Kumpulan Cerita Silat

19/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 04

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 1:43 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, dan Lovecan)

Bab II. Tangan Berdarah

4. Memasuki alam baka.

Cahaya rembulan sangat redup, remang-remang dan terasa agak gelap.

Dari balik cahaya yang redup bagai berada dalam alarri ba-ka itu tiba-tiba terdengar tangisan seorang wanita. Suaranya lirih, sedih dan memilukan hati.

“…Cahaya rembulan mulai redup, malam semakin kelam…Dalam alam baka yang gelap, tiada cahaya sang surya, tiada sinar rembulan…Hanya roh-roh halus yang gentayangan

Suara itu muncul dari balik sebuah bangunan, mengalun di atas sungai kecil, menyelinap ke balik hutan lebat dan menggema tiada hentinya.

Di tengah hutan itu terdapat sebuah api unggun dengan api yang berkobar besar. Di sekeliling api unggun duduk tiga orang, tiga orang lelaki bercambang berwajah menyeramkan. Tiga ekor kuda dibiarkan lepas di tepi pepohonan sambil mengebaskan ekornya seakan sedang mengebas lalat-lalat yang terbang mengelilingi tubuhnya.

Dari ketiga orang lelaki kekar itu, seorang sedang memanggang daging di atas api unggun itu. Bila dilihat busur serta anak panah yang tergantung di punggungnya, jelas daging yang sedang mereka panggang adalah hasil buruannya. Orang kedua sedang menikmati’ sekerat daging yang telah matang dengan penuh kenikmatan, sementara orang ketiga hanya menggendong tangan sambil berbaring menengadah ke langit seakan ada yang sedang dipikirkan.

Langit dan bumi serasa bungkam. Selain kobaran api unggun, hanya suara alunan sedih yang membelah angkasa.

Lelaki kekar yang sedang menikmati daging panggang itu mulai berkerut kening, dan akhirnya sambil meludah ia mengumpat penuh kegusaran, “Maknya, sialan! Tengah malam buta begini masih saja meringkik macam tangisan setan. Kalau sampai tertangkap, hmmm, pasti akan ku tiduri sepuasnya.”

Lelaki yang sedang memanggang daging segera menimpali, “Yang aneh justru terletak pada tangisan serta orangnya. Tangisan terdengar jelas, kenapa orangnya tak nampak? Tadi aku sempat mengelilingi hutan ini sampai tujuh delapan kali. Jangan kan orangnya, bayangan setan pun tidak nampak, padahal suara tangisannya masih jelas terdengar. Aneh…benar-benar aneh!”

Mendadak…”plaaak!” dia menampar wajah sendiri.

“Losam!” teriak lelaki yang sedang makan daging itu kaget. “Kenapa kau menampar dirimu sendiri? Sudah lama tak pernah dibelai, apa sekarang badanmu mulai gatal-gatal?”

“Maknya!” umpat lelaki yang memanggang daging sambil tertawa. “Aku sedang menggampar lalat. Sialan benar…masa dalam wilayah tujuh delapan puluh li di sekitar sini terdapat begitu banyak lalat?”

Lelaki yang sedang makan daging panggang itu termenung beberapa saat dengan mulut membungkam.

Mendadak ujarnya lagi, “Hei Loji, kenapa kau bungkam melulu malam ini? Kentut sedikit atau gimana.”

“Aku sedang memikirkan sesuatu,” kata lelaki yang ber-baring itu.

“Ide sialan apa lagi yang sedang kau pikirkan? Coba lihat tampangmu, senang tidak, murung juga tidak.”

“Toako, malam ini kita perlu melakukan jual beli atau tidak?” tanya lelaki yang berbaring itu sambil melompat bangun.

“Jual beli apa lagi?” sahut lelaki yang makan daging itu agak tertegun. “Dalam radius tujuh delapan puluh li, jangan kan orang punya duit, mau mencari sekor kerbau saja susahnya bukan main. Jual beli apa yang bisa kita lakukan?”

Ternyata ketiga orang lelaki kekar itu adalah Soat-say-sam-ok (tiga manusia bengis dari Soat-say). Mereka tersohor sebagai perampok ulung di wilayah itu. Lotoa adalah Kay-san-hu (si kapak pembuka bukit) Pao Liong, Loji ialah Cui-kong-ki (siasat bandit) Pao Coa dan Losam Juan-in-ciam (panah penembus awan) Pao Hau.

Ilmu silat ketiga orang itu sangat tangguh. Sudah banyak jago silat dunia persilatan, para piausu maupun pengawal kerajaan yang tewas oleh siasat busuk Pao Coa, panah gelap Pao Hau serta kapak besi Pao Liong.

Terdengar Pao Coa berkata, “Toako, pernahkah kau men-dengar orang bercerita tentang Perkampungan Hantu yang ada di sekitar sini?”

“Ya, pernah kudengar tentang Perkampungan Hantu itu,” sela Pao Hau cepat. “Konon pemilik perkampungan itu kaya raya, dia paling suka mengumpulkan intan permata dan mutu manikam. Konon Toako Kiu-cu-leng-lian-huan pernah menderita kerugian besar di tangannya. Orang menyebutnya Siang-kiang-te-it-jin (manusia nomor wahid di Siang-kiang). Memangnya, dengan kekuatan kita bertiga, kita berani mengincar kekayaan per-kampungan Yu-leng-san-ceng?”

“Toako, Perkampungan Hantu sekarang sudah berganti nama jadi Perkampungan Alam Baka,” sela Pao Coa tiba-tiba sambil tertawa.

“Kenapa bisa jadi begitu?” tanya Pao Liong keheranan.

“Konon Perkampungan Hantu sudah tertimpa musibah yang sangat mengerikan. Semua penghuninya tewas terbantai, tak seorang pun berhasil lolos dalam keadaan hidup. Siapa yang telah melakukan pembantaian berdarah itu? Tak seorang pun yang tahu. Konon semua mayat yang ditemukan dalam perkampungan itu tewas dengan cara yang menyeramkan. Semuanya mati dengan mata mendelik dan gigi meringis. Bukan saja darah mereka seakan sudah diisap orang, kondisi mayat pun hancur tak keruan. Itulah sebabnya orang mengatakan bahwa Perkam-pungan Hantu sudah jadi tempat tinggal roh-roh gentayangan. Maka kini orang menyebutnya Perkampungan Alam Baka!”

Tiba-tiba suara tangisan perempuan itu berhenti secara mendadak. Kini yang terdengar hanya deru angin malam yang menggoncangkan api unggun. Suasana amat hening dan meng-gidikkan hati.

Dengan badan merinding karena seram, Pao Hau berbisik, “Jiko, kau jangan menakut-nakuti orang!”

“Siapa yang menakut-nakuti kau?” jawab Pao Coa sambil tertawa. “Dari mereka yang menggotong keluar mayat-mayat dari dalam Perkampungan Hantu, aku dengar barang mestika yang ada di situ berantakan tak keruan. Barang berharga berceceran di mana-mana tapi tak seorang pun berani menjamah.

“Wah, kebetulan!” seru Pao Liong kegirangan. “Mumpung perkampungan itu kosong tanpa penghuni, kenapa kita tidak merampok saja harta kekayaan yang tercecer dalam Perkam-pungan Hantu itu?”

“Toako jangan terburu napsu,” segera Pao Coa menggoyang tangan berulang kali. “Perkampungan Hantu memang sedikit rada aneh. Dalam setahun belakangan ini sudah banyak sekali saudara sealiran yang mencoba mengorek rejeki di situ. Bahkan paling tidak ada dua puluhan orang. Tapi anehnya, begitu memasuki perkampungan itu, mereka seperti lenyap begitu saja. Sama sekali tak terdengar kabar beritanya lagi. Konon beberapa buah batok kepala mereka ada yang ditemukan di belakang bukit, ada juga yang dadanya dibelah dan jantungnya dicomot keluar. Ada pula yang di tenggorokannya terdapat bekas gigitan, tampaknya mati kehabisan darah karena diisap seseorang.”

Ketika bicara sampai di situ, kebetulan ada angin dingin berhembus lewat. Tak kuasa lagi dia bersin beberapa kali.

Pao Liong segera tertawa dingin. “Jite, sejak kapan kau percaya takhayul? Mau setan mau manusia, yang penting setan pemilik perkampungan telah mampus. Hmmm! Semisal benar-benar ada setannya, biar kawanan setan itu mencicipi ketajaman kapakku!” Pao Coa tertawa.

“Toako hebat dan bernyali besar, tentu saja tidak takut menghadapi segala setan iblis. Apalagi orang-orang yang selama ini memasuki Perkampungan Hantu memang terdiri dari kawanan pencoleng kere, atau kaum bandit yang menahan tiga bacokan kapak Toako pun tak sanggup. Bila kita tiga bersaudara turun tangan sendiri, tentu beda sekali keadaannya. Cuma…biarpun begitu kita tetap mesti waspada, karena keanehan dalam perkampungan itu memang menakutkan. Mungkin saja kawanan bandit yang lenyap dalam perkampungan itu dimakan serigala atau diterkam harimau. Tapi ada yang lebih aneh lagi. Konon kawanan manusia yang pernah menggotong keluar tumpukan jenazah dari dalam Perkampungan Hantu itu, dalam waktu sebulan telah tewas semua dalam keadaan yang sangat aneh. Justru karena banyaknya orang yang tewas secara misterius, Perkampungan Hantu berubah menjadi Perkampungan Setan Gentayangan. Bahkan penduduk yang tinggal di sekitar situ pun berbondong-bondong pindah rumah…jadi…”

“Kalau memang begitu, lebih baik kita tak usah merecoki Perkampungan Hantu,” usul Pao Hau dengan nada gemetar.

“Losam” teriak Pao Liong gusar. “Masa kau akan menyia-nyiakan intan permata yang berserakan di depan mata? Jangan bikin malu kita semua!”

“Toako tak usah gusar,” lekas Pao Coa menghibur. “Semi-al aku tak berani menyatroni tempat itu, tak nanti akan kubeberkan semua hal yang kuketahui tentang perkampungan itu di hadapanmu. Cuma, alangkah baiknya jika kita melangkah lebih hati-hati!”

“Hahaha…Nah, begitu baru Jiteku yang hebat!” Pao Liong tertawa tergelak. “Biarpun pemilik Perkampungan Hantu, Sik Yu-beng, belum mampus, akan kusuruh dia mencicipi beberapa bacokan kapakku. Cari kemenangan mungkin sulit, tapi untuk kabur rasanya tidak susah. Losam, kau ikut tidak?”

“Bila kalian berdua tetap mau berangkat, mana aku berani membangkang?” sahut Pao Hau dengan wajah kecut.

“Hmmm, aku tahu kau tak bakalan menolak! Aaah, betul, Loji. Di mana letak perkampungan itu?”

“Dekat sekali. Itu! Dekat hutan sebelah sana,” kata Pao Coa sambil menunding ke arah di hadapannya.

“Bagus sekali!” seru Pao Liong sambil mengobat-abitkan kapaknya. “Malam ini aku akan membacok setan! Wes, wes, wes, satu bacokan satu setan! Hahaha…ayo kita segera berangkat!”

Tiga orang dengan tiga ekor kuda segera bergerak cepat bagai terbang. Tak selang berapa saat kemudian, mereka sudah tiba di luar hutan.

Dari balik rimbunnya pepohonan, tampak sebuah bangunan yang besar berdiri di balik kegelapan. Soat-say-sam-ok segera saling bertukar pandang. Kemudian sambil mencemplak kuda tunggangannya, mereka meneruskan perjalanan ke dalam hutan belantara.

Tak selang berapa saat kemudian, tibalah mereka di depan sebuah gedung yang amat besar dan luas. Sayang gedung ini sudah lama terbengkalai sehingga mendatangkan suasana yang menyeramkan.

Mendadak suara nyanyian diiringi isak tangis itu terdengar kembali, bergema membelah keheningan malam.

“…Cahaya rembulan mulai redup, malam semakin kelam…Di alam baka yang gelap, tiada cahaya sang surya, tiada sinar rembulan…Hanya roh-roh halus yang gentayangan.”

Pao Liong segera melompat turun dari kudanya sambil menghardik, “Bising amat suara tangisan itu! Ayo, kita segera masuk ke dalam!”

Waktu itu bulu kuduk Pao Hau sudah berdiri. Nyanyian diiringi isak tangis perempuan itu benar-benar membuat hatinya bergidik. Bisiknya agak gemetar, “Toako…kau…kau benar-benar mau masuk ke situ?”

“Begini saja,” tiba-tiba Pao Coa menyela. “Toako, biar Samte tetap tinggal di sini menjaga kuda kita. Tidak lucu kalau kuda kita dicuri orang sementara kita masuk ke dalam perkampungan. Apalagi kita memang butuh kuda tunggangan untuk mengangkut intan permata dan emas berlian yang berpeti-peti banyaknya itu. Samte, jika aku dan Toako tak pernah muncul lagi dari sini, kau segera kabur sejauh-jauhnya dan selama hidup tak usah datang kemari lagi. Sebab bila aku dan Toako pun tak sanggup menghadapi orang tersebut, biar kau ikut pergi juga pa-ling hanya mengantar nyawa!”

Pao Hau memang berharap tak usah ikut masuk ke dalam gedung yang tampak sepi tapi amat menyeramkan itu. Segera sahutnya, “Baik, aku akan menanti Toako dan Jiko di sini!”

“Lebih baik tingkatkan kewaspadaanmu!” pesan Pao Liong sambil tertawa dingin, lalu setelah menengok sekejap ke arah Pao Coa, dia mulai merambat naik ke atas tembok pekarangan.

Dinding pekarangan di sekeliling Perkampungan Hantu memang cukup tinggi, bahkan mencapai beberapa kaki. Selain tinggi juga sangat kokoh. Meskipun Soat-say-sam-ok memiliki ilmu meringankan tubuh yang hebat, sulit bagi mereka untuk melewatinya hanya dalam sekali lompatan.

Setibanya di atas tembok pekarangan, Pao Liong dan Pao Coa mengawasi sekejap sekeliling tempat itu. Kemudian setelah memberi kode dan melompat turun, tak terdengar lagi suara apapun.

Pao Hau terpaksa menunggu dengan perasaan kebat-kebit. Setiap kali angin dingin berhembus lewat yang membuat deda-unan bergesek menimbulkan suara aneh, dia selalu merasa bulu kuduknya berdiri. Beberapa kali dia seperti merasa ada orang sedang meniupkan udara dingin di belakang tengkuknya…

Satu kentongan sudah lewat tanpa terasa, namun Pao Liong dan Pao Coa belum kelihatan juga batang hidungnya. Su-asana di dalam halaman Perkampungan Hantu tetap hening, sepi dan tak terdengar sedikit suara pun.

Berhubung dinding pekarangan sangat tinggi, Pao Hau tak mampu melihat kejadian yang sebenarnya di dalam halaman perkampungan itu.

Sambil memaksakan diri, kembali Pao Hau menunggu satu kentongan lebih. Namun belum juga terdengar sedikit suara pun.

Seharusnya Pao Liong dan Pao coa sedang mengobrak-abrik seluruh isi perkampungan itu, selama dua kentongan, sudah lebih dari cukup untuk merampok seluruh harta kekayaan yang berada di situ. Seandainya Pao Liong dan Pao Coa telah berjumpa dengan musuh tangguh, semestinya ada suara kegaduhan…

Pikir punya pikir, Pao Hau merasa gelagat semakin tak beres. Bisikan Pao Coa yang menyuruh dia kabur duluan kembali mendengung di telinganya. Tapi bagaimana pun dia termasuk seorang lelaki yang setia kawan. Terbayang bagaimana selama ini mereka bertiga selalu malang-melintang bersama dalam dunia persilatan. Jika kedua saudaranya benar-benar kena musibah, apa artinya dia melanjutkan hidup seorang diri?

Setelah berpikir lagi, akhirnya sambil mengertak gigi dia mencabut busur dan “Wesss!” anak panah dibidikkan ke ujung tembok pekarangan. Pada ekor anak panah itu terikat seutas tali yang panjang. Dengan berpegangan pada tali itu, Pao Hau segera merangkak naik ke atas tembok pekarangan, kemudian melompat turun di balik tembok halaman perkampungan itu.

Siapa tahu baru saja kakinya menginjak permukaan halaman perkampungan, jeritan ngeri yang menyayat hati segera berkumandang dari mulutnya. Jeritan sakit bercampur perasaan takut yang luar biasa! Ketika jeritan itu sirap, suasana pun kembali hening. Tak terdengar suara lagi.

Perkampungan Hantu seakan dicekam dalam suasana he-ning yang luar biasa. Tak nampak ada manusia yang masuk ke situ, tak ada pula yang keluar dari sana…

Tak selang lama kemudian, dari belakang bukit sana terdengar suara lolongan serigala yang panjang dan ramai…

Perkampungan Hantu atau Perkampungan Alam Baka, tetap berdiri angker di balik kegelapan malam. Kecuali bayangan yang terbias di permukaan tanah, tak terdengar suara apapun.

Sejak hari itu tak pernah ada orang yang berjumpa lagi dengan Soat-say-sam-ok, tiga manusia buas dari Soat-say.

Tali yang tertinggal di dinding pekarangan serta anak panah yang menancap di ujung tembok masih tertinggal untuk selamanya di situ. Ketika diterpa hujan dan sinar matahari, lambat laun lumut hijau mulai tumbuh dan menyilimuti seluruh permukaan tali. Ujung anak panah pun berkarat.

Cahaya matahari di pagi hari yang cerah memancar masuk melalui sela-sela daun dan ranting pohon yang rindang. Ketika menyorot di atas tubuh, seketika mendatangkan perasaan hangat yang amat segar dan nyaman.

Suasana dalam hutan sangat lembab, embun pagi mem-basahi seluruh permukaan tanah, membasahi rerumputan nan hijau, membasahi pula ranting dan dedaunan…

Tiba-tiba terdengar suara derap kaki kuda berkumandang datang. Suara lari kuda yang sangat cepat dan ramai, dalam waktu singkat kuda-kuda itu sudah melewati hutan, keluar dari balik pepohonan dan mendadak berhenti di sana.

Rombongan itu terdiri dari empat orang dengan empat ekor kuda. Biarpun secara tiba-tiba mereka menghentikan lari sang kuda, keempat ekor kuda itu tidak menjadi panik dan kaget. Hal ini menunjukkan bahwa keempat penunggangnya memiliki kemampuan yang hebat dan tenaga yang besar.

Begitu kuda berhenti, empat orang padri muda yang kekar segera melompat turun dari atas pelana. Jubah mereka yang lebar menderu-deru ketika tertimpa angin. Meski mereka memiliki perawakan tubuh yang kekar dan besar, namun sewaktu me-ompat turun dari kudanya, sama sekali tidak menimbulkan sedikit suara pun.

Keempat orang padri itu berhenti persis di depan pintu gerbang Perkampungan Hantu. Baru saja mereka memeriksa sekeliling tempat itu, tiba-tiba dari balik hutan terdengar seorang tertawa nyaring, disusul kemudian orang itu berseru lantang, “Ternyata Liong, Hau, Pau dan Pa empat orang padri sakti dari ruang Tat-mo-wan Siau-lim-si memang bukan nama kosong belaka!”

Menyusul seruan lantang itu, tampak seorang kakek berambut putih yang membawa sebuah tongkat berjalan mendekat. Meski usia orang itu sudah tua, namun sepasang matanya memancarkan sinar tajam. Tongkat dalam genggamannya juga paling tidak berbobot empat lima puluh kati. Namun dalam genggaman kakek itu nampak enteng sekali.

Di samping kakek berambut putih itu berdiri dua orang le-laki. Yang seorang berusia empat lima puluhan tahun, beralis panjang berjenggot hitam, wajahnya gagah dan lurus. Sedang yang lain berusia dua puluhan tahun, berdandan bagai sastrawan dan amat halus tindak-tanduknya.

Ketika melihat kemunculan kakek berambut putih itu, serentak keempat orang padri itu merangkap tangannya di depan dada memberi hormat.

“Omitohud. Siauceng sekalian datang agak terlambat. Mo-hon Ang-sicu jangan marah.”

Kakek berambut putih itu tertawa, sahutnya, “Kali ini Lohu yang mengundang para jago dari Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay untuk memberikan bantuannya. Sudah barang tentu harus datang duluan untuk melakukan penyambutan. Lohu sangat berterima kasih karena kalian berempat mau menempuh perjalanan jauh untuk datang membantu. Oh ya, benar.”

Kakek itu segera menuding ke arah lelaki setengah umur itu sambil memperkenalkan, “Dia adalah Sip-coat-tui-hun-jiu (Tangan Sakti Pengejar Sukma) Kok Ci-keng. Sedang yang itu Siau-hi-tui-hun (Senyuman Pembetot Sukma) Yu-bun Siu, Yu-bun Haksu. Lohu rasa kalian sudah saling bertemu bukan?”

Para padri Siau-lim-pay itu jarang terjun ke dalam dunia persilatan. Tentu saja mereka belum pernah bersua dengan kedua orang ini. Biarpun begitu, mereka pernah mendengar jika di wilayah Holam terdapat seorang Siucay yang menguasai ilmu bun maupun bu. Orang ini gemar sekali mengumpulkan cerita dongeng rakyat yang kemudian ditulisnya menjadi buku. Tampaknya orang yang dimaksud tak lain adalah Haksu di hadapan mereka ini, si Senyuman Pembetot Sukma Yu-bun Siu.

Sementara yang seorang lagi konon merupakan seorang lagoan yang berwatak keras, bernama Kok Ci-keng dan menguasai sepuluh macam ilmu silat. Muridnya ada sepuluh orang, masing-masing mewarisi satu macam kepandaiannya. Namanya amat tersohor di dunia persilatan dan sangat dihormati orang.

Tahu kalau dua orang yang berada di hadapannya sangat ternama, walaupun ke empat padri itu selalu memandang tinggi diri sendiri, tak urung mereka memberi hormat juga dalam-dalam.

Dengan ketus Kok Ci-keng mengangguk, ujarnya, “Tujuan kedatanganku berbeda dengan tujuan kalian. Aku datang ke rumah setan ini karena ingin mencari ketiga orang murid murtadku untuk dihukum mati. Jadi kita tak perlu saling berkenalan atau berhubungan. Bila kalian enggan masuk, biar aku masuk duluan!”

Sebaliknya Yu-bun Siu balas menjura dalam-dalam, setelah itu baru katanya kepada Kok Ci-keng sambil tertawa, “Perkataan saudara Kok keliru besar. Kau mesti tahu, dalam Perkampungan Hantu secara beruntun telah terjadi beberapa kasus pembunuhan yang sangat aneh. Dua puluh tiga orang anggota keluarga Sik Yu-beng telah mati secara misterius, disusul kemudian kematian yang tak jelas dari sekawanan orang yang berkunjung ke perkampungan ini atau berniat mencuri barang mestika di sini. Kebetulan Cayhe sedang menulis buku ’Cong-hay-siu-pit-liok’ dan membutuhkan banyak bahan dan data. Ketika melihat ada begitu banyak orang yang memasuki Perkampungan Hantu tertimpa bencana kematian yang tak jelas, Cayhe pun tidak berani masuk ke perkampungan itu secara sembarangan. Saudara Kok, jika kau terburu napsu dan bertindak secara gegabah, apakah bukan sangat berbahaya? Lebih baik kita menunggu sampai kehadiran Bu-tong-sam-cu, kemudian kita masuk secara beramai-ramai, sehingga bila bertemu musuh tangguh, kita bisa menanggulanginya bersama-sama.”

Watak Kok Ci-keng memang keras, kasar dan berangasan. Dia mempunyai sepuluh orang murid, di antaranya murid ketujuh, kedelapan dan kesembilan adalah tiga bersaudara yang mempelajari ilmu kapak pembelah bukit, ruyung rantai merah serta panah penembus awan.

Di luar tahu gurunya, secara diam-diam ketiga orang ini banyak melakukan kejahatan sehingga merusak nama baik Kok Ci-keng.

Sebagai orang berwatak keras dan tegas tindak-tanduknya, tentu saja Kok Ci-keng tak bisa membiarkan Soat-say-sam-ok berbuat semena-mena di dunia persilatan. Maka dia pun memerintah untuk menangkap dan membunuh mereka bertiga.

Siapa tahu berita penangkapan ini bocor. Soat-say-sam-ok pun tergopoh-gopoh melarikan diri. Di sepanjang jalan mereka banyak membunuh, merampok dan memperkosa perempuan baik-baik.

Dalam gusarnya, Kok Ci-keng dan ketujuh murid lainnya memperketat pengejaran mereka. Akhirnya mereka mendapat kabar ketiga murid murtadnya telah kabur ke wilayah Siang-kiang.

Satu bulan berselang, ada orang melaporkan telah mene-mukan sebatang anak panah dan seutas tali yang tergantung di atas dinding pekarangan Perkampungan Hantu.

Kok Ci-keng tahu anak panah dan tali ini merupakan pemberiannya, maka dia pun berangkat ke perkampungan itu untuk mencari kabar. Seandainya Soat-say-sam-ok sudah tewas, dia akan menyudahi persoalan sampai di situ. Tapi jika masih hidup, maka dia akan membantai mereka dengan tangannya sendiri.

Di perjalanan secara kebetulan ia berjumpa dengan Yu-bun Siu. Ketika Haksu ini mendapat tahu kalau Perkampungan Han-tu ada setannya, dan ia tahu Kok Ci-keng hendak menuju ke sana untuk menghukum mati murid-murid murtadnya, maka Yu-bun Siu pun mengintil di belakang dan ingin menyaksikan apa yang telah terjadi di situ.

Ketika tiba di pintu gerbang Perkampungan Hantu, mereka berjumpa lagi dengan Thi-koay (si Tongkat Besi) Ang Su Sian-seng. Kakek berambut putih itu pun khusus datang untuk me-nyambangi Perkampungan Hantu.

Ang Su Sianseng minta kepada Yu-bun Siu dan Kok Ci-keng agar menanti kedatangan para jago Siau-lim-pay dan Bu-tong-pay terlebih dulu, sebelum bersama-sama menyatroni perkampungan itu. Maka Yu-bun Siu pun menuruti permintaan itu, sedang Kok Ci-keng, meski berangasan dan kasar, namun takut Ang Su Sianseng kehilangan muka. Terpaksa dia pun harus menyabarkan diri untuk menunggu.

Perlu diketahui, Thi-koay (si Tongkat Besi) Ang Su Sian-seng bukan saja sangat tangguh ilmu silatnya, dia pun seorang yang jujur, setia kawan dan dikenal sebagai seorang pendekar sejati. Sewaktu berada di Hoa-san, secara kebetulan ia pernah berjumpa dengan para Ciangbunjin tujuh partai besar. Bahkan dengan Congpiauthau dari perusahaan ekspedisi Hong-im piau-kiok yang dikenal orang sebagai Bu-lim-te-it-jin (manusia nomor satu dunia persilatan), Thian-he-te-it-to (golok nomor wahid di kolong langit), Kiu-toa-kwan-to (sembilan golok Kwan-to) Liong Pong-siau, ia punya hubungan persahabatan yang sangat akrab. Karena itu semua jago kalangan Hek-to maupun Pek-to selalu menaruh empat puluh persen rasa hormat dan empat puluh per-sen rasa segan terhadap orang tua ini.

Adapun maksudnya mencegah Kok Ci-keng memasuki Perkampungan Hantu seorang diri sebenarnya hanya terdorong oleh niat baiknya saja. Bila pihak musuh benar-benar mampu membantai pemilik Perkampungan Hantu Sik Yu-beng sekeluarga, maka bila Kok Ci-keng masuk ke perkampungan itu seorang diri, jelas keselamatan jiwanya akan sangat terancam.

Kali ini Ang Su Sianseng datang ke Perkampungan Hantu terutama karena ia pernah bersahabat dengan Sik Yu-beng, pemilik perkampungan itu. Ketika mengetahui nasibnya kini men-jadi tanda tanya besar, maka ia khusus datang untuk melihat keadaan.
Tapi sebagai seorang jagoan yang selalu bertindak sangat hati-hati, dia tak ingin berkunjung secara gegabah. Maka diundanglah para jago tangguh Siau-lim-pay serta Bu-tong-pay un-tuk bersama-sama melakukan penyelidikan.

Sembilan tahun berselang, ketika para Ciangbunjin dari tujuh partai besar sedang berkumpul di puncak Hoa-san, mereka telah minum air dari mata air yang beracun. Ketika ketua dari tujuh partai sedang sibuk menyalurkan tenaga dalamnya untuk mendesak keluar pengaruh racun dari tubuh mereka, para penjahat dari partai Hiat-i-pay (partai baju berdarah) memanfaatkan kesempatan itu untuk melancarkan serangan bokongan.

Kebetulan waktu itu Ang Su Sianseng sedang melewati puncak gunung itu. Berkat uluran tangannya, para ketua dari tujuh partai besar berhasil lolos dari kematian.

Sebagai tonggak dunia persilatan, Siau-lim-pay serta Bu-tong-pay disegani dan dihormati umat persilatan. Peristiwa pembunuhan di Perkampungan Hantu bukan saja telah menggegerkan para opas pengadilan, namun juga mengejutkan partai-partai besar. Maka sewaktu Ang Su mengajukan permohonan minta bala-bantuan, pihak Siau-lim-pay segera mengutus para padri sakti ruang Tat-mo-wan yakni padri Liong, Hau, Pau dan Pa untuk memberikan bantuan. Sementara itu, pihak Bu-tong-pay mengutus Bu-tong-sam-cu untuk datang ke Siang-kiang.

Pada saat itulah mendadak terdengar derap kaki kuda berkumandang tiba dari kejauhan, disusul kemudian muncul tiga orang Tosu setengah umur berbaju putih.

Thi-koay Ang Su segera tertawa tergelak sambil menyapa, “Apakah Bu-tong-sam-cu yang datang?”

Tiga orang Tosu itu serentak melompat.turun dari kudanya, berjalan mendekat, menjura dan menyahut, “Bu-tong-sam-cu menjumpai Ang-sianseng!”

“Bagus,” seru Ang Su manggut-manggut, “Sekarang kita dapat segera memasuki Perkampungan Hantu. Terlepas setan iblis bangsa apa yang menghuni perkampungan itu, aku rasa kita bersepuluh sudah lebih dari cukup untuk menghadapinya!”

Diiringi gelak tawa yang amat nyaring, dia segera mema-suki pintu gerbang perkampungan itu terlebih dulu.

Empat padri sakti dari Siau-lim, tiga Tosu dari Bu-tong di-tambah Kok Ci-keng dan Yu-bun Siu serta Ang Su sendiri segera beriring memasuki perkampungan itu.

Suasana di dalam Perkampungan Hantu sangat hening, sepi tak terdengar suara sedikitpun.

Tiba-tiba dari balik gedung perkampungan yang paling dalam berkumandang suara jeritan manusia. Teriakan kaget, lolongan seram, rintih kesakitan bergema silih berganti. Tampak-ya kesepuluh orang jago tangguh dari dunia persilatan itu sudah bertemu musuh tangguh!

Tapi anehnya, biarpun musuh amat hebat, tidak seharusnya kesepuluh orang jago yang sangat hebat itu mengeluarkan jeritan panik yang begitu menyayat hati…

Ketika jeritan mengerikan sudah lewat, suasana kembali pulih dalam keheningan dan kesepian yang luar biasa.

Mendadak terdengar lagi jeritan untuk kedua kalinya. Kali ini suara itu berkumandang dari halaman tengah perkampungan.

Tampaknya dalam perjalanan mundur dari tempat itu, kembali kawanan jago itu menjumpai peristiwa tragis.

Ketika jeritan berkumandang, kembali suasana menjadi hening…Tapi lagi-lagi teriakan seram bergema dari tepi tembok pekarangan perkampungan. Tampaknya sewaktu tiba di sisi dinding pekarangan, kembali kawanan jago itu menghadapi teror untuk kesekian kalinya.

“Blam!” pintu gerbang Perkampungan Hantu dihajar orang hingga terpentang lebar. Seseorang dengan rambut kacau, pakaian compang-camping penuh berlepotan darah, mata meman-carkan cahaya merah, menerjang keluar bagai orang kalap. Kesepuluh jari tangannya mulai batas ruas tulang kedua telah di-patahkan orang. Bukan saja tulangnya telah hancur, kulit dan dagingnya merekah, darah segar bercucuran. Dia tak lain adalah Yu-bun Siu.

Padahal di hari biasa si Senyuman Pembetot Sukma Yu-bun Siu adalah seorang jago yang sangat tenang dan pandai mengendalikan diri. Tapi sekarang keadaannya tak berbeda dengan orang kalap! Dia berlari sekuatnya, berusaha meninggalkan Perkampungan Hantu itu secepatnya. Di atas jidatnya lamat-lamat terlihat dua buah bekas gigitan yang dalam.

Sembari berlari kalap, dia menjerit-jerit bagai orang gila, “Setan…setan…Mati aku…! Lepaskan aku…Oooh tenaga dalamku…aaaah…setan…kitab pusaka Liong-leng-pit-kip…setan!”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: