Kumpulan Cerita Silat

27/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 47

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 2:44 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Ketika Goan-ci hilang silaunya, tahu-tahu di dalam kamar sudah bertambah seorang, itulah dia Polo Singh yang baru saja menerobos keluar dari lubang bawah tanah. Tangan padri asing itu kelihatan memegang tiga jilid kitab. Sudah tentu ia pun terkejut demi tampak di tepi lubang itu sudah siap kelima padri tua.

Maka terdengarlah kelima padri tua itu serentak menyebut, “Omitohud!”

Lalu tangan kanan mereka perlahan menolak ke depan hingga lengan baju mereka tampak melembung seketika bagaikan lima helai layar.

Sekonyong-konyong Polo Singh berjumpalitan sekali terus menjungkir, ia berdiri dengan kepala di bawah dan kaki di atas. Kedua kaki tiada hentinya berputar-putar di atas, makin putar makin cepat.

“Ciaaaat!” mendadak kelima padri Siau-lim-si membentak berbareng, serentak mereka pun menghantam. “Blang”, terdengar suara keras, seketika hawa udara menjadi tegang dan menyesakkan napas, saking tak tahan Goan-ci terguncang pingsan seketika.

Selang sebentar, ketika ia siuman kembali, sayup-sayup ia dengar orang menyebut Buddha. Ia coba tenangkan diri, lalu mengintip melalui sela-sela dinding. Kini dilihatnya Polo Singh sudah duduk bersila dengan sikap yang prihatin, kelima padri tua Siau-lim-si duduk mengelilinginya sambil liam-keng bersama. Kitab yang disuarakan mereka itu sangat aneh, sama sekali Goan-ci tidak paham. Agaknya kedua pihak itu kini sudah damai dengan baik.

Sesudah agak lama keenam padri itu liam-keng, kemudian kelima padri Siau-lim-si berbangkit, mereka memberi salam dengan rangkap kedua tangan, lalu salah satu padri tua yang kurus kecil berkata, “Polo Singh Suheng, sejak kini bolehlah engkau masuk-keluar Cong-keng-lau dengan bebas, segala kitab yang ingin kau bawa boleh diambil dan dibaca, engkau tidak perlu main sembunyi-sembunyi dan mencuri pula.”

Polo Singh kelihatan mengangkat kepala dan termangu-mangu sejenak dengan penuh rasa sangsi. Kemudian bertanya, “Dan sampai kapan batas waktunya?”

“Tak terbatas, sampai Suheng wafat kelak,” sahut padri tua kurus kecil itu.

“Apakah kalian hendak memaksa aku membakar diri?” tanya Polo Singh.

“Omitohud! Mengapa Suheng berkata demikian?” sahut padri tua itu. “Suheng datang dari negeri Thian-tiok, sudah tentu kami sambut dengan segala hormat, masakah kami berani berlaku kasar padamu?”

“Sebagai murid Buddha, lebih baik kita bicara blakblakan,” kata Polo Singh. “Kitab yang tersimpan dalam biara kalian ini tidak sedikit diperoleh dari negeri kami. Selama beratus tahun ini keadaan negeri kami banyak terjadi huru-hara sehingga kitab-kitab aslinya banyak tercecer tak keruan, sebab itulah terpaksa kami harus mencari malah ke negeri kalian sini. Kaum Buddha kita mengutamakan berbuat kebaikan, mengapa kalian berjiwa sesempit ini?”

“Omitohud! Mana kami berani berbuat seperti apa yang dimaksudkan Suheng,” sahut padri Siau-lim-si itu. “Bila yang dicari Suheng adalah kitab suci Buddha penolong manusia, sudah tentu kami tidak berani merahasiakannya untuk diri sendiri. Akan tetapi yang diambil dan dibaca Suheng itu justru adalah kitab pusaka ilmu silat biara kami, meski sumber ilmu silat itu berasal dari negerimu, namun selama seratus tahun ini telah banyak diolah dan dirombak serta ditambah oleh padri saleh biara kami, menurut aturan dan sopan santun, mestinya tidak dapat Suheng ambil dan membacanya tanpa permisi.”

“Tadi kau katakan selanjutnya aku bebas masuk-keluar Cong-keng-lau dan boleh membawa kitab di sana sesuka hati, apakah kau sengaja menyindir aku?” tanya Polo Singh.

“Tidak, memang itulah maksud kami sesungguhnya,” sahut si padri kurus kecil itu dengan membungkuk tubuh.

“Kalian tidak perlu bicara secara plintat-plintut, apa yang kalian inginkan atas diriku, boleh katakan terus terang saja,” kata Polo Singh.

“Kami sangat kagum terhadap ilmu keagamaan Suheng yang tinggi, maksud kami ialah supaya Suheng dapat menetap di negeri kami ini untuk memberi khotbah secara luas dan menolong sesamanya menuju ke jalan yang mulia,” sahut si padri tua.

Seketika wajah Polo Singh berubah pucat bagai mayat. Katanya, “Jadi mak… maksudmu akan menahanku di sini, selamanya aku dilarang pulang ke negeri asalku?”

“Biara kami merasa utang budi kepada negeri kalian, masakah kami berani berlaku kasar seperti itu?” sahut si padri tua. “Kami memang minta Suheng tinggal di sini dengan sesungguh hati, harap Suheng sudi menerima permohonan kami ini.”

Habis berkata, kembali ia membungkuk tubuh dan memberi salam, lalu berjalan keluar. Keempat hwesio lain ikut memberi hormat dan berturut-turut keluar juga.

Polo Singh tampak lesu, rupanya ia insaf apa yang dimaksudkan hwesio-hwesio Siau-lim-si itu tak dapat ditarik kembali lagi, yaitu menahan dia selama hidup di sini dan boleh bebas membaca kitab di Cong-keng-lau, tapi apa gunanya biarpun antero kitab di Cong-keng-lau itu dapat dibaca dan dihafalkan di luar kepala?

“Munafik, munafik!” demikian Polo Singh bergumam sendiri. “Sudah terang aku ditahan di sini, tapi katanya aku dimohon dengan sangat agar tinggal di sini dan supaya sudi menerima permintaan mereka. Andaikan aku menolak, apakah boleh?”

Begitulah makin dipikir makin masygul hingga akhirnya ia memukuli batok kepala sendiri, padahal sebabnya Polo Singh pura-pura jatuh sakit di Siau-lim-si adalah agar para hwesio Siau-lim-si itu tidak menaruh curiga padanya, dengan demikian ia dapat menyelundup ke Cong-keng-lau untuk mencuri kitab.

Pembawaan Polo Singh mempunyai daya ingat yang luar biasa, makanya ia diperintahkan oleh gurunya agar datang ke Siau-lim-si untuk membaca kitab dan mengingat semuanya dalam otak, sekembalinya di negeri Thian-tiok nanti ia dapat menghafalkan kembali.

Jadi kedatangannya bukanlah untuk mencuri kitab, melainkan mencuri baca saja. Dan selama ini setiap hari ia rebah di kamarnya dengan menghadap dinding, selama itu ia sudah menghafalkan lebih 30 jilid kitab. Siapa duga akhirnya perbuatannya itu diketahui oleh hwesio Siau-lim-si.

Tapi hwesio-hwesio Siau-lim-si itu juga tidak membikin susah padanya, setelah tahu maksud tujuan Polo Singh, mereka hanya melarang dia pulang ke Thian-tiok. Dengan sendirinya Polo Singh sangat kesal karena rindu kepada tanah airnya, pula hal mana berarti gagal memenuhi kewajiban yang ditugaskan oleh gurunya itu. Maka semalam suntuk ia berkeluh kesah saja tanpa tidur hingga Goan-ci juga ikut terganggu tidurnya.

Beberapa hari kemudian, sekali ini Polo Singh benar-benar jatuh sakit, sering ia termenung-menung sendiri dengan mata mendelik ke arah barat. Goan-ci menjadi takut melihat sikap hwesio itu.

Suatu hari ketika Goan-ci membawakan nasi pula, sekali comot segera Polo Singh meraup sekepal nasi, dan selagi hendak dijejalkan ke dalam mulut, sekonyong-konyong air mukanya terkilas setitik rasa girang. Tiba-tiba ia berseru tertahan, “Hah, dapat, dapat!”

Segera ia habiskan daharannya dengan tergesa-gesa, lalu ia pegang tangan Goan-ci dan tanya padanya, “Aku akan mengajarkan suatu bagian perkataan dan harus kau hafalkan di luar kepala, sekali-kali tidak boleh diketahui oleh hwesio di kelenteng itu, apakah kau mau melakukannya?”

Goan-ci tidak paham apa maksud Polo Singh itu, dengan bingung ia tanya, “Perkataan apakah itu?”

“Kau harus berjanji dulu takkan bilang pada orang lain, dan segera akan kujelaskan padamu,” ujar Polo Singh.

Sejak Goan-ci menderita sengsara di negeri Liau tempo dulu, lalu ia menjadi seorang penurut, apa yang dikatakan orang lain, pasti diturutnya dengan baik tanpa membangkang sedikit pun.

Maka atas permintaan Polo Singh sekarang ia pun tidak banyak rewel, segera ia mengangguk dan menjawab, “Baiklah, jika demikian kehendak Suhu, pasti takkan kukatakan kepada orang lain.”

Polo Singh berpikir sejenak, lalu katanya, “Dan ada lagi sesuatu, setiap hari aku pasti akan menghajar kau hingga babak belur, itu namanya ‘kho-bak-khe’ (tipu menyiksa diri) untuk mengelabui orang luar, untuk ini kau tidak boleh berkeluh kesah kepada siapa pun juga.”

Goan-ci menjadi ragu, sahutnya kemudian, “Aku tidak berbuat kesalahan apa-apa, kenapa Suhu mesti menghajar diriku?”

Polo Singh menjadi gusar, tiba-tiba sorot matanya berubah bengis, katanya, “Kau tidak mau, boleh juga!”

Mendadak ia menggebrak tanah, “bluk”, seketika jubin hijau kamar itu pecah berantakan hingga berwujud sebuah cap tangan yang melekuk, katanya, “Nah, julurkan kepalamu ke sini biar kuhantam tiga kali kepalamu itu!”

“He, he! Jangan, jangan!” cepat Goan-ci minta ampun. “Kalau kau mau hantam, silakan hantam benda lain saja, kepalaku mana tahan digaplok tiga kali olehmu.”

Polo Singh tertawa, katanya, “Makanya jangan membangkang! Nah, ingat dengan baik, Sirohasak, wasnoderangpojisin, hindi, saniluniul-sanluinosam, manifisamo…”

Begitulah ia mengoceh panjang lebar entah apa maksudnya, dan akhirnya ia berkata pula, “Nah, cukup sekian dulu, coba sekarang kau hafalkan.”

Sudah tentu Goan-ci melongo bingung, bahasa asing yang panjang lebar tak diketahui artinya itu jangankan disuruh menghafalkan seluruhnya atau sebagian, bahkan satu kalimat pun ia tak becus.

Maka ketika Polo Singh mendesaknya lagi, paling-paling ia hanya dapat mengucapkan, “Si… si… si…” dan tak dapat meneruskan lagi.

Polo Singh menjadi gusar, kontan saja ia persen Goan-ci dengan sekali jotos hingga pemuda itu terpental dan menumbuk dinding, hampir Goan-ci jatuh kelengar karena hantaman itu.

“Siaucat, sudah kuajarkan sekian lama, masakah sedikit pun kau tidak ingat?” demikian Polo Singh mendamprat.

“Aku… aku tidak paham apa yang diucapkan Suhu, maka tidak dapat menirukan,” sahut Goan-ci sambil memegangi dagunya yang ditoyor itu dan berbangkit.

Beralasan juga pikir Polo Singh, maka katanya pula, “Baiklah. Memang benar juga, tidak paham artinya sudah tentu susah mengingatnya. Marilah kuajarkan padamu.”

Lalu ia suruh Goan-ci mengumpulkan satu tumpuk tanah kering dan diratakan di lantai, lalu ia mulai menulis dengan jari hingga berupa tiga huruf aneh, kemudian ia berkata kepada Goan-ci, “Nah, ikut melafalkan: A-be-r!”

Segera Goan-ci ikut menghafalkan, “Ya, A-be-r!”

Polo Singh bergirang, kembali ia mengajarkan tiga huruf lagi padanya dan dapat diikuti Goan-ci dengan baik.

“Apakah artinya, Suhu?” tanya Goan-ci tiba-tiba.

“Hanya huruf biasa, tiada artinya,” sahut Polo Singh. “Nah, coba ulangi lagi!”

Lalu ia mengajarkan pula tiga huruf lain.

Tapi ketika kemudian ia suruh Goan-ci melafalkan “A-be-r”, ternyata Goan-ci sudah lupa. Keruan Polo Singh jadi gemas, mendadak ia pegang Goan-ci dengan jungkir balik, lalu dikocak-kocak dengan sengit hingga isi perut Goan-ci hampir-hampir rontok keluar.

“Sungguh sialan ketemu orang goblok seperti kau ini,” damprat Polo Singh dengan murka. “Orang tolol semacammu, kalau suruh kau hafalkan 36 jilid kitab pusaka, sampai kapan baru dapat kau hafalkan!”

Habis itu tiba-tiba ia pegang Goan-ci dan dilemparkan keluar pintu.

Keruan Goan-ci meringis kesakitan. Ia pikir daripada bangun untuk dihajar lagi, lebih baik menggeletak di sini saja. Maka sengaja ia tidak mau berbangkit.

Polo Singh menjadi khawatir pemuda itu terbanting mampus, segera ia mendekati Goan-ci dan memayangnya ke dalam rumah, lalu ia bujuk dengan kata-kata manis agar pemuda itu belajar dengan baik-baik. Kemudian ia mengajarkan tulisan-tulisan lain pula.

Khawatir digebuk lagi, terpaksa Goan-ci mengingat mati-matian huruf yang diajarkan Polo Singh itu. Akan tetapi huruf yang diajarkan Polo Singh itu adalah tulisan Hindu kuno atau Sanskerta, hurufnya pelungkar-pelungker seperti cacing, pendek kata tulisan yang tidak memper tulisan, dan sudah tentu sukar untuk diingat.

Bila Goan-ci ingat tulisan bagian depan, tahu-tahu bagian belakang terlupa, kalau bagian belakang teringat dengan baik, kembali bagian depan lupa lagi, jadi yang satu ingat, yang lain lupa, yang lain ingat kembali, yang tadi terlupa pula.

Tentu saja Polo Singh sangat mendongkol, jika dia sudah murka, segera Goan-ci digebuk. Dan makin digebuk, Goan-ci makin bebal, dalam takut dan bingungnya, huruf-huruf yang sudah diingat olehnya menjadi terlupa malah. Jadi ingin cepat malah menjadi cupet, keruan Polo Singh makin uring-uringan.

Padahal bahasa Sanskerta termasuk salah satu bahasa yang paling sulit dipelajari di dunia ini. Biarpun orang yang cerdik pandai juga susah memahaminya dalam waktu singkat. Apalagi dasar pembawaan Goan-ci memang bukan seorang cerdas, ditambah pula Polo Singh ingin lekas berhasil, maka keadaan bukannya seperti apa yang diharapkan, sebaliknya tambah runyam.

Untung juga, sesudah hampir sebulan, jelek-jelek dapatlah Goan-ci menghafalkan semua huruf pokok bahasa Sanskerta yang diajarkan itu. Lalu mulai Polo Singh mengajarkan pemuda itu membaca kalimat demi kalimat.

Begitulah dengan susah payah terpaksa Goan-ci mesti mengalami siksaan lahir-batin lagi, setiap kali ia menderita dalam hal menghafalkan bahasa Sanskerta itu, dalam mimpi di tengah malam juga sering dia terjaga kaget. Dulu ia kenyang disiksa di negeri Liau, tapi itu cuma siksaan lahir saja, siksaan badan belaka, sedangkan pikirannya bebas lepas, apalagi kalau melihat si gadis pujaannya-A Ci-lagi tertawa menggiurkan, biarpun derita sengsara bagaimanapun juga tak terpikir olehnya.

Sekarang ia tersiksa rohani, otaknya penuh diisi dengan huruf cacing oleh Polo Singh yang susah dipahami itu, hal ini dirasakan jauh lebih sengsara daripada tersiksa badaniah.

Untuk mana beberapa kali ia bermaksud menceritakan kesusahannya kepada Yan-kin, tapi setiap kali bila ia akan membuka mulut tentu Yan-kin mendamprat lebih dulu, “Siaucat, baru dihajar sedikit saja lantas berkeluh kesah ya? Apa yang ditugaskan oleh atasanmu, betapa sulitnya juga mesti kau lakukan. Kata sang Buddha, ‘Aku tidak masuk neraka, siapa yang mau masuk neraka?’ Coba, masuk neraka saja beliau lakukan, sedangkan kau cuma digebuk orang saja sudah mengeluh. Mengapa kau tidak meniru jiwa sang Buddha yang mahaluhur itu, korbankanlah dirimu bagi sesamamu!”

Begitulah maka akhirnya Goan-ci tidak berani mengeluh lagi, terpaksa ia belajar bahasa Sanskerta itu dengan mati-matian.

Mungkin juga sudah suratan nasib. Pada suatu malam selagi ia berkemas hendak tidur, tiba-tiba ia dapat meraba kitab yang terbungkus kertas minyak dan tersimpan di dalam bajunya itu. Tiba-tiba teringat olehnya, “He, tulisan dalam kitab ini mirip tulisan yang kupelajari sekarang dari Suhu itu.”

Cepat ia buka kitab itu, benar juga, segera ia kenal dua huruf di antaranya, huruf yang satu adalah angka satu dan huruf yang lain adalah angka tiga…

Seketika Goan-ci sangat tertarik dan semangat belajarnya terbangkit, pikirnya, “Apa yang tertulis dalam kitab ini sedikit pun aku tidak paham, bila aku sudah belajar bahasa Hindu kuno, tentu aku dapat membacanya. Kitab ini adalah penolong jiwaku, tempo hari waktu si nona A Ci memaksa aku melolohi kelabang dengan darahku, berkat kitab inilah jiwaku dapat diselamatkan. Tampaknya apa-apa yang tertulis dalam kitab ini sangat besar manfaatnya.”

Begitulah demi tahu akan kegunaannya, maka ia tidak merasa susah lagi untuk belajar bahasa Sanskerta itu, sebaliknya ia mulai belajar dengan lebih giat. Sebisanya ia ingat dengan baik-baik dengan harapan dalam waktu singkat akan dapat membaca kitab itu dengan jelas.

Ia merasa apa yang tercatat di dalam kitab itu tentu adalah sesuatu yang hebat dan sekali-kali tidak boleh diketahui Polo Singh, hanya pada waktu akan tidur saja ia suka membalik-balik kitab itu untuk membacanya sebentar. Dan pada waktu membaca tulisannya, dengan sendirinya ia pun melihat gambar orang-orangan yang terlukis di samping tulisan-tulisan itu, pikiran menimbulkan hasrat, otomatis ia lantas melakukan cara yang dilihatnya dari garis-garis kuning halus yang terdapat dalam lukisan itu.

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa kitab itu adalah “Ih-kin-keng ciptaan Tat-mo Locou”, itu cikal bakal Siau-lim-si yang termasyhur, kitab itu boleh dikatakan merupakan pusaka yang tak ternilai dalam dunia persilatan.

Caranya Goan-ci memahami Ih-kin-keng itu ada baiknya juga. Sebab kalau orang sengaja dan tekun mempelajari Ih-kin-keng, justru hasilnya akan nihil. Sebaliknya bila memahaminya secara acuh-tak-acuh hasilnya justru menakjubkan.

Sebab itulah meski selama ratusan tahun banyak hwesio pandai Siau-lim-si mempelajari Ih-kin-keng secara tekun, hasilnya malah tidak kelihatan. Hanya sekali peristiwa, yaitu kira-kira seratus tahun yang lalu, pernah Siau-lim-si mengeluarkan seorang hwesio sakti.

Orang itu sejak kecil sudah menjadi hwesio, wataknya angin-anginan dan setengah sinting. Gurunya tidak berhasil meyakinkan Ih-kin-keng dan meninggal pada saat melakukan meditasi, kebetulan hwesio sinting itu menunggu di samping sang guru dan tanpa sengaja ia ambil Ih-kin-keng itu dan dibacanya secara acuh-tak-acuh. Eh, siapa duga akhirnya ia menjadi seorang jago sakti.

Ketika ditanya dari mana ia memperoleh ilmu silat setinggi itu? Sampai mati juga ia tidak dapat menerangkan, orang luar juga tidak tahu bahwa itu adalah jasa Ih-kin-keng.

Kini Goan-ci membaca kitab pusaka itu secara tidak sengaja, tanpa terasa dasar ilmu silatnya makin hari makin kuat, jalan yang ditempuhnya itu tak lain tak bukan adalah arah yang pernah dilakukan hwesio sinting dahulu itu.

Bahasa Sanskerta itu memang sangat ruwet dan sulit dipelajari, terutama mengenai tata bahasanya. Tapi untung juga disebabkan bahasa Sanskerta itu susah dipelajari, maka Goan-ci tidak dapat memahami tulisan dalam kitab itu dengan baik, hanya pada waktu malam ia belajar menirukan garis-garis dalam lukisan itu.

Semula ia hanya menirukan secara iseng saja, tapi setengah bulan kemudian, terasalah ada suatu jalur hawa dingin mengalir kian-kemari dalam tubuh menurut bagian yang dilalui garis lukisan itu, dan di mana garis dingin itu sampai, di situ lantas terasa segar sekali.

Maka tanpa pikir panjang segala akibatnya, asal ada tempo luang, untuk seterusnya Goan-ci lantas melakukannya, sampai akhirnya tanpa membaca kitab juga dia sudah hafal jalan yang dilalui oleh garis yang menyegarkan badan itu, biarpun waktu malam, waktu kerja, dan membaca, hawa murni itu tetap jalan terus tanpa berhenti.

Terkadang kalau jalur dingin dalam tubuh itu macet, tak dapat jalan menurut lukisan, maka untuk sementara Goan-ci mengesampingkannya. Aneh juga, lewat beberapa hari kemudian, otomatis jalan itu tembus dengan lancar…

Sang tempo berlalu dengan cepat, tanpa terasa sudah lebih setahun Goan-ci berada di Siau-lim-si. Semula ia juga ingin memahami bahasa Sanskerta agar apa yang tertulis di dalam kitab itu dapat dipelajarinya dengan baik. Tapi karena makin lama makin sukar, bukan mustahil belajar sampai tua juga belum pandai, akhirnya ia batalkan niatnya itu.

Polo Singh sendiri juga putus asa menghadapi murid yang bandel lagi goblok itu. Saking gemasnya, sering kali ia hanya memberi gebukan saja dan tidak mengajar lagi pada Goan-ci.

Tapi hal mana kebetulan malah bagi Goan-ci. Ia terima gebukan-gebukan itu dengan diam saja. Ia merasa pukulan dan tendangan Polo Singh itu makin lama makin tidak terasa sakit, sampai akhirnya hanya terasa gatal-gatal kesemutan saja, sedikit pun tidak sakit lagi.

Ia sangka Polo Singh sudah bosan menghajarnya hingga cara memukulnya tidak sungguh-sungguh, padahal tenaga dalamnya yang kini sudah terpupuk sangat kuat, tanpa terasa lantas menimbulkan daya tahan baginya.

Suatu petang, kembali Polo Singh mengajarkan “huruf cacing” kepada Goan-ci dan sudah tentu tetap tidak masuk otak pemuda itu. Dalam gusarnya Polo Singh menggebuki lagi pemuda itu. Sesudah Goan-ci pergi, Polo Singh jadi berduka dan menyesal.

Ia sendiri sudah terang berada dalam tahanan dan di bawah pengawasan hwesio Siau-lim-si dan sukar pulang ke tanah air, maka ia bermaksud mengajarkan Yu Goan-ci dengan bahasa Sanskerta untuk menghafalkan kitab, lalu pemuda itu akan dikirim ke Thian-tiok untuk menyampaikan isi kitab yang sudah dihafalkannya itu, dengan demikian walaupun ia terkubur di negeri orang lain dalam menunaikan kewajibannya atas perintah guru, namun dia juga sudah berjasa bagi perguruannya diperolehnya kembali kitab-kitab pusaka yang sudah lama hilang itu.

Celakanya Thi-thau-jin yang diajarnya ini goblok seperti kerbau, meski sudah lebih setahun, satu jilid kitab saja belum dapat menghafalkan, jangankan hendak disuruh menghafalkan 36 jilid kitab itu. Tampaknya sampai ajalnya juga sukar terkabul cita-citanya itu. Dalam dukanya, sungguh Polo Singh ingin menangis sepuas-puasnya.

Pada saat itulah, sekonyong-konyong dari jauh terdengar kumandang suara seruling yang sangat aneh.

Sementara itu lwekang Goan-ci sudah sangat tinggi, maka dengan sendirinya pancaindranya juga sangat tajam. Segera suara seruling itu didengar juga olehnya. Padahal biasanya suasana Siau-lim-si itu tenang sunyi, selamanya tidak pernah terdengar suara alat musik, dari manakah datangnya suara seruling itu?

Meski Goan-ci tidak paham seni musik, tapi ia dapat mendengar suara seruling itu terkadang putus, lalu menyambung lagi, tiba-tiba melengking tajam, lain saat nadanya rendah, suaranya sangat aneh.

Selagi Goan-ci merasa heran, tiba-tiba didengarnya di kamar Polo Singh juga berkumandang suara seruling yang serupa. Waktu ia mengintip, ia lihat Polo Singh sedang memegang sebatang seruling pendek dan sedang meniupnya. Tapi hanya tiga kali padri asing itu meniup serulingnya lalu seruling itu disimpan ke dalam baju, air mukanya tampak berseri-seri girang, lalu orangnya berbaring dan dapat tidur nyenyak.

Sejak kenal Polo Singh, belum pernah Goan-ci melihat padri itu sedemikian gembira. Pikirnya, “Suara seruling ini tentu mengandung arti yang penting. Jangan-jangan ada kawannya dari Thian-tiok yang hendak menolongnya?”

Suara seruling tadi didengar oleh Goan-ci, dengan sendirinya dapat didengar juga oleh para hwesio sakti Siau-lim-si. Segera hongtiang memberi perintah agar penjagaan diperkeras untuk menghadapi kemungkinan diserbu musuh, berbareng itu pengawasan kepada Polo Singh juga bertambah keras agar tawanan itu tidak sampai lolos.

Siapa tahu, setengah bulan sudah lalu, keadaan tetap aman tenteram saja, maka penjagaan dalam Siau-lim-si lambat laun menjadi kendur.

Suatu malam, tengah Goan-ci tidur dengan nyenyak, sekonyong-konyong ia terjaga bangun oleh suara mendesis-desis yang sangat perlahan dan aneh. Dasar lwekang Yu Goan-ci sekarang memang sudah sangat kuat, pula sejak kecil ia suka main binatang ular dan serangga, maka suara mendesis itu segera dikenalnya sebagai suara ular yang sedang mengamuk. Cepat ia bangkit duduk dan kembali didengarnya suara mendesis-desis beberapa kali. Kini dapat diketahuinya dengan baik bahwa suara itu datang dari kamar sebelah.

Baru Goan-ci bermaksud berseru untuk memperingatkan Polo Singh, namun belum lagi ia buka mulut atau tiba-tiba terdengar pula beberapa kali suara seruling yang sama seperti suara seruling yang ditiup Polo Singh pada setengah bulan yang lalu itu.

Dengan heran Goan-ci mengintip lagi ke kamar sebelah, ia menjadi kaget dan merinding. Ternyata di dalam kamar Polo Singh itu telah penuh berbagai jenis ular berbisa yang tak terhitung banyaknya, setiap ular itu sama menegak sambil menjulurkan lidah hingga mengeluarkan suara mendesis-desis.

“Wah celaka! Cara bagaimana aku harus menolongnya?” demikian Goan-ci mengeluh. Tapi ketika ia perhatikan lagi, ia lihat kawanan ular berbisa itu sama meringkuk kira-kira dua meter di sekeliling tempat duduk Polo Singh, meski kawanan ular itu berjubel-jubel, namun tiada seekor pun yang berani melanggar lingkaran di sekitar padri itu.

Goan-ci sudah pernah menyaksikan Sam-ceng menggaris suatu lingkaran obat untuk mengurung ulat sutra putih tempo hari. Maka ia menduga Polo Singh pasti juga menggunakan obat antiular di sekelilingnya itu. Maka ia tidak khawatir lagi, ia cuma tetap tidak paham dari manakah mendadak bisa banjir ular berbisa sebanyak itu.

Kemudian dilihatnya Polo Singh mulai meniup serulingnya lagi, suara serulingnya sangat ulem dan merdu. Di antara beratus-ratus ekor ular itu tiba-tiba ada dua ekor ular berbisa warna kuning tampak menegak ke atas, kepala ular itu bergerak-gerak kian-kemari mengikuti irama seruling. Sebaliknya ular-ular lain yang beraneka macamnya itu hanya diam saja. Dalam pada itu gerak-gerik yang menyerupai sedang menari dari kedua ekor ular kuning tadi tampak semakin nyata.

Lalu suara seruling yang ditiup Polo Singh makin keras, segera ada beberapa ekor ular merayap keluar kamar, menyusul belasan ekor yang lain juga ikut merayap keluar.

Maka terdengarlah suara jeritan kaget orang di luar kamar, “He, ada ular! Ada ular!”

Lalu yang lain berseru, “Wah, ular sebanyak ini, mungkin padri Thian-tiok itu sudah digigit mati oleh ular-ular ini!”

“Ya, ya! Lekas lapor kepada Hian-lan Supek!” demikian kata yang lain.

Dalam pada itu kedua ekor ular kuning tadi masih terus “menari” dengan cepat, semakin keras tiupan seruling Polo Singh, semakin banyak ular yang merayap keluar kamar, mungkin karena tidak tahan oleh getaran suara seruling itu hingga sama menyingkir pergi. Hanya kedua ekor ular kuning itu yang sangat bersemangat, kepala mereka menegak, hanya ekor yang digunakan untuk menahan tubuh sambil bergoyang-goyang.

Selang sebentar lagi, tiupan seruling Polo Singh semakin cepat hingga dia sendiri sampai megap-megap. Sedangkan kawanan ular sudah merayap keluar semua, hanya tinggal kedua ekor ular kuning itu yang masih berputar-putar dan bergoyang-goyang dengan cepat.

Mendadak “bluk” sekali, seekor ular kuning itu tidak tahan dan menggeletak di tanah, menyusul seekor lagi juga jatuh ke tanah sambil kelojotan.

Polo Singh berhenti meniup seruling. Segera ia pegang seekor ular kuning itu, ia gunakan sepotong kain tebal yang sudah disiapkan untuk membungkus kepala ular, lalu ia balik perut ular itu ke atas, ia keluarkan sebilah pisau kecil, ia belek satu garis panjang lima-enam senti pada perut ular itu, kemudian perut ular itu dipencetnya beberapa kali, akhirnya dikeluarkannya sebatang tabung kecil sepanjang beberapa senti. Tabung kecil itu mirip potongan batang padi, hanya lebih besar sedikit.

Tangan Polo Singh tampak sedikit gemetar, cepat ia belah tabung itu, dan ternyata di tengah tabung itu ada isinya. Ketika isi itu dibuka, kiranya secarik kertas yang sangat tipis, di atas kertas penuh tertulis huruf-huruf aneh.

Goan-ci menjadi heran, ketika ia mengintip lebih cermat, ia lihat huruf-huruf di atas kertas kecil itu adalah tulisan Sanskerta. Maka tahulah dia, tentu ular itu adalah alat penghubung yang dikirim oleh kawannya.

Dalam pada itu Polo Singh sedang membelek perut ular satunya lagi dengan cara yang sama, dari dalam perut ular itu kembali dikeluarkan lagi sebuah tabung kecil dan terisi secarik kertas juga.

Waktu Goan-ci perhatikan, ia lihat tulisan di atas kertas kedua ini agak mirip dengan tulisan kertas pertama. Benar juga, hanya sekilas baca saja lantas Polo Singh menaruh kertas itu di sampingnya.

Goan-ci membatin, “Cara mengatur kawannya benar-benar sangat hati-hati, dengan menggunakan dua ekor ular, mereka yakin salah seekor tentu akan dapat menyampaikan surat berita itu andaikan seekor lainnya tidak sampai tempat tujuan.”

Lalu terlihat Polo Singh mengeluarkan dua carik kertas tipis dari bawah tikar, ia gunakan arak untuk menulis, kemudian kertas-kertas itu dimasukkan juga ke dalam tabung dan disembunyikan lagi ke dalam perut ular. Ia robek dua potong kain untuk membalut luka di perut ular itu, habis itu ia buka daun jendela dan melepaskan seekor ular kuning itu ke semak-semak.

Selagi ia hendak melepaskan ular yang lain, sekonyong-konyong daun pintu didobrak orang dengan tenaga pukulan yang dahsyat hingga terpentang, di bawah sinar lilin yang bergoyang-goyang, tahu-tahu di dalam kamar sudah bertambah empat hwesio tua. Dari jauh tangan hwesio di sebelah kiri sana memotong lengan kanan Polo Singh hingga mengeluarkan suara angin yang keras.

Rupanya lengan Polo Singh tak tahan hingga ular kuning kedua yang belum sempat dilepaskan itu jatuh ke tanah. Berulang-ulang hwesio di sebelah kiri itu menjentik lagi dan setiap kali ia menjentik, ular kuning itu pun melonjak sekali. Sesudah menjentik tujuh-delapan kali, kepala ular itu tampak bengkak, menyusul lantas hancur dan mati.

Sungguh kejut Goan-ci tak terkatakan, ilmu sakti hwesio tua itu ternyata sedemikian lihainya, hanya menjentik dari jauh saja sudah dapat membunuh ular berbisa itu.

Kemudian terdengar hwesio yang memukul dari jauh itu berkata dengan dingin, “Mengingat sesama murid Buddha, kami sudah memberi kelonggaran kepada segala dosa Suheng, mengapa sekarang Suheng sengaja mendatangkan ular sebanyak ini untuk mengganggu ketenteraman tempat suci kami ini? Bukankah perbuatan Suheng ini agak keterlaluan?”

Tapi Polo Singh diam saja, ia pejamkan mata dan merangkap tangan di depan dada, sama sekali ia tidak ambil pusing teguran itu.

“Bukan mustahil ada sesuatu yang tidak beres pada ular ini,” kata hwesio tua yang lain. “Sim Cong, coba bawa ular ini dan periksa dengan teliti, mengapa badan ular itu dibalut sepotong kain?”

Mendengar itu, Polo Singh sadar usahanya sudah gagal, sekali bergerak, segera ia menghantam ke arah ular mati itu.

Tapi berbareng hwesio tua satunya lagi yang berdiri di dekat pintu juga mengebaskan lengan bajunya hingga serangkum angin keras tepat menahan angin pukulan Polo Singh, seketika padamlah api lilin.

Segera masuklah seorang hwesio setengah umur, yaitu Sim Cong, ia jemput ular mati itu dan mengundurkan diri.

Kemudian keempat hwesio tua itu bersabda berbareng, “Siancay! Siancay!”

Lengan jubah kanan mereka mengebas sekaligus, ketika angin menderu hebat, tahu-tahu daun pintu terlepas dari engselnya dan mencelat keluar hingga jauh.

Menyusul keempat hwesio itu lantas melompat keluar. Mengingat pintu yang tidak terlalu lebar itu, tapi keempat padri itu dapat melayang keluar berbareng tanpa desak-mendesak, suatu tanda betapa lihai ginkang mereka.

Sungguh tak tersangka oleh Goan-ci bahwa kepandaian para hwesio itu sedemikian lihainya, bahkan musuh besarnya, yaitu Kiau Hong yang dianggapnya mempunyai kepandaian tiada tandingannya, kalau dibandingkan dengan beberapa hwesio tua ini mungkin masih kalah jauh.

Padahal lwekang keempat hwesio ini meski sangat tinggi, tapi kalau dibandingkan ilmu silat Siau Hong yang hebat itu, selisihnya sebenarnya masih sangat jauh. Bahkan lwekang Goan-ci sendiri sekarang juga sudah lebih hebat daripada keempat hwesio tua itu, cuma saja ia sendiri tidak sadar.

Dalam pada itu sesudah keempat hwesio tua tadi pergi, karena daun pintunya copot, angin malam lantas meniup silir ke dalam kamar.

Polo Singh yakin sekali ular kuning mati itu sudah dirampas padri Siau-lim-si tentu di antara mereka ada yang kenal bahasa Sanskerta dan rahasianya pasti akan terbongkar. Dengan demikian usahanya agar dapat pulang negeri asalnya menjadi gagal sama sekali. Makin dipikir Polo Singh makin merasa sedih hingga akhirnya ia menangis tergerung-gerung.

Mendengar suara tangisan orang yang memilukan itu, Goan-ci merasa tidak tega. Segera ia menghiburnya, “Suhu, meski salah seekor ularmu terbunuh, toh ular yang satu lagi dapat lolos dan tentu beritamu akan sampai di tempat tujuan, buat apa engkau merasa sedih pula?”

Seketika Polo Singh berhenti menangis oleh teguran itu, katanya, “Kem… kemarilah kau!”

Goan-ci menurut, ia datang ke kamar Polo Singh, katanya, “Biarlah kubetulkan daun pintumu itu!”

“Nanti dulu,” kata Polo Singh. “Dari mana kau tahu masih ada seekor ularku yang berhasil lolos?”

“Aku menyaksikan sendiri, kulihat engkau memasukkan secarik kertas ke dalam tabung kecil dan disembunyikan dalam perut ular itu,” sahut Goan-ci.

“Hm, jangan kau salahkan aku, sekali kau tahu rahasiaku, maka tak bisa kuampunimu lagi!” kata Polo Singh tiba-tiba. Mendadak ia menubruk maju, ia tunggangi punggung Yu Goan-ci sambil mencekik lehernya dengan kuat.

Goan-ci ingin berteriak, tapi karena tercekik, ia tak bisa bersuara. Ia merasa jari orang bagaikan kaitan kuatnya, makin lama makin kencang kesakitan.

Ia sudah biasa dianiaya orang, maka sama sekali tidak ada pikiran buat melawan, hanya dalam hati ia memohon, “Suhu, lepaskan tanganmu, tentang ularmu yang sudah lari itu takkan kuceritakan kepada siapa pun.”

Tapi karena dia tidak bisa bersuara, dengan sendirinya Polo Singh tak mendengar apa-apa. Padahal biarpun dengar juga tidak nanti orang mengampuni dia.

Dalam keadaan tak berdaya dan takut, kaki Goan-ci menjadi lemas dan tekuk lutut. Tapi Polo Singh menindih di atas tubuhnya sambil mencekik terlebih keras.

Lambat laun Goan-ci merasa pandangannya menjadi gelap, katanya di dalam hati, “Tamatlah riwayatku sekali ini.”

Untung pada saat itu juga tiba-tiba di belakang mereka ada suara orang berdehem, lalu berkata, “Polo Singh Suheng, kejahatan apa lagi yang sedang kau lakukan?”

Melihat ada dua hwesio masuk ke kamarnya terpaksa Polo Singh melepaskan Goan-ci, katanya dengan marah-marah, “Ada keperluan apa kalian datang ke sini?”

Tapi kedua padri Siau-lim-si itu tidak menjawab. Satu di antaranya lantas mundur dan bersembunyi di belakang kawannya, lalu ia bentang secarik kertas dan membaca beberapa kalimat yang tidak diketahui apa artinya, kemudian ia berkata, “Dalam suratmu ini kau minta agar pada malam bulan purnama nanti supaya kau dijemput. Tapi, hehehe, sayang, sungguh sayang!”

“Sayang apa?” sahut Polo Singh dengan gusar.

“Sayang karena usahamu ini kepergok hingga suratmu ini dapat kami rampas,” kata padri itu.

“Kalian ini manusia tak kenal budi, bangsa kalian mengambil kitab dari negeri kami, sejak itu kalian kangkangi sebagai milik sendiri!” damprat Polo Singh. “Padahal aku cuma pinjam baca barang yang berasal dari negeri kami sendiri, namun kalian sengaja mempersulit padaku. Minum air harus ingat sumbernya. Seharusnya kalian juga mesti ingat dari manakah asal-usul kitab yang ingin kubaca itu.”

“Jika kitab yang hendak dibaca Suheng itu adalah kitab kuno berasal dari Thian-tiok, sekali-kali kami takkan merintangi maksudmu itu, jangankan hanya membaca, sekalipun hendak menyalinnya juga Siau-lim-si bersedia membantu,” sahut hwesio Siau-lim-si itu. “Tetapi apa yang diincar Suheng itu adalah intisari ilmu silat hasil jerih payah padri saleh Siau-lim-pay selama turun-temurun ini, maka persoalannya menjadi tidak sama seperti apa yang dikatakan olehmu itu.”

“Kitab yang kubaca itu bahasa Hindu, apakah padri bangsa kalian bisa menulisnya dengan huruf Hindu?” sahut Polo Singh dengan gusar.

“Ya, anehnya urusan justru terletak di sini…” ujar padri Siau-lim-si itu.

Sampai di sini, Goan-ci tiada minat buat mendengarkan perdebatan mereka itu. Ia pikir daripada nanti mati konyol dibunuh oleh padri asing itu, lebih baik sekarang juga aku melarikan diri.

Segera ia menyusur hutan bambu dan keluar dari kebun sayur sana. Ia lihat di sekitar situ tiada seorang pun, segera ia lari ke pegunungan di belakang Siau-lim-si itu.

Makin lari makin cepat hingga dalam sekejap saja ia sudah melintasi dua lereng bukit. Ia merasakan kaki sangat enteng, langkahnya cepat, dengan mudah saja ia meninggalkan Siau-lim-si hingga jauh.

Ketika ia berhenti sejenak, ia sendiri menjadi heran, sesudah berlari-lari sekian lama sedikit pun tidak merasa lelah.

Ia tidak tahu bahwa sejak melatih “Ih-kin-keng”, selama beberapa bulan ini tenaga dalamnya sudah terpupuk sangat kuat, Yu Goan-ci kini bukan lagi Yu Goan-ci yang dulu. Soalnya ia tidak pernah keluar dari biara itu, sehingga lwekangnya yang sudah terpupuk kuat itu tidak diketahuinya sama sekali.

Ia pikir saat itu bukan mustahil dirinya sedang dicari Polo Singh atau Yan-kin, kalau tidak bertemu, tentu akan gempar dan mereka pasti akan mengejarnya. Dan bila tertangkap kembali ke Siau-lim-si, pasti celakalah dia. Maka segera Goan-ci tancap gas lagi, ia lari lebih cepat seperti orang kesetanan.

Larinya itu tidak memilih jalan dan membedakan arah lagi, yang dituju adalah hutan belukar yang sepi, semakin jauh meninggalkan Siau-lim-si semakin baik baginya. Maka sekaligus tanpa berhenti, ia lari hingga dua jam lamanya, ketika ia berpaling, ia lihat Siau-lim-si sudah tertutup oleh berlapis-lapis lereng gunung, barulah hatinya agak lega.

Untuk mengaso, ia menyusup ke dalam semak-semak rumput. Ia dengar di sekitarnya sunyi senyap. Untuk sejenak ia ingin rebah. Tapi tiba-tiba dari arah barat-laut sana didengarnya suara seruling yang melengking tajam.

Kejut Goan-ci tak terkira, suara seruling itu serupa dengan suara seruling yang ditiup Polo Singh, yaitu pada waktu padri itu mengundang ular-ular berbisa. Ia bermaksud berbangkit untuk melarikan diri lagi, tapi entah mengapa, kakinya terpaku di situ. Ia menjadi bingung.

Rupanya saking ketakutan hingga kaki terasa lemas, maka ia tidak dapat menguasai kakinya lagi.

Sementara itu suara seruling tadi makin dekat. Ketika Goan-ci mengintip dari tempat sembunyinya, dilihatnya dari sana muncul belasan padri asing berjubah kuning, lengan kiri mereka telanjang di luar jubah, semuanya bermuka hitam dan bermata celung, terang kawanan padri ini adalah sebangsa dengan Polo Singh.

Setiba di tanah landai sebelah kiri atas sana, padri-padri asing itu lantas duduk bersila, empat orang menjadi satu baris, semuanya ada empat baris, jumlahnya menjadi 16 orang.

Diam-diam Goan-ci heran, hendak berbuat apakah ke-16 padri asing ini berada di tempat sunyi itu? Ia menjadi khawatir jangan-jangan dirinya yang sedang dicari mereka.

Walaupun keadaan sebenarnya tidak begitu, tapi rupanya Goan-ci sudah kapok hingga sedikit pun ia tidak berani bergerak di tempat sembunyinya.

Ia lihat sesudah ke-16 orang itu duduk, lalu mereka berkomat-kamit, semula tidak terdengar, tapi lambat laun bertambah keras hingga akhirnya Goan-ci dapat mendengar apa yang disuarakan mereka adalah sebangsa mantra Hindu.

Makin lama makin keras mantra yang dibaca padri-padri asing itu, mantra yang dibaca ke-16 orang itu sama dan senada. Di tengah suara mantra yang makin keras itu, tiba-tiba terdengar suara mendesis-desis dari arah timur-laut sana, suaranya lirih, tapi menyeramkan hingga mendirikan bulu roma bagi yang mendengar.

Begitu suara mendesis itu berjangkit, seketika suara mantra ke-16 padri asing itu agak kacau, tapi segera mereka dapat memulihkan paduan suara yang senada. Ketika suara menyeramkan tadi mendesis-desis dua kali lagi, kembali suara mantra padri asing dikacaukan pula.

Waktu Goan-ci memerhatikan wajah padri-padri asing itu, ia lihat di antaranya mengunjuk rasa gusar, ada pula yang merasa khawatir. Tiba-tiba suara mantra mereka berubah, mereka terbagi menjadi dua kelompok hingga mantra yang mereka baca juga terbagi menjadi dua macam.

Sekonyong-konyong suara mendesis seram tadi juga berubah menjadi “desas-desis”, maka mantra padri-padri asing itu kembali kacau lagi, segera mereka membagi diri pula menjadi empat kelompok hingga mantra yang dibaca mereka sekarang ada empat macam.

Melihat gelagat itu, dapatlah Goan-ci menduga bahwa padri-padri asing itu sedang mengadu ilmu dengan pihak lain. Dan siapakah lawan mereka? Dengan sendirinya adalah hwesio Siau-lim-si. Tentu padri-padri asing ini hendak menolong Polo Singh yang ditahan secara halus di Siau-lim-si itu, tapi hwesio Siau-lim-si tetap tidak mau membebaskan Polo Singh.

Tapi apa yang diduga Goan-ci lantas dibantah oleh kenyataan, tiba-tiba dilihatnya dari arah timur-laut sana muncul suatu rombongan orang. Berdiri di tengah-tengah adalah seorang kakek yang berperawakan tinggi besar, sedikitnya lebih tinggi dua puluh senti daripada orang-orang di sekitarnya, hingga kelihatan sangat mencolok.

Dari mulut kakek itulah tersiul suara desas-desis yang menyeramkan tadi.

Rombongan orang itu semuanya memakai baju kain belacu kuning, setiap orang membawa toya baja yang panjang lagi besar. Sebaliknya kakek itu enak-enak mengipas dengan sebuah kipas bulu angsa putih yang lebar. Air muka kakek itu merah bercahaya, halus lagi seperti muka anak muda, sebaliknya rambutnya sudah beruban semua, begitu pula jenggotnya yang panjang itu sudah memutih perak. Muka muda rambut tua, jadi mirip benar dengan malaikat dewata yang sering dilukiskan orang dalam gambar.

Kira-kira belasan meter jauhnya rombongan orang itu mendekati padri-padri asing itu, lalu berhenti. Ketika si kakek bersuit dengan kuat hingga mengeluarkan suara melengking tajam maka padri-padri asing itu tidak tahan lagi, tiga di antaranya yang berilmu lebih cetek kontan roboh.

Kemudian si kakek goyang-goyang kipasnya beberapa kali, ketika ia bersuit pula beberapa kali lalu mengebas dengan kipasnya hingga suara suitan itu ditiup ke depan, kontan empat padri asing di antaranya roboh pula.

Dengan demikian, maka mantra yang dibaca padri-padri asing itu menjadi kacau-balau.

Sisa kesembilan padri itu masih bertahan sekuat tenaga, mendadak mereka menjungkir dengan kepala di bawah dan kaki di atas, terus berputar dengan cepat.

Goan-ci pernah menyaksikan Polo Singh melawan empat hwesio tua Siau-lim-si dengan cara menjungkir seperti itu, ia tahu ilmu jungkir (yoga) yang dimainkan mereka itu sangat hebat.

Tapi si kakek tersenyum simpul saja, ia incar dengan baik, bila ada kesempatan, segera ia bersuit sekali dan kontan pasti ada padri di pihak lawan yang roboh atau bergoyang-goyang, kemudian berputar cepat lagi. Suara suitan si kakek mirip semacam am-gi atau senjata gelap yang tak berwujud. Maka hanya sebentar saja di antara sembilan padri itu kembali ada empat orang roboh lagi.

Serentak terdengarlah suara puja-puji orang-orang di sekeliling si kakek, ada yang memuji ilmu sakti guru mereka yang dikatakan tiada tandingnya. Ada yang mengejek pihak lawan sebagai kunang-kunang yang berani berlomba dengan sinar matahari. Pendek kata puji sanjung mereka itu muluk-muluk seakan-akan guru mereka adalah malaikat dewata yang mahasakti.

Di tengah sorak puji yang berisik itu, asal si kakek bersuit, seketika lengking tajam suara suitan itu memecahkan suara berisik dan tampaknya sebentar lagi sisa padri yang lain pasti akan dirobohkan seluruhnya.

“Tit-tit-tit”, tiba-tiba di antara padri asing itu ada yang mengeluarkan suara seruling yang aneh. Ketika Goan-ci memerhatikan, dilihatnya seorang di antara kelima padri yang masih menjungkir itu sedang meniup seruling sekuatnya, sedangkan keempat orang kawannya masih terus berputar dengan cepat sambil berjajar di depan padri yang meniup seruling sebagai pengaling serangan suara suitan si kakek.

“Untuk apa dia meniup seruling?” pikir Goan-ci heran.

Tapi segera ia dengar di tengah semak-semak rumput sebelah ada suara keresekan, seekor ular besar loreng merayap tiba.

Goan-ci kenal ular itu sangat berbisa. Tapi ia pun tahu meski manusia pada umumnya takut ular, tapi sebenarnya segala binatang, termasuk ular, juga takut pada manusia. Asal manusia tidak mengganggu mereka, pada umumnya ular juga takkan menyerang manusia.

Maka ia hanya meringkuk saja di tengah semak-semak rumput itu tanpa bergerak sedikit pun. Ia lihat ular berbisa besar itu merayap langsung ke arah si kakek.

Dan belum lagi ular itu merayap keluar semak-semak rumput, sebagian anak murid si kakek sudah lantas menjerit-jerit kaget, “Hai, ada ular! Ada ular! Wah, celaka! Dari manakah datangnya ular sebanyak ini? Awas, Suhu, ular-ular berbisa ini seperti hendak menyerang kita!”

Waktu Goan-ci memandang ke arah teriakan orang-orang itu, benar juga dilihatnya dari segenap penjuru sedang membanjir tiba bermacam-macam jenis ular berbisa yang besar dan kecil ke arah si kakek dan rombongannya.

Keruan anak murid si kakek menjadi panik, segera banyak di antaranya berteriak-teriak pula, “Wah, celaka! Sayang pusaka kita antiular ‘Pek-giok-giok-ting’ tiada berada di sini!”

“Ya, si budak maling A Ci itu bila kelak kita bekuk, kita harus cencang dia hingga hancur lebur!”

“Benar, kalau Pek-giok-giok-ting itu tidak dicuri oleh si budak setan A Ci itu, tentu kita… ah, tidak perlu banyak cincong, lekas bunuh ular! Wah, celaka! Dari mana datang lagi ular yang lebih besar! Lekas bunuh! Lekas!”

Mendengar nama A Ci disinggung, juga nama A Ci dihubungkan dengan “giok-ting”, katanya giok-ting itu adalah pusaka antiular, maka tergetarlah hati Goan-ci, terang A Ci yang dimaksudkan mereka adalah si nona yang dikenalnya di negeri Liau itu. Ia jadi heran apakah nona itu telah mencuri giok-ting dari mereka?

Dalam pada itu anak murid si kakek tampak mengangkat toya baja mereka untuk menghantam ular yang sudah mendekat itu. Sebaliknya si kakek masih tenang-tenang saja, ia tetap bersuit untuk menyerang musuh. Sedangkan padri asing yang meniup seruling itu masih terus meniup tanpa berhenti, dan keempat padri yang lain juga berputar lebih cepat dengan menjungkir.

Diam-diam Goan-ci membatin, “Di tanah lapang yang luas ini, kawanan ular ini dengan mudah akan dapat dibunuh oleh mereka, apa gunanya ular-ular ini?”

Tak terduga kawanan ular itu makin lama makin banyak yang datang hingga dalam waktu singkat saja berkumpul beribu ekor ular di sekitar orang-orang itu. Malahan beberapa ekor di antaranya adalah ular raksasa.

Ketika ular-ular sawa itu merayap tiba, sekali ekornya membalik, seketika dua murid si kakek kena dililitnya. Menyusul dua orang kena dibelit lagi.

Sebenarnya kalau orang-orang itu mau melarikan diri, sudah tentu kawanan ular itu tak mampu mengejar. Tapi guru mereka sedang menghadapi musuh, dengan sendirinya anak muridnya tidak berani melarikan diri. Maka mereka hanya putar senjata untuk membacok dan mengemplang serabutan, dan ular yang dibinasakan mereka sedikitnya lebih seratus ekor, sebaliknya kawan mereka yang luka digigit ular juga ada tujuh atau delapan orang.

Ular-ular sawa raksasa itu sangat kuat, biarpun kena digebuk toya baja juga tidak terasa. Sebaliknya bila ada orang kena dililit, seketika terlilit dengan kencang dan tak terlepas lagi.

Di tengah lengking suara seruling yang makin keras, jumlah ular sawa itu pun bertambah banyak, hanya sebentar saja sudah berkumpul 17 atau 18 ekor ular sawa raksasa.

Melihat gelagat jelek, segera si kakek bermaksud menyingkir. Tak terduga pada saat itu juga ada dua ekor ular kecil mendadak melonjak dan memagut mukanya. Dengan sekali membentak, kakek itu mengibaskan kipasnya, serangkum angin keras menyambar ke depan hingga kedua ekor ular kecil itu tersampuk jatuh ke tanah.

Pada saat lain sekonyong-konyong si kakek merasa betisnya ditubruk oleh makhluk lain, ia tidak berani ayal, cepat ia mengapungkan tubuh ke atas. Tapi celaka, tiba-tiba suara seruling si padri asing tadi mencuit nyaring sekali, berbareng empat ekor ular sawa raksasa memutar ekornya terus membelit ke arah si kakek.

Dalam keadaan terapung di udara, sedapatnya si kakek menghantam dengan kedua tangannya, kontan dua ekor ular kena dihantam pergi, kesempatan itu digunakan olehnya untuk meloncat ke samping sejauh dua-tiga meter. Tapi pada saat yang hampir sama, ekor panjang ular ketiga dan keempat juga menyambar tiba.

Dengan gugup terpaksa si kakek menghantam lagi dengan tenaga pukulan, di mana angin pukulannya sampai, seketika kepala seekor ular sawa raksasa itu hancur lebur.

Dan karena si kakek harus mencurahkan perhatiannya untuk menempur ular sawa raksasa itu, ia tidak sempat bersuit lagi, maka keempat padri yang berputar dengan menjungkir itu ada kesempatan untuk mengeluarkan seruling, berbareng mereka meniup. Di bawah paduan suara lima seruling, kawanan ular semakin membanjir datang.

Dalam pada itu si kakek telah dapat membinasakan tiga ekor ular sawa raksasa yang lain, tapi tidak urung pinggang dan kakinya kena dililit oleh dua ekor ular sawa yang lain lagi.

Mendadak si kakek menggertak sekali, ia kerahkan tenaga sepenuhnya, ular sawa yang melilit pinggangnya kena dibetotnya hingga putus menjadi dua, darah muncrat hingga membasahi tubuhnya. Tapi nyawa ular itu memang panjang, biarpun badan putus, ular itu tidak lantas mati, ketika merasa sakit, ular itu lantas membelit mati-matian dengan lebih erat dan kuat hingga tulang pinggang si kakek serasa hendak patah.

Cepat si kakek meronta beberapa kali hingga badan ular mati itu mengendur. Tapi segera dua ekor ular sawa lain menggubat lagi beberapa lilitan di badannya hingga lengannya ikut tergubat, keruan ia mati kutu dan tak bisa melawan lagi.

Apa yang terjadi itu disaksikan dengan jelas oleh Goan-ci, saking tegangnya sampai ia ikut menahan napas. Sudah terang dilihatnya kakek itu sangat lihai, dengan ilmu sejati yang dimilikinya dengan mudah saja ia dapat merobohkan ke-16 padri asing itu. Siapa tahu kawanan padri asing itu memiliki semacam ilmu sihir yang dapat mengerahkan ular dengan suara seruling, akhirnya dari kalah mereka berubah menjadi menang.

Begitulah, sesudah melihat semua musuh terlilit oleh kawanan ular sawa raksasa, selain merintih atau mencaci maki, musuh sudah tak bisa berbuat apa-apa lagi, maka kawanan padri asing itu pun berhenti meniup seruling, sekali melejit segera mereka berdiri tegak kembali.

Padri yang meniup seruling pertama tadi berwajah berewok, agaknya dia pemimpin rombongan, segera ia maju ke depan dan berseru, “Sing-siok Lokoay, kita sama-sama datang ke Tionggoan sini, air sungai tidak menggenangi air sumur, mengapa tanpa sebab kau menangkap ular piaraan kami untuk disembelih secara sewenang-wenang?”

Kiranya kakek bermuka muda seperti dewa itu tak lain tak bukan adalah Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu, si iblis tua dari Sing-siok-hay yang ditakuti orang-orang persilatan di Tionggoan.

Berhubung satu di antara ketiga pusakanya yaitu Pek-giok-giok-ting dicuri dan dibawa lari oleh murid perempuannya, yaitu si A Ci, maka berturut-turut ia telah mengirimkan anak muridnya yang lain untuk menguber gadis cilik itu, bahkan murid tertua Ti-sing-cu juga dikerahkan untuk mencari A Ci, tapi sial benar, laporan yang diterimanya selalu tidak menguntungkan.

Paling akhir ia dengar A Ci mempunyai sandaran Pangcu Kay-pang hingga Ti-sing-cu dihajar setengah mati, keruan Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu terkejut dan murka pula. Ia tahu Kay-pang adalah organisasi terbesar di dunia persilatan Tionggoan, untuk melawannya adalah tidak mudah, maka ia sendiri lantas tampil ke timur.

Tujuan utama perjalanan itu adalah ingin menemukan kembali Pek-giok-giok-ting, adapun mengenai pertengkaran dengan Kiau Hong, tentang A Ci yang akan ditangkapnya kembali untuk diberi hukuman setimpal, semua itu adalah soal kedua. Sebab itulah sepanjang jalan ia tidak menimbulkan onar atau mengganggu orang lain.

Ting Jun-jiu memiliki ilmu jahat yang istimewa, yaitu “Hoa-kang-tay-hoat”, ilmu yang khusus dapat memunahkan kepandaian lawan, ilmu Hoa-kang-tay-hoat itu dalam waktu tertentu harus dipelihara dengan baik, yaitu dengan memoles cairan berbisa pada telapak tangannya untuk disedot ke dalam tubuh.

Jika selama tujuh hari hal itu tidak dilakukan, maka ilmu yang dilatihnya itu akan mundur khasiatnya, bahkan kadar racun yang sudah terhimpun selama berpuluh tahun dalam tubuh itu bila tidak dipupuk dengan racun baru, maka lambat laun racun lama akan bekerja dan akan membahayakan diri sendiri.

Dalam hal ini ia pernah menyaksikan seorang angkatan tua perguruannya setelah berhasil meyakinkan Hoa-kang-tay-hoat, tapi ketika bertanding telah dikalahkan oleh gurunya serta dikurung dalam sebuah kamar batu hingga orang itu tidak dapat menangkap binatang berbisa untuk memupuk racun lama dalam tubuh, keruan kadar racun lantas mengamuk dengan hebat hingga saking tak tahan akhirnya orang itu membeset kulit daging sendiri, kemudian masih harus tersiksa oleh luka-luka itu hingga lebih sebulan baru mati orangnya.

Karena itu, biarpun Sing-siok Lokoay adalah seorang mahakejam, tapi bila teringat kepada kejadian mengerikan yang pernah dilihatnya itu, mau-tak-mau ia sendiri pun merinding.

Untuk menghindarkan kegagalan Hoa-kang-tay-hoat yang dilatihnya itu, maka ia perlu menangkap binatang berbisa dengan Pek-giok-giok-ting yang dapat memancing makhluk-makhluk itu dengan mengeluarkan bau dupa yang wangi.

Dengan memiliki giok-ting itu, maka sedikit pun Ting Jun-jiu tidak susah untuk menangkap binatang-binatang berbisa yang aneh-aneh dan lihai, “Hoa-kang-tay-hoat” yang dilatihnya itu juga semakin hebat dan sempurna.

Orang yang melatih ilmu aneh itu mirip seperti orang yang gemar minum arak, sekali sudah nyandu, maka setiap hari akan ketagihan, setiap hari harus minum dan makin minum makin banyak.

Yang luar biasa adalah ilmu itu harus digunakan terhadap musuh, dengan demikian sebagian kadar racun yang terhimpun dalam tubuh dapat dikeluarkan kepada musuh. Tapi Sing-siok-hay terletak di tempat terpencil sejauh itu, ratusan li di seputarnya tiada seorang pun yang berani mendekat, dari mana bisa diperoleh musuh untuk melampiaskan racunnya setiap waktu?

Lantaran itu, maka setiap 7 hari sekali racun terus bertambah, sebaliknya tidak pernah dilampiaskan, sudah tentu makin lama makin tertimbun kadar racun dalam tubuhnya dan dengan sendirinya luar biasa hebatnya Hoa-kang-tay-hoat itu.

Dasar A Ci memang licin, ia menunggu pada hari sesudah giok-ting digunakan gurunya untuk menangkap binatang berbisa, lalu ia mohon diri pergi pesiar. Ketika Sing-siok Lokoay mengetahui giok-ting itu dicuri, hal itu sudah tujuh hari kemudian, yaitu ketika dia hendak menangkap binatang berbisa lagi, dengan menggunakan giok-ting itu.

Dan sudah tentu selama itu A Ci sudah pergi jauh, jalan yang dipilih selalu jalan kecil yang sepi, meski ia diuber-uber oleh para suhengnya yang jauh lebih lihai, tapi mereka kalah cerdik, selalu mereka kena diakali hingga tiada seorang pun dapat menemukan dia.

Setelah kehilangan giok-ting, dengan sendirinya Sing-siok Lokoay sukar menangkap binatang berbisa yang istimewa lagi, yang diperoleh hanya sebangsa ular yang kecil dan tidak besar manfaatnya.

Hal ini tidak terlalu merisaukan dia, yang dikhawatirkan ialah kemungkinan giok-ting yang dibawa lari A Ci itu akan dikenali orang persilatan Tionggoan hingga dihancurkan oleh mereka. Maka selama benda pusaka itu belum ditemukan kembali, selama itu pula ia merasa tidak tenteram.

Sebab itulah, biarpun tidak ingin menjelajahi Tionggoan lagi, akhirnya ia muncul sendiri juga untuk mencari giok-ting itu mengingat usaha anak muridnya telah gagal satu per satu.

Di wilayah Siamsay dia bertemu dengan anak muridnya, diketahui ilmu silat murid tertua, Ti-sing-cu, sudah punah dan sepanjang jalan selalu dibuat sasaran ejekan oleh anak murid yang lain. Sementara itu murid kedua, yaitu Si Hidung Singa Gian-ho-cu sudah naik kedudukannya sebagai toasuheng.

Demi bertemu dengan sang guru, sudah tentu anak muridnya ketakutan setengah mati, sebab khawatir diberi hukuman berhubung mereka tidak mampu melaksanakan perintah gurunya. Untung saat itu Sing-siok Lokoay perlu pakai tenaga mereka, maka sementara mereka tak dihukum, tapi mereka harus ikut mencari jejak si A Ci. Dan begitulah mereka lantas datang ke Tionggoan.

Sepanjang jalan mereka mencari kabar tentang Kay-pang. Tapi pertama karena bentuk muka mereka itu rata-rata sangat aneh, tutur kata mereka pun menjemukan orang, maka siapa pun tidak sudi memberitahukan berita yang mereka cari. Apalagi saat itu Siau Hong sudah berada di negeri Liau dengan pangkat Lam-ih-tay-ong, hal ini belum diketahui oleh orang Bu-lim, sebab itulah mereka tidak mendapatkan sesuatu kabar, bahkan di mana markas besar Kay-pang saat itu juga tak diketahui.

Sudah tentu Ting Jun-jiu semakin kelabakan, ia pikir Siau-lim-si adalah pusat persilatan Tionggoan, setiap gerak-gerik orang persilatan tentu akan diketahui oleh padri saleh di situ.

Meski ia tidak ingin terang-terangan bermusuhan dengan Siau-lim-pay, tapi mengingat selamanya ia pun tiada pertengkaran dengan Siau-lim-pay, kalau ia berkunjung ke sana untuk tanya sesuatu berita secara beraturan, boleh jadi ketua Siau-lim-si akan dapat memberi tahu sekadarnya. Maka dengan membawa anak muridnya mereka lantas mendatangi Siau-lim-si di Holam.

Sepanjang jalan bila tiba waktunya mengisi racun, ia lantas menangkap ular berbisa untuk menyedot racunnya.

Ketika rombongan mereka baru masuk wilayah Holam, suatu hari mendadak mereka lihat gerombolan ular berbisa secara besar-besaran. Keruan Sing-siok Lokoay sangat girang, segera ia perintahkan anak muridnya menangkap ular untuk mengisi racun “Hoa-kang-tay-hoat” yang lihai itu.

Sebenarnya ia pun heran melihat ular sebanyak itu, tapi dasarnya memang tinggi hati, sudah biasa ia berkuasa di Sing-siok-hay, terhadap segala apa tidak pernah pusing apakah itu milik orang lain atau bukan. Tak terduga bahwa kawanan ular berbisa itu memang benar ada pemiliknya.

Kiranya sesudah Polo Singh dikirim ke Siau-lim-si untuk mencuri kitab, sampai sekian lama tiada kabar beritanya. Maka gurunya telah mengirim pula 16 padri Thian-tiok untuk memapaknya.

Ilmu silat kawanan padri Thian-tiok itu tidak terlalu tinggi, tapi mereka mahir semacam ilmu, yaitu menggunakan suara seruling untuk menggiring ular. Maka sepanjang jalan sudah banyak sekali ular berbisa yang ikut mereka ke Tionggoan.

Meski banyak juga ular itu mati di tengah jalan karena tidak cocok dengan iklim setempat, tapi setiba di wilayah Holam, toh jumlah ular itu masih sangat banyak. Terutama belasan ekor di antaranya adalah ular sawa raksasa yang mengikuti mereka sejak dari rimba purba di wilayah Thian-tiok, ular-ular sawa itu adalah jenis yang jarang terdapat di Tiongkok.

Rupanya padri Thian-tiok itu tahu ilmu silat mereka tidak mungkin melawan pihak Siau-lim-pay, kalau mereka menyerang secara mendadak dengan barisan ular itu, tentu lawan akan kelabakan, andaikan tak bisa menghancurkan Siau-lim-si, paling sedikit Polo Singh dapat tertolong dan dapat merampas sedikit kitab dalam biara itu.

Begitulah kawanan padri Thian-tiok itu melanjutkan perjalanan pada malam hari, kalau siang hari mereka mengaso, dengan demikian kawanan ular mereka takkan mengejutkan penduduk setempat. Tidak lama sesudah masuk wilayah Holam, mereka mengetahui banyak ular mereka dibunuh orang. Ketika diselidiki, ternyata pembunuh ular itu adalah Sing-siok Lokoay.

Jarak Sing-siok-hay tidak terlalu jauh dengan negeri Thian-tiok, maka tindak tanduk Sing-siok Lokoay yang aneh dan kejam itu juga telah didengar oleh orang persilatan Thian-tiok, sebab itulah para padri Thian-tiok tidak ingin cekcok dengan dia.

Tak terduga makin lama makin menjadi, ular yang dibunuh Sing-siok Lokoay makin banyak dan selalu dipilih yang paling berbisa hingga kekuatan barisan ular yang dikerahkan padri Thian-tiok itu sangat berkurang.

Saking tak tahan lagi, akhirnya tercetuslah pertarungan sengit antara kedua pihak dan berkat bantuan kawanan ular yang hebat itu, pihak padri Thian-tiok telah menang, bahkan Sing-siok Lokoay yang tersohor itu terlilit oleh ular sawa raksasa hingga tak bisa berkutik.

Ketika padri Thian-tiok tanya apa dia membunuh ularnya, maka Ting Jun-jiu menjawab, “Sungguh menggelikan pertanyaanmu ini. Segala binatang buas, terutama ular berbisa yang suka mencelakai manusia, siapa saja yang melihatnya tentu akan membunuhnya. Dari mana kutahu bahwa ular-ular itu adalah piaraanmu?”

“Aku pernah memberi isyarat padamu agar jangan membunuh ular piaraan itu, tapi kau sama sekali tidak ambil pusing, sebab apa?” tanya pula padri asing itu.

“Hehehe!” Ting Jun-jiu tertawa dingin. “Sejak kecil hingga besar, selama hidupku ini hanya aku yang menyuruh orang harus begini dan begitu, tapi tidak pernah ada orang yang dapat memerintah aku harus begini dan begitu. Bahkan guruku sendiri dahulu ketika mengomeli aku sedikit saja lantas kubunuh. Sekarang hanya beberapa hwesio busuk dari negeri asing seperti kalian ini dengan hak apa berani memberi perintah padaku, heeehh?”

Melihat Sing-siok Lokoay sudah tergubat oleh ular, sama sekali tidak bisa berkutik lagi, tapi bicaranya masih sangat angkuh, sedikit pun tidak mau tunduk, maka padri asing itu tahu permusuhan ini sudah telanjur mendalam, jika jiwa Lokoay diampuni, kelak pasti akan mendatangkan bahaya yang tidak habis-habis. Segera katanya, “Nama Sing-siok Lokoay terkenal di seluruh jagat, siapa tahu hanya nama kosong belaka, sampai beberapa ekor ular juga tidak mampu melawan. Nah, maaf, biarlah hari ini kami membasmi racun dunia yang paling dibenci seperti dirimu ini!”

“Huh, soalnya aku kurang hati-hati hingga terjungkal di tangan kawanan binatang berdarah dingin seperti kalian ini, andaikan harus pulang ke nirwana juga tak perlu menyesal…”

Baru sekian ucapan Ting Jun-jiu, tiba-tiba suaranya terputus oleh teriakan seorang muridnya yang juga terlilit oleh ular sawa, “Toasuhu, harap lepaskan aku dan kita akan saling menguntungkan. Guruku itu banyak tipu muslihatnya, sukar bagimu untuk melawannya. Sekali kau lengah, pasti engkau akan diselomoti.”

“Apa untungnya jika kulepaskanmu?” tanya si padri asing dengan dingin.

“Sing-siok-pay kami memiliki tiga macam pusaka yang disebut Sing-siok-sam-po,” tutur orang itu. “Jika jiwaku diampuni, sesudah kau bunuh iblis tua itu nanti, tentu ketiga macam pusaka itu akan kupersembahkan padamu. Sebaliknya bila kau bunuh seluruh orang Sing-siok-pay kami, maka Sing-siok-sam-po itu takkan kau dapatkan untuk selamanya, bukankah sangat sayang?”

Dari tempat sembunyinya Goan-ci lihat pembicara itu adalah seorang laki-laki tegap, meski kena dililit ular sawa, namun semangatnya masih gagah, siapa tahu jiwanya justru begitu kotor dan rendah, demi menyelamatkan diri sendiri tidak segan-segan menjual gurunya sendiri secara terang-terangan.

Dalam pada itu seorang murid Sing-siok-pay yang lain ikut berteriak juga, “Toasuhu, jangan kau percaya padanya. Satu di antara Sing-siok-sam-po kami itu sudah dicuri orang. Lebih baik aku saja yang kalian lepaskan, hanya akulah orang yang paling setia padamu, pasti takkan menipumu.”

Begitulah dalam sekejap itu suasana menjadi ramai oleh teriakan anak murid Sing-siok-pay yang pada pokoknya menjilat dan mengumpak pihak lawan, sebaliknya mengolok-olok guru sendiri. Bahkan banyak di antaranya yang sudah terluka oleh gigitan ular dan terimpit di tengah badan ular sawa yang melilit erat juga tidak mau ketinggalan untuk minta ampun dengan macam-macam janji yang muluk-muluk dan segala macam kata-kata bohong pula.

Sama sekali padri Thian-tiok itu tidak menyangka anak murid Sing-siok-pay sedemikian rendah jiwanya, mereka memandang hina dan heran pula. Mereka sama melangkah maju untuk mendengarkan ocehan murid Sing-siok-pay yang lucu itu.

“Terhadap guru sendiri saja tidak setia, masakah kalian dapat dipercaya akan setia kepada bangsa lain? Hahahaha, bukankah menggelikan bualan kalian ini?” demikian padri Thian-tiok yang merupakan pemimpinnya itu mengejek.

“Bukan begitu halnya, lain soalnya,” seru seorang murid Sing-siok-pay. “Kepandaian Sing-siok Lokoay terlalu cetek, apa gunanya kami ikut padanya? Dan apa faedahnya pula kami setia padanya? Sebaliknya Toasuhu memiliki ilmu silat yang tiada bandingannya di jagat ini, mana Sing-siok Lokoay dapat dinilai sama dengan Toasuhu?”

“Benar, siapakah yang tidak kenal ‘padri saleh’ seperti kalian ini, malahan lebih tepat kalian disebut ‘padri sakti’. Eh, bahkan harus disebut ‘Buddha hidup’!” demikian seru murid Sing-siok-pay yang lain. Lalu kawan-kawannya lantas membumbu-bumbui lagi dengan kata-kata muluk yang menyanjung puji.

“Huh, suara manusia rendah dan pengecut sebagai kalian ini sungguh menjemukan,” kata padri Thian-tiok itu sambil berkerut kening. “Sing-siok Lokoay, mengapa kau begini tak becus, mencari murid saja mengapa cari sebangsa manusia yang tak kenal malu seperti mereka ini? Baiklah akan kuantarkanmu ke nirwana dulu, kemudian murid-muridmu yang memalukan ini juga akan kami susulkan padamu!”

Habis berkata, mendadak lengan bajunya mengebas ke atas kepala Ting Jun-jiu.

Waktu itu Sing-siok Lokoay Ting Jun-jiu tak bisa berkutik sedikit pun karena tergubat oleh ular sawa, kebasan lengan jubah padri Thian-tiok yang kuat itu kalau mengenai sasarannya, andaikan tidak mati juga pasti Ting Jun-jiu akan terluka parah.

Tak terduga serangan itu dianggap sepi saja oleh Ting Jun-jiu, sebaliknya padri Thian-tiok itu tahu-tahu lemas terkulai di tanah dan meringkuk bagai cacing, hanya tampak berkejat dua kali lalu tidak bergerak lagi.

Keruan padri Thian-tiok yang lain sangat terkejut, beramai-ramai mereka berteriak, “Suheng! Suheng!”

Segera dua orang di antaranya mengulur tangan hendak membangunkan kawannya itu.

Tapi baru tangan kedua orang itu menjamah tubuh kawannya, seketika kepala mereka pusing, kaki pun lemas, akhirnya roboh juga.

Dengan sendirinya tiga padri lain yang berdiri di belakang mereka lekas hendak memayang kawan-kawannya. Tapi sekali mereka menyentuh badan kedua orang, lagi-lagi ketiga padri itu pun ikut roboh hingga dalam sekejap saja enam padri asing itu sama roboh tak berkutik.

Melihat gelagat jelek, sisa padri yang lain terkesima, mereka tidak berani menjamah badan kawan yang jatuh itu. Seorang di antaranya lantas membentak dengan gusar, “Ilmu sihir apa yang kau gunakan, Sing-siok Lokoay? Ini rasakan pukulanku!”

Berbareng itu terus menghantam. Tapi Ting Jun-jiu hanya tertawa saja, pukulan padri itu seperti terpental balik dari sasarannya, lalu padri itu melongo lebar dan jatuh terjungkal.

Sisa kesembilan padri yang lain sudah pernah dirobohkan oleh suara suitan Ting Jun-jiu, maka mereka tidak berani sembarangan menyerang, mereka berbisik-bisik dalam bahasa Thian-tiok untuk berunding, sejenak kemudian, sekonyong-konyong mereka menggertak bersama, di mana lengan jubah mereka mengebas, sembilan bilah pisau sekaligus menyambar ke arah Ting Jun-jiu.

Tapi Ting Jun-jiu juga membentak, kepala goyang tiga kali, seketika rambutnya yang putih menegak kaku bagai kawat, maka terdengarlah suara “trang-tring” beberapa kali, kesembilan pisau musuh kena disapu jatuh semua. Sedangkan kesembilan padri Thian-tiok itu tahu-t

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: