Kumpulan Cerita Silat

17/09/2009

Pendekar Baja (18)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 9:56 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

Saking cemasnya Jit-jit lantas berteriak, “Sim Long…”

Jeritan melengking tajam ini memecah kesunyian angkasa, tapi hanya sekejap saja lantas berhenti sebab kerongkongan Jit-jit serasa seperti tercekik.

Soalnya mendadak dari kolong meja sembahyang yang terguling itu menongol keluar sebuah kepala. Kepala Sim Long.

Begitu kepala Sim Long menongol keluar, seketika mengkeret lagi.

Secepat terbang Jit-jit memburu maju, dirangkulnya leher Sim Long, di samping terkejut tentu saja ia pun kegirangan, dengan napas terengah ia menggerundel, “O, engkau berada di sini, syukurlah tidak terjadi apa-apa. Kenapa engkau tidak bersuara, sungguh aku khawatir setengah mati.”

Tubuh Sim Long tidak bergerak, dengan dingin ia membentak, “Menyingkir!”

Jit-jit melengak dan melepaskan rangkulannya.

Betapa pun Sim Long marah padanya tidak pernah anak muda itu menghardiknya seperti sekarang ini.

Setelah melepaskan tangannya, matanya menjadi merah pula, sedemikian dia berkhawatir bagi Sim Long, tapi apa yang diperolehnya adalah hardikan. Remuk redam hatinya, ia menyurut mundur dengan menggigit bibir, air mata pun bercucuran.

Sebaliknya Sim Long sama sekali tidak memandangnya melainkan menatap ke depan sana.

Apa yang dipandang Sim Long, Jit-jit sendiri tidak tahu. Yang terlihat oleh si nona sekarang hanya Sim Long melulu, sambil mengusap air mata ia membatin, “Baiklah, Sim Long, begini keras engkau terhadapku, biarlah…biarlah seterusnya aku takkan menemuimu lagi.”

Walaupun begitu pandangannya tetap tidak pernah berpisah dengan anak muda itu.

Jika mau dikatakan Sim Long pemuda yang baik, di mana kebaikannya juga tak dapat dijelaskan olehnya.

Bicara tentang keterusterangan dia tidak melebihi Him Miau-ji, bicara tentang pendiam, dia juga tak dapat menandingi Kim Bu-bong, soal ketampanan dan pengertiannya terhadap anak perempuan, jelas dia juga kalah daripada Ong Ling-hoa. Tapi entah mengapa, dalam pandangan Jit-jit cuma ada Sim Long seorang, melihat dia, hatinya lantas senang, kalau tidak melihatnya, sepanjang hari dia akan murung.

Sungguh ia tidak berani membayangkan bilamana selanjutnya tidak bertemu dengan Sim Long akan bagaimana jadinya dia?

Seketika bergolaklah pertentangan batinnya, saking kesalnya ia menangis dan berteriak, “Sim Long kubenci padamu, kubenci…”

Namun Sim Long tidak mau memandangnya, tetap menatap ke depan sana.

Hancur hati Jit-jit, dengan suara serak ia berteriak, “Kau orang mampus, ayolah bicara, kau…kau…”

Didorong emosi, tanpa pikir tangannya melayang, “plak”, muka Sim Long digamparnya sekali.

Tapi anak muda itu seperti tidak merasakan apa pun, tetap tidak bergerak, wajah yang menyenangkan dan juga dibencinya itu telah bertambah sebuah cap tangan yang merah.

Pedih hati Jit-jit, cemas dan juga menyesal, kembali ia menangis dengan sedih. Namun Sim Long tetap tidak menghiraukannya.

Entah menangis berapa lama lagi, lambat laun suara tangis Jit-jit menjadi lirih.

Tiba-tiba terdengar Sim Long berucap dengan suara halus, “Sudah…sudah baikkah engkau?”

Jit-jit menjadi girang, ia pikir betapa pun Sim Long tetap memerhatikan diriku.

Tapi lantas terdengar anak muda itu menyambung lagi, “Kim-heng, hendaknya kau tahan sekuatnya.”

Nyata sasaran bicara Sim Long bukan dirinya. Kembali Jit-jit kecewa dan juga heran, waktu ia angkat kepala, barulah diketahuinya di sebelah Sim Long masih berbaring satu orang. Jelas Kim Bu-bong adanya.

Kim Bu-bong berbaring telentang di tengah genangan darah, kedua matanya terpejam rapat, mukanya pucat seperti kertas, napasnya sangat lemah, nyata dia dalam keadaan sekarat.

Mengapa keadaan rumah berhala ini bisa berubah menjadi begini? Apa yang terjadi atas diri Kim Bu-bong?

Ke mana perginya Ong Ling-hoa dan Kim Put-hoan?

Bahkan ada yang lebih mengejutkan Jit-jit ketika dilihatnya lengan kanan Kim Bu-bong telah buntung. Sekujur badannya berlumuran darah. Tak tahan lagi Jit-jit menjerit kaget.

Pantas Sim Long tidak menghiraukan dia, kiranya saat ini Sim Long sedang berusaha menyelamatkan Kim Bu-bong dengan menyalurkan hawa murninya.

Sekujur badan Jit-jit menjadi gemetar, serunya, “Oo, Kim-toako, meng…mengapa engkau jadi begini? Siapa…siapa yang mencelakaimu?”

Ia meratap, tapi rasanya sudah lelah, terpaksa ia cuma menggigit bibir, air mata lantas bercucuran lagi.

Sekali ini dia mencucurkan air mata bagi Kim Bu-bong. Diam-diam ia berdoa di dalam hati semoga jiwanya selamat.

Sampai sekian lamanya, akhirnya terdengar suara rintihan Kim Bu-bong yang sangat lemah. Baru sekarang Sim Long merasa lega, mukanya penuh keringat, tersembul senyuman pada ujung mulutnya, ia menghela napas, nyata besar harapan Kim Bu-bong dapat ditolongnya.

Tanpa terasa fajar sudah menyingsing.

Lambat laun napas Kim Bu-bong juga mulai lancar.

Jit-jit menggenggam kedua tangannya dengan erat, dia seakan-akan ikut berjuang bersama Kim Bu-bong melepaskan diri dari maut.

Akhirnya Kim Bu-bong membuka matanya. Namun sorot matanya kelihatan buram, ia memandang hampa sekitarnya, kemudian hinggap pada wajah Sim Long, sekuatnya ia bersuara, “Sim…Sim-heng…”

“Jangan bicara, Kim-heng,” ujar Sim Long. “Istirahat dulu, bereslah segala urusan, tidak berbahaya lagi.”

Kim Bu-bong tidak bersuara lagi. Namun pandangannya cukup menampilkan rasa pedih, duka, penasaran dan juga terima kasih dan gembiranya.

Dia telah diseret kembali dari renggutan elmaut, sahabat karibnya menunggu di sampingnya. Pertarungan sengit tadi sungguh rasanya seperti habis mimpi buruk saja.

Tapi juga dirasakan pertarungan sengit tadi dan darah yang dicucurkannya cukup berharga. Kalau tidak ada pertempuran sengit tadi, mungkin sekali saat ini Sim Long sudah terjebak oleh tipu muslihat Ong Ling-hoa.

Perlahan Jit-jit mendekatkan kepalanya ke telinga Kim Bu-bong dan memanggil, “Kim-toako….”

“Menyingkir dulu, jangan mengganggunya,” kata Sim Long.

Jit-jit mendongkol, katanya, “Aku tidak mengganggunya, aku ingin memberi obat padanya.”

Segera ia meraba bajunya dan mengeluarkan sebungkus obat bubuk.

“Obat apa itu?” tanya Sim Long.

“Obat luka,” tutur Jit-jit. “Konon obat ini cuma ada di istana raja, obat simpanan ayahku, waktu kuberangkat telah kucuri satu bungkus…”

“Bawa sini,” kata Sim Long.

Jit-jit menyerahkan obatnya dan berkata, “Separuh diminum, separuh lagi dibubuhkan pada lukanya.”

Obat itu memang mujarab, hanya sebentar setelah minum obat, air muka Kim Bu-bong lantas berubah agak merah. Jit-jit sibuk menambahkan kayu sehingga api unggun berkobar lagi.

Kim Bu-bong tampak membentangkan matanya lagi dan memandang Sim Long dengan rasa terima kasih yang tak terhingga, namun di mulut tidak berucap terima kasih melainkan cuma bilang, “Bagus, akhirnya engkau datang.”

Sim Long juga tertawa, “Ya, aku sudah datang…Hendaknya engkau jangan bicara, istirahat dan kumpulkan tenaga dulu.”

“Jangan khawatir, aku takkan mati.” ujar Bu-bong. Waktu melihat Jit-jit, ia tertawa, habis itu sorot matanya menjadi beringas lagi dan berseru dengan parau, “Ong Ling-hoa, di mana bangsat itu?”

“Tidak kulihat dia,” kata Sim Long.

“Bangsat itu…” ucap Bu-bong dengan gemas. “Biarpun dia melukaiku, tapi dia sendiri juga merasakan kelihaianku.”

“Jangan banyak bicara dulu, Kim-heng,” kata Sim Long pula.

Tapi Bu-bong menggeleng perlahan, “Tidak, bila tidak kuceritakan kejadian ini, hatiku akan terasa tidak enak. Setelah kukejar sampai di sini, kucium bau sedap daging panggang, segera kumasuk ke rumah berhala ini, siapa tahu mereka telah memasang perangkap di sini, begitu masuk kemari segera aku terjebak.”

“Segala apa tidak dapat mengelabui Sim Long, begitu mencium bau daging segera itu tahu…”

“Jangan menimbrung,” potong Sim Long sebelum lanjut ucapan Jit-jit.

Mestinya si nona ingin memuji Sim Long, hasilnya malah diomeli, keruan ia mendongkol, dengan mulut yang menjengkit ia melengos.

Didengarkan Kim Bu-bong lagi bercerita, “Waktu itu hiat-toku tertutuk dan tak bisa berkutik, kawanan bangsat itu memandang diriku sebagai ikan di dalam jaring dan pasti akan menjadi mangsa mereka, sebab itulah mereka bicara segala apa pun di hadapanku tanpa khawatir akibatnya. Ketika itulah dapat kuketahui betapa licin bangsat she Ong itu dan betapa luas pengaruhnya yang sama sekali di luar dugaan.”

“Orang ini memang sangat cerdas dan pintar, cuma sayang justru tersesat oleh kepintarannya sendiri,” ujar Sim Long dengan menyesal.

“Kemudian datanglah Co Kong-liong, salah seorang sesepuh Kay-pang,” sambung Bu-bong. “Sehari-hari keparat ini berlagak berbudi luhur, siapa tahu dia juga telah dibeli oleh Ong Ling-hoa, tujuannya tiada lain hanya karena kemaruk pada kedudukan pangcu saja.”

“Aha, rahasia Ji Yok-gi ternyata ada sangkut pautnya dengan Ong Ling-hoa,” kata Sim Long.

“Ji Yok-gi?” Bu-bong menegas. “Dia mempunyai rahasia apa?”

“Rahasia yang dimaksudkannya agaknya mengenai pengkhianatan sesepuh Kay-pang itu…” lalu Sim Long menceritakan apa yang terjadi atas diri Ji Yok-gi.

Bu-bong termenung sejenak, katanya kemudian, “Tempo hari dia dan Kay-pang-sam-lo tentu setiap malam berkumpul di suteng ini, pada tengah malam baru Ong Ling-hoa datang kemari.”

“Dengan sendirinya Ji Yok-gi tidak tahu aku sudah kenal Ong Ling-hoa,” kata Sim Long dengan tertawa, “maka ketika diketahuinya intrik Ong Ling-hoa, buru-buru dia ingin memberitahukannya kepadaku.”

“Tapi dari mana dia tahu engkau berada di mana?” tanya Bu-bong.

“Semula tentu Co Kong-liong memandangnya sebagai orang kepercayaannya, dengan sendirinya Ong Ling-hoa yang bicara tentang jejakku dan dapat didengar olehnya.”

“Betapa tajam pandangan Ong Ling-hoa, jika Ji Yok-gi akan bertindak sesuatu pasti akan diketahuinya,” ujar Bu-bong.

“Memang betul, sebab itulah gerak-geriknya pasti sudah diawasi oleh Ong Ling-hoa, maka sebelum menemukan diriku dia sudah terluka lebih dulu, cuma tidak diketahui cara bagaimana dia lolos dari penguntitan musuh…Cuma sayang, dengan mati-matian ia berusaha memberitahukan padaku tentang rahasia Ong Ling-hoa, tak diketahuinya rahasia Ong Ling-hoa sudah kuketahui lebih dulu. Jadi dia boleh dikatakan mati sia-sia.”

“Orang hidup, ada sementara urusan biarpun mati juga harus dikerjakannya,” ujar Bu-bong dengan tegas. “Soal apakah urusan yang dikerjakannya ini berguna atau tidak adalah soal lain. Meski Ji Yok-gi melakukan pekerjaan sia-sia ini dengan mempertaruhkan nyawanya, tapi dia mati demi kepentingan orang banyak, demi kesejahteraan umum, hidupnya boleh dikatakan cukup berharga, kematiannya tidak boleh dianggap penasaran. Padahal, pandangan terhadap mati dan hidup seseorang masih harus kubelajar kepada Sim-heng.”

“Seorang yang tidak takut mati semakin takkan mati…”

“Haha, inilah kata-kata emas, kata-kata yang tepat dan harus didengarkan oleh orang sejagat,” seru Bu-bong dengan tertawa. “Coba tadi, kalau aku takut mati, mungkin takkan hidup sampai saat ini.”

Wajah Kim Bu-bong tampak bersemangat, segera ia meneruskan ceritanya, “Waktu itu kawanan bangsat itu memandang diriku pasti akan mampus, aku dihina habis-habisan, bahkan di depanku mereka merencanakan muslihat keji cara bagaimana akan membikin celaka padamu. Pada lahirnya aku berlagak tidak dapat berbuat apa-apa, namun sebenarnya dengan menahan gusar diam-diam sudah ada perhitunganku sendiri.”

“Betapa kejam dan tajam mata Ong Ling-hoa tentu juga tidak dapat menyelami perasaanmu,” ujar Sim Long dengan tertawa.

“Betapa pun dia dapat menyelami perasaanku tentu juga tidak tahu apa yang kuperlihatkan waktu itu cuma pura-pura saja, bahkan tentang tubuhku yang tidak dapat bergerak juga ada setengahnya pura-pura belaka.”

“Katamu engkau tertutuk olehnya?” timbrung Jit-jit.

“Dia menyerang di luar tahuku, aku tidak sempat mengelak, tapi diam-diam aku menghimpun tenaga dalam untuk menahan tutukannya sehingga hiat-to yang tertutuk tidak tembus seluruhnya,” tutur Bu-bong.

“Selama ini, kalau bicara tentang kekuatan khikang, memang diakui Ca Giok-koan adalah ahli yang paling menonjol, sesudah pertemuan Wi-san dahulu tentu kemajuannya tambah memuncak, cuma tak kusangka Kim-heng juga telah memperoleh ajarannya sedemikian hebat.”

Bicara tentang gurunya itu, wajah Kim Bu-bong menampilkan rasa pedih, ucapnya, “Soal baik atau jahat pribadi Ca Giok-koan tidak perlu dibicarakan, namun kebijaksanaannya terhadap anak muridnya harus dipuji, selamanya dia perlakukan mereka secara adil tanpa menyembunyikan sesuatu.”

“Meski aku pun benci terhadap tindak tanduknya, tapi terhadap kecerdasan dan kebijaksanaannya yang kau sebut tadi harus kukagumi,” ujar Sim Long.

Bu-bong diam saja, jelas dia tidak ingin membicarakan lagi gembong iblis yang membuat orang benci dan juga mengagumkan itu.

Kemudian ia menyambung lagi ceritanya, “Waktu itu meski kutahan dengan tenaga dalam, tapi tenaga jari Ong Ling-hoa juga tidak boleh diremehkan, kurasakan setengah badanku kaku kesemutan, bilamana kuturun tangan waktu itu rasanya juga sukar menahan tutukannya itu.”

“Hm, Ong Ling-hoa kan juga gembong iblis zaman ini?” ujar Sim Long dengan gegetun.

“Terpaksa aku berlagak tak bisa berkutik agar diam-diam dapat kupulihkan tenagaku dan sekalian mendengarkan rahasia mereka, ketika mereka yakin engkau pasti akan menyusul tiba, tentu saja aku pun senang dan akan turun tangan bilamana engkau sudah datang.”

“Masa Ong Ling-hoa dapat memperhitungkan kedatangan Sim Long?” tanya Jit-jit dengan terbelalak.

“Kecerdasan Ong Ling-hoa memang luar biasa, dia memperhitungkan kalian pasti akan datang mengikuti jejak yang ditinggalkan kawanan pengemis itu, maka dia lantas mengatur tipu keji untuk menantikan kalian, untuk ini, sebelum kalian tiba mereka hendak menggusur diriku ke tempat lain, dalam keadaan kepepet, biarpun tahu sendirian tidak dapat melawan orang banyak, terpaksa aku turun tangan juga.”

“Wah, pertarungan itu pasti sangat sengit,” ujar Sim Long sambil memandang keadaan ruang suteng yang morat-marit itu.

Bu-bong tersenyum getir dan juga merasa bangga, tuturnya, “Dengan sendirinya aku bukan tandingan Ong Ling-hoa, Kim Put-hoan dan Co Kong-liong, tapi dasar pengecut, melihat aku dapat bergerak, lebih dulu Kim Put-hoan sudah jeri. Co Kong-liong juga gentar menghadapi perlawananku yang nekat, hanya Ong Ling-hoa saja, ai, dia benar-benar serigalanya manusia.”

“Apakah kungfunya juga sama kejinya dengan tipu akalnya?” tanya Sim Long.

“Betapa luas kungfu yang dikuasainya dan betapa keji jurus serangannya, sungguh sukar diceritakan,” tutur Bu-bong. “Yang paling hebat adalah kecerdasannya dalam hal menerka jurus serangan lawan sebelum dilontarkan, sedetik sebelum serangan tiba, lebih dulu dia sudah mengatur pertahanan untuk mengatasi seranganmu.”

“Bagaimana kungfunya jika dibandingkan Thian-hoat Taysu?” tanya Sim Long.

“Thian-hoat pasti tidak mampu menahan 20 jurus serangannya,” tutur Bu-bong.

“Masa begitu lihai?” seru Sim Long.

“Tentunya Sim-heng sangsi, jika dia begitu lihai, mengapa dapat kulukai dia,” kata Bu-bong. “Memang, bicara kungfu sejati tidak nanti dapat kulukai dia, tapi ketahuilah, pada waktu bertempur, kungfu yang paling lihai adalah nekat.”

“Seorang yang nekat sukar dilawan oleh seribu orang”, pemeo ini cukup diketahui Sim Long.

Dengan tersenyum pedih Bu-bong bercerita pula, “Dengan mengorbankan lengan kanan ini barulah dapat kupukul dia satu kali. Cuma sayang, waktu itu juga aku lantas jatuh pingsan, bagaimana lukanya aku sendiri tidak tahu.”

“Pukulanmu mana dapat ditahan oleh tubuh manusia,” ujar Sim Long. “Kalau dia tidak terluka parah, masa engkau dapat bicara denganku seperti sekarang.”

“Ya, mungkin lukanya juga parah sehingga tidak sempat membunuhku lagi,” kata Bu-bong dengan tersenyum pedih.

Sim Long menatapnya sekian lama, akhirnya menghela napas dan berkata, “Sebenarnya…sebenarnya Kim-heng juga tidak perlu bertindak demikian.”

“Bertindak apa? Memangnya aku salah berbuat?”

“Sungguh hatiku tidak tenteram oleh tindakan Kim-heng kepadaku ini.”

“Aku bertindak apa padamu?”

“Waktu itu mestinya engkau tidak perlu bergebrak dengan mereka, cukup kau angkat kaki saja, masa mereka mampu merintangimu? Walaupun tahu bukan tandingan mereka, tapi engkau tetap melabrak mereka, hanya karena engkau ingin membela diriku saja.”

“Omong kosong!” jengek Bu-bong. “Selama hidupku hanya tahu membela kepentingan sendiri, untuk apa kupikirkan kepentingan orang lain. Bilakah pernah kubela dirimu, apakah engkau lagi mimpi?”

“Meski lahirnya engkau kelihatan dingin, tapi sebenarnya hatimu panas membara, tindakanmu itu sungguh membuat hatiku tidak enak…”

“Kenapa hatimu tidak enak?” teriak Bu-bong. “Apakah karena kasihan melihat aku cacat?…Hm, meski Kim Bu-bong kini cuma bertangan satu juga jauh lebih kuat daripada mereka yang punya dua tangan, kau percaya tidak?”

“Aku…aku…” Sim Long tergegap.

“Ai, kenapa kau jadi serupa anak kecil? Beberapa kali kau selamatkan jiwaku dan tidak pernah kuucapkan banyak terima kasih, masakah sekarang kau…”

“Betul!” mendadak Sim Long berseru dan tertawa. “Bagi seorang lelaki sejati, apa artinya buntung sebelah tangan? Kim Bu-bong yang bertangan satu pasti jauh lebih kuat daripada Ong Ling-hoa yang bertangan dua.”

Kedua orang muda ini, yang satu masih berbaring di tengah genangan darah, terluka parah dan sukar berbangkit, yang lain masih harus menghadapi masa depan yang penuh rintangan dan ujian, namun sekarang mereka sama bergelak tertawa.

Meski Jit-jit berdiri di samping, namun semua ucapan mereka dapat didengarnya dengan jelas dan terukir dalam benaknya, seketika ia pun mencucurkan air mata terharu.

Begitulah kedua orang sama tertawa, Kim Bu-bong merasa tenaga sendiri semakin kuat, secara ajaib lukanya bisa sembuh dengan cepat, tentu saja ia gembira. Tapi sebaliknya dirasakan suara tertawa Sim Long makin lama makin lemah.

Malahan segera dirasakan lagi tangan Sim Long yang tak pernah berpisah dengan tubuhnya itu masih terus menyalurkan hawa murni kepadanya, pantas lukanya yang parah bisa cepat sembuh dan sanggup bicara terus-menerus.

Bagi orang yang berlatih kungfu, tenaga murni sama dengan jiwanya, namun sekarang tenaga murni Sim Long telah disalurkan kepada Kim Bu-bong tanpa pikirkan akibatnya, dengan sendirinya tenaga Kim Bu-bong pulih dengan cepat, sebaiknya Sim Long sendiri menjadi lemah.

Seketika Kim Bu-bong berhenti tertawa dan berteriak, “Singkirkan tanganmu!”

Sim Long tertawa, sungguh ia tidak tahan lagi, tanpa terasa ia bersandar di kaki meja.

Semua ini tentu saja dapat dilihat Cu Jit-jit, betapa pun ia terharu dan berkata kepada dirinya sendiri, “Lelaki sejati ini tidak boleh kulepaskan, jika kutinggalkan dia, selamanya takkan kudapatkan kesatria sejati seperti dia, betapa pun dia memperlakukan diriku dengan kasar tetap aku harus mengalah, apa alangannya mengalah sedikit?”

Segera ia mengambilkan daging panggang dan mendekati Sim Long.

Daging panggang itu sudah agak hangus bagian kulitnya, namun baunya bertambah sedap.

Dengan suara lembut Jit-jit berkata, “Engkau sudah lelah, makanlah sedikit!”

Tak terduga Sim Long tidak menghiraukannya, sebaliknya malah mendengus, “Singkirkan!”

Tapi Jit-jit berkata pula, “Sudah kucoba dengan tusuk kundai perak, daging ini dapat dimakan.”

“Menyingkir!” bentak Sim Long malah.

Sedapatnya Jit-jit bersabar, ucapnya, “Jika engkau tidak suka daging panggang ini, di sekitar sini tentu ada kampung yang menjual makanan, maukah kubelikan…Tentu Kim-toako juga ingin makan.”

“Tidak perlu,” seru Sim Long.

“Aku…aku cuma ingin bekerja sesuatu bagimu, urusan apa pun akan kulakukan,” kata Jit-jit.

“Baik, menyingkirlah sejauhnya, makin jauh makin baik, untuk itu aku akan berterima kasih malah,” kata Sim Long dengan ketus.

Jit-jit jadi melengak, kembali air matanya bercucuran. Dipandangnya Kim Bu-bong, meski ada orang lain di sini, tapi dia tidak peduli lagi, ia sudah bertekad akan berkorban asalkan demi Sim Long, dengan menggereget ia bertanya, “Se…sesungguhnya aku berbuat salah apa sehingga membuatmu marah? Katakan saja, bila betul aku salah, selanjutnya pasti akan kuperbaiki, pasti!”

Biasanya tidak nanti dia berucap begini, tapi sekarang telah dikatakannya. Habis bicara ia lantas menangis tersedu-sedan, tapi cepat ditahannya pula.

Tangisan tanpa suara, kepedihan dengan bersenyum, sungguh mengandung berbagai macam perasaan yang sukar diuraikan.

Akhirnya Sim Long berpaling dan memandang wajah si nona. Wajah yang mirip apel kehujanan itu.

Namun sorot matanya tetap dingin, jengeknya, “Hm setelah berbuat salah, kau sendiri tidak mengetahuinya? Kalau bukan gara-garamu, mana Pek Fifi bisa diculik orang, kalau bukan gara-garamu, mana Kim-toako bisa berubah menjadi begini?”

“Sem…semua ini salahku?…”

“Bukan salahmu, habis salah siapa?” bentak Sim Long. “Jika kau mau sedikit berpikir bagi orang lain, jika ada sedikit rasa simpatimu terhadap orang lain, semua ini pasti takkan terjadi.”

Air mata Jit-jit bercucuran bagaikan hujan, ucapnya dengan gemetar, “Tapi aku…aku…”

“Kau tidak lain cuma seorang perempuan jahat yang egois, congkak, suka menang dan juga iri, asalkan kau sendiri senang, urusan orang lain tidak kau pikirkan lagi. Asalkan kau sendiri gembira, biarpun hati orang lain hancur luluh juga tidak kau peduli.”

Setiap kata Sim Long itu seolah-olah cemeti yang menyabet tubuh Cu Jit-jit, membuat telinganya serasa mendengung dan akhirnya jatuh terkulai.

Sejak kecil sampai sebesar ini belum pernah dia dimaki orang secara begini, sekarang Sim Long telah mencaci maki dia habis-habisan dan membuatnya tercengang, diam-diam ia bertanya kepada diri sendiri, “Apakah betul aku sebusuk itu? Apa betul aku sejahat itu?…”

Seketika itu seakan-akan terbayang wajah Him Miau-ji, Pek Fifi, Pui Jian-li, Can Ing-siong, dan lain-lain…Orang-orang itu sama pernah dibikin susah olehnya, ada yang dibikin malu olehnya, ada yang dikecewakan dan ada juga yang dibuat berduka olehnya.

“Tapi semua itu kulakukan tanpa sengaja, sama sekali tidak ada niatku untuk membikin susah siapa pun,” serunya kemudian dengan penasaran.

“Betul, tidak ada niatmu membikin susah orang lain, tapi orang yang menderita oleh karena ketidaksengajaanmu itu justru lebih susah daripada perbuatanmu yang sengaja. Engkau menganggap dirimu paling terhormat, paling agung, orang lain harus menurut, harus tunduk kepada kehendakmu, orang lain harus kau injak-injak di bawah kakimu, seakan-akan semua perbuatanmu itu adalah selayaknya begitu.”

“Ti…tidak, sama sekali aku tidak…tidak berpikir begitu,” ratap Jit-jit. “Aku tidak berpengalaman, aku tidak tahu apa-apa, masa…masa engkau tidak dapat memaafkan diriku?”

“Tidak,” jengek Sim Long ketus.

Sambil memukuli tanah Jit-jit meratap pula, “Banyak orang yang berbuat salah lebih besar daripadaku dan mereka dapat…dapat kau maafkan, sebaliknya engkau tidak…tidak dapat memaafkan kesalahanku?”

“Maafku kepadamu sudah terlalu banyak,” ujar Sim Long.

Jit-jit mengertak gigi dan merangkak bangun untuk berdiri di depan Sim Long, teriaknya, “Baik, engkau tidak dapat memaafkanku, aku pun tidak perlu minta diampuni olehmu, lebih baik kau bunuh saja diriku.”

“Membunuhmu? Tidak perlu,” jengek Sim Long.

“Oo…betapa kejam hatimu,” ratap Jit-jit. “Aku tidak minta apa-apa, masa engkau tidak sudi membunuhku?”

Sim Long diam saja tanpa menghiraukannya.

Kembali Jit-jit jatuh terkulai, ratapnya, “O, Tuhan, mengapa engkau perlakukan diriku secara tidak adil. Orang yang paling jahat sekalipun boleh mati di tangan Sim Long, sebaliknya aku…aku tidak ingin hidup lagi dan kesempatan untuk mati di tangannya saja ditolak.”

Sim Long memejamkan mata tanpa menghiraukan si nona. Sejak tadi Kim Bu-bong juga telah memejamkan mata.

Sukar untuk melukiskan perasaan Jit-jit sekarang. Ia benci, benci kepada diri sendiri, juga benci kepada Sim Long. Tapi biarpun benci, tetap tidak dapat berbuat sesuatu apa.

Mendadak ia melompat bangun, serupa orang gila ia jemput benda apa pun yang dapat diraihnya terus dilemparkan ke arah Sim Long sambil berteriak histeris, “Kubenci…kubenci padamu…kubenci padamu selamanya…” Lalu dia berlari pergi seperti kesetanan.

Perlahan Sim Long membuka matanya, tapi tetap tidak bergerak, serupa seorang padri yang sedang bersemadi.

Kim Bu-bong juga membuka matanya dan memandang Sim Long dengan heran.

Sampai sekian lamanya, akhirnya Sim Long tertawa.

“Apakah hatimu terbuat dari baja?” tanya Bu-bong kemudian.

Tertawa Sim Long rada mengandung rasa pedih juga, gumamnya, “Hatiku…siapa yang tahu akan hatiku?…”

“Mengapa kau tega perlakukan dia cara begini?” tanya Bu-bong pula.

“Seharusnya kuperlakukan dia bagaimana?”

Bu-bong terdiam, sejenak kemudian baru berkata pula, “Apakah betul dia tidak dapat dimaafkan?”

“Masakah dia dapat dimaafkan?”

“Seumpama tidak dapat dimaafkan, engkau harus memaafkan dia.”

“Sebab apa?” tanya Sim Long.

Bu-bong menatap langit-langit rumah yang guram, katanya perlahan, “Nanti bila usiamu meningkat seperti diriku sekarang tentu akan kau ketahui. Biarpun banyak perempuan cantik di dunia ini, tapi untuk mencari seorang yang benar-benar mencintaimu sedalam ini kukira tidak…tidak mudah.”

Mendadak ia berpaling dan menatap Sim Long lekat-lekat, “Tentunya kau akui bahwa dia memang cinta padamu. Betapa pun harus kau akui, apa yang dilakukannya tidak berniat jahat. Terhadap orang lain engkau sangat bijaksana, terhadapnya mengapa engkau seketus itu?”

Sim Long termenung sejenak, sahutnya kemudian, “Aku dapat mengampuni orang lain, tapi tidak dapat mengampuni dia…”

Sampai sekian lama Kim Bu-bong melenggong, akhirnya ia mengangguk perlahan dan berucap, “Ya betul, engkau dapat mengampuni orang lain, tapi tidak kepadanya.”

Keduanya tidak bicara lagi, semuanya terhanyut dalam lamunan masing-masing. Apa yang mereka pikirkan, apakah memikirkan betapa rumitnya hubungan antara manusia dan manusia?

Kemudian Sim Long berkata, “Orang lain tentu juga dapat mengampuni dia, tapi aku tidak.”

Sekali ini tanpa pikir Bu-bong lantas mengangguk setuju, “Betul, orang lain dapat memaafkan dia, tapi engkau tidak…Tanggung jawab orang lain hanya terhadap dirinya sendiri, asalkan memenuhi kewajiban terhadap diri sendiri dan selesailah, tapi tugas…tugas yang kau pikul teramat berat.”

“Ternyata cuma Kim-heng saja yang tahu akan pribadiku, apa pula yang perlu kusesalkan lagi hidupku ini?”

Api unggun berkobar dengan keras, ruang suteng terasa hangat, entah hangat karena api unggun atau hangat karena persahabatan.

Selang agak lama tiba-tiba Sim Long berkata, “Apa pun juga semoga dia…”

Pada saat yang sama Kim Bu-bong juga berucap, “Apa pun juga semoga dia…”

Kedua orang bicara bersama dan tutup mulut serentak pula, sebab mereka sama tahu apa yang hendak diucapkan ternyata sama.

“Apa pun juga semoga dia hidup selamat dan bahagia!”

Namun doa yang tulus ikhlas itu sudah tidak didengar lagi oleh Cu Jit-jit. Saat itu entah sudah berapa jauhnya dia berlari.

Mukanya mulai perih karena tersayat tiupan angin, kemudian terasa kaku, lalu terasa sakit seperti digigit semut. Air matanya sudah kering, kakinya terasa berat.

Untunglah di depan kelihatan ada bangunan rumah. Ia percepat langkahnya dan berlari ke sana. Kini dia sudah melupakan rasa duka, yang terpikir hanya semangkuk kuah hangat dan sebuah dipan.

Tapi di depan tidak ada rumah, juga tidak ada kuah panas maupun dipan.

Bayangan bangunan rumah itu sesungguhnya cuma tempat pemakaman.

Nyata kuburan ini milik keluarga hartawan sehingga dibangun dengan sangat megah.

Dengan lemas Jit-jit duduk meringkuk di balik batu nisan, hanya tempat ini dapat digunakan untuk mengalingi tiupan angin. Ia menanggalkan sepatu dan memijat kaki sendiri yang pegal.

“Mengapa dia sangat baik terhadap orang lain, terhadapku justru tidak kenal kasihan?” demikian ia teringat lagi kepada Sim Long, timbul rasa bencinya. “Mengapa orang lain sangat baik padaku justru kubalas dengan dingin, sebaliknya Sim Long memperlakukan diriku dengan kasar justru tidak dapat kulupakan?”

Pikir punya pikir ia menjadi benci pula kepada dirinya sendiri.

Selagi kusut pikirannya, sekonyong-konyong terdengar sesuatu suara yang berjangkit dari tempat yang sangat dekat. Itulah suara manusia suara orang lagi bicara.

Waktu ia dengarkan lebih cermat, ternyata suara itu timbul dari dalam kuburan.

Ya, tidak salah lagi, jelas timbul dari dalam kuburan. Masa kuburan dapat bersuara? Mungkinkah orang mati bisa bicara?

Walaupun kaget, namun sebagai gadis yang sudah sekian lama berkelana di dunia Kangouw, segera terpikir olehnya, “Ah, jangan-jangan kuburan ini juga sebuah tempat rahasia yang dijadikan sarang sesuatu sindikat gelap?”

Segera ia memandang sekelilingnya, terdengar suara orang melangkah di bawah batu nisan. Agaknya ada orang hendak keluar dari dalam kuburan.

Tidak jauh di sebelah sana ada patung totekong atau toapekong, patung malaikat penjaga tanah yang biasanya pasti disertakan pada setiap makam. Patung itu sebesar manusia.

Jit-jit berpindah dan sembunyi di belakang patung, lalu mengintip.

Tertampaklah batu nisan tadi mulai bergerak dan muncul sebuah lubang, kemudian dari dalam lubang menongol sebuah kepala…dan sebuah lagi, dua orang menyusup keluar dari bawah tanah.

Kedua lelaki kekar ini sama memakai jaket kulit, meski hawa dingin, namun mereka tetap membusungkan dada dengan lagak kereng.

Orang yang keluar lebih dulu memandang sekeliling makam. Dengan sendirinya tak terpikir olehnya di sini ada orang asing.

Orang yang keluar belakangan sama sekali tidak memandang keadaan di luar, segera ia mendorong batu nisan itu. “Krek”, batu nisan itu merapat kembali seperti semula.

Kedua orang lantas melangkah ke bawah undak-undakan makam besar itu sambil menggerundel.

Seorang di antaranya berkata, “Hm, barang macam apakah si cacat itu, tampaknya bukan sembarangan orang. Cuaca begini kita disuruh membeli obat baginya ke tempat yang berpuluh li jauhnya, bukankah sengaja hendak menyiksa orang?”

Kawannya menanggapi, “Sudahlah, Ong-lotoa, tidak perlu mengomel, peduli siapa dia pendek kata dia adalah kawan bos kita. Kalau tidak, untuk apa bos membawanya ke sini.”

“Hm, kalau tidak mengingat hal ini, memangnya aku mau bekerja baginya?” jengek orang pertama yang dipanggil sebagai Ong-lotoa itu.

“Tapi juga lumayan, sepanjang hari kita selalu bersembunyi di dalam, meski tersedia arak dan perempuan, rasanya juga sudah bosan, mumpung ada kesempatan keluar, biarlah kita pelesir sepuasnya,” ujar orang kedua tadi.

“Betul,” seru Ong-lotoa dengan tertawa. “Kesempatan kita gunakan untuk pelesir setengah hari, toh si cacat itu tampaknya takkan mampus meski tidak segera minum obat.”

Begitulah kedua orang itu terus bicara sambil tertawa dan semakin jauh.

Sesudah bayangan kedua orang itu menghilang di kejauhan barulah Jit-jit keluar dari tempat sembunyinya. Ia coba mendekati batu nisan dan menariknya.

Mendingan kalau dia tidak menarik batu nisan itu, sekali menarik, nasib kehidupannya juga berubah lagi.

Begitu batu nisan bergerak, seketika hatinya juga tergerak, pikirnya, “Sesungguhnya sarang rahasia apakah ini? Siapa pula si cacat yang dimaksudkan kedua orang tadi? Siapa pula bos mereka? Yang pasti, membuat sarang rahasia di dalam kuburan, besar kemungkinan bukan manusia baik-baik, perlu kuperiksa apa yang terdapat di dalam kuburan ini.”

Dasar watak Jit-jit memang usilan, usil mulut, usil perbuatan. Tidak ada urusan saja ingin cari pekerjaan, apalagi sekarang terlihat sesuatu yang sangat aneh dan misterius.

Kata pepatah: “Dunia ini mudah berganti penguasa, watak asli sukar berubah”, menghadapi kejadian menarik ini, jelas wataknya yang usilan jadi kumat.

Maka begitu lubang gua di balik batu nisan terbuka, segera ia hendak menyusup ke dalam.

Tapi segera terpikir olehnya, “Ah, nanti dulu. Sarang rahasia siapakah ini? Orang baik atau orang jahat? Ada sangkut paut apakah denganku? Kenapa aku mencari urusan? Pantas Sim Long bilang aku…”

Mestinya dia akan mengurungkan niatnya masuk ke situ, tapi demi teringat kepada Sim Long, segera pikirannya berubah.

“Sim Long, lagi-lagi Sim Long! Mengapa harus kuturut perkataannya, toh aku tak ingin hidup lagi, biarpun menemui bahaya di dalam sana juga tidak menjadi soal.”

Sambil mengentak kaki, dengan nekat akhirnya dia masuk ke situ.

—–

Pada umumnya segala macam sarang rahasia atau lorong di bawah tanah, kebanyakan mempunyai ciri yang sama, yaitu seram, gelap dan berbau apak yang memusingkan kepala orang.

Lorong di bawah tanah ini ternyata ada keistimewaan, yaitu tidak ada penjaga juga tidak ada pesawat jebakan, bisa jadi lantaran tempat ini terlalu rahasia sehingga pada hakikatnya tidak mungkin ditemukan orang, sebab itulah tak diperlukan penjaga. Atau mungkin juga majikan makam ini sangat tinggi hati, pada hakikatnya dia memandang sebelah mata terhadap orang lain.

Jit-jit juga tidak peduli sebab apa tidak ada penjaga, setelah merapatkan kembali batu nisan, segera ia melangkah maju. Ada belasan undak-undakan batu yang dilaluinya menuju ke bawah.

Kemudian ia sampai di sebuah ruangan kecil, sebuah ruang tamu yang terpajang indah serupa rumah keluarga hartawan umumnya.

Ia coba melongok ke dalam, tiada seorang pun di situ. Segera ia masuk begitu saja. Sama sekali ia tidak khawatir dipergoki orang, kini ada semacam pikiran menyiksa diri padanya, kalau kepergok orang, dianggapnya lebih baik malah.

Di sebelah sana ada sebuah pintu, langsung Jit-jit menuju ke sana.

Pada saat itulah di dalam sana berkumandang suara orang tertawa dan berkata, “Sungguh cara berpikir Kongcu sangat lengkap, khawatir anak buahmu hidup kesepian di sini, maka sengaja kau cari dua nona untuk menemani mereka di sini. Haha, sungguh sangat menarik.”

Tubuh Jit-jit tergetar, serentak ia berhenti di tempat, sebab dikenalnya suara orang itu sebagai suara Kim Put-hoan. Ia heran mengapa bangsat itu bisa berada di sini.

Terdengar lagi seorang lain berucap, “Masa Kim-heng lupa, justru Kongcu selalu berpikir panjang sehingga usahanya tambah maju. Jika di sini tidak ada kenikmatan, siapa yang mau ngendon kesepian di sini?”

Suara ini juga sangat hafal bagi Jit-jit, setelah berpikir segera teringat olehnya, “Ah, Co Kong-liong.”

Didengarnya Kim Put-hoan lagi berkata dengan tertawa, “Betul, bilamana tidak kerasan, diam-diam orang yang bertugas di sini pasti akan bolos keluar. Tapi kalau segalanya sudah tersedia lengkap, biarpun diusir juga mereka tak mau pergi.”

“Dan sekarang jadinya engkau yang senang, haha,” tukas seorang lagi dengan tertawa. “Ayo, tuangkan arak, Siau Ling.”

Ternyata suara orang ketiga ini ialah Ong Ling-hoa.

Anehnya suara Ong Ling-hoa sekarang kedengaran sangat lemah, habis bicara lantas terengah dan terbatuk lagi.

Jantung Jit-jit hampir saja melompat ke luar dari rongga dadanya. Dia berdiri mematung di situ, mundur salah, maju pun keliru.

Pintu itu tertutup, tapi di bawah ada celah-celah dan cahaya lampu menembus keluar dari situ.

Setelah berpikir sejenak, akhirnya ia nekat, ia mendekati pintu, ia berjongkok dan coba mengintip ke dalam melalui celah-celah pintu.

Tertampak sebuah perapian terletak di tengah ruangan, di samping perapian ada sebuah meja penuh hidangan, di samping meja Kim Put-hoan dan Co Kong-liong berduduk.

Seorang perempuan berbaju merah dan rambut agak kusut, berdandan berlebihan serupa ronggeng asyik menambahi kayu perapian.

Ada lagi seorang perempuan lain berbaju biru berduduk di dalam pangkuan Kim Put-hoan, mukanya merah dan tersenyum, namun sinar matanya memancarkan rasa jemu dan muak.

Setelah memandang lagi ke sebelah lain baru terlihat Ong Ling-hoa berbaring di atas dipan berlapiskan kulit harimau, wajahnya yang tampan itu sekarang pucat pasi seperti mayat.

Keterangan Kim Bu-bong memang tidak salah, nyata gembong iblis ini memang terluka parah.

Bahkan Kim Put-hoan dan Co Kong-liong tampaknya juga terluka. Lengan kanan Co Kong-liong tampak terbalut dan tergantung dengan kain pada lehernya, jelas lukanya juga tidak ringan.

Yang tidak berat lukanya jelas cuma Kim Put-hoan, dia lagi makan minum, terkadang tidak lupa mencolek pipi anak perempuan yang berduduk di pangkuannya.

Aneh juga, mengapa dia sengaja menyuruh kedua orang tadi membelikan obat baginya, agaknya makian “si cacat” yang dilontarkan kedua lelaki berjaket kulit tadi ditujukan kepadanya.

Sungguh tak terpikir oleh Cu Jit-jit bahwa secara tidak sengaja kembali dia kesasar lagi ke sarang rahasia Ong Ling-hoa. Entah mengapa pertemuan manusia di dunia ini sering terjadi secara kebetulan dan aneh begini?

Di antara orang-orang yang berada di situ yang paling lesu ialah Ong Ling-hoa, yang paling gembira jelas ialah Kim Put-hoan. Terus-menerus Kim Put-hoan berkaok-kaok senang, sebaliknya tenaga untuk bicara saja tidak dipunyai Ong Ling-hoa, tampaknya dia sangat letih, ingin tidur, tapi Kim Put-hoan justru tidak memberi kesempatan tidur baginya.

Malahan Kim Put-hoan terus menarik si nona baju merah, jadinya sekarang dia rangkul kanan dan peluk kiri, kedua anak perempuan itu tertawa cekakak dan cekikik meski di dalam hati tiada habis-habisnya menggerutu.

Tentu saja Jit-jit agak gemas melihat tingkah laku manusia bejat itu, sampai-sampai Co Kong-liong juga merasa mendongkol, ucapnya setengah menyindir, “Wah, senang amat Kim-heng.”

“Tentu saja senang,” sahut Kim Put-hoan dengan tertawa. “Didampingi dua nona secantik ini, kenapa tidak senang? Eh, sini, Siau Ling, cium satu kali.”

“Setelah mengalami pertarungan tadi, sekarang Kim-heng masih bisa gembira seperti ini, sungguh luar biasa,” jengek Co Kong-liong pula.

“Kejadian tadi…hehe, kan sudah beres? Keparat Kim Bu-bong itu jelas akan mampus, kenapa kita tidak boleh gembira?”

“Waktu itu kalau Kim-heng tambahi lagi sekali tusuk, dia pasti sudah mampus. Cuma sayang…ketika itu Kim-heng terburu-buru angkat kaki.”

“Aku terburu-buru angkat kaki, apakah Co-heng sendiri tidak tergesa-gesa lari? Karena waktu itu Ong-kongcu terluka parah sehingga aku tidak berani lagi tinggal di sana, memangnya Co-heng sendiri bukan begitu?”

Muka Co Kong-liong sebentar merah sebentar pucat dan tidak sanggup bicara lagi.

Sebaliknya Kim Put-hoan lantas bergelak tertawa, katanya pula, “Urusan sudah lalu, sepantasnya sekarang Co-heng ikut bergembira…Eh, Siau Hong, lekas menyanyi untuk menghibur Co-toaya.”

Si nona baju hijau menunduk dan menjawab, “Aku tidak dapat menyanyi.”

“Sialan, orang bekerja seperti ini tidak bisa menyanyi?” omel Kim Put-hoan.

“Sudahlah, Kongcu harus istirahat, kukira Kim-heng perlu mengaso,” ujar Co Kong-liong.

“Hehehe, kau bilang Ong-kongcu harus istirahat?” kata Kim Put-hoan sambil menyeringai. “Ya, dia memang perlu istirahat panjang, mumpung masih bernapas, apa jeleknya senang-senang dulu menyaksikan tari dan nyanyi?”

Ucapan Kim Put-hoan ini membikin enam orang yang berada di luar dan dalam ruangan sama terkejut.

Dengan air muka berubah Co Kong-liong menegas, “Ah, jangan…jangan Kim-heng bergurau.”

“Selamanya aku tidak suka bergurau,” sahut Put-hoan.

Tiba-tiba Ong Ling-hoa bertanya dengan tertawa, “Dari mana Kim-heng mendapat tahu jika harus istirahat panjang alias mati?”

Walaupun dia berlagak tidak terjadi sesuatu, sebenarnya air mukanya juga rada berubah.

“Tentu saja kutahu.” jawab Put-hoan.

“Meski Kongcu terkena sekali pukulan Kim Bu-bong, tapi tenaga pukulan keparat itu mana mampu membunuh Kongcu, dalam beberapa hari kesehatan Kongcu pasti akan pulih kembali,” ujar Co Kong-liong.

“Tapi kubilang dia takkan hidup melewati hari ini,” tukas Put-hoan.

“Apa…apa katamu? Apakah kau gila?” teriak Co Kong-liong.

“Kubilang dia takkan hidup melampaui hari ini, apakah kau berani bertaruh denganku?” tantang Put-hoan.

Tiba-tiba Ong Ling-hoa tertawa terkekeh-kekeh, “Tak tersangka waktu kematianku ternyata diketahui Kim-heng sejelas ini, cuma sayang, di tempat ini tersedia segala apa pun, hanya peti mati saja yang tidak tersedia.”

“Tidak menjadi soal,” kata Put-hoan. “Setelah kau mati, mayatmu diantar ke Jin-gi-ceng, orang-orang di sana pasti akan menyediakan peti mati bagimu.”

Dia bicara dengan adem ayem seakan-akan apa yang diucapkan itu adalah kejadian yang lumrah. Tapi bagi pendengaran Co Kong-liong cukup membuatnya pucat, dengan tergegap ia bertanya, “Kim-heng, sesungguhnya apa maksudmu?”

“Apa maksudku masakah belum kau ketahui?”

Di bawah cahaya lampu, wajah Kim Put-hoan yang menyeringai itu tampak seram.

Dengan bergidik Co Kong-liong menjawab, ” Aku…aku tidak tahu.”

Sebenarnya bukan Co Kong-liong jeri terhadap kungfu Kim Put-hoan yang diketahuinya tidak lebih tinggi daripada dirinya itu, dia cuma ngeri terhadap kekejian orang saja.

Dilihatnya Kim Put-hoan telah berbangkit dan mendekati Ong Ling-hoa dengan perlahan sambil memegang secawan arak.

Muka Ong Ling-hoa bertambah pucat, sedapatnya ia tenangkan diri dan bertanya, “Kau mau apa?”

“Co Kong-liong tidak tahu aku mau apa, masakah engkau juga tidak tahu?” jengek Put-hoan.

“Meski tahu, tapi ada sedikit lagi yang tidak kumengerti,” kata Ling-hoa.

“Apa yang kau tidak mengerti?”

“Hendak kau bunuh diriku bukan?”

“Hehe, memang anak pintar.”

“Tapi kita kan bersekutu, mengapa hendak kau bunuh diriku?”

Mendadak Kim Put-hoan meludah, jawabnya sambil menyeringai, “Sekutu? Huh, berapa harganya sekutu, satu kati berapa duit? Yang memberi susu dialah ibu. Selama hidup orang she Kim tidak pernah bersahabat, apalagi bersekutu dengan siapa pun. Barang siapa menganggap orang she Kim sebagai sekutu, dia yang buta matanya.”

“Tapi tempo hari…”

“Tempo hari lantaran kulihat masih dapat kuraih keuntungan darimu, makanya kusepakat bersahabatan denganmu, tapi sekarang engkau sudah mirip bangkai anjing, siapa pula yang mau bersekutu denganmu?”

“Meski saat ini aku terluka parah, tapi luka ini pasti akan sembuh dalam waktu singkat. Kekuatanku tersebar luas di 13 provinsi, anak buah kami sedikitnya beberapa ribu orang. Asalkan kau mau bersahabat denganku, setelah kusembuh nanti tentu akan banyak memberi keuntungan padamu. Kau orang pintar, masakah hal ini tidak kau pikirkan?”

Melihat Ong Ling-hoa masih sanggup bicara dengan tenang pada detik menghadapi elmaut itu, mau tak mau Cu Jit-jit yang sembunyi di luar pintu itu merasa kagum juga.

Terdengar Kim Put-hoan lagi berkata, “Betul, setelah kau sembuh memang dapat kudapatkan keuntungan, tapi aku tidak sabar menunggu lagi, apalagi bila kubunuhmu sekarang akan jauh lebih menguntungkan bagiku.”

Dia tertawa terkekeh, lalu menyambung, “Setiap pekerjaanku yang utama adalah keuntungan, asalkan besar keuntungannya, biarpun aku disuruh mencuci pantat orang juga tidak menjadi soal.”

“Memangnya apa keuntunganmu bila kau bunuhku sekarang?”

“Tentu saja banyak keuntungannya, apakah kau mau tahu?”

“Coba ceritakan,” pinta Ong Ling-hoa.

“Pertama, bila kubunuhmu sekarang, tentu dapat kusita barang yang kau tipu dari Cu Jit-jit itu. Tidak lama lagi tumpukan emas yang menyilaukan mata itu akan menjadi milikku.”

“Wah, kiranya kau pun tahu hal ini,” ucap Ong Ling-hoa dengan gegetun.

“Kedua, saat ini engkau sudah ada harga tertentu, setelah kubunuhmu, selain dapat kuterima hadiah dari Jin-gi-ceng, juga pasti akan kudapatkan pujian mereka sebagai seorang pahlawan. Nah, pekerjaan yang bakal mendatangkan keuntungan nama dan harta ini kenapa tidak kulakukan?…Haha, umpama Sim Long, yang paling dibencinya ialah dirimu dan bukan diriku, bila kubunuhmu tentu dia juga akan tepuk-tepuk bahuku dan memujiku sebagai sahabat sejati…Jangan lupa, Kim Bu-bong juga terbunuh olehmu.”

“Bagus…bagus!” ucap Ong Ling-hoa dengan tertawa getir.

“Tentu saja bagus, sekarang kau pun kagum padaku, bukan?”

“Tapi kau pun jangan lupa, anak buahku tersebar di mana-mana, ibuku bahkan tokoh nomor satu di dunia persilatan ini, jika kau bunuh diriku, masakah mereka akan mengampunimu?”

“Bila kubunuhmu sekarang, memangnya siapa lagi yang tahu?”

“Tapi kan akan kau pergi ke Jin-gi-ceng dan…”

“Untuk ini tidak perlu kau ikut khawatir,” ujar Put-hoan. “Setiap orang yang terima hadiah Jin-gi-ceng selamanya dijamin rahasia pribadinya, kalau tidak, siapa yang mau mencari penyakit hanya untuk menerima sedikit hadiah itu?”

“Tapi kan masih ada lagi Co-pangcu…” Ong Ling-hoa sengaja melirik ke arah Co Kong-liong.

Sebutan “pangcu” sengaja diucapkan dengan tarikan suara yang panjang dan lantang, Co Kong-liong yang lagi bersandar di kursi tanpa bergerak itu seketika tergetar. Ia pikir kalau Ong Ling-hoa mati, siapa pula yang akan mendukungnya naik ke singgasana pangcu?

Sebutan “pangcu” serupa percikan api yang segera membakar lagi hatinya yang angkara murka dan membuatnya nekat.

Mendadak ia melompat bangun sambil membentak, “Betul, barang siapa ingin mengganggu Ong-kongcu, tidak nanti kutinggal diam.”

Meski keras suaranya, namun Kim Put-hoan tidak menghiraukannya, sebaliknya ia mendengus, “Hm, jika Co Kong-liong ingin hidup lebih lama, sebaiknya dia tetap duduk di tempatnya, kalau ingin cepat mampus, boleh dia uji diriku dengan tangannya yang masih tersisa itu.”

Muka Co Kong-liong menjadi pucat, ia pandang tangannya sendiri yang cedera, “bluk”, ia duduk kembali di kursinya.

Kim Put-hoan terbahak-bahak, isi cawan ditenggaknya hingga habis, “prak”, cawan kemala itu dibantingnya hingga hancur.

Siau Ling dan Siau Hong semula meringkuk ketakutan di pojok sana, kini mendadak Siau Ling berbangkit sambil menarik Siau Hong, omelnya dengan tertawa genit, “Semuanya gara-garamu sehingga Kim-toako marah, ayolah lekas minta maaf kepada Kim-toaya.”

Siau Ling adalah perempuan penghibur yang berpengalaman, ia tahu kalau Ong Ling-hoa mati, jelas mereka pun tak bisa hidup.

Kedua perempuan itu lantas mendekati Kim Put-hoan, Siau Ling mendorong Siau Hong ke pangkuan Kim Put-hoan, ia sendiri juga lantas merangkul dan berkata padanya dengan manja, “Sudahlah, jangan Kim-toaya marah-marah pula, biarlah kami meladeni Kim-toaya, tanggung…” lalu ia membisikkan sesuatu ke telinga Kim Put-hoan.

Kim Put-hoan menjadi sibuk, tangan yang satu meraba dada Siau Ling, tangan yang lain meremas pantat Siau Hong, omelnya dengan tertawa, “Wah, padat juga, rasanya tuanmu ingin caplok kalian sekaligus.”

Kerlingan Siau Ling bisa bikin orang semaput, ucapnya manja, “Kalau mau caplok bolehlah sekarang juga, rasanya aku pun tidak tahan lagi. Di belakang sana masih ada kamar dan…”

“Baik…” ucap Kim Put-hoan sambil menyeringai, mendadak kedua tangannya menampar, “plak-plok”, kedua perempuan itu terpental jatuh ke sana.

“Sundal,” maki Kim Put-hoan, “memangnya kau kira tuanmu ini orang macam apa dan dapat kau tipu? Hm, perempuan jalang macam kalian ini sedikitnya ribuan sudah pernah kulihat…”

Mendadak Siau Ling balas memaki, “Kau manusia bejat, matamu buta, masih berlagak, memangnya kau kira nyonya besar penujuimu, biarpun kau jadi kacung pencuci…”

Begitulah, dalam keadaan nekat, segala kata kotor dilontarkan seluruhnya.

Siapa tahu Kim Put-hoan berbalik tertawa malah, “Haha, bagus, makian bagus! Makin kotor makianmu, makin senang aku, pada waktu bekerja memang kusuka dimaki orang.”

Sungguh Jit-jit merasa muak oleh kata-kata kotor mereka itu.

Tapi Ong Ling-hoa lantas berkata, “Orang semacam dirimu jarang terlihat juga di dunia ini, bahwa orang she Ong hari ini bisa terjungkal di tanganmu rasanya juga tidak terlalu penasaran.”

“Hm, kiranya kau pun bisa membedakan kualitas orang,” kata Kim Put-hoan. “Tapi kukira saat ini kau pasti juga merasa menyesal mengapa tadi tidak membawa anak buah Kay-pang ke sini, juga menyesal mengapa menyuruh kedua anak buahmu pergi membeli obat bagiku.”

Ong Ling-hoa menghela napas, katanya, “Ya, selain menyesal, aku pun merasa sayang.”

“Merasa sayang apa?” tanya Put-hoan.

“Sayang orang berbakat seperti dirimu ini juga takkan hidup lama lagi.”

Kim Put-hoan jadi melengak, tapi lantas tertawa, “Haha, apakah engkau sudah linglung? Yang akan mampus bukanlah diriku melainkan kau!”

Ong Ling-hoa tersenyum, “Betul, aku akan mati, dan kau pun tidak banyak berbeda.”

“Kentut!” damprat Put-hoan.

Dengan suara lembut Ong Ling-hoa berkata, “Kim-heng, engkau memang manusia yang paling rendah, kotor, keji, licik, dan tidak tahu malu. Tapi bilamana dibandingkanmu, rasanya aku pun tidak lebih baik daripadamu.”

“Tapi engkau toh terjebak juga olehku,” ujar Put-hoan dengan menyeringai, namun tidak urung matanya yang tinggal satu itu berkedip-kedip menampilkan rasa sangsi dan takut.

“Meski aku terjebak olehmu, tapi Kim-heng juga tertipu olehku. Arak yang kau minum barusan lebih dulu sudah kucampur dengan racun perantas usus.”

Seketika tubuh Kim Put-hoan tergetar, rasanya seperti disambar geledek, ia melenggong dengan mandi keringat.

“Kau…kau dusta…Haha, omong kosong!” katanya dengan gemetar. “Jika benar di dalam arak ada racun, ken…kenapa sampai saat ini tidak kurasakan sesuatu?”

Lalu dia tertawa, namun tertawa yang menyerupai orang menangis.

“Racun itu baru akan bekerja tujuh hari kemudian,” tutur Ong Ling-hoa. “Di dunia ini hanya aku seorang saja yang dapat menolongmu, bila sekarang kau bunuh diriku, tujuh hari kemudian mungkin…”

Kim Put-hoan melonjak murka dan meraung, “Kau dusta…jangan kau kira aku dapat ditipu. Saat ini juga akan kubinasakan kau.”

“Baik, jika Kim-heng tidak percaya, silakan turun tangan,” tentang Ong Ling-hoa malah.

Kim Put-hoan memburu maju sambil mengangkat sebelah tangannya. Tapi tangan yang siap menghantam itu tidak lagi diteruskan.

“Kenapa Kim-heng tidak turun tangan?” tanya Ling-hoa dengan tertawa.

Mendadak Kim Put-hoan menampar mukanya sendiri beberapa kali sambil memaki, “Semua gara-gara mulut ini, kenapa rakus makan dan minum, mampus kau, mampus!”

“Eh, jangan terlalu keras, kenapa Kim-heng menyakiti dirinya sendiri?” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Bluk,” mendadak Kim Put-hoan berlutut di lantai dan memohon dengan suara gemetar, “O, Ong-kongcu, orang besar takkan menyesali perbuatan orang kecil, hendaknya kau ampuni diriku, tadi aku cuma…cuma main-main saja. Harap Ong-kongcu menawarkan racunku dan takkan habis terima kasihku selama hidup.”

“Baik, jika kau minta kutolong dirimu, boleh tunggu lagi tujuh hari,” kata Ling-hoa dengan tertawa.

“Tapi…tapi tujuh hari kemudian lukamu akan sembuh,” seru Put-hoan dengan parau.

“Memang betul,” Ling-hoa tersenyum senang.

“Dan…dan bila kau sembuh, mana…mana dapat kau ampuniku?” saking cemasnya Kim Put-hoan mengusap keringat yang memenuhi dahinya.

“Akan kuampunimu, tapi mau percaya atau tidak terserah padamu.”

“Tujuh hari lagi, rasanya aku tidak sabar menunggu lagi, mohon Ong-kongcu sekarang juga…”

“Jika kutolong dirimu sekarang, aku sendiri yang tidak bisa hidup lagi,” kata Ling-hoa dengan tertawa.

Mendadak Kim Put-hoan berubah beringas dan membentak pula, “Keparat, kumohon dengan baik-baik, kenapa kau tolak. Padahal saat ini engkau tergenggam di tanganku, hendaknya kau turut perintahku untuk menawarkan racunku, kalau tidak…”

“Kalau tidak bagaimana?” sahut Ling-hoa dengan tersenyum. “Jika kutolong dirimu sekarang aku pasti akan mati, kalau tidak kutolongmu masih ada harapan untuk hidup. Coba jawab, jika kau jadi diriku, apa pilihanmu?”

Seketika Kim Put-hoan melenggong dan serbasalah, untuk membunuh Ong Ling-hoa sekarang juga dia tidak berani, diharuskan menunggu tujuh hari rasanya juga enggan.

Dengan berbagai jalan, ya membujuk, ya mengancam, namun apa daya, Ong Ling-hoa tetap tahan harga. Kalau tadi lagak Kim Put-hoan serupa harimau yang hendak mencaplok mangsanya, sekarang dia mirip tikus berhadapan dengan kucing.

Semua itu dapat disaksikan Cu Jit-jit dengan jelas, sungguh membuatnya heran, kejut, geli dan juga muak.

Ia pikir betapa keji hati keparat Kim Put-hoan dan betapa tebal kulit mukanya, sungguh tidak ada bandingannya di dunia.

Tiba-tiba terpikir lagi olehnya, “Saat ini Ong Ling-hoa berbaring tidak bisa berkutik, Kim Put-hoan dan Co Kong-liong juga terluka, jika kesempatan ini tidak kugunakan untuk membekuknya kan terlalu tolol aku ini?”

Berpikir demikian, tanpa ragu lagi segera ia mendobrak pintu, “blang”, langsung ia menerjang ke dalam.

Keruan semua orang terperanjat, cepat Kim Put-hoan membalik tubuh dan berteriak, “Hei kau Cu Jit-jit!”

“Huh, masakah kau dapat kabur sekali ini. Sim Long…cepat kemari, mereka berada di sini!” sembari berseru Jit-jit terus menyerang beberapa kali.

Melihat munculnya Jit-jit, meski terkejut, segera Kim Put-hoan menjadi girang, ia merasa kebetulan domba disodorkan ke mulut harimau, segera ia bermaksud menangkap si nona. Tapi begitu mendengar Jit-jit berteriak memanggil Sim Long, seketika kaki dan tangannya menjadi lemas.

“Betul, kalau Cu Jit-jit muncul, tentu juga Sim Long segera menyusul tiba,” demikian pikir Put-hoan. Maka sambil menghindarkan serangan Jit-jit, segera ia menerobos ke arah pintu bagian belakang, ia yakin di situ pasti juga ada jalan tembus keluar.

Segera Jit-jit berteriak, “Jangan ikut lari!”

Diam-diam Co Kong-liong membatin, “Hanya orang tolol yang tidak ikut lari.”

Berpikir demikian, seketika ia pun angkat langkah seribu, bahkan lebih cepat larinya daripada Kim Put-hoan.

“Jangan lari!” teriak Jit-jit pula. “Itu dia, Sim Long, lekas kejar, mereka lari ke sana!”

Semula Ong Ling-hoa pucat melihat kemunculan Cu Jit-jit serta seruannya memanggil Sim Long. Tapi setelah melihat lagak si nona, mendadak tersembul senyuman geli pada ujung mulutnya.

Tiba-tiba ia pun berseru, “Tapi Ong Ling-hoa tidak sempat lari, tidak perlu juga kejar mereka!”

Jit-jit melengak, tapi lantas diketahuinya ucapan Ong Ling-hoa itu menirukan suara Sim Long, agaknya supaya Kim Put-hoan dan Co Kong-liong yang lari belum jauh itu dapat mendengarnya dan tidak berani kembali lagi.

Habis itu barulah Ong Ling-hoa berkata pula, “Terima kasih atas pertolongan Nona.”

“Tutup mulutmu!” bentak Jit-jit sambil membalik tubuh.

“Kenapa Sim-siangkong belum lagi datang?” tanya Ling-hoa.

“Dari mana kau tahu dia belum datang, dia berada di luar,” kata Jit-jit.

“Jika berada di luar, tentunya Nona takkan sengaja menggertak lari mereka dan aku pun tidak perlu membantumu menakut-nakuti mereka.”

“Hm, tampaknya kau serbatahu,” jengek Jit-jit. “Biarpun Sim Long tidak ikut datang, melulu aku juga sanggup menghadapimu.”

“Saat ini aku sama sekali tidak bertenaga, dengan sendirinya Nona…”

“Jika tahu begitu, apa yang membuatmu gembira? Kau kira kudatang untuk menolongmu? Hm, aku cuma tidak suka kau jatuh dalam cengkeraman orang lain.”

“Ya, ya, kutahu,” kata Ling-hoa dengan tertawa.

“Hm, tadi Kim Put-hoan dapat kau gertak sehingga tidak berani turun tangan padamu, tapi sekarang kau jatuh dalam cengkeramanku celakalah nasibmu.”

“Umpama sekarang juga Nona membunuhku, tetap aku bergembira. Bisa mati di tangan Nona secantik bidadari seperti dirimu kan jauh lebih menyenangkan daripada mati di tangan si buta itu…”

“Huh, salah besar jika kau sangka jatuh dalam cengkeramanku akan lebih enak. Bagi Kim Put-hoan paling-paling cuma membunuhmu saja, tapi aku…justru akan kusiksa dulu dirimu.”

Teringat kepada macam-macam perbuatan Ong Ling-hoa yang menggemaskan, sungguh Jit-jit tidak tahan, segera ia melompat maju dan sekaligus memberi beberapa kali tamparan.

“Dapat dipukul oleh tangan halus seperti tangan Nona ini boleh dikatakan mujur juga,” kata Ong Ling-hoa sambil cengar-cengir. “Jika tangan Nona tidak kesakitan, silakan pukul lagi beberapa kali.”

“Baik!” teriak Jit-jit dan kembali ia menggampar lima-enam kali.

“Bagus, pukulan bagus!”

“Kalau bagus biar kutambah lagi!”

Dan begitulah, belasan kali tamparan Jit-jit membikin muka Ong Ling-hoa yang putih itu berubah menjadi merah bengep dan bertambah gemuk.

Siau Ling dan Siau Hong sama melongo, mereka tidak menyangka nona cantik manis begitu tega turun tangan sekeji itu.

“Hm, coba omong lagi, segera kupukul lebih banyak,” jengek Jit-jit. “Jangan kau kira aku ini Cu Jit-jit yang dulu, supaya kau tahu, aku sudah berubah sekarang. Jika berani lagi sembarangan mengoceh, bisa kupotong sebelah kupingmu, kau percaya tidak? Cu Jit-jit sekarang bukan lagi Cu Jit-jit yang boleh sembarangan dihina.”

“Ya, ya,” terpaksa Ong Ling-hoa melihat gelagat.

“Apakah masih ingat tempo hari aku telah kau tipu dengan tersiksa?” tanya Jit-jit.

“Ingat…tidak ingat,” jawab Ling-hoa dengan gelagapan. “Ai, kejadian sudah lalu, untuk apa Nona mengungkatnya?”

“Tidak mengungkatnya? Hm, selama hidup takkan kulupakan kejadian itu,” jengek Jit-jit. “Thian Mahaadil, sekarang kau pun jatuh dalam cengkeramanku. Nah, apa…apa yang dapat kau katakan lagi?”

“Aku tidak dapat berkata apa-apa,” sahut Ling-hoa. “Apa kehendak Nona, tentu akan kuturuti.”

“Baik, kembalikan dulu!” kata Jit-jit sambil menyodorkan sebelah tangan.

“Kem…kembalikan apa?”

“Masa berlagak pilon pula? Barangku yang kau tipu itu lekas kembalikan padaku,” bentak Jit-jit dengan gusar.

“O, ya, ya, menurut,” sahut Ling-hoa dengan tersenyum getir.

Lukanya memang tidak ringan, dengan susah payah akhirnya baru sepasang anting-anting dapat dikeluarkannya.

Jit-jit terus menyambarnya dan menjengek, “Oi, Ong Ling-hoa, tak tersangka akan terjadi juga seperti sekarang ini.”

“Nona mau apa lagi?” tanya Ling-hoa.

Jit-jit tidak menjawab, sambil membetulkan rambutnya ia mondar-mandir di dalam kamar. Pandangan Ong Ling-hoa juga mengikuti si nona yang kian-kemari itu seperti ingin mengetahui apa yang dipikirnya.

Tiba-tiba Siau Ling mengambilkan kursi dan berkata kepada Jit-jit, “Silakan Nona duduk dulu dan jangan marah, umpama Ong-kongcu tidak setia padamu kan dapat…”

“Kentut, dia tidak setia apa?” bentak Jit-jit dengan gusar. “Jangan kau ikut urusan dan takkan kubikin susah padamu, kalau usil mulut, hmk!”

“Ya, ya, hamba tidak berani,” cepat Siau Ling menjawab dengan takut.

Ia sendiri orang perempuan, ia tahu bilamana hati perempuan sudah kejam, biasanya akan jauh lebih kejam daripada lelaki.

Mendadak Ong Ling-hoa berkata, “Lelaki yang tidak setia memang menggemaskan. Jika Nona ingin mencari pembantu untuk menghadapi lelaki yang tidak setia padamu, aku inilah pilihan yang paling tepat.”

“Tutup mulutmu!” bentak Jit-jit.

Meski dia berlagak garang, tidak urung matanya menjadi merah dan basah. Nyata ucapan Ong Ling-hoa itu telah menyentuh perasaannya.

Diam-diam Ling-hoa bergirang, ia tahu sementara ini Cu Jit-jit pasti takkan membikin celaka padanya. Asalkan tidak turun tangan keji padanya sekarang, selanjutnya dia pasti punya akal untuk meloloskan diri.

Cu Jit-jit mondar-mandir lagi beberapa kali, mendadak ia menutuk dua tempat hiat-to kelumpuhan Ong Ling-hoa, lalu dibungkusnya dengan selimut, dipanggulnya dan dibawa pergi.

“Ke…ke mana Nona akan membawa Ong-kongcu?” tanya Siau Ling dengan takut.

“Sebentar bila ada orang datang dan tanya padamu, katakan Ong Ling-hoa telah digondol pergi Nona Cu Jit-jit, jika ada orang bermaksud menolong dia, lebih dulu akan kucabut nyawanya.”

Siau Ling mengangguk. Sesudah Jit-jit pergi, dengan tertawa ia bergumam, “Kalau ada orang datang, jelas kami pun sudah angkat kaki. Untung uang mereka masih tertinggal di sini…”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: