Kumpulan Cerita Silat

26/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 46

Filed under: +Darah Ksatria — Tags: — ceritasilat @ 12:09 pm

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Sudah biasa orang Cidan pandang orang Han seperti hewan, maka Sili malas untuk mengubur Goan-ci, ketika dilihatnya di tepi jalan ada sebuah sungai kecil, terus saja ia buang mayat Goan-ci ke dalam sungai, lalu pulang ke kota.

Dan karena keteledoran Sili inilah jiwa Yu Goan-ci jadi selamat malah.

Kiranya ketika jari Goan-ci kena digigit ulat sutra, segera ia gunakan ilmu dalam “Ih-kin-keng” yang dilihatnya, yaitu lukisan si padri kurus yang berjungkir dengan gaya aneh itu, dengan demikian hawa berbisa ulat sutra itu dapat dipunahkan.

Ia tidak tahu bahwa “Ih-kin-keng” adalah buah kalam Tat-mo Locou sendiri, apa yang diajarkan dalam kitab pusaka itu adalah pengantar ilmu lwekang yang mahatinggi, dan karena peniruan Goan-ci itu, sesudah darahnya disedot ulat sutra kemudian ia dapat menarik kembali darahnya pula hingga sari bisa mahalihai dari ulat sutra yang tiada bandingannya di dunia ini telah ikut terisap ke dalam tubuh Goan-ci sendiri.

Mestinya, jika Goan-ci sudah memahami kunci rahasia melakukan ilmu meditasi dalam “Ih-kin-keng”, dengan sendirinya ia akan dapat memunahkan racun ulat itu secara bertahap, tapi sekarang dia cuma dapat melakukan satu gaya saja, yaitu dengan berdiri menjungkir, maka racun ulat sutra yang mahaaneh itu bersarang semua di dalam tubuhnya.

Memangnya bisa ulat sutra itu adalah sejenis racun mahadingin yang tiada bandingannya, ditambah lagi dalam tubuh Goan-ci sudah terhimpun kadar racun dari kelabang, ular, dan lain-lain, jadi sudah beracun ditambah racun lagi, keruan seketika ia beku kedinginan.

Bila Sili melaksanakan perintah A Ci dengan baik serta mengubur Goan-ci di dalam tanah, pasti mayat itu akhirnya akan menjadi kerangka “mumi” (jenazah yang tidak membusuk).

Tapi kini ia dibuang ke kali, maka terhanyutlah Goan-ci mengikuti arus. Dan sekali terhanyut hingga sejauh lebih 20 li, akhirnya tersangkut pada sebuah batu karang di tikungan sungai yang sempit. Selang tak lama, air sungai di sekeliling tubuhnya ikut membeku hingga Goan-ci seolah-olah terbungkus dalam peti mati hablur atau kristal.

Tapi karena diguyur terus oleh arus sungai, setitik demi setitik hawa dingin dalam tubuh Goan-ci tergesek-gesek hilang, akhirnya es yang membeku di luar di luar badannya mencair. Untung dia memakai kerudung besi, barang logam lebih cepat tertembus hawa dingin, tapi juga cepat panasnya. Maka es yang membeku di sekitar topeng besi cair paling dulu. Setelah digerojok air sungai sejenak pula Goan-ci terbatuk-batuk dan pikirannya sadar kembali, segera ia merangkak naik dari dalam sungai.

Ia merasa seperti habis bermimpi. Ia duduk di tepi kali sambil menunggu mencairnya es yang masih melekat di sekujur badannya. Teringat olehnya betapa setianya kepada A Ci, ia korbankan awak sendiri digigit binatang-binatang berbisa untuk membantu gadis itu berlatih ilmu, tapi ketika dirinya disangka sudah mati, ternyata gadis itu sedikit pun tidak mengunjuk rasa menyesal, bahkan membuangnya ke kali seperti bangkai anjing saja.

Ia masih ingat ketika dirinya mulai beku, A Ci sendiri asyik memoles cairan darah ulat sutra pada telapak tangan untuk meyakinkan ilmunya. Kemudian gadis itu hanya memandangnya dengan terheran-heran dan merasa geli, sedikit pun gadis itu tidak memperlihatkan rasa kasihan atau menyesal.

Kemudian ia pikir pula, “Begitu lihai racun ulat sutra itu, setelah nona mengisapnya ke dalam telapak tangan, terang ilmu sakti tok-ciang (pukulan berbisa) kini sudah berhasil dilatihnya, kalau aku pulang ke sana untuk menemui… untuk menemui dia….”

Berpikir sampai di sini, sekonyong-konyong ia bergidik sendiri, katanya di dalam hati, “Ya, bila dia melihat aku lagi, pasti aku akan digunakan untuk menguji pukulan saktinya yang berbisa itu. Dan jika betul ilmu saktinya itu sudah jadi, tentu jiwaku akan melayang seketika oleh serangannya. Dan jika betul ilmu sakti itu belum jadi, tentu aku akan disuruh mencari binatang berbisa lain sehingga ilmu yang dilatihnya itu berhasil, akhirnya aku pula yang akan dipakai sebagai kelinci percobaan. Jadi jiwaku tetap akan melayang. Daripada mati konyol, buat apa aku pulang ke sana?”

Ia berdiri dan meloncat-loncat beberapa kali agar batu es yang masih melekat di badan itu rontok. Kemudian ia merasa bingung ke mana harus pergi?

Tengah merasa bimbang, tiba-tiba didengarnya suara tertawa nyaring mengikik terbawa angin lalu suara seorang gadis sedang bicara, “Cihu, sudah lama sekali engkau tidak menemani aku pesiar ke luar rumah, maka sekarang kita harus pesiar sepuas-puasnya!”

Dari suara yang merdu genit itu, segera Goan-ci mengenali pembicara itu tak-lain-tak-bukan adalah A Ci. Keruan ia terkejut, “Wah, celaka, rupanya dia sedang mencari diriku lagi? Agaknya dia datang bersama Kiau Hong.”

Tidak lama kemudian, terdengar suara derapan kaki kuda, dua penunggang kuda tampak mendatangi dengan cepat. Karena di sekitar situ tiada suatu tempat sembunyi yang baik, terpaksa Goan-ci menyusup ke dalam semak-semak rumput di belakang pohon.

Dan karena sedikit gerakan itu, Siau Hong yang bermata amat tajam sempat melihat di semak-semak rumput itu ada sesuatu yang mencurigakan. Serunya segera, “A Ci, di balik pohon itu rupanya ada seekor binatang, kalau bukan menjangan tentu serigala!”

“Sungguh amat jeli pandanganmu, begini jauh jaraknya engkau dapat mengetahui,” ujar A Ci dengan tertawa. Lalu ia larikan kudanya lebih dekat, rupanya khawatir binatang buruannya akan lari, segera ia mendahului memanah.

Sudah tentu Goan-ci tidak berani bergerak, terpaksa ia pasrah nasib. Untung Siau Hong dan A Ci tidak melihat jelas jejaknya, maka panah itu menyambar lewat di samping kepalanya dan menancap di tanah. Coba kalau kena kerudung besi pada kepalanya itu, meski tidak terluka juga pasti akan mengeluarkan suara keras dan jejak Goan-ci tentu akan ketahuan.

Dan secara kebetulan pula di tengah semak-semak itu memang bersembunyi dua ekor kelinci, ketika panah yang dibidikkan A Ci itu menancap di situ, kedua kelinci itu kaget dan melarikan diri.

Maka tertawalah A Ci, katanya, “Hahaha, lihatlah, Cihu! Sekali ini engkau telah salah lihat, hanya dua ekor kelinci, tapi kau sangka menjangan dan serigala!”

Segera ia pun memburu ke arah kelinci tadi dan berturut-turut ia panah roboh sasarannya itu.

Selagi A Ci menjulurkan badan dari atas kuda hendak menjemput binatang buruannya itu, tiba-tiba terdengar suara seorang menegur di seberang kali sana, “Nona cilik, kau lihat Han-giok-jan (ulat sutra kemala dingin) piaraanku atau tidak?”

Ketika A Ci mendongak, ia lihat yang bicara itu adalah seorang hwesio berpotongan aneh, sudah gemuk, lagi pendek, hingga mirip sebuah bola raksasa.

Dari tempat sembunyinya Goan-ci dapat melihat jelas bahwa hwesio yang menegur A Ci itu adalah Sam-ceng yang dilihatnya di kebun sayur kelenteng Bin-tiong-si itu. Padri itu menyatakan ulat yang disebut “Han-giok-jan” itu adalah piaraannya. Sedang orang yang membunuh ulat itu memang betul adalah A Ci, maka tepatlah orangnya yang hendak dicari padri itu. Demikian pikir Goan-ci.

Sementara itu A Ci kelihatan melengak oleh pertanyaan Sam-ceng tadi, tapi segera ia mengikik sambil mendekap di atas pelana kuda.

Sam-ceng menjadi gusar, katanya pula, “Aku tanya padamu, aku mempunyai seekor ulat sutra putih piaraanku, di mana dia lewat, di situ tentu meninggalkan bekas hangus. Nah, kau lihat tidak? Kalau melihatnya bilang melihat, kalau tidak bilang tidak, apa yang kau gelikan? Mengapa tertawa?”

Masih A Ci tidak menjawab, dengan tertawa ia berkata kepada Siau Hong malah, “Cihu, lihatlah bola raksasa itu, sungguh lucu!”

“Hus,” bentak Siau Hong. “Bocah cilik sembarang omong, jangan kurang ajar kepada Thaysuhu.”

Melihat potongan Sam-ceng yang luar biasa, suaranya sangat lantang pula, sejak mula Siau Hong sudah tahu padri itu pasti seorang persilatan. Ketika mendengar padri itu mencari ulat apa yang disebut “Han-giok-jan” segala, ia menduga ulat itu pasti bukan sembarangan ulat, maka sedapat mungkin ia ingin menghindarkan percekcokan.

Dalam pada itu A Ci telah bertanya dengan tertawa, “He, Toahwesio, apakah ulat sutra itu peliharaanmu?”

“Ya, ya betul!” cepat Sam-ceng menyahut. “Jauh-jauh aku membawanya kemari dari puncak Kun-lun-san, bila nona melihat ulat itu harap suka memberi tahu.”

“Di mana ulatmu itu lalu, di situ lantas meninggalkan jalur bekas hangus, betul tidak?” tanya A Ci pula.

“Ya, ya benar!” sahut Sam-ceng. Padahal pertanyaan A Ci itu hanya mengulangi apa yang dikatakannya tadi.

“Dan ulatmu itu mahadingin, bukan? Segala benda yang dekat dengan dia seketika akan beku menjadi es, betul tidak?” tanya A Ci.

“Ya, benar! Benar! Sedikit pun tidak salah!” ulang Sam-ceng.

“Jika begitu, kemarin aku melihat ulat sutra itu bertarung melawan seekor kelabang dan ulatmu mati digigit kelabang itu,” kata A Ci.

“Kentut! Kentutmu busuk!” damprat Sam-ceng marah-marah. “Ulatku itu adalah raja dari segala binatang berbisa di dunia ini, segala ular atau binatang berbisa lain kalau ketemu dia pasti akan ketakutan hingga tak berani berkutik, masakah dia dapat dikalahkan oleh kelabang apa?”

Karena dimaki, A Ci bertambah jahil dan sengaja menggoda pula, katanya, “Jika kau tidak percaya, masa bodoh! Yang pasti kemarin aku melihat seekor ulat sutra putih bening dan aneh, sekali injak segera kugecek mati ulat itu.”

Sekonyong-konyong Sam-ceng meloncat setinggi dua-tiga meter hingga mirip sebuah bola raksasa yang membal ke udara. Ia berteriak-teriak, “Kentut! Kentut busuk! Ulatku itu gesitnya secepat angin, kalau kau tidak mempunyai obat antiulat itu, mana dapat kau bunuh dia? Bila hendak kau injak dia, sebelum kena mungkin kau sudah digigit mampus olehnya.”

Segera A Ci merogoh saku, ia keluarkan suatu bungkusan kecil, sesudah dibuka, benar juga isinya adalah bangkai ulat sutra yang dimaksudkan itu. Badan ulat itu sudah kena digecek oleh pentung kayu A Ci, cairan darahnya juga sudah terpencet keluar, maka bangkai ulat itu sudah berubah gepeng dan kering.

Rupanya A Ci tahu bahwa ulat sutra itu sangat luar biasa, ia duga bangkainya mungkin masih berguna, maka sengaja disimpannya dengan baik.

Melihat ulat sutra piaraannya itu benar-benar sudah mati, seketika wajah Sam-ceng berubah pucat lesi bagai mayat. Tubuhnya tampak sempoyongan pula, mendadak ia mendeprok di tanah dan menangis tergerung-gerung. Sekonyong-konyong ia merampas bangkai ulat itu dari tangan A Ci, ia peluk erat-erat di depan dadanya, sambil menangis sembari sesambatan, “O, jantung hatiku! O, putraku yang manis! Dengan susah payah aku membawamu dari Kun-lun-san, tujuanku ingin piara dikau dengan baik. Tapi kau justru tidak mau dengar kataku, kau suka kelayapan sendirian, akhirnya kau digecek mati oleh budak setan ini!”

Demikian makin menangis makin sedih, sampai akhirnya suara padri buntak itu menjadi serak dan hampir tak terdengar.

A Ci merasa geli, ia bersorak gembira. Sebaliknya Siau Hong tahu padri buntak itu pasti tidak mau menyudahi persoalan ini dengan demikian saja. Segera ia menarik les kuda dan bermaksud mengaling di depan A Ci untuk menjaga segala kemungkinan, habis itu barulah ia akan minta maaf kepada padri pendek gemuk itu.

Tak terduga, belum berhenti menangis, tahu-tahu badan Sam-ceng membal lagi ke atas mirip sebuah bola raksasa, terus menumbuk ke arah A Ci.

Serangan ini datangnya teramat cepat, belum lagi kuda Siau Hong berada di depan A Ci dan tubuh Sam-ceng yang bundar itu sudah menyambar tiba.

Mendengar sambaran angin yang keras itu cepat Siau Hong membentak, “Jangan mengganggu orang!”

Berbareng tangan meraih ke depan, ia jambret punggung A Ci terus diangkat ke atas pelana kudanya.

Maka terdengarlah suara “bluk” yang keras, tubuh Sam-ceng yang mirip gentong itu kena tumbuk kuda tunggangan A Ci, begitu hebat tenaga tumbukan itu hingga kuda sebesar itu mencelat pergi dan terbanting mati seketika.

Muka A Ci sampai pucat saking kagetnya. Sama sekali tak terduga olehnya bahwa tumbukan si padri katai yang lucu potongannya itu sedemikian lihainya.

Dan sekali tumbuk membinasakan kuda A Ci, menyusul Sam-ceng lantas membal lagi dan kembali menerjang ke arah A Ci.

Segera Siau Hong mengempit kudanya agar mencongklang ke depan untuk menghindarkan serangan itu. Namun datangnya Sam-ceng ternyata cepat luar biasa, langkah kuda pun kalah cepat.

Melihat gelagat jelek, untuk menahan serudukan hwesio buntak itu terpaksa Siau Hong harus mengeluarkan tenaga pukulannya. Tapi terang A Ci yang bersalah, gadis itu telah membinasakan ulat sutra piaraan orang, mana boleh dia membela pihak yang salah dan melukai orang?

Tanpa pikir segera Siau Hong rangkul A Ci, cepat ia melayang pergi beberapa meter jauhnya.

“Bruk”, kembali kuda tunggangan Siau Hong menjadi korban, binatang itu kena ditumbuk oleh Sam-ceng hingga mencelat pula. Bahkan sekali ini jauh lebih keras daripada tadi, kuda itu menabrak sebatang pohon hingga perutnya tembus oleh dahan pohon yang patah tertumbuk itu.

Sama sekali Sam-ceng tidak ambil pusing apa yang terjadi itu, untuk ketiga kalinya ia menyeruduk pula ke arah Siau Hong dan A Ci.

Keruan Siau Hong terheran-heran, ia tidak habis mengerti cara menyerang orang yang aneh itu. Bilamana lawan bersenjata, dan padri itu main seruduk begitu, apakah bukan berarti menggunakan badan daging untuk diadu dengan senjata tajam dan akan mampus sendiri?

Dalam pada itu Sam-ceng masih belum kapok dan masih menyeruduk terus, sekali ini Siau Hong tidak mau menghindar lagi, serunya, “Thaysuhu, mengapa kau desak orang sedemikian rupa? Biarlah aku minta maaf padamu dan mengaku salah saja.”

Sebenarnya Sam-ceng sudah mulai menyeruduk lagi, demi mendengar ucapan Siau Hong itu, mendadak ia bisa mengerem, sekonyong-konyong tubuhnya berjumpalitan ke atas hingga beberapa kali putaran. Kesempatan itu segera digunakan Siau Hong untuk melangkah mundur beberapa tindak bersama A Ci. Dan sejenak kemudian barulah Sam-ceng turun ke tanah dengan enteng.

Tapi begitu pundaknya menggesek tanah, segera ia menggelinding maju pula, ia menerjang ke kaki Siau Hong sambil berteriak, “Kembalikan ulatku! Kembalikan ulatku!”

Caranya Sam-ceng main gelinding di tanah itu ternyata sama sekali berbeda daripada ilmu silat yang biasa terdapat di dunia persilatan. Tertampak padri itu menekuk kaki dan tangan memegang kepala, jadi meringkuk bagaikan sebuah bola, lalu menggelinding cepat ke arah lawan.

Diam-diam Siau Hong heran pula oleh cara berkelahi si padri buntak yang bodoh ini, kalau mau, sekali hantam pasti padri itu akan dapat dihancurkan olehnya. Tapi ia tidak bermaksud jahat, ia hanya melangkah ke samping untuk mengelakkan terjangan musuh. Tapi sekilas lantas terlihat olehnya di tanah situ sudah tersebar sepetak bubuk kuning.

Syukur Siau Hong dapat bertindak menurut keadaan, meski ia tidak tahu di mana letak keganjilan bubuk kuning itu, yang terang di atas tanah situ tadi tidak terdapat bubuk kuning seperti itu, jadi jelas disebarkan oleh hwesio gendut ini ketika dia main gelinding tadi. Dan bila kaki sampai menginjak bubuk kuning itu, bukan mustahil akan kena ditipu lawan.

Segera Siau Hong meloncat ke atas, sambil bersuit nyaring, menyusul ia mengapung lebih tinggi sambil merangkul A Ci untuk menghindarkan bubuk kuning di bawah kaki.

Kiranya bubuk kuning itu memang benar adalah bubuk beracun yang disebarkan oleh Sam-ceng Hwesio. Asal kaki Siau Hong menginjak ke bawah di mana bubuk beracun itu bertebaran, maka dia dan A Ci pasti akan menyedot bubuk kuning dan akibatnya sekujur badan akan lemah lunglai serta pasrah nasib kepada musuh.

Melihat Siau Hong teramat cerdik, tampaknya akan terpancing, tahu-tahu orangnya mengapung ke atas, Sam-ceng segera menerjang lagi, tubuhnya yang bulat itu kembali membal ke atas untuk menumbuk Siau Hong. Ia pikir lawan merangkul seorang lagi, betapa pun tenaga mengapungnya juga terbatas, dan asal dapat menumbuknya hingga ketiga orang terbanting bersama ke bawah, pasti lawan akan keracunan oleh perangkap yang telah dipasangnya itu.

Tapi ketika Siau Hong melihat padri itu membal lagi ke atas, dan tampaknya benturan sukar dielakkan lagi, segera ia gunakan kaki kanan untuk menjejak perlahan ke tubuh orang, dengan tenaga jejakan itu Siau Hong dapat melayang pergi sambil membawa A Ci.

Sebaliknya tumbukan Sam-ceng itu menggunakan antero tenaganya yang ada dan belum lagi kena menumbuk sasarannya, atau dia sudah ditolak kembali oleh jejakan kaki Siau Hong. Keruan tenaga yang telah dikerahkannya itu nyasar hingga mirip stir mobil yang susah dikuasai lagi. Tubuhnya anjlok ke bawah bagaikan sepotong batu.

Biasanya kalau tubuhnya jatuh ke tanah dapat segera membal ke atas lagi. Tapi sekali ini ia tidak bisa menguasai diri lagi, kedua kaki terjulur kaku ke bawah, maka terdengarlah suara “krek, bluk”, kedua tulang kakinya patah dan tubuh terbanting hingga terguling.

Bagi Siau Hong, maksudnya menjejak dengan kakinya tadi sebenarnya hanya untuk menghindarkan bubuk racun yang ditebarkan orang di tanah itu, sama sekali tak terduga olehnya bahwa lwekang yang dilatih padri katai itu sedemikian anehnya, sekali tenaga dalamnya nyasar, seketika tubuhnya tak bisa dikuasai lagi dan terbanting begitu saja.

Melihat kedua kaki Sam-ceng patah, Siau Hong merasa sangat menyesal, segera ia berkata, “Thaysuhu, rebahlah dulu, jangan bergerak, segera akan kusuruh orang mengantarmu pulang. Di kuil manakah engkau menetap?”

Sambil menahan rasa sakit, sedikit pun Sam-ceng tidak merintih, sahutnya dengan ketus, “Di mana-mana aku dapat menetap, buat apa kau pusing aku berasal dari kuil mana? Kakiku patah dapat kuobati sendiri, siapa minta belas kasihanmu?”

“Itulah bagus jika kau sendiri dapat menyembuhkan,” kata Siau Hong. “Adapun aku bernama Siau Hong, jika kau ingin menuntut balas, silakan datang ke kota Lamkhia untuk mencari aku. A Ci, marilah kita pergi!”

Tapi sebelum melangkah pergi, sengaja A Ci menggoda Sam-ceng pula, ia mengiming-iming dengan muka badut yang dibikin-bikin, lalu katanya, “Aku she Toan bernama Ci, jika kau ingin menuntut balas, silakan datang ke Lamkhia untuk mencari aku.”

Lalu ia tinggal pergi sambil menggandeng tangan Siau Hong.

Sudah tentu apa yang terjadi itu dapat disaksikan oleh Yu Goan-ci yang bersembunyi di tengah semak-semak rumput itu. Ketika melihat A Ci sudah pergi, ia merasa lega. Tapi entah mengapa, terasa juga olehnya seolah-olah kehilangan sesuatu. Lebih-lebih dilihatnya A Ci menggandeng tangan Siau Hong dengan mesra, tanpa merasa Goan-ci merasa iri.

Tiba-tiba terdengar Sam-ceng berteriak-teriak, “Air, air! Aku minta air!”

Sudah tentu teriakannya itu sia-sia belaka, sebab di sekitar situ tiada orang lain lagi. Diam-diam Goan-ci membatin, “Ulat sutra piaraannya itu akulah yang mencurinya hingga mengakibatkan padri itu sangat berduka dan patah pula kakinya, sungguh aku berdosa padanya.”

Maka demi mendengar seruan Sam-ceng yang minta air, segera ia menerobos keluar dari tempat sembunyinya dan berkata, “Harap menunggu sebentar, Thaysuhu, akan kuambilkan air untukmu.”

Ketika menoleh dan melihat kepala Goan-ci yang aneh itu, semula Sam-ceng kaget juga, tanyanya, “Hei, kau… kau ini apa?”

“Aku? Sudah tentu aku ini manusia,” sahut Goan-ci. “Tunggulah sebentar, akan kuambilkan air.”

Lalu ia berlari ke tepi sungai, dengan kedua tangannya ia meraup air dan lari kembali untuk disiramkan ke mulut Sam-ceng.

“Kurang, belum cukup! Aku minta lagi!” kata Sam-ceng.

Goan-ci mengiakan, lalu mengambilkan lagi dua tangkup air. Kemudian katanya, “Thaysuhu, gerak-gerikmu tidak leluasa, jaraknya dari sini ke Bin-tiong-si tidak terlalu jauh, biarlah aku menggendongmu pulang ke sana!”

Mendadak biji mata Sam-ceng yang bulat besar itu melotot, ia pandang Goan-ci dengan heran. Cuma kepala pemuda itu tertutup oleh kerudung besi, maka bagaimana air mukanya sukar diketahui. Segera Sam-ceng membentak, “Dari mana kau tahu aku padri dari Bin-tiong-si?”

Karena teguran itu, Goan-ci menjadi gelagapan, ia mengeluh urusan bisa celaka, jangan-jangan perbuatannya akan diketahui orang. Terpaksa ia menjawab, “Di sekitar sini hanya terdapat sebuah kuil saja, maka kuyakin Thaysuhu pasti berasal dari sana.”

“O, pintar amat kau,” kata Sam-ceng. “Tapi aku pun tidak perlu digendong, cukup asal kau ambilkan sebuah houlo yang kusembunyikan di kebun sayur Bin-tiong-si, dengan arak obat dalam houlo itu akan dapat menyembuhkan lukaku ini.”

“Masakah di kebun sayur itu masih ada sebuah houlo lagi? Bukankah….” baru sekian Goan-ci berkata, segera ia sadar telah salah mulut, cepat ia berhenti omong dengan kikuk.

“O, ya, aku sendiri yang pikun, memang houlo itu sudah hilang, terpaksa silakan kau gendong aku pulang ke sana,” kata Sam-ceng.

“Baiklah,” sahut Goan-ci, segera ia berjongkok dan membiarkan Sam-ceng menggemblok di punggungnya.

Ia lihat tembok Bin-tiong-si itu kelihatan dari jauh, jaraknya paling-paling cuma satu-dua li saja, tentu tidak terlalu sukar menggendong padri buntak itu ke sana.

Tak terduga baru dia melangkah beberapa tindak, sekonyong-konyong terasa sepuluh jari Sam-ceng yang kuat bagai cengkeram besi itu mencekik lehernya, begitu keras cekikan itu hingga napas Goan-ci serasa putus.

Keruan ia terkejut, segera ia bermaksud membanting padri itu ke tanah. Siapa duga cekikan Sam-ceng semakin kencang, bahkan kedua lutut kakinya juga mengepit kuat-kuat di pinggangnya. Maka waktu Goan-ci mengipratkan tubuh padri itu dengan maksud membantingnya ke tanah, bukannya padri itu terlepas dari gendongan, sebaliknya Goan-ci sendiri merasa pinggang kesakitan.

Maka terdengar Sam-ceng berkata, “Bagus, jadi houlo yang kusembunyikan itu dicuri olehmu, bukan? Ayolah mengaku saja, maling cilik! Kau curi arakku, kenapa menggondol pula houlo itu?”

Karena berada di bawah cengkeraman orang, terpaksa Goan-ci menyangkal mati-matian, “Tidak, tidak! Aku tidak mencuri houlomu!”

“Ketika aku bilang di kebun sayur itu masih ada sebuah houlo, segera kau merasa heran, bukankah itu menandakan kau telah mencuri houloku, kalau bukan kau, habis siapa?” kata Sam-ceng.

Melihat orang tidak menyinggung tentang ulat sutra, Goan-ci pikir melulu urusan mencuri houlo saja kan sepele, apalagi untuk menyangkal juga tidak dapat, maka sahutnya, “Baiklah, anggaplah houlo itu memang betul telah kucuri, biarlah aku mengembalikan padamu nanti.”

Sam-ceng terbahak-bahak girang. Tapi sekonyong-konyong ia menangis pula, dengan terguguk-guguk ia bertanya, “Siaucat (maling kecil), waktu kau curi houlo itu, kau lihat mestikaku Han-giok-jan atau tidak?”

“Han-giok-jan apa itu? Aku tidak melihat apa-apa, hanya di tanah ada suatu lingkaran dan tiada ulat atau binatang lain,” sahut Goan-ci.

“Ai, dasar anak itu memang bandel, akhirnya kena digecek mati oleh orang,” kata Sam-ceng. “Siaucat, ayolah berjalan ke arah timur.”

“Ke timur? Ke mana?” tanya Goan-ci.

Tapi lehernya lantas terasa dicekik lagi oleh Sam-ceng. Padri itu membentak, “Jika kukatakan ke timur, maka kau kudu ke timur, jangan banyak cincong, tahu?”

Karena dicekik hingga kesakitan, Goan-ci kapok dan terpaksa menurut perintah padri buntak itu.

Meski perawakan Sam-ceng itu katai, tapi gemuknya melebihi babi, maka bobotnya tidaklah enteng. Sesudah beberapa li jauhnya, Goan-ci merasa lemas, napasnya megap-megap, ia mengeluh, “Aku tidak kuat lagi, Taysu, marilah mengaso sebentar dulu!”

“Aku tidak menyuruhmu mengaso, kau berani berhenti?” bentak Sam-ceng dengan gusar. “Ayo, lekas jalan terus!”

Sembari berkata, kakinya mengempit lebih kencang hingga mirip orang menunggang kuda saja.

Agar tidak tersiksa, terpaksa Goan-ci menurut sekuatnya melangkah ke depan, dan makin lama makin payah. Sesudah beberapa li lagi, akhirnya ia benar-benar tidak kuat lagi, mendadak ia jatuh tersungkur, mulut berbusa dan napas senen-kemis, ngos-ngosan seperti kuda habis berpacu.

Tapi sama sekali Sam-ceng tidak peduli, ia masih mendesak terus, “Ayo, jalan, lekas jalan!”

Bahkan ia terus main gebuk pula ke punggung Goan-ci.

“Biarpun kau hantam mati diriku juga aku tidak sanggup lagi,” demikian sahut Goan-ci.

“Kau tidak mau jalan? Apa minta kumampuskanmu sungguh-sungguh?” ancam Sam-ceng.

Syukur pada saat itu juga, tiba-tiba di belakang mereka ada suara bentakan orang lain.

“Sam-ceng, besar amat nyalimu, kau berani melarikan diri ke sini? Ayo, lekas pulang, Hongtiang menitahkan kami menangkapmu!”

Ketika Goan-ci berpaling, ia lihat dari sana dua padri berjubah kelabu sedang mengejar kemari secepat terbang. Padri yang berada di depan adalah hwesio setengah umur yang pernah dilihatnya di kebun sayur itu dan hwesio di belakangnya berusia lebih muda.

“Suheng, kedua kakiku dipatahkan musuh, sementara ini tidak sanggup bergerak, bila nanti kakiku sudah sembuh, tentu aku akan pulang sendiri untuk minta ampun kepada Hongtiang,” demikian Sam-ceng memohon.

“Tidak bisa,” bentak padri setengah umur itu. “Jika ada orang dapat menggendongmu melarikan diri, tentu orang ini pula harus menggendongmu pulang ke sana. Eh, orang… orang ini aneh benar?”

Begitulah ia jadi melongo kaget demi melihat kepala besi Goan-ci yang aneh itu. Namun kawannya, si padri yang lebih muda lantas berkata, “Manusia siluman seperti ini pasti bukan orang baik-baik, ayolah sekalian kita tawan pulang ke kuil!”

“Jika kedua Suheng sudah bertekad memaksa aku pulang, terpaksa aku pun menurut saja,” kata Sam-ceng kemudian. Lalu ia membentak kepada Goan-ci, “Siaucat, ayo ikut kedua Suheng pulang ke sana!”

“Aku… aku tidak kuat berjalan lagi, harus… harus mengaso dulu,” sahut Goan-ci.

“Tidak bisa!” bentak Sam-ceng pula. “Kita harus sampai di rumah sebelum hari gelap.”

“Benar,” si padri setengah umur tadi menimbrung. “Ayolah, lekas, pakai mengaso dulu apa segala?”

Habis berkata, terus saja ia jemput sebatang ranting kayu terus menyembat pundak Goan-ci.

Keruan Goan-ci meringis kesakitan. Ia tidak paham mengapa seorang padri juga begitu jahat dan main pukul orang semau-maunya. Terpaksa ia meronta bangun, ia gendong Sam-ceng pula dan kembali ke arah datangnya tadi, dan sudah tentu dengan terhuyung-huyung dan sempoyongan.

Kedua padri itu mengawasi dari belakang Goan-ci, mereka lihat kedua tulang betis Sam-ceng memang betul patah, kedua kaki itu untal-antil, maka mereka menjadi lengah. Ketika sampai di suatu lereng di tepi jurang, sekonyong-konyong Sam-ceng menggunakan tangan kanan untuk menahan pundak Goan-ci, tahu-tahu tubuhnya melayang terus menumbuk ke arah padri setengah umur.

Keruan padri itu kaget, ia memaki, dan karena tidak sempat melolos senjata, segera ia memapak dengan sekali hantaman. Di luar dugaan, begitu mendekat Sam-ceng lantas menghantam juga hingga kedua tangan beradu, “plak”, tubuh Sam-ceng membal ke atas, segera ia menyeruduk pula ke arah si padri muda.

Cepat si padri muda itu mundur dua tindak, dengan gaya “Ji-liong-cut-tong” atau Dua Ekor Naga Keluar Gua, kedua kepalan terus menghantam dada Sam-ceng.

Tapi di tengah jalan Sam-ceng telah ganti haluan, ia tidak menyeruduk terus, dengan tangan kiri menahan kepalan lawan, dengan tenaga tolakan itu kembali tubuhnya mumbul ke atas. Menyusul sebelah tangannya menghantam kepala lawan. Kemudian dengan sekali berjumpalitan, tahu-tahu ia sudah kembali lagi ke atas gendongan Goan-ci.

Tadi waktu Sam-ceng “terbang” meninggalkan gendongannya, segera Goan-ci merasa bebas dari tindihan bobot ratusan kati, tapi belum lagi ia sempat melarikan diri, tahu-tahu Sam-ceng sudah “hinggap” kembali di atas punggungnya, bahkan terus mencekik lehernya pula hingga terpaksa Goan-ci tidak berani berkutik.

Dalam pada itu tertampak si padri setengah umur dan yang muda tadi perlahan mendeprok ke tanah, tubuh mereka meringkuk bagai “cacing kena air abu” sembari berkelojotan.

Heran dan kejut Goan-ci, pikirnya, “Dengan ilmu apakah hingga Sam-ceng Hwesio ini dapat membinasakan mereka dengan secara begitu mudah?”

Hanya sebentar saja, kedua padri itu mengeluarkan suara rintihan dan sesudah kejat-kejat lagi berapa kali, lalu binasa.

“Ini, lihat!” tiba-tiba Sam-ceng berkata dengan bangga sembari memperlihatkan telapak tangan kanannya kepada Goan-ci.

Waktu Goan-ci memerhatikan, kiranya dari tengah tangan kanan padri itu menonjol keluar sebuah jarum emas yang sangat halus, dari batang jarum itu masih kelihatan ada noda-noda darah.

Maka tahulah Goan-ci, kiranya di tengah-tengah telapak tangan padri itu terdapat jarum dan mungkin berbisa pula, makanya dua kali gaplok lantas makan dua korban.

“Awas! Jika kau berani rewel, segera aku pun mampuskan kau!” demikian Sam-ceng mengancam sambil pura-pura hendak menusuk mata Goan-ci dengan jarumnya. Segera ia memerintahkan pula, “Ayo, jalan! Ke timur, lekas!”

Goan-ci tidak berani membantah, terutama ia pun ngeri melihat kekejian hwesio buntak itu. Aneh juga, entah dari mana datangnya tenaga, meski badan letih dan hati takut, tapi ia dapat berjalan dengan cepat ke arah yang diminta.

Sementara itu hari sudah mulai gelap, diam-diam Goan-ci membatin, “Kedua kakimu sudah patah, seketika tak mungkin sembuh, nanti bila kau sudah tidur, pasti aku ada kesempatan untuk melarikan diri.”

Tak tersangka Sam-ceng itu juga bukan orang bodoh. Ketika hari sudah gelap, ia suruh Goan-ci menyusup ke tengah semak-semak rumput, ia suruh pemuda itu rebah, sedangkan ia sendiri lantas meringkuk seperti bola dan duduk di atas kerudung besi Yu Goan-ci, tidak lama kemudian ia pun mendengkur.

Sungguh mendongkol dan payah sekali Yu Goan-ci. Ia tahu bila dirinya berani bergerak, pasti padri jahat itu akan terjaga dan akibatnya ia sendiri akan dihajar. Terpaksa ia tahan sedapat mungkin, bayangkan betapa celakanya kalau kepala seseorang ditindih, sedangkan orang yang menindih itu mendengkur seenaknya semalam suntuk. Sebaliknya bila terkadang Sam-ceng menggeser pantat, seketika kepala Goan-ci seakan-akan dipuntir, mukanya yang melekat dengan kerudung besi itu bagaikan disayat-sayat.

Dengan cara begitulah Goan-ci tersiksa hingga esok paginya. Meski Sam-ceng sudah dapat menyambung tulang kakinya yang patah itu, tapi untuk bisa sembuh hingga dapat berjalan paling sedikit kudu sebulan atau dua bulan lagi. Diam-diam Goan-ci mengeluh, apakah selama itu setiap saat dirinya diharuskan menggendong “bola daging” raksasa itu?

Waktu tengah hari, sampailah mereka di suatu kota kecil. Mereka mengaso untuk tangsel perut di suatu kedai bakmi.

Kebetulan Goan-ci lihat seorang belantik kuda lewat di situ dengan menggiring beberapa ekor kuda. Segera ia berkata kepada Sam-ceng, “Thaysuhu, silakan kau beli seekor kuda untuk ditunggangi, bukankah akan jauh lebih cepat daripada perjalananku yang mesti menggendongmu?”

“Ngaco-belo,” bentak Sam-ceng. “Menunggang kuda apakah lebih leluasa daripada digendong orang? Dapatkah kuda membawa aku ke dalam rumah dan menaikkan aku ke ranjang? Dapatkah kuda mengantar aku berak ke kakus?”

Benar juga pikir Goan-ci, maka ia hanya menghela napas dan tidak berkata lagi.

Agar supaya “kuda” tunggangannya dapat berjalan dengan cepat, maka Sam-ceng membiarkan Goan-ci makan sekenyang-kenyangnya. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan lagi. Sore harinya mereka membelok ke selatan. Sepanjang jalan tiba-tiba Sam-ceng memberi khotbah kepada Goan-ci tentang ajaran Buddha, katanya alam ini menciptakan segala makhluk hidup di dunia, apakah orang itu bahagia atau menderita, semua itu sudah ditakdirkan, dan bila seorang berdosa pada jelmaan hidup yang lalu, maka akan terima karma pada hidup yang akan datang dan menjelma menjadi kuda atau kerbau guna tunggangan orang.

Ia perumpamakan Goan-ci, meski tidak dijelmakan menjadi kuda, tapi sudah ditakdirkan menjadi budak, maka itu pun karma, katanya. Untuk itu hidupnya harus mengabdi dengan baik-baik kepada orang, banyak berbuat kebajikan, supaya dalam titisan yang akan datang dapat hidup senang.

Tapi Goan-ci sangat meragukan ocehan hwesio yang lain di mulut lain dalam perbuatan itu. Pikirnya, “Kau sendiri sekaligus telah membunuh dua orang segolonganmu, caramu begitu kejam, bukan mustahil sebelumnya kau pun sudah banyak membunuh orang, tapi sekarang kau bicara tentang berbuat kebajikan apa segala?”

Namun di bawah kekangan orang, terpaksa Goan-ci tak berani mendebat apa-apa. Ia terus menuju ke selatan. Beberapa hari kemudian, hawa udara mulai hangat. Goan-ci mendengar Sam-ceng mencari keterangan pada orang di tepi jalan tentang pantai laut. Diam-diam Goan-ci bergirang, ia pikir, “Baik juga pergi ke laut, di sana ada kapal, dan aku akan terbebas dijadikan kuda tunggangan terus-menerus.”

Selang beberapa hari lagi, lewat tengah hari mereka mengaso dan beli minuman di suatu kedai di tepi jalan, Goan-ci basah kuyup oleh air keringat, berulang ia habiskan beberapa mangkuk air teh dingin, tapi rasa dahaganya masih belum lenyap.

Sekonyong-konyong terdengar suara mangkuk pecah, mangkuk teh yang dipegang Sam-ceng itu jatuh hancur, dengan suara tertahan padri itu berkata kepada Goan-ci dengan rasa khawatir, “Lekas, lekas berangkat!”

Dan belum lagi Goan-ci sempat menaruh mangkuk teh, cepat sekali jari Sam-ceng yang kuat laksana kait baja sudah mencengkeram pundaknya, tubuh yang bundar itu lantas menggemblok di atas punggung Goan-ci.

“Lekas berangkat ke barat, makin cepat makin baik!” bentak Sam-ceng.

Terpaksa Goan-ci berbangkit dan melangkah pergi secepat mungkin. Namun sudah kasip, di sekeliling sudah ramai suara orang mengucapkan sabda Buddha, “Omitohud!”

Karena leher dicekik lagi oleh Sam-ceng, terpaksa Goan-ci berlari sekuatnya ke arah barat. Tapi tahu-tahu dua padri berjubah kuning dengan membawa sian-theng (tongkat padri) sudah mengadang di depannya. Goan-ci miringkan tubuh dan bermaksud menyelinap lewat ke samping, tapi kembali dicegat lagi oleh dua padri jubah kuning yang lain. Menyusul dari berbagai penjuru merubung datang pula padri-padri dengan jubah yang sama, seluruhnya ada delapan orang, semuanya mengacungkan senjata mereka kepada Sam-ceng.

“Ya, sudahlah!” kata Sam-ceng akhirnya. “Para Sute dan Sutit, memang kepandaianmu sangat hebat, akhirnya aku dapat diketemukan kalian. Baiklah, segera aku akan ikut pulang bersama kalian. Nah, setan cilik, boleh kau ikut berangkat dengan mereka!”

Diam-diam Goan-ci mengira padri-padri itu dari Bin-tiong-si, ia pikir sekali ini Sam-ceng pasti tak bisa berkutik lagi, tidak mungkin ia mampu membinasakan kedelapan padri itu sekaligus.

Benar saja, sepanjang jalan Sam-ceng tidak berani bertingkah lagi. Kedelapan padri itu pun tidak mengajak bicara padanya. Namun Goan-ci tetap sengsara, setiap hari ia masih diharuskan menggendong Sam-ceng. Cuma arahnya sekarang menuju selatan dan tidak kembali ke Bin-tiong-si.

Begitulah mereka telah menempuh perjalanan jauh hingga sebulan lebih, karena sudah biasa, Goan-ci tidak merasakan payah lagi. Semula ia pun sering berpikir ke manakah mereka hendak pergi, mengapa terus menuju ke selatan? Tapi lama-kelamaan ia menjadi bosan, ia benar-benar mirip seekor kuda saja, terhadap nasib sendiri dan ke mana padri-padri itu hendak membawanya pergi, sama sekali ia tidak ambil pusing lagi.

Sampai akhirnya, jalan yang mereka tempuh semakin berliku-liku dan terjal, yaitu jalan pegunungan yang sepi dan makin lama makin meninggi.

Lewat tengah hari pada hari itu, akhirnya mereka sampai di depan sebuah kelenteng besar, waktu Goan-ci mendongak, ia lihat pigura pintu kelenteng itu tertulis tiga huruf besar “Siau-lim-si.”

Dahulu Goan-ci juga sering dengar cerita ayah dan pamannya bahwa Siau-lim-si itu adalah sumbernya ilmu silat di daerah Tionggoan, setiap orang sangat berharap dapat belajar di kuil pujaan itu. Namun selama setahun ini Goan-ci sudah kenyang menderita, terhadap segala urusan di luar ia tidak tertarik lagi. Yang diharapkan adalah setiap hari berkurang jalannya dan berkurang digebuk oleh Sam-ceng, hal-hal mana sudah dirasakan puas olehnya. Kini tahu-tahu sampai di Siau-lim-si, semula ia juga tergetar, tapi segera ia hadapi dengan sikap dingin saja. Jika nasibnya tetap begitu, biarpun saat itu ia berada di istana raja juga tidak menarik baginya.

Begitulah beramai-ramai mereka lantas masuk ke ruangan pendopo, seorang padri di situ berkata, “Bawa saja ke Kay-lut-ih (ruang hukuman)!”

Kedelapan padri itu mengiakan, lalu membawa Goan-ci keluar dari pintu samping, melalui sebuah jalan kecil, akhirnya sampai di suatu ruangan yang seram.

Dari ruangan itu keluar seorang padri tua, katanya dengan suara serak, “Atas titah Kay-lut-ih Siuco (kepala ruang hukum), karena tanpa izin Sam-ceng berani turun gunung, lebih dulu supaya dihukum rangket 100 kali dan boleh dilaksanakan dalam sepuluh hari. Habis itu akan diselidiki pula kejahatan yang telah diperbuatnya ketika turun gunung, hukuman akan dijatuhkan nanti sesuai perbuatannya.”

Tanpa bicara lagi segera dua padri yang berada di situ menarik Sam-ceng dan ditiarapkan di lantai.

Seketika Goan-ci merasa enteng punggungnya, ia merasa sangat lega.

Kemudian dilihatnya salah seorang padri yang menangkap Sam-ceng tadi mendekati padri tua itu dan bicara bisik-bisik sejenak sambil tuding-tuding Yu Goan-ci. Padri tua itu tampak manggut-manggut, lalu berkata, “Siaucat she Yu itu membantu Sam-ceng melarikan diri hingga merusak tata tertib kita, ia pun dihukum rangket 100 kali, hukuman lain akan dijatuhkan pula jika kesalahan telah diketahui.”

Segera seorang padri mengetuk punggung Goan-ci sambil membentak, “Lekas tiarap untuk terima hukuman!”

Sedikit pun Goan-ci tidak membangkang, segera ia tiarap. Pikirnya, “Apa yang kalian hendak perbuat atas diriku, boleh silakan berbuat sesukamu. Kalian mengatakan aku bersalah, buat apa aku membantah?”

Dalam pada itu si padri tua lantas masuk ke ruangan dalam sesudah memutuskan hukuman tadi. Menyusul keluarlah empat padri lain, mereka terus menyeret Sam-ceng dan Goan-ci ke dalam ruangan hukuman yang luas. Beberapa padri di antaranya terus membekuk Sam-ceng, sedangkan tongkat kayu lantas menggebuk pantatnya. Setelah genap 30 kali Sam-ceng dirangket, kemudian menjadi giliran Goan-ci.

Goan-ci merasakan ke-30 kali rangketan itu jauh lebih keras daripada rangketan kepada Sam-ceng tadi. Diam-diam ia penasaran, ia percaya padri-padri pelaksana hukuman itu berat sebelah, sudah tentu mengeloni sesama kawan sendiri.

Keruan 30 kali rangketan itu membikin pantat Goan-ci babak belur dan “berbunga”, darah berceceran membasahi celananya. Selang tujuh hari, belum lagi lukanya itu sembuh, kembali ia dihajar lagi sehingga genap 100 kali rangketan.

Kemudian seorang padri mengumumkan padanya, “Siaucat she Yu diputuskan kerja paksa di kebun sayur, di sana harus menginsafi dosanya yang telah dibuatnya supaya diampuni Buddha yang mahakasih!”

Dengan limbung Goan-ci turut saja segala keputusan itu, ia ikut padri itu ke kebun sayur dan menghadap padri pengurus.

Padri pengurus kebun sayur itu bernama Yan-kin. Perawakannya kurus kecil, mukanya sempit mirip kunyuk, dua biji gigi depannya sudah rontok hingga kalau bicara selalu bocor.

Ia sangat ketarik demi melihat kerudung besi aneh yang dipakai Yu Goan-ci itu. Ia duduk bertumpang kaki di sebuah bangku panjang seraya menanyakan asal usul pemuda itu.

Sudah tentu Goan-ci tidak sudi berterus terang hingga nama baik ayah dan pamannya ikut tercemar. Maka ia mengaku seorang desa biasa yang ditawan oleh orang Cidan hingga banyak menderita sengsara.

Dasar Yan-kin itu memang ceriwis, ia suka bicara yang tidak-tidak dan bertanya secara melilit, segala tetek bengek juga ditanyakan hingga jelas. Namun Goan-ci sudah bertekad tidak mau mengaku terus terang, jika didesak, maka ia hanya menjawab dengan singkat saja antara, “Ya. Tidak! Entah!”

Keruan Yan-kin kewalahan. Tapi ia masih tidak mau sudah, meski sudah waktunya makan, ia tidak makan tapi tanya terus. Tentu saja Goan-ci mendongkol tak terkatakan.

Dan sesudah benar-benar tidak dapat mengorek sesuatu pengakuan apa-apa dari Goan-ci akhirnya Yan-kin berkata, “Baiklah, sekarang boleh mulai kerja. Pikul dulu 20 pikul kotoran untuk rabuk tanaman sayur. Ingat, di sini tidak boleh malas. Kau sudah bicara setengah harian di sini, kerjamu nanti harus lebih giat untuk menambah tempo yang terbuang ini.”

Goan-ci mengiakan saja, tapi dalam hati ia menggerutu, “Kau sendiri yang cerewet dan bertanya tidak habis-habis, tapi aku yang disalahkan!”

Walaupun tak diberi makan, luka rangketan di pantatnya belum sembuh pula, namun Goan-ci menahan semua derita itu dan tetap memikul kotoran untuk merabuk tanaman.

Kebun sayur Siau-lim-si itu sangat luas, kira-kira ada sepuluh hektare. Para padri pekerja, kuli-kuli tetap dan sambilan seluruhnya ada 38-40 orang.

Sebagai orang baru, pula memakai kerudung besi yang aneh, maka Goan-ci menjadi sasaran ejekan dan bulan-bulanan mereka, segala pekerjaan yang kotor dan kasar selalu diserahkan padanya.

Sesudah mengalami penderitaan selama ini, makin lama pikiran Goan-ci makin bebal, terhadap segala apa dianggapnya sepi saja, bahkan perbedaan antara suka dan duka juga sudah kabur baginya. Ia terima saja semua ejekan dan hinaan orang, ia hidup tanpa tujuan dan sekadar melewatkan waktu saja. Hanya dalam mimpi saja terkadang ia masih ingat kepada A Ci.

Suatu petang hari, sehabis memberi rabuk tanaman, Goan-ci merasa sangat capek. Ia dengar genta tanda waktu makan sudah berbunyi. Segera ia menuju ke ruangan makan bagi para pekerja kasar. Tiba-tiba didengarnya Yan-kin memanggil, “A Yu, antarkan semangkuk nasi ini kepada Suhu yang berada di rumah kecil di tengah hutan bambu itu. Dia sakit, tak dapat bangun.”

Goan-ci mengiakan, semangkuk penuh terisi nasi dibawanya ke hutan bambu melalui sebuah jalan kecil. Hutan bambu itu sangat luas, sampai sekian lama masih belum tembus. Ia lihat di tengah hutan yang rindang itu ada sebuah rumah batu kecil, ia dekati pintu rumah dan memanggil dari luar, “Suhu! Suhu! Aku mengantarkan nasi untukmu!”

Ia dengar ada suara sahutan orang yang lirih di dalam rumah. Segera Goan-ci mendorong pintu dan masuk ke dalam. Ia lihat di atas tikar yang digelar di tanah itu rebah seorang menghadap ke dinding. Di dalam rumah tiada ranjang, tiada meja, tiada kursi dan sebagainya, yang ada melulu tikar yang dibuat tidur itu di samping sebuah kendi air.

“Ini nasi untukmu, Suhu!” demikian Goan-ci menyapa pula.

Tapi orang itu menjawab, “Aku tidak lapar, tidak mau makan, bawalah kembali!”

Suaranya kedengaran berat dan selama bicara pun tidak berpaling. Dan karena orang menyatakan tidak mau makan, tanpa rewel Goan-ci lantas membawa kembali nasi itu kepada Yan-kin.

Besok siangnya, kembali Yan-kin menyuruh dia mengantarkan nasi lagi kepada orang itu dan orang itu tetap tidak mau makan.

Begitulah berturut-turut empat-lima hari Goan-ci disuruh mengantar nasi kepada orang itu dan orang itu tetap tidak mau makan, bahkan berpaling juga tidak pernah.

Goan-ci sekarang sudah ibarat orang yang tak punya otak, meski kelakuan orang itu agak luar biasa, sedikit pun ia tidak menaruh perhatian.

Siapakah orang itu? Mengapa tidak mau makan nasi? Apakah tidak mati kelaparan? Semua itu ia tidak ambil pusing. Cukup asal ia lakukan kewajibannya saja. Bila Yan-kin suruh ia antar nasi, dia lantas antar nasi. Orang itu menyatakan tidak mau makan, ia lantas bawa kembali. Habis perkara.

Sampai hari kelima, kembali ia antar nasi lagi dan orang itu tetap menyatakan, “Aku tidak lapar, tidak mau makan, bawalah kembali!”

“Baik!” sahut Goan-ci dengan dingin seperti biasa. Lalu putar tubuh keluar dari rumah batu kecil itu.

Di luar dugaan, sekali ini mendadak orang itu melompat bangun dari tikarnya, segera lengan Goan-ci dicengkeram olehnya sambil memaki, “Kau ini sungguh seorang yang tidak punya perasaan….”

Baru sekian ucapannya tiba-tiba ia berseru heran ketika melihat kerudung besi di atas kepala Yu Goan-ci itu.

Sebaliknya sekarang Goan-ci juga dapat melihat jelas muka orang, yaitu seorang padri yang kurus lagi hitam, matanya celung dan hidungnya panjang, dari mukanya itu dapat dipastikan bukanlah padri bangsa Tionghoa. Mukanya penuh keriput pula, namun susah untuk menaksir usianya.

“Barang apakah di atas kepalamu ini?” demikian tanya padri itu.

“Kerudung besi!” sahut Goan-ci.

“Siapa yang memasangnya untukmu?”

“Orang Cidan!”

“Kenapa tidak dilepaskan?”

“Tidak dapat dibuka!”

“Selama empat hari beruntun aku tidak makan, kenapa kau tidak peduli dan juga tidak minta Ti-khek-ceng (padri urusan tamu) menjenguk diriku atau memanggilkan tabib, apa alasanmu?” demikian tanya padri itu. Meski dia bangsa barat, tapi sangat fasih berbahasa Tionghoa.

“Apakah engkau akan mati atau hidup, peduli apa dengan aku?” sahut Goan-ci ketus.

Keruan padri asing itu menjadi gusar, sekali sambar, segera pundak Goan-ci dicengkeramnya. Seketika Goan-ci merasa tulang pundaknya sakit sekali seakan-akan remuk, tapi ia sudah biasa menahan sakit, dia tidak melawan, juga tidak meronta, bahkan juga tidak mengeluh. Ia anggap sepi saja siksaan itu.

Tentu saja padri asing itu terheran-heran. “Kau merasa sakit tidak?” tanyanya.

“Sakit atau tidak, sangkut paut apa dengan aku?” sahut Goan-ci.

Padri itu tambah heran, tanyanya, “Mengapa ‘tiada sangkut paut’, apakah tulang pundak ini bukan punyamu? Kalau perlu akan kuremas lebih keras supaya tulangmu hancur!”

Habis berkata, benar juga ia meremas terlebih kuat.

Keruan Goan-ci meringis-ringis. Tapi meski badan tersiksa, jiwanya boleh dikata sudah mati rasa. Ia tidak melawan, juga tidak minta ampun. Dalam hati ia hanya berpikir, “Mungkin sudah takdir tulang pundakku ini akan diremas hancur olehnya, apa yang perlu kukatakan lagi?”

Dan padri asing itu menjadi kewalahan sendiri, akhirnya ia merasa kagum juga oleh keteguhan jiwa pemuda itu. Katanya kemudian, “Bagus, bagus! Hanya seorang pesuruh dalam Siau-lim-si saja sudah sehebat ini. Boleh kau pergi saja!”

Maka dengan membawa mangkuk nasi itu Goan-ci tinggalkan hutan bambu itu. Ternyata di tengah jalan ia sudah ditunggu oleh Yan-kin. Dengan tertawa dingin Yan-kin berkata padanya, “A Yu, kejadian di Bin-tiong-si telah terbongkar, ayolah ikut ke Kay-lut-ih!”

Mendengar “Bin-tiong-si” disebut, Goan-ci pikir tentu Sam-ceng telah memperoleh bukti-bukti tentang dicurinya ulat sutra itu, jika demikian, terang tak bisa menyangkal lagi, terpaksa harus pasrah pada nasib.

Setiba di Kay-lut-ih, ia lihat padri tua yang pertama kali diketemukan di ruang hukum itu juga berdiri di situ, dengan tawar padri itu berkata, “Yu Goan-ci, menurut pengakuan Sam-ceng, katanya segala kejahatan yang terjadi di Bin-tiong-si itu adalah perbuatanmu, betul tidak?”

“Benar, memang perbuatanku,” sahut Goan-ci tanpa pikir.

Padri tua itu agak heran juga mendengar pengakuan terus terang itu, katanya pula, “Jika kau sendiri sudah mengaku salah, aku pun tidak perlu bikin susah padamu. Tentang hukuman rangket akan kubatalkan. Sekarang pergilah ke Cian-hwe-pang (kamar bertobat), hendaknya direnungkan dengan baik-baik, habis itu nanti memberi jawaban padaku.”

Segera Yan-kin membawa Goan-ci ke belakang Kay-lut-ih, yaitu suatu pekarangan kosong, di tengah pekarangan terdapat empat pilar batu berbentuk persegi, pilar batu itu besar-besar dan berdiri berjajar.

Ketika Yan-kin menarik salah satu pilar batu itu, maka terbukalah sebuah pintu. Kiranya dalam pilar besar itu berwujud sebuah kamar batu yang sempit. Segera Yan-kin suruh Goan-ci masuk ke dalam kamar batu itu, lalu pintunya ditutup.

“Cian-hwe-pang” atau kamar bertobat itu daripada dikatakan sebagai “kamar” adalah lebih tepat dikatakan sebuah peti mati batu yang ditegakkan. Berada di dalam peti batu itu, jangankan hendak duduk, bahkan berputar tubuh pun Goan-ci merasa sukar.

Di atas peti batu itu terdapat dua lubang kecil sekadar sebagai jalan hawa. Katanya di dalam hati, “Apa sih yang harus kurenungkan? Apa sih yang harus kutobatkan?”

Pada saat itu juga, tiba-tiba didengarnya ada suara jeritan melengking bagai babi hendak disembelih, suara itu tembus masuk melalui lubang angin kecil itu. Ia kenal itulah suara Sam-ceng. Terdengar padri buntak itu lagi berteriak, “Jangan! Jangan! Badanku segemuk ini mana dapat masuk ke dalam Cian-hwe-pang?”

Tapi padri tua Kay-lut-ih berkata, “Menurut peraturan biara kita selama ribuan tahun ini, setiap murid yang berdosa harus bertobat di dalam Cian-hwe-pang. Nah, masuklah, lekas!”

“Tapi… tapi badanku segede ini mana bisa dijejalkan ke situ?” bantah Sam-ceng dengan khawatir.

Goan-ci merasa geli juga bila membayangkan badan Sam-ceng yang bulat laksana bola itu.

Dalam pada itu terdengar si padri tua sedang berkata dengan ketus, “Peduli badanmu gede atau tidak. Pendek kata kau harus masuk ke situ. Ayolah dorong dia ke dalam dan tutup pintunya!”

Lamat-lamat terdengar beberapa orang mulai mendorong dan menggencet, sebaliknya terdengar Sam-ceng berteriak-teriak. Tapi padri tua itu sedikit pun tidak kenal ampun, dengan tegas ia laksanakan hukum biara.

“Biar akan kulaporkan kepada Hongtiang bahwa kalian menganiaya diriku, kalian sungguh kejam, masakah badanku segemuk ini kalian paksa dan jejalkan ke dalam kamar ba… auuh! Wah, celaka….” demikian Sam-ceng berteriak-teriak dan menjerit.

Tapi si padri tua tidak ambil pusing, katanya, “Ayo dorong lebih keras sedikit, cepat! Satu, dua, tiga!”

“Ai, baunya! Sampai ampasnya juga tergencet keluar!” tiba-tiba salah seorang padri yang ikut mendorong itu berseru sambil pencet hidung sendiri.

“Tak apa, lekas dorong lagi! Nah sudah masuk sebagian besar, tinggal kurang sedikit. Ayo, dorong lebih keras!” demikian kata si padri tua.

Begitulah, sesudah didorong dan digencet secara paksa oleh orang banyak, akhirnya badan Sam-ceng yang gede itu kena dijejalkan ke dalam peti batu itu walaupun sampai terkencing-kencing dan terberak-berak.

Sam-ceng sendiri sudah lemas, sedikit pun tidak kuat melawan lagi. Ia menangis terguguk-guguk.

Diam-diam Goan-ci heran juga, peti batu sedemikian sempitnya, tapi badan Sam-ceng yang bulat buntak itu ternyata dapat dijejalkan ke dalamnya.

Sekonyong-konyong terdengar Sam-ceng berteriak-teriak, “Keluarkan aku, keluarkan aku! Aku akan mengaku, aku tak berani menyangkal lagi!”

“Kau boleh mengaku dahulu, kemudian kulepaskan kau!” ujar si padri tua.

“Ya, aku… aku telah mencuri 33 tahil perak di Bin-tiong-si sana untuk membeli arak, aku pernah menyembelih tiga ekor anjing, pernah membunuh tujuh orang hwesio dan tiga orang biasa, aku… aku juga punya…punya gendak di luar dan… dan berjudi segala.”

“Tadi kau bilang semua itu adalah perbuatan Thi-thau-jin itu?” kata si padri tua.

“O, ya, ya, memang perbuatan Thi-thau-jin itu dan bukan perbuatanku, aku lupa!”

“Ah, rupanya pikiranmu masih kacau, boleh kau mengaso sehari semalam dulu di dalam kamar batu ini, kalau besok pikiranmu sudah jernih, bolehlah kau bicara lagi,” kata si padri tua.

“He, he! Jangan, jangan! Satu jam saja pasti aku akan mati gepeng di sini!” seru Sam-ceng. “Baiklah, aku akan mengaku terus terang. Memang semua itu adalah perbuatanku.”

“Lalu perbuatan jahat apa yang dilakukan Thi-thau-jin itu?” tanya si padri tua.

“O, dia… dia hanya mencuri houlo dan minum arakku,” sahut Sam-ceng.

“Adakah perbuatan lainnya?” si padri tua menegas.

“Aku… aku tidak tahu. Lekas… lekas keluarkan aku!” teriak Sam-ceng sambil terengah-engah.

“Hah, kau pintar memfitnah orang juga,” ujar si padri tua. “Nah, keluarkan dulu Thi-thau-jin itu.”

Segera padri yang lain mengiakan dan membuka pintu kamar batu, Yu Goan-ci lantas ditarik keluar.

Dari celah-celah pintu batu Goan-ci dapat melihat daging Sam-ceng yang gemuk itu sampai mencotot keluar. Coba kalau kamar batu itu buatan dari kayu, tentu kamar itu akan pecah sendiri. Lalu si padri tua berkata kepada Goan-ci, “Tentang kejadian di Bin-tiong-si itu kini Sam-ceng sudah mengaku semua. Kenapa tadi kau tidak mau menjelaskan duduknya perkara?”

“Ya, apa mau dikatakan lagi?” sahut Goan-ci sambil angkat pundak.

“Sebenarnya kau pernah berbuat kejahatan tidak?” tanya si padri pula.

“Hidupku ini ternyata banyak rintangan dan kenyang derita, mungkin karma, karena hidupku pada jelmaan yang lalu banyak berbuat kejahatan,” sahut Goan-ci.

Mendengar itu, si padri tua merasa puas, ia merasa rikuh juga karena orang tak berdosa telah dibikin susah. Maka ia lantas pesan Yan-kin, “Jiwa Thi-thau-jin ini ternyata sangat baik. Padri asing Polo Singh itu sedang sakit, boleh kau suruh Thi-thau-jin ini khusus meladeni dia, tidak perlu suruh dia bercocok tanam lagi di kebun.”

Yan-kin mengiakan atas perintah itu.

“Wah, matilah aku! Lekas keluarkan aku!” demikian terdengar Sam-ceng lagi berteriak-teriak. Terdengar pula suara pletak dan pletok, keriang dan keriut, kiranya seluruh tulang badan Sam-ceng itu tergencet, tatkala saling gesek, maka mengeluarkan suara.

Mendengar suara itu, Goan-ci menduga tulang iga Sam-ceng tentu telah patah beberapa buah.

“Aku sudah mengaku semua, mengapa belum melepaskan aku? Bukankah… bukankah kalian dusta belaka?” demikian Sam-ceng menggembor pula.

Segera Yan-kin suruh Goan-ci menjura kepada padri tua pelaksana hukuman itu untuk mengaturkan terima kasih karena memberikan pekerjaan ringan kepadanya.

Bagi Goan-ci sebenarnya sudah tidak kenal terima kasih apa segala kepada orang lain. Ia pun tidak merasakan apa faedahnya ia ditugaskan melayani si padri asing yang bernama Polo Singh itu. Tapi karena disuruh Yan-kin, ia hanya menurut saja, ia berlutut dan mengaturkan terima kasih.

Lalu Yan-kin membawanya ke rumah kecil tempat tinggal Polo Singh di hutan bambu itu. Padri asing itu masih tetap rebah menghadap dinding, sama sekali tidak peduli kepada kedatangan mereka.

Sampai waktunya makan siang, seperti biasa Goan-ci mengantarkan nasi kepada Polo Singh. Tapi padri itu menyatakan tidak mau makan, lalu tidak gubris lagi padanya.

Dua hari berturut-turut keadaan begitu berlangsung terus, suara Polo Singh makin lama makin lemah. Ketika Ti-khek-ceng mendapat tahu, datanglah dia untuk menjenguk. Habis itu belasan hwesio tua juga berturut-turut datang. Goan-ci melayani di samping, ia dapat mendengar Ti-khek-ceng memperkenalkan nama-nama padri tua itu sebagai kepala ruang Lo-han-tong, Tat-mo-ih, Kay-lut-ih, dan lain-lain beserta wakil-wakilnya. Nyata padri-padri tua itu adalah gembong-gembong Siau-lim-si.

Diam-diam Goan-ci menaksir Polo Singh itu tentu bukan orang sembarangan, ditilik dari sikap para padri Siau-lim-si yang sedemikian menghormatinya.

Sampai beberapa hari penyakit Polo Singh masih belum sembuh, terkadang ia pun mau makan sedikit bubur, tapi tak bisa bangun, setiap hari hanya rebah dengan menghadap dinding. Untung sifat Polo Singh cukup ramah hingga Goan-ci tidak tersiksa.

Selang dua hari lagi, mendadak Polo Singh merintih-rintih keras di tengah malam, ia sesambatan menyatakan kepalanya sakit seakan-akan pecah. Ia terguling-guling di lantai sambil memegangi kepala sendiri.

Goan-ci menjadi bingung, cepat ia lapor kepada Yan-kin, lalu Yan-kin mengundang seorang padri tabib dari Jing-kian-ih (ruang kesehatan) untuk memeriksa penyakit Polo Singh. Sesudah ditusuk jarum dan diberi obat segala, sampai pagi hari baru keadaannya rada tenang.

Penyakit Polo Singh itu beruntun-runtun kumat lagi beberapa kali, hingga padri tabib dari Jing-kian-ih geleng-geleng kepala dan menyatakan, “Padri asing ini menderita semacam penyakit aneh dari negeri Thian-tiok yang tak terdapat di sini, tampaknya sukar untuk disembuhkan.”

Keadaan Polo Singh makin lama makin lemah. Suatu kali ia bangun hendak buang air, tapi mendadak kaki terasa lemas dan jatuh terjungkal, kepala sampai bocor membentur dinding. Ketika para hwesio tua mendapat tahu, beramai-ramai mereka datang menjenguk lagi.

Begitulah penyakit Polo Singh itu makin payah hingga lebih sebulan lamanya.

Malam itu, mungkin pada siang harinya Goan-ci terlalu banyak gegares rujak atau gado-gado, maka tengah malam mendadak ia sakit perut dan kecirit. Lekas-lekas ia berlari-lari ke tengah hutan bambu untuk kuras perut.

Habis kadahajat, selagi ia membetulkan celananya, di bawah sinar bulan sekonyong-konyong dilihatnya dari bawah tanah di tempat beberapa meter jauhnya sana menongol sebuah kepala manusia. Keruan Goan-ci kaget setengah mati dan hampir menjerit karena disangkanya ada setan.

Syukur sebelum ia bersuara, dengan cepat kepala itu sudah menerobos ke atas hingga kelihatan seluruh tubuhnya. Goan-ci melongo ketika mengetahui orang itu adalah Polo Singh. Sungguh sukar untuk dimengerti, Polo Singh yang sakitnya sudah payah, bergerak saja susah, tahu-tahu sekarang berubah sedemikian tangkasnya. Begitu ia menerobos keluar dari bawah tanah, “siuut”, segesit kucing ia terus meloncat ke atas pohon bambu.

Tentu saja Goan-ci terheran-heran, “Jadi selama ini ia hanya pura-pura sakit saja. Tapi mengapa ia dapat menerobos keluar dari bawah tanah? Dan kini hendak ke mana?”

Dalam pada itu pohon bambu tampak berkeresek sedikit, tahu-tahu Polo Singh sudah melayang dari pohon bambu ini ke pohon bambu yang lain segesit kera. Ketika pohon bambu itu menyendal, seketika tubuh Polo Singh melayang lebih jauh lagi ke arah barat laut sana dengan cepat.

Coba kalau Goan-ci tidak menyaksikan sendiri, tentu ia takkan menyangka di atas pohon bambu itu ada orang menghinggap. Mestinya Goan-ci sudah apatis terhadap segala apa pun. Namun betapa pun juga dia masih muda, rasa ingin tahunya belum lenyap seluruhnya.

Segera ia pun tertarik oleh kejadian itu. Ia coba periksa tempat di mana Polo Singh menongol tadi. Kiranya di situ terdapat sebuah lubang, di samping lubang ada sebuah papan yang diuruk tanah dan daun kering.

Nyata papan itu adalah penutup lubang, jika Polo Singh menerobos masuk lubang itu, lalu ia tutup kembali papan itu hingga tak terlihat lagi dari atas. Apalagi tempat itu pun jarang didatangi orang.

“Lubang ini entah tembus ke mana? Coba kumelihatnya,” demikian pikir Goan-ci. Segera ia pun menerobos ke dalam lubang tanah itu laksana gangsir.

Tak terduga lorong di bawah tanah itu ternyata sangat cekak. Baru ia merangkak beberapa meter, tahu-tahu ia lantas menyusup ke atas. Waktu Goan-ci menongol ke permukaan tanah, tiba-tiba ia merasa geli sendiri.

Kiranya tempat ia berada sekarang adalah tempat tidur Polo Singh sehari-hari itu. Lubang yang dipakai masuk-keluar itu tertutup oleh tikar, sehari-hari Polo Singh rebah di atas tikar itu hingga siapa pun tiada yang menyangka bahwa di bawah tikar terdapat sebuah lubang gangsir raksasa.

Diam-diam Goan-ci membatin, “Polo Singh ini sangat aneh kelakuannya, entah ke mana dia sekarang?”

Karena tertarik, segera Goan-ci mendatangi pula hutan bambu itu menurut arah yang dituju Polo Singh tadi. Lamat-lamat ia merasa tingkah laku padri asing secara sembunyi-sembunyi seperti maling khawatir kepergok itu tentu mempunyai sesuatu maksud tujuan tertentu. Dan kalau sekarang ia mengetahui rahasia perbuatannya, bila ketahuan, pasti padri asing itu takkan mengampuni jiwanya.

Begitulah, dari jauh ia lihat Polo Singh masih hinggap di atas pohon bambu. Segera Goan-ci merayap maju, sesudah agak dekat, ia tidak berani maju lagi.

Selang tak lama, tiba-tiba rembulan tertutup oleh segumpal awan tebal hingga keadaan menjadi gelap. Mendadak terdengar suara angin mendesir, bambu yang dihinggapi Polo Singh tadi tampak mental sekali dan tahu-tahu padri asing itu melompat ke tengah semak-semak pohon di depan sana.

Melihat ginkang orang sedemikian lihainya, Goan-ci sampai ternganga kagum, ia tidak berani mengintai lebih jauh lagi, cepat ia kembali ke kamarnya untuk tidur.

Tidak lama kemudian, tiba-tiba terdengar di sebelah kamar Polo Singh ada suara orang mendengkur, terang padri itu sudah kembali. Diam-diam Goan-ci bersyukur dirinya kembali lebih dulu hingga tidak sampai diketahui.

Besok paginya waktu Goan-ci bangun, ia lihat Polo Singh masih tetap rebah menghadap dinding dan pura-pura tambah payah keadaan sakitnya.

Goan-ci tidak omong apa-apa, ia ambil cangkul dan pergi ke hutan bambu itu untuk mencari anak buluh atau rebung. Ia mendatangi semak-semak pohon tempat Polo Singh menyusup semalam.

Tapi baru beberapa meter ia masuk ke daerah situ, tiba-tiba dari balik pohon sana muncul seorang hwesio dan membentaknya dengan suara bengis, “Ada apa kau datang ke Cong-keng-lau (gedung perpustakaan) ini?”

“O, aku… aku sedang mencari rebung,” sahut Goan-ci.

“Pergi, lekas pergi dari sini! Kalau tidak ada izin dari Hongtiang, sekali-kali tidak boleh mendekati Cong-keng-lau,” kata padri itu sambil memberi tanda agar Goan-ci lekas enyah.

Berulang Goan-ci mengiakan, lalu kembali ke hutan bambu untuk memotong rebung. Pikirnya, “Kiranya di semak-semak pohon sana adalah tempat Cong-keng-lau, tanpa izin Hongtiang siapa pun dilarang mendekati. Jika begitu, semalam diam-diam Polo Singh telah menyelundup ke dalam Cong-keng-lau, apakah dia sengaja datang ke sana untuk mencuri kitab?”

Setelah mengetahui sebabnya Polo Singh pura-pura sakit dan menggangsir, tujuannya ternyata melulu ingin menyelundup ke Cong-keng-lau, maka Goan-ci tidak menaruh perhatian lagi. Sesudah mengumpulkan sekeranjang rebung, lalu ia membawanya ke kebun untuk diserahkan kepada Yan-kin.

“Ya, harus beginilah, kerjalah yang giat, supaya tidak sia-sia aku mendidikmu selama ini,” demikian Yan-kin memuji. “Nah, bawalah ke dapur sana!”

Goan-ci mengiakan dan membawa rebung itu ke dapur. Di sana padri koki sedang masak suatu kuali besar kuah sayur. Segera padri koki itu mencidukkan semangkuk kuah itu untuk Goan-ci. Kemudian mengisi semangkuk kuah pula dan suruh Goan-ci mengantarkan untuk Polo Singh.

Maka dengan membawa semangkuk kuah itu Goan-ci datang ke kamar Polo Singh. Tapi hwesio itu tetap tidak mau minum.

Kuah itu bukan sembarang kuah, di dalam kuah itu terdapat hio-koh (jamur kuping) yang wangi, terdapat kim-can (jarum mas, sejenis tumbuhan), sawi putih, rebung, dan sebagainya hingga mengeluarkan bau sedap yang membangkitkan selera makan orang.

Polo Singh tidak tahan juga oleh bau sedap kuah itu, tiba-tiba ia berkata, “Baiklah, coba kuminum sedikit!”

Dengan pura-pura tak bisa berbangkit, ia terima mangkuk kuah itu dengan tetap rebah miring. Ketika ia taruh mangkuk kuah itu di lantai, sekilas Goan-ci melihat kuah di dalam mangkuk yang bening itu mencerminkan bayangan sebagian kitab yang bertulisan aneh.

Hati Goan-ci tergerak, “Huruf-huruf asing itu agaknya mirip benar dengan tulisan dalam kitabku itu. Kiranya setiap hari Polo Singh ini rebah di sini sebenarnya lagi membaca kitab yang bertulisan aneh ini. Ah, tahulah aku sekarang, kiranya tengah malam buta ia menyelundup masuk ke Cong-keng-lau tujuannya juga untuk mencuri kitab tulisan asing ini untuk dibacanya.”

Tapi sesudah dipikir pula bahwa hwesio memang seharusnya liam-keng (membaca kitab suci), dengan sendirinya padri asing juga mesti membaca kitab bertulisan asing, ini adalah jamak, maka Goan-ci tidak merasa heran lagi, ia pikir mungkin orang asing ini memang suka main sembunyi-sembunyi seperti maling, maka untuk selanjutnya ia pun tidak menaruh perhatian lagi kepala Polo Singh.

Kira-kira sebulan kemudian, pada suatu malam, selagi Goan-ci tidur dengan nyenyaknya, tiba-tiba ia terjaga bangun oleh cahaya yang sangat terang. Waktu ia memandang, ia lihat cahaya terang itu tembus keluar dari kamar Polo Singh di sebelah. Cahaya itu menyilaukan mata, berpuluh kali lebih terang daripada cahaya lilin yang biasanya terpasang di kamar Polo Singh.

Sudah tentu Goan-ci sangat heran. Ia coba mengintip melalui sela-sela dinding. Tapi ia jadi terkejut mengetahui apa yang berada di kamar sebelah itu.

Kiranya dalam kamar Polo Singh itu sedang bersila lima hwesio tua, semuanya berkasa (kasa=jubah padri) merah. Tiga di antara kelima padri tua itu dikenal Goan-ci, karena pernah datang menjenguk Polo Singh. Goan-ci tahu kedudukan para padri tua itu sangat tinggi dalam Siau-lim-si.

Kelima padri tua itu duduk mengitar di atas tikar, tikar yang biasa dibuat tidur Polo Singh itu sudah tersingkap hingga kelihatan lubang di bawah tanah. Polo Singh sendiri tidak kelihatan di situ. Goan-ci menduga padri asing itu pasti pergi mencuri kitab lagi, dan sekali ini maling itu pasti akan tertangkap tangan.

Waktu Goan-ci perhatikan kelima padri tua itu, ia lihat tangan kanan setiap orangnya terangkat di depan dada dengan memegang serenceng tasbih, namun biji tasbih itu tidak bergerak sebagaimana biasanya kalau hwesio sedang membaca kitab, tapi telapak tangan setiap orang itu terbuka menghadap ke depan, mengarah lubang di tanah yang digali Polo Singh itu.

Sebenarnya Goan-ci tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Polo Singh, cuma sejak ia ditugaskan melayani padri asing itu, ia tidak pernah menderita siksaan lagi, maka ia harap keadaan demikian bisa berlangsung terus. Kini melihat kepungan kelima padri tua Siau-lim-si, mau tak mau Goan-ci berkhawatir bagi Polo Singh, tapi lamat-lamat ia merasa tertarik juga karena bakal menyaksikan suatu pertunjukan yang hebat.

Tidak lama kemudian, sekonyong-konyong lengan baju kiri kelima padri tua itu mengibas serentak, api lilin dalam kamar itu menjadi tertekan oleh angin kibasan itu, tapi segera sumbu api itu menyala lagi hingga bertambah terang kelihatannya.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

4 Comments »

  1. Terima kasih untuk sambungan pendekar negeri taylinya, jilid 47nya koq tdk ada? Terima kasih

    Comment by an — 29/05/2009 @ 3:08 pm

  2. Sory Mas An. Jilid 47 terlewati. Sudah dikoreksi, kok.

    Comment by ceritasilat — 01/06/2009 @ 1:39 pm

    • Terima kasih untuk jilid 47 & yg berikutnya. GBU

      Comment by an — 01/06/2009 @ 2:01 pm

  3. Terima kasih kembali, Mas An.

    Comment by ceritasilat — 09/06/2009 @ 2:32 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: