Kumpulan Cerita Silat

16/09/2009

Seri 4 Opas – Pertemuan di Kota Raja 01

Filed under: Pertemuan di Kota Raja — Tags: — ceritasilat @ 1:53 pm

Oleh Wen Rui An

(Terima kasih kepada Abu Keisel, Manise, dan Lovescan)

Bab I. Tangan Pembunuh.

Bagian 01. Jeritan Mengerikan.

Jeritan mengerikan yang begitu memilukan hati berkumandang secara tiba-tiba! Suara itu berasal dari sebuah bangunan loteng di sayap timur gedung utama.

Suasana gembira yang sedang meliputi semua orang yang hadir dalam gedung utama, seperti suara orang yang sedang minum arak sambil berjudi, seketika terhenti secara mendadak. Semua orang terhenyak, kaget oleh datangnya jeritan mengerikan itu.

Sebagian besar orang yang hadir dalam ruang gedung itu rata-rata bertubuh kekar, bermata tajam dan menggembol senjata. Dari dandanan serta tampang mereka, dapat diketahui bahwa asal-usul orang-orang ini pasti bukan orang sembarangan.

Di tengah ruangan terpampang sebuah tulisan yang besar, “Siu” atau “panjang usia”, sementara semua perabot dan peralatan yang ada di sana hampir semuanya indah dan mewah. Jelas keluarga pemiliknya adalah keluarga kaya raya.

Yang lebih hebat lagi, di samping ruang utama ada berjajar empat buah bangku kebesaran yang terbuat dari kayu cendana. Di atas keempat buah bangku kebesaran itu duduk empat orang kakek yang telah berusia lanjut.

Orang pertama berambut putih dan beralis perak. Raut mukanya bersih, tubuhnya jangkung dan penuh welas-asih. Sebilah pedang tersoreng di punggungnya. Orang ini tak lain adalah tokoh persilatan nomor wahid, jago paling termashur di kota C’iang-ciu. Orang memanggilnya Te-it-tiau-liong (Naga nomor wahid) Leng Giok-siu.

Konon ilmu pedang Tiang-khong-sip-ci-kiam (ilmu pedang salib penembus langit) yang dimilikinya tiada tandingan di kolong langit. Jarang ada jagoan yang sanggup menerima jurus serangannya. Tapi sayang usianya sudah lanjut, sudah bertahun-tahun dia simpan pedangnya dan hidup mengasingkan diri.

Orang kedua adalah seorang kakek berambut putih dengan wajah yang merah segar. Di pinggangnya tersoreng sebilah golok yang amat tipis. Senjata itu tak pernah bergeser dari tubuhnya. Jalan darah Thay-yang-hiat di kiri-kanan jidatnya menonjol tinggi, jelas tenaga dalamnya amat sempurna.

Dia adalah Te-ji-tiau-liong (Naga nomor dua) Buyung Sui-in. Ilmu golok Jit-sian-chan (tujuh babatan berputar) yang diyakininya sangat hebat dan tiada tandingan. Wataknya keras, tegas dan lurus. Semua jago dari kalangan Hek-to akan pecah nyali dan buru-buru menyingkir bila mendengar nama Buyung Sui-in.

Orang ketiga adalah seorang kakek yang dandanannya setengah Tosu setengah awam. Rambutnya hitam, jenggotnya panjang, penampilannya dingin lagi angkuh. Sebuah hud-tim (senjata kebutan) selalu berada di tangannya.

(Naga ketiga tidak ada keterangan tambahan, editor)

Orang ini bermarga Sim bernama Ciok-kut, berada dalam urutan keempat berjuluk Te-si-tiau-liong (Naga keempat).

Ilmu silat yang dimilikinya tinggi dan sakti. Senjata hud-timnya yang merupakan salah satu senjata langka disebut Ciok-kut-hud (kebutan salah tulang). Tapi sayang wataknya aneh, dingin, kaku dan tidak berperasaan. Walaupun begitu, dia terhitung seorang manusia jujur yang berhati lurus dan setia-kawan. Kelemahannya adalah dia kelewat sadis dan selalu telengas terhadap lawannya.

Orang-orang dari kalangan Hek-to akan segera menyingkir atau bersembunyi bila bertemu Buyung Sui-in, maka bila bertemu Sim Ciok-kut, mungkin mau bergerak selangkah pun tidak berani.

Orang keempat adalah seorang kakek bercambang hitam yang mengenakan pakaian penuh tambalan. Sewaktu melotot, matanya lebih besar dari uang tembaga. Alisnya tebal dengan mata besar, biarpun perawakan tubuhnya sedikit pendek, namun kekar berotot seperti sebuah kuali baja. Sepasang tangannya kasar, dua kali lebih kasar daripada tangan orang biasa.

Orang ini tidak membawa senjata. Ilmu silat andalannya adalah ilmu kebal Thiat-poh-san (baju kain baja), ditambah ilmu Cap-sah-thay-po (tiga belas thay-po) dan Tong-cu-kang (ilmu jejaka). Konon kesempurnaan ilmunya sudah mencapai sebelas bagian, bukan saja kebal terhadap berbagai senjata, biarpun sebuah bukit ambruk dan menindihi tubuhnya pun belum tentu akan membuatnya mati.

Dari lima ekor naga, wataknya paling keras dan berangasan. Dia tak lain Te-ngo-tiau-liong (Naga kelima) Kui Keng-ciu.
Mereka semua disebut orang Bu-lim-ngo-tiau-liong (Lima naga dari dunia persilatan). Sejak dulu nama mereka sudah tersohor akan kehebatan serta kependekarannya. Sayang usia mereka makin bertambah tua, hingga kegiatan mereka pun bertambah sedikit. Meski begitu, belum ada orang berani mengutak-atik kebesaran lima naga ini.

Yang disebut Lima naga dari Bu-lim adalah Naga pertama Leng Giok-siu pandai dalam Tiang-khong-sip-ci-kiam, Naga kedua Buyung Sui-in mahir memainkan Jit-sian-chan, Naga ketiga Kim Seng-hui ahli menggunakan Sah-cap-lak-jiu-bu-kong-pian (tiga puluh enam jurus ilmu ruyung kelabang), Naga keempat Sim Ciok-kut mahir Ciok-kut-hud dan naga kelima Kui Keng-ciu mahir ilmu kebal.

Di kota Ciang-ciu dan sekitarnya, nama besar kelima orang ini ibarat matahari di tengah awan. Hampir semua orang kenal dan hormat kepada mereka.

Hari ini adalah hari ulang tahun ke-50 Te-sam-tiau-liong (Naga ketiga) Kim Seng-hui. Para jago yang berkumpul dalam ruang utama adalah para jago yang datang dari berbagai daerah untuk mengucapkan selamat kepada Sah-cap-lak-jiu-bu-kong pian Kui Keng-ciu atas ulang tahunnya yang ke-50.

Suara jeritan mengerikan itu berasal dari atas loteng, dan ternyata berasal dari mulut Kim Seng-hui, tuan rumah yang sedang berulang tahun.

Apa yang sebenarnya telah terjadi?

Setelah bergemanya jeritan itu, mendadak suasana pulih kembali, hening.

Ada beberapa orang jago segera melompat bangun sambil melolos senjata, ada sementara orang yang tidak tahu apa yang telah terjadi. Suasana jadi kalut, suara gaduh bergema memecah keheningan dalam ruangan.

Tiba-tiba terdengar seseorang berbicara. Suara itu lembut lagi pelan. Namun begitu, suara pembicaraannya mampu mengatasi suara gaduh yang menggema di ruangan, membuat semua orang seketika menjadi tenang kembali.

Terdengar orang itu berkata, “Saudara semua, jeritan tadi memang berasal dari Kim-samte. Kami belum tahu apa yang telah terjadi, tapi aku mohon kerjasama saudara sekalian. Harap tenang dan menahan diri, dengan begitu kami baru bisa mendengar lebih jelas, melihat lebih jelas apa gerangan yang telah terjadi. Bila ditemukan ada di antara kalian yang berusaha meninggalkan arena atau mencoba melarikan diri, tolong tangkap segera orang itu, terima kasih!”

Berpaling ke arah asal suara pembicara itu, semua orang melihat Leng Giok-siu masih duduk di kursi utama sembari berbicara, sementara Buyung Sui-in, Sim Ciok-kut dan Kui Keng-ciu entah sedari kapan sudah lenyap dari situ. Malahan semua orang tak ada yang tahu sejak kapan ketiga orang jago itu meninggalkan ruang utama.

“Saudara sekalian,” kembali Leng Giok-siu berkata sambil tersenyum. “Buyung-jite, Sim-site dan Kui-ngote telah pergi melakukan pemeriksaan. Dengan kemampuan Kim-samte, apalagi dibantu jite, site dan ngote, biar ada kejadian yang betapa hebat pun rasanya mereka masih sanggup buat menghadapinya.”

Para jago pun duduk kembali ke tempat masing-masing. Malah ada yang berseru sambil tertawa, “Dari lima naga Bu-lim, sudah empat naga yang bertindak. Rasanya memang tak ada masalah yang tak dapat mereka atasi!”

“Ya, betul!” sambung yang lain sambil tertawa pula. “Begitu suara jeritan bergema, aku lihat Buyung-jihiap dan Kui-ngohiap telah melesat keluar dari ruangan. Gerakan tubuh mereka luar biasa cepatnya, sampai aku pun tak sempat melihat dengan jelas.”

“Tentu saja kau tak sempat melihat jelas,” jago yang lain menimpali. “Mereka adalah para Cianpwe yang berilmu tinggi. Tak heran kalau reaksi serta gerakan tubuh mereka luar biasa cepatnya. Kita semua ini apa? Mana dapat menandingi kelihaian mereka?”

Gelak tawa pun bergema lagi memenuhi ruangan.

Leng Giok-siu ikut tertawa, padahal diam-diam ia mengernyit dahi, sebab tak ada orang lain yang lebih tahu ketimbang dia. Sah-cap-lak-jiu-bu-kong-pian (tiga puluh enam jurus ruyung kelabang) Kim Seng-hui tak bakal sembarangan menjerit kalau bukan menghadapi masalah serius. Apalagi jeritannya jelas adalah jeritan mengerikan yang memilukan hati!

Apapun yang terjadi, tiga orang saudaranya yang melakukan penyelidikan pasti akan kembali untuk memberi laporan. Paling tidak, akan berusaha menenteramkan perasaan orang banyak.

Sebenarnya apa yang telah terjadi? Kenapa terjadi justru pada saat Kim Seng-hui sedang merayakan ulang tahunnya yang ke-50?

Mendadak terlihat sesosok bayangan manusia berkelebat. Sim Ciok-kut dengan wajah sehitam pakaian yang dikenakan telah muncul kembali ke dalam ruangan. Leng Giok-siu segera berkerut kening, karena ia saksikan sepasang tangan Sim Ciok-kut penuh belepotan darah.

Jerit kaget dan teriakan terperanjat kembali bergema di dalam ruangan.

“Toako, coba kau ke sana sebentar,” bisik Sim Ciok-kut kemudian dengan lirih.

“Baik!” sahut Leng Giok-siu. Bagai segumpal awan di angkasa dia meluncur keluar dari ruangan dengan kecepatan luar biasa.

Suara bisik-bisik kembali bergema memecah keheningan. Para jago mulai menduga-duga apa yang telah terjadi.

Sementara itu dengan wajah hijau membesi Sim Ciok-kut berkata dengan suara keras, sepatah demi sepatah, “Sebelum duduk perkaranya jelas, harap kalian jangan meninggalkan tempat ini. Siapa berani membangkang berarti mati!”

Perkataan itu diutarakan dengan suara berat tapi bertenaga, hawa membunuh yang terpancar bagai sayatan golok. Sesaat kemudian suasana jadi teramat hening, sedemikian sepinya hingga suara nyamuk yang terbang pun terdengar jelas.

Ketika melangkah keluar dari ruang utama, Leng Giok-siu berpikir tiada habisnya. Tapi begitu berada di luar, ia segera mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya untuk meluncur pergi dengan kecepatan bagaikan kilat.

Di antara kibaran baju berwarna kuning, sekejap kemudian dia sudah melewati pesanggrahan Ci-in-khek, berbelok ke arah gardu Siang-sim-teng lalu setelah melampaui beranda Tiok-yap-lang dia langsung meluncur ke atas sebuah loteng di sisi timur.
Baru melangkah masuk ke dalam gedung, Leng Giok-siu sudah melihat para pelayan keluarga Kim berkumpul di depan beranda dengan wajah gugup, mata memerah dan tubuh kaku membeku, sementara para sanak-famili keluarga Kim berduyun-duyun naik ke loteng untuk melihat apa yang telah terjadi.

Seorang di antara mereka segera menyongsong kedatangan Leng Giok-siu sambil berseru diiringi isak-tangis.

“Toaya?”

“Apa yang telah terjadi?” tegur Leng Giok-siu dengan nada suara berat.

Sebelum ada jawaban, mendadak Buyung Sui-in menongolkan kepalanya dari atas loteng sambil berteriak, “Toako, cepat naik kemari!”

Leng Giok-siu melambung ke udara, lalu menerobos keluar lewat jendela. Tapi apa yang kemudian terlihat di dalam ruang kamar itu membuatnya berdiri tertegun.

Ruangan itu adalah kamar tidur Te-sam-tiau-liong, Kim Seng-hui.

Sebetulnya ruangan itu dihiasi dengan kain serba merah, merah segar yang menandakan panjang usia. Tapi kini, merah yang menyelimuti seluruh ruangan nampak begitu seram, menakutkan…

Merah itu bukan merahnya kain, tapi merah darah segar. Darah segar berwarna merah kehitam-hitaman berceceran hampir di setiap sudut kamar.

Kim Seng-hui terkapar di tanah, tergeletak di atas genangan darah.

Dia masih mengenakan jubah sutera yang indah. Separuh tubuhnya bersandar di pembaringan dengan punggung menghadap pintu besar. Sesaat menjelang ajal, dia masih menekan dada sendiri. Darah kental mengucur keluar dari tempat itu, menggenangi lantai, menodai seluruh pembaringan.

Luka yang merenggut nyawanya terletak persis di dadanya.

Ceceran darah dimulai dari pintu kamar yang terbuka lebar hingga tepi pembaringan. Ini menunjukkan jika peristiwa pembunuhan berlangsung di depan pintu, sementara Kim Seng-hui yang terluka parah berusaha kabur hingga tepi pembaringan. Tangannya yang sebelah malah sempat merogoh ke bawah bantal, berusaha melolos ruyung hitamnya.

Dia termasyhur dalam dunia persilatan karena Sah-cap-lak-jiu-bu-kong-pian yang maha hebat. Tapi lantaran hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke-50, maka senjata itu tidak digembol dalam saku.

Walau Leng Giok-siu berpengalaman dan banyak menghadapi pertarungan sengit, namun Kim Seng-hui adalah saudara angkatnya yang sudah bergaul puluhan tahun. Tak urung kejadian ini membuat sekujur badannya gemetar, gejolak emosi yang menggelora nyaris membuat dia melelehkan air mata.

Kim-hujin (Nyonya Kim) bersama sanak keluarga Kim berkumpul di dalam kamar sambil menangis menjerit-jerit.

Sambil berusaha menahan rasa pedih dalam hatinya, Leng Giok-siu membangunkan Kim-hujin seraya menghiburnya, “En-so ketiga, kau jangan kelewat sedih. Kematian Samte adalah urusan kami empat bersaudara. Kami pasti akan berusaha untuk membalaskan dendam sakit hatinya.

Saking sedihnya menangis, Kim-hujin jatuh tak sadarkan diri. Segera Leng Giok-siu menyalurkan tenaga murninya menembus urat penting di tubuh perempuan itu.

Ketika sadar kembali dari pingsannya, sembari menangis tersedu-sedu Kim-hujin berteriak, “Toapek…oooh toapek! Seng-hui telah tewas…bagaimana dengan diriku? Katakanlah…bagaimana dengan aku…

Sejak tadi Te-ngo-tiau-liong Kui Keng-ciu sudah mengepal tinjunya kencang-kencang. Keluhan yang menyayat hati ini kontan membuat otot-otot tubuhnya semakin menegang, bahkan seluruh tulang berbunyi gemerutuk keras. Lalu teriaknya dengan penuh gusar, “Anak jadah, bajingan terkutuk! Berani amat kau membantai Samkoku? Aku Kui-longo bersumpah hendak mengadu jiwa denganmu!” Sembari berteriak, ia menerjang keluar dari ruangan.

Dengan cekatan Buyung Sui-in segera menyelinap keluar, menghadang jalan perginya.

“Ngote, kau akan mengadu jiwa dengan siapa?” tegurnya.

Kui Keng-ciu agak melengak, menyusul kemudian teriaknya, “Aku tak peduli siapa orang itu! Pokoknya akan kucari satu per satu. Semua tamu yang hadir akan kuobrak-abrik! Masa aku tak bisa mengenalinya?”

Kembali Buyung Sui-in tertegun. “Ngote, jangan sembrono,” cegahnya.

“Jangan halangi aku! Kalau tidak, jangan salahkan kalau kau pun akan kutinju!” ancam Kui Keng-ciu sambil meraung marah.

“Ngote, jangan ceroboh!” dengan suara berat dan dalam tiba-tiba Leng Giok-siu menghardik.

Tampaknya terhadap Leng Giok-siu, Kui Keng-ciu menaruh perasaan kagum, hormat dan sangat penurut. Ia tidak berani berulah lagi. Sambil berjongkok dan menangis tersedu ia berseru, “Samko…wahai Samko, siapa yang telah mencelakaimu? Katakanlah pada Longo, siapa yang telah membunuhmu…Aku bersumpah akan mencincangnya hingga hancur berkeping-keping. Aku harus membalaskan dendam sakit hatimu ini!”

Sementara itu Leng Giok-siu berkata dengan kening berkerut, “Enso ketiga, aku rasa peristiwa pembunuhan ini lebih baik dilaporkan dulu kepada yang berwajib. Mungkin tindakan itu jauh lebih baik.”

Pelan-pelan Kim-hujin mengangkat kepalanya, air mata membasahi seluruh wajahnya, air mata bercampur darah. Mendadak ia seperti teringat sesuatu, lalu katanya, “Kedua sahabat karib Seng-hui semasa hidupnya adalah opas paling tersohor di kolong langit. Leng-hiat (si Darah Dingin) dan Liu Ce-in. Kini mereka pun hadir di ruang utama. Mengapa tidak mengundang mereka untuk membantu melakukan penyelidikan?”

“Mereka berdua pun hadir?” seru Leng Giok-siu kegirangan. “Aaah, kalau begitu ada harapan kasus pembunuhan Samte dapat segera terungkap!”

Siapakah Liu Ce-in? Liu Ce-in bukan siapa-siapa. Liu Ce-in adalah opas nomor wahid di seputar Ngo-ou-kiu-ciu (Lima Telaga Sembilan Sungai).

Kalangan hitam maupun kalangan putih serta dua belas partai besar yang dipuja orang menyebutnya sebagai ‘Dewa Opas’.
‘Dewa Opas’ bukan dimaksudkan dia adalah dewa di antara para opas. Gelar ini mencerminkan cara kerjanya yang macam dewa, sepak terjang yang luar biasa dan kemampuan mengungkap kasus yang luar biasa.

Selain memiliki kecerdasan yang luar biasa, kungfu yang dimiliki Liu Ce-in pun sangat hebat. Dia bahkan masih sangat muda, usianya belum melampaui tiga puluh tahun, sementara senjata andalannya hanya sebuah pipa huncwe kecil. Konon belum pernah ada jago tangguh yang bisa bertarung lebih dari dua puluh gebrakan di bawah gencaran serangan huncwe kecilnya itu.

Selain cerdas dan tangguh, Dewa Opas Liu Ce-in punya banyak mata-mata serta informan yang tersebar di seantero dunia.

Khususnya dalam kalangan para opas, dia ibarat seorang Toa-loya yang jujur dan bijaksana. Nyaris semua pegawai pengadilan taat dan tunduk kepadanya.

Sudah hampir tujuh tahun Liu Ce-in bersahabat dengan Bu-lim-ngo-tiau-liong.

Dan kini Kim Seng-hui mati terbunuh. Sudah sewajarnya bila Liu Ce-in mengerahkan segenap kemampuan yang dimilikinya untuk membantu melakukan pelacakan serta penyelidikan.

Tentang Leng-hiat, si Darah Dingin, siapa pula dia?

si Darah Dingin baru berusia dua puluh tahun. Dia terhitung opas paling muda dalam kalangan Lak-san-bun. Biarpun begitu, dia justru merupakan salah satu di antara ‘Empat Opas’ yang amat termashur di kolong langit.

Yang dimaksud sebagai Empat Opas adalah Put-cing (si Tanpa Perasaan), Tiat-jiu (si Tangan Besi), Tui-bing (si Pengejar Nyawa) dan Leng-hiat (si Darah Dingin). Sementara si Dewa Opas Liu Ce-in sama sekali tidak tercantum dalam daftar itu.

Empat opas terdiri dari jago kelas wahid dalam dunia persilatan. Masing-masing memiliki kemampuan serta kelebihan yang luar biasa. Si Darah Dingin adalah satu di antaranya.

Ketika berusia enam belas tahun, ia sudah berulang kali membuat jasa hebat. Karir kerjanya menanjak, belum pernah ada buronan kelas kakap yang berhasil lolos dari cengkeramannya. Belum pernah ada kawanan penjahat yang berhasil mengalahkan dirinya.

Ketika berusia delapan belas tahun, gara-gasa ingin membekuk seorang Mo-ong, Raja Iblis, yang berilmu tinggi, dia rela bersembunyi di dalam sarang iblis selama sebelas hari tanpa bicara tanpa bergerak. Tidak makan dan tidak minum, yang dinantikan hanya sebuah kesempatan emas. Begitu peluang emas muncul, dalam satu sergapan yang tak terduga ia menghabisi nyawa si Raja iblis itu.

Seorang pemuda yang baru berusia delapan belas tahun ternyata berhasil membekuk seorang Raja Iblis, bisa dibayangkan betapa gemparnya sungai telaga oleh keberhasilannya itu.

Ketika berusia sembilan belas, seorang diri ia masuk ke hutan rimba mengejar tiga belas orang perampok ulung. Akhirnya ia berhasil membantai mereka satu per satu, bahkan pemimpin mereka yang berilmu silat satu kali lipat lebih hebat dari dirinya pun berhasil dibinasakan di bawah ujung pedangnya.

Ketika ia balik ke kota karesidenan dengan penuh luka bacokan di sekujur badannya, semua orang mengira umurnya tak bakal panjang. Siapa tahu, belum sampai dua bulan ia sudah bisa menunggang kuda lagi untuk melacak dan memburu kaum penyamun.

Si Darah Dingin pandai menggunakan pedang, penyabar dan ulet. Ilmu pedangnya tak bernama, tapi setiap tusukan pedangnya selalu cepat, tepat dan telengas. Semuanya tanpa nama maupun julukan.

Dia selalu beranggapan jurus serangan hanya kembangan, hanya nama kiasan yang tak berarti. Gerakan tusukan yang bisa mematikan lawan itulah ilmu pedang sejati.

Maka biarpun usia si Darah Dingin masih sangat muda, namun status serta kedudukannya dalam kalangan pengadilan justru luar biasa tinggi dan terhormat.

Walau begitu, lantaran dia masih muda, lagi pula keras hatinya, banyak opas dan petugas pengadilan yang enggan takluk kepadanya. Mereka lebih rela mengabdi kepada Liu Ce-in ketimbang kepadanya. Tak heran kalau nama besar Liu Ce-in justru berada jauh di atasnya.

Si Darah Dingin baru setahun kenal dengan Kim Seng-hui. Namun dengan Leng Giok-siu, dia punya pengalaman bekerja-sama dalam penumpasan seorang perampok ulung dari Cang-ciu yang berilmu tinggi. Hubungan persahabatan mereka telah berlangsung tiga tahun lebih.

Kini Kim Seng-hui tertimpa kemalangan, dibunuh orang secara misterius. Tentu saja si Darah Dingin tak bisa berpeluk tangan.

Saat ini si Darah Dingin sudah berdiri. Selama dia masih bisa berdiri tak nanti dia duduk. Baginya duduk hanya akan mengendorkan semangat serta kewaspadaannya. Bila bertemu musuh, reaksinya pasti kurang cepat, gerak tubuhnya pasti kurang cekatan.

Sementara itu Liu Ce-in masih duduk. Selama dia bisa duduk, tak bakal dia bangkit berdiri. Baginya berdiri hanya membuat semangatnya kendor, tenaganya melemah. Bila bertemu musuh, reaksinya jadi tidak lincah, kurang cekatan. Hanya dalam kondisi istirahat yang berlebihan, kondisi tubuh baru akan segar dan memiliki tenaga yang paling besar.

Biarpun berbeda prinsip, arah pandangan yang mereka tuju saat ini ternyata sama.

Mereka sedang berada di dalam kamar tidur Kim Seng-hui, mengawasi tubuh Kim Seng-hui yang terkapar di lantai, tergeletak di tengah genangan darah.

“Saudara Leng,” pelan-pelan Liu Ce-in berkata. “Sewaktu kau naik kemari, apakah keadaan dalam kamar sudah begini?”

“Lohu telah turunkan perintah,” sahut Leng Giok-siu dengan suara berat dan dalam, “Siapa pun dilarang menggeser atau mengalihkan barang yang ada di sini. Siapa pun dilarang meninggalkan tempat duduknya.”

Liu Ce-in menunduk sambil termenung sejenak, lalu kembali tanyanya, “Saudara Leng, sewaktu naik ke loteng, apakah kau menjumpai seseorang yang mencurigakan?”

“Begitu Samte menjerit kesakitan, Jite, Site dan Ngote sudah berlarian menyusul kemari, sementara Lohu tetap tinggal di ruang utama, menenangkan para tamu.”

“Sewaktu tiba di atas loteng, pintu sudah berada dalam keadaan terbuka,” Buyung Sui-in menerangkan. “Segera aku sadar bahwa keadaan tidak beres. Bersama Site dan Ngote, kami langsung menerjang masuk, dan kami…Kami melihat Samte bersandar di sisi pembaringan. Dia bersandar sambil berpekik.

“Apa yang dia teriakkan? Kau sempat mendengar secara jelas?” tergerak paras muka Liu Ce-in.

Dengan pedih Buyung Sui-in menggeleng, “Samko seperti sedang berseru, ‘kau…loteng (Lo)’ tahu-tahu nyawanya sudah melayang. Masih untung Site lebih tenang dia bilang akan pergi memanggil Toako…kemudian…kemudian enso ketiga dan sanak yang lain berdatangan.”

Liu Ce-in menghembuskan napas panjang, katanya sambil menghela napas, “Ai…sayang Kim-samhiap tak sempat mengutarakan kata-katanya.”

“Sempat!” mendadak si Darah Dingin menyela.

“Oh ya?”

“Apakah di sini ada orang dari marga Lo (loteng)?” tanya si Darah Dingin dengan suara membeku.

Kim-hujin menghentikan tangisannya, sesudah termenung dan berpikir sejenak, jawabnya, “Tidak ada. Rasanya di sini tak ada orang dari marga Lo.”

“Di antara tamu undangan juga tak ada,” Buyung Sui-in menimpali.

“Mungkinkah yang dimaksud orang dari marga Liu?” tiba-tiba Liu Ce-in mengingatkan.

“Betul!” seru Leng Giok-siu sambil menggebrak meja. “Semestinya ada! Biar Lohu lakukan pemeriksaan.”

“Sesaat menjelang kematiannya, Kim-samhiap pasti telah mengucapkan kata-kata yang sangat penting,” gumam Liu Ce-in

“Dan kata-katanya, pasti nama dari pembunuh biadab itu ” sambung si Darah Dingin.

Darah Dingin jarang bicara, sebab itu ucapannya sering penuh tekanan, tegas, singkat dan tandas.

Sebaliknya Liu Ce-in agak banyak bicara, tapi setiap perkataannya selalu dilandasi alasan yang kuat, pemikiran yang cerdas dan enak didengar.

Tak selang berapa saat kemudian, Leng Giok-siu sudah balik sambil membawa sebuah daftar nama. Katanya setelah menghela napas, “Ternyata dugaan kalian betul. Di antara tamu undangan memang ada dua orang berasal dari marga Liu, dari anggota keluarga pun ada seorang yang berasal dari marga Liu.”

“Oh ya…? Apakah ada yang mencurigakan?” tanya Liu Ce-in.

Leng Giok-siu menggeleng. “Dari dua orang tamu yang bermarga Liu, seorang bernama Liu Yap-hu. Dia sama sekali tak tahu ilmu silat. Ia seorang tauke rumah pegadaian. Lantaran seringkah menjual barang-barang berharga kepada Samte, maka dalam pesta ulang tahunnya kali ini, Samte sengaja mengundangnya. Semestinya orang ini tidak patut dicurigai.”

“Yang seorang lagi?”

“Orang ini sedikit tahu kungfu, namanya juga kurang baik. Tapi dia selalu taat, hormat dan tunduk pada Samte. Bila orang semacam ini ingin menyerang Samte dan membunuhnya dalam sekali gebrakan, walau Samte dalam keadaan tidak siaga, dengan mengandalkan kungfunya rasanya mustahil. Dia bernama Liu Kiu-ji, julukannya Thi-ci (si penggaris besi). Namanya kurang seberapa dikenal dalam dunia Kangouw. Aku rasa kalian berdua pun tak pernah mendengarnya bukan?”

Liu Ce-in segera tertawa, katanya, “Liu Kiu-ji berusia empat puluh tiga tahun, senjatanya sebuah penggaris besar dengan panjang dua depa tiga inci. Suka minum, suka perempuan. Biar tak punya kemampuan tapi suka membuat keonaran dan mencari gara-gara. Dia pernah ditangkap satu kali dan dijebloskan ke dalam penjara besar di kota Liu-ciu. Tak punya sanak tak punya keluarga, tapi terhadap saudara Kim, dia memang amat memuja-muja, bahkan sering memuji setinggi langit bila berada di hadapan orang.”

Liu Ce-in, si Dewa Opas ini memang luar biasa sekali. Biarpun cuma seorang Bu-lim-siau-cut yang tak terkenal, ternyata ia dapat menghapalkan identitas serta biodatanya dengan begitu jelas dan terperinci.

Leng Giok-siu agak tertegun, pujinya kemudian, “Dewa Opas memang tak malu disebut Dewa Opas. Sungguh mengagumkan, sungguh mengagumkan.”

“Ah, mana, mana…Kita yang makan nasi dari mangkuk semacam ini, memang mesti hapal di luar kepala semua biodata orang-orang persilatan itu.”

“Tentang Liu Kiu-ji, aku kurang tahu,” sela si Darah Dingin tiba-tiba. “Siapa pula sang pelayan yang satunya lagi?”

“Dia semakin tak mungkin,” sahut Leng Giok-siu sambil tertawa, “Sebab dia adalah seorang bocah perempuan yang baru berusia tujuh tahun. Seorang dayang kecil yang baru dibeli Samte. Jangan lagi melakukan pembunuhan, untuk membedakan mana perayaan perkawinan dan mana perayaan kematian pun dia masih rancu.”

“Jiwi,” tiba-tiba Buyung Sui-in menyela, “Apakah kita perlu memeriksa setiap tamu yang hadir dalam ruang utama? Adakah di antara mereka yang pernah meninggalkan tempat perjamuan ketika terjadinya peristiwa ini?”

“Apakah semua yang hadir dalam ruang utama benar-benar adalah sahabat kalian?” tanya Liu Ce-in.

“Lohu sudah selidiki, tak ada yang datang dengan mencatut nama orang lain.”

“Mungkinkah di antara tamu yang hadir ada yang punya perselisihan atau ikatan dendam dengan Kim-samhiap?”

“Tidak mungkin,” sahut Kim-hujin sembari sesenggukan, “Tidak mungkin. Sewaktu akan mengundang para tamu yang akan diundang menghadiri pesta ulang tahun ini, Seng-hui telah berunding denganku. Oleh karena kami kuatir akan terjadi hal-hal yang kurang menyenangkan dalam pesta ini, maka semua orang yang kemungkinan bisa membuat onar, atau orang yang dulu pernah terlibat perselisihan, tak seorang pun yang kami undang. Siapa nyana…siapa nyana…ternyata…”

Ledakan isak tangis membuat ia tak sanggup menyelesaikan kata-katanya.

“Kalau begitu, tolong saudara Leng kirim utusan memberitahukan kepada Sim-sihiap. Suruh dia lepaskan semua tamu yang tertahan di ruang utama. Kehadiran mereka tidak banyak membantu, karena siapa pun tak mengira akan terjadi peristiwa semacam ini.”

Tiba-tiba tertampak seorang pelayan berlari masuk dengan tergopoh-gopoh dan berseru dengan napas tersengal, “Hamba…hamba…bukan hamba berhasil kabur, tapi dia…dia telah membebaskan hamba.”

“Siapa yang melepaskan kau?” tegur Leng Giok-siu dengan kening berkerut. “Bagaimana tampang wajahnya? Apakah kau sempat melihat jelas?”

“Hamba tidak berani berpaling,” kembali pelayan itu menjawab agak tergagap, “Waktu itu hamba sudah ketakutan setengah mati…hamba anggap nasib lagi mujur karena tidak…tidak dibunuh.”

“Apakah kau tahu, apa alasannya membebaskan dirimu?” tanya Liu Ce-in.

“Orang itu…orang itu menyusupkan setahil perak ke saku hamba…dia sangat royal…setahil perak .. lalu menyerahkan juga sepucuk surat. Dia minta hamba serahkan surat itu kepada Tayjin…Bukan…bukan hamba yang minta persen, dia bilang…bila hamba tidak melaksanakan perintahnya, dia…dia akan mencekik…akan mencekik tengkuk hamba sampai mati.”

“Mana suratnya?” tanya si Darah Dingin.

Dengan tangan gemetar pelayan itu menyerahkan sepucuk surat.

Baru saja Kim-hujin akan menerimanya, Liu Ce-in sudah menggoyangkan tangannya mencegah. Kemudian dia sambut surat itu, diayun-ayunkan sebentar di muka jendela, lalu setelah menyumbat lubang hidung sendiri dengan kapas, ia merobek sampul surat itu. Ternyata isinya memang sepucuk surat. Tak ada jebakan, tak ada racun dan tak ada intrik jahat apapun.

Setelah yakin aman, baru Liu Ce-in serahkan surat itu ke tangan Kim-hujin.

Selesai membaca isi surat itu, tiba-tiba Kim-hujin menjerit keras lalu roboh tak sadarkan diri.

Lekas Leng Giok-siu menitahkan dayang untuk menggotong pergi Kim-hujin.

Setelah mengambil surat itu, dengan suara lantang dia pun membaca isinya, “Ditujukan kepada Naga nomor satu Leng Giok-siu, Naga nomor dua Buyung Sui-in, Naga nomor empat Sim Ciok-kut, dan Naga nomor lima Kui Keng-ciu. Masih ingat dengan hutang darah Hui-hiat-kiam-mo (iblis pe-dang darah terbang) Pa Siok-jin sepuluh tahun berselang? Hari ini keturunannya khusus datang untuk menagih hutang. Korban pertama adalah Kim Seng-hui, menyusul kemudian dalam tiga hari mendatang Lima naga dari dunia persilatan akan lenyap dari muka bumi, akan kubantai semuanya untuk menebus dendam kesumat sedalam lautan yang telah berlangsung sepuluh tahun lamanya. Nantikan saja hari kematian kalian. Tertanda, Keturunan Kiam-mo.”

Hui-hiat-kiam-mo? Iblis pedang darah terbang? Nama yang disebutkan bukan saja membuat Kim-hujin jatuh pingsan seketika, bahkan Leng Giok-siu, Buyung Sui-in maupun Kui Keng-ciu pun dibuat terkesiap hingga paras mereka berubah jadi pucat pias.

Liu Ce-in serta si Darah Dingin ikut tergetar mimik mukanya!

Pertempuran itu adalah pertempuran berdarah ‘Lima naga membantai Iblis latah’ yang sangat berdarah dan tersohor di kolong langit.

Gara-gara pertempuran ini, kehidupan Lima naga dari dunia persilatan selalu diliputi perasaan waswas. Setiap kali menyinggung pertempuran melawan Pa Siok-jin, perasaan mereka selalu terkesiap.

Kalau bukan lantaran Kwan Keng-san sangat ketat mendidik anak muridnya, hingga murid-muridnya berhasil meyakinkan kungfu yang tangguh, sulit bagi Lima naga untuk membinasakan si Iblis latah. Sementara itu meski anak murid Pa Siok-jin sudah mewarisi ilmu sakti iblis pedang darah terbang, namun lantaran tidak tekun berlatih dan selalu membuat keonaran dengan hanya mengandalkan nama besar gurunya, maka begitu guru mereka terbunuh, para muridnya pun segera bubar dan melarikan diri, tercerai-berai. Masing-masing menyembunyikan nama serta hidup terpencil. Tak seorang pun yang berani muncul lagi dalam dunia persilatan.

Walau begitu, karena ilmu silat Pa Siok-jin sudah diwariskan semua kepada mereka, maka bila suatu ketika mereka berhasil menguasai kepandaian silat itu, dunia persilatan pasti akan kacau-balau lagi, dan bayangan gelap inilah yang selalu menghantui jalan pikiran Lima naga dari dunia persilatan.

Kini keturunan Iblis pedang darah terbang sudah muncul kembali, akhirnya muncul untuk membalas dendam. Tak heran kalau si Darah Dingin serta Liu Ce-in yang begitu tangguh pun ikut terkesiap setelah mengetahui berita ini.

Keheningan yang luar biasa mencekam seluruh ruangan. Semua orang saling berpandangan dengan perasaan ngeri, begitu pula dengan Leng Giok-siu, Buyung Sui-in serta Kui Keng-ciu. Sekilas perasaan ngeri menghiasi wajah mereka.

Tiba-tiba Kui Keng-ciu melompat bangun seraya berseru, “Kalau mau datang biarlah datang. Si Iblis tua saja sudah kami pecundangi, masa anak-cucu kura-kura tak mampu kami hadapi? Hmmm, jika bernyali datanglah kemari, akan kubantai mereka satu per satu!”

Suasana hening mencekam seluruh ruangan. Tak seorang pun yang memberi tanggapan. Yang terdengar hanya suaranya yang keras, nyaring dan lantang.

“Baiklah,” seru Leng Giok-siu kemudian sambil melipat surat itu, “kini keturunan Pa Siok-jin telah datang. Kami Lima Naga dari dunia persilatan pun belum terlalu tua sehingga tak sanggup mencabut pedang. Rasanya masih punya kemampan untuk melangsungkan duel berdarah!”

Liu Ce-in termenung sambil berpikir sejenak, kemudian katanya, “Berbicara kepandaian silat yang kalian berempat miliki, rasanya memang tak perlu takut menghadapi ahli waris Pa Siok-jin. Persoalannya sekarang adalah musuh ada di tempat gelap sedang kita berada di tempat terang. Hingga kini kita masih belum tahu siapa ahli waris keluarga Pa. Hal inilah yang bisa menimbulkan kerugian besar bagi kalian.”

“Yang lebih penting lagi,” sambung si Darah Dingin, “Dilihat dari kungfunya, belum tentu dia mampu menandingi kalian berempat, tapi masalahnya begitu pedang darah terbang Pa Siok-jin dilepaskan, bila kurang waspada dan tidak siap menghadapi bokongan pedang darah terbang, maka biar memiliki kungfu yang sangat lihai pun sulit rasanya untuk menghindari serangan itu.”

“Oleh karena itu, hal paling utama yang harus kita lakukan sekarang adalah mencari tahu siapakah ahli waris Pa Siok-jin,” ujar Liu Ce-in lagi. “Aku pikir paling baik jika Sim-sihiap melepaskan dulu semua tamu yang tertahan di gedung utama. Kita tak boleh memukul rumput dan mengejutkan ular, hingga memberi kesempatan kepada lawan untuk semakin menyembunyikan identitasnya.”

Leng Giok-siu manggut-manggut, kepada Buyung Sui-in segera perintahnya, “Jite, tolong sampaikan masalah ini kepada Sim-site, sekalian undang dia untuk berkumpul di sini. Sementara itu, urusan di dalam ruang utama kuserahkan padamu.”

“Baik!” jawab Buyung Sui-in. Dengan sekali lompatan dia sudah meluncur ke ruang utama.

Liu Ce-in menghela napas panjang, kembali ia termenung beberapa saat lamanya. Kemudian katanya lagi, “Gerak tubuh yang dimiliki orang itu amat cepat. Padahal baru saja Kim-sam-hiap menjerit ngeri, kalian sudah menyusul kemari. Tapi kenyataannya ia tetap berhasil meloloskan diri.”

“Maknya!” umpat Kui Keng-ciu dengan mata melotot dan kepalan menggenggam. “Kalau sampai kutemukan, akan ku…

Tiba-tiba pelayan yang menyampaikan surat itu kembali berseru penuh ketakutan, “Lapor…lapor Leng-toaya

“Ada apa? Cepat katakan!” dengan tak sabar Leng Giok-siu menghardik.

“Sebelum hamba menuju ke ruang utama tadi, hamba lihat…hamba seperti melihat A-hok berjalan lewat dengan wajah pucat pasi. Waktu itu hamba sekedar iseng dan bertanya…bertanya apa yang telah dia lakukan. Dia…dia jawab, dia sempat melihat orang yang membunuh Loya, tapi…tapi…takut untuk mengatakan…”

“Apa dia bilang siapa orang itu?” seru Leng Giok-siu sambil melompat bangun.

“Ti…ti…tidak. Kemudian hamba pun menuju ke gedung utama. Sewaktu lewat kebun, lalu…

“Aaah, tak heran sewaktu aku menerjang kemari, A-hok seperti ingin menyampaikan sesuatu kepadaku…Waktu itu karena lagi tergesa-gesa, aku tak sempat berhenti.”

“Bagus!” seru Liu Ce-in dengan wajah berubah. “Inilah petunjuk yang sangat penting. Di mana A-hok sekarang?”

“Dia…dia seperti amat ketakutan, katanya…katanya akan menuju ke gudang kayu bakar.”

“Bagus,” seru Liu Ce-in, “Saudara Leng, aku dan Kui-ngo-hiap akan menginterogasi A-hok untuk mengetahui manusia macam apa yang telah ia lihat. Kui-ngohiap sangat hapal dengan situasi gedung Kim. Dengan kehadirannya, akan diketahui manusia macam apa yang telah dilihat A-hok. Selain itu, saudara Darah dingin, kau pandai melacak orang dan tak pernah gagal. Tolong kuntitlah Liu Kiu-ji setelah para tamu bubar nanti, sebab dulu dia ditangkap di kota Liu-ciu lantaran dicurigai terlibat dalam sebuah pembunuhan gelap. Dia kemudian dibebaskan karena kurang bukti. Di antara sekian banyak orang, dia yang paling mencurigakan. Bila dia pembunuhnya, maka setelah menguntit sampai di rumahnya, coba carilah alat senjata yang mungkin dipakai buat melakukan pembunuhan…Saudara Leng, urusan Kim-hujin dan sanak lainnya tolong kau yang atur.”

“Hai…” Leng Giok-siu menghela napas panjang, “Gara-gara urusan kami bersaudara, kalian jadi ikut repot. Sungguh bikin Lohu merasa tak tenang.”

“Kau tak perlu sungkan,” jawab Liu Ce-in hambar, “Kim-samhiap adalah sahabatku serta saudara Darah dingin. Lagi pula pekerjaan kami memang semacam ini. Jadi kenapa kau mesti berterima kasih? Bila kasusnya kelewat berat, kami akan segera minta bantuan Ceng Ci-tong serta Ko San-cing untuk membantu. Di seputar kota Cang-ciu boleh dibilang mereka adalah kawakan yang tahu seluk-beluk sini. Dengan kehadiran mereka, urusan ini tentu akan terungkap lebih dini. Jadi mari kita bekerja sesuai tugas masing-masing.”

Leng Giok-siu kegirangan, katanya, “Asal jago tangguh macam Ceng Ci-tong dan Ko San-cing mau turun tangan, biar Pa Siok-jin hidup kembali, belum tentu dia bisa berbuat banyak terhadap kami.”

Oleh karena masalah ini adalah rentetan dari peristiwa besar dalam dunia persilatan, pelakunya adalah keturunan seorang tokoh silat tersohor. Dapat dipastikan pembunuhan sadis lainnya segera akan menyusul. Karenanya pihak berwajib harus menurunkan seluruh jago jago tangguhnya untuk menanggulangi kasus ini.

Beberapa tahun terakhir, pihak yang berwajib memang banyak bermunculan opas-opas hebat. Empat opas serta Dewa Opas adalah beberapa di antaranya.

Untuk wilayah seputar kota Cang-ciu, opas kenamaan yang paling membuat pusing kawanan okpa dan perompak dari rimba hijau adalah Thi-jui (si Gurdi besi) Ceng Ci-tong. Usia orang ini belum lewat tiga puluh tahun, tapi baik dalam ilmu silat maupun kecerdasan otak, dia memiliki kemampuan yang melebihi siapa pun. Ia bahkan memiliki hubungan yang sangat akrab dengan para pejabat tinggi. Oleh karena itu, di antara kawanan opas di kota Cang-ciu, dia termasuk Raja Opas di antara kawanan opas lainnya.

Dia mempunyai seorang sahabat sehidup-semati yang bernama Ko San-cing.

Di kota Cang-ciu terdapat seratus ribu orang pasukan Jing-peng. Untuk menjadi pelatih seratus ribu orang pasukan Jing-peng, tentu saja kungfu harus luar biasa. Jabatan pelatih akan diganti setiap tiga tahun, dan Ki-sin-ciang (si Toya dewa raksasa) Ko San-cing berhasil merjjabatnya selama tiga periode secara beruntun.

Kedua orang ini boleh dibilang merupakan tokoh penting di kalangan pengadilan kota Cang-ciu.

Tentu saja nama besar mereka tak mampu melampaui kebesaran nama Liu Ce-in maupun si Darah Dingin. Tetapi khusus di kota Cang-ciu, nama besar kedua orang ini jauh lebih cemerlang, jauh lebih termasyhur ketimbang nama besar si Darah Dingin berdua.

Bila Darah dingin dan Liu Ce-in digabung Ceng Ci-tong dan Ko San-cing, persis apa yang dikatakan Leng Giok-siu, biar si Iblis pedang darah terbang Pa Siok-jin hidup kembali, bila empat opas itu ditambah empat naga dunia persilatan, maka Pa Siok-jin sendiri juga sulit untuk melakukan tindakan apapun.

Tapi sedemikian sederhanakah persoalan ini? Mustahil! Tak mungkin masalahnya begitu sederhana!

Waktu itu Liu Ce-in dan Kui Keng-ciu sedang berjalan menuju ke gudang kayu bakar. Kui Keng-ciu berjalan di muka sementara Liu Ce-in mengikuti dari belakang.

Sembari menelusuri jalan, Kui Keng-ciu mengomel tiada henti. Terdengar ia berseru, “…Sewaktu kami berhasil membantai Pa Siok-jin tempo hari, sebetulnya aku sudah mengusulkan untuk mencabut rumput hingga ke akarnya. Maknya! Ketiga orang murid Pa Siok-jin si iblis jahat itu mesti dibantai juga. Tapi Toako dan Jiko tak setuju, katanya harus berbelas-kasih dengan memberi kesempatan hidup kepada mereka…Memberi kesempatan! Huhhh…apa jadinya sekarang? Samko malah dibantai orang! Apakah mereka pun memberi kesempatan…?”

Liu Ce-in tidak berkomentar, dia hanya mendengarkan omelan itu dengan mulut terbungkam.

Sementara itu senja telah menjelang tiba. Matahari senja sudah tenggelam di balik bukit, suasana terasa hening dan sepi, tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Sejak terjadinya peristiwa pembunuhan itu, para tamu telah bubar. Para pembantu pun berkumpul di ruang depan dengan wajah berduka. Tak heran kalau suasana di tempat lain amat sepi.

Setelah berjalan sekian lama, akhirnya tibalah Kui Keng-ciu berdua di depan sebuah rumah bobrok. Dia pun berteriak keras, “A-hok, A-hok…cepat keluar! Aku ingin bertanya kepadamu!”

Orang yang berada di dalam rumah bobrok itu menyahut dan membuka pintu.

Kembali Kui Keng-ciu membentak gusar, “Pengecut kau! Dasar manusia tidak bernyali! Kenapa mesti menutup pintu rapat-rapat? Takut dibunuh orang? Hmmm, kalau ada yang berani berbuat onar di sini, aku Kui-longo pasti tak akan mengampuninya.”

Mendadak Liu Ce-in membungkukkan badan sambil berseru nyaring, “Ada orang melompati tembok masuk kemari!”

Belum selesai bicara, tiba-tiba badannya melejit ke udara, seakan baru saja menghindari serangan semacam amgi. Ia lalu balik melancarkan sebuah pukulan.

“Blaaam!” pukulan itu menghajar telak dinding batu di luar sana, membuat dinding itu roboh. Di antara debu dan pasir yang beterbangan di udara, tampak sesosok bayangan manusia menyelinap keluar dari sana.

Sambil membentak gusar Kui Keng-ciu menerjang ke sana, teriaknya, “Lo Liu, kau kejar dari arah sana, aku mengejar dari sini. Kita lihat, dia bisa kabur kemana lagi!”

Dengan dua-tiga kali lompatan, ia sudah mengejar keluar dari lingkungan kebun. Tampak gerakan tubuh orang di depan sana cepat dan ringan. Melihat dirinya gagal menyusul orang itu, kembali Kui Keng-ciu menghardik, “Bangsat! Kalau punya nyali, jangan kabur! Ayo layani dulu beberapa buah pukulan kakekmu!”

Sambil berkata, ia lepaskan pukulan dahsyat. “Blaam!” serangan itu bersarang telak pada sebatang pohon, membuat pohon itu tumbang ke tanah.

Di tengah dentuman keras dan dedaunan yang beterbangan di udara, tampak Leng Giok-siu, Buyung Sui-in serta Sim Ciok-kut telah menyusul tiba dengan kecepatan tinggi.

“Longo, siapa orang itu?” tegur Leng Giok-siu nyaring.

“Ada orang hendak membokong kita!” sahut Kui Keng-ciu dengan napas tersengal.

“Di mana orangnya?”

Ketika Kui Keng-ciu mengamati lagi dengan seksama, yang tampak hanya ranting serta dahan pohon yang bertumbangan. Tak nampak sesosok bayangan manusia pun.

Melihat itu, teriaknya kembali dengan penuh kegusaran, “Rupanya dia kabur ke sana. Sialan benar bangsat itu, rupanya dia tak berani bertarung melawanku!”

“Longo, kau sudah menemukan A-hok?” kembali Leng Giok-siu bertanya.

“Belum. Baru saja tiba di gudang sana, kami berjumpa dengan orang ini.”

“Mana saudara Liu?”

“Dia pun sedang mengejar orang itu.”

“Aduh celaka! Cepat kita beri bantuan!” seru Leng Giok-siu gelisah.

Kembali tampak bayangan tubuh berkelebat. Tahu-tahu Leng Giok-siu bertiga sudah berada puluhan kaki dari tempat semula, tinggal Kui Keng-ciu seorang masih tertinggal di sana dan berdiri tertegun tanpa mengetahui apa yang harus diperbuat.

Hampir pada saat bersamaan Leng Giok-siu, Buyung Sui-in dan Sim Ciok-kut tiba di depan gudang kayu bakar. Tapi apa yang kemudian terlihat membuat mereka bertiga berdiri tertegun, terkesima!

Di depan pintu gudang kayu bakar berdiri seseorang yang berdandan pembantu rumah tangga. Dia adalah A-hok.

Anehnya, ketika melihat kehadiran mereka bertiga, A-hok tidak memberi hormat, tidak tertawa, juga tidak bicara. Dia hanya memelototi mereka dengan matanya mendelik.

Kalau seorang pelayan yang bertemu majikannya tak memberi hormat, malah mengawasi dengan mata melotot, maka hanya ada dua jawaban. Kalau bukan mata sudah buta, berarti matanya tidak bisa melihat apa-apa lantaran orangnya sudah tewas.

A-hok bukan orang buta, berarti dia memang orang yang sudah tewas.

Dengan wajah hijau membesi Sim Ciok-kun berjalan menghampirinya. Baru saja ujung jarinya menyentuh tubuh A-hok, tahu-tahu A-hok sudah roboh terjungkal ke tanah.

Tidak nampak bekas luka apapun di tubuh bagian muka A-hok, tapi baju di bagian punggungnya sudah basah oleh cucuran darah segar. Tampaknya luka itu disebabkan tusukan sebuah senjata yang runcing, langsung menembus jantungnya tapi sama sekali tak sampai tembus hingga dada bagian muka.

Sepasang mata A-hok melotot. Dia tewas dengan mulut ternganga lebar. Sorot matanya penuh diliputi perasaan takut dan ngeri, mulutnya ternganga seperti hendak mengatakan sesuatu.

Manusia macam apa yang telah dijumpainya? Kenapa ia nampak begitu takut, gugup dan ngeri.

“Longo keliru besar,” ujar Sim Ciok-kut kemudian dengan suara dingin, “tidak seharusnya ia tinggalkan A-hok.”

Buyung Sui-in ikut menghela napas panjang, “Ya, A-hok sudah tidak punya kesempatan lagi untuk bicara. Tapi apa yang sebenarnya hendak dia katakan?”

“Semoga saja opas Liu tidak apa-apa,” mendadak Leng Giok-siu menyela.

Belum selesai ia berbicara, tampak seseorang terpeleset jatuh dari atas atap gudang kayu bakar dan nyaris roboh terjerembab ke tanah.

“Hah, saudara Liu!” pekik Buyung Sui-in kaget.

Liu Ce-in memaksakan diri untuk menyahut. Paras mukanya pucat-pasi, tangannya menekan di atas dada sendiri. Tampaknya ia sedang menahan rasa sakit yang luar biasa.

Segera Leng Giok-siu maju ke depan dan memayang tubuhnya. Tegurnya kemudian, “Saudara Liu, kenapa kau?”

Dengan biji mata terbalik dan napas tersengal, ia terbatuk beberapa saat. Selang berapa saat kemudian baru ia mampu berkata, “Setibanya di sini tadi, kami temukan ada orang yang mencurigakan. Maka aku bersama Kui-ngohiap melakukan pengejaran. Orang yang kukejar tampaknya segera akan tertangkap, namun secara tiba-tiba dari balik tikungan di sudut dinding sana muncul seorang manusia berkerudung. Sungguh lihai ilmu silatnya, serangan yang dilancarkan amat cepat, membuat aku sulit untuk menghindar. Terpaksa aku pun melayani dengan keras lawan keras! Sebuah pukulannya bersarang telak tepat di dadaku. Hahaha…tapi lukanya juga tak ringan, dia termakan sebuah pukulanku!”

“Hai, gara-gara persoalan ini, nyaris saudara Liu kehilangan nyawa. Sungguh menyesal keluh Leng Giok-siu sambil menghela napas panjang.

Liu Ce-in ikut menghela napas panjang. “Sebetulnya bukan kesalahanmu. Kungfu lawan memang terlalu tangguh,” katanya.

“Tahukah saudara Liu, ilmu silat apa yang digunakan pihak lawan?” tanya Sim Ciok-kut dingin.

“Serangan yang dilancarkan pihak lawan kelewat cepat. Aku sendiri juga tak jelas ilmu pukulan apa yang telah digunakan, tapi yang pasti serangan itu tak sampai mencabut nyawaku! Bila pukulannya tidak kuhadapi dengan keras lawan keras, keadaanku mungkin akan semakin payah. Karena kami masing-masing termakan sebuah pukulan lawan, maka sewaktu melancarkan serangan berikutnya, dia malah sudah tidak mampu mengerahkan segenap tenaganya lagi.”

“Saudara Liu, lebih baik kau beristirahat dulu sejenak,” kata Buyung Sui-in.

“Tidak perlu. Apakah si Darah Dingin masih ada di sini?”

“Rasanya dia sudah pergi menguntit Liu Kiu-ji,” jawab Leng Giok-siu.

Liu Ce-in manggut-manggut. Mendadak seperti teringat akan satu hal, ia menjerit, “Mana Kui-ngohiap?”

“Tak usah kuatir,” jawab Buyung Sui-in sambil tertawa, “Baru saja kami bertemu dengannya.”

Belum selesai bicara, tiba-tiba senyumnya hilang lenyap. Disusul kemudian terdengar Leng Giok-siu berkata dengan suara dalam, “Dia ketinggalan barisan, cepat kita periksa!”

Di tengah kebun terlihat sebatang pohon tumbang ke tanah, dedaunan berserakan di sekelilingnya. Pohon yang sangat rimbun itu terpapas kutung jadi dua akibat sebuah pukulan yang dahsyat.

Sewaktu Kui Keng-ciu mengejar musuh tadi, pohon itu terhajar oleh pukulannya dan tumbang ke tanah. Di samping pohon yang tumbang terkapar pula sesosok tubuh manusia. Ceceran darah segar yang mengucur keluar dari tubuh orang itu terserap oleh guguran dedaunan yang berserakan di sekelilingnya.

Orang yang terkapar di tengah genangan darah segar itu tak lain adalah Kui Keng-ciu, Naga kelima dunia persilatan. Tadi, dialah yang menghajar pohon itu hingga tumbang. Siapa pula yang menghajarnya hingga terkapar?

Orang semacam dia semestinya tidak gampang ditumbangkan. Ilmu yang dipelajarinya adalah ilmu kebal Kim-kong-put-huay-sin-kang. Malah ilmu kebal macam Cap-sah-thay-po yang diyakini pun sudah mencapai tingkat sempurna. Masih ditambah lagi dia pun memiliki ilmu Thi-po-san dan sejak kecil belajar ilmu jejaka Tong-cu-kang. Tapi kenyataannya, dia sudah roboh terkapar di tanah.

Di kala Leng Giok-siu, Buyung Sui-in dan Sim Ciok-kut berangkat ke gudang kayu bakar, dia telah dirobohkan orang. Suara pertarungannya pun tak pernah terdengar. Mungkinkah orang yang memiliki ilmu kebal ini telah dirobohkan orang tanpa sempat meronta atau membalas?

Liu Ce-in tidak bicara, dia menyulut sebuah lentera untuk menerangi sekeliling tempat itu. Di tengah keremangan cuaca, tampak cahaya api berkilat dan-bersinar menembus kegelapan.

Tiba-tiba Leng Giok-siu seperti berubah jadi seorang kakek kurus kering. Belum pernah orang melihat Leng Giok-siu yang tersohor karena ilmu pedang Tiang-khong-sip-ci-kiam itu berubah jadi demikian tua, berubah jadi demikian kurus dan layu.

Sekujur tubuh Buyung Sui-in kelihatan gemetar keras. Dari balik cahaya yang remang-remang tertampak wajahnya basah oleh cucuran air mata. Sementara itu, paras Sim Ciok-kut hijau membesi. Jubah hitamnya nampak bergelombang karena menahan emosi.

Padahal saat ini baru menjelang senja, senja pertama sejak terjadinya peristiwa berdarah itu. Sehari saja belum lewat…

Mendadak Sim Ciok-kut berkata dengan suara yang luar biasa dingin dan tenangnya, “Luka mematikan Ngote berada di kedua belah keningnya. Tay-yang-hiat di kening kiri dan kanan nya telah disodok orang dengan jari tangan.”

Liu Ce-in manggut-manggut, sambungnya kemudian, “Dengan perkataan lain, orang yang membunuh Kui-ngohiap sudah sangat hapal dan mengenali ilmu silat yang ia pelajari. Dia tahu kalau Tay-yang-hiat merupakan satu-satunya titik kelemahan yang dimiliki Kui-ngohiap.”

“Biarpun begitu,” kata Leng Giok-siu dengan suara berat, “kendatipun Ngote berada dalam keadaan tidak siap, rasanya mustahil ada orang yang berhasil membunuh Kui-ngote hanya dalam sekali gebrakan saja.”

“Benar,” Liu Ce-in manggut-manggut. “Tay-yang-hiat adalah jalan darah kematian, tapi tak gampang menyerang bagian itu secara mudah. Apalagi dengan kehebatan ilmu silat yang dimiliki Kui-ngohiap.”

“Kecuali terhadap orang yang sudah sangat dikenal oleh Ngo-te,” sela Sim Ciok-kut tiba-tiba.

“Betul! Berarti pembunuhnya adalah seorang yang sudah amat dikenalnya!” sambung Buyung Sui-in.

“Tapi kenyataannya, sebelum kita tahu siapa orang itu, kita telah kehilangan dua orang saudara,” seru Sim Ciok-kut sambil tertawa dingin.

Setelah termenung sebentar, Leng Giok-siu pun berkata dengan nada berat, “Kalau begitu, mulai sekarang kita tak boleh saling berpisah hingga memberi kesempatan kepada pihak lawan untuk turun tangan. Paling tidak, bila ingin melakukan sesuatu tindakan, harus ada dua orang yang mendampingi. Kita memang tak takut mati. Tapi paling tidak, jangan sampai mati konyol!”

“Aduh, celaka!” tiba-tiba Liu Ce-in menjerit.

“Ada apa?”

“Tampaknya pihak lawan bukan hanya seorang. Kini si Darah Dingin sedang menguntit Liu Kiu-ji. Bila kematian Kui-ngohiap dan A-hok ada keterkaitannya dengan Liu Kiu-ji, berarti posisi si Darah Dingin saat ini…”

“Jika begitu, mari kita segera menyusulnya!” seru Buyung Sui-in sambil menggebrakkan kaki.

“Buyung-samhiap tak perlu terburu napsu. Yang mereka incar adalah nyawa kalian bertiga…aku rasa, kita perlu segera minta bantuan Ceng Ci-tong dan Ko San-cing!”

Seraya berkata dia mengeluarkan dua ekor merpati pos dari sakunya. Selesai mengikat dua lembar surat yang telah ditulisnya, ia lepaskan burung itu ke udara.

Diiringi suara lirih, dua ekor burung merpati itu melesat ke balik kegelapan malam. Sekejap kemudian bayangannya sudah lenyap dari pandangan.

Sambil mengawasi bayangan merpati posnya yang menjauh, Liu Ce-in bergumam lirih, “Semoga saja dengan hubungan baikku terhadap mereka berdua, besok sebelum fajar menyingsing, mereka berdua sudah tiba di sini.”

Meski sudah berusia empat puluhan tahun, Liu Kiu-ji masih kelihatan segar, sehat dan kuat. Sejak meninggalkan gedung keluarga Kim, ia sama sekali tidak menunjukkan rasa sedih ataupun berduka.

Ketika sudah melalui beberapa gang, dia mulai mengeluarkan guci araknya dan sambil berjalan menenggak air kata-kata. Belum lagi tiba di depan pintu rumah, ia sudah mabuk berat.

Melihat hal itu, si Darah Dingin berkerut kening. Nyaris dia urung melanjutkan kuntitannya. Tapi ia coba bersabar.

Setelah berpikir sejenak, si Darah Dingin melanjutkan kembali kuntitannya. Paling tidak dia ingin tahu apa yang akan dilakukan orang ini setibanya di rumah.

Liu Kiu-ji seperti belum puas dengan seguci araknya. Selesai menghabiskan tetesan arak yang terakhir, dia mulai mengetuk pintu rumah seorang setan arak. Kembali dua orang itu ngobrol ke sana kemari, yang dibicarakan hanya hal-hal yang tak penting, sampai akhirnya Liu Kiu-ji jadi tak suka hati dan meninju orang itu sampai semaput. Kemudian dengan sempoyongan kembali ia melanjutkan perjalanannya.

Malam sudah makin larut, kegelapan mulai mencekam seluruh jagad.

Entah berapa banyak jalan dan lorong yang sudah ditelusuri Liu Kiu-ji, sampai akhirnya ia temukan sebuah rumah dan menerobos masuk ke dalam.

Ternyata rumah itu adalah sebuah tempat pembuatan tembikar. Kalau di siang hari para pekerja membakar tembikar di situ, maka di kala malam tiba, mereka pun pergi meninggalkan tempat itu. Di tempat seperti inilah Liu Kiu-ji berdiam.

Suasana semakin hening, malam semakin larut. Yang terdengar hanya gonggongan anjing yang sahut-menyahut di kejauhan sana.
Pelan-pelan si Darah Dingin mulai mendekati pintu rumah. Pikirnya, “Kalau toh ia menginap di sini, lebih baik aku langsung mencari dan mengajaknya bicara duluan.”

Baru saja dia akan mengetuk pintu, mendadak ia menemukan sesuatu yang tak beres. Tiba-tiba saja, entah apa sebabnya, tahu-tahu gonggongan anjing berhenti secara mendadak…

Dalam tertegunnya, tanpa sadar ia tingkatkan kewaspadaan untuk menghadapi hal yang tak diinginkan.

Benar juga. Di saat dia masih terkesima, mendadak muncul tujuh delapan belas macam senjata rahasia yang meluncur ke arahnya dari sekeliling ruang bangunan itu.

Selain cepat dan tepat, serangan berbagai amgi itu muncul tanpa menimbulkan sedikit suara pun! Yang tampak di bawah remang cahaya rembulan hanya sinar hijau kebiruan yang menyilaukan mata. Jelas semua senjata rahasia itu telah dipoles dengan racun ganas.

Si Darah Dingin segera pula mencengkeram ke depan. Tangan yang semula mengetuk pintu berubah jadi cengkeraman.

“Blaaam!” dia betot pintu rumah itu lalu ditamengkan ke depan badannya…

“Tuk, tuuk, tuuuk, tukkk,” semua sambaran senjata rahasia itu menghajar telak persis di atas permukaan pintu.

“Siapa? Siapa di situ?” dari dalam rumah terdengar Liu Kiu-ji berseru kaget.

Pada saat itulah, dari setiap bilik dalam rumah itu bermunculan tiga empat orang yang menghunus golok panjang. Mereka mengenakan baju berwarna hitam dengan kain kerudung berwarna hitam pula. Di bawah kilatan cahaya yang menyilaukan mata, terlihat seluruh golok tajam itu sedang diayunkan membacok ke tubuh si Darah Dingin!

Dalam kondisi seperti ini, si Darah Dingin sendiri pun tidak berminat banyak bicara. Dia kerahkan tenaga dalamnya, lalu ditelakkan ke atas pintu kayu kuat-kuat. Seketika itu juga semua senjata rahasia yang semula menancap di dinding pintu berbalik arah dan menyambar ke arah kawanan manusia berbaju hitam itu.

Dalam terkesimanya, segera kawanan manusia berbaju hitam berkelit ke samping sambil mengayunkan golok mereka. Tiga manusia berbaju hitam segera menjerit kesakitan, lalu roboh terkapar di tanah.

Ternyata senjata rahasia itu betul-betul sangat beracun. Tak selang berapa saat kemudian, tiga manusia berbaju hitam itu sudah tewas dalam keadaan mengerikan.

Melihat kejadian ini, kawanan jago berbaju hitam lainnya segera berteriak keras, serentak mereka ayunkan golok dan menyerang si Darah Dingin.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, si Darah Dingin mundur selangkah. Tiba-tiba ia lolos pedangnya dan langsung menyerang ke arah kelompok orang terbanyak.

Ia sadar sudah masuk perangkap. Dalam keadaan demikian hanya satu jalan yang bisa dia lakukan; menerjang masuk ke dalam kepungan dan membunuh sebanyak mungkin.

Inilah prinsip kerja si Darah Dingin. Tak pernah ada perbuatan yang tak berani dilakukan si Darah Dingin.

Caranya mencabut pedang sangat aneh. Ia mencabut pedang sambil membalikkan tangan karena pedang itu berada di pinggangnya, tanpa sarung pedang. Pedang tanpa sarung biasanya memang lebih cepat dilolos.

Ia berpendapat bahwa pedang digunakan untuk membunuh lawan, bukan untuk ditonton atau diperlihatkan pada orang lain. Dan inipun merupakan prinsip hidup si Darah Dingin.

Bentuk pedang itu ramping dan tipis, panjang tapi tajam. Gampang menyerang namun susah bertahan. Karena itu, si Darah Dingin hanya tahu menyerang tanpa bertahan. Dia berpendapat, pertahanan paling bagus adalah melakukan penyerangan.

Sekali lagi, ini juga prinsip dari si Darah Dingin.

Orang persilatan hanya tahu dia memiliki empat puluh sembilan jurus pedang, semuanya tanpa nama. Tetapi jurus serangannya sangat mengerikan.

Ketika si Darah Dingin mulai menerjang ke muka, kawanan manusia berkerudung itu mulai menjerit kesakitan. Diiringi teriakan ngeri, ada yang roboh terkapar, ada pula yang maju mengepung.

Di bawah cahaya rembulan, terlihat percikan darah segar berhamburan kemana-mana…

Seorang jago berkerudung yang berada di depan si Darah Dingin seketika tertusuk telak dan roboh terkapar. Namun orang kedua kembali mendesak tiba. Ayunan golok yang berkilauan mengancam bagian tubuh yang mematikan.

Lagi-lagi orang kedua roboh terkapar bermandikan darah. Tapi orang ketiga pun kembali meluruk tiba.

Belum lama pertarungan berlangsung, mendadak di tengah bentakan nyaring dan teriakan keras, terdengar seorang berseru lantang, “Bangsat ini kelewat hebat, kita tak sanggup menghadapinya…Kabur…cepat kabur!”

“Tidak bisa, pemimpin memerintahkan kita untuk membunuhnya!”

“Kita bukan tandingannya!”

“Biar bukan tandingan, kita tetap harus menyerang!”

“Kami tak sanggup! Cepat kabur…cepat kabur.”

Di tengah jeritan ngeri yang menyayat hati, lagi-lagi tiga orang jago berkerudung roboh terkapar.

“Dia sudah terluka!” tiba-tiba terdengar seorang berseru keras.

“Ya, lihat! Dia sudah termakan sebuah bacokanku!” ”

Tidak…dia masih setangguh tadi.”

“Lebih baik kita cepat kabur saja! Tampaknya dia sudah terluka.”

“Ya…coba lihat, darahnya mengucur deras.”

Orang ketiga kembali terkapar bermandikan darah. Tapi orang keempat sudah menerjang tiba. Belum lagi pertarungan berlangsung setengah hari, separuh di antara kawanan jago berkerudung itu sudah melarikan diri dengan terbirit-birit.

Sisanya juga tak berminat untuk bertarung lebih jauh. Sambil bertempur mereka coba melarikan diri…Tak ada orang kelima!

Yang tersisa saat ini hanya rembulan yang masih bersinar di awang-awang. Cahaya itu begitu bening, begitu lembut. Godaankah? Atau sebuah dosa?

Cahaya rembulan yang menyoroti wajahnya itu, menyinari kepalanya, tubuhnya…Apakah cahaya itu sedang menembusi dosa-dosanya? Atau bahkan sedang membersihkan noda-noda dosanya?

Si Darah Dingin berdiri di bawah cahaya rembulan. Di tangannya masih tergenggam pedang tipis lagi panjang. Sebuah luka bacokan di atas bahunya, darah segar masih nampak mengucur.

Betapapun parahnya luka yang ia derita, Darah dingin bukan jago yang mau roboh hanya lantaran terluka. Apalagi semenjak terjun ke dunia persilatan, luka semacam ini terhitung luka yang sangat ringan.

Di bawah pancaran sinar rembulan, yang terlihat sejauh mata memandang hanya darah! Darah yang berceceran di setiap sudut ruangan, darah yang menggenangi empat puluh tiga sosok mayat.

Ya. Ada empat puluh tiga orang yang tewas. Dia terpaksa harus membunuh, karena setiap kali pedangnya dilolos, maka pihak lawan akan tergeletak mampus. Jangankan pihak lawan, dia sendiri pun tak dapat mengendalikan hal itu.

Selesai membantai orang-orang itu, perasaaan hatinya terasa kosong, terasa hampa. Dia ingin sekali berlutut dan menangis sepuasnya.

Sebenarnya dia tak ingin membunuh orang-orang itu. Dia bahkan tak tahu siapa gerangan orang-orang itu.

Mendadak si Darah Dingin teringat sesuatu. Segera dia menerjang masuk ke dalam ruangan.

Keadaan ruangan itupun porak-poranda. Meja kursi berserakan. Jelas di situ telah berlangsung pertempuran yang amat sengit.

Sementara itu, Liu Kiu-ji tampak terkapar di tanah, tertindih meja kursi yang berserakan.

Lekas si Darah Dingin menyingkirkan meja dan kursi itu, kemudian membangunkan Liu Kiu-ji. Sebilah senjata penggaris baja masih berada dalam genggamannya. Jelas dia telah terlibat pertarungan yang amat seru.

Di dadanya tampak sebuah luka yang masih mengucurkan darah, seakan-akan terhajar sebuah benda yang menancap di dadanya, tetapi kemudian telah dicabut balik. Luka itu persis menghancurkan isi perutnya.

Kalau ditinjau dari bentuk lukanya, jelas orang inipun terluka oleh serangan si Iblis pedang darah terbang.

Biarpun parah sekali luka yang dideritanya, beruntung Liu Kiu-ji belum putus nyawa. Ia nampak masih bernapas, walau sangat lirih dan lemah.

Segera si Darah Dingin menyalurkan hawa murninya ke dalam tubuh Liu Kiu-ji. Tak lama kemudian orang itu mulai membuka mata, tapi darah yang mengucur semakin deras.

si Darah Dingin tahu, orang itu tak dapat hidup lebih lama lagi. Maka segera ia bertanya, “Kau yang telah membunuh Kim Seng-hui?”

Dengan sangat lemah dan sama sekali tak bertenaga Liu Kiu-ji membuka matanya. Suara gemerutuk bergema dari tenggorokannya, namun tak sepatah kata pun sanggup diucapkan. Dia hanya menggeleng terus, menggeleng tiada hentinya.

“Tapi kau tahu siapa yang telah membunuhnya?” kembali si Darah Dingin bertanya dengan kening berkerut.

Dengan susah payah Liu Kiu-ji mengangguk. Dia meronta, seperti ingin mengatakan sesuatu namun darah menyembur keluar dari tenggorokannya.

Diam-diam si Darah Dingin menghela napas panjang. Coba Liu Kiu-ji tidak memiliki daya tahan tubuh yang hebat, mungkin dia tewas sejak tadi. Tusukan telak di dadanya telah menghancurkan seluruh isi perutnya.

Tiba-tiba Liu Kiu-ji mendesis, mendesis dengan sepenuh tenaga, “Yang membunuh aku adalah dua…dua orang kong…”

Ia tak sanggup melanjutkan perkataannya. Darah menyembur dengan derasnya keluar dari mulutnya, dan…seketika tewaslah orang itu.

Pelan-pelan si Darah Dingin membaringkan kembali tubuh Liu Kiu-ji. Pikirannya amat kalut, amat bingung…

Atas perintah siapa sebenarnya kawanan jago yang begitu banyak datang menyerangnya? Siapa pula yang telah membunuh Liu Kiu-ji?

Seandainya pembunuh yang menghabisi nyawa Kim Seng-hui adalah Liu Kiu-ji, maka kasus pembunuhan itu dapat diselesaikan sampai di sini. Namun kenyataannya tidak segampang itu, tidak sesederhana itu…

Kenyataan bukan saja pihak lawan telah membantai Liu Kiu-ji untuk membungkam mulutnya, mereka bahkan berusaha pula untuk membunuh dirinya. Dan bukan hanya begitu saja.

Kalau ditinjau dari ilmu golok dan ilmu silat yang digunakan kawanan jago berkerudung yang menyerang dirinya malam ini, jelas hubungan orang-orang itu adalah sesama saudara seperguruan. Ini membuktikan mereka berasal dari perguruan yang sama, dan guru yang sama pula.

Tapi partai apa? Perguruan mana? Kenapa memiliki kekuatan begitu dahsyat? Begitu menakutkan!

Ditinjau dari cara orang-orang itu membunuh Liu Kiu-ji, jelas mirip sekali dengan cara yang digunakan untuk membunuh Kim Seng-hui. Apakah mereka ahli waris si Iblis pedang darah terbang Pa Siok-jin?

Kalau dibilang mereka adalah ahli waris Pa Siok-jin, lalu siapakah guru orang-orang itu? Siapa yang mengajarkan ilmu silat kepada mereka? Semuanya’ serba membingungkan, penuh dengan teka-teki. Teka-teki yang susah ditelaah.

Apa pula yang telah diucapkan Liu Kiu-ji menjelang ajalnya tadi? Apakah yang dimaksud dengan “dua orang kong…”? Apakah ‘kongjin’ (pekerja kasar)? Atau ‘kongcu’ (tuan muda)? Atau bahkan Kongsun, nama seseorang? Nama sebuah marga? Atau nama sebuah organisasi? Sebuah perkumpulan rahasia?

Lama sekali si Darah Dingin berdiri termangu, terkesima…Mendadak ia robek pakaian yang dikenakan Liu Kiu-ji, seakan sedang mencari sesuatu. Setelah mencarinya berapa saat, dia keluar dari situ, membuka kain kerudung yang menutupi beberapa sosok mayat itu. Tapi mereka semua hanyalah lelaki asing baginya.

Akhirnya si Darah Dingin merobek pakaian yang dikenakan orang-orang itu. Dia seperti meneliti dan memeriksa sesuatu.
Lama dan lama kemudian, akhirnya di bawah cahaya rembulan terlihat si Darah Dingin manggut-manggut, seakan dia telah memahami sesuatu.

Ceng Ci-tong kelihatan sedikit agak pendek lagi kecil. Dibandingkan Liu Ce-in, usianya jauh lebih muda. Senjata rantai melilit di pinggangnya, gerak-geriknya cekatan dan lincah. Jelas seorang jagoan tangguh.

Potongan badan Ko San-cing hampir sama dengan Ceng Ci-tong. Cuma dia kelihatan lebih gagah dan bersemangat. Oleh sebab itu Ceng Ci-tong kelihatan seperti orang yang kecil pendek, sementara Ko San-cing tampak tinggi besar bagai sekor kuda. Senjata yang berada dalam genggaman orang ini adalah sebuah toya yang terbuat dari kayu tho. Toya itu ramping, dengan ujung runcing seperti pisau. Panjangnya mencapai tujuh depa enam inci.

Waktu itu adalah tengah hari kedua, yaitu hari kedua setelah keturunan si Iblis pedang mengancam akan membantai habis Bu-lim-ngo-tiau-liong, lima naga sakti dunia persilatan, dalam waktu tiga hari.

Di ruang layon berjajar dua buah peti mati. Selain sanak keluarga Kim, hadir pula Leng Giok-siu, Buyung Sui-in, Sim Ciok-kut, Liu “Ce-in serta si Darah Dingin.

Istri dan putra Leng Giok-siu hadir pula di ruang layon. Mereka memperoleh kabar duka itu kemarin sore, dan pagi ini segera menyusul datang ke rumah keluarga Kim. Mereka baru tahu duduknya perkara setelah bertemu Leng Giok-siu.

Oleh karena sedang dalam suasana berkabung, tentu saja Leng Giok-siu tak ingin balik ke rumah sendiri.

Di antara Lima naga sakti dunia persilatan, yang benar-benar punya keluarga lengkap hanya Leng Giok-siu, Buyung Sui-in serta Kim Seng-hui. Sim Ciok-kut hidup menyendiri bagai setengah pendeta setengah orang awam. Wataknya aneh dan tak punya sanak keluarga. Sementara itu Kui Keng-ciu berwatak berangasan, kasar dan cepat naik pitam. Kecuali beberapa orang sahabat, dia pun tak punya istri.

Untuk menghindari kejadian yang tak diinginkan, Leng Giok-siu menganjurkan anak-istrinya menyingkir dulu sementara waktu ke rumah orangtuanya.

Sewaktu Ceng Ci-tong dan Ko San-cing tiba di situ, Liu Ce-in segera berdiri menyambut. Si Darah Dingin pernah bertemu dengan mereka. Jadi walau tidak kenal secara resmi, paling tidak mereka pernah saling bersua. Karenanya Liu Ce-in memperkenalkan kedua orang itu pada Leng Giok-siu, sembari menuturkan terjadinya peristiwa ini.

Selesai mendengar penuturan itu, dengan sedih Ceng Ci-tong berkata, “Sungguh bedebah laknat itu, berani amat mencelakai Kim dan Kui-jiwi Enghiong!”

Dengan suara senyaring genta Ko San-cing berseru pula dengan nada gusar, “Leng-loenghiong, kau jangan takut. Kami pasti akan membantu kalian untuk menangkap pembunuh sadis itu!”

Mendengar ucapan itu, Sim Ciok-kut segera mendengus dingin. Untung sebelum dia bereaksi, Liu Ce-in yang melihat gelagat tak baik segera menyela, “Ko-lote, tak perlu takabur. Kami berterima kasih karena kau bersedia datang membantu. Tapi kalau ingin membekuk.sang pembunuh sendirian…jangankan diriku, bahkan si Darah Dingin, salah satu dari Empat opas yang tersohor pun sempat dibuat gelagapan oleh ulah mereka.”

“Betul!” Ceng Ci-tong segera menimpali, “Ucapan Ko-lote kelewat takabur. Lagi pula Leng-loenghiong, Buyung-enghiong serta Sim-enghiong pun bukan manusia yang gampang dipermainkan orang.”

Tiba-tiba Buyung Sui-in tertawa, katanya, “Anda berdua tak perlu kelewat memuji. Perkataan saudara Ko memang ada benarnya juga. Untuk membekuk sang pembunuh, kami memang sangat membutuhkan bantuan dari jago-jago tangguh macam saudara Ko berdua. Kedatangan kalian tepat pada waktunya. Terus-terang, kami sempat merasa cemas sebelum kehadiran kalian berdua tadi.”

“Buyung-jihiap, kau hendak ke mana?” mendadak si Darah Dingin menegur.

Sekilas perasaan sedih melintas di wajah Buyung Sui-in, ujarnya kemudian, “Anak-istriku tinggal di luar kota. Untuk mengirim berita kepada mereka pun kurang leluasa. Terlepas bagaimana nasibku nanti, aku tetap harus pulang dulu untuk mengatur segala sesuatunya. Sebisa mungkin aku akan balik lagi kemari sebelum malam nanti. Biar kami lima bersaudara tidak dilahirkan pada tahun, bulan, tanggal dan jam yang sama, tapi kami berharap bisa mati pada tahun, bulan, tanggal dan jam yang sama!”

“Buyung-jihiap, rasanya kurang aman membiarkan kau pulang sendirian,” ujar Liu Ce-in dengan nada cemas.

“Seorang lelaki sejati, kenapa harus hidup bagai orang cengeng? Apa yang perlu ditakuti dengan kematian? Mati di luar atau mati di atas ranjang toh sama saja,” sahut Buyung Sui-in sambil tertawa santai.

Leng Giok-siu tidak berusaha menghalangi niat saudara angkatnya itu. Dia hanya menatap orang itu lekat-lekat, kemudian ujarnya sepatah demi sepatah, “Jite, kita harus tetap hidup. Kau tak boleh mati, sebab kita masih harus membalaskan dendam kematian Samte dan Ngote.”

“Jihiap,” kembali Liu Ce-in berkata, “Bila kau bersikeras hendak pulang, paling tidak mesti membawa teman.”

“Bagaimana jika aku yang menemani Buyung-jihiap?” tiba-tiba Ceng Ci-tong menawarkan diri.

“Bagus sekali,” seru Leng Giok-siu. Kemudian kepada saudaranya, kembali ia berkata, “Jite, di sini ada saudara Liu, Leng, Ko dan Site yang menemani. Memang paling baik bila kau berangkat bersama saudara Ceng.”

Si Darah Dingin yang selama ini cuma membungkam tiba-tiba menyela, “Rasanya tidak cukup bila Buyung-jihiap hanya ditemani Opas Ceng. Begini saja, kalau Buyung-jihiap bersikeras akan pergi, biar aku pun ikut serta. Cuma tolong Leng-tayhiap dan Sim-sihiap jangan sembarangan berpisah.”

“Tak usah kuatir saudara Leng,” Liu Ce-in tertawa, “Di sini kan masih ada aku serta saudara Ko. Kamipun bukan manusia yang gampang dipermainkan.”

Pelan-pelansi Darah Dingin berbangkit, ujarnya hambar, “Baiklah, kalau sudah begitu, tempat ini kuserahkan tanggung jawabnya kepada saudara Liu serta saudara Ko!”

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: