Kumpulan Cerita Silat

08/06/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 58

Filed under: +Darah Ksatria — Tags: — ceritasilat @ 1:23 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Ong-kongcu, apakah Cilo Singh ini orang gila?” seru A Ci dengan kurang senang karena orang bicara tak keruan juntrungannya.

Sebaliknya Goan-ci sudah kenyang merasakan siksaan Polo Singh di Siau-lim-si dahulu, ia tahu ilmu silatnya sangat tinggi, sekarang diketahui padri ini adalah suheng Polo Singh, keruan ia tambah keder sehingga lupa bahwa A Ci sudah buta, berulang ia goyang tangan memberi tanda agar A Ci jangan bersuara. Lalu katanya, “Taysu ini tentu salah paham, aku tidak datang dari Siau-lim-si, juga tidak pernah melihat… melihat Polo Singh segala.”

Cilo Singh mengunjuk rasa tidak percaya, katanya, “Habis, mengapa tadi kau sebut nama Polo Singh? Dan kitab Ih-kin-keng edisi bahasa Sanskerta yang merupakan pusaka Siau-lim-si itu mengapa bisa berada padamu?”

Pada hakikatnya Goan-ci tidak tahu buku yang jatuh dari saku Siau Hong dan ditemukannya itu buku apa, jangankan soal nama Ih-kin-keng segala, maka jawabnya, “Ah, tentu Taysu salah paham.”

Cilo Singh tampak mulai aseran, katanya, “Apa kau ingin mengangkangi Ih-kin-keng itu? Jika demikian, jangan kau salahkan aku main kasar, ya?”

Goan-ci menjadi gugup, sahutnya, “Bilakah aku mempunyai Ih-kin-keng segala? Ini, yang ada padaku hanya barang-barang seperti ini saja!”

Lalu ia keluarkan seluruh isi saku dan ditunjukkan kepada padri itu. Tapi terang kitab Ih-kin-keng dalam tulisan Sanskerta itu pun terdapat di antaranya.

Cilo Singh menjadi girang, pikirnya, “Waktu Sute menyerahkan kitab pusaka ini kepada bocah ini tentu tidak pernah menerangkan apa-apa padanya, maka bocah ini tidak tahu seluk-beluk tentang Ih-kin-keng ini.”

Segera ia meloncat maju ke depan Goan-ci.

Sebaliknya Goan-ci berkata lagi, “Coba lihat, milikku hanya ini saja. Belati ini memang sangat tajam, jika Taysu suka, boleh….”

Tiba-tiba A Ci mengikik tawa. Ia pikir padri asing ini pasti juga takkan terhindar daripada kekalahan, sebab itulah ia tertawa.

Sebaliknya Goan-ci sedang kelabakan menghadapi Cilo Singh, ia tidak paham mengapa A Ci tertawa, maka ia hanya berdiri tertegun di tempatnya.

Sementara itu Cilo Singh sudah mendekat, matanya menatap belati, di tangan Goan-ci itu dan berkata, “Ai, benar-benar sebuah senjata pusaka yang hebat, apakah Sicu sudi memberikan padaku?”

“Senjata ini memang juga pemberian orang lain, kalau mau silakan Taysu ambil saja,” ujar Goan-ci.

Maka perlahan Cilo Singh mengulurkan tangannya, tampaknya belati itu akan dipegangnya, tapi mendadak tangannya membelok ke samping sehingga kitab Ih-kin-keng yang dipegang Goan-ci pada tangan lain itu disambarnya.

Perubahan gerakan Cilo Singh ini teramat cepat sehingga tahu-tahu Ih-kin-keng itu sudah kena direbut olehnya.

Keruan Goan-ci tercengang, cepat ia berseru, “He, tidak boleh, tidak boleh! Buku kecil itu akan kupakai sendiri.”

Dari pengalamannya sejak berada di kota raja negeri Liau, beberapa kali Goan-ci lolos dari cengkeram maut berkat ajaran gambar dalam Ih-kin-keng itu, maka sudah tentu ia tidak mau kitab itu direbut orang dengan begitu saja.

Namun Cilo Singh sudah lantas melompat mundur, sahutnya, “Kau mau pakai, aku pun hendak memakainya.”

Goan-ci sudah kenyang dianiaya dan didamprat orang, demi mendengar jawaban padri itu, ia tertegun, terpaksa ia berkata, “Tapi… tapi mana boleh begitu? Kau rebut barangku dengan cara sewenang-wenang, hal ini mana boleh?”

“Ong-kongcu, barang apa yang direbut olehnya?” tanya A Ci tiba-tiba.

“O, hanya sejilid buku kecil saja, yaitu….”

“Masakah kau tinggal diam barangmu direbut padri setan itu?” potong A Ci dengan mendongkol dan heran pula.

Tapi Goan-ci sekali-kali tidak berani melawan Cilo Singh, ia lihat padri itu sedang membalik-balik halaman kitab kecil itu, wajahnya menampilkan rasa sangat girang. Maka dengan lagak seorang dermawan segera Goan-ci berkata, “Ya sudahlah. Toh buku itu bukan sesuatu barang penting, jika kau mau boleh ambil saja.”

Tiba-tiba A Ci mengentak kaki, katanya, “Ai, kau ini sungguh sangat aneh. Ilmu silatmu begini tinggi, tapi diam saja meski barangmu dirampas orang!”

Mendadak hati Goan-ci tergerak. Diam-diam ia heran mengapa A Ci, Hong Po-ok, Pau Put-tong dan lain-lain sama mengatakan ilmu silatnya sangat tinggi, apa yang mereka katakan itu tidak mungkin benar, tapi bila teringat pada apa yang dilakukannya paling akhir ini selalu berhasil, setiap tindakannya selalu menguntungkan dirinya, jangan-jangan Tuhan menaruh belas kasihan padaku sehingga diriku benar-benar telah diberkati dengan ilmu silat yang mahatinggi?

Betapa pun Goan-ci bukanlah anak dungu, meski pengalamannya selama ini membuatnya bingung, tapi akhirnya toh terpikir juga akan kemungkinan seperti apa yang dikatakan orang-orang atas ilmu silatnya itu.

Maka dengan membusungkan dada segera ia berkata, “Benar, A Ci, memang tepat katamu, biarlah kurebut kembali barangku itu.”

Lalu dengan langkah lebar ia mendekati Cilo Singh.

Ketika mendadak Cilo Singh mengangkat kepala dan memandang dengan sorot mata yang bersinar tajam, kembali Goan-ci merasa jeri lagi, ia coba menunjuk Ih-kin-keng di tangan padri itu dan berkata, “Buku ini tidak boleh diberikan padamu. Nah, kembalikan padaku!”

“Jika demikian, ambillah kembali!” sahut Cilo Singh.

Goan-ci menjadi girang dan segera hendak mengambil kitab itu. Tak tersangka baru saja tangan diangsurkan tahu-tahu tangan kanan Cilo Singh ditarik sedikit sehingga tangan Goan-ci memegang tempat kosong. Berbareng itu tangan kiri Cilo Singh seperti bisa mulur belasan senti lebih panjang, dan tahu-tahu punggung Goan-ci kena digebuk sekali dengan keras.

Karena tidak berjaga-jaga, hantaman Cilo Singh itu membuat Goan-ci terjungkal ke depan sejauh beberapa meter, darah serasa bergolak dalam rongga dadanya.

Mendengar ada orang terkena pukulan dan kemudian terjungkal jatuh, A Ci mengira setiap orang pasti tidak tahan digebuk oleh “Ong Sing-thian,” maka dengan bertepuk tangan ia berseru girang, “Wah, Ong-kongcu benar-benar sangat hebat!”

Sudah tentu Goan-ci hanya menyengir saja atas pujian itu. Ia merangkak bangun dan merasa menyesal telah sembarangan turun tangan. Tadinya ia sangka awak sendiri memiliki ilmu silat yang tinggi seperti dikatakan A Ci dan lain-lain, siapa tahu sekali maju lantas telan pil pahit sehingga, kehilangan kepercayaan atas diri sendiri.

Ia tidak tahu bahwa lwekangnya sekarang sama sekali tidak di bawah Cilo Singh, soalnya ia tidak tahu cara bagaimana harus menggunakannya untuk melawan musuh, makanya tidak berhasil merebut kembali kitab pusaka, sebaliknya malah kena digebuk sekali oleh “Thong-pi-kang” (ilmu tangan panjang) Cilo Singh.

Waktu ia pandang pula padri itu, ia lihat Cilo Singh sedang memandang A Ci dengan sinar mata keheran-heranan, ia tambah gugup, khawatir Cilo Singh mengatakan dirinya kena digebuk dan terjungkal, hal ini tentu akan sangat mengecewakan A Ci.

Sebab itulah maka berulang Goan-ci menggoyang-goyang tangan sambil mendekati Cilo Singh, katanya dengan suara keras, “Ya, sudah tentu, sekali kuturun tangan, mana dia tahan?”

Sebaliknya Cilo Singh jadi melongo, sebab saat itu Goan-ci sedang memberi hormat padanya sambil memberi tanda agar dia jangan bersuara.

Maka terdengar A Ci bertanya pula, “Apakah barangmu sudah kau rebut kembali?”

“Sudah tentu,” sahut Goan-ci cepat.

Tapi Cilo Singh mendadak acungkan Ih-kin-keng yang dipegangnya itu dan berkata, “Ini….”

Namun cepat Goan-ci memberi tanda tutup mulut padanya, saking gugupnya hampir saja ia berlutut untuk memohon. Lalu teriaknya keras-keras, “A Ci, biar kupergi mengejarnya, kau tunggu saja di sini dan jangan pergi ya!”

Habis berkata, segera Goan-ci lari ke sana sambil menoleh dan menggapai-gapaikan tangan kepada Cilo Singh.

Cilo Singh tahu pasti ada sesuatu yang ganjil maka tanpa bicara ia pun menyusul ke tempat Goan-ci itu. Sesudah belasan meter ia tidak tahan lagi akan rasa herannya, segera ia buka suara, “Kau ini main gila apa?”

“Taysu,” cepat Goan-ci menjawab dengan tersenyum pahit, “barang yang kau inginkan sudah kau peroleh, pula engkau sudah gebuk aku satu kali, sekarang apa salahnya kalau engkau mengalah sedikit kepadaku?”

Cilo Singh memandang sekejap ke arah A Ci, lalu tersenyum penuh licik, katanya, “Ya, pahamlah aku! Kau ingin nona itu mengira kau telah mengalahkan aku, betul tidak?”

“Ya, betul,” sahut Goan-ci. “Jika Taysu suka membantu dalam hal ini, sungguh aku akan sangat berterima kasih.”

Cilo Singh pikir sejenak, lalu berkata, “Aku ingin membantumu, tapi kau pun harus membantuku, yaitu membawaku pergi mencari Suteku, Polo Singh.”

Goan-ci terkejut, sahutnya kemudian, “Tapi… tapi Polo Singh berada di Siau-lim-si, mana aku dapat membawamu ke sana?”

“Kau sudah bertemu dengan dia, tentu tahu dia berada di mana,” ucap Cilo Singh. “Di biara yang besar seperti Siau-lim-si itu, kalau tidak kau beri tahu tempatnya, cara bagaimana aku dapat menemukan dia?”

Tapi Goan-ci menggoyang-goyang tangan, katanya, “Tidak, tidak bisa, aku tidak berani pulang ke Siau-lim-si lagi.”

Mendadak Cilo Singh menjulurkan tangannya, kelima jarinya mirip kaitan terus mencengkeram pundak Goan-ci dengan kencang.

Jika tadi Goan-ci belum merasakan gebukan, tentu sekarang dia berani dan mungkin melawan, dengan demikian dia tentu dapat melepaskan diri dari cengkeraman orang dan mungkin juga Cilo Singh bisa celaka.

Tapi sekarang dia sudah kehilangan kepercayaan atas diri sendiri sehingga untuk meronta saja tidak berani apalagi melawan. Sebaliknya kalau berteriak khawatir didengar oleh A Ci, maka terpaksa ia hanya memohon saja dengan suara lirih, “Taysu, lepas, lepas!”

Namun Cilo Singh tidak mengendurkan cengkeramannya, bahkan diperkeras malah. Dengan demikian ia sangka Goan-ci pasti akan berteriak kesakitan dan minta ampun. Tak terduga lwekang Goan-ci secara otomatis lantas mengeluarkan daya perlawanan, kontan suatu arus tenaga mahakuat menggetar ke atas sehingga cengkeramannya hampir terlepas.

Keruan Cilo Singh kaget. Tapi waktu ia pandang muka Goan-ci, ia lihat pemuda itu tetap mengunjuk rasa khawatir dan gugup.

Dasar Cilo Singh memang licin, segera ia tahu ada sesuatu yang ganjil atas diri pemuda itu, ia berkata dengan suara perlahan, “Aku akan melepaskanmu jika kau berjanji akan membawaku pergi mencari Polo Singh.”

Terpaksa Goan-ci menjawab dengan tersenyum getir, “Baiklah! Tapi aku pun mempunyai suatu syarat.”

“Syarat apa?” tanya Cilo Singh.

“Yaitu, Taysu tidak boleh mengatakan aku tidak mahir ilmu silat di depan A Ci.”

Cilo Singh menjadi heran, katanya, “Kau tidak bisa ilmu silat…. O, ya, kau tidak bisa ilmu silat.”

“Dan Taysu harus pura-pura sudah kukalahkan dan mau ikut ke Siau-lim-si,” kata Goan-ci pula. “Jika kau mau memenuhi permintaanku jangankan membawamu mencari Polo Singh, biar menjadi budakmu juga aku rela.”

“Baiklah, aku terima,” kata Cilo Singh kemudian setelah berpikir sejenak. Lalu ia lepaskan cekalannya atas pundak Goan-ci.

“A Ci,” segera Goan-ci berseru, “Cilo Singh Taysu ini telah… telah kususul kembali!”

Sudah tentu Ai Ci tidak tahu seluk-beluk apa yang terjadi, ia sangka hal itu pasti betul, sebab “Ong-kongcu” mahasakti, segala apa tentu dapat dilakukannya dengan baik. Maka ia pun tanya dari jauh, “Dan di manakah kedua ekor ular yang dapat dikendarai itu?”

“Masih ada di sini,” sahut Goan-ci. “Dia juga boleh membiarkanmu menumpang di atas ular-ular ini,” sembari berkata ia pun pemberi tanda kepada Cilo Singh agar menyatakan setuju.

Maka Cilo Singh mengangguk. Lalu Goan-ci berkata pula, “Cilo Singh Taysu ini cukup kenal gelagat, dia… dia tidak mampu melawan aku, maka terima di bawah perintahku.”

“Wah, bagus!” seru A Ci senang. “Dan di manakah ular-ular itu? Coba naikkan aku ke atas ekor mereka.”

Segera Goan-ci memberi tanda. Dan Cilo Singh lantas bersuit dua kali, lalu kedua ekor ular raksasa itu saling melilit sehingga bagian ekornya terangkat ke atas seperti tempat duduk kereta. Lalu Goan-ci mengangkat A Ci duduk di atasnya. Tentu saja senang anak dara tak terkatakan dan tertawa terus-menerus.

Melihat A Ci sangat gembira, diam-diam Goan-ci bersyukur karena akalnya berhasil dengan baik walaupun untuk selanjutnya ia harus tunduk kepada perintah orang, tapi sementara ini ia sudah dapat membuat senang hati A Ci, pula perjalanan ke Siau-lim-si sangat jauh, di tengah jalan besar kemungkinan masih ada kesempatan untuk melarikan diri.

“Kita akan pergi ke mana ini?” dengan tertawa A Ci tanya.

“Marilah kita pergi ke Siau-lim-si saja, mau?” sahut Goan-ci.

Biarpun A Ci adalah anak dara yang tidak kenal apa artinya takut, tapi Siau-lim-si adalah pusatnya dunia persilatan dan tempat suci agama Buddha, ia terkesiap juga demi mendengar ajakan itu.

“Ada apa pergi ke Siau-lim-si?” tanyanya kemudian.

“Menurut Cilo Singh Taysu ini, katanya dia ada seorang sute terkurung di biara itu, maka… maka aku dimintai bantuan agar pergi menolongnya,” tutur Goan-ci.

“Menolong orang ke Siau-lim-si, apakah kau yakin akan berhasil?” tanya A Ci dengan berkerut kening.

“Sudah tentu,” sahut Goan-ci.

“Jika begitu, ayolah kita berangkat,” kata A Ci. “Eh, cara bagaimana mengendarai ular ini agar mau berjalan?”

Segera Cilo Singh bersuit pula dan kedua ekor ular raksasa itu lantas merayap ke depan.

A Ci merasa kendaraan ular itu sangat “stabil”, saking senangnya sampai dia ngakak terus.

Dasar dia memang gadis yang pintar, maka dalam waktu dua-tiga hari saja ia sudah paham cara bagaimana mengendarai ular-ular itu, baik maju, mundur maupun berhenti atau membelok, semua itu tidak perlu bantuan Cilo Singh lagi.

Melihat A Ci sangat gembira, sudah tentu Goan-ci juga sangat senang. Selama dua-tiga hari itu sebenarnya banyak kesempatan untuk melarikan diri. Tapi Goan-ci merasa berat dan yang dijaga benar-benar oleh Cilo Singh adalah A Ci sehingga Goan-ci tidak dapat kabur.

Jalan yang mereka lalui adalah jalan kecil di pegunungan yang sepi, tapi terkadang juga ketemu orang. Sedangkan mereka bertiga mempunyai corak tersendiri-sendiri. Goan-ci bermuka seperti tengkorak hidup, yang lain seorang padri asing yang kurus kering, sedangkan A Ci cantik molek, tapi buta kedua matanya, apalagi duduk di atas ekor ular.

Pemandangan demikian benar-benar luar biasa, maka orang yang diketemukan di tengah jalan kebanyakan lantas lari terbirit-birit, ada satu-dua orang yang lebih tabah juga cuma menonton saja dari jauh.

Beberapa kali A Ci minta Goan-ci membawanya ke kota, maksudnya hendak mengadakan “pawai” mengendarai ular untuk ditonton orang kota, tapi Goan-ci memberi macam-macam alasan untuk menolak permintaan anak dara itu.

Kalau orang lain, tentu A Ci sudah mendampratnya dan tinggal pergi sendiri dengan mengendarai ularnya. Tapi terhadap “Ong Sing-thian” ini diam-diam sudah bersemi asmaranya, walaupun beberapa kali ia marah-marah, tapi juga tidak tega untuk tinggal pergi sendiri.

Selama atau delapan hari berlalu dengan tiada terjadi apa-apa. Lama-lama A Ci menjadi bosan duduk di atas ekor ular, terkadang ia pun turun untuk jalan berendeng dengan Goan-ci.

Hari itu sudah dekat magrib, Goan-ci dan A Ci jalan di depan dan Cilo Singh bersama ularnya ikut di belakang. Beberapa kali Goan-ci menoleh dan melihat padri itu kira-kira ketinggalan belasan meter jauhnya, kalau dia tarik A Ci terus melarikan diri mungkin dapat lolos, khawatirnya kalau tidak berhasil dan Cilo Singh membongkar guci wasiatnya tentang pembohongannya kepada A Ci, kan bisa runyam?

Karena itulah ia menjadi ragu dan sampai tidak terasa ketika ada seorang berpapasan dengan dia. Sebaliknya A Ci lebih dulu mendengar ada suara tindakan orang lain, lalu ia berhenti dan berkata, “Ong-kongcu, ada orang datang!”

Waktu Goan-ci memandang ke depan, tertampak seorang hwesio dengan jubah kelabu, muka bercahaya dan sikap agung berwibawa, walaupun tampaknya perlahan datangnya, tahu-tahu sudah mendekat dan sekejap saja sudah berselisih lalu di samping mereka.

Sudah beberapa hari A Ci tidak ketemukan orang luar. Cilo Singh itu adalah padri yang tidak suka bicara pula, A Ci memang lagi kesal, maka cepat ia tanya Goan-ci, “Ong-kongcu, macam orang apakah dia itu?”

“Seorang padri suci,” sahut Goan-ci.

“Huh, hanya seorang hwesio biasa, dari mana kau tahu dia suci dan tidak?” kata A Ci.

Waktu Goan-ci menoleh, ia lihat padri yang sudah lalu itu juga sedang berpaling untuk memandangnya. Melihat muka padri yang bercahaya dan agung itu, dengan sendirinya timbul rasa kagum dan suka Goan-ci, maka cepat ia berkata, “Ya, A Ci, memang benar seorang padri suci.”

“Coba kau panggil dia, akan kutanya dia apakah betul dia padri suci atau cuma seorang hwesio sontoloyo?” ujar A Ci dengan tertawa.

Keruan Goan-ci terkejut, katanya, “He, A Ci, Taysu itu tampak sangat agung, mana boleh mengolok-olok dia?”

Namun A Ci sudah lantas berteriak, “Hai, Toahwesio, apa kau dengar ucapanku? Apa kau datang dari Siau-lim-si?”

Diam-diam Goan-ci mengeluh dan tidak sempat mencegah lagi. Cilo Singh yang melihat hwesio itu, air mukanya berubah dan menyapa, “Bilakah Tay-lun-beng-ong berkunjung ke negeri tengah ini?”

Hwesio itu memang Tay-lun-beng-ong alias Ciumoti adanya. Karena disapa, segera ia pun menjawab dengan tertawa, “O, kiranya Cilo Singh Suheng, kenapa engkau juga mengembara ke negeri Song ini?”

Melihat Cilo Singh begitu prihatin terhadap hwesio tak dikenal ini, pula menyebutnya sebagai “Tay-lun-beng-ong” diam-diam Goan-ci pikir orang ini pasti tidak sembarangan asal-usulnya. Karena itu segera ia hendak membawa lari A Ci pada kesempatan kedua hwesio itu sedang bicara.

Tapi A Ci keburu berkata lagi, “Eh, Toahwesio, apakah gelaranmu Tay-lun-beng-ong?”

Sejak mula Ciumoti tidak pernah berpaling ke arah Cilo Singh, juga tidak menaruh perhatian pada A Ci, sebaliknya sinar matanya terus menatap tajam atas diri Goan-ci saja.

Goan-ci merinding sendiri karena dipandang sedemikian rupa, ia menjadi bingung pula.

Segera Ciumoti merangkap tangan memberi hormat dan menyapa, “Numpang tanya siapakah nama Sicu yang mulia ini?”

Nyata, sekali lihat saja ia sudah lantas tahu bahwa sinar mata Goan-ci itu sangat luar biasa. Lwekangnya mahatinggi, tentu seorang kosen yang jarang diketemukan, cuma mukanya sedemikian jeleknya, makanya ia tanya. Bahkan pada kedua tangannya yang terangkap di depan dada itu diam-diam telah dikerahkan tenaga dalamnya untuk menyerang ke depan.

Namun lwekang Goan-ci memang mahatinggi, tenaga dalam Ciumoti yang sangat kuat itu ternyata tidak dirasakan olehnya sama sekali. Ia hanya menjawab, “Aku… aku bernama….”

Ia lihat sinar mata orang berkilat-kilat seakan-akan dapat membaca isi hatinya, maka nama samaran sebagai “Ong Sing-thian” menjadi tidak berani diucapkan.

“Barangkali Sicu ada sesuatu yang susah dikatakan sehingga tidak ingin memberitahukan namamu, bukan?” tanya Ciumoti pula.

“Ya, boleh… boleh dikatakan demikian,” sahut Goan-ci dengan samar-samar.

Memangnya A Ci sedang mendongkol karena hwesio yang disebut “Tay-lun-beng-ong” itu tidak gubris padanya, sekarang dia bertanya kepada Goan-ci, maka hati A Ci menjadi senang lagi, ia pikir pasti potongan Ong Sing-thian yang gagah perkasa itu membikin hwesio ini menjadi gugup sehingga lupa menjawab pertanyaannya tadi.

Demi mendengar Goan-ci enggan mengatakan namanya, segera ia berseru, “Toahwesio, tuan ini adalah Ong Sing-thian, Ong-kongcu, Ciangbunjin Kek-lok-pay di wilayah barat sana, mungkin pengalamanmu terlalu cetek, maka tidak kenal dia.”

Ciumoti menjadi curiga. Meski dia datang dari negeri Turfan yang jauh, tapi ia cukup kenal setiap aliran dan golongan dunia persilatan, dahulu malah pernah bergaul dengan Buyung-siansing dan saling tukar pikiran tentang ilmu silat.

Buyung-siansing itu adalah seorang kosen yang aneh, setiap aliran dan golongan persilatan di dunia ini boleh dikatakan dikenal semua olehnya tapi tidak pernah menyebut tentang “Kek-lok-pay”, sedangkan laki-laki bermuka jelek yang berada di depannya sekarang terang memiliki ilmu silat luar biasa, dengan sendirinya Ciumoti ragu dan curiga.

“Kau bilang Kek-lok-pay?” demikian Ciumoti menegas pula.

“Nah, betul tidak kukatakan pengalamanmu terlalu cetek?” ujar A Ci. “Kek-lok-pay itu adalah perguruan ciptaan Tat-mo Locou sendiri. Jika kau datang dari Siau-lim-si, maka lekas kau pulang ke sana, katakan bahwa Ciangbunjin dari Kek-lok-pay, Ong Sing-thian dan Ciangbunjin dari Sing-siok-pay, Toan A Ci hendak berkunjung ke sana dan suruh hwesio di sana siap-siap menyambut kedatangan kami di kaki gunung Siau-sit-san!”

Sejak A Ci buta dan berada bersama Goan-ci yang dianggapnya sebagai “Ong Sing-thian” yang mahasakti, semenjak itu ia lantas hidup di alam khayal yang dianggapnya sebagai kehidupan nyata, maka setiap tutur katanya sekarang menjadi mirip dengan orang yang mahakuasa dan tak terkalahkan.

Meski luas pengalaman Ciumoti, untuk sejenak ia menjadi bingung juga mendengar ucapan anak dara itu. Kemudian baru ia tanya, “Lisicu, lalu Toan A Ci, Ciangbunjin Sing-siok-pay itu berada di mana?”

A Ci mengikik tawa, sahutnya, “Orangnya sebesar ini dan berdiri di depanmu, masakah tidak kau lihat?”

Ciumoti tambah curiga mendengar itu, katanya, “O, kiranya Lisicu sendiri adalah ketua Sing-siok-pay, habis Ting Jun-jiu itu….”

“Biarlah kuterangkan padamu agar bisa menambah pengetahuanmu tentang perubahan besar di dunia persilatan pada masa akhir-akhir ini,” kata A Ci. “Ting Jun-jiu itu telah dikalahkan olehku bersama Ong-kongcu, sudah lama dia kehilangan mahkotanya sebagai ketua Sing-siok-pay.”

“O, jika demikian ilmu silat Ong-kongcu ini benar-benar luar biasa,” kata Ciumoti sambil mengangguk.

Meski A Ci sengaja menyatakan bahwa dia sendiri dan Ong-kongcu telah mengalahkan Ting Jun-jiu, tapi yang dipuji Ciumoti hanya Goan-ci saja, sebab sekali pandang saja ia sudah tahu ilmu silat A Ci hanya biasa saja, kalau ada yang mampu mengalahkan Sing-siok Lokoay, maka orang itu tentu adalah “Ciangbunjin Kek-lok-pay” ini.

Maka dengan berseri-seri A Ci mengoceh pula, “Sudah tentu luar biasa. Kau lihat padri yang bernama Cilo Singh itu, bukan? Dia datang dari Thian-tiok dan pandai menaklukkan ular, tapi hanya sekali gebrak saja Ong-kongcu sudah mengalahkan dia sehingga sepanjang jalan terpaksa dia menurut segala perintah kami.”

“Kiranya demikian,” kata Ciumoti dengan tersenyum. “Di negeri Thian-tiok sendiri Cilo Singh Suheng juga terhitung seorang jago kelas satu, tapi mengapa begini sial, hanya sekali gebrak saja sudah keok?”

Cilo Singh dapat mendengar nada Ciumoti itu sengaja hendak mengolok-olok padanya, keruan gusarnya tidak kepalang, masakah dia yang menang telah diputarbalikkan A Ci dan diumumkan secara terbuka, kalau Ciumoti nanti menyiarkannya kepada orang lain pula, kan pamor Cilo Singh bisa hilang habis-habisan, apalagi Turfan berdekatan dengan Thian-tiok, kalau berita kekalahannya sampai di negeri asalnya, tentu dia akan kehilangan muka.

Saking gusarnya Cilo Singh tidak hiraukan lagi janjinya kepada Goan-ci yang minta dia pura-pura mengaku telah dikalahkan olehnya, dengan tertawa dingin ia lantas menjawab, “Hehe, memangnya hanya sekali gebrak saja aku sudah dikalahkan Ong-kongcu itu?”

“Ya, paling-paling juga cuma dua kali gebrak, masakah kau sanggup bertahan sampai tiga kali gebrak?” kata A Ci.

Keruan yang kelabakan adalah Goan-ci sehingga berkeringat, serunya, “A Ci, sudahlah, jangan bicara lagi.”

“Tidak bisa, padri ini suka plintat-plintut, kau harus memberi hajaran lagi padanya,” kata A Ci.

“Memberi… memberi hajaran?” Goan-ci sampai berkomat-kamit sendiri.

Dan belum lagi A Ci membuka suara, di sebelah lain Cilo Singh sudah lantas menjengek, “Hm, nona cilik, hendaklah kau jangan mimpi di siang bolong lagi. Ketika dia bertarung dengan aku, hanya sekali gebrak sudah terjungkal, tapi dia khawatir diketahui kau, maka mohon aku pura-pura dikalahkan oleh dia. Ha, cara bagaimana dia berani lagi memberi hajaran padaku?”

Mendengar Cilo Singh telah membongkar semua rahasianya, diam-diam Goan-ci mengeluh, “Wah, celaka! Tamat! Tamatlah riwayatku!” – dan kakinya terasa lemas, dia jatuh mendeprok di atas tanah.

Sebaliknya A Ci telah mencibir dan menjawab Cilo Singh, “Huh, kau sendirilah yang mimpi di siang bolong! Kau ini kutu apa sehingga mampu mengalahkan Ong-kongcu dalam sekali gebrak? Dan buat apa dia mesti minta kau pura-pura kalah apa segala?”

Ciumoti juga tidak memercayai uraian Cilo Singh itu, segera ia pun berkata, “Cilo-suheng, orang beragama tidak boleh berdusta!”

Cilo Singh tertawa dingin, katanya, “Jika aku dapat menangkapnya, tentu Beng-ong akan percaya bukan?”

A Ci menjadi gusar, serunya, “Ong-kongcu, padri ini terlalu kurang ajar, harus kau hajar adat padanya!”

Tapi kepala Goan-ci serasa mendengung-dengung, terhadap ucapan A Ci itu sudah tentu sukar menjawab. Ia sadar meski sementara ini A Ci belum lagi percaya kepada cerita Cilo Singh itu, tapi sebentar lagi bila Cilo Singh dapat menangkapnya, tentu anak dara itu akan percaya, dan segala kebohongan yang dikarangnya secara indah dan muluk-muluk pasti juga akan terbongkar.

Begitulah, maka Goan-ci cuma termangu-mangu duduk di atas tanah, sampai Cilo Singh sudah mendekatinya juga dia tidak tahu.

Melihat Cilo Singh sudah hampir turun tangan segera Ciumoti melangkah maju dan berkata, “Nanti dulu, ilmu silat Ong-sicu ini sangat tinggi, masakah Hud-heng (saudara dalam Buddha) tidak dapat melihatnya?”

Sudah tentu Cilo Singh juga dapat melihat hal itu, tapi ia memang benar sekali hantam saja pernah membuat Goan-ci terjungkal. Sebab itulah ia menjawab dengan mendengus, “Hm, biarpun ilmu silatnya tinggi, tetap tidak melebihiku.”

Mestinya Ciumoti hendak bicara lagi, tapi ia lantas ganti pikiran dan mengundurkan diri.

Segera Cilo Singh membentak, “Ayo, bangun dan bergebrak denganku!”

Tapi Goan-ci cuma menunduk saja dan badan agak gemetar.

“Ong-kongcu tidak perlu berdiri untuk bergebrak denganmu,” segera A Ci berseru. “Biarpun duduk juga dia akan dapat merobohkanmu dengan sangat mudah.”

Cilo Singh tertawa dingin beberapa kali, mendadak tangannya mencengkeram pundak Goan-ci, kelima jarinya yang kurus bagai kaitan itu seakan-akan ambles ke dalam daging Goan-ci. Tapi lwekang Goan-ci teramat tinggi sehingga tidak merasa sakit.

Waktu Cilo Singh angkat tangannya, seketika Goan-ci kena diangkat ke atas.

“Lepas Taysu, lepas!” cepat Goan-ci memohon.

“Hm,” jengek Cilo Singh. “Nah, katakan lekas, kau yang menang atau aku yang menang?”

Tenggorokan Goan-ci terasa kering dan tersumbat. Ketika ia berpaling ke arah A Ci, sekilas dilihatnya anak dara itu sedang menantikan jawab dengan rasa cemas dan tidak sabar. Goan-ci pikir ada baiknya juga rasa kecewa A Ci itu ditunda barang sebentar saja. Maka dengan suara keras ia menjawab, “Sudah tentu kau yang dikalahkan olehku.”

Cilo Singh menjadi, murka, ia angkat tangannya lebih tinggi lagi.

Sebenarnya tubuh Cilo Singh tidak lebih tinggi daripada Goan-ci, tapi ia mahir “Thong-pi-kang”, tangan lain mengkeret makin pendek, sebaliknya tangan yang mengangkat Goan-ci itu mengulur makin panjang sehingga Goan-ci terangkat ke atas dan terkatung-katung di permukaan bumi.

“Nah, bagaimana?” tanya Cilo Singh pula dengan mengekek tawa aneh.

Air muka A Ci tampak mulai sangsi, serunya, “Ong-kongcu, bagaimana dirimu?

Sungguh perasaan Goan-ci sangat sedih, ia pikir tidak dapat bohong lagi, maka dengan tersenyum getir ia menjawab, “A Ci, biarlah kukatakan terus terang padamu, aku sebenarnya….”

Belum selesai ucapannya, tiba-tiba air muka A Ci tampak berubah hebat. Melihat itu, mendadak Goan-ci berhenti bicara.

Maka dengan suara gemetar A Ci bertanya, “Sebe… sebenarnya kenapa?”

Tiba-tiba Goan-ci ganti haluan dan menjawab, “Aku sebenarnya sedang mempermainkan dia. Coba kau pikir, sedangkan Ting Jun-jiu saja bukan… bukan tandinganku, apalagi cuma seorang padri asing, masakah aku takut?”

A Ci tidak dapat melihat keadaan Goan-ci yang terkatung-katung di udara itu, maka ia tertawa senang demi mendengar jawaban itu.

Ciumoti juga sangat heran karena selama itu Goan-ci tetap tidak balas menyerang. Ia pun mengira apa yang dikatakan Goan-ci untuk sekadar menghibur A Ci itu memang sungguhan, maka katanya, “Ong-kongcu memang orang yang kocak dan suka berkelakar.”

Tergerak hati Goan-ci, tiba-tiba ia pikir Tay-lun-beng-ong ini tampaknya pasti seorang jago kelas wahid, mungkin dia akan dapat menolong diriku.

Maka cepat sahutnya, “Eh, Taysu ini, kalau menurut pendapatmu, cara… cara bagaimanakah aku harus bertindak agar bisa mengatasi dia?”

“Buat apa mesti kau tanya orang lain?” sela A Ci.

“Aku sengaja hendak menguji sampai di mana pengetahuan ilmu silat Taysu ini,” ujar Goan-ci.

“O, kiranya demikian,” kata A Ci dengan tertawa.

Seketika Ciumoti juga tidak tahu benar atau tidak ucapan Goan-ci itu, maka dengan tersenyum, ia menjawab, “Jika kau hantam ‘Siau-hay-hiat’ mau-tak-mau dia terpaksa harus melepaskanmu.”

“Tapi terletak di manakah ‘Siau-hay-hiat’ itu?” tanya Goan-ci pula.

Ciumoti mengira Goan-ci sedang mengujinya, tanpa pikir ia pun menjawab lagi, “Terletak sedikit bawah ‘Leng-to-hiat’ dan sedikit di atas ‘Jing-leng-hiat’.”

Keruan Goan-ci menjadi kelabakan. Dahulu ia pernah belajar mengenali tempat hiat-to dengan paman dan ayahnya, tapi dasar anak bambungan, ia lebih suka main ular dan cari jangkrik daripada menghafalkan pelajarannya. Sebab itulah ia sudah lupa hiat-to manakah yang bernama Jing-leng-hiat dan Leng-to-hiat.

Terpaksa ia tanya pula, “Dan terletak di manakah kedua hiat-to itu?”

Tapi sebelum Ciumoti menjawab, segera Cilo Singh menyela dengan suara kurang senang, “Tay-lun-beng-ong, sebenarnya apa maksudmu?”

“Ong-sicu ini sedang menguji kepandaianku, terpaksa mesti kujawab,” sahut Ciumoti dengan tertawa.

“Huh, dia tahu ilmu silat apa?” jengek Cilo Singh gusar. “Jika dia paham ilmu silat mengapa tidak tahu bahwa Siau-hay-hiat itu terletak di lengan?”

Kata-kata Cilo Singh ini lantas menyadarkan Goan-ci malah sehingga mengetahui bahwa hiat-to yang disuruh serang oleh Tay-lun-beng-ong itu terletak di atas lengan. Karena Cilo Singh mencengkeram pundak kanannya sehingga tangan kanannya tidak leluasa bergerak, terpaksa ia angkat tangan kirinya.

Melihat Goan-ci benar-benar hendak menghantamnya, Cilo Singh menjadi gusar, mendadak cengkeramannya diperkeras sehingga jarinya yang kurus kering itu seakan-akan ambles semua ke dalam pundak Goan-ci.

Tapi Goan-ci tetap seperti tidak merasakan apa-apa, sebaliknya Cilo Singh lantas merasa pundak orang timbul suatu daya sedot yang mahakuat, tenaga yang dikerahkannya untuk mencengkeram itu seakan-akan disedot keluar dari tangannya. Dalam kagetnya tanpa menunggu hantaman Goan-ci tiba segera ia angkat tangannya dan Goan-ci dilemparkan hingga jatuh.

Ketika pukulan Goan-ci dilontarkan ia sudah terlempar lebih dahulu sejauh belasan meter. Jatuhnya yang keras itu kalau orang lain tentu tak tahan, tapi Goan-ci anggap seperti tidak terjadi apa-apa, dengan cepat ia merangkak bangun lagi.

“Nah, bagaimana menurut pendapatmu, Beng-ong?” jengek Cilo Singh.

Sebagai seorang cerdas segera Ciumoti dapat melihat tenaga dalam Goan-ci sangat hebat, tapi dalam hal ilmu silat sejati boleh dikatakan tidak becus sama sekali. Jadi mirip sepotong intan yang belum digosok sehingga tidak diketahui bahwa batu itu sebenarnya adalah batu mestika yang jarang terdapat.

Maka ia sengaja menggoyang kepala dan berkata, “Meski dapat kau lemparkan dia, tapi menurut pendapatku, kalau bukan dia sengaja mengalah, tentu dia sengaja hendak mempermainkanmu.”

Sebenarnya Goan-ci sedang lesu, demi mendengar ucapan Tay-lun-beng-ong itu, tiba-tiba ia mendapat akal lagi, cepat serunya, “Ya, memang aku cuma main-main saja denganmu, tapi kau malah anggap sungguhan dan senang setengah mati, hahaha!”

“Hm, jadi sengaja kau permainkan aku maksudmu?” sahut Cilo Singh, saking gusarnya ia tertawa. “Jika demikian, coba jawab, Ih-kin-keng yang mahapenting ini mengapa bisa berada di tanganku?”

“He, Ong-kongcu, ‘keng-keng’ apa yang dia maksudkan? Bukankah kau bilang sudah direbut kembali?” seru A Ci.

“Ya, memang sudah kurebut kembali sejak tadi, jangan kau percaya kepada ocehannya,” sahut Goan-ci cepat.

Cilo Singh jadi naik darah sehingga tanpa pikir ia keluarkan Ih-kin-keng dalam tulisan Sanskerta itu, katanya, “Jika begitu, habis barang apakah ini?”

Baru saja ia keluarkan kitab itu, di sebelah lain tubuh Ciumoti mendadak seperti melembung belasan senti lebih besar sehingga lengan bajunya mirip tertiup angin. Tapi dia cukup cerdik, segera ia tenangkan diri seperti semula sehingga perubahan sikapnya itu tidak diketahui oleh Cilo Singh.

Sebaliknya Goan-ci menjadi serbarunyam ketika Cilo Singh mengeluarkan Ih-kin-keng itu. Tapi ia pikir A Ci toh tidak dapat melihat, asal terus menyangkal saja tentu keadaan masih bisa dikuasai.

Maka ia sengaja terkekeh-kekeh beberapa kali, sahutnya, “Hehe, barang apa yang kau pegang itu? Haha, sungguh menggelikan, benar-benar lucu, hahaha… haha….”

“Apa kau sudah buta sehingga barangmu sendiri tidak kau kenali lagi?” damprat Cilo Singh dengan gusar.

“Hud-heng,” tiba-tiba Ciumoti menyela, “bolehkah kitab itu kupinjam lihat sebentar?”

Waktu bicara, kedua tangan Ciumoti tetap terselubung di tengah lengan bajunya yang longgar, bicaranya dengan tersenyum-senyum, pula sehingga sedikit pun tiada tanda mencurigakan.

Tapi mendadak Cilo Singh terperanjat demi mendengar nada ucapan Ciumoti itu, cepat ia berpaling ke arah Ciumoti, demi tampak air muka orang tersenyum-senyum saja dan kedua tangannya terselip dalam lengan baju, barulah Cilo Singh merasa lega.

Siapa duga pada saat itu juga tiba-tiba dirasakan ada suatu tenaga halus tapi mahakuat sedang menerjang ke urat nadi tangan kanannya. Seketika tangan Cilo Singh terasa kesemutan, cekalannya menjadi kendur, Ih-kin-keng yang dipegangnya itu mendadak meloncat ke atas.

Segera Cilo Singh sadar kena diselomoti Tay-lun-beng-ong. Sekilas ia lihat Ciumoti tetap tersenyum-senyum, bahkan jubahnya juga tidak bergerak sedikit pun, entah dengan cara bagaimana ia mengeluarkan tenaga gaib mahakuat itu.

Maka cepat Cilo Singh mengapung ke atas dengan maksud hendak menyambar kembali Ih-kin-keng itu.

Tapi pada saat tubuhnya terapung di udara itulah, kembali tenaga dalam yang halus tadi sangat kuat itu menyerangnya tanpa bersuara dan tepat mengenai dadanya, ia menjerit sekali terus terpental. Ia berkaok-kaok murka, “Tay-lun-beng-ong, apa maksudmu ini?”

Tapi Ciumoti hanya tersenyum saja, sekali tangan bergerak, tahu-tahu Ih-kin-keng itu terbang ke tangannya, lalu ia berkata, “Ih-kin-keng adalah milik Siau-lim-si, maka kugunakan ilmu silat Siau-lim-pay untuk merebutnya kembali.”

Cilo Singh juga bukan tokoh sembarangan, demi mendengar ucapan Ciumoti itu, tiba-tiba ia ingat sesuatu, katanya segera, “Apakah Bu-siang-jiat-ci?”

Ciumoti hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

Keruan Cilo Singh muram dan lesu, sepatah kata pun tidak sanggup bicara lagi.

Baru sekarang Goan-ci yang mengikuti kejadian itu dapat menghela napas lega, katanya, “Wah, kepandaian Taysu ini benar-benar mahasakti!”

Padahal ketika Ciumoti menggunakan “Bu-siang-jiat-ci” (jari maut tanpa wujud) tadi sedikit pun tidak bergerak, tapi tenaga jari itu diam-diam menyambar keluar dari dalam lengan bajunya.

Sebagai serang tokoh besar, sekali omong saja Cilo Singh lantas tahu ilmu yang digunakan Ciumoti itu adalah Bu-siang-jiat-ci, tapi tidak demikian dengan Goan-ci, ia hanya memuji sekadarnya saja.

Lalu Ciumoti menjawab dengan tersenyum, “Ah, hanya sedikit kepandaian tak berarti, semoga tidak ditertawai oleh kaum ahli.”

A Ci tidak dapat melihat. Ia hanya dengar percakapan ketiga orang itu dan sukar memahami apa sebenarnya yang terjadi, maka cepat ia bertanya, “Apa yang terjadi, Ong-kongcu? Apa sudah bergebrak dengan toahwesio itu?”

Belum lagi Goan-ci menjawab, mendadak Ciumoti ulur tangannya untuk menjabat sebelah tangan Goan-ci. Sejak tadi ia sudah tahu lwekang Goan-ci sangat tinggi, tapi dilihatnya pula Goan-ci dibanting terjungkal oleh Cilo Singh dengan sangat mudah, hal ini membuatnya tidak habis mengerti, maka sekarang ia sengaja hendak menjajal sampai di manakah sebenarnya lwekang Goan-ci?

Sebaliknya Goan-ci menjadi tergetar ketika mendadak tangannya digenggam tangan Ciumoti, tenaga dingin dalam tubuhnya otomatis lantas terhimpun ke telapak tangannya itu.

Seketika Ciumoti merasa tenaga yang dikerahkannya tahu-tahu disedot oleh pihak lawan, keruan ia terkejut dan cepat lepas tangan.

Keadaan begitu pernah dialami Ciumoti dahulu ketika mengadu tangan dengan Toan Ki di Thian-liong-si Tayli. Siapa duga hari ini pengalaman itu berulang lagi.

Kalau Toan Ki memiliki ilmu sakti masih dapat dimengerti mengingat keluarga Toan memang terkenal sebagai keluarga jago silat yang disegani, tapi siapakah gerangan Ong Sing-thian yang berada di depannya sekarang ini, mengapa ilmu silatnya juga sedemikian lihai dan aneh?

Tampaknya jago-jago muda di dunia persilatan Tionggoan telah “patah tumbuh hilang berganti”, jago tua hilang lahir jago muda yang lebih sakti, terang harapannya untuk menjagoi dunia persilatan akan sukar tercapai.

Begitulah Ciumoti termangu-mangu sejenak di tempatnya, kemudian ia tertawa dan menjawab pertanyaan A Ci tadi, “Lisicu tidak perlu khawatir, aku justru sangat cocok dengan Ong-sicu, mana bisa saling labrak malah?”

A Ci merasa senang, katanya, “Toahwesio, kau benar-benar licin, sudah tahu takkan mampu melawan Ong-kongcu, lalu kau bicara menurut arah angin.”

“Haha, jika Lisicu adalah ketua Sing-siok-pay tentunya juga pernah mendengar namaku yang rendah,” kata Ciumoti dengan tertawa.

“Itu pun bergantung apakah kau memang terkenal atau tidak,” ujar A Ci. “Di dunia ini jumlah hwesio sebanyak bulu kucing, dari mana dapat kukenal si Anu atau si Badu satu per satu?”

Ciumoti tidak marah, ia tetap mengulum senyum dan berkata, “Siauceng adalah Tay-lun-beng-ong Ciumoti, Koksu kerajaan Turfan.”

Mendengar itu, mendadak badan A Ci bergetar, tanpa terasa wajahnya menjadi pucat. Goan-ci terkejut, cepat ia tanya, “Ada apa A Ci?”

“O, ti… tidak apa-apa,” sahut A Ci setelah terkesima sejenak. Sebabnya dia pucat bukanlah karena takut melainkan karena kegirangan.

Waktu mula-mula ia dengar namanya “Tay-lun-beng-ong”, hal itu tidak berkesan baginya. Tapi demi mendengar nama “Ciumoti, Koksu (imam negara) kerajaan Turfan”, hal inilah yang mengguncangkan perasaannya.

Ia pernah dengar Sing-siok Lokoay menyebut nama Ciumoti dan diketahui adalah jago kelas wahid, sekarang tokoh macam Ciumoti juga begitu jerinya kepada Ong Sing-thian, maka betapa bahagia dirinya yang telah dapat berkenalan dengan Ong-kongcu yang gagah perkasa ini, sungguh ia tidak sanggup melukiskannya.

Dengan girang segera A Ci berkata pula, “O, kiranya Ciumoti Taysu, tadi aku omong kasar, harap dimaafkan.”

Sebaliknya Goan-ci mengira ucapan Ciumoti yang menilai tinggi padanya tadi, sengaja hendak menutupi kepincangannya agar tidak diketahui A Ci, maka Goan-ci merasa sangat berterima kasih. Segera ia tanya A Ci dengan suara perlahan, “A Ci, apakah asal-usul Taysu ini sangat hebat?”

“Sudah tentu,” sahut A Ci. “Dia adalah orang kosen kalangan Buddha, sudah tentu luar biasa.”

Padahal kalau A Ci memuji Ciumoti, ini berarti juga menaikkan gengsi Ong Sing-thian yang dia cintai itu.

Maka Goan-ci lantas memberi hormat kepada Ciumoti, “Taysu, sungguh entah cara bagaimana aku harus berterima kasih padamu.”

Tapi Ciumoti diam-diam saja, ia hanya memberi tanda kepada Goan-ci, lalu tuding ke arah A Ci.

Maka tahulah Goan-ci bahwa padri itu telah paham maksudnya sekarang dia cuma memberi isyarat tangan, hal ini menandakan dia sengaja hendak membantunya agar tidak diketahui A Ci.

Sejak kecil Goan-ci tidak disukai ayah dan pamannya, ketika terlunta-lunta di Kangouw juga kenyang dihina dan dianiaya orang, tiada seorang pun yang mau memahami dan memerhatikan dia seperti Ciumoti sekarang. Saking terharunya terus saja Goan-ci hendak memberi sembah.

Namun lengan jubah Ciumoti telah mengebas, suatu tenaga yang tak kelihatan mengangkatnya bangun, katanya, “Ong-sicu, jika engkau tidak mencela kepada Siauceng, marilah kita mengikat persahabatan saja.”

“He, Taysu, mana… mana aku berani?” sahut Goan-ci gugup.

“Ong-kongcu,” kata A Ci, “meski Ciumoti Taysu adalah Koksu negeri Turfan, tapi nanti bila sudah sampai Lamkhia di negeri Liau, Cihuku adalah Lam-ih-tay-ong di sana, dengan sendirinya kedudukanmu nanti juga takkan rendah, maka sekarang kau pun tidak perlu terlalu merendah diri.”

Ciumoti melengak, ia tahu negeri Liau adalah salah satu negeri yang terkuat pada waktu itu, Lam-ih-tay-ong adalah perdana menteri yang berkuasa penuh, tampaknya nona cilik yang buta ini bukanlah sembarangan putri. Maka katanya, “Ucapan Lisicu ini memang betul, harap Ong-sicu tidak perlu merendah diri.”

Namun Goan-ci masih goyang-goyang tangan dan berkata, “Taysu, aku….”

Tapi mendadak Ciumoti sedikit geraki tangannya, serangkum angin menyambar ke depan sehingga dada Goan-ci terasa sesak, untuk bicara menjadi susah.

Malahan lantas terdengar suara bisikan orang yang sangat halus menyusup telinganya, “Jika kau banyak omong lagi tentu rahasiamu akan diketahui nona itu. Sekarang aku pun tidak mau banyak omong denganmu, nanti malam saja antara tengah malam aku akan datang menemuimu, tatkala mana kita akan dapat bicara dengan lebih jelas.”

Berulang Goan-ci mengangguk. Ia lihat A Ci dan Cilo Singh seperti tidak mendengar apa-apa, tahulah Goan-ci bahwa ucapan Ciumoti itu hanya ditujukan padanya seorang saja. Maka ia pun menjawab, “Baiklah, jika memang Taysu tidak menolak, sudah tentu aku menurut saja.”

Ciumoti terbahak-bahak, katanya, “Sungguh tidak nyana tanpa sengaja dapat berkenalan dengan seorang kesatria gagah perkasa seperti Ong-kongcu, sungguh sangat beruntung.”

Sebaliknya Goan-ci juga menjawab dengan setulus hati, “Jika dapat berkawan dengan Taysu, tentu juga merasa bahagia.”

Lalu Ciumoti berpaling kepada Cilo Singh yang berdiri diam di samping dengan wajah muram itu, katanya, “Hud-heng, kukira Ong-kongcu juga tidak perlu padamu lagi, lebih baik permisi kepada Ong-kongcu dan lekas pulang ke Thian-tiok saja.”

Urusan sudah begini, bukan saja Cilo Singh tidak dapat menyuruh Goan-ci membawanya pergi mencari Polo Singh, bahkan Ih-kin-keng yang mestinya sudah ditemukan itu direbut pula oleh Ciumoti, saking murka dan emas, akhirnya ia menjadi putus asa, katanya kemudian, “Baiklah, Ong-kongcu, aku akan pulang ke Thian-tiok saja.”

“Silakan,” sahut Goan-ci.

“Dan kedua ekor ular itu pun boleh kau bawa pulang sekalian, aku tidak perlu lagi. Awas, lain kali jangan sampai kepergok olehku,” demikian A Ci ikut berkata.

Dengan lesu dan patah semangat Cilo Singh lantas tinggal pergi ke arah barat dengan membawa kedua ekor ularnya.

“Sekarang silakan Ong-kongcu berdua melanjutkan perjalanan, Siauceng ada urusan, semoga kelak berjumpa pula,” kata Ciumoti.

Mendengar Ciumoti akan pergi, seketika Goan-ci merasa seperti akan kehilangan sesuatu. Tapi demi teringat nanti tengah malam padri itu akan datang menemuinya, maka ia pun menjawab, “Baiklah, Taysu, silakan!”

Pada waktu berangkat, kembali Ciumoti berpaling dan tersenyum pada Goan-ci, wajahnya yang agung berwibawa itu membuat orang merasa suka dan hormat pula, sungguh mirip malaikat dewata hidup, Goan-ci sampai termangu-mangu, sesudah didesak A Ci baru ia sadar, lalu mereka melanjutkan perjalanan ke depan.

Sambil berjalan Goan-ci merasa tidak sabar lagi, ia berharap hari lekas gelap dan malam lekas tiba serta lekas tengah malam.

Waktu mereka bermalam di tengah jalan, karena letihnya A Ci lantas tertidur di atas tanah rumput, sebaliknya Goan-ci masih mondar-mandir saja sambil terkadang menengadah memandang langit.

Kira-kira dekat tengah malam, benar juga dilihatnya Ciumoti melayang tiba seperti dewa yang turun dari kahyangan, cepat Goan-ci berlutut memberi hormat.

Ciumoti membangunkannya, katanya, “Kita sudah berkawan, buat apa pakai peradatan seperti ini?”

“Taysu, sekali-kali aku tidak berani mengharapkan sesuatu yang terlalu muluk-muluk, biarpun menjadi budak Taysu juga aku merasa kurang sesuai,” kata Goan-ci.

Ciumoti tersenyum, katanya, “Jangan bikin nona Toan terjaga, marilah kita menyingkir ke sana,” lalu ia tarik tangan Goan-ci dan diajak pergi.

Dalam perjalanan yang tidak terlalu jauh itu berturut-turut Ciumoti menggunakan tujuh macam cara yang berbeda-beda untuk menjajal lwekang Goan-ci, tapi yang dapat disimpulkan adalah kepandaian Goan-ci mirip dengan “Hoa-kang-tay-hoat” Sing-siok-pay, sedangkan tenaga dalamnya sukar dijajaki, pula unsur racun yang mahadingin dan mahajahat di tubuh Goan-ci itu sudah mencapai tingkatan yang sukar diukur.

Memang ada maksud Ciumoti akan memperalat kebodohan Goan-ci itu, sekarang tekadnya itu semakin teguh. Sebaliknya Goan-ci sama sekali tidak tahu.

Tidak lama kemudian sampailah mereka di tengah suatu hutan. Di situ lagi-lagi Goan-ci hendak menyembah, tapi ditahan Ciumoti pula.

Dengan sangat Goan-ci memohon, “Taysu, kepandaianmu begini sakti, engkau sangat baik pula padaku, kalau engkau tidak terima penghormatanku, bagaimana perasaanku bisa tenteram?”

“Sekarang aku cuma kawanmu saja,” sahut Ciumoti dengan tersenyum. “Bila kelak aku ada maksud menerimamu sebagai murid, tatkala itulah baru boleh kau sembah padaku.”

Mendengar demikian, tanpa terasa Goan-ci berjingkrak kegirangan. Dahulu ia angkat guru pada Ting Jun-jiu dan merasa bangga mempunyai seorang suhu yang bergaya dewa, tapi berhubung persoalan A Ci sehingga hubungannya dengan Ting-lokoay menjadi retak, ia memang ingin mencari guru lain lagi.

Meski batin Ciumoti itu sangat licin dan keji, tapi lahirnya tampak agung sehingga membuat siapa yang memandangnya tentu timbul rasa kagum dan hormat. Apalagi Ting Jun-jiu suka main kekerasan terhadap Goan-ci, sebaliknya Ciumoti mau membantu kesukarannya malah, yaitu membantunya membohongi A Ci, sebab itulah ia menjadi sangat senang demi mendengar Ciumoti ada kemungkinan akan menerimanya sebagai murid.

Sesudah berjingkrak senang sebentar, tiba-tiba teringat pula olehnya bahwa Tay-lun-beng-ong adalah seorang hwesio, kalau dirinya mengangkat dia sebagai guru, bukankah juga akan cukur rambut dan menjadi hwesio dan hwesio harus masuk kelenteng dan dilarang kawin, lalu cara bagaimana dirinya dapat berdampingan dengan A Ci untuk selamanya?

Wah, cialat! Ia jadi ragu demi teringat demikian itu.

Rupanya Ciumoti dapat meraba isi hatinya, dengan tersenyum ia berkata, “Kelak bila kau ada maksud menjadi muridku, maka boleh kuanggap dirimu sebagai muridku dari keluarga preman.”

Keruan Goan-ci kegirangan setengah mati, cepat ia jawab, “Taysu, jika demikian, Tecu….”

“Nanti dulu!” tiba-tiba Ciumoti mengebaskan lengan bajunya sehingga ucapan Goan-ci itu tertahan, “aku belum menyanggupi untuk menerimamu sebagai murid, mana boleh kau mengaku Tecu padaku?”

Goan-ci menjadi bingung, ia garuk-garuk kepala dan kukur telinga dengan serbasalah.

“Begini,” ucap Ciumoti lebih lanjut, “bila kau memang benar ingin menjadi muridku, maka kau harus berbuat dulu beberapa hal yang bajik, dengan demikian barulah aku dapat menerimamu.”

“Sudah tentu mau, silakan Taysu memberi petunjuk,” seru Goan-ci cepat.

“Nah, coba dengarkan,” kata Ciumoti dengan tersenyum. “Ada seorang Toa-ok-jin (manusia mahajahat), namanya Toan Ki, apakah pernah kau dengar namanya?”

“Toan Ki, Toan Ki?” demikian Goan-ci mengulangi dua kali nama itu, lalu menjawab, “Belum, belum pernah dengar.”

“Lahirnya orang itu kelihatan sangat alim dan seperti seorang putra bangsawan, tapi sebenarnya seorang mahajahat, mahabusuk. Ketahuilah bahwa Lam-hay-gok-sin, itu durjana ketiga dari Su-ok adalah muridnya.”

Goan-ci terkejut, sahutnya, “Jadi Toan Ki itu adalah guru Gak-losam? Wah, tentu saja jahatnya bukan buatan!”

Dasar pengalaman Goan-ci memang dangkal, maka demi mendengar cerita Ciumoti secara sepihak dan sengaja dibesar-besarkan itu ia lantas percaya penuh bahwa Toan Ki memang benar adalah Toa-ok-jin yang harus diganyang.

Maka Ciumoti meneruskan, “Nah, kalau kau ingin mengumpulkan jasa dan berbuat bajik maka tugasmu yang pertama harus membasmi Toa-ok-jin yang bernama Toan Ki itu.”

Kembali Goan-ci terperanjat, sahutnya, “Taysu, jika… jika Toan Ki adalah Toa-ok-jin macam begitu, ilmu silatnya dengan sendirinya juga sangat tinggi, masakah aku… aku mampu….”

Sampai di sini ia jadi menggigil dan gigi gemertukan, bicaranya menjadi macet.

“Menurut pendapatmu, bagaimana dengan kepandaianku?” tanya Ciumoti.

“Kepandaian Taysu mahasakti, sungguh belum pernah kulihat selama ini,” sahut Goan-ci.

“Nah, baiklah, maka aku akan mengajarkan sejurus ilmu sakti padamu,” kata Ciumoti. “Nanti bila ketemu Toan Ki, asal kau jabat erat tangannya maka kau pasti akan dapat menaklukkan dia.”

Sudah tentu Goan-ci masih ragu, ia hanya pandang Ciumoti dan tidak bicara lagi.

Segera Ciumoti berlagak seperti “dukun klenik” yang sedang beraksi, ia tepuk beberapa kali badan Goan-ci, katanya, “Nah, sekarang sudah kusalurkan ilmu saktiku ke dalam badanmu, sebelum ketemu Toan Ki, sama sekali jangan kau jabat tangan dengan siapa pun juga.”

Goan-ci angguk-angguk tanda tahu, sahutnya, “Jika demikian, berada di manakah Toan Ki itu?”

“Besok pagi boleh kau lanjutkan perjalanan ke timur sana, kira-kira tujuh atau delapan li jauhnya tentu akan kau temukan dia,” tutur Ciumoti. “Dia sedang duduk termenung-menung sendirian di tengah hutan.”

Goan-ci gosok-gosok telapak tangan sendiri lalu dipentang dan dipandang, katanya, “Baiklah, besok pagi-pagi aku lantas berangkat ke sana.”

Melihat tipu muslihatnya sudah dimakan Goan-ci, segera Ciumoti mohon diri, “Sementara ini kita pun berpisah dahulu, nanti bila usahamu sudah berhasil, tentu aku akan datang menjengukmu lagi.”

Ia sengaja hendak pamer, maka begitu selesai berkata, mendadak tubuhnya melayang pergi secepat angin, hanya sekejap saja orangnya sudah menghilang tanpa bekas.

Di samping kagum tak terkatakan, Goan-ci juga girang akan mendapat guru mahasakti.

Padahal maksud tujuan Ciumoti adalah lantaran dia pernah kecundang di tangan orang she Toan dari Tayli, untuk membalas dendam tidak mampu, kini dilihatnya ilmu Goan-ci ini agak mirip dengan kepandaian Toan Ki itu, bedanya cuma yang satu mahakeras, mahapanas, sebaliknya yang lain mahadingin dan maha berbisa. Sebab itulah ia ingin memperalat kebodohan Goan-ci untuk melabrak Toan Ki.

Begitulah, maka kemudian Goan-ci lantas kembali ke tempatnya semula, perlahan ia mendekati A Ci, ia lihat anak dara itu masih tidur sangat nyenyak.

Di bawah sinar bulan dan bintang yang remang-remang ia lihat muka yang cantik itu bertambah menggiurkan. Dilihatnya pula mulut anak dara itu mengulum senyum, seperti sedang mengimpikan sesuatu yang menyenangkan.

Goan-ci termangu-mangu memandangi wajah yang cantik itu, kebetulan angin meniup sehingga rambut A Ci tersebar dan sebagian menutupi mukanya, perlahan Goan-ci membetulkan rambut anak dara itu.

A Ci seperti berasa, ia membalik tubuh sedikit, mulutnya bergumam, “Ong-kongcu, di dunia persilatan hanya dikenal Lam Buyung dan Pak Kiau Hong, tapi tiada orang tahu bahwa masih ada seorang Se-ek Kek-lok Ong (Ong si Mahagembira dari Benua Barat) seperti dirimu.”

Sudah jelas kata-kata itu cuma igauan A Ci saja, tapi Goan-ci merasa nikmat juga mendengarnya. Ia tahu Lam Buyung dan Pak Kiau Hong adalah tokoh tertinggi di dunia persilatan masa kini, sekarang kedudukan dirinya dalam pandangan anak dara itu disejajarkan dengan kedua tokoh ternama itu, hal ini menandakan betapa cinta A Ci kepadanya.

Perlahan Goan-ci meraba muka sendiri yang benjal-benjol bekas luka itu, ia merasa tidak mengecewakan meski dirinya telah menyerempet bahaya dan menahan sakit dengan membeset topeng besi itu. Kelak kalau bisa mengangkat guru pada Tay-lun-beng-ong pula, boleh jadi dirinya akan dapat belajar ilmu silat mahatinggi, tatkala itu tentu takkan khawatir lagi rahasianya diketahui oleh A Ci.

Begitulah Goan-ci lantas rebah di samping A Ci dengan berbantalkan lengan sendiri. Ia terus memandangi wajah yang cantik ayu itu semalam suntuk tanpa tidur.

Ketika fajar menyingsing, perlahan barulah A Ci mendusin, ia mengolet kemalas-malasan, lalu bangun duduk.

Lekas Goan-ci menyapa, “Kau sudah bangun A Ci?”

Tiba-tiba A Ci bertiarap pula ke tanah rumput itu, ia pegang tangan Goan-ci, katanya, “Aku bermimpi.”

“Mimpi tentang apa?” tanya Goan-ci.

“Aku mimpi menyaksikan pertemuan para jago kelas satu di dunia ini, mereka saling bertanding untuk menentukan kepandaian masing-masing.”

“Hasilnya bagaimana, siapa yang menjadi juara?” tanya Goan-ci.

A Ci tertawa, katanya, “Ada seorang kongcu muda tak terkenal, ia robohkan Lam Buyung dan mengalahkan Pak Kiau Hong, para padri Siau-lim-si tidak ada yang berani maju, Sing-siok Lokoay dihajarnya hingga minta ampun. Juara ilmu silat itu dengan sendirinya dipegang oleh kongcu muda itu.”

“Siapakah kongcu muda itu?” tanya Goan-ci.

Air muka A Ci berubah merah, ia cubit perlahan tangan Goan-ci, lalu berkata, “Ialah engkau sendiri. Ai, dasar linglung!”

Goan-ci benar-benar terlena dibuai rayuan A Ci itu sehingga untuk sekian lamanya ia tidak sanggup bersuara.

Akhirnya terdengar A Ci terkikik-kikik, katanya pula, “Kenapa diam saja? Apa kau rasa tidak dapat melawan mereka?”

“Sudahlah A Ci, jangan bicara tentang impian lagi,” cepat Goan-ci menjawab. “Tapi hari ini aku benar-benar hendak pergi melabrak seorang Toa-ok-jin.”

“Toa-ok-jin apa?” tanya A Ci.

Goan-ci ingat A Ci she Toan, sedangkan Toan Ki yang hendak dicarinya itu juga she Toan, jangan-jangan nanti anak dara ini akan kurang senang. Maka ia menjawab, “Entah siapa namanya, yang terang dia adalah seorang mahajahat, maka harus ditumpas. Namun ilmu silat Toa-ok-jin itu sangat hebat pula, maka waktu kulabrak dia, paling baik kau jangan dekat-dekat.”

“Ya, aku tahu,” sahut A Ci. “Padahal engkau sudah pasti akan menang, aku mendekat atau melihat dari jauh juga sama saja.”

“Marilah kita berangkat,” ajak Goan-ci. Segera ia gandeng tangan A Ci dan menuju ke timur.

Kira-kira belasan li jauhnya, benar juga di depan terdapat sebuah hutan lebat. Goan-ci pikir sebentar lagi dirinya akan bertempur melawan seorang jahat yang ilmu silatnya sangat tinggi, meski Tay-lun-beng-ong sudah mengajarkan ilmu sakti padanya, tapi betapa pun ia tetap merasa jeri.

Diam-diam ia coba periksa telapak tangan yang akan dipakai menggenggam tangan Toa-ok-jin nanti, ia lihat tangan sendiri toh sama saja seperti sehari-hari dan tidak ada tanda mempunyai ilmu sakti apa segala. Maka ia tambah kebat-kebit dan tidak tenteram.

Sampai di luar hutan Goan-ci merasa ragu dan berhenti.

“Apa sudah sampai?” tanya A Ci.

“Ya, di sini ada sebuah Heng-lim (hutan pohon apricot), konon Toa-ok-jin itu sembunyi di sini, maka boleh kau tunggu di sini saja,” kata Goan-ci.

Sebenarnya A Ci adalah seorang gadis yang bandel, tapi sekarang ia sangat penurut, sahutnya, “Baiklah, boleh kau pergi melabrak Toa-ok-jin itu dan aku akan menunggu di sini.”

Sesudah mendudukkan A Ci di atas sebuah bongkot pohon, lalu Goan-ci masuk ke hutan yang sangat lebat dan rindang itu sehingga rasanya sangat dingin dan seram.

Sampai sekian lama Goan-ci menyusur hutan itu dan tetap tidak menemukan seorang pun. Ia pikir Toan Ki itu tentu tidak berada di situ lagi, selagi ia hendak putar balik, tiba-tiba terdengar di sebelah timur laut sana ada suara orang menghela napas perlahan.

Goan-ci tercengang, ia coba mencari ke arah suara itu. Sesudah berputar dan membelok beberapa kali, akhirnya dilihatnya ada seorang dengan menggendong tangan sedang berdiri di situ dengan menengadah sambil tiada hatinya berkeluh kesah.

Goan-ci sembunyi di balik pohon. Ia pikir orang ini mungkin bukan Toan Ki, sebab seorang yang mahajahat tidak mungkin berada sendirian di sini sambil berkeluh kesah.

Mendadak terdengar orang itu berkomat-kamit sendiri, “Nona Ong! O, nona Ong. Tahukah dikau ada seorang sedang rindu dan sedih bagimu?”

Mendengar itu, baru sekarang Goan-ci tahu orang ini bahkan adalah seorang yang romantis, tampaknya dia merindukan seorang nona, tapi harapannya tak tercapai, makanya berkeluh kesah. Sambil pikir segera Goan-ci melangkah maju.

Cepat orang itu berpaling demi mendengar suara tindakan Goan-ci. Maka tertampaklah dengan jelas, kiranya orang ini adalah seorang kongcu muda.

Orang ini bukan lain daripada Toan Ki adanya. Sebenarnya ia sedang merindukan Ong Giok-yan, ketika mendadak didengarnya ada suara tindakan orang dari belakang, ia kaget dan cepat berpaling, sebab baru saja kemarin ia ketemu Ciumoti, ia khawatir jangan-jangan akan diserang padri itu dari belakang. Tapi demi tampak orang yang datang ini adalah seorang laki-laki bermuka mahajelek, ia jadi terheran-heran pula.

Sebaliknya Goan-ci juga dapat melihat jelas sikap Toan Ki yang kelihatan linglung itu, tapi usianya masih muda dan wajahnya cakap, jelas bukan Toa-ok-jin sebagaimana disangkanya semula.

Sebelum Toan Ki menegurnya, segera ia mendahului membuka suara, “Sebentar lagi di tengah hutan ini akan terjadi suatu pertempuran dahsyat, maka lebih baik saudara lekas pergi dari sini saja.”

Toan Ki hanya mengiakan sekali dengan acuh tak acuh dan tetap berdiri di situ.

Maka Goan-ci berkata pula, “Tampaknya saudara bukanlah orang persilatan, daripada nanti tersangkut dalam pertempuran yang dahsyat, lebih baik lekas pergi saja, carilah suatu tempat lain jika kau ingin berkeluh kesah lagi.”

Sebenarnya Toan Ki sangat benci kepada ilmu silat, sekarang ia sendiri sudah memiliki kungfu mahatinggi, tapi sifatnya itu masih tetap tidak berubah, maka dengan berkerut kening ia menjawab, “Kusangka tempat inilah paling aman, tenteram dan dapat kugunakan untuk termenung dengan tenang. Kenapa kalian tidak mencari tempat lain untuk bertempur?”

“Ada orang berjanji untuk bertemu dengan aku di tengah hutan ini,” kata Goan-ci.

“Jika begitu, kenapa saudara sendiri tidak takut?” tanya Toan Ki. “Apa barangkali saudara sendiri memiliki kepandaian hebat?”

Goan-ci tersenyum getir, sahutnya, “Biarpun aku ingin menghindari juga tidak dapat lagi.”

“Sebab apa?” tanya Toan Ki dengan heran.

“Habis, aku sendiri adalah salah satu pihak yang akan bertempur di tengah hutan ini, cara bagaimana aku boleh pergi?” kata Goan-ci.

Melihat muka orang meski jeleknya tiada takaran, tapi mempunyai hati nurani yang baik, maka Toan Ki coba memberi nasihat, “Mumpung belum terjadi, jika sekarang kau mau tinggal pergi, bukankah pertarungan dahsyat nanti dapat dihindarkan?”

“Tidak bisa,” sahut Goan-ci. “Justru akulah yang hendak melabrak Toa-ok-jin itu, sebelum bertemu mana boleh kutinggal pergi?”

Toan Ki tahu urusan permusuhan di dunia persilatan biasanya sukar dilerai, maka katanya pula sesudah berpikir sejenak, “Jika demikian, siapakah Toa-ok-jin itu?”

“Toa-ok-jin itu bernama…. Ah, lebih baik saudara jangan mengetahuinya, jangan-jangan engkau akan semaput bila mendengar namanya,” demikian Goan-ci merasa tidak tega menakut-nakuti kongcu yang lemah lembut ini dengan nama Toa-ok-jin.

Sama sekali tak terduga olehnya bahwa orang di hadapannya sekarang ini justru adalah “Toa-ok-jin” itu.

“Aku… aku tidak tahu,” sahut Goan-ci dengan bimbang.

Keruan Toan Ki tambah heran, tanyanya, “Jika kau tidak yakin akan dapat mengalahkan Toa-ok-jin itu, tapi kau datang juga ke sini untuk mencari perkara padanya, masakah di dunia ini ada orang macam dirimu ini?”

Goan-ci hanya tersenyum getir saja, sahutnya, “Meski aku tidak becus apa-apa, tapi ada seorang padri sakti pernah menepuk beberapa kali pada badanku dan telah mengajarkan semacam ilmu padaku, asal aku genggam tangan Toa-ok-jin itu segera aku dapat mengalahkan dia.”

Apa yang dikatakan Goan-ci ini biarpun dia sendiri juga tidak yakin. Untung Toan Ki juga masih hijau dalam hal ilmu silat, ia hanya merasa tertarik oleh cerita itu, maka tanyanya pula, “Apakah telapak tanganmu itu terdapat jimat sehingga begitu sakti?”

“Ini lihat, sama saja seperti biasa,” sahut Goan-ci sambil membuka tangannya.

“Jika demikian, jadi dalam hati sebenarnya kau pun tidak percaya kepada omongan padri itu?” tanya Toan Ki.

Tapi Goan-ci tidak menjawab, ia hanya geleng-geleng kepala. Lalu menghela napas dan berkata, “Sudahlah, saudara tidak perlu urus, lekas pergi dari sini saja!”

“Tidak apa, kepandaian lain aku tidak punya, kalau bicara tentang lari, kuyakin tiada seorang pun mampu memburu aku,” sahut Toan Ki. “Maka biarlah aku nanti menonton saja di pinggir.”

Sebenarnya Toan Ki juga tidak ingin melihat orang bertempur, soalnya ia lihat Goan-ci adalah seorang jujur, tampaknya pasti tidak mampu melawan Toa-ok-jin itu, maka bila perlu ia bermaksud hendak membantunya dengan menyeretnya melarikan diri.

“Apakah saudara tidak khawatir ikut terembet nanti?” tanya Goan-ci.

“Tidak, aku tidak kenal Toa-ok-jin itu, masakah dia akan mengganggu aku?” sahut Toan Ki.

Melihat orang susah disuruh pergi, terpaksa Goan-ci tidak banyak omong lagi, ia terus menuju ke tengah hutan lebih jauh. Tapi di sana keadaan rindang gelap, meski sudah dicari ke sana-sini tetap tiada seorang pun yang diketemukan.

Diam-diam Goan-ci sangat heran, ia pikir mungkin Tay-lun-beng-ong salah duga tentu Toa-ok-jin yang bernama Toan Ki itu sudah keburu pergi dari situ. Ketika ia hendak putar balik, tiba-tiba dilihatnya Toan Ki masih mengikuti di belakangnya.

Sekonyong-konyong hatinya tergerak, teringat apa yang dikatakan Tay-lun-beng-ong bahwa potongan Toan Ki itu sangat mirip seorang putra bangsawan, dan orang yang berada di depannya sekarang bukankah seorang kongcu bangsawan? Jangan-jangan inilah dia….

Goan-ci sampai tercengang memandangi Toan Ki. Selagi ia hendak tanya namanya, tiba-tiba ia ganti pikiran lagi, ia merasa bila kongcu lemah lembut seperti ini adalah seorang Toa-ok-jin, maka di dunia ini tentu tiada orang baik lagi, buat apa dirinya mesti tanya pula?

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: