Kumpulan Cerita Silat

04/06/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 54

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 12:38 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Tiba-tiba Sing-ho tergerak kecerdikannya, katanya, “Engkau melarang aku membunuh diri? Baik, sudah seharusnya aku tunduk kepada perintah Ciangbunjin. Haha, bagus, akhirnya engkau sanggup juga menjadi ciangbunjin kita!”

“Tidak, aku tidak mau, bilamana aku menyanggupi?” sahut Hi-tiok sambil menggeleng kepala.

“Hahahaha, tiada gunanya engkau mungkir lagi, Ciangbunjin,” kata Sing-ho dengan tertawa. “Engkau sudah memberi perintah padaku dan aku sudah menuruti perintahmu, selanjutnya aku tidak berani membunuh diri lagi. Hm, aku Cong-pian Siansing ini tokoh macam apa? Kecuali kata-kata Ciangbunjin sendiri, siapa lagi yang berani main perintah padaku? Kalau tidak percaya, boleh kau tanya Hian-lan Taysu, sekalipun ketua Siau-lim-si juga tidak berani memberi perintah padaku.”

Nama Cong-pian Siansing alias Liong-ah Lojin di dunia Kangouw memang sangat tersohor. Bahwasanya tiada orang yang berani main perintah padanya memang bukan omong kosong. Maka Hi-tiok menjawab, “Bukan aku berani memberi perintah padamu, tapi aku cuma menganjurkan supaya sayang pada jiwamu sendiri, itu adalah maksud baikku saja.”

“Aku tidak tanya apakah engkau bermaksud baik atau bermaksud jelek, pendek kata engkau suruh aku mati, segera aku akan mati, jika kau suruh aku hidup, maka aku pun tidak berani tidak hidup. Perintah mati atau hidup ini adalah hak tertinggi di dunia ini, jika engkau bukan ciangbunjin kita, mana boleh sembarangan suruh aku mati atau hidup?”

Karena kewalahan, terpaksa Hi-tiok bilang, “Ya, sudah. Jika begitu, perkataanku tadi kubatalkan saja.”

“Kau batalkan perintah ‘melarang aku bunuh diri’, itu berarti suruh aku membunuh diri. Baik, aku menurut, sekarang juga aku lantas bunuh diri.”

Caranya membunuh diri ternyata sangat istimewa, lebih dulu ia loncat ke atas, lalu dengan terjungkir ia terjun ke bawah.

Tapi segera Hi-tiok merangkulnya, katanya, “Jangan, jangan! Aku tidak minta kau bunuh diri.”

“O, kau melarang aku bunuh diri lagi?” kata Sing-ho. “Baik, aku terima perintah Ciangbunjin ini.”

Hi-tiok lepaskan Sing-ho pula, ia garuk-garuk kepala sendiri yang gundul kelimis itu dan tidak sanggup bicara.

Nyata So Sing-ho memang tidak percuma berjuluk sebagai “Cong-pian Siansing”, si tajam mulut, dia memang seorang yang pandai bicara dan pintar berdebat. Sebaliknya Hi-tiok masih muda, masih hijau pelonco, tidak berpengalaman apa-apa, sudah tentu tidak dapat melayani debatan Sing-ho itu.

Maka sesudah tertegun sejenak, akhirnya ia berkata, “Cianpwe, aku tidak mampu berdebat denganmu. Tapi jika kau ingin aku masuk ke perguruanmu, betapa pun aku tetap keberatan.”

“Waktu kita masuk ke sini tadi, apa yang telah Hian-lan Taysu pesan padamu?” ujar Sing-ho. “Kau tunduk kepada apa yang dikatakan Hian-lan Taysu atau tidak?”

Hi-tiok melengak, sahutnya dengan tergegap, “Su… Susiokco suruh… suruh aku menurut kepada segala ucapanmu.”

“Nah, itu dia!” seru Sing-ho dengan senang. “Hian-lan Taysu suruh kau menurut perkataanku maka kubilang kau harus taat kepada pesan tinggalan Suhu kita dan jadilah ciangbunjin. Tapi sebagai Ciangbunjin Siau-yau-pay, kau pun boleh tidak gubris kepada kata-kata padri Siau-lim-pay itu. Maka bila kau turut pesan Hian-lan Taysu kau harus menjadi Ciangbunjin Siau-yau-pay, dan bila kau tidak tanduk kepada kata-kata Hian-lan Taysu, kau pun Ciangbunjin Siau-yau-pay, sebab hanya sesudah menjadi ciangbunjin barulah boleh kau kesampingkan pesan Hian-lan Taysu itu..”

Uraian Sing-ho ini membikin Hi-tiok termangu-mangu lagi, ia merasa apa yang dikatakan itu bolak-balik memang juga betul.

Lalu Sing-ho melanjutkan, “Sute, Hian-lan Taysu dan beberapa padri Siau-lim-si lain telah terkena tangan jahat Ting Jun-jiu, kalau mereka tidak ditolong, jiwa tentu akan melayang dalam waktu singkat. Di dunia ini sekarang hanya engkau saja seorang yang mampu menolong mereka. Tapi soal apa kau akan menolong mereka atau tidak adalah tergantung kepada keputusanmu.”

“Hah, apa benar Susiokco terkena tangan jahat Ting Jun-jiu?” seru Hi-tiok kaget.

“Masakah aku berani dusta pada Ciangbunjin?” sahut Sing-ho. “Jika Ciangbunjin tidak percaya, silakan coba tanya padanya di luar.”

“Bukan aku tidak percaya, tapi kupikir ilmu sakti Susiokco jarang ada tandingannya di jagat ini, mengapa… mengapa bisa dikalahkan Ting Jun-jiu?”

“Hian-lan Taysu adalah padri saleh zaman ini, tadi waktu aku terancam Ting Jun-jiu, tampaknya Hian-lan Taysu ada maksud buat membantu, cuma sayang kepandaiannya sudah punah, maksud ada tenaga kurang, hingga tidak dapat berbuat apa-apa. Tapi aku tetap sangat terima kasih kepada maksud baiknya.”

Hi-tiok pikir apa yang dikatakan itu memang benar, tatkala berbahaya tadi, tidak mungkin sang susiokco berpeluk tangan tanpa menolong kecuali kalau Susiokco sudah tahu bahwa So Sing-ho sengaja memancing musuh dan yakin pasti akan menang. Dan apakah benar kepandaian orang tua itu sudah punah, sebentar tentu akan dapat diketahui, rasanya So Sing-ho tidak sampai berdusta. Maka ia lantas tanya, “Kau bilang aku dapat menolong dia? Tapi cara bagaimana aku harus menolongnya?”

“Sute,” kata Sing-ho dengan tersenyum, “golongan kita tidak melulu terkenal dalam ilmu silat saja, tapi kepandaian kita meliputi ilmu pertabiban, perbintangan, kesusastraan, pendek kata segala ilmu pengetahuan tentang apa saja. Ada seorang Sutitmu yang bernama Sih Boh-hoa, sebenarnya ilmu pertabiban yang dia pahami cuma sekelumit saja, tapi orang Kangouw sudah lantas menyebutnya sebagai ‘tabib sakti’ dan dijuluki ‘Giam-ong-tek’ (musuh raja akhirat). Haha, sungguh menggelikan! Nah, ketahuilah bahwa Hian-lan Taysu telah kena Hoa-kang-tay-hoat Ting Jun-jiu. Taysu yang bermuka lebar itu terluka oleh pukulan ‘Peng-jan-ciang’ si kepala besi itu dan yang jangkung itu terluka urat nadi di bawah iga kiri karena tendangan Ting Jun-jiu….”

Begitulah ia mencerocos terus menguraikan keadaan luka setiap orang.

Keruan Hi-tiok sangat kagum dan terkejut pula, katanya, “Cianpwe, kulihat tadi engkau asyik benar memerhatikan catur, mengapa kau tahu sedemikian jelas tentang keadaan orang yang terluka itu?”

“Luka yang terjadi dalam pertarungan adalah paling gampang untuk diketahui, sekali lihat saja pasti tahu. Hanya penyakit seperti demam, pilek, menceret, itulah yang sukar diketahui. Sute, sekarang kau memiliki Siau-yau-sin-kang yang dilatih Suhu selama 70 tahun, kalau digunakan untuk menyembuhkan penyakit boleh dikatakan pasti ‘tokcer’, sekali pegang tentu jadi. Misalnya untuk memulihkan tenaga Hian-lan Taysu yang sudah dipunahkan itu memang tidak mudah, tapi untuk menyembuhkan lukanya dan menyelamatkan jiwanya boleh dikata segampang ambil barang di saku sendiri.”

Habis itu ia lantas mengajarkan kepada Hi-tiok cara-cara membuka hiat-to, mengurut, dan mengerahkan tenaga, untuk menawarkan racun dingin yang terkena pukulan Yu Goan-ci itu.

Karena niat Hi-tiok memang ingin menolong sang susiokco dan para paman gurunya, maka ia ingat dengan baik semua ajaran So Sing-ho itu. Cuma, saja praktik ia paham, tapi teori tidak tahu, jadi tahu cara menyembuhkan penderita-penderita itu, tapi tidak tahu sebab apa penderita-penderita bisa disembuhkan.

Sesudah Sing-ho suruh Hi-tiok mencoba beberapa kali apa yang diajarkan itu dan ternyata betul semua, maka dengan tersenyum ia memuji, “Bakat dan daya terima Ciangbunjin benar-benar sangat tinggi, sekali diberi tahu sudah lantas paham.”

Melihat senyuman orang agak aneh dan mencurigakan, seolah-olah tidak mengandung maksud baik, mau tak mau Hi-tiok menjadi sangsi, ia tanya, “Mengapa kau tersenyum?”

Seketika Sing-ho bersikap sungguh-sungguh, dengan penuh hormat ia minta maaf pada sang ciangbunjin.

Karena ingin lekas menolong Hian-lan dan lain-lain, Hi-tiok tidak tanya lebih jauh, katanya, “Marilah kita keluar!”

Sing-ho mengiakan dan lantas ikut keluar bersama Hi-tiok.

Setiba di pekarangan luar, tertampaklah para penderita itu semuanya duduk bersila di atas tanah, mata terpejam dan sedang mengumpulkan tenaga. Buyung Hok tampak lagi menggunakan lwekangnya untuk meringankan penderitaan Hong Po-ok.

A Pik sudah siuman kembali dan sedang merintih-rintih. Sesudah siuman, sudah tentu ia dapat merasakan derita sakit yang lebih hebat daripada waktu pingsan. Khim-sian Kheng Kong-leng, Si Dewa Kecapi, duduk di samping anak dara itu dan sedang menghiburnya dengan kata-kata manis seperti lakunya seorang ayah membujuk anaknya.

Sih Boh-hoa kelihatan mondar-mandir di antara orang-orang terluka itu, sebentar-bentar ia lari ke sana dan lain saat berlari ke sini untuk menolong siapa-siapa yang kelihatan payah. Ketika dilihatnya So Sing-ho sudah keluar, ia merasa lega dan cepat mendekati sang guru, katanya, “Suhu, lekas Suhu menolong mereka!”

Sementara itu Hi-tiok juga mendekati Hian-lan, ia lihat sang susiokco lagi duduk dengan mata tertutup, maka ia tidak berani membuka suara. Sejenak kemudian, perlahan Hian-lan membuka mata ia menghela napas dan berkata, “Susiokcomu tidak becus hingga membikin malu nama baik golongan kita, sungguh harus disesalkan. Pulanglah dan laporkan kepada Hongtiang, katakan… katakan bahwa aku dan Hian-thong Susiokcomu tiada muka untuk pulang lagi.”

Biasanya Hi-tiok selalu melihat Hian-lan dalam keadaan yang kereng dan berwibawa, tapi sekarang padri tua itu ternyata lesu muram, sikap kesatrianya sama sekali lenyap, bahkan nada ucapannya seakan-akan orang yang sudah putus asa, nyata apa yang dikatakan So Sing-ho tadi bahwa sang susiokco itu telah terjungkal di tangan Sing-siok Lokoay memang bukan omong kosong.

Dan selagi Hi-tiok hendak turun tangan menyembuhkan Hian-lan, tiba-tiba teringat olehnya senyuman aneh So Sing-ho tadi, tiba-tiba ia terkesiap dan berpikir, “Dia suruh aku menghantam hiat-to pada ubun-ubun kepala Susiokco, siapa tahu ini bukan tipu muslihatnya? Jangan-jangan sekali pukul kubinasakan Susiokco yang ilmu silatnya sudah punah, kan celaka nanti?”

Melihat sikap Hi-tiok yang ragu-ragu itu, maka Hian-lan berkata pula, “Boleh kau lapor kepada Hongtiang bahwa biara kita masih akan menghadapi malapetaka, hendaknya siap siaga dan waspada.”

“Susiokco,” kata Hi-tiok, “jika biara kita masih akan menghadapi bencana besar, maka engkau orang tua justru harus menjaga badanmu dengan baik agar dapat pulang untuk membantu Hongtiang menghadapi musuh.”

Hian-lan tersenyum getir, sahutnya, “Aku… aku sudah terkena ‘Hoa-kang-tay-hoat’ Ting Jun-jiu, aku sudah menjadi orang cacat, mana bisa kubantu Hongtiang menghadapi musuh?”

Mendengar jawaban itu, Hi-tiok menjadi lebih yakin lagi akan apa yang dikatakan So Sing-ho itu. Tiba-tiba ia mendapat suatu pikiran, katanya, “Susiokco, Cong-pian Siansing telah mengajarkan suatu cara penyembuhan, Tecu secara gegabah ingin coba-coba menyembuhkan Hui-hong Supek, harap Susiokco mengizinkan.”

Ia sengaja bicara dengan suara keras hingga didengar oleh para padri angkatan Hui dari Siau-lim-si itu. Menurut perhitungan Hi-tiok bila Susiokco meluluskan dia menyembuhkan Hui-hong, andaikan terjadi kesalahan juga takkan disangka sengaja membikin celaka supeknya sendiri.

Hian-lan merasa heran oleh permintaan itu, tapi ia tahu Liong-ah Lojin So Sing-ho adalah seorang tokoh luar biasa dan adalah suheng Ting Jun-jiu, Giam-ong-tek Sih Boh-hoa adalah muridnya, jika dia sudah mengajarkan cara penyembuhan kepada Hi-tiok, maka dapat dipercaya tentu ada alasannya, cuma mengapa dia sendiri tidak mau turun tangan, juga tidak mau suruh Sih-sin-ih?

Namun akhirnya Hian-lan berkata, “Jika Cong-pian Siansing yang mengajarkan padamu, sudah pasti akan sangat berguna, maka boleh kau mencobanya.”

Sembari berkata ia pun memandang sekejap ke arah So Sing-ho.

Segera Hi-tiok mendekati Hui-hong, lebih dulu ia minta maaf, “Supek, atas izin Susiokco, Tecu hendak menyembuhkan luka Supek.”

Habis berkata, ia terus melangkah ke samping kiri, lalu tangan kanan menampar balik, “plok”, dengan tepat iga kiri Hui-hong kena dipukulnya. Terdengar Hui-hong bersuara tertahan, tubuh sedikit terguncang, kontan ia merasa di bawah iga seolah-olah berlubang, hawa murni dan darah segar dalam tubuhnya seakan-akan terus-menerus mengalir keluar melalui lubang itu hingga dalam sekejap saja walaupun merasa badan menjadi sangat lemah, tapi rasa pegal linu dan gatal akibat pukulan Han-peng-tok-ciang yang dilontarkan Yu Goan-ci itu seketika lenyap.

Kiranya cara penyembuhan Hi-tiok itu bukan menggunakan tenaga dalam sendiri untuk memunahkan racun dingin dalam tubuh Hui-hong, tapi yang digunakan adalah Siau-yau-sin-kang selama 70 tahun yang diterimanya dari si kakek, sekali ia hantam iga Hui-hong, maka pada bagian itu lantas terbuka suatu jalan untuk mengeluarkan hawa racun yang mahadingin itu. Jadi mirip orang dipagut ular, lalu luka gigitan ular itu dibelek dan upas ular dipencet keluar.

Cuma saja cara Hi-tiok itu sebenarnya sangat sukar, bilamana tempatnya keliru, maka hasilnya nihil, bahkan kalau tenaga dalamnya kurang kuat hingga tenaga hantamannya tidak tembus urat nadi yang dituju, maka hawa beracun itu takkan keluar sebaliknya akan terdesak ke dalam jantung dan si penderita seketika bisa binasa.

Karena itu Hi-tiok juga agak khawatir waktu melontarkan pukulannya tadi, ia lihat tubuh Hui-hong tergeliat lalu tegak kembali, air mukanya yang tadinya tampak menderita itu lantas berubah menjadi lega dan enteng. Walaupun cuma sebentar saja, tapi bagi Hi-tiok rasanya seperti lewat beberapa jam lamanya.

Selang sejenak pula, Hui-hong menghela napas lega, lalu katanya dengan tersenyum, “Sutit yang baik, tenaga pukulanmu ini bukan main hebatnya!”

“Terima kasih atas pujian Supek,” sahut Hi-tiok. Lalu ia berpaling kepada Hian-lan dan tanya, “Susiokco, para paman guru yang lain akan kusembuhkan pula, apakah boleh?”

“Tidak,” sahut Hian-lan, “kau harus menyembuhkan para cianpwe yang lain baru kemudian menolong orang sendiri.”

Hi-tiok terkesiap, tapi ia lantas mengiakan. Ia pikir petunjuk Hian-lan itu memang benar. Siau-lim-si adalah bintang utama di dunia persilatan, sudah seharusnya memikirkan orang lain lebih dulu baru kemudian pihak sendiri, dengan demikian barulah menunjukkan sifat seorang kesatria sejati.

Demikianlah, hanya sepatah ucapan Hian-lan saja sudah menyadarkan seorang padri muda sebagai Hi-tiok agar setiap soal harus memikirkan orang lain lebih dahulu baru kemudian pikirkan awak sendiri. Hanya sekejap saja padri muda yang tadinya masih hijau pelonco itu telah dapat memahami sifat asli seorang pahlawan, seorang laki-laki sejati.

Hi-tiok membusungkan dada dan penuh kepercayaan pada diri sendiri, serunya dengan lantang, “Wahai, para kesatria! Cong-pian Siansing telah mengajarkan cara penyembuhan kepadaku, tapi karena baru saja belajar, tentu Siauceng belum terlalu paham, maka kalau ada sesuatu kekurangan harap sudi memaafkan.”

Sinar mata semua orang seketika tertumplak atas diri Hi-tiok, semuanya merasa ragu apakah betul dia mampu menyembuhkan mereka.

Tanpa bicara lagi Hi-tiok mendekati Pau Put-tong lebih dulu, “blang”, kontan ia hanjut dada orang she Pau itu.

Keruan Pau Put-tong marah-marah dan memaki, “Hwesio kepar….”

Tapi belum lagi kata “keparat” diucapkan, mendadak ia merasa racun dingin yang menyiksanya selama lebih 20 hari itu kini telah membanjir keluar melalui tempat yang baru dihantam itu. Karena itu makian yang hampir diucapkan itu ditelannya kembali mentah-mentah.

Setelah Hi-tiok menyembuhkan racun dingin orang-orang yang terkena pukulan Yu Goan-ci, lalu ia menyembuhkan pula orang-orang yang kena tangan jahat Ting-lokoay. Orang yang dilukai Ting Jun-jiu itu keadaannya tidak sama, ada yang kena Hoa-kang-tay-hoat, untuk ini Hi-tiok cukup menaboknya sekali pada “Pek-hwe-hiat” di ubun-ubun kepala atau “Leng-tay-hiat” bagian dada, lalu penderita itu akan sembuh. Ada pula yang terluka oleh lwekang Sing-siok-pay yang lihai, untuk ini Hi-tiok mesti menutuk hiat-to masing-masing untuk memunahkan tenaga dalam Sing-siok-pay.

Dasar ingatan Hi-tiok cukup bagus, ia dapat ingat dengan jelas cara penyembuhan yang diajarkan So Sing-ho itu hingga setiap orang yang didekati hanya dalam waktu singkat saja sudah disembuhkan.

Paling akhir ia mendekati Hian-lan, katanya sambil memberi hormat, “Susiokco, dengan sembrono Tecu hendak menabok Pek-hwe-hiat Susiokco.”

Hian-lan tersenyum, sahutnya, “Kau telah dipenujui Cong-pian Siansing hingga diajarkan cara penyembuhan sebagus ini, sungguh rezekimu tidaklah kecil. Boleh kau pukul saja Pek-hwe-hiatku.”

“Maaf jika demikian,” ujar Hi-tiok sambil membungkuk tubuh.

Biasanya ia tidak berani dekat-dekat dengan padri tua yang kereng itu. Waktu berada di Siau-lim-si jarang ia berhadapan dengan Hian-lan, jika kebetulan ada sidang, paling-paling Hi-tiok juga cuma berdiri di kejauhan ikut mendengarkan saja dan tidak pernah bicara dengan susiokco itu.

Sekarang ia harus bicara, bahkan akan menabok pula kepala orang tua itu, meski maksudnya menyembuhkan luka, namun tidak urung ia pun agak keder.

Setelah tenangkan diri dan minta maaf pula satu kali, lalu ia melangkah maju, ia angkat tangannya terus menabok Pek-hwe-hiat di atas kepala Hian-lan dengan tidak cepat juga tidak terlalu perlahan.

Siapa sangka, begitu tangannya menyentuh ubun-ubun Hian-lan, sekonyong-konyong padri tua itu menjerit sekali dan mencelat, “bluk”, akhirnya terbanting di tanah beberapa meter jauhnya, dan setelah berkelojotan beberapa kali, lalu meringkuk dan tidak bergerak lagi.

Keruan semua orang terkejut, lebih-lebih Hi-tiok. Cepat ia memburu ke sana untuk membangunkan Hian-lan. Hui-hong dan kawan-kawannya juga cepat merubung maju.

Waktu Hian-lan diperiksa, ternyata kedua matanya mendelik, mukanya mengunjuk rasa murka, tapi napasnya sudah putus, terang sudah binasa.

“Susiokco! Susiokco! Kenapakah engkau?” seru Hi-tiok dengan kaget tak terhingga.

Tiba-tiba sesosok bayangan orang berkelebat, So Sing-ho juga telah memburu tiba dari sebelah sana. Air mukanya tampak merasa bingung, katanya, “Ai, tampaknya seperti ada orang membokong dari belakang sana, tapi gerak tubuh orang itu teramat cepat hingga bayangannya saja tak sempat terlihat!”

Segera ia pegang tangan Hian-lan dan periksa nadinya, ia mengerut kering dan berkata pula, “Tenaga Hian-lan Taysu sudah punah hingga di bawah sergapan musuh sama sekali tak dapat melawan dan sekarang sudah wafat.”

Tiba-tiba Hi-tiok teringat kepada senyuman aneh orang tua itu di dalam rumah kayu tadi, segera ia menegur dengan marah, “Cong-pian Siansing, hendaknya kau bicara terus terang, sebab apakah Susiokco kami bisa tewas? Bukankah engkau sengaja mencelakai beliau?”

Cepat So Sing-ho berlutut dan berkata, “Lapor Ciangbunjin, Sing-ho sekali-kali tidak berani membikin jelek nama baik Ciangbunjin. Sebabnya Hian-lan Taysu mendadak meninggal adalah benar-benar disergap musuh secara diam-diam.”

“Habis mengapa kau bersenyum aneh dalam rumah tadi, apa sebabnya?” tanya Hi-tiok.

“Senyum apa?” sahut Sing-ho dengan terkejut. “Aku tersenyum tadi? Ciangbunjin, hendaklah waspada, ada orang….”

Belum selesai ucapannya, sekonyong-konyong ia berhenti dan kembali wajahnya menampilkan senyuman yang aneh dan mencurigakan.

“Suhu!” teriak Sih Boh-hoa. Cepat ia mengeluarkan sebotol pil penawar racun dan menuang tiga biji terus dijejalkan ke mulut sang guru. Namun lebih dulu napas So Sing-ho sudah putus, obat itu terhenti dalam mulutnya dan tidak tertelan.

Maka menangislah Sih Boh-hoa tergerung-gerung sambil sesambatan, “O, Suhu telah dibunuh Ting Jun-jiu secara keji, bangsat Ting Jun-jiu telah….”

Sampai di sini suaranya menjadi serak dan susah meneruskan lagi.

Tiba-tiba Kheng Kong-leng menubruk maju hendak memegang sang guru, tapi Sih-sin-ih keburu menariknya kembali, katanya sambil menangis, “Jang… jangan menyentuhnya.”

Sebenarnya ilmu silat Kheng Kong-leng jauh lebih tinggi daripada Sih Boh-hoa, tapi di antara “Yu-kok-pat-yu” hanya ketinggalan tabib itu yang tidak terluka apa-apa, maka sekali pegang saja Kheng Kong-leng tidak dapat melawan.

Segera Hoan Pek-ling, Li Gui-lui, A Pik dan lain-lain merubungi So Sing-ho sambil menangis, berduka dan gusar pula.

Sebagai murid tertua dan memahami peraturan perguruan sendiri, semula ketika melihat sang guru berlutut kepada Hi-tiok sambil menyebutnya sebagai “ciangbunjin”, maka diam-diam Kheng Kong-leng sudah dapat menduga apa yang terjadi.

Ketika diperhatikan pula, dilihatnya jari Hi-tiok memang betul memakai sebentuk cincin besi hitam, maka tanpa ragu lagi ia lantas berkata, “Para Sute dan A Pik, marilah kita bersama memberi sembah bakti kepada Ciangbun Susiok!”

Habis berkata, ia terus mendahului berlutut di hadapan Hi-tiok dan menjura.

Semula Hoan Pek-ling dan lain-lain melengak, tapi segera pun sadar, mereka lantas ikut memberi hormat kepada “ciangbunjin” mereka yang baru.

Sebaliknya Hi-tiok menjadi bingung, pikirannya juga lagi kacau, katanya, “Bangsat itu telah membunuh Susiokco dan mencelakai Suhu kalian pula.”

“Urusan membalas dendam ini terserahlah kepada Susiok untuk memberi petunjuk seperlunya,” ujar Kong-leng.

Hi-tiok adalah seorang hwesio keroco dan masih hijau, bicara tentang ilmu silat dan pengalaman, nama dan kedudukan, boleh dikatakan setiap orang yang berlutut di hadapannya itu semuanya lebih tinggi dari dia. Tapi kini ia dihadapkan kepada kejadian yang aneh dan mendadak, ia tidak pikir lagi tentang penolakan jabatan ciangbun segala. Kematian So Sing-ho membuatnya merasa serbasusah, sedangkan wafatnya Hian-lan secara mendadak lebih-lebih membikin dia bingung.

Sungguh celaka, penyergap itu justru sengaja memilih saat yang baik ketika dia menabok ubun-ubun kepala Hian-lan tadi, dengan demikian, bagi orang yang tidak tahu tentu akan menyangka dia sendiri yang membunuh susiokco. Hal ini kalau tidak diselidiki hingga jelas, untuk selanjutnya tentu dirinya akan susah bergaul di kalangan orang Kangouw.

Maka dalam benaknya waktu itu yang terpikir adalah, “Aku harus membalas sakit hati Susiokco, harus membalas dendam Cong-pian Siansing, harus membalas dendam si kakek dalam rumah tadi!”

Begitulah maka tanpa terasa-mulut Hi-tiok berseru, “Aku harus membunuh bangsat tua Ting Jun-jiu!”

Kheng Kong-leng dan lain-lain kembali menjura pula, katanya, “Ciangbun Susiok berjanji hendak membunuh musuh untuk membalas sakit hati Suhu kami, sungguh para Sutit merasa sangat berterima kasih dan utang budi.”

Baru sekarang Hi-tiok mengetahui dirinya telah disembah orang banyak, lekas ia pun berlutut dan membalas hormat, sahutnya, “Ah, tidak berani, tidak berani! Harap kalian lekas bangun!”

“Susiok, Siautit ingin melapor sesuatu, tapi di sini banyak orang luar dan tidak leluasa, harap suka masuk ke dalam rumah saja,” kata Kong-leng.

“Baiklah,” sahut Hi-tiok sambil berbangkit.

Lalu semua orang mengiringi Hi-tiok berjalan ke rumah papan itu. Tapi belum lagi masuk ke sana, tiba-tiba Pek-ling berkata, “Nanti dulu! Suhu terkena tangan keji Ting-lojat dalam rumah ini, jangan-jangan bangsat tua itu masih ada tipu muslihat keji pula, maka lebih baik Ciangbun Susiok dan Toasuheng jangan masuk lagi ke situ.”

“Benar juga,” kata Kong-leng. “Ciangbun Susiok tidak boleh lagi menyerempet bahaya itu.”

“Kalian boleh bicara saja di sini,” ujar Sih-sin-ih. “Biarlah kami menjaga di sekitar sini agar bangsat tua she Ting itu tidak dapat turun tangan keji lagi.”

Habis berkata ia terus mendahului menyingkir begitu pula Thio A Sam, Li Gui-lui dan lain-lain juga lantas memisahkan diri agak jauh untuk berjaga. Padahal keadaan mereka masih lemah, kalau benar-benar diserbu Ting Jun-jiu, paling-paling mereka hanya mampu bersuara memperingatkan saja dan tiada kekuatan buat melawan.

Buyung Hok, Ting Pek-jwan dan lain-lain adalah orang-orang Kangouw kawakan, sudah tentu mereka tidak mungkin mendengarkan pembicaraan rahasia golongan lain, maka tanpa disuruh juga mereka menyingkir sendiri.

Maka Kong-leng lantas mulai bicara, “Susiokco….”

“Aku bukan Susiokmu,” tiba-tiba Hi-tiok memotong, “aku pun bukan ciangbunjin kalian apa segala, tapi aku adalah hwesio Siau-lim-si dan tiada sangkut paut apa-apa dengan Siau-yau-pay kalian.”

“Susiok, mengapa engkau tidak mau mengaku?” kata Kong-leng. “Apabila bukan orang kita sendiri, orang luar sekali-kali tidak mungkin mengenal nama ‘Siau-yau-pay’. Jika orang luar mendengar nama golongan kita ini, baik sengaja atau tidak, maka menurut peraturan yang kita terapkan, orang itu harus dibunuh tanpa ampun, biarpun ke mana orang itu akan lari, ke ujung langit sekalipun juga harus diuber dan dibunuh.”

Keruan Hi-tiok bergidik sendiri, katanya dalam hati, “Wah, peraturan ini benar-benar sangat aneh. Jika demikian, andaikan aku tidak mau masuk perguruan mereka, bukankah aku akan dibunuh juga oleh mereka?”

Dalam pada itu Kong-leng telah berkata pula, “Cara penyembuhan yang digunakan Susiok untuk menolong semua orang tadi memang benar adalah lwekang golongan kita. Cara bagaimana Susiok masuk perguruan kita dan kapan mendapat ajaran asli kakek guru, hal ini Siautit tidak berani banyak bertanya, sebab mungkin juga Suhu yang mewakilkannya menerima murid lagi untuk menyerahkan jabatan ciangbunjin. Pendek kata, yang sudah terang ‘Siau-yau-sin-sian-goan’ (Cincin Dewa Bebas Merdeka) terpakai di jari Susiok, sebelum meninggal Suhu juga menyebut engkau sebagai ‘Ciangbunjin’, maka Susiok tidak perlu main tolak lagi.”

Menurut jalan pikiran Kheng Kong-leng, sudah terang kakek gurunya telah dibunuh Ting Jun-jiu pada 30 tahun yang lalu, sedangkan usia Hi-tiok paling-paling baru 21 atau 22 tahun, betapa pun tidak mungkin adalah murid yang diterima pada masa hidup Thaysuhu (kakek guru), boleh jadi Thaysuhu telah menetapkan peraturan bahwa barang siapa yang dapat memecahkan problem catur itu adalah muridnya. Atau mungkin juga So Sing-ho yang mewakilkan gurunya yang sudah wafat itu untuk menerima murid lagi, hal ini bisa terjadi karena di dunia persilatan memang sudah pernah ada. Dan sebagai angkatan yang lebih muda, maka Kong-leng tidak berani banyak bertanya lagi.

Ketika Hi-tiok memandang sekitarnya, ia lihat di sebelah sana Hui-hong dan kawan-kawannya sedang menggotong jenazah Hian-lan ke samping, sebaliknya mayat So Sing-ho masih tetap kaku berlutut di tempatnya dengan wajah tersenyum aneh itu. Tiba-tiba hati Hi-tiok menjadi pedih, katanya, “Tentang urusan ini sukar untuk dijelaskan dalam waktu singkat. Yang penting sekarang ialah cara bagaimana harus membunuh Ting Jun-jiu untuk membalas sakit hati Suhu kalian dan Susiokcoku. Locianpwe….”

Mendengar dirinya dipanggil sebagai “Locianpwe”, cepat-cepat Kong-leng berlutut lagi dan menutur, “Hendaknya Susiok jangan menyebut Siautit dengan demikian, mana Siautit berani menerimanya!”

“Baiklah, lekas kau bangun!” kata Hi-tiok sambil mengerut kening. Dalam hati ia pun menimbang-nimbang, “Untuk membunuh Ting Jun-jiu, ilmu silat Siau-lim-pay terang tak berguna, biarpun aku berlatih dengan giat, selama hidup ini juga belum tentu mampu mencapai tingkatan seperti Susiokco Hian-lan Taysu. Andaikan dapat mencapai setinggi itu tetap tidak mampu menahan sekali hantaman Sing-siok Lokoay, apalagi untuk mencapai tingkatan setinggi itu diperlukan berpuluh tahun lagi, tatkala mana tentu Ting Jun-jiu juga sudah mati dan tidak mungkin lagi dapat membalas dendam apa segala. Maka untuk bisa membunuh Ting Jun-jiu tiada jalan lain kecuali melatih ilmu silat Siau-yau-pay.”

Maka ia berkata, “Locianpwe….”

Mendengar ucapan ini, “bluk”, kembali Kheng Kong-leng berlutut lagi.

Cepat Hi-tiok berseru, “O, ya, aku lupa, aku takkan menyebut demikian lagi padamu. Lekas bangun!”

Lalu ia keluarkan gulungan lukisan yang diterimanya dari si kakek, ia bentang lukisan itu dan berkata, “Suhumu mengatakan padaku bahwa berdasarkan benda ini aku disuruh berusaha belajar ilmu silat untuk membasmi Ting Jun-jiu kelak.”

Setelah Kheng Kong-leng periksa lukisan wanita cantik berpakaian keraton dalam gambar itu, ia geleng kepala dan berkata, “Siautit tidak paham apa maksud lukisan ini, harap Susiok menyimpannya dengan baik dan jangan sampai dilihat orang luar. Jika Suhu telah memberi pesan begitu, diharap Susiok suka mengingat meninggalnya Suhu yang mengenaskan itu dan sudi melaksanakan pesannya. Yang hendak Siautit lapor kepada Susiok ialah racun yang mengenai Suhu itu disebut ‘Siau-yau-sam-siau-san’ (Puyer Enak Tiga Kali Tersenyum). Racun itu tak berwujud, mula-mula yang terkena racun akan mengunjuk senyuman aneh tanpa dirasakan oleh si penderita racun. Dan bila tersenyum sampai tiga kali, lalu orangnya akan binasa.”

“Ai, benar-benar celaka,” ujar Hi-tiok dengan rasa malu, “justru waktu gurumu mula-mula keracunan, aku salah sangka senyumannya itu bermaksud jelek. Coba kalau tadi kutanya dengan setulus hati dan segera memberi pertolongan, mungkin Suhu kalian takkan telanjur meninggal seperti sekarang.”

“Siapa yang terkena ‘Siau-yau-sam-siau-san’ itu tentu sukar ditolong lagi,” kata Kong-leng sambil goyang kepala. “Sebabnya Ting-lojat bisa malang melintang di dunia persilatan, salah satu gegamannya adalah karena ‘Siau-yau-san’ itu. Orang luar hanya kenal Hoa-kang-tay-hoatnya yang lihai, padahal ‘Siau-yau-san’ jauh lebih lihai karena setiap orang yang kena racun itu pasti binasa.”

“Wah, racun itu benar-benar mahajahat,” kata Hi-tiok. “Tapi tadi aku pun berada di samping gurumu, mengapa aku tidak melihat cara Ting-lojat turun tangan kejinya? Apa lantaran ilmu silatku terlalu rendah dan kurang pengalaman? Pula, mengapa Ting-lojat tidak turun tangan keji padaku, sebaliknya jiwaku diampuni?”

“Ya, mungkin dia anggap kepandaianmu terlalu cetek, maka tidak sudi turun tangan kepada seorang keroco. Ciangbun Susiok, kulihat usiamu memang masih muda, berapa tinggi sih kepandaianmu? Meski cara penyembuhan tadi sangat baik dan juga atas ajaran guruku memang bukan sesuatu yang luar biasa, makanya Ting-lojat pandang sebelah mata padamu,” demikian kata Kong-leng.

Meski dia terhitung kepala “Yu-kok-pat-yu”, umurnya sudah tergolong kakek-kakek, tapi cara bicaranya lebih mirip kanak-kanak. Meski Hi-tiok sudah diakui sebagai Ciangbun Susiok, tapi ia tetap bicara terus terang tanpa rikuh-rikuh.

Sebaliknya Hi-tiok juga tidak pikirkan ucapan orang, sahutnya, “Ya, memang betul apa yang kau katakan, ilmu silatku terlalu rendah, maka Ting-lojat tidak sudi membunuhku. Ai, dosa, dosa! Sebagai murid Buddha, mana boleh aku sembarangan memaki?”

“Susiok, tidak betul ucapanmu,” kata Kong-leng. “Kaum Siau-yau-pay kita tidak tergolong hud (Buddha) atau to (Tao), kita boleh bertindak mana suka, betapa bebas merdeka (siau-yau) hidup kita ini? Engkau adalah ciangbunjin, lebih baik lekas tanggalkan jubahmu dan piara rambut kembali, lalu boleh kawin sepuluh atau lima belas kali, peduli apakah hud atau to segala?”

Setiap kali Kong-leng bicara, setiap kali pula Hi-tiok menyebut “Omitohud”. Dan sesudah Kong-leng selesai berkata, lalu Hi-tiok menjawab, “Di hadapanku jangan lagi kau gunakan kata-kata yang menodai nama Buddha yang maha pengasih. Tadi kau bilang ada sesuatu yang hendak dikatakan padaku, sebenarnya urusan apakah?”

“Ai, celaka!” seru Kong-leng. “Aku memang sudah pikun ini, bicara setengah harian ternyata belum sampai kepada pokok persoalannya. Eh, Ciangbun Susiok, bila engkau sudah tua kelak, jangan sekali-kali meniru penyakitku ini. Thian-san Tong-lo dalam lukisanmu itu paling tidak suka pada orang ceriwis, dahulu Thaysuhu pernah…. Ai, celaka, mulutku telanjur mencerocos hingga hampir-hampir membocorkan rahasia ini. Untung engkau adalah ciangbunjin sendiri dan tidak menjadi soal, kalau orang luar, wah, bisa runyam.”

“Thian-san Tong-lo apa katamu? Apakah wanita cantik dalam lukisan ini bukan nona Ong yang di luar tadi?” Hi-tiok menegas.

“Karena Ciangbunjin tanya, terpaksa Sutit tidak berani berdusta,” tutur Kong-leng. “Wanita cantik dalam lukisan itu she Tong, sudah tentu beliau bukan nona Ong segala. Tong-lolo (Nenek Tong) itu bila bertemu selalu menyebut aku sebagai Siauwawah (anak kecil). Tentang yang lain harap jangan engkau tanya lebih jauh, sebab kalau kau tanya, tentu aku harus menjawab. Dan kalau aku mesti menjawab tentu aku akan serbasusah serbakikuk.”

“Baiklah, aku takkan tanya lagi,” kata Hi-tiok. “Dan apa lagi yang hendak kau katakan?”

“Wah, cialat, bicara sampai sekarang masih belum sampai pada pokok persoalannya, benar-benar cialat,” seru Kong-leng. “Ciangbun Susiok, aku cuma ingin mohon dua hal dan sudilah engkau meluluskan.”

“Urusan apa mesti minta izin padaku?” sahut Hi-tiok. “Mana aku berani terima?”

“Ai, urusan penting golongan kita kalau tidak dimintakan izin Ciangbunjin, habis mesti minta kepada siapa?” ujar Kong-leng. “Urusan pertama, kami berdelapan dahulu telah dikeluarkan dari perguruan, hal ini bukan lantaran kami berbuat dosa melainkan karena Suhu khawatir kami dicelakai Ting-lojat, pula beliau tidak tega membikin tuli dan bisu kami, makanya aku diusir begitu saja. Hari ini Suhu sudah tarik kembali sumpahnya kepada Ting-lokoay dan kami disuruh kembali masuk perguruan, cuma belum lagi dilaporkan kepada Ciangbunjin, pula belum dilakukan upacara, maka belum dapat dianggap resmi sebab itulah perlu dimintakan perkenan Ciangbunjin. Kalau tidak, tentu kami akan menjadi setan gentayangan di dunia persilatan tanpa punya asal-usul.”

Hi-tiok menjadi ragu. Ia pikir jika dirinya tidak mengaku sebagai ciangbunjin, tentu kakek di depannya itu akan bicara terus tidak habis-habis. Terpaksa ia mesti menerima dulu permintaannya dan urusan belakang.

Maka ia lantas menjawab, “Jika gurumu sudah mengizinkan kalian masuk kembali perguruan dengan sendirinya hal itu sudah resmi, kenapa mesti khawatir?”

Kong-leng sangat girang, segera ia berseru kepada kawan-kawannya, “Para Sute dan Sumoay, Ciangbun Susiok sudah meluluskan permintaan kita untuk masuk kembali perguruan!”

Segera Hoan Pek-ling bertujuh beramai-ramai merubung maju dan memberi hormat kepada Ciangbun Susiok untuk menyampaikan terima kasih.

Hi-tiok menjadi serbasalah, menolak salah, tidak menolak, kedudukannya sebagai “ciangbun” menjadi semakin kuat dan susah dielakkan lagi. Sedangkan Hui-hong, Hui-si dan para paman gurunya yang lain masih berada di sebelah sana, dirinya jelas adalah anak murid Siau-lim-si, tapi sekarang telah menjadi ciangbunjin golongan tak keruan itu, bukankah terlalu? Sebaliknya dilihatnya Hoan Pek-ling dan lain-lain teramat girang, kalau sekarang dia mengemukakan soal ciangbunjin tentu akan membikin suasana berubah kurang enak. Maka terpaksa ia hanya tersenyum saja tanpa menjawab.

Sementara itu Kong-leng lantas memanggil pula, “A Pik, kemarilah memberi hormat kepada Susiokco.”

Segera A Pik mendekati Hi-tiok dan memberi hormat dengan lemah lembut.

Berulang Hi-tiok menggoyang tangan dan berkata, “Ai, nona tidak perlu banyak adat.”

Kemudian Kong-leng membuka suara lagi, “Susiok, urusan kedua yang ingin kumohon adalah semoga aku diperbolehkan menerima kembali anak dara ini.”

Hi-tiok menjadi heran, ia menegas, “Menerima kembali anak dara ini apa maksudmu?”

“Begini,” tutur Kong-leng, “tidak lama sesudah anak dara ini menjadi muridku, lalu ia buru-buru melarikan diri atas desakan musuh dan berlindung di tempat kediaman Buyung-kongcu dan menjadi dayangnya. Selama beberapa tahun ini benar-benar telah membikin susah dia. Kini usianya sudah menanjak, pula kami berdelapan saudara sudah berkumpul kembali serta akan mengikut Susiok untuk berusaha membalas sakit hati Thaysuhu dan Suhu, untuk ini A Pik juga perlu ikut mencurahkan sedikit tenaganya. Di samping itu bila musuh berani mencarinya lagi, kini kita pun tidak khawatir apa-apa dan kita dapat bersama-sama melabraknya. Sebab itulah kumohon Susiok suka bicara kepada Buyung-kongcu agar dia mau membebaskan A Pik pulang ke asalnya.”

Hi-tiok merasa ragu. Kemudian ia menegas, “Apakah mesti aku yang bicara padanya?”

“Dengan kedudukan Ciangbun Susiok, asal engkau buka mulut, tentu Buyung-kongcu akan segan menolak,” ujar Kong-leng.

“Dan bagaimana pendapat nona?” tanya Hi-tiok kepada A Pik.

A Pik agak heran, sahutnya kemudian, “Jika demikian kata Suhu, Tecu sudah tentu menurut saja. Selamanya Buyung-kongcu berlaku sangat baik kepadaku dan tidak anggap Tecu sebagai pelayan, maka asal Susiokco mau bicara padanya, pasti Kongcu akan meluluskan.”

“O!” Hi-tiok bersuara. Ketika ia menoleh dan hendak dibicarakannya kepada Buyung Hok, ternyata Buyung Hok, Toan Ki, Ong Giok-yan, Hian-lan dan para padri Siau-lim-si tadi sudah menghilang entah ke mana perginya. Jadi di situ sekarang hanya tertinggal mereka dari Siau-yau-pay sendiri.

“He, ke manakah mereka?” seru Hi-tiok heran.

“Ketika melihat kita bicara terus, maka Buyung-kongcu dan kawan-kawannya beserta para padri Siau-lim-pay sudah pergi semua,” sahut komandan Go.

“Haya! Mereka sudah pergi?” seru Hi-tiok terus mengejar ke bawah gunung. Maksudnya hendak menyusul Hui-keng dan padri lain untuk bersama-sama pulang ke Siau-lim-si dan akan memberi laporan kepada sang guru tentang apa yang terjadi.

Dalam gugupnya, larinya menjadi sangat cepat, sudah hampir setengah jam ia lari dan makin lama makin cepat, tapi bayangan padri angkatan Hui tetap tidak kelihatan.

Keruan ia tambah gugup, dan karena itu larinya tambah cepat. Tak diketahuinya bahwa sesudah dia mendapatkan ilmu sakti peyakinan selama 70 tahun dari Siau-yau Lojin, maka betapa cepat larinya boleh dikata melebihi kuda pacuan. Sebab itulah waktu sampai di bawah gunung, sebenarnya para padri Siau-lim-si yang dicarinya itu malah ketinggalan di bagian belakang. Ia sangka orang yang hendak dicari itu sudah jauh di depan, tak tahunya pada suatu tikungan secara tergesa-gesa ia sudah mendahului Hui-keng dan lain-lain, dan hanya dalam sekejap saja sudah jauh meninggalkan mereka.

Hui-keng berenam menggotong jenazah Hian-lan, sekilas mereka melihat bayangan Hi-tiok melayang lewat di sebelah sana dengan kecepatan luar biasa, keruan mereka saling pandang dengan terperanjat, mereka tidak tahu apa sebabnya mendadak Hi-tiok dapat berlari secepat terbang.

Mereka terus membawa jenazah Hian-lan ke bawah gunung, mereka mencari suatu kelenteng dan membakar mayat Hian-lan, kemudian pergi ke tempat tinggal Sih-sin-ih di Liu-cong-tin untuk memperabukan jenazah Hian-thong, abu tulang kedua padri saleh itu diisi dalam tempurung dan dibawa pulang ke Siau-lim-si.

Sudah tentu biar Hi-tiok berlari-lari sampai dekat magrib juga tetap tidak menemukan jejak Hui-keng berenam. Ia sangat heran ia mengira mungkin dirinya kesasaran, maka ia lari kembali ke arah datangnya tadi sejauh belasan li, tapi tetap tidak diketemukan.

Ia coba tanya orang di tepi jalan, namun juga tiada seorang pun melihat keenam hwesio yang dimaksudkan. Padahal waktu itu hari sudah hampir gelap, perutnya terasa lapar, segera ia menuju ke suatu kota kecil yang tidak jauh dari situ, ia masuk ke suatu warung makan, ia ambil tempat duduk dan pesan dua mangkuk mi sayur.

Karena santapan tidak bisa lantas disediakan, sambil menunggu Hi-tiok terus mengawasi jalan di luar, ia longok sini dan longok sana kalau-kalau melihat kawan yang sedang dicari itu.

“Thaysuhu, apakah engkau sedang menanti seseorang?” demikian tiba-tiba didengarnya suara seorang yang nyaring merdu bertanya.

Waktu Hi-tiok berpaling, ia lihat penegur itu adalah seorang pemuda berbaju hijau yang duduk menyanding meja di dekat jendela sebelah kiri sana. Muka pemuda itu putih bagus dan sedang memandang ke arahnya dengan tersenyum simpul, usianya ditaksir baru 17 atau 18 tahun saja.

Maka Hi-tiok menjawab, “Ya, betul! Eh, Siausiangkong (tuan muda cilik), apa kau lihat enam hwesio berlalu di sini?”

“Enam hwesio sih tidak melihat, kalau seorang hwesio memang kulihatnya,” sahut pemuda itu.

“Hah, seorang hwesio? Di mana Siausiangkong melihatnya?” Hi-tiok menegas.

“Di sini, di warung makan ini,” kata si pemuda.

Diam-diam Hi-tiok pikir seorang hwesio itu tentu bukanlah rombongan paman gurunya, tapi dari seorang padri itu mungkin akan diperoleh sedikit kabar. Maka ia tanya pula, “Bagaimanakah macam hwesio itu? Berapa usianya? Dan menuju ke mana?”

Dengan tersenyum pemuda itu menjawab, “Hwesio itu berjidat lebar, bertelinga besar, bibirnya tebal dan mulutnya lebar, hidungnya pesek, usianya kira-kira dua puluh lebih sedikit, dia lagi tunggu mi yang dipesannya di warung makan ini dan belum pergi.”

“Hahaha! Kiranya yang dimaksudkan Siausiangkong adalah diriku!” demikian Hi-tiok tertawa mengakak.

“Hm, kalau panggil Siangkong ya Siangkong saja, mengapa mesti tambahkan ‘siau’ (kecil) apa segala? Aku kan tidak panggil dirimu sebagai Siauhwesio?” omel pemuda itu dengan suara yang halus merdu dan enak didengar.

“Ya, ya, aku harus panggil Siangkong saja,” sahut Hi-tiok. Dalam pada itu kedua mangkuk mi sayur yang dipesan sudah disuguhkan, maka Hi-tiok berkata pula, “Marilah makan, Siangkong.”

“Ah, hanya air bening dan sayur belaka, sedikit pun tidak pakai bumbu, mi begitu masakah enak dimakan?” demikian pemuda itu menjawab. “Ini, marilah ke sini, duduklah semeja denganku, biar kujamu kau makan daging dan ayam panggang.”

“Ai, dosa, dosa! Selama hidup Siauceng belum pernah merasakan barang berjiwa, harap Siangkong dahar sendiri saja,” kata Hi-tiok. Lalu ia sedikit mungkur serta makan mi pesanan sendiri, tampaknya ia enggan menyaksikan cara si pemuda menggasak daging dan ayam dengan lahapnya itu.

Rupanya Hi-tiok memang sudah lapar, maka hanya beberapa kali seropot saja isi setengah mangkuk mi itu sudah “dilangsir” ke dalam perut.

Waktu Hi-tiok menoleh, ia lihat tangan kanan si pemuda memegangi sendok dan sudah menciduk satu sendok kuah, rupanya baru hendak dituangkan ke mulut, tapi mendadak menemukan sesuatu yang aneh, maka sendok kuah itu terhenti belasan senti di depan mulutnya. Kemudian tangan kiri entah menjemput sesuatu apa dari atas meja, lalu pemuda itu berbangkit dan mendekati Hi-tiok sambil membawa satu sendok kuah itu, katanya, “Hwesio, coba lihatlah! Kutu ini sangat aneh, bukan?”

Waktu Hi-tiok memerhatikan, ia lihat apa yang diremas tangan kiri pemuda itu adalah seekor serangga yang berkulit keras warna hitam. Serangga macam itu terdapat di mana-mana dan sedikit pun tidak mengherankan, diam-diam ia menduga pemuda itu pasti jarang keluar rumah, makanya melihat serangga begitu juga heran setengah mati. Segera ia menjawab, “Di mana letak keanehannya?”

“Coba lihat, kulitnya sekeras ini, warnanya hitam gilap pula, kan aneh?” ujar pemuda itu.

“Ah, pada umumnya serangga berkulit keras memang begitu bentuknya,” sahut Hi-tiok.

“O?” ujar pemuda itu, serangga hitam itu dibantingnya ke tanah, lalu ia kembali ke tempat duduknya.

“Dosa? Dosa!” Hi-tiok menggerundel sambil meneruskan makan mi.

Boleh jadi karena seharian belum makan apa-apa, maka ia sangat lapar, mi itu dirasakan sangat enak hingga mi itu diseropot habis sampai kuahnya setetes pun tidak ketinggalan.

Segera mangkuk kedua diangkatnya terus hendak diseropot lagi, tapi mendadak pemuda tadi bergelak tertawa dan berkata, “Hwesio, kukira kau benar-benar seorang hwesio suci, siapa tahu cuma pura-pura saja.”

“Ada apa?” Hi-tiok melotot.

“Habis, katanya selama hidupmu tidak pernah merasakan barang berjiwa, tapi mi kuah ayam itu mengapa kau seropot sedemikian nikmatnya?”

“Ah, Siangkong suka berkelakar rupanya,” sahut Hi-tiok. “Sudah jelas mi yang kumakan adalah mi sayur saja, dari mana datangnya kuah ayam? Tadi aku sendiri yang pesan pelayan agar dibuatkan mi sayur, sedikit pun tidak boleh diberi bumbu.”

“Ala, pura-pura!” si pemuda berolok-olok dengan tersenyum. “Di mulut kau bilang tidak doyan barang berjiwa, tapi sekali merasakan kuah ayam lantas disapu bersih. Haha, Hwesio, maukah kutambah lagi satu sendok kuali ayam dalam mangkukmu itu?”

Habis berkata ia terus menciduk lagi satu sendok kuah ayam dan berbangkit hendak mendekati Hi-tiok.

Keruan Hi-tiok terperanjat, “Jadi… jadi tadi… kau telah….”

“Ya, tadi aku sudah menambahkan satu sendok kuah ayam di dalam mi yang kau makan, masakah kau tidak melihat? Ai, Hwesio, lekas tutup mata dan pura-pura tidak tahu, biar kutambahi lagi satu sendok kuah ayam supaya lebih enak, lebih lezat. Toh bukan kau yang menambahi sendiri, Buddha tentu takkan menyalahkanmu.”

Hi-tiok terkejut dan gusar. Baru sekarang ia tahu dirinya diselomoti. Pemuda itu pura-pura tanya serangga segala, padahal di luar tahunya lantas menuangkan satu sendok kuah ayam ke dalam mangkuknya. Ia coba bayangkan rasa kuah tadi, ia merasa memang betul jauh lebih lezat. Cuma saja selama hidupnya tidak pernah merasakan kuah ayam, makanya tadi ia tidak tahu itulah rasanya kuah ayam.

Sekarang kuah ayam itu sudah terminum ke dalam perut, lantas bagaimana baiknya? Apakah mesti ditumpahkan kembali? Seketika ia menjadi bingung.

“Hwesio,” kata si pemuda sambil menuding keluar, “itu dia, keenam hwesio yang hendak kau cari itu bukankah sudah datang?”

Hi-tiok menjadi girang, cepat ia memburu keluar untuk melihat, tapi meski ia celingukan kian kemari toh tiada seorang pun yang terlihat. Ia tahu kembali tertipu lagi, dengan mendongkol ia kembali ke tempatnya untuk makan mi lagi. Sebagai orang beragama yang tidak boleh marah, sedapat mungkin ia tahan perasaannya itu.

Selagi ia main “sapu” mi mangkuk kedua itu, baru setengah mangkuk dimakan, sekonyong-konyong mulut terasa mencaplok sepotong benda aneh yang kenyal-kenyal rasanya. Dalam kagetnya segera ia periksa isi mangkuknya, maka tertampaklah di dalam mangkuk terdapat sepotong daging babi, malahan setengah potong sudah tergigit, terang baru saja kena dimakannya.

“Wah, celaka!” seru Hi-tiok mengeluh sambil gabrukkan sumpitnya ke atas meja.

“Ada apa, Hwesio? Apakah daging itu tidak enak, mengapa kau mengeluh?” tanya tiba-tiba si pemuda dengan tertawa.

“Kau tipu aku keluar, lalu menaruh daging ini di dalam mangkukku,” kata Hi-tiok dengan marah-marah. “Padahal aku… aku tidak pernah merasakan sedikit pun barang berjiwa, wah, aku… aku jadi rusak di tanganmu.”

“Rasa daging gemuk itu bukankah jauh lebih lezat daripada sayur dan tahu?” ujar si pemuda dengan tersenyum. “Kalau sejak dahulu kau tak pernah makan barang enak seperti itu, sungguh kau orang bodoh.”

Hi-tiok berbangkit dengan bingung, menyesalnya tak terkatakan. Pada saat itulah tiba-tiba terdengar suara ramai orang banyak sedang menuju ke warung makan ini.

Sekilas Hi-tiok mengenali rombongan orang itu adalah anak murid Sing-siok-pay. Diam-diam ia mengeluh lagi, “Wah, celaka! Kalau sampai ditangkap Sing-siok Lokoay tentu jiwaku bisa melayang!”

Ia pikir jalan paling selamat adalah kabur saja. Maka cepat ia lari ke belakang, ia lihat sebuah pintu, segera ia mendorong dan masuk. Ternyata pintu itu bukan pintu belakang melainkan pintu sebuah kamar. Maklum, warung makan di kota kecil, ruangannya terbatas, maka kamar tidur si pemilik warung itu terletak di sebelah ruangan makan tamu.

Pikir Hi-tiok hendak melangkah keluar kembali, tapi di belakang sudah terdengar suara orang minta pelayan menyediakan arak dan daharan. Terang anak murid Sing-siok-pay itu sudah memasuki ruang makan. Sudah tentu Hi-tiok tidak berani keluar kembali, terpaksa ia tutup pintu kamar itu.

“Tidurkan hwesio gemuk itu di dalam sana!” tiba-tiba terdengar suara seorang memberi perintah. Itulah suara Ting Jun-jiu.

Seorang muridnya mengiakan, lalu terdengar suara tindakan yang berat menuju ke kamar tidur itu.

Keruan Hi-tiok ketakutan, tiada jalan lain, terpaksa ia berjongkok terus menyusup ke kolong ranjang. Tapi baru saja kepalanya menyusup ke dalam, segera terasa kepalanya membentur sesuatu benda dan suara seorang terdengar menjerit tertahan.

Kiranya di kolong ranjang itu lebih dulu sudah bersembunyi seorang lain. Tentu saja Hi-tiok bertambah kaget, maksudnya hendak menyusup keluar lagi, tapi murid Sing-siok-pay tadi sudah mendorong pintu kamar dan melangkah masuk, badan Sam-ceng yang gemuk bagai babi itu dilemparkan ke atas ranjang lalu ditinggal keluar lagi.

“Hwesio, daging tadi enak tidak? Kenapa kau sembunyi di sini?” demikian tiba-tiba suara seorang membisiki Hi-tiok. Kiranya si pemuda tadi.

Diam-diam Hi-tiok harus mengakui kecepatan pemuda itu yang dapat bersembunyi lebih dulu dari dia. Maka dengan bisik-bisik ia pun menjawab, “Rombongan di luar itu adalah orang jahat semua, jangan sekali-kali Siangkong bersuara.”

“Dari mana kau tahu mereka orang jahat?”

“Aku kenal mereka. Orang-orang itu tidak boleh dibuat mainan, mereka sudah biasa membunuh orang tanpa berkedip.”

Selagi pemuda itu hendak mencegahnya agar jangan keras-keras bersuara, mendadak Sam-ceng yang menggeletak di atas ranjang berteriak-teriak, “Di kolong ranjang ada orang! Di kolong ranjang ada orang!”

Keruan Hi-tiok dan pemuda itu terkejut, berbareng mereka merangkak keluar dari kolong ranjang dan hendak lari keluar, namun Ting-lokoay sudah keburu berdiri di depan pintu dengan tersenyum-senyum dingin, air mukanya tampak sangat senang dan sangat kejam pula.

Seketika si pemuda menjadi pucat terus berlutut dan menyapa, “Suhu!”

“Bagus, bagus! Nah, mana, serahkan!” kata Ting-lokoay dengan tertawa.

“Aku tidak membawanya,” sahut si pemuda.

“Tersimpan di mana?” tanya Lokoay.

“Di kota Lamkhia di negeri Liau,” sahut pemuda itu.

Seketika mata Ting Jun-jiu menyorotkan sinar yang buas, katanya, “Kau masih berani menipuku? Apa kau minta dibikin hidup tidak mati pun tidak?”

“Tecu tidak berani menipu Suhu,” sahut si pemuda.

Lokoay melirik sekejap kepada Hi-tiok lalu tanya pemuda itu, “Kenapa kau berada bersama dia?”

“Barusan saja bertemu di warung makan ini,” sahut pemuda itu.

“Hm, bohong!” Lokoay mendengus, dengan gemas ia pandangi sekejap kepada kedua orang itu, lalu kembali ke tempat duduknya.

Segera empat murid Sing-siok-pay menyerbu ke dalam kamar dan mengepung Hi-tiok dan pemuda itu.

Sungguh Hi-tiok sangat kaget dan menyesal pula, semprotnya, “Huh, kiranya kau pun murid Sing-siok-pay!”

“Kau sendiri yang salah, kenapa mengomeli aku?” sahut si pemuda.

“Sumoay, baik-baikkah selama berpisah?” tiba-tiba seorang murid Sing-siok-pay menyapa pemuda itu dengan nada mengejek dan sikap bangor.

Hi-tiok menjadi heran. “He? Jadi kau… kau….”

“Huh, dasar hwesio goblok. Hwesio busuk! Sudah tentu aku orang perempuan, masakah kau tidak tahu sejak tadi?”

Kiranya pemuda itu adalah samaran A Ci.

Dia sudah lama tinggal di Lamkhia, ibu kota negeri Liau. Meski hidupnya serbamewah dan segala apa terpenuhi, tapi dasar wataknya suka bergerak, lama-kelamaan ia merasa bosan. Siau Hong sendiri sibuk dengan urusan dinas hingga tidak dapat mendampingi dia bermain dan berburu setiap hari. Maka pada suatu hari, saking iseng dan kesal ia turun ke Tionggoan lagi tanpa pamit, ia mengembara ke mana-mana dan secara kebetulan hari ini bertemu dengan Hi-tiok, akhirnya dipergoki Ting Jun-jiu pula.

A Ci menyangka gurunya tentu enak-enak bersemayam di Sing-siok-hay dan tidak mungkin menginjak Tionggoan lagi, siapa tahu di kota kecil ini justru kepergok. Meski lahirnya ia bersikap seperti tidak terjadi apa-apa, padahal dalam hati ia ketakutan setengah mati.

Ia duduk di tepi ranjang sambil memikirkan cara meloloskan diri, katanya di dalam hati, “Hanya Cihu yang mampu menolong aku, orang lain terang tiada yang mampu melawan Suhu. Jalan satu-satunya sekarang terpaksa mesti menipu Suhu supaya pergi ke Lamkhia dan mungkin akan dapat menggunakan tangan Cihu untuk membunuh Suhu. Untung Pek-giok-giok-ting itu memang kutinggalkan di Lamkhia, untuk itu Suhu harus menemukannya kembali.”

Berpikir begitu hatinya menjadi agak tenteram, tapi segera terpikir lagi, “Jika Suhu membikin cacat aku lebih dulu dan memunahkan ilmu silatku, lalu aku digiring ke Lamkhia, wah, siksaan demikian mungkin jauh lebih menderita daripada mati saja.”

Karena pikiran wajahnya kembali pucat lagi.

Pada saat itulah seorang murid Sing-siok-pay mendekati dan berkata padanya dengan cengar-cengir, “Toasuci, Suhu memanggilmu.”

Diam-diam Hi-tiok membatin, “Kiranya nona ini bukan saja murid Sing-siok-pay, bahkan adalah murid Ting Jun-jiu yang tertua. Wah, celaka! Dia telah diberikan racun?”

Padahal A Ci sengaja menggodanya melanggar pantangan makan barang berjiwa hanya karena terdorong oleh kenakalan dan kejahilannya saja, kalau orang lain dibuatnya marah-marah dan mendongkol, maka senanglah dia, maksud lain tidak ada. Kini demi mendengar Suhu memanggilnya, keruan ia ketakutan seperti tikus ketemu kucing.

Dengan kebat-kebit ia ikut murid Sing-siok-pay itu keluar kamar. Ia lihat Ting Jun-jiu duduk sendiri menyanding satu meja dengan hidangan dan arak, para muridnya berdiri tegak jauh di sebelah sana, tiada seorang pun berani sembarangan bergerak.

A melangkah maju dan menyapa sambil berlutut, “Suhu!”

“Sebenarnya berada di mana?” tanya Ting-lokoay.

“Mana Tecu berani dustai Suhu, benar-benar berada di Lamkhia, di negeri Liau,” sahut A Ci.

“Di tempat mana di kota itu?” Lokoay menegas.

“Di dalam istana Lam-ih Siau-tay-ong,” sahut A Ci.

“Kenapa bisa jatuh di tangan anjing Cidan itu?” ujar Lokoay sambil berkerut alis.

“Bukan berada di tangannya,” tutur A Ci, “Suatu waktu Tecu sampai di sana, khawatir pusaka Suhu itu kuhilangkan, maka diam-diam Tecu menyembunyikannya di taman bunga Siau-tay-ong. Taman itu sangat sunyi dan sangat luas, kecuali Tecu tentu tiada orang lain lagi yang dapat menemukan giok-ting itu, untuk itu harap Suhu jangan khawatir.”

“Hm, hanya kau sendiri yang dapat menemukannya kembali?” jengek Ting-lokoay. “Lihai juga kau ini! Dengan begitu kau yakin aku tidak berani membunuhmu? Sebab bila kubunuhmu tentu giok-ting itu takkan kutemukan lagi, ya?”

A Ci jadi gemetar, sahutnya dengan ketakutan, “Jika Suhu tidak suka mengampuni kelakuan Tecu yang nakal dan akan memunahkan tenagaku membikin cacat aku, maka lebih baik Tecu mati saja dan tak… takkan mengatakan tempat beradanya giok-ting itu.”

Saking takutnya hingga suaranya makin lemah dan makin lirih.

“Hah, kau setan cilik ini ternyata berani main tawar-menawar denganku,” kata Ting Jun-jiu dengan tersenyum. “Dalam Sing-siok-pay kita terdapat orang lihai seperti kau dan sebelumnya aku sama sekali tidak tahu, sekali ini Sing-siok Losian benar-benar telah salah lihat.”

Mendadak seorang murid Sing-siok-pay berseru, “Sing-siok Losian dapat memandang jauh segala apa yang akan terjadi, karena tahu giok-ting itu akan mengalami alangan demikian, maki sengaja dibiarkan melalui tangan A Ci supaya mestika itu mengalami gemblengan yang lebih baik.”

Segera seorang murid yang lain menanggapi, “Ya, segala apa di dunia ini tiada suatu pun yang meleset dari perhitungan Sing-siok Losian. Ucapan Losian yang rendah diri itu hendaknya para Tecu jangan anggap sungguh-sungguh! Hari ini Losian hanya sedikit menggunakan ilmunya yang sepele saja sudah dapat membunuh tokoh Siau-lim-pay Hian-lan dan membasmi Liong-ah Lojin bersama belasan muridnya, dari zaman dulu hingga sekarang mana ada tokoh mahalihai di dunia persilatan seperti Losian? Nah, A Ci, tak peduli kau main belut bagaimanapun toh takkan dapat lolos dari tangan Sing-siok Losian, maka tiada faedahnya kau kepala batu, lebih baik minta ampun saja.”

Ucapan orang-orang itu cukup keras dan Sing-siok Lokoay hanya tersenyum saja mendengarkan sambil mengelus jenggot.

Hi-tiok yang berada di dalam kamar juga ikut mendengar dengan jelas. Pikirnya, “Susiokco dan Cong-pian Siansing ternyata benar dibinasakan oleh Ting Jun-jiu. Ai, melihat gelagatnya jangankan hendak membalas dendam apa segala, bahkan jiwaku sendiri pun sukar diselamatkan lagi.”

Begitulah terdengar murid Sing-siok-pay ramai berbicara agar A Ci lekas menyerah dan mengaku terus terang saja, dan di tengah kata-kata mereka yang menggertak itu terseling pula suara memuji dan menyanjung setinggi langit keangkeran Ting Jun-jiu.

Watak Ting Jun-jiu memang paling suka diumpak dan dijilat orang. Semakin seram orang menjilatnya, semakin senang hatinya. Sebaliknya kalau anak muridnya itu tidak memujinya setinggi langit, maka ia akan anggap murid itu kurang berbakti padanya.

Karena kenal wataknya itu, maka bila ada kesempatan para muridnya lantas memuji mati-matian demi kepentingan sendiri, sebab kalau tidak disukai sang guru, maka jiwanya setiap saat mungkin bisa melayang.

Sebenarnya tidak seluruh murid Sing-siok-pay berjiwa rendah, soalnya mereka terpaksa, dan lama-kelamaan menjadi biasa dan tidak kenal malu lagi.

Ting Jun-jiu sendiri hanya tersenyum-senyum saja menikmati puja-puji murid-muridnya itu sambil mengelus-elus jenggot yang sudah terbakar sebagian besar waktu bertarung dengan So Sing-ho, jenggot itu sekarang sudah tinggal sedikit saja, tapi akhirnya ia dapat menggunakan “Siau-yau-sam-siau-san” untuk membunuh So Sing-ho, maka pertarungan itu tetap dimenangkan olehnya.

Sesudah puas dari kenyang mendengar puji sanjung anak muridnya itu, akhirnya ia memberi tanda hingga anak muridnya tidak berani bersuara pula, lalu ia berkata kepada A Ci dengan tersenyum, “A, Ci, apa lagi yang hendak kau katakan?”

Tiba-tiba pikiran A Ci tergerak, “Biasanya Suhu sangat sayang padaku, sebab cara kupuji dia jauh lebih pintar dan lebih enak didengar daripada para suheng yang goblok ini, bicara bolak-balik cuma itu-itu saja yang mereka ucapkan.”

Karena itu, segera ia berkata, “Suhu, sebabnya Tecu berani mencuri giok-ting, hal ini bukannya tiada beralasan.”

Ting Jun-jiu mendelik, tanyanya, “Apa alasannya?”

“Waktu Suhu masih muda, ketika kepandaian belum memuncak seperti sekarang, tentu masih perlu menggunakan giok-ting itu untuk dipakai memperdalam ilmu,” ujar A Ci. “Tapi paling akhir ini, setiap orang yang punya mata tentu tahu Suhu memiliki ilmu sakti setinggi langit. Padahal giok-ting itu cuma digunakan untuk mengumpulkan makhluk berbisa saja, dibandingkan ilmu Suhu sudah tentu bukan apa-apa lagi, boleh dikata kunang-kunang berbanding sinar matahari.

“Jika Suhu tidak rela kehilangan giok-ting itu, paling-paling karena merasa sayang saja karena barang simpanan lama. Sebaliknya para Suheng sama ribut dan menyangka Suhu harus memiliki kembali giok-ting itu, katanya giok-ting itu adalah pusaka mahapenting perguruan kita segala, kalau hilang akan celakalah kita. Hah, sungguh terlalu bodoh pendapat mereka itu dan benar-benar terlalu memandang rendah pada ilmu sakti Suhu.”

Senang sekali Ting Jun-jiu mendengarkan uraian A Ci yang empuk itu, berulang-ulang ia memanggut dan berkata, “Ehm, benar, benar!”

Maka A Ci menyambung lagi, “Tecu pikir pula betapa tinggi ilmu silat Sing-siok-pay kita, boleh dikata tiada suatu golongan pun di atas dunia ini dapat menandingi kita. Soalnya Suhu adalah orang tua dan tidak sudi menjelajah Tionggoan lagi untuk memberi hajaran kepada jago silat Tionggoan yang mirip katak di dalam sumur itu.

“Tapi di antara orang Tionggoan itu juga banyak yang sombong, sudah tahu Suhu takkan datang kemari, mereka lantas membual dan pamer setiap orang mengaku dirinya jago kosen, ahli silat dan macam-macam lagi, sebaliknya tiada seorang pun berani datang ke Sing-siok-hay untuk belajar kenal dengan kepandaian Suhu, sebab mereka cukup tahu kepandaian Suhu sukar dijajaki dalamnya.

“Dengan begitu, lalu jago-jago silat di Tionggoan banyak yang menonjolkan diri, seperti Buyung-si dari Koh-soh, namanya menjadi terkenal. Siau-lim-si juga mengaku sebagai bintang cemerlang di dunia persilatan, sampai Liong-ah Siansing dan keluarga Toan di Tayli juga mengaku-aku tokoh sakti. Haha, bukankah sangat lucu perbuatan mereka itu?”

Dasar suara A Ci memang merdu dan enak didengar hingga setiap katanya mengetuk lubuk hati Ting-lokoay, memang jauh lebih menyenangkan daripada puja-puji anak muridnya yang lain. Maka wajah Ting Jun-jiu makin lama makin terang, tampak sekali senangnya tak terkatakan.

Lalu A Ci menyambung pula, “Maka timbul suatu pikiranku yang kekanak-kanakan, bahwasanya Suhu sudah begini sakti, jika tidak datang ke Tionggoan dan memperlihatkan sejurus dua kepada katak-katak di dalam sumur itu, tentu mereka tidak tahu bahwa di luar langit masih ada langit, di atas orang pandai masih ada yang lebih pandai.

“Sebab itu Tecu mendapatkan suatu akal untuk mengundang Suhu ke Tionggoan. Cuma, Suhu bila diundang dengan cara biasa tentu tidak sesuai dengan kedudukan Suhu yang lain daripada yang lain, maka cara mengundang Suhu juga kudu dipakai suatu cara yang luar biasa. Dan sebabnya Tecu meminjam giok-ting itu, maksudnya adalah supaya Suhu sudi datang ke Tionggoan.”

“Haha, jika demikian, jadi maksudmu adalah baik dengan mengambil giok-ting itu,” kata Lokoay sambil terbahak.

“Memang begitulah,” kata A Ci. “Dan sudah tentu, selain maksud baik Tecu itu ada pula maksud tujuan pribadiku.”

“Maksud pribadi apa?” Lokoay menegas sambil berkerut kening.

“Maaf Suhu,” sahut A Ci, “sebagai murid Sing-siok-pay, sudah tentu Tecu berharap agar golongan kita dapat menjagoi jagat ini, agar bilamana dan di mana pun juga Tecu akan selalu dihormati orang, dengan demikian bukankah Tecu akan merasa bangga? Inilah sedikit maksud tujuan pribadiku.”

Kembali Ting Jun-jiu terbahak, katanya, “Bagus, bagus! Sebanyak muridku, tiada seorang pun sepintar dirimu. Kiranya kau curi Pek-giok-giok-ting itu juga bermaksud meninggikan wibawaku di Bu-lim. Haha, mengingat lidahmu yang tajam ini, sayang juga kalau aku membunuhmu, Suhumu akan kehilangan seorang murid yang pintar menghiburnya. Tapi kalau kudiamkan saja tanpa mengusut….”

“Walaupun agak mengenakkan Tecu, tapi setiap murid Suhu pasti akan berterima kasih kepada kebijaksanaan Suhu yang luhur, selanjutnya juga pasti akan berjuang untuk perguruan biarpun badan mesti hancur lebur,” demikian A Ci menyela.

“Huh, ocehanmu itu mungkin dapat menipu orang lain, tapi di hadapanku, apa kau kira aku sudah linglung?” jengek Lokoay. “Maksud tujuanmu ternyata tidak baik. Hm, kau pikir lebih baik kupunahkan, ilmu silatmu atau kuputuskan urat nadimu saja….”

Berkata sampai di sini mendadak terdengar suara seorang yang lantang berseru, “Tiamke (pengurus), bawakan santapan!”

Waktu Lokoay melirik, ternyata seorang pemuda berbaju kuning, pedang bergantung di pinggang dan entah sejak kapan sudah masuk ke warung makan serta duduk di meja sebelah sana. Itulah dia Buyung Hok yang siang tadi pernah bergebrak satu kali dengan dia.

Sungguh kejut Lokoay tak terkatakan. Meski dia asyik mendengarkan omongan A Ci, tapi di sebelah meja mendadak bertambah seorang di luar tahunya, hal ini benar-benar suatu kelengahan besar, bila Buyung Hok tiba-tiba menyerang, mungkin dirinya sudah kecundang. Tapi sebagai seorang tokoh berpengalaman, ia dapat berlaku tenang-tenang saja.

A Ci belum pernah melihat Buyung Hok, diam-diam ia memuji juga demi melihat kecakapan pemuda itu.

Maka tertampak Buyung Hok angkat tangan menyapa Ting Jun-jiu, “Tabik! Orang hidup di mana-mana selalu berjumpa. Baru saja kita berpisah dan dalam sekejap saja sudah bertemu kembali.”

“Ya, rupanya kita ini ada jodoh,” sahut Lokoay.

Sementara itu pelayan telah mendekati Buyung Hok dan bertanya, “Kongcuya ingin makan nasi atau dahar mi saja?”

“Bawakan satu kati arak dan kalau ada masakan enak buatkan beberapa macam sebagai pengiring arak,” pesan Buyung Hok.

Pelayan mengiakan dan meneruskan pesanan itu ke dapur.

Dalam gebrakan siang tadi Ting Jun-jiu tidak keburu menggunakan Hoa-kang-tay-hoat untuk melawan Buyung Hok, tapi ia dapat menguji tenaga dalam pemuda itu sangat kuat dan banyak perubahan pula, ia merasa tiada memperoleh sedikit pun keuntungan. Dengan perangai Lokoay yang tinggi hati seakan-akan dunia ini dia kuasa, sudah tentu ia tidak rela duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan orang lain.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: