama Coa Giok-tan, merupakan sahabat karib p-milik Perkampungan Hantu Sik Yu-beng. Kini nasib Sik-cengcu masih diliputi teka-teki, kedatanganku hanya ingin menengok keadaan sahabatku itu.”

Begitu Coa Giok-tan memperkenalkan namanya, kembali semua orang yang hadir dibuat terperanjat, sebab orang ini bergelar Jan-si Tayhiap, pendekar sutera. Bukan saja merupakan seorang pedagang sutera yang kaya-raya, dia pun suka membantu orang, luas pergaulannya” dan tinggi ilmu silatnya.

Pemilik Perkampungan Hantu Sik Yu-beng memang jarang bergaul. Kalau dibilang punya sahabat karib, maka dia hanya memiliki Coa Giok-tan seorang. Ketika Sik Yu-beng tertimpa musibah, memang sudah sepantasnya bila Coa Giok-tan datang menyelidiki kasus ini.

Namun dalam pemikiran Ji Bun-lui, dia tak ingin ketambahan satu orang yang justru bakal menjadi beban baginya di kemudian hari. Segera ujarnya, “Kedatangan Toayamu kali ini adalah untuk mendapatkan kitab pusaka Pekikan Naga. Konon kitab itu tersimpan dalam perkampungan. Kau sebagai sahabat karib Sik Yu-beng yang hingga kini nasibnya belum ketahuan, mungkin saja bakal menghalangi niatku ini. Jadi…lebih baik sambut dulu sebuah pukulanku!”

Dia berniat mengalahkan Coa Giok-tan dalam satu gebrakan, agar sedini mungkin dia bisa menyingkirkan seorang musuh tangguh.

“Kalau memang begitu, Cayhe akan mencoba kehebatan saudara Ji. Silakan menyerang!” sahut Coa Giok-tan sambil tertawa.

“Hahaha…kalau begitu terimalah seranganku!”.secepat ki-lat Ji Bun-lui melemparkan kapaknya ke udara.

Kapak yang memancarkan sinar kehitam-hitaman itu tidak langsung menyerang tubuh Coa Giok-tan. Setelah berputar dulu satu lingkaran, senjata itu baru membabat ke belakang kepala lawan.

Gerak serangan yang ia gunakan saat ini berbeda sekali dengan serangan yang digunakan untuk memukul mundur enam jagoan dari Siang-pak tadi. Kekuatan serangan yang terkandung dalam sambaran kapaknya ini mungkin sepuluh kali lebih hebat, sepuluh kali lebih cepat dan sepuluh kali lebih dahsyat.

Para jago berseru tertahan, semua orang tidak mengira kalau Ji Bun-lui bakal mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya untuk melancarkan serangan ini. Siapa pun tahu kekuatan daya serangan ini mengerikan hati. Ditangkis dengan senjata apapun tentu akan hancur duluan.

Coa Giok-tan cuma tersenyum tawar, tiba-tiba dia ia lepas-kan jubahnya, lalu dengan mengobat-abitkan jubah suteranya itu dia gulung datangnya senjata kapak lawan.

Kembali para jago bersorak di dalam hati. Coa Giok-tan memang luar biasa. Tak ada senjata lain yang lebih cocok daripada jubah sutera itu untuk membendung datangnya bacokan maut itu.

Tak terlukiskan rasa kaget Ji Bun-lui setelah dilihatnya gulungan jubah lawan berhasil mengisap kapak terbangnya. Dalam kagetnya, tangan kiri segera disodokkan ke depan.

“Wesss!” kapak itu langsung menerobos keluar dari lipatan baju lawan. Hanya saja tenaga sambarannya langsung punah hingga rontok ke tanah. Segera jago marga Ji ini menyambar kembali senjatanya.

Sekalipun berhasil menangkap kembali senjatanya, tidak urung keringat dingin sempat bercucuran membasahi jidat Ji Bun-lui.

Seandainya ia gagal menarik kembali senjatanya tadi, berarti dia sudah keok di tangan Coa Giok-tan. Walau sekarang senjatanya berhasil merobek baju lawan, bagaimanapun dia tetap sudah kalah setengah jurus.

Tentu saja sebagai orang yang besar gengsinya, Ji Bun-lui tak ingin melancarkan serangan berikut.

Sementara dia masih termangu, terdengar Coa Giok-tan sudah berkata sambil tertawa, “Saudara Ji, tenaga dalammu sungguh hebat! Nyaris Cayhe terluka di tanganmu. Untung baru jubahku saja yang robek. Kalau sampai nyawa ikut melayang, itu baru sial namanya.” Sambil meletakkan jubahnya di meja, dia kembali ke tempat duduknya dan mulai meneguk arak lagi.

Belum sempat Ji Bun-lui berulah kembali, tiba-tiba terdengar seruan tertahan bergema memecah keheningan.

Entah sejak kapan di atas sebuah meja kecil di sudut ruangan telah bertambah dengan seorang lelaki berbaju kasar. Orang itu sedang tertidur nyenyak di situ. Kapan dia masuk? Ternyata tak seorang pun tahu.

Dengan mata mendelik Ji Bun-lui segera bertanya kepada pemilik rumah makan, “Apakah dia pelayanmu?”

Kakek pemilik rumah makan mengawasinya sekejap, ke-mudian sahutnya sambil menggeleng, “Hah? Bukan…bukan…aku tidak kenal.”

“Aneh, sejak kapan orang ini masuk kemari?” seru A-hok keheranan.

“Lo…Loya …” kata A-pun agak tergagap, “Orang itu sudah menenggak tiga poci arak, aku…dia minta kepadaku, tapi aku…aku belum memberinya…dia…dia mencuri arak kita.”

Mendengar perkataan itu, dengan membawa kapaknya, Ji Bun-lui segera berjalan mendekatinya, lalu bentaknya nyaring, “Hei, mau apa kau datang kemari?”

Dia mengulangi pertanyaan itu sampai tiga kali, suara yang nyaring membuat seluruh ruangan rumah makan bergetar keras.

Tapi orang itu tidak menggubris, mendusin pun tidak. Ia masih tidur dengan nyenyaknya.

Sambil tertawa dingin Ji Bun-lui mengayunkan kapaknya. Serangan itu menggunakan tenaga tiga bagian. Bila orang itu ti-dak menghindar, dapat dipastikan jiwanya bakal melayang.

Tapi orang itu masih saja tidur sambil mendengkur, tampaknya dia segera akan tersambar oleh bacokan kapak itu.

“Ampuni jiwanya!” pekik Jay In-hui tak tahan.

“Tak usah kuatir,” sahut Ji Bun-lui sambil tertawa nyaring, “Aku hanya ingin mengiris sebelah telinganya!”

Orang itu belum juga berkutik…

Mendadak, di saat mata kapak hampir menempel telinganya, orang itu menggeliat perlahan. Anehnya semua piring, mangkuk, cawan dan hidangan yang berada di atas meja telah meluncur ke udara dan langsung menyambar tubuh Ji Bun-lui.

Mimpi pun Ji Bun-lui tak mengira kalau lawan akan menggunakan cara semacam itu untuk menghadapinya. Cawan arak yang melayang tiba duluan langsung mengguyur badannya.

Ji Bun-lui meraung gusar, dia tahan kapaknya secara mendadak, kemudian diayunkan untuk merontokkan semua cawan, piring, mangkuk dan sayuran yang mengancam tubuhnya.

“Sialan!” umpat Ji Bun-lui lagi dengan penuh amarah. “Tidak kusangka hebat juga kepandaian silatmu!”

Sekali lagi kapaknya dibacokkan ke depan, kali ini menggunakan tenaga sepuluh bagian dan sama sekali tak ada belas kasihan.

Tahu kalau orang itu berkepandaian silat amat hebat, Jay In-hui, In Seng-hong serta Coa Giok-tan tidak berniat memberi bantuan. Mereka hanya menonton sambil berpeluk tangan.

Sungguh dahsyat datangnya bacokan kapak itu. Tampak-nya orang itu segera akan tertimpa nasib sial…

Mendadak pandangan jadi kabur, orang itu sudah miringkan badan, duduk ke samping bangku. Namun tetap dalam kondisi tidur nyenyak. Dengan duduk di ujung bangku, otomatis keseimbangan jadi berat sebelah, maka bacokan kapak Ji Bun-lui pun persis menghantam bangku itu.

Diam-diam Ji Bun-lui terkejut. Dia tahu, bila kapaknya sampai membacok bangku, bila pada waktu yang bersamaan orang itu melancarkan serangan balasan, mungkin terpaksa ia harus mundur dengan meninggalkan senjatanya tetap di bangku.

Melihat pihak lawan masih tidur nyenyak, Ji Bun-lui segera mengubah bacokan menjadi pukulan. Dia bermaksud menghajar bangku itu hingga terbelah jadi dua.

“Akan kulihat apakah kau masih bisa tidur terus?” pikir-nya dalam hati.

Siapa tahu kembali pandangan mata serasa kabur, tahu-tahu orang itu sudah berpindah ke bangku yang lain, tetap dalam keadaan tidur sambil mendengkur.

Di sekeliling meja itu terdapat empat buah bangku panjang. Dengan terbelahnya sebuah, maka masih ada tiga buah bangku utuh.

Ji Bun-lui merasa terkejut bercampur gusar. Lagi-lagi dia mengayun kapaknya, tapi untuk kesekian kalinya orang itu su-dah pindah lagi ke bangku yang lain.

Kejar-mengejar pun berlangsung dengan serunya. Tatkala Ji Bun-lui berhasil membelah bangku keempat, orang itu melejit ke atas meja dan lagi-lagi tidur mendengkur di situ.

Saking gusarnya, otot hijau di jidat Ji Bun-lui sampai me-nonjol keluar. Teriaknya penuh amarah, “Akan kulihat kau hendak kabur lagi kemana?”

Ayunan kapak membuat meja itu terbelah jadi dua bagian.

Karena sudah kehabisan tempat untuk berbaring, terpaksa orang itu melompat berdiri, tapi matanya masih terpejam dan ia tetap tidur sambil mendengkur.

Habis sudah kesabaran Ji Bun-lui. Dengan menggunakan sebelas bagian tenaga dalamnya, dia lancarkan kembali serangan dengan ilmu sakti kapak terbangnya.

Mendadak orang itu membuka mata lebar-lebar, sinar tajam memancar keluar dari balik matanya. Jelas, dia tak berani memandang enteng datangnya serangan maut itu.

Coa Giok-tan cukup tahu betapa lihainya serangan kapak itu, karena dia telah merasakannya sendiri tadi. Karena itu ia berteriak keras, “Hati-hati teman!”

“Cepat gunakan bajumu untuk menahan serangan itu!” In Seng-hong berteriak pula memperingatkan.

Ketika kapak terbang itu hampir membacok tubuh orang tersebut, mendadak ia menjatuhkan badan telentang ke belakang.

Tindakan yang ia lakukan sama sekali di luar dugaan orang. Tapi senjata kapak itu seperti bernyawa, tiba-tiba saja gerakannya menukik ke bawah dan langsung membabat lambung orang.

Setelah menjatuhkan diri telentang, kembali orang itu mengeluarkan jurus serangan aneh. Ketika kapak lawan mengancam lambungnya, tiba-tiba dia angkat kedua kakinya lalu me-endang kuat-kuat ke arah senjata itu.

Padahal waktu itu kapak terbang sedang meluncur datang dengan kecepatan tinggi, bahkan sambil berpusing kencang. Dihadapi dengan tangan mungkin masih ada harapan. Bagaimana mungkin dia bisa menghadapinya dengan tendangan kaki?

Ketika menjejakkan kakinya, semua orang baru dapat melihat bahwa dia tidak mengenakan sepatu. Dengan ibu jari kedua kakinya dia sodok pelan punggung kapak yang sedang meluncur tiba…

“Duuuk!” tahu-tahu kapak terbang itu kehilangan .irah dan kini malah berbalik meluncur ke tubuh Ji Bun-lui.

Gerakan serangan yang digunakan orang itu memang sangat berbahaya dan menyerempet maut. Bukan pekerjaan gampang untuk mengalihkan sasaran dari sebuah benda yang sedang berpusing, kecuali dia dapat menghantam titik inti gerak pusingan itu.

Dari sini bisa disimpulkan bahwa kungfu yang di-miliki orang itu memang luar biasa.

Tampaknya Ji Bun-lui tahu kelihaian lawan. Dia mengayun tangan menangkap kembali senjata kapaknya. Baru saja dia akan melancarkan serangan susulan, orang itu sudah berjumpalitan dan bangkit berdiri, berdiri persis di hadapan Ji Bun-lui.

Satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benak Jay In-hui. Dia seperti teringat seorang tokoh dunia persilatan yang sangat lihai.

Tiba-tiba orang itu membuka mulutnya, lalu…

“Uaaar …!” dia semburkan arak ke tubuh lawan.

Bagaikan hujan gerimis yang menyelimuti angkasa, sem-buran arak itu meluncur ke tubuh Ji Bun-lui dengan kecepatan bagaikan halilintar.

Ji Bun-lui tertegun. Masih untung dia bukan orang yang gampang panik bila bertemu ancaman bahaya. Kapaknya segera diputar sedemikian rupa membentuk satu lapis jaring pertahan-an yang segera membendung seluruh semburan arak itu.

Selesai menyemburkan araknya tadi, orang itu tidak mendesak lebih jauh, sebaliknya Ji Bun-lui yang sadar kalau pihak lawan bukan manusia sembarangan, segera menyimpan kembali kapaknya. Saat itulah dia baru menjumpai pakaiannya telah bertambah beberapa titik lubang kecil akibat semburan arak tadi. Bisa dibayangkan apa jadinya bila semburan itu menghajar tubuhnya?

“Wah,” seru orang itu kemudian, “setelah tumpah, rasanya aku jadi lebih sadar.”

Kemudian sambil melototi Ji Bun-lui, lanjutnya, “Hei, siapa kau? Kenapa suka membunuh orang sembarangan? Kau mengerti hukum tidak?”

Ji Bun-lui tidak menyangka kalau orang itu menyebut soal hukum. Mendadak seperti teringat akan seseorang, serunya, “Jadi kau adalah….”

Mendadak keempat orang Tauwto itu, Hoa Pian, Phang Ku-kian, Kongci Si dan Si Tong, bangkit berdiri secara diam-diam lalu berusaha mengeluyur pergi dari pintu gerbang rumah makan.

“Ei, tunggu sebentar!” kembali orang itu berteriak, sebuah tendangan pada sebuah guci arak membuat benda itu langsung meluncur ke arah pintu gerbang.

“Blaaam!” diiringi suara keras, guci itu menghantam pintu, membuat pintu yang semula sudah terbuka kini menutup kembali.

Pucat pias wajah Si Tong dan kawan-kawan saking terkejutnya. Tapi Ji Bun-lui semakin yakin siapa gerangan orang itu. Serunya sambil tertawa terbahak-bahak, “Hahaha…rupanya Tui-bing (si Pengejar Nyawa) yang telah datang? Tak heran kalau kapak terbangku melempem di ujung kakimu!”

Sementara itu. Jay In-hui telah berkata pula sambil tertawa, “Konon empat opas dunia persilatan masing-masing memiliki kepandaian andalan yang berbeda, tapi hampir semuanya tangguh dan hebat. Tui-bing Cianpwe sangat mahir dalam semburan arak, ilmu meringankan tubuh serta ilmu kaki. Konon kehebatannya tiada duanya di kolong langit!”

“Oh rupanya Cianpwe Pengejar Nyawa,” sahut In Seng-hong girang. “Berkat bantuan Cianpwe yang berulang-kali tahun lalu, aku Seng-hong belum sempat mengucapkan terima kasih kepadamu!”

Ternyata orang ini adalah satu di antara empat opas yang amat termashur dalam dunia persilatan, Tui-bing.

Empat opas terdiri dari Leng-hiat (si Darah dingin), Tui-bing (si Pengejar Nyawa), Tiat-jiu (si Tangan Besi) serta Put-cing (si Tanpa Perasaan).

Dari keempat orang opas ini, usia si Darah dingin paling muda. Pengenalan tentang jago yang satu ini telah diceritakan pada bab pertama.

Si Pengejar Nyawa sangat mahir dalam ilmu permainan kaki. Lantaran sepasang kakinya hebat, otomatis ilmu meringankan tubuhnya juga luar biasa. Kegemarannya yang paling utama adalah minum arak, tapi arak justru telah menyelamatkan jiwa-nya beberapa kali.

Si Pengejar Nyawa pernah menyelamatkan putri kesayangan dari Pak-shia si benteng utama Ciu Pak-cu yang dijuluki Sian-cu-lihiap (Pendekar Bidadari) Pek Sin-ji. Cukup dengan satu jurus dia telah merobohkan It-kiam-toh-mia (pedang sakti pencabut nyawa) Si Kok-ching, membunuh Bu-wi Sianseng serta membantai Bu-tek Kongcu yang namanya sempat menggetarkan sungai telaga.

Ketika berusaha membunuh Bu-tek Kongcu yang lihai, berkat semburan arak yang memecahkan perhatian lawannya itulah dia berhasil mengatasi kehebatan lawan. Maka tak heran kalau dikatakan bahwa arak telah sering menyelamatkan jiwanya.

Dalam mengungkap berbagai kasus pembunuhan, si Pengejar Nyawa tak pernah gagal. Betapa ganasnya perampok atau pembunuh, akhirnya mereka tetap keok di tangannya. Lantaran itu orang memanggilnya si Pengejar Nyawa. Tapi karena ilmu kakinya sangat hebat, ada juga yang memanggilnya Sin-tui-Tui-bing (Kaki sakti pengejar nyawa). Mengenai siapa nama aslinya, tak seorang pun yang tahu jelas.

Terdengar si Pengejar Nyawa menyahut sambil tertawa, “Ya, aku memang si Pengejar Nyawa. Apa Ciu Shia-cu baik-baik saja?”

“Dia sangat baik, terima kasih atas perhatian Cianpwe,” sahut In Seng-hong dengan sangat hormat. “Boanpwe Seng-hong bersama adik misan Jay In-hui menyampaikan salam kepada Cianpwe.”

“Aaah, Cianpwe apaan?” si Pengejar Nyawa tertawa ter-gelak. “Usiaku hanya sedikit lebih tua darimu. Lebih baik panggil Toako saja….”

“Tapi…tapi…mana boleh begitu.”

Sementara itu Phang Ku-kian, Hoa Pian, Kongci Si serta Si Tong hanya berdiri dengan wajah pucat pasi. Untuk sesaat, mereka tak tahu apa yang mesti dilakukan.

Kepada orang-orang itu, si Pengejar Nyawa segera berkata sambil tertawa, “Sebetulnya orang yang sedang mengejar kalian bukan aku, tetapi si Tangan Besi. Aku tak ingin mencampuri urusan orang lain, karena bila aku membantu menangkap kalian, dia malah tak senang hati. Bila aku beritahu kepadanya pun, belum tentu dia akan terima kabarku dengan senang. Maka kalian tak usah kuatir, aku tak bakal menangkap kalian. Tapi ingat, cepat atau lambat kalian pasti bakal ditangkap olehnya. Oh ya, bukankah kamu semua mau berkunjung ke Perkampungan Ha-tu? Kedatanganku pun untuk mengusut kasus pembunuhan di perkampungan itu. Jadi sebetulnya tak ada sangkut-pautnya dengan kalian. Jangan kuatir, aku selalu pegang janji dan kalian boleh berlega hati.”

Jantung yang semula sudah mau copot rasanya, kontan jadi amat lega sehabis mendengar janji itu. Si Tong berempat lang-sung menghembuskan napas lega.

Dalam pada itu, semangat Ji Bun-lui sudah surut setengah-nya. Sehabis melihat situasi di depan mata, ia sadar kepandaian silat yang dimiliki si Pengejar Nyawa masih jauh di atasnya, sedang kepandaian yang dimiliki In Seng-hong serta Coa Giok-tan tidak gampang dikalahkan secara mudah. Apalagi masih ada Pa Thian-sik, dua bersaudara tangan buntung serta Jay In-hui. Belum lagi empat paderi dari Siau-lim ditambah dua Tosu dari Bu-tong, jelas semua jago itu bukan jagoan sembarangan. Maka untuk sesaat dia pun tidak banyak bicara.

Terdengar si Pengejar Nyawa menegur In Seng-hong sambil tertawa, “Hei, mau apa kalian sepasang sejoli mendatangi Perkampungan Hantu?”

“Membekuk setan!” sahut In Seng-hong sambil tertawa.

“Membekuk setan?” kening si Pengejar Nyawa berkerut kencang.

Jay In-hui turut tertawa, selanya, “Sejak Piauko diangkat menjadi Lam-ce Cecu, lantaran pengetahuan dan pengalaman-nya di dunia persilatan masih cetek, maka kami sengaja berkelana untuk menambah pengalaman.”

“Benar,” sambung In Seng-hong pula, “Suatu hari kami de-ngar di Perkampungan Hantu terdapat banyak setan gentayangan. Aku pun berpikir, ‘Mana mungkin ada setan gentayangan? Paling orang yang menyaru jadi setan maka aku datang kemari dan ingin membekuknya. Toako, kau mesti memberi petunjuk!”

“Biar cuma setan gadungan, tidak gampang untuk membekuk setan macam begini,” kata si Pengejar Nyawa sambil tertawa.

Kemudian sambil berpaling ke arah para jago, lanjutnya dengan lantang, “Tiga tahun berselang, semua penghuni Per-kampungan Hantu mati dibantai orang. Konon wajah ketua per-kampungan hancur membusuk karena keracunan hingga tak dikenali lagi. Katanya dia tewas dibunuh musuh tangguh. Menurut laporan orang-orang yang menggotong jenazahnya, harta kekayaan perkampungan masih utuh, maka para perampok dan pencoleng berbondong-bondong datang menyatroni. Sayang satu per satu mereka mati secara mengerikan. Bahkan konon Soat-say-sam-ok ikut jadi korban.”

Ketika mendengar sampai di sini, tujuh jagcan penuntut balas merasa badannya gemetar keras, sebab bagaimana pun juga Soat-say-sam-ok adalah bekas saudara seperguruan mereka.

Tampak si Pengejar Nyawa memandang sekejap sekeliling ruangan, kemudian lanjutnya, “Sejak peristiwa itu, para pencari harta berubah jadi orang yang hilang kabar beritanya. Semakin banyak yang datang semakin banyak pula yang hilang, sampai akhirnya Sip-coat-tui-hun-jiu Kok Ci-keng Kok Sianseng datang kemari untuk mengusut hilangnya Soat-say-sam-ok. Bersama si Tongkat besi Ang Su Sianseng empat paderi dari Siau-lim-si dan tiga Tosu dari Bu-tong-pay, mereka datang menyatroni Perkampungan Hantu. Sayang dari sekian banyak jago yang masuk ke dalam perkampungan, hanya Senyuman Pengejar Sukma Yu-bun Siu seorang yang berhasil meloloskan diri dalam keadaan terluka parah. Sepuluh jari tangannya dipapas orang, otaknya juga jadi sinting. Tiap hari kerjanya hanya berteriak-teriak, tapi semua ucapannya hanya berkisar soal setan dan hantu.”

Ketika berbicara sampai di sini, semua tokoh yang merasa ada sangkut-pautnya dengan peristiwa ini, seperti tujuh jagoan penutut balas, Pa Thian-sik, empat paderi dari Siau-lim-si, dua Tosu dari Bu-tong, Coa Giok-tan sebagai sahabat karib Sik Yu-beng dan In Seng-hong serta Jay In-hui yang datang karena rasa ingin tahunya, sama-sama memusatkan perhatiannya buat me-dengarkan penjelasan lebih jauh.

Badai salju masih turun dengan derasnya di luar rumah makan, angin kencang yang menderu-deru seakan mendemonstrasikan kekuatan, berusaha mencegah si Pengejar Nyawa ber-tutur lebih jauh.

Sesudah berhenti sejenak untuk tarik napas, kembali si Pengejar Nyawa berkata lebih jauh, “Dalam gilanya, Yu-bun Siu Sianseng sering mengoceh tentang sebuah kitab pusaka ilmu silat yang disebut sebagai kitab pusaka Pekikan Naga. Konon di dalam kitab pusaka itu tercakup ilmu tenaga dalam, ilmu pedang, ilmu jari, ilmu golok, ilmu meringankan tubuh, ilmu am-gi dan ilmu seruling. Tujuh macam kepandaian hebat.”

Menyinggung soal kitab pusaka itu, Hoa Pian, Phang Ku-kian, Kongci Si dan Si Tong segera memusatkan perhatian untuk mendengarkan. Bahkan Ji Bun-lui serta dua bersaudara Penggaet dan Pencabut nyawa pun turut pasang telinga baik-baik.

“Kitab pusaka Pekikan Naga merupakan hasil karya seorang tokoh sakti dunia persilatan pada lima ratus tahun lalu. Siapa yang bisa memperoleh kitab itu, dialah yang akan menjadi jagoan tanpa tandingan. Aku dengar sudah hampir tiga ratus tahun lamanya kitab pusaka itu tak pernah muncul lagi dalam dunia persilatan. Entah bagaimana bisa muncul di Perkampungan Hantu. Ketika berita ini tersiar luas, maka gemparlah seluruh sungai telaga. Yang percaya dengan kabar ini segera berbondong-bondong datang kemari untuk mencari pusaka itu. Kasus pembunuhan banyak terjadi di sepanjang perjalanan ke sini. Rupanya banyak orang takut kedahuluan sehingga berusaha membungkam saingannya secepat mungkin. Sayang semua orang yang masuk ke dalam Perkampungan Hantu ternyata tak satu pun yang muncul kembali. Konon, sudah hampir lima enam ratus orang yang hilang di perkampungan itu. Tokoh kenamaan pun sudah ada tiga ratusan orang, tapi semuanya bagaikan ditelan bumi. Gara-gara kasus inilah aku, si Pengejar Nyawa mendapat perintah untuk melakukan penyelidikan. Semisal penghuni Perkampungan Hantu benar-benar adalah sekawanan setan iblis, kawanan setan itu sudah keterlaluan. Sudah waktunya bagi kita untuk mengatasi semua kejadian berdarah ini!”

“Jauh-jauh dari wilayah Kwang-tong tujuanku kemari pun demi kitab pusaka itu,” kata Ji Bun-lui dengan suara dalam “Saudara Pengejar nyawa, silakan kau usut pembunuhan berdarah itu, sementara aku tetap akan mencari kitab pusaka itu dan tetap akan membunuh orang itu.”

Bicara sampai di sini dia melotot sekejap ke arah dua ber-saudara Sim dan Hoa Pian berempat.

Sim Ciu tertawa dingin.

“Memangnya gampang membunuh orang?” ejeknya.

“Ya, jangan-jangan kau tak mampu untuk melakukannya,” Sim Sat menimpali.

“Aku lihat orang ini cuma pandai omong besar,” kembali Sim Ciu berkata, “Padahal belum tentu kungfunya hebat!” lanjut Sim Sat.

Sebenarnya maksud kedatangan Phang Ku-kian berempat ke wilayah Siang-kiang ini tak lain untuk mendapatkan kitab pusaka Pekikan Naga. Pikir mereka, asal bisa melatih sejenis kungfu yang hebat, maka mereka tak usah kuatir lagi dengan empat opas. Dan kini, setelah melihat tujuan kedatangan Ji Bun-lui maupun dua bersaudara Sim juga demi kitab pusaka itu, dalam hati mereka sangat berharap agar orang-orang itu bertarung duluan, dengan begitu mereka baru mendapat kesempatan untuk memperoleh kitab itu.

Siapa sangka pada saat itulah Coa Giok-tan telah bangkit dan ujarnya sambil tertawa, “Saudara Pengejar Nyawa, saudara Ji, dua bersaudara Sim. Kalau memang begitu, mengapa kita tidak bersepakat untuk bekerja sama dan berbarengan masuk ke Perkampungan Hantu untuk melakukan penyelidikan?”

In Seng-hong turut berdiri, katanya pula sambil tertawa, “Perkataan Coa-sianseng sangat tepat. Lebih baik kita masuk ke Perkampungan Hantu bersama-sama. Mari kita buktikan, apa benar ada kitab pusaka Pekikan Naga di situ. Sekarang kita tak perlu gontok-gontokan dulu!”

Jelas tujuan pemuda itu adalah untuk mengingatkan semua orang bahwa kabar tentang Kitab pusaka Pekikan Naga belum tentu benar. Jadi tidak seharusnya mereka ribut duluan sebelum membuktikan kalau benda mestika itu benar-benar berwujud dan ada.

Ji Bun-lui saling tukar pandang sekejap dengan dua bersaudara Sim. Mereka anggap perkataan itu sangat masuk akal, maka masing-masing saling menahan amarah. Tinggal Kongci Si berempat yang diam-diam kecewa, kecewa karena gagal mengadu domba saingannya.

“Bagaimana kalau sekarang juga kita berangkat ke Perkampungan Hantu?” usul si Pengejar Nyawa sambil tertawa getir.

“Baik!” serentak para jago menyatakan setuju.

Lotia si pemilik rumah makan segera berkata, “Toaya se-kalian, semua perahu penyeberang di dermaga Hong-lim telah pergi, sementara lapisan salju di Siau-lian-huan-wu belum me-ngeras. Kalau ingin menyeberangi sungai, lebih baik tunggulah sampai lapisan salju mengeras.”

“Lotia tak usah kuatir,” sela si Pengejar Nyawa sambil lertawa, “kalau menyeberangi sungai yang begitu kecil saja tak sanggup, buat apa kami mendatangi Perkampungan Hantu?”

Ji Bun-lui turut tertawa terbahak-bahak, serunya pula, “Lo- tia, semua barang yang pecah dan rusak dalam kedaimu termasuk semua hidangan dan arak, biar aku yang bayar. Ini, cukup tidak?”

Sambil berkata dia ambil keluar segebung goanpo dan di-lemparkan ke hadapan Lotia. Kontan saja pemilik rumah makan itu berseri kegirangan, serunya berulang kali, “Cukup…cukup…malah lebih.”

Mendadak paras mukanya berubah hebat. Ternyata ada orang menggedor pintu dengan kerasnya dari luar rumah makan. Dengusan napas yang terdengar di luar sana terdengar jauh le-bih menyeramkan dan mengerikan ketimbang terpaan badai salju, bahkan seperti suara rintihan seseorang menjelang ajalnya.

“…Buu…ka…pintu…buka…pintu…”

“Setannya datang lagi…setannya datang lagi…” pekik Lo-tia si pemilik rumah makan dengan napas tersengal.

Sementara semua orang bersiap menghadapi hal yang tak diinginkan, si Pengejar Nyawa sudah melesat ke depan, menjejak pintu ruangan hingga terbuka dan melejit keluar.

Begitu pintu terbuka lebar, salju dan angin pun menerpa masuk ke ruangan dengan hebatnya. Selembar kain putih besar ternyata sudah terpancang di muka pintu, di atas kain terpam-pang beberapa huruf yang berbunyi: “Bila memasuki Perkampungan Hantu. Selamanya tak akan balik ke rumah!’

Selain kain putih dengan beberapa tulisan darah itu, tampak sesosok tubuh manusia tergantung pula di depan pintu. Orang itu digantung dengan seutas tali. Kematiannya amat mengenaskan, lidahnya tampak menjulur keluar, sepasang matanya melotot besar, mulutnya penuh berlepotan darah. Tidak nampak bekas luka di sekujur badannya. Orang itu mati lantaran digantung.

Si Pengejar Nyawa segera melejit ke udara, dengan dua jari tangannya pengganti gunting, dia potong tali gantungan itu hingga putus. Ketika tubuh orang itu direbahkan di lantai, semua orang pun merasa terkesiap. Ternyata orang itu tak lain adalah Siang Bu-thian.

Mengapa Siang Bu-thian balik lagi setelah berlalu tadi? Kenapa ia bisa mati tergantung di sini?

Kenapa kehadiran Siang Bu-thian di depan pintu sama sekali tak dirasakan para jago yang ada di dalam ruangan?

Andaikata tubuh Siang Bu-thian tidak membentur pintu karena hembusan badai salju, mungkin hingga sekarang pun tak ada yang sadar akan kehadirannya. Lalu siapa pula yang berteriak “buka pintu” dengan suaranya yang aneh?

Lidah Siang Bu-thian menjulur keluar panjang sekali, matanya memancarkan rasa ketakutan yang luar biasa seakan dia ingin memberitahu kepada semua orang tentang sesuatu. Tapi kini dia sudah mati. Tentu saja orang hidup tak akan bisa menangkap suara perkataan orang mati.

Siapa pula yang menulis surat peringatan di kain putih itu? Siapa yang mengikat kain putih itu di depan pintu? Padahal dalam ruangan rumah makan itu hadir begitu banyak jago tangguh, mengapa tak seorang pun di antara mereka yang merasakan atau mengetahui hal ini?

Perbuatan manusiakah? Atau jangan-jangan memang hasil karya setan?

“Ada setan, ada setan!” pekik A-pun dengan nada ketakutan setengah mati.

Selapis bayangan hitam serasa menyelimuti raut muka setiap orang. Sambil tertawa kaku Coa Giok-tan berkata kembali, “Jangan bicara ngawur! Mana ada setan di dunia ini?”

“Biarpun benar-benar ada setan, aku pun tetap akan ke situ!” mendadak Pa Thian-sik berseru dengan wajah serius. Belum selesai bicara ia sudah menerjang keluar dari ruangan de-gan kecepatan bagaikan petir. Dalam sekejap mata tinggal sebuah titik hitam yang nampak di kejauhan sana.

“Jangan gegabah!” pekik si Pengejar Nyawa dengan kening berkerut.

“Cianpwe Pengejar Nyawa!” seru In Seng-hong sambil ber-bangkit, “…aah, bukan. Toako, jangan biarkan Pa-sianseng pergi seorang diri. Ayo kita segera menyusulnya beramai-ramai!”

“Bagus, tepat seperti yang kuharapkan!” sambung Ji Bun-lui lantang. Dia kuatir kitab pusaka Pekikan Naga jatuh ke tangan orang lain. Siapa tahu tiba-tiba…

“Wes, wees!” dua kali desingan angin tajam berkelebat lewat dari sisi tubuhnya, dua bersaudara Sim sudah menyusul keluar duluan.

Tentu saja Ji Bun-lui tidak tinggal diam. Segera dia menyusul dari belakang. Maka semua jago yang lain pun ikut membuntuti di belakangnya. Melihat itu si Pengejar Nyawa hanya bisa menghela napas panjang.

Kawanan jago silat itu berjumlah dua puluh lima orang. Mereka bergerak cepat menuju ke Perkampungan Hantu dengan menelusuri permukaan salju yang putih.

Pa Thian-sik bergerak memimpin paling depan, dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tangguh dia hanya nampak seperti titik hitam di kejauhan sana.

Dua bersaudara Sim berangkat selangkah duluan, namun Ji Bun-lui yang mengejar dengan mengerahkan tenaga dalamnya hanya ketinggalan lima langkah di belakang kedua orang itu. In Seng-hong dan Jay In-hui menyusul di belakang Ji Bun-lui, sedang Coa Giok-tan mengintil di belakang In Seng-hong. Empat padri dari Siau-lim-pay dan dua orang Tosu dari Bu-tong-pay menyusul di belakang Coa Giok-tan. Tujuh jagoan penuntut balas berada di belakang empat pa-dri, sementara Si Tong Hoa Pian, Phang Ku-kian dan Kongci Si berada di belakang sendiri dikuntit ketat oleh si Pengejar Nyawa.

Biarpun saat itu badai salju sedang turun dengan hebatnya, kekuatan alam ini sama sekali tidak mempengaruhi kawanan jago itu untuk bergerak cepat.

Di tengah terpaan bunga salju yang deras, mendadak si Pe-ngejar Nyawa tertawa terbahak-bahak. Dengan satu kecepatan yang iuar biasa ia menerjang terpaan angin utara dan melampaui Hoa Pian berempat, kemudian dia melewati juga tujuh jagoan penuntut balas, empat padri dari Siau-lim dan dua Tosu dari Bu-tong.

Ketika Coa Giok-tan melihat dirinya bakal tersusul, segera dia tarik napas dan lari dengan terlebih kencang lagi.

Dalam sekejap mata mereka berdua sudah berhasil melewati In Seng-hong dan Jay In-hui. Dasar anak muda yang berdarah panas, melihat diri mereka dilampaui orang, lekas mereka menghimpun tenaga dalam dan melesat lebih cepat. Tak lama kemudian kedua orang anak muda inipun berhasil lari bersanding dengan Coa Giok-tan.

Sementara itu Ji Bun-lui juga telah menghimpun tenaga murninya. Walaupun ilmu meringankan tubuhnya tidak seberapa hebat, namun karena tenaga dalamnya sempurna maka makin lama berlari semakin menguntungkan bagi posisinya. Tiba-tiba ia melepas jubah panjangnya dan diikatkan di pinggang, kemudian sambil berteriak nyaring ia melesat lebih cepat ke depan. Akhirnya dia berhasil menyusul Sim bersaudara.

Baru saja Ji Bun-lui merasa gembira, mendadak desingan angin bergema datang, tahu-tahu seseorang sudah melewati atas kepalanya dan melesat beberapa kaki di depannya. Ia tertegun. Ternyata si Pengejar Nyawa telah meninggalkan dirinya dua kaki di belakang.

Tak terlukiskan rasa mendongkol Ji Bun-lui.

Baru saja akan menyusul, kembali terdengar suara langkah kaki bergema dari belakang, ternyata In Seng-hong sudah menyusul dari sisi kiri dan Jay In-hui menyusul dari sisi kanan. Selangkah di belakang mereka kelihatan Coa Giok-tan menyusul sembari tersenyum, sedang dua bersaudara Sim ada di belakang Coa Giok-tan.

Diam-diam Ji Bun-lui terkesiap, pikirnya, “Aaah, tak disangka jagoan hebat bukan hanya aku seorang!” Segera pula dia mengerahkan tenaga dalam dan lari ber-sanding In Seng-hong dan Jay In-hui.

Perlombaan lari pun berlangsung semakin seru. In Seng-hong yang hebat dalam hal ilmu pedang dan ilmu meringankan tubuh, Ji Bun-lui yang hebat dalam tenaga murni serta Jay In-hui yang unggul dalam ilmu meringankan tubuh, ternyata lari berjajar secara seimbang.

Coa Giok-tan meski hebat ilmu silatnya dan sempurna tenaga dalamnya, ternyata dia masih setingkat di bawah Ji Bun-lui. Karenanya dia ketinggalan satu langkah di belakang.

Ilmu meringankan tubuh Sim bersaudara masih kalah dari In Seng-hong. Bicara soal tenaga dalam, mereka pun belum mampu mengungguli Ji Bun-lui serta Coa Giok-tan. Maka mereka selangkah tertinggal di belakang.

Begitu si Pengejar Nyawa mengerahkan kepandaiannya untuk meluncur, tampak salju putih beterbangan kian kemari. Bagaikan awan yang berkejaran di angkasa dia tinggalkan kawanan jago lain jauh di belakang. Tapi ilmu gerakan tubuh yang dimiliki Pa Thian-sik memang hebat. Lagipula dia pun bergerak duluan. Maka selisih jaraknya dengan si Pengejar Nyawa hampir mencapai puluhan kaki.

Baru saja Pengejar Nyawa hendak menghimpun hawa murninya untuk menyusul ke depan, tiba-tiba terasa badai salju turun semakin kencang. Di balik salju lebat terasa pula hembusan angin utara yang dahsyat, membuat pemandangan dalam radius satu dua kaki segera terselubung oleh lapisan salju hingga tak dapat melihat apapun.

Pada saat itulah dari arah depan bergema suara bentakan gusar disusul suara dengusan tertahan.

Si Pengejar Nyawa terkesiap. Ia sadar mereka telah melakukan kesalahan fatal. Dengan melakukan kejar-mengejar semacam ini, sama artinya mereka telah mengendorkan pertahanan di bagian depan dan belakang. Padahal bila ditinjau dari kematian Siang Bu-thian yang tergantung di depan pintu tadi, jelas ada orang ingin mencari keuntungan di air keruh. Dengan berpencar, bukankah sama artinya mereka sudah terjebak oleh siasat lawan?

Segera teriaknya dengan suara lantang “Cuwi sekalian, harap hati-hati! Perlambat gerak lari, musuh yang mulai menyerang!”
Sembari berteriak, diam-diam dia membuat persiapan sambil melesat ke depan. Mendadak kakinya seperti menginjak seseorang.

Terdengar orang itu merintih pelan sambil mencengkeram kakinya. Si Pengejar Nyawa segera mengenali suara rintihan itu berasal dari Pa thian-sik. Kembali teriaknya, “Ini aku, bagaimana keadaanmu?”

Di tengah hembusan angin utara yang kencang, tampak Pa Thian-sik tergeletak di atas permukaan salju. Darah segar telah menggenang di atas tanah, membuat salju yang semula putih kini berubah jadi merah.

Menyusul kemudian tampak Pa Thian-sik berusaha meron-ta bangun sambil serunya terbata-bata, “Pung…punggungku…ada orang menyerang dengan senjata rahasia.”

Cepat si Pengejar Nyawa membalikkan badannya. Benar juga, di atas punggungnya terdapat tiga buah lubang kecil. Darah segar mengucur dari luka itu, tapi tak nampak ada senjata rahasia yang menancap di situ.

Waktu itu Ji Bun-lui, In Seng-hong dan Jay In-hui telah menyusul tiba. Mereka bertiga mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, namun selain lapisan salju yang membentang hingga ujung langit, tak sesosok bayangan manusia pun yang nampak.

“Maknya!” umpat Ji Bun-lui sambil berkoar-koar. “Kalau berani jangan berlagak macam setan! Lekas menggelinding keluar, Toaya akan memberi hajaran yang setimpal untukmu!”

Suaranya keras hingga mendengung sampai di kejauhan, namun tiada tanggapan.

Si Pengejar Nyawa melihat darah yang mengucur keluar dari luka Pa Thian-sik masih mengalir sangat deras, bahkan darah yang berceceran makin lama warnanya makin hitam. Diam-diam ia terkesiap, segera tegurnya, “Saudara Thian-sik, kau sudah mencabut keluar senjata rahasianya?”

Kondisi badan Pa Thian-sik makin lama semakin melemah, sorot matanya mulai buram tak bersinar.

“Dicabut?…Be…belum…aku dapat merasakan…benda itu seperti berada di…di dalam tubuhku.”

Lekas Jay In-hui mengeluarkan obat luka, kemudian dibubuhkan ke luka di punggung Pa Thian-sik. Sementara itu Coa Giok-tan yang menyusul tiba dan melihat luka telah berubah semu hijau, ia sadar bahwa gelagat tidak menguntungkan. Maka tanyanya, “Saudara Thian-sik, kau terkena senjata rahasia apa? Apakah senjata rahasianya sudah dicabut orang? Siapa yang melukaimu?”

Paras muka Pa Thian-sik makin lama semakin bertambah pucat, sahutnya lirih, “Aku…aku tidak tahu…ketika angin berhembus kencang, aku…aku merasa ada orang meniupkan udara dingin di…di belakang tengkukku…aku…aku membalikkan badan ingin me…menawan orang itu…tapi…tapi tak ada siapa-siapa…Kemudian aku…aku merasa punggungku kaku dan…aku pun roboh. Senjata rahasia itu…tak ada yang men-cabutnya…aku…aku hanya merasa benda itu se…seakan sudah menyusup ke dalam tu…tubuhku….” Suaranya makin lama semakin perlahan, makin lirih. Ma-kin lemah….

Dua bersaudara Sim yang kebetulan baru tiba kontan berubah hebat paras mukanya, sebab mereka masih dapat membayangkan betapa hebatnya ilmu silat yang dimiliki Pa Thian-sik, ketika membunuh si naga pertama dari lima naga dengan ilmu mengisapnya. Tapi sekarang siapa sangka dia sudah roboh terkapar dalam keadaan luka parah tanpa tahu siapa yang membokongnya.

Ketika mencoba untuk memeriksa luka, mereka sadar benda yang melukai Pa Thian-sik sudah pasti bukan benda sebangsa jarum.

Ada sejenis senjata rahasia yang bisa masuk ke tubuh manusia dengan mengikuti aliran darah. Benda semacam itukah yang telah bersarang di tubuhnya?

Mendadak dari pucat-pias paras Pa Thian-sik berubah jadi hijau gelap. Sambil melompat bangun dia mulai merobek jubah hitam yang dikenakannya hingga robek berkeping-keping. Ha-curan kain beterbangan diterpa badai salju. Satu putih satu hitam, sebuah perpaduan warna yang amat memilukan hati.

Dengan suara parau menyeramkan Pa Thian-sik berteriak keras, serunya sambil menuding kawanan jago itu, “Setan! Setan! Kalian akan pergi bersamaku…hehehe…hee…setan! Setan!” rambutnya sudah awut-awutan, terurai ke belakang punggung, matanya merah berapi, darah segar belepotan di ujung mulutnya. Mimik mukanya saat ini memang sangat menyeramkan, tak ubahnya seperti setan iblis.

Untuk sesaat tak seorang pun berani maju mendekat. Ke-tika selesai mengucapkan kata terakhir, mendadak Pa Thian-sik menjerit melengking, darah kental bercucuran dari ujung mulutnya. Bukan darah berwarna merah, tapi darah kental berwarna hitam pekat.

Ketika si Pengejar Nyawa maju mendekat sambil memeriksa dengus napasnya, segera diketahui Pa thian-sik sudah putus nyawa. Tewas dalam keadaan yang sangat mengenaskan.

Sementara itu para jago sudah berkumpul di sana. Menyaksikan kematian Pa Thian-sik yang mengerikan itu, diam-diam semua orang merasa bergidik. Mereka tak tahu kapan giliran mereka akan tiba.

Malam semakin kelam, kegelapan sudah mulai mencekam seluruh jagad.

Pengejar nyawa mengawasi mayat Pa Thian-sik sambil me-nundukkan kepala dan termenung. Coa Giok-tan tidak banyak bicara, sementara Jay In-hui yang ketakutan sedang dihibur oleh In Seng-hong….

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar lagi jeritan ngeri yang memilukan berkumandang datang dari arah belakang sana.

“Aduh celaka!” pekik si Pengejar Nyawa dengan wajah berubah.

Keempat padri dari Siau-lim-pay dan dua Tosu dari Bu-tong-pay segera melesat ke udara dan meluncur ke arah sumber jeritan itu, sedang si Pengejar Nyawa segera melintas di atas ke-pala para jago bagai anak panah terlepas dari busurnya. Sambil berlari ia berteriak, “Saudara Ji, saudara Coa, In-lote”, kita tak boleh berpencar! Segera berangkat dalam satu rombongan!”

In Seng-hong beramai tentu saja tak berani berjalan kelewat cepat lagi. Setiap orang selisih jarak tak sampai tiga depa, de-ngan In Seng-hong berada paling depan dan Coa Giok-tan paling belakang.

Lebih dua puluh kaki perjalanan ditempuh, satu pemandangan mengerikan kembali terbentang di depan mata. Gumpalan darah bercampur salju berceceran dimana-mana.

Tampak tujuh jagoan penuntut balas dengan senjata terhunus membuat satu lingkaran mengelilingi si Pengejar Nyawa. Waktu itu si Pengejar Nyawa sedang berjongkok memeriksa tubuh seseorang yang terkapar di tanah, gumpalan darah ternyata berasal dari tubuh orang itu.

Orang yang terkapar di atas permukaan salju itu masih menggenggam senjata ruyung tiga ruasnya. Dia tak lain adalah Si Tong.
Tapi apa yang menyebabkan kematiannya? Dan kemana perginya Kongci Si, Phang Ku-kian serta Hoa Pian?

Terdengar salah satu di antara tujuh jagoan penuntut balas yang bersenjata gurdi besi berkata, “Kepandaian silat kami cetek, tak mampu menyusul kalian. Sementara keempat orang Tauwto ini jauh ketinggalan di belakang kami, kemudian kami pun tiba-tiba mendengar jeritan ngeri. Ketika balik kemari…”

“Ketika tiba di sini, kami telah menyaksikan pemandangan seperti ini,” sambung lelaki yang bersenjatakan tombak emas.

“Sementara ketiga orang Tauwto yang lain tak nampak batang hidungnya, kemudian kalian pun tiba di sini.”

“Seharusnya kendati ketiga orang Tauwto itu takut setan, mustahil mereka akan meninggalkan jenazah rekannya begitu saja. Apalagi kami balik ke sini dengan kecepatan tinggi. Seharusnya kami masih sempat melihat mereka semua,” sambung pula rekan yang lain.

“Ya, tapi mereka seakan lenyap begitu saja. Menguap ke udara…,” lelaki bersenjata palu berantai menambahkan.

Badai salju masih meraung-raung menerpa permukaan tanah. Di tengah kegelapan malam, suara itu seakan rintihan dan jeritan beribu sosok sukma gentayangan yang berasal dari neraka, membuat paras muka semua orang jadi pucat kehijauan. Mereka bergidik dengan suasana itu.

Terdengar lelaki yang bersenjata Boan-koan-pit berkata dengan suara gemetar, “Benar, ketika kami balik kemari, lamat-lamat seperti mendengar ketiga…ketiga orang saudara itu menjerit ngeri…suara mereka seakan…datang dari angkasa!”

“Apa?” seru Pengejar Nyawa sambil berkerut kening.

“Maknya! Kau tidak usah menakut-nakuti orang!” umpat Ji Bun-lui pula dengan gusar.

Sambil membusungkan dada, lelaki yang bersenjata Boan-koanpit berkata, “Locu adalah orang yang tidak takut langit tidak takut bumi. Kenapa mesti menakut-nakutimu? Aku memang mendengar jeratan itu seolah berasal dari tengah langit. Mulut ini mulutku sendiri, kau toh boleh tidak percaya!”

Pengejar Nyawa mendongakkan kepala memandang ke angkasa. Kegelapan malam telah mencekam seluruh jagad. Ia tidak melihat apapun, bahkan bintang tak satu pun yang kelihatan.

Akhirnya Pengejar Nyawa menghela napas panjang, tanyanya kemudian, “Kalian pernah mendengar ilmu silat yang dinamakan Auman singa?”

“Tidak. Kecuali jerit kesakitan, kami hanya mendengar ada suara yang lamat-lamat datang dari tengah udara, namun tidak melihat apapun.”

“Ya,” sambung lelaki bersenjata tali lemas, “semisal ada orang menggunakan ilmu Auman singa, seharusnya kami pun ikut mendengar.”

“Ehm, betul juga perkataanmu,” kata si Pengejar Nyawa se-telah termenung sejenak.

Lalu setelah mengawasi para jago sekejap, ia tertawa getir dan berkata lagi, “Aku tidak menemukan bekas luka di tubuh Si Tong. Jangankan luka menganga, lubang kecil pun tak ada. Tapi kendang telinganya pecah, otak dan isi perutnya juga hancur. Itulah sebabnya dia memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak. Aku rasa penyebab kematian Si Tong akibat tergetar oleh ilmu sebangsa Auman singa. Tapi…jika dibilang ia mati lantaran ilmu Auman singa, seharusnya semua orang yang berada di radius lima li ikut mendengar dengan jelas. Kenyataannya kita tak mendengar apa-apa.” Setelah tertawa getir, kembali ujarnya sambil menuding bekas kaki yang tampak kacau di atas permukaan salju. “Bekas kaki pun tampak tak masuk di akal. Yang ada hanya tapak kaki sewaktu datang, dan tidak ada bekas kaki sewaktu balik. Juga tak nampak bekas kaki menuju ke arah lain. Padahal di sini tak ada alat rahasia apa-apa. Lalu kemana perginya Hoa Pian, Phang Ku-kian serta Kongci Si bertiga…tak mungkin mereka lenyap begitu saja seakan menguap.”

Kembali semua orang merasa-hatinya tercekam. Hoa Pian berempat memiliki kungfu yang cukup hebat, namun dapat dibunuh orang dalam sekejap. Ini berarti jiwa mereka pun ter-ancam setiap saat…

Di tengah kegelapan malam yang semakin mencekam, di tengah badai salju yang menderu-deru, tiba-tiba berkumandang suara tangisan dan nyanyian seorang wanita yang memilukan hati, “…Cahaya rembulan mulai redup, malam semakin kelam…Dalam alam baka yang gelap, tiada cahaya sang surya, tiada sinar rembulan…Hanya roh-roh halus yang gentayangan.”

Jagoan yang bersenjata Boan-koan-pit bergidik hingga bulu kuduk berdiri. Tiba-tiba ujarnya agak gemetar, “Aku…aku…aku…tak…tak ingin pergi…”

Tiba-tiba terdengar Ji Bun-lui membentak nyaring, “Menggelinding keluar kau!”

“Wees!” kapak terbangnya segera meluncur ke udara de-gan kecepatan tinggi, kemudian berputar ke tempat kegelapan di sisi timur-laut hutan.

Suara nyanyian berhenti seketika!

Cahaya berkilauan tampak berputar membelah kegelapan malam. Setelah membuat pusingan satu lingkaran, senjata itu terbang kembali ke tangan Ji Bun-lui.

Mata kapak itu tampak ada noda darah. Bukan darah manusia, tapi darah kepala sekor burung.

Melihat hal ini Ji Bun-lui tertawa getir. Dia tak mengira kapak terbangnya hanya mampu memenggal kepala sekor bu-rung.

Sekujur badan lelaki bersenjata rantai terbang gemetar semakin keras. Dia mulai mundur sempoyongan sambil berbisik, “Ki…kita adalah manusia, lebih baik…lebih baik jangan mengusik makhluk halus seperti mereka.”

Ji Bun-lui memandang lelaki itu sekejap dengan penuh gusar, teriaknya, “Aku dengar ilmu silat kalian sudah dilatih melampaui guru kalian. Guru kalian adalah si Tangan Sakti Pengejar Sukma, sementara kalian tak lebih hanya gentong nasi.”

“Benar!” sambung lelaki bersenjata peluru geledek sambil memandang gusar rekannya. “Kita tak boleh merusak nama baik Suhu!”

“Demi membalaskan dendam sakit hati Suhu, kita sudah berlatih tekun selama tiga tahun. Kau begitu ketakutan, lalu buat apa ikut latihan selama ini?” seru lelaki bersenjata tombak emas pula.

“Ya, kita seorang satu nyawa, tujuh orang tujuh nyawa. Ayo kita luruk Perkampungan Hantu!” sambung lelaki bersen-jata gurdi.

Tiba-tiba dari tengah udara berkumandang lagi suara nyanyian perempuan, hanya kali ini suaranya jauh lebih mengerikan ketimbang yang pertama kali tadi.

“…Cahaya rembulan mulai redup, malam semakin kelam…Dalam alam baka yang gelap, tiada cahaya sang surya, tiada sinar rembulan…Hanya roh-roh halus yang gentayangan…”

Mendadak Ji Bun-lui membentak nyaring “Kena!” kembali kapak terbangnya melesat ke udara, kali ini senjata ini meluncur dengan kecepatan satu kali lipat lebih cepat.

Coa Giok-tan tidak tinggal diam, ia getarkan juga tangan kanannya sembari menyambit ke depan. Sebuah serat yang terbuat dari emas segera tergetar hingga tegak bagaikan sebatang tombak, kemudian langsung menusuk ke balik kegelapan de-gan kecepatan bagaikan sambaran kilat.

Menyusul serangan itu, si Pengejar Nyawa melesat ke arah datangnya suara tadi. Dalam waktu singkat tiga orang jago tangguh telah turun tangan bersama.

Terdengar jeritan ngeri yang memilukan hati bergema di angkasa, kemudian suasana kembali hening.

Ji Bun-lui menyambut kembali kapak terbangnya yang telah meluncur balik. Dia lihat mata kapak sudah dibasahi darah segar. Coa Giok-tan juga telah menarik kembali serat emasnya, sementara si Pengejar Nyawa muncul dari balik kegelapan sambil membopong tubuh seseorang.

Begitu tiba di tengah rombongan, ia langsung menjerit ke-ras, “Kalian telah salah membunuh!”

Ketika sorot mata semua orang ditujukan pada orang dalam bopongan si Pengejar Nyawa, terlihatlah orang itu tak lain tak bukan adalah Phang Ku-kian.

Tengkuk Phang Ku-kian telah terhajar kapak terbang Ji Bun-lui hingga nyaris putus, sementara jalan darah Ki-hay-hiat di badannya tertusuk pula oleh serat emas yang dilancarkan Coa Giok-tan. Darah masih mengucur keluar dari lukanya itu.

“Sebelum terbunuh, jalan darah bisu dan jalan darah lemas-nya telah ditotok orang,” kata si Pengejar Nyawa dengan nada dingin. “Tampaknya dia memang sengaja diletakkan di sana untuk menjebak kita. Mana ada setan yang bisa menotok jalan darah? Sudah jelas pembunuh itu bukan setan!”

Penjelasan ini kontan membuat perasaan semua orang sedikit rada lega.

Siapa tahu lelaki yang bersenjata Boan-koan-pit kembali berkata dengan suara gemetar, “Setan adalah makhluk yang serba bisa. Tentu saja dia pun dapat menotok jalan darah!”

Ji Bun-lui tidak menggubris perkataan orang, dia melirik sekejap ke arah Coa Giok-tan dengan mata melotot. Perasaan hatinya benar-benar diliputi rasa tercengang bercampur kaget. Dia tak menduga kalau ilmu silat orang jauh lebih hebat ketimbang apa yang dibayangkan semula.

Ternyata serangan yang dilancarkan oleh Coa Giok-tan dan Ji Bun-lui tadi, meski dilancarkan hampir bersamaan, kecepatan serangan Coa Giok-tan setengah langkah lebih cepat. Senjata serat emasnya menusuk jalan darah Ki-hay-hiat Phang Ku-kian duluan. Justru karena tusukan itu, maka jalan darah bisunya yang sudah tertotok terbebaskan. Itulah sebabnya ketika tengkuknya dibabat kapak terbang, sang korban sempat menjerit kesakitan.

Dalam pada itu Coa Giok-tan sangat bersedih. Dia tak menyangka telah salah membunuh rekan sendiri.

Melihat itu, dengan suara dalam si Pengejar Nyawa berkata, “Mulai sekarang kita harus tingkatkan kewaspadaan, bersiap dengan kekuatan penuh dan jangan bubar dari rombongan. Kita semua tak perlu bergerak terlalu cepat. Saudara Ji, kau bersama aku sebagai pembuka jalan, saudara Coa dan In-lote berada di barisan paling belakang, sementara dua bersaudara Sim menjaga bagian tengah barisan.”

Berbicara soal ilmu silat, kepandaian silat yang dimiliki Pe-ngejar Nyawa terhitung paling hebat. Kemudian disusul kepandaian Ji Bun-lui, In Seng-hong, Coa Giok-tan dan Jay In-hui ber-mpat. Setelah itu baru disusul dua bersaudara Sim. Karena itulah beberapa orang ini telah diletakkan si Pengejar Nyawa pada posisi yang strategis.

Kini sisa rombongan tinggal dua puluh saja. Perlahan-lahan mereka mulai bergerak menuju ke Perkampungan Hantu. Tak ada orang yang berlari cepat lagi.

Dalam waktu singkat tiga puluh li sudah dilampaui, tiba-tiba terdengar suara ringkik kuda berkumandang datang dari kejauhan. Pengejar Nyawa segera memberi tanda, rombongan pun menghentikan langkah sambil bersiaga.

Terlihat belasan ekor kuda bergerak mendekat dengan langkah perlahan. Di setiap punggung kuda itu tampak seseorang mendekam di sana, sementara belasan ekor kuda yang lain diikat bergandengan dengan menggunakan seutas tali panjang. Karena terikat jadi satu, maka kuda-kuda itu tak dapat memencarkan diri.

Melihat keadaan sangat mencurigakan, dengan lantang si Pengejar Nyawa segera menegur, “Siapa yang datang? Harap laporkan namamu daripada terjadi kesalah pahaman!”

Teguran itu diulangi sampai tiga kali, namun orang itu belum juga bergerak. Bahkan rombongan kuda itu masih bergerak maju perlahan-lahan.

Si Pengejar Nyawa segera memberi tanda. Bersama Ji Bun-lui mereka melesat mendekati orang itu dengan kecepatan tinggi.

Dengan satu cengkeraman maut, Ji Bun-lui menyambar orang yang mendekam di punggung kuda pertama, kemudian membetotnya ke bawah.

Pada waktu yang sama, si Pengejar Nyawa menyambar pula punggung orang kedua yang berada di kuda nomor dua.

“Hah, mayat!” mendadak kedua orang jago itu menjerit berbareng.

Berhubung kuda yang paling depan berhenti, seketika rombongan kuda yang berada di belakangnya ikut berhenti pula. Tampak orang-orang yang berada di atas punggung kuda-kuda itu mendekam dengan wajah pucat-pias. Ternyata semuanya sudah menjadi mayat!

Kematian orang-orang ini sangat aneh. Sepasang mata mereka melotot besar, tubuh lemas bagaikan kapas seakan tenaga dalam mereka telah punah sama sekali. Bahkan darah di tubuh mereka pun seakan telah diisap habis jadi mayat yang kering.

“Setan pengisap darah!” pekik lelaki bersenjata tali lemas dengan nada kaget.

Semua orang cukup mengenal siapakah mayat-mayat itu, sebab mereka tidak lain adalah rombongan yang datang bersama Siang Bu-thian, yaitu para begundal dan tukang pukul pemuda bejad itu. Tak disangka kini mereka semua telah menjadi mayat kering.

Pada saat itulah suara nyanyian yang memilukan hati kembali bergema dari balik kegelapan.

Baru saja Ji Bun-lui berkerut kening dan siap melancarkan serangan, dengan wajah serius Pe-ngejar Nyawa segera berbisik, “Jangan turun tangan secara gegabah. Pancing keluar dulu orang itu, kemudian baru digebuk bersama!”

Suara aneh itu kembali lenyap tak berbekas setelah bernyanyi dan tertawa aneh berulang-kali.

Dengan serius si Pengejar Nyawa pasang telinga dan mendengarkan beberapa saat. Tiba-tiba bisiknya kepada Ji Bun-lui, “Saudara Ji, boleh aku pinjam kapakmu sebentar?”

Ji Bun-lui tak paham apa yang hendak dia lakukan. Tapi ia percaya si Pengejar Nyawa pasti tak bermaksud jahat. Maka tanpa ragu dia sodorkan kapaknya.

Seperti sedang memikirkan sesuatu, tiba-tiba si Pengejar Nyawa membalikkan mata kapak hinga menyorot ke atas permukaan salju. Pantulan sinar yang menusuk pandangan segera memancar dari mata kapak itu. Dalam detik yang amat singkat inilah dari atas mata kapak secara lamat-lamat terlihat ada sesosok bayangan hitam berkelebat lewat kemudian lenyap tak berbekas.
Dalam hati kecilnya, si Pengejar Nyawa segera mengerti apa yang telah terjadi. Mendadak ia bertanya kepada In Seng-bong, “In-lote, sebelum aku membantu Pek Shia-cu menghadapi Bu-tek Kong-cu di gurun pasir tempo hari, jagoan di pihak kita sudah mati duluan beberapa orang dengan cara yang misterius. Konon mereka tewas karena disergap dan dibokong dalam ke-adaan yang luar biasa. Waktu itu kita tidak melihat jejak musuh di padang pasir yang luas, tapi setiap kali ada anggota rom-bongan yang tertinggal, mereka selalu tewas dibunuh secara kejam. Tahukah kau benda apa yang telah digunakan musuh un-tuk merobohkan anggota rombongan waktu itu?

Mula-mula In Seng-hong agak tertegun, tapi setelah berpikir sebentar ia segera sadar apa yang dimaksud. Serunya, “Aaah, aku sudah paham. Saudara Pek-i pernah menceritakan pengalamannya kepadaku.”

“Asal sudah paham ya sudah,” tukas si Pengejar Nyawa sambil tersenyum.

“Apakah perlu bantuanku?” tanya Ji Bun-lui.

“Ya, apa perlu bantuan kami?” sambung Coa Giok-tan pula. “Kehebatan saudara Pengejar Nyawa dalam menaklukkan Bu-tek Kongcu sudah tersohor di seantero jagad. Bila membutuhkan tenaga kami, Cayhe siap membantu dengan sepenuh tenaga!”

“Terima kasih banyak,” si Pengejar Nyawa tersenyum. “Sekarang aku, saudara Coa dan In-lote bekerja sama melemparkan tubuh saudara Ji ke udara. Kemudian dari situ saudara Ji melemparkan kapak terbangnya ke posisi musuh. Coba kita lihat apakah dengan cara begini kita dapat melukainya.”

“Baik, tak jadi masalah,” Ji Bun-lui menanggapi sambil tertawa keras.

“Sekarang dia terbang rendah, ayo naik!” bisik si Pengejar Nyawa tiba-tiba dengan suara lirih.

Coa Giok-tan segera menggetarkan pecut serat emasnya. Senjata yang panjangnya mencapai dua puluhan depa itu segera melilit pinggang In Seng-hong dan Ji Bun-lui.

Empat padri dari Siau-lim, dua Tosu dari Bu-tong, tujuh ja-goan penuntut balas serta dua bersaudara Sim kontan melengak melihat kejadian ini. Semula mereka mengira Coa Giok-tan hendak membokong kedua orang jago itu.

Belum sempat mereka berpikir jauh, Coa Giok-tan telah mengayunkan pecut serat emasnya ke udara. Tubuh Ji Bun-lui dan In Seng-hong segera terlempar ke udara setinggi empat lima kaki lebih.

Sewaktu badannya dilemparkan ke tengah udara, baik In Seng-hong maupun Ji Bun-lui sama-sama tidak mengerahkan tenaga. Tapi begitu badan mereka mulai meluncur ke bawah, In Seng-hong segera menyambar sepasang kaki Ji Bun-lui, lalu sambil menarik napas dan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya yang hebat, ia melambung lagi dua kaki ke udara. Dengan menggunakan sisa tenaga yang dimilikinya, dia dorong se-pasang tangannya kuat-kuat, melemparkan tubuh Ji Bun-lui hingga melambung berapa kaki lagi ke atas.

Selama ini, Ji Bun-lui sama sekali tidak mengerahkan tenaga. Menunggu sampai tenaga dorongan In Seng-hong melemah, dia baru menghimpun tenaga dalamnya kemudian melejit satu kaki lebih tinggi. Sambil membentak keras, kapak terbangnya lang-sung diayunkan ke depan.

Lemparan kapak terbangnya kali ini dilakukan Ji Bun-lui dengan sekuat tenaga.

“Wesss!” diiringi desingan angin tajam, kapak itu langsung membacok di atas tubuh suatu makhluk yang sedang terbang di angkasa.

“Buuuk!” diikuti pekikan panjang, darah bercampur rontokan bulu sayap segera berguguran ke tanah.

Semua kejadian ini berlangsung dalam waktu yang amat singkat. Di bawah kerja sama yang erat antara Coa Giok-tan, In Seng-hong dan Ji Bun-lui, kapak terbang itu berhasil melayang lima kaki lebih di atas permukaan tanah. Serangan ini berhasil menghajar seekor burung rajawali raksasa.

Kini keempat padri dari Siau-lim, dua orang Tosu dari Bu-tong dan jago lainnya baru mengerti apa yang telah terjadi. Tak kuasa lagi mereka berseru tertahan.

Berhasil dengan serangan mautnya, kapak terbang itu berpusing balik ke tangan Ji Bun-lui.

Ketika itu In Seng-hong sudah melayang turun ke permu-kaan tanah. Namun lantaran jaraknya kelewat tinggi, tak urung badannya sempoyongan juga tatkala menginjak ke permukaan salju.

Ilmu meringankan tubuh Ji Bun-lui jauh di bawah kemampuan In Seng-hong. Apalagi dia harus menerima kembali kapaknya yang berpusing, tekanan itu membuat badannya melu-cur ke bawah jauh lebih cepat.

Melihat itu Coa Giok-tan kembali meluncurkan serat emasnya untuk menggaet badan Ji Bun-lui, kemudian dengan satu sentakan, dia membawa tubuh jagoan itu mendarat dengan tenang di tanah.

Kerja sama ketiga orang jago lihai ini memang cepat bagaikan kilat, rapat bagai jaring langit. Sungguh mengagumkan.

Bagaimana dengan si Pengejar Nyawa?

Begitu kapak terbang Ji Bun-lui berhasil menghajar tubuh makhluk terbang itu, si Pengejar Nyawa segera bergerak cepat m mengejar ke arah rajawali yang terpapas sayapnya itu. Diiringi tetesan darah yang deras, burung itu terbang lagi sejauh belasan kaki, kemudian terjatuh ke tanah dan tak mampu berkutik lagi.

Baru saja tubuh si burung menempel di permukaan salju,-si Pengejar Nyawa telah menyusul tiba.

Ternyata sayap kiri burung itu nyaris terpapas kutung setengah. Suara pekikannya amat memilukan hati. Namun begitu melihat si Pengejar Nyawa menghampiri, dia segera pentang sayap kanannya dan melakukan sebuah sapuan ke tubuh lawan.

Sungguh dahsyat tenaga sapuan itu! Kekuatannya mungkin mencapai beribu kati.

Diam-diam Pengejar Nyawa terperanjat. Pikirnya, “Untung saja serangan gabungan In Seng-hong, Ji Bun-lui dan Coa Giok-tan berhasil melukai sayap kirinya. Kalau tidak, mungkin sulit bagiku untuk menghampiri makhluk ini.”

Sambil berpikir, ia segera melancarkan serangan dahsyat. Tapi burung itu berhasil menghindari datangnya ancaman. Hanya sayang, lantaran sayapnya terluka parah, dia tak sanggup terbang kembali ke angkasa.

Pengejar Nyawa tak berani bertindak gegabah, sebab dia tahu sehebat-hebatnya burung rajawali itu, lebih hebat lagi orang yang berada di punggungnya. Dia harus mewaspadai serangan mematikan dari orang itu.

Maka dengan sangat berhati-hati dia menghindarkan diri dari sapuan sayap itu, begitu mendekat, sebuah tendangan kilat dilontarkan ke punggung orang yang berada di punggung raja-wali itu.

“Duuuk!” ternyata punggung orang itu terhajar telak oleh tendangan maut itu. Pengejar Nyawa tidak menyangka kalau serangannya berhasil menghajar lawan dengan begitu mudah. Sementara ia masih tertegun, kembali burung rajawali itu menyerang dengan menggunakan sayapnya.

Sungguh dahsyat sapuan sayap itu, tapi si Pengejar Nyawa tidak menghindar maupun berkelit. Dengan kaki kiri terpantek di tanah, kaki kanannya langsung menendang sayap burung itu.

Begitu sayap terhajar tendangan, burung rajawali itu tergetar keras dan mencelat ke belakang. Sementara itu, tubuh si Pengejar Nyawa terpantek di tanah tanpa bergeser sedikit pun.

Pada saat itulah dua bersaudara Sim telah menyusul datang. Secepat kilat mereka melancarkan sodokan maut ke mata burung rajawali itu. Diiringi pekikan ngeri, matilah burung raja-wali itu.

“Hah, rupanya dia!” mendadak Jay In-hui menjerit.

Rupanya orang yang termakan tendangan hingga terjatuh dari punggung rajawali itu, kini sudah rebah telentang di atas permukaan salju. Dan orang itu tak lain adalah Kongci Si.

Pengejar Nyawa segera maju mendekat. Ia jumpai tulang rusuk Kongci Si sudah hancur remuk karena termakan tendangannya tadi. Kini orang itu sudah tewas.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: