Kumpulan Cerita Silat

28/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 48

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 12:15 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tunging)

Ketinggalan kawanan ular itu sudah tentu tak tahu tentang membalas sakit hati majikan mereka segala, binatang itu masih terus melilit Ting Jun-jiu dan murid-muridnya untuk menunggu perintah selanjutnya dari majikan mereka. Suasana di tanah pegunungan itu menjadi sunyi senyap. Namun ular adalah makhluk yang bodoh, lama-lama bukan mustahil mereka akan mengganas sendiri tanpa komando.

Di tengah kepungan kawanan ular itu, orang-orang Sing-siok-hay tidak berani sembarangan berkutik, sebab khawatir menimbulkan reaksi ular-ular itu hingga mengamuk dan itu berarti jiwa mereka bisa amblas.

Sesudah tenang sebentar, tampaknya tiada bahaya lain lagi kecuali masih menghadapi kawanan ular itu, segera ada seorang murid Ting Jun-jiu membuka suara, “Suhu, ilmu saktimu tiada tandingannya di jagat ini, hanya sambil bicara dan tertawa saja ke-16 musuh jahanam sudah terbunuh semua olehmu…”

Belum habis ucapannya, tiba-tiba seorang murid lain memotong, “Suhu, jangan kau dengar ocehannya! Justru orang yang memuji-muji ‘padri sakti’ dan ‘Buddha hidup’ kepada musuh tadi adalah dia sendiri!”

Mendadak ada di antara muridnya menangis tergerung-gerung dan bertobat, “Suhu! Ampun! Seribu kali ampun, Suhu! Memang Tecu terlalu bodoh, paling takut mati hingga sudi menyerah kepada musuh, sungguh Tecu merasa menyesal sekali. Kini Tecu lebih suka mati dalam perut ular sawa ini dan tidak berani minta hidup kepada Suhu!”

Mendengar perkataan orang terakhir itu, seketika yang lain-lain sadar. Biasanya Sing-siok Lokoay paling benci bila ada muridnya suka menjilat-jilat dan memuji secara berlebihan, jalan hidup satu-satunya bagi mereka adalah mengakui dosa dan mencaci maki diri sendiri yang tolol, dengan demikian jiwa mereka ada kemungkinan akan diampuni gurunya.

Karena itu, segera semua orang ganti haluan, semuanya menyatakan diri mereka bersalah, berdosa, dan tolol, harus dihukum mati dan macam-macam lagi, sampai Goan-ci yang mendengarkan di tempat sembunyinya itu menjadi bingung dan heran mengapa jiwa anak murid Sing-siok-pay itu sedemikian rendah, bicaranya plintat-plintut seperti kentut.

Begitulah anak murid Sing-siok-pay ramai mengoceh tak keruan, tapi Ting Jun-jiu sama sekali tidak menggubris, diam-diam ia sudah mengerahkan tenaga untuk melepaskan diri dari lilitan ular sawa raksasa. Celakanya ular sawa yang melilit dia itu seluruhnya ada dua ekor, badan ular sawa itu dapat mulur-mengkeret pula hingga untuk melepaskan diri boleh dibilang mahasulit.

Cara yang digunakan Ting Jun-jiu untuk membinasakan lawan-lawannya tadi adalah menggunakan hawa beracun dalam tubuhnya yang terhimpun selama berpuluh tahun itu. Ketika padri Thian-tiok yang pertama menyerangnya, segera ia kerahkan unsur racun itu ke bagian tubuh yang dihantam itu, dan dengan cara “pinjam tenaga untuk memukul kembali lawan”, ia embuskan unsur racun itu pada saat pukulan lawan terpental. Jadi binasanya padri Thian-tiok itu bukan terkena sesuatu ilmu sihir Ting Jun-jiu melainkan disebabkan keracunan.

Sedangkan kulit ular sawa itu sangat tebal lagi licin, kadar racun Ting Jun-jiu tidak dapat menyesap ke badan ular hingga dia tak berdaya lagi.

Ia dengar anak muridnya masih cerewet tak henti-hentinya, segera katanya, “Kita terkurung oleh kawanan ular, kalau ada yang dapat pikirkan suatu akal untuk mengusir ular, segera jiwanya kuampuni. Masakah kalian tidak kenal watakku? Siapa yang berguna bagiku tentu takkan kubunuh. Tapi kalau cuma mengoceh saja tanpa berguna, lebih baik kalian tutup mulut!”

Maka terdiamlah seketika anak muridnya itu. Selang sejenak, tiba-tiba seorang di antaranya berkata, “Asal ada seorang membawakan obor dan menyelomot badan ular sawa ini, tentu binatang ini akan ketakutan dan lari.”

“Kentut makmu!” damprat Ting Jun-jiu. “Di tanah pegunungan yang sepi seperti ini dari mana bisa muncul seorang membawakan obor? Andaikan ada orang lalu di sini, bila melihat ular sebanyak ini juga pasti akan lari terbirit-birit!”

Kemudian anak murid yang lain sama mengemukakan usul lagi, tapi tiada satu pun yang masuk di akal dan berguna. Sebabnya mereka mengoceh terus tidak lain hanya untuk mengambil hati sang guru saja agar kelihatan bahwa mereka benar-benar ikut memeras otak untuk mencari akal.

Maka sang tempo berlalu dengan cepat, dua-tiga jam kemudian, tiba-tiba seorang murid yang dililit ular sawa itu megap-megap, dalam keadaan bingung tanpa terasa ia meronta dan menggigit ular yang melilitnya. Jadi bukan ular menggigit manusia, tapi manusia menggigit ular.

Karena kesakitan, tentu saja ular sawa itu mengamuk, sekali ia memagut, kontan murid Sing-siok-hay itu menjerit dan binasa.

Ting Jun-jiu makin khawatir. Jika dikurung musuh, dalam waktu beberapa jam itu tentu ia dapat mengatasi dengan macam-macam tipu muslihatnya yang licik untuk meloloskan diri. Celakanya kawanan ular ini adalah binatang yang bodoh, jangan-jangan bila ular sawa ini merasa lapar, sekali caplok mungkin dirinya akan ditelan mentah-mentah.

Dan benar juga, apa yang dikhawatirkan itu segera menjadi kenyataan. Karena sudah sekian lama tidak mendengar suara seruling, perut seekor ular sawa di antaranya sudah kelaparan, segera mulutnya terbuka lebar-lebar terus mencaplok murid Sing-siok-pay yang dililitnya itu.

Keruan murid itu menjerit ketakutan. “Tolong, Suhu! Tolong!”

Dan yang dicaplok lebih dulu ternyata bagian kaki hingga tanpa kuasa badan tertelan ke dalam perut ular sawa sedikit demi sedikit, sedangkan murid Sing-siok-pay itu menjerit-jerit.

Gigi ular sawa itu bentuknya mengait ke dalam hingga segala makhluk yang tergigit olehnya tidak mungkin bisa lolos selain perlahan ditelan ke dalam perutnya.

Maka murid Sing-siok-pay yang tertelan itu lambat laun sudah sampai bagian pinggang, lalu dada dan sebentar lagi tentu akan kepalanya. Seketika orang itu tidak mati, ia masih bisa berteriak dan menjerit ngeri hingga ia membikin kawan-kawannya ikut ketakutan setengah mati bila membayangkan nasib mereka sebentar lagi juga akan mengikuti jejak kawannya itu.

Melihat Sing-siok Lokoay sendiri juga tak berdaya sama sekali, segera ada seorang muridnya mulai penasaran dan gemas, terus saja ia mencaci maki sang guru, katanya gara-gara iblis tua yang kejam itu hingga dirinya yang semula hidup aman tenteram menggembala di sekitar Sing-siok-hay tertipu masuk perguruan Sing-siok-pay, tapi hari ini harus mati terkubur dalam perut ular sawa, di akhirat nanti pasti dia akan menagih nyawa kepada Sing-siok Lokoay.

Begitulah seorang mulai memaki, maka yang lain-lain juga tidak mau ketinggalan, segera ramailah suara caci maki mereka. Biasanya mereka sudah kenyang disiksa dan dianiaya Sing-siok Lokoay, kini mereka bakal mati semua, mumpung masih ada kesempatan, maka mereka mencaci maki sepuas-puasnya sekadar melampiaskan rasa dendam kepada guru mereka yang jahat itu.

Seorang di antaranya mungkin terlalu nafsu memaki hingga badannya ikut bergoyang, hal ini membuat ular sawa yang melilitnya itu menjadi gusar, tanpa permisi lagi ular itu menggigit pundaknya. Saking kesakitan orang itu menjerit, “Aduh! Tolong! Tolong!”

Mendengar jeritan minta tolong yang mengerikan itu, Goan-ci tidak tahan lagi, ia terus berbangkit dari tempat sembunyinya dan berseru, “Jangan khawatir, biar kunyalakan api untuk mengusir kawanan ular ini!”

Ketika mendadak melihat muncul seorang dengan kepala bertopi baja yang aneh, semula anak murid Sing-siok-pay itu sama terkejut. Tapi demi mendengar orang aneh itu bersedia menyalakan api untuk mengusir ular, itu berarti ada harapan hidup bagi mereka, keruan mereka sangat senang dan menyatakan terima kasih berbareng.

Kepandaian mencaci maki anak murid Sing-siok-pay itu sangat pintar, boleh dikata kelas pilihan, sebaliknya bakat mereka dalam hal memuji dan mengumpak juga sudah terlatih dan mahapandai. Terus saja mereka memuji Yu Goan-ci sebagai “kesatria besar”, “pendekar besar”, “tuan penolong yang budiman”, “pahlawan yang tiada bandingannya di jagat ini” dan macam-macam sanjungan lain.

Pada umumnya manusia itu senang dipuji, tidak terkecuali pula Goan-ci yang dipuji setinggi langit itu, seketika ia merasa dirinya seakan-akan menjadi orang besar, ia merasa berharga biarpun mesti menyerempet bahaya bagi orang-orang itu.

Segera ia mengeluarkan ketikan api, ia mengepal segebung rumput kering dan dinyalakan sebagai obor. Tapi ia menjadi takut juga melihat kawanan ular sedemikian banyak, terutama ular sawa raksasa yang ganas itu, ia khawatir jangan-jangan kawanan ular itu akan mengamuk, boleh jadi dirinya akan menjadi korban juga.

Ia pikir sejenak, lalu ia kumpulkan sedikit kayu kering dan dinyalakan sebagai api unggun di depannya sebagai aling-aling. Habis itu ia jemput sepotong ranting kayu kering yang sudah terbakar itu dan ditimpukkan ke arah ular yang paling dekat, berbareng itu ia terus bersembunyi di belakang api unggun sambil bersiap-siap bila ular yang ditimpuk itu menerjang ke arahnya, segera ia akan angkat langkah seribu alias kabur, segala gelar “kesatria besar” dan “pendekar besar” tak terpikir lagi olehnya dan lebih baik diretur saja kepada anak muridnya Sing-siok-pay itu.

Di luar dugaan, memang benar juga kawanan ular itu takut kepada api dan demi melihat api membakar tiba, segera ular itu melepaskan mangsa yang dililitnya dan merayap pergi ke dalam semak-semak rumput.

Tampak hasil serangan api itu, di bawah sorak gembira anak murid Sing-siok-pay segera Goan-ci mengulangi perbuatannya, setangkai demi setangkai ia timpukkan ranting kayu berapi itu ke arah ular. Seketika kawanan ular itu ketakutan dan kacau-balau, ramai-ramai mereka melarikan diri, begitu pula ular sawa raksasa itu juga takut pada serangan api, mereka meninggalkan mangsa yang terlilit itu, hanya dalam waktu singkat saja beratus ekor ular itu sama melarikan diri hingga bersih.

Lalu terdengar suara sanjung puji anak murid Sing-siok-hay, “Suhu memang mahapintar, perhitungannya sangat tepat. Dengan serangan api ternyata benar kawanan ular lantas terusir lari semua! Benar, berkat rezeki yang mahabesar dan kekuasaan mahasakti Suhu hingga jiwa kita dapat diselamatkan!”

Begitulah bukan mereka memuji Goan-ci, tapi semua jasa itu kini ditumplak atas diri guru mereka.

Keruan Goan-ci terheran-heran, “Aku yang menolong kalian, mengapa suhu kalian yang dipuji, padahal baru saja kalian mencaci maki gurumu habis-habisan, seakan sepeser pun tidak berharga.”

Ia tidak tahu bahwa sesudah terbebas dari ancaman ular, maka jiwa orang-orang itu kembali tergantung di tangan Sing-siok Lokoay lagi. Kalau mereka tidak mengumpak dan menjilat mati-matian, bukan mustahil jiwa mereka akan melayang dibunuh oleh Ting Jun-jiu. Sedangkan mengenai jasa pertolongan Yu Goan-ci sudah tentu tak terpikir oleh mereka, apa sih artinya seorang keroco bertopi baja bagi mereka?

Demikianlah Ting Jun-jiu lantas memanggil Goan-ci, “He, Thi-thau-siaucu (Bocah Berkepala Besi), coba kemari! Siapa namamu?”

Kurang ajar, pikir Goan-ci, sudah kutolong jiwamu, sama sekali tidak mengucapkan terima kasih, sebaliknya memanggil semaunya. Tapi dia sudah terbiasa dihina orang, meski orang bersikap kasar padanya juga tak menjadi soal baginya. Segera ia menyahut sambil melangkah maju, “Namaku Yu Goan-ci.”

“Apakah padri asing lain sudah mati? Coba kau periksa hidung mereka, apa mereka masih bernapas atau tidak?” kata Ting Jun-jiu tiba-tiba.

Goan-ci mengiakan, lalu berjongkok untuk memeriksa pernapasan salah seorang padri Thian-tiok yang menggeletak di tanah itu. Ia merasa badan orang sudah dingin beku, sejak tadi padri itu sudah mati. Ketika ia periksa padri yang lain, keadaannya serupa. Maka katanya sambil menegak, “Sudah mati semua!”

Dalam sekejap itu, dilihatnya sikap mengejek orang-orang itu lambat laun berubah menjadi terheran-heran, lalu berubah lagi menjadi terkejut tak terkatakan. Begitu pula Ting Jun-jiu tampak heran, katanya, “Coba kau periksa lagi tiap-tiap hwesio itu, adakah di antaranya masih dapat tertolong?”

Goan-ci menurut pula, akhirnya ia periksa semua padri Thian-tiok itu dan melapor, “Sudah mati semuanya, ilmu sakti Losiansing sungguh sangat lihai!”

“Ya, dan ilmu menolak racun yang kau miliki itu juga sangat lihai,” sahut Ting Jun-jiu dengan tertawa dingin.

Sudah tentu Goan-ci merasa bingung. “Ilmu… ilmu menolak racun apa?” tanyanya tak paham.

“Hahahaha! Bagus, bagus!” Ting Jun-jiu bergelak tertawa. “Dari perawakanmu dan suaramu, kukira usiamu masih sangat muda, tapi kepandaianmu ternyata sedemikian hebat, sungguh orang muda yang tak boleh dipandang enteng!”

Goan-ci tambah bingung, ia tidak paham apa yang dimaksudkan orang. Ia tidak tahu bahwa setiap kali ia periksa pernapasan padri Thian-tiok yang sudah mati itu, hal itu berarti tiap kali dia sudah “piknik” ke pintu gerbang akhirat. Jadi memeriksa 16 padri asing itu berarti pula lolos 16 kali dari cengkeraman maut.

Apa sebabnya? Kiranya meski Sing-siok Lokoay dapat diselamatkan oleh Goan-ci, tapi selaku seorang guru besar ilmu persilatan, sedikit pun ia tak bisa berkutik ketika dililit ular, bahkan perlu ditolong seorang pemuda keroco, hal ini kalau tersiar ke dunia Kangouw tentu akan menghilangkan mukanya. Sebab itulah, maka sesudah terlepas dari lilitan ular sawa, segera timbul maksudnya membunuh Goan-ci agar kejadian memalukan itu tak diketahui umum.

Adapun binasanya padri Thian-tiok itu adalah terkena racun yang terembus dari tubuhnya, kini Ting Jun-jiu menyuruh Goan-ci memeriksa pernapasan hidung padri-padri itu, ini berarti pemuda itu dibiarkan juga terkena racunnya yang jahat itu.

Siapa duga secara kebetulan sekali Goan-ci sudah pernah mengisap cairan darah ulat sutra putih yang maha berbisa, dengan lwekang mahatinggi yang dibacanya dari Ih-kin-keng, sesudah mengalami gemblengan selama beberapa bulan ini racun aneh dari ulat sutra yang mengeram dalam tubuh Goan-ci itu sudah terbaur menjadi satu dengan badannya. Jadi sekarang unsur racun yang berada pada tubuh Goan-ci itu adalah racun yang tak bisa dibandingi racun dari makhluk berbisa mana pun juga. Dan dengan sendirinya racun yang dikeluarkan Ting Jun-jiu itu tak dapat mencelakai dia.

Padahal tadi tanpa menggunakan api juga Goan-ci dapat mengalahkan kawanan ular itu, asal dia berjalan berlenggang dengan gaya bebas saja kawanan ular itu akan ketakutan dan bila berani menggigit dia, tentu ular itu akan binasa sendiri terkena racun dalam tubuh Goan-ci yang jauh lebih lihai.

Cuma Goan-ci sama sekali tidak tahu keadaan sendiri itu, dan sudah tentu Sing-siok Lokoay lebih-lebih tidak menyangka akan hal itu. Semula Sing-siok Lokoay berharap sekali Goan-ci menjamah padri Thian-tiok yang pertama tentu akan segera meringkuk binasa, siapa duga meski ke-16 padri Thian-tiok itu diraba, tetap Goan-ci hidup segar bugar tak kurang suatu apa pun. Keruan hal ini menggemparkan Sing-siok Lokoay dan anak muridnya.

Diam-diam Ting Jun-jiu membatin, “Melihat usianya yang masih muda belia ini tentu belum mempunyai kepandaian apa-apa, besar kemungkinan karena dia membawa sesuatu benda mestika antiular atau mungkin sebelumnya dia pernah minum obat mukjizat, maka tidak takut terkena racunku yang lihai itu.”

Maka katanya kemudian, “Eh Saudara Yu, mari kita omong-omong!”

Melihat orang bicara dengan nada yang lebih ramah daripada tadi, pula Goan-ci sudah menyaksikan caranya membinasakan ke-16 padri Thian-tiok secara kejam, juga mendengar pembicaraan kaum Sing-siok-hay mereka yang sebentar menjilat-jilat dan lain saat mencaci maki, betapa pun Goan-ci merasa muak terhadap mereka, ia pikir lebih baik menjauhi manusia rendah seperti mereka ini. Maka ia pun menjawab, “Ah, tak perlu kita omong-omong lagi, aku ada urusan lain, biarlah kumohon diri saja!”

Habis berkata, ia memberi soja, lalu tinggal pergi ke arah timur sana.

Tapi baru dua-tiga langkah ia berjalan, sekonyong-konyong terdengar angin berkesiur di sebelahnya. Tahu-tahu kedua tangannya kena dipegang orang. Datangnya orang sangat cepat hingga sebelum Goan-ci tahu apa yang terjadi, tiba-tiba tangan sudah terpegang.

Ketika Goan-ci berpaling, ia lihat yang menangkap tangannya itu adalah seorang anak murid Sing-siok-pay. Ia tidak tahu apa maksud orang, yang terang orang itu menyeringai, pasti orang tak bermaksud baik. Dalam khawatirnya segera Goan-ci meronta sekerasnya sambil berteriak, “Lepaskan aku!”

Mendadak sosok tubuh yang besar itu mencelat pergi melampaui kepalanya dan tertumbuk dinding batu di depan sana, “prak”, kepala orang itu pecah dan tulang patah. Goan-ci menjadi heran dari mana datangnya orang itu dan siapakah yang melemparkan sekeras itu hingga tertumbuk mati seketika?

Tapi ketika ia perhatikan, ternyata orang itu adalah murid Sing-siok-hay yang barusan memegang kedua tangannya itu. Keruan ia tambah heran, “Barusan saja orang itu memegang tanganku, mengapa mendadak bisa membunuh diri dengan menumbukkan kepalanya ke dinding batu?”

Sama sekali tak terkira olehnya, bahwa sebenarnya laki-laki itu bukan membunuh diri, tapi karena tenaga merontanya tadi yang hebat hingga orang itu kena disengkelit dan terpental serta mati tertumbuk batu karang. Maklum, tentang tenaga dalamnya yang makin hari makin kuat itu memang tidak disadarinya, pula selama ini ia pun tidak pernah berkelahi dengan orang. Semalam waktu ia dicekik Polo Singh, lantaran ketakutan hingga tidak berani melawan, padahal asal dia meronta sekuatnya, pasti Polo Singh tak mampu mencekiknya.

Begitulah, maka anak murid Sing-siok-pay yang lain sama menjerit kaget demi menyaksikan sekali sengkelit saja seorang suheng mereka sudah terbunuh oleh bocah kepala besi itu.

Sing-siok Lokoay adalah seorang tokoh termasyhur, pengalamannya luas dan pengetahuannya tinggi, cara sengkelit Goan-ci yang tidak sengaja itu dapat dilihatnya dengan jelas, ia pikir tenaga pembawaan bocah ini memang luar biasa, tapi ilmu silatnya tiada sesuatu yang istimewa. Maka sekali melompat maju, segera sebelah tangannya memegang topi baja pemuda itu terus ditekan ke bawah.

Karena tidak berjaga-jaga, seketika Goan-ci tertindih hingga tekuk lutut oleh tenaga mahakuat itu, ia hendak menegak lagi, tapi kepalanya serasa menyunggi sebuah gunung hingga tak bisa berkutik sama sekali, terpaksa ia memohon, “Ampun, Losiansing! Ampun!”

Mendengar itu, hati Ting Jun-jiu tambah lega lagi. Katanya segera, “Besar sekali nyalimu ya, berani kau bunuh muridku? Siapakah gurumu, hah?”

“Aku… aku tidak punya guru, aku… aku pun tidak berani membunuh muridmu!” sahut Goan-ci dengan gelagapan.

Ting Jun-jiu pikir orang toh tak mampu berbuat apa-apa lagi, lebih baik dibinasakan saja. Maka ia lantas angkat tangannya, waktu Goan-ci berdiri, terus saja telapak tangannya memukul dada anak muda itu.

Keruan Goan-ci kaget setengah mati, cepat ia menangkis sebisanya, dan karena datangnya pukulan Sing-siok Lokoay itu sangat lambat, maka tangan Goan-ci segera menempel telapak tangan iblis tua itu.

Justru hal inilah yang diinginkan Ting Jun-jiu, segera racun yang sudah terhimpun pada telapak tangan disalurkan melalui arus tenaga dalamnya yang mahakuat.

Itulah “Hoa-kang-tay-hoat” yang terkenal selama berpuluh tahun. Selama hidupnya hanya pernah satu kali dikalahkan orang, biasanya lawan pasti akan binasa seketika di bawah ilmu saktinya yang lihai itu.

Sebenarnya ia tidak perlu menggunakan ilmu sakti itu untuk menghadapi seorang bocah hijau pelonco seperti Goan-ci, terutama mengingat setiap kali ilmu itu digunakan juga akan mengurangi sebagian tenaga murninya dan melemahkan kadar racun yang mengeram dalam tubuhnya itu. Tapi ia menyaksikan sendiri Goan-ci sedikit pun tidak keracunan meski telah meraba ke-16 padri Thian-tiok itu, maka ia tidak berani gegabah dan terpaksa mengeluarkan ilmu saktinya yang khas itu.

Dan begitu kedua tangan beradu, tubuh Goan-ci lantas menggeliat dan tergetar mundur enam atau tujuh langkah. Bahkan tenaga sodokan lawan itu masih belum habis, akhirnya ia jatuh terjungkal, malahan terus berjungkir balik hingga tiga kali, habis itu baru berhenti.

Sebaliknya ketika tangan Ting Jun-jiu kebentur tangan pemuda itu, tiba-tiba dada terasa “nyes” dingin. Menyusul arus tenaga dalam yang tersedia di telapak tangan mendadak membanjir keluar dengan cepat luar biasa. Lekas-lekas ia mengerem sekuatnya, tapi arus tenaga dalam itu masih hendak menuang keluar, terpaksa ia menjungkir, dengan kepala di bawah dan kaki di atas ia putar beberapa kali, ia gunakan cara menguatkan tenaga bertahan dari perguruannya, dengan demikian barulah keluarnya tenaga murni itu dapat dihentikan.

Kemudian ia melompat bangun, seketika rambut dan jenggot menjengkit dan muka pucat pasi, sikapnya sangat menakutkan, sambil pentang kedua tangan yang lebar, segera ia bermaksud menubruk pula ke arah Goan-ci.

Saat itu Goan-ci sedang berlutut sambil menyembah dan berseru, “Ampun, Losiansing! Ampun! Ampun!”

Sesudah gebrakan barusan ini, Ting Jun-jiu merasa apa yang digunakan pemuda itu adalah Hoa-kang-tay-hoat dari perguruannya, malahan dengan latihannya yang sudah berpuluh tahun dan sudah sempurna, kecuali tenaga dalamnya sedikit lebih kuat daripada pemuda itu, kalau bicara tentang lihainya racun dalam tubuh, malah dirinya kalah setingkat, sehingga dalam gebrakan ini dirinya yang kecundang.

Biasanya hubungan persaudaraan dalam Sing-siok-pay hanya mengutamakan kuat dan lemahnya ilmu silat masing-masing, sama sekali tiada persoalan budi kebaikan segala, semakin tinggi kepandaiannya semakin tidak kenal ampun di antara mereka dan pasti saling membunuh. Kalau dikalahkan orang luar, mungkin pihak lawan masih mau mengampuni jiwanya, tapi bila kecundang di tangan saudara seperguruan sendiri pasti jiwa tak berampun.

Dan sekarang sudah terang gamblang Goan-ci berada di pihak yang menang, mengapa malah berteriak minta ampun? Apakah sengaja mempermainkan aku? Dari mana pula pemuda itu berhasil meyakinkan “Hoa-kang-tay-hoat”? Demikianlah Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu merasa heran, curiga, dan malu pula.

Tapi dasar dia memang licik dan licin, lahirnya sedikit pun tidak kentara akan perasaannya itu. Sekali lompat segera ia melayang ke depan Goan-ci dan bertanya, “Kau minta ampun padaku dengan sungguh-sungguh atau pura-pura?”

Berulang-ulang Goan-ci menyembah, sahutnya, “Dengan hati tulus hamba mohon Losiansing suka mengampuni jiwaku!”

“Jadi kau… kau…” tiba-tiba tergerak hati Ting Jun-jiu sebelum lanjut ucapannya. Segera ia ganti suara, “Kau telah mencuri Pek-giok-giok-tingku, sekarang kau sembunyikan di mana barang itu?”

Dasar Sing-siok Lokoay itu memang cerdik, ia pikir orang yang mampu meyakinkan Hoa-kang-tay-hoat, harus menggunakan Pek-giok-giok-ting dan kalau dia tanya di mana beradanya giok-ting itu boleh jadi akan dapat diketahui asal usul bocah bertopi baja ini.

Maka Goan-ci telah menjawab, “Ti… tidak, Siaujin tidak mencuri giok-ting milik Losiansing itu. Setiap kali habis dipakai, selalu Nona sendiri menyimpannya lagi, Siaujin tidak pernah diperbolehkan memegangnya.”

Hanya sekali tanya saja sudah dapat diperoleh berita tentang Pek-giok-giok-ting itu, keruan girang Ting Jun-jiu tidak kepalang. Segera katanya pula, “Hah, kau berani menyangkal? Justru Nona bilang kau yang mencurinya?”

“Ampun, Losiansing, Siaujin benar-benar tidak mencuri!” demikian Goan-ci bertobat. “Malahan sejak Nona selesai melebur ulat sutra itu, lalu Siaujin tidak pernah melihat giok-ting itu lagi, mengapa Siaujin dituduh mencurinya? Jika Losiansing tidak percaya, boleh silakan memanggil Nona untuk ditanyai.”

“Baik, jika begitu pengakuanmu, marilah kita pergi menemui Nona dan kalian berdua boleh membuktikan siapa yang benar,” kata Ting Jun-jiu.

“Men… menemui Nona, kata Losiansing?” Goan-ci menegas.

“Ya,” sahut Ting Jun-jiu. “Sekarang juga kita pergi mencarinya agar perkara yang sebenarnya menjadi jelas. Apakah kau yang mencuri atau bukan tentu hari ini akan ketahuan.”

“Tapi… tapi Nona jauh berada di negeri Liau sana, mana dapat diketemukan hari ini juga?” ujar Goan-ci. “Namun… namun…”

Tanpa sengaja Sing-siok Lokoay dapat mengetahui jejak A Ci, keruan girangnya tidak kepalang. Segera ia tanya, “Namun apa?”

“Namun kalau Losiansing ingin pergi juga ke Lamkhia, dengan sendirinya Siaujin bersedia mengiringi ke sana,” kata Goan-ci.

Sing-siok Lokoay memang benar seorang mahacerdik, biarpun tidak dapat melihat air muka Goan-ci, cukup mendengar ucapannya saja segera ia tahu pemuda itu sangat berharap bertemu dengan A Ci.

Ia kenal watak manusia, siapakah gerangannya yang tidak suka pada wanita cantik. Sedangkan A Ci itu, gadis remaja yang cantik menggiurkan, maka ia duga Thi-thau-jin ini tentu sangat kesengsem kepada anak dara itu.

Tapi dengan sengaja ia coba memancing lagi, “Ah, buat apa jauh-jauh pergi ke Lamkhia sana? Biarlah kukirim beberapa pembantuku yang lihai ke sana untuk membunuh budak itu saja dan merampas kembali giok-ting itu.”

Benar juga Goan-ci menjadi gugup demi mendengar A Ci hendak dibunuh, cepat katanya, “Tidak, tidak! Jangan, jangan…”

Maka makin yakinlah Ting Jun-jiu akan kebenaran dugaannya itu, ia pura-pura tanya, “Jangan apa?”

Wajah Goan-ci menjadi merah, dengan gelagapan ia menjawab, “Ini… ini…”

“Ini apa? Kau ingin memperistrikan si budak A Ci itu, betul tidak?” tanya Ting Jun-jiu dengan terbahak-bahak.

“Memperistrikan A Ci”, hal ini sudah tentu menjadi idam-idaman Goan-ci, cuma ia tidak berani membayangkan kemungkinan itu, hanya diam-diam tersimpan dalam lubuk hatinya.

Ia menghormati A Ci, memuji A Ci, yang dia harapkan asal dapat dijadikan kuda atau budak anak dara itu agar sekadar dapat melihatnya setiap hari dan itu pun sudah puas baginya dan sekali-kali tidak pernah timbul maksudnya yang lebih dari itu.

Kini Ting Jun-jiu tanya secara terang-terangan padanya, seketika ia jadi terkesima, kepala menjadi pusing dan berdirinya limbung, akhirnya ia jawab juga, “O, ti… tidak…”

Melihat sikapnya itu, makin yakinlah Sing-siok Lokoay akan dugaannya. Segera ia mempunyai rekaan, “Entah dengan cara apa dan entah karena kebetulan, maka unsur racun yang tersimpan dalam tubuh bocah ini ternyata jauh lebih hebat daripada diriku. Aku harus menerimanya untuk menyelidiki rahasia ilmunya, kemudian mengisap unsur racun dalam tubuhnya itu, habis itu barulah kubunuh dia.”

Bagi Sing-siok Lokoay, jiwa orang itu dianggapnya tiada bedanya seperti jiwa binatang. Dalam tubuh Yu Goan-ci terdapat racun yang aneh dan hebat, itu berarti suatu mestika yang susah dicari, maka dia bertekad akan menguras racunnya itu, kemudian pemuda itu akan dibunuh.

Menangkap ular atau binatang berbisa harus menggunakan Pek-giok-giok-ting, sekarang untuk memancing “manusia berbisa” sebagai Yu Goan-ci juga diperlukan sesuatu umpan. Dan umpan yang paling baik adalah si A Ci yang sangat dirindukan pemuda itu.

Mendapatkan “manusia berbisa”, menemukan kembali giok-ting, kemudian memberi hukuman setimpal kepada A Ci. Sekali jalan tiga hasil, sungguh hal ini sangat menyenangkan Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu.

Maka ia tanya pula, “Ingin kutanya padamu, jika kujodohkan A Ci sebagai istrimu, kau mau tidak?”

Sudah tentu seribu kali Goan-ci mau, biarpun suruh dia mati mendadak juga mau. Tapi ia tidak berani menjawab terus terang, katanya dengan gugup, “Mana… mana bisa jadi? Siaujin adalah… adalah budaknya Nona, hanya sesuai untuk dimaki dan digebuk olehnya. Mana Siaujin berani mimpi memperistrikan bidadari sebagai… sebagai Nona itu. Harap jangan lagi Losiansing bicara demikian, bila diketahui Nona, wah, tentu… tentu akan celakalah diriku.”

“Celaka apa?” ujar Ting Jun-jiu. “A Ci adalah muridku, dan murid harus turut pada perintah guru. Kalau aku suruh dia menjadi istrimu, masakah dia berani membangkang? Dia mencuri giok-tingku, jika aku tidak membunuh dia itu sudah merupakan kemurahan hatiku, masakah dia berani membantah lagi pada perintahku?”

“Apakah betul Nona itu… murid Losiansing?” tanya Goan-ci ragu.

Tadi di tempat sembunyinya ia dengar tanya-jawab Sing-siok Lokoay dengan anak muridnya dan diketahui A Ci memang betul adalah murid si kakek, cuma ia sangsi gadis yang cantik agung sebagai A Ci itu masakah seperguruan dengan manusia-manusia yang rendah dan pengecut itu, sungguh hal ini sangat janggal.

Maka dengan terbahak Ting Jun-jiu menjawab, “Eh, kau tidak percaya? Hahahaha!”

Lalu ia tuding muridnya si hidung singa dan menyambung pula, “Coba uraikan, bagaimana bentuk gadis itu?”

Segera si hidung singa bercerita, “Tahun ini A Ci berumur 16, muka potongan daun sirih, janggutnya agak lancip, di bawah bibir sebelah kanan terdapat andeng-andeng kecil. Perawakannya lencir, kulitnya putih bersih, ia suka pakai baju warna ungu dan ikat pinggang warna kuning telur.”

Apa yang diuraikan itu memang betul adalah bentuk A Ci, maka setiap kali si hidung singa mengucap satu kalimat, setiap kali pula jantung Goan-ci berdebur. Akhirnya Goan-ci tidak sangsi lagi, katanya dengan suara rendah, “Betul, memang begitulah keadaan Nona.”

“Nah, jika kau ingin mengambil sebagai istri, itulah soal gampang,” kata Ting Jun-jiu. “Cuma dalam perguruan kami ada suatu peraturan, murid perempuan tidak boleh menikah dengan orang luar, tapi harus dengan saudara seperguruannya sendiri. Maka… ya, sudahlah, biarpun macammu ini sangat aneh, mengingat jasamu tadi, jika kau mau mengangkat aku sebagai guru, dapat juga aku menerimamu.”

Tentang “memperistrikan A Ci” sebenarnya tidak berani diharapkan Goan-ci akan menjadi kenyataan, tapi lantas terpikir olehnya, “Ya, jika aku mengangkat Losiansing ini sebagai guru, maka aku akan menjadi saudara seperguruan dengan Nona…”

Melihat pemuda itu masih ragu tanpa memberi reaksi apa-apa, segera Ting Jun-jiu berkata pula, “Si budak cilik A Ci itu sebenarnya cukup cantik juga, banyak sekali di antara saudara seperguruannya ingin memperistrikan dia. Tapi bila kau menjadi muridku, mengingat jasamu tadi, boleh juga akan kuberikan hak istimewa kepadamu.”

Sudah tentu Goan-ci sangat tertarik oleh janji itu, pikirnya, “Kalau aku melepaskan kesempatan baik ini, tentu aku akan menyesal selama hidup. Betapa pun aku… aku tidak ingin Nona diperistri oleh kawanan manusia rendah mirip binatang seperti mereka ini.”

Terdorong oleh pikiran itu, terus saja ia berlutut dan menyembah, “Suhu, Tecu Yu Goan-ci ingin masuk perguruanmu, mohon Suhu suka menerima.”

“Tapi dalam perguruan kami banyak sekali peraturan-peraturan keras, apakah kau sanggup menaati? Jika diperintah guru, apakah kau menurut dengan sungguh hati?” tanya Ting Jun-jiu.

“Tecu akan taat dan akan tunduk pada segala perintah Suhu,” sahut Goan-ci.

“Andaikan guru hendak mengambil nyawamu apakah kau mau mati dengan rela?” tanya pula Ting Jun-jiu.

“Tentang ini… ini…” Goan-ci menjadi ragu.

“Coba pikir dulu, kalau rela bilang rela, kalau tidak katakan tidak,” ujar Sing-siok Lokoay.

“Kalau bisa aku ingin hidup seribu tahun lagi, sudah tentu aku tidak rela jika kau cabut nyawaku,” demikian Goan-ci membatin. “Walaupun begitu, toh bila perlu kelak aku dapat lari, andaikan tidak dapat lari, biarpun tidak rela juga tak dapat berbuat apa-apa bila dia sudah berkeras akan mencabut nyawaku.”

Karena itu, segera ia menjawab, “Atas segala budi kebaikan Suhu, Tecu rela mati demi Suhu.”

“Bagus, bagus!” seru Ting Jun-jiu dengan tertawa. “Nah, kau boleh bersumpah untuk itu.”

Pikiran Goan-ci tergerak, segera katanya, “Tecu Yu Goan-ci kalau tidak memenuhi janji itu, biarlah kelak akan mati di bawah hukuman Suhu yang mengerikan, boleh dicencang hingga hancur luluh dan mayat tak terkubur.”

Ting Jun-jiu terdiam sekejap, segera ia berkata dengan tertawa, “Kau bocah kepala besi ini licin juga. Kau katakan bila tidak turut perintah guru sudah tentu dihukum mati olehku. Maka sumpahmu ini sama saja seperti tidak diucapkan. Tapi biarlah, asal kau ingat baik-baik janjimu ini. Nah, sekarang coba ceritakan pengalaman selama hidupmu, uraikan sejelas-jelasnya.”

Karena tak dapat menolak, terpaksa Goan-ci menceritakan secara ringkas penghidupannya yang sengsara selama ini, tapi ia tidak mau mencemarkan nama baik ayahnya, maka ia tidak mengaku berasal dari keluarga Yu di Cip-hian-ceng, ia hanya mengaku sebagai anak petani yang diculik oleh orang-orang Cidan, di negeri Liau sana bertemu dengan A Ci, lalu diajak si gadis untuk menangkap ular dan binatang berbisa lainnya.

Ketika Goan-ci bercerita tentang menangkap ulat sutra yang aneh itu, tampak Ting Jun-jiu sangat tertarik dan mendengarkan dengan penuh perhatian, bahkan ia tanya pula keadaan dan bentuk ulat sutra itu dengan teliti. Dari air mukanya tertampak iblis tua itu mengiler sekali kepada ulat sutra yang hebat itu.

Diam-diam Goan-ci membatin, “Suhu ini bukan manusia baik-baik, jika aku ceritakan tentang kitab bahasa Sanskerta yang kuperoleh itu tentu akan dirampas olehnya.”

Sebab itulah ketika Ting Jun-jiu berulang-ulang tanya ilmu aneh apakah yang pernah diyakinkan olehnya, tetap Goan-ci tidak cerita tentang kitab Ih-kin-keng itu.

Ting Jun-jiu sendiri tidak kenal ilmu sakti dalam Ih-kin-keng, maka ia cuma menyangka kepandaian yang terdapat pada diri pemuda bertopi baja itu adalah khasiat dari ulat sutra dingin. Dalam hati ia mencaci maki habis-habisan, “Sungguh sayang, makhluk mestika yang susah dicari itu tanpa sengaja dapat disedot ke dalam tubuh setan ini, benar-benar sangat sayang!”

Dan ketika Goan-ci bercerita tentang Sam-ceng dan akhirnya ditawan ke Siau-lim-si, mendadak Ting Jun-jiu menepuk paha dan berseru, “Hah, jadi Sam-ceng Hwesio mengatakan ulat sutra dingin itu diperoleh dari puncak Kun-lun-san? Itulah bagus! Jika ada satu, tentu ada dua dan tiga. Cuma luas pegunungan Kun-lun itu ada beribu-ribu li, jika tiada penunjuk jalan, tentu ulat dingin itu akan sukar ditangkap.”

Karena ia sendiri tadi sudah merasakan betapa mukjizatnya Han-giok-jan, yaitu racun ulat sutra yang terdapat dalam tubuh Goan-ci ketika mereka saling gebrak, maka ia rasa makhluk kecil itu jauh lebih berharga daripada Pek-giok-giok-ting apa segala. Tentang mencari kembali giok-ting dan membunuh A Ci boleh dikesampingkan dahulu, mendapatkan ulat sutra dingin itu lebih penting.

Maka ia lantas tanya, “Sam-ceng Hwesio itu sekarang masih berada di Siau-lim-si, bukan? Hah, bagus, bagus! Boleh kita suruh dia menunjukkan jalan dan membawa kita ke Kun-lun-san untuk menangkap ulat dingin itu.”

“He, tidak bisa jadi!” kata Goan-ci sambil goyang-goyang kepalanya yang berat itu. “Sam-ceng itu sangat galak, belum tentu dia mau pergi bersama kita. Lagi pula dia sedang menjalani hukuman dan dikurung dalam sebuah kamar batu oleh hwesio di Siau-lim-si sana, dia tidak dapat keluar sesukanya.”

“Hahaha, dia galak? Dia tidak mau pergi bersama kita? Kan aneh?” ujar Ting Jun-jiu dengan tertawa, “Baiklah, mari kita pergi ke Siau-lim-si dan mencari akal untuk mengeluarkan dia dari sana!”

Goan-ci tidak menjawab, ia ragu apakah Sam-ceng dapat dibawa lari begitu saja mengingat di Siau-lim-si tidak sedikit hwesio sakti.

“Kenapa diam saja?” tegur Ting Jun-jiu demi tampak pemuda itu tidak bersuara.

“Tecu khawatir para toahwesio Siau-lim-si itu tidak mau melepaskan Sam-ceng,” sahut Goan-ci.

Biarpun Sing-siok Lokoay suka malang melintang dalam segala hal, tapi terhadap Siau-lim-si betapa pun ia tidak berani memandang ringan. Tapi terdorong oleh keinginan menangkap ulat sutra sakti itu, bahaya apa pun juga akan ditempuhnya.

Ia pikir tidak perlu bertempur dengan para kepala gundul Siau-lim-si, cukup asal diam-diam Sam-ceng Hwesio dibawa lari, kan beres urusannya. Masakah untuk menculik seorang hwesio gendut saja Sing-siok Lokoay tidak mampu?

Tapi Goan-ci masih takut-takut.

“Kau didampingi suhumu, apa yang kau takutkan?” tanya Lokoay.

“Tapi… tapi di Siau-lim-si terdapat juga seorang padri dari Se-ek (benua barat), dia… dia akan membunuhku,” tutur Goan-ci.

“Padri dari Se-ek? Bagaimana ilmu silatnya? Apakah lebih tinggi daripada ke-16 padri Se-ek yang sudah mati ini?” tanya Ting Jun-jiu.

“Tecu tidak tahu,” sahut Goan-ci. “Cuma dia berada dalam tahanan hwesio Siau-lim-si, maka dapat diduga ilmu silatnya tidak terlalu tinggi.”

“Dengan mudah saja ke-16 padri asing ini telah kubinasakan, kalau cuma seorang saja masakah aku takut?” demikian Ting Jun-jiu terbahak-bahak. “Marilah sini, hari ini kau telah mengangkat guru padaku, biar Suhu memberi hadiah perkenalan padamu, nah, tempelkan telingamu ke sini!”

Dengan takut-takut Goan-ci mendekati orang dengan perlahan. Lalu Ting Jun-jiu berbisik di telinganya, “Jika kau bertemu dengan hwesio asing itu, asal dalam hati kau berkata ‘Sing-siok Losian, Sing-siok Losian, lindungilah Tecu, atasi musuh dan rebut kemenangan, satu-tiga-lima-tujuh-sembilan.’ Habis itu pukul sekali di tempat ini, di bahu kirinya, dengan demikian meski gurumu berada betapa jauhnya juga akan mengetahui kesukaranmu dan mengeluarkan ilmu saktinya untuk membantumu. Seterusnya hwesio itu pasti akan sangat menghormat padamu, sedikit pun tidak berani membikin susah lagi padamu. Nah, ini adalah ilmu pertama ajaran gurumu ini, harus kau ingat baik-baik.”

“Apakah di tempat ini?” tanya Goan-ci sambil meraba pundak kiri sendiri.

“Benar,” sahut Ting Jun-jiu. “Dan jangan sekali-kali kau beri tahukan kepada orang lain, sebab ini adalah ilmu mukjizat perguruan kita sendiri. Hendaknya ingat dengan baik kalimat mantra tadi.”

Segera Goan-ci menghafalkan sekali lagi dengan suara perlahan. Ting Jun-jiu mengangguk-angguk, katanya, “Ehm, bagus, ingatanmu ternyata tidak jelek. Ayolah sekarang kita berangkat ke Siau-lim-si!”

Goan-ci tidak berani membantah, segera ia bawa rombongan orang-orang itu menuju Siau-lim-si. Waktu magrib, dari jauh sudah kelihatan bangunan biara yang termasyhur itu.

Ting Jun-jiu berkata kepada para muridnya, “Kalian tidak becus apa-apa, kalau ikut ke sana akan mengganggu malah, maka lebih baik kalian sembunyi saja di hutan sini, hanya A Yu saja yang ikut ke sana bersamaku.”

Para muridnya sama mengiakan, bahkan si hidung singa lantas berkata, “Sesudah Suhu bunuh habis keledai gundul Siau-lim-si itu, harap memberi tanda agar Tecu sekalian segera menyusul ke sana untuk memberi selamat pada Suhu.”

Di luar dugaan Sing-siok Lokoay mendelik padanya, semprotnya, “Selamanya hwesio Siau-lim-si tidak berani mengutik seujung rambut pun Sing-siok-pay kita, tanpa sebab buat apa membunuh mereka?”

Mestinya si hidung singa bermaksud menjilat pantat, tapi keliru alamat hingga dipersen dengan dampratan malah. Keruan ia menyengir dan mengiakan berulang-ulang.

Segera Goan-ci ikut sang suhu menuju ke Siau-lim-si. Berjalan di belakang Ting Jun-jiu, dengan jelas Goan-ci melihat lengan baju kakek itu longgar berkibar tertiup angin, langkahnya gesit dan enteng mirip dewa dalam lukisan saja, mau-tak-mau timbul juga semacam rasa hormatnya.

“Dengan mengangkat guru kepada seorang tokoh seperti ini, sengaja dicari pun mungkin sukar didapatkan. Tentang urusan Nona A Ci segala tak perlu dipersoalkan, yang terang dengan sandaran seorang guru sehebat ini, paling tidak aku takkan takut lagi dianiaya orang.”

Dalam pada itu mereka sudah sampai di jalan besar yang menuju ke atas gunung. Ketika mereka hampir sampai di gardu di luar biara, yaitu gardu yang merupakan ruangan tunggu bagi kaum pengunjung, tiba-tiba mereka mendengar suara derapan kaki kuda dari belakang, dua penunggang tampak datang secepat terbang.

Sebagai orang yang kenyang dihajar orang, demi tampak ada kuda lari datang, segera Goan-ci berkata kepada Sing-siok Lokoay, “Suhu, ada kuda lewat! Suhu!”

Berbareng ia lantas menyingkir ke tepi jalan.

Sebaliknya Ting Jun-jiu anggap sepi saja terhadap apa yang dikatakan Goan-ci itu, ia masih berjalan dengan gaya bebas menurut arahnya sendiri. Maka ketika kedua ekor kuda, seekor hitam dan seekor kuning itu kira-kira beberapa meter sampai di belakang Ting Jun-jiu, mendadak kuda-kuda itu menyisih ke samping dan melampauinya dari kanan-kiri.

Tiba-tiba kedua penunggang kuda itu menoleh dan memandang sekejap pada Ting Jun-jiu dan Yu Goan-ci. Ternyata penunggang kuda hitam itu pun berbaju hitam mulus, perawakannya kurus kecil, tapi penuh semangat dan tampak sangat cekatan. Adapun penunggang kuda kuning juga memakai jubah warna kuning, raut mukanya juga sangat kurus, tapi perawakannya jangkung, alisnya panjang, sikapnya agak aneh, usianya lebih tua daripada si baju hitam.

Melihat Goan-ci memakai kerudung besi pada kepalanya, kedua orang itu merasa sangat heran. Tapi segera mereka berpaling kembali, setiba di gardu tunggu, mereka melompat turun dan menambat kuda mereka itu di pilar gardu.

Kemudian si baju kuning mengeluarkan sebuah kotak kecil, ia angkat kotak itu sambil berseru keras-keras, “Pay-san!”

Siau-lim-si adalah pusat persilatan Tionggoan, maka sepanjang tahun tiada sedikit orang gagah dari segenap lapisan yang datang berkunjung, yaitu apa yang biasa disebut “pay-san” (menyembah gunung). Di sebelah gardu tunggu itu ada sebuah rumah kecil, di situ tinggal Ti-khek-ceng atau hwesio penyambut tamu.

Maka demi mendengar suara tadi, segera padri penerima tamu memapak keluar. Katanya sambil memberi hormat, “Silakan mengaso sebentar tuan tamu. Siauceng bernama Hi-hong, terimalah hormatku.”

Si baju kuning balas menghormat sambil mengucapkan kata-kata merendah. Begitu pula si baju hitam juga memberi hormat.

Pada saat itulah Ting Jun-jiu bersama Goan-ci juga sudah sampai di gardu tunggu itu.

Terdengar Hi-hong, si padri penyambut tamu itu sedang tanya, “Numpang tanya siapakah nama tuan-tuan yang mulia?”

“Kanglam Buyung Hok yang datang pay-san!” sahut si baju kuning.

“Lam Buyung, Pak Kiau Hong”, istilah ini boleh dikata terkenal oleh setiap orang Bu-lim. Maka demi mendengar nama Kanglam Buyung Hok, segera hati Ting Jun-jiu tergetar. Ia coba melirik si baju kuning, dilihatnya orang itu tinggi kurus, melihat air mukanya yang pucat itu orang lebih percaya kalau dia pasti seorang penderita tebese, sungguh tidak sesuai dengan nama “Lam Buyung” yang mahasohor di seluruh jagat itu. Maka diam-diam ia merasa sangsi.

Hi-hong juga terkejut, tanyanya segera, “Jadi… jadi tuan sendiri ini Buyung-kongcu?”

Si baju kuning tersenyum, sahutnya, “Bukan! Aku she Pau, bernama Put-tong!”

Lalu ia tunjuk si baju hitam dan menyambung, “Dan dia ini saudara angkat kami It-tin-hong…”

“Hah, kiranya Hong Po-ok, Hong-siya. Kagum, kagum sekali, sudah lama kami kenal nama Hong-siya!” demikian seru si padri penyambut tamu, Hi-hong, sebelum ucapan Pau Put-tong selesai.

Maka tertawalah si baju hitam yang bukan lain adalah Hong Po-ok itu, katanya, “Apakah Hui-jiu Suhu dari biara kalian baik-baik saja?”

“Baik, Hui-jiu Susiok sangat baik,” sahut Hi-hong. “Beliau sering mengatakan bahwa Hong-siya adalah seorang laki-laki sejati, seorang kesatria dengan ilmu silat yang tinggi, Susiok sudah lama merindukan dirimu.”

“Haha, tempatku ini pernah dipukul sekali oleh dia hingga rasa jarum itu tidak hilang selama sebulan,” kata Hong Po-ok dengan tertawa sambil meraba pundak kirinya. “Tapi punggungnya juga kena kutendang, rasanya tendangan itu juga tidak enteng.”

Lalu tertawalah ketiga orang itu bersama.

Seperti sudah dikenal, Hong Po-ok itu seorang yang tangkas dan suka berkelahi, paling suka mencari onar dan bertengkar, sebab itulah beberapa tahun yang lalu pernah ia berkelahi dengan Hui-jiu Siansu dari Siau-lim-si, kesudahannya seri, sama kuat. Dan dari berkelahi akhirnya kedua orang menjadi sahabat baik malah.

Begitulah, kemudian Hi-hong beralih kepada Ting Jun-jiu dan bertanya, “Dan siapakah she yang mulia Losiansing ini?”

“Aku she Ting,” sahut Sing-siok Lokoay dengan angkuh.

Pada saat itu juga kembali dua penunggang kuda datang dengan cepat, mendengar suara lari kuda itu, Hi-hong menoleh, ia lihat seekor kuda itu berwarna merah cokelat, penunggangnya juga memakai jubah panjang warna merah yang sama, itulah seorang laki-laki gagah dan kekar. Sedang kuda yang lain berwarna hijau kelabu, penunggangnya juga memakai jubah dengan warna sama.

Sesudah dekat, kedua orang itu melompat turun dari kuda mereka. Maka jelas kelihatan si jubah merah itu bermuka lebar, telinganya besar, usianya sekitar setengah abad, sikapnya yang berwibawa itu mirip seorang pembesar. Sedangkan si baju hijau tua itu adalah seorang siucay (gelar ujian sastra) berusia sedikit lebih muda daripada si baju merah, kedua matanya redup sepat seperti orang kurang tidur.

Segera Hong Po-ok menyapa, “Toako, Jiko, ini Hi-hong Taysu dari Siau-lim-si!”

Lalu ia pun memperkenalkan mereka kepada Hi-hong, “Dan ini adalah Ting-toako kami, Ting Pek-jwan!”

Menyusul ia tunjuk si siucay dan berkata, “Dan yang itu adalah jiko kami, Kongya Kian.”

Hi-hong memberi hormat dan berkata, “Sudah lama kami dengar nama Ting-toaya dan Kongya-jiya yang terhormat, hari ini sudi berkunjung ke biara kami, sungguh suatu kehormatan besar bagi kami.”

“Ah, Taysu terlalu memuji,” sahut Ting Pek-jwan dan Kongya Kian berbareng.

Mereka hanya bicara satu kalimat saja, tapi suaranya memekak dan mendengung telinga pendengarnya. Kiranya suara Ting Pek-jwan itu sangat lantang, meski bicaranya seperti perlahan saja, tapi sudah cukup memekakkan anak telinga orang lain.

“Sekejap lagi kongcu kami akan tiba, harap Taysu suka melaporkan,” segera Kongya Kian berkata.

“Baik,” sahut Hi-hong. “Silakan kalian tunggu sebentar di sini, segera Siauceng laporkan kepada para Supek dan Susiok agar menyambut kemari.”

“Terima kasih,” kata Ting Pek-jwan sambil melirik ke arah Ting Jun-jiu dan Yu Goan-ci, ia tidak tahu bagaimanakah asal-usul kedua orang ini.

Sementara itu Hi-hong lantas masuk ke Siau-lim-si dengan terburu-buru. Ia tahu belum lama berselang di Siau-lim-si telah berkumpul banyak kesatria Tionggoan untuk berunding cara bagaimana menghadapi Buyung-kongcu yang serbamahir dalam berbagai macam ilmu silat di dunia ini. Tapi tidak lama berunding lantas terjadi peristiwa Kiau Hong membikin rusuh di Siau-lim-si dan menempur para kesatria di Cip-hian-ceng.

Karena itu, perhatian para kesatria lantas berpindah atas diri “Pak Kiau Hong” hingga dengan sendirinya melupakan “Lam Buyung”, banyak perbuatan keji di dunia Kangouw orang sama menyangka dilakukan oleh “Koh-soh Buyung”, tapi karena peristiwa Kiau Hong itu hingga sebagian tuduhan kepada Lam Buyung itu berpindah atas diri Kiau Hong.

Siapa duga dalam keadaan sekarang inilah tahu-tahu Buyung-kongcu datang di sini, keruan hal ini sama sekali tak tersangka oleh ketua Siau-lim-si, Hian-cu Siansu, dan padri sakti lainnya. Segera Tat-mo-ih Siuco, ketua ruang Tat-mo yaitu Hian-lan Taysu diperintahkan menyambut keluar dengan memimpin 15 orang padri saleh yang lain.

Dari Hi-hong mereka mendapat tahu bahwa empat orang yang dikirim datang lebih dulu oleh Buyung-kongcu itu sangat sopan, tampaknya tidak bermaksud jahat, apalagi Hui-jiu Siansu juga memuji Hong Po-ok adalah seorang kawan sejati, maka Hian-lan dan kawannya tidak membawa senjata apa-apa, mereka yakin dengan nama Buyung-kongcu yang termasyhur, sekalipun ingin mencari perkara ke Siau-lim-si juga tidak mungkin datang-datang lantas main hantam begitu saja…

Sementara itu sesudah Hi-hong pergi melapor akan kedatangan Buyung-kongcu, segera Hong Po-ok bertingkah lagi, sesuai wataknya suka cari onar itu. Dengan keheran-heranan ia lantas mengincar dan mengamat-amati kerudung besi di atas kepala Yu Goan-ci.

Makin dilihat makin tertarik, hingga akhirnya ia mengitari Goan-ci, ia lihat kerudung besi itu dilas dengan sangat rapat, untuk membukanya terang sukar. Melihat tingkahnya itu sungguh ia ingin ketok beberapa kali kerudung besi itu.

Ting Pek-jwan sudah kenal watak saudara angkatnya yang suka cari perkara itu, kalau dicegah malah makin menjadi-jadi, maka ia pun tidak ambil pusing padanya.

Dan sesudah Hong Po-ok mengitar sejenak, tiba-tiba ia menegur Goan-ci, “Hai, Sobat, selamat!”

“Ya, aku… aku selamat, kau pun selamat, sama-sama selamat!” sahut Goan-ci dengan takut-takut demi melihat potongan Hong Po-ok yang tangkas, petantang-petenteng dan agresif itu.

“Eh sobat, apa-apaan kerudung besi yang kau pakai ini?” tanya Hong Po-ok pula. “Aku sudah pernah menjelajahi antero dunia, tapi tidak pernah melihat muka orang semacam dirimu ini.”

Goan-ci merasa malu dan menunduk, sahutnya dengan tak lancar, “Ya, aku… aku sendiri tidak kuasa… tidak berdaya…”

Dasar Hong Po-ok memang berjiwa kesatria, suka membela kaum lemah dan mendobrak segala ketidakadilan. Mendengar ucapan Goan-ci yang mengharukan itu, segera ia tanya, “Siapakah orang yang jahil itu hingga membuat kepalamu sedemikian rupa? Coba katakan, aku orang she Hong justru ingin kenal cecongor orang itu?”

Sembari bicara, berulang ia pun melirik ke arah Sing-siok Lokoay, ia sangka apa yang dikeluhkan Goan-ci itu tentulah perbuatan kakek itu.

Namun Ting Jun-jiu hanya tersenyum-senyum saja sambil balas menatap orang dengan sinar mata yang tajam.

“Bu… bukan perbuatan guruku,” demikian Goan-ci menjelaskan.

“Habis siapa? Orang baik-baik kenapa mesti dikerudung selapis besi seperti ini, apa sih maksudnya? Marilah, biar kulepaskan saja!” habis berkata terus saja Po-ok mencabut sebilah belati yang mengilap tajam, lalu hendak membuka kerudung besi di kepala Goan-ci.

Keruan Goan-ci ketakutan, ia tahu kerudung besi itu sudah lengket dengan kulit dagingnya, kalau dibuka secara paksa, itu berarti akan membahayakan jiwanya. Maka cepatan ia goyang-goyang kedua tangannya sambil berseru, “He, jangan, jangan!”

“Tidak perlu takut,” kata Hong Po-ok. “Belatiku ini memotong besi bagaikan memotong sayur saja, akan kukupas kerudung besi itu dan pasti takkan melukai kulitmu.”

Tapi Goan-ci tetap menolak, “Tidak, jangan!”

“O, apa barangkali kau takut kepada orang yang memasang kerudung ini, ya?” tanya Po-ok. “Jangan khawatir, bila ketemu dia, katakan bahwa It-tin-hong yang menanggalkan kerudungmu ini, karena kau tidak berdaya apa-apa, jika dia marah, boleh suruh jahanam itu cari padaku.”

Habis berkata, segera ia pegang tangan kiri Goan-ci.

Melihat belati orang mengilap tajam itu, Goan-ci jadi ketakutan, ia berteriak-teriak, “Suhu! Tolong, Suhu!”

Tapi saat itu Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu lagi enak-enak berjalan santai di luar gardu untuk menikmati pemandangan alam yang indah, terhadap seruan Goan-ci itu ia sengaja pura-pura tidak dengar.

Dalam gugupnya, Goan-ci ingat kepada ilmu membela diri yang pernah diajarkan Ting Jun-jiu, segera ia mengucapkan mantra itu dalam hati, “Sing-siok Losian, Sing-siok Losian, lindungilah muridmu, mengatasi musuh dan rebut kemenangan, satu-tiga-lima-tujuh-sembilan!”

“Plok”, tiba-tiba dengan tangan kanan ia gaplok sekali di belakang bahu kiri Hong Po-ok.

Tak tersangka bahwa tempat yang ditepuknya itu adalah “thian-cong-hiat”, suatu tempat hiat-to penting di punggung orang.

Padahal saat itu Hong Po-ok mencurahkan perhatiannya hendak mengupas kerudung besi Goan-ci, khawatir kalau mengupasnya kurang tepat hingga melukai kepalanya, maka sama sekali tidak menduga akan diserang secara mendadak dari belakang. Bahkan tenaga gaplokan itu kuat luar biasa, tempat yang diarah adalah tempat berbahaya pula di tubuh manusia.

Keruan Hong Po-ok bersuara tertahan sekali, kontan ia roboh terjungkal. Syukur ia seorang cekatan, meski terkena serangan itu, sekuatnya ia masih bertahan, cepat tangan kiri menahan tanah, sekali tolak segera ia lompat bangun, tapi darah segar lantas menyembur juga dari mulutnya.

Tentu saja Ting Pek-jwan, Kongya Kian, dan Pau Put-tong sangat terkejut demi tampak Goan-ci mendadak turun tangan keji dan saudara angkat mereka kecundang, mereka menjadi lebih kaget ketika melihat air muka Hong Po-ok pucat lesi.

Cepat Kongya Kian memegang nadi Hong Po-ok, terasa denyut nadinya sangat cepat dan keras, itulah tanda keracunan hebat. Tergerak pikiran Kongya Kian, segera ia tuding Goan-ci dan memaki, “Anak setan, kiranya kau ini anak murid Sing-siok Lokoay yang celaka itu dan sekali turun tangan lantas melukai orang secara keji!”

Sembari bicara, segera ia keluarkan sebuah botol kecil dan menuang sebiji pil penawar racun dan dijejalkan ke mulut Hong Po-ok.

Sedang Ting Pek-jwan dan Pau Put-tong berbareng melompat maju untuk mengadang di depan Ting Jun-jiu dan Yu Goan-ci.

Sifat Pau Put-tong yang berangasan sesungguhnya tidak di bawah Hong Po-ok, bahkan ia lebih gapah, lebih agresif dan ngotot tidak mau kalah. Saat itu sudah kumpulkan tenaga pada tangan kiri, kelima jari sudah siap mencengkeram dada Goan-ci.

Syukurlah Pek-jwan keburu mencegahnya, “Nanti dulu, Samte!”

Maka Pau Put-tong sempat menahan serangannya, ia berpaling menanti komando saudara angkat itu lebih lanjut.

Tapi Pek-jwan berkata, “Di sini adalah wilayah kekuasaan Siau-lim-si, siapa yang benar dan salah tentu akan diputuskan oleh Hongtiang di sini secara adil dan bijaksana, kalau kita saling gebrak begini saja, ini berarti tidak mengindahkan orang Siau-lim-si.”

Memang tidak salah pikir Pau Put-tong, kalau dia sembarangan bertempur dengan orang di luar Siau-lim-si, tentu dia akan dituduh memandang enteng kepada tuan rumah. Apalagi Siau-lim-pay sudah mempunyai kesan buruk terhadap “Koh-soh Buyung”, lebih baik dirinya jangan membuat onar lagi. Adapun murid Sing-siok-pay itu tampaknya juga tidak seberapa kepandaiannya, tidak perlu khawatir orang akan dapat melarikan diri.

Pula dilihatnya Ting Jun-jiu itu bermuka muda dan berambut tua, sikapnya berwibawa, terang seorang kosen yang berilmu, meski didengarnya Goan-ci memanggil suhu padanya, tapi tampaknya kakek itu seorang baik-baik dari kalangan cing-pay, tidak mungkin orang dari Sing-siok-pay. Kalau dirinya ngotot terus, bukan mustahil akan membuat runyam urusan Kongcu.

Karena itu perlahan Pau Put-tong menurunkan kembali tangannya. Dalam pada itu Kongya Kian telah memayang Hong Po-ok untuk didudukkan ke lantai, tertampak badan adik angkat itu gemetaran dan gigi gemertukan, menggigil kedinginan seperti orang terjeblos dalam jurang es.

Biasanya Hong Po-ok itu sangat tangkas, entah berapa kali ia terluka dalam pertempuran yang pernah dilakukannya. Biarpun terluka parah biasanya juga dapat ditahannya, sedikit pun tidak mau unjuk kelemahan.

Tapi sekali ini, ia benar-benar tidak berkuasa lagi, selang sejenak bahkan bibirnya juga membiru saking kedinginan, mukanya yang pucat tadi juga bersemu hijau.

Mestinya pil penawar racun milik Kongya Kian itu sangat manjur, tapi sesudah diminum Hong Po-ok, hasilnya ternyata nihil, sedikit pun tidak memberi reaksi apa-apa.

Keruan Kongya Kian heran dan khawatir, cepat ia periksa pernapasan saudara angkat itu, tapi mendadak tangan terasa ditiup oleh serangkum angin mahadingin dan merasuk tulang. Lekas ia tarik kembali tangannya dan berseru, “Celaka! Mengapa sedemikian lihai dinginnya?”

Ia pikir jika napas yang diembuskan Hong Po-ok itu sudah sedemikian dinginnya, maka racun dingin yang mengeram dalam tubuhnya terang terlebih bukan main dinginnya.

Ia tahu keadaan sudah sangat mendesak, tidak sempat lagi untuk menunggu datangnya padri Siau-lim-si, segera ia berpaling dan menegur Ting Jun-jiu, “Apakah Anda ini guru si orang bertopi besi ini? Saudara angkatku terkena pukulan kejinya, harap suka memberi obat penawarnya.”

Padahal racun yang mengenai Hong Po-ok itu adalah bisa ulat sutra dingin yang dicurahkan dengan lwekang yang diperoleh Goan-ci dari Ih-kin-keng, jangankan Ting Jun-jiu tidak mungkin memiliki obat penawarnya, andaikan punya juga tidak nanti dia mau kasih.

Dalam pada itu Ting Jun-jiu lihat pintu gerbang Siau-lim-si telah dibuka, berpuluh hwesio berbaris keluar berturut-turut, dipandang dari jauh, terlihat tujuh atau delapan orang yang berjalan di depan itu memakai kasa, terang hwesio tua yang mempunyai kedudukan tinggi dalam Siau-lim-si dan kini keluar hendak menyambut Buyung-kongcu.

Ia pikir jika kawanan hwesio itu sudah datang, untuk meloloskan diri tentu sukar, sebaliknya dengan keluarnya hwesio sebanyak itu, tentu penjagaan dalam biara menjadi kendur dan ada kesempatan baik untuk menyergap dari arah belakang sana untuk menculik Sam-ceng Hwesio.

Karena pikiran itu, segera Sing-siok Lokoay mengebaskan lengan bajunya hingga menjangkitkan serangkum angin keras.

Seketika Ting Pek-jwan dan kawan-kawan merasa sambaran angin itu sangat menusuk mata, segera air mata mereka bercucuran karena terasa pedas dan susah dibuka lagi. Diam-diam mereka mengeluh, “Celaka!”

Mereka tahu lengan baju si kakek itu mengandung bubuk racun yang halus dan ditebarkan dengan lwekang ketika mengebas tadi.

Begitu mereka pikir, tanpa urus musuh lagi segera mereka mengadang di depan Hong Po-ok lebih dulu, sebab khawatir pihak lawan akan turun tangan lebih keji.

Pada saat lain, tiba-tiba Pek-jwan merasa dari samping ada angin berkesiur, tanpa pikir lagi sebelah tangannya menghantam ke depan, maka terdengarlah suara gemuruh, batu pasir berhamburan, kiranya pukulannya tepat mengenai pilar gardu hingga pilar yang cukup besar itu dihantam patah, sebagian gardu itu lantas ambruk hingga genting pecah bertebaran. Ketika mereka membuka mata lagi, sementara itu Ting Jun-jiu dan Yu Goan-ci sudah menghilang entah ke mana.

Melihat Ting Pek-jwan merusak gardu, padri Siau-lim-si yang hendak menyambut itu mengira dia sengaja cari perkara dan mengacau, semuanya menjadi gusar, dengan langkah cepat mereka memapak ke gardu itu.

Saat itu Ting Pek-jwan dan Pau Put-tong sudah mengejar musuh dari dua jurusan, hanya tinggal Kongya Kian saja yang masih menjaga Hong Po-ok di situ.

Melihat keadaan kedua orang itu, Tat-mo-ih Siuco Hian-lan Taysu lantas tahu ada kejadian luar biasa, segera ia tanya, “Apa yang terjadi, para Sicu?”

“Seorang bocah bertopi besi menghantam sekali pada saudara angkat kami ini, pukulannya berbisa lihai, Toako dan Samte sedang mengejar mereka!” sahut Kongya Kian.

Hian-lan melengak oleh keterangan itu, katanya, “Bocah bertopi besi katamu? Orang itu kan tidak tahu ilmu silat! Bukankah dia pekerja kasar di kebun sayur sana?”

Segera seorang hwesio di sebelahnya mengiakan.

Tengah keadaan masih kacau, tiba-tiba terdengar lagi suara derapan kuda lari dari bawah gunung, kembali seorang penunggang kuda datang dengan cepat.

Seketika Kongya Kian berseri-seri girang, katanya, “Itulah dia Kongcu!”

Tapi demi melihat kuda yang datang itu berwarna hijau muda, air mukanya berubah muram lagi.

Mendengar orang menyebut “kongcu”, segera padri-padri Siau-lim-si itu menduga pasti Buyung-kongcu sendiri yang datang, maka mereka sama memerhatikan pendatang itu.

Sejenak kemudian, sampailah penunggang kuda itu di depan gardu. Ternyata penunggang kuda ini seorang gadis cilik berbaju warna hijau muda. Setelah dia melompat turun dari kuda kelihatan tubuhnya langsing, potongannya menggiurkan.

Melihat Kongya Kian, cepat gadis itu berseru, “Jiko, apakah Enci A Cu berada di sini?”

Kiranya gadis cilik yang cantik ini adalah dayang Buyung-kongcu, yaitu pemilik Khim-im-siau-tiok, A Pik adanya.

Tempo hari waktu A Cu berpisah dengan dia dan menyamar sebagai hwesio untuk mencuri kitab ke Siau-lim-si, sudah sekian lama A Cu belum kembali sehingga A Pik sangat khawatir, setiap hari ia mendesak agar Buyung Hok suka mencari A Cu.

Tapi karena Buyung Hok sendiri lagi banyak urusan, ia tidak ingin bercekcok dengan Siau-lim-pay hanya karena membela seorang pelayan nakal. Dan sesudah tertunda sekian lama, mau-tak-mau ia khawatir juga atas keselamatan A Cu, pula setiap hari direcoki oleh A Pik, akhirnya terpaksa ia bawa penggawa-penggawanya datang ke Siau-lim-si.

Kongya Kian tidak menjawab pertanyaan A Pik tadi, sebaliknya ia berseru, “Di manakah Kongcu? Di mana beliau?”

Dengar suara orang yang khawatir dan cemas itu, segera A Pik memburu ke dalam gardu dan berkata, “Di tengah jalan Kongcu melihat seorang hwesio sedang menguber seorang nona, beliau ingin menolong gadis itu untuk membela keadilan, maka aku disuruh berangkat ke sini dulu dan beliau akan segera menyusul… He, Siko, kenapa engkau?” demikian dengan terkejut ia memburu ke samping Hong Po-ok, ia lihat rambut Hong-siko itu sudah berubah karena terbeku selapis es yang tipis.

Segera A Pik bermaksud menjamah tangan Hong Po-ok, tapi dicegah Kongya Kian dengan berkata, “Site terkena racun yang jahat, jangan kau sentuh dia.”

Di antara penggawa Buyung-kongcu, yaitu Ting Pek-jwan, Kongya Kian, Pau Put-tong, Hong Po-ok, A Cu, dan A Pik, biasanya mereka saling sebut sebagai kakak dan adik, hubungan mereka melebihi saudara sekandung. Maka demi mendengar siko mereka keracunan, A Pik gusar dan terkejut. Seketika ia melototi hwesio-hwesio Siau-lim-si dan berkata, “Apakah kawanan toahwesio ini yang mencelakai Siko? Hei, Toahwesio, lekas serahkan obat penawarnya untuk menolong Siko!”

Tapi Kongya Kian lantas berkata, “Bukan perbuatan mereka!”

Pada saat itulah sekonyong-konyong terdengar suara genta di Siau-lim-si ditabuh bertalu-talu, seketika air muka para hwesio itu berubah.

Bunyi genta yang keras dan gencar itu tak diketahui apa maksudnya oleh Kongya Kian dan A Pik, tapi mereka dapat menduga pasti di biara itu terjadi sesuatu yang gawat.

Maka tertampaklah dari pintu samping Siau-lim-si berlari keluar dua hwesio berjubah kelabu dan menuju ke arah gardu tunggu. Ginkang kedua hwesio itu sangat hebat hingga dalam sekejap saja mereka sudah sampai di depan gardu, segera seorang di antaranya memberi hormat kepada Hian-lan dan berkata, “Lapor Supek, belakang gunung kemasukan musuh. Hian-thong Supek telah terluka!”

Hian-lan mengangguk-angguk tanda tahu, segera ia tanya, “Musuh ada berapa orang? Bagaimana macamnya?”

Ia tanya dengan sikap tenang, tapi sebenarnya sangat terperanjat atas kekuatan musuh, sebab Hian-thong terhitung salah satu jago terkemuka angkatan “Hian” dalam Siau-lim-si, yaitu angkatan yang tertua, betapa lihainya musuh juga Hian-thong mampu melawannya dalam waktu tertentu, siapa duga datang-datang musuh lantas dapat melukainya, hal ini benar-benar sangat luar biasa.

Maka padri tadi melapor lagi, “Entah berjumlah berapa orang musuh itu, juga tak diketahui bagaimana macam mereka.”

Hian-lan berkerut kening dan melirik sekejap ke arah Kongya Kian. Dalam hati ia menduga itu pasti siasat komplotan Koh-soh Buyung yang sengaja hendak menyergap Siau-lim-si dan orang yang sekali gebrak melukai Hian-thong itu pasti Buyung Hok sendiri.

Namun saat itu Kongya Kian lagi sibuk mengawasi keadaan Hong Po-ok, maka ia tidak memerhatikan sikap Hian-lan yang mencurigai pihaknya.

Dalam pada itu para hwesio yang berada di situ sudah lantas terpencar hingga Kongya Kian bertiga terkepung di tengah. Keluarnya padri-padri Siau-lim-si secara besar-besaran itu adalah ingin menyambut kedatangan Buyung Hok, tapi yang akan disambut tidak kelihatan batang hidungnya, hal ini memang sudah menimbulkan rasa curiga mereka, kini mendengar pula suara genta tanda bahaya dan diketahui pula Hian-thong dilukai musuh, sudah tentu mereka menaruh tuduhan keras kepada orang-orangnya Buyung Hok.

Sementara itu suara genta tadi mendadak berhenti, lalu seorang hwesio berlari datang memberi lapor lagi, “Di belakang biara dipergoki dua orang, seorang mengaku she Ting, katanya bawahan Buyung-si dari Koh-soh, seorang lagi menggeletak terluka, sedangkan musuh sudah lari entah ke mana!”

Keruan Kongya Kian terkejut, cepat ia tanya, “Siapakah yang terluka itu? Apakah seorang laki-laki kurus berbaju kuning?”

Hwesio yang melapor itu tidak menjawab pertanyaannya, tapi sinar matanya penuh mengunjuk rasa waspada terhadap musuh, dan dari air mukanya itu dapat terlihat nyata bahwa orang yang terluka itu memang betul seorang lelaki berbaju kuning, yaitu Pau Put-tong.

Sudah tentu Kongya Kian sangat khawatir, tapi demi teringat Hong Po-ok juga terluka, terang dirinya tidak dapat tinggal pergi. Mengenai samte yang juga terluka itu, rasanya takkan beralangan karena didampingi oleh sang toako.

Melihat Kongya Kian tiada maksud jahat dan A Pik juga seorang gadis jelita yang lemah lembut dan tidak membahayakan, maka berkatalah Hian-lan, “Apakah Buyung-kongcu akan segera tiba? Kami siap menyambutnya dengan hormat!”

“Terima kasih,” sahut A Pik sambil memberi hormat. “Cuma baru saja di tengah jalan Kongcu melihat seorang hwesio jahat sedang menguber seorang nona, maka beliau telah tampil untuk menolongnya, terpaksa kedatangan beliau akan sedikit terlambat…”

Hian-lan merasa kurang senang, katanya, “Para padri biara kami biasanya sangat prihatin dan sopan, mana mungkin ada yang membikin susah kaum wanita? Apa yang dikatakan Nona barusan kuanggap saja sebagai ucapan anak kecil, lain kali kalau bicara hendaknya hati-hati.”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: