Kumpulan Cerita Silat

02/06/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 52

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 12:13 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Maka Pek-ling mulai lagi peras otak memikirkan problem catur itu, tapi hanya sebentar saja tubuhnya lantas sempoyongan dan kembali muntah darah.

“Huh, cari mampus sendiri, apa gunanya?” jengek Ting-lokoay tiba-tiba. “Perangkap yang dipasang Lojat (bangsat tua) ini memang sengaja dipakai untuk menyiksa dan membunuh orang, apa gunanya kau antarkan nyawamu dengan percuma?”

Mendadak So Sing-ho melirik Ting-lokoay, lalu bertanya, “Kau sebut Suhu sebagai apa?”

“Memangnya dia adalah Lojat, maka aku pun panggil dia Lojat!” sahut Ting Jun-jiu.

“Si kakek tuli dan bisu hari ini sudah tidak tuli dan bisu lagi, tentu kau tahu apa sebabnya, bukan?” tanya Sing-ho pula.

“Bagus!” sahut Jun-jiu. “Kau sendiri yang melanggar sumpah dan mencari mampus, maka jangan menyalahkan aku lagi.”

Seketika Kheng Kong-leng cuma saling pandang dengan Sih-sin-ih dan lain-lain. Pikir mereka, “Dahulu iblis ini memaksa Suhu menjadi orang bisu dan tuli, dengan demikian ia berjanji takkan mengganggu Suhu. Tapi kini mendadak Suhu membuka suara, ini berarti beliau sudah bertekad akan menentukan mati-hidup dengan Ting-lokoay.”

Begitulah Kheng Kong-leng dan kawan-kawannya menjadi khawatir, tapi bersemangat juga.

Kemudian So Sing-ho mengangkat sepotong batu besar di sebelahnya dan ditarik ke depan Hian-lan, katanya, “Silakan duduk, Taysu!”

“Terima kasih!” sahut Hian-lan sambil memberi hormat. Diam-diam ia pun terkesiap melihat tenaga orang.

Perawakan So Sing-ho kurus kecil, bobotnya paling-paling cuma 80 kati, tapi dengan mudah ia dapat mengangkat sepotong batu besar yang beratnya ditaksir tidak kurang dari 500 kati, hal ini menandakan kepandaian kakek kecil ini tidak boleh dipandang enteng. Baginya sebenarnya juga tidak sukar mengangkat batu sebesar itu, bilamana ilmu silatnya belum punah, tapi rasanya juga tidak segampang si kakek kecil yang tampaknya seperti mengangkat sebuah dingklik kecil saja.

Lalu terdengar So Sing-ho berkata pula, “Problem catur ini adalah hasil jerih payah pemikiran mendiang guruku selama tiga tahun, beliau mengarang problem catur ini dengan harapan agar ahli catur pada zaman ini ada yang dapat memecahkannya. Aku sendiri sudah mempelajarinya selama 30 tahun dengan tekun, tapi hasilnya tetap nihil dan belum dapat memecahkannya.”

Berkata sampai di sini, ia berhenti, sinar matanya melayang ke arah Hian-lan, Toan Ki, Hoan Pek-ling, dan lain-lain, lalu sambungnya pula, “Sebagai seorang padri berilmu, tentu Hian-lan Taysu paham akan kunci ajaran Buddha terletak pada ‘kesadaran’. Seorang yang tekun belajar belum tentu dapat sadar begitu saja seperti seorang biasa. Begitu pula problem catur ini, seorang anak kecil mungkin akan dapat menangkan ahli catur kelas satu. Aku sendiri tidak dapat memecahkan problem ini, tapi orang berbakat di dunia masih sangat banyak, tentu ada yang dapat memecahkannya. Sewaktu guruku akan wafat dulu, beliau meninggalkan harapan ini, apabila ada orang dapat memecahkan problem catur ini hingga harapan guruku itu terkabul, maka arwah beliau tentu akan merasa senang dan terhibur.”

Diam-diam Hian-lan pikir, “Antara gurunya dan Cong-pian Siansing serta murid-muridnya ini mempunyai banyak persamaan, terhadap seni musik, melukis, catur dan lain-lain, semuanya seperti kesetanan mencurahkan segenap tenaga dan pikiran mereka untuk menyelami permainan-permainan itu sehingga Ting Jun-jiu sempat malang melintang dalam perguruannya tanpa ada yang mampu mengatasinya, sungguh hal ini harus disesalkan.”

“Dan suteku ini,” demikian So Sing-ho melanjutkan bicaranya sambil menuding Ting-lokoay, “dahulu dia mendurhakai perguruan sendiri, membunuh guru dan melukai aku pula. Mestinya aku harus mati menyusul guru, tapi demi mengingat ada sesuatu cita-cita guruku belum terkabul, bila aku tidak mendapatkan orang untuk memecahkan problem catur ciptaannya ini, andaikan aku mati juga malu untuk menemui Suhu di alam baka.

“Sebab itulah aku terima dihina dan mempertahankan hidup sampai sekarang. Selama beberapa tahun ini aku tetap memenuhi janjiku kepada Sute, tidak bicara dan tidak mendengar, bukan saja aku telah menjadi Liong-ah Lojin, bahkan murid-muridku yang baru juga kupaksa menjadi orang tuli dan bisu.

“Ai, selama 30 tahun ini tetap tiada mendapatkan sesuatu kemajuan, problem catur ini tetap tiada seorang pun mampu memecahkannya. Tapi belasan langkah yang dilakukan Toan-kongcu ini sungguh sangat bagus, aku menaruh harapan sangat besar padanya, siapa tahu satu kali keliru, akhirnya gagal jua usahanya.”

Toan Ki kelihatan malu-malu, katanya, “Bakatku terlalu bodoh hingga sangat mengecewakan harapan Lotiang (bapak), sungguh aku merasa malu….”

Belum habis ia berkata, mendadak Hoan Pek-ling menjerit sekali, mulutnya menyemburkan darah dan orangnya terus roboh ke belakang.

Cepat sekali So Sing-ho geraki tangan kirinya sekaligus tiga biji catur menyambar dan mengenai tiga hiat-to di dada Pek-ling untuk menghentikan semburan darahnya.

Selagi semua orang tercengang bingung, tiba-tiba terdengar pula suara “plok” sekali, dari udara tahu-tahu menyambar turun sebiji benda entah apa dan jatuh tepat di atas papan catur.

Waktu So Sing-ho memerhatikan, ia lihat benda itu adalah sepotong kulit pohon cemara yang kehitam-hitaman dan tepat jatuh di bagian “G”, yaitu tempat antara garis silang 8×9. Langkah itu adalah kunci utama memecahkan “problem” yang harus dilakukan setiap pemain.

Ketika Sing-ho mendongak, ia lihat di atas pohon siong (cemara) beberapa meter di sebelah kiri sana terlihat satu bagian jubah panjang orang, terang situ ada orang bersembunyi.

Diam-diam So Sing-ho terkejut dan bergirang pula, pikirnya, “Ada orang bersembunyi di situ, tapi aku sama sekali tidak tahu, hal ini menandakan ilmu silat orang ini sudah mencapai tingkatan yang sukar dibayangkan. Walaupun jarak tempat sembunyinya cukup jauh, aku lagi asyik main catur dengan Toan-kongcu ini dan tidak menaruh perhatian, tapi orang itu mampu menggunakan kulit pohon sebagai biji catur dan disambitkan dari jauh, dan baru sekarang aku dapat mengetahuinya, tentu dia seorang tokoh yang hebat, bilamana ia dapat memecahkan problem catur Suhu ini, maka terima kasihlah kepada langit dan bumi.”

Tadi waktu Toan Ki menjalankan biji caturnya, pertama kali ia pun mengadakan pembukaan pada tempat “G” di garis lintang 8×9 itu. Dan selagi So Sing-ho hendak menaruh biji catur warna putih untuk menyambut biji catur lawan itu, sekonyong-konyong didengarnya suara mendesis perlahan di tepi telinga, tahu-tahu sebiji benda putih menyambar dari belakang dan jatuh di tempat “G” garis lintang 8×8. Tempat ini adalah tempat yang akan ditaruh biji caturnya So Sing-ho.

Keruan semua orang bersuara heran dan berbareng menoleh, tapi tiada bayangan seorang pun yang kelihatan. Pohon-pohon di sebelah sana tidak terlalu besar, kalau di situ bersembunyi orang tentu akan kelihatan. Maka semua orang menjadi heran di manakah orang itu bersembunyi?

Yang paling heran adalah So Sing-ho. Ia lihat benda putih itu adalah cuilan kayu pohon siong yang baru saja dikorek keluar dari batang pohon.

Bahkan setelah “biji catur putih” itu jatuh di atas papan catur, kembali dari pohon sebelah kiri tadi menyambar tiba pula sebiji benda hitam dan jatuh di garis lintang 5×6. Karena itu, pandangan semua orang terarah ke sisi kanan untuk melihat biji putih akan menyambar keluar dari mana?

Mendadak terdengar suara “crit” sekali, sebiji benda putih berputar-putar mumbul ke atas udara, habis itu lantas menurun secara lurus dan dengan tepat jatuh di atas papan catur pada garis lintang 4×5, yaitu tempat yang tepat untuk menghadapi biji catur lawan.

Karena biji putih itu melayang ke udara secara berputar, jadi timbul dari arah mana menjadi susah untuk diketahui orang. Tapi sesudah biji putih itu melayang-layang ke atas secara melingkar-lingkar, dan jatuhnya ternyata masih begitu jitu, maka kepandaian menggunakan am-gi atau senjata gelap si penimpuk sungguh mengejutkan.

Saking kagumnya, tanpa terasa tercetuslah suara sorak puji semua orang. Dan belum lenyap suara sorak pujian itu, tiba-tiba dari balik pohon yang rindang di sebelah kiri tadi berkumandang suara seorang yang lantang, “Ilmu kepandaian am-gi mahasakti Buyung-kongcu sungguh tiada bandingannya di dunia ini, kagum, sungguh kagum!”

Mendengar sebutan “Buyung-kongcu,” seketika Giok-yan berseru, “Piauko, apa engkau berada di sini?”

Dan sekonyong-konyong di samping mereka sudah bertambah seorang.

Orang ini berjubah padri, sikapnya kereng dan gagah, wajahnya bercahaya dan mengulum senyum, cara bagaimana dia melayang turun dari tempat sembunyinya di atas pohon itu ternyata tiada seorang pun yang tahu.

Yang paling terkejut adalah Toan Ki, katanya dalam hati, “Kiranya iblis Ciumoti ini juga datang ke sini?”

Kiranya orang itu memang Tay-lun-beng-ong alias Ciumoti dari Turfan.

Lebih dulu ia memberi hormat kepada So Sing-ho, Ting Jun-jiu, dan Hian-lan, lalu ia mencomot sebiji catur hitam terus ditaruh di atas papan catur.

Di sebelah sana Giok-yan menjadi jengah karena orang yang muncul ini bukan sang piauko yang dirindukannya itu. Tapi ia tetap tidak percaya, ia lari cepat ke belakang batu sisi kanan sana untuk mencari Buyung-kongcu sambil memanggil-manggil, “Piauko, Piauko, di manakah kau?”

Cemas perasaan Toan Ki seakan-akan kehilangan sesuatu menyaksikan kelakuan nona pujaannya itu.

Mendadak terdengar Giok-yan bersorak gembira, “Nah, di sini. Kenapa engkau menjawab panggilanku?”

Menyusul dari balik pohon sana muncul dua orang. Seorang berbaju kuning muda, itulah Giok-yan adanya. Gadis ini menggandeng tangan seorang kongcu muda dan mendatang dengan langkah perlahan.

Kongcu itu berusia antara 27-28 tahun, juga memakai baju kuning, cuma kuning tua sedikit, pedang tergantung di pinggangnya, jalannya ringan tanpa menimbulkan suara, perawakannya gagah, wajahnya cakap, hanya air mukanya kepucat-pucatan, tapi sikap dan tindak tanduknya tampak sangat agung dan ganteng.

Baru sekarang Toan Ki melihat jelas Buyung-kongcu atau lengkapnya Buyung Hok yang didengung-dengungkan dan dipuja seolah-olah malaikat dewata oleh Giok-yan, A Cu, A Pik, Ting Pek-jwan, dan kawan-kawannya. Dan nyatanya memang benar-benar luar biasa.

“Orang bilang Buyung-kongcu adalah naga di antara manusia (orang pilihan), dan memang bukan omong kosong kenyataannya. Pantas Nona Ong begitu kesengsem kepada sang piauko. Maka, ai, hidupku ini sudah terang ditakdirkan akan merana selamanya,” demikian pikir Toan Ki dengan putus asa.

Ia menyesal dan gegetun, berduka dan susah, ia tidak berani memandang Giok-yan. Tapi akhirnya tidak tahan dan diam-diam mengintip sekejap. Ia lihat air muka Giok-yan berseri-seri, penuh gembira, ia belum pernah melihat si nona begitu girang seperti sekarang. Kembali ia pikir, “Memang pada hakikatnya diriku tidak pernah terisi dalam hatinya, hanya bila melihat sang piauko barulah ia merasa gembira benar-benar.”

Sementara itu Buyung Hok telah mendekati papan catur, ia mengangguk-angguk pada semua orang, lalu ia menjemput sebiji catur putih dan ditaruh di atas papan catur batu itu.

Ciumoti tersenyum, katanya, “Buyung-kongcu, meski ilmu silatmu sangat tinggi, tapi dalam hal main catur mungkin hanya kelas menengah saja.”

Berbareng ia pun balas sebiji catur hitam.

“Ya, tapi rasanya toh takkan kalah darimu,” sahut Buyung Hok. Lalu ia pun menaruh biji caturnya lagi.

Dalam pada itu Ting Pek-jwan, Kongya Kian, Pau Put-tong, dan Hong Po-ok sudah lantas berkumpul dan berdiri di belakang sang junjungan. Buyung Hok sendiri lagi tekun memikirkan langkah catur selanjutnya untuk menghadapi Ciumoti yang ternyata tidak lemah dalam ilmu permainan catur itu, maka ia hanya berpaling sekejap saja kepada para penggawanya itu, lalu mencurahkan perhatiannya pada biji caturnya.

Selang agak lama barulah Buyung Hok menjalankan sebiji caturnya lagi, sebaliknya Ciumoti sangat cekatan, tanpa banyak pikir ia taruh pula biji caturnya. Jadi Buyung-kongcu main lambat dan Ciumoti main cepat.

Tidak lama kemudian, masing-masing sudah menjalankan lebih 20 biji catur, tiba-tiba Ciumoti terbahak-bahak dan berkata, “Buyung-kongcu, apakah tidak sebaiknya kita anggap remis saja?”

“Huh, kau sendiri main ngawur, masakah kau sendiri mampu mematahkan seranganku?” sahut Buyung Hok.

“Memangnya problem ini sangat sulit, di dunia ini tiada orang lagi mampu memecahkannya, problem ini hanya digunakan untuk mempermainkan orang, aku-cukup tahu diri, maka tidak mau banyak membuang pikiran percuma,” demikian kata Ciumoti. “Tapi bagimu, Buyung-kongcu, kepungan sudut yang kupasang ini saja tidak mampu kau lepaskan diri, masakah masih kau pikir untuk merebut kemenangan di Tionggoan segala?”

Seketika hati Buyung Hok tergetar, ia merasa ucapan orang itu mempunyai makna berganda, sesaat itu pikirannya menjadi kusut, ucapan Ciumoti itu seakan-akan mendengung terus di telinganya.

Seperti pernah diceritakan oleh Giok-yan kepada Toan Ki, Buyung-kongcu itu bercita-cita menjadi raja dan memerintah di seluruh Tiongkok. Kini ucapan Ciumoti itu kena betul-betul dalam lubuk hatinya, lamat-lamat terbayang olehnya biji catur hitam dan putih di atas papan catur itu seolah-olah berubah menjadi prajurit dan perwiranya, di sana satu pasukan dan di sini satu pangkalan lagi, yang satu dikepung oleh yang lain dan sedang bertempur mati-matian.

Buyung Hok seperti menyaksikan pasukan Kerajaan Yan sendiri terkepung oleh pasukan musuh dan tidak berhasil membobol keluar, meski ia sudah berusaha dengan susah payah tetap tidak dapat menyelamatkan pasukannya. Makin lama ia makin khawatir, pikirnya, “Kerajaan Yan kami sudah ditakdirkan akan tamat sampai di sini, betapa pun tidak dapat dibangun kembali dan perjuangan selama berabad-abad ini akhirnya akan gagal dan lenyap sebagai impian. Jika memang begitulah takdir apa mau dikata lagi?”

Mendadak ia menjerit sekali, ia lolos pedang terus menggorok leher sendiri.

Tatkala Buyung Hok berdiri termangu-mangu dengan sikapnya yang aneh itu, memangnya Giok-yan, Toan Ki, Ting Pek-jwan dan kawan-kawannya juga sudah menaruh perhatian padanya. Tapi mendadak Buyung Hok melolos pedang hendak membunuh diri, hal ini benar-benar tidak pernah terduga oleh mereka. Pek-jwan dan Kongya Kian bermaksud menubruk maju untuk menolong, tapi mereka sendiri sudah kehilangan tenaga, maka tidak berdayalah mereka.

Syukur mendadak Toan Ki berseru, “Eh, jangan begitu!”

Kontan jari telunjuknya terus menuding ke depan, maka terdengarlah suara “crit” sekali, tahu-tahu pedang yang dipegang Buyung Hok itu tergetar jatuh ke lantai hingga menerbitkan suara nyaring.

“Wah, sejurus Lak-meh-sin-kiam yang bagus, Toan-kongcu!” puji Ciumoti dengan tertawa.

Dan karena pedang terlepas dari cekalan, barulah Buyung Hok terkejut dan sadar dari dunia khayalnya.

Dalam pada itu Giok-yan sudah lantas memburu maju sambil memegangi tangan sang piauko, ia menangis dan berkata, “O, Piauko, cuma urusan catur saja masa perlu berpikir pendek hendak menghabiskan jiwa sendiri?”

“Ada apa atas diriku?” demikian Buyung Hok menegas dengan bingung.

“Barusan, ya, untung Toan-kongcu telah menghantam jatuh pedangmu, kalau tidak… kalau tidak, wah….” kata Giok-yan.

“Kongcu,” Kongya Kian ikut bicara, “problem catur ini bisa menyesatkan pikiran orang, kukira di dalamnya tentu mengandung ilmu sihir, hendaklah Kongcu jangan mau banyak pikir lagi.”

Tapi Buyung Hok lantas berpaling kepada Toan Ki dan bertanya, “Apakah benar barusan Saudara telah menggunakan jurus ilmu pedang Lak-meh-sin-kiam? Cuma sayang aku tidak melihatnya. Apakah dapat Saudara mengulanginya lagi sekali agar Cayhe bisa menambah pengalaman?”

“Barusan tidak kau lihat?!” Toan Ki menegas.

Tiba-tiba Buyung Hok merasa malu, sahutnya, “Seketika pikiranku kabur hingga mirip orang linglung dan seperti kena sihir.”

“Ya, tentu Sing-siok Lokoay ini yang diam-diam telah menggunakan ilmu sihirnya yang jahat,” seru Pau Put-tong mendadak. “Awas, Kongcu, harap engkau berlaku hati-hati padanya!”

Pada saat itulah, tiba-tiba dari jauh terdengar suara seruan seorang wanita, “Ooi, Engkoh Jun-jiu tercinta, betapa rindu hatiku padamu, telah kucari dikau sekian lamanya, akhirnya engkau datang juga ke Tionggoan sini. Ya, tentu engkau juga lagi mencari daku, sungguh aku sangat gembira!”

Suara itu kedengaran sayup-sayup terbawa angin, tapi sangat nyaring dan jelas.

“Ah, itu dia Bu-ok-put-cok Yap Ji-nio!” kata Toan Ki.

Ting-lokoay lantas kelihatan kikuk dan serbasalah demi mendengar suara tadi, serentak matanya menyorotkan nafsu membunuh yang kejam.

Dalam pada itu suara Yap Ji-nio berseru lagi, “Ooi, Engkoh Jun-jiu yang baik, mengapa engkau diam saja dan tidak menjawab? Apakah engkau tega membuang diriku, dan tidak pedulikan aku lagi?”

Meski seruannya halus dan enak didengar, tapi karena nadanya terlalu genit hingga menimbulkan rasa muak bagi pendengarnya.

Mendadak Pau Put-tong menanggapi dengan menirukan suara Ting Jun-jiu, “Ooi, adik yang tercinta, inilah dia aku berada di sini! Aku Ting Jun-jiu juga amat merindukan dikau!”

Sekonyong-konyong terdengar pula suara seorang lain di sana sedang berkata, “Ting Jun-jiu berada di sana, aku tidak mau ikut ke situ.”

“Hah, itulah muridku si Lam-hay-gok-sin Gak-losam juga ikut datang!” demikian pikir Toan Ki.

Maka terdengar Yap Ji-nio sedang menjawab, “Kenapa takut? Masakah kau khawatir akan dimakan dia?”

“Bukannya takut,” ujar Lam-hay-gok-sin. “Tapi setiap kali kulihat tampangnya, aku tentu mendongkol sehari suntuk. Nah, buat apa aku mesti menemuinya?”

“Tapi sekali ini Lotoa juga berada bersama kita, masakah kau tetap takut pada Engkoh Jun-jiu,” ujar Ji-nio.

“Eh, Lotoa, engkau bagaimana?” terdengar Lam-hay-gok-sin bertanya.

Diam-diam Toan Ki membatin, “Kiranya Yan-king Taycu juga datang. Biasanya muridku itu tidak takut kepada langit dan tidak gentar kepada bumi, kenapa sekarang begitu ketakutan kepada seorang yang bernama Ting Jun-jiu. Ai, benar-benar tidak becus!”

Dalam pada itu terdengar suara seorang seperti suara ditahan sedang menjawab, “Ting Jun-jiu bukan manusia berkepala tiga dan bertangan enam, aku Toan Yan-king justru ingin bertemu dengan dia.”

Tengah bicara itulah tertampak dari bawah gunung muncul empat orang. Yang jalan paling depan memang benar adalah “Bu-ok-put-cok” Yap Ji-nio, Si Segala Kejahatan Diperbuatnya.

Orang kedua adalah seorang berjubah hijau dan memakai dua tongkat sebagai gantinya kaki, itulah dia “Ok-koan-boan-eng” Toan Yan-king, Si Kejahatan Sudah Melebihi Takaran.

Lalu Lam-hay-gok-sin kelihatan mengikut di belakangnya, jalannya tampak ogah-ogahan dan sangat dipaksakan.

Semula Toan Ki percaya bahwa orang keempat tentu “Kiong-hiong-kek-ok” In Tiong-ho, Si Mahajahat dan Mahaganas. Tak tahunya adalah seorang kepala gundul alias hwesio.

Sesudah dekat barulah kelihatan bahwa hwesio ini berperawakan sedang, usianya baru 23 tahun atau 24 tahun, kedua matanya bersinar, tapi mukanya merah bengep bekas dihajar orang, jubahnya juga terkoyak-koyak, jidat dan matanya tampak matang biru, jalannya juga beringsut pincang, terang lukanya habis dihajar orang itu tidaklah ringan.

Sejak muncul jalan Yap Ji-nio kelihatan dipercepat seperti orang memapak kekasih, bahkan sambil berseru, “Ai, Engkoh tercinta, ternyata engkau makin gagah dan tambah muda. Sekali ini aku tidak mau ditinggalkan olehmu lagi!”

Sambil berkata ia terus memburu lebih mendekati Ting Jun-jiu.

Melihat tingkahnya yang genit itu, semua orang menyangka dia pasti akan terus menjatuhkan diri ke dalam pelukan Ting Jun-jiu, bahkan boleh jadi terus peluk cium. Di luar dugaan sesudah kira-kira dua meter di depan Ting-lokoay, lalu Yap Ji-nio berhenti dan berkata pula dengan tertawa, “He, kekasih, aku hendak bermesra-mesraan denganmu, mengapa engkau tidak memberi sambutan hangat? Apa engkau marah padaku?”

Tapi sikap Ting Jun-jiu masih tetap tenang, kereng dan berwibawa. Ia tidak gubris olok-olok itu, ia berdehem sekali, lalu berkata, “Hari ini Cong-pian Siansing telah mengundang para cerdik pandai dan tokoh-tokoh terkenal zaman ini untuk memecahkan problem catur. Kebetulan Toan-siansing, Yap-kohnio, dan Gak-heng kalian juga datang ke sini, sungguh sangat kebetulan. Dan siapakah Taysu ini?”

Ia maksudkan hwesio yang babak belur habis dihajar orang yang tak dikenalnya itu.

Dan sebelum menjawab, sekonyong-konyong hwesio muda itu berseru, “He, Susiokco (paman kakek guru), kiranya engkau juga berada di sini!”

Segera ia melangkah ke hadapan Hian-lan terus memberi sembah hormat.

Waktu Hian-lan memerhatikan padri muda itu, segera ia kenal orang sebagai murid angkatan ketiga dari biara sendiri. Cuma murid-murid Siau-lim-si angkatan ketiga itu lebih seratus orang, dengan kedudukannya yang tinggi, biasanya Hian-lan jarang bicara dengan mereka kecuali terhadap beberapa orang yang usianya paling tua atau yang ilmu silatnya lebih istimewa daripada yang lain, maka pada umumnya Hian-lan tidak kenal nama anak murid angkatan muda itu.

Sedangkan padri muda di hadapannya sekarang mukanya jelek, kepandaiannya juga tidak menonjol, maka Hian-lan hanya ingat dia adalah anak murid biara sendiri, adapun siapa nama agamanya tak dikenalnya. Tapi ia pun balas tanya, “Dan kau… kenapa kau sampai di sini?”

“Tecu Hi-tiok sedang melakukan tugas Suhu agar menyampaikan sepucuk surat ke Jing-liang-si di Ngo-tay-san,” demikian tutur padri muda yang bernama Hi-tiok itu. “Di tengah jalan Tecu berjumpa dengan ketiga Sicu ini. Tecu melihat Sicu yang ini….”

Jarinya terus menunjuk Yap Ji-nio, lalu menyambung, “Sicu ini sedang memegangi seorang orok dan lagi hendak mengorek hatinya untuk dimakan.”

Hian-lan menggeram sekali, alisnya menegak sikapnya sangat kereng, ia melotot ke arah Yap Ji-nio.

Tapi dengan tertawa Ji-nio berkata, “Setiap orang suka menyebut anak kecil sebagai ‘jantung hati’, maka dapat dibayangkan betapa lezat jantung hati kaum anak-anak. Boleh jadi hwesio dari Siau-lim-si kalian ini sudah banyak merasakan enaknya jantung hati anak kecil bukan?”

“Wah, dosa! Dosa!” kata Hian-lan dengan tenang. Padahal dalam hati ia sangat gusar. Coba kalau ilmu silatnya tidak punah, bukan mustahil segera ia hantam perempuan siluman itu.

Maka dengan tertawa Yap Ji-nio berkata lagi, “Cucu muridmu ini masih sangat muda, tapi sok alim dan sok suci, eh, malahan berani memberi ceramah padaku agar suka membebaskan orok itu. Waktu kutanya dia berdasarkan apa berani ikut campur urusan orang, dia menjawab secara ngawur dan tidak mau mengaku asal-usulnya. Samte menjadi murka terus memberi persen beberapa kali tempelengan. E-eh, nyalinya boleh juga, berani dia melawan. Keruan saja Samte tambah gemas dan mestinya hendak mengorek jantung hatinya untuk dimakan, untung Lotoa mencegahnya, Lotoa menaksir dia mungkin anak murid Siau-lim-pay dan mengatakan jangan mengganggu nyawanya. Maka Samte hanya memberi hajaran setimpal saja padanya dan membawanya serta dalam perjalanan ke sini.”

“Tecu terlalu bodoh, belajar kurang giat sehingga merusak nama kebesaran Siau-lim-si kita, sungguh Tecu harus mendapat hukuman setimpal,” demikian Hi-tiok berkata kepada Hian-lan. “Susiokco, Lisicu ini membelek perut seorang orok montok dan mungil, mengorek jantung hatinya untuk dimakan. Harap Susiokco suka turun tangan untuk membasmi kejahatan di dunia ini.”

Melihat potongan Hian-lan yang kereng, mendengar pula Hi-tiok menyebutnya “susiokco”, segera Yan-king Taycu, Yap Ji-nio, dan Lam-hay-gok-sin tahu dia adalah tokoh terkemuka Siau-lim-pay, maka diam-diam mereka bertiga sudah siap siaga. Mereka tidak tahu bahwa kini lwekang Hian-lan sudah punah, ilmu silatnya tidak lebih hanya seperti orang biasa saja.

Maka dengan tertawa Yap Ji-nio berkata, “Engkoh Jun-jiu, coba lihat, hwesio cilik ini benar-benar seorang yang tidak kenal kebaikan, kita sudah mengampuni jiwanya, tapi dia malah mengadu biru segala.”

Baru habis ucapannya, mendadak terdengar suara, “bret” sekali, menyusul berbunyi “plak” sekali pula. Sekilas bayangan seorang berkelebat, lalu semua orang sama berseru kaget.

Malahan Giok-yan kelihatan merah malu sambil berseru, “Piauko, kenapa engkau….”

Ternyata baju dada Yap Ji-nio telah robek hingga kelihatan dadanya yang putih itu. Kiranya Buyung-kongcu tidak dapat menahan rasa gusarnya demi mendengar cerita Hi-tiok itu, pula dilihatnya Hian-lan tidak lantas ambil tindakan, maka segera ia menggunakan “Hou-jiau-kang” (Ilmu Cakar Harimau), kelima jarinya seperti kuku macan terus mencengkeram dada Yap Ji-nio.

Serangan ini cepat luar biasa, caranya adalah khas Buyung-si dari Koh-soh yang terkenal dengan nama “Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin”, dengan cara yang sama untuk digunakan atas dirinya. Karena Yap Ji-nio suka mengorek dada anak bayi untuk mengambil hatinya dan dimakan, maka Buyung Hok juga hendak mengorek keluar jantung hati wanita jahat itu.

Karena serangan kilat itu, tampaknya Yap Ji-nio tidak sempat mengelakkan diri lagi dan dadanya segera akan berlubang. Untung baginya Ting Jun-jiu juga bertindak dengan cepat, mendadak tangan kirinya menghantam pergelangan tangan Buyung Hok.

Dalam keadaan begitu, kalau serangan Buyung Hok diteruskan, meski Yap Ji-nio pasti akan tamat riwayatnya, tapi tangan sendiri juga akan cacat terkena serangan Ting Jun-jiu itu.

Maka mendadak Buyung Hok berganti haluan dari mencengkeram tangan terus dipakai memapak serangan Ting-lokoay hingga kedua telapak tangan saling bentur. Dan karena saat itu tangan Buyung Hok sebenarnya sudah menempel dada Yap Ji-nio, kini mendadak ditarik kembali ke arah lain, baju dada Ji-nio jadi ikut terkait dan sobek sebagian.

“Plak”, kedua orang sama-sama tergetar mundur setindak. Karena dalam keadaan mendadak Ting Jun-jiu tidak sempat menggunakan Hoa-kang-tay-hoat, jadi adu tangan dengan Buyung Hok itu dilakukan dengan keras lawan keras. Maka kedua pihak sama-sama merasakan kepandaian lawan memang sangat hebat dan diam-diam sama mengakui kelihaian masing-masing yang memang tidak bernama kosong.

Serangannya tidak berhasil, sebaliknya tanpa sengaja merobek baju Yap Ji-nio, mau tak mau Buyung Hok merasa rikuh. “Maaf!” katanya.

Sesudah baju robek hingga kelihatan dadanya, semua orang mengira Yap Ji-nio pasti akan merasa malu dan mungkin akan terus menyingkir untuk membetulkan pakaiannya.

Eh, siapa tahu, sama sekali Yap Ji-nio anggap biasa saja, bahkan dengan berseri gembira ia berkata dengan genit, “Ai, orang muda memang kebanyakan mata keranjang, pada siang hari bolong dan di tengah orang banyak juga berani main gila kepada nyonya besar. Tapi kau pun tidak perlu minum cuka (cemburu), Engkoh Jun-jiu! Dalam hatiku ini hanya terisi engkau seorang, tidak nanti aku menyeleweng pada orang lain. Pemuda muka putih (maksudnya hidung belang) begini masakah aku suka main cinta dengan dia?”

Sungguh gusar Giok-yan tidak kepalang hingga air mukanya merah padam, kontan ia menyemprot, “Ken… kenapa kau tidak kenal malu, masakah orang perempuan bicara hal-hal begituan?”

Mendadak Yap Ji-nio malah sengaja pentang baju yang robek itu lebih lebar hingga buah dadanya yang putih montok itu makin mencolok, katanya dengan tertawa, “Ai, nona cilik ini mana tahu seluk-beluk orang hidup. Pemuda muka putih begini tak mungkin suka kepada nona seperti kau ini. Kalau tidak, masakah di hadapanmu terang-terangan dia main raba dan pegang segala padaku?”

“Tidak, dia tidak! Kau ngaco-belo!” seru Giok-yan gusar. Yap Ji-nio masih terus beraksi dengan genit, dan Giok-yan dibikin marah hingga muka marah padam, sebenarnya Toan Ki hendak menghiburnya, tapi ia justru tidak tahu cara bagaimana harus bicara. Sebaliknya Buyung Hok hanya melirik dingin sekali kepada Yap Ji-nio, lalu tidak menggubrisnya lagi, dan mencurahkan perhatiannya kepada Toan Yan-king yang sementara itu sudah mendekati papan catur batu.

Hian-lan, Ciumoti, Ting Jun-jiu, So Sing-ho, dan lain-lain juga sedang mengikuti gerak-gerik Toa-ok itu. Tertampak orang jahat nomor satu sedang memandangi catur dengan mata tak berkedip, rupanya sedang memeras otak memikirkan pemecahannya.

Lama dan lama sekali, tiba-tiba Toa-ok itu menutulkan tongkat bambunya ke kotak catur, ujung tongkatnya seperti mengandung daya sembrani baja, segera satu biji catur hitam tersedot di ujung tongkat, lalu ditaruh di atas papan catur.

“Ilmu silat keluarga Toan dari Tayli menjagoi dunia selatan, nyata memang bukan kabar kosong belaka!” demikian Hian-lan memuji.

Dulu Toan Ki pernah menyaksikan Yan-king Taycu bertanding catur dengan Ui-bi-ceng, maka ia tahu bukan saja lwekang Toa-ok ini sangat hebat, bahkan ilmu caturnya juga sangat tinggi. Bukan mustahil bahwa “problem catur” ini akan dapat dipecahkan olehnya, siapa tahu?

Sebagai pemegang problem catur itu, sudah tentu So Sing-ho sangat hafal terhadap segala perubahan langkah catur lawan yang hendak memecahkan problem itu, maka tanpa pikir segera ia pun menaruh sebiji putih di atas papan catur.

Yan-king Taycu berpikir lagi sejenak, lalu menaruh pula satu biji.

“Ehm, langkah Saudara ini sangat pandai, cobalah, apakah dapat membobol kepungan ini dan mendapatkan jalan keluarnya,” ujar So Sing-ho terus menaruh sebiji putih untuk menutup jalan biji lawan.

Segera Yan-king menaruh lagi satu biji. Tapi mendadak si padri muda dari Siau-lim-si alias Hi-tiok itu berseru, “Hei, salah!”

Lam-hay-gok-sin menjadi gusar, dampratnya, “Kau seorang hwesio cilik ingusan juga berani menyalahkan lotoa kami, hah?”

Sekali pegang, ia cengkeram punggung Hi-tiok terus dijinjing ke samping.

“Hei, muridku yang baik, jangan kau ganggu Siausuhu itu!” tiba-tiba Toan Ki berseru.

Seketika Lam-hay-gok-sin garuk-garuk kepala.

Sejak datangnya tadi dan melihat Toan Ki juga berada di situ, Lam-hay-gok-sin memang sudah merasa serbasalah, ia berharap paling baik kalau Toan Ki diam saja dan tidak bersuara, eh, siapa tahu akhirnya pemuda itu menegurnya juga.

“Jangan ganggu dia juga boleh, apa alangannya?” demikian sahutnya kemudian dengan marah-marah.

Keruan semua orang merasa heran, Lam-hay-gok-sin yang biasanya terkenal galak itu mengapa begitu penurut perintah seorang halus seperti Toan Ki, bahkan dipanggil sebagai “murid” juga tidak membantah?

Dalam pada itu Toan Yan-king masih terus menjalankan biji caturnya, sebiji demi sebiji dan waktu berpikirnya juga makin lama. Kira-kira sudah lebih 20 biji caturnya dijalankan, sementara itu sudah lewat tengah hari dan semua orang sama merasa lapar.

Tiba-tiba Hian-lan berkata, “Toan-sicu, sepuluh langkahmu yang pertama itu adalah langkah yang tepat, tapi mulai langkah kesebelas telah tersesat, makin jalan makin kesasar dan sukar ditolong lagi.”

Air muka Toan Yan-king selalu kaku tanpa perasaan, maka hanya terdengar suara dalam perutnya berkata, “Siau-lim-pay kalian adalah golongan yang jujur dan baik, kalau menurut cara kalian, apakah problem ini dapat dipecahkan?”

Hian-lan menghela napas, sahutnya, “Ya, problem catur ini seperti jujur, tapi tampaknya juga menyesatkan, kalau mesti dipecahkan dengan cara jujur memang susah, tapi bila memecahkannya dengan jalan menyimpang, terang juga tidak dapat.”

Dalam pada itu tongkat bambu Toan Yan-king sedang terangkat ke atas dan rada gemetar, rasanya serbasalah untuk menaruh lagi biji caturnya yang berikut. Selang agak lama, terdengar ia berkata, “Jalan ke depan buntu, mundur ke belakang ada musuh. Jujur salah, sesat lebih celaka. Ai, sulit!”

Ilmu silat keturunan keluarga Toan di Tayli sebenarnya dari golongan cing-pay, tapi kemudian Yan-king Taycu tersesat ke jalan yang tidak benar hingga orang menganggapnya dari golongan sia-pay. Kata-kata Hian-lan tadi rupanya telah menggugah hati nuraninya hingga dia mirip Buyung-kongcu tadi, tanpa terasa kehilangan pegangan dan linglung seperti orang tak sadarkan diri.

Kiranya problem catur itu memang berdaya gaib dan dapat menyesatkan orang menurut kelemahan masing-masing. Orang tamak akan jatuh karena harta, orang pemarah akan celaka karena buru nafsu. Dan selama hidup Toan Yan-king, hal yang menjadi penyesalannya adalah karena dia cacat sehingga terpaksa mesti meninggalkan ilmu silat golongan cing-pay dari leluhur sendiri dan ganti belajar ilmu jahat dari kalangan sia-pay. Karena perhatiannya sekarang terpencar dan pikirannya menyeleweng, maka semangatnya mulai goyah.

Dengan tersenyum simpul Ting Jun-jiu lantas menanggapi, “Benar, seorang dari golongan cing telah sesat ke jalan sia, untuk kembali ke jalan yang benar tidaklah gampang, maka hidupmu ini boleh dikatakan sudah musnah, ya, musnahlah, sungguh sayang, musnahlah! Sekali keperosot, menyesal pun sudah terlambat dan tidak dapat ditarik kembali lagi! Sayang!”

Lagu suara Ting-lokoay itu penuh rasa kasih sayang. Tapi Hian-lan dan tokoh lain tahu bahwa iblis itu tidak bermaksud baik, bahkan ingin mendorong, menjerumuskan Toan Yan-king tersesat lebih jauh dalam lamunannya, dengan demikian akan berkurang seorang lawan lihai baginya.

Benar juga, Yan-king tampak berdiri terpaku, kemudian berkata dengan sedih, “Ya, sebagai putra mahkota negeri Tayli yang diagungkan, hari ini aku terluntang-lantung di Kangouw hingga sedemikian rupa, sungguh aku malu terhadap leluhur.”

“Sesudah meninggal, tentu kau juga tiada muka buat menemui leluhurmu di alam baka, jika kau tahu malu, akan lebih baik kau bunuh diri saja, paling tidak hal ini akan menunjukkan perbuatanmu sebagai seorang kesatria. Ai, lebih baik bunuh diri saja, ya, lebih baik bunuh diri saja!” demikian Ting Jun-jiu mendorong pula dengan suaranya yang lemah lembut enak didengar, tapi penuh daya pengaruh hingga bagi orang yang lwekangnya kurang kuat, langsung terasa mengantuk dan hendak terpulas.

“Ya, lebih baik bunuh diri saja!” demikian Toan Yan-king menirukan suara itu. Lalu ia angkat tongkat bambu sendiri dan perlahan hendak menutuk dadanya sendiri.

Namun betapa pun lwekang Toa-ok itu memang sangat tinggi, biarpun terpengaruh tenaga gaib itu, tapi lamat-lamat dalam hati kecilnya juga merasakan sesuatu yang tidak benar dan menginsafi bila tutukan itu diteruskan, maka celakalah dia. Namun demikian toh tongkat bambu itu masih terus menutuk ke dada sendiri sedikit lebih mendekat.

“Wah, celaka!” diam-diam Hian-lan berkata dalam hati. Ada maksudnya hendak bersuara untuk menyadarkan orang, tapi suara itu harus dilakukan dengan menggertak, untuk mana diperlukan lwekang yang sama kuatnya baru dapat berhasil, kalau tidak, bukan mustahil malah akan bikin celaka dirinya sendiri.

Di antara tokoh-tokoh tertinggi yang berada di situ, selain Hian-lan yang bermaksud menolong tapi yang tenaga kurang, sedangkan So Sing-ho terikat oleh peraturan yang ditetapkan mendiang gurunya yang melarang memberi pertolongan kepada orang yang hendak memecahkan problem catur itu.

Buyung Hok tahu Toan Yan-king bukan manusia baik-baik, jika iblis itu sesat jalan dan mati, hal ini berarti dunia akan kehilangan suatu bencana besar, maka ia tidak sudi menolong. Sebaliknya Ciumoti merasa syukur dan ingin Toan Yan-king mati konyol, maka ia pun berpeluk tangan menyaksikannya dengan tersenyum.

Toan Ki dan Yu Goan-ci memiliki lwekang yang tinggi, tapi mereka tidak paham sebab musabab persoalannya. Adapun Giok-yan meski sangat luas pengetahuannya tentang ilmu silat dari berbagai golongan dan aliran, tapi lwekangnya tiada artinya, terhadap ilmu sesat dari sia-pay ia pun setengah paham setengah tidak.

Yap Ji-nio lagi ingin memikat Ting Jun-jiu, dengan sendirinya ia tidak mau menggagalkan maksud tujuan iblis tua itu. Ting Pek-jwan, Kheng Kong-leng dan lain-lain sudah kehilangan lwekang, andaikan bisa juga mereka tidak sudi menolong.

Di antara orang-orang itu hanya Lam-hay-gok-sin yang merasa gopoh, ia lihat tongkat sang toako sudah hampir menempel dada sendiri, sebentar lagi pasti hiat-to mematikan di dada akan tertutuk. Maka cepat ia cengkeram Hi-tiok sambil berseru, “Lotoa, peganglah kepala gundul ini!”

Sembari berkata, ia terus lemparkan Hi-tiok ke arah Toan Yan-king.

Namun Ting Jun-jiu terus melontarkan sekali pukulan sambil membentak, “Enyahlah! Jangan mengacau!”

Sebenarnya tenaga lemparan Lam-hay-gok-sin itu sangat keras, tapi hanya kena tenaga pukulan Ting-lokoay yang kelihatan lemah itu, mendadak tubuh Hi-tiok mencelat balik dan menerjang ke arah Lam-hay-gok-sin sendiri.

Lekas Lam-hay-gok-sin pasang kuda-kuda dengan kuat, ia pegang Hi-tiok terus hendak dilemparkan kembali ke arah Toan Yan-king. Di luar dugaannya, tenaga pukulan Ting Jun-jiu itu membawa tiga gelombang tenaga susulan.

Ketika Hi-tiok kena dipegangnya, segera Lam-hay-gok-sin mendelik karena tekanan tenaga Ting-lokoay itu hingga terentak mundur tiga tindak. Dan baru saja ia dapat berdiri tegak, gelombang tenaga kedua sudah tiba lagi, sekuatnya Lam-hay-gok-sin bertahan hingga kaki sampai tertekuk dan akhirnya jatuh terduduk.

Dengan demikian ia sangka selesailah sudah perkaranya. Eh, siapa tahu masih ada tenaga gelombang ketiga. Sekali ini Lam-hay-gok-sin tak tahan lagi, ia terentak berjungkir balik dengan kedua tangan tetap mencengkeram kencang tubuh Hi-tiok sehingga tubuh hwesio muda itu tertindih di bawah untuk kemudian berjungkir balik sekali lagi.

Sekali ini Lam-hay-gok-sin sudah kapok, ia sangka Sing-siok Lokoay masih akan melontarkan tenaga lebih keras lagi, ia pikir “sebelum hujan lebih baik sedia payung”, maka lebih dulu ia mendorong tubuh Hi-tiok ke depan sebagai tameng.

Tapi ia kecele, gelombang tenaga lain sudah tidak ada lagi.

Sebaliknya setelah Hi-tiok terlepas dari cengkeraman Lam-hay-gok-sin, ia lantas pandang Hian-lan, ia ingin tahu bagaimana reaksi kakek gurunya itu. Tapi dilihatnya wajah Hian-lan mengunjuk rasa sedih, sikap seorang yang tak bisa berbuat apa-apa.

Di mata anak murid Siau-lim-pay, para padri angkatan “Hian” dipandang seolah-olah Buddha mahasakti, segala kesulitan tentu akan gampang dipecahkan oleh padri angkatan tua itu. Tapi sekarang Hian-lan ternyata tidak berdaya sama sekali, hal ini benar-benar membuat Hi-tiok merasa heran dan bingung.

Tapi meski ilmu silatnya rendah, otaknya ternyata sangat cerdik, walaupun tidak menduga bahwa lwekang sang kakek guru itu sudah hilang semua, tapi ia dapat melihat padri tua itu sangat ingin menyelamatkan Toan Yan-king. Seketika hati Hi-tiok tergerak, segera katanya, “Susiokco, penyakit batin harus disembuhkan dengan obat batin juga. Toan-cianpwe tersesat oleh karena main catur, maka untuk menolongnya perlu hapuskan permainan catur itu.”

“Sudah telat, sudah terlambat!” demikian Ting Jun-jiu berkata. “Nah, Yan-king Taycu, kunasihatkan lebih baik kau bunuh diri saja. Ya, lebih baik bunuh diri saja!”

Tengah bicara, tongkat bambunya sudah tinggal dua-tiga senti saja di atas hiat-to mematikan di dadanya.

Semenjak ditawan dan sepanjang jalan Hi-tiok telah kenyang dihajar dan disiksa oleh Toan Yan-king, Yap Ji-nio dan Lam-hay-gok-sin. Tapi dasar jiwanya memang besar, ia tidak dendam kejadian yang sudah-sudah itu, sebaliknya ia pikir cut-keh-lang (seorang yang sudah meninggalkan rumah, maksudnya sudah menjadi padri) harus mengutamakan kebajikan serta menolong sesamanya.

Ia tahu maksud susiokco hendak menolong orang, ia sendiri juga tidak suka Toan Yan-king mati konyol, tapi untuk menolongnya ia harus pandai main catur, bicara tentang memecahkan problem catur itu, mungkin belajar 30 tahun lagi juga belum tentu mampu. Padahal saat itu, dilihatnya Toan Yan-king masih termangu-mangu memandangi papan catur, jiwanya tinggal sekejap saja.

Mendadak ia mendapat akal, “Untuk memecahkan problem catur ini terang tidak bisa, kalau membikin kacau permainannya setiap orang pun bisa. Dan asal perhatiannya terpencar sejenak saja, tentu dia akan selamat!”

Berpikir begitu cepat Hi-tiok berkata, “Biar kucoba memecahkan problem catur ini.”

Lalu ia mendekati So Sing-ho, terus saja ia comot satu biji catur hitam dari kotak, ia pejamkan mata dan biji catur itu ditaruh di atas papan catur sekenanya, habis itu ia lantas tertawa terbahak-bahak.

Dan belum lagi ia membuka mata, ia dengar So Sing-ho marah-marah dan berkata, “Ngaco, ngaco! Biji caturmu telah bikin buntu dan membunuh satu biji caturnya sendiri, mana ada cara main catur seperti ini?”

Waktu Hi-tiok membuka mata, ia jadi merah jengah. Kiranya biji catur yang ditaruh secara ngawur itu tepat membuntu jalan sebuah biji hitam sendiri yang terkepung rapat oleh biji putih lawan itu.

Mestinya biji hitam yang terkepung itu belum lagi mati, walaupun biji putih setiap saat dapat mencaploknya, tapi asal lawan belum sempat makan, itu berarti biji hitam yang terkepung itu masih bisa bergulat mati-matian untuk mencari jalan hidup.

Tapi sekarang ia bikin buntu satu-satunya jalan bagi biji hitam sendiri, dan ini berarti makan bijinya sendiri, dalam permainan catur selamanya tidak pernah ada cara membunuh diri demikian.

Keruan Ciumoti, Buyung Hok, Toan Ki dan lain-lain merasa geli dan terbahak-bahak. Begitu pula Hoan Pek-ling dalam keadaan payah pun ikut berkata, “Cara demikian bukankah permainan guyon saja?”

Tapi So Sing-ho berkata, “Menurut pesan guruku problem catur ini terbuka untuk umum, siapa pun boleh ikut. Meski langkah Hi-tiok Siausuhu barusan sama sekali menyimpang dari kebiasaan orang bercatur, tapi toh juga terhitung satu langkah.”

Sembari berkata, ia terus ambil biji hitam yang dibunuh sendiri oleh Hi-tiok itu.

Mendadak Toan Yan-king berteriak sekali dan sadar dari dunia khayalnya. Dengan mata melotot ia pandang Ting Jun-jiu dan berkata, “Sing-siok Lokoay, diam-diam kau turun tangan keji pada saat orang lagi menghadapi bahaya, nanti kita mesti bikin perhitungan.”

Ting Jun-jiu tidak menjawab, ia pandang sekejap ke arah Hi-tiok dengan penuh rasa benci.

Yan-king dapat melihat semuanya itu. Waktu ia melongok ke papan catur, ia lihat perubahan yang dilakukan Hi-tiok barusan itu, maka tahulah dia bahwa berhasilnya dia lolos dari renggutan maut adalah berkat pertolongan hwesio muda itu.

Diam-diam ia sangat berterima kasih, ia tahu Ting-lokoay sudah dendam dan setiap saat bisa menggempur Hi-tiok. Tapi ia tidak membuka suara lagi, hanya mengawasi di samping sambil berpikir, “Padri sakti Siau-lim-pay Hian-lan berada di sini, rasanya Sing-siok Lokoay tidak berani mengganggu anak muridnya. Tapi kalau Hian-lan sudah tua dan tidak sanggup melindungi orangnya, tentu tidak boleh kubiarkan hwesio cilik ini gugur disebabkan urusanku.”

Dalam pada itu terdengar So Sing-ho lagi berkata kepada Hi-tiok, “Siausuhu, kau telah membunuh satu biji sendiri, sekarang biji putih mendesak pula, cara bagaimana akan kau lawan?”

Dengan tertawa Hi-tiok menjawab, “Siauceng memang tidak pandai main catur, barusan juga menaruh secara ngawur, maksudku hanya untuk menolong Sicu ini. Maka Siauceng tidak berani melanjutkan permainan ini, harap Locianpwe suka maaf.”

Mendadak Sing-ho menarik muka, katanya dengan suara bengis, “Tujuan guruku mengatur problem catur ini ialah ingin mengundang para ahli dari dunia ini untuk memecahkannya. Kalau tidak dapat juga tidak menjadi soal. Tapi kalau tertimpa akibatnya harus tanggung sendiri. Namun kalau ada orang sengaja hendak mengacaukan permainan ini untuk merusak hasil jerih payah mendiang guruku, hehe, biarpun kalian berjumlah banyak dan aku sudah tua lagi loyo, betapa pun juga aku siap untuk menghadapi sampai detik terakhir.”

Melihat tuan rumah naik darah dan bicara dengan bengis, maka Hi-tiok jadi ketakutan. Dengan memberi hormat ia berkata, “Harap Locianpwe jangan salah paham….”

“Mau main catur lekas main catur, apa gunanya banyak bicara?” bentak lagi So Sing-ho. “Memangnya kau kira datang ke sini hanya untuk piknik saja?”

Habis berkata, mendadak sebelah tangannya menggaplok ke samping. “Blang”, seketika debu pasir bertebaran, tanah di depan Hi-tiok ambrol menjadi sebuah lubang besar. Coba kalau pukulan yang mahahebat itu diarahkan tepat ke tubuh Hi-tiok, tentu padri muda itu sudah remuk dan mati seketika.

Keruan Hi-tiok kebat-kebit, ia coba melirik sang susiokco dengan harapan orang tua itu suka tampil ke muka untuk membebaskan dia dari ancaman bahaya itu. Tapi Hian-lan sendiri tidak tinggi ilmu permainan caturnya, ilmu silatnya sekarang punah lagi. Sudah tentu ia pun tak berdaya.

Setelah suasana hening sejenak, selagi Hian-lan hendak coba-coba mintakan ampun kepada So Sing-ho, tiba-tiba terlihat Hi-tiok mencomot pula sebiji catur hitam dan ditaruh di atas papan catur. Tempat yang ditaruh itu adalah tempat luang biji hitam yang diangkat oleh So Sing-ho tadi.

Langkah ini ternyata cukup memenuhi syarat bercatur.

Selama 30 tahun ini So Sing-ho boleh dikatakan sudah hafal sekali terhadap setiap langkah catur yang mungkin dilakukan lawan, bagaimanapun lawan akan menjalankan biji caturnya pasti sudah terduga olehnya. Eh, siapa duga sekali ini ia benar-benar ketemu batunya. Datang-datang Hi-tiok terus tutup mata dan main secara ngawur hingga satu biji hitam dimakan sendiri.

Cara ini benar-benar sangat berlawanan dengan teori catur, sebab setiap orang yang sedikit paham ilmu catur saja tidak mungkin akan menjalankan caturnya seperti Hi-tiok tadi. Sama halnya setiap orang persilatan tidak mungkin menghunus pedang untuk membunuh diri.

Tak tersangka bahwa setelah makan biji sendiri secara ngawur itu, posisi percaturan itu lantas berubah walaupun pihak putih masih menduduki posisi lebih kuat, tapi pihak hitam sudah ada tempat luang untuk bergerak, tidak seperti tadi selalu terdesak di pihak yang terkepung melulu.

Sudah tentu perubahan demikian mimpi pun pernah terpikir oleh So Sing-ho. Karena itu, sesudah pikir agak lama, akhirnya ia mengimbangi satu biji putih.

Kiranya tadi waktu Hi-tiok digertak So Sing-ho, sedangkan Hian-lan yang diharapkan menolongnya juga tidak memberi reaksi apa-apa, tengah merasa bingung, tiba-tiba didengarnya suatu suara yang sangat halus bergema di tepi telinganya, “Taruh di tempat ‘peng’ pada garis lintang 3×9.”

Tanpa pikir suara siapakah itu dan tepat tidak langkah yang diajarkan, terus saja Hi-tiok mengambil satu biji hitam dan ditaruh pada garis silang 3×9 seperti apa yang dikatakan itu.

Dan setelah So Sing-ho juga balas menjalankan satu biji putih, kembali suara lembut tadi berkata di telinga Hi-tiok, “Sekarang tepat ‘peng’ pada garis silang 2×8.”

Sudah tentu Hi-tiok menurut saja, kembali ia ambil satu biji hitam dan ditaruh di tempat yang dikatakan itu.

Langkah ini ternyata menimbulkan rasa heran pada Ciumoti, Buyung Hok, Toan Ki dan lain-lain. Waktu Hi-tiok mengangkat kepalanya, ia lihat wajah beberapa orang itu penuh mengunjuk rasa heran dan kagum, terang disebabkan langkahnya barusan ini sangat tepat dan bagus. Lalu dilihatnya pula wajah So Sing-ho juga berseri-seri dan gegetun serta khawatir pula, kedua alisnya yang panjang tampak berkerut-kerut.

Diam-diam Hi-tiok merasa curiga, pikirnya, “Aneh, mengapa dia merasa senang? Wah, tentu disebabkan langkahku barusan ini salah?”

Tapi lantas terpikir lagi olehnya, “Ah, peduli salah atau tidak, pendek kata asal aku dapat melayani dia hingga belasan langkah, paling tidak akan menunjukkan bahwa aku juga cukup mahir main catur dan bukan melulu main ngawur belaka. Dengan demikian tentu dia takkan marah-marah lagi padaku.”

Maka setelah So Sing-ho melayani satu biji lagi, segera ia menjalankan satu biji juga sesuai petunjuk suara yang menyusup pula ke telinganya.

Sambil menaruh biji catur Hi-tiok juga mengawasi apakah sang susiokco yang diam-diam mengajarnya atau bukan. Tapi ia lihat sikap Hian-lan sendiri sangat khawatir, terang bukan dia, apalagi mulutnya juga tidak terlihat bergerak.

Nyata suara yang menyusup ke telinganya itu adalah semacam lwekang mahasakti yang disebut “Thoan-im-jip-bit” atau mengirimkan gelombang suara, pembicara itu mengirimkan suaranya dengan lwekang yang tinggi ke telinga pendengarnya, meski banyak orang yang berdiri di samping juga takkan dengar.

Meski bibir semua orang tidak kelihatan bergerak, tapi suara itu masih didengar oleh Hi-tiok, sekarang suara itu suruh dia menaruh biji hitam tempat “G” pada garis silang 5×6 untuk makan tiga biji putih lawan.

Kembali Hi-tiok menurut saja dan menjalankan biji caturnya. Ia pikir, “Orang yang mengajarkan aku ini terang bukan lain daripada Susiokco. Orang lain tiada hubungan apa-apa denganku, mana mungkin mereka mau memberi petunjuk padaku. Di antara mereka ini hanya Susiokco yang belum ikut main catur ini, sedang yang lain-lain sudah mencoba dan dikalahkan. Ilmu sakti Susiokco memang hebat, tanpa gerak bibir beliau dapat mengirimkan suaranya ke telingaku, entah sampai kapan aku baru dapat berlatih hingga tingkat ini?”

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa orang yang memberi petunjuk padanya itu tak-lain-tak-bukan adalah Si Durjana Nomor Satu “Ok-koan-boan-eng” Toan Yan-king.

Tadi Toan Yan-king lagi tenggelam dalam lamunannya tatkala menghadapi catur, kesempatan itu digunakan Ting Jun-jiu untuk mendorongnya lebih menuju ke jalan yang sesat hingga pikirannya menyeleweng dan hampir-hampir membunuh diri. Untung Hi-tiok mengacaukan permainan catur itu hingga jiwanya diselamatkan. Kemudian ia lihat So Sing-ho marah-marah pada Hi-tiok dan akan membunuhnya jika permainan catur itu tidak diteruskan, maka diam-diam Yan-king memberi petunjuk dengan maksud membebaskan Hi-tiok dari bencana.

Yan-king Taycu mahir ilmu “bicara dengan perut”, suaranya keluar dari perut tanpa gerak bibir, lalu menggunakan lwekang yang tinggi untuk mengirimkan gelombang suara itu ke telinga Hi-tiok, sebab itulah meski di situ banyak terdapat tokoh lain toh tiada seorang pun yang tahu akan kejadian itu. Dan di luar dugaan, beberapa langkah kemudian, percaturan itu telah mengalami perubahan besar-besaran.

Kiranya kunci daripada “problem catur” itu memang harus demikian, ialah pertama-tama harus membunuh diri satu biji hitam sendiri, habis itu baru akan timbul langkah-langkah lain yang aneh dan bagus. Sudah tentu tindakan “membunuh diri” demikian selamanya tidak dipakai oleh ahli catur yang mana pun juga, apa yang mereka pikir juga tidak mungkin menjurus ke arah demikian.

Coba kalau Hi-tiok tidak memejamkan mata dan menaruh biji caturnya dengan ngawur hingga tanpa sengaja menjalankan bijinya secara bodoh itu, mungkin seribu tahun lagi juga “problem catur” itu tiada orang yang sanggup memecahkannya.

Ilmu main catur Toan Yan-king memang sangat tinggi, dahulu waktu bertanding dengan Ui-bi-ceng di negeri Tayli, padri alis kuning itu juga dicecar hingga kewalahan. Maka kini setelah posisi di atas papan catur berubah, dengan segera pihak hitam dapat bergerak dengan leluasa, menyerang atau bertahan dapat berjalan dengan bebas.

Ciumoti, Buyung Hok dan lain-lain tidak tahu bahwa Toan Yan-king yang diam-diam telah membantu Hi-tiok, mereka hanya melihat hwesio muda itu dapat menjalankan caturnya dengan lancar, setiap langkahnya tepat dan bagus, berulang-ulang dua biji putih dimakan lagi, saking kagumnya mereka bersorak memuji.

Sebaliknya pikiran Toan Ki sendiri lagi melayang-layang. Semula dia juga memerhatikan pertandingan catur itu, tapi kemudian pandangannya menyeleweng, yang ditatap melulu Ong Giok-yan saja, makin memandang makin terpesona, sedangkan sinar mata Ong Giok-yan justru tidak pernah meninggalkan Buyung Hok, dengan kesengsem nona itu sedang memandangi sang piauko.

Diam-diam Toan Ki berduka, pikirnya, “Biarlah kupergi saja. Ya, lebih baik pergi saja! Jika tinggal lebih lama di sini tentu akan menderita lebih hebat, bisa jadi aku akan muntah darah.”

Akan tetapi tidak mudah baginya untuk meninggalkan si nona, makin berpikir makin berat rasanya untuk tinggal pergi. “Jika Nona Ong menoleh padaku, segera aku akan bilang padanya, ‘Nona Ong, engkau sudah ketemu piaukomu, sekarang aku akan pergilah!’ dan kalau dia menjawab, ‘Baiklah, boleh kau pergi!’ maka terpaksa aku harus angkat kaki. Sebaliknya kalau dia berkata, ‘Eh, jangan terburu-buru, aku ingin bicara lagi denganmu,’ maka aku akan menunggunya, ingin kulihat apa yang hendak dia bicarakan padaku.”

Padahal apa yang timbul dari pikiran Toan Ki itu hanya sengaja mencari sesuatu alasan agar dia dapat tinggal lebih lama di situ. Ia cukup jelas bahwa sesudah Ong Giok-yan bertemu dengan sang piauko, maka tidak mungkin lagi berpaling untuk memerhatikan dia.

Tapi mendadak gelung Giok-yan di belakang kepala tampak terguncang sedikit. Hati Toan Ki seketika juga terguncang, diam-diam ia berharap, “Hah, menolehlah! Menolehlah!”

Siapa duga Giok-yan cuma menghela napas dengan perlahan dan menyapa dengan suara lirih, “Piauko!”

Namun Buyung Hok saat itu lagi asyik mengikuti permainan catur, ia lihat biji hitam telah berubah di pihak yang unggul dan sedang mendesak lawannya. Ia sedang berpikir, “Beberapa langkah hitam itu pun dapat kulakukannya. Soalnya hanya langkah permulaan saja, melulu satu langkah yang ajaib itulah yang susah dipecahkan.”

Oleh sebab itulah sama sekali Buyung Hok tidak mendengar suara panggilan Giok-yan tadi. Perlahan si nona menghela napas lagi dengan kecewa dan menoleh perlahan.

Hati Toan Ki berdebar-debar hebat, ia membatin, “Aha, dia menoleh sekarang! Dia menoleh sekarang!”

Benar juga, wajah si nona yang ayu itu perlahan berpaling ke arahnya.

Dengan jelas Toan Ki dapat melihat air muka si nona muram durja, sorot matanya memantulkan rasa hampa dan kecewa. Sejak dia bertemu dengan Buyung Hok ia selalu gembira, mengapa mendadak menjadi sedih?

Selagi Toan Ki merasa heran, ia lihat sinar mata Giok-yan bergeser pula hingga kebentrok dengan sinar matanya. Terus saja Toan Ki melangkah maju satu tindak dan mestinya ingin berkata, “Nona Ong, apa yang hendak kau katakan?”

Tapi ia kecele, perlahan sinar mata si nona berpindah dan memandang jauh ke sana dengan termenung-menung, sejenak kemudian, kembali si nona berpaling lagi ke arah Buyung Hok.

Perasaan Toan Ki benar-benar mencelus, rasanya getir tak terkatakan. Ia pikir, “Dia melihat aku, tapi anggap tidak tahu, hal ini lebih celaka sepuluh kali daripada sama sekali ia tidak memandang padaku. Sudah terang dia melihat aku, tapi bayanganku sama sekali tidak masuk dalam hatinya. Yang dia pikirkan adalah piaukonya saja, sedikit pun aku tidak mendapat tempat dalam benaknya. Ai, lebih baik aku pergi saja, lebih baik aku pergi saja!”

Tapi toh dia tidak lantas pergi.

Dalam pada itu berkat petunjuk Yan-king Taycu, Hi-tiok telah dapat menjalankan biji hitam dengan baik, keadaan sudah memuncak pada detik menentukan, tampaknya pihak putih berbalik kewalahan.

Kalau pihak putih menutup setiap tindakan pihak hitam, maka setiap kali biji putih tentu akan dicaplok satu biji. Bila jalan hitam tidak ditutup, maka pihak hitam akan lebih leluasa menerjang keluar dari kepungan. Dalam keadaan serbasalah begini, pihak putih menjadi tidak berdaya apa-apa lagi.

Saat itu So Sing-ho lagi berpikir, tidak lama kemudian, dengan tersenyum ia menjalankan satu biji putih.

“Pasang di tempat ‘Siang’ di garis silang 7×8!” demikian gelombang suara Toan Yan-king terkirim lagi ke telinga Hi-tiok.

Sudah tentu Hi-tiok hanya menurut saja. Pengetahuannya dalam ilmu catur hanya sedikit saja. Tapi ia pun dapat merasakan dengan langkahnya itu, maka pecahlah problem catur itu. Segera dengan tertawa ia bertanya, “Rupanya sudah berakhir bukan?”

Dengan wajah girang So Sing-ho menjawab sambil kiongchiu, “Selamat bahagia atas bakat Siausinceng (padri cilik sakti) yang luar biasa ini.”

“Ah, mana aku berani terima, ini bukan….” demikian baru Hi-tiok hendak menjelaskan bahwa dia telah mendapat petunjuk dari susiokco, namun suara halus tadi kembali berbunyi lagi di telinganya, “Awas, rahasia ini jangan diungkap. Keadaan bahaya belum lenyap, harus lebih hati-hati terhadap segala kemungkinan.”

Hi-tiok mengira kembali Hian-lan yang telah memberi petunjuk, maka berulang ia mengangguk dan mengiakan.

Maka So Sing-ho lantas berbangkit, katanya, “Sejak Siansu (mendiang guru) memasang problem catur ini, selama tiga puluh tahun belum ada orang mampu memecahkannya. Sekarang Siausinceng telah berhasil memecahkannya secara sempurna, sungguh aku merasa sangat berterima kasih.”

Karena tidak tahu seluk-beluknya, Hi-tiok terpaksa menjawab dengan rendah hati, “Ah, Siauceng hanya bermain secara ngawur dan kebetulan dapat menang, semua berkat Locianpwe suka mengalah, maka atas segala pujian Cianpwe sungguh aku merasa malu untuk menerimanya.”

Namun Sing-ho tidak berkata lagi, ia berjalan ke depan ketiga petak rumah papan kayu itu, ia menjulurkan tangan ke arah rumah dan berkata, “Silakan masuk, Siausinceng!”

Hi-tiok melihat bentuk bangunan ketiga petak rumah papan itu sangat aneh, rapat tidak terdapat pintu, ia tidak tahu cara bagaimana harus masuk, lebih-lebih tidak tahu untuk apa disuruh masuk ke sana. Maka ia hanya terpaku di tempatnya dengan bingung.

Tapi suara halus tadi lantas terdengar lagi, “Kau dapat membobol kepungan catur, hal itu adalah hasil perjuangan mati-matian. Jika rumah papan itu tiada pintu, boleh kau membelahnya saja dengan ilmu silat Siau-lim-pay.”

Maka Hi-tiok menurut, ia berkata, “Maaflah jika begitu!”

Segera ia melangkah maju, ia pasang kuda-kuda, tangan kanan diangkat, terus saja ia membelah papan rumah itu dengan telapak tangan.

Dalam pandangan semua tokoh yang hadir di situ, tenaga pukulan Hi-tiok itu terang tiada nilainya untuk dipuji. Untung papan pintu itu tidak terlalu kuat, maka terdengarlah suara “brak” sekali papan itu lantas pecah merekah. Waktu Hi-tiok menambahi dua kali pukulan lagi, maka bobol juga papan rumah itu, namun tangan juga pedas kesakitan.

Dengan terkekeh-kekeh Lam-hay-gok-sin berolok-olok, “Hah, itu dia ngekang (tenaga luar) dari Siau-lim-pay, kiranya cuma begini saja kekuatannya!”

“Siauceng cuma seorang murid Siau-lim-pay yang paling tidak becus, kepandaianku memang rendah, mana boleh dibanggakan sebagai kepandaian asli perguruanku?” demikian Hi-tiok menjawab sambil menoleh.

Dalam pada itu terdengar suara halus tadi membisikinya lagi, “Lekas masuk ke rumah itu, jangan menoleh lagi, jangan peduli orang lain!”

Hi-tiok mengiakan dan segera ia hendak melangkah masuk ke rumah papan melalui pintu yang dibobolnya itu.

Namun Ting Jun-jiu lantas berteriak, “Di situ adalah pintu perguruan kami, kau hwesio cilik ini mana boleh sembarangan masuk?”

Menyusul lantas terdengar suara “blang-blang” dua kali, serangkum angin menyambar ke arah Hi-tiok untuk menariknya mundur. Tapi menyusul dua arus tenaga besar telah menumbuk punggung dan bokongnya, tanpa kuasa lagi ia terjungkal dan mencelat masuk ke dalam rumah papan itu.

Ia tidak tahu bahwa dalam sekejap itu sebenarnya jiwanya sudah hampir melayang. Barusan Ting Jun-jiu melontarkan pukulan hendak membinasakan dia. Sedangkan Ciumoti telah menggunakan tenaga “Kang-ho-kang” (Ilmu Membekuk Bangau) dan secara paksa hendak menariknya mundur.

Namun Toan Yan-king telah menggunakan tenaga tersembunyi pada tongkatnya untuk menolak sebagian tenaga pukulan Ting-lokoay, sedangkan So Sing-ho yang berdiri di antara Hi-tiok dan Ciumoti telah menghalau tenaga “Kang-ho-kang” padri Turfan itu dengan tangan kiri, menyusul tangan kanan terus menolak ke depan hingga tanpa kuasa Hi-tiok didorong masuk ke dalam rumah papan itu.

Tenaga tolakan So Sing-ho itu sangat hebat hingga Hi-tiok mencelat ke depan, “blang”, selapis dinding papan di bagian dalam rumah kena diterjang bobol, bahkan kembali “blang” lagi sekali, batok kepalanya kebentur pula pada suatu lapis dinding papan lagi. Seketika ia merasa mata berkunang-kunang, pikiran menjadi gelap dan hampir-hampir kelengar.

Selang sebentar barulah ia sanggup berbangkit, ia coba meraba-raba jidat sendiri ternyata sudah benjut dan melepuh. Ia lihat dirinya berada di dalam sebuah kamar yang kosong melompong tiada sesuatu isi.

Ia coba mencari pintu kamar itu, tapi kamar itu ternyata tiada pintu dan tanpa jendela, yang ada cuma lubang papan yang dibenturnya hingga bobol tadi. Dan sesudah termangu-mangu sejenak segera ia bermaksud merangkak keluar melalui lubang papan rusak itu.

Tapi baru saja ia putar tubuh, tiba-tiba terdengar di sebelah sana ada suara seorang yang serak tua sedang berkata, “Jika sudah datang, mengapa hendak keluar lagi?”

Cepat Hi-tiok membalik tubuh, ia tidak melihat sesuatu apa pun. Segera ia menjawab, “Mohon Cianpwe suka memberi petunjuk jalan.”

“Jalannya kau sendiri yang membikin dan akhirnya masuk ke sini, tiada orang lain yang dapat mengajarkan padamu,” demikian kata suara itu. “Problem catur sudah kupasang selama 30 tahun dan tidak pernah dipecahkan orang, tapi akhirnya hari ini dapat dipecahkan olehmu. Nah, kenapa kau belum mau kemari!”

Mendengar itu, seketika Hi-tiok merinding. Dengan suara gemetar ia tanya, “Engkau… kau….”

Tapi ia tidak sanggup meneruskan lagi. Ia ingat So Sing-ho mengatakan problem catur itu adalah ciptaan “Siansu atau mendiang gurunya”. Jika begitu, suara orang tua ini manusia atau setan?

Ia dengar suara itu berkata pula, “Kesempatan dalam sekejap segera akan lalu, aku sudah menunggu selama 30 tahun dan tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Anak baik, marilah lekas masuk ke sini!”

Hi-tiok dengar suara ucapan itu sangat ramah tamah, maka tanpa pikir lagi ia tumbuk papan dinding itu dengan bahunya, “krak”, memangnya papan itu sudah tua maka segera terbobol sebuah lubang, ia terus menerobos ke dalam.

Tapi ia terperanjat ketika dilihatnya di dalam kamar juga kosong melompong, sebaliknya ada seorang yang duduk tergantung di udara. Melihat orang itu duduk dengan terapung di udara, maka pikiran pertama yang timbul adalah dalam benak Hi-tiok adalah “setan”!

Dan saking ketakutan segera ia putar tubuh hendak lari. Namun orang itu sudah berkata lagi, “Ai, kiranya seorang hwesio cilik! Ai, malahan hwesio yang bermuka jelek! Ai, susah, susah, susah!”

Mendengar orang menghela napas dan berulang mengucapkan “susah”, waktu Hi-tiok memerhatikan lebih lanjut, baru sekarang ia dapat melihat jelas.

Kiranya tubuh orang itu hinggap di atas seutas tali warna hitam, ujung tali terikat di belandar sehingga tubuhnya tergantung di udara. Karena dinding di belakangnya bercat hitam, warna tali juga hitam, maka tali itu tidak jelas kelihatan, dipandang sepintas lalu mirip orang duduk terapung di udara.

Adapun muka Hi-tiok memang agak jelek, alisnya ketel, matanya besar, hidungnya pesek pakai mendongak lagi lubang hidungnya, kedua daun kuping berkepak kayak kuping gajah, ketambahan pula bibirnya sangat tebal. Malahan sepanjang jalan ia kenyang dihajar Lam-hay-gok-sin hingga babak belur, waktu menumbuk dinding papan tadi juga terluka lagi, keruan rupanya semakin jelek.

Sejak kecil Hi-tiok sudah yatim piatu dan dipiara oleh hwesio yang menaruh kasihan padanya di Siau-lim-si. Para hwesio di biara itu adalah biksu yang saleh, kalau tidak tekun belajar silat tentu tenggelam di alam keagamaan mereka, maka tiada seorang pun yang perhatikan muka Hi-tiok itu jelek atau bagus.

Menurut Buddha, badan manusia itu adalah sebuah “kantong kulit busuk,” kantong kulit busuk yang jelek atau bagus tidak menjadi soal bagi mereka, jika banyak memikirkannya berarti pikirannya sudah mulai menyeleweng.

Sebab itulah, selama hidup Hi-tiok baru pertama kali ini didengarnya orang mengatakan dia seorang “hwesio cilik yang jelek.”

Waktu dia ditawan Lam-hay-gok-sin sepanjang jalan Yap Ji-nio juga suka menyebutnya sebagai “Ti-pak-kay” (Siluman Babi), “hwesio siluman” dan macam-macam lagi. Tapi ketika itu Hi-tiok lagi tersiksa karena kenyang dihajar, maka ia tidak sempat memerhatikan soal jelek atau bagusnya tampang manusia.

Kini demi mendengar orang itu juga mengatakan dia bermuka jelek, tiba-tiba hatinya tergerak, ia pikir, “Memangnya kau bagus?”

Segera ia mendongak untuk mengamat-amati orang.

Kiranya orang itu sangat tua, jenggotnya ada satu meter panjangnya, anehnya tetap hitam pekat, tiada seujung pun yang ubanan. Mukanya putih bersih, sedikit pun tidak berkerut sebagaimana umumnya terlihat pada muka keriput orang tua. Nyata orang ini berusia tua, tapi bermuka muda, bahkan boleh dikatakan sangat cakap.

Hi-tiok jadi malu, pikirnya, “Bicara tentang muka memang aku dan dia berbeda seperti langit dan bumi.”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

5 Comments »

  1. suhu, mau tanya.. kok di beberapa situs bab nya beda2 sih.. klo bab 60 ternyata malah bab 16.. kenapa bisa begitu ya? jadi pusing bacanya..

    Comment by ncomputing — 26/08/2009 @ 3:20 pm

  2. postingnya gak bemutu lain judulnya lain jg isinya

    Comment by anwar — 01/07/2011 @ 3:15 pm

  3. gitu ngak habis lagi,, buata org keki aja uda baca sampe 61

    Comment by Anonymous — 31/08/2011 @ 3:44 am

  4. Jadi Hi Tiok itu sebenernya buruk rupa ya, tapi di film selalu gak buruk rupa…kalo gak ganteng gak enak ditonton

    Comment by RIAN — 13/09/2011 @ 1:06 am

  5. KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH BISA SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH BISA SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH BISA SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH BISA SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH BISA SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH BISA SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    KAMI SEKELUARGA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH ATAS BANTUANNYA MBAH , NOMOR YANG MBAH BERIKAN/ 4D SGP& HK SAYA DAPAT (350) JUTA ALHAMDULILLAH TEMBUS, SELURUH HUTANG2 SAYA SUDAH SAYA LUNAS DAN KAMI BISAH USAHA LAGI. JIKA ANDA INGIN SEPERTI SAYA HUB MBAH_PURO _085_342_734_904_ terima kasih.الالله صلى الله عليه وسلموعليكوتهله صلى الل

    Comment by togel singapur — 18/02/2014 @ 4:48 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: