Kumpulan Cerita Silat

01/06/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 51

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 1:44 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Hah, itulah Sam-ceng Hwesio, orang Siau-lim-si kami,” kata Hian-lan. “Orang ini tidak taat kepada peraturan, makanya dihukum kurung dalam kamar batu. Rupanya badannya kelewat gede hingga dia tergencet gepeng dalam kamar batu itu. Siapakah gerangan yang mengantar dia minta obat pada Sih-siansing?”

“Orang yang datang bersama dia itu, wah, dia lebih-lebih aneh lagi, kepalanya memakai sebuah kerudung besi….”

Baru sekian Sih-sin-ih menutur lagi, serentak Pau Put-tong dan Hong Po-ok melonjak dan berseru, “Keparat, itu dia anak jadah yang kami cari. Syukurlah, dia terkena penyakit apakah?”

“Dia tidak sakit, tapi maksudnya ingin melepaskan kerudung besi pada kepalanya itu,” tutur Sih-sin-ih. “Tapi setelah kuperiksa, ternyata kerudung besi itu sudah melengket erat dengan kepalanya dan tidak dapat dilepaskan lagi.”

“Aha, aneh! Apa mungkin kerudung besi itu sudah tumbuh di atas kepalanya sejak dia jebrol dari kandungan ibunya?” ujar Put-tong.

“Tidak,” sahut Sih-sin-ih. “Kerudung besi itu tampaknya sengaja dipasang orang, yaitu ditangkupkan tatkala kerudung besi itu masih panas menganga sehingga kulit dagingnya meleleh, setelah lukanya sembuh, maka kerudung besi itu pun seakan-akan dicor di atas kepalanya dan tak bisa dilepas lagi. Untuk membukanya, hanya bisa dilakukan bila mau hidungnya ikut dikoyak-koyak.”

“Dia yang minta kerudungnya dilepaskan, biarpun akibatnya muka hancur semua juga tak dapat menyalahkanmu,” ujar Put-tong dengan dingin.

“Tapi persoalannya tidak begitu mudah,” tutur Sih-sin-ih. “Tulang Sam-ceng Hwesio yang patah itu gampang disembuhkan, untuk itu kukira Siau-lim-si juga mampu mengobatinya. Tapi kerudung besi Thi-thau-jin itu tidak mudah dilepas. Dan selagi aku ragu, dua orang kawannya yang mengantar itu menjadi tak sabar, tiba-tiba mereka berteriak-teriak suruh aku lekas bekerja.

“Hendaknya hadirin maklum bahwa orang she Sih ini mempunyai suatu sifat yang jelek, yaitu bila orang minta obat padaku, maka dia harus memohon dengan baik-baik, kalau mau gertak dan main paksa, haha, orang she Sih ini lebih suka mati juga tak mau menyembuhkannya.

“Seperti waktu pertemuan para kesatria di Cip-hian-ceng dahulu di mana Kiau Hong rela menyerempet bahaya dengan mengantar seorang nona cilik untuk minta obat padaku. Biasanya orang itu sangat ganas dan malang melintang tiada yang berani melawannya, tapi karena dia ingin minta tolong padaku, betapa pun dia harus bicara secara halus dan mohon dengan baik-baik padaku….”

Bercerita sampai di sini, ia jadi teringat ketika ia diselomoti A Cu dan tertutuk tak bisa berkutik serta jenggotnya dicukur hingga kelimis itu, hal itu adalah kejadian yang paling memalukan selama hidupnya, maka ia tidak jadi meneruskan lagi ceritanya.

Saat itu A Pik masih terpulas karena keracunan, coba kalau dia ikut mendengar cerita Sih-sin-ih tentang Kiau Hong membawa seorang nona cilik segala, tentu ia akan mengusut lebih jauh dan boleh jadi jejak A Cu akan dapat diketahuinya.

Dalam pada itu Pau Put-tong ikut menimbrung pula, “Ah, jangan omong besar? Ini, orang she Pau juga mempunyai suatu sifat yang aneh, kalau ada orang hendak mengobati penyakitku, maka dia harus memohon dengan baik-baik, bahkan perlu berlutut dan menyembah dulu padaku. Tapi kalau dipaksa dan digertak, haha, orang she Pau ini lebih suka mati kaku juga tidak sudi diobati orang.”

“Hahaha! Kau ini mestika juita apa?” tiba-tiba Kheng Kong-leng terbahak-bahak geli. “Masakah orang hendak menyembuhkan penyakitmu malah diharuskan menyembah dan memohon padamu, hahaha, kecuali… kecuali….”

“Kecuali kalau kau adalah putraku,” sambung Put-tong.

Kong-leng melengak. Tapi setelah dipikir-pikir, ia anggap ucapan Pau Put-tong memang ada benarnya juga. Coba, kalau ayah jatuh sakit dan tidak mau diperiksa tabib, dengan sendirinya anak akan terpaksa memohon dengan sangat padanya. Sama sekali tak terpikir olehnya bahwa ucapan Pau Put-tong itu justru sengaja hendak mengolok-oloknya. Maka ia pun menyahut, “Ya, benar! Tapi aku toh bukan putramu.”

“Kau putraku atau bukan hanya ibumu yang tahu, kau sendiri mana bisa tahu?” kata Put-tong.

Kembali Kong-leng melengak, lalu mengangguk-angguk dan berkata pula, “Ya, benar juga.”

“Hahahaha!” Put-tong terbahak-bahak geli, pikirnya dalam hati, “Guru Lakmoay ini sungguh seorang tolol!”

Maka Kongya Kian lantas menyela, “Sih-siansing, jika kedua orang itu main kasar padamu, tentu saja kau menolak untuk menolong mereka.”

“Ya, tatkala itu kontan juga aku menolaknya,” sahut Sih-sin-ih. “Tapi Thi-thau-jin itu ternyata sangat menghormat padaku, katanya, ‘Sih-siansing, kepandaianmu tiada tandingannya di dunia ini, orang Kangouw menamakanmu ‘Giam-ong-tek’, tidak sedikit jiwa orang yang telah kau hidupkan kembali, setiap orang Bu-lim sangat kagum dan menghormat padamu. Selamanya hamba juga sangat mengindahkanmu, malahan ayahku juga kenalan lama Sih-siansing, maka mohon engkau sudi menaruh belas kasihan dan tolonglah putra mendiang sobatmu ini.’.”

Asal-usul Thi-thau-jin alias Yu Goan-ci memang sangat menarik perhatian semua orang, maka demi mendengar cerita Sih-sin-ih bahwa bocah berkerudung besi itu mengaku sebagai “putra mendiang sobatmu”, segera mereka sama bertanya, “Siapakah ayahnya?”

“Siapa ayahnya hanya ibunya yang tahu, dia sendiri mana bisa tahu?” tiba-tiba Li Gui-lui alias Si Wayang Golek menukas. Yang ditirukan adalah lagu suara Pau Put-tong dengan persis sekali.

Maka tertawalah Pau Put-tong, katanya, “Bagus, pintar sekali kau menirukan suaraku. Kau memang darah daging keturunanku!”

“Pau-siansing suka berkelakar, Patte tidak perlu bersungguh-sungguh dengan dia,” kata Sih-sin-ih sebelum Li Gui-lui membalas olok-olok.

Lalu ia pun menyambung ceritanya, “Demi mendengar Thi-thau-jin itu mengaku sebagai putri mendiang sobatku, segera aku tanya siapakah ayahnya. Tapi dia bilang, ‘Nasib Siaujin terlalu jelek dan banyak membikin malu nama baik orang tua, maka tentang nama beliau Siaujin tidak berani menyebutnya lagi. Tapi waktu hidup ayahku memang benar adalah sobat baik Sih-siansing, hal ini seribu kali betul, Siaujin tidak berani memperalat nama mendiang ayahku untuk menipu orang.’

“Kudengar ucapannya sungguh-sungguh, rasanya tidak bohong. Tapi kenalanku terlalu banyak, meski aku sudah mengingat-ingat tetap tidak tahu siapakah ayahnya yang sudah meninggal itu. Kupikir bila kerudung besinya sudah dapat dilepaskan dari mukanya tentu akan dapat ditaksir siapakah gerangan ayahnya.

“Tengah aku berpikir salah seorang yang mengantar mereka itu sudah berteriak lagi, ‘Menurut titah Suhu, yang penting adalah menyembuhkan Sam-ceng Hwesio ini, tentang kerudung besi Thi-thau-jin itu dapat dibuka atau tidak bukan soal.’

“Aku jadi naik darah oleh ucapannya itu, jawabku, ‘Siapakah gurumu? Titahnya hanya dapat memerintahmu dan tak dapat memerintah aku, tahu?’

“Tapi sikap orang itu memang sangat kasar dan sewenang-wenang, katanya, ‘Kalau aku sebut nama guruku, mungkin nyalimu akan pecah ketakutan. Beliau hanya suruh kau lekas menyembuhkan luka hwesio gendut ini dan habis perkara, kalau terlambat hingga bikin kagok urusan beliau, seketika juga kami bisa dikirim melaporkan diri kepada Giam-lo-ong (raja akhirat).’

“Semula gusarku sungguh tidak kepalang, tapi kemudian kudengar logat suaranya agak aneh, rada mirip orang asing yang menirukan bahasa kita. Waktu aku mengamat-amati mukanya, kulihat rambutnya keriting dan matanya cekung, agak berbeda daripada bangsa Tionghoa kita. Mendadak aku teringat kepada seorang, segera kutanya dia, ‘Apakah kau datang dari Sing-siok-hay?’

“Orang itu agak terkejut dan menjawab, ‘Tajam juga matamu, ya? Memang betul aku datang dari Sing-siok-hay. Nah, jika sudah tahu, lekas mengobati hwesio gendut ini sebisanya!’ Kupikir sakit hati perguruan belum terbalas, mumpung anak murid Sing-siok Lokoay kupergoki sekarang, aku harus cari jalan untuk menuntut balas. Maka aku lantas pura-pura takut dan bertanya, ‘Sudah lama kukagumi kepandaian Sing-siok Losian yang mahasakti, sayang selama ini tidak sempat bertemu, entah sekarang Losian (dewa tua) juga datang ke Tionggoan atau tidak?’.”

“Cis, tidak kenal malu!” mendadak Pau Put-tong berolok-olok lagi. “Kan dapat menyebutnya sebagai Sing-siok Lokoay atau Sing-siok Lomo, mengapa begitu pengecut hingga menyebutnya ‘losian’ segala! Huh, tidak kenal malu!”

“Teguran Pau-siansing memang betul juga,” sahut Sih-sin-ih dengan tenang. “Sebenarnya maksudku hanya untuk memancing pengakuan orang itu saja, tapi dasar aku memang tidak biasa berpura-pura hingga air mukaku kelihatan rasa dendamku. Dan orang itu juga sangat licin, sekilas lihat saja lantas curiga dan segera mendahului mencengkeram pergelangan tanganku sambil membentak, ‘Apa maksudmu mencari tahu jejak suhuku?’

“Karena urusan sudah runyam, tanpa bicara lagi aku balas menutuk hingga kena hiat-to mematikan di tubuhnya. Segera kawannya mencabut belati berbisa terus menikam ke arahku, waktu itu aku tak bersenjata, ilmu silat jahanam itu cukup lihai pula, untunglah dalam keadaan bahaya itu mendadak Thi-thau-jin memisah, ia rampas belati kawannya itu dan berkata, ‘Suhu suruh kita ke sini untuk minta obat dan tidak suruh kita membunuh orang.’

“‘Capji Sute sudah dibunuh dia, apa kau tidak lihat?’ teriak orang itu dengan gusar. ‘Apa barangkali kau… putra mendiang sobatnya maka kau berani membela orang luar malah?’ Tapi si Thi-thau-jin menjawab, ‘Soal tabib ini akan kau bunuh atau tidak aku tak peduli, yang terang kalau hwesio gendut ini tak ditolong dulu tentu jiwanya akan melayang. Dan kalau hwesio ini mati, maka tiada orang lagi yang dapat menunjukkan jalan untuk mencari peng-jan (ulat sutra es), dan untuk ini kau harus bertanggung jawab kepada Suhu.’.”

“Thi-thau-jin itu juga murid Sing-siok Lokoay,” kata Put-tong. “Mereka bilang Sam-ceng Hwesio akan menunjukkan jalan untuk mencari peng-jan apa segala?”

“Hanya begitulah kudengar pembicaraan mereka, adapun duduk perkara yang sebenarnya aku sendiri tidak tahu,” sahut Sih-sin-ih. “Dan tatkala mereka sedang bertengkar sendiri, segera aku menyiapkan senjata. Tapi rupanya orang itu menjadi keder, lalu katanya, ‘Jika begitu, baiklah, tangkaplah sekarang tabib setan ini untuk menghadap Suhu.’

“‘Baik!’ sahut Thi-thau-jin itu dan mendadak tangan menggaplok dada orang itu hingga terbinasa seketika itu.”

Semua orang berseru kaget oleh kejadian tak terduga-duga itu. Hanya Pau Put-tong lantas berkata, “Itu tidak mengherankan, Thi-thau-jin itu ada kepentingan dan ingin minta pertolonganmu maka lebih dulu ia membunuh kawan sendiri untuk mengambil hatimu.”

Tapi Sih Boh-hoa menghela napas, katanya, “Sesaat itu aku pun tidak paham apa maksud tujuannya itu, entah disebabkan aku adalah sobat baik mendiang ayahnya, atau dia sengaja hendak mengambil hatiku. Selagi aku hendak tanya dia tiba-tiba dari jauh terdengar suara suitan nyaring. Sekonyong-konyong Thi-thau-jin itu tergetar, katanya, ‘Suhuku sedang memanggilku. Sih-pekhu, sebaiknya kau suka menyembuhkan hwesio gendut ini, dengan demikian mungkin Suhu takkan mempersoalkan terbunuhnya kedua muridnya ini.’ Habis berkata, terus saja ia bertindak pergi dengan tergesa-gesa dengan meninggalkan hwesio gendut itu.”

“Dan di manakah murid durhaka Sam-ceng itu?” tanya Hian-lan.

“Itu, telentang di sana,” kata Sih-sin-ih. “Mungkin setengah bulan saja akan dapat sembuh kembali.”

“Jika demikian jadi peti mati yang Sih-siansing pasang itu adalah untuk melayani susiok kalian?” tanya Hian-lan.

“Benar,” sahut Sih-sin-ih. “Jika Sing-siok Locat sudah datang ke Tionggoan, dua orang muridnya terbunuh pula di rumahku, lambat atau cepat pasti dia akan datang ke sini. Andaikan Thi-thau-jin itu dapat menutupi kejadian ini juga takkan lama mengelabui iblis itu. Sebab itulah aku pura-pura mati dan memasang racun jahat di dalam peti mati untuk memancingnya. Lalu aku memboyong segenap anggota keluargaku ke dalam gua sini. Dasar memang kebetulan, dua hari lagi adalah waktu pertemuan kami berdelapan saudara yang diadakan tiap-tiap lima tahun satu kali, beramai-ramai para saudara angkat itu sudah berada di sekitar sini dan kebetulan pula Hian-lan Taysu dan lain-lain keburu berkunjung kemari, seorang budak tua kurang pintar, ia salah sangka kalian adalah musuh yang kutakuti itu….”

“Haha, mungkin dia sangka Hian-lan Taysu adalah Sing-siok Lokoay dan kami ini adalah anak murid Sing-siok-pay,” tiba-tiba Put-tong menyela. “Tapi aneh juga, kalau tampangku dan kawan-kawanku ini terlalu jelek dan mirip siluman, maka dapat dimengerti jika kami disangka begundalnya Sing-siok Lokoay, namun Hian-lan Taysu toh kelihatan welas asih, kelihatan alim, kalau beliau disangka sebagai Sing-siok Lokoay, wah, sungguh keterlaluan!”

Semua orang mengangguk-angguk dan dapat menerima ucapan Pau Put-tong itu.

Sih-sin-ih juga berkata, “Ya, hal ini memang salah si budak tua itu. Malahan budak itu khawatir kalau kami sekeluarga menjadi korban keganasan Lokoay, maka dia telah melanggar pesanku terus menyalakan ‘liu-sing-hwe-bau’ (bunga api bentuk roket) yang biasanya dipakai saling memberi tanda dengan para saudara seperguruanku.

“Liu-sing-hwe-bau itu buatan Liok-sute kami, bila dinyalakan segera menjulang ke langit dengan cahaya yang beraneka warna. Kami berdelapan saudara masing-masing mempunyai bunga api tanda pengenal sendiri-sendiri dan segera akan diketahui siapa yang datang jika bunga api dilepaskan.

“Kejadian tadi boleh dikata ada untung dan tidak beruntung. Untungnya tatkala terancam bahaya kami berdelapan bisa berkumpul untuk bersama-sama melawan musuh. Tapi karena itu juga dapat dijaring sekaligus oleh Sing-siok Lokoay, maka boleh juga dikatakan tidak beruntung.”

“Biarpun kepandaian Sing-siok Lokoay teramat lihai juga belum tentu mampu menandingi padri sakti Siau-lim-si seperti Hian-lan Taysu,” kata Pau Put-tong. “Apalagi kalau ditambah dengan kita kaum keroco ini, jika kita melawannya dengan mati-matian, rasanya juga belum tentu akan kalah, mengapa mesti… mesti….”

Sampai di sini ucapannya, mendadak giginya berkertukan, racun dingin dalam badannya kembali kumat hingga tidak sanggup bicara.

Pada saat itulah suara halus tajam tadi kembali berkumandang masuk ke dalam gua, kata suara itu, “Ayo, itu anak murid So Sing-ho, lekas keluar saja dan menyerahkan diri, dengan demikian mungkin jiwa kalian akan dapat diampuni, jika ayal-ayalan, awas jangan menyesal jika aku tidak ingat kepada sesama perguruan lagi!”

“Huh, dia masih punya muka untuk bicara tentang sesama perguruan segala?” jengek Kheng Kong-leng.

Hoan Pek-ling orangnya lebih sabar dan dapat berpikir panjang, katanya, “Thio-lakte, jika kita tinggal diam tak menggubris dia, kira-kira saja Ting-lokoay dapat menyerbu ke sini atau tidak?”

Tapi Thio A Sam tidak menjawab, sebaliknya ia tanya malah kepada Sih-sin-ih, “Goko, kalau melihat batu dalam gua ini, agaknya ini adalah bangunan pada 300 tahun yang lalu, entah atas ciptaan arsitek siapakah?”

“Tempat ini adalah warisan leluhurku, turun-temurun sudah ada gua pelindung ini, tentang siapa yang membangunnya, aku sendiri tidak tahu,” sahut Sih Boh-hoa alias Sih-sin-ih.

“Bagus, kau mempunyai liang kura-kura sebagus ini, tapi selamanya tidak pernah kau katakan pada kami,” seru Kheng Kong-leng.

Sih-sin-ih tampak merasa jengah, katanya, “Harap Toako suka maafkan. Gua semacam ini bukan sesuatu yang dapat dibanggakan, maka tiada harganya untuk dibicarakan….”

Sampai di sini, sekonyong-konyong terdengar suara letusan yang dahsyat bagaikan gempa bumi. Kaki semua orang yang berada dalam gua merasa bumi seolah-olah terguncang hingga berdiri pun tak bisa tegak.

“Celaka! Ting-lokoay menggunakan dinamit untuk meledakkan gua ini, dalam sekejap saja tentu dia akan menyerbu ke sini,” seru Thio A Sam dengan khawatir.

“Keparat, dasar manusia rendah, iblis laknat!” maki Kheng Kong-leng dengan gusar. “Cosuya dan Suhu kami adalah ahli bangunan dan arsitek terpandai, segala ilmu pesawat rahasia bagi beliau-beliau itu adalah kepandaian yang sepele. Tapi Sing-siok Lokoay ini tidak becus memecahkan jalan pesawat rahasia gua ini, dia terus menggunakan obat peledak! Huh, masakah dia ada harganya untuk disebut anak murid perguruan kita?”

Segera Pau Put-tong mengejek, “Dia sudah membunuh guru dan melukai Suheng, masakah kalian masih mengaku dia sebagai susiok?”

Belum lagi Kheng Kong-leng menjawab, tiba-tiba terdengar suara ledakan yang hebat hingga debu pasir bertebaran dalam gua dan keadaan menjadi terang.

“Daripada mati konyol di sini, lebih baik kita serbu keluar untuk mengadu jiwa dengan dia saja,” ujar Hian-lan.

Segera Ting Pek-jwan, Kongya Kian, Pau Put-tong, dan Hong Po-ok berempat menyatakan akur. Hoan Pek-ling dan kawan-kawannya juga tahu Hian-lan adalah padri terkemuka Siau-lim-pay, kalau dia disuruh sembunyi di dalam gua dan tidak berani menghadapi musuh, hal ini sesungguhnya sangat merugikan nama kebesaran Siau-lim-si. Toh akhirnya juga mesti mati, terang pertarungan sengit tak bisa dihindarkan, maka Pek-ling lantas menanggapi, “Baiklah, jika begitu kita keluar bersama untuk mengadu jiwa dengan Lokoay! Tapi Hian-lan Taysu tiada permusuhan apa-apa dengan Ting-lokoay, lebih baik jangan ikut campur urusan kami dan para Taysu dari Siau-lim-pay disilakan menonton saja nanti.”

“Tidak, setiap urusan dunia persilatan menjadi kewajiban Siau-lim-pay untuk ikut ambil bagian, maka harap maaf, terpaksa Siau-lim-pay nanti juga akan ikut campur,” kata Hian-lan.

“Atas budi luhur Taysu yang sudi membantu sudah tentu kami berdelapan saudara sangat berterima kasih,” kata Thio A Sam. “Sekarang kita boleh keluar melalui jalan semula saja, biar Lokoay itu terperanjat di luar dugaan.”

Semua orang menyatakan tepat pikiran Thio A Sam itu.

Lalu A Sam berkata lagi, “Adapun anggota keluarga Sih-goko dan kedua saudara Pau dan Hong disilakan tinggal di sini saja, rasanya Ting-lokoay tidak sampai menggeledah ke dalam sini!”

“Kau sendiri saja yang ditinggalkan di sini!” kontan Pau Put-tong menyahut dengan mata melotot.

“Bukannya kupandang rendah kepada saudara berdua,” lekas A Sam memberi penjelasan. “Cuma kalian sudah menderita keracunan, kalau mesti bertempur lagi tentu akan kurang leluasa.”

“Semakin parah aku menderita, semakin bersemangat aku akan bertempur,” sahut Put-tong.

Keruan Hoan Pek-ling dan lain-lain berkerut kening, merasa Pau Put-tong ini benar-benar seorang kepala batu dan susah diberi mengerti.

Segera A Sam putar tombol pesawat rahasia, lalu mendahului bertindak keluar dengan cepat, baru saja suara berkeriang-keriut itu berbunyi dan lubang keluar itu baru terbuka sedikit, terus saja Thio A Sam melemparkan dulu tiga buah peluru keluar, maka terdengarlah suara letusan tiga kali menyusul asap tebal lantas memenuhi udara hingga jalan keluar itu hampir tidak kelihatan.

Maksud Thio A Sam dengan meledakkan granat asap itu adalah supaya Sing-siok Lokoay tidak berani mendekat, sebab kalau iblis itu sampai berjaga di mulut gua itu, maka setiap orang yang baru menongol keluar tentu akan dibekuknya dengan gampang.

Begitulah setelah tiga suara letusan itu lenyap sementara itu lubang papan batu itu sudah terbuka lebih lebar dan cukup untuk dilalui orang, maka kembali A Sam melemparkan pula tiga buah granat itu, menyusul ia lantas melompat keluar.

Dan belum lagi Thio A Sam berdiri atau mendadak sesosok bayangan orang sudah menyelinap lewat di sebelahnya. Dan sekali melompat lagi, terus saja orang itu menerjang ke arah gerombolan orang yang berdiri di sana sambil berteriak, “Mana Sing-siok Lokoay? Ini, biar orang she Hong berkenalan dengan dia!”

Kiranya orang itu tak-lain-tak-bukan adalah It-tin-hong Hong Po-ok, Si Angin Puyuh. Ia lihat seorang lelaki berbaju kain belacu sudah mengadang di depannya, segera ia membentak pula, “Meski kau bukan Sing-siok Lokoay, tapi rasakan juga kepalanku ini!”

Kontan ia menghantam. “Blang”, dengan cepat sekali dada orang itu kena digenjotnya.

Lelaki itu adalah murid kesembilan Sing-siok-pay, dalam keadaan tak berjaga-jaga dan tak terduga ia kena digenjot sekali dengan keras, untung ilmu silatnya juga tidak lemah, ia hanya sempoyongan sedikit saja, lalu balas menjotos, “plok”, serangannya juga tepat kena pundak Hong Po-ok.

Maka terdengarlah suara “plak-plok” berulang-ulang, kedua orang saling genjot kian-kemari, setiap hantaman mereka selalu mengenai sasarannya, cuma pukulan dari dekat tidak terlalu hebat hingga tidak membahayakan jiwa masing-masing.

Dalam pada itu dari bawah tanah terdengar “siat-siut” berulang-ulang, Hian-lan, Ting Pek-jwan, Kheng Kong-leng dan lain-lain berturut-turut juga sudah melompat keluar. Segera mereka melihat di tengah kabut asap yang tebal di sebelah sana berdiri seorang kakek berperawakan tinggi besar, di kanan-kirinya berdiri pula dua baris orang lelaki yang beraneka ragam bangun tubuhnya, ada yang jangkung dan ada yang pendek.

“Hah, Ting-locat, kiranya kau belum mati, apa kau masih kenal padaku?” segera Kong-leng berteriak.

Kakek tinggi besar itu memang betul adalah Sing-siok Lokoay, Ting Jun-jiu. Sekilas pandang saja ia sudah dapat mengenali para lawannya itu. Ia tidak menjawab olok-olok Kheng Kong-leng, sebaliknya berkata, “Boh-hoa Hiantit (keponakan yang baik), apa sudah kau sembuhkan hwesio gendut dari Siau-lim-si itu? Jika sudah, aku akan mengampuni jiwamu asalkan kau mau masuk ke dalam perguruan Sing-siok-pay kami.”

Rupanya yang dia pikirkan waktu itu adalah secepat mungkin supaya Sih Boh-hoa dapat menyembuhkan Sam-ceng Hwesio, lalu akan suruh padri buntek itu menunjukkan jalan ke Kun-lun-san untuk mencari ulat sutra es.

Melihat lagak Ting-lokoay seakan-akan menganggap sepi semua orang yang berada di hadapannya itu, seolah-olah mati-hidup setiap orang yang berada di situ adalah tergantung pada dia, maka diam-diam Sih-sin-ih sangat takut, sebab ia cukup kenal betapa lihainya sang susiok durhaka itu.

Tapi ia pun menjawab dengan ketus, “Ting-locat, di dunia ini hanya ada seorang saja yang mampu memerintah aku, apa yang dia katakan tentu aku akan menurut. Jika kau hendak membunuh aku, hal ini memang sangat mudah bagimu. Tapi bila kau suruh aku mengobati seorang, tidak nanti aku tunduk padamu, ya, kecuali kau minta izin kepada beliau.”

“Hm, kau hanya tunduk kepada perintah So Sing-ho saja, begitu?” tanya Ting Jun-jiu.

“Memang hanya hewan saja yang berani mendurhakai guru sendiri,” sahut Boh-hoa.

Serentak Kheng Kong-leng, Hoan Pek-ling dan kawan-kawannya bersorak memuji atas jawaban Sih-sin-ih yang gagah berani itu.

“Hm, bagus, bagus! Kalian betul-betul murid So Sing-ho yang baik,” kata Ting Jun-jiu. “Tapi So Sing-ho pernah memberi tahu padaku, katanya kalian berdelapan sudah diusir dan tidak diakui sebagai murid lagi. Apa barangkali ucapan Sing-ho itu hanya kentut belaka dan diam-diam dia masih menganggap kalian sebagai muridnya?”

“Sekali beliau guru kami, tetap beliau adalah guru kami sampai akhir zaman,” sahut Hoan Pek-ling. “Memang betul selama ini kami telah diusir dari perguruan dan dilarang berkunjung kepada beliau. Namun rasa cinta kasih kami kepada Suhu sedikit pun tidak menjadi berkurang. Nah, orang she Ting, untuk bicara terus terang, kami berdelapan orang ini sampai berubah menjadi setan gentayangan tanpa tempat tinggal tetap, semua itu adalah gara-gara perbuatanmu bangsat tua ini.”

“Benar juga ucapanmu ini,” sahut Ting Jun-jiu dengan tersenyum. “So Sing-ho takut kalau kubunuh kalian, dia mengusir kalian keluar perguruan supaya jiwa anjing kalian bisa selamat. Hehe, bagus, juga! Nah, katakanlah sendiri, sampai sekarang So Sing-ho masih terhitung guru kalian atau bukan?”

Kheng Kong-leng dan kawan-kawannya insaf bila tidak melepaskan kedudukan sebagai “muridnya So Sing-ho”, maka segera Sing-siok Lokoay akan membunuh mereka. Tapi betapa pun hubungan antara guru dan murid tidak dapat dihapuskan dengan ancaman, apalagi Sing-siok Lokoay sangat kejam, sekali sudah menyalahi dia, memangnya juga tiada ampun lagi bagi mereka.

Maka kecuali si wanita cantik yang terluka itu tertinggal di gua, mereka bertujuh segera menjawab dengan tegas, “Kami meski sudah diusir keluar perguruan, tentang hubungan guru dan murid sudah tentu tetap kami pertahankan.”

Mendadak Li Gui-lui berseru pula, “Aku ini Thian-san Tong-lo adanya! Kau binatang bedebah ini, biar tongkatku ini patahkan kaki anjingmu!”

Ia bicara dengan menirukan nada wanita tua, suaranya keparau-parauan, tapi sangat lantang.

Sejak tadi sebenarnya Ting Jun-jiu tenang dan senang, saja, tapi demi mendengar nama ‘Thian-san Tong-lo’ (Si Nenek Bocah Dewi Kahyangan), tiba-tiba air mukanya berubah juga, matanya memantulkan sinar tajam yang aneh, mendadak ia mengebas lengan bajunya, tahu-tahu setitik api fosfor secepat bintang meluncur melayang ke tubuh Li Gui-lui.

Ada maksud si anak wayang itu buat berkelit tapi terlambat, “nyos”, bajunya terjilat api terus berkobar. Lekas ia menjatuhkan diri ke tanah sambil berguling-guling, tapi celaka, makin berguling makin keras api fosfor itu.

Cepat Hoan Pek-ling merangkup pasir dari tanah dan ditebarkan pada badan Li Gui-lui. Dan pada saat itu juga lengan baju Ting Jun-jiu berulang-ulang mengebas pula, lima titik api berbareng menyambar ke arah Kheng Kong-leng berlima, hanya Sih-sin-ih saja yang tidak diincar.

Segera Kong-leng menghantam dengan kedua tangannya, ia tolak ke samping titik api yang menyambar ke arahnya itu. Hian-lan juga menggeraki kedua tangan dan membantu menghantam jatuh dua titik api, namun dua titik api yang lain sudah mengenai tubuh Thio A Sam dan Hoan Pek-ling.

Api fosfor yang dilepaskan Sing-siok Lokoay ini barang tentu lebih lihai daripada muridnya yang tertua, yaitu Ti-sing-cu. Maka dalam sekejap saja di tengah taman lantas penuh bau hangus. Thio A Sam bertiga berkaok-kaok kesakitan karena terbakar.

Serentak suara puja-puji anak murid Sing-siok Lokoay berjangkit, ada yang memuja kepandaian suhu mereka yang dikatakan setinggi langit, ada yang mengejek Thio A Sam dan kawan-kawannya yang terbakar bagai babi panggang itu dan disuruh lekas menyerah saja.

Tapi Pau Put-tong lantas berteriak-teriak, “Ai, baunya bacin amat! Kalian jangan kentut terus, aku bisa mati sesak! Wahai, Ting-locat, kulit mukamu sungguh sangat tebal!”

Sementara itu Ting Pek-jwan dan Kongya Kian sudah bersiap-siap. Benar saja, belum lagi ucapan Pau Put-tong lenyap, dua titik api menyambar ke arahnya. Cepat Pek-jwan dan Kongya Kian menghantamkan sebelah tangan masing-masing, dua rangkum tenaga pukulan membentur jatuh kedua titik api itu. Namun tidak urung dada mereka juga terasa seperti digodam kerasnya hingga terhuyung-huyung mundur beberapa tindak.

Kiranya Ting Jun-jiu menggunakan tenaga dalam yang sangat kuat untuk mengebaskan api fosfornya itu. Lwekang Hian-lan lebih kuat daripada Pek-jwan berdua, maka ia tidak tergetar ketika menghantam jatuh titik api dengan tenaga pukulannya tadi, sebaliknya Pek-jwan dan Kongya Kian jauh lebih lemah daripada Sing-siok Lokoay, maka ketika tenaga dalam iblis itu mendesak, kedua orang itu tidak sanggup bertahan.

Dalam pada itu Hian-lan telah melompat ke samping Li Gui-lui, ia hantamkan sebelah tangannya, tenaga pukulannya menyambar lewat badan si anak wayang yang masih berguling-guling di tanah itu, “bret” terdengar baju Li Gui-lui terobek dan api yang sedang membakar itu pun kena dipadamkan oleh angin pukulannya.

“Hah, boleh juga tenaga pukulan keledai gundul ini, kira-kira mencapai sepersepuluh kekuatan Suhu,” seru seorang murid Sing-siok-pay.

“Mana bisa, paling-paling hanya seperseratus Suhu saja!” ujar kawannya.

Setelah memadamkan api di badan Li Gui-lui, menyusul Hian-lan mengerahkan angin pukulannya pula hingga api di tubuh Hoan Pek-ling dan Thio A Sam juga dipadamkan.

Tatkala itu Ting Pek-jwan, Kongya Kian, Kheng Kong-leng, dan lain-lain sudah menerjang ke arah anak murid Sing-siok-pay dan terjadilah pertarungan sengit.

Ting Jun-jiu mengelus-elus jenggotnya dan berkata, “Ehm, padri sakti Siau-lim-si memang lain daripada yang lain, hari ini dapatlah kubelajar kenal, mari!”

Ia terus melangkah maju, pukulan pertama dilontarkan dengan enteng sekali kelihatannya ke arah Hian-lan.

Meski Hian-lan belum pernah bertempur melawan orang Sing-siok-pay, tapi ia cukup kenal “Hoa-kang-tay-hoat” Ting-lokoay yang lihai, ia tahu ilmu golongan sia-pay ini dapat menghapus lwekang lawan hingga lawan tak bisa berkutik lagi dan ilmu silat yang dimilikinya akan musnah seluruhnya.

Karena itu Hian-lan tidak berani ayal, sekali ia menarik napas panjang-panjang, menyusul kedua tangan terus bergerak sebagai kitiran cepatnya, sekaligus ia lontarkan 18 kali pukulan secara berantai, belum lagi pukulan yang satu ditarik kembali atau pukulan yang lain sudah dilontarkan, dengan demikian, Hoa-kang-tay-hoat yang hendak digunakan Ting Jun-jiu menjadi tidak menemukan sasarannya.

Dan “pukulan kilat” model Siau-lim-si ini ternyata sangat hebat daya tekanannya hingga Ting Jun-jiu terdesak mundur berulang-ulang. Secepat kilat Hian-lan melontarkan 18 kali pukulan dan Ting Jun-jiu dipaksa mundur 18 tindak.

Habis melontarkan 18 kali pukulan, segera tendangan kedua kaki secara berantai dikeluarkan lagi, kembali 36 kali tendangan kilat melayang-layang, bayangan kaki menyambar, hingga sukar dilihat kaki kanan atau kaki kiri.

Dengan cepat Ting Jun-jiu juga menggeser kian-kemari untuk menghindar dan semua tendangan baru saja dapat dielakkan, tahu-tahu terdengar suara “plak-plok” dua kali, pundak kena digebuk oleh kepalan Hian-lan.

Kiranya dalam “Lian-hoan-sah-cap-lak-tui” atau 36 kali tendangan secara berantai itu, tatkala dua kali tendangan terakhir dilontarkan, berbareng Hian-lan juga menghantam. Maka Ting Jun-jiu hanya dapat menghindarkan tendangannya dan tidak sempat berkelit atas pukulan itu.

“Lihai benar!” teriak Ting Jun-jiu terkena kedua kali pukulan itu dan tubuh pun tergeliat dua kali.

Sebaliknya Hian-lan lantas merasa dada seperti “blong” kosong, seketika terasa seperti hilang sesuatu. Ia insaf gelagat jelek, cepat ia tarik napas panjang-panjang hingga hawa murni dalam tubuh merata lagi, menyusul kepalan menghantam pula.

Sekali ini Ting Jun-jiu sengaja membalik tubuhnya, ia sambut pukulan lawan dengan punggung, “bluk”, tepat punggung terhantam, menyusul kelima jari Hian-lan sebagai cakar terus mencengkeram kuduknya. Tapi mendadak ia merasa tangan seperti melengket, seperti tersedot dan susah ditarik kembali.

Dalam keadaan demikian mau tidak mau ia harus mengadu tenaga dalam, kalau tidak lantas mengerahkan tenaga sekuatnya, bukan mustahil keadaan akan lebih runyam.

Tak terduga, sekali Hian-lan mengerahkan tenaganya, seketika tenaga murni itu seakan-akan air mencurah ke laut saja, hilang tak berbekas, bahkan terus merembes keluar dan susah ditahan kembali.

Tiada seminuman teh, ketika Ting Jun-jiu bergelak tertawa sekali sambil mengangkat pundak “bluk” tahu-tahu Hian-lan jatuh terkulai, tenaganya habis dan lemas tubuhnya, untuk berdiri saja tak bisa lagi.

Setelah menjatuhkan Hian-lan dengan sikapnya yang kereng Ting Jun-jiu memandang sekelilingnya, ia lihat Kongya Kian dan Hoan Pek-ling juga sudah menggeletak di tanah dengan badan menggigil, kiranya terkena pukulan racun dingin Yu Goan-ci.

Sedangkan Ting Pek-jwan, Sih Boh-hoa, dan lain-lain masih bertempur dengan sengit melawan murid Sing-siok-hay dan sudah ada empat orang yang dirobohkan juga.

Dengan lengan baju yang komprang Ting Jun-jiu terus mengebas sambil melompat maju, ia menubruk ke arah Ting Pek-jwan dan mengadu pukulan dengan dia, sedangkan kaki menyapu ke samping hingga Pau Put-tong didepak terjungkal.

Begitu tangan Ting Pek-jwan beradu dengan tangan Sing-siok Lokoay, seketika ia merasa seperti badan meriang, kaki enteng mengambang, cepat ia bermaksud menenangkan pikiran dan menghimpun tenaga, namun kembali pukulan Ting Jun-jiu yang lain dilontarkan pula, terpaksa Pek-jwan memapak lagi dengan sebelah tangannya, tapi seketika lengan terasa beku, semangat buyar, pandangan kabur.

Ketika seorang murid Sing-siok-hay mendekatinya dan sekali sikut, kontan Pek-jwan jatuh lemas ke tanah.

Hanya dalam sekejap saja anak buah Buyung-kongcu, para padri Siau-lim-si dengan Hian-lan sendiri beserta Yu-kok-pat-yu yang dikepalai Kheng Kong-leng telah dirobohkan oleh Ting Jun-jiu dan Yu Goan-ci.

Sebenarnya Goan-ci cuma memiliki tenaga dalam yang mahakuat, sedangkan ilmu silat hanya biasa saja. Namun selama ikut Ting Jun-jiu ia telah banyak mendapat petunjuk iblis tua itu hingga hal tipu pukulan sudah banyak mendapat kemajuan walaupun belum sempurna cara penggunaannya, tapi untuk mengerahkan Pek-jan-han-tok (racun dingin ulat sutra es) dalam tubuhnya sudah lebih dari cukup.

Sebab itulah, ketika Kongya Kian dan lain-lain mengadu tangan dengan dia, meski nyata-nyata ilmu pukulan dan tenaga pukulan mereka jauh lebih hebat daripada Goan-ci, tapi setelah tangan membentur tangan, seketika mereka dirobohkan dengan terluka dalam.

Di antara mereka hanya tinggal Sih Boh-hoa alias Sih-sin-ih saja yang tidak diganggu gugat. Beberapa kali ia terjang lawan, tapi anak murid Sing-siok-pay selalu menghindarinya dengan tersenyum dan tidak balas menyerang.

“Sih-hiantit,” kata Ting Jun-jiu dengan tertawa, “di antara kalian berdelapan nyata kepandaianmu yang paling tinggi, apakah kau ingin jajal-jajal juga dengan susiokmu?”

Melihat para saudara seperguruannya menggeletak semua dan hanya dia sendiri tidak diapa-apakan, sudah tentu Sih Boh-hoa tahu pihak lawan sengaja tidak mau mengganggunya, maksud tujuan lawan tidak lain adalah supaya dia menyembuhkan hwesio gendut itu.

Maka berkatalah Sih-sin-ih dengan menghela napas, “Ting-locat, maksudmu memaksa aku mengobati orang, hendaklah jangan kau harap akan dapat memaksa diriku!”

“Coba maju ke sini, Sih-hiantit,” kata Ting-lokoay.

Sih-sin-ih pikir tiada gunanya buat membangkang, sebab kalau iblis itu hendak mencabut nyawanya boleh dikata segampang mengambil barang di kantong sendiri. Karena itu ia lantas melangkah maju ke depan Sing-siok Lokoay.

Tiba-tiba Ting Jun-jiu mengangsurkan tangan kirinya dan memegang pundak Sih Boh-hoa, lalu katanya dengan tersenyum, “Sih-hiantit, sudah berapa lama kau belajar ilmu silat?”

“Tiga puluh lima tahun,” sahut Sih-sin-ih.

“Wah, ketekunan selama 35 tahun sesungguhnya tidaklah gampang,” ujar iblis tua itu dengan menghela napas. “Kabarnya kau suka menukar ilmu silat orang dengan jasa pengobatanmu, maka sudah tidak sedikit tipu ilmu silat bagus berbagai golongan yang telah kau pelajari, betul tidak hal ini?”

“Ya, tapi kepandaian yang tiada artinya ini sudah tentu tak bernilai dalam pandanganmu,” sahut Si Tabib Sakti.

“Bukan demikian maksudku,” ujar Ting-lokoay sambil geleng kepala. “Meski tenaga dalam merupakan alas dasar dan tipu gerakan cuma ranting dan daunnya saja, namun kalau alas dasarnya kuat, dengan sendirinya ranting dan daunnya juga tumbuh dengan subur, tipu gerakan juga bukannya tiada berguna. Misalnya muridku ini….”

Ia tunjuk Yu Goan-ci, lalu meneruskan, “Tenaga dalamnya sangat kuat, bila ditambah lagi tipu serangan seluas apa yang dipahami Sih-hiantit, maka miriplah harimau tumbuh sayap dan akan dapat malang melintang di dunia persilatan Tionggoan. Adapun lwekang Sih-hiantit memang agak lemah sedikit, tapi bukannya tidak dapat dipenuhi kekurangan itu dengan tipu serangan yang hebat. Cuma saja kalau tenaga dalam sampai hilang sama sekali, maka berarti kelumpuhan, sama saja seperti orang cacat, bukan cuma ilmu silatnya saja yang punah, bahkan ketajaman otak juga akan terganggu, untuk bisa mengobati orang lagi jelas jangan harap.”

Keringat dingin tampak merembes keluar di jidat Sih Boh-hoa, ia tahu apa yang dikatakan Sing-siok Lokoay itu sengaja digunakan untuk mengancamnya, ia merasa tangan orang yang menahan di pundaknya rada panas, tampaknya setiap waktu Hoa-kang-tay-hoat yang lihai itu dapat dikeluarkan dan kungfu 35 tahun yang dilatihnya akan musnah sama sekali.

Dalam pada itu Ting Jun-jiu sedang tanya lagi, “Apa yang kukatakan itu kau percaya tidak?”

“Omonganmu seperti orang kentut, siapa yang mau percaya?” teriak seorang tiba-tiba. Kiranya Pau Put-tong yang menggeletak di tanah itu.

Lokoay tidak menggubrisnya, sebaliknya dengan sinar mata yang tajam ia tatap Sih Boh-hoa untuk menanti jawabannya.

Maka dengan mengertak gigi si Tabib Sakti berkata, “Dengan kejam telah kau bunuh suhu sendiri dan melukai suheng, andaikan sekarang kau bunuh lagi kami berdelapan saudara, apa sih artinya bagimu? Tentang latihanku selama 35 tahun akan musnah, hal ini memang harus dibuat sayang, tapi kalau keselamatan jiwa saja tak bisa dipertahankan, kenapa mesti pikirkan tentang kepandaian yang dilatihnya segala?”

“Bagus, bedebah! Jawabanmu itu sungguh gagah berani!” sorak Pau Put-tong. Untuk memuji saja mesti disertai makian.

Tapi Ting-lokoay lantas berkata, “Sih-hiantit, sementara aku takkan membunuhmu, aku hanya ingin tanya satu kalimat padamu, ‘Kau mau menyembuhkan hwesio gendut itu atau tidak?’ Nah, asal kau jawab tidak, segera akan kubunuh toasuhengmu, Kheng Kong-leng. Jika kedua kali kutanya dan kau tetap menjawab tidak, maka giliran jisuhengmu Hoan Pek-ling yang akan kubunuh dan begitu seterusnya, akan kutanya sampai delapan kali hingga patsutemu Li Gui-lui kubunuh, bila kedelapan kalinya kutanya lagi dan kau tetap menyatakan tidak mau mengobati, maka, coba terka bagaimana tindakanku nanti?”

Sih Boh-hoa menjadi pucat mendengar cara Lokoay yang keji itu, tapi jawabnya tegas, “Paling-paling aku akan kau bunuh juga, apa yang mesti kukhawatirkan?”

“Tidak, aku tidak perlu buru-buru membunuhmu,” ujar Ting-lokoay dengan tersenyum. “Jika untuk kedelapan kalinya kutanya dan jawabmu tetap tidak, maka aku akan pergi membunuh seorang yang mengaku sebagai ‘Cong-pian Siansing’ alias So Sing-ho.”

“Kau berani mengganggu seujung rambut guruku, Ting-locat?” teriak Sih-sin-ih dengan murka.

“Kenapa tidak berarti?” jawab Ting-lokoay. “Tindak-tanduk Sing-siok Losian selamanya bebas merdeka, apa yang kukatakan sekarang, besok juga boleh kulupakan. Meski aku pernah berjanji kepada So Sing-ho asalkan dia selanjutnya tidak membuka suara, maka aku berjanji takkan membunuh dia. Tapi sekarang kau membikin marah padaku, akibat perbuatanmu ini akan kuperhitungkan juga atas utang gurumu, dan kalau kubunuh dia, di dunia ini siapa yang berani melarang aku?”

Pikiran Sih Boh-hoa kusut marut, ia tahu segala perbuatan keji dapat dilakukan susiok durhaka ini, jika dirinya sekarang berkeras kepala tidak mau mengobati Sam-ceng, terang jiwa ketujuh saudara seperguruan akan menjadi korban, bahkan keselamatan Suhu mungkin juga tidak terjamin lagi. Sebaliknya kalau hwesio gendut itu disembuhkan, hal ini berarti membantu kejahatan iblis tua itu, sebab maksud tujuannya menyembuhkan hwesio gendut itu tentu mempunyai rencana keji lain.

Sesudah berpikir, akhirnya Sih-sin-ih menjawab juga, “Baiklah, aku menyerah padamu. Tapi sesudah hwesio gendut ini kusembuhkan, tidak boleh lagi kau bikin susah Suhu dan kawan-kawan yang berada di sini.”

“Boleh, boleh, boleh!” sahut Ting-lokoay dengan girang. “Aku berjanji akan mengampuni jiwa anjing mereka.”

“Siapa sudi diampuni olehmu?” tiba-tiba Pek-jwan menyela. “Seorang laki-laki sejati kenapa mesti takut mati? Tapi perbuatanmu yang keji ini kelak tentu akan mendapatkan ganjaran yang setimpal.”

“Keparat, Sih Boh-hoa, jangan mau tertipu, bangsat itu tadi sudah mengaku sendiri bahwa apa yang pernah dikatakan besok juga bisa dilupakan, masakah kau masih percaya padanya?” segera Pau Put-tong juga menimbrung.

Namun Ting-lokoay tak peduli, ia tanya lagi, “Sih-hiantit, nah, sekarang aku akan mulai tanya padamu, kau mau mengobati hwesio gendut itu tidak?”

Habis berkata, sebelah kakinya terus terangkat dengan ujung kaki mengarah “thay-yang-hiat”, yaitu bagian pelipis kepala Kheng Kong-leng.

Nyata, asal si Tabib Sakti menjawab tidak, seketika kakinya akan menendang dari jauh dan jiwa Kheng Kong-leng seketika akan melayang.

Menghadapi detik demikian, hati semua orang ikut berdebar-debar. Mendadak terdengar seorang berteriak, “Tidak mau!”

Yang berteriak ini ternyata bukan Sih-sin-ih, tapi Kheng Kong-leng sendiri.

“Hm, ingin sekali tendang kucabut nyawamu? Tidak begitu gampang urusannya?” jengek Ting-lokoay. Lalu ia berpaling kepada Sih-sin-ih dari bertanya lagi, “Apakah kau ingin membunuh toasuhengmu melalui kakiku ini?”

“Ya, sudahlah, aku akan menyembuhkan hwesio gendut itu menurut keinginanmu,” sahut Sih-sin-ih akhirnya dengan patah semangat.

“Sih-longo!” segera Kheng Kong-leng memaki, “kenapa kau begini pengecut? Ting-locat adalah musuh perguruan kita, tapi kau kena ditaklukkan di bawah ancamannya?”

“Soal kita berdelapan akan dibunuhnya bukanlah hal yang luar biasa,” sahut Sih Boh-hoa. “Tapi kau sendiri kan dengar juga bahwa bangsat tua ini juga akan mengganggu Suhu?”

Demi teringat kepada keselamatan sang guru, Kheng Kong-leng dan lain-lain menjadi tak berani buka suara lagi.

“Penge….” mendadak Pau Put-tong hendak mengejek, tapi keburu didekap mulutnya oleh Ting Pek-jwan.

“Nah, Ting-locat, akan kuturut keinginanmu untuk menyembuhkan hwesio gendut itu, dan kau harus ramah tamah terhadap kawan-kawanku ini,” kata Sih-sin-ih.

“Baik, kuturut permintaanmu,” sahut Ting-lokoay.

Segera Sih-sin-ih masuk kembali ke dalam gua dan suruh centeng-centengnya menggotong keluar orang-orang yang terluka. Sam-ceng Hwesio yang tubuhnya mirip gentong itu menjadi ketakutan demi melihat Hian-lan juga berada di situ.

Si Tabib Sakti tidak banyak bicara lagi, segera ia lakukan tugasnya mengobati orang-orang yang terluka itu, ia sambung tulang yang patah, memberi obat yang luka, sampai pagi hari barulah selesai. Orang-orang luka itu dibaringkan di atas daun pintu atau di tempat tidur, centeng keluarga Sih lantas membuatkan bakmi untuk semua orang.

Setelah sabet dua mangkuk bakmi, dengan tertawa Ting-lokoay berkata kepada Sih Boh-hoa, “Hahaha, kau cukup tahu gelagat, tidak menaruh racun dalam bakmi ini.”

“Bicara tentang pakai racun, di dunia ini rasanya tiada yang lebih pandai daripadamu, buat apa aku mesti main kayu terhadap kaum ahli?” sahut Si Tabib Sakti.

“Baiklah, sekarang kau suruh orang menyewakan sepuluh buah kereta keledai,” kata Ting-lokoay kemudian.

“Sepuluh buah kereta akan dibuat apa?” tanya Boh-hoa.

Tiba-tiba Ting-lokoay mendelik, katanya, “Urusanku kau berani ikut campur tangan? Nama Sih-sin-ih cukup terkenal di sekitar sini, untuk menyewa sepuluh buah kereta tentu bukan sesuatu yang sukar.”

Terpaksa Sih Boh-hoa memerintahkan centengnya pergi mencari kereta. Lewat tengah hari, datanglah kembali centeng itu dengan sepuluh buah kereta keledai.

Mendadak Ting Jun-jiu memberi perintah, “Bunuh semua kusir kereta itu!”

Keruan Sih Boh-hoa terkejut, ia menegas, “Apa katamu?”

Dalam pada itu para murid Sing-siok-pay sudah bekerja cepat, di mana tangan mereka naik-turun, terdengarlah suara “plak-plok” berulang-ulang, sepuluh kusir kereta keledai itu kontan menggeletak tak bernyawa lagi.

“Ting-locat?” teriak Sih Boh-hoa dengan gusar, “Dosa apa para kusir ini hingga mesti mem… membunuh mereka sekeji ini?”

“Hah, orang Sing-siok-pay ingin membunuh beberapa orang masakah mesti permisi dan bicara tentang dosa atau tidak?” jengek Ting-lokoay. “Pendek kata, kalian semua lekas naik ke atas kereta, satu pun tidak boleh ketinggalan. Nah, Sih-hiantit, apa kau hendak membawa sedikit kitab dan obat-obatan, kalau ada lekas ambil, segera akan kubakar rumahmu.”

Kembali Sih Boh-hoa terperanjat. Tapi ia pikir segala kejahatan dapat diperbuat susiok durhaka itu, untuk membantahnya juga tak berguna. Tentang kitab pertabiban sudah dihafalkannya di luar kepala, maka tidak perlu dibawa. Hanya sedikit obat-obatan yang telah dibuatnya dengan susah payah itu perlu dibawa serta. Maka sambil mencaci maki ia pun berbenah apa yang perlu.

Selesai berbenah, sementara itu murid Sing-siok-pay sudah mulai menyalakan api di sana-sini.

Hian-lan, Pek-jwan, Kheng Kong-leng dan lain-lain yang tinggi ilmu silatnya kini sudah tak berdaya semua, kalau bukan lumpuh terkena Hoa-kang-tay-hoat Ting-lokoay, tentu keracunan oleh pukulan Peng-jan-han-tok Yu Goan-ci.

Menurut perintah, Hui-keng dan Hui-si dari Siau-lim-pay mestinya akan kabur pulang ke Siau-lim-si untuk melaporkan peristiwa ini, siapa duga Ting Jun-jiu sudah memasang jaring-jaring dengan sangat rapat, baru saja kedua padri itu memencarkan diri melalui dua arah atau mereka sudah keburu ditangkap kembali.

Jadi di antara tujuh padri Siau-lim-si, yaitu Hian-lan bersama keenam padri lain, A Pik dan Ting Pek-jwan berlima, Yu-kok-pat-yu berdelapan, jumlah seluruhnya 20 orang, hanya Sih-sin-ih saja yang tidak terganggu seujung rambut pun, sedangkan 19 orang yang lain semuanya terluka dan tak berdaya.

Bahkan keadaan A Pik paling payah, namun Ting-lokoay tidak ingin gadis itu mati segera, ia memberinya sedikit obat penawar sehingga keadaan A Pik agak baikan, tidak mati juga tidak hidup.

Selain ke-20 orang itu, ditambah lagi anggota keluarga Sih Boh-hoa, beberapa puluh orang itu dijejalkan ke dalam 10 buah kereta. Murid-murid Sing-siok-pay ada yang menjadi kusir, ada yang mengawal di samping, kereta-kereta lantas diberangkatkan.

Hian-lan dan lain-lain mempunyai suatu pertanyaan yang sama, yaitu, “Ke manakah iblis ini hendak membawa kita?”

Mereka tahu kalau membuka suara dan tanya tentu akan dijawab dengan ejekan dan hinaan belaka, maka mereka pun tidak mau tanya melainkan tunggu dan lihat saja nanti.

Celakanya sesudah mereka berjejal-jejal di dalam kereta, segera murid-murid Sing-siok-pay menutup tenda kereta rapat-rapat dan diikat pula dengan tali hingga setua orang tidak dapat melihat keadaan di luar.

Kereta dijalankan terus siang dan malam tanpa terhenti. Hian-lan, Ting Pek-jwan, Kheng Kong-leng dan lain-lain adalah tokoh persilatan terkemuka semua, tapi kini ilmu silat mereka telah punah hingga menjadi tawanan musuh, keruan semangat mereka sama patah.

Semula mereka pikir akan dapat membedakan arah tujuan kereta dengan sinar matahari, namun ketika malam tiba, Ting Jun-jiu lantas suruh murid-muridnya memutar kereta ke sana dan ke sini untuk membingungkan arah bagi para tawanannya. Dan kalau tiba di kota, Ting-lokoay lantas membeli keledai untuk menggantikan keledai yang sudah letih. Karena itu, semua orang hanya dapat membedakan arah yang mereka tuju itu seperti tenggara.

Begitulah berturut-turut delapan hari mereka digiring, sampai pagi hari kesembilan, jalan terasa menanjak, agaknya jalan pegunungan yang berliku-liku dan tidak rata hingga semua orang di dalam kereta terguncang setengah mati. Masih mendingan bagi Hian-lan dan lain-lain yang kehilangan tenaga dalam, yang paling menderita adalah Pau Put-tong dan Hong Po-ok, karena guncangan karena itu, mereka tersiksa lebih hebat oleh racun dingin dalam tubuh.

Sampai tengah hari, jalan makin menanjak dan makin tinggi, akhirnya sampai di suatu tempat, kereta tidak dapat naik lagi. Lalu murid-murid Sing-siok-pay menyuruh Hian-lan dan lain-lain turun dari kereta.

Ternyata pegunungan itu penuh pohon bambu yang rindang, pemandangan indah permai, di tepi selat pegunungan itu dibangun sebuah gardu bambu yang artistik. Melihat bangunan gardu yang indah itu, Thio A Sam terpesona dan memuji tak habis-habis.

Dan baru semua orang mengambil tempat duduk di sekitar gardu bambu, tiba-tiba terlihat empat orang berlari turun dari jalan pegunungan sana. Sesudah dekat, ternyata dua di antaranya adalah murid Sing-siok-pay, mungkin tadi disuruh mendahului naik ke atas gunung untuk menyelidiki atau memberi kabar.

Dua orang lagi yang tak dikenal itu adalah pemuda berdandan sebagai petani. Sampai di depan Ting Jun-jiu mereka lantas memberi hormat dan tanpa bicara lalu menyerahkan sepucuk surat.

Setelah Ting-lokoay membaca surat itu, tiba-tiba ia tertawa dingin dan berkata, “Bagus, bagus! Kau belum kapok dan ingin mengadu jiwa lagi, sudah tentu akan kupenuhi keinginanmu.”

Tiba-tiba salah seorang pemuda petani itu mengeluarkan sebuah mercon roket terus dinyalakan dan dilepaskan ke udara.

Pada umumnya mercon roket itu mesti berbunyi dulu, menyusul akan meletus lagi di atas, tapi mercon yang digunakannya ini agak luar biasa, semula tidak berbunyi, setelah menjulang tinggi di angkasa baru meletus tiga kali berturut-turut dengan suara yang keras.

Melihat itu, Thio A Sam tidak sangsi lagi, dengan perlahan katanya kepada Kheng Kong-leng, “Toako, inilah barang buatan perguruan kita sendiri.”

Dan tidak lama sesudah suara letusan mercon itu, mendadak dari atas gunung berlari datang serombongan orang sejumlah 30-an orang, semuanya berdandan sebagai petani dan membawa senjata panjang.

Sesudah dekat, ternyata yang mereka bawa bukan senjata melainkan galah bambu, setiap dua batang bambu itu terikat jaring tambang yang dapat dipakai sebagai usungan.

“Wah, tuan rumahnya cukup menghormati kita, maka itu pun tidak perlu sungkan-sungkan, marilah naik saja,” kata Ting-lokoay dengan tertawa dingin.

Maka Hian-lan dan lain-lain lantas naik ke atas usungan jaring tambang itu, para pemuda petani itu lantas membagi tugas, dua orang menggotong suatu usungan, dengan cepat mereka berlari pula ke atas gunung.

Ting Jun-jiu sendiri mendahului di depan. Tampaknya larinya tidak terlalu cepat, tapi di jalan pegunungan yang terjal dan tidak rata itu ia dapat melesat secepat terbang seakan-akan kaki tidak menyentuh tanah, hanya dalam sekejap saja orangnya sudah menghilang di balik hutan bambu di atas sana.

Selama beberapa hari ini Hian-lan, Ting Pek-jwan dan lain-lain yang terkena Hoa-kang-tay-hoat atau terkena racun dingin pukulan Yu Goan-ci, selalu merasa penasaran karena menganggap diselomoti ilmu sihir musuh yang jahat dan bukan dikalahkan dengan ilmu sejati. Tapi kini demi menyaksikan betapa hebat ginkang iblis tua itu, kepandaian demikian terang adalah kepandaian sejati, mau tidak mau mereka tunduk dengan rela. Pikir mereka, “Andaikan dia tidak memakai ilmu siluman yang jahat juga kami pasti bukan tandingannya.”

Sebagai kesatria, Hong Po-ok adalah seorang yang jujur, tanpa tedeng aling-aling lagi ia memuji, “Ya, ginkang iblis tua itu memang sangat hebat, sungguh aku sangat kagum.”

Dan sekali ia memuji, serentak anak murid Sing-siok-pay yang mengawal di samping itu terus mengoceh, mereka memuji setinggi langit guru mereka, katanya ilmu silat Ting Jun-jiu tiada tandingannya di dunia ini, bahkan dari dahulu kala hingga sekarang tiada seorang sarjana ilmu silat yang mampu melebihi Ting-lokoay.

Dasar murid-murid Sing-siok-pay itu sudah biasa dan terlatih dalam hal memuji dan menjilat, maka cara mereka mendewa-dewakan Ting Jun-jiu sungguh luar biasa dan tidak pernah didengar oleh Hian-lan dan lain-lain.

Pau Put-tong lantas menanggapi, “Hai, para saudara Sing-siok-pay, ilmu silat golongan kalian memang tak bisa ditandingi golongan lain, benar-benar sedari dahulu kala tidak pernah ada dan kelak pun takkan terjadi.”

“Memangnya, masakah kami mendustai kalian?” sahut murid-murid Sing-siok-pay dengan senang. Lalu mereka pun tanya, “Dan menurut pendapatmu, ilmu silat kami manakah yang paling lihai?”

“Kukira tidak hanya semacam saja ilmu silat kalian yang lihai, paling sedikit ada tiga macam,” sahut Put-tong.

Keruan anak murid Sing-siok-pay tambah girang. “Ketiga macam yang mana?” tanya mereka berbareng.

“Masakah kalian sendiri tidak tahu?” demikian Put-tong sengaja jual mahal.

“Kami? Ya… ya kami tidak tahu, tolonglah suka menjelaskan!” pinta orang-orang Sing-siok-pay itu.

“Ini dia, coba pentang telinga kalian dan dengarkan dengan baik,” ucap Put-tong dengan sikap sungguh-sungguh. “Pertama adalah Ma-bi-kang (ilmu menjilat pantat). Menurut pendapatku, wah, ilmu ini sangat penting, sebab kalau kalian tidak melatihnya dengan masak benar, mungkin akan susah menempatkan diri dalam perguruan. Dan ilmu kedua adalah Hoat-le-kang (ilmu meniup kulit keong, maksudnya omong besar). Ilmu ini juga sangat penting, kalau kalian tidak dapat membual setinggi langit ilmu silat perguruan kalian sendiri bukan saja kalian akan dipandang rendah oleh gurumu, bahkan kedudukan di antara sesama saudara seperguruan juga akan terdesak. Dan akhirnya ilmu yang ketiga ini adalah Ho-gan-kang (ilmu muka tebal). Ilmu terlebih penting lagi. Jika kalian tidak berani tutup mata dan bermuka tebal, mana dapat kalian meyakinkan kedua ilmu mukjizat Ma-bi-kang dan Hoat-le-kang?”

Habis berkata, Put-tong mengira anak murid Sing-siok-pay pasti akan menghujaninya caci maki dan pukulan serta tendangan. Eh, siapa tahu, tidak demikian halnya, bahkan semuanya tampak mengangguk-angguk seakan-akan membenarkan ucapan Pau Put-tong.

Seorang di antaranya bahkan berkata, “Saudara ini sungguh sangat pintar hingga cukup paham terhadap seluk-beluk golongan kami. Tentang Ma-bi-kang, Hoat-le-kang dan Ho-gan-kang, tiga macam ilmu sakti ini juga sangat susah dipelajari. Pada umumnya orang sok risi dan suka membeda-bedakan apa yang baik dan mana yang jelek. Dan siapa saja kalau sudah cenderung kepada pikiran demikian itu, terang akan susah meyakinkan Ho-gan-kang, andaikan bisa, sampai saat terakhir tentu juga akan gagal.”

Sebenarnya ucapan Pau Put-tong tadi hanya sindiran belaka, siapa tahu malah mendapat tanggapan sungguh-sungguh dari orang Sing-siok-pay dan tidak sirik sedikit pun, keruan ia tidak habis heran.

Maka dengan tertawa ia berkata pula, “Wah, rupanya ilmu sakti ajaran golongan kalian teramat luas dan mendalam hingga aku tidak dapat menyelaminya, dengan setulus hati aku ingin mohon Taysian suka memberi petunjuk.”

Mendengar sebutan “taysian” atau dewa besar, orang itu benar-benar merasa seolah-olah sudah menjadi dewa sungguhan. Dan dengan lagak “dewa” ia pun berkata, “Tapi kau bukan orang golongan kami, di mana letak kunci rahasia ilmu mukjizat kami sudah tentu tidak boleh dikatakan padamu. Pendek kata, kunci utama dari ilmu mukjizat kami terletak pada diri Suhu yang harus kami junjung sebagai malaikat dewata, biarpun beliau mendadak kentut….”

“Tentu berbau wangi juga,” sambung Pau Put-tong mendadak.

“Tepat,” kata orang itu sambil mengangguk-angguk. “Kau memang sangat berbakat, tanpa diajar juga sudah tahu. Jika kau mau masuk perguruan kami, kukira akan mencapai tingkatan yang tertinggi, cuma sayang jalanmu tersesat dan telah kesasar ke kalangan tak beres, namun juga tidak beralangan, asalkan kau dapat pegang teguh kepada kunci rahasia tadi.”

“Untuk masuk perguruan kami jangan dikira gampang,” sela seorang lagi dengan tersenyum. “Melulu ujian penerimaan yang mahasulit itu sudah cukup membikin kau kapok dan akan mundur teratur.”

“Di sini terlalu banyak orang, tidak enak untuk dibicarakan dengan dia,” demikian seorang kawannya menimbrung. “Pendek kata, hai, orang she Pau, jika kau sungguh-sungguh ada maksud masuk perguruan kami, boleh juga aku nanti membantu memberi sokongan suara di hadapan Suhu.”

Kongya Kian dan Ting Pek-jwan tahu bahwa ucapan Pau Put-tong itu hanya untuk menggoda anak murid Sing-siok-pay saja, tak terduga manusia-manusia goblok itu justru menganggapnya sungguh-sungguh. Keruan Pek-jwan dan Kongya Kian sangat mendongkol dan geli pula, pikir mereka, “Di dunia ternyata ada manusia rendah yang membanggakan kepandaian mengumpak dan menjilat, sungguh tidak kenal malu dan keterlaluan.”

Tengah bicara, sementara itu rombongan mereka sudah memasuki sebuah lembah pegunungan. Di lembah itu penuh tumbuh pohon cemara yang rindang, bilamana angin meniup, terdengarlah suara gemersek daun pohon yang menyerupai lidi itu.

Setelah menyusur hutan sejenak, akhirnya sampailah mereka di depan tiga petak rumah kayu, di bawah sebatang pohon besar di depan rumah tertampak ada dua orang sedang main catur, selain itu ada pula dua orang yang sedang menonton permainan catur mereka.

Sesudah dekat, tiba-tiba Pau Put-tong mendengar Li Gui-lui yang digotong di usungan belakang bersuara, seperti hendak bicara, tapi urung karena ditahan kembali. Waktu Put-tong menoleh, ia lihat air muka si anak wayang itu pucat pasi, sikapnya cemas khawatir.

Seketika Put-tong tidak tahu apa sebabnya si anak wayang yang biasanya suka menembang itu kini mendadak berubah ketakutan. Waktu ia berpaling kembali, ia lihat kedua penonton pertandingan catur seorang adalah Ting Jun-jiu dan yang lain adalah seorang nona cantik.

Sedangkan kedua pemain catur itu, yang duduk di sisi kanan sana adalah seorang tua kurus kecil, dan lawannya adalah seorang kongcu muda dan cakap.

Put-tong kenal kongcu itu dan si nona cantik, tanpa terasa ia berseru, “He, Nona Ong, mengapa engkau berada di sini? Apa engkau datang bersama orang she Toan ini?”

Kiranya nona cantik itu adalah Ong Giok-yan dan kongcu muda itu dengan sendirinya Toan Ki adanya.

Tempo dulu waktu di kediaman A Cu, yaitu di paviliun “Thing-hiang-cing-sik”, Pau Put-tong pernah bertemu sekali dengan Toan Ki, malahan tangan Toan Ki hampir dipuntir patah olehnya. Sedangkan Ong Giok-yan adalah adik misan Buyung-kongcu, ternyata sekarang berada bersama pula dengan pemuda cakap itu, keruan Pau Put-tong merasa tidak senang.

Maka Giok-yan mengiakan sekali dengan acuh tak acuh, sama sekali ia tidak menoleh dan masih asyik mengikuti pertandingan catur itu.

Adapun papan catur yang digunakan itu terukir di atas sepotong batu hijau yang besar, baik biji catur putih maupun hitam, semuanya halus mengilat, sementara itu kedua belah pihak sudah menjatuhkan ratusan biji catur masing-masing. (Catur di sini serupa permainan dam-daman).

Di sebelah lain Ting Jun-jiu juga berdiri dekat di belakang si kakek kurus kecil dan asyik juga mengikuti pertandingan catur itu.

Tatkala itu Toan Ki sedang memegang satu biji catur dan belum dijalankan, tapi lagi berpikir di mana biji catur itu harus dipasang.

Tiba-tiba Pau Put-tong berseru, “Hai, Losiansing, ada tamu, kenapa engkau diam saja dan masih terus main catur apa segala?”

Dalam pada itu Kheng Kong-leng berdelapan buru-buru meronta turun dari usungan terus berlutut kira-kira dua meter di depan batu hijau tempat papan catur itu.

Keruan Put-tong terkejut, serunya, “He, apa-apaan kalian ini?”

Tapi segera ia paham duduknya perkara. Jelas si kakek kurus kecil itu tak-lain-tak-bukan adalah Liong-ah Lojin alias “Cong-pian Siansing” yang termasyhur alias guru Kheng Kong-leng berdelapan.

Sudah terang musuh besar telah berada di sebelahnya, mengapa dia masih enak-enak main catur dengan orang? Apalagi lawan caturnya juga bukan seorang juara catur atau pemain ternama, tapi seorang pelajar yang ketolol-tololan.

Maka terdengar Kong-leng berkata, “Engkau orang tua masih sehat walafiat melebihi dulu, sungguh kami berdelapan girang tak terhingga.”

Yu-kok-pat-yu sudah diusir keluar perguruan, maka sekarang mereka tidak berani menyebutnya sebagai suhu, lalu ia menyambung lagi, “Hian-lan Taysu dari Siau-lim-pay juga berkunjung kemari.”

Sebagai sute ketua Siau-lim-si, sudah tentu kedudukan Hian-lan dalam Bu-lim adalah sangat tinggi dan dihormati, sekarang So Sing-ho tidak menyambutnya sebagaimana mestinya, hal ini sudah kurang sopan, bahkan sang tamu sudah berada di depannya dan dia masih enak-enak main catur, sikap demikian terang kurang menghormati tamunya.

Tapi tertampak badan So Sing-ho tergetar demi mendengar laporan Kong-leng tadi, segera ia berdiri dan memberi hormat kepada para tamunya sambil berkata, “Atas kunjungan Hian-lan Taysu, harap maafkan aku tidak mengadakan penyambutan, maaf!”

Waktu bicara sinar matanya sama sekali tidak memandang ke arah Hian-lan, sebaliknya masih terus memerhatikan papan caturnya, dan sehabis berkata, ia duduk kembali menghadapi lawan caturnya.

Keruan semua orang terperanjat demi mendengar Liong-ah Lojin (Si Kakek Tuli dan Bisu) ternyata dapat mendengar, bahkan pandai bicara pula.

Maka Hian-lan lantas menjawab, “Terima kasih!”

Ia lihat So Sing-ho sedemikian menitikberatkan permainan catur, diam-diam ia pikir, “Orang ini terlalu banyak memperdalam permainan catur dan lain sebagainya, pantas ilmu silatnya kalah jauh daripada sang sute.”

Begitulah keadaan menjadi sunyi senyap, mau-tidak-mau semua orang harus mengikuti pertandingan catur itu.

Tiba-tiba Toan Ki berkata, “Baiklah, di sini saja!”

Lalu ia taruh satu biji catur hitam di atas papan catur batu itu.

Sebaliknya So Sing-ho sama sekali tidak berpikir, ia terus menaruh sebiji catur putih dengan cepat. Karena Toan Ki sebelumnya sudah merancangkan belasan langkah caturnya, maka menyusul ia pun menaruh satu biji hitam lagi, lalu So Sing-ho juga menaruh satu biji putih dan begitu seterusnya hingga masing-masing menaruh belasan biji.

Akhirnya terdengarlah Toan Ki berkata dengan gegetun, “Wah, ilmu catur Losiansing memang sangat tinggi dan sukar dijajaki dalamnya. Wanpwe tidak dapat memecahkannya.”

Dengan demikian, jadi terang So Sing-ho telah menang, tapi bukannya senang, sebaliknya ia malah mengunjuk rasa sedih, katanya, “Daya pikir Kongcu sebenarnya sangat rapi dan dapat mencapai jauh, belasan langkah caturmu ini sudah mencapai tingkatan teknik yang tinggi. Cuma sayang tak dapat berpikir lebih dalam lagi sedikit, sungguh sayang! Ai, benar-benar sayang!”

Lalu Toan Ki menjemput semua biji caturnya yang berwarna hitam itu dan dimasukkan ke dalam kotak. So Sing-ho juga menjemput kembali belasan biji catur warna putih yang dipasangnya tadi.

Sebagai seorang penggemar dan juara catur, tentu Hoan Pek-ling dari Yu-kok-pat-yu itu sangat tertarik kepada setiap pertandingan catur. Setelah mengikuti dari jauh pertandingan itu, maka tahulah dia bahwa sang “suhu” bukan lagi bertanding dengan kongcu muda yang cakap itu melainkan membuat sebuah “problem” dan kongcu muda itu memecahkan problem catur itu dan ternyata pemuda itu tidak sanggup.

Pek-ling berlutut di tanah, sudah tentu tidak begitu jelas mengikuti “problem catur” itu, sungguh ia ingin berdiri untuk melihatnya. Syukurlah waktu itu So Sing-ho lantas berkata, “Sudahlah, kalian boleh berdiri saja! Pek-ling, ‘problem’ ini sangat luas tali-temali antara langkah satu dengan langkah lainnya. Coba kau periksa ke sini, kalau kau dapat memecahkannya, siapa tahu?”

Girang sekali Pek-ling, ia mengiakan dan cepat mendekati papan catur itu serta mempelajari problem catur itu dengan tekun. “Problem” umumnya hanya pakai belasan biji catur saja paling banyak juga cuma beberapa puluh biji, tapi sekarang ia lihat biji catur yang dipakai ada lebih 200 biji banyaknya, dan memang problem yang diatur ini sangat ruwet dan susah dipecahkan.

Sudah berpuluh tahun Pek-ling mempelajari seni catur tapi kini baru pikir sebentar saja kepalanya sudah pusing dan mata berkunang-kunang. Baru saja ia hendak memecahkan satu langkah di sudut kanan atau napasnya lantas sesak, darah seakan-akan bergolak dalam rongga dadanya.

Ia coba tenangkan diri, untuk kedua kalinya ia mengulangi lagi langkah biji hitam di sudut kanan itu, semula ia kira langkah itu langkah mati, tapi sebenarnya masih ada jalan hidupnya, untuk itu ternyata harus makan dulu biji putih di sebelahnya, tapi sangkut paut selanjutnya menjadi sangat luas dan ruwet, ia coba menghitung lagi, mendadak matanya menjadi gelap, tenggorokan terasa amis, tahu-tahu darah segar menyembur keluar dari mulutnya.

Dengan dingin saja So Sing-ho menyaksikan keadaan Hoan Pek-ling itu, katanya kemudian, “Problem ini memang sangat sulit, kebetulan hari ini adalah hari pembukaan untuk umum yang diadakan setiap sepuluh tahun satu kali, dan justru sempat hadir juga. Namun kutahu bakatmu terbatas, 20 tahun yang lalu aku tidak memberi kesempatan padamu untuk ikut memecahkan problem catur ini, hari ini kebetulan kau dapat mengikutinya, apakah kau akan berpikir lagi untuk memecahkan atau tidak?”

“Mati atau hidup sudah takdir Ilahi, maka Te… aku… bertekad akan berusaha sebisa tenagaku untuk memecahkannya,” sahut Pek-ling.

“Jika begitu, semoga kau berhasil,” kata So Sing-ho sambil mengangguk.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: