Kumpulan Cerita Silat

29/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 49

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 12:19 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Tapi… tapi memang betul begitu,” ujar A Pik gugup, “dan… dan hwesio itu kan belum tentu dari Siau-lim-si sini.”

“Berpuluh li di sekitar Siau-sit-san ini setiap hwesio tentu ada sangkut pautnya dengan biara kami, tapi nona bicara…” sebenarnya ia hendak mendamprat A Pik, tapi melihat kelemahlembutannya, ia jadi tidak tega dan urung melanjutkan ucapannya.

Sesudah termenung sejenak, ia menduga kedatangan Buyung Hok pasti tidak mengandung maksud baik, tidak perlu ditunggu lagi, maka katanya pula, “Silakan kalian bertiga mengaso dulu ke dalam biara kami untuk menantikan datangnya Buyung-kongcu.”

Dengan ucapan itu, maksudnya adalah untuk menahan Kongya Kian bertiga secara halus, jika Kongya Kian menolak undangan itu, boleh jadi terpaksa akan dipakai kekerasan.

Tak terduga Kongya Kian terus menerimanya dengan baik, katanya, “Terima kasih, kami terpaksa mesti membikin repot Taysu sekalian!”

Lalu ia pondong Hong Po-ok dan mendahului melangkah ke pintu biara dengan cepat.

Sambil berjalan A Pik bertanya juga kepada padri yang melapor tadi, “Thaysuhu, luka samko kami itu berat atau tidak? Yaitu lelaki kurus berbaju kuning yang kumaksudkan. Bagaimana keadaan lukanya, apakah… apakah kawanmu yang melukainya?”

Waktu itu semua orang sedang berjalan dengan langkah cepat, apalagi Hian-lan masih berada di situ, sebenarnya hwesio itu tidak berani bicara, cuma A Pik bertanya dengan ramah tamah, ucapannya enak didengar, hingga mau-tidak-mau hwesio itu menjawabnya dengan suara perlahan, “Sicu berbaju kuning itu…”

Sampai di sini ia tuding Hong Po-ok dan melanjutkan, “lukanya serupa dengan tuan ini, dan bukan kami yang menyerangnya.”

Tapi sesudah merandek sejenak, kembali ia berkata, “Agaknya… agaknya orang dari sia-pay yang menyerangnya.”

Lalu ia pun berpaling dan berkata kepada Hian-lan lagi, “Luka yang dialami Hian-thong Supek itu pun sama seperti mereka.”

Hian-lan melengak kaget. “Jadi Hian-thong Sute juga kedinginan dari menggigil seperti ini?” tanyanya cepat.

“Betul,” sahut hwesio itu.

Hian-lan terheran-heran. Ia bergumam sambil berpikir, “Jadi luka mereka bertiga serupa?”

“Badan Hian-thong Supek terasa dingin sebagai es, maka Hongtiang telah menyalurkan Kim-kong-ciang-lik (tenaga sakti) untuk menolongnya, tapi belum lagi sembuh,” tutur hwesio itu.

Mendengar ucapan “belum lagi sembuh” itu nadanya tidak meyakinkan, segera Hian-lan dapat menduga bahwa murid keponakan itu tidak ingin unjuk kelemahan di hadapan orang luar, maka cuma mengatakan “belum lagi sembuh,” padahal yang benar adalah “sama sekali tidak manjur.”

Hian-lan sudah menyaksikan penderitaan Hong Po-ok akibat serangan racun dingin itu, lalu ia khawatir juga atas diri sang sute, tanpa bicara lagi mendadak ia melayang ke depan, begitu cepat hingga dalam sekejap saja hanya tertampak bayangan merah menyelinap hilang di balik pintu sana.

“Kepandaian yang hebat!” diam-diam Kongya Kian memuji dan tercengang oleh ginkang padri tua itu.

Setelah rombongan mereka sampai ruangan tamu di samping pendopo Tay-hiong-po-tian, karena padri Siau-lim-si memandang Kongya Kian bertiga pasti adalah musuh mereka, maka sikap mereka agak kurang hormat, cuma demi kehormatan mereka sebagai tuan rumah yang ternama, mau-tak-mau mereka menyilakan duduk dan menyuguhkan minuman kepada para tamu.

“Di manakah saudara angkat kami yang terluka itu? Di mana dia?” demikian Kongya Kian lantas tanya dengan tak sabar.

Tiba-tiba dari ruangan belakang ada suara sahutan orang yang keras lantang, “Jite, aku berada di sini! Samte juga kena serangan musuh secara keji!”

Menyusul tertampaklah Ting Pek-jwan masuk ruangan tamu dengan memondong Pau Put-tong, mukanya tampak muram sedih, kemudian Pau Put-tong diletakkannya di kursi.

Segera Kongya Kian menuang tiga butir pil penawar racun dan dijejalkan ke mulut Pau Put-tong.

“Wah, Thi-thau-siaucu (Si Bocah Kepala Besi) itu benar-benar sang… sangat aneh, aku… aku kena…” baru sekian Pau Put-tong bicara atau giginya lantas gemertukan karena menggigil kedinginan hingga tidak sanggup meneruskan.

Segera A Pik mengeluarkan saputangan untuk mengusap keringat di kening kedua saudara angkat itu, tapi lantas diketahuinya bahwa dalam sekejap saja butiran keringat itu sudah membeku menjadi es.

Tengah A Pik merasa bingung dan heran, sementara itu dari ruangan belakang telah masuk empat hwesio tua. Seorang di antaranya lantas berkata kepada Pek-jwan, “Ting-sicu, Hian-thong Suheng kami juga dilukai oleh Thi-thau-jin itu, ilmu sihir bocah itu memang sangat lihai, maka Hongtiang bilang agar kedua saudara angkat tuan yang juga terluka itu harap minum dulu ‘Cing-gi-liok-yang-tan’ buatan biara kami, lalu kami akan memberi bantuan tenaga pula dengan ‘Sun-yang-lo-han-kang’.”

Sungguh girang Ting Pek-jwan tidak kepalang. Ia tahu obat Cing-gi-liok-yang-tan itu adalah obat mujarab Siau-lim-si yang terkenal di seluruh jagat, untuk menyembuhkan racun dingin khasiatnya boleh dikata “cespleng”, sekali minum obat itu pasti akan sembuh.

Sedangkan “Sun-yang-lo-han-kang” adalah semacam lwekang khas yang cuma dimiliki oleh orang Siau-lim-si. Orang yang meyakinkan Sun-yang-lo-han-kang harus masih jejaka, dan sedikitnya harus melatih diri dengan giat selama 40-50 tahun untuk bisa mencapai tingkatan yang sempurna.

Pada umumnya orang yang dapat meyakinkan Sun-yang-lo-han-kang itu adalah padri Siau-lim-si yang menjadi hwesio sejak kanak-kanak hingga tua, makanya masih bertubuh jejaka. Kalau orang biasa yang sudah pernah kawin pasti takkan jadi meyakinkan ilmu sakti itu.

Tahu akan betapa hebatnya lwekang itu, segera Ting Pek-jwan dan Kongya Kian menyatakan terima kasih.

Lalu hwesio tua itu mengeluarkan dua butir pil sebesar biji kelengkeng, warnanya merah tua dan diminumkan kepada Pau Put-tong dan Hong Po-ok. Keempat hwesio tua itu terbagi dalam dua kelompok, dua orang melayani seorang, segera mereka gunakan telapak tangan masing-masing untuk menahan bagian dada dan punggung Pau Put-tong dan Hong Po-ok, mereka menyalurkan lwekang murni ke tubuh penderita.

Selang agak lama, rasa menggigil dingin Pau Put-tong dan Hong Po-ok lantas berhenti, air muka mereka yang pucat kehijau-hijauan itu pun hilang lambat laun.

Akhirnya keempat hwesio tua itu menarik kembali tangan masing-masing. Hwesio yang menjadi tertua tadi berkata, “Kedua Sicu sekarang tak beralangan lagi!”

“Terima kasih atas pertolongan para Taysu, Buyung-kongcu dan kami sekalian merasa utang budi,” kata Ting Pek-jwan dengan rendah hati.

“Ah, hanya urusan kecil saja kenapa mesti dipersoalkan?” sahut si padri tua.

Sebaliknya Pau Put-tong merasa penasaran meski sudah ditolong, omelnya, “Huh, terima kasih? Kita dilukai oleh pekerja kasar di biara ini, ayolah kita mencari ketua mereka untuk membikin perhitungan.”

Pek-jwan kenal perangai saudara angkatnya yang berangasan dan suka ngotot itu, tidak peduli apa yang dikatakan orang, tentu dia debat dan bantah menurut pendiriannya. Apalagi menurut pembicaraan padri Siau-lim-si tadi, katanya bocah bertopi besi itu memang betul adalah pekerja kasar biara mereka sendiri. Jika begitu, apa yang dikatakan Put-tong itu juga bukan tiada beralasan sama sekali. Namun apa pun juga orang sudah menyembuhkan lukanya yang parah tadi, patut juga kalau menyatakan rasa terima kasih kepada mereka.

Maka dengan tertawa Pek-jwan berkata kepada hwesio tua, “Maaf Taysu, saudara kami ini memang demikian wataknya, suka ribut dengan siapa pun juga…”

Belum selesai ia berkata, tertampak Ti-khek-ceng Hi-hong masuk ke situ dan berkata, “Hongtiang mengundang tuan-tuan ke sana!”

Segera Pek-jwan berlima ikut para padri itu menuju ke belakang, lalu keluar biara induk dan menuju ke suatu rumah samping di sebelah barat.

Biasanya hongtiang atau ketua Siau-lim-si kalau menemui tetamu tentu diadakan di ruangan resmi dalam biara induk mereka, tapi sekali ini telah pindah ke rumah samping.

Pek-jwan saling pandang sekejap dengan Kongya Kian, mereka tahu hal ini disebabkan ikut hadirnya A Pik. Sebab selamanya kaum wanita dilarang masuk ke Siau-lim-si, tapi demi menghormati tetamunya, hongtiang mau juga menerima A Pik dan mengalah menemui mereka di ruangan samping. Hal ini boleh dikata suatu kehormatan besar bagi para penggawa Buyung Hok itu.

Sesudah Hi-hong membawa para tamunya masuk ke rumah itu, maka tertampaklah di situ sudah duduk lima hwesio tua. Seorang yang duduk di tengah beralis putih panjang, berwajah welas asih. Segera hwesio tua itu berbangkit menyambut kedatangan tetamunya.

Pek-jwan tahu hwesio itu adalah Hian-cu Taysu, ketua Siau-lim-si yang termasyhur di seluruh jagat itu, cepat ia melangkah maju dan memberi hormat.

Hanya Pau Put-tong saja meski ikut juga memberi hormat, tapi ia mengomel, katanya Siau-lim-si adalah beng-bun-cing-pay (aliran suci dan golongan ternama), tapi dalam biara ternyata ada orang yang mahir menggunakan segala macam ilmu sesat yang jahat, kalau tersiar, tentu Siau-lim-si akan ditertawai kesatria seluruh jagat, dan macam-macam gerundelan lagi.

Hian-lan duduk di ujung pinggir, ia dapat mendengar omelan Pau Put-tong itu, seketika ia menarik muka, ia tuding seorang tua yang berperawakan tinggi besar tapi lesu, katanya, “Hian-thong Sute kami juga kena serangan musuh. Penjahat itu sengaja dikirim oleh orang sia-pay untuk memata-matai Siau-lim-si kami, kenapa kami yang disalahkan?”

Lalu ia berpaling kepada Hi-hong dan berkata pula, “Lekas panggil Sam-ceng, asal-usul Thi-thau-jin itu harus ditanya secara jelas, mengapa sampai dia dapat menyelundup ke dalam biara kita?”

“Lapor Susiokco, Sam-ceng telah dibawa lari orang,” tutur Hi-hong. “Serangan mendadak kawanan penjahat sekali ini agaknya memang bertujuan hendak menolong Sam-ceng.”

Seketika air muka Hian-lan berubah, ia termenung tanpa bicara lagi.

“Sam-ceng sedang dihukum dalam Ciam-hwe-pang, ketika penjahat menyerbu masuk, Hian-thong Susiokco telah berusaha merintangi, dan karena itulah beliau dilukai musuh,” demikian tutur Hi-hong pula.

Sinar mata Hian-lan beralih ke arah Hian-thong dengan penuh tanda tanya.

Segera berceritalah Hian-thong, “Ketika aku lalu di belakang Kay-lut-ih, kebetulan kulihat seorang kakek bermuka merah dan berambut putih sedang berlari keluar sambil menggendong Sam-ceng. Melihat gelagat yang mencurigakan itu, segera aku menegurnya. Tapi mendadak kakek itu melontarkan pukulan ke arahku. Cepat aku menangkis, tak terduga tenaga pukulan kakek itu ternyata sangat aneh, telapak tangannya seperti timbul daya sedot hingga tenaga dalamku terbetot melalui telapak tanganku yang beradu dengan tangannya itu…”

Seketika air muka Hian-lan bertambah gelisah, katanya, “Hah, apakah itu Hoa-kang-sia-sut (Ilmu Pemunah Tenaga) dari Sing-siok-pay?”

“Tatkala itu aku pun berpikir demikian,” kata Hian-thong, “maka lekas kukerahkan tenaga untuk melawannya. Tiba-tiba kakek itu membentak, ‘Lekas turun tangan!’ Dan tahu-tahu seorang mendekati punggungku, tanpa terasakan angin pukulan apa-apa, tahu-tahu bahu kiriku belakang kena digaplok sekali. Pukulan itu menimbulkan rasa dingin yang merasuk tulang dan susah ditahan. Ketika aku menoleh, kiranya yang menyerangku itu adalah Thi-thau-jin yang bekerja dalam biara kita itu… Kukira… kukira Thi-thau-jin itu mungkin… ooohh!” sampai di sini mendadak tubuhnya tergeliat dan giginya gemertukan.

Dan pada saat itu pula Pau Put-tong dan Hong Po-ok juga kumat racun dingin yang mengeram dalam tubuh mereka. Saking tak tahan kaki mereka jadi lemas dan terkulai ke lantai, cepat mereka mengerahkan tenaga dalam sendiri untuk bertahan sedapatnya.

Pau Put-tong dan Hong Po-ok adalah dua tokoh ternama dalam Bu-lim, biasanya mereka sangat menjaga harga diri, apalagi watak mereka memang angkuh dan tidak sembarangan mau mengaku kalah, kalau tidak terpaksa tidak nanti mereka mau berlaku sesuatu yang memalukan di hadapan padri Siau-lim-si seperti sekarang ini.

Dan selagi semua orang terperanjat oleh kejadian mendadak itu, di sebelah sana Hian-thong lantas memberosot juga ke lantai dari tempat duduknya.

Dengan demikian, mau-tak-mau Hian-cu Hongtiang ikut terkesiap. Ia tahu “Cing-gi-liok-yang-tan” buatan Siau-lim-si mereka adalah semacam obat mujarab yang khusus dapat menyembuhkan keracunan apa pun, ditambah lagi bantuan tenaga murni “Sun-yang-lo-han-kang” para hwesio tua yang berbadan jejaka tadi, sekalipun racun dingin dalam tubuh penderita seketika tidak punah semua, paling tidak juga dapat mencegahnya untuk sementara agar dalam waktu singkat racun dingin itu tidak kumat lagi.

Dengan sendirinya beberapa hwesio tua tadi juga ikut heran dan kehilangan muka. Segera mereka mengulangi lagi membantu dengan lwekang sakti dan sesudah sekian lama barulah ketiga orang itu terhindar dari siksaan racun dingin itu.

“Lohongtiang,” tiba-tiba A Pik membuka suara, “apakah Enci A Cu berbuat sesuatu kesalahan di biara sini hingga kalian mengurungnya sekian lamanya? Kumohon dengan sangat agar sudilah membebaskan dia,” habis berkata, ia memberi hormat dengan sungguh-sungguh.

Hian-cu menjadi bingung, cepat ia membalas hormat dan balas tanya, “Harap nona jangan banyak memakai peradatan. Kau bilang siapa yang kami kurung di sini?”

“A Cu, Enci A Cu,” A Pik menegaskan. “Dia masih sangat muda dan suka sembrono, hendaknya para Suhu dapat memaafkan dia. Sebenarnya aku sudah mohon pada Kongcuya agar suka mengirim surat untuk minta maaf pada Hongtiang atas kesalahan A Cu itu, tapi Kongcu bilang Enci A Cu terlalu nakal, kalau diberi sedikit hukuman oleh para Thaysuhu juga pantas, maka beliau sengaja menunggu setelah A Cu merasakan sedikit kegetiran barulah sekarang beliau berkunjung kemari untuk minta maaf sendiri pada kalian.”

Uraian A Pik itu lancar dan enak didengar, tetapi para hwesio tua itu hanya saling pandang saja, sebab tidak tahu duduknya perkara yang dimaksudkan.

Seperti diketahui, A Cu yang nakal itu telah menyelundup ke Siau-lim-si dengan menyamar sebagai hwesio dan berhasil mencuri kitab Ih-kin-keng edisi aslinya dalam bahasa Hindu kuno. Tapi dia dipergoki oleh Hian-cu Hongtiang hingga terkena pukulan sakti “Tay-pan-yak-kim-kong-ciang” yang hebat itu, untung dia ditolong oleh Siau Hong hingga cuma menderita luka dalam saja, tapi jiwanya tidak sampai melayang.

Ketika Hian-cu menyerang A Cu, sudah tentu ia tidak tahu bahwa hwesio gadungan itu adalah samaran seorang gadis cilik yang bernama A Cu segala.

Kemudian waktu Siau Hong membawa A Cu ke Cip-hian-ceng untuk minta obat pada Sih-sin-ih di sana A Cu berdusta bahwa dia kena dilukai oleh seorang kongcu muda, meski Hian-cit dan Hian-lan tatkala itu juga hadir di Cip-hian-ceng, tapi sekali-kali mereka tidak menyangka bahwa A Cu adalah “hwesio” yang mencuri kitab pusaka mereka dan kena serangan Hian-cu Hongtiang.

Sebab itulah, maka Hian-cu menjadi bingung demi mendengar uraian A Pik yang tak diketahui ujung pangkalnya itu. Padahal di dunia ini yang tahu betul duduk perkaranya hanya Siau Hong seorang.

Begitulah, maka Hian-cu menjawab dengan ramah, “Mungkin kabar bohong yang didengar nona tentang kawanmu ditahan dalam biara kami. Sebagai tempat suci yang bersejarah beribu tahun, tidak nanti ada anak murid kami berani berbuat sewenang-wenang.”

“Aku tidak menuduh kalian berbuat jahat, tapi kukira Enci A Cu yang nakal itulah yang berbuat sesuatu kesalahan pada kalian, sebab itulah hari ini Kongcu sendiri akan datang kemari untuk minta maaf,” demikian sahut A Pik. “Nah, sekali lagi kumohon kemurahan hati Hongtiang, sudilah membebaskan Enci A Cu.”

Ia lihat muka Hian-cu welas asih, sebaliknya Hian-lan berwajah kereng, ia menduga mungkin ada hwesio tua lain sengaja mempersulit pembebasan A Cu itu, maka segera ia berlutut untuk menjura juga kepada Hian-cit, Hian-lan, Hian-thong dan lain-lain.

Tapi mendadak Hian-lan mengebas lengan bajunya, kontan suatu arus tenaga halus tapi mahakuat, menolak ke depan hingga tubuh A Pik tertahan dan tidak dapat berlutut.

Kepandaian Hian-lan itu disebut “Siu-li-kian-gun” atau Jagat Dalam Lengan Baju, adalah ilmu yang tiada bandingannya dari Siau-lim-pay. Keruan A Pik terperanjat juga melihat betapa hebat kepandaian hwesio tua itu.

Dalam pada itu Hian-lan telah berkata, “Menurut peraturan Siau-lim-si, selama ini kami tidak menerima tamu wanita. Tentang Enci nona itu jangankan kami tidak berani menahannya di sini, bahkan masuk ke sini pasti akan kami tolak. Adapun ruangan ini sudah di luar lingkungan biara induk kami, demi nona, maka Hongtiang mau menemui kalian di sini.”

Karena jawaban orang yang sungguh-sungguh itu, A Pik merasa sedih, katanya dengan mewek-mewek, “Jika begitu ke manakah perginya Enci A Cu? Tempo hari dia katakan padaku akan datang ke Siau-lim-si.”

Paras A Pik cantik molek, tutur katanya lemah lembut, berlainan dengan A Cu yang lincah dan nakal. Para padri Siau-lim-si itu sudah tirakat sedikitnya berpuluh tahun lamanya, semuanya sudah jauh daripada rasa hubungan sanak keluarga, tapi kini demi mendengar ucapan A Pik yang merawan hati itu, mau tak mau dalam hati kecil para hwesio tua itu timbul semacam rasa welas asih dan memandang gadis cilik di hadapan mereka itu seakan-akan putri atau cucu perempuan sendiri.

Maka berkatalah Hian-cit akhirnya, “Hi-hong, boleh kau minta Hui-gwat Supek dari ‘Sian-yan-tong’ supaya menyelidiki di mana beradanya enci nona ini, sesudah diperoleh kabarnya supaya segera memberitahukan Buyung-kongcu di Koh-soh.”

Ting Pek-jwan dan A Pik tahu ‘Sian-yan-tong’ (Ruang Penghubung Luar) adalah bagian yang mengurus semua dengan para kesatria Kangouw. Jika Hian-cit sudah memberi perintah begitu, terang A Cu memang betul tidak pernah datang ke Siau-lim-si. Dan sekali Siau-lim-si sudah mau bantu mencari, dengan hubungannya yang luas dengan orang Kangouw, rasanya tidak lama tentu dapat diperoleh kabarnya A Cu. Maka Pek-jwan dan A Pik sama mengucapkan terima kasih.

Kemudian menjadi giliran Pau Put-tong untuk ditanya pengalamannya waktu diserang musuh. Maka dengan mata melotot Put-tong menutur, “Adapun pengalamanku sama saja seperti apa yang dialami Hian-thong Taysu. Sekalipun nama baik keluarga Buyung Koh-soh hari ini jatuh habis-habisan, tapi pamor para padri sakti Siau-lim-si hari ini juga ikut luntur, jadi setali tiga uang, satu nasib sama menderita, tidak perlu kita saling tanya segala.”

Dengan penasaran dan gemas Hong Po-ok ikut bersuara, “Belum berkelahi apa-apa sudah lantas terluka, benar-benar aku penasaran dan tidak puas. Jika sudah bertempur lebih dulu 300 jurus dan akhirnya dirobohkan Thi-thau-jin itu, dengan begitu baru aku tunduk dan rela.”

Lalu beramai-ramai semua orang sama membicarakan asal-usul Yu Goan-ci. Semua orang berpendapat lwekang orang bertopi besi itu tergolong cing-pay murni, tetapi racun dingin pukulannya itu terlalu jahat dan terang dari aliran sia-pay.

Jadi dalam kepandaiannya yang jahat itu juga ada dasar lwekang dari aliran baik, hal ini menimbulkan kesangsian apakah betul dia anak murid Sing-siok-pay?

“Huh, peduli apakah dia berasal dari kaum cing-pay atau sia-pay,” demikian Put-tong menjengek, “yang terang tenaga pukulannya itu berbeda tidak jauh daripada ‘Tat-mo-sin-ciang’ Siau-lim-pay kalian.”

Hian-cu saling pandang sekejap dengan Hian-lan, Hian-cit dan Hian-thong, mereka bungkam saja tanpa menjawab. Memang dalam hati mereka juga sudah memikirkan hal itu. Tenaga pukulan yang digunakan Thi-thau-jin itu memang mirip “Tat-mo-sin-ciang”, bahkan boleh dikata memang Tat-mo-sin-ciang. Cuma saja di hadapan orang luar, sejak tadi mereka tidak enak untuk membicarakannya.

Kini secara blakblakan Pau Put-tong menunjukkan hal itu, betapa pun padri-padri itu menjadi tidak enak buat membantah. Hanya dalam hati mereka berpikir, “Urusan ini agak ruwet, rasanya sergapan secara mendadak ini tidak melulu dilakukan oleh kaum siluman dari Sing-siok-pay saja.”

Agar Pau Put-tong tidak mendesak terus tentang Tat-mo-sin-ciang itu, segera Hian-lan bertanya kepada Pek-jwan, “Ting-sicu, apakah Buyung-kongcu segera akan datang? Sekarang kita berdua pihak sedang menghadapi musuh yang sama, kita harus bersatu untuk melawannya. Jika Buyung-kongcu sudah tiba, tentu beliau akan dapat memberi pandangan luas untuk menghilangkan kesangsian kita.”

Pek-jwan tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya ia memandang pada A Pik.

Maka berkatalah A Pik, “Sudah kukatakan tadi bahwa di tengah jalan Kongcu teralang oleh karena ingin menolong seorang nona yang sedang diuber-uber seorang hwesio. Nona itu memakai kerudung kain hitam, perawakannya langsing, ilmu silatnya juga tidak lemah, cuma hwesio yang mengubernya itu jauh lebih lihai, dari jauh kulihat hwesio itu seperti Hoat-ong dari negeri Turfan bernama Tay-lun-beng-ong Ciumoti…”

“Hah, Tay-lun-beng-ong dari negeri Turfan datang ke Tionggoan sini?” seru Hian-cit dan Hian-lan berbareng dengan terkejut.

“Begitulah menurut pengakuannya, apakah betul atau tidak, aku pun tidak tahu,” sahut A Pik. “Mereka lari cepat sekali hingga aku tidak jelas melihatnya. Kongcu lantas suruh aku berangkat dulu ke sini dan beliau lantas mengejar ke sana.”

Mendengar jawaban itu, Hian-cu dan Hian-cit kembali saling pandang sekejap lagi. Pikir mereka, “Jika benar Tay-lun-beng-ong Ciumoti dari Turfan telah datang ke Tionggoan, maka akan makin banyaklah keonaran di dunia persilatan. Apakah mungkin Thi-thau-jin ini ada hubungannya dengan Ciumoti? Ilmu silat kalangan Buddha di Turfan juga berasal dari Thian-tiok, kalau mereka mahir Tat-mo-sin-ciang juga tidak mengherankan.”

Walaupun dugaannya itu sama sekali salah, tapi toh masuk akal juga hingga sementara ini dapat membebaskan mereka dari rasa curiga yang tak terjawab.

Lalu Hian-cu berkata, “Para tamu datang dari jauh, harap Hian-cit Sute mewakilkan aku melayani mereka dengan baik, kita akan tunggu kedatangan Buyung-kongcu untuk berunding lebih jauh.”

Dalam hati para hwesio Siau-lim-si itu sebenarnya paling khawatir terhadap Buyung-kongcu. Tahun yang lalu mereka pernah mengundang para kesatria seluruh negeri untuk berunding cara menghadapi Koh-soh Buyung, tapi berhubung pertarungan sengit di Cip-hian-ceng di mana Siau Hong dikeroyok, maka enghiong-tay-hwe atau pertemuan besar para kesatria itu tidak jadi diadakan. Kini melihat Ting Pek-jwan yang merupakan pembantu utama Buyung-kongcu itu bersikap ramah, meski rasa permusuhan telah banyak berkurang, tidak urung tetap harus waspada.

Seperti diketahui salah satu padri saleh Siau-lim-si, yaitu Hian-pi Taysu telah terbunuh di kaki Gunung Siong-san, dan pukulan yang membinasakannya itu justru adalah “Kim-kong-cu” yang merupakan kepandaian Hian-pi sendiri yang paling diandalkan, sebab itu para tokoh Siau-lim-si menyangka keras atas diri Koh-soh Buyung yang suka “menyerang lawan berdasarkan kepandaian lawan” itu.

Kini mendengar orang she Buyung itu akan berkunjung kemari, mereka sudah bertekad akan bertempur mati-matian untuk membalas sakit hati Hian-pi, siapa tahu mendadak terjadi peristiwa lain, Buyung-kongcu belum muncul, sebaliknya dua orang pembantu Buyung-kongcu dan Hian-thong Taysu dari Siau-lim-si telah sama-sama dilukai oleh ilmu silat sia-pay yang lihai.

Dilihatnya pula tingkah laku Ting Pek-jwan sangat agung dan berwibawa, begitu pula kawan-kawannya juga bukan manusia jahat, meski Pau Put-tong agak kasar dan selalu menantang ucapan siapa pun, dan Hong Po-ok lagaknya petantang-petenteng menantang, namun tampaknya juga tidak jahat.

Kalau pembantu-pembantunya baik, rasanya atasannya juga takkan jelek, tapi segala sesuatu terpaksa harus menunggu dulu kedatangan Buyung-kongcu sendiri, setelah bertemu dengan tokoh muda yang selama ini tidak pernah muncul itu barulah dapat ditentukan tindakan selanjutnya.

Maka setelah pesan sang sute agar melayani baik-baik tetamunya lalu Hian-cu hendak melangkah pergi.

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara gedebuk sekali, tahu-tahu Hong Po-ok jatuh terjungkal. Lekas Kongya Kian membangunkannya. Tapi di sebelah sana Hian-thong dan Pau Put-tong juga sama roboh.

Ternyata racun dingin dalam tubuh ketiga orang itu kumat lagi. Padahal “Cing-gi-liok-yang-tan” adalah obat penawar racun yang paling mustajab milik Siau-lim-si, kalau obat itu tidak manjur menyembuhkan penyakit mereka, pula “Sun-yang-lo-han-kang” para hwesio jejaka itu juga tak dapat menyembuhkan, maka jelas tiada obat lain yang bisa menolong lagi.

Maka untuk seterusnya setiap satu jam tentu penyakit ketiga orang itu akan kumat satu kali, kalau habis diberi minum obat, rasa menderita itu lantas hilang, tapi sejam kemudian akan kumat pula penyakit itu. Sampai esok paginya, tetap semua orang tak berdaya, sedangkan Buyung-kongcu masih belum tampak tiba.

Karena itu, ketiga orang itu kembali tersiksa lagi selama satu hari suntuk, kalau terus-menerus begitu, semua orang yakin ketiga orang penderita itu pasti tak tahan.

Maka Ting Pek-jwan lantas mohon diri kepada Hian-lan, “Luka kedua saudara angkat kami ini tidaklah enteng, banyak terima kasih atas segala bantuan dan pertolongan para Taysu yang telah dilakukan ini, tapi melihat penyakitnya toh sukar disembuhkan, maka ada maksudku akan pergi minta tolong kepada Sih-sin-ih saja.”

Sejak tadi memang Hian-lan ada pikiran yang sama, maka jawabnya segera, “Bagus, bagus. Sih-sin-ih kenal baik dengan Lolap, jika mohon pertolongannya, rasanya beliau takkan menolak. Dia tinggal di Liu-cong-tin di barat Lokyang, jaraknya tidak terlalu jauh dari sini, marilah kita segera berangkat saja.”

Pek-jwan sangat girang, katanya, “Dengan bantuan Taysu, tentu kedua saudara kami akan tertolonglah.”

Segera ia minta pinjam pensil dan kertas, buru-buru ia tulis sepucuk surat dan ditinggalkan di Siau-lim-si untuk Buyung-kongcu kalau beliau itu datang.

Sementara itu sudah tersedia tiga kereta dorong, Hian-lan pimpin enam orang murid angkatan “Hui” mengawal ketiga kereta itu. Keenam murid dari angkatan Hui itu usia cukup tua, semuanya ahli dalam ilmu “Sun-yang-lo-han-kang”, dengan demikian mereka akan dapat membantu sepanjang jalan bila diperlukan para penderita.

Mestinya A Pik ingin tinggal di Siau-lim-si untuk menantikan datangnya Buyung-kongcu, tapi demi tampak keadaan Pau Put-tong dan Hong Po-ok sangat payah, ia tidak tega dan ikut bersama rombongan mereka.

Jarak antara Siau-lim-si dan Liu-cong-tin itu hanya beberapa ratus li saja, meski jalan pegunungan berliku-liku, tapi pada hari ketiga mereka sudah sampai di tempat tujuan.

Kediaman Sih-sin-ih itu ternyata terletak 30 li di utara Liu-cong-tin, yaitu di tengah pegunungan, tapi dengan tidak terlalu susah akhirnya rombongan Hian-lan dan Pek-jwan dapat sampai di depan rumah tabib sakti itu.

Hian-lan menunggang kuda berjalan di depan, ia lihat di tepi sungai kecil sana berdiri beberapa gedung dengan dinding terkapur putih dan genting warna hitam gelap. Di depan rumah-rumah itu terdapat sebuah kebun obat-obatan yang luas, ia yakin inilah kediaman Sih-sin-ih.

Segera ia larikan kudanya lebih mendekat, tapi ia jadi terkejut ketika melihat di depan pintu rumah gantung dua buah tanglung (lampion) besar terbuat dari kertas putih, yaitu tanglung yang biasanya tergantung di rumah orang kematian.

Waktu makin mendekat dan memerhatikan lebih teliti, ia lihat di atas pintu terpantek beberapa helai kain belacu, di samping pintu terpancang sehelai panji kertas yang biasa dipakai kias orang mati, nyata benar memang di rumah itu ada kematian orang. Bahkan lantas dapat dibacanya pula di pinggir tanglung kertas yang besar itu tertulis dua baris huruf yang berbunyi, “Sih Boh-hoa, meninggal dalam usia 65 tahun”.

Keruan Hian-lan terkejut, sungguh ia tidak percaya bahwa di rumah Sih-sin-ih ada orang sakit yang tak dapat disembuhkan? Ia tidak tahu apakah “Sih Boh-hoa” itu nama asli Sih-sin-ih? Tapi usianya memang mendekati tabib sakti itu, jika Sih-sin-ih tak mampu mengobati penyakit sendiri hingga sudah meninggal dunia, maka celakalah dan percuma saja perjalanan ini.

Ketika Hian-lan berhentikan kudanya sambil termangu-mangu, sementara itu Ting Pek-jwan dan Kongya Kian juga sudah menyusul tiba dan menyaksikan keadaan di rumah tabib sakti itu, sesaat mereka hanya saling pandang saja dengan ragu.

Mendadak suara tangis berjangkit di dalam gedung itu. Suara seorang wanita sedang sesambatan, “O, Loya! Ilmu pertabibanmu sangat sakti, siapa duga mendadak engkau sendiri terkena penyakit dan meninggalkan kami secepat ini. O, Loya! Engkau berjuluk ‘Giam-ong-tek’, tapi akhirnya engkau tak dapat melawan raja akhirat keparat itu, mungkin setiba di akhirat engkau akan disiksa pula!”

Dalam pada itu ketiga kereta, A Pik dan keenam padri angkatan Hui juga sudah tiba. Ketika mendengar suara orang menangisi kematian Sih-sin-ih, A Pik menjadi pucat, katanya dengan berduka, “Toako, apa benar kita begini sial?”

Ting Pek-jwan tidak menjawab, ia melompat turun dari kuda, lalu berseru, “Hian-lan Taysu dari Siau-lim-si bersama para kawan ada urusan penting ingin mohon pertolongan kepada Sih-sin-ih!”

Suara Pek-jwan sangat lantang, kini berteriak pula, keruan suaranya keras berkumandang hingga jauh. Seketika juga suara tangis di dalam rumah itu berhenti.

Selang sebentar, keluarlah dua orang tua, satu lelaki dan yang lain perempuan, semuanya berdandan sebagai kaum hamba, air mata mereka tertampak masih meleleh dan masih tersedu-sedan dengan sedih.

Begitu keluar, hamba tua itu lantas pukul-pukul dada sendiri sambil sesambatan, “Loya telah meninggal kemarin sore secara mendadak, kalian… kalian takkan dapat menemuinya lagi!”

“Penyakit apakah yang menyebabkan meninggalnya Sih-siansing?” tanya Hian-lan sambil merangkap tangan.

“Hamba sendiri tidak tahu,” sahut hamba tua itu, “mendadak saja Loya mengembuskan napas terakhir. Biasanya badan Loya sangat sehat, usianya juga tidak terlalu lanjut, sungguh tidak nyana, sungguh tidak terduga!”

“Di rumah Sih-siansing masih ada siapa lagi?” tanya Hian-lan pula.

“Tidak ada, tidak ada siapa-siapa lagi,” sahut hamba tua itu.

Kongya Kian saling pandang sekejap dengan Ting Pek-jwan, mereka merasa ucapan orang tua itu agak gugup, nadanya juga tidak wajar.

“Ai, mati atau hidup manusia itu sudah ditakdirkan,” demikian Hian-lan berkata pula. “Bolehkah kami berziarah sejenak di depan layon sobat lama?”

“Tentang ini… tentang ini… ya, ya baiklah…” demikian hamba tua itu menjawab dengan gelagapan. Lalu ia membawa para tamunya masuk ke dalam rumah.

Kongya Kian sengaja berjalan di belakang, diam-diam ia membisiki Ting Pek-jwan, “Toako, agaknya dalam urusan ini ada udang di balik batu, hamba tua ini agak mencurigakan.”

Pek-jwan mengangguk tanda sependapat. Lalu mereka ikut hamba tua itu sampai di ruangan layon. Pepajangan di ruangan itu tertampak sangat sederhana, segalanya kurang lengkap, seperti diadakan dalam keadaan tergesa-gesa.

Pada meja layon terdapat sebuah leng-pay yang bertuliskan, “Layon tuan Sih Boh-hoa.”

Dari tulisan yang kuat dan indah itu terang adalah buah tangan kaum terpelajar, tidak mungkin ditulis oleh hamba tua itu.

Semuanya itu menarik perhatian Kongya Kian, tapi ia diam saja, berturut-turut para tamu lantas memberi hormat kepada layon Sih-sin-ih.

Waktu berpaling, Kongya Kian lihat di pelataran dalam sana ada dua batang bambu dan sedang dijemur belasan helai baju, ada baju kaum wanita dan ada beberapa helai baju kanak-kanak. Pikirnya diam-diam, “Terang Sih-sin-ih mempunyai anggota keluarga lain, mengapa budak tua itu tadi mengatakan tiada orang lain lagi di rumah ini?”

Tapi ia pun tidak membongkar kebohongan orang, ia tetap diam saja.

Kemudian Hian-lan bicara pula, “Kami datang dari Siong-san, Siau-lim-si dengan maksud minta obat kepada Sih-siansing, sungguh tidak tersangka bahwa Sih-siansing ternyata sudah wafat. Kini sudah dekat magrib, terpaksa malam ini mesti mohon memondok di sini.”

Air muka hamba tua itu tampak serbasulit, katanya dengan tergegap, “Soal ini… ini… baiklah! Silakan tuan-tuan duduk dulu di ruangan tamu, biar hamba membuatkan daharan seperlunya.”

“Harap Koankeh (pengurus rumah) jangan repot-repot, cukup sedikit bubur dan sayur saja dan kami sudah merasa terima kasih,” kata Hian-lan.

“Ya, ya, silakan tuan-tuan duduk dulu di ruangan tamu,” sahut si hamba. Lalu ia membawa para tamu ke ruangan tamu bagian depan, kemudian ia tinggal masuk ke dalam bersama kawannya.

Tapi aneh, sampai lama sekali budak tua itu tidak tampak keluar, sudah tentu semua orang sangat mendongkol, lebih-lebih Pau Put-tong, ia jadi tidak sabar lagi, serunya, “Biar kupergi mencari air minum!”

“Jangan!” sela A Pik tiba-tiba. “Engkau mengaso saja Samko, biar aku masuk ke sana untuk membantu bapak tua itu memasak air.”

Habis berkata, segera ia bertindak ke ruangan dalam.

Khawatir kalau terjadi apa-apa atas diri anak dara itu, segera Kongya Kian berbangkit, katanya, “Biar aku mengiringimu!”

Rumah keluarga Sih itu ternyata tidak kecil, seluruhnya terdiri dari lima bagian, tapi dari luar sampai belakang, tetap A Pik dan Kongya Kian tidak melihat bayangan seorang pun. Setiba di dapur, ternyata budak-budak tua lelaki dan wanita itu pun sudah lenyap.

Kongya Kian tahu ada sesuatu yang tidak beres, cepat ia kembali ke ruangan depan dan berkata, “Keadaan di rumah ini memang ada sesuatu yang tidak beres, kukira Sih-sin-ih itu hanya pura-pura mati saja.”

“Hah, apa betul?” tanya Hian-lan dengan heran sambil berbangkit.

“Taysu, coba kita periksa peti mati ini,” ujar Kongya Kian. Dan sekali lompat, segera ia memburu ke depan layon Sih-sin-ih terus hendak mengangkat peti matinya.

Tapi mendadak hatinya tergerak, ia tarik kembali tangannya, ia mengambil sepotong baju yang dijemur di pelataran itu sebagai pembungkus tangan.

“Apa kau khawatir pada peti mati dilumuri racun?” tanya A Pik.

“Hati orang sukar diduga, tiada jeleknya kita berlaku hati-hati,” sahut Kongya Kian. Segera ia coba angkat peti mati itu, terasa sangat berat, dalam peti mati itu pasti bukan berisi jenazah. Maka katanya kepada para kawan, “Ya, memang benar Sih-sin-ih hanya pura-pura mati.”

“Sret,” tiba-tiba Hong Po-ok mencabut golok katanya, “Coba kita buka peti mati ini!”

“Orang ini berjuluk tabib sakti, tentu dia mahir menggunakan racun, hendaknya Site berlaku hati-hati,” pesan Kongya Kian.

“Ya, aku tahu,” sahut Po-ok. Segera ia sisipkan ujung golok ke celah-celah peti mati, terus dicungkil ke atas, maka terdengarlah suara keriang-keriut, tutup peti mati perlahan tersingkap. Hong Po-ok menahan napas khawatir kena bau racun yang teruar dari dalam peti mati.

Melihat kelakuan Po-ok yang lucu dan khawatir pada orang mati itu, salah seorang padri Siau-lim-si yang bernama Hui-te merasa geli dan tertawa.

“Apa yang kau tertawakan?” jengek Pau Put-tong. Mendadak ia lompat ke pelataran, di mana dua ekor ayam betina sedang mencari makan di bawah pohon, sekali raih, Put-tong tangkap kedua ekor ayam itu terus dilemparkan hingga ayam melayang lewat di atas peti mati.

Kedua ekor ayam itu berkotek keras dan jatuh di sebelah sana, lalu berlari-lari lagi ke pelataran. Tapi tidak seberapa jauh, mendadak ayam-ayam itu jatuh terjungkal, kaki berkelojotan beberapa kali, lalu tidak berkutik lagi, kebetulan saat itu ada angin meniup, tahu-tahu bulu kedua ekor ayam itu beterbangan terbawa angin.

Menyaksikan keadaan itu, tentu saja semua orang terkesiap. Maka tahulah Hui-te bahwa dalam peti mati itu memang tertaruh racun yang amat jahat, racun itu tanpa bau dan tanpa wujud hingga sukar diketahui, tapi melihat kematian kedua ekor ayam dan kontan antero bulunya terlepas habis, maka dapat dibayangkan betapa lihainya racun itu.

Nyata dalam hal ini Pau Put-tong dan Hong Po-ok jauh lebih berpengalaman daripada padri Siau-lim-si yang tidak banyak berkecimpung di dunia Kangouw itu.

“Ting-heng, mengapa bisa begini? Apakah benar Sih-sin-ih hanya pura-pura mati saja?” demikian Hian-lan bertanya dengan ragu.

Habis berkata, mendadak ia lompat ke atas, dengan sebelah tangan menggantol di belandar rumah, lalu ia melongok ke bawah, ia melihat isi peti mati itu hanya batu belaka, di bawah batu tertaruh sebuah mangkuk besar yang penuh terisi air jernih. Nyata air dalam mangkuk itulah racun yang mahajahat.

Hian-lan menggeleng-geleng kepala, lalu melayang turun, katanya, “Andaikan Sih-heng tidak mau mengobati kita, rasanya juga tidak perlu memasang perangkap sekeji ini untuk membikin celaka kita. Selamanya Siau-lim-si tiada permusuhan apa-apa dengan dia, perbuatan demikian terang keterlaluan. Jangan-jangan… jangan-jangan…”

Tiba-tiba ia berhenti, dalam hati ia berpikir, “Jangan-jangan Sih-heng mempunyai dendam kesumat kepada Koh-soh Buyung?”

Namun Pau Put-tong lantas berkata, “Engkau tidak perlu menduga yang tidak-tidak, selamanya Buyung-kongcu tidak kenal Sih-sin-ih, apalagi bermusuhan. Jika di antara kami ada sesuatu permusuhan, biarpun penderitaan kami bertambah sepuluh kali lipat juga kami tidak sudi merendah diri datang kemari untuk memohon pertolongan kepada musuh. Memangnya kau kira orang she Pau ini manusia pengecut?”

“Ya, benar, akulah yang sembarangan menduga,” sahut Hian-lan. Sebagai seorang padri saleh, biarpun apa yang dipikirnya itu tak diutarakan, tapi ia pun berani mengaku terus terang akan pikiran yang salah itu.

“Hawa berbisa di sini terlampau jahat, marilah kita ke ruangan depan saja untuk bicara lagi,” kata Pek-jwan.

Sesudah berada di ruangan tamu lagi, maka ramailah saling mengemukakan pendapat masing-masing, namun tetap tidak dapat memecahkan sebab apa Sih-sin-ih memasang perangkap dengan pura-pura mati.

“Tabib setan she Sih ini terlalu menggemaskan, marilah kita bakar saja sarang setannya ini,” ujar Pau Put-tong.

“He, jangan,” cegah Pek-jwan. “Betapa pun Sih-siansing adalah sahabat baik para Taysu dari Siau-lim-si, kita tidak boleh berbuat sembrono padanya.”

Sementara itu hari sudah gelap, di ruangan itu tiada sesuatu penerangan, semua orang merasa lapar lagi haus, tapi tiada seorang pun berani sembarangan menyentuh sesuatu benda dalam rumah ini.

“Marilah kita keluar sana, kita dapat minta bantuan sedikit makanan dan minuman kepada penduduk di sekitar sini,” ujar Hian-lan.

“Ya, tapi dalam jarak 30 li di sekitar sini lebih baik kita jangan minum dan makan apa-apa,” ujar Pek-jwan. “Sih-siansing ini sangat licin, tidak nanti ia cuma pasang perangkap dengan sebuah peti mati saja. Bila para Taysu sampai ikut terembet, sungguh kami akan merasa tidak enak sekali.”

Meski dia dan Kongya Kian tidak paham duduk perkara yang sebenarnya, tapi mereka menduga bisa jadi Koh-soh Buyung yang terkenal dengan “Ih-pi-ci-to, hoan-si-pi-sin” dan telah banyak mengikat permusuhan di kalangan Kangouw, mungkin ada sesuatu sanak famili Sih-sin-ih terbunuh, lalu utang darah itu dicatat atas rekening Koh-soh Buyung.

Begitulah maka semua orang lantas berbangkit, tapi baru saja mereka melangkah keluar pintu sekonyong-konyong di udara sebelah barat-laut sana terlihat terang benderang, menyusul sejalur cahaya api warna merah tersebar luas, lalu cahaya merah itu berubah menjadi hijau dan berhamburan ke bawah bagaikan bunga api yang berwarna-warni dengan indah sekali.

“Hah, indah benar! Siapakah yang sedang main kembang api?” seru A Pik sambil bertepuk tangan.

Padahal waktu itu permulaan musim rontok, Cap-go-meh sudah lama lewat, hari Tiongciu juga masih jauh, mana mungkin ada orang main bunga api?

Selang tak lama, kembali sebuah bunga api warna kuning meluncur lagi ke udara, lalu pecah menjadi beratus ribu buah bintang yang saling berhamburan dengan sangat indah.

Main bunga api adalah sesuatu kesenangan di zaman damai, kini mereka sedang menghadapi urusan penting dengan beberapa kawan menderita sakit aneh, sudah tentu mereka tiada minat buat menikmati kembang api segala. Meski A Pik tergolong paling muda dan masih bersifat kanak-kanak, ia pun prihatin atas penderitaan samko dan sikonya itu. Segera katanya, “Sudahlah, kita lekas berangkat saja!”

“Itu bukan kembang api, tapi tanda serangan total musuh yang akan datang,” kata Kongya Kian tiba-tiba.

“Bagus, bagus! Bisa berkelahi sepuas-puasnya lagi!” teriak Hong Po-ok, lalu ia berlari balik ke dalam ruangan tadi.

Segera Ting Pek-jwan berkata juga, “Samte, Lakmoay, harap kalian juga masuk ke dalam rumah, biar kujaga di depan dan Jite mengawal dari belakang. Hian-lan Taysu, urusan ini terang tiada sangkut pautnya dengan Siau-lim-si, maka silakan kalian diam dan menonton saja, asal kalian tidak membela salah satu pihak, untuk mana Buyung-si sudah berterima kasih.”

Tengah bicara, Kongya Kian, Pau Put-tong, dan A Pik bertiga juga mundur ke dalam menurut perintah Ting Pek-jwan. Meski di pihak Buyung-si cuma terdiri dari tiga orang, malah dua orang sudah terluka, ada pula seorang anak dara, namun sedikit pun Ting Pek-jwan tidak gentar terhadap perbawa musuh yang akan menyerang secara besar-besaran sebagaimana kelihatan dari isyarat bunga api yang dilepaskan di udara itu, bahkan ia tidak minta bantuan kepada Siau-lim-pay.

Maka jawablah Hian-lan, “Kenapa Ting-heng bicara demikian? Kalau penyerang nanti adalah musuh yang dendam kepada kalian, tentang siapa yang benar atau salah juga mesti kita putuskan secara adil, tidak boleh mereka mengandalkan berjumlah lebih banyak untuk menyerang lawan pada saat lagi menderita kesukaran. Sebaliknya jika pendatang nanti adalah komplotan Sih-sin-ih, mereka telah sengaja memasang perangkap dan membikin celaka kita secara keji, maka kita akan sama-sama menghadapi musuh, mana boleh kami tinggal diam tanpa ikut campur tangan? Nah, para Sutit, bersiaplah menghadapi musuh!”

Keenam padri angkatan Hui itu serentak mengiakan.

Lalu Hian-thong juga berkata, “Ting-heng, aku dan para saudara angkatmu senasib sependeritaan, sudah tentu kita harus menghadapi musuh bersama-sama.”

Sedang bicara, kembali ada dua jalur bunga api melayang ke udara lagi, sekali ini jaraknya sudah makin dekat.

Lewat sejenak, lagi-lagi melayang dua buah kembang api, jadi berturut-turut telah dilepaskan enam buah bunga api yang bentuk dan warnanya berbeda-beda, ada yang lurus tinggi terus bertebaran, ada yang terpencar persegi bagaikan papan catur, ada yang mirip kapak, ada pula yang menyerupai sekuntum bunga botan raksasa. Setelah enam buah bunga api itu dilepas, udara kembali gelap gulita dan tiada sesuatu isyarat lagi.

Dalam pada itu Hian-lan telah memberi perintah, ia mengatur anak murid Siau-lim-pay itu bersembunyi di sekeliling rumah untuk menanti serangan musuh. Tapi meski sudah ditunggu sekian lama masih tidak terdengar sesuatu gerak-gerik musuh.

Dengan menahan napas semua orang menunggu dengan sabar. Selang sebentar lagi, tiba-tiba terdengar suara seorang wanita di sebelah timur sana sedang menembang:

Alis lentik lama nian tak terlukis
setangan penuh bedak bercampur air mata
Hati dinda hampa mengiring tangis
dapatkah mutiara sebagai pelipur lara?

Suara nyanyian itu merdu menggiurkan dan sedih merawan.

Hian-lan saling pandang sekejap dengan Ting Pek-jwan, mereka merasa sangat heran.

Dan sehabis menembang, suara tadi lantas berubah menjadi suara orang lelaki dan berkata, “Ai, adindaku, sudah lama aku tidak melihatmu, sungguh hatiku amat merindukan dikau, makanya kuberi hadiah seuntai mutiara ini, harap dinda suka menerimanya.”

Habis itu, lalu suara itu berganti menjadi wanita tadi dan berkata, “Baginda sudah didampingi oleh Nyo-kuihui, bilakah Baginda pernah memikirkan diriku yang bernasib jelek ini. O, Baginda…”

Sampai di sini, menangislah wanita itu.

Para padri Siau-lim-si itu tidak banyak mengenal seluk-beluk kehidupan khalayak ramai, mereka tidak tahu orang yang sebentar menjadi lelaki dan lain saat berubah wanita itu lagi main gila apa, tapi tidak urung mereka ikut terharu juga oleh suara tangisan itu.

Sebaliknya Ting Pek-jwan dan kawan-kawan mengetahui bahwa orang yang tak kelihatan itu sedang main sandiwara dengan lakon “Tong-beng-ong gandrung pada Bwe-kuihui”. Orang itu sebentar sebagai raja Dinasti Tong yang romantis itu, lain saat berganti nada dan memainkan peran sebagai selir kesayangan raja, Bwe-kuihui. Suaranya sangat mirip, lakonnya menarik.

Semua orang menjadi waswas apa maksud kedatangan seorang seniman yang tak diundang pada saat genting itu.

Sementara itu orang tadi berkata lagi dalam nada raja Tong-beng-ong, “Harap dinda jangan menangis, lekas menyiapkan santapan, marilah kita bersenang-senang, dinda meniup suling, biar aku menyanyi untuk menghibur hati dinda nan sedih.”

Lalu orang itu berganti suara wanita, “Siang malam dinda mencuci muka dengan air mata dengan harapan dapat berjumpa dengan Baginda, hari ini dapat bertemu, biar mati pun dinda rela. O, huk-huk-huk…”

Pau Put-tong menjadi tidak sabar, mendadak ia berteriak, “Ini dia An Lok-san berada di sini! Hai, Li Liong-ki Raja Tong, kau seorang raja yang linglung, lekas kau serahkan Nyo Giok-goan padaku!”

Dahulu raja Tong-beng-ong mempunyai dua selir yang cantik dan sangat disayang, yaitu Bwe-kuihui dan Nyo-kuihui (nama lengkapnya Nyo Giok-goan), karena mabuk dalam romannya dengan wanita cantik itu hingga raja itu lupa daratan tanpa mengurus negara lagi. An Lok-san adalah raja pemberontak yang kemudian membunuh Tong-beng-ong dan merampas Nyo-kuihui yang cantik itu, sebab itulah, dalam dongkolnya Pau Put-tong juga menirukan nada seniman itu dan mengaku sebagai An Lok-san.

Mestinya Ting Pek-jwan hendak mencegah, tapi sudah tidak keburu lagi. Dan rupanya orang itu jadi kaget, suara tangisnya dalam peran sebagai wanita mendadak berhenti, seketika suasana berubah menjadi sunyi senyap lagi.

Selang tidak lama, tiba-tiba semua orang mengendus bau harum bunga yang tipis. Cepat Hian-lan berseru, “Awas, musuh memakai gas racun, lekas tahan napas dan siapkan obat penawar!”

Sekonyong-konyong suara seniman tadi berkata lagi, “Jitci, apakah kau sudah tiba? Di rumah Goko ada seorang aneh yang mengaku sebagai An Lok-san.”

Mendengar suara bicaranya itu, baru sekarang Pek-jwan dan lain-lain mengetahui bahwa sebenarnya orang itu adalah lelaki. Dan setelah mengatur pernapasan ternyata tiada sesuatu yang mereka rasakan, bahkan pikiran terasa segar, agaknya bau harum tadi tiada mengandung racun.

Maka terdengarlah suara seorang wanita sedang menjawab si seniman tadi, “Hanya Toako yang belum datang. Nah, Jiko, Samko, Siko, Lakko dan Patte, marilah kita unjuk diri semua!”

Baru selesai ucapannya, pandangan Ting Pek-jwan dan kawan-kawan mendadak terbeliak, keadaan berubah terang benderang hingga menyilaukan mata. Tertampak di depan pintu sana segulung cahaya aneh membungkus lima orang lelaki dan seorang wanita.

Seorang kakek berjenggot hitam di antaranya berseru, “Longo (Si Lima), lekas menggelinding keluar!”

Tangan kanan kakek itu membawa sepotong pelat besi persegi seperti sebuah papan catur. Wanita itu adalah seorang nyonya cantik setengah umur. Keempat orang lainnya, dua di antaranya berdandan sebagai kaum cendekia, seorang lagi seperti tukang kayu, tangan membawa kapak bergagang pendek dan orang terakhir bermuka bengis menakutkan, rambutnya merah dan jenggotnya hijau, daripada dikatakan manusia, muka orang itu lebih tepat dikatakan siluman.

Tapi setelah diperhatikan, segera Hian-lan dapat mengetahui bahwa orang terakhir itu sengaja melukis mukanya sendiri dengan air cat, dirias sebagaimana seniman umumnya tatkala main di atas pentas. Orang yang tadi membawakan lakon Tong-beng-ong dan Bwe-kuihui tentu dia.

Segera Ting Pek-jwan mendahului menegur, “Siapakah nama tuan-tuan yang terhormat, Ting Pek-jwan ingin mohon petunjuk.”

Dan belum lagi pihak sana menjawab, sekonyong-konyong dari dalam menerjang keluar sesosok bayangan, sinar golok berkelebat, sekaligus orang itu membacok tujuh kali kepada pemain sandiwara tadi. Penyerang itu bukan lain adalah It-tin-hong Hong Po-ok.

Karena dilabrak secara mendadak, pemain sandiwara itu jadi kelabakan, ia menghindar ke kanan dan berkelit ke kiri dengan kerepotan. Tapi mulut masih sempat menyanyi pula dalam lakon sebagai Co-pa-ong, itu raja pemberontak yang perkasa musuh Lau Pang.

Tapi karena serangan Hong Po-ok teramat gencar, maka baru setengah jalan tembangnya lantas berhenti.

Si kakek berjenggot hitam di sebelahnya lantas memaki, “Hai, kau ini sungguh tidak tahu aturan, datang-datang lantas main bacok serabutan, coba rasakan ‘kue serabi’ ini!” dan mendadak papan persegi yang dipegangnya mengepruk kepala Hong Po-ok.

Diam-diam Po-ok merasa heran, “Selama hidupku entah sudah berapa ratus kali menghadapi pertempuran, tapi tidak pernah kulihat senjata persegi seperti ini.”

Segera ia menangkis dengan goloknya, maka terdengarlah “creng” sekali, golok tepat membacok tepi papan itu, tapi papan itu sedikit pun tidak lecet. Kiranya papan itu terbuat dari baja, di luarnya dicat dengan kembangan kayu.

Cepat Po-ok bermaksud menarik kembali goloknya untuk menyerang pula, tapi celaka, meski ia tarik sekuatnya, tetap golok bergeming, ternyata tersedot oleh papan baja itu. Keruan ia terkejut, sekuatnya ia memuntir dan membetot, dengan demikian barulah golok dapat dipisahkan dari lengketan papan baja musuh.

“Aneh sekali, apa papan besimu ini terbuat dari besi sembrani?” bentaknya.

Orang tua itu tertawa, sahutnya, “Terima kasih! Ini adalah alat pencari nafkahku!”

Sekilas Po-ok mengamati senjata musuh itu, ia lihat di atas papan terdapat garis malang melintang, nyata adalah sebuah papan catur, segera katanya pula, “Aneh bin ajaib! Mari kutempurmu lagi!”

Maka ia melancarkan serangan lagi, makin lama makin cepat, tapi golok tidak berani membentur lagi dengan papan catur lawan yang terbuat dari besi sembrani itu.

Dengan demikian si pemain sandiwara tadi merasa lega, kembali ia menembang lagi sebagai Co-pa-ong, lalu berganti suara sebagai wanita.

Pau Put-tong mendongkol, tiba-tiba ia membentak, “Hai, Co-pa-ong keparat, lekas kau bunuh diri saja, aku Han Sin adanya!”

Berbareng ia terus menerjang maju, dengan “Kim-liong-jiu” (Ilmu Menangkap Naga), kedua tangan mencengkeram pundak tukang tembang itu.

Dalam cerita sejarah yang sering dipentaskan, Han Sin adalah panglima kepercayaan Raja Han-ko-cou Lau Pang yang menguber-uber Co-pa-ong hingga di tepi Sungai Oh-kang, di situ Co-pa-ong terpaksa membunuh diri.

Tapi pemain sandiwara itu sempat mendakkan tubuh untuk menghindar, lalu hendak menembang lagi, tapi sebelum lanjut, terpaksa ia menjerit, “Haya, aku Han-ko-cou adanya dan akan membunuhmu Han Sin!”

Berbareng tangan kirinya melolos keluar sebatang ruyung lemas terus menyabet pinggang Pau Put-tong.

Melihat pertarungan beberapa orang itu sangat sengit dan lucu pula, tapi kepandaian kedua pihak sama hebatnya, entah pihak musuh akan datang lagi berapa banyak bala bantuan, maka cepat Hian-lan membentak, “Harap semua orang berhenti dulu, marilah kita bikin terang dulu duduknya perkara dan pertarungan dapat dilanjutkan lagi nanti.”

Tapi sekali Hong Po-ok sudah berkelahi mana dapat disuruh berhenti? Apalagi ia tahu tenaga sendiri sudah banyak berkurang setelah keracunan, serangan racun itu pun setiap saat bisa timbul dan membahayakan, maka ia putar golok secepat kitiran dengan maksud selekasnya mengalahkan lawan.

Di tengah pertarungan sengit keempat orang itu, dari dalam kembali melompat keluar seorang dengan sepasang golok terhunus, “creng,” kedua golok saling bentur hingga mengeluarkan suara nyaring.

Orang itu gagah perkasa, kiranya Hian-thong Siansu. Ia berseru, “Kalian kawanan jahanam yang suka meracun orang, hari ini hwesio tua terpaksa melanggar pantangan membunuh!”

Sudah beberapa hari Hian-thong disiksa racun, ia memang sudah gemas, kebetulan musuh datang, maka tanpa banyak bicara lagi ia terus menerjang kedua orang setengah umur yang berdandan sebagai kaum cendekia itu.

Cepat salah seorang sastrawan itu merogoh keluar sebatang senjata yang menyerupai boan-koan-pit, yaitu senjata berbentuk potlot, dengan gesit sekali ia lawan Hian-thong.

Sebaliknya sastrawan yang lain itu berkata dengan tingkah laku yang tengik, “Aneh bin ajaib! Masakah seorang padri juga berangasan seperti ini, entah terdapat dalam kamus mana?”

Lalu ia ulur tangan ke dalam saku untuk merogoh tapi tiba-tiba ia berseru, “He, ke mana perginya?”

Bahkan ia meraba-raba saku yang lain dan merogoh pula saku belakang, lengan baju dikebas-kebaskan, baju bagian dada ditepuk-tepuk pula, tapi tetap tidak menemukan sesuatu.

A Pik heran, ia tanya, “Siansing, apa yang kau cari?”

“Ilmu silat Toahwesio ini sangat tinggi, kami bersaudara terang tak bisa melawannya, maka akan kucari senjataku untuk membantu kawan-kawanku itu. Tapi, he, aneh, di manakah senjataku itu?” demikian sahut si sastrawan. Lalu ia ketuk-ketuk jidat sendiri dan mengingat-ingat sebisanya.

A Pik tertawa geli melihat kelakuan orang, pikirnya, “Sudah di garis depan baru tahu senjatanya hilang, orang linglung begini belum pernah kulihat, orang ketolol-tololan semacam ini tampaknya bukan sengaja pura-pura dungu.”

Maka A Pik coba tanya pula, “Siansing, macam apakah bentuk senjatamu itu?”

“Seorang laki-laki sejati lebih dulu harus berlaku cara halus baru kemudian pakai kekerasan, maka senjataku yang pertama adalah sejilid kitab,” sahut sastrawan itu.

“Kitab apa? Apakah bu-kang-pit-koat (kitab ilmu silat)?” tanya A Pik.

“Bukan, bukan! Tapi sejilid lun-gi (kitab yang berisi kata-kata emas Khonghucu),” sahut sastrawan itu. “Aku akan menginsafkan, pihak lawan dengan ajaran-ajaran nabi.”

Kembali A Pik tertawa geli, katanya, “Kau seorang terpelajar, masakah lun-gi saja tidak hafal, habis kitab apa yang kau baca biasanya?”

“Nona hanya tahu satu, tapi tidak tahu dua,” sahut si sastrawan. “Bicara tentang lun-gi, beng-cu, chun-ciu, dan kitab-kitab nabi yang lain sudah tentu semuanya sudah kuhafalkan di luar kepala. Tapi pihak lawan kan belum tentu pernah membacanya! Bila aku menyebutkan isi kitab itu dan dia tidak tahu, kan percuma? Makanya harus kutunjukkan kitab yang bersangkutan, dengan demikian lawan takkan dapat menyangkal dan mendebat, dan usahaku barulah akan berhasil. Ini namanya bukti menjadi saksi.”

Sembari bicara, ia terus meraba-raba dan merogoh-rogoh saku di sana sini, tapi tetap tiada sesuatu yang ditemukannya.

Sementara itu si orang yang berdandan sebagai tukang kayu menjadi khawatir demi melihat kawannya dicecar secepat kilat oleh goloknya Hian-thong, tampaknya dalam beberapa jurus lagi tentu jiwanya akan terancam, segera ia ayun kapaknya hendak membantu.

Namun Kongya Kian sudah siap siaga, kontan ia menghantam lebih dulu ke arah tukang kayu itu. Jangan kira Kongya Kian lahirnya lemah lembut, ternyata tenaga pukulannya sangat hebat.

Dahulu di atas Ciulau di daerah Kanglam ia pernah berlomba minum arak dan mengadu tenaga pukulan dengan Siau Hong, meski kalah, tapi Siau Hong juga sangat kagum padanya, hal itu menandakan lwekang Kongya Kian bukan golongan lemah.

Begitulah maka si tukang kayu tadi telah mengegos, menyusul kapaknya terus memotong dari samping.

Dalam pada itu si sastrawan tetap tidak menemukan kitab “lun-gi” yang dicari, sebaliknya ia lihat sastrawan kawannya itu sudah terdesak, permainan boan-koan-pitnya sudah kacau, sebaliknya serangan golok Hian-thong masih terus menyambar dengan gencar. Segera ia berkata kepada Hian-thong, “Hai, Toahwesio! Kata Khonghucu, ‘mengekang perasaan sendiri dan membalas orang dengan sopan, bila demikian halnya maka dunia akan aman sentosa,’ – Kata beliau pula, ‘Tidak sopan jangan didengar, tidak sopan jangan bicara, tidak sopan jangan berbuat.’ Tapi kau putar golok ingin membunuh orang, perbuatan demikian sedikit pun tidak dapat mengekang perasaan sendiri dan terlebih ‘tidak sopan’.”

Melihat tingkah laku sastrawan itu, diam-diam A Pik bertanya kepada Ting Pek-jwan, “Toako, orang ini memang seorang sastrawan tolol tulen atau pura-pura dungu saja?”

“Entah, asal waspada saja,” sahut Pek-jwan. “Hati orang Kangouw sukar dijajaki, segala macam perbuatan licik dapat dilakukannya.”

Sementara itu sastrawan tolol itu sedang berkata kepada Hian-thong, “Toahwesio, Nabi Khonghucu bersabda, ‘Orang bijaksana tentu perkasa, orang perkasa belum tentu bijaksana.’ Kau sih memang perkasa, tapi jelas tidak bijaksana, maka tak dapat dianggap sebagai seorang kesatria sejati. Nabi Khonghucu bersabda pula, ‘Apa yang kita sendiri tidak mau, jangan diberikan kepada orang lain.’ Jika orang hendak membunuhmu, sudah tentu engkau tidak mau. Dan kalau kau sendiri tidak mau dibunuh, kenapa kau ingin membunuh orang?”

Begitulah ia terus mengoceh memberi “ceramah” kepada Hian-thong. Anehnya, terang ilmu silat sastrawan tolol ini tidak lemah, buktinya setiap kali Hian-thong dan si sastrawan itu saling gebrak sambil melompat kian-kemari, maka sastrawan tolol ini pun dapat ikut melompat dan selalu berada di samping mereka.

Diam-diam Hian-thong menaruh perhatian, pikirnya, “Orang ini sengaja mengoceh tak keruan, dan kalau ada kesempatan, segera ia akan balas menyerang. Ilmu silat orang ini terang lebih tinggi daripada sastrawan yang kulawan ini.”

Karena itu, maka perhatian Hian-thong menjadi lebih banyak dicurahkan untuk berjaga-jaga kalau disergap si sastrawan tolol itu. Dengan demikian sastrawan bersenjata boan-koan-pit jadi terhindar dari tekanan yang berat dari Hian-thong.

Setelah belasan jurus lagi dan si sastrawan tolol itu masih mengoceh terus, akhirnya Hian-thong menjadi gemas, bentaknya, “Jika kau tidak enyah, jangan kau salahkan aku!”

Mendadak ia gunakan gagang golok untuk menyodok dada sastrawan tolol itu.

“Ai, ai! Kulihat ilmu silat Taysu teramat tinggi, kami berdua belum tentu dapat menang, maka aku ingin menasihatimu agar lebih baik kita sudahi pertempuran ini,” demikian seru sastrawan tolol itu. “Sebagai manusia, kita harus berbudi dan dapat memaafkan sesamanya, janganlah terlalu ngotot dan mau menang sendiri.”

Hian-thong menjadi gusar, “sret”, mendadak ia tebas orang sekali sambil mendamprat, “Kau bicara tentang budi memaafkan apa segala? Kalian sengaja menaruh racun dalam peti mati untuk menjebak orang, apakah itu berbudi, apakah itu bijaksana? Coba kalau kami kurang waspada, tentu saat ini sudah menuju ke nirwana. Huh, masih kau bicara tentang ‘apa yang kita tidak mau jangan diberikan kepada orang lain.’ Coba jawab, kau sendiri mau diracun atau tidak?”

“Ai, ai! Aneh! Siapakah yang menaruh racun di dalam peti mati?” sahut sastrawan tolol itu sambil menyingkir dua tindak. “Peti mati itu tempat jenazah. Kalau dalam peti mati ditaruh racun, bukankah jenazah itu pun akan keracunan? Ai, salah, jenazah itu memang sudah mati!”

Ucapan yang lucu itu membikin A Pik tertawa geli, katanya, “Ya, jenazah dalam peti mati sudah tentu sudah mati. Tapi kalian terlalu licik, peti mati bukan berisi jenazah, tapi ditaruh racun untuk membunuh kami.”

“Bukan, bukan begitu!” sahut sastrawan itu dengan geleng-geleng kepala. “Kau orang perempuan, usiamu masih muda pula, pantas omonganmu berliku-liku.”

“Dia juga wanita, kau anggap dia orang baik atau orang jahat?” ujar A Pik sambil tunjuk si wanita cantik setengah umur, yaitu kawan si sastrawan sendiri.

“Ai, ai! Ucapanmu menyeleweng dari pokok persoalan, maka aku takkan gubris dan tak mau menjawab,” sahut sastrawan tolol.

Karena sastrawan itu bertanya jawab dengan A Pik, Hian-thong menjadi bebas dari gangguan, segera ia putar golok terlebih kencang hingga si sastrawan bersenjata boan-koan-pit itu kewalahan lagi.

Melihat itu, si sastrawan tolol cepat melompat lagi mendekati Hian-thong dan berkata, “Kata Khonghucu, ‘Manusia tidak bijaksana, dapatkah berlaku sopan? Manusia tidak bijaksana dapatkah hidup senang?’ Toahwesio adalah manusia dan tidak bijaksana, ai, sungguh berdosa!”

Dengan gusar Hian-thong menjawab, “Aku adalah murid Buddha, kau mengoceh tentang ajaran Khonghucu apa segala, mana dapat mengetuk hati nuraniku?”

Sastrawan tolol itu ketuk-ketuk pula jidat sendiri, katanya, “Ya, benar, benar! Aku ini mungkin sudah linglung, boleh jadi terlalu banyak baca hingga berubah menjadi orang yang tolol. Toahwesio adalah anak murid Buddha, tapi aku bicara tentang ajaran nabi Khonghucu padamu, sudah barang tentu salah alamat.”

Dalam pada itu Hong Po-ok masih terus bertempur melawan orang yang bersenjatakan papan catur baja itu dan sukar merebut kemenangan, lama-kelamaan perut mulai dingin, itulah tanda serangan racun akan berjangkit lagi.

Di sebelah sana Pau Put-tong juga sedang melabrak si pemain sandiwara tadi, ia merasa ilmu silat lawan tidak terlalu tinggi, cuma gerak perubahannya sangat aneh dan macam-macam variasinya, sebentar ia menembang sebagai Se Si, itu wanita cantik yang termasyhur, ia menirukan suara wanita dengan persis, bahkan lenggak-lenggoknya juga menyerupai wanita cantik. Dan lain saat ia main sebagai Li Thay-pek, itu penyair yang terkenal dengan langkahnya yang sempoyongan tatkala mabuk arak.

Anehnya setiap kali ia ganti peranan, setiap kali pula ia dapat memainkan sejurus ilmu silat yang sesuai dengan pelaku yang dibawakannya itu. Senjata ruyung emas yang dipegangnya itu sebentar digunakan sebagai lengan baju kaum wanita yang panjang, lain saat dipakai sebagai pensil kaum terpelajar. Keruan Pau Put-tong geli-geli dongkol, seketika ia pun tak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu si sastrawan linglung tadi mendadak menembang lagi, “Jika kuberi obatnya, apakah hatiku lantas tenteram? Bila tidak membawa hasil, sama saja tidak memberi. Omong kosong tak berisi, memang bukan pada tempatnya… Eh, Toahwesio, dua kalimat selanjutnya bagaimana bunyinya?”

Demikian ia mengoceh beberapa bait sabda padri saleh zaman dahulu, maka Hian-thong menjawab, “Yang bijaksana akan mencapai tujuannya, mohon sudi memberi petunjuk seperlunya.”

Sastrawan linglung itu terbahak-bahak, katanya, “Bagus, bagus! Bukankah kaum Buddha kalian juga bicara tentang ‘bijaksana’ segala? Memang pada hakikatnya segala ajaran nabi di dunia ini sama tujuannya. Maka kunasihatkan lebih baik kau berpaling kembali ke tepian, taruhlah golok jagalmu saja!”

Hian-thong terkesiap, sekonyong-konyong ia sadar dan terbuka pikirannya, katanya segera, “Siancay! Siancay!”

Mendadak ia lemparkan kedua goloknya ke lantai hingga mengeluarkan suara nyaring, lalu ia duduk bersila, dengan wajah tersenyum ia memejamkan mata dan tidak bicara lagi.

Si sastrawan bersenjata boan-koan-pit tadi mestinya lagi sengit menempur Hian-thong, ia jadi heran ketika mendadak melihat kelakuan lawan yang aneh itu. Tapi ia pun tidak melancarkan serangan lagi.

Di pihak lain dua padri angkatan Hui dari Siau-lim-si lantas berseru, “Susiok, apakah penyakitmu kumat lagi?”

Segera mereka bermaksud memburu maju untuk memayang sang susiok.

Namun Hian-lan membentak, “Jangan!”

Waktu ia periksa napas Hian-thong, nyata pernapasan sang sute sudah berhenti, betul-betul sudah wafat dengan tenang. Hian-lan merangkap tangan dan memanjatkan doa.

Para padri angkatan Hui menjadi sedih dan gusar demi mengetahui susiok mereka telah mati, berbareng mereka mengeluarkan senjata terus hendak melabrak kedua susing atau sastrawan tadi.

Tapi Hian-lan mencegahnya, “Jangan! Susiok kalian wafat dengan menemukan ajaran sejati, beliau mangkat ke nirwana dengan sempurna, seharusnya kalian bersyukur baginya.”

Karena kejadian di luar dugaan itu, semua orang yang sedang bertempur itu pun lantas berhenti.

Segera si sastrawan linglung berteriak-teriak lagi, “Longo (Kelima)! Wahai, Sih-longo, lekas keluar, ada orang mati, lekas keluar menolong jiwanya! Ai, kau setan Sih-sin-ih, kalau tidak lekas keluar, wah celakalah aku!”

“Sih-sin-ih rupanya tidak di rumah, apakah saudara ada…” demikian mestinya Ting Pek-jwan hendak minta keterangan.

Tapi sastrawan linglung itu tidak gubris padanya, ia masih terus menggembor, “Wahai, Sih Boh-hoa, Sih-longo, Giam-ong-tek, Sih-sin-ih, lekas menggelinding keluar untuk menolong orang, samkomu ini telah membikin mati orang dan orang hendak minta ganti nyawa pada kita!”

Pau Put-tong menjadi gusar, dampratnya, “Kau sudah menewaskan orang, masih berteriak-teriak seenaknya!”

Kontan ia memukul, menyusul tangan kiri menyusup dari bawah, pukulan itu terus menjambret kumis sastrawan itu dengan tipu “Lau-liong-tam-cu” atau naga tua mengambil mutiara.

Memangnya pertarungan tadi kurang memuaskan selera Hong Po-ok dan Kongya Kian, maka sekarang mereka mencari lawan dan mulai bergebrak lagi.

“Robohlah!” mendadak Ting Pek-jwan membentak, ia juga sudah mendapatkan lawan, yaitu si pemain sandiwara, dan sekali cengkeram, kontan baju leher orang itu kena dipegangnya.

Pek-jwan adalah jago utama di antara empat pembantu Buyung-kongcu, ilmu silatnya tinggi, lwekangnya hebat, meski namanya kurang terkenal di kalangan Kangouw, tapi setiap orang yang kenal dia pasti sangat kagum akan kepandaiannya. Maka begitu si pemain sandiwara kena dicengkeramnya, seketika tak bisa berkutik segera Pek-jwan banting tawanan itu ke tanah.

Pemain sandiwara itu memang sangat gesit dan cekatan, sekali bahunya menyentuh tanah, segera ia putar kaki kanan terus mendepak paha Ting Pek-jwan.

Serangan ini sangat cepat, pula badan Pek-jwan agak gemuk, gerak-geriknya kurang gesit, ia lihat depakan itu sukar dielakkan, segera ia kerahkan tenaga ke bagian bawah, ia terima mentah-mentah depakan itu.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: