Kumpulan Cerita Silat

17/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 02

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 2:17 am

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, dan Lovescan)

Bab I. Tangan Pembunuh.

Bagian 02. Dimulai Dari Kecurigaan.

Semakin mendekati luar kota, Buyung Sui-in berjalan di tengah dengan si Darah Dingin mengawal di kiri dan Ceng Ci-tong mengawal di kanan.

Pemandangan di luar kota sangat indah. Sawah nan hijau dengan angin yang berhembus sepoi-sepoi. Terdengar burung berkicau meramaikan suasana.

Buyung Sui-in dilahirkan dalam sebuah keluarga terpelajar. Sesungguhnya dia gemar membaca, menulis dan membuat syair. Bila bukan lantaran kematian tragis yang dialami Kim Seng-hui serta Kui Keng-ciu, dia tak pernah bermuram durja.

Tiba-tiba terdengar ia berkata sambil tertawa, “Sungguh tak disangka, hari ini aku Buyung Sui-in harus pulang ke rumah dengan dikawal dua orang opas kenamaan. Hai…apakah arti dari sebuah kematian?”

“Aaah, kami hanya pihak berwajib yang sedang melaksanakan tugas. Bukan jagoan tangguh,” sahut Ceng Ci-tong sambil tertawa.
“Kalau saudara Leng memang satu di antara empat opas yang tersohor. Sedang aku? Apalah diriku ini.” Selesai berkata, kembali ia tertawa terbahak-bahak.

Dari kejauhan sana tampak sebuah kereta kuda berlari mendekat. Beberapa ekor kuda tua menarik sebuah kereta yang sudah tua, kuno, berat dan seperti sarat dengan barang. Kusir kereta adalah dua orang pemuda, sementara di atas kereta tampak bungkusan besar dari karung goni. Tidak jelas barang berat apa yang berada di dalam karung goni itu.

Sambil menghardik pelan, pemuda itu melarikan kereta kudanya ke hadapan mereka bertiga. Karena jalanan amat sempit, lekas si Darah Dingin berkelit ke tepi jalan.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar pemuda yang berada di depan kereta itu berseru kepada rekannya sambil tertawa, “Ayo dimulai!”

Teriakan itu diucapkan dengan nada dingin, tapi si Darah Dingin yang mendengar jadi amat terperanjat. Dia masih ingat betul dengan logat suara itu, persis sama seperti logat bicara orang yang semalam bertarung sengit melawan dirinya. Dialah orang yang waktu itu berteriak “Biar bukan tandingan juga tetap harus dibunuh!”.

Si Darah Dingin bisa masuk dalam salah satu empat opas memang tak lain karena memiliki keahlian yang luar biasa. Apa yang pernah dilihat tak pernah terlupakan, apa yang pernah didengar tak pernah dilupakan.

Justru karena dia memiliki keistimewaan semacam ini, maka sudah banyak kali jiwanya luput dari kematian.

Sewaktu saling berpapasan dengan kereta kuda itu, kebetulan Buyung Sui-in berjalan di depan. Yang ada di paling depan adalah Ceng Ci-tong. Karena jalan kelewat sempit, mereka harus lewat satu per satu.

“Hati-hati!” mendadak si Darah Dingin berteriak keras. Saat itulah tiba-tiba kereta kuda itu berbelok dan langsung menerjang ke arah si Darah Dingin. Dalam keadaan begini, si Darah Dingin hanya bisa mundur. Mustahil bisa maju lagi.
Tapi si Darah Dingin tak pernah mundur! Dia segera melejit ke tengah udara. Namun pemuda di atas kereta itu tidak tinggal diam. Cambuknya langsung membabat ke tubuh opas itu.

Sementara itu rekannya telah mencabut golok sambil melancarkan bacokan. Bukan si Darah Dingin yang dituju, melainkan membacok putus tali yang mengikat bungkusan karung goni di belakang kereta.

Begitu tali terputus, semua karung goni pun terbuka lebar. Dua puluhan lelaki kekar berlompatan keluar dari balik karung dengan golok terhunus! Mereka langsung menerjang ke arah si Darah Dingin.

Dengan berkobarnya pertempuran itu, mau tak mau Darah Dingin harus melayani serbuan lawan. Kebetulan posisinya terhalang oleh kereta yang melintang di jalanan, sehingga dia tak dapat melihat bagaimana keadaan Buyung Sui-in.

Walau begitu, ada satu hal yang dia ketahui dengan pasti. Rombongan jago itu tak lain adalah kawanan jago yang berhasil melarikan diri semalam.

Selama mereka tidak main bokong secara licik, Darah Dingin yakin dapat membereskan mereka semua. Tapi yang menjadi masalah sekarang adalah dia butuh waktu yang cukup lama untuk membereskan kawanan jago itu.

Di sebelah sana ia mulai mendengar Buyung Sui-in terlibat pertarungan sengit. Bentakan nyaring dan benturan senjata bergema tiada hentinya…

Saat itulah, ia mendengar suara jeritan ngeri yang memilukan hati. Jelas jerit kesakitan itu berasal dari Buyung Sui-in.

Dalam cemas dan gelisahnya, Darah Dingin segera mem-pergencar serangannya. Dari puluhan orang jago bergolok itu, kini tinggal empat jago yang masih bertahan.

Gara-gara perhatiannya terpecahkan oleh jeritan itu, tahu-tahu Darah Dingin merasa punggungnya dingin. Sebuah bacokan golok telah bersarang di tubuhnya!

Bacokan itu sebenarnya tidak terhitung parah. Menggunakan kesempatan di saat jagoan itu sedang bangga karena keberhasilannya, Darah Dingin melayangkan sebuah tusukan, persis menembus tenggorokannya.

Tiga orang jago sisanya jadi pecah nyali. Merasa gelagat tidak menguntungkan, segera mereka melarikan diri.

Darah Dingin tak sempat melakukan pengejaran lagi. Lekas dia melewati kereta dan menghampiri arena pertarungan itu. Tampaknya pertempuran sempat berlangsung seru, sembilan orang jago bergolok sudah tergeletak di tanah dalam keadaan tak bernyawa. Jelas mereka tewas di tangan Ceng Ci-tong dan Buyung Sui-in.

Saat ini tersisa dua orang jago lagi yang masih terlibat pertempuran sengit melawan Ceng Ci-tong dengan senjata rantainya, sementara Buyung Sui-in sudah roboh terkapar di tanah.

Si Darah Dingin segera melompat ke sisinya sambil membangunkan Buyung Sui-in yang terluka parah. Tampak si naga kedua ini tergeletak dengan wajah pucat-pias dan napas lemah.

Segera Darah Dingin menyalurkan tenaga dalamnya untuk membantu jagoan itu. Tak berselang lama, Buyung Sui-in sudah membuka matanya dengan susah payah. Ujarnya lirih, “Saudara Leng, aku…aku ingin…ingin memberitahu kepadamu. Sang…sang pembunuh berhasil ku…kubacok! Dia…dia adalah…”

Mendadak sepasang matanya melotot lebar sambil mengawasi belakang tubuh Darah Dingin.

Terkesiap perasaan hati si Darah Dingin. Tanpa membalikkan badan lagi ia lepaskan sebuah tusukan ke belakang. Seorang lelaki bergolok panjang segera menjerit kesakitan dan roboh terkapar.

Ketika ia berpaling, tampak tiga orang lelaki yang semula sudah kabur itu telah muncul kembali sambil melancarkan bokongan. Darah Dingin menghardik nyaring, beruntun dia lancarkan delapan belas buah tusukan pedang.

Baru saja lelaki bergolok panjang itu menyerbu maju, tahu-tahu bayangan pedang bagai lapisan kabut telah meluruk tiba. Dalam keadaan begini mana ada kesempatan baginya untuk menghindar? Tahu-tahu dadanya terasa kaku dan badannya sudah roboh terkapar bermandikan darah.

Lelaki bergolok yang terakhir jadi ketakutan setengah mati. Tanpa banyak bicara dia putar badan dan kabur terbirit-birit.

Si Darah Dingin mendengus dingin, sambil menghardik dia sambitkan pedangnya ke depan. Diiringi desingan angin tajam, senjata itu melesat ke depan dan menerjang punggung orang itu.

Demikian dahsyat tenaga terjangan itu, bukan saja punggung orang tertembus pedang, bahkan badannya masih terdorong mundur sejauh tujuh delapan langkah dan akhirnya ujung pedang yang tembus itu menancap lagi di punggung seorang lelaki yang sedang bertarung sengit melawan Ceng Ci-tong!

Terdengar lelaki itu menjerit kesakitan, lalu kedua orang itu sama-sama roboh terguling di tanah.

Lelaki yang tersisa makin panik. Sepasang matanya memerah karena gugup. Setelah melepaskan berapa jurus serangan tipuan, ia balik badan dan melarikan diri terbirit-birit.

Si Darah Dingin mendengus, dia menerkam bagai sekor harimau. Lekas orang itu putar badan sambil membacok, tapi si Darah Dingin menendang lebih dulu. Sebuah tendangan kilat membuat goloknya mencelat ke udara, bahkan langsung menghajar batok kepalanya.

Terdengar lelaki kekar itu menjerit kesakitan lalu roboh terjungkal.

Sambil menarik kembaii senjata gurdi bajanya, Ceng Ci-tong menghembus napas lega. Bisiknya, “Terima kasih banyak atas bantuanmu! Ayo kita tengok keadaan Buyung-jihiap!”

Ketika si Darah Dingin dan Ceng Ci-tong balik ke samping Buyung Sui-in, tampak si Naga kedua dunia persilatan ini telah putus nyawa. Ia sudah tewas dalam genangan darah.

Darah Dingin tidak bicara apa-apa, begitu juga dengan Ceng Ci-tong. Walau begitu, dalam hati kecil mereka amat pedih dan sakit. Malu atas kegagalan mereka melindungi jago itu.

Padahal mereka berdua adalah opas kenamaan yang banyak disegani kaum persilatan. Tapi sekarang, ternyata mereka gagal melindungi seorang yang berada dalam kawalan serta perlindungan mereka.

Satu hal lagi yang tetap membuat mereka waswas, biarpun kawanan jago bergolok itu berhasil mereka atasi, berhasil mereka habisi nyawanya, namun hingga kini pemimpin mereka belum pernah menampakkan diri.

Darah Dingin mulai melakukan pemeriksaan. Ia jumpai pada punggung Buyung Sui-in terdapat sebuah luka menganga. Tampaknya bekas tusukan benda tajam yang menghujam dalam di punggung itu, kemudian dicabut kembali. Luka yang sangat mematikan.

Di dada bagian depan pun terdapat sebuah luka, bekas luka yang terjadi karena hantaman semacam benda. Sebuah hantaman yang keras dan kuat, meski lukanya kecil namun daging dan kulit di sekelilingnya hancur bagai bubur bercampur darah.

Berdasarkan kedua luka yang ada, jelas kalau dia bukan dilukai oleh bacokan atau tusukan golok panjang. Dengan kata lain, orang yang mencabut nyawa Buyung Sui-in bukanlah rombongan jago bergolok itu, tapi oleh dua orang jago yang lain. Dua orang dengan dua macam senjata yang berbeda, bahkan memiliki kungfu yang sangat hebat karena dapat menyerang dari depan dan belakang secara bersamaan. Serangan yang sangat mematikan.

Tampaknya Buyung Sui-in tak menyangka akan datangnya serangan itu, bahkan tak sempat menghindar. Atau mungkin memang tak menghindar, karena itu serangan itu langsung menghajar telak dadanya.

Jelas sudah pembunuhan ini lagi-lagi merupakan hasil karya keturunan si Iblis pedang.
Sambil menggenggam kepalannya dan menggertak gigi menahan gejolak emosi, si Darah Dingin bertanya, “Apakah kau sempat melihat jelas siapa yang melakukan pembantaian ini?”

Ceng Ci-tong menghela napas panjang, sahutnya, “Perubahan ini terjadi sangat mendadak. Bahkan sebelum sempat kulihat jelas, tahu-tahu ada pembunuh gelap yang menyerangku. Ketika aku berhasil membantai beberapa orang, sekilas rasanya aku melihat ada orang muncul dari balik kereta kuda itu dan menusuk ke belakang punggung Buyung-jihiap dengan tombak panjang…Aih, sesaat sebelum kedatanganmu, lagi-lagi dia menjerit kesakitan. Waktu itu aku sedang terlibat pertarungan seru melawan dua orang, jadi tak sempat melihat jelas. Hanya tampak bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu saudara Buyung…aaai!”

Dengan termangu Darah Dingin mengawasi mayat-mayat yang berserakan di tanah, seperti ada yang dipikirkan. Akhirnya ia berkata, “Tampaknya kita harus mengantar balik dulu jenazah Buyung-jihiap!”

Suasana hening mencekam di ruang utama gedung keluarga Kim.

Kaum wanita, anak-anak dan para pembantu sudah masuk ke kamar masing-masing.

Yang tersisa dalam ruangan utama saat ini tinggal enam orang, si Darah Dingin, Ceng Ci-tong, Liu Ce-in, Leng Giok-siu, Sim Ciok-kut, serta seseorang yang baru saja terkapar mati…Buyung Sui-in.

Bila ditambahkan lagi dengan dua sosok mayat yang membujur kaku dalam peti mati, Sah-cap-lak-jiu-bu-kong-pian (tiga puluh enam jurus ilmu ruyung kelabang) Kim Seng-hui dan Kim-kong-put-huay (si manusia kebal) Kui Keng-ciu, berarti jumlahnya jadi delapan orang.

Kim Seng-hui, Kui Keng-ciu ditambah Buyung Sui-in, sudah tiga orang jago yang tewas secara mengenaskan. Kini Bu-lim-ngo-tiau-liong tinggal dua orang.

Bisa dibayangkan bagaimana perasaan Leng Gibk-siu dan Sim Ciok-kut saat ini.

Suasana dalam gedung utama terasa hening, sepi dan dingin, sedingin bongkahan salju yang telah mengeras.

Lama dan lama kemudian, akhirnya Leng Giok-siu buka suara. Pelan-pelan ujarnya, “Sudahlah. Kalau memang ahli waris Pedang iblis sudah datang, silakan saja datang! Bagaimanapun, aku Leng Giok-siu sudah cukup lama hidup di dunia ini. Kalau toh akhirnya tiba juga giliranku, aku hanya berharap bisa memberi kematian yang cepat untukku!”

Hanya dalam dua hari, kedua pipinya tampak makin kempot, semakin kurus dan cekung. Tekanan batin memang gampang membuat orang menjadi kurus dan loyo.

Paras muka Sim Ciok-kut masih dingin kaku bagaikan papan besi. Namun di balik nada ucapannya yang tak berperasaan, kini terselip nada pedih yang tak terkendali. Katanya pula, “Lotoa, belum tentu kita ikut mati. Jiko setia, Samko jujur, Ngote gegabah tapi terus terang. Mereka memang gampang ditipu orang, tapi jangan harap orang-orang itu bisa menipu di hadapan aku Sim Ciok-kut. Belum tentu mereka dapat merobohkan aku dengan gampang!”

“Site,” kata Leng Giok-siu pula sambil menatap wajah Sim Ciok-kut, “Watakmu nyentrik. Cara kerjamu keras dan berangasan, itu sudah merupakan titik kelemahanmu. Jadi lebih baik berhati-hati.”

“Toako, kau pun terlalu welas asih. Jadi mesti hati-hati juga.”

Dalam waktu relatif singkat, dari Lima naga sakti dunia persilatan kini tinggal sisa dua orang. Tak heran bila hubungan mereka bertambah akrab dan masing-masing saling memperhatikan dan menguatirkan keselamatan rekannya.

Tiba-tiba Darah Dingin berkata, “Leng-tayhiap, bila tak keberatan, boleh aku tahu gerakan jurus serangan Jit-sian-can (tujuh babatan berputar) dari Buyung-jihiap?”

“Yang dimaksud Jit-sian-can dari Jite adalah serangan yang dilancarkan menggunakan golok tipis yang melingkar di pinggangnya. Semua ada tujuh jurus dan setiap jurus memiliki tujuh macam perubahan. Tidak banyak orang yang mampu menerima tujuh kali tujuh, empat puluh sembilan jurus serangannya!”

“Bagaimana keadaan orang yang terkena sabetan golok Jit-sian-can miliknya?” kembali Darah Dingin bertanya setelah termenung sejenak.

“Biasanya daging akan merekah bila tergulung golok. Jika lambung yang tersambar maka usus akan terpotong-potong. Saudara Leng, kenapa kau menanyakan masalah ini?”

“Aaah, tidak apa-apa, hanya sekedar bertanya saja. Ah benar, kenapa opas Ko tidak terlihat?” tanya Darah Dingin lagi dengan hambar.

“Oh, sepeninggalmu bersama Ceng-heng tadi, saudara Liu mengusulkan kalau toh yang diincar keturunan Iblis pedang adalah kami, kenapa wajah kami tidak diubah menjadi raut muka orang lain? Dengan begitu bukankah pihak lawan semakin sulit untuk turun tangan? Maka saudara Ko berpamitan akan pergi membeli peralatan serta obat untuk menyaru muka. Konon saudara Ko adalah seorang jago menyaru muka.”

“Oh ya?” seru Darah Dingin agak tertegun.

“Saudara Leng, bagaimana menurut pendapatmu soal usulku itu?” ujar Liu Ce-in pula sambil tertawa.

“Tentu saja sangat luar biasa. Tapi bila sang pembunuh adalah orang-orang di sekitar kita, berganti rupa pun tak ada gunanya.”

Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berkumandang dari luar ruangan. Liu Ce-in segera berseru lagi, “Tampaknya saudara Ko telah balik.”

Suara langkah kaki manusia itu makin lama semakin mendekat, kemudian muncullah seorang pengemis berperawakan tinggi besar. Raut mukanya istimewa dan sangat menyeramkan, membuat siapa pun yang melihatnya pasti enggan melihat untuk kedua kalinya. Pakaian yang dikenakan compang-camping, tapi dalam genggamannya tercekal sebuah tongkat kemala putih yang ujungnya runcing. Sambil terpincang-pincang dan tertawa cengengesan ia mendekat.

Rupanya yang muncul adalah seorang pengemis tua yang timpang kakinya.

Sim Ciok-kut segera melompat bangun sambil membentak gusar, “Mau apa dia datang kemari?”

“Jangan terburu napsu, Site” cegah Leng Giok-siu, “dia adalah Ko San-cing!”

Sementara Sim ciok-kut masih melengak, pengemis itu sudah tertawa terbahak-bahak seraya berkata, “Tajam amat penglihatanmu saudara Leng. Bagaimana? Ilmu menyaru wajahku cukup hebat bukan? Siapa saja yang pernah menatap sekali tak bakalan ingin melihat untuk kedua kalinya. Dengan menyamar seperti ini maka aku pun tak usah banyak risau hati. Aku memang sengaja menyamar sebagai pengemis, agar bisa menyelinap di luar pintu rumah kalian, agar orang salah mengira aku sebagai pengemis yang tak kebagian tempat di kuil bobrok. Siapa tahu dengan begitu aku pun bisa membekuk sang pembunuh sadis itu.”

“Ilmu menyaru muka Ko-heng memang sangat hebat,” puji Leng Giok-siu sambil tertawa.

Liu Ce-in ikut tertawa.

“Betul!” katanya pula. “Padahal sudah bertahun-tahun aku berkenalan dengan saudara Ko, tapi baru kali ini tahu bila ilmu menyaru mukanya luar biasa!”

“Lantas kau suruh aku menyaru sebagai apa?” tanya Ceng Ci-tong pula sambil tertawa.

“Kalau kau lebih cocok jadi penjaga malam, karena tampangmu macam orang tidak tidur selama sepuluh hari sepuluh malam!”

Maka Ceng Ci-tong menyamar menjadi seorang penjaga malam. Tangan sebelah membawa kentongan dan tangan lain memegang lampu lentera. Bukan saja orang lain akan menganggapnya sebagai penjaga malam, bahkan dia sendiri pun nyaris menganggap dirinya memang seorang penjaga malam.

Buat Liu Ce-in, lantaran dia selalu membawa huncwe, maka paling cocok baginya untuk menyamar jadi seorang kakek pengurus rumah tangga. Bajunya berwarna hijau kasar sementara huncwe diisapnya berulang-kali.

Leng Giok-sui juga menyamar menjadi seorang pembantu rumah tangga, pedangnya disembunyikan di balik sapu yang dipegangnya.

Kini Ko San-cing sedang membantu Sim Ciok-kut mengubah wajahnya. Ia tampil menjadi seorang tukang jual obat.

Ketika semua penyamaran telah selesai, sambil tertawa Leng Giok-siu berkata, “Saudara Ko, sungguh tajam sinar matamu. Ilmu menyaru mukamu juga sangat hebat. Kami semua dapat menyamar sesuai perawakan tubuh masing-masing.”

Ko San-cing tersenyum.

“Saudara Leng tak perlu memuji. Mataku sih tidak tajam, malah lebih cocok kalau dibilang punya mata tak berbiji! Cuwi semua adalah orang kenamaan dengan status sosial tinggi, tapi sekarang telah kuubah jadi rakyat jelata yang berstatus sosial rendah. Dosa, sungguh dosa. Baiklah, sekarang giliran saudara Leng untuk mengubah penampilan.”

Si Darah Dingin masih muda lagi tampan. Tiba-tiba dari balik wajahnya yang dingin kaku tak berperasaan terlintas sekuntum senyuman yang amat ringan. Senyuman itu ibarat musim semi yang melumerkan salju beku, tampak sangat indah dan menawan.

(Ada bagian yang hilang)

“Tidak usah,” tampiknya, “Mumpung hari belum gelap, aku ingin berkunjung dulu ke kota karesidenan dan menyambangi Bupati Lu, sebab aku punya janji dengannya. Jadi aku mesti datang melapor sebelum malam nanti. Selain itu, aku juga telah berjanji dengan tuan Cukat untuk berangkat besok…jadi sebelum tengah malam nanti aku pasti sudah balik kemari. Dan sekarang mohon saudara Liu, opas Ceng dan opas Ko untuk menjaga tempat ini.”

Ada orang bilang, di saat Darah Dingin mulai tertawa, maka itulah saat yang paling cerah bagi anak buahnya untuk menyelesaikan semua tugasnya.

Dan kini si Darah Dingin telah pergi.

Malam semakin mencekam, kegelapan mulai menyelimuti seluruh angkasa.

Ketika semua pegawai keluarga Kim sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat, dalam ruang utama tersisa lima orang yang masih duduk di bawah cahaya lentera. Kelima orang itu adalah Leng Giok-siu, Sim Ciok-kut, Liu Ce-in, Ceng Ci-tong serta Ko San-cing.

Di belakang mereka berlima, berjajar tiga buah peti mati. Di bawah cahaya lentera yang bergoyang terhembus angin, suasana dalam ruangan amat hening, sepi, tak terdengar seorang pun yang bersuara.

Ketika wajah mereka terbias oleh cahaya lentera yang redup, terasa suasana makin menyeramkan, semakin misterius dan menggidikkan hati.

Di tengah keheningan, tiba-tiba Leng Giok-siu berkata dengan nada suaranya yang serak, “Aku seolah merasa, orang yang sedang bermusuhan dengan keturunan Iblis pedang saat ini bukan cuma kita berlima. Masih ada pula Jite, Samte serta Ngote!”

Liu Ce-in memandang peti mati yang berjejer itu sekejap. Mendadak sekilas perubahan wajah yang sangat aneh melintas di mukanya. Dengan sedikit agak emosi ia menjawab, “Sayang sekali mereka adalah orang-orang yang sudah tak bernyawa.”

“Orang mati pun kadang kala bisa membetot sukma,” dengus Sim Ciok-kut dingin.

“Hahaha Ceng Ci-tong tertawa tergelak, “Masa Sim-sihiap juga percaya takhayul?”

Pada saat itulah Liu Ce-in dengan suara yang lirih berbisik kepada Leng Giok-siu, “Leng-heng, aku punya satu kecurigaan. Cuma kurang leluasa untuk berbicara di sini. Aku curiga pembunuhnya adalah…”

Paras muka Leng Giok-siu berubah serius. Melihat keraguan rekannya, dia pun menjawab, “Kalau begitu, mari kita berbicara di ruang dalam saja.”

“Baik! Dengan kehadiran kita berdua, jangan harap keturunan Iblis pedang dapat menyentuh kita semua!”

Di ruang dalam, Leng Giok-siu duduk di sebuah kursi yang terbuat dari kayu cendana. Setelah hening sesaat, ia pun bertanya kepada Liu Ce-in, “Saudara Liu, kau curiga siapa pembunuhnya?”

Liu Ce-in menghela napas panjang, katanya, “Aku kuatir biar sudah disebut pun belum tentu kau akan percaya.”

“Siapa?” Leng Giok-siu semakin tertarik. “Si Darah Dingin!”

Leng Giok-siu melengak, lalu duduk tertegun. Jubah yang dikenakannya kelihatan jelas bergetar sangat keras. Ini membuktikan kalau hatinya amat tergoncang. Sesaat kemudian ia baru berkata, “Tapi…rasanya tidak mungkin!”

“Ya, memang seakan tak mungkin,” Liu Ce-in ikut mengangguk sambil menghela napas panjang.

“Sampai sekarang aku tetap tak percaya kalau hal ini adalah benar!” tiba-tiba Leng Giok-siu mengangkat kepala. “Aku percaya penuh dengan Darah Dingin. Dia adalah seorang pemuda yang patut dipercaya!”

“Mula-mula aku memang tidak percaya,” ujar Liu Ce-in dengan nada menyesal, “tapi coba lihat barang ini. Kau akan ragu dibuatnya.”

Dari sakunya dia mengeluarkan selembar sapu tangan, kemudian lanjutnya, “Ketika Kim-samhiap tertimpa musibah waktu itu, sebelum aku dan si Darah Dingin masuk ke dalam kamar tidurnya, dari dalam saku orang itu aku telah menemukan barang ini.”

Leng Giok-siu menerima sapu tangan itu dan diamatinya sejenak. Ternyata sebuah saputangan dengan bekas darah yang telah mengering.

“Darah?” bisiknya emosi.

Dengan berat Liu Ce-in manggut-manggut.

“Benar, darah! Darah Kim-samhiap. Coba kau endus, segera akan terbukti bahwa ucapanku benar.”

Leng Giok-siu mencoba mengendus saputangan itu, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat! Saputangan itu segera dilempar keluar. Bagai sebilah pisau tajam, lembaran kain itu langsung menancap di atas pilar kayu.

“Ada dupa pemabuknya!” ia berpekik.

Segera dia mencoba untuk berdiri, tapi kepalanya serasa berputar kencang, pening sekali rasanya. Bukan saja badannya jadi lemas, langkah badannya juga sempoyongan tak bertenaga. Ia coba melolos pedangnya, sayang kekuatan untuk mencabut senjata pun ikut lenyap tak berbekas. Akhirnya dengan lemas ia jatuh terduduk di atas bangku.

Menyusul kemudian, terdengar Liu Ce-in tertawa terbahak-bahak.

Leng Giok-siu memaksakan diri untuk membuka matanya, tapi pandangan matanya telah kabur. Yang terlihat hanya bayangan manusia yang samar-samar, tak kuasa lagi ia lalu membentak gusar, “Liu Ce-in, kau…”

Sementara itu di luar ruang gedung utama…

Setelah Leng Giok-siu dan Liu Ce-in masuk ke ruang belakang, tiba-tiba Sim Ciok-kut berkata dengan suara dalam, “Saudara Ceng, saudara Ko, ada satu hal yang ingin kukatakan. Apakah kalian berdua bersedia untuk mendengarkan?”

“Kalau Sim-sihiap ingin bicara, masa kami berdua enggan untuk mendengarkan?” sahut Ceng Ci-tong sambil tertawa.

“Maksudku, setelah mendengar perkataanku nanti, bersediakah kalian berdua untuk tidak memberitahukan pada orang lain?”

“Sim-sihiap, bila ingin menyampaikan sesuatu, katakan saja. Aku orang she Ceng pasti akan tutup mulut rapat-rapat” jawab Ceng Ci-tong dengan wajah serius.

“Apa yang ingin Sim-sihiap katakan?” tanya Ko San-cing keheranan.

“Aku mencurigai seseorang sebagai sang pembunuh!”

“Oh ya? Siapa?” agak berubah paras muka Ceng Ci-tong.

“Seseorang yang sangat kita kenal!”

“Seseorang yang sangat kita kenal?” “Ya, si Darah Dingin!”

Ceng Ci-tong dan Ko San-cing saling bertukar pandangan sekejap. Mendadak, seakan memahami sesuatu, Ceng Ci-tong berseru, “Darah Dingin…Darah Dingin…Ehmmm, masuk akal. Ketika terjadi pertempuran hari ini di luar kota, kami terpisah oleh sebuah kereta. Aku tak sempat melihat jelas apa yang terjadi, juga tidak melihat dia turun tangan. Tapi ketika Buyung-jihiap menemui ajalnya, dia memang persis berada di sampingnya.”

Mendengar perkataan itu, bergelora emosi Sim Ciok-kut. Jubah padrinya nampak bergelombang karena pergolakan hawa murninya. Dengan suara gemetar gumamnya, “Toako dan Sam-ko punya hubungan yang sangat akrab dengannya, bahkan amat mempercayainya. Tapi sekarang, ketika situasi sangat gawat dan berbahaya, ia justru pamit untuk pergi dari sini. Begitukah sikap seorang sahabat terhadap rekan-rekannya?”

“Sim-sihiap, kalau memang begitu, kenapa kau malah tidak bicara langsung dengan Leng-tayhiap atau saudara Liu? Kenapa kau malah melarang kami untuk berbicara?” tanya Ko San-cing keheranan.

Sekali lagi Sim Ciok-kut menghela napas panjang. “Aaai…kau tidak tahu. Sejak Liu Kiu-ji terbunuh gara-gara dikuntit olehnya, aku sudah menaruh curiga kepadanya. Ketika Ngote tewas, dia pun secara kebetulan hadir di situ. Tampaknya Ngote tewas di tangan orang yang sangat dikenalnya. Dari situ aku pun jadi curiga, pasti hasil perbuatannya. Tapi…tapi…toako sangat percaya kepadanya, sedang saudara Liu juga sahabat karibnya. Kalau aku bicara blak-blakan, apakah bukan malah menggebuk rumput mengejutkan sang ular?”

“Ehmmm, perkataan Sim-heng sangat masuk di akal,” Ceng Ci-tong manggut-manggut.

“Lantas apa rencana saudara Sim untuk menghadapi manusia macam begini?” tanya Ko San-cing pula.

Sim Ciok-kut tertawa dingin. “Bila Toako dan Liu-heng tidak setuju, aku usulkan untuk membekuk si Darah Dingin terlebih dulu ketika ia balik nanti, lalu paksa dia untuk bicara. Aku tidak kuatir dia tak mengaku.”

“Bagus, sebuah siasat yang amat jitu!” puji Ko Sam-cing sambil bertepuk tangan.

Ceng Ci-tong segera menjura dalam-dalam di hadapan ketiga layon, katanya, “Bila kami berhasil mengungkap siapa pelaku pembunuhan ini, arwah Tayhiap bertiga di alam baka tentu bisa beristirahat dengan tenang.”

Suasana kembali mencekam dalam keheningan, yang tersisa hanya hembusan angin malam yang menggoyangkan cahaya lilin. Cahaya yang redup dan angin yang dingin membuat suasana seakan berada di alam baka…mengerikan, menggidikkan hati.

Mendadak Ceng Ci-tong pasang telinga dengan wajah serius, kemudian bisiknya, “Ada suara langkah manusia!”

“Jangan-jangan si Darah Dingin telah kembali?” sambung Ko San-cing.

“Malah kebetulan jika dia yang datang,” ujar Sim Ciok-kut dingin, “Mumpung toako dan saudara Liu tak ada. Lebih baik kita bekuk dulu orang itu disaat ia tidak siap, kemudian kita paksa dia untuk mengaku!”

“Bagus!”

“Mari kita bersembunyi dulu di balik pintu,” usul Ceng Ci-tong. “Bila aku bertepuk tangan nanti, kita bertiga serentak turun tangan bersama!”

“Baik!” jawab Sim Ciok-kut sambil menyembunyikan diri terlebih dulu di belakang pintu gerbang.

Ceng Ci-tong dan Ko San-cing juga segera melejit ke samping dan bersembunyi di balik pintu.

Dalam kegelapan malam, yang terdengar hanya hembusan angin yang lirih, sama sekali tak ada langkah manusia.

Setelah lama menunggu di balik kegelapan malam namun tak seorang pun yang muncul, tiba-tiba Sim Ciok-kut berbisik, “Aneh, kenapa aku tidak mendengar suara langkah manusia?”

“Sssttt…jangan berisik,” bisik Ko San-cing cepat, “Ceng tua memiliki ketajaman pendengaran yang luar biasa. Meski orang itu memiliki ilmu meringankan tubuh yang sangat hebat, jangan harap bisa mengelabui dia bila sudah memasuki radius sepuluh kaki dari sini!”

“Sssttt, dia sudah mendekati pintu,” Ceng Ci-tong segera memperingatkan.

Sim Ciok-kut tak bersuara lagi. Sambil mempersiapkan senjata hud-timnya dia mengawasi pintu gerbang tanpa berkedip.

Suasana dalam kegelapan malam terasa makin membeku, beku bagai sebuah bom yang siap meledak. Dan kini sudah tiba saatnya untuk meledak…

Mendadak Ceng Ci-tong bertepuk tangan satu kali. Secepat anak panah yang terlepas dari busurnya, Sim Ciok-kut segera melejit ke udara dan menerjang ke arah pintu gerbang! Tapi tak ada sesuatu di situ…

Mungkinkah Ceng Ci-tong salah mendengar? Tiba-tiba Sim Ciok-kut merasa Ceng Ci-tong dan Ko San-cing juga ikut melejit ke tengah udara, tapi…tahu-tahu kedua orang itu sudah berganti arah dan menerjang ke arahnya, satu dari depan dan yang lain dari belakang!

Sementara Sim Ciok-kut terkesima, mendadak…

“Buuuk!” sebatang tongkat kemala putih yang tajam telah menghujam di hulu hatinya, menancap dengan telak. Begitu cepat datangnya tusukan itu hingga tak dapat terlukiskan dengan kata-kata!

Sim Ciok-kut kontan merasakan hatinya seakan tenggelam. Masih berada di tengah udara, cepat ia menarik napas sembari melompat mundur ke belakang.

Tapi pada saat yang bersamaan Ceng Ci-tong yang berada di belakangnya telah membentak nyaring, “Kena!”

Desingan gurdi membelah angkasa, Sim Ciok-kut hanya sempat mendengar suara itu, lalu punggungnya…”Buuk!” kembali tertusuk senjata gurdi itu dengan telak. Tembus dari punggung hingga ke dadanya, kemudian setelah mengebor beberapa kali, senjata itu ditarik keluar kembali.

Darah segar menyembur keluar bagai pancuran air, rasa sakitnya bukan kepalang.

Gara-gara rasa sakit yang luar biasa, gerakan tubuhnya sedikit melamban. Saat itulah ujung toya kemala putih yang runcing kembali menghujam dada hingga tembus ke punggung dan…”Criiit!” lagi-lagi senjata itu ditarik keluar diiringi semburan darah segar.

Semburan darah itu amat deras dan kuat, sedemikian kuatnya hingga menyembur ke udara.

Bersamaan dengan hamburan darah yang berceceran di seluruh lantai, tubuh Sim Ciok-kut terlempar berapa kaki dari posisi semula.

Sungguh hebat Sim Ciok-kut. Ketika melayang turun dari udara, ia masih sanggup berdiri tegak! Dengan sempoyongan badannya mundur beberapa langkah, lalu bersandar di atas sebatang pohon waru.

Di bawah cahaya rembulan tampak jubah hitam yang dikenakan Sim Ciok-kut telah basah oleh darah. Rasa tak percaya bercampur gusar terpancar dari wajahnya. Sangat mengerikan.

“Kalian…” pekik Sim Ciok-kut lirih. Darah segar kembali menyembur keluar dari mulutnya, membuat ia tak sanggup melanjutkan kata-katanya.

Tampak Ceng Ci-tong yang pendek kecil tapi berotot itu tersenyum licik, sahutnya, “Betul, memang kami!” Sambil berkata, ia mempermainkan gurdi yang berlumuran darah itu dengan mengayun-ayunkannya di udara.

Sementara itu, dengan memegang tongkat runcingnya yang berdarah, Ko San-cing ikut tertawa bangga. Ujarnya, “Kamilah keturunan Iblis pedang! Sekarang kau boleh mati dengan mata meram!”

Mendadak Sim Ciok-kut memperdengarkan suara geraman yang keras bagai sekor binatang buas yang terluka. Senjata hud-tim dalam genggamannya segera digetarkan! Beribu-ribu lembar bulu kebutan itu serentak berubah bagaikan jarum panjang yang tajam, menyebar ke seluruh angkasa.

Ceng Ci-tong sangat terperanjat. Cepat dia putar senjata gurdinya untuk melindungi diri, lalu menyapu rontok bulu-bulu yang mengancam dirinya itu.

Ko San-cing tidak kalah sibuknya. Dia putar toya kemala putihnya sedemikian rupa, membuat air hujan pun susah tembus, apalagi bulu-bulu tajam itu.

Sayang dia lupa melindungi tubuh bagian bawah. Tahu-tahu kaki kirinya yang bergerak kurang lincah telah tersambar sebatang bulu tajam itu. Sambil menjerit kesakitan segera ia cabut keluar bulu tadi. Namun darah telah bercucuran keluar dengan derasnya.

“Sute, kenapa kau?” tegur Ceng Ci-tong cemas.

“Tidak apa-apa,” jawab Ko San-cing sambil menahan sakit. “Untung saja tidak kena jalan darah penting. Sungguh tak nyana bulu-bulu milik Tosu anak jadah ini begitu lihai dan mematikan!”

Ketika mereka berpaling kembali, tampak tubuh Sim Ciok-kut yang semula masih bersandar pada batang pohon waru kini sudah roboh terkapar di tanah. Mati dengan mata mendelik.

“Hmmm, akhirnya mampus juga!” jengek Ceng Ci-tong sambil tertawa dingin.

“Entah bagaimana dengan Toa-suko, sudah berhasil belum?” sambung Ko San-cing sembari membalut lukanya.

Ceng Ci-tong tertawa dingin.

“Cara kerja Toa-suheng selalu teliti dan cermat. Dia jarang sekali gagal,” katanya.

“Kalau begitu mari kita seret mayat si Tosu busuk ini kembali ke ruang belakang, agar tua bangka itu dapat melihat bagaimana keadaan Sute kesayangannya!”

“Bagaimana kalau si Darah Dingin tiba-tiba balik?” mendadak Ceng Ci-tong bertanya dengan kuatir. Ko San-cing tertawa.

“Ji-suheng, kau terlalu penakut dan lagi banyak curiga. Bukankah telur busuk itu sudah bilang, dia baru balik tengah malam nanti?”

“Betul,” Ceng Ci-tong manggut-manggut sambil tertawa girang, “Pengalamanku masih cetek, sudah ingin jadi opas kenamaan. Orang bilang ’bila raja akhirat sudah menentukan kematian di kentongan ketiga, siapa yang bisa bertahan sampai kentongan kelima?’. Dia sudah dipastikan akan mampus pada kentongan ketiga. Tentu mustahil bisa muncul lebih awal!”

“Biarpun dia muncul saat ini dan mengetahui perbuatan kita berdua, kenapa mesti takut? Dengan kemampuan kita berdua sekarang ini, dia masih bukan tandingan kita semua.”

Mendadak paras muka Ceng Ci-tong berubah jadi amat serius. Setelah pasang telinga beberapa saat, dengan wajah berubah hebat ia berseru, “Aduh celaka! Dia benar-benar telah balik!”

“Tapi…mana mungkin?”

“Kungfu yang dimiliki bocah muda itu cukup tangguh. Lebih baik kita hadapi dengan menggunakan akal saja.”

“Baik!” sahut Ko San-cing. Dengan satu kecepatan yang luar biasa ia seret jenazah Sim Ciok-kut keluar dari ruangan. Kemudian, setelah menutupi jenazah itu dengan rumput ilalang, dia menghapus juga noda darah di lantai dengan kakinya.

“Cepatan sedikit,” kembali Ceng Ci-tong berseru cemas, “Dia akan segera tiba di sini!”

Baru saja Ko San-cing membenahi pakaian yang dikenakan, pintu telah dibuka orang. Di bawah sinar rembulan, tampak si Darah Dingin dengan pakaian ketat berwarna putih berjalan masuk dengan langkah santai.

Ceng Ci-tong pura-pura menggerakkan badannya seakan hendak melancarkan serangan, tapi sambil mengurungkan niatnya ia berkata sambil tertawa, “Kukira siapa yang datang, ternyata Saudara Leng! Hampir saja aku salah menyerang. Untung tak sampai mengalami kepahitan di tangan saudara Leng.”

Sambil tersenyum Ko San-cing ikut menyapa, “Saudara Leng, bukankah kau bilang baru akan balik pada kentongan ketiga? Sekarang baru kentongan kesatu, apakah urusanmu telah selesai?”

Si Darah Dingin memperhatikan kedua orang itu sekejap, kemudian sahutnya hambar, “Ya, semua urusan telah beres. Lantaran kuatir maka aku pikir lebih baik kembali sedikit awal.”

Selapis awan gelap berhembus menutupi cahaya rembulan. Bukan saja bulan tak bercahaya, bintang pun seolah lenyap entah kemana. Kini yang tersisa hanya dua baris cahaya lilin yang redup.

“Barusan ada yang datang menyerang,” tiba-tiba Ceng Ci-tong melapor.

“Oh ya? Siapa?”

“Entahlah. Semuanya memakai kerudung muka!”

“Bagaimana dengan Leng-tayhiap dan Sim-sihiap?”

“Mereka semua tidak terluka, tapi sudah mundur ke ruang dalam, karena dari situ lebih mudah bagi kita untuk menghadapi serangan lawan.”

“Kalau begitu mari kita susul ke ruang dalam.”

Ceng Ci-tong seolah punya kesulitan yang tak bisa diucapkan, serunya tergagap, “Tapi…tapi.”

“Tapi kenapa?” tanya si Darah Dingin keheranan.

“Kami hanya bermaksud baik ingin mengingatkan kepadamu. Cuma kau tak usah marah.”

“Baik, katakan saja terus terang. Aku tak bakal marah.”

“Leng-tayhiap berdua menaruh curiga, jangan-jangan kaulah pembunuhnya.”

“Bagaimana dengan kalian,” tanya si Darah Dingin setelah termangu sejenak, “Kalian berdua juga percaya?”

“Kalau kami percaya, masa mau memberitahukan kepadamu? Hanya saja…”

“Hanya saja kenapa?”

“Mereka sudah menemukan bukti, jadi…mau tak mau kami pun jadi percaya.”

“Barang bukti? Apa buktinya?” Darah Dingin tertawa dingin.

“Kau ingin tahu?” tanya Ceng Ci-tong sambil merogoh ke dalam pinggangnya seperti mengambil sesuatu. “Baiklah, akan ku perlihatkan kepadamu

Darah Dingin mengalihkan seluruh perhatiannya mengawasi tangan Ceng Ci-tong. Dia ingin tahu barang apa yang hendak diperlihatkan orang ini.

Ceng Ci-tong tidak mengeluarkan barang apa-apa. Dia justru memencet sebuah tombol di pinggangnya untuk membuka kunci pengait yang mengikat senjatanya, kemudian…”Sreet!” tahu-tahu senjata gurdi berantainya sudah dilolos.

Baru saja si Darah Dingin tertegun, dari belakang tubuhnya kembali bergema suara desiran angin tajam yang membelah bumi. Ternyata tongkat runcing kemala putih milik Ko San-cing telah melancarkan serangan bokongan.

Waktu itu konsentrasi si Darah Dingin sudah terpecahkan. Semestinya memang sulit baginya untuk menghindarkan diri dari ancaman itu…

—–

Liu Ce-in menarik sebuah bangku dan duduk di balik kegelapan sambil mengisap huncwenya. Cahaya api yang berkedip dari huncwenya membiaskan secercah cahaya yang menyinari wajahnya, membuat raut muka itu separuh bersinar dan separuh tampak gelap.

Dengan mata melotot Leng Giok-siu sedang mengawasi Liu Ce-in. Hanya saja dia tidak duduk. Ingin duduk pun sulit baginya.
Setelah mengisap huncwenya beberapa sedotan, Liu Ce-in mulai mengawasi wajah Leng Giok-siu dengan perasaan bangga. Tiba-tiba ujarnya sambil tertawa, “Aku tahu apa yang ingin kau tanyakan.”

Leng Giok-siu tidak menjawab, dia hanya mengawasi Liu Ce-in dengan sinar mata penuh amarah.

Liu Ce-in berlagak seakan-akan tak melihat kemarahan orang. Dengan santainya kembali ia berkata, “Kau sudah terkena dupa pelemas tulang. Dupa itu sering dipergunakan para kaisar untuk mengerjai para dayang, selir dan gadis yang tidak penurut. Siapa pun yang terkena dupa ini, biar betapa hebat tenaga dalam yang dimiliki, dalam jangka satu jam, jangan harap bisa bangkit berdiri. Selain tak punya tenaga untuk berteriak, mau bicara pun susah.”

Leng Giok-siu tetap membungkam. Pancaran hawa amarahnya makin meledak-ledak. Diawasinya wajah Liu Ce-in tanpa berkedip.

Kembali Liu Ce-in tertawa terbahak-bahak, katanya, “Kau tak usah berharap Sim Ciok-kut datang menolongmu. Saat ini mungkin dia telah berkumpul dengan Buyung Sui-in, Kim Seng-hui serta Kui Keng-ciu!”

Bicara sampai di situ, pelan-pelan ia duduk kembali sambil mengisi ulang huncwenya dengan tembakau. Setelah itu ia mengisapnya dalam-dalam…

—–

Ketika si Darah Dingin sedang mengawasi tangan Ceng Ci-tong yang merogoh ke dalam pinggang untuk mengambil sesuatu, Ko San-cing segera menggetarkan senjata tongkat kemalanya dan menusuk punggung pemuda itu dengan sebuah tusukan maut.

Ketika jurus pedang darah terbang dari Iblis pedang darah terbang dipindahkan ke atas senjata toyanya, daya serang yang dihasilkan benar-benar luar biasa.

Ujung tongkat membelah angkasa dengan membawa desingan angin tajam. Gelombang udara yang bergetar benar-benar mengerikan.
Pada saat itulah tiba-tiba si Darah Dingin menerjang tiba dari arah belakang. Dalam keadaan begini dia bukannya mundur, justru menyerbu ke muka. Hal ini sama artinya dengan menumbukkan diri ke ujung tongkat yang tajam.

Ko San-cing tertegun. Tanpa mengubah gerak jurusnya ia melanjutkan tusukan keras ke tubuh lawan.

Agaknya Darah Dingin sudah menduga kalau Ko San-cing akan melanjutkan tusukan mautnya. Ia mundur selangkah. Biarpun terhindar dari tusukan yang telak, namun tak urung ujung tongkat menusuk juga di tubuhnya.

Darah Dingin mendengus dingin, tiba-tiba “Criiing!” dia telah melolos pedang andalannya.

Menanti Ko San-cing sadar kalau ia tertipu, keadaan sudah terlambat. Ternyata tusukan tongkatnya yang dikira telah berhasil menusuk di tubuh si Darah Dingin hanya menerobos lewat dari bawah ketiak lawan, sementara si Darah Dingin sudah menubruk mendekat dengan kecepatan tinggi.

Sebuah tusukan pedang telah dilancarkan, mengarah iga sebelah kanannya.

Dengan perasaan kaget Ko San-cing berusaha melompat mundur. Tapi ia segera sadar kalau senjata tongkatnya telah terjepit kencang di bawah ketiak lawan.

Dalam posisi begini, seandainya Ko San-cing rela melepaskan senjatanya sambil melompat mundur, mungkin masih sempat baginya untuk menyelamatkan diri. Namun sebagai seorang jago yang tak pernah mau melepas senjata andalannya, ia hanya berdiri terkesima.

Sementara ia tertegun, tubuh si Darah Dingin telah menempel tubuhnya, lalu…

“Sreet!” pedang tipis milik Darah Dingin telah menusuk ke lambung Ko San-cing hingga tembus ke tulang punggungnya.

Ko San-cing meraung kesakitan! Sambil menjerit keras menggetar angkasa, dia membuang senjata tongkatnya lalu merentangkan kedua belah tangannya dan mencekik musuhnya kuat-kuat.

Pada saat yang bersamaan senjata gurdi berantai milik Ceng Ci-tong telah siap dilancarkan. Tapi ia langsung tertegun setelah melihat si Darah Dingin bukannya maju, sebaliknya malah mundur.

Saat itulah dia saksikan tongkat Ko San-cing menusuk lewat dari bawah ketiak kiri si Darah Dingin, serangan dari rekannya itu ternyata meleset.

Bila serangan ini meleset, berarti keselamatan jiwa Ko San-cing terancam. Ceng Ci-tong membentak keras, senjata gurdinya segera dilontarkan ke depan.

Sungguh dahsyat serangan senjata gurdi itu. Diiringi deru angin tajam, langsung mengancam dada si Darah Dingin.

Dalam waktu relatif amat singkat itulah si Darah Dingin telah berhasil menyarangkan pedangnya di lambung lawan. Begitu berhasil dengan serangannya, ia segera berguling ke samping, gerakannya begitu terburu-buru sampai untuk mencabut senjata pun tak sempat.

Dengan bergulingnya si Darah Dingin ke samping, serangan senjata gurdi Ceng Ci-tong lagi-lagi mengenai tempat kosong. Bukan hanya begitu, saking kuatnya serangan tadi, senjata gurdi itu justru langsung menghantam ke dada Ko San-cing.

Di saat kesakitan karena terluka parah, mana mungkin Ko San-cing bisa menghindarkan diri?

“Duuuk…!” senjata gurdi itu menghantam dadanya kuat-kuat.

Ko San-cing menjerit ngeri, sementara Ceng Ci-tong dengan hati terkesiap buru-buru menarik kembali senjatanya.

Seandainya dia tidak berusaha menarik kembali senjatanya, mungkin keadaan akan menjadi rada mendingan. Tapi dengan ditariknya senjata gurdi itu, berarti daging berikut kulit Ko San-cing ikut terbetot lepas dari tubuhnya.

Percikan darah segar bercampur hancuran kulit dan daging menyebar ke angkasa. Ko San-cing melolong kesakitan…tapi baru separuh jalan, tubuhnya sudah roboh terjengkang ke tanah dan tak bersuara lagi.

Sekali lagi Ceng Ci-tong berdiri tertegun. Semua peristiwa ini tampaknya jauh di luar dugaannya!

Menggunakan kesempatan ini, si Darah Dingin berguling balik sembari mencabut keluar pedangnya yang masih menancap di perut Ko San-cing.

Ceng Ci-tong segera tersadar kembali dari lamunannya. Sebagai jago yang berpengalaman, dia tahu betapa gawatnya situasi saat itu. Maka begitu melihat si Darah Dingin telah mendapatkan kembali pedangnya, dia segera mengayun senjata gurdi berantainya, menyapu sekeliling ruangan.

Dalam waktu singkat seluruh lentera yang berada di seputar ruangan itu jadi padam. Suasana pun segera tercekam dalam kegelapan.

Kesempatan itu digunakan Ceng Ci-tong untuk berganti posisi beberapa kali, kemudian ia bersembunyi di belakang pintu sambil bermandikan peluh dingin.

Mimpi pun dia tak mengira jika si Darah Dingin sudah sejak awal membuat persiapan untuk menghadapi mereka. Bahkan saat ini, ia tak dapat menentukan berada di mana musuh tangguhnya itu.

Suasana gelap gulita, apapun tak terlihat. Bahkan cahaya rembulan pun sudah tertutup awan gelap. Sedemikian gelapnya, hingga kelima jari tangan sendiri pun tak kelihatan.

Dalam keadaan begini, dia hanya yakin akan satu hal. Di antara kawanan opas kenamaan, ketajaman pendengarannya terhitung nomor wahid. Dengan memadamkan seluruh cahaya lentera yang ada dalam ruangan, sesungguhnya amat menguntungkan posisi dirinya.

Asal musuh melakukan sedikit gerakan saja, dia akan menggunakan serangan yang paling cepat untuk menghancurkan tulang dada musuh dengan senjata gurdi besinya. Tapi masalahnya sekarang, sang musuh bersembunyi di mana?

Dia tahu, senjata andalannya jauh lebih panjang dan jauh jangkauannya ketimbang senjata lawan. Berada dalam kegelapan begini, senjata miliknya jauh lebih menguntungkan.

Tapi…tahukah si Darah Dingin bahwa dia memiliki ketajaman pendengaran yang jauh melebihi siapa pun? Dia pun tak tahu bahwa si Darah Dingin meski tidak memiliki ketajaman pendengaran yang melebihi orang lain, tapi memiliki ketajaman mata yang luar biasa.

Siapa pun orangnya, termasuk orang dengan daya penciuman yang biasa pun pasti tahu, dalam kegelapan yang pekat, biasanya hawa amis darah jauh lebih tebal, jauh lebih menusuk hidung. Hawa membunuh pun biasanya jauh lebih menakutkan dan menggidikkan hati.

—–

Liu Ce-in masih duduk di kegelapan sambil mengisap hun-cwenya. Persis di hadapannya duduk seorang. Dialah Leng Giok-siu.

Walaupun Leng Giok-siu masih mengawasinya dengan mata melotot, Liu Ce-in justru tidak memandang ke arahnya walau sekejap pun. Dia masih meneruskan isapan huncwenya sembari bergumam, “Sepuluh tahun berselang, sejak Suhu kami Pa Siok-jir. tewas terbantai oleh kalian di puncak gunung Hoa-san, kami harus hidup pontang-panting untuk menghindari pengejaran lawan. Aaai…sungguh menyesal, kami tak pernah mau belajar tekun waktu itu, hingga kehidupan kami harus terlunta-lunta…Walau ingin bersembunyi, tapi sembunyi di mana? Dunia memang luas, tapi musuh amat banyak! Aaai, pada hakikatnya tak sebuah tempat pun yang bisa dipakai untuk menyembunyikan diri.”

Setelah berhenti sejenak, sambungnya, “Kemudian kami sadar, kenapa tidak bergabung saja dengan pihak pengadilan? Bukankah di situ kami bisa bersembunyi dengan aman? Maka kami pun mendaftarkan diri menjadi anggota opas di berbagai pengadilan yang berbeda, di samping secara diam-diam melatih lebih tekun ilmu pedang darah terbang ajaran guru kami. Agar tidak menyolok hingga menimbulkan kecurigaan orang, terpaksa kami ubah ilmu pedang tersebut, dilebur dalam ilmu toya, ilmu senjata gurdi serta…ilmu huncweku ini…”

Bicara sampai di situ Liu Ce-in termenung sambil mengisap huncwenya berulang-kali. “Akhirnya kami jadi petugas opas dan tersohor. Tak ada orang yang mencurigai kami lagi. Ketika ilmu silat kami semakin matang, maka saat balas dendam pun tiba. Aku tahu bila dendam ini tidak dibalas, maka kalian bisa keburu mati duluan. Bila sampai begitu, kami bertiga tentu akan menyesal…”

Makin bicara Liu Ce-in semakin bersemangat, lanjutnya pula, “Waktu itu, ketika aku berhasil membunuh Samte kalian, dengan tubuh terluka parah dia berusaha mengambil senjata ruyungnya. Aku tahu dia tak bakal hidup lama, maka aku sengaja tetap tinggal di ruang perjamuan karena aku yakin kalian pasti akan mengundangku untuk membantu mengungkap teka-teki pembunuhan berdarah ini. Bila sampai begitu, maka aku punya alasan untuk mendatangkan Jisute dan Samsute. Dan dengan kekuatan kami bertiga, tidak sulit untuk membantai kalian satu demi satu.”

Tiba-tiba wajahnya berubah serius, katanya lagi, “Aku sama sekali tidak menyangka, ternyata si Darah Dingin juga hadir di sana…Tapi tak apalah, orang itu juga tak bakal bisa hidup melebihi kentongan ketiga. Dia juga akan menemani kalian semua.”

—–

“Tok, tok, toook…” suara kentongan bergema dari luar pintu. Si penjaga malam dengan membawa lentera berjalan lewat. Cahaya yang redup membuat orang sulit untuk melihat dengan jelas betapa gelapnya suasana di malam itu. Kentongan pertama sudah lewat.

Tampaknya si penjaga malam tidak merasakan hawa pembunuhan yang memancar keluar dari dalam gedung. Dia pun seperti tidak mengendus bau anyirnya darah. Ia sudah pergi menjauh.

Suasana hening dan sepi kembali mencekam seluruh gedung itu.

Si Darah Dingin masih bersembunyi di belakang pintu. Pintu ruangan itu terdiri dari dua daun pintu yang terbuka. Ceng Ci-tong bersembunyi di balik pintu satunya.

Karena Darah Dingin tidak bergerak, Ceng Ci-tong tidak tahu si Darah Dingin berada di mana.

Sebaliknya Ceng Ci-tong juga tidak bergerak, maka si Darah Dingin pun tidak melihat musuhnya berada di mana.

Padahal selisih jarak mereka berdua hanya berapa depa saja. Siapa yang mengetahui lebih dulu posisi lawannya dan melancarkan sergapan mautnya, maka dialah yang akan memenangkan pertarungan ini.

Tapi siapa pun tidak dapat menemukan siapa. Siapa pun tak tahu ada di manakah musuhnya.

Sekarang mereka seakan sedang bertanding, bertanding siapa yang lebih kuat menahan diri.

Akhirnya si Darah Dingin yang tak sanggup menahan diri.

Ketajaman pendengaran Ceng Ci-tong tiba-tiba menangkap gerakan tubuh si Darah Dingin yang menerjang keluar dari belakang pintu menuju ke ruang utama. Gerakan tubuhnya sangat cepat dan tak terlukiskan dengan kata.

Secepatnya si Darah Dingin bergerak, tidak lebih cepat dari sambaran senjata gurdi berantai Ceng Ci-tong.

“Kena!” tiba-tiba Ceng Ci-tong menghardik keras dari balik kegelapan. Menyusul kemudian…

“Duuuk!” ujung senjata gurdinya seakan menumbuk sebuah benda.

“Praaang…!”

Tiba-tiba Ceng Ci-tong merasa ada benda yang berhasil dihancurkan oleh serangannya, cuma benda itu bukan tubuh seseorang, melainkan hanya sebuah vas bunga.

Ceng Ci-tong segera sadar kalau dirinya tertipu. Kini gelagat tidak menguntungkan dirinya, jejaknya telah ketahuan lawan.

Belum sempat dia melakukan suatu reaksi, belum lagi dia meneriakkan kata “Kena!” tiba-tiba dari antara celah giginya yang berlubang menyelinap masuk sebuah benda yang keras lagi tajam. Sebilah pedang tipis, lembut tapi tajamnya bukan kepalang! Belum hilang rasa kagetnya, mendadak tenggorokannya terasa sakit sekali. Diiringi rasa manis yang aneh, kemudian apapun sudah tidak diketahui lagi olehnya.

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: