Kumpulan Cerita Silat

05/06/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 55

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 12:41 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Maka diam-diam ia pikir, “Apa aku harus bergebrak untuk menentukan unggul dan asor dengan dia atau menyelesaikan urusan A Ci lebih dulu? Kabarnya ilmu silat orang Buyung dari Koh-soh ini sukar dijajaki, orang Bu-lim tentu tidak sengaja omong kosong, jangan-jangan Sing-siok Losian yang baru menginjak kaki ke Tionggoan ini akan terjungkal di tangan bocah ini, jika begitu, wah, sialan benar!”

Dasar Ting Jun-jiu memang sangat cerdik dan suka pikir panjang, kalau dalam hal ilmu silat tidak yakin benar akan menang, segera timbul pikirannya untuk menyerang secara menggelap. Begitulah ia lantas berkata kepada A Ci, “Nah, katakan saja sendiri, kau ingin kupunahkan ilmu silatmu, memotong urat nadimu, atau kutebas sebelah tangan atau kakimu saja? Bukankah kau lebih suka mati daripada mengaku di mana beradanya benda itu?”

A Ci ketakutan setengah mati, dengan suara gemetar ia menjawab, “Harap kemurahan hati Suhu, jangan… jangan anggap sungguh-sungguh ucapan seorang anak… anak kecil seperti Tecu.”

“Ting-siansing,” tiba-tiba Buyung Hok menyela dengan tertawa, “usiamu sudah tua, mengapa masih suka bertengkar dengan anak kecil? Mari, marilah kita keringkan tiga cawan bersama, mari kita bicara tentang ilmu silat dan sastra. Di hadapan orang luar mengadakan pembersihan rumah tangga, bukankah agak terlalu?”

Belum lagi Ting Jun-jiu menjawab, tiba-tiba seorang murid Sing-siok-pay membentak dengan gusar, “Kau manusia apa? Suhu kami adalah yang dipertuan agung di dunia persilatan, mana dapat bicara tentang ilmu silat dan sastra apa segala dengan bocah ingusan macam kau? Dan berdasarkan apa kau mengajak bicara dengan suhuku?”

Lalu seorang lagi ikut membentak, “Bila kau menjura dan minta dengan hormat kepada Sing-siok Losian agar suka memberi petunjuk, boleh jadi beliau akan memberi petunjuk sejurus dua kepadamu. Tapi sekarang kau bicara tentang silat apa segala dengan beliau, haha, bukankah sangat menggelikan? Hahaha!”

Ia terbahak beberapa kali dan air mukanya tampak sangat aneh, selang sejenak, kembali ia terbahak dengan suara agak serak, habis itu, lalu mulutnya ternganga tanpa suara sedikit pun, tapi wajah masih menampilkan senyuman aneh dan lucu.

Para murid Sing-siok-pay lantas tahu kawan mereka itu terkena racun “Siau-yau-sam-siau-san” keruan mereka bingung dan takut. Serentak mereka menunduk dan tidak berani bersuara lagi, bahkan memandang sang guru juga tidak berani. Dalam hati mereka cuma berpikir, “Entah ucapan apa yang membikin marah Suhu hingga Suhu membunuhnya dengan cara selihai itu?”

Sebaliknya Ting Jun-jiu merasa gusar dan waswas pula. Kiranya tadi waktu ia bicara dengan A Ci, perlahan ia mengebaskan lengan bajunya dengan lwekang yang tinggi hingga bubuk racun “Siau-yau-sam-siau-san” ditebarkan ke arah Buyung Hok.

Bubuk racun itu tak berwarna dan tak berbau, halusnya luar biasa, di tengah warung makan itu juga remang-remang penerangannya, Lokoay yakin betapa tinggi kepandaian Buyung Hok juga pasti takkan tahu akan serangan itu. Siapa duga entah dengan cara bagaimana tahu-tahu bubuk racun itu diputarbalikkan kepada muridnya itu.

Kematian seorang murid tidak menjadi soal bagi Ting-lokoay, tapi di luar tahunya dan entah cara bagaimana Buyung Hok dapat menghindarkan serangan bubuk racun, bahkan dibelokkan ke tubuh orang lain, kepandaian demikian benar-benar sukar dimengerti.

Dengan pengalaman Ting Jun-jiu yang luas juga seketika tidak paham ilmu apakah yang dipakai Buyung Hok, hanya teringat olehnya istilah terkenal, “Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin” dari keluarga Buyung di Koh-soh itu. Terang cara yang digunakan adalah dengan cara lawan untuk menyerang kembali lawan.

Tapi bubuk racun itu sangat halus, masakah tanpa tersentuh lantas dapat dihamburkan kembali? Apalagi kalau memang betul sesuai istilah itu seharusnya serangan kembali itu mesti diarahkan padaku, mengapa muridku yang menjadi korban? Hm, tentu bocah ini merasa jeri juga kepadaku, maka tidak berani sembarangan “pegang-pegang kumis harimau”.

Terpikir tentang “pegang kumis harimau”, tanpa terasa Lokoay lantas mengelus-elus jenggot sendiri yang tinggal tidak seberapa karena habis terbakar itu. Tiba-tiba ia merasa girang malah, pikirnya, “Dengan pengalaman dan kepandaian setinggi So Sing-ho saja akhirnya juga melayang jiwanya di tangan Losian, Buyung Hok hanya bocah yang masih ingusan, apa artinya bagiku?”

Pikiran Lokoay itu berputar dengan cepat, betapa pun ia tidak sudi kelihatan lemah di depan muridnya, segera ia berkata pula, “Buyung-kongcu, kita ini memang ada jodoh. Mari, marilah kusuguh minum satu cawan arak padamu!”

Sembari berkata jarinya terus menyelentik dan cawan arak yang terletak di depannya lantas melayang ke arah Buyung Hok.

Tenaga selentikan itu sungguh sangat hebat dan bagus, cawan arak itu menyambar ke depan dengan tidak berguncang, setetes arak pun tidak tepercik keluar.

Jika dalam keadaan biasa, menyaksikan betapa hebat cara Lokoay menyelentik cawan arak itu, tentu anak murid Sing-siok-pay akan bersorak memuji setinggi langit. Tapi lantaran tadi mereka telah saksikan seorang kawan mati konyol secara aneh, mereka menjadi khawatir bila sembarangan menjilat pantat, jangan-jangan keliru lagi dan akibatnya bisa celaka.

Sebab itulah mereka tidak berani mengoceh seperti biasanya, hanya bersorak saja sekadarnya, sebab kalau tidak bersorak jangan-jangan akan dimarahi sang guru juga, dan ini pun akan membikin celaka mereka.

Dan baru saja cawan arak itu menyambar sampai di depan Buyung Hok, serentak para murid Sing-siok-pay bersorak gemuruh sekali. Ada dua-tiga orang yang bernyali ciut, sorakan itu tidak berani disuarakan, setelah mendengar kawan-kawannya bersorak baru mereka pun ikut-ikutan, tapi sudah ketinggalan hingga kedengaran lucu sekali suara yang tidak seragam itu. Apalagi ketika mereka dipelototi oleh kawan-kawan yang lain, mereka menjadi malu dan takut pula kepada sang guru.

Dalam pada itu Buyung Hok telah berkata, “Ting-siansing adalah kaum cianpwe, mana ada kaum cianpwe menyuguh arak kepada kaum muda? Cawan arak ini tidak berani kuterima, biarlah kusuguhkan kepada muridmu saja!”

Menyusul ia terus meniup satu kali hingga cawan itu mendadak berganti arah dan membelok ke sebelah kiri, menuju arah seorang murid Sing-siok-pay.

Melihat cara Buyung Hok menyebul itu, Jun-jiu tahu ilmu yang dipakai itu adalah cara “empat tahil menyampuk seribu kati”, semacam kepandaian menggunakan tenaga sedikit untuk melawan tenaga raksasa. Apalagi sekali sebul saja cawan arak itu dapat dibelokkan ke arah lain, terang caranya itu lebih susah daripada menyelentik cawan. Jadi jelas kelihatan Ting Jun-jiu telah kalah satu jurus.

Padahal tenaga tiupan Buyung Hok itu tak bisa dibandingkan begitu saja dengan tenaga selentikan Ting Jun-jiu itu. Soalnya cara menyebulnya itu sangat tepat, ia pinjam daya selentikan Ting Jun-jiu untuk membelokkan cawan itu, tapi dalam pandangan orang lain menjadi seperti cawan itu kena ditiup terpental olehnya.

Yang paling sial adalah murid Sing-siok-pay itu, ketika melihat cawan arak menyambar ke arahnya, seketika ia kelabakan, ia bingung apa mesti menghindar atau menyambut cawan itu? Selagi bingung tahu-tahu cawan itu sudah melayang sampai di depan hidungnya.

Tanpa pikir lagi dengan sendirinya ia ulur tangan untuk menangkap cawan itu sembari berkata, “Arak ini suguhan Suhu untukmu, kenapa kau berikan padaku?”

Baru ia hendak tolak kembali cawan arak itu ke arah Buyung Hok, sekonyong-konyong ia menjerit ngeri satu kali, tubuh terus roboh ke belakang dan tak bisa berkutik lagi.

Dalam hati para murid Sing-siok-pay cukup tahu apa sebab musabab kejadian itu. Mereka tahu bahwa sekali guru mereka menyelentik cawan arak, berbareng racun yang selalu menempel pada kuku terus ditaburkan pula di atas cawan, asal jari tangan Buyung Hok menyentuh cawan arak itu, tidak perlu minum araknya, kontan juga akan binasa seperti apa yang terjadi atas diri murid Sing-siok-pay yang sial itu.

Seketika air muka Ting Jun-jiu berubah hebat, tampak sekali rasa murkanya. Ia tahu dengan melesetnya serangan ini, untuk selanjutnya tidak dapat lagi mengelabui mata anak muridnya itu, sebab kini semua orang sudah tahu bahwa baru saja ia hendak menyerang Buyung Hok dengan bubuk racun, tapi malah kena ditiup kembali hingga salah seorang murid sendiri yang menjadi korban.

Waktu pertama kali ia bertemu dengan Buyung Hok sudah pernah saling gebrak sekali dan diketahuinya bahwa tenaga dalam lawan itu memang sangat hebat, kalau bicara tentang kepandaian sejati, dengan keuletan sendiri belum tentu mampu mengalahkan orang she Buyung itu.

Sekilas pikir saja segera Ting-lokoay sudah ambil keputusan, yaitu akan menggunakan “Hoa-kang-tay-hoat” untuk melawan Buyung Hok.

Sekarang ia tidak dapat bersikap acuh tak acuh lagi, dengan kedua tangan ia pegang satu cawan arak lagi dan perlahan ia berbangkit, katanya, “Buyung-kongcu, secawan arak ini betapa pun harus kusuguh padamu.”

Berbareng ia terus mendekati Buyung Hok.

Sepintas pandang saja Buyung Hok melihat arak putih dalam cawan itu bersemu hijau kemilau terang mengandung racun yang mahajahat. Sekarang iblis tua itu telah mendekatinya sendiri dengan membawa cawan arak, untuk mengelak terang susah. Tampaknya Ting Jun-jiu sudah berada di depannya, hanya terpisah oleh meja saja.

Mendadak Buyung Hok menarik napas panjang-panjang dan kontan arak dalam cawan Ting-lokoay itu tiba-tiba tertarik naik hingga berwujud suatu jalur air hijau.

“Lihai benar!” diam-diam Lokoay berseru. Ia tahu habis menarik napas, menyusul lawan tentu akan meniup dan jalur arak itu pasti akan memancur ke arahnya. Walaupun dirinya takkan beralangan terkena arak beracun itu, tapi sedikitnya akan basah kuyup dan hal ini akan kurang sedap dipandang mata.

Karena itu, diam-diam iblis tua itu pun mengerahkan tenaga dalam, “berrr”, sekonyong-konyong ia mendahului meniup jalur air arak itu.

Para murid Sing-siok-pay sudah sering menyaksikan sang guru mengadu ilmu dengan musuh seperti ketika mengadu lwekang dengan So Sing-ho, waktu itu masing-masing telah menggunakan tenaga dalam untuk mendorong gumpalan api ke arah lawan, siapa yang lebih kuat akan menang dan yang lebih lemah akan binasa terbakar.

Kini mereka pun menyaksikan sejalur air arak yang bersemu hijau mendadak timbul dari dalam cawan, lalu ditiup sang guru, maka tahulah mereka bahwa sang guru kembali bertanding tenaga dalam dengan musuh. Pikiran mereka lantas bekerja, semuanya ingin memeras otak untuk mendapatkan kata-kata pujian “gaya baru” yang tepat untuk menyanjung puji kepandaian sang suhu yang mahasakti itu.

Tak terduga bahwa tiupan Ting Jun-jiu yang keras itu sama sekali tak dilawan oleh Buyung Hok sehingga jalur arak itu mancur lurus ke mukanya. Keruan para murid Sing-siok-pay merasa heran, sama sekali tak terduga oleh mereka bahwa sang guru akan menang dengan cara begitu gampang.

Di sebelah sana A Ci sebenarnya sedang girang karena gurunya menemukan lawan tangguh, ia pikir akan ada kesempatan untuk meloloskan diri. Siapa duga lawan ternyata tidak becus, sekali diserang saja tidak mampu menangkis, maka ia sangat kecewa.

Begitulah selagi para murid Sing-siok-pay membuka mulut hendak bersorak, tiba-tiba jalur air yang sudah menyambar kira-kira belasan senti di depan hidung Buyung Hok itu tahu-tahu belok ke kiri dan dengan cepat luar biasa berputar balik terus memancur ke dalam mulut seorang murid Sing-siok-pay.

Murid Sing-siok-pay itu baru membuka mulut hendak bersorak, tapi belum lagi kata-kata “bagus” terucapkan, tahu-tahu “auup”, secawan arak yang tertiup menjadi sejalur air itu tertuang ke dalam perutnya.

Jalur air itu terlalu cepat tibanya hingga dia masih sempat bersorak dengan gembira ria, dan sesudah suara “bagus” tercetus barulah ia terkejut dan menyusul lantas berteriak, “Wah, celaka!” dan kontan ia jatuh terkulai ke tanah, hanya dalam sekejap saja mukanya, kaki dan tangannya lantas membusuk dengan cepat luar biasa, sebentar lagi bahkan pakaiannya juga ikut membusuk hingga hancur luluh, sampai akhirnya hanya ketinggalan beberapa kerat tulang putih saja.

Betapa lihainya racun itu sungguh Buyung Hok juga sangat terkejut, selama berkelana di Kangouw belum pernah dilihatnya racun sejahat ini.

Meski pertarungan mereka belum lagi ketahuan siapa akan unggul dan siapa asor, tapi di pihak Sing-siok-pay berturut-turut sudah terbinasa tiga orang murid, dalam hal ini samar-samar sudah menunjukkan kekalahan pada pihaknya. Keruan Ting Jun-jiu menjadi murka, mendadak ia taruh cawan arak yang dipegangnya itu ke atas meja, menyusul sebelah tangan terus menyodok ke depan.

Sudah lama Buyung Hok mendengar betapa jahatnya “Hoa-kang-tay-hoat” dari Sing-siok-pay, maka sejak mula ia layani orang dengan penuh waspada dan hati-hati. Demi melihat orang memukul, cepat ia berputar seraya balas memukul juga.

Beruntun Ting Jun-jiu melontarkan tiga kali pukulan, tapi selalu dapat dielakkan oleh Buyung Hok dengan cara yang gesit dan gaya yang indah tetap ia hindarkan adu tangan dengan iblis tua itu.

Makin lama makin cepat pertarungan mereka dan bertambah sengit pula. Di ruangan warung makan itu penuh meja kursi, tempatnya sempit, sebenarnya tiada tempat luang bagi medan pertempuran mereka. Tapi mereka justru dapat menyusur kian kemari di antara meja kursi yang berjubel itu tanpa membikin alat perabot itu morat-marit, jadi tangan mereka tidak pernah beradu, bahkan juga tidak pernah menyenggol meja kursi dan menerbitkan sesuatu suara berisik.

Dalam keadaan begitu, para murid Sing-siok-pay tetap berdiri mepet dinding ruangan itu, tiada seorang pun berani keluar warung makan itu, sebab mereka cukup kenal watak sang guru, jika ada murid yang berani menyingkir agak jauh tatkala gurunya sedang bertempur sengit dengan musuh, maka itu berarti menunjukkan ketidakteguhan jiwanya dan tidak setia kepada perguruan dan bukan mustahil nanti akan dijatuhi hukuman berat.

Sebab itulah biarpun semua orang tahu keadaan sangat berbahaya, asal tersampuk angin pukulan sang guru saja mungkin jiwa mereka bisa melayang, tapi mereka toh tidak berani sembarangan bergerak, mereka hanya berdiri semepet mungkin ke tepi dinding, jalan lain tidak ada.

Sementara itu kelihatan Buyung Hok lebih banyak bertahan daripada balas menyerang, meski ilmu pukulannya sangat bagus dan aneh pula, tapi karena tidak berani beradu tangan dengan Ting Jun-jiu, maka gerak-geriknya menjadi terikat dan terdesak di bawah angin.

Sebaliknya Sing-siok Lokoay sudah banyak menghadapi lawan tangguh, pengalamannya sangat luas, dalam waktu singkat saja segera ia tahu bahwa Buyung Hok tidak ingin mengadu tangan dengan dirinya, itu menandakan lawan jeri kepada Hoa-kang-tay-hoatnya. Dan kalau lawan keder terhadap ilmu andalannya itu, dengan sendirinya ilmu inilah yang harus dilancarkan untuk mengalahkan lawan. Cuma saja gerakan Buyung Hok teramat cepat dan gesit, ilmu pukulannya juga banyak perubahannya dan tak menentu arah tujuannya, untuk memaksanya mengadu tangan dengan dirinya juga tidak gampang.

Sesudah bergebrak beberapa jurus lagi, akhirnya Ting Jun-jiu mendapat suatu akal. Sengaja ia mendesak dengan telapak tangan kanan, memukul dan bertahan selalu menggunakan tangan kanan saja, sebaliknya tangan kiri pura-pura agak kaku kurang leluasa bergerak, ia berlagak sengaja hendak menutupi ciri-ciri kelemahan itu agar Buyung Hok tidak mengetahuinya.

Namun Buyung Hok adalah seorang ahli, seorang sarjana ilmu silat, sedikit saja musuh menunjuk kelemahannya segera dapat dilihatnya. Mendadak ia miringkan tubuh dengan setengah putar terus menghantam dua kali susul-menyusul dengan kekuatan penuh mengarah iga kiri Ting Jun-jiu.

Sudah tentu kesempatan itu tidak disia-siakan Lokoay, ia pura-pura bersuara “ngek” tertahan sambil mundur setindak dan tidak berani menangkis dengan tangan kiri.

Maka diam-diam Buyung Hok menduga bagian dada kiri atau iga kiri iblis tua itu tentu menderita luka dalam sehingga tidak berani menangkis serangannya. Ia mendapat hati, kembali ia hantam ke sebelah kanan, tapi yang diincar sebenarnya sebelah kiri.

Setelah bergebrak belasan jurus lagi, tiba-tiba tangan kiri Ting Jun-jiu ditarik dan disembunyikan dalam lengan baju, sebaliknya tangan kanan terus membalik ke atas dan mencakar muka Buyung Hok.

Dengan sendirinya Buyung Hok miringkan tubuh dan putar ke samping berbareng ia pun menjotos iga kiri lawan.

Selama ini yang ditunggu-tunggu Ting-lokoay justru adalah pukulan Buyung Hok ini dan sekarang lawan benar-benar berlaku seperti apa yang diharapkannya, keruan girang Lokoay tak terkatakan. Maka terdengarlah angin berkesiur, lengan baju berkibar, tiba-tiba Ting-lokoay mengebaskan lengan baju kiri untuk membelit tangan Buyung Hok itu.

Diam-diam Buyung Hok membatin, “Biarpun lengan bajumu lebih lihai sepuluh kali lipat juga tidak nanti dapat melukai aku?”

Karena itu ia tidak menarik kembali kepalan hanya tenaga dalamnya dikerahkan dan membiarkan tangan digulung oleh lengan baju musuh.

“Bret”, tiba-tiba terdengar suara kain robek, tahu-tahu lengan baju kanan Buyung Hok sendiri tersobek satu bagian oleh sambaran angin lengan baju Ting Jun-jiu itu hingga kelihatan kulit badannya yang putih bersih, pada lengannya juga lantas terdapat satu jalur merah.

Kiranya angin kebasan lengan baju Lokoay itu memang luar biasa kerasnya, seperti pisau tajamnya lengan Buyung Hok tergores satu jalur, coba kalau sebelumnya ia tidak mengerahkan tenaga dalam, tentu lengannya sudah patah.

Namun begitu jotosan Buyung Hok itu tetap diteruskan dengan sekuat-kuatnya. Tapi ia terkejut ketika mendadak kepalan terasa terjepit oleh sesuatu, tahu-tahu kepalan kena dipegang oleh Ting Jun-jiu, yaitu tangan kiri yang disembunyikan dalam lengan bajunya tadi.

Sudah tentu kejadian ini sama sekali di luar dugaan Buyung Hok, segera ia pun sadar, “Wah, celaka! Iblis tua ini pura-pura lemah di sebelah kiri, tak tahunya cuma tipu muslihatnya untuk memancing aku, sekali ini aku benar-benar masuk perangkapnya!”

Tapi ia pun tahu bila segera ia membetot tangannya, maka racun Ting-lokoay itu pun akan terus ikut menyusup dan merembes ke dalam badan bersama dengan tenaga dalam yang ditarik kembali itu, untuk mana pasti akan berbahaya bagi jiwanya.

Dalam sekejap itu timbul rasa menyesal dalam hati Buyung Hok, “Aku terlalu gegabah dan terlalu menilai rendah Sing-siok Lokoay yang tersohor di seluruh jagat ini, sebelumnya aku tidak merancangkan cara melawannya, tapi mendadak berani menantang dia.”

Tapi urusan sudah kadung terjadi, hendak mundur juga tidak bisa lagi. Maka dengan nekat Buyung Hok mengerahkan segenap tenaga dalam dan dilontarkan melalui kepalan yang dipegang lawan itu.

Telapak tangan Ting-lokoay sangat besar, sekali pegang saja kepalan Buyung Hok itu tergenggam dalam tangannya. Tapi karena reaksi lawan yang teramat cepat itu hingga mau tak mau tubuhnya tergetar hebat, urat-urat nadi serasa hendak putus, lengan kiri pun terasa kesemutan, hampir saja pegangannya terlepas.

Tatkala Ting-lokoay menggunakan “Hoa-kang-tay-hoat” badannya harus bersentuhan dengan badan lawan, jika sekali entak cekalannya kena dipentalkan tenaga lawan maka ilmu pemunah tenaga itu pun tiada manfaatnya lagi.

Karena itu, segera ia pun mengerahkan tenaga dengan maksud memegang kepalan Buyung Hok sekencang-kencangnya. Tapi pada saat itu juga tenaga dalam Buyung Hok mendadak bertambah hebat dan sekali meronta kepalan berhasil dibetot kembali.

Sebenarnya kalau bicara tentang tenaga dalam, jelas Buyung Hok tidak lebih ulet daripada Hian-lan Taysu. Tapi waktu Lokoay mengadu telapak tangan dengan Hian-lan, semakin hebat tenaga tolakan lawan, semakin rapat pula kedua telapak tangan itu melengket. Sebaliknya sekarang ia menggunakan telapak tangan sendiri untuk memegang kepalan Buyung Hok, tenaga cekalan itu dengan sendirinya terbatas dari pihak sendiri saja, maka sekali Buyung Hok meronta sekuatnya, terlepaslah cekalan Ting-lokoay itu.

Tapi kejadian itu juga cuma sekilas saja, sebab begitu kedua tangan masing-masing terlepas, secepat kilat tangan Ting Jun-jiu menyambar pula ke bawah dan kontan kepalan Buyung Hok kena terpegang lagi.

Buyung Hok bersuara “ngek” sekali dan kembali mengerahkan tenaga sekuatnya. Tapi celaka, sekali ini tenaganya terasa mengenai tempat kosong, jadi seperti batu kecemplung laut tanpa wujud tanpa bekas, mirip rem yang mendadak “blong” dan susah dikendalikan lagi.

“Celaka!” diam-diam Buyung Hok mengeluh. Sebelum bergebrak tadi memangnya sudah diperhitungkannya agar jangan sekali-kali sampai terkena Hoa-kang-tay-hoat lawan. Tapi akhirnya toh sukar mengelakkan diri dari serangan ilmu itu.

Dalam keadaan demikian ia jadi serbasusah dan serbasalah. Kalau tetap melawan dengan mengerahkan tenaga dalam, maka betapa pun hebat tenaganya pasti juga akan punah dan hanya dalam waktu singkat saja lwekangnya akan terkuras habis dan menjadi orang lumpuh yang tak berguna. Sebaliknya kalau bertahan sekuatnya dan menarik kembali tenaga dalam sendiri, maka racun iblis tua yang susah dijajaki lihainya itu tentu akan terus ikut meresap masuk melalui hawa murni yang ditarik kembali itu dan sekali racun jahat iblis itu masuk urat nadi akhirnya celaka juga dia.

Selagi Buyung Hok merasa serbasusah dan bingung, tiba-tiba didengarnya di belakang ada seruan seorang, “Suhu telah pasang perangkap bagus dan bocah busuk itu sudah menghadapi jalan buntu sekarang!”

Sekilas hati Buyung Hok tergerak, mendadak tangan kirinya membalik sambil mundur dua tindak ke belakang, dengan ilmu “Thing-sing-pian-heng” (Mendengarkan Suara Membedakan Tempat), di mana tangannya tiba, tahu-tahu dada murid Sing-siok-pay itu kena dicengkeramnya.

Adapun ilmu tunggal keluarga Buyung yang paling lihai adalah semacam cara meminjam tenaga lawan untuk menyerang kembali kepada musuh, yaitu yang disebut “Tau-coan-sing-ih” (Matahari Berputar Bintang Bergeser). Orang luar yang tidak tahu seluk-beluknya sama menganggap kepandaian Buyung-si dari Koh-soh yang terkenal “Ih-pi-ci-to hoan-si-pi-sin” itu meliputi segenap ilmu silat dari golongan dan aliran mana pun dan semuanya telah dipahami dengan baik untuk balas menyerang pecundangnya dengan ilmu andalan masing-masing lawannya.

Padahal ilmu silat di dunia ini terlalu luas dan beraneka macam ragamnya, betapa pintar dan tinggi pengetahuannya juga sukar memahami setiap ilmu silat hingga mahir seluruhnya. Apalagi ilmu andalan, sudah tentu susah dilatih dalam waktu singkat.

Tapi keluarga Buyung itu mempunyai semacam kepandaian yang amat bagus, yaitu apa yang disebut “Tau-coan-sing-ih” tadi, tidak peduli lawan mengeluarkan kepandaian apa pun tentu dapat dielakkan dan tenaga serangan itu berbalik akan menyerang lawan itu sendiri.

Jadi umpama lawan mahir menggunakan tombak dan hendak menusuk tenggorokan Buyung-si, tapi sekali kena diputar dan digeser, kontan tusukan itu mengenai tenggorokan si penyerang sendiri malah, dan cara dan gaya yang dipakai tetap tidak berubah, begitu pula senjatanya juga senjata lawan sendiri.

Karena itulah bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri akan kepandaian “Tau-coan-sing-ih” keluarga Buyung itu, tentu tiada seorang pun yang dapat membayangkan kematian sang korban sebenarnya adalah “membunuh diri”. Dan semakin lihai ilmu pukulan lawannya, cara matinya juga semakin hebat.

Namun kalau tidak bertempur satu lawan satu dan tidak yakin pasti akan dapat membinasakan lawan, maka ilmu “Tau-coan-sing-ih” itu pun tidak sembarangan dikeluarkan.

Lantaran itulah nama Koh-soh Buyung lantas mengguncangkan dunia Kangouw, sebaliknya di mana letak kunci kepandaian keluarga Buyung itu juga tiada seorang pun yang tahu dengan jelas.

Cara memutar balik pukulan atas senjata lawan untuk menyerang lawan sendiri soalnya terletak pada tenaga pentalan saja. Misalnya kita menjotos dinding, semakin keras kita memukul semakin keras pula daya pental kembali dan sama saja seperti kita memukul diri sendiri dengan tenaga sekeras itu.

Untuk memutarbalikkan pukulan atau senjata lawan yang berwujud itu jelas lebih gampang, sebaliknya sangat sulit untuk menggeser kembali tenaga dalam pihak musuh yang tak berwujud itu. Dalam hal itu meski Buyung Hok juga cukup lama meyakinkan ilmu ini tapi betapa pun terbatas oleh usianya yang masih muda, maka belum lagi mencapai tingkatan yang paling sempurna sehingga kalau bertemu dengan jago nomor wahid seperti Ting Jun-jiu tentu susah menggunakan “Tau-coan-sing-ih” untuk menghantam lawan, sebab itulah beruntun tiga kali ia bergeser dan mengembalikan serangan Ting-lokoay untuk menghantam anak murid Sing-siok-pay yang sial itu.

Jadi tetap dia geser dan dia putar balikkan serangan itu, cuma saja tidak kepada lawan itu sendiri melainkan kepada pihak ketiga.

Kalau pertama kali dengan gampang saja Buyung Hok mendapatkan ganti korbannya atas serangan bubuk racun Ting-lokoay, tapi sekarang menghadapi “Hoa-kang-tay-hoat”, sebenarnya Buyung Hok tidak mampu menggeser dan memutar balik, kebetulan ada murid Sing-siok-pay yang buru-buru ingin cari muka dan bersorak memuji, karena itu letak tempatnya lantas diketahui Buyung Hok.

Saat itu Buyung Hok sudah kepepet, dalam gugupnya tanpa pikir lagi ia cengkeram murid Sing-siok-pay itu dan segera diputar balik sebagai gantinya. Tak tersangka tindakannya itu ternyata sangat tepat, mestinya tujuan Ting-lokoay hendak memunahkan tenaga Buyung Hok, tapi sekali punah ternyata tenaga muridnya sendiri yang menjadi korban.

Melihat usahanya berhasil, Buyung Hok tidak sia-siakan setiap kesempatan lagi, sebelum Ting Jun-jiu timbul pikiran jahat lain, segera ia mendorong dulu murid Sing-siok-pay itu hingga tubuhnya tertumbuk pada badan seorang murid Sing-siok-pay yang lain. Dengan sendirinya tenaga dalam murid kedua itu pun punah seketika terkena “Hoa-kang-tay-hoat” yang masih dilontarkan Ting-lokoay.

Sambil tetap memegang kencang kepalan Buyung Hok, sungguh gusar Ting Jun-jiu tak terkatakan menyaksikan murid sendiri yang menjadi korban malah. Pikirnya, “Jika aku pikirkan keselamatan murid-murid yang tak becus ini dan melepaskan kepalan lawan, maka untuk memegangnya lagi terang akan mahasulit. Sekali kulepaskan, bocah ini tentu akan terus ngacir dan pertarungan ini akan berakhir dengan jatuhnya korban lima orang muridku, sebaliknya aku cuma berhasil merobek sepotong lengan bajunya, terang Sing-siok-pay telah dikalahkan habis-habisan dan untuk selanjutnya masakan Sing-siok Losian ada muka lagi untuk menjagoi Tionggoan?”

Setelah ambil keputusan, maka tetap ia pegang kepalan Buyung Hok dan tidak dilepaskan.

Dalam pada itu Buyung Hok sudah mundur lagi beberapa tindak dan kembali seorang murid Sing-siok-pay kena ditempel pula hingga tenaga korban baru itu dipunahkan Ting Jun-jiu.

Hanya dalam sekejap saja murid Sing-siok-pay itu pun menggeletak di tanah dalam keadaan lumpuh, ketiga orang itu lengket menjadi satu dan sukar terlepas, darah mereka seperti sudah kering terisap oleh iblis pengisap darah.

Keruan murid Sing-siok-pay yang lain sangat terperanjat. Ketika melihat Buyung Hok mundur lagi ke arah mereka, semuanya menjerit ketakutan dan sama menyingkir.

Ketika Buyung Hok mengangkat tangan, kontan anak murid Sing-siok-pay yang saling lengket itu ikut tertarik naik seperti terbang melayang dan kebetulan seorang murid Sing-siok-pay yang lain tertumbuk lagi. Belum lenyap suara jeritan kaget murid Sing-siok-pay itu, tahu-tahu tubuhnya sudah lemas lunglai dan ikut melengket bersama kawan-kawannya seperti sundukan satai saja.

Keruan murid Sing-siok-pay yang lain tambah ketakutan. Selama Ting Jun-jiu tidak melepaskan tangan Buyung Hok, maka dengan cara Buyung Hok mencari korban pengganti itu, bisa jadi murid Sing-siok-pay sebentar lagi akan disikat habis.

Biasanya anak murid Sing-siok-pay itu pandai mengumpak dan mahir menjilat pantat, tapi sekarang mereka menjadi ketakutan setengah mati siapa tahu kalau berikutnya ia pun akan melengket seperti suheng atau sutenya yang sudah lemas itu. Biarpun ketakutan toh tiada seorang pun berani lari keluar pintu, mereka terpaksa hanya menyingkir ke sini dan menghindar ke sana dalam ruang makan itu.

Dan sudah tentu ruang makan itu terlalu sempit bagi mereka, di mana tangan Buyung Hok bergerak dalam sekejap kembali ada empat-lima orang kena tersedot dan melengket pula. Dengan “senjata” raksasa itu, dengan sendirinya Buyung Hok menjadi lebih gampang lagi mencari korbannya.

Dalam keadaan demikian jelas sekali Buyung Hok telah memperoleh kemenangan total. Tapi hal ini tidak berarti dia sendiri tidak berkhawatir. Sebab, meski anak murid Sing-siok-pay itu cukup banyak, tapi pada akhirnya tentu juga akan habis. Dan bila anak murid Sing-siok-pay telah “dimakan” semua, lalu cara bagaimana dia akan melepaskan diri?

Begitulah, maka berulang-ulang Buyung Hok main lompat dan mengerahkan tenaga dengan maksud melepaskan tangannya dari pegangan Ting-lokoay.

Di lain-pihak Ting Jun-jiu menyaksikan anak muridnya satu per satu melengket seperti sundukan satai di sebelah tangan Buyung Hok yang lain. Sedang murid-murid yang lain sama berlarian menghindarkan diri dengan ketakutan sehingga tiada seorang pun yang ingat memberi sorak puji kepada sang guru.

Gusar dan malu juga Ting-lokoay, ia jadi lebih kencang pula memegang tangan Buyung Hok. Pikirnya, “Murid yang tidak becus ini biarkan saja mampus semua. Asalkan aku dapat memunahkan tenaga Buyung Hok, maka akan berkumandanglah cerita tentang Koh-soh Buyung dikalahkan Sing-siok Losian.”

Maka ia tetap tenang saja, sedikit pun tidak kelihatan marah, sebaliknya tersenyum-senyum malah.

Semula ada juga di antara murid Sing-siok-pay itu berharap sang guru akan menaruh belas kasihan kepada murid sendiri yang menjadi korban itu dan karena itu akan melepaskan cekalannya pada tangan Buyung Hok, tapi sekarang melihat Ting Jun-jiu sedikit pun tidak pikirkan nasib mereka, terang mereka pasti akan mati konyol semua, maka mereka menjadi panik dan sama menjerit-jerit ketakutan, tapi toh tetap tiada seorang pun yang berani melarikan diri keluar rumah makan itu atau memohon sang guru melepaskan Buyung Hok.

Ting Jun-jiu melihat di antara anak muridnya yang berkelit kian kemari itu hanya ada dua orang yang tidak ikut-ikutan menghindar. Yaitu Yu Goan-ci dan A Ci.

Goan-ci tampak berjongkok di pojok ruangan sana, kepalanya yang “berlapis baja” itu disembunyikan di antara tangan dan dengkulnya, tampaknya sangat ketakutan. Sedangkan A Ci kelihatan pucat lesi dan meringkuk juga di pojok ruangan sebelah sana, tapi berulang-ulang memandang ke arah Buyung Hok.

Keruan Lokoay menjadi gusar, bentaknya, “A Ci!”

A Ci terkejut. Ia lagi terpesona atas ketangkasan Buyung Hok yang dapat melawan Hoa-kang-tay-hoat sang guru yang sakti itu. Maka ia menjadi gugup ketika mendengar namanya diteriaki, cepat ia menjawab, “Ya, Suhu….”

Tapi hanya sekian dan tidak dapat melanjutkan lagi melainkan cuma tertawa ewa saja. Rupanya ia ada maksud mengucapkan kata-kata sanjung puji untuk mengumpak sang guru, tapi demi teringat yang menjadi korban pada waktu itu justru adalah anak murid Ting-lokoay sendiri maka ia menjadi serbasusah untuk mencari kata-kata pujian yang tepat.

Maka Ting Jun-jiu bertanya pula, “Kenapa? Apa Sing-siok Losian sekarang dianggap tidak dapat mengguncangkan dunia persilatan dan terkenal di Tionggoan?”

A Ci kebat-kebit mendengar pertanyaan yang bernada kurang senang itu. Ia pikir kalau ucapannya nanti tidak dapat memuaskan sang guru bukan mustahil jiwanya akan segera melayang. Maka cepat ia menjawab, “Sudah tentu! Buyung-siaucu sudah tergenggam di tangan Suhu, dia belum lagi sadar akan nasibnya sebaliknya malah kelihatan senang.”

Mendadak Buyung Hok sedikit bergeser sambil angkat tangannya, maka barisan orang yang melengket di tangannya itu lantas menubruk ke arah A Ci.

Keruan A Ci ketakutan, cepat ia melompat pergi.

Hoa-kang-tay-hoat Ting Jun-jiu itu benar-benar sangat lihai, sekali serangan Buyung Hok luput menempel A Ci, kontan tenaga murni dalam tubuhnya lantas terasa disedot sedikit oleh iblis itu. Diam-diam ia berkhawatir, tidak boleh tidak ia harus mencari korban pengganti di antara anak murid Sing-siok-pay. Maka kembali ia menguber ke arah A Ci.

Dengan muka pucat A Ci berseru, “Suhu, apakah engkau tidak suka mendengarkan ucapanku hingga selesai?”

Sambil membetot kepalan Buyung Hok, sebelah tangan Ting Jun-jiu yang lain mengelus-elus jenggot, jawabnya, “Boleh kau bicara.”

“Tapi aku… aku….” seru A Ci sambil menghindarkan incaran Buyung Hok.

Segera Ting Jun-jiu mengebaskan lengan bajunya, serangkum angin lantas menyambar ke depan hingga barisan orang yang saling lengket dan sedang memburu ke arah A Ci itu ditolak mundur, tapi sial bagi dua murid Sing-siok-pay yang lain, mereka yang ketiban pulung, seketika mereka terlengket lagi menjadi satu dengan kawan-kawannya.

Dengan demikian barulah A Ci dapat menghela nahas lega, katanya, “Suhu, tatkala mengadakan pembersihan perguruan, kebetulan bocah she Buyung ini berani main gila di sini, sekarang Suhu menggunakan dia sebagai senjata hidup untuk membersihkan anak murid sendiri yang tak berguna, pada hakikatnya dia… dia cuma diperalat oleh Suhu saja, hanya Suhu sendirilah benar-benar orang kosen yang mahasakti.”

Sebenarnya Ting Jun-jiu sangat gusar, tapi demi mendengar sanjung puji A Ci itu, maka tertawalah dia.

Segera Buyung Hok angkat tangannya lagi, sekali entak, kembali belasan orang yang terlengket di tangannya itu sempoyongan terus menubruk pula ke arah A Ci.

Saat itu A Ci sudah terdesak di pojok dinding, untuk menghindar lagi jelas tidak bisa. Meski Ting Jun-jiu juga mengebaskan pula lengan bajunya tapi tampaknya sudah terlambat dan A Ci tentu akan ditumbuk oleh murid Sing-siok-pay pada ujung barisan itu. Keruan A Ci ketakutan, tiada jalan lain terpaksa ia hanya pejamkan mata dan menanti ajal saja.

Tak terduga Buyung Hok lantas tertawa terbahak-bahak, mendadak murid Sing-siok-pay yang paling ujung itu terhuyung-huyung ke depan dan menubruk ke arah seorang murid Sing-siok-pay yang lain.

A Ci mandi keringat dingin setelah lolos dari lubang jarum. Waktu ia pandang ke depan, dengan tersenyum Buyung Hok berkata padanya, “Nona cilik, benar juga ucapanmu, ya?”

Setelah tenangkan diri, A Ci tahu Buyung Hok tiada maksud buat mencelakai dia, tanpa terasa ia pun balas tersenyum.

Semua itu dapat dilihat Ting Jun-jiu, ia tambah murka, dengan suara bengis ia membentak, “A Ci, mengapa Buyung-siaucu ini tidak jadi mencelakaimu?”

A Ci terkesiap, ia tahu Ting-lokoay menaruh curiga padanya. Sebisanya ia hendak mengumpak dan memuji sang guru pula, tapi sukar terkabul, sebab ia sudah kehabisan kata muluk-muluk dan enak didengar.

“Hehe!” demikian Ting Jun-jiu tertawa dingin. “Selama kau berada di sampingku dan dapat menyenangkan hatiku, tentu aku takkan mengganggu jiwamu.”

“Terima kasih, Suhu,” cepat A Ci menjawab.

“Kau jangan terburu-buru senang dulu, ini….” mendadak Lokoay mengebaskan lengan bajunya ke muka A Ci.

Saking cepatnya tindakan Ting-lokoay itu sehingga sebelum A Ci sadar apa yang terjadi tahu-tahu kedua matanya terasa “nyes”, lalu kesakitan luar biasa dan pandangannya menjadi gelap pula, pipi lantas berlinang dua titik cairan seperti air mata meleleh.

Nyata Ting Jun-jiu telah mengerahkan tenaga dalamnya pada ujung lengan bajunya dan secepat kilat menyabet buta kedua mata A Ci.

Tatkala melihat lengan baju Ting Jun-jiu bergerak lagi memangnya Buyung Hok sudah menduga iblis itu pasti tidak bermaksud baik. Walaupun ia tahu A Ci adalah murid Sing-siok-pay juga tapi anak dara itu cantik menyenangkan dan berbeda dengan saudara-saudara seperguruannya yang lain, maka diam-diam Buyung Hok juga sangat sayang padanya. Dan selagi ia hendak menolong namun serangan Ting Jun-jiu itu terlalu cepat sehingga tidak keburu dicegah lagi.

Sekarang melihat A Ci tetap berdiri bersandar dinding, dari kedua matanya meneteskan dua titik darah yang mirip air mata, biarpun Buyung Hok sudah banyak menyaksikan perbuatan orang kejam juga belum pernah melihat cara Ting Jun-jiu yang begitu keji, jiwa anak muridnya sedikit pun tidak berharga bagi iblis itu, untuk sedetik Buyung Hok tertegun juga dan karena itu tenaga murninya kembali tersedot sedikit pula.

Sesudah membutakan kedua mata A Ci, lalu berkatalah Ting-lokoay, “Aku tetap membiarkanmu hidup tapi tidak boleh lagi melihat sesuatu agar kau tidak punya pikiran menyeleweng terhadap perguruan. Nah, kau terima tidak hukuman ini?”

Tapi wajah A Ci sudah pucat lesi, bibir agak gemetar dan susah membuka suara lagi.

Selagi Ting Jun-jiu hendak tanya pula, sekonyong-konyong dari pojok ruangan bergema suara suitan orang yang aneh, serangkum angin mahakuat mendadak menyambar tiba hingga semua orang yang berada di dalam rumah menggigil kedinginan.

Kiranya Yu Goan-ci yang sejak tadi meringkuk di pojok ruangan itu sekarang mendadak melompat maju, begitu berada di samping A Ci, segera ia tarik tangan anak dara itu terus diseret keluar dengan cepat.

Ting Jun-jiu membentak satu kali, berbareng sebelah tangan terus memukul. Sudah tentu sekali-kali Yu Goan-ci tidak berani mengadu pukulan dengan Ting-lokoay. Tapi mengingat A Ci harus dilindungi, dalam gugupnya segera ia menangkis ke belakang dengan tujuan agar tenaga pukulan iblis tua itu dipindahkan ke arahnya dan tidak mengenai A Ci.

Melihat Goan-ci berani menangkis, kembali Ting Jun-jiu membentak lebih keras, ia kerahkan tenaga beracun lebih kuat.

“Bluk”, ketika kedua tangan beradu, seketika Goan-ci bersama A Ci terpental ke depan seperti terbang.

Begitu keras mereka terpental ke depan, tampaknya pasti akan menumbuk dinding, tiba-tiba tangan Goan-ci menolak ke depan, “blang”, tahu-tahu dinding itu ambrol menjadi sebuah lubang, sebaliknya Ting Jun-jiu terentak mundur dua-tiga tindak, ia merasa dada dirangsang hawa dingin, tenaga yang dikerahkan tadi hilang sirna tanpa bekas.

Kesempatan itu dipergunakan Buyung Hok dengan baik tatkala Ting Jun-jiu mengadu tangan dengan Yu Goan-ci berbareng ia pun mengerahkan tenaga dan mengipratkan tangan sehingga cekalan Ting-lokoay terentak lepas, cepat ia lompat mundur pula, malahan sebelah tangannya yang menggandeng barisan anak murid Sing-siok-pay yang melengket satu itu terus diputar pula dan satu per satu disodok ke depan untuk menumbuk Ting Jun-jiu.

Sesudah mengadu tangan dengan Goan-ci tadi Ting Jun-jiu merasa tenaga dalamnya merembes keluar dengan sangat cepat, maka segera ia berjungkir dengan kaki di atas dan kepala di bawah terus berputar-putar beberapa kali, ia gunakan ilmu menguatkan tenaga dari perguruannya untuk menahan merembes keluarnya tenaga dalam.

Pada saat itulah belasan anak muridnya yang tadi melengket di tangan Buyung Hok itu menubruk ke arahnya, sedangkan Ting-lokoay sendiri sedang berputar dengan menjungkir, sudah tentu ia tidak dapat menghindar atau menggunakan tangan atau kakinya untuk menangkis, maka terdengarlah suara “blang-blung” beberapa kali, anak murid Sing-siok-pay itu berturut-turut menubruk badan Ting-lokoay, tapi satu per satu lantas terpental pula dan terbanting jatuh ke tanah, ada yang patah kaki dan tangan, ada yang pecah kepalanya dan binasa.

Sungguh gusar Ting Jun-jiu bukan buatan. Sekali membentak segera ia berdiri tegak kembali. Mukanya tampak pucat, tapi beringas menakutkan. Anak muridnya telah mati sebagian besar, sebaliknya Buyung Hok yang tadi sudah terpegang olehnya sedikit pun tidak terganggu, malahan Yu Goan-ci sempat menggondol lari A Ci, kekalahan Sing-siok Losian yang memalukan ini bukankah akan dibuat bahan ejekan di dunia persilatan?

Pada umumnya orang yang suka dipuji, suka dijilat diumpak, manusia demikian tentu juga paling gila hormat dan suka jaga muka, setiap kejadian yang memalukan sedapat mungkin ingin ditutup-tutupi agar tidak diketahui orang luar.

Begitu pula dengan Ting Jun-jiu. Seperti tempo hari ia hampir ditelan ular raksasa yang dikerahkan padri-padri Thian-tiok itu, untung kemudian Goan-ci dapat menolongnya dengan mengusir kawanan ular itu dengan api. Tapi sebagai balas terima kasihnya iblis itu sengaja suruh Goan-ci memeriksa pernapasan padri Thian-tiok yang sudah binasa keracunan itu agar Goan-ci juga ikut mati tujuannya tak lain agar Goan-ci juga terbunuhnya sehingga kejadian yang memalukan baginya itu tidak tersiar.

Coba kalau Goan-ci tidak kebetulan memiliki racun dingin ulat sutra putih yang dapat mengatasi segala macam racun lain, tentu sudah lama jiwa Goan-ci melayang.

Sekarang Ting Jun-jiu melihat Buyung Hok masih berdiri di situ sambil memandang mayat yang bergelimpangan di tanah itu dengan senyuman mengejek, ia tahu bila Buyung Hok sampai lolos dengan selamat, maka nama kebesaran Sing-siok Losian niscaya akan merosot habis-habisan.

Karena itulah, sambil melototi Buyung Hok dengan gusar, diam-diam ia tebarkan tiga jenis bubuk racun yang mahajahat dengan tenaga dalam yang tak kelihatan.

Sisa anak murid Sing-siok-pay yang beruntung tidak mampus itu masih ada tujuh atau delapan orang. Melihat wajah sang guru mengunjuk rasa gusar tak terhingga, kembali mereka obral sanjung puji lagi.

“Betapa pun Sing-siok Losian memang mahasakti! Nah, Buyung-siaucu, apakah kau tidak ingin lekas lari? Apa kau cari mampus? Ya, jika kau tidak lekas ngacir, naga-naganya keluarga Buyung kalian pasti akan putus keturunan! Eh, Buyung Hok, tidak lekas lari dengan mencawat ekor, mau tunggu apa lagi?”

Begitulah karena merasa pertarungan ini lebih banyak memalukan Sing-siok-pay mereka, maka mereka ganti haluan dengan mencaci maki Buyung Hok untuk menaikkan gengsi guru mereka. Harapan mereka adalah Buyung Hok akan lekas pergi dari situ. Sebab kalau Buyung Hok tidak lekas pergi bila sebentar kena dipegang Ting-lokoay lagi maka yang celaka bukanlah orang she Buyung melainkan mereka sendiri yang akan menjadi korban lagi.

Namun Buyung Hok hanya tersenyum-senyum saja dan tidak menggubris caci maki mereka. Berulang tiga kali Ting Jun-jiu menghamburkan bubuk racun ke arahnya, tapi tanpa bicara apa-apa ia tolak kembali bubuk racun itu ke badan anak murid Sing-siok-pay.

Maka terdengarlah suara gedebukan di sana-sini, siapa yang bersuara memaki musuh, kontan terima ganjarannya dengan mati menggeletak. Keruan mereka ketakutan dan tidak berani memaki lagi, ingin memuji sang guru pun sudah kehabisan kata-kata muluk. Terpaksa mereka cuma berdiri terkesima di situ.

Melihat murid-muridnya bungkam, Ting Jun-jiu bertambah marah, ia terkekeh aneh dan berkata, “Buyung Hok, belum ketahuan siapa unggul dan asor, kenapa berhenti?”

Selagi Buyung Hok hendak menjawab, sekonyong-konyong dilihatnya di sebelah sana ada sebuah meja bisa mumbul ke atas.

Meja kursi dalam ruang makan itu sebenarnya sudah morat-marit tak keruan, hanya meja yang terletak di pojok itulah yang tidak terganggu. Kini mendadak meja itu bisa mumbul ke atas tanpa sebab, hal benar-benar aneh luar biasa sehingga menarik perhatian semua orang. Tapi ketika diperhatikan, Buyung Hok lantas tertawa geli.

Kiranya di bawah meja itu terdapat satu orang. Boleh jadi orang itu sangat ketakutan dan sembunyi di kolong meja, sekarang ia berdiri, tapi lupa merangkak keluar dulu dari kolong meja, maka meja itu ikut tersundul ke atas.

Dan sesudah berdiri tegak, orang di bawah meja itu tampak memejamkan mata, tangan terangkap di depan dada, badan masih gemetar, kedengaran sedang berdoa. Kiranya dia adalah Hi-tiok Hwesio.

Ting Jun-jiu semakin murka karena di situ selain Buyung Hok ternyata masih ada seorang lagi. Ia membentak, “Keledai gundul, sejak kapan kau sembunyi di situ?”

Tadi sebenarnya Hi-tiok ingin mengeluyur pergi, tapi ia ketakutan oleh pertarungan sengit itu, maka buru-buru ia sembunyi di kolong meja. Sebagai murid Buddha yang welas asih, ia tidak tega menyaksikan pembunuhan besar-besaran dalam pertempuran itu. Kemudian dilihatnya si “kongcu” muda yang menggodanya itu dalam waktu singkat kedua matanya telah dibutakan, ia tambah takut dan gemetar, berulang ia memanjatkan doa. Dan ketika mendengar Ting Jun-jiu hendak bergebrak pula dengan Buyung Hok, segera ia berdiri dari tempat sembunyinya hendak mencegah. Tapi dalam gugupnya ia lupa di atas kepalanya masih tersunggi sebuah meja.

Waktu ia dibentak Ting Jun-jiu barulah ia sadar bisa celaka, dengan muka pucat dan badan gemetar ia menjawab, “Aku… aku sudah lama berada di sini. Ka… kalian jangan berkelahi lagi.”

Tiba-tiba Ting Jun-jiu sedikit mengebas lengan bajunya, serangkum angin yang lembut tapi tajam menyambar ke arah Hi-tiok.

Diam-diam Buyung Hok gegetun, ia menduga hwesio itu tentu akan celaka, ia hendak menolong tapi terlambat.

Dengan cepat iga Hi-tiok kena disambar tenaga kebasan Ting Jun-jiu itu hingga badan sedikit tergeliat, tapi tidak terganggu apa-apa. Waktu ia berpaling dan melihat muka Ting-lokoay yang beringas menyeramkan itu, ia menjadi takut, sambil masih menyunggi meja ia terus menerjang keluar.

Kembali Ting Jun-jiu melontarkan pukulan lagi, “prak”, meja yang disunggi Hi-tiok itu pecah berantakan menjadi berkeping-keping. Sebaliknya Hi-tiok tetap tidak apa-apa dan masih berlari secepatnya ke depan.

“Berhenti!” bentak Ting Jun-jiu.

Sudah tentu Hi-tiok tidak mau menurut, bahkan berlari lebih cepat.

Seorang murid Sing-siok-pay mendadak mencegatnya dari samping, kelima jarinya yang tajam bagai kait terus mencengkeram pundak Hi-tiok sambil membentak, “Sing-siok Losian menyuruhmu kembali, kau berani….”

Belum habis ucapannya, mendadak ia merasa pundak Hi-tiok yang dicengkeramnya itu mengeluarkan tenaga pentalan yang mahakuat, kontan tubuhnya mencelat sendiri ke belakang dan secara kebetulan menumbuk ke arah Ting Jun-jiu.

Tapi dengan mudah Ting Jun-jiu dapat mencengkeram kuduk muridnya yang sial itu, dalam hati ia pikir, “Hwesio ini agak aneh, tapi tidak nanti ia dapat terbang ke langit, lain kali tentu dapat kutemukan lagi. Sekarang lebih penting harus kuhadapi Buyung Hok saja.”

Dengan pikiran ini, segera murid sendiri yang dicengkeramnya itu dilemparkan ke arah Buyung Hok.

Melihat murid Sing-siok-pay yang dicengkeram Ting Jun-jiu itu mukanya pucat bagai mayat, mata meneteskan darah pula, terang orangnya sudah mati keracunan, sekarang iblis tua itu melemparkan ke arahnya, sudah tentu tidak mengandung maksud baik. Maka Buyung Hok sudah siap, ia tidak bergerak, hanya tangan sedikit ditolak ke depan hingga suatu tenaga mahakuat menyambar ke depan, seketika mayat murid Sing-siok-pay itu kena ditahan di tengah jalan.

Karena kedua pihak sana-sama mengerahkan tenaga dalam yang kuat, maka mayat murid Sing-siok-pay itu tergencet dan terkatung-katung di tengah udara, pemandangan demikian menjadi sangat aneh dan lucu sekali.

Sekonyong-konyong Ting Jun-jiu membentak lagi, “krak-krek”, tahu-tahu kedua tangan murid Sing-siok-pay yang sudah tak bernyawa itu putus sebatas pergelangan tangan, dan kedua tangan yang sudah putus ini terus mencakar ke muka Buyung Hok.

Buyung Hok tidak berani gegabah, cepat ia meniupkan hawa dua kali sehingga kedua potong tangan yang putus itu berputar balik dan saling tepuk sekali di udara, “plak”, lalu terpental ke samping dan kebetulan mengenai badan dua murid Sing-siok-pay yang lain.

Seketika kedua murid Sing-siok-pay itu tertawa terkakah-kakah seperti orang gila, tertawa mereka semakin keras dan semakin geli sehingga menungging dan pegang perut sendiri. Tapi sejenak kemudian mendadak suara tertawa mereka berhenti serentak, namun tetap berdiri sambil pegang perut sendiri, badan kaku bagai mayat. Nyata mereka pun sudah binasa.

Beberapa kali Ting Jun-jiu menggunakan “Hoa-kang-tay-hoat”, tapi bukannya Buyung Hok kena dirobohkan, sebaliknya anak murid sendiri yang jatuh menjadi korban. Keruan ia tambah murka. Tiba-tiba ia tertawa dingin sekali, lengan baju yang lebar itu menyambar ke samping, tubuhnya juga ikut berputar, karena itu, mayat murid Sing-siok-pay yang putus kedua tangan itu lantas jatuh ke tanah.

Tapi Buyung Hok lantas bergerak juga, secepat terbang ia lompat keluar rumah makan itu.

“Lari ke mana?” bentak Ting Jun-jiu, berbareng ia memburu keluar.

Sisa beberapa orang murid Sing-siok-pay yang masih hidup sebisanya masih bersorak memberi pujian kepada kesaktian Ting Jun-jiu, tapi rangkaian kata-kata mereka itu terasa sangat dipaksakan sehingga bagi Ting-lokoay kedengarannya lebih dirasakan sebagai sindiran malah.

Sampai di luar, Lokoay melihat Buyung Hok sudah berdiri di tempat sejauh belasan meter, sikapnya tenang-tenang saja dengan wajah bersenyum.

“Siaucu, jangan lari!” bentak Ting Jun-jiu dengan gusar.

“Bilakah aku lari?” jawab Buyung Hok mengejek.

Selagi Ting Jun-jiu siap hendak menubruk maju tiba-tiba tertampak seorang mendatang dengan cepat, orang itu berjalan dengan kepala menunduk, malahan kedengaran sedang berkomat-kamit entah bergumam apa.

Dari jauh Buyung Hok sudah dapat mengenali pemuda ganteng yang datang ini bukan lain adalah Toan Ki. Anehnya Toan Ki jalan dengan menunduk seperti tidak menghiraukan segala apa di sekitarnya dan entah apa yang sedang dipikirkan, tapi terus menyeruduk ke arah Ting Jun-jiu.

Belum lama Buyung Hok kenal pada Toan Ki, anak muda itu pernah menolongnya, yaitu ketika menggunakan “Lak-meh-sin-kiam” untuk menjatuhkan pedang Buyung Hok yang hendak membunuh diri karena pengaruh gaib problem catur yang tidak mampu dipecahkannya itu. Lantaran itulah Buyung Hok mempunyai kesan baik terhadap Toan Ki.

Ia pikir bila Toan Ki terus menyeruduk ke depan hingga menubruk Ting Jun-jiu, padahal waktu itu iblis itu sedang murka maka Toan Ki tentu yang akan dijadikan sasaran untuk melampiaskan angkara murkanya itu.

Tampaknya saat itu sedikit pun Toan Ki tidak merasakan segala apa pun di sekitarnya, kalau tidak lekas memperingatkan dia tentu anak muda itu akan dimakan mentah oleh Ting-lokoay. Maka cepat Buyung Hok berseru, “Awas, Toan-kongcu!”

Mendadak Toan Ki seperti sadar dari impiannya dan cepat berhenti. Waktu ia angkat kepala dan memandang ke depan, ia lihat wajah Ting Jun-jiu yang beringas menakutkan itu berjarak dengan dirinya cuma dua-tiga meter saja. Keruan Toan Ki terkejut, cepat ia menyurut mundur sambil menuding Ting-lokoay, “Hei, kau… kau….”

Tudingan Toan Ki ini sebenarnya timbul dari rasa kaget dan takutnya, tak terduga justru menimbulkan lwekangnya yang mahakuat itu dan tepat pula penggunaannya, “crit”, hawa pedang “Lak-meh-sin-kiam” yang tak berwujud itu terus menyambar ke depan.

Sama sekali Ting-lokoay tidak menduga akan serangan Toan Ki itu, dengan gugup lekas ia kebaskan lengan bajunya ke atas, “bret”, tahu-tahu Lengan baju berlubang, bahkan tenaga serangan Lak-meh-sin-kiam masih terus menyambar ke depan, kembali terdengar “creng” sekali, Ting Jun-jiu terentak mundur setindak dan dari bajunya jatuh sebuah botol tembaga. Di atas botol tembaga itu tampak sebuah lekuk yang mencolok.

Kiranya tudingan “Lak-meh-sin-kiam” yang dilontarkan Toan Ki dengan tepat mengenai botol tembaga itu, sebab itulah Ting-lokoay, dapat terhindar dari malapetaka.

Menyaksikan itu, segera Buyung Hok bersorak memuji, “Lak-meh-sin-kiam yang hebat!”

Sebaliknya ujung hidung Toan Ki telah keluar keringatnya. Sama sekali tak tersangka olehnya sekali tuding tanpa sengaja dapat melontarkan daya tempur Lak-meh-sin-kiam yang mahasakti itu.

Ada tercatat teori biasa militer bahwa “tahu kekuatan pihak musuh dan kenal kekuatan pihak sendiri, maka seratus kali bertempur seratus kali akan menang”.

Sekarang Toan Ki bukan saja tidak tahu kekuatan musuh, sebaliknya sampai di mana kemampuan diri sendiri juga tidak tahu, jadi “tidak tahu kekuatan musuh dan tidak kenal kepandaian sendiri”, sudah tentu segala kejadian membuatnya terkejut.

Ting Jun-jiu beruntung terlindung oleh botol tembaga yang tersimpan dalam bajunya sehingga tidak sampai terluka oleh tudingan Toan Ki tadi, tapi tidak urung dadanya juga terasa kesakitan, ia menjadi murka, bentaknya dengan bengis, “Kau berani main gila pada Sing-siok Losian, kau ingin dibinasakan dengan cara apa?”

“Ai, jangan, jangan!” demikian berulang Toan Ki menggoyang-goyang tangannya. “Kata Khonghucu, ‘Tidak tahu lahirnya dari mana tahu kapan akan mati,’. Mana kudapat menjawab pertanyaan Losiansing ini?”

Diam-diam Ting Jun-jiu heran dan ragu, pikirnya, “Bocah ini sudah terang mahir menggunakan Lak-meh-sin-kiam mahasakti dari keluarga Toan di Tayli, maka dapat diduga adalah anak-cucu keluarga Toan. Tapi mengapa, tindak tanduknya lebih mirip seorang pelajar ketolol-tololan? Jika dapat kuperalat dia, sedapat mungkin kesempatan ini harus kupergunakan dengan baik.”

Karena itu, sengaja ia tarik muka sehingga tambah bengis dan lebih menakutkan.

Keruan Toan Ki menyurut lagi.

“Siaucu, kau takut tidak padaku?” tanya Ting-lokoay dengan suara galak.

“Takut?” Toan Ki menegas. “Hehe, ‘seorang kuncu (laki-laki sejati) tidak kenal sedih maupun takut’, masakan aku takut padamu?”

Tiba-tiba Ting-lokoay menyeringai, berbareng tangannya terus mencengkeram.

Toan terkejut dan cepat melangkah mundur lagi, segera ia pun menuding-nuding pula.

Tadi Ting Jun-jiu sudah merasakan betapa lihainya tudingan Lak-meh-sin-kiam, maka ia menjadi jeri dan cepat menarik kembali cengkeramannya demi tampak Toan Ki mengangkat jari tangannya.

Namun saat itu Toan Ki dalam keadaan gugup dan pikiran kacau, maksudnya sih ingin mengeluarkan “Lak-meh-sin-kiam” untuk menghalau musuh, tapi celaka, berulang-ulang ia menuding enam-tujuh kali, tapi hasilnya nihil, sedikit pun tak bisa dikeluarkan tenaganya.

Sebagai seorang jago ulung dan licin, meski Ting Jun-jiu juga sudah dapat melihat Toan Ki sebenarnya tidak berdaya lagi, tapi ia tetap khawatir kalau-kalau pemuda itu cuma pura-pura saja untuk memancingnya, maka ia tidak berani mendesak maju.

Dan setelah sekian lama melihat sikap Toan Ki yang serbarunyam dan gugup itu, sedangkan hawa pedang yang hebat itu tetap tidak menyambar tiba, barulah kemudian iblis itu berani menegurnya, “Ayo, mau apa kau sekarang?”

Toan Ki jadi ketakutan, mendadak ia berteriak, “Haya, celaka! Kalau tidak lekas angkat kaki, mungkin mati pun tak terkubur lagi!”

Berbareng ia terus putar tubuh dan melarikan diri dengan cepat.

Sudah tentu Ting-lokoay tidak tinggal diam, lengan bajunya yang gondrong itu lantas mengebas ke Leng-tay-hiat di punggung Toan Ki.

Sementara itu Buyung Hok masih berdiri di samping, ia sangat kagum ketika sekali muncul Toan Ki lantas dapat mengalahkan Ting Jun-jiu dengan “Lak-meh-sin-kiam” yang lihai. Sudah lama ia kenal nama Lak-meh-sin-kiam, konon ilmu itu sudah lama lenyap dari dunia persilatan maka selama ini ia sangat menyesal tidak dapat membuktikan betapa hebatnya ilmu pedang tanpa wujud itu. Tak terduga sekarang ia dapat menyaksikannya dengan jelas, sudah tentu ia sangat senang.

Ia sangka menyusul Toan Ki tentu akan melancarkan serangan lain yang lebih hebat, siapa tahu pemuda itu cuma main tuding saja tanpa membawa hasil apa-apa lalu putar tubuh dan angkat langkah seribu alias kabur.

Diam-diam Buyung Hok ragu apakah mungkin Toan Ki sengaja hendak menggoda Ting Jun-jiu? Tapi iblis tua itu toh bukan tokoh sembarangan, kalau gegabah bukan mustahil akan dimakan olehnya.

Namun apa yang terjadi selanjutnya membuat Buyung Hok terkejut, ketika lengan baju Ting Jun-jiu mengebas ke punggung Toan Ki yang mematikan, sebaliknya pemuda itu sama sekali tidak tahu cara menghindarkannya. Diam-diam Buyung Hok berteriak, “Celaka!”

Cepat ia bertindak dan menghantam iga Ting Jun-jiu.

Segera Ting Jun-jiu membaliki tangan kiri untuk memapak, sedang ujung lengan baju kanan yang mengebas itu tidak menjadi berkurang kekuatannya.

Mendadak Buyung Hok sedikit mendak, ia hindarkan pukulan Ting Jun-jiu, sebaliknya kelima jari yang kuat bagai kait itu terus mencakar lengan baju lawan. “Bret”, lengan baju Ting-lokoay kena dirobek sebagian.

Kebetulan pada saat itu Toan Ki sedang berpaling, demi dilihatnya jarak Ting Jun-jiu dan Buyung Hok sedemikian dekatnya, ia menjadi khawatir. Segera teringat olehnya, “Jika Buyung Hok dilukai Ting Jun-jiu, pasti nona Ong akan sangat berduka. Mana boleh kubiarkan wanita cantik berduka tanpa memberi pertolongan?”

Berpikir begitu, mendadak jarinya menuding lagi ke sana.

Tadi demi untuk menolong diri sendiri ia telah berusaha sedapatnya, tapi gagal karena sedikit pun tenaga tak mau dikeluarkan, sekarang demi teringat kepada Ong Giok-yan, sekali jarinya menuding, kontan “crit”, satu jurus “Lak-meh-sin-kiam” terus menyambar ke depan.

Memangnya Buyung Hok agak jeri kalau bergebrak dengan Ting Jun-jiu dalam jarak terlalu dekat, sebab sedikit ayal saja tentu akan kena dipegang lagi, dan jika demikian, maka sukarlah untuk melawan Hoa-kang-tay-hoat iblis tua itu. Sekarang kembali ia mendengar suara mendesis hawa pedang Lak-meh-sin-kiam sedang menyambar tiba, cepat ujung kakinya menutul tanah dan badan terus melayang ke samping.

Ting Jun-jiu juga sangat terkejut, lekas-lekas kedua lengan bajunya mengebas ke depan, dua rangkum angin keras dilontarkan untuk melawan tenaga Lak-meh-sin-kiam dari Toan Ki. Tapi tidak urung ia pun terentak mundur setindak.

Sekali berhasil, segera Toan Ki hendak mengulangi lagi, tapi celaka, tudingan kedua kalinya kehilangan daya gunanya, sedikit pun tidak bertenaga.

Cepat Buyung Hok menarik tangan Toan Ki sambil berseru, “Lekas lari, Toan-heng!”

Tanpa menunggu jawaban lagi, segera Toan Ki diseretnya dan berlari pergi.

Ting Jun-jiu menjadi gusar, ia membentak sekali sambil pentang kedua tangannya, bagaikan seekor burung raksasa ia menubruk ke depan.

“Celaka, dia datang!” seru Toan Ki.

“Jangan khawatir, ada orang lain lagi yang akan melayani dia!” ujar Buyung Hok.

Baru habis ucapannya, terdengarlah suara tertawa orang berkumandang dari jauh, suara tertawa aneh yang lebih mirip ayam berkotek itu semula kedengaran masih jauh tapi tahu-tahu sudah berada di depan mata. Tertampaklah Toan Yan-king dengan jubahnya yang serbahijau, dengan kedua tongkat yang dipakai sebagai pengganti kaki sedang berjalan secepat terbang ke arah sini.

Melihat “si Jahat yang Melebihi Takaran” (Ok-koan-boan-eng) Toan Yan-king, Toan Ki menjadi ketakutan dan cepat berpaling ke arah lain.

Buyung Hok memberi kiongchiu kepada Yan-king Taycu dan menyapa, “Toan-siansing, iblis tua itu sudah telan pil pahit di tanganku, sekarang biarlah kau beri juga sedikit hajaran padanya, tapi hati-hati, betapa pun dia masih cukup lihai!”

Sembari berkata, berbareng ia terus menarik Toan Ki dan diajak lari ke sana.

Kedatangan Ting Jun-jiu ke daerah Tionggoan ini adalah ingin pamer kepandaian untuk menaikkan pamornya, siapa tahu berulang-ulang malah kecundang, anak muridnya gugur sebagian besar, bahkan diri sendiri juga tidak pernah memperoleh kemenangan, keruan bencinya kepada Buyung Hok merasuk tulang sumsum, maka demi tampak lawan itu hendak kabur, segera ia menubruk maju.

Tapi mendadak sebelah tongkat Toan Yan-king melintang di depannya, katanya dengan nada dingin, “Sing-siok Lokoay, jangan lari! Pada waktu orang lain sedang terancam bahaya, kau sengaja main sergap malah, untuk itu kita harus bikin perhitungan dahulu.”

Karena dirintangi Toan Yan-king, untuk mengejar Buyung Hok terang sukar. Sebagai seorang yang licin, segera Lokoay ganti haluan, ia terbahak-bahak dan menjawab, “Toan Yan-king, hidupmu ini sudah sulit kembali ke jalan yang benar lagi, tapi kalau bicara tentang ilmu kepandaian golongan Sia-pay sebenarnya kau pun belum masuk hitungan, maka ada lebih baik kau menyembah dan angkat aku sebagai gurumu saja, untuk ini mungkin aku akan dapat mengabulkan keinginanmu.”

Toan Yan-king masih tetap mengadang di tengah jalan dengan tongkat melintang, selesai Ting Jun-jiu bicara, mendadak dari dalam perutnya mengeluarkan suara, “kuk” yang aneh, yaitu suara tertawa yang mirip ayam berkotek. Berbareng sebelah tongkatnya terus menutuk ke perut Ting-lokoay.

Mendadak Ting Jun-jiu menyelentik sehingga jari tengahnya tepat menjentik ujung tongkat lawan.

Mestinya tongkat bambu Yan-king Taycu itu hijau segar, tapi sekali kena diselentik jari Ting-lokoay, segera ujung tongkat bambu itu terdapat setitik warna merah, bahkan dengan cepat sekali titik merah itu memanjang ke atas tongkat.

Waktu Yan-king tarik kembali tongkatnya dan hendak melancarkan serangan jurus kedua sekilas dilihatnya pada ujung tongkat sendiri ada jalur merah yang terus menjalar ke atas dan tampaknya segera akan sampai pada tangannya. Ia kaget bila teringat kemahiran Ting-lokoay dalam hal menggunakan racun, cepat ia entak sekali hingga tongkat itu terlempar ke depan.

Tapi Toan Yan-king juga bukan tokoh sembarangan, walaupun terpaksa ia harus melemparkan tongkatnya, tapi ketika tongkat terlepas dari cekalannya ia pun menggunakan tenaga yang istimewa.

Maka waktu tongkat itu terpegang oleh Ting Jun-jiu, mendadak terdengar suara “krak-krek” dua-tiga kali, tahu-tahu tongkat itu patah menjadi beberapa bagian, tongkat yang patah itu bahkan berhamburan ke atas kepala Ting-lokoay.

Coba kalau iblis itu tidak cepat putar lengan bajunya untuk mengebas, tentu ia pun akan terluka oleh tongkat bambu yang patah itu.

Di sebelah sana Buyung Hok dan Toan Ki juga sedang mengikuti pertarungan itu dari jauh. Ketika melihat Toan Yan-king terpaksa melepaskan sebuah tongkatnya, dengan khawatir Toan Ki berkata, “Sialan! Hanya sekali gebrak saja Yan-king Taycu sudah kehilangan sebuah tongkatnya!”

“Ya, Ting Jun-jiu memang benar hebat!” tapi belum habis Buyung Hok berkata, tahu-tahu di sebelah sana tongkat bambu Toan Yan-king sudah patah menjadi beberapa potong dan Ting-lokoay kelabakan mengebaskan lengan bajunya melindungi kepalanya dari hamburan tongkat patah itu.

Maka terbahaklah Buyung Hok dan menyambung ucapannya, “Tapi jangan khawatir, si jahat yang sudah kelewat takarannya itu hari ini belum tiba ajalnya!”

Meski tadi sudah dua kali Toan Ki menyerang dan membikin jeri Sing-siok Lokoay dengan Lak-meh-sin-kiam, tapi dalam hal ilmu silat pada hakikatnya ia masih hijau pelonco. Maka demi mendengar ucapan Buyung Hok itu, ia pun tahu pertarungan Toan Yan-king melawan Ting-lokoay itu dalam waktu singkat takkan bisa ditentukan kalah dan menang, kesempatan ini sebaiknya digunakannya untuk pergi saja.

Maka ia lantas berkata, “Buyung-heng, aku akan pergi saja!”

“Aku pun ada urusan lain, marilah kita pergi bersama,” sahut Buyung Hok.

Lalu mereka putar tubuh dan tinggal pergi. Sesudah beberapa li jauhnya, tiba-tiba dari depan tertampak dua orang sedang lari datang secepat terbang. Terang yang seorang adalah It-tin-hong Hong Po-ok dan yang lain adalah Pau Put-tong.

Begitu melihat Buyung Hok segera mereka berhenti dan menghadapnya dengan sikap sangat menghormat.

“Ada apa?” tanya Buyung Hok.

Dengan gosok-gosok kepalan Hong Po-ok menjawab, “Tadi kami melihat bocah berkepala besi itu sedang berlari ke sana sambil mengempit seorang gadis cilik dan kami sedang memburunya.”

“Di sana tiada orang,” kata Buyung Hok.

Muka Po-ok tampak merah jengah, sahutnya, “Bocah berkepala besi itu terlalu cepat larinya, kami tidak mampu menyusulnya.”

Tatkala Buyung Hok bicara dengan Hong Po-ok, diam-diam Toan Ki mundur dua-tiga langkah ke belakang. Waktu ia perhatikan Buyung Hok, ia lihat sikapnya gagah, tutur katanya agung berwibawa.

Tiba-tiba Toan Ki merasa rendah diri dan tidak dapat membandinginya. Pikirnya, “Hong Po-ok dan Pau Put-tong sudah datang, sebentar nona Ong tentu juga akan menyusul tiba. Dalam pandangan nona Ong hakikatnya tiada manusia seperti aku sini, kalau piaukonya tidak ada mungkin dia masih sudi bicara denganku, tapi sekarang piaukonya sudah diketemukan, dalam matanya hanya terpandang piaukonya seorang, apa gunanya aku tinggal di sini untuk menyaksikan mereka bermesra-mesraan?”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: