Kumpulan Cerita Silat

30/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 50

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 1:52 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Maka terdengarlah suara “krak” sekali, di antara dua kaki yang terbentur itu ada salah satu yang patah.

Beberapa kali seniman itu terguling-guling di tanah hingga sejauh beberapa meter, lalu ia berseru sebagai peranan dalam sandiwara, “Wahai Mo Yan-siu jahanam, biar kucencangmu… aduh, kakiku!” demikian pada akhirnya mendadak ia menjerit.

Kiranya ketika kedua kaki beradu, tenaga seniman itu kalah kuat hingga tulang kakinya patah.

Wanita cantik setengah umur yang berbaju jambon itu sejak tadi berdiri diam saja di samping tidak membuka suara juga tidak bertindak. Kini demi melihat seniman kawannya itu patah kaki, kawan yang lain juga dicecar musuh dan berbahaya, barulah ia mulai membuka suara, “Hai, kalian ini apa-apaan? Sudah mengangkangi rumah goko kami, datang-datang lantas melabrak orang sesukanya tanpa tanya dulu.”

Dalam pada itu si pemain sandiwara masih jatuh telentang di tanah dan tiba-tiba ia lihat kedua buah tanglung besar yang tergantung di depan pintu itu, ia terkejut dan berteriak, “Apa? Sih Boh-hoa meninggal? Goko sudah wafat?”

Kedua susing dan orang tua yang membawa papan catur, si tukang kayu, wanita cantik itu pun ikut memandang ke arah yang ditunjuk, maka dapatlah mereka membaca semua tulisan pada tanglung putih itu.

Api dalam tanglung sejak tadi sudah padam, begitu datang mereka lantas saling gebrak pula hingga tiada seorang pun menaruh perhatian keadaan di rumah itu, baru sesudah seniman itu menggeletak di tanah, barulah ia dapat melihat tanglung orang mati itu.

Seketika seniman itu menangis dan menembang menurut irama sandiwara, “O, saudaraku tercinta, kita mengangkat saudara di kebun tho, engkau membobol lima benteng, membunuh enam panglima, betapa gagah perkasamu, oi….”

Semula ia menembang dalam lakon “menangisi kematian Kwan Kong”, tapi kemudian ia benar-benar berduka hingga tak keruan lagi suaranya.

Kawan-kawan yang lain segera berteriak juga, “Hai, siapa yang membunuh goko kami? Goko, Goko! Bangsat terkutuk manakah yang membunuhmu? Biarlah hari ini kami mengadu jiwa dengan kalian, keparat!”

Hian-lan dan Pek-jwan saling pandang dengan serbasalah, diri ucapan mereka itu, agaknya mereka adalah saudara angkat Sih-sin-ih.

Pek-jwan lantas berkata, “Sebenarnya kami datang untuk minta pertolongan Sih-sin-ih agar suka mengobati dua-tiga orang kawan kami yang terluka, tak terduga….”

“Tak terduga dia tak mau mengobati dan kalian lantas membunuhnya, begitu bukan?” potong si wanita cantik.

“Ti….” belum lagi ucapan “tidak” tercetus dari mulut Ting Pek-jwan, sekonyong-konyong wanita cantik itu mengebas lengan bajunya, kontan Pek-jwan mengendus bau harum semerbak, kepala lantas pusing dan berdirinya seakan-akan mengambang tak bertenaga.

“Roboh, robohlah!” demikian si wanita cantik berseru.

Pek-jwan menjadi gusar. “Wanita siluman!” dampratnya, berbareng ia terus menghantam ke depan.

Daya guna “Pek-hoa-bi-sian-hiang” (Dupa Pemabuk Dewa Sari Seratus Bunga) yang disebarkan wanita cantik itu sebenarnya sangat keras, betapa pun tinggi kepandaian lawan biasanya juga akan dirobohkannya. Tadi sudah dilihatnya keadaan Ting Pek-jwan agak sempoyongan, terang sudah kena dupa biusnya itu, siapa duga pada saat terakhir masih mampu melontarkan pukulan dahsyat.

Keruan ia tidak sempat menghindar, kontan tubuhnya serasa ditumbuk oleh suatu tenaga bagai gugur gunung dahsyatnya, napas seketika sesak dan tubuh pun terbanting hingga jauh. Bahkan terdengar suara “krak-kruk”, rupanya tulang iga dipatahkan beberapa buah oleh pukulan Ting Pek-jwan, maka sebelum tubuh terbanting lebih dulu orangnya sudah kelengar.

Pek-jwan sendiri lantas merasa pandangan menjadi gelap, akhirnya ia pun jatuh tersungkur.

Kedua pihak sama-sama roboh satu orang, sisanya lantas saling gebrak dengan sengit.

Hian-lan sendiri lagi berpikir, “Di balik semua kejadian ini tentu ada sesuatu yang janggal, kini terpaksa harus kutawan dulu semua lawan, supaya kedua pihak tidak jatuh korban lebih banyak.”

Setelah ambil keputusan itu, segera ia berseru, “Bawakan tongkatku!”

Seorang padri angkatan Hui mengiakan dan segera membawakan sian-theng (tongkat padri) yang disandarkan di samping pintu itu kepada Hian-lan.

Tiba-tiba si sastrawan bersenjata boan-koan-pit itu menerjang maju terus menutuk dada padri Siau-lim-si yang mengambilkan tongkat itu, tapi sebelum tiba, lebih dulu Hian-lan menghantamkan sebelah tangannya, belum lagi tangannya menyentuh tubuh musuh, lebih dulu tenaga pukulan Hian-lan sudah mengenai punggung sastrawan itu, tanpa ampun lagi orang itu roboh tak berkutik.

Hian-lan tertawa panjang, dengan menjinjing tongkat ia maju ke samping, segera tongkatnya mengemplang kepala orang yang bersenjata papan catur itu.

Melihat serangan hebat, orang itu tidak berani gegabah, dengan kedua tangan memegang papan caturnya terus ditangkis ke atas. “Trang”, terdengar suara nyaring keras disertai meletiknya lelatu api. Kontan orang itu merasa tangan linu pegal. Dan ketika Hian-lan mengangkat kembali tongkatnya, tahu-tahu papan catur musuh ikut terangkat.

Kiranya daya sembrani papan catur itu sangat kuat, biasanya digunakan menyedot senjata lawan. Tapi sekarang tenaga lawan lebih kuat, maka berbalik papan catur itu kena disedot oleh tongkat Hian-lan. Setelah berhasil merampas senjata musuh, menyusul tongkat Hian-lan lantas mengemplang lagi.

“Haya, celaka! Hancurlah kepalaku sekali ini!” teriak orang itu dan cepat berlari ke samping.

Mendadak Hian-lan membentak pula, “Su-tay-cu (pelajar tolol), robohlah!”

Tongkat terus menyabet ke samping dengan luar biasa dahsyatnya.

“Ai, ai! Belum waktunya aku disuruh tidur! Ya, apa boleh buat!” seru Su-tay-cu itu dan belum lenyap suaranya orangnya sudah mendahului bertiarap.

Dengan cepat padri Siau-lim-si lantas memburu maju untuk membekuknya.

Nyata siuco dari Tat-mo-ih Siau-lim-si memang bukan jago sembarangan, hanya sekali turun tangan lantas mengalahkan tiga jago musuh yang tangguh, dengan sendirinya kekuatan kedua pihak segera berubah.

Tapi A Pik senang mengkhawatirkan keadaan Ting Pek-jwan, para padri Siau-lim-si juga berduka atas wafatnya Hian-thong, maka mereka tidak menjadi girang karena kemenangan itu.

Sementara itu si tukang kayu yang berkapak sedang dikeroyok Pau Put-tong dan Hong Po-ok, terang sebentar lagi ia pun akan dirobohkan.

Mendadak si orang tua bersenjata papan catur tadi berseru, “Sudahlah! Lakte, kita mengaku kalah saja, tidak perlu bertempur lagi! Toahwesio, aku hanya ingin tanya padamu, sebenarnya apa kesalahan gote kami hingga kalian membunuh dia? Dan mengapa mencuri bunga apinya untuk memancing kedatangan kami ke sini?”

“Dari mana bisa jadi begitu….” baru sekian Hian-lan menjawab, sekonyong-konyong terdengar suara “crang-cring” dua kali, yaitu suara khim (alat musik sejenis kecapi) suaranya nyaring berkumandang dari jauh.

Anehnya, begitu mendengar suara itu, seketika jantung juga terguncang dengan keras. Selagi Hian-lan melengak heran, kembali suara kecapi berbunyi “crang-creng” dua kali lagi. Malahan suaranya bertambah dekat hingga detak jantung semua orang pun tambah keras.

Karena habis diserang racun, diguncang pula suara kecapi yang nyaring itu, seketika Hong Po-ok merasa kusut pikirannya, “trang”, tanpa terasa golok terlepas dari cekalan. Coba kalau Pau Put-tong tidak keburu melindunginya, tentu bahu Po-ok sudah sempal sebelah kena bacokan kapak musuh yang sementara itu telah dilontarkan.

Demi mendengar suara kecapi itu, Su-tay-cu atau si sastrawan tolol tadi menjadi girang, ia berteriak-teriak, “Lekas kemari, Toako, lekas! Segerombolan bangsat ini telah membunuh Gote, kini kami tertawan pula, Jitmoay juga dipukul mati oleh mereka. Wah, celaka, lekas kemari!”

Kembali suara kecapi dalam hutan sana bergema pula, sekali ini berturut-turut dipetik lima kali hingga jantung semua orang terguncang lebih hebat, napas serasa hendak putus.

Keruan Hian-lan sangat heran dan terkesiap, “Ilmu sihir apakah ini? Aku telah menenangkan perasaan dengan lwekang Siau-lim-pay yang tinggi, tapi jantungku tetap berguncang mengikuti irama kecapi. Sungguh lihai sekali pemain kecapi itu.”

Suara kecapi itu makin lama makin cepat, debur jantung semua orang juga makin keras. Hian-lan, Kongya Kian, Pau Put-tong, Hong Po-ok, dan para padri sama duduk di tanah sambil mengerahkan lwekang masing-masing untuk melawan. Tapi hanya Hian-lan dan Kongya Kian saja yang mampu mengatasi getaran jantung, sedang padri Siau-lim-si angkatan Hui sudah tidak tahan lagi, mereka menjerit-jerit dan sangat menderita. Mereka berusaha menutup telinga sendiri dengan kedua tangan, tapi aneh, betapa pun telinga mereka didekap, tetap suara kecapi dapat menyusup ke dalam telinga, dan jantung lantas bergetar menurut irama musik itu.

Bahkan sampai akhirnya, irama kecapi itu bertambah cepat bagaikan lagu orang gila dan jantung semua orang seakan-akan putus terguncang.

Hian-lan tahu tidak boleh tinggal diam saja tapi harus melakukan serangan belasan. Segera ia angkat tongkat dan menerjang ke arah datangnya suara kecapi itu. Tapi aneh, suara kecapi seperti timbul dari bawah tanah saja, meski Hian-lan sudah mengitari hutan itu, tetap tiada bayangan seorang pun yang dilihatnya. Dan baru saja ia kembali, tahu-tahu suara itu bergema pula di sebelah belakang sana.

Mendadak Hong Po-ok berteriak sekali, kedua tangan merobek baju sendiri, dan sesudah bajunya koyak-koyak, lalu mencakar dada sendiri sambil menjerit, “Korek keluar jantung ini, tahan dia, supaya tidak melonjak-lonjak, tidak boleh melonjak-lonjak!”

Hanya sebentar saja dada sendiri sudah penuh guratan kuku dan darah berceceran.

Cepat Kongya Kian pentang kedua tangan dan menyikap kencang saudara angkatnya itu sambil berseru, “Jangan gopoh, Site, kau harus berusaha mematahkan pengaruh suara kecapi setan itu dan menganggap seperti tidak mendengarnya.”

Tapi karena sedikit terpencar perhatiannya, segera jantung Kongya Kian sendiri terguncang hebat.

Anehnya si orang bersenjata papan catur, si sastrawan tolol, orang berkapak, sastrawan bersenjata boan-koan-pit dan si pemain sandiwara, mereka sedikit pun tidak terpengaruh oleh getaran suara kecapi itu, terang mereka mempunyai cara yang mudah untuk melawan suara itu.

“Lakmoay, kau bagaimana? Marilah duduk di sebelahku saja!” demikian Pau Put-tong teringat kepada A Pik. Ia pikir usia anak dara itu terlalu muda, lwekangnya masih cetek, tentu akan lebih menderita daripada orang lain, maka ia merasa kasihan dan ingin membantunya.

Siapa duga mendadak dilihatnya gadis itu lagi duduk bersila, wajahnya berseri-seri, sama saja seperti orang tidak merasakan sesuatu. Keruan kejut Pau Put-tong lebih hebat, pikirnya, “Wah, celaka, jangan-jangan Lakmoay telah meninggal terpengaruh oleh getaran suara kecapi itu? Biasanya ia suka seni musik, suka memetik kecapi dan menyanyi, kepandaiannya dalam hal ini harus dipuji. Dan orang yang paham seni musik tentu akan lebih tajam pula daya tariknya kepada getaran suara kecapi itu.”

Dalam khawatirnya, dengan menahan getaran jantung sendiri, segera Put-tong berlari mendekati A Pik, selagi hendak memeriksa pernapasan hidung anak dara itu, tiba-tiba terlihat tangan A Pik bisa bergerak perlahan.

Put-tong tambah kaget, “Mengapa orang mati bisa bergerak?” demikian pikirnya.

Ia lihat anak dara itu memasukkan tangan ke dalam baju, lalu mengeluarkan sesuatu, karena keadaan gelap gulita, maka tidak jelas benda apakah yang dikeluarkan A Pik.

Tapi segera terdengar suara “tring-tring” dua kali, suara itu timbul dari depan A Pik. Suara nyaring merdu, terang bunyi semacam alat musik kecil. Dan begitu suara itu lenyap, lamban laun suara kecapi dalam hutan sana yang berirama cepat lantas berubah menjadi lambat.

Waktu alat musik di pangkuan A Pik itu berbunyi lagi dua kali, maka suara kecapi pihak sana menjadi lebih lambat pula.

Sungguh girang Kongya Kian, Hian-lan dan lain-lain tak terkatakan, lebih-lebih Pau Put-tong, ia berjingkrak senang. Mereka sama pikir, “Sungguh tidak nyana nona cilik A Pik ini bisa memiliki kepandaian seperti ini, dapat menggunakan suara musik untuk melawan suara musik musuh, dengan suara perlahan melawan suara keras hingga suara kecapi lawan dapat dipengaruhi.”

Dalam pada itu suara kecapi dalam hutan telah berubah lagi iramanya, tiba-tiba bernada tinggi lalu dibunyikan dalam nada rendah. Begitu pula A Pik lantas membunyikan kecapinya mengikuti irama orang.

Dengan demikian, Hong Po-ok dan para padri Siau-lim-si telah terlepas dari siksaan suara kecapi tadi. Setelah menarik napas dalam-dalam, Po-ok berteriak, “Bangsat itu telah bikin susah kita, ayolah kita terjang dia!”

Habis berkata, segera ia mendahului menyerbu ke dalam hutan sana dengan golok terhunus.

Waktu Kongya Kian memondong Ting Pek-jwan, ia merasa napas sang toako sangat lemah, tapi tidak putus, itulah tanda keracunan hawa berbisa yang disebarkan wanita cantik tadi, namun jiwanya sementara ini tidak beralangan. Hanya dikhawatirkan musuh terlalu lihai, Hong Po-ok sudah keracunan, jangan-jangan akan terjebak musuh lagi, maka sesudah meletakkan Pek-jwan, segera Kongya Kian bersama Pau Put-tong menyusul saudara angkat itu.

Begitu pula para padri Siau-lim-si karena tadi telah tersiksa oleh guncangan suara kecapi, dengan menghunus senjata masing-masing segera mereka pun memburu ke dalam hutan.

Tapi aneh bin ajaib, di tengah hutan ternyata tiada bayangan seorang pun, sebaliknya suara kecapi itu selalu berpindah-pindah, sebentar di timur, lain saat di barat, terkadang seperti di depan sana tahu-tahu sudah di belakang, hingga membikin bingung orang bagai digoda setan iblis.

Cuma suara kecapi itu sekarang sudah lambat dan merdu enak didengar serta tidak membikin guncang jantung pendengarnya, sebaliknya membuat orang merasa segar malah.

Karena tidak ketemukan musuh, dengan gemas Hong Po-ok mencaci maki serabutan, kemudian mereka keluar dari hutan. Sementara itu suara kecapi A Pik telah dapat bergabung dengan suara kecapi pihak lawan hingga terjadi perpaduan suara yang sangat indah.

Kongya Kian dan lain-lain cukup berpengalaman, mereka tahu di dunia persilatan ada segolongan orang yang tinggi lwekangnya dapat menggetar sukma pihak lawan dengan berbagai suara yang aneh, lalu membunuh lawan itu. Walaupun sekarang terdengar suara kecapi A Pik tidak mirip sedang bertempur dengan orang melainkan lebih pantas dikatakan sedang latihan, namun kejadian aneh di dunia Kangouw susah diduga, maka mereka tetap waspada, Pau Put-tong dan Hong Po-ok pun berjaga-jaga di depan anak dara itu. Begitu pula Hian-lan siap berdiri di belakang A Pik untuk membantu bilamana perlu.

Selang sejenak, suara kecapi dalam hutan itu mulai cepat, semula A Pik masih bisa mengikutinya, tapi dalam sekejap saja sudah ketinggalan.

“Hahahaha! Nona cilik, kau berani mengadu kecapi dengan Khim-sian Toako (Kakak Dewa Kecapi) kami, itu namanya kau cari penyakit sendiri,” demikian si sastrawan linglung tadi tiba-tiba bergelak tertawa. “Nah, lekas menyerah kalah saja, mengingat usiamu masih muda, mungkin toako kami akan suka mengampuni jiwamu.”

Kongya Kian dan lain-lain juga sudah mendengar suara kecapi A Pik kalah cepat daripada lawan, juga kalah nyaring dan kalah jelas iramanya, tampaknya pertandingan suara kecapi ini A Pik telah dikalahkan. Maka semua orang saling pandang dengan muram.

Selang sejenak lagi, meski A Pik berusaha sebisanya tetap suara kecapinya tak bisa mengikuti irama kecapi lawan. Mendadak ia petik keras dua kali, lalu berhenti dan berseru dengan tertawa, “Suhu, aku tak sanggup lagi mengikutimu!”

Segera suara kecapi dalam hutan juga berhenti, lalu terdengar suara seorang tua bergelak tertawa dan menyahut, “Dara cilik dapat mencapai tingkatan ini sudah lumayanlah!”

Sungguh girang dan kejut sekali semua orang. Dari tanya-jawab mereka itu, agaknya si pemetik kecapi di hutan itu adalah guru A Pik. Hal ini bukan saja membuat Hian-lan terkejut, bahkan Kongya Kian dan si sastrawan linglung dengan kawan-kawannya juga terheran-heran.

Maka tertampaklah dari dalam hutan muncul seorang tua dengan lengan baju yang longgar, wajah orang tua ini sangat aneh, jidatnya nonong, tulang pipinya menonjol, selalu berseri-seri, tampaknya sangat ramah tamah.

Dan demi tampak orang tua aneh, itu, segera A Pik berseru dengan gembira, “Suhu, baik-baikkah engkau!”

Segera ia pun berlari-lari memapak ke sana.

“Toako!” demikian si sastrawan linglung dan kawan-kawannya juga lantas menyapa.

Orang tua itu menjulurkan kedua tangan ke depan, ia pegang tangan A Pik dan berkata dengan tertawa, “A Pik, wah, sudah begini besar kau sekarang!”

Air muka A Pik menjadi kemerah-merahan, dan belum lagi menjawab, tiba-tiba si orang tua berkata kepada Hian-lan sambil soja, “Padri saleh Siau-lim-si manakah yang berada di sini, barusan Siauloji (orang tua) banyak mengganggu, harap maaf.”

“Lolap Hian-lan adanya,” sahut Hian-lan sambil balas hormat.

“Aha, kiranya Hian-lan Suheng,” kata orang tua itu. “Dan Hian-koh Taysu tentu saudara seperguruanmu bukan? Siauloji dulu sering bertemu dengan beliau dan satu sama lain sangat cocok, keadaan beliau tentu sehat-sehat saja, bukan?”

Tapi dengan muram Hian-lan menjawab, “Hian-koh Suheng telah wafat disergap oleh muridnya yang khianat itu.”

Orang tua itu tampak melengak sekejap, mendadak ia meloncat setinggi beberapa meter ke atas, belum lagi turun kembali ia sudah menangis tergerung-gerung di udara.

Hian-lan dan Kongya Kian terperanjat, sama sekali tak mereka duga bahwa watak orang tua itu ternyata mirip anak kecil saja, sesudah turun ke tanah, orang tua itu lantas duduk sambil membubut-bubuti jenggot sendiri dan kedua kaki mengentak tanah serta sesambatan pula, “O, Hian-koh, kau mau mati, kenapa tidak memberitahukan lebih dulu padaku? Ai, terlalu kau! Untuk selanjutnya laguku ‘Hoan-im-bo-ciau’ (Nyanyian Memuji Buddha) takkan ada yang paham lagi, hanya engkau yang mengatakan bahwa laguku ini berisi jiwa Buddha dan dapat menambah kemajuanmu, maka berulang-ulang engkau ingin mendengarkan. Hian-lan sutemu ini belum tentu memiliki kesadaran setinggi dirimu, kepadanya akan sama saja seperti aku memetik kecapi di depan kerbau! O, nasibku ini memang malang!”

Ketika mendengar orang tua itu menangisi kematian suhengnya, semula Hian-lan mengira tentu dia seorang sahabat yang baik, tapi makin didengar makin tak genah, kiranya yang ditangisi orang tua itu adalah karena merasa kehilangan seorang pendengarnya yang dapat menyelami lagu kecapi yang digubahnya, bahkan akhirnya Hian-lan dianggap sebagai kerbau yang bodoh dan tak dapat memahami seni suara.

Tapi Hian-lan adalah seorang padri saleh, ia tidak marah meski mendengar ucapan yang menyinggung martabatnya itu, hanya tersenyum saja dan berkata dalam hati, “Rombongan mereka ini memang orang sinting semua, susah untuk diajak bicara benar. Lwekang orang tua ini sangat tinggi, tapi wataknya juga angin-anginan kawan-kawannya, dasar!”

Dalam pada itu si orang tua lagi menangis pula. “Hian-koh, wahai, Hian-koh, guna membalas kebaikanmu, dengan susah payah aku telah menggubah sebuah lagu baru untukmu, tapi belum lagi sempat mendengar kau sudah keburu mendaftarkan diri ke akhirat!”

Tiba-tiba ia berpaling kepada Hian-lan dan bertanya, “Di manakah letak kuburan Hian-koh Suheng? Lekas membawa aku ke sana, lekas! Makin cepat makin baik. Setiba di sana, aku akan membawakan lagu gubahanku yang baru ini, boleh jadi sesudah mendengar dia akan hidup kembali!”

“Hendaknya Sicu jangan sembarangan bicara,” sahut Hian-lan. “Sesudah Suheng wafat, sudah tentu beliau telah diabukan!”

Orang tua itu tertegun sejenak, mendadak ia melompat bangun dan berseru, “Bagus! Nah, boleh kau serahkan abu tulangnya padaku, akan kubuat menjadi semen dan kulebur pada kecapiku, dengan demikian dia akan selalu mendengar laguku setiap kali kupetik. Nah, caraku sini sangat bagus, bukan? Hahaha!”

Saking senangnya hingga dia lupa daratan, ia bergelak tertawa sambil bertepuk tangan. Tapi mendadak dilihatnya si wanita cantik tadi menggeletak di sebelah sana, ia berseru kaget, “Hai, Jitmoay, kau kenapa? Siapa yang melukaimu?”

“Suhu,” lekas-lekas A Pik menerangkan, “dalam urusan ini telah terjadi sedikit salah paham, syukurlah sekarang Suhu sudah datang, tentu segala sesuatu dapat dibicarakan dengan baik.”

“Salah paham apa? Siapa yang salah paham?” demikian orang tua itu menegas. “Pendek kata, orang yang mencelakai Jitmoay pasti bukan orang baik. Wah, kiranya Patte juga terluka, dan orang yang melukai Patte tentu juga bukan manusia baik-baik. Ayo, siapa itu yang bukan manusia baik-baik, lekas laporkan diri untuk diambil tindakan yang adil. A Pik, coba pergi ke atas pohon sana untuk mengambilkan alat tetabuhanku.”

A Pik mengiakan terus berlari ke tengah hutan tadi. Dari jauh semua orang dapat melihat bayangan A Pik melompat dari satu pohon ke lain pohon, setelah turun ke tanah, lalu melompat lagi ke atas pohon yang lain.

Baru sekarang Hian-lan, Kongya Kian dan lain-lain paham duduknya perkara. Kiranya orang tua itu telah menaruh beberapa buah kecapi di atas pohon, lalu dipetiknya dari jauh dengan tenaga dalam yang kuat, sebab itulah suara harpa tadi bisa mendadak di timur, lalu di barat, tiba-tiba di depan, tahu-tahu di belakang lagi hingga membingungkan mereka yang mencarinya.

Cuma kalau melihat cara A Pik naik-turun pohon itu, jarak di antara pohon-pohon itu sedikitnya ada belasan meter jauhnya, masakah lwekang si orang tua sudah sedemikian tingginya hingga dapat mencapai jarak sejauh itu? Apalagi mesti memetik kecapi menurut irama tertentu sungguh kepandaian sehebat ini sukar untuk dibayangkan.

Dalam pada itu kelihatan A Pik sudah berlari kembali dengan membawa beberapa buah harpa. Sampai di tengah jalan, mendadak gadis itu tergeliat dan jatuh tersungkur.

Keruan si orang tua penabuh harpa, Kongya Kian dan lain-lain terkejut. Cepat Kongya Kian berlari mendekati A Pik. Tapi mendadak di sebelahnya angin berkesiur, si orang tua sudah mendahului melayang ke depan dan A Pik lantas dipondongnya dengan kedua tangan.

Diam-diam Kongya Kian memuji kehebatan ginkang orang tua itu. Ketika ia susul sampai di depan mereka, ia lihat wajah A Pik merah segar, malahan mengulum senyum, maka hilanglah rasa khawatirnya. Katanya menggoda, “Lakmoay, jangan sok manja pada gurumu. Ai, aku benar-benar kaget barusan.”

A Pik ternyata tidak menjawab, sekonyong-konyong ada beberapa tetes air menjatuhi muka A Pik yang ayu itu. Kongya Kian tercengang, waktu ia perhatikan, tiba-tiba dilihatnya wajah si orang tua muram sedih dan air matanya bercucuran. Sudah tentu ia heran, katanya, “Kembali penyakit gila kakek ini angot lagi?”

Tapi si kakek mendadak melotot sekali kepada Kongya Kian sambil membisiki, “Jangan bersuara!”

Lalu ia pondong A Pik dan sepat melangkah ke arah rumah.

“Lakmoay, kenapa kau….” baru sekian ucapan Hong Po-ok yang sementara itu telah memapak, tiba-tiba si kakek memotong ucapannya, “Ssst, jangan bersuara! Bencana tiba, bencana tiba!”

Lalu ia celingukan kian-kemari seperti maling khawatir kepergok, air mukanya tampak penuh rasa khawatir, kemudian ia berkata pula, “Wah, tidak keburu lari lagi! Ayo, lekas masuk ke dalam rumah!”

Dasar Pau Put-tong memang paling suka menyanggah setiap kehendak orang lain, demi mendengar ucapan orang tua itu sampai gemetar suaranya, segera ia berteriak, “Bencana apa? Apakah langit akan ambruk?”

“Lekas, lekas masuk ke dalam sana!” seru orang tua itu.

“Mau masuk, silakan! Aku orang she Pau masih ingin makan angin di sini, Lakmoay….” baru sekian Pau Put-tong menjawab, mendadak orang tua yang memondong A Pik itu menjulurkan sebelah tangannya dan kontan hiat-to di dada Pau Put-tong kena dijambretnya.

Saking cepat serangan si orang tua hingga sedikit pun Pau Put-tong tak bisa berkelit dan tahu-tahu tak bisa berkutik lagi, ia merasa tubuh sendiri terangkat ke atas, kaki terapung di atas tanah, tanpa kuasa ia dicangking masuk ke dalam rumah oleh si orang tua.

Keruan Hian-lan dan Kongya Kian sangat terperanjat. Selagi mereka hendak bicara, namun si orang bersenjata papan catur tadi sudah berkata, “Toasuhu, lekas kita masuk ke dalam rumah, ada seorang iblis raksasa mahalihai sebentar lagi akan datang!”

Ilmu silat Hian-lan sendiri jarang ada tandingannya di dunia persilatan, sudah tentu ia tidak takut kepada segala iblis besar atau kecil. Segera ia tanya, “Iblis raksasa siapa? Apakah Kiau Hong?”

“Bukan, bukan! Jauh lebih lihai daripada Kiau Hong,” sahut orang itu sambil menggeleng kepala. “Ialah Sing-siok Lokoay.”

“Hah, Sing-siok Lokoay?” Hian-lan menegas dengan kaget. “Itulah kebetulan, memang Lolap hendak mencari dia.”

“Ilmu silatmu tinggi, sudah tentu tidak takut padanya,” kata orang itu. “Tapi kalau semua orang yang berada di sini terbunuh dan tinggal kau sendiri yang hidup, wah, engkau ini sungguh seorang welas asih!”

Sindiran terakhir ini ternyata sangat manjur, sebab Hian-lan lantas tercengang, ia pikir ucapan orang memang betul juga, maka katanya, “Baiklah, mari kita masuk semua!”

Dan pada saat itu juga Suhu A Pik setelah meletakkan anak dara itu dan Pau Put-tong di dalam rumah, ia lari keluar lagi sambil mendesak berulang-ulang, “Ayo, lekas, lekas! Tunggu apa lagi!”

Ia lihat di antara orang-orang itu yang paling bandel adalah Hong Po-ok, orangnya petantang-petenteng tak mau menurut, langsung ia tampar mukanya. Meski Po-ok sangat gemar berkelahi dan cekatan pula, tapi sama sekali tak terduga olehnya bahwa guru sang lakmoay tidak segan-segan melabrak dia, sedangkan waktu itu racun dingin dalam tubuhnya terasa akan kumat lagi, maka ketika serangan si orang tua tiba, sedapatnya ia menunduk untuk menghindari. Siapa tahu tangan si orang tua mendadak diturunkan juga hingga tengkuk Hong Po-ok cepat kena dicengkeram.

“Lekas, lekas masuk sana!” demikian seru si orang tua pula. Dan seperti elang mencengkeram anak ayam, Po-ok terus dicangking masuk ke dalam rumah.

Keruan Kongya Kian merasa kehilangan muka, dua orang saudara angkatnya hanya sekali gebrak saja sudah kena dibikin tak berkutik oleh si kakek, meski kakek itu adalah guru A Pik dan tak bisa dikatakan orang luar, tapi betapa gagah dan terkenalnya nama Koh-soh Buyung, masakah anak buah Buyung-kongcu sedemikian tak becus dan terjungkal habis-habisan di hadapan para padri Siau-lim-si.

Hian-lan dapat melihat sikap Kongya Kian yang lesu itu dan dapat pula menerka perasaannya. Ia lihat si orang tua aneh membekuk Pau Put-tong dan Hong Po-ok dengan cara yang sangat cepat sekali, tapi toh begitu ketakutan terhadap Sing-siok Lokoay, hal ini menandakan bahwa gembong iblis itu memang tidak boleh dipandang remeh. Maka katanya segera, “Kongya-sicu, lebih baik masuk saja ke dalam, nanti kita rundingkan lebih jauh lagi.”

Maka para padri Siau-lim-si lantas menggotong jenazah Hian-thong, Kongya Kian pun memondong Ting Pek-jwan dan beramai-ramai masuk ke dalam rumah dengan cepat.

Saat itu guru A Pik sudah keluar lagi untuk mendesak, melihat semua orang sudah masuk rumah, segera ia tutup pintu rapat-rapat dan mestinya akan dipalang sekalian, tapi si orang bersenjata papan catur tadi telah mencegahnya, “Toako, pintu ini lebih baik dibiarkan terbuka saja. Dengan demikian tentu dia akan ragu dan tidak berani sembarangan menerjang masuk.”

“O, begitukah kiranya? Baiklah, kuturut saranmu!” sahut si kakek, namun nadanya jelas meragukan hasilnya.

Sungguh Hian-lan dan Kongya Kian tidak habis heran, ilmu silat si kakek sudah terang sangat tinggi, mengapa menghadapi musuh yang belum kelihatan sudah sedemikian gugupnya? Padahal soal pintu itu ditutup atau tidak apa artinya bagi Sing-siok Lokoay yang mahasakti itu? Mereka menduga kakek ini dahulu pasti pernah mengalami siksaan hebat dari Sing-siok Lokoay hingga sekarang ia kapok benar-benar terhadap iblis itu, makanya begitu mencium bau lantas ketakutan setengah mati.

Begitulah terdengar si kakek berulang-ulang mendesak kawannya si tukang kayu, “Lakte, lekas cari jalan, lekas mencari akal!”

Betapa pun sabarnya Hian-lan, akhirnya menjadi dongkol juga melihat kelakuan si kakek yang penakut itu. Segera katanya, “Lotiang (bapak), andaikan Sing-siok Lokoay itu memang mahajahat dan lihai, kalau kita mau bersatu untuk melawannya juga belum tentu akan kalah, mengapa mesti… mesti begitu hati-hati?”

Sebenarnya ia hendak mengatakan “kenapa mesti ketakutan”, tapi ia khawatir menyinggung perasaan orang hingga kalimat itu digantinya sebelum terucapkan.

Sementara itu di ruangan situ sudah dinyalakan api lilin, di bawah cahaya lilin Hian-lan melihat bukan saja si kakek tadi tampak khawatir bahkan si orang bersenjata papan catur, kedua susing dan lain-lain juga kelihatan sangat takut. Padahal tadi telah disaksikannya ilmu silat orang-orang itu cukup tinggi, apalagi sifat mereka itu semuanya seperti orang sinting, segala urusan dianggap seperti permainan saja, siapa duga kini begitu ketakutan dan berubah menjadi pengecut, sungguh susah untuk dimengerti.

Dalam pada itu si tukang kayu yang diminta mencari akal itu hanya mengangguk saja, lalu ia keluarkan sebuah meteran, ia mengukur-ukur di sudut ruangan, lantas geleng-geleng kepala. Kemudian ia bawa cektay (tatakan lilin) dan menuju ke belakang. Semua orang lantas mengikut di belakangnya.

Sepanjang jalan tukang kayu itu meneliti kian-kemari dan ukur sini dan ukur sana, tapi hasilnya selalu geleng-geleng kepala. Setiba di ruangan dalam, mendadak ia meloncat ke atas dan mengukur belandar rumah, kembali ia geleng-geleng kepala pula dan turun kembali serta melanjutkan ke ruangan lebih belakang lagi.

Setiba di ruangan layon, ia teliti beberapa kali di sekitar peti mati Sih-sin-ih yang kosong itu lalu geleng-geleng kepala pula dan berkata, “Sayang, sayang!”

“Bagaimana? Apa tak berguna?” tanya si kakek penabuh kecapi.

“Ya, tentu akan diketahui Susiok,” sahut si tukang kayu.

“Masih kau panggil dia sebagai… sebagai susiok?” seru si kakek dengan gusar.

Si tukang kayu hanya menggeleng kepala saja lalu berjalan pula ke belakang.

“Selain menggeleng kepala, rupanya orang ini tidak becus apa-apa lagi,” demikian pikir Kongya Kian.

Sepanjang jalan si tukang kayu itu masih terus ukur sini dan ukur sana sambil menghitung-hitung setiap langkah, lagaknya persis seorang arsitek, seorang pemborong lagi merancang bangunan yang akan didirikannya. Dan akhirnya sampailah di tengah taman di belakang rumah.

Sambil memegang tatakan lilin si tukang kayu merenung sejenak, tiba-tiba ia mendekati sederetan lumpang batu yang berjumlah lima buah banyaknya, ia pikir pula sebentar, lalu taruh tatakan lilin di tanah, jalan ke sisi kiri ke samping lumpang batu yang kedua, ia raup beberapa tangkup pasir dan dimasukkan ke dalam lumpang itu, lalu ia angkat sebuah alu batu bertangkai yang terletak di samping lumpang dan mulai ia menumbuk, maka terdengarlah suara “blang-blung” yang keras.

Diam-diam Kongya Kian mengurut dada, pikirnya, “Sialan benar! Dasar orang gila semua, dalam keadaan begini dia masih bisa iseng main tumbuk padi segala. Kalau yang ditumbuk memang padi sih dapat dimengerti, tapi dalam lumpang itu sudah terang cuma pasir belaka, memangnya dia akan makan pasir? Sungguh sialan!”

Syukurlah ia lihat sang toako, yaitu Ting Pek-jwan, keadaannya baik-baik saja, meski tak sadarkan diri, tapi seperti orang tertidur karena mabuk arak dan tiada tanda bahaya.

Dalam pada itu suara “blang-blung-blang-blung” masih terdengar terus, sesudah belasan kali si tukang kayu menumbuk lumpang batu itu, sekonyong-konyong sejauh belasan meter di pojok taman sebelah timur sana terdengar mengeluarkan suara keriang-keriut.

Suara keriang-keriut itu sangat perlahan, tapi betapa tajam telinga Hian-lan dan Kongya Kian sedikit mendengar sesuatu suara yang mencurigakan, segera pandangan mereka beralih ke arah sana. Maka tertampaklah dari arah yang bersuara keriang-keriut itu tumbuh empat batang pohon besar secara berjajar.

Sedangkan suara “blang-blung” masih terus berbunyi karena si tukang kayu tiada hentinya menumbuk lumpang batu itu. Aneh juga, pohon kedua di sebelah timur itu tiba-tiba bisa bergeser memisahkan diri dengan perlahan.

Selang sejenak pula, kini semua orang dapat melihatnya dengan jelas bahwa setiap kali alu di tangan si tukang kayu itu menumbuk lumpang, maka pohon itu lantas bergeser sedikit ke samping.

Mendadak si kakek berjidat nonong itu berseru girang, terus saja ia berlari ke pohon itu, katanya dengan suara perlahan, “Ya, benar, inilah dia!”

Waktu semua orang ikut mendekat, maka tertampaklah tempat pohon bergeser itu kelihatan sepotong papan batu yang besar, di atas papan batu itu terpasang sebuah gelang besi.

Kejut, kagum, dan malu pula Kongya Kian. Katanya dalam hati, “Alat rahasia di bawah tanah ini teratur dengan sangat bagus hingga susah dibayangkan oleh siapa pun juga. Tapi si tukang kayu berkapak ini dalam waktu singkat saja dapat menemukan tempat rahasia ini, betapa pintar dan cerdiknya sungguh tidak di bawah pembuat alat rahasia ini.”

Dan sesudah menumbuk lagi belasan kali, papan besar itu kelihatan seluruhnya. Segera si kakek aneh memegang gelang besi itu dan menariknya, tapi tidak bergerak sedikit pun. Selagi ia hendak menarik lebih kuat lagi, tiba-tiba si tukang kayu berseru, “Nanti dulu, Toako!”

Mendadak ia lompat ke atas lumpang batu ujung kanan sana, ia buka celana terus membuang air sambil berseru, “Ayo, semuanya ke sini, kencinglah beramai-ramai!”

Semula si kakek melengak, tapi segera ia lepaskan gelang besi itu dan memburu ke tempat kawannya. Seketika si orang bersenjata papan catur, kedua susing, ditambah si kakek nonong dan si tukang kayu sendiri beramai-ramai mereka membuang air kecil ke dalam lumpang batu.

Dalam suasana lain mungkin Kongya Kian dan lain-lain akan merasa geli atas tingkah laku orang-orang sinting itu. Tapi hanya sebentar saja semua orang lantas mengendus bau belerang, bau obat pasang. Lalu terdengar si tukang kayu berseru, “Cukuplah sudah, tak berbahaya lagi!”

Kalau kawan-kawannya lantas berhenti kencing, hanya si kakek nonong belum mau sudah, air seninya masih terus mancur bagaikan air leding, bahkan mulutnya ikut mengomel pula, “Sayang, kembali kurusak sebuah perangkap rahasia lagi! Eh, Lakte, untung kau keburu mencegah kalau tidak, wah, tentu sekarang kita sudah menjadi perkedel semua!”

Setelah mencium bau belerang itu, maka Kongya Kian dan lain-lain merasa ngeri juga. Mereka insaf dalam saat sesingkat itu mereka telah lolos dari lubang jarum dan nyaris hancur.

Nyata di bawah gelang besi yang ditarik-tarik si kakek itu tergandeng kabel obat pasang, sekali gelang besi itu terangkat hingga meledak dinamit yang sudah dipendam di situ, maka pasti hancur lebur mereka. Untung si tukang kayu sangat cerdik dan cepat mengajak kawan-kawannya mengencingi sumbu dinamit itu hingga basah, dengan demikian barulah mereka terbebas dari bencana.

Kemudian si tukang layu memutar sekuatnya lumpang ujung kanan itu tiga kali, lalu ia menengadah dan berkomat-kamit entah menghafalkan apa, sesudah berpikir sejenak segera lumpang itu diputar lagi ke arah yang berlawanan, maka terdengarlah suara berkeriut perlahan, tahu-tahu papan batu tadi tertarik masuk ke bawah tanah hingga berwujudlah sebuah lubang.

Sekali ini si kakek nonong tidak berani sembrono lagi, ia memberi tanda agar si tukang kayu berjalan di depan.

Namun si tukang kayu diam saja dan tiba-tiba berjongkok untuk memeriksa lumpang batu pojok kiri. Pada saat lain sekonyong-konyong dari bawah tanah terdengar suara orang memaki, “Sing-siok Lokoay, kakek moyangmu ya! Kau jahanam keparat, haram jadah! Bagus, bagus, akhirnya dapat kau temukan aku. Baiklah, anggaplah kau memang lihai. Kejahatanmu sudah kelewat takaran, pada suatu hari pasti akan kau terima ganjaranmu! Nah, masuklah sini, masuklah untuk membunuh aku!”

Suatu itu dikenal betul Hian-lan adalah suara Sih-sin-ih. Keruan ia sangat girang.

Tapi si kakek nonong tadi lantas berseru, “Gote, akulah adanya! Kami sudah datang dengan komplet!”

Suara di dalam lubang itu berhenti sejenak lalu berseru, “He, apa betul di situ Toako adanya?”

“Ya,” sahut si kakek. “Kalau tiada Lakte, masakah kami mampu membuka kulit kura-kuramu yang keras ini!”

Sekejap kemudian, “siut” mendadak dari bawah tanah menongol keluar seorang, siapa lagi dia kalau bukan Sih-sin-ih? Rupanya ia tidak menduga bahwa selain si kakek nonong dan kawan-kawannya masih terdapat pula Hian-lan dan banyak lagi, maka ia kelihatan tercengang.

Buru-buru si kakek nonong berkata, “Sementara ini tidak sempat buat bicara, ayolah lekas menyusup masuk lagi, bawa serta Jitmoay dan muridku untuk diberi obat. Apa tempat di bawah dapat memuat orang sebanyak ini?”

“Eh, Taysu, engkau juga berada di sini? Beberapa orang ini apa juga kawan sendiri?” segera Sih-sin-ih menyapa Hian-lan.

Untuk sejenak Hian-lan ragu, tapi akhirnya menjawab juga, “Ya, semuanya kawan sendiri!”

Sebenarnya pihak Siau-lim-si sudah anggap Hian-pi Taysu ditewaskan oleh Koh-soh Buyung-si maka orang she Buyung itu dipandang sebagai musuh terbesar. Tapi sekali ini mereka telah mohon obat bersama ke tempat Sih-sin-ih ini, sepanjang jalan Pek-jwan dan Kongya Kian telah memberi penjelasan bahwa sekali-kali Hian-pi Siansu bukan dibunuh oleh Buyung-kongcu, untuk ini Hian-lan sudah percaya sebagian besar, apalagi mereka lalu menghadapi musuh bersama dan senasib seperjuangan, maka sekarang ia pun tidak sangsi lagi untuk mengaku rombongan Kongya Kian sebagai kawan.

Mendengar jawaban Hian-lan itu, Kongya Kian juga balas mengangguk kepada padri itu sebagai tanda terima kasih yang tak terucapkan.

Dalam pada itu Sih-sin-ih telah menyahut pertanyaan si kakek tadi, “Di bawah sana cukup luas, tiga kali jumlah ini juga dapat muat, ayolah masuk semua ke bawah. Silakan Hian-lan Taysu lebih dulu!”

Walaupun begitu katanya, tidak urung ia mendahului menyusup ke bawah. Ia cukup tahu peraturan Kangouw, di tempat yang gelap gulita penuh rahasia itu betapa pun orang tentu merasa sangsi, jika ia sendiri mendahului di depan barulah akan menghindarkan rasa sangsi orang lain.

Dan sesudah Sih-sin-ih menyusup ke bawah, Hian-lan juga tidak sungkan-sungkan lagi, segera ia pun menyusul masuk ke dalam, lalu diikuti yang lain, jenazah Hian-thong juga digotong masuk.

Waktu Sih-sin-ih putar tombol alat rahasia itu maka papan batu besar tadi lantas mumbul ke atas hingga tertutup dengan rapat. Ketika tombol diputar lagi, pohon yang menggeser minggir tadi lantas kembali juga di atas papan batu.

Di dalam situ adalah sebuah lorong batu, semua orang harus berjalan dengan setengah berjongkok. Tak lama kemudian, jalan lorong itu makin naik ke atas, kiranya mereka berada di dalam sebuah terowongan alam yang panjang.

Setelah berjalan puluhan meter jauhnya, akhirnya mereka sampai di suatu gua yang amat luas. Di pojok gua tertampak berkumpul belasan orang, ada tua-muda, laki-perempuan dan anak-anak. Ketika mendengar suara tindakan orang, maka orang-orang itu sama menoleh.

“Mereka ini anggota keluargaku,” tutur Sih-sin-ih. “Dalam keadaan bahaya, tidak sempat untuk diperkenalkan satu per satu. Nah, Toako, Jiko, ceritakanlah cara bagaimana kalian bisa sampai di sini.”

Sebagai seorang tabib ulung, tanpa menunggu jawaban si kakek nonong ia lantas memeriksa keadaan yang terluka. Yang pertama diperiksa adalah Hian-thong.

“Taysu ini wafat dengan sempurna, sungguh harus dibuat girang dan diberi selamat,” katanya kemudian. Dan setelah memeriksa Ting Pek-jwan ia berkata dengan tersenyum, “Serbuk bunga Jitmoay kami hanya membuat orang mabuk saja, sebentar lagi dia akan sadar sendiri dan tak berbahaya.”

Sedangkan luka si wanita cantik dan si pemain sandiwara adalah luka luar, hal ini bagi Sih-sin-ih sudah tentu dianggap perkara kecil saja.

Ketika giliran A Pik diperiksa, sekonyong-konyong Sih-sin-ih berseru, “Hah, Sing-siok… Sing-siok Lokoay benar-benar sudah datang. Wah… racunnya ini aku tidak sanggup menyembuhkannya.”

“Wah, lantas bagaimana baiknya? Harap tabib sakti suka menolongnya sedapat mungkin,” seru Kongya Kian dengan khawatir.

“Uwaaaahh!” tiba-tiba di sebelah sana si kakek nonong menangis seperti anak kecil.

“Toako,” kata Ceng-cu, “‘Manusia zaman purba tidak kenal kegembiraan hidup, dan tidak kenal sedih kalau mati’. Sekarang muridmu terkena racun Susiok jahanam kita itu, jika tak bisa disembuhkan, ya, sudahlah, buat apa mesti menangis segala?” demikian si sastrawan linglung ikut berkata.

“Tapi sudah delapan tahun muridku yang baik ini berpisah dengan aku dan baru saja kami berjumpa kembali, jika dia mati tentu saja aku sedih,” demikian sahut si kakek dengan marah-marah. “O, A Pik, kau tidak boleh mati, seribu kali tidak boleh mati.”

Ketika Kongya Kian, Pau Put-tong dan lain-lain memandang A Pik, tertampak air maka anak dara itu bertambah merah hingga makin cantik menyenangkan. Tapi darah di bawah kakinya seakan-akan merembes keluar.

“Sih-sin-ih, keracunan apakah adik kami ini?” tanya Kongya Kian.

Mendadak si sastrawan linglung menyela, “Nona cilik ini adalah murid Toako kami dan aku terhitung susioknya. Sedang kau adalah saudara angkat si nona cilik, kalau diurutkan terang kau lebih rendah satu angkatan daripada kami. Kata Khonghucu, ‘Sebutan yang tepat harus ditaati’!”

“Pantasnya kau mesti panggil aku sebagai susiok dan juga tidak boleh memanggil Sih-sin-ih secara sembarangan melainkan harus menyebut Sih-susiok, tahu?”

Sementara itu Sih-sin-ih duga sudah memeriksa nadi Pau Put-tong dan Hong Po-ok, sudah diperiksanya pula lidah kedua orang. Lalu memejamkan mata dan memeras otak. Orang lain tidak berani mengganggu renungannya dan tiada seorang pun memedulikan tangisan si kakek dan ocehan si sastrawan linglung yang sok nabi itu.

Selang tak lama, tiba-tiba Sih-sin-ih menggeleng-geleng kepala, katanya, “Aneh, aneh sekali! Siapa orang yang melukai kedua saudara ini?”

“Seorang pemuda berkerudung besi,” tutur Kongya Kian.

“Pemuda? Ah, mustahil masih muda?” kata Sih-sin-ih pula. “Ilmu silat orang ini meliputi golongan cing dan sia yang hebat. Lwekangnya tinggi, sedikitnya sudah melatih diri selama 30 tahun, mana bisa seorang muda?”

“Orang itu pernah menyelundup ke Siau-lim-si dan sama sekali kami tidak mengetahui, sungguh kami harus merasa malu,” ujar Hian-lan.

“Ai, memalukan juga, tentang racun yang mengeram di tubuh kedua saudara ini aku pun tak bisa berbuat apa-apa, sungguh menyesal, gelaran ‘sin-ih’ untuk selanjutnya aku tidak berani terima lagi,” demikian kata Sih-sin-ih akhirnya.

“Sih-siansing, jika begitu, biarlah kami mohon pamit saja,” tiba-tiba suara seorang lantang berseru.

Kiranya Ting Pek-jwan adanya. Dia jatuh pingsan karena ditaburi serbuk bunga si wanita cantik, tapi dasar lwekangnya teramat tinggi, kini sudah siuman kembali.

“Ya, benar!” segera Pau Put-tong menanggapi sang toako. “Buat apa main sembunyi di liang ini? Mati-hidup seorang laki-laki sejati sudah ditakdirkan Ilahi, mana boleh meniru sebangsa kura-kura dan celurut, selalu mengeram di dalam liang saja?”

“Huh, besar amat mulut Sicu ini!” jengek Sih-sin-ih. “Apakah kau tahu siapakah gerangan yang akan datang itu?”

“Sudah tentu kami tahu!” mendadak Po-ok menimbrung. “Kalian takut kepada Sing-siok Lokoay, tidak nanti aku pun takut. Percuma saja kalian sebagai jago silat, sekali mendengar nama Sing-siok Lokoay lantas ketakutan setengah mati seperti ini!”

Di lain pihak si kakek nonong sedang meraba-raba bahu A Pik dengan perlahan, katanya sambil menangis, “A Pik! O, A Pik! Orang yang membunuhmu adalah kau punya susiokco, Suhu sendiri tidak mampu membalaskan sakit hatimu lagi.”

Mendengar orang-orang sinting itu semuanya menyebut Sing-siok Lokoay sebagai susiok (paman guru), diam-diam Kongya Kian sangat heran. Pikirnya, “Sebelum tinggal pergi harus kuselidiki dulu seluk-beluk orang-orang ini, agar ada suatu patokan dalam usaha menolong Lakmoay nanti.”

Karena pikiran segera ia bertanya, “Berulang-ulang kalian menyebut Sing-siok Lokoay sebagai susiok, lalu sebenarnya kalian ini orang dari aliran mana?”

Walaupun sudah beberapa tahun mengabdi kepada Buyung-kongcu dan mengangkat saudara dengan Ting Pek-jwan dan Kongya Kian berempat ditambah pula A Cu, tentang asal-usul anak dara itu, selama ini tidak pernah ditanyakan.

Maka Hian-lan lantas menyokong, “Ya, benar, apa yang kulihat dan dengar hari ini banyak sekali yang membingungkan, memang Lolap ingin minta keterangan kepada Sih-heng sekalian.”

“Kami berdelapan saudara seperguruan dan berjuluk ‘Yu-kok-pat-yu’ (Delapan Sekawan dari Lembah Sunyi),” demikian Sih-sin-ih mulai menutur. Lalu ia tunjuk si kakek nonong penabuh kecapi dan berkata, “Dia ini toasuko kami. Aku sendiri adalah longo (kelima). Cerita tentang kami ini teramat panjang, rasanya juga tidak perlu diketahui orang luar….”

Baru sekian dia bicara, terdengar suara seorang yang halus tajam sedang berseru, “Sih Boh-hoa, kenapa kau tidak keluar menemui aku? Kheng Kong-leng, kenapa kau tidak memetik kecapi?”

Suara itu halus sekali, tapi sekata demi sekata dapat didengar dengan jelas oleh semua orang yang berada di dalam gua, suara itu seakan-akan dapat menyusup melalui permukaan tanah yang tebal dan tersiar ke dalam telinga setiap orang melalui terowongan di bawah tanah yang berliku-liku itu.

Mendengar itu, si kakek nonong berseru kaget sambil melonjak bangun, serunya, “Itu dia Sing-siok Lokoay!”

Segera Hong Po-ok juga melompat bangun, teriaknya, “Toako, Jiko, marilah kita keluar untuk menempurnya mati-matian!”

“Jangan, jangan!” si kakek mencegah. “Sekali kalian keluar pasti jiwa kalian akan melayang percuma. Ini sih tidak menjadi soal, tapi akibatnya tempat rahasia di bawah tanah ini akan ketahuan musuh dan jiwa berpuluh orang di sini juga akan ikut berkorban karena kecerobohanmu ini!”

“Jika suaranya mampu berkumandang sampai di sini, masakah dia tidak tahu tempat sembunyi kita ini?” ujar Pau Put-tong. “Kukira, biar kau sembunyi seperti kura-kura mengkeret juga akhirnya akan diketemukan dia.”

“Dalam waktu sejam dua jam belum tentu ia mampu masuk ke sini,” ujar si kakek. “Marilah lebih baik kita merundingkan suatu cara yang untuk menyelamatkan diri.”

Orang yang membawa kapak dan berdandan sebagai ahli pertukangan itu sejak masuk dalam gua itu hanya diam saja, kini tiba-tiba menceletuk, “Meski kepandaian Susiok sangat tinggi, tapi untuk bisa memecahkan rahasia gua di bawah tanah ini paling sedikit diperlukan dua jam lamanya. Dan untuk mendapatkan cara agar bisa menyerbu masuk kemari, paling sedikit diperlukan pula dua jam lagi.”

“Jika begitu, jadi kita ada tempo untuk berunding selama empat jam, begitu bukan?” kata si kakek.

“Empat setengah jam,” sahut si tukang kayu.

“Lho, dari mana lagi datangnya setengah jam itu?” tanya si kakek.

“Dalam waktu empat jam ini, aku dapat mengatur tiga perangkap rahasia untuk merintangi serbuannya selama setengah jam,” sahut si tukang.

“Ehm, bagus!” kata si kakek. “Hian-lan Taysu, sebentar kalau berhadapan dengan iblis besar itu kami sudah terang sukar lolos dari tangannya. Tapi kalian adalah orang luar, begitu ketemu tentu iblis itu mencurahkan perhatiannya untuk menghadapi kami, dan kalian menjadi ada kesempatan untuk melarikan diri. Hendaklah kalian jangan sok kesatria dan menantang dia. Perlu diketahui bahwa selama ini barang siapa mampu lolos di bawah tangan Sing-siok Lokoay dengan selamat, maka orang itu terhitung seorang kesatria gagah perkasa.”

“Ai, baunya, bacin benar bau ini,” mendadak Pau Put-tong berteriak.

Semua orang melengak, segera mereka mengendus-endus dengan hidung, tapi tak tercium sesuatu bau apa-apa, maka dengan wajah penuh tanda tanya semua orang berpaling kepada Pau Put-tong.

“Bukan gas racun, tapi orang ini baru saja kentut, wah, baunya tak tahan,” kata Pau Put-tong sambil menuding si kakek nonong dan tangan yang lain tetap mendekap hidung.

Tadi hanya sekali gebrak saja Pau Put-tong kena dibekuk orang tua itu, maka sampai sekarang ia masih penasaran. Dasar jiwanya memang gagah berani, tidak takut langit, tidak gentar bumi, biar tahu kepandaian sendiri bukan tandingan lawan juga tidak mau menyerah, maka ia masih terus mencaci maki.

Orang yang bersenjata papan catur melotot sekali pada Pau Put-tong, lalu mengejek, “Huh, untuk lolos dari tangan Toasuheng kami saja kau tidak mampu, apalagi ilmu silat susiok kami itu berpuluh kali lebih lihai daripada Toasuheng. Nah, katakanlah, siapakah sebenarnya yang kentut?”

Diam-diam Ting Pek-jwan berpikir, “Apa yang dikatakan orang-orang ini cukup beralasan juga. Kalau Pau-samte cekcok terus dengan mereka hanya akan membuang waktu saja.”

Maka ia lantas buka suara, “Tentang asal-usul kalian sama sekali kami tidak tahu, tadi telah terjadi salah paham hingga salah melukai nyonya ini, sungguh aku sangat menyesal dan sukalah dimaafkan. Jika sekarang kita harus bersatu untuk melawan musuh, maka kita terhitung orang sendiri. Sebentar bila musuh tiba, meski anak buah Koh-soh Buyung tidak becus juga tidak nanti melarikan diri. Dan kalau betul kita tak dapat melawan musuh, biarlah kita gugur bersama saja di sini.”

“Hui-keng, Hui-si.” demikian Hian-lan lantas memberi pesan kepada dua padri Siau-lim-si, “Ginkang kalian lebih tinggi, sebentar kalian harus mencari kesempatan untuk meloloskan diri dari pulang ke biara untuk memberi lapor kepada Hongtiang Supek. Celakalah kalau kita ditumpas habis oleh musuh hingga berita kematian kita tak diketahui para kawan.”

“Kami akan melaksanakan titah Supek dengan baik,” sahut Hui-keng dan Hui-si sambil memberi hormat.

Mendengar ucapan Ting Pek-jwan dan Hian-lan itu tahulah Sih-sin-ih bahwa mereka sudah bertekad akan gugur bersama dengan orang banyak untuk menghadapi musuh. Sebabnya Hui-keng dan Hui-si disuruh mencari kesempatan untuk meloloskan diri tentu agar supaya Siau-lim-si mengetahui siapakah musuh mereka dan kelak dapat menuntut balas.

Si kakek nonong tampak termangu-mangu sejenak, tiba-tiba ia bertepuk tangan sambil tertawa, katanya, “Memangnya semua orang akan mati, A Pik yang keracunan ini paling-paling juga mati saja kenapa aku mesti berduka segala? Ai, ada orang bilang aku Kheng Kong-leng adalah orang tolol, untuk mana aku tidak dapat terima. Tapi tampaknya sekarang aku memang tolol, andaikan bukan si tolol besar tentu juga si tolol kecil.”

“Memangnya siapa bilang kau pintar?” timbrung Pau Put-tong. “Kau memang orang tolol mahabesar, seorang goblok tulen!”

“Kan tidak lebih tolol daripadamu,” sahut si kakek yang bernama Kheng Kong-leng itu dengan marah.

“Tentu saja lebih tolol, kau lebih tolol sepuluh kali daripadaku,” sahut Put-tong.

“Kau lebih tolol seratus kali daripadaku!” teriak si kakek dengan ganas.

“Dan kau lebih tolol seribu kali daripadaku!” Put-tong juga ngotot.

“Sudahlah, sudahlah! Buat apa kalian ribut urusan yang tak berguna,” sela si Tabib Sakti Sih Boh-hoa. “Bahwasanya bila nanti Hui-keng dan Hui-si kedua Taysu pulang lapor ke Siau-lim-si dan kalian ditanya Hongtiang Taysu, mungkin kalian tak bisa memberi keterangan yang jelas, maka biarlah kuceritakan sedikit.”

“Sebenarnya urusan ini adalah rahasia perguruan kami dan tidak perlu diketahui orang luar, tapi demi untuk membasmi racun dunia persilatan yang terkutuk ini, bila padri sakti Siau-lim-si tidak ikut dalam usaha ini tentu akan sukar dilaksanakan. Sekarang akan kuceritakan seluk-beluk urusan kami ini, cuma diharap dengan hormat agar kalian jangan lagi membocorkan hal ini kepada orang luar selain memberi laporan kepada Hongtiang kalian saja.”

Berbareng Hui-keng dan Hui-si mengiakan dan berjanji takkan menyiarkan rahasia cerita itu.

Lalu Sih Boh-hoa berkata kepada Kheng Kong-leng, “Toasuko, tentang urusan kita dahulu akan Siaute ceritakan, lho!

“Aneh,” sahut Kheng Kong-leng tanpa pikir, “mulutmu tumbuh di kepalamu, mau katakan boleh kau bicara, kenapa mesti tanya padaku?”

Lalu Sih-sin-ih berkata, “Hian-lan Taysu dan Ting-heng sekalian, adapun guru kami namanya di dunia persilatan terkenal sebagai Cong-pian Siansing….”

“Hah, Cong-pian Siansing?” berbareng Hian-lan, Pek-jwan dan lain-lain tercengang dan menegas bersama.

Seperti pernah diceritakan, Cong-pian Siansing adalah sama dengan Liong-ah Lojin. Tokoh ini tuli dan bisu, tapi justru memakai alias “Cong-pian Siansing” atau tajam telinga dan tangkas mulut.

Setiap orang Kangouw mengetahui bahwa semua anak muridnya juga dibikin cacat pula, yaitu ditulikan dan dibisukan. Tapi kini Kheng Kong-leng berdelapan semuanya pandai bicara dan pintar mendengar, sudah tentu hal ini mengherankan jika mereka mengaku sebagai anak murid Liong-ah Lojin.

Dalam pada itu Sih-sin-ih telah melanjutkan ceritanya, “Tentang anak murid perguruan kami semua tuli dan bisu, hal ini adalah kejadian 30 tahun paling akhir ini, dahulu Suhu kami bukan orang tuli, lebih-lebih bukan orang bisu. Beliau hanya dipaksa menjadi tuli dan bisu oleh sutenya sendiri, yaitu Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu.”

Hian-lan dan lain-lain kembali bersuara heran.

Namun Sih Boh-hoa menyambung terus, “Cosuya (kakek guru) seluruhnya cuma menerima dua orang murid, murid pertama she So bernama Sing-ho, yaitu guru kami. Murid kedua adalah Ting Jun-jiu yang sekarang terkenal sebagai Sing-siok Lokoay. Semula ilmu silat mereka berdua setingkat, tapi akhirnya menjadi selisih jauh.”

“Hehe, tak usah diterangkan juga orang akan tahu pasti susiokmu menjadi jauh lebih lihai daripada gurumu,” tiba-tiba Put-tong menyela.

“Bukan begitu soalnya,” kata Boh-hoa. “Sebab Cosuya kami adalah seorang genius, beliau memahami segala ilmu pengetahuan di jagat ini….”

“Ai, ai, masa iya?” Put-tong mengacau pula.

Tapi Sih-sin-ih tak menggubrisnya, ia tahu orang itu memang sok membantah setiap pendapat orang lain. Maka ia tetap melanjutkan ceritanya, “Semula guruku dan Susiok sama-sama mempelajari ilmu silat, tapi kemudian guruku berubah minat dan mempelajari ilmu seni budaya pada Cosuya….”

“Hahaha, kiranya caramu memetik kecapi setan itu diperoleh dari situ,” Put-tong menyela pula, ia maksudkan Kheng Kong-leng.

“Dan kalau Suhu kami melulu mempelajari sejenis ilmu saja, misalnya petik kecapi, tentulah takkan beralangan,” demikian Sih-sin-ih menyambung, “tapi apa yang dimiliki Cosuya itu sungguh terlalu banyak, terlalu luas, baik seni musik, seni catur, seni tulis, seni ukir, seni bunga, pertabiban, ilmu nujum, perbintangan dan macam-macam lagi, pendek kata beliau serbabisa serta pintar.

“Semula guruku hanya mempelajari seni musik saja, tapi kemudian belajar seni catur pula, lalu belajar seni tulis dan seni lukis juga. Coba kalian pikir, setiap ilmu pengetahuan itu sudah barang tentu memakan waktu yang cukup lama. Sebaliknya Ting Jun-jiu itu mula-mula juga pura-pura ikut belajar, tapi lama-kelamaan ia bilang bakatnya terlalu bodoh, susah mempelajari ilmu pengetahuan sebanyak itu, maka yang dipelajarinya benar-benar hanya khusus ilmu silat saja. Dengan begitu, setelah setahun dua tahun dan sepuluh tahun, dengan sendirinya ilmu silat mereka berdua saudara seperguruan menjadi kelihatan berbeda secara mencolok.”

“Ya, melulu semacam ilmu pengetahuan saja sudah makan tenaga dan pikiran setiap orang yang mempelajarinya, tapi Cong-pian Siansing ternyata mahir dan begitu luas pengetahuannya, hal ini benar-benar luar biasa,” demikian kata Hian-lan. “Dan kalau Ting Jun-jiu itu mencurahkan pikirannya dalam satu ilmu khusus saja hingga ilmu silatnya lebih tinggi dari sang suheng, hal ini pun bukan sesuatu yang mengherankan.”

“He, Longo, masih ada yang lebih penting, mengapa tidak kau ceritakan? Ayo, lekas ceritakan, lekas!” demikian Kheng Kong-leng berseru.

Maka Sih-sin-ih menurut pula, “Bahwasanya Ting Jun-jiu itu tekun belajar ilmu silat saja, hal ini boleh dikata ada baiknya juga. Cuma… cuma… ai, urusan ini kalau diceritakan sungguh agak memalukan nama baik guru kami. Pendek kata Ting Jun-jiu telah menggunakan macam-macam cara licik hingga dapat meyakinkan pula beberapa macam ilmu sesat yang lihai dan akhirnya Cosuya kami diserang olehnya hingga terluka parah.

“Maksudnya sebenarnya hendak membunuh Cosuya, tapi apa pun juga Cosuya adalah seorang kosen yang serbalihai, biarpun dalam keadaan tak terduga dan mendadak diserang, namun untuk mengarah jiwanya juga tidak gampang.

“Maka sesudah terluka parah, sekuat mungkin Cosuya bertahan, syukur Suhu kami juga keburu datang menolong. Tapi sebelumnya Ting Jun-jiu juga sudah mengatur rencananya dengan rapi, apa lagi ilmu silat guruku memang kalah kuat, maka setelah terjadi pertarungan sengit akhirnya guruku juga terluka parah, sedangkan Cosuya tergelincir ke dalam jurang dan tak diketahui mati-hidupnya.

“Sebabnya ilmu silat guruku kalah daripada Ting Jun-jiu adalah disebabkan perhatiannya terpencar untuk mempelajari ilmu pengetahuan lain, tapi ilmu pengetahuan yang lain tidak berarti tiada manfaatnya, tatkala terancam bahaya itulah guruku telah keluarkan ilmu pengetahuannya yang luas itu, beliau mengatur jalan ‘Ngo-heng-pat-kwa’ (Lima Unsur dan Delapan Segi) yang aneh dan sudah dipecahkan itu untuk mengacaukan pikiran Ting Jun-jiu dan akhirnya dapat menyelamatkan diri. Tapi Ting Jun-jiu telah mengancam, asalkan sejak itu guruku tidak membuka suara maka untuk selanjutnya beliau takkan diutik-utik.

“Tatkala itu dalam perguruan terdapat kami berdelapan, Suhu lantas menulis pernyataan dan kami dibubarkan serta tak diakui sebagai muridnya lagi. Sejak itu Suhu benar-benar berlagak tuli dan bisu, tidak bicara dan tidak mau mendengar, waktu menerima murid pula semuanya juga dibikin tuli dan bisu hingga terkenal sebagai ‘Liong-ah-bun’ di kalangan Kangouw.

“Menurut hematku boleh jadi Suhu menyesal karena terlalu banyak belajar ilmu pengetahuan lain hingga ilmu silatnya telantar dan dikalahkan Ting Jun-jiu, maka sesudah berlagak tuli dan bisu, beliau tidak mempelajari ilmu pengetahuan lain lagi.

“Tentang kami berdelapan saudara, selain kami belajar silat kepada Suhu, kami masing-masing mempelajari pula sejenis pengetahuan yang lain, hal ini terjadi sebelum Ting Jun-jiu mendurhakai Cosuya dan Suhu kami belum menyadari tentang bahayanya mempelajari ilmu lain sehingga pemusatan pikiran terpencar, maka beliau tidak melarang, bahkan menganjurkan dan memberi pujian pada kami. Adapun kepandaian lain yang dipelajari Kheng-toasuheng adalah memetik kecapi dan….”

Ia menunjuk orang yang bersenjata papan catur itu, “Dan Hoan Pek-ling Hoan-jisuheng, mempelajari seni catur, selama ini beliau belum menemukan tandingan. Hoan-jisuheng boleh dikatakan adalah juara catur pada zaman ini.”

“Pantas makanya kau gunakan papan catur sebagai senjata,” tukas Pau Put-tong sambil memandang Hoan Pek-ling. “Cuma papan caturmu terbuat dari besi sembrani untuk dipakai menyedot senjata musuh, hal ini terus agak licik dan bukan perbuatan seorang kesatria sejati.”

“Ilmu main catur memang baik dilakukan serang-menyerang secara terang-terangan, tapi soal mengatur siasat dan tipu untuk menjebak musuh kan juga tidak dilarang, demikian pula halnya dengan papan caturku ini,” sahut Hoan Pek-ling.

“Sebenarnya maksud tujuan Hoan-jisuko menggunakan papan catur besi sembrani ialah untuk mempelajari ilmu permainan catur setiap saat, baik waktu makan, tatkala berjalan atau pada saat duduk termenung, bila mendadak ia mendapat ilham atau tiba-tiba ingat sesuatu langkah caturnya yang bagus, maka segera papan catur itu lantas digunakan.

“Buah caturnya terbuat dari besi, bila ditaruh di atas papan catur besi sembrani itu akan terkantil, dengan demikian Jisuko dapat menyelami ilmu permainan caturnya di mana dan bilamana pun dia berada,” demikian Sih-sin-ih menerangkan. “Dan Samsuko kami itu she Koh bernama thok (baca), sesuai dengan namanya itu, maka beliau sangat suka membaca, tak peduli kitab apa pun pasti dibacanya, beliau adalah seorang cendekia yang sangat luas pengetahuannya. Hal ini mungkin kalian sudah menyaksikan tadi.”

“Ah, cendekia apa? Lebih mirip badut!” demikian Put-tong berolok-olok.

“Apa? Badut? Memangnya kau sendiri kesatria?” balas si sastrawan linglung alias Kou Thok itu.

Sih-sin-ih tahu watak kedua orang itu, jika mereka dibiarkan berdebat, mungkin tiga hari tiga malam pun takkan habis-habis. Maka cepat ia potong pembicaraan mereka dan memperkenalkan si sastrawan bersenjata boan-koan-pit itu, “Dan ini adalah sisuko kami, beliau mahir melukis, baik lukisan pemandangan alam, binatang atau tumbuh-tumbuhan, semuanya dapat dilukisnya dengan hidup. Dia she Go, sebelum masuk perguruan kami pernah menjadi komandan tentara dalam Kerajaan Song. Sebab itulah orang suka memanggilnya Komandan Go.”

“Komandan tentara yang selalu kalah perang, apa gunanya?” demikian Pau Put-tong berolok-olok lagi.

Tapi sekali ini tiada orang menggubris padanya. Maka Sih-sin-ih melanjutkan ceritanya, “Adapun aku sendiri adalah nomor lima, yang kupelajari adalah ilmu tabib, syukurlah selama ini namaku tidak terlalu jelek di kalangan Kangouw dan tidak sia-siakan ajaran guruku.”

“Ya, kalau cuma batuk pilek sih dapat disembuhkan, tapi bila menghadapi penyakit seperti aku ini lantas tak bisa berbuat apa-apa, ini namanya penyakit besar tak mampu mengobati, penyakit kecil tidak sampai mati. Hehe, gelaran Sih-sin-ih memang tidak bernama kosong!” demikian lagi-lagi Pau Put-tong mengejek.

Kheng Kong-leng menjadi geregetan, ia melirik gemas kepada Put-tong dan menjengek, “Sifat saudara ini benar-benar aneh bin luar biasa, sungguh tidak sama dengan orang lain!”

“Haha, memangnya aku she Pau (tanggung) dan bernama put-tong (tidak sama), dan dengan sendirinya tanggung tidak sama dengan orang lain,” sahut Put-tong dengan tertawa.

“Hahahaha,” Kheng Kong-leng terbahak-bahak. “Kau benar-benar she Pau dan bernama put-tong?”

“Sudah tentu benar, masakan palsu? Kalau palsu uang kembali!” sahut Put-tong, “dan si abang yang pandai membongkar alat rahasia ini apa barangkali murid keturunan Loh Pan?”

Loh Pan adalah seorang arsitek, seorang pencipta di Zaman Ciankok.

Maka Sih-sin-ih menjawab, “Ya, benar, Laksite bernama Thio A Sam, asalnya memang tukang kayu. Sebelum masuk perguruan kami dia sudah terkenal sebagai seorang ahli pertukangan, setelah belajar lagi pada guru kami, kepandaiannya makin tambah hebat. Dan Jitsumoay she Ciok, dia paling suka pada bunga, segala jenis tumbuh-tumbuhan bunga di dunia ini pasti ditanamnya dan dirawat dengan baik.”

“Obat yang menjatuhkan aku yang digunakan nona Ciok tadi tentulah serbuk bunga dan bukan racun,” ujar Ting Pek-jwan.

Wanita cantik she Ciok itu, nama gadisnya adalah Jing-loh, dengan tersenyum ia menyahut, “Ya, tadi banyak membikin susah padamu, harap maaf.”

“Cayhe juga berlaku kasar, harap nona jangan dendam,” sahut Pek-jwan.

Akhirnya Sih-sin-ih menunjuk si pemain sandiwara pula, katanya, “Dan Patsute ini bernama Li Gui-lui (Si Wayang Golek), sesuai dengan namanya, selama hidup ia suka jadi dalang dan membawakan lakon tingkah laku angin-anginan sehingga dalam hal ilmu silat menjadi agak telantar.”

“Oo, aku Li Si-bin adanya, aku tidak suka kerajaan tapi lebih suka main sandiwara, aha, puas sekali hatiku,” demikian seniman sinting itu menembang lagi.

Sih-sin-ih menutur lebih lanjut, “Meski kami berdelapan telah dibubarkan dari perguruan, tapi kami tidak pernah melupakan budi kebaikan Suhu, kami memberi nama sendiri sebagai ‘Yu-kok-pat-yu’ sebagai kenangan tatkala kami belajar pada guru kami yang baik hati di lembah sunyi itu. Bagi orang lalu mungkin akan menyangka kami cuma delapan sekawan yang wataknya cocok satu cuma lain, tapi tidak tahu kami sebenarnya adalah saudara seperguruan.

“Untuk menjaga kemungkinan datangnya Sing-siok Lokoay dan kami akan dihancurkan sekaligus, maka setiap lima tahun kami mengadakan pertemuan satu kali di sini, biasanya kami terpencar tiada tempat tinggal tertentu. Sebab itulah bahwasanya nona A Pik adalah murid Toasuheng hal ini sama sekali tak diketahui oleh kami, kalau tahu tentu takkan terjadi salah paham seperti tadi.”

Mendengar cerita tentang asal-usul kedelapan orang aneh itu, barulah rasa waswas Hian-lan dan lain-lain lenyap sebagian besar.

Lalu Kongya Kian bertanya pula, “Sebabnya Sih-siansing pura-pura meninggal dan menaruh racun dalam peti mati, apakah khusus dipasang untuk menghadapi Sing-siok Lokoay? Dan dari mana Sih-siansing tahu iblis itu akan datang ke sini?”

“Kejadian itu kalau diceritakan memang sangat aneh,” sahut Sih-sin-ih. “Dua hari yang lalu ketika aku duduk iseng dalam rumah, tiba-tiba datang empat orang penumpang kuda minta obat padaku. Soal memberi obat dan menolong orang sakit memang menjadi kewajibanku sebagai tabib dan sangat umum. Yang aneh adalah si penderita sakit. Satu di antaranya adalah seorang hwesio gemuk buntek, tulang iga depan dan belakang patah semua, badannya yang besar bulat itu hampir-hampir menjadi gepeng, jadi mirip habis dipres, ditempa dan digencet dalam suatu benda keras.”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: