Kumpulan Cerita Silat

10/06/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 60

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 1:29 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Pek-jwan tercengang, tapi segera ia menurut dan menutuk dua hiat-to punggung pengemis tua, benar juga darah lantas berhenti menyembur keluar dari mulutnya. Dengan demikian dapatlah Kongya Kian memberikan pil lagi dan dapat ditelan oleh pengemis itu.

Sesudah menarik napas dalam-dalam, dengan suara terputus-putus pengemis tua itu berkata, “Banyak terima kasih atas… atas pertolonganmu. Numpang tanya sia… siapakah nama Inkong (tuan penolong) yang budiman?”

“Membantu sesamanya bagi orang-orang Kangouw adalah soal biasa, kenapa mesti dipikirkan,” sahut Pek-jwan.

Kembali pengemis tua itu menarik napas dalam-dalam lagi, ia merasa tenaganya sudah habis, ada maksudnya hendak mengeluarkan sesuatu dari bajunya, tapi tidak kuat lagi, maka katanya, “To… tolong….”

Kongya Kian tahu maksudnya, katanya, “Apakah engkau hendak mengambil sesuatu barangmu?”

Pengemis itu mengangguk.

Segera Kongya Kian mengeluarkan isi saku pengemis itu, ternyata macam-macam benda yang dibawanya, ada am-gi, ada alat ketikan api, ada obat-obatan, ada makanan kering dan sedikit uang perak.

“Aku… aku tidak kuat lagi,” demikian pengemis itu bicara dengan lemah, “di sini ada sehelai… sehelai maklumat yang sangat… sangat penting, mohon Inkong suka… suka mengingat sesama orang Kangouw dan… dan sudilah menyampaikannya ke… kepada Tianglo Kay-pang kami, untuk itu sungguh aku sangat berterima kasih.”

Habis berkata, sambil terengah-engah ia mengulurkan tangan untuk mengambil satu lipatan kertas kuning yang dipegang Kongya Kian yaitu salah satu isi sakunya yang dikeluarkan Kongya Kian tadi.

“Harap jangan khawatir,” Buyung Hok coba menghiburnya. “Jika keadaanmu sudah ditolong lagi, maka kami berkewajiban menyampaikannya barangmu kepala tianglo dari pang kalian.”

Habis berkata segera ia terima kertas kuning yang dipegang pengemis itu.

“Aku bernama Ih It-jing,” dengan suara lemah pengemis itu berkata lagi. “Mohon tuan suka menyampaikan kepada kawan-kawanku bahwa… bahwa aku baru datang dari negeri Se He, kertas… kertas ini berisi maklumat raja Se He tentang sayembara mencari menantu raja. Urusan… urusan ini mahapenting dan menyangkut jaya dan runtuhnya nasib kerajaan Song kita, maka pang kami… pang kami….”

Sampai di sini ia tidak sanggup bicara lagi, kelihatannya ia sangat bernafsu hendak menghabiskan pembicaraannya, tapi tenggorokan serasa tersumbat, rasanya darah hendak menyembur keluar lagi.

Tiba-tiba ia melihat wajah Buyung Hok yang ganteng itu, teringat sesuatu olehnya, segera ia tanya sekuatnya, “Siapa… siapakah tuan? Apakah… apakah Koh-soh….”

“Benar, aku Buyung Hok dari Koh-soh,” sahut Buyung Hok.

Pengemis tua itu terperanjat, serunya, “He, kau… kau musuh besar kami….”

Mendadak ia rebut kembali kertas kuning tadi.

Namun Buyung Hok tidak mau merebut dengan dia dan membiarkan kertas itu diserobot kembali olehnya. Pikirnya, “Orang Kay-pang masih tetap mencurigai aku sebagai pembunuh Be Tay-goan, wakil pangcu mereka. Paling akhir ini meski kabar bohong itu agak reda, tapi orang ini baru pulang dari Se He, dengan sendirinya belum tahu perkembangan dunia persilatan terakhir ini.”

Sesudah merebut kembali kertas kuning itu, segera si pengemis tua merobeknya menjadi dua dan selagi hendak merobek pula, baru saja tangannya bergerak mendadak tenaganya sudah habis, darah menyembur lagi dari mulutnya, kaki berkelojotan sekali, lalu melayanglah jiwanya.

Hong Po-ok coba mengambil kertas kuning yang sudah terobek menjadi dua itu dan dibentang menjadi satu, ia lihat pada kertas itu banyak tertulis huruf asing yang tak dikenal, pada bawah tulisan itu malah terdapat pula sebuah cap merah.

Kongya Kian paham beberapa tulisan asing, setelah membaca tulisan pada kertas kuning itu, kemudian ia berkata, “Kertas ini memang benar berisi maklumat tentang sayembara mencari menantu raja Se He. Maklumat ini berbunyi: ‘Putri Bun Gi dari kerajaan Se He kini sudah dewasa, maka baginda raja bermaksud mencari menantu yang serbapintar dan gagah perwira. Ditetapkan mulai hari Tiongchiu tahun ini akan diadakan sayembara pemilihan dan dapat diikuti oleh bangsa apa pun juga asalkan merasa cukup memenuhi syarat sayembara. Pada hari memasukkan formulir sayembara para calon akan diterima pula oleh baginda raja sendiri. Andaikan para calon itu akhirnya gagal terpilih, maka mereka juga akan diberi pangkat dan diangkat sebagai panglima menurut kepandaian masing-masing.’.”

Sambil mendengarkan isi maklumat itu, Hong Po-ok tertawa terbahak-bahak, katanya, “Ai, orang Kay-pang ini benar-benar sangat menggelikan, jauh-jauh dia membawa kertas maklumat ini dari Se He, apa barangkali maksudnya hendak diberikan kepada salah seorang tianglo dari kawan mereka agar ikut sayembara untuk dipilih sebagai menantu raja Se He?”

“Bukan, bukan!” demikian seru Pau Put-tong dengan istilahnya yang khas. “Agaknya Site tidak tahu bahwa para Tianglo Kay-pang itu sudah tua lagi jelek, tapi di antara anak murid mereka yang muda, sudah tentu tidak kurang daripada yang serbapintar dan tampan. Kalau salah seorang di antara mereka ada yang terpilih menjadi menantu raja Se He bukankah Kay-pang akan naik pangkat juga seketika?”

“Kabarnya para kesatria Kay-pang biasanya tidak kemaruk kepada kedudukan dan kemewahan hidup, mengapa Ih It-jing ini justru terpengaruh oleh hal-hal demikian itu?” ujar Pek-jwan dengan berkerut kening.

“Toako,” kata Kongya Kian, “pengemis ini tadi mengatakan bahwa ‘urusan ini sangat penting dan menyangkut nasib kerajaan Song’, jika apa yang dikatakan ini benar, maka tujuannya pulang ke sini rasanya tidak mungkin melulu untuk kepentingan Kay-pang mereka saja.”

“Bukan, bukan!” kembali Pau Put-tong berseru sambil geleng kepala.

“Samte mempunyai pendapat apa lagi?” tanya Kongya Kian.

“Kau tanya padaku mempunyai pendapat apa lagi, itu berarti kau anggap aku sudah pernah mengemukakan sesuatu pendapat, padahal aku belum menyatakan apa-apa, hal ini menandakan sebenarnya kau tidak percaya aku mempunyai sesuatu pendapat, sebaliknya sekarang kau justru tanya padaku, dengan demikian bukankah kau maksudkan aku cuma omong kosong saja, betul tidak?”

Sifat Hong Po-ok adalah suka berkelahi, tapi lawannya sudah tentu orang lain, dengan saudara angkat sendiri tidak mungkin berkelahi. Sebaliknya Pau Put-tong suka berdebat, untuk ini sudah tentu tidak peduli dengan kawan atau lawan, asal tidak cocok, terus saja berdebat tidak habis-habis.

Sudah tentu Kongya Kian kenal wataknya, maka dengan tersenyum ia berkata, “Tidak, aku benar-benar mengharapkan pendapatmu yang baik. Biasanya Samte juga sering memberi pendapat yang berguna.”

Dan selagi Put-tong hendak putar lidah lagi, namun Pek-jwan telah menyelanya, “Ya, Samte mempunyai pendapat apa? Apakah kau tahu maksud tujuan Ih It-jing ini dengan membawa formulir tentang sayembara mencari menantu raja Se He ini?”

“Aku bukan Ih It-jing, dari mana kutahu?” sahut Put-tong.

Maka Buyung Hok coba minta pendapat Kongya Kian. Tapi dengan tersenyum Kongya Kian berkata, “Pikiranku pasti tidak sama dengan Samte.”

Ia tahu apa yang dikatakannya nanti pasti akan didebat oleh Pau Put-tong, maka sebelumnya ia sengaja menyatakan hal ini.

Put-tong melototnya sekali, katanya, “Bukan, bukan! Sekali ini Jiko salah terka, apa yang kupikir sekali ini justru serupa dan persis dengan pendapatmu.”

“Terima kasih kepada langit dan bumi, sekali ini benar-benar luar biasa,” ujar Kongya Kian dengan tertawa.

“Jiko, sebenarnya bagaimana pendapatmu?” tanya Buyung Hok.

“Di zaman ini berdiri lima negara, yaitu Liau, Song, Turfan, Se He dan Tayli,” demikian Kongya Kian mulai bicara. “Kecuali kerajaan Tayli yang terpencil di selatan dan tiada maksud berebut pengaruh dengan negara lain, maka keempat negara lain itu semuanya mempunyai nafsu besar untuk mengangkangi dunia ini….”

“Jiko, engkau salah besar,” tiba-tiba Put-tong menyela. “Kerajaan Yan kita meski tidak punya wilayah kekuasaan yang sah, tapi Kongcuya senantiasa berusaha memulihkan wibawa pemerintah kita, siapa tahu kalau kelak kerajaan Yan kita akan berdiri kembali dan berkembang dengan jaya?”

Ketika Pau Put-tong bicara tentang kerajaan Yan mereka, wajah Buyung Hok dan Ting Pek-jwan tampak bersikap serius dan kereng, berbareng mereka menyatakan, “Ya, cita-cita membangun kembali negara kita senantiasa tidak pernah kita lupakan.”

Seperti pernah diceritakan bahwa leluhur Buyung Hok adalah suku bangsa Sianbi (Siberia). Keluarga Buyung dengan negeri Yan yang mereka dirikan pernah juga merajai bagian-bagian wilayah Tiongkok selama beberapa dinasti. Akhirnya keluarga Buyung dapat ditumpas oleh kerajaan Gui sehingga keturunan mereka hidup terpencar di mana-mana, namun begitu keturunan keluarga Buyung selama ini masih bercita-cita membangun kembali kerajaan Yan mereka.

Sampai zaman berakhirnya dinasti Tong, di antara keluarga Buyung itu muncul seorang yang berbakat tinggi namanya Buyung Liong-sia. Orang ini telah melebur berbagai aliran ilmu silat sehingga menjadi suatu aliran tersendiri serta tiada tandingannya di dunia persilatan.

Sudah tentu Buyung Liong-sia tidak pernah melupakan cita-cita leluhurnya untuk membangun kembali kerajaan Yan, maka ia pun mengumpulkan banyak orang-orang gagah untuk persiapan pergerakannya.

Tapi pada waktu itu kebetulan Tio Khong-in sudah berhasil mendirikan kerajaan Song dan dapat menguasai seluruh negeri sepenuhnya sehingga Buyung Liong-sia tidak dapat berbuat apa-apa meski memiliki ilmu silat setinggi langit. Akhirnya ia meninggal dunia dengan masygul tanpa berhasil apa-apa dari segala jerih payahnya itu.

Beberapa keturunan kemudian, akhirnya sampailah di tangan Buyung Hok yang menurunkan segala cita-cita tinggi dan ilmu silat leluhur yang hebat itu. Cuma untuk membangun kembali kerajaan Yan pada waktu itu boleh dikatakan suatu penghinaan dan pemberontakan yang tak bisa diampuni oleh pemerintah Song, maka meski Buyung Hok diam-diam menghimpun kekuatan namun lahirnya sedikit pun tidak kentara, kecuali beberapa orang kepercayaannya seperti Ting Pek-jwan dan lain-lain, orang luar boleh dikatakan tiada seorang pun yang tahu. Orang Bu-lim hanya kenal “Koh-soh Buyung” sebagai suatu keluarga yang memiliki ilmu silat mahatinggi dan mempersamakan mereka dengan aliran dan perkumpulan Kangouw biasa.

Begitulah, maka ketika Pau Put-tong menyebut tentang usaha pergerakan mereka dalam membangun kembali kerajaan Yan, karena di sekitar mereka adalah pegunungan yang sepi, maka dengan penuh semangat serentak mereka melolos senjata sebagai tanda tekad bulat mereka.

Sebaliknya Giok-yan lantas menyingkir pergi menjauhi sang piauko dan kawan-kawannya itu. Maklum, ibunya selalu antiusaha pergerakan keluarga Buyung yang dipandangnya sebagai pemberontakan itu, ia anggap cita-cita keluarga Buyung hendak merajai dunia hanya lamunan belaka dan tiada harapan lagi, sebaliknya besar kemungkinan akan menyeret keluarga mereka ke lembah kehancuran. Sebab itulah maka ibu Giok-yan melarang Buyung Hok berkunjung ke rumahnya dan lebih suka hidup menyepi di perkampungan yang dikelilingi rawa-rawa itu.

Kongya Kian memandang sekejap ke arah Giok-yan yang menyingkir ke samping itu, lalu katanya pula, “Sudah beberapa tahun negeri Liau berperang dengan kerajaan Song, meski Liau agak unggul tapi untuk membasmi Song adalah tidak mungkin. Sebaliknya Se He dan Turfan berdiri tegak di sebelah barat kedua negeri ini memiliki kekuatan yang tidak sedikit, asal salah satu negeri itu mau membantu Liau, pasti Song akan terancam keruntuhan, begitu pula sebaliknya bila Song yang dibantu Se He maka Liau yang akan celaka.”

Mendadak Hong Po-ok menepuk paha dan berkata, “Tepat ucapan Jiko ini. Selamanya Kay-pang sangat setia kepada pemerintah Song, sebabnya Ih It-jing ini membawa pulang formulir sayembara dari Se He ini agaknya dia berharap dari kerajaan Song ada seorang kesatria muda perkasa dapat ikut memperebutkan sayembara itu, bila antara negeri Song dan Se He terikat hubungan keluarga, maka kuatlah kedudukan mereka dan tiada tandingannya lagi di dunia ini.”

Kongya Kian mengangguk-angguk, katanya, “Memang kedudukan akan menjadi kuat, tapi bilang tiada tandingannya, mungkin agak berlebih-lebihan. Cuma dengan kekayaan perbekalan kerajaan Song ditambah dengan kekuatan pasukan Se He, tenaga gabungan mereka ini memang akan sukar dilawan oleh Liau dan Turfan, tentang kerajaan Tayli yang kecil itu sudah tentu jadi tiada artinya. Maka menurut tafsiranku, bila Song dan Se He bersatu, maka tindakan pertama yang akan dilakukan pasti mencaplok Tayli, langkah selanjutnya barulah menyerang Liau.”

“Perhitungan Ih It-jing yang muluk-muluk itu mungkin memang demikian, tapi hubungan keluarga antara Song dan Se He rasanya tidak dapat berjalan selancar itu,” ujar Pek-jwan. “Sebab, kalau negeri Liau, Turfan dan Tayli mengetahui berita itu, tentu mereka akan berusaha untuk menyabot dan menggagalkan maksud itu.”

“Ya, bukan saja akan menyabot, bahan masing-masing negeri itu tentu juga ingin ikut dalam sayembara memperebutkan putri kerajaan Se He itu,” tukas Kongya Kian.

“Dan entah putri Se He itu cantik atau jelek, entah wataknya halus atau kasar,” ujar Pek-jwan.

“Hahaha!” Put-tong terbahak. “Kenapa Toako bersangsi, apakah kau ingin ikut sayembara itu untuk mencalonkan diri sebagai menantu raja Se He?”

“Kalau usia Toakomu ini lebih muda 20 tahun dan ilmu silatnya sepuluh kali lebih lihai, kalau seratus kali lebih cakap mukaku, maka detik ini juga segera aku terbang ke Se He untuk mencalonkan diri sebagai menantu raja,” sahut Pek-jwan. “Samte, usaha membangun kembali kerajaan Yan kita sudah berlangsung selama ratusan tahun dan tetap tinggal cita-cita saja tanpa sesuatu hasil. Kalau dipikirkan benar-benar soalnya adalah karena kurang dukungan yang kuat. Bila Se He dapat menjadi sanak keluarga Buyung kerajaan Yan kita dengan bantuan kekuatan pasukan Se He yang hebat itu, sekali keluarga Buyung bergerak di Tionggoan sini, masakah usaha kita takkan berhasil dengan baik?”

Biasanya segala apa tentu didebat oleh Pau Put-tong, tapi ucapan Ting Pek-jwan sekarang membuatnya mengangguk-angguk, katanya, “Ya, benar! Asal urusan ini berguna bagi membangun kembali kerajaan Yan kita, maka tidak peduli putri Se He itu cantik atau jelek seperti siluman, ya, asalkan dia sudi menjadi biniku, biarpun dia sejelek babi betina juga aku akan menikahinya.”

Mendengar itu, semua orang bergelak tertawa, pandangan mereka sama beralih kepada Buyung Hok seorang.

Sudah tentu Buyung Hok tahu maksud keempat kawanan itu, yaitu dia yang diharapkan pergi ke Se He untuk mengikuti sayembara itu. Kalau bicara tentang kecakapan muka, umur dan kepandaian ilmu silat serta sastra, di zaman ini mungkin tiada seorang pemuda lain yang dapat membandinginya.

Maka kalau dia sendiri mau pergi ke Se He boleh dikatakan 75% usaha mereka akan berhasil. Tapi kalau raja Se He menilai calon menantu dengan asal-usulnya, meski Buyung Hok sendiri adalah keturunan kerajaan Yan, tapi keluarga mereka sudah lama runtuh, sekarang mereka hanya tinggal sebagai keluarga biasa dalam negeri Song, untuk dibandingkan dengan putra bangsawan dari negeri Song, Tayli, Turfan, Liau dan lain-lain, terang Buyung Hok harus mengaku kalah.

Berpikir sampai di sini, Buyung Hok memandang sekejap pada kertas maklumat itu.

Kongya Kian dapat menerka apa yang dipikirkan junjungannya itu, maka katanya, “Di dalam maklumat ini diterangkan dengan jelas tidak memandang kedudukan dan asal-usul keturunan, yang dinilai cuma kepandaian calonnya. Sebab tentang kedudukan akan segera diperoleh bila yang calon sudah terpilih menjadi menantu raja, sebaliknya kepandaian dan ketampanan sang calon tidaklah dapat dianugerahi oleh raja. Kongcuya, cita-cita keluarga Buyung selama beratus tahun ini sekarang bergantung kepada… kepada keputusanmu….”

Bicara sampai di sini, karena guncangan perasaannya sampai suaranya menjadi gemetar.

Wajah Buyung Hok juga tampak pucat, ia tahu sedang menghadapi suatu kesempatan bagus yang sukar dicari, sebab biasanya kalau seorang putri raja mencari jodoh, hal ini selamanya diperintahkan oleh raja kepada salah seorang petugas istana untuk mencarikan calon pemuda bangsawan yang setimpal dan tidak pernah terjadi dengan cara pemilihan terbuka seperti sekarang ini.

Tanpa terasa ia memandang ke arah Ong Giok-yan, ia lihat gadis itu sedang berdiri di bawah pohon sambil memandang jauh ke sana, tampaknya sangat kesepian dan harus dikasihani.

Buyung Hok tahu sang piaumoay itu sejak kecil sudah sangat cinta padanya, meski ayah Buyung Hok dan bibi, yaitu ibu Giok-yan, tidak cocok dan merintangi hubungan baik mereka, tapi akhirnya gadis itu meninggalkan rumah dan berkelana di Kangouw hanya untuk mencari dirinya. Biasanya Buyung Hok tidak terlalu memerhatikan soal asmara, yang dipikirkan hanya usaha membangun kembali kerajaan leluhur saja.

Tapi betapa pun ia adalah manusia yang berperasaan, Giok-yan sedemikian cinta padanya, sudah tentu ia pun dapat merasakan. Sekarang kala mendadak mesti meninggalkan sang piaumoay untuk melamar seorang putri raja bangsa lain yang tak pernah dikenalnya, walaupun tujuannya adalah demi cita-cita membangun kembali negaranya, tapi dalam hati ia benar-benar tidak tega.

Melihat Buyung Hok termenung-menung Kongya Kian berdehem sekali, katanya, “Kongcu, sejak dahulu, seorang besar harus kesampingkan soal kecil, seorang pahlawan, seorang kesatria sejati harus berani menembus rintangan ikatan pribadi.”

“Ya, kalau kerajaan Yan kita dapat dibangun kembali, dengan sendirinya Kongcu adalah rajanya, sebagai seorang raja, punya empat istri dan puluhan selir juga tidak mengherankan,” demikian Pau Put-tong ikut bicara. “Maka nanti putri Se He akan menjadi permaisuri, sedang nona Ong dapatlah diberi gelar sebagai Se-kiong-nionio (permaisuri kedua).”

Diam-diam Buyung Hok mengangguk juga, teringat olehnya pesan mendiang ayahnya yang selalu meminta dia mengutamakan nasib negara daripada urusan pribadi, demi negara urusan asmaranya boleh dikatakan tiada artinya, apalagi selama ini ia pandang Giok-yan hanya sebagai adik cilik saja meski gadis itu cinta benar-benar padanya. Asalkan cita-citanya kelak terkabul, Giok-yan akan diberi gelar kehormatan sebagai selir kesayangan raja, tentu gadis itu juga akan senang.

Sesudah berpikir sejenak, Buyung Hok tidak merisaukan urusan Giok-yan lagi, katanya, “Ucapan saudara-saudara memang beralasan. Sekarang memang terbuka suatu kesempatan bagus untuk membangun kembali kerajaan Yan kita yang jaya. Cuma sebagai seorang kesatria kita harus dapat menepati janji, betapa pun surat maklumat ini harus kita sampaikan kepada orang Kay-pang.”

“Ya, betul,” Pek-jwan menanggapi. “Jangankan Kay-pang tiada seorang pun yang mampu membandingi Kongcu, andaikan ada juga kita tidak boleh menggelapkan maklumat ini sehingga memalukan derajat kita.”

“Betul,” kata Po-ok. “Toako dan Jiko silakan mengawal Kongcu ke Se He, Samko dan aku bertugas mengirim surat maklumat ini kepada Kay-pang. Sampai hari Tiongchiu tahun depan masih ada satu tahun lamanya, jika mereka ingin memilih calon yang akan dikirim juga masih keburu dan kita tak dapat dituduh mengakali mereka.”

“Kita selalu bertindak secara terang-terangan, biarlah kita bersama mengirimkan surat maklumat ini kepada para Tianglo Kay-pang, habis itu barulah kita berangkat ke Se He,” ujar Buyung Hok.

“Ucapan Kongcu ini sangat cocok dengan pendapatku, memang kita tidak boleh menimbulkan prasangka jelek atas diri kita,” kata Pek-jwan.

Serentak Kongya Kian, Pau Put-tong dan Hong Po-ok juga mengangguk setuju. Mereka mengubur kedua anggota Kay-pang tadi dan mengambil dua kantong kain milik anggota-anggota Kay-pang itu sebagai tanda pengenalnya.

Kemudian Buyung Hok memanggil Ong Giok-yan, katanya, “Piaumoay, kedua murid Kay-pang ini telah dibunuh orang, dalam hal ini menyangkut suatu urusan besar, untuk itu aku harus pergi sendiri ke markas besar Kay-pang, kebetulan sekalian dapat mengantar Piaumoay pulang ke Man-to-san-ceng.”

Mendengar nama tempat kediamannya disebut, Giok-yan terkejut, katanya, “Ti… tidak, aku tidak mau pulang, kalau melihat aku, tentu aku akan dibunuh ibu.”

Buyung Hok tertawa, katanya, “Meski watak bibi agak keras, tapi beliau cuma mempunyai seorang putri tunggal, mana beliau tega membunuhmu? Paling-paling cuma akan didampratnya saja.”

“Tidak, aku tak mau pulang, biarlah aku ikut pergi ke Kay-pang,” sahut Giok-yan.

Karena Buyung Hok sudah mengambil keputusan akan pergi ke Se He untuk ikut sayembara memperebutkan putri raja, maka dalam hati ia merasa tidak enak terhadap Giok-yan, ia pikir sementara ini biarlah menuruti permintaan gadis itu saja.

Maka katanya, “Lebih baik begini saja, untuk ikut berkelana di dunia Kangouw terang tidak pantas, maka janganlah kau ikut pergi ke Kay-pang. Tapi karena kau tidak mau pulang, bolehlah tinggal sementara di Yan-cu-oh kediamanku itu, nanti kalau urusanku sudah beres segera aku pulang untuk menemuimu.”

Air muka Giok-yan berubah merah, dalam hati diam-diam ia bergirang. Cita-cita yang diharapkannya selama ini adalah menjadi istri sang piauko dan tinggal bersama di Yan-cu-oh. Sekarang Buyung Hok menyatakan dia boleh tinggal di sana, meski belum secara resmi meminang padanya, namun urusan terang sudah maju selangkah lagi.

Giok-yan tidak enak untuk menyatakan setuju dengan begitu saja, maka perlahan ia menunduk dan matanya memantulkan sinar yang penuh arti.

Kongya Kian saling pandang sekejap dengan Ting Pek-jwan, mereka merasa berdosa karena telah membohongi seorang gadis yang masih polos dan hijau itu. Namun begitu akhirnya mereka melanjutkan juga perjalanan ke selatan.

Sungguh Giok-yan sukar menyembunyikan perasaannya yang girang itu karena sang piauko sudi menerimanya tinggal di Yan-cu-oh. Meski ia pun merasa sikap Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain agak luar biasa terhadap dia, tapi biasanya Giok-yan memang tidak suka menyangka jelek kepada siapa pun, maka sedikit pun ia tidak curiga.

Hari itu, karena mereka meneruskan perjalanan secara tergesa-gesa sehingga melampaui pos penginapan, maka sampai hari sudah gelap mereka masih berada di jalan pegunungan.

Diam-diam Pek-jwan memikirkan Giok-yan yang tidak biasa berjalan jauh itu, kalau mereka sendiri biarpun melanjutkan perjalanan sepanjang malam juga tidak menjadi soal. Maka katanya, “Marilah kita mencari suatu gua atau kelenteng rusak untuk sekadar menginap semalam.”

“Ya, kita harus memasak sedikit air untuk menyeduh teh dan untuk cuci muka nona Ong,” ujar Pau Put-tong.

Karena mereka sudah bertekad akan pergi ke Se He untuk mencalonkan Buyung Hok sebagai menantu raja maka sepanjang jalan mereka melayani Giok-yan dengan jauh lebih baik daripada biasanya. Sudah tentu Giok-yan tidak tahu bahwa sebabnya mereka berbuat begitu adalah karena rasa tidak enak dalam hati mereka itu, ia sangka mungkin Pek-jwan berempat anggap dia adalah bakal istri junjungan mereka dengan sendirinya sekarang lebih menaruh hormat adanya. Maka dalam senangnya itu terkadang ia pun merasa agak kikuk.

Hong Po-ok berjalan paling depan untuk mencari tempat yang dapat dibuat berteduh. Tapi makin jauh jalan pegunungan makin berliku dan terjal, lebih-lebih tiada sesuatu sungai kecil atau mata air segala. Kalau dia sendiri mestinya tidak susah memikirkan tempat mengaso tapi mencari suatu tempat yang cocok untuk Giok-yan benar-benar sangat sulit.

Sekaligus Po-ok berlari beberapa li jauhnya, selagi ia menggerutu karena belum juga menemukan suatu tempat baik, sesudah melintasi sebuah tanjakan tiba-tiba dilihatnya di lembah sebelah kanan ada setitik sinar lampu.

Sungguh girang Po-ok tidak kepalang, segera ia berpaling ke belakang dan berteriak, “Di sana ada rumah tinggal orang!”

Mendengar itu, dengan cepat Buyung Hok dan lain-lain memburu ke tempat Po-ok itu.

Kata Kongya Kian dengan girang, “Tampaknya rumah tinggal kaum pemburu atau petani gunung, paling tidak kita akan dapat minta numpang semalam bagi nona Ong.”

Segera mereka berenam berjalan ke arah sinar lampu itu dengan cepat. Jarak cahaya itu sangat jauh, sudah sekian lama mereka berjalan, tapi api sinar itu masih kelihatan berkelip-kelip dan tidak tampak sesuatu rumah pun.

Hong Po-ok mulai tak sabar, terus saja ia memaki, “Kurang ajar, tampaknya cahaya itu agak tidak beres.”

“Berhenti dulu!” mendadak Ting Pek-jwan berseru. “Kongcuya, coba lihat, itu adalah cahaya hijau.”

Waktu Buyung Hok memerhatikan, benar juga ia lihat sinar itu hijau gilap, berbeda dengan sinar lampu pada umumnya yang berwarna kemerah-merahan dan kekuning-kuningan.

Kecuali Ong Giok-yan, Buyung Hok dan kawan-kawannya itu adalah tokoh Kangouw ulung, segera mereka mempercepat langkah menuju ke arah sinar lampu lagi. Kira-kira satu li pula, sekarang sinar lampu dapat terlihat lebih jelas.

“Ada golongan Sia-mo-gwa-to (orang-orang jahat dan golongan sesat) yang sedang berkumpul di situ.”

Sebenarnya dengan kepandaian Buyung Hok berlima boleh dikata tidak perlu jeri kepada siapa pun dan golongan apa pun di dunia Kangouw, tapi sekarang mereka harus memikirkan Ong Giok-yan, mereka tidak ingin membikin si nona ikut menghadapi bahaya. Maka meski Pau Put-tong dan Hong Po-ok sudah getol berkelahi, namun sedapatnya mereka harus menahan diri.

Maka Buyung Hok berkata, “Sudahlah, di sana jalannya kurang bersih, marilah kita putar kembali ke jalan yang lain saja.”

Dan baru beberapa langkah mereka putar balik ke arah tadi tiba-tiba suatu suara sayup-sayup berkumandang datang dari arah sinar hijau tadi, “Jika sudah tahu Sia-mo-gwa-to berkumpul di sini, kalian beberapa ekor siluman kecil itu kenapa tidak ikut hadir untuk meramaikan pertemuan ini?”

Suara itu terkadang keras dan terkadang perlahan sehingga membikin pendengarnya merasa tidak enak, tapi setiap kata-katanya terdengar sangat jelas.

Buyung Hok hanya mendengus saja, ia tahu ucapan Pau Put-tong tadi telah didengar pihak lawan. Dari suara yang terputus-putus itu dapat diketahui bahwa lwekang pembicara itu tidaklah cetek, tadi juga belum terhitung kelas satu. Maka ia lantas memberi tanda dan berkata, “Sudahlah, kita tiada waktu buat gubris mereka, marilah pergi saja.”

Tapi suara situ lantas mendamprat, “Binatang kecil, berani omong besar, apa dengan demikian kau mau lari dengan mencawat ekor? Kalau mau lari, paling tidak kalian harus menyembah dulu 300 kali kepada kakekmu ini.”

Sungguh Po-ok tidak tahan lagi, katanya segera dengan suara tertahan, “Kongcu, biarlah aku ke sana untuk memberi hajaran padanya.”

Tapi Buyung Hok menggeleng kepala, katanya, “Dia tidak tahu siapa kita ini, maka tak perlu menggubrisnya.”

Terpaksa Po-ok mengiakan, lalu mereka berjalan lagi belasan tindak, tapi kembali suara orang itu bergema pula, “Yang jantan kalau mau lari juga boleh tapi yang betina harus ditinggalkan di sini untuk menghibur kakekmu.”

Mendengar Ong Giok-yan dihina dengan kata-kata kotor oleh orang itu, seketika Buyung Hok dan lain-lain merandek dan sangat gusar. Ketika mereka berpaling, kembali terdengar suara orang itu, “Bagaimana? Antarkan ke sini yang betina itu agar kakek….”

Baru berkata sampai di sini, mendadak Ting Pek-jwan mengerahkan tenaga dalamnya dan membarengi membentak sekeras-kerasnya, “Kekkk!”

Perpaduan lafal “kek” itu berbarengan dengan suara orang itu, seketika suaranya mengguncang lembah pegunungan itu dan anak telinga semua orang serasa pekak. Serentak terdengarlah suara jeritan ngeri dari arah cahaya hijau sana. Di malam sunyi dan di tengah menggemanya suara “kek” yang mengguncang lembah itu terseling lagi suara jeritan ngeri orang, maka kedengarannya menjadi sangat seram.

Rupanya Ting Pek-jwan telah melukai pihak lawan dengan suara bentakannya yang membawa tenaga dalam mahakuat itu, dari suara jeritan tadi agaknya luka orang itu tidak ringan, bisa jadi sudah tewas malah.

Dan begitu suara jeritan orang tadi lenyap, tiba-tiba terdengar suara mendesing satu kali, sebatang panah berapi hijau meluncur ke udara terus meletus di atas.

“Sekali sudah berbuat, ayolah bereskan sampai akhirnya, biar kita sapu bersih sarang kaum iblis ini,” ajak Hong Po-ok.

“Ya, kita sudah mengalah dengan maksud menghindarkan percekcokan, tapi sekali sudah berbuat, harus dilakukan sampai selesai,” kata Buyung Hok.

Habis berkata, segera mereka berlari cepat ke arah musuh.

Meski Giok-yan sangat luas pengetahuannya terhadap segala macam ilmu silat dari setiap aliran dan setiap golongan, tapi lwekangnya terlalu cetek, pengalamannya juga tidak ada. Karena khawatir gadis itu mendapat cedera, maka Buyung Hok sengaja melambatkan langkahnya untuk mendampingi Giok-yan.

Di bawah cahaya api hijau yang remang-remang sementara itu terdengar suara bentakan Hong Po-ok dan Pau Put-tong, terang mereka sudah mulai bergebrak dengan musuh. Menyusul terdengarlah tiga sosok bayangan orang mencelat ke atas disusul suara “plak-plok” beberapa kali, nyata tiga orang itu telah kena dibereskan oleh Put-tong dan Po-ok sehingga tertumbuk di dinding batu.

Waktu Buyung Hok berlari sampai di bawah sinar hijau, ia lihat Ting Pek-jwan dan Kongya Kian telah berdiri di samping sebuah wajan perunggu yang besar dengan air muka sangat prihatin. Dari dalam wajan kaki tiga bertutup itu tampak mengepulkan asap yang halus dan memantul cepat ke atas bagai panah.

“Rupanya golongan Song Tho-kong dari Pek-lin-tong di Sujwan Barat,” ujar Giok-yan.

“Pengetahuan nona benar-benar sangat luas,” puji Kongya Kian.

Tapi Pau Put-tong lantas menyanggahnya, “Dari mana nona tahu? Cara mengepulkan asal sebagai tanda berita sudah ada sejak ribuan tahun yang lalu, belum tentu adalah perbuatan orang she Song dari….”

Belum habis ucapannya tiba-tiba Kongya Kian menunjukkan sebelah kaki wajan itu dengan isyarat.

Waktu Pau Put-tong berjongkok dan coba menyalakan ketikan api, ia lihat kaki wajan itu memang benar berukir sebuah huruf “Song”, yaitu ukiran dalam goresan yang melingkar-lingkar mirip ular kecil, wajan itu tampaknya adalah barang antik yang berharga.

Dasar Pau Put-tong memang suka ngotot, meski tahu apa yang dikatakan Ong Giok-yan memang benar, tapi dia tetap menyanggah, “Ya, sekalipun wajan ini milik orang she Song dari Sujwan Barat, tapi siapa berani menjamin bahwa barang ini bukan barang curian? Apalagi wajan begini besar, kemungkinan adalah barang palsu.”

Kiranya orang golongan Song Tho-kong dari Pek-lin-tong di Sujwan Barat itu adalah suku bangsa Biau yang adat istiadatnya sangat berbeda dengan orang persilatan di Tionggoan. Mereka suka memakai racun, kepandaian mereka ini sangat disegani orang-orang Kangouw. Baiknya mereka jarang bermusuhan dengan orang luar, asal orang tidak sembarangan memasuki wilayah kekuasaan mereka, maka mereka pun tidak sembarangan menyerang orang.

Sekarang melihat wajan milik golongan Song Tho-kong itu, diam-diam Buyung Hok dan lain-lain agak ragu-ragu, mereka heran mengapa Song Tho-kong bisa sampai di pegunungan ini, padahal jaraknya dengan Sujwan Barat masih sangat jauh dan rasanya tidak mungkin termasuk wilayah pengaruh Song Tho-kong.

Dengan kepandaian Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain-lain sudah tentu tidak takut kepada Song Tho-kong apa segala, cuma saja mereka tiada permusuhan apa-apa dengan golongan petualang itu, kalau menang juga kurang gemilang, sebaliknya kalau sampai terlibat permusuhan dengan mereka tentu kelak akan memusingkan kepala. Padahal yang mereka pikirkan sekarang hanya cara bagaimana membangun kembali kerajaan Yan, maka sedapat mungkin mereka tidak ingin bermusuhan dengan orang, apalagi dengan suku bangsa yang tak beradab ini.

Maka sesudah memikir sejenak, tiba-tiba Buyung Hok berkata, “Sudahlah, tempat seperti ini lebih baik kita tinggal pergi saja.” – Ia lihat di tepi wajan perunggu itu menggeletak seorang tua yang sudah kempas-kempis napasnya, berbaju cokelat yang ringkas, pinggangnya terlibat seutas tali rumput, dengan mata mendelik sedang memandangi mereka. Ia menduga orang tua ini pasti orang yang memaki mereka tadi. Maka ia coba memberi isyarat kepada Pau Put-tong.

Put-tong dapat menangkap maksudnya, segera ia pegang galah bambu tempat gantungan pelita hijau itu, ia angkat ujung galah bambu itu, “bles”, ia sambitkan galah itu sehingga menembus dada orang tua yang menggeletak di tanah itu, pelita hijau itu pun lantas padam seketika.

Karena tidak menduga-duga, Giok-yan sampai menjerit kaget.

Kongya Kian lantas berkata, “Orang yang berjiwa kecil bukanlah jantan, kalau tidak keji bukanlah laki-laki sejati! Ini namanya membunuh orang melenyapkan saksi, supaya tidak meninggalkan penyakit di kemudian hari.” – Habis berkata, sekali kakinya bekerja, segera wajan besar itu pun didepaknya hingga roboh.

Segera Buyung Hok gandeng tangan Giok-yan terus diajak melompat ke samping kiri sana. Tapi baru beberapa meter jauhnya, dalam kegelapan tiba-tiba terdengar sambaran angin tajam, sebatang golok dan sebatang pedang telah menyerang berbareng dari samping.

Tapi sekali Buyung Hok mengebaskan lengan bajunya, dengan kepandaian yang khas ia bikin bacokan golok dari sebelah kiri itu mengenai kepala orang di sebelah kanan dan tusukan pedang dari sebelah kanan menembus dada orang di sebelah kiri. Hanya dalam sekejap saja sekaligus dua penyergap itu telah dibereskan, bahkan langkah Buyung Hok sedikit pun tidak berhenti dan hasil terus berlari cepat ke depan.

“Hebat benar, Kongcuya!” puji Kongya Kian.

Buyung Hok hanya tersenyum saja, mendadak ia lompat ke depan, “plok”, ia papak seorang musuh yang menubruk dari depan sehingga orang itu terjungkal ke bawah bukit, menyusul tangan lain menghantam pula, rupanya musuh telah angkat kedua tangannya untuk menahan, tapi lantas terdengar jeritan orang itu dan muntah darah.

Dalam kegelapan Buyung Hok tiba-tiba mencium bau anyir busuk, menyusul terdengar suara mendesis perlahan menyambar dari depan. Cepat Buyung Hok mengerahkan tenaga pada tangan dan memukul ke depan sehingga sebelum mencapai sasarannya senjata gelap yang belum diketahui bagaimana bentuknya itu telah terpental balik ke sana menyusul terdengar pula suara jeritan panjang seorang, rupanya senjata telah makan tuan si penyergap itu.

Terkepung di tengah-tengah musuh dalam malam gelap, hanya sekenanya Buyung Hok membunuh beberapa orang, tapi ilmu silat yang satu makin tinggi daripada yang lain, sesudah merobohkan enam orang diam-diam Hok merasa terkesiap, pikirnya, “Tiga orang yang pertama tadi agaknya orang-orang Song Tho-kong dari Sujwan Barat, tapi tiga orang lagi jelas dari golongan lain. Permusuhan bertambah banyak, sungguh gelagatnya tidak menguntungkan.”

Maka terdengar Ting Pek-jwan berseru, “Ayolah, beramai-ramai kita terjang ke Thing-hiang-siau-tiok!”

Seperti diketahui “Thing-hiang-siau-tiok” adalah sebuah paviliun di perkampungan Yan-cu-oh kediaman Buyung Hok, letaknya di sebelah barat, paviliun itu biasanya ditempati A Cu. Sekarang Pek-jwan mengajak menerjang ke Thing-hiang-siau-tiok, itu berarti ia menganjurkan menerjang ke arah barat, untuk menghindari cegatan musuh yang berjumlah banyak itu ia sengaja menggunakan kata-kata kode itu.

Buyung Hok tahu maksud kawannya itu. Tapi saat itu keadaan gelap gulita dan sukar membedakan arah, ia tidak tahu arah barat terletak di sebelah mana. Ketika ia perhatikan, ia dengar angin pukulan Ting Pek-jwan sedang bergerak di sisi kanan belakangnya, segera ia tarik Giok-yan dan mundur ke samping Pek-jwan.

Tiba-tiba terdengar suara “plak-plok” dua kali, kembali Pek-jwan mengadu tangan dengan musuh. Rupanya orang itu tidak mampu menahan hantaman Pek-jwan yang hebat itu, tiba-tiba terdengar jeritannya, tapi anehnya suaranya makin menjauh ke bawah, menyusul terdengar suara gedebukan jatuhnya batu dan patahnya ranting pohon dan sebagainya.

Diam-diam Buyung Hok terkejut, ia tahu musuh terjerumus ke bawah jurang. Dalam keadaan gelap, ia tidak tahu bahwa di sisi mereka adalah jurang, untung ada musuh yang dihantam terjungkal ke dalam jurang, kalau tidak, bukan mustahil mereka sendiri akan terjerumus juga tanpa sadar.

Pada saat itulah, tiba-tiba dari tempat yang tinggi di sebelah kiri sana terdengar suara seruan orang, “Tokoh kosen dari manakah yang mengacaukan Ban-sian-tay-hwe ini? Apa memang pandang sebelah mata kepada 36 Gua Cinjin dan 72 Pulau Dewa?”

Buyung Hok dan Ting Pek-jwan bersuara heran perlahan. Mereka pernah mendengar tentang “36 Gua Cinjin dan 72 Pulau Dewa” tapi apa yang disebut cinjin (malaikat) dan dewa itu tidak lebih hanya kawanan jago silat yang tidak termasuk sesuatu perkumpulan atau golongan serta tidak berasal dari sesuatu aliran persilatan tertentu.

Mereka hidup bebas dan tinggal di 36 gua dan 72 pulau terpencil, ilmu silat mereka ada yang tinggi dan ada yang rendah, biasanya mereka pun tiada hubungan satu sama lain dan tidak membawa pengaruh apa-apa bagi dunia Kangouw, maka mereka justru berkumpul di pegunungan ini.

Segera Buyung Hok menjawab dengan suara lantang, “Kami berenam sedang menempuh perjalanan pada malam hari dan tidak mengetahui kalian berkumpul di sini maka telah banyak mengganggu, harap dimaafkan. Apa yang terjadi ini hanya salah paham saja, hendaknya jangan dianggap sungguh-sungguh dan sukalah kalian membiarkan kami pergi dari sini.”

Ucapan Buyung Hok ini tidak keras juga tidak merendah, pula tidak memberitahukan siapa dirinya, tapi ia pun minta maaf karena telah telanjur membunuh beberapa orang.

Di luar dugaan, sekonyong-konyong terdengar suara tertawa yang beraneka ragam nadanya, ada yang terbahak-bahak, ada yang terkekeh, ada yang terkikik dan ada yang terhoho, makin lama makin riuh suara tertawa itu.

Semula suara tertawa itu cuma belasan orang saja, tapi akhirnya di delapan penjuru terdengar penuh orang tertawa sehingga kedengarannya tidak kurang dari beberapa ratus orang banyaknya.

Mendengar begitu banyak jumlah orang-orang itu, pula didengarnya istilah “Ban-sian-tay-hwe” (pertemuan besar berlaksa dewa) tadi, maka diam-diam Buyung Hok membatin, “Sialan benar malam ini kejeblos ke dalam pertemuan besar kaum tak keruan ini, baiknya aku sendiri belum memperkenalkan diri, maka lebih baik tinggal pergi saja agar urusan tidak tambah runyam. Apalagi jumlah mereka terlalu banyak, betapa pun enam orang sukar melayani mereka.”

Di tengah tertawa ramai itu, tiba-tiba terdengar seorang yang berada di tempat tinggi sana berkata, “Ucapanmu tadi sungguh seenaknya sendiri saja. Kalian sudah mencelakai beberapa orang saudara kami, kalau sekarang kami membiarkan kalian pergi, lalu ke mana muka para dewa ke-36 gua dan ke-72 pulau ini harus ditaruh?”

Buyung Hok coba tenangkan diri dan memerhatikan sekitarnya, ia lihat di mana-mana baik di atas puncak, di lereng, di tanjakan pegunungan itu peluh berdiri orang, ada yang lengan bajunya panjang gondrong, ada yang pakaiannya singsat ringkas, ada kakek yang berjenggot panjang, ada wanita dengan sanggulnya yang menjambul tinggi. Orang-orang itu tadi entah sembunyi di mana, tapi sekarang mendadak seperti muncul dari bawah tanah.

Kini Ting Pek-jwan berempat juga sudah berkumpul di sekitar Buyung Hok dan Giok-yan dalam posisi melindungi. Tapi di tengah kepungan musuh yang berjumlah beratus orang itu mereka hanya mirip sebuah sampan di tengah samudra saja.

Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain-lain selama hidupnya entah sudah mengalami pertempuran dahsyat berapa kali banyaknya, tapi melihat suasana sekarang, mau tak mau mereka rada khawatir juga. Pikir mereka, “Orang-orang ini semuanya aneh-aneh, kalau cuma sepuluh atau belasan orang saja kita takkan takut, tapi kalau mereka berkumpul menjadi satu, betapa pun sukar dilayani.”

Maka dengan lwekang yang kuat segera Buyung Hok berseru menjawab, “Kata peribahasa, yang tidak tahu tidak dapat disalahkan. Tentang nama kebesaran cinjin ke-36 gua dan para dewa ke-72 pulau memang sudah lama kudengar dan sekali-kali tidak berani sengaja mengacau. Song Tho-kong dari Pek-lin-tong, Hian-hong-cu dari Ca-liong-tong di berbatasan Tibet, Ciang Ciu-hu Siansing, Tocu dari Hian-beng-to di laut utara, para cianpwe ini kukira juga hadir di sini semua. Sungguh kami tidak sengaja mengacau ke sini, untuk ini hendaknya kalian maklum.”

Tiba-tiba terdengar suara seorang tua tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Kau sebut-sebut nama kami lantas ingin mengeloyor pergi begini saja? Hehehe!”

Buyung Hok menjadi dongkol sahutnya, “Kami cuma menghormati kalian adalah orang tua maka ingin berlaku sopan. Hal ini jangan kalian artikan bahwa aku Buyung Hok takut pada kalian.”

Mendengar nama “Buyung Hok”, seketika terdengar suara kaget orang banyak. Suara orang tua tadi lantas bertanya, “Apakah Koh-soh Buyung yang terkenal dengan ‘Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin’ itu?”

“Benar, menang akulah adanya,” sahut Buyung Hok.

“Wah, Koh-soh Buyung memang bukan kaum sembarangan. Ayolah para pemegang lampu, marilah kita maju menjumpainya!” demikian seru orang tua itu.

Dan baru habis ucapannya, mendadak dari jurusan tenggara sana menjulang tinggi ke udara sebuah pelita kuning, menyusul sebelah barat dan barat laut juga ada pelita merah yang naik ke angkasa. Dalam sekejap itu dari segenap penjuru menjadi penuh sinar pelita dengan aneka macam ragamnya.

Nyata setiap tokoh tongcu (pemilik gua) dan tocu (pemilik pulau) yang hadir itu masing-masing mempunyai warna dan corak pelita yang berbeda-beda. Sinar pelita itu berkelip-kelip, sebentar terang sebentar guram sehingga wajah semua orang tampaknya menjadi sangat aneh tersorot sinar pelita yang berwarna-warni itu.

Buyung Hok melihat orang-orang itu pun rupa-rupa ragamnya, ada laki-laki, ada wanita, ada yang tampan dan ada yang jelek, ada hwesio, juga ada tocu, sebagian besar menghunus senjata, bentuk senjata mereka pun sangat aneh dan tak terkenal namanya.

“Hai, Buyung Hok,” segera seorang yang berada di sebelah barat mulai bersuara, “keluarga Buyung kalian suka malang melintang di daerah Tionggoan, hal itu pun masa bodoh. Tapi sekarang kau berani main terobos di tengah pertemuan kami ini, bukankah kau terlalu memandang enteng kepada kami? Kau terkenal suka ‘menggunakan kepandaian orang untuk menyerang kembali pada orang itu’. Maka aku ingin tanya padamu, cara bagaimana kau akan menggunakan kepandaianku untuk menyerang padaku?”

Waktu Buyung Hok memandang ke arah suara itu, ia lihat di atas batu padas sana duduk bersila seorang tua berkepala besar. Kepala yang besar itu gundul kelimis tanpa seutas rambut pun, wajahnya merah membara sehingga kalau dipandang dari jauh buah kepalanya mirip sebuah bola merah.

“Terimalah salamku, mohon tanya siapakah nama tuan?” segera Buyung Hok memberi hormat dan bertanya.

Kakek kepala besar itu tertawa sambil pegang perutnya yang buncit, katanya, “Aku justru ingin menguji dirimu, ingin kulihat apakah Buyung-si dari Koh-soh benar-benar mahapintar atau cuma omong kosong belaka. Tadi kutanya padamu cara bagaimana akan kau gunakan kepandaianku untuk menyerang kembali padaku. Bila dapat kau jawab dengan tepat, tentang orang lain aku tidak menjamin, tapi aku sendiri pasti takkan membikin susah padamu, dan ke mana kau mau pergi boleh kau pergi dengan bebas.”

Melihat gelagatnya, Buyung Hok tahu urusan hari ini tentu susah diselesaikan dengan kata-kata saja, tapi mau tak mau ia harus main beberapa jurus dulu. Maka katanya, “Jika demikian, baiklah aku akan mengiringi main beberapa jurus, silakan Cianpwe mulai dulu!”

Kembali orang tua itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya, “Aku sedang menguji dirimu dan bukan ingin diuji olehmu. Kalau kau tidak dapat memberi jawaban, maka istilahmu yang terkenal itu hendaknya lekas dihapus saja!”

Diam-diam Buyung Hok sangat mendongkol, orang tua itu hanya duduk nongkrong di tempatnya, tidak dikenal namanya atau dari golongan mana, sudah tentu susah diketahui apa kungfu andalannya, dan kalau tidak tahu apa kepandaiannya, cara bagaimana dapat menyerang kembali dengan kepandaian orang itu?

Selagi Buyung Hong berpikir, di sebelah sana si kakek lantas mengejek, “Kami para kawan dari ke-36 gua dan ke-72 pulau biasanya hidup terpencar dan tidak suka ikut campur tetek bengek di Tionggoan. Kalau gunung tiada harimau, monyet pun akan mengaku sebagai raja. Hah, bocah ingusan macam dirimu ini juga berani mengaku sebagai Lam Buyung dan Pak Kiau Hong apa segala. Haha, sungguh menggelikan, hahaha, benar-benar tidak tahu malu! Dengarkan, jika hari ini kau ingin meloloskan diri, hal ini tidak sulit asalkan kau sembah sepuluh kali kepada tiap-tiap cinjin ke-36 gua dan tiap-tiap dewa ke-72 pulau, jadi total jenderal harus menyembah 1.080 kali, habis itu segera kami melepaskan kalian.”

Memangnya sejak tadi Pau Put-tong sudah tidak sabar, sekarang ia lebih-lebih tidak tahan lagi, segera ia berteriak, “Kau minta Kongcuya kami menggunakan kepandaianmu untuk menyerangmu’, tapi sekarang kau suruh dia menyembah padamu. Tentang kepandaianmu yang khas memang Kongcuya kami tidak dapat menirukannya. Haha, benar-benar menggelikan, haha, benar-benar tidak tahu malu!”

Ia bicara dengan menengadah dan menirukan lagu suara si kakek dengan mirip benar.

Keruan kakek itu sangat gusar, mendadak ia batuk sekali, sekumur riak kental terus menyemprot ke muka Pau Put-tong.

Cepat Put-tong mengegos sehingga riak kental itu menyambar lewat di sisi telinganya, tapi mendadak riak kental itu dapat berputar di udara, “plok”, tahu-tahu menyambar kembali dan tepat mengenai batok kepala Pau Put-tong.

Kekuatan riak kental itu sungguh tidak kecil, seketika Pau Put-tong merasa kepala pening, badan terhuyung-huyung. Kiranya riak kental itu tepat mengenai “Yang-pek-hiat” di tengah-tengah batok kepala.

Buyung Hok terkejut, bahwa riak kental dapat digunakan sebagai senjata adalah tidak mengherankan, tapi riak kental itu dapat berputar di udara, inilah yang luar biasa.

Terdengar kakek itu terbahak-bahak, katanya, “Nah, Buyung Hok, aku pun tidak mau paksa harus kau gunakan kepandaianku untuk menyerang aku, cukup asal dapat kau katakan asal-usul ludahku barusan ini, maka aku akan menyerah padamu.”

Buyung Hok memeras otak dengan cepat, tapi betapa pun tidak ingat siapakah tokoh yang mahir menggunakan ludah sebagai senjata ini. Tiba-tiba dari sebelahnya suara seorang yang nyaring merdu berkata, “Tuanbok-tocu, engkau sudah berhasil meyakinkan ilmu sakti ‘Go-tau-bi-sin-kang’, sungguh tidak mudah latihanmu ini, korban yang telah jatuh di bawah keganasanmu tentu juga tidak sedikit. Kongcu kami mengingat jerih payahmu yang telah berlatih mati-matian, maka tidak mau membongkar asal-usul kepandaianmu ini agar engkau terhindar dari kutukan sesama orang persilatan. Memangnya kau kira Kongcu juga begitu rendah untuk menyerangmu kembali dengan kepandaianmu yang keji ini?”

Dari suaranya saja segera Buyung Hok tahu bahwa pembicara itu adalah Giok-yan, sungguh ia sangat girang dan terperanjat pula. Ia tahu Giok-yan sangat pintar, sekali baca segera dapat mengingatnya di luar kepala, maka segala kitab pusaka ilmu silat yang tersimpan dalam lemari ayahandanya boleh dikata sudah dibacanya dan dapat menghafalkan di luar kepala, segala ilmu silat dari aliran mana pun boleh dikata serbatahu hanya cara menggunakan saja ia tidak dapat. Kungfu “Go-tau-bi-sin-kang” atau ilmu sakti lima gantang beras tidak pernah didengar oleh Buyung Hok, sebaliknya Giok-yan ternyata mengenalnya tapi entah tepat tidak tebakan gadis itu.

Tertampak muka si kakek kepala besar yang tadinya merah membara itu mendadak berubah menjadi pucat, tapi hanya sebentar saja lantas kembali merah lagi. Dengan tertawa ia berkata, “Dara cilik tahu apa, hendaknya jangan sembarang omong. ‘Go-tau-bi-sin-kang’ adalah ilmu yang keji dan membikin celaka orang, masakan orang macam aku sudi melatihnya? Namun begitu kau dapat menyebut she kakekmu ini, boleh dikatakan lumayan juga.”

Mendengar jawaban itu, Giok-yan tahu tebakannya benar, cuma saja kakek itu tidak mau mengaku. Segera ia berkata pula, “Tuanbok-tongcu dari Jik-yam-tong di gunung Ngo-ci-san pulau Haynam, siapakah orang Kangouw yang tidak kenal namamu ini? Kiranya ilmu Tuanbok-tongcu barusan ini bukan ‘Go-tau-bi-sin-kang’, jika begitu tentu adalah semacam ilmu sakti lain perubahan dari Te-hwe-kang.”

“Te-hwe-kang” pemimpin golongan Jik-yam-tong itu selamanya dari keluarga Tuanbok. Kakek tua berkepala besar itu bernama Tuanbok Goan.

Ketika mendengar Giok-yan dapat menyebut asal-usulnya, tapi sengaja menutupi pula kepandaiannya “Go-tau-bi-sin-kang”, maka diam-diam kakek itu merasa berterima kasih, apalagi sebenarnya di kalangan Kangouw Jik-yam-tong adalah suatu golongan keroco yang tak terkenal, tapi di mulut Giok-yan sekarang telah dikatakan sebagai golongan yang tersohor, tentu saja ia tambah senang, dengan tertawa ia berkata, “Ya, memang kepandaianku adalah salah satu bagian dari Te-hwe-kang. Karena sudah kukatakan tadi, sekali dapat kau sebut asal-usulku, maka aku pun takkan mempersulit kalian.”

Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari bawah batu padas di depan sana terdengar suara seorang yang sangat halus dengan nada seperti orang menangis terguguk-guguk sedang berkata, “Tuanbok Goan, suamiku dan saudaraku apakah dibunuh olehmu? Jadi kau jahanam ini telah meyakinkan ‘Go-tau-bi-sin-kang’ dan telah membinasakan mereka?”

Orang yang bicara itu teraling-aling oleh bayangan gelap batu padas sehingga tidak jelas bagaimana potongannya, tapi lamat-lamat kelihatan seorang wanita yang berbaju hitam, berbadan jangkung dan lengan bajunya sangat panjang.

Tuanbok Goan tertawa, sahutnya, “Siapakah nyonya? Pada hakikatnya aku tidak kenal apa ‘Go-tau-bi-sin-kang’ itu, jangan kau percaya kepada obrolan nona cilik ini.”

Tiba-tiba wanita itu menggapai Giok-yan dan memanggil, “Nona cilik, marilah sini, aku ingin tanya padamu.”

Sekali wanita itu menggapai, tiba-tiba Giok-yan merasa suatu tenaga tarik yang kuat telah menariknya ke sana sehingga tanpa kuasa ia melangkah satu tindak ke depan.

Ketika wanita itu menggapai lagi, kembali Giok-yan hendak tertarik maju pula, keruan ia menjerit kaget.

Buyung Hok tahu pihak lawan sedang menggunakan “Kim-liong-kong” (ilmu menangkap naga), semacam ilmu menangkap dan mencengkeram yang lihai. Kalau ilmu mencengkeram dan menangkap seperti itu sudah terlatih sempurna, maka sekali menggapai tangan saja segera lawan dapat dipegangnya dari jauh.

Padahal lwekang Giok-yan sangat cetek, sebaliknya wanita itu hanya dapat membikin nona itu tertarik maju satu-dua tindak saja, hal ini menandakan kepandaian wanita itu belum seberapa tinggi.

Sementara itu tertampak si wanita menggapai pula untuk ketiga kalinya, segera Buyung Hok mengebaskan lengan bajunya, ia keluarkan ilmu “Tau-coan-sing-ih”, ilmu andalannya yang lihai, kontan tenaga cengkeraman dari jauh itu menyerang kembali ke arah wanita itu sendiri. Rupanya wanita itu menjadi kaget, ia berteriak sekali sambil sempoyongan ke depan.

Sesudah terhuyung-huyung kira-kira dua-tiga meter berada di depan Buyung Hok barulah wanita itu dapat menahan tubuhnya. Keruan ia kaget setengah mati dan khawatir diserang pula, maka sekuatnya ia melompat mundur untuk kemudian mengamat-amati Buyung Hok dengan melenggong.

“Le-hujin dari Ya-hoa-to di laut selatan, kepandaianmu ‘Jay-yan-kang’ memang sangat hebat, kagum, sungguh kagum,” kata Giok-yan.

Wanita itu tampak sangsi, sahutnya, “Nona cilik, dari… dari mana kau kenal aku? Dan mengapa tahu pula ilmu ‘Jay-yan-kang’ kami?”

Karena sekarang wanita yang dipanggil sebagai Le-hujin atau nyonya Le itu sudah tidak teraling oleh bayangan batu padas, maka semua orang dapat melihat jelas pakaiannya yang hitam mulus itu, tapi di antara warna hitam bajunya itu seperti terdapat macam-macam benang emas, benang perak dan benang yang berwarna-warni lain sehingga di bawah sinar pelita tampaknya menjadi kemilauan.

“Cit-jay-po-ih (baju pusaka tata warna) adalah pusaka Ya-hoa-to (pulau bunga kelapa), siapakah di dunia ini yang tidak tahu?” sahut Giok-yan. “Tadi Le-hujin telah unjuk ilmu sakti yang mahir menangkap dari jauh, sudah tentu kepandaian ini adalah Jay-yan-kang (ilmu menangkap burung) yang terkenal dari Ya-hoa-to.”

Kiranya Ya-hoa-to atau pulau bunga kelapa yang disebut Giok-yan itu terletak di laut selatan yang banyak bukit karangnya dan banyak menghasilkan sarang burung. Cuma sarang burung itu berada di atas karang-karang yang terjal sehingga untuk mengunduhnya tidaklah gampang.

Keluarga Le sudah turun-temurun tinggal di pulau kelapa itu dan dari kebiasaan mereka mengunduh sarang burung itu terlatihlah semacam kungfu “Jay-yan-kang” itu.

Memangnya Le-hujin sudah jeri ketika sekali gapai kena diseret maju oleh Buyung Hok, apalagi asal-usulnya kena dibongkar pula oleh Giok-yan, keruan ia tambah jeri, ia mengira segala kepandaiannya sudah dapat diukur oleh pihak lawan, maka ia menjadi tidak berani main-main lagi. Terpaksa ia berkata kepada Tuanbok Goan, “Tuanbok-loji, seorang laki-laki sejati berani berbuat harus berani bertanggung jawab. Nah, katakan terus terang saja, sebenarnya suamiku dan saudaraku dibunuh olehmu atau bukan?”

Tiba-tiba Tuanbok Goan tertawa pula, katanya, “Maaf, maaf! Kiranya Le-hujin dari Ya-hoa-to, kalau dibicarakan sebenarnya kita adalah tetangga malah. Tapi selamanya aku tidak pernah bertemu dengan suamimu, dari mana bisa dikatakan dia dibunuh olehku?”

Tapi Le-hujin tampak masih sangsi, katanya, “Baiklah, akhirnya urusan pasti akan ketahuan, asalkan memang betul bukan kau yang membunuhnya.”

Habis berkata kembali ia menyingkir dan sembunyi di balik batu padas pula.

Dan baru saja Le-hujin mengundurkan diri, sekonyong-konyong terdengar sesuatu benda berat jatuh dari atas sebatang pohon yang besar, “bluk”, benda itu jatuh di atas batu padas, ketika diperhatikan, kiranya sebuah wajan raksasa dari perunggu.

Buyung Hok terkejut, cepat ia menengadah dulu untuk melihat tokoh macam apakah orang yang sembunyi di pucuk pohon itu sehingga mampu mengangkat suatu benda yang beratnya beratus-ratus kati itu ke atas pohon untuk kemudian dibanting ke bawah? Kalau melihat bentuk wajan itu, tampaknya serupa dengan wajan perunggu dari Pek-lin-tong tadi, cuma bangun wajan itu jauh lebih besar, barangkali Song Tho-kong sendiri yang sembunyi di atas pohon! Tapi waktu ia pandang ke atas toh tiada sesuatu bayangan pun yang terlihat.

Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara desis angin yang sangat halus dan hampir sukar terdengar. Namun Buyung Hok teramat cerdik cepat ia meloncat ke atas dan kedua lengan bajunya mengebas sehingga menjangkitkan serangkum angin keras yang menghantam kembali ke arah sambaran suara itu, tepat pada saat itu di depannya tertampak gemerdepnya benda-benda halus, beratus-ratus jarum selembut bulu kerbau terpental balik dan bertebaran ke berbagai penjuru.

Menyusul terdengar suara teriakan ramai Kongya Kian, Hong Po-ok dan orang-orang di sekitar situ, “Wah, celaka! Ini jarum berbisa! Jahanam, siapa yang menggunakan senjata sekeji ini? Auh, gatal sekali!”

Dalam keadaan tubuh terapung di udara, sekilas pandang Buyung Hok melihat tutup wajan itu sedikit bergerak seperti ada sesuatu hendak menerobos keluar dari dalam wajan. Dalam keadaan genting demikian tiada sempat buat pikir lagi, segera Buyung Hok lemparkan Giok-yan yang dirangkulnya ketika meloncat ke atas tadi, katanya, “Duduklah di atas pohon!”

Menyusul badannya lautan menurun ke bawah tapi bukan ke tanah melainkan di atas wajan raksasa itu.

Ia merasa tutup wajan masih bergerak-gerak, segera ia gunakan kepandaian membikin antap badannya untuk menindih tutup wajan sekuatnya.

Apa yang terjadi itu berlangsung dalam sekejap saja dan baru Buyung Hok dapat menindih tutup wajan tetap di tempatnya, sementara itu jerit dan bentakan orang di sekitarnya sudah tambah ramai, “Aduh, lekas ambilkan obat penawarnya! Ini jarum berbisa Gu-mo-ciam (jarum bulu kerbau) dari Pek-lin-tong, dalam waktu satu jam dapat membuat nyawa orang melayang, lihainya tidak kepalang! Wah, celaka, di mana bangsat tua Song Tho-kong itu? Di mana dia? Keparat! Ya, lekas seret dia keluar dan paksa dia memberi obat penawarnya! Kurang ajar, bangsat tua ini sembarangan menghamburkan jarumnya, sampai kawan sendiri juga diserang! Song Tho-kong! Song Tho-kong di mana kau keparat! Lekas berikan obat penawarmu!”

Begitulah seketika terjadi riuh rantai makian dan suara orang ingin mencari Song Tho-kong untuk minta obat penawar racun. Orang yang terkena jarum berbisa itu ada yang berjingkrak saking gatal, ada yang memeluk pohon saking tak tahan rasa sakit. Nyata racun Gu-mo-ciam atau jarum bulu kerbau itu luar biasa lihainya sehingga siapa yang terkena akan tersiksa oleh rasa gatal dan sakit yang tak terhingga.

Padahal di antara orang-orang yang kena jarum itu ada ketua dari sesuatu golongan dan ada pemimpin dari sesuatu perkumpulan, tapi dalam keadaan tersiksa mereka menjadi lupa daratan akan kedudukannya sendiri dan tidak kenal malu lagi.

Sebaliknya yang diperhatikan oleh Buyung Hok adalah kawan-kawannya, sekilas ia pun melihat Kongya Kian memegangi dada dan perutnya sedang mengerahkan tenaga dalam, sedang Hong Po-ok tampak melonjak-lonjak sambil mencaci maki kalang kabut. Maka tahulah Buyung Hok bahwa kedua kawan itu telah terkena jarum berbisa tadi, ia menjadi khawatir dan gusar pula.

Terang menghamburnya jarum berbisa bagai hujan tadi dilakukan oleh seorang dengan pesawat rahasia yang mungkin terpasang di dalam wajan raksasa itu, kalau tidak, rasanya tidak mungkin dapat menghamburkan jarum halus dalam sekejap saja.

Yang paling membuatnya gemas adalah kelicikan penyerang tak kelihatan itu, lebih dulu Buyung Hok dipancing supaya menengadah ke atas pohon pada saat itulah jarum berbisa lantas dihamburkan dari dalam wajan. Coba kalau dia kurang cerdik dan tidak tangkas, pasti beratus-ratus atau beribu-ribu jarum berbisa itu sudah bersarang di tubuhnya.

Sebaliknya penyerang itu rupanya bersembunyi di dalam wajan sehingga jarum berbisa yang dihantam kembali oleh Buyung Hok itu hanya mengenai orang-orang di sekitarnya dan tidak mengenai penyerang gelap itu.

Maka terdengarlah suara seorang yang sengaja dibikin-bikin berkata, “Buyung Hok, sekali ini kau telah salah lakon, mengapa berbalik kau gunakan kepandaian orang untuk menyerang dirimu? Bukankah ini sangat tidak cocok dengan kebiasaan Koh-soh Buyung?”

Yang bicara itu kedengaran berada agak jauh dan rupanya terlindung di belakang batu padas sehingga tidak ikut terkena jarum berbisa makanya dia berani mengejek.

Tapi Buyung Hok tidak gubris padanya, ia pikir untuk memunahkan racun jarum itu harus mencari penyerang yang sembunyi di dalam wajan. Ia merasa tutup wajan yang diinjaknya itu bergerak terus, terang orang di dalam wajan itu sedang berusaha menerobos keluar.

Kepandaian Buyung Hok sangat hebat, dengan jarinya ia gantol pada dahan pohon sehingga dia dapat membuat badannya seenteng kapas atau seberat bukit berlaksa kati, bila orang itu ingin menerobos keluar, kalau dia tidak membobol wajan itu dengan pedang mestika, maka dia harus menggunakan tenaga sanggaan punggungnya untuk mengangkat pohon dengan tenaga tindihan Buyung Hok itu.

Sebenarnya orang yang berada di dalam wajan itu memiliki tenaga raksasa, biasanya dengan tenaga punggungnya ia mampu menumbuk roboh seekor banteng, karena itulah dia sekarang berani main sembunyi dalam wajan tanpa khawatir.

Tapi sekali ini dia salah hitung, meski sudah berulang ia menyundul ke atas, tetap tutup wajan itu bergeming seperti tertindih oleh sebuah bukit. Keruan orang itu kelabakan, berulang ia mengerahkan tenaga tapi tetap susah keluar.

Diam-diam Buyung Hok sudah memperhitungkan setiap kali orang di dalam wajan itu menyundul, setiap kali pula tentu akan banyak mengorbankan tenaga dalam, sebab ia sengaja adu tenaga sundulan orang dengan tindihan pohon besar itu.

Maka tertampak pohon yang dipakai sebagai pegangan itu bergoyang-goyang seakan-akan tumbang, tapi untuk menyundul sebatang pohon bersama akar-akarnya memang terlalu sulit, namun akar pohon sedikit demi sedikit juga mulai banyak yang putus, kalau orang di dalam wajan ini menggunakan tenaga lagi beberapa kali, bukan mustahil dia akan dapat menyingkap tutup wajan dan menerobos keluar.

Namun Buyung Hok juga sudah siap sedia, ia menduga begitu orang itu menerobos keluar tentu akan menghamburkan jarum berbisa lagi untuk melindungi tubuhnya, dan sekali ia hantam, serangan jarum orang itu tentu akan dapat dipukul kembali dan mengenai tubuh orang itu sendiri, jika demikian, maka pasti dia akan mengeluarkan obat penawar untuk menyembuhkan lukanya sendiri dan tidak perlu susah lagi berusaha merebutnya.

Tiba-tiba ia merasa tutup wajan berguncang hebat dua kali lagi, habis itu tahu-tahu lantas berhenti dan tiada terdengar sesuatu gerak-gerik orang di dalam wajan.

Buyung Hok menaksir orang itu tentu lagi menghimpun tenaga untuk menyundul sekuatnya buat menerobos keluar dari wajan. Maka ia sengaja mengendurkan tenaga tindihan sedang telapak tangan kanan sudah siap menghantam.

Tak terduga sampai sekian lama orang di dalam wajan itu tidak bergerak lagi, seperti sudah mati sesak di dalam.

Dalam pada itu jerit tangis orang banyak semakin riuh ramai. Beberapa orang yang lebih rendah kepandaiannya saking tak tahan akan derita sakit dan gatal telah berguling-guling di tanah, ada yang membentur-benturkan kepala di atas batu dan ada yang memukul-mukul dada sendiri.

Beramai-ramai mereka berteriak-teriak mencari Song Tho-kong dan ingin menyeretnya keluar untuk mengambil obat penawarnya. Di tengah suara teriakan yang menyeramkan itu ada belasan orang menjadi kalap terus menerjang ke arah Buyung Hok.

Tapi Buyung Hok segera meloncat ke atas dengan enteng, selagi ia hendak duduk di dahan pohon sekonyong-konyong terdengar suara mendesis-desis halus, dari samping menyambar tiba secomot sinar perak gemerdep, kembali beribu jarum berbisa yang halus telah menyambar lagi ke arahnya.

Serangan ini sama sekali di luar dugaan Buyung Hok. Song Tho-kong yang menyerang dengan jarum berbisa itu sudah pasti masih berada di dalam wajan, sedangkan jumlah jarum berbisa yang berhamburan dan keras agaknya bukan dilakukan oleh tenaga manusia melainkan dihamburkan dengan menggunakan sesuatu pesawat tertentu, apa barangkali ada begundal Song Tho-kong yang bersembunyi di samping situ dan sekarang menyerangnya secara keji?

Saat itu Buyung Hok sedang terapung di udara, untuk menghindar terang sangat susah, kalau menghantam kembali jarum berbisa itu dengan tenaga pukulannya yang dahsyat, ia khawatir seperti kejadian tadi, yaitu mengenai kawan sendiri, karena waktu itu Pek-jwan berempat masih berada di bawah.

Tapi Buyung Hok bukan Buyung Hok kalau dia lantas mati kutu begitu saja, gelar “Lam Buyung dan Pak Kiau Hong” memang bukan gelaran kosong belaka.

Ilmu silat keluarga Buyung sebenarnya sangat hebat dan susah diukur, meski Buyung Hok selama ini lebih giat dalam usahanya hendak membangun kembali kerajaannya sehingga tiada sempat meyakinkan ilmu silat leluhurnya dengan tekun tapi sebagai ahli waris Koh-soh Buyung sudah tentu bukanlah tokoh sembarangan.

Ketika lengan bajunya mengebas sekali, bagaikan layar perahu yang tertiup angin dengan tenaga kebasan itu tubuhnya terus melompat ke samping, berbareng itu dari kebasan lengan bajunya lantas terlontar suatu arus kekuatan yang mahakuat sehingga beribu jarum berbisa itu tersampuk terbang ke udara. Habis itu dengan gaya yang indah dengan ringan seperti burung kemudian Buyung Hok meluncur turun.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: