Kumpulan Cerita Silat

03/06/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 53

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 12:14 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Sekarang rasa takutnya sudah hilang, segera ia membungkuk memberi hormat, katanya, “Siauceng Hi-tiok memberi hormat kepada Cianpwe.”

Orang itu manggut-manggut dan bertanya, “Kau she apa?”

Hi-tiok tercengang sejenak, lalu menjawab, “Seorang cut-keh-lang, sudah lama tidak kenal she lagi.”

“Sebelum menjadi hwesio, kau she apa?” tanya pula orang itu.

“Siauceng sejak kecil sudah cut-keh, maka tidak tahu,” sahut Hi-tiok.

Lalu orang itu mengamat-amati Hi-tiok sejenak, tiba-tiba ia menghela napas dan berkata, “Kau dapat memecahkan problem catur yang kupasang itu, tentang kepintaran dan kecerdasan sudah tentu lain daripada yang lain. Tapi mukamu begini, betapa pun tidak bisa jadi. Ai, susah amat. Kukira nanti hanya sia-sia membuang pikiran saja bahkan jiwamu bisa melayang percuma. Baik begini saja, Siauhwesio, akan kuberi semacam hadiah padamu dan boleh kau pergi saja!”

Watak Hi-tiok bukan seorang yang sombong dan tinggi hati, biar orang tua itu mengatakan mukanya jelek juga dia tidak ambil pusing. Tapi dia mempunyai sifat yang keras hati, kemauannya teguh dan tidak kenal apa artinya susah atau sulit, berulang ia dengar orang tua tadi mengatakan “susah”, hal ini membangkitkan semangat jantannya malah.

Maka ia lantas berkata, “Dalam hal main catur sebenarnya pengetahuan Siauceng teramat dangkal, adapun problem catur Locianpwe itu pun bukan Siauceng sendiri yang memecahkannya. Tetapi bila Locianpwe ada urusan sulit apa-apa yang perlu diselesaikan, meski kepandaian Siauceng sangat rendah juga siap untuk melakukannya dengan sebisa tenaga. Sedangkan soal hadiah apa segala Siauceng tidak berani menerimanya.”

“Kau berbudi luhur dan berjiwa kesatria, sungguh harus dipuji,” kata orang tua itu. “Tentang kepandaian main catur dan ilmu silatmu rendah, semuanya tidak menjadi soal. Tapi kau dapat masuk ke sini berarti ada jodoh. Cuma saja… ya, mukamu sesungguhnya terlampau jelek….”

Hi-tiok tersenyum, sahutnya, “Jelek atau bagus muka seseorang adalah pemberian alam, jangankan diri sendiri tak berkuasa, bahkan ayah ibu juga tidak bisa menentukan. Mukaku memang jelek hingga membikin Cianpwe kurang senang, biarlah sekarang kumohon diri saja.”

Habis berkata, ia mundur dua tindak dan hendak membalik tubuh untuk keluar. Namun orang tua itu telah mencegahnya, “Nanti dulu!”

Mendadak lengan bajunya mengebas perlahan dan tersampir di pundak kanan Hi-tiok.

Lengan baju adalah benda yang lemas, tapi sekali menyentuh pundak, seketika Hi-tiok tertahan ke bawah sedikit. Ia merasa lengan baju itu seperti sebuah tangan yang memegang tubuhnya.

Lalu dengan tertawa orang tua itu berkata, “Orang muda mempunyai sifat angkuh begini, sungguh harus dipuji.”

“Siauceng mana berani bersikap angkuh terhadap Cianpwe,” sahut Hi-tiok. “Cuma Siauceng khawatir membikin Locianpwe kurang senang maka lekas pergi saja dari sini.”

Orang tua itu manggut-manggut lagi dan bertanya, “Siapa saja orang-orang yang ikut datang memecahkan problem catur itu?”

Hi-tiok lantas menuturkan satu per satu.

Orang tua itu termenung sejenak, katanya kemudian, “Tokoh-tokoh terkemuka di dunia ini sudah sebagian besar datang kemari. Apakah Koh-eng Taysu dari Tayli Thian-liong-si tidak datang?”

“Selain padri dari biara kami, tidak kulihat ada padri golongan lain,” sahut Hi-tiok.

Terdengar orang tua itu menghela napas, lalu bergumam sendiri, “Aku sudah menunggu selama 30 tahun, andaikan menunggu lagi 30 tahun juga belum tentu dapat menemukan bahan yang serbabagus lahir dan batin. Segala apa di dunia ini memang banyak yang tidak dapat memenuhi harapan orang. Kini terpaksa apa adanya saja.”

Rupanya ia sudah ambil sesuatu ketetapan, lalu ia tanya pula, “Tadi kau bilang problem catur itu bukan kau sendiri yang memecahkannya, habis mengapa Sing-ho memasukkan kau ke sini?”

Maka Hi-tiok bercerita lagi, “Pertama karena Siauceng secara sembrono telah menjalankan satu biji catur dengan mata tertutup, sedangkan langkah-langkah selanjutnya adalah bantuan susiokco kami yang bergelar Hian-lan Taysu, beliau telah memberi petunjuk dengan diam-diam dan mengirimkan bisikan suara ke telinga Siauceng.”

Habis itu, segera ia menguraikan pula gambaran singkat waktu memecahkan problem catur tadi.

“Takdir, takdir,” demikian orang tua itu berkata. Dan mendadak ia berseri-seri, lalu katanya pula, “Jika memang sudah ditakdirkan begitu, secara ngawur dapat kau buka kunci pemecahan problem yang kuatur itu, ini menandakan kau ada jodoh dan mempunyai rezeki yang baik, siapa tahu kalau kau akan dapat melaksanakan tugas yang akan kuberikan padamu. Baik, baik, marilah anak baik, berlututlah dan menyembah padaku.”

Perangai Hi-tiok juga sangat baik, ia suka menghormati siapa pun juga. Kini mendengar orang tua itu menyuruh dia berlutut dan menyembah, meski tidak tahu duduknya perkara, tapi orang itu dianggapnya sebagai kaum angkatan tua Bu-lim, untuk menyembah kepadanya juga pantas, maka tanpa pikir lagi ia lantas berlutut dan dengan penuh hormat, ia menyembah empat kali hingga kepalanya membentur lantai.

Selagi ia hendak berbangkit, tiba-tiba orang tua itu berkata pula dengan tertawa, “Sembah lima kali lagi, ini adalah peraturan perguruan!”

Hi-tiok mengiakan dan tanpa pikir mencukupi lima kali sembah itu.

“Ehm, anak baik, anak baik! Coba, kemarilah!” kata si orang tua.

Menurut saja Hi-tiok, ia berdiri dan mendekati orang.

Kakek itu pegang tangan Hi-tiok dan mengamat-amati perawakannya. Tiba-tiba Hi-tiok merasa urat nadi di pergelangan tangan yang dipegang orang tua itu ada suatu arus hawa hangat dengan cepat sekali telah menerjang ke pusat nadinya. Tanpa pikir ia terus mengerahkan lwekang Siau-lim-si yang dimilikinya yang sedikit itu untuk melawan. Namun tenaga dalam si orang tua lantas ditarik kembali hingga keadaan kembali biasa lagi.

Hi-tiok tahu orang telah menjajal sampai di mana tingkatan lwekangnya sendiri, maka ia menjadi merah jengah, katanya dengan menyengir, “Siauceng biasanya lebih banyak membaca kitab, di waktu kecil juga terlalu malas hingga tidak mempelajari lwekang ajaran guruku dengan baik, harap Cianpwe jangan menertawakan kepandaianku yang cetek ini.”

Di luar dugaan, orang tua itu malah sangat senang, katanya dengan tertawa, “Ehm, bagus, bagus! Lwekangmu dari Siau-lim-pay masih sangat cetek, hal ini akan banyak mengurangi kesukaranku malah.”

Tengah bicara, mendadak Hi-tiok merasa badannya lemas, rasanya hangat-hangat seperti merendam diri di dalam sebuah bak yang berisi air panas, liang roma di seluruh badannya seperti mengeluarkan uap hingga rasanya sangat segar.

Selang sebentar, orang tua itu melepaskan tangan Hi-tiok dan berkata dengan tertawa, “Cukuplah. Aku sudah menggunakan ‘Hoa-kang-tay-hoat’ perguruan sendiri untuk menghapus tenaga dalam Siau-lim-pay yang kau miliki ini!”

Keruan Hi-tiok melonjak kaget, ia menjerit, “Ap… apa katamu?” – tapi mendadak kakinya terasa lemas, ia jatuh terduduk di tanah. Ia merasa tiada memiliki sedikit tenaga pun, pikiran menjadi kacau dan mata berkunang-kunang. Ia tahu apa yang dikatakan orang tua itu pasti tidak bohong.

Sejak kecil Hi-tiok tinggal di Siau-lim-si, untuk pertama kalinya sekarang ia ditugaskan keluar biara, sudah tentu ia belum berpengalaman dan tidak kenal seluk-beluk kalangan Kangouw serta tindak kekejian sesama manusia.

Ia hanya pernah mendengar cerita gurunya bahwa “Hoa-kang-tay-hoat” Sing-siok-pay sangat lihai, asal kedua badan saling tempel, maka lwekang lawan yang terhimpun selama berpuluh tahun juga dapat dipunahkan dalam waktu sekejap. Dan orang tua ini terang adalah tokoh angkatan tua Sing-siok-pay, kenapa aku begini gegabah berdekatan dengan dia? Mengapa tidak sejak tadi aku melarikan diri agar tidak menjadi korban kekejiannya?

Berpikir demikian, seketika Hi-tiok tak bisa menahan rasa menyesal dan sedihnya, air mata terus bercucuran, katanya sambil menangis, “Aku… aku toh tiada permusuhan apa-apa dan juga tidak menyalahimu, mengapa engkau membikin celaka diriku?”

“Hei, cara bicaramu mengapa begini kurang ajar?” sahut orang tua itu dengan tertawa. “Kau tidak panggil ‘Suhu’, sebaliknya menyebut ‘kau aku’ segala, sedikit pun tidak kenal aturan?”

“Apa katamu? Mana boleh jadi engkau adalah guruku?” seru Hi-tiok terkejut.

“Baru saja kau mengangkat guru padaku, masakah sekarang kau sudah lupa,” kata si kakek. “Kau telah menyembah sembilan kali padaku, itu adalah adat pengangkatan guru menurut peraturan perguruan kita.”

“He, tidak, tidak bisa jadi!” teriak Hi-tiok. “Aku adalah murid Siau-lim-pay, mana boleh mengangkatmu lagi sebagai guruku? Apalagi ilmu siluman kalian yang suka membikin celaka orang, biar bagaimanapun aku tidak sudi belajar.”

“Benar-benar kau tidak mau belajar?” kata si orang tua dengan tertawa.

Mendadak kedua lengan bajunya mengebas ke depan hingga tersampir di pundak Hi-tiok. Seketika Hi-tiok merasa pundak dibebani beratus kati beratnya hingga tidak sanggup berdiri tegak lagi, tanpa kuasa ia tekuk lutut dan jatuh terduduk di tanah.

Biarpun sudah tak berdaya, namun Hi-tiok tidak menyerah mentah-mentah, mulut tetap menolak tegas, “Meski kau pukul mati aku juga tetap aku tidak mau belajar.”

Kembali orang itu tertawa, mendadak ia lompat ke atas, sekali jumpalitan di udara, tahu-tahu ikat kepala yang dipakainya mencelat ke sudut ruangan, sedang orangnya terus memancalkan sebelah kakinya pada belandar, lalu dengan terjungkir ia jatuh ke bawah, dengan tepat sekali kepalanya menindih di atas kepala Hi-tiok. Jadi kepala menyunggi kepala.

“He, kau… kau mau apa?” seru Hi-tiok dengan khawatir. Ia goyang-goyang kepala dengan maksud membikin orang tua itu terperosot jatuh.

Tapi aneh, sekali kepala orang tua itu menempel kepala Hi-tiok, maka eratnya seperti dipaku, biarpun Hi-tiok menggeleng kepala sampai leher serasa patah juga tetap tidak terlepas.

Asal kepala Hi-tiok menggeleng ke timur, maka tubuh si orang tua yang terjungkir itu juga mendoyong ke timur, kalau Hi-tiok menggoyang ke barat, tubuh si kakek juga ikut miring ke barat. Jadi kedua kepala mereka seperti sudah melengket.

Keruan Hi-tiok tambah khawatir, dengan kedua tangan ia coba menarik dan mendorong, ia harap dapat menjatuhkan si orang tua yang disungginya itu. Tapi mendadak terasa tangan tak bertenaga sedikit pun, ia menjadi gugup, pikirnya, “Setelah kena Hoa-kang-tay-hoat orang ini, selain punah ilmu silatku, mungkin untuk makan dan pakai baju juga tiada tenaga lagi. Wah, kan celaka! Mati aku!”

Ia merasa kepala makin lama makin panas, dalam sekejap saja kepala sudah terasa pusing dan serasa akan meledak, tapi hawa panas itu masih terus mencurah ke bawah, selang tak lama, Hi-tiok tidak tahan lagi, akhirnya ia pingsan.

Walaupun pingsan, tapi banyak sekali timbul alam khayalan dalam benaknya, terkadang ia merasa seperti naik mega dan terapung di awang-awang, lain saat seperti menyelam ke dasar laut yang hijau permai dan berkawankan ikan, kemudian merasa berada di Siau-lim-si sedang giat belajar silat dan membaca kitab, tapi meski sudah kulatih ke sana ke sini, tetap tidak jadi.

Dan entah lewat berapa lama lagi, tiba-tiba terasa hujan lebat, air hujan menetes di atas badan. Segera Hi-tiok membuka mata, benar juga dilihatnya butiran air yang tak terhitung banyaknya sedang menetes pada mukanya. Tapi waktu diperhatikan, kiranya itu bukan air hujan melainkan air keringat si kakek.

Ternyata seluruh muka, seluruh badan kakek itu basah kuyup dengan air keringat sehingga menetesi badan Hi-tiok.

Saat itu Hi-tiok mendapatkan dirinya menggeletak telentang di tanah, orang tua itu duduk di sampingnya, kedua kepala yang saling lengket tadi sekarang sudah terpisah.

Cepat Hi-tiok merangkak bangun. “Kau….” baru hendak bicara mendadak ia terkejut ketika diketahuinya si kakek sudah berubah menjadi orang lain.

Sebenarnya wajah kakek itu putih bersih dan cakap seperti pemuda, kini mendadak berubah menjadi penuh keriput, yang lebih aneh adalah rambutnya yang semula penuh menutupi kepala itu sekarang sudah rontok semua, sedangkan jenggotnya yang semula hitam pekat sekarang juga berubah menjadi putih semua.

Melihat itu, pikiran yang pertama-tama timbul dalam benak Hi-tiok adalah, “Sebenarnya aku telah pingsan berapa lama? Apa 30 tahun? 50 tahun? Mengapa orang ini mendadak berubah lebih tua beberapa puluh tahun?”

Ia lihat kakek yang berada di depannya sekarang benar-benar sudah sangat tua, sudah loyo, usianya ditaksir kalau tidak 120 tahun tentu juga lebih dari 100 tahun.

“Jadilah sekarang jerih payahku!” demikian kakek itu berkata dengan senyum lemas. “Anak baik, rezekimu teramat bagus, jauh melebihi harapanku. Sekarang coba kau pukul dinding papan itu dari jauh.”

Hi-tiok tak tahu seluk-beluknya, ia hanya menurut saja, dari jauh ia hantamkan sebelah telapak tangannya. Mendadak terdengar suara “krak-brak” yang keras, dinding papan itu ambrol sebagian besar, jauh lebih keras daripada dia menumbuk dengan bahunya belasan kali umpamanya.

Keruan Hi-tiok terkesima, katanya kemudian, “Ken… kenapa bisa begini?”

Dengan wajah berseri-seri si kakek juga berkata dengan sangat girang, “Ya, kenapa bisa begitu?”

“Mengapa mendadak aku… memiliki tenaga sebesar ini?” tanya Hi-tiok dengan ragu.

Dengan tersenyum si kakek memberi tahu, “Kau belum mempelajari ciang-hoat (ilmu pukulan), maka tenaga dalam yang kau lontarkan barusan belum ada satu per sepuluh besarnya dari tenaga yang kau miliki sekarang. Hasil jerih payah gurumu selama 70 tahun ini, sudah tentu lain daripada yang lain!”

“Hah, kau bilang jerih… jerih payah selama 70 tahun apa?” seru Hi-tiok sambil melonjak bangun. Ia tahu tentu ada sesuatu yang tak beres.

“Masakah kau belum paham, berlagak pilon atau memang tidak tahu?” ujar si kakek dengan tersenyum.

Dalam hati Hi-tiok memang sudah merasakan maksud tujuan sebenarnya perbuatan si kakek itu. Cuma kejadian ini terlalu mendadak, juga susah untuk dipercaya bisa terjadi demikian. Maka dengan tergegap ia tanya lagi, “Apakah… apakah Locianpwe telah… telah menurunkan semacam sin-kang (ilmu sakti) kepada Siauceng?”

“Sampai sekarang kau masih tidak sudi menyebut Suhu padaku?” tanya si kakek.

“Siauceng adalah murid Siau-lim-pay,” demikian sahut Hi-tiok sambil menunduk. “Maka Siauceng tidak berani durhaka untuk masuk ke perguruan lain lagi.”

“Di dalam badanmu sudah tiada sedikit pun kepandaian Siau-lim-pay, mengapa kau masih mengaku sebagai murid Siau-lim-pay?” kata si kakek. “Dalam badanmu, sekarang sudah terhimpun ilmu sakti jerih payah 70 tahun dari Siau-yau-pay! Masakah kau tidak mau mengaku sebagai anak murid perguruan kita?”

“Siau-yau-pay?” demikian Hi-tiok menegas. Selamanya ia tidak pernah mendengar nama Siau-yau-pay, atau “golongan bebas merdeka” itu….

“Ya, orang hidup di dunia ini yang dituju adalah hidup bebas merdeka,” sahut si kakek. Lalu ia berkata pula, “Coba sekarang kau lompat sekali ke atas.”

Karena rasa ingin tahu, Hi-tiok lantas menurut saja, ia sedikit tekuk lutut, lalu menggenjot perlahan, eh, tahu-tahu tubuh terus membal ke sana.

“Blang”, kepala menyundul genting hingga kesakitan, mendadak matanya terbeliak, separuh tubuhnya menerobos keluar atap rumah, bahkan rasanya badan masih hendak melayang terus ke atas.

Khawatir kalau-kalau badan “terbang” ke langit, lekas saja Hi-tiok pegang atap rumah sehingga daya mumbulnya itu tertahan. Lalu ia merosot turun, dan begitu kaki menyentuh tanah, badan masih membal beberapa kali mirip bola saja. Ginkang demikian benar-benar susah untuk dibayangkan sebelumnya. Seketika Hi-tiok menjadi bingung malah, ia tidak tahu harus girang atau sedih?

“Bagaimana?” tanya si kakek.

“Apakah… apakah aku kemasukan ilmu sihir?” sahut Hi-tiok.

“Tidak, coba duduk dengan tenang, dengarkan uraianku. Waktunya sudah mendesak, aku tidak dapat banyak bicara, aku hanya mengambil pokok persoalannya saja,” kata si kakek. “Begini, jika kau berkeras tidak mau menyebut aku sebagai Suhu dan tidak suka ganti perguruan, untuk itu aku pun tidak memaksa. Siausuhu, jika kuminta bantuanmu untuk sesuatu urusan besar, apakah dapat kau terima?”

Walaupun bakal untung atau buntung belum diketahui akibat mendadak bertambahnya lwekang yang diperoleh dari orang tua itu, namun paling tidak hal ini sudah berarti dia telah menerima budi kebaikan si orang tua. Kalau orang tua itu sampai membuka mulut meminta bantuannya guna menyelesaikan sesuatu urusan, maka betapa pun dirinya harus mengerjakannya dengan baik.

Hi-tiok lantas menjawab, “Asal Cianpwe mengatakan, sudah tentu akan kulaksanakan dengan sekuat tenaga.”

Sampai di sini, tiba-tiba teringat olehnya orang mahir “Hoa-kang-tay-hoat”, agaknya tergolong kaum Sia-pay, maka segera ia menambahi lagi, “Tetapi bila Cianpwe suruh Siauceng berbuat sesuatu yang tidak baik, maka sekali-kali tidak dapat kuterima permintaan Cianpwe.”

“Apa yang kau maksudkan sebagai ‘sesuatu yang tidak baik’?” tanya si kakek dengan tersenyum getir.

“Siauceng adalah murid Buddha, jadi urusan yang merugikan atau membikin susah orang lain sekali-kali tidak dapat kukerjakan,” sahut Hi-tiok.

“Tetapi jika ada manusia di dunia ini selalu berbuat sesuatu yang merugikan dan membikin susah orang lain, selalu berbuat kejahatan membunuh orang semau-maunya, untuk itu kusuruh kau membasminya, akan kau terima atau tidak?” tanya si kakek.

“Siauceng akan memberi nasihat sedapatnya agar dia suka memperbaiki kesalahannya itu?” kata Hi-tiok.

“Dan kalau dia tetap tidak mau sadar?”

“Itu adalah kewajiban kaum kita untuk membasminya,” sahut Hi-tiok tegas. “Cuma kepandaian Siauceng terlalu rendah, mungkin tidak mampu memenuhi kewajiban berat ini.”

“Jadi tegasnya kau terima permintaanku?” si kakek menegas.

“Ya, kuterima!” sahut Hi-tiok sambil mengangguk.

Si kakek berubah girang, katanya pula, “Bagus, bagus! Nah, maksudku adalah supaya kau bunuh seorang, seorang durjana mahajahat, yaitu muridku sendiri yang bernama Ting Jun-jiu, kini tersohor dalam Bu-lim dengan gelar Sing-siok Lokoay.”

Mendengar itu, barulah Hi-tiok merasa lega. Sudah lama ia dengar nama jahat Sing-siok Lokoay, tidak cuma sekali ia pernah mendengar para angkatan tua dalam Siau-lim-si bicara tentang perbuatan Ting Jun-jiu yang terkutuk, semua orang bertekad akan membasminya dari muka bumi ini.

Maka sahutnya kemudian, “Menumpas Sing-siok Lokoay memang kewajiban setiap orang persilatan, cuma sedikit kepandaian Siauceng ini mana dapat….”

Mendadak ia berhenti, ketika dilihatnya sorot mata si kakek seperti lagi mengejek padanya, ia jadi ingat bahwa “sedikit kepandaian” yang diucapkan itu sekarang memang tidak tepat lagi.

Benar juga, segera orang tua itu berkata, “Sedikit kepandaianmu sekarang sudah tidak di bawah kepandaian Sing-siok Lokoay. Tapi untuk bisa membasminya memang benar belum cukup kuat. Tapi kau pun tidak perlu khawatir, sudah tentu aku akan mengatur apa yang perlu.”

“Jika Locianpwe adalah suhu Sing-siok Lokoay, mengapa dia dibiarkan malang melintang di dunia Kangouw untuk berbuat kejahatan semau-maunya dan tidak dibasmi sejak dulu?” demikian tanya Hi-tiok.

Orang tua itu menghela napas, sahutnya, “Teguranmu memang betul. Hal itu memang salahku. Dahulu murid durhaka itu mendadak menyerangku hingga aku terjerumus ke dalam jurang, hampir jiwaku melayang di tangannya, untung muridku yang tertua, So Sing-ho, pura-pura bisu dan tuli hingga murid durhaka itu kena dikelabui, dengan demikian barulah jiwaku mendapat kesempatan diperpanjang 30 tahun lagi. Tapi dalam 30 tahun ini aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk membuang semua kegemaranku dahulu seperti main catur, seni musik, seni lukis dan lain-lain dan melulu akan memperdalam ilmu silat saja dengan harapan akan menemukan seorang pemuda pintar dan cakap untuk menerima warisan ilmu silat yang kupelajari dan kuselami selama hidup ini.”

Mendengar si kakek bicara tentang pemuda “pintar dan cakap”, diam-diam Hi-tiok mengukur dirinya sendiri, dalam hal bakat dirinya masih boleh juga, tapi bicara tentang “cakap”, terang bagaimanapun dirinya tidak masuk hitungan.

Maka katanya kemudian sambil menunduk, “Bicara tentang orang cakap sebenarnya di dunia ini terlalu banyak, misalnya di luar sana sekarang juga ada dua orang, yang satu adalah Buyung-kongcu dan yang lain pemuda she Toan. Apakah sekiranya perlu Siauceng mengundang mereka ke sini agar dapat ditonton Locianpwe sendiri?”

Si kakek tertawa, katanya, “Setiap tindak tanduk orang Siau-yau-pay selalu mengutamakan soal jodoh. Tentang kejadian Ting Jun-jiu mendurhakai perguruan juga bukan tiada persoalannya. Sekarang aku sudah mencurahkan saripati peyakinanku selama 70 tahun ke dalam tubuhmu, masakah masih dapat diturunkan lagi kepada orang kedua?”

“Apa… apa benar Cianpwe sudah… sudah menurunkan antero saripati peyakinan Cianpwe kepada Siauceng?” Hi-tiok menegas dengan ragu. “Jika… jika begitu cara bagaimana Siauceng harus menerima budi kebaikanmu ini?”

“Tentang ini aku pun tidak tahu apakah akan membawa untung atau celaka bagimu kelak,” sahut si kakek. “Sebab, biarpun memiliki ilmu silat setinggi langit, hal ini pun tidak berarti bahagia bagi orang itu? Coba dahulu bila aku cuma belajar menabuh harpa, main catur dan melukis saja, tapi tidak kemaruk tentang ilmu silat segala, maka dapat dipastikan hidupku ini tentu akan jauh lebih gembira. Ya, anak baik, Ting Jun-jiu itu menyangka jiwaku sudah melayang di tangannya, maka dia dapat berbuat sewenang-wenang tanpa khawatir kepada siapa pun juga. Di sini ada sebuah peta yang melukiskan tempat dahulu aku pernah tirakat, yaitu terletak di Thian-san wilayah barat. Dengan peta ini dapat kau cari tempat simpanan semua kitab ilmu silat yang aku kumpulkan selama ini dan boleh kau pelajari menurut catatan dalam kitab-kitab itu. Tidak sampai setahun pasti ilmu silatmu akan dapat menimpali Ting Jun-jiu.”

Sembari berkata ia terus mengeluarkan sebuah gulungan kertas kecil dan diserahkan kepada Hi-tiok.

Perasaan Hi-tiok rada rikuh, katanya dengan terharu, “Sebenarnya kepandaian Siauceng masih hijau, kali ini ditugaskan guruku untuk mengirimkan surat, maka sekarang seharusnya aku cepat pulang ke gunung untuk memberi laporan. Dan tentang tindakanku selanjutnya harus terserah kepada perintah guruku. Jika nanti Suhu dan Hongtiang kami melarang Siauceng turun gunung lagi maka terpaksa tak dapat melaksanakan pesan Locianpwe ini.”

“Ya, bila memang begitu ditakdirkan sehingga orang jahat mesti dibiarkan tetap malang melintang, ya, apa mau dikata lagi,” demikian kata orang tua itu dengan tersenyum getir. “Dan kau… kau….”

Sampai di sini, mendadak seluruh badannya menggigil, perlahan ia tiarap, dengan kedua tangan ia bertahan di tanah, semangat tampak loyo dan lemas.

Keruan Hi-tiok terkejut, cepat ia pegang badan kakek itu dan berkata, “Ken… kenapa Locianpwe?”

“Jerih payahku selama 30 tahun menunggu saripati peyakinanku selama 70 tahun kini telah seluruhnya kuserahkan padamu, hari ini ajalku sudah tiba,” demikian kata kakek itu dengan suara lemah. “Anak baik, apakah sampai detik terakhir kau tetap tidak sudi memanggil ‘Suhu’ padaku?”

Dasar perangai Hi-tiok memang luhur, melihat si kakek sangat harus dikasihani, terang jiwanya hanya tinggal dalam sekejap saja, apalagi melihat sorot matanya yang penuh rasa memohon itu, hati Hi-tiok menjadi tidak tega, tak tertahan lagi panggilan “Suhu” lantas tercetus dari mulutnya.

Keruan orang tua itu sangat girang, sekuat tenaga ia melepaskan sebuah cincin besi hitam dari jari kiri dan hendak dimasukkan ke jari Hi-tiok, tapi karena tenaga sudah habis, maka tangan Hi-tiok saja hampir tidak kuat dipegangnya.

“Suhu!” kembali Hi-tiok memanggil pula, lalu ia pakai sendiri cincin hitam itu pada jari sendiri.

“Anak baik,” kata pula si kakek dengan sangat lemah. “Sekarang kau terhitung mu… muridku yang ketiga. Bila ketemu So Sing-ho, pang… panggil dia toasuko. Kau… sebenarnya she apa?”

“Sungguh aku tidak tahu,” sahut Hi-tiok.

“Sayang tampangmu kurang bagus, dalam hidupmu ini masih akan banyak mengalami rintangan, tetapi hal itu terpaksa terserah kepada takdir. Ai, sayang, sayang….” makin lama makin lemah dan tambah lirih suaranya, sampai akhirnya menjadi tidak kedengaran lagi dan mendadak tubuhnya roboh ke depan, “bluk”, batok kepalanya membentur lantai, lalu tidak bergerak lagi.

“Suhu, Suhu!” teriak Hi-tiok dan cepat memayangnya bangun, waktu ia periksa pernapasan orang tua itu, namun sudah berhenti, ternyata sudah meninggal dunia.

Belum ada satu jam lamanya, Hi-tiok baru berkenalan dengan si kakek, memangnya tak bisa dikatakan ada sesuatu hubungan baik, tapi dalam tubuhnya telah mengeram ilmu sakti hasil jerih payah si kakek selama 70 tahun, dirasakan orang tua itu seperti sangat erat hubungannya dengan dia, jauh lebih baik daripada orang lain. Maklum, keadaan badan Hi-tiok boleh dikatakan setengah bagian berasal dari si kakek atau separuh bagian tubuh si kakek sekarang sudah berubah menjadi dia.

Kini melihat orang tua itu sudah mati, tanpa terasa ia sangat berduka, maka menangislah dia dengan tergerung-gerung.

Sesudah puas menangis, kemudian ia berbangkit. Pikirnya, “Tentang kejadian ini harus kuberi tahukan kepada So-locianpwe. Losiansing (tuan tua) ini tadi mengharuskan kupanggil Suhu padanya, kalau tidak, matinya takkan tenteram, untuk itu aku terpaksa memanggilnya dua kali, hal ini tidak lebih hanya supaya hatinya terhibur dan lega sebelum meninggal. Padahal aku adalah murid Siau-lim-pay tulen, mana boleh masuk lagi perguruan lain? Untung kejadian tadi hanya aku dan dia yang tahu, sekarang Losiansing ini sudah meninggal, asal aku sendiri tidak katakan kepada orang lain, tentu di dunia ini tak ada lagi orang yang tahu.”

Maka ia berlutut dan memberi sembah hormat beberapa kali kepada jenazah orang tua itu, diam-diam ia memanjatkan doa, “Locianpwe, tadi aku memanggil Suhu padamu, hal itu cuma pura-pura saja, janganlah engkau anggap sungguh-sungguh. Jika engkau mengetahui di alam baka, harap suka memaafkan.”

Selesai berdoa, lalu ia putar tubuh dan keluar dari rumah papan itu. Ia tetap melalui lubang dinding yang dibobolnya itu. Hanya sekali lompat saja, tahu-tahu sudah melayang keluar secepat burung. Tapi ia jadi tercengang begitu berada di luar rumah.

Ternyata di pelataran situ banyak sekali pohon siong sama tumbang. Dilihatnya di atas tanah situ terdapat pula sebuah liang yang sangat dalam. Rupanya selama kurang dari satu jam ia berada dalam rumah dan di luar situ sudah terjadi geger, mungkin pohon-pohon siong itu dirobohkan orang tatkala ia jatuh pingsan dalam rumah tadi, sebab itulah ia sama sekali tidak merasa dan mendengar sesuatu suara.

Dalam pada itu dilihatnya orang yang berada di luar rumah kini telah terbagi menjadi dua kelompok. Liong-ah Lojin So Sing-ho duduk di sisi kanan, di belakangnya berdiri Hian-lan, Kheng Kong-leng, Sih Boh-hoa, dan kawan-kawannya.

Di sebelah lain duduk Sing-siok Lokoay dan yang berdiri di belakangnya adalah Yap Ji-nio, Yu Goan-ci, dan anak murid Sing-siok-pay yang lain.

Sedangkan Buyung Hok, Giok-yan, Toan Ki, Ciumoti, Toan Yan-king dan Lam-hay-gok-sin tampak berdiri terpencar di sana-sini, agaknya mereka adalah pihak yang netral, tidak membantu sesuatu pihak.

Di tengah antara So Sing-ho dan Ting Jun-jiu sedang menyala suatu tiang api dan kedua orang itu lagi mengerahkan tenaga dalam masing-masing untuk mendesak gundukan api itu agar membakar pihak lawan. Tatkala itu tampak ujung api agak miring ke kanan, nyata Ting Jun-jiu sudah berada di atas angin.

Karena semua orang lagi memerhatikan tiang api yang berkobar itu, maka tentang keluarnya Hi-tiok dari rumah papan itu tiada diperhatikan oleh siapa pun.

Sudah tentu yang diperhatikan Giok-yan adalah sang piauko, Buyung Hok, sedangkan Toan Ki juga cuma memerhatikan Giok-yan saja, yang dipandang kedua muda-mudi itu bukanlah tiang api, tapi juga mereka tidak mau memandang sekejap pun kepada Hi-tiok.

Maka dari jauh Hi-tiok mengitar dari belakang semua orang dan memutar ke sisi kanan untuk berdiri di samping supeknya yaitu Hui-bu, murid angkatan “Hui” dari Siau-lim-si.

Dalam pada itu tiang api semakin mendoyong ke kanan, pakaian So Sing-ho melembung seakan-akan layar perahu yang tertiup angin kencang dan kedua tangan berulang menolak ke depan sekuatnya, sebaliknya Ting Jun-jiu tampak enak-enak saja seperti tidak merasakan sesuatu yang berat, ia hanya mengebaskan lengan bajunya dengan enteng tanpa makan tenaga.

Dalam pada itu anak muridnya lantas menghamburkan puja-puji lagi atas nama sang guru, “Nah, biar kalian menyaksikan betapa sakti Sing-siok Losian sekarang, supaya kalian menjadi melek! Suhu kami sengaja hendak memberi hajaran sedikit demi sedikit, makanya beliau cuma mengerahkan ilmu saktinya dengan perlahan. Kalau mau, huh, sekali gebrak saja tua bangka she So itu tentu sudah mampus! Ya, jika ada yang tidak takluk, sebentar boleh maju lagi satu per satu untuk merasakan betapa lihainya ilmu sakti Sing-siok-pay. Dan sudah tentu, jika ada manusia rendah yang tidak kenal malu ingin main keroyok juga boleh! Ilmu sakti Sing-siok-pay sudah ditakdirkan tiada tandingannya di jagat ini, bila ada yang berani coba melawan, itu berarti cari mampus sendiri!”

Sebenarnya kalau Ciumoti, Buyung Hok, Toan Yan-king dan lain-lain mau maju mengerubut Ting Jun-jiu, betapa lihainya Lokoay juga pasti tidak mampu melawan tokoh-tokoh terkemuka itu.

Tapi, pertama karena Ciumoti dan lain-lain itu sok menjaga harga diri, tidak nanti mereka sudi main keroyok. Kedua, mereka tidak mempunyai hubungan baik dengan Liong-ah Lojin dan tiada maksud mereka untuk menolong kesukarannya ini. Ketiga, di antara mereka masing-masing juga saling sirik dan curiga-mencurigai, khawatir kalau mendadak diserang oleh pihak lain.

Sebab itulah biarpun anak murid Sing-siok-pay itu mengobral pujian setinggi langit kepada Sing-siok Lokoay, tetap Ciumoti dan lain-lain mendengarkan dengan tersenyum saja dan tidak ambil pusing.

Sekonyong-konyong tiang api itu menjilat ke depan hingga mencapai tubuh So Sing-ho, sesudah terendus bau sangit, maka tertampaklah jenggot So Sing-ho yang panjang itu sudah terbakar habis bersih.

Sekuat tenaga Sing-ho melawan dan akhirnya dapat menolak kembali tiang api itu. Tapi api itu tetap tidak lebih jauh satu-dua meter dari tubuhnya dan berulang masih menjulur kian-kemari bagaikan seekor ular raksasa hendak memagut mangsanya.

Diam-diam Hi-tiok menjadi khawatir, pikirnya, “Meski aku tidak mengakui orang she So ini sebagai suheng, tapi sedikit banyak aku sudah terhitung mempunyai hubungan dari sumber yang sama. Tampaknya segera ia akan terbakar, lantas bagaimana aku harus bertindak?”

Mendadak terdengar suara “dung-dung” dua kali, menyusul terdengar pula suara “creng-creng-breng”, maka ramailah suara tambur dan gembreng.

Kiranya di antara murid Sing-siok-pay ada yang membawa kecer, tambur, gembreng, sempritan dan alat-alat tabuhan lain. Kini mereka terus mengeluarkan dan ditabuh dengan ramai untuk memamerkan kegagahan guru mereka. Bahkan ada di antaranya terus mengibarkan panji dan diobat-abitkan kian-kemari sambil berteriak-teriak untuk menambah perbawa pihaknya.

Sungguh belum pernah menjadi di dunia ini bahwa pertandingan lwekang di antara kedua jago silat mesti disertai dengan tetabuhan yang riuh ramai. Keruan Ciumoti tertawa geli cekakakan, katanya, “Betapa tebal muka Sing-siok Lokoay sungguh sejak dulu dan sampai sekarang tiada bandingannya!”

Di tengah suara riuh rendah itu, tiba-tiba seorang murid Sing-siok-pay mengeluarkan secarik kertas, ia melangkah maju beberapa tindak dan membentang kertas itu, lalu membacanya dengan suara lantang.

Kiranya itu adalah suatu karangan yang berjudul “Pujian kepada Sing-siok Losian yang mengguncangkan Tionggoan.”

Murid Sing-siok-pay itu entah berhasil minta tolong sastrawan dari mana hingga dapat membuatkan sebuah sanjak yang penuh terisi kata-kata puji sanjung kepada sang guru. Suasana di situ seketika berhamburan “Ma-bi-kang”, “Hoat-le-kang”, dan “Ho-gan-kang” sebagaimana pernah dikatakan Pau Put-tong, yaitu penuh orang menjilat, omong besar dan muka tebal alias tidak kenal malu.

Tapi jangan dikira suara sanjung puji itu tiada gunanya, ternyata itu pun merupakan tenaga dorongan bagi lwekang Sing-siok Lokoay.

Di tengah suara tetabuhan yang keras disertai puja-puji itu, tiang api yang berkobar-kobar itu tambah hebat dan kembali mendesak lebih dekat lagi ke arah So Sing-ho.

Sekonyong-konyong terdengar suara tindakan orang banyak, tahu-tahu lebih 20 orang laki-laki berlari keluar dari belakang rumah sana, mereka terus mengadang di depannya So Sing-ho.

Kiranya mereka adalah para laki-laki tuli bisu yang mengusung Hian-lan dan lain-lain ke atas gunung tadi. Mereka adalah muridnya So Sing-ho.

Waktu Ting Jun-jiu mengerahkan lagi tenaganya, terus saja tiang api itu menjilat tubuh 20-an orang laki-laki itu. Seketika terdengarlah suara mencicit, suara hangusnya kulit dan daging manusia disertai bau sangit.

Tapi orang-orang itu tetap berdiri tegak di tempatnya, meski tubuh mereka sudah terbakar merata, tetap mereka tidak bergerak sedikit pun. Dan karena mereka sudah bisu, maka sikap mereka menjadi lebih perkasa dan mengharukan pula.

Semua orang menjadi gempar menyaksikan sikap para laki-laki bisu tuli yang gagah berani itu, biarpun sudah terbakar, tapi sedikit pun mereka tak bergerak. Saking seram kejadian itu hingga Ong Giok-yan dan Toan Ki mau tak mau juga berpaling.

Maka hanya dalam sekejap saja beberapa orang di antara laki-laki bisu tuli itu sudah terbakar hangus di tengah-tengah lautan api yang terus berkobar-kobar itu.

“He, jangan begitu kejam!” seru Toan Ki mendadak, lalu tangan kanan menuding ke depan, ia bermaksud menusuk Ting Jun-jiu dengan “Lak-meh-sin-kiam”. Tapi dia tidak mahir melontarkan ilmu pedang tanpa wujud itu, tenaga dalamnya memang penuh bergolak di dalam badan, tapi tidak dapat dipantulkan melalui jarinya.

Keruan ia kelabakan dan akhirnya ia berteriak lagi, “Buyung-heng, lekas turun tangan menghentikan perbuatan kejam itu!”

Tadi ketika Buyung Hok tenggelam dalam khayalnya dan hampir membunuh diri, syukur berkat “Lak-meh-sin-kiam” Toan Ki itulah hingga pedangnya dipukul jatuh ke tanah. Cuma saat itu ia lagi hilang ingatan, maka tidak menyaksikan bagaimana gaya “Lak-meh-sin-kiam” itu. Sekarang didengarnya seruan Toan Ki, segera ia menjawab, “Toan-heng sendiri adalah seorang ahli, mana kuberani main pamer di sini? Apakah tidak lebih baik silakan Toan-heng mencoba sekali lagi Lak-meh-sin-kiam!”

Datangnya Toan Yan-king tadi lebih belakang maka tidak melihat Lak-meh-sin-kiam yang dilontarkan Toan Ki. Dia adalah keturunan lurus keluarga Toan di Tayli, sudah tentu ia pun kenal nama ilmu sakti keluarganya sendiri itu. Maka ia tergetar ketika mendengar Buyung Hok menyebut “Lak-meh-sin-kiam.”

Ia coba melirik Toan Ki, ia ingin tahu apa benar pemuda itu mahir ilmu sakti yang cuma dikenal namanya saja itu. Tapi ia lihat jari Toan Ki menuding sini dan menggores ke sana, gayanya memang bukan sembarangan, tapi tenaganya sedikit pun tidak ada.

Sudah tentu Toan Yan-king tidak tahu bahwa Toan Ki sudah mempelajari ilmu pedang itu dengan baik, soalnya cuma tidak dapat menggunakan dengan leluasa. Maka pikirnya, “Hah, Lak-meh-sin-kiam apa? Hanya membikin kaget aku saja. Bocah ini rupanya membual belaka untuk menipu orang. Lak-meh-sin-kiam dari keluarga Toan kami memang terkenal, tapi sejak dulu cuma dikenal namanya saja dan tidak pernah ada orang mampu meyakinkannya.”

Karena melihat Toan Ki tidak mau turun tangan, maka Buyung Hok mengira Toan Ki sengaja bersikap begitu. Sebagai orang yang pintar berpikir, Buyung Hok sendiri tidak mau sembarangan pamer, maka ia pun berdiri di tempatnya saja untuk menyaksikan kejadian selanjutnya.

Selang sebentar saja, sebagian besar laki-laki bisu tuli itu sudah terbakar mati, sisanya juga terluka parah dan setengah mati. Dalam pada itu terdengar suara gembreng dan tambur masih bertalu-talu, mendadak Ting Jun-jiu mengebas lengan jubahnya, tiang api itu melampaui para laki-laki tuli bisu itu terus menyambar ke arah So Sing-ho.

“Jangan mengganggu guruku?” seru Sih-sin-ih terus hendak menubruk maju untuk mengadang di depan sang guru.

Tapi Sing-ho telah menggeraki tangannya untuk menolaknya mundur, berbareng tangan lain menghimpun segenap sisa tenaga terus menghantam ke arah api itu. Tapi karena tenaga dalamnya sekarang sudahi hampir terkuras habis, maka tenaga pukulannya hanya dapat menahan sementara tiang api itu, segera ia merasa tubuh panas, di depan mata hanya api yang merah menganga belaka.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa kemajuan Sing-siok Lokoay selama 30 tahun ini jauh lebih pesat daripada dirinya hingga selisih kekuatan mereka berdua makin jauh. Sekarang tenaga murni dalam tubuhnya sudah mendekat habis seperti pelita yang kehabisan minyak dan susah terhindar dari tangan keji Lokoay.

Teringat olehnya sudah 30 tahun gurunya pura-pura mati, setelah dirinya dibunuh Lokoay, tentu iblis itu akan menyerbu ke dalam rumah dan mungkin nasib gurunya akhirnya akan tetap dicelakai Sing-siok Lokoay.

Begitulah selagi badan tersiksa oleh ancaman api, batinnya jauh lebih menderita pula.

Melihat keadaan So Sing-ho sangat berbahaya, tapi tetap berdiri di tempatnya pantang mundur, Hi-tiok tidak tahan lagi, terus saja ia lari maju, ia pegang punggung So Sing-ho, katanya, “Lekas menyingkir saja, tiada gunanya mati konyol!”

Dan mungkin memang sangat kebetulan, pada saat yang sama So Sing-ho lagi menghantam ke depan dengan sekuatnya. Sebenarnya tenaga pukulannya sangat lemah, boleh dikata takkan ada manfaatnya, tujuannya tidak lebih hanya bertempur sampai titik darah penghabisan saja.

Siapa duga mendadak terasa ada suatu arus tenaga mahakuat menyalur masuk dari punggungnya, bahkan tenaga baru ini serupa dengan ajaran perguruan sendiri sehingga pukulan yang dilontarkan itu seketika bertambah kuat entah berapa kali lipat.

Maka kontan saja jalur api itu menyambar balik hingga menjilat tubuh Ting Jun-jiu sendiri, bahkan masih terus menyambar ke belakang hingga beberapa murid Sing-siok-pay juga terlibat di lautan api itu.

Keruan para murid Sing-siok-pay itu kelabakan, seketika tambur, gembreng, kecer dan alat tetabuhan lain kacau-balau tak keruan, menyusul alat-alat tetabuhan itu lantas dibuang hingga menerbitkan suara gemerantang nyaring, banyak di antara murid Sing-siok-pay itu terguling-guling di tanah sambil menjerit tobat dan minta ampun.

Lokoay terkejut juga. Padahal tenaga Hi-tiok itu ditambah dengan tenaga pukulan So Sing-ho belum tentu mampu mengalahkan Ting Jun-jiu. Soalnya iblis tua itu yakin pasti menang sehingga lupa daratan, maka ketika mendadak mengalami serangan balasan, hal ini sama sekali di luar dugaan dan seketika menjadi bingung pula. Berbareng ia pun merasakan tenaga pukulan balasan lawan itu sangat hebat dan ulet, jauh di atas kekuatan So Sing-ho sendiri, tapi jelas pula adalah kungfu perguruan sendiri, ia jadi ragu jangan-jangan arwah halus sang guru yang telah ditewaskannya itu sedang membantu So Sing-ho dan hendak membikin perhitungan atas dosanya?

Berpikir demikian, sedikit keder saja tenaga dalamnya lantas terhambat hingga ketika api menyambar balik ia tidak dapat menghindarkannya.

Perubahan yang mendadak itu tidak hanya di luar dugaan So Sing-ho dan Sing-siok Lokoay, bahkan Hi-tiok sendiri juga bingung, ia lihat api sudah membungkus Ting-lokoay dan sedang membakar dengan hebat.

“Thi-thau muridku, lekas turun tangan!” seru Lokoay minta tolong kepada Yu Goan-ci.

Seketika itu Goan-ci juga tidak sempat berpikir, segera ia lompat maju dan kedua tangannya terus bekerja, maka terdengarlah suara mencicit berulang-ulang, api yang berkobar-kobar itu tersambar oleh hawa mahadingin pukulannya itu hingga padam seketika, bahkan asap juga lantas buyar tanpa bekas, yang tertinggal hanya beberapa potong kayu yang sudah menjadi arang.

Baju Ting-lokoay sendiri sudah terbakar koyak, alis jenggotnya juga hangus, keadaannya sangat runyam, dalam hatinya masih ketakutan kalau arwah sang guru akan mengganggunya lagi, maka ia tidak berani mengganas lebih lama di situ, segera ia berseru, “Ayolah pergi!”

Sekali melayang, tahu-tahu sudah berada di tempat belasan meter jauhnya.

Segera anak murid Sing-siok-pay ikut melarikan diri dengan ketakutan, seketika terdengar pula suara nyaring jatuhnya gembreng, tambur, trompet dan alat-alat tetabuhan lain yang dibuang memenuhi tanah.

Naskah yang memuat pujian kepada Sing-siok Losian sebelum selesai terbaca juga sudah terbakar sebagian dan menari-nari terbawa angin seakan-akan sedang mengejek Sing-siok Lokoay yang lagaknya seperti “macan kertas”, galak di muka dan ngacir kemudian.

Semua orang menjadi terheran-heran melihat larinya orang-orang Sing-siok-pay itu. Yap Ji-nio lantas berteriak-teriak, “Ooi, Engkoh Jun-jiu, tunggulah daku! Tega amat, kembali kau tinggalkan aku lagi!”

Lalu ia pun berlari pergi secepat terbang.

Toan Yan-king, Lam-hay-gok-sin, Ciumoti dan lain-lain sama mengira apa yang terjadi itu adalah tipu akalnya So Sing-ho, mengalah lebih dulu untuk kemudian memberi gempuran belasan hingga Sing-siok Lokoay dibikin ngacir.

Pada awal pertarungannya melawan Sing-siok Lokoay tadi, saking dahsyatnya pertempuran mereka hingga banyak pohon siong bergelimpangan dirobohkan mereka apalagi Liong-ah Lojin terkenal sangat lihai, kalau akhirnya ia dapat mengalahkan Sing-siok Lokoay juga tidak mustahil. Pula Hi-tiok hanya murid angkatan ketiga dari Siau-lim-pay, ilmu silatnya rendah, dengan sendirinya tiada seorang pun yang menaruh curiga pada Hi-tiok yang telah menolong So Sing-ho.

Padahal Hi-tiok sendiri juga merasa bingung oleh berakhirnya pertempuran sengit itu. Hanya So Sing-ho sendiri paham duduknya perkara ketika sekilas dilihatnya pada jari Hi-tiok memakai cincin besi milik gurunya, diam-diam ia berduka dan bergirang pula.

Kemudian Buyung Hok berkata, “Dengan ilmu sakti Locianpwe telah mengenyahkan Lokoay, rasanya dia pasti pecah nyalinya dan tidak berani menginjak tanah Tionggoan lagi. Sungguh jasa Locianpwe bagi kesejahteraan Bu-lim harus dipuji.”

So Sing-ho sendiri karena melihat anak muridnya sebagian besar mati dan terluka, ia sangat berduka, pula teringat akan keselamatan gurunya, maka ia cuma memberi jawaban sekadarnya, lalu Hi-tiok ditariknya dan berkata, “Siausuhu, marilah ikut aku ke dalam.”

Tapi Hi-tiok memandang Hian-lan dengan ragu untuk menantikan petunjuk orang tua itu.

Maka Hian-lan berkata, “So-cianpwe adalah tokoh terhormat, jika beliau ada pesan apa-apa, hendaklah kau menurut saja.”

Hi-tiok mengiakan, lalu ikut Sing-ho masuk ke rumah itu melalui lubang papan yang bobol tadi. Sekilas So Sing-ho lantas tarik sepotong papan lain untuk menutup lubang itu.

Sebagai orang Kangouw yang banyak berpengalaman, dengan sendirinya semua orang yang berada di luar itu paham maksud So Sing-ho agar orang lain tidak dapat ikut masuk untuk mengintip, dan sudah tentu tiada seorang pun yang suka ikut campur urusan itu. Satu-satunya orang yang tidak berpengalaman adalah Toan Ki saja. Tapi kini perhatikan pemuda itu lagi ditumplakkan kepada Giok-yan seorang, bahkan masuknya So Sing-ho ke dalam rumah juga tak diketahuinya, sudah tentu ia tidak sempat lagi untuk mengurusi kejadian itu.

Setelah So Sing-ho membawa masuk ke dalam rumah dan beruntun menerobos kedua dinding papan, akhirnya tertampaklah si kakek meringkuk di lantai, waktu diperiksa, nyata orangnya sudah diduga meninggal. Hal ini memang sudah diduga sebelumnya tapi toh berduka juga So Sing-ho, ia terus berlutut dan menjura beberapa kali, katanya dengan menangis, “Suhu, engkau telah meninggalkan Tecu untuk selamanya!”

Baru sekarang Hi-tiok percaya penuh bahwa si kakek memang benar adalah guru So Sing-ho.

Lalu Sing-ho berhenti menangis dan berbangkit, ia pondong jenazah gurunya dan membiarkannya duduk bersandar dinding, lalu ia tarik Hi-tiok dan suruh dia juga duduk bersandar dinding sejajar dengan jenazah si kakek.

Diam-diam Hi-tiok heran, “Untuk apa dia suruh aku duduk di samping mayat orang tua ini? Jangan… jangan-jangan dia ingin aku mati bersama dengan gurunya?”

Berpikir begitu, ia merasa ngeri, ia bermaksud berdiri, tapi tidak berani. Ia lihat So Sing-ho lagi membetulkan pakaiannya yang hangus itu, habis itu mendadak berlutut dan menyembah padanya sambil berkata, “Murid Siau-yau-pay yang celaka, So Sing-ho, memberi sembah bakti kepada ciangbunjin baru.”

Keruan Hi-tiok bingung, ia kira orang ini barangkali sudah gila? Maka cepat ia pun berlutut dan balas menjura kepada So Sing-ho dan menjawab, “Ai, kenapa Locianpwe memberi hormat sedemikian rupa kepadaku, sungguh Siauceng tidak berani terima.”

Tapi Sing-ho berkata lagi dengan sungguh-sungguh, “Sute, engkau adalah murid ‘tutup pintu’ (maksudnya murid paling buncit) guruku dan adalah ketua pula dari golongan kita. Meski aku adalah suhengmu, tapi juga mesti menyembah padamu!”

“Ini… ini….” sahut Hi-tiok dengan serbaberabe. Ia tahu sekarang bahwa So Sing-ho cukup waras dan bukan orang gila seperti disangkanya tadi. Ia jadi lebih serbasusah untuk bicara.

“Sute,” kata Sing-ho pula, “jiwaku ini berkat pertolonganmu, cita-cita Suhu juga engkau yang melaksanakannya, maka sudah selayaknya engkau menerima beberapa kali sembahku tadi. Suhu suruh engkau mengangkat guru padanya, untuk itu engkau harus menjura sembilan kali, engkau sudah melakukannya tidak?”

“Menjura memang sudah, cuma waktu itu aku tidak tahu itulah upacara mengangkat guru,” sahut Hi-tiok. “Aku adalah anak murid Siau-lim-pay, aku tidak dapat masuk lagi ke perguruan lain.”

“Kuyakin Suhu juga sudah memikirkan hal ini,” ujar Sing-ho, “maka sebelumnya ilmu silat yang kau miliki pasti sudah dipunahkan oleh beliau dengan Hoa-kang-tay-hoat, lalu mengajarkan kungfu golongan kita sendiri. Suhu sudah menurunkan segenap kekuatan yang diyakinkannya selama hidup kepadamu, betul tidak?”

Terpaksa Hi-tiok mengangguk dan membenarkan.

“Cincin besi tanda pengenal sebagai ciangbunjin golongan kita ini adalah Suhu sendiri yang telah pasang pada jarimu, betul tidak?” tanya Sing-ho lagi.

“Benar,” sahut Hi-tiok. “Tapi… tapi sama sekali aku tidak tahu tanda pengenal ciangbunjin apa cincin ini.”

Segera Sing-ho duduk bersila menghadapi Hi-tiok, katanya, “Sute, rezekimu sungguh mahabesar. Aku dan Ting Jun-jiu sudah mengimpikan cincin besi ini selama beberapa puluh tahun dan tetap tidak berhasil mendapatkannya, sebaliknya hanya dalam waktu tiada satu jam berkumpul dengan Suhu dan beliau sudah penujui dirimu.”

Lekas-lekas Hi-tiok mencopot cincin besi itu dan berkata, “Boleh Cianpwe ambil saja cincin ini, toh bagiku tiada gunanya sedikit pun.”

Ternyata cincin besi itu banyak terukir guratan yang tajam, karena Hi-tiok melepaskannya dengan keras hingga jarinya tergores lecet.

Sing-ho menjadi kurang senang, katanya, “Sute, pesan penting sebelum Suhu wafat itu mana boleh kau hindarkan kewajibanmu itu? Suhu telah menyerahkan cincin ini padamu, ini menandakan beliau menyuruhmu membasmi keparat Ting Jun-jiu, betul tidak?”

“Benar, tapi kepandaianku terlalu rendah, mana dapat memikul kewajiban seberat itu?”

“Tadi sekali turun tangan saja sudah kau bikin Ting Jun-jiu terbakar ngacir, bukti sudah nyata, masakah dapat disangkal lagi?”

“Aku… aku yang turun tangan? Ah, mana… mana bisa jadi?” ujar Hi-tiok dengan heran.

“Sute,” kata Sing-ho dengan menghela napas, “seluk-beluk urusan kita ini banyak yang belum kau ketahui, sekarang biarlah kuceritakan secara ringkas saja. Golongan kita ini bernama Siau-yau-pay, selamanya kita berpegang pada suatu peraturan, yaitu jabatan ciangbunjin kita tidak perlu harus dipegang oleh murid tertua, tapi didasarkan atas ilmu silat masing-masing. Kepandaian siapa paling kuat, dialah yang menjadi ketua.

“Guru kita mempunyai dua orang suheng, tapi pada saat kakek guru hendak meninggal, sesudah tiga muridnya bertanding, Suhu kita keluar sebagai juara dan menjabat sebagai ketua. Kedua supek kita itu merasa penasaran dan masing-masing lantas pergi jauh ke negeri asing.

“Kemudian Suhu menerima aku dan Ting Jun-jiu sebagai murid. Suhu menetapkan suatu aturan karena ilmu yang dipelajari beliau sangat luas, maka barang siapa di antara kami ingin menjadi ciangbunjin diharuskan juga bertanding segala macam ilmu ajaran Suhu itu, tidak cuma bertanding silat saja, tapi juga mesti berlomba tentang seni lukis, segi musik, seni catur, seni tulis dan lain-lain.

“Ting Jun-jiu sendiri selain meyakinkan ilmu silat, ilmu lain-lainnya boleh dikatakan tidak becus, karena merasa tiada harapan untuk menjadi ciangbunjin, ia lantas turun tangan keji lebih dulu. Suhu telah disergapnya hingga terjerumus ke dalam jurang, kemudian aku dilukai pula hingga parah.”

“Waktu itu ternyata Ting Jun-jiu tidak tega membunuhmu,” ujar Hi-tiok.

“Jangan kau kira dia punya rasa kasihan padaku hingga tidak mengganggu jiwaku,” tutur Sing-ho. “Soalnya waktu itu aku telah berkata padanya, ‘Jun-jiu, saat ini ilmu silatmu meski lebih tinggi daripadaku, tapi ilmu silat Siau-yau-pay yang paling mukjizat sedikit pun belum kau temukan. Apakah kau tidak ingin membaca kitab Siau-yau-gi-hong?’

“Sute, hendaklah diketahui bahwa golongan kita disebut ‘Siau-yau-pay’ asalnya adalah karena kitab ‘Siau-yau-gi-hong’ itu. Ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka itu boleh dikatakan susah dijajaki luasnya. Kitab ini biasanya dipegang oleh ciangbunjin. Tapi ciangbunjin dari setiap angkatan paling-paling juga cuma dapat memahami sebagian kecil saja dari ilmu sakti dalam kitab itu.

“Ketika mendengar ucapan itu, Ting Jun-jiu lantas berkata, ‘Baiklah, boleh kau serahkan kitab itu dan jiwamu akan kuampuni.’

“Tapi aku menjawab, ‘Aku bukan ciangbunjin, dari mana bisa kuserahkan kitab itu padamu? Namun aku tahu di mana Suhu menyimpan kitab itu, kalau ingin kau bunuhku, nah, silakan turun tangan, lekas!’

“Lalu ia main gertak, ‘Hm, kitab itu sudah tentu disimpan di tepi Sing-siok-hay, masakah aku tidak tahu?’

“Kataku, ‘Benar, memang disimpan di sana, kalau kau yakin dapat menemukannya, silakan lekas ke sana.’

“Ia menjadi ragu, ia tahu luas Sing-siok-hay meliputi beberapa ratus li persegi, tempat penyimpanan satu jilid kitab sekecil itu sudah tentu sukar ditemukan. Akhirnya ia menjawab, ‘Baik, aku takkan membunuhmu. Tapi sejak kini kau harus pura-pura tuli dan berlagak bisu, dilarang membocorkan rahasia golongan kita kepada orang luar.’

“Nah, coba dengarkan, sebabnya dia tidak membunuhku adalah karena dia masih mengharapkan akan mendapatkan petunjuk tempat penyimpanan kitab pusaka itu dari mulutku. Kemudian dia menetap di tepi Sing-siok-hay, boleh dikatakan hampir setiap potong batu pun sudah dibalik dan kitab ‘Siau-yau-gi-hong’ tetap tidak ditemukan olehnya. Tapi setiap sepuluh tahun satu kali tentu ia cari perkara padaku, baik minta secara halus maupun main gertak secara kasar, semua akal telah dipakainya. Dan sekali ini kembali dia datang lagi hendak tanya padaku, tampaknya tiada harapan lagi, pula melihat aku telah melanggar sumpah, maka aku lantas hendak dibunuh olehnya.”

“Dan untung Cianpwe….”

“Engkau, adalah ciangbun golongan kita, mengapa memanggilku sebagai cianpwe, harus panggil suko saja,” potong Sing-ho.

Diam-diam Hi-tiok merasa pusing oleh persoalan ciangbunjin segala, maka sahutnya, “Engkau benar suhengku atau bukan sementara ini tak perlu kita bicarakan, andaikan benar suhengku toh juga terhitung ‘cianpwe’.”

“Ya, benar juga,” sahut Sing-ho mengangguk. “Dan, untung tentang apa?”

“Untung Cianpwe dapat menguasai diri, sudah cukup piara tenaga, sampai detik terakhir barulah memberi gempuran dahsyat sehingga Sing-siok Lokoay dibikin ngacir.”

“Sute, engkau salah tentang hal ini,” kata Sing-ho sambil goyang-goyang tangan. “Sudah terang engkau yang membantuku dengan menggunakan ilmu sakti ajaran Suhu kita, maka jiwaku dapat diselamatkan, tapi mengapa engkau masih merendah hati dan tidak mau mengaku? Kita adalah sesama saudara seperguruan, jabatan ciangbun sudah ditetapkan, jiwaku engkau pula yang menolong, betapa pun aku tidak nanti mengincar jabatan ciangbun ini, selanjutnya hendaknya kau anggap saja seperti orang sendiri.”

“Bilakah aku pernah membantumu? Apalagi tentang menolong jiwamu, lebih-lebih aku tidak tahu,” ujar Hi-tiok.

Sing-ho berpikir sejenak, lalu katanya, “Ya, mungkin hal itu terjadi atas ketidaksengajaanmu. Tapi, pendek kata ketika tanganmu memegang punggungku, ilmu sakti perguruan kita lantas menyalur ke badanku dan sebab itulah aku dapat mengalahkan Ting Jun-jiu.”

“O, kiranya begitu. Dan itu pun suhumu yang menolong jiwamu dan bukan aku.”

“Kalau kubilang Suhu yang menolongku dengan melalui tanganmu, dapatkah engkau menyetujui?”

“Ya, jika engkau berkeras ingin aku mengaku bolehlah aku menyetujui,” sahut Hi-tiok terpaksa.

Lalu So Sing-ho bicara pula, “Ting Jun-jiu sebenarnya ingin merampas cincin besi jika Suhu ditewaskan, lalu ia akan minta petunjuk kepada seseorang tentang ilmu silat dalam kitab ‘Siau-yau-gi-hong’. Tak ia duga Suhu jatuh ke jurang dan menghilang untuk seterusnya. Lebih-lebih tak terduga olehnya bahwa Suhu tidak tewas, hanya terluka parah dan kedua kaki patah sebatas lutut. Beberapa tahun kemudian Suhu dapat berjumpa pula dengan aku, beliau lalu memperhitungkan cara untuk mengatasi Ting Jun-jiu, beliau merasa perlu mencari seorang pemuda yang cakap lahir batin, tidak hanya wajahnya bagus, tapi otaknya juga harus tajam….”

Mendengar kata-kata “pemuda”, diam-diam Hi-tiok berkerut kening, pikirnya, “Untuk melatih ilmu silat, apa sangkut pautnya dengan muka bagus atau jelek? Berulang mereka guru dan murid menyebut muka bagus bagi ahli waris yang hendak mereka cari, entah apa sebabnya?”

So Sing-ho melirik sekejap padanya, lalu menghela napas perlahan.

Hi-tiok lantas berkata, “Mukaku jelek, pasti tidak memenuhi syarat untuk menjadi ahli waris gurumu. Locianpwe, lebih baik kau cari lagi seorang pemuda cakap dan ganteng, lalu ilmu sakti gurumu ini akan kuserahkan padanya.”

Sing-ho melengak, sahutnya, “Ilmu sakti golongan kita ini harus sejiwa sedaging dengan orangnya, ilmu ada, orangnya hidup, ilmu lenyap, orangnya mampus. Seperti Suhu, setelah menurunkan ilmu saktinya padamu, lalu beliau wafat, masakah kau tidak menyaksikannya?”

“Ai, celaka, lantas bagaimana baiknya?” seru Hi-tiok sambil mengentak kaki. “Bukankah aku akan bikin runyam urusan gurumu dan Locianpwe ini?”

“Sute, justru itulah tugas yang dibebankan atas pundakmu,” sahut Sing-ho. “Sebabnya Suhu memasang problem catur itu, tujuannya adalah untuk seleksi kepandaian setiap pemain. Beliau berkata padaku, ‘Sing-ho, sudah sekian lamanya kau ikut padaku, biarpun kutahu kau bukan orang yang cocok, tapi aku pun tidak mau pilih kasih, kau juga boleh ikut coba-coba, asal kau mampu memecahkan problem ini, maka aku pun akan menurunkan ilmu sakti dan menyerahkan cincin besi ini padamu.’

“Tapi meski aku sudah peras otak selama 30 tahun tetap tidak sanggup memecahkan problem catur ciptaan Suhu itu. Sute, akhirnya hanya engkau saja yang dapat memecahkannya, tentang kecakapan batin pembawaanmu sudah terang memenuhi syarat.”

“Tidak,” sahut Hi-tiok. “Aku justru tidak memenuhi semua syarat. Sebab problem catur itu pada hakikatnya bukan aku yang memecahkannya.”

Lalu ia ceritakan apa yang terjadi itu, ia katakan Hian-lan yang diam-diam telah membisikinya tentang langkah catur itu.

Sudah tentu So Sing-ho merasa sangsi, katanya, “Tapi kalau melihat keadaan Hian-lan Taysu tampaknya dia sudah terkena tangan keji Ting Jun-jiu, ilmu saktinya sudah punah dan rasanya tidak dapat lagi menggunakannya.”

Sesudah merandek, lalu ia menyambung, “Namun Siau-lim-pay adalah pusatnya dunia persilatan, boleh jadi Hian-lan Taysu memang sengaja pura-pura lemah. Sute, untuk mencari orang agar dapat ikut memecahkan problem catur itu, maka dengan segala daya upaya telah kupancing orang supaya datang kemari. Buyung-kongcu dari Koh-soh itu berwajah bagus, ilmu silatnya serbapintar, sebenarnya dia seorang calon pilihan yang paling baik, tapi dia justru tidak mampu memecahkan problem catur itu.”

“Benar, Buyung-kongcu terang beratus kali lebih hebat daripadaku,” kata Hi-tiok. “Dan ada pula Toan-kongcu dari Tayli, dia juga seorang pemuda tampan.”

“Ai, hal ini jangan disebut lagi,” kata Sing-ho. “Sudah lama aku mendengar bahwa Tin-lam-ong Toan Cing-sun dari Tayli mahir ilmu sakti It-yang-ci, yang paling susah dicari bandingannya adalah kepandaiannya memikat kaum wanita, tak peduli apakah perawan suci atau gadis basi, asal ketemu dia tentu kesengsem dan jatuh hati.

“Dengan susah payah aku mendapat akal untuk memancingnya kemari, kukirim anak muridku ke Tayli, dan mengatakan padanya bahwa Koh-soh Buyung-si telah menciptakan suatu ilmu yang khusus dipakai mengalahkan It-yang-ci. Siapa tahu dia sendiri tidak datang kemari, yang muncul ternyata putranya yang ketolol-tololan.”

“Aku tidak memerhatikan dia, cuma kulihat pandangannya seakan-akan melekat pada diri nona Ong itu,” kata Hi-tiok dengan tersenyum.

Sing-ho goyang-goyang kepala, katanya, “Sialan, Toan Cing-sun itu terkenal sebagai lelaki paling romantis di dunia persilatan, wanita mana pun tentu suka padanya, tapi putranya sedikit pun tidak mirip dia, benar-benar tidak becus dan membikin malu ayahnya. Dengan mati-matian ia hendak merebut hati nona Ong itu, tapi nona Ong justru acuh tak acuh padanya. Ai, sungguh menjengkelkan orang.”

“Cinta Toan-kongcu itu tampak sungguh-sungguh, seharusnya jauh lebih baik daripada kelakuan pemuda bangor umumnya, mengapa Cianpwe bilang ‘sialan’?” ujar Hi-tiok.

“Habis, mukanya memang bagus, tapi otaknya bebal, terhadap kaum wanita sedikit pun tidak berdaya, makanya kita pun tidak bisa memakai dia,” sahut Sing-ho.

“O!” Hi-tiok bersuara singkat. Diam-diam ia girang juga, pikirnya, “Kiranya kalian ingin mencari seorang pemuda cakap untuk melayani kaum wanita. Jika demikian, untunglah aku. Sebab betapa pun juga tidak mungkin hwesio jelek seperti siluman macamku itu akan dapat kau pakai.”

Lalu Sing-ho bertanya pula, “Sute, apa Suhu tidak memberi sesuatu petunjuk jalan supaya kau pergi mencari seseorang? Atau mungkin memberikan sesuatu peta dan benda lainnya?”

Hi-tiok melengak sejenak, ia merasa urusan bisa runyam lagi, hendak dia sangkal, tapi sejak kecil ia digembleng di Siau-lim-si, sebagai seorang padri alim ia tidak suka berdusta, maka akhirnya ia menjawab juga dengan tergegap, “Ya, hanya… hanya ini saja gurumu memberikan padaku.”

Lalu ia mengeluarkan gulungan kertas itu dari dalam bajunya.

Tertampak Sing-ho bersikap sangat menghormat dan tidak berani menyentuh gulungan kertas itu. Maka Hi-tiok lantas membukanya sendiri.

Sesudah gulungan kertas itu terbentang, kedua orang sama-sama kesima dan tanpa terasa bersuara heran berbareng. Kiranya gulungan kertas itu bukan melukiskan sesuatu peta bumi atau pemandangan alam segala, tapi adalah gambar seorang gadis cantik dengan dandanan sebagai putri keraton.

“Hah, kiranya potret nona Ong di luar itu,” ujar Hi-tiok.

Namun lukisan itu tampak sudah sangat tua, kertasnya sudah bersemu kuning, andaikan tidak ratusan tahun, sedikitnya juga ada 30-40 tahun lamanya, begitu pula cat lukisan itu ada sebagian sudah mulai terlepas, terang umur lukisan itu jauh lebih tua daripada Ong Giok-yan, tapi toh ada orang bisa melukis muka Giok-yan pada ratusan atau beberapa puluh tahun yang lalu, sungguh hal ini sukar untuk dimengerti.

Lukisan itu sangat indah, goresannya jelas, orang yang dilukis itu laksana hidup saja, benar-benar seperti Ong Giok-yan yang diperkecil, lalu digepengkan dan diterapkan dalam lukisan itu.

Kalau diam-diam Hi-tiok sangat heran, ketika ia pandang So Sing-ho, tampak orang tua itu lagi corat-coret dengan jarinya untuk menirukan goresan lukisan itu, sesudah memuji dan termangu-mangu sejenak, akhirnya mendadak seperti tersadar dari impian dan berkata, “Sute, maafkan, sifat suhengmu ini telah kumat lagi, asal melihat lukisan indah Suhu, segera aku lupa daratan dan ingin mempelajarinya. Ai, dasar tamak, segalanya aku ingin belajar, sampai akhirnya tiada sesuatu yang dapat kuyakinkan benar-benar dan terpaksa mesti menelan kekalahan besar dari Ting Jun-jiu.”

Sembari bicara, ia terus menggulung kembali lukisan itu dan cepat-cepat diserahkan pada Hi-tiok seperti khawatir akan terpengaruh lagi oleh gaya lukisan itu. Lalu ia pejamkan mata sambil goyang-goyang kepala sekeras-kerasnya seolah-olah hendak membuang lukisan yang telah dilihatnya itu dari ingatannya. Sejenak kemudian, ia membuka mata dan berkata pula, “Dan apa yang dikatakan Suhu ketika menyerahkan lukisan ini padamu?”

“Beliau mengatakan kepandaianku sekarang ini tidak cukup untuk membasmi Ting Jun-jiu, maka harus menuruti petunjuk gulungan lukisan ini dan pergi ke Thian-san wilayah barat untuk mencari kitab pusaka ilmu silat yang disimpannya di sana dahulu. Tapi aneh, beliau mengatakan lukisan menggambarkan tempat semayamnya dahulu, seharusnya kan suatu gambar pemandangan alam di pegunungan yang indah, mengapa adalah potret nona Ong malah? Jangan-jangan beliau salah memberikan lukisan ini padaku?”

“Setiap tindakan Suhu memang susah untuk diperkirakan orang lain, tapi bakatmu sangat tinggi, sampai waktunya nanti tentu kau akan paham sendiri,” ujar So Sing-ho. “Dan kau harus tunduk kepada perintah Suhu, lekas berdaya meyakinkan ilmu yang dimaksudnya itu untuk membunuh Ting Jun-jiu.”

“Tapi… tapi Siauceng adalah murid Siau-lim-si dan harus segera pulang melapor ke sana,” sahut Hi-tiok dengan tergegap. “Dan sepulangnya di sana, aku… aku takkan keluar lagi.”

Keruan Sing-ho terkejut ia melompat bangun sambil menangis, lalu ia berlutut pula di depan Hi-tiok dan menyembah tiada hentinya. Katanya, “Ciangbunjin, jika engkau tidak taat pada pesan Suhu itu, bukankah berarti beliau telah mati sia-sia?”

Cepat Hi-tiok berlutut juga dan balas menyembah, sahutnya, “Siauceng sudah masuk pintu suci, dilarang marah dan pantang membunuh, tadi aku menyanggupi pada gurumu akan membunuh Ting Jun-jiu, tapi sekarang aku merasa menyesal. Peraturan Siau-lim-pay kami sangat keras, betapa pun Siauceng tidak berani menyeleweng dan masuk perguruan lain serta berbuat sembarangan.”

Begitulah meski So Sing-ho telah memohon dengan sangat sambil menangis, membujuk dengan kata-kata manis, bahkan dengan cara menggertak dan mengancam, tapi Hi-tiok tetap tidak mau terima.

Saking tidak berdaya lagi dan merasa putus asa, akhirnya Sing-ho berkata kepada jenazah gurunya, “Suhu, Ciangbunjin tidak mau taat kepada pesan tinggalanmu, aku pun tidak berdaya menyadarkan dia, maka biarlah aku menyusul engkau di alam baka saja.”

Habis berkata, sekali lompat ke atas, dengan kepala di bawah dan kaki di atas ia terus terjun ke bawah dengan maksud membenturkan kepalanya pada lantai batu yang keras itu.

“He, hei! Jangan!” teriak Hi-tiok kaget dan cepat ia sambar tubuh Sing-ho dan dirangkulnya erat-erat. Sekarang tenaga dalamnya sudah sangat kuat, gerak-geriknya juga gesit dan cepat, maka sekali terpegang So Sing-ho lantas tak bisa berkutik lagi.

“Kenapa engkau melarang aku membunuh diri?” tanya Sing-ho.

“Cut-keh-lang mengutamakan welas asih, sudah tentu aku tidak boleh menyaksikan engkau mati tanpa menolong,” sahut Hi-tiok.

“Lepaskan, aku tidak ingin hidup lagi!”

“Tidak, takkan kulepaskan!”

“Habis, apakah selama hidup akan kau pegang aku seperti ini?”

Hi-tiok pikir benar juga teguran ini, maka ia lantas putar tubuh orang hingga kepala ditegakkan ke atas dan taruh kakinya di atas tanah. Lalu katanya, “Baiklah, biar kulepaskan engkau, tapi engkau, tidak boleh membunuh diri.”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: