Kumpulan Cerita Silat

18/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 03

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 2:21 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, dan Lovescan)

Bab I. Tangan Pembunuh.

Bagian 03. Diakhiri Dengan Kematian.

Tiba-tiba Liu Ce-in melihat cahaya rembulan memancar masuk ke dalam ruangan. Sambil berkerut kening ia mengawasi Leng Giok-siu, kemudian ujarnya sambil tertawa, “Saudara Leng, tahukah kau mengapa sampai sekarang aku belum membunuhmu? Kenapa aku membantai kalian satu per satu dan tidak sekaligus saja menghabisi nyawa kalian?”

Leng Giok-siu hanya mendelik, ia menggeleng dengan susah payah.

“Padahal sederhana sekali alasannya,” ujar Liu Ce-in sambil tertawa. “Aku sengaja membantai kalian satu per satu karena aku ingin kalian pun merasakan bagaimana pedihnya hati ketika melihat orang terdekat pergi satu per satu! Aku ingin kau merasakan juga bagaimana tersiksanya bila hidup dalam teror, hidup dalam ketakutan, hidup dalam kengerian karena kematian bisa tiba setiap saat! Sekarang aku tinggal menanti kedatangan Jisute dan Samsuteku, yang akan membawa batok kepala Sim Ciok-kut. Setelah itu baru tiba giliranmu.”

Mendadak ia bangkit berdiri, diisapnya huncwe beberapa sedotan dengan perasaan tak tenang, lalu katanya lebih jauh, “Tapi aku tak dapat menunggu terlalu lama. Pengaruh obat pemabuk dalam tubuhmu segera akan berakhir. Lebih baik kubunuh dirimu terlebih dulu!”

Seraya berkata, selangkah demi selangkah dia mendekati Leng Giok-siu, gumamnya lagi, “Aneh, sungguh aneh. Seharusnya Jisute dan Samsute sudah berhasil sejak tadi. Kenapa belum datang juga?”

“Ya, mereka memang telah berhasil!” tiba-tiba seseorang menimpali dari luar ruangan dengan suara dingin.

Mendengar ucapan ini, Liu Ce-in terkesiap. Belum sempat bereaksi apa-apa, mendadak dari balik daun jendela yang hancur melesat masuk dua sosok bayangan manusia dan langsung menubruk ke arah tubuhnya.

Tergopoh-gopoh Liu Ce-in mundur ke belakang.

Ketika bayangan manusia yang menubruk tubuh Liu Ce-in kehilangan sasaran, tahu-tahu ia sudah roboh terkapar di lantai.
Kembali tampak sesosok bayangan manusia meluncur masuk ke dalam ruangan dan langsung menerjang bangku yang diduduki Leng Giok-siu.

“Blaaam!”

Leng Giok-siu berikut bangku yang didudukinya mencelat sejauh berapa kaki dan roboh terguling, sementara orang yang menumbuk bangku itu ikut terkapar di tanah tanpa berkutik.

Cara bertarung semacam ini memang aneh sekali. Walaupun Liu Ce-in sangat berpengalaman dalam dunia persilatan, belum pernah ia jumpai kejadian seperti hari ini.

Karena jendela sudah rusak dan berlubang, cahaya rembulan yang terang benderang pun menyorot masuk ke dalam ruangan.

Menggunakan penerangan sinar rembulan, Liu Ce-in segera dapat mengenali bahwa dua orang yang terkapar tanpa bergerak di tanah itu tak lain adalah dua orang adik seperguruannya, Ko San-cing serta Ceng Ci-tong!

Kini jarak antara Leng Giok-siu dan Liu Ce-in hanya beberapa kaki jauhnya. Di tengah selisih jarak mereka berdua, di bawah cahaya rembulan, sesosok bayangan manusia melayang turun bagaikan sekor kucing, tanpa suara sedikit pun. Dia tak lain adalah si Darah Dingin!

Dengan sebuah gerakan yang sangat cepat, Liu Ce-in membalik gagang huncwenya, lalu mengarahkan ujung gagang yang tajam itu ke arah si Darah Dingin.

Sebaliknya Darah Dingin juga telah melolos pedangnya, dengan mengarahkan ujung senjata ke Liu Ce-in.

Mereka berdua sama-sama tidak bergerak, saling berpandangan dengan penuh kewaspadaan.

Dengan sorot mata yang tajam Liu Ce-in mengawasi si Darah Dingin. Tiba-tiba ujarnya sambil tertawa, “Oh, rupanya kau!”

“Ya, memang aku.”

“Urusan dinasmu telah selesai?”

“Ya, kepulanganku memang tepat pada waktunya,” si Darah Dingin tertawa dingin.

“Benar, memang tepat pada waktunya. Leng-tayhiap telah diloloh orang dengan obat bius. Kini badannya lemas tak bertenaga, jadi terpaksa aku harus melindungi dirinya.”

“Betul-betul patut disayangkan

“Apanya yang disayangkan?”

“Omong-kosong selalu enak didengar.”

“Omong kosong?”

“Sayang aku sudah berdiri di luar jendela sejak tadi. Semua pengakuanmu telah kudengar dengan jelas sekali.”

Liu Ce-in segera tertawa tergelak. “Hahaha…Saudara Leng, bukannya kau pergi melacak siapa pembunuh sebenarnya, tak nyana kau malah mencuri dengar rahasia orang lain.”

“Aku tak perlu melacak lagi, karena pembunuhnya sudah ketahuan.”

“Siapa?”

“Kau! Kaulah pembunuhnya!”

Liu Ce-in segera mendongakkan kepala dan tertawa terbahak. Dia seakan baru saja mendengar sebuah cerita lelucon yang sangat menggelikan.

Biarpun dia sedang tertawa, sinar matanya sama sekali tak berniat untuk tertawa. Sorot mata yang tajam mengawasi terus mata pedang si Darah Dingin tanpa berkedip.

Darah Dingin pun mengawasi gagang huncwe di tangan lawan tanpa berkedip. Biarpun kedua belah pihak sedang berbicara, namun siapa pun tak berani ceroboh. Siapa pun tak berani memecahkan perhatian hingga memberi kesempatan kepada lawan untuk melancarkan sergapan dengan sepenuh tenaga.

Liu Ce-in tertawa beberapa saat lamanya. Ketika tidak melihat lawannya melancarkan serangan, dia segera menghentikan gelak tawanya dan berseru, “Hebat, sungguh hebat!”

“Kau juga hebat. Tapi sayang gagal mengelabui aku.”

“Aku ingin tahu, mengapa secara tiba-tiba kau mencurigai aku?” tanya Liu Ce-in kemudian.

“Kalau mau menyalahkan, mestinya kau salahkan dirimu sendiri. Kau sangka sergapan yang kau siapkan di depan rumah Liu Kiu-ji sanggup menghabisi nyawaku? Hmmm, justru karena itulah kau telah meninggalkan titik kebocoran.”

“Titik kebocoran?”

“Benar. Kau berkata kalau Liu Kiu-ji pernah terlibat usaha pembunuhan di kota Liu-ciu hingga tertangkap. Tapi sewaktu kuperiksa jenazahnya, aku tak menemukan bekas cap pengenal dari kota Liu-ciu yang menandakan ia pernah jadi narapidana. Ketika gagal menemukan pertanda itu, maka aku pun berpikir, mana mungkin Dewa Opas macam kau bisa salah ingat? Atau sengaja salah memberi informasi? Maka aku pun memeriksa juga jenazah kawanan manusia berkerudung itu. Ternyata pada lengan mereka semua tertera jelas cap tanda pengenal sebagai prajurit dari Jing-ping. Padahal siapa di tempat ini yang bisa menggerakkan pasukan itu?”

Ditatapnya wajah Liu Ce-in lekat-lekat, kemudian lanjutnya, “Tanpa sadar aku pun teringat Ko San-cing, pelatih pasukan Jing-ping. Padahal Ko San-cing secara sengaja telah kau undang kemari untuk terlibat dalam penyelidikian ini. Maka aku pun mulai curiga. Kau pasti bermaksud mencelakai Liu Kiu-ji. Kalau tidak berbuat begini, mana mungkin kau bisa memecah perhatianku dan mengalihkan sasaran? Ketika kau minta aku membuntuti Liu Kiu-ji, kau gunakan kesempatan itu dengan minta bantuan Ko San-cing untuk membunuh aku. Padahal kau telah salah melakukan satu hal. Bila tidak ada yang membocorkan rencana penguntitan itu, mana mungkin ada begitu banyak jago yang muncul secara tiba-tiba hanya ingin membunuh Liu Kiu-ji seorang? Kau sengaja mendatangkan banyak jago karena tujuanmu yang sebenarnya adalah ingin membunuhku. Liu Kiu-ji bukan sasaranmu yang sesungguhnya. Ketika usahamu untuk membunuh diriku gagal, kau baru terpaksa membunuh Liu Kiu-ji agar aku tidak curiga. Sayang…lagi-lagi kalian telah melupakan sesuatu.”

“Kagum, sungguh mengagumkan,” sela Liu Ce-in sambil tertawa dingin.

Darah Dingin menjengek sinis.

“Menjelang ajalnya, Liu Kiu-ji sempat mengucapkan separah kata kepadaku. Dia menyebut kata “kong,” tapi ’kong’ apa? Mula-mula aku kebingungan. Tapi ketika selesai memeriksa tanda yang ada di lengan kawanan pembunuh berkerudung itu, aku segera teringat satu hal. Yang dimaksud dengan kata “kong” pastilah “kong-cha” si petugas opas. Dalam pertempuran sengit itu, Liu Kiu-ji pasti melihat munculnya kawanan opas, sehingga dia tidak waspada. Itulah sebabnya serangan kalian dapat mencapai keberhasilan secara mudah.”

“Padahal rencanaku sudah akurat dan hebat. Kalau dibilang ada satu dua kekeliruan yang menyebabkan kejadian seperti ini, ya, apa lagi yang bisa kukatakan?”

Darah Dingin tertawa dingin.

“Itulah yang orang katakan, ’Jaring langit itu tiada tara! Siapa yang melakukan kejahatan tak akan lolos dari hukuman!’ Tak ada rencana yang sempurna di dunia ini, apalagi keteledoran yang kau lakukan bukan hanya satu.”

“Bukan hanya satu?”

“Semenjak kau, Ceng Ci-tong atau Ko San-cing memancing Kui Keng-ciu agar meninggalkan barisan, sudah timbul perasaan heran di hati kecilku. Kalau dibilang Kui-ngohiap yang berangasan dan tak sabaran mengejar musuh tanpa memikirkan hal yang lain, itu masih masuk akal. Tetapi kenapa si Dewa Opas yang banyak pengalaman bukannya berusaha mengamankan keselamatan jiwa saksi, sebaliknya malah ikut mengejar musuh hingga akibatnya A-hok terbunuh? Apa kejadian ini tidak aneh? Tidak mencurigakan? Ya…tentu saja A-hok bersembunyi di dalam gudang kayu bakar dan tak berani bertemu dengan Kim-hujin, semua lantaran dia telah melihat kaulah yang telah membunuh Kim-samhiap. Sedang kau selama itu selalu berada di samping Kim-hujin, tak heran kalau A-hok tak berani melaporkan kejadian ini kepada Leng-tayhiap. Ketika Kui-ngohiap berpisah dengan rombongan, kau segera menggunakan kesempatan ini untuk membunuhnya, kemudian berlagak terluka dan balik ke gudang kayu bakar. Kau kira dengan berbuat begitu maka semua orang bisa kau kelabui…?”

Liu Ce-in tertawa dingin, selanya “Hmmm, tapi kenyataan, bukankah Leng Giok-siu, Buyung Sui-in dan Sim Ciok-kut berhasil kukelabui habis-habisan?”

“Berapa lama kau sanggup mengelabui mereka?” jengek si Darah Dingin sambil tertawa dingin. “Aku pernah memeriksa senjata gurdi milik Ceng Ci-tong, lalu membayangkan luka di tubuh Liu Kiu-ji. Hatiku seketika curiga. Aku tahu tanpa bukti memang sulit membikin orang percaya. Maka aku pun mengusulkan untuk pergi bersama Buyung-jihiap. Tapi sayang kalian telah menutupi pandangan mataku dengan memakai kereta kuda, kemudian menitahkan Ceng Ci-tong dan Ko San-cing untuk membunuhnya. Bila tak ada yang membocorkan rahasia ini keluar, mana mungkin kalian bisa menyiapkan pasukan untuk melakukan penyergapan?”

“Tapi Ko San-cing toh tidak ikut serta bersama kalian?” jengek Liu Ce-in sambil tertawa dingin.

“Setelah memeriksa luka Buyung-jihiap yang berada di dada dan punggungnya, aku semakin menaruh curiga. Waktu itu Ko San-cing memang tidak ikut. Lalu siapakah pembunuh satunya lagi? Kemudian aku baru tahu, rupanya ketika kau mengusulkan agar Ko San-cing pergi membeli bahan obat untuk menyaru muka, sesungguhnya kau bermaksud mengirimnya agar turut membantu dalam pembunuhan berencana itu. Buyung-jihiap memang orang pintar, tapi siapa sih yang menduga kalau rekan seperjalanannya malah justru melancarkan serangan bokongan kepadanya? Apalagi waktu itu dia sedang bertempur melawan belasan orang jago. Mana mungkin ia bisa menjaga diri dari bokongan licik itu? Waktu itu…sebenarnya dia ingin mem-beritahu kepadaku siapa yang telah membunuhnya. Tapi Ceng Ci-tong yang merasa gelagat tidak menguntungkan segera mengirim beberapa orang pasukan untuk mengancam aku, hingga akhirnya Buyung-jihiap tewas sebelum sempat memberitahukan rahasia itu.”

“Tetapi sayang kalian sudah melakukan kesalahan. Mana mungkin si gurdi besi Ceng Ci-tong yang begitu tangguh ilmu silatnya, ternyata tak mampu membereskan kepungan beberapa orang cecunguk? Ceng Ci-tong mengaku telah berhasil membunuh beberapa orang penjahat berkerudung. Tapi setelah aku menanyakan hal ini kepada Leng-tayhiap, kemudian sempat juga memeriksa beberapa mayat dengan seksama, dapat kusimpulkan bahwa orang-orang itu tewas lantaran kena sabetan pedang Jit-sian-chan, dan tak satu pun yang tewas kena senjata gurdi. Kenapa Ceng Ci-tong harus membohongi aku? Bukankah hal ini sudah amat jelas? Sebelum tewas, Buyung-jihiap sempat mengatakan kalau musuhnya kena sebuah tebasan goloknya. Yang terkena sabetan golok itu bukan Ceng Ci-tong, tapi Ko San-cing. Itulah sebabnya dia terpaksa harus menyamar sebagai seorang pengemis yang timpang kakinya, karena luka bekas tebasan golok itu justru berada di kakinya!”

Untuk sesaat Liu Ce-in tak sanggup mengucapkan separah kata pun. Dia hanya bisa tertawa dingin tiada hentinya.

Kembali si Darah Dingin berkata, “Tentu saja semua analisaku hanya hasil tebakanku pribadi. Itulah sebabnya aku butuh pembuktian. Aku pura-pura bilang mau berkunjung ke gedung Bupati Lu, padahal aku pergi mencari berita, menyelidiki sepak terjang kalian belakangan ini. Dan aku tahu bahwa kau bersama Ceng Ci-tong dan Ko San-cing sering berkumpul. Jurus serangan yang digunakan juga persis sama, walaupun beda dalam pemakaian senjata. Belum pernah ada orang yang sanggup menghadapi serangan kalian. Sementara kawanan jago berkerudung itu adalah pasukan Jing-ping pim-pinan Ko San-cing, sudah lama mereka patuh pada pelatihnya. Selain itu, ketika Liu Kiu-ji melakukan percobaan pembunuhan, Ko San-cing maupun Ceng Ci-tong tak berada di kantor pengadilan. Bahkan di tempat tinggalnya pun tak ada. Semua itu merupakan bukti nyata. Maka aku segera balik kemari. Semula aku ingin mem-bicarakan hal ini dengan Leng-tayhiap dan Sim-sihiap. Tak disangka ternyata mereka sudah jatuh ke tangan kalian.”

“Bagus, bagus sekali!” seru Liu Ce-in penuh kebencian. “Masih ada satu hal lagi yang aku tak mengerti.”

“Soal apa?”

“Biarpun kau cerdas dan lihai, darimana kau tahu kapan dan dengan cara apa Ceng Ci-tong dan Ko San-cing akan menghadapimu? Semisal kau belum tahu, kenapa bisa lolos dari kerjasama mereka yang begitu rapi dan hebat?”

“Karena mengira aku tak pernah mencurigai mereka. Padahal sudah sejak awal aku mencurigai mereka berdua. Memang ketelitian merupakan kunci utama. Begitu tiba di gedung keluarga Kim, aku segera menjumpai adanya ceceran darah di batang pohon waru. Alas sepatu milik Ko San-cing juga penuh noda darah. Sejak itulah aku sudah tahu, kalau bukan Leng-tayhiap yang mati duluan, sudah pasti Sim-tayhiap yang dibantai duluan. Atau mungkin juga mereka berdua sudah terjebak berbareng. Aku pun lantas berpikir, bila aku muncul waktu itu, kalian pasti kuatir aku mengetahui rahasia ini. Berarti pasti kalian akan berusaha untuk membunuhku. Maka aku pun mulai membuat perhitungan. Aku percaya Ko San-cing dan Ceng Ci-tong tentu akan menyerang secara bersama-sama. Apalagi berdasarkan letak luka di tubuh Buyung-jihiap yang menyebabkan kematiannya, aku pun menduga arah sasaran mana yang mungkin akan diserang mereka berdua. Maka aku berusaha untuk membunuh Ko San-cing duluan. Tinggal Ceng Ci-tong seorang yang akhirnya pasti tak bisa menahan diri, dan jalan kematianlah yang akan dia peroleh.”

“Saudara Leng!” Liu Ce-in memanggil setelah terbatuk-batuk.

“Ya, ada apa?” jawab si Darah Dingin dengan kaku tanpa perubahan mimik muka.

“Sudah bertahun-tahun kita bersahabat. Kita pun sama-sama hidup sebagai seorang opas. Bagaimana bila saudara Leng memberi kesempatan kepadaku dengan membiarkan aku membawa pergi Leng-tayhiap? Tentang kematian Jisute dan Samsute, aku tak ingin memperpanjang masalah. Kita sudahi sampai di sini saja, asal Leng-heng mau mengabulkan permintaanku ini.”

“Dengan Leng-tayhiap kau telah bersahabat berapa lama?”

“Tiga tahun lebih,” sahut Liu Ce-in setelah termenung sejenak.

“Hmmm, sudah bersahabat selama tiga tahun pun masih tega melakukan pembunuhan. Bila aku lepaskan dirimu hari ini, siapa tahu lain waktu justru kau yang akan membunuhku?”

“Lalu apa yang hendak saudara Leng lakukan terhadap diriku?”

“Hanya ada satu jalan.”

“Jalan apa?”

“Berjalanlah dari sini langsung ke pintu pengadilan. Aku akan mengawalmu agar kau tidak tersesat!”

“Maaf, aku tak bisa berbuat begitu.”

“Hanya sebuah jalan itu yang kusediakan. Kalau tidak, aku akan berusaha untuk membekukmu.”

“Kau sanggup membekukku?” jengek Liu Ce-in sambil tertawa dingin.

“Kenapa belum turun tangan juga?”

“Aku telah turun tangan. Masa kau tidak tahu kalau aku sudah turun tangan?”

“Oh ya?” sekujur badan Liu Ce-in gemetar keras.

“Aku telah mengetahui identitasmu. Sudah kubongkar rahasiamu. Aku pun telah menunding kau sebagai pembunuhnya. Malah kedua orang pembantumu telah kubantai. Sejak awal aku sudah di atas angin. Hawa membunuhku jauh melebihi dirimu. Kini wibawamu sudah kuhancurkan. Apalagi yang bisa kau andalkan untuk bertarung melawanku? Semangat mana yang kau miliki lagi? Seharusnya sejak awal kau tak usah mendengarkan perkataanku ini.”

“Benar,” Liu Ce-in menghela napas panjang.

“Kalau sudah tahu tak bakalan lolos, kenapa tidak menyerah saja?”

“Kalau toh aku tak bakal lolos, kenapa kau tidak segera membekukku?” tiba-tiba Liu Ce-in balas bertanya.

“Membekuk kau?” Darah Dingin tertawa dingin.

“Benar!” jengek Liu Ce-in sambil tertawa dingin pula. “Caramu ini hanya bisa menggertak para pencoleng dan bandit kecil saja. Jangan lupa, aku pun seorang opas. Bahkan aku pun sudah turun tangan. Masa kau tidak tahu?”

“Kau sudah turun tangan? Yang mana?”

“Selama ini kau mengandalkan kecepatan gerak untuk merobohkan lawan. Tapi sayang kini punggung dan bahumu sudah terluka. Jelas luka ini akan mempengaruhi kecepatan gerak serangan pedangmu. Kau pun sudah sibuk seharian penuh, sudah bertarung dua babak. Sebaliknya aku masih segar bugar. Aku belum bertarung, tidak sibuk, juga tidak terluka. Ketika kau berhasil membunuh dua orang tadi, hawa membunuhmu sudah surut. Sebaliknya hawa membunuhku belum lagi dimulai. Bicara soal hawa membunuh, kau tak akan mampu menandingi aku. Sekarang di sisimu bertambah pula dengan sebuah beban, Leng Giok-siu yang tidak mampu bergerak. Serangan yang kulancarkan bisa saja kutujukan kepadamu, tapi bisa juga kutujukan ke arah Leng Giok-siu. Sebaliknya aku tak punya beban apa-apa. Aku tak perlu menjaga keselamatan orang lain. Jadi bicara soal kondisi, kondisiku jauh melebihi dirimu. Kenapa aku mesti kabur? Dengan kondisi seperti ini akulah yang justru punya peluang untuk membunuhmu! Kenapa aku yang mesti menyerahkan diri?”

Peluh mulai bercucuran membasahi jidat si Darah Dingin. Ia menjengek sinis sambil tertawa dingin, “Kau tak bakal mampu membunuhku!”

“Mungkin aku memang tak sanggup membunuhmu. Tapi sayang, tidak seharusnya kau menanyakan persoalan tadi. Sekarang kau mulai panik, mulai gugup, mulai tak percaya diri.”

“Kenapa tidak segera kau buktikan sendiri?”

Tiba-tiba suasana jadi hening. Kedua orang itu sama-sama bungkam, sama-sama berusaha menenangkan diri.

Suasana di dalam ruangan pun jadi beku, jadi dingin dan menggidikkan.

Pertempuran sengit segera akan berlangsung. Dalam keadaan seperti ini, banyak bicara memang tak ada gunanya.

Dalam hati kecilnya, si Darah Dingin sadar, dengan kemampuan silat yang dimiliki Liu Ce-in, bukan pekerjaan gampang baginya untuk memenangkan pertarungan ini. Sebaliknya pihak lawan pun tidak mudah merobohkan dirinya. Hanya saja jurus serangan yang mereka andalkan merupakan serangan mematikan. Bila terjadi bentrok terbuka, bisa dipastikan salah satu di antara mereka bakal tewas.

Jalan pikiran Liu Ce-in pun persis sama seperti apa yang dibayangkan si Darah Dingin. Itulah sebabnya dia berusaha untuk merontokkan mental lawan. Asal musuh dapat dibuat takut, ragu atau keder, dia baru punya kesempatan untuk meraih kemenangan.

Dengan sorot mata tajam si Darah Dingin mengawasi gagang huncwe di tangan Liu Ce-in. Sebaliknya, dengan pandangan tak berkedip Liu Ce-in juga mengawasi ujung pedang si Darah Dingin…

Suasana amat hening…sepi…tapi sangat menegangkan!

Mendadak terdengar dua kali bentakan gusar bergema memecahkan keheningan. Dua bentakan keras yang berasal dari Liu Ce-in serta si Darah Dingin, disusul kemudian mereka berdua saling menerkam dengan kecepatan luar biasa.

Apakah ujung pedang si Darah Dingin yang bakal menusuk tubuh Liu Ce-in? Ataukah gagang huncwe Liu Ce-in yang akan menyodok badan si Darah Dingin?

Ketika gagang huncwe akan saling membentur dengan pedang lawan, tiba-tiba dari balik huncwe meluncur keluar belasan titik cahaya bintang berapi yang amat menyilaukan mata. Ternyata di balik huncwe itu tersembunyi senjata rahasia yang sangat mematikan.

Tembakau yang dia isap di huncwenya, begitu dibakar akan berubah jadi letupan api kecil. Benda-benda itulah yang dijadikan senjata rahasia andalannya, karena setiap saat dapat dilancarkan.

Percikan bunga api langsung menyebar ke angkasa dan mengurung seluruh tubuh si Darah Dingin.

Dalam posisi seperti ini, sulit bagi si Darah Dingin buat menghindarkan diri. Maka secara beruntun dia melancarkan serangan pedang yang dahsyat, cepat dan tepat. Ujung pedangnya langsung menyongsong datangnya percikan bunga api itu.

Berhasil merebut posisi di atas angin, Liu Ce-in tidak berdiam diri. Kembali huncwenya digetarkan, lalu secepat sambaran petir mengancam dada musuh.

Pada saat itulah kembali terdengar seseorang meraung keras. Berbareng dengan bangku yang didudukinya, Leng Giok-siu yang berada di belakang si Darah Dingin, tahu-tahu sudah melompat di atas kepalanya, menumbuk ke tubuh Liu Ce-in.

Serangan itu ibarat bukit Thay-san yang menindih di atas kepala, kekuatannya sangat luar biasa.

Bukan cuma begitu, berbarengan dengan tumbukan itu, Leng Giok-siu melolos pula pedang mestikanya dari dalam gagang sapu yang dibawanya.

“Cringgg…!” cahaya pelangi berwarna emas menggelegar di udara. Bagaikan bianglala yang panjang, senjata itu langsung mengancam tubuh Liu Ce-in.

“Ilmu pedang Tiang-khong-sip-ci-kiam (ilmu pedang salib penembus langit)!”

Obat pemabuk hanya mampu membuat lemas Leng Giok-siu selama satu jam. Kini pengaruh dupa pemabuk sudah hilang. Di saat Liu Ce-in sedang berbincang dengan si Darah Dingin tadi, secara diam-diam Leng Giok-siu telah menyalurkan hawa murninya untuk memulihkan kembali kekuatannya.

Liu Ce-in membentak gusar, gagang huncwenya digetarkan, kemudian balas menyodok ke atas.

Gerakan bianglala emas itu cepat, tapi gagang huncwe jauh lebih cepat lagi. Tahu-tahu senjata itu sudah menerobos masuk ke balik cahaya pelangi dan membuat pengaruh serangan pedang itu hilang, lenyap seketika.

“Buuuk…!” gagang huncwe Liu Ce-in menghajar telak dada Leng Giok-siu.

Pada saat itulah si Darah Dingin telah berhasil mementalkan serangan cahaya api yang mengancam tubuhnya. Sambil memutar pinggang ia lancarkan sebuah tusukan kilat.

“Buuuk…!” sekilas cahaya putih menyambar lewat melalui sisi tubuh Leng Giok-siu dan langsung menerjang ke badan Liu Ce-in.

Tatkala gagang huncwe Liu Ce-in berhasil menyodok dada Leng Giok-siu, serangan pedang Naga nomor wahid dunia persilatan ini segera tertahan sehingga tak sanggup dilanjutkan lagi. Namun Leng Giok-siu tak mau menyerah begitu saja. Badan bersama kursinya segera menindih di atas tubuh lawan kuat-kuat.

Liu Ce-in menangkis dengan tangannya, lalu dia hajar kursi itu hingga Leng Giok-siu bersama bangkunya mencelat ke udara.
Namun tindakannya ini membuat bangku itu menghalangi pandangan Liu Ce-in atas sekeliling tempat itu.

Pada saat itulah cahaya putih menyambar datang dari bawah menuju ke atas dan langsung menusuk tenggorokan si Dewa Opas.

“Cresss…!” ujung pedang menembus tenggorokan Liu Ce-in. Huncwenya yang belepotan darah itu segera terjatuh ke tanah.

“Duuuk…!”

Dalam waktu bersamaan, Leng Giok-siu beserta bangkunya terjatuh pula berapa depa dari posisinya.

Darah Dingin tidak bergerak, ujung pedangnya masih menancap di tenggorokan Liu Ce-in. Pedang yang putih dan berkilauan itu satu inci demi satu inci sedang dicabut keluar. Sama sekali tiada noda darah.

Liu Ce-in juga tidak bergerak, terlebih Leng Giok-siu. Dia sama sekali tak mampu bergerak.

Liu Ce-in sedang mengawasi si Darah Dingin tanpa berkedip, seakan tak percaya pedang itu dapat menembus tenggorokannya.

Mendadak si Darah Dingin mencabut pedangnya dengan satu gerakan cepat. Bersamaan dengan tercabutnya senjata itu, darah segera menyembur keluar dari tenggorokan Liu Ce-in.

Dengan penuh kesakitan Liu Ce-in memegangi tenggorokan sendiri yang terluka parah. Suara gemerutuk aneh memancar keluar dari balik mulutnya, tapi dia masih berusaha meronta, melototi si Darah Dingin sambil berseru, “Bagus…bagus…empat opas yang menggetarkan kolong langit. Darah Dingin…aku berangkat duluan.”

Tubuh Liu Ce-in roboh terkapar di atas genangan darah, selamanya dia tak sempat lagi untuk menyelesaikan ucapannya.

Si Darah Dingin berdiri tertegun. Sampai lama baru ia berjalan menghampiri Leng Giok-siu.

Waktu itu si Naga nomor satu dunia persilatan tergeletak di tanah dengan wajah pucat-pias, genangan darah segar membasahi pakaian di dadanya.

Ketika mengetahui si Darah Dingin sedang memayangnya untuk duduk, Leng Giok-siu mencoba untuk tersenyum. Bisiknya, “Te…teri…terima…ka…kasih

Segera Darah Dingin menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh Leng Giok-siu. Hiburnya kemudian, “Saudara Leng, cobalah untuk bertahan, kau pasti selamat, akan kupanggilkan tabib untuk mengobati lukamu…”

“Tidak u…usah Leng Giok-siu tertawa pedih, “Kau…kau cukup be…beritahu padaku, apa…apakah Sim-site juga…juga telah dicelakai me…mereka?”

Dengan sedih si Darah Dingin tertunduk, dia membungkam diri.

Dengan mata berkaca-kaca Leng Giok-siu berbisik, “A…aku…aku suu…sudah tahu…terima…terima kasih…kau telah…telah membalaskan den…dendam sakit hati ka…kami lima bersaudara…Kini mere…mereka suu…sudah mati semua…biar aku…aku hidup juga tak…tak ada artinya…saudara Leng…aku mohon sa…satu hal kepa…damu

“Apa? Cepat katakan!”

“Ce…cepat am…ambilkan ka…kain i…itu pinta Leng Giok-siu dengan napas tersengal.

Dengan sebuah gerakan cepat si Darah Dingin merobek kain kuning yang ada dalam ruangan itu.

Leng Giok-siu segera meronta bangun, lalu dengan tangan yang penuh belepotan darah, ia mulai menulis di kain itu. Sambil menulis ia berkata dengan gemetar, “…Aku…mungkin aku tak…tak mampu menghadap ke…ke pengadilan lagi…akan…akan kutulis suu…surat berdarah ini…akan kubeberkan…se…semua do…dosa yang te…telah dilakukan Liu Ce-in ber…bertii…tiga.

Dengan mengerahkan segenap sisa kekuatan yang dimilikinya, Leng Giok-siu menyelesaikan tulisan darahnya. Ketika selesai menulis, akhirnya dia roboh terkapar dengan lemas.

Ketika si Darah Dingin menerima surat berdarah itu, dengan sorot mata sayu Leng Giok-siu memandang sekejap ke arahnya, kemudian dengan senyum di kulum ia berkata, “…Liu…Ce-in bilang…kau…kau adalah pem…pembunuhnya…tapi aku…aku tak percaya…aku tak…tak bakal percaya.”

“Aku tahu, aku tahu,” dengan mata berkaca si Darah Dingin mengangguk berulang kali.

Ketika ia mengucapkan “aku tahu,” Leng Giok-siu pun tersenyum sambil memejamkan mata, memejamkan mata untuk selama-lamanya…

Begitulah nasib Lima naga sakti dunia persilatan, mereka terbunuh semua di tangan ketiga ahli waris si Iblis pedang darah terbang.

Tapi ahli waris si Iblis pedang yaitu Liu Ce-in, Ceng Ci-tong serta Ko San-cing harus mengorbankan pula nyawa mereka untuk menyelesaikan tugas itu.

Orang bilang “Tak seorang pun yang bisa lolos dari Hukum Langit…”

Tapi masalahnya, sampai kapan orang itu tahu tidak bisa lolos?

Dalam hati kecilnya, Darah Dingin berusaha mengulang kembali kata-kata terakhir Leng Giok-siu menjelang ajal.

“…Dia bilang kau…kau adalah pem…pembunuhnya…tapi aku…aku tak percaya…aku tak…tak bakal percaya…”

Akhirnya butiran air mata jatuh bercucuran membasahi pipinya. Tapi bagaimana pula dengan air mata di dalam hati kecilnya?

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: