Kumpulan Cerita Silat

20/09/2009

Pendekar Baja (21)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 9:59 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

“Yang lain juga gusar,” tutur Sing Hian. “Pendek kata, bilamana Sim Long hadir dalam rapat Kay-pang petang nanti, dia pasti takkan pergi lagi dengan selamat.”

“Hm, bagus, bagus sekali,” ucap Jit-jit dengan gemas. “Justru akan kulihat bagaimana bentuknya waktu itu. Sungguh aku tidak sabar menunggu lagi. Sekarang sudah waktu apa?”

“O, masih sangat pagi…”

Belum lanjut jawaban Sing Hian, mendadak seorang pelayan melongok ke dalam dan bertanya, “Apakah Tuan tamu ingin makan?”

“Makan pagi atau makan siang?” tanya Jit-jit.

“Makan siang sudah hampir lewat, sudah beberapa kali hamba datang kemari, namun tidak berani membikin kaget,” tutur si pelayan.

“Ai, kiranya sudah hampir lewat tengah hari, hampir, sudah hampir waktunya!” seru Jit-jit.

Teringat kepada bencana yang hampir menimpa Sim Long, hampir saja si nona tertawa. Tapi entah mengapa, sukar untuk tertawa.

Akhirnya dia berseru, “Baiklah, lekas atur makan siang!”

Sesudah pelayan pergi, kembali ia bergumam, “Sesudah makan siang, kita harus keluar, Sing Hian, kau perlu makan agak banyak, bila kenyang baru bertenaga, baru dapat membunuh orang.”

“Cuma sayang, mungkin sebelum kuturun tangan, bisa jadi Sim Long sudah dicincang orang,” ujar Sing Hian dengan menyesal.

Hidangan telah disiapkan, kedua bibi juga ikut datang, tujuannya untuk meladeni Ong Ling-hoa. Sambil makan Ong Ling-hoa terus berkeluh-kesah, hampir sukar menelan nasi.

Dengan susah payah akhirnya selesai juga makan siang ini. Sing Hian menghela napas dan mengusap keringat.

Jit-jit mulai lagi mondar-mandir di dalam rumah, kelihatan sangat gelisah. Tentu saja Sing Hian tidak berani mengganggunya, dia duduk diam saja di kejauhan.

Ong Ling-hoa lantas tidur malah, tidur dengan menutupi kepalanya, nyata dia tidak ingin dipandang oleh Sing Hian, betapa pun merasa rikuh seorang lelaki dipandang semesra itu oleh lelaki lain.

Sang waktu terasa lalu dengan sangat lambat, jangankan Jit-jit, Sing Hian juga merasa gelisah.

Entah sudah berapa kali Jit-jit membuka jendela dan menutupnya lagi. Ketika untuk ke-13 kalinya dia membuka jendela, akhirnya dia tidak tahan dan bertanya, “Sudah tiba waktunya?”

“Hampir,” jawab Sing Hian.

“Di mana tempatnya, apakah kau tahu?”

“Semalam sudah pernah kudatang ke sana.”

“Baik, suruh bibi itu ke sini dan kita lantas berangkat,” kata si nona.

Sing Hian tercengang, dipandangnya Ong Ling-hoa yang meringkuk di tempat tidur, katanya, “Dia…dia boleh pergi?”

“Mengapa tidak?” ujar Jit-jit.

“Di sana terlalu banyak orang, juga terlalu ramai, bila dia tercedera…”

“Hm, dia belum lagi menjadi istrimu, dia masih anggota keluargaku, aku sendiri tidak khawatir, mengapa kau khawatir malah?…Ada aku, siapa yang mampu mencederai dia?”

Muka Sing Hian menjadi merah, dengan tersipu-sipu dia lari keluar untuk memanggil kedua bibi itu.

Jalan raya terlebih ramai daripada semalam.

Hampir setiap belasan langkah pasti terdapat seorang lelaki berdandan serupa pengemis berdiri di emper rumah, kebanyakan menyandang tiga empat buah kantong, jelas mereka ini anak murid Kay-pang.

Mereka ada yang bersandar di samping pintu rumah orang, ada juga yang berjongkok di ujung jalan, orang lain tidak mengajak bicara mereka, mereka juga tidak bicara dengan orang lain. Inilah peraturan Kay-pang.

Meski mereka datang ke sini untuk menerima tamu, yaitu para kawan Bu-lim, tapi di tengah jalan raya, kecuali minta-minta sebagai tugas rutin, biasanya mereka dilarang bicara dengan orang lain.

Dengan sendirinya ada juga orang Bu-lim yang mencari keterangan kepada mereka atau tanya arah jalan, maka mereka lantas menuding ke timur. Nyata pertemuan besar Kay-pang itu diadakan di luar kota timur.

Jit-jit minta Sing Hian sebagai penunjuk jalan, maka Sing Hian berjalan di depan, di tengahnya kedua bibi menggotong tandu yang ditumpangi Ong Ling-hoa dan Cu Jit-jit sendiri mengintil di belakang tandu.

Orang yang berlalu-lalang kebanyakan memandang lebih banyak beberapa kejap kepada mereka. Tapi ketika melihat mata Jit-jit yang melotot, kelihatan garang, semua orang cepat menoleh dan tidak berani memandang lagi.

Setelah meninggalkan pusat kota, anak murid Kay-pang tampak bertambah banyak.

Pada waktu itu anak murid Kay-pang juga telah melihat Sing Hian, banyak di antaranya menegur sapa padanya dengan tersenyum.

Namun senyum anak murid Kay-pang itu kelihatan kaku, sorot mata mereka pun menampilkan rasa duka, senyuman yang memperlihatkan tidak dapat menutupi perasaan mereka yang berat.

Dari perasaan anak murid Kay-pang, Jit-jit menarik kesimpulan Co Kong-liong pasti belum muncul. Tiba-tiba ia memburu ke depan dan membisiki Sing Hian, “Sebentar bila tiba di sana, sebaiknya jangan kau duduk bersama kami.”

“Seb…sebab apa?” tanya Sing Hian.

“Sebab aku menghendaki demikian,” jawab Jit-jit dengan mendelik.

Terpaksa Sing Hian mengiakan dan tidak berani tanya lagi.

“Tapi tempat dudukmu juga jangan terlalu jauh…” sampai di sini, mendadak Jit-jit berseru, “Hei, Him Miau-ji berada di sana!”

Sing Hian juga sempat melihat bayangan orang berkelebat di kejauhan sana, cepat ia berkata, “Baik, akan kupanggil dia.”

“Untuk apa panggil setan arak itu?” bentak Jit-jit.

Terpaksa Sing Hian mengiakan lagi dengan menunduk.

Tertampak dua anggota Kay-pang datang dari kejauhan, yang sebelah kanan bermuka jelek, penuh burik, tapi punggungnya menyandang enam buah karung.

Pengemis sebelah kiri berusia belum tua, berperawakan gemuk pendek, mukanya bulat dan selalu tertawa, kelihatan rada ketolol-tololan, tapi karung yang disandangnya juga ada enam buah.

Anak murid Kay-pang yang berkarung enam jumlahnya tidak banyak.

Jit-jit mendesis, “Apakah kau kenal kedua orang ini?”

“Kenal,” jawab Sing Hian. “Kedua orang ini adalah anak buah langsung Him-pangcu almarhum, konon nama mereka cukup menonjol di dalam Kay-pang, kedudukan mereka cuma berada di bawah Kay-pang-sam-lo.”

“Siapa nama mereka?” tanya Jit-jit.

“Yang sebelah kiri bernama Ci Kong-tay berjuluk Pian-te-say-kim-ci (Menyebar Mata Uang di Mana-mana) dan yang sebelah kanan bernama Ko Siau-diong berjuluk Siau-bian-siau-hok-sin (Si Malaikat Rezeki Selalu Tertawa).”

“Siau-diong (Ulat Kecil)? Sungguh aneh namanya,” ujar Jit-jit dengan tertawa.

Dalam pada itu kedua orang itu sudah mendekat.

Segera Ci Kong-tay memberi hormat, “Banyak terima kasih atas berita yang disampaikan Sing-kongcu semalam…” ketika melihat Cu Jit-jit, cepat ia ganti ucapannya, “Oh, ini…”

“Aku, pamannya,” cepat Jit-jit mendahului sebelum Sing Hian menjawab.

“Oo,” Ci Kong-tay bersuara heran sambil mengamat-amati Cu Jit-jit.

“Kau kira usiaku terlalu muda dan tidak mirip menjadi pamannya?” tanya si nona.

“Ah, mana,” cepat Ci Kong-tay menjawab dengan menyengir.

“Apakah kalian datang untuk menjadi petunjuk jalan bagi kami?” tanya Jit-jit.

“O…ya,” jawab Ci Kong-tay.

“Baiklah jika begitu, mari berangkat,” kata Jit-jit.

Terpaksa Ci Kong-tay berdua menurut. Padahal kedatangan mereka adalah untuk mencari Sing Hian, namun Sing Hian sama sekali tidak bicara melainkan cuma tersenyum getir saja.

Tempat rapat kawanan jembel itu tampaknya serupa bekas sawah, kini musim dingin, panen sudah lama lalu, di tengah sawah hanya tersisa merang kering dan timbunan salju saja.

Di pedusunan daerah utara banyak tumbuh pohon bambu, maka anak murid Kay-pang telah membangun barak yang panjang di sekeliling sawah ini. Agaknya tergesa-gesa sehingga barak yang dibangun sangat sederhana dan kurang rajin, yang tersedia di dalam barak juga cuma bangku dan meja kasar.

Namun yang berduduk di dalam barak sekarang kebanyakan adalah orang yang berbaju perlente dan bersikap gagah sehingga keadaannya tidak serasi.

Di luar barak adalah anak murid Kay-pang, ada yang mondar-mandir tanpa tujuan, ada yang berduduk dengan mata terpejam dan sedang berjemur, ada yang lagi mencari kutu.

Meski orang-orang Kay-pang ini kelihatan iseng dan tenang, namun air muka setiap orang sama prihatin, dua ratusan orang berjubel di situ dan sedikit sekali yang bicara.

Mestinya Ci Kong-tay tidak bermaksud menjadi petunjuk jalan, karena beberapa patah kata Cu Jit-jit tadi terpaksa menjadi petunjuk jalan. Sedangkan pengemis yang bernama Ko Siau-diong itu tidak bicara apa-apa melainkan cuma tertawa ketololan saja.

Ci Kong-tay membawa rombongan Jit-jit ke barak sebelah utara dan berduduk di situ, barat utara adalah tempat terhormat, yang hadir di situ belum terlalu banyak.

Jit-jit tidak menghiraukan orang lain, dengan lagak tuan besar ia duduk saja di situ.

Cepat Ci Kong-tay memberi hormat dan berucap, “Silakan kalian duduk dan minum di sini, Cayhe masih perlu meladeni tetamu lain.”

Rupanya ia pun merasakan sang “paman” ini kurang simpatik, maka ingin lekas-lekas melepaskan diri.

“Eh, nanti dulu,” mendadak Jit-jit berkata.

“Anda ada keperluan apa lagi?” tanya Kong-tay.

“Jika kalian mengundang tamu pada saat makan, kenapa kalian cuma menyuguh tamu minum teh saja?” kata si nona.

Ci Kong-tay menyengir, ucapnya, “Ah, ada juga, cuma makanan kasar dan arak hambar, untuk ini mohon dimaafkan.”

“Baiklah, asal ada saja,” ujar Jit-jit.

“Jika Ci-heng ada urusan, silakan pergi saja,” cepat Sing Hian menambahkan.

Ko Siau-diong yang sejak tadi cuma tertawa itu mendadak berkata, “Aku tidak ada pekerjaan, biar kutemani kalian di sini.”

Ci Kong-tay memandangnya sekejap dengan tersenyum getir, lalu tinggal pergi dengan tergesa-gesa.

“Baik, jika engkau yang akan mengiringi harap ambilkan teh dulu,” kata Jit-jit.

Dengan tertawa Ko Siau-diong benar-benar menuangkan tiga mangkuk teh dan menyilakan tetamunya minum.

Di barak sebelah utara ini sudah berduduk likuran orang, pandangan semua orang sejak tadi sudah beralih kepada rombongan Cu Jit-jit ini, ada yang sedang kasak-kusuk, jelas diam-diam sedang menduga dan menerka sesungguhnya siapakah orang-orang ini.

Mata Jit-jit juga tidak sungkan-sungkan, ia pandang orang-orang itu satu per satu, dilihatnya kebanyakan sudah berusia setengah baya, berpakaian mentereng, tampaknya orang mampu semua dan jelas tokoh berkedudukan penting di dunia Kangouw. Akan tetapi tiada seorang pun dikenalnya.

Him Miau-ji telah berputar beberapa kali mengelilingi barak, ketika melihat rombongan Cu Jit-jit, pandangannya terbeliak, tapi diam-diam ia menyingkir dan membatin, “Bagus, bocah ini telah datang…dan di manakah Sim Long sekarang?…”

Rupanya semalam dia mencari Sim Long dan tidak diketemukan.

Dalam pada itu tamu yang datang semakin banyak.

Setelah mengeliling sekali lagi barak itu, tiba-tiba si Kucing merasa dirinya terlalu bodoh, apa gunanya menunggu di sini, kan lebih baik cegat dia saja di jalan raya sana?

Berpikir demikian, serentak ia balik ke sana, sepanjang jalan memandang ke sini dan melihat ke sana, namun bayangan Sim Long tetap tidak kelihatan.

Waktu dia putar balik ke jalan kota, orang berlalu-lalang sudah sedikit, kebanyakan sudah pergi ke tempat rapat, hanya tersisa anak murid Kay-pang saja yang berada di bawah emper sana-sini.

Si Kucing berhenti di pengkolan jalan, ia pikir kalau Sim Long pulang pasti akan lalu di sini. Maka ia pun bersedekap dan bersandar di samping pintu rumah orang.

Setelah menunggu sekian lamanya, tiba-tiba seorang memberinya sepuluh mata uang tanpa diminta.

Tentu saja Miau-ji heran, katanya, “Ini…ini…”

“Harap Toako berdiri saja di tempat lain supaya tidak mengganggu tamu toko kami,” kata orang itu dengan tertawa.

Semula Miau-ji melenggong, tapi merasa geli, pikirnya, “Ah, kiranya dia menyangka diriku sebagai pengemis.”

Ia pandang dandanan sendiri yang memang tidak banyak berbeda dengan anggota Kay-pang, tanpa terasa ia tertawa geli, ia terima uang pemberian orang dan mengucapkan terima kasih. Lalu ia menuju ke sebuah warung arak di seberang dan berkata kepada penjual, “Berikan arak sepuluh duit!”

Orang yang memberi sedekah tadi menggeleng kepala dan menggerutu, “Ai, dasar pengemis, punya duit sedikit lantas minum arak.”

Biarpun sudah di seberang jalan, dengan ketajaman telinga Him Miau-ji dapat didengarnya gerutu orang itu, diam-diam ia merasa geli. Begitu arak yang diminta disodorkan, sekali tenggak ia minum habis, mendadak ia keluarkan sepotong uang perak dan dilemparkan kepada penjual arak, katanya, “Berikan lagi tiga mangkuk besar!”

Pemberi sedekah itu melongo, sampai sekian lama tercengang, lalu menggeleng dan masuk ke tokonya dengan menggerundel, “Zaman ini orang aneh dan kejadian aneh memang semakin banyak.”

Setelah Him Miau-ji habis minum empat mangkuk arak, jalan raya tambah sepi.

Tiba-tiba dilihatnya seorang murid Kay-pang datang dari depan sana, ia tepuk tangan beberapa kali, para anggota Kay-pang yang berdiri di ujung jalan dan di bawah emper itu lantas ikut dia menuju ke luar kota. Namun Sim Long masih tetap tidak kelihatan.

Keruan si Kucing menjadi gelisah, gumamnya, “Masakah dia tidak kembali ke sini?…Ah, tidak mungkin, rapat besar Kay-pang ini mana boleh diabaikannya? Tapi mengapa dia pergi malah? Memangnya ada urusan lain yang lebih penting?”

Sekarang suasana tambah sepi, kembali Miau-ji minum lagi semangkuk, dada bajunya tersingkap, gumamnya, “Wah, lantas bagaimana jika dia tidak kembali ke sini?”

—–

Karena tidak kenal orang lain, maka pandangan Cu Jit-jit hanya menatap ke arah Ko Siau-diong melulu.

Jika orang lain tentu akan merasa risi oleh pandangan Cu Jit-jit itu, tapi Ko Siau-diong ini tetap tertawa ketololan seperti tidak merasakan apa pun.

“Sepanjang hari engkau tertawa terus-menerus, apakah hatimu selalu gembira?” tanya Jit-jit tak tahan.

“Ya,” jawab Ko Siau-diong.

“Urusan apa yang membuatmu gembira?”

“Banyak,” jawab Ko Siau-diong. “Coba lihat, sinar sang surya sedemikian hangat, tanah bersalju seindah ini, tamu pun datang sekian banyak…Bukankah semua ini sangat menggembirakan?”

“Pernah juga engkau tidak gembira?”

“Tidak, di mana-mana aku selalu gembira.”

“Engkau sungguh manusia aneh,” ucap Jit-jit kemudian.

Ia pikir orang aneh yang dilihatnya selama ini sungguh tidak sedikit. Sim Long, Him Miau-ji, Kim Bu-bong, bahkan Sing Hian, semua ini orang aneh. Untung juga, setiap orang aneh itu terasa sangat menyenangkan.

Pada saat itulah mendadak ada orang berdiri dan berseru, “Itu dia Kiau-tayhiap datang!”

Waktu Jit-jit berpaling, benarlah dilihatnya Kiau Ngo dan Hoa Si-koh telah muncul.

Kiau Ngo memberi salam kepada para hadirin, tamu yang datang lebih dulu juga balas menyapa padanya.

Diam-diam Jit-jit merasa heran, ucapnya, “Aneh, orang yang angkuh begini juga banyak kenalannya.”

“Asalkan tidak berbuat jahat, asalkan baik hati nuraninya, setiap tindak tanduknya selalu di pihak yang benar, biarpun agak angkuh tetap disukai orang,” kata Ko Siau-diong dengan tertawa.

“Wah, banyak juga pengetahuanmu,” kata Jit-jit.

“Ah, lumayan,” ujar Ko Siau-diong.

Mendadak terdengar suara “tok-tok-tok” tiga kali, suara ketukan kentungan.

“Suheng memerintahkan berkumpul, terpaksa kumohon diri,” kata Ko Siau-diong dengan tertawa.

Waktu Jit-jit memandang ke sana, benarlah para anggota Kay-pang yang tadinya tersebar itu kini telah berkumpul dan berbaris dengan rajin. Yang menjadi komandan barisan ternyata Ci Kong-tay dan Ko Siau-diong, barisan masuk ke pelataran kosong di tengah barak, serentak lebih dua ratus anggota Kay-pang memberi hormat kepada hadirin dan mengucapkan terima kasih. Lalu mereka berduduk di atas jerami kering bertimbun salju itu.

Jit-jit menjadi gelisah, gumamnya, “Rapat segera akan dimulai, mengapa Sim Long belum lagi muncul?”

Him Miau-ji telah minum sebelas mangkuk arak, kalau tidak terdengar derapan kaki kuda mungkin dia akan minum lagi sepuluh mangkuk. Demi mendengar suara kaki kuda, segera ia taruh mangkuk arak dan berlari ke sana.

Tiga ekor kuda muncul, benarlah Sim Long dan si pemilik restoran serta seorang lelaki kekar yang pernah digenjot sekali oleh Him Miau-ji itu.

Di belakang ketiga ekor kuda ikut sebuah kereta besar.

Miau-ji pentang tangan dan menyongsong ke sana sambil berteriak, “O, Sim-heng, jika engkau tidak lagi datang, sungguh aku bisa gila.”

Sim Long menahan kudanya dan bertanya kepada kedua kawannya, “Apakah kalian kenal dia?”

Lelaki kekar itu bersungut dan diam saja.

Sedangkan si pemilik restoran lantas tertawa dan berkata, “Kalau aku tidak dapat melihat gelagat, tentu semalam juga sudah merasakan bogem mentah saudara ini.”

Si Kucing tertawa, “Untuk itu kuminta maaf. Sekarang ingin kupinjam sebentar Sim-heng untuk bicara.”

Segera ia menarik Sim Long ke samping sana.

“Ada urusan rahasia apa?” tanya Sim Long dengan tertawa. “Setelah kau minum arak, siapa yang mampu menemukan dirimu si Kucing ini?”

Tapi dengan serius Miau-ji lantas berkata, “Namun semalam telah kudengar sesuatu yang mengejutkan.”

Belum pernah Sim Long melihat si Kucing bicara sungguh-sungguh begini, cepat ia tanya, “Urusan apa?”

“Bocah she Sing itu mabuk dan menarikku untuk menjadi comblang baginya, terpaksa kuikut pergi ke Peng-an-khek-tiam sana…” begitulah Miau-ji lantas bercerita apa yang dilihat dan didengarnya semalam.

“Apa betul pembicaraan mereka itu?” Sim Long terperanjat juga.

“Mereka menyangka aku mabuk, maka cara bicara mereka sama sekali tidak khawatir didengar olehku,” tutur Miau-ji. “Mereka tidak tahu biarpun mabuk orangnya, otakku selalu jernih. Justru setelah mendengar percakapan mereka aku lantas sengaja berlagak mabuk.”

“Jadi orang itulah Sim Long palsu seperti apa yang diceritakan Sing Hian itu,” gumam Sim Long.

“Betul,” kata Miau-ji.

“Menurut pendapatmu, siapakah orang ini?” tanya Sim Long.

“Dari suara orang ini, kukira…ai…” Miau-ji menghela napas dan tidak melanjutkan.

Kedua orang lantas saling pandang sekejap dan sama menghela napas, keduanya sama-sama tahu siapa yang dipikirkan masing-masing.

“Ai, mengapa dia berbuat demikian?” berulang-ulang Sim Long menggerutu.

“Apakah kau pikir dia benar-benar Cu Jit-jit?” tanya si Kucing.

“Besar kemungkinan dia, orang lain takkan bicara demikian.”

“Tapi…tapi meski suaranya sama, wujudnya sama sekali tidak sama.”

“Waktu itu kau pun mabuk, mana dapat melihatnya dengan jelas.”

Miau-ji menggeleng, “Tidak, waktu kumasuk ke sana belum terlalu terlambat, orang itu memang tidak mirip Cu Jit-jit…Anehnya, kedengarannya dia justru Nona Cu, ai, sungguh runyam.”

“Dia pasti sudah mengalami penyamaran,” ujar Sim Long setelah berpikir.

“Tapi dia tidak paham ilmu merias, kecuali…”

“Kecuali Ong Ling-hoa, begitu bukan maksudmu?”

“Kau pikir Ong Ling-hoa akan…akan merias muka Nona Cu?” tanya Miau-ji dengan khawatir.

“Kukira yang perempuan itu ialah Ong Ling-hoa,” ucap Sim Long sekata demi sekata.

Miau-ji melonjak kaget, “Ah, mana bisa…tidak mungkin…” tapi cepat ia menyambung pula, “Sungguh setan alas, memang betul dia…Jadi dia merias Nona Cu menjadi lelaki, ia sendiri berbalik menyamar sebagai perempuan. Tapi…apa maksudnya berbuat demikian?”

“Tentu karena dipaksa oleh Jit-jit,” ujar Sim Long.

“Masakah Nona Cu mampu memaksa dia?” melengak juga si Kucing.

“Mungkin Jit-jit mendapatkan suatu kesempatan yang luar biasa dan berhasil membekuk Ong Ling-hoa. Karena dia sudah kenyang dikerjai bocah she Ong itu, maka sekarang ia pun balas mengerjai orang dengan cara yang sama.”

“Ya, betul, memang betul,” seru si Kucing. “Setelah Nona Cu membekuk Ong Ling-hoa, lalu memaksa dia merias mukanya. Karena dia merasa…merasa gemas padamu, maka ingin membalas.”

“Ya, memang begitulah, biasanya Jit-jit memang suka menuruti wataknya, bila di dunia ini ada orang yang berani berbuat apa pun maka orang ini ialah Cu Jit-jit.”

“Wah, lantas…lantas bagaimana?” si Kucing merasa tidak sabar. “Kukira lebih baik cari dulu Co Kong-liong, lalu memaksa dia membereskan segala seluk-beluk urusan ini. Hm, ada caraku dapat membuat dia bicara sejujurnya.”

Sim Long tidak menanggapi, setelah termenung sejenak, katanya kemudian, “Kau tahu semalam kupergi ke mana?”

“Thian yang tahu,” jawab si Kucing dengan tertawa.

“Kupergi menemui Co Kong-liong,” ucap Sim Long sekata demi sekata.

“Hah, apa betul?” si Kucing melonjak kaget.

Sim Long melirik sekejap ke arah si pemilik restoran, lalu berkata pula, “Dia yang membawaku ke sana.”

“Dan sudah bertemu?” tanya Miau-ji dengan kejut dan girang.

“Sudah,” jawab Sim Long.

“Aha, di mana dia sekarang,” Miau-ji berjingkrak gembira.

Sim Long termenung lagi sejenak lalu berkata, “Mari ikut padaku.”

Segera ia menuju ke arah kereta yang masih berhenti di sana itu.

“Ah, urusan ini menjadi lebih sederhana, kiranya dia di dalam kereta,” gumam si Kucing.

Perlahan Sim Long telah membuka pintu kereta. Benar juga terlihat Co Kong-liong berada di dalam.

Sang surya sudah hampir terbenam, hari sudah mulai remang-remang. Namun jelas kelihatan wajah Co Kong-liong yang pucat dan kisut, dadanya tertancap sebilah belati.

Tergetar tubuh si Kucing, ia menyurut mundur dan berkata, “Hah, sudah mati, dia…dia sudah mati!”

“Betul, perjalananku semalam hanya menemukan mayatnya,” tutur Sim Long dengan menyesal.

“Dia…dia dibunuh siapa?”

“Baik sekali bilamana kutahu.”

“Apakah tiada sesuatu tanda pengenal pada belati itu?”

“Belati ini milik Co Kong-liong sendiri…” tutur Sim Long. “Orang yang membunuhnya mampu mencabut belatinya dan menubles ke dalam dadanya tanpa ada perlawanan dari Co Kong-liong sendiri, semua ini menandakan dia…”

“Dia pasti kenalan baik Co Kong-liong,” tukas si Kucing. “Bahkan turun tangan pada saat tidak terduga-duga oleh Co Kong-liong…Tapi siapakah dia?”

Sim Long diam saja tanpa menjawab.

“Setelah Co Kong-liong mati, urusan menjadi lebih ruwet,” ujar Miau-ji dengan mengentak kaki. “Anak murid Kay-pang sudah menaruh prasangka bila melihat dirimu, bisa jadi mereka akan melabrakmu mati-matian, maka kukira lebih baik sementara ini jangan kau pergi ke sana, nanti…”

“Jika sekarang aku tidak ke sana, nanti tambah sukar menjelaskan duduknya perkara,” ujar Sim Long dengan tertawa.

Miau-ji menggeleng kepala, “Sungguh aneh, engkau masih dapat tertawa…”

—–

Musim dingin dan salju menimbuni jerami, orang biasa mana tahan berduduk di atas jerami bersalju itu. Tapi anak murid Kay-pang terasa enak saja berduduk di situ.

Sudah dekat magrib, hari belum gelap, tapi belasan anggota Kay-pang berkarung satu telah membawakan obor dan diikat di sekeliling tiang barak.

Jit-jit berkerut kening dan menggerundel, “Mengapa mereka cuma duduk tepekur tanpa bicara…”

Belum selesai ucapannya, sekonyong-konyong Ci Kong-tay telah berbangkit. Mukanya yang burik tampak prihatin, di bawah cahaya obor lekuk-lekuk kecil pada mukanya itu memang serupa mata uang sesuai julukannya, namun justru menambah keangkerannya.

Dia menjura sekeliling kepada hadirin, lalu berseru dengan suara lantang, “Lebih dulu atas nama segenap anggota pang kami mengucapkan banyak terima kasih atas kehadiran saudara-saudara, oleh karena para sesepuh pang kami sama tidak di tempat, terpaksa Tecu mewakili pang kami menyampaikan sepatah kata.”

Sampai di sini, kembali ia memberi hormat lagi.

Serentak terdengar suara hadirin yang ramai, ada yang bertanya sebab apa Kay-pang-sam-lo tidak hadir?

Maka dengan sedih Ci Kong-tay menyambung lagi sambutannya, “Adapun undangan pang kami kepada hadirin sekalian, kecuali untuk menyaksikan pemilihan pangcu, mestinya sekaligus dapat sekadar bergembira ria bersama hadirin, namun sekarang…sekarang…” ia menengadah dan menghela napas panjang, lalu menyambung, “Sekarang terpaksa harus kupermaklumkan sesuatu berita duka.”

“Hah, berita duka apa?” seru hadirin dengan gempar.

“Bahwa ketiga Tianglo kami telah mengalami musibah seluruhnya,” sambung Ci Kong-tay dengan suara tersendat.

Keterangan ini benar-benar sangat mengejutkan semua orang, serentak geger di seluruh barak, sebagian besar hadirin sama berteriak, “Apa betul berita ini?”

Dengan sedih Ci Kong-tay menjawab, “Tecu pun berharap berita ini tidak betul, tapi setahuku, hal ini memang benar terjadi.”

Seketika suasana diliputi dukacita yang tak terhingga.

“Karena ketiga sesepuh kami sudah meninggal, sementara ini pang kami menjadi krisis pimpinan,” sambung Ci Kong-tay dengan sedih. “Namun begitu, biar bagaimanapun kami harap hadirin suka tinggal sementara di sini, kalian harus menyaksikan juga segenap anggota pang kami menuntut balas terhadap musuh yang membunuh ketiga sesepuh kami itu.”

“Hah, siapa dia?” beberapa orang lantas berteriak.

Dengan suara bengis Ci Kong-tay berkata, “Setahuku, orang ini juga akan hadir ke sini, dia…”

Mendadak seorang menukas dengan mendengus dari luar barak sana, “Hm, orang itu bukan orang tolol, masakah dia mau mengantarkan kematian ke sini?”

“Siapa?!” bentak Ci Kong-tay.

Tertampaklah seorang muncul dari luar barak sebelah timur sana. Di bawah cahaya obor kelihatan orang ini bertubuh bungkuk, berbaju rombeng, mukanya jelek, jalannya tertatih-tatih.

Cepat Jit-jit mendekap mulut sendiri, sebab hampir saja dia menjerit, “Hah, Kim Put-hoan…”

Langsung Kim Put-hoan mendekati Ci Kong-tay, dengan cengar-cengir katanya, “Kian-gi-yong-wi Kim Put-hoan ialah diriku, kukira hadirin tentu sudah pernah mendengar.”

Sebagian hadirin memang kenal dia, ada juga yang tidak kenal. Ketika mendengar orang cacat ini adalah satu di antara ketujuh tokoh terkemuka dunia persilatan zaman ini yang tidak kenal menjadi gempar seketika.

Di sebelah sana Kiau Ngo lagi berkerut kening, “Hm, untuk apa sampah ini datang ke sini?”

“Kita lihat saja nanti,” ujar Hoa Si-koh dengan tersenyum.

Dalam pada itu diam-diam di luar barak sana juga sudah merunduk datang tiga sosok bayangan orang.

Ci Kong-tay sendiri kenal Kim Put-hoan, diam-diam keningnya bekernyit, namun ia coba menegur, “Kim-tayhiap…”

“Kim-tayhiap apa,” semprot Kim Put-hoan. “Orang lain menyebut Kim-tayhiap padaku, mengapa kau pun menyebut demikian padaku? Tampaknya angkatan muda Kay-pang makin lama makin tidak tahu urusan.”

Terpaksa Ci Kong-tay ganti sebutan dengan menahan rasa dongkol, “O, ada keperluan apakah Cianpwe datang kemari?”

“Kubilang kau ini tidak paham urusan, tampaknya memang betul…” jengek Kim Put-hoan. “Telah timbul peristiwa besar di dalam Kay-pang, masakah aku orang tua tidak ikut hadir? Pertanyaanmu ini bukankah berlebihan?”

“Tapi…tapi Cianpwe bukan…”

“Apa katamu? Maksudmu aku orang tua bukan anggota Kay-pang, begitu?” potong Kim Put-hoan dengan gusar. “Hehe, kau tahu, mungkin kau sendiri belum lagi lahir ketika aku masuk menjadi anggota Kay-pang.”

Di barak utara sana diam-diam Hoa Si-koh tanya kepada Kiau Ngo, “Apakah benar dia anggota Kay-pang?”

“Ada benarnya juga,” jawab Kiau Ngo. “Dahulu dia memang pernah masuk Kay-pang, tapi setelah dia terkenal, dia sungkan menyebut lagi dirinya orang Kay-pang. Kecuali bajunya yang tetap rombeng seperti kaum pengemis, sesungguhnya dia sudah meninggalkan Kay-pang.”

“Tapi sekarang dia muncul lagi selaku orang Kay-pang, entah permainan apa yang akan dibawakannya?” ujar Hoa Si-koh dengan gegetun.

“Hm, kita pun hadir di sini, jangan harap permainannya yang busuk dapat terlaksana,” jengek Kiau Ngo.

Dilihatnya Ci Kong-tay tidak berani membantah lagi, dengan hormat ia mengiakan. Rupanya ada orang yang memberi kesaksian atas identitas Kim Put-hoan.

“Eh, lantas untuk apakah kedatangan engkau orang tua sekarang?” dengan cengar-cengir tiba-tiba Ko Siau-diong yang ketolol-tololan itu bertanya.

“Aku orang tua ingin memberitahukan kepada kalian bahwa ular tanpa kepala tak bisa jalan,” sahut Kim Put-hoan. “Pang kita yang beranggotakan beribu orang mana boleh selalu tanpa pimpinan. Sebabnya kekuatan pang kita kian menurun akhir-akhir ini justru lantaran krisis pimpinan. Apalagi suatu organisasi besar seperti pang kita ini, kalau tanpa pimpinan, tentu anggotanya akan menjadi kurang disiplin.”

“Oo, jangan-jangan engkau orang tua bermaksud menjadi pangcu?” kata Siau-diong mendadak.

“Tutup mulut, binatang!” damprat Kim Put-hoan, “memangnya kau kira kedudukan pangcu boleh sembarangan diduduki begitu oleh setiap orang. Bahwa sekarang ketiga sesepuh sudah meninggal, adalah pantas kalau lowongan pangcu harus kita isi, untuk ini marilah kita memilih…”

“Cara bagaimana memilihnya?” potong Ko Siau-diong dengan tertawanya yang khas.

“Sudah tentu ada syaratnya,” ucap Kim Put-hoan. “Perguruan atau aliran mana pun, kalau memilih ketua, tentu harus menimbangnya dari nama tingkat asal usul dan tinggi rendahnya kungfu yang dikuasainya. Masakah hal-hal begini tidak kau pahami?”

“Jika begitu, kukira tak perlu memilih lagi,” ujar Ko Siau-diong dengan tertawa.

“Apa katamu?” bentak Kim Put-hoan.

“Sebab kalau bicara tentang syaratnya jelas engkau orang tua paling terhormat, apalagi bicara tentang kungfu, siapa pula kaum muda kami dapat menandingi engkau orang tua?…”

Diam-diam Cu Jit-jit merasa geli. “Ko Siau-diong ini tampaknya ketololan, yang benar dia sama sekali tidak tolol. Betapa pun tebal kulit muka Kim Put-hoan, mustahil mukanya takkan merah setelah mendengar ucapan ini.”

Siapa tahu bukan saja muka Kim Put-hoan tidak merah, sebaliknya ia malah tertawa dan berkata, “Aha, anak baik, bicaramu memang beralasan. Apabila orang lain tidak mempunyai pendapat yang berbeda, rasanya tidak enak jika kutolak saranmu ini.”

Segera matanya yang cuma satu itu mendelik dan menatap para hadirin sambil berteriak, “Nah, siapa yang sekiranya tidak setuju?”

Para anak murid Kay-pang sama memandang Ci Kong-tay dengan bingung, Ci Kong-tay sendiri tampak berdiri melenggong, sedangkan Ko Siau-diong tetap tertawa. Maka segenap hadirin menjadi gempar pula.

Kim Put-hoan bergelak tertawa, “Hahahaha! Jika demikian aku jadi…”

Mendadak seorang membentak, “Siapa pun boleh menjabat pangcu kaum jembel, hanya kau Kim Put-hoan yang tidak boleh.”

“Siapa yang bicara ini?” teriak Kim Put-hoan dengan gusar.

“Aku, Kiau Ngo!”

Baru terdengar suaranya, serentak tubuh Kiau Ngo yang tinggi besar itu sudah melayang keluar dari barak dan hinggap di tengah pelataran, di depan Kim Put-hoan.

Air muka Kim Put-hoan berubah seketika, “Kiranya kau pun hadir?”

“Hm, anggap sial bagimu, kembali kepergok olehku,” jengek Kiau Ngo.

“Memangnya ada…ada persoalan apa antara kita sehingga selalu…selalu kau memusuhi diriku?” tanya Kim Put-hoan.

“Setiap orang jahat di dunia ini seluruhnya adalah lawan orang she Kiau,” teriak Kiau Ngo dengan bengis. “Bilamana manusia rendah dan kotor semacam dirimu menjadi ketua Kay-pang, mustahil dunia persilatan bisa aman.”

“Urusan Kay-pang kami sendiri peduli apa denganmu?” jawab Kim Put-hoan.

“Aku justru ingin ikut campur, kau mau apa?” bentak Kiau Ngo.

Gemertuk Kim Put-hoan mengertak gigi, tapi juga tidak dapat bicara lagi.

Waktu itu Ci Kong-tay telah menarik Ko Siau-diong ke pinggir dan mengomelnya, “Ai, kenapa tadi kau bicara begitu?”

“Memang sudah kuduga orang lain pasti takkan membiarkan dia naik ke singgasana pangcu, jika kita tidak dapat merobohkan dia, biarkan saja orang luar yang tampil untuk menghadapi dia,” ujar Ko Siau-diong dengan tertawa.

“Ehm, benar juga,” ujar Ci Kong-tay.

Sementara itu terdengar Kiau Ngo lagi berteriak pula, “Kim Put-hoan, orang she Kiau juga takkan bertindak semena-mena, pokoknya asalkan anak murid Kay-pang sama tunduk dan menerima dirimu, aku pun pasti tidak ikut campur. Tapi bila hendak kau gunakan kekerasan untuk menindas yang lebih lemah, main gertak dan ancam, betapa pun orang she Kiau takkan tinggal diam.”

Cepat Kim Put-hoan berkata, “Dengan sendirinya anak murid pang kami sama setuju…”

Mendadak Ko Siau-diong memotong pula dengan tertawa, “Kalau bicara kungfumu lebih tinggi dan nama pun lebih terkenal, memang kami tidak dapat menyangkal…Tapi bila kau bilang kami sama setuju mengangkat engkau sebagai pangcu, hehe, jelas itu salah besar.”

“Memangnya kau berani…berani membangkang?” damprat Kim Put-hoan dengan gusar.

“Kim Put-hoan,” bentak Kiau Ngo, “tidak perlu banyak bicara, hanya ada dua pilihan bagimu, lekas menyingsingkan lengan baju dan bertempur denganku atau lekas angkat kaki dari sini.”

Kim Put-hoan benar-benar menggulung lengan baju dan berteriak, “Orang she Kiau, memangnya kau kira aku takut padamu?”

Pada saat itulah mendadak dari barak sebelah timur berkumandang suara tertawa dingin seorang, “Hm, memangnya kau takut apa Kim Put-hoan, urusan intern Kay-pang orang luar memang tidak perlu ikut campur.”

Suara orang ini sangat lambat, rasanya seperti orang yang kempas-kempis, orang yang sudah hampir putus nyawa. Namun suara ini berkumandang dari barak sana dan dapat didengar oleh setiap orang dengan jelas. Malahan suara tertawa dinginnya terasa seram dan membuat orang mengirik.

Tanpa terasa semua orang sama berpaling ke sana. Tertampaklah di atap barak yang remang sana entah sejak kapan sudah duduk bersila seorang, yang bermata tajam segera dapat melihatnya orang ini seorang kakek.

“Hah, kiranya dia…” ucap Jit-jit dengan terperanjat. “Dia inilah si kakek kecil yang minum arak sendirian di restoran besar tempo hari.”

Sing Hian juga mendesis, “Ya, orang ini she Han bernama Ling, kabarnya…”

Dalam pada itu terdengar Kiau Ngo lagi membentak, “Hm, kiranya kau, untuk apa kau ikut campur?”

“Dan kau sendiri buat apa kau ikut campur?” jawab si kakek kecil dengan ketus.

“Haha, betul, tepat!” seru Kim Put-hoan dengan girang.

“Hm, rupanya kau dan Kim Put-hoan…”

“Orang tua tidak kenal dia,” jengek si kakek alias Han Ling. “Aku cuma ingin menegakkan keadilan saja.”

“Betul, beliau orang tua memang tidak kenal padaku, dia cuma penasaran melihat perbuatanmu yang sok ikut campur urusan orang lain, maka ingin membela keadilan,” seru Put-hoan dengan tertawa.

Watak Kiau Ngo sangat keras, bila gusar, segala urusan tak dipikir panjang lagi, sambil meraung segera ia melompat ke atas barak.

“Bagus, ternyata ada orang mau mengantarkan kematian,” seru Han Ling dengan tertawa.

“Awas Goko, pedang pada kakinya berbisa keji, hati-hati!” seru Si-koh.

Kim Put-hoan berkeplok gembira. Hadirin juga gempar.

Di tengah suara ramai Kiau Ngo sudah melayang ke atas dan menubruk ke arah Han Ling. Cocok dengan julukannya sebagai Singa Jantan, gaya tubruknva itu memang sangat hebat serupa singa menerkam mangsanya.

Namun Han Ling tetap duduk bersila di tempatnya. Kepalan baja Kiau Ngo segera menghantam bagai gugur gunung dahsyatnya.

Pada saat itulah terdengar Han Ling tertawa mengekek, mendadak tubuhnya melejit ke atas, di mana kain bajunya berkibar, tahu-tahu sinar hijau berkelebat menyambar tenggorokan Kiau Ngo.

Padahal saat itu Kiau Ngo lagi terapung di udara, jelas sukar baginya untuk mengelak. Keruan Hoa Si-koh menjerit khawatir.

Namun Kiau Ngo yang kelihatan kasar itu tidak berarti tidak punya taktik, pada detik berbahaya itu mendadak ia anjlok ke bawah, barak bambu seketika berlubang, tubuh Kiau Ngo kejeblos ke bawah dan serangan kaki berpedang Han Ling lantas mengenai tempat kosong.

Meski cara menghindar Kiau Ngo ini di luar teori silat mana pun, namun merupakan gerakan penyelamat yang jitu.

Dari jerit khawatir segera Hoa Si-koh berteriak gembira pula.

Han Ling sendiri juga tidak menyangka serangan maut sendiri bisa mengenai tempat kosong, sedikit tercengang, tanpa tertahan tubuhnya juga anjlok ke bawah menerobos lubang yang dibobol Kiau Ngo itu.

Hadirin yang duduk di dalam barak sama lari menghindar. Begitu hinggap di tanah, Kiau Ngo terus berjumpalitan ke samping. Sedangkan Han Ling hinggap di atas sebuah meja dengan posisi tetap duduk bersila.

Kedua orang saling tatap.

Han Ling menyeringai dan berkata, “Hm, tak terduga barak yang dibangun orang Kay-pang ini telah menyelamatkan jiwamu.”

“Ya, bila bertanding secara resmi, memang orang she Kiau harus mengaku kalah, tapi sekarang…” mendadak tangan Kiau Ngo terangkat, kedua tangannya sudah memegang semacam senjata kemilauan sepanjang tangan manusia.

Senjata aneh itu serupa garpu tanpa tangkai serupa pula cakar. Inilah Jing-say-jiau atau Cakar Singa Hijau, senjata andalan Si Singa Jantan.

Bahwa Kiau Ngo sampai mengeluarkan senjata, seketika menimbulkan hasrat para hadirin untuk menonton pertarungan yang pasti akan berlangsung sengit.

Dalam pada itu Kiau Ngo lantas menubruk maju sambil meraung, berbareng sinar hijau juga menyambar. Terdengar suara dering nyaring berulang-ulang, kedua orang sudah saling gebrak empat-lima jurus. Tapi tidak ada yang tahu cara bagaimana beberapa jurus serangan itu berlangsung.

Tubuh Han Ling selalu melejit dan menyerang dengan kaki berpedang. Sampai empat-lima jurus tubuhnya masih belum anjlok ke bawah, malahan jurus serangan selanjutnya terus dilancarkan lagi.

Karena pedang pada kakinya saling bentur dengan cakar singa Kiau Ngo, daya bentur itu membuat tubuhnya melenting lagi ke atas sehingga dia dapat bertahan lama mengapung di udara.

“Hm, cuma begini saja,” jengek Han Ling, ketika pedang kaki beradu lagi dengan cakar singa lawan, mendadak tubuhnya mengapung ke atas dan menerobos keluar lubang atap yang jebol tadi.

Pandangan Kiau Ngo terasa kabur dan tahu-tahu Han Ling sudah hilang. Terdengar suara Han Ling mengejek di atas barak, “Kalau berani ayolah naik ke sini!”

“Jangan naik,” cepat Hoa Si-koh berseru kepada Kiau Ngo. “Dia pasti mengintai di samping lubang…”

Belum habis ucapannya Kiau Ngo sudah meloncat ke atas. Cuma dia tidak menerobos keluar melalui lubang tadi melainkan dengan cakar singa ia bobol lubang baru, dengan daya raih cakarnya itu ia lantas melayang ke atas.

Beramai-ramai hadirin berlari ke pelataran lagi dan menengadah untuk menonton pertempuran di atas barak.

Cahaya hijau di atas barak tampak menyambar kian-kemari di sekeliling Kiau Ngo. Namun Kiau Ngo juga tidak kurang tangkasnya, cakar singa juga berputar dengan macam-macam gaya serangan, ya mencakar, merobek, memuntir dan juga menangkis, semuanya gerak serangan yang jarang terlihat.

Namun kaki berpedang Han Ling memang luar biasa, merupakan kungfu yang khas, setiap serangannya ganas tanpa kenal ampun. Yang lihai adalah serangan yang susul-menyusul dan betapa cepat gerak perubahannya, sungguh sukar dibayangkan dan hampir tidak memberi kesempatan bernapas kepada lawan.

Setelah belasan jurus berlangsung, keadaan Kiau Ngo mulai payah.

Pada waktu itu di kejauhan sana ada tiga sosok bayangan orang mendekam di tempat gelap.

“Sungguh ilmu pedang yang aneh,” demikian ucap orang pertama.

“Ya, meski sudah kuperas otak tetap tidak tahu cara bagaimana mematahkan kaki berpedang itu,” ujar orang kedua.

Orang ketiga tersenyum, “Di dunia ini mana ada ilmu silat yang tak dapat dipatahkan.”

“Tapi, coba, cara bagaimana akan kau patahkan ilmu pedangnya yang istimewa itu?” ujar orang pertama.

“Berlagak mundur untuk menyerang, pura-pura menyerang, tapi mendadak menyerang sungguhan,” kata orang ketiga.

Orang pertama termenung sejenak, katanya kemudian, “Ah, betul, dengan siasat ini, setiap serangan Han Ling pasti akan mengenai tempat kosong sehingga sukar mendapatkan tempat berpijak dan dia terpaksa akan anjlok ke bawah.”

“Dan begitu anjlok ke bawah, biarpun dapat meloncat lagi ke atas, tentu juga akan terlambat selangkah, sebab daya serangnya mengutamakan kecepatan sehingga lawan tidak diberi kesempatan bernapas, tapi bila dia sendiri terlambat satu langkah, daya serangnya akan teralang juga,” demikian ucap orang kedua.

“Ya, cuma sayang Kiau Ngo tidak dapat memikirkan jalan mematahkan ilmu pedang musuh ini…” ujar orang pertama dengan gegetun.

“Tapi itu pun bukan satu-satunya jalan untuk mematahkan ilmu pedang musuh,” kata orang ketiga dengan tertawa.

“Oo, masih ada cara apa lagi?” tanya orang kedua.

“Dia masih mempunyai lawan mematikan terbesar,” kata orang ketiga.

“Siapa lawannya yang mematikan dia? Jangan-jangan Sim-heng sendiri?” tanya orang kedua.

“Bukan aku, tapi engkau,” sahut orang ketiga dengan tertawa.

Orang kedua terdiam sejenak, mendadak ia pun tertawa dan berkata, “Ya, betul, senjataku memang merupakan maut baginya.”

“Sebab itulah sebentar lagi engkau harus…” lalu orang ketiga berbisik-bisik.

“Baik, kutahu,” jawab orang kedua.

Orang pertama berkeplok tertawa dan berseru, “Haha, akal bagus…tapi cara bagaimana pula Sim-heng dapat memastikan Co Kong-liong terbunuh oleh Kim Put-hoan?”

“Jika bukan dia yang membunuh Co Kong-liong, mengapa dia berani memastikan Co Kong-liong sudah mati? Bila dia tidak dapat memastikan Co Kong-liong sudah mati, mengapa dia berani ikut berebut kedudukan pangcu?” kata orang ketiga.

—–

Dalam pada itu Kiau Ngo sudah mandi keringat, namun dasar wataknya keras, biarpun sudah kepayahan dia tetap pantang memperlihatkan kelemahan, dia masih terus menyerang mati-matian dengan cakar singanya.

Sedangkan Han Ling terus main mundur hingga barak selatan.

Hoa Si-koh sendiri tidak melihat ada tanda Kiau Ngo akan kalah, tentu saja orang lain juga tidak sehingga mereka masih bersorak memberi semangat kepadanya, malahan ada yang menyenggak, “Lelaki hebat, singa jantan sejati, coba lihat, dari awal hingga sekarang dia terus mendesak maju…”

Tak diketahuinya bahwa serangan yang mendesak ini justru merupakan kesalahan fatal Kiau Ngo sendiri.

Mendadak terdengar Han Ling tertawa mengekek, ejeknya, “Dalam tiga jurus lagi harus serahkan nyawamu!”

Di tengah tertawanya kedua kaki berpedang terus menendang secara berantai.

Dengan sendirinya Kiau Ngo sambut serangan itu dengan cakar singanya. Terdengar suara gemerencing, pedang dan cakar baja saling beradu dan memercikkan lelatu api.

Pada saat itulah tiba-tiba tangan kanan Han Ling meraba pinggang, sekali terangkat, tahu-tahu tangannya sudah bertambah sebatang pedang lemas, kontan ia menusuk.

Sungguh mimpi pun Kiau Ngo tidak menduga pada pinggang lawan terbelit sebatang pedang lemas. Tusukan pedang ketiga ini sungguh serangan maut.

Kedua cakar singa Kiau Ngo sedang digunakan memapak kedua pedang kaki Han Ling, maka sukar baginya untuk mengelak atau menangkis tusukan pedang ketiga ini.

Penonton sama menjerit kaget…

Syukurlah pada detik terakhir itu mendadak dari kejauhan seorang membentak, “Serang!”

Terdengar suara mendenging memecah udara, langsung menyambar ke punggung Han Ling.

Jarang orang mendengar denging tajam dan secepat ini, sungguh tak tersangka di dunia ada senjata rahasia selihai dan sekuat ini.

Tentu saja Han Ling juga terkejut, mana dia sempat melukai lawan lagi, dari suara mendenging tajam itu dirasakan senjata rahasia orang sudah dekat punggungnya, terpaksa sekuatnya ia putar pedang ke belakang…

“Tring”, kembali lelatu tepercik. Tangan Han Ling sampai kesemutan tergetar oleh senjata rahasia lawan yang kecil itu.

Dalam kejut dan gusarnya Han Ling membentak, “Keluar sini pengecut yang suka main menyergap!”

Di tengah kegelapan sana seorang tertawa keras, serunya, “Ini dia datang!”

Baru lenyap suaranya, tahu-tahu seorang sudah melayang ke atas barak, betapa cepat gerak tubuhnya sungguh sangat mengejutkan.

Han Ling sudah duduk bersila lagi, dipandang dalam kegelapan sukar melihat jelas wajah pendatang ini, tapi dapat dilihatnya dada bajunya yang terbuka dan rambutnya yang kusut, matanya yang besar dan mencorong terang seperti kerlip bintang di langit.

“Itu dia si Kucing,” seru Jit-jit tanpa terasa.

Sing Hian juga bergumam, “Tak tersangka dia memiliki ginkang setinggi ini.”

Terdengar Him Miau-ji lagi berkata dengan tertawa, “Silakan Kiau-goya mengaso dulu, biarkan aku si setan arak cilik melayani setan arak tua ini.”

Kiau Ngo termangu sejenak akhirnya ia mengentak kaki dan berkata, “Baiklah.”

Dia terus melompat turun ke pelataran, di mana Hoa Si-koh sedang menunggunya.

Dalam kegelapan mata Han Ling seakan-akan memercikkan lelatu.

Dengan tertawa si Kucing lantas menegur, “Kembali datang seorang yang suka ikut campur tetek bengek, kenapa kau duduk melulu, ayolah berkelahi!”

Han Ling hanya melotot saja tanpa bicara, juga tidak bergerak.

“Jika sengaja kau tunggu kuturun tangan lebih dulu, kukira engkau bisa konyol,” ujar si Kucing dengan tertawa. “Ketika di restoran itu tempo hari kan sudah kau ketahui selamanya aku tidak turun tangan lebih dulu.”

Api yang seakan-akan menyala pada mata Han Ling sudah padam dan mendadak berubah dingin.

Tiba-tiba Ko Siau-diong di bawah berkata dengan tertawa, “Orang ini pasti menang.”

Yang dimaksudkan adalah si Kucing.

“Cara bagaimana dapat kau pastikan?” tanya Ci Kong-tay.

“Dari caranya yang sabar dan tidak mau turun tangan lebih dulu segera kutahu dia pasti akan menang.”

“Ah, masa…” belum lanjut ucapan Ci Kong-tay mendadak secepat kilat Han Ling melayang maju, cahaya hijau berkelebat, kembali kakinya yang berpedang menusuk tenggorokan Him Miau-ji.

Si Kucing bergelak tertawa dan menyurut mundur.

Sekali berputar di udara, kembali pedang kaki lain Han Ling menyerang lagi. Dan si Kucing tetap menyurut mundur, sebelah tangan lantas meraih buli-buli arak yang tergantung di pinggang.

Dua kali menendang tidak kena sasaran, Han Ling hinggap ke belakang, tapi begitu ujung pedang menutul atap barak, serentak tubuhnya melejit lagi ke atas dan sinar hijau menyambar pula.

Sekali ini dia menyerang dengan tendangan berantai, kedua kaki berpedang menyambar susul-menyusul.

“Bagus!” teriak si Kucing. Sekali ini dia tidak mundur lagi melainkan memapak maju malah dengan buli-buli arak terpegang di tangan, kontan ia sambut ujung pedang lawan dengan buli-buli.

“Tring-tring”, kedua pedang sama mengenai buli-buli. Selagi Han Ling hendak ganti gerakan, siapa tahu kedua kaki pedang telah melengket pada lawan. Hal ini serupa kedua kakinya terpegang oleh orang.

Bila orang lain, kalau senjata tercengkeram lawan tentu dapat lepas tangan dan habis perkara, tapi senjata Han Ling ini lain daripada yang lain, kedua pedangnya sama dengan kedua kakinya dan tidak mungkin dilepaskan.

Keruan kejut Han Ling tak terkatakan, saking kagetnya, pedang yang dipegang tangan kanan terus menebas, tak terduga kembali terdengar “tring”, begitu pedang mengenai buli-buli, lagi-lagi pedang melengket dan sukar terlepas lagi.

“Haha, turunlah!” seru si Kucing dengan tertawa.

Ketika si Kucing menarik buli-bulinya, jelas sekujur badan Han Ling akan ikut terseret ke bawah. Dalam keadaan terapung terang dia tidak mampu melawan.

Serentak terdengar sorak gembira anggota Kay-pang.

Siapa tahu pada saat itulah tangan kiri Han Ling mendadak bertambah lagi dengan sebatang pedang pandak. Sinar tajam berkelebat, belati itu terus menikam, bukan Him Miau-ji yang diserang melainkan menebas kedua kaki sendiri, kedua pedang hijau berkilau itu.

Terdengarlah suara “tring-tring” dua kali, tahu-tahu kedua pedang yang digunakan sebagai kaki itu tertebas patah. Nyata belatinya adalah senjata mestika yang dapat memotong besi serupa merajang sayur.

Begitu pedang kaki patah, seketika Han Ling terbebas dari lengketan buli-buli, cepat ia berjumpalitan dan melompat sejauh beberapa meter ke sana, sekali berkelebat bayangannya segera lenyap dalam kegelapan.

Para penonton sama melenggong, Miau-ji juga terkesima.

Sampai sekian lama barulah si Kucing menggeleng kepala dan berkata, “Ai, tak tersangka keparat ini masih memegang pedang keempat.”

Nyata pedang keempat itu adalah pedang penyelamat jiwa.

Kim Put-hoan merasa sudah kehilangan segalanya, segera ia bermaksud mengeluyur pergi.

Tapi baru saja dia bergerak, tahu-tahu Miau-ji sudah mengadang di depannya dengan tertawa.

“Hehe, hebat benar kungfu Him-heng,” ucap Kim Put-hoan dengan menyengir.

“Ah, mana,” sahut si Kucing dengan tertawa.

“Antara diriku dengan Him-heng rasanya tidak terjadi sengketa apa pun,” ucap Kim Put-hoan pula.

“Hahahaha!” mendadak si Kucing menengadah. “Wahai Kim Put-hoan, apa gunanya engkau mengoceh dan menjilat diriku? Jika kulepaskan dirimu hari ini, tentu Sim Long yang akan menanggung dosa bagimu.”

Mendadak ia berhenti tertawa dan membentak, “Dengarkan kawan-kawan Kay-pang, kematian Co Kong-liong, Co-tianglo adalah karena dibunuh oleh orang she Kim ini.”

Tentu saja terjadi heboh di antara anggota Kay-pang itu, juga para tamu sama gempar.

Dengan air muka berubah Kim Put-hoan berseru, “Selama ini tidak ada…tidak ada permusuhan apa pun antara kita, mengapa…mengapa engkau memfitnah diriku?”

“Apa yang kukatakan sudah barang tentu ada bukti dan saksi,” kata si Kucing.

Mendadak sikap Kim Put-hoan berubah tenang lagi, jengeknya, “Bukti dan saksi?…Hm, coba buktikan!”

“Huh, mungkin kau kira perbuatanmu itu pasti tidak diketahui oleh siapa pun, apalagi bukti segala. Wahai Kim Put-hoan, apakah kau tahu bahwa jaring yang dipasang Thian cukup ketat, setiap kejahatan tidak nanti lolos dari pengawasan Thian Yang Mahaadil. Kau kira perbuatanmu cukup rahasia, siapa tahu justru ada orang…”

“Hm, jika cuma perlu seorang saksi saja apa sukarnya?” jengek Kim Put-hoan.

“Saksi juga harus dapat memberi bukti, orang yang kuajukan justru dapat memberi kesaksian sekaligus juga memberi bukti.”

“Memangnya siapa dia? Aku jadi ingin tahu,” ujar Kim Put-hoan.

“Orang itu tak-lain-tak-bukan ialah Co Kong-liong sendiri,” jawab Miau-ji.

“Hahh, apa katamu?” Kim Put-hoan menegas dengan bingung.

Dengan suara bengis si Kucing menjawab, “Ketahuilah, bacokanmu itu ternyata tidak menewaskan dia.”

Sampai di sini mendadak ia menuding ke atas dan berteriak, “Coba kau lihat, siapa dia?!”

Tanpa terasa semua orang sama memandang ke arah yang ditunjuk, begitu pula Kim Put-hoan.

Tertampaklah di atas barak selatan sana perlahan muncul sesosok bayangan orang, meski dalam kegelapan tidak terlihat jelas wajahnya, tapi samar-samar dapat dikenali ialah Co Kong-liong.

Keruan hadirin sama gempar, terutama anak murid Kay-pang, serentak mereka berteriak, “Co-tianglo…”

Kepala Kim Put-hoan terasa seperti disambar geledek, sampai sekian lama ia tercengang, lalu berteriak dengan suara parau, “Tidak, bukan, palsu, dia palsu, jelas-jelas golokku telah menghabisi dia…”

Mendadak disadarinya telah telanjur omong, segera dia bermaksud lari seperti orang gila.

Tapi keadaan sekarang tidak mengizinkan dia kabur lagi. Serentak anak murid Kay-pang menerjangnya dengan kalap.

Sambil membentak Kim Put-hoan meloncat ke atas barak, di situ Co Kong-liong berdiri.

Tak terduga mendadak Co Kong-liong terus ambruk ke belakang, sebagai gantinya lantas melayang keluar seorang dan mengadang di depan Kim Put-hoan.

Orang ini bukan lain daripada Sim Long adanya.

Belum lagi Sim Long turun tangan tubuh Kim Put-hoan sendiri sudah lemas, sukma seolah-olah terbang meninggalkan raganya.

Ketika tangan Sim Long bergerak perlahan, kontan Kim Put-hoan terjungkal ke bawah barak.

Melihat munculnya Sim Long tubuh Cu Jit-jit juga lemas, gumamnya, “Wah, habis…tamat!…”

Segala daya upayanya, setiap tipu akalnya bila kebentur Sim Long menjadi sama sekali tidak ada artinya.

Sing Hian juga melenggong di tempatnya sambil bergumam, “O, Sim Long…lihai amat…”

“Dia…dia memang bukan manusia, tapi setan!” kata Jit-jit dengan mendongkol. “Mengapa di dunia ini tidak ada seorang pun yang mampu merobohkan dia. Cara bagaimanapun orang hendak membikin celaka dia, rasanya selalu diketahui olehnya sebelum terjadi.”

Di luar sana terjadi kekacauan, Kim Put-hoan sudah kena diringkus oleh anak murid Kay-pang.

Semua orang asyik membicarakan kejadian ini, tapi setiap percakapan selalu membawa nama seorang, dengan sendirinya ialah nama Sim Long.

Sungguh saking dongkolnya Cu Jit-jit ingin mendekap di atas meja dan menangis. Air matanya berlinang-linang, ia menunduk dan diam-diam mengusapnya.

Waktu ia menengadah, pandangan pertama yang terlihat ialah Sim Long.

Anak muda yang gagah santai dengan senyumnya yang khas itu.

Him Miau-ji juga sudah berada di depannya dan juga lagi tersenyum padanya.

Cu Jit-jit merasa jantungnya mau melompat keluar dari rongga dadanya, sedapatnya ia menenangkan diri dan berlagak tidak mengenal mereka.

Tapi Sim Long lantas menegurnya dengan tersenyum, “Baik-baikkah engkau?”

“Sia…siapa kau? Aku tidak kenal dirimu,” jawab Jit-jit.

“Apa benar engkau tidak kenal kami?” si Kucing ikut bertanya dengan tertawa.

“Aneh, mengapa…mengapa aku harus kenal kalian?” jawab Jit-jit ketus. Betapa pun ia berlagak, tidak urung suaranya rada gemetar.

“Sudahlah, untuk apa lagi berpura-pura,” ujar si Kucing dengan tertawa. “Umpama orang lain dapat kau kelabui, tidak mungkin aku dan Sim Long dapat kau tipu. Bilakah pernah kau lihat ada sesuatu urusan dapat mengelabui Sim Long?”

“Apa…apa yang kau bicarakan, sungguh aku tidak paham?” kata Jit-jit.

“Apa benar kau minta kubongkar urusan ini?” tanya Miau-ji dengan tertawa.

Mendadak Jit-jit melengos dan berucap, “Orang semacam ini sungguh membingungkan, Sing Hian…”

Akhirnya Sing Hian mendekat dan mengadang di depan Miau-ji, katanya, “Him-heng, sudahlah jika dia tidak mau kenal…”

“Haha, rupanya hendak kau bantu bicara bagi bakal paman mertuamu?” Miau-ji berolok-olok dengan tergelak.

Muka Sing Hian menjadi merah, “Ah, aku…aku…”

“Haha, bilamana kau jadi menikahi keponakan perempuannya, itulah baru lelucon besar,” seru Miau-ji.

Mending jika dia bicara urusan lain, demi menyinggung “si dia”, Sing Hian menjadi marah, segera ia menjengek, “Hm, lelucon apa? Maksudmu aku tidak setimpal mendapatkan dia?”

“Kau memang tidak setimpal,” kata Miau-ji.

“Mungkin engkau yang setimpal?” jengek Sing Hian pula dengan gusar.

“Aku lebih-lebih tidak setimpal,” Miau-ji terbahak. “Mana si Kucing macam diriku punya rezeki sebesar itu untuk mendapatkan si cantik…”

“Di depan Nona caramu bicara hendaknya tahu aturan sedikit!” bentak Sing Hian mendadak.

“E-eh, apakah kau ingin berkelahi membela dia?” tanya Miau-ji.

“Berkelahi juga berani,” sahut Sing Hian.

“O, kasihan, ditipu orang belum juga sadar,” ujar si Kucing dengan gegetun.

Sampai pucat muka Sing Hian karena gusarnya, “Kau sendiri yang perlu dikasihani, kaulah yang tertipu.”

“Tapi sedikitnya aku tidak sampai mengambil seorang lelaki sebagai bini,” kata Miau-ji.

Sing Hian jadi melengak, mendadak ia tertawa keras, “Hahaahh! Orang ini sudah gila barangkali, masakah nona ini dibilang lelaki.”

Melihat bentuk samaran Ong Ling-hoa yang cantik molek itu, semua orang juga merasa ucapan Him Miau-ji agak janggal, mungkin kurang waras, malahan lantas ada yang menertawainya.

Namun tertawa Him Miau-ji sendiri lebih lantang daripada orang lain, serunya, “Haha, kau bilang aku gila, memangnya kau minta kuberi bukti padamu?”

“Jika dapat kau buktikan, akan kuberi kepalaku,” kata Sing Hian.

“Aku tidak mau kepalamu, cukup bayar beberapa botol arak saja…” sembari bicara, mendadak Miau-ji melompat ke sana, mendekati “Ong Ling-hoa yang cantik” itu, ditariknya dada baju si dia sambil berteriak, “Nah, boleh kau lihat dia lelaki atau perempuan?!”

“Brett”, seketika dada baju “Ong Ling-hoa” terobek sehingga dada terbuka.

Mendadak senyum khas Sim Long lenyap dari wajahnya. Him Miau-ji juga melongo.

Ternyata dada yang terpampang di depan mata itu adalah dada orang perempuan, hal ini terbukti jelas dua “onde-onde,” yang menghiasi dadanya yang cukup merangsang itu.

Dalam sekejap itu tidak cuma Sim Long dan Him Miau-ji saja yang kaget dan bingung, bahkan Cu Jit-jit jauh lebih terperanjat daripada mereka.

Jelas-jelas orang itu adalah samaran Ong Ling-hoa, mengapa bisa malah menjadi seorang perempuan.

Dengan mata kepala sendiri langsung ia menyaksikan Ong Ling-hoa merias sendiri menjadi perempuan, hal ini tidak mungkin salah dan keliru, mengapa sekarang bisa terjadi kekeliruan begini?

Apakah mungkin Ong Ling-hoa sendiri aslinya memang seorang perempuan?

Ah, tidak bisa, tidak mungkin. Senyumnya dan pandangannya yang jalang, jelas bukan perempuan.

Apalagi secara langsung Cu Jit-jit pernah mengalami dipeluk dan diraba oleh Ong Ling-hoa, semua itu takkan dilupakannya selama hidup dan tidak mungkin salah, sebab perbuatan begitu tak mungkin dapat dilakukan oleh seorang anak perempuan.

Tapi sekarang Ong Ling-hoa justru malah menjadi perempuan.

Keruan keadaan menjadi heboh, Jit-jit berseru kaget, Sim Long dan Miau-ji melongo, Sing Hian menjadi gusar karena merasa dikibuli.

Di antara orang banyak ada yang heran dan geli, ada yang gusar, ada yang tidak berani memandang dada yang telanjang itu, tapi lebih banyak yang melotot, malahan ada yang mendesak maju agar dapat melihat lebih jelas.

Suasana menjadi kacau, sebaliknya si “Ong Ling-hoa”, perempuan itu lantas menangis dan berteriak, “O, kalian lelaki sebanyak ini sengaja menganiaya seorang perempuan lemah, menganiaya perempuan sakit seperti diriku ini…”

Sing Hian terus menubruk maju dan mencengkeram leher baju Him Miau-ji sambil berteriak dengan suara parau, “Katakan…”

“Aku…aku…” si Kucing juga gelagapan.

Yang seorang marah, yang lain gugup, keduanya sama-sama tidak sanggup bicara.

Sukar bicara, tangan Sing Hian tidak tinggal diam. Sekaligus ia genjot tubuh si Kucing beberapa kali.

Terpaksa Miau-ji manda dipukuli. Biarpun Sing Hian tidak mengeluarkan tenaga dan tubuh Miau-ji juga cukup kekar, tapi beberapa kali genjotan itu pun cukup membuatnya meringis.

“Pukulan bagus, hajaran baik!” banyak penonton ikut berkeplok.

Dengan sendirinya Miau-ji tidak dapat membalas, terpaksa ia minta tolong, “Sim Long ken…kenapa kau tinggal diam saja?”

Mendadak Sim Long melompat ke depan Jit-jit dan berkata, “Masa kau biarkan si Kucing dipukuli begitu saja? Jangan lupa, dia pernah menyelamatkan jiwamu dan…”

Terpaksa Jit-jit berteriak, “Lepaskan dia, Sing Hian…”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: