Kumpulan Cerita Silat

25/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 45

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:38 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

“Hihihi, paling-paling kepalamu akan ikut gepeng saja, apanya sih yang kau ributkan?” demikian A Ci memotong dengan tertawa. “Ai, kau anak busuk ini memang suka rewel, dasar mukamu memang juga jelek, andaikan kepalamu nanti penjol toh tetap terbungkus di dalam topeng, masakah orang bisa tahu?”

“Aku tidak…”

“Kau tidak mau menurut? Baik, Sili, jebloskan dia saja ke dalam kerangkeng itu untuk umpan singa!” segera A Ci memotong sebelum selesai Goan-ci berkata.

Keruan Goan-ci serbarunyam, ia pikir daripada mati konyol menjadi isi perut singa, lebih baik coba-coba peruntungan saja dengan memasukkan kepala ke dalam kerangkeng itu. Maka cepat ia berteriak, “Nanti dulu, Nona! Baiklah aku menurut!”

“Nah, beginilah baru pintar!” ucap A Ci dengan tertawa. “Ingat, lain kali jangan sekali-kali membangkang, apa yang kukatakan harus segera dilakukan, kalau rewel, hm, biar kau tahu rasa nanti. Sili, hukum dia dengan 30 kali cambukan!”

Kapten Sili mengiakan. Segera ia pinjam cambuk kulit dari si penjinak singa. “Tarr”, kontan ia sabet punggung Goan-ci.

Karena kesakitan Goan-ci sampai menjerit.

“Badut besi,” kata A Ci, “kalau kusuruh orang menghajarmu, itu menandakan aku menghargaimu. Tapi kau gembar-gembor malah, apakah kau tidak suka dihajar?”

“O, suka, tentu suka, terima kasih atas kebaikan Nona!” demikian cepat Goan-ci menjawab.

“Baik. Nah hajar lagi!” seru A Ci.

“Tar, tar, tarr!” segera Kapten Sili menyabet lagi belasan kali. Dengan mengertak gigi Goan-ci bertahan sekuatnya, walaupun sakitnya sebenarnya sampai merasuk tulang, sama sekali ia tidak merintih lagi.

Sebaliknya A Ci kurang puas karena dia diam saja. Katanya pula, “He, badut besi, kau bilang senang dihajar, bukan?”

“Ya, Nona!” sahut Goan-ci.

“Benar-benar suka, bukan dusta? Jangan-jangan kau sengaja menipu aku?”

“Sungguh-sungguh, masakah aku berani menipu Nona!”

“Jika kau benar-benar senang, mengapa kau tidak tertawa? Mengapa tidak menyatakan kepuasanmu atas hajaran itu?”

Rupanya sudah terlalu banyak tersiksa hingga nyalinya pecah, maka Goan-ci menjadi lupa pada artinya murka. Apa yang dikatakan gadis cilik itu ia selalu menurut saja, katanya segera, “Ya, Nona sangat baik padaku, maka menyuruh orang-orang menghajarku, sungguh aku merasa sangat puas!”

“Nah, beginilah baru mendingan,” kata A Ci. “Coba sekarang!”

Segera ia beri tanda, Kapten Sili lantas mengayun cambuk lagi. “Tar”, kembali punggung Goan-ci kena disabet.

“Hahahaha!” benar juga sekali ini Goan-ci terbahak-bahak. Katanya, “Puas sekali aku! Terima kasih Nona!”

“Tarr!” kembali pecut berbunyi dan Goan-ci berkata pula, “Terima kasih atas budi pertolongan jiwaku, Nona! Cambukan ini sungguh sangat memuaskan!”

“Tar, tar!” begitulah berturut-turut lebih 20 kali cambukan menghujani badan Yu Goan-ci, digunggung dengan sabetan tadi, jumlah seluruhnya sudah lebih dari 30 kali.

“Sudahlah, cukup untuk sekarang ini,” segera A Ci menyetop. “Nah, sekarang masukkan kepalamu ke dalam kerangkeng.”

Goan-ci merasa ruas tulang seantero badan seakan-akan retak, dengan sempoyongan ia mendekati kerangkeng singa. Sekali mengertak gigi, dengan nekat ia memasukkan kepalanya ke dalam terali kerangkeng itu.

Melihat tantangan itu, singa itu kaget malah hingga mundur beberapa langkah ke belakang. Binatang itu mengincar dan mengamat-amati topeng besi sejenak, lalu mundur satu langkah lagi sambil meraung.

“Ayolah, perintahkan singamu menggigit, kenapa tidak menggigit?” seru A Ci.

Segera pawang singa membentak-bentak beberapa kali. Karena mendapat perintah, singa itu lantas menubruk maju, sekali pentang mulutnya yang lebar, terus saja ia caplok kepala Yu Goan-ci yang terbungkus topeng besi itu. Maka terdengarlah “krak-krek, krak-krek” yang keras, suara kertakan gigi singa yang beradu dengan besi.

Sejak mula Goan-ci memejamkan mata, maka ia merasa hawa hangat merangsang mukanya melalui lubang-lubang mata, hidung, dan mulut topeng itu. Ia tahu batok kepala belakang sudah tercaplok di dalam mulut singa. Mendadak ia merasa batok kepala depan dan belakang sakit sekali. Kiranya bekas luka di atas kepala yang hangus terkena besi panas dahulu, kini pecah lagi karena gigitan singa.

Ketika singa itu menggigit sekuatnya beberapa kali dan tidak menghasilkan apa-apa, bahkan giginya malah kesakitan, binatang itu menjadi murka, mendadak cakarnya menggaruk ke depan hingga bahu Goan-ci kena dicakar.

Saking kesakitan oleh cakaran itu, tanpa terasa Goan-ci menjerit. Dan ketika mendadak merasa barang yang dicaploknya itu mengeluarkan suara keras, singa itu menjadi kaget dan lepaskan kepala yang digigitnya itu serta menyurut mundur.

Keruan si pawang singa merasa malu karena binatang asuhannya itu kena digertak. Segera ia membentak-bentak pula memerintahkan singa itu menggigit lagi Yu Goan-ci. Sekonyong-konyong Goan-ci menjadi murka, sekuat tenaga ia pegang tengkuk penjinak singa itu, ia jejalkan juga kepala penjinak singa itu ke dalam kerangkeng.

Keruan penjinak singa itu berteriak-teriak. A Ci merasa senang. Ia bertepuk tangan dengan tertawa dan berkata, “Bagus, bagus, permainan bagus! Biarkan mereka, jangan dilerai!”

Mestinya para prajurit Cidan hendak menarik tangan Yu Goan-ci, demi mendengar perintah A Ci itu, mereka urung bertindak.

Sambil berteriak-teriak si penjinak singa meronta-ronta berusaha melepaskan diri. Tapi saat itu Goan-ci juga sudah kalap, betapa pun ia tidak mau melepaskan orang.

Tiada jalan lain, terpaksa pawang singa minta bantuan binatang asuhannya itu, ia berteriak-teriak memberi perintah, “Gigit! Gigit dia! Lekas!”

Mendengar suara perintah, singa itu menggerung keras-keras terus menerkam. Binatang itu hanya tahu sang majikan memerintahkan dia menggigit, tapi tidak tahu apa yang harus digigit. Maka ketika mulutnya yang lebar itu merapat kembali, “kriuk”, tahu-tahu separuh buah kepala penjinak singa sendiri yang kena digerogot hingga darah berceceran dan otak berantakan.

“Hore! Badut besi yang menang!” demikian A Ci bersorak tertawa.

Segera ia memberi perintah agar prajurit Cidan menyeret pergi mayat si penjinak singa dan menggotong pergi kerangkeng singa itu. Lalu katanya kepada Yu Goan-ci, “Badut besi, sekarang kau sudah pintar, pandai menyenangkan hatiku. Ehm, aku akan memberi hadiah padamu. Tetapi, hadiah… hadiah apa ya yang tepat?”

Begitulah ia lantas bertopang dagu dan berpikir…

“Aku tidak perlu diberi hadiah Nona, aku hanya ingin mohon sesuatu padamu,” demikian kata Goan-ci.

“Mohon apa?” tanya A Ci.

“Semoga Nona memperbolehkan aku mengiring di sampingmu untuk menjadi budakmu,” sahut Goan-ci.

“Menjadi budakku?” A Ci menegas. “Mengapa dan untuk apa? Ehm, tahulah aku, tentu kau ingin mencari kesempatan bila Siau-tay-ong datang menjengukku, lalu kau mendadak menyerangnya lagi untuk membalas sakit hati ayah ibumu, betul tidak?”

“Tidak, tidak!” seru Goan-ci cepat. “Sekali-kali bukan begitu maksudku.”

“Habis, masakah kau tidak ingin membalas dendam?”

“Sudah tentu aku sangat ingin. Cuma, kesatu, aku belum mampu menuntut balas. Kedua, tidak boleh merembet diri Nona.”

“Jika begitu mengapa kau mau menjadi budakku?”

“Sebab… sebab Nona adalah… gadis paling cantik di dunia ini, maka aku ingin… ingin melihat engkau setiap hari,” demikian sahut Goan-ci dengan tergegap.

Ucapan ini sebenarnya terlalu kurang ajar dan terlalu berani, bila A Ci adalah seorang gadis biasa, tentu ia akan merasa ucapan Goan-ci itu bersifat rendah dan bukan mustahil akan memerintahkan pemuda itu dibunuh. Tapi A Ci justru senang dipuji, ia suka orang memujinya cantik.

Padahal usianya sekarang juga masih terlalu muda, meski air mukanya memang ayu, tapi bangun tubuhnya belum lagi masak, ditambah habis terluka parah, badannya masih kurus dan wajahnya pucat, masih jauh untuk bisa disebut sebagai “gadis paling cantik di dunia”. Tapi manusia mana yang tidak suka dipuji, apalagi dipuji sebagai gadis tercantik, sudah tentu A Ci sangat senang.

Dan selagi ia hendak menerima permintaan Goan-ci itu, tiba-tiba didengarnya dayang melapor, “Tay-ong datang!”

A Ci melirik Goan-ci sekejap dan bertanya dengan suara rendah, “Kau takut tidak?”

“Tidak… tidak!” sahut Goan-ci dengan agak gemetar. Padahal dia takut setengah mati mendengar kedatangan Siau Hong.

Ketika pintu istana terbuka, tertampaklah Siau Hong melangkah masuk dengan baju kulit yang enteng dan ikat pinggang yang lemas. Ketika melihat di atas lantai banyak tercecer darah, pula melihat bentuk kepala Yu Goan-ci yang aneh itu, Siau Hong menjadi heran dan bertanya kepada A Ci dengan tertawa, “Air mukamu hari ini kelihatan sangat segar, kau lagi main apa? Kepala orang ini memakai topi apa, sungguh aneh?”

“Ini Thi-thau-jin (Manusia Kepala Besi) persembahan dari negeri Kojiang, namanya badut besi, singa pun tidak sanggup menggigit pecah kepalanya. Lihatlah, di situ masih terdapat bekas gigitan singa,” tutur A Ci dengan tertawa.

Waktu Siau Hong memandang topeng besi di kepala Goan-ci, memang benar bekas gigitan singa masih kelihatan jelas.

“Cihu, apakah engkau mampu melepaskan topeng besinya itu?” tiba-tiba A Ci bertanya.

Mendengar itu, keruan semangat Goan-ci seakan-akan terbang meninggalkan raganya. Dia pernah menyaksikan betapa perkasanya Siau Hong ketika dikeroyok para kesatria Tionggoan, dengan kepalan saja ia sanggup menghantam hingga perisai milik ayah dan pamannya mencelat. Kalau orang sekarang hendak melepaskan topeng di kepalanya boleh dikatakan terlalu mudah baginya.

Begitulah, kalau tempo hari waktu dikerudung dengan topeng itu ia menyesal dan berduka tak terhingga, sekarang sebaliknya ia berharap topeng besi itu semoga tetap menutup kepalanya agar tidak dikenal Siau Hong.

Tiba-tiba Siau Hong menggunakan jari untuk menjentik topeng beberapa kali dengan perlahan hingga mengeluarkan suara “trang-tring”. Lalu katanya dengan tertawa, “Topeng ini sangat kuat dan bagus pula buatannya, kalau dirusak, apakah tidak sayang?”

“Menurut cerita utusan negeri Kojiang, katanya badut besi ini bermuka bengis dan menakutkan, lebih mirip setan daripada mirip manusia, siapa yang ketemu dia pasti ketakutan dan lari, sebab itulah orang tuanya membuatkan topeng besi ini untuk dia agar tidak mengganggu orang lain,” demikian tutur A Ci. “Eh, Cihu, aku sangat ingin lihat mukanya yang asli, aku ingin tahu betapa bengis mukanya itu.”

Saking ketakutan hingga Goan-ci gemetar, gigi gemertukan.

Siau Hong dapat melihat manusia kepala besi itu ketakutan luar biasa, maka katanya, “Sudahlah, orang ini sangat ketakutan, buat apa membuka topeng besinya itu? Jika sejak kecil ia sudah pakai topeng, kalau kini dibuka mungkin dia akan putus asa dan sukar untuk hidup terus.”

“Sungguh menarik jika begitu,” seru A Ci sambil bertepuk tangan. “Setiap kali aku menemukan kura-kura, aku suka menangkapnya dan membelejeti kulitnya yang keras itu, aku suka melihat kura-kura tanpa kulit dapat hidup berapa lama.”

Siau Hong berkerut kening, ia merasa terlalu kejam cara anak dara itu membelejeti kura-kura, katanya, “A Ci, seorang anak perempuan mengapa suka membikin susah orang sedemikian rupa?”

“Hm, tentu saja engkau tak suka,” jengek A Ci. “Jika aku sebaik A Cu, tidak nanti kau lupakan diriku selama beberapa hari ini.”

“Meski aku telah diangkat menjadi Lam-ih-tay-ong apa segala sehingga setiap hari selalu sibuk saja, tapi setiap hari aku kan pasti datang menjengukmu?” sahut Siau Hong.

“Menjenguk, ya, memang hanya menjenguk saja sebentar, aku justru tidak suka dijenguk saja dan habis perkara, coba kalau aku jadi A Cu, tentu engkau takkan cuma menjenguk saja, tapi akan selalu mendampingiku.”

Mendengar nama “A Cu” berulang kali disebut, apa yang dikatakan juga memang betul, Siau Hong menjadi tak bisa menjawab, terpaksa ia mengekek tawa dan berkata, “Ya, Cihu kan orang tua, tiada minat buat main dengan kanak-kanak seperti dirimu, bolehlah kau cari teman main yang sebaya denganmu untuk mengawanimu bermain.”

“Kanak-kanak, selalu kau katakan begitu, aku justru bukan kanak-kanak lagi,” sahut A Ci. “Dan kalau engkau tiada minat bermain dengan aku, kenapa datang juga ke sini?”

“Aku ingin tahu kesehatanmu sudah tambah baik tidak dan ingin tahu apakah hari ini kau sudah makan empedu beruang atau belum?” kata Siau Hong.

Mendadak A Ci angkat bantalan pengganjal bangku dan dibanting ke lantai, katanya, “Jika hatiku tidak gembira, biarpun setiap hari makan satu pikul empedu beruang juga tidak berguna!”

Kalau A Cu yang sedang marah-marah, betapa pun juga tentu Siau Hong akan berusaha membujuknya, tapi terhadap anak dara yang suka ngambek, anak perempuan yang nakal dan licin ini, mau tak mau timbul semacam rasa jemu dalam hati Siau Hong, segera katanya, “Ya, sudahlah, boleh kau mengaso saja!”

Habis itu ia lantas tinggal pergi.

A Ci termangu-mangu dan ingin menangis mengikuti kepergian sang cihu. Sekilas tiba-tiba dilihatnya Yu Goan-ci, seketika api kemarahannya ingin dilampiaskan kepada orang sial itu. Teriaknya mendadak, “Sili, cambuk lagi dia 30 kali!”

Kapten Sili mengiakan sambil angkat cambuknya.

“Nona, apakah aku berbuat sesuatu kesalahan lagi?” seru Goan-ci.

Tapi A Ci tidak menjawabnya, sebaliknya ia memberi tanda agar Sili cepat mencambuk.

“Tar!” segera Sili ayun pecutnya, “tar!” kembali pecut menyembat pula punggung sasarannya.

“Nona, sebenarnya apa salahku, harap aku diberi tahu, supaya lain kali kesalahan itu takkan terulang lagi!” teriak Goan-ci dengan menahan sakit, sementara itu pecut Sili masih terus menyabet.

“Bila aku ingin menghajarmu, maka setiap saat dapat kulakukan, tidak perlu kau tanya berbuat salah apa, masakah aku bisa keliru menghajarmu?” demikian kata A Ci. “Kau tanya dirimu berbuat salah apa, justru karena kau tanya, maka kau harus dihajar!”

“Tapi… tapi Nona lebih dulu menyuruh hajar diriku, baru aku tanya,” ujar Goan-ci.

Dalam pada itu pecut Sili tidak pernah berhenti, punggung Goan-ci masih terus disabet.

“Memang sudah kuduga kau tentu akan tanya, maka kusuruh orang menghajarmu, dan benar juga kau lantas tanya, bukankah itu menandakan dugaanku sangat tepat?” ujar A Ci dengan tertawa. “Sekaligus juga menandakan kau tidak taat benar-benar padaku, seharusnya ketika kau tahu nonamu mendadak ingin menghajar orang, jika kau memang seorang budak setia, seharusnya kau tampil ke muka dan ajukan diri untuk dihajar. Tapi kau malah rewel dan merasa penasaran. Baiklah, kau tidak suka dihajar, maka aku pun tidak mau menghajarmu lagi.”

Hati Goan-ci terkesiap dan merinding demi mendengar ucapan terakhir itu. Ia tahu bila A Ci tidak menghajarnya, tentu akan dicari suatu cara hukuman yang lebih kejam daripada cambukan itu, maka lebih baik sekarang juga ia terima 30 kali cambukan itu. Segera ia berkata, “Ya, memang hamba yang salah, hamba yang salah! Jika Nona sudi menyuruh orang menghajar hamba, hal mana akan berfaedah bagi badan hamba, silakan Nona menyuruhnya menghajar lagi, hajarlah lebih banyak dan lebih keras.”

“Jika begitu baiklah, akan kupenuhi permintaanmu,” kata A Ci. “Nah, Sili, cambuk dia 100 kali bulat, dia sendiri yang minta lebih banyak dicambuk.”

Sudah tentu Yu Goan-ci terperanjat, ia pikir apakah jiwanya bisa dipertahankan setelah dicambuk 100 kali? Tapi urusan sudah telanjur, ia sendiri yang minta dihajar lebih banyak dan lebih keras, kalau sekarang membangkang tentu akan lebih celaka lagi. Terpaksa ia diam saja, ia pikir kalau rewel-rewel, bukan mustahil nona yang nakal dan kejam itu akan menghabiskan jiwanya dengan suatu cara yang sukar diduga.

Dan ketika A Ci mulai memberi tanda, “tar”, segera cambuk Sili bekerja pula tanpa ampun.

“Tar, tar!” Sili terus menyabet hingga lebih 50 kali, saking kesakitan Yu Goan-ci sampai mendeprok, sebaliknya A Ci memandangnya dengan tersenyum simpul, ditunggunya pemuda itu bersuara minta ampun. Dan asal Goan-ci minta ampun, A Ci akan punya bukti lagi untuk menambahi cambukannya.

Tak tersangka Goan-ci sudah dalam keadaan limbung, dalam keadaan sadar-tak-sadar, ia hanya merintih perlahan, tapi tidak minta diampuni. Ketika dicambuk sampai lebih 70 kali, akhirnya Goan-ci jatuh pingsan.

Namun Sili sama sekali tidak mengenal kasihan, ia tetap menjalankan tugasnya sampai genap mencambuk 100 kali barulah berhenti.

Melihat Goan-ci sudah kempas-kempis, lebih banyak matinya daripada hidup, A Ci menjadi kecewa malah, katanya, “Sudahlah, seret pergi saja, orang itu tidak menarik lagi. Sili, boleh kau carikan permainan lain yang lebih menyenangkan!”

Karena hajaran itu, Yu Goan-ci benar-benar babak belur, untuk mana dia mesti menggeletak sebulan penuh barulah sembuh.

Melihat pemuda itu sudah dilupakan oleh A Ci, maka orang Cidan tidak menyiksanya lagi, tapi lantas mencampurkan dia ke dalam rombongan tawanan yang lain untuk melakukan pekerjaan kasar seperti mencuci kandang domba, mengumpulkan kotoran sapi, menjemur kulit dan lain-lain.

Karena kepalanya memakai kerudung besi, maka setiap orang suka mengejek dan menghina Yu Goan-ci, bahkan sesama bangsa Han dalam tawanan itu juga menganggapnya sebagai “siluman”.

Goan-ci terima semua ejekan dan hinaan itu, dengan diam saja hingga mirip orang bisu, orang memaki dan memukulnya, ia pun tidak pernah melawan dan membalas. Hanya kalau kebetulan ada orang lewat menunggang kuda, tentu ia mendongak untuk melihat siapakah gerangan penunggang kuda itu. Yang selalu terpikir olehnya hanya satu, “Bilakah nona cantik itu akan memanggil aku untuk dihajar lagi?”

Begitulah karena dia berharap dapat melihat A Ci, biarpun akan disiksa dengan macam-macam hajaran juga dia rela.

Setelah lewat dua bulan pula, hawa udara perlahan mulai hangat, Yu Goan-ci ikut banyak orang lagi mengangkat batu di luar benteng kota untuk membetulkan tembok benteng.

Tiba-tiba didengarnya suara derapan kuda lari yang riuh, beberapa penunggang kuda keluar dari gerbang selatan, segera terdengar suara tertawa seorang gadis nyaring merdu, “Ai, kiranya badut besi ini belum lagi mati! Kukira dia sudah lama mati! Hei, badut besi, kemarilah!”

Itulah suara A Ci, suara anak gadis yang selalu terkenang oleh Yu Goan-ci siang dan malam, ia terpaku malah di tempatnya ketika mendengar panggilan A Ci itu. Ia merasa jantungnya berdebar dan tangan terasa dingin.

“Badut besi, setan kau, aku memanggilmu, apa kau tidak dengar?” kembali A Ci berseru.

Dan baru sekarang Goan-ci mengiakan, “Ya, Nona!”

Lalu ia mendekati kuda si gadis dan tanpa terasa ia pun memandangnya sekejap.

Ternyata selama empat bulan ini A Ci sudah tambah gemuk sedikit, air mukanya kemerah-merahan dan bercahaya hingga makin menambah kecantikannya, hati Goan-ci berdebar dan karena setengah melamun, kakinya kesandung sesuatu dan keserimpet jatuh.

Di tengah gelak tertawa orang banyak, lekas Goan-ci merangkak bangun dengan rasa malu, sudah tentu tiada seorang pun yang dapat melihat mimik wajahnya itu.

Rupanya A Ci sedang gembira, dengan tertawa ia tanya, “Eh, badut, kenapa kau belum mati?”

“Aku… aku belum lagi membalas kebaikan Nona, maka tidak boleh mati cepat-cepat,” sahut Goan-ci.

A Ci mengikik tawa, katanya, “Aku justru lagi mencari seorang budak yang setia untuk sesuatu tugas, aku khawatir orang Cidan terlalu kasar sehingga tak bisa melaksanakan tugas dengan baik. Sekarang kau ternyata belum mati, itulah sangat kebetulan. Nah, boleh kau ikut padaku!”

Goan-ci mengiakan, lalu mengikut di belakang kudanya.

Segera A Ci memerintahkan Sili dan tiga orang pengawalnya pulang lebih dulu.

Sili kenal watak si gadis, apa yang dikatakan tidak boleh dibantah. Ia lihat orang berkerudung besi ini terlalu lemah, penakut pula, rasanya takkan berbahaya bila dia ikut sang putri. Maka ia hanya pesan junjungannya itu, “Harap Nona hati-hati dan lekas pulang!”

Lalu mereka berempat melompat turun dari kuda dan menunggu di luar gerbang kota. A Ci sendiri lantas menjalankan kudanya perlahan ke depan dengan diikuti Goan-ci berjalan di belakang.

Kira-kira beberapa li jauhnya, tempat yang dituju itu makin sunyi dan akhirnya sampai di suatu lembah pegunungan yang lembap.

Goan-ci merasa jalan di lembah pegunungan itu sangat lunak, terdiri dari tanah dedaunan dan rumput yang sudah kering dan lapuk.

Kira-kira satu-dua li lagi jauhnya, jalan di situ mulai berliku-liku, A Ci tidak dapat menunggang kuda lagi, ia melompat turun dari kudanya, sambil memegang les kuda, ia melanjutkan perjalanan.

Sekitar situ tampak lembap dan dingin, angin meniup dari suatu selat yang sempit hingga kulit daging A Ci dan Goan-ci terasa pedih.

“Sudahlah, di sini saja!” tiba-tiba A Ci berkata. Lalu ia tambat kudanya di suatu pohon dan berkata kepada Goan-ci, “Nah, ingatlah dengan baik, apa yang kau lihat hari ini dilarang diceritakan kepada siapa pun juga, selanjutnya juga tidak boleh menyinggungnya di hadapanku, ingat tidak?”

“Baiklah Nona!” sahut Goan-ci.

Girang Goan-ci sungguh tak terkatakan. A Ci hanya suruh dia ikut sendirian dan kini sampai di tempat sunyi seperti ini, andaikan si gadis nanti akan menghajarnya hingga setengah mati juga dia rela.

Kemudian tertampak A Ci mengeluarkan sebuah giok-ting, tripod atau wajan kemala berkaki tiga, warna tripod itu hijau mulus. Lalu ditaruh di atas tanah dan katanya kepada Goan-ci, “Sebentar bila melihat serangga atau binatang apa pun yang aneh, sekali-kali kau tidak boleh bersuara, tahu tidak?”

Goan-ci mengiakan.

Segera A Ci mengeluarkan pula suatu bungkusan kain kecil, ia keluarkan beberapa potong bahan wewangian yang berwarna-warni, ia remas sedikit tiap-tiap potong bahan wangi-wangian itu ke dalam tripod, lalu ia menyulutnya dengan api hingga terbakar, kemudian menutup tripod itu.

“Marilah kita tunggu di bawah pohon sana,” kata A Ci.

Tapi Goan-ci tidak berani duduk berdekatan dengan si nona, ia menyingkir kira-kira dua-tiga meter jauhnya, ia duduk di atas batu di bawah angin. Ketika angin meniup dan membawa bau harum si gadis, tanpa terasa pikiran Goan-ci melayang-layang dimabuk diri.

Sungguh tak tersangka olehnya bahwa dalam hidupnya ini bisa menemui saat bahagia seperti ini, ia merasa derita sengsara yang dialaminya selama ini tidaklah penasaran.

Begitulah selagi pikiran Goan-ci dimabuk oleh lamunan sendiri, tiba-tiba terdengar di semak-semak rumput sana ada suara gemeresik, seekor binatang merayap tampak muncul.

Dalam urusan lain Goan-ci boleh dikatakan tidak becus, tapi dalam hal menangkap ular dan main binatang merayap lain masih boleh juga kepandaiannya. Maka demi mendengar suara itu, segera ia tahu ada sesuatu makhluk aneh.

Benar juga segera dari tengah rumput hijau itu merayap keluar seekor lipan atau kelabang merah bercahaya, lebih-lebih bagian kepalanya merah membara, sangat berbeda dengan kelabang pada umumnya.

Rupanya karena mengendus bau harum bahan wangi-wangian yang terbakar dalam tripod, maka kelabang itu merayap ke arah situ terus menyusup ke dalam wajan melalui lubang di sampingnya, dan tidak keluar lagi.

Selagi Goan-ci hendak menyatakan bahwa kelabang itu berbisa sangat jahat, tiba-tiba dari belakang terdengar suara gemeresik pula, seekor ketungging berwarna cokelat merayap tiba dengan cepat sekali. Segera Goan-ci bermaksud menginjak mati binatang itu, tapi mendadak A Ci membentaknya, “He, jangan membunuhnya, goblok!”

Maka sebelah kaki Goan-ci yang sudah terangkat itu urung menginjak ke bawah. Dalam pada itu ketungging itu lantas merayap ke arah tripod dan menyusup ke dalamnya. Dalam sekejap saja terdengarlah suara mencicit ramai, kelabang tadi telah bertarung dengan ketungging.

Sejak kecil Goan-ci paling suka mengadu jangkrik dan serangga lain. Kini ia sangat ingin bisa membuka tutup tripod itu untuk menyaksikan pertarungan antara kelabang melawan ketungging itu. Tapi di bawah pengaruh A Ci, ia tidak berani sembarangan bertindak.

Dan belum selesai pertarungan antara kelabang melawan ketungging itu, kembali dari arah lain datang lagi seekor cecak, menyusul dari arah berlawanan datang pula seekor binatang aneh yang bulat bentuknya dan berwarna loreng, entah apa namanya. Kedua binatang ini pun segera menyusup ke dalam wajan, maka tambah ramailah suara mencicit tadi.

Ketika Goan-ci memandang ke arah A Ci, ia lihat gadis itu sangat senang, kedua tangan yang putih halus itu tiada hentinya bergesek-gesek, terdengar gadis itu bergumam perlahan, “Sungguh sangat mujarab, sudah datang empat jenis.”

Belum selesai ucapannya, kembali seekor serangga masuk lagi ke dalam tripod. Itulah seekor laba-laba berbisa.

Dan baru sekarang Goan-ci paham duduknya perkara, “Kiranya nona memilih tempat yang lembap ini untuk mencari binatang dan serangga berbisa ini. Tapi entah apa gunanya, jika untuk melihat pertarungan binatang-binatang itu, mengapa dia tidak membuka tutup tripod?”

Sejenak kemudian, “plok”, tiba-tiba ketungging tadi jatuh keluar wajan dan tak berkutik lagi, terang sudah mati.

Selang tidak lama, berturut-turut bangkai laba-laba, cecak dan serangga bulat yang tak dikenal namanya pun menggelinding keluar semua.

“Hehe, tetap kelabang kepala merah itu yang paling lihai,” seru A Ci dengan senang.

“Nona, dupa apakah yang kau bakar hingga begini banyak serangga bisa terpancing kemari?” tanya Goan-ci.

Mendadak A Ci menarik muka, semprotnya, “Sudah kukatakan tidak boleh bertanya, kau sudah lupa ya? Kalau berani buka mulut lagi, segera kucambuk kau 100 kali!”

“Hamba ter… terlalu senang sehingga lupa daratan, harap… harap Nona memaafkan,” sahut Goan-ci dengan merendah.

A Ci tidak menggubrisnya lagi, segera ia keluarkan pula sebungkus kain, waktu dibuka, kiranya sepotong kain sutra yang tebal. Kain sutra itu bersulam indah dan berwarna-warni menyilaukan mata.

Segera ia bungkus giok-ting itu dengan kain sutra mengilap itu. Ketika Goan-ci memerhatikan bangkai laba-laba, ketungging dan lain-lain, ia lihat binatang itu sudah kering, sari racunnya sudah terisap habis oleh kelabang kepala merah itu.

Sementara itu A Ci sedang mengikat bungkusan kain sutra itu dengan kencang seakan-akan khawatir kalau kelabang di dalam giok-ting itu akan merayap keluar. Kemudian ia masukkan bungkusan itu ke dalam tas kulit di pelana kudanya.

“Marilah kita pulang!” katanya dengan tertawa.

Sambil mengikut di belakang kuda si gadis, diam-diam Goan-ci membatin, “Tripod hijau itu sungguh aneh, yang lebih aneh lagi adalah dupa wangi yang dia bakar itu. Hanya karena mengendus bau wangi dupa itulah maka serangga-serangga itu terpancing kemari.”

Setiba kembali di istana Toan-hok-tian, segera A Ci memerintahkan pengawalnya membersihkan sebuah kamar yang kecil di samping istana untuk tempat tinggal Yu Goan-ci. Keruan girang Goan-ci melebihi orang mendapat warisan, sebab ia tahu selanjutnya setiap hari akan dapat melihat A Ci.

Benar juga, esok paginya A Ci memanggilnya pula dan membawa dia masuk ke ruangan istana samping, lalu A Ci sendiri menutup pintu ruangan hingga di dalam situ cuma tinggal mereka berdua.

Hati Goan-ci berdebar-debar sebab tidak tahu apa yang hendak dilakukan si nona.

Tiba-tiba A Ci mendekati sebuah guci, ia buka tutup guci itu dan berkata kepada Goan-ci, “Coba lihat, sangat tangkas bukan?”

Waktu Goan-ci ikut melongok ke dalam guci, ia lihat kelabang yang ditangkapnya kemarin itu sedang merayap-rayap dengan cepat dalam guci.

“Sekarang kita pergi mencari lagi sejenis binatang berbisa yang lain,” ajak A Ci.

Goan-ci tidak berani banyak bertanya, ia hanya mengiakan saja, walaupun dalam hati ia sangat heran, seorang nona cantik demikian mengapa suka main binatang berbisa yang menjijikkan dan berbahaya seperti itu?

Tidak lama kemudian mereka telah sampai di suatu lembah pegunungan lain, di situ A Ci menyalakan dupa dalam giok-ting hingga lima jenis binatang berbisa dipancing datang lagi. Dan sesudah pertarungan berakhir, sekali ini yang menang adalah seekor laba-laba hitam.

Setelah pulang, A Ci menaruh laba-laba itu di dalam sebuah guci yang lain. Ia suruh Goan-ci membawa kasur bantalnya ke ruangan istana dan menjaga di situ.

Goan-ci sudah biasa main ular dan serangga berbisa, ia tahu binatang merayap seperti itu sangat pintar menyusup, di mana tampaknya tiada lubang, sering kali binatang-binatang merayap itu dapat menyusup keluar. Dan kalau ada salah seekor laba-laba atau kelabang yang lari keluar pasti dia yang akan tersengat mampus. Sebaliknya kalau sampai binatang itu ada yang hilang, tentu dia akan dihajar mati oleh A Ci.

Oleh karena itu semalam suntuk boleh dikata Goan-ci tidak berani tidur, dengan hati kebat-kebit sebentar-sebentar ia bangun untuk memeriksa kedua guci itu.

Esok paginya, dengan cara yang sama A Ci dapat pula menangkap seekor katak buduk. Hari keempat ia berusaha menangkap binatang berbisa yang lain, tapi tiada sesuatu yang memuaskan, yang dapat dipancing datang hanya sebangsa serangga kecil yang kurang lihai racunnya. Sesudah pindah tempat lagi, akhirnya dapat ditangkapnya seekor ketungging hijau gelap.

Hari kelima ia tidak dapat menangkap binatang berbisa lain. Hari keenam juga usahanya nihil. Sampai hari ketujuh, dapatlah A Ci menangkap seekor ular hijau kecil.

A Ci sangat girang setelah dapat mengumpulkan kelima jenis binatang berbisa itu. Ia suruh Goan-ci memelihara binatang-binatang itu, setiap hari menyembelih seekor ayam jago, darah ayam jago dibuat makanan binatang-binatang berbisa itu.

Kira-kira belasan hari kemudian, A Ci datang lagi ke ruangan istana samping itu, ia lihat kelima binatang berbisa itu sudah gemuk-gemuk semua, ia sangat senang. Segera ia keluarkan giok-ting pula dan menyalakan dupa.

“Bukalah kelima tutup guci,” katanya kepada Goan-ci.

Cepat Goan-ci melaksanakan perintah itu, ia buka semua tutup guci dan lekas-lekas menyingkir.

Maka terdengarlah suara gemeresik, kelima jenis binatang berbisa itu telah mengendus bau wangi dupa, mereka berebut merayap keluar dari guci masing-masing terus menyusup ke dalam giok-ting. Lantas terdengarlah suara mencicit ramai, kelima jenis binatang itu saling bertarung dengan sengit.

Kelima jenis binatang berbisa itu masing-masing sudah pernah mengisap racun dari jenis binatang yang lain, ditambah lagi selama belasan hari telah diloloh dengan darah ayam jago, keruan mereka sangat tangkas dan sangat bersemangat, begitu ketemu musuh, segera menyerang dengan ganas.

Dan pertama-tama katak buduk itu yang tidak tahan, lebih dulu katak itu jatuh keluar giok-ting, menyusul ular hijau itu pun mati. Tidak lama kemudian, laba-laba loreng dan ketungging pun mencelat keluar semua. Pemenang terakhir tetap kelabang berkepala merah yang tertangkap pertama itu.

Kelabang itu tampak merayap keluar dari giok-ting untuk mengisap sari racun lawan-lawannya yang sudah mati itu. Maka badan kelabang itu perlahan mulai melembung, rupanya sangat kenyang dengan cairan yang diisapnya. Kepalanya yang merah itu mulai bersemu ungu, lalu menghijau dan membiru.

Semua itu diikuti A Ci dengan penuh rasa senang, betapa girangnya dapat terlihat dari napasnya yang berat. Terdengarlah gadis itu berkata dengan suara rendah, “Jadi, jadilah! Dapatlah kulatih ilmu ini!”

Baru sekarang Goan-ci tahu bahwa sebabnya si gadis menangkap binatang berbisa itu, kiranya ingin melatih sesuatu ilmu.

Sementara itu setelah kelabang tadi kenyang mengisap sari racun lawan-lawannya yang mati itu, lalu merayap kembali ke dalam giok-ting.

“Badut besi, bagaimana pendapatmu tentang perlakuanku kepadamu selama ini?” tanya A Ci tiba-tiba.

“O, sungguh sangat baik, aku merasa utang budi kepada Nona,” sahut Goan-ci. “Biarpun hancur lebur badanku ini juga susah membalas kebaikan Nona.”

“Apa betul-betul ucapanmu itu?” A Ci menegas.

“Sudah tentu, masakah hamba berani berdusta,” kata Goan-ci. “Asal Nona ada perintah, tidak nanti hamba menolak.”

“Bagus jika begitu,” kata A Ci. “Nah, ketahuilah bahwa ilmu yang akan kulatih itu diperlukan seorang pembantu. Apakah kau mau membantu aku? Jika ilmu itu sudah selesai kuyakinkan, tentu aku akan memberi hadiah padamu.”

“Sudah tentu hamba menurut perintah saja, tidak berani bicara tentang hadiah segala,” sahut Goan-ci.

“Baiklah! Nah, sekarang juga aku akan mulai berlatih,” kata A Ci.

Habis berkata, ia terus duduk bersila, kedua tangan saling bergesek-gesek, kedua mata terpejam, selang sebentar, lalu katanya, “Coba gunakan tangan untuk menangkap kelabang itu, jika kelabang itu menggigit tanganmu, sekali-kali kau tidak boleh bergerak, biarkan kelabang itu mengisap darahmu, makin banyak dia mengisap akan lebih baik.”

Sejak kecil Yu Goan-ci sudah biasa main ular dan serangga berbisa, ia tahu binatang merayap seperti kelabang itu sangat jahat upasnya. Kalau tergigit, tentu tempat luka itu akan bengkak, apalagi kelabang kepala merah ini telah mengalahkan binatang berbisa lain, sudah tentu jauh lebih lihai daripada kelabang biasa. Kini A Ci menyuruh tangannya dibiarkan digigit oleh kelabang itu untuk mengisap darahnya, keruan ia merinding dan ragu-ragu.

Seketika A Ci menarik muka, tanyanya, “Kenapa? Kau tidak mau?”

“Bukan tidak mau, Nona,” sahut Goan-ci. “Cuma… cuma…”

“Cuma apa? Cuma takut mati bukan?” semprot A Ci.

Goan-ci tak bisa menjawab. Ia pikir baru saja ia menyatakan bersedia hancur lebur bagi si gadis dan sekarang tangannya disuruh digigitkan kelabang sudah merasa jeri. Ia coba melirik A Ci, dilihatnya wajah si gadis bersungut, bibir mencibir hina. Seketika Goan-ci merasa kena sihir, dengan segera ia berkata, “Baik, akan kuturut perintah Nona.”

Dengan mengertak gigi ia buka tutup guci, ia pejamkan mata dan julurkan tangan ke dalam guci. Dan begitu jari menyentuh dasar guci itu, segera jari tengah terasa sakit seperti tertusuk jarum. Hampir-hampir ia tarik kembali tangannya kalau A Ci tidak keburu berseru mencegahnya.

Terpaksa Goan-ci menahan sakit sekuatnya, waktu ia buka mata, ia lihat kelabang itu telah menggigit jari tengahnya dan benar juga sedang mengisap darahnya.

Bulu roma Goan-ci serasa berdiri semua, sungguh ia ingin membanting kelabang itu ke tanah dan sekali gecek mampuskan binatang itu. Meski berdiri mungkur, ia merasa mata A Ci yang tajam itu seakan-akan menembus punggungnya hingga dia tidak berani berkutik.

Untung rasa sakit gigitan kelabang itu tidak terlalu hebat. Maka lambat laun badan kelabang itu tampak melar, membesar. Sebaliknya jari tengah Goan-ci lamat-lamat seperti bersemu ungu, warna ungu makin tandas hingga akhirnya menjadi hitam. Selang tak lama, warna hitam itu menjalar dari jari menuju ke telapak tangan, lalu naik ke lengan dan ke bahu.

Tapi saat itu Goan-ci sudah tidak menghiraukan jiwanya lagi, ia anggap sepi saja segala bahaya, sebaliknya ia mengulum senyum malah, cuma senyumannya tertutup oleh topeng besi, maka A Ci tidak dapat melihatnya.

Dalam pada itu, setelah mengisap darah sekian lamanya, kepala kelabang yang hijau biru itu telah kembali menjadi merah lagi. A Ci terus memerhatikan badan kelabang itu dengan mata tak berkedip. Ketika mendadak kelabang itu melepaskan jari Yu Goan-ci dan mendekam di dalam giok-ting, selang sejenak, tertampaklah dari lubang bawah giok-ting itu menitik cairan darah setetes demi setetes.

A Ci tampak sangat girang, segera ia menggunakan telapak tangannya untuk menahan cairan darah itu, ia duduk bersila dan mengerahkan tenaga dalam hingga cairan darah di telapak tangan itu terisap masuk ke dalam tangan.

Diam-diam Goan-ci membatin, “Itu adalah darahku, sekarang telah berpindah ke dalam tubuhnya. Agaknya dia sedang melatih semacam ilmu pukulan berbisa sebangsa Ngo-tok-ciang (Ilmu Pukulan Pancabisa), barangkali?”

Sudah tentu ia tidak tahu bahwa giok-ting itu adalah benda pusaka Sing-siok-pay, apa yang dilatih oleh A Ci itu adalah “Hoa-kang-tay-hoat” yang paling ditakuti oleh jago silat mana pun di dunia ini.

Begitulah, ketika kemudian darah beracun dalam badan kelabang itu sudah menetes keluar semua, maka kelabang itu pun lantas mati.

Waktu A Ci menggosok-gosok kedua tangan sendiri, ia lihat telapak tangannya tetap putih bersih sebagai kemala, sedikit pun tiada noda darah, maka tahulah dia bahwa cara berlatih Hoa-kang-tay-hoat yang pernah didengarnya dari sang guru itu memang tepat dan tidak salah sedikit pun, ia girang sekali, segera ia angkat giok-ting dan menuang keluar kelabang yang sudah mati itu ke lantai, lalu tinggal pergi dengan cepat, sekejap pun dia tidak pandang lagi kepada Yu Goan-ci seakan-akan pemuda itu sama saja seperti bangkai kelabang yang tiada gunanya lagi.

Dengan termangu-mangu dan rasa kecewa Goan-ci memandangi kepergian A Ci. Ketika kemudian ia membuka baju sendiri, ia lihat warna hitam tadi sudah menjalar sampai di bagian ketiak, berbareng itu lengannya mulai terasa gatal dan pegal. Rasa gatal dan pegal itu datangnya teramat cepat, dalam sekejap saja ia merasa seperti digigit oleh beratus ribu ekor semut.

Cepat Goan-ci melonjak bangun, segera ia menggaruk tangan yang gatal itu. Tapi lebih celaka lagi, sesudah digaruk rasa gatalnya semakin menjadi hingga serasa tulang sumsum juga dimasuki oleh serangga yang sedang merayap-rayap di situ.

Pada umumnya rasa sakit dapat ditahan dan rasa gatal sukar untuk ditahan. Keruan Goan-ci berjingkrak-jingkrak dan berteriak-teriak. Berulang-ulang ia membenturkan kepalanya di dinding hingga mengeluarkan suara nyaring, ia berharap dirinya bisa pingsan oleh benturan itu, dengan demikian ia takkan merasakan derita gatal dan pegal luar biasa itu.

Ketika ia membentur-bentur lagi kepalanya beberapa kali, tiba-tiba dari bajunya jatuh keluar suatu bungkusan kertas, sejilid buku yang sudah kuning itu terserak di lantai. Itulah kitab dalam bahasa Hindu kuno yang ditemukannya di padang rumput tempo hari.

Dalam keadaan gatal tak tertahankan, sudah tentu ia tidak sempat mengurus barangnya yang sudah jatuh itu. Tanpa sengaja, sekilas terlihat olehnya halaman kitab yang terbuka itu melukiskan seorang padri asing yang kurus kering. Gaya lukisan itu sangat aneh, padri itu terlukis sedang menungging, kepalanya dimasukkan ke selangkangan, jadi memandang ke belakang, sedang kedua tangan memegang kedua kaki sendiri.

Goan-ci sendiri lagi kegatalan sambil berjingkrak-jingkrak hingga tak menaruh perhatian kepada gaya lukisan yang aneh itu, ia masih terus melonjak-lonjak dan berjingkrak-jingkrak seperti orang gila, saking gatalnya hingga rasanya lebih enak mati saja.

Akhirnya saking tak tahan, ia rebahkan diri di lantai sambil menarik-narik baju sendiri hingga sobek dan hancur, ia gosok-gosokkan badan sendiri ke lantai hingga lecet dan mengeluarkan darah.

Begitulah ketika Goan-ci bergelimpangan di lantai sambil menggosok-gosok badannya di lantai, entah mengapa, tahu-tahu kepalanya menerobos ke selangkangan sendiri. Karena dia memakai kerudung besi, buah kepalanya menjadi amat besar, sekali telanjur terjepit di selangkangan, kepalanya menjadi sukar ditarik kembali. Segera ia bermaksud mengeluarkan kepalanya dengan tangan, tapi tanpa sengaja dan dengan sendirinya kedua tangan lantas memegang kaki sendiri.

Ia kelabakan sendiri hingga akhirnya megap-megap. Saking lelah, ia tak bisa berkutik dan terpaksa berhenti sementara untuk ganti napas. Dan tanpa sengaja ia lihat kitab yang jatuh terbuka dan berada di depan matanya. Padri kurus kering yang terlukis dalam kitab itu gayanya persis seperti dia sekarang.

Keruan ia sangat heran dan geli pula.

Yang paling aneh adalah sesudah dia bergaya seperti padri dalam lukisan itu, meski rasa gatal dalam tubuhnya masih tetap sama, namun napasnya menjadi banyak lebih longgar. Maka ia tidak perlu terburu-buru mengeluarkan kepalanya dari selangkangan sendiri, dengan cara begitulah ia mendekam di lantai.

Dan karena kepalanya menerobos di bawah selangkangan, maka matanya menjadi lebih dekat dengan kitab itu. Waktu ia pandang lagi padri dalam lukisan, mendadak ia lihat tubuh padri itu terlukis sedikit garis-garis yang halus. Kitab itu sudah tua, kertasnya sudah kotor kekuning-kuningan, goresan-goresan yang halus itu sebenarnya susah terbaca, tapi kini Goan-ci menungging hingga mukanya hampir menempel di atas kitab, maka garis-garis halus itu dapat terlihat jelas.

Saat itu lengan kanan Goan-ci terasa gatal tak terhingga, dan otomatis pandangannya terarah kepada lengan kanan padri kurus dalam lukisan itu. Ia lihat garis halus pada lengan padri itu dari telapak tangan menjurus naik ke tenggorokan, ke dada, ke perut, dan sesudah melingkar kian-kemari akhirnya naik ke bahu terus ke ubun-ubun kepala.

Karena mata memandang garis-garis halus dalam lukisan itu, dengan sendirinya hati ikut berpikir juga, maka terasalah rasa gatal aneh di lengannya itu berubah menjadi suatu arus hawa hangat dan menggeser menurut jalan garis dalam lukisan itu, mula-mula mengalir ke tenggorokan, kemudian ke dada, ke perut dan begitu seterusnya hingga akhirnya sampai ke ubun-ubun kepala, kemudian lenyap perlahan.

Begitulah berulang ia gunakan pikiran dan setiap kali lantas timbul suatu arus hawa hangat dan mengalir ke dalam otak, sebaliknya rasa gatal di lengan menjadi banyak berkurang.

Heran dan kejut juga Goan-ci, tapi ia tidak sempat menyelami sebab musababnya, segera ia lakukan cara itu hingga lebih 30 kali dan rasa gatal di lengan hanya tinggal sedikit saja, ketika ia melanjutkan belasan kali lagi, rasa gatal itu lantas hilang sirna.

Ketika kemudian ia dapat mengangkat kembali kepalanya, ia periksa lengannya, ia lihat warna hitam yang naik ke atas tadi kini sudah lenyap sama sekali. Saking girangnya, ia sampai berjingkrak. Tapi mendadak ia berteriak, “Ai, celaka! Sekarang racun kelabang itu telah masuk semua ke dalam otakku!”

Namun rasa gatalnya sekarang sudah hilang, keadaan badannya sehat seperti biasa, meski ada kemungkinan akan timbul sesuatu di kemudian hari juga tidak dihiraukan lagi. Ia pikir, “Masakah di dunia ini ada kejadian secara begini kebetulan? Dalam keadaan tidak sengaja, tahu-tahu aku menirukan gaya seperti padri dalam lukisan itu? Apakah semua ini memang takdir Ilahi?”

Esok paginya, baru saja ia menerobos keluar dari kolong selimutnya, tiba-tiba A Ci datang ke situ. Ketika melihat pakaian pemuda itu hancur hingga hampir telanjang, A Ci menjerit kaget, katanya, “He, kenapa kau belum mampus?”

Goan-ci terkejut dan cepat menyusup lagi ke dalam selimut, sahutnya, “Ya, hamba belum mati!”

Diam-diam ia merasa pedih karena si gadis menganggapnya sudah mati.

“Boleh juga jika kau belum mati,” kata A Ci kemudian. “Nah, lekas pakai baju dan ikut aku pergi menangkap binatang berbisa lain.”

Goan-ci mengiakan. Ia tunggu setelah A Ci keluar, segera ia minta satu setel pakaian kepada prajurit Cidan yang jaga di situ.

Lalu ia ikut A Ci keluar kota untuk mencari binatang berbisa seperti tempo hari. Dan sudah tentu, setiap kali berhasil menangkap sejenis binatang berbisa, selalu Goan-ci yang digunakan sebagai “kelinci percobaan” untuk latihan A Ci yang hendak meyakinkan “Hoa-kang-tay-hoat”. Tapi setiap kali Goan-ci selalu menggunakan cara yang dilihatnya dalam lukisan itu untuk menghapus racun yang masuk ke badannya.

Begitulah maka berturut-turut Goan-ci telah digigit oleh laba-laba hijau, kemudian seekor ketungging besar. Setiap kali A Ci mengira pemuda itu akan mati, tapi ia menjadi terheran-heran bila esok paginya melihat Goan-ci masih sehat walafiat.

Keadaan itu berlangsung terus hingga selama tiga bulan, belasan li di sekitar kota itu boleh dikatakan sukar didapatkan binatang berbisa lagi, kalau ada hanya tinggal yang kecil dan kurang berguna. Karena itu, tempat yang mereka datangi menjadi makin jauh di luar kota.

Suatu hari, mereka sampai di suatu tempat kira-kira lebih 30 li di barat kota, di situ A Ci menyalakan dupa wangi. Setelah ditunggu hampir satu jam, akhirnya terdengar suara gemeresik di antara semak-semak rumput sana, segera A Ci berseru, “Awas, tiarap ke bawah!”

Cepat Goan-ci menurut, ia mendekam ke tanah. Maka terdengarlah suara gemeresik itu tambah keras, suaranya aneh luar biasa.

Di antara suara aneh itu tercampur pula bau amis yang memuakkan, Goan-ci tidak berani bergerak sambil menahan napas. Ia melihat di mana semak rumput tersingkap, muncul segera seekor ular sawa yang sangat besar.

Kepala ular sawa itu berbentuk segitiga, di atas kepalanya menonjol sepotong daging yang aneh.

Pada umumnya di daerah utara jarang terdapat ular, lebih-lebih ular sawa aneh begitu, selamanya belum pernah dilihat oleh Goan-ci.

Sementara ular sawa raksasa itu sudah merayap sampai di dekat giok-ting, lalu melingkari tripod itu. Badan ular itu panjangnya ada dua-tiga meter, besarnya sebulat lengan manusia, sudah tentu tidak dapat menyusup ke dalam giok-ting seperti binatang merayap yang lain. Tapi dia sangat tertarik oleh bau wangi dupa di dalam giok-ting, maka berulang-ulang ular itu membentur giok-ting dengan kepalanya.

Sungguh sama sekali A Ci tidak menduga bahwa dupa yang dibakarnya itu dapat memancing datang seekor ular sawa raksasa seperti itu. Seketika ia menjadi bingung juga, perlahan ia geser ke samping Goan-ci dan berkata padanya dengan suara tertahan, “Celaka benar! Bagaimana baiknya sekarang? Bila ular itu membikin remuk giok-ting tentu runyam usahaku selama ini!”

Selama ini Goan-ci selalu dibentak dan dimaki oleh A Ci, belum pernah ia dengar suara ramah tamah si gadis seperti sekarang, nadanya mengajak berunding padanya, keruan ia terkesiap dan merasa bahagia pula. Segera ia menjawab, “Jangan khawatir, biar kugebah pergi ular itu!”

Segera ia bangkit dan melangkah ke arah ular sawa raksasa.

Demi mendengar suara tindakan orang, seketika badan ular itu melingkar-lingkar dan kepalanya menegak sambil menjulur-julurkan lidahnya yang merah dengan suara mendesis-desis siap untuk memagut.

Melihat betapa garangnya ular itu, mau tak mau Goan-ci merasa jeri juga. Ada maksudnya menjemput sepotong batu untuk menimpuk ular itu, tapi ia khawatir luput hingga mengenai giok-ting malah.

Tengah ragu dan bingung, tiba-tiba terasa angin dingin meniup dari sini-sana, waktu ia berpaling, ia lihat dari arah barat laut sana ada suatu sumbu api sedang menjalar ke arah sini, hanya dalam sekejap saja jalur api sudah menjalar sampai di depannya.

Waktu ia awasi, kiranya bukan sumbu api, tapi di tengah semak-semak rumput itu ada sejenis makhluk yang aneh, di mana binatang itu merayap lewat, di situ rumput yang tadinya hijau segar lantas hangus seperti habis terbakar. Berbareng itu Goan-ci merasa kakinya sangat kedinginan.

Cepat Goan-ci mundur beberapa tindak, waktu ia perhatikan binatang merayap yang aneh dan sedang mendekati giok-ting itu, kini dapat dilihatnya dengan jelas, kiranya seekor ulat sutra.

Ulat sutra itu warnanya putih bening kehijau-hijauan, bentuknya serupa ular sutra umumnya, cuma besarnya lebih sekali lipat hingga mirip seekor cacing. Pula badannya bening tembus seperti kaca.

Tadi ular sawa raksasa itu sangat galak, kepalanya menegak dan mendesis-desis mengancam musuh, tapi sekarang ternyata sangat ketakutan terhadap ulat sutra itu, sedapat mungkin ia hendak menyembunyikan kepalanya ke bawah lingkaran badannya.

Tapi dengan cepat luar biasa ulat sutra putih itu telah merambat ke atas badan ular sawa itu, sepanjang jalan yang dirambatnya itu, seketika punggung ular sawa itu terbakar suatu garis hangus. Waktu ulat itu merayap sampai di atas kepala ular, kontan kepala ular itu pecah merekah bagaikan dibelah dengan pisau yang tajam.

Segera ulat sutra itu menyusup ke dalam kelenjar bisa dalam kepala ular sawa itu untuk mengisap cairan bisa ular. Hanya sebentar saja cairan berbisa itu sudah kering terisap hingga badan ulat itu melar lebih besar satu kali lipat, tampaknya ulat yang bening itu menjadi mirip sebuah botol kecil yang penuh terisi cairan hijau.

Girang dan kejut A Ci melihat kelihaian ulat sutra itu, katanya dengan suara lirih, “Ulat sutra ini sungguh hebat, tampaknya adalah rajanya binatang berbisa!”

Sebaliknya Goan-ci diam-diam sangat cemas dan khawatir, ia pikir, “Jika darahku diisap oleh ulat sutra berbisa sejahat ini, pasti jiwaku akan amblas sekali ini!”

Dalam pada itu ulat sutra itu mulai merayap di sekitar giok-ting, lalu merambat ke atas tripod itu. Setiap tempat yang dilaluinya tentu meninggalkan suatu bekas hangus.

Tapi ulat itu seperti dapat berpikir, ia hanya merayap satu keliling di atas giok-ting dan seakan-akan tahu bila menyusup ke dalam tentu ia akan mati. Maka berbeda dengan binatang berbisa yang lain, ia tidak mau menyusup ke dalam giok-ting, sebaliknya merayap turun lagi dan tinggal pergi ke arah datangnya tadi.

“Lekas kejar, lekas!” seru A Ci.

Segera ia mengeluarkan kain satin untuk membungkus kembali giok-ting, lalu mengejar ke arah ulat sutra tadi dengan diikuti Goan-ci.

Meski ulat sutra itu cuma seekor binatang kecil, tapi merayapnya ternyata sangat cepat. Untung di mana dia lewat tentu meninggalkan bekas, maka untuk mengikuti jejaknya menjadi tidak susah.

Dan sekali mengejar ternyata sudah beberapa li jauhnya. Tiba-tiba terdengar di depan ada suara gemerciknya air, terlihat sebuah sungai melintang di situ. Bekas hangus yang ditinggalkan ulat sutra itu pun lantas menghilang setiba di tepi sungai. Waktu memandang ke tepi seberang, di sana juga tiada bekas jejak ulat. Mungkin sekali ulat itu kecemplung ke dalam sungai, kemudian hanyut terbawa air.

Dengan kesal A Ci mengomel, “Tadi mengapa kau tidak mengejar lebih cepat dan sekarang ke mana harus mencarinya? Pendek kata, kau harus menemukan kembali ulat itu!”

Sudah tentu Goan-ci gelisah dan bingung, ia mencari kian-kemari dan sudah tentu hasilnya nihil. Setelah mencari lagi satu-dua jam, sementara itu hari sudah hampir gelap, A Ci tidak sabar lagi, segera katanya dengan gusar, “Betapa pun kau wajib menangkapnya kembali untukku, kalau tidak, maka kau pun tidak perlu menemui aku lagi!”

Habis berkata, ia mencemplak ke atas kudanya dan tinggal pulang ke kota.

Keruan Goan-ci semakin gelisah, terpaksa ia mencari terus ke hilir sungai. Sesudah beberapa li lagi, cuaca sudah mulai remang-remang, tiba-tiba dilihatnya di semak-semak rumput di seberang sana ada bekas hangus dilalui ulat sutra itu. Saking girangnya sampai Goan-ci berteriak, “Nona sudah ketemu sekarang!”

Dan sudah tentu suaranya tak didengar oleh siapa pun, sebab A Ci sudah lama tinggal pergi. Segera Goan-ci menyeberangi sungai itu, ia kejar terus mengikuti jejak hangus itu. Ia lihat jalur hangus itu menyusur sepanjang jalan pegunungan itu dan menuju ke lereng bukit di depan sana.

Dengan penuh semangat Goan-ci berlari lebih cepat. Ketika kemudian ia mengangkat kepala, tiba-tiba dilihatnya di ujung jalan pegunungan itu berdiri sebuah kelenteng besar dan megah. Sesudah dekat, Goan-ci lihat papan kelenteng itu tertulis lima huruf besar “Ci-kian Bin-tiong-si”.

Ia tidak sempat memerhatikan keadaan kelenteng itu, yang dipentingkan adalah mengikuti jejak hangus itu. Ia lihat jalur hangus itu mengitar ke samping kelenteng, lalu menyusur ke belakang rumah berhala itu.

Ia dengar di dalam kelenteng suara genta dan bok-hi (kentungan) sedang berbunyi, di sana-sini terdengar suara pembacaan kitab, terang padri dalam kuil itu sedang liam-keng, melakukan sembahyang petang. Dari suara berisik itu, agaknya padri penghuni kelenteng itu tidak sedikit jumlahnya.

Sejak Goan-ci kepalanya dikerudungi topeng besi itu, ia merasa malu diri dan enggan muncul di depan umum. Karena khawatir diketahui padri dalam kelenteng, segera ia putar ke samping kelenteng, ia lihat jalur hangus itu melintasi suatu tanah pekarangan, lalu masuk ke suatu kebun sayur.

Goan-ci sangat girang, ia menduga dalam kebun sayur itu tak ada orang, mengingat waktu itu sudah magrib dan para padri sedang sembahyang, cepat ia menuju kebun itu, ia yakin ulat itu tentu lagi makan daun sayur dalam kebun dan dengan gampang akan dapat ditangkapnya.

Tapi baru saja ia sampai di luar pagar bambu kebun sayur itu, tiba-tiba didengarnya di dalam kebun ada suara orang sedang mencaci maki. Terdengar orang itu lagi mendamprat, “Kenapa kau begini kurang ajar, sendirian mengeluyur pergi pesiar? Sampai Locu (bapakmu, kata olok-olok) kelabakan setengah mati mencarimu dan khawatir kau takkan pulang untuk selamanya. Jauh-jauh Locu telah membawamu ke sini dari puncak Kun-lun-san, tapi dasar kau memang tidak kenal kebaikan Locu. Kalau kelakuanmu terus begini, bagaimana hari depanmu? Tentu tiada seorang pun yang akan kasihan pada nasibmu kelak!”

Meski suara orang itu kedengaran sangat marah, namun mengandung juga rasa kasih sayang, jadi lebih mirip orang tua yang sedang memberi petuah kepada anaknya yang nakal.

Diam-diam Goan-ci pikir, “Dia bilang membawanya jauh-jauh dari puncak Kun-lun-san, maka hubungan mereka terang bukan antara ayah dan anak, melainkan guru dan murid atau angkatan tua lainnya.”

Sembari berpikir segera ia pun merunduk maju ke tepi pagar bambu dan mengintip ke dalam kebun. Maka tampaklah pembicara itu adalah seorang hwesio.

Potongan hwesio itu sangat lucu, sudah pendek lagi gemuk, jadi bundar buntek mirip “bakpao”.

Pada umumnya kepala hwesio itu tercukur kelimis, tapi dia justru tidak cukur rambut, bahkan mukanya, lengannya, dan dadanya penuh tumbuh rambut yang panjang. Sebaliknya pakaiannya rapi dan bersih sekali.

Padri itu tampak sedang menuding ke tanah dengan marah-marah sambil mendamprat.

Sungguh Goan-ci heran tak terkatakan, sebab di depan padri itu tiada seorang pun. Tapi ketika ia perhatikan, seketika ia terkejut dan girang. Kiranya yang didamprat habis-habisan oleh hwesio buntak itu tak-lain-tak-bukan adalah ulat sutra raksasa yang sedang dicarinya itu.

Memangnya potongan hwesio buntak itu sangat aneh, ternyata tingkah lakunya terlebih mengherankan, masakah dia mendamprat seekor ulat seperti dia memaki anaknya saja?

Dalam pada itu ulat sutra raksasa itu tampak merayap-rayap dengan cepat di atas tanah seperti sedang berusaha melarikan diri, namun ia hanya dapat mengitar saja di situ, setiap kali ia seperti terbentur oleh sebuah dinding yang tak berwujud, lalu berputar balik.

Waktu Goan-ci perhatikan lebih cermat, lamat-lamat terlihat di atas tanah itu tergambar sebuah lingkaran warna kuning, ulat sutra itu merayap ke sini dan menyusup ke sana, tapi tidak dapat melintasi lingkaran kuning itu. Maka pahamlah Goan-ci akan duduknya perkara, “Tentu lingkaran kuning itu digambar dengan semacam obat bubuk, dan obat itu justru adalah obat antiulat sutra!”

Begitulah sesudah hwesio buntak itu memaki sebentar pula, kemudian ia merogoh keluar sepotong barang dan digerogoti. Kiranya barang itu adalah sepotong congor kambing rebus.

Nikmat sekali kelihatannya hwesio itu makan daging kambing, kemudian ia tanggalkan sebuah buli-buli rusak dari pinggangnya, ia buka sumbat houlo (buli-buli buatan dari sejenis labu yang dikeringkan) dan menenggak dengan bernafsu.

Segera Goan-ci mencium bau arak yang harum. Pikirnya, “Kiranya orang ini adalah hwesio sontoloyo yang tidak pantang makan daging dan minum arak. Tampaknya ulat sutra ini piaraannya, makanya ia sangat sayang pada binatang itu. Lantas cara bagaimana aku harus mencurinya?”

Tengah Goan-ci mencari akal, tiba-tiba didengarnya ada suara orang berseru di sebelah kebun sana, “Sam-ceng! Sam-ceng!”

Hwesio buntak itu kelihatan terkejut demi mendengar suara panggilan itu, cepat ia menyembunyikan houlo dan congor kambing yang belum habis dimakan itu ke dalam onggokan rumput kering di situ.

Dalam pada itu suara orang tadi lagi memanggil pula, “Sam-ceng! Sam-ceng! Di mana kau, mengapa kau tidak sembahyang magrib, tapi mengumpet di mana?”

Cepat hwesio buntak itu menjemput sebatang cangkul yang berada di sisinya, segera ia pura-pura lagi mencangkul di ladang sayur, lalu menjawab, “Aku berada di sini! Aku lagi mencangkul sayur atas perintah Hongtiang, maka tidak sempat melakukan ibadah!”

Maka tertampaklah orang yang memanggil itu lagi mendekat, kiranya seorang hwesio setengah umur, dengan muka kereng ia berkata, “Ibadat pagi dan sore harus dilakukan setiap orang, untuk mencangkul mengapa mesti dilakukan pada waktu sembahyang? Ayo lekas ke sana, habis melakukan kewajiban boleh datang lagi ke sini untuk mencangkul lagi!”

Si padri buntak yang dipanggil sebagai Sam-ceng itu mengiakan, lalu menaruh cangkul dan ikut pergi bersama hwesio yang memanggilnya itu tanpa berani menoleh, rupanya khawatir perbuatannya tadi ketahuan.

Menunggu setelah kedua padri itu menghilang dan sekitar situ sudah sunyi, diam-diam Goan-ci menerobos pagar bambu dan masuk ke dalam kebun. Ia lihat ulat sutra itu masih merayap kian-kemari ingin keluar dari lingkaran kuning. Untuk sejenak Goan-ci menjadi bingung cara bagaimana harus menangkap ulat itu.

Tiba-tiba ia mendapat akal, segera ia menggerayangi onggok rumput kering dan mengeluarkan houlo yang disembunyikan si padri buntak tadi. Ia coba kocok buli-buli itu dan ternyata masih ada isinya setengah. Ia minum beberapa ceguk araknya, lalu membuang sisanya, perlahan ia pasang mulut houlo itu ke garis lingkaran kuning itu. Dan begitu mulut houlo melintang di garis itu, cepat sekali ulat itu lantas menyusup ke dalam houlo.

Girang Goan-ci tak terkatakan, cepat ia tutup sumbat houlo, sambil mendekap houlo dengan kedua tangan, segera ia menerobos keluar pagar bambu dan cepat lari kembali ke arah datangnya tadi.

Tapi baru beberapa puluh meter jauhnya ia tinggalkan kelenteng itu, segera ia merasa kedua tangannya itu kedinginan, hawa dingin itu merembes keluar dari dalam houlo. Begitu dingin hingga tangannya serasa akan beku, ia benar-benar tidak sanggup lagi memegangi houlo itu.

Saking tak tahan akan rasa dingin itu, ia coba taruh houlo itu di atas kepalanya. Tapi cara ini lebih celaka lagi baginya. Sebab hawa dingin itu pun menembus topeng besi yang dipakainya hingga kepalanya kedinginan seakan-akan beku, bahkan darah seluruh tubuh juga serasa beku semua.

Tiba-tiba Goan-ci mendapat akal lagi, ia lepaskan ikat pinggang, ia ikatkan pinggang houlo itu dan mencangkingnya dengan tangan. Tali ikat pinggang itu tak tertembus hawa dingin, maka ia dapat menjinjingnya dengan selamat untuk melanjutkan perjalanan. Namun begitu hawa dingin masih merembes keluar dari dalam houlo hingga dalam sekejap saja di luar houlo telah membeku menjadi selapis es.

Goan-ci berjalan dengan setengah berlari, waktu hari gelap barulah ia sampai di kota, pintu gerbang kota sudah ditutup, terpaksa ia bermalam di luar benteng kota, esok paginya barulah ia datang ke Toan-hok-tian untuk melapor kepada A Ci tentang hasilnya itu.

A Ci sangat girang, segera ia perintahkan Goan-ci memiara ulat sutra itu di dalam guci.

Tatkala itu sudah permulaan musim panas, hawa agak hangat di daerah utara. Tapi sejak ulat sutra itu dipelihara dalam istana samping, seketika hawa dalam istana itu tambah dingin, tidak lama kemudian bahkan air teh di dalam teko dan cangkir juga beku menjadi es.

Malam itu meski Goan-ci tidur berselimut, tapi dia kedinginan sampai menggigil. Pikirnya, “Ulat sutra ini sungguh sangat aneh, benar-benar jarang terdapat di dunia ini. Bila nanti nona menggunakan ulat ini untuk mengisap darahku, andaikan aku tidak mati keracunan juga pasti akan mati beku.”

Ketika A Ci mendapati keadaan aneh dalam istana itu, segera ia tahu ulat sutra itu bukanlah binatang sembarangan. Berulang ia menangkap pula beberapa ekor ular dan serangga berbisa lain untuk diadu dengan ulat sutra itu, tapi semua kalah, asal dilingkari sekali oleh ulat sutra itu, seketika lawannya mati kedinginan, lalu cairan racunnya diisap kering oleh ulat sutra.

Belasan hari kemudian, tiada satu pun binatang berbisa lain yang dapat diadu lagi dengan ulat sutra itu.

Suatu hari A Ci datang ke ruangan samping istana dan berkata kepada Goan-ci, “Badut besi, hari ini kita akan menggunakan ulat sutra ini. Nah, ulurkan tanganmu ke dalam guci, biarkan ulat itu mengisap darahmu!”

Memang selama beberapa hari ini hati Goan-ci selalu kebat-kebit, siang berkhawatir dan malam bermimpi buruk, yang ditakuti justru adalah perintah seperti si nona sekarang ini. Dan sekali nona itu sudah memberi perintah, betapa pun dia pasti akan menjadi korban ulat itu, untuk minta ampun juga percuma. Dengan rasa pedih Goan-ci memandang A Ci tanpa berkata dan tidak bergerak.

Sementara itu A Ci sudah duduk bersila untuk mengerahkan lwekangnya, yang terpikir olehnya saat itu adalah Hoa-kang-tay-hoat yang akan berhasil dilatihnya itu bukan mustahil akan jauh lebih lihai daripada gurunya sendiri. Dan ketika melihat Goan-ci diam saja, segera ia memerintah lagi, “Nah, ulurkan tanganmu!”

Air mata Goan-ci bercucuran, tiba-tiba ia berlutut dan menjura kepada A Ci, katanya, “Nona, bila ilmu silatmu sudah berhasil kau yakinkan, hendaklah jangan melupakan hambamu yang berkorban bagimu ini. Aku she Yu bernama Goan-ci, dan bukan badut besi atau badut tembaga segala.”

A Ci tersenyum, sahutnya, “Baiklah, aku akan mengingatnya, namamu Yu Goan-ci. Kau sangat setia padaku, sungguh bagus, seorang budak yang setia!”

Pujian A Ci itu dirasakan oleh Goan-ci sebagai hiburan sebelum ajalnya, kembali ia menjura tiga kali lagi dan menyatakan terima kasih.

Tapi setiap manusia di dunia ini pasti mempunyai rasa takut mati. Yu Goan-ci juga tidak rela mati konyol secara begitu. Teringat olehnya tempo hari sesudah ia digigit oleh kelabang, jiwanya yang hampir amblas itu dapat tertolong oleh gaya menjungkir si padri kurus kering dalam lukisan itu. Maka sekarang mencobanya lagi secara untung-untungan siapa tahu kalau akan berhasil juga.

Segera ia berdiri dengan berjinjit, ia menekuk tubuh dan menyusupkan kepala ke bawah selangkangan, dengan demikian ia menjulurkan tangan ke dalam guci, sedangkan pikiran tertuju kepada garis merah yang terlukis pada si padri kurus dalam kitab itu.

Mendadak “clekit”, jari telunjuknya terasa sakit dan gatal, suatu arus hawa dingin terus merasuk ke dalam tubuh. Namun Goan-ci sudah siap sedia, pikirannya melulu tertuju kepada garis merah di dalam lukisan padri kurus itu. Ia merasa hawa dingin itu benar-benar dapat mengalir menurut relnya, yaitu mengikuti garis merah yang diingat-ingat olehnya. Maka hawa dingin itu mulai mengalir dari jari ke lengan, dari lengan ke bahu, ke dada dan berputar untuk kemudian sampai di ubun-ubun kepala.

Meski garis yang dilalui itu terasa dingin merasuk tulang, tapi rasa dingin itu sangat halus hingga Goan-ci masih sanggup bertahan.

Semula A Ci sangat geli melihat kelakuan Goan-ci yang aneh itu. Tapi sesudah agak lama pemuda itu tetap berjungkir, mau tak mau A Ci merasa sangsi. Ia coba mendekat, ia lihat ulat sutra di dalam guci telah menggigit jari telunjuk pemuda itu.

Karena badan ulat sutra itu berwarna putih bening, maka dapat terlihat dengan jelas darah yang diisap itu mengalir masuk ke dalam perut ulat, sesudah itu berputar di dalam badan, lalu aliran darah mencurah keluar kembali ke jari Yu Goan-ci.

Selang agak lama lagi, lambat laun kerudung besi, pakaian, kaki, dan tangan Goan-ci mulai beku oleh selapis es.

“Budak ini terang sudah mati, badan orang hidup umumnya panas, mana dapat beku menjadi es?” demikian A Ci berkata di dalam hati.

Ia lihat dalam badan ulat sutra itu masih ada darah yang mengalir, terang belum selesai ulat itu mengisap darah. Terpaksa ia mesti bersabar dan menunggu ulat itu jatuh sendiri bila sudah kenyang mengisap darah, lalu ia akan gecek mati ulat itu untuk mengambil sari bisanya guna melatih Hoa-kang-tay-hoat yang mukjizat itu.

Begitulah A Ci menaruh perhatian penuh akan keadaan ulat sutra itu sambil siap memegang sebatang tongkat untuk menggeceknya. Sekonyong-konyong dilihatnya badan ulat sutra itu mengeluarkan hawa panas.

Selagi A Ci terkejut dan terheran-heran, “blek”, tahu-tahu ulat itu jatuh ke dalam guci. Kontan saja A Ci mengetuk dengan tongkat yang dipegangnya.

Semula ia duga gecekannya itu belum tentu dapat membinasakan ulat itu mengingat binatang itu sangat licin dan gesit. Siapa duga, sekali ulat sutra itu jatuh ke dalam guci, seketika menggeletak dengan perut di atas tanpa berkutik, maka sekali gecek segera ulat sutra itu gepeng dan hancur.

A Ci sangat girang, cepat ia masukkan tangan ke dalam guci, ia poles cairan darah ulat itu pada kedua telapak tangan sendiri, lalu pejamkan mata dan mengerahkan lwekang, maka dengan cepat cairan darah ulat sutra itu terisap kering ke dalam telapak tangan. Ia tahu khasiat ulat sutra itu sangat sukar dicari, maka berulang-ulang A Ci poles cairan darah ulat pada tangannya, setelah cairan itu kering betul, barulah ia berhenti.

Kemudian ia bangkit, ia lihat Goan-ci masih berjungkir, seluruh badan penuh terbungkus es. Sudah tentu A Ci sangat heran, ia coba meraba badan orang, ia merasa dingin sekali, untuk sejenak A Ci memandang keadaan aneh itu dengan bingung, lalu tinggal pergi.

Esok paginya A Ci datang ke ruangan istana pula, ia lihat Goan-ci masih tetap terjungkir dan es yang membeku di atas badan pemuda itu bertambah tebal. Terkejut dan geli pula A Ci. Segera ia memanggil Sili dan menyuruhnya menyeret pergi mayat Yu Goan-ci itu untuk dikubur.

Dengan beberapa anak buah segera mengangkut mayat Goan-ci keluar kota dengan kereta kuda.

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: