Kumpulan Cerita Silat

19/09/2009

Pendekar Baja (20)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 9:58 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

Belum habis ucapannya mendadak terlihat tangan Sim Long membalikkan guci cawan arak pada telapak tangannya dengan jari kelingking, lalu dengan jari telunjuk, jari tengah, dan ibu jari ia pencet mulut poci si kakek serta dirampasnya dengan enteng.

Si kakek tetap tenang saja, katanya dengan tertawa, “Apakah Kongcu ingin menuang sendiri?”

Sim Long hanya tertawa saja tanpa menjawab, sebaliknya ia mendorong daun jendela dan melongok ke luar, lalu poci arak dijulurkan, seluruh isi poci dituangnya ke luar jendela.

Akhirnya berubah juga air muka si kakek, “Mengapa Kongcu berbuat demikian?”

“Betapa pun arak cawan ketujuh suguhan Lotiang ini tidak berani kuterima,” sahut Sim Long.

“Bila enam cawan sudah kau minum, sepantasnya kau minum juga cawan ketujuh, jika sekarang engkau bersikap kurang sopan padaku, seharusnya keenam cawan arak tadi tidak kau minum,” damprat si kakek.

“Soalnya keenam cawan arak yang lebih dulu memang boleh diminum dan cawan ketujuh ini tidak boleh kuminum,” ujar Sim Long dengan tersenyum.

“Kau…”

Belum lanjut ucapan si kakek, mendadak Sim Long turun tangan secepat kilat, sekali tangannya meraih saku baju si kakek, belum lagi orang sempat berbuat sesuatu, cepat Sim Long menarik kembali tangannya, dan pada tangannya sudah bertambah sebuah kotak kecil mungil buatan kemala hijau berukir.

Di atas loteng restoran sekarang selain Hoa Si-koh, Kiau Ngo, dan Him Miau-ji bertiga, masih banyak juga berpasang mata yang menyaksikan tontonan menarik ini.

Mereka sama terkejut melihat Sim Long mendadak bertindak demikian.

Si kakek juga kaget, tapi sedapatnya ia berlagak tenang dan membentak, “Dengan maksud baik kuajak minum arak padamu, mengapa engkau bertindak kasar begini?…Kembalikan!”

“Tentu saja akan kukembalikan, cuma…” dengan tertawa Sim Long membuka kotak kemala itu, dengan kuku jari kelingking ia mencukit setitik bubuk merah dan disentilkan ke dalam cawan arak, dipandangnya dengan cermat, lalu berucap dengan menyesal, “Ternyata benar racun yang tidak ada bandingannya.”

“Apa katamu?” teriak si kakek bengis.

“Jika Lotiang tidak menjentikkan racun ini ke dalam arak secara diam-diam, tentu sejak tadi arak cawan ketujuh sudah kuminum,” kata Sim Long.

“Kentut!” damprat si kakek dengan gusar. “Kau…”

Dengan tertawa Sim Long memotong, “Tadi Lotiang telah beradu tenaga dalam denganku, tujuanmu hanya ingin memencarkan perhatianku saja. Jika aku anak kemarin, tanpa curiga tentu akan kuminum arak cawan ketujuh dan…” ia menengadah dan tergelak, lalu menyambung, “Haha, mungkin saat ini aku tidak dapat minum arak lagi!”

Wajah si kakek tampak pucat, namun dia masih juga menjengek, “Hm, antara kita tidak ada permusuhan, bahkan belum pernah kenal, untuk apa kubikin celaka padamu?”

Sim Long tersenyum, “Kukira Lotiang sudah kenal diriku, mengenai dirimu…sekarang dapat juga kukenal Lotiang.”

“Kau kenal padaku?” tanya si kakek dengan melengak.

“Duta Arak, datang dari Kwan-gwa…”

Belum lanjut ucapan Sim Long, serentak si kakek meraung murka, rambut dan jenggotnya seakan-akan menegak…

Percakapan di sebelah sini dapat diikuti Him Miau-ji dan lain-lain dengan jelas.

Rada berubah juga air muka Kiau Ngo, katanya, “Tak tersangka kakek ini adalah satu di antara keempat duta andalan Koay-lok-ong.”

“Ya, tindak tanduknya serapi ini akhirnya juga terbongkar oleh Sim-siangkong,” tukas Hoa Si-koh.

Saat itu sinar mata si Duta Arak telah berubah serupa pisau yang tajam sedang menatap Sim Long, sungguh anak muda itu ingin diganyangnya mentah-mentah.

Tapi setelah dia pandang Sim Long sekian lama, akhirnya sinar matanya berubah menjadi halus, rambut dan jenggotnya yang seolah-olah menegak itu sama lurus kembali, api kemarahannya telah padam.

“Tidak salah bukan terkaanku?” kata Sim Long dengan tersenyum.

Tiba-tiba tersembul juga senyuman si kakek, “Ya, sungguh lihai…memang betul…”

“Jika begitu, dapatkah kutahu nama Lotiang yang terhormat?”

“Aku Han Ling,” sahut si kakek.

“Bagus,” seru Sim Long. “Dahulu ada seorang tokoh Lau Ling terkenal sebagai dewa arak, sekarang ada Han Ling yang Duta Arak, sungguh beruntung sekali hari ini aku dapat berjumpa dengan Ciu-say (Duta Arak).”

Han Ling juga berkeplok tertawa dan berkata, “Cuma sayang, semangatku minum arak sambil bekerja tak dapat menandingi Lau Ling.”

Begitulah kedua orang lantas bergelak tertawa bersama, tampaknya sangat gembira.

Semua orang saling pandang dengan bingung.

“Sim-siangkong sungguh berjiwa besar, si kakek bermaksud membikin celaka padanya, sama sekali dia tidak menyinggung soal ini, sebaliknya masih bicara dan tertawa bersama dia,” ucap Kiau Ngo dengan gegetun. “Di balik tertawanya sinar mata si kakek tampak gemerdep, entah rencana keji apa pula yang diaturnya, kukira Sim-siangkong harus berhati-hati.”

“Jangan khawatir, tidak nanti Sim Long terperangkap,” ujar si Kucing.

“Wah, celaka…” tiba-tiba Hoa Si-koh berseru tertahan.

“Ada apa?” tanya Kiau Ngo.

“Lihatlah kedua kaki orang tua itu!”

“Mana dia punya kaki?” ujar si Kucing dengan heran.

Belum lenyap suaranya, mendadak terdengar Sim Long tertawa panjang, meja di depannya lantas mencelat, segera cahaya kebiruan berkelebat di kolong meja.

Si Kucing dapat melihat cahaya itu terpancar dari kaki celana si kakek yang bernama Han Ling itu.

Ternyata di dalam kaki celana kedua kaki yang buntung itu tersembunyi dua bilah pedang. Dua bilah pedang beracun.

Rupanya sambil bicara dan tertawa, mendadak kedua kaki pedang di kolong meja terus menendang, asalkan Sim Long tersentuh saja, seketika bisa binasa keracunan.

Siapa tahu Sim Long seperti dapat melihat di kolong meja, begitu kaki Han Ling bergerak, seketika dia lantas menggeser mundur.

Sekali serang tidak kena sasarannya, menyusul meja lantas didomplangkan oleh Han Ling, meja menabrak ke arah Sim Long, sedangkan Han Ling sendiri lantas melompat maju, kedua kaki pedang menendang susul-menyusul.

Agaknya sehari-hari dia berjalan dengan pedang sebagai kaki, latihan selama 20 tahun ini membikin kedua bilah pedang yang direndam dengan racun telah tumbuh serupa kaki asli.

Tendangan kaki pedangnya sungguh lihai sekali, gesit dan tajam. Semua orang sama menjerit kaget. Bahkan Him Miau-ji dan Kiau Ngo terus memburu maju sambil membentak.

Pada saat itulah mendadak tertampak Sim Long berputar kian-kemari di tengah sinar pedang, beruntun Han Ling menendang tujuh kali dan semuanya mengenai tempat kosong. Habis ini mendadak ia menghantam jendela hingga hancur lalu secepat terbang ia menerobos keluar.

Waktu Si Kucing dan Kiau Ngo memburu ke depan jendela, tahu-tahu si kakek yang keji itu sudah lenyap.

Suasana di dalam restoran itu menjadi gempar.

Si Kucing mengentak kaki dan mengomel, “Sim-heng, mengapa engkau tidak balas menyerang dan juga tidak mengejarnya?”

Sim Long termenung sejenak, katanya kemudian, “Mengingat Kim Bu-bong, biarlah kuampuni dia sekali ini.”

Him Miau-ji juga termenung sejenak, katanya kemudian, “Ya, memang pantas lepaskan dia.”

“Tapi melepaskan harimau lebih mudah daripada menawannya,” ujar Kiau Ngo.

“Ada Singa Jantan di sini, kenapa takut kepada harimau?” Sim Long berseloroh.

“Haha, jika Cayhe benar Singa, maka Anda adalah Naga Sakti,” seru Kiau Ngo dengan bergelak.

“Bagus, kalian yang satu singa dan yang lain naga, tapi ada lagi seekor kucing di sini,” tukas Miau-ji.

Di tengah gelak tertawa, ketiga kesatria gagah ini seolah-olah sudah melupakan pertarungan maut yang hampir membikin jiwa melayang tadi.

Pada saat itulah mendadak seorang pemuda tampan mendekati Sim Long, lalu mengamat-amatinya dari atas ke bawah dan dari bawah ke atas.

“Saudara ini…” Sim Long merasa heran.

“O, Cayhe Sing Hian,” kata pemuda tampan itu.

“Mukanya kan tidak berbunga, apa yang kau pandang?” tanya Miau-ji.

Sing Hian tidak menghiraukannya, dipandangnya lagi beberapa kejap lalu mengangguk dan berucap, “Betul, engkaulah Sim Long yang sebenarnya.”

“Sim Long yang sebenarnya?…Memangnya ada Sim Long palsu?” ujar Sim Long dengan tertawa.

“Ada satu,” kata Sing Hian dengan menyesal.

“Sim Long palsu?” teriak Miau-ji. “Di mana? Pernah kau lihat?”

“Tentu saja telah kulihat, baru saja berada di sini,” tutur Sing Hian.

“Sekarang di mana?” desak si Kucing.

“Sekarang dia…” mendadak terbayang wajah yang menggiurkan itu, seketika Sing Hian berhenti bicara.

“Ayolah katakan, kenapa diam?” desak si Kucing.

Sing Hian tersenyum, “Bisa jadi orang itu cuma sama nama dengan Sim-siangkong.”

“Coba jelaskan, biar kita tanyai dia,” ujar Miau-ji.

“Wah, ini…”

Mendadak si Kucing memegang pundaknya dan membentak, “Mau bicara atau tidak.”

“Hm, mestinya ingin kukatakan, sekarang aku jadi tidak mau,” jawab Sing Hian ketus.

Miau-ji mendelik, tapi mendadak ia bergelak tertawa, “Aha, bagus, tak tersangka engkau juga seorang jantan, selama hidup si Kucing paling suka kepada lelaki keras kepala seperti dirimu ini. Mari, urusan lain kita tunda dulu, biarlah kita minum dulu tiga cawan.”

Habis bicara benar-benar Sing Hian lantas diseretnya ke sana untuk minum arak.

Kiau Ngo menggeleng kepala, “Kucing ini sungguh lucu.”

“Ya, bila tidak kenal si Kucing, sungguh akan menyesal,” tukas Sim Long dengan tertawa.

Terlihat Sing Hian telah kembali setelah dicekoki tiga cawan arak, dia memang sudah minum cukup banyak, ditambah lagi tiga cawan ini, langkahnya mulai sempoyongan.

Sim Long memayangnya dan berkata, “Lain kali jangan adu minum cepat dengan si Kucing, minumlah secara lambat, dia pasti takkan melebihi dirimu.”

“Sing-heng bukan anak perempuan, mana dia mau minum seceguk demi seceguk,” ujar si Kucing dengan tertawa. “Seorang lelaki, kalau mabuk biarlah mabuk, kalau tidak tahan ya menggeletak, cara beginilah baru tingkah seorang lelaki sejati.”

“Betul, betul, kalau mabuk biar mabuk, kalau tidak tahan biar menggeletak, apa salahnya?…Tapi aku belum lagi mabuk. Betul tidak, Sim-heng, aku kan belum mabuk?” seru Sing Hian dengan muka merah.

“Ya, tidak mabuk,” jawab Sim Long.

“Bagus, Sim-heng memang adil.” kata Sing Hian pula.

“Eh, Sim-heng, jangan khawatir, bilamana kau ingin menemui Sim Long yang satu lagi, tunggulah sampai besok.”

“Besok?” Sim Long menegas.

“Ya, besok…besok adalah pertemuan kaum jembel, dia pasti akan ikut hadir!”

Sim Long melengak, katanya kemudian, “Baiklah, dalam sidang kaum jembel besok kukira macam-macam orang dapat kulihat, tentu juga dapat kutemui berbagai orang yang ingin kujumpai.”

Pada saat itulah tiba-tiba datang seorang pelayan, dia tidak berani lagi memandang Him Miau-ji, agaknya sudah kapok, ia berhenti di kejauhan dan bicara dengan kepala menunduk, “Adakah Sim-siangkong di sini?”

“Ya, aku inilah,” sahut Sim Long.

“Juragan kami telah menyiapkan sekadar perjamuan di belakang, mohon Sim-siangkong sudi berkunjung ke dalam,” kata si pelayan sambil memberi hormat.

Selagi Sim Long merasa ragu, dengan tertawa si Kucing menyela, “Hah, kembali ada orang hendak menjamu dirimu, ramai juga bisnismu.”

“Ya, kenapa tidak ada orang mengundang makan padaku?” tukas Sing Hian.

Sim Long lantas menjawab, “Sampaikan saja kepada juraganmu, katakan Sim Long sudah kenyang dan mabuk, tidak berani mengganggunya lagi.”

Cepat si pelayan bicara pula, “Tapi juragan memberi pesan dengan sangat Sim-siangkong harus diminta sudi berkunjung, sebab…sebab juragan ingin berunding mengenai…mengenai seorang Nona Cu.”

“O, jika…jika begitu, baiklah,” sahut Sim Long cepat.

Begitulah si pelayan lantas membawa Sim Long ke dalam.

“Nona Cu yang dimaksudkan itu apakah putri keluarga Cu yang kaya raya itu?” tanya Kiau Ngo setelah Sim Long pergi.

“Ya, jangan-jangan dia juga datang atau…atau mungkin dia membikin onar lagi…Tapi ada hubungan apa pula antara dia dengan juragan restoran ini?” gumam si Kucing.

—–

Sementara itu Cu Jit-jit sudah tiba kembali di hotelnya, begitu dia suruh kedua bibi pengusung ke luar, segera ia gabrukkan pintu kamar dengan keras.

Ong Ling-hoa berduduk tak bisa berkutik menyaksikan si nona yang uring-uringan sendiri itu.

Dilihatnya Jit-jit mondar-mandir di dalam kamar, lalu minum teh seceguk, habis itu mendadak cangkir teh dibantingnya hingga hancur.

Ong Ling-hoa tetap memandangnya dengan geli.

Mendadak Jit-jit mendekati Ling-hoa dan membuka hiat-to bisunya, lalu membalik ke sana, tiba-tiba dia kesandung bangku yang mengadang di depan, dengan gemas ia tendang bangku itu hingga mencelat.

Tapi tendangannya itu membuat sakit tulang kakinya, tanpa terasa ia berjongkok untuk menggosok-gosok bagian yang sakit itu.

Keruan Ong Ling-hoa tertawa geli.

Seketika Jit-jit mendelik, “Kau tertawa apa?”

“Aku…haha…O, tidak…”

“Ayo tertawa, berani tertawa lagi bisa kukawinkan dirimu dengan bocah she Sing itu,” omel Jit-jit.

Baru habis berkata demikian, ia sendiri jadi tertawa geli.

Namun tertawa ini sangat singkat, sebab dengan segera dia teringat kepada Sim Long sehingga tidak mampu tertawa lagi.

“Ai, kenapa…kenapa menendang bangku hingga kaki sendiri kesakitan, apalagi…apalagi sengaja mencari satu orang untuk…untuk…untuk menyakiti hatinya sendiri, kan cari penyakit sendiri?”

“Apa kau bilang?” bentak Jit-jit.

“Aku lagi tanya pada diriku sendiri, apa lelaki di dunia ini sudah mati seluruhnya dan cuma bersisa seorang Sim Long saja, padahal setahuku kebanyakan orang jauh lebih baik daripada orang she Sim itu.”

Jit-jit memburu ke depannya dengan tangan terangkat. Tapi dia tidak jadi menggamparnya.

Diam-diam ia pun bertanya kepada diri sendiri, “Ya, apakah lelaki di dunia ini sudah mati semua? Ken…kenapa aku tetap terkenang kepada Sim Long seorang dan tidak dapat melupakannya?”

Mendadak ia mengentak kaki dan berteriak, “Aku harus membalas…harus menuntut balas.”

Perlahan Ong Ling-hoa berkata, “Melulu tenagamu sendiri, mungkin tidak gampang jika ingin balas dendam kepada Sim Long…”

“Memangnya kenapa, aku tidak mampu katamu?” bentak Jit-jit dengan mendongkol.

“Dengan sendirinya mampu, cuma…cuma perlu mengikutsertakan diriku. Aku yang akan mencarikan akal bagimu. Dengan bantuanku, mustahil Sim Long takkan bertekuk lutut di depanmu.”

Jit-jit memandangnya lekat-lekat sampai lama, mendadak ia membalik ke sana dengan badan agak gemetar, nyata sedang terjadi pertentangan batinnya dengan hebat.

Dengan tersenyum Ong Ling-hoa berkata, “Padahal, menurut pendapatku, hanya sedikit tersinggung saja mestinya tidak perlu dipersoalkan lagi. Orang she Sim itu memang sukar dihadapi, buat apa…”

“Siapa bilang sukar menghadapi dia, aku justru akan menghadapi dia,” teriak Jit-jit dengan gusar sambil berpaling pula.

“Jika begitu, apakah engkau sudah ada rencana?” tanya Ling-hoa.

“Aku…aku…” mendadak timbul suatu pikiran Jit-jit, teriaknya, “akan kubikin setiap orang sama benci padanya dan memusuhi dia.”

“Ya, ini memang gagasan bagus,” ujar Ling-hoa sambil manggut-manggut. “Tapi cara bagaimana akan kau bikin semua orang memusuhi dia?…Tentunya kau saksikan sendiri tadi, sekarang dia adalah tokoh kesayangan orang banyak.”

“Hm, tentu ada rencanaku,” ujar si nona.

Kembali ia mondar-mandir lagi di dalam kamar, kemudian ia berhenti di depan Ong Ling-hoa dan berkata, “Sesungguhnya bagaimana dengan rapat besar orang Kay-pang itu, tentunya kau tahu urusan ini?”

“Memang tidak ada orang lain yang lebih tahu daripadaku mengenai urusan ini,” ujar Ling-hoa dengan tertawa.

“Coba ceritakan,” pinta Jit-jit.

“Soalnya Co Kong-liong ingin menjadi pangcu, telah kusanggupi akan membantu dia, sebab itulah dia mengumpulkan segenap anak murid Kay-pang ke sini.”

“Tapi sekarang Co Kong-liong telah kabur hingga tak tahu di mana jejaknya, engkau juga…hehe, juga tidak tahu bagaimana nasibnya sendiri selanjutnya.”

“Perubahan semua ini kan tidak diketahui oleh orang Kay-pang, yang jelas setelah mereka menerima panggilan ketiga sesepuh mereka, dengan sendirinya mereka lantas berkumpul dari berbagai penjuru.”

“Dan para kesatria yang datang sebagai peninjau itu diundang oleh siapa?”

“Dengan sendirinya juga Co Kong-liong,” tutur Ling-hoa. “Kalau dapat naik singgasana sebagai Kay-pang Pangcu, hal ini adalah peristiwa menggembirakan baginya, tentu saja dia ingin para kesatria sejagat sama berkumpul untuk menyaksikan dia naik takhta.”

“Itu dia,” mendadak Jit-jit bertepuk tangan.

“Wah, tampaknya engkau ada akal bagus?”

Sorot mata Jit-jit penuh rasa senang dan bangga, katanya dengan tertawa, “Ong Ling-hoa, supaya kau tahu, aku ini juga bukan orang baik hati. Mendingan kalau tidak ada maksudku hendak membikin susah orang lain, bilamana ingin kubikin celaka orang kukira tindakanku pasti tidak kalah kejamnya daripadamu.”

“Sesungguhnya ada akal bagus apa, coba ceritakan?” tanya Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Begini,” gemerdep sinar mata Jit-jit, “setelah anak murid Kay-pang menerima panggilan Co Kong-liong, segera mereka berkumpul ke sini. Hal ini menunjukkan Co Kong-liong dalam pandangan anak murid Kay-pang masih dianggap sebagai pucuk pimpinan.”

“Memang,” kata Ling-hoa.

“Dan bila para kesatria Bu-lim, termasuk ketujuh tokoh top saat ini juga ikut hadir dari jauh, ini pun menandakan nama Co Kong-liong di dunia persilatan cukup dihormati.”

“Di dunia Kangouw memang Co Kong-liong terkenal sebagai orang baik hati,” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa. “Kalau bicara tentang nama baik, mendiang Pangcu yang dulu juga tidak lebih unggul daripada dia.”

“Dari sini terlihat bahwa sampai sekarang orang Kangouw umumnya belum lagi kenal wajah asli Co Kong-liong, semuanya masih sayang dan mendukung dia.”

“Ya, asalkan aku dan engkau tidak bicara pasti orang lain tidak tahu.”

Mendadak Jit-jit menarik muka, katanya pula, “Maka, bila sekarang ada berita yang menyatakan Co Kong-liong telah dibunuh oleh Sim Long, tentu tidak sedikit orang yang akan menuntut balas bagi Co Kong-liong.”

Meski sedapatnya ia berlagak memperlihatkan wajahnya yang beringas dan kejam, tapi lagaknya justru tidak mirip. Diam-diam Ong Ling-hoa merasa geli, tapi di mulut dia terus memuji kebagusan akal si nona.

“Tidak cuma kita siarkan Sim Long membunuh Co Kong-liong, kita juga bilang Tan Kiong dan Auyang Lun terbunuh semua oleh Sim Long, dengan demikian orang yang akan mencari perkara kepadanya pasti akan tambah banyak.”

“Bagus, bagus sekali…” seru Ling-hoa dengan tertawa. Tapi mendadak ia berkerut kening, “Ah, cuma ada sedikit yang kurang bagus.”

“Apa yang tidak bagus?” tanya Jit-jit.

“Kan Co Kong-liong belum mati, jika dia muncul…”

“Katanya engkau ini orang pintar, nyatanya begini goblok,” omel Jit-jit dengan tertawa. “Munculnya Co Kong-liong kan lebih baik, bukankah dia juga benci sekali terhadap Sim Long, bila dia muncul, tentu kita dapat menyuruh dia mengaku memang habis lolos dari cengkeraman Sim Long, hanya Tan Kiong dan Auyang Lun yang benar-benar telah mati terbunuh.”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung sambil berkeplok, “Jika Co Kong-liong sendiri yang memberi keterangan demikian, siapa pula yang tidak percaya?”

“Aha, betul, sungguh sangat bagus!” seru Ling-hoa. Mendadak ia berkerut kening dan menyambung, “Tapi…tapi apa yang kita katakan ini apakah dapat di…dipercaya orang lain?”

“Makanya kita juga perlu lagi seorang peran pembantu, berita ini tidak perlu kita siarkan sendiri, tapi melalui mulut pembantu inilah berita ini disebarkan.”

“Wah, bagus, akal bagus!”

“Supaya orang lain percaya kepada berita yang disiarkan pembantu ini, maka pembantu yang kita pilih juga harus seorang tokoh yang berwibawa, apa yang diucapkannya harus berbobot.”

“Orang semacam ini mungkin…mungkin sukar dicari,” ujar Ling-hoa.

“Kenapa kau lupa, bukankah sekarang juga ada satu orang berada di sini.”

“Siapa?” tanya Ling-hoa dengan heran. “Oo…apakah kau maksudkan bocah itu?”

“Ya, bocah she Sing itu.”

“Tapi dia…dia…” Ling-hoa tampak ragu.

“Meski dia cuma seorang pemuda ingusan, belum menonjol di dunia persilatan, tapi keluarganya, Sing-keh-po, kan keluarga yang terkenal di dunia Kangouw. Masakah putra keluarga ternama itu tak dipercaya orang?”

“Betul, soalnya terletak pada…apakah dia mau?”

“Untuk ini tentu saja masih perlu pakai akal,” ujar Jit-jit.

“Akal apa yang akan kita gunakan terhadapnya?”

“Akal Hoan-kan-keh (akal memecah belah, mengadu domba),” Jit-jit mengerling Ong Ling-hoa sekejap, lalu menambahkan dengan tertawa, “Dengan sendirinya juga Bi-jin-keh (akal memperalat perempuan cantik).”

Ong Ling-hoa melengak, “Bi-jin-keh?…Wah, masakah hendak…hendak kau gunakan diriku…”

“Betul, hendak kuperalat ‘nona cantik’ dirimu ini,” kata Jit-jit sambil mengikik tawa. “Bahwa ada orang terpikat kepadamu, kan seharusnya kau senang, kenapa malah sedih?”

Habis berkata, ia tertawa terpingkal-pingkal hingga menungging.

Keruan Ling-hoa mendongkol dan gelisah, serunya, “Tapi…tapi ini…”

“Tidak perlu ini-itu,” ujar Jit-jit dengan memegang perut yang mulas. “Ini kan beruntung bagimu, telah kucarikan jodoh bagus bagimu, mestinya engkau berterima kasih kepadaku.”

Dengan bersungut Ong Ling-hoa berkata, “Tapi…tapi kalau dia benar hendak…hendak anu…”

Kembali Jit-jit terpingkal-pingkal hingga hampir tidak dapat bernapas, ucapnya kemudian, “Itu kan urusanmu, aku…aku tidak tahu…”

Mendadak ia membuka pintu dan memanggil pelayan.

Panggilan tuan muda yang padat sakunya tentu saja ditaati si pelayan secepat terbang.

“Ada sesuatu urusan kuminta kau kerjakan, entah dapat tidak?” kata Jit-jit.

“Silakan Kongcu bicara,” jawab si pelayan dengan munduk-munduk.

“Ada seorang kawanku, she Sing, namanya Hian, dia juga berada di kota ini, cuma tidak diketahui tinggal di hotel mana, dapatkah kau carikan bagiku?”

“Ah, pekerjaan gampang, segera hamba carikan,” sahut si pelayan.

“Baik, lekas kerjakan, bila berhasil kuberi persen.”

Tidak kepalang girang si pelayan, sambil mengiakan segera ia berlari pergi.

“Setan pun doyan duit, apalagi seorang pelayan,” gumam Jit-jit kemudian. “Eh, Ong Ling-hoa, kau…”

Belum lanjut ucapannya, sekonyong-konyong terdengar seorang berteriak di luar, “Hai, pelayan, adakah seorang kongcu muda bersama seorang nona jelita tinggal di sini?”

Suara orang ini lantang serupa bunyi genta terdengar jelas berkumandang dari jauh.

Air muka Jit-jit berubah seketika, “Wah, celaka, itu dia si Kucing. Kenapa dia juga datang kemari?”

Lalu terdengar suara seorang berkata pula, “Tuan muda itu she Sim…”

“Ah, itu dia Sing Hian,” desis Jit-jit. “Kenapa dia bisa berada bersama si Kucing? Untuk apa pula datang mencariku? Wah, jangan-jangan…”

Segera terdengar pelayan lagi menjawab, “Maaf, Kongcu she apa?”

Jelas suara pelayan tadi, rupanya baru saja dia sampai di pintu lantas tercegat oleh kedatangan Miau-ji dan Sing Hian.

“Aku she Sing…”

“Aha, kiranya Sing-kongcu, sungguh kebetulan,” demikian seru si pelayan. “Memangnya Sim-kongcu menyuruh hamba mencari Sing-kongcu…”

Di tengah gelak tertawa terdengarlah suara langkah orang ramai menuju ke sini.

Tentu saja Jit-jit kelabakan, “Wah, celaka, datang semua, lantas bagaimana baiknya…”

Dengan tertawa Ong Ling-hoa berkata, “Jangan khawatir, dari suaranya agaknya kedua bocah itu dalam keadaan mabuk, pasti tak dapat mengenali dirimu. Apalagi dengan kepandaian riasku, biarpun kucing itu tidak mabuk juga tidak dapat membedakan dirimu.”

“Tapi…lekas kau tidur di atas ranjang,” seru Jit-jit, segera ia memburu maju dan mengangkat Ong Ling-hoa, “blang”, anak muda itu dilemparkan ke tempat tidur, selimut lantas ditarik untuk menutupi tubuhnya.

Pada saat itulah Sing Hian telah berseru di luar, “Sim-heng, Sim-kongcu, Siaute Sing Hian, sengaja berkunjung kemari!”

Him Miau-ji alias si Kucing dan Sing Hian memang benar dalam keadaan mabuk.

Sesudah Sim Long diundang pergi, kembali si Kucing menarik Sing Hian untuk minum beberapa cawan arak lagi, Kiau Ngo bilang si Kucing terlalu, segera ditantangnya minum sembilan cawan pula.

Setelah minum sembilan cawan, Miau-ji sendiri pun mulai sinting, seorang kalau sudah setengah mabuk, biasanya akan minum terlebih banyak pula. Maka dia angkat poci dan menantang minum setiap orang. Akhirnya dia mabuk benar-benar.

Maka begitu Jit-jit membuka pintu, seketika tercium bau arak yang menusuk hidung. Belum lagi ia bersuara, Him Miau-ji lantas menarik Sing Hian dan melangkah masuk dengan sempoyongan.

Melihat orang benar-benar mabuk, diam-diam Jit-jit bergirang, segera ia menegur, “Eh, siapakah nama saudara yang mulia? Ada keperluan apa?”

Karena mabuk, lidah Sing Hian menjadi agak kaku, ucapnya dengan rada tergegap, “O, dia…dia adalah Him Miau-ji yang termasyhur.”

“Betul, aku inilah Him Miau-ji, si Kucing…meong-meong, seekor kucing besar, hahahaha!” seru Miau-ji dengan tertawa.

“Ai, kiranya Miau-heng, kagum, kagum,” ucap Jit-jit dengan menahan rasa geli.

“Kedatanganku si kucing ini adalah untuk…untuk melamar bagi Sing-heng,” seru Miau-ji pula, “plok”, ia tepuk pundak Sing Hian, lalu menyambung, “Ayolah, bicara, sudah berada di sini, malu apa lagi?”

Sing Hian menunduk malu, ucapnya dengan gelagapan, “Aku…aku ingin…hehe…”

“Dia tidak dapat bicara, biar kubicara baginya,” seru Miau-ji dengan tertawa, “Soalnya, sejak dia melihat keponakan perempuanmu, dia lantas mabuk kepayang, tidur tidak nyenyak, makan tidak enak, maka dia minta kudatang kemari untuk melamar baginya…Haha, aku inilah comblangnya, comblang istimewa!”

“Tidak, bukan…bukan aku, tapi dia…dia bertepuk dada akan menjadi comblang bagiku, maka aku diseretnya kemari,” cepat Sing Hian membela diri.

Miau-ji berlagak marah, “Baik, baik, kiranya aku yang menyeretmu ke sini dan bukan kehendakmu, jika begitu, buat apa aku ikut campur…” habis bicara ia lantas membalik tubuh dan seperti mau melangkah pergi.

Tapi baru saja kakinya bergerak, mendadak Sing Hian menariknya.

“Eh, aneh? Kenapa kau tarik diriku?” tanya Miau-ji.

“Him-heng, hehe, jang…jangan…” Sing Hian tertawa kikuk.

“Sesungguhnya Sing-heng yang menyeret aku atau aku yang menyeretmu?”

“Ya, ya, aku…aku…” sahut Sing Hian dengan peringas-peringis.

“Hahaha, akhirnya kau bicara terus terang juga,” seru si Kucing dengan terbahak. “Jika demikian, bolehlah kumaafkan sekali ini. Oya, bagaimana dengan comblang seperti diriku ini?”

Sambil meraba dagu Jit-jit pura-pura ragu, sahutnya, “Wah, ini…”

Sing Hian menjadi gelisah tampaknya, cepat ia berseru, “Jelek-jelek aku ini berasal keluarga ternama, aku tidak pintar, namun juga tidak bodoh, cukup tampan, bahkan alim, tidak pernah berbuat hal-hal yang kurang sopan…”

“Hai, kata demikian mestinya comblang yang bicara bagimu, mengapa kau jadi menyanjung dirinya sendiri?” seru si Kucing dengan tertawa.

“Tapi…tapi semua ini memang benar,” ujar Sing Hian dengan kikuk. “Ai, kan kuminta bantuanmu, mengapa kau jegal diriku malah?…”

Sampai sakit perut Jit-jit saking gelinya. Pikirnya, “Comblang semacam ini sungguh jarang ada. Calon menantu dengan cara melamarnya ini juga tidak pernah terlihat. Andaikan benar aku mempunyai keponakan perempuan juga pasti takkan kuberikan kepada pelamar demikian.”

Dalam pada itu Him Miau-ji telah berteriak, “Baik, baik, tidak perlu ribut lagi, dengarkan ucapanku…” lalu ia menepuk dada dan menyambung, “Aku she Him, bernama Miau-ji, alias si Kucing, kalau berkelahi tidak pernah kalah, bila minum arak tidak pernah menggeletak. Tidak pernah berbuat jelek, cukup terpelajar. Lelaki semacam diriku ini ke mana lagi akan kau cari?”

“Hei, se…sesungguhnya engkau lagi melamar bagiku atau bagimu sendiri?” cepat Sing Hian menegur.

“Tentu saja bagimu.” jawab si Kucing.

“Jika bagiku, kenapa engkau membual bagimu sendiri?…Ai, sungguh sial mendapat comblang semacam dirimu.”

Dengan sungguh-sungguh Miau-ji menjawab, “Tampaknya engkau tidak mengerti. Bahwa aku menjadi comblang, kan perlu kuperkenalkan dulu siapa diriku, jika seorang comblang berasal dari kaum rendahan, apakah engkau yang melamar ini akan dihargai?”

“Oo…ya, benar juga,” kata Sing Hian dengan tergegap.

“Jika benar, maka dengarkan saja dan jangan ribut…”

Mendadak Jit-jit berucap, “Baiklah…”

“Jadi Anda menerima lamaranku?” seru Miau-ji dengan tertawa.

“Ya, kuterima, keponakan perempuanku kuberikan padamu,” kata Jit-jit.

Miau-ji jadi melenggong, “Be…berikan padaku?”

Sing Hian juga terkejut, cepat ia menegas, “Berikan padanya? Lantas…lantas bagaimana dengan diriku?”

Jit-jit sengaja menarik muka, katanya, “Jika dia ini lelaki yang sukar dicari, akan kujodohkan kepada siapa keponakanku itu kalau bukan kepadanya?”

“Tapi ini…ini…” Miau-ji garuk-garuk kepala sendiri dengan menyengir.

Sing Hian lantas mengentak kaki ucapnya dengan menyesal, “Wah, lantas…lantas bagaimana? Him Miau-ji, kau…”

Jit-jit tidak tahan lagi akan rasa gelinya, ia tertawa terpingkal-pingkal.

“Baik, aku memang membual, betapa pun baiknya si Kucing tetap sukar menandingi jejaka keluarga Sing,” seru Miau-ji. “Maka lebih baik keponakan perempuanmu kau jodohkan saja kepadanya.”

Jit-jit sengaja berlagak sangsi sejenak, katanya kemudian, “Baiklah, kuterima lamarannya.”

Baru habis ucapannya, seketika Him Miau-ji berjingkrak kegirangan. Sebaliknya Sing Hian berdiri mematung, saking senangnya dia jadi linglung.

“Plak”, si Kucing menepuk pundaknya dengan keras sambil berseru, “Hei, masa engkau tidak gembira?”

“Gembira…gembira…” teriak Sing Hian, mendadak ia melonjak dan berjumpalitan satu kali terus menerjang ke luar, hanya sebentar saja dia sudah berlari kembali dengan gelak tertawa, pada tangannya sudah bertambah sebotol arak.

“Aha, bagus, rupanya arak untuk menyuguh kepada comblang yang berjasa,” seru si Kucing dengan senang.

“Betul, harus menyuguh arak kepada comblang,” seru Jit-jit sambil mengambilkan dua mangkuk, katanya pula, “Mari, biar kusuguh comblang dulu.”

“Aku dulu,” kata Sing Hian.

Seketika Jit-jit mendelik, “Hm, apakah kau lupa siapa diriku?”

“Engkau…engkau…” Sing Hian jadi melengak.

Si Kucing lantas berkeplok tertawa, “Aha, betul, masa kau lupa dia adalah bakal pamanmu, mana boleh kau rebut dulu dengan dia?”

Kontan Sing Hian menggampar muka sendiri dan berkata, “Betul, aku salah, silakan paman menyuguhnya dulu.”

“Begini baru pantas,” ujar Jit-jit. Segera ia menuangkan semangkuk penuh bagi Him Miau-ji, ia sendiri cuma menuang setengah mangkuk saja, katanya pula, “Silakan!”

Pandangan Him Miau-ji sudah kabur, arak yang dituangkan itu banyak atau sedikit tak terlihat lagi olehnya, begitu pegang mangkuk, seketika seluruh isinya ditenggaknya hingga habis.

Dalam keadaan demikian, biarpun isi mangkuk itu adalah air kencing juga akan diminumnya.

Dan begitulah seterusnya Jit-jit menuangkan pula semangkuk demi semangkuk, setiap mangkuk diminumnya hingga habis.

Lima-enam mangkuk arak telah dihabiskan si Kucing, mendadak ia berteriak, “Ha, siapa kalian?…Di mana Sim Long?…Siapa…siapa bilang Sim Long lebih unggul daripadaku?…Him Miau-ji tetap nomor satu di dunia, minum arak nomor satu…berkelahi juga nomor satu…”

Sampai di sini, “bluk”, mendadak ia terguling ke lantai dan tidak bergerak lagi.

Jit-jit coba memanggilnya, “Miau-heng…Miau-ji…”

Tapi Si Kucing tidak bergerak sama sekali. Jit-jit coba mendorongnya, lalu menggoyang-goyangkan tangan di depan matanya, namun mata si kucing tetap tidak terpentang.

“Hihi, kucing ini mabuk benar-benar,” kata Jit-jit dengan tertawa.

Waktu ia berpaling, dilihatnya Sing Hian juga sudah mendekap di atas meja dan tertidur.

Mendadak Jit-jit angkat satu poci teh terus dituang ke leher Sing Hian. Semula Sing Hian meraba-raba leher, lalu mengangkat kepala dan hidungnya berkerut-kerut, akhirnya ia melonjak bangun sambil berteriak.

Mestinya dia mau marah, tapi ketika diketahuinya yang menuangi air adalah “bakal paman mertua,” seketika ia melongo dan tidak jadi memukul orang, sebaliknya lantas memberi hormat dan minta maaf, “O, sungguh kurang sopan, tanpa terasa Siaute (adik) tertidur…”

“Siaute?” seketika Jit-jit menarik muka.

“O, bukan Siaute, tapi Siautit (keponakan),” cepat Sing Hian mengoreksi dengan menyengir.

“Ini baru betul,” ucap Jit-jit dengan tertawa. “Tampaknya Hiantit sekarang sudah mendusin.

“Siautit sebenarnya tidak mabuk…”

“Andaikan mabuk, sepoci teh segar itu pun dapat membuat sadar padamu.”

Sing Hian menjadi kikuk, ia meraba lagi leher sendiri, mabuknya sekarang memang benar telah hilang, ia menunduk dan berkata, “Ah, rasanya Siautit tidak…tidak boleh mengganggu lebih lama lagi…”

“Kau mau pergi?” tanya Jit-jit.

“Ya, Siautit mohon diri dulu, besok…besok kami akan berkunjung lagi kemari,” Sing Hian ragu sejenak, akhirnya ia berkata pula, “Mengenai cara bagaimana mengatur emas kawin dan upacara tukar cincin, Siautit menurut saja atas kehendak paman.”

Mendadak Jit-jit mendengus, “Hm, tukar cincin, masakah begitu gampang?”

Keruan Sing Hian melengak, “Bu…bukankah lamaran Siautit sudah diterima?”

“Terima memang sudah diterima, cuma setiap calon menantu keluarga kami harus kerja bakti dulu bagi keluarga kami,” ujar Jit-jit. “Kecuali itu juga harus berbuat amal dulu kepada sesama orang Kangouw, bilamana kulihat caramu bekerja memang lumayan barulah dapat kuserahkan keponakan perempuanku kepadamu.”

“Jika…jika begitu, mohon diberi petunjuk apa yang harus Siautit lakukan?” tanya Sing Hian.

“Bilakah mulai rapat besar orang Kay-pang, tentu kau tahu?” tanya Jit-jit.

“Pada waktu magrib, sebelum makan malam besok,” jawab Sing Hian.

“Ehm, apabila sebelum tengah hari besok dapat kau siarkan sesuatu berita mahapenting sehingga diketahui oleh segenap peserta rapat ini, maka caramu bekerja akan terhitung lumayan.”

“Ini kan pekerjaan mudah,” ujar Sing Hian. “Dan entah…entah berita apa yang harus kusiarkan?”

“Tadi mendadak kutinggalkan restoran, apakah kau tahu apa sebabnya?”

“O, mungkin…mungkin disebabkan ada Sim…”

“Betul, sebab Sim Long yang satu itu adalah seorang mahajahat,” tukas Jit-jit. “Kay-pang-sam-lo terbunuh seluruhnya olehnya, perbuatan jahat begini kan harus kita beri tahukan kepada orang banyak.”

Sing Hian kaget, “Ap…apa betul?”

“Masa tidak kau percayai keteranganku?” Jit-jit berlagak marah.

“Bukan…bukan maksudku tidak percaya, soalnya…soalnya urusan ini terlalu besar dan mengejutkan, sebelum…sebelum jelas bukti dan saksinya tak berani sembarangan kusiarkan.”

“Ha, tak tersangka engkau malah bicara baginya,” jengek Jit-jit. “Apakah kau tahu cara bagaimana Sing Ing, kakakmu itu menghilang? Apakah kau tahu siapa yang membikin celaka dia?”

“Kakak telah…telah dicelakai siapa? Apakah juga…juga perbuatan Sim…”

“Ya, memang dia,” sela Jit-jit.

Sing Hian jatuh terduduk lemas di kursi, “Ahh, urusan…urusan ini pun tidak boleh dipercaya begitu saja.”

“Baik, karena kau sangsi, biar kuceritakan padamu mulai awal,” kata Jit-jit. “Kakakmu dan Sun To sampai di Tiongciu, kemudian mereka…”

Begitulah ia lantas bercerita cara bagaimana Sing Ing masuk ke makam kuno yang misterius itu dan terjebak, lalu ditolong orang dan kemudian sampai di Lokyang, di sana Sim Long berhasil membebaskan mereka dari cengkeraman Ong-hujin dan menyuruh mereka pergi ke Jin-gi-ceng, tapi begitu sampai di Jin-gi-ceng semuanya lantas mati keracunan.

Dasar Jit-jit memang pintar bercerita, apa yang terjadi itu memang juga sungguh, tentu saja caranya menutur jadi sangat menarik.

Sing Hian tampak gemetar, mabuknya benar-benar hilang sama sekali.

“Nah, engkau bukan orang bodoh, tentu dapat kau bedakan apa yang kuceritakan ini sungguh terjadi atau cuma karangan belaka.”

“Ya, aku…sungguh aku sangat benci…” seru Sing Hian dengan gemetar.

“Dan sekarang masih kau bicara bagi Sim Long?” tanya Jit-jit.

Mendadak Sing Hian melompat bangun seperti orang gila terus hendak menerjang keluar.

Cepat Jit-jit menarik bajunya dan berseru, “Hei, kau mau apa?”

“Menuntut balas, membalas dendam!” seru Sing Hian. “Akan kucari Sim Long untuk…”

“Untuk mengantar kematianmu?” tukas Jit-jit dengan dingin.

Dengan suara parau Sing Hian berteriak, “Sakit hati ayah dan kakak sedalam lautan, betapa pun aku harus…harus mencari dia untuk mengadu jiwa.”

“Tolol,” omel Jit-jit sambil menggeleng. “Cuma sedikit kepandaianmu ini, tidak lebih tiga jurus saja jiwamu bisa melayang di tangan Sim Long, kepergianmu ini bukankah cuma mengantar kematian saja secara penasaran?”

“Tapi…apa pun juga harus kucari dia,” teriak Sing Hian kalap.

Jit-jit berkedip-kedip, “Seluruhnya engkau bersaudara berapa orang?”

“Cuma kami berdua saja, sebab itulah aku harus…”

“Hm, kakakmu sudah mati di tangannya, sekarang kau mau antar kematian lagi, selanjutnya keluarga Sing akan putus keturunan, lalu siapa lagi yang akan menuntut balas bagimu?”

Sing Hian jadi melengak, kembali ia duduk lemas.

“Banyak cara untuk menuntut balas, hanya orang yang paling bodoh yang mau mengadu jiwa secara ngawur,” ujar Jit-jit. “Asalkan kau mau turut kepada gagasanku, kutanggung engkau akan dapat membalas dendam dengan baik.”

Sing Hian menunduk dan termenung sekian lama, gumamnya kemudian, “Aku…aku merasa bingung, kuturut saja saranmu…”

“Baik, jika begitu, harus segera kau beri tahukan kepada anak murid Kay-pang tentang segala kejahatan yang telah dilakukan Sim Long itu, juga setiap kesatria dunia persilatan perlu mengetahui urusan ini, bilamana orang tahu kemalanganmu, dengan sendirinya banyak orang yang akan membantumu.”

“Baiklah, segera kukerjakan…” tanpa pikir Sing Hian terus berlari pergi.

Sekali ini Jit-jit tidak menariknya lagi melainkan memandangi kepergian orang dengan tersenyum puas.

Kemudian ia menyingkap selimut dan terlihatlah Ong Ling-hoa masih meringkuk di situ tanpa bisa berkutik, cuma sorot matanya juga menampilkan senyuman puas serupa Cu Jit-jit, bahkan dia terlebih senang daripada si nona.

“Nah, sudah kau dengar, bagaimana?” tanya Jit-jit.

“Ya, bagus, sungguh bagus sekali!” jawab Ong Ling-hoa.

“Tentunya sekarang kau tahu aku bukan orang yang mudah direcoki?”

“Ya, aku pun tahu sedikit urusan lain.”

“Kau tahu urusan lain apa?” tanya Jit-jit.

“Baru sekarang kutahu anak muda keluarga ternama kebanyakan adalah orang bodoh, untuk menipu mereka sungguh jauh lebih gampang daripada menipu anak kecil,” Ong Ling-hoa menghela napas, lalu menyambung, “Sebelum ini kuanggap dirimu masih sangat hijau dan mudah tertipu, siapa tahu masih ada orang lain yang juga dapat kau tipu.”

“Hm, memangnya siapa yang bisa menipuku?” jengek Jit-jit dengan pongahnya. “Dan apa lagi yang kau ketahui?”

“Aku pun tahu, seorang anak perempuan yang senantiasa menyaru sebagai lelaki, betapa pun dia berlagak tetap membawa sedikit gerak-gerik orang perempuan.”

“Masa gerak-gerikku juga kelihatan?” Jit-jit mendelik.

“Terkadang memang kelihatan, umpama kau suka meraba rambut sendiri, itu khas gerakan orang perempuan, juga tadi, waktu kau tarik anak she Sing itu, bukan kau tarik lengannya, tapi menarik bajunya.”

“Hm, dasar mata setan, apa pun dapat kau lihat,” omel Jit-jit. “Coba, apa lagi yang kau ketahui?”

“Sekarang aku juga tahu, bilamana dicintai seorang anak perempuan, wah, sungguh sangat menakutkan,” ucap Ling-hoa.

“Dicintai orang adalah kejadian baik, apa yang menakutkan?”

“Seorang lelaki disukai oleh seorang perempuan, sudah tentu hal yang menyenangkan dan membanggakan, tapi bila cinta perempuan itu berubah menjadi dendam, itu berarti maut baginya.”

Jit-jit seperti mau bicara, tapi urung.

Ong Ling-hoa lantas menyambung pula, “Kata peribahasa, cinta yang mendalam juga dapat menimbulkan benci yang luar biasa. Cinta yang dalam, sungguh kalau bisa keduanya ingin terlebur menjadi satu. Pada waktu benci juga ingin menghancurkannya dan membakarnya menjadi abu!”

Akhirnya Jit-jit menghela napas, “Memang, seorang perempuan kalau sudah benci kepada seorang, hal itu memang sangat menakutkan. Tapi…jika kau minta cuma dicintai tanpa dibenci, apanya yang menakutkan?”

“Betul juga ucapanmu, namun jarak antara cinta dan benci seorang perempuan biasanya hampir tidak kelihatan, apalagi…bilamana seorang dibenci perempuan, sungguh dia ingin mencincang tubuhmu dan makan dagingmu. Pada saat dia cinta padamu, dia juga geregetan dan ingin menggiling dirimu, mengurung dirimu dan makan dagingmu. Keduanya sama-sama tidak enak. Bila dapat membikin orang perempuan tidak benci padamu dan juga tidak cinta padamu, itu barulah orang lelaki yang pintar.”

Habis berkata, Ong Ling-hoa bergelak tertawa hingga terbatuk-batuk.

“Huh, tidak perlu kau senang,” jengek Jit-jit. “Meski Sim Long tidak baik, engkau juga tidak lebih baik, betapa pun selamanya tidak mungkin kusuka padamu, yang jelas benciku padamu juga kelewat takaran dan ingin kucincang tubuhmu.”

Sembari mencaci maki ia terus berbangkit, mendadak ia kesandung sesuatu, waktu ia melihat ke bawah, kiranya Him Miau-ji yang masih menggeletak di situ seperti orang mampus.

“Hendak kau apakan kucing ini?” tanya Ling-hoa tiba-tiba. “Bilamana dia sadar besok, tentu akan teringat olehnya kedatangannya bersama Sing Hian, bukan mustahil Sing Hian sudah memberitahukan tentang namamu juga Sim Long, tentu dia dapat menerka engkaulah orang yang hendak membikin celaka Sim Long yang asli dan…”

“Dan apa?” Jit-jit mendelik pula.

“Demi keselamatanmu di kemudian hari, seharusnya kau bikin dia takkan sadar untuk selamanya,” ucap Ling-hoa perlahan.

“Kentut busuk!” bentak Jit-jit. “Dasar bangsat, hendak kau gunakan tanganku untuk membunuh setiap orang yang memusuhimu. Huh, jangan…jangan kau mimpi.”

“Tidak kau bunuh dia, kelak engkau sendiri akan menyesal,” ujar Ling-hoa.

“Waktu datang tadi dia sudah mabuk, jika sekarang kubawa dia pergi dan ditaruh di setiap tempat, besok kalau dia mendusin pasti juga tidak ingat lagi apa yang terjadi tadi.”

“Jika hendak kau lakukan cara begini, apa mau kukatakan lagi?” ujar Ong Ling-hoa dengan tersenyum getir.

“Tentu saja tak dapat kau bilang apa-apa,” jengek Jit-jit, segera ia mengangkat tubuh Him Miau-ji, tapi segera si Kucing memberosot lagi ke lantai.

“Kucing mampus, kucing sialan!” omel Jit-jit dengan mendongkol.

Sembari mengomel ia mengeluarkan juga saputangan untuk mengusap air liur yang mengalir dari ujung mulut Him Miau-ji, habis itu sekuatnya ia mengangkat si Kucing dan dibawa keluar.

Tapi baru dua-tiga langkah, mendadak ia putar balik, Ong Ling-hoa ditutuknya lagi supaya tidak dapat berkutik.

Orang yang berlalu-lalang di jalan raya sudah jarang-jarang, cahaya lampu juga guram, namun di sana-sini masih ada gerombolan pemabuk yang berjalan sempoyongan sambil mengoceh tak keruan, ada juga yang menyanyi asal nyanyi.

Melihat kawanan pemabuk di sana-sini dan memandang pula pemabuk yang dipondongnya, diam-diam Jit-jit merasa gegetun, “Orang lelaki sungguh aneh, mengapa suka mencekoki dirinya sendiri sehingga mabuk seperti babi mampus, kan mencari penyakit sendiri?”

Jit-jit sengaja berjalan di bawah emper rumah yang agak gelap agar tidak mencolok mata orang lain, meski dia ingin membuang si Kucing di sembarang tempat, tapi khawatir juga anak muda itu akan mengalami sesuatu.

Sekonyong-konyong dari ujung jalan sana muncul tiga penunggang kuda. Semula Jit-jit tidak menaruh perhatian, tapi di malam sunyi kuda dilarikan secepat ini, apa pun juga agak luar biasa, mau tak mau ia berpaling memandangnya.

Mendingan tidak dipandangnya, sekali pandang ia jadi melengak.

Kiranya penunggang kuda pertama tampak gagah dengan potongan baju yang sangat pas dengan tubuhnya, bibirnya berkumis pendek, jelas dia inilah pemilik restoran Wat-pin-lau itu. Dan penunggang kuda yang kedua ternyata Sim Long adanya.

Jit-jit melenggong sampai sekian lama, meski ketiga penunggang kuda sudah lalu dan menghilang dalam kegelapan sana, dia masih tetap tidak bergerak.

Tampaknya ketiga penunggang kuda itu ada urusan penting, semuanya kelihatan prihatin dan menempuh perjalanan dengan terburu-buru sehingga tiada seorang pun memerhatikan Jit-jit.

Setelah termangu pula sejenak, Jit-jit bergumam, “Aneh, mengapa dia juga kenal Sim Long dan berkumpul bersama dia.”

Lantas terpikir pula olehnya, “Ah, tentu dia mendengar orang bilang di restorannya datang seorang Sim Long, sedangkan pergaulanku dengan Sim Long juga sudah banyak diketahui orang, maka dia sengaja mencari Sim Long untuk menanyai kabar mengenai diriku.”

Apa yang dipikirnya itu memang betul.

“Tapi sesungguhnya apa yang dibicarakannya dengan Sim Long? Mengapa kedua orang menempuh perjalanan dengan tergesa? Hendak ke manakah mereka?”

Hal-hal inilah yang tidak diketahui oleh Jit-jit.

Diam-diam ia mengomel, “Setan ini mengapa mengajak pergi Sim Long? Bila dalam rapat besar Kay-pang besok Sim Long tidak sempat hadir, bukankah segala jerih payahku akan tersia-sia belaka?”

Berpikir sampai di sini, tak dihiraukan lagi apa yang akan dialami Him Miau-ji, si Kucing ditaruhkan di bawah emper rumah, katanya, “Maaf, salahmu sendiri, suka ikut campur tetek bengek dan juga suka mabuk-mabukan.”

Lalu dia tinggal pergi. Tapi baru dua langkah, segera ia putar balik, ia membuka baju luar sendiri dan ditutupkan pada tubuh si Kucing. Habis itu cepat ia pulang ke hotelnya.

Hanya sebentar saja seperginya Cu Jit-jit, mendadak muncul empat lelaki kekar berbaju hitam dari balik kegelapan sana, dua orang ikut ke arah hotel si nona, dua orang lagi menuju ke tempat Him Miau-ji.

Kedua orang ini kelihatan gagah, kekar, langkahnya gesit dan cekatan.

Setiba di depan Miau-ji dan memandangnya dua kejap, seorang di antaranya mendepak sekali, Him Miau-ji bersuara mengeluh dan membalik tubuh, lalu tidak bergerak lagi.

“Hm, menghadapi kucing mabuk ini kan tidak perlu banyak mengeluarkan tenaga,” jengek seorang.

“Menurut pesan bos,” demikian seorang lagi berkata. “Setiap orang yang berada bersama domba itu harus kita awasi secara khusus. Apa yang dipesan bos kita tentu ada alasannya.”

“Biarlah kita lemparkan dia ke sungai saja untuk umpan ikan,” kata orang pertama.

“Tidak boleh, kan menurut pesan bos, semuanya harus tetap hidup.”

“Baiklah, mari kita gotong dia pulang.”

Begitulah kedua lelaki itu lantas mengangkat Him Miau-ji dan dilarikan ke ujung jalan sana. Pada saat itulah kebetulan ada beberapa pemabuk muncul dari situ, ada yang lagi menyanyi, “Siapakah pendekar Kangouw nomor satu zaman ini…Ialah toako kita Him Miau-ji…”

Ketika kedua pihak berpapasan, mendadak orang itu berhenti bernyanyi dan berseru dengan tertawa, “Lihatlah, di situ ada yang mabuknya lebih hebat daripada kita, sampai perlu digotong segala.”

“Haha, sebentar juga engkau akan sama seperti itu,” ujar kawannya.

Agaknya kedua lelaki yang menggotong Him Miau-ji itu tidak suka menimbulkan perkara, mereka sengaja menghindar ke tepi jalan dan kedua pihak dengan cepat bersimpang jalan.

Mendadak salah seorang pemabuk itu berseru, “Hai, tidak betul…tidak betul…”

“Tidak betul apa?” tanya seorang lagi.

“Tampaknya orang…orang yang digotong itu rada mirip toako kita?!”

“Ah, tentu matamu sudah kabur!”

“Ehm, rasanya pandanganku memang rada kabur.”

“Tapi apa pun juga harus kita memeriksanya dengan jelas,” tiba-tiba seorang mengusul.

Dalam keadaan mabuk, bilamana seorang mengusulkan sesuatu, biasanya yang lain lantas mendukungnya, maka serentak mereka berteriak, “Betul, harus kita periksa dia.”

Maka rombongan pemabuk ini lantas berputar balik ke sana.

Melihat kawanan pemabuk itu mengejarnya, meski tidak diketahui mau apa, tidak urung kedua lelaki tadi rada gugup, cepat mereka berlari dengan lebih kencang.

Karena mereka lari, kawanan pemabuk itu lantas mengejar, seorang malah berteriak, “Berhenti…jangan lari!”

Makin dibentak, makin cepat lari kedua orang itu. Tapi mereka menggotong Him Miau-ji, dengan sendirinya kecepatannya terbatas. Belum sampai ujung jalan mereka sudah tersusul dan terkepung di tengah.

“Ada apa, sahabat?” kedua orang itu berlagak tabah dan menegur.

Dalam pada itu kawanan pemabuk itu sudah mengenali Him Miau-ji, beramai mereka berseru, “Aha, ternyata benar Toako adanya.”

“Hai, hendak kau bawa toako kami ke mana?”

“Lekas lepaskan toako kami!”

Di tengah teriakan orang banyak, beramai-ramai kawanan pemabuk itu lantas mengerubuti kedua lelaki itu.

Karena menggotong orang, dengan sendirinya kedua lelaki itu tidak mampu menangkis dan balas menyerang, ketika mereka lepaskan Him Miau-ji, tubuh mereka sudah kena belasan kali genjotan.

Biarpun kawanan pemabuk itu tidak menguasai kungfu yang tinggi, tapi jotosan mereka tidak ringan, asal kena juga cukup membuatnya meringis kesakitan.

Kedua lelaki itu juga tidak tinggi ilmu silatnya, setelah digenjot belasan kali, ruas tulang mereka hampir retak, mana mereka mampu membalas, maka cepat mereka melarikan diri.

Sambil membentak-bentak kawanan pemabuk itu bermaksud mengejar.

Tak terduga Him Miau-ji lantas melompat bangun.

Keruan kawanan pemabuk itu terkejut dan bergirang, beramai mereka mengerumuninya sambil menyapa, “Aha, kiranya Toako tidak mabuk.”

Tanpa bicara, “plak-plok”, kontan Miau-ji menggampar kawanan pemabuk itu, setiap orang beberapa kali.

Tentu saja kawanan pemabuk itu melongo, sambil memegang muka masing-masing mereka berseru, “O, ampun, Toako…Mengapa Toako menghajar kami malah?”

“Hm, rasanya harus kutambahi lagi beberapa gamparan kepada kalian!” damprat si Kucing.

“Kami berbuat salah apa, Toako?!” salah seorang pemabuk itu coba tanya.

“Apakah kalian tahu sebab apa aku berlagak mabuk?” kata si Kucing.

“Tidak tahu.” sahut para pemabuk itu dengan menggeleng.

“Aku pura-pura mabuk sebab aku justru ingin tahu kedua keparat itu orang macam apa, di mana sarang mereka? Siapa tahu usahaku ini telah digagalkan oleh kalian.”

Seketika kawanan pemabuk menunduk dan tidak berani bicara lagi.

“Nah, apakah hajaranku kepada kalian membuat penasaran?” tanya si Kucing.

“O, tidak, tidak, hajaran Toako memang pantas!” sahut mereka.

“Bagus,” ucap si Kucing, lalu tangannya bergerak lagi, tapi bukan menghajar mereka lagi melainkan setiap orang diberikan sepotong uang perak.

“He, untuk…untuk apakah ini?” tanya para pemabuk.

“Meski kalian pantas dihajar, tapi ketika kalian melihat aku ada kesulitan, kalian segera menolong tanpa menghiraukan bahaya sendiri, kalian tetap saudaraku yang baik, maka harus kutraktir kalian minum arak.”

“Aha, Toako tetap Toako, tetap sebaik ini, jangankan cuma digampar dua-tiga kali, dibacok dan tubuh dilubangi juga kami rela,” seru kawanan pemabuk itu.

Mendadak si Kucing terkulai ke tanah dengan lemas.

Keruan kawanan pemabuk itu terkejut, “Hei, apakah Toako terluka?”

“Omong kosong, siapa yang mampu melukaiku?” sahut si Kucing. “Aku cuma…ai, tubuhku rasanya mabuk benar, kaki dan tangan terasa lemas.”

Kembali kawanan pemabuk itu bersorak gembira dan bernyanyi, “Aha, tampaknya biarpun Toako kita sangat tangkas, tapi araknya justru lebih…”

“Sudahlah, jangan kalian ngacau lagi,” sela si Kucing. “Ingin kutanya kepada kalian, apakah kalian melihat Sim-siangkong, Sim Long,” seru si Kucing.

“Oo, baru saja Sim-siangkong lagi mencari Toako,” sahut seorang.

“Dan sekarang?”

“Sekarang telah diajak pergi oleh juragan restoran besar itu dengan menumpang kuda.”

“Hah, pergi dengan naik kuda?” seru si Kucing khawatir.

“Wah, celaka, bisa celaka! Apakah kalian tahu untuk apa mereka pergi dan ke mana?”

Kawanan pemabuk itu saling pandang dengan bingung. Akhirnya seorang bicara, “Seperti pergi mencari orang.”

“Mencari siapa?” desak si Kucing.

“Wah, mencari siapa, mana hamba tahu?” sahut orang itu. “Cuma jelas kulihat mereka menuju ke sana, keluar kota.”

“Buset, jadi suara kuda lari tadi pastilah mereka…” gumam si Kucing.

Maklumlah, meski waktu itu dia mendengar derapan kaki kuda lari, tapi Jit-jit juga sedang bergumam. Dengan sendirinya waktu itu dia memang setengah mabuk, hanya mabuknya tidak separah dugaan Cu Jit-jit.

“Betul, belum lama mereka melarikan kuda ke sana,” kata orang tadi.

“Jika kususul sekarang mungkin masih keburu,” kata si Kucing. “Baiklah, saudara, lekas mencarikan seekor kuda bagiku. Lekas, boleh kalian merampas atau mencuri, aku tidak peduli!”

—–

Sementara itu Jit-jit sudah masuk ke hotelnya. Selama beberapa hari ini pintu hotel itu selalu terbuka siang dan malam. Pelayan menyapa kedatangannya, namun Jit-jit tidak menghiraukannya, langsung ia masuk ke dalam dengan hati bimbang.

Pada saat itulah mendadak seorang berseru di belakang, “Tunggu dulu, Siangkong di depan itu!”

Waktu Jit-jit berpaling dengan terkejut, terlihatlah dua lelaki kekar berbaju hitam berlari masuk, wajah keduanya mengulum senyum, tampaknya tidak bermaksud jahat.

Tapi Jit-jit lantas melotot dan menegur, “Aku tidak kenal kalian, untuk apa kalian memanggil diriku?”

Salah seorang berbaju hitam itu menjawab dengan tertawa, “Meski hamba tidak kenal, tapi majikan kami kenal Kongcu. Ada…ada sesuatu urusan beliau ingin menemuimu.”

“Oo, ada urusan apa?” tanya Jit-jit.

“Ti…tidak ada apa-apa, beliau cuma mengundang Kongcu ke sana untuk…untuk minum barang dua-tiga cawan,” tutur lelaki itu dengan agak gelagapan.

Jit-jit berkerut kening, “Minum arak? Tengah malam buta begini mengundangku minum arak? Hm, kukira majikan kalian pasti…”

Mendadak teringat dirinya dalam keadaan menyamar, siapa pun tidak dapat mengenalnya lagi, segera ia berganti suara dan membentak, “Siapa majikan kalian?”

“Majikan kami ialah Auyang…”

“Aku tidak kenal orang she Auyang,” bentak Jit-jit.

“Tapi…tapi majikan bilang kenal Li-kongcu, maka hamba disuruh…”

“Kalian sudah buta barangkali?” damprat Jit-jit. “Memangnya siapa she Li?”

Orang itu mengamat-amati si nona beberapa kejap, lalu saling pandang dengan kawannya, kemudian berucap dengan ragu, “Jangan-jangan kita salah lihat?”

“Keparat…” Jit-jit mendamprat pula. “Selanjutnya hendaknya lihat lebih jelas bila mencari orang, tahu?!”

Kedua orang itu mengiakan dengan takut-takut.

Meski mendongkol, Jit-jit hanya mendengus saja dan tinggal masuk lagi ke dalam sambil menggerutu.

Setiba di serambi samping, terlihat beberapa orang perempuan yang rambut kusut menggotong sebuah amben sambil menangis, amben itu tertutup sehelai kain putih, agaknya orang mati. Beberapa perempuan itu menangis dengan sangat sedih.

“Sungguh sial, ketemu orang mati lagi,” gerutu Jit-jit di dalam hati. Terpaksa ia menepi memberi jalan kepada mereka.

Sambil menangis, kawanan perempuan itu juga membuang ingus, ketika lalu di samping Jit-jit, seorang perempuan tua membuang ingusnya dan tepat hinggap di tubuh Jit-jit.

Keruan si nona keki setengah mati, tapi orang lain lagi berduka, terpaksa ia menahan rasa marahnya, ia percepat langkahnya dan menerjang ke dalam kamar sendiri.

Untung keadaan kamar tidak terjadi sesuatu, Ong Ling-hoa masih berbaring di tempatnya.

Karena tertutuk hiat-to tidurnya, saat itu Ong Ling-hoa masih tidur dengan nyenyak.

Segera Jit-jit menepuk hiat-to untuk menyadarkan Ong Ling-hoa, karena hatinya lagi keki, tepukannya menjadi agak keras. Kontan Ong Ling-hoa menjerit dan terjaga bangun.

“Hm, enak saja kau tidur, aku justru mengalami berbagai kesialan di luar,” omel Jit-jit. “Eh, apakah kau tahu baru saja Sim Long telah pergi.”

“Dari…dari mana kutahu?” jawab Ling-hoa.

“Kukhawatir bila besok dia tidak pulang, kan usahaku akan sia-sia belaka?”

“Kukira tidak menjadi soal, mana dia mau mengabaikan pertemuan besar besok yang jarang terjadi itu?”

Setelah berpikir, Jit-jit berkata, “Benar juga…Selama hidup ini, hanya ucapanmu ini yang paling mencocoki seleraku. Baiklah, tampaknya matamu masih sepat, akan kubiarkan kau tidur lagi.”

“Terima kasih,” kata Ling-hoa, lalu ia menghela napas, “Ai, sampai tidur juga perlu memohon berkah orang lain, sungguh kasihan…”

Jit-jit jadi tertawa geli juga dan tidak menyiksanya lagi. Ia lantas berbaring di dipan pojok sana, tanpa terasa dia terpulas.

Nona itu memang sudah lelah, sungguh lelap sekali tidurnya.

Waktu dia mendusin, Ong Ling-hoa ternyata masih tidur. Ia berkerut kening, lalu tertawa juga. Dengan kemalasan dia berbangkit dan mengulet, lalu membuka pintu.

Sekonyong-konyong seorang menerjang masuk. Keruan Jit-jit terkejut.

Waktu diawasi, kiranya orang ini ialah Sing Hian yang dicemoohkan Ong Ling-hoa itu.

Cepat Sing Hian berdiri tegak, matanya tampak merah wajah pucat lesu, jelas kurang tidur.

Jit-jit tahu semalam pasti cukup membuat anak muda itu kapiran. Maklum, putra keluarga ternama bilakah pernah menderita seperti ini?

“Apakah kau tidur di luar pintu?” tanya Jit-jit.

Dengan muka merah Sing Hian menjawab, “Pagi-pagi aku sudah datang, kudengar suara orang mendengkur di dalam, kuyakin kalian masih tidur dan tidak berani kuganggu…”

Ia melirik sekejap Ong Ling-hoa di sebelah sana, lalu menyambung dengan tergegap, “Sebab itulah aku lantas…lantas menunggu di luar pintu. Siapa…siapa tahu aku jadi tertidur juga bersandar pintu…”

Sampai di sini ia pandang Ong Ling-hoa beberapa kejap, lalu memandang Jit-jit pula dengan sorot mata menunjukkan rasa keheranan.

Dengan tertawa cepat Jit-jit menjelaskan, “Keponakan perempuanku ini lagi sakit, tengah malam perlu dijaga. Orang dalam perjalanan juga tidak membawa pelayan, terpaksa kutidur di sini untuk menjaga dia.”

Rupanya isi hati Sing Hian terungkap oleh ucapan Jit-jit ini, mukanya menjadi merah, cepat ia mengiakan.

“Eh, apa yang kusuruh kau kerjakan apakah sudah dilaksanakan?” tanya Jit-jit.

“Sudah,” jawab Sing Hian. “Hanya dalam semalam saja sudah kuberi tahukan perbuatan jahat Sim Long itu kepada 57 orang dan…Sim Long sendiri pasti tidak tahu.”

“Baik, lantas bagaimana reaksi orang-orang itu setelah mendengar kabar darimu?”

“Anak murid Kay-pang tentu saja murka, ada di antaranya menangis sedih, ada yang hendak mencari Sim Long itu untuk menuntut balas, terpaksa kubujuk mereka agar bersabar sampai besok.”

“Lantas bagaimana lagi yang lain?”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: