Kumpulan Cerita Silat

24/05/2009

Pendekar-Pendekar Negeri Tayli – 44

Filed under: Pendekar-Pendekar Negeri Tayli — Tags: — ceritasilat @ 4:37 am

Oleh Jin Yong

(Terima Kasih Kepada Tungning)

Pemuda itu lantas ikut ke sana, ia angkat kedua tangannya yang terikat itu, katanya, “Harap memotong tali pengikat tanganku ini, hendak kukeluarkan sesuatu barang untukmu.”

Tanpa pikir Siau Hong melolos goloknya, “sret”, sekali ayun, ia tebas tali pengikat kedua tangan pemuda itu. Begitu cepat dan jitu tebasan Siau Hong hingga membuat pemuda itu berjingkat kaget ketika mengetahui golok itu sudah menyambar lewat tangannya, tali pengikatnya sudah putus dan tangannya tidak terluka apa-apa.

“Nah, barang apa?” tanya Siau Hong kemudian dengan tersenyum sambil menyarungkan kembali goloknya.

Segera pemuda itu merogoh saku, ia ambil sesuatu benda, digenggam, lalu mendekati Siau Hong sambil menyodorkan tangannya dan berkata, “Ini, boleh kau periksa sendiri.”

Selagi Siau Hong hendak ulur tangan menerima barang orang, sekilas dilihatnya benda dalam genggaman pemuda itu seperti dapat bergerak, ia jadi curiga dan urung menerima, katanya, “Coba buka tanganmu?”

Pemuda itu sadar tipu muslihatnya telah gagal, mendadak air mukanya berubah hebat, sekonyong-konyong makhluk pada tangannya itu dilemparkan ke muka Siau Hong.

Tapi sekali sampuk dengan cambuk kuda, Siau Hong hantam makhluk kecil itu ke tanah. Waktu diamati, kiranya seekor ular kecil hitam mulus. Ia kerut kening dan tidak menaruh perhatian atas ular itu, ia pikir pemuda itu benar-benar kurang ajar, masa mempermainkanku dengan ular.

Di luar dugaan, begitu ular itu ke tanah, mendadak ular melompat ke atas lagi dan hendak memagut kaki Siau Hong. Sama sekali Siau Hong tidak menyangka ular sekecil itu bisa melejit ke atas, ia terperanjat dan cepat mengangkat kakinya ke samping hingga pagutan ular itu kena di kaki depan kuda tunggangannya.

Sekali tergigit ular, seketika kuda itu lemas lunglai ke tanah. Cepat Siau Hong melompat turun, ia lihat kudanya sudah tak bisa berkutik lagi, hanya berkelojotan sekali, lantas binasa.

Bahkan si pemuda lantas memburu maju lagi, ia sambar ular kecil itu terus dilemparkan pula ke arah Siau Hong.

Melihat ular itu begitu lihai, Siau Hong tidak berani gegabah lagi, ia kerahkan tenaga pada cambuknya terus menyabet, “plok”, ular itu terpental hingga berpuluh meter jauhnya, tapi belum mati, ular itu merayap, lalu menghilang entah ke mana.

Biarpun Siau Hong sudah banyak pengalaman, tidak urung ia mengirik membayangkan kejadian tadi. Hanya sekali gigit saja ular sekecil itu dapat membinasakan seekor kuda besar dalam waktu singkat sekali, maka betapa jahat upasnya dapat dibayangkan. Apalagi pemuda itu berani pegang ular itu sesukanya, suatu bukti pemuda itu telah menguasai racun ular yang jahat itu.

Sebagai bekas Pangcu Kay-pang, Siau Hong sudah sering menyaksikan anggota Kay-pang main ular, maka ia tidak heran pada ular berbisa. Tapi ular hitam kecil ini sangat ganas, sedangkan untuk bisa menguasai racun ular dengan baik, anggota Kay-pang umumnya mesti berlatih hingga bertahun-tahun lamanya, dan biasanya ahli ular itu terdiri dari pengemis-pengemis yang sudah tua. Tapi pemuda ini baru belasan tahun umurnya, namun sudah memiliki kepandaian selihai ini, sungguh dapat dikatakan luar biasa. Coba tadi kalau dirinya lengah sedikit saja, mungkin jiwanya sekarang sudah melayang.

Dalam pada itu para perwira dan prajurit Cidan beramai-ramai telah memburu maju ketika melihat kuda Siau-tay-ong mereka roboh dan binasa. Namun segera Siau Hong memberi tanda pada mereka dan berseru, “Kalian jangan mendekat ke sini.”

Serentak pasukan Cidan itu berhenti di tempat mereka. Waktu Siau Hong periksa kudanya, ia lihat badan kuda itu telah berubah menjadi hitam dalam waktu singkat. Keruan ia lebih terkesiap. Segera ia berkata dengan manggut-manggut, “Ehm, bagus, bagus! Siapa namamu? Mengapa kau serang aku sekeji ini?”

Tapi pemuda itu bungkam dalam segala bahasa, bahkan ia melirik hina pada Siau Hong.

“Coba mengakulah dan jiwamu mungkin dapat kuampuni,” kata Siau Hong pula.

“Aku gagal membalas sakit hati orang tua, apa mau dikata lagi?” tiba-tiba pemuda itu menyahut dengan ketus.

“Hah, kau ingin membalas sakit hati orang tuamu?” Siau Hong menegas dengan heran. “Siapakah orang tuamu? Apakah aku yang membunuhnya?”

Pemuda itu melangkah maju, tiba-tiba ia tuding hidung Siau Hong dan memaki dengan penuh rasa dendam, “Kiau Hong! Kau telah membunuh pamanku, membunuh ayah-bundaku, sungguh aku… aku ingin mengunyah dagingmu, ingin membeset kulitmu dan mencencang badanmu hingga hancur lebur!”

Mendengar pemuda itu memanggil namanya yang lama, yaitu “Kiau Hong”, pula menuduh dirinya membunuh paman dan ayah bundanya, Siau Hong pikir besar kemungkinan adalah permusuhan yang terjadi di Tionggoan dahulu. Maka tanyanya segera, “Siapakah pamanmu dan siapa ayahmu?”

“Pendek kata aku pun tidak ingin hidup lagi, masakah aku takut padamu? Kaum lelaki keluarga Yu dari Cip-hian-ceng bukanlah manusia yang takut mati!” demikian teriak pemuda itu.

Mendengar pemuda itu menyebut “keluarga Yu dari Cip-hian-ceng”, barulah Siau Hong tahu duduknya perkara.

“O, kiranya kau keturunan Yu-si-siang-hiong dari Cip-hian-ceng?” katanya. “Jika demikian, ayahmu adalah Yu Ki, Yu-jiya bukan?”

Ia berhenti sejenak, lalu menyambung pula, “Dahulu aku pernah dikeroyok para kesatria Tionggoan di tempat tinggalmu, karena terpaksa maka aku melawan keroyokan mereka. Dan ayah serta pamanmu itu tewas dengan membunuh diri. Ya, memang, membunuh diri atau dibunuh orang memang sama saja. Tatkala itu aku telah merampas senjata andalan ayah dan pamanmu hingga mereka terpaksa membunuh diri, katanya untuk memenuhi sumpah perguruan mereka. Adik cilik, siapakah namamu?”

“Namaku Yu Goan-ci,” sahut pemuda itu dengan bersitegang. “Aku tidak perlu kau bunuh diriku, aku sanggup meniru semangat jantan ayah dan pamanku.”

Habis berkata, mendadak ia mencabut keluar sebilah belati dan terus menikam dada sendiri.

Namun cambuk Siau Hong lebih cepat menyambarnya daripada belatinya itu, sekali tergubat, segera belati pemuda itu dibetot terlepas dari cekalan.

Yu Goan-ci menjadi gusar, teriaknya, “Aku ingin membunuh diri juga tidak boleh? Kau anjing Cidan terkutuk, sungguh kau amat kejam!”

Dalam pada itu A Ci telah larikan kudanya mendekati Siau Hong. Segera ia membentak, “Kau setan cilik ini mengapa sembarang memaki orang? Kau ingin mampus ya? Hehehe, jangan kau harap akan begitu gampang!”

Yu Goan-ci terkesima demi mendadak melihat seorang nona cilik yang cantik molek berada di depannya, untuk sekian lama ia tidak sanggup bicara.

“Cihu,” segera A Ci berkata kepada Siau Hong, “bocah ini teramat keji, ia hendak membunuhmu dengan ular berbisa, biarlah kita juga menggunakan cara yang sama menghukumnya agar dia tahu rasa.”

Sebagai murid Sing-siok-pay, bicara tentang menyiksa orang dengan ular atau belatung berbisa mungkin tiada golongan lain yang mampu mengungguli cara mereka.

Segera Siau Hong berkata kepada komandan pasukan tadi, “Orang Song yang kalian tawan ini bolehkah diberikan padaku semua?”

Senang sekali komandan itu, sahutnya, “Asal Tay-ong sudi menerima, tentu saja hamba merasa mendapat kehormatan besar.”

“Setiap prajurit yang telah menyerahkan tawanannya kepadaku, sepulangnya nanti akan mendapat hadiah sebagai ganti kerugian,” kata Siau Hong pula. “Dan sekarang bolehlah kalian berangkat dulu ke kota.”

Dengan girang para prajurit itu mengiakan dan menyatakan terima kasih. Kata komandannya, “Binatang di sini tidak banyak, apakah Tay-ong akan menggunakan babi-babi Song ini sebagai sasaran panah yang hidup? Dahulu Co-ong juga suka permainan begini. Cuma sayang tawanan ini kebanyakan adalah kaum wanita, larinya tidak bisa cepat. Lain kali kami pasti akan mencari babi-babi Song yang laki-laki dan yang tangkas-tangkas untuk keperluan Tay-ong.”

Habis berkata, ia memberi hormat kepada Siau Hong, lalu membawa pergi pasukannya.

“Menggunakan babi-babi Song itu sebagai sasaran panah yang hidup”, kata-kata ini mendengung-dengung dalam telinga Siau Hong, seketika ia seakan-akan melihat kekejaman Co-ong yang telah menggunakan orang-orang Song itu sebagai sasaran anak panahnya, beratus orang Song itu disuruh lari serabutan, lalu satu per satu dipanah dari jauh seperti berburu binatang. Agaknya kekejaman demikian itu bukan cuma sekali dua kali terjadi, tapi tiap orang Cidan telah anggap biasa permainan itu.

Ketika Siau Hong memandang para tawanan itu, ia lihat wajah mereka pucat lesi bagai mayat, bahkan banyak di antaranya gemetar ketakutan, rupanya ada di antara mereka paham bahasa Cidan, maka demi mendengar mereka akan digunakan sebagai sasaran panah, mereka menjadi takut.

Siau Hong menghela napas panjang, ia memandang jauh ke selatan sana, di mana gunung-gemunung menjulang tinggi tertutup awan. Tiba-tiba terpikir olehnya, “Coba kalau tiada orang membongkar rahasia asal usulku, sampai hari ini pasti aku masih anggap diriku adalah rakyat Song, bicaraku sama seperti bahasa mereka, dan makan nasi serupa mereka, apa perbedaannya? Padahal kita semuanya adalah manusia, sama-sama manusia kenapa mesti ada perbedaan antara Cidan, Song, Nuchen, Korea, dan apa segala? Kenapa kita tidak dapat hidup damai berdampingan, sebaliknya mesti saling cakar-cakaran, yang satu ‘panen’ ke wilayah kekuasaan yang lain dan yang lain menggarong dan membunuh ke negeri orang lagi? Yang satu memaki yang lain sebagai anjing Cidan dan yang lain memaki orang sebagai babi Song? Ya, alangkah baiknya jika di dunia ini tiada penindasan manusia atas manusia, tiada penjajahan bangsa atas bangsa, tiada pengisapan orang atas orang, jika semuanya itu tak ada, tentu dunia ini akan aman dan damai.”

Begitulah seketika itu perasaannya bergolak, semangatnya membakar.

Dalam pada itu A Ci mempunyai kerjanya sendiri, ia terus mengamat-amati Yu Goan-ci sambil memikirkan cara bagaimana harus menyiksa pemuda itu. Pikirnya, “Tidak boleh sekali siksa mematikan dia, tapi harus kucari suatu akal yang baik dan menarik untuk mempermainkan dia sekadar pelipur lara hatiku daripada perburuan kijang yang membosankan ini. Eh, ya, dapat kugunakan dia untuk menguji khasiat Pek-giok-giok-ting yang kumiliki ini. Dapat kutangkap beberapa macam ular dan belatung berbisa untuk menggigit tangannya dulu, bila nanti hawa berbisa sudah hampir menyerang jantungnya, lantas kupotong tangannya itu, lalu giliran tangannya yang lain, dengan cara begitu mungkin aku dapat mempermainkannya untuk beberapa hari lamanya.”

Sementara itu setelah pasukan Cidan tadi pergi, lalu Siau Hong berkata kepada para tawanan itu, “Biarlah hari ini kubebaskan kalian. Nah, lekas kalian pergi!”

Tapi para tawanan itu mengira bila mereka lari, lalu mereka akan dipanah. Maka mereka merasa ragu dan tiada yang mau bergerak.

Segera Siau Hong berkata pula, “Sesudah kalian pulang, paling baik kalian meninggalkan daerah perbatasan ini sejauhnya agar kalian tidak menjadi sasaran panenan dan tertangkap pula. Aku hanya dapat menolong kalian satu kali dan tidak mungkin dua kali.”

Mendengar itu, barulah para tawanan itu percaya penuh, seketika gegap gempita sorak gembira mereka, beramai-ramai mereka menjura dan mengaturkan terima kasih kepada Siau Hong. Sungguh mereka tidak menduga bahwa jiwa mereka yang sudah terang akan melayang di negeri Liau itu bisa direnggut kembali dari cengkeraman elmaut.

Pada umumnya kalau orang-orang Song sudah menjadi “hasil panen” orang Cidan, kecuali orang dari keluarga mampu yang sanggup menebus dengan harta benda yang tinggi, kalau tidak, pasti akan mati tak terkubur di tanah asing. Sedangkan para tawanan ini adalah rakyat jelata yang miskin, dari mana mereka mampu menebus jiwa mereka dengan harta benda? Keruan girang mereka tidak kepalang demi mendengar pengampunan Siau Hong itu.

Begitulah Siau Hong melihat para tawanan itu berduyun-duyun menuju ke selatan dengan senang. Lambat laun suasana kembali menjadi sunyi, para tawanan telah pergi semua. Tapi dilihatnya Yu Goan-ci tadi masih berdiri tegak di tempatnya. Segera Siau Hong berkata padanya, “Hei, mengapa kau tidak pergi? Apakah kau tidak punya sangu untuk pulang ke Tionggoan?”

Sembari berkata tangannya lantas merogoh saku dengan maksud mengambil sedikit uang perak untuk pemuda itu.

Tak terduga sakunya tidak membawa apa-apa, tahu-tahu yang terogoh keluar adalah sebuah bungkusan kecil dari kertas minyak.

Siau Hong merasa pedih melihat bungkusan kertas itu. Di dalam bungkusan itu adalah sejilid Ih-kin-keng edisi bahasa Hindu. Dahulu A Cu telah mencuri kitab pusaka itu dari Siau-lim-si dan diberikan padanya. Kini gadis itu sudah meninggal dan kitab itu masih disimpan olehnya dengan sendirinya ia berduka teringat kepada kejadian lalu.

Katanya kemudian dengan menyesal, “Hari ini aku keluar untuk berburu, maka tidak membawa uang, jika kau perlu sangu, boleh ikut aku ke kota untuk ambil.”

Tapi mata Yu Goan-ci mendelik dan merah membara, teriaknya dengan gusar, “Orang she Kiau, kalau mau bunuh lekas bunuh, mau cencang lekas cencang, masakah aku jeri, buat apa mesti mempermainkan aku dengan tipu muslihatmu yang keji? Biarpun orang she Yu ini mati melarat juga tidak sudi menerima uang sepeser pun darimu!”

Siau Hong pikir benar juga ucapan pemuda itu. Dirinya adalah musuh pembunuh orang tua pemuda itu, sudah tentu sakit hati sedalam lautan itu tak bisa diselesaikan begitu saja. Maka katanya, “Aku takkan membunuhmu, jika kau ingin menuntut balas, setiap saat boleh kau cari padaku.”

“Cihu jangan kau lepaskan dia!” tiba-tiba A Ci menyela. “Bocah ini sangat keji, cara balas dendamnya juga tidak beres. Menggunakan ular dan menaruh racun, segala perbuatan kotor dapat dilakukannya. Membabat rumput harus sampai akar-akarnya, jangan meninggalkan bencana di kemudian hari.”

Tapi Siau Hong menggeleng kepala, sahutnya, “Di kalangan Kangouw penuh rintangan, setiap langkah selalu ketemu bahaya, semuanya itu sudah pernah kualami. Dahulu tanpa sengaja telah kupaksa ayah dan pamannya membunuh diri, utang darah itu memang adalah tanggunganku, buat apa sekarang aku mesti membunuh lagi anak keturunan Yu-si-siang-hiong?”

Mendengar pertentangan antara mereka, yang satu bersedia melepaskan dia, si nona justru minta dirinya dibunuh saja. Diam-diam Yu Goan-ci juga ingin bisa lekas angkat kaki agar tidak mati konyol. Tapi demi ingat bila dirinya lari, hal mana berarti mencemarkan nama baik orang tua. Maka sedapat mungkin ia tabahkan hati dan melirik kedua orang di hadapannya itu dengan sikap angkuh.

“A Ci, marilah kita pulang saja, hari ini tiada binatang yang dapat kita buru,” kata Siau Hong kemudian.

“Sebenarnya aku sudah mengatur rapi rencanaku, dan engkau justru sengaja melepaskan dia, sepulangnya di kota aku bisa bermain apa lagi?” demikian A Ci menggerundel. Tapi ia pun tidak berani membantah perintah Siau Hong, segera ia putar kudanya dan ikut pulang ke kota.

Kira-kira belasan meter jauhnya, tiba-tiba ia menoleh dan berkata kepada Yu Goan-ci, “He, anak busuk, boleh kau latih diri 75 tahun lagi untuk kemudian boleh kau cari cihuku untuk menuntut balas!”

Habis berkata, ia tersenyum dan pecut kudanya mencongklang ke depan dengan cepat.

Melihat rombongan Siau Hong menuju ke utara dan tidak putar balik lagi, barulah Yu Goan-ci percaya bahwa jiwanya takkan melayang. Pikirnya heran, “Mengapa bangsat itu tidak membunuh aku? Hm, hakikatnya dia memandang rendah padaku, ia merasa akan bikin kotor tangannya jika membunuh diriku. Dia… dia telah menjadi Tay-ong apa di negeri Liau, untuk menuntut balas selanjutnya akan lebih sulit. Tapi akhirnya aku dapat mengetahui tempat tinggalnya, kelak pasti akan kucari dia lagi. He, Si Hitam di mana? Si Hitam!”

Begitulah ia lantas mencari-cari di semak rumput sekitar situ, yang dicarinya yaitu ular hitam kecil yang menghilang tadi.

Tengah ia cari ke sana dan ke sini, tiba-tiba dilihatnya di semak-semak rumput situ ada sebuah bungkusan kertas kecil. Itulah bungkusan milik Siau Hong yang dirogoh keluar lalu dimasukkan lagi ke dalam baju itu.

Kiranya tadi waktu Siau Hong memasukkan kembali kitab itu ke dalam bajunya, karena dalam keadaan setengah melamun, maka kitab Ih-kin-keng itu tidak tepat masuk ke dalam saku, tapi meleset keluar. Dan ketika ia menggeprak kudanya untuk berangkat, guncangan-guncangan telah menyebabkan kitab itu jatuh ke tanah tanpa disadari olehnya dan kini diketemukan oleh Yu Goan-ci.

Karena tidak kenal tulisan dalam kitab itu, Goan-ci pikir besar kemungkinan itulah tulisan Cidan. Kitab ini pasti berguna bagi musuhnya itu, aku justru tidak mau kembalikan padanya, tentu dia akan kelabakan mencarinya.

Teringat bahwa dengan memegang kitab itu akan bisa membuat musuh kelabakan, sedikit banyak dalam hati kecil pemuda itu timbul semacam rasa terhibur, rasa puas. Dan sudah tentu, sakit hati orang tua sedalam lautan itu tidak mungkin dihapuskan hanya oleh karena sedikit kepuasan itu, tapi apa jeleknya asal dapat membuat Kiau Hong mengalami sesuatu kesukaran, sekalipun cuma kesukaran kecil saja.

Begitulah ia lantas membungkus kembali kitab itu dengan kertas minyak, lalu disimpannya di saku dalam, kemudian ia berangkat ke selatan.

Sebenarnya sejak kecil Goan-ci sudah mendapat pelajaran ilmu silat dari ayahnya. Sayang wataknya tidak cocok dengan ilmu silat, badannya kurus lemah pula, tenaga kurang, maka paman dan ayahnya meski tergolong tokoh persilatan Tionggoan yang kenamaan, tapi dia sendiri sedikit sekali kemajuannya biarpun sudah belajar 3 tahun lamanya, sama sekali tidak sesuai sebagai anak murid jago silat terkemuka.

Ketika Goan-ci menginjak umur dua belas dan tetap tiada kemajuan, Yu Ki ayahnya, telah ganti haluan, ia berunding dengan saudaranya, Yu Ek, untuk menyekolahkan Goan-ci saja, suruh bocah itu belajar ilmu sastra saja daripada ilmu silat tanpa kemajuan, dengan kepandaiannya yang kepalang tanggung itu bukan mustahil kelak akan mengakibatkan jiwanya melayang bila dijajal orang, bahkan nama baik Yu-si-siang-hiong juga akan ikut tercemar.

Sebab itulah, maka setelah berumur dua belas ke atas, Goan-ci tidak belajar ilmu silat lagi melainkan belajar ilmu sastra.

Tapi disuruh sekolah, kembali ia mogok setengah jalan. Ia selalu mengemukakan pikiran yang tidak-tidak, sering ia suka bertanya dan membantah.

Jika gurunya berkata, “Khonghucu bilang: belajar sesuatu ilmu harus sering dipelajari dan lama-lama engkau tentu akan merasa tertarik.”

Maka Goan-ci lantas mendebat, “Belum tentu benar, bergantung juga pada apa yang kita pelajari. Misalnya ayah telah mengajarkan aku main silat, aku sudah sering mempelajarinya, tapi mengapa aku tidak tertarik sedikit pun?”

Sang guru menjadi gusar, “Yang dimaksudkan Khonghucu adalah pelajaran kaum nabi dan tentang kehidupan manusia yang benar, masakah kau maksudkan urusan main silat segala?”

“Ai, jadi pak guru bilang ayahku belajar tidak baik. Awas, nanti akan kukatakan pada ayah,” demikian sahut Goan-ci.

Begitulah akhirnya sang guru lantas angkat kaki saking tak tahan oleh sifat Goan-ci yang bambungan itu. Berulang-ulang diganti guru yang lain selalu dibikin ngacir oleh Goan-ci. Sering juga Yu Ki menghajar putranya itu, tapi dasar kepala batu, semakin dihajar dan digebuk, semakin bandel malah, hingga akhirnya Yu Ki kewalahan sendiri. Karena tiada jalan lain, terpaksa ia tidak peduli lagi.

Sebab itulah, meski kini usia Goan-ci sudah 17 tahun dan putra seorang tokoh persilatan ternama, tapi ia tidak mempunyai kepandaian apa-apa, sastra tidak becus, silat juga tidak pintar. Setiap hari ia hanya ikut seorang anak buah ayahnya untuk belajar menangkap ular dan selalu keluyuran di lereng pegunungan.

Ketika paman dan ayahnya membunuh diri karena senjata mereka dirampas Siau Hong, kemudian ibunya juga bunuh diri menyusul sang suami dengan membenturkan kepala ke pilar, maka terpaksa Goan-ci yang sebatang kara terlunta-lunta di rantau.

Waktu pertempuran sengit di rumahnya itu, ia pun mengintip dari belakang pintu dan tahu musuhnya bernama “Kiau Hong”, wajahnya juga diingatnya dengan baik, ia dengar musuh itu adalah orang Cidan, maka tanpa terasa ia terus menuju ke utara, yang terpikir olehnya ialah ingin mencari Kiau Hong untuk menuntut balas. Dan cara bagaimana ia harus menuntut balas hal ini tidak pernah terpikir olehnya.

Ketika dia berkeliaran kian-kemari di perbatasan, akhirnya ia ikut tertawan oleh pasukan Cidan yang sedang “panen” itu dan secara kebetulan sekali bertemu dengan Siau Hong yang dicarinya.

Begitulah ia pikir, “Paling penting sekarang aku harus lekas pergi dari sini sejauhnya supaya tidak ditangkap kembali olehnya. Aku akan mencari seekor ular berbisa lagi dan diam-diam akan kutaruh di tempat tidurnya, bila dia tidur, tentu dia akan dipagut mampus. Dan no… nona cilik itu, ai, cantik sekali dia!”

Aneh, demi teringat wajah A Ci yang ayu itu, tanpa terasa timbul semacam rasa syur yang sukar dimengerti.

Hidup selama 17 tahun di dunia ini, baru pertama kali ini Goan-ci mempunyai perasaan yang aneh itu. Ia merasa bila membayangkan wajah si nona cilik yang putih kepucat-pucatan dan cantik molek itu, seketika hatinya merasa senang tak terhingga.

Karena sambil melamun, maka tahunya cuma jalan ke depan dengan langkah lebar hingga tidak lama ia sudah melewati serombongan pengungsi. Ia tidak kenal dengan pengungsi-pengungsi yang malang itu, ada di antaranya bermaksud baik dan suruh ia jalan bersama mereka, tapi ia tidak gubris pada tawaran orang, ia tetap berjalan terus ke arahnya sendiri.

Maka sesudah belasan li jauhnya, ia berada sendirian di padang rumput yang luas. Ia merasa perutnya berkeruyukan saking kelaparan. Ia coba celingukan kian-kemari untuk mencari sesuatu yang dapat dimakan, tapi di padang rumput itu melulu rumput dan salju belaka, pikirnya, “Bila aku jadi sapi atau kambing, tentu sekarang aku takkan kelaparan, aku akan dapat makan rumput dengan sekenyang-kenyangnya dan bila haus dapat minum air salju. Tapi, ah, menjadi sapi dan kambing juga tidak enak, setiap waktu mereka dapat disembelih, lebih baik aku tetap menjadi manusia saja walaupun kelaparan.”

Begitulah selagi ia berpikir yang tidak-tidak, tiba-tiba didengarnya suara derapan kuda, mendadak muncul tiga prajurit Cidan berkuda.

Ketika melihat dia, orang-orang Cidan itu bersorak gembira. Dan “sret”, mendadak sebuah tali laso menyambar dan tepat menjerat leher Goan-ci dengan erat.

Seketika Goan-ci merasa napas sesak, cepat ia hendak menarik tali itu. Tak terduga prajurit Cidan yang melempar laso itu lantas bersuit, tahu-tahu kudanya membedal hingga Goan-ci terseret jatuh terus ditarik pergi. Goan-ci hanya sempat menjerit beberapa kali, lalu tak dapat mengeluarkan suara lagi karena tenggorokannya tercekik oleh tali laso.

Khawatir buronannya mati terjerat, segera prajurit Cidan itu menghentikan kudanya. Maka dengan meronta-ronta Goan-ci merangkak bangun, dan baru sedikit ia menarik longgar jeratan laso, mendadak prajurit Cidan itu menarik pula sekuatnya sehingga Goan-ci terhuyung-huyung dan hampir jatuh tersungkur jatuh. Maka tertawalah ketiga prajurit Cidan itu dengan terbahak-bahak.

Kemudian prajurit Cidan itu berkata beberapa patah kepada Goan-ci, tapi pemuda itu tidak paham bahasa Cidan, ia hanya geleng-geleng kepala tanda tidak tahu.

Lalu prajurit Cidan itu memberi isyarat kepada kawan-kawannya. Cuma sekali ini kuda tidak dilarikan melainkan berjalan.

Ketiga prajurit Cidan itu menuju ke arah utara. Walaupun kuda mereka tidak dilarikan, tapi langkah kuda sudah tentu lebih lebar daripada langkah manusia. Dan untuk tidak sampai terseret, terpaksa Goan-ci mesti mengikuti dengan setengah berlari. Keruan hanya sebentar saja ia sudah megap-megap.

Ia lihat arah yang dituju prajurit-prajurit Cidan itu adalah jurusan Siau Hong pergi tadi. Keruan ia sangat ketakutan. Pikirnya, “Mulut keparat Kiau Hong itu ternyata mencla-mencle. Katanya aku dibebaskan, tapi diam-diam suruh orang menguber dan menangkap aku lagi. Dan sekali ini jiwaku pasti akan melayang!”

Waktu ditawan dalam “panen” tentara Cidan semula, ia telah dicampurkan di antara rombongan tawanan lain yang sebagian besar terdiri dari kaum wanita. Cara berjalan kaum wanita sudah tentu tidak terlalu cepat, maka ia dapat mengikut dengan tidak terlalu payah, hanya ketika hendak ditawan punggungnya kena dihantam sekali dengan punggung golok oleh orang Cidan, tempat yang diketuk itu sampai sekarang masih agak kesakitan.

Adapun sekarang untuk kedua kalinya ia tertawan, keadaannya menjadi berbeda. Ia setengah diseret dan terpaksa ikut berlari-lari hingga megap-megap, napasnya makin lama makin sesak. Tanah salju licin pula, berulang ia terpeleset jatuh. Dan setiap kali ia tergelincir, pasti tali laso menggurat satu jalur luka di lehernya hingga darah bercucuran.

Sedangkan prajurit melaso dia itu sedetik pun tidak pernah berhenti, ia tidak peduli mati-hidupnya Yu Goan-ci, pemuda itu diseret terus hingga sampai di kota Lamkhia.

Ketika masuk ke kota, antero badan Goan-ci sudah penuh darah hingga tidak berupa manusia lagi. Dalam keadaan begitu yang dia harap ialah lekas mati saja daripada tersiksa lebih lama.

Sesudah beberapa li lagi, ketiga prajurit Cidan itu menyeret Goan-ci masuk kota, akhirnya mereka menyeretnya ke dalam sebuah istana. Yang dilihat Goan-ci hanya lantai istana itu terdiri dari balok batu hijau semua, pilarnya besar, pintunya tinggi, ia tidak tahu istana apakah itu.

Tidak lama berhenti dalam istana itu, lalu prajurit Cidan itu menyeretnya pula ke suatu lapangan di samping istana. Mendadak prajurit itu bersuit terus kepit kudanya hingga binatang itu membedal cepat.

Sama sekali Goan-ci tidak menduga bahwa setiba di pekarangan itu mendadak orang akan melarikan kudanya lagi. Keruan baru dua-tiga langkah ia lari segera jatuh tersungkur.

Berulang-ulang prajurit Cidan itu bersuit pula hingga kudanya berlari lebih cepat, Yu Goan-ci juga terseret di tanah hingga berputar beberapa kali di pekarangan luas itu. Makin lama makin cepat derap kaki kuda dan makin cepat makin kencang Goan-ci terseret. Belasan bintara dan prajurit Cidan yang berada di situ juga ikut bersorak memberi semangat.

“Kiranya aku hendak diseret sampai mati!” demikian Goan-ci membatin.

Dan hanya sebentar saja, seantero badan Yu Goan-ci tambah babak belur lagi, jidatnya, kaki dan tangannya berulang-ulang membentur batu di tanah pekarangan itu hingga seluruh badan tiada satu tempat pun yang tak sakit.

Di tengah sorak-sorai prajurit-prajurit Cidan itu, tiba-tiba terselip suara tertawa kaum wanita yang nyaring merdu. Dalam keadaan tak sadar, sayup-sayup Goan-ci mendengar wanita itu berkata dengan tertawa, “Hahaha, layang-layang manusia ini mungkin sukar dinaikkan!”

“Wah, layang-layang manusia apa?” demikian Goan-ci membatin pula.

Tapi pada saat itu juga keadaan dirinya kontan memberi jawaban padanya. Ia merasa lehernya terjerat lebih erat, tubuhnya lantas terapung ke atas.

Ternyata maksud prajurit Cidan itu menyeretnya dengan melarikan kuda secepatnya, tujuannya adalah ingin menariknya dengan kencang hingga akhirnya tertarik naik ke udara, ia dianggap sebagai permainan layang-layang saja.

Dan begitu tubuh melayang di udara, lehernya terasa kesakitan hingga hampir saja membuatnya kelengar. Ia merasa hidung dan mulutnya penuh kemasukan angin hingga sukar bernapas. Ia dengar pula wanita itu lagi tepuk tangan dan tertawa, katanya, “Bagus, bagus! Layang-layang manusia benar-benar dapat dinaikkan!”

Waktu Goan-ci memandang ke arah suara itu, sekilas dilihatnya orang yang bertepuk tangan dan tertawa itu tak-lain-tak-bukan adalah si nona baju ungu yang cantik molek itu.

Mendadak tampak gadis yang pernah terbayang olehnya itu, Goan-ci tidak tahu apakah harus bergirang atau bersedih, karena tubuhnya sedang “terbang” di udara, maka ia pun tidak sempat banyak pikir.

Gadis jelita itu memang A Ci adanya.

Ketika Siau Hong membebaskan Yu Goan-ci, gadis itu merasa kurang senang. Sesudah melarikan kudanya tidak jauh, lalu ia pura-pura tertinggal di belakang dan diam-diam memberi perintah pada pengiringnya agar Yu Goan-ci ditangkap kembali, cuma ia pesan pula agar jangan sampai diketahui oleh Siau Hong.

Para pengiring tahu bahwa anak dara itu sangat disayang oleh Siau-tay-ong mereka, segala permintaannya pasti dituruti. Maka mereka tidak berani membantah perintahnya, segera pada suatu tikungan jalan, tatkala Siau Hong tidak menaruh perhatian, tiga orang di antaranya lantas putar balik untuk menangkap Goan-ci.

Setiba di rumah, diam-diam A Ci lantas datang ke istana Yu-seng-kiong untuk menunggu kembalinya para pengiring itu. Ketika Yu Goan-ci benar-benar sudah ditawan kembali, ia lantas tanya orang-orang Cidan di situ adakah sesuatu permainan menarik untuk menyiksa tawanannya itu.

Ada seorang di antaranya mengusulkan main “layang-layang manusia” saja. Dan usul itu diterima dengan baik oleh A Ci dan segera suruh melaksanakannya, benar juga Yu Goan-ci lantas dikerek ke udara sebagai layang-layang hidup.

Saking senangnya, berulang A Ci bersorak gembira, tiba-tiba ia berkata, “Coba, aku ingin memegang juga layang-layang hidup ini!”

Segera ia lompat dengan enteng ke atas kuda prajurit Cidan itu, ia pegang tali “layang-layang” itu dan si prajurit disuruh turun.

Sudah tentu prajurit Cidan itu menurut saja, ia lompat turun dari kudanya dan membiarkan A Ci main “layang-layang manusia” dengan sepuasnya.

Sambil menarik tali “layang-layang” A Ci larikan kudanya sekeliling sambil tertawa senang. Namun ia baru sembuh dari lukanya, betapa pun tenaganya masih terbatas, ketika tangan terasa pegal, ia tak bisa menguasai tali layang-layang pula. “Bluk”, mendadak Yu Goan-ci terbanting ke tanah dengan keras hingga batok kepalanya kebentur batu, keruan saja kepalanya bocor, kecap merah mancur keluar bagai mata air.

A Ci kurang senang karena permainannya putus setengah jalan, katanya dengan mendongkol, “Dasar badan anak busuk ini seperti babi beratnya!”

Dalam pada itu Yu Goan-ci hampir saja pingsan saking sakitnya karena terbanting dari atas, ditambah kepala bocor pula. Sudah begitu si gadis malah menyalahkan dia terlalu berat seperti babi, keruan ia sangat mendongkol. Mestinya ia ingin unjuk gigi dan balas memaki, tapi saking kesakitan ia jadi susah bicara.

Kemudian seorang prajurit Cidan mendekati dia untuk melepaskan laso di lehernya itu. Prajurit yang lain lantas merobek kain bajunya untuk membalut lukanya secara sembarangan, namun darah masih terus mengucur.

“Sudahlah! Ayo kita mulai main lagi! Coba ulur lebih panjang, kita naikkan dia lebih tinggi hingga di atas rumah!” demikian A Ci berkata.

Goan-ci tidak paham apa yang dikatakan anak dara itu, sebab bahasa yang digunakan olehnya adalah bahasa Cidan. Ia hanya melihat anak dara itu tuding-tuding ke atas rumah, ia menduga pasti takkan menguntungkan dirinya.

Benar juga, segera seorang prajurit Cidan menggunakan tali tadi untuk mengikat badannya di bawah bahu, jadi bukan lehernya lagi yang dijerat. Dan sekali membentak, segera prajurit itu larikan kudanya sambil berputar dengan cepat hingga badan Yu Goan-ci kembali melayang-layang di udara.

Makin lama tali yang dipegang prajurit itu makin terulur panjang dan lambat laun badan Yu Goan-ci juga makin terapung. Ketika tali itu tertarik sedemikian kencangnya hingga badan Yu Goan-ci seakan-akan menegak di atas penarik tali itu, mendadak si prajurit membentak terus lepas tangan. Keruan “layang-layang” Yu Goan-ci yang putus talinya seketika meluncur ke sana bagaikan anak panah lepas dari busurnya.

Serentak A Ci dan para prajurit Cidan bersorak-sorai dengan senang.

“Matilah aku sekali ini!” demikian keluh Goan-ci ketika merasa “terbang” ke angkasa. Waktu daya naiknya sudah mencapai titik baliknya, tanpa ampun lagi ia terjungkal ke bawah dengan kepala di bawah dan kaki di atas, ia “terjun” secepat elang menyambar ayam.

Waktu kepalanya sudah hampir membentur lantai batu, sekonyong-konyong empat prajurit Cidan mengayunkan laso masing-masing dan dengan tepat dapat menjerat pinggang Goan-ci, berbareng mereka menarik sekuatnya ke arah sendiri.

Seketika pingsan Goan-ci oleh tenaga betotan keempat orang itu. Dan karena tarikan demikian tubuh Goan-ci jadi tertahan di udara, jarak kepalanya dengan lantai hanya tinggal satu meter tingginya.

Permainan laso orang-orang Cidan itu sesungguhnya berbahaya sekali, asal salah seorang di antaranya terlambat sedikit mengayunkan lasonya atau sedikit telat menarik talinya hingga tarikan mereka tidak berimbang, pasti kepala Yu Goan-ci akan pecah kebentur lantai, andaikan kepala tidak pecah juga tulang leher pasti akan patah dan jiwa tetap melayang.

Begitulah di tengah sorak gembira orang banyak, keempat orang Cidan itu lantas menurunkan Goan-ci ke tanah. Segera A Ci memberi persen masing-masing sepuluh tahil perak kepada prajurit-prajurit Cidan itu. Sesudah mengaturkan terima kasih, segera mereka bertanya pula, “Apakah nona masih ingin acara permainan yang lain?”

Melihat Yu Goan-ci sudah tak sadarkan diri, entah hidup atau mati, pula waktu main “layang-layang” tadi ia pun terlalu banyak menggunakan tenaga hingga sekarang dada terasa agak sakit, maka ia menjawab, “Sudahlah, untuk hari ini sudah cukup. Jika bocah busuk ini tidak mampus, besok boleh dibawa kemari lagi, aku ingin mencari akal lain untuk mempermainkan dia. Orang ini hendak menyerang Siau-tay-ong, ia harus diberi hukuman yang setimpal.”

Para prajurit Cidan itu mengiakan, lalu mengundurkan diri.

Ketika Goan-ci siuman kembali, lebih dulu hidungnya mengendus semacam bau apak. Waktu ia membuka mata, ia tidak melihat apa-apa, yang terpikir olehnya adalah, “Apakah aku sudah mati?”

Tapi segera ia merasa sekujur badan sakit semua, tenggorokan kering sekali. Maklum, seseorang yang terlalu banyak mengeluarkan darah pasti akan merasa haus tak terhingga.

“Air… air…” demikian ia berseru dengan suara serak. Tapi siapa yang mau peduli padanya?

Ia berseru lagi beberapa kali dan akhirnya layap-layap tertidur. Tiba-tiba ia lihat sang paman dan ayahnya sedang bertempur sengit dengan Kiau Hong, begitu sengit pertarungan itu hingga terjadi banjir darah. Dilihatnya pula ibundanya yang penuh kasih itu memeluk dan menghiburnya agar jangan takut. Lalu muncul wajah A Ci yang cantik, kedua mata si gadis yang jeli itu lagi menatapnya dengan sinar mata yang aneh. Tiba-tiba wajah cantik itu menyurut menjadi kecil hingga berbentuk kepala ular berbisa dan hendak memagutnya.

Ia ingin lari, tapi sedikit pun tak bisa bergerak, ia meronta-ronta mati-matian, tapi tetap tak bisa berkutik. Sedangkan ular itu mulai menggigit tangannya, kakinya, lehernya, dan paling hebat adalah gigitan pada jidatnya hingga bonyok. Ia lihat daging di bagian tubuh itu sepotong demi sepotong digigit ular itu, ia ingin menjerit tapi tak dapat bersuara…

Rupanya ia sakit panas lantaran lukanya yang parah itu, maka mengigau dan mimpi buruk. Ia guling gelantang semalam suntuk. Pada waktu sadarnya tersiksa, dalam mimpi pun ia menderita.

Esok paginya waktu dua prajurit Cidan menggusurnya pergi menghadap A Ci, suhu panas badannya masih belum turun. Ia hanya melangkah satu tindak dan lantas jatuh terguling. Segera kedua prajurit Cidan memegangnya dari kanan-kiri, sambil memaki diseretnya ke dalam suatu ruangan yang besar.

“Aku hendak diseret ke mana? Apakah mereka akan memenggal kepalaku?” demikian pikir Goan-ci dalam keadaan setengah sadar.

Ia merasa dirinya diseret melalui dua serambi samping yang panjang, akhirnya sampai di luar suatu ruangan pendopo. Kedua prajurit itu melapor di luar pintu dan dari dalam lantas terdengar suara sahutnya seorang wanita. Ketika pintu dibuka, prajurit-prajurit itu lantas menyeretnya ke dalam.

Waktu Goan-ci mengangkat kepalanya, ia lihat di tengah ruangan itu tergelar selapis permadani yang sangat besar, di sudut permadani sana, di atas sebuah bantal sulaman sedang duduk seorang gadis jelita. Siapa lagi dia kalau bukan A Ci.

Gadis itu berkaki telanjang dan kakinya terletak di atas permadani.

Hati Goan-ci berdebar-debar demi tampak kaki si gadis yang mungil dan putih bersih sebagai salju, halus lemas sebagai sutra. Seketika pandangannya terpantek pada kaki A Ci itu. Lamat-lamat ia lihat beberapa jalur otot hijau tersirat dalam daging kaki yang putih bening seakan-akan tembus pandang itu. Sungguh ia ingin merabanya, ingin memegangnya sekali.

Dalam pada itu ia telah dilepaskan oleh pegangan kedua prajurit tadi hingga ia sempoyongan, tapi segera ia dapat berdiri tegak lagi, sedangkan sorot matanya tidak pernah meninggalkan kaki A Ci. Ia lihat kesepuluh jari kaki si gadis itu putih kemerah-merahan mirip sepuluh kelopak bunga yang mungil.

Sebaliknya dalam pandangan A Ci yang berada di depannya itu adalah seorang pemuda yang jelek lagi penuh darah. Tertampak muka pemuda itu berkerut-kerut beberapa kali, tulang pipinya menonjol, sinar matanya memancarkan sifat rakus dan buas.

A Ci jadi teringat kepada seekor serigala kelaparan yang terluka panah dalam perburuannya, serigala itu tidak terpanah mati, tapi terluka parah dan tak bisa berkutik, sinar mata serigala itu mirip seperti sinar mata Yu Goan-ci sekarang.

A Ci senang melihat sinar mata yang buas dan liar ini, ia suka mendengarkan pekik lengking serigala yang ganas tapi tak berdaya itu. Namun sayang, Yu Goan-ci baginya terlalu lemah, sedikit pun tidak mengadakan perlawanan, jauh untuk bisa merangsang perasaannya.

Kemarin waktu pemuda itu menyerang Siau Hong dengan ular berbisa dan gagal, ia tidak sudi berlutut dan menyembah kepada Siau Hong, cara bicaranya ketus, sikapnya keras, tidak sudi terima uang dari Siau Hong pula. Hal mana sangat menyenangkan A Ci, gadis itu senang melihat orang kepala batu. Ia pikir inilah seekor binatang buas yang sangat lihai. Maka ia ingin menyiksanya, ingin membuatnya sekujur badan babak belur agar dapat menimbulkan sifat liarnya dan supaya “binatang” itu kalap dan menubruknya dan hendak menggigitnya. Sudah tentu gigitan tidak boleh sampai kena.

Akan tetapi ia jadi kecewa ketika menggunakannya sebagai “layang-layang” dan menaikkannya ke angkasa, “binatang” itu ternyata tidak mengadakan perlawanan sama sekali, hal ini kurang menarik baginya…

Begitulah A Ci berkerut kening untuk memikirkan dengan cara bagaimana akan mempermainkan “binatang liar” itu.

Mendadak Yu Goan-ci mengeluarkan suara “uh-uh-uh”, dan entah dari mana datangnya tenaga sekonyong-konyong ia menubruk ke arah kaki A Ci setangkas macan tutul. Tapi ia tidak menubruk orangnya, melainkan kedua kakinya. Ia terus rangkul betis anak dara itu, lalu menunduk dan menciumi betis yang putih itu.

Keruan A Ci menjerit kaget. Cepat dua prajurit Cidan dan empat dayang yang melayani di samping A Ci membentak-bentak. Segera prajurit itu pun memburu maju untuk menarik Goan-ci.

Namun mati-matian Goan-ci merangkul kaki A Ci, betapa pun ia tidak mau lepas. Ketika prajurit Cidan itu menarik sekuatnya, tahu-tahu A Ci ikut terseret jatuh dan terduduk di atas permadani.

Prajurit Cidan itu terperanjat dan gusar pula. Mereka tidak berani menarik lagi, tapi seorang di antaranya lantas menggebuki punggung Yu Goan-ci dan seorang lagi menempeleng mukanya.

Luka di badan Yu Goan-ci telah infeksi hingga menjadikan dia sakit panas dan pikiran tidak sadar, ia sudah mirip orang gila, segala apa yang dihadapi dan dialami sudah tidak terasakan lagi. Ia hanya memeluk betis A Ci seerat-eratnya dan mencium dengan bernafsu.

A Ci merasa bibir orang yang panas dan kering itu sedang mencium dan menjilat kakinya. Ia merasa takut, tapi merasa geli-geli gatal aneh pula. Sekonyong-konyong ia menjerit, “Aduh! Jari kakiku digigit!”

Lekas ia berseru kepada prajurit itu, “Lekas kalian menyingkir dulu, orang ini sudah gila, jangan-jangan jari kakiku akan putus digigit olehnya. Aduh!”

Padahal Yu Goan-ci tidak menggigit melainkan cuma mencucup saja. Meski tidak sakit, namun A Ci khawatir mendadak orang menggigitnya, dalam keadaan begitu, ia tahu tidak boleh pakai kekerasan, ia khawatir prajurit Cidan itu menggebuk dan menghajarnya lagi, dan sekali pemuda itu kalap, mungkin jari kakinya bisa tergigit putus.

Karena tak berdaya sama sekali, terpaksa prajurit-prajurit itu lepas tangan dan mundur.

Lalu A Ci berkata kepada Goan-ci, “Lekas lepaskan kakiku dan jiwamu akan kuampuni, kau akan kubebaskan!”

Namun pikiran Goan-ci saat itu kurang waras, ia tidak gubris apa yang dikatakan itu.

Seorang prajurit sudah siap melolos golok dan bermaksud membacok kepala pemuda kalap itu. Tapi kaki A Ci masih dipeluknya dengan erat, ia khawatir juga bila bacokannya akan melukai A Ci, sebab itulah ia merasa ragu.

Maka A Ci berkata pula, “Hei, kau bukan binatang (padahal tadi ia anggap orang sebagai binatang), mengapa menggigit orang? Lekas buka mulutmu, akan kusuruh orang mengobati lukamu dan membebaskanmu pulang ke Tionggoan!”

Tapi Goan-ci tetap tidak peduli, ia tidak menggigit sungguhan, hanya setengah mencucup, sedangkan tangannya meraba-raba betis dan kaki yang putih merangsang itu. Perasaannya terombang-ambing, semangatnya seakan-akan terbang ke awang-awang, ia merasa seperti menjadi “layang-layang manusia” lagi dan terapung di angkasa bebas.

Mendadak seorang prajurit Cidan mendapat akal, cepat ia cekik leher Goan-ci sekuatnya.

Karena leher tercekik, tanpa terasa Goan-ci membuka mulutnya. Cepat A Ci menarik kembali kakinya dan berbangkit, ia khawatir kalau orang menjadi kalap dan menggigitnya lagi, maka kedua kakinya disurutkan ke belakang bangku berbantal sulam yang dibuat duduk itu.

Sesudah Goan-ci dipisahkan dari A Ci oleh prajurit Cidan tadi, segera prajurit lain menghujani bogem mentah pada muka dan dada pemuda itu hingga darah segar menyembur dari mulutnya, sampai permadani yang indah itu ikut ternoda.

“Berhenti! Jangan menghajarnya lagi!” kata A Ci.

Sesudah kejadian barusan ia merasa anak muda ini tidak terlalu mengecewakan sebagaimana disangkanya tadi. Dalam permainan tertentu mungkin akan cukup merangsang baginya. Maka seketika ia tidak ingin membinasakan pemuda itu.

Setelah prajurit-prajurit itu tidak menghajar Goan-ci lagi, lalu A Ci duduk bersimpuh di atas bangku berbantal sulamannya itu dengan melipat kakinya yang telanjang.

Diam-diam ia pikirkan cara bagaimana agar bisa menyiksanya lagi agar pemuda itu mengamuk bagai binatang.

Ketika ia angkat kepala, tiba-tiba dilihatnya Yu Goan-ci lagi memandangnya dengan sorot mata melekat. Segera ia menegurnya, “Mengapa kau memandang padaku?”

Goan-ci sudah tidak pusingkan mati-hidup sendiri lagi, segera ia menjawab, “Kau cantik, aku suka memandang padamu!”

Muka A Ci menjadi merah. Katanya di dalam hati, “Besar amat nyali bocah ini, berani bicara padaku secara kurang ajar begini?”

Selama hidup A Ci belum pernah dipuji secara terang-terangan oleh seorang pemuda. Waktu dia belajar silat dalam perguruan Sing-siok-pay, para suhengnya menganggapnya sebagai seorang dara cilik yang nakal. Ketika tinggal bersama Siau Hong, kalau bukan khawatir dia main gila, tentu Siau Hong khawatir dia meninggal. Selamanya tiada seorang pun memerhatikan apakah dia cantik atau jelek.

Tapi kini secara terus terang Goan-ci memujinya, mau tak mau timbul juga rasa senang dalam hati A Ci. Pikirnya, “Biarlah kubiarkan dia tinggal di sini, bila iseng dapat kupermainkan dia sekadar pelipur hati. Tapi Cihu pernah menyatakan membebaskan dia, kalau dia tahu aku menawannya lagi, pasti Cihu akan marah. Dan cara bagaimanakah supaya Cihu takkan mengetahui hal ini? Aku bisa melarang siapa pun agar tidak memberitahukan kepada Cihu, tetapi kalau suatu waktu mendadak Cihu datang kemari dan melihatnya, lantas bagaimana?”

Ia merenung sebentar, tiba-tiba ia ingat pada tacinya, yaitu si A Cu yang pandai menyaru itu. Kalau sekarang aku pun suruh bocah ini menyaru, tentu Cihu takkan dapat mengenalnya. Akan tetapi bila suatu ketika ia mencuci muka dan menghilangkan penyamarannya, tetap ada kemungkinan akan diketahui oleh Cihu.

Begitulah alis A Ci yang lentik itu makin terkerut makin rapat. Akhirnya ia dapat suatu akal. Tiba-tiba ia bertepuk tangan sambil berseru dengan tertawa, “Hah, akal bagus! Akal baik!”

Segera ia bicara dalam bahasa Cidan kepada kedua prajurit tadi. Rupanya prajurit-prajurit itu kurang paham, mereka mohon penjelasan lebih lanjut. Dan setelah A Ci memberi petunjuk pula, lalu ia suruh dayang mengeluarkan tiga puluh tahil perak dan diserahkan kepada prajurit-prajurit itu.

Setelah menerima uang, kedua prajurit itu memberi hormat, lalu Yu Goan-ci diseretnya pergi.

“Aku ingin memandang dia, aku ingin memandang nona cantik yang berhati kejam itu!” demikian Goan-ci berteriak-teriak.

Ia berteriak-teriak dalam bahasa Han, sudah tentu para prajurit dan dayang tidak paham artinya. A Ci hanya memandangi dia diseret pergi dengan tersenyum simpul, teringat akalnya yang cerdik itu, semakin dipikir semakin senang dan puas.

Sementara itu Yu Goan-ci telah digusur kembali ke kamar tahanannya yang berbau apak itu. Petangnya, ada orang mengantarkan semangkuk daging kambing dan beberapa potong kue buatan dari tepung terigu. Tapi sakit panas Goan-ci belum reda, ia masih mengigau tak keruan hingga pengantar makanan itu lari ketakutan setelah menaruh makanan yang dibawanya itu.

Dalam keadaan begitu, Goan-ci tidak merasakan kelaparan lagi, hingga makanan itu sama sekali tak tersentuh olehnya.

Malamnya, tiba-tiba datang tiga orang Cidan. Walaupun dalam keadaan sadar tak sadar, namun lamat-lamat Goan-ci dapat merasakan pasti takkan menguntungkan dirinya. Segera ia meronta-ronta dan ingin merangkak keluar dan melarikan diri. Tapi dua orang di antaranya lantas membekuk dia di tanah, lalu dibalik hingga telentang.

Dengan suara serak Goan-ci mencaci maki, “Anjing Cidan, terkutuklah kalian, akan kucencang kalian!”

Tiba-tiba dilihatnya orang Cidan ketiga membawa setangkup benda putih, seperti kapas dan mirip salju. Mendadak benda putih itu diuruk ke atas mukanya. Seketika Goan-ci merasa mukanya basah dingin, pikirannya menjadi jernih sedikit, tapi napasnya menjadi sesak.

“Hah, kiranya mereka hendak membunuh aku dengan menutup jalan pernapasanku!” demikian ia membatin.

Tapi dugaannya lantas terbukti salah. Sebab lubang hidung dan mulutnya lantas dibolongi orang hingga dapat bernapas, tinggal matanya saja yang tak bisa terbuka. Ia merasa mukanya seperti dipijat-pijat orang. Saat itu mukanya seperti tertutup oleh selapis tepung adukan atau tanah liat yang lunak dan licin.

Selama dua hari ini ia sudah kenyang derita, ia tidak merasa heran bila sekarang orang hendak menyiksanya pula dengan sesuatu cara yang aneh.

Selang sejenak, ia merasa lapisan benda yang lunak di mukanya itu dikelotok, disingkap orang dengan perlahan. Waktu ia buka mata, kini dapat dilihatnya benda itu adalah selapis adukan tepung terigu yang liat dan kini telah menjadi sebuah cetakan yang sesuai dengan raut mukanya.

Dengan hati-hati orang Cidan itu memegang cetakan dari tepung itu, khawatir rusak. Segera Goan-ci mencaci maki pula, tapi orang-orang Cidan itu tidak peduli, mereka lantas tinggal pergi.

Diam-diam Goan-ci pikir, “Ah, tentu mereka telah memoles sesuatu obat racun di mukaku, sehingga sebentar lagi pasti mukaku akan membusuk hingga rusak seperti muka setan…”

Begitulah makin dipikir makin khawatir, katanya dalam hati, “Daripada aku mati tersiksa begini, lebih baik aku bunuh diri saja!”

Maka ia lantas benturkan kepalanya ke dinding, “blang”, kepalanya benjut dan orangnya roboh, tapi sial baginya, ia tidak mati, hanya setengah mati.

Mendengar suara benturan itu, penjaga di luar lantas memburu masuk ke dalam kamar tahanan untuk mengikat kaki tangannya. Memangnya Goan-ci sudah menggeletak tak bisa berkutik, maka ia pun masa bodoh diperlakukan orang sesukanya.

Lewat beberapa hari, mukanya ternyata tidak sakit, bahkan juga tidak membusuk segala. Namun ia sudah bertekad ingin mati, biarpun kelaparan sama sekali ia tidak sudi makan segala makanan yang diantarkan padanya.

Sampai hari kelima, ketiga orang Cidan itu datang lagi dan menyeretnya keluar. Dalam derita sengsara Yu Goan-ci itu sebaliknya timbul sesuatu harapan pula. Ia pikir kalau A Ci yang menyuruh mereka menggusur dia untuk disiksa dan dihajar, biarpun badan akan menderita lebih hebat, namun bila dapat melihat wajah si nona yang cantik itu, betapa pun ia merasa puas.

Karena itulah pada air mukanya lantas tersimpul senyuman getir.

Tapi ketiga orang Cidan itu ternyata tidak membawanya menghadap A Ci, sebaliknya menyeretnya ke dalam sebuah kamar yang gelap. Sesudah menuruni sebuah undak-undakan batu yang panjang, akhirnya sampai di suatu ruangan, di mana tertampak api menganga menerangi ruangan itu, seorang pandai besi dengan badan telanjang hingga kelihatan otot dagingnya yang menonjol kuat berdiri di tepi sebuah talenan besi yang besar, pada tangannya memegang sebuah benda kehitam-hitaman dan lagi diperiksa dengan teliti.

Ketika Goan-ci digusur sampai di depan pandai besi itu, segera dua orang di antaranya memegang kedua tangannya, seorang lagi mencengkeram tengkuknya. Lalu si pandai besi mulai mengamat-amati mukanya dari depan dan dari samping, kemudian mengamat-amati benda hitam yang dipegangnya itu seperti lagi ditimbang dan dibandingkan.

Waktu Goan-ci memerhatikan benda yang dipegang si pandai besi itu, kiranya benda itu adalah sebuah topeng besi. Topeng itu terdapat lubang-lubang hidung, mata, dan mulut.

Selagi Goan-ci tidak tahu apa gunanya besi itu, mendadak si pandai besi mengangkat topeng itu terus mengerudung mukanya. Dengan sendirinya Goan-ci bermaksud mengelak dengan mendongak ke belakang. Tapi celaka, tengkuknya telah dipegang orang hingga tak bisa menghindar, akhirnya topeng besi itu tepat menutup mukanya. Seketika ia merasa mukanya dingin segar, kulit mukanya melekat dengan topeng besi itu.

Tapi aneh juga, bentuk topeng itu ternyata pas sekali dengan raut mukanya, seperti barang pesanan saja.

Goan-ci bukan anak bodoh, rasa herannya itu cuma sekejap saja, segera ia tahu duduknya perkara. Sekonyong-konyong ia merasa ngeri, “Hah, topeng ini memang sengaja dibuat untukku. Tempo hari mereka telah mencetak mukaku dengan adukan tepung, tujuannya ialah untuk dipakai sebagai model pembuatan topeng ini. Untuk apakah mereka sengaja membuat topeng besi ini? Jangan-jangan… jangan-jangan…”

Dalam hati ia sudah dapat menerka maksud jahat orang-orang Cidan itu, tapi sebenarnya apa sebabnya, itulah dia tidak tahu, ia pun tidak berani berpikir lagi, maka ia meronta-ronta sekuat tenaga, mati-matian ia berusaha melarikan diri. Tapi ia dipegang oleh tiga orang dengan kuat sehingga tidak bisa berbuat apa-apa.

Kemudian pandai besi itu melepaskan topeng itu, ia mengangguk-angguk dengan rasa puas. Lalu ambil sebuah tanggam besi besar, ia jepit topeng itu dan dimasukkan ke dalam tungku, sesudah topeng terbakar hingga merah, lalu dikeluarkannya untuk digembleng lagi.

Setelah menggembleng sebentar, lalu ia pegang dan raba batok kepala Goan-ci serta tulang pipinya untuk membetulkan bagian yang kurang pas dari topeng itu.

Segera Goan-ci berteriak-teriak memaki, “Anjing Cidan terkutuk, perbuatan jahat apa yang hendak kalian lakukan lagi? Begini kejam tanpa perikemanusiaan, kelak kalian pasti akan masuk neraka, kalian akan digodok dalam minyak mendidih dan dibakar di lautan api!”

Ia memaki dalam bahasa Tionghoa, sudah tentu orang-orang Cidan tidak paham maksudnya. Tapi karena teriakannya itu, si pandai besi mendadak menoleh dan melotot padanya. Lalu ia angkat tanggam besi yang terbakar merah itu dan mencolok ke matanya.

Saking ketakutan hingga Yu Goan-ci cuma terbelalak dan mulut ternganga, untuk menghindar jelas tidak mungkin lantaran dari belakang ia dipegang tiga orang Cidan.

Dan si pandai besi itu ternyata melulu menakut-nakuti dia saja. Melihat Goan-ci ketakutan setengah mati, ia terkekeh-kekeh dan menarik kembali tanggamnya. Lalu ia ambil lagi sepotong besi melengkung untuk mengukur belakang kepala Yu Goan-ci. Sesudah dipukul dan digembleng hingga plat besi yang lekuk itu pas betul, kemudian topeng tadi dan separuh topeng bagian belakang yang baru ini dibakar pula dalam tungku.

Ketika topeng besi itu sudah merah terbakar, pandai besi itu berkata beberapa patah kepada ketiga orang Cidan tadi. Segera Goan-ci digotong untuk direbahkan di atas sebuah meja, tapi kepalanya terjuntai di luar tepian meja. Lalu dua orang Cidan yang lain maju membantu, sekuat tenaga mereka jambak rambut Goan-ci hingga kepala pemuda itu tak bisa bergerak sama sekali.

Dalam pada itu si pandai besi sudah mengeluarkan topeng yang terbakar merah membara itu. Ia berhenti sebentar agar topeng itu agak mendingin. Habis itu mendadak ia membentak sekali, topeng terus dipasang pada muka Yu Goan-ci.

Kontan saja asap putih mengepul dengan bau sangit daging hangus. Goan-ci menjerit ngeri, seketika orangnya semaput.

Kemudian pandai besi itu mengangkat belahan topeng bagian belakang dan dipasangkan pula di belakang kepala Yu Goan-ci. Dua belahan topeng itu kini terpasang dengan rapat di kepalanya. Topeng itu masih sangat panas, begitu menyentuh kulit daging, seketika terbakar bonyok.

Pandai besi itu adalah tukang nomor satu di kota Yankhia, kedua tangkupan topeng buatannya itu ternyata pas sekali dan menutup dengan rapi.

Bagaikan tersiksa di neraka, Yu Goan-ci sendiri tidak tahu sudah lewat berapa lama. Ketika perlahan ia siuman kembali, ia merasa muka dan belakang kepalanya sangat kesakitan. Saking tak tahan, kembali ia pingsan lagi.

Begitulah ia pingsan dan pingsan lagi hingga berulang tiga kali. Ketika akhirnya ia siuman pula, ia berteriak-teriak sekeras-kerasnya, tapi telinga sama sekali tidak mendengar suara teriakan sendiri. Semula ia menyangka dirinya sudah tuli, tapi sesudah berkaok-kaok pula hingga tenggorokan terasa bejat, akhirnya ia baru tahu bahwa pada hakikatnya ia tak bisa mengeluarkan suara.

Tatkala pingsan, ia telah diseret kembali ke kamar tahanannya. Ia rebah tanpa berkutik di tanah, ia mengertak gigi untuk menahan rasa sakit di sekeliling kepala dan mukanya.

Kira-kira dua-tiga jam kemudian, ketika ia coba meraba muka sendiri, maka jelas terbukti bahwa dugaannya ternyata tidak salah sedikit pun. Topeng besi itu sudah mengerudung rapat di atas kepalanya. Dalam murkanya, ia membetot dan menarik topeng besi itu sekuatnya, tapi tangkupan topeng itu sudah saling gigit dengan kencang sekali, mana ia dapat membukanya?

Dalam keadaan murka dan akhirnya menjadi putus asa, tak tertahan lagi ia menangis sedih, air mata bercucuran bagai hujan, tapi suara tangisannya hampir-hampir tak terdengar.

Untung usia Yu Goan-ci masih muda, meski jasmaniah tersiksa sehebat itu, tapi tidak sampai mati, ia masih tahan. Bahkan beberapa hari kemudian, perlahan lukanya mulai sembuh, rasa sakitnya juga makin berkurang. Akhirnya, oh, lapar juga dia. Dan ketika mengendus bau daging kambing dan kue yang diantarkan untuknya, ia tidak tahan lagi, terus saja dimakannya dengan lahap.

Sudah tentu mulutnya tak bisa mengunyah, jadi makannya terpaksa mesti main jejal saja, asal masuk. Dan sekali perutnya kemasukan makanan, lukanya menjadi lebih cepat sembuh dan kesehatan pun lekas pulih.

Kini ia dapat meraba topeng besi itu, ia tahu buah kepala sendiri sudah tertutup rapat oleh kedua tangkup topeng besi dan tidak mungkin dibuka lagi. Ia tidak tahu apa maksud tujuan anjing-anjing Cidan itu menutup kepalanya dengan topeng? Ia sangka segala apa itu tentu atas perintah Siau Hong. Sudah tentu betapa pun ia tidak menduga bahwa sebabnya A Ci memberi topeng padanya, tujuannya justru ingin mengelabui Siau Hong.

Apa yang berlangsung itu dilaksanakan Kapten Sili atas suruhan A Ci. Setiap hari A Ci selalu tanya Sili tentang gerak-gerik Yu Goan-ci setelah pakai topeng besi itu. Semula ia khawatir pemuda itu akan mati hingga gagal segala rencananya. Kemudian ia jadi girang ketika mendapat tahu bahwa kesehatan Goan-ci makin hari makin kuat.

Dalam pada itu Siau Hong lagi dinas inspeksi ke luar kota, A Ci perintahkan Sili membawa Yu Goan-ci menghadap padanya, ia ingin tahu bagaimana bentuk pemuda itu sesudah memakai topeng besi. Ia tunggu di ruang samping istana “Toan-hok-kiong”. Tidak lama kemudian datanglah Kapten Sili bersama tiga prajurit Cidan dengan membawa Yu Goan-ci.

Melihat bentuk Yu Goan-ci itu, sungguh senang A Ci tak terkatakan. Ia pikir, dengan memakai topeng seperti itu, biarpun sang cihu berdiri berhadapan juga takkan kenal pemuda itu. Segera ia berkata, “Sili, topeng ini sangat bagus buatannya, boleh kasih persen lagi 50 tahil perak kepada pandai besi itu.”

“Ya, terima kasih, Kuncu!” sahut Sili.

Kiranya Yalu Hungki sengaja hendak membikin senang Siau Hong, maka A Ci telah dianugerahi gelar Tuan Putri “Toan-hok Kuncu”. Dan istana Toan-hok-kiong itu adalah anugerah juga dari raja.

Dalam pada itu Yu Goan-ci telah melangkah maju dua tindak, dari lubang topeng itu ia dapat melihat muka A Ci yang berseri-seri, elok tak terhingga. Suara si gadis juga nyaring merdu enak didengar. Hati Goan-ci berdebar-debar, dengan ketolol-tololan ia pandang gadis itu tanpa berkedip.

Meski bentuk muka Yu Goan-ci menjadi aneh lantaran memakai topeng besi, tapi A Ci dapat melihat bahwa pemuda itu lagi menatapnya dengan mata tak berkedip. Segera ia menegurnya, “Hei, anak tolol, kenapa kau pandang aku cara begini?”

“Aku… aku… aku tidak tahu,” sahut Goan-ci.

“Enak tidak rasanya memakai topeng itu?” tanya A Ci.

“Kau kira enak atau tidak?” Goan-ci berbalik tanya.

A Ci mengikik tawa. Ia lihat bagian mulut topeng itu hanya berwujud satu celah yang sempit dan tiba cukup untuk minum dan makan saja, untuk menggigit jari kaki terang tidak dapat lagi. Maka dengan tertawa katanya pula, “Aku sengaja memasang topeng pada mukamu supaya kau tidak dapat menggigitku untuk selamanya.”

Seketika Goan-ci bergirang, tanyanya cepat, “Apakah nona ber… maksud membiarkan… membiarkan aku selalu melayani di samping nona?”

“Cis, kau anak busuk ini bukan manusia baik-baik,” semprot A Ci. “Berada di sampingku tentu senantiasa akan kau cari jalan untuk mencelakai aku, mana boleh jadi?”

“Tidak, ti… tidak! Aku pasti… pasti takkan membikin susah nona,” sahut Goan-ci dengan tergagap-gagap. “Musuhku hanyalah Kiau Hong seorang!”

“Kau ingin membunuh cihuku, bukankah sama dengan membikin susah padaku? Apa bedanya?” kata A Ci.

Mendengar itu, entah mengapa, rasa hati Goan-ci menjadi kecut hingga tak bisa menjawab lagi.

“Huh, kau hendak membunuh cihuku, itu namanya lebih sulit daripada naik ke langit,” kata A Ci pula dengan tertawa. “He, anak tolol, kau ingin mati atau tidak?”

“Sudah tentu aku tidak ingin mati,” sahut Goan-ci. “Tapi sekarang kepalaku terpasang benda seperti ini sehingga tidak mirip manusia dan lebih mirip setan, tidak banyak bedanya daripada mati.”

“Jika kau lebih suka mati, boleh juga, akan kupenuhi harapanmu, cuma aku takkan membiarkan kau mati dengan begitu saja,” kata A Ci. Lalu ia berpaling kepada Kapten Sili dan memberi perintah, “Seret dia keluar, penggal dulu sebelah tangannya!”

Sili mengiakan terus hendak menarik Goan-ci.

Keruan pemuda itu ketakutan, cepat ia berteriak, “He, tidak, tidak nona! Aku tidak ingin mati, jangan… jangan kau penggal sebelah tanganku!”

“Sekali aku sudah berkata, susah untuk ditarik kembali, kecuali… ya, kecuali kalau kau berlutut dan menyembah padaku,” kata A Ci dengan tersenyum.

Selagi Goan-ci ragu-ragu, sementara itu Sili telah menariknya pula. Goan-ci tidak berani ayal lagi, cepat ia tekuk lutut dan menyembah, “trang”, mendadak topeng besi membentur lantai.

A Ci terkikik senang, katanya, “Selamanya aku tidak pernah mendengar suara orang menyembah semerdu itu. Eh, coba menjura beberapa kali lagi.”

Walaupun Goan-ci seorang pemuda serbakepalang-tanggung dalam ilmu sastra dan silat, serbasetengah-setengah dan tidak jadi, tapi jelek-jelek ia adalah seorang siaucengcu, seorang tuan muda dari Cip-hian-ceng, biasanya ia disanjung puja oleh setiap orang. Sejak kecil ia sangat dimanja oleh orang tua, sebab ia adalah putra satu-satunya, sudah tentu ia tidak pernah tersiksa dan dihina seperti sekarang ini.

Semula waktu menemukan Siau Hong, ia masih memiliki semangat jantan yang tak terpatahkan, biar mati juga tidak takut. Tapi selama beberapa hari ini ia telah mengalami pukulan hebat, baik jasmani maupun rohani, semangat jantannya yang menyala-nyala itu tanpa terasa surut dan hilang tak berbekas lagi.

Maka demi si A Ci menyatakan hendak memotong lengannya kecuali kalau dia mau menyembah, tanpa pikir ia berlutut dan menyembah. Dan ketika A Ci menyatakan suara benturan topengnya itu enak didengar, terus saja ia menjura berulang-ulang sehingga terdengar suara “tang-tang-tang” yang nyaring.

“Wah, bagus sekali!” demikian kata A Ci dengan tertawa. “Untuk selanjutnya kau harus tunduk kepada perintahku, sedikit pun tidak boleh membangkang, tahu? Kalau membangkang, huh, setiap waktu juga akan kupenggal lenganmu. Nah, ingat tidak?”

“Ya, ya!” cepat Goan-ci menyahut.

“Apakah kau tahu sebabnya aku memasang topeng besi pada mukamu?” tanya A Ci pula.

“Tidak, aku justru ingin tahu,” kata Goan-ci.

“Kau ini sungguh kelewat goblok, telah kuselamatkan jiwamu, tapi kau malah tidak tahu dan tidak berterima kasih padaku,” ujar A Ci. “Apakah kau tidak tahu bahwa Siau-tay-ong hendak mencacahmu hingga luluh, benar-benar kau tidak tahu?”

“Dia adalah pembunuh orang tuaku, sudah tentu ia pun takkan membiarkan aku hidup,” sahut Goan-ci.

“Beliau pura-pura membebaskan kau, tapi diam-diam memerintahkan orang untuk menangkapmu kembali dan suruh mencencangmu hingga menjadi bakso,” demikian A Ci sengaja menakut-nakuti. “Tapi untung kau ketemu aku. Karena melihatmu bocah busuk ini tidak terlalu jelek, kalau dibunuh agak sayang juga rasanya, maka diam-diam aku menyembunyikanmu. Namun demikian, bila pada suatu ketika secara kebetulan Siau-tay-ong datang kemari dan pergoki dirimu, tentu jiwamu tetap akan melayang dan bahkan aku pun ikut tersangkut.”

Tiba-tiba Goan-ci sadar oleh duduknya perkara, ia berseru, “Ah, kiranya nona sengaja menyuruh membuatkan topeng besi ini untukku, sebenarnya maksudnya baik demi untuk menyelamatkan jiwaku supaya tidak dikenal musuh besarku itu. Sungguh aku… aku sangat berterima kasih, sangat ber… berterima kasih.”

Sesudah mempermainkan orang, bahkan orang merasa terima kasih malah, A Ci menjadi senang tak terkatakan. Dengan tersenyum ia berkata lagi, “Nah, makanya lain kali bila bertemu dengan Siau-tay-ong, janganlah sekali-kali kau buka suara agar tidak dikenali beliau. Bila sampai dikenali olehnya, hm, pasti celakalah kau. Nih, lihat! Sekali lengan kirimu ditarik dan ‘cret’, kontan lenganmu lantas putus dan sekali betot pula seketika lenganmu yang lain akan berpisah dengan tubuhmu. Nah, ingat baik pesanku ini.”

“Sili, coba bawa pergi dia, beri pakaian orang Cidan, sikat dan mandikan dulu badannya, idiiih baunya!”

Kapten Sili mengiakan dan membawa pergi Yu Goan-ci.

Tidak lama kemudian pemuda itu dibawa kembali oleh Sili. A Ci lihat pemuda itu sudah berganti pakaian orang Cidan. Untuk menyenangkan hati A Ci, sengaja Sili mendandani Goan-ci hingga topengnya berwarna-warni mirip badut sirkus.

“Hihihihi, kau mirip benar seperti seorang badut,” kata A Ci dengan terkikik-kikik geli. “Eh, ya, akan kuberi suatu nama padamu. Namamu adalah… adalah badut, ya, badut besi, inilah namamu. Selanjutnya kalau aku memanggil badut besi, maka kau harus cepat menjawab tahu? Nah, badut!”

“Sayaaa!” cepat Goan-ci menjawab.

Senang sekali A Ci. Ia merasa mendapatkan suatu hiburan yang paling menggembirakan.

Tiba-tiba ia teringat sesuatu, segera ia berkata, “Sili, bukankah dari negeri Tay-sip (sekarang negeri Arab) ada antaran hadiah seekor singa besar? Nah, bawa kemari singa itu bersama pawangnya, panggil pula belasan orang pengawal kemari!”

Kapten Sili segera meneruskan perintah itu. Maka hanya sebentar saja 16 orang pengawal dengan membawa tombak masuk ke dalam istana, mereka memberi hormat kepada A Ci, lalu membalik tubuh, 16 tombak mereka siap menjaga sang putri.

Tidak berapa lama, tiba-tiba terdengar suara auman singa, delapan laki-laki kekar menggotong datang sebuah kerangkeng besi besar. Di dalam kerangkeng tampak seekor singa jantan sedang berputar kian kemari, bulu lehernya panjang lebat, kuku cakarnya tajam, tampaknya sangat galak. Di depan kerangkeng mendahului berjalan seorang penjinak singa dengan memegang cambuk kulit.

Dengan girang A Ci berkata kepada Yu Goan-ci, “He, badut besi, aku ingin menjajal sesuatu, ingin kulihat kau tunduk kepada perintahku atau tidak.”

Tanpa pikir Goan-ci mengiakan. Tapi perasaannya sudah mendebur demi melihat singa jantan yang gagah dan galak itu.

Maka terdengar A Ci berkata pula, “Sejak kau pakai topeng itu, aku tidak tahu apakah topeng besi itu terpasang kukuh atau tidak di atas kepalamu. Maka cobalah julurkan kepalamu ke dalam kerangkeng dan membiarkan singa itu menggigit, ingin kulihat apakah binatang itu mampu menggigit hancur topengmu atau tidak.”

Keruan Goan-ci terperanjat, cepat serunya, “He, ini… ini jangan dicoba. Kalau topeng hancur, tentu kepalaku…”

“Sungguh tak berguna kau menjadi manusia,” kata A Ci dengan kurang senang. “Masakah soal kecil ini juga ketakutan. Seorang laki-laki sejati harus pandang mati seperti pulang, tahu? Apalagi kukira topengmu juga takkan hancur digigit singa.”

“Nona, urusan ini tidak boleh dibuat main-main,” kata Goan-ci pula. “Andaikan topeng ini takkan hancur, tapi kalau digigit hingga gepeng, wah, tentu kepalaku…”

Dipublikasi ulang oleh Kumpulan Cerita Silat

Leave a Comment »

No comments yet.

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.

%d bloggers like this: