Kumpulan Cerita Silat

18/09/2009

Pendekar Baja (19)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 9:57 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

Salju kembali turun lagi.

Meski tidak rendah ginkang Cu Jit-jit, tapi dia memanggul seorang lelaki, betapa pun gerak-geriknya tidak leluasa. Dengan sendirinya Ong Ling-hoa yang dibungkus dengan selimut dan dipanggul itu juga tidak enak rasanya.

“Nona hendak membawaku ke mana?” tanya Ong Ling-hoa akhirnya.

“Orang yang berhak bicara dan memberi perintah di sini ialah diriku, tahu?” jawab Jit-jit. “Maka ke mana pun akan kubawa dirimu bagimu lebih baik tutup mulut saja.”

“Menurut,” sahut Ling-hoa sambil menyengir.

Jit-jit memandang sekitarnya, suasana sunyi tiada tertampak apa pun. Diam-diam ia rada gelisah, berkeliaran kian-kemari dengan memanggul seorang lelaki betapa pun bukan pekerjaan yang enak.

Akhirnya sampailah di suatu tempat, dilihatnya bekas roda kereta bersimpang-siur, agaknya dia sudah sampai di jalan raya. Hendaklah maklum, jalan raya sudah tertutup oleh salju sehingga sukar untuk mengenali jalan bila tidak ada bekas roda kereta.

Jit-jit mendapatkan sepotong batu di bawah pohon yang sudah layu, di situ ia duduk mengaso, Ong Ling-hoa dilemparkan di tepi jalan.

Ong Ling-hoa memang tahan uji, dia diam saja diperlakukan bagaimanapun oleh Cu Jit-jit, sebaliknya ia tetap tersenyum simpul biarpun mukanya serasa beku kedinginan, dengan sendirinya senyumnya lebih tepat dikatakan menyengir.

Selang tidak lama, tertampak sebuah kereta besar datang dari kejauhan.

Mendadak Jit-jit membentak sehingga perlahan kereta yang sudah mendekat itu dihentikan.

Belum lagi kusirnya bicara, sebuah kepala menongol keluar dari kabin kereta dan menegur, “He, ada apa berhenti? Lekas jalan, kereta ini sudah kuborong, tidak terima penumpang lagi.”

Tapi Jit-jit tidak banyak cincong lagi, ia terus membuka pintu kereta seperti keretanya sendiri. Tertampaklah tiga orang lelaki berdandan kaum pedagang duduk di dalam, seorang di antaranya terasa sudah kenal, tapi Jit-jit tidak memerhatikannya, ia membentak, “Turun semuanya, lekas!”

Salah seorang lelaki yang bermuka bundar bertanya dengan terkejut, “Turun? Ada apa turun?”

“Kalian bertemu dengan bandit, tahu?” bentak Jit-jit pula.

“Ban…bandit? Di mana?” orang itu bertanya pula dengan khawatir.

“Aku inilah banditnya?” kata Jit-jit sambil menuding hidungnya sendiri.

Melihat pada pinggang orang tergantung sebilah golok, “cring”, segera Jit-jit menariknya, golok itu ditekuk ke atas dengkul dan “krek” kontan golok itu patah menjadi dua.

Muka ketiga lelaki itu menjadi pucat, mereka tidak berani bicara lagi, buru-buru mereka memberosot keluar kereta.

Segera Jit-jit meraih Ong Ling-hoa dan dilemparkan ke dalam kereta, lalu berseru, “Lekas larikan keretamu, kusir!”

Agaknya si kusir menjadi bingung juga karena ketakutan, “Ya…ya, Nona…tidak, Tay-ong (raja, sebutan kepada kaum bandit), ke…ke mana?”

“Langsung saja ke depan, bila perlu akan kuberi tahukan nanti,” bentak Jit-jit.

Segera kereta itu dilarikan dengan cepat, ketiga lelaki tadi ditinggalkan begitu saja di bawah hujan salju.

“Hehe, Tay-ong…” gumam Ong Ling-hoa dengan tertawa. “Tak tersangka nona manis telah berubah menjadi Tay-ong.”

Jit-jit menarik muka dan tidak menggubrisnya.

Padahal ia pun merasa geli sendiri bila teringat kepada apa yang diperbuatnya tadi, sebelum ini mimpi pun tak terpikir olehnya akan terjadi begini.

Setengah hari sebelum ini Sim Long masih berada di sisinya.

Teringat kepada Sim Long, bila anak muda itu tahu apa yang dilakukannya ini entah bagaimana perasaannya, mungkin juga dia akan tertawa geli.

Tapi di manakah Sim Long saat ini? Mana dia dapat melihat apa yang dilakukannya?

Begitulah perasaan Cu Jit-jit kembali bergolak, sebentar sedih, lain saat gembira.

“Apa pun juga saat ini Ong Ling-hoa telah jatuh dalam tanganku, dia pasti akan tunduk kepadaku bila tidak ingin kusiksa, dia orang pintar, tentu dapat kulakukan macam-macam urusan yang mengejutkan Sim Long, kelak dia pasti akan tahu juga kelihaianku,” demikian Jit-jit berpikir.

Sampai di sini, ia jadi bersemangat, segera ia berteriak pula, “Hai, kusir, percepat lari kudamu supaya lekas sampai di kota, sebentar boleh cari hotel terbesar untuk mengaso, banyak bekerja sedikit bicara, tentu akan kuberi persen lebih banyak.”

Akhirnya kereta benar berhenti di depan sebuah hotel besar.

Dari saku Ong Ling-hoa dapatlah Jit-jit melolos keluar segebung uang kertas, nilai nominal yang paling kecil adalah lima ratus tahil perak. Begitu saja dia beri selembar kepada kusir.

Tentu saja hal ini membuat si kusir melongo kaget dan kegirangan.

“Tutup mulut yang rapat, tahu? Kalau tidak, jiwamu bisa melayang!” kata Jit-jit dengan suara tertahan.

Si kusir merasa seperti baru bermimpi, mimpi pertama terasa buruk, tapi kemudian jadi mimpi mujur. Dengan begini, sampai tua dia tidak perlu menjadi kusir lagi.

Sesudah masuk hotel, Jit-jit berikan sehelai cek yang bernominal seribu tahil perak sebagai deposito di tempat kasir, pesannya, “Taruh dulu di sini, pakai berapa nanti, sisanya baru kembali, potong dulu 20 tahil sebagai tip untuk semua pegawai di sini, berikan dua kamar kelas satu, usung orang sakit di dalam kereta ke dalam kamar.”

Seribu tahil perak itu serupa sebuah cambuk, seluruh pekerja hotel itu, dari kasir sampai pelayan, semuanya telah dibuat tunduk habis-habisan. Dalam sekejap saja segala apa yang diperlukan telah siap seluruhnya.

Lalu Jit-jit memberi perintah pula kepada pelayan agar membelikan beberapa pasang baju lelaki dan perempuan, lalu menyewakan sebuah kereta agar setiap saat menunggu untuk dipakai.

Uang memang serbaguna, dalam waktu singkat saja pesannya sudah dipenuhi.

“Wah, Nona sungguh royal sekali,” ucap Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Kan uangmu, tentunya hatimu sakit, bukan?” jawab Jit-jit.

“Tidak, tidak sakit, aku sendiri tidak mampu berkutik, kenapa merasa sakit? Jangankan Nona cuma memakai uangku, dagingku kau potong juga boleh.”

“Hm, cukup tahu diri juga,” jengek Jit-jit. “Sekarang hendak kutanya padamu, jika kusuruh kau kerjakan sesuatu, kau tunduk atau tidak? Asalkan kau mau menurut, jiwamu ada harapan akan kuampuni.”

“Perintah apa pun dari Nona pasti akan kukerjakan,” jawab Ong Ling-hoa.

“Baik, pertama kali, lekas kau ganti rupamu sendiri,” kata Jit-jit. “Jangan bekernyit kening, kutahu kotak rias selalu kau bawa, hal ini tentu dapat kau kerjakan.”

“Memangnya Nona menghendaki kuganti rupa bagaimana?” tanya Ling-hoa.

Biji mata Jit-jit berputar, katanya kemudian, “Ganti rupa sebagai perempuan.”

Ong Ling-hoa melengak, “Perem…perempuan?”

“Ya. Memangnya kenapa, engkau tidak mau?”

“Aku…aku khawatir tidak bisa mirip,” sahut Ong Ling-hoa dengan muka bersungut.

“Pasti mirip,” ujar Jit-jit. “Memangnya engkau rada mirip anak perempuan. Nah, lekas keluarkan kotak rias, akan kubuka hiat-to kelumpuhanmu supaya dapat bergerak setengah badan, hendaknya lekas kau bekerja.”

“Nona minta kuganti rupa anak perempuan yang bagaimana?”

“Umpamanya bermuka…bermuka putih beralis lentik, tapi dalam keadaan lesu seperti…seperti sakit tebese, dan…dan tentu saja rambutnya harus kusut.”

Muka Ong Ling-hoa memang rada mirip anak perempuan dan agak kepucat-pucatan sehingga serupa orang yang berpenyakitan setelah berias. Jit-jit memandangnya dengan tersenyum, sebaliknya Ong Ling-hoa jadi menyengir.

Jit-jit lantas memilih seperangkat baju, katanya dengan tertawa, “Baju ini disangka pelayan akan kupakai, tak tahunya engkau yang memakainya.”

“Lantas apa pula perintah Nona?” tanya Ling-hoa dengan menahan rasa dongkol.

“Kau pun harus merias diriku.”

“Nona ingin ganti rupa apa?”

“Berubah menjadi lelaki.”

Ong Ling-hoa melengak, “Le…lelaki bagaimana?”

“Lelaki muda yang cakap, supaya tergila-gila tiap gadis yang melihatku. Tapi tidak berbau perempuan agar tidak diketahui orang. Kan cara bicara dan gerak-gerikku juga rada mirip anak lelaki?”

“Wah, alangkah baiknya jika aku tidak paham ilmu rias,” ujar Ong Ling-hoa dengan menyesal.

“Hm, jika engkau tidak paham rias, sudah lama kubinasakan kau,” jengek Jit-jit.

—–

Setelah menyamar, Jit-jit memang mirip anak muda yang tampan.

Ia geli sendiri ketika bercermin, gumamnya, “Wahai Sim Long, bila sekarang kita berebut seorang gadis, tentu engkau tak bisa mengalahkan diriku…”

Teringat kepada Sim Long, dari geli ia jadi menyesal lagi.

Hari sudah gelap. Tapi suasana masih ramai, suara roda kereta dan ringkik kuda masih terus berkumandang dari luar.

Mendadak Jit-jit membuka pintu dan memanggil pelayan.

Dengan hormat pelayan mendekati si nona. Waktu diketahui yang berhadapan dengan dia adalah seorang kongcu, ia jadi melengak, katanya dengan menyengir, “O, ki…kiranya Kongcu sudah sembuh. He, nona itu berbalik jatuh sakit?”

Jit-jit tahu orang menyangka dirinya adalah Ong Ling-hoa yang terbungkus selimut tadi, ia merasa kebetulan, dengan tertawa ia menjawab, “Ya, dia sakit. Eh, ingin kutanya padamu, mengapa hotelmu seramai ini?”

“Hotel kami biasanya memang cukup ramai, tapi juga jarang seramai sekarang ini, entah mengapa selama dua hari ini tamu yang datang jauh lebih banyak daripada biasanya. Kedua kamar untuk Kongcu ini pun khusus dikosongkan untukmu,” demikian tutur si pelayan.

“Rombongan tamu macam apakah?” tanya Jit-jit pula.

“Tampaknya kebanyakan adalah pengawal barang,” tutur pelayan. “Ai, mereka bukan orang berkedudukan seperti Kongcu sehingga kurang tertib, untuk ini diharap Kongcu suka memakluminya.”

“Baiklah, sudah jelas, pergilah,” kata si nona.

Pelayan lantas mengundurkan diri, diam-diam ia heran mengapa yang lelaki sembuh secepat itu dan yang perempuan mendadak jatuh sakit, caranya membuang uang seperti khawatir uang tidak laku lagi, sebaliknya baju saja tidak bawa sendiri dan harus membeli. Tapi, peduli amat, yang penting persennya gede, biar aku berlagak bisu dan buta saja.

Sesudah tutup pintu kembali, Jit-jit lantas tanya Ong Ling-hoa, “Hai, di kota ini mendadak berkumpul orang Kangouw sebanyak ini, tentu akan terjadi apa-apa lagi. Sesungguhnya ada peristiwa apa, coba ceritakan.”

“Dari mana kutahu,” jawab Ong Ling-hoa.

“Masa engkau tidak tahu?”

“Dunia seluas ini dan setiap hari bisa terjadi apa pun, masa semuanya dapat kuketahui?”

Jit-jit mendengus. Tiba-tiba teringat sesuatu olehnya, tanyanya pula, “Coba jelaskan, sebab apa rombongan Can Ing-siong begitu tiba di Jin-gi-ceng lantas mati semua?”

“Oo, ini…ini pun aku tidak tahu,” sahut Ong Ling-hoa.

“Bukan permainanmu?” bentak Jit-jit.

“Ai, saat ini aku berada dalam cengkeramanmu, mati-hidupku bergantung di tangan Nona, apa yang Nona minta kukerjakan masakah berani kutolak, apa yang Nona tanya tentu juga kujawab. Tapi bila yang kau tanya memang tidak kuketahui, lalu apa yang harus kukatakan, biar mati pun tidak dapat kujelaskan.”

“Hm, pada suatu hari pasti dapat kubikin kau bicara segalanya, sekarang belum tiba saatnya,” jengek Jit-jit.

Setelah berpikir sejenak, mendadak ia membuka pintu pula dan memanggil pelayan.

Kedatangan pelayan sekali ini terlebih cepat dan bertanya, “Kongcu ada perintah apa?”

“Coba carikan sebuah joli dan dua orang bibi pengusung joli, aku mau membawa keponakan perempuanku berkeliling kota, supaya dia mendapat hawa segar dan melihat pemandangan. Nah, lekas!”

Cepat pelayan mengiakan dan berlari pergi.

Sesudah pelayan pergi, Ong Ling-hoa berseloroh, “Keponakan perempuan? Ai, apakah keponakan serupa diriku tidak terlalu besar bagimu? Kenapa tidak kau katakan tacimu atau adikmu? Apalagi kalau kau bilang istrimu, tentu orang akan lebih percaya.”

“Apakah mukamu sudah gatal dan minta digampar lagi?” ancam Jit-jit.

“Aku…aku hanya khawatir orang lain tidak percaya…”

“Jika tidak kukatakan engkau ini cucu perempuanku kan sudah baik bagimu?” jengek Jit-jit. “Nah, sebentar akan kubawa pesiar dirimu, akan kututuk hiat-to kelumpuhan dan bisumu agar engkau tidak banyak bertingkah.”

“Silakan berbuat saja sesukamu, masakah perlu kau katakan padaku?” ujar Ling-hoa sambil menyengir.

—–

Joli yang disewa terbuat dengan kecil mungil dan cukup empuk, tanpa susah payah dua orang bibi kekar itu dapat mengusungnya. Ong Ling-hoa ditutup dengan selimut, hanya kepala saja yang menongol di luar, duduk di dalam joli tanpa bisa berkutik.

Jit-jit memandangnya dua-tiga kejap, diam-diam ia merasa geli juga, pikirnya, “Oi, Ong Ling-hoa, biasanya kau suka siksa orang, sekarang kau pun rasakan bagaimana enaknya tersiksa.”

Ong Ling-hoa memang tersiksa, tapi bagaimana perasaannya tidak ada yang tahu.

Joli berjalan di depan, Jit-jit ikut di belakang, mereka terus putar kayun menyusuri jalan raya dengan perlahan.

Kota ini memang cukup ramai, pasar malam baru mulai, yang berlalu-lalang di jalan raya memang tidak sedikit jago dunia persilatan, tapi tiada seorang pun dikenal Cu Jit-jit.

Dilihatnya wajah para jago persilatan itu sama berseri-seri, hal ini menandakan umpama terjadi sesuatu di kota ini tentu juga bukan peristiwa buruk.

Sekonyong-konyong dari jalan simpang sana muncul dua orang. Seorang lelaki bermuka merah ungu, hidung besar serupa hidung singa, alis tebal dan mata besar, perawakan kekar dan berjubah sutra ungu, kelihatan gagah perkasa.

Seorang lagi perempuan. Bentuk perempuan ini sungguh tidak serasi berdampingan dengan si lelaki. Dia jauh lebih pendek, perawakannya boleh dikatakan seperti segumpal daging, malahan pada pipinya memang tumbuh segumpal daging kecil atau sejenis uci-uci.

Kedua orang yang tidak serasi ini berjalan bersama, tentu saja sangat mencolok dan membuat orang heran dan geli.

Tapi setiap orang persilatan yang melihat kedua orang ini sama sekali tidak berani memperlihatkan rasa geli mereka, malahan bila bertemu lantas memberi hormat.

Kedua orang ini juga dikenal oleh Cu Jit-jit, ia heran, “Mengapa si Singa jantan Kiau Ngo dan si Khong Bing betina Hoa Si-koh juga berada di sini?”

Dilihatnya Kiau Ngo dan Hoa Si-koh tidak menghiraukan orang-orang yang sama menyapa dan memberi hormat kepada mereka. Terlebih Hoa Si-koh, perhatiannya hanya tercurah kepada Kiau Ngo seorang saja.

Meski bentuk perempuan ini sangat jelek tapi dandanannya tampak lebih bersih dan rajin daripada dahulu, mukanya juga kelihatan cemerlang.

Hanya memandang sekejap saja Cu Jit-jit lantas tahu itulah kecemerlangan cinta, sebab ia sendiri pun pernah mengalami rasa bahagia demikian, walaupun sekarang hal itu dirasakan hambar, bahkan pahit.

Meski heran, diam-diam Jit-jit juga bergirang bagi mereka. Biarpun Hoa Si-koh bukan wanita cantik, tapi dia terkenal sebagai perempuan cendekia, dan hanya perempuan cendekia saja yang pantas berjodohkan pahlawan.

Mereka bersimpang jalan dengan Cu Jit-jit, sesudah berhadapan, mereka hanya memandang sekejap saja kepada Jit-jit dan tidak lebih. Nyata ilmu rias Ong Ling-hoa memang sangat hebat dan dapat mengelabui siapa pun.

Sesudah lewat, masih juga Jit-jit menoleh, dilihatnya Kiau Ngo berdua telah masuk ke sebuah restoran, namanya Wat-pin-lau.

Dalam pada itu didengarnya orang berlalu banyak yang kasak-kusuk membicarakan Kiau Ngo berdua, ada yang memberitahukan kepada kawan yang tidak tahu bahwa Kiau Ngo dan Hoa Si-koh adalah dua di antara ketujuh tokoh terkemuka dunia persilatan saat ini.

Diam-diam Jit-jit membatin, “Nama ketujuh tokoh besar dunia persilatan memang cukup gemilang, cuma sayang di antaranya terdapat juga manusia kotor serupa Kim Put-hoan.”

Tiba-tiba timbul pikiran Jit-jit, katanya kepada kedua bibi pengusung joli, “Kita juga masuk ke restoran itu, bawalah Nona ke atas.”

Dalam pada itu sorot mata Ong Ling-hoa juga berubah seperti melihat seseorang tokoh yang aneh. Cuma dia tertutuk hiat-to bisunya sehingga tidak mampu bersuara.

Restoran Wat-pin-lau memang sangat luas, ratusan tamu ternyata belum lagi memenuhi ruangannya.

Kiau Ngo dan Hoa Si-koh berduduk di meja dekat jendela, inilah tempat pilihan, jelas ada orang sengaja mengalah kepada mereka.

Waktu Jit-jit naik ke atas loteng restoran, terasa pandangan kedua orang yang tajam itu meliriknya sekejap, habis itu keduanya lantas berbisik entah apa yang dibicarakan.

Jit-jit anggap tidak tahu, ia memilih sebuah meja di kejauhan sana, kedua bibi pengusung mengangkat Ong Ling-hoa dan didudukkan di samping si nona.

Dandanan mereka tidak mirip orang Kangouw sehingga tidak menarik perhatian orang lain. Tiba-tiba terdengar orang di meja samping mereka sedang bicara, “Tak tersangka urusan ini telah banyak mengejutkan orang, sampai kedua tokoh itu pun muncul di sini.”

Yang bicara ini dirasakan Jit-jit seperti sudah pernah dilihatnya, cuma lupa entah di mana. Orang ini bermuka putih, bibir merah dan gigi rajin, bajunya juga bersih, boleh dikatakan cukup tampan.

Lalu seorang lagi menanggapi, “Urusan ini memang tidak boleh diremehkan, menurut pendapatku, kecuali mereka berdua tentu akan datang lagi tokoh-tokoh lain, boleh kau lihat saja nanti.”

Jit-jit lagi memilih santapan, diam-diam ia heran urusan apakah yang dimaksudkan mereka dan mengapa sampai mengagetkan para tokoh Kangouw?

“Ya, setiap orang Bu-lim yang berkunjung ke kota ini tentu akan masuk ke Wat-pin-lau ini, biarpun hidangan di sini mahal dan tidak enak juga bukan soal, betapa pun harus menghormati pemiliknya,” ujar pemuda pertama tadi.

Kembali Jit-jit merasa heran, siapakah pemilik restoran ini, apakah juga kesatria yang ternama?

Ia coba menyapu pandang para tamu, dilihatnya sebagian besar tamunya memang terdiri dari orang Kangouw. Dari pakaian mereka tidak sulit untuk mengetahui siapa mereka.

Di antara berbagai bentuk tetamu itu, Jit-jit merasa tidak ada seorang pun yang menonjol. Tapi mendadak dilihatnya satu orang, seketika ia tertarik.

Bentuk orang ini juga tidak luar biasa, bahkan di antara para tamu bentuknya boleh dikatakan sangat umum. Tapi entah mengapa, di tengah kewajaran orang ini seakan-akan ada sesuatu yang luar biasa dan tidak umum.

Dalam hal apa dirasakan luar biasa, Jit-jit sendiri tidak dapat menjelaskan.

Usia orang ini kira-kira setengah abad, mukanya kuning, alisnya halus dan matanya kecil, berjenggot jarang-jarang seperti bandot atau kambing tua, memakai baju kulit yang sudah agak lusuh.

Tampaknya orang ini cuma seorang pedagang biasa, atau mungkin seorang pensiunan pegawai negeri, karena hawa dingin, maka minum arak sekadar menghangatkan badan.

Takaran minum arak orang ini sungguh hebat. Jika dibilang ada sesuatu yang luar biasa dan aneh pada orang ini, maka di sinilah letak keanehan itu.

Di depan mejanya tertaruh dua macam hidangan, tapi poci arak yang tersedia adalah tujuh atau delapan buah, cawan arak juga sama banyaknya.

Caranya minum arak sungguh asyik dan lain daripada yang lain, dengan sebelah tangan membelai jenggotnya, tangan yang lain memegang cawan arak, mata setengah terpicing seperti lagi menikmati betapa rasanya arak ini, lalu tersenyum dan manggut-manggut, terkadang juga berkerut kening dan menggeleng kepala.

Nyata isi beberapa poci arak itu berbeda-beda, jadi dia sedang menikmati rasa arak yang berlainan itu. Dia khawatir rasa arak terbaur, maka menggunakan beberapa cawan untuk mengisi setiap jenis arak yang diminumnya.

Tampaknya dia cuma seorang kakek yang gemar minum arak tapi juga ahli minum, orang lain takkan berbuat jahat padanya, dia juga tidak memperlakukan jahat kepada orang lain.

Tapi entah mengapa, setelah memandangnya beberapa kejap, mendadak timbul semacam rasa muak, jemu dan juga jeri dalam hati Jit-jit, dia sendiri tidak tahu mengapa bisa timbul perasaan demikian. Ia merasa tidak ingin memandangnya lagi, rasanya kalau memandangnya lagi mungkin akan mendatangkan sesuatu malapetaka baginya.

Perasaan aneh Cu Jit-jit ini entah juga dirasakan orang lain atau tidak, yang jelas si kakek seperti sudah tenggelam dalam isi cawannya, sama sekali ia tidak peduli bagaimana perasaan orang lain terhadapnya.

Ternyata Ong Ling-hoa pun sedang menatap orang tua itu dengan sorot mata yang aneh juga.

Dengan suara tertahan Jit-jit bertanya, “Apakah kau kenal orang itu?”

Ling-hoa menggeleng.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar serentetan gelak tertawa di bawah loteng.

Seorang lagi berkata, “Mengapa sekian lama Toako tidak kelihatan, sungguh kami sangat merindukan Toako. Bilamana Toako telah hidup bahagia, seharusnya berita ini disampaikan kepada kami.”

“Bahagia kentut,” demikian seorang lagi menanggapi dengan tertawa. “Selama dua hari ini aku berlari kian-kemari, kalau tidak bertemu dengan Nio Ji mungkin takkan tahu kalian berada di sini.”

Belum lagi Jit-jit melihat orang yang bicara itu, cukup dari suara tertawanya yang riang itu sudah diketahuinya siapa dia. Seketika hatinya terasa hangat, serupa habis minum sepoci arak.

Ong Ling-hoa juga tahu siapa orang itu, diam-diam ia berkerut kening.

Kiranya orang ini ialah Him Miau-ji alias si Kucing.

Di tengah gelak tertawa, beberapa lelaki berkopiah miring dan berjaket yang sengaja diterbalikkan muncul ke atas loteng mengiringi Him Miau-ji yang berwajah cerah.

Pelayan restoran juga berkerut kening. Wat-pin-lau ini bukan sembarangan restoran, meski mereka tidak menolak kunjungan kaum kesatria Kangouw, tapi kawanan bajul begini mengapa sekarang juga berani masuk ke restoran ini?

Beberapa pelayan saling memberi isyarat, dua orang lantas memapak kedatangan mereka, seorang lagi berlari ke dalam untuk melapor.

Segera hati Cu Jit-jit bergembira. Ia tahu bakal melihat tontonan menarik lagi.

Dada baju Him Miau-ji tampak setengah terbuka, sebuah buli-buli arak tergantung di pinggangnya, matanya yang besar dan terang itu sedang memandang kian-kemari.

Sesudah berhadapan, dengan senyum yang dibuat-buat si pelayan berkata, “Maaf, sudah penuh semua tempat duduk, silakan berkunjung ke tempat lain saja.”

Alis si Kucing yang tebal itu menegak, katanya, “Bukankah di sana masih ada tempat kosong?”

“Tempat itu sudah dipesan orang,” sahut pelayan dengan dingin.

Seorang lelaki tegap di samping si Kucing menjadi marah, teriaknya, “Siapa yang pesan? Dasar mata anjing suka menilai rendah orang kecil, tuan besar juga punya uang perak, kenapa kau tolak kami?”

“Jika punya uang boleh silakan digunakan di tempat lain saja, seumpama masih ada tempat kosong juga takkan kuberikan padamu, memangnya kau mau apa?”

Lelaki itu meraung murka dan menubruk maju terus menjotos. Ternyata si pelayan juga bisa dua-tiga jurus, dengan gesit ia sempat mengelak.

Serentak pelayan yang lain membanjir tiba, kawanan lelaki kekar itu pun menyingsing baju dan mendelik, sambil mencaci maki kedua pihak lantas saling labrak.

Tapi baru saja saling genjot beberapa kali, beberapa pelayan mendadak mencelat satu per satu, semuanya terlempar ke luar loteng.

Diam-diam Jit-jit berkeplok gembira, “Aha, si Kucing telah turun tangan!”

Semula para tamu tidak memerhatikan perkelahian itu, tapi sekarang mereka sama melengak, perhatian mereka lantas terpusat ke arah si Kucing.

Si Kucing masih tertawa haha-hihi seperti tidak terjadi sesuatu, katanya, “Haha, mari kita mencari tempat duduk sendiri, kalau tidak ada pelayan, biarlah kita makan minum melayani diri sendiri, yang pasti hari ini kita akan makan di restoran Wat-pin-lau ini.”

“Betul, mari kita makan minum melayani diri sendiri,” seru orang banyak.

Tiba-tiba pemuda tampan di meja sebelah Jit-jit berkata dengan tertawa, “Sungguh lelaki yang gagah dengan kungfu yang hebat.”

Tapi kawannya lantas menanggapi, “Meski gagah dan hebat, bisa jadi sebentar lagi dia akan menghadapi kesulitan.”

Dalam pada itu semua orang sudah melihat dari belakang telah muncul beberapa orang. Him Miau-ji juga melihatnya, seketika ia berhenti di tempat.

Suasana gaduh di atas restoran segera berubah sunyi.

Mestinya Jit-jit ingin bertaruh dengan orang di meja sebelah bawah Him Miau-ji pasti takkan menghadapi sesuatu kesulitan. Tapi demi melihat kemunculan beberapa orang dari ruang dalam itu, seketika bergetar juga hatinya, mestinya dia mau bicara, tapi urung.

Didengarnya pemuda cakap di meja sebelah lagi mendesis, “Aneh, mengapa dia juga berada di sini.”

“Ya, memang rada aneh,” sahut temannya. “Meski dia pemilik restoran ini, tapi sepanjang tahun hampir tidak pernah berkunjung kemari. Sungguh tak terduga hari ini dia juga datang kemari.”

“Jika dia di sini, pemuda sembrono itu mungkin benar akan menghadapi kesulitan,” ujar pemuda tampan itu.

“Dia” yang dimaksudkan mereka jelas adalah seorang yang muncul paling depan dari ruangan dalam restoran. Pengikut yang lain ada enam atau tujuh orang.

Perawakan orang yang dimaksud ini tidak terlalu kekar, namun perbawanya sungguh luar biasa. Dia memakai baju panjang biru, meski tidak mewah, namun potongannya sangat pas dengan tubuhnya sehingga sangat enak dipandang.

Usianya jelas tidak muda lagi, tapi juga belum terlalu tua, mukanya tidak terlalu putih dan juga tidak hitam. Matanya tidak tergolong besar, namun sinar matanya membuat orang sungkan memandangnya.

Di atas bibirnya ada kumis tipis dan terawat rajin, karena kumis inilah membuat wajahnya yang kereng itu kelihatan agak menarik.

Pada tubuhnya tidak terdapat sesuatu benda yang berharga, tapi setiap orang asalkan memandangnya sekejap pasti dapat melihat dia berasal dari keluarga kaya raya.

Dalam keadaan dan di tempat begini mendadak muncul seorang tokoh seperti ini, tentu saja sangat menarik perhatian orang. Baik kenal maupun tidak, semuanya sama memperkirakan si pemuda sembrono alias si Kucing pasti akan rasakan akibatnya.

Tapi Him Miau-ji tetap berseri, matanya yang besar tetap menatap orang tanpa berkedip, betapa tajam pandangan orang juga tidak membuatnya gentar.

Tapi pandangan si baju biru tidak cuma menatap Him Miau-ji saja, ia menyapu pandang seluruh ruangan restoran dan menegur sapa kepada setiap orang yang dikenalnya, katanya dengan tertawa, “Ai, para sahabat sudi berkunjung, sepantasnya kusambut sejak tadi, cuma…”

“Haha, kau khawatir sahabatmu minta dijamu olehmu, dengan sendirinya kau main sembunyi dan pura-pura tidak tahu,” mendadak si Kucing menyela dengan tertawa.

Si baju biru berlagak tidak mendengarnya, sambungnya, “Jika ada pelayanan yang kurang lengkap, mohon sudi dimaafkan…”

“Pelayanan di sini memang tidak lengkap, juga tidak dapat dimaafkan,” tukas si Kucing lagi.

“Silakan saudara makan minum dengan tenang…”

Belum lanjut ucapan si baju biru, segera si Kucing memotong lagi, “Jika di sini ada orang berkelahi, cara bagaimana bisa makan minum dengan tenang?”

Meski setiap kali bicara selalu dipotong oleh si Kucing, namun si baju biru sama sekali tidak memperlihatkan rasa gusar, hanya sorot matanya mulai beralih ke arah Him Miau-ji.

“Lihat apa? Apa tidak kenal?” tanya si Kucing.

“Ya, memang terasa asing,” kata si baju biru.

“Haha, tidak kenal lebih baik, kalau kenal tentu tidak jadi berkelahi,” seru si Kucing dengan tertawa.

“Jika Anda ingin berbuat lain mungkin ada kesukaran, kalau mau berkelahi, hal ini sangat gampang. Cuma di sini penuh tetamu, marilah kita turun…”

“Apa artinya berkelahi tanpa penonton?”

Air muka si baju biru rada berubah, “O, jadi kedatanganmu ini memang sengaja mencari perkara padaku.”

“Kau ganggu pihakku, dengan sendirinya kucari perkara padamu.”

“Hahaha, bagus! Aku…”

“Tak perlu kau sebut namamu yang besar,” sela si Kucing. “Jika sengaja hendak kucari perkara padamu, peduli siapa kau toh pasti akan kulabrak juga. Apa gunanya kau sebutkan namamu segala?”

“Hm, alangkah pongahnya anak muda ini!” teriak si baju biru dengan gusar.

“Orang tidak mengganggu diriku, aku pun takkan merecoki orang, jika orang berbuat salah padaku, maka kutanggung takkan pernah ada kompromi.”

Dua lelaki kekar yang berdiri di samping si baju biru tidak tahan lagi, sambil meraung mereka menubruk maju, empat kepalan besar terus memburu ke atas kepala si Kucing sambil membentak, “Turun!”

Baru lenyap suaranya, benar juga segera ada orang turun. Tapi bukan Him Miau-ji melainkan kedua lelaki itu yang terguling ke bawah loteng.

Rupanya waktu pukulan kedua orang itu menyambar tiba, sekali tangan si Kucing menangkis, seketika tangan kedua orang itu serasa membentur tiang besi, sekujur badan lantas kaku, kesempatan itu digunakan oleh si Kucing untuk mencengkeram pergelangan tangan mereka, sekali tarik terus didorong lagi, kontan tubuh kedua orang yang besar itu mencelat dan terguling ke bawah.

Tentu saja kejadian ini sangat menggemparkan para penonton, sampai Kiau Ngo dan Hoa Si-koh juga berdiri, ingin melihat lebih jelas bagaimana bentuk anak muda yang perkasa ini.

Serentak anak buah Him Miau-ji bersorak gembira.

Hanya si kakek yang di depannya tertaruh beberapa poci arak itu masih tetap adem ayem dan asyik menikmati araknya sendiri.

“Bagaimana, apakah giliranmu sekarang?” tanya si Kucing terhadap si baju biru.

Tanpa bicara, perlahan si baju biru menanggalkan bajunya, dilipatnya dengan hati-hati, lalu diserahkan kepada seorang pengikutnya, habis itu baru berkata, “Silakan!”

Menghadapi pertarungan maut, si baju biru masih tetap tenang saja, seperti yakin dirinya pasti akan menang. Kalau tidak masakah dia dapat bertindak sesabar ini?

Si Kucing tertawa, “Haha, mau berkelahi boleh turun tangan saja, pakai silakan apa segala? Dalam hatimu tentu ingin sekali jotos membikin hidungku peyot, tapi di mulut kau bicara seramah ini, kita kan tidak ingin berbesanan?”

“Apakah sudah pasti engkau tak mau turun tangan lebih dulu?” tanya si baju biru.

“Setiap kali berkelahi, aku memang tidak pernah menyerang lebih dulu,” sahut si Kucing dengan tertawa.

“Apa betul?” si baju biru menegas.

“Kalau kukatakan begitu, tentu saja betul,” kata si Kucing. “Nah, aku berdiri di sini, sekujur badanku terbuka, silakan kau pilih, mana suka bagian yang hendak kau pukul.”

Si baju biru tidak memukul seperti apa yang diminta si Kucing, sebaliknya ia mengawasinya dari kepala sampai ke kaki, lalu dari kaki ke kepala, kemudian ia membalik tubuh, diambilnya kembali bajunya dari pengiringnya tadi, baju dikebut, perlahan lantas dipakai kembali.

Keruan si Kucing berbalik heran, “Hei, apa-apaan kau ini?”

Dengan kalem si baju biru menjawab, “Jika berkelahi, selamanya aku pun tidak pernah menyerang lebih dulu. Jika engkau juga tidak mau menyerang dulu dan aku pun sama lalu cara bagaimana perkelahian ini dapat berlangsung?”

Dia lantas mengangkat kedua tangan ke atas dan memberi hormat kepada para tamu, serunya dengan tertawa, “Silakan hadirin duduk kembali dan makan minum sepuasnya, semua rekening biar dihitung atas bebanku.”

Habis berkata ia lantas masuk kembali ke ruangan dalam.

Tindakan ini sungguh sangat di luar dugaan siapa pun, bukan saja Him Miau-ji berdiri melongo, semua orang juga melenggong bingung.

Semula semua orang berharap akan menyaksikan pertandingan yang menarik, siapa tahu urusan berakhir cara demikian, hanya suara guntur saja berbunyi, tapi hujan tidak pernah turun.

Di antara orang-orang itu hanya Cu Jit-jit saja yang sejak mula tidak menghendaki kedua orang itu jadi berkelahi, sebab dia akan serbasusah siapa pun yang akan keluar sebagai pemenang di antara kedua orang itu.

Kini urusan telah selesai begitu saja, keruan girangnya tidak terkatakan, diam-diam ia juga merasa geli, “Perangainya ternyata tidak berubah, pertarungan yang tidak yakin akan menang tidak mau dilakukannya.”

Sebelum ini keadaan sunyi senyap, tapi sekarang telah berubah ramai lagi. Semua orang sama membicarakan kejadian tadi, ada yang menggerutu, ada yang kecewa, dan ada juga yang bersyukur.

Tapi apa pun juga, kalau dapat makan minum dengan gratis tentu juga menyenangkan.

Maka Him Miau-ji dan rombongannya lantas mencari meja kosong dan berduduk, tanpa diminta segera santapan dan arak diantarkan tanpa putus.

Biji mata Cu Jit-jit berputar, mendadak ia berdiri dan menyapa pemuda cakap di meja sebelah, “Maaf!”

Pemuda itu tercengang, terpaksa ia pun berbangkit dan menjawab, “O, ada apa?”

Melihat orang merasa bingung, Jit-jit merasa geli, cepat ia bicara lagi, “Bila tidak keberatan, bagaimana kalau saudara makan bersama satu meja dengan kami?”

“O, ini…ini agak repot, kan saudara membawa anggota keluarga, mana berani kuganggu,” ujar pemuda itu.

“Ah, tidak menjadi soal,” kata Jit-jit. “Dia bukan anak gadis atau bakal menantu segala, pada hakikatnya dia bukan perempuan…”

Pemuda tampan itu melenggong lagi, jelas dandanan Ong Ling-hoa adalah perempuan, mengapa dikatakan bukan orang perempuan? Memangnya orang gila?

Diam-diam Jit-jit tertawa geli, sedapatnya ia menahan perasaannya dan berkata, “Kumaksudkan keponakan perempuanku yang kurang enak badan ini sifatnya sehari-hari tiada ubahnya seperti anak laki-laki, maka Anda tidak perlu pantang, silakan pindah ke sini saja.”

“O, kiranya begitu,” pemuda itu merasa lega. “Jika…jika begitu biarlah kuganggu sebentar.”

Setelah dia pindah ke meja Cu Jit-jit dan minum arak secawan. Jit-jit terus-menerus memandangi pemuda ini, keruan orang menjadi kikuk, katanya dengan menunduk, “Sesungguhnya ada…ada petunjuk apa yang hendak Anda bicarakan?”

“Soalnya kurasakan wajahmu seperti sudah pernah kulihat, tapi tidak ingat di mana kita pernah berjumpa,” ujar Jit-jit dengan tertawa.

Pemuda itu termenung sejenak, tanyanya kemudian, “Apakah boleh kutanya nama Anda yang terhormat?”

“Aku Sim Long,” jawab Jit-jit.

“Hah, jadi Anda ini Sim Long?” seru pemuda itu kaget.

Karena suara orang cukup keras, Jit-jit jadi kaget juga dan khawatir didengar oleh Kiau Ngo. Untung suasana di atas loteng sangat ramai sehingga tidak ada orang lain yang memerhatikan mereka.

Legalah hati Jit-jit, katanya kemudian, “Masa…masa kau kenal aku?”

“Meski Sim-heng tidak kukenal, namun nama kebesaranmu sudah lama kudengar.”

“Oo, masa…masakah namaku begitu terkenal?” tanya Jit-jit.

Dengan sungguh-sungguh si pemuda menjawab, “Mungkin Sim-heng sendiri sungkan menyiarkan nama kebesaran sendiri, tapi ada beberapa kawanku semuanya sama memuji Sim-heng adalah tokoh nomor satu dunia Kangouw zaman ini, tak tersangka hari ini dapat kujumpai di sini.”

Aneh juga, meski sekarang Jit-jit sangat benci kepada Sim Long, tapi demi mendengar orang memujinya, hatinya ikut gembira juga, dengan tertawa ia menjawab, “Ah, mana…Anda terlampau memuji. Numpang tanya siapakah nama Anda yang mulia?”

“Cayhe Sing Hian,” jawab pemuda itu.

“Sing Hian? Jangan-jangan Sing-kongcu dari Sing-keh-po (Benteng Keluarga Sing)?”

“Terima kasih, memang betul.”

“Aha, pantas aku merasa sudah pernah kenal dirimu, kiranya engkau ini adik Sing Ing. Wajahmu memang rada mirip dengan kakakmu.”

“O, kiranya Sim-siangkong kenal kakak?”

“Ya, kenal…”

“Kedatanganku ini justru ingin mencari kakak,” tutur Sing Hian dengan girang. “Sim-siangkong telah menjelajahi seluruh wilayah Kanglam, tentu engkau mengetahui di mana beradanya kakak.”

Hati Jit-jit tergetar, tiba-tiba terpikir olehnya bisa jadi Sing Ing juga mengalami nasib nahas serupa Can Ing-siong dan lain-lain yang ikut pergi ke Jin-gi-ceng dan terbunuh di sana.

Untung Jit-jit dalam keadaan menyamar sehingga perubahan air mukanya tidak terlihat, cepat ia berkata pula, “Bulan yang lalu memang pernah kulihat kakakmu satu kali, tapi ke mana perginya lagi tidak diketahui.”

Sing Hian menghela napas, “Sudah lebih setengah tahun kakak meninggalkan rumah dan tidak ada kabar beritanya lagi, kedua orang tua di rumah sama mengkhawatirkan dia, sebab itulah Siaute disuruh keluar mencarinya.”

Cepat Jit-jit membelokkan pokok persoalan, “Tampaknya banyak kaum orang gagah berkumpul di sini, kuyakin pasti ada peristiwa besar, dan entah…entah ada urusan apa, mungkin Sing-heng tahu?”

“Peristiwa ini memang benar urusan penting,” tutur Sing Hian. “Soalnya kedudukan ketua Kay-pang sudah lama lowong, sebab itulah para anak murid Kay-pang mengundang kehadiran para kesatria ke sini untuk menyaksikan pemilihan pangcu mereka.”

“O, kiranya urusan ini,” ucap Jit-jit.

Dengan sendirinya urusan ini ada sangkut pautnya dengan Ong Ling-hoa, tanpa terasa ia melirik Ong Ling-hoa sekejap, dilihatnya sinar mata Sing Hian juga lagi melirik anak muda itu.

Sudah cukup banyak Sing Hian bicara, setiap kali dia omong sesuatu, selalu ia melirik ke arah Ong Ling-hoa.

Maklumlah, Ong Ling-hoa memang seorang pemuda tampan, kini dirias menjadi wanita, di bawah cahaya lampu dengan sendirinya kelihatan cantik dan memesona. Lebih-lebih kedua matanya yang jalang itu, sungguh menggetar sukma. Apalagi dalam keadaan tak bisa berkutik sekarang, sorot matanya yang sayu menampilkan rasa menyesal, susah dan cemas, sungguh membuat orang merasa kasihan padanya.

Seketika Sing Hian sampai terkesima.

Sebaliknya hampir mulas perut Jit-jit saking gelinya, biji matanya berputar, tiba-tiba ia berkata pula, “Eh, Sing-heng, bagaimana menurut pendapatmu atas diri keponakan perempuanku ini?”

Muka Sing Hian menjadi merah, sahutnya dengan menunduk rikuh, “O, ini…”

Ia tidak dapat menjawab, terpaksa cuma berdehem saja.

Dengan menahan rasa geli Jit-jit berkata pula, “Ai, usia keponakanku ini pun tidak kecil lagi, cuma penilaiannya terlalu tinggi, siapa pun tidak terpandang olehnya, maka sampai saat ini belum lagi mendapat jodoh. Apabila ada pemuda yang setimpal, harap Sing-heng suka memperkenalkannya.”

Dengan muka merah akhirnya Sing Hian memberanikan diri untuk bertanya, “Entah…entah orang macam apa yang memenuhi syarat?”

“Pertama, harus muda dan tampan. Kedua, harus keturunan keluarga terhormat. Ketiga, harus…ah, pendek kata, asalkan orang semacam Sing-heng sudah pasti memenuhi syarat.”

Sing Hian terkesiap dan bergirang, juga malu, tanpa terasa ia melirik Ong Ling-hoa lagi sekejap, lalu cepat menunduk.

Sebaliknya tidak kepalang gemas Ong Ling-hoa dan serbarunyam, sungguh lidah Cu Jit-jit ingin dipotongnya, biji mata Sing Hian juga ingin dicungkilnya.

Cu Jit-jit merasa geli, ia terpingkal-pingkal hingga air mata pun hampir tercucur, tapi juga tidak berani mengeluarkan suara tertawa sehingga terpaksa ditahan sekuatnya.

Pada saat itulah mendadak seorang berteriak, “Hei, Sim…Sim Long, Sim-kongcu!”

Jit-jit terkejut, cepat ia memandang ke sana.

Dilihatnya Kiau Ngo telah membuka jendela dan berseru ke luar, “Sim Long…”

Segera Him Miau-ji juga melompat ke luar secepat anak panah.

Sing Hian juga heran, gumamnya, “Sim-siangkong berada di sini, mengapa mereka berseru ke luar?”

Jit-jit tertegun, sahutnya dengan gelagapan, “Mana…mana kutahu.”

“Ah, barangkali ada orang yang bernama sama,” ujar Sing Hian.

“Ya, benar, memang banyak sekali di dunia ini orang yang bernama sama,” cepat Jit-jit menukas. Ia tahu sekali Him Miau-ji melompat turun, segera Sim Long akan diseretnya ke atas loteng.

Maka tanpa berkedip ia memandang ke arah ujung tangga dengan hati berdebar. Entah girang, kejut, gemas atau benci.

Dan akhirnya benarlah Him Miau-ji telah menyeret Sim Long ke atas, belum lagi mereka muncul, suara tertawa mereka sudah bergema.

“Haha, mata kucing sungguh tajam luar biasa,” demikian terdengar Sim Long berseloroh.

“Tapi bukan aku yang memergokimu,” ujar si Kucing.

Dengan menggereget Jit-jit memandang ujung tangga. Akhirnya tertampak kepala anak muda yang dicintai dan juga dibenci ini, lalu terlihat alisnya yang kereng dan matanya yang bersinar dan kemudian wajahnya yang selalu menampilkan semacam senyuman aneh itu.

Meski tangan Jit-jit terkepal, tidak urung rada gemetar juga, sungguh ia ingin tonjok mulut Sim Long supaya dia tidak dapat tersenyum lagi.

Hanya terlihat Sim Long dan Him Miau-ji saja, Kim Bu-bong tidak ikut serta, hal ini juga tidak diperhatikan Jit-jit, asalkan melihat Sim Long, urusan lain tidak terpikir lagi olehnya.

Kini pandangan semua orang juga sama tertuju ke arah Sim Long, sampai si kakek peminum juga berubah aneh mendadak.

Dengan langkah lebar Kiau Ngo lantas menyongsongnya sambil menyapa, “Aha, apakah Sim-kongcu masih ingat kepada orang she Kiau?”

Segera Sim Long berseru, “Ah, kiranya Kiau-tayhiap, selamat bertemu.”

“Nah, yang melihatmu ialah dia,” ujar Him Miau-ji dengan tertawa.

“Sebab itulah Sim-kongcu harus berduduk di mejaku sana,” kata Kiau Ngo.

“Wah, caramu menarik tamu ternyata boleh juga,” kata si Kucing.

“Selain dia kutarik, juga kutarik dirimu,” ujar Kiau Ngo dengan tertawa. “Bahwa engkau adalah sahabat Sim-kongcu juga, sungguh sangat beruntung bagiku.”

Dengan tertawa lepas si Kucing berkata, “Haha, bagus sekali, biarlah kita duduk bersama satu meja, toh sama-sama tidak bayar, ke sana atau ke sini juga sama saja. Cuma sudah sekian lama Sim-heng menghilang, ingin kuhormati dulu satu cawan.”

“Hah, cuma satu cawan, arak tanpa bayar, masa begitu pelit kau?” seru Kiau Ngo dengan tergelak.

“Hah, betul, sedikitnya harus sepuluh cawan,” sahut si Kucing dengan tertawa.

Dan begitulah Sim Long lantas disongsong ke meja sana.

Dengan demikian suasana restoran bertambah ramai, beberapa orang berebut menuangkan arak bagi Sim Long, suara tertawa dan teriakan hiruk-pikuk memekak telinga.

Mendadak Jit-jit menggebrak meja dan berteriak, “Ayo, angkat Nona dan pergi!”

“Eh, kenapa saudara tergesa-gesa?” tanya Sing Hian bingung.

“Aku tidak biasa melihat orang macam begitu,” jengek Jit-jit. Bilang tidak biasa melihatnya, tidak urung ia melirik lagi ke sana, lalu dengan menggereget ia berbangkit dan mendesak kedua bibi lekas mengusung pergi Ong Ling-hoa.

Sing Hian tertegun sejenak, mendadak ia memburu maju dan bertanya, “Eh, di manakah Sim-heng bermalam?”

Jit-jit tidak sabar lagi bicara dengan dia, dengan tak acuh ia menjawab, “Di hotel yang paling besar sana.”

Segera ia turun ke bawah dengan langkah yang dientak-entakkan.

Sing Hian memandangi kepergiannya dengan termenung, gumamnya, “Mengapa sifat Sim-siangkong ini sedemikian aneh?…”

Tiba-tiba teringat olehnya meski Sim-siangkong yang ini sudah pergi, kan masih ada Sim-siangkong yang lain di sana, tanpa terasa ia berpaling…

Ternyata Sim-siangkong yang sana sudah menghabiskan belasan cawan arak.

Biarpun paling sedikit sudah 17 cawan arak diminumnya, namun air muka Sim Long tidak berubah sama sekali, tidak ada tanda-tanda pengaruh alkohol, sinar matanya masih tajam, masih jernih.

Banyak orang memandangnya dengan heran kagum dan memuji, tapi juga ada yang merasa iri dan benci.

Namun Sim Long tidak menghiraukan pandangan orang lain dan bagaimana perasaan mereka terhadapnya, yang penting baginya dia tetap mempertahankan kesadarannya, dalam pandangan orang lain hal ini mungkin mengagumkan, tapi bagi Sim Long sendiri hal ini adalah suatu penderitaan. Orang yang selalu sadar, penderitaan yang dirasakan tentu akan jauh lebih banyak daripada orang lain.

Manusia, terkadang akan lebih enak dalam keadaan tidak sadar.

Memandangi Him Miau-ji yang lagi bergelak tertawa itu, Sim Long justru kagum kepadanya. Si Kucing lebih suka melepaskan segalanya dan juga melupakan segalanya. Pada waktu bergembira, si Kucing benar-benar gembira.

Sebaliknya meski saat ini Sim Long juga gembira, tapi tetap tidak dapat melupakan segala macam penderitaan. Yang terlihat olehnya sekarang adalah orang-orang yang gembira, tapi dalam hati senantiasa terbayang orang yang lagi menderita.

Mereka, Cu Jit-jit, Pek Fifi, Kim Bu-bong…

Jit-jit sudah pergi, tidak diketahuinya nona itu berada di mana? Meski dia yang mengusir kepergian nona itu, tapi mau tak mau dia berkhawatir juga baginya.

Kekerasannya terhadap Cu Jit-jit juga kebesaran cintanya kepadanya. Cinta yang sudah tebal akan berubah menjadi tipis. Tapi semua ini mana dapat dimengerti oleh Cu Jit-jit.

Dan di manakah Pek Fifi? Anak perempuan yang sebatang kara ini sekarang berada dalam cengkeraman kaum iblis.

Meski tidak ada sesuatu hubungan antara si nona dan dirinya, tapi selalu dirasakannya wajib mengatur seperlunya bagi nasib anak perempuan itu, bagi masa depannya.

Tapi sekarang, jika terjadi sesuatu atas nona itu, sungguh dia merasa berdosa. Ia ingin menolongnya, tapi ke mana dapat ditemukannya?

Lalu mengenai Kim Bu-bong, dia juga sudah pergi.

Kim Bu-bong sendiri yang berkeras mau pergi. Lelaki seperti Kim Bu-bong, bilamana dia bertekad ingin pergi, siapa pula yang mampu mencegahnya?

Sim Long dapat mengerti tekad Kim Bu-bong itu, dengan sendirinya ia tidak dapat memaksanya, ia cuma bertanya ke mana dia akan pergi dan bagaimana rencananya di kemudian hari?

Namun Kim Bu-bong tidak menjawab.

Padahal dia memang tidak perlu menjawab, betapa isi hatinya cukup diketahui Sim Long. Dia tidak mau menjadi beban Sim Long karena tubuhnya telah invalid. Sim Long bukan orang biasa, urusan yang harus dikerjakannya sangat banyak, tugasnya masih sangat berat.

Sebaliknya sakit hati dirinya harus dibalas, harus dibalasnya sendiri. Meski dia sudah cacat, tapi tidak patah semangat, yang cacat hanya lahiriahnya dengan tidak rohaniahnya. Ia masih mau berjuang, berbuat sesuatu yang mengguncangkan dunia.

Sim Long tidak dapat merintangi tekad Kim Bu-bong itu, juga tidak dapat menahannya, terpaksa ia menyaksikan kepergiannya…

Begitulah derita batin yang ditanggung Sim Long sekarang dan di luar tahu orang lain.

Dengan tertawa Him Miau-ji berkata, “Bagus, Sim Long, arak sudah minum cukup, sekarang ingin kutanya padamu, di mana Nona Cu dan Kim-heng sekarang?”

Sim Long termenung sejenak, mendadak ia menenggak lagi secawan arak, lalu berkata, “Hal ini kelak akan kau ketahui sendiri.”

Si Kucing tidak tanya lagi, sebab dapat dilihatnya dalam urusan ini pasti ada sesuatu yang sukar dijelaskan oleh Sim Long. Ia suka kepada Sim Long, maka dia tidak mau menyakiti hatinya.

Si Singa Jantan Kiau Ngo lantas bertanya, “Kedatangan Sim-siangkong ini apakah juga lantaran menerima undangan Kay-pang?”

Sim Long tersenyum, “Ah, tidak, kedatanganku ini hanya secara kebetulan saja, baru semalam kutahu urusan Kay-pang, maka kugunakan kesempatan ini dengan baik. Sebab itulah tanpa kartu undangan juga akan kujadi tamu yang tidak diundang.”

“Tamu tidak diundang apa,” ujar Kiau Ngo dengan tertawa. “Kunjungan tokoh seperti Sim-siangkong adalah suatu kehormatan besar bagi Kay-pang. Betul tidak, Si-moay?”

Hoa Si-koh tertawa, “Ya, kedatangan Sim-siangkong ini kukira paling menggembirakan Kiau-goko. Sejak berpisah di Jin-gi-ceng tempo hari, selalu Goko terkenang kepadamu.”

Sim Long memandang Kiau Ngo, lalu memandang Hoa Si-koh pula, dapat dilihatnya betapa erat dan mesranya antara kedua orang itu, segera ia angkat cawan arak dan berkata dengan tertawa, “Terimalah selamatku, mari minum secawan!”

Muka Hoa Si-koh menjadi merah.

Sebaliknya Kiau Ngo tertawa, “Baik, marilah kita minum secawan!”

Habis minum, Sim Long berkata pula, “Haha, sekarang baru kuketahui Kiau-goko adalah lelaki paling beruntung di dunia ini, lelaki yang paling pintar.”

“Aku pintar dalam hal apa?” tanya Kiau Ngo.

“Dia bilang kau pintar lantaran engkau tidak mencari anak perempuan cantik lain, tapi malah mencari diriku,” ujar Hoa Si-koh dengan tertawa. “Padahal kau dapatkan perempuan muka jelek seperti diriku ini justru perbuatan yang paling bodoh.”

Kiau Ngo memandangnya dengan lembut, ucapnya, “Jika perbuatanku yang paling pintar selama hidup ini adalah berkenalan denganmu. Hanya orang pintar saja yang dapat melihat kecantikanmu dan mengetahui engkau berpuluh kali lebih cantik daripada anak perempuan mana pun. Sim-siangkong juga orang pintar, maka kuyakin ucapannya adalah pujian setulus hati padamu.”

Hoa Si-koh tersenyum kikuk, “Terima kasih atas kepintaran kalian berdua.”

Semula Him Miau-ji merasa heran Kiau Ngo yang gagah perkasa itu mengapa menyukai anak perempuan bermuka buruk seperti Hoa Si-koh ini, baru sekarang ia tahu sebab musababnya.

Nyata Hoa Si-koh ini cuma lahirnya saja kurang cantik, tapi setiap gerak-geriknya, tutur katanya, senyum tawanya, semuanya lembut dan lugas, tidak ada sesuatu yang sengaja dibuat-buat, polos, apa adanya.

Sebaliknya umpama Cu Jit-jit, dia serupa ombak samudra, ombak samudra yang selalu bergolak. Tatkala engkau mabuk dibuai ombak, mendadak ombak itu mendampar dan membuat badanmu hancur lebur.

Dengan lembut Hoa Si-koh memandang Sim Long, katanya kemudian dengan tersenyum, “Mendadak Sim-siangkong bicara hal-hal ini, apakah disebabkan nonamu yang cantik itu telah banyak menimbulkan pikiranmu?”

“Ah, mana ada pikiran apa segala?” sahut Sim Long dengan tertawa.

“Kutahu lelaki semacam dirimu ini, biarpun menanggung sesuatu pikiran juga takkan kau katakan,” ujar Hoa Si-koh dengan tersenyum. “Tapi di depan kawan sendiri, ada urusan apa seharusnya kau katakan terus terang.”

Inilah orang pertama yang dapat melihat isi hati Sim Long, meski tidak mengaku, diam-diam Sim Long merasa kagum atas ketajaman perasaan Hoa Si-koh, sungguh perempuan luar biasa.

Segera ia angkat cawan dan berseru, “Marilah kita minum lagi tiga cawan!”

Mendadak di kejauhan sana seorang menyela, “Wah, Kongcu yang di sana sungguh kuat takaran minumnya, bila tidak menolak, bolehkah orang tua mengiringi Kongcu minum beberapa cawan?”

Suaranya tidak keras, tidak lantang, tapi bagi pendengaran setiap orang kata-kata orang seperti disiarkan ke tepi telinga dan terdengar dengan jelas di tengah gelak tertawa orang banyak.

Ternyata yang bicara itu adalah si kakek kecil aneh yang asyik minum arak tadi.

Ketika naik ke atas loteng tadi Sim Long lantas melihat kakek yang lagi minum arak sendiri itu, waktu itu diam-diam ia sudah heran terhadap kakek yang kelihatan biasa, tapi rasanya membawa semacam gaya yang misterius.

Dengan sendirinya ia tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkenalan dengan tokoh misterius demikian, cepat ia berbangkit dan memberi hormat dari jauh, serunya, “Bilamana Lotiang sudi, mana Wanpwe berani menolak?”

Namun si kakek tetap duduk saja di tempatnya, katanya dengan tersenyum, “Jika begitu, silakan pindah saja ke sini.”

“Menurut,” kata Sim Long.

Dengan mendongkol si Kucing menggerutu, “Kurang ajar! Besar amat lagaknya!…Sim-heng, biar kuikut ke sana.”

Begitulah mereka lantas mendekati meja si kakek. Tapi pandangan si kakek hanya tertuju kepada Sim Long saja seorang, katanya, “Maafkan jika orang tua tidak dapat berdiri untuk menyambut…” mendadak air mukanya berubah aneh, sambungnya pula, “Ya, sebab orang tua memang mempunyai alasan agar Kongcu dapat memaafkan hal ini.”

“Apa alasanmu?” tanya si Kucing dengan mendongkol.

Si kakek tidak menjawab, ia cuma sedikit menyingkap baju bagian bawah.

Kiranya si kakek tidak punya kaki.

Kaki celananya ternyata kosong melompong tanpa isi.

Dengan sorot mata tajam si kakek lantas menatap si Kucing, “Apa alasanku tentu tidak perlu lagi kujelaskan, bukan?”

Si Kucing jadi menyesal, katanya dengan gelagapan, “O, ini…ini…”

“Nah, engkau puas sekarang?” jengek si kakek. “Maka hendaknya engkau menyingkir saja agak jauh, aku tidak mengundang dirimu, jika engkau ikut duduk di sini tentu juga merasa tidak enak.”

Tentu saja si Kucing melenggong. Tapi ia lantas tertawa, “Haha, sungguh tak tersangka aku bisa diusir orang, bahkan tidak dapat berbuat apa-apa, sungguh baru pertama kali ini kualami kejadian demikian selama hidup. Tapi jika aku tidak ikut duduk melainkan cuma berdiri saja di samping, kan boleh?”

“Bila Anda tidak tahu diri, ya terserah,” ucap si kakek. Lalu ia tidak menggubrisnya lagi, kembali ia tersenyum terhadap Sim Long dan berkata, “Silakan duduk.”

“Terima kasih,” kata Sim Long.

Si Kucing menjadi kikuk dan serbasalah, tapi dia benar-benar berdiri di samping situ dan tidak pergi.

Si kakek lantas memanggil pelayan membawakan lagi tujuh buah cawan arak dan ditaruh di depan Sim Long, dengan tertawa gembira ia berkata, “Sebagai seorang ahli minum, tentu Kongcu juga kenal setiap jenis arak.”

“Sulit mencari sahabat di dunia ini, apa salahnya mencarinya di dalam cawan,” ujar Sim Long dengan tertawa.

“Ah, bagus, bagus sekali,” seru si kakek sambil berkeplok.

Lalu ia angkat poci arak pertama dan menuangkan pada cawan di depan Sim Long, hanya setengah cawan saja arak yang dituangnya, arak berwarna hijau muda rada pucat, serupa air muka si kakek.

“Sebagai seorang ahli, silakan Anda cicipi arak ini,” kata si kakek.

Tanpa ragu Sim Long angkat cawan itu dan ditenggaknya hingga habis, serunya dengan tertawa, “Ehm, arak bagus.”

“Arak apakah ini, dapatkah Anda membedakannya?” tanya si kakek.

Dengan tersenyum Sim Long menjawab, “Rasa arak ini ada halusnya dan ada kerasnya, rasanya seperti campuran Tay-mi-ciu dan Tik-yap-jing.”

“Haha, sungguh hebat, Kongcu ternyata benar seorang ahli,” seru si kakek. “Tik-yap-jing dan Tay-mi-ciu mempunyai rasa yang berbeda sama sekali, tapi kalau dicampur, rasanya menjadi lain daripada yang lain.”

“Ya, kalau tidak dicampur oleh tangan ajaib Lotiang, mana bisa sebagus ini rasa arak campuran ini?” ujar Sim Long.

Si kakek menghela napas gegetun, “Terus terang, selama hidupku ini memang banyak membuang waktu dalam hal campur-mencampur arak. Baru sekarang dapatlah bertemu dengan seorang ahli yang sepaham seperti Kongcu ini.”

Dengan mendongkol tiba-tiba si Kucing berteriak, “Huh, hanya mencampur dua macam arak saja, anak kecil umur tiga juga bisa, kenapa mesti dibuat membual segala?”

Si kakek tetap tenang saja, bahkan tidak menggubrisnya, ia cuma berkata dengan perlahan, “Ada sementara bocah ingusan yang mengira sangat gampang mencampur arak, tak diketahuinya bahwa betapa banyak jenis arak di dunia ini serupa bintang di langit yang sukar dihitung. Dengan cara bagaimana untuk mencampur arak dan mencampurnya dengan jenis arak apa agar dapat menghasilkan arak campuran yang mempunyai cita rasa yang paling enak, kepandaian demikian masakah dapat dipahami begitu saja oleh anak ingusan yang tidak tahu apa-apa itu?”

Tentu saja si Kucing tambah mendongkol, tapi dia memang bukan ahli minum, terpaksa tidak bisa bicara lagi.

Dengan tersenyum Sim Long meliriknya sekejap, lalu berkata, “Kata pepatah: Mengarang adalah bakat pembawaan, keahlian hanya timbul secara kebetulan. Kukira kepandaian Lotiang mencampur arak juga bakat pembawaan ditambah dengan keringanan tanganmu yang hebat.”

“Tepat, perumpamaanmu memang tepat,” seru si kakek. “Tulisan harus dirangkai oleh tangan penulis yang ahli supaya dapat terbentuk sebuah karangan yang baik. Arak juga memerlukan tangan kaum ahli untuk mencampurnya baru dapat menghasilkan arak paling enak.”

“Jika begitu, biarlah kucicipi lagi arak yang lain,” pinta Sim Long dengan tertawa.

Segera si kakek mengangkat poci kedua dan menuangkan pula setengah cawan pada cawan kedua di depan Sim Long, warna arak ini kemerah-merahan, tapi bersemu semacam warna hijau yang aneh.

Warna ini serupa juga dengan sorot mata si kakek.

Tanpa sungkan Sim Long angkat cawan dan menghabiskan lagi isinya, lalu berkata pula dengan gegetun, “Ehmm, sungguh arak bagus? Bukankah arak ini terdiri dari Li-ji-hong (arak merah putri) dan ditambah arak Mau-tay dan Tik-yap-jing, lalu diberi lagi beberapa tetes arak Ho-yok-ciu?”

“Haha, memang betul,” sahut si kakek dengan tertawa. “Untuk mencampur arak ini, banyak juga memeras pikiranku…”

Begitulah tambah lama kedua orang merasa semakin cocok satu sama lain.

Waktu si kakek menuangkan lagi arak ketiga, Him Miau-ji tidak tahan lagi berdiri di situ, terpaksa ia mencari kesempatan untuk mengeluyur kembali ke tempatnya semula.

“Saudara jadi kembali juga,” kata Kiau Ngo dengan tertawa.

Si kucing mengangkat pundak, sahutnya dengan tertawa, “Minum arak adalah untuk mencari kesenangan, masa perlu repot campur mencampur begitu, bagiku lebih baik tidak minum daripada mencampur arak dengan susah payah.”

“Betul, kau lebih enak minum seadanya saja semangkuk demi semangkuk,” ujar Kiau Ngo dengan tertawa.

“Tampaknya Kiau-heng adalah teman sepahamku,” kata si Kucing. “Mari kita minum!”

Kedua orang lantas menghabiskan tiga cawan sambil selalu melirik ke arah sana.

“Kukira kalian tentu juga ingin minum arak campuran kakek itu,” tiba-tiba Hoa Si-koh menggoda dengan tertawa.

“Siapa bilang aku ingin minum,” Kiau Ngo mendelik.

Dengan tertawa Him Miau-ji menanggapi, “Rezeki Sim Long selalu jauh lebih besar daripada orang lain. Selain rezeki terhadap anak perempuan, juga rezeki makan jauh lebih besar daripada orang lain.”

“Tapi jangan kau kira beberapa cawan arak itu dapat diminumnya dengan mudah?” ujar Hoa Si-koh.

Si Kucing berkedip-kedip, “Apa arti ucapanmu ini? Orang menuangkan arak baginya, sekali tenggak isi cawan pun habis, kenapa diminumnya dengan tidak mudah katamu?”

“Justru lantaran orang menuangkan arak, makanya tidak mudah baginya meminum arak itu,” Si-koh.

“Wah, makin omong aku jadi makin bingung,” kata si Kucing sambil menyengir.

“Bukan cuma kau saja yang bingung, aku pun tidak mengerti,” tukas Kiau Ngo.

“Coba kalian lihat ke sana dengan lebih cermat,” kata Si-koh.

Waktu Him Miau-ji dan Kiau Ngo memandang ke sana, terlihat Sim Long sudah habis minum cawan kelima dan sedang angkat cawan keenam.

“Nah, lihat yang betul, sekarang Sim-siangkong lagi angkat cawan araknya, bukan?” tanya Si-koh.

“Betul,” kata si Kucing.

“Dan si kakek lagi memegang poci dan…dan menuang, bukan?”

“Ya, mulut poci sudah menyentuh cawan Sim Long.”

“Betul, dan dia sudah mulai menuang araknya,” sambung Kiau Ngo.

“Masa belum kau lihat sesuatu yang aneh?” kata Si-koh.

“Apa…apanya yang aneh?…” Kiau Ngo merasa bingung.

“Aha, betul,” seru si Kucing dengan suara tertahan. “Gerakan kakek itu sangat lambat, caranya menuang arak juga perlahan, kita telah bicara sekian lama, tapi secawan arak saja belum penuh dituangnya.”

“Ya, dan sekarang tentu dapat kau lihat apa sebabnya kelambanan gerak-geriknya, bukan?”

“Sungguh tidak nyata kakek ini mempunyai tenaga dalam sehebat ini sehingga dapat menandingi Sim Long dengan sama kuatnya, sungguh luar biasa,” kata si Kucing.

Kiranya dilihatnya cara menuang arak si kakek yang lambat itu, lengan bajunya juga bergetar seolah-olah tangannya lagi gemetar. Sebaliknya Sim Long kelihatan tetap tersenyum, cuma senyumnya juga rada kaku, bahkan lengan bajunya juga rada bergetar.

Yang hebat adalah cawan arak yang dipegangnya mendadak kelihatan gumpil sedikit, tertindih oleh mulut poci arak si kakek dan mulut poci terbuat dari timbel itu pun mulai melengkung.

Nyata kedua orang telah mulai mengadu tenaga dalam secara diam-diam.

“Menurut pandanganku, Sim-kongcu tetap lebih unggul,” gumam Kiau Ngo.

“Dengan sendirinya Sim Long lebih unggul, tapi di dunia Kangouw zaman ini ada berapa orang yang dapat memaksa Sim Long mengeluarkan tenaga sebesar ini?” kata si Kucing.

“Betul juga,” ujar Kiau Ngo.

“Sebab itulah semakin kurasakan keanehan kakek ini, begini tinggi kungfunya, mengapa kedua kakinya buntung? Tingkah lakunya juga seaneh ini? Entah bagaimana asal usulnya?”

“Tampaknya dia dan Sim-siangkong pasti ada sesuatu persoalan, kalau tidak masakah begitu berkenalan lantas mengadu tenaga dalam dengan mati-matian?” ujar Kiau Ngo.

Selagi mereka sama merasa bingung, tiba-tiba terlihat cawan arak dan poci arak sudah terpisah, rupanya arak sudah cukup tertuang.

Sim Long lantas menenggak habis lagi isi cawannya dan tetap berseru dengan tertawa, “Ehm, arak sedap!”

“Bruk”, si kakek menaruh poci di atas meja tapi mulut poci lantas putus sebatas leher dan jatuh, namun si kakek anggap tidak terjadi sesuatu, ucapnya dengan tertawa, “Arak ini tentu saja sedap, arak yang kucampur, makin banyak kau minum, selalu muncul lagi yang lebih enak.”

“Jika demikian, cawan ketujuh ini pasti terlebih sedap,” kata Sim Long dengan tertawa.

“Sedap atau tidak, setelah dicoba tentu akan tahu,” ujar si kakek.

Perlahan ia angkat poci ketujuh dan disodorkan ke depan.

Dengan mengulum senyum Sim Long juga pegang cawan ketujuh untuk menyambut poci orang.

“Kakek ini sungguh bandel,” kata si Kucing dengan kening bekernyit. “Sudah jelas tahu tenaga dalamnya tidak lebih unggul, mengapa masih juga…”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: