Kumpulan Cerita Silat

16/09/2009

Pendekar Baja (17)

Filed under: Pendekar Baja — Tags: — ceritasilat @ 9:55 pm

Oleh Gu Long

(Terima kasih kepada Tungning)

Dandanan pengemis tua ini tiada ubahnya seperti pengemis yang lain, perawakannya juga tidak lebih tinggi besar, namun berdiri di tengah kawanan pengemis dia kelihatan seperti bangau di tengah gerombolan ayam.

Sekali pandang saja Sim Long lantas tahu siapa dia. Pengemis tua itu juga sedang menatap Sim Long dengan tajam.

“Anda ini Co Kong-liong?” tanya Sim Long.

“Betul, ada hubungan apa antara Ji Yok-gi denganmu?” tanya pengemis tua itu.

“Cayhe Sim Long, sahabat Ji-heng,” jawab Sim Long.

Alis Co Kong-liong terangkat, “Sim Long? Ehm, sudah kudengar akhir-akhir ini dunia Kangouw telah muncul seorang pendekar muda, dalam sebulan saja namanya sudah tersiar ke mana-mana, tak tersangka dapat bertemu di sini.”

Cara bicara sesepuh Kay-pang ini tampak kereng dan lugas, sedikit pun tidak ada tanda-tanda sesat atau jahat. Sebaliknya tindak-tanduk Ji Yok-gi biasanya sering tercela, bila orang lain pasti akan menaruh curiga terhadap keterangan Ji Yok-gi tadi.

Tapi setelah termenung sejenak, Sim Long lantas berkata, “Kay-pang-sam-lo biasanya selalu berada bersama, entah sekarang Tan-tianglo dan Auyang-tianglo berada di mana?”

“Mereka berada di mana sekarang, apa sangkut pautnya denganmu?” jawab Co Kong-liong.

Sim Long tersenyum, “Cayhe cuma ingin bertanya kepada kedua beliau itu sesungguhnya kesalahan apa Ji Yok-gi sehingga harus dihukum menurut peraturan perguruan Kay-pang.”

“Cukup dengan keteranganku saja, untuk apa mesti tanya orang lain lagi?” jawab Co Kong-liong dengan bengis.

“Jika begitu ingin kumohon petunjuk…”

“Urusan intern Kay-pang orang luar tidak perlu ikut campur,” bentak Co Kong-liong.

Mendadak Sim Long tertawa, “Jika begitu, tidak leluasa bagiku untuk ikut campur urusan ini.”

Tiba-tiba ia berpaling dan berseru, “Marilah Nona Cu, kita pergi saja.”

Ucapan Sim Long ini membikin Ji Yok-gi di dalam rumah terkejut, Jit-jit juga melengak, cepat ia melompat keluar dan menegas, “Pergi? Masa…masa akan kau tinggalkan Ji Yok-gi di sini?”

“Meski kita adalah sahabatnya, tapi dia telah melanggar peraturan perguruan, adalah pantas dia mendapat hukuman rumah tangga sendiri, ini adalah peraturan umum dunia persilatan, mana boleh kita ikut campur?” jawab Sim Long.

Tanpa menunggu reaksi si nona, ia lantas memberi hormat kepada Co Kong-liong dan berkata, “Maaf, sekarang juga kumohon diri.”

Siapa tahu mendadak Co Kong-liong lantas membentak, “Tidak, kau pun tidak boleh pergi.”

Sim Long sengaja berlagak heran, “Anda minta jangan kuikut campur urusan Kay-pang, jika kupergi kan berarti mematuhi pesanmu. Entah mengapa Anda merintangi kepergianku?”

Co Kong-liong tampak melenggong sejenak, lalu mendengus, “Apa yang akan kulakukan engkau tidak berhak tanya.”

“Tapi persoalan yang menyangkut kepentinganku masalah tidak boleh kutanya,” jawab Sim Long.

“Baik akan kuberi tahukan padamu,” teriak Co Kong-liong dengan bengis. “Soalnya karena kau ini manusia licin, perbuatan tidak senonoh yang dilakukan Ji Yok-gi itu pasti ada sangkut pautnya denganmu.”

“Jika demikian, jadi Anda bermaksud memberi hukuman padaku bersama Ji Yok-gi?” tanya Sim Long.

“Betul!” bentak Co Kong-liong.

Mendadak Sim Long menengadah dan bergelak tertawa, sungguh gembira tertawanya. Sampai Cu Jit-jit dan Ji Yok-gi juga tercengang.

“Apa yang kau tertawai?” teriak Co Kong-liong dengan gusar.

“Kutertawai si rase itu akhirnya kelihatan juga ekornya,” kata Sim Long dengan tetap tertawa.

“Sebenarnya siapa yang kau maksudkan?”

“Semula kukira engkau ini seorang jujur, mestinya tidak percaya dirimu ini sebenarnya manusia yang berhati binatang, kusangka ucapan Ji-heng yang tidak beres, maka sengaja kucoba dirimu,” Sim Long tertawa, lalu menyambung, “Ternyata sekali kucoba segera terlihat belangmu. Tapi cara bagaimana belangmu sampai kelihatan, mungkin kau sendiri belum lagi mengerti. Apakah kau mau kujelaskan?”

Dengan gusar Co Kong-liong membentak, “Sebentar lagi kau pasti akan mampus, mau omong apa boleh lekas katakan saja.”

“Jelas kau datang sendirian, tapi sengaja kau kemukakan nama Sam-lo (ketiga orang tua), jelas hatimu rada jeri, jika engkau tidak berdosa, kenapa mesti takut?”

“Hm, apa lagi?” jengek Co Kong-liong.

“Berulang-ulang kau minta aku jangan ikut campur urusan orang lain, pada waktu aku mau pergi sebaliknya kau rintangi, jelas karena kau khawatir Ji Yok-gi akan menceritakan padaku segala kemunafikanmu, makanya ingin kau bunuh diriku untuk menutup mulutku. Hah, jika perbuatanmu cukup gilang-gemilang, mengapa takut diketahui orang lain?”

Mau tak mau berubah juga air muka Co Kong-liong, teriaknya, “Kau…”

Belum lanjut ucapannya Cu Jit-jit lantas berkeplok dan berseru, “Haha, Sim Long memang tidak malu sebagai Sim Long, dengan sedikit kelicikanmu ini hendak kau tipu Sim Long, huh, mimpi!”

Baru sekarang Ji Yok-gi melompat keluar, serunya dengan kejut dan girang, “Sim-heng ternyata tahu akan jiwaku, sungguh mati pun aku tidak menyesal lagi!”

Dengan tertawa Sim Long berkata, “Ucapan Ji-heng tadi memang tidak salah, tahu orangnya, tahu mukanya, tidak tahu hatinya. Memangnya siapa pula yang menduga bahwa Co Kong-liong yang termasyhur berbudi luhur ternyata adalah…”

“Adalah malaikat maut bagimu!” tukas Co Kong-liong sambil membentak. Berbareng ia memberi tanda, serentak anak murid Kay-pang yang berdiri di sampingnya sama berputar cepat seperti roda angin.

Seketika cahaya senjata berkelebat, Ji Yok-gi, Cu Jit-jit dan Sim Long terkurung di tengah, dipandang dari gemerdep senjata itu kelihatan ada belasan orang pula yang berdiri di luar garis sana.

Belasan orang ini sama membawa kantong senjata rahasia yang tergantung di pinggang, ada yang membawa busur dengan anak panah, jelas asalkan Sim Long dan lain-lain melompat ke atas, seketika hujan senjata rahasia akan terjadi.

Jika di tanah datar, jangankan Sim Long, sekalipun Cu Jit-jit juga pandang sebelah mata akan serangan senjata rahasia lawan. Tapi dalam keadaan terapung keadaan akan menjadi lain.

Dengan ginkangnya, sebenarnya untuk lolos dari kepungan ini tidaklah sulit bagi Sim Long dan kawannya. Tapi dengan senjata rahasia yang disiapkan, Sim Long harus berpikir dua kali sebelum menggunakan ginkang untuk kabur.

Muka Cu Jit-jit rada pucat, meski banyak juga pengalaman tempurnya, tapi cara keji musuh dan kepungan yang ketat begini jarang dihadapinya.

Begitulah serangan musuh bertambah gencar, kepungan bertambah rapat dan makin menyempit, mau tak mau Jit-jit rada gelisah. Wajah Ji Yok-gi juga mulai berkeringat.

Sekonyong-konyong tiga bilah golok musuh membacok tiba secepat kilat. Rasa tegang Jit-jit dan Ji Yok-gi jadi buyar oleh serangan ini, segera keduanya siap menangkis.

Tapi sebelum mereka bergerak, mendadak Sim Long menubruk maju, sekaligus ia rampas golok salah seorang penyerang, berbareng sikutnya menyodok dan tepat lawan sebelah kiri disikut hingga mencelat.

Musuh sebelah kanan terkejut, baru saja hendak melompat mundur, golok rampasan Sim Long telah bekerja, punggung golok membalik membacok kuduk orang itu, kontan orang itu menjerit tertahan dan roboh terkapar, meski tidak binasa sudah cukup membuatnya sekarat.

Hanya sekali turun tangan saja Sim Long lantas membereskan tiga orang, sampai Jit-jit belum sempat melihat jelas apa yang terjadi, keruan ia tercengang.

Dengan golok rampasannya Sim Long serupa harimau tumbuh sayap, terdengar suara gemerencing beradunya senjata, cahaya golok di sekitar mereka dapat dihalau oleh Sim Long, sama sekali Jit-jit dan Ji Yok-gi tidak perlu turun tangan lagi.

Ji Yok-gi terkesima, kejut dan kagum.

Sebaliknya Jit-jit lantas tertawa, ucapnya dengan tertawa manis kepada Ji Yok-gi, “Coba kau lihat, kan sudah kukatakan tidak perlu takut, asalkan Sim Long hadir di sini, siapa pun tidak perlu ditakuti.”

Ji Yok-gi menghela napas perlahan, “Ya, kungfu Sim-heng memang…”

Belum habis ucapannya mendadak terlihat kain baju dan rambut si nona beterbangan, ia sendiri pun merasakan angin tajam menyambar dekat di sekitarnya. Suara gemerencing pun terus berbunyi tiada hentinya. Bayangan Sim Long juga terus berputar kian-kemari.

Tapi cahaya senjata juga bertambah menyilaukan mata dan makin kuat, jelas lingkaran kepungan barisan golok musuh juga semakin sempit.

Mau tak mau Jit-jit menjadi khawatir juga dan tidak dapat tertawa lagi, katanya, “Wah, apakah Sim Long dapat…”

“Walaupun Sim-heng sangat perkasa, tapi dua tangan tetap sukar melawan empat kepalan,” kata Ji Yok-gi. “Apalagi pihak lawan tidak cuma berjumlah beberapa orang saja, barisan kepungan mereka pun sangat ketat, bisa jadi…”

“Jika begitu, buat apa engkau mengoceh melulu?” omel Jit-jit sambil mengentak kaki. “Ayolah lekas bantu dia, tunggu apa lagi?!”

Walaupun begitu bicaranya, namun dia tetap berdiri di tempatnya. Maklumlah, saat itu barisan kepungan musuh telah bergerak cepat, cahaya senjata kemilauan, Jit-jit sendiri tidak tahu harus menerjang dari mana.

Dengan sendirinya Ji Yok-gi juga terkesima dan tidak dapat ikut turun tangan.

“Sabar sebentar, Sim Long, segera akan kami bantu engkau!” teriak Jit-jit untuk memberi semangat kepada Sim Long.

Tapi anak muda itu tidak menjawab, seperti tidak mendengarnya.

Sebaliknya terdengar Co Kong-liong lagi menjengek, “Saat ini Sim Long sudah berada dalam serbasusah, mana dia sempat bicara denganmu. Tapi kau pun tidak perlu gelisah, setelah Sim Long dibereskan, segera akan datang giliranmu.”

Tidak kepalang gemas Jit-jit, kontan ia memaki, “Keparat, kere mampus! Kalau berani ayolah maju sendiri, omong melulu, terhitung orang gagah macam apa?”

“Yang hidup ialah orang gagah, yang mati bukan lagi orang gagah, kalian bertiga sekarang sudah tidak ada bedanya orang mati…” demikian Co Kong-liong berolok-olok dengan tertawa.

“Pengemis busuk, kau sendiri yang akan mampus!” damprat Jit-jit dengan gusar, ia pandang Ji Yok-gi sekejap, seketika berhenti ucapannya.

Dilihatnya wajah Ji Yok-gi pucat lesi, kain pembalut pada tangan kanannya tampak kotor, darah segar masih terus merembes keluar. Jelas luka itu baru terjadi dan banyak keluar darah, melihat gelagatnya, andaikan dia ikut bertempur pasti juga takkan tahan lama.

Dengan terharu si nona memanggilnya perlahan, “Ji-siangkong!”

Ji Yok-gi jadi melenggong oleh panggilan si nona yang berbeda daripada biasanya ini, cepat ia menjawab, “Ada apa, Nona?”

Dengan menunduk Jit-jit berkata, “Sekarang kutahu engkau adalah seorang baik, bilamana sebelum ini sikapku kurang hormat padamu, hendaknya suka dimaafkan. Keadaan sekarang agak gawat, tampaknya bila Sim Long mau menerjang keluar sendirian tidaklah sulit, tapi…tapi kalau…”

Belum habis ucapan Jit-jit, dapatlah Ji Yok-gi memahami maksudnya, bahwa mendadak nona bersikap ramah padanya, rupanya nona itu merasa dia pasti akan binasa di sini. Bicara terhadap seorang yang bakal mati dengan sendirinya akan jauh lebih halus daripada biasanya.

“Orang macam apakah Sim Long, tentu juga sudah dikenal Ji-siangkong,” kata Jit-jit pula. “Apabila dia tidak mengetahui rahasiamu, tidak nanti dia mau menerjang pergi, engkau…”

“Tidak perlu Nona bicara lagi, sudah kuketahui maksud Nona,” ujar Ji Yok-gi dengan tersenyum pedih. “Kematianku tidak ada artinya, namun rahasia itu memang harus kubeberkan kepadanya…Dengarkan Sim-heng, pada malam itu, di rumah berhala…”

Belum lanjut ucapannya, mendadak Sim Long berteriak, “Wah, celaka!”

Menyusul lantas terdengar Co Kong-liong bergelak tertawa dan membentak, “Haha, baru sekarang kau mau bicara, sudah terlambat…” mendadak ia bersuit panjang melengking.

Di tengah suara suitannya, barisan penyerang serentak berubah posisi, lingkaran cahaya senjata yang terbentuk tadi mendadak menyerbu ke tengah antara Sim Long dan Ji Yok-gi bagaikan air bah yang tak terbendung.

Sim Long mengentak kaki, segera ia melompat ke atas, agaknya ingin bergabung dengan Ji Yok-gi, tapi baru saja ia bergerak, segera terdengar busur berbunyi, anak panah lantas berhamburan bagaikan hujan.

Jit-jit menjerit khawatir. Dilihatnya Sim Long memutar goloknya secepat kitiran, hujan anak panah itu sama rontok, tapi tubuhnya juga terpaksa turun kembali ke bawah. Pada saat itulah barisan golok musuh telah terbagi menjadi dua, belasan orang kini mengepung Ji Yok-gi di tengah.

“Wah, bagai…bagaimana…”Jit-jit menerjang ke dekat Sim Long.

“Masih bicara lagi? Semua gara-garamu!” omel Sim Long.

Jit-jit melengak, ucapnya dengan bingung, “Aku?…memangnya aku berbuat salah apa lagi?”

Sim Long tidak menghiraukannya, ia putar goloknya dan hendak menerjang musuh pula.

Tapi meski barisan golok musuh kini sudah terbagi menjadi dua, sisanya yang mengepung Sim Long tidak menyerang lagi melainkan ganti siasat dengan bertahan melulu. Nyata sasaran serangan mereka sekarang telah beralih kepada Ji Yok-gi.

Dengan sendirinya si pedang sakti yang sudah terluka dan tak bersenjata itu segera terancam maut di bawah kerubutan belasan golok musuh.

Sim Long sangat gelisah, tapi apa daya, pertahanan barisan musuh sangat kuat, setiap kali dia hendak melompat ke atas segera disambut dengan hujan anak panah.

Sekonyong-konyong terdengar Ji Yok-gi menjerit ngeri.

“Ji-heng…” seru Sim Long khawatir.

“Sim-heng, aku tidak…” belum lanjut Ji Yok-gi berkata, kembali ia menjerit, lalu tidak ada suara lagi.

Menyusul lantas terdengar gelak tertawa Co Kong-liong, lalu dia berseru, “Bagaimana, sudah beres?”

“Beres, lima belas bacokan, tercincang menjadi perkedel!” teriak anak buahnya.

“Baik, murid murtad sudah tertumpas, pergi!” bentak Co Kong-liong.

Sinar golok berkelebat dan menyurut mundur, sebagai gantinya sebaris anak panah lantas dibidikkan. Waktu Sim Long memutar goloknya untuk menghalau hujan anak panah itu rombongan musuh sudah menghilang di kegelapan.

Di atas tanah bersalju menggeletak Ji Yok-gi bermandikan darah.

Cepat Sim Long dan Jit-jit mendekatinya, Sim Long angkat bahu Ji Yok-gi yang penuh berlumuran darah itu. Dirasakannya orang masih bernapas meski sangat lemah.

Dengan girang Sim Long berseru, “Ji-heng, tahan, tahan sekuatnya!”

Tubuh Ji Yok-gi berkejang, tiba-tiba matanya terbuka sedikit, kelihatan sorot matanya yang buram, biji matanya berputar, seperti ingin mengenali siapa di depannya ini.

“Aku, Ji-heng…aku Sim Long!”

Akhirnya timbul setitik sinar mata Ji Yok-gi, namun sinar ini tiada ubahnya seperti sumbu pelita yang kehabisan minyak, setiap saat bisa sirap.

Bibir Ji Yok-gi bergerak-gerak, tercetus suara yang sangat lemah dan lirih seperti bunyi nyamuk, “Ak…aku…tidak…tidak sanggup…”

“Tahan, Ji-heng, engkau pasti sanggup,” seru Sim Long.

Namun keadaan Ji Yok-gi memang sangat parah, ingin bicara pun tidak sanggup lagi.

“Selain dirimu, siapa pula yang tahu rahasia yang kau maksudkan?” tanya Jit-jit.

Sampai lama sekali baru terdengar suara Ji Yok-gi yang sangat lemah, “Ada sur…surat untuk…untuk Liu…”

Sampai di sini, berbunyilah kerongkongannya seperti tersumbat, lalu kepalanya terkulai dan tidak bergerak lagi, nyata ia telah mengembuskan napasnya yang terakhir.

Dengan pedih Sim Long menggeleng kepala, gumamnya, “Baiklah, Ji-heng, berangkatlah engkau, suratnya pasti akan kusampaikan kepada Nona Liu Giok-ji, akan kuminta keterangan padanya, betapa pun akan kugagalkan intrik mereka.”

—–

Subuh sudah tiba, fajar telah menyingsing.

Cahaya fajar yang remang menyinari muka Ji Yok-gi. Air mata Jit-jit berlinang memandang wajah yang sudah kaku ini.

“Kasihan dia, seharusnya dia tidak perlu mati…”

“Betul, seharusnya dia tidak perlu mati, tapi dia justru mati gara-garamu,” tegas Sim Long mendadak.

“Aku?” Jit-jit menegas.

“Betul, kau…”

Mata Jit-jit menjadi merah lagi, “Kembali kau, segala apa kau salahkan aku, memangnya apa kesalahanku? Jelas dia sendiri takut mati dan akhirnya terbunuh, kenapa aku yang disalahkan?”

“Tadi kalau tidak kau paksa dia bicara, tentu Co Kong-liong tak tahu bahwa dia belum membeberkan rahasianya, tentu juga mereka takkan menjadikan dia sebagai sasaran serangan dan dia juga takkan terbunuh. Tujuan Co Kong-liong semula adalah hendak membinasakan diriku lebih dulu.”

“Tapi…tapi waktu itu engkau sendiri dikerubut hingga kalang kabut, jika…jika engkau tidak tahan, kan dia juga tetap tidak dapat kabur?”

“Dari mana kau tahu aku dikerubut hingga kalang kabut?” tanya Sim Long mendongkol. “Justru sengaja kupancing barisan golok musuh agar terpusat di suatu sudut, dengan susah payah kucari titik lemah barisan mereka, tampaknya sudah hampir berhasil, siapa tahu kau…”

Mendadak Jit-jit berteriak parau, “Ya, aku salah…aku salah…Tapi apa yang kulakukan itu adalah demi dirimu, dari mana kutahu siasatmu akan menumpas musuh…”

Sambil bicara akhirnya ia menangis tergerung-gerung.

Sejenak Sim Long memandangi nona yang lugas ini, ia menghela napas, lalu berkata, “Sudahlah, tidak perlu menangis lagi, hari sudah terang, Kim Bu-bong tidak ada kabarnya, apa pun juga kita harus menemukan dia lebih dulu.”

—–

Kim Bu-bong sedang berlarian di bawah deru angin yang dingin, rambutnya kusut bertebaran tertiup angin, di bawah hujan salju yang membeku, sekujur badannya justru membara oleh api kemarahan.

Dia sebenarnya seorang tokoh misterius yang penuh teka-teki, asal usulnya sukar diterka. Ia tidak suka menceritakan kisah hidupnya masa lampau, bahkan ia sendiri tidak mau memikirkannya kembali. Ia cuma ingat sejak kecil hingga besar dirinya tidak pernah memerhatikan mati-hidup orang lain, juga tidak pernah meneteskan setitik air mata bagi orang lain.

Selamanya tak pernah terpikir olehnya apa artinya kebajikan dan kejahatan, juga tidak pernah memikirkan siapa salah dan siapa benar. Apa yang dia suka, itulah yang dilakukannya. Asalkan dia tidak suka kepada seorang, segera orang itu dibunuhnya. Ia sendiri tidak tahu selama ini sudah berapa orang yang mati di bawah tangannya. Selama ini dia tidak kenal kasihan bagi korbannya, “yang lemah memang pantas mati”, baginya hukum rimba ini memang adil dan wajar.

Akan tetapi sekarang ia telah berubah. Ia menjadi marah karena kebusukan dan kejahatan Kim Put-hoan. Demi seorang anak perempuan lemah dia rela menempuh perjalanan di bawah hujan salju dan deru angin yang dingin.

Perubahan ini sama sekali tak terduga, mimpi pun tak tersangka olehnya.

Salju meliputi bumi raya ini, suasana gelap.

Ke mana larinya Kim Put-hoan? Cara bagaimana akan menemukannya? Semua ini tidak diketahui oleh Kim Bu-bong. Hanya berdasarkan semacam naluri asli makhluk hidup, semacam naluri binatang liar, juga naluri jago silat yang selama hidup bertualang seperti dirinya, ia terus mengejar dan mencari ke depan.

Mungkin ada yang merasa aneh di antara jago Kangouw bisa mempunyai naluri serupa binatang liar. Tapi kalau dipikirkan dengan cermat, segera akan diketahui di antara keduanya memang banyak terdapat segi persamaannya.

Mereka harus menghindari pengejaran orang lain, dalam buron itu mereka juga perlu memburu mangsanya untuk menyambung hidup mereka.

Jadi mereka adalah pemburu, tapi setiap saat juga diburu.

Jiwa mereka selalu berada di tepi garis antara mati dan hidup.

Di tengah hujan salju yang bertaburan ini, untuk pertama kalinya Kim Bu-bong merasakan hidupnya serupa benar dengan hidup binatang liar. Tanpa terasa tersembul senyuman kecut pada ujung mulutnya.

Namun kepekaan mencari yang timbul dari nalarnya itu ternyata tidak keliru. Di atas tanah salju di depan sana ada sesuatu benda yang kelihatan gemerlapan. Sorot mata Kim Bu-bong yang tajam serupa mata binatang liar itu tentu saja tidak mengabaikannya.

Itulah sebentuk tusuk kundai, jelas itulah tusuk kundai yang dipakai Pek Fifi.

Betapa cerdiknya anak perempuan itu, meski berada di bawah ancaman maut dia tidak kehilangan daya pikir dan keberaniannya, diam-diam ia jatuhkan tusuk kundainya untuk menunjukkan ke arah mana larinya Kim Put-hoan.

Setelah menemukan tusuk kundai ini, yakinlah Kim Bu-bong bahwa arah yang dilacaknya ini tidak keliru. Segera ia percepat langkahnya, sorot matanya juga tambah jelalatan untuk mencari.

Tidak jauh, kembali ditemukan anting-anting yang ditinggalkan Pek Fifi, beberapa puluh tombak lagi kembali ada sebelah anting-anting yang lain, kemudian sepotong saputangan lalu sepotong ikat pinggang.

Sampai akhirnya sepatu Pek Fifi pun ditanggalkan dan dibuang di tengah jalan, sepatu yang kecil mungil bersulam bunga merah sehingga sangat mencolok di atas tanah bersalju.

Berdasarkan barang-barang petunjuk itu, cara pencarian Kim Bu-bong menjadi terlebih mudah dan terarah.

Waktu sepatu terakhir ditemukan, hidung Kim Bu-bong mencium bau harum yang sedap, bau sedap daging yang menusuk hidung.

Siapakah yang sedang memanggang daging di tengah malam dingin dan sunyi begini?

Tanpa pikir Kim Bu-bong terus melacak ke arah bau sedap daging panggang itu. Tidak jauh, dilihatnya bayangan rumah di depan sana. Samar-samar kelihatan pula kerlip cahaya api unggun.

Itulah sebuah “suteng”, rumah berhala keluarga.

Rumah berhala keluarga demikian banyak didirikan pada zaman itu sebagai lambang kejayaan keluarga yang bersangkutan, tapi bilamana keluarga tersebut mengalami keruntuhan, maka rumah berhala demikian lantas telantar dan akhirnya menjadi bobrok, lalu jadilah tempat meneduh bagi kaum gelandangan atau kaum jembel.

Sekarang cahaya api itu kelihatan menyinari tanah salju di luar rumah berhala itu, di atas tanah bersalju terlihat ada sebaris bekas tapak kaki baru. Bekas tapak kaki lama jelas sudah terbenam oleh hujan salju tadi.

Meski kungfu Kim Put-hoan tidak lemah, tapi dia menggandeng Pek Fifi, dengan sendirinya bekas kaki yang ditinggalkan cukup jelas.

Setelah mengamati bekas kaki itu, yakinlah Kim Bu-bong akan sasarannya memang berada di sini. Segera ia melayang masuk ke rumah berhala itu. Di ruang dalam memang ada api unggun yang menyala dan ada orang memanggang anjing.

Akan tetapi di manakah Kim Put-hoan? Ternyata tidak terlihat bayangannya?

Rumah berhala ini kecil lagi jelek, tidak ada jendela, pintu adalah satu-satunya jalan tembus, tapi tanah bersalju di luar pintu hanya terlihat ada bekas kaki yang masuk dan tidak ada bekas kaki yang keluar.

Apalagi api unggun kelihatan masih menyala, ada dua potong kayu yang belum habis terbakar, jelas sejenak sebelum ini di rumah berhala ini masih ada orang.

Cahaya api yang menyala menyinar wajah Kim Bu-bong yang kelam. Air mukanya tidak memperlihatkan sesuatu perasaan, ia berdiri menghadap api unggun di dekat pintu. Ia yakin Kim Put-hoan pasti masih berada di dalam rumah berhala ini dan pasti tak bisa kabur.

“Ayo keluar saja, memangnya perlu kucari lagi?” jengek Kim Bu-bong sekata demi sekata.

Di tengah malam sunyi, suaranya yang dingin seram menggema seluruh ruangan rumah berhala ini. Namun tidak terdapat suara jawaban, keadaan tetap sunyi senyap.

Di pojok sana penuh debu dan sawang menghiasi altar patung pemujaan, tabir meja sembahyang sudah luntur warnanya, kebetulan angin meniup sehingga tabir meja tersingkap, tertampaklah sebelah kaki menongol di kolong meja.

Secepat terbang Kim Bu-bong memburu ke sana, sekali depak meja sembahyang ditendang hingga terbalik.

Di kolong meja memang betul menggeletak dua orang, tapi bukan Kim Put-hoan dan Pek Fifi melainkan dua orang pengemis tua dengan wajahnya yang kusut dan mata mendelik…

Dua wajah yang beringas menyeramkan sedang melotot kepada Kim Bu-bong.

Terkejut juga Kim Bu-bong, tanpa terasa ia menyurut mundur dua langkah sambil membentak, “Siapa?!”

Kedua wajah itu tidak bergerak, biji mata yang mendelik itu penuh rasa kaget, sedih dan benci, jelas wajah ini bukan wajah orang hidup.

Segera Kim Bu-bong tahu sedang berhadapan dengan dua sosok mayat, sedikitnya sudah mati tiga hari, cuma di bawah suhu yang dingin mayat belum lagi membusuk.

Diam-diam dia menghela napas lega, di bawah cahaya api unggun dilihatnya usia kedua pengemis ini sekitar setengah abad, di belakang pundak mayat yang telentang kelihatan ada setumpuk karung.

Setelah menenangkan diri dan mengamati lagi wajah kedua pengemis ini, mendadak Kim Bu-bong berseru, “Hei, Tan Kiong dan Auyang Lun…Kenapa kedua tokoh Kay-pang ini bisa mati di sini? Siapa yang membunuh mereka?…Ke mana pula perginya Co Kong-liong?”

“Kay-pang-sam-lo” atau tiga sesepuh persekutuan pengemis bukanlah tokoh kelas top dunia persilatan, tapi namanya dan luas pergaulannya pasti tidak di bawah jago silat golongan mana pun.

Sebagai jago Kangouw kawakan dengan sendirinya Kim Bu-bong kenal kedua orang ini. Namun tidak tersangka olehnya bahwa Kay-pang-sam-lo yang termasyhur mengapa dua di antaranya bisa mati di sini secara mendadak?

Angin mendesir menambah seramnya rumah berhala ini, perlahan Kim Bu-bong menyurut mundur, mengitari api unggun hingga di ambang pintu, sekilas melirik, seketika aliran darah sekujur badan serasa beku.

Kiranya dalam sekejap itu anjing panggang di atas api unggun telah hilang begitu saja.

Siapakah yang mengambilnya, siapakah yang mampu berbuat sesuatu di belakang Kim Bu-bong tanpa diketahuinya. Sungguh ginkang yang hebat dan mengejutkan.

Kecuali setan iblis, siapa yang memiliki ginkang setinggi ini?

Selagi Kim Bu-bong merasa ngeri, sekonyong-konyong di belakang ada orang mengekek tawa dan menegur, “Kim Bu-bong…”

“Siapa?!” bentak Bu-bong sambil membalik tubuh. Terlihatlah dari luar melangkah tiba dengan perlahan seorang, perawakannya yang kurus kering tampak bergoyang tertiup angin malam yang dingin.

Setiap setindak orang itu lantas mengeluarkan suara tertawa seram, tapi mukanya sengaja dialingi kedua tangannya yang hitam kurus serupa tangan hantu.

Di bawah gemerdep cahaya api unggun kelihatan bajunya yang rombeng dan rambutnya yang kusut, kiranya pendatang ini juga seorang pengemis. Dilihat dari perawakan dan bentuknya jelas bukan Kim Put-hoan.

Betapa pun Kim Bu-bong bukan anak kemarin, dalam keadaan demikian ia tetap bersabar dan tenang, dipandangnya orang itu dengan tajam.

Akhirnya orang itu melangkah masuk dengan enteng, sapanya dengan tertawa, “Kim-heng, sekian tahun berpisah, tak tersangka kita dapat bertemu di alam baka.”

“Hm, orang she Kim masih hidup segar bugar di dunia, apakah gunanya kau gertak orang dengan berlagak sebagai setan? Memangnya kau kira Kim Bu-bong dapat ditakut-takuti?”

“Haha, kau bilang masih hidup di dunia? Huh, sungguh lucu, jelas-jelas tadi kau sudah mati, masakah kau sendiri tidak tahu?” kata orang itu.

“Jika orang she Kim mati, tentu aku sendiri tahu dan tidak perlu dirisaukan olehmu. Tapi bila kau tetap main setan segala, bukan mustahil orang she Kim akan membuat kau jadi setan sungguhan.”

“Hahaha, setan sungguhan? Memangnya saat ini aku setan palsu?”

Meski dia bergelak tertawa, namun tertawa seram dan menakutkan.

“Sesungguhnya siapa kau?” bentak Kim Bu-bong.

“Apakah kau ingin melihat wajahku?”

“Ya, lepaskan tanganmu!”

“Hehe, boleh juga kau lihat siapakah diriku,” orang itu terkekeh. “Jika kau belum mati, mana dapat kau bicara denganku? Orang hidup tidak nanti dapat bicara dengan orang mati tahu?”

Sambil bicara perlahan ia menurunkan kedua tangannya sehingga kelihatan mukanya. Tertampak mukanya yang pucat kelabu dan biji matanya yang mendelik…

Hah, dia ternyata Tan Kiong adanya, salah seorang Kay-pang-sam-lo atau tiga sesepuh Kay-pang.

Mayat di kolong meja, anjing panggang lenyap mendadak, semua ini sudah membikin hati Kim Bu-bong ngeri, sekarang terlihat pula mayat yang baru saja menggeletak di kolong meja itu ternyata berdiri di depannya, biarpun nyali Kim Bu-bong cukup besar tidak urung mukanya berubah pucat, ucapnya dengan suara gemetar, “Tan…Tan Kiong, kau…kau…”

Tan Kiong tertawa terkekeh. “Betul, aku inilah Tan Kiong, kutahu kau kenal diriku, tadi waktu masih hidup telah kau lihat diriku, tapi mungkin tak kau sangka sejenak sesudah mati akan kau lihat diriku lagi.”

Kini betapa pun tenangnya Kim Bu-bong juga sangsi kepada apa yang dilihatnya. Tanpa terasa ia berpaling untuk memandang lagi kedua sosok mayat di kolong meja tadi.

Tapi baru saja ia menoleh, cakar setan Tan Kiong lantas terjulur, secepat kilat menutuk hiat-to kelumpuhannya, dalam kejut dan kagetnya, Kim Bu-bong tidak sempat mengelak. Kontan ia roboh.

Namun pada saat roboh itulah, sekilas sempat dilihatnya kedua sosok mayat di kolong meja, termasuk mayat Tan Kiong itu, masih menggeletak kaku di sana.

Kalau Tan Kiong mati menggeletak di sana, mengapa ada Tan Kiong hidup di sini? Sesungguhnya apa yang terjadi?

Pikiran Kim Bu-bong berputar dengan cepat, mendadak ia membentak, “Keparat, kiranya kau, Ong Ling-hoa!”

Meski sudah roboh, namun suaranya tetap garang.

Terlihat Tan Kiong yang hidup itu menengadah dan bergelak tertawa, “Haha, Kim Bu-bong, memang hebat kau! Cuma, meski sekarang dapat kau terka siapa diriku terasa sudah agak terlambat juga.”

Di tengah gelak tertawa ia terus berpaling ke sana.

Waktu ia menoleh kembali menghadapi Kim Bu-bong, ternyata mukanya yang pucat kelabu, muka mayat dan mata yang mendelik itu telah berubah menjadi muka yang tampan, wajah putih bersih dengan bibir merah indah.

Siapa lagi dia kalau bukan Ong Ling-hoa?

“Hm, sejak mula memang sudah kuduga akan dirimu,” ucap Kim Bu-bong dengan gemas.

“Ini pun tidak dapat menyalahkan dirimu,” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa, “dalam keadaan seperti tadi, siapa pun akan ketakutan setengah mati dan mungkin bisa jatuh pingsan.”

Belum lenyap suaranya, sekonyong-konyong berkumandang suara tertawa orang yang menusuk telinga dari atas rumah.

“Hehehe, sungguh lucu, sungguh menggelikan,” terdengar seorang berseru dengan terkekeh. “Kim Bu-bong yang biasanya suka menakut-nakuti orang sekarang juga kena digertak orang dengan ketakutan setengah mati!”

Di tengah suara tertawa itu, sesosok bayangan hitam perlahan gemelantung turun dari atas. Ternyata anjing panggang yang hilang tadi.

Kiranya pada anjing panggang itu terikat seutas tali kecil, waktu Kim Bu-bong masuk ke rumah berhala ini, dia cuma memerhatikan siapa yang berada di sini dan tidak memerhatikan pada anjing panggang itu masih terikat seutas tali.

Meski ada cahaya api, tapi tidak terlalu terang, ketika Kim Bu-bong terkejut melihat kedua sosok mayat, orang yang bersembunyi di atas rumah lantas mengerek anjing panggang ke atas.

Diam-diam Kim Bu-bong menyesali sendiri yang kurang cermat, segera ia menjengek, “Hm, jadi sudah kalian perhitungkan akan kedatanganku?”

“Betul, memang sudah kami perhitungkan kedatanganmu, kalau tidak untuk apa kami mengatur permainan ini di sini?” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa.

Orang yang berada di atas rumah juga tertawa dan berkata, “Haha, ini namanya ada jalan ke surga tak kau pergi, neraka tanpa pintu sengaja kau datangi…” berbareng dengan ucapan itu, sesosok bayangan melompat turun, siapa lagi kalau bukan Kim Put-hoan.

Dengan senang dia berkata pula, “Hehe, dunia berputar terus, Kim Bu-bong, tentunya tidak tersangka sekarang kau pun akan jatuh di tanganku.”

“Memangnya kenapa?” sahut Kim Bu-bong tak acuh.

Kim Put-hoan menyangka dalam keadaan begini Kim Bu-bong pasti akan cemas, khawatir, dan menyesal, siapa tahu orang tetap bersikap kaku dan dingin, sedikitnya tidak resah.

Hal ini membuat kecewa Kim Put-hoan malah, ia ingin menghina dan menyiksa lahir batin Kim Bu-bong, maka ia berkata pula dengan tertawa, “Kau dapat menguntit sampai di sini, dalam hati tentu sangat senang dan mengira kepandaianmu melacak musuh sangat hebat, tapi apakah kau tahu berdasarkan apa dapat kau susul ke sini?”

Kim Bu-bong menggeleng.

“Tentu saja engkau tidak tahu. Biarlah kukatakan padamu, tusuk kundai, anting-anting, ikat pinggang, sepatu dan sebagainya itu bukanlah ditinggalkan oleh Pek Fifi melainkan adalah perbuatanku sendiri.”

“Hm, bagus,” jengek Bu-bong. Biarpun tetap bersikap dingin, tidak urung hatinya tergetar juga.

“Sebenarnya hal ini dapat kau pikirkan,” kata Kim Put-hoan pula. “Jika Pek Fifi sudah tertawan olehku, masakah diam-diam ia dapat membuang tusuk kundai dan menanggalkan sepatunya, memangnya aku orang mampus?”

“Saat ini seharusnya kau telah menjadi orang mampus,” jengek Bu-bong.

“Betul engkau yang melepaskan diriku tempo hari, tapi sama sekali aku tidak menerima kebaikanmu bahwa kau lepaskan diriku, semua itu pun berkat kepandaianku sendiri.”

“Hm, bagus,” dengus Bu-bong.

“Tempo hari kau lepaskan diriku, sekarang aku justru akan mencabut nyawamu. Apakah hatimu tidak sedih? Tidak menyesal? Meski wajahmu tetap dingin dan tenang, mungkin hatimu menyesal sekali?”

“Hm, bilakah aku pernah menyesal terhadap apa yang telah kulakukan?” sahut Bu-bong.

“Biasanya engkau memang tidak pernah menyesal, tapi hari ini kau pasti menyesal, biasanya engkau tidak kenal menyerah, hari ini mau tak mau kau harus menyerah. Kau anggap tindak tandukmu lain daripada yang lain, tapi setiap gerak-gerikmu selalu berada dalam perhitungan kami.”

“Apa betul?”

“Kenapa tidak? Coba kau pikirkan, jika kami sengaja memancing kedatanganmu, tentu sudah kami ketahui engkau cuma sendirian dan tidak mungkin diikuti oleh Sim Long…”

“Kalau Sim Long ikut kemari, mustahil muslihatmu bisa berhasil?” jengek Bu-bong.

“Memang betul, justru kami yakin Sim Long tidak mungkin ikut kemari, makanya telah kami atur perangkap bagus di sini. Tapi cara bagaimana pula dapat kami ketahui keparat Sim Long itu tidak ikut datang bersamamu?”

Hal ini memang merupakan tanda tanya bagi Kim Bu-bong dan sangat ingin diketahuinya, tapi ia tetap berlagak tak acuh, katanya, “Cara bagaimana kau dapat, peduli apa denganku?”

Kim Put-hoan jadi melengak, “Masakah engkau tidak ingin tahu?”

Bu-bong sengaja memejamkan mata dan tak menghiraukannya.

“Biarpun engkau tidak ingin tahu, aku justru mau memberitahukan padamu,” kata Put-hoan, ia sengaja hendak memancing kemarahan Kim Bu-bong. Semakin dingin, semakin tak acuh sikap Bu-bong itu, semakin membuatnya gemas, sampai akhirnya ia sendiri jadi terpancing marah lebih dulu oleh sikap Kim Bu-bong.

Mendadak ia jambret leher baju Bu-bong dan berteriak, “Supaya kau tahu, sebab sebelumnya kami sudah tahu Sim Long terlibat dalam pertempuran dengan orang Kay-pang, andaikan tidak mati malam ini juga pasti sukar meloloskan diri, sebab organisasi kaum jembel terbesar di dunia Kangouw kini sudah kami…”

Sejak tadi Ong Ling-hoa hanya memandangi mereka berdua dengan tersenyum, sekarang mendadak ia berdehem dan berucap, “Sudah, cukup!”

Seketika Kim Put-hoan berhenti bicara dan mengembus napas panjang.

“Bukankah Kim-heng sudah bicara terlalu banyak?” ujar Ong Ling-hoa dengan tersenyum.

Cepat Put-hoan menjawab dengan menyengir, “Ya, ya, sudah terlalu banyak kubicara.”

Ia dorong Kim Bu-bong sehingga terbanting ke lantai, lalu katanya pula, “Tapi dia kan orang yang bakal mampus, apa yang didengarnya tentu takkan dikatakan lagi kepada siapa pun, biarpun dia tahu lebih banyak juga tidak menjadi alangan.”

“Tentu ada alangannya,” ujar Ong Ling-hoa.

“Ya, ya, Siaute tidak bicara lagi,” jawab Put-hoan.

Dari pembicaraan dan sikap kedua orang itu, tanpa pikir juga Kim Bu-bong tahu Kim Put-hoan telah dapat dibeli oleh Ong Ling-hoa dan kini telah mengekor dan menjadi anteknya.

Kim Put-hoan memang manusia tamak, asalkan ada untung, apa pun dapat dilakukannya. Jadi hal ini tidak mengherankan Kim Bu-bong, yang diherankan dan membuatnya terkejut adalah Kay-pang ternyata juga sudah berada dalam genggaman Ong Ling-hoa. Memangnya Kay-pang juga telah dibeli olehnya?

Apakah kematian Tan Kiong dan Auyang Lun juga disebabkan karena kedua sesepuh Kay-pang itu tidak mau tunduk kepada Ong Ling-hoa?

Apa pula maksud tujuan pihak Kay-pang merecoki Sim Long?

Meski wajah Kim Bu-bong tetap dingin dan kaku, hatinya berdebar-debar dan timbul macam-macam dugaan.

Terlihat Ong Ling-hoa lagi bersandar di depan pintu, agaknya sedang menunggu sesuatu.

Selang sejenak, terdengar derap kaki kuda yang berlari cepat dari kejauhan, sesudah berhenti di depan rumah, lalu suara seorang berkata di luar dengan suara tertahan, “Kongcu, hamba datang melaporkan hasil tugas.”

“Sudah kau laksanakan tugasmu dengan baik?” terdengar Ong Ling-hoa bertanya.

“Hamba sudah mengatur tempat bagi Nona Pek sesuai perintah Kongcu, saat ini Nona Pek mungkin sudah tertidur,” tutur orang itu.

“Bagus, beberapa hari ini tugasmu cukup berat, tentu kau pun lelah, boleh kau datang pada kasir dan minta 50 tahil perak, pergilah istirahat dan berlibur, setengah bulan lagi boleh datang untuk tugas yang lain.”

“Terima kasih, Kongcu,” sahut orang itu dengan gembira.

“Ingat, meski boleh kau gembira sesukamu di luar sana, tapi jangan sekali-kali berbuat onar, terutama jangan sampai seluk-belukmu sampai diketahui orang Kangouw.”

“Hamba tidak berani,” kata orang itu.

“Asal tahu saja, biarpun perguruan kita selalu memperlakukan anak buah dengan baik, tapi bila terjadi pelanggaran tata tertib, maka hukumannya tentu sudah kau tahu sendiri.”

“Hamba tahu,” dengan hormat dan takut orang itu menjawab pula.

“Baiklah, lekas pergi,” kata Ong Ling-hoa.

Tapi sejenak kemudian mendadak dia berseru pula, “Kenapa tidak lekas kau pergi? Menunggu apa lagi?”

“Ham…hamba ingin melapor lagi sesuatu…”

“Apa?” bentak Ong Ling-hoa.

“Tio Beng juga datang bersama hamba setelah menyelesaikan tugasnya ke Kunciu.”

“Jika sudah menunaikan tugasnya, kenapa dia tinggal di luar sana?”

“Tio Beng bilang tidak…tidak berani menemui Kongcu.”

“Tidak berani menemuiku? Jangan-jangan dia berbuat sesuatu kesalahan?”

“Pekerjaan Tio Beng ke Kunciu berjalan dengan lancar, hasilnya sudah diangkut pulang. Cuma ada sesuatu urusan yang menyangkut pribadinya, dia mohon kumintakan ampun lebih dulu kepada Kongcu.”

“Urusan apa, lekas katakan,” bentak Ong Ling-hoa pula.

“Tio Beng dan…dan gadis gembala bawahan Thayhujin (nyonya besar) yang bernama Peng-ji ada hubungan erat, keduanya sudah suka sama suka, maka…maka…sekarang Peng-ji telah mengandung dan…”

“Hm, tidak perlu bicara lagi, aku sudah tahu,” jengek Ong Ling-hoa. Sejenak kemudian ia menambahkan dengan tersenyum, “Sebenarnya hal ini adalah urusan yang menyenangkan kenapa dia tidak berani menemuiku? Lekas panggil dia kemari.”

Ucapan Ong Ling-hoa ini agaknya di luar dugaan orang itu, sesudah terdiam sejenak, lalu terdengar seorang muda bersuara di luar, “Hamba Tio Beng menyampaikan sembah hormat kepada Kongcu.”

Ong Ling-hoa tersenyum, katanya, “Sudah kuketahui urusanmu. Tak tersangka orang yang kelihatan lugas seperti dirimu juga romantis, orang muda sok iseng, adalah lumrah dan wajar.”

Seketika Tio Beng tidak tahu arti ucapan sang majikan, terpaksa ia cuma mohon ampun berulang.

Dengan tertawa Ong Ling-hoa berkata pula, “Sehari-hari Peng-ji itu kelihatan alim dan dingin, tak tersangka dapat jatuh hati padamu, tampaknya tidak kecil kepandaianmu dan harus kunilai dirimu secara lain.”

Karena girangnya, Tio Beng menjawab, “Kata pepatah, di bawah panglima tangguh tidak ada prajurit lemah. Hamba mempunyai majikan sebagai Kongcu, dengan sendirinya…”

“Hah, bagus sekali pepatah yang kau kemukakan, kiranya perbuatanmu adalah meniruku…” belum habis ucapannya sekonyong-konyong Ong Ling-hoa melompat keluar dengan cepat, terdengar ucapannya yang terakhir berubah menjadi dingin dan ketus, “Hm, berdasarkan apa kau berani meniruku…”

Sampai di sini lantas terdengar kumandang jeritan Tio Beng di luar, lalu Ong Ling-hoa sudah kembali bersandar di samping pintu seperti tadi seolah-olah tidak pernah terjadi sesuatu.

Suasana kembali sunyi senyap.

Setelah menghela napas, lalu Ong Ling-hoa memberi perintah, “Bawa pergi mayat Tio Beng dan dikubur sebagaimana mestinya. Ambil juga 200 tahil perak pada kasir, kirimkan kepada Peng-ji, katakan Tio Beng gugur dalam tugasnya di Kunciu.”

Dengan suara gemetar orang tadi mengiakan.

Menyaksikan kejadian ini, mau tak mau pikiran Kim Bu-bong bergolak. Baru diketahuinya sekarang sindikat pimpinan Ong Ling-hoa itu sedemikian besarnya dan juga sedemikian rapinya, betapa keras disiplinnya sungguh mengejutkan orang.

Namun anak muda sebagai Ong Ling-hoa ternyata juga dapat bertindak tegas dan bijaksana, hukum dan pahala dapat dibedakan dengan jelas, sungguh perbawa seorang pemimpin yang besar.

Baru sekarang Kim Bu-bong merasa selama ini telah menilai rendah pribadi Ong Ling-hoa, tak tersangka sedemikian besar ambisi anak muda itu. Tidak perlu diragukan lagi anak muda ini kelak akan merupakan bibit bencana dunia Kangouw, jika tidak ditumpas sekarang, selanjutnya pasti akan terjadi gelombang besar.

Tiba-tiba angin meniup.

Dengan tertawa Ong Ling-hoa berkata, “Bagus, kau pun sudah pulang!”

Belum lenyap suaranya, bayangan orang berkelebat, tahu-tahu di ruang rumah berhala ini sudah bertambah dengan seorang lelaki kekar berbaju hitam.

Diam-diam Kim Bu-bong terkejut pula, tak tersangka anak buah Ong Ling-hoa ada yang memiliki ginkang setinggi ini, entah siapa pula orang ini?

Perawakan orang ini kelihatan kurus kecil, tapi sekujur badan terbungkus rapat oleh baju hitam, sampai kepala juga memakai kerudung kain hitam, hanya kedua matanya kelihatan gemerdep.

Dengan tajam orang itu memandang Kim Bu-bong sekejap, lalu berseru dengan tertawa, “Aha, bagus! Tak tersangka kau tiba lebih dulu daripadaku.”

“Kiranya kau pun kenal dia?” tanya Ong Ling-hoa.

“Tadi kugunakan akal untuk meloloskan diri, keparat ini dan Sim Long juga bermaksud menipuku dengan akal bulusnya, untung aku tidak terjebak olehnya,” tutur si baju hitam dengan tertawa bangga.

“Wah, jika kau tertipu, bisa repot,” ujar Ong Ling-hoa.

Sekarang juga Kim Bu-bong baru tahu si baju hitam ini adalah orang yang hendak dikejar Sim Long tadi.

“Dan mengapa baru sekarang kau pulang ke sini?” tanya Ong Ling-hoa.

“Keparat ini memang benar telah pergi, tapi bocah she Sim itu justru tetap berjaga di sana, dia sangat sabar, selama aku bersembunyi tanpa bergerak, dia juga tetap berdiam tanpa bergerak.”

“Betul, bocah she Sim itu memang sabar sekali,” ujar Ling-hoa dengan tertawa.

Si baju hitam tersenyum, “Tapi Nona Cu itu justru tidak tahan, sepanjang jalan ia berkaok-kaok memanggil orang she Sim, karena merasa tidak dapat bersembunyi lagi, terpaksa dia juga angkat kaki.”

“Jika demikian, harus kau terima kasih kepada Nona Cu itu,” ucap Ong Ling-hoa dengan tertawa.

“Betul, kalau tidak ada dia, mungkin sampai saat ini aku belum dapat melepaskan diri dari sana,” ujar si baju hitam.

Ong Ling-hoa memandang cuaca di luar, lalu berkata pula, “Menurut waktunya, saat ini orang Kay-pang pasti sudah saling gebrak dengan bocah she Sim.”

“Dan entah bagaimana hasilnya?” tukas Kim Put-hoan.

“Kalau cuma kekuatan kawanan jembel itu saja mungkin sukar menghadapi Sim Long, aku memang tidak menaruh harapan muluk-muluk dalam hal ini, namun nasib Ji Yok-gi jelas sudah dapat dipastikan tamat.”

“Dan jika…jika Sim Long tahu…”

“Mau apa biarpun tahu?” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa. “Malahan dapat kuperalat dia untuk saling labrak dengan pihak Kay-pang, yang kepala pusing adalah orang Kay-pang, sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan kita.”

Kim Put-hoan menghela napas, “Perhitungan Kongcu yang jitu sungguh sangat mengagumkan.”

Begitulah mereka terus bicara sendiri seakan-akan tidak terdapat seorang Kim Bu-bong yang hadir di situ. Diam-diam Bu-bong menghela napas, ia tahu nasib dirinya pasti akan ditamatkan oleh mereka.

Api unggun telah ditambahi kayu sehingga berkobar dengan keras.

Dari luar justru ada cahaya terang yang menyorot ke dalam, nyata fajar sudah tiba.

Ong Ling-hoa mondar-mandir di dekat pintu dan berulang bergumam, “Seharusnya sudah pulang…seharusnya sudah pulang.”

Selang tidak lama, di tengah tiupan angin dingin benar juga berkumandang suara langkah orang berlari.

Serentak si baju hitam melompat bangun dan berseru, “Betul, sudah pulang dia!”

Tidak lama kemudian suara langkah orang itu semakin dekat.

Lalu masuklah tiga orang pengemis. Yang di depan berambut ubanan, mukanya merah bercahaya, pada punggungnya menyandang delapan atau sembilan buah karung goni.

Segera Kim Bu-bong mengenali pengemis tua ini sebagai Co Kong-liong, salah seorang di antara Kay-pang-sam-lo, sungguh tak terduga olehnya Co Kong-liong yang biasanya terkenal berbudi luhur dan suka membela kaum tertindas itu sekarang berkomplot dengan Ong Ling-hoa.

Tampaknya Ong Ling-hoa cukup menghormati Co Kong-liong, dengan tersenyum ia memberi salam, “Pangcu tentu sudah lelah.”

Co Kong-liong bergelak tertawa, “Ah, janganlah Kongcu menyebut demikian padaku, apakah aku dapat menjabat pangcu atau tidak belum dapat dipastikan. Sebutan Kongcu ini terasa membikin kikuk padaku.”

“Meski saat ini Co-heng belum naik singgasana terhormat, namun kedua penyakit itu sudah tertumpas, apalagi diam-diam dibantu oleh Ong-kongcu, bukankah kedudukan pangcu itu pasti sudah menjadi isi kantong Co-heng?” demikian Kim Put-hoan ikut menyanjung.

“Ah, terima kasih,” kata Co Kong-liong dengan tertawa. “Kelak bila benar kujadi Kay-pang Pangcu, salah satu kursi sesepuhnya pasti akan kuberikan kepada Kim-heng.”

“Memangnya berapa besar gaji seorang sesepuh?” tanya Kim Put-hoan dengan tertawa.

“Wah, jangan Kim-heng bergurau,” ujar Co Kong-liong. “Memangnya berapa yang Kim-heng minta takkan kupenuhi?”

“Hahaha, jika begitu terima kasihlah sebelumnya,” Kim Put-hoan terbahak-bahak.

“Dan entah bagaimana hasil perjalanan Pangcu sekali ini?” tanya Ling-hoa.

“Meski tidak sempurna, tapi juga cukup memuaskan,” sahut Co Kong-liong, lalu ia menuturkan apa yang terjadi.

“Jika Ji Yok-gi sudah tercincang lima belas kali bacokan, biarpun malaikat dewata juga sukar menyelamatkan jiwanya,” ujar Ling-hoa.

“Dan bagaimana dengan Sim Long?” cepat Put-hoan ikut bertanya.

“Sim Long belum lagi mampus,” kata Co Kong-liong dengan menyesal.

“Sungguh tak tersangka keparat ini bisa panjang umur,” seru Kim Put-hoan dengan gemas. Selama hidupnya orang yang paling ditakutinya ialah Sim Long, meski biasanya dia suka membikin orang pusing kepala tapi bila berhadapan dengan Sim Long, yang pasti kepala pusing ialah dia sendiri.

Sebab itulah siang dan malam dia berharap Sim Long lekas mati, siapa tahu sebegitu jauh Sim Long justru tidak mati. Padahal yang mengharapkan kematian Sim Long juga tidak cuma dia seorang saja.

Mendadak Ong Ling-hoa berkata dengan tertawa, “Kukira Kim-heng tidak perlu kecewa, hari ini tahun depan kukira adalah ulang tahun kematian Sim Long.”

“Betul?” Put-hoan menegas.

“Bilakah aku pernah sembarangan omong?”

“Wah, entah akal bagus apalagi yang telah Kongcu atur?”

“Dalam waktu satu jam Sim Long pasti juga akan datang kemari.”

“Bagaimana Kongcu yakin pasti akan terjadi?” tanya Co Kong-liong.

“Apa pun juga dia kan ingin mencari jejak Kim Bu-bong dan Pek Fifi, betul tidak?”

“Betul,” sahut Kim Put-hoan.

“Tapi di manakah Kim Bu-bong dan Pek Fifi saat ini, sama sekali dia tidak mempunyai sesuatu petunjuk, untuk ini tentu dia akan berusaha dengan segala macam jalan. Coba, jika Kim-heng menjadi dia, jalan mana yang akan kau tempuh?”

“Ini…ini…” Kim Put-hoan tidak dapat menjawab.

“Jika aku, tentu akan kuikuti jejak kawanan pengemis, umpama tidak dapat menemukan Kim Bu-bong, sedikitnya akan kuketahui apa-apa yang dikerjakan kawanan pengemis itu.”

“Betul, dengan demikian akhirnya dia akan sampai di sini, lantas bagaimana?”

“Tinggi ilmu silat orang ini sungguh sukar dijajaki, sebab itulah kita harus menghadapi dia dengan akal dan tidak boleh melawan dia dengan tenaga, betapa pun harus kita bikin dia dapat datang dan tak bisa pergi,” tutur Ong Ling-hoa.

“Namun keparat itu juga cukup cerdik,” ujar Kim Put-hoan dengan kening bekernyit.

“Bagaimana dengan kecerdikan Kim Bu-bong? Bukankah saat ini dia juga meringkuk di bawah kakiku?” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa. “Kalau Kim Bu-bong dapat kita jebak, apakah Sim Long tidak dapat kita tipu?”

Mendadak Kim Bu-bong mendengus, “Hm, betapa cerdik Sim Long sedikitnya ratusan kali di atasku, hanya sedikit permainan kalian ini ingin menipu dia? Huh, jangan mimpi!”

“Umpama akal ini gagal kan masih ada lagi akal kedua,” kata Ong Ling-hoa sambil menatap Kim Bu-bong, sorot matanya menampilkan sinar kebencian, sambungnya, “Bilamana akalku yang kedua kugunakan rasanya perlu juga kupinjam sesuatu barang dari tubuhmu.”

Dengan murka Kim Bu-bong berteriak, “Setelah jatuh di tanganmu, orang she Kim sudah tidak pikirkan akan hidup lagi, tapi…tapi jika kalian ingin menghina diriku, betapa pun aku…”

“Ah, Kim-tayhiap mahacerdik dan merupakan orang berbakat yang sukar dicari, mana aku berani berlaku kurang hormat padamu,” ujar Ong Ling-hoa dengan tertawa. “Cuma, perlu juga diingat, kini Kim-tayhiap sudah jatuh di tanganku, bilamana ingin kuhina dirimu, memangnya apa yang dapat kau lakukan?”

“Haha, tepat sekali,” sela Kim Put-hoan dengan berkeplok. “Kim Bu-bong, tentu sekarang kau tahu telah ketemu batunya! Kau dapat menggertak diriku, memangnya dapat kau gertak Ong-kongcu kita. Meski Sim Long adalah sahabatmu, tapi dalam pandangan Ong-kongcu boleh dikatakan Sim Long tidak ada harganya, meski kau pun satu di antara keempat duta Koay-lok-ong, tapi Koay-lok-ong dalam pandangan Ong-kongcu juga…”

“Sudah, cukup,” potong Ong Ling-hoa mendadak, ia tersenyum, lalu menyambung pula, “Bicara tentang Koay-lok-ong, aku jadi teringat ada sesuatu hal belum kuberi tahukan padamu. Yaitu tentang kawanmu Tau-hiang-sucia, meski dia juga pernah kutawan, tapi sudah kubebaskan dia lagi. Hal ini bukan karena mendadak timbul rasa kasihanku kepadanya, tapi karena…karena apa, dapatkah Kim-tayhiap menerkanya?”

Kim Bu-bong mengertak gigi, dan tidak bersuara.

Ong Ling-hoa bergelak tertawa, “Hahaha, sebabnya kulepaskan dia kembali ke sana agar supaya dia dapat melapor kepada Koay-lok-ong bahwa engkau telah berkhianat padanya…Cara bagaimana Koay-lok-ong memperlakukan anak buahnya yang berkhianat tentu kau sendiri jauh lebih jelas daripadaku.”

Kim Put-hoan terkekeh, tukasnya, “Makanya sekarang kau jatuh di tangan Ong-kongcu boleh dikatakan mujur.”

Angin mendesir, mendadak Ong Ling-hoa berpaling dan memandang ke luar, gumamnya, “Wahai Sim Long, mengapa engkau belum lagi datang? Sungguh aku jadi agak rindu padamu…”

—–

Dalam pada itu Cu Jit-jit dan Sim Long sedang menghadapi kesulitan mencari jejak Kim Bu-bong.

Sim Long sedang menatap ke kejauhan sana, sampai lama masih termangu.

“Hei, bicaralah, bagaimana menurut pendapatmu?” seru Jit-jit.

Perlahan Sim Long berkata, “Tampaknya kawanan pengemis itu juga kabur ke arah sana hal ini terbukti bekas tapak kaki yang masih baru di atas salju.”

“He, aneh juga, bukankah kau bilang paling penting mencari Kim-toako, memangnya ada sangkut paut apa soal bekas tapak kaki kawanan pengemis itu dengan Kim-toako?” tanya si nona.

“Kim Bu-bong menghilang tanpa ketahuan ke mana perginya, jelas arah yang ditempuh kawanan pengemis satu arah dengan dia,” tutur Sim Long. “Maka, jika kita mengejar ke sana menurut jejak kawanan pengemis itu, bisa jadi secara kebetulan akan dapat kita temukan Kim Bu-bong.”

“Aha, tepat, engkau memang pintar,” seru Jit-jit sambil berkeplok. “Jika kita mengejar ke sana mengikuti jejak ini, umpama tidak berhasil menemukan Kim-toako kan dapat menyusul kawanan pengemis itu untuk ditanyai rahasia itu.”

“Betul,” kata Sim Long. Walaupun demikian katanya, namun dia tetap tidak bergerak.

Jit-jit menjadi gelisah, “Sudah bilang betul, mengapa kita tidak lekas berangkat saja?”

“Tapi berangkat begini saja juga kurang aman,” ujar Sim Long.

“Apanya yang kurang aman?” tanya Jit-jit.

“Pek Fifi diculik orang, bisa jadi ada sangkut pautnya dengan kedatangan kawanan pengemis tadi, pemberontakan di dalam Kay-pang serta rahasia yang dimaksudkan Ji Yok-gi, mungkin juga menyangkut diri Kim Put-hoan…Berbagai hal ini tampaknya tiada sangkut paut satu sama lain, padahal sangat mungkin dikemudikan oleh satu orang yang sama, dan orang ini bisa jadi ialah…”

“Bisa jadi siapa? Koay-lok-ong…atau Ong Ling-hoa?” tanya Jit-jit.

“Betul, pasti Ong Ling-hoa adanya.”

“Umpama betul Ong Ling-hoa, lantas bagaimana?”

“Jika betul semua ini dikemudikan oleh Ong Ling-hoa, pengejaran kita ke sana menurut jejak kawanan pengemis ini pasti akan berakibat jatuh ke dalam perangkapnya. Bocah she Ong ini sangat licik dan licin, pintar dan cerdik, apabila gerak-gerik kita sampai terduga olehnya, sepanjang jalan kita pasti pusing kepala menghadapi berbagai perangkap berbahaya, sebab itulah setiap langkah kita harus dilakukan dengan prihatin dan hati-hati.”

Habis berkata, segera ia melangkah ke depan diikuti si nona.

Walaupun jalan tertimbun salju hingga sebatas betis, angin meniup dingin, tapi perjalanan ini tidak dirasakan sulit bagi Sim Long dan Jit-jit. Sampai akhirnya di tengah desir angin dingin itu tercium bau sedap daging.

Terbeliak mata si nona, ucapnya tertawa, “Aha, di sini ada juga seekor kucing rakus, hari belum terang sudah masak daging.”

“Di tempat terpencil begini dan di bawah hujan salju dan dingin ternyata ada bau sedap daging rebus, apakah hal ini tidak kau rasakan aneh?” ujar Sim Long.

“Apanya yang aneh? Orang yang rakus setiap saat ingin makan dan di mana pun terdapat orang rakus begini,” kata Jit-jit.

Sim Long memandangnya sekejap sambil tersenyum dan menggeleng tanpa bicara lagi.

Pada saat itulah sebuah suteng atau rumah berhala bobrok sudah tertampak di kejauhan. Jejak kawanan pengemis itu pun lenyap di depan suteng. Memangnya mereka sama masuk ke rumah berhala ini?

Jit-jit tidak bisa tertawa lagi, ucapnya dengan kening bekernyit, “Aneh, memang aneh!”

“O, kau pun bisa merasa heran?” ujar Sim Long.

“Bau sedap daging tersiar dari rumah berhala ini, siapa yang masak daging ini? Mungkinkah anak murid Kay-pang? Jika benar, mengapa mereka bisa hidup senang dan adem ayem begini tanpa menghiraukan gejolak perkumpulan mereka?”

“Sesuatu yang berbahaya, dipandang dari luar biasanya kelihatan adem ayem, apa yang kau lihat sebagai ketenangan ini bukan mustahil adalah perangkap maut yang sedang menunggu mangsanya.”

“Tapi cuma daging rebus saja masakah terhitung perangkap? Jangan-jangan ada racun di dalam daging, umpama beracun, asalkan kita tidak makan, dia bisa apa?”

“Hah, terkadang kau pun sangat pintar…”

“Dan sering juga sangat bodoh, begitu bukan maksudmu?” omel Jit-jit.

“Tepat juga terkaanmu sekali ini,” Sim Long tertawa.

“Di dunia ini cuma ada seorang pintar, yaitu dirimu, tentu saja orang lain sama bodoh.” gerundel Jit-jit dengan mendongkol. Meski mengomel di mulut, tapi di dalam hati dia tidak marah.

Selama sehari ini terus-menerus Sim Long mengomeli dia, untuk pertama kali ini dilihatnya Sim Long tertawa. Asalkan anak muda itu tidak marah lagi padanya, biarpun dia dimaki sebagai gadis goblok juga dia rela.

Biarpun dalam hati merasa senang, di luar dia tetap berlagak marah, maklumlah hati anak perempuan.

Ketika ia melirik lagi anak muda itu, dilihatnya Sim Long sedang memandang rumah berhala itu dengan termangu dan tanpa bergerak.

“He, ada apa?” tanya Jit-jit. “Masakah kita harus berdiri melulu di sini, umpama di dalam ada perangkap juga harus kita periksa, kenapa takut?”

Sim Long memandang si nona, lalu memandang pula rumah berhala itu, katanya kemudian dengan perlahan, “Aku akan coba masuk ke sana, kau tunggu saja di sini.”

Jit-jit melotot, mestinya dia tidak mau, tapi demi melihat kesungguhan Sim Long, ia menghela napas, seperti penasaran ia berkata, “Baiklah, terserah padamu.”

Sim Long tersenyum, “Inilah baru anak perempuan penurut…Kalau terjadi sesuatu di dalam nanti akan segera kuberi tahukan padamu….”

Ia tidak melakukan gerak cepat, tapi melangkah ke sana dengan perlahan.

Baru saja anak muda itu melangkah beberapa tindak, mendadak Jit-jit memanggilnya, “Hei, tunggu!”

Sim Long menoleh dengan kening bekernyit.

“Jangan…jangan terlalu lama harus kutunggu di sini,” kata Jit-jit.

Sim Long menggeleng-geleng kepala. Akhirnya dia masuk juga ke rumah berhala itu.

Meski dia tidak tahu di rumah berhala inilah Kim Bu-bong terjebak dan tertawan dan meski tidak diketahuinya bahwa Ong Ling-hoa masih hendak menjebaknya seperti apa yang terjadi atas diri Kim Bu-bong, tapi agaknya Sim Long sudah mempunyai firasat tidak enak, ia tahu suteng atau rumah berhala ini adalah tempat tidak baik, maka ia melangkah dengan sangat perlahan. Tapi apa pun juga akhirnya ia masuk ke situ.

Jit-jit menyaksikan Sim Long masuk ke rumah berhala itu, semula ia penasaran karena ditinggalkan, tapi begitu bayangan Sim Long menghilang di balik pintu, seketika jantungnya berdebar.

Semakin dipikir semakin dirasakan di dalam rumah berhala itu pasti ada perangkap, perangkap maut. Kalau tidak, fajar baru menyingsing, mengapa sudah ada orang merebus daging di sini, cuma perangkap apa, sukar diterkanya.

Ia pikir jangan-jangan ada orang bersembunyi di dalam dan hendak membius Sim Long, dengan daging rebus ini sebagai umpan agar tidak dirasakan oleh anak muda itu. Ya, pasti demikian, harus cepat kucegah dia, kalau tidak, bukan mustahil segera dia akan terjebak.

Berpikir demikian segera ia hendak berlari ke dalam rumah berhala itu, tapi baru sebelah kaki bergerak, segera ia berhenti lagi. Dirasakan jalan pikirannya itu pun tidak betul. Dengan hidung Sim Long yang tajam mustahil tidak dapat membedakan bau obat bius segala, mana bisa Ong Ling-hoa menggunakan cara sederhana begini untuk menjebak Sim Long?

Ong Ling-hoa cukup kenal kemampuan Sim Long, muslihat yang akan digunakannya untuk menjebak Sim Long pasti akal yang mahalicin, akal jahat yang tak terbayangkan oleh siapa pun.

Lantas akal jahat apakah? Mungkinkah begitu Sim Long masuk ke situ lantas dihujani anak panah sehingga anak muda itu kelabakan dan tidak mampu mengelak?

Ah, tidak, hal ini juga terlalu naif, mustahil bisa menjebak Sim Long.

Begitulah macam-macam kekhawatiran berkecamuk dalam benaknya, makin dipikir makin kusut. Ia pandang rumah berhala itu dengan gelisah dan menantikan entah apa yang akan terjadi.

Tapi sudah sekian lamanya Sim Long masuk ke situ dan ternyata tidak terdengar sesuatu suara apa pun. Jangankan suara teriakan dan bentakan, sampai suara orang berdehem juga tidak terdengar, sama sekali tidak ada sesuatu suara. Kesunyian demikian terlebih menyeramkan dan menakutkan orang.

Angin lagi meniup, hawa dingin.

Cu Jit-jit menggigit bibir dan menggosok-gosok tangan, hampir gila saking gelisahnya.

Selang sekian lama pula, tetap tidak ada sesuatu suara, suara kentut pun tidak terdengar.

Tambah cemas Jit-jit, betapa kejinya Ong Ling-hoa sudah diketahuinya, kalau Sim Long terjebak, seharusnya dia bersuara seperti janjinya tadi.

Namun suasana tetap sunyi, sungguh Jit-jit tidak tahan lagi, ia menjadi nekat, secepat terbang ia menerjang ke dalam rumah berhala itu.

Remang fajar sudah berubah menjadi terang benderang, keadaan dalam rumah berhala ini kelihatan misterius, seram dan beralamat tidak enak.

Api unggun belum lagi padam, cuma apinya sudah sangat kecil. Di atas api masih ada daging, lantaran api sudah kecil sehingga daging panggang tidak menjadi hangus.

Tabir meja sembahyang yang sudah luntur itu telah terobek, entah ditarik siapa, lagi bergerak tertiup angin di lantai.

Meja sembahyang sudah roboh terdepak dan juga entah didepak siapa, antara api unggun dan meja terguling itu ada genangan air hitam. Hah, bukan air, tapi darah, darah segar.

Rumah berhala yang memang bobrok kelihatan tambah seram. Sim Long yang tadi jelas-jelas masuk ke situ tidak kelihatan lagi bayangannya. Tidak ada seorang pun, bayangan setan juga tidak ada. Lantas ke mana Sim Long? Apakah sudah masuk perangkap musuh dan terbunuh?

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: